TUGAS AKHIR
PENGARUH PANJANG CYCLIC PREFIX TERHADAP
KINERJA SISTEM OFDM PADA WiMAX
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) pada Departemen Teknik Elektro
Oleh
040402076
MUHAMMAD FAISAL
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRAK
Perkembangan teknologi telekomunikasi sangat pesat. Teknologi
telekomunikasi wireless saat ini mulai bergerak ke arah teknologi BWA
(Broadband Wireless Access). WiMAX (Worldwide Interoperability for
Microwave Access) adalah salah satu standar pada BWA yang diperkenalkan oleh
IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineering) dengan sistem IEEE
802.16. Basis teknologi WiMAX adalah OFDM (Orthogonal Frequency Division
Multiplexing).
OFDM adalah sebuah teknik transmisi yang menggunakan beberapa buah
frekuensi (multicarrier) yang saling tegak lurus (orthogonal). Kelemahan
penggunaan teknologi OFDM adalah munculnya ISI (Intersymbol Interference).
Untuk mengatasi kelemahan ini, OFDM menggunakan guard interval (cyclic
prefix) pada pentransmisiannya.
Pada tugas akhir ini disimulasikan pengaruh panjang cyclic prefix (CP)
terhadap kinerja sistem OFDM pada WiMAX. Model simulasi terdiri dari model
stasiun pemancar OFDM pada WiMAX, model kanal dan model stasiun penerima
OFDM pada WiMAX.
Dari hasil simulasi, nilai Eb/N0 (dB) yang dibangkitkan berbanding terbalik
dengan nilai BER yang terjadi. Penggunaan CP 1/4 lebih baik pada modulasi
KATA PENGANTAR
Segala pujian hanya bagi Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
berkah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul
“Pengaruh Panjang Cyclic Prefix Terhadap Kinerja Sistem OFDM pada WiMAX”.
Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah untuk memenuhi syarat
kelulusan akademis tingkat pendidikan sarjana (S-1) di Departemen Teknik
Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian Tugas Akhir ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak dan
pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, Bapak H. Afiffuddin (Alm) dan
Ibu Hj.Asniah yang telah memberikan dukungan moril, doa, dan materiil serta
limpahan kasih sayang kepada penulis dan saudara-saudara penulis, Kak Fitri,
Bang Rudi, Bang Inda, Kak Saufi dan Kak Ais.
Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ir. Nasrul Abdi, MT dan Bapak Rahmad Fauzi, ST. MT selaku
Ketua dan Sekretaris Departemen Teknik Elektro USU.
2. Bapak Maksum Pinem, ST. MT selaku dosen pembimbing Tugas Akhir,
atas segala bimbingan, pengarahan, dan motivasi dalam menyelesaikan Tugas
Akhir ini.
3. Bapak Ir. Djendanari Sembiring selaku dosen wali penulis, atas bimbingan
4. Seluruh bapak dan ibu dosen Departemen Teknik Elektro USU,
khususnya bapak dan ibu dosen pada Sub Teknik Telekomunikasi.
5. Bapak dan ibu staf pegawai Departemen Teknik Elektro USU.
6. Rekan-rekan Departemen Teknik Elektro Stambuk 04 khususnya Firdaus,
Bayu, Rozi, Lutfi, Nando Leo, Ronald, Pay, Jefri, Eka, Franklyn, Ai, Made,
Muhfi, Fahmi, Nurul, Hanna dan rekan-rekan seperjuangan penulis dimasa kuliah.
7. Serta semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan
Tugas Akhir ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis memohon maaf dan berharap
semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juni 2009
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... ix ujuan Penulisan ... 3
1.4 ... B atasan Masalah ... 3
1.5 ... M etode Penulisan ... 3
1.6 ... S istematika Penulisan ... 4
BAB II TEORI WiMAX ... 6
2.1 ... U mum ... 6
2.2 ... P erkembangan WiMAX ... 7
2.3 ... O rthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) ... 11
2.3.2 Pembangkitan dan Pendeteksian Sinyal OFDM... 14
2.4 ... G uard Interval ... 17
2.5 ... M odulasi Digital ... 18
2.5.1 Phase Shift Keying (PSK) ... 19
2.5.2 16-Quadrature Amplitudo Modulation (16QAM) ... 19
2.6 ... K arakteristik Kanal Nirkabel ... 20
2.6.1 Redaman ... 21
2.6.2 Kanal Ideal (AWGN) ... 22
BAB III MODEL SISTEM OFDM PADA WiMAX ... 23
3.1 ... S tasiun Pemancar OFDM pada WiMAX ... 24
3.1.1 Pembangkitan Bit Informasi ... 24
3.1.2 Modulasi Sinyal ... 24
3.1.3 Konversi Serial ke Paralel ... 26
3.1.4 Penyisipan Simbol Pilot ... 27
3.1.5 Penambahan Sinyal Nol ... 27
3.1.6 Blok Inverse Discrete Fourier Transform (IDFT) ... 27
3.1.7 Penyisipan Guard Interval ... 28
3.2 ... M odel kanal ... 28
3.3 ... S tasiun Penerima OFDM pada WiMAX ... 29
3.3.1 Pengeluaran Guard Interval ... 29
3.3.2 Blok Discrete Fourier Transform... 29
3.3.3 Pembuangan Sinyal Nol ... 30
3.3.4 Estimasi Kanal ... 30
3.3.6 Konversi Paralel ke Serial ... 31
3.3.7 Demodulasi Sinyal ... 31
3.4 ... P erhitungan Bit Error Rate (BER) ... 31
BAB IV HASIL ANALISIS SIMULASI PENGARUH PANJANG CYCLIC PREFIX TERHADAP KINERJA SISTEM OFDM PADA WiMAX ... 32
4.1 ... P emilihan Parameter OFDM pada WiMAX ... 32
4.2 ... A nalisa Data Sistem OFDM pada WiMAX ... 33
4.2.1 Menggunakan Pengkodean ... 33
4.2.2 Tanpa Pengkodean ... 47
BAB V KESIMPULAN dan SARAN ... 62
5.1 ... K esimpulan ... 62
5.2 ... S aran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 64
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Implementasi Teknologi Wimax ... 7
Gambar 2.2 (a) Spektrum sebuah OFDM Subcarrier ... 12
(b) Spektrum Sinyal OFDM ... 12
Gambar 2.3 (a) Spektrum sebuah OFDM Subscarrier ... 12
(b) Spektrum Sinyal OFDM ... 12
Gambar 2.4 Transceiver OFDM ... 13
Gambar 2.5 Proses Pembangkitan Sinyal Multicarrier pada Pemancar OFDM ... 14
Gambar 2.6 Proses Deteksi Sinyal Subcarrier pada Penerima OFDM ... 16
Gambar 2.8 Ilustrasi Delay Spread ... 18
Gambar 2.9 Periode Simbol OFDM ... 18
Gambar 2.10 Pengaruh Propagasi Radio ... 21
Gambar 2.11 Kanal AWGN ... 22
Gambar 3.1 Diagram Blok Stasiun Pemancar OFDM ... 24
Gambar 3.2 Konstelasi Sinyal QPSK ... 25
Gambar 3.3 Konstelasi Sinyal 16QAM ... 25
Gambar 3.4 Ilustrasi Serial to Parallel Converter ... 26
Gambar 3.5 Fungsi Reshape untuk Mengkonversi Sinyal Data Serial to Parallel Converter ... 27
Gambar 3.6 Model Kanal Transmisi Sistem OFDM ... 28
Gambar 3.7 Blok Stasiun Penerima OFDM ... 29
Gambar 4.1 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP ... 34
Gambar 4.2 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/4 ... 35
Gambar 4.3 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/8 ... 37
Gambar 4.4 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16 ... 38
Gambar 4.5 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/32 ... 39
Gambar 4.6 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP ... 41
Gambar 4.7 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/4 ... 42
Gambar 4.8 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/8 ... 44
Gambar 4.9 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16 ... 45
Gambar 4.10 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/32 ... 46
Gambar 4.11 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP ... 48
Gambar 4.12 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/4 ... 49
Gambar 4.13 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/8 ... 51
Gambar 4.14 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16 ... 52
Gambar 4.15 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/32 ... 53
Gambar 4.16 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP ... 55
Gambar 4.17 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/4 ... 56
Gambar 4.19 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16 ... 59
Gambar 4.20 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/32 ... 60
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Perbandingan Standar 802.16 ... 8
Tabel 4.1 Data Parameter Simulasi ... 32
Tabel 4.2 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0 ... 33
Tabel 4.3 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/4 ... 35
Tabel 4.4 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8 ... 36
Tabel 4.5 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16 ... 37
Tabel 4.6 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32 ... 39
Tabel 4.7 BER Teori untuk Modulasi 16QAM ... 40
Tabel 4.8 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0 ... 40
Tabel 4.10 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8 ... 43
Tabel 4.11 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16 ... 44
Tabel 4.12 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32 ... 45
Tabel 4.13 BER Teori untuk Modulasi QPSK ... 47
Tabel 4.14 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0 ... 47
Tabel 4.15 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/4 ... 49
Tabel 4.16 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8 ... 50
Tabel 4.17 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16 ... 51
Tabel 4.18 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32 ... 52
Tabel 4.19 BER Teori untuk Modulasi 16QAM ... 54
Tabel 4.20 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0 ... 54
Tabel 4.21 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/4 ... 56
Tabel 4.22 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8 ... 57
Tabel 4.23 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16 ... 58
Tabel 4.24 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32 ... 59
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini perkembangan dunia telekomunikasi sangat pesat dan begitu
banyak memberikan berbagai kemudahan dan kenyamanan dalam berkomunikasi.
Perkembangan ini dipicu oleh kebutuhan manusia akan akses informasi yang
mudah dan handal baik dalam penyajian data kecepatan tinggi maupun akses
multimedia. Salah satu teknologi yang menyediakan fitur itu adalah teknologi
WiMAX.
Teknologi WiMAX merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar yang
dapat melayani subscriber baik yang berada dalam posisi line of sight maupun
non-line of sight. Teknologi ini beroperasi pada kisaran frekuensi 3,5 GHz dan 5,8
Ghz dengan kecepatan transmisi sampai 70 Mbps. Teknologi nirkabel ini
berdasarkan standart IEEE 802.16 yang dikembangkan oleh IEEE dan diberi
nomor standart IEEE 802.16d yang memiliki jangkauan hingga 50 km. Basis
teknologi WiMAX adalah OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).
Basis teknologi WiMAX tersebut yang membuat kecepatan transmisi
WiMAX dapat mencapai 70 Mbps. OFDM menggunakan metode modulasi
multicarrier. Penggu naan modulasi multicarrier ini dapat mengatasi efek dari
multipath fading. Multipath fading ini dapat menyebabkan satu simbol dapat
diterima dalam multiple copy. Namun pada waktu berbeda dapat menyebabkan
Intersymbol Interference (ISI). Untuk meminimalisasi ISI maka digunakan Cyclic
panjang sehingga mengakibatkan menurunnya symbol rate dan kapasitas kanal.
Untuk mengatasi menurunnya kapasitas kanal, pengiriman simbol pada OFDM
menggunakan multiple carrier dan multiple frekuensi. Tetapi penggunaan multiple
carrier dan multiple frekuensi ini membuat timbulnya intercarrier interference
(ICI). Untuk menghindari atau mengurangi ICI maka antar carrier dibuat saling
orthogonal.
Dengan keunggulan yang dimiliki oleh OFDM pada WiMAX, maka pada
tugas akhir ini akan dikaji dan disimulasikan pengaruh panjang cyclic prefix
terhadap kinerja sistem OFDM pada WiMAX yang dilihat dari Bit Error Rate
(BER) pada kanal Additive White Gaussian Noise (AWGN) dengan modulasi
QPSK (Quadrature Phase Shift Keying) dan 16-QAM (Quadrature Amplitudo
Modulation).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan antara lain:
1. Bagaimana prinsip kerja OFDM pada WiMAX?
2. Apa saja parameter sistem OFDM pada WiMAX yang digunakan untuk
mengukur kinerja sistem dalam simulasi?
3. Bagaimana pengaruh panjang cyclic prefix terhadap kinerja sistem
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk melihat pengaruh panjang
cyclic prefix terhadap kinerja sistem OFDM pada WiMAX yang dipresentasikan
oleh BER.
1.4 Batasan Masalah
Agar masalah yang ditulis dalam tugas akhir ini tidak terlalu luas dan
menyimpang dari topik yang ada maka penulis perlu membatasi permasalahan
sebagai berikut:
1. Modulasi yang digunakan QPSK dan16QAM.
2. Panjang cyclic prefix ditentukan.
3. Tambahan noise yang diberikan pada kanal adalah AWGN.
4. Tidak membahas masalah interferensi dari sinyal terminal lainnya
yang sedang aktif.
5. Analisis kinerja OFDM pada WiMAX dilakukan hanya untuk
mengetahui probabilitas BER pada sistem yang dipengaruhi AWGN.
6. Perhitungan BER dilakukan dengan bantuan bahasa pemrograman
MATLAB R2006a.
1.5 Metodologi Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah:
1. Studi literature dan Studi diskusi berupa studi kepustakaan dan kajian
dosen pembimbing mengenai masalah-masalah yang timbul selama
penulisan tugas akhir.
2. Simulasi, berupa metode yang dilakukan untuk menganalisa pengaruh
panjang cyclic prefix terhadap kinerja sistem OFDM pada WiMAX.
1.6 Sistematika Penulisan
Materi pembahasan dalam tugas akhir ini diurutkan dalam lima bab yang
diuraikan sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penulisan, batasan masalah, metode penulisan dan
sistematika penulisan.
BAB II TEORI WiMAX
Bab ini berisi tentang teori umum WiMAX, OFDM, cyclic prefix,
modulasi QPSK dan 16QAM dan AWGN.
BAB III MODEL SISTEM OFDM PADA WiMAX
Bab ini berisi tentang tahap pemodelan/blok-blok sistem yang akan
BAB IV HASIL ANALISIS SIMULASI PENGARUH PANJANG
CYCLIC PREFIX TERHADAP KINERJA SISTEM OFDM
PADA WiMAX
Bab ini membahas hasil analisis simulasi dari kinerja sistem yang
dipresentasikan oleh BER.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB II
TEORI WIMAX
2.1. Umum
Teknologi wireless saat ini mulai bergerak ke arah teknologi BWA
(Broadband Wireless Access) yang dipersiapkan untuk layanan multimedia
generasi keempat (4G). WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave
Access) adalah salah satu standar pada BWA yang diperkenalkan oleh IEEE
(Institute of Electrical and Electronic Engineering) dengan sistem IEEE 802.16
[1].
WiMAX pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001. Standar ini
kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh forum gabungan antara
perusahaan-perusahaan dunia terkait (produsen produk-produk wireless dan operator-operator
wireless). Pembentukan forum Wimax ini bertujuan untuk mensertifikasi
kemampuan interoperability perangkat-perangkat BWA yang akan diproduksi
sesuai dengan standar IEEE 802.16/ETSI-HIPERMAN (European
Telecommunications Standard Institute-High Performance Metropolitan Area
Network)[1]. Forum WiMAX mendefenisikan WiMAX sebagai standar teknologi
yang memungkinkan akses broadband wireless last mile sebagai alternatif
broadband kabel dan DSL (Digital Subscriber Line).
Keunggulan lain dari teknologi WiMAX adalah jarak jangkauan yang
mampu mencapai 50 km (tergantung frekuensi yang digunakan), menangani
Line of Sight). Kriteria ini membuat WiMAX sebagai teknologi yang berkembang
di seluruh dunia. Gambar 2.1[1] menunjukka n Implementasi teknologi WiMAX.
Gambar 2.1 Implementasi Teknologi Wimax
Teknologi WiMAX sangat cocok untuk diadopsi di negara dengan kawasan
yang luas dan bervariasi seperti Indonesia. Teknologi WiMAX secara umum dapat
digunakan sebagai aplikasi untuk akses broadband bagi pelanggan di rumah
(fixed), di area perkantoran (Nomadic) maupun di kendaraan (mobile).
2.2 Perkembangan WiMAX
Perkembangan teknologi WiMAX terjadi secara evolutif dalam beberapa
tahap. Sesuai standarisasinya, dikatakan bahwa teknologi WiMAX diatur dalam
standard IEEE 802.16. Secara sederhana standar ini terbagi lagi dalam beberapa
Tabel 2.1 Perbandingan Standar 802.16
Deskripsi 802.16 802.16a 802.16d 802.16e
Frekuensi 10-66 Ghz 2-11 Ghz 2-11 Ghz 2-6 Ghz
Topologi LOS, point
to point
Jangkauan 1,6-4,8 km
4,8-8 km,
NB: OFDM : Orthogonal Frequency Division Multiplexing QPSK : Quadrature Phase Shift Keying
Karakteristik utama yang dimiliki WiMAX pada Tabel 2.1 antara lain:
1. Pada versi awal IEEE 802.16 bekerja di frekuensi 10 – 66 GHz, untuk
hubungan LOS.
2. Untuk versi IEEE 802.16a ini dapat digunakan untuk hubungan NLOS.
3. Kompatibel dengan digital switch yang ada (ATM, T1, E1) dengan
optimal data rate per user antara 300 kbps – 2 Mbps dan rangenya 5 – 8
km untuk maksimal throughput.
4. Untuk versi IEEE 802.16d. Tekniknya terjadi pemecahan kanal ke kanal
– kanal terkecil menggunakan Op-Amp dan teknologi Smart Antenna.
Digunakan untuk fixed access, yang meliputi BS maupun receiver yang
merupakan CPE.
5. Versi IEEE 802.16e ini digunakan untuk mendukung mobilitas
(Handover, roaming) pada sistem selular sampai 120km/jam dan bekerja
dalam NLOS. Digunakan untuk aplikasi mobile access.
6. Dikonfigurasikan untuk layanan di pedesaan sampai radius maksimal 50
km, atau layanan di daerah berpenduduk padat di perkotaan untuk jarak
1-4 km, dengan data rate sampai 75 Mbps. Dapat dibayangkan dengan
teknologi ini, peralatan wireless point-to-multipoint, NLOS, last-mile
access dan solusi backhaul yang memungkinkan melengkapi,
memperluas, bahkan menggantikan infrastruktur jaringan kabel atau
DSL.
7. Sistem ini menduku ng teknologi video streaming, VoIP telephony,
tayangan diam maupun bergerak, e-mail, Web browsing, e-commerce,
Beberapa parameter yang didefinisikan oleh forum WiMAX adalah sebagai
berikut:
1. Spectrum band
Mengenai frekuensi operasi yang digunakan oleh perangkat WiMAX.
2. Duplexing
Dua opsi yang memungkinkan adalah TDD (Time Division Duplex)
dengan tanpa pasangan dan FDD (Frequency Division Duplex). FDD
mensyaratkan frekuensi yang berpasangan (2channel/carrier), satu untuk
uplink dan channel lain untuk downlink. Pada TDD trafik menduduki
satu channel, uplink dan downlink trafik dibedakan dari time slot-nya
3. Channel bandwith (carrier spacing)
Channel bandwith biasanya disebut dengan lebarnya spasi frekuensi.
Besarnya spasi tersebut tidak bergantung dari frekuensi operasi namun
berdasarkan alokasi yang telah diatur oleh regulator. Inisial spasi
frekuensi untuk WiMAX sebesar 3,5MHz dan 7MHz. Semakin lebar
spasi frekuensinya, maka akan semakin besar data rate yang mampu
diberikan.
4. Standar IEEE
Profil 802.16-2004 memanfaatkan OFDM dengan sejumlah carrier 256
2.3 OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing)
Salah satu kemampuan NLOS pada WiMAX disebabkan penerapan inovasi
teknologi OFDM. OFDM adalah salah satu jenis transmisi multicarrier dimana
suatu aliran data serial berkecepatan tinggi dibagi menjadi beberapa subcarrier
orthogonal yang berkecepatan lebih rendah[2]. Metode modulasi multicarrier ini
dapat mengatasi efek dari multipath fading di lingkungan wireless. Multipath
effect menyebabkan suatu simbol dapat diterima dalam multiple copy namun pada
waktu yang berbeda dapat menyebabkan terjadinya ISI (intersimbol interference)
antar simbol di penerima. Untuk meminimalisasi ISI, maka simbol yang dikirim
dibuat lebih panjang (menambahkan cyclic prefix). OFDM menggunakan simbol
yang lebih panjang untuk meminimalisasi ISI yang mengakibatkan menurunnya
simbol rate dan kapasitas kanal. Selanjutnya untuk mengatasi kapasitas kanal
yang rendah, OFDM mengirimkan simbol menggunakan multiple carrier atau
multiple frequency. Multiple carrier atau multiple frequency pada OFDM
menyebabkan ICI (inter-carrier interference) sehingga terjadi pelemahan sinyal
akibat spasi antar kanal yang berdekatan dan saling tumpang tindih. Untuk
menghindari ICI, setiap sinyal dibuat saling orthogonal sehingga setiap satu sinyal
mencapai nilai maksimum, maka saat itu sinyal yang lain akan bernilai rendah.
Penggunaan DFT (Discrete Fourier Transform) pada sistem OFDM akan
mengurangi tingkat kompleksitas sistem pengirim dan penerima. Dengan
penggunaan DFT maka tidak diperlukan banyak osilator, mixer dan filter untuk
masing-masing subcarrier. DFT digunakan untuk mempertahankan subcarrier
diimplementasikan algoritma FFT (Fast Fourier Transform). Dengan FFT,
jumlah operasi sejumlah N2 pada DFT dapat berkurang menjadi N2.logN[3].
Gambar 2.2[2] mengilustrasikan perbedaan antara teknik multicarrier
non-overlap konvensional dan teknik modulasi multicarrier orthogonal, teknik ini
dapat menghemat hampir 50% bandwidth. Orthogonalitas didapat dengan
mengatur jarak antar carrier sebesar 1/T, dimana T adalah perioda simbol.
Gambar 2.2 (a) Spektrum sebuah OFDM Subcarrier (b) Spektrum Sinyal OFDM
Sinyal OFDM yang di-multiplex dengan selang frekuensi sebesar
kecepatan transmisi dari tiap subcarrier yang ditunjukkan pada Gambar 2.3[4].
Gambar Tersebut menunjukkan bahwa pada frekuensi tengah tiap subcarrier tidak
terjadi crosstalk. Dengan demikian jika kita menggunakan DFT pada receiver
dan menghitung nilai korelasi dengan frekuensi tengah tiap subcarrier, akan
dihasilkan data dari sinyal kirim tanpa crosstalk.
2.3.1 Sistem Transceiver OFDM
Tahapan-tahapan dari transmiter OFDM dapat dilihat pada Gambar 2.4[4].
Modulasi Serial/Paralel IDFT Penyisipan
Gambar 2.4 Transceiver OFDM
Pada sisi pengirim bit-bit informasi dimodulasi dengan salah satu teknik
modulasi digital (QPSK, 16QAM). Setelah dimodulasi dengan setiap subcarrier
orthogonal, bit-bit informasi tersebut menjadi sinyal serial yang termodulasi.
Kemudian sinyal serial tersebut diubah ke bentuk sinyal paralel. Lalu
masing-masing sinyal paralel masuk ke blok IDFT. Blok IDFT memiliki 256 subcarrier.
Apabila sinyal paralel yang akan masuk ke blok IDFT belum mencapai 256
subcarrier maka akan dilakukan penambahan subcarrier pilot dan subcarrier nol.
Sinyal yang keluar dari blok IDFT merupakan sinyal multicarrier. Sebelum
dikirim, sinyal multicarrier tersebut ditambahkan guard interval (cyclic prefix).
Penambahan guard interval berguna untuk menjaga sinyal agar dapat
meminimalisasi ISI. Pada sisi penerima, guard interval yang ditambahkan ke
sinyal multicarrier pada sisi pengirim dibuang. Kemudian sinyal multicarrier
tersebut masuk ke blok DFT (Discrete Fourier Transform). Pada blok DFT sinyal
multicarrier tersebut akan diubah menjadi sinyal subcarrier yang paralel. Sinyal
subcarrier tersebut akan masuk ke blok estimasi kanal. Disini akan terjadi
Subcarrier sinyal informasi akan masuk ke blok P/S, sementara subcarrier pilot
dan subcarrier nol akan dibuang. Pada blok P/S semua subcarrier sinyal
informasi akan ditambahkan dan diubah menjadi subcarrier sinyal informasi yang
serial. Subcarrier sinyal informasi yang serial akan didemodulasi sehingga
keluaranya merupakan bit-bit informasi yang dikirimkan pada sisi penerima.
2.3.2 Pembangkit dan Pendeteksian Sinyal OFDM
Pembangkitan dan pendeteksiaan sinyal OFDM dapat dilihat pada bagian
pemancar dan bagian penerima.
a. Bagian pemancar
Pembangkitan sinyal OFDM merupakan penggabungan sinyal-sinyal
subcarrier baik berbeda phasa, amplitudo maupun frekuensi sehingga keluaranya
menjadi sinyal multicarrier dengan frekuensi tertentu.
Gambar 2.5 Proses Pembangkitan Sinyal Multicarrier pada Pemancar OFDM
Gambar 2.5[5] mengilustrasikan proses pembangkitan sinyal multicarrier
pada sistem OFDM. Sebanyak N buah subcarrier termodulasi PSK/QAM dibuat
saling orthogonal dan overlap dengan spasi/jeda antar subcarrier sebesar periode
Pembangkitan ini memenuhi persamaan (2.1), dengan masing-masing
frekuensi fk memenuhi persamaan (2.2) [4]:
(2.1)
dengan :
dn(k) : Simbol OFDM hasil mapping PSK/QAM pada interval mapping ke-n dan
subcarrier ke-k.
TS : Durasi simbol sinyal OFDM.
fk : frekuensi dari subcarrier ke-k (k = 0,1,2,….).
(2.2)
Jika maka persamaan 2.1 dapat ditulis seperti
persamaan 2.3[4].
(2.3)
f(t) : bentuk gelombang pulsa dari setiap simbol dan dapat didefenisikan
seperti persamaan 2.4[4].
(2.4)
Simbol dn(k)diperoleh dari proses konversi informasi kompleks serial hasil
menjadi informasi kompleks parallel dengan kecepatan pada masing-masing
lengan parallel sebesar 1/Ts (atau periode simbol setiap lengan = Ts)[5].
b. Bagian penerima
Pendeteksian sinyal OFDM merupakan pemisahan sinyal multicarrier
menjadi sinyal-sinyal subcarrier yang berbeda phasa, amplitudo maupun
frekuensi yang masih orthogonal.
Gambar 2.6 Proses Deteksi Sinyal Subcarrier pada Penerima OFDM
Gambar 2.6[5] mengilustrasikan proses pendeteksian sinyal subcarrier
pada bagian penerima OFDM. Sinyal multicarrier termodulasi QPSK dan 16QAM
yang diterima dari pengirim akan diubah menjadi sinyal subcarrier dengan
menggunakan DFT.
Dengan menerapkan DFT pada penerima, akan didapatkan seluruh simbol
dn(k)yang dikirim oleh modulator OFDM[6]. Sifat orthogonalitas antar subcarrier
OFDM dimanfaatkan untuk melakukan proses demodulasi pada setiap subcarrier
yang dapat ditunjukkan pada persamaan 2.5[6].
dengan complex conjugate s(t). Bila sinyal kirim s(t) diterima dengan
sempurna, maka persamaan 2.5 dapat disederhanakan menjadi persamaan 2.6[6].
(2.6)
2.4 Guard Interval
Seperti yang telah diutarakan sebelumnya bahwa ke-orthogonal-an simbol
OFDM tetap dapat dipertahankan dengan menerapkan DFT pada sisi receiver. Hal
ini dapat tercapai bila tidak terjadi ISI dan ICI yang diakibatkan oleh kanal
transmisi. Namun, hal ini sangat sulit tercapai karena pada umumnya kanal
transmisi wireless dapat menyebabkan lintas jamak pada sinyal yang
ditransmisikan. Hal ini mengakibatkan diterimanya sinyal asli yang ter-delay
pada receiver. Dengan demikian, suatu simbol dapat mengakibatkan interferensi
pada simbol berikutnya atau suatu simbol dapat mengalami interferensi dari
simbol sebelumnya.
Suatu cara untuk mengatasi ISI ini ialah dengan melakukan penyisipan
guard interval. Guard interval dapat berupa CP (cyclic prefix). Dalam sistem
OFDM, CP memegang peranan penting untuk mempertahankan orthogonalitas
subscarrier OFDM pada situasi kanal yang selektif frekuensi. CP adalah deretan
bit yang dibentuk dengan menyalin ulang sebagian bit-bit suatu simbol OFDM,
kemudian menempatkan bit-bit tersebut di awal simbol. Dengan adanya tambahan
CP ini, sinyal OFDM tidak akan mengalami ISI selama besar delay spread kanal
lebih pendek dari durasi CP yang diilustrasikan seperti Gambar 2.7[7] dan
OFDM SYMBOL GUARD OFDM SYMBOL GUARD OFDM SYMBOL Gambar 2.7 Penyisipan Guard Interval
OFDM SYMBOL OFDM SYMBOL OFDM SYMBOL
DELAY SPREAD
Gambar 2.8 Ilustrasi Delay Spread
ISI hanya akan berpengaruh pada bagian simbol yang berupa CP saja,
sedangkan data payload OFDM tidak mengalami distorsi akibat ISI. Besar durasi
CP bisa dikonfigurasikan 1/32, 1/16, 1/8 atau 1/4 dari panjang simbol OFDM.
Sehingga dengan adanya penambahan CP periode dari simbol OFDM dapat
dituliskan seperti persamaan 2.7[8].
T = TCP+ TS (2.7)
Dari persamaan 2.7 dapat diilustrasikan bahwa gambar dari suatu periode simbol
OFDM seperti Gambar 2.9[8].
OFDM SYMBOL CP
Tcp Ts
T
Gambar 2.9 Periode Simbol OFDM
2.5 Modulasi Digital
Modulasi (mapping) adalah merubah aliran bit informasi menjadi
simbol-simbol untuk selantjunya di-modulasi dengan frekuensi subcarrier. Proses
sebaliknya disebut demapping dimana simbol-simbol dirubah kembali menjadi
2.5.1 PSK (Phase Shift Keying)
Phase Shift Keying adalah modulasi digital dimana phasa sinyal carrier
bervariasi sesuai dengan simbol-simbol yang akan ditransmisikan, dengan kata
lain tiap-tiap simbol memiliki phasa awal yang berbeda-beda setelah
dimodulasikan.
Jenis lain dari modulasi PSK adalah Quadrature PSK (QPSK). Pada QPSK
variasi fasa yang digunakan untuk membedakan tiap simbol adalah sebesar 90°,
dengan demikian terdapat empat kemungkinan simbol yang digunakan, yaitu
“00”, “01”, “11”, “10”[7]. Sinyal QPSK dapat dituliskan seperti persamaan 2.8[6].
(2.8)
Kanal inphase Ich menggunakan cos (2 fct) sebagai simbol pembawa,
sedangkan kanal quaderature-phase Qch menggunakan sin(2 fct) sebagai sinyal
pembawa. Probabilitas bit error (BER) sinyal QPSK pada kanal AWGN
diformulasikan dengan persamaan 2.9[6].
(2.9)
2.5.2 16-Quadrature Amplitudo Modulation (16QAM)
Quadrature Amplitudo Modulation (QAM) adalah modulasi digital yang
merupakan penggabungan antara ASK dan PSK. Konstelasi sinyal berubah-ubah
berdasarkan amplitudo juga berdasarkan phasa. Untuk merepresentasikan satu
simbol 16QAM diperlukan 4 bit sinyal digital, yaitu 0000, 0001, 0010, 0011,
0100, 0101, 0110, 0111, 1000, 1001, 1010, 1011, 1100, 1101, 1110, 1111.
dengan QPSK. Hal ini dikarenakan satu simbol 16QAM merepresentasikan 4 bit
data, sedangkan QPSK hanya 2 bit data. Persamaan 2.10 merupakan sinyal
termodulasi dari 16QAM[6].
(2.10)
Kanal inphase Ich menggunakan cos(2 fct) sebagai sinyal pembawa,
sedangkan kanal quadrature-phase Qch menggunakan sin(2 fct) sebagai sinyal
pembawa. cI dan cQ adalah pasangan nilai integer yang ditentukan menurut lokasi
dari masing-masing titik sinyal.
Probabilitas bit error (BER) sinyal 16QAM pada kanal AWGN
diformulasikan dengan persamaan 2.11[6].
(2.11)
2.6 Karakteristik Kanal Nirkabel
Karakteristik kanal nirkabel sangat penting untuk dipahami. Dengan
memahami karakteristik kanal akan memudahkan proses desain sinyal yang cocok
untuk model kanal tersebut.
Pada suatu kanal ideal, sinyal yang diterima oleh stasiun penerima adalah
sinyal yang terdiri dari satu lintasan sinyal langsung yang merupakan suatu
rekonstruksi sempurna dari sinyal yang dikirimkan. Tetapi pada kenyataannya,
sinyal yang diterima oleh stasiun penerima merupakan penjumlahan dari beberapa
versi sinyal yang dikirimkan dengan redaman dan waktu tunda (delay) yang
kinerja sistem komunikasi nirkabel sangat bergantung pada karakteristik kanal itu
sendiri.
2.6.1 Redaman
Redaman atau atenuasi adalah penurunan daya sinyal ketika transmisi dari
suatu titik ke titik lainnya. Redaman bisa disebabkan oleh panjang lintasan
transmisi, penghalang-penghalang pada saat transmisi (terjadi refleksi, difraksi
dan hamburan) serta pengaruh multipath. Gambar 2.10[4] menunjukkan beberapa
pengaruh propagasi yang menyebabkan redaman. Setiap objek yang menghalangi
Line of Sight (LOS) sinyal dari stasiun pemancar ke stasiun penerima bisa
menyebabkan redaman.
Gambar 2.10 Pengaruh Propagasi Radio
Redaman lintasan sinyal pada kanal komunikasi nirkabel LOS yang ideal bisa
diperoleh dari persamaan Friss (2.12) [4].
(2.12)
Dengan , d dan berturut-turut adalah redaman lintasan, jarak antara pemancar
2.6.2 Kanal Ideal (AWGN)
Kanal ideal atau kanal AWGN adalah kanal yang memiliki lebar pita yang
tak terbatas (infinite) dan respon frekuensi flat untuk semua frekuensi. Sehingga
kanal ideal melewatkan semua spectral daya sinyal tanpa distorsi. Kerusakan
sinyal hanya disebabkan oleh derau yang White Gaussian (AWGN), dan sinyal
yang diterima dideterministik menggunakan proses statistika AWGN (distribusi
Gaussian).
Jika didefenisikan sinyal yang dikirim, derau white Gaussian dan sinyal
yang diterima berturut-turut adalah s(t), w(t) dan r(t), maka sinyal yang diterima
dapat ditunjukkan pada persamaan 2.13 [6].
(2.13)
dengan adalah sample function proses AWGN dengan fungsi rapat spectral
daya pada persamaan 2.14 [6].
(2.14)
Dan adalah rapat daya derau dan bernilai konstan. Gambar 2.11[6]
menunjukkan ilustrasi proses transmisi sinyal pada kanal AWGN.
BAB III
MODEL SISTEM OFDM PADA WiMAX
3.1 Model Sistem
Model sistem OFDM pada WiMAX yang akan disimulasikan
menggunakan program Matlab. Tujuan dari simulasi ini adalah untuk menghitung
kinerja BER level dengan modulasi QPSK dan 16QAM yang diterapkan dalam
sistem OFDM pada WiMAX pada kanal AGWN.
Untuk kemudahan dalam simulasi, maka beberapa asumsi akan dilakukan yaitu
sebagai berikut:
1. Sinkroniasi antara stasiun pemancar dan stasiun penerima merupakan
sinkronisasi sempurna.
2. Pengaruh Power Average Peak Ratio (PAPR) tidak diperhitungkan dalam
simulasi.
3. Konversi Digital to Analog (D/A) dan Analog to Digital (A/D) serta filter
lowpass tidak digunakan dalam simulasi.
4. Model guard interval yang digunakan adalah cyclic prefix dengan durasi
1/32, 1/16, 1/8, 1/4.
Model sistem OFDM pada WiMAX yang digunakan untuk simulasi terdiri
3.2 Stasiun Pemancar OFDM pada WiMAX
Blok stasiun pemancar sistem OFDM pada WiMAX dalam simulasi terdiri
dari pembangkitan bit informasi, blok modulasi, blok serial to parallel (S/P), pilot
insertion, IDFT dan Guard inteval seperti ditunjukkan oleh Gambar 3.1[4].
Modulasi Serial/Paralel IDFT Penyisipan
Gambar 3.1 Diagram Blok Stasiun Pemancar OFDM
Sinyal yang dibangkitkan oleh stasiun pemancar adalah sinyal OFDM pita
dasar (baseband). Penjelasan setiap blok pada bagian stasiun pemancar diberikan
di bawah ini.
3.2.1 Pembangkitan Bit Informasi
Bit-bit informasi yang dibangkitkan adalah bit random atau acak yang
terdistribusi uniform dengan nilai antara 0 dan 1. Level threshold yang digunakan
adalah titik 0.5, jadi jika nilai acak yang dibangkitkan lebih kecil dari 0.5 maka
nilai akan dikirimkan dengan bit 0 sedangkan jika bit acak yang dibangkitkan
lebih besar atau sama dengan 0.5 maka akan dikirimkan dengan bit 1. Untuk lebih
jelas pembangkitan dan pengacakan bit informasi dapat dilihat pada Lampiran A.
3.2.2 Modulasi Sinyal
Input data informasi yang dikirimkan pertama kali dimodulasikan oleh
Pada fungsi lapisan fisik OFDM pada WiMAX standard IEEE 802.16, ada
3 tipe modulasi dan demodulasi sinyal digital yang digunakan yaitu QPSK,
16QAM dan 64QAM. Pada tugas akhir ini hanya menggunakan QPSK dan
16QAM.
QPSK merupakan modulasi yang memetakan 2 bit menjadi 1 simbol data.
Gambar 3.2[6] adalah konstelasi sinyal modulasi QPSK. Setiap simbol diwakili
oleh 2 bit data informasi.
I
Gambar 3.2 Konstelasi Sinyal QPSK
16QAM adalah modulasi sinyal digital dengan penggunaan spektrum
frekuensi cukup tinggi dan tingkat keandalan yang lebih baik. Gambar 3.3[6]
adalah konstelasi sinyal modulasi 16QAM. Satu simbol sinyal dipetakan dengan 4
bit data informasi.
3.2.3 Konversi Serial ke Paralel
Blok serial to parallel converter berfungsi untuk merubah aliran data yang
terdiri dari 1 baris dan beberapa kolom menjadi beberapa baris dan beberapa
kolom. Hasil dari blok serial to parallel converter ini adalah matriks bit-bit
informasi dengan jumlah baris menyatakan banyaknya subcarrier yang
digunakan. Pada tugas akhir ini blok serial to parallel membagi sinyal yang masih
dalam satu jalur frekuensi menjadi 192 jalur frekuensi yang berbeda dengan
kecepatan keluaran yang lebih rendah pada setiap jalur frekuensinya. Jumlah
kolom menyatakan hasil perkalian jumlah simbol per subcarrier dan jumlah bit
per simbol. Gambar 3.4 menunjukan ilustrasi serial to parallel converter.
Gambar 3.4 Ilustrasi Serial to Parallel Converter
Dalam simulasi Matlab, bit-bit serial tersebut akan di reshape oleh fungsi
reshape dalam Matlab, sehingga deretan bit serial akan dikirimkan secara parallel
masuk ke dalam stasiun pemancar OFDM. Gambar 3.5 menunjukkan input data
serial di-reshape menjadi data parallel sesuai dengan jumlah subcarrier yang
diinginkan.
3.2.4 Penyisipan Simbol Pilot
Pada standar IEEE 802.16, sinyal pilot yang diperlukan pada teknik
estimasi kanal. Sinyal pilot yang disisipkan merupakan sinyal tone yang memiliki
konstelasi seperti QPSK dan 16QAM. Posisi sinyal pilot sudah diketahui oleh
penerima. Penyisipan tersebut masih dilakukan dalam domain frekuensi. Pada
tugas akhir ini sinyal pilot yang dibangkitkan dalam sitem OFDM pada WiMAX
sebanyak delapan buah sinyal pilot.
3.2.5 Penambah Sinyal Nol
Penambah sinyal nol berguna agar menjaga inputan blok IDFT tetap
berjumlah 256 jalur frekuensi. Dikarenakan keluaran blok penyisipan sinyal pilot
hanya berjumlah 200 jalur frekuensi. Maka harus ditambah 56 jalur frekuensi nol
(add zero pad). Pada tugas akhir ini jumlah frekuensi nol dalam sistem OFDM
pada WiMAX sebanyak 56 buah frekuensi nol.
3.2.6 Blok IDFT
Blok IDFT pada sistem OFDM pada WiMAX berfungsi untuk
membangkitkan frekuensi carrier agar satu sama lainnya saling orthogonal. Blok
IDFT juga digunakan untuk membentuk sinyal OFDM dari domain frekuensi
menjadi bentuk sinyal dalam domain waktu. Jumlah titik IDFT yang digunakan
dalam sistem OFDM pada WiMAX sebanyak 256 titik IDFT. Keluaran dari setiap
proses transformasi 256 titik IDFT akan membentuk sebuah simbol OFDM.
3.2.7 Penyisipan Cyclic Prefix
Guard Interval yang digunakan dalam simulasi adalah CP. CP merupakan
simbol tersebut untuk mencegah terjadinya ISI. Dalam simulasi CP diset mulai
dari 1/4, 1/16, 1/32, 1/64 dari panjang simbol OFDM.
3.3 Model Kanal
Model kanal kemudian diterapkan pada sinyal yang ditransmisikan. Model
kanal yang digunakan sebagai kanal transmisi pada simulasi ini adalah AWGN.
Gambar 3.6[6] merupakan model kanal pada Tugas Akhir ini.
Kanal
AWGN +
MODEL KANAL
Gambar 3.6 Model Kanal Transmisi Sistem OFDM
3.4 Stasiun Penerima OFDM pada WiMAX
Setelah mengalami efek dari kanal transmisi, sinyal OFDM kemudian
diterima oleh stasiun penerima dan sinyal tersebut akan melalui blok-blok
penerima hingga kembali menjadi bit-bit informasi data. Blok-blok pada penerima
adalah: blok pengeluaran guard interval, blok DFT, pengeluaran simbol pilot,
estimasi kanal, demodulator kemudian blok S/P seperti ditunjukkan oleh Gambar
Paralel/Serial Estimasi
Gambar 3.7 Blok Stasiun Penerima OFDM
3.4.1 Pengeluaran Cyclic Prefix
Pengeluaran guard interval berfungsi untuk memisahkan sinyal
sebenarnya dengan ekstensi cyclic yang kemungkinan telah terkena efek
intersymbol interference akibat pengaruh multipath. Hal ini dilakukan karena
sinyal yang harus diterima oleh stasiun penerima adalah sinyal asli yang
dikirimkan yaitu simbol tanpa CP. Proses yang terjadi adalah mencuplik 256
frame terakhir, yaitu dengan mengambil frame 65 sampai 320 untuk panjang
cyclic prefix yang digunakan adalah 1/4.
3.4.2 Blok DFT
Blok DFT berfungsi untuk membentuk kembali sinyal dari domain waktu
menjadi sinyal dalam domain frekuensi. Titik DFT diset sama seperti titik IDFT
yaitu 256 titik. Setelah terjadi proses DFT, maka data akan berisi informasi,
simbol pilot dan zeropadding. Keluaran dari blok DFT tidak lagi berupa sinyal
OFDM, tetapi merupakan sinyal frekuensi subcarrier yang tidak lagi tegak lurus.
3.4.3 Pembuang Sinyal Nol
Pembuang sinyal nol berfungsi untuk menghilangkan subcarrier nol dalam
domain frekuensi, karena subcarier nol tidak mengandung frekuensi. Karena
jumlah subcarrier sama dengan jumlah titik IDFT yang digunakan pada sisi
pengirim.
3.4.4 Estimasi Kanal
Proses yang terjadi pada blok estimasi kanal adalah dengan melakukan
pembagian sinyal pilot yang diterima dengan sinyal pilot referensi pada bagian
penerima. Proses selanjutnya adalah dengan memisahkan bagian in-phasa dan
quadrature hasil pembagian tersebut kemudian dilakukan proses interpolasi kedua
bagian tersebut agar didapatkan respon kanal bagian in-phasa dan quadrature
sinyal data.
Teknik interpolasi yang digunakan adalah metode spline yang banyak
digunakan pada prediksi statistik. Keluaran interpolasi bagian in-phasa dan
quadrature akan digabungkan. Hasil penggabungan tersebut akan dikalikan
kembali dengan sinyal data dan sinyal pilot. Proses perkalian tersebut akan
memperoleh sinyal data dan sinyal pilot yang sebenarnya. Setelah proses
perkalian tersebut, sinyal pilot yang terdapat pada sinyal data akan dibuang.
3.4.5 Pembuangan Simbol Pilot
Pembuang sinyal pilot berfungsi untuk memisahkan sinyal pilot dari sinyal
data. Sinyal pilot yang berjumlah delapan sinyal pilot dipisahkan dari sinyal data,
kemudian di buang.
3.4.6 Konversi Paralel ke Serial
Parallel to serial converter berfungsi untuk mengubah sinyal data
keluaran yang telah dipisahkan dari sinyal pilot dan masih berupa jalur parallel
3.4.7 Demodulasi Sinyal
Demodulasi sinyal berfungsi untuk mengembalikan data bit yang dikirim
berdasarkan konstelasi modulasi yang digunakan. Modulasi digital yang
digunakan pada tugas ahkir ini ada dua jenis yaitu QPSK dan 16QAM.
3.5 Perhitungan BER
BER dihitung dengan menggunakan metode Monte Carlo, yaitu dengan
membandingkan antara deretan bit pada pengirim dengan deretan bit yang
dideteksi pada sisi penerima, kemudian jumlah bit yang salah dibagi dengan
jumlah bit yang dibangkitkan. Metode simulasi Monte Carlo merupakan metode
simulasi estimasi BER yang relative sederhana, tetapi memerlukan waktu running
yang relatif lama. Kinerja dari hasil simulasi akan dibahas pada bab berikutnya
dengan membandingkan nilai BER terhadap Eb/N0 antara teori dan hasil simulasi.
Diagram alir / flowchart dari keseluruhan model sistem dapat dilihat pada
BAB IV
HASIL SIMULASI DAN ANALISIS
4.1 Parameter OFDM pada WiMAX
Pada Tugas Akhir ini akan membahas pengaruh panjang CP yang
digunakan sistem OFDM pada WiMAX yang dipengaruhi oleh noise AWGN dan
modulasi yang digunakan adalah QPSK dan 16QAM untuk menganalisa BER yang
merupakan salah satu parameter kinerja sistem. Simulasi sistem OFDM pada
WiMAX ini menggunakan program Matlab R2006a. Program simulasi dapat
dilihat pada Lampiran C.
Kinerja OFDM pada WiMAX ditentukan oleh BER sebagai parameter
sistem. Parameter-parameter utama yang digunakan dalam simulasi ini
ditunjukkan pada Tabel 4.1[6].
Tabel 4.1 Data Parameter Simulasi
No Parameter Harga
1 B (Bandwidth) 2.5 Mhz
2 Subcarrier data 192 bit
3 Subcarrier pilot 8 bit
4 Subcarrier nol 56 bit
4.2 Analisis Data Sistem OFDM pada WiMAX
Analisis yang akan dilakukan pada simulasi ini adalah membandingkan
BER terhadap Eb/No untuk masing-masing CP pada setiap modulasi yang akan
digunakan. Simulasi ini juga dilakukan menggunakan pengkodean dan tanpa
pengkodean.
4.2.1 Menggunakan Pengkodean
Simulasi yang dilakukan dengan menggunakan pengkodean ada 2, yaitu:
a. Modulasi 16QAM
Untuk menganalisis BER sistem OFDM pada WiMAX dengan modulasi
16QAM maka dilakukan beberapa simulasi dengan perbedaan CP setiap
simulasinya.
1. Hasil simulasi untuk CP = 0 didapat data seperti pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4945422535
5 0.3093309859
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
30 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4945422535 dan pada saat Eb/No 5 dB
didapat nilai BER sebesar 0.3093309859 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 51.2406 detik. Dari Tabel 4.2, maka didapat grafik perbandingan
Gambar 4.1 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP
Dari Gambar 4.1 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM tanpa pengaruh CP (CP=0). Untuk nilai Eb/No 1 dB atau
dapat dikatakan noise yang dibangkitkan adalah sangat besar dibandingkan
dengan energi bit menyebabkan tingkat kesalahan dari sistem menjadi tinggi.
Pemberian niali Eb/No yang semakin tinggi akan menyebabkan noise yang
dibangkitkan semakin kecil sehingga performansi dari sistem akan menjadi lebih
2. Hasil simulasi untuk CP = 1/4 didapat data seperti Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/4
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4929577464
5 0.3334507042
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
30 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4929577464 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.3334507042 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 40.1597 detik. Dari Tabel 4.3, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Dari Gambar 4.2 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/4. Jika dibandingkan dengan tanpa
menggunakan CP (CP=0), maka dengan menggunakan CP = 1/4, nilai BER yang
didapat lebih baik (kecil).
3. Hasil simulasi untuk CP = 1/8 didapat data seperti Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4947183098
5 0.2822183098
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
30 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4947183098 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.2822183098 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 41.3191 detik. Dari Tabel 4.4, maka didapat grafik perbandingan
Gambar 4.3 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/8
Dari Gambar 4.3 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/8. Jika dibandingkan dengan CP = 1/4,
maka dengan menggunakan CP = 1/8, BER yang didapat lebih besar.
4. Hasil simulasi untuk CP = 1/16 didapat data seperti Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4845070422
5 0.2811619718
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4845070422 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.2811619718 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 41.2365 detik. Dari Tabel 4.5, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.4 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16
Dari Gambar 4.4 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/16. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/8,CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/16, BER yang didapat lebih
5. Hasil simulasi untuk CP = 1/32 didapat data seperti Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.5012323943
5 0.2998239436
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
30 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.5012323943 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.2998239436 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 40.3952 detik. Dari Tabel 4.6, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Dari Gambar 4.5 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/32. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/16,CP=1/8,CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/32, BER yang
didapat lebih besar (buruk).
Secara analitik BER dapat dihitung menggunakan persamaan 2.11 dan
hasilnya dapat dilihat seperti Tabel 4.7.
Tabel 4.7 BER Teori untuk Modulasi 16QAM Eb/N0(dB) BER Teori
0 0.13916001357
5 0.0293887213
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
20 0
b.Modulasi QPSK
Untuk menganalisis BER sistem OFDM pada WiMAX dengan modulasi
QPSK maka dilakukan beberapa simulasi dengan perbedaan CP setiap
simulasinya.
1. Hasil simulasi untuk CP = 0 didapat data seperti Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4585714285
5 0.0032142857
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4585714285 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.0032142857 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 32.7538 detik. Dari Tabel 4.8, maka didapat grafik
perbandingan antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.6 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP
Dari Gambar 4.6 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM tanpa menggunakan CP. Untuk nilai Eb/No 1 dB atau
dapat dikatakan noise yang dibangkitkan adalah sangat besar dibandingkan
dengan energi bit menyebabkan tingkat kesalahan dari sistem menjadi tinggi.
Pemberian niali Eb/No yang semakin tinggi akan menyebabkan noise yang
dibangkitkan semakin kecil sehingga performansi dari sistem akan menjadi lebih
2. Hasil simulasi untuk CP = 1/4 didapat data seperti Tabel 4.9.
Tabel 4.9 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/4
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4010714285
5 0.0332142857
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
25 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4010714285 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.0332142857 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 34.0297 detik. Dari Tabel 4.9, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Dari Gambar 4.7 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/4. Jika dibandingkan dengan tanpa CP,
maka dengan menggunakan CP = 1/4, BER yang didapat lebih baik.
3. Hasil simulasi untuk CP = 1/8 didapat data seperti Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4496428571
5 0.0293887213
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
25 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4496428571 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.0293887213 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 33.3791 detik. Dari Tabel 4.10, maka didapat grafik
Gambar 4.8 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/8
Dari Gambar 4.8 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/8. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/8, BER yang didapat lebih baik.
4. Hasil simulasi untuk CP = 1/16 didapat data seperti Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4446428571
5 0.0103571428
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
25 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
dilakukan adalah 34.7014 detik. Dari Tabel 4.11, maka didapat grafik
perbandingan antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.9 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16
Dari Gambar 4.9 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/16. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/8,CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/16, BER yang didapat lebih
besar (buruk).
5. Hasil simulasi untuk CP = 1/32 didapat data seperti Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.4464285714
5 0.0078571428
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.4464285714 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.0078571428 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 38.1815 detik. Dari Tabel 4.12, maka didapat grafik
perbandingan antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.10 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/32
Dari Gambar 4.10 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/32. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/16,CP=1/8,CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/32, BER yang
Secara analitik BER dapat dihitung menggunakan persamaan 2.9 dan
hasilnya dapat dilihat seperti Tabel 4.13.
Tabel 4.13 BER Teori untuk Modulasi QPSK
Eb/N0(dB) BER Teori
0 0.0786496035
5 0.0026916317
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
25 0
4.2.2 Tanpa Pengkodean
Simulasi yang dilakukan tanpa menggunakan pengkodean ada 2, yaitu:
a. Modulasi 16QAM
Untuk menganalisis BER sistem OFDM pada WiMAX dengan modulasi
16QAM maka dilakukan beberapa simulasi dengan perbedaan CP setiap
simulasinya.
1. Hasil simulasi untuk CP = 0 didapat data seperti pada Tabel 4.14.
Tabel 4.14 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.1675967261 dB dan pada saat Eb/No 10
dilakukan adalah 8.1917 detik. Dari Tabel 4.14, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.11 Perbandingan Eb/No dengan BER tanpa CP
Dari Gambar 4.11 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM tanpa pengaruh CP (CP=0). Untuk nilai Eb/No 1 dB atau
dapat dikatakan noise yang dibangkitkan adalah sangat besar dibandingkan
dengan energi bit menyebabkan tingkat kesalahan dari sistem menjadi tinggi.
Pemberian niali Eb/No yang semakin tinggi akan menyebabkan noise yang
dibangkitkan semakin kecil sehingga performansi dari sistem akan menjadi lebih
2. Hasil simulasi untuk CP = 1/4 didapat data seperti Tabel 4.15.
Tabel 4.15 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/4
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.1683407738
5 0.0641741071
10 0.0057663690
15 3.478386025 E-12
20 1.81740444 E-41
25 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.1683407738 dB dan pada saat Eb/No 10
dB didapat nilai BER sebesar 0.0057663690 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 7.9452 detik. Dari Tabel 4.15, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Dari Gambar 4.12 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/4. Jika dibandingkan dengan tanpa
menggunakan CP (CP=0), maka dengan menggunakan CP = 1/4, nilai BER yang
didapat lebih baik (kecil).
3. Hasil simulasi untuk CP = 1/8 didapat data seperti Tabel 4.16.
Tabel 4.16 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/8
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.1713169642
5 0.0641741071
10 0.0068824404
15 3.478386025 E-12
20 1.81740444 E-41
25 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.1713169642 dB dan pada saat Eb/No 10
dB didapat nilai BER sebesar 0.0068824404 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 8.0688 detik. Dari Tabel 4.16, maka didapat grafik perbandingan
Gambar 4.13 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/8
Dari Gambar 4.13 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/8. Jika dibandingkan dengan CP = 1/4,
maka dengan menggunakan CP = 1/8, BER yang didapat lebih besar.
4. Hasil simulasi untuk CP = 1/16 didapat data seperti Tabel 4.17.
Tabel 4.17 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/16
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.1672247023
5 0.0660342261
10 0.0065104166
15 3.478386025 E-12
20 1.81740444 E-41
25 0
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.1672247023 dB dan pada saat Eb/No 10
dilakukan adalah 8.037 detik. Dari Tabel 4.17, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.14 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/16
Dari Gambar 4.14 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/16. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/8,CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/16, BER yang didapat lebih
besar (buruk).
5. Hasil simulasi untuk CP = 1/32 didapat data seperti Tabel 4.18.
Tabel 4.18 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 1/32
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.1720610119
5 0.0625
10 0.00390625
15 3.478386025 E-12
20 1.81740444 E-41
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.1720610119 dB dan pada saat Eb/No 10
dB didapat nilai BER sebesar 0.00390625 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 8.1552 detik. Dari Tabel 4.18, maka didapat grafik perbandingan
antara Eb/No dan BER.
Gambar 4.15 Perbandingan Eb/No dengan BER dengan CP = 1/32
Dari Gambar 4.15 terlihat perbandingan antara Eb/No dan BER yang
diterapkan pada OFDM dengan CP = 1/32. Jika dibandingkan dengan CP
(CP=1/16,CP=1/8,CP=1/4), maka dengan menggunakan CP = 1/32, BER yang
Secara analitik BER dapat dihitung menggunakan persamaan 2.11 dan
hasilnya dapat dilihat seperti Tabel 4.19.
Tabel 4.19 BER Teori untuk Modulasi 16QAM Eb/N0(dB) BER Teori
0 0.13916001357
5 0.0293887213
10 1.99502064427 E-4
15 3.4783860252 E-12
20 1.8174044409 E-41
25 4.702349374 E-154
30 0
b.Modulasi QPSK
Untuk menganalisis BER sistem OFDM pada WiMAX dengan modulasi
QPSK maka dilakukan beberapa simulasi dengan perbedaan CP setiap
simulasinya.
1. Hasil simulasi untuk CP = 0 didapat data seperti Tabel 4.20.
Tabel 4.20 Hasil BER untuk Sistem OFDM pada WiMAX CP = 0
Eb/No(dB) BER Simulasi
0 0.1045386904
5 0.0167410714
10 2.1602315 E-8
15 2.1599146027 E-27
20 3.60649708 E-100
Pengaruh Eb/No terhadap BER pada kanal AWGN dapat dilihat pada saat
Eb/No 0 dB didapat nilai BER sebesar 0.1045386904 dB dan pada saat Eb/No 5
dB didapat nilai BER sebesar 0.0167410714 dB. Lamanya waktu simulasi yang
dilakukan adalah 9.3182 detik. Dari Tabel 4.20, maka didapat grafik