• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peluang Pasca Krisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peluang Pasca Krisis"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Dari gambar dapat didentifikasi bahwa budaya organisasi (dalam ini sistem agribisnis) dan kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi proses pencapaian output agribisnis yang optimal. Oleh

budaya organisasi dan kebijakan pemerintah

harus direkayasa sedemikian rupa sehingga mampu memicu pencapaian sasaran pengembangan agribisnis nasional.

Indikator-indikator keberhasilan di (Gambar 1) seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sistem tetapi harus dijadikan sebagai manajemen untuk mengelola strategi pengembangan agribisnis dalam jangka panjang. Untuk itu, diperlukan ukuran-ukuran yang terfokus dan terimplementasi pada pencapaian proses manajemen yang kritis, yaitu:

dan menterjemahkan visi dan strategi agribisnis

2. mengkomunikasikan dan mengaitkan strategis dan ukuran-ukurannya.

3. merencanakan, rnenetapkan target dan menyelaraskan yang strategis.

4. mengaktifkan (kritik) dan yang strategis.

Apabila kita menengok evolusi perkembangan pengelolaan sumber-daya manusia, dapat diamati bahawa dewasa ini kita berada pada era manajemen stratejik sumberdaya manusia. Pada era ini, utama yang menonjol adalah bahwa manusia merupakan sumber daya saing organisasi, karena tuntutan akan kemampuan manusia dalam kemampuan sumberdaya manusia dalam menetapkan visi dan strategi organisasi merupakan tolok ukur keberhasilan perannya.

Dengan demikian, ide-ide yang dirniliki sumberdaya manusia sistem agribisnis harus terus diturnbuh kembangkan sebagai bagian integral dari kegiatan pengembangan kualitas sumber daya manusia sistem agribisnis nasional.

Untuk menunjang kegiatan tersebut, perlu ditopang oleh penerapan sistem dan mekanisme kinerja yang tepat. Dengan demikian, informasi peta kekuatan sumberdaya manusia sistem agribisnis nasional dapat dijadikan tituik awal untuk menggerakkan proses pengembangan kelembagaan agribisnis yang diambil tepat pada jalurnya.

New

The Press.

3 K

Human Resources Management

PELUANG

Dr. E. Gumbira MA Dev M. Zahrul Muttaqin, MM

m a n a j e m e n

p e r u b a h a n

dan

a g r i b i s n i s

I n d o n e s i a

abad

ke

21

E. adalah MMA

TIN. MM. adalah

dan dan

(2)

agribisnis di masa pemerintahan Orde Baru

ngan pengembangan industri yang 'tidak pertanian telah semakin kondisi krisis Indonesia.

Sementara itu upaya pemerintah melakukan reformasi di sektor agribisnis masih terkesan berjalan sendiri-

sendiri, dan belum terpadu karena kebijakan agribisnis tidak ditangani oleh satu pintu. Padahal sektor agribisnislah yang

saat ini berpeluang untuk mengantarkan lndonesia dari krisis, sebagaimana telah dengan

meningkatkan pertumbuhan lndonesia di awal 'orde pembangunan' sebelum akhirnya terbiaskan oleh kebijakan industri

yang tidak konsisten, bahkan terkesan melenceng dari GBHN. Untuk itu diperlukan penanganan yang menyeluruh

yang melibatkan unsur kebijakan makro dan pelaksana teknis dalam pemerintahan.

Krisis saat ini telah berada pada taraf yang mengkhawatirkan. kelaparan yang meluas di

lndonesia dalam beberapa tahun mendatang, akibat dampak berantai dari gejolak moneter dan ketidakpercayaan pada

pernerintah, telah terindikasi dengan adanya beberapa kelompok masyarakat yang kekurangan Meningkatnya

penduduk di lndonesia yang sampai semester pertama 1998 mencapai juta orang (BPS, dalam

Kompas 9 Juli 1998) memperlihatkan adanya keterkaitan dengan potensi kekurangan tersebut.

Agaknya tidak salah jika ajakan dari berbagai pihak untuk kembali komitmen bangsa Indo-

nesia untuk agribisnis dan agroindustri sebagai langkah solusi terhadap krisis yang sedang berjalan,

atau paling tidak untuk supaya tidak meluas pada koyaknya ketahanan dan integritas bangsa Indonesia.

T A N T A N G A N A G R I B I S N I S

I N D O N E S I A D I M A S A

dianggap sebagai salah satu sektor

yang mampu bertahan, agribisnis tetap terkena

dampak krisis ekonomi sebagai akibat kurang seriusnya kebijakan pemerintah sebelumnya dalam penyediaan, pengembangan dan perawatan infrastruktur agribisnis serta kebijakan yang semakin mempertajam disparitas

perolehan antara level on-farm.

Dengan ketidakadilan perolehan di

lain yang dihadapi oleh agribisnis Indo- nesia adalah upaya mengatasi keter-gantungan

bahan Sebagian pengadaan bahan seperti

beras, jagung, dan sayuran masih

yang dilakukan dengan

menguras devisa, memberikan citra

yang tidak baik karena secara tidak langsung lndonesia dianggap sebagai bangsa yang tidak

memanfaatkan sumberdaya yang

dengan baik (Solahuddin, 1998). Belum

subsistem agribisnis di semakin tidak menarik untuk sumberdaya hayati yang memiliki potensi

dikembangkan. Maka, ketika alih fungsi lahan pertanian keanekaragaman yang tinggi merupakan tantangan

non pertanian, termasuk

golf, mendapatkan yang Orde Baru. Hingga saat ini hanya potensi dengan

besar, beramai-ramailah para pemilik lahan pertanian hasil berupa kayu, beberapa perkebunan

menjualnyakepadaparainvestoruntukdijadikanusaha serta padi yang benar-benar dimanfaatkan bahkan

non pertanian. Pada akhirnya pasokan cenderung dieks-ploitasi besar besaran. Komoditas lain

yang disangkal oleh pemerintah dengan seperti perikanan darat dan peternakan, hortikultura,

data-data surplus-nya, merupakan implikasi wajar dari bahkan hasil non kayu belum dimanfaatkan secara

gambaran yang telah dikemukakan. maksimum.

mutakhir menyebutkan bahwa petani Indonesia saat ini Tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar

hanya lahan rata-rata seluas 0,2 hektar, agribisnis adalah mereka yang modal kecil,

sehingga akan semakin menyulitkan upaya

-

upaya sementara jumlahnya men-capai 46% dari total angkatan

peningkatan pendapatan petani yang hanya didasarkan kerja di lndonesia pada tahun 1994 (BPS, 1997, dalam

pada harga komoditas pertanian, khususnya padi Solahuddin, 1998). Dengan demikian masalah penyediaan

(Kompas, 27 Juli 1998). Dengan demikian diperlukan dana skema kredit yang terutama pada masa

upaya membuka lahan baru dan menyediakan krisis ini, dibutuhkan. Sementara kebijakan harga

infrastruktur pertanian yang memadai bagi suatu jual produk on-farm, khususnya padi, belum

tani yang baik. Hal ini bukan persoalan membantu me-ningkatkan petani. Dalam satu

besarnya kebu-tuhan dana, sementara kali masa hingga seorang petani

kondisi moneter nasional juga sedang limbung dengan harus mengeluarkan biaya per hektarnya tidak kurang dari

masih le-mahnya tukar rupiah terhadap dollar AS. Rp 1.710.000,- yang digunakan untuk biaya bajak

Belum lagi jika dihadapkan pada per-soalan sebesar Rp 200.000. biaya mencangkul Rp 150.000,-,

infrastruktur seperti saluran irigasi dan saluran distribusi pengadaan Rp 90.000,-, kebutuhan pupuk

(3)

membersihkan Rp

, Rp dan

pestisida Rp (Basri, dalam Kompas, 27 Juli 1998). Dengan asumsi hasil mencapai 5 ha kering (GKP), jika dijual dengan harga Rp

per kwintal maka total pendapatan semusim adalah Rp 4 Namun, dengan kondisi sekarang dimana kemampuan petani menyediakan sarana produksi maka kualitas dan produktivitas pun yang menyebabkan kuantitas dan harga GKP

sehingga selama tiga bulan hanya dapat mencapai Rp juta. Walhasil keuntungan petani hanya sekitar Rp 410.000 per musim suatu jumlah yang jauh dari cukup.

P E R U B A H A N - P E R U B A H A N

G L O B A L D A N

G A M B A R A N

B E R A K H I R N Y A K R I S I S Di masa mendatang, lanjutan pembangunan agribisnis akan dihadapkan pada situasi pasar yang semakin terbuka dan rupakan kekuatan yang besar untuk menciptakan peluang yang merata di antara negara dan masyarakat. Seringkali negara yang pasarnya memiliki suasana persaingan yang mendekati ideal sajalah yang tingkat kemiskinannya dan luang besar untuk keluar dari kemiskinan (Schmidheiny,

1992). Dalam jangka panjang,

kebebasan berperan serta dalam pengambilan keputusan politik dan kebebasan berperan serta di pasar tidak dapat dipisahkan.

ini paling tidak dapat dilihat di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, yang saat ini tengah bergeser ke arah pemerintahan yang lebih demokratis.

. .

Meningkatnya perdagangan internasional dengan harga

yang ditentukan oleh pasar dapat menjadi peluang bagi negara berkembang. Kekuatan pasar dapat digunakan untuk mendorong lebih

petani

dengan cara yang lebih lestari (Schmidheiny, 1992).

Sementara lndonesia diperkirakan belum sembuh benar dari krisis, pada tahun 2003 telah menunggu kesepakatan kawasan perdagangan di tingkat ASEAN. Berbagai peluang sekaligus

terhadap agribisnis lndonesia serta- merta akan menjadi keniscayaan yang tidak dapat lagi dibendung dengan cara sporadis. Tiba-tiba buah-buahan dan bahan

lainnya yang berlabel 'Bangkok' pasar tradisional. ga manalagi atau de dengan berbahasa Tagalog teronggok di sudut-sudut toko kelontong. Anggrek dan

hidroponik berlabel 'Singapore' semakin merajalela, dan masih lagi gambaran suram agribisnis Indonesia, jika tidak ada upaya nyata para pemangku (stakeholders) agribisnis untuk mengantisipasinya. Ketika Indone- sia mampu keluar dari krisis yang memedihkan ini, lnsya Allah, sudah menghadang kesepakatan kawas-an perdagangan di wilayah Asia Pasifik yang dimulai pada tahun 2020. Untuk mampu bersaing dalam kancah

yang semakin kompetitif dituntut untuk secepatnya

an ekonomi yang negatif dan memperbaiki distribusi pendapatan rakyatnya. reformasi rusnya memberikan kesempatan untuk memperbaiki iklim berusaha agar semakin kondusif bagi persaingan yang sehat dan menghapus sumber-sumber nyebab distorsi yang menghambat efisiensi produksi yang saat ini masih belum nampak gebrakan yang nyata dari pemerintah.

"Di dalam setiap kesulitan terdapat adalah suatu yang harus menjadi pegangan para pelaku agribisnis dan bangsa lndonesia pada umumnya dalam menangani krisis agar tidak kepanjangan. Dengan mengamati kecenderungan arah perdagangan internasional, lndonesia dapat memanfaatkan peluang yang muncul, khususnya untuk produk agroindustri, antara lain

Sa'id, 1997): ekspor untuk produkagroindustri di negara masih terbuka lebar. 2 . D a I a m memasuki era globalisasi serta disepakatinya komitmen perjanjian perdagangan internasional di bawah WTO, maka negara-negara di dunia masih harus membuka pasar dalam negerinya dan meniadakan batan-hambatan untuk memasuki pasar tersebut.

teknologi produk agroindustri Indo- nesia telah dapat bersaing secara kompetitif di pasar internasional. hasil pertanian lndonesia cukup besar mengingat lndonesia masih merupakan negara agraris.

Disamping itu,

an agribisnis dan agroindustri di masa krisis akan dapat mengurangi dampak sosial pengangguran karena mampu

tenaga kerja yang terkena PHK akibat krisis yang melanda sektor non pertanian. Pengembangan agribisnis juga diharapkan dapat kalangkaan obat paten dari luar negeri dengan memasok obat-obatan tradisional. Saat ini beberapa komoditas agribisnis bahkan Booming' menyusul melorotnya nilai rupiah terhadap dollar AS. Komoditas-komoditas udang, kakao, dan kopi telah para pemilik tambak atau kebun mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari ekspor yang dilakukannya,

bayangi penjarahan yang seringkali menjadi mimpi buruk gi Akan tetapi harus diakui

(4)

DALAM

TERDAPAT KEMUDAHAN",

LAH SUATU KREDO YANG

HARUS

PEGANGAN

PARA PELAKU

DAN

BANGSA INDONESIA PADA

UMUMNYA DALAM

AGAR

JANGAN. DENGAN

KECENDERUNGAN ARAH

DAGANGAN INTERNASIONAL,

INDONESIA DAPAT

KAN PELUANG YANG MUNCUL,

KHUSUSNYA UNTUK PRODUK

AGROINDUSTRI.

bahwa lebih bersifat Secara umum, internasional di masa perdagangan nanti in disguise' daripada akan dibanjiri produk-produk agroindustri, dimana peningkatan tambah sesuatu yang direncanakan agribisnis yang tinggi padasubsistem ini. karena itu

karena itu upaya persiapan-persiapan dari sekarang untuk membangun kerangka agribisnis yang sistematis dan terencana untuk kokoh dan menunjang menjadikan agroindustri sebagai

mempekokoh usaha-usaha pembangunan agribisnis di Indonesia. ini menjadi segera dirumuskan, sehingga penting menunjang pemba-ngunan agroindustri. ketika kondisi perekonomian dan Bioteknologi memiliki yang sentral agribisnis, khususnya normal, maka agroindustri, rekayasa genetika (rekornbinasi DNA), jaringan, usaha-usaha agribisnis hibridoma, dan rekayasa bioproses. rekayasa genetika dan

karenadigusur jaringan didapatkan bahan baku agroindustri yang bermutu tinggi, standar ekonomi lainnya. sesuai dengan permintaan konsumen, sehingga memudahkan proses Mungkin komoditas yang Perusahaan perusahaan seperti PT. INAGRO, PT.

dapat dikatakan disiapkan UNGGUL, dan PT. mengembangkan ini, namun masih

untuk menjadi di peru-sahaan banyakdan besar untuk mampu bersaing

masa mendatang dengan perusahaan-perusahaan raksasa dari negeri. juga Di saat krisis ini pun posisi memungkinkan pengembangan bahan panganipakan baru. Produk-produk minyak masih penting yang dari sebagian yang dianggap tidak dapat memper-tahankan dimanfaatkan untuk panganlpakan, dengan bantuan mikroorganisme, dapat perekonomian Bahkan diubah menjadi bahan panganlpakan. Proses pembuatan de

dengan tingginya harga CPO di luar air kelapa dan pembuatan dari ikan untuk pakan ikan negeri membuat tinggi pula harga merupakan contoh keber-hasilan bioteknologi.

rninyak goreng di dalam negeri, sehingga

beralih kembali ke minyak kelapa. Hal ini jika dilihat sisi po-sitifnya

akan mam

mendayagunakan

produk yang ber-basis pada kelapa yang ini banyakdi-tinggalkan orang. Akan tetapi

yang harus dilakukan rangka

yagunakan komoditas

kelapa untuk

mencapai nilai eko-nomis yang optimum. Dernikian pula untuk komoditas kehutanan, kelautan dan

memproduksi secara masal dari produk bio-teknologi memiliki peluang bisnis yang tinggi. Dengan bioteknologi, kendala dapat diminimumkan untuk mampu menghasilkan produk agribisnis yang bermutu tinggi dan tersedia sepanjang tahun. Teknologi agroindustri memungkinkan untuk menemukan material-material baru seperti

biopolimer, plastik able (gum xantan,

ksibutirat) dan lain-lain. Bahan-bahan dapat diadakan dari

agroindustri sehingga

Teknologi konversi energi telah berhasil menemukan sumber energi dari bahan-bahan hayati seperti metana, gasohol,

dan briket arang kayu. Negara negara

per-kebunan Minyak dan konsumen (maju) terhadap keberadaan ini,

nabati merupakan satu disamping tenaga air, uap dan matahari, mengingat semakin de- utama produk agribisnis In- posit energi di bumi. Dengan sekitar 139 juta hektar

donesia produk-produk kayu mendapatkan energi-energi tersebut. pascapanen dan kertas. Data dari tahun 1992- penting ini berkaitan erat dengan karakteristik produk 1997 bahwa kecen- agribisnis bulky. Penanganan produk-produk yang diekspor derungan ekspor minyak dan secara mentah seperti kopi, udang, cacao, CPO dan sebagainya akan lemak nabati meningkat, menetukan tingkat keawetan dan mutunya.

nilainya lebih kecil, dibandingkan Perkembangan teknologi medika mendukung

dengan produk kayu dan jenis-jenis obat tropis untuk dijadikan bahan baku. rempah- kertas yang cenderung rempah yang sudah dan banyakdimanfaatkan

(Depperindag, 1998). Indonesia menyimpan sekali potensi obat yang di

(5)

seluruh dan dasar laut. saat ini potensi ini belum tergali secara maksimal. Produk hu-tan masih terpaku pada kayu dan olahan kayu dan hasil laut masih terpusat pada ikan dan udang.

E I E N T A S I V I S I I N D O N E S I A

Proses perubahan, yang tidak dapat dielakkan, ke arah pembangunan yang berkelanjutan akan menentukan arah pengembangan agribisnis di masa depan. Proses itu membentuk cara pandang yang baru yang dapat tukan pola yang baru dalam melakukan di bidang agribisnis. Pola yang

baru dari bergantinya

situasi pemborosan dan pencemaran menjadi situasi kelestarian, dan bergantinya sistem proteksionisme ke sistem yang lebih terbuka dan adil. Hal ini membu-tuhkan visi yang

mende-finisikan kembali agribisnis Indo- nesia untuk menghadapi perubahan- perubahan tersebut. pembangunan agribisnis yang dikembangkan oleh In- donesia hendaknya berpusat pada pelaksanaan sebuah sistem agribisnis yang mengintegrasikan

subsistem budidaya, pengolahan dan serta

dengan tetap

tetapi tetap diperlukan perencanaan pemilihan komoditas yang ditanam yaitu komoditas unggulan yang berorientasi mencukupi

dalam negeri, mampu menunjang kesehatan masyarakat dan orientasi ekspor. Perencanaan nis, jumlah dan sistem usahatani juga diperlukan untuk antisipasi

,

sumber daya serta memungkinkan terjadinya pemerataan akses ke sumber daya bagi semua orang, sehingga dimungkinkan adanya pemerataan pendapatan di antara subsistem-subsistem yang ada untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang tinggi. Syarat utama keberhasilan pencapaian visi diatas adalah dibutuhkannya cara pandang yang integral dalam pembangunan pertanian yang berimplikasi pada perlunya institusi-institusi yang interaksi secara koordinatif dan koheren. Hal ini menjadi penting mengingat kondisi Indonesia yang seringkali memiliki permasalahan dalam koordinasi terutama dalam tingkat pengambilan kebijakan. (Gumbira-Said dan Muttaqin, 1998). Secara makro, visi hen-daknya diejawantahkan dalam kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kebijakan sektor lainnya dan bersifat departemental. Departemen Pertanian, misalnya, yang memiliki program komoditas unggulan sebagai anti-sipasi krisis dan era perdagangan yang didasarkan pada keunggulan kompetitif dan keberlanjutan pasokan untuk masa mendatang, harus ditunjang program perindustrian untuk menciptakan diversifikasi produk-produkakhir yang memiliki nilai tambah yang tinggi. Dengan dipadu pertimbangan penguasaan dan kemungkinan pengembangan teknologi pertanian maka prioritas komoditas unggulan akan menjadi lebih terfokus. Disamping itu aspek pembinaan pengusaha kecil dan di bidang pengolahan hasil pertanian juga harus dilakukan secara simultan.

U P A Y A O P E R A S I O N A L

Untuk memanfaatkan sekaligus menghadapi tantang-an agribisnis di masa mendatang (pascakrisis) perlu dilakukan langkah-langkah sejak dini. Mengingat yang paling mendesak adalah mengantisipasi meluasnya kelangkaan maka perlu digalakkan penanaman

di lahan-lahan pertanian terutama lahan tidur dan terbengkalai. Akan

kelebihan pasokan komoditas tertentu, sehingga harganya anjlok, sementara komoditas lainnya langka. Upaya di agaknya men-

jadi agenda rintah yang

mendesak sehingga pihak Menteri mahan Rakyat pun telah menyediakan sekitar 60.000 hektar lahan di lingkungan untuk dijadikan areal

(Bisnis Indonesia, 23 April pada dasarnya potensi yang besar adalah pada lahan-lahan kecil yang di seluruh penjuru pedesaan. ping itu, pemanfaatan lahan tidur juga mampu menyediakan an pekerjaan baru. Mencontoh pro- gram karya yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1931, dimana masyarakat dihimbau untuk ke desa dan melaksanakan program penanaman pohon (antara lain hortikultura) dan kehutanan, memberikan hasil yang baik, yakni selain masyarakat mendapatkan jaan, pohon yang ditanam menghasilkan kebutuhan sandang dan selain membuat lebih hijau, lestari dan mampu nyerap polusi dari pengembangan industri di sekitarnya (Solahuddin, 1998). Penggalakan pemanfaatan lahan tidur harus dilaksanakan bersama-sama antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya

Indonesia, 23 Juli Swasembada Jadi Taruhannya -id 23 Juli 1998 60.000

Gumbira-Sa'id. E 1997. Peluang dan Tantangan Sebagai

padaacara "Final Presentasi Lomba

14 Juni 1997. dan Perdagangan 1998.

dan Perdagangan, January 1998. Departemen Perdagangan Jakarta.

(6)

SAAT

BEBERAPA KOMODITAS

BAHKAN

'BOOMING'

MENYUSUL

MELOROTNYA

RUPIAH TERHADAP

DOLLAR AS.

UDANG, KAKAO, DAN

TELAH

MEMBUAT PARA

TAMBAK ATAU

KEBUN MENDAPATKAN KEUNTUNGAN

GANDA

EKSPOR YANG

DILAKUKANNYA,

PENJARAHAN YANG

BURUK

MEREKA. AKAN

HARUS

BAHWA HAL

'BLESSING IN

TU YANG

SEBELUMNYA.

masyarakat dan tokoh-tokoh ma- atau ayam. Bagi petani yang sejak krisis mengalami kesulitan dana, maka syarakat. Hal ini mengingat luasnya perlu disalurkan permodalan dengan memilih penyalur modal yang tidak wilayah lndonesia sementara pihak terhambat dalam birokrasi distribusi kredit. Saat ini alokasi dana KUT pemerintah tidak memiliki ditingkatkan untuk lebih memacu produksi pertanian, namun yang harus sumberdaya untuk turun sendiri di diperhatikan adalah pola penyalurannya agar tidak terjadi bias seperti pada lapangan. Terlebih, di daerah masa-masa sebelum Bagi kecil dan menengah di sektor agribisnis desaan, pengaruh tokoh-tokoh perlu diintroduksikan secara cepat teknologi sederhana yang

seperti tetua kasikan dan dapat diperbarui tenaga kerja. Teknologi

pendeta dan sebagainya antara lain pembuatan nata de pem-buatan minyak kelapa dengan kuat. Masalah pokok yang dihadapi fermentasi, pembuatan kompos dengan teknologi effective microorganism

oleh program peman- (EM), pembuatan biogas, pembuatan produk-produk tradisional dari lahan tidur adalah masalah singkong atau garut dan lain sebaginya. Dalam pada itu, untuk industri skala dana operasional dan ketersedia- besar, semacam perkebunan, pertanian besar, HPH dan HTI, maka

an sarana produksi pertanian. pemerintah dan pengusaha agribisnis untuk merencanakan pembuatan produk Diperlukan sekali hilir dari produk-produk seperti CPO, kayu, minyak atsiri, dan sebagainya.

pupuk dan Komoditas yang paling ber-potensi untuk dikembangkan adalah kelapa tisida. Upaya untuk mengatasi Potensi yang saat belum dimanfaatkan secara maksimal adalah kandungan salah di atasdapat dilakukan melalui vitamin A pada kelapa yang bernilai tinggi. Tinggal sekarang bagairnana pendekatan Dengan upaya para pengusaha besar untuk tidak ha-nya mengejar target minyakgoreng

maka pertanian saja, namun lebih kepada produksi vitamin A. laksanakan secara organik

dan terpadu dengan giatan peternakan, kanan dan kehutanan, dengan sedikit mungkin rnernberikan

bahan-bahan (kimia) dari luar ke dalam.

produktivitasnya mungkin di bawah usahatani sif, narnun dengan luasan lahan yang besar akan dapatkan yang besar pula. Disamping itu secara ekonomi lebih murah dan secara ekologis

lingkungan. Teknologi pupuk bio dan biopestisida akan membantu pro- gram ini.

P E N U T U P Pada dasarnya bahan adalah

an. Satu-satunya yang tidak di dunia ini adalah perubahan itu sendiri, hingga dibutuhkan suatu manajemen yang mampu mengantisipasi setiap bahan yang terjadi, terlebih dengan semakin cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi di dunia bisnis pada umumnya dan agribisnis pada khususnya.

an-perubahan telah memunculkan peluang dan

terhadap langsungan agribisnis Beberapa yang bagai-mana kemauan dan kemam-puan bangsa Indonesia untuk dapat dijadikan komoditas unggul- mengubah setiap ancarnan menjadi peluang. Gambaran kondisi agribisnis an untuk pemanfaatan lahan tidur donesia di adalah modal bagi bangsa lndonesia untuk dijadikan bekal dan antara lain ubikayu singkong, celah keluar dari krisis.

ganyong, jagung, gembili, terung, Namun yang lebih penting adalah tindakan yang dilakukan sejak cabe lombok, lengkuas, jahe, sekarang harus benar-benar diperhitungkan dengan baik, bukan sekadar mentimun, jambu mete, dan gram sporadis, didesak oleh kondisi abnormal. Bagaimana pun, salak. Sementara kehu- negara berpenduduk besar dan berwilayah seperti lndonesia

yang dapat di antara tergantung pada keberhasilan agribisnisnya. Pe-ngalaman lain lamtoro dan negara-negara yang memiliki

kaliandra. Untuk perikanan sama dengan Indonesia seperti Amerika, China, Rusia dan India rnemberikan dan peternakan dapat dipilih contoh keberhasilan dan kegagalan menciptakan kesejahteraan karena komoditas udang, sapi, kambing kebijakan agribisnisnya.

dan M. 1998 Global Agribisnis Kompas. 9 Juli 1998. Jumlah Memket. i d 27 Juli 1998. Reformasi

4 No. Juni Juli 1998. Orde Baru

.

S. 1992. Changing Course: Aglobal development and

A.H 1997. Pengembangan Mutu SDM Agribisnis Menghadapi 2020.

.

the environment. of Technology. USA

Ayimedia. Volume3 No. Juni 1997

I

Solahuddin. 1998 Peluang Agribisnis dalam Krisis Makalah

pada Nasional. 1998 Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Mekanisme top down planning melalui pengalihan dana Tugas Pembantuan (TP) ke Dana Alokasi Khusus (DAK) sektor pertanian memiliki tujuan untuk menertibkan sistem

Produksi minyak sawit, karet, pertanian tanaman pangan dan cokelat harus bisa lebih ditingkatkan di Indonesia, khususnya wilayah yang memang memadai untuk diolah pertanian

Schultink mendefinisikan pembangunan pertanian merupakan upaya- upaya pengelolaan sumberdaya alam untuk memastikan kapasitas produksi.. pertanian jangka panjang

Rata-rata alokasi dana pengeluaran untuk sektor pertanian sebesar 1,92 persen, dalam lima tahun ini digunakan untuk meliputi kegiatan sektor pertanian, yang dapat meningkatkan

ASP/ATP tersebut dapat menjadi momentum untuk memacu produksi pertanian, karena program.. tersebut merupakan penguatan sistem inovasi melalui interaksi dan kolaborasi

Dengan memformulasikan model untuk menggambarkan kombinasi produksi dan alokasi sumberdaya pada kondisi aktual dengan menggunakan model linear programming, dapat

Dari segi ekonomi, peningkatan produksi sangat memungkinkan untuk dapat ditingkatkan, pentingnya pengembangan sumberdaya manusia yang ada dan dukungan kelembagaan

DAFTAR ISI PENDAHULUAN: LAHAN UNTUK PRODUKSI PANGAN POTENSI PERTANIAN LAHAN KERING DI JAWA TIMUR PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM UNTUK PRODUKSI PANGAN PENGELOLAAN LAHAN KERING