DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Teks penuh

(1)

DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG

INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata-1 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan oleh :

Nama : RAHMAT RAMADHAN Nim : 20110610153

Bagian : PIDANA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN

Bismillahirrahmanirrahim

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Rahmat Ramadhan

NIM : 20110610153

Judul Skripsi : DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM

PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008

TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Dengan ini menyatakan bahwa penulisan skripsi ini berdasarkan hasil

penelitian, pemikiran dan penerapan dari diri saya sendiri. Jika terdapat karya orang

lain, maka saya akan mencantumkan sumber yang jelas. Apabila dikemudian hari

terdapat pernyataan yang tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang

berlaku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Demikian pernyataan ini saya buat sebenar-benarnya tanpa adanya paksaan

dari pihak manapun.

Yogyakarta, 3 Januari 2017

(3)

MOTTO

If You Fail To Plan, You Are Planning To Fail (Rahmat Ramadhan)

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya

bersama kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari

sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain). Dan hanya kepada

tuhanmulah engkau berharap (Q.S Al-Insyirah, 6-8)

As you Cannot do what you want, Want what you can do (Leonardo da Vinci)

“Orang yang berprestasi jarang berdiam diri dan menungu sesuatu terjadi,

Orang itu bergerak dan mengerjakan sesuatu” (Andrea Verrocchio)

(4)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan menucapkan syukur Alhamdulillah berkat rahmat serta izin dari

Allah S.W.T ku persembahkan karya kecilku ini untuk orang-orang yang saya

sayangi kepada :

1. Keluargaku Bapak dan Ibu tercinta, Bapak Suparmin Latief dan Ibu

Sherlifa, motivator terbesarku dalam hidup yang tak pernah jemu

mendoakan dan menyayangi diriku atas semua pengorbanan dan

kesabaran mengantarku hingga ke Perguruan tinggi.

2. Kakak kandungku drg. Purwanti Nancy dan Suaminya kakak drg.

Ferry Yudha yang selalu memberikan support, menceramahi, serta

selalu memberikan support agar selalu menyelesaikan studiku di

(5)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia,

dan Hidayahnya yang telah membuat bumi sebagai hamparan yang luas, dan langit

sebagai atapnya. Shalawat serta salam kita panjatkan atas junjungan Nabi besar

Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari jurang kenistaan menuju

bukit yang terang benerang hingga saat ini. Berkat izin Allah SWT penulis mampu

menyusun skripsi ini yang berjudul “DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT

BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NO.11 TAHUN 2008 TENTANG IMFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK” untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana strata 1 pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Selesainya skripsi ini berkat bantuan serta bimbingan yang tulus dan ikhlas

dari beberapa pihak. Dan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih, secara

khusus penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada

:

1. Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum. Selaku dosen pembimbing skripsi I dan

selaku dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

yang telah memberi kesempatan penulis untuk menulis skripsi.

2. Mukhtar Zuhdy,S.H., M.H. Selaku dosen pembimbing skrispsi II atas segala

saran dan kritik yang bermanfaat selama membimbing penulis. Tak lupa

(6)

dukungan-dukungan dalam memberikan masukan kepada penulis agar

dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Seluruh karyawan dan staff Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta Bapak Maman, Pak Ardhani, Pak Dirman, Pak Heru, Pak

Djoko, dan lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya yang telah

membantu dan memberikan informasi selama saya kuliah dan menyusun

skripsi di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

4. Kepada semua dosen fakultas hukum yang tidak lelah memberikan ilmu dan

mengajari saya selama ini.

5. Keluargaku tersayang Bapak Suparmin Latief dan Ibu Sherlifa, Kakakku

Purwanti Nancy dan kakak iparku Muhammad Ferry Yudha.

6. Saudaraku Annisya Pricilia Kartika, Reizsa Yoan Kartika, Farah Fadillah

Ulfa, dan Rizki Ramadhan.

7. Pacarku yang selalu sabar dan bawel Dini Yuniyanti SH yang selalu

mendoakan, dan ceramahnya untuk selalu memberikan support agar dapat

menyelesaikan skripsi ini.

8. Untuk keluarga kontrakan barokah II Kholis Arrohman,Rahmanda

hasibuan,Rhendy Hermanto, Aziz Yuliansyah, Abdul, Joni, Sadam, dan Tyo

9. Untuk sahabat SMAku Andika Anggiriawan, Magestha Hikma Putra, Gaga

Candra Pradipta, Nurul Innayah, Ichak Baskoro, Faisya Ayu, Leonita

(7)

10.Sahabat-sahabat seperjuangan dalam menyelesaikan skripsi dan selalu

memberi support Andrae Sutrisno, Raga, Isa Diandra, Thony Duta, Danu

Panji beserta istrinya Windi Arya.

11.Untuk Keluarga besar Travellaw yang terlebih dahulu meningalkan saya

dengan cepat setelah Wisuda, Ani Widi Astuti, Riska Wijayanti, Rinna

Masitoh, Fikri, Yoyok, Ika Lusiati, Ayu Afiatul Kamala, Jamilatul

Maulidiya, Septine Yuspita Widia, Muchtar Beby, Dian Solihatun.

12.Untuk seluruh sahabat Travellaw yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Yang akan selalu merindukan kebersamaan kita selama ini, Traveling,

Camping, Touring dan kegiatan lainnya.

13.Untuk Warga Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan Merapi dan

Mentor motor Trail saya Mas Eko yang membuat saya menyukai olahraga

motor trail.

14.Teman teman selama kuliah yang saya rindukan, Ibnu, Tarina, Bulan,

Rahmi harahap, Erlita wandani, Renita, Arie Suryawiata,Naseha

Elkarima,Mia Elvina, Novelya Niken, dan yang tak bisa kusebutkan satu

persatu.

15.Sahabat NDOBOS CREW, Ahmad, pak de Cholis, Adi Setya, Aziz

Nuzula, Guntur, Hifzan, Khairul Anwar, Syafaat, dan mereka yang tak bisa

saya sebutkan satu persatu.

16.Sahabat sahabat KKN 30 dan Warga Kalakijo, Pajangan, Bantul yang telah

(8)

17.Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak

membantu baik materiil maupun non materiil sehingga skripsi ini dapat

Tersusun.

Yogyakarta, 3 Januari 2017

Penulis,

(9)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... Error! Bookmark not defined.

LEMBAR PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.

PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN ... 1

MOTTO ... 2

HALAMAN PERSEMBAHAN ... 3

KATA PENGANTAR ... 4

ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ... 8

BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.

A. Latar Belakang Masalah ... Error! Bookmark not defined.

B. Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined.

C. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

D. Tinjauan Pustaka ... Error! Bookmark not defined.

E. Metode Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

F. Sistematika Penulisan Skripsi ... Error! Bookmark not defined.

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI DATA ELEKTRONIK... Error! Bookmark

not defined.

A. Pengertian Data Elektronik ... Error! Bookmark not defined.

B. Klasifikasi Bukti Elektronik ... Error! Bookmark not defined.

C. Pengaturan Mengenai data Elektronik ... Error! Bookmark not defined.

BAB IIIError! Bookmark not defined. PEMBUKTIAN DATA ELEKTRONIK

DALAM PERKARA PIDANA ... Error! Bookmark not defined.

A. Pengertian pembuktian ... Error! Bookmark not defined.

B. Sistem pembuktian... Error! Bookmark not defined.

C. Alat-alat bukti menurut KUHAP ... Error! Bookmark not defined.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS ... Error! Bookmark not defined.

A. Penerapan Pembuktian Data Elektronik Sebagai Alat Bukti Elektronik Dalam

Perkara Pidana Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

Dan Transaksi Elektronik ... Error! Bookmark not defined.

B. Kekuatan Alat Bukti Elektronik Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008

Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ... Error! Bookmark not defined.

BAB V PENUTUP ... Error! Bookmark not defined.

(10)

B. Saran ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

A. Buku-Buku ... Error! Bookmark not defined.

B. Peraturan Perundang-undangan ... Error! Bookmark not defined.

(11)

ABSTRAK

Penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh sulitnya lembaga hukum seperti pengadilan dalam hal melaksanakan pembuktian perkara pidana yang berhubungan dengan Data Elektronik. Karena mengingat bahwa sarana dan prasarana yang dimiki oleh lembaga hukum kita belum cukup memenuhi standar kelayakan di lembaga-lembaga hukum di Indonesia maupun mengatasi permasalahan yang ada yang berkaitan dengan Data Elektronik. Tujuan penulisan skripsi ini untuk dapat mengetahui bagaimana penerapan pembuktian data elektronik sebagai alat bukti elektronik dalam perkara pidana menurut undang-undang no. 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan bagaimana kekuatan alat bukti elektronik dalam undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik data elektronik yang dimaksud dengan data elektronik menurut undang-undang nomor 11 tahun 2008.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian dengan jenis penelitian normatif. Dalam penulisan skripsi ini, penelitan normatif dilakukan dengan cara meneliti asas-asas hukum pidana dan asas-asas hukum acara pidana. Dalam penelitian ini dilakukan dengan meneliti penerapan hukum terhadap perkara pidana yang berhubungan dengan Data elektronik dan kemudian metode analisis penelitian menggunakan metode deskriptif, metode analisis yang digunakan untuk memaparkan suatu fenomena secara rinci dan jelas.

Data elektronik yang dimaksud menurut undang-undang tentang Informasi Transaksi Elektronik adalah alat bukti yang memiliki Informasi Elektronik atau Dokumen Elektronik yang hasil dari cetak (hard copy) dari perkara pidana yang berhubungan dengan Data Elektronik. Penemuan hukum merupakan kegiatan utama dari hakim dalam melaksanakan undang-undang apabila terjadi peristiwa kongkrit. Dalam penafsiran hukum bukti elektronik ke dalam bentuk barang bukti atau alat bukti surat maupu petunjuk ini menggunakan metode penemuan hukum interpretasi Ekstensif.

Pembuktian data elektronik sebagai alat bukti elektronik dalam perkara pidana menurut UU ITE tidak lepas dari keberadaan alat bukti pada KUHAP. Kekuatan alat bukti elektronik dalam UU ITE dapat dikatakan sebagai perluasan dari alat bukti surat atau petunjuk, yang merupakan alat bukti yang sah dan dapat dihadirkan di persidangan setelah hakim melakukan penemuan hukum dan menyatakan bahwa bukti elektronik merupakan alat bukti yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum serta memiliki kekuatan hukum sebagai alat bukti.

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sistem pembuktian era teknologi informasi sekarang ini mengahadapi

tantangan besar yang memerlukan penanganan serius, khususnya dalam kaitan

dengan upaya pemberantasan kejahatan di dunia maya (cyber Crime).1Khususnya

di Indonesia perkembangan teknologi informasi semakin pesat dan pengunaannya

pun semakin banyak tetapi perkembangan ini tidak diimbangi dengan

perkembangan produk hukumnya. Data atau informasi elektronik kemudian diolah

dan di proses dalam satu sistem elektronik dalam bentuk digital. Dengan kemajuan

informasi yang pesat, diiringi dengan terjadinya perikatan antara pihak yang

dilakukan dengan pertukaran informasi untuk melakukan transaksi perdagangan

secara elektronik di ruang lingkup dunia maya.

Transaksi elektronik sering disebut sebagai “online contract” yang

sebenarnya adalah transaksi yang dilakukan secara elektronik dengan memadukan

jaringan (networking) dari sistem informasi berbasiskan komputer (computer-based

information system) dengan sistem komunikasi yang berdasarkan atas jaringan dan

jasa telekomunikasi (telecommunication-based), yang selanjutnya difasilitasi oleh

keberadaan jaringan komputer global internet.2 Kerap timbul dampak negatif dari

1 Didik M. Arief Mansur dan Alisatris Gultom, 2005, Cyber law-Aspek Hukum Teknologi Informasi, Bandung, Refika Aditama, Hlm 97.

2

(13)

perkembangan teknologi informasi tersebut, salah satu contohnya yaitu seperti

pencemaran nama baik melalui dunia maya atau sosial media. Secara teknis,

informasi dan/atau sistem informasi itu sendiri sangat rentan untuk tidak berjalan

sesuai sebagaimana seharusnya atau malfunction, dapat diubah–ubah ataupun

diterobos oleh pihak lain. Untuk melindungi kerahasiaannya, diperlukan keamanan

data, keamanan komputer serta jaringannya.

Berbagai jenis media berbasis teknologi sebagai saluran informasi dan

komunikasi seakan tidak mau kalah untuk melakukan inovasi-inovasi yang

menawarkan banyak fasilitas penunjang aktifitas manusia. Komputer dan internet

adalah media yang sangat populer dan paling banyak menarik perhatian

masyakarakat sekarang ini. Dengan sebuah komputer yang tersambung dengan

jaringan internet, aktifitas manusia dibidang yang terkait dengan komputer seperti

di bidang perdagangan, industri, maupun pemerintahan dapat dilakukan secara

cepat, mudah, praktis, dan tanpa batas.

Diberbagai negara, akses internet secara bebas dapat dengan mudah untuk

didapatkan. Dengan biaya yang terjangkau, pengguna internet bukan saja dari

golongan menegah keatas, namun juga telah merambah hingga golongan menegah

kebawah. Siapapun dapat mengakes internet tanpa terkecuali. Sistem pengoprasian

internet yang dengan mudahnya dijalankan menjadi faktor pendorong dekatnya

terknologi internet dengan masyarat luas kini.

Pertumbuhan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang

semakin pesat mendorong pula munculnya kejahatan didalamnya. Kejahatan

(14)

dengan internet ini biasa disebut dengan kejahatan mayantara atau dalam bahasa

inggrisnya Cyber Crime. Cyber Crime merupakan suatu ancaman yang timbul

dimana seseorang mempunyai akses illegal ke dalam jaringan komputer, merusak

jaringan, mengubah suatu tampilan dengan tampilan lain yang merugikan banyak

pihak dan pencemaran nama baik oleh beberapa orang. Disinilah lahirnya

perilaku-perilaku menyimpang dengan memanfaatkan teknologi yang lebih canggih sebagai

alat untuk mencapai tujuan, dengan melakukan kejahatan.

Latar belakang munculnya kejahatan mayantara ini mayoritas didorong

dengan motif lain seperti motif politik, ekonomi atau kriminal yang berpotensial

menimbulkan kerugian bahkan perang informasi. Para pelaku kejahatan mayantara

dapat melirik celah yang memungkinkan melakukan kejahatan tersebut denga aman

dan terlepas dari jeratan hukum. Kejahatan mayantara menjadi peluang bagi pelaku

untuk melakukan tindak pidana mayantara serta minimnya aturan hukum yang detil

yang mengatur tindak pidana mayantara. Aturan yg mengatur tentang kejahatan

mayantara di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008

tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Banyak kejahatan konvensional yang dilakukan dengan modus operandi yang

sangat canggih, dalam proses beracara diperlukan teknik atau prosedur khusus

untuk mengungkap suatu kejahatan.3 Kegiatan perbankan yang memiliki potensi

kejahatan di dunia maya antara lain yaitu layanan online shoping yang memberikan

fasilitas pembayaran melalui kartu kredit (Credit Card Fraud). Terdapat kejahatan

3

(15)

dunia maya yang berhubungan dengan nama domain. Nama domain (domain name)

digunakan untuk mengidentifikasi perusahaan dan merk dagang. Namun banyak

orang yang mencoba menarik keuntungan dengan mendaftarkan domain nama

perusahaan orang lain dan kemudian menjualnya dengan harga yang lebih mahal.

Pekerjaan ini mirip dengan calo karcis. Istilah yang sering digunakan adalah

cybersquatting.

Kasus klikbca merupakan kasus domain name yang memanfaatkan kesalahan

ketik yang mungkin dilakukan oleh nasabah. Steven Haryanto membeli

domain-domain yang serupa www.klikbca.com dimana isi dari tiap situs palsu tersebut

sangat mirip dengan situs asli BCA. Kunci dari keberhasilan dari kasus ini adalah

apabila terjadi salah ketik oleh nasabah. Berdasarkan hal ini, kasus klikbca.com

merupakan “typosquatting”.4 Dengan adanya penyalahgunaan didalam transaksi

elektronik tersebut karena terbentuk dari suatu proses elektronik, akan

menyebabkan objeknya berubah, barang menjadi data elektronik dan alat buktinya

pun bersifat elektronik.

Mengacu pada ketentuan hukum positif di Indonesia, ada beberapa peraturan

Perundang-undangan yang telah mengatur mengenai alat bukti elektronik (digital

evidence) sebagai alat bukti yang sah dimuka pengadilan. Salah satu contohnya

yaitu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Pencucian Uang. Terhadap

tindak pidana yang telah memiliki aturan hukum yang mengatur mengenai alat

bukti elektronik (digital evidence) bukanlah suatu masalah. Namun, bagi perbuatan

4

Hukum online____, klikbca.com typosquatting atau phishing?, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl4936/klikbca.com-typosquatting-atau-phishing?

(16)

melanggar hukum yang belum memiliki aturan hukum khusus mengenai bukti

elektronik sebagai alat bukti dalam elektronik sebagai alat bukti yang sah dimuka

pengadilan, oleh karena itu diperlukan kecakapan aparat penegak hukum untuk

melihat dan menerjemahkan bukti elektronik yang ada menjadi alat-alat bukti

sebagaimana diatur dalam Pasal 184 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang

Hukum Acara Pidana sebagai alat bukti yang sah di muka pengadilan.

Mengingat bahwa pada asasnya, hakim tidak dapat menolak setiap perkara yang

diajukan ke persidangan dengan dalil yang tidak ada dasar hukumnya. Berdasarkan

uraian diatas, penulis memilih judul skripsi yaitu: “Data Elektronik Sebagai Alat

Bukti Dalam Perkara Pidana Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat di rumuskan permasalahan

sebagai berikut:

1. Bagaimana Penerapan Pembuktian Data Elektronik sebagai alat bukti

elektronik dalam perkara pidana menurut Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik?

2. Bagaimana kekuatan alat bukti elektronik dalam Undang-Undang Nomor 11

Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik?

C. Tujuan Penelitian

Dari latar belakang dan rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan

(17)

1. Untuk mengetahui penerapan Data Elektronik sebagai alat bukti elektronik

dalam pemeriksaan perkara pidana menurut Undang-Undang Nomor 11

Tahun 2008.

2. Untuk mengetahui kekuatan alat bukti elektronik dalam Undang-Undang

Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik.

D. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan umum tentang data elektronik

Dalam pengertian informasi, kita harus mengetahui terlebih dahulu akar dari

informasi tersebut yaitu, data. Menurut Turban, Rainer dan Potter “Data are raw

facts or elementary description of things, events, activities, and transactions that

are captured, recorded,stored, and classified, but not organized to convey any

specific meanning”. Data ialah gambaran dasar, fakta-fakta awal yang belum

terperinci dari perihal, peristiwa, kegiatan, dan transaksi yang ditangkap, direkam

dan disimpan.5

Pengertian informasi menurut Turban, Rainer dan Potter, “information is a

collection of facts organized in some manner so that they are meaningful to a

recipient, for example, if we include costumer names with bank ballances, we would

have useful information.” “Contoh informasi ialah saldo rekening bank yang

disertai dengan identitas pemegang rekening”.6 Dengan kata lain, informasi

5 Turban,Rainer, dan Potter., Introduction to Information Technology “Edmon Makarim. Kompilasi Hukum Telematika, Jakarta,Rajagrafindo Persada, Hlm. 31 (terjemahan bebas penulis)

(18)

bersumber dari data yang telah diproses. Sedangkan yang dimaksud dengan

informasi elektronik, ataupun tanda tangan elektronik.

Data/Informasi yang telah diolah oleh sistem informasi secara elektronik

tersebut, akan tersimpan didalam suatu media tertentu, yang dinamakan dokumen

elektronik. Sistem penyimpanan data dan/atau informasi elektronik yang

berbasikan komputer dinamakan Databases dan data yang dikomunikasikan

melalui media telekomunikasi dinamakan Data Messages. Apabila kita merujuk

pada Keppres No.8 Tahiun 1997 tentang Dokumen Perusahaan (“UUDP”), dapat

kita cermati pengertian Dokumen Perusahaan adalah data, catatan, dan atau

keterangan yang dibuat dan/atau diterima oleh perusahaan dalam rangka

pelaksanaan kegiatannya baik tertulis diatas kertas atau sarana lain maupun terekam

dalam bentuk corak apapun yang dapat dilihat, dibaca, atau didengar. Adapun yang

menarik dari keberadaan Undang-Undang Pokok Kearsipan dan Dokumen

perusahaan diatas ialah terbukanya pemahaman mengenai keberadaan suatu

informasi Yang tersimpan secara elektronik (arsip elektronik).

Definisi mengenai kejahatan komputer atas penyalahgunaan komputer

dibagi dua bidang utama. Pertama, penggunaan komputer sebagai alat untuk

melakukan kejahatan, seperti pencurian. Kedua, komputer tersebut merupakan

objek atau sasaran dari tindak kejahatan tersebut, seperti sabotase yang

menyebabkan komputer tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, pencurian

data atau pencemaran nama baik.

(19)

Menurut Pasal 183 KUHAP yang berbunyi sebagai berikut : “Hakim tidak

boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak

pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya ”

Ketentuan di atas adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan

kepastian hukum bagi seseorang. Untuk dapat menjatuhkan hukuman diisyaratkan

terpenuhi dua syarat yaitu :

a. Alat bukti yang sah (wettige bewijsmiddelen).

b. Keyakinan hakim (overtuiging des rechters).

Disebut pertama dan kedua satu sama lain berhubungan sedemikian rupa,

dalam arti bahwa yang disebut terakhir adalah dilahirkan dari yang pertama. Sesuai

dengan ini, kita juga mengatakan adanya keyakinan yang sah (wettige overtuiging),

atau keyakinan yang diperoleh dari alat-alat bukti yang sah (wettige

bewijsmiddelen).

Hanya satu bukti saja, umpama dengan keterangan sorang saksi, tidak

memperoleh bukti yang sah, tetapi harus dengan keterangan beberapa alat bukti.

Dengan demikian kata-kata “alat-alat bukti yang sah” mempunyai kekuatan dalam

arti yang sama dengan “bukti yang sah”. Selain bukti yang demikian diperlukan

juga keyakinan hakim yang harus diperoleh atau ditimbulkan dari “alat-alat bukti

yang sah”

Yang dimaksud dengan alat bukti yang sah dapat dilihat dalam Pasal 184

(20)

a. Keterangan saksi;

Pada umumnya, setiap orang dapat menjadi saksi dimuka

persidangan. Terkecuali menjadi saksi yang tercantum dalam Pasal 186

KUHAP, yaitu :

1) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke

bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama

sebagai terdakwa;

2) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa,

saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai

hubungan karena perkawinan, dan anak-anak saudara terdakwa

sampai derajat ketiga;

3) Suami atau istri terdakwa meskipun telah bercerai atau

bersama-sama sebagai terdakwa.

b. Keterangan ahli;

Keterangan seorang ahli disebut sebagai alat bukti pada urutan yang

kedua setelah keterangan saksi oleh Pasal 183 KUHAP. Didalam Pasal 186

KUHAP menyatakan bahwa keterangan saksi seorang ahli adalah apa yang

seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Tidak diberikan penjelasan

yang khusus mengenai apa yang dimaksud dengan keterangan ahli menurut

KUHAP.

(21)

Pasal 184 KUHAP yang menyebutkan alat-alat bukti secara

limitatif, didalam Pasal 187 diuraikan tentang alat bukti sarat yang terdiri

dari 4 butir

d. Petunjuk;

Petunjuk merupakan alat bukti keempat yang disebutkan dalam

Pasal 184 KUHAP. Dalam Pasal 188 ayat (1) disebutkan pengertian

petunjuk, yaitu perbuatan, kejadian dan keadaan, yang karena

persesuaiannya, baik antara satu dengan yang lain, maupun dengan tindak

pidana itu sendiri, yang menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana

dan siapa pelakunya

e. Keterangan terdakwa.

Pengertian keterangan terdakwa tercantum dalam Pasal 189 ayat (1)

KUHAP yang berbunyi, keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa

nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui

sendiri atau alami sendri. Keterangan terdakwa yang diberikan diluar sidang

dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan

keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai

hal yang di dakwakan kepadanya. Keterangan teerdakwa hanya dapat

digunakan terhadap dirinya sendiri. Keterangan terdakwa saja tidak cukup

untuk membuktikan bahwa dia bersalah melakukan perbuatan yang

(22)

3. Tinjauan umum tentang pembuktian dalam perkara pidana

Menurut Pitlo, “pembuktian adalah, suatu cara yang dilakukan oleh suatu

pihak atas fakta dan hak yang berhubungan dengan kepentingannya”.7 Pembuktian

tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan,

merupakan bagian yang terpenting dalam hukum acara pidana.8

Adapun enam butir pokok yang menjadi alat ukur dalam teori pembuktian,

dapat diuraikan sebgai berikut :9

a. Dasar pembuktian yang tersimpul dalam pertimbangan keputusan

pengadilan untuk memperoleh fakta-fakta yang benar (bewijsgronden)

b. Alat-alat bukti yang dapat digunakan oleh hakim untuk mendapatkan

gambaran mengenai terjadinya perbuatan pidana yang sudah lampau

(bewijsmiddelen)

c. Penguaraian bagaimana cara menyampaikan alat-alat bukti kepda hakim

disidang pengadilan (bewijsvoering)

d. Kekuatan pembuktian dalam masing-masing alat bukti dalam rangkaian

penilaian terbuktinya suatu dakwaan (bewijskracht)

e. Beban pembuktian yang diwajibkan oleh undang-undang untuk

membuktikan tentang dakwaan di muka sidang pengadilan (bewijslast)

7 Edmon Makarim, Op.Cit, Hlm. 417

8 Andi Hamzah, 2005, hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, Hlm. 245 9 Bambang Poernomo, 2006, Pokok-pokok Tata Cara Peradilan Indonesia, Jogjakarta,

(23)

f. Bukti minimum yang diperlukan Dalam pembuktian untuk mengikat

kebebassan hakim (bewijsminimum)

Pada dasarnya pembuktian dilakukan sejak adanya suatu peristiwa hukum.

Apabila ada unsur-unsur pidana atau bukti awal telah terjadinya tindak pidana

barulah dari proses tersebut dilakukan penyidikan , dan dalam Undang-undang

Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian dalam Pasal 1 angka 13, penyidikan ialah

serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu

membuat kejelasan tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan

tersangkanya. “menurut M. Yahya Harahap, pembuktian adalah

ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan

undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.”10

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum

normatif. Penelitian normatif adalah penelitian hukum yang meletakan hukum

sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah

mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan

pengadilan, perjanjian serta doktrin(ajaran)11. Penelitian ini dilakukan dengan

mengumpulkan bahan hukum, baik primer, sekunder ataupun tersier.

2. Sumber Data

10 M. Yahya Harahap, Yahya Harahap, 2006, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Jakarta, Sinar Grafika, Hlm. 273

(24)

Dalam jenis penelitian hukum normatif diperlukan bahan hukum yang berupa

bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier, dan bahan non

hukum.

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan

mengikat seperti : Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997

,Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001,,Undang-Undang-,Undang-Undang Nomor 21 Tahun

2007 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 dan Undang-undang

Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

b. Bahan hukum sekunder yaitu kajian teoritis yang berupa pendapat

hukum, ajaran (doktrin), dan teori hukum sebagai penunjang bahan

hukum primer yang didapat dari hasil penelitian, buku teks, rancangan

undang-undang, dan jurnal.

c. Bahan hukum tersier atau bahan non hukum adalah bahan penelitian

yang menjelaskan bahan hukum primer dan sekunder, berupa kamus

atau ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.

3. Narasumber

Penulis melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang dianggap

kompeten dengan permasalahan yang diteliti. Narasumber adalah orang yang ahli

dibidangnya yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan untuk

menyelesaikan permasalahan yang ada dengan cara mengajukan pertanyaan

langsung. Dalam hal ini narasumber yang di wawancarai adalah bapak Ayun

Kristiyanto S.H hakim di pengadilan negeri Sleman Yogyakarta.

(25)

Data sekunder yang dilakukan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara

melakukan studi pustaka. Studi pustaka akan dihimpun dari semua peraturan

perundang-undangan, dokumen-dokumen hukum dan buku-buku serta jurnal imiah

yang berkaitan dengan permasalahan.

5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

deskriptif.yaitu data sekunder berupa Teknik analisis data yang akan digunakan

dalam menggambarkan gejala-gejala di lingkungan masyarakat terhadap suatu

kasus yang diteliti kemudian dihubungkan dengan bahan-bahan hukum sekunder

yang diperoleh dari studi kepustakaan, guna memperoleh pemahaman yang lebih

jelas dalam menjawab permasalahan yang diajukan.

F. Sistematika Penulisan Skripsi

Bab I pendahuluan, pada bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka dan metode

penelitian.

Bab II tinjauan umum berkaian dengan data elektronik sebagai alat bukti dalam perkara pidana. Bab ini akan membahas tentang pengertian tentang data

elektronik, klasifikasi bukti elektronik, dan peraturan mengenai data elektronik.

Bab III berkaitan dengan Pembuktian Data Elektronik dalam perkara pidana, bab ini membahas tentang teori pembuktian, jenis-jenis alat alat buktii menurut

KUHAP, pengertian barang bukti, dan Unsur Pembuktian yang Menimbulkan

(26)

Bab IV dalam bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan analisis yang dimaksud dengan Data Elektronik menurut Undang-Undang tentang

Informasi Teknologi Elektronik No. 11 tahun 2008 dan dan juga pernerapan Data

Elektronik

Bab V dalam bab ini akan berisi kesimpulan dari pembahasan bab-bab sebelumnya dan berisi saran-saran yang diharapkan dapat menjadi masukan yang

(27)

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI DATA ELEKTRONIK

A. Pengertian Data Elektronik

Menurut Turban, Rainer dan Potter, “data are raw facts or elementary

description of things, event, activities and transaction are the captured, recorded,

stored and classified, but not organized to convey any specific meaning. Example

of data would include bank ballances”. ”Data ialah gambaran dasar, fakta-fakta

awal yang belum terperinci dari perihal, peristiwa, kegiatan dan transaksi yang

ditangkap, direkam, disimpan dan terklarifikasi tapi tidak terorganisir untuk dapat

menyatakan arti khusus apapun. Contoh data ialah catatan saldo rekening bank. 1

Pengertian informasi menurut Turban, Rainer dan Potter, “information is a

collection of facts organized in some manner so that they are meaningful to a

recipient, for example, if we include costumer names with bank ballances, we would

have useful information.” Informasi ialah kumpulan dari fakta (data) yang

terorganisir dalam suatu bentuk atau. Contoh informasi ialah saldo rekening bank

yang disertai dengan identitas pemegang rekening. 2

Dengan kata lain, informasi bersumber dari data yang telah diproses.

Informasi elektronik dapat berupa catatan elektronik, dan atau dokumen elektronik,

surat elektronik, atau tanda tangan elektronik. Suatu data/informasi yang telah

(28)

diolah oleh sistem informasi secara elektronik tersebut akan tersimpan didalam

sautu media tertentu secara elektronik, yang dinamakan dokumen elektronik.

Sistem penyimpanan data/atau informasi elektronik yang berbasiskan

komputer dinamakan Database dan data yang dikomunikasikan melalui media

telekomunikasi dinamakan Data Messages. Data Messages inilah yang menjadi

landasan utama terbentuknya suatu kontrak elektronik, baik dalam hubungan

dengan kesepakatan mengenai persyaratan-persyaratan dan ketentuan-ketentuan

kontrak elektronik, bik dalam hubungannya dengan kesepakatan mengenai

persyaratan-persyaratan dan ketentuan-ketentuan kontrak (terms and conditions)

ataupun yang berkaitan dengan substansi kontrak itu sendiri.3

Sejauh ini telah ada beberapa teknik yang ditawarkan dan dianggap cukup

mampu untuk memberikan jaminan keautentikan dan integritas dari suatu data

messages. Teknik yang dimakasud ialah teknik kriptografi (cryptography) yaitu

sautu teknik pengamanan serta penjaminan keautentikan data yang terdiri dari dua

proses, yaitu yang pertama enkripsi (encryption : proses yang dilakukan untuk

membuat suatu data menjadi tidak terbaca oleh pihak yang tidak berhak karena

data-data tersebut telah dikonversikan kedalam bahasa sansi atau kode-kode

tertentu) dan yang kedua deskripsi (descryption) yang merupakan kebalikan dari

enkripsi, yaitu proses menjadikan informasi atau data yang telah di-enkrpsi tersebut

menjadi dapat terbaca oleh pihak yang berhak. “Dalam metode kriptografi

konvensional, enkrisi dan deskripsi biasanya dilakukan dengan menggunakan

3 M. Arsyad Sanusi, 2005, Hukum dan Teknologi Informasi, Jakarta,Tim Kemas Buku, Hlm.

(29)

pasangan kunci tertentu yang disebut dengan kunci pribadi yang bersifat personal

dan rahasia (private key) dan kunci umum (public key)”.4

B. Klasifikasi Bukti Elektronik

Menurut Hakim Mohammed Chawki dari Computer Crime Research Centre

mengklasifikasikan bukti elektronik menjadi dalam tiga kategori, yaitu :”5

1. Real or Physical Evidence (Bukti nyata atau Fisik) yang terdiri dari

benda-benda yang nyata atau berwujud yang dapat dilihat dan disentuh.

Dalam undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 5 ayat (1)

menyebutkan :

a.) Informasi Elektronik dan/atau dokumen Elektronik dan atau hasil

cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah

1.) Testamentary Evidence

Atau juga disebut Hearsay Evidence(Bukti Desas Desus) dimana

kesaksian saksi dapat diberikan selama persidangan, didasarkan pada

pengamatan pribadi atau pengalaman dari ahli yang dapat diberikan

selama dalam persidangan. Peranan dari keterangan ahli sesuai dengan

peraturan dalam undang-undang No.8 Tahun 1981 KUHAP, bahwa

keterangan ahli dinilai sebgai alat bukti yang mempunyai kekuatan

pembuktian jika keterangan yang diberikan tentang suatu hal

berdasarkan keahlian khusus dalam bidang yang dimilikinya dan

4 M. Arsyad Sanusi, Op.Cit, Hlm 205

5 Judge Mohammed Chawki, 10 Maret 2004, Source : Computer Crime Research Centre,

“The Digital Evidence in The Information Era”, http://www.crime-research.org/articles/chawki1,

(30)

berupa keterangan menurut pengetahuannya secara murni.6

Perkembangan ilmu dan teknologi sedikit banyak membawa dampak

terhadap kualitas metode kejahatan, memaksa kita untuk

mengimbanginya dengan kualits metode pembuktian yang memerlukan

pengetahuan dan keahlian.7

2.) Circumstantial Evidence(Bukti-bukti)

Pengertian dari Circumstantial Evidence atau bukti-bukti adalah yang

didasarkan pada komentar, atau pengamatan dari realitas yang

cenderung untuk mendukung kesimpulan, tetapi tidak untuk

membuktikannya.

C. Pengaturan Mengenai data Elektronik

1. Pengaturan data elektronik dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia

a. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Undang-Undang ini berisi tujuh poin penting yang merevisi UU ITE,

terutama melalui UU baru ini Pemerintah juga berwenang memutus akses

dan/atau memerintahkan penyelenggara sistem elektronik untuk memutus

akses terhadap informasi elektronik yang bermuatan melanggar hukum. UU

baru ini diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi masyarakat,

(31)

sehingga mereka dapat lebih cerdas dan beretika dalam menggunakan

Internet. Dengan demikian konten berunsur SARA, radikalisme, dan

pornografi dapat diminimalisir.

Awalnya UU ITE disusun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di

Indonesia melalui ekonomi dijital dan perdagangan di dunia maya

(e-commerce) di Indonesia. Kemudian di tengah perjalanan terjadi banyak

polemik dan kasus yang menimbulkan pro kontra terhadap pasal-pasal di UU

ITE, terutama terkait dengan penggunaan media sosial. Pasal-pasal tersebut

dianggap mengancam kebebasan berekspresi pengguna Internet.

Beberapa perubahan di UU ITE yang baru yaitu sebagai berikut:8

1. Untuk menghindari multitafsir terhadap ketentuan larangan

mendistribusikan, mentransmisikan dan/atau membuat dapat

diaksesnya Informasi Elektronik bermuatan penghinaan dan/atau

pencemaran nama baik pada ketentuan Pasal 27 ayat (3), dilakukan 3

(tiga) perubahan sebagai berikut:

a. Menambahkan penjelasan atas istilah “mendistribusikan,

mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi

Elektronik”. Mendistribusikan adalah mengirimkan dan/atau

menyebarkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Eletronik

kepada banyak orang atau berbagai pihak melalui Sistem

Elektronik. Mentransmisikan adalah mengirimkan Informasi

8

(32)

Elektronik dan/atau Dokumen Eletronik yang ditujukan kepada

satu pihak lain melalui Sistem Elektronik. Membuat dapat diakses

adalah semua perbuatan lain selain mendistribusikan dan

mentransmisikan melalui Sistem Elektronik yang menyebabkan

Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat

diketahui pihak lain atau publik.

b. Menegaskan bahwa ketentuan tersebut adalah delik aduan bukan

delik umum.

c. Menegaskan bahwa unsur pidana pada ketentuan tersebut mengacu

pada ketentuan pencemaran nama baik dan fitnah yang diatur

dalam KUHP.

2. Menurunkan ancaman pidana pada 2 (dua) ketentuan pada pasal 29

sebagai berikut:

a. Ancaman pidana penghinaan dan/atau pencemaran nama baik

diturunkan dari pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun

menjadi paling lama 4 (tahun) dan/atau denda dari paling banyak

Rp 1 miliar menjadi paling banyak Rp 750 juta.

b. Ancaman pidana pengiriman informasi elektronik berisi ancaman

kekerasan atau menakut-nakuti dari pidana penjara paling lama

12 (dua belas) tahun menjadi paling lama 4 (empat) tahun

dan/atau denda dari paling banyak Rp 2 miliar menjadi paling

(33)

3. Melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi terhadap 2 (dua)

ketentuan sebagai berikut:

a. Mengubah ketentuan Pasal 31 ayat (4) yang semula

mengamanatkan pengaturan tata cara intersepsi atau penyadapan

dalam Peraturan Pemerintah menjadi dalam Undang-Undang.

b. Menambahkan penjelasan pada ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan

ayat (2) mengenai keberadaan Informasi Elektronik dan/atau

Dokumen Elektronik sebagai alat bukti hukum yang sah.

4. Melakukan sinkronisasi ketentuan hukum acara pada Pasal 43 ayat (5)

dan ayat (6) dengan ketentuan hukum acara pada KUHAP, sebagai

berikut:

a. Penggeledahan dan/atau penyitaan yang semula harus

mendapatkan izin Ketua Pengadilan Negeri setempat, disesuaikan

kembali dengan ketentuan KUHAP.

b. Penangkapan penahanan yang semula harus meminta penetapan

Ketua Pengadilan Negeri setempat dalam waktu 1×24 jam,

disesuaikan kembali dengan ketentuan KUHAP.

5. Memperkuat peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam UU

ITE pada ketentuan Pasal 43 ayat (5):

a. Kewenangan membatasi atau memutuskan akses terkait dengan

tindak pidana teknologi informasi;

b. Kewenangan meminta informasi dari Penyelenggara Sistem

(34)

6. Menambahkan ketentuan mengenai “right to be forgotten” atau “hak

untuk dilupakan” pada ketentuan Pasal 26, sebagai berikut:

a. Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menghapus

Informasi Elektronik yang tidak relevan yang berada di bawah

kendalinya atas permintaan orang yang bersangkutan berdasarkan

penetapan pengadilan.

b. Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan

mekanisme penghapusan Informasi Elektronik yang sudah tidak

relevan.

7. Memperkuat peran Pemerintah dalam memberikan perlindungan dari

segala jenis gangguan akibat penyalahgunaan informasi dan transaksi

elektronik (Memberikan landasan yang kuat bagi pemerintah untuk

mencegah penyebarluasan konten negatif di internet) dengan

menyisipkan kewenangan tambahan pada ketentuan Pasal 40:

a. Pemerintah wajib melakukan pencegahan penyebarluasan

Informasi Elektronik yang memiliki muatan yang dilarang;

b. Pemerintah berwenang melakukan pemutusan akses dan/atau

memerintahkan kepada Penyelenggara Sistem Elektronik untuk

melakukan pemutusan akses terhadap Informasi Elektronik yang

(35)

b. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan

Dengan dikeluarkannya undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tanggal

24 Maret 1997 tentang Dokumen Perusahaan, Pemerintah berusaha untuk

mengatur pengakuan atas mikrofilm dan media alat penyimpan informasi

yang bukan kertas dan mempunyai tingkat pengamanan yang dapat menjamin

keaslian dokumen yang dialihkan atau di transformasikan.

c. Undang-Undang No.20 Tahun 2001 tentang Pemberantassan Tindak Pidana Korupsi

Berdasarkan Undang-Undang No.20 Tahun 2001 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi Pasal 26 A, adanya perluasan mengenai sumber perolehan

alat bukti petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan

keterangan terdakwa. Tetapi, menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2001,

bukti petunjuk juga dapat diperoleh dari alat bukti lain yang berupa Informasi

yang diucapkan, dikirim, diterima atau disimpan secara elektronik dengan

alat optik atau yang serupa dengan itu tidak terbatas pada data penghubung

elektronik, surat elektronik, telegram, faksimili, dan dari dokumen, yakni

setiap rekaman data atau informasi yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa

bantuan suatu sarana, baik yan tertuang diatas kertas, benda fisik maupun

selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik,yang berupa tulisan,

suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang

(36)

d. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan orang

Dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang

perdagangan orang ini mengatur mengenai alat bukti sebagaimana ditentukan

dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dapat pula berupa:

1) Informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima atau disimpan secara

elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan

2) Data, rekaman atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau

didengar yang dapat dikeluarkan dengan apa atau tanpa bantuan suatu

sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain

kertas atau yang terekam secara elektronik, termasuk tidak terbatas

pada :

a) Tulisan, suara atau gambar;

b) Peta, rancangan, foto atau sejenisnya;

c) Huruf, tanda, angka, simbol yang memiliki makna atau dapat

(37)

BAB III

PEMBUKTIAN DATA ELEKTRONIK DALAM PERKARA

PIDANA

A. Pengertian pembuktian

Menurut Pirlo yang dimaksud dengan pembuktian adalah suatu cara yang

dilakukam oleh suatu pihak atas fakta dan hak yang berhubungan dengan

kepentingannya1.Menurut Subekti, yang dimaksud dengan “membuktikan” adalah

meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil ataupun dalil-dalil yang ddikemukakan

oleh para pihak dalam suatu persengketaan2.

Adapun enam butir pokok yang menjadi alat ukur dalam teori pembuktian,

dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Dasar pembuktian yang tersimpul dalam pertimbangan keputusan

pengadilan untuk memperoleh fakta-fakta yang benar

2. Alat-alat bukti yang dapat digunakan oleh hakim untuk mendapatkan

gambaran mengenai terjadinya perbuatan pidana yang sudah lampau.

3. Penguraian bagaimana cara menyampaikan alat-alat bukti kepada

hakim di siding pengadilan

4. Kekuatan pembuktian dalam , masing-masing alat-alat bukti dalam

rangkaian penilaian terbuktinya suatu dakwaan

1 Pirlo dikutip oleh Edmon makarim, 2003, Kompilasi Hukum Telematika, Jakarta,

Rajagrafindo Persada, Hlm. 417

(38)

5. Pembuktian yang diwajibkan oleh undang-undang untuk membuktikan

tentang dakwaan dimuka sidang pengadilan

6. Bukti minimum yang diperlukan dalam pembuktian untuk mengikat

kebebasan hakim

Dalam hukum pembuktian dikenal istilah notoire feiten notorious (generally

known) yang berarti setiap hal yang “sudah umum diketahui” tidak lagi perlu

dibuktikan dalam pemeriksaan siding pengadilan.3 Dalam hal ini tercantu, dalam

Pasal 184 ayat (2) yang berbunyi, “hal yang secara umum diketahui tidak perlu

dibuktikan”. Menurut Yahya Harahap, mengenai pengertian “hal yang secara

umum sudah diketahui ditinjau dari segi hukum sudah diketahui” ditinjau dari segi

hukum, tiada lain dari pada “perihal” atau “keadaan tertentu”, yang sudah demikian

mestinya atau kesimpulan atau resultan yang menumbulkan akibat yang pasti

demikian”.4

Proses pembuktian merupakan hal yang sangat penting dalam suatu peradilan,

karena merupakan pertimbangan hakim dalam memutuskan suatu perkara. Hasil

pembuktian menjadi salah satu faktor penentu bagi sebuah putusan hakim, begitu

pula dalam perkara pidana yang terjadi atau dilakukan melalui dan atau

menggunakan media teknologi informasi atau dikenal dengan sebutan cybercrime,

proses pembuktian menjadi penentu bagi seorang Terbukti atau tidaknya perbuatan

terdakwa sebagai perbuatan pidana dan terbukti atau tidaknya unsur kesalahan

terdakwa, sangat ditentukan oleh hasil pembuktian dalam perkara tersebut.

(39)

Sistem pembuktian dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

(KUHAP), alat bukti yang ada belum memuat mengenai alat bukti elektronik.

Berdasarkan Pasal 184 KUHAP jenis alat bukti ada lima yaitu, keterangan saksi,

keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa. Kenyataan saat ini banyak

sekali muncul kejahatan yang berkaitan dengan dunia maya yang menggunakan

bukti elektronik untuk mengungkap proses pembuktian perkara pidana.

B. Sistem pembuktian

Pembuktian dimulai sejak adanya suatu peristiwa hukum apabila ada

unsur-unsur pidana (bukti awal telah terjadinya tindak pidana), dari proses tersebut

dilakukan penyelidakan (serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan

menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan

dapat atau tidaknya dilakukan penyelidikan menurut cara yang diatur dalam undang

undang ini), dan dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian

dalam Pasal 1 angka 13 penyelidikan ialah seragkaian tindakan penyidik dalama

hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti ini untuk mencari serta mengumpukan

bukti yang dengan demikian bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang

terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Menurut M. Yahya Harahap, pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang

berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang

membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.5 Ilmu pengetahuan

hukum, mengenai empat system pembuktian, yang akan diuraikan sebagai berikut:

(40)

1. Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Belaka (Conviction in Time)

Suatu sistem pembuktian yang bersifat subjektif, yakni untuk menentukan

bersalah atau tidaknya terdakwa hanya berdasarkan keyakinan hakim semata.

Putusan hakim tidak didasarkan kepada alat-alat bukti yang diatur oleh

undang-undang, hakim hanya mengikuti hati nurani saja. Keyakinan hakim dapat diperoleh

dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam siding

pengadilan. Hakim dapat juga mengabaikan hasil pemeriksaan alat-alat butki itu,

dan langsung menarik keyakinan dari keterangan atau pengakuan terdakwa. System

ini seolah-olah menyerahkan nasib terdakwa kepada keyakinan hakim sepenuhnya.

Menurut Yahya Harahap, keyakinan hakimlah yang menentukan wujud kebenaran

sejati dalam sistem pembuktian ini.6Menurut Andi Hamzah, sistem pembuktian ini

dianut oleh peradilan jury di Perancis. “praktek peradilan jury di perancis membuat

pertimbangan berdasarkan metode ini dan mengakibatkan banyaknya putusan yang

aneh.”7 “Wirjono Prodjodikoro mengatakanbahwa system pembuktian ini pernah

dianut di Indonesia., yaitu pada pengadilan distrik dan kabupaten, Sistem ini

memungkinkan hakim menyebur apa saja yang menjadi dasar keyakinannya,

misalkan keterangan dukun.”8

2. Sistem Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Positif (Positief Wettelijk Bewijstheorie)

6Ibid, Hlm 277

7 Andi Hamzah, op. cit, Hlm. 230-231

(41)

Suatu sistem pembuktian yang berkembang pada zaman pertengahan yang

ditunjukan untuk menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa garus berpedoman

pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan oleh

undang-undang.9 Sistem ini berbanding terbalik dengan Conviction in Time, dimana

keyakinan hakim disampingkan dalam sistem ini. Menurut sistem ini,

undang-undang menetapkan secara limitative alat-alat bukti yang mana yang boleh dipakai

hakim. Jika alat-alat bukti tersebut telah dipakai secara sah seperti yang ditetapkan

oleh undang-undang, hakim harus menetapkan keadaan sah terbukti, meskipun

hakim ternyata berkeyakinan bahwa yang harus dianggap terbukti itu tidak benar.

Menurut D. Simmon, sistem ini berusaha untuk menyingkirkan semua

pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hakim dengan peraturan pembuktian

yang keras. “sistem ini disebut juga dengan teori sistem pembuktian formal

(formele bewijstheorie).”10 “Teori ini ditolak oleh Wirjono Prodjodikoro untuk

dianut di Indonesia, karena bagaimana hakim dapat menetapkan kebenaran selain

dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang hal kebenaran itu, lagipula

keyakinan seorang hakim yang jujur dan berpengalaman mungkin sekali adalah

sesuai dengan keyakinan masyarakat.” 11

3. Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Atas Alasan yang Logis (La Conviction Raisonee)

9 Edmon Makarim, 2003, Kompilasi Hukum Telematika, Jakarta, Rajagrafindo Persada, Hlm.

421

(42)

Menurut sistem pembuktian ini, hakim dapat menghukum seseorang

terdakwa apabila ia telah meyakini bahwa perbuatan yang berssangkutan terbukti

kebenarannya dengan keyakinan tersebut harus disertai dengan alasan-alasan yang

berdasarkan atas suatu rangkaian pemikiran (logika), hakim wajib menguraikan dan

menjelaskan alasan-alasan yang menjadi dasar keyakinannya atas kesalahan

terdakwa12. Sistem pembuktian ini mengakui adanya alat bukti tertentu tetapi tidak

ditetapkan secara limitatif oleh undang-undang.

4. Sistem pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief wettelijk Bewijstheorie)

Sistem pembuktian ini merupakan gabungan antara sistem pembuktian

menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian berdasarkan

keyakinan hakim semata. Hasil penggabungan ini dapat dirumuskan “salah

tidaknya seseorang terdakwa ditentukan oleh hakim yang didasarkan kepada cara

dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.” “sistem pembuktian

menurut undang-undang secara negative ini merupakan suatu keseimbangan antara

sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrim.”13 Dalam sistem atau teori

pembuktian yang berdasarkan undang-undang secara negatif ini, pemidanaan

didasarkan kepada pembuktian yang berganda, yaitu pada peraturan

perundang-undangan dan pada keyakinan hakim, dan menurut undang-undang, dasar

keyakinan hakim ini bersumber pada peraturan undang-undang14.

5. Sistem Pembuktian yang diterapkan di Indonesia

12 Edmon Makarim, Op.Cit, Hlm. 422 13 M. Yahya Harahap, Op.Cit, Hlm. 278

(43)

Dalam perkara pidana di Indonesia pengaturan masalah sistem pembuktian

sesungguhnya sangatlah jelas. Sistem ini mengaatur suatu proses terjadi dan

bekerjanya alat bukti untuk selanjutnya dilakukan suatu persesuaian dengan

perbuatan materiil yang dilakukan oleh terdakwa, untuk pada akhirnya ditarik

kesimpulan mengenai terbukti atau tidaknya melakukan perbuatan pidana yang

didakwakan kepadanya.

Kegiatan pembuktian ini diharapkan memperoleh kebenaran secara hukum,

karena kebenaran yang mutlak sangat sulit untuk ditemukan dalam proses untuk

menentukan substansi atau hakekat adanya fakta-fakta yang diperoleh melalui

ukuran yang layak melalui pikiran yang logis terhadap fakta-fakta yang terang

dalam hubungan dengan perkara pidana. Oleh karena itu hakim harus hati-hati,

cermat dan matang dalam menilai dan mempertibangkan maslaah pembuktian.

Sistem pembuktian yang dianut di KUHAP adalah sistem pembuktian negatif

berdasarkan undang-undang. Pasal 183 KUHAP menjelaskan bahwa hakim tidak

boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila ia dengan

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak

pidana benar-benar terjadi. Dari Ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa

“keyakinan hakim” mempunyai fungsi yang lebih dominan dibanding dengan

keberadaan alat-alat bukti yang sah. Meskipun tampak dominan, namun hakim

tidak dapat menjatuhkan pidana terhadap terdakwa hanya berdasarkan pada

keyakinan saja karena keyakinan hakim harus didasarkan dan lahir dari keberadaan

alat-alat bukti yang sah dalam jumlah yang cukup.15

(44)

Pasal 184 ayat (1) KUHAP telah menentukan alat bukti yang sah menurut

undang-undang. Diluar alat bukti itu tidak dibenarkan dipergunakan untuk

membuktikan kesalahan terdakwa. Yang dinilai sebagai alat bukti dan dibenarkan

mempunyai kekuatan pembuktian hanya terbatas kepada alat-alat bukti itu saja.

Pembuktian diluar jenis alat bukti yang disebutkan dalam Pasal 184 ayat (1), tidak

mempunyai nilai serta kekuatan pembuktian yang mengikat.

Sedangkan yang dimaksud dengan dua alat bukti yang sah haruslah

memperhatikan urutan alat bukti menurut Pasal 184 Ayat (1) KUHAP yaitu :

a. Keterangan saksi;

b. Keterangan Ahli;

c. Bukti surat;

d. Bukti petunjuk;

e. Keterangan terdakwa.

Pasal 185 KUHAP menyatakan bahwa Keterangan saksi sebagai alat bukti

ialah apa yang saksi nyatakan disidang pengadilan. Keterangan seorang saksi saja

tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah perbuatan yang

dilakukan didakwakan kepadanya. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(2) tidak berlaku apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau

keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi

itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, dapat membenarkan

adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu. Baik pendapat maupun rekaan, yang

(45)

dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak

merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari

saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.

Keterangan seorang ahli disebut sebagai alat bukti yang kedua setelah

keterangan saksi oleh Pasal 183 KUHAP. Pasal 186 KUHAP menyatakan bahwa

keterangan seorang ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Tidak diberikan penjelasan yang khusus mengenai apa yang dimaksud dengan

keterangan ahli menurut KUHAP.

Alat bukti surat dijelaskan dalam Pasal 187 KUHAP, Surat sebagaimana

tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan

dengan sumpah, adalah berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat

oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat

keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang

dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang

keterangannya itu. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan

perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam

tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi

pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan. Surat keterangan dari seorang ahli

yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu

keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. surat lain yang hanya dapat

(46)

Petunjuk merupakan salah satu alat bukti yang disebutkan didalam Pasal 184

KUHAP. Dalam Pasal 188 KUHAP disebutkan bahwa petunjuk adalah perbuatan,

kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan

yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah

terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Petunjuk bisa diperoleh dari

keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa. Penilaian atas kekuatan

pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim

dengan arif lagi bijaksana setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh

kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.

Keterangan terdakwa tercantum dalam Pasal 189 KUHAP yang menjelaskan

bahwa keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang

perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.

Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk

membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu

alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.

Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Keterangan

terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan

perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti

yang lain.

C. Alat-alat bukti menurut KUHAP

Dalam kasus pidana yang terkait dengan data elektronik, proses penegakan

hukum tidak begitu saja dilepaskan dengan dalih kesulitan pada proses pembuktian.

(47)

konvensional yang ketentuannya jelas dan tegas. Upaya yang dapat ditempuh

adalah penelusuran bukti-bukti yang berkaitan dengan perbuatan pelaku pidana

melalui jalur KUHAP. Artinya, disini kita tetap menggunakan alat bukti berupa

keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

Kesalahan pelaku dapat terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang

sah. Alat-alat bukti ini harus mampu membuktikan telah terjadi suatu perbuatan dan

pembuktian adanya akibat dari perbuatan pidana.

1. Keterangan Saksi

Yang dimaksud dengan saksi, menurut Pasal 1 angka 26 Kitab

Undang-Undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”), adalah orang yang dapat memberikan

keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu

perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. 16

Testimonium De Auditu adalah keterangan yang diberikan oleh saksi terkait

suatu peristiwa, bukan berdasarkan penglihatan maupun pendengaran langsung,

melainkan mendengar dari orang lain yang disebut juga dengan kesaksian tidak

langsung.17

Unus Testis Nullus Testis (satu saksi bukanlah saksi) merupakan asas yang

menolak kesaksian dari satu orang saksi saja. Dalam hukum acara perdata dan acara

pidana, keterangan seorang saksi saja tanpa dukungan alat bukti lain tidak boleh

16 Hukum online, 2014, Hak dan Kewajiban Saksi dalam Perkara Pidana, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5394538dd600b/hak-dan-kewajiban-saksi-dalam-perkara-pidana, diakses pada tanggal 15 Agustus 2016.

(48)

dipercaya atau tidak dapat digunakan sebagai dasar bahwa dalil gugatan secara

keseluruhan terbukti. Prinsip ini secara tegas dianut oleh KUHAP dalam

pembuktian [Pasal 185 ayat (2)].18

Pada umumnya, setiap orang dapat menjadi saksi di muka persidangan.

Terkecuali menjadi saksi tercantum dalam Pasal 168 KUHAP. Yaitu :

1) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah

sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai

terdakwa;

2) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai tedakwa,

saudara ibu atau saudara bapak, mereka yang mempunyai hubungan

karena perkawinan, dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat

ketiga;

3) Suami atau istri terdakwa meskipun telah bercerai yang bersama-sama

sebgai terdakwa.

Disamping karena hubungan keluarga atau semenda, juga ditentukan oleh

Pasal 170 KUHAP bahwa mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau

jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban

untuk memberikan keterangan sebagai saksi. Contoh orang yang harus menyimpan

rahasia jabatannya seperti seorang dokter yang harus merahasiakan penyakit yang

diderita pasiennya. Sedangkan yang dimaksud karena martabatnya dapat

18

Luthfi Widagdo Eddyono, Unus Testis Nullus Testis,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK Latar Belakang Masalah DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK Tinjauan umum tentang data elektronik Tinjauan umum tentang alat bukti Tinjauan umum tentang pembuktian dalam perkara pidana Jenis Penelitian Sumber Data Narasumber Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Pengertian Data Elektronik Pengaturan data elektronik dalam peraturan perundang-undangan di Klasifikasi Bukti Elektronik Pengertian pembuktian Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Belaka Sistem Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Positif Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Atas Alasan yang Sistem pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif Sistem Pembuktian yang diterapkan di Indonesia Keterangan Ahli Alat-alat bukti menurut KUHAP Bukti Surat Alat-alat bukti menurut KUHAP Petunjuk Alat-alat bukti menurut KUHAP Penerapan Pembuktian Data Elektronik Sebagai Alat Bukti Elektronik Analisis Kekuatan Alat Bukti Elektronik Dalam Undang-Undang Nomor 11 Analisis Putusan Pengadilan Negeri Sleman No. 437Pid.sus 2014 PN. Kesimpulan Saran DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK Buku-Buku Peraturan Perundang-undangan DATA ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK