• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sektor Ekonomi Unggulan dan Dayasaing di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, periode 2004-2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Sektor Ekonomi Unggulan dan Dayasaing di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, periode 2004-2010"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SEKTOR EKONOMI UNGGULAN DAN DAYASAING DI KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

(PERIODE 2004-2010)

OLEH

TENGKU ARIF PAHLEVI H14080134

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(2)

plan. Pekanbaru city is the capital of Riau Province which is one of the biggest GDRP contributor in the construction of Indonesian GDP. The position of Pekanbaru city is crucial in Riau Province economic development. The city's GDRP has the biggest contribution in the constructing of Riau GDRP. This study employs Location Quotient (LQ) method, Growth Ratio Method and Contribution Index of GDP to determine the leading sector. Porter's Diamond Analysis is used to determine leading sector's competitiveness. The result shows that Pekanbaru's leading sector is trading. This sector have a good competitiveness. It is suggested that the government need to keep the facilities that existed and have to expand the traditional market and roads rejuvenation that not reach all region yet.

Keywords: Pekanbaru,Leading Sector,Porter’s Diamond.

ABSTRAK

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi sektor ekonomi unggulan Kota Pekanbaru. Sektor unggulan ini akan digunakan untuk perencanaan ekonomi Kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru adalah ibukota dari Provinsi Riau yang merupakan salah satu kontributor PDRB terbesar didalam pembentukan PDB Indonesia. Posisi Kota Pekanbaru sangat penting didalam pembangunan ekonomi Provinsi Riau. PDRB Kota Pekanbaru merupakan yang terbesar didalam pembentukan PDRB Provinsi Riau. Studi ini menggunakan metode Location Quotient (LQ), Metode Rasio Pertumbuhan dan Indeks Kontribusi PDRB untuk menentukan sektor unggulan. Analisis Porter’s Diamond digunakan untuk melihat dayasaing dari sektor unggulan tersebut. Hasil studi menunjukkan bahwa sektor unggulan Kota Pekanbaru adalah perdagangan. Sektor ini menunjukkan dayasaing yang baik. Disarankan bagi pemerintah untuk menjaga fasilitas yang telah ada dan harus lebih meluaskan peremajaan pasar tradisional dan jalan yang belum mencakup semua wilayah.

(3)

RINGKASAN

TENGKU ARIF PAHLEVI. Analisis Sektor Ekonomi Unggulan dan Dayasaing di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, periode 2004-2010 (dibimbing oleh TANTI NOVIANTI)

Pemberlakuan kebijakan otonomi daerah membuat daerah dapat leluasa dalam mengembangkan sektor-sektor perekonomiannya. Perbedaan kelimpahan sumberdaya di masing-masing daerah menciptakan keragaman pada sektor ekonomi unggulannya. Provinsi Riau merupakan provinsi dengan sumbangsih yang besar terhadap perekonomian Indonesia dilihat dari segi proporsi PDRB terhadap PDB. Kota Pekanbaru sebagai ibukota provinsi memegang peranan penting di dalam perkembangan ekonomi Provinsi Riau. Hal tersebut dibuktikan dengan Kota Pekanbaru sebagai daerah dengan kontribusi tertinggi di dalam pembentukan PDRB Provinsi Riau. Melihat pentingnya posisi Kota Pekanbaru di dalam perekonomian Provinsi Riau, maka penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis sektor ekonomi unggulan di Kota Pekanbaru serta menganalisis dayasaing sektor unggulan tersebut. Dengan mengetahui sektor unggulan diharapkan penyusunan perencanaan pembangunan menjadi lebih terarah sehingga tercipta pembangunan yang berkelanjutan.

Alat Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Location Quotient (LQ) yang digunakan untuk mengetahui sektor basis, analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) yang digunakan untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan setiap sektor dengan pertumbuhan PDRB-nya dan analisis Indeks Komposit yang digunakan sebagai penentu sektor unggulan. Cakupan wilayah dalam penelitian ini adalah Kota Pekanbaru dengan periode waktu tahun 2004 hingga 2010.

Penelitian ini menggunakan tiga indikator dalam penentuan sektor unggulan yaitu nilai LQ, nilai Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPs) yang diperoleh melalui analisis MRP serta nilai kontribusi PDRB. Tiga indikator ini diberi indeks dengan interval nilai 1-5. Setelah indeks masing-masing indikator diperoleh, dilakukan analisis indeks komposit dimana sektor unggulan merupakan sektor dengan nilai indeks komposit terbesar.

(4)
(5)

ANALISIS SEKTOR EKONOMI UNGGULAN DAN DAYASAING DI KOTA PEKANBARU PROPINSI RIAU

(PERIODE 2004-2010)

Oleh

TENGKU ARIF PAHLEVI H14080134

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(6)

Judul Skripsi : ANALISIS SEKTOR EKONOMI UNGGULAN DAN DAYASAING DI KOTA PEKANBARU PROPINSI RIAU (PERIODE 2004-2010)

Nama : Tengku Arif Pahlevi NIM : H14080134

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Tanti Novianti, M.Si. NIP. 19721107 199802 2 005

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi

Dedi Budiman Hakim, Ph.D. NIP. 19641022 198903 1 003

(7)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN

Bogor, April 2013

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Tengku Arif Pahlevi lahir pada tanggal 30 April 1990 di Pekanbaru, Provinsi Riau. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara, dari pasangan Tengku Saleh Sharief (alm) dan Syarifah Ruaisyah. Penulis menamatkan pendidikan Sekolah Dasar pada SD 009 Pekanbaru pada tahun 2002, kemudian melanjutkan ke SMP 4 Pekanbaru dan lulus pada tahun 2005. Penulis melanjutkan pendidikan ke SMA 8 Pekanbaru dan lulus pada tahun 2008.

(9)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat beriring salam penulis sampaikan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat. Skripsi ini berjudul “Analisis Sektor Ekonomi Unggulan dan Dayasaing di Kota Pekanbaru Provinsi Riau (Periode 2004-2010)”.

Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tanti Novianti, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan.

2. Dr. Ir. Wiwiek Indrayanti, M.Si. selaku Dosen Penguji Utama Skripsi atas masukan-masukannya.

3. Dr. Muhammad Findi Alexandi, SE., M.Si. selaku Dosen Penguji Komisi Pendidikan atas pengkoreksian penulisan skripsi.

4. Kepada orang tua penulis Hj. Syarifah Ruaisyah, kakak-kakak penulis yaitu T. Ersti Yulika Sari, T. Mirza Arafat, T. Triana Mustika Sari dan Said Mahdalius atas doa, dukungan, semangat dan perhatian yang tak ternilai baik berupa materil maupun moril.

5. Teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Music/ Agriculture/ Expression!! (MAX!!) untuk 4 tahun yang sangat berkesan dan tidak biasa ini. 6. Teman-teman Taman Sari Brotherhood Andra, Denden, Fatchur, Fikri, Imo,

Oka, Syifa, Wawan dan Fanny.

(10)

8. Teman-teman G-Mayor Khalid, Arka, Bari, Aji dan Faisal untuk pengalaman bermusiknya.

9. Teman sepermainan Iam, Zha dan Memey atas bantuan dan dukungan morilnya.

10.Teman-teman Agritrash Vino, Sahal, Tomi, Busrol, Malik, Adri, Joko, Rian, Iga, Fikri dan Iam atas semua dukungan baik moril dan materil, semangat, doa dan perhatiannya.

11.Teman-teman Dramaga Regency D15 dan Kontri Arif, Agung, Fadly, Aji, Samsu, Pardi, Bayu, Kokom, Tama, Fahri, Ninda, Kuncoro, Bebe, Bayu, Bagus dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

12.Teman-teman Genting Kecik, Ogel, Julia, Maha, Gembung, Indra dan Kiki. 13.Teman-teman Dramaga Cantik Big, Alis, Wisnu, Igun, Agem dan Zikri. 14.Aditya Rakhman, Dewa Putu Adityadharma, Emilie Ayu Hapsari dan Andini

Novrianti atas dukungan baik moril maupun materil.

15.Teman-teman Ilmu Ekonomi 45 IPB yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang

membutuhkan.

Bogor, Maret 2013

Tengku Arif Pahlevi

(11)

iii

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ……… i

DAFTAR ISI ………..iii

DAFTAR TABEL ……….. v

DAFTAR GAMBAR ……….vi

DAFTAR LAMPIRAN ……….vii

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 10

1.4. Manfaat Penelitian ... 10

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 12

2.1. Tinjauan Pustaka ... 12

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi ... 13

2.1.3. Otonomi Daerah ... 18

2.1.5. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). ... 21

2.1.6. Teori Basis Ekonomi dan Sektor Potensial ... 25

2.1.7 Analisis Porter’s Diamond ... 26

2.2. Penelitian Terdahulu ... 28

2.3. Kerangka Pemikiran ... 30

III. METODE PENELITIAN ... 32

3.1. Jenis dan Sumber Data ... 32

3.2. Metode Analisis Data ... 32

3.2.1. Analisis Deskriptif ... 33

3.2.2. Metode Location Quotient (LQ) ... 33

3.2.3. Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) ... 34

(12)

3.2.5. Analisis Porter’s Diamond ... 37

3.3. Definisi Operasional Variabel ... 37

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH ... 39

4.1. Wilayah Geografis ... 39

a. Letak dan Luas ... 39

b. Batas ... 40

c. Sungai ... 40

d. Iklim ... 40

4.2. Kependudukan ... 41

4.3. Ketenagakerjaan ... 42

4.4. Sekilas Perekonomian Kota Pekanbaru ... 43

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 47

5.1. Indikator Sektor Unggulan ... 47

5.1.1. Analisis Location Quotient (LQ) ... 47

5.1.2. Analisis Metode Rasio Pertumbuhan (MRP) ... 51

5.1.3. Indeks Kontribusi PDRB (IKP) ... 56

5.2. Sektor Unggulan Berdasarkan Indeks Komposit ... 59

5.3. Analisis Porter’s Diamond ... 61

5.3.1. Kondisi Faktor ... 61

5.3.2. Kondisi Permintaan ... 64

5.3.3. Strategi Perusahaan dan Pesaing ... 66

5.3.4. Industri Pendukung dan Industri Terkait ... 67

5.3.5. Peran Pemerintah Daerah ... 68

5.3.6. Peran Kesempatan ... 70

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

6.1. Kesimpulan ... 73

6.2. Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 75

(13)

v

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Peringkat 8 Teratas PDRB dengan Migas Provinsi Indonesia Atas

Dasar Harga Konstan 2000 (dalam juta rupiah) ... 7

Tabel 2. Rata-Rata Kontribusi Kota/Kabupaten terhadap PDRB Tanpa Migas Provinsi Riau Tahun 2006-2010. ... 8

Tabel 3. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama di Kota Pekanbaru, 2010 dan 2011 ... 43

Tabel 4. PDRB dan PDRB per Kapita Kota Pekanbaru Atas Dasar Harga Konstan 2000 (dalam juta rupiah). ... 44

Tabel 5. Pertumbuhan PDRB Kota Pekanbaru Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 Tahun 2010. ... 46

Tabel 6. Hasil Penghitungan LQ dan Rata-rata LQ Kota Pekanbaru, Tahun 2004 – 2010. ... 48

Tabel 7. Indeks Location Quotient (LQ) Kota Pekanbaru menurut sektor tahun 2010 ... 50

Tabel 8. Jaringan Persebaran Bank Umum di Provinsi Riau Tahun 2010. ... 52

Tabel 9. Hasil Pengukuran Rasio Pertumbuhan Provinsi Riau (RPr) dan Rasio Pertumbuhan Kota Pekanbaru (RPs), Tahun 2004 – 2010 ... 54

Tabel 10. Indeks Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPs) Kota Pekanbaru Tahun 2004 – 2010. ... 55

Tabel 11. Rata-rata kontribusi PDRB Kota Pekanbaru menurut sektor dan subsektor tahun 2004-2010. ... 57

Tabel 12. Indeks Kontribusi PDRB Kota Pekanbaru 2004-2010 ... 58

Tabel 13. Indeks komposit sebagai penentu sektor unggulan Kota Pekanbaru .... 59

Tabel 14. Kontribusi Rata-rata Subsektor Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran tahun 2004-2010... 60

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Grafik nilai PDB Indonesia atas dasar harga konstan 2000 (dalam juta rupiah). ... 6

Gambar 2. Model Analisis Porter’s Diamond. ... 27

Gambar 3. Kerangka Pemikiran. ... 31

Gambar 4. Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Pekanbaru (dalam ribu jiwa). ... 42

Gambar 5. Grafik Proporsi Pengeluaran Makanan dan Non makanan Masyarakat Kota Pekanbaru Tahun 2007-2010 ... 64

Gambar 6. Grafik Perkembangan Pengeluaran Perkapita Kota Pekanbaru (dalam Rupiah) Tahun 2007 -2010. ... 65

(15)

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. PDRB Provinsi Riau Atas Dasar Harga Konstan 2000

(dalam juta rupiah)... 80

Lampiran 2. PDRB Kota Pekanbaru Atas Dasar Harga Konstan 2000 (dalam juta rupiah)... 82

Lampiran 3. Hasil Analisis Location Quotient (LQ). ... 84

Lampiran 4. Hasil Analisis Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPs) ... 86

Lampiran 5. Hasil Analisis Rasio Pertumbuhan Wilayah Referensi (RPr) ... 88

(16)

1.1. Latar Belakang

Pembangunan adalah suatu proses yang multidimensional dan meliputi

reorganisasi dan reorientasi sistem sosial ekonomi secara menyeluruh meliputi

struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi nasional, disamping penanganan

ketimpangan pendapatan dan pengentasan kemiskinan dengan tetap mengejar

percepatan pertumbuhan nasional. Pembangunan merupakan hal yang selalu dituntut

oleh setiap bangsa dan merupakan tujuan yang dianggap benar oleh setiap individu

(Todaro, 1984). Menurut Sukirno, pembangunan ekonomi juga merupakan

serangkaian usaha dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan

ekonominya sehingga infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak

dan semakin berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan teknologi semakin

meningkat (Sukirno, 2011).

Pembangunan ekonomi memiliki tujuan utama untuk mencapai target

pertumbuhan ekonomi dengan pemanfaatan potensi dan sumberdaya yang ada. Selain

itu, menurut Todaro, pembangunan memiliki tiga tujuan yaitu (Todaro, 1984) :

1. Meningkatkan ketersediaan dan memperluas penyebaran barang kebutuhan

pokok seperti makanan, tempat bernaung, kesehatan dan perlindungan bagi

semua anggota masyarakat

2. Meningkatkan taraf hidup yang meliputi ketersediaan lebih banyak lapangan

pekerjaan, pendidikan yang lebih baik dan perhatian yang lebih besar terhadap

(17)

2

3. Memperluas raga pilihan ekonomi dan sosial bagi pribadi maupun bangsa

dengan memerdekakan mereka dari perbudakan dan ketergantungan, tidak

saja dalam hubungannya dengan orang dan bangsa asing, namun juga dari

kebodohan dan kepapanan manusia

Pada tahun 1983/84, negara Indonesia mengalami penurunan pendapatan dari

sektor minyak dan pajak minyak sebagai imbas terjadinya krisis perekonomian global

di negara-negara industri maju. Hal tersebut berimplikasi langsung terhadap keadaan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dimana penurunan pendapatan

pajak tersebut menyebabkan jumlah anggaran pada tahun itu menurun. Penurunan

jumlah anggaran menimbulkan kesadaran akan menurunnya kemampuan pemerintah

pusat dalam memberikan subsidi kepada pemerintah daerah maupun dalam

membiayai proyek-proyek pemerintah di daerah. Kemungkinan penurunan

kemampuan dari pemerintah tersebut kemudian ditanggapi dengan tekad dari

pemerintah untuk memberikan kebebasan kepada pemerintah daerah untuk berusaha

dalam meningkatkan pendapatan asli daerah agar melemahnya subsidi dari

pemerintah pusat tidak akan menganggu perkembangan ekonomi maupun jalannya

pemerintahan di daerah.

Sejarah juga mencatatkan bahwa periode krisis terburuk di Indonesia terjadi

pada tahun 1998. Krisis moneter yang terjadi di bulan Juli 1997 di negara Thailand

tidak dipersiapkan secara benar oleh aparatur perekonomian negara, terutama pejabat

di bidang moneter. Periode kepemimpinan Presiden Soeharto dinilai lebih banyak

(18)

gejolak yang terjadi di sektor global, salah satunya adalah perekonomian1. Paradigma

pemerintahan pada masa itu belum mempercayai pemberian kewenangan kepada

pemerintahan daerah yang sebetulnya telah mampu untuk menangani urusan-urusan

pemerintahan di level daerah. Hal tersebut menyebabkan tidak adanya tindakan

antisipatif pemerintah pusat terhadap kemungkinan krisis yang terjadi akan

berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Selain itu, sistem pemerintahan yang

cenderung sentralistik ini menyebabkan ketidakmerataan pembangunan sehingga

menimbulkan ketimpangan terutama antara Pulau Jawa dengan daerah-daerah di luar

Pulau Jawa. Abdullah menambahkan, jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk

daerah-daerah di Indonesia masih relatif kecil dikarenakan sumber-sumber keuangan

potensial masih dikuasai oleh pemerintah pusat namun tidak ada suatu

perundang-undangan yang mengatur perimbangan pendanaan antara pusat dan daerah.

Penumpukan sumber daya manusia yang berkualitas di pusat juga terjadi karena

selama ini pengangkatan, pembinaan dan pemindahan Pegawai Negeri Sipil

sepenuhnya dikontrol oleh pemerintah pusat (Abdullah, 1983). Maka setelah rezim

pemerintahan Soeharto berakhir, periode “reformasi” mulai meninggalkan sistem

pemerintahan sentralistik tersebut dan beralih kepada konsep otonomi daerah.

Otonomi daerah bukan merupakan hal baru dalam catatan sejarah Republik

Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda telah menerapkan konsep ini jauh sebelum

kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Pada masa penjajahan kolonial

1

(19)

4

Belanda, otonomi dilaksanakan dengan berpedoman pada Regeering Reglement (RR)2

yaitu peraturan pemerintah Hindia Belanda dan menjadi semacam UUD negara pada

masa itu. Dalam RR ini dijelaskan bahwa pemerintahan dijalankan dengan 2 sistem,

yaitu indirect gebied (pemerintahan tidak langsung) dan direct gebied (pemerintahan

langsung). Pada system indirect gebied, pemerintah pusat tidak secara langsung

memerintah karena sudah ada sitem pemerintahan tersendiri di daerah tersebut.

Daerah yang telah memiliki sistem pemerintahan ini biasanya berbentuk kerajaan

yang sudah ada sebelum masa pendudukan Belanda seperti Kesultanan Yogyakarta,

Kasunanan Surakarta, Kesultanan Palembang, Kesultanan Deli, Kesultanan Aceh,

Kesultanan Pontianak dan lain-lain (Nurcholis, 2005). Kerajaan-kerajaan ini sudah

terikat perjanjian politik dengan pemerintah Belanda sehingga menjadi koloni dengan

status semi merdeka di dalam lingkup pemerintahan Kerajaan Belanda. Pemerintah

Belanda hanya menempatkan para pengawas di daerah tersebut dengan pangkat

Asisten Residen, Residen atau Gubernur. Penempatan pengawas ini disesuaikan

dengan tingkatan daerah yang dikelompokkan menurut tingkat kepentingan

pemerintah Hindia Belanda3 (Wikipedia, 2012).

Penerapan otonomi daerah di Indonesia berdampak pada segi pemerintahan

terutama pemerintahan di daerah. Sejak diberlakukannya kebijakan ini,

masing-masing daerah diberikan kebebasan untuk menjalankan pemerintahan sesuai dengan

kebijakan masing-masing kepala daerah. Namun kebebasan yang diberikan tetap

bertanggung jawab kepada daerah serta diwujudkan dengan pengaturan, pembagian

2

Nurcholis, Hanif. “Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Jakarta: Grasindo. 2005 3

(20)

dan pemanfaatan sumberdaya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan

keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara proporsional,

demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan

kebutuhan daerah. Kebebasan ini termasuk juga dalam hal pengembangan sektor

ekonomi. Masing-masing daerah memiliki perbedaan kondisi, baik dari segi

ketersediaan sumber daya alam maupun kondisi sosial budayanya. Ada daerah yang

memiliki sumber daya alam yang melimpah dan ada juga daerah yang berkebalikan

kondisi sumber dayanya. Perbedaan kelimpahan tersebut membuat masing-masing

daerah memiliki sektor ekonomi potensial yang berbeda pula.

Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh masing-masing kepala daerah akan

berbeda satu sama lainnya mengingat adanya perbedaan kelimpahan sumber daya

maupun kondisi sosial secara umum. Kebijakan yang diambil oleh Pemerintah

Daerah satu, belum tentu cocok untuk diterapkan di daerah lainnya. Otonomi daerah

menuntut kecakapan dari kepala pemerintahan daerah untuk mengambil kebijakan

sesuai dengan situasi daerah sendiri.

Kebijakan otonomisasi merupakan bagian dari tujuan pembangunan bangsa

yang pada hakikatnya diambil untuk memacu kemajuan daerah serta kesejahteraan

masyarakat. Untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran tersebut, diperlukan

adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Secara awam, dapat dikatakan bahwa

perlu adanya peningkatan pendapatan yang tinggi untuk mencapai kesejahteraan atau

meningkatkan standar kualitas hidup masyarakat yang jumlahnya meningkat.

Salah satu cara untuk menilai prestasi suatu perekonomian adalah dengan

(21)

6

kenaikan dari tahun ke tahun terhitung sejak sebelum dan setelah penerapan otonomi

daerah, yang menandakan bahwa otonomi daerah ini tetap memberikan dampak yang

positif terhadap kondisi perekonomian Indonesia secara umum. Berikut adalah

gambar perkembangan PDB Indonesia atas dasar harga konstan 2000 tahun

2001-2010.

Sumber: Statistik Indonesia: Statistical Yearbook of Indonesia 2005-2011.BPS, diolah. Gambar 1. Grafik nilai PDB Indonesia atas dasar harga konstan 2000 (dalam

juta rupiah).

Perkembangan positif yang terjadi di dalam perekonomian tersebut secara

umum dipengaruhi oleh kontribusi provinsi-provinsi yang ada di Indonesia.

Pembentukan PDB Indonesia tidak lepas dari perkembangan perekonomian di daerah.

Perkembangan perekonomian daerah dapat dilihat dari nilai Produk Domestik

Regional Bruto (PDRB). Nilai PDB Indonesia secara umum merupakan gabungan

dari PDRB masing-masing provinsi.

Sejak periode 2006 hingga 2010, posisi PDRB Provinsi Riau selalu berada di

posisi 8 teratas PDRB (dengan migas) terbesar dibandingkan dengan provinsi lain

yang ada di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomian 1442984.6

1506124.4

1579559

1660578.7

1750815.2 1847292.9

1963974.3 2082456.1

2177741.7

2310689.8

(22)

Provinsi Riau memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi

secara nasional. Peringkat kontribusi PDRB dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1. Peringkat 8 Teratas PDRB dengan Migas Provinsi Indonesia AtasDasar Harga Konstan 2000 (dalam juta rupiah)

Sumber: Statistik Indonesia: Statistical Yearbook of Indonesia 2007-2011.BPS, diolah.

Provinsi Riau menduduki peringkat kedua terbesar kontribusinya terhadap

PDB Indonesia setelah Provinsi Sumatera Utara untuk kawasan Sumatera. Dengan

perkembangan PDRB yang cenderung meningkat tiap tahunnya, dapat dikatakan

bahwa peran Provinsi Riau di dalam perekonomian nasional maupun regional

Sumatera semakin penting. Untuk mempertahankan prestasi tersebut, baik kota

maupun kabupaten yang ada di Provinsi Riau perlu diperhatikan kinerja

perekonomiannya.

Sebagai ibukota provinsi, Kota Pekanbaru memegang peranan penting di

dalam pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau. Pada periode tahun 2006-2010, Kota

Pekanbaru memberikan kontribusi rata-rata paling besar dalam pembentukan PDRB

Provinsi Riau atas dasar harga konstan 2000 tanpa migas jika dibandingkan dengan

Provinsi 2006 2007 2008 2009 2010

DKI Jakarta 312826713 332971255 353723391 371469499 395664498 Jawa Timur 271249317 287814184 305538687 320861169 342280766 Jawa Barat 257499446 274180308 291205837 303405251 321875841 Jawa Tengah 150682655 159110254 168034483 176673457 186995481 Kalimantan

Timur 96612841.6 98386381.5 103206871 105368811 110579888 Sumatera

(23)

8

kota/kabupaten lainnya yaitu sebesar 17.48 persen. Perbandingan kontribusi antar

kabupaten dan kota di Provinsi Riau dijelaskan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Rata-Rata Kontribusi Kota/Kabupaten terhadap PDRB Tanpa Migas Provinsi Riau Tahun 2006-2010.

Kota/Kabupaten Kontribusi (%)

Pekanbaru 17.48

Indragiri Hilir 11.98

Siak 10.36

Rokan Hilir 8.37

Pelalawan 8,36

Indragiri Hulu 8.15

Kampar 7.92

Bengkalis 7.64

Kuantan Singingi 6.87

Rokan Hulu 5.96

Dumai 3.03

Kepulauan Meranti 2.90

Sumber: BPS Kota Pekanbaru, 2011, diolah. 1.2. Perumusan Masalah

Melalui pemberian otonomi yang besar pada daerah, maka saat ini dan masa

mendatang keberhasilan pengembangan wilayah sangat tergantung pada

kebijaksanaan pemerintah daerah terutama dalam menyikapi perubahan-perubahan

yang terjadi. Oleh karena itu, setiap pemerintah daerah harus mampu

(24)

arah dan tujuan yang akan mengarahkan masa depan wilayah yang bersangkutan

(Daryanto dan Hafizrianda, 2010).

Perbedaan kelimpahan sumberdaya di masing-masing daerah di Indonesia

memberikan keragaman pada sektor ekonomi unggulannya. Perubahan kinerja

perekonomian, pola struktur pertumbuhan ekonomi serta indikator ekonomi lainnya

merupakan faktor-faktor yang mencerminkan adanya proses pembangunan ekonomi

di suatu daerah. Penetapan prioritas pembangunan harusnya didasari oleh analisis

tentang sektor dan subsektor mana yang menjadi unggulan dan memiliki potensi ke

depan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Sebagai provinsi dengan kontribusi PDRB yang cukup besar terhadap PDB

Indonesia, maka pertumbuhan perekonomian Provinsi Riau akan berdampak

signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Provinsi Riau dikenal sebagai daerah

penghasil migas. Ketergantungan terhadap sektor migas sebagai sektor ekonomi

utama sangat tidak ideal untuk perencanaan pembangunan jangka panjang. Hal itu

disebabkan sebagai sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui, cadangan migas

cenderung memiliki trend yang negatif dari tahun ke tahun. Oleh karena itulah

dibutuhkan identifikasi sektor ekonomi unggulan baru yang berasal dari kelompok

non migas.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau tentu tidak lepas dari pengaruh

pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru sebagai ibukota provinsi yang juga

merupakan pusat perekonomian provinsi. Dengan mengetahui sektor dan subsektor

mana yang menjadi unggulan, maka diharapkan perencanaan pembangunan Kota

(25)

10

pembangunan yang berkelanjutan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat

dirumuskan masalah-masalah yang menjadi objek penelitian ini, yaitu:

1. Sektor/subsektor manakah yang berpotensi di Kota Pekanbaru untuk menjadi

sektor/subsektor unggulan wilayah?

2. Bagaimana kondisi dayasaing dari sektor/subsektor tersebut?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini

bertujuan untuk:

1. Mengidentifikasi dan menganalisis sektor/subsektor unggulan di Kota

Pekanbaru.

2. Menganalisis dayasaingdan strategi pengembangan subsektor unggulan Kota

Pekanbaru.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

1. Sebagai masukan untuk pengambil kebijakan dan instansi-instansi terkait

dalam perumusan kebijakan perekonomian Kota Pekanbaru.

2. Sebagai bahan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya ataupun

penelitian sejenis.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Pembahasan skripsi ini dibatasi pada identifikasi sektor unggulan berdasarkan

(26)

penelitian ini adalah dari tahun 2004 hingga 2010. Pemilihan rentang waktu

disesuaikan dengan implementasi UU Otonomi Daerah di Indonesia. Penelitian ini

juga hanya difokuskan pada pendekatan secara sektoral dengan menggunakan data

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Teori Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi memiliki pengertian yang amat luas. Pemikiran lama

mengkaitkan pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan perekonomian. Pada

pemikiran klasik, pembangunan ekonomi mengandung arti kapasitas dari

perekonomian nasional yang pada awalnya statis untuk menciptakan dan mencapai

kenaikkan PDB. Pada masa ini, pembangunan umumnya difokuskan pada percepatan

pertumbuhan PDB dan PDB per kapita yang diharapkan dapat memberikan efek

menetes ke bawah (trickle down effect) di mana kenaikan PDB/PDB per kapita dapat

memberikan manfaat pada masyarakat dalam bentuk kesempatan ekonomi.Paradigma

yang salah di dalam pendefinisian pembangunan ekonomi ini kemudian melahirkan

ketimpangan di dalam perekonomian. Seers dalam Todaro (1984) menyatakan bahwa

pembangunan tidak hanya untuk mengejar pertumbuhan PDB/PDB per kapita,

melainkan kondisi sosial lainnya. Maka pembangunan ekonomipun dirumuskan ulang

dengan lebih ringkas, yaitu pembangunan untuk mengurangi atau menghilangkan

kemiskinan, ketimpangan dan pengangguran di dalam konteks suatu pertumbuhan

ekonomi.

Di dalam pemikiran yang lebih luas, pembangunan ekonomi adalah perubahan

total dari suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan, tanpa

(28)

kelompok sosial yang ada di dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kehidupan

yang serba lebih baik secara material ataupun spiritual. Pandangan yang luas ini

kemudian membuat pengukuran pembangunan ekonomi tidak hanya sebatas diukur

dari segi pertumbuhan PDRB ataupun PDRB perkapita, tetapi mencakup

sektor-sektor yang lebih luas lagi (Todaro, 1984).

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang

secara keseluruhan terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah

(added value) yang terjadi (Tarigan, 2005). Boediono dalam Tarigan (2005)

menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita

dalam jangka panjang. Presentase pertambahan output itu haruslah lebih tinggi dari

presentase pertambahan jumlah penduduk sehingga dalam jangka panjang

pertumbuhan tersebut akan terus berlanjut.

Menurut Lewis dalam Todaro (1984), pertumbuhan ekonomi memiliki

keuntungan yaitu pertumbuhan ekonomi menguntungkan masyarakat, bukan karena

kekayaan meningkatkan kebahagiaan, tetapi karena pertumbuhan ini meningkatkan

medan pilihan manusia (range of human choice). Pertumbuhan ekonomi yang

menyebar luas memberikan kebebasan memilih kesenangan dan barang-barang sesuai

selera serta menjamin tersedianya fasilitas jasa. Selain itu, pertumbuhan ekonomi

memudahkan kita terhindar dari bahaya kelaparan, wabah penyakit, mengurangi

angka kematian serta memungkinkan penyebaran aktivitas dan badan-badan yang

(29)

34

Secara umum, para ekonom klasik menganggap hanya ada satu mekanisme di

dalam pertumbuhan ekonomi yaitu akumulasi modal. Di masa modern, pertumbuhan

ekonomi tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Pertumbuhan ekonomi dapat

disebabkan oleh beberapa faktor dimana diantara faktor-faktor tersebut tidak ada

yang dominan, faktor-faktor tersebut antara lain: (1) Jumlah modal per tenaga kerja

(2) Kualitas modal (3) Kualitas tenaga kerja (4) Kuantitas tenaga kerja (5) Perubahan

struktural, dan (6) Pertimbangan institusional.

Ada beberapa teori di dalam pembahasan pertumbuhan ekonomi wilayah ini

antara lain:

a. Teori Fredrich List

Dalam teori ini, perkembangan ekonomi sebenarnya tergantung pada peranan

pemerintah, organisasi swasta dan lingkungan kebudayaan masyarakat.

Perkembangan ekonomi akan terjadi apabila dalam masyarakat mempunyai

kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perkembangan perorangan

melalui lima fase yaitu: fase primitif, beternak, pertanian, industri pengolahan

dan perdagangan.

b. W.W. Rostow

Dalam dimensi ekonomi menurut Rostow, semua masyarakat dapat

digolongkan ke dalam lima kategori, yaitu:

1. Masyarakat Tradisional

Merupakan masyarakat yang strukturnya dibangun di dalam fungsi

(30)

masyarakatnya menggunakan sebagian besar sumber produksinya di sektor

pertanian.

2. Prasyarat lepas landas

Merupakan masa peralihan di mana sudah mulai adanya perluasan

pendidikan serta munculnya tipikal manusia baru yang berprakarsa dalam

perekonomian swasta, dalam pemerintahan atau kedua-duanya yang mau

memobilisasi tabungan dan mengambil risiko dalam mengejar keuntungan

atau dalam melaksanakan modernisasi.

3. Lepas landas (take-off)

Fase ini adalah masa antara waktu halangan-halangan dan

rintangan-rintangan lama terhadap pertumbuhan yang terus-menerus pada akhirnya

dapat diatasi.Pertumbuhan sudah merupakan hal yang normal.

4. Gerak menuju kematangan (drive to maturity)

Merupakan tahap pada saat perekonomian memperlihatkan

kesanggupannya untuk melampaui industri permulaan yang menggerakkan

takeoff-nya dan untuk menyerap hasil-hasil teknologi modern yang paling

maju serta menerapkannya secara efisien pada sebagian besar

sumber-sumber yang dimiliki.

5. Zaman konsumsi tinggi (high mass-consumption)

Pada masa ini masyarakat memilih untuk memperbesar alokasi

sumberdaya produksinya untuk kesejahteraan dan jaminan sosial.Hal

tersebut menimbulkan negara kesejahteraan (welfare state) yang merupakan

(31)

36

memperbesar sumber-sumber produksinya yang digunakan untuk

menghasilkan barang-barang konsumsi tahan lama dan untuk menawarkan

jasa-jasa kepada masyarakat.

c. Teori Ekonomi Klasik

Teori ekonomi klasik ini diprkarsai oleh Adam Smith di dalam bukunya yang

berjudul “An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations” (1776).

Menurut Adam Smith, untuk berlangsungnya perkembangan ekonomi diperlukan

adanya spesialisasi atau pembagian kerja agar produktivitas tenaga kerja dapat

bertambah. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga menuntut adanya akumulasi

capital yang berasal dari investasi dan tabungan. Pertumbuhan ekonomi bersifat

kumulatif. Artinya, jika ada pasar yang cukup dan akumulasi capital (modal), maka

akan ada pembagian kerja dengan produktivitas tenaga kerja menaik.

d. Teori Solow-Swan

Asumsi yang digunakan di dalam teori ini adalah:

1. Tenaga kerja (L) tumbuh dengan laju pertumbuhan tertentu, misalnya

P pertahun

2. Adanya fungsi produksi = f(K,L) yang berlaku setiap periode

3. Adanya kecendrungan menabung (propensity to save) oleh masyarakat

yang dinyatakan sebagai proporsi (S) tertentu dari output (Q)

4. Semua tabungan masyarakat diinvestasikan, sehingga S= I= K.

Dari asumsi-asumsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses pertumbuhan

dalam model neo-klasik selalu memenuhi syarat warranted rate of growth, yaitu

(32)

e. Teori Harrod-Domar

Teori Harrod-Domar melihat pengaruh investasi dalam perspektif waktu yang

panjang. Pemikiran utamanya adalah bahwa setiap upaya untuk tinggal landas

mengharuskan adanya mobilisasi tabungan dalam dan luar negeri dengan maksud

untuk menciptakan investasi yang cukup untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Asumsi yang digunakan di dalam teori ini adalah:

1. Perekonomian berada dalam keadaan full employment dan barang-barang

modal yang diproduksi dalam masyarakat digunakan secara penuh.

2. Perekonomian terdiri dari dua sektor yaitu sektor rumah tangga dan

perusahaan.

3. Besarnya tabungan masyarakat proporsional dengan besarnya pendapatan

nasional.

4. Ada hubungan ekonomi langsung antara besarnya stok capital

keseluruhan (K) dengan GNP (Y). Ini berarti bahwa dalam setiap

tambahan netto terhadap stok capital dalam Y/Y merupakan tingkat

pertumbuhan GNP (yaitu, presentase pertumbuhan GNP).

f. Teori Pertumbuhan Schumpeter

Menurut Schumpeter, faktor utama perkembangan ekonomi adalah proses

inovasi dengan para wiraswastawan sebagai pelakunya. Perkembangan ekonomi

berawal pada suatu lingkungan sosial, politik dan teknologi yang menunjang

kreativitas para wiraswasta. Dengan demikian akan timbul beberapa wiraswasta yang

(33)

38

Mereka yang berhasil melakukan inovasi akan menimbulkan efek monopoli pada

pencetusnya karena merupakan penerapan hal-hal yang baru.

g. Teori Kuznet.

Menurut Kuznet, untuk mencapai kematangan ekonomi, diperlukan

peningkatan output nasional secara terus-menerus, dan dapat dipertahankan. Untuk

mempertahankan pertumbuhan output diperlukan kemajuan tekonologi. Namun

kemajuan teknologi ini juga harus dibarengi dengan perubahan perilaku, persepsi

sosial dan diikuti dengan penyesuaian ideologi.

2.1.3. Otonomi Daerah

Menurut Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah,

Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat

setempat sesuai dengan peraturan perundangan. Otonomi daerah merupakan alternatif

pemecahan masalah kesenjangan pembangunan, terutama dalam konteks

pemberdayaan pemerintah daerah yang selama ini hanya dipandang sebagai

perpanjangan tangan pemerintah pusat.

Perkembangan konsep tentang pemerintahan daerah dimulai sejak orde lama,

yaitu pada tahun 1945. Kebijakan otonomi daerah pada masa itu lebih

menitikberatkan pada dekosentrasi dimana kepala daerah hanyalah perpanjangan

tangan dari pemerintah pusat. Kemudian pada tahun 1999, berawal dari

dikeluarkannya Undang-Undang nomor 22 tentang Otonomi Daerah, maka konsep

(34)

masih bersifat dualisme, di mana kepala daerah bertanggung jawab penuh pada

DPRD, tetapi juga masih sebagai alat pemerintahan pusat. Mulai tahun 2004,

Indonesia menggunakan Undang-Undang nomor 32 sebagai landasan

penyelenggaraan otonomi daerah.

Menurut UU nomor 32 tahun 2004, ada tiga prinsip pelaksanaan otonomi

daerah, yaitu:

1. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan dari

pemerintah pusat kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan

Republik Indonesia (NKRI).

2. Dekosentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada

gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di daerah.

3. Tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada kepala

daerah dan dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang

disertai pembiayaan, sarana dan prasaran, serta sumberdaya manusia

dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan pertanggungjawabannya

kepada yang menugaskan.

2.1.4. Produk Domestik Bruto

Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan semua nilai tambah bruto (gross

value added) barang dan jasa sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang

beroperasi di wilayah domestik (Indonesia) tanpa memperhatikan asal dari faktor

produksinya apakah berasal dari atau dimiliki oleh penduduk daerah tersebut. Selain

(35)

40

produksi dalam kegiatan proses produksi di suatu negara selama satu periode

(setahun) (BPS, 2012).

Hubbard dan O’Brien (2009) menjelaskan bahwa PDB merupakan konsep

sentral di dalam makroekonomi sehingga butuh pendefinisian yang tepat. Berikut

adalah karakteristik dari PDB:

1. PDB dihitung menggunakan harga pasar yang berlaku, bukan jumlah

produksi. Hal tersebut dilakukan karena di dalam suatu perekonomian,

terdapat banyak produk yang dihasilkan oleh produsen-produsen di dalam

negeri. Jika perhitungan PDB menggunakan satuan jumlah barang, maka

hasil yang didapatkan akan tidak dapat diinterpretasikan sehingga dalam

perhitungannya, PDB menggunakan satuan harga agar lebih mudah untuk

disajikan.

2. PDB hanya memasukkan nilai harga produk akhir dari suatu produksi.

Maksud dari nilai harga produk akhir ini adalah harga yang diterima oleh

konsumen akhir dimana produk tersebut tidak akan dimasukkan kembali

ke dalam proses produksi lainnya. Produk akhir dari suatu proses produksi

dipakai sebagai instrumen perhitungan dari PDB agar tidak menimbulkan

double counting (perhitungan ganda).

3. PDB hanya mencakup produksi saat ini. Maksudnya, perhitungan PDB

hanya mencakup proses produksi yang terjadi pada satu periode waktu

saja. Misalnya perhitungan PDB pada tahun 2010 hanya mencakup barang

dan jasa yang diproduksi pada tahun 2010 saja. Selain itu, dalam

(36)

suatu barang dibeli pada tahun 2010 (contoh: mobil) dan kemudian barang

tersebut dijual lagi pada tahun yang sama, maka nilai dari barang tersebut

tidak akan dimasukkan ke dalam perhitungan PDB.

PDB digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan

ekonomi karena:

1. PDB adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh aktifitas

produksi di dalam perekonomian. Hal ini berarti peningkatan PDB juga

mencerminkan balas jasa kepada faktor produksi yang digunakan dalam

aktifitas produksi tersebut.

2. PDB dihitung atas dasar konsep aliran (flow concept), artinya perhitungan

PDB hanya mencakup nilai produk yang dihasilkan pada satu periode

tertentu. Perhitungan ini tidak mencakup nilai produk yang dihasilkan

pada periode sebelumnya. Pemanfaatan konsep aliran guna menghitung

PDB yakni untuk membandingkan jumlah nilai tambah yang dihasilkan

pada tahun ini dengan tahun sebelumnya.

3. Batas wilayah perhitungan PDB adalah negara (wilayah domestik). Hal ini

memungkinkan kita untuk mengukur sejauh mana kebijakan ekonomi

yang diterapkan pemerintah mampu mendorong aktivitas perekonomian

domestik.

2.1.5. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Produk Domestik Regional Bruto adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan

(37)

42

dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di dalam suatu provinsi atau daerah

kabupaten/kota (BPS, 2012).

Ada 2 pendekatan yang digunakan di dalam perhitungan PDB/PDRB

(Colander, 2001) :

1. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)

Pendekatan pengeluaran menghitung PDB/PDRB sebagai nilai pasar

barang jadi dengan cara menjumlahkan pengeluaran-pengeluaran yang

dilakukan untuk membeli barang jadi tersebut. Pengeluaran total untuk barang

jadi merupakan jumlah dari pengeluaran untuk empat kelompok besar:

konsumsi, investasi, pemerintah dan ekspor netto.

a. Pengeluaran Konsumsi

Pengeluaran konsumsi meliputi pengeluaran untuk semua

barang dan jasa yang diproduksi dan dijual kepada rumah tangga

selama satu tahun (kecuali pengeluaran untuk perumahan tempat

tinggal yang digolongkan sebagai investasi.).Pengeluaran tersebut

termasuk pengeluaran untuk jasa-jasa seperti perawatan kesehatan,

biaya pengacara hingga barang-barang tahan lama seperti kendaraan

bermotor.

b. Pengeluaran Investasi

Pengeluaran investasi adalah pengeluaran untuk produksi

barang yang tidak dikonsumsi saat ini, termasuk pengeluaran untuk

persediaan, barang modal seperti pabrik dan peralatannya, dan

(38)

bahan baku produksi maupun barang jadi yang belum terjual. Bagi

perusahaan, akumulasi persediaan termasuk kedalam kategori investasi

lancar karena barang tersebut merupakan barang yang diproduksi dan

tidak digunakan untuk konsumsi saat ini.Perusahaan memerlukan

barang modal seperti peralatan pabrik, mesin dan bangunan

pabrik.Penciptaan barang-barang modal barumerupakan tindakan

investasi yang biasa disebut investasi tetap.Perumahan menghasilkan

maanfaat untuk waktu yang lama sehingga dikategorikan sebagai

investasi bukan konsumsi.

c. Pengeluaran Pemerintah untuk Barang dan Jasa

Pengeluaran pemerintah didapat dengan cara menghitung

jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk membiayai

pengeluarannya termasuk kegiatan investasi yang dilakukan

pemerintah hingga pembayaran gaji pegawai. Tidak semua

pengeluaran pemerintah dimasukkan ke dalam perhitungan

PDB/PDRB ini. Hanya pengeluaran yang menghasilkan manfaat

berupa jasa ataupun barang saja yang dimasukkan ke dalam

perhitungan (contoh: biaya pensiun tidak dimasukkan ke dalam

perhitungan) (Lipsey, et al, 1992).

d. Ekspor Netto

Ekspor netto adalah pengurangan langsung total ekspor dengan

(39)

44

2. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Pendekatan pendapatan menghitung nilai seluruh pendapatan yang

diperoleh dari proses produksi. Ada 4 variabel yang digunakan yaitu:

a. Kompensasi Karyawan.

Komponen ini terdiri dari upah dan gaji yang dibayarkan

kepada karyawan atas jasa yang diberikan. Yang dimaksud upah

termasuk penghasilan bersih (take-home pay), pajak penghasilan,

jaminan sosial, dana pensiun dan tunjangan tambahan lainnya (Lipsey,

et al, 1992).

b. Sewa.

Sewa merupakan pembayaran atas jasa penggunaan tanah atau

faktor produksi lainnya yang disewakan.Yang termasuk sewa adalah

sewa rumah dan sewa yang diperhitungkan atas penggunaan rumah

yang ditempati pemiliknya sendiri.

c. Bunga.

Yang termasuk bunga adalah bunga yang diperoleh dari

deposito di bank, bunga yang diperoleh dari pinjaman kepada

perusahaan dan pendapatan atas investasi lainnya.

d. Laba.

Laba adalah bagian yang tersisa setelah pembayaran upah dan

(40)

menjadi dua yaitu laba yang dibagikan kepada pemilik perusahaan dan

laba yang ditahan untuk kegiatan perusahaan.

2.1.6. Teori Basis Ekonomi dan Sektor Potensial

Teori basis ekonomi (economic base theory) mendasarkan pandangan bahwa

laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan

ekspor dari wilayah tersebut. Kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis

dan kegiatan non-basis. Hanya kegiatan basis yang dapata mendorong pertumbuhan

ekonomi wilayah.

Ada beberapa cara dalam menilai suatu sektor dapat dikatakan sebagai sektor

basis atau non-basis, antara lain:

a. Metode Langsung

Metode ini dilakukan dengan cara melakukan survey secara langsung

kepada pelaku usaha ke mana mereka memasarkan barang yang diproduksi

dan dari mana mereka memebeli bahan-bahan yang dibutuhkan di dalam

proses produksi.

b. Metode Tidak Langsung

Mengingat begitu rumitnya proses penilaian dengan metode langsung,

maka metode tidak langsung dapat dipakai untuk mengukur suatu kegiatan

dapat dikategorikan basis atau non-basis. Salah metode tidak langsung

tersebut adalah metode asumsi.Dalam metode ini berdasarkan kondisi wilayah

tertentu, ada kegiatan-kegiatan tertentu yang diasumsikan sebagai kegiatan

(41)

46

mayoritas produknya dijual ke luar wilayah atau mayoritas uang masuknya

berasal dari luar wilayah langsung dianggap basis, sedangkan yang mayoritas

produknya dipasarkan lokal dianggap non-basis.

c. Metode Campuran

Di dalam kondisi yang sudah berkembang di mana banyak usaha yang

tercampur antara yang basis dan non-basis, peniliaian suatu sektor

menggunakan metode asumsi murni akan memberikan kesalahan yang besar

dan jika dilakukan dengan metode langsung murni akan dirasa cukup berat.

Dengan kondisi tersebut, maka akan lebih mudah jika dilakukan penilaian

dengan menggunakan metode campuran yaitu metode yang menggabungkan

metode asumsi dengan metode langsung.

d. Metode Location Quotient (LQ)

Metode ini adalah salah satu metode tidak langsung yang dilakukan

dengan cara membandingkan porsi lapangan kerja/nilai tambah suatu sektor

tertentu di wilayah kita dibandingkan dengan porsi lapangan kerja/nilai

tambah untuk sektor yang sama secara nasional.

2.1.7 Analisis Porter’s Diamond

Porter (1990), menjelaskan bahwa faktor penentu dayasaing wilayah

ditentukan oleh empat faktor pokok dan dua faktor penunjang. Ilustrasi metode ini

(42)
[image:42.612.111.507.78.267.2]

Sumber: Analysis of Competitiveness of Greek’s Olive Oil Sector Using Porter’s Diamond Model, George dan Manasis, 2011, diolah.

Gambar 2.Model Analisis Porter’s Diamond.

Penjelasan Gambar 2:

1. Kondisi faktor merupakan keadaan faktor-faktor produksi seperti sumberdaya

alam, sumberdaya manusia, modal, infrastruktur dan teknologi yang tersedia

di suatu wilayah

2. Kondisi permintaan menggambarkan komposisi permintaan pasar domestik,

ukuran dan pola pertumbuhan permintaan pasar domestik serta

internasionalisasi permintaan pasar domestik.

3. Industri pendukung dan terkait menggambarkan tentang industri-industri

pemasok bahan baku dan industri pendukung lainnya yang saling terkait di

suatu wilayah.

4. Strategi perusahaan, struktur dan persaingan yaitu strategi yang dianut

perusahaan pada umumnya, struktur industri dan keadaan kompetisi dalam

suatu industri domestik dan internasional. Strategi Perusahaan,

Struktur dan Persaingan

Kondisi Faktor Kondisi Permintaan

Industri Pendukung dan Industri Terkait Peran

Pemerinta

(43)

48

5. Peran pemerintah lebih kepada bagaimana pemerintah memberikan pengaruh

lewat kebijakan-kebijakan baik fiskal maupun moneter terhadap kondisi

faktor produksi, kondisi permintaan pasar dan mengatur perdagangan.

6. Peran kesempatan merupakan faktor yang tidak bisa dipengaruhi oleh

pemerintah maupun perusahaan. Kesempatan akan menciptakan lingkungan

bersaing dan mempengaruhi tingkat dayasaing seperti penemuan baru,

terobosan teknologi dasar, perkembangan politik eksternal dan perubahan

besar dalam permintaan pasar asing. Kesempatan ini akan menciptakan atau

memberikan kekayaan tambahan.

2.2. Penelitian Terdahulu

Sondari (2007) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Sektor

Unggulan dan Kinerja Ekonomi Wilayah Provinsi Jawa Barat” dengan menggunakan

data tahun 2001-2005. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis

LQ, pengganda pendapatan serta analisis Shift Share. Kesimpulan yang didapat dari

penelitian ini adalah pada kurun waktu 2001-2005 sektor perekonomian yang menjadi

unggulan Provinsi Jawa Barat adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor industri

pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Di antara beberapa sektor

tersebut, industri pengolahan memiliki dampak pengganda terbesar.Secara umum,

pergeseran bersih perekonomian di Provinsi Jawa Barat tergolong ke dalam

kelompok lambat.

Sabuna (2010) melakukan penelitian dengan judul “Identifikasi Sektor-sektor

(44)

Timur (periode 2000-2008)”. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah

analisis Shift Share, LQ, MRP, Klassen Typologi dan analisis overlay. Analisis

overlay merupakan alat analisis yang berfungsi untuk menggabungkan hasil dari

analisis LQ dan MRP. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daerah Timor

Tengah Selatan tidak memiliki sektor unggulan.

Anggriyanti (2010) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Sektor

Perekonomian Unggulan Provinsi Sumatera Utara (2001-2009)”. Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah Location Quotient (LQ) dan Shift Share. Dari

penelitian ini didapat kesimpulan sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan

perikanan, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor

pengangkutan dan komunikasi merupakan sektor-sektor yang memiliki keunggulan

relatif dengan nasional. Sektor bangunan, sektor keuangan, real estate dan jasa

perusahaan serta sektor jasa-jasa merupakan sektor-sektor ekonomi yang memiliki

laju pertumbuhan yang cepat serta mampu bersaing dengan sektor-sektor ekonomi

yang sama di wilayah lain. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan

merupakan sektor yang pertumbuhannya lambat namun tetap mampu bersaing dengan

wilayah lain.

Tambunan (2010) melakukan penelitian dengan judul “Identifikasi Sektor

Unggulan di Kota Dumai Provinsi Riau Tahun 2000-2010”. Metode yang digunakan

di dalam penelitian ini adalah Location Quotient (LQ), Model Rasio Pertumbuhan

(MRP), indeks kontribusi PDRB, Indeks komposit dan analisis Porter’s Diamond.

Dari penelitian ini disimpulkan bahwa sektor ekonomi unggulan Kota Dumai untuk

(45)

50

pengangkutan sebagai subsektor unggulannya. Dari analisis Porter’s Diamond,

subsekstor ini menunjukkan kondisi yang berdayasaing.

Pragari (2011) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Dayasaing

Pariwisata Kabupaten Kuningan: Pendekatan Porter’s Diamond”. Metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah Shift Share, indeks komposit, analisis kuadran

dan analisis Porter’s Diamond. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa dayasaing

pariwisata Kabupaten Kuningan berada pada posisi dua belas dari 26 kabupaten/kota

yang ada di Jawa Barat. Faktor yang menentukan dayasaing pariwisata Kabupaten

Kuningan adalah kondisi faktor yang terdiri dari jumlah objek wisata dan jumlah

tenaga kerja pariwisata yang ada saat ini. Kabupaten Kuningan memiliki keterbatasan

yaitu terbatasnya anggaran dan kurangnya pemasaran/sosialisai mengenai pariwisata

yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kuningan.

Pada penelitian ini setelah didapatkan hasil analisis indeks komposit, sektor

yang dikategorikan unggulan kemudian dianalisis kembali untuk mendapatkan

subsektor unggulan. Subsektor yang memenuhi kriteria dari ketiga alat analisis yang

digunakan dapat disimpulkan sebagai subsektor ekonomi unggulan Kota Pekanbaru

untuk kemudian dianalisis keadaan dayasaingnya.

2.3. Kerangka Pemikiran

Kota Pekanbaru merupakan ibukota dari Provinsi Riau. Sebagai

ibukotaprovinsi, maka kota ini selayaknya menjadi pusat dari perekonomian serta

penentu dari pertumbuhan ekonomiProvinsi Riau secara umum. Oleh karena itu akan

(46)

MRP dan kontribusi PDRB. Hasil dari ketiga alat analisis tersebut kemudia dianalisis

lagi untuk melihat subsektor mana yang menjadi unggulan. Setelah didapat subsektor

unggulan, kemudian dianalisis bagaimana keadaan dayasaingnya dengan

menggunakan analisis Porter’s Diamond.Secara ringkas, kerangka pemikiran

[image:46.612.100.516.170.696.2]

digambarkan pada Gambar 3.

Gambar 3.Kerangka Pemikiran

Penerapan UU Otonomi Daerah tahun 2004

PDRB Kota Pekanbaru periode 2004-2011

Sektor Perekonomian Menurut Lapangan Usaha adhk tahun 2000 Pekanbaru sebagai Ibukota dan Pusat

Perekonomian Provinsi Riau

Analisis MRP

Analisis LQ Kontribusi Sektor

terhadap PDRB

Analisa Indeks Komposit

Analisis Daya Saing Poter’s Diamond

(47)

32

III. METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

yang digunakan meliputi: (1) PDRB Kota Pekanbaru (tahun 2004 – 2010) dan PDRB

kabupaten/kota Provinsi Riau (tahun 2004 – 2010) menurut lapangan usaha

berdasarkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2000; (2) Jumlah penduduk

Kota Pekanbaru tahun (2010 dan 2011); (3) Keadaan Angkatan Kerja Kota Pekanbaru

tahun (2010 dan 2011) menurut jenis kegiatan usaha; (4) Data sekunder mengenai

karakteristik wilayah, seperti kondisi geografis, pertumbuhan ekonomi dan data

penunjang lainnya. Seluruh data sekunder tersebut diperoleh dari Badan Pusat

Statistik (BPS) Kota Pekanbaru dalam bentuk publikasi maupun data hasil kompilasi

yang dikumpulkan oleh BPS Pusat dan BPS Provinsi Riau serta instansi terkait

lainnya.

3.2. Metode Analisis Data

Secara umum, metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah

analisis deskriptif dan beberapa alat analisis lain seperti: analisis Location Quotient

(LQ), analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP) yang terdiri atas rasio pertumbuhan

wilayah studi (Rps) dan rasio pertumbuhan wilayah referensi (Rpr), Indeks Komposit

(48)

3.2.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan bentuk analisis sederhana yang bertujuan untuk

mempermudah pemahaman tentang gambaran perekonomian Kota Pekanbaru dengan

menyajikan pemaparan dalam bentuk tabel, grafik serta diagram. Analisis deskriptif

mengenai gambaran perekonomian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah

struktur ekonomi serta pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru.

3.2.2. Metode Location Quotient (LQ)

Metode Location Quotient (LQ) digunakan untuk menganalisis sektor

perekonomian mana yang dapat dijadikan sebagai sektor basis di kota Pekanbaru.

Secara matematis, metode ini dinyatakan sebagai:

LQ = X

RV

X RV

atau LQ = X

X

RV RV

………. ( 3.1)

Keterangan:

= Indeks/koefisien Location Quotient sektor i di kabupaten/kota j

= PDRB adhk sektor i di kabupaten/kota j

= PDRB adhk sektor i di Provinsi

= Total PDRB adhkkabupaten/kota j

(49)

34

Dari hasil analisis Location Quotient (LQ), didapat kesimpulan:

1. Jika nilai LQ> 1, berarti sektor tersebut merupakan sektor potensial yang

menunjukkan sektor tersebut mampu melayani pasar baik di dalam maupun di

luar kabupaten/kota

2. Jika nilai LQ< 1, berarti sektor tersebut bukan merupakan sektor potensial

yang menunjukkan sektor tersebut belum mampu melayani pasar di dalam

wilayah kabupaten/kota;

3. Jika LQ= 1, berarti suatu sektor hanya mampu melayani pasar di dalam

wilayah kabupaten/kota saja atau belum dapat memasarkan hasil dari sektor

tersebut ke luar daerah lain.

3.2.3. Analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP)

Analisis MRP dapat digunakan untuk menganalisis sektor dan subsektor

ekonomi potensial berdasarkan kriteria pertumbuhan PDRB. MRP adalah kegiatan

membandingkan pertumbuhan suatu kegiatan baik dalam skala yang lebih kecil

maupun dalam skala yang lebih luas. Dalam analisis MRP, terdapat dua macam rasio

pertumbuhan, yaitu:

1. Rasio pertumbuhan wilayah studi (RPs) yaitu merupakan perbandingan antara

pertumbuhan pendapatan (PDRB) sektor i di wilayah studi dengan pertumbuhan

pendapatan (PDRB) sektor i di wilayah referensi dengan formulasi:

=

(50)

2. Rasio pertumbuhan wilayah referensi (RPr) yaitu perbandingan rata-rata

pertumbuhan pendapatan (PDRB) sektor i di wilayah studi dengan rata-rata

pertumbuhan pendapatan (PDRB) di wilayah referensi dengan formulasi:

=

∆ ……… ( 3.3)

dimana:

∆ = ∆ . − ………. ………. …… ( 3.4)

∆ = ∆ . − …. ……… ( 3.5)

∆ = . − ………. ( 3.6)

Keterangan:

∆ : Perubahan PDRB sektor (subsektor) i di wilayah j

: PDRB sektor (subsektor) i di wilayah j pada tahun dasar

. : PDRB sektor/subsektor i di wilayah j pada tahun akhir

analisis

∆ : Perubahan PDRB sektor (subsektor) i secara nasional/provinsi

: PDRB sektor (subsektor) i secara nasional/provinsi pada tahun akhir dasar

. : PDRB sektor/subsektor i di provinsi/nasional pada tahun

akhir analisis

∆ : Perubahan PDB/PDRB

: Total PDB/PDRB pada tahun dasar

(51)

36

3.2.4. Koefisien Kontribusi terhadap PDRB

Nilai tambah yang terbentuk di masing-masing sektor nilai tambah total yang

tercipta dalam perekonomian dapat dirumuskan dengan:

= ⁄ ………. …( 3.7)

Setelah nilai masing-masing indikator tersebut diperoleh, kemudian

dilakukan penghitungan indeks untuk masing-masing indikator. Untuk lebih

menyederhanakan, nilai koefisien sektor dan subsektor setiap indikator yang memiliki

nilai koefisien terendah diberi indeks 1, tertinggi diberi indeks 5 dan yang nilainya

berada di anatara terendah dan tertinggi dihitung menggunakan rumus:

= −( − ) × ( − )

− ………( 3.8)

dimana: = Indeks sektor dan subsektor ke-j

= indeks tertinggi (=5)

= indeks terendah (=1)

= nilai koefisien sektor tertinggi indikator i

= nilai koefisien sektor terendah indikator i

= nilai koefisien sektor ke-j

Apabila indeks masing-masing indikator telah didapat, maka hasil indeks

seluruh indikator untuk tiap sektor ditambahkan, kemudian dirata-ratakan. Sektor

(52)

3.2.5. Analisis Porter’s Diamond

Analisis Porter’s Diamond digunakan untuk menganalisis kondisi dayasaing

sektor unggulan kota Pekanbaru. Analisis ini berupa analisis secara deskriptif

berdasarkan empat elemen utama yaitu kondisi faktor, kondisi permintaan, strategi

perusahaan dan pesaing dan terakhir adalah industri pendukung dan industri terkait.

Selain empat elemen utama tersebut, terdapat dua komponen pendukung didalam

penyusunan analisis ini yaitu peran pemerintah daerah dan peran kesempatan.

3.3. Definisi Operasional Variabel

Berikut adalah konsep serta definisi variabel-variabel yang digunakan di

dalam penelitian ini:

1. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun

Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) merupakan nilai produksi barang dan jasa

akhir dalam suatu kurun waktu tertentu yang dihasilkan suatu daerah.

Dinamakan bruto karena memasukkan komponen penyusutan. Dinamakan

domestik karena menyangkut batas wilayah daerah. Disebut konstan karena

harga digunakan mengacu pada tahun tertentu (tahun dasar = 2000) dan

dinamakan berlaku karena menggunakan harga pada tahun berjalan (tahun

sesuai dengan periode perhitungan PDRB). PDRB juga sering disebut dengan

NTB (Nilai Tambah Bruto).

2. Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan dari nilai PDRB atas dasar harga

konstan pada suatu periode tertentu yang dibandingkan dengan nilai PDRB

(53)

38

3. Sektor ekonomi menyatakan lapangan usaha pembentuk PDRB sektoral di

suatu wilayah. Sektor atau lapangan usaha pada ini sama dengan konsep yang

digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang terdiri dari sembilan sektor

yaitu: pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,

gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan

dan komunikasi, keuangan, persewaan dan perbankan serta yang terakhir

adalah sektor jasa-jasa.

4. Sektor dan subsektor ekonomi potensial merupakan sektor dan subsektor

ekonomi yang memiliki satu atau gabungan kriteria seperti keunggulan

kompetitif, keunggulan komparatif dan spesialisasi jika dibandingkan dengan

sektor dan subsektor ekonomi yang sama pada wilayah lainnya.

5. Kontribusi sektor adalah sumbangan (share) atau presentase dari nilai tambah

tiap sektor terhadap total PDRB pada suatu periode waktu tertentu.

6. Keunggulan kompetitif berarti kemampuan dayasaing kegiatan ekonomi yang

lebih besar pada suatu daerah terhadap kegiatan ekonomi yang sama di daerah

lainnya. Keunggulan kompetitif juga merupakan cerminan dari keunggulan

pertumbuhan ekonomi suatu wilayah terhadap wilayah lainnya yang dijadikan

tolak ukur.

7. Keunggulan komparatif mengacu pada kegiatan ekonomi suatu daerah yang

menurut perbandingan lebih menguntungkan bagi perekonomian daerah

tersebut. Perbandingan tersebut merupakan perbandingan kontribusi nilai

tambah bruto suatu sektor/subsektor ekonomi suatu daerah yang lebih besar

(54)

4.1.Wilayah Geografis

a. Letak dan Luas

Kota Pekanbaru terletak antara 101°14' - 101°34' Bujur Timur dan 0°25' -

0°45' Lintang Utara dengan ketinggian berkisar 5 – 50 meter dari permukaan laut.

Permukaan wilayah bagian utara landai dan bergelombang dengan ketinggian

berkisar antara 5 - 11 meter. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 1987

tanggal 7 September 1987, daerah Kota Pekanbaru diperluas dari ± 62.96 Km²

menjadi ± 446.50 Km² yang terdiri dari 8 kecamatan dan 45 kelurahan/desa. Dari

hasil pengukuran di lapangan oleh BPN tingkat I Riau, ditetapkan luas wilayah Kota

Pekanbaru adalah 632.26 Km².

Kota Pekanbaru umumnya merupakan daerah datar dengan struktur tanah

terdiri dari jenis aluvial dengan pasir. Untuk daerah pinggiran kota, pada umumnya

terdiri dari jenis tanah organosol dan humus yang merupakan rawa-rawa dan bersifat

asam sehingga sangat kerosif untuk besi. Dilihat dari komposisi penggunaan lahan,

sekitar 52.51% luas lahan yang ada di Kota Pekanbaru digunakan untuk lahan bukan

pertanian.

Terjadinya peningkatan kegiatan pembangunan menyebabkan peningkatan

pada sektor kegiatan penduduk di segala bidang yang pada akhirnya meningkatkan

tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap penyediaan fasilitas dan utilitas

(55)

40

pemerintahan dan pembinaan wilayah yang luas, maka dibentuklah

kecamatan-kecamatan baru sejalan dengan dikeluarkannya Perda (Peraturan Daerah) Kota

Pekanbaru nomor 4 tahun 2003. Pemberlakuan Perda tersebut berimbas pada satuan

administratif baru Kota Pekanbaru yang awalnya terdiri dari 8 kecamatan dan 45

kelurahan/desa menjadi 12 kecamatan dan 58 kelurahan/desa.

b. Batas

Kota Pekanbaru berbatasan dengan daerah Kabupaten/Kota :

 Sebelah Utara : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar

 Sebelah Selatan : Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan

 Sebelah Timur : Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan

 Sebelah Barat : Kabupaten Kampar

c.

Gambar

Gambar 1. Grafik nilai PDB Indonesia atas dasar harga konstan 2000
gambar perkembangan PDB Indonesia atas dasar harga konstan 2000 tahun 2001-
Tabel 1. Peringkat 8 Teratas PDRB dengan Migas Provinsi Indonesia AtasDasar Harga Konstan 2000 (dalam juta rupiah)
Tabel 2. Rata-Rata Kontribusi Kota/Kabupaten terhadap PDRB Tanpa Migas
+7

Referensi

Dokumen terkait

4 selama kurun waktu 2010-2013 sektor yang memiliki peranan besar dalam perekonomian Kota Surakarta adalah sektor industri pengolahan, perdagangan hotel dan restoran,

Sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif di Kota Dumai dengan nilai LQ lebih dari satu yaitu sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan,

Pertumbuhan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten Halmahera Tengah adalah sebesar Rp.8.448 juta yang ditarik oleh Provinsi Maluku Utara sebesar Rp.2.245

Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembangunan yang diarahkan kepada pengembangan sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran,

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang juga menjadi sektor unggulan di Kabupaten Sukoharjo hendaknya ditingkatkan lagi guna menunjang perkembangan sektor

Di Kota Gunungsitoli, yaitu sektor bangunan dan konstruksi; sektor perdagangan, hotel dan restoran; serta sektor pengangkutan dan komunikasi.Di Kabupaten Nias Utara, yaitu

Pertumbuhan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten Halmahera Tengah adalah sebesar Rp.8.448 juta yang ditarik oleh Provinsi Maluku Utara sebesar Rp.2.245

Pada kuadran 1 Hasil menunjukkan bahwa dari 17 tujuh belas Sektor Lapangan Usaha, yang termasuk dalam kuadran I sektor maju dan tumbuh pesat, yaitu : Konstruksi, Perdagangan Besar dan