ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU
ETNIK PADA GITAR TUNGGAL:
STUDI KASUS PADA KARYA-KARYA JUBING KRISTIANTO
T E S I S
Oleh
WONTER LESSON PURBA
NIM. 107037006
PROGRAM STUDI
ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU ETNIK PADA
GITAR TUNGGAL:
STUDI KASUS PADA KARYA-KARYA JUBING KRISTIANTO
T E S I S
Untuk memperoleh gelar Magister Seni (M.Sn) dalam Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni pada Fakultas
Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Oleh
Wonter Lesson Purba
NIM. 107037006
PROGRAM STUDI
MAGISTER (S2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Judul Tesis : ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU ETNIK PADA GITAR TUNGGAL : STUDI KASUS PADA KARYA-KARYA JUBING KRISTIANTO
Nama : Wonter Lesson Purba Nomor Pokok : 107037006
Program Studi : Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni
Menyetujui Komisi Pembimbing
Drs. Irwansyah, M.A. Drs. Heristina Dewi M.Pd NIP. 19621221 199703 1 001 NIP. 196605271994032010
_______________________ ______________________
Ketua Anggota
Program Studi Magister (S2) Fakultas Ilmu Budaya Penciptaan dan Pengkajian Seni Dekan
Telah diuji pada
Tanggal 24 Oktober 2012
_______________________________________________________________
PANITIA PENGUJI UJIAN TESIS
Ketua : Drs. Irwansyah Harahap, M.A. (__________)
Sekretaris : Drs. Torang Naiborhu, M.Hum. (__________)
Anggota I : Drs. Muhammad Takari, M.Hum, Ph.D (__________)
Anggota II : Drs. Irwansyah Harahap, M.A. (__________)
INTISARI
Penelitian ini menganalisis aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto dengan pendekatan kepada kajian musikal yang meliputi bagaimana proses analisis aransemen lagu etnik yang diadaptasikan ke gitar tunggal, bagaimana menganalisis musik yang mencakup analisis chord, iringan, bas, harmoni dan teknik-teknik pada gitar tunggal. Bagaimana gaya musik (gaya aransemen) dan gaya bermain gitar dalam aransmen Jubing Kristianto. Guna menjawab hal ini akan digunakan metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan teori-teori interdisiplin ilmu.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing merupakan kontribusi sebuah ilmu pengetahuan khususnya ilmu aransemen pada gitar bagi pendidikan musik dan menunjukkan kemampuan gitar sebagai salah satu alat musik yang mampu membawakan serta mewakili bebagai genre musik lagu-lagu etnik kedalam seni pertunjukan Indonesia. Dan melalui tulisan ini, maka didapatlah sebuah nilai-nilai universal dalam konteks musik yang digarap Jubing Kristianto. Mulai dari lagu anak-anak, lagu-lagu etnik ataupun tradisional Indonesia, lagu-lagu nasional Indonesia, lagu-lagu dari luar Negara Indonesia seperti Jepang, Amerika, Eropa, Mandarin yang dirangkum menjadi sebuah gaya Classical Crossover, dan hasil dari penyajian penelitian ini menunjukkan bahwa Jubing Kristianto merupakan Inovator dari Indonesia yang memunculkan perpaduan dari gaya ini yaitu dangdut, klasik, flamenco dan jazz.
PRAKATA
Segala hormat, kuasa dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus atas kemurahan dan pertolongan-Nya bagi penulis hingga akhirnya penelitian ini dapat selesai hingga dapat dituangkan kedalam bentuk tulisan ilmiah. Terkhusus buat orangtua penulis, Bapak St. Jawater Purba dan Ibu Rosmianna br. Simanjuntak, S. Pd atas dukungan moral, spiritual dan material mereka, mulai dari awal kuliah hingga akhir penulis dapat menyelesaikannya.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp. A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara dan Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya yang telah memberi fasilitas pembelajaran sehingga penulis dapat menuntut ilmu di Universitas Sumatera Utara dengan baik.
2. Bapak Drs. Irwansyah, M.A, selaku Ketua Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan sekaligus merangkap menjadi Pembimbing Satu penulis, atas bimbingan dan saran-sarannya untuk menyelesaikan tesis ini.
3. Bapak Drs. Torang Naiborhu, M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mengoreksi tatacara penulisan ilmiah dan lain-lainnya yang berkenaan dengan penelitian tesis ini.
5. Ibu Dra. Ritha Ony Hutajulu, M.A, atas koreksi pemahaman analisis musikal beliau banyak membantu koreksi penelitian ini.
6. Bapak Drs. Ponisan selaku pegawai administrasi Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendukung kelancaran administrasi.
7. Seluruh dosen yang telah membagikan ilmu pengetahuan saat perkuliahan di Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
8. Teman-teman seangkatan stambuk 2010, atas diskusi-diskusi dan masukan selama proses perkuliahan.
9. Bapak Jubing Kristianto selaku pembimbing dan informan yang telah memberikan kesediaan atas karya-karya beliau terhadap penelitian ini, serta banyak membantu dan memberikan informasi tentang kasus-kasus dalam aransemen lagu etnik karya Jubing Kristianto.
10.Amang boru Arpozen Nahampun, selaku kakak rohani yang selalu tekun mengajarkan pertumbuhan rohani dan atas segala dukungan doa dan ucapan syukur dapat mengenal Tuhan di dalam perjalanan proses perkuliahan mulai dari penulis mengambil program sarjana dan pasca sarjana
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penelitian ini, baik dalam bentuk maupun isinya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran, kritik dan koreksi guna perbaikan di kemudian hari.
Medan, 24 Oktober 2012 Penulis,
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Wonter Lesson Purba
NIM : 107037006
Tempat / Tanggal Lahir : Tebing Tinggi / 16 Januari 1982 Alamat : Jl. Sempurna Ujung No. 230A Medan
Agama : Kristen Protestan
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : Sarjana Seni (S.Sn) dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen Medan, Jurusan Seni Musik, Lulus Tahun 2007
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Oktober 2012
DAFTAR ISI
BAB II TINJAUAN MUSIK GITAR TUNGGAL 2.1 Sejarah Instrumen Gitar dan Perkembangannya ... 25
2.2 Sejarah Persebaran dan Perkembangan Gitar di Indonesia ... 39
2.3 Perkembangan Awal Pendidikan Gitar Klasik di Indonesia ... 43
2.4 Metode Pembelajaran Gitar Tunggal ... 47
2.4.1 Posisi dan Sikap Bermain Gitar Tunggal ... 48
2.4.1.1 Posisi dan Sikap Anatomi Tubuh yang Ideal dan Efektif dalam Bermain Gitar Tunggal ... 48
2.4.1.2 Posisi dan Sikap pada Tangan Kanan ... 50
2.4.1.3 Posisi dan Sikap pada Tangan Kiri ... 52
2.5.3.3 Fungsi Bagian-Bagian Gitar ... 97
2.6 Jenis-Jenis Gitar ... 102
2.7 Teknik-Teknik Permainan Gitar Tunggal ... 106
2.7.1 Teknik Ornamentasi ... 106
2.7.2 Teknik Tremolo ... 108
2.7.3 Teknik Pizzikato ... 110
BAB III BIOGRAFI JUBING KRISTIANTO 3.1 Latar Belakang Kehidupan Jubing Kristianto ... 111
3.2 Eksistensi Jubing Kristianto Sebagai Aranger, Penulis, Komponis dan Musisi Gitar Tunggal ... 115
3.2.1 Jubing Kristianto Sebagai Aranger Gitar Tunggal ... 116
3.2.1.1 Daftar Kumpulan Lagu-Lagu Aransemen Jubing Untuk Gitar Tunggal ... 128
3.2.2 Jubing Sebagai Penulis Gitar ... 130
3.2.3 Jubing Sebagai Komponis Gitar ... 134
3.2.3.1 Daftar Kumpulan Lagu-Lagu Ciptaan Jubing Kristianto Untuk Gitar Tunggal ... 142
3.2.4 Jubing Sebagai Musisi Gitar Tunggal ... 144
BAB IV ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU-LAGU ETNIK PADA GITAR TUNGGAL KARYA JUBING KRISTIANTO 4.1 Transkripsi ... 170
4.1.1 Proses Transkripsi ... 171
4.2 Ayam Den Lapeh ... 172
4.2.1 Analisis Melodi ... 177
4.2.2 Analisis Chord ... 183
4.2.3 Analisis Pola Ritem ... 188
4.2.4 Analisis Teknik Permainan Gitar ... 190
4.2.4.1 Bagian Intro ... 191
4.3.4 Analisis Teknik Permainan Gitar ... 214
4.4 Rek Ayo Rek ... 220
4.4.1 Analisis Melodi ... 220
4.4.2 Analisis Chord ... 229
4.4.3 Analisis Pola Ritem ... 238
4.4.4 Analisis Teknik Permainan Gitar ... 239
4.5 Karakteristik (Gaya Musik) Permainan Jubing Kristianto ... 242
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Lyra ... 26
Gambar 2 : Permulaan Bentuk Lute dari Cithara, Citharis, Hingga Menjadi Lute ... 27
Gambar 16 : Diagram Pembelajaran Notasi Balok ... 56
Gambar 17 : Nilai Not Dalam Jumlah Ketukan ... 57
Gambar 18 : Letak Not-not Pada Fret Gitar ... 64
Gambar 19 : Gedung Erasmus Huis Jakarta ... 72
Gambar 20 : Jose Romanillos Terinspirasi dari Sebuah Kubah Mesjid di Spanyol ... 78
Gambar 21 : Bagian dalam Gitar ... 85
Gambar 22 : Jembatan Gitar (Bridge) ... 86
Gambar 23 : Sadle Gitar Klasik ... 86
Gambar 24 : Sadle Melekat Pada Jembatan (Bridge) Gitar ... 87
Gambar 25 : Kepala Gitar ... 88
Gambar 33 : Backboard Dengan Kayu-kayu Penguat Pada Bagian Dalam ... 93
Gambar 34 : Sideboard Gitar ... 93
Gambar 35 : Bagian-bagian Gitar ... 94
Gambar 36 : Gitar Jose Ramirez ... 95
Gambar 41 : Nut Gitar ... 99
Gambar 50 : Teknik Memainkan Notasi Grace Not ... 106
Gambar 51 : Teknik Memainkan Notasi Moerdent ... 107
Gambar 52 : Teknik Memainkan Notasi Glissando ... 107
Gambar 53 : Teknik Memainkan Notasi Portamento ... 108
Gambar 54 : Teknik Memainkan Notasi Tremolo ... 108
Gambar 55 : Contoh Teknik Tremolo Pada Lagu Requerdos de La Alhambra Karya Francisco Tarrega ... 110
Gambar 56 : Teknik Memainkan Notasi Pizzikato ... 110
Gambar 57 : Salah Satu Pertunjukan Jubing Dalam Sebuah Pentas Seni ... 112
Gambar 58 : Jubing Semasa Kuliah di Universitas Indonesia ... 113
Gambar 59 : Jubing Dalam Yamaha Fesival Gitar Indonesia ... 114
Gambar 60 : Jubing Bersama Istri ... 115
Gambar 61 : Lampiran 1, Membuat Aransemen Gitar Tunggal ... 125
Gambar 62 : Lampiran 2, Membuat Aransemen Gitar Tunggal ... 126
Gambar 63 : Lampiran 3, Membuat Aransemen Gitar Tunggal ... 127
Gambar 64 : Cover Buku Jubing yang Pertama “Gitarpedia, Buku Pintar Gitaris” ... 131
Gambar 65 : Cover Buku Jubing yang Kedua ”Membongkar Rahasia Chord Gitar ... 133
Gambar 66 : Cover album Solo Gitar “Becak Fantasy” ... 146
Gambar 67 : Pembuatan Video Klip Album “Becak Fantasy” ... 146
Gambar 68 : Cover Album “Bossanova 3 Gitar By Jubing” ... 147
Ganbar 76 : Penonton Memenuhi Acara Show ... 151
Gambar 77 : Couching Clinic, Jubing Memberikan Pengarahan ... 151
Gambar 86 : Foto Bersama Jubing dan Team ... 157
Gambar 87 : Jubing dan Ananda Cek Sound ... 160
Gambar 88 : Penonton, 1 Jam Acara Sebelum Dimulai ... 160
Gambar 89 : Pertunjukan Gitar Tunggal Album “Delman Fantasy” ... 161
Gambar 90 : Pertunjukan Gitar Tunggal Album “Delman Fantasy” ... 161
Gambar 91 : Jubing Mempersiapkan Acara Sebelum Dimulai ... 162
Gambar 92 : Penonton Memenuhi City Walk Sudirman ... 163
Gambar 93 : Penonton Antri Tanda Tangan Jubing ... 163
Gambar 94 : Jubing Dengan Penggemar, Foto Bersama ... 164
Gambar 95 : Cover Album “Kaki Langit” ... 165
Gambar 96 : Andy Owen, I Wayan Balawan dengan Jubing Pada Konser Extra Ordinary Guitar ... 168
Gambar 97 : Transkripsi Lagu Ayam Den Lapeh Versi Jubing ... 174
Gambar 98 : Melodi Lagu Ayam Den Lapeh Versi Jubing ... 177
Gambar 99 : Melodi Lagu Ayam Den Lapeh Versi Lebah Ratu (VLR) ... 178
Gambar 100 : Melodi VLR ... 179
Gambar 101 : Melodi Versi Jubing ... 179
Gambar 102 : Melodi VLR ... 180
Gambar 103 : Melodi Versi Jubing ... 180
Gambar 104 : Bagian Melodi Immortal Publisher ... 181
Gambar 105 : Melodi Bagian Chorus Versi Jubing ... 182
Gambar 106 : Intro Lagu Ayam Den Lapeh ... 184
Gambar 112 : Pola Ritem Not Perdelapan Dalam Versi Lebah Ratu ... 190
Gambar 113 : Teknik Campanelas ... 191
Gambar 114 : Teknik Rasgueado ... 192
Gambar 115 : Teknik Pizzikato ... 193
Gambar 116 : Teknik Tambora ... 194
Gambar 117 : Teknik Golpe ... 194
Gambar 118 : Transkripsi Lagu Bengawan Solo Jubing Kristianto ... 196
Gambar 119 : Melodi Bengawan Solo Versi Immortal Publisher ... 199
Gambar 120 : Melodi Lagu Bengawan Solo Immortal Publisher ... 201
Gambar 121 : Perbedaan Aksen Lagu Bengawan Solo ... 202
Gambar 122 : Bagian Intro Lagu Bengawan Solo ... 202
Gambar 123 : Bagian Melodi Lagu Versi Immortal Publisher ... 203
Gambar 124 : Bagian Melodi Lagu Bengawan Solo Versi Jubing ... 204
Gambar 125 : Melodi Chorus Lagu Bengawan Solo Versi Immortal Publisher ... 204
Gambar 126 : Chorus Lagu Versi Jubing ... 205
Gambar 131 : Bagian Lagu Bengawan Solo ... 208
Gambar 132 : Bagian Perkembangan Lagu Bengawan Solo ... 210
Gambar 133 : Bagian Coda Lagu Bengawan Solo ... 212
Gambar 134 : Contoh Pola Ritem Lagu Bengawan Solo ... 214
Gambar 135 : Pola Ritem Lagu Bengawan Solo Versi Immortal Publisher ... 214
Gambar 136 : Penggunaan Teknik Triol ... 215
Gambar 137 : Penggunaan Teknik Slur Bengawan Solo ... 216
Gambar 138 : Penggunaan Teknik Slur dan Slide Pada Bagian Chorus ... 218
Gambar 139 : Penggunaan Teknik Glissando dan Trill ... 219
Gambar 140 : Penggunaan Teknik Trill Bagian Coda ... 219
Gambar 141 : Melodi Lengkapn Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 221
Gambar 142 : Melodi Lengkap Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing Kristanto ... 222
Gambar 143 : Melodi Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 226
Gambar 144 : Melodi Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing ... 226
Gambar 145 : Penggunaan Ornament Pada Lagu Rek Ayo Rek ... 227
Gambar 146 : Penggunaan Ornament Pada Lagu Rek Ayo Rek ... 227
Gambar 147 : Melodi Bagian Chorus Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 228
Gambar 148 : Melodi Bagian Chorus Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing ... 229
Gambar 149 : Bagian Lagu Rek Ayo Rek ... 230
Gambar 150 : Bagian Chorus Lagu Rek Ayo Rek ... 231
Gambar 151 : Arpeggio, Jembatan Menuju 1 Oktaf Lebih Tinggi ... 232
Gambar 152 : Bagian Akhir Lagu Rek Ayo Rek ... 233
Gambar 153 : Pola Ritem Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing ... 238
Gambar 154 : Pola Ritem Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 239
Gambar 155 : Penggunaan Teknik Slur Pada Bagian Lagu ... 240
Gambar 156 : Penggunaan Teknik Slur Pada Bagian Perkembangan Lagu ... 240
Gambar 157 : Penggunaan Teknik Gliss Pada Bagian Perkembangan Lagu .... 241
Gambar 158 : Penggunaan Teknik Golpe Pada Bagian Perkembangan Lagu ... 242
INTISARI
Penelitian ini menganalisis aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto dengan pendekatan kepada kajian musikal yang meliputi bagaimana proses analisis aransemen lagu etnik yang diadaptasikan ke gitar tunggal, bagaimana menganalisis musik yang mencakup analisis chord, iringan, bas, harmoni dan teknik-teknik pada gitar tunggal. Bagaimana gaya musik (gaya aransemen) dan gaya bermain gitar dalam aransmen Jubing Kristianto. Guna menjawab hal ini akan digunakan metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan teori-teori interdisiplin ilmu.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing merupakan kontribusi sebuah ilmu pengetahuan khususnya ilmu aransemen pada gitar bagi pendidikan musik dan menunjukkan kemampuan gitar sebagai salah satu alat musik yang mampu membawakan serta mewakili bebagai genre musik lagu-lagu etnik kedalam seni pertunjukan Indonesia. Dan melalui tulisan ini, maka didapatlah sebuah nilai-nilai universal dalam konteks musik yang digarap Jubing Kristianto. Mulai dari lagu anak-anak, lagu-lagu etnik ataupun tradisional Indonesia, lagu-lagu nasional Indonesia, lagu-lagu dari luar Negara Indonesia seperti Jepang, Amerika, Eropa, Mandarin yang dirangkum menjadi sebuah gaya Classical Crossover, dan hasil dari penyajian penelitian ini menunjukkan bahwa Jubing Kristianto merupakan Inovator dari Indonesia yang memunculkan perpaduan dari gaya ini yaitu dangdut, klasik, flamenco dan jazz.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
para ahli dan peneliti-peneliti mengabstraksikannnya menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari oleh setiap orang. Jika kita meninjau kembali dalam buku Muttaqin seni musik klasik (2008:87). Bahwa analisis musik mencakup aspek-aspek bunyi, garis para nada, skala nada, kunci, tempo, dinamika, timbre (warna suara), dan bentuk musik. Dalam penyajian analisis musik disini sangat terpengaruh pada kerangka kajian analisis musik Eropa Barat. Dan pada kenyataannya kajian-kajian yang merujuk pada aspek musikologi banyak menggunakan teori-teori musik barat. Teori-teori ini banyak membantu para peneliti khususnya penelitian yang berorientasi pada kajian musikal. Contohnya dalam mengkaji sistem tonal ataupun sistem modal dalam sebuah lagu, teori transkripsi lagu, teori struktur mendengar musik, teori harmoni dan sebagainya.
“Aransemen merupakan manifestasi atau upaya kreatif dalam menata dan
memperkaya sebuah melodi, lagu ataupun komposisi”. Demikian satu kutipan artikel dari seorang gitaris muda Jubing Kristianto yang cukup aktif mengisi kegiatan musik gitar tunggal di bumi Nusantara dalam artikelnya membuat aransemen gitar tunggal.
Aransemen dapat dilakukan pada instrumen musik maupun vokal (suara manusia). Aransemen merupakan sebuah metode atau cara untuk “memindahkan” ataupun mentransformasikan sebuah hasil karya seni khususnya karya musik etnik dalam penelitian ini ke dalam bentuk lain dari bentuk semula hingga menjadi sebuah hasil karya yang sesuai dengan keinginan arrangernya. Misalnya salah satu lagu etnik yang akan dikaji dalam penelitian ini, Ayam Den Lapeh, lagu ini pada dasarnya dinyanyikan oleh suara manusia atau bentuk musik vocal. Tetapi sekarang lagu ini bukan hanya dapat dinyanyikan oleh suara manusia, lagu ini sudah dapat dinyanyikan dan disampaikan oleh suara gitar, bahkan hanya dengan satu gitar. Dan hal ini sudah dilakukan oleh salah seorang musisi yakni Jubing Kristianto. Dan lagu etnik Ayam Den Lapeh yang berasal dari Minangkabau ini dapat kita lihat dan kita dengar pada VCD Album Gitar Solo “Becak Fantasy”
Jubing Kristianto pada nomor urut ke-enam IMC Record. Oleh karenanya penelitian ini mengambil Judul “Analisis Musikal Lagu Etnik Pada Gitar Tunggal:
musiknya. Sehingga dalam sisi eksplorasi lainnya penulis dapat mengamati sebuah karakter atau gaya aransemen yang mencerminkan Jubing sebagai gitaris yang cukup kreatif dan sekaligus inovatif dalam menyajikan karya-karya musik khususnya musik etnik dalam penelitian ini. Kemampuan dalam mengaransemen tidak hanya sebatas pada menguasai teori-teori musik yang mengulas tentang pengetahuan aransemen. Penguasaan dalam ilmu ini, harus melewati tahap-tahap seperti mengenal genre musik (jenis-jenis musik dunia) atau aliran-aliran musik seperti jazz, klasik, flamenco, lagu-lagu tradisi, rock dan sebagainya hingga musik industri yang beredar pada masa-masa kini. Pengetahuan aransmenen juga bisa didapatkan melalui melihat konser-konser, mendengar kaset-kaset hingga pengetahuan yang berkaitan yang membentuk totalitas dari dimensi aransemen itu sendiri.
Kesulitan dalam mengaransemen biasanya kurang memahami metode, ataupun sistem yang menyangkut disiplin dalam ilmu aransemen serta berbagai genre musik, baik itu musik etnik atau musik tradisi, musik klasik atau jenis-jenis musik lainnya seperti yang dikemukakan di atas. Bahan baku atau sumber untuk pembuatan aransemen sangat berlimpah mulai dari lagu anak, lagu pop, lagu klasik hingga lagu etnik. Istilah lagu etnik sendiri yang dipakai dalam penelitian ini mengacu kepada musik yang merupakan hasil karya dari budaya kelompok pemeluknya. Seperti yang dikemukakan Meriam dalam Buku Profesor Mauly Purba tentang Keberagaman Sistem Musik Dunia : “…suatu kebudayaan musik bersemayam di dalam alam masyarakat pemiliknya sendiri…”. Istilah lagu etnik
untuk istilah etnik. Etnik adalah bertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Jadi lagu etnik pada penelitian ini adalah lagu yang dimiliki dari kelompok sosial yang mempunyai bahasa, adat dan etnis yang sama. Misalnya dalam penelitian ini, lagu Ayam Den Lapeh berasal dari Minangkabau, berarti lagu ini asalnya dari etnik Minangkabau dan yang memakai lagu ini adalah orang-orang Minangkabau. Lagu Bengawan Solo berasal dari Jawa Tengah digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah atau lagu etnik Jawa Tengah.
Dalam konteks seni pertunjukan, aransemen lagu etnik pada gitar tunggal, pada kenyataannya sangat minim jumlahnya beredar khususnya di Indonesia, hal ini terlihat jelas dalam seni pertunjukan gitar baik bersifat kompetisi, festival, hiburan, seminar, workshop dan lain-lain. Hal ini sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian, mengingat Indonesia sebagai bangsa yang multi kultural terdiri dari banyak etnik dan budaya yang didalamnya mencakup seni musik memerlukan perhatian yang cukup dalam pelestariannya dalam sudut pandang global, dan dalam hal ini gitar klasik sebagai gitar tunggal mengambil sikap dan peranan untuk mentranskripsikan, sekaligus mentransformasikan lagu-lagu etnik kedalam bentuk seni permainan gitar tunggal.
sudah digarap Jubing untuk rekaman gitar tunggal sebanyak 4 buah, album tersebut yaitu Becak Fantasy, Hujan Fantasy, Delman Fantasy dan Kaki Langit.
Jubing Kristianto merupakan arranger gitar tunggal yang sangat kompeten dan produktif dalam menyajikan karya-karyanya. Dia banyak menguasai jenis-jenis musik (genre musik) mulai dari dangdut, flamenco , jazz hingga musik popular yang beredar di pasar saat ini dalam musik industri. Jubing juga merupakan gitaris tunggal yang paling banyak mempopulerkan lagu-lagu yang dikenal sebagai lagu etnik, lagu-lagu yang bukan untuk gitar untuk di adaptasikan pada permaianan gitar melalui media elektronik seperti rekaman, televisi, bahkan workshop dan pertunjukan-pertunjukan gitar di dalam dan luar negeri. Bahkan dalam satu evennya yang secara nyata, penulis sendiri menonton dan mengamati Jubing dalam konser gitar tunggal di Universitas Sumatera Utara Medan, sangat memukau dan menyentuh, sehingga penelitian ini sebahagian besar merupakan akibat dari pertunjukan yang dilakukannya. Hal ini juga merupakan salah satu yang melatar belakangi penelitian ini, mengapa penulis begitu tertarik dengan aransemen-aransemen yang disajikan beliau.
Untuk lagu etnik yang diaransemen Jubing ada beberapa lagu, lagu-lagu tersebut seperti Rek Ayo Rek yang berasal dari Jawa Timur yang diciptakan oleh Is Haryanto, Bengawan Solo dari Jawa Tengah diciptakan oleh Gesang, Sarinande dari Maluku, Ayam Den Lapeh dari Minangkabau ciptaan Abdul Hamid, Bengong Jeumpa dari Aceh.
ada transkripnya untuk notasi, sehingga dalam mengidentifikasi masalah analisis sangat sulit dilakukan.
Gitar tunggal sendiri mulai ada di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Istilah gitar tunggal sendiri merujuk kepada satu; satu-satunya bukan jamak. Penelitian ini dilakukan yakni menggarap lagu etnik dan mengadaptasikannya kepada gitar klasik sebagai gitar tunggal bukan dua atau lebih gitar. Sebagai salah satu contoh istilah gitar tunggal sudah familiar dan dipakai dengan diterbitkannya buku-buku dan pertunjukan-pertunjukan atau konser-konser dengan tajuk gitar tunggal. Kaye Solapung dalam bukunya Gitar Tunggal penerbit PT. Indira tahun 1980, buku ini juga sudah ditetapkan dan digunakan Depdikbud sebagai pegangan guru musik di SD dengan Inpres nomor 5 tahun 1981. Di era 70 sampai 80-an tercuat nama gitaris Michael Gan, Nelson Rumantir, ataupun Carl Tanjong yang menerbitkan album kaset untuk gitar tunggal. Istilah gitar tunggal juga sudah ada pada peristiwa-peristiwa Yamaha Festival Gitar Indonesia, misalnya tahun 1977 yang dibawakan secara solo gitar ataupun gitar tunggal dan pada peristiwa itu Jubing menjadi juara dalam festival.
untuk Lute, piano, biola, flute, hingga orkestra; (b) karya orisinal untuk gitar, yang diciptakan oleh komposer dari jaman klasik hingga jaman modern; (c) lagu-lagu pop, jazz, hingga musik tradisional yang diaransemen untuk gitar klasik.
Untuk mengaransemen lagu etnik pada karya Jubing Kristianto ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam analisis musikalnya, dan tahap-tahap tersebut berhubungan erat dengan persoalan-persoalan analisa harmoni, pendekatan pada sistem musik seperti penulisan notasi lagu (transkripsi), perubahan chord, perpindahan chord, modalitas, term istilah-istilah yang digunakan dalam menganalisa teknik-teknik permainan gitar tunggal. Dalam membentuk sebuah aransemen terdapat barisan harmoni yakni aturan-aturan yang membentuk suatu bunyi musikalitas atau keselarasan berbagai bunyi yang terkandung dalam sebuah musik. Bagaimana harmoni lagu-lagu etnik tersebut di adaptasikan kepada permainan gitar tunggal.
Aransemen untuk lagu etnik pada karya Jubing Kristianto, belum ada transkripsinya dalam bentuk notasi, hal ini juga yang merupakan salah satu kesulitan dalam mengidentifikasi komposisi yang terdapat pada karya-karya Jubing, harapan penulis juga agar setiap pemain gitar mampu menguasai transkripsi musik, oleh karena setiap aransemen yang hendak dimainkan oleh setiap orang haruslah sesuai dengan maksud dari sang arranger atau sikomponis.
lagu Biring Manggis dari Karo diiringi oleh gendang lima sedalenan, lagu Es Lilin dari Jawa Barat diiringi oleh kecapi dan suling Sunda. Dari studi kasus di atas, dalam konteks seni pertunjukan budaya, penulis mengamati sebuah pagelaran budaya disajikan menurut sistem tradisi musiknya sendiri. Seperti yang dikemukan Merriam “..suatu kebudayaaan musik bersemayam di dalam alam
masyarakat pemiliknya sendiri – yaitu ide/gagasan mereka, tingkah laku mereka dan bunyi atau suara yang mereka produksi.” Dalam hal inilah penulis
menawarkan bagaimana lagu-lagu etnik tersebut dapat digubah kedalam bentuk satu permainan gitar tunggal.
Dalam studi kasus yang lain, komposisi musik etnik yang diadaptasikan kedalam gitar tunggal sangat sulit untuk ditemukan. Dimana para komposer gitar, maupun non komposer gitar menemukan kendala dalam mengadaptasikannya kedalam bentuk permainan gitar. Kendala tersebut yang paling besar adalah bagaimana menyusun harmoni, teknik, musikalitas dan membentuk suatu sistem musik yang terkait secara totalitas seperti yang dikemukan di atas.
Dari beberapa studi kasus di atas merupakan hal yang melatarbelakangi penulis untuk membuat tesis yang berjudul : Analisis Musikal Aransemen Lagu Etnik Pada Gitar Tunggal : Studi Kasus Pada Karya-Karya Jubing Kristianto.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk menghindari pembahasan yang menyimpang dan tidak kontekstual penulis merumuskan masalah menjadi empat bagian yaitu :
1. Bagaimana analisis musikal dalam aransemen lagu etnik pada gitar tunggal, atau proses penyajiannya, baik dalam hal analisis melodi, bentuk, chord, iringan, bas serta teknik-teknik permainan gitar?
2. Dari beberapa lagu etnik yang diaransemen Jubing, ada tiga lagu yang dianalisis dalam penelitian ini : Ayam Den Lapeh dari etnik Minangkabau, Rek Ayo Rek dari Etnik Jawa Timur dan Bengawan Solo dari Etnik Jawa Tengah?
3. Bagaimana biografi sejarah perjalanan Jubing Kristianto sebagai arranger, musisi, penulis dan pencipta lagu untuk gitar tunggal?
4. Bagaimana Gaya Musik (gaya aransemen) yang ditampilkan Jubing Kristianto?
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui proses analisis aransemen lagu etnik yang diadaptasikan kepada gitar tunggal.
2. Untuk mengetahui cara menganalisis melodi, bentuk, chord, iringan, bas dan teknik-teknik yang digunakan pada gitar tunggal.
1.3.2 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah :
1. Untuk memperoleh gelar Magister Seni di Program Studi Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Medan
2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang teknik mengaransemen lagu pada gitar tunggal
3. Memberikan kontribusi sebagai salah satu sumber informasi tentang teknik aransemen lagu pada gitar tunggal.
4. Memperkenalkan lagu-lagu etnik dibawakan kedalam seni pertunjukan melalui gitar tunggal
5. Sebagai bahan studi banding bagi penulis berikutnya
1.4 Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian ini penulis melakukan studi kepustakaan yakni mencari literatur-literatur yang berhubungan dengan objek penelitian. Sepanjang pengetahuan penulis dari hasil penelitian pustaka yang dilakukan menunjukkan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan yang mendalam mengenai aransemen lagu etnik dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto. Adapun bahan literatur tersebut adalah :
bentuknya seperti motif, frase, kalimat lagu, variasi atau pengembangan lagu hingga perjalanan melodi dari setiap birama.
2. Roy Wilkinson (1991) Harmony , buku ini menjelaskan tentang triad, chords, posisi chord, progressi chord, suspensi, dominant seventh chord, modulasi, chord 7, 9, 11, 13 dan kromatik scale. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk mengkaji struktur pembentukan harmoni yang terdapat pada lagu-lagu etnik yang hendak dianalisis.
3. Jubing Kristianto (2005) Gitar Pedia, buku pintar gitaris Buku ini menguraikan petunjuk praktis tentang istilah-istilah gitar. Pada buku ini penulis memaknai istilah-istlah teknis yang digunakan pada teknik-teknik permainan gitar hingga memperoleh arti atau pengertian tentang istilah-istlah yang digunakan pada permainan gitar tunggal.
4. William Lovelock First Year Harmony. Dalam buku ini terdapat dua bagian yang menguraikan tentang aturan-aturan dan latihan-latihan menyusun harmoni. Bagian pertama menjelaskan tentang triad, chord, progressi hingga harmoni yang kompleks. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk melihat struktur pembentukan harmoni yang disajikan Jubing dalam transkripsi lagu.
6. M. Soeharto (1986) Belajar Membuat Lagu. Buku ini menguraikan tentang bagaimana membuat melodi, kalimat yang manis, teks lagu menurut maknanya dan pengertian tentang melodi. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk menganalisis notasi, garis paranada, nilai not, tanda diam, not-not penghias dan aksen.
7. Rick Peckham (2007) Berkele Jazz Guitar, buku ini memaparkan tentang chord serta penggunaannya mulai dari triad mayor, minor, dominan, diminish dan augmentes, inversi, serta pengembangannya. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk mengkaji penggunaan chord-chord 7, 9, 11, dan 13 pada posisi gitar tunggal
8. Guitar Chords Dictionary, menguraikan tentang teori chord dan bentuk-bentuk chord gitar lengkap. Buku ini digunakan untuk mengamati semua chord-chord yang digunakan pada lagu, hingga diperoleh keseluruhan chord dari setiap birama hingga didapatkan posisi jari-jari dan letaknya pada gitar. 9. Bahan audio berupa 4 buah CD album Becak Fantasy, Hujan Fantasy,
Delman Fantasy dan Kaki Langit. Yang di dalamnya terdapat lagu etnik yang akan di bahas dalam penelitian ini. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk “memindahkan” atau mentranskripsikan bentuk keseluruhan lagu ke
dalam notasi balok.
11. Skripsi Nikanor Permata Inari Sitompul, Universitas Sumatera Utara Medan, skripsi ini menguraikan tentang analisis metode pengajaran gitar klasik di LPM Farabi Medan. Buku ini digunakan untuk melihat perbandingan tentang pengajaran gitar klasik.
12. Skripsi David Hendra Samosir, Universitas HKBP Nomensen, skripsi ini menguraikan tentang harmoni dan teknik improvisasi dalam musik Jazz. Dalam menggunakan buku ini bagaimana metode yang digunakan dalam improvisasi musik jazz hingga memperoleh kejelasan bagaimana menggunakan progressi-progressi chord dalam musik jazz.
1.5 Konsep Dan Landasan Teori 1.5.1 Konsep
Konsep penting yang digunakan dalam penelitian ini adalah aransemen, lagu etnik, dan Jubing Kristianto.
Aransemen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyesuaian komposisi musik dengan nomor suara penyanyi atau instrumen lain yang didasarkan pada sebuah komposisi yang telah ada sehingga esensi musiknya tidak berubah.
(1) persesuaian dari sebuah karya musik untuk membuat karya tersebut selaras dan dinamis. Dengan tidak menghilangkan komposisi aslinya. Tujuan dari aransemen bisa menjadi (a) untuk memfasilitasi pembelajaran atau pertunjukan. (b) untuk memperluas reportoar dari berbagai media. (c) menuliskan suatu komposisi untuk suatu pertunjukan besar yang diberikan lebih dari keadaannya. Tingkat modifikasi yang dibutuhkan bervariasi, komposer dapat melampaui modifikasi yang diperlukan untuk menguraikan dan menambah teks asli. Bach, Beethoven, Brahms, dan semua aransemen yang dibuat. (2) pengaturan harmoni, untuk suara atau instrument, melodi yang ada, lagu rakyat memberikan materi yang jelas untuk laporan pengerjaan.
Pendapat lain mengenai aransemen menurut Gitarpedia adalah tindakan kreatif menata dan memperkaya sebuah melodi, lagu, atau komposisi kedalam format serta gaya yang berbeda dari gaya aslinya. Bisa digarap untuk medium apa saja, dari instrumen tunggal hingga band ataupun orkestra.
Dengan kata dan kalimat yang tersimpul, aransemen dalam penelitian ini adalah suatu upaya atau kegiatan dalam mempersiapkan, menyusun dan menata komposisi lagu etnik yang diadaptasikan ke media gitar tunggal.
konteks musik, musik daerah adalah musik yang dimiliki oleh satu lingkungan atau budaya setempat yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama. Cotoh musik daerah seperti gamelan, angklung, campur sari, keroncong dan lain-lain. Dalam hal ini musik daerah mempunyai fungsi yang sama misalnya angklung sebagai sarana ritual seperti ngaseuk pare (menanam padi), atau musik daerah dapat juga berfungsi sebagai hiburan.
Konsep yang terakhir adalah Jubing Kristianto. Jubing Kristianto adalah seorang seniman yang cukup aktif dalam mengisi kegiatan bermusik seperti guru gitar, praktisi musik/musisi gitar tunggal, arranger dan penulis, beliau lahir di Semarang pada tanggal 9 April 1966. Menjadi juara festival Yamaha Indonesia sebanyak empat kali (1987, 1992, 1994 dan 1995). Salah satu aransemennya yang cukup menarik adalah Ayam Den Lapeh yang berasal dari Sumatera Barat. Lagu ini dibuatnya pada waktu duduk dibangku SMA kelas satu dan melalui lagu ini menghantarkan dia pada lomba duet gitar festival Yamaha tahun 1982. Beberapa lagu etnik Indonesia yang diaransemen Jubing membawa sekaligus merangsang para pemerhati budaya dan seni juga para gitaris khususnya untuk melestarikan kekayaan lagu-lagu daerah. Dalam hal ini penulis memfokuskan penelitian pada lagu-lagu etnik karya Jubing Kristianto dengan pusat perhatian pada aransemen gitar tunggal.
1.5.2 Teori
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : pertama teori Jubing Kristianto, Membuat Aransemen Gitar Tunggal. Teori ini mengupas sebuah komposisi yang hendak diaransemen kedalam permainan gitar, teori ini juga memberikan pemahaman serta langkah-langkah dalam mengaransemen sebuah melodi lagu.
chord grammar (ability to write and identify any chord). Listening Approach : a) aural recognition of the material listed above. b) meter (duple, triple, and compound); rhythmic design of melodies. c) melodic dictation of folk tunes and themes from instrumental music; two-part dictation of as preparation for two-part counterpoint.
Dasar musik a) notasi; scale; modus gerejawi; nuansa; b) mayor, minor, diminish, dan augmented interval; triad dan chord tujuh; nada yang bukan harmoni (nada terdekat dan nada lewat, appoggiatura, suspensi, antisipasi); angka romawi dan pemakaian bass. c) bentuk chord (kemampuan untuk menulis dan mengidentifikasi semua bentuk chord). Pendekatan mendengar : a) semua materi yang berhubungan dengan pendengaran. b) pulsa (duple, triple); pola ritem melodi. c) melodi dari lagu rakyat dan tema dari musik instrumentalnya; dua bagian part dalam persiapan dua bagian kontrapung.
Teori ini memberikan gambaran bagaimana mengidentifikasi melalui pengalaman mendengar musik, menentukan melodi, menentukan chord, dan ritem lagu dan kemampuan untuk menulis dan mengidentifikasi semua bentuk-bentuk chord. Penulis juga mengambil teori Bruno Nettl, Transcription Theory And Methode in Ethnomusicology (1964:98) :
there are two main approaches to the description of music : (1) we can analyze and describe what we hear, and (2) we can in some way write it on paper and describe what we see.
Ada dua pendekatan yang utama dalam mendeskripsikan musik : 1) kita dapat menganalisa dan mendeskripsikan apa yang kita dengar dan 2) kita dapat menuliskan keatas kertas dan mendeskripsikan apa yang kita lihat.
Teori ini digunakan dalam mentranskripsikan atau memindahkan bunyi yang didengar oleh telinga untuk divisualisasikan kedalam kertas kerja.
Jubing Kristianto dalam aransemen lagu etnik yang diadaptasikan kedalam gitar tunggal.
Teori musikal : Pengantar Komposisi dan Aransemen oleh Pra Budidharma mengenai Trinada (2001:16) :
Trinada adalah susunan tiga buah nada secara vertikal dalam garis paranada yang terdiri dari mayor, minor, diminish dan augmented. Trinada merupakan acuan kedua didalam menyusun harmoni lagu pada gitar klasik baik lagu itu sifatnya mayor, minor, diminish dan augmented. Dalam trinada disusun berdasarkan interval ters (nada ketiga). Nada paling bawah disebut nada dasar (root), nada tengah disebut ters, dan nada paling atas disebut nada kuint.
Teori musikal : Pengantar Komposisi dan Aransemen oleh Pra Budidharma mengenai tonal system(2001:17) tonal system dibangun dari susunan triad yang membentuk chord secara fleksibel. Teori yang digunakan untuk menentukan chord, progresi atau perpindahan chord.
kombinasi akor yang lebih banyak. Misalnya, ada altered chord dimana not ke-5 dan/atau ke-9 bisa dinaikkan atau diturunkan setengah tone. Misalnya, ada akor Cm7b5 yang berisi C-bE-bG-bB atau C7#9 yang berisi C-E-G-b7-#9. Tanda “b” dan “#” dalam penulisan simbol terkadang diganti dengan “-“ dan “+”. Altered
chord biasanya hanya berfungsi sebagai perantara dan jarang digunakan dalam musik pop, namun menjadi elemen penting dalam musik blues dan jazz.
1.6 Metode Penelitian
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Lof Land sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya ada dari tambahan seperti dokumen. Sesuai dengan penelitian ini penulis memperoleh sumber data dari :
1. Kata-kata dan tindakan yaitu : wawancara yang merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui rekaman video/audio tape, pengambilan foto.
2. Sumber tertulis yaitu : bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas partitur lagu, sumber buku, garis paranada, dokumen pribadi dan artikel-artikel yang lain.
3. Foto yang dipakai sebagai alat penelitian kualitatif. 4. Prosedur pengumpulan data (teori apa yang dipakai)
Analisis data menurut patton “analisis data adalah mengatur urutan data,
pendapat diatas penulis menggunakan teori tersebut yakni mengorganisasikan data lalu mengidentifikasi dan memberikan komentar. Dengan kata lain penelitian ini mengupayakan metode yang relevansinya erat dan sesuai dengan studi kasus penelitiannya, metode literatur dan metode wawancara. Kedua metode ini penulis lakukan selama proses penelitian
1. Metode Literatur adalah metode yang menggali tesis ini melalui buku-buku, kamus, artikel dan lain-lain
2. Metode Wawancara dan tanya jawab adalah penulis melakukan tanya jawab secara langsung kepada Jubing Kristianto dan pihak-pihak yang berhubungan dengan objek penelitian ini.
1.6.3 Analisis Data
Kegiatan analisis data yang dilaksanakan bersamaan dengan proses pengumpulan data, analisis data diperoleh berdasarkan hasil dari penelitian dan pengamatan. Analisis dilakukan pada upaya dan usaha dalam menjelaskan atau mendeskripsikan pada fokus penelitian.
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskripsi yang berdasarkan teori musik Eropa Barat yaitu sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan objek penelitian.
Dan Landasan Teori (Teori Musik Dan Transkripsi), Metode Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Analisis Data, Dan Sistematika Penulisan.
Bab II membahas tentang Tinjauan Musik Gitar Tunggal : Sejarah Instrumen Gitar Dan Perkembangannya, Sejarah Perkembangan Dan Persebaran Gitar Di Indonesia, Perkembangan Awal Pendidikan Gitar Di Indonesia, Metode Pembelajaran Gitar Tunggal Yang Meliputi Posisi Dan Sikap Bermain Gitar, Posisi Tangan Kanan, Posisi Tangan Kiri, Metode Pembelajaran Notasi Pada Gitar, Organologi Gitar, Pengertian Organologi, Akustika Bunyi Gitar, Konstruksi Gitar Tunggal, Bagian Atas Gitar, Bagian Bawah Gitar, Fungsi Bagian-Bagian Gitar, Jenis-Jenis Gitar, Teknik-Teknik Permainan Gitar Tunggal, Teknik Ornamentasi yang meliputi Grace Note, Mordent, Glisando, Portamento, Teknik Tremolo, Teknik Pizzikato.
Bab III membahas tentang Biografi Jubing Kristianto yang mencakup Latar Belakang Kehidupan Jubing Kristianto, Eksistensi Jubing Kristianto Sebagai Arranger, Penulis, komponis Dan Musisi Gitar Tunggal, Jubing Kristianto sebagai arranger, Jubing Kristianto sebagai penulis gitar, Jubing Kristianto sebagai komponis gitar, Jubing Kristianto sebagai musisi Gitar tunggal.
Bab IV Membahas Tentang Aransemen Lagu Etnik Karya Jubing Kristianto Pada Gitar Tunggal Yang Meliputi : Transkripsi, Proses Transkripsi, Tahap-Tahap Analisa Aransemen Jubing Kristianto, Analisa Melodi, Analisa Chord, Analisa Progresi Chord, Analisa Pola Ritem Dan Analisa Teknik Permainan Gitar, karakteristik Jubing dalam seni permainan gitar tunggal.
BAB II
TINJAUAN MUSIK GITAR TUNGGAL
2.1 Sejarah Instrumen Gitar Dan Perkembangannya
Gambar 1. Lyra
Sumber : www.homoecumenicus.com
Kemudian dapat ditelusuri diwilayah Persia 1500 tahun sebelum masehi yang dikenal sebagai instrumen musik petik kuno dengan sebutan citar atau sehtar.
Yunani disebut Sitar yang artinya tiga senar. Di Syria disebut Chetarah, bahasa Ibraninya disebut Kinnura (Kinor) dan di wilayah Chalden disebut Qitra.
Gambar 2. Permulaan Bentuk Lute Mulai Dari Cithara, Citharis, Hingga Menjadi Lute
Gambar 3. Cithara
Sumber : www.homoecumenicus.com
Bentuk citharis atau lyra kayu penahannya berbentuk lingkaran, ada bentuk lain seperti bentuk U dengan kayu penahan pada kiri kanan dan pada ujungnya diikatkan satu kayu melintang sebagai penahan senar disebut cithara menghasilkan bunyi yang lebih besar dan dapat diberdirikan tanpa ditahan. Kemudian berkembang suatu bentuk lute yaitu bentuk permulaan pada gitar, pada ujung lubang kura-kura dimasukkan sebuah kayu lurus dan datar pada permukaannya kemudian sampai pada ujung lubang yang lain ditarik tiga senar dengan menekan tiga senar pada kayu tersebut atau salah satu senarnya maka akan dihasilkan beberapa nada yang berbeda. Rumah kura-kura sebagai alat resonansinya kemudian diganti dengan kayu utuh yang dibuat melengkung atau mendatar, kemudian bagian atasnya ditutup dengan kayu atau papan atau dengan kulit binatang. Kira-kira 1000 tahun sebelum Kristus Yesus lahir telah dituliskan dididalam Alkitab lute dengan sepuluh senar. Mazmur 33:2 “Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapai (harpa), berMazmurlah bagiNya dengan Gambus (lute) sepuluh tali”
Dalam kebudayaan Arab mempengaruhi daratan Eropa melalui Spanyol, dengan suatu alat musik seperti lute yang disebut “al-ud” dalam bahasa Arab yang berbunyi “kayu”. Di daerah Mesir yaitu di Qarra ditemukan suatu alat musik
sejenis gitar dengan bentuk seperti biola disebut “Coptic Gitar” dipakai oleh
Gambar 5. Coptik Gitar
Sumber : Bambang Wiryawan (1985:18)
Ada dua hipotesa tentang asal mula gitar dan perkembangannya yakni :
1. Dimulai dengan lute dari Assyria, melewati Mesir, Persia, Arab dan kemudian sampai di Spanyol
2. Sesuai dengan poin pertama, Ketharah dari Assyria dan Kittara dari Yunani berkembang menjadi Citara-Roma, kemudian berkembang lagi menjadi Rotta atau Chrotta. Kemudian abad 16 di Spanyol rotta atau chrotta menjadi vihuella sanak/keluarga terdekat dari gitar. Dua bentuk yang lajim pada abad
ada yang dua dan tiga senar. Gitar morisca dimainkan dalam gaya Rasgueado.
Pada tahun 1349 di Spanyol terdapat dua jenis gitar yaitu guitarra latina dan guitarra morisca, Duke Jehan dari Perancis khusus mempelajari kedua gitar ini. Pada guitarra latina bentuk bagian belakang rata dan mempunyai empat senar yaitu satu senar tunggal dan tiga senar dobel. Biasa dimainkan dengan teknik Rasgueado yakni memakai ibu jari untuk memetik senar secara beruntun, dan
banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Sedangkan pada guitarra morisca bentuk bagian belakang melengkung beberbentuk oval (bulat telur seperti buah badam) memiliki lengan yang panjang mempunyai delapan senar dan dimainkan dengan petikan-petikan yang pendek (stakatto/punteado) dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab. Pada abad ke-16 gitar Spanyol mulai berkembang dalam popularitasnya karena mempunyai suara yang sangat bagus. Pengembangan gitar Spanyol ini diprakarsai oleh Juan Carlos Amat dan Vicente Espinel (1551-1642) di dalam buku yang dikarang oleh Juan Carlos yaitu “guitarra espanola de cinco ordenes”. Dan kemudian pada tahun 1596 menuliskan
mengenai penalaan gitar yakni : A-D-G-B-E dan menuliskan beberapa lagu yang populer pada masa itu seperti Italianas, Villanos, Pabanillas.
Gambar 6. Gitar Klasik Sumber : Dokumentasi Pribadi
Sementara dalam buku Gitarpedia yang disusun oleh Jubing sendiri tentang sejarah gitar (2005:32), yakni :
seperti harpa kecil. Berbagai artefak kuno di Mesopotamia dan Mesir menunjukkan adanya alat musik petik dengan tubuh dan leher seperti gitar. Kenyataannya, hampir di semua kawasan pusat peradaban manusia, alat musik petik mirip gitar senantiasa ada.
Pada abad ke-11, di Eropa mulai bermunculan jenis-jenis instrumen petik mirip gitar. Desainnya diyakini diperoleh dari alat-alat musik yang ada di Asia, salah satunya adalah gittern. Bentuknya sudah mirip dengan gitar modern. Bahkan dilengkapi dengan fret pada lehernya. Senarnya terbuat dari usus domba (bukan usus kucing, kendati julukannya adalah catgut). Jumlah jalur (course) senarnya tiga atau empat, dengan dua senar per jalur.
Selama dua abad lebih, gittern berkembang menjadi berbagai bentuk dengan nama-nama baru yang mirip, semisal quitarra, guiterre, gitarer, dan gitar. Pada tahun 1300-an di daratan Eropa berkembang dua desain gittern dengan nama guitare latine (berasal dari Spanyol) dan guitare morisca (berasal dari Timur Tengah dan Timur Jauh). Memasuki abad ke-15, mulai berkembang instrumen petik lain yang bernama lute (berasal dari bahasa Arab, alud). Bentuknya seperti gitar namun dengan bentuk tubuh mirip buah pir dengan course yang lebih banyak.
Desain lute maupun vihuela yang makin baik memungkinkan penambahan course serta peningkatan kualitas suara. Hal ini mendorong makin suburnya penciptaan komposisi dengan lute dan vihuela. Para komposer kondang untuk lute dan vihuela menikmati kejayaan pada masa tersebut.
Vihuela menikmati kejayaan hanya hingga akhir abad ke-16 ketika ia mulai digantikan oleh gitar barok. Bentuknya sudah mirip dengan gitar modern, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dan hanya memiliki empat course. Ini menyulitkan bila musisi hendak memainkan lagu-lagu yang lebih kompleks. Karena itu, sempat muncul gitar Barok dengan lima course pada abad ke-16. Pada masa inilah kejayaan gitar dimulai. Para gitaris dan komposer handal bermunculan.
Orang yang paling bertanggung jawab mendesain gitar hingga bentuknya jadi seperti yang sekarang kita kenal adalah Antonio Torres Jurado (1817-1892). Pembuat gitar dari Spanyol ini menemukan standar anatomi gitar (dimensi, rangka, panjang dawai, dan sebagainya) yang mampu menghasilkan kualitas suara secara maksimal, sekaligus nyaman dimainkan. Temuan Jurado ini segera diikuti para pembuat gitar lainnya. Kini, kendati tiap pembuat gitar punya kekhasan dan “resep” masing-masing, ada patokan tertentu dalam desain gitar modern yang
berpegang pada desain Torres.
Repertoar gitar bertumbuh pesat dengan makin berlimpahnya gitaris dan komposer yang tak henti memopulerkan gitar. Salah satunya Francisco Tarrega (1852-1909), gitaris dan komposer kelahiran Spanyol. Tarrega adalah perintis permainan gitar klasik menjadi sebuah ilmu dan seni tersendiri. Ia bukan saja dikenal sebagai pendidik yang bertangan dingin namun juga komposer gitar yang inovatif. Posisi duduk bermain gitar klasik yang dikenal sekarang digagas oleh Tarrega. Posisi ini memungkinkan gitar dalam posisi stabil, serta membantu lengan kanan maupun kiri menjelajahi fretboard dan senar di posisi manapun dengan lebih leluasa.
Banyak teknik baru bermain gitar yang ia populerkan, dari tremolo hingga Tabalet. Ditangannya, gitar bisa bernyanyi ceria, merintih, hingga menangis tersedu-sedu. Salah satu komposisi gitar tunggalnya “Recuerdos de Alhambra” (Kenangan akan Alhambra), cukup terkenal sehingga sering diaransemen ulang oleh musisi-musisi masa kini.
Granados (piano), Albeniz (piano), Chopin (piano), Bach (biola), hingga Mendelsohn (kuartet gesek). Murid-murid Tarrega pun menjadi sadar betapa gitar memiliki kemampuan setara dengan alat-alat musik yang lebih “bergengsi”.
Tarrega boleh jadi seorang pendobrak, namun kemampuannya itu hanya dikenal di kalangan terbatas. Ia lebih sering bermain gitar untuk murid-muridnya, ketimbang untuk publik yang lebih luas. Secara tak langsung, Tarrega ikut berperan mendorong Andres Segovia (1893-1987) memperkenalkan seni bermain gitar klasik ke seluruh dunia.
Pada usia 5 tahun, Segovia ikut pamannya di Granada. Sang paman mendorongnya belajar biola, namun Segovia terlanjur takjub pada keindahan bunyi gitar yang dimainkan seorang gitaris flamenco di rumah pamannya. Sejak itulah di mati-matian mempelajari cara bermain gitar tunggal dengan otodidak. Ia amat prihatin pada status gitar yang ketika itu di Spanyol dianggap alat musik rendahan serta amat minimnya perbendaharaan karya musik untuk gitar tunggal.
Pergaulan dengan murid-murid Tarrega merangsang Segovia meneruskan tradisi Tarrega; mengembangkan teknik permainan gitar serta repertoar komposisi gitar yang masih amat sedikit. Ia pun mulai mentranskrip karya-karya komposer klasik hingga bisa dimainkan dengan gitar tunggal. Yang paling terkenal adalah transkripsi dari karya-karya Johann Sebastian Bach, termasuk Chacone Dalam D Minor untuk solo biola yang amat terkenal. Pada usia 20 tahun, Segovia
terjadi justru sebaliknya. Segovia berhasil membuat penonton tercengang dan terkagum-kagum! Ia bukan saja memainkan musik, tapi dapat “memindahkan” berbagai jenis suara alat musik hanya dalam satu gitar. Sejak itulah, Segovia jadi buah bibir. Ia makin laris diundang konser di berbagai negara, hingga ke Amerika. Ia menyebarkan benih kegandrungan pada gitar pada tiap konser. Banyak komposer ternama mulai bersedia menciptakan komposisi asli untuk gitar yang dipersembahkan bagi Segovia. Hingga usia 90 tahun, Segovia masih tampil konser.
Luthier-luthier ternama seperti Ramirez, Hauser dan Fleta, banyak mendapat dukungan dan masukan penting dari Segovia untuk meningkatkan volume dan suara gitar klasik. Segovia pula yang mendorong terciptanya senar nilon oleh Du Pont Chemical dan Albert Augustine di tahun 1947. Kehadiran senar nilon merupakan terobosan penting bagi para gitaris klasik saat itu.
Berkat Segovia, seni bermain gitar tunggal kini mendapat tempat di panggung-panggung musik terhormat serta diajarkan di berbagai perguruan tinggi di dunia termasuk Indonesia.
Warna suaranya yang berat membuat Dreadnought amat populer digunakan para musisi dan penyanyi folk, country, serta blue-grass.
Penemuan listrik membawa revolusi pada dunia, termasuk instrumen gitar. Adalah Lyody Loar dari perusahaan pembuat gitar Gibson yang diketahui pertama kali bereksperimen dengan pick-up magnetik pada gitar. Kendati demikian, Adolph Rickenbaker serta dua rekannya Paul Bart dan George Beauchamp-lah yang sukses mewujudkan gitar elektrik pertama dan memproduksinya secara komersial di Awal tahun 1930-an. Langkah ini diikuti perusahaan-perusahaan pembuat gitar lainnya, termasuk Gibson yang akhirnya malah memimpin pasar gitar elektrik. Persaingan yang makin ketat melahirkan berbagai desain gitar yang makin beragam.
Lantaran munculnya gitar jenis-jenis baru tadi, muncullah istilah “gitar klasik”. Nama ini digunakan untuk membedakan gitar ala Torres dengan gitar
akustik bersenar logam ataupun dengan gitar elektrik. Terkadang juga disebut sebagai spanish guitar karena desain gitar klasik seperti yang kita kenal sekarang ini proses evolusinya lebih intens di Spanyol.
2.2 Sejarah Persebaran Dan Perkembangan Gitar Di Indonesia
yang mirip dengan gitar sudah dipergunakan pada masa ini. Hal ini terlihat pada pagelaran ensembel keroncong dan bahkan dalam kesenian tradisonal Cirebon.
Disisi lain kepopuleran gitar di Indonesia juga didukung oleh keberadaan berbagai alat musik lain yang memiliki kemiripan dengan gitar, yang telah lama ada sebelum gitar masuk ke Indonesia. Alat musik tersebut diantaranya adalah gitar tradisional berdawai tiga yang disebut sampek dari Kalimantan Timur. Dan berbagai model gitar tradisional berukuran kecil yang berdawai dua yaitu hasapi, kulcapi dan husapi dari Sumatera Utara.
Disamping itu gitar juga telah turut berjasa membangkitkan semangat rakyat dalam memperjuangkan cita-cita nasional bangsa Indonesia. Hal tersebut terjadi pada penyelenggaraan Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 dimana gitar digunakan sebagai instrumen pengiring dalam pengumandangan perdana lagu himne nasional Indonesia Raya.
Menjelang permulaan tahun 1980, Indonesia telah memiliki gitaris-gitaris profesional yang cukup diperhitungkan. Diantara mereka adalah Carl TangYong yang pernah belajar di Roma dan Rully Budiono seorang lulusan program diploma sebuah konservatori musik Wina, Austria. Produksi musikal mereka terdiri dari konser-konser di kota-kota besar dan rekaman-rekaman kaset. Produktivitas mereka, disamping telah membangkitkan semangat para amatir dan diletan juga telah menumbuhkan apresiasi yang baik dan kepercayaan dari para pecinta gitar atas kemampuan bermusik.
Sebagai salah satu reaksi dari perkembangan gitar di Indonesia di datangkanlah gitaris-gitaris profesional dunia seperti Julian Bizantine, David Russel dan John Mills dari kerajaan Inggris, Jean Piere Jumaez dari Perancis, Sigfried Behrend dari Jerman, untuk memberikan workshop-workshop bagi masyarakat pergitaran di Nusantara. Tanggapan mereka yang positif terhadap perkembangan gitar di Tanah Air telah menimbulkan pengaruh yang amat besar terhadap perkembangan dunia pergitaran di Indonesia. Tidak heran jika dalam waktu yang singkat gitaris-gitaris muda Indonesia mulai dikenal melalui prestasinya dalam kompetisi-kompetisi internasional di Kawasan Asia Tenggara
Guna meningkatkan kehidupan pergitaran di kawasan Asia Tenggara, beberapa sekolah musik di Indonesia dan beberapa negara tetangga yang tergabung dalam suatu sistem pendidikan musik Yamaha. Yamaha sepakat untuk menyelenggarakan suatu forum pertemuan antar gitaris se-Asia Tenggara. Sebagai tidak lanjutnya atas sponsor dari Yamaha Music Foundation, Tokyo pada tahun 1977 telah diselenggarakan The First South East Asian Guitar Festival (SEAGF 1977) yang merupakan kompetisi gitar pertama di kawasan Asia Tenggara. Kompetisi tersebut mengambil tempat di Hotel Hilton, Jakarta. Pesertanya terdiri dari masing-masing dua gitaris untuk wakil setiap negara yang terdiri dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Filipina dan Hongkong. Kompetisi tersebut dibagi kedalam dua kategori yaitu bagian klasik dan non klasik. Untuk bagian non klasik peserta membawakan karya-karya non klasik baik dengan media gitar klasik maupun jenis-jenis gitar akustik non elektrik lainnya.
Juara pertama untuk kompetisi itu jatuh pada peserta Indonesia. Juara untuk kategori gitar klasik adalah Linda Sukamta, gitaris putri dari Bandung, sedangkan untuk kategori non klasik dimenangkan oleh Michael Gan dari Jakarta.
2.3 Perkembangan Awal Pendidikan Gitar Klasik Di Indonesia
Untuk melihat perkembangan awal pendidikan gitar klasik di Indonesia, penulis membaca artikel dari Andre Indrawan, artikel ini menguraikan tentang bagaimana sejarah perjalanan awal pendidikan gitar di era tahun 1970-an, Di sekitar tahun 70-an minat terhadap gitar klasik di Indonesia sangat besar. Hal ini ditandai dengan melonjaknya jumlah peserta kursus gitar dan sekolah-sekolah musik swasta dalam waktu yang relatif singkat. Sekolah-sekolah ini mengakomodasi para peminat gitar yang pada saat itu mengundang perhatian dunia gitar internasional. Dalam hal ini dibuktikan dengan digelarnya konser-konser gitaris dunia di Indonesia dan datangnya bantuan pendidikan dan material dari negara-negara berkembang seperti Jepang dan Belanda. Perhatian inipun disambut oleh pemerintah Indonesia dengan dibukanya program-program pendidikan gitar secara resmi, mulai dari sekolah-sekolah dan institusi-institusi kejuruan musik hingga perguruan tinggi.
Pada masa tahun 1970-an ini merupakan titik tolak pengembangan pendidikan gitar klasik di Indonesia. Gejala ini ditandai dengan :
1. Meningkatnya pelayanan minat masyarakat dalam mempelajari gitar melalui lembaga-lembaga kursus musik swasta yang disponsori perusahaan-perusahaan Jepang.
Hingga pertengahan tahun 1970-an sudah terdapat benyak sekolah-sekolah musik swasta yang menyediakan kursus gitar. Baik di kota-kota besar maupun kecil di Indonesia. Berbagai macam teknik dan metode praktis ditawarkan dengan tujuan dasar yang sama yaitu memperkenalkan suatu cara bermain gitar yang lebih dari sekedar memainkan chord-chord pengiring nyanyian. Teknik bermain gitar klasik diperkenalkan melalui pendekatan-pendekatan yang mudah dan menyenangkan dengan melibatkan dasar-dasar umum permainan gitar. Gaya pengajaran kelas yang santai dan sistem ujian yang menarik dari metode-metode tersebut telah menghasilkan siswa-siswa baru yang dapat menguasai keterampilan dasar bermain gitar secara komprehensif dalam waktu yang relatif singkat. Tetapi kurikulum yang ditawarkan pada sisiwa pada waktu itu masih sangat terbatas hingga tingkat keterampilan menengah. Berbeda dengan kursus-kursus musik swasta lainnya. Seperti Yayasan Pendidikan Musik (YPM) di Manggarai Jakarta, pada saat itu diyakini sebagai sekolah musik termaju di Indonesia. Menerapkan suatu metode yang berbeda. Sekolah ini mengajarkan agar siswa dapat mengenal musik secara utuh melalui pengajaran teori-teori musik secara terpisah dari tutorial individual praktikum instrumen musik. Kelas gitar pada lembaga ini sudah lama ada sebelum tahun 70-an di bawah koordinasi gitaris Adis Sugata. Walaupun sistem pendidikan musiknya secara umum cukup baik namun dalam pengajaran praktek gitar mereka masih menggunakan metode lama seperti misalnya, metode Carcassi, dan metode Carulli.
trio tersebut adalah seorang pejabat dinas kebudayaan di Belanda pada masa itu. Disamping spesialisasinya sebagai komponis gitar, ia juga seorang pendidik gitar senior, profesor dan dekan di konservatorium Amsterdam, Belanda. Melalui beliaulah telah terjadi suatu jalinan kerjasama diantara pemerintah Belanda dan Indonesia untuk mengembangkan pendidikan gitar klasik di Tanah Air.
Dick Visser telah menyumbangkan suatu kontribusi yang besar terhadap perkembangan gitar klasik. Kontribusi terpentingnya adalah penemuan teknik baru yang merupakan sintesis dari berbagai teknik bermain gitar terdahulu terutama Tarrega dan Pujol yang dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan teknik Segovia pada paruh pertama abad ke-20. Penemuannya tersebut telah dituangkan ke dalam suatu paket terbitan yang lengkap dari seluruh teknik permainan gitar klasik dan sejumlah etude serta kumpulan 24 etude yang ditulis pada seluruh tanda kunci mayor dan minor. Ia bahkan telah menerapkan ide tekniknya ke dalam seluruh komposisi kontemporernya dan juga edisi dan transkripsi beberapa karya-karya standar secara konsisten.
gitar dan peminat-peminat lain dalam jumlah terbatas yang diterima melalui audisi dan rekomendasi sekolah musik. Pada waktu itu diantaranya ikut pada waktu pelatihan tersebut adalah Andre Indrawan, Iwan Irawan, Royke B. Koapaha dan Ferry Tambunan dari Bandung.
Disamping mempelajari dan mempraktekkan teknik Dick Visser yang lebih mengutamakan perkembangan tangan kiri, peserta pelatihan menerima pelajaran-pelajaran teori penunjang lainnya. Pelajaran-pelajaran tersebut diantaranya ilmu sejarah musik, kontrapung, dan harmoni yang diarahkan kepada komposisi dan aransemen untuk gitar. Pelajaran pelengkap lain adalah kelas musik kamar yang menitik beratkan pada ensembel-ensembel kecil seperti duet, trio dan kwartet gitar.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan bantuan Belanda yang diselenggarakan oleh pemerintah pada awal tahun 1980, departemen gitar YPM membuka program persiapan konservatori yang diikuti sepuluh siswa dari Bandung dan Jakarta. Satu semester sebelumnya, pada tahun 1979 Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta yang berada dibawah pengelolaan pemerintah, telah lebih dahulu membuka departemen gitar untuk program yang lebih tinggi dari diploma yaitu gelar seniman setingkat sarjana. Secara operasional pengajaran praktek gitar dan subjek-subjek terkait pada kedua program tindak lanjut yang di kelola oleh swasta (YPM) dan pemerintah (AMI) tersebut dilaksanakan oleh Yos Bredie karena saat itu belum ada dosen gitar yang dianggap memenuhi persyaratan akademis.
di sekolah tinggi. Jenjang pendidikan gitar di lembaga ini dikelompokkan kedalam dua tingkat yaitu Tahap Studi Dasar dan Tahap Studi Akhir. Di bawah asuhan Reiner Wildt, seorang dosen warga negara Indonesia berdarah Jerman. Teknik yang diterapkan pada para mahasiswa gitar pada dasarnya mengacu secara fanatik kepada teknik Segovia dengan perhatian utama pada pengembangan teknik tangan kanan. Suatu kelebihan yang ada pada sistem pendidikan gitar di lembaga ini ialah perluasan repertoar yang tidak hanya meliputi karya-karya solo dan ensembel gitar tapi juga musik kamar yang melibatkan alat-alat musik lain sebagai kombinasi gitar dengan kwartet gesek atau alat-alat musik orkestra lainnya.
bermain gitar baik secara teori maupun teknik praktis dalam penerapannya, serta memiliki kemampuan dalam mengembangkan kreatifitas pada gitar tunggal. Adapun rujukan yang merupakan representasi sebagai studi banding dalam penelitian ini diambil dari metode pembelajaran gitar tunggal : Lembaga Pendidikan Musik Al Farabi, Classic Guitar Performance Examination Yamaha, metode gitar Mauro Giuliani, metode gitar Matteo Carcassi, metode gitar Pujol, pelajaran dasar gitar tunggal Kaye Solapung, pelajaran dasar lembaga musik Cantata, metode dasar gitar klasik Iqbal Thahir, metode praktis belajar gitar Bambang Wiryawan, yayasan pusat pendidikan musik Iwan Irawan, Universitas HKBP Nommensen Medan, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, metode kelas gitar ISI Yogyakarta.
2.4.1 Posisi Dan Sikap Bermain Gitar Tunggal
2.4.1.1Posisi Dan Sikap Anatomi Tubuh Yang Ideal Dan Efektif Dalam Bermain Gitar Tunggal
Posisi dan sikap anatomi tubuh yang ideal dan efektif dalam bermain gitar tunggal adalah seperti berikut :
1. Duduk dalam keadaan rileks. Apabila duduk dalam keadaan tegang dan kaku akan menghambat permainan gitar sebab tubuh tidak dapat bergerak leluasa dalam arti yang wajar.
3. Gerakan tangan kanan dan kiri harus bebas, kebebasan tangan ditentukan oleh kestabilan posisi gitar. Perlu diperhatikan gerakan tangan harus wajar.
4. Gunakan kursi tanpa sandaran lengan. Tinggi kursi disesuaikan dengan tinggi lutut sehingga diantara paha dan kaki bagian bawah membentuk sudut suku siku-siku, sementara itu telapak kaki menyentuh lantai secara menyeluruh. 5. Pijakan kaki (foot stool) diletakkan di depan kursi tepat pada kaki kiri.
Perhatikan bahwa pijakan kaki harus stabil, bila tidak dapat mengakibatkan ketegangan pada kaki.
6. Posisi duduk harus tegak ke depan. Kaki diatur sedemikian rupa hingga stabil. Telapak kaki kiri memijak seluruh permukaan foot stool, posisi kaki kiri lurus kedepan dan pahanya sedikit naik ke atas.