• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan kitosan dari ampas silase limbah udang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pembuatan kitosan dari ampas silase limbah udang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

- 7-

PEMBUATAN KITOSAN AMPGS UDANG

Winarti, dan Yuli

dan IPB

baku makanan

kerupuk, dapat untuk protein tema k dan bahan baku

satu contoh pakan dari ikan atau udang.

untuk proses pembuatan kitosan ltmbah

udang. yang pada pembuatan adalah

menunjukkan tapioka 40%

dengan kadar silasr kadar abu kadar

Kitosan yang terbaik

abu kadar a i r 12.44- 13.16%; nitrogen derajar deasctilasi

137.635 ton pada 2003 125.684 tori adalah

hcku dan 2005). dickspor

dimanfaatkan. Cangkang bahan baku dalam peinbuatan

dan kitosan, pada masih

(2)

Kelouton Indonesia I - Dramaga, 17-18 2007

protein yang ini kerupuk, dan

kendala yang dihadapi adalah proses

yang t idak pada

silase satu

silase yang dapat

Silase ikaw'udang adalah suatu di ikan, udang, atau sisa-sisa

proses drngan terdapat

padn t atau

pencairan, j bersifat

bahkan metnatikan pembusuk.

pembuatan silase dihasilkan dua sekaligus, yaitu silase dan atnpas silase dapat

untuk dan kitosan.

ini bcrtujuan untuk:

a. dari silase

b. pada proses

c. suhu proses pada

dan

Bahan digunakan adalah udang sp.

diperoleh pcmbekuan di Jakarta. Bahau adalah tepung tapioka, pembuatan starter laktat

kiinia untuk kndar air, kadar protein,

(3)

Indonesia I kultur silase ainpas silase

krring HCI unt uk proses

a. kultur

Pada tahap ini kultur laktat buatan silase

udang. bakteri dibuat dengan dan ketnudian selama 4 hari pada suhu kamar.

b. silase kering

pctnbuatan 1 8 kg dau

dibagi t etiap (6 kg cacahan

di yang telah

bcrbeda kultur bakteri

laktat, masing-masing sebanyak kg.

ke hari pada

c. pada proses demineralisasi

(4)

Kelouton dan FPlK -

2. Yembuatan

ki tosan dari dan

kit in, dilanjutkan dengan proses untuk kitosan.

a. Dcmincralisasi

Proses ini untuk anorganik yang terdapat

pada udang. N pada udang dengan

dan (blv).

pada suhu 90°C satu proses penyaringan

dan air hingga netral.

b. Deproteinisasi

Proses penghilangan protein di

konsentrasi ( A , ) , dan scbanyak

tapioka konsentrasi berbeda

40%) silase dengan antara

konsentrasi tapioka

).

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

PROSIDING

Konferensi Sains Kelautan dan Perikanan Indonesia I Kampus FPIK – IPB Dramaga 17 – 18 Juli 2007

THP-151 -

PEMBUATAN KITOSAN DARI AMPAS SILASE LIMBAH UDANG

Winarti, Pipih Suptijah, dan Yuli Indi Astuti

Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB

ABSTRAK

Limbah udang banyak digunakan sebagai campuran

bahan baku makanan seperti

petis

,

terasi,

kerupuk

,

juga dapat dimanfaatkan

untuk sumber protein

pakan ternak dan bahan baku

kitosan, Salah satu contoh pakan ternak adalah

silase dari limbah ikan atau

limbah udang

.

Penelitian

ini bertujuan untuk mempelajari proses pembuatan kitosan dari ampas silase limbah

udang. Konsentrasi

tepung tapioka yang ditambahkan

pada pembuatan

ampas silase adalah

20%,

dan

40%

.

Dari ampas silase

terbaik digunakan untuk

pembuatan kitin. Konsenlrasi

HCl pada

proses demineralisasi yaitu 0.5 N, 0.75 N dan I N. Parameter uji unluk menentukan ampas silasr

terbaik adalah kadar protein dan kadar abu Pada pembuatan kitosan, konsentrasi NaOH pada

proses deproteinisasi sebesar 2.5%. 3% dan 3,5%, sedangkan, suhu

proses

ticasetilasi : 100

0

C.

I20

0

C dan 140

0

C Parameter uji mutu kitosan terdiri dan kadar abu, kadar air, kadar nitrogen dan

Jera|

at

deasetilasi

Hasil penelitian menunjukkan penambahan tepung tapioka 40% menghasilkan

silase dengan kadar protein

17,11

%

daii ampas silasr dengan kadar abu

22,08%,

kadar protein

12,77% serta rendemen 3,44%. Kitosan yang berasal dari ampas silase terbaik mempunyai kadar

abu

0,12-0,30%; kadar air 12.44-

13.16%; kadar nitrogen

&,1M>.H3%; derajar deasetilasi

63.83-

S8,53% serta rendemen

13,56-26,73%. Derajat deasetilasi kitpsan tertinggi dihasilkan dan

perlakuan suhu proses Seaset! lasi 140°C.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis sidik ragam pada lampiran 1 dapat dilihat bahwa interaksi antara konsentrasi NaOH dan suhu pemanasan memberi pengaruh berbeda nyata terhadap rendemen

Hal sebaliknya berlaku juga terhadap perlakuan kitosan dengan konsentrasi yang rendah, karena konsentrasi kitosan yang rendah memberikan kemungkinan protein enzim yang terikat

Emelda Sihotang : Pemanfaatan Abu Ampas Tebu Pada Pembuatan Mortar, 2010.. PEMANFAATAN ABU AMPAS TEBU PADA PEMBUATAN

Dalam penelitian ini telah diteliti pengaruh konsentrasi NaOH, temperatur, waktu, dan re-deasetilasi terhadap derajat deasetilasi (DD) dan berat molekul (BM) kitosan; hubungan DD

Hal sebaliknya berlaku juga terhadap perlakuan kitosan dengan konsentrasi yang rendah, karena konsentrasi kitosan yang rendah memberikan kemungkinan protein enzim yang terikat

Menurut Hanafi dan Nandang (2010) hasil uji kadar abu rata-rata dalam ampas tebu adalah 2,09 % dan hasil analisis kadar silika menggunakan AAS sebanyak 64,65 %, sedangkan pada

Kadar protein dan kadar glukosa dari ampas sampai menjadi kerupuk mengalami penurunan juga seperti halnya kadar abu dan kadar airnya, hal ini disebabkan karena adanya

Sedangkan proses deasetilasi untuk mengubah kitin menjadi kitosan dengan larutan NaOH 50% b/v rasio 1:10 pemanasan hingga 90oC selama 120 menit, didapatkan kitin sebanyak 15,33 g dan