• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Penderita Keratitis Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2010-2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Karakteristik Penderita Keratitis Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2010-2011"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK PENDERITA KERATITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010-2011

OLEH:

SARAH ZORAYA MIRZA

090100321

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KARAKTERISTIK PENDERITA KERATITIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010-2011

KARYA TULIS ILMIAH

“Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran”

Oleh:

SARAH ZORAYA MIRZA

090100321

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL: Karakteristik Penderita Keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2010-2011

NAMA: SARAH ZORAYA MIRZA

NIM: 090100321

Pembimbing Penguji I

(dr. Masitha Dewi Sari, Sp.M) (dr.ZulkarnainRangkuti, MSi) NIP: 19761024 200501 2 001 NIP: 19520917 198112 1 001

Penguji II

(dr. Johny Marpaung, M.Ked(OG) Sp.OG)

NIP: 19710224 200801 1 007

Medan, 18 Desember 2012 Dekan

Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara

( Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH)

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan karunia- Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan hasil penelitian ini. Sebagai salah satu area kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang dokter umum, laporan hasil penelitian ini disusun sebagai rangkaian tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di program studi Sarjana Kedokteran, Pendidikan Dokter fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah turut serta membantu penulis menyelesaikan laporan hasil penelitian ini, diantaranya:

1. Kepada Prof.dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Kepada dosen pembimbing penulisan penelitian ini, dr. Masitha Dewi Sari, Sp.M, yang dengan sepenuh hati telah meluangkan segenap waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan laporan hasil penelitian ini. Juga kepada dr. Zulkarnain Rangkuti, MSi dan dr. Johny Marpaung, M.Ked(OG) Sp.OG selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun untuk penelitian ini. 3. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dr. Halomoan Hutagalung

yang telah menjadi dosen penasehat akademik penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4. Kepada kedua orang tua penulis Ayahanda H.Amrizal Effendi Bsc dan Ibunda Hj.Martina AMK, adik penulis Puteri Annisa, Dhea Ghaisani Nabila, Emir Fauzan serta adik sepupu Axel Fitra Perdana yang telah senantiasa mendukung dan memberikan dukungan serta bantuan dalam menyelesaikan laporan hasil penelitian ini.

5. Kepada Vera Arista, Mardhatillah Fuady, Hardiyanti Fitri, Bambang Irawan, Ro Rabian Rein Roza Tampubolon, Fanisha Prama Cindy, M. Mukhtar Alwin Lubis, Abdul Halim Harahap, Jenny Candra, Dyan Friska Yanti Lubis, Vilza Raihany, Fitri Anggraini Lubis, Rika Octaviani, Iramaya Oktariana, Fina Fadilla, sahabat yang telah banyak membantu dan memotivasi penulis dalam merampungkan Karya Tulis Ilmiah ini.

(5)

7. Kepada teman-teman seperjuangan satu kelompok, yaitu Khairul Ihsan Siregar dan T. Fitri Mairissa, yang telah turut bersusah payah dan tetap menjaga kekompakan dalam mensukseskan penyelesaian laporan hasil penelitian.

Cakupan belajar sepanjang hayat dan mengembangkan pengetahuan baru, dalam area kompetensi KIPDI-3, telah memotivasi penulis dalam melaksanakan

penelitian yang berjudul “Karakteristik Penderita Keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan Tahun 2010-2011” ini. Harapan penulis semoga penelitian ini mendapat persetujuan untuk pelaksanaan demi memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan , khususnya di bidang ilmu kedokteran.

Penulis menyadari bahwa laporan hasil penelitian ini masih belum sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan hasil penelitian dikemudian hari.

Medan, 5 Desember 2012

(6)

ABSTRAK

Latar Belakang : Istilah keratitis dimaksudkan untuk inflamasi yang terjadi pada kornea mata. Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, paparan sinar ultraviolet, iritasi dari penggunaan lensa kontak, mata kering, trauma kornea, adanya benda asing di kornea. Keratitis merupakan penyakit yang ditemukan di seluruh dunia dan dapat mengenai seluruh kelompok usia, strata sosial dan jenis kelamin.

Metode : Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui proporsi penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik selama tahun 2010-2011. Karakteristik yang diteliti mencakup umur, jenis kelamin, pekerjaan dan faktor risiko keratitis seperti riwayat penggunaan lensa kontak dan riwayat trauma kornea. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian deskriptif dan pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah potong lintang retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien dan sampel sebanyak jumlah populasi dan diambil secara aksidental (non-random).

Hasil : Hasil penelitian didapatkan 154 pasien penderita keratitis dan pasien terbanyak adalah laki-laki (89 pasien, 57,8%). Berdasarkan usia paling banyak adalah > 40 tahun (73 pasien, 47,4%), pekerjaan sebagai wiraswasta (42 pasien, 27,3%), pasien yang mempunyai riwayat penggunaan lensa kontak (13 pasien, 8,4%), pasien yang mempunyai riwayat trauma kornea terbanyak disebabkan oleh debu (95 pasien, 68,3%).

Kesimpulan : Keratitis banyak dijumpai pada laki-laki dengan riwayat trauma kornea.Berdasarkan data dari hasil penelitian diharapkan edukasi mengenai faktor risiko dan penyebaran keratitis pada keseluruhan populasi.

(7)

ABSTRACT

Backgrounds :Keratitis is general term that refers to the inflammation of the cornea. The cause of keratitis include viruses, bacteria, fungi, ultraviolet

exposure, irritation because of using contact lens, dry eye, corneal injury, foreign

body in corneal. Keratitis is a group of diseases that occurs worldwide and affects all ages, all social strata and both genders.

Methods :The purpose of study was to determine the propotion of patients

suffering from keratitis in Haji Adam Malik General Hospital Medan during 2010 - 2011. Assessed characteristics were ages, gender, occupation and risk factor such as having history of using contact lens, having history of corneal injury. This

research method and the approach used in the design of the study is cross –

sectional retrospective study. Data were taken from medical records and the number of samples in this study is as many as the number of population by non-randomized accidental sampling.

Result : The result showed 154 patients suffering keratitis and the most cases are

found in men (89 patients, 57,8%). Based on the patients’ age, the most cases are

found in age > 40 (73 patients, 47,4%), patients working asentrepreneur (42

patients, 27,3%),having history of using contact lens (13 patients, 8,4%), having

histrory of corneal injury are predominantly caused bydust(95 patients, 68,3%).

Conclusion : Keratitis is predominantly in men with corneal injury history. Based on the above data, education about the risks of keratitis may be appropiate in the general population.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1. Tujuan Umum ... 3

1.3.2. Tujuan Khusus ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Kornea 4 2.1.1. Anatomi ... 4

2.1.2. Histologi ... ... 5

2.1.3. Perdarahan dan Persarafan ... 5

2.1.4. Fisiologi Kornea ... 5

(9)

2.2.2.Etiologi ... 8

2.2.3.Klasifikasi ... 9

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL... 20

3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 20

3.2. Defenisi Operasional ... 20

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 23

4.1. Jenis Penelitian ... 23

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 23

4.2.1. Waktu ... 23

4.2.2. Tempat Penelitian ... 23

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 23

4.3.1. Populasi ... 23

4.3.2. Sampel ... 24

4.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 24

4.4.1. Kriteria Inklusi ... 24

4.4.2. Kriteria Eksklusi ... 24

4.5. Metode Pengumpulan Data ... 24

4.6. Metode Analisis Data ... 24

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 25

5.1. Hasil Penelitian ... 25

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 25

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden ... 25

(10)

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 33

6.1. Kesimpulan ... 33

6.2. Saran ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... ..35

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1. Penyebab keratitis bakteri 14

2.2. Penatalaksanaan awal untuk keratitis bakteri 15

3.2. Metode Pengukuran 23

5.1. Distribusi sampel berdasarkan kelompok umur 26 5.2. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin 26 5.3. Distribusi sampel berdasarkan pekerjaan 27 5.4. Distribusi sampel berdasarkan riwayat penggunaan

lensa kontak

27

5.5. Distribusi sampel berdasarkan riwayat trauma kornea 28 5.6. Distribusi sampel berdasarkan riwayat trauma benda

asing

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1. Gambar 2.2. Gambar 3.1.

Anatomi mata

Keratitis Pungtata Superfisialis Kerangka konsep penelitian

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Daftar Riwayat Hidup

LAMPIRAN 2 Lembar Ethical Clearance

LAMPIRAN 3 Surat Izin Penelitian

LAMPIRAN 4 Master Tabel

(14)

DAFTAR SINGKATAN

AAO : American Academy of Ophthalmology

HSV : Herpes Simplex Virus

RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat

IRT : Ibu Rumah Tangga

(15)

ABSTRAK

Latar Belakang : Istilah keratitis dimaksudkan untuk inflamasi yang terjadi pada kornea mata. Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, paparan sinar ultraviolet, iritasi dari penggunaan lensa kontak, mata kering, trauma kornea, adanya benda asing di kornea. Keratitis merupakan penyakit yang ditemukan di seluruh dunia dan dapat mengenai seluruh kelompok usia, strata sosial dan jenis kelamin.

Metode : Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui proporsi penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik selama tahun 2010-2011. Karakteristik yang diteliti mencakup umur, jenis kelamin, pekerjaan dan faktor risiko keratitis seperti riwayat penggunaan lensa kontak dan riwayat trauma kornea. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian deskriptif dan pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah potong lintang retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien dan sampel sebanyak jumlah populasi dan diambil secara aksidental (non-random).

Hasil : Hasil penelitian didapatkan 154 pasien penderita keratitis dan pasien terbanyak adalah laki-laki (89 pasien, 57,8%). Berdasarkan usia paling banyak adalah > 40 tahun (73 pasien, 47,4%), pekerjaan sebagai wiraswasta (42 pasien, 27,3%), pasien yang mempunyai riwayat penggunaan lensa kontak (13 pasien, 8,4%), pasien yang mempunyai riwayat trauma kornea terbanyak disebabkan oleh debu (95 pasien, 68,3%).

Kesimpulan : Keratitis banyak dijumpai pada laki-laki dengan riwayat trauma kornea.Berdasarkan data dari hasil penelitian diharapkan edukasi mengenai faktor risiko dan penyebaran keratitis pada keseluruhan populasi.

(16)

ABSTRACT

Backgrounds :Keratitis is general term that refers to the inflammation of the cornea. The cause of keratitis include viruses, bacteria, fungi, ultraviolet

exposure, irritation because of using contact lens, dry eye, corneal injury, foreign

body in corneal. Keratitis is a group of diseases that occurs worldwide and affects all ages, all social strata and both genders.

Methods :The purpose of study was to determine the propotion of patients

suffering from keratitis in Haji Adam Malik General Hospital Medan during 2010 - 2011. Assessed characteristics were ages, gender, occupation and risk factor such as having history of using contact lens, having history of corneal injury. This

research method and the approach used in the design of the study is cross –

sectional retrospective study. Data were taken from medical records and the number of samples in this study is as many as the number of population by non-randomized accidental sampling.

Result : The result showed 154 patients suffering keratitis and the most cases are

found in men (89 patients, 57,8%). Based on the patients’ age, the most cases are

found in age > 40 (73 patients, 47,4%), patients working asentrepreneur (42

patients, 27,3%),having history of using contact lens (13 patients, 8,4%), having

histrory of corneal injury are predominantly caused bydust(95 patients, 68,3%).

Conclusion : Keratitis is predominantly in men with corneal injury history. Based on the above data, education about the risks of keratitis may be appropiate in the general population.

(17)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan merupakan jaringan transparan yang dilalui oleh berkas cahaya saat menuju retina. Sifat tembus cahaya kornea disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskular, dan

deturgenses. Epitel yang terdapat pada kornea ini adalah sawar yang efisien

terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea (Biswell, 2010).

Infiltrasi sel radang pada kornea akan menyebabkan keratitis, hal ini mengakibatkan kornea menjadi keruh. Kekeruhan ini akan menimbulkan gejala mata merah dan tajam penglihatan akan menurun. Keratitis dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti infeksi, mata yang kering, alergi ataupun konjungtivitis kronis (Ilyas, 2004).

Insidensi tahunan dari keratitis di negara maju telah meningkat karena angka penggunaan lensa kontak yang tinggi yaitu 2 sampai 11 per 100.000 orang per tahun (Lam (2002) dalam Basak, 2005). Penelitian dari Hongkong mendapatkan insidensi 0,63 per 10.000 orang pada orang yang tidak menggunakan lensa kontak dan 3,4 per 10.000 orang pada pengguna lensa kontak. Menurut Lam (2002), penggunaan lensa kontak merupakan penyebab keratitis

Acanthamoeba yang dikenal pada tahun 1973, sekarang diketahui berjumlah

kira-kira 1% dari semua kasus.

Insidensi dari keratitis di negara berkembang lebih tinggi dibandingkan negara maju. Di Nepal diperkirakan mencapai 799 per 100.000 orang per tahun (Upadhyay, 2001). Keratitis yang disebabkan oleh jamur terjadi sekitar 6% dari pasien yang berada di iklim tropis.

(18)

Menurut Moriyama (2008) dalam Winda (2010), agen-agen mikroba yang paling sering menyebabkan keratitis dari bakteri gram positif adalah

coagulase-negative staphylococcus (67,27%), Corynebacterium sp (18,18%),

Staphylococcus aureus (9,09%), Streptococcus sp (3,6%), dll (1,8%). Bakteri

gram negatif yang tersering adalah Pseudomonas sp (55,17%), Pseudomonas

aeruginosa (22,4%), Pseudomonas fluorescens (7%), Serratia sp (25,86%),

Enterobacter aerogenes (8,62%), Klebsiella sp (1,72%), Proteus mirabilis

(1,72%), Citrobacter freundii (1,72%), Achromobacter xyloxidans (1,72%),

Alcaligenes sp (1,72%), Moraxella sp (1,72%), sedangkan penyebab jamur yang

tersering adalah Candida sp (75%), dan Aureobasidium pullulans (25%).

Insidensi keratitis noninfeksi bergantung pada etiologi yang menyertainya. Pada penelitian yang dilakukan Aravind Eye Hospital di India terdapat sekitar 56% trauma mata disebabkan padi dan debu. Selanjutnya pada penelitian yang berbeda ditemukannya kultur yang positif pada ulkus kornea dengan spesimen yang ditemukan berupa golongan bakteri dan jamur pada 297 orang penderita yang mengalami trauma mata (Aldy, 2010).

Gambaran klinik masing-masing keratitis berbeda-beda tergantung dari jenis penyebab dan tingkat kedalaman yang terjadi di kornea, jika keratitis tidak ditangani dengan benar maka penyakit ini akan berkembang menjadi suatu ulkus yang dapat merusak kornea secara permanen sehingga akan menyebabkan gangguan penglihatan bahkan dapat sampai menyebabkan kebutaan sehingga pengobatan keratitis haruslah cepat dan tepat agar tidak menimbulkan komplikasi yang merugikan di masa yang akan datang.

(19)

1.2. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana karakteristik penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakteristik penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011.

1.3.2. Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui proporsi penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011.

2. Mengetahui distribusi karakteristik penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 yang meliputi: umur, jenis kelamin, pekerjaan, faktor risiko keratitis seperti: riwayat penggunaan lensa kontak dan riwayat trauma kornea.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat untuk mengetahui apa saja yang menjadi karakteristik individu terhadap terjadinya keratitis untuk memeriksakan diri lebih dini.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan informasi kepada petugas kesehatan dan rumah sakit pada umumnya juga Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik khususnya dalam rangka meningkatkan fasilitas serta upaya pelayanan terhadap penderita keratitis. 3. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin mengadakan

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kornea

2.1.1. Anatomi

Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37. Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60 kekuatan dioptri mata manusia. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata. Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva ( AAO, 2008). Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 550 µm, diameter horizontalnya sekitar 11,75 mm dan vertikalnya 10,6 mm ( Riordan-Eva, 2010).

Gambar 2.1. Gambar Mata

(21)

2.1.2. Histologi

Secara histologis, lapisan sel kornea terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel (Riordan-Eva, 2010).

Permukaan anterior kornea ditutupi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk dan tanpa papil. Di bawah epitel kornea terdapat membran limitans

anterior (membran Bowman) yang berasal dari stroma kornea (substansi propia).

Stroma kornea terdiri atas berkas serat kolagen paralel yang membentuk lamella tipis dan lapisan-lapisan fibroblas gepeng dan bercabang (Eroschenko, 2003).

Permukaan posterior kornea ditutupi epitel kuboid rendah dan epitel posterior yang juga merupakan endotel kornea. Membran Descemet merupakan membran basal epitel kornea (Eroschenko, 2003) dan memiliki resistensi yang tinggi, tipis tetapi lentur sekali (Hollwich, 1993).

2.1.3. Perdarahan dan Persarafan

Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh-pembuluh darah limbus, humor

aqueous, dan air mata. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari cabang pertama

(ophthalmichus) dan nervus kranialis trigeminus (Riordan-Eva, 2010). Saraf

trigeminus ini memberikan sensitivitas tinggi terhadap nyeri bila kornea disentuh (Hollwich, 1993).

2.1.4. Fisiologi Kornea

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi

relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel

(22)

akan meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan pada lapisan air mata tersebut. Hal ini mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi.

Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut-lemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang utuh. Agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air sekaligus.

Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan membran Bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur (Biswell, 2010).

Adapun faktor-faktor yang sering menyebabkan kelainan pada kornea adalah:

1. Dry eye

Kelainan ini muncul ketika lapisan air mata mengalami defisiensi sehingga tidak dapat memenuhi batas-batas kecukupan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang kemudian diikuti dengan keluhan subjektif. Kekurangan cairan lubrikasi fisiologis merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi mikroba pada mata (Bangun, 2009).

2. Defisiensi vitamin A

Kelainan kornea oleh karena defisiensi vitamin A dapat menyebabkan kekeringan yang menggambarkan bercak Bitot yang warnanya seperti mutiara yang berbentuk segitiga dengan pangkal di daerah limbus. Bercak Bitot seperti ada busa di atasnya. Bercak ini tidak dibasahi oleh air mata dan akan terbentuk kembali bila dilakukan

debridement. Terdapat dugaan bahwa bentuk busa ini merupakan akibat

(23)

3. Abnormalitas ukuran dan bentuk kornea

Abnormalitas ukuran dan bentuk kornea yang terjadi adalah mikrokornea dan megalokornea.

Mikrokornea adalah suatu kondisi yang tidak diketahui penyebabnya, bisa berhubungan dengan gangguan pertumbuhan kornea fetal pada bulan ke-5. Selain itu bisa juga berhubungan dengan pertumbuhan yang berlebihan dari puncak anterior optic cup yang meninggalkan sedikit ruang bagi kornea untuk berkembang. Mikrokornea bisa berhubungan dengan autosomal dominan atau resesif dengan prediksi seks yang sama, walaupun transmisi dominan lebih sering ditemukan. Megalokornea adalah suatu pembesaran segmen anterior bola mata. Penyebabnya bisa berhubungan dengan kegagalan optic cup untuk tumbuh dan anterior tip menutup yang meninggalkan ruangan besar bagi kornea untuk untuk diisi (Bangun, 2010).

4. Distrofi kornea

Deposit abnormal yang disertai oleh perubahan arsitektur kornea, bilateral simetrik dan herediter, tanpa sebab yang diketahui. Proses dimulai pada usia bayi 1-2 tahun dapat menetap atau berkembang lambat dan bermanisfestasi pada usia 10-20 tahun. Pada kelainan ini tajam penglihatan biasanya terganggu dan dapat disertai dengan erosi kornea (Ilyas, et al, 2002).

5. Trauma kornea

Trauma kornea bisa disebabkan oleh trauma tumpul, luka penetrasi atau perforasi benda asing. Kemungkinan kontaminasi jamur atau bakteri harus diingat dengan kultur untuk bakteri dan jamur diambil pada saat pemeriksaan pertama jika memungkinkan.

(24)

Trauma penetrasi merupakan keadaan yang gawat untuk bola mata karena pada keadaan ini kuman akan mudah masuk ke dalam bola mata selain dapat mengakibatkan kerusakan susunan anatomik dan fungsional jaringan intraokular (Ilyas, 2009).

Perforasi benda asing yang terdapat pada kornea dapat menimbulkan gejala berupa rasa pedas dan sakit pada mata. Keluhan ini mungkin terjadi akibat sudah terdapatnya keratitis atau tukak pada mata tersebut (Ilyas, 2009).

2.2. Keratitis 2.2.1. Definisi

Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat terjadinya kekeruhan pada media kornea ini, maka tajam penglihatan akan menurun. Mata merah pada keratitis terjadi akibat injeksi pembuluh darah perikorneal yang dalam atau injeksi siliar.

Keratitis biasanya diklasifikasikan dalam lapis yang terkena seperti keratitis superfisial dan profunda atau interstisial (Ilyas, 2004).

2.2.2. Etiologi

Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor (Ilyas, 2004), diantaranya: 1. Virus.

2. Bakteri. 3. Jamur.

4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari. 5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.

6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak cukupnya pembentukan air mata.

7. Adanya benda asing di mata.

(25)

2.2.3 Klasifikasi

Menurut Biswell (2010), keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal.

1. Berdasarkan lapisan yang terkena Keratitis dibagi menjadi:

a. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel)

Keratitis pungtata adalah keratitis dengan infiltrat halus pada kornea yang dapat terletak superfisial dan subepitel (Ilyas, 2004).

 Etiologi

Keratitis Pungtata ini disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan dapat terjadi pada Moluskum kontangiosum, Akne rosasea, Herpes simpleks, Herpes

zoster, Blefaritis neuroparalitik, infeksi virus, vaksinisia, trakoma, trauma radiasi,

dry eye, keratitis lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin dan

bahaya pengawet lainnya.

Gambar 2.2. Keratitis Pungtata Sumber: Thygeson (1950)

(26)

 Pemeriksaan laboratorium

Penyakit ini ditandai kekerutan epitel yang meninggi berbentuk lonjong dan jelas yang menampakkan bintik-bintik pada pemulasan dengan fluoresein, terutama di daerah pupil. Uji fluoresein merupakan sebuah tes untuk mengetahui terdapatnya kerusakan epitel kornea. Dasar dari uji ini adalah bahwa zat warna fluoresein akan berubah berwarna hijau pada media alkali. Zat warna fluoresein bila menempel pada epitel kornea maka bagian yang terdapat defek akan memberikan warna hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat lebih basa. Kekeruhan subepitelial dibawah lesi epitel sering terlihat semasa penyembuhan epitel ini, uji sensibilitas kornea juga diperiksa untuk mengetahui fungsi dari saraf trigeminus dan fasial. Pada umumnya sensibilitas kornea juga akan menurun (Ilyas, 2003).

 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada ketratitis pungtata superfisial pada prinsipnya adalah diberikan sesuai dengan etiologi. Untuk virus dapat diberikan idoxuridin, trifluridin atau asiklovir. Untuk bakteri gram positif pilihan pertama adalah cafazolin, penisilin G atau vancomisin dan bakteri gram negatif dapat diberikan tobramisin, gentamisin atau polimixin B. Pemberian antibiotik juga diindikasikan jika terdapat sekret mukopurulen yang menunjukkan adanya infeksi campuran dengan bakteri. Untuk jamur pilihan terapi yaitu natamisin, amfoterisin atau fluconazol.

Selain terapi berdasarkan etiologi, pada keratitis pungtata superfisial ini sebaiknya juga diberikan terapi simptomatisnya agar dapat memberikan rasa nyaman seperti air mata buatan, sikloplegik dan kortikosteroid (Ilyas, 2003).

b. Keratitis Marginal

(27)

 Etiologi

Strepcoccus pneumonie, Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata dan

Esrichia.

 Gejala klinis

Penderita akan mengeluhkan sakit, seperti kelilipan, lakrimasi, disertai fotofobia berat. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata, injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal ataupun multipel, sering disertai neovaskularisasi dari arah limbus.

 Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan kerokan kornea yang dipulas dengan pewarnaan Gram maupun Giemsa dapat mengidentifikasi organisme, khususnya bakteri (Biswell, 2010).

 Penatalaksanaan

Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yang sesuai dengan penyebab infeksi lokalnya dan steroid dosis ringan. Pada pasien dapat diberikan vitamin B dan C dosis tinggi (Ilyas, 2004).

c. Keratitis Interstisial

Keratitis interstitial adalah kondisi serius dimana masuknya pembuluh darah ke dalam kornea dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi kornea. Keratitis interstitial dapat berlanjut menjadi kebutaan. Sifilis adalah penyebab paling sering dari keratitis interstitial (Hollwich, 1993).

 Etiologi

Keratitis Interstisial dapat terjadi akibat alergi atau infeksi spiroket ke dalam stroma kornea dan akibat tuberkulosis (Ilyas, 2004).

(28)

 Gejala klinis

Biasanya akan memberikan gejala fotofobia, lakrimasi, dan menurunnya visus.

Menurut Hollwich (1993) keratitis yang disebabkan oleh sifilis kongenital biasanya ditemukan trias Hutchinson (mata: keratitis interstisial, telinga: tuli labirin, gigi: gigi seri berbentuk obeng), sadlenose, dan pemeriksaan serologis yang positif terhadap sifilis.

Pada keratitis yang disebabkan oleh tuberkulosis terdapat gejala tuberkulosis lainnya (Ilyas, 2004)

 Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan kerokan kornea yang dipulas dengan pewarnaan gram maupun Giemsa dapat mengidentifikasi organisme, khususnya bakteri (Biswell, 2010).

 Penatalaksanaan

Penatalaksanaannya dapat diberikan kortikosteroid tetes mata jangka lama secara intensif setiap jam dikombinasi dengan tetes mata atropin dua kali sehari dan salep mata pada malam hari (Hollwich, 1993).

2. Berdasarkan penyebabnya

Keratitis diklasifikasikan menjadi: a. Keratitis Bakteri

 Etiologi

(29)

Tabel 2.1. Penyebab Keratitis Bakterial Causes of Bacterial Keratitis

Common Organisms Uncommon Organisms

Staphylococcus aureus Neisseria spp

Staphylococcus epidermidis Moraxella spp

Streptococcus pneumoniae and other Streptococcus spp

Mycobacterium spp

Pseudomonas aeruginosa (most common organism in soft contact lens wearers)

Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri pada mata yang terinfeksi, penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi kabur (Kanski, 2005). Pada pemeriksaan bola mata eksternal ditemukan hiperemis perikornea, blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea.

 Pemeriksaan laboratorium

Menurut Kanski (2005) pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan menggores ulkus kornea dan bagian tepinya dengan menggunakan spatula steril kemudian ditanam di media cokelat (untuk Neisseria, Haemophillus dan

Moraxella sp), agar darah (untuk kebanyakan jamur, dan bakteri kecuali

Neisseria) dan agar Sabouraud (untuk jamur, media ini diinkubasi pada suhu

kamar). Kemudian dilakukan pewarnaan Gram (Biswell, 2010).

 Penatalaksanaan

Diberikan antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur bakteri. Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang dapat diberikan (American

(30)

Tabel 2.2.Penatalaksanaan Awal untuk Keratitis Bakterial

Initial Therapy for Bacterial Keratitis

Organism Antibiotic Topical Dose Subconjunctival

Dose

Menurut Susetio (1993), secara ringkas dapat dibedakan :

1) Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa.

2) Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp,

Curvularia sp, Altenaria sp.

3) Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.

4) Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas :

Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.

(31)

 Gejala klinis

Menurut Susetio (1993) untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut :

1) Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama. 2) Lesi satelit.

3) Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh.

4) Plak endotel.

5) Hipopion, kadang-kadang rekuren. 6) Formasi cincin sekeliling ulkus. 7) Lesi kornea yang indolen.

 Pemeriksaan laboratorium

Diagnosis laboratorik sangat membantu diagnosis pasti, walaupun negatif belum dapat menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Hal yang utama adalah melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Kemudian dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka keberhasilan masing-masing ± 20-30%, 50-60%, 60-75%dan 80%.

Sebaiknya melakukan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan

Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver, tetapi memerlukan biaya yang

besar. Akhir-akhir ini dikembangkan Nomarski differential interference contrast

microscope untuk melihat morfologi jamur dari kerokan kornea (metode

Nomarski) yang dilaporkan cukup memuaskan. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar Sabouraud atau agar ekstrak maltosa ( Susetio, 1993).

 Penatalaksanaan

(32)

kreativitas dalam improvisasi pengadaan obat. Hal yang utama dalam terapi keratomikosis adalah mengenai jenis keratomikosis yang dihadapi, dapat dibagi:

1) Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya.

Topikal amphotericin B 1,02,5 mg/ml, thiomerosal (10 mg/ml), natamycin

> 10 mg/ml, golongan imidazole.

2) Jamur berfilamen.

Untuk golongan II : Topikal amphotericin B, thiomerosal, natamycin (obat terpilih), imidazole (obat terpilih).

3) Ragi (yeast).

Amphoterisin B, natamycin, imidazole

4) Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur sejati. Golongan sulfa, berbagai jenis antibiotik.

c. Keratitis Virus  Etiologi

Herpes simpleks virus(HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering

pada kornea. Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan parasit intraselular obligat yang dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung virus (Ilyas, 2004).

 Gejala klinis

Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri pada mata, fotofobia, penglihatan kabur, mata berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama jika bagian pusat yang terkena (Ilyas, 2004).

(33)

sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu dimana daya tahan tubuh sangat lemah akan menjadi parah dan menyerang stroma.

 Pemeriksaan laboratorium

Menurut Biswell (2010) dilakukan kerokan dari lesi epitel pada keratitis HSV dan cairan dari lesi kulit mengandung sel-sel raksasa. Virus ini dapat dibiakkan pada membran korio-allantois embrio telur ayam dan pada banyak jenis lapisan sel jaringan (misal sel HeLa, tempat terbentuknya plak-plak khas).

 Terapi

1) Debridement

Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial,

karena virus berlokasi didalam epitel. Debridement juga mengurangi beban antigenik virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea namun epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropin 1% atau homatropin 5% diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam (Biswell, 2010).

2) Terapi Obat menurut Ilyas, 2004:

 IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam).

 Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep.  Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam.  Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.

(34)

3) Terapi Bedah

Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes nonaktif (Biswell, 2010).

d. Keratitis Acanthamoeba  Etiologi

Keratitis yang berhubungan dengan infeksi Acanthamoeba yang biasanya disertai dengan penggunaan lensa kontak (Dorland, 2002).

 Gejala klinis

Rasa sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya yaitu kemerahan, dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural. Bentuk-bentuk awal pada penyakit ini, dengan perubahan-perubahan hanya terbatas pada epitel kornea semakin banyak ditemukan. Keratitis Acanthamoeba sering disalah diagnosiskan sebagai keratitis herpes (Biswell, 2010).

 Pemeriksaan laboratorium

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kerokan dan biakan di atas media khusus. Biopsi kornea mungkin diperlukan. Sediaan histopatologik menampakkan bentuk-bentuk amuba (kista atau trofozoit). Larutan dan kontak lensa harus dibiak. Sering kali bentuk amuba dapat ditemukan pada larutan kotak penyimpan lensa kontak (Biswell, 2010).

 Penatalaksanaan

(35)

poliheksametilen (larutan 0,01-0,02%) dikombinasi dengan obat lain atau sendiri, kini makin populer.

Agen lain yang mungkin berguna adalah paromomisin dan berbagai imidazol topikal dan oral seperti ketokonazol, mikonazol, itrakonazol. Terapi juga dihambat oleh kemampuan organisme membentuk kista didalam stroma kornea, sehingga memerlukan waktu yang lama.

Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk mengendalikan reaksi radang dalam kornea. Keratoplasti mungkin diperlukan pada penyakit yang telah lanjut untuk menghentikan berlanjutnya infeksi atau setelah resolusi dan terbentuknya parut untuk memulihkan penglihatan.

(36)

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

3.2. Definisi Operasional

1. Pasien keratitis adalah semua data rekam medis yang telah didiagnosis oleh dokter di poli mata RSUP H.Adam Malik yang mengalami keratitis. 2. Karakteristik pasien keratitis adalah data yang tercantum dalam rekam

medis yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya keratitis, antara lain: umur, jenis kelamin, pekerjaan, riwayat penggunaan lensa kontak dan riwayat trauma kornea.

3. Umur adalah jumlah tahun hidup pasien sejak lahir sampai terdiagnosa menderita keratitis yang sesuai dengan rekam medis tahun 2010-2011. 4. Jenis kelamin adalah jenis kelamin pasien keratitis yang tertulis di rekam

(37)

5. Pekerjaan adalah aktivitas rutin dan utama yang dilakukan pasien keratitis yang menghasilkan uang atau tidak yang sesuai dengan rekam medis tahun 2010-2011.

6. Riwayat penggunaan lensa kontak adalah pasien keratitis yang memilki kebiasaan menggunakan lensa kontak sehari-hari yang disesuaikan dengan data rekam medis tahun 2010-2011.

7. Riwayat trauma kornea adalah trauma yang disebabkan benda tumpul, trauma penetrasi atau benda asing pada kornea yang dialami oleh pasien keratitis yang sesuai dengan rekam medis tahun 2010-2011.

Tabel 3.2. Metode Pengukuran

No. Variabel Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

(38)

menggunakan lensa kontak

5. Riwayat trauma kornea

Rekam Medis 1.Trauma benda tumpul 2.Trauma penetrasi 3.Trauma benda asing

(39)

BAB 4

METODE PENLITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif yang akan menggambarkan karakteristik penderita keratitis. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian adalah retrospective studi dimana akan dilakukan pengumpulan data berdasarkan rekam medis.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu

Waktu penelitian dimulai dari pengumpulan proposal sampai pengumpulan hasil yaitu dilakukan pada bulan Juli sampai November 2012.

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan. Pemilihan tempat didasarkan pada pertimbangan bahwa rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit tipe A yang sesuai SK MENKES No. 335/MENKES/SK/VII/1990 yang merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah regional Sumatera. Selain itu RSUP H.Adam Malik juga adalah Rumah Sakit Pendidikan sesuai SK MENKES No. 502/MENKES/SK/IX/1991.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi

(40)

4.3.2. Sampel

Menurut Sastroasmoro (2011), sampel adalah bagian dari populasi.

Jenis sampel yang digunakan adalah “total sampling”. “Total sampling

adalah teknik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi sebagai responden/sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah semua penderita keratitis yang datang ke poli mata untuk melakukan pengobatan di RSUP H. Adam Malik Tahun 2010 – 2011.

4.4. Kriteria inklusi dan eksklusi 4.4.1. Kriteria inklusi

 Semua penderita keratitis yang tercatat dalam rekam medis dan dapat disertai dengan trauma kornea dan penggunaan kontak lensa yang tidak higienis.

4.4.2. Kriteria eksklusi

 Data dari rekam medis tidak tercatat dengan lengkap.

4.5. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data penelitian ini adalah data sekunder berupa rekam medis yang ada di RSUP H. Adam Malik.

4.6. Metode Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan akan dimasukkan kedalam komputer kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan program SPSS

(Statistical Product and Service Solution). Data disajikan dalam bentuk

(41)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, kelurahan Kemenangan Tani, kecamatan Medan Tuntungan. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 355/ Menkes/ SK/ VII/ 1990. Dengan predikat rumah sakit kelas A, RSUP H. Adam Malik Medan telah memiliki fasilitas kesehatan yang memenuhi standard dan tenaga kesehatan yang kompeten. Selain itu, RSUP H. Adam Malik Medan juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Sumatera yang meliputi Sumatera Utara, D.I. Aceh, Sumatera Barat dan Riau sehingga kita dapat menjumpai pasien dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 502/Menkes/IX/1991 tanggal 6 September 1991, RSUP H. Adam malik Medan ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden

(42)

Tabel 5.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Kelompok Umur

Frekuensi Persentase

0-17 tahun 32 20.8

18-39 tahun 49 31.8

> 40 tahun 73 47.4

Total 154 100.0

Berdasarkan kelompok umur, didapati sampel berumur 0-17 tahun sebanyak 32 orang (20,8%), berumur 18-39 tahun sebanyak 49 orang (31,8%), berumur >40 tahun sebanyak 73 orang (47,4%). Mayoritas sampel berada pada kelompok umur >40 tahun dan kelompok umur dengan jumlah sampel paling sedikit adalah pada kelompok umur 0-17 tahun.

Tabel 5.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin

Frekuensi Persentase

Laki-laki 89 57.8

Perempuan 65 42.2

Total 154 100.0

(43)

Tabel 5.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan

Frekuensi Persentase

Pelajar/mahasiswa 34 22.1

Pegawai negeri/swasta 12 7.8

Wiraswasta 42 27.3

Petani 17 11.0

Ibu Rumah Tangga 33 21,4

Tidak bekerja 16 10,4

Total 154 100.0

Berdasarkan kelompok pekerjaan, didapati sampel yang bekerja sebagai pelajar/mahasiswa sebanyak 34 orang (22,1%), sampel yang bekerja sebagai pegawai negeri/swasta sebanyak 12 orang (7,8%), sampel yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 42 orang (27,3%), sampel yang bekerja sebagai petani sebanyak 17 orang (11%), sampel yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 33 orang (21,4%) dan sampel yang tidak bekerja sebanyak 16 orang (10,4%).

Tabel 5.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Riwayat Penggunaan Lensa Kontak

Frekuensi Persentase

Menggunakan

lensa kontak 13 8.4

Tidak

menggunakan lensa kontak

141 91.6

(44)

Berdasarkan kelompok riwayat penggunaan lensa kontak, didapati sampel yang mempunyai riwayat penggunaan lensa kontak sebanyak 13 orang (8,4%) dan sampel yang tidak mempunyai riwayat penggunaan lensa kontak sebanyak 141 orang (91,6%). Dengan demikian, mayoritas sampel tidak mempunyai riwayat penggunaan lensa kontak.

Tabel 5.5. Distribusi Sampel Berdasarkan Riwayat Trauma Kornea Frekuensi Persentase

Trauma benda tumpul 8 5.2

Trauma penetrasi 7 4.5

Trauma benda asing 139 90.3

Total 154 100.0

(45)

Tabel 5.6. Distribusi Sampel Berdasarkan Riwayat Trauma Benda Asing

Frekuensi Persentase

Debu 95

Berdasarkan kelompok riwayat adanya benda asing, didapati sampel sebanyak 139 orang, sampel yang mempunyai riwayat trauma benda asing karena debu sebanyak 95 orang (68.35%), sampel yang mempunyai riwayat trauma benda asing karena serbuk kayu sebanyak 8 orang (5.76%), sampel yang mempunyai riwayat trauma benda asing karena serbuk padi sebanyak 19 orang (13.67%), sampel yang mempunyai riwayat trauma benda asing karena bijih besi sebanyak 13 orang (9.35%), sampel yang mempunyai riwayat trauma benda asing karena serangga sebanyak 4 orang (2.88%). Dengan demikian, mayoritas sampel yang mempunyai riwayat trauma benda asing adalah karena debu.

5.2.Pembahasan

(46)

Dari Tabel 5.1 terlihat distribusi umur menujukkan lebih banyak kelompok umur > 40 tahun sebanyak 73 orang yaitu berkisar (47,4%). Dengan meningkatnya umur, kemungkinan infeksi kornea semakin tinggi oleh karena aktivitasnya berbanding lurus dengan bertambahnya umur seseorang. Hal ini didukung dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Suhardjo dkk (2000) di RS Dr. Sardjito Yogyakarta yang menunjukkan bahwa umur terbanyak penderita keratitis adalah pada usia dewasa yaitu 42,4% (24 sampel pada usia 41-60 tahun).

Dari Tabel 5.2 terlihat distribusi jenis kelamin menujukkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki berkisar sebanyak 89 orang (57,8%). Predisposisi faktor populasi laki-laki lebih banyak daripada perempuan, pada penelitian ini tidak diketahui. Mungkin berhubungan dengan banyaknya kegiatan pada kaum laki-laki sehari-hari meningkatkan risiko terjadinya trauma, termasuk trauma pada kornea. Hal ini juga didukung dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Suhardjo dkk (2000) di RS Dr. Sardjito Yogyakarta yang menunjukkan bahwa dari 57 sampel, 66,7% (38 sampel) adalah laki-laki dan 33,3% (19 sampel) adalah perempuan. Penelitian lain juga menemukan jenis kelamin terbanyak yang menderita keratitis adalah laki-laki sebanyak 48 penderita (61,5%) diikuti perempuan sebanyak 30 penderita (38,5%) (Albar, 2012).

(47)

Dari tabel 5.4 terlihat bahwa sebagian besar penderita keratitis yang datang ke RSUP H.Adam Malik tahun 2010-2011 tidak memiliki riwayat penggunaan lensa kontak yaitu sebanyak 141 orang (91,6%). Hal ini sesuai dengan data distribusi tindakan mahasiswa FK USU 2010 dalam penggunaan lensa kontak yang terkait dengan risiko terjadinya keratitis, dimana proporsinya hanya 10% dari keseluruhan responden yang diteliti yang mempunyai risiko keratitis (Kamarrudin, 2010). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan kontak lensa adalah faktor risiko utama keratitis Acanthamoeba di negara maju, sedangkan di negara berkembang biasanya dihubungkan dengan trauma mata (Tuft, 2012).

Hasil penelitian David et al (2007) di Rumah Sakit Mata Moorfields juga menunjukkan penggunaan kontak lensa adalah faktor risiko terjadinya keratitis oleh karena jamur yaitu sekitar 30,8 % (8 kasus). Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Toronto (2011) yang menunjukkan angka kejadian keratitis oleh karena mikroba sekitar 5 dari 10.000 pada pengguna kontak lensa. Di negara maju, seperti di Amerika Serikat, setiap tahunnya penderita keratitis mencapai sekitar 30.000 orang.

Dari tabel 5.5 terlihat bahwa riwayat trauma kornea terbanyak oleh karena trauma benda asing yaitu sebanyak sebanyak 139 orang (90,3%).Penelitian di RS Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2000 juga menunjukkan trauma kornea merupakan penyebab terbanyak (68,4%) terjadinya ulkus kornea (Suhardjo dkk, 2000).

(48)

trauma penetrasi yang menyebabkan terjadinya keratitis adalah sekitar 19,2%(5 kasus).

(49)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hasil penelitian menunjukkan proporsi penderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 adalah sebanyak 154 pasien di mana laki-laki berjumlah 89 orang dan perempuan berjumlah 65 orang.

2. Distribusi umur terbanyak yang menderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 adalah > 40 tahun sebanyak 73 orang (47,4%).

3. Distribusi jenis kelamin terbanyak yang menderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 adalah laki-laki sebanyak 89 orang (57,8%).

4. Distribusi kelompok pekerjaan terbanyak yang menderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 adalah wiraswasta sebanyak 42 orang (27,3%).

5. Distribusi kelompok riwayat penggunaan lensa kontak yang menderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 adalah sebanyak 13 orang (8,4%).

(50)

7. Distribusi kelompok riwayat trauma benda asing terbanyak yang menderita keratitis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik tahun 2010-2011 disebabkan oleh debu sebanyak 95 orang (68.35%).

7.2. Saran

Beberapa hal yang dapat direkomendasikan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Bagi praktisi medis

Perlu dilakukan upaya prevensi terhadap timbulnya kejadian keratitis pada masyarakat agar tidak terjadi kebutaan akibat komplikasi keratitis, seperti penyuluhan agar meningkatkan kesadaran masyarakat yang berisiko tinggi untuk memeriksakan matanya secara rutin dan berkala terutama bila sudah mempunyai faktor risiko dan melatih tenaga-tenaga kesehatan untuk memantau kemungkinan terjadinya keratitis dan segera merujuk pasien umtuk pengobatan sebelum terjadinya kebutaan.

2. Bagi penelitian selanjutnya

Mengingat banyaknya faktor-faktor yang dapat meningkatkan kejadian keratitis, perlu dilaksanakan lebih banyak penelitian guna mengidentifikasi lebih jauh faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi kelainan-kelainan kornea serta untuk mengetahui faktor yang paling dominan yang mempengaruhi keratitis.

3. Bagi sarana pelayanan kesehatan

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Albar , M. Y., 2012. Karakteristik Penderita Keratitis Infektif di RS H. Adam Malik Tahun 2010-2011. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Tesis. Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/33583

[Accessed: 28 November 2012]

Aldy, F., 2009. Prevalensi Kebutaan Akibat Trauma Mata di Kabupaten Tapanuli

Selatan. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara. Tesis. Available from:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6381/1/10E00180.pdf

[Accessed: 3 April 2012].

Bangun, C.Y.Y., 2009. Prevalensi Kebutaan Akibat Kelainan Kornea di

Kabupaten Langkat. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara RSUP. H. Adam Malik. Tesis. Available from:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6385/1/10E00176.pdf

[Accessed: 4 May 2012].

Biswell, R., 2010. Kornea. In: Vaughan, Asbury. Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta: EGC.

Bower, K.S., and Hwang, F.S., 2011. Keratitis. Available from:

http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/561/basics/epidemiolog

y.html.2011 [Accessed 24 April 2012].

(52)

http://130.88.242.202/medicine/Aspergillus/Dropbox/Aspergillus_Website/a

spergillus-web/articlesoverflow/17893539.pdf [Accessed : 3 Desember 2012].

Eroschenko, V.P., 2003. Atlas Histologi di Fiore Edisi 9. Jakarta: EGC.

Hartanto, H., et al, 2002. Kamus Kedokteran Dorland Ed. 29. Jakarta: EGC.

Hollwich, F., 1993. Oftalmologi Edisi Kedua. Jakarta: Binarupa Aksara.

Ilyas, S., 1998. Ilmu Penyakit Mata Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Ilyas, S., 2000. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Ilyas, S., Mailangkay, H.H.B., Taim, H., Saman, R.R., Simarmata, M., Widodo, P.S., 2002. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa

KedokteranEdisi ke-2. Jakarta: CV. Sagung Seto..

Ilyas, S., 2004. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Ilyas, S., 2009. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Kamaruddin, F. A., 2010. Gambaran Penggunaan Lensa Kontak Pada Mahasiswa FK USU dan Kemungkinan Terjadinya Keratitis. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/23196 [Accessed: 28 November 2012]

(53)

Riordan-Eva, P., 2010. Anatomi & Embriologi Mata. In: Vaughan, Asbury.

Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta: EGC.

Satroasmoro, S., Ismael, S., 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis

Edisi 4. Jakarta: CV. Sagung Seto.

Suhardjo., Widodo, F., Dewi, U.M., 2000. Tingkat Keparahan Ulkus Kornea di

RS Dr. Sardjito Sebagai Tempat Pelayanan Mata Tertier . Bagian Ilmu

Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/SMF Penyakit Mata RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Available from:

http://www.tempo.co.id/medika/online/tmp.online.old/art-1.htm

[Accesed:27 November 2012 ]

Susetio, B., 1993. Penatalaksaan Infeksi Jamur pada Mata. In: Cermin Dunia Kedokteran No 87. Available from:

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/11InfeksiJamur087.pdf/11InfeksiJamu

r087.pdf [Accessed 25 April 2012].

Sutphin, J.E., 2008. Externa disease and cornea (Basic and Clinical Science

Course 2008-2009). San Fransisco: American Academy of Ophthalmology.

Thygeson, P., 1950. Superficial Punctate Keratitis. Journal of the American

Medical Association. Available from:

(54)

Toronto, O., 2011. Hudson Bay Centre, Concourse level. 44 Bloor St. East.

Available from: Available from:

http://www.deepdyve.com/lp/informa-healthcare/factors-affecting-the-epidemiology-of-acanthamoeba-keratitis-toDPa1ohT0

[Accessed : 3 Desember 2012].

Tuft, S.J., 2012. Suppurative Keratitis. Moorfields Eye Hospital, London. EC IV 2 PD. UK. Available from:

http://bjo.bmj.com/content/87/2/127.1.full.pdf [Accessed : 3 Desember 2012].

Wijaya, C., Terabunan, J., Perwira, D., 2012. Referat keratitis. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Rumah Sakit Immanuel. Bandung. Available from:

http://www.scribd.com/doc/84409823/keratitis [Accessed: 11 May 2012].

Winda, F., 2010. Tingkat Pengetahuan Pengguna Lensa Kontak Terhadap Dampak Negatif Penggunaannya Pada Mahasiswa FK USU Angkatan

2007-2009. Fakultas Kedokteran Sumatera Utara. Available from:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22688/6/Chapter%20I.pdf

[Accessed : 3 April 2012].

http://www.aao.org/eyecare/anatomy/ [Accessed: 28 May 2012].

(55)

Nama : Sarah Zoraya Mirza Tempat / Tanggal Lahir : P.Berandan / 20 Juni 1991

Agama : Islam

Alamat : Jl. Menteng Raya Gg.Luhur No.7 , Denai-Medan Riwayat Pendidikan

1. Latihan Kepemimpinan Manajemen

Mahasiswa (LKMM) Lokal

Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) FK USU

2010

2. Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Wilayah Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Wilayah I (Se-Pulau Sumatera) di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

2010

3. Seminar dan Workshop Basic Life Support and Traumatologi (TBM FK

(56)

Riwayat Organisasi :

1. Anggota Tim Bantuan Medis (TBM) FK USU PEMA FK USU Periode 2009-2010

2. Sekretaris Divisi Pengabdian Masyarakat TBM FK USU PEMA FK USU Periode 2010-2011

3. Sekretaris Bidang Pengabdian Masyarakat (PENGMAS) Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Wilayah I (Se-Pulau Sumatera) Periode 2010-2011 4. Sekretaris Departemen Pengabdian

Masyarakat PEMA FK USU Periode 2010-2011

5. Pengurus Harian Nasional Bidang Pengabdian Masyarakat (PENGMAS) Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Periode 2011-2012

USU

6. Bakti Sosial Nasional ISMKI di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

2011

7. Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang

(57)
(58)
(59)

3 00.41.54.86 Arianto Bancin 23 18-40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing debu

4 00.41.59.99 Rajii 38 18-40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma tumpul

-5 00.41.88.62 Zulfan Effendi 58 > 40 tahun perempuan IRT tidak ada trauma benda asing debu

6 00.42.24.65 Mariyam 44 > 40 tahun perempuan IRT tidak ada trauma benda asing debu

7 00.42.46.09 Susi Hermawan 26 18-40 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma benda asing serbuk kayu

8 00.42.93.44 Seger 41 > 40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing debu

9 00.43.11.37 Budi Hutajulu 19 18-40 tahun laki-laki pelajar/mahasiswa tidak ada trauma penetrasi

-10 00.44.16.74 Bayi Farida Hanum 0,5 0-17 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma tumpul

-11 00.44.57.75 Kamsi 56 > 40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing bijih besi

12 00.44.96.70 Idris Nst 43 > 40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing bijih besi

13 00.45.15.96 Basanuddin 72 > 40 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma penetrasi

-14 00.45.53.47 Baihaki Almisbah 4 0-17 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma benda asing debu

15 00.18.36.43 Fahmi Bintang 31 18-40 tahun laki-laki pegawai negeri/swasta tidak ada trauma benda asing debu

16 00.27.44.00 Adrian Suhaimi 35 18-40 tahun laki-laki petani tidak ada trauma benda asing serbuk padi

17 00.30.75.60 Sandi Abraham 23 18-40 tahun laki-laki pelajar/mahasiswa ada trauma benda asing debu

18 00.37.99.76 Masrizal sikumbang 52 > 40 tahun perempuan wiraswasta tidak ada trauma benda asing bijih besi

19 00.38.71.36 Selvi Maroda 17 0-17 tahun perempuan pelajar/mahasiswa tidak ada trauma benda asing debu

20 00.38.87.05 Patwani br. Gnting 50 > 40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing serbuk kayu

21 00.39.31.90 Juara Sitepu 32 18-40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing bijih besi

22 00.39.93.42 Deny Ramina 11 0-17 tahun laki-laki pelajar/mahasiswa tidak ada trauma benda asing debu

23 00.41.68.66 Linus Tarigan 49 > 40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing debu

24 00.41.70.42 Ria Sitorus 14 0-17 tahun perempuan pelajar/mahasiswa tidak ada trauma benda asing bijih besi

25 00.41.76.36 Semi br. Bangun 36 18-40 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma penetrasi

-26 00.41.81.84 Bambang Sofiyan 33 18-40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing debu

27 00.41.87.22 Ranapiah 23 18-40 tahun perempuan pelajar/mahasiswa tidak ada trauma benda asing debu

28 00.41.89.45 Dede Aswani 29 18-40 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma benda asing debu

29 00.41.93.68 Praja Afni 26 18-40 tahun perempuan wiraswasta tidak ada trauma benda asing bijih besi

30 00.42.13.49 Rosnani 58 > 40 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma benda asing debu

31 00.42.34.79 Iman 4 0-17 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma benda asing debu

32 00.42.99.55 Hasan Abdullah 72 > 40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing debu

33 00.43.12.07 Sahlan S. 25 18-40 tahun laki-laki wiraswasta tidak ada trauma benda asing bijih besi

34 00.43.31.87 Mester Barus 49 > 40 tahun laki-laki petani tidak ada trauma benda asing serbuk kayu

35 00.43.55.01 Eka M.F 19 18-40 tahun perempuan pelajar/mahasiswa tidak ada trauma benda asing debu

36 00.43.55.16 Letto 44 > 40 tahun laki-laki Tidak bekerja tidak ada trauma benda asing serbuk padi

37 00.43.77.81 Arif K.H 19 18-40 tahun laki-laki pelajar/mahasiswa ada trauma benda asing debu

38 00.43.82.77 Riyanto R. 33 18-40 tahun laki-laki pegawai negeri/swasta tidak ada trauma benda asing debu

39 00.43.82.80 Noprida Y. 16 0-17 tahun perempuan pelajar/mahasiswa tidak ada trauma benda asing debu

Gambar

Gambar 2.1. Gambar Mata
Gambar 2.2. Keratitis Pungtata
Tabel 2.1. Penyebab Keratitis Bakterial
Tabel 2.2.Penatalaksanaan Awal untuk Keratitis Bakterial
+7

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 5.18 Diagram Bar Proporsi Lama Rawatan Rata-rata Penderita Sirosis Hati Rawat Inap Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita tumor jinak dan ganas pada prostat di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2011.. Penelitian jenis deskriptif

Hasil penelitian ini memberikan gambaran karakteristik penderita cedera medula spinalis traumatik yang datang ke IGD RSUP Haji Adam Malik Medan, mengidentifikasi

Penderita stroke di Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik Medan memiliki faktor risiko berupa hiperlipidemia dengan keadaan hiperkolesterolemia sebanyak 34,9%, hipertrigliserida

Diagram Bar Rata-Rata Lama Rawatan Ibu Penderita Kehamilan Ektopik Terganggu Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2003-2008.

Hubungan Karakteristik Pasien dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan..

Karakteristik Ibu Hamil yang Melahirkan Bayi Prematur Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.. Pada Tahun

Diagram Bar Rata-Rata Lama Rawatan Ibu Penderita Kehamilan Ektopik Terganggu Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2003-2008.