Analisa Hukum Terhadap Kekuatan Eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia)

95 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh:

Ahmad Wahyudi

109048000083

KONSENTRASI HUKUM BISNIS

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

iii Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakam hasil jiplakan dan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulfah Jakarta.

Jakarta, 24 April 2014

(5)

iv

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia) Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Bisnis, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1435 H/2014 M, 75 halaman + lampiran. Penelitian ini menganalisa kekuatan eksekutorial yang melekat pada Sertipikat Jaminan Fidusia sebagaimana tertuang dalam pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk khazanah keilmuan dalam bidang hukum fidusia dan tambahan referensi untuk peneliti yang akan datang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) atau studi dokumen yang bersifat yuridis normatif. Sertipikat Jaminan Fidusia memiliki kekuatan eksekutorial tanpa melalui proses peradilan, sehingga jika seorang debitor melakukan wanprestasi kreditor bisa melakukan eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia tanpa melalui proses peradilan. Namun dalam prakteknya sering terjadi adanya keberatan dari pihak debitor maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan dengan adanya eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia, selain itu objek benda yang akan dieksekusi terkadang sudah disita terlebih dahulu oleh orang lain tanpa sepengetahuan pihak kreditor. Jika adanya keberatan terhadap eksekusi benda objek jaminan fidusia atau objek jaminan fidusia sudah terlebih dahulu disita oleh orang lain atau sengaja dipindah tangankan oleh debitor kepada pihak ketiga maka secara otomatis akan melahirkan sengketa (dsipute) sehingga adanya proses peradilan dalam eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia sangat memungkinkan. Jika salah satu pihak ada yang keberatan terhadap eksekusi yang akan dilakukan, langkah hukum yang perlu dilakukan adalah mengajukan keberatan ke pengadilan. Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan “Pengadilan dilarang menolak memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksadan mengadilinya.”

Kata kunci : Fidusia, Kekuatan Eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia. Pembimbing : Nahrowi, SH. MH. dan Andi Syafrani, SHI. MCCL.

(6)

v

 





Segala puji bagi Allah dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIFIKAT JAMINAN

FIDUSIA (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang

Jaminan Fidusia. Sholawat dan salam tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita kepada jalan yang lurus dan diridhai oleh Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa terdapat masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Namun demikian penulis tetap berusaha menyelesaikannya dengan kesungguhan dan kerja keras. Selanjutnya, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Nahrowi, SH. MH selaku pembimbing I dan Bapak Andi Syafrani, SH.I MCCL selaku pembimbing II yang telah dengan sabar, tekun, tulus dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga kepada penulis selama menyusun skripsi.

Selanjutnya ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

(7)

vi

memberikan bimbingan dan masukannya selama beberapa tahun kepada penulis. Semoga apa yang telah bapak arahkan kepada penulis dapat bermanfaat dan dibalas oleh Allah SWT.

6. Segenap Dosen beserta Staf Karyawan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah baik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis, serta memberikan pehatian dan kasih sayang kepada penulis sehingga meninggalkan kesan bahagia selama masa studi di lingkungan universitas.

7. Terima kasih sebesar-besaraya kepada ayahanda H.Okar dan Ibunda Hj.Rosdiana yang telah memberikan doa untuk penulis menyelesaikan skripsi ini, nafkah dan kasih sayang selama ini, serta pengorbanan kepentingannya untuk mendahulukan studi penulis.

8. Terima kasih sebesar-besarnya kepada saudara-saudara kandung sekaligus teman-teman penulis, Asep saepudin, Ade Mulyana, Susilawati, Rian Ahmad Faisal, S.H., Aris Munandar, Abdul latip Komarudin, S.E., Ahmad Taufik dan Arland Ahmad Septian yang telah memberikan dorongan berbentuk motifasi dan inspirasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

9. Kawan-kawan angkatan 2009 Aden Daenuri, Muhamad andriansyah, Prayoza saputra, Rivianta Putra, Fikri abdullah, Muhamad Andi Firdaus, Madama Taufiq dan lain lain yang telah saling bantu-membantu selama proses perkuliahan sehingga tugas-tugas dan penulisan skripsi ini dapat selesai sebagaimana mustinya.

(8)

vii

baik dengan penulis, semoga teman-teman semua sukses dan sejahtera di masa yang akan datang.

12. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah memberikan berkah dan karunia-Nya serta membalas semua kebaikan.

Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan segenap civitas akademika dan masyarakat pada umumnya.

Jakarta, 24 April 2014

(9)

viii C. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah... D. Tujuan dan Manfaat Penelitian... E. Review Kajian Terdahulu... F. Metodologi Penelitian... G. Sistematika Pembahasan...

BAB II TINJAUAN YURIDIS TENTANG HUKUM JAMINAN

(10)

ix

A. Tujuan Penyitaan... B. Syarat dan Alasan Penyitaan... C. Macam-macam penyitaan (Beslag)...

BAB IV ANALISIS HUKUM KEKUATAN EKSEKUTORIAL

SERTIPIKAT JAMINAN FIDUSIA

A. Sertipikat Jaminan Fidusia Menurut UU Jaminan Fidusia... B. Eksekusi Jaminan Fidusia... C. Kemungkinan Adanya Proses Peradilan dalam Eksekusi... D. Dasar Hukum Adanya Proses Peradilan...

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan... B. Saran...

36 41

54 58 60 65

70 71

Daftar Pustaka...

LAMPIRAN

(11)

1

A. Latar Belakang Masalah

Dalam Penjelasan UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia disebutkan, bahwa dalam rangka meneruskan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan, para pelaku pembangunan baik pemerintah maupun swasta, baik perorangan maupun badan hukum, memerlukan dana yang sangat besar. Sebagian besar dana yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperoleh melalui kegiatan pinjam meminjam dari lembaga keuangan, terutama bank.

Tingginya kebutuhan perusahaa-perusahaan dalam rangka mendapatkan modal segar untuk membiayai kegiatan usahanya mengakibatkan lahirnya persaingan usaha antar bank semakin tajam. Hal ini mendorong munculnya berbagai jenis produk, terutama penawaran kredit terhadap perusahaan-perusahaan non jasa keuangan semakin banyak dan dipermudah.1 Namun sebelum bank memberikan kredit, bank harus menilai dengan seksama watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha debitor. Faktor-faktor tersebut memegang peranan penting dalam menentukan pemberian kredit, disamping ketentuan tersebut, di dalam bank berlaku

1Chaerudin Syah Nasution, “Manajemen Kredit SyariahBank Muamalat’

(12)

asas commaneteringverbod yaitu adanya plarangan bagi bank untuk tidak menanggung resiko debitor.2

Setiap kegiatan usaha yang memerlukan fasilitas kredit, disyaratkan harus ada jaminan dalam pelaksanaannya. Kredit akan diberikan kepada nasabah apabila terdapat jaminan kredit terlebih dahulu. Hal ini dilakukan karena pemberian kredit mengandung resiko sehingga dalam pelaksanannya harus berdasarkan pemberian kredit yang sehat.

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka kemudian lahirlah sejumlah peraturan yang mengatur tentang jaminan dalam kredit, yang kemudian disebut

dengan “Hukum Jaminan” yang merupakan salah satu bagian dari hukum ekonomi

(the economic law).3 Hukum jaminan mempunyai fungsi sebagai penunjang kegiatan perekonomian dan kegiatan pembangunan pada umumnya.4

Bagi pihak debitor, bentuk jaminan yang baik adalah jaminan yang tidak akan mengganggu kegiatan usahanya. Sedangkan bagi kreditor, jaminan yang baik adalah jaminan yang dapat memberikan rasa aman dan kepastian hukum, bahwa kredit yang

2

Sri Soedewi M Sofwan,Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya

Fidusaia di Dalam Praktek dan Pelaksanannya di Indonesia, (Jogjakarta : FH UGM, 1980), h. 11.

3

Sri Soedewi Maschoen Sofwan,Hukum Jaminan di Indonesia, Pokok-Pokok Hukum

Jaminan dan Jaminan Perorangan(Yogyakarta : Liberti, 1980), h. 33.

4

(13)

diberikan dapat diperoleh kembali tepat pada waktunya sesuai dengan yang diperjanjikan.

Salah satu bentuk jaminan yang sudah lama diakui adalah fidusia, yang telah dilembagakan dan diatur secara lengkap dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Fidusia merupakan salah satu sarana untuk membantu kegiatan usaha dan untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan. Jaminan Fidusia memberikan kemudahan bagi para pihak yang menggunakannya, khususnya bagi debitor (Pemberi Fidusia). Namun sebaliknya karena Jaminan Fidusia tidak didaftarkan, kurang menjamin pihak kreditor (Penerima Fidusia). Pemberi Fidusia mungkin saja menjaminkan benda yang telah dibebani dengan fidusia kepada pihak lain tanpa sepengetahuan Penerima Fidusia.

(14)

dibayar lunas oleh debitor, hak milik barang berpindah untuk sementara waktu kepada kreditor.5

Fidusia merupakan suatu jenis jaminan yang timbul dari suatu perjanjian, dalam hal ini adalah perjanjian utang-piutang yang dilakukan antara kreditor dengan debitor. Setelah ada perjanjian utang-piutang antara kreditor dengan debitor maka selanjutnya harus dibuat perjanjian fidusia yang dibuat dalam bentuk tertulis dan dituangkan dalam akta notaris, hal ini dilakukan untuk melindungi dan memudahkan kreditor dalam pembuktian bahwa telah ada suatu penyerahan hak kepemilikan terhadap kreditor. Perjanjian ini kemudian sering disebut dengan “akta jaminan fidusia”.Hal ini sesuai dengan pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang berbunyi :

“Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris

dalam Bahasa Indonesia dan merupakan Akta Jaminan Fidusia”.

Perjanjian fidusia bersifat accesoir (ikutan) karena perjanjian fidusia merupakan pelengkap dari perjanjian utang-piutang (perjanjian kredit).6 Suatu perjanjian akan terlaksana dengan baik apabila para pihak telah memenuhi prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada pihak yang

5

Gatot Suparmono,Perbankan dan Masalah Kredit : Suatu Tinjauan,(Jakarta: Jambatan, 1995), h. 74.

6

Meriam Darus Badrul zaman, Bab-Bab Tentang Creditverband, Gadai dan Fidusia

(15)

dirugikan. Namun adakalanya salah satu pihak melakukan wanprestasi (cederajanji) sehingga sebuah perjanjian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Wanprestasi itu sendiri adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaiannya, debitor tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian dan bukan dalam keadaan memaksa(force majeure).7

Dalam kenyatannya, sering kali debitor cederajanji terhadap perjanjian kredit yang telah disepakatinya sehingga hal ini menimbulkan suatu permasalahan yang butuh penyelesaian secara tepat. Selain itu, dengan adanya cederajanji yang dilakukan oleh debitor tentunya menimbulkan kerugian yang dialami oleh kreditor. Untuk melindungi hak hukum kreditor jika seorang debitor wanprestasi dalam pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-undang N0. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia menyebutkan :

Ayat 2 :“Sertipikat Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan

yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.

Ayat 3 : “Apabila debitor cidera janji, Penerima Fidusia mempunyai hak

menjual benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaannya

sendiri”.

7

(16)

Selanjutnya dalam Penjelasan Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia disebutkan bahwa “ yang dimaksud dengan "kekuatan eksekutorial" adalah langsung dapat dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut”

Dari penjelasan di atas maka kita dapat memahami bahwa Sertipikat Jaminan Fidusia memiliki kekuatan eksekutorial tanpa melalui proses peradilan. Namun dalam prakteknya sering terjadi adanya keberatan dari pihak debitor maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan dengan adanya sita jaminan yang dilakukan terhadap asset yang menjadi objek jaminan fidusia. Sehingga jika adanya keberatan terhadap eksekusi maka menurut penulis, hal ini memungkinkan adanya proses peradilan dalam melakukan eksekusi terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memberi judul skripsi ini dengan judul : ANALISA HUKUM TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL SERTIPIKAT JAMINAN FIDUSIA (Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia)

B. Identifikasi Masalah

(17)

yang merasa dirugikan dengan adanya eksekusi yang dilakukan terhadap asset yang menjadi objek jaminan fidusia. Sehingga jika adanya keberatan terhadap eksekusi benda objek jaminan fidusia maka menurut penulis, hal ini memungkinkan adanya proses peradilan dalam eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia.

Jika ada salah satu pihak yang keberatan terhadap eksekusi, maka secara otomatis akan melahirkan sengketa (dispute) sehingga proses peradilan sangat mungkin terjadi. Namun kemungkinan adanya proses peradilan terhadap eksekusi benda objek jaminan fidusia ini memerlukan dasar hukum dan alasan-alasan yang jelas. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap masalah ini.

C. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah

Agar skripsi ini terfokus dan pembahasannya tidak melebar, penulis membatasi dan merumuskan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini sebagai berikut:

1. Pembatasan Masalah

(18)

boleh menyita asset yang menjadi objek jaminan fidusia tanpa melalui proses peradilan jika debitor cederajanji.

Namun menurut penulis hal tersebut tidak berlaku mutlak karena dalam situasi tertentu memungkinkan adanya proses peradilan seperti keberatan dari pihat debitor (pemberi fidusia) maupun pihak ketiga yang merasa dirugikan akibat eksekusi asset objek jaminan fidusia.

2. Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini penulis hendak membahas persoalan terkait kekuatan eksekutorial sertipikat jaminan fidusia yang menurut pasal 15 ayat (2) dan (3) UU No. 42 Tentang Jaminan Fidusia tidak perlu lagi melalui proses peradilan dalam melakukan sita jaminan.

Dari persoalan di atas penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

a. Bagaimana kekuatan eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia menurut UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia?

(19)

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Mengetahui sejauh mana kekuatan eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia menurut UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

b. Tujuan Khusus

Mengetahui kekuatan eksekutorial yang melekat pada Sertipikat Jaminan Fidusia sebagaimana diatur dalam pasal 15 ayat (2) dan (3) UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

2. Manfaat Penelitian

a. Sebagai sumbangan untuk khazanah keilmuan dalam bidang hukum fidusia; b. Sebagai tambahan referensi untuk peneliti yang akan datang dalam bidang

hukum fidusia.

E. Review Kajian Terdahulu

Kajian hukum fidusia ini pernah dikaji dalam skripsi yang ditulis oleh

“Ichwan Kurnia” mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum. Skripsi ini diberi judul Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Fidusia Menurut Undang-Undang No. 42 Tahun

(20)

perjanjian kredit dengan jaminan secara fidusia menurut Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan hukum Islam. Walaupun skripsi ini bersifat komparasi hukum fidusia menurut hukum positif dan hukum Islam, tetapi skripsi ini sudah cukup baik dalam memaparkan dasar-dasar hukum fidusia secara umum. Sedangkan skripsi yang akan disusun oleh penulis tidak bersifat komparatif karena dalam skripsi ini penulis hanya akan membahas fidusia dalam perspektif hukum positif saja, selain itu topik pembahasan dalam skripsi ini lebih khusus mengenai pasal 15 ayat (2) dan (3) UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.

F. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian yuridis normatif. Karena dalam penelitian normatif menelaah asas-asas hukum, meneliti sistematika hukum, taraf sinkronisasi hukum, dan perbandingan hukum.

2. Teknik Pengumpulan Data

(21)

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berwujud dokumentasi naskah, baik itu buku-buku, peraturan perundang-undangan, dan bahasan-bahasan yang berkaitan dengan hukum fidusia. Berikut adalah sumber-sumber data yang akan dikumpulkan dan menjadi rujukan dalam penelitian ini:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh penulis langsung dari sumber utamanya, data primer yang dimaksud dalam skripsi ini antara lain sebagai berikut:

1) Undang-undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

2) Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia

3) Burgerlijk Wetboek(Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang berasal dari hasil penelitian orang lain yang penulis gunakan untuk tujuan berbeda. Data ini bersumber dari buku-buku, contoh-contoh sertipikat jaminan fidusia yang sering digunakan dll.

3. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan disini adalah analisis isi (content analysis),

(22)

mengumpulkan dan menganalisis muatan dari sebuah “teks”. Teks dapat berupa kata -kata, makna gambar, simbol, gagasan, tema dan bermacam bentuk pesan yang dapat dikomunikasikan. Analisis Isi berusaha memahami data bukan sebagai kumpulan peristiwa fisik, tetapi sebagai gejala simbolik untuk mengungkap makna yang terkandung dalam sebuah teks agar memperoleh pemahaman terhadap pesan yang direpresentasikan.8 Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan teks tersebut tidak lain adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jaminan fidusia yang masih berlaku di Indonesia.

4. Teknik Penulisan Skripsi

Penulisan skripsi ini berpedoman pada buku “Buku Pedoman Penulisan Skripsi” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2012.

G. Sistematika Pembahasan

Skripsi ini akan disusun menggunakan pembahasan secara sistematis yang akan dibagi menjadi 5 (lima) bab, adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut :

8

Agus s. Ekomadyo, Prospek Penerapan Metode Analisis Isi (Content Analysis) Dalam

Penelitian Media Arsitektur.Dimuat dalam Jurnal Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni, No.2 Vol.10.

(23)

Bab pertama berisi pendahuluan. Yang terdiri dari : Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Review Studi Terdahulu, Metodologi Penelitian dan Sitematika Penulisan Skripsi Ini.

Bab kedua, Tinjauan Umum Tentang Hukum Jaminan. Terdiri dari : Hak Tanggungan, Hipotik, Gadai, Fidusia.

Bab ketiga, Tinjauan Yuridis Tentang Penyitaan. Terdiri dari : Judicial Execution,nonJudicial Execution.

Bab keempat, Analisis Hukum Kekuatan Eksekutorial Sertipikat Jaminan Fidusia. Terdiri dari : Sertipikat Jaminan Fidusia Menurut UU Jaminan Fidusia, Eksekusi Jaminan Fidusia, Kemungkinan Adanya Proses Peradilan Dalam Eksekusi dan Dasar Hukum Adanya Proses Peradilan.

(24)

14

TINJAUAN YURIDIS TENTANG HUKUM JAMINAN

Hukum Jaminan merupakan suatu peraturan yang mengatur mengenai hubungan timbal balik antara seorang debitor selaku orang yang berhutang dengan seorang kreditor selaku orang yang mempunyai piutang. Hubungan kreditor dengan debitor melahirkan suatu perikatan yang menimbulkan hak dan kewajiban untuk masing-masing pihak. Hak seorang kreditor adalah menerima pembayaran untuk pelunasan utang sebagaimana tertuang dalam perjanjian baik tertulis maupun tidak tertulis. Sedangkan hak seorang debitor adalah menerima objek benda yang dijadikan pinjaman.

(25)

A. Hak Tanggungan

Berdasarkan UU No. 4 Tahun 1996 bahwa Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain

(preferen).

Hak Tanggungan adalah sebagai hak jaminan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996. Adanya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 diamanatkan dari Pasal 51 Undang-Undang Pokok Agraria yang menyediakan lembaga hak jaminan yang kuat yang dapat dibebankan pada hak atas tanah sebagai pengganti hipotek. Berdasarkan pasal 4 pada Undang-Undang Hak Tanggungan, objek hak tanggungan adalah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai.

B. Hipotek

Hipotek menurut Pasal 1162 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(26)

untuk mengambil penggantian bagi pelunasan suatu perikatan. Ada dua pihak yang berkaitan dalam perjanjian pembebanan hipotek, yaitu pemberi hipotek

(hypotheekgever)dan penerima hipotek. Pemberi hipotek adalah mereka yang sebagai jaminan memberikan suatu hak kebendaan (hipotek) atas bendanya yang tidak bergerak. Penerima hipotek disebut juga hypotheekbank, hypotheekhouder atau

hypotheeknemer. Hypotheekhouder atau Hypotheeknemer, yaitu pihak yang menerima hipotek, pihak yang meminjamkan uang di bawah ikatan hipotek biasanya adalah lembaga perbankan dan atau lembaga keuangan nonbank.1

Benda yang bisa dijadikan objek hipotek diatur dalam pasal 1164 KUH Perdata, yaitu : barang-barang tak bergerak yang dapat diperdagangkan beserta semua yang termasuk bagiannya, sejauh hal yang tersebut terakhir ini dianggap sebagai barang tak bergerak; hak pakai barang-barang itu dengan segala sesuatu yang termasuk bagiannya; hak numpang karang dan hak usaha; bunga tanah yang terutang baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk hasil tanah; hak sepersepuluh; bazar atau pekan raya yang diakui oleh pemerintah beserta hak istimewanya yang melekat.

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, maka hipotek atas tanah tidak berlaku lagi, tetapi yang digunakan dalam pembebanan hak atas tanah tersebut adalah hak tanggungan. Sedangkan benda tidak bergerak, seperti kapal laut tetap berlaku ketentuan-ketentuan tentang hipotek

1

(27)

sebagaimana diatur dalam Buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Ukuran minimal kapal lautnya 20 m3 (dua puluh meter kubik), sedangkan di bawah itu berlaku ketentuan yang termasuk benda-benda bergerak dengan jaminan fidusia.2

Di dalam Pasal 1209 KUH Perdata diatur tentang hapusnya hipotek. Hapusnya hipotek karena 3 hal, yaitu : Hapusnya perikatan pokoknya, pelepasan hipotek oleh kreditor dan Pengaturan urutan tingkat oleh pengadilan.

C. Gadai

Berdasarkan Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (burgerlijk wetboek)gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seseorang berutang atau seorang lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan.

Objek dari hak gadai adalah benda bergerak. Benda bergerak yang dimaksudkan meliputi benda bergerak yang berwujud(lichamelijke zaken)dan benda bergerak yang tidak berwujud (onlichamelijke zaken) yang merupakan hak untuk

2Ibid

(28)

mendapatkan pembayaran uang yang berwujud surat-surat berharga, hal ini diatur dalam pasal 1152 dan 1153 KUH Perdata(Burgerlijk Wetboek).

D. Fidusia

Istilah jaminan fidusia terdiri dari 2 kata, yaitu kata ‘jaminan” dan kata

“fidusia”. Kata jaminan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti tanggungan atas pinjaman yang diterima.3 Sedangkan dalam Kamus Manajemen disebutkan bahwa kata fidusia(fiduciare)mempunyai arti suatu hak tanggungan atas barang bergerak, di mana barang jaminan dikuasai oleh debitor tetapi kepemilikannya diserahkan kepada kreditor.4

Dalam kamus English-Indonesia, fidusia berasal dari kata fiduciary yang mempunyai tiga arti, yaitu : yang berkenaan dengan wali atau orang kepercayaan dalam hubungan perwalian, dikuasai atau dipegang oleh wali dan tergantung pada kesepakatan bersama. Dalam istilah hukum agraria, fidusia berarti hak jaminan yang berupa penyerahan hak atas benda berdsarkan kepercayaan yang disepakati sebagai jaminan bagi pelunasan piutang kreditor.5 Dalam hukum perdata, arti fidusia secara bahasa adalah kepercayaan sedangkan arti menurut istilah adalah barang yang oleh debitor dipercayakan kepada kreditor sebagai jaminan utang.6 Kata fidusia menurut

3

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi

Ketiga, Cet II, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), h. 456.

4

BN. Marbun,Kamus Manajemen, Cet I, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2003), h. 78.

5

CST Kansil dan Christian ST Kansil,Kamus Istilah Aneka Hukum, Cet I, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 2000), h. 65.

6 Ibid

(29)

kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai pendelegasian wewenang pengolahan uang dari pemilik kepada pihak yang didelegasi.

Dari berbagai macam definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa jaminan fidusia merupakan suatu bentuk jaminan terhadap perjanjian utang-piutang dimana barang yang menjadi objek jaminan tetap di bawah kekuasaan debitor, sedangkan kepemilikan sementara dialihkan kepada kreditor selama utang belum dapat dilunasi. Apabila debitor cederajanji, maka kreditor sebagai penerima fidusia tidak dapat memiliki benda yang menjadi objek jaminan tersebut, melainkan benda tersebut harus terlebih dahulu dijual/lelang untuk kemudian mengambil hak pelunasan piutangnya sesuai dengan hak preferen yang diberikan oleh undang-undang kepada kreditor.7

Dengan demikian dapat disimpulkan dalam perjanjian jaminan fidusia, konstruksi yang terjadi adalah pemberi fidusia bertindak sebagai pemilik manfaat sedangkan penerima fidusia bertindak sebagai pemilik yuridis.8 Dari berbagai pengertian di atas mengenai jaminan fidusia, maka jaminan fidusia memiliki unsur-unsur berikut :

a. Adanya hak jaminan;

b. Adanya objek, yaitu benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud maupun benda tidak bergerah yang tidak dibebani hak tanggungan;

7

Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, (bandung: Alimni, 2004), h. 18.

8

(30)

c. Benda yang menjadi objek jaminan tetap berada di bawah kekuasaan pemberi fidusia (debitor);

d. Memberikan kedudukan yang diutamakan terhadap kreditor lain (hak preferen).

Dari uraian di atas mengenai jaminan fidusia dan fidusia, jelas sekali bahwa fidusia dibedakan dari jaminan fidusia, dimana fidusia merupakan suatu proses pengalihan hak kepemilikan sedangkan jaminan fidusia adalah jaminan yang diberikan dalam bentuk fidusia.9

1. Latar Belakang Jaminan Fidusia

Fidusia merupakan lembaga jaminan yang sudah lama dikenal dalam masyarakat Romawi yang berakar dari hukum kebiasaan, kemudian lahir dalam yurisprudensi dan sekarang ini diformalkan dalam Undang-Undang. Fidusia adalah lembaga yang berasal dari sistem hukum perdata barat yang eksistensi dan perkembangannya selalu dikaitkan dengan sistem civil law.10

Menurut hukum Romawi dikenal 2 bentuk fidusia yaitu, fidusia Cum creditoredanfidusia cum amico. Kedua bentuk fidusia tersebut timbul dari perjanjian yang disebutpactum fiduciarykemudian diikuti dengan penyerahan hak atau in iurre cession. Dari katacum creditoredapat diduga bahwa penyerahan bukan dimaksudkan

9

Gunawan Widjaya & Ahmad Yani, Jaminan Fidusia,(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 39.

10

(31)

untuk sungguh-sungguh peralihan pemilikan, tetapi hanya sebagai jaminan saja. Dalamfidusia cum creditoreisi janji yang dibuat oleh debitor dan kreditornya adalah bahwa debitor akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda kepada kreditornya sebagai jaminan untuk utangnya dengan kesepakatan bahwa bilamana utangnya terbayar, benda terebut akan dikembalikan kepada debitor.11

Selain bentuk fidusia cum creditore dikenal juga bentuk fidusia cum amico, yang terjadi bilamana seseorang menyerahkan kewenangannya kepada pihak lain atau menyerahkan suatu barang kepada pihak lain untuk diurus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fidusiacum amicomerupakan hubungan yang tidak ditujukan untuk jaminan utang melainkan untuk urusan pengurusan harta.12

Ketika hukum Romawi diresepsi oleh hukum Belanda, lembaga fidusia tidak turut diambil alih, oleh karena itu tidak mengherankan bahwa fidusia sebagai lembaga jaminan tidak terdapat dalam Burgelijk Wetboek (BW). Dengan berkembangnya gadai dan hipotek, lembaga fidusia yang berasal dari Romawi ini tidak populer dan tidak digemari dan kemudian hilang dari lalu lintas perkreditan.13

Namun demikian setelah sekian lama praktek jaminan fidusia tidak lagi digunakan, pada abad ke-19 di Eropa terjadi kelesuan ekonomi akibat kemerosotan hasil panen, sehingga semua perusahaan-perusahaan pertanian membutuhkan modal, sementara lembaga hipotek tidak dapat diandalkan sebab para petani mempunyai luas

11Ibid

, h. 42.

12Ibid

, h. 45.

13Ibid

(32)

tanah yang sangat terbatas untuk dapat dijadikan jaminan hutang. Disisi lain agar petani dapat mengambil kreditnya pihak perbankan juga meminta jaminan lain dalam bentuk gadai, akan tetapi para petani tidak dapat menyerahkan barang-barangnya karena dibutuhkan untuk proses produksi pertanian, di sisi lain pihak bank juga tidak membutuhkan barang-barang tersebut untuk diserahkan kepada pihak bank sebagai jaminan hutang.14

Konsekuensi dari statisnya sektor hukum perkreditan dan lembaga jaminan tersebut melahirkan upaya-upaya untuk mencari jalan keluar dan terobosan secara yuridis, maka di Belanda mulailah dihidupkan kembali kosntruksi hukum pengalihan hak kepemilikan secara kepercayaan atas barang-barang bergerak sebagaimana telah dipraktekan oleh masyarakat Romawi yang dikenal dengan fiducia cum creditore.

Pengakuan terhadap eksistensi jaminan fidusia bermula dari adanya yurisprudensi melalui putusan pertamanya tentang fidusia dalam perkara yang dikenal dengan nama Bier Brouwrij Arrest tanggal 25 Januari 1929 yang menyatakan bahwa jaminan fidusia tidak dimaksudkan untuk menyelundupkan/menggagalkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh undang-undang dengan secara tidak pantas. Sistem hukum Indonesia mempunyai hubungan yang erat dengan hukum Belanda karena adanya pertautan sejarah yang didasarkan kepada asas konkordasi(concordantie beginsel).15

14

Munir Fuady,Jaminan Fidusia, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2000), h. 11.

15

(33)

Seperti halnya di Belanda, keberadaan fidusia di Indonesia juga diakui oleh yurisprudensi berdasarkan keputusan Hooggerrecht (HGH) tanggal 18 Agustus 1932 dalam kasus sebagai berikut :

”Pedro Clignent meminjam uang dari Bataafsche Petroeum Maatschapji (BPM) dengan jaminan hak milik atas sebuah mobil berdasarkan kepercayaan. Clignent tetap menguasai mobil itu atas dasar perjanjian pinjam pakai yang akan berakhir jika Clignent lalai membayar utangnya dan mobil tersebut akan diambil BPM. Ketika Clignent benar-benar tidak melunasi utang-utangnya pada waktu yang ditentukan, BPM menuntut penyerahan mobil dari Clignent,namun ditolaknya dengan alasan perjanjian yang dibuat tidak sah. Menurut Clignent perjanjian yang ada adalah gadai, tetapi karena barang gadai dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitor maka gadai tersebut menjadi tidak sah sesuai dengan Pasal 1152 ayat (2) BW. Dalam putusannya HGH menolak alasan Clignent bukanlah gadai, melainkan penyerahan hak milik secara kepercayaan atau fidusia yang telah diakui oleh Hoggeraad dalam Bier Brouwrij Arrest, Clignent diwajibkan untuk menyerahkan jaminan itu kepada BPM”.16

Dalam perjalanannya fidusia telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Perkembangan itu misalnya menyangkut kedudukan para pihak. Pada zaman Romawi dulu, kedudukan penerima fidusia adalah sebagai pemilik atas barang yang difidusiakan, akan tetapi sudah diterima bahwa penerima fidusia hanya sebagai pemegang jaminan saja.

Tidak hanya sampai di sana, perkembangan selanjutnya juga menyangkut kedudukan debitor, hubungannya dengan pihak ketiga dan mengenai objek jaminan fidusia. Mengenai objek jaminan fidusia ini, Hoogeraad Belanda maupun Mahkamah

16

(34)

Agung Indonesia secara konsekuen berpendapat bahwa fidusia hanya dapat dilakukan terhadap barang-barang bergerak saja. Namun pada praktek kemudian orang juga melakukan fidusia terhadap barang tidak bergerak, apalagi sejak diberlakukannya Undang-Undang Pokok Agraria (UU No 5 Tahun 1960) perbedaan antara bergerak dengan tidak bergerak menjadi kabur karena undang-undang tersebut menggunakan pembedaan berdasarkan tanah dan bukan tanah.

Dengan lahirnya Undang-Undang Jaminan Fidusia maka objek jaminan fidusia meliputi benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan dan hak-hak atas tanah yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hak Tanggungan.17

2. Objek dan Subjek Jaminan Fidusia

Objek yang menjadi jaminan fidusia biasanya adalah barang bergerak. Namun dalam perkembangannya barang tidak bergerak juga dapat diikat dengan fidusia. Pendapat MA pada mulanya membatasi fidusia hanya terbatas pada barang-barang bergerak saja, hal ini tampak pada putusan No. 372K/Sip/1970. Namun kemudian dalam UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun mengakui fidusia terhadap tanah hak pakai atas tanah negara (pasal 12 ayat (1) huruf a).18

17

Ibid, h. 18.

18

(35)

Selain diakui keberadaannya oleh undang-undang, ternyata objek fidusia telah diperluas bukan hanya barang-barang bergerak, tetapi undang-undang menetapkan objeknya dapat pula barang-barang tidak bergerak yaitu tanah hak pakai atas negara beserta bangunan di atasnya. Selanjutnya objek fidusia terus mengalami perkembangan dalam praktek sampai kepada tanah yang belum didaftarkan/belum bersertipikat. Dalam praktek juga dapat ditemui dimana bank-bank menerima tanah yang belum bersertipikat sebagai jaminan fidusia terutama untuk kredit yang jumlahnya kecil.19

Dengan berlakunya undang-undang Jaminan Fidusia, maka objek jaminan fidusia diberikan pengertian yang luas: berdasarkan Pasal 1 butir 2 Undang-undang Jaminan Fidusia, Objek jaminan Fidusia dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

1. Benda bergerak; baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud; Semua benda bergerak yang dapat dijadikan jaminan. Kenderaan bermotor, barang-barang persediaan, hasil tanaman dan lainnya. Sedangkan barang-barang bergerak tidak berwujud contohnya adalah piutang/tagihan, hak merek, paten dll.

2. Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan. Bangunan yang tidak dibebani tanggungan disini maksudnya adalah bangunan yang berdiri di atas tanah yang bukan tanah hak milik, hak guna bangunan, atau hak pakai atas tanah negara. Sebagai contohnya yaitu

19Ibid

(36)

bangunan seperti gedung yang berdiri di atas tanah milik orang lain, dimana gedung tersebut dijaminkan, akan tetapi tanahnya tidak, karena gadai, hipotek dan hak tanggungan tidak bisa menampung kebutuhan jaminan untuk itu, maka fidusia bisa menjadi jalan keluarnya.

Dalam pasal 1 ayat (2) UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia disebutkan, bahwa objek fidusia adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dialihkan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang bergerak maupun tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan dan hak hipotek.

Sedangkan yang dimaksud dengan subjek fidusia adalah pemberi dan penerima fidusia. Pemberi fidusia bisa perorangan atau bedan hukum/korporasi yang menjadi pemilik benda yang dijadikan objek jaminan fidusia. Begitupun dengan penerima fidusia bisa orang perorangan atau badan hukum/korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.20

3. Asas-asas Jaminan Fidusia

Jaminan Fidusia sesuai Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan

20

(37)

tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya.

Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia, pembentuk Undang-Undang tidak mencantumkan secara tegas asas-asas hukum jaminan fidusia yang menjadi fundamen dari pembentukan norma hukumnya. Oleh karena itu untuk menemukan asas-asas hukum jaminan fidusia dicari dengan jalan menelaah pasal demi pasal dari Undang-Undang Jaminan Fidusia tersebut.21 Adapun asas pokok dalam Jaminan Fidusia, yaitu:

1. Asas Spesialitas atas Fixed Loan

Asas ini ditegaskan dalam Pasal 1 dan 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia. Objek jaminan fidusia merupakan agunan atau jaminan atas pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditor lainnya. Oleh karena itu, objek jaminan fidusia harus jelas dan tertentu pada satu segi, dan pada segi lain harus pasti jumlah utang debitor atau paling tidak dipastikan atau diperhitungkan jumlahnya.

2. Asas asscesoir

Menurut Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Fidusia, jaminan fidusia adalah perjanjian ikutan dari perjanjian pokok (principal agreement). Perjanjian pokoknya adalah perjanjian utang. Dengan demikian keabsahan perjanjian jaminan fidusia

21

(38)

tergantung pada perjanjian pokok, dan penghapusan benda objek jaminan fidusia tergantung pada penghapusan perjanjian pokok.

3. Asas Droit de Suite

Menurut Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan Jaminan Fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam tangan siapapun berada, kecuali keberadaannya pada tangan pihak ketiga berdasarkan pengalihan hak atas piutang atau cessieberdasarkan Pasal 613 KUH Perdata. Dengan demikian, hak atas jaminan fidusia merupakan hak kebendaan mutlak atau in rem

bukan hakin personam.

4. Asas Preferen(Droit de Preference)

Pengertian Asas Preferen atau hak didahulukan ditegaskan dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Jaminan Fidusia yaitu memberi hak didahulukan atau diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditor lain untuk mengambil pemenuhan pembayaran pelunasan utang atas penjualan benda objek fidusia. Kualitas hak didahulukan penerima fidusia tidak hapus meskipun debitor pailit atau dilikuidasi sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia.22

22Ibid

(39)

4. Pengalihan dan Hapusnya Jaminan Fidusia

Pengalihan Jaminan Fidusia diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang menetapkan bahwa pengalihan hak atas piutang yang dijamin dengan Jaminan Fidusia mengakibatkan beralihnya demi hukum segala hak dan kewajiban penerima fidusia kepada kreditor baru. Peralihan itu didaftarkan oleh kreditor baru kepada Kantor Pendaftaran Fidusia.23

Dalam ilmu hukum, ”Pengalihan hak atas piutang” seperti yang diatur dalam

Pasal 19 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersebut dikenal dengan istilah ”cessie” yaitu pengalihan piutang yang dilakukan dengan akta otentik atau akta di bawah tangan. Dengan adanya cessie terhadap perjanjian dasar yang menerbitkan utang-piutang tersebut, maka Jaminan Fidusia sebagai perjanjian assesoir demi hukum juga beralih kepada penerima hak cessie dalam pengalihan perjanjian dasar. Ini berarti pula segala hak dan kewajiban kreditor (sebagai penerima fidusia) lama beralih kepada kreditor (sebagai penerima fidusia) baru.24 Sedangkan hapusnya jaminan fidusia diatur dalam pasal 25 ayat (1) UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Basarkan pasal tersebut maka jaminan fidusia hapus dengan sendirinya apabila :

1. Hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia;

2. Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia; atau 3. Musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia.

23

Gunawan Widjaya & Ahmad Yani,Jaminan Fidusia,h. 148.

24Ibid,

(40)

Hapusnya jaminan fidusia karena lunasnya hutang yang dijamin dengan jaminan fidusia adalah konsekuensi logis dari karakter perjanjian assessoir. Jadi jika perjanjian hutang piutangnya tersebut hapus karena sebab apapun maka jaminan fidusia tersebut menjadi hapus pula. Sementara itu hapusnya jaminan fidusia karena pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh penerima jaminan fidusia adalah wajar karena sebagai pihak yang mempunyai hak ia bebas untuk mempertahankan atau melepaskan haknya tersebut. Hapusnya jaminan fidusia karena musnahnya barang jaminan fidusia tersebut dapat dibenarkan karena tidak ada manfaat lagi fidusia itu dipertahankan, jika barang objek jaminan fidusia tersebut sudah tidak ada, akan tetapi jika ada asuransi maka hal tersebut menjadi hak dari penerima fidusia dan pemberi fidusia tersebut harus membuktikan bahwa musnahnya barang yang menjadi objek jaminan fidusia tersebut adalah diluar dari kesalahannya.

(41)

Bentuk Jaminan Objek Jaminan Keterangan Hak Tanggungan Tanah yang berstatus hak milik, hak guna

usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai.

hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain (preferen).

Hipotek barang-barang tak bergerak yang dapat diperdagangkan beserta semua yang termasuk bagiannya, sejauh hal yang tersebut terakhir ini dianggap sebagai barang tak bergerak; hak pakai barang-barang itu dengan segala sesuatu yang termasuk bagiannya; hak numpang karang dan hak usaha; bunga tanah yang terutang baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk hasil tanah; hak sepersepuluh; bazar atau pecan raya yang diakui oleh pemerintah beserta hak istimewanya yang melekat

suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan bagi suatu perikatan

Gadai Benda bergerak baik berwujud maupun tidak berwujud

suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak,

yang diserahkan kepadanya oleh seseorang berutang atau seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya.

Fidusia Benda bergerak; baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.

(42)

32

TINJAUAN UMUM TENTANG PENYITAAN

Dalam hukum jaminan tindakan penyitaan merupakan suatu hal yang sangat umum dilakukan. Tindakan penyitaan biasanya dilakukan ketika seorang debitor tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran hutang sebagaimana telah disepakati dalam perjanjiannya dengan kreditor, mengenai perjanjian diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek)

pasal 1338 menyatakan : “semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai

undang-undang bagimereka yang membuatnya”.

Dalam jaminan fidusia, tindakan penyitaan merupakan suatu hal yang biasa dilakukan karena seorang pemberi fidusia tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk melakukan pembayaran hutang. Proses penyitaan dalam hukum jaminan fidusia diatur dalam pasal 29 UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

A. Tujuan Penyitaan

(43)

Tujuan utama dari penyitaan adalah agar tergugat tidak memindahkan atau membebankan harta kekayaan kepada pihak ke tiga. Inilah yang menjadi salah satu tujuan sita jaminan yaitu untuk menjaga keutuhan keberadaan harta atau harta kekayaan tergugat selama proses pemeriksaan perkara berlangsung sampai perkara memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap.1

Berdasarkan uraian tersebut di atas, sita jaminan merupakan upaya agar tercipta keutuhan dan keberadaan harta yang disita sampai keputusan dapat di eksekusi, hal ini menjaga agar gugatan pada saat proses eksekusi tiba tidak hampa (Pasal 213 Rbg). Sedangkan perbuatan seorang tergugat yang memindah tangankan benda yang menjadi objek sitaan diatur dalam Pasal 215 Rbg yaitu :

“Demi hukum melarang tergugat untuk menjual, memindahkan barang sitaan

kepada siapa pun”.

Pelanggaran atas itu menimbulkan dua akibat hukum, yaitu :

1. Akibat hukum dari segi perdata

Apabila barang menjadi objek sengketa dilakukan tindakan jual beli atau penindasan hak atau barang tersebut maka tindakan atau perbuatan tersebut batal demi hukum. Akibat dari batalnya demi perbuatan tindakan tersebut, secara hukum, status barang tersebut kembali menjadi dalam keadaan semula sebagai barang sitaan,

1

(44)

sehingga tindakan atau perbuatan pemindahan hak atas barang dianggap tidak pernah terjadi (never existed). Ini diatur dalam Pasal 215 Rbg.

2. Akibat hukum dari segi pidana

Dalam hukum pidana, apabila pihak tergugat / yang kena sita melakukan penjualan atau pemindahan hak dan barang-barang menjadi sengketa, diancam sesuai Pasal 231 KUHP, tindakan pidana yang diancam dengan Pasal 231 KUHP ini adalah berupa tindak kejahatan yang dengan sengaja melepas barang yang telah dijatuhi sita menurut peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindak kejahatan ini diancam dengan pidana penjara maksimal 4 tahun.

Dengan mengaitkan tujuan penyitaan dengan ketentuan Pasal 215 Rbg dan Pasal 231 KUH Perdata, tujuan penyitaan adalah jaminan perlindungan yang kuat bagi penggugat atas terpenuhinya pelaksanaan putusan pengadilan pada saat eksekusi dijalankan.2 Namun selain itu ada tujuan lain yang tidak kalah penting dalam penyitaan, yaitu untuk memastikan objek eksekusi atas kemenangan penggugat, atau disimpulkan objek eksekusi sudah pasti. Hal ini menjaga agar kemenangan penggugat tidak ilusioner (hampa) sehingga kemenangan penggugat ada suatu materinya. Barang yang menjadi objek sitaan dapat langsung menjadi objek eksekusi. Ini dapat kita lihat pada Pasal 214 Rbg yang menegaskan bahwa

2

(45)

setiap barang yang disita dilarang diperjual belikan atau dipindahkan tergugat kepada pihak ketiga atau pihak lain.

Dalam hal ini perbuatan jual beli merupakan salah satu perbuatan yang dilarang dalam Pasal 214 Rbg, dimana jual beli akan batal demi hukum apabila terlebih dahulu telah didaftarkan dan diumumkan. Dalam kasus seperti itu, sita masih tetap menjangkau pihak ketiga atau pihak lain yang ingin memiliki harta sitaan tersebut, sehingga eksekusi dapat dilaksanakan dan tanpa halangan.3Kepastian objek eksekusi atas barang sitaan semakin sempurna sesuai dengan penegasan MA yang menyatakan, bila putusan telah berkekuatan hukum tetap maka barang yang disita demi hukum langsung menjadi sita eksekusi. Penegasan MA memberi kepastian atas objek eksekusi yang apabila telah berketentuan hukum tetap kemenangan atas penggugat dapat langsung dijamin dengan pasti terhadap adanya barang sitaan tersebut. Apabila kita lihat penjelasan di atas, kita bisa memahami tentang tujuan pokok dari penyitaan yaitu : Pertama, untuk melindungi kepentingan penggugat dari itikad buruk tergugat sehingga gugatan menjadi tidak hampa

(ilusioner), pada saat putusan telah berkekuatan hukum tetap. Kedua, memberi jaminan kepastian hukum bagi Penggugat terhadap kepastian terhadap objek eksekusi apabila keputusan telah berkekuatan hukum tetap.4

3

M. Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag, ( Bandung,: Pustaka, 1990), h. 9.

4

(46)

B. Syarat dan Alasan Penyitaan

Penyitaan tidaklah mungkin dapat dilakukan tanpa memenuhi syarat-syarat yang telah ada dan berlaku sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun kecukupan syarat-syarat tidaklah cukup dan sempurna apabila tidak dibarengi dengan adanya alasan-alasan penyitaan.

Syarat penyitaan harus melalui adanya permohonan sita kepada hakim. Hakim tentunya akan mempelajari permohonan sita tersebut sesuai dengan tata cara pengajuan permohonan yang berlaku. Syarat penyitaan berdasarkan permohonan sita merupakan hal yang mendasar, sebab hakim tidaklah akan menjatuhkan sita apabila tidak ada inisiatif dari pengugat yang mengajukan permohonan sita.

Biasanya dalam suatu permohonan sita diajukan bersama-sama dalam surat gugatan. Bentuk dan tata cara pengguna permohonan sita jaminan yang seperti ini lazim dijumpai. Penggugat mengajukan permohonan sita secara tertulis dalam bentuk surat gugatan, sekaligus bersamaan dengan pengajuan gugatan pokok. Pengajuan permohonan sita dalam bentuk ini tidak dapat dipisahkan dari dalil gugatan pokok.

(47)

bahkan dimungkinkan dan dibolehkan pengajuan permohonan sita tersendiri secara lisan. Namun didalam prakteknya, bentuk permohonan sita tersendiri secara lisan jarang terjadi. Tetapi pada hakekatnya, kelangkaan praktek itu bukan berarti dapat melenyapkan hak penggugat untuk mengajukan permohonan sita secara lisan.5

Sedangkan penentuan tenggang waktu pengajuan permohonan sita diatur dalam Pasal 261 ayat 1 Rbg. Yang mana tenggang waktu untuk mengajukan permohonan sita jaminan adalah selama putusan belum dijatuhkan atau selama belum ada berkekuatan hukum tetap. Jadi selama putusan perkara belum diputus oleh hakim atau selama putusan belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap, masih terbuka hak dan kesempatan untuk mengajukan permohonan sita.

Permohonan sita yang telah dimohonkan tadi selayaknya disempurnakan dengan adanya alasan sita. Sangat mustahil sekali hakim mau mengabulkan sita apabila tidak dibarengi dengan suatu alasan sita yang kuat. Mengingat sangat eksepsionalnya sifat sita atau penyitaan, maka hakim harus benar-benar mengamati, memperhatikan, serta menimbang alasan sita tersebut dengan teliti. Jangan sampai permohonan sita itu dikabulkan tanpa mengkaji alasan yang dibenarkan oleh hukum.

Dalam permasalahan kewenangan memerintahkan pelaksanaan sita, masih terdapat perbedaan pendapat diantara praktisi hukum. Pendapat pertama, mutlak

5

(48)

menjadi kewenangan Pengadilan Negeri. Menurut pendapat ini, hanyalah Pengadilan Negeri yang mempunyai kewenangan atas sita. Di dalam undang-undang tidak ada kewenangan yang diberikan kepada Pengadilan Tinggi (PT) sebagai instansi tingkat banding. Pendapat kedua, Pengadilan Tinggi (PT) berwewenang memerintah sita. Menurut pendapat Prof. R. Subekti6, Permohonan penyitaan dapat diajukan kepada Pengadilan Tinggi (PT) selama pokok perkaranya belum diputus oleh pengadilan tingkat banding. Alasan beliau berpijak pada Pasal 261 Rbg yang di dalamnya terdapat kalimat “Sebelum putusan memperoleh kekuatan hukum tetap”. Di sini Prof. R. Subekti menyimpulkan kalimat tersebut menunjukan bahwa permohonan sita dapat juga ditujukan kepada PT selama pokok perkaranya sebelum diputus dalam tingkat banding.

Seperti kita ketahui sebelumnya, permohonan sita hanya boleh dikabulkan dan diletakan terhadap barang-barang yang ditunjuk penggugat. Penunjukan ini diwajibkan terhadap barang yang ditunjuk secara jelas dan pasti, baik mengenai sifat, letak, ukuran yang berkaitan dengan identitas barang. Kewajiban penggugat sehubungan dengan penunjukan barang yang diminta untuk disita harus menjelaskan letak, sifat, dan ukuran barang, mengemukakan surat-surat yang berkenaan dengan identitas barang (bukti surat barang), penegasan positif status barang adalah milik tergugat.

6

(49)

Namun di antara beberapa unsur kewajiban di atas, ada yang berpendapat tidak mutlak penggugat harus dapat menunjukan atau mengajukan surat identitas atau surat bukti barang. Menurut praktek yang sudah ada, dianggap cukup bila penggugat telah mampu menjelaskan unsur, sifat, letak dan ukurannya, ditambah dengan unsur penegasan yang positif bahwa barang itu milik tergugat atau setidak-tidaknya dalam kekuasan tergugat. Intinya adalah penggugat tidak boleh menyebutkan barang objek sita secara umum, meskipun Pasal 1311 KUH Perdata menegaskan segala harta kekayaan kreditor menjadi tanggungan untuk membayar utangnya.7

Pada diri hakim tidak ada kewajiban hukum untuk mencari dan menemukan identitas atau rincian barang yang menjadi objek sita. Hal ini adalah mutlak kewajiban penggugat. Oleh karena itu, sangat mustahil bagi penggugat meminta hakim mencari dan menemukan identitas barang yang hendak disita, karena penyitaan adalah untuk kepentingan penggugat maka dialah yang mesti menyebut identitasnya secara terang dan pasti.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa upaya penyitaan adalah tindakan yang bersifat eksepsional dan merupakan perampasan harta kekayaan tergugat. Jadi permohonan sita atau penyitaan harus berdasarkan alasan yang kuat. Di dalam pengajuan gugatan, penggugat harus dapat menunjukan kepada hakim

7

(50)

tentang adanya relevansi dan urgensi penyitaan dilakukan dalam perkara yang bersangkutan. Ditinjau dari ketentuan Pasal 261 Rbg maupun Pasal 720 Rv, alasan-alasan pokok permintaan sita, yaitu : Pertama, adanya kekhawatiran atau persangkaan bahwa tergugat berusaha mencari akal guna menggelapkan atau mengasingkan harta kekayaannya, di mana dilakukan selama proses pemeriksaan perkara berlangsung. Kedua, kekhawatiran atau persangkaan itu harus nyata dan mempunyai sifat yang objektif, yaitu Penggugat harus mampu menunjukan fakta-fakta tentang adanya langkah-langkah tergugat untuk menggelapkan atau mengasingkan harta kekayaannya, selama proses pemeriksaan perkara berlangsung. Sekurang-kurangnya, penggugat dapat menunjukan adanya indikasi objektif tentang adanya upaya untuk menghilangkan atau mengasingkan barang-barangnya guna menghindari isi gugatan penggugat. Sesuai dengan pendapat Prof. Supomo yang menjelaskan bahwa dalam peradilan perdata tugas hakim adalah mempertahankan tata hukum perdata. Hakim harus mampu melihat bahwa seandainya sita tidak diajukan akan menimbulkan kerugian dari pihak penggugat.8

Kesimpulannya, penggugat tidak dibenarkan mendasarkan kekhawatiran dan persangkaan secara pribadi saja terhadap tergugat untuk mengajukan sita. Berdasarkan Pasal 261 Rbg atau Pasal 720 Rv, alasan dapat dikatakan objektif apabila dilengkapi dengan fakta-fakta atau petunjuk-petunjuk yang nyata. Hal ini diharuskan karena hakim dapat menolak permohonan sita apabila alasan sita tidak

8

(51)

kuat. Karena menurut undang-undang, yang berhak menilai alasan sita adalah hakim.9

C. Macam-macam penyitaan (Beslag)

Secara garis besar penyitaan bisa dikategorikan ke dalam dua bentuk. Yaitu penyitaan yang melalui proses peradilan dan penyitaan yang tidak melalui proses peradilan, berikut penulis paparkan kedua bentuk penyitaan tersebut.

1. Judicial Execution

Judicial execution merupakan eksekusi atau penyitaan yang dalam proses pelaksanannya harus melalui jalur peradilan. Dalam prakteknya terdapat beberapa macam bentuk penyitaan yang dilakukan melalui proses peradilan, berikut penulis paparkan macam-macam bentuknya.

a. Sita Revindikasi (Revindikatoir Beslag)

Permintaan untuk mengajukan permohonan sita revindikasi dapat diajukan secara lisan maupun tertulis kepada ketua Pengadilan Negeri (PN), dimana tempat orang yang memegang barang tersebut tinggal. Hal ini agar penyitaan atas barang sitaan jauh lebih mudah. Menurut Pasal 1977 ayat (2) KUH Perdata dan Pasal 1751 KUH Perdata disebutkan bahwa hanyalah pemilik benda yang bergerak yang

9

(52)

barangnya dikuasai orang lain yang dapat mengajukan sita revindikasi. Hal ini juga berlaku kepada hak reklame, yaitu hak daripada penjual barang bergerak untuk meminta kembali barangnya apabila harga barang tidak dibayar. Pemilik barang tersebut juga dapat mengajukan sita revindikasi (Pasal 1145 KUH Perdata dan Pasal 232 KUH Dagang).

Tuntutan revindikasi ini dapat dikabulkan langsung terhadap orang yang menguasai barang sengketa tanpa meminta pembatalan lebih dahulu tentang jual beli dan barang yang dilakukan oleh orang tersebut dengan pihak lain. 10 Ada beberapa ciri khas dari bentuk sita revindikasi yaitu antara lain benda yang menjadi objek sengketa tersebut telah dikuasai atau berada di tangan tergugat secara tidak sah atau dengan cara melawan hukum atau dengan mana tergugat tidak berhak atasnya.

Ciri khas lainnya pada bentuk sita revindikasi adalah, sita revindikasi hanya terbatas pada benda bergerak saja, sehingga tidak mungkin diajukan dan dikabulkan terhadap benda tidak bergerak, walaupun dalil gugatan berdasarkan hak milik. Menurut Pasal 505 KUH Perdata barang bergerak ini dapat dibagi atas benda yang dapat dihabiskan dan benda yang tidak dapat dihabiskan.11

10

R. Subekti,Kumpulan Putusan MA, (Jakarta : Gunung Agung, 1965), h. 243.

11

(53)

b. Sita marital (Maritale beslag)

Sita Marital adalah sita yang didasarkan pada sengketa yang timbul antara suami istri, seperti pada perkara perceraian, pada perkara pembagian harta bersama atau pada perbuatan yang membahayakan harta bersama. Apabila kita mengaitkan Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 dan PP No .9 Tahun 1975, ada isyarat hak bagi istri atau suami yang mengajukan permintaan sita terhadap harta perkawinan selama proses pemeriksaan perkara perceraian berlangsung.

Penerapan sita marital meliputi seluruh harta perkawinan terutama apabila terjadi perceraian (huwelijksantbinding) yang diartikan bagi seluruh harta kekayaan bersama (harta gono-gini) baik yang ada pada suami maupun yang ada pada istri. Jadi, maritale beslag tidak meliputi harta bawaan atau harta pribadi suami atau istri. Tentang penjualan harta bersama yang telah disita adalah atas izin hakim berdasarkan putusan.12

Mengenai permohonan izin penjualan harta bersama, izin penjualan tersebut bersifat voluntair bukan bersifat contentiosa atau bersifat partai. 13 Ini diajukan guna mempermudah proses beracara dalam permohonan izin untuk penjualan barang sitaan oleh pengadilan.

12

M. Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan Sita Jaminan Conservatoir Beslag,h. 149.

13 Ibid,

(54)

c. Sita jaminan (Consevatoir beslag)

Prof. R. Subekti dalam bukunya Hukum Acara Perdata,14 beliau mengatakan bahwa istilah sita jaminan sama dengan conservatoir beslag. Hal ini diperkuat dengan adanya SEMA No. 05/1975 Tanggal 1 Desember 1975, yang telah mengalih bahasakan consevatoir beslag menjadi sita jaminan. Yurisprudensi juga menguatkan istilah consevatoir beslag menjadi sita jaminan. Seperti contohnya pada Putusan Mahkamah Agung (MA) Tanggal 11 November 1976 No. 607/K/Sip/1974.

Sita Jaminan adalah penyitaan harta kekayaan tergugat pada perkara hak milik, utang-piutang atau pada tuntutan ganti-kerugian. Objek sita jaminan dapat berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak baik terhadap benda berwujud maupun tidak berwujud (lychammelijk on lychammelijk).15 Namun di lain sisi, sita juga dapat meliputi seluruh harta kekayaan tergugat sampai mencukupi seluruh jumlah tagihan apabila gugatan didasarkan atas utang piutang atau tuntutan ganti kerugian.

Sita jaminan dapat dijalankan sebelum putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, jadi sita jaminan ini adalah upaya hukum yang bersifat eksepsional. Kewenangan memerintahkan pelaksanaan sita jaminan terletak pada tangan ketua majelis yang memeriksa perkara tersebut. Ini karena hakim diperintahkan

undang-14

R. Subekti,Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Bina Cipta, 1977), h. 48.

15

(55)

undang sebagai penilai unsur persangkaan suatu permohonan sita jaminan. Menurut Sudikno Mertokusumo,16 sita consevatoir ini merupakan tindakan persiapan dari pihak penggugat dalam bentuk permohonan kepada ketua pengadilan untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata dan untuk menjaga barang agar tidak dialihkan atau tidak dijual.

Sita jaminan menurut asasnya otomatis menjadi sita eksekusi apabila telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.17 Tentang masalah penjagaan harta sitaan dalam sita jaminan diatur tegas dalam Pasal 508 Rv dan Pasal 212 Rbg diberikan pada tersita (tergugat). Tersitalah yang menjadi penjaganya demi hukum. Tersita boleh memakai barang yang telah disita dengan syarat harga barang tersebut tidak boleh turun. Menurut Sudikno Mertokusumo dalam bukunya Hukum Acara Perdata Indonesia,18 yang dapat disita berdasarkan sita jaminan adalah : Sita jaminan atas barang-barang bergerak milik kreditor, sita jaminan atas barang-barang tetap milik kreditor, sita jaminan atas barang-barang bergerak milik kreditor yang ada pada pihak ketiga, Sita jaminan atas kreditor, sita gadai (panden beslag), sita atas barang-barang kreditor yang tidak mempunyai tempat tinggal yang dikenal di indonesia atau orang yang bukan penduduk indonesia, sita jaminan terhadap pesawat terbang,

16

Sudikno Mertokusumo,Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 93.

17

M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), h. 70.

18

(56)

sita jaminan terhadap barang milik negara, ditambah sita jaminan atas kapal (menurut pendapat M. Yahya Harahap).19

d. Rijdende Beslag

Rijdende Beslag adalah sita jaminan yang diletakan atas harta kekayaan tergugat atas permintaan penggugat. Dalam rijdende beslag yang disita adalah sarana perusahaan. Penjagaan dan pengusahaan atas perusahaan tidak boleh diserahkan pada penggugat, jadi kegiatan usaha dari si tergugat tidak dilarang. Contohnya apabila pengadilan mengabulkan sita jaminan atas suatu perusahaan, maka yang boleh disita adalah sarana dan peralatannya saja.

Pada jenis penyitaan ini, ruang lingkupnya terbatas, karena rijdende beslag

adalah salah satu dari bentuk sita jaminan yang bersifat khusus. Oleh karena itu

rijdende beslag dapat diletakan terhadap benda-benda bergerak dan benda-benda tidak bergerak.

Rijdende beslag juga bisa didasarkan atas sengketa hak milik, utang-piutang dan tuntutan ganti kerugian. Rijdende juga dapat meliputi seluruh harta kreditor maupun hanya sebagian dari hartanya. Namun rijdende beslagterbatas pada benda-benda yang berbentuk sarana perusahaan saja, contohnya adalah sita terhadap gedung-gedung, mobil, dan sebagainya.

19

(57)

e. Sitaniet bevinding

Merupakan sita dimana barang yang ditunjuk penggugat dalam permohonan sita tidak diketemukan dilapangan pada saat pelaksanaan penyitaan atau barang sitaan tersebut berbeda jenis dan sifatnya antara apa yang dikemukakan oleh si penggugat dengan yang ada dilapangan. Bisa juga terdapat perbedaan batas maupun luas, sehingga mengakibatkan pelaksanaan sita jaminan menjadi gagal.

Dalam SEMA Tanggal 25 April 1961 No.2 Tahun 1962 ditentukan tentang pengertian niet bevinding dan serta tata cara pembuatan pernyataan niet bevinding, yaitu secara nyata barang tidak ditemukan, secara nyata barang tidak ada, sifat dan jenisnya berbeda dengan apa yang dikemukakan penggugat, batas- batas maupun luas yang di kemukakan penggugat tidak sesuai dengan pernyataan di lapangan.

f. Sita Persamaan(Vergelijkende Beslag)

Vergelijkende Beslag merupakan permohonan sita yang kedua, yang bertujuan untuk menyesuaikan diri pada sita pertama, dimana barang secara nyata telah dipertanggungkan kepada pihak lain. Jadi barang yang telah diletakan sita, tidak bisa dilakukan sita untuk yang kedua kalinya. Tindakan yang dibenarkan adalah dilakukan sita persamaan.

(58)

terjadi karena ada upaya hukum sita yang telah ada terlebih dahulu sebelum pemohon sita persamaan meminta permohonan sita. Barang yang menjadi objek sengketa harus sama antara barang yang menjadi permohonan pemohon sita pertama dengan pemohon sita yang selanjutunya. Barang yang telah menjadi objek sita tersebut atau barang yang menjadi sengketa tersebut sudah didaftar di Pengadilan Negeri sebagai barang yang telah diletakan sita. Tentang objek sita persamaan tidak terbatas pada benda-benda bergerak saja, terhadap benda-benda tidak bergerak juga bisa. Sita persamaan bisa didasarkan atas sengketa hak milik, utang-piutang, dan tuntutan ganti-kerugian. Apabila sita jaminan dicabut atau dinyatakan tidak berkuatan hukum, maka sita persamaan sesuai dengan urutannya menjadi sita jaminan (sita jaminan utama).20Sedangkan dasar hukum yang mengatur tentang sita persamaan adal dalam Pasal 463 Rv.

g. Sita Eksekusi Lanjutan(Voorgezette Beslag)

Sita eksekusi lanjutan terjadi apabila barang- barang yang disita sebelumnya dengan sita conservatoir, yang dalam rangka eksekusi telah berubah menjadi sita eksekusi dan dilelang, hasilnya tidak cukup untuk membayar jumlah uang yang harus dibayar berdasarkan Putusan Pengadilan, maka akan dilakukan sita eksekusi lanjutan terhadap barang-barang milik tergugat, untuk kemudian dilelang. Ruang lingkup penerapan sita lanjutan terbatas pada suatu keadaan dimana barang- barang yang

20 Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama/Mahkamah Syar'iyah :Buku II,

Figur

Grafika, 2009.
Grafika 2009 . View in document p.82

Referensi

Memperbarui...