• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Ekstradisi Sebagai Sarana Pencegahan Dan Pemberantasan Kejahatan Ditinjau Dari Hukum Internasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Lembaga Ekstradisi Sebagai Sarana Pencegahan Dan Pemberantasan Kejahatan Ditinjau Dari Hukum Internasional"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

Margaretta S R Silitonga : Lembaga Ekstradisi Sebagai Sarana Pencegahan Dan Pemberantasan Kejahatan

LEMBAGA EKSTRADISI SEBAGAI SARANA PENCEGAHAN

DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN DITINJAU DARI

HUKUM INTERNASIONAL

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan Memenuhi syarat-syarat untuk mencapai

Gelar Sarjana Hukum

DISUSUN OLEH :

MARGARETTA S R SILITONGA

030200160

Departemen Hukum Internasional

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

MEDAN

(2)

LEMBAGA EKSTRADISI SEBAGAI SARANA PENCEGAHAN

DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN DITINJAU DARI

HUKUM INTERNASIONAL

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan Memenuhi syarat-syarat untuk mencapai

Gelar Sarjana Hukum

DISUSUN OLEH :

MARGARETTA S R SILITONGA

030200160

Departemen Hukum Internasional

Disetujui Oleh

Ketua Departemen

NIP. 131 616 321 Sutiarnoto S.H. M.H

Pembimbing I Pembimbing II

Hj. Rosmi Hasibuan S.H M.Hum

NIP. NIP. 131 616 321

Sutiarnoto S.H M.H

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan karuniaNyalah penulis dapat menyelesaikan kuliah dan penulisan

skripsi yang berjudul “LEMBAGA EKSTRADISI SEBAGAI SARANA

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN DITINJAU

DARI HUKUM INTERNASIONAL”.

Penulisan skipsi ini diajukan untuk melengkapi syarat guna memperoleh

gelar sarjana hukum di Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi ini

penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa hasil yang diperoleh masih jauh

dari sempurna. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis akan

menerima kritik dan saran demi kesempurnaan skipsi ini.

Namun terlepas dari segala kekurangan yang ada pada skipsi ini, penulis

telah menerima banyak bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, dan untuk itu

penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H. M.Hum sebagai Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Suhaidi, S.H. M.Hum, sebagai Pembantu Dekan I Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara dan selaku Penasihat Akademik selama

penulis menjalani study di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Syafruddin Hasibuan, S.H. M.H DFM, sebagai Pembantu Dekan II

(4)

4. Bapak Muhammad Husni, S.H. M.H sebagai Pembantu Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Hj. Rosmi Hasibuan S.H. M.H sebagai Pembimbing I yang telah

memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan skripsi

ini.

6. Bapak Sutiarnoto MS, S.H M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum

Internasional Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan selaku

Pembimbing II yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada

penulis dalam penulisan skripsi ini.

7. Bapak Arif, S.H. M.Hum sebagai sekretaris Jurusan Hukum Internasional

Fakultas Hukum niversitas Sumatera Utara.

8. Ibu Rafiqoh Lubis, S.H M.Hum, yang telah banyak membantu dan

mendukung penulis dalam menyelesaikan study.

9. Penulis juga mengucapkan terimakasih yang sangat besar kepada orangtua

penulis, Drs. Maruli H Silitonga dan Rosiani br Hutabarat, yang telah

mencurahkan segala kasih sayang serta pengorbanan yang besar sehingga

penulis dapat memperoleh pendidikan, berkat doa merekalah penulis dapat

menyelesaikan study.

10. Terimakasih juga buat kakak Marlinang Silitonga, SE, abang Mervin

Silitonga, SE, kakak Marina Silitonga, SKM, adik-adikku Mathilda

Silitonga dan Moses Silitonga yang selalu menemani dan mendukung

(5)

11. Terimakasih penulis ucapkan kepada Sahat Michael Andreas Siregar yang

telah memberikan waktu, perhatian, semangat serta doa kepada penulis

selama menyelesaikan skripsi.

12. Tidak ketinggalan terimakasih yang sangat besar untuk para Gadiz: Anju

Ciptani Putri Manik, Dewi “Opik” Novita Tarigan, Dwinda ”Dida” Asterita

Sembiring , Esther ”Etenk” Patricia Simamora, Reny “Bamba” Aswita

Sianturi, Yasmine “Mint” Adelina Nasution, sahabat-sahabatku yang

memberi arti kuliah yang sebenarnya.

13. Seluruh teman-teman stambuk 2003 Fakultas Hukum Universitas Sumatera

Utara yang selama ini bersama-sama penulis menyelesaikan study di

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Akhir kata kiranya penulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua

pihak yang berkepentingan, terutama dalam penerapan serta pengembangan ilmu

hukum di Indonesia.

Medan, Agustus 2007

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....i

Daftar Isi...iv

Abstraksi...vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1

B. Perumusan Masalah...8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan...9

D. Keaslian Penulisan...10

E. Tinjauan Pustaka...10

F. Metode Penulisan...18

G. Sistematika Penulisan...19

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP EKSTRADISI A. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekstradisi...21

B. Sejarah dan Perkembangan Ekstradisi...27

C. Syarat-Syarat Ekstradisi...30

C.1. Syarat-Syarat Penahanan yang Diajukan Negara Peminta...30

C.2. Permintaan Ekstradisi dan Syarat-Syarat yang Harus Dipenuhi Oleh Negara Peminta...32

C.3. Pemeriksaan Terhadap Orang yang Dimintakan Ekstradisinya...34

C.4. Pencabutan dan Perpanjangan Penahanan...37

(7)

BAB III PERJANJIAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN EKSTRADISI

A. Perjanjian Internasional Tentang Ekstradisi...43

B. Perundang-Undangan Nasional Tentang Ekstradisi...46

C. Hak dan Kewajiban Dalam Menyerahkan Orang yang Diminta...51

D. Penyerahan Orang yang Diekstradisi Berdasarkan Kesediaan Secara

Timbal-Balik...54

BAB IV LEMBAGA EKSTRADISI SEBAGAI SARANA PENCEGAHAN

DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN DITINJAU DARI

HUKUM INTERNASIONAL

A. Bentuk kejahatan yang Dapat Diekstradisi...58

B. Praktek Pelaksanaan Ekstradisi Bagi Pelaku Kejahatan Pada Beberapa

Negara...67

C. Kedudukan Terhadap Orang yang Diekstradisi Dalam Hukum

Internasional...81

D. Ekstradisi Sebagai Sarana Pencegahan dan Pemberantasan

Kejahatan...83

E. Dampak Ekstradisi Terhadap Hubungan Negara-Negara...91

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan...93

B. Saran...94

DAFTAR PUSTAKA

(8)

LEMBAGA EKSTRADISI SEBAGAI SARANA PENCEGAHAN

DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN DITINJAU DARI

HUKUM INTERNASIONAL

ABSTRAKSI

Ekstradisi adalah suatu pranata hukum yang dilakukan berdasarkan perjanjian. Perjanijan yang dimaksud adalah perjanjian (Treaty) yang diadakan oleh satu negara dengan negara lain. Dalam hal belum terdapat perjanjian maka dapat dilakukan atas dasar hubungan baik. Masalah ekstradisi sebenarnya bukanlah merupakan suatu masalah yang sederhana, karena terdapat syarat dan prosedur yang rumit dalam pelaksanaan ekstradisi yang harus dipatuhi oleh negara-negara yang terikat pada perjanjian ekstradisi tersebut. Dalam ekstradisi terdapat azas-azas yang menjadi landasan bagi peraturan dan penerapan ekstradisi, yang harus dihormati tiap negara, oleh karena itu pemahaman tentang azas-azas ekstradisi ini merupakan suatu keharusan bagi penerapan ekstradisi. Azas-azas yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1979 Tentang Ekstradisi juga tidak jauh berbeda dari azas-azas ekstradisi pada umumnya.

Ekstradisi pertama-tama merupakan masalah antar negara dan oleh karena itu pengaturannya terdapat dalam hukum internasional, khususnya dalam bentuk perjanjian internasional. Disamping itu, dalam batas-batas tertentu ekstradisi juga merupakan masalah domestik negara-negara dan oleh karenanya diatur di dalam hukum nasional, khususnya dalam bentuk peraturan perundang-undangan tentang ekstradisi. Adanya perjanjian-perjanjian dan perundang-undangan tentang ekstradisi serta terlibatnya dua negara atau lebih dalam suatu kasus ekstradisi, menunjukkan bahwa ekstradisi dapat dipandang sebagai bagian hukum internasional dan juga sebagai bagian hukum nasional. Oleh karena itu ekstradisi sebagai suatu pranata hukum secara resmi telah diakui dan diatur dalam hukum internasional dan hukum nasional.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Akhir-akhir ini masalah ekstradisi muncul lagi ke permukaan dan ramai

dibicarakan di kalangan masyarakat luas, terutama karena semakin lama semakin

banyak pelaku kejahatan yang melarikan diri dari suatu negara ke negara lain, atau

kejahatan yang menimbulkan akibat pada lebih dari satu negara, ataupun yang

pelakunya lebih dari satu orang dan berada terpencar di lebih dari satu negara..

Dengan perkataan lain, pelaku dan kejahatannya itu menjadi urusan dari dua

negara atau lebih. Kejahatan-kejahatan semacam inilah yang disebut dengan

kejahatan yang berdimensi internasional.1

Dalam era globalisasi masyarakat internasional seperti sekarang ini dengan

didukung oleh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi,

telekomunikasi dan transportasi, timbulnya kejahatan-kejahatan yang berdimensi

internasional ini akan semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun

kualitatif. Untuk mengatasinya tidaklah cukup hanya dilakukan oleh negara secara Akan tetapi, ekstradisi sebagai suatu

lembaga hukum, masih belum banyak diketahui isi dan ruang lingkupnya. Namun

demikian, istilah ekstradisi yang dikalangan masyarakat luas diidentikkan dengan

penyerahan pelaku kejahatan yang melarikan diri ke suatu negara kepada negara

yang memintanya, boleh dikatakan sudah umum dikenal.

1

(10)

sendiri-sendiri, tetapi dibutuhkan kerjasama yang terpadu baik secara bilateral

maupu n multilateral.

Salah satu lembaga hukum yang dipandang dapat menanggulangi

kejahatan yang berdimensi internasional ini adalah ekstradisi. Oleh karena itu

tidaklah mengherankan, jika timbul suatu kasus kejahatan yang berdimensi

internasional, lembaga ekstradisi juga muncul ke permukaan, seolah-olah

ekstradisi ini sebagai lembaga hukum yang ampuh untuk menyelesaikannya.

Di dalam lapangan hukum nasional dan internasional, masalah ekstradisi

bukan lagi merupakan hal yang baru khususnya bagi aparat penegak hukum dalam

menghadapi kasus-kasus pidana pelarian, baik yang dilakukan oleh seseorang di

negara lain (asing) yang kemudian melarikan diri menghindar dari ancaman

hukuman dan masuk ke negara lain, atau masuk ke negara kita.

Dewasa ini lembaga hukum yang bernama ekstradisi ini sebenarnya telah

menduduki tempat yang cukup mapan. Hal ini terbukti dari bentuk-bentuk hukum

yang mengaturnya, baik berbentuk perjanjian-perjanjian internasional yang

bilateral, multilateral maupun berbentuk peraturan perundang-undangan nasional

negara-negara. Bahkan pada tanggal 14 Desember 1990, Majelis Umum

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan Resolusi Nomor 45/ 117 tentang

model Treaty on Extradition, yang walaupun hanya berupa model hukum saja,

jadi belum merupakan hukum internasional positif, tetapi dapat dijadikan sebagai

model oleh negara-negra dalam membuat perjanian-perjanjian tentang ekstradisi.

Kini hampir semua negara di belahan bumi ini sudah mengenal lembaga hukum

(11)

Secara umum ekstradisi dapat diartikan sebagai proses penyerahan seorang

tersangka atau terpidana karena telah melakukan suatu kejahatan, yang dilakukan

secara formal oleh suatu negara kepada negara lain yang berwenang memeriksa

dan mengadili penjahat tersebut.2

Meskipun sudah banyak terdapat perjanjian-perjanjian internasional

maupun peraturan perundang-undangan nasional tentang ekstradisi, ternyata

semua itu menganut azas-azas dan kaidah-kaidah hukum dengan isi dan jiwa yang

sama. Bahkan dalam prakteknya, ada negara-negara yang bersedia

mengekstradisikan seorang pelaku kejahatan meskipun kedua negara itu belum

terikat pada perjanjian ekstradisi atau mungkin juga belum memiliki peraturan

perundang-undangan nasional tentang ekstradisi. Dalam menyelesaikan kasus

ekstradisi tersebut, mereka berpegang pada azas-azas dan kaidah-kaidah hukum

tentang ekstradisi yang sudah dianut secara umum dan merata oleh bagian terbesar

negara-negara di dunia. Oleh karena itulah lembaga ekstradisi ini sudah diakui

dan diterima oleh para sarjana hukum internasional sebagai hukum kebiasaan

internasional (international costumary law).

Setiap negara yang berdaulat mempunyai hak untuk meminta ekstradisi

atas seseorang yang dianggap telah melakukan kejahatan di dalam wilayah

negaranya dan sebaliknya negara tersebut juga mempunyai kewajiban untuk

menyerahkan seseorang yang dimintakan ekstradisi oleh negara lain atau negara

peminta sepanjang semua itu memenuhi azas-azas dan persyaratan yang berlaku.

3

2

M Budiarto, SH., Ekstradisi Dalam Hukum Nasional, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981, hal 7. 3

(12)

Ekstradisi merupakan perjanjian antara dua negara atau lebih yang bersifat

bilateral atau terkadang multilateral dan hanya berlaku bagi pihak yang

meratifikasi perjanjian ekstradisi tersebut.

Dengan demikian konsekuensi dari adanya perjanjian ekstradisi itu harus

terlebih dahulu terdapat hubungan diplomatik antara kedua negara. Indonesia

sendiri telah beberapa kali mengadakan perjanjian ekstradisi dan telah meratifikasi

perjanjian ekstradisi tersebut seperti dengan Malaysia pada tahun 1974, dengan

Philipina pada tahun 1976, dengan Thailand pada tahun 1978, dengan Australia

pada tahun 1994, dengan Hongkong pada tahun 2001 dan baru-baru ini Indonesia

juga menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Singapura pada tanggal 27 april

2007.

Hukum internasional mengakui bahwa pemberian atau prosedur ekstradisi

paling tepat diserahkan kepada hukum nasional dan tidak, misalnya, merintangi

negara-negara untuk membuat undang-undang yang menghalang-halangi

penyerahan pelaku-pelaku kejahatan oleh mereka, apabila tampak bahwa

permintaan ekstradisi dibuat untuk mengadili pelaku kejahatan itu atas dasar

ras-nya, agamaras-nya, atau pandangan-pandangan politikras-nya, atau pun andaikata ia

dituduh untuk hal-hal ini pada pengadilan yang sesungguhnya oleh pengadilan

negara yang memintanya.

Adapun maksud dan tujuan ekstradisi adalah untuk menjamin agar pelaku

kejahatan berat tidak dapat menghindarkan diri dari penuntutan atau pemidanaan,

karena sering kali suatu negara yang wilayahnya dijadikan tempat berlindung oleh

(13)

semata-mata disebabkan oleh beberapa aturan teknis hukum pidana atau karena

tidak adanya yurisdiksi atas penjahat tersebut.4

Penyerahan pelaku kejahatan pelarian ini tidak terpaku pada hubungan

baik antar negara saja tetapi juga harus didasarkan pada perjanjian ekstradisi yang

telah ada sebelumnya. Dalam hal tidak adanya perjanjian, maka pemberian

Tindak kejahatan serta akibat-akibatnya tidak hanya menjadi urusan para

korban dan kelompok masyarakat sekitarnya saja, tetapi sering melibatkan

negara-negara bahkan kadang-kadang merupakan persoalan umat manusia. Sehingga

untuk pencegahan dan pemberantasannya diperlukan kerjasama antara

negara-negara. Hubungan baik dan bersahabat antara dua negara atau lebih, dapat

mempermudah dan mempercepat penyerahan penjahat pelarian

Sebaliknya jika tidak ada hubungan baik antara negara maka dapat

dipastikan akan mempersulit penyerahan penjahat pelarian. Bahkan

masing-masing pihak akan membiarkan wilayahnya dijadikan sebagai tempat pelarian dan

mencari perlindungan bagi penjahat-penjahat dari negara musuhnya. Dengan

demikian kesediaan menyerahkan penjahat pelarian bukanlah didasarkan pada

kesadaran orang yang bersangkutan patut diadili dan dihukum. Demikian pula

memberikan perlindungan pada seorang atau beberapa orang penjahat pelarian,

bukan pula karena didorong oleh kesadaran bahwa orang yang bersangkutan patut

untuk dilindungi.

4

(14)

ekstradisi bergantung hanya pada azas resiprositas atau azas kepantasan

(courtesy).5

Perjanjian ekstradisi tidak hanya merupakan suatu perjanjian dalam mana

suatu pihak mencoba semua jalan kemungkinan untuk mencapai hasil maksimum,

tetapi lebih merupakan suatu usaha kerja diantara dua negara atau lebih yang

bersahabat yang sama-sama memiliki keinginan untuk memberantas kejahatan.

Karena itu pada dasarnya ditekankan bahwa tidak ada seorang penjahat pun yang

akan lolos dari penuntutan.6

a. Kehendak bersama semua negara untuk menjamin bahwa kejahatan serius

tidak akan dibiarkan tanpa penghukuman. Sering suatu negara yang di

wilayahnya telah berlindung seorang pelaku tindak pidana tidak dapat

mengadili atau menghukumnya hanya karena kaidah teknis hukum pidana

atau karena tidak memiliki yurisdiksi. Oleh karena itu untuk menutup

celah-celah pelarian pelaku-pelaku tindak pidana, hukum internasional

memberlakukan dalil “aut punere aut dedere”, yaitu pelaku tindak pidana

harus dihukum oleh negara tempatnya mencari perlindungan atau

diserahkan kepada negara yang dapat dan mengkehendaki penghukuman

terhadapnya.

Pertimbangan-pertimbangan rasional berikut ini telah ikut menentukan

hukum dan praktek ekstradisi:

5

J G Starke, Pengantar Hukum Internasional, Jilid II Edisi Kesepuluh, Sinar Grafika, Jakarta, 2000, hal 471.

6

(15)

b. Negara yang di wilayahnya terjadi tindak pidana adalah yang paling

mampu mengadili pelaku tindak pidana itu karena bukti-bukti yang

diperluas lebih banyak terdapat disana dan bahwa negara tersebut

mempunyai kepentingan yang paling besar untuk menghukum pelaku

tindak pidana serta memiliki fasilitas-fasilitas yang paling banyak untuk

memastikan kebenaran. Dari hal tersebut maka hal yang paling benar dan

hal yang paling tepat adalah kepada negara teritorial itulah pelaku tindak

pidana yang mencari perlindungan ke luar negeri itu harus diserahkan.7

Dalam abad komunikasi yang sangat mudah untuk mengadakan perjalanan

dari suatu negara ke negara lain maka fasilitas ini dinikmati tidak hanya oleh

warga negara yang baik, tetapi juga oleh unsur-unsur penjahat yang sering kali

dengan cepat mengambil keuntungan, sedangkan sebaliknya badan penegak

hukum mengalami kesulitan untuk menangkap dan mengadili penjahat-penjahat

tersebut, karena yurisdiksi dan wewenang yang terbatas dari negaranya. Karena

itu kerjasama diantara negara-negara tetangga sangatlah diperlukan.8

7

J G Starke, Pengantar hukum Internasional, op.cit, hal 470. 8

Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia Mengenai

Ekstradisi

Untuk mengembangkan kerjasama yang efektif dalam penegakan hukum

dan pelaksanaan peradilan, dalam rangka pemberantasan kejahatan terutama

dalam masalah ekstradisi dapat dilakukan dengan mengadakan perjanjian

ekstradisi dengan negara yang bersangkutan. Adanya suatu perjanjian ekstradisi

(16)

Dengan semakin sering timbulnya kasus-kasus tentang ekstradisi dalam

pergaulan internasional, dapatlah menunjukkan kepada kita bahwa kasus

ekstradisi perlu mendapat tempat dan perhatian yang khusus dalam hubungan

internasional.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan adalah pernyataan yang menunjukkan adanya jarak antara

rencana dan pelaksanaan, antara harapan dan kenyataan, juga antara das sollen

dan das sein.9

1. Bagaimana praktek pelaksanaan ekstradisi yang dilakukan oleh pemerintah

negara Republik Indonesia jika terdapat pelaku kejahatan di dalam wilayah

negara Republik Indonesia?

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka tulisan ini

bermaksud untuk membahas permasalahan sebagai berikut :

2. Bagaimana pula kedudukan orang yang diekstradisikan?

3. Sejauhmanakah ekstradisi tersebut benar-benar berfungsi sebagai sarana

untuk mencegah dan memberantas kejahatan?

4. Kemudian dampak apa sajakah yang dapat ditimbulkan dari praktek

ekstradisi ini terhadap hubungan negara-negara?

9

(17)

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan.

Adapun tujuan yang hendak dicapai dengan dilakukannya penulisan ini

adalah :

1. Untuk mengetahui prosedur atau pelaksanaan ekstradisi diantara

negara-negara yang telah saling melakukan perjanjian ekstradisi terutama

pelaksanaan ekstradisi di Indonesia.

2. Untuk mengetahui kedudukan dari seorang pelaku kejahatan yang

diekstradisi dalam hukum internasional.

3. Untuk mengetahui sampai dimana peranan ekstradisi ini dalam mencegah

dan memberantas kejahatan.

4. Dan untuk mengetahui dampak apa saja yang dapat ditimbulkan ekstradisi

terhadap hubungan negara-negara.

Adapun manfaat dari penulisan ini terdiri dari 2 hal, yaitu :

1. Manfaat Subjektif

Penulisan ini bermanfaat bagi penulis untuk memenuhi syarat

kelulusan Strata- 1 di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, tempat

penulis menuntut ilmu.

2. Manfaat Objektif

Penulisan ini bertujuan untuk menerapkan hukum internasional yang

telah dipelajari guna menjawab permasalahan apakah ekstradisi

benar-benar dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencegah dan memberantas

(18)

D. Keaslian Penulisan

Skirpsi ini berjudul “Lembaga Ekstradisi Sebagai Sarana Untuk Mencegah

dan Memberantas Kejahatan Ditinjau dari Hukum Internasional”.

Penulisan skripsi tentang ekstradisi telah beberapa kali dilakukan oleh

mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dengan judul yang

bervariasi, salah satunya adalah Penerapan Hukum Tentang Ekstradisi dan

Jaminan Perlindungan atas Hak-Hak Azasi Manusia Ditinjau dari Sudut Hukum

Internasional. Adapun persamaan dengan penulisan ini adalah bahwa objek

penulisan sama-sama mengenai pelaksanaan ekstradisi. Perbedaannya adalah pada

penulisan terdahulu yang dijadikan bahan penulisan adalah pelaksanaan ekstradisi

dalam memberi jaminan atas hak-hak azasi manusia. Sedangkan dalam penulisan

ini yang dijadikan bahan penulisan adalah mengenai ekstradisi sebagai sarana

pencegahan dan pemberantasan kejahatan.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penulisan ini

berbeda dengan penulisan yang sebelumnya.

E. Tinjauan Pustaka

Dalam hukum internasional suatu negara tidak memiliki kewajiban untuk

menyerahkan tersangka pelaku kejahatan kepada negara asing, karena adanya

prinsip soverignity bahwa setiap negara memiliki otoritas hukum atas orang yang

berada dalam batas negaranya. Karena ketiadaan kewajiban internasional tersebut

(19)

suatu jaringan persetujuan atau perjanjian ekstradisi, kebanyakan negara di dunia

telah menandatangani perjanjian ekstradisi bilateral dengan negara lainnya10

Ekstradisi adalah penyerahan oleh suatu negara kepada negara lain yang

meminta penyerahan seseorang yang disangka atau dipidana karena melakukan

sesuatu kejahatan di luar wilayah negara yang menyerahkan dan didalam

yurisdiksi wilayah negara yang meminta penyerahan tersebut, karena berwenang

untuk mengadili dan memidananya.

.

11

1. Ekstradisi adalah merupakan penyerahan orang yang diminta yang

dilakukan secara formal, jadi harus melalui cara atau prosedur tertentu. Dari definisi ini dapatlah dikemukakan beberapa unsur penting yang harus

dipenuhi agar dapat disebut ekstradisi, yaitu:

2. Ekstradisi hanya bisa dilakukan apabila didahului dengan permintaan

untuk menyerahkan dari negara-peminta kepada negara-diminta.

3. Ekstradisi bisa dilakukan baik berdasarkan perjanjian ekstradisi yang

sudah ada sebelumnya atau bisa juga dilakukan berdasarkan azas timbal

balik apabila sebelumnya tidak ada perjanjian ekstradisi antara kedua

pihak. Dalam hal ini praktek negar berbeda-beda. Ada

negara-negara yang bersedia menyerahkan orang yang diminta walaupun

sebelumnya tidak ada perjanjian ekstradisi antara kedua pihak. Ada

negara-negara yang tidak bersedia menyerahkan orang yang diminta

apabila sebelumnya tidak ada perjanjian ekstradisi antara kedua pihak.

10

Ekstradisi dala

11

(20)

4. Orang yang diminta bisa berstatus sebagai tersangka, tertuduh atau

terdakwa dan bisa juga sebagai terhukum.

5. Maksud dan tujuan ekstradisi adalah untuk mengadili orang yang diminta

atau menjalani masa hukumannya.

Pada tanggal 18 Januari 1979 telah diundangkan dalam Lembaran Negara

tahun 1979 Nomor 2, Undang-Undang Nomor 1 tahun 1979 tentang ekstradisi

yang menggantikan Koninklijk Besluit 8 Mei 1883 No. 26 (Staatsblad 1883-188)

tentang Uitlevering van Vreemdelinger (penyerahan orang asing). Hal ini

dilakukan mengingat peraturan itu adalah hasil legislatif dan pemerintah Belanda

pada waktu yang lampau dan ditetapkan lebih dari 90 tahun sebelum

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1979 dikeluarkan, karena itu sudah barang tentu peraturan

tersebut tidak sesuai lagi dengan tata hukum dan dengan perkembangan Negara

Republik Indonesia yang merdeka.

Oleh karena itu peraturan tersebut dicabut dan disusun suatu

Undang-Undang Nasional yang mengatur tentang ekstradisi

orang-orang yang disangka telah melakukan kejahatan di luar negeri

melarikan diri ke Indonesia, ataupun untuk menjalani pidana yang

telah dijatuhkan dengan putusan Pengadilan.

Undang-Undang ini dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum bagi

pembuatan perjanjian dengan negara-negara asing maupun untuk menyerahkan

seseorang tanpa adanya perjanjian.

Keputusan tentang permintaan ekstradisi bukanlah keputusan badan

(21)

terakhir terletak dalam tangan Presiden, setelah mendapat nasihat yuridis dari

Menteri Kehakiman berdasarkan penetapan Pengadilan.12

12

Drs. C.S.T. Kansil, Hubungan Diplomatik Republik Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,1989, hal 347. Permintaan ekstradisi diajukan kepada Presiden melalui Menteri

Kehakiman oleh pejabat yang berwenang di negara asing melalui saluran

diplomatik. Permintaan ekstradisi tersebut harus disertai dengan dokumen yang

diperlukan antara lain mengenai identitas, kewarganegaraan, uraian tentang tindak

pidana yang dituduhkan, surat permintaan penahanan. Bagi orang yang dicari

karena harus menjalani pidananya disertai lembaran asli atau salinan otentik dari

putusan Pengadilan dan surat tersebut disertai bukti-bukti tertulis yang sah yang

diperlukan.

Apabila ada alasan-alasan yang mendesak sebelum permintaan ekstradisi

diajukan, pejabat yang berwenang di Indonesia dapat menahan sementara orang

yang dicari tersebut atas permintaan negara peminta. Mengenai penahanan itu

berlaku ketentuan dalam Hukum acara Pidana Indonesia. Apabila dalam waktu

yang cukup pantas permintaan ekstradisi tidak diajukan , maka orang tersebut

dibebaskan.

Seperti telah diterangkan diatas untuk menentukan dapat tidaknya orang

itu diserahkan, Presiden mendapat nasihat yuridis dari Menteri Kehakiman yang

didasarkan pada penetapan Pengadilan. Cara pemeriksaan di Pengadilan ini tidak

merupakan pemeriksaan peradilan seperti peradilan biasa, tetapi Pengadilan

mendasarkan pemeriksaannya kepada keterangan tertulis beserta bukti-buktinya

(22)

Setelah memeriksa keterangan serta syarat-syarat yuridis yang diperlukan

untuk ekstradisi maka Pengadilan menetapkan apakah orang yang bersangkutan

dapat diekstradisikan atau tidak. Dalam pasal 40 Undang-Undang Nomor 1 tahun

1979 ditegaskan :

1. Jika permintaan ekstradisi disetujui, orang yang dimintakan ekstradisi

segera diserahkan kepada pejabat yang bersangkutan dari negara peminta,

di tempat dan pada waktu yang ditetapkan oleh Menteri Kehakiman

Republik Indonesia.

2. Jika orang yang dimintakan ekstradisinya tidak diambil pada tanggal yang

ditentukan, maka ia dapat dilepaskan sesudah lampau 15 (lima belas) hari

dan bagaimanapun juga ia wajib dilepaskan sesudah lampau 30 (tiga

puluh) hari.

3. Permintaan ekstradisi berikutnya terhadap kejahatan yang sama, setelah

dilampauinya waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut, dapat ditolak oleh

Presiden.

Ketentuan-ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi hak azasi yang

bersangkutan. Yang dimaksud kejahatan yang sama dalam ayat ini adalah

kejahatan yang dimintakan ekstradisinya dalam ayat-ayat sebelumnya. Waktu 30

(tiga puluh) hari dalam ayat ini adalah waktu yang dimaksudkan dalam ayat (2) di

atas. Jika keadaan di luar kemampuan kedua negara baik negara peminta untuk

mengambil maupun negara yang diminta untuk menyerahkan orang yang

(23)

kedua negara akan memutuskan bersama tanggal yang lain untuk pengambilan

dan penyerahan yang dimaksud.

Ekstradisi tumbuh dan berkembang dari praktek negara-negara yang

lama-kelamaan berkembang menjadi hukum kebiasaan. Dari praktek dan hukum

kebiasaan inilah negara-negara mulai merumuskannya didalam

perjanjian-perjanjian internasional tentang ekstradisi, baik yang bilateral maupun

multilateral, disamping menambahkan ketentuan-ketentuan baru, sesuai dengan

kesepakatan para pihak.

Tetapi satu hal patut untuk dicatat bahwa sampai saat ini masih belum

terdapat sebuah konvensi ekstradisi yang berlaku secara universal. Oleh karena itu

mungkin akan timbul anggapan bahwa perjanjian-perjanjian ekstradisi bilateral

dan multilateral tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Anggapan ini

meskipun mengandung nilai kebenaran, tetapi tidak seluruhnya benar, karena

banyak perjanjian-perjanjian ekstradisi yang memiliki kesamaan-kesamaan dalam

pengaturan mengenai berbagai pokok masalah. Bahkan pokok-pokok masalah

yang terdapat dalam perjanjian-perjanjian ekstradisi, terdapat pula didalam

perundang-undangan ekstradisi.13

13

I Wayan Parthiana, SH, MH. Ekstradisi Dalam Hukum Internasional dan Hukum nasional Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1990, hal 27.

Dasar-dasar yang sama ini diikuti terus oleh negara-negara baik dalam

merumuskan perjanjian-perjanjian ekstradisi maupun dalam perundang-undangan

ekstradisi. Atau dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa dasar-dasar yang

(24)

Dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1979 tentang ekstradisi hanya

diatur ekstradisi secara pasif dan tidak memuat ketentuan-ketentuan mengenai

cara mengajukan permohonan ekstradisi oleh Pemerintah Indonesia kepada negara

lain.

Mengenai jenis-jenis kejahatan yang pelakunya dapat diserahkan,

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1979 memakai metode enumeratif dengan memperinci

setiap kejahatan yang pelakunya dapat diserahkan dalam suatu daftar yang

dilampirkan pada Undang-Undang tersebut.

Suatu perjanjian ekstradisi harus mencantumkan secara spesifik tindak

pidana apa saja yang pelakunya dapat diekstradisi. Tindak pidana yang di luar

perjanjian ekstradisi, pelakunya tidak dapat diekstradisi. Hal inilah yang menjadi

kesukaran dalam pelaksanaan ekstradisi. Terlebih, perkembangan kategori baru

tindak pidana tidak dapat dipungkiri.14

14

Extradition treaty Indonesia-Singapore dalam

Dimuatnya azas-azas umum ekstradisi dalam Undang-Undang tersebut

merupakan suatu kemajuan karena bagaimanapun juga azas-azas umum tersebut

dimaksudkan untuk menjamin perlindungan hak-hak azasi orang-orang yang

diekstradisikan (extraditable person).

Bagaimanapun juga dengan adanya ketentuan-ketentuan ekstradisi dalam

Undang-Undang nasional maka cukuplah landasan hukum bagi pemerintah untuk

mengadakan perjanjian ekstradisi dengan negara lain dalam rangka kerjasama

internasional di bidang pemberantasan kejahatan.

(25)

Sehubungan dengan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

yang telah dicapai oleh umat manusia, maka fasilitas di bidang transportasi dan

komunikasi yang semakin meningkat tidak hanya digunkan oleh penduduk dunia

yang baik, tetapi digunakan pula oleh para pelaku kejahatan yang dengan cepat

ingin mendapat keuntungan. Seorang yang melakukan kejahatan dengan cepat

dapat menghindarkan penuntutan atau pemidanaan dengan jalan melarikan diri ke

negara lain.

Sebagai suatu contoh dapat dikemukakan kasus “Earl Ray alias Sneyd

Case”, seorang yang dituduh membunuh Dr. Martin Luther King, Jr. Ia menembak Dr King di Memhis, tenessee, amerika Serikat pada tanggal 14 April

1968 dan dalam beberapa jam Ray-sneyd berusaha melarikan diri dari Tenessee

dan akhirnya ditangkap di London, Inggris pada tanggal 8 juni 1968. agar

Ray-Sneyd dapat dipidana di negaranya Amerika Serikat, maka ia harus

diekstradisikan. Untuk itu perlu ada permohonan dari pemerintah Amerika Serikat

kepada Pemerintah Inggris.15

15

M Budiarto SH., Masalah Ekstradisi dan Jaminan Perlindungan atas Hak Hak Azasi Manusia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1980, hal 14.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kemajuan-kemajuan yang

dicapai oleh umat manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi diikuti pula

oleh perkembangan di bidang sosial yang antara lain mewujudkan diri dalam

bentuk kejahatan yang berdimensi internasional sehingga pemberantasannya pun

(26)

F. Metode Penulisan

1. Bentuk Penelitian

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi

ini adalah melalui metode penelitian hukum normatif atau disebut juga dengan

studi kepustakaan (library research) yang berhubungan dengan penulisan ini.

Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum dengan hanya mengolah dan

menggunakan data-data sekunder yang berkaitan dengan ekstradisi.

2. Alat Pengumpulan Data

Materi skripsi ini diambildari data-data sekunder yang dimaksud yaitu :

a. Bahan hukum Primer

Yaitu bahan hukum yang mengikat, terdiri dari Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 1 Tahun 1979 Tentang Ekstradisi, Undang-Undang Nomor 9

Tahun 1974 tentang Perjanjian Ekstradisi Indonesia dan Malaysia,

Undang-Undang nomor 10 Tahun 1976 tentang Perjanjian Ekstradisi Indonesia dan

Philipina, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1978 tentang Perjanjian Ekstradisi

Indonesia dan Thailand, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1994 tentang Perjanjian

Ekstradisi Indonesia dan Australia.

b. Bahan hukum Sekunder

Yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum

primer seperti : buku-buku tentang ekstradisi dan peraturannya, Jurnal-jurnal,

majalah dan surat kabar serta media internet seperti

(27)

c. Bahan hukum tertier

Yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum

sekunder seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia.

3. Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelusuran kepustakaan dan dianalisis secara

deskriptif dengan menggunakan metode deduktif dan induktif.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan ganbaran yang utuh dan sistematis mengenai isi dari

skripsi ini maka isi dan kerangka skripsi ini disusun secara sistematiika sebagai

berikut :

Bab I : Didalam pendahuluan penulis menguraikan latar belakang yang

memberikan alasan mengapa penulis memilih permasalahan yang

tercakup dalam skripsi ini. Dalam bab ini juga dikemukakan tujuan

dari penulisan yang dimaksud sebagai suatu sasaran yang hendak

dicapai dari skripsi ini, disamping itu dikemukakan juga metode

penulisan yang kemudian diakhiri dengan sistematika dari

penulisan skripsi ini secara keseluruhan.

Bab II : Didalam bab ini penulis menguraikan tentang pengertian dan ruang

lingkup ekstradisi, sejarah dan perkembangan ekstradisi, beberapa

syarat ekstradisi, serta azas-azas dalam ekstradisi.

Bab III : Dalam bab ini dikemukakan tentang perjanjian internasional

(28)

ekstradisi, hak dan kewajiban negara dalam menyerahkan orang

yang diminta, dan penyerahan orang yang diekstradisi berdasarkan

kesediaan secara timbal-balik.

Bab IV : Bab ini merupakan bagian yang menganalisa bagaimana

pelaksanaan ekstradisi sebagai sarana pencegahan dan

pemberantasan kejahatan. Dalam bab ini penulis menguraikan

tentang kejahatan yang dapat diekstradisi, pelaksanaan ekstradisi

bagi pelaku kejahatan pada negara-negara, kedudukan terhadap

orang yand diekstradisi dalam hukum internasional, dan dampak

ekstradisi terhadap hubungan negara-negara.

Bab V : Bab ini merupakan bagian penutup dari skripsi ini. Didalamnya

terdapat kesimpulan dari tujuan penulisan skripsi ini dan diakhiri

dengan saran-saran penulis setelah menguraikan permasalahan

yang timbul sesuai dengan judul skripsi

(29)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG EKSTRADISI

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekstradisi

Setiap negara di dunia ini mempunyai tata hukum atau hukum positif

untuk memelihara dan mempertahankan keamanan, ketertiban dan ketentraman

bagi setiap warga negaranya atau orang yang berada dalam wilayahnya.

Pelanggaran atas tata hukumnya dikenakan sanksi sebagai upaya agar hukum

dapat ditegakkan. Si pelanggar harus mempertanggungjawabkan perbuatannya

atau kejahatan yang telah dilakukannya. Dia akan diajukan ke depan pengadilan

dan bila terbukti bersalah akan dijatuhi hukuman yang setimpal dengan

kesalahannya.

Akan tetapi tidak setiap orang akan rela mempertanggungjawabkan

perbuatannya. Segala macam cara akan ditempuhnya, baik legal maupun illegal

untuk menghindarkan diri dari tuntutan dan ancaman hukuman tersebut. Salah

satu cara yang cukup efektif untuk menyelamatkan diri adalah dengan cara

melarikan diri kedalam wilayah negara lain. Cara ini dimaksudkan untuk

menghindari tuntutan hukuman di negara tempatnya semula. Tindakan ini

melibatkan kepentingan kedua negara. Bahkan seringkali kejahatan yang

dilakukan oleh seseorang, tidak saja melibatkan kepentingan dua negara, tetapi

sering kali lebih dari dua negara. Hal ini bisa terjadi, Misalnya karena seorang

(30)

Atau kejahatan yang dilakukan dalam wilayah satu negara atau di luar wilayah

suatu negara, menimbulkan akibat-akibat pada wilayah beberapa negara.

Seperti dalam kasus ”Kapal Mimi” pada tahun 1975, seorang warga negara

Indonesia bernama Gun Supardi yang bekerja sebagai awak kapal tersebut, telah

membunuh nahkoda kapalnya yang berkebangsaan Jerman Barat di laut lepas di

Samudera Atlantik serta menenggelamkan kapalnya. Sedangkan kapal Mimi itu

sendiri berbendera Panama. Oleh kapal yang menolongnya, Gun Supardi bersama

awak kapal lainnya dibawa dan diserahkan kepada Amerika Serikat. Dalam kasus

ini jelaslah tersangkut kepentingan empat negara yaitu : Indonesia sebagai negara

kewarganegaraan si pelaku kejahatan yaitu Gun Supardi, Panama sebagai negara

kebangsaan kapan Mimi sebab kapal tersebut berbendera Panama, Jerman Barat

sebagai negara kewarganegaraan sang korban (nahkoda) dan Amerika Serikat

sebagai negara tempat Gun Supardi ditahan.

Dalam Hubungannya dengan pelaku kejahatan yang melarikan diri atau

berada dalam wilayah lain, maka negara yang memiliki yurisdiksi atas si pelaku

kejahatannya itu, misalnya negara tempat kejahatan itu dilakukan atau

negara-negara yang menderita akibat dari kejahatan itu, tidak boleh melakukan

penangkapan dan penahanannya secara langsung di dalam wilayah negara tempat

si pelaku kejahatan itu berada. Hal ini seolah-olah menyebabkan pelaku kejahatan

yang demikian itu memperoleh kekebalan dari tuntutan hukum. Penangkapan dan

penahanan secara langsung kedalam wilayah negara lain tidak diperbolehkan oleh

karena suatu negara tidak boleh melakukan tindakan yang bersifat kedaulatan (act

(31)

sendiri. Sebab tindakan demikian itu dipandang sebagai intervensi atau campur

tangan atas masalah-masalah dalam negeri negara lain, yang dilarang menurut

hukum internasional.16

16

I Wayan Parthiana,S.H,MH., Ekstradisi dalam Hukum Internasional dan Hukum Nasional Indonesia, op.cit, hal 11

Tetapi jika hal semacam ini dibiarkan, maka akan dapat mendorong setiap

pelaku kejahatan, lebih-lebih jika dia secara ekonomis tergolong mampu, untuk

melarikan diri ke dalam wilayah negara lain. Bahkan usaha untuk melarikan diri

ke dalam wilayah negara lain tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang

bermaksud untuk menghindari ancaman hukuman yang lebih dikenal dengan

sebutan tersangka atau tertuduh, tetapi juga oleh orang-orang yang telah dijatuhi

hukuman yang telah mempunyai kekuatan mengikat yang pasti yang lebih dikenal

dengan sebutan terhukum atau terpidana. Sebagai contoh nyata adalah apa yang

dialami oleh Indonesia, yaitu larinya dua orang narapidana masing-masing Donal

Andrew Ahren (warga negara Australia) dan David Allan Riffe (warga negara

Amerika Serikat) dari Lembaga Pemasyarakatan Denpasar dan Karangasem, Bali

pada tanggal 9 Juli 1977. kedua orang ini berhasil meninggalkan wilayah

Indonesia menuju ke Australia.

Supaya orang-orang semacam ini tidak terlepas dari tanggung jawab atas

kejahatan yang telah dilakukannya, maka diperlukan kerjasama untuk mencegah

dan memberantasnya. Sebab pencegahan dan pemberantasan kejahatan yang

hanya dilakukan oleh negara-negara secara sendiri-sendiri dalam hal-hal tersebut

(32)

Oleh karena negara-negara yang memiliki yurisdiksi terhadap si pelaku

kejahatan tidak bisa menangkap secara langsung di wilayah negara tempat si

pelaku kejahatan itu berada, maka negara-negara tersebut dapat menempuh cara

yang legal untuk dapat mengadili dan menghukum si pelaku kejahatan tersebut.

Negara-negara yang memiliki yurisdiksi itu dapat meminta kepada negara tempat

si pelaku kejahatan itu berada, supaya menangkap dan menyerahkan orang

tersebut. Sedangkan negara tempat si pelaku kejahatan berada, setelah menerima

permintaan untuk menyerahkan itu dapat menyerahkan si pelaku tesebut kepada

negara atau salah satu dari negara yang mengajukan permintaan penyerahan. Cara

atau prosedur semacam ini telah diakui dalam hukum nasional dan hukum

internasional yang dikenal dengan nama Ekstradisi.

Ditinjau dari asal katanya, istilah ekstradisi (extradition, l’extradition)

berasal dari bahasa latin :”extradere”. Ex berarti keluar, sedangkan tradere berarti

menyerahkan. Kata bendanya adalah extraditio artinya penyerahan. Dari uraian

diatas dapat diperoleh suatu rumusan yang didalamnya menggambarkan

pengertian dan ruang lingkup ekstradisi, tegasnya yang dimaksud dengan

ekstradisi adalah :

”Penyerahan yang dilakukan secara formal baik berdasarkan perjanjian ekstradisi yang diadakan sebelumnya atau berdasarkan prinsip timbal-balik, atas seseorang yang dituduh melakukan tindak pidana kejahatan (tersangka, tertuduh, terdakwa) atau atas seseorang yang telah dijatuhi hukuman atas kejahatan yang dilakukannya (terhukum, terpidana), oleh negara tempatnya melarikan diri atau berada atau tersembunyi kepada negara yang memiliki yurisdiksi untuk mengadili atau menghukumnya, atas permintaan dari negara tersebut dengan tujuan untuk mengadili atau

melaksanakan hukumannya. 17

17

(33)

Selain itu terdapat juga defenisi tentang ekstradisi dari para sarjana-sarjana

hukum internasional dan hasil riset Universitas Harvard, yaitu :

1. L. Oppenheim mengatakan :

”Extradition is the delivery of an accused or convicted individual to the state

on whose territory he is alleged to have committed, or to have been convicted

of, a crime by the state on whose territory the alleged criminal happens for the

time to be.18

2. J.G. Starke, menyatakan :

”The term extradition denotes the process whereby under treaty or upon a

basis of reciprocity one state surrenders to another state at its request a person

accused or convicted of a criminal offence committed against the laws the

requesting state competent to try alleged offender.19

3. Harvard Research Draft Convention on Extradition :

“Extradition is the formal surrender of a person by a state to another state for

prosecution punishment”.20

4. Menurut Dr. Ali Sastroamidjojo, SH menyatakan bahwa :

”Ekstradisi adalah pengambilan orang pelarian, perjanjian ekstradisi itu harus

diadakan terlebih dahulu untuk memungkinkan negara menuntut, supaya

orang pelarian itu dikembalikan.21

18

L Oppenheim, International Law, a Treatise, 8th Edition, Volume One-Peace, 1960, hal 696. 19

J G Starke, An Introduction to International law, 7th Edition, Butterworths, London, hal 348. 20

I Wayan Parthiana, SH, MH., Ekstradisi Dalam Hukum Internasional dan Hukum Nasional Indonesia, op.cit, hal 13.

21

(34)

Dari defenisi diatas dapat disimpulkan unsur dari ekstradisi itu, yakni :

1. Unsur subjek yang terdiri atas :

a. Negara atau negara-negara yang memiliki yurisdiksi untuk mengadili atau

menghukumnya. Negara atau negara-negara ini berkedudukan sebagai

pihak yang meminta atau dengan singkat disebut ”negara peminta” (The

Requesting State)

b. Negara tempat pelaku kejahatan atau si terhukum itu berada atau

bersembunyi. Negara ini dimintai oleh negara atau negara-negara yang

memiliki yurisdiksi atau negara peminta, supaya menyerahkan orang yang

berada di wilayahnya itu, yang dengan singkat disebut ”negara diminta”

(The Requested State).

2. Unsur Objek, yaitu sipelaku kejahatan itu sendiri yang diminta oleh negara peminta kepada negara diminta supaya diserahkan. Dia inilah yang dengan

singkat disebut sebagai ”orang yang diminta”. Dia hanya sebagai objek saja

yang menjadi pokok masalah antara kedua pihak.

3. Unsur tata cara atau prosedur, yang meliputi tata cara untuk mengajukan permintaan penyerahan maupun tata cara untuk menyerahkan atau menolak

penyerahan itu sendiri serta segala hal yang ada hubungannya dengan itu.

Untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam Bab IV dalam sub bab praktek

pelaksanaan ekstradisi.

4. Unsur tujuan, yaitu tujuan apa orang yang bersangkutan dimintakan penyerahan atau diserahkan. Penyerahan itu dimintakan oleh negara peminta

(35)

menjadi yurisdiksi Negara peminta. Atau dia melarikan diri kenegara diminta

setelah dijatuhi hukuman yang telah mempunyai kekuatan mengikat yang

pasti. Untuk dapat mengadili atau menghukum orang yang bersangkutan

negara atau negara-negara yang berkepentingan, lalu mengajukan permintaan

penyerahan atas diri orang tersebut kepada negara diminta. Jadi permintaan

penyerahan atau penyerahan itu sendiri bertujuan untuk mengadili atau

menghukum si pelaku kejahatan itu, sebagai realisasi dari kerjasama antara

negara-negara tersebut dalam menanggulangi dan memberantas kejahatan.

B. Sejarah dan Perkembangan Ekstradisi

Para penulis sejarah hukum internasional mengemukakan bahwa sebuah

perjanjian tertua yang isinya juga mengenai masalah penyerahan

penjahat-penjahat pelarian adalah perjanjian perdamaian antara Raja Rameses II dari Mesir

dengan Hattusili II dari Kheta yang dibuat pada tahun 1279 SM. Kedua pihak

menyatakan saling berjanji akan menyerahkan pelaku kejahatan yang melarikan

diri atau yang dikemukakan di dalam wilayah pihak lain.22

22

Arthur Nussbaum, A Concise History of the Law of Nations, Disadur kembali oleh I Wayan Parthiana, SH, MH., Ekstardisi Dalam Hukum Internasional Dan Hukum Nasional Indonesia, op.cit, hal 3.

Tetapi perjanjian semacam ini tentulah tidak merupakan perjanjian

ekstradisi yang berdiri sendiri seperti halnya yang kita kenal sekarang ini.

Melainkan soal ekstradisi ini hanyalah merupakan salah satu bagian kecil saja dari

keseluruhan materi perjanjian, yaitu merupakan perjanjian perdamaian untuk

(36)

Namun demikian, praktek negara-negara dalam melakukan penyerahan

penjahat pelarian, tidaklah semata-mata bergantung pada adanya perjanjian

tersebut, kemungkinan besar jauh sebelumnya terdapat negara-negara yang saling

menyerahkan penjahat pelarian meskipun kedua pihak belum membuat

perjanjiannya. Walaupun bukti-bukti untuk menguatkan dugaan ini masih belum

dapat ditunjukkan. Hal ini didasarkan atas hubungan baik dan bersahabat antara

dua negara. Apabila hubungan kedua negara yang semula bersahabat berubah

menjadi permusuhan, maka kerjasama saling menyerahkan penjahat pelarian, bisa

berubah menjadi saling melindungi penjahat pelarian, demikian pula sebaliknya.

Praktek-praktek penyerahan penjahat pelarian tersebut belum didasarkan atas

keinginan untuk bekerja sama dalam mencegah dan memberantas kejahatan,

mengingat kehidupan masyarakat pada jaman kuno yang sangat sederhana.

Mulai abad ke-17 sampai abad ke-20 hubungan dan pergaulan

internasional mulai mencari dan menemukan bentuknya yang baru, negara-negara

dalam membuat perjanjian-perjanjian, sudah mulai mengadakan pengkhususan

mengenai bidang-bidang tertentu termasuk juga bidang ekstradisi sehingga tidak

lagi menjadi bagian dari masalah-masalah lain yang lebih luas ruang lingkupnya.

Kemajuan-kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi serta

berkembangnya pemikiran-pemikiran baru dalam bidang politik, ketatanegaraan

dan kemanusiaan, turut pula memberikan warna tersendiri pada ekstradisi ini.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada satu sisinya dapat meningkatkan

kesejahteraan hidup manusian, pada sisi lain menimbulkan berbagai efek negatif,

(37)

Tindakan kejahatan serta akibat-akibatnya tidak hanya menjadi urusan para

korban dan kelompok masyarakat, tetapi sering melibatkan negara-negara

sehingga untuk pencegahan dan pemberantasannya diperlukan kerjasama antara

negara. Misalnya dengan menangkap si pelaku kejahatan yang melarikan diri dan

menyerahkannya kepada negara yang mempunyai yurisdiksi untuk mengadili dan

menghukumnya atas permintaan dari negara tersebut.

Pemikiran-pemikiran baru dalam bidang ketatanegaraan, politik dan

kemanusiaan inilah yang mendorong semakin diakui dan dikukuhkannya

kedudukan individu sebagai subjek hukum dengan segala hak dan kewajibannya.

Negara-negara di dalam membuat dan merumuskan perjanjian-perjanjian

ekstradisi disamping memperhatikan aspek-aspek pemberantasan kejahatannya

juga memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan dimana individu-individu pelaku

kejahatan tetap diberikan atau diakui hak-hak dan kewajibannya.

Demikian pada akhirnya, perjanjian-perjanjian ekstradisi dalam isi dan

bentuknya yang modern dewasa ini, memberikan jaminan keseimbangan antara

tujuan memberantas kejahatan dan perlindungan maupun penghormatan terhadap

hak-hak asasi manusia.

Prinsip-prinsip tidak menyerahkan pelaku kejahatan politik adalah sebagai

konsekuensi dari pengakuan hak-hak asasi untuk menganut keyakinan politik atau

hak politik seseorang untuk pertama kalinya dicantumkan dalam perjanjian

ekstradisi antara Perancis dan Belgia pada tahun 1824. Sebagai subjek hukum

dengan segala hak dan kewajibannya. Abad 19 dan 20 adalah merupakan masa

(38)

perjanjian ekstradisi dan perundang-undangan nasional negara-negara mengenai

ekstradisi.

C. Syarat-syarat Ekstradisi

C.1.

Masalah penahanan adalah sangat penting karena berkaitan dengan

kebebasan bergerak yang merupakan hak asasi seseorang yang perlu mendapat

perlindungan hukum. Karena itu penahanan seseorang yang diminta oleh negara

lain untuk diekstradisikan tidak dilakukan dengan begitu saja, tetapi harus

memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Hal ini dapat kita temukan dalam bab III

pasal-pasal 18, 19, 20, dan 21 mengenai syarat-syarat penahanan yang diajukan

oleh negara peminta. Kemudian dalam Bab IV, pasal-pasal 22, 23, dan 24 dimuat

pula syarat-syarat lain yang harus dipenuhi negara yang meminta penyerahan. Syarat-syarat Penahanan yang Diajukan Negara Peminta

Menurut pasal 18, Kepala Kepolisian Indonesia dapat memerintahkan

penahanan yang dimintakan oleh negara atas dasar yang mendesak, jika

penahanan itu tidak bertentangan dengan hukum negara Republik Indonesia (ayat

1). Dalam permintaan untuk penahanan itu, negara meminta harus menerangkan,

bahwa dokumen sebagaimana disebutkan dalam pasal 22 sudah tersedia dan

bahwa negara tersebut segera dalam waktu tersebut dalam pasal 21 akan

menyampaikan permintaan ekstradisi (ayat 2). Dalam penjelasan pasal tersebut

disebutkan bahwa yang dimaksud dengan alasan mendesak ialah misalnya, orang

(39)

Selanjutnya dalam pasal 19, ditentukan bahwa permintaan untuk

penahanan disampaikan oleh pejabat yang berwenang dari negara peminta kepada

Kepala Kepolisian Republik Indonesia atau Jaksa Agung Republik Indonesia

melalui Interpol Indonesia atau melalui saluran diplomatik atau langsung dengan

pos atau telegram (ayat 1). Ayat (2) menentukan bahwa pengeluaran surat

perintah untuk menangkap dan atau menahan orang yang bersangkutan dilakukan

berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam Hukum Acara Pidana Indonesia, kecuali

ditentukan lain seperti yang diatur dalam ayat (3). Dalam ayat (3) disebutkan,

bahwa menyimpang dari ketentuan Hukum Acara Pidana Indonesia yang berlaku,

maka terhadap mereka yang melakukan kejahatan yang dapat dilakukan

penahanan. Perlu kiranya dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan Interpol

Indonesia adalah Badan Kerjasama Kepolisian Internasional untuk Indonesia yang

dibentuk dengan keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No.

245/PM/1954, tanggal 5 Oktober 1954. sedang yang dimaksud dengan telegram

khusus adalah telegram yang jelas diketahui identitas dari pengirim telegram.

Kemudian pada pasal 20 ditentukan bahwa keputusan atas permintaan

penahanan diberitahukan kepada negara peminta oleh Kepala Kepolisian Republik

Indonesia atau Jaksa Agung Republik Indonesia melalui Interpol Indonesia atau

saluran diplomatik atau langsung dengan pos atau telegram.

Dalam hal terhadap orang yang bersangkutan dilakukan penahanan, maka

orang tersebut dibebaskan oleh Jaksa Agung Republik Indonesia jika dalam waktu

yang dianggap cukup sejak tanggal penahanan, Presiden melalui Menteri

(40)

dalam waktu yang dianggap cukup sejak tanggal penahanan, Presiden melalui

Menteri Kehakiman Republik Indonesia tidak menerima permintaan ekstradisi

beserta dokumen sebagaimana terdapat dalam pasal 22 dari negara-peminta.

Ketentuan tersebut terdapat dalam pasal 21. Adapun mengenai waktu yang

dianggap cukup ditentukan dalam penjelasan bahwa hal itu akan ditentukan dalam

perjanjian yang diadakan dengan suatu negara. Dalam perjanjian ekstradisi yang

dibuat antara Pemerintah Republik Indonesia baik dengan Malaysia, Philippina

maupun Thailand waktu tersebut ditentukan 20 hari.

C.2.

Tentang syarat-syarat yang dipenuhi dalam mengajukan permintaan

ekstradisi, ditentukan dalam pasal 22, bahwa surat permintaan ekstradisi, harus

diajukan secara tertulis melalui saluran diplomatik kepada Menteri Kehakiman

Republik Indonesia untuk diteruskan kepada Presiden (ayat 2). Selanjutnya dalam

ayat (3) ditentukan, bahwa surat permintaan ekstradisi bagi orang yang

dimintakan ekstradisinya untuk menjalankan pidana harus disertai :

Permintaan Ekstradisi dan Syarat-syarat yang harus Dipenuhi Oleh Negara-Peminta

a. Lembaran asli atau salinan otentik dari putusan pengadilan yang berupa

pemidanaan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang pasti.

b. Keterangan yang diperlakukan untuk menetapkan identitas dan

kewarganegaraan orang yang dimintakan ekstradisinya.

c. Lembaran asli atau salinan otentik dari surat perintah penahanan yang

(41)

Surat-surat dan keterangan yang dimaksud dalam ayat (3) diatas adalah

untuk kepentingan pemerintahan di pengadilan. Apabila ayat (3) mengatur tentang

permintaan ekstradisi bagi orang yang dimintakan ekstradisinya untuk menjalani

pidana, maka ayat (4) mengatur tentang surat permintaan ekstradisi bagi orang

yang disangka melakukan kejahatan. Demikianlah ditentukan dalam ayat (4)

bahwa surat permintaan ekstradisi harus disertai :

a. Lembaran asli atau salinan otentik dari surat perintah penahanan yang

dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari negara-peminta;

b. Uraian dari kejahatan yang diminta ekstradisinya, dengan menyebutkan waktu

dan tempat kejahatan dilakukan dengan disertai bukti tertulis yang diperlukan;

c. Teks ketentuan hukum dari negara peminta yang dilanggar atau jika hal

demikian tidak mungkin, isi dari hukum yang diterapkan;

d. Keterangan-keterangan saksi dibawah sumpah mengenai pengetahuannya

tentang kejahatan yang dilakukan;

e. Keterangan yang diperlukan untuk menetapkan identitas dan

kewarganegaraan orang yang dimintakan ekstradisinya;

f. Permohonan penyitaan barang-barang bukti, bila ada dan diperlukan.

Adapun yang dimaksud dengan bukti tertulis dalam huruf b di atas adalah

dokumen-dokumen yang erat hubungannya dengan kejahatan tersebut, misalnya

surat hak miliki, atau apabila bukti-bukti tersebut berupa alat, benda atau senjata,

cukup dengan foto-foto dari barang-barang tersebut, atau apa yang dinamakan

”Copie Collatione”. Hal ini mengingat bahwa pemeriksaan oleh pengadilan dalam

(42)

berdasarkan bukti-bukti yang ada dapat diajukan ke pengadilan, dan bukan untuk

memutuskan salah atau tidaknya orang tersebut. 23

Jika menurut pertimbangan Menteri Kehakiman Republik Indonesia surat

yang diserahkan itu tidak memenuhi syarat pasal 23 atau syarat lain yang

ditetapkan dalam perjanjian, maka kepada pejabat negara-peminta diberikan

kesempatan untuk melengkapi surat-surat tersebut dalam jangka waktu yang

dipandang cukup oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia.

Dalam penjelasan 23 ditentukan bahwa kesempatan untuk melengkapi

surat-surat tersebut yang diminta oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia

diberikan dalam waktu yang dipandang cukup mengingat jarak dan luasnya

negara yang minta ekstradisi. Maka untuk pembatasan waktu dapat ditentukan

dalam perjanjian yang diadakan antara Republik Indonesia dengan negara yang

meminta ekstradisi.

Kemudian dalam pasal 24 ditentukan bahwa setelah syarat-syarat dan

surat-surat dimaksud dalam pasal 22 dan 23 dipenuhi, Menteri Kehakiman

Republik Indonesia mengirimkan surat permintaan ekstradisi beserta surat-surat

lampirannya kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia dan Jaksa Agung

Republik Indonesia untuk mengadakan pemeriksaan.

Sebelum seseorang diekstradisikan kepada negara peminta, orang tersebut

terlebih dulu diperiksa oleh Pengadilan Negeri. Dalam hal orang tersebut C.3. Pemeriksaan Terhadap Orang yang Dimintakan Ekstradisinya.

23

(43)

melakukan kejahatan, serta kejahatan tersebut merupakan kejahatan yang

pelakunya dapat dikenakan penahanan menurut Hukum Acara Pidana Indonesia

dan ketentuan-ketentuan yang disebut dalam pasal 19 ayat (2), dan (3) dan

diajukan permintaan penahanan oleh negara peminta, orang tersebut dikenakan

penahanan. Ketentuan tersebut dimuat dalam pasal 25.

Selanjutnya berdasarkan pasal 26, apabila yang melakukan penahanan

tersebut Kepolisian Republik Indonesia, maka setelah menerima surat permintaan

ekstradisi, Kepolisian Republik Indonesia mengadakan pemeriksaan tentang orang

tersebut atas dasar keterangan atau bukti dari negara peminta (ayat 1). Hasil

pemeriksaan dicatat dalam Berita Acara dan segera diserahkan kepada Kejaksaan

Indonesia setempat.

Selambat-lambatnya 7 hari setelah menerima Berita Acara tersebut,

Kejaksaan dengan mengemukakan alasannya secara tertulis, meminta kepada

Pengadilan Negeri didaerah tempat ditahannya orang tersebut untuk memeriksa

dan kemudian menetapkan dapat atau tidaknya orang tersebut diekstradisikan

(pasal 27).

Kemudian dalam pasal 28 ditentukan bahwa perkara-perkara ekstradisi

termasuk perkara-perkara yang didahulukan. Dalam penjelasan pasal tersebut

disebutkan bahwa perkara ekstradisi didahulukan mengingat bahwa pemeriksaan

di Pengadilan tidak dilakukan seperti Pengadilan biasa.

Selanjutnya pasal 29 menentukan bahwa kejaksaan menyampaikan surat

panggilan kepada orang yang bersangkutan untuk menghadap Pengadilan pada

(44)

bersangkutan sekurang-kurangnya 3 hari sebelum sidang. Adapun penentuan

minimum jangka waktu 3 hari dimaksudkan untuk mengadakan

persiapan-persiapan sepenuhnya. Menurut pasal 30, pada hari sidang orang yang

bersangkutan harus menghadap ke muka Pengadilan Negeri.

Pemeriksaan oleh Pengadilan Negeri dilakukan dalam sidang terbuka,

kecuali apabila Ketua Sidang menganggap perlu dilakukan sidang tertutup (pasal

31 ayat 1). Jaksa menghadiri sidang dan memberikan pendapatnya (pasal 31 ayat

2). Dalam sidang tersebut Pengadilan Negeri memeriksa apakah :

a. Identitas dan kewarganegaraan orang yang dimintakan ekstradisi itu sesuai

dengan keterangan dan bukti-bukti yang diajukan oleh negara-peminta;

b. Kejahatan yang dimaksud merupakan kejahatan yang dapat diekstradisikan

menurut pasal 4 dan bukan merupakan kejahatan politik atau kejahatan

militer;

c. Hak penuntutan atau hak melaksanakan putusan Pengadilan sudah atau

belum kedaluwarsa;

d. Terhadap kejahatan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan telah atau

belum dijatuhkan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang pasti;

e. Kejahatan tersebut diancam dengan pidana mati di negara-peminta

sedangkan di Indonesia tidak;

f. Orang tersebut diperiksa di Indonesia atas kejahatan yang sama.

Ketentuan tersebut diatas dimuat dalam pasal 32 dan berdasarkan

penjelasannya ketentuan tersebut a, b,c,d, e dan f adalah untuk melindungi hak

(45)

militer dalam pasal tersebut adalah kejahatan menurut hukum pidana tentara

(KUHPT) tetapi bukan kejahatan yang diatur didalam Kitab Undang-undang

Huku m Pidana Umum (KUHP).

Selanjutnya dalam pasal 33 ditentukan bahwa dari hasil pemeriksaan

tersebut pada pasal 32 pengadilan menetapkan dapat atau tidaknya orang tersebut

diekstradisikan (ayat 1). Penetapan tersebut disertai surat-suratnya yang

berhubungan dengan perkara itu segera diserahkan kepada Menteri Kehakiman

untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan penyelesaian lebih lanjut (ayat 2).

Penetapan yang dimaksud disini adalah merupakan bentuk dari apa yang

dinyatakan oleh pengadilan, sedang isinya adalah berupa pernyataan dan atau

pendapat. Yang dimaksud dengan perkara dalam pasal ini adalah

masalah-masalah yang berhubungan dengan permintaan ekstradisi. Demikianlah penjelasan

pasal tersebut.

Seseorang yang ditahan dalam rangka pemeriksaan untuk ekstradisi akan

dikeluarkan dari tahanan apabila ada perintah dari pengadilan, atau penahanan itu

sudah berlangsung selama tiga puluh hari, atau permintaan ekstradisi ditolak oleh

Presiden. Sebaliknya jangka waktu penahanan tersebut dapat diperpanjang dengan

tigapuluh hari.

C.4. Pencabutan dan Perpanjangan Penahanan

Untuk jelasnya, akan kita perhatikan di dalam Bab VI pasal 34 dan 35

(46)

Menurut pasal 34, penahanan yang diperintahkan berdasarkan pasal 25

dicabut, jika :

a. Diperintahkan oleh pengadilan;

b. Sudah berjalan selama tiga puluh hari kecuali jika diperpanjang oleh

pengadilan atas permintaan jaksa;

c. Permintaan ekstradisi ditolak oleh Presiden;

Selanjutnya ditentukan dalam pasal 35 bahwa jangka waktu penahanan

yang dimaksud dalam pasal 34 huruf b setiap kali dapat diperpanjang dengan tiga

puluh hari (ayat 1). Kemudian dalam ayat (2) ditentukan bahwa perpanjangan

hanya dapat dilakukan dalam hal :

a. Belum adanya penetapan pengadilan mengenai permintaan ekstradisi;

b. Diperlukan keterangan dari Menteri Kehakiman seperti dimaksud dalam pasal

36 ayat (3);

c. Ekstradisi diminta pula oleh negara lain dan Presiden belum memberi

keputusannya;

d. Permintaan ekstradisi sudah dikabulkan, tetapi belum dapat dilaksanakan.

Demikianlah ketentuan mengenai pencabutan dan perpanjangan

penahanan yang terdapat dalam Bab VI pasal 34 dan 35.

D. Beberapa Asas Ekstradisi

Setelah kita mengetahui tentang pengertian dan ruang lingkup dari

(47)

yang dimuat dalam Bab II Undang-undang No. 1 tahun 1979 tentang Ekstradisi.

Untuk jelasnya asas-asas umum tersebut akan diuraikan di bawah ini :

i. Asas Kejahatan Rangkap (Double Criminality), adalah asas bahwa

perbuatan yang dilakukan baik oleh negara peminta maupun negara yang

diminta dianggap sebagai kejahatan. Asas ini dapat dilihat dalam pasal 4

ayat 1 yang menyatakan bahwa ekstradisi dilakukan terhadap kejahatan yang

tersebut dalam daftar kejahatan terlampir sebagai suatu naskah yang tidak

terpisahkan dari undang ini. Dengan demikian berdasarkan

undang-undang No. 1 tahun 1979 maka tidak semua kejahatan pelakunya dapat

diekstradisikan, tetapi terbatas pada kejahatan yang daftarnya terlampir

dalam undang-undang tersebut.

ii. Asas jika suatu kejahatan tertentu oleh negara yang diminta dianggap

sebagai suatu kejahatan politik maka permintaan ekstradisi ditolak. Asas ini

tercantum dalam pasal 5 ayat 1 yang menyatakan bahwa ekstradisi tidak

dilakukan terhadap kejahatan politik. Selanjutnya dalam ayat 2 disebutkan

bahwa kejahatan yang pada hakekatnya lebih merupakan kejahatan biasa

daripada kejahatan politik, tidak dianggap sebagai kejahatan politik.

Kemudian dalam ayat 3 diutarakan bahwa terhadap beberapa jenis kejahatan

politik tertentu pelakunya dapat juga diekstradisikan sepanjang diperjanjikan

antara negara Republik Indonesia dengan negara yang bersangkutan. Perlu

kiranya dijelaskan bahwa tidak diserahkannya pelaku kejahatan politik

berhubungan dengan hak negara untuk memberi suaka politik kepada

(48)

maka diadakan pembatasan seperti yang dimaksud dalam pasal 5 ayat 2.

kejahatan yang diatur dalam ayat 4 sebetulnya merupakan kejahatan politik

yang murni tetapi karena kejahatan tersebut dianggap sangat dapat

menggoyahkan masyarakat dan negara maka untuk kepentingan ekstradisi,

pembunuh atau percobaan pembunuhan terhadap kepala negara atau anggota

keluarganya tidak dianggap sebagai kejahatan politik.

iii. Asas bahwa negara yang diminta mempunyai hak untuk tidak menyerahkan

warga negaranya sendiri, seperti yang dimuat dalam pasal 7 ayat 1. demi

kepentingan perlindungan warga negara sendiri maka dainggap lebih baik,

apabila yang bersangkutan diadili di negaranya sendiri. Walaupun demikian

ada kemungkinan bahwa orang tersebut akan lebih baik diadili di negara lain

(di negara peminta) mengingat pertimbangan-pertimbangan demi

kepentingan negara, hukum dan keadilan, seperti yang dirumuskan dalam

pasal 7 ayat 2. adapun pelaksanaan penyerahan tersebut didasarkan pada

asas timbal balik (resiprositas). Banyak negara di dunia yang menganut

bahwa warga-negara sendiri tidak diserahkan, misalnya Perancis, Jerman,

Yugoslavia, Belanda, Malaysia, Philippina dan Thailand.

iv. Asas bahwa suatu kejahatan yang telah dilakukan seluruhnya atau sebagian

di wilayah yang termasuk atau dianggap termasuk dalam yuridiksi negara

yang diminta, maka negara ini dapat menolak permintaan ekstradisi

(pasal 8).

v. Asas bahwa suatu permintaan ekstradisi dapat ditolak jika pejabat yang

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan pemberian umbi bengkuang varietas badur dan gajah dengan volume yang berbeda dapat menurunkan kadar glukosa darah

Pada tahun 2015, usaha yang dapat dilakukan BAZNAS Kota Bogor agar efisien yaitu harus mengurangi biaya operasional, biaya sosialisasi, dan meningkatkan dana

Oleh karena kualitas layanan yang baik dan terukur akan meningkatkan citra, kepuasan dan kesetiaan pelanggang terhadap pemakaian jasa Hotel Asyra Makassar adalah

Alt sınır, üst sınır, sınıf değeri, sıklık ve göreli sıklık bilgilerinin oluşturduğu çizelgeye Sıklık Çizelgesi (Çizelge 1) ve Alt sınır, üst sınır; sınıf

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sinaga, Hiswani dan Jemadi, (2011) yang menjelaskan bahwa proporsi penderita DM dengan komplikasi tertinggi pada jenis

Gambar 5.16 Diagram Bar Distribusi Proporsi Jenis Kelamin Penderita DM dengan Komplikasi yang Dirawat Inap Berdasarkan Kategori Komplikasi di Rumah Sakit Martha

Salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan dan kelulushidupan pada perkembangan awal larva sampai spat tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah pemberian pakan alami yang kurang