Skripsi
Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan (S. IP)
oleh
Amirah Rasyidah NIM: 1111025100019
JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
i
Amirah Rasyidah (NIM: 1111025100019). Pelayanan Perpustakaan Rumah Sakit: Studi Kasus pada Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Di bawah bimbingan Pungki Purnomo, MLIS. Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2015.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui proses layanan, serta solusi dalam menghadapi kendala yang mempengaruhi layanan Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggambarkan bahwa untuk proses masing-masing layanan berbeda dan diberikan kepada siapa saja pemustaka yang berkunjung, layanan yang disediakan adalah layanan sirkulasi, layanan ruang baca, layanan internet, dan layanan penitipan barang/locker. Layanan sirkulasi diberikan hanya untuk anggota Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais yaitu para karyawan dan mahasiswa yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan. Layanan ruang baca diberikan kepada pemustaka yang berkunjung apalagi kepada pemustaka yang hanya ingin memanfaatkannya ditempat. Layanan internet dan layanan penitipan barang/locker bisa dimanfaatkan oleh pemustaka yang berkunjung. Namun masing-masing layanan tersebut memiliki kendala masing-masing diantaranya kurang update-nya koleksi, sarana mesin fotocopy, dana, dan kerjasama dengan pihak lain. Kendala ini imerupakan imbas dari kebijakan direktur yang belum memberikan kewenangan kepada pihak perpustakaan. Untuk mengatasi kendala tersebut, pihak Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais melakukan komunikasi kepada rekan yang memiliki koleksi tersebut, dan mencoba untuk memberikan jurnal yang ada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillahirobbil’alamin Puji dan syukur penulis ucapkan hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan dan kelancaran
dalam penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para pengikutnya.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberi bantuan baik moril maupun materil, serta mengarahkan dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan
skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah tulus meluangkan waktunya untuk membantu penulis. Maka penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bpk. Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bpk. Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Adab
dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2014-2015.
3. Bpk. Pungki Purnomo, MLIS, selaku Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan
4. Bpk. Mukmin Suprayogi, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mencurahkan ilmunya begitu banyak untuk masa depan penulis.
6. Pihak Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais yang banyak membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, memberikan
masukan saat melakukan penelitian, dan telah bersedia memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
7. Kedua Orang tua Ayahanda Drs. H. Tadjudin Muslim dan Ibunda Hj.
Hidayati Hasanuddin Ali. Terimakasih telah mendidik, membimbing, memberikan bantuan moril, dan materil serta limpahan kasih sayang
kepada penulis, serta kakak-kakak penulis tersayang Hazrina, S.Sos, Nurul Mizani, S.Pd, dan Aribah Rafidah.
8. M. Yukha Mulyawan yang telah meluangkan waktu dan memberikan
semangat serta membantu dalam hal apapun kepada penulis.
9. Sahabat-sahabat penulis, Puji Rizki N, Feby Asri J, Shahnez Kharisma R, Annis Fitriana, Faradhilla Nur Saraswati, Priandari Kusandrina, Ade
Amelia, Ummi Nuqoyatunnisa, Anisya Marliyani Y, Widhia Oktaferiyanti, Hanif Ibrahim, M. Fahmi Rizal yang selalu mendukung dan
10.Teman-teman seperjuangan Ilmu Perpustakaan dan Informasi 2011, khususnya kelas IPI A 2011 yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan skripisinya.
11.Adik-adik kelas Anten Eka G, Rury Agnesia, Dyah Ayu N, dan Uluhiyah Mahmudah yang selalu memberikan semangat kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.
12.Terimakasih kepada teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kapten 2014 Nidya, Lailatifa, Priandari, Nofia, Pratiwi, Hegia, Yukha, Bamas,
Derry, Deden, Pandu, Ryan, Dimas, Teguh, Arli, dan Arif yang sama-sama berjuang untuk menyelesaikan skripsinya.
13.Dan semua orang yang sudah banyak mendukung dalam menyelesaikan
tugas akhir ini, yang tidak dapat diucapkan satu persatu, Terimakasih atas segalanya, semoga Allah SWT yang membalas semua kebaikan dan doa
yang sudah diberikan kepada penulis. Amin.
Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT membalas kebaikan semuanya dengan rahmat dan ridho-Nya. Serta semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat mengenai Pelayanan Perpustakaan Rumah Sakit. Selamat Membaca.
Ciputat, 27 November 2015
DAFTAR ISI
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR LAMPIRAN ...ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 6 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...6
D. Definisi Istilah ...7
E. Sistematika Penulisan ...8
BAB II TINJAUAN LITERATUR A. . Perpustakaan Khusus ...10
1. Definisi Perpustakaan Khusus ...10
2. Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Khusus ...12
3. Ciri-ciri Perpustakaan Khusus ...13
4. Koleksi Perpustakaan Khusus ...14
B. Layanan Perpustakaan Khusus ...15
1. Pengertian Layanan Perpustakaan Khusus ...15
2. Macam-macam Layanan Perpustakaan ...18
3. Macam-macam Layanan Perpustakaan Khusus ...22
4. Sistem Layanan Perpustakaan Khusus ...24
5. Layanan Perpustakaan yang Baik ...27
C. Perpustakaan Rumah Sakit ...28
1. Definisi Perpustakaan Rumah Sakit ...28
3. Standar Perpustakaan Rumah Sakit ...30
4. Standar Pelayanan Rumah Sakit ...32
D. Penelitian Terdahulu ...39
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ...42
1. Jenis Penelitian ...42
2. Pendekatan Penelitian ...42
B. Sumber Data ...43
1. Data Primer ...43
2. Data Sekunder ...43
C. Informan ...43
D. Teknik Pengumpulan Data ...45
1. Observasi ...45
2. Wawancara ...45
3. Dokumentasi ...45
E. Teknik Analisis Data ...46
1. Reduksi Data ...46
2. Penyajian Data ...46
3. Penarikan Kesimpulan ...47
F. Jadwal Penelitian ...47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Objek Penelitian ...48
1. Sejarah Berdirinya Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...48
2. Visi dan Misi Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...52
3. Sumber Daya Manusia Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...54
4. Koleksi Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...54
5. Peraturan dan Tata Tertib Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...55
7. Keanggotaan Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...58
8. Layanan Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...59
9. Waktu Layanan Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...60
B. Hasil Penelitian ...61
1. Proses Layanan di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...62
2. Solusi dalam Mengatasi Kendala yang Mempengaruhi Layanan di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...72
C. Pembahasan ...78
1. Proses Layanan di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...79
2. Solusi dalam Mengatasi Kendala yang Mempengaruhi Layanan di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais ...86
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ...88
B. Saran ...91
DAFTAR PUSTAKA ...93
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
1. Tabel 1 Jadwal Penelitian
2. Tabel 2 Sumber Daya Manusia Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais
3. Tabel 3 Fasilitas Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais
DAFTAR LAMPIRAN
1. Transkip Wawancara
2. Surat Permohonan Dosen Pembimbing 3. Surat Tugas Menjadi Pembimbing 4. Surat Izin Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Informasi merupakan bagian esensial bagi perkembangan pribadi dari pada individu suatu masyarakat. Kemajuan teknologi saat ini telah memberikan banyak peluang sekaligus tantangan bagi kita semua terutama dalam memperoleh, menyimpan, dan mengorganisir serta menyebarluaskan informasi yang hadir dalam berbagai bentuk format baik media cetak maupun elektronik dengan jumlah yang sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Pada era informasi ini orang yang mengetahui bagaimana memperoleh dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan akan menjadi orang yang sukses dalam kehidupannnya.1
Kegiatan manusia membutuhkan informasi yang tepat agar arah kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itu, mereka memerlukan suatu tempat dimana tempat tersebut digunakan untuk menyimpan berbagai macam sumber informasi seperti : koleksi buku, terbitan lainnya atau tempat dimana mereka bisa mendapatkan atau mencari informasi yang dibutuhkan. Tempat tersebut yaitu perpustakaan, dimana tempat tersebut selain digunakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan, juga merupakan tempat untuk mengumpulkan semua informasi yang ada.
1
Sehingga pemustaka yang membutuhkan suatu informasi dapat langsung mencarinya ke perpustakaan, karena informasi yang disajikan di perpustakaan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka.
Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, artinya perpustakaan menyediakan informasi yang diperlukan pemustaka. Pemberian informasi ini dilakukan baik atas permintaan maupun tidak diminta. Dalam hal ini dilakukan bila perpustkaan menganggap bahwa informasi yang tersedia sesuai dengan minat dan keperluan pemustaka.2
Pengelolaan perpustakaan yang dilakukan dengan baik dapat memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang dibutuhkan secara akurat, relevan, dan tepat waktu. Karena bahan-bahan yang ada di perpustakaan itu sebenarnya adalah hasil himpunan ilmu pengetahuan yang diperoleh umat manusia dari masa ke masa.
Perpustakaan dan pustakawan sebagai penyedia dan pengelola jasa informasi dan ilmu pengetahuan harus dapat memberikan informasi yang berguna pada pemustaka. Paa kondisi ini perpustakaan dituntut untuk lebih berkualitas dalam memberikan pelayanan dan penyediaan sumber informasi kepada pemustaka. Secara umum layanan yang baik ditandai dengan tersedianya sarana dan prasarana yang cukup, serta sesuai dengan kebutuhan seluruh pengguna perpustakaan. Sebagai lembaga layanan, perpustakaan harus memberikan layanan yang terbaik dan berkualitas bagi pemustakaperpustakaan.
Informasi perpustakaan tersebut tentunya sudah diseleksi, dihimpun, diolah, dipersiapkan dan dikemas dengan baik, sehingga semua
2
informasi yang ada di perpustakaan benar-benar telah dikaji serta dianalisis dan dipertimbangkan kegunaannya. Selanjutnya dengan pengaturan yang sedemikian rupa akan memudahkan pemakainya, baik dalam mengakses maupun menggunakannya. Perpustakaan yang baik adalah yang dapat menyediakan dan memenuhi permintaan informasi secara cepat dan tepat.3
Ada beberapa jenis perpustakaan yang ada di Indonesia, salah satunya adalah perpustakaan khusus. Tugas dan fungsinya dikaitkan dengan tugas-tugas instansi/lembaga tersebut. Maka perpustakaan harus dapat melakukan tugasnya untuk menyediakan informasi secara terencana, terstruktur, terorganisasi dan terarah agar informasi yang disediakan dan dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu tugasnya perpustakaan khusus adalah menyediakan koleksi untuk para ahli dan pengguna yang tergabung pada lembaga tersebut, dan memberikan keterangan dengan cepat dan tepat kepada pengguna perpustakaan.
Perpustakaan khusus memiliki peran sebagai penunjang penyelesaian program lembaga yang bersangkutan, yang tujuannya hanya diperuntukkan bagi para pegawai lembaga tersebut. Selanjutnya perpustakaan khusus memiliki beberapa ciri utama yaitu salah satunya layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan diberikan untuk lebih mengarahkan bidang minat dari pengguna perpustakaan, dalam hal ini perpustakaan khusus menyediakan suatu layanan khusus, dimana diorentasikan kepada pemustaka dibandingkan dengan jenis perpustakaan
3
lainnya. Sebab layanan perpustakaan khusus ditujukan membantu tugas badan induk tempat perpustakaan bernaung di dalamnya.4
Salah satu kegiatan utama perpustakaan adalah melaksanakan kegiatan pelayanan pemakai yang berupa layanan bahan pustaka dan menyebarluaskan informasi yang dimiliki oleh perpustakaan tersebut. Layanan pemakai merupakan media penting bagi para pengelola perpustakaan untuk memberikan kemudahan kepada pemakai dalam memperoleh informasi yang mereka inginkan dan butuhkan. Pelayanan pemakai memiliki konsep bahwa dengan mengerti dan memenuhi kebutuhan pemakai maka perpustakaan dapat meningkatkan kualitasnya layanannya, meningkatkan permintaan layanan dan membangun reputasi yang pada akhirnya akan membantu membangun kelanggengan pemakai dan merupakan sumbangan besar bagi penyelenggaraan berbagai program perpustakaan.
Layanan pemakai seharusnya memberi jangkauan yang cukup luas dan mencakup segala sesuatu yang terjadi di dalam dan sekitar perpustakaan mulai dari cara pustakawan menyambut pemakai yang datang ke perpustakaan, sampai suasana dan tata ruang bagian depan pelayanan perpustakaan, sampai cara pustakawan menangani permintaan dan kebutuhan informasi dan keluhan atas pelayanan yang kurang baik. Layanan pemakai berarti pustakawan menaruh perhatian terhadap keputusan dan keinginan pemakai, dan pemakai berhak dihormati oleh pustakawan.
4
Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, merupakan perpustakaan khusus yang mempunyai tugas pokok dalam memberikan layanan informasi kepada pemakainya. Jika layanan kepada pemakai memuaskan, maka baiklah kinerjanya, sebaliknya apabila layanan yang diberikan belum memuaskan, maka dapat dianggap bahwa perpustakaan belum mampu memiliki kinerja tersebut baik.5
Sejauh ini, berdasarkan hasil observasi yang penulis sempat lakukan, bahwa di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais memiliki 2 pustakawan dan koleksi yang terbatas. Hal ini dapat mempengaruhi pelayanan yang diberikan untuk pemustaka.
Mengingat hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian skripsi pada Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dengan mengambil judul: “Pelayanan Per pustakaan Rumah Sakit: Studi Kasus Rumah Sakit Kanker Dharmais”.
B. Pembatasan dan Per umusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terfokus pada masalah, maka pembahasan penelitian ini dibatasi pada layanan pemakai di Perpustakaan Rumah
5
Sakit Kanker Dharmais dan pengaruh kendala terhadap layanan di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais.
2. Per umusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dikemukan perumusan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana proses layanan pemakai di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais?
b. Bagaimana solusi dalam mengatasi kendala yang mempengaruhi layanan pemakai Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Agar sasaran dalam penelitian ini jelas dan sesuai dengan permaslahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
a. Mengetahui proses layanan pemakai di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais.
b. Mengetahui solusi dalam mengatasi kendala yang mempengaruhi layanan pemakai Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
b. Sebagai masukan bagi pihak-pihak yang berwenang di Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais dalam memberikan pelayanan informasi yang optimal untuk meningkatkan layanan kepada pemustaka agar merasa puas dalam mencari dan memenuhi informasi yang dibutuhkan.
c. Untuk memperluas dan memperdalam wawasan yang berkaitan dengan Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais.
D. Definisi Istilah
Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang berada disebuah instansi pemerintah, asosiasi, ataupun perorangan yang koleksi fisik informasi, pengetahuan atau opini yang terbatas pada satu subjek atau sekelompok subjek yang berkaitan dan memberikan jasa pada sekelompok pemakai.
Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama dan tolak ukur pada sebuah perpustakaan, karena baik buruknya suatu perpustakaan dilihat dari layanan yang ada di perpustakaan. Dan pada dasarnya layanan perpustakaan sama yaitu memberikan bantuan kepada pemustaka untuk memperoleh koleksi yang dibutuhkan.
Perpustakaan Rumah Sakit adalah perpustakaan yang ada di rumah sakit yang koleksinya dapat digunakan untuk staf medis serta para dokter dan perawat untuk pasien.
Dalam menyusun skripsi ini, penulis membagi ke dalam 5 (lima) bab. Adapun sistematika penulisan sebagai berikut
Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Liter atur
Bab ini penulis akan membahas mengenai kerangka teoritis yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, yaitu pengertian perpustakaan khusus, tujuan dan fungsi perpustakaan khusus, ciri-ciri perpustakaan khusus, koleksi perpustakaan khusus, pengertian layanan perpustakaan khusus, macam layanan perpustakaan, macam-macam layanan perpustakaan khusus, sistem layanan perpustakaan khusus, pengertian perpustakaan rumah sakit, ciri-ciri perpustakaan rumah sakit, standar perpustakaan rumah sakit, dan penelitian terdahulu.
Bab III Metode Penelitian
Bab ini penulis akan membahas tentang metode penelitian yang digunakan mulai dari jenis dan pendekatan penelitian, sumber data, pemilihan informan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan jadwal penelitian.
Bab ini membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan, yang berisi tentang penjelasan profil objek penelitian, diantaranya: sejarah berdirinya Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais, visi dan misi, sumber daya manusia, koleksi, fasilitas, keanggotaan, layanan, dan jam layanan. Dan hasil penelitian serta pembahasan yang berisi pelayanan perpustakaan Rumah Sakit : Studi Kasus Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais, pelayanan Perpustakaan Rumah Sakit ditinjau dari proses pelayanan, dan solusi dalam mengatasi kendala yang mempengaruhi layanan pada Perpustakaan Rumah Sakit.
Bab V Penutup
Bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dari keseluruhan pokok bahasan dan saran-saran yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian.
BAB II
TINJ AUAN LITERATUR
A. Per pustakaan Khusus
1. Definisi Per pustakaan Khusus
lembaga dan mereka yang bekerja pada instansi yang bersangkutan. Kekhususan perpustakaan terletak pada pengelolaan, koleksi dan pemakai yang cukup terbatas.6
Dalam buku Standar Perpustakaan Khusus adalah salah satu jenis perpustakaan yang dibentuk oleh lembaga (pemerintah/swasta) atau perusahaan atau asosiasi yang menangani atau mempunyai misi bidang tertentu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan pustaka/informasi di lingkungannya dalam rangka mendukung pengembangan dan peningkatan lembaga maupun kemampuan sumber daya manusia.7
Lembaga yang dimaksud dapat berupa lembaga industri, lembaga perkantoran, atau lembaga pemerintah lainnya. Tujuan penyelenggaraannya bukanlah diarahkan untuk konsumsi umum, tetapi hanya ditujukan kepada para karyawan lembaga yang bersangkutan. Dari mulai kegiatan pengolahan, pelayanan, dan referensi.
Perpustakaan khusus sering disebut perpustakaan kedinasan, karena adanya pada lembaga-lembaga pemerintahan atau swasta. Perpustakaan tersebut diadakan sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang berkaitan, baik langsung maupun tidak, dengan instansi induknya. 8
Pengetahuan yang berkaitan artinya perpustakaan khusus hanya menyediakan koleksi yang berhubungan dengan letak perpustakaan tersebut berada. Misalnya perpustakaan Kementerian Pertanian, hanya menyediakan koleksi yang berhubungan dengan pertanian dari mulai bercocok tanam, sayuran, buah-buahan.
6Sutarno NS, Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta : Samitra Media Utama, 2004), hal. 30-31
7
Soekarman K [et.al], Standar Perpustakaan Khusus (Jakarta : Proyek Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Nasional RI, 2002), h.2. diakses melalui
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved =0CBwQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.pnri.go.id%2FiFileDownload.aspx%3FID%3DAttac hment%255CStandar%255CStandar%2520Perpustakaan%2520Khusus%2520%2520.pdf&ei=Apl AVdK3L8GwuASVroAQ&usg=AFQjCNFXBtEPMGqlQwtrpTLyxlbYMCX1Iw&bvm=bv.91665 533,d.c2E. Pada tanggal 27 April 2015
8
Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang dibentuk oleh suatu badan usaha atau instansi, sehingga koleksi pustaka dan sistem pelayanannya berkaitan erat dengan tugas dan fungsi organisasi induknya, serta dituntut memberikan jasa aktif dan selalu bekerja sama dengan perpustakaan lain melalui jaringan informasi.9
Sehingga perpustakaan khusus merupakan salah satu penyebar informasi di lingkungan instansi atau organisasi yang menaunginya dan memiliki fungsi penting bagi para peenggunanya untuk mendapatkan informasi yang relevan sesuai dengan instansi atau organisasi yang bersangkutan.
Perpustakaan khusus memiliki karakter yang berbeda dari perpustakaan lainnya, diantaranya adalah koleksi dan layanan. Koleksi perpustakaan khusus lebih difokuskan pada koleksi mutakhir di dalam subyek yang menjadi tujuan perpustakaan tersebut atau untuk mendukung kegiatan badan induknya, dan mengkhususkan dalam mengumpulkan dan menyebarkan literatur sekelompok bidang ilmu pengetahuan saja. Layanan yang diberikan oleh perpustakaan khusus berbeda dibandingkan dengan perpustakaan lainnya. Layanan yang diberikan oleh perpustakaan khusus tidak boleh menyimpang dari tujuan lembaga induknya atau kebijakan pada perpustakaan tersebut.
Dengan kata lain perpustakaan khusus adalah sebuah perpustakaan yang berada dibawah koordinasi atau pembinaan suatu instansi, lembaga pemerintah, semi pemerintah atau swasta, lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan. Dan harus benar-benar melaksanakan fungsinya tersebut demi tercapainya kesesuaian antara tujuan atau organisasi
9
dengan fungsi perpustakaan. Sebuah perpustakaan biasanya tidak berdiri sendiri tapi menginduk kepada lembaga tertentu.
2. Tujuan dan Fungsi Per pustakaan Khusus
Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh instansi baik pemerintah maupun swasta yang dibentuk dalam rangkaian sistem manajemen khusus, yang bertujuan membantu tugas badan induknya. Tujuan perpustakaan khusus sebagai berikut:10
a. Menunjang program lembaga induk b. Menunjang penelitian lembaga induk
c. Menggalakkan minat baca di lingkungan unit kerja lembaga induk
d. Memenuhi kebutuhan pemustaka di lingkungan perpustakaan.
Dari tujuan diatas tersebut perpustakaan harus proaktif dalam memberikan segala informasi yang terkait dengan bidang lembaga induk, serta memanfaatkan segala fasilitas untuk kelancaran pelayanan. Fungsi perpustakaan khusus adalah menyediakan dan mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan organisasi yang menaungi perpustakaan tersebut. Selanjutnya keberadaan dan berjalan atau tidaknya sebuah perpustakaan khusus tersebut juga tergantung kepada lembaga yang bersangkutan.11
Artinya fungsi perpustakaan khusus ini lebih ditekankan pada fungsi informatif dan penelitian yang hanya menyediakan sarana literatur yang menunjang program kegiatan lembaga induknya.
3. Cir i-cir i Per pustakaan Khusus
10
Sri Sumekar [et.al.], Standar Perpustakaan Nasional, diakses melalui
http://www.pnri.go.id/iFileDownload.aspx?ID=Attachment\Standar\SNP-BID-PUPK.pdf, pada tangga l 6 April 2015.
11
Ciri utama perpustakaan khusus adalah sebagai berikut: 12
a. Memiliki buku yang terbatas pada satu atau beberapa displin ilmu saja. Misalnya, perpustakaan yang membatasi pada satu subjek (contoh pertanian kering), subjek yang luas (biologi dan pertanian) maupun berorientasi ke misi (misalnya pengangkutan).
b. Keanggotaan perpustakaan terbatas pada sejumlah anggota yang ditentukan oleh kebijakan perpustakaan atau kebijakan badan induk tempat perpustakaan tersebut.
c. Peran utama pustakawan ialah melakukan penelitian kepustakaan untuk anggota. Dalam melakukan penelitian untuk anggota, sering dipersoalkan seberapa jauh pustakawan harus melakukan penelitian. Ada yang berpendapat pustakawan hanya melakukan penelusuran literatur, ada pula yang berpendapat pustakawan terbatas pada pemberian petunjuk umum mengenai penggunaan sarana bibliografi, artinya sarana grafis maupun elektronik untuk menelusur permintaan anggota perpustakaan.
d. Tekanan koleksi bukan pada buku (dalam arti sempit), melainkan pada majalah, pamphlet, paten, laporan penelitian, abstrak, dan indeks karena jenis-jenis tersebut umumnya berisi informasi lebih mutakhir dibandingkan buku.
e. Jasa yang diberikan lebih mengarah kepada minat anggota perorangan. Oleh karena itu, perpustakaan khusus menyediakan jasa yang sangat berorientasi ke pemakainya dibandingkan jenis perpustakaan lain. Jasa yang diselenggarakan, misalnya pemencaran informasi terpilih, pengiriman fotokopi artikel sesuai dengan minat pemakai.
berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas maka yang termasuk dalam kelompok perpustakaan khusus antara lain: 13
a. Perpustakaan departemen dan non departemen. b. Perpustakaan bank.
c. Perpustakaan surat kabar dan majalah. d. Perpustakaan industri dan badan komersial.
e. Perpustakaan lembaga penelitian dan lembaga ilmiah. f. Perpustakaan perusahaan.
12 Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1991), hal. 49
Dengan ciri tersebut maka, tugas perpustakaan khusus menjadi lebih berat, karena selain melayani segala kebutuhan badan induknya disamping itu juga harus melayani pemakai luar.
4. Koleksi Per pustakaan Khusus
Koleksi perpustakaan sangat besar peranannya dalam menunjang pelayanan informasi yang diberikan kepada pengguna perpustakaan. Koleksi perpustakaan dikumpulkan dan diproses berdasarkan aturan tertentu untuk disajikan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi pengguna, mencakup koleksi umum, koleksi refrensi, dan koleksi inti.
Koleksi umum adalah koleksi perpustakaan yang diperuntukkan bagi pemakai perpustakaan tidak terbatas hanya pada kalangan sendiri, tetapi juga dapat digunakan oleh pemakai dari lembaga/organisasi/perorangan yang bergerak dalam bidang yang sama. Koleksi umum meliputi monograf, majalah, dan jurnal yang dilayankan dalam bentuk akses terbuka. Koleksi referensi adalah koleksi perpustakaan yang mencakup ensiklopedia, kamus, literatur kelabu (tesis, disertasi, laporan hasil penelitian, statistik) yang dengan berbagai pertimbangan dalam hal kelangkaan dan cakupan yang sangat spesifik dilayankan dalam bentuk akses tertutup. Koleksi inti adalah koleksi utama perpustakaan yang digunakan untuk mendukung misi organisasi/instansi induk perpustakaan.14 Ketiga koleksi tersebut sangat penting dalam sebuah perpustakaan, hal ini mengingat tujuan perpustakaan khusus yang membantu lembaga induknya dalam segala kegiatan dan memenuhi semua kebutuhan pemustaka di lembaga tersebut dalam menunjang tugasnya. Layanan perpustakaan akan semakin bermutu jika tingkat keterpakaian koleksi dan kepuasan pemakai semakin meningkat.
14
Soekarman K [et.al], Standar Perpustakaan Khusus (Jakarta : Proyek Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Nasional RI, 2002), h.2, diakses melalui
B. Layanan Per pustakaan Khusus
1. Penger tian Layanan Per pustakaan Khusus
Menurut kamus besar bahasa indonesia, “ layanan adalah melayani,
service, atau jasa”.15 Layanan perpustakaan adalah untuk melayani kebutuhan pemustaka perpustakaan dalam setiap kegiatan, tanpa memandang batasan jenis kelamin, ras agama, dan sebagainya.
Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama di setiap perpustakaan. Citra kualitas pelayanan perpustakaan yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang dari pihak perpustakaan, melainkan berdasarkan sudut pandang pemustaka.16
Ada beberapa hal tentang layanan perpustakaan, yaitu: 17
a. Layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi pada kepentingan pemustaka.
b. Setiap perpustakaan menerapkan tata cara layanan perpustakaan berdasarkan standar nasional perpustakaan.
c. Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
d. Layanan perpustakaan sebagaimana dimakud pada ayat pertama dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka.
e. Layanan perpustakaan diselenggarakan sesuai dengan standar nasional perpustakaan untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pemustaka.
f. Layanan perpustakaan terpadu diwujudkan melalui kerja sama antar perpustakaan.
g. Layanan perpustakaan secara terpadu dilaksanakan melalui jejaring telematika.
Perpustakaan khusus memberikan layanan kepada pemustaka di lingkungannya dan secara terbatas memberikan layanan kepada
15
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal. 646
16
Himayah, Layanan dan Pelayanan Perpustakaan: Menjawab Tantangan Era Teknologi Informasi, Jurnal Khizanah Al-Hikmah, Vol. 1, No. 1 (Juni 2013): hal. 2
17
pemustaka di luar lingkungannya.18 Oleh karena itu, layanan pada perpustakaan khusus harus dapat memberikan nilai lebih kepada pemustaka dari dalam lembaga induknya, dan tetap menyediakan layanan yang berorientasi dan memudahkan kebutuhan informasi pemustaka dari luar lembaga induknya.
Menurut David Tyckoson yang dikutip dari Dian, perpustakaan khusus melayani pengguna dari sebuah instansi tertentu, badan pemerintah, atau suatu organisasi. Agar efektif, perpustakaan harus memenuhi dan melayani kebutuhan informasi pemustaka. Pustakawan harus mengetahui kebutuhan dari pemustaka dan mencermikan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam bentuk koleksi perpustakaan. para pustakawan bertanggung jawab dalam membantu pengguna menemukan informasi apa yang mereka butuhkan.19
Tidak ada perpustakaan jika tidak ada layanan, karena itu perpustakaan sebenarnya identik dengan pelayanan. Jika ditinjau dari sifatnya sebagai usaha layanan maka pelayanan perpustakaan mempunyai karakteristik yang terdiri dari: 20
a. Intangibility, yakni suatu pelayanan yang bersifat tidak berwujud. Suatu pelayanan yang tidak dapat dilihat maupun dirasakan sebelum pelayanan itu dinikmati. Pemustaka dapat melihat kualitas pelayanan baik dengan melihat situasi fisiknya. Oleh karena itu,
18
Undang-Undang Perpustakaan No 43 Tahun 2007 pasal 26
19 Dian Afriyanti, “Efektivitas Layanan Jasa Pen
elusuran Informasi Elektronik Menurut Pemustaka di Perpustakaan PDII-LIPI,” (Skripsi S1 Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014), hal. 22.
20
perpustakaan perlu ditata rapi, baik tentang rak buku, meja baca, tempat duduk, dan lainnya.
b. Inseparability, yakni suatu pelayanan yang biasanya diproduksi dan dikonsumsi pada waktu yang sama, untuk itu perlu adanya interaksi antara pustakawan dan pemustaka dalam menciptakan pelayanan yang berkualitas, misalnya dengan adanya pendidikan pemakai, pelayanan yang ramah sopan dan lainnya.
c. Variability, yakni kualitas pelayanan yang diberikan oleh seseorang berbeda dengan diberikan orang lain. Hal ini sangat tergantung pada sikap dan perilaku petugas perpustakaan.
d. Perishability, yakni suatu pelayanan yang tidak dapat disimpan untuk dipergunakan apabila diperlukan. Memang suatu ketika akan terjadi situasi yang sangat menyibukkan misalnya pustakawan banyak kesibukan dan pemakai yang datang jumlahnya banyak, maka untuk mengatasinya perlu adanya fasilitas maupun dorongan yang memungkinkan pemakai mampu melayani diri sendiri misalnya dengan menyediakan komputer, dan lain-lain.
Menurut Parasuraman, Zeithaml dan Berry dalam bukunya Delivering Service Quality yang dikutip oleh Zurni Zahara Samosir mengatakan bahwa Kualitas pelayanan adalah perbandingan antara pelayanan yang diharapkan konsumen dengan pelayanan yang diterimanya.21
Dengan kata lain, apabila pelayanan yang diterima sesuai dengan yang diharapkan oleh pengguna perpustakaan maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan, dan sebaliknya pelayanan yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk.
Sebuah layanan merupakan salah satu barometer keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan. Perpustakaan harus berusaha memberikan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan pemustaka. Layanan yang baik adalah yang dapat memberikan rasa senang dan puas kepada pemustaka.
21Zurni Zahara Samosir, “
2. Macam – macam Layanan Per pustakaan
Perpustakaan sebagai pemberi jasa informasi dapat memberikan layanan kepada pemustaka antara lain:22
a. Layanan locker
Adalah penyediaan fasilitas untuk menitipkan tas atau batang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke perpustakaan.
b. Layanan sirkulasi
Adalah layanan kepada pemustaka yang berkaitan dengan peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan koleksi.
c. Layanan referensi
Adalah suatu kegiatan layanan yang berupa pemberian bantuan kepada pemustaka perpustakaan agar dapat menemukan informasi yang dibutuhkan.
d. Layanan penelusuran informasi
Adalah suatu kegiatan layanan untuk mencari kembali dokumen/informasi yang pernah ditulis atau diterbitkan mengenai suatu objek terbaru.
e. Layanan informasi koleksi terbaru
22
Adalah suatu bentuk jasa kesiagaan informasi terbaru diupayakan untuk disampaikan sesegera mungkin kepada pemustaka perpustakaan, sehingga mengetahui perkembangan keadaan koleksi/informasi terbaru.
f. Layanan koleksi
Adalah suatu kegiatan untuk melayankan berbagai jenis koleksi yang dimiliki perpustakaan.
g. Layanan ruang baca
Adalah penyediaan fasilitas untuk membaca/belajar di ruang-ruang perpustakaan. fasilitas yang disediakan adalah berbagai jenis koleksi perpustakaan, meja, kursi, penerangan, ruang diskusi, komputer penelusuran, hotspot, AC, dan toilet.
h. Layanan fotocopy
Adalah penyediaan fasilitas penggandaan informasi tertulis dan tercetak untuk keperluan studi dan penelitian.
i. Layanan workstation dan multimedia
j. Layanan lain-lain
Layanan pendidikan pemustaka ini juga termasuk kedalam layanan lain-lain, layanan ini diberikan dirancang untuk mendidik pemustaka agar mengetahui sumber informasi perpustakaan, mendidik dalam memanfaatkan sumber-sumber secara tepat, dan mendidik untuk menjadi pemustaka yang tertib dan bertanggung jawab. Terakhir yaitu layanan sosialisasi peraturan, peraturan yang telah dibuat oleh perpustakaan sebaiknya diperkenalkan atau disosialisasikan kepada pemustaka, sosialisasi ini biasanya dilakukan oleh humas perpustakaan atau bagian layanan.
3. Macam – macam Layanan Per pustakaan Khusus Layanan yang diberikan perpustakaan khusus meliputi:23
a. Layanan ruang baca
adalah layanan yang diberikan oleh perpustakaan berupa tempat untuk melakukan kegiatan membaca di perpustakaan. Layanan ini diberikan untuk mengantisipasi pengguna perpustakaan yang tidak ingin meminjam untuk dibawa pulang, akan tetapi mereka cukup memanfaatkannya di perpustakaan.
b. Layanan sirkulasi
23
Standar Nasional Indonesia, Perpustakaan Khusus Instansi Pemerintah, (2009), h. 9 diakses melalui :
http://www.pnri.go.id/iFileDownload.aspx?ID=Attachment%5CPedoman%5Cstandar%20nasional %20indonesia%20bidang%20kepustakaan%20dan%20kepustakawanan.pdf. Pada tanggal 25 mei 2015
adalah kegiatan melayani pengguna jasa perpustakaan dalam pemesanan, peminjaman, dan pengembalian bahan pustaka beserta penyelesaian administrasinya. Layanan ini bertujuan memberikan keleluasaan kepada pengguna dalam memanfaatkan bahan pustaka yang tersedia di perpustakaan.
c. Layanan kesiagaan informasi
Layanan ini adalah layanan perpustakaan kepada pengguna mengenai informasi yang baru datang ke perpustakaan. Ini adalah suatu cara yang baik untuk tetap berhubungan dengan pengguna. Bagi pengguna sendiri hal ini merupakan pemberitahuan bahwa sudah ada bahan atau koleksi baru yang perlu dibaca di perpustakaan.24
d. Layanan referensi
Layanan referensi diberikan untuk membantu pemustaka atau masyarakat yang ingin menemukan informasi secara cepat dan tepat dari koleksi yang ada di perpustakaan. Kegiatan dilakukan dengan cara menjawab langsung pertanyaan pemustaka atau dari masyarakat dengan menggunakan sumber/koleksi rujukan yang tersedia.
e. Layanan penelusuran literatur
layanan penelusuran literatur adalah pencarian kembali bahan pustaka yang ada di perpustakaan atau di luar
24
perpustakaan dengan cara menggunakan alat akses kartu katalog, literatur sekunder seperti indeks dan majalah abstrak atau pangkalan data (terpasang/online dan CD-ROM). Untuk melaksanakan layanan ini, perpustakaan perlu memiliki tenaga yang menguasai bidang tertentu serta koleksi sumber-sumber akses informasi selengkap dan setepat mungkin.25
f. Layanan Bimbingan Pengguna
Layanan ini berupa kegiatan membimbing atau memberikan petunjuk kepada pengguna agar mampu memanfaatkan kemudahan dan pelayanan perpustakaan dengan efektif dan efisien.
4. Sistem Layanan Per pustakaan Khusus
Sistem layanan yang dipakai perpustakaan pada umumnya yaitu sistem terbuka (Open Access) dan sistem tertutup (Close Access).
a. (Open Access) Sistem terbuka. Perpustakaan memberikan kebebasan kepada pemustaka perpustakaan untuk memasuki ruangan koleksi dan memilih sendiri koleksi dari rak sesuai kebutuhan dan selera pemustaka perpustakaan. Petugas hanya mengawasi dari kejauhan dan mencatat peminjaman dan pengembalian koleksi.
1) Kelebihan
25
a) Petugas layanan bisa relatif sedikit, karena pemakai mencari sendiri, petugas tidak perlu mengambilkan. Menghemat tenaga, karena pemustaka bisa langsung mengambil koleksi sendiri di rak.
b) Pemakai bebas memilih buku. Memberikan kepuasan kepada pemustaka karena bisa memilih koleksi yang sesuai dengan kebutuhannya.
c) Jika susunan koleksi teratur dapat dengan cepat menemukan karena mengambil sendiri secara langsung. Memungkinkan memilih judul lain yang sesuai, apabila tidak menemukan koleksiyang dicari.
d) Tidak perlu menunggu diambilkan oleh petugas. Mengurangi kemungkinan terjadinya salah paham antara pemustakadan petugas.
2) Kelemahan
a) Susunan koleksi menjadi tidak teratur. Memerlukan tenaga ekstra untuk mengembalikan dan membetulkan koleksi yang salah letak.
b) Kemungkinan buku hilang lebih banyak..
c) Pengawasan sedikit lebih sulit karena orang keluar masuk relatif banyak.
d) Suasana tenang agak terganggu, karena banyak pengunjung.26
26
b. (Close Access) Sistem tertutup. Artinya pemustaka tidak diperbolehkan memasuki dan mengambil sendiri koleksi yang diinginkannya di rak. Pemustaka dapat memilih koleksi yang diinginkannya melalui katalog yang disediakan, kemudian petugas yang akan mengambil dan mengembalikan koleksi tersebut.
1) Kelebihan
a) Susunan koleksi tetap teratur, karena hanya petugas yang mengambil dan mengembalikan informasi yang sudah dipergunakan.
b) Tingkat keamanan koleksi lebih baik, karena orang lain tak boleh masuk ke tempat penyimpanan.
c) Pengawasan lebih ringan.
d) Suasana lebih tenang, bersih, dan kondusif.
2) Kelemahan
a) Diperlukan petugas yang relatif banyak.
b) Penggunaan koleksi relatif terbatas, sebab pengunjung hanya memiliki yang ia ketahui, tak ada alternatif pilihan.
c) Waktu penelusuran agak lama, pengunjung harus sabar menunggu.
d) Jika salah menempatkan kembali, sulit ditemukan lagi, maka biasanya dianggap telah hilang.27
5. Layanan Per pustakaan Yang Baik
Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang koleksinya relevan dengan kebutuhan pemustaka yang dilayaninya. Sama dengan pendapat oleh Calvert yang dikutip oleh Zurni Zahara Samosir menyatakan bahwa pelayanan perpustakaan yang utama adalah koleksi yang baik, dalam arti subjek yang relevan dan sesuai dengan kurikulum yang dijalankan, pengelolaannya tertata dengan baik sehingga temu kembali mudah dilakukan.28
Untuk mendapatkan kualitas pelayanan perpustakaan, maka perlu adanya sikap dan pandangan yang baik terhadap layanan, seperti:29
a. Memuaskan pengguna, pemustaka akan merasa puas setelah meninggalkan meja pelayanan.
b. Pustakawan diharapkan menemukan cara pemecahan masalah yang dihadapi pemustaka, misalnya apabila pemustaka tidak dapat menemukan buku atau referensi yang dicari, dan lain-lain.
c. Pemustaka hendaknya mematuhi saran yang diberikan oleh pustakawan.
d. Ramah, pemustaka akan merasa senang apabila pustakawan bersikap ramah, sopan, dan penuh kemitraan. Staff perpustakaan dalam memberikan layanan bahasanya, manis tutur kata dan sikapnya juga menyenangkan hal ini sesuai dengan pernyataan
28
Zurni Zahara Samosir, “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Mahasiswa
Menggunakan Perpustakaan USU” , Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 1 (Juni 2005), hal. 33
29
berikut “ Pembawaan staff perpustakaan yang ramah dan sopan
akan snagat berpengaruh terhadap kepuasan pemakai”30
e. Cepat, yaitu perpustakaan dalam memberikan pelayanan hendaknya dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, pada umumnya pemustaka tidak ingin terlalu lama dalam mendapatkan pelayanan.
f. Suatu masalah tersendiri apabila pemustaka tidak memahami informasi yang mereka terima.
C. Per pustakaan Rumah Sakit
1. Definisi Per pustakaan Rumah Sakit
Perpustakaan rumah sakit adalah perpustakaan yang ada di sebuah rumah sakit atau pusat medis, yang menyediakan informasi dan pengetahuan medis untuk staf rumah sakit dan komunitasnya.31
Perpustakaan rumah sakit adalah perpustakaan yang berada dan dirawat oleh pihak rumah sakit yang memiliki koleksi tercetak maupun elektronik dalam bidang medis dan berhubungan dengan kesehatan untuk melayani informasi dan penelitian dokter, perawat, pasien, dan staf. Biasanya dikepalai oleh seorang pustakawan medis.32
Pembagian Rumah Sakit berdasarkan macam Pelayanannya terbagi menjadi dua, yaitu :
30
Ari Sudrajat, Pelayanan Umum (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI), hal. 110
31
Lett Rosalind K, Hospital Libraries, Encyclopedia of Library and Information Science, (2003), h. 1208, diakses melalui :
https://books.google.co.id/books?id=GBICVdZOT6IC&printsec=frontcover&dq=encyclopedia+of +library+and+information+science++second+edition+volume+2&hl=en&sa=X&ei=gJRAVZeQO cKfugSboYCoBA&ved=0CBsQ6AEwAA#v=onepage&q=encyclopedia%20of%20library%20and %20information%20science%20%20second%20edition%20volume%202&f=false. Pada tanggal 13 April 2015
32
a. Rumah Sakit Umum
Pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap para pasien yang menderita segala macam penyakit dan juga melakukan segala macam pembedahan.
b. Rumah Sakit Khusus
Membatasi pelayanannya kepada suatu golongan pasien yang menderita suatu jenis penyakit tertentu.33
2. Cir i-cir i Per pustakaan Rumah Sakit
Pada dasarnya ciri-ciri perpustakaan rumah sakit ada dua,yaitu:
a. Dari segi koleksi : Apabila dilihat dari segi koleksinya, perpustakaan rumah sakit hanya menyediakan koleksi mengenai kesehatan. Apabila rumah sakit tersebut fokus pada satu jenis penyakit maka akan berpengaruh kepada koleksi diperpustakaan tersebut.
b. Dari segi pemustaka: Sedangkan dari segi pemustaka nya, bisa digunakan oleh dokter, perawat, para staf medis maupun non medis, pasien, keluarga pasien, dan mahasiswa atau peneliti yang membutuhkan informasi kesehatan atau penyakit yang sedang diteliti.
3. Standar Per pustakaan Rumah Sakit
Medical Library Association (MLA) “ Standar Perpustakaan Rumah Sakit” telah dikembangkan pada tahun 2007 sebagai panduan untuk
administrator rumah sakit, pustakawan, dan badan-badan akreditasi
33
untuk memastikan bahwa rumah sakit memiliki sumber daya dan jasa secara efektif untuk memenuhi kebutuhan informasi rumah sakit. Informasi berbasis pengetahuan sangat penting untuk rumah sakit. Adapun beberapa hal yang mencakup informasi tersebut, diantaranya : perawatan pasien, strategi pengambilan keputusan, peningkatan kinerja dan keselamatan pasien, pembelajaran sepanjang hayat dan staf medis harus memiliki kompetensi profesional, pendidikan pasien dan keluarga, dan penelitian.
Dalam Standar Perpustakaan Rumah Sakit ini ada beberapa standar dalam mengembangkan perpustakaan di rumah sakit, diantaranya :
a. STANDARD 1: The library serves as the primary department responsible for developing systems and services to meet the knowledge-based information (KBI) needs of the organization. The library shall have its own budget, and the director, as a department head, shall report to the senior management of the organization.
b. STANDARD 2: KBI systems and services are directed by a qualified librarian. Academy of Health Information Professionals membership is preferred.
c. STANDARD 3: Library staffing formula
d. STANDARD 4: The librarian, as the key KBI professional in the organization, is an active member of the information management teams.
e. STANDARD 5: Evidence demonstrates effective connections between KBI and patient care, patient education, performance improvement and patient safety functions, educational functions for hospital and medical staff, and other appropriate functions.
f. STANDARD 6: The librarian provides evidence of an ongoing assessment of the KBI needs of the organization and the development and implementation of a plan to provide appropriate resources and services to meet those identified needs.
h. STANDARD 8: All KBI functions are performed in compliance with applicable federal, state, and local laws and regulations.
i. STANDARD 9: KBI resources are available to clinical staff twenty-four hours a day, seven days a week. j. STANDARD10: The physical library will be large enough to
accommodate the library staff, the in-house collection, an appropriate amount and selection of personal computers and other information technology (IT) hardware, and seating for an appropriate number of users. A separate office will be provided for at least the professional library staff.
k. STANDARD 11: IT resources are available to support the library's mission of providing KBI resources and services. 34
Dari beberapa standar yang telah dijabarkan diatas terdapat 3 standar yang menjadi bahan acuan dalam untuk mengembangkan perpustakaan di rumah sakit. Standar nomor 1 yang menyatakan bahwa :
“The library serves as the primary department responsible for developing systems and services to meet the knowledge-based information (KBI) needs of the organization. The library shall have its own budget, and the director, as a department head, shall report
to the senior management of the organization” .
Artinya Perpustakaan berfungsi sebagai bagian utama yang bertanggung jawab untuk mengembangkan sistem dan layanan untuk memenuhi informasi berbasis pengetahuan.
Standar nomor 3 yang menyatakan bahwa : “Library staffing formula” .
34 ___________,Standards for Hospital Libraries 2007: Hospital Libraries section
Artinya yang bukan staf perpustakaan tidak dapat sepenuhnya memberikan pelayanan informasi berbasis pengetahuan yang dibutuhkan oleh staf rumah sakit atau medikal.
Dan Standar nomor 5 yang menyatakan bahwa :
“ Evidence demonstrates effective connections between KBI and patient care, patient education, performance improvement and patient safety functions, educational functions for hospital and medical staff, and other appropriate functions” .
Artinya Menunjukkan bukti hubungan yang efektif antara informasi berbasis pengetahuan dan perawatan pasien, peningkatan kinerja dan fungsi keselamatan pasien, fungsi pendidikan untuk rumah sakit dan staf medis, dan fungsi yang sesuai lainnya.
4. Standar Pelayanan Rumah Sakit
Dalam Standar Pelayanan Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dijelaskan mengenai perpustakaan dan terdapat 6 (enam) standar yang dijelaskan, diantaranya : 35
a. Standar 1 : Falsafah dan Tujuan.
Perpustakaan yang memadai perlu diadakan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua staf dan pegawai. Pelayanan perpustakaan disesuaikan dengan besar dan tanggung jawab rumah sakit dan berkaitan dengan sumber daya daerah dan wilayah
35
yang tersedia. Staf dan petugas rumah sakit dapat menggunakan fasilitas tersebut.
Kriteria
1) Perlu ada kebijakan tertulis mengenai perpustakaan yang mencerminkan falsafah, kebijakan, dan kegiatan sehari-hari; serta tujuan rumah sakit.
2) Perpustakaan harus menjamin dan memperoleh informasi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan rumah sakit.
b. Standar 2 : Administrasi dan Pengelolaan
Perpustakaan merupakan salah satu bagian dari rumah sakit dan dipimpin oleh seorang staf terlatih di bidang perpustakaan yang bertanggung jawab kepada Direktur Administrasi. Perpustakaan mencatat semua aktivitas sesuai dengan panduan kerja. Bila perlu dibentuk panitia penasihat yang membimbing kepala perpustakaan. Perpustakaan perlu mempunyai rencana pengembangan.
Krtiteria
2) Kepala perpustakaan menyelenggarakan pelayanan yang merupakan bagian kegiatan rumah sakit.
3) Materi (buku dan majalah) harus terorganisasi sehingga pemakai dapat mencari atau memperoleh pelayanan dengan cepat.
4) Staf dan pegawai rumah sakit harus dapat menggunakan atau memperoleh jasa pelayanan perpustakaan dengan mudah.
5) Penerimaan pegawai menurut peraturan rumah sakit.
6) Kepala perpustakaan bertanggung jawab terhadap pengendalian mutu materi danbarang audiovisual.
7) Perpustakaan perlu memiliki dokumen mengenai kegiatan perpustakaan, termasuk statistik. Demikian pula panduan, kebijakan, dan prosedur peminjaman materi.
8) Penasihat perpustakaan terdiri dari wakil pegawai dan staf; yang berfungsi memberikan rekomendasi yang akan dilaksanakan oleh kepala perpustakaan.
pembaca, dan angka pemakaian per kapita serta perbaikan peralatan.
10)Penasihat perpustakaan perlu rapat paling sedikit tiga bulan sekali untuk membahas masalah pelayanan dan hasil rapat dibuat notulennya.
11)Perlu ada dana yang disediakan untuk perpustakaan dan perlu ditinjau setiap tahun. Pertimbangan khusus diberikan pada harga buku dan majalah bila terjadi kenaikan harga.
c. Standar 3 : Staf dan Pimpinan
Jumlah dan jenis pegawai perpustakaan serta fungsinya harus sesuai dengan tujuan dan cakupan pelayanannya. Pelayanan diberikan oleh staf terlatih dibidang perpustakaan khususnya yang berpengalaman dalam perpustakaan kesehatan. Kriteria
1) Jumlah staf sesuai dengan besar dan kategori rumah sakit.
2) Kepala perpustakaan ialah tenaga terlatih dibidang perpustakaan.
4) Kepala dibantu oleh pegawai yang paham mengenai perpustakaan.
5) Perlu tenaga administratif yang mendukung kegiatan.
d. Standar 4 : Fasilitas dan Peralatan
Fasilitas yang cukup baik dan memadai perlu disediakan bagi pelayanan perpustakaan sehingga dapat berkembang.
Kriteria
1) Perlu ada perencanaan antara perencana, arsitek, dan ahli perpustakaan, bila bangunan perpustakaan akan dibangun, diperluas, dan diperbaiki.
2) Lokasi perpustakaan sebaiknya ditengah, tenang, terang, dan memiliki ventilasi yang baik. 3) Perlu ada ruang khusus bagi barang cetak dan bukan cetak. Demikian pula ruang untuk diskusi dan audiovisual, bila mungkin disediakan khusus.
4) Ruang bagi buku, majalah, indeks, audiovisual perlu disediakan demikian pula untuk komputer dan fotokopi.
6) Bila mungkin disediakan ruang untuk referensi, riset, ruang baca, belajar, dan peminjaman buku. 7) Adanya petunjuk pemakaian perpustakaan. 8) Koleksi buku dapat dipakai siapa saja.
9) Harus ada peraturan pencegahan kehilangan koleksi dan materi perpustakaan.
10)Materi perpustakaan harus dijaga supaya sedapat mungkin tetap baru.
e. Standar 5 : Kebijakan dan Prosedur
Perpustakaan perlu mempunyai kebijakan yang dapat ditinjau setiap tiga tahun dan diperbarui bila perlu. Kerja sama dengan perpustakaan lain perlu dibina dalam bentuk saling menguntungkan.
Kriteria
1) Adanya kebijakan tertulis meliputi bidang yang diminati, kedalaman subyek, tahun publikasi, dan bidang yang berhubungan dengan rumah sakit.
2) Perlu ada kebijakan yang mengenai koleksi perpustakaan, administrasi, dan keuangan. 3) Perlu ada kerja sama dengan lembaga serupa
lainnya, misalnya dengan perpustakaan besar.
Perlu ada program pengembangan staf. Kepala perpustakaan bertanggung jawab terhadap pelatihan staf dan petunjuk bagi pemakai, sehingga pemakaian perpustakaan menjadi maksimal.
Kriteria
1) Perlu ada program pengembangan staf.
2) Staf perpustakaan dibantu untuk menghadiri lokakarya, seminar, dan pertemuan profesional pustakawan, dan sebagainya.
3) Bila ada program pelatihan, harus ada cukup staf yang melakukan supervisi pelatihan.
g. Standar 7 : Evaluasi dan Pengendalian Mutu
Pelayanan perpustakaan dan stafnya perlu dinilai secara berkala menurut kriteria yang telah baku untuk peningkatan mutu pelayanan.
Kriteria
1) Perlu ada sistem untuk penilaian pelayanan perpustakaan dan petugasnya.
2) Perlu ada umpan balik bagi evaluasi.
3) Perlu ada peninjauan berkala dan pembaruan materi.
Penelitian yang relevan dengan judul penelitian diambil dari dua skripsi, yaitu skripsi dari :
Skripsi pertama berjudul “ Pelayanan Informasi Pada Perpustakaan
Badan Kepegawaian Negara (BKN)” yang disusun oleh Diah Titiek
informasi buku, dengan alasan buku adalah jenis informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sedangkan, yang membedakan skripsi tersebut dengan skripsi penulis, yaitu : tempat penelitian, cakupan penelitian dan pembahasan.
Skripsi yang kedua berjudul “ Pelayanan Anak Rumah Sakit
Kanker Dharmais” yang disusun oleh Nirma Hasiana program studi Ilmu
tenaga yang membantu jika tidak ada relawan lain yang membantu. Jadi pada dasarnya pelayanan pada perpustakaan anak di rumah sakit ini lebih menekankan kepada pemberian dorongan (semangat) kepada anak agar mereka merasa lebih baik dalam proses pengobatan. Sedangkan, yang membedakan skripsi tersebut dengan skripsi penulis, yaitu : cakupan dalam pembahasan penelitian.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. J enis dan Pendekatan penelitian 1. J enis Penelitian
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang dipakai yaitu pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.36 Dua teknik yang biasa dikaitkan dengan metode kualitatif yaitu mengumpulkan data melalui wawancara dan pengamatan. Studi kasus penelitian pada Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.
B. Sumber Data 1. Data Pr imer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara yang diperoleh dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan. Dalam penelitian ini, sumber data peneliti diperoleh langsung dari lembaga yang peneliti pilih baik dokumen ataupun informasi dari wawancara.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini biasanya diperoleh dari perpustakaan, laporan-laporan atau dokumen peneliti yang terdahulu.37
36 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2012), hal. 1
37
Dalam penelitian ini, sumber data yang peneliti ambil yaitu dari literatur kepustakawan seperti buku, majalah, media tulis serta media elektronik dan sebagainya yang berkaitan dengan penulisan penelitian ini.
C. Infor man
Informan adalah orang yang diwawancarai dan dijadikan sebagai narasumber untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penulis. Penulis mengambil informan sebanyak 3 orang, yaitu :
1. Kepala Sub bagian Perpustakaan dan Dokumentasi, yaitu Ibu Yayah Sofiati, SH. MM. Informan dilahirkan di Tangerang, pada tanggal 21 Januari 1959. Latar belakang pendidikan informan berasal dari lulusan S2 Manajemen SDM di STIE Jakarta. Sebelumnya informan mengambil gelar S1 Hukum Perdata di Fakultas Hukum, Universitas Islam Syah Yusuf Tangerang. Informan telah menjabat sebagai kepala Sub bagian Perpustakaan dan Dokumentasi dari tahun 2006 – sampai sekarang. Alasan penulis menjadikannya sebagai informan, karena informan tersebut memiliki wewenang dalam menentukan dan memutuskan kebijakan pada Perpustakaan Rumah Sakit Kanker dharmais.
Universitas Yarsi. Informan telah menjabat sebagai staff Perpustakaan dari tahun Awal 2013 – sampai sekarang. Alasan penulis menjadikannya sebagai informan, karena informan mengetahui proses mengenai layanan yang ada di perpustakaan tersebut.
3. Pemustaka Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais, yaitu Okta Kusumadewi. Informan merupakan keluarga salah satu pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit Kanker Dharmais.
D. Teknik Pengumpulan data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan penulis untuk mendapatkan informasi atau data-data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu :
1. Obser vasi
Observasi adalah penelitian yang pengambilan datanya bertumpu pada pengamatan langsung terhadap objek penelitian.38 Observasi bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan yang dipelajari dan aktifitas-aktifitas yang telah berlangsung, hasil observasi tersebut dicatat yang berisi deskripsi hal-hal yang diamati.
2. Wawancar a
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.39 Penulis mengajukan beberapa pertanyaan yang telah peneliti siapkan kepada informan, lalu dijawab oleh pemberi data dengan bebas terbuka. Wawancara ini dilakukan dengan Kepala Perpustakaan dan Staf pada Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.
3. Dokumentasi
Dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data melalui dokumen-dokumen yang terdapat di tempat penelitian yang berupa laporan tahunan, foto-foto yang penulis ambil sendiri setelah meminta izin dari pihak Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dengan tujuan sebagai bukti yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.
E. Teknik Analisis Data
Setelah melakukan teknik pengumpulan data, langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data adalah proses menyusun, mengkategorikan data, mencari pola atau tema dengan maksud untuk memahami maknanya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif. Data-data yang telah penulis dapatkan akan diteliti dan dianalisis terlebih dahulu, kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk deskriptif yang bertujuan untuk mengemukakan permasalahan dan menemukan solusi terhadap permasalahan yang terjadi disertai dengan alasan-alasan yang mendukung.
Adapun teknik analisis data yang dilakukan adalah : 1. Reduksi Data
39
Pada tahap ini, dilakukan pemilihan tentang relevan tidaknya antara data dengan tujuan penelitian. Data-data yang peneliti peroleh dari hasil observasi, wawancara dan dokementasi tidak semuanya penulis gunakan. Akan tetapi, data tersebut dipilah-pilah lagi yang relevan dengan tema penelitian.
2. Penyajian Data
Dalam penelitian ini, peneliti menyajikan data dalam bentuk teks yang bersifat naratif.
3. Penar ikan Kesimpulan
Setelah data-data terangkum dan dijabarkan, penulis akan membuat kesimpulan yang nantinya dapat digunakan untuk menjawab rumusan masalah.
F. J adwal Penelitian
[image:58.595.103.512.177.739.2]Penelitian ini dilaksanakan pada Perpustakaan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta yang terletak di Jalan Let. Jend. S. Parman kav. 84-86, Slipi, Jakarta Barat. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2015 - Juli 2015 dengan perincian sebagai berikut:
Tabel 1 J adwal Penelitian
No Bulan
Kegiatan
Pengajuan
Pr oposal Penelitian Bimbingan
Penyusunan Skr ipsi
1 Febuari
2 Maret
3 April
4 Mei
5 Juni
6 Juli
7 Agustus
8 September
9 Oktober
10 November
11 Desember
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pr ofil Per pustakaan Rumah Sakit Kanker Dhar mais
pelayanan yang lengkap, terpadu, nyaman serta dapat dinikmati pasien yang mampu maupun yang kurang mampu.
Ketua Yayasan Dharmais, Bapak Presiden Soeharto, setelah melihat kebutuhan masyarakat akan pelayanan penyakit di Indonesia pada bulan September 1988 meminta DR Dr A Harryanto Reksodiputro untuk memikirkan model rumah sakit kanker yang sesuai dengan kebutuhna masyarakat kita. Setelah meminta nasehat dari Departemen Kesehatan, Direktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, serta beberapa pakar dalam bidang penyakit kanker maka pada bulan Oktober 1988 dibentuklah Tim untuk menyusun usulan pendirian RS Kanker. Usulan tersebut selesai pada bulan Desember 1988 dan disampaikan pada Ketua Yayasan Dharmais pada 8 Januari 1989. Usulan tersebut berisi perlunya mendirikan RS Kanker yang berfungsi memberikan pelayanan yang merata bagi masyarakat, khususnya bagi pasien bagi kanker, merupakan tempat pendidikan bagi mereka yang berkecimpung dalam pelayanan penyakit kanker serta tempat penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan penyakit kanker. Ketua Yayasan Dharmais menyetujui usulan tersebut dan membentuk Direksi Pembangunan proyek RS Kanker yang diketuai oleh Bapak Hedijanto, dengan penasehat Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Pekerjaan Umum serta Gubernur DKI Jakarta.
fisik, peralatan maupun ketenaganaan. Agar dapat memantau kemajuan pelayanan penyakit kanker di luar negeri, Tim telah mengadakan peninjauan ke pusat-pusat pelayanan penyakit kanker di negara maju seperti Perancis, Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Dari hasil peninjauan tersebut dirasakan pentingnya pelayanan yang terpadu serta perlunya hubungan yang erat antara RS Kanker dengan Fakultas Kedokteran agar mutu pelayanan dapat di dukung oleh kemajuan ilmu kedokteran. Untuk maksud tersebut diperlukan kerjasama antara RS kanker, FKUI, serta RSCM. Kerjasama ini telahmulai berjalan sejak mula pembangunan RS Kanker terbukti dengan terlibatnya tenaga senior FKUI dan RSCM dalam pendidikan dan pelatihan tenaga dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya yang akan bekerja di RS Kanker Dharmais. Secara formal kerjasama ini diikat dengan naskah kerja sama yang ditandatangani pada tanggal 2 Oktober 1993. Dengan demikian FKUI dan RSCM akan mendukung pelayanan kanker RS Kanker “ Dharmais”
Centre di Houston Amerika Serikat dan A. v. Leeuwenhoek Zieken Huis di Amsterdam, Belanda.
Pada 5 Juli 1993 dilaksanakan acara serah terima rumah sakit ini dari Pelaksana Pembangunan Fisik dan Pengadaan Sarana kepada Bapak Hedijanto, Ketua Direksi Proyek Pembangunan Rumah Sakit Kanker Dharmais. Kemudian Ketua Direksi menyerahkan kepada Bapak Sigit Harjojudanto, Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Penyantun Yayasan Dharmais. Selanjutnya Ketua BPH menyerahkan pengelolaan rumah sakit ini kepada Direksi Rumah Sakit yang telah ditunjuk Pemerintah, dengan Direkturnya Dr. Riwayat Suyono, MARS. Serah terima ini kemudian dikukuhkan pada 29 Oktober 1993. Pada 30 Oktober 1993 rumah sakit ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Soeharto.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1684/MENKES/PER/XII/2005 Tentang Organisasi dan Tata kerja Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta mencakup :
Pasal 29 bahwa : “ Bagian pendidikan dan pelatihan mempunyai tugas
melaksanakan dan mengkoordinasikan kegiatan pendidikan dan pelatihan” .
Pasal 30 bahwa : “ Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud
sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan serta perpustakaan dan dokumentasi; pemantauan dan penilaian kegiatan pendidikan dan pelatihan” .
Pasal 31 bahwa : “ Bagian Pendidikan dan Pelatihan terdiri dari : Subbagian Pengelolaan Pendidikan dan Pelatihan; Subbagian Pengelolaan Sarana Pendidikan dan pelatihan; Subbagian perpustakaan dan Dokumentasi” .
Pasal 32 bahwa : “ Subbagian Pengelolaan Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana program dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan dan non kesehatan, serta melakukan kegiatan kegiatan pengelolaan administrasi pendidikan dan pelatihan; Subbagian Pengelolaan Diklat mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan program pemenuhan kebutuhan, pengadaan dan pemeliharaan sarana serta fasilitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; Subbagian Perpustakaan dan Dokumentasi