TUGAS MANDIRI
‘Trauma Psikologis’
Ade Santi Irawati
X MIA-H/2
JL. BHAKTI IV/1, KOMPLEK PAJAK, KEBUN JERUK,
KEMANGGSAN, JAKARTA BARAT, DKI JAKARTA 11480
Daftar Isi
A. Definisi Trauma Psikologis
Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.
Menurut Wikan Susanti (2011)
Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik.Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, merusak kemampuan seseorang untuk memadai mengatasi stress.
Menurut Herman (1992)
Trauma psikologisanak didefinisikan sebagai ancaman fisik atau
psikologis atau penyerangan kepada fisik anak, integritas, rasa diri, keselamatan atau kelangsungan hidup atau untuk keselamatan fisik orang lain signifikan terhadap anak.
Menurut Gina Ross (2010)
Trauma emosional dan psikologis adalah hasil dari peristiwa luar biasa stres yang menghancurkan rasa aman, membuat anak merasa tidak berdaya dan rentan di dunia yang berbahaya.
Menurut www.detik.com
Trauma psikologis merupakan gangguan pada jiwa yang timbul akibat peristiwa traumatik. Peristiwa traumatik bisa sekali dialami, bertahan dalam jangka lama, atau berulang-ulang dialami oleh penderita. Peristiwa tersebut mengalahkan individu untuk mengatasi dan mengintegrasikan ide-ide dan emosinya.
B.
Penyebab Trauma Psikologis
Terdapat berbagai macam penyebab trauma psikologis terhadap individu, entah individu itu masih berusia belia ataupun sudah berumur senja. Penyebab-penyebab umum trauma psikologis yaitu :
- Penyebab Pada Anak
1. Herediter
Bakat genetik dapat menetukan reaksi seorang indidu terhadap situasi.Dapat juga mempengaruhi keadaan fisik dan mental
tertentu.Fenilketonuria misalnya merupakan kondisi bawaan (genetik) dapat juga dianggap bahwa potensi intelektual anak dibatasi oleh jenis otak yang merupakan bakat, tetapi mengenai apakah anak mencapai potensi ini tidak ditetukan sebelumnya dan tergantung pada faktor lain, misalnya lingkungan.Dalam teori, juga mungkin untuk menjelaskan kepekaan sebagai predisposisi herediter.Walaupun demikian, hal ini juga harus dipandang dalam arti perkembangan (baik perinatal dan
pascanatal). Terdapat masa kritis dimana janin dan bayi peka, misalnya susunan saraf pusat peka terhadap kekurangan oksigen dan obat yang diberikan selama trimester pertama kehamilan dapaat mengganggu
diferensiasi sel, menyebabkan kelainan. Karena itu penyakit mental dapat disebabkan sebab lain selain herediter.
2. Lingkungan
Jika kita mempertimbangkan kepribadian secara total dan pola yang timbul, maka penting untuk mengenali bagian yang dimainkan oleh lingkungan.
Lingkungan dipengaruhi 3 faktor :
a. Lingkungan anak dipengaruhi oleh setiap gangguan (terutama setiap gangguan neurologis) yang diwariskan secara genetik (ditransmisikan). b. Faktor sosial
Terdapat hubungan erat antara ganguan emosional serta kehilangan sosial dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status
perkawinan orangtua, jumlah sanak saudara, status sosial keluarga, perpisahan orangtua, perceraian, fungsi perkawinan, atau struktur keluarga banyak berperan dalam terjadinya gangguan psikologis pada anak.
1) Lingkungan keluarga
Pertengkaran orang tua atau perceraian dapat menyebabkan ketakutan pada anak. Hal ini wajar, karena seorang anak sangat mendambakan kasih sayang orang di sekelilingnya, terutama orang tuanya untuk membuatnya merasa aman dan terlindung.
2) Pola asuh orang tua
Secara umum, pola asuh orang tua terdiri dari 3 macam. Pertama, authoritarian di mana orang tua bersikap otoriter, tidak memberi anak kebebasan dan memaksa anak agar memenuhi tuntutan orang tua bahkan menganiaya anaknya. Kedua, permissive yaitu orang tua sangat membebaskan anaknya walaupun seorang anak belum dapat membuat keputusan dengan tepat dan membiarkan kesalahan anak. Ketiga,
authoritative yaitu orang tua menentukan dengan jelas konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil, mereka tidak mengekang anak secara berlebihan juga tidak membebaskannya, tetapi terus memberi perhatian pada anak dan berusaha membentuk anak yang mandiri. Pola
dapat terjadi pada anak apabila dia merasa tidak dapat memenuhi
tuntutan orang tuanya ataupun karena dia harus mengalami konsekuensi buruk akibat kesalahan keputusan yang diambilnya.
3) Tekanan dari teman
Dalam pergaulannya, seorang anak tidak ingin berbeda dari anak-anak lain dari kelompoknya. Perbedaan seorang anak, mungkin karena fisik atau sifatnya dapat memancing ejekan dari teman-temannya. Ini pula yang dapat menyebabkan seorang anak merasa stres karena merasa tidak dapat diterima oleh teman-temannya
c. Faktor psikologis
Ini berhubungan dengan pengalaman yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak menjadi subyek peristiwa seperti pada kasus kejadian yang menimpa seorang bocah usia SD di Bekasi yang kerap disetrika, dipukul dengan tangan bahkan kayu bahkan direndam dalam bak mandi hanya karena lalai dalam mengasuh adik-adiknya oleh ibu kandungnya ketika ditinggal kerja oleh ibunya. (Liputan Trans 7, tayang pukul 06.30. tanggal 23 April 2010) dan pengalaman mengganggu dalam kehidupan sehari-hari, akan merasa lebih sukar untuk menyesuaikan denga peristiwa traumatik. Anak mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan orang tuanya akan mampu mengatasi setiap perubahan mendadak dalam rutinitas harian.
- Penyebab Umum
Secara umum, kondisi trauma yang dialami individu disebabkan oleh berbagai situasi dan kondisi, di antaranya:
1. Peristiwa atau kejadian alamiah (bencana alam), seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, angin topan, dsb.
2. Pengalaman dikehidupan sosial ini (psiko-sosial), seperti pola asuh yang salah, ketidak adilan, penyiksaan (secara fisik atau psikis), teror, kekerasan, perang, dsb.
3. Pengalaman langsung atau tidak langsung, seperti melihat sendiri, mengalami sendiri (langsung) dan pengalaman orang lain (tidak langsung), dsb.
C. Jenis Gangguan Kondisi Psikitaris
- Jenis Gangguan Pada Anak
Menurut Rosa, 1996, jenis gangguan kondisi psikiatri meliputi : 1. Reaksi stress
dengan mudah dan memperlihatkan gangguan tidur ketika merasa tidak nyaman. Bayi besar dan anak yang mulai berjalan akan memperlihatkan tanda ansietas apabila terdapat perubahan dalam rutinitas harian seperti perpisahan dengan orang tua. Jika anak merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan ini maka reaksi stress diperlihatkan individu dapat bervariasi. (Rosa, 1996)
Reaksi stress menurut Ni Made Dwiyathi Utami (2011) :
a. Pada anak yang berumur di bawah 5 tahun umumnya sulit untuk mengekspresikan secara verbal apa yang membuat mereka menjadi stres atau mengatakan mereka sedang stres, namun terdapat beberapa perilaku yang mencerminkan si anak dalam keadaan stres seperti tidak mau berpisah dengan orangtuanya, lekat terus menerus dan banyak menangis dibanding biasanya, terdapat perilaku ”regresif” seperti menghisap jempol, mengompol dan ketakutan akan gelap yang berlebihan, menunjukkan perilaku agresif seperti menggigit, banyak menangis tanpa sebab yang jelas dan sering terbangun malam hari tanpa sebab yang jelas.
b. Anak yang berada pada rentang usia 6 – 11 tahun umumnya sudah memiliki kemampuan verbal yang cukup baik sehingga mereka mampu mengekpresikan perasaan dan pikirannya melalui kata-kata. Anak di usia sekolah dasar jika terjadi stress akan mengalami susah tidur, penurunan nafsu makan atau makan berlebihan, mereka juga sering berbohong dan
menunjukkan prestasi akademik yang buruk.
c. Pada usia remaja rentang usia 12 – 18 tahun sudah mampu untuk berkomunikasi secara verbal dengan baik, namun mereka seringkali menjadi tidak komunikatif karena periode remaja merupakan periode kritis, mereka cenderung ingin bebas dari orang tua dan
menyangkal jika mengalami stres. Stres pada usia ini seringkali bermanifestasi dalam bentuk lari dari tanggung jawab dan tidak mempunyai motivasi untuk sekolah. Remaja yang
mengalami stres juga cenderung untuk melakukan berbagai perilaku beresiko tinggi yang mungkin saja membahayakan jiwa mereka. Tidak jarang kasusnya remaja yang mengalami stres juga melakukan tindakan bunuh diri.
2. Neurosis
Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa). Neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit. (Menurut Singgih Dirgagunarsa, 1978)
Macam-macam neurosis
Jenis-jenis neurosis menurut W.F. Maramis, 1980 sebagai berikut : a. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state)
Gejala-gejala neurosis cemas, tidak ada rangsang yang spesifik yang menyebabkan
kecemasan, tetapi bersifat mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecemasan yang dialami sangat hebat maka terjadi kepanikan.
1) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, dada tertekan, kepala ringan seperti mengambang, lekas lelah, keringat dingan, dst.
2) Gejala psikologis berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, perasaan tidak mampu, dst.
b. Histeria
terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita.Gejala-gejala sering timbul dan hilang secara tiba-tiba, terutama bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi emosional hebat.
c. Neurosis fobik
Neurosis fobik merupakan gangguan jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia dapat
menyebabkan timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik, berkeringat, dst.
d. Neurosis obsesif-kompulsif
Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls tidak dapat ditahan untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan. e. Neurosis depresif
Neurosis depresif merupakan neurosis dengan gangguan utama pada perasaan dengan ciri-ciri : kurang atau tidak bersemangat, rasa harga diri rendah, dan cenderung menyalahkan diri sendiri.
f. Neurasthenia
Neurasthenia disebutjuga penyakit payah.Gejala utama gangguan ini adalah tidak