PENGEMBANGAN KOMPETENSI NELAYAN PADA
ARMADA RAWAI TUNA DI PPN PALABUHANRATU,
JAWA BARAT
YASINTA ANUGERAH
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pengembangan Kompetensi Nelayan pada Armada Rawai Tuna di PPN Palabuhanratu, Jawa Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
YASINTA ANUGERAH. Pengembangan Kompetensi Nelayan pada Armada Rawai Tuna di PPN Palabuhanratu, Jawa Barat. Dibimbing oleh TRI WIJI NURANI dan MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA.
Nelayan rawai tuna harus memiliki keterampilan mengoperasikan alat tangkap dan menangani hasil tangkapan dalam lingkungan kerja yang penuh ancaman terhadap keselamatan jiwa dan kapal ikan. Saat ini profesi nelayan di dalam negeri, pada umumnya kurang dihargai jika dilihat dari besar upah. Rendahnya penghargaan ini sering dikaitkan dengan rendahnya tingkat pendidikan formal dan pelatihan. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dapat dijadikan dasar untuk merancang program pelatihan kepada nelayan, agar mereka memiliki kompetensi yang memadai. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Menilai kompetensi nelayan rawai tuna yang terlibat dalam kegiatan penangkapan dan pendaratan tuna menurut SKKNI yang berlaku, 2) Merumuskan strategi mengatasi kesenjangan agar nelayan memiliki kompetensi rawai tuna sesuai dengan rumusan SKKNI.
Pengambilan data lapang dilakukan pada bulan Desember 2014 -Februari 2015 di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Provinsi Jawa Barat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar periksa yang dibuat merujuk pada Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 298 Tahun 2013 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok Perikanan Golongan Penangkapan Ikan Sub Golongan Penangkapan Ikan di Laut. Pengambilan data dilalukan melalui wawancara serta survei kepada 32 responden, yang terdiri dari 10 orang nakhoda dan 22 orang anak buah kapal rawai tuna di pelabuhan.
Unit kompetensi dengan tingkat kepentingan tertinggi untuk nakhoda adalah "Melakukan penangkapan ikan di laut dengan menggunakan rawai tuna". Kesenjangan pada unit ini adalah paling rendah di antara unit kompetensi nakhoda lainnya. Nakhoda Palabuhanratu memiliki capaian kompetensi sebesar 90%. Unit kompetensi dengan tingkat kepentingan tertinggi untuk anak buah kapal adalah "Penanganan tuna di atas kapal". Kesenjangan pada unit ini tergolong besar dan capaian kompetensi anak buah kapal Palabuhanratu sebesar 66%. Salah satu penyebab capaian adalah kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh nelayan akibat rendahnya pendidikan formal dan pelatihan. Pengalaman yang dimiliki oleh nelayan dapat menambah pengetahuan yang dimiliki, akan tetapi tidak semua pengetahuan didapatkan dari pengalaman. Oleh karena itu kegiatan pelatihan yang mengisi kesenjangan sangat perlu dilakukan.
SUMMARY
YASINTA ANUGERAH. Development of Competency of Tuna Longline Fishermen from PPN Palabuhanratu, West Java. Supervised by TRI WIJI NURANI and MUHAMMAD FEDI ALFIADI SONDITA.
Tuna longline fishermen are required to perform their jobs well in dangerous working condition. They are expected to operate fishing gear and practice a set of skills to handle the tuna. However, their jobs are not well rewarded. This unfair condition is always based on limited attendance in formal education and lack of job training. The Indonesian National Occupational Competency Standards (SKKNI) can also be used to design their training programs. This study was aimed 1) to determine level of existing competency of tuna longline fishermen in PPN Palabuhanratu, 2) to formulate a strategy to fill the gaps between their existing competency and the standards.
Data were collected in December 2014 - February 2015 in Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, West Java Province. The instrument used in this study was developed by referring Presidential Regulation of RI Number 8 Year 2012 on the Indonesian National Qualifications Framework (KKNI) and Ministrial Decree of Manpower and Transmigration of RI Number 298 Year 2013 on the Establishment of the National Competence Indonesia (SKKNI) Category of Agriculture, Forestry and Fisheries Group Principal Fisheries Sub Group Group Fishing Fishing at Sea. Data were collected from interviews to 32 respondents consisting of 10 boat captains and 22 boat crews and surveys to the fishermen in the port.
The most important competence unit to the captains was "Fishing at sea using longline tuna". The gap for this unit was very low while their competency achievement on the units was 90%. To the boat crews, the most important competence unit was "Handling tuna on board". The gap for this competency unit was high; their competency achievement on this unit was 66%. One main reason for such low achievement was limited knowledge due to low attendance in formal educations and trainings. However, their working experience can improve their knowledge and skills, but well-designed training activities are still needed.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Teknologi Perikanan Laut
PENGEMBANGAN NELAYAN KOMPETEN PADA
ARMADA RAWAI TUNA DI PPN PALABUHANRATU,
JAWA BARAT
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2016
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember 2014 ini adalah sumber daya manusia, dengan judul Pengembangan Nelayan Kompeten pada Armada Rawai Tuna di PPN Palabuhanratu, Jawa Barat.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Tri Wiji Nurani, MSi dan Dr Ir Muhammad Fedi A. Sondita, MSc selaku komisi pembimbing serta Dr Deni Achmad Soeboer SPi, MSi selaku dosen penguji yang telah banyak memberi saran dan masukan untuk penulisan karya ilmiah ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Syahbandar Perikanan PPN Palabuhanratu beserta staf yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada suami, bapak, ibunda beserta kakak-kakak dan seluruh keluarga atas doa dan kasih sayangnya, serta teman-teman seperjuangan Pascasarjana Teknologi Perikanan Laut 2013 atas kebersamaan dan semangatnya. Penulis sangat berharap kritik dan saran demi penyempurnaan penulisan dimasa yang akan datang. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
DAFTAR ISTILAH xiv
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 4
Manfaat Penelitian 4
Ruang Lingkup Penelitian 4
2 METODOLOGI PENELITIAN 4
Kerangka Pemikiran 4
Waktu dan Tempat Penelitian 6
Instrumen Penelitian 6
Uji Pertanyaan Wawancara 7
Metode Pengumpulan Data 9
3 GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN RAWAI TUNA
DI PPN PALABUHANRATU 10
Unit Penangkapan Ikan 10
Kapal 10
Alat Tangkap 11
Nelayan 12
Metode Penangkapan Ikan 18
4 KOMPETENSI NELAYAN RAWAI TUNA
DI PPN PALABUHANRATU 20
Pendahuluan 20
Metode 21
Hasil 22
Pembahasan 26
5 PENGEMBANGAN KOMPETENSI NELAYAN RAWAI TUNA
DI PPN PALABUHANRATU 28
Pendahuluan 28
Metode 29
Hasil 30
Pembahasan 34
6 PEMBAHASAN UMUM 36
7 KESIMPULAN DAN SARAN 41
Kesimpulan 41
Saran 41
DAFTAR PUSTAKA 42
LAMPIRAN 45
DAFTAR TABEL
1 Jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) 6 2 Unit kompetensi nakhoda kapal penangkap ikan (rawai tuna) 7
3 Unit kompetensi anak buah kapal (rawai tuna) 7
4 Nilai koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas 8
5 Nilai koefisien reliabilitas instrumen 9
6 Kategori koefisien reliabilitas 9
7 Data kapal rawai tuna tahun 2013 10
8 Penyesuaian tugas nelayan rawai tuna dan Level KKNI 13 9 Komposisi responden nelayan rawai tuna berdasarkan umur 16 10 Komposisi responden nelayan berdasarkan tanggungan keluarga 17 11 Komposisi responden nelayan berdasarkan pengalaman di laut 17 12 Distribusi alasan responden nelayan menggunakan rawai tuna 18 13 Distribusi motivasi responden nelayan menggunakan rawai tuna 18 14 Nilai kesenjangan unit kompetensi nakhoda rawai tuna di PPN
Palabuhanratu pada bulan Januari 2015 22
15 Nilai kesenjangan elemen kompetensi nakhoda rawai tuna di PPN
Palabuhanratu pada bulan Januari 2015 23
16 Nilai kesenjangan unit kompetensi ABK rawai tuna di PPN
Palabuhanratu pada bulan Januari 2015 24
17 Nilai kesenjangan kompetensi ABK rawai tuna di PPN Palabuhanratu
pada bulan Januari 2015 25
18 Contoh perhitungan analisis matriks perbandingan berpasangan 29 19 Unit kompetensi nakhoda rawai tuna di PPN Palabuhanratu
berdasarkan tingkat kepentingan 30
20 Elemen kompetensi nakhoda rawai tuna di PPN Palabuhanratu
berdasarkan prioritas 31
21 Unit kompetensi ABK rawai tuna di PPN Palabuhanratu berdasarkan
prioritas 32
22 Elemen kompetensi ABK rawai tuna di PPN Palabuhanratu
berdasarkan prioritas 32
DAFTAR GAMBAR
1 Diagram alir kerangka penelitian 5
2 Peta lokasi penelitian 6
3 Kapal perikanan rawai tuna di PPN Palabuhanratu 10 4 Perkembangan jumlah kapal rawai tuna yang bersandar di PPN
Palabuhanratu pada tahun 2003 – 2014 11
DAFTAR LAMPIRAN
1 Contoh Surat Persetujuan Berlayar (SPB) 46
2 Surat Keterangan Kecakapan (SKK) 60 mil 47
DAFTAR ISTILAH
Current Competency Level (CLC)
: Tingkat kemahiran yang dimiliki seseorang saat ini pada kompetensi tertentu
Elemen kompetensi : Bagian dari unit kompetensi yang digambarkan secara rinci
Kesenjangan kompetensi (Competency gap)
: Perbedaan antara level kompetensi yang diperlukan pada suatu posisi dan level kompetensi saat ini
KKNI : Kerangka penjenjangan kualifikasi
kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja Koefisien reprodusibilitas : Suatu besaran yang mengukur derajat
ketepatan alat ukur atau pertanyaan yang dibuat
Koefisien skalabilitas : Skala yang mengukur penyimpangan pada skala reprodusibilitas dalam batas yang dapat digunakan
Kompetensi : Pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi perannya
Reliabilitas : Indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan
Required Competency Level (CLR)
: Tingkat kemahiran minimum yang diharapkan dari seseorang pada kompetensi tertentu yang dituntut oleh pekerjaan
SKKNI : Uraian kemampuan yang mencakup
pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan tertentu yang berlaku secara nasional. Unit Kompetensi : Komponen diskret dalam kelompok
kompetensi yang terdiri dari beberapa elemen.
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sumber daya manusia (SDM) adalah semua manusia yang terlibat di dalam suatu organisasi dalam mengupayakan tercapainya tujuan organisasi tersebut (Hasibuan 2001). Pada sistem perikanan tangkap, nelayan adalah input SDM yang terkendali, bersama dengan kapal dan alat penangkap ikan. SDM yang baik akan melancarkan proses yang di rancang dan akan menghasilkan output yang baik. Nelayan adalah pelaku utama dalam kegiatan produksi perikanan tangkap yang merupakan salah satu bagian penting dalam suatu industri perikanan.
Menurut Suwardjo et al. (2010), pekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang tergolong membahayakan dibanding pekerjaan lain. Oleh karena itu profesi pelaut kapal penangkap ikan memiliki karakteristik pekerjaan “3d” yaitu: membahayakan (dangerous), kotor (dirty) dan sulit (difficult). Ukuran kapal didominasi oleh kapal-kapal berukuran relatif kecil dan berlayar pada kondisi cuaca tidak menentu, sehingga dapat meningkatkan resiko kecelakaan kapal penangkap ikan. Keselamatan kapal penangkap ikan merupakan interaksi faktor-faktor yang kompleks, yakni human factor (nakhoda dan anak buah kapal), machineries (kapal dan peralatan keselamatan) dan enviroment (cuaca dan sistem pengelolaan sumberdaya perikanan). Menurut IMO dikutip dalam Purwangka et al. (2013), 80% dari kecelakaan disebabkan oleh kesalahan manusia (human errror) dan sebagian besar kesalahan ini dapat dihubungkan dengan kelemahan manajemen yang menciptakan prakondisi untuk terjadinya kecelakaan.
Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982) dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985. Setelah meratifikasi konvensi tersebut, Indonesia sudah seharusnya menyiapkan ratifikasi konvensi turunannya yaitu Konvensi Standards on Training, Certification and Watchkeeping for Fishing Vessel Personnel (STCW-F) tahun 1995. Konvensi STCW-F 1995 telah diratifikasi oleh 15 negara, sedangkan Indonesia belum meratifikasinya. Namun saat ini kurikulum, modul dan pelatihan kepelautan yang dijalankan oleh lembaga diklat perikanan sudah mengacu SCTW-F 1995. Pengesahan SCTW-F 1995 bagi awak kapal perikanan di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan standar pendidikan, pelatihan, sertifikasi dan tugas jaga bagi awak kapal perikanan. Selain itu dapat memposisikan awak kapal perikanan agar memperoleh pengakuan internasional sesuai keahlian, sehingga awak kapal perikanan mempunyai peluang kerja pada kapal perikanan di dalam dan luar negeri. Oleh karena itu diperlukan nelayan yang berkualitas untuk menyiapkan Indonesia meratifikasi STCW-F, selain itu keselamatan kapal penangkap ikan juga harus diperhatikan sesuai dengan konvensi Internasional Torremolinos tentang Keselamatan bagi Kapal Penangkap Ikan (Torremolinos Safety of Fishing Vessel Convention) tahun 1993.
2
internasional. Menurut peraturan internasional, sertifikat kepelautan yang dimiliki nakhoda dan awak tidak dibedakan antara kapal umum ataupun kapal ikan. Hal tersebut berbeda secara nasional yang membedakan sertifikat kepelautan, sehingga bagi nakhoda yang memiliki sertifikat kepelautan bagi kapal ikan tidak diakui secara internasional. Sebagian besar nelayan Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang rendah serta masih jauh dari pendidikan non formal seperti pelatihan atau bimbingan berkaitan dengan bidang kerjanya. Pelatihan dan bimbingan yang dilaksanakan selama ini belum ada acuan sesuai dengan standar kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh nelayan. Sedangkan kelebihan nelayan Indonesia adalah memiliki pengalaman melaut yang lama dan beragam karena profesi nelayan adalah profesi turun menurun dari keluarga.
Indonesia menjadi kawasan penting untuk perikanan tangkap, dimana perhatian global sangat tinggi termasuk nelayan yang ada di luar Indonesia. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan memberikan peluang awak kapal asing bekerja di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan persaingan bagi nelayan Indonesia. Untuk mengatasi persaingan tersebut dengan cara mengembangkan kualitas nelayan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan standar pendidikan, pelatihan dan sertifikasi. Nelayan yang memiliki kompetensi terstandar, akan dapat bersaing dalam menghadapi era kompetisi dan perdagangan bebas.
Pada bidang penangkapan ikan, pengembangan kompetensi nelayan dapat melalui pendekatan pada jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja. Penyetaraan tersebut dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. Jenjang KKNI tersebut menjadi dasar yang tepat untuk menyetarakan kompetensi nelayan yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi adalah dua instansi pemerintah yang ikut berperan dan bertanggung jawab dalam pengembangan kualitas nelayan Indonesia. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah mensahkan standar kompetensi dari berbagai bidang salah satunya pada bidang penangkapan ikan yang tertera pada keputusan mentri Kemenakertrans Nomor 298 Tahun 2013. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) adalah uraian kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan tertentu yang berlaku secara nasional. SKKNI ini juga dapat menjadi dasar untuk memberikan pelatihan dan bimbingan kepada nelayan agar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Tersedianya standar kompetensi diharapkan dapat memberikan pengakuan terhadap kemampuan nelayan karena kurangnya pendidikan formal. Selain itu dapat menjadi tolok ukur pendapatan nelayan, dimana nelayan akan mendapatkan upah sesuai dengan kemampuan dan kualifikasinya.
3 penanganan hasil tangkapan akan mempengaruhi produktivitas, efektif dan efisiensi usaha, yang akan terkait dengan keuntungan usaha. Selain itu keselamatan awak kapal saat operasi penangkapan di laut juga merupakan bagian dari kompetensi kerja.
Total volume produksi perikanan tangkap pada tahun 2013 mencapai 6,1 juta ton, dengan salah satu komoditas utama yaitu ikan tuna sebanyak 305.435 ton (KKP 2014). Pelabuhan perikanan yang memiliki komoditas tuna adalah PPN Palabuhanratu dengan volume produksi pada tahun 2013 sebanyak 5247 ton (PPN Palabuhanratu 2014). Lokasi PPN Palabuhanratu berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, sesuai dengan fishing ground dalam pengoperasian rawai. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu menjadi salah satu pelabuhan perikanan aktif di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa dan menjadi pusat kegiatan perikanan tangkap di wilayah Propinsi Jawa Barat. Salah satu unit penangkapan yang ada di PPN Palabuhanratu adalah rawai tuna (tuna longline). Rawai tuna termasuk unit penangkapan skala industri untuk menangkap ikan tuna sebagai komoditi ekspor. Alat tangkap rawai tuna merupakan alat tangkap yang pasif dan selektif terhadap jenis dan ukuran ikan yang ditangkap, sehingga rawai tuna termasuk alat tangkap yang ramah lingkungan.
Perikanan tuna di Indonesia merupakan salah satu industri perikanan yang semakin berkembang. Indonesia memiliki keunggulan geografis yaitu berada di antara dua Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara penting bagi perikanan tuna global. Selain itu, Indonesia telah menjadi anggota Regional fisheries management organisations (RFMOs), sehingga nakhoda dan ABK harus memiliki kompetensi yang baik. Oleh karena itu perlu kajian mengenai gambaran kompetensi yang dimiliki oleh nelayan rawai tuna dalam operasi penangkapan ikan dan penanganan hasil tangkapan sesuai dengan SKKNI.
Perumusan Masalah
Nelayan rawai tuna dalam bekerja di atas kapal sangat jauh dari kondisi aman dan nyaman. Operasi penangkapan ikan dengan rawai tuna memiliki potensi bahaya untuk keselamatan para pekerjanya. Kemampuan mengoperasikan alat tangkap dan menangani hasil tangkapan tuna menjadi keterampilan khusus yang harus dimiliki oleh nelayan. Sementara itu pekerjaan sebagai nelayan kurang dihargai dengan pemberian upah yang rendah. Hal tersebut disebabkan oleh pandangan bahwa kompetensi nelayan rendah jika dikaitkan dengan tingkat pendidikan formal dan jenis pelatihan yang pernah diikutinya.
4
mengembangkan kompetensi tersebut agar tercapai standar kompetensi yang memadai.
Berdasarkan uraian tersebut, maka secara khusus dapat dikemukakan rumusan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu sudah memiliki kompetensi yang sesuai standar?
2. Bagaimana kompetensi nelayan pada unit penangkapan rawai tuna di PPN Palabuhanratu saat ini berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)?
3. Bagaimana cara meningkatkan kompetensi rawai tuna agar mencapai standar dari SKKNI yang telah tersedia?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menilai kompetensi yang dikuasai nelayan rawai tuna saat ini dalam kegiatan operasi penangkapan sesuai SKKNI.
2. Memberikan usulan untuk mengisi kesenjangan kompetensi rawai tuna agar mencapai standar.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan seperti:
1. Informasi bagi para pengambil kebijakan di instansti-instansi terkait agar menjadi dasar dalam pengelolaaan SDM perikanan tangkap.
2. Informasi bagi para pengusaha perikanan agar menjadi dasar untuk pemberian upah bagi tenaga kerja di kapal perikanan.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi dengan responden penelitian kapal penangkap rawai tuna dengan ukuran kapal 20 – 50 GT yang mendarat atau bersandar di PPN Palabuhanratu. Penentuan kapal yang menjadi responden berdasarkan data sekunder yang didapat dari syahbandar perikanan dimana jumlah terbanyak kapal penangkap rawai tuna dengan ukuran tersebut.
2
METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Pemikiran
5 kompetensi yang harus dimiliki nelayan dalam kegiatan operasi penangkapan ikan. Standar tersebut dapat menjadi acuan kompetensi yang harus dimiliki oleh nelayan rawai tuna.
Penelitian ini mengetahui kompetensi yang dimiliki oleh nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu dan membandingkanya dengan SKKNI yang telah tersedia. Selanjutnya dapat menganalisis penyebab dan penyelesaiannya agar kompetensi nelayan memenuhi standar. Berdasarkan uraian diatas, maka kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Diagram alir kerangka penelitian Identifikasi
Pendidikan nelayan Indonesia yang masih rendah
Pekerjaan di kapal perikanan memiliki tingkat resiko yang tinggi
PENGEMBANGAN KOMPETENSI NELAYAN RAWAI TUNA DI PPN PALABUHANRATU, JAWA BARAT
Analisis kesenjangan (Gap Analysis) Masalah Penelitian 1: Mengetahui kondisi kompetensi nelayan rawai tuna yang dimiliki saat
ini dibandingkan dengan SKKNI
Mencari informasi kompetensi yang harus dimiliki nelayan rawai tuna
sesuai dengan SKKNI
Mencari informasi kondisi nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu :
Usia
Pendidikan
Tanggungan keluarga
Pengalaman di laut
Motivasi melaut
Pendapatan
Masalah Penelitian 2: Mengatasi kondisi kompetensi nelayan rawai tuna saat ini agar
dapat mencapai standar
Kondisi kompetensi nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu
Identifikasi elemen
kompetensi yang belum tercapai
Penyebab elemen
kompetensi belum tercapai
Mengatasi penyebab agar
kompetensi dapat tercapai sesuai standar
Analisis Deskriptif
Pengembangan kompetensi nelayan rawai tuna di PPN
6
Waktu dan Tempat Penelitian
Pengambilan data lapang dilakukan pada bulan Desember 2014 – Februari 2015. Tempat penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian tersebut atas pertimbangan PPN Palabuhnaratu merupakan fishing base kapal rawai tuna yang aktif beroperasi.
Gambar 2 Peta lokasi penelitian
Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Instrumen pertama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) untuk mengetahui tugas nelayan rawai tuna sesuai dengan jenjang kualifikasi. Selain itu instrumen kedua adalah Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 298 Tahun 2013 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok Perikanan Golongan Penangkapan Ikan Sub Golongan Penangkapan Ikan di Laut. Instrumen ketiga yang digunakan adalah wawancara dan survei kepada responden. Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nelayan kapal rawai tuna dan terbagi berdasarkan jenjang (KKNI) dan profesi (Tabel 1).
Tabel 1 Jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)
No Jenjang KKNI Jabatan Nelayan Sertifikasi
1 VI Nakhoda Kapal Penangkap Ikan Sertifikat VI 2 V Perwira Kapal Penangkap Ikan Sertifikat V 3 III Anak Buah Kapal (ABK) Sertifikat III
7 tiga, yaitu nakhoda, perwira dan ABK namun keadaan di lapangan kurang sesuai dengan jenjang KKNI yang telah ada. Jabatan tugas pada kapal rawai tuna di PPN Palabuhanratu yaitu nakhoda, wakil nakhoda, kepala kamar mesin (KKM), boatswain, koki dan ABK. Komposisi unit kompetensi berdasarkan SKKNI untuk nakhoda dan anak buah kapal rawai tuna, disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Tabel 2 Unit kompetensi nakhoda kapal penangkap ikan (rawai tuna) No Unit Kompetensi
1 Merencanakan operasi penangkapan ikan 2 Menyiapkan kelaiklautan kapal
3 Menyiapkan kelaikan operasi penangkapan ikan 4 Melaksanakan tugas jaga laut
5 Melakukan penangkapan ikan di laut dengan menggunakan rawai tuna (tuna longline)
Tabel 3 Unit kompetensi anak buah kapal (rawai tuna) No Unit Kompetensi
1 Merakit rawai tuna
2 Melakukan perawatan alat penangkapan ikan berbahan utama tali dan pancing di darat
3 Melakukan perawatan alat penangkapan ikan berbahan utama tali dan pancing di laut
4 Melakukan perbaikan alat penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing 5 Melakukan penanganan ikan tuna di kapal
Kompetensi yang dimiliki oleh nelayan tersebut diukur dengan cara mengajukan pertanyaan sesuai dengan SKKNI. Selain itu peneliti melihat secara langsung kegiatan persiapan sebelum operasi penangkapan dilakukan, serta melihat dokumen-dokumen kapal dan sertifikat yang berkaitan dengan kompetensi. Pertanyaan di ajukan berkaitan dengan pengetahuan meliputi masing-masing tugas responden di kapal. Jawaban yang diberikan oleh responden dapat memberikan gambaran dan penilaian unit kompetensi yang telah ada. Penilaian kompetensi dari jawaban responden hanya terbagi menjadi dua, yaitu YA dan TIDAK. Jawaban YA menggambarkan responden dapat menjawab pertanyaan sesuai unit kompetensi, sedangkan jawaban TIDAK menggambarkan responden tidak tahu atau tidak bisa menjawab pertanyaan sesuai unit kompetensi yang tersedia.
Uji Pertanyaan Wawancara
Pertanyaan yang diberikan telah diuji validitas dan reliabilitas nya. Hal tersebut untuk mendapatkan validitas isi yang memadai, untuk butir-butir pertanyaan yang kurang memadai direvisi. Berikut ini hasil uji validitas dengan menggunakan metode Guttman sesuai dengan penilaian kompetensi dengan skala dikotomi.
8
pada skala reprodusibilitas dalam batas yang dapat digunakan. Berikut Kr dan Ks menurut Effendi (2012) :
Keterangan:
e : Jumlah kesalahan
x : Jumlah kesalahan yang diharapkan, dihitung dengan rumus c (n - Tn) dan c adalah kemungkinan mendapatkan jawaban yang benar. c = 0,5
n : Jumlah jawaban Tn : Jumlah pilihan jawaban
Menurut Effendi (2012) skala dengan nilai Kr ≥ 0,9 dianggap cukup baik untuk digunakan, dan nilai Ks ≥ 0,6 dapat diterima. Hal tersebut menjelaskan bahwa pertanyaan yang digunakan valid dan dapat mengukur apa yang ingin diukur.
Tabel 4 Nilai koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas
Jabatan Unit Kompetensi Kr Ks
N
akhoda
Merencanakan opersi penangkapan ikan 0,987 0,600 Menyiapkan kelaiklautan kapal 0,982 0,927 Menyiapkan kelaiklautan si penangkapan ikan 0,978 0,826 Melaksanakan tugas jaga laut 0,963 0,834 Melakukan penangkapan ikan di laut dengan menggunakan
rawai tuna 0,969 0,625
ABK
Merakit rawai tuna 0,929 0,569
Melakukan perawatan alat penangkap ikan berbahan utama
tali dan pancing di laut 1 1
Melakukan perbaikan alat penangkap ikan berbahan utama
tali dan pancing 0,955 0,632
Melakukan penanganan ikan tuna di kapal 0,966 0,772
Selanjutnya diadakan ujicoba untuk mengetahui reliabilitas instrumen. Koefisien reliabilitas untuk skor butir dikotomi dapat dihitung dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson yang dikenal dengan nama KR-20 (Djaali 2000):
KR-20
∑
Keterangan:
k : cacah butir piqi : varians skor butir
9 Tabel 5 Nilai koefisien reliabilitas instrumen
Kompetensi n (95%) r Tabel Nilai reliabilitas
ABK 22 0,423 0,480
Nakhoda 10 0,632 0,781
Nilai reliabilitas yang didapatkan lebih besar dari nilai r Tabel, hal ini menyatakan bahwa instrument penelitian (daftar pertanyaan wawancara) yang digunakan dapat dipercaya atau diandalkan (Tabel 5). Berdasarkan kategori koefisien reliabilitas (Guilford 1956) nilai reliabilitas dari nakhoda termasuk dalam kategori relibilitas tinggi dan kompetensi ABK termasuk dalam kategori reliabilitas sedang.
Tabel 6 Kategori koefisien reliabilitas menurut Guilford (1956) dalam Priatna (2008)
Koefisien reliabilitas Tingkatan
0,80 < r11 ≤1,00 reliabilitas sangat tinggi
0,60 < r11 ≤ 0,80 reliabilitas tinggi
0,40 < r11 ≤ 0,60 reliabilitas sedang
0,20 < r11 ≤ 0,40 reliabilitas rendah
-1 < r11 < 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliable)
Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara kepada responden dengan pertanyaan yang telah disiapkan. Data sekunder diperoleh dari Kantor PPN Palabuhanratu dan Dinas Kelautan Perikanan Palabuhanratu.
Wawancara dilakukan hanya pada saat nelayan berada di pelabuhan, oleh karena itu ada asumsi bahwa peneliti tidak mengikuti operasi unit penangkapan rawai tuna di laut. Akan tetapi pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan cara melihat simulasi kegiatan, dokumen-dokumen kapal dan menanyakan sertifikat yang telah dimiliki oleh nelayan yang bersangkutan. Selain itu kompetensi nelayan dapat juga diketahui dari pendapat teman ataupun atasan kerja.
Peneliti menentukan sampel unit penangkapan berupa kapal rawai tuna yang berlabuh dan bertambat di PPN Palabuhanratu secara purposive sampling. Penggunaan unit penangkapan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur jabatan beserta tugas dari masing-masing anggota kapal dan untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh ABK dari nakhoda kapal.
10
3
GAMBARAN UMUM UNIT PERIKANAN RAWAI TUNA DI
PPN PALABUHANRATU
Unit Penangkapan Ikan
Kapal
Perikanan rawai tuna (longline) mulai beroperasi di PPN Palabuhanratu pada tahun 2003. Perkembangan jumlah unit kapal rawai tuna cenderung bertambah pada setiap tahunnya. Unit rawai tuna di PPN Palabuhanratu terbagi menjadi 5 kategori berdasarkan ukuran kapal dalam Gross Tonnage (GT). Jenis kapal yang digunakan pada unit perikanan rawai tuna adalah kapal motor yang sebagian besar berbahan dasar kayu, adapun beberapa kapal berbahan dasar fiber. Kapal ukuran 20-30 GT rata-rata memiliki 7 buah palka dengan sistem pendingin frezeer air. Sebuah kapal rawai tuna yang ada di PPN Palabuhanratu ditunjukan pada Gambar 3.
Gambar 3 Kapal perikanan rawai tuna di PPN Palabuhanratu
Ukuran kapal yang digunakan beragam sesuai dengan GT kapal masing-masing. Jumlah kapal kategori 20-30 GT menjadi jumlah kapal terbanyak pada tahun 2013 (Tabel 7).
Tabel 7 Data kapal rawai tuna tahun 2013 Kapal
Motor (GT)
Jumlah Kapal (Unit)
Bahan Kapal
Rata-rata
Ukuran Kapal Domisili P L D
10-20 6 Kayu 15,5 4 1,3 Cilacap dan Jakarta 20-30 140 Fiber dan Kayu 16,9 4,4 1,6 Bali, Benoa, Cilacap.
Jakarta, Pelabuhanratu, Semarang, Tj. Pinang 30-50 26 Fiber dan Kayu 18,4 5,1 1,8 Bali, Benoa, Cilacap,
Jakarta, Pelabuhanratu 50-100 21 Fiber dan Kayu 20,8 5,5 2,1 Benoa, Cilacap, Jakarta 100-200 4 Kayu 21 6,2 2,4 Cilacap
Jumlah kapal rawai tuna di PPN palabuhanratu berfluktuasi selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2012 alat tangkap rawai tuna meningkat dengan jumlah 741 unit, namun pada tahun 2013 menurun dengan jumlah 197 unit. Peningkatan jumlah kapal terjadi pada tahun 2012 disebabkan banyaknya kapal rawai tuna yang datang dari daerah lain, atau yang disebut dengan kapal andon. Perkembangan kapal rawai tuna di PPN Palabuhanratu ditunjukan pada Gambar 4.
11
Gambar 4 Perkembangan jumlah kapal rawai tuna yang bersandar di PPN Palabuhanratu pada tahun 2003 – 2014
Alat Tangkap
Komponen alat tangkap rawai tuna terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line), pancing (hook), pelampung radio (radio buoy), pelampung bola (buoy), tali pelampung, snap dan mata pancing. Tali utama yang digunakan memiliki panjang berkisar 30000 meter. Pada setiap kapal memiliki 5 buah radio buoy dengan jumlah mata pancing yang terpasang diantara radio buoy sebanyak 250- 265 mata pancing. Total jumlah mata pancing yang digunakan sebanyak 1000-1060 mata pancing. Selain komponen tersebut, kapal rawai tuna juga dilengkapi dengan alat bantu penangkapan yaitu line hauler, radio direction finder (RDF), GPS, dan ganco. Line hauler digunakan untuk menggulung tali utama. RDF dan GPS merupakan alat bantu navigasi untuk mempermudah dalam menentukan posisi setting dan untuk mencari radio buoy pada saat hauling. Komponen alat tangkap dan alat bantu penangkapan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Komponen dan alat bantu penangkapan rawai tuna
29 36 71 34
155 110
33 47 46
741
197 619
0 100 200 300 400 500 600 700 800
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
K
a
pa
l
Ra
w
a
i
T
un
a
(
Unit)
Tahun
a) branch line b) buoy c) GPS
12
Nelayan
Nelayan yang beroperasi pada satu kapal rawai tuna ukuran 20-30 GT berjumlah 8 - 10 orang, sedangkan jumlah nelayan untuk satu kapal rawai tuna ukuran 30-50 GT sebanyak 10 -14 orang. Pada satu kapal rawai tuna yang beroperasi terdapat pembagian tugas, pembagian tugas tersebut juga menunjukan jabatan yang dimiliki nelayan tersebut. Tugas dan jabatan nelayan rawai tuna pada kapal ditunjukan pada Tabel 8.
Tabel 8 Penyesuaian tugas nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu dan Level KKNI
No Jabatan Identifikasi Tugas di Lapangan Level
KKNI
1 Nakhoda (Tekong)
Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi selama persiapan, pencarian DPI dan selama operasi penangkapan ikan. Dapat menyelesaikan masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi cuaca dan kondisi laut yang dihadapi.
6
Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan penangkapan ikan secara umum dan konsep teoritis bagian khusus secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural saat operasi peangkapan.
Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi atas pekerjaan sendiri atau pekerjaan anak buah.
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja anak buah
2 Wakil Nakhoda
Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas seperti membantu nakhoda membawa kapal dan menyiapkan perbekalan. Memilih metode yang sesuai untuk menyiapkan peralatan setting,drifting dan hauling dengan menganalisis kondisi laut serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu yang baik
5
Menguasai konsep teoritis bidang penangkapan ikan di laut dengan rawai tuna, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah operasi penangkapan
Mampu mengelola boatswain, tim prosesing dan anak buah kapal, kemudian melaporkan pekerjaan kepada nakhoda.
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja boatswain, tim prosesing dan anak buah kapal.
3
Kepala Kamar Mesin (KKM)
Mampu menyelesaikan tugas merawat dan menjalankan mesin kapal selama persiapan dan operasi penangkapan dengan menganalisis informasi penting yang diperlukan, memilih metode yang sesuai dari beberapa pilihan pada perawatan dan pemeliharaan mesin kapal, serta mampu menunjukkan kinerja yang baik dalam memperbaiki mesin rusak.
5
Menguasai beberapa prinsip dasar bidang keahlian mesin kapal ikan dan mampu menyelaraskan dengan permasalahan seputar mesin kapal
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi, melaporakan keadaan mesin kapal pada nakhoda dan memiliki inisiatif.
Bertanggung jawab pada pekerjaannya dan dapat diberi tanggung jawab atas hasil kerja asisten kamar mesin
Tabel 8 Lanjutan
No Jabatan Identifikasi Tugas di Lapangan Level
KKNI
4 Roller man
(Boatswain)
Mampu mengatur ABK, menebar branch line, dan mengoperasikan line hauler dengan arahan wakil nakhoda, memilih metode yang sesuai dari beberapa pilihan yang baku, serta mampu menunjukkan kinerja dengan setting drifting dan hauling berjalan baik.
4
Menguasai beberapa prinsip dasar bidang keahlian penangkapan ikan dengan rawai tuna dan mampu menyelaraskan dengan permasalahan faktual yang terjadi di atas kapal
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi, melaporakan hasil kerja dan memiliki inisiatif.
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas hasil kerja anak buah kapal
5 Wakil
Boatswain
Mampu membantu boatswain utama secara bergantian mengatur ABK, menebar branch line, dan menarik line hauler dengan arahan wakil nakhoda, memilih metode yang sesuai dari beberapa pilihan yang baku, serta mampu
menunjukkan kinerja dengan setting drifting dan hauling berjalan baik.
4
Menguasai beberapa prinsip dasar bidang keahlian penangkapan ikan dengan rawai tuna dan mampu menyelaraskan dengan permasalahan faktual yang terjadi di atas kapal
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi, melaporakan hasil kerja dan memiliki inisiatif.
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas hasil kerja anak buah kapal
6 Prosesing tuna
Mampu membersihkan tuna dari mulai membuang insang, isi perut hingga masuk ke dalam palka dengan menerjemahkan informasi dan menggunakan alat penusuk dan alat pembersih tuna berdasarkan prosedur pembersihan, serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu tuna terjaga yang sebagian merupakan hasil kerja sendiri dengan pengawasan tidak langsung oleh nakhoda
3
Memiliki pengetahuan operasional yang lengkap, prinsip-prinsip serta konsep umum yang terkait dengan fakta pembersihan tuna, sehingga mampu menyelesaikan berbagai masalah yang sering terjadi selama pembersihan dengan metode yang sesuai
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi dengan boatswain dan ABK
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja tim prosesing lain
Tabel 8 Lanjutan
No Jabatan Identifikasi Tugas di Lapangan Level
KKNI
7 ABK
Mampu melaksanakan serangkaian kegiatan setting, menggulung tali, merangkai rawai tunadan menarik ikan ke dek kapal pada saathauling dengan menerjemahkan informasi dan menggunakan alat-alat , serta mampu menunjukkan kinerja dengan berhasilnya operasi penangkapan yang sebagian merupakan hasil kerja sendiri dengan pengawasan tidak langsung oleh nakhoda
3
Memiliki pengetahuan operasional yang lengkap, prinsip-prinsip serta konsep umum yang terkait dengan kegiatan
setting, menggulung tali, merangkai rawai tuna dan menarik ikan ke dek kapal pada saat hauling, sehingga mampu
menyelesaikan berbagai masalah yang lazim dengan metode yang sesuai
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi sesama rekan ABK
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja sesama rekan ABK
8 Koki
Mampu mengatur bahan makanan dan membuat menu makan untuk semua anggota kapal dengan menggunakan alat-alat di atas kapal, dan membantu dalam merangkai rawai tuna ataupun operasi penangkapan apabila tugas utama telah selesai. Mampu menunjukkan kinerja dengan berhasilnya menyiapkan makanan yang sebagian merupakan hasil kerja sendiri dengan pengawasan tidak langsung oleh nakhoda
3
Memiliki pengetahuan operasional yang lengkap, prinsip-prinsip serta konsep umum yang terkait dengan kegiatan memasak sehingga mampu menyelesaikan berbagai masalah yang lazim dengan metode yang sesuai
Mampu bekerja sama dan melakukan komunikasi dengan anggota kapal lain
Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja anggota kapal lain saat membantu merangkai alat tangkap
16
Karakteristik nelayan rawai tuna yang diamati dalam penelitian ini adalah (1) Umur, (2) Pendidikan, (3) Tanggungan keluarga, (4) Pengalaman menangkap ikan, (5) Motivasi penangkapan ikan, (6) Pendapatan nelayan rawai tuna.
Karakteristik umur yang dimaksud dalam penelitian ini adalah umur nelayan sejak lahir hingga penelitian ini dilakukan. Kategori umur terbagi menjadi tiga yaitu (1) Muda, (2) Sedang, (3) Tua. Kategori muda yaitu umur nelayan berkisar 17 hingga 30 tahun, kategori sedang yaitu umur nelayan berkisar 31 hingga 44 tahun. Sedangkan kategori tua berkisar 45 hingga 58 tahun.
Tabel 9 Komposisi responden nelayan rawai tuna berdasarkan umur
No Kategori Umur Jumlah Presentase (%)
1 Muda 17 48,6
2 Sedang 15 42,9
3 Tua 3 8,6
Jumlah 35 100
.
Tabel 9. menunjukkan bahwa dari 35 orang nelayan rawai tuna yang menjadi responden dalam penelitian ini mayoritas memiliki umur yang masih muda, yaitu berkisar 17 - 30 tahun. Nelayan yang memiliki umur kategori tua dalam penelitian ini hanya berjumlah 3 orang dari jumlah total responden 35 orang.
Karakteristik pendidikan dalam penelitian ini adalah jumlah tahun nelayan mengikuti pendidikan formal yaitu dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga sekolah tinggi.
Gambar 6 Komposisi responden berdasarkan tingkat pendidikan formal Berdasarkan Gambar 6 menunjukkan mayoritas pendidikan formal yang dimiliki oleh nelayan rawai tuna adalah sekolah dasar. Sedangkan masih ada nelayan rawai tuna yang tidak pernah mengikuti jenjang sekolah formal yaitu sebanyak 9 % dari total responden 35 orang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah yang menyatakan bahwa seluruh warga Indonesia harus menyelesaikan pendidikan dasar hingga jenjang SMP (PP No.47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar) maka pendidikan formal yang dimiliki nelayan masih kurang.
Karakteristik tanggungan keluarga dalam penelitian ini adalah jumlah anggota keluarga nelayan yang seluruh biaya kehidupannya di tanggung oleh nelayan tersebut. Kategori terbagi menjadi tiga, kategori pertama yaitu Sedikit, dimana jumlah anggota yang ditanggung sebanyak 1-2 orang. Kategori kedua adalah Cukup, jumlah anggota yang ditanggung 3-5 orang dan kategori Banyak yaitu jumlah anggota keluarga yang ditanggung lebih dari 6 orang.
SD 66% SMP
14% SMA/
SMK 11%
Tidak Sekolah
17 Tabel 10 menunjukkan lebih dari 50 % responden yang diwawancarai dalam penelitian ini memiliki tanggungan keluarga kategori sedikit yaitu 1-2 orang. Sedangkan jumlah tanggungan keluarga kategori banyak hanya berjumlah satu orang responden dan sisanya termasuk dalam kategori cukup yaitu berjumlah 3-5 orang.
Tabel 10 Komposisi responden nelayan berdasarkan tanggungan keluarga No Kategori Tanggungan Keluarga Jumlah Presentase (%)
1 Sedikit 20 57,1
2 Cukup 14 40,0
3 Banyak 1 2,9
Jumlah 35 100
Karakteristik pengalaman di laut dalam penelitian ini adalah lamanya nelayan menangkap ikan di laut dari awal penangkapan hingga penelitian ini dilakukan dan dinyatakan dalam tahun. Terdapat tiga kategori untuk karateristik pengalaman melaut menurut Hamzens (2007) yaitu kategori rendah dimana nelayan telah melakukan penangkapan ikan selama 1-4 tahun. Kategori sedang yaitu nelayan telah melakukan penangkapan ikan selama 5-10 tahun, sedangkan kategori tinggi yaitu nelayan telah melakukan penangkapan ikan di laut selama >10 tahun.
Tabel 11 Komposisi responden nelayan berdasarkan pengalaman di laut
No Kategori Jumlah Presentase (%)
1 Kurang Berpengalaman 9 25,7
2 Cukup Berpengalaman 15 42,9
3 Sangat Berpengalaman 11 31,4
Jumlah 35 100
Tabel 11 menunjukkan nelayan rawai tuna yang menjadi responden dalam penelitian ini mayoritas telah melakukan penangkapan ikan di laut selama 5 – 10 tahun. Total 35 responden yang telah diwawancarai, ada sebanyak 11 orang responden yang sangat berpengalaman di laut karena telah melakukan penangkapan ikan selama >10 tahun.
Motivasi melaut dengan rawai tuna yang dimaksud pada penelitian ini adalah dorongan yang ada dalam diri nelayan untuk melakukan penangkapan ikan di laut dengan alat tangkap rawai tuna. Alasan yang diutarakan oleh nelayan pada saat wawancara diantaranya adalah kebutuhan ekonomi, pengoperasian rawai tuna lebih menguasai dan alat tangkap rawai tuna lebih banyak menghasilkan tangkapan ikan dibandingkan dengan alat tangkap lain.
18
Tabel 12 Distribusi alasan responden nelayan menggunakan rawai tuna
No Alasan Penangkapan dengan Rawai Tuna Jumlah Presentase (%)
1 Kebutuhan ekonomi 16 45,7
2 Pengopersian alat lebih menguasai 4 11,4 3 Menghasilkan banyak tangkapan Ikan 15 42,9
Jumlah 35 100
Tabel 13 menunjukkan nelayan rawai tuna memiliki motivasi yang tinggi menggunakan rawai tuna dalam penangkapan ikan. Hanya sekitar 2,9 % yang memiliki kategori rendah mengikuti penangkapan dengan alat tangkap rawai tuna. Tabel 13 Distribusi motivasi responden nelayan menggunakan rawai tuna
Skor Motivasi Kategori Motivasi Jumlah Presentase (%)
8 -10 Rendah 1 2,9
11 - 13 Sedang 7 20,0
14 - 16 Tinggi 27 77,1
Jumlah 35 100
Pendapatan nelayan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penghasilan selama nelayan mengikuti operasi penangkapan dengan kapal rawai tuna. Pendapatan nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu menggunakan sistem gaji per hari, selama proses kegiatan penangkapan sekitar 5-6 bulan di laut. Gaji yang diterima nelayan berbeda-berda tergantung sistem yang diberikan oleh perusahaan dan setiap anggota kapal rawai tuna memiliki gaji berbeda sesuai jabatanya.
Berdasarkan hasil wawancara langsung kepada pihak perusahaan dan nakhoda, setiap perusahaan berbeda dalam memberikan gaji dan bonus kepada nakhoda . Nakhoda kapal mendapatkan gaji berkisar Rp. 100.000 – 250.000 per hari dan mendapatkan tambahan 15% dari keuntungan. Pemberian bonus apabila hasil tangkapan yang didapat banyak dan berkualitas, bonus yang didapat Rp. 1000/ekor. Wakil nakhoda mendapatkan gaji berkisar Rp. 40.000 – Rp. 65.000/hari. KKM mendapatkan gaji Rp. 55.000 – 60.000/hari, sedangkan boatswain, ABK, koki dan prosesing tuna berkisar mendapatkan gaji sekitar Rp. 35.000 – 45.000/hari. Perusahaan biasanya memberikan selisih gaji sebesar Rp. 5000 setiap tingkatan jabatan anggota kapal.
Gaji biasanya akan diberikan setelah kegiatan operasi selama 5-6 bulan selesai, akan tetapi nelayan dapat meminta sebagian dari gaji untuk kebutuhan keluarga di rumahnya. Jika ada kebutuhan keluarga yang mendesak anggota kapal hanya tinggal mengutarakan kepada nakhoda kemudian nakhoda yang akan menyampaikan kepada bos perusahaan. Uang dapat diberikan langsung kepada pihak keluarga ataupun via transfer bank.
Metode Penangkapan Ikan
19 telah banyak menangkap ikan dapat menitipkan hasil tangkapan pada kapal pengumpul yang masih dalam kelompok yang sama.
Penangkapan ikan dengan menggunakan rawai tuna diawali dari persiapan keberangkatan kapal di pelabuhan (fishing base). Persiapan yang perlu dilakukan adalah perijinan kepada syahbandar, pengisian solar, pengisian umpan dan perbekalan melaut Gambar 7.
a) persiapan perbekalan melaut b) persiapan umpan Gambar 7 Kegiatan persiapan melaut di PPN Palabuhanratu
Waktu tempuh kapal rawai tuna dari fishing base menuju fishing ground selama 3-5 hari. Daerah penangkapan ikan tuna pada umumnya berada di Samudera Hindia yaitu 8o - 12o LS dan 99o – 110o BT (Gambar 8). Operasi penangkapan terdiri dari tiga tahap, yaitu setting, driffting dan hauling. Setelah sampai di lokasi penangkapan, kegiatan setting dilakukan di buritan kapal pada pukul 07.00 – 12.00.
20
Penentuan posisi setting dan penentuan kedalaman pancing dilakukan oleh nakhoda. Setting diawali dari penurunan pelampung dan radio buoy kemudian penurunan tali utama, bersamaan dengan pemasangan tali cabang dan umpan. Umpan yang digunakan adalah ikan layang, lemuru atau bandeng. Setelah setting dilakukan kemudian rawai tuna dibiarkan hanyut (driffting) dengan keadaan kapal diam. Penghanyutan rawai tuna selama 7-8 jam dan pada saat menunggu seluruh anggota kapal istirahat. Pengangkatan rawai tuna (hauling) dilakukan pada pukul 20.00 diawali dengan pencarian pelampung tanda dengan menggunakan RDF. Setelah radio bouy ditemukan selanjutnya penarikan tali utama dengan menggunakan line hauler , apabila ada ikan yang tertangkap selanjutnya ikan tersebut di angkat dengan bantuan ganco. Setelah ikan di angkat ke dek selanjutnya ikan tersebut harus segera dimatikan dengan tusukan di kepala atau beberapa kapal menggunakan listrik. Ikan harus segera dimatikan agar mudah dalam proses pembersihan. Selanjutnya ikan yang telah mati dibersihkan insang dan isi perut, kemudian dibungkus plastik lalu masuk kedalam palka. Apabila ikan yang didapat masih sedikit maka penyusunan ikan dipalka biasanya digantung terlebih dahulu agar tidak terbentur dengan pipa palka. Setelah ikan banyak maka penyusunan ikan ditumpuk. Penyimpanan tidak dibedakan menurut ukuran dan kualitas ikan, penyimpanan hanya disesuaikan dengan jenis tuna dan non tuna.
4
KOMPETENSI NELAYAN RAWAI TUNA DI PPN
PALABUHANRATU
Pendahuluan
Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi perannya. Penilaian terhadap kompetensi, keterampilan dan kemampuan, serta mengetahui ciri-ciri kepribadian dan perilaku kunci individu akan memperbesar peluang memilih tim yang memiliki potensi untuk sukses (Shahhpsseini 2011). Sedangkan menurut Spencer (1993) dalam Nurmianto et al. (2006), kompetensi adalah bagian dalam dan selamanya ada pada kepribadian seseorang dan dapat memprediksikan tingkah laku dan performansi secara luas pada semua situasi dan job tasks. Ciri kompetensi adalah merupakan perilaku yang spesifik, dapat dilihat dan dapat diverifikasi; yang secara reliable dan logis dapat dikelompokan bersama; serta sudah diidenfitifikasi sebagai hal-hal yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan pekerjaan (Nurmianto et al. 2006).
21 Sesuai dengan PERMEN KP Nomor PER.07/MEN/2011 tentang sistem standar mutu pendidikan dan pelatihan, ujian, serta sertifikasi pelaut kapal penangkap ikan,definisi dari pelaut kapal penangkap ikan adalah setiap orang yang mempunyai kualifikasi keahlian dan/atau keterampilan sebagai awak kapal penangkap ikan. Pada PERMEN tersebut telah dijelaskan bahwa untuk menjamin keselamatan pelayaran bagi kapal penangkap ikan diperlukan adanya awak kapal yang memiliki keahlian dan kemampuan, sehingga terampil untuk melakukan tugas di atas kapal penangkap ikan sesuai dengan posisinya.
Standar mutu pendidikan dan pelatihan pelaut kapal penangkap ikan dilaksanakan oleh lembaga pendidikan dan pelatihan. Setiap program pendidikan dan pelatihan pelaut kapal penangkap ikan harus menerapkan kurikulum dan deskripsi pembelajaran yang berbasis kompetensi dan berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Sertifikat keahlian pelaut kapal penangkap ikan diberikan kepada peserta yang lulus ujian keahlian pelaut kapal penangkap ikan sesuai jenis dan jenjang pendidikan dan pelatihan.
Sertifikat yang dimiliki oleh nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu sebagian besar hanya dimiliki oleh nakhoda yaitu SKK 60 mill. Sedangkan untuk sertifikat ANKAPIN III dimiliki hanya sebagian kecil nakhoda dan anggota kapal yang lain belum memiliki sertifikat kompetensi. Tujuan dari pembahasan kompetensi nelayan dalam bab ini adalah untuk melihat kompetensi nelayan rawai tuna saat ini dan perbandingannya dengan unit kompetensi yang telah ada pada SKKNI bidang penangkapan ikan di laut.
Metode
Analisis yang digunakan untuk mengetahui kesesuaian antara kompetensi nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu dengan SKKNI menggunakan metode analisis kesenjangan (Gap). Pengukuran kompetensi dapat diukur dari ada atau tidaknya kesenjangan yang terjadi antara kompetensi standar dan kompetensi aktual (Ramadhan 2014). Analisis kesenjangan dilakukan dengan menilai langsung kompetensi nelayan di lapangan dengan menggunakan skala dikotomi ( 0 : Tidak dan 1 : Ya). Kesenjangan kompetensi adalah perbedaan antara level kompetensi yang diperlukan pada suatu posisi dan level kompetensi saat ini. Nilai gap menunjukkan bahwa responden belum memiliki kompetensi sesuai dengan standar. Sedangkan nilai gap 0 menunjukkan responden telah memiliki kompetensi sesuai dengan standar yang ada. Menurut Palan (2007) kesenjangan dihitung dengan rumus:
∑ ∑
Keterangan :
Current Competency Level (CLC) : Kompetensi saat ini ; ū1+ ū2+… + ūi dimana i adalah unit kompetensi ke i dari nakhoda atau ABK
22
Hasil
Kompetensi Nakhoda
Unit kompetensi nakhoda pada kapal rawai tuna di PPN Palabuhanratu memiliki perbedaan dengan SKKNI. Pada SKKNI unit kompetensi nakhoda hanya tiga unit yaitu, “Merencanakan operasi penangkapan ikan”, “Menyiapkan kelaiklautan kapal” dan “Menyiapkan kelaikan operasi penangkapan ikan”. Sedangkan pada lokasi penelitian, nakhoda memiliki tugas lain yang termasuk dalam unit kompetensi perwira. Oleh karena itu pada penelitian ini unit kompetensi perwira termasuk dalam unit kompetensi nakhoda.
Nilai kesenjangan unit kompetensi nakhoda ditunjukan pada Tabel 14. Kompetensi nakhoda memiliki 5 unit kompetensi dan 20 elemen kompetensi. Seluruh unit kompetensi nakhoda belum tercapai penuh dan masih memiliki nilai gap. Unit kompetensi yang memiliki nilai gap tertinggi adalah unit “Menyiapkan kelaiklautan kapal” .
Tabel 14 Nilai kesenjangan unit kompetensi nakhoda rawai tuna di PPN Palabuhanratu pada bulan Januari 2015
No Unit Kompetensi Total
CLR
Total
CLC GAP
Kompetensi Tercapai (%) 1 Merencanakan operasi penangkapan
ikan
4 3,53 0,48 88
2 Menyiapkan kelaiklautan kapal 4 2,38 1,63 59 3 Menyiapkan kelaikan operasi
penangkapan ikan
3 1,98 1,03 66
4 Melaksanakan tugas jaga laut 2 1,76 0,24 88 5 Melakukan penangkapan ikan di laut
dengan menggunakan rawai tuna
7 6,28 0,72 90
Nilai kesenjangan elemen kompetensi dapat dilihat pada Tabel 15. Elemen kompetensi tercapai penuh sebanyak 10 elemen dan 10 elemen sisanya belum tercapai penuh karena memiliki nilai gap. Nilai kesenjangan terendah terjadi pada elemen “Menghitung waktu operasi penangkapan ikan” dengan nilai gap 0,03. Sedangkan nilai gap tertinggi pada elemen “Melengkapi dokumen kapal” dengan nilai gap 0,93.
23
Tabel 15 Nilai kesenjangan elemen kompetensi nakhoda rawai tuna di PPN Palabuhanratu pada bulan Januari 2015
No Elemen kompetensi CLR CLC Gap
1. Merencanakan operasi penangkapan ikan
a Menentukan jenis ikan sasaran, alat penangkap ikan dan daerah penangkapan ikan
1 1 0
b Memprakirakan cuaca 1 1 0
c Menghitung waktu operasi dan kebutuhan operasi
1 0,98 0,03 d Mendokumentasikan rencana operasi
penangkapan
1 0,55 0,45 2. Menyiapkan kelaiklautan kapal
a Melengkapi dokumen kapal 1 0,08 0,93
b Melengkapi jumlah awak kapal sesuai kualifikasi dan fungsinya
1 1 0
c Melengkapi perlengkapan keselamatan kapal dan manusia
1 0,60 0,40 d Melaporkan keberangkatan kapal ke syahbandar
perikanan dan syahbandar umum
1 0,70 0,30 3. Menyiapkan kelaikan operasi penangkapan ikan
a Melengkapi dokumen perijinan yang terkait dengan usaha penangkapan ikan
1 0,10 0,90 b Melengkapi kebutuhan perbekalan kapal dan
awak kapal
1 0,88 0,13 c Menyiapkan alat dan perlengkapan penangkap
ikan
1 1 0
4. Melaksanakan dinas jaga laut
a Menyiapkan perlengkapan dinas jaga laut 1 1 0 b Memantau rute, pengendalian kapal dan
keamanan berlayar
1 0,76 0,24 5. Melakukan penangkapan ikan di laut dengan menggunakan rawai tuna a Menentukan haluan dan posisi setting 1 0,45 0,55
b Menentukan kedalaman pancing 1 0,83 0,17
c Melakukan persiapan ikan umpan, alat dan perlengkapan
1 1 0
d Menurunkan rawai tuna (setting) 1 1 0
e Menghanyutkan rawai tuna (drifting) 1 1 0
f Menaikkan, mengambil ikan hasil tangkapan dan menyusun kembali rawai tuna (hauling) ikan hasil tangkapan
1 1 0
g Menata Alat 1 1 0
24
persentase tertinggi yaitu 90%. Unit kompetensi yang terendah adalah unit “Menyiapkan kelaiklautan kapal” dengan perentase 59% dan “Menyiapkan kelaikan operasi penangkapan ikan” memiliki nilai 66%.
Gambar 9 Capaian nakhoda rawai tuna dalam memenuhi standar kompetensi (%)
Kompetensi ABK
Kompetensi ABK memiliki 4 unit kompetensi dan 13 elemen kompetensi yang keseluruhan elemen tersebut memiliki nilai kesenjangan. Nilai kesenjangan unit kompetensi ABK ditunjukan pada Tabel 16. Nilai kesenjangan tertinggi pada unit “Melakukan perbaikan alat penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing”.
Tabel 16 Nilai kesenjangan unit kompetensi ABK rawai tuna di PPN Palabuhanratu pada bulan Januari 2015
No Unit Kompetensi Total CLR
2 Melakukan perawatan alat
penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing di laut
3 2,50 0,50 83
3 Melakukan perbaikan alat
penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing
4 2,83 1,17 71
4 Melakukan penanganan ikan tuna di kapal
3 1,98 1,02 66
Nilai kesenjangan elemen kompetensi ABK ditunjukkan pada Tabel 17. Nilai kesenjangan dapat menunjukkan kemampuan ABK rawai tuna belum tercapai sesuai dengan standar kompetensi. Nilai kesenjangan terendah terjadi pada elemen “Memperbaiki tali temali yang rusak” dengan nilai gap sebesar 0,07. Sedangkan nilai kesenjangan tertinggi terjadi pada elemen “Menyiapkan sistem penyimpanan” dengan nilai gap sebesar 0,67.
88
25
Tabel 17 Nilai kesenjangan kompetensi ABK rawai tuna di PPN Palabuhanratu pada bulan Januari 2015
No Elemen kompetensi CLR CLC GAP
1. Merakit rawai tuna
a Menjabarkan desain rawai tuna 1 0,66 0,34 b Menyiapkan peralatan kerja dan kebutuhan
bahan rawai tuna
1 0,67 0,33
c Merangkai komponen rawai tuna 1 0,68 0,32 2. Melakukan perawatan alat penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing di laut a Melakukan persiapan jenis perawatan dan
pencegahan kerusakan alat penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing
1 0,91 0,09
b Menyiapkan jenis, bahan dan jumlah
peralatan perawatan dan pencegah kerusakan alat penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing di kapal
1 0,77 0,23
c Melakukan perawatan dan pencegahan kerusakan alat penangkap ikan di kapal
1 0,82 0,18
3. Melakukan perbaikan alat penangkap ikan berbahan utama tali dan pancing a Menghindarkan kerusakan yang diakibatkan
oleh sinar matahari langsung, minyak, zat kimia berbahaya dan hewan pengerat
1 0,76 0,24
b Memperbaiki tali temali yang rusak 1 0,93 0,07 c Mengganti komponen alat lainnya yang
rusak
1 0,91 0,09
d Memberikan zat pengawet dan pewarna pada tali temali
1 0,23 0,77
4. Melakukan penanganan ikan tuna di kapal a Menyiapkan peralatan dan tempat
penanganan ikan tuna hasil tangkapan di kapal
1 0,82 0,18
b Menyiapkan sistem penyimpanan 1 0,33 0,67
c Menangani ikan tuna 1 0,83 0,17
26
Gambar 10 Capaian ABK rawai tuna dalam memenuhi standar kompetensi (%)
Pembahasan
Nelayan rawai tuna di PPN Palabuhanratu dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu, nakhoda kapal (tekong) dan ABK (Wakil nakhoda, Boatswain, KKM, Koki, Prosesing, ABK). Nakhoda dan ABK memiliki komposisi standar unit kompetensi yang berbeda. Nakhoda memiliki 5 unit standar kompetensi yang harus dipenuhi sedangkan ABK memiliki 4 unit kompetensi. Pada unit “Melakukan penangkapan ikan di laut dengan menggunakan rawai tuna” terdapat dua elemen kompetensi yang bernilai gap, yaitu elemen “Menentukan haluan dan posisi setting” dan “Menentukan kedalaman pancing”. Kedua elemen tersebut bernilai gap karena sebagian nakhoda hanya memperkirakan posisi setting dengan cara mencoba pada setting pertama. Apabila pada setting pertama tidak berhasil menangkap ikan maka akan mencari posisi setting lain. Pengetahuan daerah penangkapan ikan yang potensial hanya berdasarkan pengalaman saja, tidak ada teknologi yang digunakan dalam penentuan posisi setting.
Unit “Merencanakan operasi penangkapan” memiliki kesenjangan kompetensi pada elemen “Menghitung waktu operasi dan kebutuhan operasi”; dan “Mendokumentasikan rencana operasi penangkapan”. Nilai gap terjadi karena seluruh kebutuhan perbekalan disiapkan oleh perusahaan. Penentuan lama operasi penangkapan tergantung bahan perbekalan yang dibawa dan tergantung permintaan perusahaan. Pihak perusahaan biasanya menentukan lama operasi penangkapan tergantung dengan harga ikan. Apabila harga ikan sedang naik maka kapal yang sedang beroperasi dilaut harus segera pulang jika tidak ada kapal pengangkut. Apabila ada kapal pengangkut lama operasi bisa lebih lama karena ikan hasil tangkapan dapat dititipkan pada kapal pengangkut milik perusahaan. Selain itu nakhoda tidak terbiasa mencatat seluruh kebutuhan perbekalan yang dibawa ataupun yang sisa, sehingga gap terjadi pada unit “Mendokumentasikan rencana operasi penangkapan”.
27 Palabuhanratu tidak memiliki kompetensi tersebut, karena seluruh perijinan keberangkatan dan kedatangan telah dilakukan oleh pihak perusahaan. Nilai gap bernilai 0 terdapat pada elemen “Melengkapi jumlah awak kapal sesuai kualifikasi dan fungsinya”, hal disebabkan bahwa anggota kapal yang ikut beroperasi dipilih langsung oleh nakhoda.
Unit “Menyiapkan kelaikan operasi penangkapan ikan” memiliki kesenjangan pada elemen “Melengkapi dokumen perijinan yang terkait dengan usaha penangkapan ikan” disebabkan nakhoda tidak mengetahui proses perijinan terkait usaha penangkapan. Elemen “Melengkapi kebutuhan perbekalan kapal dan awak kapal” memiliki nilai gap yang tidak terlalu besar, hal tersebut disebabkan nakhoda dapat menyiapkan dan mengestimasi kebutuhan akan tetapi sisa kebutuhan tidak dilaporkan kepada perusahaan ataupun syahbandar perikanan. Elemen “Menyiapkan alat dan perlengkapan penangkap ikan” tidak memiliki gap karena nakhoda telah memiliki kompetensi tersebut.
Unit “Melaksanakan tugas jaga laut” elemen kompetensi memiliki nilai kesenjangan pada elemen “Memantau rute, pengendalian kapal dan keamanan berlayar”. Pada elemen ini, nakhoda kurang mengerti tentang peraturan pelayaran dan keselamatan di laut selain itu tidak dicatatnya posisi haluan saat operasi penangkapan berlangsung. Sedangkan pada elemen “Menyiapkan perlatan tugas jaga laut” nilai kesenjangan tidak ditemukan, nakhoda menggunakan alat navigasi yaitu Global Positioning System (GPS) yang telah dilengkapi untuk membuat jalur pelayaran menuju daerah penangkapan ikan.
Keseluruhan kompetensi nakhoda rawai tuna yang dimiliki saat ini sudah mencapai 50% dari standar yang seharusnya. Unit kompetensi yang masih perlu ditingkatkan adalah “Menyiapkan kelaikautan kapal” dan “Menyiapkan kelaikan operasi penangkapan ikan”. Pada unit “Menyiapkan kelaiklautan kapal” berhubungan dengan pengetahuan, ketrampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam menyiapkan kelaiklautan kapal. Nakhoda rawai tuna di PPN Palabuhanratu tidak memiliki kompetensi tersebut, karena seluruh perijinan keberangkatan dan kedatangan telah dilakukan oleh pihak perusahaan. Selain itu untuk pengurusan solar dan bahan perbekalan semua telah disiapkan oleh perusahaan. Nakhoda tidak mengerti pengurusan dokumen yang diperlukan, seperti Surat Persetujuan Berlayar (SPB) (Lampiran 1), Surat Ukur Kapal, Surat Tanda Pendaftaran Kapal (Certificate of Tonnage and Measurement), Surat Kebangsaan Kapal, Sertifikat garis muat kapal (Load Line Certificate) dan sertifikat hapus tikus (Derating certificate).
Pada unit kompetensi ABK, unit kompetensi “Merakit rawai tuna”, ketiga elemen kompetensi pada unit ini memiliki kesenjangan. Hal tersebut mengambarkan ABK belum memiliki kompetensi merakit rawai tuna yang memenuhi standar. Bentuk dan desain alat tangkap rawai tuna ditentukan oleh nakhoda oleh karena itu ABK rawai tuna di PPN Palabuhanratu tidak mengetahui desain alat tangkap keseluruhan. ABK hanya bertugas merakit komponen rawai tuna yang akan digunakan dalam operasi penangkapan.