PENERBITAN SERTIPIKAT HAK MILIK YANG BERASAL
DARI ALAS HAK SURAT PERNYATAAN YANG KEMUDIAN
DINYATAKAN PALSU
(STUDI KASUS MA NO. 1339/K/PDt/2009)
TESIS
Oleh
DAHLIA ROSARI MELANI SIAHAAN
117011052/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PENERBITAN SERTIPIKAT HAK MILIK YANG BERASAL
DARI ALAS HAK SURAT PERNYATAAN YANG KEMUDIAN
DINYATAKAN PALSU
(STUDI KASUS MA NO. 1339/K/PDt/2009)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan
Dalam Program Studi Kenotariatan Pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
DAHLIA ROSARI MELANI SIAHAAN
117011052/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Tanggal Lulus : 26 Oktober 2013
Telah diuji Pada
Tanggal : 26 Oktober 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Dahlia Rosari Melani Siahaan
Nim : 117011052
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : PENERBITAN SERTIPIKAT HAK MILIK YANG
BERASAL DARI ALAS HAK SURAT PERNYATAAN YANG KEMUDIAN DINYATAKAN PALSU
(STUDI KASUS MA. NO. 1339/K/PDt/2009)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah hasil karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : DAHLIA ROSARI MELANI SIAHAAN
sebagai data yang benar. Dalam kepemilikan sesuatu benda terlebih dahulu orang tersebut harus membuktikan kepemilikan benda tersebut hal ini terdapat didalam Pasal 1865 KUHPerdata. Didalam alas hak atas tanah yang dijadikan dasar penerbitan sertipikat kepemilikan hak atas tanah dikantor pertanahan merupakan alat bukti yang dapat digunakan sebagai alat pembuktian yuridis atas kepemilikan atau penguasaan suatu bidang tanah, baik secara tertulis ataupun berdasarkan keterangan saksi. Penelitian ini menganalisa tentang Putusan MA No. 1339/Pdt/2009 tentang penerbitan sertifikat yang berasal dari alas surat pernyataan yang kemudian dinyatakan palsu.
Pengkajian ini dilakukan dalam bentuk deskriptif analisis dengan metode
pendekatan yuridis normatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (library research). Alat pengumpul data yang dipergunakan dalam penelitian ini dengan studi dokumen atau studi kepustakaan yg dimaksud adalah memperoleh data dengan mempelajari, meneliti dan menganalisa data sekunder dengan mengaitkan pada pokok permasalahan yang ada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,keberadaan surat di bawah tangan sebagai dasar dalam penerbitan Sertifikat Hak Milik tetap diakui dalam peraturan-Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Namun untuk dapat dijadikan sebagai alas hak dalam penerbitan Sertifikat Hak Milik dan dapat memiliki kekuatan pembuktian maka surat di bawah tangan tersebut harus memenuhi prosedur dan persyaratan yang ditentukan dalam Pasal 24 Ayat PP Nomor 24 Tahun 1997. Terhadap kepastian hukum atas tanah Sertifikat Hak Milik yang kemudian dinyatakan palsu oleh pengadilan dan digugat pihak ketiga maka berdasarkan keputusan hakim tanah tersebut merupakan milik pewaris yang sah atas tanah warisan almarhum Djonobi. didalam penerapan putusan Pengadilan Negeri Rengat Nomor 01/PDT/G/2007/PN.RGT dan putusan Mahkamah Agung No. 1339 K/Pdt/2009 sudah
benar dan berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rengat Nomor
01/PDT/G/2007/PN.RGT pihak Tergugat tidak dapat membuktikan tanah yang dimilikinya dari hasil usaha sendiri oleh karenanya surat pernyataan 1 Juli 1993 yang menjadi dasar untuk diterbitkannya sertifikat atas tanah warisan Penggugat adalah tidak sah.
pihak dalam pendaftaran tanah. Bagi hakim Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, maupun bagi hakim di Mahkamah Agung setidaknya lebih selektif dalam menelaah dan menerapkan setiap isi pasal yang berkaitan dengan sengketa tanah dan secara benar harus mempertimbangkan hukum pertanahan yang ada.
ABSTRACT
A certificate is strong evidence of the right which means that, as long as it cannot be proved either by physical or judicial data attached on it, it has to be accepted as valid data. In the ownership of a certain object, the person has to prove that it is his, as it is stipulated in Article 1865 of the Civil Code. The land rights, used as the issuance of the land ownership certificate in the Land Office, is a proof which can be used as a means of judicial evidence of ownership or the control of a piece of land, either in the written form or based on the witness’ statement. The objective of the research was to analyze the Ruling of the Supreme Court No. 1339/Pdt/2009 on the Issuance of Certificate which comes from a letter of notification which is later considered as forgery.
The analysis was in descriptive analysis, using judicial normative approach. The data were gathered by conducting library research and documentary study in order to obtain the data by studying and analyzing secondary data, relating them to the subject matter of the analysis.
The result of the research shows that the existence of an underhanded letter as the basis for the issuance of an Ownership Certificate is recognized in the Government Regulation No 24/1997 on Land Registration. Nevertheless, in order to be used as the right to issue the Ownership Certificate and to have legal force for evidence, the underhanded letter must meet the procedure and requirement stipulated in Article 24, Paragraph PP No 20/1997. Regarding the legal force for evidence on the land ownership certificate which is considered as forgery by the Court and claimed by the third party, based on the judge’s verdict, the land owned by the valid heir on the land bequeathed by the late Djonobi, based on the Ruling of Rengat District Court No. 01/PDT/G/2007/PN.RGT and the Ruling of the Supreme Court No. 1339 K/Pdt/2009, is valid, and based on the Ruling of Rengat District Court No. 01/PDT/G./2007/PN.RGT, the accused cannot prove that the land is his and from his own effort; therefore, the letter of notification on July 1, 1993 which becomes the basis for the issuance of certificate of the Plaintiff’s inherited land is void.
It is recommended that the government prioritize prudence, thoughtfulness, and carefulness in registering land rights and find firm witnesses if there are other parties who perform their personal interest which can harm other people. In conducting public service in implementing land registration, the management of the Land Office should do it professionally, particularly the underhanded land registration and avoid personal interest in registering land rights. The judges of the District Court, of the Higher Court, and of the Supreme Court should be selective in analyzing and implementing the content of articles related to land dispute and consider rightly the prevailing regulation of land.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah Bapa Tritunggal atas berkat dan kasih-Nya yang sangat melimpah sehingga dengan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan Tesis ini dengan judul “PENERBITAN SERTIPIKAT HAK MILIK YANG BERASAL DARI ALAS HAK SURAT PERNYATAAN YANG KEMUDIAN DINYATAKAN PALSU (STUDI KASUS MA NO. 1339/K/PDt/2009)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn) pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan berupa bimbingan dan arahan sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada dosen komisi pembimbing, yang terhormat Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH., M.S., C.N., Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., C.N., M.Hum., dan Bapak Notaris Dr. Syahril Sofyan, S.H, MKn., dan kepada dosen penguji Ibu, Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., C.N., M.Hum., dan Bapak Dr. Mediasa Ablisar, S.H., M.S., atas bimbingan dan arahaan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini. Selanjutnya diucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, Msc (CTM), Sp. A (K),
selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, serta seluruh Staf atas bantuan, kesempatan dan fasilitas yang diberikan, sehingga dapat diselesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N., selaku Ketua
Program Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., C.N., M.Hum., selaku Sekretaris
Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara.
5. Para pegawai/karyawan pada Program Studi Magister Kenotariatan
(M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang selalu
membantu kelancaran dalam hal manajemen administrasi yang dibutuhkan.
6. Kepada semua rekan-rekan seangkatan mahasiswa Magister Kenotariatan
(M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Universitas Sumatera
Utara.
7. Teristimewa dengan tulus hati diucapkan terima kasih kepada kedua orang
tua penulis yang selalu mengasihi, Ayahanda J. Siahaan dan Ibunda
penulis, demikian juga kepada saudara penulis Jimmy Siahaan yang juga memotivasi bagi penulis.
Akhir kata kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas kebaikan, ketulusan dan dukungan dalam penyelesaian tesis ini. Semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Medan, Oktober 2013
Penulis,
DAFTAR ISI
ABSTRAK……….……….…….……. i
ABSTRACT……….……….….……… iii
KATA PENGANTAR……….……….……... iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP……….……….…….. vi
DAFTAR ISI……….……… vii
DAFTAR SINGKATAN……….….………... xi
DAFTAR ISTILAH……….……… xii
BAB I PENDAHULUAN……….…………... 1
A. Latar Belakang………..……….……….. 1
B. Perumusan Masalah………..……….……..….... 7
C. Tujuan Penelitian………..……….….…... 8
D. Manfaat Penelitian………..………..….…..….... 8
E. Keaslian penelitian……….………….….……… 9
F. Kerangka teori dan konsepsi………..………..….…... 10
1. Kerangka teori………..……….….………. 10
2. konsepsi………..……….……….……… 18
G. Metode penelitian………..………..….… 19
1. Sifat penelitian………..………..…….……... 19
2. Sumber Data………...………..….….…... 20
4. Analisis data ………..……….…….…….…..….... 5
BAB II PENERBITAN SERTIFIKAT HAK MILIK YANG BERASAL DARI ALAS HAK SURAT PERNYATAAN DIBAWAH TANGAN……….………...… 23
A. Dasar Hukum Pendaftaran Tanah Hak Milik………...….……..… 23
B. Syarat-Syarat Dan Prosedur Pendaftaran Tanah Atas Tanah Hak Milik………..……….……..….…... 26
1. Pendaftaran tanah………..……….…… 26
2. Sistem Pendaftaran Tanah………..……….…... 28
3. Objek Pendaftaran Tanah………..………. 32
4. Peralihan Hak Tanah………..………... 34
5. Peralihan Hak Milik Atas Tanah karena Warisan………..…….….... 35
6. Pembatalan Hak Atas Tanah………..……….…….... 38
C.Penerbitan Sertifikat Berdasar Alas Hak Dibawah tangan……… 40
D.Sertifikat Sebagai Bukti Hak Dasar………..……….……… 43
1. Jenis Pembuktian Hak Atas Tanah………..……….... 45
2. Macam-Macam Alat Bukti………..……….….. 48
A. Kepastian Hukum Setifikat Hak Milik Atas Tanah………..…….…….. 54
B. Tugas dan Fungsi Badan Pertanahan Indonesia ………..……….….…. 56
C. Perlindungan Hukum terhadap Pihak Yang Beritikad Baik………..….. 58
D. Peranan Pengadilan dalam Memutuskan Siapa yang Berhak
Atas Tanah Tersebut………..……….. 61
E. Tanggung Jawab Badan Pertanahan Nasional………..………... 63
BAB IV KEDUDUKAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR
1339/Pdt/2009……….………. 65
A. Analisis Kasus dan Dasar Pertimbangan
Hukum Hakim………..………... 65
1. Posisi Kasus dan Dasar PertimbanganHukum Hakim………. 65
2. Analisis Kasus………..……… 82
1) Dasar Penerbitan Sertipikat Hak Milik Yang berasal
dari Alas Hak Surat Pernyataan yang diBuat
diBawah Tangan………..……… 82
2) Kepastian hukum atas tanah Sertifikat Hak Milik
yang kemudian dinyatakan palsu oleh pengadilan
dan digugat pihak ketiga………..………... 87
3) Kedudukan putusan Mahkamah AgungNomor
1339/K/Pdt/2009 dalam aspek hukum tanah nasional…………. 90
B. Upaya Penyelesaian Sengketa Atas Tanah Hak Milik………..………... 93
2. Penyelesaian Melalui Peradilan………..……….…... 99
3. Penyelesaian Kasus Pertanahan di Luar Pengadilan………..……… 101
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……….…….103
A. Kesimpulan………..………..…..103
B. Saran………..………..……….105
DAFTAR SINGKATAN
BPN : Badan Pertanahan Nasional
BPN RI : Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia
HGB : Hak Guna Bangunan
HGU : Hak Guna Usaha
HM : Hak Milik
LN : Lembaran Negara
Keppres : Keputusan Presiden
PP : Peraturan Pemerintah
Perpres : Peraturan Presiden
PMNA : Peraturan Menteri Negara Agraria
UUPA : Undang-undang Pokok Agraria atau Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria
WNA : Warga Negara Asing
Daftar Istilah
Contradictoir : Berlawanan
Fetelijke vermoeden : Persangkaan berdasarkan kenyataan atau fakta tentang kejadian itu.
Inkracht van gewijsde : Kekuatan keputusan yang sudah pasti/tetap.
Land use control : Penatagunaan tanah.
Land tenure/and occupation : Pengaturan penguasaan tanah.
Library Research: Penelitian kepustakaan.
Plus juris transfere potest quam ipso hebber: tidak seorang pun dapat mengalihkan/ memberikan sesuatu kepada orang melebihi hak miliknya atau apa yang dia punyai.
Rechtsverwerking : Seseorang tidak dapat menuntut haknya apabila dalam jangka waktu 5 tahun sejak diterbitkannya sertifikat tersebut.
Rechtskadaster : Pendaftaran tanah yang diselenggarakan dengan tujuan untuk menja min kepastian hukum atau kepastian hak.
Rights on land : Pengaturan hak-hak atas tanah.
Testimonium de auditu : Keterangan yang saksi peroleh dari orang lain, ia tidak mendengarnya atau mengalaminya sendiri, hanya ia dengar dari orang lain tentang kejadian itu.
Universal Declaration Of Human Rights : Hak Asasi Manusia
sebagai data yang benar. Dalam kepemilikan sesuatu benda terlebih dahulu orang tersebut harus membuktikan kepemilikan benda tersebut hal ini terdapat didalam Pasal 1865 KUHPerdata. Didalam alas hak atas tanah yang dijadikan dasar penerbitan sertipikat kepemilikan hak atas tanah dikantor pertanahan merupakan alat bukti yang dapat digunakan sebagai alat pembuktian yuridis atas kepemilikan atau penguasaan suatu bidang tanah, baik secara tertulis ataupun berdasarkan keterangan saksi. Penelitian ini menganalisa tentang Putusan MA No. 1339/Pdt/2009 tentang penerbitan sertifikat yang berasal dari alas surat pernyataan yang kemudian dinyatakan palsu.
Pengkajian ini dilakukan dalam bentuk deskriptif analisis dengan metode
pendekatan yuridis normatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (library research). Alat pengumpul data yang dipergunakan dalam penelitian ini dengan studi dokumen atau studi kepustakaan yg dimaksud adalah memperoleh data dengan mempelajari, meneliti dan menganalisa data sekunder dengan mengaitkan pada pokok permasalahan yang ada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,keberadaan surat di bawah tangan sebagai dasar dalam penerbitan Sertifikat Hak Milik tetap diakui dalam peraturan-Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Namun untuk dapat dijadikan sebagai alas hak dalam penerbitan Sertifikat Hak Milik dan dapat memiliki kekuatan pembuktian maka surat di bawah tangan tersebut harus memenuhi prosedur dan persyaratan yang ditentukan dalam Pasal 24 Ayat PP Nomor 24 Tahun 1997. Terhadap kepastian hukum atas tanah Sertifikat Hak Milik yang kemudian dinyatakan palsu oleh pengadilan dan digugat pihak ketiga maka berdasarkan keputusan hakim tanah tersebut merupakan milik pewaris yang sah atas tanah warisan almarhum Djonobi. didalam penerapan putusan Pengadilan Negeri Rengat Nomor 01/PDT/G/2007/PN.RGT dan putusan Mahkamah Agung No. 1339 K/Pdt/2009 sudah
benar dan berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rengat Nomor
01/PDT/G/2007/PN.RGT pihak Tergugat tidak dapat membuktikan tanah yang dimilikinya dari hasil usaha sendiri oleh karenanya surat pernyataan 1 Juli 1993 yang menjadi dasar untuk diterbitkannya sertifikat atas tanah warisan Penggugat adalah tidak sah.
pihak dalam pendaftaran tanah. Bagi hakim Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, maupun bagi hakim di Mahkamah Agung setidaknya lebih selektif dalam menelaah dan menerapkan setiap isi pasal yang berkaitan dengan sengketa tanah dan secara benar harus mempertimbangkan hukum pertanahan yang ada.
ABSTRACT
A certificate is strong evidence of the right which means that, as long as it cannot be proved either by physical or judicial data attached on it, it has to be accepted as valid data. In the ownership of a certain object, the person has to prove that it is his, as it is stipulated in Article 1865 of the Civil Code. The land rights, used as the issuance of the land ownership certificate in the Land Office, is a proof which can be used as a means of judicial evidence of ownership or the control of a piece of land, either in the written form or based on the witness’ statement. The objective of the research was to analyze the Ruling of the Supreme Court No. 1339/Pdt/2009 on the Issuance of Certificate which comes from a letter of notification which is later considered as forgery.
The analysis was in descriptive analysis, using judicial normative approach. The data were gathered by conducting library research and documentary study in order to obtain the data by studying and analyzing secondary data, relating them to the subject matter of the analysis.
The result of the research shows that the existence of an underhanded letter as the basis for the issuance of an Ownership Certificate is recognized in the Government Regulation No 24/1997 on Land Registration. Nevertheless, in order to be used as the right to issue the Ownership Certificate and to have legal force for evidence, the underhanded letter must meet the procedure and requirement stipulated in Article 24, Paragraph PP No 20/1997. Regarding the legal force for evidence on the land ownership certificate which is considered as forgery by the Court and claimed by the third party, based on the judge’s verdict, the land owned by the valid heir on the land bequeathed by the late Djonobi, based on the Ruling of Rengat District Court No. 01/PDT/G/2007/PN.RGT and the Ruling of the Supreme Court No. 1339 K/Pdt/2009, is valid, and based on the Ruling of Rengat District Court No. 01/PDT/G./2007/PN.RGT, the accused cannot prove that the land is his and from his own effort; therefore, the letter of notification on July 1, 1993 which becomes the basis for the issuance of certificate of the Plaintiff’s inherited land is void.
It is recommended that the government prioritize prudence, thoughtfulness, and carefulness in registering land rights and find firm witnesses if there are other parties who perform their personal interest which can harm other people. In conducting public service in implementing land registration, the management of the Land Office should do it professionally, particularly the underhanded land registration and avoid personal interest in registering land rights. The judges of the District Court, of the Higher Court, and of the Supreme Court should be selective in analyzing and implementing the content of articles related to land dispute and consider rightly the prevailing regulation of land.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tanah adalah suatu benda bernilai ekonomis, dan menjadi kebutuhan untuk
pembangunan di Indonesia. Dengan meningkatnya jumlah penduduk indonesia yang
setiap tahun menunjukkan angka kelahiran yang terus meningkat,maka kebutuhan
akan tempat tinggal khususnya tanah semakin meningkat. Hal itulah yang terus
berkembang hingga munculnya pokok pikiran yang sangat mendasar ditengah
masyarakat yang keseluruhannya menggambarkan bagaimana pentingnya tanah bagi
kehidupan manusia itu.
Begitu eratnya kaitan manusia dengan tanah maka diperlukan upaya
pemeliharaan hubungan yang harmonis, antara keduanya didasari persamaan
pandangan hubungan yang abadi antara manusia dengan tanah, juga sekaligus sebagai
tanda syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, supaya tumbuh secara individual
maupun komunal.1
Pentingnya hubungan manusia dengan tanah telah mendorong upaya negara-negara diseluruh dunia supaya dapat melindungi kepemilikan hak atas tanah,
contohnya Universal Declaration Of Human Rights tahun 1948 menyebutkan bahwa,
“setiap orang mempunyai hak untuk memiliki lahan atau bersama dengan orang lain”, selanjutnya dinyatakan pula, “tidak seorangpun boleh dilanggar haknya secara
semena-mena.”2
1
S. Chandra, Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Sertifikat Hak Atas Tanah, Medan, Pustaka Bangsa Press, 2006, halaman 1.
2
Arti penting tanah bagi manusia sebagai individu maupun negara sebagai
organisasi masyarakat yang tertinggi,diatur dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang
Dasar 1945 yang menyatakan bahwa:
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”
Selain itu Kebijaksanaan mengenai tanah oleh pemerintah telah diatur dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Daerah Pokok-pokok Agraria atau dikenal dengan UUPA yang berlaku sebagai Induk dari segenap peraturan pertanahan di Indonesia bertujuan:
a. Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, yang akan
merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur.
b. Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan
dalam hukum pertanahan.
c. Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai
hak-hak atas tanah bagi rakyatnya.3
Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak dijumpai pengusaan tanah oleh
sekelompok orang yang dapat merugikan rakyat, hal ini sangat bertentangan dengan
tujuan landreform dan menimbulkan masalah khususnya tentang pembuktian
pengusaan tanah, karena masih banyak tanah yang belum terdaftar dan tidak jelas
kepemilikkan dan penggunaannya, oleh karena itu dengan adanya peningkatan
masyarakat pentingnya arti tanah meningkat juga mengenai kebutuhan jaminan
kepastian hukum dibidang pertanahan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 19 ayat
(1) UUPA:
3
“Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran
tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan
yang diatur dengan peraturan pemerintah”.
Jaminan kepastian hukum tersebut meliputi: jaminan kepastian mengenai
orang atau badan hukum yang menjadi pemegang hak (subjek hak atas tanah),
jaminan kepastian hukum mengenai letak, batas, dan luas suatu bidang tanah (objek
hak atas tanah) dan jaminan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanahnya.
Jaminan kepastian hak dibidang pertanahan itu terlihat pada:
a. Tersedianya perangkat hukum yang tertulis lengkap dan jelas;
b. Para pemegang hak atas tanah mudah membuktikan haknya atas tanah tersebut;
c. Para pihak yang berkepentingan misalnya calon pembeli, kreditur dan lain-lain
mudah untuk memperoleh keterangan yang diperlukan.
Selain melalui Undang-Undang Dasar suatu negara yang menyatakan negara
tersebut sebagai negara hukum, juga yang lebih penting bagaimana pelaksanaan
penegakan hukum itu ditengah masyarakat. Kesadaran hukum itu tidak akan tumbuh
dan berkembang baik tanpa ada upaya yang dilakukan pemerintah bersama-sama
dengan rakyat atas hasil tersebut.
Agraria, tetapi lebih dari itu ia menjadi tulang punggung yang mendukung
berjalannya administrasi pertanahan dan hukum pertanahan.4
Berdasarkan uraian tersebut dapat digambarkan bahwa ketika negara terpaksa
harus menghapus hubungan hukum antara orang dengan tanah seyogyanya dilakukan
secara patut melalui suatu pranata perlindungan hukum yang jelas, tegas dan
berkepastian hukum, berkeadilan dan bermanfaat, supaya kesejahteraan dan
kemakmuran yang dicita-citakan menjadi nyata.5
Namun seiring berkembangnya jaman, secara detail isi dari peraturan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah memang banyak yang sudah tidak sesuai lagi, akan tetapi secara prinsip sebenarnya masih ada hal yang perlu dipertahankan mengingat banyak berkaitan dengan sendi dasar hukum pertanahan yang digariskan dalam Undang-Undang Pokok Agraria. Selain dari pada itu, apapun perubahan yang dilakukan diharapkan tidak akan mempersulit warga masyarakat yang ingin mendapatkan kepastian hukum dan kepastian hak atas
tanahnya.6
Dalam tesis ini terdapat kasus pertanahan melalui studi kasus dari Putusan
Mahkamah Agung Nomor 1339 K/Pdt/2009 terkait dengan penerbitan sertifikat hak
milik yang berasal dari alas hak surat pernyataan dinyatakan palsu.
walaupun dilakukan berbagai kegiatan penyelenggaraan pendaftaran tanah
dan penerapan peraturan perUndang-Undangan guna memberikan kepastian hukum
pertanahan bagi masyarakat, masih ada saja sengketa yang terjadi, yang dalam ini
dapat dilihat didalam kasus-kasus pertanahan, seperti kasus sertifikat ganda,
penyerobotan tanah, dan kasus akta dibawah tangan yang dinyatakan palsu.
4
Abdurrahman, Kedudukan Hukum Adat dalam PerUndang-Undangan Agraria,: Akademika Presindo, Jakarta 1984.
5
Moh. Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia, PT. Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta, 1998, Hal 346.
6
Dalam Putusan Pengadilan Negeri Rengat Nomor 01/Pdt.G/2007/PN.RGT
disebutkan bahwa Penggugat adalah ahli waris atau anak kandung dari almarhum
Djonobi yang terdiri dari: Hj. Fatimah Hadijah (Penggugat I), Amin Halimah
(Penggugat II), Hamzah Djonobi (Penggugat III) menggugat Terggugat dengan surat
gugatan pada tanggal 23 Januari 2007 ke Pengadilan Negeri Rengat yang terdiri dari
Sri Aminah (Alm) dalam hal ini diwakili ahli warisnya Badriaty Umar dan Nurhayati
Lisbar yang selanjutnya disebut sebagai (Tergugat I), Badriaty Umar (Tergugat II),
Nurhayati Lisbar (Tergugat III), Dian Pratiwi (Tergugat IV), Diah Monalisa
(Tergugat V), Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini didampingi kuasanya
Martinus, SH kepala seksi konflik dan perkara, Mashuri Husin, A. Ptnh Kepala Seksi
Hak Tanah dan Pendaftaran Hak dan Ari Wahyudi, S. ST Kepala Seksi Sengketa dan
Konflik Pertanahan Kabupaten Kuantan Singingi (Tergugat VI) dan Abas (Tergugat
VII).
Dalam hal ini yang menjadi objek sengketa adalah tanah warisan dari
almarhum Djonobi, tanah tersebut berasal dari jual beli tanah kebun (dahulu disebut
kebun getah para) di Taluk Kuantan yang dilakukan almarhum semasa hidupnya
dengan Oemar Amin Hoesin tertanggal 1 Oktober 1956 yang diawali surat dasar jual
beli Nomor 2/1939 dan setelah Djonobi meninggal,kebun tersebut diurus oleh Hasan
anak almarhum Djonobi, semasa hidupnya almarhum Hasan pernah menyuruh orang
untuk memotong/menyadap karet tersebut yaang hasilnya 1/3 (sepertiga) bagian
untuk almarhum Hasan (di Taluk disebut bagian pangkal) dan 2/3 (dua pertiga) untuk
tersebut diambil oleh Tergugat alm. Sri Aminah sudah bercerai dengan suaminya
yang masih berhubungan keluarga dengan almarhum Djonobi dengan alasan
memerlukan biaya untuk menghidupi dua orang anaknya yaitu Badri Ati Umar dan
Nurhayati Lisbar sehingga almarhum diperbolehkan oleh pewaris untuk
memotong/menyadap bagian pangkal karet tersebut. Namun pada pertengahan 2002,
para ahli waris menggali tanah warisan tersebut untuk dijual sebagai tanah timbun,
dan baru beberapa bulan penggalian tersebut dilakukan, Kapolsek Taluk Kuantan
memanggil para ahli waris atas laporan dari pihak Tergugat dan belakangan ini pihak
ahli waris mengetahui bahwa para Tergugat tanpa sepengetahuan Penggugat telah
mensertifikatkan tanah kebun warisan milik ahli waris dengan sertifikat hak milik
masing-masing dengan sertifikat hak milik Nomor 5906 atas nama Tergugat I,
sertifikat hak milik Nomor 5908, atas nama Tergugat II, sertifikat hak milik Nomor
5904 atas nama Tergugat III, sertifikat hak milik Nomor 5905 atas nama Tergugat IV,
sertifikat hak milik Nomor 5907 atas nama Tergugat V. Setelah dipertanyakan oleh
ahli waris ke Kantor Pertanahan Kabupaten Kuantan Singingi dan Kantor Pertanahan
Rengat (dahulunya tanah terperkara termasuk wilayah BPN Rengat) ternyata surat
dasar yang digunakan para Tergugat untuk mensertifikatkan tanah kebun karet
warisan milik ahli waris adalah dengan membuat surat pernyataan pada tanggal 1 Juli
1993 dimana pada surat pernyataan tersebut disebutkan bahwa para Tergugat I, II, III,
IV, V memperoleh tanah tersebut dari hasil usaha sendiri.
Berdasarkan hal diatas maka dalam Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru
Pengadilan Negeri Rengat Nomor 01/Pdt.G/2007/PN.RGT dengan menimbang
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Pasal 32 ayat (2) yang
menyebutkan sebagai berikut:
“Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasai, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (Lima) tahun sejak diterbitkannya sertifikat itu telah tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan kepada kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah
penerbitan sertifikat tersebut” .7
Sedangkan dalam Putusan Mahkamah Agung Repuplik Indonesia Nomor
1339 K/Pdt/2009 tanggal 21 Juli 2010 yang telah membatalkan putusan Pengadilan
Tinggi Pekanbaru Nomor 73/Pdt/2008/PTR.8
B. Rumusan Masalah
Maka berdasarkan uraian yang melatar belakangi masalah diatas, sehingga
dilakukan penelitian dengan “ Penerbitan Sertipikat Hak Milik Yang Berasal Dari
Alas Hak Surat Pernyataan Yang Kemudian Dinyatakan Palsu (Studi Kasus
Mahkamah Agung Nomor1339 K/Pdt/2009)
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan
beberapa tujuan dari penelitian ini yaitu:
1. Apakah alas hak surat pernyataan yang dibuat dibawah tangan dapat digunakan
sebagai dasar penerbitan sertifikat hak milik?
7
Putusan PT.R Nomor 73/PDT/208/PT.R.
8
2. Bagaimana kepastian hukum atas tanah sertifikat hak milik yang kemudian
dinyatakan palsu oleh Pengadilan dan digugat pihak ketiga?
3. Bagaimana kedudukan putusan Mahkamah Agung Nomor 1339/K/Pdt/2009
dalam aspek hukum tanah nasional?
C . Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. untuk mengetahui alas hak yang dibuat dibawah tangan dapat digunakan sebagai
dasar penerbitan sertifikat hak milik?
2. Untuk mengetahui kepastian hukum atas tanah sertifikat hak milik yang
kemudian dinyatakan palsu oleh Pengadilan dan digugat pihak ketiga.
3. Untuk mengetahui kedudukan putusan Mahkamah Agung Nomor dalam aspek
hukum tanah nasional.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan ini dibedakan dalam manfaat teoritis
dan manfaat praktis yaitu:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan
bagi perkembangan ilmu hukum dan memberikan sumbangan pemikiran dalam
memperbanyak referensi ilmu hukum khususnya bidang hukum agraria mengenai
penyelesaian sengketa hukum pertanahan berkaitan dengan adanya penerbitan
sertipikat tanah dengan berdasarkan surat pernyataan.
2. Secara praktis, sebagai bahan masukan bagi pembuat Undang-Undang di bidang
hukumnya sehingga mengurangi terjadinya sengketa pertanahan. Selain itu
sebagai langkah bahan informasi bagi pelaksana kebijakan dalam mengambil
langkah-langkah perumusan kebijakan pertanahan di Indonesia.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang telah diberikan oleh pihak civitas akademika dan
penelusuran kepustakaan yang telah dilakukan dilingkungan Universitas Sumatera
Utara, maka penelitian dengan judul Penerbitan Sertipikat Hak Milik Yang Berasal
Dari Alas Hak Surat Pernyataan yang Kemudian Dinyatakan Dinyatakan Palsu (Studi
Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 1339 K/Pdt/2009). Belum pernah ada yang
meneliti, tetapi pernah penelitian sebelumnya yang membahas tentang pemalsuan
yaitu:
1. Aminagia Femindonta, Nim: 067011017, Mahasiswa program Studi Magister
Kenotariatan, Fakultas Hukum, Pascasarjana Universitas Sumatera Utara,
dengan judul: “ Kajian Yuridis Atas Keberadaan Sertifikat Ganda Dan
Sertifikat Palsu : Peneliltian Di Kantor Pertanahan Kota Medan”
2. Dyna Filisia, Nim: 107011123, Mahasiswa program Studi Magister
Kenotariatan, Fakultas Hukum, Pascasarjana Universitas Sumatera Utara,
dengan judul: “Tinjauan Yuridis Pembatalan Pernikahan Akibat
Dokumen/Keterangan Palsu Dalam Akta (Studi Putusan Pengadilan Agama
Medan No 776/PDT.G/2009/PA/Mdn”
3. Muhammad Din Al Fajar, Nim: 107005015, Mahasiswa program Studi
Utara, dengan judul: “Analisa Terhadap Penempatan Keterangan Palsu Dalam
Akta Otentik (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor
3036/Pid.B/2009/PN.Mdn)”
4. Yusnani, Nim: 057011100, Mahasiswa program Studi Magister Kenotariatan,
Fakultas Hukum, Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, dengan judul:
“Analisis Hukum Terhadap Akta Otentik Yang Mengandung Keterangan Palsu
Yang Dibuat Oleh Notaris”.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Didalam suatu penelitian diperlukan suatu dasar kerangka teori guna
dimaksudkan untuk mengemukakan beberapa teori berdasarkan pemaparan yang ada
kaitannya dengan permasalahan dalam penulisan penelitian sehingga diharapkan
dapat melahirkan suatu pemikiran yang dapat diterima sebagai suatu landasan
berfikir.
Kerangka teori dapat diartikan sebagai kerangka pemikiran atau butir-butir
pendapat, tesis sipenulis mengenai sesuatu kasus atau pun permasalahan(problem,
yang menjadi bahan perbandingan, pegangan yang mungkin disetujui, yang
merupakan masukan eksternal dalam penelitian ini.9
9
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori,
thesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan,
pegangan teoritis. 10
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala
spesifik atau proses tertentu terjadi11
Teori Hukum adalah sebagai penunjang bagi hukum positif dalam
memberikan penjelasan, perumusan-perumusan tentang pengertian-pengertian pokok
dan sistem hukum positif.
, teori tersebut harus diuji dengan menghadapkan
pada fakta yang ada yang dapat menunjukkan kebenarannya.
12
Menurut W. L. Neuman, yang pendapatnya dikutip dari Otje Salman dan Anton F. Susanto, yang menyebutkan bahwa: “ teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan mengorganisasi pengetahuan tentang dunia. Ia adalah cara
yang ringkas untuk berfikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja”.13
10
Ibid. Hal.80
11
J.J.J.M. Wuisman, dengan penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid 1, FE UI, Jakarta, 1996, hal.16
12
M.L Tobing, Sekitar Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1983, hal 62
13
HR. Otje dan Anton F. Susanto,Teori Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2005),Hal.22 Teori kepastian hukum merupakan salah satu penganut aliran positivisme
yang lebih melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom dalam bentuk peraturan
tertulis, sehingga kepastian hukum dalam melegalkan kepastian hak dan kepastian
seseorang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum,
dimana teori ini menjelaskan suatu pendaftaran tanah harus mempunyai kekuatan
hukum yang pasti dengan segala akibatnya dapat dipertanggung jawabkan menurut
Van Kan berpendapat bahwa tujuan hukum adalah menjaga setiap
kepentingan manusia agar tidak diganggu dan terjamin kepastiannya.14
Tugas untuk melakukan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Indonesia
dibebankan kepada pemerintah yang oleh Pasal 19 ayat (1) UUPA ditentukan
bertujuan tunggal, yaitu untuk menjamin kepastian hukum.
Perdamaian diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi
kepentingan-kepentingan hukum manusia tertentu, kehormatan, kemerdekaan jiwa,
serta harta benda terhadap pihak-pihak yang merugikannya.
15
1. Kepastian mengenai orang/badan hukum yang menjadi pemegang hak atas
tanah tersebut. Kepastian berkenaan dengan siapakah pemegang hak atas tanah itu disebut dengan kepastian mengenai subjek hak atas tanah.
Adapun kepastian hukum yang dimaksud adalah meliputi:
2. Kepastian mengenai letak tanah, batas-batas tanah, panjang dan lebar tanah.
Kepastian berkenaan dengan letak, batas-batas dan panjang serta lebar tanah itu
disebut dengan kepastian mengenai objek hak atas tanah.16
Penempatan tanah sebagai sumber kesejahteraan dan kemakmuran seluruh Rakyat Indonesia memerlukan jaminan kepastian dan perlindungan hukum dari negara. Dalam rangka memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum hak milik atas tanah, sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah, pemerintah wajib mendaftar seluruh bidang tanah diwilayah
Indonesia baik dengan pendekatan sistematis maupun sporadis.17
Didalam butir kelima Pancasila berbunyi: “keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”,merupakan filosofi atau nilai dasar Bangsa Indonesia dan telah menjadi sumber berbagai regulasi pengaturan perlindungan hukum hak atas tanah
14
Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006, Hal. 74
15
Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, CV. Mandar Maju, Bandung 2008, Hal. 167.
16
Bachtiar Effendie, Pendaftaran Tanah Di Indonesia Dan peraturan Pelaksanaannya, Alumni, Bandung, 1993, hal 20-21.
17
diIndonesia. Filosofi keadilan sosial tersebut secara operasional juga telah dirumuskan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945, “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Sehingga juga telah menjadi sumber rujukan pengaturan perlindungan hukum kepemilikan hak atas tanah untuk tujuan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam upaya untuk memberi perlindungan hukum terhadap pemegang sertipikat hak atas tanah itu maka Undang-Undang Pokok Agraria telah mewajibkan kepada pemerintah supaya melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah diseluruh Wilayah Republik Indonesia, yang dalam kegiatannya baik dilaksanakan secara sistematik maupun sporadik dengan menyerahkan sertipikat hak atas tanah sebagai alat bukti
yang kuat bagi pemegangnya.18
a. Pendaftaran awal yang mendaftarkan hak-hak atas tanah untuk pertama kali dan
harus dipelihara atau ajudikasi;
Pendaftaran Tanah atau dalam literatur sering disebut land record atau juga
cadastral merupakan bagian dari masalah keagrariaan. Masalah keagrariaan memang
tidak hanya terdiri dari pendaftaran tanah, melainkan juga meliputi: pengaturan
hak-hak atas tanah atau rights on land atau land ownership, penatagunaan tanahatau land
use control, dan pengaturan penguasaan tanahatau land tenure/and occupation.
Menurut A.P. Parlindungan, pendaftaran sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 butir 1 peraturan pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dipertegas sebagai berikut:
b. Pendaftaran hak-hak karena adanya mutasi hak, ataupun adanya pengikatan
jaminan hutang dengan tanah sebagai agunan dan pendirian hak baru atau Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Hak Milik;
c. Hak-hak yang timbul dari rumah susun dan bagian-bagian dari rumah susun;
d. Pendaftaran tersebut meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan
penyajian serta memelihara data fisik dan yuridis.19
Sebagai bagian dari proses pendaftaran tanah, sertifikat sebagai alat bukti hak
atas tanah terkuat pun diterbitkan.20
18
Moh. Mahfud MD, Op.cit., Hal 346.
19
A.P Parlindungan, Op. Cit, Hal. 73.
20
Dengan melakukan pendaftaran tanah maka masyarakat perorangan maupun
badan hukum akan mendapatkan sertifikat tanah, sesuai ketentuan Pasal 32 ayat (1)
UUPA, sertifikat merupakan tanda bukti hak yang kuat dalam arti selama tidak dapat
dibuktikan baik data fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya harus diterima
sebagai data yang benar.
Dalam kepemilikan sesuatu benda terlebih dahulu orang tersebut harus
membuktikan kepemilikan benda tersebut hal ini terdapat didalam Pasal 1865
KUHPerdata yang menegaskan bahwa:
“Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna
meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain,
menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau
peristiwa tersebut.21
21
Pasal 1865 KUHPerdata
Berdasarkan isi pasal tersebut maka jelaslah bahwa dalam suatu peristiwa
yang menimbulkan hak harus dibuktikan terlebih dahulu sehingga terdapat alas hak
kepemilikan hak atas benda tersebut. Seseorang yang tidak dapat membuktikan
kepemilikan tersebut maka hak atas kebendaan tersebut tidak dapat memiliki benda
tersebut dan pada prinsipnya, yang harus dibuktikan adalah semua peristiwa serta hak
yang dikemukakan oleh salah satu pihak yang kebenarannya dibantah oleh pihak lain
hal ini sesuai dengan PP 24 tahun 1997 tentang stelsel negatif yang bertendensi
Dengan sistem publikasi atau sistem pendaftaran tanah dalam Peraturan 24
tahun 1997 yang bertujuan memberikan jaminan kepastian hukum dibidang
pertanahan dan sistem publikasinya adalah sistem negatif yang mengandung
unsur-unsur positif , yang menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai
alat bukti yang kuat seperti yang dinyatakan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c, dan
Pasal 23 ayat (2) UUPA, serta Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24
Tahun 1997.
Sertifikat tanah berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat atas pemegang
sebidang tanah, yang dimaksud kuat mengandung arti bahwa sertifikat tanah tidaklah
merupakan alat bukti yang mutlak satu-satunya, jadi sertifikat tanah menurut sistem
pendaftaran tanah yang dianut UUPA masih dibuktikan di Pengadilan Negeri bahwa
sertifikat tanah tersebut yang dipersengketakan adalah tidak benar.22
Dilihat dari pemberian jaminan dengan surat-surat tanda bukti hak atas tanah,
sebagai alat pembuktian maka dikenal 2 (dua) macam sistem, yaitu sistem negatif dan
sistem positif. Pada sistem negatif bahwa sertifikat tersebut hanya dipandang sebagai
bukti permulaan hak atas tanahnya, atau sertifikat sebagai salah satu alat pembuktian
yang kuat, sehingga setiap orang dapat mempersoalkannya kembali, apabila
dibandingkan perlindungan yang diberikan kepada pihak ketiga. Sipemilik tanah
dapat menggugat haknya atas sebidang tanah dari mereka yang terdaftar pada
kadaster. Dengan mengandung unsur positif, untuk memberikan jaminan kepastian
22
hukum kepada pihak yang dengan itikad baik menguasai sebidang tanah yang didaftar
sebagai pemegang hak dalam buku tanah dan dengan terbitnya sertifikat sebagai alat
bukti yang kuat.kepada yang memperoleh hak atas Tanah akan diberikan jaminan
lebih kuat, pihak ketiga harus percaya dan tidak perlu khawatir bila suatu saat ketika
mereka yang tercatat dalam daftar umum akan kehilangan haknya atau dirugikan.
Indonesia menganut sistem pendaftaran tanah sistem negatif bertendensi positif.
Dalam sitem ini apabila tidak benar maka dapat diubah dan dibatalkan.
Didalam alas hak atas tanah yang dijadikan dasar penerbitan sertipikat
kepemilikan hak atas tanah dikantor pertanahan merupakan alat bukti yang dapat
digunakan sebagai alat pembuktian yuridis atas kepemilikan atau penguasaan suatu
bidang tanah, baik secara tertulis ataupun berdasarkan keterangan saksi.
Pada proses pembuktian mengisyaratkan adanya alat bukti hak secara tertulis
atau pernyataan tertulis dengan sesuatu title melalui penguasaan tanah secara nyata
dan itikad baik yang tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat setempat, kemudian dikuatkan dengan keterangan saksi-saksi sesuai ketentuan Pasal 1866 Kitab Undang-Undang Hukum perdata, yang menyatakan bahwa hak dapat dibuktikan melalui:
a. Alat bukti tertulis,
b. Alat bukti saksi-saksi,
c. Alat bukti pengakuan, dan
d. Alat bukti sumpah.23
Selain itu alat bukti yang lainnya adalah alat bukti persangkaan, dalam suatu
perkara masing-masing pihak dapat meminta kepada hakim, supaya pihak lawannya
diperintahkan menyerahkan surat-surat yang menjadi kepunyaan bersama antara
23
pihak lawan, mengenai hal yang sedang dalam persengketaan dan berada dipihak
lawannya itu. Hal ini sesuai dengan Pasal 1915 KUHPerdata yang isinya:
“Persangkaan-persangkaan ialah kesimpulan-kesimpulan yang oleh
Undang-Undang atau oleh Hakim ditariknya dari suatu peristiwa yang terkenal kearah
suatu peristiwa yang tidak terkenal”.24
Dalam kamus hukum alat bukti ini disebut vermoeden yang berarti dugaan
atau presumptie, berupa kesimpulan yang ditarik oleh Undang-Undang atau oleh
hakim dari suatu hal atau tindakan yang diketahui, kepada halatau tindakannya yang
belum diketahui.25
Di dalam hukum juga telah diatur bahwa dalam persoalan perdata, surat/bukti tulisan merupakan bukti yang pertama dan utama. Hal ini sesuai dengan pendapat R. Subekti menyebutkan bahwa pada asasnya didalam persoalan perdata alat bukti yang berbentuk tulisan itu merupakan alat bukti yang diutamakan atau alat bukti yang
Nomor satu jika dibandingkan dengan alat-alat bukti lainnya.26
Dari ketentuan pasal diatas diketahui bahwa baik tulisan autentik atau tulisan
dibawah tangan oleh hukum keduanya diakui sebagai alat bukti tertulis bagi
pemegang surat tersebut. Surat sebagai alat bukti tertulis dapat dibedakan dalam akta
dan surat bukan akta.
Pada Pasal 1867 KUHPerdata menyebutkan bahwa:
“Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan autentik atau dengan
tulisan dibawah tangan”.
M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata,Jakarta: Sinar Grafika, 2004, Hal: 684
26
R. Subekti, Hukum Pembuktian, Jakarta: Pradnya Paramitha, 1987, Hal. 7
27
Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian sedangkan akta itu sendiri terdiri dari akta otentik dan akta dibawah tangan. Menurut UU Nomor 5/1986 Pasal 101 bahwa surat sebagai alat bukti terdiri atas:
1. akta otentik yaitu surat yang dibuat oleh atau dihadapan seseorang pejabat
umum,yang menurut peraturan perUndang-Undangan berwenang membuat surat ini dimaksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa hukum tercantum didalamnya.
2. akta dibawah tangan yaitu surat yang dibuat dan ditanda tangani oleh pihak-pihak
yang bersangkutan dengan maksud untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum didalamnya.
3. surat-surat lain yang bukan akta.28
Akta otentik merupakan suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh
Undang-Undang, dibuat oleh dan dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa
untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya.29
2. Konsepsi
Konsepsi berasal dari bahasa latin Conceptus yang memiliki arti sebagai kegiatan
atau proses berpikir, daya berpikir khususnya penalaran dan pertimbangan. Konsep
adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diartikan sebagai kata yang
menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut
defenisi operasional.30
a. Sertifikat adalah surat keterangan dari orang yang berwenang dan dapat
digunakan untuk keperluan teretntu, atau merupakan tanda bukti yang kuat Oleh karena itu, dalam penelitian ini didefenisikan beberapa
konsep dasar agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan
tujuan yang telah ditentukan, yaitu:
28
http:/. Diakses pada tanggal 21 Maret 2013
29
Lihat Pasal 1868 KUHPerdata.
30
selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya dari data fisik dan data yuridis yang
tercantum didalamnya yang harus diterima sebagai data yang benar.
b. Hak milik ialah hak yang dimiliki seseorang untuk mempergunakan benda
(tanah) atas kuasa dirinya sendiri yang diakui atau atas seizin negara melalui
pihak yang berwenang, atau hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat
dipunyai orang atas tanah, dan dapat beralih atau dialihkan kepada pihak lain.
c. Sertifikat hak milik atas tanah dan/atau bangunan (selanjutnya disebut SHM),
adalah tanda bukti hak atas tanah, yang dikeluarkan oleh Pemerintah dalam
rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah menurut ketentuan Peraturan
Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah.
d. Alas hak ialah dasar penerbitan sertipikat kepemilikan atas tanah yang dapat
dijadikan sebagai alat pembuktian data yuridis atas kepemilikan atau penguasaan
suatu bidang tanah baik data yuridis atas kepemilikan baik secara tertulis ataupun
berdasarkan keterangan saksi.
e. Surat pernyataan adalah surat yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak
yang bersangkutan dengan maksud untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti
tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum didalamnya.
G. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis yaitu penelitian yang akan
serta menganalisis akibat hukum dari Penerbitan Sertifikat Hak Milik yang Berasal
dari Alas Hak Surat Pernyataan yang kemudian Dinyatakan Palsu berdasarkan
keputusan pengadilan Mahkamah Agung Nomor 1339/K/Pdt/2009.
Jenis penelitian yang diterapkan adalah memakai penelitian hukum normatif,
yaitu meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma.31
2. Sumber Data
Penelitian hukum
yuridis normatif bertujuan untuk menganalisis peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang penerbitan sertipikat yang berasal dari surat pernyataan.
Metode pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif yaitu penelitian yang
mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan per
Undang-Undangan yang berlaku sebagai acuan yang berawal dari premis kemudian berakhir
pada suatu kesimpulan khusus sehingga diperoleh pengertian atau makna baru dari
istilah-istilah hukum baru secara teoritis dan praktis.
1) Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat, yakni:
a. Undang-Undang Dasar 1945;
b. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Dasar Pokok Agraria;
c. Kitab Undang- Undang Hukum Perdata;
31
d. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nomor 3
Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksana Peraturan Pemerintah Nomor 24
tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah;
g. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2006 tentang
Badan Pertanahan Nasional;
2) Bahan hukum sekunder adalah bahan yang memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, seperti: hasil-hasil penelitian dan karya ilmiah dari
kalangan hukum, yang berkaitan dengan penelitian ini.
3) Bahan tertier adalah bahan pendukung diluar bidang hukum seperti kamus
ensiklopedia atau majalah yang dapat digunakan untuk melengkapi atau sebagai
data penunjang dari penelitian ini.
3. Teknik dan Alat Pengumpul Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian
kepustakaan (Library Research). Alat pengumpul data yang dipergunakan
dalam penelitian ini dengan studi dokumen atau studi kepustakaan yang
dimaksud adalah memperoleh data dengan mempelajari, meneliti dan
menganalisa data sekunder dengan mengaitkan pada pokok permasalahan yang
ada.
Setelah pengumpulan data dilakukan, maka data tersebut dianalisis secara
kualitatif dengan menganalisa dan mengamati makna data yang diperoleh dan
menghubungkan tiap-tiap data yang diperoleh tersebut dengan ketentuan-ketentuan
maupun asas-asas hukum yang terkait dengan permasalahan yang diteliti. Metode
kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati.32 Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data
kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.33
32
Lexy J. Moleong, Metode Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, Hal 53.
33
Ibid, Hal. 103
Kemudian data
tersebut diolah dianalisis secara kualitatif dan sistematis untuk selanjutnya ditarik
BAB II
PENERBITAN SERTIFIKAT HAK MILIK YANG BERASAL DARI ALAS
HAK SURAT PERNYATAAN DIBAWAH TANGAN
E. Dasar Hukum Pendaftaran Tanah Hak Milik
Dalam rangka penyelenggarakan pendaftaran tanah sebagaimana diamanatkan
oleh Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Dasar Pokok-Pokok Agraria telah
diterbitkan peraturan pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
sebagai Pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran
tanah.
Tujuan ditetapkannya Undang-Undang Dasar pokok Agraria adalah:
1. Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional yang akan
merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat tani, Dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur.
2. Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai
hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.
3. Meletakkn dasar-dasar untuk memeberikan kepastian hukum mengenai
hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.34
Hak milik atas tanah adalah bagian dari hak-hak kebendaan yang dijamin
dalam konstitusi. Dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945
sebagai hasil dari amandemen kedua, dinyatakan sebagai berikut :
Pasal 28 g (1):
“Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa
34
aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”.
(2) Pasal 28 h :
”Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut
tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun”.
Hak milik atas tanah juga diatur didalam KUHPerdata Pasal 571 yang
menyebutkan bahwa:
“Hak milik atas sebidang tanah mengandung di dalamnya kepemilikan atas
segala apa yang ada di atasnya dan di dalam tanah”.
Didalam Undang-Undang pokok Agraria, dasar hukum untuk pemilikan hak milik atas tanah yaitu Pasal 20-27 UUPA:
1. Mempunyai sifat turun temurun;
2. Terkuat dan terpenuh;
3. Mempunyai fungsi social;
4. Dapat beralih atau dialihkan;
5. Dibatasi oleh ketentuan sharing (batas maksimal) dan dibatasi oleh jumlah
penduduk;
6. Batas waktu hak milik atas tanah adalah tidak ada batas waktu selama
kepemilikan itu sah berdasar hukum;
7. Subyek hukum hak milik atas tanah yaitu WNI asli atau keturunan, badan hukum
tertentu.35
Didalam kata “terkuat dan terpenuh” itu bermaksud untuk membedakannya
dengan hak guna-usaha, hak guna-bangunan, hak pakai dan lain-lainnya, yaitu untuk
menunjukkan, bahwa diantara hak-hak atas tanah yang dapat dipunyai orang hak
miliklah yang terkuat dan terpenuh.
Selain itu dasar hukum hak milik adalah Pasal 50 ayat (1) dan Pasal 56 dan ketentuan Konversi Pasal I, II dan VII, dan luar Undang-Undang pokok Agraria
35
hanya merupakan ketentuan pokok, ketentuan lebih lanjut mengenai hak milik selain Undang-Undang pokok agraria adalah:
1) Undang-Undang No 56/Prp/1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian;
2) Peraturan Pemerintah No 24/1997 pengganti Peraturan Pemerintah Nomor
10/1961 tentang Pendaftaran Tanah;
3) Peraturan Menteri Negara Agraria Kepala Badan Pertanahan Nomor 9 Tahun
1999, Tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Hak Milik;
5) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf jo. Peraturan Pemerintah
Nomor 42 Tahun 2006 tentang Wakaf;
6) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun;
7) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nomor 3 Tahun
1999, Tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah Negara yang menggantikan PMDN Nomor 6 Tahun 1972 tentang Pelimpahan Wewenang Pemberian Hak Atas Tanah jo. Keppres Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional
8) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah
beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah.36
Sifat hak atas tanah hak milik meliputi:
a. Dapat dialihkan;
b. Dapat dialihkan kepada ahli waris;
c. Dapat diwakafkan;
d. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 merupakan hak yang
wajib didaftarkan;
e. Turun temurun;
f. Dapat dilepaskan;
g. Jangka waktu tidak terbatas, mengingat sifatnya yang turun temurun.
36
F. Syarat-Syarat Dan Prosedur Pendaftaran Tanah Atas Tanah hak Milik.
1. Pengertian Pendaftaran Tanah
Istilah yang dipergunakan dalam pendaftaran tanah yaitu dikenal dengan
sebutan Rechtskadaster. Rechtskadaster adalah pendaftaran tanah yang diselenggarak
an dengan tujuan untuk menjamin kepastian hukum atau kepastian hak. Dari
Rechtskadaster dapat diketahui asal-usul tanah, jenis haknya, siapa yang empunyanya
, letak, luas dan batas-batasnya, dimana data-data tersebut dikumpulkan
dalamdaftar-daftar yang sudah tersedia untuk disajikan bagi pemilik tanah.
Kegiatan Rechtskadaster meliputi :
a. Pengukuran dan pemetaan (tehnis kadaster);
b. Pembukuan hak (kegiatan di bidang yuridis);
c. Pemberian tanda bukti hak umum yang berkepentingan.
Pendaftaran Tanah di Indonesia dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah yang kemudian diganti dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang
merupakan penyempurnaan dari ruang lingkup kegiatan pendaftaran tanah
berdasarkan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang meliputi: pengukuran, perpetaan dan
pembukuan tanah, pendaftaran dan peralihan hak atas tanah serta pemberian tanda
bukti hak sebagai alat pembuktian yang kuat.
menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang
membebaninya.37
Sebagai mana dalam penjelasan UUPA Nomor 5 Tahun 1960, bahwa tujuan pendaftaran tanah ini dapat di ketahui dalam peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Tujuan pendaftaran tanah adalah untuk menghimpun dan menyediakan informasi yang lengkap mengenai bidang-bidang tanah yang dipertegas dengan kemungkinannya pembukuan bidang-bidang tanah yang data fisik atau data yuridisnya belum lengkap atau masih disengketakan, walaupun untuk tanah-tanah demikian belum dikeluarkan sertipikat sebagai tanda
bukti haknya.38
Pendaftaran untuk pertama kali merupakan kegiatan pendaftaran terhadap
sebelum tanah yang semula belum didaftar menurut ketentuan peraturan pendaftaran
tanah yang bersangkutan, pendaftaran tanah menggunakan dasar objek satuan-satuan
bidang tanah yang disebut persil, yang merupakan bagian-bagian permukaan bumi Pelaksanaan pendaftaran tanah meliputi kegiatan pendaftaran tanah untuk
pertama kali dan pemeliharaan data pendaftaran tanah. Pendaftaran tanah untuk
pertama kali adalah kegiatan pendaftaran tanah yang dilakukan terhadap obyek
pendaftaran tanah yang belum didaftar berdasarkan PP 10/1961 dan PP 24/1997.
Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali berdasarkan Pasal 12 ayat (1)
PP 24/1997.
37
Pengertian umum dalam Pasal 1 peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
38
yang terbatas dan berdimensi dua, dengan ukuran luas yang umumnya dinyatakan
dalam meter persegi.
Adapun data yang dihimpun pada dasarnya meliputi 3 (tiga) bidang kegiatan, antara lain:
a. Kegiatan dibidang fisik mengenai tanahnya, yaitu sebagaimana telah
dikemukakan bahwa untuk memperoleh data mengenai letaknya, batas-batas, luasnya, banguan-bangunan dan atau tanaman-tanaman penting yang ada diatasnya, setelah dipastikan letak tanahnya kegiatan dimulai dengan penetapan batas-batasnya serta pemberian tanda-tanda batas disetiap sudutnya.
b. Kegiatan bidang yuridis, yaitu: bertujuan untuk memperoleh data mengenai
haknya, siapa pemegang haknya dan ada atau tidaknya hak pihak lain yang membebaninya.
c. Kegiatan penerbitan surat tanda bukti haknya. Bentuk kegiatan pendaftaran dan
hasilnya, termasuk apa yang merupakan surat tanda bukti hak, tergantung pada sistem pendaftaran yang digunakan dalam penyelenggarakan pendaftaran tanah
oleh negara yang bersangkutan.39
2 . Sistem Pendaftaran Tanah
Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara, yaitu:
a. Secara sisitematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang
dilakukan secara serentak yang meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum terdaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan. Hal ini diselenggarakan atas prakarsa pememrintah berdasarkan suatu rencana kerja panjang dan tahunan serta dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala badan Pertanahan Nasional. Dalam suatu desa,kelurahan belum ditetapkan sebagai wilayah pendaftaran tanah secara sistematik pendaftaran tanah dilaksanakan secara sporadik.
b. Secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai
satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau massal. Pendaftaran tanah secara sporadik dilaksanakan atas permintaan pihak yang berkepentingan, yang pihak
yang berhak atas objek pendaftaran tanah yang bersangkutan atau kuasanya. 40
Dalam sistem pendaftaran tanah dikenal adanya sistem publikasi, yaitu
sistem publikasi negatif dan sistem publikasi positif.
39
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Hukum Tanah Nasional, jilid 1,Djambatan, Revisi 2003, hal.78
40
1. Sistem publikasi negatif, dalam hal ini negara tidak menjamin kebenaran data
yang tercantum dalam sertipikat sehingga seseorang yang telah tertulis namanya
pada sertipikat tersebut belum tentu sebagai pemilik.41 Sistem ini surat tanda
bukti hak berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat,berarti
keterangan-keterangan yang tercantum didalamnya mempunyai kekuatan hukum dan harus
diterima sebagai keterangan yang benar selama tidak ada alat pembuktian lain
yang membuktikan sebaliknya.42
Ciri pokok sistem ini adalah :
a. Pendaftaran hak atas tanah tidak menjamin bahwa nama yang terdaftar
dalam buku tanah tidak dapat dibantah jika ternyata di kemudian
hari diketahui;
b. bahwa ia bukan pemilik sebenarnya. Hak dari nama yang terdaftar
ditentukan oleh hak dari pemberi hak sebelumnya, jadi perolehan hak
tersebut merupakan mata rantai perbuatan hukum dalam pendaftaran hak
atas tanah;
c. Pejabat pertanahan berperan pasif, artinya ia tidak berkewajiban menyelidiki
kebenaran data-data yang diserahkan kepadanya.
Kelebihan dari sistem negatif ini yaitu adanya perlindungan kepada pemegang
hak sejati.Pendaftaran tanah juga dapat dilakukan lebih cepat karena pejabat pertanah
an tidak berkewajiban menyelidiki data-data tanah tersebut.
41
Mhd. Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis. Op.cit.
42
Kelemahan dari sistem negatif adalah :
a. Peran pasif dari pejabat pertanahan dapat menyebabkan tumpang tindihnya
Sertipikat tanah;
b. Mekanisme kerja dalam proses penerbitan Sertipikat sedemikian rumit sehingga
kurang dimengerti orang awam;
c. Buku tanah dan segala surat pendaftaran kurang memberikan kepastian hukum
karena surat tersebut masih dapat dikalahkan oleh alat bukti lain, sehingga mereka yang namanya terdaftar dalam buku tanah bukan merupakan jaminan sebagai
pemiliknya.43
2. Sistem publikasi positif, dalam suatu negara menjamin kebenaran data yang ada
dalam alat bukti. Dengan adanya jaminan tersebut tanda bukti hak merupakan alat
bukti yang mutlak. Kelebihan pada sistem pendaftaran ini adalah adanya
kepastian dari pemegang hak, oleh karena itu ada dorongan bagi setiap orang
untuk mendaftarkan haknya. Pihak ketiga yang mempunyai bukti dan beritikad
baik atas dasar bukti tersebut mendapat perlindungan mutlak meskipun kemudian
keterangan-keterangan yang tercantum didalamnya tidak benar.
Ciri-ciri pokok sistem ini adalah :
a. Sistem ini menjamin nama yang terdaftar dalam buku tanah.
b. Tidak dapat di bantah, walaupun ia ternyata bukan pemilik tanah yang
sebenarnya. Jadi sistem ini memberikan kepercayaan yang mutlak pada buku
tanah.
c. Pejabat-pejabat pertanahan dalam sistem ini memainkan peranan yang aktif,
yaitu menyelidiki apakah hak atas tanah yang dipindah itu dapat didaftar atau
tidak, dan menyelidiki identitas para pihak, wewenangnya serta apakah
formalitas yang disyaratkan telah terpenuhi atau belum.
43