• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Perawat dalam Memberikan Perawatan Paliatif pada Pasien Kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengalaman Perawat dalam Memberikan Perawatan Paliatif pada Pasien Kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

oleh

Wanda Elsa Pardede

111101101

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)
(4)

judul “Pengalaman Perawat dalam Memberikan Perawatan Paliatif pada Pasien Kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan”.

Penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, demikian juga kepada ErniyatiS.Kp., MNS selaku Pembantu Dekan I serta seluruh staf dan dosen pengajar Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk menyelesaikan studi jenjang Sarjana Keperawatan.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Dewi Elizadiani Suza, S.Kp., MNS., Ph.D selaku dosen pembimbing yang sudah meluangkan waktu untuk membimbing saya dalam penulisan skripsi ini, memberikan pengetahuan, bimbingan, motivasi dan masukan yang sangat bermanfaat sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Erniyati S.Kp., MNS dan Ners Asrizal M.Kep., RN., WOC(ET)N., CHt. N selaku dosen penguji yang juga banyak memberi saran dan masukan yang membangun dalam penulisan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih teristimewa kepada kedua orang tua, ayahanda Darwis Pardede dani bunda Ellya Pakpahan yang telahmemberikan cinta kasihnya serta doa yang mereka panjatkan demi kelancaran penyelesaian skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada adik-adik penulis yaitu Sonia, Cantika dan Agnesya serta kakak laki-laki penulis yaitu Raffles, yang selalu menyemangati, menghibur dan membuat ceria penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

(5)

Penulis tak lupa mengucapkan terimakasih kepada manajemen rumah sakit Murni Teguh, dokter, kepala ruangan, serta perawat di unit perawatan paliatif rumah sakit Murni Teguh yang telah memberikan ijin,kesempatan untuk melakukan penelitian dan semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih ada kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan profesi keperawatan.

Medan, Juli 2015 Penulis

(6)

PernyataanOrisinalitas... ii

2.3Tim perawatanpaliatif ... 24

(7)

1. Kesimpulan ... ... 65

2. Saran ... ... 66

Daftarpustaka ... 67

Lampiran-lampiran ... 73 Lampiran 1 Inform consent

Lampiran 2 Lembar persetujuan menjadi partisipan Lampiran 3 Kuesioner data demografi

Lampiran4 Panduan wawancara

Lampiran5 Surat uji validitas pertanyaan wawancara Lampiran6 Surat komisi etik

Lampiran 7 Surat ijin penelitian Lampiran 8 Surat selesai penelitian Lampiran 9 Jadwal penelitian Lampiran 10 Anggaran dana

Lampiran 11 Lembar bukti bimbingan

(8)
(9)

Jurusan : S1 Ilmu Keperawatan USU Tahun Akademik : 2014 / 2015

ABSTRAK

Perawatan paliatif merupakan perawatan yang diberikan kepada pasien dengan penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Perawatan paliatif diberikan untuk mengatasi masalah fisik, psikologis, dan spiritual serta memberikan dukungan ketika berduka. Perawatan paliatif diberikan oleh tim multidisipliner yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi, pemuka agama, dan perawat. Penelitian ini menggunakan desain fenomenologi yang bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak sembilan orang partisipan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2015. Analisa data pada penelitian ini menggunakan metode Collaizi.Penelitian ini menemukan ada 6 tema terkait dengan pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan, yaitu (1) dukungan, (2) manajemen nyeri, (3) kebutuhan psikologis, (4) kolaborasi, (5) penerapan perawatan paliatif, dan (6) harapan dan kebutuhan.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan perawat memberikan pelayanan yang semakin baik dan perawatan paliatif dapat berkembang dengan pesat serta bagi institusi pendidikan dapat memperkenalkan perawatan paliatif di tahap akademik sehingga dapat menambah wawasan dan mampu menerapkan perawatan paliatif.

(10)
(11)

Jurusan : S1 Ilmu Keperawatan USU Tahun Akademik : 2014 / 2015

ABSTRAK

Perawatan paliatif merupakan perawatan yang diberikan kepada pasien dengan penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Perawatan paliatif diberikan untuk mengatasi masalah fisik, psikologis, dan spiritual serta memberikan dukungan ketika berduka. Perawatan paliatif diberikan oleh tim multidisipliner yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi, pemuka agama, dan perawat. Penelitian ini menggunakan desain fenomenologi yang bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak sembilan orang partisipan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2015. Analisa data pada penelitian ini menggunakan metode Collaizi.Penelitian ini menemukan ada 6 tema terkait dengan pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di Rumah Sakit Murni Teguh Medan, yaitu (1) dukungan, (2) manajemen nyeri, (3) kebutuhan psikologis, (4) kolaborasi, (5) penerapan perawatan paliatif, dan (6) harapan dan kebutuhan.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan perawat memberikan pelayanan yang semakin baik dan perawatan paliatif dapat berkembang dengan pesat serta bagi institusi pendidikan dapat memperkenalkan perawatan paliatif di tahap akademik sehingga dapat menambah wawasan dan mampu menerapkan perawatan paliatif.

(12)
(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Schneider (2010) menyatakan kanker merupakan suatu peristiwa molekuler yang mengubah sifat normal sel. Dalam sel-sel kanker, sistem kontrol normal yang mencegah pertumbuhan berlebihan pada sel dan invasi jaringan lain tidak berfungsi akibatnya sel terus berkembang dan bertumbuh. Sel-sel aktif membelah dan tumbuh sehingga tidak lagi membutuhkan sinyal khusus untuk menginduksi pertumbuhan dan pembelahan sel.

American Cancer Society (2013) menyatakan kanker merupakan

sekelompok penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan yang tidak terkendali dan menyebar dari sel-sel abnormal di dalam tubuh. Sel-sel kanker terus membelah dan dengan demikian menciptakan lebih banyak sel bahkan ketika tubuh tidak membutuhkan sel untuk membelah.

American Cancer Society (2013) menyatakan bahwa jenis kanker yang

paling banyak di derita oleh orang dewasa adalah kanker paru-paru, payudara, kolorektal, prostat, dan kulit. Jenis kanker yang paling banyak diderita oleh anak-anak adalah kanker leukemia, neuroblastoma, lymphoma, osteosarcoma, wilmtumor, retinoblastoma dan adrenokortikal karsinoma.

(14)

jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia, dengan jumlah pasien sebanyak 12.014 orang (28,7%) untuk payudara, dan kanker leher rahim 5.349 orang (12,8%), leukemia 4.342 orang (10,4%), lymphoma 3.486 orang (8,3%) dan kanker paru 3.244 orang (7,8%).

Cancer Research (2014) menyatakan bahwa di Inggris rata-rata 331.000

orang di diagnosa kanker setiap tahun dan setiap hari ada 910 orang di diagnosa kanker. Kanker yang paling sering di diagnosa adalah kanker payudara (15%), paru-paru (13%), prostat (13%), usus (13%), kulit (4%), kandung kemih (3%), ginjal (3%), tumor otak (3%), pankreas (3%), dan kanker lainnya (28%).

World Health Organization (2013) menyatakan bahwa insiden kanker

meningkat dari 12,7 juta kasus tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus 2012. Sedangkan jumlah kematian meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi 8,2 juta pada tahun 2012. Kanker menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskuler. Diperkirakan pada tahun 2030 insiden kanker dapat mencapai 26 juta orang dan 17 juta di antaranya meninggal akibat kanker, terlebih untuk negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat.

Faktor yang diduga dapat menyebabkan kanker yaitu faktor genetik, gaya hidup, lingkungan yang terpapar radiasi dan zat kimia tertentu (American Cancer

Society, 2013). Yayasan Kanker Indonesia (2014) menyatakan penyebab

(15)

American Cancer Society (2013) menyatakan kanker memiliki prognosis baik apabila di diagnosa pada stadium awal, penggunaan obat-obatan yang efektif serta usia dan karakteristik penderita. Penanganan pada kasus kanker meliputi pembedahan, radiasi dan kemoterapi telah meningkatkan harapan hidup penderita kanker tindakan tersebut dalam waktu yang lama dapat menimbulkan efek samping berupa nyeri, kelelahan yang hebat, dan lesi pada kulit (Graham & Chordas, 2003)

American Cancer Society (2013) menyatakan bahwa penderita yang di

diagnosa kanker rata-rata harapan hidup hanya 5 tahun tetapi sekarang dengan meningkatnya penanganan kanker maka harapan hidup meningkat untuk semua kanker di diagnosis pada 2004-2010 adalah 68%, naik dari 49% pada 1975-1977. Peningkatan kelangsungan hidup mencerminkan diagnosa awal kanker tertentu dan perbaikan dalam pengobatan. Penatalaksanaan yeng cepat dan tepat diharapkan dapat meningkatkan harapan hidup pasien kanker.

Penanganan penyakit kronis tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan spiritual yang mempengaruhi kualitas hidupnya. Maka kebutuhan pasien tidak hanya berfokus pada pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif (Kepmenkes, 2007).

National Hospice and Palliative Care Organization (2014) menyatakan

(16)

tahun 2009 sebanyak 1,3 juta penderita dan tahun 2013 sebanyak 1,5 juta penderita. Penderita kanker yang meninggal di hospice care pada tahun 2009 sebanyak 1,1 juta penderita dan pada tahun 2013 sebanyak 1.3 juta penderita.

Departement of Health(2009) menyatakan bahwa penderita kanker yang

memerlukan perawatan paliatif yaitu penderita kanker dengan kondisi hidupnya yang terbatas dimana tidak ada harapan yang rasional untuk dapat sembuh.

Crozier dan Hancock (2012) menyatakan bahwa perawatan paliatif bukanlah merupakan alternatif metode pengobatan bagi penderita kanker tetapi sebaliknya metode perawatan yang dapat diberikan berdampingan dengan perawatan kuratif untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi penderita kanker. Perawatan paliatif befokus pada penatalaksanaan gejala-gejala yang timbul selama proses pengobatan, kualitas hidup penderita dan keluarga serta dukungan keluarga.

Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI nomor 812 tahun 2007 menyatakan bahwa perawatan paliatif merupakan pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, pencegahan dengan identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain seperti fisik, psikososial, dan spiritual.

(17)

menerapkan prinsip-prinsip perawatan paliatif khusus seperti menyediakan perawatan yang berpusat pada keluarga, mengurangi rasa nyeri atau ketidaknyamanan selama tindakan pengobatan, meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dan keluarga, serta menyediakan perawatan yang cukup dan membantu dalam proses berkabung ketika penderita meninggal.

Penelitian Ewing (2009) menyatakan perawat melihat pasien kanker sebagai bagian dari unit keluarga dan melibatkan keluarga dalam perencanaan dan pemberian perawatan. Penelitian ini di dukung Brook dan Hain (2008) yang menyatakan perawat harus bekerjasama dengan keluarga, mendengarkan setiap keluhan-keluhan dari keluarga, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan membantu keluarga dalam membuat suatu keputusan.

Penelitian Rushton (2005) menyatakan bahwa dalam memberikan perawatan paliatif perawat menghadapi perasaan emosional termasuk rasa sakit, stres dan kelelahan ketika merawat pasien kanker yang sekarat. Perawat perlu mengembangkan kompetensi dan keyakinan dalam memberikan perawatan paliatif dan perawat juga perlu untuk mengelola serta mampu mengatasi kesedihan untuk keberhasilan perawatan pasien (Rushton et al., 2006).

(18)

mengadopsi mekanisme koping yang tidak efektif seperti menghindari diri dari pengalaman yang dapat mengakibatkan perasaan emosional.

Hal ini juga didukung oleh penelitian Wright dan Hogan (2008) yang menyatakan pemimpin perawatan mengenali bahwa perawat mengalami kesedihan ketika pasien mereka meninggal dan banyak perawat yang minimal dalam menghadapi proses kesedihan.

Penelitian Davies et al (2008) menyatakan bahwa hambatan dalam memberikan paliatif yaitu akses terbatas penyedia perawatan paliatif, ketidakpastian dalam prognosis dan hasil pengobatan dan kurangnya komunikasi serta hambatan dari pemberi perawatan. Sejalan dengan penelitian di atas banyak penelitian telah mencatat bahawa kurangnya pendidikan dan pelatihan keterampilan adalah penghalang untuk perawatan paliatif (Ogle et al., 2003).

(19)

2. Rumusan Masalah

Bagaimana pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker?

3. Tujuan Penelitian

Untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker.

4. Manfaat Penelitian

4.1 Bagi praktik keperawatan

Hasil penelitian yang diperoleh nantinya dapat dijadikan sumber pengetahuan dan strategi bagi tenaga pelayanan khususnya bagi perawat dalam menerapkan perawatan paliatif pada pasien kanker.

4.2 Bagi pendidikan keperawatan

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pendidikan keperawatan tentang gambaran praktek rumah sakit. Sehingga dapat menjadi motivasi dan sumber pengetahuan bagi mahasiswa dalam menerapkan perawatan paliatif pada pasien kanker.

4.3 Bagi penelitian keperawatan

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Kanker

1.1 Pengertian

Kanker adalah proses penyakit yang dimulai ketika sel abnormal diubah oleh mutasi genetik dari DNA selular. Sel yang abnormal membentuk suatu kumpulan dan mulai berkembang biak secara abnormal, mengabaikan sinyal yang mengatur pertumbuhan di lingkungan sekitar sel. Sel-sel yang abnormal ini dapat menyebar ke jaringan lain dan mendapatkan akses ke getah bening dan pembuluh darah sehingga sel-sel ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya (Hinkle & Cheever, 2013).

Kanker merupakan suatu penyakit dimana sekelompok sel-sel yang abnormal tumbuh tidak terkendali dengan mengabaikan sinyal normal untuk pembelahan sel. Sel-sel normal terus mengikuti sinyal yang menentukan apakah sel harus membagi, berdiferensiasi menjadi sel lain atau mati. Sel-sel kanker mengembangkan tingkat otonomi dari sinyal-sinyal ini, sehingga pertumbuhan tidak terkontrol bahkan sampai menyebar ke organ lain (Hejmadi, 2010).

1.2 Penyebab

Menurut Hinkle dan Cheever (2013) akan diuraikan penyebab terjadinya penyakit kanker, yaitu :

1.2.1 Virus dan bakteri

(21)

dalam struktur genetik sel, sehingga mengubah generasi sel yang mungkin mengarah ke kanker. Sebagai contoh, virus Epstein-Barr sangat dicuragai sebagai penyebab limfoma burkitt, kanker nasofaring, dan limfoma non-hodgkin. Herpes simplex virus type II, cytomegalovirus, dan papilloma virus tipe 16, 18, 31 dan 33 yang berhubungan dengan dysplasia dan kanker serviks. Virus hepatitis B yang terlibat dengan kanker hati, lymphotropic T-sel virus dapat menjadi penyebab beberapa leukemia limfositik dan limfoma. Bakteri helicobacter pylori telah dikaitkan dengan peningkatan insiden keganasan peradangan dan cedera pada lambung.

1.2.2 Faktor fisik

(22)

1.2.3 Faktor kimia

Sekitar 75% dari semua kanker yang diduga berhubungan dengan lingkungan. Asap tembakau dianggap sebagai karsinogen kimia yang paling mematikan, menyumbang setidaknya 30% dari kematian akibat kanker. Merokok sangat terkait dengan kanker paru-paru, kepala dan leher, kerongkongan, pankreas, leher rahim, dan kandung kemih. Tembakau juga dapat bertindak sinergis dengan zat lain, seperti alkohol, uranium, dan virus. Banyak zat kimia yang ditemukan di tempat kerja telah terbukti karsinogen dan co-karsinogen. Daftar luas diduga zat kimia terus berkembang dan mencakup pewarna anilin, pestisida, formadehydes, arsenik, ter, cadmium, benzena, dan polyvinyl chloride. Kebanyakan bahan kimia berbahaya menghasilkan efek beracun dengan mengubah struktur DNA di dalam tubuh yang jauh dari paparan bahan kimia. Organ yang paling sering terkena adalah hati, paru-paru dan ginjal dikarenakan peran organ tersebut dalam detoksifikasi kimia.

1.2.4 Faktor genetik

(23)

kanak-kanak menampilkan kecenderungan pada keluarga. Pada kanker dengan predisposisi keluarga, individu dapat mengembangkan beberapa kanker secara umum, dua atau lebih kerabat tingkat pertama berbagi jenis kanker yang sama. Kanker yang berhubungan dengan warisan keluarga termasuk retinoblastoma, nephroblastoma, pheochromocytoma, neurofibromatosis ganas, payudara, ovarium, kanker endometrium, kolorektal, lambung, prostat, dan paru-paru.

1.2.5 Faktor makanan

Faktor makanan berperan sebagai penyebab kejadian kanker. Zat makanan bisa proaktif, karsinogenik, atau co-karsinogenik. Risiko kanker meningkat dengan mengkonsumsi secara jangka panjang karsinogen atau co-karsinogen atau tidak adanya kronis zat proaktif dalam makanan. Zat makanan yang terkait dapat meningkatkan risiko kanker termasuk lemak, alkohol, daging asap, makanan yang mengandung nitrat dan nitrit, dan asupan makanan kalori tinggi. Zat makanan yang dapat mengurangi risiko kanker termasuk makanan yang tinggi serat, sayuran seperti kubis, brokoli, kembang kol, makanan yang mengandung karotenoid seperti wortel, tomat, dan bayam, makanan yang mengandung vitamin E , C, seng, dan selenium. Obesitas dikaitkan dengan kanker endometrium dan kemungkinan kanker payudara pascamenopause. Obesitas juga dapat meningkatkan risiko untuk kanker usus besar, ginjal, dan kandung empedu.

1.2.6 Faktor hormonal

(24)

pada kadar pertumbuhan hormon endogen. Dietilstilbestrol (DES) telah lama dikenal sebagai penyebab karsinoma vagina. Terapi penggantian estrogen yang berkepanjangan terkait dengan peningkatan kejadian hepatoseluler, endometrium, dan kanker payudara. Kombinasi estrogen dan progesteron muncul paling aman dalam menurunkan risiko endometrium kanker. Perubahan hormon reproduksi juga terkait dengan kejadian kanker.

1.3 Tanda dan gejala

Menurut American Cancer Society (2013) tanda dan gejala penyakit kanker, yaitu :

1.3.1 Demam

Demam adalah kejadian yang sangat umum dengan kanker, tetapi lebih sering terjadi setelah kanker telah menyebar dari tempat dimana ia dimulai. Hampir semua pasien dengan kanker akan mengalami demam pada beberapa waktu, terutama jika kanker atau pengobatannya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Hal ini dapat membuat lebih sulit bagi tubuh untuk melawan infeksi. Paling sering, demam mungkin merupakan tanda awal kanker, seperti kanker darah seperti leukemia atau limfoma.

1.3.2 Kelelahan

(25)

1.3.3 Nyeri

Nyeri merupakan gejala awal beberapa kanker seperti kanker tulang atau kanker testis. Sakit kepala yang tidak hilang atau menjadi lebih baik dengan pengobata merupakan gejala dari tumor otak. Nyeri punggung dapat merupakan gejala dari kanker usus besar, rektum, atau ovarium. Paling sering nyeri akibat kanker berarti telah menyebar atau bermetastasis dari mana kanker dimulai.

1.3.4 Perubahan kulit

Seiring dengan kanker kulit, beberapa kanker lainnya dapat menyebabkan perubahan kulit yang dapat dilihat. Tanda-tanda dan gejala termasuk: kulit yang tampak gelap (hiperpigmentasi), kulit dan mata berwarna kekuningan (jaundice), kulit kemerahan (eritema), gatal (pruritus), dan pertumbuhan rambut yang berlebihan.

1.3.5 Perubahan pola buang air besar atau fungsi kandung kemih

Sembelit jangka panjang, diare, atau perubahan ukuran tinja mungkin merupakan tanda dari kanker usus besar. Nyeri saat buang air kecil, darah dalam urin, atau perubahan fungsi kandung kemih, seperti perlu buang air lebih sering dari biasanya dapat dikaitkan dengan kandung kemih atau kanker prostat.

1.3.6 Luka yang tidak kunjung sembuh

(26)

1.3.7 Bintik-bintik putih di lidah dan mulut

Bercak putih di dalam mulut dan bintik-bintik putih di lidah mungkin leukoplakia. Leukoplakia adalah daerah pra-kanker yang disebabkan oleh sering iritasi. Hal ini sering disebabkan oleh merokok atau penggunaan tembakau lainnya. Orang yang merokok pipa atau menggunakan tembakau beresiko tinggi untuk leukoplakia. Jika tidak diobati, leukoplakia bisa menjadi kanker mulut.

1.3.8 Perdarahan

Perdarahan yang tidak biasa bisa terjadi pada kanker dini atau lanjut. Batuk darah di sputum merupakan tanda dari kanker paru-paru. Darah dalam tinja yang dapat terlihat seperti tinja sangat gelap atau hitam bisa menjadi tanda dari usus besar atau kanker rektum. Kanker serviks atau endometrium dapat menyebabkan perdarahan vagina abnormal. Darah dalam urin merupakan tanda dari kandung kemih atau kanker ginjal. Darah yang keluar dari puting tanda kanker payudara.

1.3.9 Benjolan

Banyak kanker dapat dirasakan melalui kulit. Kanker ini kebanyakan terjadi pada payudara, testis, kelenjar getah bening (kelenjar), dan jaringan lunak tubuh. Sebuah benjolan atau penebalan merupakan tanda awal atau akhir dari kanker. Kanker payudara muncul dengan kulit merah atau menebal serta adanya tonjolan.

1.4 Pencegahan kanker

(27)

Pencegahan primer bersangkutan dengan mengurangi risiko kanker pada orang sehat sedangkan pencegahan sekunder melibatkan deteksi dan skrining untuk mencapai diagnosis dini dan intervensi yang cepat untuk menghentikan proses kanker (Hinkle & Cheever, 2013). Beberapa hal yang dapat mencegah kanker, yaitu :

1.4.1 Pencegahan primer

(28)

1.4.2 Pencegahan sekunder

Pemahaman berkembang tentang peran genetika dalam pembangunan sel kanker telah memberikan kontribusi terhadap upaya pencegahan dan pemeriksaan. Individu yang mewarisi mutasi genetik tertentu memiliki peningkatan kerentanan terhadap kanker. Sebagai contoh, individu yang memiliki keluarga adenomatosis poliposis memiliki peningkatan risiko untuk kanker usus besar. Untuk memberikan pendidikan individual dan rekomendasi untuk terus pengawasan dan perawatan pada populasi berisiko tinggi, perawat perlu mengikuti perkembangan berkelanjutan di bidang genetika dan kanker. Banyak pusat kanker seluruh negeri yang menawarkan evaluasi risiko kanker, program yang inovatif dalam menyediakan skrining dan tindak lanjut untuk individu yang ditemukan berada pada risiko tinggi untuk kanker.

(29)

1.5 Penatalaksanaan

Pilihan pengobatan yang ditawarkan untuk pasien kanker harus didasarkan pada tujuan yang realistis dan dapat dicapai untuk setiap jenis kanker tertentu. Berbagai tujuan pengobatan yang mungkin yaitu mencakup penyembuhan, memperpanjang kelangsungan hidup, penahanan pertumbuhan sel kanker, atau menghilangkan gejala terkait dengan penyakit. Menurut Hinkle dan Cheever (2013) penatalaksanan penyakit kanker, meliputi :

1.5.1 Pembedahan

Operasi pengangkatan seluruh kanker merupakan pilihan yang ideal dan paling sering digunakan sebagai metode pengobatan. Pendekatan bedah tertentu, mungkin berbeda untuk beberapa alasan. Operasi diagnostik adalah metode definitif untuk mengidentifikasi karakteristik seluler yang mempengaruhi semua keputusan pengobatan. Pembedahan merupakan metode primer dalam pengobatan, atau mungkin profilaksis, paliatif, atau rekonstruktif.

1.5.2 Terapi radiasi

(30)

sumsum tulang belakang. Terapi radiasi paliatif digunakan untuk meringankan gejala penyakit metastatik, terutama ketika kanker telah menyebar ke otak, tulang, atau jaringan lunak, atau untuk mengobati keadaan darurat onkologi, seperti superior vena cava syndrome atau kompresi sumsum tulang belakang.

Dua jenis pengion sinar radiasi elektromagnetik (sinar-x dan sinar gamma) dan partikel (elektron partikel beta, proton, neutron, dan partikel alpha), dapat menyebabkan gangguan jaringan. Kebanyakan gangguan jaringan berbahaya adalah perubahan molekul DNA dalam sel-sel dari jaringan. Radiasi pengion heliks DNA, menyebabkan kematian sel. Radiasi pengion juga dapat mengionisasi konstituen cairan tubuh, terutama air, yang mengarah pada pembentukan radikal bebas dan ireversibel merusak DNA. Jika DNA tidak mampu memperbaiki, sel akan mati segera atau mungkin memulai membunuh sel (apoptosis).

1.5.3 Kemoterapi

(31)

sel tumor 20% sampai 99%, tergantung pada dosis hancur. Dosis berulang kemoterapi diperlukan lebih dari satu waktu lama untuk mencapai regresi tumor. Pemberantasan 100% dari tumor hampir mustahil, tapi tujuan pengobatan adalah untuk memberantas tumor sehingga sel tumor yang tersisa dapat dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh.

1.5.4 Transplantasi sumsum tulang

Meskipun operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi telah meningkatkan kelangsungan hidup untuk pasien kanker, banyak kanker yang awalnya mengalami kekambuhan. Hal ini berlaku dari kanker hematologi yang mempengaruhi sumsum tulang dan tumor padat kanker diobati dengan dosis yang lebih rendah dari antineoplastics untuk mengampuni sumsum tulang dari yang lebih besar, dosis ablatif kemoterapi atau terapi radiasi. Peran transplantasi sumsum tulang (BMT) untuk keganasan serta beberapa penyakit non ganas terus berkembang. Proses untuk memperoleh sel donor telah berkembang selama beberapa tahun. Sel donor dapat diperoleh dari jaringan sumsum tulang di bawah anestesi umum di ruang operasi.

(32)

pasien. Penerima harus menjalani dosis ablatif dari kemoterapi dan mungkin jumlah iradiasi tubuh untuk menghancurkan semua yang ada. Donor dipanen kemudian sumsum diinfuskan secara intravena ke penerima dan perjalanan ke situs dalam tubuh di mana ia menghasilkan sumsum tulang dan menetapkan sendiri. Ini pembentukan sumsum tulang baru yang dikenal sebagai engraftment. Setelah engraftment selesai 2 sampai 4 minggu, sumsum tulang baru menjadi fungsional dan mulai memproduksi sel-sel darah merah, leukosit, dan trombosit.

1.5.5 Terapi gen

(33)

menyebabkan baik kematian sel kanker atau memperlambat pertumbuhan tumor. Pendekatan ini telah diuji pada kanker paru-paru, kepala dan leher, dan kanker usus besar.

2. Perawatan Paliatif 2.1 Pengertian

Perawatan paliatif merupakan perawatan yang diberikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang memiliki penyakit serius atau yang mengancam jiwa, seperti kanker. Tujuan dari perawatan paliatif adalah untuk mencapai kualitas hidup yang baik bagi seseorang yang memiliki hambatan untuk terus hidup akibat suatu penyakit dan memberikan dukungan bagi keluarga (National Cancer Institute, 2010).

World Health Organization (2010) menyatakan bahwa perawatan paliatif

merupakan perawatan total secara aktif bagi tubuh, pikiran, dan jiwa serta melibatkan pemberian dukungan kepada keluarga. Hal ini dimulai ketika penyakit didiagnosis dan terlepas dari pasien menerima atau tidak menerima pengobatan yang diarahkan pada penyakit.

Menurut Becker, (2009) perawatan paliatif merupakan perawatan yang aktif dan holistik dan diberikan sejalan dengan kemajuan penyakit. Perawatan paliatif diberikan dari awal penyakit didiagnosis, menjalani pengobatan, serta kematian dan proses berkabung. Perawatan paliatif mencakup bagaimana memanajemen gejala dan nyeri, memberikan dukungan sosial dan spiritual.

(34)

kelelahan, dyspnea, mual, muntah, gelisah, sembelit, anoreksia, depresi, kebingungan, serta menyediakan psikologis dan perawatan spiritual dari awal di diagnosis dan terus sepanjang seluruh program pengobatan dalam kehidupan pasien. Perawatan paliatif tidak berfokus untuk menunda kematian tetapi berusaha untuk membimbing dan membantu pasien serta keluarga dalam membuat keputusan yang dapat memaksimalkan kualitas hidup mereka (Palliative Care Australia, 2014).

2.2 Prinsip Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif harus tersedia bagi semua orang terlepas dari penyakit mereka. Penyediaan pelayanan harus memiliki fokus tim multidisiplin dan memastikan kesinambungan perawatan bagi pasien dan keluarga. Becker (2009) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar dalam memberikan perawatan paliatif meliputi :

2.2.1 Menghormati dan menghargai pasien serta keluarga.

(35)

2.2.2 Kesempatan atau hak untuk mendapatkan kepuasan dan perawatan paliatif yang pantas.

Petugas kesehatan harus memberikan kesempatan kepada terapi untuk mengurangi rasa sakit dan gejala fisik lainnya, sehingga memungkinkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi tersebut mencakup pendidikan, konseling keluarga, dukungan teman sebaya, terapi musik, dukungan spiritual untuk keluarga dan serta perawatan menjelang kematian.

2.2.3 Mendukung pemberi perawatan (caregiver)

Pelayanan perawatan yang profesional harus didukung oleh tim perawatan paliatif, rekan kerja dan institusi untuk penanganan proses berduka dan kematian. Dukungan dari institusi seperti konseling rutin dengan ahli psikologi.

2.2.4 Pengembangan profesi dan dukungan sosial untuk perawatan paliatif. Peraturan, keuangan, dan pengetahuan sering menjadi hambatan keluarga untuk mendapatkan kesempatan untuk layanan perawatan paliatif. Pendidikan tenaga profesional dan masyarakat dapat mendorong kesadaran perlunya nilai dan perawatan paliatif sehingga hal ini diupayakan untuk mengatasi hambatan dalam memberikan perawatan paliatif. Penyuluhan kepada masyarakat tentang kesadaran akan kebutuhan perawatan dan nilai perawatan paliatif serta usaha untuk mempersiapkan serta memperbaiki hambatan secara ekonomi.

(36)

informasi tentang perawatan paliatif yang sudah tersedia harus efektif disebarkan dan dimasukkan ke dalam pendidikan dan praktek klinis.

2.3 Tim perawatan paliatif

Tim perawatan paliatif merupakan kolaborasi multidisiplin dan biasanya mencakup seorang dokter dan perawatan senior bersama dengan satu atau lebih pekerja sosial dan ahli agama, sebagai tambahan tim tersebut dibantu teman sejawat dari gizi dan rehabilitasi, seperti fisioterapis atau petugas terapi okupasi dan terapis pernafasan (Campbell, 2013).

Karena tidak ada satu orang dapat memberikan semua yang diperlukan dalam memberikan dukungan bagi pasien dan keluarga, perawatan paliatif adalah perawatan yang terbaik dengan menggunakan pendekatan multidisipliner. Tim perawatan paliatif terdiri dari dokter, perawat, pekerja sosial beserta dengan apoteker, ahli gizi, pendeta, dan profesional medis lainnya. Anggota tim paliatif juga mencakup pasien dan atau pengasuh keluarganya. Tim perawatan paliatif bekerjasama dengan pengasuh keluarga, dokter yang biasa menangani anggota keluarga, dan orang lain yang terlibat dalam perawatan pasien (Center to Advance Palliative Care, 2013).

(37)

mengasuh pasien, menyediakan tenaga kesehatan yang ahli dan menyediakan perawatan paliatif 24 jam sehari atau 365 hari dalam setahun (American Academy of Pediatric, 2000).

Pendekatan 24 jam dalam 7 hari untuk perawatan pasien dengan kebutuhan perawatan paliatif dihargai oleh keluarga, keluarga merasa lebih menjalin hubungan yang erat dengan para tenaga profesional sehingga lebih mudah untuk berbicara mengenai hal-hal yang sulit (Maynard & Lynn, 2014).

2.4Tempat perawatan paliatif

Menurut Hockenberry, Wilson, & Wong (2013) pasien dengan penyakit kronis progresif awalnya menerima layanan perawatan paliatif sebagai koordinasi pelayanan antara pasien rawat jalan dan dokter yang diberikan oleh lembaga masyarakat di rumah. Keadaan lokasi perawatan penyakit penting untuk memfokuskan pada intervensi yang membahas semua aspek pasien dan kenyamanan keluarga. Hal ini memerlukan perhatian untuk kenyamanan fisik pasien dan kebutuhan sosial, emosional dan spiritual pasien serta keluarga. Berdasarkan hasil keputusan oleh pasien dan keluarga mengenai keinginan untuk perawatan, ada beberapa pilihan untuk tempat perawatan yang dapat dipilih keluarga, meliputi :

2.4.1 Dirumah sakit

(38)

berada di rumah sakit untuk perawatan terminal pada pasien maka pengaturan kamar harus dibuat seperti keadaan di rumah. Selain itu, dalam memberikan perawatan harus ada rencana yang konsisten dan terkoordinasi dengan melibatkan keluarga.

2.4.2 Dirumah

Beberapa keluarga dapat memilih untuk membawa anggota keluarga mereka ke rumah dengan menerima jasa perawatan di rumah. Umumnya layanan ini memerlukan jadwal kunjungan perawatan untuk memberikan pengobatan, peralatan yang dibutuhkan, atau persediaan obat-obatan. Perawatan di rumah adalah pilihan yang paling sering dipilih oleh keluarga karena pandangan tradisional yang mengharuskan penderita kanker yang memiliki harapan hidup kurang dari 6 bulan maka harus dirawat dekat dengan keluarga.

2.4.3 Di Hospice care

Hospice care merupakan pelayanan kesehatan yang mengkhususkan diri

(39)

2.4 Peran perawat

Perawat memiliki peranan penting dalam memberikan dukungan untuk keluarga di seluruh penyakit penderita kanker, mengelola gejala (Mackenzie & Mac Callam, 2009), menyediakan perawatan yang cukup dan membantu dalam proses berkabung saat pasien meninggal (Davies, 2003). Menurut Matzo & Sherman (2014) peran perawat paliatif meliputi :

2.5.1 Praktik di klinik

Perawat memiliki kemampuan untuk memahami dan mengevaluasi nyeri beserta keluhan dari nyeri yang dialami pasien. Perawat dapat berkolaborasi dengan tim profesional lainnya dalam mengembangkan dan menerapkan perencanaan perawatan yang komprenhensif. Perawat mengidentifikasi pendekatan baru dalam mengatasi nyeri dan dikembangkan sesuai dengan standar rumah sakit sehingga dapat dipraktekkan sesuai dengan aturan di rumah sakit.

2.5.2 Pendidik

(40)

2.5.3 Peneliti

Perawat menghasilkan pengetahuan dari hasil sebuah penelitian dan terbukti dalam praktek. Perawat menyelidiki dengan strategi penelitian terpadu dalam pelayan paliatif misalnya penggunaan obat-obatan intravena dalam mengatasi nyeri neuropati.

2.5.4 Kolaborator

Perawat melakukan pengkajian untuk mengkaji bio-psiko-sosial-spiritual serta intervesinya. Perawat membangun hubungan kolaborasi dengan profesi lainnya dengan mengidentifikasi sumber dan kesempatan bekerja. Perawat memfasilitasi dalam mengembangkan anggota dalam pelayanan, dokter dan perawat bekerjasama dengan pasien dan keluarga, tim profesional dan tenaga profesional lainnya dalam rangka mempersiapkan pelayanan dengan hasil yang terbaik.

2.5.5 Konsultan

Perawat berkonsultasi dan berkolaborasi dengan dokter, tim perawatan paliatif, dan komite untuk menentukan strategi pengobatan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga. Dengan mempertahankan kehadiran yang konsisten dengan pasien dan keluarga dan dengan tim perawatan paliatif lainnya, perawat membantu meminimalkan konflik dalam pengambilan keputusan.

2.3 Studi Fenomenologi

(41)

kualitatif sangat relevan untuk digunakan pada bidang keilmuan (Streubert & Carpenter, 2013). Salah satu pendekatan yang digunakan pada penelitian kualitatif adalah pendekatan fenomenologi. Metode ini merupakan suatu pendekatan untuk menggali makna dari gambaran pengalaman hidup seseorang (Streubert & Carpenter, 2013).

Creswell (2012) menyatakan bahwa studi fenomenologi bertujuan untuk mempelajari, mengembangkan atau menemukan pengetahuan dengan menggunakan pendekatan ilmiah dalam memberikan makna atau menginterpretasikan berdasarkan beberapa hal yang berarti bagi manusia. Selain itu, pendekatan fenomenologi ini bertujuan untuk memahami respon seluruh manusia terhadap suatu atau sejumlah peristiwa dan memberikan gambaran terhadap makna sebuah pengalaman yang dialami beberapa individu dalam situasi yang dialami. Pendekatan fenomenologi digunakan ketika sedikit sekali defenisi atau konsep terhadap suatu fenomena yang akan diteliti. Tujuan penelitian fenomenologi sepenuhnya adalah untuk memahami arti peristiwa dan menggambarkan pengalaman hidup dan persepsi yang muncul (Polit & Beck, 2012).

Pendekatan fenomenologi terdiri dari dua jenis yaitu fenomenologi deskriptif dan fenomenologi interpretif (Beck, 2013). Jenis fenomenologi yang pertama adalah fenomenologi deskriptif, dikembangkan oleh Husserl pada tahun 1962. Jenis penelitian ini menekankan pada deskripsi tentang pengalaman yang dialami oleh manusia. Penelitian ini memiliki empat langkah, yaitu bracketing,

(42)

Langkah pertama yaitu bracketing. Bracketing adalah proses mengidentifikasi dan mengurungkan keyakinan yang terbentuk sebelumnya serta opini yang objektif tentang fenomena yang diteliti. Bracketing adalah tidak mencampurkan asumsi, pikiran atau opini-opini peneliti kedalam fenomena yang diteliti (Streubert & Carpenter, 2013).

Langkah selanjutnya adalah intuiting. Intuiting yaitu memulai kontak dan memahami fenomena yang diteliti, dengan mendengar, melihat, berimajinasi dan peka terhadap adanya variasi fenomena. Pada tahap intuiting peneliti masuk secara total kedalam peristiwa atau data dan mencoba memahami peristiwa (Streubert & Carpenter, 2013).

Pada tahap berikutnya adalah analyzing. Pada tahap ini peneliti mengindentifikasi arti atau makna dari fenomena yang telah digali atau mengeksplor hubungan serta keterkaitan antar fenomena yang diteliti dengan fenomena lain yang berkaitan (Streubert & Carpenter, 2013).

Langkah terakhir yaitu describing. Describing merupakan suatu upaya mendeskripsikan, mengartikan dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Peneliti membuat narasi yang luas dan mendalam tentang fenomena yang diteliti (Streubert & Carpenter, 2013).

(43)

Jenis fenomenologi yang kedua adalah fenomenologi interpretif. Fenomenologi interpretif dikembangkan oleh Heidegger. Jenis penelitian ini menekankan pada pemahaman dan penafsiran, tidak sekedar deskripsi pengalaman manusia. Penelitian interpretif bertujuan untuk menemukan pemahaman dari makna pengalaman hidup dengan cara masuk ke dalam dunia partisipan (Beck, 2013).

Fenomenologis yang berpedoman pada fenomenologi interpretif adalah Van Manen. Van Manen menekankan bahwa pendekatan fenomenologi tidak terpisah dari praktik menulis. Penulis hasil analisa kualitatif merupakan suatu upaya untuk memahami dan mengenali makna hidup dari fenomena yang diteliti yang dituangkan dalam bentuk teks tertulis. Teks tertulis yang dibuat oleh peneliti harus dapat mengarahkan pemahaman pembaca dalam memahami fenomena tersebut. Van Manen juga mengatakan identifikasi tema dari deskripsi partisipan tidak hanya diperoleh dari teks tertulis hasil transkrip wawancara, tetapi juga diperoleh dari sumber artistik lain seperti literatur, musik, lukisan, dan seni lainnya yang dapat menyediakan wawasan bagi peneliti dalam melakukan interpretasi dan pencarian makna dari suatu fenomena (Beck, 2013).

(44)

Dalam studi fenomenologi, jumlah partisipan yang terlibat adalah 10 orang atau lebih sedikit. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini akan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dalam hal ini, partisipan harus memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti (Polit & Beck, 2012).

Hasil penelitian dalam studi fenomenologi diperoleh melalui proses analisa data. Collaizi (1978 dalam Polit & Beck, 2012) menyatakan ada tujuh langkah yang harus dilalui untuk menganalisa data. Proses analisa data tersebut meliputi (1) membaca transkrip wawancara untuk mendapatkan perasaan mereka; (2) meninjau setiap transkrip dan menarik peryataan yang signifikan; (3) menguraikan makna dari setiap pernyataan yang signifikan dan memilih kata kuncinya; (4) mengelompokkan makna-makna tersebut kedalam kelompok-kelompok tema; (5) mengintegrasikan kedalam bentuk transkrip; (6) memformulasikan deskripsi lengkap dari fenomena yang diteliti sebagai identifikasi pernyataan; (7) memvalidasi apa yang telah ditemukan kepada partisipan sebagai tahap validasi akhir.

(45)

confirmability (persetujuan relevansi); dan (4) transferability (bisa digunakan pada konteks lain).

Credibility meliputi keyakinan terhadap kebenaran data dan

interpretasinya. Kredibilitas yang tinggi tercapai jika partisipan yakin dan mengenali dengan benar tentang hal-hal yang diceritakannya. Tujuan prosedur ini adalah untuk memvalidasi keakuratan hasil laporan transkrip kepada partisipan terhadap apa yang telah diceritakan tentang pengalamannya.

Dependability merupakan suatu bentuk kestabilan data pada setiap waktu

dan kondisi. Dependability dilakukan dengan melibatkan pembimbing penelitian atau pakar penelaahan data. Pembimbing merupakan eksternal viewer yang berfungsi untuk memeriksa hasil pengolahan data yang dilakukan peneliti.

Confirmability mengandung makna bahwa sesuatu hal dinilai secara

objektif dan netral, dimana ada beberapa orang independen yang menilai data-data yang telah dikumpulkan oleh peneliti. Prinsip confirmability dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil penelitian berupa tema-tema yang telah didapatkan kepada ahli dalam penelitian ini yaitu pembimbing.

Transferability merupakan bentuk validitas eksternal yang menunjukkan

(46)

BAB 3

METODE PENELITIAN

1. Desain penelitian

Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi.Fenomenologi yaitu metode yang berfokus pada penemuan fakta terhadap suatu fenomena sosial dan berusaha memahami tingkah laku manusia berdasarkan perspektif partisipan (Streubert & Carpenter, 2013).Fokus dari studi fenomenologi adalah bagaimana orang mengalami suatu pengalaman hidup dan menginterpretasikan pengalamannya.Peneliti fenomenologi mempercayai pengalaman hidup memberi arti pada setiap persepsi mengenai satu bagian fenomena (Polit & Beck, 2012).

Penelitan ini menggunakan jenis fenomenologi deskriptifyang dikemukakan oleh Husserl, dimana peneliti menggali atau mengekplorasi langsung, menganalis serta mendeskripsikan fenomena pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker.Fenomenologi deskriptif berfokus untuk mengetahui gambaran suatu fenomena. Pendekatan fenomenologi ini diharapkan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker. 2. Partisipan

Pemilihan partisipan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive

sampling yaitu metode pemilihan partisipan dalam suatu penelitian dengan

(47)

(1)perawat yang ikut dalam tim perawatan paliatif, (2) komunikatif, dan (3) bersedia menjadi partisipan yang dinyatakan secara verbal atau dengan menandatangani surat perjanjian penelitian.

Jumlah partisipan pada penelitian ini berjumlah sembilan orang.Pengambilan sampel pada penelitian kualitatif tidak diarahkan pada jumlah tetapi berdasarkan pada asas kesesuaian dan kecukupan informasi sampai mencapai saturasi data (Polit & Beck, 2012).Pada penelitian ini sudah terjadi saturasi data saat partisipan kesembilan.

3. Lokasi dan waktu penelitian 3.1 Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Murni Teguh Medan dengan pertimbangan, rumah sakit ini merupakan tempat perawatan paliatif pada pasien kanker dimana dalam tim perawatan paliatif salah satunya adalah perawat dan di rumah sakit ini belum pernah dilakukan penelitian mengenai pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker.

3.2 Waktu penelitian

Penelitian dimulai dari April 2015 sampai dengan Juni 2015, yaitu mulai pengumpulan data sampai dengan selesai pengumpulan data.

4. Pertimbangan etik

(48)

ini juga dilakukan ethical clearance oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Setelah mendapatkan izin, selanjutnya peneliti mencari partisipan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.Setelah terbina hubungan saling percaya antara peneliti dan partisipan, peneliti menjelaskan tujuan dari penelitian dan prosedur pelaksanaan penelitian. Apabila calon partisipan bersedia berpartisipasi dalam penelitian, maka partisipan dipersilahkan untuk menandatangani informed consent.

Peneliti tidak memaksa jika partisipan menolakuntuk diwawancarai dan menghormati hak-haknya sebagai partisipan dalampenelitian ini. Untuk menjaga kerahasiaan identitas partisipan maka peneliti tidakmencantumkan nama dari partisipan (anonymity). Nama partisipan dibuat denganinisial. Selanjutnya identitas partisipan juga dirahasiakan (confidentiality) dimana hanyainformasi yang diperlukan saja yang akan dituliskan dan dicantumkan dalampenelitian. 5. Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dua bagian. Pertama merupakan Kuesioner Data Demografi,yang berisi pernyataanmengenai data umum partisipan meliputi inisial, usia, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan terakhir dan masa bekerja partisipan (lihat Lampiran 3).

(49)

pasien kanker (lihat Lampiran 4). Instrumen panduan wawancara ini telah divalidasi oleh tiga dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang pakar di bidang perawatan paliatif. Hasil dari validasi pertanyaan tersebut didapatkan lima pertanyaan yang dibuat peneliti telah clear, credible dan relevant dengan judul penelitian.

6. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan setelah mendapatkan izin dari Dekan Fakultas Keperawatan USU dan memperoleh ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, kemudian peneliti meminta izin RS Murni Teguh Medan untuk melakukan penelitian dan setelah diizinkan pihak RS Murni Teguh Medan.

Selanjutnya, peneliti mengambil data perawat yang memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker untuk memperoleh data calon partisipan.Peneliti kemudian melakukan pilot study. Pilot study dilakukan dengan cara mewawancarai seorang perawat yang memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di rumah sakit Murni Teguh. Pilot study pada penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah peneliti sebagai instrumen sudah cukup baik dalam melakukan wawancara dan melakukan analisa data kualitatif.

(50)

peneliti sangat singkat hanya sekitar 1 kalikepada setiap partisipan hal ini menyebabkan kurang keterkaitan antara peneliti dengan partisipan dan partisipan merasa kurang akrab dengan peneliti sehingga informasi yang disampaikan masih belum diberitahukan secara lebih lengkap.

Langkah selanjutnya peneliti memperkenalkan diri serta maksud dari penelitian kepada partisipan. Setelah partisipan bersedia untuk diwawancarai maka partisipan diminta membaca dan mengisi lembar persetujuan dan data demografi untuk mendapatkan data dasar kemudian peneliti melakukan wawancara mendalam atau in-depth interview.

In-depth interview adalah salah satu cara pengumpulan data melalui

percakapan dan proses tanya jawab antara peneliti dengan partisipan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektifitas yang dipahami oleh individu (Polit & Beck, 2012). Pada metode ini peneliti dan partisipan bertemu secara langsung untuk mendapatkan informasi secara jelas dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian. Dalam hal ini wawancara dilakukan di Rumah Sakit Murni Teguh.

(51)

Langkah selanjutnya adalah peneliti membuat transkrip hasil wawancara setiap kali selesai melakukan wawancara.Penelitimengelompokan data dan menguraikan data kedalam bentuk narasi kedalambentuk tema, sub tema dan kategori. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan kepada sembilan partisipan.

Kesulitan yang peneliti hadapi adalah menunggu surat ijin pengumpulan data dari rumah sakit Murni Teguh dan sebelumnya, peneliti juga sempat salah dalam menentukan rumah sakit tempat dilakukannya penelitian, sehingga peneliti harus mengajukan kembali surat ijin pengumpulan data dan harus menunggu sekitar dua minggu dari pengajuan. Hal ini lah yang membuat peneliti mengalami kesulitan untuk memulai penelitian. Setelah surat tersebut diserahkan kepada kepala ruangan unit perawatan paliatif, akhirnya beliau memberikan masukan terhadap peneliti untuk mengubah judul penelitian yaitu perawatan paliatif pada anak dengan leukemia menjadi perawatan paliatif pada pasien kanker karena di rumah sakit Murni Teguh perawatan paliatif yang diberikan belum terfokus pada jenis penyakit dan masih dilakukan kepada pasien secara umum.

Saat melakukan kontrak waktu dengan partisipan, partisipan yang ada berjumlah sembilan orang dan hanya tiga orang bertugas di rumah sakit dan yang lainnya berada di home care sehingga salah seorang partisipan membantu untuk menginformasikan maksud dan tujuan penelitian kepada partisipan lainnya yang berada di home care. Partisipan tersebut juga membantu membuat jadwal penelitian karena beliau yang tahu jadwal partisipan lainnya yang bertugas di

(52)

Hambatan lain yang ditemukan peneliti adalah pada saat mewawancarai partisipan kelima. Selama dilakukan wawancara partisipan tersebut duduk di kursi kerja beroda sehingga partisipan tersebut bergerak ke samping kanan dan kiri sehingga memancing tawa peneliti namun peneliti mencoba untuk tetap fokus dan konsentrasi. Selain itu, partisipan keempat ketika dilakukan wawancara pernyataan yang diungkapkan beberapa hal ada yang pendek dalam menjawab pertanyaan peneliti. Akhirnya peneliti mencari solusi dengan cara menyederhanakan kalimat pertanyaan dan mencoba menanyakan kembali hal yang belum jelas menurut peneliti.

7. Analisa data

Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain (Polit & Beck, 2012).

(53)

umum untuk analisa data yang direkomendasikan untuk studi fenomenologi. Proses analisa data dalam penelitian ini meliputi:

1. Membaca berulang-ulang seluruh pernyataan-pernyataan partisipan, hal ini dilakukan untuk menemukan pernyataan-pernyataan atau informasi yang bermakna tentang perawatan paliatif pada pasien kanker.

2. Meninjau setiap transkrip dan menarik pernyataan yang signifikan. Dalam langkah ini, frase dan kalimat signifikan yang menyinggung tentang pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di Rumah Sakit Murni Teguh.

3. Menguraikan arti dari setiap pernyataan yang signifikan. Dalam langkah ini pernyataan yang signifikan dipelajari untuk diambil pengertiannya.

4. Mengelompokkan makna-makna tersebut ke dalam kelompok-kelompok tema. Dalam langkah ini, peneliti mengidentifikasi tema dari makna yang diformulasikan kedalam kelompok sub tema dan kategori.

5. Mengintegrasikan hasil kedalam bentuk deskripsi. Dalam analisis ini, deskripsi mendalam tentang pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di Rumah Sakit Murni Teguh diperoleh, yaitu integrasi narasi dari semua tema, sub tema dan kategori.

6. Memformulasikan deskripsi lengkap dari fenomena yang diteliti sebagai identifikasi pernyataan setegas mungkin.

(54)

menyatakan hasil yang didapat pada penelitian ini sudah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh partisipan.

8. Keabsahan data

Untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipercaya maka data divalidasi dengan beberapa kriteria, yaitu credibility (dapat dipercaya),

transferability (bisa digunakan pada konteks lain), dependability (konsisten) dan

confirmability (persetujuan relevansi) (Lincoln & Guba, 1985 dalam Polit & Beck, 2012).

Credibility (uji tingkat kepercayaan) merupakan kriteria untuk memenuhi

nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Credibility pada penelitian ini dipertahankan peneliti melalui teknik prolonged engagement.

Prolonged engagementpada penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan

hanya 1 kali pertemuan dengan partisipan dikarenakan peneliti tidak memiliki cukup waktu untuk melakukann penelitian. Dengan demikian, antara peneliti dan partisipan kurang memiliki hubungan saling percaya dan kurang memiliki keterkaitan yang lama sehingga belum terjalinkeakraban antara peneliti dengan partisipan, hal ini menyebabkan informasi yang diperoleh masih kurang lengkap.

Confirmability pada penelitian ini dilakukan dengan memeriksa seluruh

(55)

Dependability merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai kualitas dari proses yang peneliti lakukan. Dalam penelitian ini, beberapa catatan yang dapat digunakan untuk menilai kualitas dari proses penelitian adalah data mentah yang diperoleh melalui pengumpulan transkrip-transkrip wawancara, hasil analisa data, membuat koding-koding (pengkodean), dan draft hasil laporan penelitian untuk menunjukkan adanya kesimpulan yang ditarik pada akhir penelitian.

Transferability mengacu pada sejauh mana hasil penelitian dapat

(56)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Penelitian fenomenologi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di rumah sakit Murni Teguh Medan. Hasil penelitian yang dibahas adalah karakteristik partisipan dan tema hasil analisa data penelitian.

2. Karakteristik Partisipan

(57)

Tabel 4.1

Karakteristik Partisipan

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Usia

22-30 tahun 6 67 31-40 tahun 3 33 Jenis kelamin

Perempuan 8 89 Laki-laki 1 11 Agama

Islam 1 11

Kristen Protestan 8 89 Latar pendidikan

D-III 5 56

S-1 4 44 Masa kerja

4-12 bulan 8 89

13-36 bulan 1 11

3. Pengalaman perawat dalam memberikan perawatan paliatif pada pasien kanker di rumah sakit Murni Teguh Medan.

(58)

3.1 Dukungan.

Berdasarkan analisa data didapatkan ada dua bentuk dukungan yang diberikan partisipan kepada pasien kanker yaitu dukungan spiritual dan dukungan kepada keluarga.

A. Dukungan spiritual

Partisipan dalam penelitian ini menyarankan kepada pasien untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan lebih bersemangat dalam menghadapi penyakitnya serta menjelaskan kepada pasien bahwa hidup itu harus dijalani dan disyukuri sambil memasukkan sedikit kerohanian-kerohanian yang disesuaikan dengan agama pasien. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut :

“Saya pernah menyarankan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, memberikan semangat untuk hidup, semangat untuk menghadapi penyakitnya seperti kanker ini”

(Partisipan 2)

“Menjelaskan sama mereka ya seperti masuk sedikit kerohanian

-kerohanian gitu ya kita lihat juga agamanya apa ya”

(Partisipan 5)

“Kita bisa menjelaskan kepada si pasien bahwa hidup itu harus dijalani gitu bahwa apapun yang terjadi kita harus mensyukurinya, kembali ke agamanya masing-masing ya jadi kita bisa jelaskan juga perjalanan penyakitnya”

(Partisipan 7)

(59)

“Jadi kita berikan untuk dekat kepada Tuhan kita berikan semangat untuk tetap mengandalkan Tuhan, walaupun obat apapun yang diberikan kalau tidak ijin Tuhan apapun tidak akan terjadi. Kalau perlu kita bisa panggil pemuka agama”

Perawat memberikan dukungan dan penghiburan kepada keluarga agar keluarga tidak lebih dalam lagi merasakan duka dan keluarga juga dapat menerima keadaan anggota keluarganya yang sedang sakit. Perawat juga memotivasi keluarga dengan harapan agar keluarga dapat juga mengajak pasien berkomunikasi sehingga pasien tidak larut dalam kesedihannya. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan berikut ini :

“Saya memberikan dukungan atau support kepada keluarga supaya

keluarga dapat menerima keadaannya”

(Partisipan 1)

“Nah, kita sebagai perawat memberi support memberi dukungan, memberi ya seperti menghiburlah atau memberikan dukungan seperti agar mereka tidak lebih dalam lagi merasakan duka mereka gitu, karena

perjalanan hidup setiap orang pasti akan mengalaminya”

(Partisipan 3)

“Bentuk motivasi yang kita lakukan ke keluarga ya kita harapkan keluarga bisa dekat dengan pasien mengajak pasien berkomunikasi

jangan biarkan pasien larut dalam kesedihannya”

(60)

3.2 Manajemen nyeri.

Empat partisipan mengatakan bahwa keluhan yang paling sering dirasakan oleh pasien kanker adalah nyeri. Perawat memanajemen nyeri yang dialami oleh pasien yaitu dengan mengkaji nyeri lalu mengatasi nyeri dengan tindakan non farmakologi.

A. Mengkaji nyeri.

Untuk mengatasi nyeri yang dialami pasien harus dikenali dahulu jenis nyerinya, penyebabnya, letak nyeri yang dirasakan serta jumlah nyeri yang dialami pasien, seperti pernyataan di bawah ini :

“Untuk mengatasi nyerinya kita harus mengenali nyerinya itu apa, kemudian disebabkan oleh apa”

(Partisipan 1)

“Mengatasi pasien itu supaya tidak ada rasa nyeri pada dia kita harus melakukan misalnya teknik napas dalam. kita ajarkan dulu dengan catatan kita harus bertanya dulu sama dia apa diamana dan berapa jumlah nyeri yang dirasakan”

(Partisipan 8)

B. Tindakan non farmakologi

Perawat mengatasi nyeri yang dialami pasien dengan melakukan tindakan non farmakologi seperti mengompres dengan air hangat dan melakukan teknik relaksasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan di bawah ini :

“Ada keluhan lain seperti nyeri ya dengan menghilangkan nyeri terkadang dengan mengompres dengan air hangat”

(Partisipan 2)

“Ya cara untuk mengatasi nyerinya dengan merelaksasikan pasiennya tergantung dari intensitas nyerinya”

(61)

3.3 Kebutuan psikologis

Perawat meningkatkan keadaan psikologis pasien kanker bertujuan untuk mengurangi stres dan pasien dapat menerima keadaannya secara keseluruhan baik keadaan saat sakit maupun keadaan kematiannya kelak.

A. Mengurangi stres

Untuk mengurangi stres yang dialami pasien perawat mengajak pasien berbicara, melakukan pendekatan secara emosi, serta memberikan motivasi yang dapat membangkitkan semangat pasien. Seperti yang diungkapkan di bawah ini :

“Terapi ringan itu contohnya memberi komunikasi terapeutik, memberi terapi mengajak berbicara”

(Partisipan 1)

Untuk mengatasi masalah psikologis dapat dengan memberikan komunikasi terapeutik. Hal ini sejalan dengan pernyataan ini :

“Kalau dengan cara psikologis itulah dengan komunikasi terapeutik seperti itu”

(Partisipan 2)

Agar komunikasi yang disampaikan dapat diterima oleh pasien maka perawat dapat melakukan pendekatan secara emosi kepada pasien, seperti merasakan apa yang dialami pasien dengan penyakit yang dialaminya. Hal ini sejalan dengan pernyataan di bawah ini :

“Pendekatan secara emosi dia ya kan. Contohnya apa sih yang dia alami apa sih yang dia rasakan dengan penyakitnya sekarang. Bagaimana dengan perasaannya terus apa yang dia pikirkan gitu”

(Partisipan 3)

(62)

yang membangkitkan semangat yang ada pada diri pasien. Hal ini sejalan dengan pernyataan di bawah ini :

“Kita memberikan perawatan itu ya dia merasa kalau dirinya

diperdulikan bukan dikucilkan atau diasingkan jadi dia berfikir kalau masih ada orang yang care sama dia dan pasien tidak merasa kesepian meskipun penyakitnya sudah parah”

(Partisipan 4)

“Perawatan paliatif ini kita berikan dia support terapi atau care kita kasilah yang paling penting kita beri sama dia bagaimana dia merasa hidupnya berarti, hidupnya masih ada berguna dan sekelilingnya memberi dia dukungan terutama keluarganya”

(Partisipan 9)

B. Pasien menerima secara keseluruhan.

Keseluruhan partisipan menyatakan bahwa dalam peningkatan keadaan psikologis pasien bertujuan agar pasien dapat menerima keadaannya dimulai saat awal sakitnya, perjalanan pengobatan serta kelak pada kematiannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan di bawah ini :

“Dia menerima apa itu penyakitnya, menerima dengan dirinya sendiri bagaimana”

(Partisipan 2)

“Kalau misalnya pasiennya sudah menjelang kematian mereka sudah menerima dan pasiennya juga sudah menerima sakitnya. Memang dia sudah menerima”

(Partisipan 5)

“Pasien kita itu bisa menerima keadaannya, bisa menerima keadaan penyakitnya dan juga menerima bahwa kehidupan dan kematian itu adalah hal yang normal”

(63)

“Kalau pasien yang saya jumpai itu dia sudah menerima dengan apa yang terjadi pada rambutnya, dia tetap semangat”

(Partisipan 8)

3.4 Kolaborasi.

Perawatan paliatif terdiri dari sebuah tim yang terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi, pemuka agama, fisioterapi dan psikolog. Dalam memberikan perawatan paliatif tim ini bekerjasama untuk mencapai satu tujuan yang sama yaitu memberikan pengobatan atau pelayanan yang terbaik bagi pasien kanker. Keseluruhan partisipan menyatakan hal di atas sesuai dengan pernyataan di bawah ini :

“Perawatan selanjutnya yaitu dengan mengkonsultasikan masalah gizinya,obat-obatan itu juga perlu karena pasien yang perawatan kanker ini butuh nutrisi kan”

(Partisipan 1)

“Paliatif itu juga bisa berkolaborasi dengan spiritual yaitu tokoh agama, dokter untuk masalah pengobatan, dan fisioterapi bila pasiennya membutuhkan mobilisasi”

(Partisipan 2)

“Kami jelaskan sebaiknya ini dikonsulkan ke bagian fisioterapi agar bisa dilatih mobilisasi aktifitasnya bagaimana bagusnya jika pasien seperti ini kan itu kan lebih mengerti itu orang fisioterapi ya sudah dikonsulkan ke dokter paliatif kemudian ke dokter fisioterapi”

(Partisipan 4)

“Kemaren ada kasus pasien jadi sudah dikaji nyerinya ternyata sudah dikasi obat bahkan sudah dosis tinggi tapi dia tidak berkurang sedikit pun nyerinya ternyata setelah dikaji lagi ternyata dia mempunyai masalah dan dia dikonsulkan ke yang dia mau yang bisa contohnya, psikolog setelah

dia bercerita dengan bapak itu nyerinya bisa hilang gitu”

(64)

3.5 Penerapan perawatan paliatif.

Dalam memberikan perawatan paliatif terdapat hambatan sehingga perawatan paliatif belum bisa diterima baik, oleh beberapa pasien kanker. Hambatan tersebut terdapat dari pasien yang belum bisa menerima kondisi paliatif. Hal ini sesuai dengan ungkapan di bawah ini :

“Kendalanya dari pasien sendiri terkadang menentang dengan apa yang kita bilang”

(Partisipan 4)

“Ada juga kendala dari pasien tersebut dimana keadaannya dalam tahap

pengingkaran, dia tidak bisa menerima semuanya sehingga dia menolak” (Partisipan 7)

3.6 Harapan dan kebutuhan.

Pelayanan dalam perawatan paliatif yang diberikan oleh perawat terdapat harapan yang ingin dicapai dan kebutuhan akan pelayanan yang lebih baik. Harapan ini sebagai cita-cita bersama yang ingin diwujudkan oleh tim perawatan paliatif salah satunya adalah perawat. Harapan tersebut dijelaskan dibawah ini :

A. Melalui peningkatan pengetahuan

Untuk memenuhi kebetuhan akan pelayanan yang lebih baik perawat membutuhkan peningkatan pengetahuan agar ilmu yang dimiliki dapat berkembang dan pelayanan yang diberikan pun semakin lebih baik. Hal ini sejalan dengan pernyataan di bawah ini :

“Kita semakin banyak membaca, semakin banyak menggali. Belajar, belajar dan belajar terus”

(65)

Partisipan lainnya dalam peningkatan pengetahuan juga bisa dengan cara berdiskusi dengan sesama tim perawatan paliatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan di bawah ini :

“Kita bisa bertanya dengan teman-teman. Eh..teman ini gimana sih caranya? Kan diajarin gitu kalau berkolaborasi dengan teman dengan dokter juga bisa bertannya”

(Partisipan 2)

Sementara partisipan lainnya menambahkan untuk ada pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh rumah sakit untuk menambah ketrampilan dalam memberikan perawatan paliatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan di bawah ini :

“Saya sih berharap dalam waktu dekat ini perawat paliatif ini sering ikut pelatihan sehingga untuk melakukan perawatan paliatif ke pasien itu lebih terampil”

(Partisipan 7)

B. Pengembangan perawatan paliatif.

Perawatan paliatif merupakan suatu hal baru yang masih terus memerlukan pengembangan saat ini banyak masyarakat yang belum mengenal perawatan paliatif itu. Hal ini sesuai dengan ungkapan di bawah ini :

“Kita harapkan perkembangan kita itu, kita harus mengejar harapan kita ini akan semakin lebih tidak asing lagi khususnya di Indonesia bahkan harapan kita perkembangannya lebih pesat itu harapan kita”

(Partisipan 3)

“Saya berharap sih, ini semakin berkembang kalau bisa ke desa-desa dan semua masyarakat tahu kalau istilahya rumah sakit sudah menyediakan perawatan khusus terhadap pasien yang mengalami penyakit-penyakit yang sudah terminal”

Gambar

Tabel 4.1
Tabel 4.2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menemukan 5 tema terkait pengalaman pasien PBI-JKN yang menjalani perawatan di RSUD Gunungsitoli, yaitu menerima pelayanan kesehatan yang memuaskan,

Pengalaman perawat dalam memberikan perawatan pasien COVID 19 adalah pengalaman pertama yang muncul sehingga menimbulkan rasa cemas dari pasien maupun

Hasil: Penelitian ini menghasilkan tujuh tema yaitu pengalaman pasien tentang komunikasi dengan perawat, pengalaman pasien tentang pemberian edukasi pre-post operasi

Kualitas hidup pasien kanker yang telah menerima perawatan paliatif di puskesmas Rangkah, Pacarkeling dan Balongsari sudah cu- kup baik, diukur menggunakan alat ukur untuk

Perawatan paliatif adalah pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara meringankan penderitaan

Tujuan akhir dari perawatan paliatif adalah mencegah dan mengurangi penderitaan serta memberikan bantun untuk memperoleh kualitas kehidupan terbaik bagi pasien dan keluarga

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan untuk turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang

Semua artikel menunjukkan bahwa perawatan paliatif yang baik akan meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan kanker payudara.Dari hasil penelitian ini dikatakan bahwa pasien yang