Skripsi
Oleh
SURYA ADI DARMA
111121089
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
Hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Pengetahuan Lansia Tentang Andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit
Seberang Kabupaten Langkat . Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk
mencapai gelar kesarjanaan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis banyak
mendapat rintangan, namun berkat Rahmat-Nya serta bantuan dan motivasi dari
berbagai pihak sehingga rintangan tersebut dapat teratasi. Pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I, Ibu Evi Karota Bukit,
S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan II, Bapak Ikhsanuddin A. Harahap, S.Kp,
MNS selaku Pembantu Dekan III.
3. Bapak Ismayadi, S.Kp.Ns sebagai dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini,
Ibu Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS selaku penguji 1 dan Ibu Eryunita Lubis,
S.Kep. Ns selaku penguji 2 yang telah banyak memberikan masukan kepada
penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Ibu Wardiyah Daulay, S.Kep, Ns. M.Kep selaku Pembimbing Akademik yang
telah banyak membantu penulis selama mengikuti pendidikan.
5. Ayahanda & Ibunda yang selalu memberikan doa, dukungan moril dan materil,
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kriktik
demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
peningkatan dan pengembangan profesi keperawatan.
Medan, Februari 2013
HALAMAN PENGESAHAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
BAB 1 . PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1. Pengetahuan ... 6
2.1.1. Defenisi Pengetahuan ... 6
2.1.2.Tingkat Pengetahuan ... 7
2.1.3. Fungsi Pengetahuan ... 9
2.1.4. Sumber Pengetahuan ... 9
2.1.5. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan………... 11
2.2. Lansia ... 12
2.2.1. Definisi Lansia………. ... 12
2.2.2. Batasan Usia Lanjut………. ... 13
2.2.3. Klasifikasi Usia Lanjut………. ... 13
2.3. Andropause……… .. 14
2.3.1. Definisi Andropause………. .. 14
2.3.2. Penyebab Andropause……….. ... 15
2.3.3. Fisiologi Andropause……… .. 17
2.3.4. Gejala & Tanda Andropause……… ... 19
2.3.5. Dampak Andropause……… ... 20
2.3.6. Terapi & Pencegahan Andropause……….. .... 21
2.3.7. Manfaat Pengobatan Terapi Hormon Testosteron………. ... 23
BAB 3. KERANGKAN PENELITIAN ... 24
3.1. Kerangka Konsep ... 24
3.2. Defenisi Operasional ... 25
BAB 4. METODOLOGI PENELITIAN ... 28
4.1. Desain Penelitian ... 28
4.2. Populasi dan Sampel ... 28
4.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29
4.4. Pertimbangan Etik Penelitian ... 29
4.5. Instrumen Penelitian ... 29
4.6. Aspek Pengukuran……… ... 30
4.6. Pengumpulan Data ... 31
4.7. Analisa Data ... 32
5.3. Data Pengetahuan Responden……… 38
5.4. Pembahasan………... 39
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN………... 43
6.1. Kesimpulan………... 43
6.2. Saran………... 43
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
1. Lembaran Persetujuan Menjadi Responden 2. Kuesioner Penelitian
3. Surat Izin Survey Awal dari Fakultas Keperawatan USU
4. Surat Izin Balasan Survey Awal dari Kepala Desa Alur Gadung 5. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Keperawatan USU
6. Surat Izin Balasan Penelitian dari Kepala Desa Alur Gadung 7. Surat Izin Validitas
8. Hasil Reliabilitas
Andropause……… 25
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Bedasarkan Data Demografi Lansia Tentang
Andropause………..………. 35
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Bedasarkan Hasil Penilaian Lansia Tentang
Andropause………...………. ……….. 36
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Bedasarkan Pengetahuan Lansia Tentang
Jurusan : Ilmu Keperawatan Ekstensi Tahun : 2013
ABSTRAK
Andropause adalah kondisi pria diatas umur pertengahan atau tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda, dan keluhan mirip menopause pada wanita. Penurunan kadar testosteron yang terus menurun bertahap, seiring usia yang terus menua dapat menyebabkan kondisi fisik dan performa seksual laki-laki perlahan merosot. Andropause bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, faktor organik dan faktor psikogenik. Penurunan kadar hormon testosterone dapat menimbulkan berbagai gejala dan keluhan. Dampak dari andropause dapat menyebabkan osteoporosis, kanker prostat, penyakit jantung dan angina pektoris. Terapi andropause dapat dilakukan secara ilmiah, kombinasi diet dan olahraga dengan tidur yang cukup dan tingkat stress yang rendah membantu memperkuat produksi testosterone. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan lansia dalam meghadapi andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September s/d November 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang berusia 60 tahun keatas yang berjumlah 57 orang dan sampel penelitian ini sebanyak 57 orang dengan menggunakan tehnik total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang pengetahuan baik sebanyak 2 orang (3,5%), pengetahuan cukup sebanyak 38 (66,7%) dan pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (29,8%). Untuk itu agar dapat memiliki pengetahuan yang baik maka lansia diharapkan mencari informasi yang lengkap dan benar dari sumber yang dapat dipercaya atau pihak yang berkompeten misalnya tenaga kesehatan sehingga dapat bagi para lansia bersikap positif dalam menhadapi andropause. Keluarga lansia juga di harapkan agar lebih peduli dan perhatian kepada lansia dan dapat membantu lansia dalam hal melakukan pencegahan andropause seperti membantu melakukan terapi kepada lansia.
NIM : 111121089
Jurusan : Ilmu Keperawatan Ekstensi Tahun : 2013
ABSTRAK
Andropause adalah kondisi pria diatas umur pertengahan atau tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda, dan keluhan mirip menopause pada wanita. Penurunan kadar testosteron yang terus menurun bertahap, seiring usia yang terus menua dapat menyebabkan kondisi fisik dan performa seksual laki-laki perlahan merosot. Andropause bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, faktor organik dan faktor psikogenik. Penurunan kadar hormon testosterone dapat menimbulkan berbagai gejala dan keluhan. Dampak dari andropause dapat menyebabkan osteoporosis, kanker prostat, penyakit jantung dan angina pektoris. Terapi andropause dapat dilakukan secara ilmiah, kombinasi diet dan olahraga dengan tidur yang cukup dan tingkat stress yang rendah membantu memperkuat produksi testosterone. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan lansia dalam meghadapi andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September s/d November 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang berusia 60 tahun keatas yang berjumlah 57 orang dan sampel penelitian ini sebanyak 57 orang dengan menggunakan tehnik total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang pengetahuan baik sebanyak 2 orang (3,5%), pengetahuan cukup sebanyak 38 (66,7%) dan pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (29,8%). Untuk itu agar dapat memiliki pengetahuan yang baik maka lansia diharapkan mencari informasi yang lengkap dan benar dari sumber yang dapat dipercaya atau pihak yang berkompeten misalnya tenaga kesehatan sehingga dapat bagi para lansia bersikap positif dalam menhadapi andropause. Keluarga lansia juga di harapkan agar lebih peduli dan perhatian kepada lansia dan dapat membantu lansia dalam hal melakukan pencegahan andropause seperti membantu melakukan terapi kepada lansia.
1.1.Latar Belakang
Saat ini di seluruh dunia jumlah lansia di perkirakan lebih dari 629 juta jiwa
dan pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia di proyeksikan sebesar 7,28 %
dan pada tahun 2020 menjadi sebesar 11,34 % (BPS, 1992). Penelitian di
negara-negara barat menunjukkan bahwa 10-15% pria mulai mengalami andropause pada
usia 60 tahun sedangkan 54% pria menunjukkan gejala andropause pada
kelompok umur 60-90 tahun, dengan bertambahnya angka harapan hidup, maka
jumlah penderita gejala andropause akan meningkat dengan pesat. Pangkahila
(2007) menambahkan pada tahap usia transisi (35 - 45 tahun) dimana testosteron
turun sampai 25%, gejala andropause mulai muncul dengan nyata, namun trend
yang terjadi usia penurunan produksi testostron ini mengalami percepatan oleh
karena adanya faktor eksternal seperti polusi yang berlebih, obesitas, diabetes,
serta konsumsi alkohol (Muller, 2003).
Andropause seperti juga menopause pada perempuan usia senja, pada kaum
laki- laki juga ada istilah andropause yang belum populer di kalangan masyarakat.
Secara harfiah andropause diartikan sebagai kejantanan (andro), istirahat (pause),
secara awam boleh diartikan mulai istirahatnya kelaki-lakian seseorang laki-laki
usia senja, sedangkan secara umum diartikan sebagai berkurangnya produksi
hormon laki-laki (testosteron), ada yang memberi istialah andropause sebagai
klimakteriaum laki-laki. Seorang laki-laki sedang berada pada tingkat kritis fase
kehidupannya, dimana terjadi perubahan fisik, hormon, dan psikis, serta
sejak tahun 1952. Dalam publikasi ini disebutkan bahwa andropause terjadi secara
alami dan laki-laki yang andropause akan mengalami penurunan kemampuan fisik
dan gairah seksual (Yatim, 2002).
Bedasarkan penelitian bahwa gejala andropause mulai dapat terjadi pada
laki-laki saat memasuki usia 40 tahun. Penurunan kadar testosteron yang terus
menurun bertahap seiring usia yang terus menua. Kadar testosteron yang terus
menurun tersebut dapat menyebabkan kondisi fisik dan performa seksual laki-laki
perlahan merosot. Hal ini akhirnya diikuti dengan keluhan psikis, meski tidak
khas gejala fisik misalnya mudah letih dan mengantuk berlebihan, rasa sakit atau
kaku pada otot, persendian dan tulang, penis mengecil, penurunan tenaga,
kekuatan otot, pertumbuhan kumis, janggut berkurang, dan penurunan frekuensi
ereksi pagi hari sehingga menurunnya gairah seksual, akibatnya laki-laki mudah
marah, depresi, panik, tegang, gelisah, sulit tidur juga merasa tertekan (Setiawan,
2008).
Di seluruh dunia pada tahun 2000 jumlah pria yang masuk dalam kategori
usia andropause mencapai 1,5 miliar, dimana yang 1 miliar berada di negara
berkembang seperti Indonesia. Diperkirakan negara maju 15% pria yang berusia
40 - 60 tahun serta 5% pria muda 30 tahunan tercatat menderita andropause dan
dari penelitian Profesor Susilo ditahun 2002 kira-kira 288 orang yang mengalami
andropause mulai sadar memeriksakan dirinya (Hutapea, 2002). Di Indonesia
pada tahun 2000 jumlah pria yang berusia 55 tahun dan diperkirakan telah
memasuki usia andropause adalah sebesar 14,25 juta orang pada tahun 2020
diperkirakan jumlah laki-laki andropause akan mencapai 24,7 juta (Prawirohardjo,
mempunyai kadar testosteon 300 mg/dl darah (batas ambang kadar testosteron
normal). Sayang sekali laki-laki yang mengalami penurunan gairah seksual akibat
penurunan hormon testosterone kebanyakan bersifat pasif (Yatim, 2004).
Prevalensi andropause dapat di duga berdasarkan proyeksi jumlah penduduk
Jumlah pria yang mengalami andropause di Indonesia belum ada data resmi. Di
Amerika data menyebutkan bahwa sindroma andropause dialami oleh sekitar 15%
pria usia 40-60 tahun tetapi hanya sekitar 5% yang mendapat pengobatan
(Pangkahila, 2007). Sebagian pria bahkan telah mengalami sindroma andropause
sejak usia tiga puluhan tetapi dengan jumlah yang relative kecil yaitu kurang lebih
5% (Wibowo, 2002). Jika dilakukan deduksi berdasarkan kenyataan dan fakta
bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya andropause lebih banyak ditemui di
Indonesia, antara lain: polusi lingkungan kerja, beban lingkungan kerja dan gaya
hidup maka sangatlah mungkin andropause lebih banyak diderita oleh pria di
Indonesia dibandingkan negara barat (Wibowo, 2002).
Bedasarkan fenomena tersebut perlu di lakukan penelitian mengenai
pengetahuan lansia tentang andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah Bagaimanakah Pengetahuan Lansia Tentang Andropause Di Desa Alur
gadung di Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat "
1.3. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui secara langsung tentang pengetahuan lansia tentang
andropause di Desa Alur Gadung di Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten
Langkat.
1.4.Manfaat penelitian
a. Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi praktek keperawatan
sebagai bahan masukan bagi perawat dan tim kesehatan lainnya untuk mengetahui
sejauh mana lansia mengetahui tentang andropause sehingga diharapkan perawat
lebih meningkatkan pengetahuan lansia tentang andropause. Hasil penelitian ini
dijadikan bahan bacaan bagi yang memerlukan dan sebagai bahan pertimbangan
untuk penelitian yang akan datang.
b. Bagi Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi lansia sebagai bahan
sumber informasi masyarakat di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang
Kabupaten Langkat tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, dampak
serta pencegahan andropause
c. Bagi Peneliti
Diharapkan mahasiswa mampu mensintesa ilmu pengetahuan, penerapan
keperawatan professional, baik kepada individu, keluarga, masyarakat, mampu
melakukan manajemen keperawatan, juga mampu melakukan menejemen
pelayanan keperawatan melalui proses pengorganisasian kegiatan - kegiatan
keperawatan secara efektif & efisien dalam pelayanan keperawatan dengan
selalu meningkatkan pengelolaan pelayanan keperawatan serta menambah
pengalaman dan pengetahuan dalam penelitian selanjutnya.
d. Bagi Keluarga / masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi masyarakat
luas dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya selama
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan
2.1.1. Definisi pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah segala sesuatu yang telah dikenali atau
diketahui dan kesimpulan yang ditarik dari hal yang dikenali manusia.
Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau segala
sesuatu yang berkenaan dengan hal (Muliono dkk, 1988). Berkenaan dengan hal
yang dikenali atau diketahui seseorang dapat memahami dan mungkin melakukan
tentang pengetahuan tersebut dalam situasi tertentu.
Menurut penelitian Rogers (1974) sebelum orang mengadopsi prilaku baru
dalam ciri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yaitu: Awareness
(kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih
dahulu terhadap stimulus (objek), Interest (merasa tertarik) terhadap suatu
stimulus atau objek tersebut, disini sikap subjek sudah mulai timbul. Evaluation
(menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
Trial, dimana subjek sudah mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki stimulus. Adoption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai
dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang sebab dari pengetahuan dan penelitian ternyata
prilakunya yang disadari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada prilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan. Manusia mengembangkan pengetahuannya
hasil perkembangan dan pendidikan maka semakin tinggi perkembangan dan
pendidikan perawat maka semakin kompleks bahasa yang dipakai dalam proses
komunikasi sehingga dapat menjembatani proses komunikasi yang baik antara
perawat dan pasiennya (Potter & Perry, 2002).
Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indra manusia yaitu: indra penglihatan, indra pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang (Notoadmojo, 2007)
Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal termasuk
mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun
tidak sengaja dan ini terjadi setelah orang malakukan kontak atau pengamatan
terhadap suatu obyek tertentu (Mubarok, dkk, 2007)
2.1.2. Tingkat pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2003), pengetahuan yang dicakup dalam domain
kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau yang
2. Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara
benar. Orang yang paham terhadap objek tersebut harus bisa menjelaskan,
menyimpulkan dan menyebutkan terhadap materi yang sudah diterima.
3. Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari terhadap suatu situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini
dapat diartikan sebagai penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan
sebagainya dalam situasi yang lain.
4. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi kedalam
kompenen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan
kata kerja: menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokan dan
sebagainya
5. Sintesis
Sintesis menunjukan suatu kemampuan meletakan bagian dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu merupakan suatu kemampuan
untuk menyusun formulir baru dari formulasi yang ada.
6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian
terhadap suatu materi. Penilaian tersebut bedasarkan suatu krikteria yang
2.1.3. Fungsi Pengetahuan
Menurut fungsi ini manusia mempunyai dorongan dasar untuk ingin tahu,
untuk mencari penalaran dan untuk mengorganisasikan pengalamannya. Adanya
unsur-unsur yang tidak konsisiten dengan apa yang diketahui individu akan
disusun, ditata kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga tercapai suatu
consistent (Notoatmodjo, 2003)
2.1.4. Sumber Pengetahuan
Menurut Setyosari (2010) ada beberapa sumber pengetahuan diantaranya :
1. Pengalaman (Experience)
Pengalaman pribadi setiap orang sangat beragam dan berbeda. Kadang kala
dengan berbekal pengalaman pribadi ini atau pengalaman yang diperoleh
melalui orang lain seseorang memperoleh manfaat darinya. Namun demikian
tidak semua bentuk pengalaman sesuai untuk mengatasi masalah yang kita
hadapi. Untuk mencari jawaban persoalan yang bersifat sederhana atau mudah
pemecahannya juaga sederhana dan tidak telalu kompleks.
2. Kewenangan (Authority)
Wewenang atau otoritas dimiliki oleh seseorang yang sudah memiliki keahlian
dalam bidang tertentu. Wewenang ini juga sering dipakai sebagai pegangan oleh
seseorang dalam suatu usaha untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya.
3. Berfikir Deduktif (Deductive Thinking)
Berfikir deduktif ini merupakan proses berfikir yang didasarkan pada
pernyataan yang bersifat umum ke hal yang bersifat khusus dengan menggunakan
logika tertentu. Cara berfikir ini dilandasi dengan suatu system penyusunan fakta
4. Berfikir Induktif (Inductive Thinking)
Cara berfikir induktif pada pokoknya bertolak dari dasar pemikiran bahwa
suatu kebenaran tidaklah selalu berasal dari otoritas atau kewenangan belaka.
Dalam berfikir induktif seseorang harus melakukan pengamatan sendiri, mencari
fakta untuk mencapai generalisasi. Cara berfikir induktif berbeda dengan deduktif
yang mendasarkan pada dasar pikiran harus diketahui terlebih dahulu sebelum
mencapai pada kesimpulan yang benar. Dalam berfikir secara induktif,
kesimpulan akan tercapai dengan mengamati contoh, fakta, gejala atau objeknya.
5. Berfikir Ilmiah (Scientific Thinking)
Proses berfikir ilmiah adalah proses melakukan penalaran terhadap suatu hal
sesuai dengan prosedur ilmiah. Sesuatu disebut ilmiah apabila bias ditangkap
dengan rasio (piker), dengan demikian sesuatu itu dikatakan rasioanal apabila cara
pemikirannya dilandasi oleh prosedur ilmiah. Sesuatu yang dikatakan ilmiah
apabila bias diterima oleh akal artinya menurut pertimbangan akal atau pikiran
yang sehat (Setyosari, 2010)
Kepercayaan bedasarkan tradisi merupakan pengetahuan yang bersumber
dari kepercayaan yang menunjukan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara
mewarisi apa saja yang ada dalam diri seseorang dan umumnya berlaku dalam
kehidupan masyarakat, adat, nilai, kebiasaan dan kehidupan dalam beragama
dengan kata lain pengetahuan diperoleh bedasarkan pemahaman atas sesuatu
situasi baru yang berpegang pada kepercayaan yang telah dibenarkan (Aisyah,
2.1.5. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2007), ada beberapa factor yang mempengaruhi
pengetahuaan diantaranya :
a. Umur
Umur adalah umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat
semakin berulang. Semakin cukup umum, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja
b. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu
terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, perubahan kearah yang lebih dewasa,
lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok dan masyarakat.
c. Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang baik. Pernyataan tersebut dapat diartikan
bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman
pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal
ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperolah dengan
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
2.2. Lansia
2.2.1. Definisi Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia (Siti Maryam, 2008). Sedangkan menurut UU No. 13 Tahun
1998 Pasal 1 Ayat (2), (3), (4) tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut
menurut (Noorkasiani, 2008) adalah seseorang yang berusia lebih dari 65 tahun,
yang selanjutnya terbagi ke dalam usia 70 - 75 tahun (young old), 75 - 80 tahun
(old), dan lebih dari 80 tahun di katakan (very old).
Menurut (Arisman, 2010) usia lanjut adalah periode penutup dalam
rentang hidup seseorang yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak
jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari
waktu yang penuh dengan manfaat. Sedangkan menurut (Nugroho, 2008).
Lanjut usia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur
dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk
infeksi). dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
2.2.2. Batasan Usia Lanjut
Menurut organisasi Kesehatan Dunia, Usia pertengahan (middle age)
ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) antara 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) antara 76 sampai 90 tahun, usia sangat tua (very old)
diatas 90 tahun.
2.2.3. Klasifikasi Lansia
Menurut (Rosidawati, 2008) terdapat 5 klasifikasi pada lansia diantaranya:
1. Pralansia (Prasenilis)
Seseorang yang berusia antara 45 - 59 tahun
2. Lansia
3. Lansia resiko tinggi
Seseorang yang beresiko 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia
60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan
4. Lansia potensial
Menghasilkan barang/jasa. Lansia yang mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang dapat
5. Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung
pada bantuan orang lain.
2.3. Andropause
2.3.1. Definisi Andropause
Andropause adalah kondisi pria di atas umur pertengahan atau tengah baya
yang mempunyai kumpulan gejala, tanda, dan keluhan mirip menopause pada
wanita. Karena itu istilah andropause sering disebut sebagai menopause pada pria.
Akan tetapi istilah andropause merupakan istilah yang sering dipakai untuk
menggambarkan kondisi keluhan-keluhan tersebut. Pada andropause meskipun
keluhannya mirip keluhan menopause tetapi hal ini tidak berarti bahwa kondisi
dan keluhannya akan sama persis dengan wanita. Pada wanita menopause,
produksi sel telur, hormon estrogen, dan siklus haid akan terhenti secara nyata.
Sedangkan pria di atas umur tengah baya produksi spermatozoa dan hormon
testosteron turun secara perlahan/bertahap (Susilo, 1998).
Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, andro artinya pria
sedangkan pause artinya penghentian, jadi secara harfiah andropause adalah
menopause dimana produksi ovum, produksi hormon estrogen dan siklus haid
yang akan berhenti dengan cara yang relatif tiba-tiba, pada pria penurunan
produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormone lainnya terjadi secara
perlahan dan bertahap (Setiawan, 2006).
Andropause seperti juga menopause pada perempuan usia senja, pada kaum
laki- laki juga ada istilah andropause yang belum populer di kalangan masyarakat.
Secara harfiah andropause diartikan sebagai andro: kejantanan, pause: istirahat,
secara awam boleh diartikan mulai istirahatnya kelaki-lakian seseorang laki-laki
usia senja, sedangkan secara umum diartikan sebagai berkurangnya produksi
hormon laki-laki (testosteron), ada yang memberi istialah andropause sebagai
klimakteriaum laki-laki. Seorang laki-laki sedang berada pada tingkat kritis fase
kehidupannya, dimana terjadi perubahan fisik, hormon, dan psikis, serta
penurunan aktifitas seksual. Selama proses penuaan normal pada pria, terdapat
penurunan 3 sistem hormonal, yaitu hormon testosteron, dehydroephyandrosteron
(DHEA)/DHEA Sulfat (DHEAS), serta Insulin Growth Factor (IGF) dan Growth
Hormon (GH). Menurut (Saryono, 2010) yang menyebut andropause dengan
sebutan lain seperti: klimaterium pada pria, Partial Androgen Deficiency in Aging
Male (PADAM), Partial Testosteron Deficiency in Aging Male (PTDAM),
Adrenopause (defisiensi DHEA), Somatopause, Viropause
2.3.2. Penyebab Andropause
Andropause dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain :
1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang berperan dalam terjadinya andropause ialah adanya
Faktor yang bersifat kimia yaitu pengaruh bahan kimia yang bersifat estrogenic.
Bahan kimia tersebut antara lain: asam sulfur, difocol, pestisida, insektisida,
herbisida, dan pupuk kimia. Efek estrogenic yang ditimbulkan dari bahan-bahan
tersebut dapat menyebabkan penurunan hormon testosteron. Sedangkan faktor
psikis yang berperan yaitu kebisingan, ketidaknyamanan, dan keamanan tempat
tinggal (Susilo, 1998).
2. Faktor Organik
Faktor organik yang berperan dalam terjadinya andropause yaitu adanya
perubahan hormonal. Pada pria yang telah mengalami penuaan, perubahan
hormonal yang terjadi antara lain:
a. Hormon Testosteron
Testosteron adalah zat androgen utama yang tidak hanya diproduksi oleh
testis, tapi juga oleh ovarium pada wanita dan kelenjar adrenal (Tan, 2001).
Dalam keadaan normal, kira-kira hanya 2% hormone testosteron berada dalam
bentuk bebas (tidak terikat), sisanya terikat pada Sex Hormone Binding Globulin
(SHBG), dan hanya sedikit yang terikat pada albumin serta cortisolbinding
globulin. Sedangkan yang menunjukkan bioavailabilitas testosteron ialah yang
memiliki bentuk bebas dan terikat pada albumin, bukan yang terikat pada SHBG.
b. Hormon dehydroepiandrosteron (DHEA) dan dehydroepiandrosteron
sulphate (DHEAS)
Merupakan hormone yang berbentuk steroid C-19 dan merupakan steroid
terbesar dalam tubuh manusia. Hormon ini terutama disekresi oleh zona reticularis
kelenjar adrenal. Dalam darah, hormon ini terutama berbentuk ikatan dengan
DHEAS dalam darah kira-kira 300-500 kali konsentrasi konsentrasi DHEA.
Sekresi DHEAS selain oleh kelenjar adrenal, sebagian kecil berasal dari konversi
DHEA jaringan perifer. Hormon DHEAS, terutama akan dimetabolisir menjadi
DHEA, kemudian berubah lagi menjadi σ5-androstenedion, kemudian akhirnya
menjadi testosterone, Sisanya sebagian kecil akan dimetabolisir menjadi σ5
-androstenediol sulfat tanpa kehilangan gugus sulfatnya dan atau sebaliknya.
DHEA dalam sirkulasi kebanyakan berasal dari DHEAS dan sebagian kecil
berasal dari kelenjar adrenal. DHEA yang berasal dalam sirkulasi sebagian besar
terikat albumin, sisanya pada SHBG dan dalam bentuk bebas.Puncak kadar
DHEA/DHEAS ialah pada umur 20-30 tahun. Berikutnya mulai terjadi penurunan
secara perlahan-lahan dengan kecepatan kira-kira 2% per tahun.
3. Faktor Psikogenik
Faktor-faktor psikogenik yang sering dianggap dapat mendorong timbulnya
keluhan adropause antara lain:
a. Pensiun,
b. Penolakkan terhadap kemunduran
c. Stress tubuh/fisik.
2.3.3. Fisiologis Andropause
Walaupun istilah andropause ditujukan untuk pria usia lanjut, tetapi gejala
yang sama juga terjadi pada pria berusia lebih muda yang mengalami kekurangan
hormon androgen.. Testosteron merupakan hormon seks pria yang paling penting
(Pangkahila, 2006). Testosteron disekresikan oleh sel-sel interstisial leydig di
dalam testis. Testis mensekresi beberapa hormon kelamin pria, yang secara
androstenedion. Testosteron jumlahnya lebih banyak dari yang lain sehingga
dapat dianggap sebagai hormon testicular terpenting, walaupun sebagian besar
testosteron diubah menjadi hormone dihidrotestosteron yang lebih aktif pada
jaringan target (Guyton dan Hall, 1997).
Nilai rujukan normal testosteron total adalah 300-1100 ng/dl (Sayono,
2010), Richard (2002) menyatakan kadar testosteron pada pria dewasa adalah
sebagai berikut: free testosteron sebesar 0,47-2,44 ng/dl atau 1,6% - 2,9%,
sedangkan kadar testosteron dan kadar testosteron SHBG (Sex Hormone Binding
Globulin) diklasifikasikan berdasarkan usia seperti tabel berikut ini:
Tabel 1. Kadar Testosteron dan Kadar Testosteron SHBG (Sex Hormone Binding Globuli)
Kadar Testosteron Kadar Testosteron HSBG
Usia ng/dl Usia nmol/l
20 – 39 400 - 1080 13 – 15 13 – 63
40 – 59 350 - 890 16 – 18 13 – 71
>60 350 - 720 >19 11 – 54
Testosteron total terdiri dari 60% testosteron terikat globulin (SHBG), 38%
testosteron terikat albumin, dan 2% testosteron bebas. Komponen aktif dari
testosteron adalah testosteron terikat albumin dan testosteron bebas yang
kemudian diubah oleh enzim menjadi estradiol (dengan aromatase) dan
dehidrotestosteron (dengan 5 alfa reduktase). Testosteron antara lain
testosteron pada perkembangan sifat kelamin primer dan sekunder pada pria
dewasa antara lain (Guyton dan Hall, 1997):
1. Sekresi testosteron setelah purbetas menyebabkan skrotum, testis, penis kira
- kira membesar delapan kali lipat sampai usia kurang dari 20 tahun
2. Pengaruh pada penyebaran bulu rambut tubuh antara lain diatas pubis, ke
arah sepanjang linea alba kadang-kadang sampai umbilicus dan diatasnya,
serta pada wajah dan dada.
3. Menyebabkan hipertropi mukosa laring dan pembesaran laring. Pengaruh
terhadap suara pada awalnya terjadi “suara serak”, tetapi secara bertahap
berubah menjadi suara bass maskulin yang khas.
4. Meningkatkan ketebalan kulit di seluruh tubuh dan meningkatkan kekasaran
jaringan subkutan.
5. Meningkatkan pembentukan protein dan peningkatan massa otot.
6. Berpengaruh pada pertumbuhan tulang dan retensi kalsium. Testosteron
meningkatkan jumlah total matriks tulang dan menyebabkan retensi
kalsium.
7. Testosteron juga berpengaruh penting pada metabolisme basal, produksi sel
darah merah, sistem imun, serta pengaturan elektrolit dan keseimbangan
cairan tubuh.
2.3.4. Gejala dan Tanda Andropause
. Menurut (Saryono, 2010) penurunan kadar hormon testosteron pada pria
menimbulkan beberapa gejala dan keluhan pada berbagai aspek kehidupan, antara
1. Gangguan vasomotor yaitu gangguan kenyamanan secara umum, tubuh terasa
panas, insomnia, berkeringat, rasa gelisah dan takut terhadap perubahan yang
terjadi.
2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati yaitu Mudah lelah, menurunnya
motivasi terhadap berbagai hal, berkurangnya ketajaman mental, depresi, dan
hilangnya kepercayaan diri.
3. Gangguan virilitas yaitu Mudah lelah, berkurangnya tenaga, menurunnya
kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada
daerah abdomen, dan osteoporosis
4. Gangguan seksual yaitu Menurunnya libido yang berimbas pada menurunnya
minat terhadap aktivitas seksual, kualitas orgasme yang menurun.
berkurangnya kemampuan ereksi atau disfungsi ereksi, berkurangnya
kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi.
Khusus mengenai fungsi seksual, terjadi keluhan dan gejala sebagai berikut:
Menurunnya dorongan seksual, memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai
ereksi penis, memerlukan rangsangan langsung pada penis untuk mencapai ereksi
penis, berkurangnya kekakuan pada penis, berkurangnya itensitas enjakulasi.
2.3.5. Dampak Andropause
1. Osteoporosis
Pada pria, testosterone berperan juga dalam menjaga keseimbangan otot dan
tulang. Dengan bertambahnya usia dan menurunnya kadar testosterone,
kemampuan kembali pembentukan jaringan tulang semakin menurun sehingga
2. Kanker Prostat
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat
dengan sel kelenjar prostat yang tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali.
Ukurannya kecil dan terletak dibawah kandung kemih mengelilingi saluran
kencing (uretra). Prostat memegang peranan penting dalam produksi cairan
enjakulasi yang fungsinya memproduksi cairan prostatyang menyediakan zat
makanan bagi sel sperma. Kanker tersebut terjadi karena proses reduksi terhadap
hormone testosterone akibat pengaruh enzim 5 alfa reduktase menjadi hormone
dihidrotestosterone. Perubahan yang berlangsung secara bertahap ini
menyebabkan makin tingginya kadar dihidrotestosterone sehingga pembesaran
prostat pun terjadi.
3. Penyakit Jantung
Resiko pria terkena arterosklerosis cenderung meningkat setelah terjadi
andropause. Fenomena ini terjadi dikarenakan menurunnya kadar testosterone
sejalan dengan proses penuaan. Kadar testosterone yang rendah akan
menyebabkan peningkatan faktor resiko penyakit jantung.
4. Angina Pektoris
Akibat penurunan kadar testosterone juga mengakibatkan terjadinya angina
pectoris pada pria.
2.3.6. Terapi dan Pencegahan Andropause
Menurut Saryono (2010) Terapi andropause dapat dilakukan secara ilmiah.
Kombinasi diet dan olahraga dengan tidur yang cukup dan tingkat stress yang
rendah membantu memperkuat produksi testosterone. Metode lain termasuk
mengatasi masalah andropause. Terapi testosterone terdapat berbagai sediaan
termasuk di temple di kulit (skin patches), kapsul, jel dan injeksi.
1. Skin Patches
Terapi ini yang berisi testosterone di tempelkan di kulit dimana testosterone
di lepaskan secara perlahan ke dalam darah untuk mencegah munculnya gejala
yang disebabkan oleh kekurangan testosterone. Terapi ini dipasang di daerah yang
kering seperti punggung, abdomen, lengan atas atau paha.
2. Gel Testosterone
Terapi ini juga dipakai langsung di kulit misalnya pada lengan. Untuk
menghindari kontak dengan orang lain, seseorang yang melakukan terapi gel
dianjurkan mencuci tangan sesudah melakukan terapi ini.
3. Kapsul
Terapi dalam bentuk kapsul ini biasanya dikonsumsi 2 kali sehari setelah
makan. Pria yang menderita penyakit hati, penyakit jantung, penyakit ginjal atau
kelebihan kalsium didalam darah sebaiknya menghindari terapi pemberian kapsul
testosterone.
4. Injeksi Testosterone
Terapi injeksi testosterone (testosterone cypionate & testosterone enanthate)
diberikan setiap 3 sampai 4 minggu. Efek dari obat ini menyebabkan suasana hati
menjadi labil akibat perubahan hormone testosterone. Bagi penderita penyakit
jantung, penyakit ginjal, kelebihan kalsium berlebihan dalam darah sebaiknya
menghindari terapi testosterone cypionate sedangkan bagi penderita penyakit
ginjal sebaiknya mendapat terapi testosterone enanthate. Tetosterone tidak boleh
2.3.7. Manfaat Pengobatan Terapi Hormon Testosterone
Menurut Saryono (2010) ada Beberapa manfaat dari terapi hormone
testosterone yaitu:
1. Emosi dan rasa penghargaan diri membaik
2. Energi secara fisik dan mental meningkat
3. Kemarahan, mudah tersinggung, kesedihan, kelelahan, dan rasa gugup
berkurang
4. Kualitas tidur membaik
5. Libido dan kemampuan seksual meningkat
6. Massa tubuh meningkat dan lemak berkurang
7. Kekuatan otot bertambah
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
3.1.Kerangka Konsep Penelitian
Adapun kerangka konsep penelitian ini tentang Pengetahuan Lansia
Tentang Andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten
Langkat adalah sebagai berikut :
Skema 3.1 Pengetahuan Lansia Tentang Andropause di Desa Alur Gadung
Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
Pengertian Andropause Penyebab Andropause Tanda & Gejala Andropause Dampak Andropause
Pencegahan Andropasue Pengetahuan Lansia Tentang
3.2.Tabel
Definisi Operasional NO Variabel
Penelitian
Definisi
Operasiaonal
Alat Ukur Skala Hasil Ukur
1 Pengetahuan
Lansia
Andropause adalah
kondisi pria di atas
umur pertengahan
atau tengah baya
yang mempunyai
kumpulan gejala,
tanda, dan keluhan
mirip menopause
pada wanita
Penyebab
Andropause terdiri
dari 3 faktor yaitu:
faktor lingkungan,
faktor organik dan
faktor psikogenik. Gejala Andropause terdiri dari: Gangguan Vasomotor (tubuh terasa panas, Kuisioner dengan 15 pernyataan
Ordinal Baik, bila
responden
mendapat
skor 26 -
30 dari 15
pernyataan
Cukup,
bila
responden
mendapat
skor 21 -
25 dari 15
berkeringat, rasa
gelisah dan takut
Gangguan Kognitif
(mudah lelah,
depresi, kehilangan
kepercayaan diri,
berkuranganya
ketajaman mental)
Gangguan Virilitas
(kurangnya
bertenaga,
kehilangan rambut
tubuh, penumpukan
lemak pada daerah
perut)
Gangguan seksual
(menurunnya libido,
menurunnya
aktifitas seksual,
kemampuan ereksi
berkurang)
Dampak
Andropause:
Kanker Prostat,
Penyakit jantung,
Angina Pektoris
Pencegahan
Andropause: Kapsul
Skin Patches, gel
testosterone, Injeksi
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka desain penelitian yang digunakan
deskriptif untuk mengetahui bagaimana pengetahuan lansia tentang andropause.
4.2. Populasi dan Sampel 4.2.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang akan diteliti
(Notoadmojo, 2002). Populasi pada penelitian ini adalah keseluruh lansia pria
yang berusia 60 tahun keatas, populasi dalam penelitian ini adalah 57 orang yang
ada di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat.
4.2.2. Sampel
Sampel adalah objek yang dianggap mewakili seluruh populasi. Apabila
subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sebagai penelitian populasi,
tetapi jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25% atau
lebih, dalam penelitian ini sampel yang berusia 60 tahun keatas sebanyak 57
orang. Dalam penelitian ini menggunakan tehnik total sampling
4.3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang
Kabupaten Langkat dengan pertimbangan efisien biaya dan efektifitas waktu
karena penelitian ini dilakukan pada masa studi tepatnya bulan September s/d
November 2012. Lokasi penelitian ditempat ini dipilih dengan alasan karena
4.4. Pertimbangan Etik Penelitian
Ada beberapa hal yang berkaitan dengan etik pada penelitian ini yaitu
peneliti harus memberi penjelasan kepada calon responden tentang tujuan
penelitian dan prosedur pelaksanaannya. Penelitian tidak menimbulkan tekanan
bagi responden baik fisik maupun psikologis. Peneliti menanyakan terlebih dahulu
apakah calon responden bersedia jadi responden, setelah itu dipersilahkan
menandatangani informed consent sebagai bukti kesediaannya. Tetapi jika calon
responden tidak bersedia maka responden berhak untuk menolak dan
mengundurkan diri. Kerahasiaan data responden dijaga dengan tidak menuliskan
nama responden pada instrumen penelitian dan peneliti hanya menggunakan data
ini untuk keperluan penelitian.
4.5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner
yang dikembangkan bedasarkan tinjauan pustaka oleh peneliti dan disusun secara
tertutup serta berisikan pernyataan yang harus di jawab oleh responden. Instrumen
terdiri dari 2 bagian yaitu: (1) data demografi yang terdiri dari umur, pendidikan,
pekerjaan, suku (2) Kuesioner terdiri dari 15 pernyataan tertutup dengan
menggunakan skala guttman dengan dua kemungkinan jawaban yaitu: jawaban
“Benar” skor: 2 dan jawaban “Salah” skor: 1. Baik, bila responden menjawab
benar dengan skor 26-30 dari 15 pernyataan. Cukup, bila menjawab pernyataa
benar dengan skor 21-25 dari 15 pernyataan . Kurang, bila menjawab benar
dengan skor 15 - 20 dari 15 pernyataan.
Kuesioner terdiri dari 15 pernyataan diantaranya 3 pernyataan yang berisi
tentang penyebab andropause (pernyataan no 4, 5, 6), 3 pernyataan yang berisi
tentang tanda dan gejala andropause (pernyataan no 7, 8, 9), 3 pernyataan yang
berisi tentang dampak andropause (pernyataan no 10, 11, 12), 3 pernyataan yang
berisi tentang pencegahan andropause (pernyataan no 13, 14, 15) dengan pilihan
jawaban benar dan salah. Adapun peneliti menggunakan kuisioner dalam bentuk
pernyataan dikarenakan peneliti menggunakan skala guttman dengan pilihan
jawaban benar 26-30 dikatakan pengetahuan baik, jika jawaban benar 21-25
dikatakan cukup dan jika jawaban benar 15-20 dikatakan pengetahuan kurang
4.6. Aspek Pengukuran
Sebelum menentukan kategori baik, cukup, kurang terlebih dahulu
menentukan krikteria (tolak ukur) yang akan dijadikan patokan penelitian
yaitu: penelitian yang digunakan tersebut menurut skala guttman (Riduan,
2010). B= kelas Banyak (R) Rentang
1. Menentukan nilai rentang (R)
2. Rentang = skor tertinggi – skor terkecil
30 – 15 = 15
3. Menentukan panjang kelas ( i )
Panjang kelas ( i ) =
kelas Banyak
(R) Rentang
15 : 3 = 5
4. Untuk menentukan kategori pengetahuan adalah sebagai berikut :
4.1. Kategori baik: Jika responden menjawab dengan skor 26-30
4.3. Kategori kurang: Jika responden menjawab dengan skor 15-20
4.7. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah peneliti terlebih dahulu mengajukan
permohonan izin pelaksanaan penelitian pada Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara dan kemudian mengirimkan permohonan izin penelitian ke kepala
Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Kemudian
peneliti menentukan calon responden yang memenuhi kriteria, maka dipilih
sebagai responden sesuai dengan kriteria penelitian. Pada saat mengambil data
peneliti mengumpulkan responden dirumah peneliti sendiri secara bertahap
dimana dari 57 responden terbagi menjadi 3 bagian. Setelah mendapatkan
responden, peneliti menjelaskan tujuan & manfaat penelitian, kemudian
responden diminta untuk menandatangani surat persetujuan Selanjutnya peneliti
mengambil data dari responden yang bersedia dengan cara memberikan kuesioner
dan mewawancarai satu persatu yang berpedoman pada pernyataan yang
diberikan. Responden diberikan kesempatan untuk bertanya bila ada yang tidak
mengerti.
4.8. Analisa Data
Data yang sudah terkumpul diolah secara komputerisasi. Secara umum data
yang diperoleh dari penelitian akan menempuh tiga prosedur penting yaitu:
Editing, data yang terkumpul akan disunting (edit) dengan memerikasa
kelengkapan data dan apabila terdapat kekeliruan dalam pengisian dapat
diperbaiki dan dilakukan pendataan ulang, Coding, pengkodean data dilakukan
untuk mempermudah peneliti pada saat pengitungan data dan penyusunan data
kesimpulan, terlebih dahulu data dimasukan kedalam table distribusi frekuensi
dan dibuat persentase.
4.9.Uji Validitas dan Uji Reliabilitas 4.9.1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu pengukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan suatu instrumen dalam mengumpulkan data (Arikunto, 2010). Suatu
instrumen dapat dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel
yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan
sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang
validitas yang dimaksud.
Kuesioner dalam penelitian ini dibuat sendiri oleh peneliti bedasarkan
tinjauan pustaka sehingga dilakukan uji validitas untuk mengetahui seberapa besar
derajat atau kemampuan alat ukur untuk mengukur secara konsisten sasaran yang
akan diukur. Uji validitas terhadap kuisioner pada penelitian ini dilakukan dengan
cara content validity (Validitas isi) dalam hal ini di uji oleh dosen Departemen
Keperawatan Jiwa dan Komunitas.
4.9.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur
memperlihatkan hasil yang relatif sama dalam beberapa kali pengukuran terhadap
sekelompok subjek yang sama. Hasil yang relatif sama menunjukkan bahwa ada
toleransi terhadap perbedaan-perbedaan kecil diantara hasil beberapa kali
pengukuran tersebut (Nursalam, 2009).
Uji reliabilitas dilakukan di Desa Kebun Sayur Atas Kecamatan Sawit
responden. Setelah dilakukan uji reliabilitas pada panelitian ini hasil yang didapat
BAB 5
HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan diuraikan data hasil penelitian dan pembahasan
mengenai pengetahuan lansia tentang andropause melalui proses pengumpulan
data yang telah dilaksanakan dari bulan September s/d Nopember 2012 sebanyak
57 orang. Penyajian data hasil penelitian meliputi data demografi dan kuesioner
pernyataan yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan lansia tentang
andropause
5.1Karakteristik Demografi Responden
Berdasarkan hasil penelitian bahwa dari 57 responden mayoritas
responden berada pada kelompok umur 60-62 tahun sebanyak 37 orang (64,9%),
dan minoritas pada kelompok umur 63-65 tahun sebanyak 20 orang (35,1%).
Sedangkan pendidikan responden mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 20
orang (35,1%) pendidikan SMP 19 orang (33,3%) dan responden yang
berpendidikan SD sebanyak 18 orang (31,6%). Sedangkan pekerjaan responden
mayoritas sebagai petani sebanyak 31 orang (54,4%), pekerjaan responden
sebagai peternak sebanyak 10 orang (17,5%), responden yang sudah pensiun
sebanyak 9 orang (15,8%) serta minoritas responden yang sudah pedagang
sebanyak 7 orang (12,3%). Sementara itu suku responden mayoritas suku jawa
sebanyak 30 orang (52,6%), sedangkan sebagian responden yang suku melayu
sebanyak 10 orang (17,5%), responden yang suku batak sebanyak 8 orang
(14,0%), responden yang suku minang sebanyak 7 orang (12,3%) dan minoritas
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Responden di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
Karakteristik Responden Frekuensi % Umur
60 - 62 Tahun 37 64,9 63 - 65 Tahun 20 35,1
Pendidikan
SD 18 31,6
SMP 19 33,3
SMA 20 35,1
Pekerjaan
Petani 31 54,4
Peternak 10 17,5
Pensiun 9 15,8
Pensiun 7 12,3
Suku
Jawa 30 52,6
Batak 8 14,0
Melayu 10 17,5
Minang 7 12,3
Sunda 2 3,5
5.2. Pengetahuan lansia tentang andropause
Bedasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden
menjawab benar sebanyak 25 orang (43,9%) dan minoritas responden sebanyak
22 orang (38,6), sedangkan mayoritas responden menjawab salah sebanyak 38
orang (66,7%) dan minoritas menjawab salah sebanyak 32 orang (56,1%). Dalam
hal ini terlihat responden kurang menyadari bahwa seorang pria sama halnya
seperti wanita yang mengalami perubahan yang dapat mempengaruhi seluruh
aspek kehidupan sehingga responden kurang memahaminya (dapat dilihat pada
Tabel 5.2.1
Distribusi Frekuensi Pengetahuan lansia tentang andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
No Pernyataan Pengertian Andropause Benar % Salah %
1 kondisi pria di atas umur pertengahan atau tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda, dan keluhan mirip menopause pada wanita
25 43,9 32 56,1
2 Menopause tidak hanya terjadi pada wanita tetapi juga terjadi pada pria.
19 33,3 38 66,7
3 Andropause terjadi karena penurunan hormon laki - laki
22 38,6 35 61,4
Bedasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden
menjawab benar sebanyak 27 orang (47,4%) dan minoritas responden sebanyak
25 orang (43,9%) sedangkan mayoritas responden menjawab salah sebanyak 32
orang (56,1%) dan minoritas responden sebanyak 30 orang (52,6%). Dari hasil
diatas terlihat jelas bahwa pencemaran lingkungan yang bersifat kimia dan stres
tubuh sangat mempengaruhi terjadinya penyebab dari andropause (dapat dilihat
[image:45.595.117.515.123.271.2]pada tabel 5.2.2)
Tabel 5.2.2
Distribusi Frekuensi Pengetahuan lansia tentang andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
No Pernyataan Penyebab Andropause Benar % Salah %
4 Andropause (penghentian hormon pria)
disebabkan oleh faktor lingkungan,
26 45,6 31 54,4
5 Pencemaran lingkungan yang bersifat kimia, psikis dapat menyebabkan terjadinya andropause
27 47,4 30 52,6
6 Stres tubuh dapat menyebabkan terjadinya
andropause
25 43,9 32 56,1
Bedasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden
menjawab benar sebanyak 27 orang (47,4%) dan minoritas responden sebanyak
[image:45.595.118.516.537.659.2]sebanyak 32 orang (56,1%) dan minoritas responden sebanyak 30 orang (52,6%).
Dalam hal ini responden masih kurang mengetahui tentang tanda dan gejala
andropause dikarenakan kurangnya informasi tentang andropause serta pendidikan
[image:46.595.112.516.221.336.2]yang rendah (dapat dilihat pada tabel 5.2.3)
Tabel 5.2.3
Distribusi Frekuensi Pengetahuan lansia tentang andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
No Pernyataan Tanda dan Gejala Andropause Benar % Salah %
7 Penurunan dorongan seksual terjadi pada
masa andropause
27 47,4 30 52,6
8 Kehilangan buluh pada tubuh, penumpukan
lemak terjadi pada masa andropause
26 45,6 31 54,4
9 Berkurangannya tenaga, kekuatan dan masa
otot terjadi pada masa andropause
25 43,9 32 56,1
Bedasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden
menjawab benar sebanyak 33 orang (57,9%) dan minoritas responden sebanyak
22 orang (38,6%), sedangkan mayoritas responden yang menjawab salah
sebanyak 35 orang (61,4%) dan minoritas responden sebanyak 24 orang (42,1%),
(dapat dilihat pada tabel 5.2.4)
Tabel 5.2.4
Distribusi Frekuensi Pengetahuan lansia tentang andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
No Pernyataan Dampak Andropause Benar % Salah %
10 Kanker prostat terjadi pada masa andropause 22 38,6 35 61,4 11 Penurunan kepadatan tulang, penyakit
jantung terjadi pada masa andropause
25 43,9 32 56,1
12 Arterosklerosis akan cenderung meningkat
pada masa andropause
33 57,9 24 42,1
Bedasarkan tabel 5.2.5 diatas hasil penelitian menunjukkan bahwa
mayoritas responden menjawab benar sebanyak 29 orang (50,9%) dan minoritas
responden sebanyak 22 orang (38,6%), sedangkan mayoritas responden yang
menjawab salah sebanyak 35 orang (61,4%) dan minoritas responden sebanyak 28
Tabel 5.2.5
Distribusi Frekuensi Pengetahuan lansia tentang andropause di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat
No Pernyataan Pencegahan Andropause Benar % Salah %
13 Olahraga yang teratur dapat memperkuat
produksi testosteron
29 50,9 28 29,1
14 Memberikan penyuntikan hormon tambahan
dapat menghambat terjadinya andropause
24 42,1 33 57,9
15 Mengkonsumsi suplemen ekstra tumbuhan
dapat membantu dalam mengatasi masalah andropause
22 38,6 35 61,4
5.3. Pengetahuan Lansia Tentang Andropause
Berdasarkan hasil yang didapat oleh peneliti dapat dilihat bahwa
pengetahuan responden mayoritas pengetahuan cukup sebanyak 38 orang
(66,7%), pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (29,8%) dan minoritas
pengetahuan baik sebanyak sebanyak 2 orang (3,5%), (dapat dilihat pada
[image:47.595.112.523.459.533.2]tabel 5.3.1)
Tabel 5.3.1
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Responden di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat Tahun
No Pengetahuan Frekuensi %
1 Baik 2 3,5
2 Cukup 38 66,7
3 Kurang 17 29,8
Total 57 100,0
5.4 PEMBAHASAN
5.4.1 Pengetahuan Lansia Tentang Andropause
Berdasarkan hasil penelitian bahwa dari 57 responden mayoritas
responden berada pada kelompok umur 60 - 62 tahun sebanyak 37 orang (64,9%),
dan minoritas pada kelompok umur 63 - 65 tahun sebanyak 20 orang (35,1%).
Bedasarkan hasil penelitian pendidikan responden mayoritas berpendidikan
SMA sebanyak 20 orang (35,1%) pendidikan SMP 19 orang (33,3%) dan
Notoatmodjo (2003) pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk
mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga
mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Pendidikan
secara umum merupakan salah satu upaya yang direncanakan untuk menciptakan
perilaku seseorang menjadi kondusif dalam mengatasi masalah. Tingkat
pendidikan berpengaruh pada pengetahuan seseorang. Semakin tinggi pendidikan
maka lansia semakin paham dan menerima keseluruhan perubahan fisik dan
psikososial yang terjadi pada lansia.
Bedasarkan hasil penelitian pengetahuan responden tentang andropause
menunjukkan bahwa dari 57 responden lebih banyak pengetahuan cukup tentang
andropause yaitu: 38 orang (66,7%), kurang 17 orang (29,8%) dan baik 2 orang
(3,5%). Responden yang pengetahuannya cukup kemungkinan kurangnya
pengetahuan tentang andropause dan informasi tentang andropause. Faktor
tersebut sangat berpengaruh terhadap rendahnya pengetahuan lansia terhadap
andropause terutama pendidikan karena rendahnya pendidikan dapat
menyebabkan rendahnya pengetahuan seseorang.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Diaudin (2009) bahwa pendidikan
sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, dimana terlihat semakin
meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya harapan hidup dengan status
sosial yang cukup jelas terlihat maka masalah kesehatan lansia akan meningkat
sehingga diperlukan kesadaran dan pengetahuan tentang andropause dan terapi
yang sesuai dengan andropause.
Menurut kondjaraningrat berpendapat bahwa pendidikan yang tinggi maka
lain maupun dari media dan sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan
seseorang maka akan dapat menghambat perkembangan dan sikap seseorang
terhadap nilai - nilai baru
Hal ini dapat diketahui berdasarkan hasil jawaban kuesioner responden
bahwa responden masih kurang mengetahui tentang penyebab andropause
sehingga mereka masih banyak menjawab salah. Jika dilihat dari umur
pengetahuan responden sangat bervariasi, tidak bisa dijadikan tolak ukur bahwa
umur responden yang terlalu tua atau terlalu muda mempunyai pengetahuan yang
baik atau kurang. Jadi umur tidak dapat dijadikan indikator untuk mengetahui
tentang penyebab andropause.
Hasil penelitian yang dilakukan Juliana (2009) yang menyatakan bahwa
pengetahuan terhadap andropause yaitu berpengetahuan kurang sebanyak 71
orang (53,4%), yang berpengetahuan cukup 56 orang (42,1%) dan yang
berpengetahuan baik sebanyak 6 orang (4,5%). Peneliti berasumsi bahwa
pengetahuan responden juga dipengaruhi oleh pendidikan karena dalam penelitian
mayoritas responden latar belakang pendidikan adalah SMA
Pengetahuan lansia yang kurang ini dapat disebabkan karena kurangnya
penyuluhan dari tenaga Kesehatan untuk memberikan informasi tentang penyebab
andropause itu sendiri. Ini sesuai dengan teori notoadmodjo (2007) yang
mengatakan bahwa semakin banyak umur responden semakin banyak pula
seseorang menerima respon sehingga pengetahuan bertambah baik.
Bedasarkan hasil penelitian pekerjaan responden mayoritas sebagai petani
sebanyak 31 orang (54,4%), pekerjaan responden sebagai peternak sebanyak 10
serta minoritas responden yang sudah pedagang sebanyak 7 orang (12,3%). Suku
adalah kelompok tertentu yang memiliki kesamaan latar belakang lebih lanjut
dijelaskan bahwa pengertian suku bangsa atau kelompok etnik merupakan orang
yang memiliki latar belakang budaya, bahasa, kebiasaan, gaya hidup, dan ciri-ciri
fisik yang sama. Sementara itu suku responden mayoritas suku jawa sebanyak 30
orang (53,6%), sedangkan sebagian responden yang suku batak sebanyak 8 orang
(14,0%), responden yang suku melayu sebanyak 10 orang (17,5%), responden
yang suku minang sebanyak 7 orang (12,3%) dan minoritas suku sunda sebanyak
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah pengetahuan responden mayoritas pengetahuan cukup sebanyak 38 orang
(66,7%), pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (29,85) dan minoritas
pengetahuan baik sebanyak 2 orang (3,5%).
a. Saran
6.2.1.Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi baru yang terkait dengan pengetahuan tentang
andropause terutama bagi keperawatan komunitas sebagai bahan bacaan dan
refrensi selanjutnya
6.2.2. Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk meningkatkan pelayanan
kesehatan pada lansia tentang andropause karena selama ini banyak petugas
kesehatan yang mengabaikannya. Jika informasi tentang andropause diberikan
dengan baik maka diharapkan lansia dapat menikmati hari tuanya tanpa
kegelisahan yang sebelumnya mereka ketahui.
6.2.3. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi masyarakat
luas dalam menghadapi perubahan - perubahan yang terjadi dalam dirinya selama
Arisman. 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Aubrey, (2010) Menopause Pada Laki - laki. Pustaka pelajar, Jakarta
Baziad A, (2003) Menopause dan Andropause. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
BPS Indonesia. (1992). Survei Kesehatan Nasional. dibuka 20 Februari 2009 dari
http://www.menkokestra.go.id
Diamond, (2003). Menopause pada pria (male menopause), Batam Center:
Interaksara
Guyton dan Hall, (2006) Text Books Of Medical Physiology Elevant Editional
Hutapea, (2002) Sehat dan Ceria di Usia Senja, Edisi 2, Jakarta
Hurlock. B, (1999). Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan). Bandung . Airlangga
Juliana, (2009) Pengetahuan Lansia terhadap perubahan fisiologis & psikologis
pada masa andropause di Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam
Kabupaten Deli Serdang. Medan: Perpustakaan Fakultas USU
Maryam, (2008) Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya, Salemba Medika,
Jakarta
Mubarak, (2007) Keperawatan Komunitas 2. Jakarta
Mubarak, Wahit Iqbal. (2007), Promosi Kesehatan: Sebuah Pengantar Proses
belajar Mengajar, Jakarta: Graha Ilmu.
Muhammad, (2010) Menopause Pada Laki – laki dan Penyakit Pada Lansia,
Jakarta
Muller, (2003) Endegenous Sex Hormones in Men Aged 40-80 Years. European
Journals of Endocrinology. 149: 582-589
Pangkahila, Wimpie. 2006. Seks yang Membahagiakan. Jakarta: Penerbit Buku
Nugroho, (2008) Solusi Atasi Andropause dan Tingakat Stamina, http://
Bkkbn.go.id/ Article, 14 Mei 2012
Notoadmojo, (2005) Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya, Jakarta
Jakarta
Potter & Perry. (2002). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Konsep, Proses
dan Praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Pangkahila, (2006) Seks yang Membahagiakan. Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Pangkahila, (2007). Anti-Aging Medicine, Memperlambat Penuaan Meningkatkan
Kualitas Hidup. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Richard, (2002) Bioavaible Testosteron, Reproductive Endocrinology Journal
Rosidawati, (2008) Mengenal lansia dan perawatannya, Salemba Medika,
Jakarta
Sarwono, (2003). Menopause dan Andropause. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Susilo W, (2002) Andropause, Pencegahan dan Pengobatan, Semarang
Susilo, (1998). Andropause/PADAM, Pengenalan, Pengobatan dan Pencegahan,
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang,Indonesia.
Setyosari, (2010) Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, Kencana
Jakarta
Sagyono, (2008) Metode Penelitian Pendidikan, Alfabeta, Jakarta
Setiawan, (2006) Pria dan Andropause, http:// Bkkn.go.id/ Article Detail (15 Mei
2012)
Tan, (2001). Proportion and Acceptance of Andropuse Symtomps Among Elderly
Men: A Study in Jakarta. Indones J Intern Med. 37: 82-86
Saryono, (2010) Andropause; Menopause Laki - laki, Nuha Medika, Jakarta
Wibowo A, (2007) Disfungsi Ereksi, Pustaka Cendikia Press, Yogyakarta
Wibowo, S (2002). Memperlambat Penuaan, Mencegah "Padam" dan
Peremajaan Pria. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Documentation:
Diponegoro University Press, Semarang.
Yatim, (2004) Pengobatan Penyakit Lansia, Andropause, Kelenjar Prostat,
PENGETAHUAN LANSIA TENTANG ANDROPAUSE DI DESA ALUR GADUNG KECAMATAN SAWIT SEBERANG KABUPATEN LANGKAT
Saya yang bernama Surya Adi Darma (111121089) adalah mahasiswa
program studi S1 keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini
diberikan sebagai salah satu kegiatan tugas akhir di program S1 keperawatan
Universitas Sumatra Utara. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi Pengetahuan
Lansia Tentang Andropause Di Desa Alur Gadung Kecamatan Sawit Seberang
Kabupaten Langkat
Saya mengharapkan gambaran/tanggapan yang lansia berikan dengan
pendapat lansia tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Saya menjamin kerahasiaan
pendapat lansia. Informasi yang diberikan lansia hanya dipergunakan ilmu
keperawatan dan tidak akan digunakan untuk maksud lain. Partisipasi lansia
dalam penelitian ini bersifat suka rela, lansia bebas menerima atau menolak untuk
menjadi peserta penelitian tanpa ada sanksi apapun. Jika lansia bersedia menjadi
peserta penelitian ini silahkan lansia pria menandatangani surat persetujuan ini
pada tempat yang telah disediakan dibawah ini sebagai bukti suka rela lansia.
Tanda Tangan Hormat Saya
PENGETAHUAN LANSIA TENTANG ANDROPAUSE DI DESA ALUR GADUNG KECAMATAN SAWIT SEBERANG KABUPATEN LANGKAT 1. PETUNJUK PENGISIAN
1.1. Bacalah pernyataan dengan baik dan teliti
1.2. Pilih salah satu jawaban dengan memberi tanda silang (√) untuk jawaban
yang menurut anda benar
1.3. Kuesioner ini setelah diisi dengan lengkap mohon dikembalikan kepada
peneliti
I.4. Terima kasih banyak dan selamat bekerja
2. IDENTITAS RESPONDEN Umur :