• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sengketa Kapal Motor Norstar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sengketa Kapal Motor Norstar"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Sengketa Kapal Motor Norstar (Panama vs Italy)

Pada tanggal 17 Desember 2015, Panama mengajukan permohonan kepada Pengadilan Hukum Laut Internasional dalam sengketa dengan Italia mengenai penangkapan dan penahanan MV Norstar, sebuah kapal yang mengibarkan bendera Panama.

Menurut permohonan, dari 1994 sampai 1998 MV Norstar itu terlibat dalam memasok gasoil untuk yacht mega (kapal pesiar besar) di perairan internasional di luar laut teritorial Italia, Perancis dan Spanyol. Permohonan ini lebih lanjut menyatakan bahwa MV Norstar ditangkap di Teluk Palma de Mallorca pada 24 September 1998 oleh pejabat Spanyol, atas permintaan Italia, diduga karena telah dipasoknya minyak untuk yacht mega (kapal pesiar besar) bertentangan dengan undang-undang Italia.

Italia sebagai negara peminta kepada pejabat Spanyol untuk melakukan penangkapan terhadap MV Norstar dapat dikatakan telah menentang beberapa pasal dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Pada Pasal 33 tentang Zona Tambahan Konvensi PBB tentang Hukum Laut menyatakan bahwa “suatu zona yang berbatasan dengan laut teritorialnya, yang dinamakan zona tambahan, Negara pantai dapat melaksanakan pengawasan yang diperlukan untuk : (a) mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal, imigrasi atau saniter di dalam wilayah atau laut teritorialnya; (b) menghukum pelanggaran peraturan perundang-undangan tersebut di atas yang dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorialnya, ...” Dilihat dari pasal ini pun kita semua dapat mengetahui bahwa Italia seharusnya tidak memiliki kedaulatan untuk melakukan penangkapan atau bahkan penahanaan terhadap MV Norstar milik Panama, karena MV Norstar berada dalam wilayah kedaulatan Spanyol, dan Italia malah meminta bantuan dari Pejabat Spanyol untuk melakukan penangkapan dan bahkan penahanan terhadap MV Norstar tersebut.

(2)

pengejaran terhadap MV Norstar, tapi kemudian Italia malah sampai menggambil tindakan penahanan yangmana sangat bertentangan dengan pasal dan ayat ini. Dan dalam ayat (4) menjelaskan pula “Dalam hal penangkapan atau penahanan kapal asing Negara pantai harus segera memberitahukan kepada Negara bendera, melalui saluran yang tepat, mengenai tindakan yang diambil dan mengenai setiap hukuman yang kemudian dijatuhkan.”

Kemudian, tindakan yang dilakukan oleh Italia juga bertentangan dengan Pasal 87 Konvensi PBB tentang Hukum Laut, bahwa “Laut lepas terbuka untuk semua Negara, baik Negara pantai atau tidak berpantai. Kebebasan laut lepas, dilaksanakan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan dalam Konvensi ini dan ketentuan lain hukum internasional. Kebebasan laut lepas itu meliputi, inter alia, baik untuk Negara pantai atau Negara tidak berpantai : (a) kebebasan berlayar; (b) kebebasan penerbangan; (c) kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, dengan tunduk pada Bab VI; (d) kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang diperbolehkan berdasarkan hukum internasional, dengan tunduk pada Bab VI; (e) kebebasan menangkap ikan, dengan tunduk pada persyaratan yang tercantum dalam bagian 2; (f) kebebasan riset ilmiah, dengan tunduk pada Bab VI dan XIII.” MV Norstar yang melakukan pemasokan gasoli di wilayah perairan Laut Internasional terhadap yacht mega (kapal pesiar besar) seharusnya tidak melanggar ketentuan apapun dari penjelasan pasal yang dipaparkan diatas. Jika Italia merasa bahwa pemasokan gasoli terhadap yacht mega (kapalpesiar besar) ini bertentangan dengan aturan hukum Negara Italia, toh, transaksi pemasokan gasoli ini tidak ada kaitannya secara langsung dengan Negara Italia, begitu juga dengan Negara Spanyol dan Negara Perancis, karena ini pun dilakukan oleh Negara Panama diluar wilayah laut teritorial ketiga negara tersebut.

(3)

terhadap hak-hak untuk perlindungan mana zona itu telah diadakan.” Berdasarkan pasal ini, pengejaran dan penangkapan seharusnya dilakukan apabila pihak yang berwenang dari Negara pantai mempunyai alasan cukup untuk mengira bahwa kapal tersebut telah melanggar peraturan perundang-undangan Negara itu, namun dalam kasus ini, Negara Italia sama sekali tidak memilliki kewenangan terhadap MV Norstar dan malah meminta Pejabat Spanyol yang berwenang melakukan pegejaran, penangkapan, serta penahanan terhadap MV Norstar. Yang terakhir, berdasar Pasal 226 tentang Penyidikan terhadap Kapal Asing menyatakan bahwa “(a) Negara-negara tidak boleh menahan suatu kendaraan air asing lebih lama dari yang diperlukan untuk tujuan penyidikan sebagaimana ditentukan dalam pasal 216, 218 dan 220. Setiap pemeriksaan fisik suatu kendaraan air asing harus dibatasi pada pemeriksaan atas sertifikat, catatan-catatan atau dokumen-dokumen lain yang disyaratkan untuk dibawa oleh kendaraan air itu sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan standar-standar internasional yang umum diterima atau dokumen-dokumem sejenis yang dibawa; pemeriksaan fisik lebih lanjut terhadap kendaraan air tersebut hanya dapat dilakukan setelah adanya pengujian dimaksud dan semata-mata bilamana: (i) ada dasar-dasar yang jelas untuk menduga bahwa keadaan kendaraan air itu atau peralatannya tidak sesuai dengan substansial dengan isi dokumen-dokumen-nya; (ii) isi dokumen-dokumen dimaksud tidak mencukupi untuk konfirmasi atau verifikasi atas Pelanggaran yang diduga; atau (iii) kendaraan air itu tidak membawa sertifikat dan catatan-catatan yang berlaku.” Dalam hal ini, penahanan suatu kendaraan air asing diperbolehkan selama untuk kepentingan penyidikan yang terbatas pada pemeriksaan sertifikat, catatan-catatan, maupun dokumen-dokumen yang disyaratkan untuk dibawa oleh kendaraan air asing, selebihnya apabilamemang tidk ditemukan buki yang memadai untuk melakukan penahanan, hal tersebut dilarang. Dan MV Norstar adalah kendaraan air legal dengan sertifikat, catatan, dan dokumen yang lengkap dan resmi dari Negara Panama, tidak seharusnya representasi dari suatu negara diperlakukan seperti ini oleh negara lain yang tidak bisa menghargai dan mantaati peraturan yang bahkan sudah diratifikasinya pada 26 Januari 1997.

(4)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengaturan tentang kewenangan IMO dalam penyelesaian sengketa pencemaran laut berdasarkan Konvensi IMO adalah sesuai

Diantha, I Made Pasek, 2002, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB 1982 , Mandar Maju, Bandung. Djalal, Hasjim, 1979, Perjuangan Indonesia Di

Pasal 2 dari Konvensi Jenewa mengatakan bahwa Laut Lepas harus terbuka bagi semua negara.Tidak ada satu negarapun yang boleh meng-klaim bahwa laut lepas adalah bagian

Konvensi PBB mengenai Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982 yang diatur. dalam Bagian IV Konvensi (Pasal 46-54) untuk

Konvensi Jenewa juga senada dengan Pasal 105 UNCLOS yang menyatakan Di Laut Lepas, atau disetiap tempat lain di luar yurisdiksi Negara manapun setiap Negara dapat menyita

KESIMPULAN Dengan diterapkannya Konvensi Hukum Laut Internasional atau UNCLOS 1982 dalam penyelesaian sengketa Zona Ekonomi Eksklusif ZEE di Laut Natuna Utara antara Indonesia dan

Implikasi dari berlakunya Konvensi Hukum Laut PBB 1982 terhadap Peraturan Perundang-undangan Nasional Indonesia dalam bidang hukum laut Berbeda dengann Konvensi jenewa 1958 tentang

Untuk UNCLOS 1982 Ketentuan yang terpenting dari konvensi yang menyangkut pencemaran laut, di tetapkan oleh Pasal 24 UNCLOS I yang menyatakan setiap negara wajib mengadakan