• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUGATAN dalam Acara Perdata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "GUGATAN dalam Acara Perdata"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

GUGATAN dalam

Acara Perdata

DISUSUN OLEH :

(2)

Definisi Surat Gugatan

Surat gugatan

adalah suatu surat yang diajukan oleh

penggugat

kepada Ketua Pengadilan yang

berwenang, yang memuat tuntutan hak yang di

(3)

Para Pihak Dalam

Berperkara

Ada 2 pihak yaitu

penggugat (erser, plaintid

) dan

tergugat (gedaagde,

defendant).

Pihak ini dapat secara langsung berperkara di pengadilan dan dapat juga diwakilkan baik   melalui kuasa khusus (pengacara) maupun kuasa insidentil (hubungan keluarga).

-

Penggugat

adalah pihak yang memulai membuat perkara dengan mengajukan gugatan  karena merasa hak perdata dirugikan, sedangkan

--

Tergugat

adalah pihak yang ditarik dimuka pengadilan karena dirasa oleh penggugat sebagai yang merugikan hak perdatanya.

(4)

Bentuk Gugatan

Tertulis (Pasal 118 HIR/Pasal 142 Rbg)

Lisan (Pasal 120 HIR/Pasal 144 Rbg), mengenai gugatan lisan diterangkan dalam Pasal 120 HIR adalah “bilamana penggugat buta huruf maka surat gugatannya yang dapat dimasukkannya dengan lisan kepada ketua

(5)

Syarat-Syarat Gugatan

Hukum Acara yang termuat dalam HIR dan RBg tidak menyebut syarat-syarat yang harus dipenuhi surat gugatan. Akan tetapi, Mahkamah Agung dalam beberapa putusannya memberikan fatwa bagaimana surat gugatan itu disusun:

Orang bebas menyusun dan merumuskan surat gugatan asal cukup memberikan gambaran tentang kejadian materil yang menjadi dasar tuntutan (MA tgl 15-3-1970 Nomor 547 K/Sip/1972)

Apa yang dituntut harus disebut dengan jelas (MA tgl 21-11-1970 Nomor 492 K/Sip/1970)

Pihak-pihak yang berperkara harus dicantumkan secara lengkap (MA tgl 13-5-1975 Nomor 151 /Sip/1975 dll

(6)

Syarat-Syarat Gugatan

menurut Rv

Syarat-syarat surat gugatan dalam Rv yang dulu berlaku pada Read van Justitie, pada Pasal 8 ayat (3)  disebutkan, bahwa surat gugatan harus memuat :

Identitas para pihak, adalah keterangan yang lengkap dari pihak-pihak berperkara yaitu nama, tempat tinggal, dan pekerjaan (eks Pasal 1367 BW). Kalau mungkin juga agam,

umur, dan status;

Fundamentum petendie (posita) adalah dasar atau dalil gugatan yang berisi tentang peristiwa dan hubungan hukum antara pihak-pihak yang berperkara (penggugat dan tergugat), yang terdiri dua bagian (a) uraian tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa (eitelijke  gronden) dan (b) uraian tentang hukumnya (rechtsgronden)

(7)

Dalam praktek ada 2 (dua) petitum yaitu 

:

Tuntutan pokok (primair)

yaitu tuntutan utama

yang diminta

Tuntutan tambahan/pelengkap (subsidair)

yaitu

berupa tuntutan agar tergugat membayar ongkos

perkara, tuntutan agar putusan dinyatakan dapat

dilaksanakan lebih dahulu (uit vierbaar bij vorraad),

tuntutan agar tergugat dihukum membayar uang

(8)

Pencabutan gugatan dapat terjadi:

Sebelum pemeriksaan perkara oleh hakim dalam hal ini adalah tergugat belum memberikan jawaban.

Dilakukan dalam proses pemeriksaan perkara dalam hal ini apabila tergugat sudah memberikan jawaban maka harus dengan syarat disetujui oleh pihak tergugat.

Jika gugatan dicabut sebelum tergugat memberikan jawaban maka penggugat masih boleh mengajukan gugatannya kembali dan jika tergugat sudah

(9)

Perubahan surat gugatan dapat dilakukan dengan syarat :

- Tidak boleh mengubah kejadian materil yang menjadi dasar gugatan (MA tanggal 6 Maret 1971 Nomor 209 K/Sip/1970.

- Bersifat mengurangi atau tidak menambah tuntutan.

Tentang perubahan atau penambahan gugatan tidak diatur dalam HIR/Rbg

namun dalam yurisprudensi MA dijelaskan bahwa perubahan atau penambahan gugatan diperkenankan asal tidak merubah dasar gugatan (posita) dan tidak merugikan tergugat dalam pembelaan kepentingannya (MA tgl 11-3-1970

Nomo 454 K/Sip/1970, tanggal 3-12-1974 Nomor 1042 K/Sip/1971 dan tanggal 29-1-1976 Nomor 823 K/Sip/1973). Perubahan tidak diperkenankan kalau

pemeriksaan hamper selesai. Semua dali pihak-pihak sudah saling

(10)

Kesempatan atau waktu melakukan perubahan

gugatan dapat dibagi menjadi 2 tahap

 :

1.

Sebelum tergugat mengajukan jawaban dapat dilakukan tanpa perlu izin tergugat.

2.

Sesudah tergugat mengajukan jawaban harus dengan 

izin tergugat jika tidak di setujui perubahan tetap dapat dilakukan dengan ketentuan :

Tidak menyebabkan kepentingan kedua belah pihak dirugikan terutama

tergugat.

Tidak menyimpang dari kejadian materil sebagai penyebab timbulnya

perkara.

Referensi

Dokumen terkait

Pada pasal 125 hir apabila tergugat tidak hadir meskipun telah dipanggil secara sah dan patut maka gugatan telah dipanggil secara sah dan patut maka gugatan

Menimbang, bahwa oleh karena Tangkisan Tergugat mengenai kewenangan mengadili (kompetensi absolut/relatif) maka berdasarkan pasal 136 HIR/162 RBg

Secara garis besar formulasi putusan diatur dalam Pasal 184 ayat (1) HIR, Pasal 195 RBG yang apabila putusan yang dijatuhkan tidak memenuhi syarat atau tidak mengikuti

1) Pelaksanaan putusan yang dapat dijalankan terlebih dahulu yang biasa disebut uitvoerbaar bij voorraad (berdasarkan Pasal 180 ayat (1) HIR atau Pasal 191 ayat (1)

Sesuai dengan ketentuan Pasal 178 HIR, Pasal 189 Rbg, apabila pemeriksaan perkara selesai, Majelis Hakim karena jabatannya melakukan musyawarah untuk mengambil

Skripsi ini akan membahas mengenai eksepsi terhadap gugatan yang bersifat prematur, alasan hukum pengajuan eksepsi tersebut dan proses pengajuan eksepsi terhadap gugatan yang

Penandatangan gugatan dengan jelas disebut sebagai syarat formal suatu gugatan dalam Pasal 118 ayat 1 HIR yang menyatakan 20 : “(1) Gugatan perdata, yang pada tingkat

Untuk mengajukan Gugatan bisa secara lisan, juga bisa secara tertulis namun dalam praktek sekarang ini, gugatan secara lisan sudah sangat diajukan, akan tetapi setiap gugatan selalu