• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mempelajari Sistem Produksi pada PT Elangperdana tyre Industri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mempelajari Sistem Produksi pada PT Elangperdana tyre Industri"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

LENDRA KARTAMIHARDJA

H24101103

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Elangperdana Tyre Industry. Di bawah bimbingan Pramono D. Fewidarto.

PT. Elangperdana Tyre Industry (PT. EPTI) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan ban mobil yang ada di Indonesia. Perusahaan ini bersaing dengan beberapa perusahaan besar lainnya pada industri yang sama, seperti PT GoodYear Indonesia Tbk., PT Bridgestone, PT Gajah Tunggal, PT Intirub Indonesia. Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. PT. EPTI sebagai salah satu produsen ban kendaraan, berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia. Banyak kendala yang timbul terutama pada sistem produksi, agar PT. EPTI dapat memproduksi ban yang berkualitas, aman, nyaman, serta harganya terjangkau oleh konsumen.

Tujuan magang ini adalah untuk mempelajari sistem produksi pada PT. EPTI, terlibat dalam kegiatan pada sistim produksi dan proses penjadwalan (scheduling) yang dilakukan oleh PT. EPTI, dan meningkatkan kompetensi individu mahasiswa melalui pengalaman kerja. Magang ini dilakukan pada PT. Citeureup Kabupaten Bogor, dan divisi yang menjadi tempat kegiatan magang ialah Divisi Engineering, Divisi Pengemasan dan Penggudangan, dan Pengendalian Perencanaan Produksi. Metode yang digunakan pada kegiatan magang ialah (1) Bekerja berdasarkan arah perusahaan, (2) Melakukan analisa masalah, (3) Melakukan pembahasan terhadap masalah, (4) Pencatatan hasil, dan (5) Evaluasi magang.

(3)

iii

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 16 Oktober 1983, sebagai anak

sulung dari dua bersaudara, dari pasangan Rachmat Hidayat dan Elyati Marlen.

Penulis memulai pendidikan pada TK Nugraha Bogor Jawa Barat pada

tahun 1987. Pada tahun 1989 penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Dasar

Negeri Polisi V Bogor Jawa Barat, dan pada tahun 1995 melanjutkan pendidikan

pada SLTP Negeri 1 Bogor Jawa Barat. Setelah itu, penulis melanjutkan

pendidikan pada SMU Negeri 1 Bogor Jawa Barat, dan penulis aktif dalam

organisasi OSIS selama satu tahun. Pada tahun 2001, penulis diterima pada

Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi

Masuk IPB(USMI). Selama masa perkuliahan penulis aktif dalam organisasi

(4)

iv

Segala puji syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah SWT, karena

atas berkah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi berjudul Mempelajari Sistem Produksi pada PT.EPTI disusun sebagai

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen,

Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun

roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang

dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk

menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. Oleh karena itu,

penulis sangat tertarik untuk melakukan magang dalam rangka mempelajari

sistem produksi PT Elangperdana Tyre Industry, sebagai salah satu produsen ban

kendaraan yang berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan

sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia.

Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak, baik secara

moral maupun material. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Ir. Pramono. D. Fewidarto, MS, yang telah memberikan bimbingan dan

arahan selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.

2. My beloved family (mama, papa, andrie), atas doa dan dukungannya.

3. Dr.Ir.Jono Mintato Munandar,M.Sc. sebagai Ketua Departemen Manajemen

4. Seluruh Pimpinan, dosen dan karyawan/wati pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.

5. Bapak Sjahroni Djamhari dan Bapak Abdul Khoer selaku pembimbing

lapangan yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan masukan yang

berharga selama pelaksanaan magang. Bapak Sudarmo Ali selaku Plant

General Manager dan Bapak Imanuel Yahya selaku HR&GA General

Manager PT Elangperdana Tyre Industry atas kewenangan dan dukungannya

sehingga penulis diizinkan untuk melakukan magang pada perusahaan.

6. Sahabat, saudaraku di KAREMATA dan rekan manajemen 38 yang telah

(5)

v

Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena

itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kesalahan dalam

penulisan tugas akhir. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif

dan bersifat membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi

pihak-pihak yang berkepentingan.

Bogor, Agustus 2006

(6)

vi RINGKASAN

RIWAYAT HIDUP ………. iii

KATA PENGANTAR ………. iv

DAFTAR TABEL……….. viii

DAFTAR GAMBAR ………... ix

DAFTAR LAMPIRAN ……….... x

I. PENDAHULUAN ………. 1

2.2. Manajemen Produksi dan Operasi ………. 4

2.3. Manajemen Proses Produksi ………... 4

2.4. Perencanaan dan Pengawasan Produksi .………... 5

2.5. Sistem Produksi ……….. 5

2.6. Mutu ………... 6

2.7. Perencanaan dan Pengendalian Produksi……… 6

2.8. Ban……….. 7

III. METODE MAGANG ……… 9

3.1. Lokasi dan Waktu Magang ………... 9

3.2. Metode Magang ………….………. 9

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... ... 12

4. 1. Keadaan Umum Perusahaan... 12

4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ... 12

4. 2. Bahan Baku dan Sarana Produksi ... 23

4.2.1. Bahan Baku ... 23

4.2.2. Sarana Utilitas ……….……….. 25

(7)

vii

4.3.1.2. Proses Extruding ………... 36

4.3.1.3. Proses Calendar ……….. 38

4.3.1.4. Proses Bead Making ……… 40

4.3.1.5. Proses Cutting ……….. 41

4.3.1.6. Seksi PCR (Passenger Car Radial)Building ………… 42

4.3.1.7. Seksi Bias Building ………. 44

4.3.1.8. Seksi Curing ………. 46

4.3.1.9. Seksi Finishing ………. 47

4.3.2. Proses Penggudangan dan Pengemasan ……… 47

4.3.3. Penanganan Limbah ………... 49

4. 4. Perencanaan dan Pengendalian Mutu Produksi... 50

4. 5. Aspek Pengendalian Mutu Ban... ... 54

4.5.1. Pengendalian Mutu Bahan Baku ... 54

4.5.2. Pengendalian Mutu Proses Produksi ... 56

4.5.3. Pengendalian Mutu Produk... 58

KESIMPULAN DAN SARAN ………. 63

Kesimpulan ………...……… 63

1. 2. Saran ………... 64

DAFTAR PUSTAKA ……… 66

(8)

viii

No Halaman

1 Produksi dan Penjualan per Tahun ... 2

2 Ketentuan Cuti Tahunan dan Cuti Panjang Karyawan PT. EPTI ... 21

3 Jarak Venting pada Permukaan Green Tyre Bias ... 45

(9)

ix

No Halaman

1 Sistem Produksi dan Operasi ... 6

2 Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi ... 7

3 Posisi Menyilang dari Belt dan Ply... 44

4 Alur Proses Penggudangan Ban ……… 48

(10)

x

No Halaman

1 Jadwal Magang ... 68

2 Bagian Ban ... 69

3 Tata Letak Pabrik ... 70

4 Tata Letak Mesin ……… 71

5 Profil Produk PT. EPTI ... 72

6 Ledger ... 73

7 Ordersheet ... 74

8 Rencana Produksi Tahunan ... 75

9 Kapasitas dan Loading Time ... 76

(11)

Oleh

LENDRA KARTAMIHARDJA

H24101103

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

Elangperdana Tyre Industry. Di bawah bimbingan Pramono D. Fewidarto.

PT. Elangperdana Tyre Industry (PT. EPTI) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan ban mobil yang ada di Indonesia. Perusahaan ini bersaing dengan beberapa perusahaan besar lainnya pada industri yang sama, seperti PT GoodYear Indonesia Tbk., PT Bridgestone, PT Gajah Tunggal, PT Intirub Indonesia. Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. PT. EPTI sebagai salah satu produsen ban kendaraan, berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia. Banyak kendala yang timbul terutama pada sistem produksi, agar PT. EPTI dapat memproduksi ban yang berkualitas, aman, nyaman, serta harganya terjangkau oleh konsumen.

Tujuan magang ini adalah untuk mempelajari sistem produksi pada PT. EPTI, terlibat dalam kegiatan pada sistim produksi dan proses penjadwalan (scheduling) yang dilakukan oleh PT. EPTI, dan meningkatkan kompetensi individu mahasiswa melalui pengalaman kerja. Magang ini dilakukan pada PT. Citeureup Kabupaten Bogor, dan divisi yang menjadi tempat kegiatan magang ialah Divisi Engineering, Divisi Pengemasan dan Penggudangan, dan Pengendalian Perencanaan Produksi. Metode yang digunakan pada kegiatan magang ialah (1) Bekerja berdasarkan arah perusahaan, (2) Melakukan analisa masalah, (3) Melakukan pembahasan terhadap masalah, (4) Pencatatan hasil, dan (5) Evaluasi magang.

(13)

iii

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 16 Oktober 1983, sebagai anak

sulung dari dua bersaudara, dari pasangan Rachmat Hidayat dan Elyati Marlen.

Penulis memulai pendidikan pada TK Nugraha Bogor Jawa Barat pada

tahun 1987. Pada tahun 1989 penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Dasar

Negeri Polisi V Bogor Jawa Barat, dan pada tahun 1995 melanjutkan pendidikan

pada SLTP Negeri 1 Bogor Jawa Barat. Setelah itu, penulis melanjutkan

pendidikan pada SMU Negeri 1 Bogor Jawa Barat, dan penulis aktif dalam

organisasi OSIS selama satu tahun. Pada tahun 2001, penulis diterima pada

Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi

Masuk IPB(USMI). Selama masa perkuliahan penulis aktif dalam organisasi

(14)

iv

Segala puji syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah SWT, karena

atas berkah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi berjudul Mempelajari Sistem Produksi pada PT.EPTI disusun sebagai

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen,

Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun

roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang

dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk

menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. Oleh karena itu,

penulis sangat tertarik untuk melakukan magang dalam rangka mempelajari

sistem produksi PT Elangperdana Tyre Industry, sebagai salah satu produsen ban

kendaraan yang berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan

sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia.

Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak, baik secara

moral maupun material. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Ir. Pramono. D. Fewidarto, MS, yang telah memberikan bimbingan dan

arahan selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.

2. My beloved family (mama, papa, andrie), atas doa dan dukungannya.

3. Dr.Ir.Jono Mintato Munandar,M.Sc. sebagai Ketua Departemen Manajemen

4. Seluruh Pimpinan, dosen dan karyawan/wati pada Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.

5. Bapak Sjahroni Djamhari dan Bapak Abdul Khoer selaku pembimbing

lapangan yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan masukan yang

berharga selama pelaksanaan magang. Bapak Sudarmo Ali selaku Plant

General Manager dan Bapak Imanuel Yahya selaku HR&GA General

Manager PT Elangperdana Tyre Industry atas kewenangan dan dukungannya

sehingga penulis diizinkan untuk melakukan magang pada perusahaan.

6. Sahabat, saudaraku di KAREMATA dan rekan manajemen 38 yang telah

(15)

v

Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena

itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kesalahan dalam

penulisan tugas akhir. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif

dan bersifat membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi

pihak-pihak yang berkepentingan.

Bogor, Agustus 2006

(16)

vi RINGKASAN

RIWAYAT HIDUP ………. iii

KATA PENGANTAR ………. iv

DAFTAR TABEL……….. viii

DAFTAR GAMBAR ………... ix

DAFTAR LAMPIRAN ……….... x

I. PENDAHULUAN ………. 1

2.2. Manajemen Produksi dan Operasi ………. 4

2.3. Manajemen Proses Produksi ………... 4

2.4. Perencanaan dan Pengawasan Produksi .………... 5

2.5. Sistem Produksi ……….. 5

2.6. Mutu ………... 6

2.7. Perencanaan dan Pengendalian Produksi……… 6

2.8. Ban……….. 7

III. METODE MAGANG ……… 9

3.1. Lokasi dan Waktu Magang ………... 9

3.2. Metode Magang ………….………. 9

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... ... 12

4. 1. Keadaan Umum Perusahaan... 12

4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ... 12

4. 2. Bahan Baku dan Sarana Produksi ... 23

4.2.1. Bahan Baku ... 23

4.2.2. Sarana Utilitas ……….……….. 25

(17)

vii

4.3.1.2. Proses Extruding ………... 36

4.3.1.3. Proses Calendar ……….. 38

4.3.1.4. Proses Bead Making ……… 40

4.3.1.5. Proses Cutting ……….. 41

4.3.1.6. Seksi PCR (Passenger Car Radial)Building ………… 42

4.3.1.7. Seksi Bias Building ………. 44

4.3.1.8. Seksi Curing ………. 46

4.3.1.9. Seksi Finishing ………. 47

4.3.2. Proses Penggudangan dan Pengemasan ……… 47

4.3.3. Penanganan Limbah ………... 49

4. 4. Perencanaan dan Pengendalian Mutu Produksi... 50

4. 5. Aspek Pengendalian Mutu Ban... ... 54

4.5.1. Pengendalian Mutu Bahan Baku ... 54

4.5.2. Pengendalian Mutu Proses Produksi ... 56

4.5.3. Pengendalian Mutu Produk... 58

KESIMPULAN DAN SARAN ………. 63

Kesimpulan ………...……… 63

1. 2. Saran ………... 64

DAFTAR PUSTAKA ……… 66

(18)

viii

No Halaman

1 Produksi dan Penjualan per Tahun ... 2

2 Ketentuan Cuti Tahunan dan Cuti Panjang Karyawan PT. EPTI ... 21

3 Jarak Venting pada Permukaan Green Tyre Bias ... 45

(19)

ix

No Halaman

1 Sistem Produksi dan Operasi ... 6

2 Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi ... 7

3 Posisi Menyilang dari Belt dan Ply... 44

4 Alur Proses Penggudangan Ban ……… 48

(20)

x

No Halaman

1 Jadwal Magang ... 68

2 Bagian Ban ... 69

3 Tata Letak Pabrik ... 70

4 Tata Letak Mesin ……… 71

5 Profil Produk PT. EPTI ... 72

6 Ledger ... 73

7 Ordersheet ... 74

8 Rencana Produksi Tahunan ... 75

9 Kapasitas dan Loading Time ... 76

(21)

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat

maupun roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang

keselamatan yang dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah

satu faktor penting untuk menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada

kendaraan. Produsen ban kendaraan berperan besar dalam penyediaan

produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di

Indonesia.

Pengawasan pada kualitas dan mutu dari produk yang diproduksi harus

benar-benar dilakukan untuk memenuhi standar yang ada. Para pelaku di

bidang industri manufaktur, khususnya produsen ban, perlu memperhatikan

bagaimana produknya dapat menjadi pilihan utama. Penting bagi konsumen

untuk mengetahui kualitas produk yang baik dan terbukti aman.

PT ELANGPERDANA TYRE INDUSTRY ( PT EPTI ) ialah salah

satu produsen ban yang ada di Indonesia, yang bersaing dengan beberapa

perusahaan besar lainnya pada industri yang sama, seperti PT GoodYear

Indonesia Tbk., PT Bridgestone, PT Gajah Tunggal, PT Intirub Indonesia.

Tentunya perusahaan tersebut berlomba untuk memberikan produk yang

terbaik bagi para konsumennya, sesuai dengan prinsip dasar yang berlaku

saat ini yaitu The costumer is king. Prinsip ini pasti dianut pula oleh semua

industri ban, karena pada dasarnya tujuan akhir para pelaku industri secara

substansial adalah sama. Tetapi dalam pelaksanaannya prinsip tersebut tentu

akan diwujudkan melalui cara yang berbeda-beda. Demikian halnya dengan

para pelaku di industri manufaktur ban, masing-masing perusahaan tentunya

memiliki cara yang berbeda dalam pencapaian tujuan, yaitu tetap menjaga

produk yang diproduksinya untuk menjadi produk unggulan.

Sebagai salah satu industri penghasil ban, PT EPTI kini sedang

berkembang dengan sangat pesat, dengan adanya pembelian mesin baru dan

peningkatan jumlah produksi (tahun 2004 memproduksi 4.000 ban per hari

(22)

diminati oleh konsumen dari dalam maupun luar negeri, seperti Malaysia,

Bahrain dan negara timur tengah lainnya, Muang Thai, Cina, sebagian

Negara Eropa dan Australia.

Tabel 2. Produksi dan penjualan per tahun

Tahun

2003 2004 2005

Produksi per hari(*) 2532 4135 5102

Penjualan per tahun 924180 1509275 1862230

(*)

: rata-rata produksi aktual. Sumber: PT. EPTI, 2004

PT EPTI selalu berupaya agar tetap eksis di dalam persaingan untuk

memperebutkan pangsa pasar produk ban, terutama dengan adanya

persaingan dari produk ban murah yang berasal dari negara Cina. Salah satu

strategi yang ditempuh adalah dengan cara memproduksi ban yang

berkualitas, aman, nyaman serta harganya terjangkau konsumen. Hal ini

sesuai dengan slogan produk ban PT ELANGPERDANA TYRE

INDUSTRY, yaitu High Performance Tyres.

Kendala yang dihadapi industri manufaktur tidak sedikit. Masalah yang

sering timbul pada sistem produksi dapat dikelompokkan dalam beberapa

hal, antara lain lay-out pabrik dan pengaruhnya terhadap aliran produksi

yang berjalan saat ini, keterkaitan antara peningkatan produktifitas dengan

kualitas, penjadwalan produksi yang dirancang oleh pabrik, kesesuaian

mesin dengan manusianya secara ergonomik, dan terakhir adalah seringnya

terjadi kerusakan pada mesin. Beberapa masalah ini dapat menghambat

proses produksi, padahal perusahaan harus memiliki aliran dan proses

produksi yang cukup baik untuk memenuhi target produksi.

Produk yang dihasilkan oleh PT EPTI adalah ban luar kendaraan roda

empat, dengan kategori Passenger Car Radial Tyre (Ban Mobil

berpenumpang Radial), Ultra Light Truck, Light Truck Bias Tyre (Ban Truk

Ringan), dan Truck/Bus Bias Tyre (Ban Truk & Bis). Setiap harinya PT

(23)

1.2. Tujuan Magang

Kegiatan produksi merupakan kegiatan yang sangat penting untuk

mempertahankan kualitas dan mutu tetap baik. Kegiatan produksi ini harus

direncanakan sebaik mungkin dan memerlukan proses controling yang teratur

serta sistem tata letak yang baik pada perusahaan agar kegiatan produksi tetap

berjalan dengan lancar. Hal tersebut sangat penting untuk dipahami

mengingat kegiatan produksi merupakan salah satu komponen penting dalam

suatu perusahaan. Oleh karena itu tujuan dari magang adalah :

1. Mempelajari sistem produksi pada PT. EPTI.

2. Terlibat dalam kegiatan pada sistem produksi dan proses penjadwalan

(scheduling), serta pengendalian mutu yang dilakukan oleh PT. EPTI.

3. Meningkatkan kompetensi individu mahasiswa melalui pengalaman kerja.

1.3. Manfaat Magang

Hasil dari magang ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan (PT.

EPTI) maupun bagi diri penulis. Adapun kegunaannya adalah :

1. Bagi perusahaan, hasil dari magang ini diharapkan dapat menjadi salah

satu masukan dalam membuat kebijakan yang tepat dengan kondisi saat

ini.

2. Bagi penulis merupakan pengalaman praktis dan wadah pengaplikasian

teori yang telah didapatkan selama masa perkuliahan, dalam mengamati,

mempelajari, dan melaporkan masalah-masalah yang terjadi pada sistem

produksi.

1.4. Ruang Lingkup

Skripsi ini disusun berdasarkan hasil pelaksanaan magang di PT.

Elangperdana Tyre Industry, Citeureup. Kajian yang dilakukan meliputi

beberapa aspek penting, diantaranya adalah tinjauan umum mengenai

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Produksi

Produksi adalah perubahan atau transformasi dari satu benda menjadi

benda lain yang lebih bernilai, (Syahroni, 2005). Assauri (2004)

mendefinisikan produksi secara umum sebagai suatu kegiatan atau proses

yang mentransformasikan masukan input menjadi hasil keluaran output.

2.2. Manajemen Produksi dan Operasi

Assauri (2004) menyatakan bahwa manajemen produksi dan operasi

merupakan kegiatan mengatur dan mengkoordinasikan penggunaan

sumber-sumber daya yang berupa sumber-sumber daya manusia, sumber-sumber daya alat, mesin

dan, sumber daya dana serta bahan secara efektif dan efisien, untuk

menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa.

Dengan pengertian seperti itu, maka manajemen produksi dan operasi

merupakan proses pencapaian dan pendayagunaan sumber-sumber daya

untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang

berguna sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi.

Menurut Handoko (1997), manajemen produksi dan operasi merupakan

usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya produksi

(sering disebut sebagai faktor produksi) seperti; tenaga kerja, mesin-mesin,

peralatan, bahan mentah, dan sebagainya dalam proses transformasi bahan

mentah dan tenaga kerja menjadi produk atau jasa.

2.3. Manajemen Proses Produksi

Proses produksi juga dapat diartikan sebagai cara, metode, dan teknik

untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan

menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan, dan dana) yang

ada (Assauri, 2004). Pengertian manajemen proses produksi menurut

Handoko (1997) yaitu, kegiatan-kegiatan manajemen produksi dan

operasi-operasi tidak hanya menyangkut pemrosesan manufacturing berbagai barang,

(25)

2.4. Perencanaan dan Pengawasan Produksi

Assauri (2004) mendefinisikan perencanaan dan pengawasan produksi

(Production Planning and Control atau PPC) sebagai penentuan dan penetapan

kegiatan-kegiatan produksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan

perusahaan, dan mengawasi kegiatan pelaksanaan dari proses dan hasil

produksi, agar apa yang telah direncakan dapat terlaksana dan tujuan yang

diharapkan dapat tercapai. Sedangkan perencanaan produksi (production

planning) adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai

orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan lain serta modal yang

diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di

masa depan sesuai dengan yang diperkirakan atau diramalkan. Barang yang

direncanakan tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1. Bahwa barang tersebut harus dapat diproduksi atau dibuat pada waktu itu.

2. Bahwa barang tersebut harus dapat dikerjakan dengan atau oleh pabrik ini.

3. Bahwa barang tersebut harus sesuai atau dapat memenuhi atau dicocokkan

dengan keinginan pembeli sesuai dengan ramalan baik mengenai harga,

kuantitas, kualitas dan waktu yang dibutuhkan.

2.5. Sistem Produksi

Pada umumnya, suatu sistem produksi adalah proses pengubahan

masukan-masukan sumber daya menjadi barang-barang dan jasa-jasa yang

lebih berguna. Masukan-masukan ke dalam sistem ini adalah bahan mentah,

tenaga kerja, modal, energi dan informasi. Masukan-masukan ini diubah

menjadi barang-barang dan/atau jasa-jasa oleh teknologi proses merupakan

metoda atau cara tertentu yang digunakan untuk proses transformasi.

Perubahan teknologi akan merubah cara satu masukan digunakan dalam

hubungannya dengan masukan yang lain, mungkin juga merubah

(26)

Gambar 1. Sistem Produksi dan Operasi (Assauri, 2004)

2.6. Mutu

Menurut Assauri (2004) dalam perusahaan pabrik, istilah mutu diartikan

sebagai faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang

menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa

barang atau hasil tersebut itu dimaksudkan atau dibutuhkan. Menurut Deming

mutu harus bertujuan memenuhi pelanggan sekarang dan masa datang.

Feigenbaum mengatakan mutu merupakan keseluruhan gabungan

karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, engeneering, dan

maintenance maka produk dan jasa dalam pemakaian akan sesuai dengan

harapan pelanggan. Goetsch dan Davis mengemukakan bahwa mutu adalah

suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang,

proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan.

(Standar Nasional Indonesia) SNI adalah keseluruhan ciri dan karakteristik

produk dan jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik

yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar.

2.7. Perencanaan dan Pengendalian produksi

Assauri (2004) mengatakan, perencanaan dan pengendalian produksi

adalah penentuan dan penetapan kegiatan-kegiatan produksi yang akan

dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan pabrik tersebut, dan mengawasi

kegiatan pelaksanaan dari proses dan hasil produksi, agar apa yang telah

(27)

Kusuma (2002) mendefinisikan perencanaan dan pengendalian produksi

adalah merencanakan dan mengendalikan aliran material ke dalam, di dalam,

dan keluar pabrik sehingga posisi keuntungan optimal yang merupakan

tujuan perusahaan dapat dicapai, dan pengendalian produksi dimaksudkan

untuk mendayagunakan sumber daya produksi yang terbatas secara efektif,

terutama dalam usaha memenuhi permintaan konsumen dan menciptakan

keuntungan bagi peusahaan. Biegel dalam Assauri (2004) mengatakan

hubungan pengendalian produksi terhadap keseluruhan organisasi

manufaktur yang terutama ialah sebagai alat pengendali aliran informasi,

pengendalian produksi sendiri berkaitan erat dengan fungsi-fungsi di luarnya,

sehingga komponen di dalam produksi memiliki interaksi.

Gambar 2. Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi (Biegel

dalam Assauri, 2004)

2.8. Ban

Ban didefinisikan sebagai lingkaran besi atau karet yang melingkupi

bagian luar roda. Ban mempunyai berbagai macam tipe yang berbeda-beda

berasal dari konstruksi dan material yang berbeda-beda pula. Ban Radial

adalah tipe ban dengan carcass cord yang tegak lurus terhadap garis tengah

tread (dalam arah radial) dan bagian tread dilengkapi dengan enforcing belt.

Ban jenis ini memiliki drivability yang sempurna, stabil, tahan

pakai,menghasilkan lebih sedikit panas, mempunyai rolling resistance yang

(28)

yang digunakan pada masa lalu, mempunyai carcass cord yang tersusun pada

sudut (bias) dengan memperhatikan garis tengah dari tread. Inilah yang

sekarang disebut ban bias.

Ban Tubeless adalah tipe ban yang mempunyai lapisan karet spesial

(lapisan dalam) dengan sedikit air permeability pada bagian dalam dan

menggunakan material yang tahan bocor pada bagian bead sebagai pengganti

tube. Ban jenis ini tidak akan mudah kempis bahkan ketika terkena paku pada

saat digunakan.

Ban Tube adalah tipe ban dengan tube (selang melingkar) dalam yang

diisi dengan udara. Ban ini khusus digunakan pada musim dingin (Ban

Studless dan Ban salju). Ban musim dingin adalah ban yang didesain untuk

menghentikan luncuran pada jalan yang tertutup salju atau es. Ban Studless

menggunakan campuran karet spesial yang tidak akan kehilangan

pliability-nya bahkan pada temperatur rendah sekalipun. Ban jenis ini juga mempupliability-nyai

alur atau lekuk desain yang spesial untuk memaksimalkan penggunaannya

dalam jalan ber-es. Ban salju mempunyai alur atau lekuk yang lebih dalam

dan lebih lebar dibandingkan dengan ban musim panas dan memiliki pola

blok spesial untuk meningkatkan kemampuan tarikan dan daya rem pada

jalan bersalju. Lebih detail tentang bagian ban akan disajikan pada Lampiran

1 (The Japan Automobile Tire Manufactures Association, Inc., 2005)

(29)

III. METODE MAGANG

3.1. Lokasi dan Waktu Magang

Kegiatan Magang dilaksanakan selama 3 bulan terhitung mulai tanggal

14 Februari 2005 sampai dengan 6 Mei 2005, berlokasi di PT. Elangperdana

Tyre Industry, Citeureup Kabupaten Bogor. Departemen yang ditempati

selama kegiatan magang ialah, Departemen Engineering, Departemen

Pengemasan dan Penggudangan, dan Pengendalian Perencanaan Produksi.

Pada bulan pertama kegiatan magang ini dimulai dengan pengenalan

pabrik, diantaranya safety procedure untuk memasuki wilayah pabrik,

pengenalan wilayah pabrik dan tata letak. Kemudian mulai mempelajari

bagaimana pengendalian material dilakukan, dan pengenalan mesin-mesin.

Bulan kedua dilibatkan dalam kegiatan penjadwalan yang dilakukan oleh

Departemen PPC (Production Planning and Control), dilanjutkan dengan

mempelajari kegiatan proses produksi dan proses pengendalian mutu. Masuk

pada bulan ketiga mempelajari proses akhir produksi yang kemudian

mengamati proses penggudangan, selanjutnya dipindahkan oleh perusahaan

pada Departemen Engineering dan dilibatkan pula dalam beberapa rapat

departemen tersebut. Rincian lengkap tentang jadwal magang dapat dilihat

pada Lampiran 2.

3.2. Metode Magang

Metode yang digunakan pada kegiatan magang ini ialah :

1. Bekerja Berdasarkan Arah Perusahaan

Perusahaan memberikan arahan kepada mahasiswa magang berupa

penempatan kerja pada departemen-departemen kerja yang berhubungan

dengan karya tulis ilmiah yang akan dibuat oleh mahasiswa magang. Pada

departemen-departemen yang berbeda tersebut, mahasiswa magang

diberikan job description oleh pembimbing lapangan di perusahaan. Hal ini

dimaksudkan agar mahasiswa magang dapat merasakan sendiri kegiatan

(30)

2. Melakukan Analisa Masalah

Selama mahasiswa magang terlibat dalam kegiatan yang dilakukan di

departemen-departemen perusahaan, mahasiswa juga melihat

permasalahan-permasalahan yang terjadi. Data yang berhubungan dengan

permasalahan didapatkan melalui observasi dan dilanjutkan dengan

wawancara dengan pembimbing lapangan. Data yang didapatkan tersebut

dicatat oleh mahasiswa magang untuk kemudian dianalisa dengan

menggunakan studi literatur.

3. Melakukan Pembahasan Terhadap Masalah

Pembahasan masalah dilakukan oleh mahasiswa magang melalui studi

literatur yang berhubungan dengan permasalahan. Studi literatur dilakukan

untuk mendapatkan landasan teori terbaik dengan permasalahan yang ada.

Sumber literatur dapat berupa buku ilmiah, karya tulis ilmiah, situs

internet, artikel koran, dan sumber lain yang dapat memberikan ide bagi

pemecahan masalah.

4. Pencatatan Hasil

Data dan informasi yang telah dipelajari dengan dukungan studi literatur

tersebut diharapkan akan memunculkan beberapa alternatif pemecahan

masalah atau solusi. Semua alternatif solusi yang disertai dengan

masing-masing keunggulan dan kelemahannya kemudian akan dicocokkan dengan

pertimbangan situasi dan kondisi perusahaan pada saat itu. Solusi terbaik

kemudian akan direkomendasikan sebagai saran untuk perusahaan dalam

membantu memecahkan permasalahan yang terjadi.

5. Evaluasi Magang

Supervisi sehari-hari dilakukan oleh pihak perusahaan untuk melihat

apakah penulis dapat mengerti dan melaksanakan apa yang telah

ditugaskan oleh perusahaan. Dosen pembimbing skripsi yang langsung

mendatangi perusahaan pada bulan terakhir magang dan melakukan

penilaian terhadap relevansi keilmuan, sikap, dan keterampilan

berdasarkan pengamatan terhadap mahasiswa bersangkutan. Pihak

perusahaan (pembimbing lapang) dan perusahaan juga memberikan

(31)

pengembangan kegiatan akademik. Penilaian juga dilakukan oleh tempat

magang (perusahaan), dimana mahasiswa diminta menjelaskan kepada

pihak perusahaan dalam bentuk persentasi mengenai materi apa yang telah

(32)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

PT. Elangperdana Tyre Industry merupakan perusahaan yang

bergerak di bidang industri pembuatan ban mobil yang didirikan pada

tanggal 15 November 1993 dan terdaftar di Departemen Kehakiman

dengan akta nomor C2-14917. HT. 01. 01 tahun 1994 tertanggal 3

oktober 1994, serta terdaftar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

dengan nomor 2238/ A.PT/ HKM/ 1994 PN. Jak-Sel.

Industri ini berdiri atas dasar PMDN (Penanaman Modal Dalam

Negeri) dengan modal awal sebesar lebih kurang $ 40.000.000. PT.

Elangperdana Tyre Industry merupakan perusahaan yang berada

dibawah naungan Elang Group bersama dengan PT. Elangperdana

Prima Niaga & Industri yang memproduksi ban dalam mobil (tube).

Kedua perusahaan tersebut berada dalam satu lokasi yakni di Jalan

Elang, Desa Sukahati Citeureup Kabupaten Bogor.

Produksi perdana PT Elangperdana Tyre Industry secara resmi

dimulai tanggal 13 april 1997 dengan membuat ban mobil merek

VREDESTEIN yang merupakan lisensi dari negara Belanda. Ban yang

diproduksi adalah ban mobil jenis PCR (Passanger Car Radial) untuk

jenis kendaraan penumpang (beban rendah). Selanjutnya diproduksi

pula ban mobil untuk jenis kendaraan komersial (truck, bus, dan light

truck) dengan jenis ban bias (beban tinggi). Tenaga kerja operasional,

teknisi, dan tenaga ahli direkrut dari tenaga kerja kerja domestik,

sedangkan tenaga peninjau dan pengawas berasal dari negara Belanda.

Perkembangan selanjutnya, PT. EPTI disamping memproduksi

ban dengan merek VREDESTEIN juga telah berhasil memproduksi

dan memasarkan ban dengan merek sendiri (original product) yakni

EPCO (Elangperdana Corporation) dengan beberapa merek dagang

diantaranya MILLENIUM, TORNADO, IMPERIUM, dan EPCO TBS

(33)

EPCO dipasarkan secara domestik untuk pangsa pasar replacement

dan original equipment, serta diekspor keluar negeri diantaranya ke

Timur Tengah (Middle East), Malaysia, Muangthai, dan Australia.

4.1.2. Tata Letak Pabrik

PT. Elangperdana Tyre Industry berdiri diatas lahan seluas lebih

kurang 18 Ha dengan luas bangunan pabrik lebih kurang 15 Ha. Lokasi

pabrik berada di jalan Elang, Desa Sukahati Citeureup Kabupaten

Bogor. Lokasi pabrik bisa dijangkau dengan cepat dari jalan tol

Jagorawi (melalui pintu tol Sentul maupun Cibinong), sehingga

memudahkan akses untuk distribusi maupun transportasi. Selain itu PT.

EPTI terletak berdekatan dengan pabrik lain seperti PT. Sumiden Serasi

Wire Products yang merupakan salah satu pemasok benang baja (steel

cord) dan PT Branta Mulia, Tbk yang juga merupakan salah satu

pemasok benang nylon (textile cord). Tata letak perusahaan secara

keseluruhan disajikan pada Lampiran 3.

4.1.3. Tata Letak Bangunan

Tata letak bangunan pabrik diatur sedemikian rupa sehingga tidak

mengganggu jalannya proses produksi dan komponen-komponen yang

saling terkait di dalamnya (Lampiran 3). Kantor utama (main office)

berada di dekat pintu gerbang utama untuk memudahkan akses keluar

masuknya kendaraan operasional, staff, dan tamu perusahaan, serta

berada agak jauh dari ruang produksi (pabrik) untuk menghindari

kebisingan. Ruang produksi diatur berdekatan dengan Enggineering and

Workshop Department agar memudahkan penanganan dan perbaikan

apabila kerusakan pada mesin produksi maupun pada sarana utilitas

pabrik.

4.1.4. Tata Letak Mesin

Ruangan produksi diatur secara memanjang dengan mengikuti alur

pergerakan material yang dihasilkan oleh masing-masing seksi.

Penempatan ruangan untuk proses mixing yang merupakan proses

(34)

bahan baku (raw material warehouse). Hal ini dimaksudkan untuk

mempermudah pengambilan bahan baku dari gudang bahan baku

menuju mesin banbury mixer. Pigment room, tangki parafinic oil juga

diatur berdekatan dengan ruang gudang bahan baku, hal ini

dimaksudkan untuk memudahkan peramuan bahan-bahan kimia yang

berasal dari gudang bahan baku pada proses mixing. Seksi mixing diatur

berdekatan dengan seksi-seksi yang lain antara lain adalah seksi

extruding, seksi calendar dan seksi bead. Seksi cutting diatur

bersebelahan dengan seksi calendar, karena seksi cutting membutuhkan

material yang dihasilkan seksi calendar.

Pigmen Room adalah tempat untuk meracik bahan kimia sebagai

bahan dasar coumpound diatur secara berdekatan dengan seksi mixing,

seksi extruding, seksi calender dan seksi-seksi lain, serta gudang bahan

baku untuk mempermudah pemeriksaan bahan baku dan material yang

dihasilkan dari seksi-seksi tersebut di atas. Seksi radial building (PCR)

dibagi menjadi dua tahap yaitu pre-assembling (PA) dan radial

building. Tahap pre-assembling menyatukan produk dari seksi

extruding (side wall) dan seksi calendar 2 roll (inner liner) sehingga

penempatannya diatur berdekatan dengan kedua seksi tersebut.

Sementara itu tahap radial building dilakukan dalam ruangan yang

dilengkapi alat penyejuk udara terkontrol (controlled air conditioner) di

sebelah ruangan pre-assembling untuk menjaga agar dimensi material

tidak berubah. Band dan bias building berada di luar ruangan radial

building. Seksi curing berada paling ujung ruang produksi karena

proses curing merupakan tahap terakhir dalam proses produksi ban.

Di sebelah seksi curing terdapat gudang produk jadi (tyre

warehouse). Di dalam ruangan ini ban diinspeksi, dilakukan proses

penggudangan dan pengemasan (wrapping). Untuk mempermudah

pengeluaran produk jadi dan meminimisasi terjadinya antrian produk,

gudang produk jadi memiliki tiga pintu keluar. Di samping gudang

produk jadi dibangun kolam (pond) yang digunakan untuk menampung

(35)

Instalasi pengolahan air terletak disamping departemen engineering,

workshop, dan ruangan produksi untuk memudahkan penanganan

apabila terjadi kerusakan pada saat beroperasi dan memudahkan

distribusi air ke proses produksi.

Letak ruangan boiler dan kompresor diatur berdekatan dengan

Departemen Engineering, Workshop, dan instalasi pengolahan air.

Tepat di samping ruang tempat proses curing dilakukan, terdapat tangki

gas N2 yang dibutuhkan pada proses curing dan ruangan hot well yang

digunakan untuk menampung air refluks dari steam dan pembangkit

hydrolic water. Tidak jauh dari instalasi pengolahan air terdapat cooling

tower yang berfungsi sebagai pendingin bagi mesin produksi. Ruangan

untuk pengujian ban (tyre testing) berada di luar ruangan produksi, hal

ini dimaksudkan untuk menghindari kebisingan dan guncangan akibat

ledakan ban yang sedang di uji sehingga dikhawatirkan mengganggu

jalannya proses produksi.

Di samping ruangan produksi, Engineering Department, dan di

depan instalasi pengolahan air terdapat ruang cement dan colour

marking pada tread. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan

perpindahan material (cement dan colour marking) dari ruangan cement

house ke ruangan produksi, dan juga untuk menghindari bahaya

kebakaran karena di ruangan cement house banyak bahan-bahan yang

mudah terbakar (flamable) seperti texin dan compound. Tata letak mesin

secara keseluruhan disajikan pada Lampiran 4.

Tata letak yang ada pada PT. EPTI sudah baik, bila rencana

produktifitas semakin tinggi pada tahun-tahun mendatang maka akan

dibutuhkan ruang untuk mesin baru. Perluasan pabrik dinilai harus

dilakukan bila terjadi penambahan produktifitas, karena tata letak saat

ini kurang memadai bila adanya penambahan mesin-mesin baru.

4.1.5. Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan

PT. Elangperdana Tyre Industry dalam menjalankan seluruh

kegiatannya, dipimpin oleh seorang direktur dan dibantu oleh seorang

(36)

membawahi dewan direksi yang terdiri dari Direktur keuangan (Finance

Director), Direktur Manajemen Material (Material Management

Director) serta Direktur Pemasaran (Marketing Director).

Masing-masing direktur tersebut membawahi beberapa

departemen yang dipimpin oleh seorang manajer. Setiap staff yang

memegang jabatan tersebut memiliki deskripsi tugas yang berbeda-beda

dan dalam pelaksanaannya tidak dapat terlepas dari deskripsi tugas staff

yang berasal dari departemen yang lainnya, baik yang berada diatas

maupun di bawahnya.

Presiden Direktur dibantu oleh seorang wakil Presiden Direktur

yang membawahi Manajer Pabrik (Plant General Manager) dalam

melaksanakan tanggung jawabnya. Adapun deskripsi tugas dari

masing-masing komponen dalam Dewan Direksi adalah sebagai berikut :

1. Presiden Direktur

• Bertanggungjawab baik ke dalam maupun keluar perusahaan yang

menyangkut seluruh kegiatan usaha yang dilakukan oleh

perusahaan.

• Mengawasi Wakil Presiden direktur dalam melaksanakan

tugasnya.

2. Wakil Presiden Direktur

• Membantu presiden direktur dalam membuat kebijakan

perusahaan.

• Membantu Presiden Direktur dalam mengoperasikan dan

mengorganisasikan seluruh kegiatan perusahaan.

• Mengawasi secara langsung kinerja departemen yang

dibawahinya, antara lain :

a) (Research and Development) R & D Departement

° Melakukan penelitian untuk mengembangkan proses

produksi yang meliputi penetapan standar atau spesifikasi

yang dituangkan dalam kartu proses (process card).

° Melakukan perancangan dan inovasi terhadap produk baru

(37)

° Melaksanakan inspeksi terhadap bahan baku (raw material),

material setengah jadi (material in process), dan produk jadi.

b) (Quality Assurance) QA Departement

° Menetapkan dan mengendalikan sistem kualitas (quality

system).

° Bertanggungjawab terhadap kualitas produk yang dihasilkan

oleh setiap lini produksi.

° Melaksanakan inspeksi terhadap produk akhir (ban).

3. Direktur Keuangan

• Mengawasi dan menangani keuangan perusahaan.

• Mengawasi keluar masuknya uang (cash flow) dan biaya

produksi.

• Menghitung keuntungan dan kerugian yanng diderita oleh

perusahaan.

• Mengawasi kinerja departemen yang dibawahinya yakni

departemen pengembangan sumber daya manusia dan masalah

umum atau Human Resources Development and General Affair

Departement (HRD & GA Departement) yang memiliki deskripsi

tugas sebagai berikut :

° Melakukan perekrutan tenaga kerja baru.

° Bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesehatan kerja

(K3).

° Bertanggungjawab terhadap perawatan dan kebersihan fasilitas

pabrik.

° Bertanggungjawab terhadap kesejahteraan tenaga kerja.

° Mengadakan pelatihan (training) dan pendidikan bagi tenaga

kerja.

4. Direktur Pemasaran

• Melakukan riset pasar dan perencanaan penjualan.

(38)

5. Direktur Manajemen Material

• Bertanggungjawab terhadap pembelian mesin-mesin, peralatan

dan bahan baku.

• Bertanggungjawab terhadap persediaan mesin-mesin, peralatan

dan bahan baku.

• Melakukan survei dan adaptasi terhadap sumber (pemasok) bahan

baku yang baru.

6. Manajer Pabrik

• Bertanggungjawab kepada wakil presiden direktur terhadap

kinerja departemen yang dibawahinya.

• Mengkoordinasikan departemen-departemen yang berada di

bawahnya agar dapat menjalankan tugasnya masing-masing,

meliputi :

a) Departemen Produksi (Production Departement) :

° Menjalankan produksi berdasarkan order yang telah

ditetapkan sebelumnya PPC Department.

° Melakukan perbaikan-perbaikan akibat kesalahan produksi,

scrap, dan mengakibatkan biaya produksi yang berlebihan.

° Mengadakan perbaikan terhadap kapabilitas produksi

sehingga hasil yang didapat lebih optimal.

° Menyusun rencana produksi untuk jangka panjang dan

jangka pendek.

° Mengontrol persediaan (stock) dan waktu pemuatan

(loading time) untuk mesin, material dan tenaga kerja.

b) Engineering Departement :

° Bertanggungjawab terhadap perbaikan dan pemeliharaan

mesin produksi maupun sarana utilitas pabrik.

° Membuat penjadwalan mengenai pemeliharaan mesin dan

peralatan produksi.

(39)

7.Representative Management

• Mengadakan perencanaan untuk Departemen QA (Quality

Assurance) dan menginformasikannya pada semua bagian

manajemen.

• Mengimplementasikan dan mengikuti instruksi dari top level

management dalam sistem pengembangan kualitas.

• Mengelola keluhan dari pelanggan (costumer).

• Memberikan jaminan kualitas mutu dan pertimbangan kepada

direktur dan top management secara periodik pada saat

pelaksanaan rapat dalam direksi.

• Menyediakan sarana bagi tamu dan unsur luar perusahaan atau

audit pelanggan dan mengkoordinasikannya pada semua bagian

atau unit manajer yanng terlibat.

• Mengimplementasikan pelatihan sistem kualitas manajemen dan

pelatihan khusus secara periodik untuk staff QA.

Pada bulan Mei 2005 PT. Elangperdana Tyre Industry telah

memperkerjakan 650 orang karyawan, yang terbagi menjadi karyawan

operasional sebanyak 497 orang dan non operasional 153 orang.

Hubungan kerja antara karyawan dengan pihak perusahaan tertuang

dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) yang mengacu kepada UU

no.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, dan bertujuan untuk

mencapai Hubungan Industrial Pancasila (HIP) sebagai salah satu syarat

terciptanya hubungan yang harmonis antara pengusaha dan pekerja

dalam upaya mewujudkan kepentingan bersama sehingga dapat

meningkatkan produktifitas perusahaan.

Karyawan staf kantor bekerja selama lima hari dalam seminggu

tanpa shift, dengan waktu kerja sebagai berikut :

• Hari kerja Senin sampai dengan Kamis, bekerja dari jam 08.00-17.00

WIB dengan waktu istirahat jam 12.00-13.00 WIB.

• Hari Jum’at, mulai bekerja jam 08.00-17.00 WIB dengan waktu

istirahat jam 11.45-12.45 WIB karena sebagian karyawan

(40)

Sedangkan karyawan yang tugasnya berkaitan dengan kegiatan

produksi, bekerja selama enam hari dalam seminggu, dan terbagi

menjadi dalam empat grup dalam 2-3 shift dan terjadi pergiliran shift

setiap lima hari. Setiap grup terdiri dari 5-6 orang untuk setiap seksi.

Waktu kerja karyawan produksi sebagai berikut :

Shift 1 : bekerja dari jam 08.00 sampai 16.10 WIB dan waktu istirahat pada jam 12.00-13.00 WIB,kecuali pada hari Jum’at

menjadi jam 11.45-12.45 WIB.

Shift 2 : bekerja dari jam 16.00 sampai 24.10 WIB dan waktu istirahat pada jam 18.00-19.00 WIB.

Shift 3 : bekerja dari jam 24.00 sampai 08.10 WIB dan waktu istirahat pada jam 03.00-04.00 WIB.

Ketentuan jam kerja yang diberikan oleh perusahaan adalah 40

jam per minggu, untuk selebihnya diperhitungkan sebagai waktu

lembur. Bagi karayawan yang bekerja paling sedikit 20 jam secara terus

menerus (jam kerja normal ditambah dengan jam kerja lembur) pada

hari terkait, maka pada hari kerja berikutnya diberikan waktu istirahat

selama 1 hari kerja dengan upah dibayar penuh.

Sebelum memulai bekerja, setiap karyawan diwajibkan mengikuti

senam taiso selama 15 menit. Senam ini dilakukan untuk mengurangi

kecelakaan kerja akibat kondisi tubuh karyawan yang kurang fit dan

Senam taiso ini berlaku untuk karyawan yang bekerja pada shift 1 dan

shift 2.

Setiap karyawan berhak untuk mengambil cuti setelah bekerja

selama 12 bulan (1 tahun) berturut-turut. Ketentuan jumlah hari yang

diambil untuk cuti dilakukan berdasarkan atas persetujuan perusahaan

dan atasan. Sebagai contoh misalkan masa kerja karyawan 1 tahun,

maka junlah cuti yang diperbolehkan adalah selama 12 hari dengan

perincian 3 hari pertama berdasarkan persetujuan perusahaan dan 9 hari

sisanya berdasarkan persetujuan atasan. Ketentuan lebih rinci mengenai

(41)

Tabel 2. Ketentuan cuti tahunan dan cuti panjang karyawan PT. EPTI

Sumber: PT. EPTI, 2004

PT EPTI menetapkan batasan umur karyawan 55 tahun untuk

memasuki masa pensiun, namun apabila tenaga dan pikirannya masih

dibutuhkan oleh perusahaan maka karyawan tersebut masih dapat

bekerja dengan sistem perpanjangan atau sistem kontrak dengan izin

dari perusahaan. Dalam melakukan proses perekrutan karyawan baru,

PT. EPTI mengacu pada UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

dan pasal-pasal di dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) tentang

prosedur perekrutan tenaga kerja.

Setiap karyawan mendapat upah yang besarnya berdasarkan

peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan dapat juga

ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pekerja secara individual

dengan pengusaha dan mengacu kepada Kesepakatan Kerja Bersama

(KKB). Besarnya upah yang diterima oleh karyawan paling sedikit

sama dengan Upah Minimum Regional (UMR).

Selain upah pokok, karyawan juga mendapatkan

tunjangan-tunjangan antara lain tunjangan-tunjangan jenis pekerjaan, uang lembur, uang

premi kehadiran, uang transport, uang pergantian tanggung jawab kerja

apabila ada karyawan yang memperoleh panggilan darurat, tunjangan

pernikahan, tunjangan senioritas, tunjangan kematian, tunjangan hari

raya, dan beasiswa bagi anak karyawan yang menjadi anak asuh bagi

perusahaan.

Karyawan juga diberikan fasilitas transportasi dengan

disediakannya bus jemputan dengan mendapat subsidi dari perusahaan

(42)

diikutsertakan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja

(JAMSOSTEK) dan Asuransi Kesehatan (ASKES). Fasilitas lain yang

diberikan oleh perusahaan meliputi fasilitas ibadah, koperasi, lapangan

parkir, lapangan olahraga dan jatah makan di kantin perusahaan.

4.1.6. Produk dan Jangkauan Pasar

PT. Elangperdana Tyre Industry memproduksi ban mobil yang

terdiri dari ban radial dan ban bias. Ban radial umumnya digunakan oleh

kendaraan ringan atau beban rendah (Passanger Car Radial atau PCR)

seperti kendaraan pribadi, sedangkan ban bias digunakan untuk

kendaraan beban tinggi seperti truk dan bus.

Beberapa ban diproduksi oleh PT. EPTI dengan merek EPCO,

yaitu MILLENIUM, ACCELERA, dan IMPERIUM. Sedangkan ban

radial yang diproduksi dengan merek lisensi VREDESTEIN adalah

T-TRAC, PROTRAC dan QUATRAC. Untuk ban bias hanya diproduksi

dengan merek EPCO diantaranya EP MILLER, EP LUG dan MT

PRIMA. Profil produk PT. EPTI secara lebih rinci disajikan pada

Lampiran 5 atau dapat mengakses langsung pada situs resmi milik PT.

EPTI www.eptyres.com.

Jangkauan pasar dari produk ban yang dihasilkan oleh PT. EPTI

meliputi kawasan benua Asia seperti Muangthai, Cina, Malaysia, dan

Timur Tengah. Produksi PT EPTI banyak diproritaskan untuk

memenuhi kebutuhan ekspor, sehingga masalah mutu menjadi perhatian

yang sangat penting, namun akibatnya produk PT EPTI kurang banyak

dikenal di tanah air (Indonesia). Hal ini dianggap lebih menguntungkan

bagi perusahaan, karena pasar ekspor melakukan pembayaran lebih

awal. Kondisi ini tidak terjadi pada pasar domestik yang menggunakan

sistem kredit, sehingga target pasar perusahaan lebih fokus kepada pasar

ekspor. Permasalahan yang terkait pada produk dan jangkauan pasar

ialah kurang dikenalnya produk di dalam negeri, untuk memperluas

jangkauan pasar dalam negeri PT. EPTI perlu melakukan penambahan

(43)

4.2. BAHAN BAKU DAN SARANA PRODUKSI 4.2.1. Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk membuat compound (bahan

dasar pembuatan ban) terdiri dari :

1. Polimer

• Karet Alam (Natural Rubber)

Jenis Karet alam yang digunakan adalah (Standard Indonesian

Rubber) SIR 20 untuk pembuatan ban dan (Ribbed Smoked Sheet)

RSS yang digunakan untuk pembuatan colour marking pada tread

yang seluruhnya diperoleh dari dalam negeri. • Karet Sintetik (Synthetic Rubber)

Karet sintetik yang digunakan hampir seluruhnya diimpor dari luar

negeri, antara lain berasal dari Korea Selatan, Cina, dan Rusia.

Adapun jenis karet sintetik yang digunakan adalah (Styrene

Butadine Rubber) SBR 1502, SBR 1500 (KOSYN 1500), SBR

1712 (KOSYN 1712), Poly Butaddiene Rubber, Chloro Butyl

Rubber, BR 9000 (Cis Butadiene Rubber) dan karet reklim yang

merupakan hasil daur ulang dari karet yang tervulkanisasi.

2. Bahan Pengisi (Filler)

Bahan pengisi seluruhnya diimpor dari Korea Selatan dan Australia.

Bahan pengisi ada yang bersifat aktif dan non aktif. Filler aktif

terdiri dari carbon black yang berfungsi sebagai reinforcing agent

dan silika yang mempengaruhi sifat fisik dari compound yang

dihasilkan. Berdasakan strukturnya, jenis carbon black yang banyak

digunakan terdiri atas N220 (untuk ban bias), N330, N339 (untuk

ban radial), N350, N550 dan N660 (untuk carcass). Sedangkan filler

non aktif hanya berfungsi sebagai bahan pengisi untuk memperbesar

volume dan yang biasa digunakan adalah kaolin dan kalsium

karbonat.

3. Bahan Pelunak (Softener)

Bahan pelunak yang digunakan terdiri dari castor oil, parafinic oil

(44)

4. Accelerator

Accelerator berfungsi untuk mempercepat reaksi pemasakan

(vulkanisasi) bahan-bahan penyusun ban. Accelerator ada yang

bersifat primer (DBBS, FBS, dan CBS) dan sekunder (MPTS, DPG,

TMTT).

5. Activator

Activator merupakan bahan untuk mengaktifkan kerja accelerator.

Bahan yang digunakan adalah stearic acid dan zinc oxide.

6. Vulcanisator

Vulcanisator digunakan bersama-sama dengan accelerator agar

proses pematangan karet lebih cepat. Bahan yang digunakan sebagai

vulcanizing agent terdiri atas sulfur. Sulfur yang digunakan terdiri

atas sulfur 10% OT (Oil Traded), 20% OT,dan 4 %OT.

7. Anti Degradan

Anti Degradan berfungsi sebagai bahan pengawet agar kerusakan

material selama proses dan penyimpanan dapat berkurang. Bahan

tersebut dapat berupa anti oksidan dan anti ozonan. Bahan yang

sering digunakan adalah TMQ, IPPD, dan protector wax.

8. Processing Aid

Processing Aid merupakan bahan yang digunakan untuk

mempermudah proses. Processing aid dapat berupa homogenizer

(struktol 40 MS), releasing agent untuk mengurangi kelengketan

(anti adhesive) compound misalnya rhenodiv dan promol, penurun

viskositas (aktiplast M), thacknifier (zinc stearat, fenol, dan

formalin) untuk merekatkan compound dengan steel.

9. Benang Nylon

Benang Nylon merupakan bahan yang digunakan dalam proses 4

roll calendaring untuk membuat material ply cord, chaffer, cap ply,

breaker, flipper, dan cap strip.

10. Kawat Baja

Kawat Baja Merupakan komponen yang digunakan untuk membuat

(45)

11. Resin

Resin digunakan untuk memperkuat compound, memperkuat gaya

adhesi antara benang dengan compound pada coated cord.

4.2.2. Sarana Utilitas 1. Boiler

Boiler digunakan untuk menghasilkan steam yang digunakan

pada proses calendaring untuk memanaskan roll dan pada proses

curing untuk pemanasan green tyre. Tipe boiler yang digunakan

adalah tipe boiler pipa api yang berjumlah tiga buah dan

masing-masing memiliki kapasitas 10 Ton air.

Bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkan steam adalah

solar dan natural gas, dengan penggunaan solar sebagai bahan bakar

dalam keadaan darurat. Boiler memiliki tekanan output sebesar 14,5

Bar (konstan) dan temperatur outputnya sebesar 2700C (berupa uap

panas). Sementara itu air yang digunakan berasal dari instalasi

pengolahan air dan refluks dari penggunaan steam (kondensasi) dan

cooling water.

2. Instalasi Pengolahan Air

Unit ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada

proses produksi maupun untuk fasilitas pabrik sebesar lebih kurang

400 m3 per hari. Sumber air yang digunakan berasal dari air sungai

yang mengalir tidak jauh dari area pabrik. Unit terdiri dari waduk

penampung air sungai (Waduk Prawoto), tangki claryfier (digunakan

untuk memisahkan padatan terlarut dengan padatan tidak terlarut

didalam air), kolam penampung (pond) dan tangki penyaring (sand

filter).

Tangki claryfier yang digunakan berjumlah satu unit dan

memiliki kapasitas sebesar 100 m3 per hari. Air yang keluar dari tangki

claryfier dialirkan pada kolam penampung yang berjumlah dua unit

dengan kapasitas sebesar 350 m3 per kolamnya. Di dalam kolam ini air

yang keluar dari tangki clarifier diendapkan dengan mencampurkan

(46)

(sand filter) terdiri dari dua unit yang dipasang secara seri. Tangki ini

berfungsi untuk menyaring air dengan menggunakan pasir silika, yang

dialirkan dari kolam penampung.

3. Cooling Tower

Cooling Tower digunakan sebagai unit pendingin dan pengatur

suhu pada mesin produksi seperti banbury mixer, calendar, extruder,

miller, dan hydrolic pump pada proses curing. Cooling Tower mampu

menghasilkan air pendingin (cooling water) sebesar 24 m3 per jam

dengan menggunakan sumber air yang berasal dari instalasi

pengolahan air dan refluks dari proses pendinginan. Perpindahan

panas terjadi dari air ke udara dengan menggunakan dua kipas (fan)

yang berputar dengan kecepatan tinggi dan terintegrasi dengan cooling

tower.

4. Pompa Hidrolik

Pompa hidrolik digunakan untuk memompa fluida dari cooling

tower yang digunakan untuk menggerakkan center post (bagian dari

hidrolik untuk menurunkan dan mengangkat mesin) pada mesin

curing. Medium fluida yang digunakan berasal dari oli hidrolik dan

steam yang diperoleh dari unit pembangkit di ruangan hot wheel.

Medium fluida yang berasal dari cooling tower berupa cool water

digunakan untuk memproduksi bias, sedangkan medium fluida yang

berasal dari oli hidrolik digunakan untuk memproduksi ban radial.

5. Kompresor

Kompresor digunakan untuk menghasilkan udara bertekanan

yang dibutuhkan dalam proses produksi. Tipe kompresor yang

digunakan adalah kompresor ulir (screw compressor) dengan daya

sebesar 225 KW. Berdasarkan outputnya, kompresor yang digunakan

digolongkan menjadi high compressor yang berjumlah dua unit dan

mampu menghasilkan tekanan hingga 11 Bar, serta low compressor

yang berjumlah 3 unit dan menghasilkan tekanan sebesar 3,5 Bar-7

(47)

Di dalam unit kompresor ditambahkan unit dryer yang

berfungsi untuk mengeringkan udara yang dialirkan agar tidak

mengandung uap air. Kebutuhan tekanan udara pada proses produksi

terdiri atas:

• Tekanan udara 3,5 Bar: digunakan untuk menggerakkan sistem

kontrol pada semua mesin.

• Tekanan udara 7 Bar: digunakan untuk menggerakkan sistem

pneumatic pada semua mesin.

• Tekanan udara 11 Bar: digunakan untuk menggerakkan kontrol

pendingin pada Post Cure Inflator (PCI) setelah proses curing

berlangsung.

6. Tanki Gas N2

Tanki gas N2 berfunsi untuk memasok kebutuhan gas nitrogen

yang digunakan untuk menekan bladder bagian dalam mesin curing.

Kebutuhan gas nitrogen per harinya untuk produksi adalah sebesar 20

Nm3 (normal meter kubik).

7. Bahan Bakar

Bahan bakar yang digunakan untuk proses produksi adalah

solar dan LPG. Bahan bakar solar digunakan pada boiler dan forklift

truck, sedangkan LPG hanya digunakan pada boiler saja.

4.2.3. Mesin dan Peralatan Produksi 1. Mesin Pencampur

a. Banbury Mixer

Banbury mixer digunakan untuk mencampur bahan baku pada

proses mixing. Mesin ini berjumlah dua unit, terdiri dari line A dan

line B dan masing-masing memiliki kapasitas 250 kg/batch. Mesin

ini termasuk tipe pencampur internal dengan pengaduk berbentuk

spiral dengan kecepatan putar antara 30-40 rpm.

b. Banbury Roll II

Banbury roll II digunakan untuk proses homogenisasi material dari

(48)

berjumlah dua unit dan terintegrasi pada banbury mixer. Produk

yang dihasilkan oleh mesin ini adalah compound.

c. Bad Cop Conveyor

Bad cop conveyor merupakan bak yang berisi air dan promol

(nama produk bahan kimia yang langsung dibeli dari produsen

lain) dengan perbandingan 500:1. Larutan promol berfungsi untuk

melapisi compound agar tidak lengket (sebagai anti adhesive).

d. Cooling Fan

Cooling fan digunakan untuk mengeringkan compound yang telah

dicelupkan larutan air dan promol. Alat ini dilengkapi dengan

roller conveyor yang digunakan untuk menjemur compound pada

saat proses pengeringan yang berlangsung pada suhu lebih kurang

50oC.

2. Mesin Extruding a. Triplex Extruder

Mesin ini terdiri atas:

• Tiga buah hopper yang terdiri dari upper, middle, lower hopper yang digunakan sebagai tempat untuk memasukkan compound

ke dalam extruder;

• 3 buah silinder ulir (screw) yang terdiri dari upper, middle, dan

lower screw;

Preformer yang merupakan cetakan dari aliran compound; Channel insert yang berfungsi membentuk aliran compound

dari tiga buah hopper;

Final die yang menyatukan ketiga compound keluar dari

extruder;

Take away conveyor yang berfungsi untuk memindahkan

material (tread atau side wall) menuju shrinkage conveyor; • Shrinkage conveyor berfungsi untuk mendapatkan penyusutan

dari material yang diinginkan dengan kecepatan tiap segmennya

(49)

Colour marker digunakan untuk memberikan warna pada permukaan tread dan kombinasi warna yang terjadi pada tread

tergantung pada size ban yang diproduksi;

Inline conveyor yang berfungsi untuk memindahkan material menuju cooling line;

• Mesin chiller digunakan untuk mengeringkan material;

Decline conveyor yang berfungsi untuk memindahkan material menuju cross cutter;

Cross cutter digunakan untuk memotong material pada bagian awal dan bagian akhir gulungan, serta material yang out of

spesification;

Weighing scale digunakan untuk menimbang berat material secara otomatis;

Wind up station merupakan tempat untuk penggulungan

material yang sesuai spesifikasi dengan menggunakan reel.

b. Duplex Extruder

Duplex extruder memiliki komponen mesin yang sama dengan

Triplex Extruder, yaitu dua buah hopper yang terdiri dari upper

hopper dan lower hopper, dua buah silinder ulir (screw), yakni

upper screw dan lower screw, Warming up roll yang digunakan

untuk menghomogenkan compound, mesin calendaring yang

terintegrasi dalam unit cushion mill dan terdiri dari dua roll

pemanas dan screw untuk melapisi tread dengan cushion,

preformer, channel insert (membentuk aliran compound dari dua

buah hopper), final die, take away conveyor, shrinkage conveyor,

weighing scale, inline conveyor, cooling line, decline conveyor,

dan roll knife pada bagian skiver berfungsi untuk memotong tread

dan side wall untuk ban bias.

3. Mesin Calendar

a. Mesin Warming Up Roll

Mesin ini berfungsi untuk menghomogenkan kembali compound

(50)

drum yang berputar berlawanan arah. Secara mekanis mesin ini

terbagi menjadi dua buah mesin, yaitu breaking mill yang

berfungsi untuk melumatkan compound agar homogen, serta

feeding mill yang berfungsi memindahkan compound pada

conveyor. Pada feeding mill terdapat pisau pemisah yang

digunakan untuk memperkecil lebar compound agar dapat

melewati conveyor.

b. Mesin 4 Roll Calendar

Mesin ini digunakan untuk melapisi benang nylon dan kawat baja

dengan compound.

c. Mesin 2 Roll Calendar

Mesin ini digunakan untuk memproduksi compound tipis yang

disebut inner liner, squeege, dan edge gum. Mesin ini terdiri atas

dua roll yang diatur sedemikian rupa sehingga roll atas bersuhu

90oC dan roll bawah 80oC. Pada mesin 2 roll calendar terdapat

pula unit mesin breaking mill dan feeding mill yang digunakan

untuk melumatkan compound agar homogen. Kapasitas produksi

mesin ini untuk inner liner adalah 120 m/reel, squeege 100 m/reel,

dan untuk edge gum 100 m/reel.

4. Mesin Pemotong (Cutting)

Mesin pemotong terdiri atas cutting steel, bias cutter radial,

cap ply & rubber slitter, bias cutter bias, textile slitter, dan cap strip

winder. Uraian lebih lengkap tentang pemotong tersebut disajikan

sebagai berikut.

a. Cutting Steel

Mesin ini digunakan untuk memotong coated steel dengan sudut

tertentu (40o-70o) untuk kemudian disambung lagi secara otomatis

(auto joint). Produk yang dihasilkan oleh mesin ini adalah steel

(51)

b. Bias Cutter Radial

Mesin ini digunakan untuk memotong coated cord dengan sudut

90o terhadap garis tengah (central line) coated cord. Produk yang

dihasilkan oleh mesin ini adalah ply cord untuk ban radial.

c. Cap Ply & Rubber Slitter

Mesin ini digunakan untuk memotong coated cord menjadi

potongan dengan ukuran (lebar) yang lebih kecil, disebut cap ply

dan mother cap strip.

d. Bias Cutter Bias

Mesin ini digunakan untuk memotong coated cord menjadi ply

cord untuk ban bias, mother chaffer, mother breaker dan mother

flipper.

e. Textile Slitter

Mesin ini digunakan untuk memotong mother chaffer, mother

breaker dan mother flipper menjadi chaffer, breaker, dan flipper.

f. Cap Strip Winder

Mesin ini digunakan untuk memotong mother cap strip sehingga

lebarnya berkurang, yang disebut cap strip dan menggulungnya

(wind up).

Prinsip kerja semua mesin yang digunakan pada proses cutting

adalah operasi pemotongan material berwalanan dengan arah benang

(coated cord) atau kawat baja (coated steel), kemudian

menyambungnya lagi (joint) dan digulung (wind up).

5. Mesin Bead Making

Mesin bead making terdiri atas mesin stranding, mesin

winding, dan mesin bead covering. Uraian lebih lengkap tentang

mesin bead making ini disajikan sebagai berikut.

a. Mesin Stranding

Mesin ini digunakan untuk melapisi kawat baja dengan compound.

Mesin ini dilengkapi dengan wire heater untuk memanaskan kawat

agar kadar airnya berkurang dan mudah dibentuk, serta bead

Gambar

Tabel 2. Produksi dan penjualan per tahun
Gambar 2. Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi (Biegel
Tabel 2. Ketentuan cuti tahunan dan cuti panjang karyawan PT. EPTI
Tabel 3. Jarak Venting pada Permukaan Green Tyre Bias
+5

Referensi

Dokumen terkait

Intisari Garmen antara lain adalah patahnya jarum pada mesin cixing , kerusakan pada mesin pada saat produksi berlangsung dapat menyebabkan produk yang non

Penggunaan sistem informasi akuntansi produksi pada perusahaan Kripton Gama Jaya yang selama ini diterapkan masih memiliki beberapa permasalahan, seperti dokumentasi yang

Pendekatan ergonomi yang dilakukan dalam perancangan sistem produksi di lantai produksi akan mampu menghasilkan sebuah rancangan sistem manusia-mesin yang sesuai

Pada komputer akan ditampilkan representasi dari mesin yang dipantau, serta informasi yang ditampilkan berupa kondisi mesin, kerusakan yang sedang terjadi, serta

Permasalahan pada penelitian ini yaitu keterlambatan pembuatan part dari departemen fabrikasi yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu metode, mesin, material, dan manusia Dengan

Dengan perawatan yang diterapkan saat ini masih saja terdapat kerusakan pada mesin dan tak jarang pula menyebabkan terhentinya proses produksi yang

1 Jenis Kerusakan pada mesin kempa screw press A; Kerusakan/patah pada press cage, B; As penggerak pressan yang patah sumber : dokumen magang Setelah mengetahui kerusakan yang terjadi

Sistem monitoring yang akan diterapkan pada mesin produksi tersebut adalah untuk menampilkan pameter-parameter proses dan produksi dari mesin bardi dalam bentuk grafik-grafik yang