Oleh
LENDRA KARTAMIHARDJA
H24101103
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Elangperdana Tyre Industry. Di bawah bimbingan Pramono D. Fewidarto.
PT. Elangperdana Tyre Industry (PT. EPTI) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan ban mobil yang ada di Indonesia. Perusahaan ini bersaing dengan beberapa perusahaan besar lainnya pada industri yang sama, seperti PT GoodYear Indonesia Tbk., PT Bridgestone, PT Gajah Tunggal, PT Intirub Indonesia. Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. PT. EPTI sebagai salah satu produsen ban kendaraan, berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia. Banyak kendala yang timbul terutama pada sistem produksi, agar PT. EPTI dapat memproduksi ban yang berkualitas, aman, nyaman, serta harganya terjangkau oleh konsumen.
Tujuan magang ini adalah untuk mempelajari sistem produksi pada PT. EPTI, terlibat dalam kegiatan pada sistim produksi dan proses penjadwalan (scheduling) yang dilakukan oleh PT. EPTI, dan meningkatkan kompetensi individu mahasiswa melalui pengalaman kerja. Magang ini dilakukan pada PT. Citeureup Kabupaten Bogor, dan divisi yang menjadi tempat kegiatan magang ialah Divisi Engineering, Divisi Pengemasan dan Penggudangan, dan Pengendalian Perencanaan Produksi. Metode yang digunakan pada kegiatan magang ialah (1) Bekerja berdasarkan arah perusahaan, (2) Melakukan analisa masalah, (3) Melakukan pembahasan terhadap masalah, (4) Pencatatan hasil, dan (5) Evaluasi magang.
iii
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 16 Oktober 1983, sebagai anak
sulung dari dua bersaudara, dari pasangan Rachmat Hidayat dan Elyati Marlen.
Penulis memulai pendidikan pada TK Nugraha Bogor Jawa Barat pada
tahun 1987. Pada tahun 1989 penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Dasar
Negeri Polisi V Bogor Jawa Barat, dan pada tahun 1995 melanjutkan pendidikan
pada SLTP Negeri 1 Bogor Jawa Barat. Setelah itu, penulis melanjutkan
pendidikan pada SMU Negeri 1 Bogor Jawa Barat, dan penulis aktif dalam
organisasi OSIS selama satu tahun. Pada tahun 2001, penulis diterima pada
Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi
Masuk IPB(USMI). Selama masa perkuliahan penulis aktif dalam organisasi
iv
Segala puji syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah SWT, karena
atas berkah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi berjudul Mempelajari Sistem Produksi pada PT.EPTI disusun sebagai
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun
roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang
dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk
menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. Oleh karena itu,
penulis sangat tertarik untuk melakukan magang dalam rangka mempelajari
sistem produksi PT Elangperdana Tyre Industry, sebagai salah satu produsen ban
kendaraan yang berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan
sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia.
Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak, baik secara
moral maupun material. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ir. Pramono. D. Fewidarto, MS, yang telah memberikan bimbingan dan
arahan selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. My beloved family (mama, papa, andrie), atas doa dan dukungannya.
3. Dr.Ir.Jono Mintato Munandar,M.Sc. sebagai Ketua Departemen Manajemen
4. Seluruh Pimpinan, dosen dan karyawan/wati pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
5. Bapak Sjahroni Djamhari dan Bapak Abdul Khoer selaku pembimbing
lapangan yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan masukan yang
berharga selama pelaksanaan magang. Bapak Sudarmo Ali selaku Plant
General Manager dan Bapak Imanuel Yahya selaku HR&GA General
Manager PT Elangperdana Tyre Industry atas kewenangan dan dukungannya
sehingga penulis diizinkan untuk melakukan magang pada perusahaan.
6. Sahabat, saudaraku di KAREMATA dan rekan manajemen 38 yang telah
v
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kesalahan dalam
penulisan tugas akhir. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif
dan bersifat membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
pihak-pihak yang berkepentingan.
Bogor, Agustus 2006
vi RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP ………. iii
KATA PENGANTAR ………. iv
DAFTAR TABEL……….. viii
DAFTAR GAMBAR ………... ix
DAFTAR LAMPIRAN ……….... x
I. PENDAHULUAN ………. 1
2.2. Manajemen Produksi dan Operasi ………. 4
2.3. Manajemen Proses Produksi ………... 4
2.4. Perencanaan dan Pengawasan Produksi .………... 5
2.5. Sistem Produksi ……….. 5
2.6. Mutu ………... 6
2.7. Perencanaan dan Pengendalian Produksi……… 6
2.8. Ban……….. 7
III. METODE MAGANG ……… 9
3.1. Lokasi dan Waktu Magang ………... 9
3.2. Metode Magang ………….………. 9
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... ... 12
4. 1. Keadaan Umum Perusahaan... 12
4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ... 12
4. 2. Bahan Baku dan Sarana Produksi ... 23
4.2.1. Bahan Baku ... 23
4.2.2. Sarana Utilitas ……….……….. 25
vii
4.3.1.2. Proses Extruding ………... 36
4.3.1.3. Proses Calendar ……….. 38
4.3.1.4. Proses Bead Making ……… 40
4.3.1.5. Proses Cutting ……….. 41
4.3.1.6. Seksi PCR (Passenger Car Radial)Building ………… 42
4.3.1.7. Seksi Bias Building ………. 44
4.3.1.8. Seksi Curing ………. 46
4.3.1.9. Seksi Finishing ………. 47
4.3.2. Proses Penggudangan dan Pengemasan ……… 47
4.3.3. Penanganan Limbah ………... 49
4. 4. Perencanaan dan Pengendalian Mutu Produksi... 50
4. 5. Aspek Pengendalian Mutu Ban... ... 54
4.5.1. Pengendalian Mutu Bahan Baku ... 54
4.5.2. Pengendalian Mutu Proses Produksi ... 56
4.5.3. Pengendalian Mutu Produk... 58
KESIMPULAN DAN SARAN ………. 63
Kesimpulan ………...……… 63
1. 2. Saran ………... 64
DAFTAR PUSTAKA ……… 66
viii
No Halaman
1 Produksi dan Penjualan per Tahun ... 2
2 Ketentuan Cuti Tahunan dan Cuti Panjang Karyawan PT. EPTI ... 21
3 Jarak Venting pada Permukaan Green Tyre Bias ... 45
ix
No Halaman
1 Sistem Produksi dan Operasi ... 6
2 Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi ... 7
3 Posisi Menyilang dari Belt dan Ply... 44
4 Alur Proses Penggudangan Ban ……… 48
x
No Halaman
1 Jadwal Magang ... 68
2 Bagian Ban ... 69
3 Tata Letak Pabrik ... 70
4 Tata Letak Mesin ……… 71
5 Profil Produk PT. EPTI ... 72
6 Ledger ... 73
7 Ordersheet ... 74
8 Rencana Produksi Tahunan ... 75
9 Kapasitas dan Loading Time ... 76
Oleh
LENDRA KARTAMIHARDJA
H24101103
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Elangperdana Tyre Industry. Di bawah bimbingan Pramono D. Fewidarto.
PT. Elangperdana Tyre Industry (PT. EPTI) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan ban mobil yang ada di Indonesia. Perusahaan ini bersaing dengan beberapa perusahaan besar lainnya pada industri yang sama, seperti PT GoodYear Indonesia Tbk., PT Bridgestone, PT Gajah Tunggal, PT Intirub Indonesia. Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. PT. EPTI sebagai salah satu produsen ban kendaraan, berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia. Banyak kendala yang timbul terutama pada sistem produksi, agar PT. EPTI dapat memproduksi ban yang berkualitas, aman, nyaman, serta harganya terjangkau oleh konsumen.
Tujuan magang ini adalah untuk mempelajari sistem produksi pada PT. EPTI, terlibat dalam kegiatan pada sistim produksi dan proses penjadwalan (scheduling) yang dilakukan oleh PT. EPTI, dan meningkatkan kompetensi individu mahasiswa melalui pengalaman kerja. Magang ini dilakukan pada PT. Citeureup Kabupaten Bogor, dan divisi yang menjadi tempat kegiatan magang ialah Divisi Engineering, Divisi Pengemasan dan Penggudangan, dan Pengendalian Perencanaan Produksi. Metode yang digunakan pada kegiatan magang ialah (1) Bekerja berdasarkan arah perusahaan, (2) Melakukan analisa masalah, (3) Melakukan pembahasan terhadap masalah, (4) Pencatatan hasil, dan (5) Evaluasi magang.
iii
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 16 Oktober 1983, sebagai anak
sulung dari dua bersaudara, dari pasangan Rachmat Hidayat dan Elyati Marlen.
Penulis memulai pendidikan pada TK Nugraha Bogor Jawa Barat pada
tahun 1987. Pada tahun 1989 penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Dasar
Negeri Polisi V Bogor Jawa Barat, dan pada tahun 1995 melanjutkan pendidikan
pada SLTP Negeri 1 Bogor Jawa Barat. Setelah itu, penulis melanjutkan
pendidikan pada SMU Negeri 1 Bogor Jawa Barat, dan penulis aktif dalam
organisasi OSIS selama satu tahun. Pada tahun 2001, penulis diterima pada
Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi
Masuk IPB(USMI). Selama masa perkuliahan penulis aktif dalam organisasi
iv
Segala puji syukur senantiasa dipanjatkan kehadirat Allah SWT, karena
atas berkah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi berjudul Mempelajari Sistem Produksi pada PT.EPTI disusun sebagai
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat maupun
roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang keselamatan yang
dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah satu faktor penting untuk
menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada kendaraan. Oleh karena itu,
penulis sangat tertarik untuk melakukan magang dalam rangka mempelajari
sistem produksi PT Elangperdana Tyre Industry, sebagai salah satu produsen ban
kendaraan yang berperan besar dalam penyediaan produk yang berkualitas dan
sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di Indonesia.
Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak, baik secara
moral maupun material. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ir. Pramono. D. Fewidarto, MS, yang telah memberikan bimbingan dan
arahan selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.
2. My beloved family (mama, papa, andrie), atas doa dan dukungannya.
3. Dr.Ir.Jono Mintato Munandar,M.Sc. sebagai Ketua Departemen Manajemen
4. Seluruh Pimpinan, dosen dan karyawan/wati pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
5. Bapak Sjahroni Djamhari dan Bapak Abdul Khoer selaku pembimbing
lapangan yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan masukan yang
berharga selama pelaksanaan magang. Bapak Sudarmo Ali selaku Plant
General Manager dan Bapak Imanuel Yahya selaku HR&GA General
Manager PT Elangperdana Tyre Industry atas kewenangan dan dukungannya
sehingga penulis diizinkan untuk melakukan magang pada perusahaan.
6. Sahabat, saudaraku di KAREMATA dan rekan manajemen 38 yang telah
v
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kesalahan dalam
penulisan tugas akhir. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang positif
dan bersifat membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
pihak-pihak yang berkepentingan.
Bogor, Agustus 2006
vi RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP ………. iii
KATA PENGANTAR ………. iv
DAFTAR TABEL……….. viii
DAFTAR GAMBAR ………... ix
DAFTAR LAMPIRAN ……….... x
I. PENDAHULUAN ………. 1
2.2. Manajemen Produksi dan Operasi ………. 4
2.3. Manajemen Proses Produksi ………... 4
2.4. Perencanaan dan Pengawasan Produksi .………... 5
2.5. Sistem Produksi ……….. 5
2.6. Mutu ………... 6
2.7. Perencanaan dan Pengendalian Produksi……… 6
2.8. Ban……….. 7
III. METODE MAGANG ……… 9
3.1. Lokasi dan Waktu Magang ………... 9
3.2. Metode Magang ………….………. 9
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... ... 12
4. 1. Keadaan Umum Perusahaan... 12
4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ... 12
4. 2. Bahan Baku dan Sarana Produksi ... 23
4.2.1. Bahan Baku ... 23
4.2.2. Sarana Utilitas ……….……….. 25
vii
4.3.1.2. Proses Extruding ………... 36
4.3.1.3. Proses Calendar ……….. 38
4.3.1.4. Proses Bead Making ……… 40
4.3.1.5. Proses Cutting ……….. 41
4.3.1.6. Seksi PCR (Passenger Car Radial)Building ………… 42
4.3.1.7. Seksi Bias Building ………. 44
4.3.1.8. Seksi Curing ………. 46
4.3.1.9. Seksi Finishing ………. 47
4.3.2. Proses Penggudangan dan Pengemasan ……… 47
4.3.3. Penanganan Limbah ………... 49
4. 4. Perencanaan dan Pengendalian Mutu Produksi... 50
4. 5. Aspek Pengendalian Mutu Ban... ... 54
4.5.1. Pengendalian Mutu Bahan Baku ... 54
4.5.2. Pengendalian Mutu Proses Produksi ... 56
4.5.3. Pengendalian Mutu Produk... 58
KESIMPULAN DAN SARAN ………. 63
Kesimpulan ………...……… 63
1. 2. Saran ………... 64
DAFTAR PUSTAKA ……… 66
viii
No Halaman
1 Produksi dan Penjualan per Tahun ... 2
2 Ketentuan Cuti Tahunan dan Cuti Panjang Karyawan PT. EPTI ... 21
3 Jarak Venting pada Permukaan Green Tyre Bias ... 45
ix
No Halaman
1 Sistem Produksi dan Operasi ... 6
2 Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi ... 7
3 Posisi Menyilang dari Belt dan Ply... 44
4 Alur Proses Penggudangan Ban ……… 48
x
No Halaman
1 Jadwal Magang ... 68
2 Bagian Ban ... 69
3 Tata Letak Pabrik ... 70
4 Tata Letak Mesin ……… 71
5 Profil Produk PT. EPTI ... 72
6 Ledger ... 73
7 Ordersheet ... 74
8 Rencana Produksi Tahunan ... 75
9 Kapasitas dan Loading Time ... 76
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sehubungan dengan meningkatnya jumlah kendaraan roda empat
maupun roda dua terutama di kota-kota besar, diperlukan penunjang
keselamatan yang dapat menurunkan resiko kecelakaan di jalan raya. Salah
satu faktor penting untuk menurunkan resiko itu diantaranya yaitu ban pada
kendaraan. Produsen ban kendaraan berperan besar dalam penyediaan
produk yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi prasarana transportasi di
Indonesia.
Pengawasan pada kualitas dan mutu dari produk yang diproduksi harus
benar-benar dilakukan untuk memenuhi standar yang ada. Para pelaku di
bidang industri manufaktur, khususnya produsen ban, perlu memperhatikan
bagaimana produknya dapat menjadi pilihan utama. Penting bagi konsumen
untuk mengetahui kualitas produk yang baik dan terbukti aman.
PT ELANGPERDANA TYRE INDUSTRY ( PT EPTI ) ialah salah
satu produsen ban yang ada di Indonesia, yang bersaing dengan beberapa
perusahaan besar lainnya pada industri yang sama, seperti PT GoodYear
Indonesia Tbk., PT Bridgestone, PT Gajah Tunggal, PT Intirub Indonesia.
Tentunya perusahaan tersebut berlomba untuk memberikan produk yang
terbaik bagi para konsumennya, sesuai dengan prinsip dasar yang berlaku
saat ini yaitu The costumer is king. Prinsip ini pasti dianut pula oleh semua
industri ban, karena pada dasarnya tujuan akhir para pelaku industri secara
substansial adalah sama. Tetapi dalam pelaksanaannya prinsip tersebut tentu
akan diwujudkan melalui cara yang berbeda-beda. Demikian halnya dengan
para pelaku di industri manufaktur ban, masing-masing perusahaan tentunya
memiliki cara yang berbeda dalam pencapaian tujuan, yaitu tetap menjaga
produk yang diproduksinya untuk menjadi produk unggulan.
Sebagai salah satu industri penghasil ban, PT EPTI kini sedang
berkembang dengan sangat pesat, dengan adanya pembelian mesin baru dan
peningkatan jumlah produksi (tahun 2004 memproduksi 4.000 ban per hari
diminati oleh konsumen dari dalam maupun luar negeri, seperti Malaysia,
Bahrain dan negara timur tengah lainnya, Muang Thai, Cina, sebagian
Negara Eropa dan Australia.
Tabel 2. Produksi dan penjualan per tahun
Tahun
2003 2004 2005
Produksi per hari(*) 2532 4135 5102
Penjualan per tahun 924180 1509275 1862230
(*)
: rata-rata produksi aktual. Sumber: PT. EPTI, 2004
PT EPTI selalu berupaya agar tetap eksis di dalam persaingan untuk
memperebutkan pangsa pasar produk ban, terutama dengan adanya
persaingan dari produk ban murah yang berasal dari negara Cina. Salah satu
strategi yang ditempuh adalah dengan cara memproduksi ban yang
berkualitas, aman, nyaman serta harganya terjangkau konsumen. Hal ini
sesuai dengan slogan produk ban PT ELANGPERDANA TYRE
INDUSTRY, yaitu High Performance Tyres.
Kendala yang dihadapi industri manufaktur tidak sedikit. Masalah yang
sering timbul pada sistem produksi dapat dikelompokkan dalam beberapa
hal, antara lain lay-out pabrik dan pengaruhnya terhadap aliran produksi
yang berjalan saat ini, keterkaitan antara peningkatan produktifitas dengan
kualitas, penjadwalan produksi yang dirancang oleh pabrik, kesesuaian
mesin dengan manusianya secara ergonomik, dan terakhir adalah seringnya
terjadi kerusakan pada mesin. Beberapa masalah ini dapat menghambat
proses produksi, padahal perusahaan harus memiliki aliran dan proses
produksi yang cukup baik untuk memenuhi target produksi.
Produk yang dihasilkan oleh PT EPTI adalah ban luar kendaraan roda
empat, dengan kategori Passenger Car Radial Tyre (Ban Mobil
berpenumpang Radial), Ultra Light Truck, Light Truck Bias Tyre (Ban Truk
Ringan), dan Truck/Bus Bias Tyre (Ban Truk & Bis). Setiap harinya PT
1.2. Tujuan Magang
Kegiatan produksi merupakan kegiatan yang sangat penting untuk
mempertahankan kualitas dan mutu tetap baik. Kegiatan produksi ini harus
direncanakan sebaik mungkin dan memerlukan proses controling yang teratur
serta sistem tata letak yang baik pada perusahaan agar kegiatan produksi tetap
berjalan dengan lancar. Hal tersebut sangat penting untuk dipahami
mengingat kegiatan produksi merupakan salah satu komponen penting dalam
suatu perusahaan. Oleh karena itu tujuan dari magang adalah :
1. Mempelajari sistem produksi pada PT. EPTI.
2. Terlibat dalam kegiatan pada sistem produksi dan proses penjadwalan
(scheduling), serta pengendalian mutu yang dilakukan oleh PT. EPTI.
3. Meningkatkan kompetensi individu mahasiswa melalui pengalaman kerja.
1.3. Manfaat Magang
Hasil dari magang ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan (PT.
EPTI) maupun bagi diri penulis. Adapun kegunaannya adalah :
1. Bagi perusahaan, hasil dari magang ini diharapkan dapat menjadi salah
satu masukan dalam membuat kebijakan yang tepat dengan kondisi saat
ini.
2. Bagi penulis merupakan pengalaman praktis dan wadah pengaplikasian
teori yang telah didapatkan selama masa perkuliahan, dalam mengamati,
mempelajari, dan melaporkan masalah-masalah yang terjadi pada sistem
produksi.
1.4. Ruang Lingkup
Skripsi ini disusun berdasarkan hasil pelaksanaan magang di PT.
Elangperdana Tyre Industry, Citeureup. Kajian yang dilakukan meliputi
beberapa aspek penting, diantaranya adalah tinjauan umum mengenai
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Produksi
Produksi adalah perubahan atau transformasi dari satu benda menjadi
benda lain yang lebih bernilai, (Syahroni, 2005). Assauri (2004)
mendefinisikan produksi secara umum sebagai suatu kegiatan atau proses
yang mentransformasikan masukan input menjadi hasil keluaran output.
2.2. Manajemen Produksi dan Operasi
Assauri (2004) menyatakan bahwa manajemen produksi dan operasi
merupakan kegiatan mengatur dan mengkoordinasikan penggunaan
sumber-sumber daya yang berupa sumber-sumber daya manusia, sumber-sumber daya alat, mesin
dan, sumber daya dana serta bahan secara efektif dan efisien, untuk
menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa.
Dengan pengertian seperti itu, maka manajemen produksi dan operasi
merupakan proses pencapaian dan pendayagunaan sumber-sumber daya
untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang
berguna sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
Menurut Handoko (1997), manajemen produksi dan operasi merupakan
usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya produksi
(sering disebut sebagai faktor produksi) seperti; tenaga kerja, mesin-mesin,
peralatan, bahan mentah, dan sebagainya dalam proses transformasi bahan
mentah dan tenaga kerja menjadi produk atau jasa.
2.3. Manajemen Proses Produksi
Proses produksi juga dapat diartikan sebagai cara, metode, dan teknik
untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan
menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan, dan dana) yang
ada (Assauri, 2004). Pengertian manajemen proses produksi menurut
Handoko (1997) yaitu, kegiatan-kegiatan manajemen produksi dan
operasi-operasi tidak hanya menyangkut pemrosesan manufacturing berbagai barang,
2.4. Perencanaan dan Pengawasan Produksi
Assauri (2004) mendefinisikan perencanaan dan pengawasan produksi
(Production Planning and Control atau PPC) sebagai penentuan dan penetapan
kegiatan-kegiatan produksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan
perusahaan, dan mengawasi kegiatan pelaksanaan dari proses dan hasil
produksi, agar apa yang telah direncakan dapat terlaksana dan tujuan yang
diharapkan dapat tercapai. Sedangkan perencanaan produksi (production
planning) adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai
orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan lain serta modal yang
diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu di
masa depan sesuai dengan yang diperkirakan atau diramalkan. Barang yang
direncanakan tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :
1. Bahwa barang tersebut harus dapat diproduksi atau dibuat pada waktu itu.
2. Bahwa barang tersebut harus dapat dikerjakan dengan atau oleh pabrik ini.
3. Bahwa barang tersebut harus sesuai atau dapat memenuhi atau dicocokkan
dengan keinginan pembeli sesuai dengan ramalan baik mengenai harga,
kuantitas, kualitas dan waktu yang dibutuhkan.
2.5. Sistem Produksi
Pada umumnya, suatu sistem produksi adalah proses pengubahan
masukan-masukan sumber daya menjadi barang-barang dan jasa-jasa yang
lebih berguna. Masukan-masukan ke dalam sistem ini adalah bahan mentah,
tenaga kerja, modal, energi dan informasi. Masukan-masukan ini diubah
menjadi barang-barang dan/atau jasa-jasa oleh teknologi proses merupakan
metoda atau cara tertentu yang digunakan untuk proses transformasi.
Perubahan teknologi akan merubah cara satu masukan digunakan dalam
hubungannya dengan masukan yang lain, mungkin juga merubah
Gambar 1. Sistem Produksi dan Operasi (Assauri, 2004)
2.6. Mutu
Menurut Assauri (2004) dalam perusahaan pabrik, istilah mutu diartikan
sebagai faktor-faktor yang terdapat dalam suatu barang atau hasil yang
menyebabkan barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa
barang atau hasil tersebut itu dimaksudkan atau dibutuhkan. Menurut Deming
mutu harus bertujuan memenuhi pelanggan sekarang dan masa datang.
Feigenbaum mengatakan mutu merupakan keseluruhan gabungan
karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, engeneering, dan
maintenance maka produk dan jasa dalam pemakaian akan sesuai dengan
harapan pelanggan. Goetsch dan Davis mengemukakan bahwa mutu adalah
suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan.
(Standar Nasional Indonesia) SNI adalah keseluruhan ciri dan karakteristik
produk dan jasa yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik
yang dinyatakan secara tegas maupun tersamar.
2.7. Perencanaan dan Pengendalian produksi
Assauri (2004) mengatakan, perencanaan dan pengendalian produksi
adalah penentuan dan penetapan kegiatan-kegiatan produksi yang akan
dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan pabrik tersebut, dan mengawasi
kegiatan pelaksanaan dari proses dan hasil produksi, agar apa yang telah
Kusuma (2002) mendefinisikan perencanaan dan pengendalian produksi
adalah merencanakan dan mengendalikan aliran material ke dalam, di dalam,
dan keluar pabrik sehingga posisi keuntungan optimal yang merupakan
tujuan perusahaan dapat dicapai, dan pengendalian produksi dimaksudkan
untuk mendayagunakan sumber daya produksi yang terbatas secara efektif,
terutama dalam usaha memenuhi permintaan konsumen dan menciptakan
keuntungan bagi peusahaan. Biegel dalam Assauri (2004) mengatakan
hubungan pengendalian produksi terhadap keseluruhan organisasi
manufaktur yang terutama ialah sebagai alat pengendali aliran informasi,
pengendalian produksi sendiri berkaitan erat dengan fungsi-fungsi di luarnya,
sehingga komponen di dalam produksi memiliki interaksi.
Gambar 2. Proses Pengambilan Keputusan Pengendalian Produksi (Biegel
dalam Assauri, 2004)
2.8. Ban
Ban didefinisikan sebagai lingkaran besi atau karet yang melingkupi
bagian luar roda. Ban mempunyai berbagai macam tipe yang berbeda-beda
berasal dari konstruksi dan material yang berbeda-beda pula. Ban Radial
adalah tipe ban dengan carcass cord yang tegak lurus terhadap garis tengah
tread (dalam arah radial) dan bagian tread dilengkapi dengan enforcing belt.
Ban jenis ini memiliki drivability yang sempurna, stabil, tahan
pakai,menghasilkan lebih sedikit panas, mempunyai rolling resistance yang
yang digunakan pada masa lalu, mempunyai carcass cord yang tersusun pada
sudut (bias) dengan memperhatikan garis tengah dari tread. Inilah yang
sekarang disebut ban bias.
Ban Tubeless adalah tipe ban yang mempunyai lapisan karet spesial
(lapisan dalam) dengan sedikit air permeability pada bagian dalam dan
menggunakan material yang tahan bocor pada bagian bead sebagai pengganti
tube. Ban jenis ini tidak akan mudah kempis bahkan ketika terkena paku pada
saat digunakan.
Ban Tube adalah tipe ban dengan tube (selang melingkar) dalam yang
diisi dengan udara. Ban ini khusus digunakan pada musim dingin (Ban
Studless dan Ban salju). Ban musim dingin adalah ban yang didesain untuk
menghentikan luncuran pada jalan yang tertutup salju atau es. Ban Studless
menggunakan campuran karet spesial yang tidak akan kehilangan
pliability-nya bahkan pada temperatur rendah sekalipun. Ban jenis ini juga mempupliability-nyai
alur atau lekuk desain yang spesial untuk memaksimalkan penggunaannya
dalam jalan ber-es. Ban salju mempunyai alur atau lekuk yang lebih dalam
dan lebih lebar dibandingkan dengan ban musim panas dan memiliki pola
blok spesial untuk meningkatkan kemampuan tarikan dan daya rem pada
jalan bersalju. Lebih detail tentang bagian ban akan disajikan pada Lampiran
1 (The Japan Automobile Tire Manufactures Association, Inc., 2005)
III. METODE MAGANG
3.1. Lokasi dan Waktu Magang
Kegiatan Magang dilaksanakan selama 3 bulan terhitung mulai tanggal
14 Februari 2005 sampai dengan 6 Mei 2005, berlokasi di PT. Elangperdana
Tyre Industry, Citeureup Kabupaten Bogor. Departemen yang ditempati
selama kegiatan magang ialah, Departemen Engineering, Departemen
Pengemasan dan Penggudangan, dan Pengendalian Perencanaan Produksi.
Pada bulan pertama kegiatan magang ini dimulai dengan pengenalan
pabrik, diantaranya safety procedure untuk memasuki wilayah pabrik,
pengenalan wilayah pabrik dan tata letak. Kemudian mulai mempelajari
bagaimana pengendalian material dilakukan, dan pengenalan mesin-mesin.
Bulan kedua dilibatkan dalam kegiatan penjadwalan yang dilakukan oleh
Departemen PPC (Production Planning and Control), dilanjutkan dengan
mempelajari kegiatan proses produksi dan proses pengendalian mutu. Masuk
pada bulan ketiga mempelajari proses akhir produksi yang kemudian
mengamati proses penggudangan, selanjutnya dipindahkan oleh perusahaan
pada Departemen Engineering dan dilibatkan pula dalam beberapa rapat
departemen tersebut. Rincian lengkap tentang jadwal magang dapat dilihat
pada Lampiran 2.
3.2. Metode Magang
Metode yang digunakan pada kegiatan magang ini ialah :
1. Bekerja Berdasarkan Arah Perusahaan
Perusahaan memberikan arahan kepada mahasiswa magang berupa
penempatan kerja pada departemen-departemen kerja yang berhubungan
dengan karya tulis ilmiah yang akan dibuat oleh mahasiswa magang. Pada
departemen-departemen yang berbeda tersebut, mahasiswa magang
diberikan job description oleh pembimbing lapangan di perusahaan. Hal ini
dimaksudkan agar mahasiswa magang dapat merasakan sendiri kegiatan
2. Melakukan Analisa Masalah
Selama mahasiswa magang terlibat dalam kegiatan yang dilakukan di
departemen-departemen perusahaan, mahasiswa juga melihat
permasalahan-permasalahan yang terjadi. Data yang berhubungan dengan
permasalahan didapatkan melalui observasi dan dilanjutkan dengan
wawancara dengan pembimbing lapangan. Data yang didapatkan tersebut
dicatat oleh mahasiswa magang untuk kemudian dianalisa dengan
menggunakan studi literatur.
3. Melakukan Pembahasan Terhadap Masalah
Pembahasan masalah dilakukan oleh mahasiswa magang melalui studi
literatur yang berhubungan dengan permasalahan. Studi literatur dilakukan
untuk mendapatkan landasan teori terbaik dengan permasalahan yang ada.
Sumber literatur dapat berupa buku ilmiah, karya tulis ilmiah, situs
internet, artikel koran, dan sumber lain yang dapat memberikan ide bagi
pemecahan masalah.
4. Pencatatan Hasil
Data dan informasi yang telah dipelajari dengan dukungan studi literatur
tersebut diharapkan akan memunculkan beberapa alternatif pemecahan
masalah atau solusi. Semua alternatif solusi yang disertai dengan
masing-masing keunggulan dan kelemahannya kemudian akan dicocokkan dengan
pertimbangan situasi dan kondisi perusahaan pada saat itu. Solusi terbaik
kemudian akan direkomendasikan sebagai saran untuk perusahaan dalam
membantu memecahkan permasalahan yang terjadi.
5. Evaluasi Magang
Supervisi sehari-hari dilakukan oleh pihak perusahaan untuk melihat
apakah penulis dapat mengerti dan melaksanakan apa yang telah
ditugaskan oleh perusahaan. Dosen pembimbing skripsi yang langsung
mendatangi perusahaan pada bulan terakhir magang dan melakukan
penilaian terhadap relevansi keilmuan, sikap, dan keterampilan
berdasarkan pengamatan terhadap mahasiswa bersangkutan. Pihak
perusahaan (pembimbing lapang) dan perusahaan juga memberikan
pengembangan kegiatan akademik. Penilaian juga dilakukan oleh tempat
magang (perusahaan), dimana mahasiswa diminta menjelaskan kepada
pihak perusahaan dalam bentuk persentasi mengenai materi apa yang telah
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
PT. Elangperdana Tyre Industry merupakan perusahaan yang
bergerak di bidang industri pembuatan ban mobil yang didirikan pada
tanggal 15 November 1993 dan terdaftar di Departemen Kehakiman
dengan akta nomor C2-14917. HT. 01. 01 tahun 1994 tertanggal 3
oktober 1994, serta terdaftar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
dengan nomor 2238/ A.PT/ HKM/ 1994 PN. Jak-Sel.
Industri ini berdiri atas dasar PMDN (Penanaman Modal Dalam
Negeri) dengan modal awal sebesar lebih kurang $ 40.000.000. PT.
Elangperdana Tyre Industry merupakan perusahaan yang berada
dibawah naungan Elang Group bersama dengan PT. Elangperdana
Prima Niaga & Industri yang memproduksi ban dalam mobil (tube).
Kedua perusahaan tersebut berada dalam satu lokasi yakni di Jalan
Elang, Desa Sukahati Citeureup Kabupaten Bogor.
Produksi perdana PT Elangperdana Tyre Industry secara resmi
dimulai tanggal 13 april 1997 dengan membuat ban mobil merek
VREDESTEIN yang merupakan lisensi dari negara Belanda. Ban yang
diproduksi adalah ban mobil jenis PCR (Passanger Car Radial) untuk
jenis kendaraan penumpang (beban rendah). Selanjutnya diproduksi
pula ban mobil untuk jenis kendaraan komersial (truck, bus, dan light
truck) dengan jenis ban bias (beban tinggi). Tenaga kerja operasional,
teknisi, dan tenaga ahli direkrut dari tenaga kerja kerja domestik,
sedangkan tenaga peninjau dan pengawas berasal dari negara Belanda.
Perkembangan selanjutnya, PT. EPTI disamping memproduksi
ban dengan merek VREDESTEIN juga telah berhasil memproduksi
dan memasarkan ban dengan merek sendiri (original product) yakni
EPCO (Elangperdana Corporation) dengan beberapa merek dagang
diantaranya MILLENIUM, TORNADO, IMPERIUM, dan EPCO TBS
EPCO dipasarkan secara domestik untuk pangsa pasar replacement
dan original equipment, serta diekspor keluar negeri diantaranya ke
Timur Tengah (Middle East), Malaysia, Muangthai, dan Australia.
4.1.2. Tata Letak Pabrik
PT. Elangperdana Tyre Industry berdiri diatas lahan seluas lebih
kurang 18 Ha dengan luas bangunan pabrik lebih kurang 15 Ha. Lokasi
pabrik berada di jalan Elang, Desa Sukahati Citeureup Kabupaten
Bogor. Lokasi pabrik bisa dijangkau dengan cepat dari jalan tol
Jagorawi (melalui pintu tol Sentul maupun Cibinong), sehingga
memudahkan akses untuk distribusi maupun transportasi. Selain itu PT.
EPTI terletak berdekatan dengan pabrik lain seperti PT. Sumiden Serasi
Wire Products yang merupakan salah satu pemasok benang baja (steel
cord) dan PT Branta Mulia, Tbk yang juga merupakan salah satu
pemasok benang nylon (textile cord). Tata letak perusahaan secara
keseluruhan disajikan pada Lampiran 3.
4.1.3. Tata Letak Bangunan
Tata letak bangunan pabrik diatur sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu jalannya proses produksi dan komponen-komponen yang
saling terkait di dalamnya (Lampiran 3). Kantor utama (main office)
berada di dekat pintu gerbang utama untuk memudahkan akses keluar
masuknya kendaraan operasional, staff, dan tamu perusahaan, serta
berada agak jauh dari ruang produksi (pabrik) untuk menghindari
kebisingan. Ruang produksi diatur berdekatan dengan Enggineering and
Workshop Department agar memudahkan penanganan dan perbaikan
apabila kerusakan pada mesin produksi maupun pada sarana utilitas
pabrik.
4.1.4. Tata Letak Mesin
Ruangan produksi diatur secara memanjang dengan mengikuti alur
pergerakan material yang dihasilkan oleh masing-masing seksi.
Penempatan ruangan untuk proses mixing yang merupakan proses
bahan baku (raw material warehouse). Hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah pengambilan bahan baku dari gudang bahan baku
menuju mesin banbury mixer. Pigment room, tangki parafinic oil juga
diatur berdekatan dengan ruang gudang bahan baku, hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan peramuan bahan-bahan kimia yang
berasal dari gudang bahan baku pada proses mixing. Seksi mixing diatur
berdekatan dengan seksi-seksi yang lain antara lain adalah seksi
extruding, seksi calendar dan seksi bead. Seksi cutting diatur
bersebelahan dengan seksi calendar, karena seksi cutting membutuhkan
material yang dihasilkan seksi calendar.
Pigmen Room adalah tempat untuk meracik bahan kimia sebagai
bahan dasar coumpound diatur secara berdekatan dengan seksi mixing,
seksi extruding, seksi calender dan seksi-seksi lain, serta gudang bahan
baku untuk mempermudah pemeriksaan bahan baku dan material yang
dihasilkan dari seksi-seksi tersebut di atas. Seksi radial building (PCR)
dibagi menjadi dua tahap yaitu pre-assembling (PA) dan radial
building. Tahap pre-assembling menyatukan produk dari seksi
extruding (side wall) dan seksi calendar 2 roll (inner liner) sehingga
penempatannya diatur berdekatan dengan kedua seksi tersebut.
Sementara itu tahap radial building dilakukan dalam ruangan yang
dilengkapi alat penyejuk udara terkontrol (controlled air conditioner) di
sebelah ruangan pre-assembling untuk menjaga agar dimensi material
tidak berubah. Band dan bias building berada di luar ruangan radial
building. Seksi curing berada paling ujung ruang produksi karena
proses curing merupakan tahap terakhir dalam proses produksi ban.
Di sebelah seksi curing terdapat gudang produk jadi (tyre
warehouse). Di dalam ruangan ini ban diinspeksi, dilakukan proses
penggudangan dan pengemasan (wrapping). Untuk mempermudah
pengeluaran produk jadi dan meminimisasi terjadinya antrian produk,
gudang produk jadi memiliki tiga pintu keluar. Di samping gudang
produk jadi dibangun kolam (pond) yang digunakan untuk menampung
Instalasi pengolahan air terletak disamping departemen engineering,
workshop, dan ruangan produksi untuk memudahkan penanganan
apabila terjadi kerusakan pada saat beroperasi dan memudahkan
distribusi air ke proses produksi.
Letak ruangan boiler dan kompresor diatur berdekatan dengan
Departemen Engineering, Workshop, dan instalasi pengolahan air.
Tepat di samping ruang tempat proses curing dilakukan, terdapat tangki
gas N2 yang dibutuhkan pada proses curing dan ruangan hot well yang
digunakan untuk menampung air refluks dari steam dan pembangkit
hydrolic water. Tidak jauh dari instalasi pengolahan air terdapat cooling
tower yang berfungsi sebagai pendingin bagi mesin produksi. Ruangan
untuk pengujian ban (tyre testing) berada di luar ruangan produksi, hal
ini dimaksudkan untuk menghindari kebisingan dan guncangan akibat
ledakan ban yang sedang di uji sehingga dikhawatirkan mengganggu
jalannya proses produksi.
Di samping ruangan produksi, Engineering Department, dan di
depan instalasi pengolahan air terdapat ruang cement dan colour
marking pada tread. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan
perpindahan material (cement dan colour marking) dari ruangan cement
house ke ruangan produksi, dan juga untuk menghindari bahaya
kebakaran karena di ruangan cement house banyak bahan-bahan yang
mudah terbakar (flamable) seperti texin dan compound. Tata letak mesin
secara keseluruhan disajikan pada Lampiran 4.
Tata letak yang ada pada PT. EPTI sudah baik, bila rencana
produktifitas semakin tinggi pada tahun-tahun mendatang maka akan
dibutuhkan ruang untuk mesin baru. Perluasan pabrik dinilai harus
dilakukan bila terjadi penambahan produktifitas, karena tata letak saat
ini kurang memadai bila adanya penambahan mesin-mesin baru.
4.1.5. Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
PT. Elangperdana Tyre Industry dalam menjalankan seluruh
kegiatannya, dipimpin oleh seorang direktur dan dibantu oleh seorang
membawahi dewan direksi yang terdiri dari Direktur keuangan (Finance
Director), Direktur Manajemen Material (Material Management
Director) serta Direktur Pemasaran (Marketing Director).
Masing-masing direktur tersebut membawahi beberapa
departemen yang dipimpin oleh seorang manajer. Setiap staff yang
memegang jabatan tersebut memiliki deskripsi tugas yang berbeda-beda
dan dalam pelaksanaannya tidak dapat terlepas dari deskripsi tugas staff
yang berasal dari departemen yang lainnya, baik yang berada diatas
maupun di bawahnya.
Presiden Direktur dibantu oleh seorang wakil Presiden Direktur
yang membawahi Manajer Pabrik (Plant General Manager) dalam
melaksanakan tanggung jawabnya. Adapun deskripsi tugas dari
masing-masing komponen dalam Dewan Direksi adalah sebagai berikut :
1. Presiden Direktur
• Bertanggungjawab baik ke dalam maupun keluar perusahaan yang
menyangkut seluruh kegiatan usaha yang dilakukan oleh
perusahaan.
• Mengawasi Wakil Presiden direktur dalam melaksanakan
tugasnya.
2. Wakil Presiden Direktur
• Membantu presiden direktur dalam membuat kebijakan
perusahaan.
• Membantu Presiden Direktur dalam mengoperasikan dan
mengorganisasikan seluruh kegiatan perusahaan.
• Mengawasi secara langsung kinerja departemen yang
dibawahinya, antara lain :
a) (Research and Development) R & D Departement
° Melakukan penelitian untuk mengembangkan proses
produksi yang meliputi penetapan standar atau spesifikasi
yang dituangkan dalam kartu proses (process card).
° Melakukan perancangan dan inovasi terhadap produk baru
° Melaksanakan inspeksi terhadap bahan baku (raw material),
material setengah jadi (material in process), dan produk jadi.
b) (Quality Assurance) QA Departement
° Menetapkan dan mengendalikan sistem kualitas (quality
system).
° Bertanggungjawab terhadap kualitas produk yang dihasilkan
oleh setiap lini produksi.
° Melaksanakan inspeksi terhadap produk akhir (ban).
3. Direktur Keuangan
• Mengawasi dan menangani keuangan perusahaan.
• Mengawasi keluar masuknya uang (cash flow) dan biaya
produksi.
• Menghitung keuntungan dan kerugian yanng diderita oleh
perusahaan.
• Mengawasi kinerja departemen yang dibawahinya yakni
departemen pengembangan sumber daya manusia dan masalah
umum atau Human Resources Development and General Affair
Departement (HRD & GA Departement) yang memiliki deskripsi
tugas sebagai berikut :
° Melakukan perekrutan tenaga kerja baru.
° Bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
(K3).
° Bertanggungjawab terhadap perawatan dan kebersihan fasilitas
pabrik.
° Bertanggungjawab terhadap kesejahteraan tenaga kerja.
° Mengadakan pelatihan (training) dan pendidikan bagi tenaga
kerja.
4. Direktur Pemasaran
• Melakukan riset pasar dan perencanaan penjualan.
5. Direktur Manajemen Material
• Bertanggungjawab terhadap pembelian mesin-mesin, peralatan
dan bahan baku.
• Bertanggungjawab terhadap persediaan mesin-mesin, peralatan
dan bahan baku.
• Melakukan survei dan adaptasi terhadap sumber (pemasok) bahan
baku yang baru.
6. Manajer Pabrik
• Bertanggungjawab kepada wakil presiden direktur terhadap
kinerja departemen yang dibawahinya.
• Mengkoordinasikan departemen-departemen yang berada di
bawahnya agar dapat menjalankan tugasnya masing-masing,
meliputi :
a) Departemen Produksi (Production Departement) :
° Menjalankan produksi berdasarkan order yang telah
ditetapkan sebelumnya PPC Department.
° Melakukan perbaikan-perbaikan akibat kesalahan produksi,
scrap, dan mengakibatkan biaya produksi yang berlebihan.
° Mengadakan perbaikan terhadap kapabilitas produksi
sehingga hasil yang didapat lebih optimal.
° Menyusun rencana produksi untuk jangka panjang dan
jangka pendek.
° Mengontrol persediaan (stock) dan waktu pemuatan
(loading time) untuk mesin, material dan tenaga kerja.
b) Engineering Departement :
° Bertanggungjawab terhadap perbaikan dan pemeliharaan
mesin produksi maupun sarana utilitas pabrik.
° Membuat penjadwalan mengenai pemeliharaan mesin dan
peralatan produksi.
7.Representative Management
• Mengadakan perencanaan untuk Departemen QA (Quality
Assurance) dan menginformasikannya pada semua bagian
manajemen.
• Mengimplementasikan dan mengikuti instruksi dari top level
management dalam sistem pengembangan kualitas.
• Mengelola keluhan dari pelanggan (costumer).
• Memberikan jaminan kualitas mutu dan pertimbangan kepada
direktur dan top management secara periodik pada saat
pelaksanaan rapat dalam direksi.
• Menyediakan sarana bagi tamu dan unsur luar perusahaan atau
audit pelanggan dan mengkoordinasikannya pada semua bagian
atau unit manajer yanng terlibat.
• Mengimplementasikan pelatihan sistem kualitas manajemen dan
pelatihan khusus secara periodik untuk staff QA.
Pada bulan Mei 2005 PT. Elangperdana Tyre Industry telah
memperkerjakan 650 orang karyawan, yang terbagi menjadi karyawan
operasional sebanyak 497 orang dan non operasional 153 orang.
Hubungan kerja antara karyawan dengan pihak perusahaan tertuang
dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) yang mengacu kepada UU
no.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, dan bertujuan untuk
mencapai Hubungan Industrial Pancasila (HIP) sebagai salah satu syarat
terciptanya hubungan yang harmonis antara pengusaha dan pekerja
dalam upaya mewujudkan kepentingan bersama sehingga dapat
meningkatkan produktifitas perusahaan.
Karyawan staf kantor bekerja selama lima hari dalam seminggu
tanpa shift, dengan waktu kerja sebagai berikut :
• Hari kerja Senin sampai dengan Kamis, bekerja dari jam 08.00-17.00
WIB dengan waktu istirahat jam 12.00-13.00 WIB.
• Hari Jum’at, mulai bekerja jam 08.00-17.00 WIB dengan waktu
istirahat jam 11.45-12.45 WIB karena sebagian karyawan
Sedangkan karyawan yang tugasnya berkaitan dengan kegiatan
produksi, bekerja selama enam hari dalam seminggu, dan terbagi
menjadi dalam empat grup dalam 2-3 shift dan terjadi pergiliran shift
setiap lima hari. Setiap grup terdiri dari 5-6 orang untuk setiap seksi.
Waktu kerja karyawan produksi sebagai berikut :
• Shift 1 : bekerja dari jam 08.00 sampai 16.10 WIB dan waktu istirahat pada jam 12.00-13.00 WIB,kecuali pada hari Jum’at
menjadi jam 11.45-12.45 WIB.
• Shift 2 : bekerja dari jam 16.00 sampai 24.10 WIB dan waktu istirahat pada jam 18.00-19.00 WIB.
• Shift 3 : bekerja dari jam 24.00 sampai 08.10 WIB dan waktu istirahat pada jam 03.00-04.00 WIB.
Ketentuan jam kerja yang diberikan oleh perusahaan adalah 40
jam per minggu, untuk selebihnya diperhitungkan sebagai waktu
lembur. Bagi karayawan yang bekerja paling sedikit 20 jam secara terus
menerus (jam kerja normal ditambah dengan jam kerja lembur) pada
hari terkait, maka pada hari kerja berikutnya diberikan waktu istirahat
selama 1 hari kerja dengan upah dibayar penuh.
Sebelum memulai bekerja, setiap karyawan diwajibkan mengikuti
senam taiso selama 15 menit. Senam ini dilakukan untuk mengurangi
kecelakaan kerja akibat kondisi tubuh karyawan yang kurang fit dan
Senam taiso ini berlaku untuk karyawan yang bekerja pada shift 1 dan
shift 2.
Setiap karyawan berhak untuk mengambil cuti setelah bekerja
selama 12 bulan (1 tahun) berturut-turut. Ketentuan jumlah hari yang
diambil untuk cuti dilakukan berdasarkan atas persetujuan perusahaan
dan atasan. Sebagai contoh misalkan masa kerja karyawan 1 tahun,
maka junlah cuti yang diperbolehkan adalah selama 12 hari dengan
perincian 3 hari pertama berdasarkan persetujuan perusahaan dan 9 hari
sisanya berdasarkan persetujuan atasan. Ketentuan lebih rinci mengenai
Tabel 2. Ketentuan cuti tahunan dan cuti panjang karyawan PT. EPTI
Sumber: PT. EPTI, 2004
PT EPTI menetapkan batasan umur karyawan 55 tahun untuk
memasuki masa pensiun, namun apabila tenaga dan pikirannya masih
dibutuhkan oleh perusahaan maka karyawan tersebut masih dapat
bekerja dengan sistem perpanjangan atau sistem kontrak dengan izin
dari perusahaan. Dalam melakukan proses perekrutan karyawan baru,
PT. EPTI mengacu pada UU No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
dan pasal-pasal di dalam Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) tentang
prosedur perekrutan tenaga kerja.
Setiap karyawan mendapat upah yang besarnya berdasarkan
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan dapat juga
ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pekerja secara individual
dengan pengusaha dan mengacu kepada Kesepakatan Kerja Bersama
(KKB). Besarnya upah yang diterima oleh karyawan paling sedikit
sama dengan Upah Minimum Regional (UMR).
Selain upah pokok, karyawan juga mendapatkan
tunjangan-tunjangan antara lain tunjangan-tunjangan jenis pekerjaan, uang lembur, uang
premi kehadiran, uang transport, uang pergantian tanggung jawab kerja
apabila ada karyawan yang memperoleh panggilan darurat, tunjangan
pernikahan, tunjangan senioritas, tunjangan kematian, tunjangan hari
raya, dan beasiswa bagi anak karyawan yang menjadi anak asuh bagi
perusahaan.
Karyawan juga diberikan fasilitas transportasi dengan
disediakannya bus jemputan dengan mendapat subsidi dari perusahaan
diikutsertakan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK) dan Asuransi Kesehatan (ASKES). Fasilitas lain yang
diberikan oleh perusahaan meliputi fasilitas ibadah, koperasi, lapangan
parkir, lapangan olahraga dan jatah makan di kantin perusahaan.
4.1.6. Produk dan Jangkauan Pasar
PT. Elangperdana Tyre Industry memproduksi ban mobil yang
terdiri dari ban radial dan ban bias. Ban radial umumnya digunakan oleh
kendaraan ringan atau beban rendah (Passanger Car Radial atau PCR)
seperti kendaraan pribadi, sedangkan ban bias digunakan untuk
kendaraan beban tinggi seperti truk dan bus.
Beberapa ban diproduksi oleh PT. EPTI dengan merek EPCO,
yaitu MILLENIUM, ACCELERA, dan IMPERIUM. Sedangkan ban
radial yang diproduksi dengan merek lisensi VREDESTEIN adalah
T-TRAC, PROTRAC dan QUATRAC. Untuk ban bias hanya diproduksi
dengan merek EPCO diantaranya EP MILLER, EP LUG dan MT
PRIMA. Profil produk PT. EPTI secara lebih rinci disajikan pada
Lampiran 5 atau dapat mengakses langsung pada situs resmi milik PT.
EPTI www.eptyres.com.
Jangkauan pasar dari produk ban yang dihasilkan oleh PT. EPTI
meliputi kawasan benua Asia seperti Muangthai, Cina, Malaysia, dan
Timur Tengah. Produksi PT EPTI banyak diproritaskan untuk
memenuhi kebutuhan ekspor, sehingga masalah mutu menjadi perhatian
yang sangat penting, namun akibatnya produk PT EPTI kurang banyak
dikenal di tanah air (Indonesia). Hal ini dianggap lebih menguntungkan
bagi perusahaan, karena pasar ekspor melakukan pembayaran lebih
awal. Kondisi ini tidak terjadi pada pasar domestik yang menggunakan
sistem kredit, sehingga target pasar perusahaan lebih fokus kepada pasar
ekspor. Permasalahan yang terkait pada produk dan jangkauan pasar
ialah kurang dikenalnya produk di dalam negeri, untuk memperluas
jangkauan pasar dalam negeri PT. EPTI perlu melakukan penambahan
4.2. BAHAN BAKU DAN SARANA PRODUKSI 4.2.1. Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan untuk membuat compound (bahan
dasar pembuatan ban) terdiri dari :
1. Polimer
• Karet Alam (Natural Rubber)
Jenis Karet alam yang digunakan adalah (Standard Indonesian
Rubber) SIR 20 untuk pembuatan ban dan (Ribbed Smoked Sheet)
RSS yang digunakan untuk pembuatan colour marking pada tread
yang seluruhnya diperoleh dari dalam negeri. • Karet Sintetik (Synthetic Rubber)
Karet sintetik yang digunakan hampir seluruhnya diimpor dari luar
negeri, antara lain berasal dari Korea Selatan, Cina, dan Rusia.
Adapun jenis karet sintetik yang digunakan adalah (Styrene
Butadine Rubber) SBR 1502, SBR 1500 (KOSYN 1500), SBR
1712 (KOSYN 1712), Poly Butaddiene Rubber, Chloro Butyl
Rubber, BR 9000 (Cis Butadiene Rubber) dan karet reklim yang
merupakan hasil daur ulang dari karet yang tervulkanisasi.
2. Bahan Pengisi (Filler)
Bahan pengisi seluruhnya diimpor dari Korea Selatan dan Australia.
Bahan pengisi ada yang bersifat aktif dan non aktif. Filler aktif
terdiri dari carbon black yang berfungsi sebagai reinforcing agent
dan silika yang mempengaruhi sifat fisik dari compound yang
dihasilkan. Berdasakan strukturnya, jenis carbon black yang banyak
digunakan terdiri atas N220 (untuk ban bias), N330, N339 (untuk
ban radial), N350, N550 dan N660 (untuk carcass). Sedangkan filler
non aktif hanya berfungsi sebagai bahan pengisi untuk memperbesar
volume dan yang biasa digunakan adalah kaolin dan kalsium
karbonat.
3. Bahan Pelunak (Softener)
Bahan pelunak yang digunakan terdiri dari castor oil, parafinic oil
4. Accelerator
Accelerator berfungsi untuk mempercepat reaksi pemasakan
(vulkanisasi) bahan-bahan penyusun ban. Accelerator ada yang
bersifat primer (DBBS, FBS, dan CBS) dan sekunder (MPTS, DPG,
TMTT).
5. Activator
Activator merupakan bahan untuk mengaktifkan kerja accelerator.
Bahan yang digunakan adalah stearic acid dan zinc oxide.
6. Vulcanisator
Vulcanisator digunakan bersama-sama dengan accelerator agar
proses pematangan karet lebih cepat. Bahan yang digunakan sebagai
vulcanizing agent terdiri atas sulfur. Sulfur yang digunakan terdiri
atas sulfur 10% OT (Oil Traded), 20% OT,dan 4 %OT.
7. Anti Degradan
Anti Degradan berfungsi sebagai bahan pengawet agar kerusakan
material selama proses dan penyimpanan dapat berkurang. Bahan
tersebut dapat berupa anti oksidan dan anti ozonan. Bahan yang
sering digunakan adalah TMQ, IPPD, dan protector wax.
8. Processing Aid
Processing Aid merupakan bahan yang digunakan untuk
mempermudah proses. Processing aid dapat berupa homogenizer
(struktol 40 MS), releasing agent untuk mengurangi kelengketan
(anti adhesive) compound misalnya rhenodiv dan promol, penurun
viskositas (aktiplast M), thacknifier (zinc stearat, fenol, dan
formalin) untuk merekatkan compound dengan steel.
9. Benang Nylon
Benang Nylon merupakan bahan yang digunakan dalam proses 4
roll calendaring untuk membuat material ply cord, chaffer, cap ply,
breaker, flipper, dan cap strip.
10. Kawat Baja
Kawat Baja Merupakan komponen yang digunakan untuk membuat
11. Resin
Resin digunakan untuk memperkuat compound, memperkuat gaya
adhesi antara benang dengan compound pada coated cord.
4.2.2. Sarana Utilitas 1. Boiler
Boiler digunakan untuk menghasilkan steam yang digunakan
pada proses calendaring untuk memanaskan roll dan pada proses
curing untuk pemanasan green tyre. Tipe boiler yang digunakan
adalah tipe boiler pipa api yang berjumlah tiga buah dan
masing-masing memiliki kapasitas 10 Ton air.
Bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkan steam adalah
solar dan natural gas, dengan penggunaan solar sebagai bahan bakar
dalam keadaan darurat. Boiler memiliki tekanan output sebesar 14,5
Bar (konstan) dan temperatur outputnya sebesar 2700C (berupa uap
panas). Sementara itu air yang digunakan berasal dari instalasi
pengolahan air dan refluks dari penggunaan steam (kondensasi) dan
cooling water.
2. Instalasi Pengolahan Air
Unit ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada
proses produksi maupun untuk fasilitas pabrik sebesar lebih kurang
400 m3 per hari. Sumber air yang digunakan berasal dari air sungai
yang mengalir tidak jauh dari area pabrik. Unit terdiri dari waduk
penampung air sungai (Waduk Prawoto), tangki claryfier (digunakan
untuk memisahkan padatan terlarut dengan padatan tidak terlarut
didalam air), kolam penampung (pond) dan tangki penyaring (sand
filter).
Tangki claryfier yang digunakan berjumlah satu unit dan
memiliki kapasitas sebesar 100 m3 per hari. Air yang keluar dari tangki
claryfier dialirkan pada kolam penampung yang berjumlah dua unit
dengan kapasitas sebesar 350 m3 per kolamnya. Di dalam kolam ini air
yang keluar dari tangki clarifier diendapkan dengan mencampurkan
(sand filter) terdiri dari dua unit yang dipasang secara seri. Tangki ini
berfungsi untuk menyaring air dengan menggunakan pasir silika, yang
dialirkan dari kolam penampung.
3. Cooling Tower
Cooling Tower digunakan sebagai unit pendingin dan pengatur
suhu pada mesin produksi seperti banbury mixer, calendar, extruder,
miller, dan hydrolic pump pada proses curing. Cooling Tower mampu
menghasilkan air pendingin (cooling water) sebesar 24 m3 per jam
dengan menggunakan sumber air yang berasal dari instalasi
pengolahan air dan refluks dari proses pendinginan. Perpindahan
panas terjadi dari air ke udara dengan menggunakan dua kipas (fan)
yang berputar dengan kecepatan tinggi dan terintegrasi dengan cooling
tower.
4. Pompa Hidrolik
Pompa hidrolik digunakan untuk memompa fluida dari cooling
tower yang digunakan untuk menggerakkan center post (bagian dari
hidrolik untuk menurunkan dan mengangkat mesin) pada mesin
curing. Medium fluida yang digunakan berasal dari oli hidrolik dan
steam yang diperoleh dari unit pembangkit di ruangan hot wheel.
Medium fluida yang berasal dari cooling tower berupa cool water
digunakan untuk memproduksi bias, sedangkan medium fluida yang
berasal dari oli hidrolik digunakan untuk memproduksi ban radial.
5. Kompresor
Kompresor digunakan untuk menghasilkan udara bertekanan
yang dibutuhkan dalam proses produksi. Tipe kompresor yang
digunakan adalah kompresor ulir (screw compressor) dengan daya
sebesar 225 KW. Berdasarkan outputnya, kompresor yang digunakan
digolongkan menjadi high compressor yang berjumlah dua unit dan
mampu menghasilkan tekanan hingga 11 Bar, serta low compressor
yang berjumlah 3 unit dan menghasilkan tekanan sebesar 3,5 Bar-7
Di dalam unit kompresor ditambahkan unit dryer yang
berfungsi untuk mengeringkan udara yang dialirkan agar tidak
mengandung uap air. Kebutuhan tekanan udara pada proses produksi
terdiri atas:
• Tekanan udara 3,5 Bar: digunakan untuk menggerakkan sistem
kontrol pada semua mesin.
• Tekanan udara 7 Bar: digunakan untuk menggerakkan sistem
pneumatic pada semua mesin.
• Tekanan udara 11 Bar: digunakan untuk menggerakkan kontrol
pendingin pada Post Cure Inflator (PCI) setelah proses curing
berlangsung.
6. Tanki Gas N2
Tanki gas N2 berfunsi untuk memasok kebutuhan gas nitrogen
yang digunakan untuk menekan bladder bagian dalam mesin curing.
Kebutuhan gas nitrogen per harinya untuk produksi adalah sebesar 20
Nm3 (normal meter kubik).
7. Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan untuk proses produksi adalah
solar dan LPG. Bahan bakar solar digunakan pada boiler dan forklift
truck, sedangkan LPG hanya digunakan pada boiler saja.
4.2.3. Mesin dan Peralatan Produksi 1. Mesin Pencampur
a. Banbury Mixer
Banbury mixer digunakan untuk mencampur bahan baku pada
proses mixing. Mesin ini berjumlah dua unit, terdiri dari line A dan
line B dan masing-masing memiliki kapasitas 250 kg/batch. Mesin
ini termasuk tipe pencampur internal dengan pengaduk berbentuk
spiral dengan kecepatan putar antara 30-40 rpm.
b. Banbury Roll II
Banbury roll II digunakan untuk proses homogenisasi material dari
berjumlah dua unit dan terintegrasi pada banbury mixer. Produk
yang dihasilkan oleh mesin ini adalah compound.
c. Bad Cop Conveyor
Bad cop conveyor merupakan bak yang berisi air dan promol
(nama produk bahan kimia yang langsung dibeli dari produsen
lain) dengan perbandingan 500:1. Larutan promol berfungsi untuk
melapisi compound agar tidak lengket (sebagai anti adhesive).
d. Cooling Fan
Cooling fan digunakan untuk mengeringkan compound yang telah
dicelupkan larutan air dan promol. Alat ini dilengkapi dengan
roller conveyor yang digunakan untuk menjemur compound pada
saat proses pengeringan yang berlangsung pada suhu lebih kurang
50oC.
2. Mesin Extruding a. Triplex Extruder
Mesin ini terdiri atas:
• Tiga buah hopper yang terdiri dari upper, middle, lower hopper yang digunakan sebagai tempat untuk memasukkan compound
ke dalam extruder;
• 3 buah silinder ulir (screw) yang terdiri dari upper, middle, dan
lower screw;
• Preformer yang merupakan cetakan dari aliran compound; • Channel insert yang berfungsi membentuk aliran compound
dari tiga buah hopper;
• Final die yang menyatukan ketiga compound keluar dari
extruder;
• Take away conveyor yang berfungsi untuk memindahkan
material (tread atau side wall) menuju shrinkage conveyor; • Shrinkage conveyor berfungsi untuk mendapatkan penyusutan
dari material yang diinginkan dengan kecepatan tiap segmennya
• Colour marker digunakan untuk memberikan warna pada permukaan tread dan kombinasi warna yang terjadi pada tread
tergantung pada size ban yang diproduksi;
• Inline conveyor yang berfungsi untuk memindahkan material menuju cooling line;
• Mesin chiller digunakan untuk mengeringkan material;
• Decline conveyor yang berfungsi untuk memindahkan material menuju cross cutter;
• Cross cutter digunakan untuk memotong material pada bagian awal dan bagian akhir gulungan, serta material yang out of
spesification;
• Weighing scale digunakan untuk menimbang berat material secara otomatis;
• Wind up station merupakan tempat untuk penggulungan
material yang sesuai spesifikasi dengan menggunakan reel.
b. Duplex Extruder
Duplex extruder memiliki komponen mesin yang sama dengan
Triplex Extruder, yaitu dua buah hopper yang terdiri dari upper
hopper dan lower hopper, dua buah silinder ulir (screw), yakni
upper screw dan lower screw, Warming up roll yang digunakan
untuk menghomogenkan compound, mesin calendaring yang
terintegrasi dalam unit cushion mill dan terdiri dari dua roll
pemanas dan screw untuk melapisi tread dengan cushion,
preformer, channel insert (membentuk aliran compound dari dua
buah hopper), final die, take away conveyor, shrinkage conveyor,
weighing scale, inline conveyor, cooling line, decline conveyor,
dan roll knife pada bagian skiver berfungsi untuk memotong tread
dan side wall untuk ban bias.
3. Mesin Calendar
a. Mesin Warming Up Roll
Mesin ini berfungsi untuk menghomogenkan kembali compound
drum yang berputar berlawanan arah. Secara mekanis mesin ini
terbagi menjadi dua buah mesin, yaitu breaking mill yang
berfungsi untuk melumatkan compound agar homogen, serta
feeding mill yang berfungsi memindahkan compound pada
conveyor. Pada feeding mill terdapat pisau pemisah yang
digunakan untuk memperkecil lebar compound agar dapat
melewati conveyor.
b. Mesin 4 Roll Calendar
Mesin ini digunakan untuk melapisi benang nylon dan kawat baja
dengan compound.
c. Mesin 2 Roll Calendar
Mesin ini digunakan untuk memproduksi compound tipis yang
disebut inner liner, squeege, dan edge gum. Mesin ini terdiri atas
dua roll yang diatur sedemikian rupa sehingga roll atas bersuhu
90oC dan roll bawah 80oC. Pada mesin 2 roll calendar terdapat
pula unit mesin breaking mill dan feeding mill yang digunakan
untuk melumatkan compound agar homogen. Kapasitas produksi
mesin ini untuk inner liner adalah 120 m/reel, squeege 100 m/reel,
dan untuk edge gum 100 m/reel.
4. Mesin Pemotong (Cutting)
Mesin pemotong terdiri atas cutting steel, bias cutter radial,
cap ply & rubber slitter, bias cutter bias, textile slitter, dan cap strip
winder. Uraian lebih lengkap tentang pemotong tersebut disajikan
sebagai berikut.
a. Cutting Steel
Mesin ini digunakan untuk memotong coated steel dengan sudut
tertentu (40o-70o) untuk kemudian disambung lagi secara otomatis
(auto joint). Produk yang dihasilkan oleh mesin ini adalah steel
b. Bias Cutter Radial
Mesin ini digunakan untuk memotong coated cord dengan sudut
90o terhadap garis tengah (central line) coated cord. Produk yang
dihasilkan oleh mesin ini adalah ply cord untuk ban radial.
c. Cap Ply & Rubber Slitter
Mesin ini digunakan untuk memotong coated cord menjadi
potongan dengan ukuran (lebar) yang lebih kecil, disebut cap ply
dan mother cap strip.
d. Bias Cutter Bias
Mesin ini digunakan untuk memotong coated cord menjadi ply
cord untuk ban bias, mother chaffer, mother breaker dan mother
flipper.
e. Textile Slitter
Mesin ini digunakan untuk memotong mother chaffer, mother
breaker dan mother flipper menjadi chaffer, breaker, dan flipper.
f. Cap Strip Winder
Mesin ini digunakan untuk memotong mother cap strip sehingga
lebarnya berkurang, yang disebut cap strip dan menggulungnya
(wind up).
Prinsip kerja semua mesin yang digunakan pada proses cutting
adalah operasi pemotongan material berwalanan dengan arah benang
(coated cord) atau kawat baja (coated steel), kemudian
menyambungnya lagi (joint) dan digulung (wind up).
5. Mesin Bead Making
Mesin bead making terdiri atas mesin stranding, mesin
winding, dan mesin bead covering. Uraian lebih lengkap tentang
mesin bead making ini disajikan sebagai berikut.
a. Mesin Stranding
Mesin ini digunakan untuk melapisi kawat baja dengan compound.
Mesin ini dilengkapi dengan wire heater untuk memanaskan kawat
agar kadar airnya berkurang dan mudah dibentuk, serta bead