Khasiat Ramuan Ekstrak Daun Jati Belanda Terhadap Peroksidasi Lipid Hati Tikus Hiperlipidemia

Teks penuh

(1)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

Jati belanda, jambu biji, dan temulawak merupakan tumbuhan obat

tradisional yang telah digunakan sebagai antioksidan. Penggunaan tumbuhan

tersebut sebagai antioksidan masih terbatas pada masing1masing tumbuhan saja,

sedangkan potensi antioksidasi ketiga tumbuhan tersebut dalam bentuk ramuan

belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi potensi

antioksidasi dari ramuan daun jati belanda, serta menetukan konsentrasi lipid

peroksida hati tikus hiperlipidemia yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda

yang mengandung daun jambu biji dan rimpang temulawak.

Ramuan daun jati belanda yang terdiri dari daun jambu biji dan rimpang

temulawak diekstraksi dengan pelarut etanol 70% secara maserasi. Hasil ekstraksi

digunakan untuk menentukan konsentrasi lipid peroksida hati dari tikus yang

hiperlipidemia. Konsentrasi lipid peroksida hati diukur menggunakan uji TBA.

(3)

Jati belanda, guavas, and temulawak are traditional herbs that has been

widely used as antioxidant. The use of those as antioxidant were limited to the

single plants one each, while potency of those plants in potions had not been

known. This research aims to provide informations related to the antioxidant

potency of jati belanda leaf potions, also to determine lipid peroxidation

concentration of hyperlipidemic rat liver which were given by potion containing

jati belanda leaves, guava leaves, and temulawak extracts.

Potions of jati belanda leaves, guava, and temulawak rhizome, were

extracted with ethanol 70% by maceration. Filtrate were used to measure lipid

peroxide concentration in hyperlipidemic rat liver. The concentration was

measured by TBA test.

(4)
(5)

NIM

: G44102028

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr.Anna P. Roswiem, MS.

drh. Sulistiyani, M.Sc.,PhD

Ketua

Anggota

Diketahui

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, M.S.

NIP 131 473 999

(6)

pada Program Studi biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Penelitian dilaksanakan selama bulan Juli1November 2006 dengan judul Khasiat

Ramuan Ekstrak

Daun Jati Belanda terhadap Peroksidasi Lipid Hati

Hiperlipidemia.

Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada semua pihak. Terima kasih

penulis ucapakan kepada para pembimbing penulis Dr. Anna P. Roswiem, MS,

dan drh. Sulistiyani, M.Sc.,PhD atas bimbingan dan dorongannya selama ini.

Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada teman seperjuangan Yayu,

Icha, Meta, Indri, Liga, Aan, Fitri, khususnya Mba Itin atas bantuannya selama

penelitian, Chandra, Emi, Dinar dan Feni. Ucapan terima kasih juga disampaikan

kepada bapak, dan ibu tercinta, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih

sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

(7)

Tahun 2002, penulis lulus dari SMU Negeri 52 Jakarta dan pada tahun yang

sama lulus masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) di Departemen Biokimia

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam melalui jalur Undangan Seleksi

Masuk IPB (USMI).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten praktikum mata

kuliah Biokimia Fisik S1 Biokimia tahun ajaran 2005/2006, Biokimia Umum S1

Kimia 2005/2006, Biokimia Umum D3 Perikanan 2005/2006 dan 2006/2007,

Biokimia Umum S1 Biologi 2006/2007, dan Biokimia Akademi Perawat

2006/2007. Pada tahun 2005 penulis melaksanakan praktik lapangan di

Laboratorium Treub, Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI Bogor selama

bulan Juli1Agustus dengan tema Penapisan Fitokimia dan Penentuan Nilai

(8)

PENDAHULUAN ...

1

TINJAUAN PUSTAKA

Peroksidasi Lipid ...

2

Hiperlipidemia dan Lipid Peroksida ...

3

Bahan1bahan Alami Antioksidan ...

4

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat ...

7

Metode Penelitian ...

7

Analisis Data ...

8

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Awal dan Bobot Badan Hewan Coba ...

9

Perbandingan Konsentrasi Lipid Peroksida Hati Tikus Normal dengan

Tikus Hiperlipidemia ... 10

Pengaruh Ekstrak Ramuan Daun Jati Belanda Terhadap Konsentrasi

Lipid Peroksida Hati ... 11

Korelasi antara Lipid Peroksida Hati dan Kolesterol Hati serta TPC ... 12

SIMPULAN DAN SARAN ... 13

DAFTAR PUSTAKA ... 14

(9)

2 Reaksi antara TBA dan MDA ...

3

3 Tumbuhan jati belanda (

Lamk.) ...

5

4 Tumbuhan jambu biji (

Linn.) ...

6

5 Tanaman temulawak (

Roxb.) ... 7

6 Perubahan bobot badan tikus selama perlakuan ...

9

7 Kenaikan konsentrasi kolesterol selama induksi kolesterol ... 10

8 Perbandingan konsentrasi lipid peroksida hati kelompok normal dengan

kelompok hiperlipidemia ... 10

9 Konsentrasi Lipid peroksidasi lipid hati ... 12

10 Korelasi antara konsentrasi kolesterol hati dan konsentrasi lipid peroksida

hati ... 13

(10)

dan PTU ... 18

3 Hasil kurva standar TMP ... 19

4 Perubahan rata1rata bobot badan tikus selama percobaan ... 20

5 Data konsentrasi lipid peroksida hati saat peningkatan kolesterol pada

minggu ke19 ... 20

6 Data konsentrasi lipid peroksida hati diakhir perlakuan pada

minggu ke114 ... 20

7 Data konsentrasi kolesterol hati ... 21

10 Analisis statistik rancangan acak lengkap ... 22

11 Hasil analisis korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati

(11)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan sumber daya alamnya. Negara ini dikenal sebagai negara

terbesar nomor dua di dunia setelah Brasil.

Kekayaan hayati Indonesia yang sudah

dimanfaatkan nenek moyang sejak dahulu kala, sampai saat ini masih berpotensi untuk dikembangkan. Diperkirakan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia berkisar antara 30 000140 000 spesies tumbuhan. Berdasarkan jumlah tersebut terdapat sebesar 1 100 spesies tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional antara lain adalah jati belanda, jambu biji, dan temulawak (Heyne 1987).

Masyarakat tradisional biasanya

menggunakan tumbuhan daun jati belanda sebagai obat pelangsing, obat diare, batuk dan nyeri perut (Heyne 1987). Daun Jambu biji sebagai antibakteri, antidiabetes, dan maag,

sedangkan rimpang temulawak sebagai

antiradang, antibakteri, dan memperlancar pengeluaran ASI (Dalimartha 2002). Selain itu berdasarkan penelitian sebelumnya daun jati belanda, daun jambu biji, dan rimpang

temulawak memiliki aktivitas sebagai

antioksidan. Hasil penelitian Tombilangi (2004) menginformasikan bahwa pemberian ekstrak etanol daun jati belanda mampu menurunkan konsentrasi lipid peroksida

dalam darah secara nyata dibandingkan

dengan kelompok hiperlipidemia. Indriani (2006) melaporkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji putih dapat menghambat oksidasi

lipid sebesar 94.19%. Adji (2004)

menyebutkan bahwa ekstrak etanol rimpang temulawak mampu mencegah peningkatan konsentrasi lipid peroksida dalam darah sebesar 64.30% terhadap kondisi awal.

Dewasa ini, perkembangan zaman dan arus globalisasi dapat mempengaruhi gaya hidup dan pola makan masyarakat Indonesia

yang cenderung mengkonsumsi makanan

cepat saji. Hal ini dapat menyebabkan

timbulnya penyakit degeneratif. Penyakit

degeneratif ini dapat disebabkan oleh

meningkatnya proses peroksidasi lipid akibat molekul radikal bebas di dalam tubuh.

Salah satu penyakit degeneratif yang disebabkan oleh radikal bebas adalah penyakit

jantung koroner (PJK). Penyakit ini

disebabkan oleh penyempitan, penyumbatan, atau kelainan pembuluh nadi koroner yang dikenal sebagai aterosklerosis. Aterosklerosis ini disebabkan oleh tingginya kolesterol LDL

( ) di dalam pembuluh

darah arteri akibat kurangnya reseptor LDL

dalam mengambil lipoprotein yang

mengandung kolesterol. Semakin

meningkatnya konsentrasi kolesterol LDL di dalam jaringan maka semakin besar pula jumlah kolesterol LDL yang akan dioksidasi.

Untuk mengurangi lipid peroksida di dalam tubuh diperlukan suatu senyawa yang dapat mencegah proses peroksidasi lipid.

Senyawa yang mampu menghambat

kerusakan lipid akibat radikal bebas adalah antioksidan. Di dalam tubuh manusia sendiri

mampu mensintesis senyawa antioksidan

seperti superoksida dismutase (SOD),

glutathion peroksidase, dan katalase. Namun dengan bertambahnya usia, terjadi penurunan enzim1enzim tersebut, sehingga radikal bebas baik dari dalam maupun luar tubuh tidak sepenuhnya dapat ditangani. Oleh sebab itu, tubuh perlu senyawa antioksidan yang berasal dari luar (eksogen).

Saat ini, semakin mahalnya harga obat1 obatan sintetik di pasaran menyebabkan

masyarakat Indonesia cenderung

memanfaatkan bahan1bahan alami terutama yang berasal dari tumbuh1tumbuhan. Selain memiliki harga yang lebih murah, obat1obatan tradisional juga memiliki efek samping lebih

kecil dibandingkan dengan obat1obatan

sintetik, serta mudah didapat. Jati belanda,

jambu biji, dan temulawak merupakan

tumbuhan obat tradisional yang telah

digunakan sebagai antioksidan. Namun

penggunaan ketiga tumbuhan tersebut sebagai antioksidan masih terbatas pada masing1 masing tumbuhan saja, sedangkan potensi antioksidasi ketiga tumbuhan tersebut dalam

bentuk ramuan belum dibuktikan secara

ilmiah. Penelitian ini adalah bagian dari penelitian yang bekerjasama dengan industri fitofarmaka yang akan mengkaji formulasi

ramuan ketiga tumbuhan tersebut dalam

kaitannya sebagai antioksidan.

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi potensi antioksidasi dari ramuan

daun jati belanda, serta menentukan

(12)

ramuan daun jati belanda dengan daun jambu

biji dan rimpang temulawak sebagai

antioksidan.

!"#$%& $% %'%&

Lipid merupakan salah satu molekul yang paling sensitif terhadap serangan radikal bebas, sehingga terbentuk lipid peroksida. Peroksidasi lipid adalah reaksi yang terjadi akibat serangan radikal bebas terhadap asam lemak tak jenuh majemuk (Polyunsaturated fatty Acid, PUFA) (Halliwel & Gutteridge 1999). Radikal bebas ini sangat labil dan bersifat reaktif sehingga cenderung bereaksi seketika dengan setiap zat disekitarnya.

Peroksidasi lipid merupakan suatu rantai reaksi yang berlangsung terus menerus, sebab reaksi ini menghasilkan radikal lipid bebas

(R*) yang lain, sehingga peroksidasi

berlangsung lebih lanjut. Pada umumnya, peroksidasi lipid dapat dibagi menjadi tiga tahap reaksi yaitu tahap inisiasi, propagasi, dan terminasi (Murray 2001).

Reaksi peroksidasi lipid diawali melalui pengambilan sebuah atom hidrogen dari gugus metilena (1CH21) pada PUFA oleh radikal

bebas. Pada tahap ini, terjadi pembentukan radikal bebas karbon (1FCH1) yang disebabkan oleh penghilangan satu atom H pada CH2. Hal

ini disebabkan adanya ikatan rangkap pada asam lemak yang dapat melemahkan ikatan antara atom C dan H yang berdekatan dengan ikatan rangkap, sehingga atom H mudah diambil oleh radikal bebas.

Tahap selanjutnya yaitu penstabilan radikal bebas karbon melalui penataan ulang ikatan rangkap, sehingga terbentuk diena

terkonjugasi. Apabila diena terkonjugasi bereaksi dengan O2, maka akan terbentuk

radikal lipid peroksida (ROO*). Hadirnya radikal peroksida ini dapat memudahkan pengambilan atom hidrogen dari molekul lipid lain, sehingga tahap ini disebut sebagai tahap propagasi. Radikal peroksida selanjutnya dapat bergabung dengan atom H yang lain membentuk lipid hidroperoksida dan radikal bebas yang baru. Jalur lain yang ditempuh

oleh radikal peroksida yaitu dengan

membentuk peroksida siklik yang disebut

dengan endoperoksida. Tahap terminasi

terjadi jika radikal lipid peroksida bereaksi dengan radikal bebas yang lain seperti senyawa antioksidan atau senyawa biologi seperti protein. Proses peroksidasi asam lemak tak jenuh dapat dilihat pada Gambar 1.

Lipid peroksida atau lipid hidroperoksida merupakan suatu molekul yang stabil pada suhu fisiologis atau suhu tubuh. Namun, ion1 ion logam transisi yang terdapat di dalam tubuh seperti besi (Fe) dan tembaga (Cu)

dapat mengkatalisis penguraian lipid

hidroperoksida hingga membentuk produk yang berbahaya seperti epoksida, keton, asam, dan aldehid. Dua diantara sejumlah aldehid yang dihasilkan dari peruraian peroksida

adalah malondialdehida (MDA) dan 41

hidroksinonenal. Kedua produk aldehid

tersebut dapat menyerang protein terutama pada gugus tiol (1SH) dan gugus amin (1NH2),

sehingga enzim1enzim yang membutuhkan

senyawa1senyawa tersebut untuk akivitasnya akan terhambat bila peroksidasi lipid sedang berlangsung (Sulistyo 1998). Peroksidasi lipid yang disebabkan oleh radikal bebas ini dapat menyebabkan membran kehilangan fluiditas, dan gangguan transport (O’Brien 1981, diacu dalam Widyarti 1995).

Gambar 1 Reaksi pembentukan MDA dari peroksidasi rantai hidrokarbon berikatan ganda.

(13)

Organ hati merupakan pusat dari metabolisme dalam sebagian besar hewan. Organ ini berfungsi dalam proses detoksifikasi senyawa1senyawa toksik, sekresi produk akhir metabolisme seperti bilirubin, amonia, dan urea, hematologik, sistem imun tubuh, serta

berperan dalam proses metabolisme

biomolekul (protein, karbohidrat, hormon, dan bilirubin) (Kaplan & Pesce 1989). Membran1

membran mikrosom hati sangat rentan

terhadap peroksidasi lipid, sebab membran ini banyak sekali mengandung asam lemak tak jenuh. Proses peroksidasi lipid pada mikrosom hati dapat berlangsung secara enzimatis dan

nonenzimatis. Secara enzimatis yaitu

peroksidasi lipid yang bergantung oleh

NADPH, sedangkan secara nonenzimatis

yaitu peroksidasi lipid yang bergantung oleh

ion Fe3+, ion ini berfungsi sebagai

pengkompleks ADP, pirofosfat, dan EDTA (Halliwel & Gutteridge 1999).

Tingginya konsentrasi lipid peroksida dapat menjadi indikasi awal rusaknya sel hati. Peningkatan konsentrasi lipid peroksida lebih jauh dapat menyebabkan terjadinya nekrosis hati. Yagi (1994) menyatakan bahwa apabila konsentrasi lipid peroksida di hati meningkat, maka lipid peroksida ini dapat merusak sel hati sehingga peroksida akan keluar dari hati menuju pembuluh darah dan dapat merusak organ atau jaringan lain. Konsentrasi lipid

peroksida yang berlebih pada jaringan

maupun organ dapat mengakibatkan berbagai

penyakit degeneratif. Di dalam tubuh

manusia, kadar lipid peroksida dapat

meningkat seiring dengan bertambahnya usia, namun jumlahnya tidak boleh melebihi kadar normalnya yaitu 4 nmol/mL (Yagi 1994).

Berdasarkan penelitian Sayogya (2002)

menunjukkan konsentrasi lipid peroksida hati

normal tikus galur sebesar

100.46 nmol/g, sedangkan lipid peroksida normal dalam serum darah galur

sebesar 0.46±0.05 ng/mL (Adji 2004). Berdasarkan kedua hasil penelitian tersebut

dapat dilihat bahwa konsentrasi lipid

peroksida hati lebih besar dari pada

konsentrasi lipid peroksida di dalam serum darah.

Uji TBA (asam 21tiobarbiturat) dapat digunakan untuk mengukur konsentrasi dari lipid peroksida yang terakumulasi secara

di dalam organ dan partikel subseluler (Tappel & Zalkin 1960). Uji TBA didasarkan pada reaksi asam 21tiobarbiturat dengan produk oksidasi lipid (MDA). TBA akan bereaksi dengan gugus karbonil dari MDA yaitu satu molekul MDA akan berikatan

dengan dua molekul TBA, sehingga

membentuk senyawa kompleks berwarna

merah (Halliwel & Gutteridge 1999). Warna merah yang diukur dengan spektofotometer

pada panjang gelombang 532 nm ini

menunjukkan tingkat oksidasi lipid. Reaksi penggabungan antara TBA dan MDA dapat

dilihat pada Gambar 2. Uji TBA ini

merupakan uji yang spesifik untuk hasil oksidasi asam lemak tak jenuh dan baik diterapkan untuk uji terhadap lemak pangan yang mengandung asam lemak tak jenuh (Ketaren 1986).

Gambar 2 Reaksi antara TBA dan MDA. Sumber: Halliwel & Gutteridge (1999)

%' ! %'%& % & %'%& !"#$%&

Hiperlipidemia merupakan suatu keadaan tingginya konsentrasi lipid yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi trigliserida, LDL, dan kolesterol (lipid netral) darah melebihi batas normal (pada manusia > 200 mg/dL) (Ganong 2001). Faktor1faktor yang dapat menyebabkan hiperlipidemia adalah bobot badan, usia, kurang olahraga, stres, gangguan metabolisme, gangguan genetik dan pola konsumsi makanan sehari1hari yang dapat meningkatkan konsentrasi lipid atau

kolesterol. Menurut Grundy (1991),

mengkonsumsi makanan yang kaya kolesterol

dan asam lemak jenuh dapat menekan

pembentukan reseptor LDL, sehingga

meningkatkan kolesterol di dalam darah.

Keadaan hiperlipidemia dapat

menyebabkan aterosklerosis yaitu

penyumbatan pembuluh darah arteri akibat penumpukan lipid pada dinding arteri. Jika aterosklerosis terjadi pada pembuluh darah arteri yang mensuplai O2 ke jantung, maka

dapat menyebabkan penyakit jantung koroner

(PJK). Salah satu faktor utama dalam

patogenesis aterosklerosis adalah

hiperkolesterolemia yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi lipoprotein densitas

rendah (LDL) (Schwartz 1993 diacu

dalam Taher 2003).

(14)

darah, VLDL mulai kehilangan kandungan trigliseridanya karena dihidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase (LPL) menjadi asam lemak dan gliserol. Setelah trigliseridanya sebagian

besar dihidrolisis oleh LPL, VLDL ini

berubah menjadi lipoprotein densitas

menengah (IDL) dan akhirnya menjadi LDL. Selanjutnya LDL akan diendositosis oleh sel1 sel jaringan perifer dan hepatosit setelah terlebih dahulu diikat oleh reseptor LDL (Voet & Voet 1995).

Aterosklerosis biasanya lebih banyak diderita oleh pria daripada wanita yang masih

aktif haid. Hal ini disebabkan hormon

esterogen yang memiliki aktivitas antioksidan yang dapat menghambat terjadinya oksidasi LDL (Rifici & Khachadurian 1992 diacu

dalam Taher 2003). Selain itu hormon

esterogen juga diketahui dapat menghambat perkembangan awal aterosklerosis dengan mengurangi pembentukkan sel busa makrofag,

yaitu dengan mengurangi penangkapan

lipoprotein melalui lintas reseptor pembersih (Sulistyani 1997 diacu dalam Taher 2003).

Tingginya konsentrasi lipid peroksida di dalam tubuh dapat disebabkan oleh kondisi hiperkolesterolemia. Pada kondisi ini, jumlah LDL meningkat sehingga dapat memperbesar kemungkinan terjadinya oksidasi, sebab ketersediaan substrat yang dapat dioksidasi lebih banyak. Hal ini didukung oleh penelitian Tombilangi (2004) yang menyatakan bahwa pemberian kolesterol sebesar 0.25% dapat meningkatkan konsentrasi lipid peroksida

darah kelinci. Uphadya (2002) juga

melaporkan bahwa mencit yang diberi

kolesterol sebanyak 1.16% selama tujuh minggu mampu meningkatkan konsentrasi lipid peroksida lebih tinggi dibandingkan dengan mencit yang hanya diberi pakan standar. Menurut Iritani (1986), tikus yang diberi diet minyak jagung 10% nilai peroksidasi lipid dalam serum, hati dan jaringan adiposa lebih tinggi dari pada tikus dengan diet minyak jagung 5%.

Salah satu dari fungsi kolesterol adalah sebagai prekusor pembentukan asam empedu yang disintesis di dalam hati. Tahap pertama dalam biosintesis asam empedu adalah reaksi 7α1hidroksilasi terhadap kolesterol yang dikatalisis oleh enzim mikrosomal yaitu 7α1 hidroksilase. Proses reaksi ini memerlukan

oksigen, NADPH dan sitokrom P1450

oksidase. Semakin meningkatnya konsentrasi

kolesterol plasma dalam tubuh

hiperkolesterolemia, maka semakin banyak

asam empedu yang disintesis, sehingga

semakin meningkat pula oksigen dan NADPH

yang dibutuhkan serta peningkatan aktivitas sitokrom P1450 oksidase (Murray 2001).

Sitokrom P1450 oksidase merupakan

enzim yang berperan dalam memperantarai metabolisme retikulum endoplasmik yang menghasilkan radikal superoksida (O21)

(Dhaunsi 1992 diacu dalam Wresdiyati

2005). Oleh sebab itu semakin meningkatnya aktivitas sitokrom P1450 oksidase, maka

radikal bebas yang dihasilkan semakin

meningkat pula. Jika produksi radikal bebas

terjadi secara berlebihan maka enzim

antioksidan di dalam tubuh khususnya di organ hati seperti superoksida dismutase (SOD) tidak mampu mengatasinya. Hal ini dapat menimbulkan kondisi stres oksidatif yaitu suatu kondisi yang dapat menyebabkan tejadinya beberapa kerusakan atau kelainan baik proses biokimia maupun fisiologi di dalam sel akibat dari proses peroksidasi lipid.

Kondisi hiperlipidemia dapat dibuat pada beberapa spesies hewan percobaan yaitu dengan menambahkan lemak dan kolesterol pada makanan yang disebut induksi eksogen (Amstrong & Heistad 1990). Menurut panduan dari KKI Phyto Medica (1993) induksi hiperlipidemia pada tikus dapat dilakukan dengan pemberian pakan tinggi kolesterol (1%) dan propil tiourasil (PTU) (0.01%)selama dua minggu. PTU merupakan zat antitiroid yang dapat merusak kelenjar tiroid. Kerusakan kelenjar tiroid ini dapat

menyebabkan meningkatnya konsentrasi

kolesterol akibat pembentukan reseptor LDL di hati berkurang (Ganong 2001).

( )* ( % +%"#$%&

Dewasa ini, masyarakat Indonesia

cenderung menggunakan bahan1bahan alami terutama tumbuhan obat tradisional dalam

memelihara kesehatannya. Dengan

mengkonsumsi bahan alami dan gizi

seimbang, diharapkan dapat mencegah atau

mengurangi radikal bebas yang dapat

menyebabkan penyakit degeneratif seperti

PJK dan ! . Bahan1bahan alami yang

biasa digunakan sebagai antioksidan dapat berasal dari buah1buahan seperti apel, anggur, jeruk sayur1sayuran seperti brokoli, wortel ataupun yang berasal dari tumbuh1tumbuhan seperti teh hijau. Pada penelitian ini bahan

alami yang akan digunakan sebagai

(15)

+% & , #-.

Jati Belanda merupakan tumbuhan yang berasal dari negara Amerika beriklim tropis. Tumbuhan ini juga tumbuh secara liar di wilayah tropis lainnya seperti di pulau Jawa dan Madura. Jati belanda atau jati londo (Jawa Tengah) tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 11800 m di atas permukaan laut. Klasifikasi dari tumbuhan jati belanda yaitu

divisi Spermatophyta, subdivisi

Angiospermae, kelas Dicotyledonae, bangsa

Malvales, suku Steruliaceae, marga ,

dan jenis Lamk.

Tumbuhan jati belanda berupa pohon peneduh di tepi jalan dengan tinggi 10120 meter. Memiliki batang berbentuk bulat, keras, permukaannya kasar, banyak alur, bercabang, dan berwarna hijau keputih1 putihan. Daun berbentuk bundar bulat sampai lanset, ujung daun lancip, serta permukaan daun bagian atas berbulu. Berbunga banyak, bentuk bunga agak ramping, serta memiliki mahkota bunga yang berwana kuning. Bijinya kecil, keras, diameter ± 2 mm, berwarna coklat muda, serta memiliki akar tunggang (Sugati 1991). Bentuk daun jati belanda dapat dilihat pada Gambar 3.

Daun dan kulit batang jati belanda

mengandung alkaloid, serta flavonoid, selain itu daunnya mengandung saponin dan tanin. Menurut Soesilo (1989) daun jati belanda

mengandung senyawa flavonoid, asam

fenolat, tanin, steroid atau triterpenoid, dan karotenoid. Hal ini didukung dari hasil

penelitian Tombilangi (2004) yang

menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jati belanda mengandung flavonoid.

Daun jati belanda berkhasiat sebagai obat

pelangsing tubuh, sehingga simplisia

tumbuhan ini banyak digunakan di dalam ramuan galian singset. Hal ini didukung oleh penelitian Lestari dan Muhtadi (1997) yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun jati belanda sebanyak 1g/Kg bobot

badan tikus yang hiperlipidemia mampu

menurunkan kadar kolesterol. Namun, hasil penelitian yang dilakukan Rachmadani (2001) menunjukkan bahwa tikus yang diberi ekstrak air daun jati belanda sebanyak 1 g/Kg bobot badan tidak menunjukan penurunan kadar kolesterol.

Pemakaian rebusan daun jati belanda secara berlebihan dapat mengakibatkan iritasi usus, sedangkan pemakaian biji tumbuhan jati

belanda secara berlebihan dapat

mengakibatkan diare atau radang usus

(Sastroamidjojo 1988). Rebusan biji

tumbuhan jati belanda yang dibakar dapat

digunakan sebagai obat sembelit, sedangkan jika dicampur dengan minyak adas dapat digunakan untuk penyakit perut kembung dan sesak nafas. Biasanya rebusan biji tumbuhan ini digunakan oleh masyarakat dengan cara meminumnya seperti meminum kopi (Heyne 1987).

Gambar 3 Tumbuhan jati belanda

( Lamk.).

*/ %0% , %

-Jambu biji adalah salah satu tumbuhan buah perdu yang dalam bahasa Inggris disebut

" . Tanaman ini berasal dari

Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke

Thailand kemudian ke negara Asia lainnya seperti Indonesia. Nama lain dari jambu biji yaitu Petokal, Tokal (Jawa), Sotong (Bali), dan Glima breuh (Aceh). Klasifikasi dari

tumbuhan jambu biji yaitu divisi

Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, bangsa Myrtales, suku

Myrtaceae, marga , dan jenis

L

Tumbuhan jambu biji dapat tumbuh di daerah tropis maupun di daerah subtropik dengan intensitas curah hujan yang diperlukan berkisar 100012000 mm/tahun dan merata

disepanjang tahun. Tumbuhan ini dapat

tumbuh di daerah tropis pada ketinggian antara 511200 meter di atas permukaan laut. Jambu biji termasuk tumbuhan semak atau pohon yang memiliki ketinggian 3110 meter. Tumbuhan ini memiliki banyak cabang dan ranting, batang pohonnya keras, permukaan kulit luar berwarna coklat dan licin. Daunnya berbentuk bulat telur, bertulang menyirip, serta berwarna hijau kekuningan. Bunganya kecil1kecil berwarna putih dan memiliki akar tunggang, seperti terlihat pada Gambar 4. (Soesilo 1989).

Senyawa kimia yang terkandung di dalam jambu biji antara lain polifenol dan tanin.

Daun dan kulit batangnya mengandung

saponin, tanin dan minyak atsiri. Selain itu daunnya mengandung asam ursolat, asam psidiolat, asam katogolat, asam oleanolat, asam gujaverin dan vitamin C. Vitamin C pada buah jambu biji sebesar 316 kali lebih

besar dibandingkan buah jeruk. Adanya

(16)

dalam melawan bakteri (Triarsari 2006). Hal ini didukung oleh penelitian Khan

(1980) Soesilo (1989) yang

menunjukkan bahwa daun jambu biji

berkhasiat sebagai antibakteri terhadap .

Selain itu, Indariani (2006) menyatakan bahwa jambu biji juga memiliki aktivitas antioksidan yang erat khasiatnya dalam

mengobati berbagai penyakit. Hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji putih lokal memiliki faktor protektif mendekati vitamin E (α1tokoferol) sebesar 1.0, sedangkan α1tokoferol sendiri memiliki faktor protektif sebesar 1.16. Ekstrak etanol daun jambu biji putih lokal juga dapat menghambat oksidasi lipid sebesar 94.19%.

Hasil penelitian Lestariana (2005)

melaporkan bahwa pemberian ekstrak kering daun jambu biji sebanyak 2 mg dalam 0.2 mL air yang diberikan 1 kali, 2 kali, dan 3 kali sehari selama 90 hari dapat memberikan

penurunan yang bermakna terhadap

konsentrasi glukosa darah tikus. Namun, menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna

terhadap konsentrasi kolesterol dan

trigliserida serum darah tikus.

Selain sebagai antibakteri dan antioksidan, jambu biji juga berkhasiat sebagai antidiare, antiinflamasi, antimutagenik, analgesik, penyakit diabetes melitus, serta maag (Soesilo 1989). Pada umumnya, dosis penggunaan daun jambu biji yang sering dipakai oleh masyarakat adalah sebesar 15130 g. Untuk pengobatan, biasanya daun jambu biji ini direbus selama 15 menit, kemudian air hasil

rebusan dari tumbuhan ini diminum

(Wijayakusumah 1993).

Gambar 4 Tumbuhan jambu biji

( Linn.

/ 1 # , "2*-.

Temulawak merupakan tanaman asli

Indonesia yang memiliki khasiat obat.

Tanaman ini dapat tumbuh baik di dataran rendah pada ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut (Syukur & Hernani 2002). Tanaman temulawak banyak ditemukan di

hutan1hutan daerah tropis serta tersebar luas di daerah Jawa, Maluku, dan Kalimantan. Selain di Indonesia tanaman ini juga ditemukan di India (Harida/Haldi), Bengali (halud), Arab (kurkum), Persia (zardehobach), dan Cina (ilang1hoang). Sejak dulu oleh masyarakat Indonesia, tanaman ini digunakan untuk meningkatkan nafsu makan, sembelit, sakit kepala, sakit perut bahkan dipercaya sebagai

jamu yang dapat memperlambat proses

penuaan, menghilangkan bintik1bintik hitam di wajah serta kelenturan tubuh.

Temulawak tergolong dalam famili

Zingiberaceae. Ciri khas dari tanaman ini yaitu memiliki rimpang yang berbau aromatik

tajam dan rasanya pahit agak pedas

(Dalimartha 2002). Nama lain dari tanaman ini yaitu temu putih (Indonesia), koneng gede

(Sunda), serta temu labak (Madura).

Klasifikasi dari temulawak yaitu divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae, bangsa Zingiberales,

suku Zingiberaceae, marga , dan

genus Roxb.

Tanaman ini termasuk jenis tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu serta tingginya mencapai 2 meter bahkan lebih. Daun tanaman ini berbentuk lanset, warnanya hijau tua dengan jari1jari coklat dibagian tulang daunnya. Pada bagian

tengah daun berwarna ungu. Bunga

temulawak bersifat lateral. Tangkai bunga ramping dan berbulu dengan panjang 4137 cm. Rimpangnya berukuran besar, bercabang1 cabang, berwarna kuning tua atau kecoklatan,

beraroma tajam, dan rasanya pahit

(Dalimartha 2002). Tanaman ini dapat dilihat pada Gambar 5.

Rimpang temulawak terdiri atas fraksi pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Fraksi

kurkuminoid merupakan komponen yang

dapat memberi warna kuning pada rimpang

temulawak. Zat warna kuning yang

terkandung di dalam rimpang temulawak ini sebesar 112% yang terdiri atas kurkumin dan

monodesmetoksi1kurkumin. Senyawa

kurkumin yang terkandung di dalam rimpang

temulawak mempunyai khasiat sebagai

antibakteri dan merangsang dinding kantong empedu untuk mengeluarkan cairan empedu ke usus, antiradang, peluruh kencing serta mempelancar pengeluaran ASI (Dalimartha 2002). Selain itu, temulawak juga digunakan sebagai pengobatan gangguan hati, batu empedu, sembelit, obat luka, dan kulit

(Darwis 1991). Budhidjaya (1988)

(17)

tween 80 dan air dapat menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah, sedangkan pada dosis 20 mg dapat menaikkan HDL1kolesterol kelinci yang hiperlipidemia.

Masyarakat Indonesia pada umumnya

menggunakan tumbuhan ini dengan cara memarut 20 g rimpang temulawak segar, lalu

menyeduhnya, dan air hasil seduhannya

diminum (Dalimartha 2002).

Senyawa aktif kurkumin memiliki

aktivitas sebagai antioksidan dan

imunomodulator. Namun, jika temulawak

diminum bersamaan dengan obat elektrofilik seperti parasetamol dapat beresiko tinggi bagi

organ tubuh, sebab selain sebagai

imunomodulator senyawa ini juga dapat

menghambat aktivitas enzim glutation1s1 transferase (GST) di dalam tubuh. Hal ini

dapat menyebabkan terganggunya proses

didetoksifikasi parasetamol di dalam tubuh (Martono 2006). Berdasarkan penelitian Adji (2004) menunjukan bahwa ekstrak etanol 75% temulawak dengan dosis 100 mg/Kg BB mampu mencegah peningkatan konsentrasi lipid peroksida serum darah secara nyata dibandingkan dengan kontrol positif.

Gambar 5 Tanaman temulawak ( Roxb.).

( & +

Hewan uji yang digunakan adalah tikus

putih dewasa galur , berjenis

kelamin jantan, sehat, berumur 2 bulan dan memiliki berat badan sekitar 200 g. Tikus ini diperoleh dari PT Indo Anilab dan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bahan1 bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hati tikus, ekstrak ramuan daun jati belanda yang mengandung daun jambu biji, dan rimpang temulawak yang diperoleh dari Pusat Studi Biofarmaka (PSB) LPPM IPPB. Bahan untuk uji TBA antara lain NaCl dingin 0.9%, KCl dingin 1.15%, sodium dodesil sulfat (SDS) 8.1%, NaOH 1M, asam asetat 20%, asam tiobarbiturat (TBA) 1.0% dalam

pelarut asam asetat 50%, akuades, n1

butanol:piridin (15:1 v/v), serta 1,1,3,31

tetrametoksi propana (TMP) sebagai larutan standar. Bahan1bahan lainnya seperti pakan standar, pakan kolesterol (kuning telur, lemak kambing, minyak goreng curah, dan pakan standar), dan propil tiourasil (PTU) 0.01%.

Alat1alat yang digunakan antara lain mikropipet, neraca analitik, sentrifus (Hettich Universal), pengaduk magnetik, vorteks,

penangas air, oven, pH1meter,

spektofotometer UV1VIS, sonde, siring,

gunting, pinset, .

+"& %+%

*/ + #$+! # / / +% &

Daun jati belanda, daun jambu biji, dan rimpang temulawak yang telah dicuci bersih

dikeringkan dalam oven pada suhu 60 .

Selanjutnya, daun jati belanda, daun jambu biji, dan rimpang temulawak yang telah kering diekstraksi dengan pelarut etanol 70% secara maserasi. Lalu hasil maserasi diuapkan

dengan . Campuran ekstrak

etanol daun jati belanda, daun jambu biji, dan rimpang temulawak dibuat sesuai dengan formulasi yang ditetapkan oleh PSB.

"$%$ ( % 3 4 %4/ #

Dosis ekstrak ramuan daun jati belanda yang mengandung daun jambu biji dan rimpang temulawak yang akan diberikan pada

kelompok perlakuan I merupakan dosis

campuran dengan perbandingan (1x:1y:1z). Nilai koefisien satu adalah satu kali dosis efektif daun jati belanda, daun jambu biji, dan rimpang temulawak. Penggunaan dosis efektif

daun jati belanda adalah 1g/Kg BB

(Rachmadani 2001), sedangkan dosis efektif daun jambu biji dan rimpang temulawak adalah dosis yang telah ditentukan oleh mitra industri dan tidak bisa dilaporkan berkenaan

dengan rahasia perusahaan. Kelompok

perlakuan yang lain mendapatkan dosis yang merupakan variasi kelipatan dari masing1 masing dosis efektif.

1 "* & 5 4 !5"*

Sebelum mendapatkan perlakuan, tikus

diadaptasikan selama 2 minggu untuk

menyeragamkan cara hidup dan makannya. Tikus yang digunakan sebanyak 40 ekor yang dibagi menjadi 6 kelompok, masing1masing kelompok terdiri atas 10 ekor untuk kelompok

normal dan hiperlipidemia, sedangkan

kelompok perlakuan masing1masing 5 ekor

tikus. Untuk memperoleh kondisi

(18)

dengan memberikan pakan kolesterol dan larutan (0.01%) PTU dengan dosis 0.5 mg/Kg BB.

Kelompok I merupakan kelompok normal yaitu kelompok yang hanya diberi pakan standar selama percobaan dan dicekok dengan akuades untuk memperoleh kondisi stres yang

sama. Kelompok II yaitu kelompok

hiperlipidemia, sedangkan kelompok III, IV, V, dan VI merupakan kelompok perlakuan.

Kelompok hiperlipidemia dan kelompok

perlakuan merupakan kelompok yang

menerima pakan kolesterol dan dicekok

larutan (0.01%) PTU dengan dosis 0.5 mg/Kg BB selama delapan minggu percobaan. Pada satu minggu diakhir induksi hingga akhir penelitian kelompok hiperlipidemia dan perlakuan diberi pakan kolesterol yang mengandung lemak kambing 10% dan minyak goreng curah 1%, serta peningkatan dosis (0.01%) PTU menjadi dua kalinya. Selain mendapatkan pakan kolesterol, kelompok perlakuan juga dicekok campuran ekstrak etanol daun jati belanda, daun jambu biji dan rimpang temulawak dengan dosis campuran berturut1turut (1x:1y:1z), (2x:1y:1z), (1x:0y:1z), dan (1x:0y:0z) g/Kg BB selama

lima minggu setelah sembilan minggu

diinduksi kolesterol. Penimbangan bobot badan hewan coba dilakukan setiap satu

minggu selama perlakuan. Selanjutnya

analisis kolesterol total plasma darah dilakukan selama dua minggu sekali sampai minggu keempat induksi, dan selanjutnya dilakukan setiap satu minggu sekali selama perlakuan.

Analisis konsentrasi lipid peroksida hati awal dilakukan setelah sembilan minggu peningkatan kolesterol terhadap kelompok normal dan hiperlipidemia masing1masing sebanyak 5 ekor. Analisis konsentrasi lipid peroksida hati akhir dilakukan pada tiap1tiap kelompok setelah 5 minggu perlakuan.

*/ + '/ 4 / % 4 /!

Tepung kolesterol dibuat dari kuning telur ayam. Kuning telur yang telah dipisahkan dari putihnya, dikukus dengan air mendidih selama 30 menit. Lalu dalam keadaan masih panas

kuning telur digerus kasar, kemudian

dikeringkan dalam oven pada suhu 60170 ºC hingga kering (± 24 jam), sambil sekali1kali digerus hingga halus (Momuat 2001).

*/ + # " $+ !"

Pakan kolesterol dibuat dari 1.5%

kolesterol dari kuning telur ayam, 5% lemak kambing, 6% minyak goreng curah, dan pakan

standar sehingga mencapai 100%. Semua bahan1bahan tersebut dicampur hingga rata, dan dibuat dalam bentuk pelet. Jumlah pakan harian baik pakan kolesterol maupun pakan standar yang diberikan adalah 20g/ekor/hari dan air minum yang diberikan secara

"

4/#/! " $ +! $% %'%& !"#$%& , 4% 6778.

*/ + /!9 + & !- Kurva standar dibuat dengan menggunakan larutan stok pereaksi 1,1,3,31tetrametoksi propana (TMP) 6M yang diencerkan dengan akuades menjadi 0.1, 0.3, 0.5, 0.8, 1.0, 2.0, 3.0, 6.0, 9.0. 12, dan 14 NM. Larutan masing1masing konsentrasi dipipet sebanyak 4 mL ke dalam tabung reaksi. Lalu masing1masing tabung ditambah 1 mL TBA 1.0% dalam pelarut asam asetat 50%, dipanaskan di penangas air mendidih pada suhu 95 ºC selama 60 menit, kemudian didinginkan pada suhu kamar.

Selanjutnya pada masing1masing tabung

ditambahkan 1.0 mL akuades dan 5 mL n1 butanol:piridin (15:1 v/v), diaduk dengan vorteks, lalu disentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Lapisan atas yang

terbentuk pada larutan diambil, lalu

serapannya diukur pada panjang gelombang 532 nm dengan spektrofotometer.

%$%$ %'%& !"#$%&

+%-Pengukuran kadar lipid peroksida hati

dilakukan pada akhir perlakuan. Sebanyak 112 g hati disimpan dalam larutan NaCl dingin 0.9%. Dari hati segar tersebut dibuat 10% b/v homogenat hati dalam larutan KCl dingin

1.15%. Lalu diambil sebanyak 0.1 mL

homogenat ke dalam tabung reaksi.

Selanjutnya ke dalam tiap tabung

ditambahkan 0.2 mL SDS 8.1% dan 1.5 mL asam asetat 20%, serta diatur pHnya dari 2.5 menjadi pH 3.5 oleh NaOH 1 M dengan

menggunakan pH meter. Selanjutnya

ditambahkan 0.7 mL akuades dan 1.5 mL TBA 1.0% dalam pelarut asam asetat 50%, kemudian dipanaskan ke dalam penangas air mendidih pada suhu 95 ºC selama 60 menit, didinginkan pada suhu ruang. Lalu tiap tabung ditambahkan 1 mL akuades dan 5 mL n1 butanol:piridin (15:1 v/v), diaduk dengan vorteks, disentrifus pada kecepatan 4000 rpm selama 10 menit, diambil lapisan atasnya, diukur serapannya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 532 nm.

%$%$ +

Rancangan yang digunakan pada

(19)

(RAL). Analisis data dilakukan dengan

metode ANOVA ( ). Jika

terdapat perbedaan dalam perlakuan, maka dilakukan dengan uji Duncan. Model RAL

adalah sebagai berikut (Mattjik &

Sumertajaya 2000): Yij= N + τi+ εij

i = 1,2,…,t dan j = 1,2,…., r

Yij= Pengamatan pada pelakuan ke1i dan

ulangan ke1j

N = Rataan umum (overall mean)

τi =Pengaruh perlakuan ke1i, i = 1,2,3,4,5,6.

εij = Pengaruh galat acak pada perlakuan ke1i,

dan ulangan ke1j, j = 1,2,

Konsentrasi lipid peroksida hati pada tiap kelompok dikorelasikan dengan konsentrasi kolesterol hati dan kolesterol total (TPC)

menggunakan korelasi Pearson dengan

α=0.05.

& 1 & "*"+ & 1 "*

Hewan percobaan mula1mula

diadaptasikan selama dua minggu. Masa adaptasi tikus terhadap lingkungan ini

dilakukan untuk menghindari resiko

timbulnya gangguan stres dan untuk

mengamati kondisi tikus apakah masih dapat

terus dipergunakan selama percobaan.

Penimbangan hewan coba setiap satu minggu dilakukan untuk mengetahui kesehatan hewan coba selama berlangsungnya penelitian.

Perubahan bobot badan tikus selama

perlakuan terbagi menjadi dua yaitu masa adaptasi dan masa perlakuan. Selama masa penelitian bobot badan tikus cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia tikus pada umur dua bulan (Gambar 6). Pemberian pakan kolesterol pada tikus selama penelitian, mampu meningkatkan bobot badan yang lebih besar dengan rata1rata konsumsi pakan perhari sebesar 17.90 g selama induksi dibandingkan dengan tikus yang diberi pakan standar dengan rata1rata konsumsi sebesar 15.01 g pada jumlah gram yang diberikan sebesar 20 g/ekor/hari. Setelah satu minggu peningkatan kolesterol, tikus yang diberi pakan kolesterol tinggi bobot badannya

meningkat sebesar 25% secara nyata

dibandingkan keadaan awal (kondisi hari ke1 nol yaitu bobot badan tikus pada saat pertama kali), sedangkan peningkatan bobot badan

kelompok tanpa pakan kolesterol hanya

meningkat sebesar 13% secara tidak nyata dibandingkan dengan keadaan awal. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Ide (1978)

Kristiani (2003) bahwa pertumbuhan tikus dengan pakan mengandung lemak lebih besar dari pada tikus dengan diet bebas lemak. Lemak kambing dan minyak goreng curah yang terkandung di dalam pakan kolesterol kaya akan asam lemak jenuh. Asam lemak

jenuh merupakan prekusor dalam

pembentukan trigliserida. Trigliserida

merupakan simpanan lipid utama dalam

jaringan adiposa (Murray 2001).

Semakin banyak lemak yang dikonsumsi oleh tikus, maka semakin besar pula lipid yang tersimpan dalam jaringan adiposa sehingga bobot badan tikus menjadi lebih besar.

Selama pemberian ramuan ekstrak daun jati belanda yang terdiri atas daun jati belanda, daun jambu biji, dan rimpang temulawak terjadi penurunan bobot badan pada kelompok hewan coba yang diberi perlakuan ramuan ekstrak daun jati belanda (1x:1y:1z), ramuan ekstrak daun jati belanda yang mengandung daun jati belanda lebih banyak (2x:1y:1z), ramuan ekstrak daun jati belanda tanpa daun jambu biji (1x:0y:1z) masing1masing sekitar

0.67%, 1.2%, dan 0,67%, sedangkan

kelompok hewan coba yang diberi perlakuan ramuan ekstrak daun jati belanda tunggal (1x:0y:0z) mengalami kenaikan sekitar 1.54%

dibandingkan bobot badan satu minggu

sebelum diberi ekstrak. Meskipun demikian,

secara statistik bobot badan kelompok

perlakuan hingga akhir percobaan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kelompok hiperlipidemia (p>0.05) selama perlakuan.

Bila ditinjau dari jumlah pakan yang dikonsumsi, konsumsi pakan tikus kelompok hewan coba yang diberi ramuan ekstrak daun

Gambar 6 Perubahan bobot badan tikus selama perlakuan. Normal

( ), Hiperlipidemia ( ),

(20)

jati belanda, ramuan ekstrak daun jati belanda dengan daun jati belanda lebih banyak, ramuan ekstrak daun jati belanda tanpa daun jambu biji, dan ramuan ekstrak daun jati belanda tunggal selama pencekokan masing1 masing mengalami penurunan sekitar 29.25%, 27.28%, 24.92%, dan 28.37% dibandingkan dengan jumlah rata1rata konsumsi pakan selama peningkatan kolesterol. Meskipun demikian penurunan konsumsi pakan tidak mempengaruhi penurunan bobot badan tikus.

!* &% 4 " $ +! $% %'%& !"#$%& +% %#/$ "! & 4 %#/$

%' ! %'%& %

Banyak perlakuan yang dapat digunakan untuk menstimulasi terjadinya lipid peroksida seperti defisiensi vitamin E dan kondisi hiperglikemia. Dalam penelitian ini, untuk menstimulasi terjadinya lipid peroksida dipilih

diet lemak tinggi atau kondisi

hiperkolesterolemia. Analisis konsentrasi lipid peroksida hati pada tahap awal dilakukan setelah konsentrasi kolesterol tikus pada

kelompok hiperlipidemia dan kelompok

perlakuan sudah meningkat.

Pada penelitian ini, pengukuran

konsentrasi kolesterol total darah pada tikus tidak dilakukan sendiri melainkan data

sekunder. Pada awalnya, masa induksi

kolesterol tikus pada kelompok hiperlipidemia dan kelompok perlakuan dilakukan hingga

empat minggu peningkatan kolesterol.

Meskipun demikian kenaikan kolesterol pada

minggu keempat peningkatan tidak

menunjukan kenaikan secara signifikan.

Konsentrasi kolesterol total darah

meningkat secara signifikan terjadi saat pengambilan darah keempat atau pada minggu

kesembilan peningkatan kolesterol.

Peningkatan kolesterol total darah terjadi saat dosis PTU ditingkatkan menjadi dua kali dosis semula dan perubahan beberapa komposisi pakan kolesterol yaitu dari 5% lemak kambing dan 6% minyak goreng curah menjadi 10% lemak kambing dan 1% minyak goreng curah

pada minggu kedelapan peningkatan

kolesterol. Konsentrasi kolesterol pada

kelompok hiperlipidemia dan kelompok

perlakuan setelah sembilan minggu diinduksi kolesterol hanya meningkat sekitar 66.64%

dibandingkan dengan kelompok normal

(Gambar 7).

Konsentrasi lipid peroksida hati tikus yang berusia lima bulan pada kelompok normal

yang dinekropsi (dibedah) pada minggu

keduabelas adalah sebesar 87.10 nmol/g. Nilai ini sedikit berbeda dari hasil penelitian

Gambar 7 Kenaikan konsentrasi kolesterol selama induksi kolesterol. Konsentrasi kolesterol awal ( ), Minggu kedua peningkatan (■), Minggu keenam (■), dan Minggu kesembilan ( ).

Sayogya (2002) yaitu nilai lipid peroksida hati kelompok normal yang dinekropsi setelah 19 minggu pada usia 8.5 bulan adalah sebesar 100.46 nmol/g. Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan usia tikus itu sendiri.

Konsentrasi lipid peroksida hati pada kelompok hiperlipidemia yang dinekropsi

pada minggu keduabelas adalah sebesar

523.55 nmol/g. Bila dibandingkan dengan kelompok normal, konsentrasi lipid peroksida hati kelompok hiperlipidemia yang diberi pakan kolesterol sebesar 1.25% lebih besar lima kalinya secara bermakna dari pada kelompok normal (Gambar 8). Hasil ini sesuai

dengan laporan Uphadya (2002) bahwa

mencit yang diberi kolesterol sebanyak 1.16% selama tujuh minggu mampu meningkatkan konsentrasi lipid peroksida dalam eritrosit dan aorta lebih tinggi dibandingkan dengan mencit yang hanya diberi pakan standar.

Gambar 8 Perbandingan konsentrasi lipid peroksida hati kelompok normal dengan kelompok

(21)

Begitu pula dengan hasil penelitian Tombilangi (2004) yaitu pemberian kolesterol

sebesar 0.25% dapat meningkatkan

konsentrasi lipid peroksida darah kelinci

sembilan kalinya dibandingkan dengan

kelompok normal. Hasil penelitian Widyarti (1995) yaitu pemberian pakan diet protein normal dan lemak tinggi pada tikus jantan selama delapan minggu

mampu meningkatkan konsentrasi lipid

peroksida hati sekitar 81.78% dibandingkan dengan tikus yang diberi pakan diet protein dan lemak normal.

Selain dipengaruhi oleh pakan kolesterol, tingginya konsentrasi lipid peroksida juga dapat disebabkan oleh PTU. PTU merupakan salah satu benda asing bagi tubuh yang

apabila masuk ke dalam tubuh akan

mengalami biotransformasi di dalam hati. Proses biotransformasi ini melibatkan suatu sistem sitokrom P1450 yaitu suatu enzim yang terdapat di dalam retikulum endoplasma. Sitokrom P1450 ini akan segera melakukan biotransformasi oksidatif, sehingga dapat merubah PTU menjadi senyawa yang toksik dan reaktif atau senyawa radikal (Koolman 1995).

Senyawa lipid peroksida lebih banyak di dalam jaringan dibandingkan dengan di dalam darah. Berdasarkan penelitian Adji (2004) yaitu konsentrasi lipid peroksida darah dalam keadaan normal sekitar 0.46 ng/mL. Bila dibandingkan dengan lipid peroksida hati, nilai konsentrasi lipid peroksida dalam darah jauh lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh radikal bebas seperti radikal hidroperoksil (HO2

.

), radikal superoksida (O2), dan hidroksil

radikal (OH.) dibentuk dalam sel sebagai

senyawa intermediet dari transfer elektron di mitokondria sehingga lebih mudah menyerang jaringan. Hasil penelitian ini juga sesuai

dengan pernyataan Mete (2001) yaitu

konsentrasi malonaldehida hati jauh lebih

besar dibandingkan dengan konsentrasi

malonaldehid dalam plasma darah.

4 !/( #$+! # / / +% & !( & ' " $ +! $% %'%&

!"#$%& +%

Sebelum mendapatkan perlakuan, hewan coba dikelompokan berdasarkan kenaikan kolesterol secara acak. Pengaruh pemberian

ekstrak ramuan daun jati belanda yang

dicekok selama lima minggu terhadap

konsentrasi lipid peroksida hati dapat dilihat pada Gambar 9. Berdasarkan gambar tersebut

dapat dilihat bahwa pemberian ramuan

ekstrak daun jati belanda pada hewan coba

belum dapat menurunkan konsentrasi lipid peroksida hati. Bila dibandingkan dengan kelompok hiperlipidemia, konsentrasi lipid peroksida hati pada kelompok hewan coba yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda

sebesar 1.19%. Namun secara statistik

peningkatan ini tidak berbeda makna. Hal ini

mungkin disebabkan oleh efek

ketidaksinergisan senyawa1senyawa bioaktif yang terkandung di dalam ramuan tersebut.

Pada kelompok hewan coba yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda tunggal

mampu menurunkan konsentrasi lipid

peroksida hati sebesar 7.24%, sedangkan kelompok yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda dengan daun jati belanda lebih banyak sebesar 13.25%. Meskipun demikian penurunan konsentrasi lipid peroksida hati yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda dan ramuan ekstrak daun jati belanda dengan daun jati belanda lebih banyak tidak berbeda

nyata dengan kelompok hiperlipidemia.

Penurunan konsentrasi lipid peroksida hati terbesar terjadi pada kelompok hewan coba yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda tanpa daun jambu biji yaitu sebesar 26.31% secara nyata dibandingkan dengan kelompok hiperlipidemia (p<0.1). Berdasarkan nilai tersebut dapat dilihat penurunan konsentrasi lipid peroksida hati terlihat secara nyata saat daun jambu biji dihilangkan dari kamposisi ramuan daun jati belanda.

Lain halnya dengan pengaruh ramuan

daun jati belanda terhadap penurunan

kolesterol total dalam darah. Setelah lima minggu dicekok ramuan, kelompok hewan coba yang diberi ramuan ekstrak daun jati

belanda mampu menurunkan kolesterol

sebesar 27.56% secara nyata dibandingkan

kelompok hiperlipidemia., sedangkan

kelompok yang diberi ramuan ekstrak daun jati belanda tanpa daun jambu biji hanya mampu menurunkan kolesterol total dalam darah sebesar 13.34% secara tidak nyata

dibandingkan dengan kelompok

hiperlipidemia (p>0.1).

(22)

Gambar 9 Konsentrasi Lipid peroksidasi hati Kelompok normal ( ), kelompok hiperlipidemia (■), kelompok perlakuan ekstrak 1x:1y:1z (■), kelompok perlakuan ekstrak 2x:1y:1z ( ), kelompok perlakuan ekstrak 1x:0y:1z (■), kelompok perlakuan ekstrak 1x:0y:0z (■).

Ramuan ekstrak daun jati belanda tediri atas daun jati belanda, daun jambu biji dan temulawak. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya daun jati belanda, daun jambu

biji, dan temulawak dapat menurunkan

konsentrasi lipid peroksida. Hasil penelitian

Tombilangi (2004) melaporkan bahwa

pemberian ekstrak etanol daun jati belanda dengan dosis 1g/Kg BB mampu menurunkan konsentrasi lipid peroksida dalam darah secara

nyata pada minggu kedua perlakuan

dibandingkan dengan kelompok

hiperlipidemia. Indriani (2006) melaporkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji putih dapat menghambat oksidasi lipid sebesar

94.19%. Hasil penelitian Adji (2004)

menyebutkan bahwa ekstrak etanol 75% rimpang temulawak dengan dosis 100 mg/Kg

BB mampu mencegah peningkatan

konsentrasi lipid peroksida dalam darah sebesar 64.30% terhadap kondisi awal.

Senyawa bioaktif yang bersifat sebagai antioksidan yang terkandung di dalam ketiga tumbuhan obat tersebut antaralain flavonoid, tanin, vitamin C, dan kurkumin. Kemampuan flavonoid dalam menghambat peroksidasi lipid tergantung dari nilai RSA (#

). Jenis flavonoid seperti apigenin, flavon, flavonon, dan hesperidin, memiliki nilai RSA yang kecil (<50%), sedangkan morin, kuersetin, mirisetin, dan 31 hidroksiflavon memiliki nilai RSA yang besar

(>50%) (Amic 2003). Vitamin C

merupakan suatu senyawa bioaktif bersifat terhadap radikal bebas terutama superoksida (O2-) dan singlet oksigen (1O2).

Pada konsentrasi rendah vitamin C dapat

bereaksi langsung dengan radikal peroksil LOO-(Hishino . 2000).

"! $% + ! %'%& !"#$%& +% & 4 " $+ !" +% &

Pengaruh kolesterol terhadap peroksidasi lipid dapat dilihat dari korelasi antara konsentrasi kolesterol hati dengan lipid peroksida hati dan konsentrasi kolesterol total plasma (TPC) selama 16 minggu perlakuan.

Korelasi digunakan untuk mengetahui

hubungan antara lipid peroksida dan

konsentrasi kolesterol hati dan TPC. Pada penelitian ini diharapkan adanya korelasi

positif antara lipid peroksida dengan

kolesterol hati dan TPC yaitu semakin besar konsentrasi kolesterol hati dan TPC maka semakin besar pula konsentrasi lpid peroksida hati. Analisis statistik yang digunakan untuk melihat korealasi antara lipid peroksida dengan kolsterol hati dan TPC digunakan korelasi Pearson pada α= 0.05.

Berdasarkan Gambar 10 terlihat bahwa adanya korelasi positif antara kolesterol hati dan konsentrasi lipid peroksida hati baik pada

kelompok hiperlipidemia dan kelompok

perlakuan yang diberi ekstrak dengan

komposisi yang bervariasi. Hal ini terlihat dari koefisien keragaman (R2) baik pada kelompok

hiperlipidemia dan kelompok perlakuan

ekstrak sebesar 3%. Meskipun demikian, secara statistik korelasi tersebut tidak berbeda nyata (p>0.05).

Korelasi antara TPC dan konsentrasi lipid peroksida hati (Gambar 11) menunjukan

adanya korelasi positif pada kelompok

hiperlipidemia sebesar 11.3%. Meskipun demikian secara statistik korelasi tersebut tidak berbeda nyata (p>0.05), sedangkan pada kelompok yang diberi perlakuan ekstrak dengan komposisi yang bervariasi tidak

menunjukan korelasi antara TPC dan

konsentrasi lipid peroksida hati. Hal ini dapat dilihat dari kemiringan kurva yang mendekati nol.

Hasil ini sesuai dengan hasil yang

dilaporkan Sayogya (2002) yang menyatakan

bahwa tidak ada korelasi antara lipid

peroksida hati dengan kolesterol pada ekor

monyet panjang ($ ) yang

diberi pengobatan dengan %

# $ (BRMTm). Begitupula

(23)

Gambar 10 Korelasi antara konsentrasi kolesterol hati dan konsentrasi lipid peroksida hati

Hiperlipidemia ( ), Perlakuan ekstrak ( ), Linear perlakuan ekstrak (−−−), Linear hiperlipidemia (―).

Tabel 1 Korelasi antara konsentrasi kolesterol hati dan konsentrasi lipid peroksida hati

.

Kelompok KK R2 p

Hiperlipidemia 0,182 0,033 0,639tn

Perlakuan ekstrak 0.174 0.030 0,463tn Keterangan : KK = Koefisien korelasi

R2 = Kemiringan

p>α = α0.05maka tn

tidak beda nyata

!"#

Gambar 11 Korelasi antara TPC dan konsentrasi lipid peroksida. Hiperlipidemia ( ), Perlakuan ekstrak ( ), Linear perlakuan ekstrak (−−−), Linear hiperlipidemia (―).

Tabel 2 Korelasi antara TPC dan konsentrasi lipid peroksida hati

Kelompok KK R2 p

Hiperlipidemia 0,336 0.113 0,377tn

Perlakuan ekstrak 0.032 0.001 0,893tn Keterangan : KK = Koefisien korelasi

R2 = Kemiringan

p>α = α0.05maka tn

tidak beda nyata

kondisi hiperkolesterolemia bukan satu1 satunya faktor yang dapat meningkatkan konsentrasi lipid peroksida, tapi ada faktor

lain yang ikut berperan terhadap peroksidasi lipid seperti faktor usia dan kondisi stres.

Tidak adanya korelasi antara lipid

peroksida hati dengan kolesterol dapat juga disebabkan oleh perbedaan antara proses biosintesis kolesterol dan peroksidasi lipid.

Kolesterol merupakan komponen penting

membran sel, prekusor asam empedu, dan hormon steroid. Biosintesis kolesterol meliputi empat tahapan yaitu perubahan asetil1koA menjadi mevalonat, perubahan

mevalonat menjadi skualena, pelipatan

struktur skualena membentuk lanosterol, dan perubahan lanosterol menjadi kolesterol

(Lehninger 1994). Lain halnya dengan

peroksidasi lipid. Lipid peroksida terbentuk akibat serangan radikal bebas terhadap membran sel. Jadi biosintesis kolesterol berbeda dengan peroksidasi lipid.

Peroksidasi lipid merupakan salah satu proses yang dapat menimbulkan penyakit yang banyak terjadi dimasyarakat. Degradasi peroksidatif terhadap PUFA dan komponen

fosfolipid membran dapat menyebabkan

kerusakan struktural, fungsional organ dan jaringan (Popova & Popov 2002). Kerusakan membran biologis menyebabkan perubahan fluiditas serta perubahan aktivitas dari enzim1 enzim yang terikat pada membran.

Peroksidasi lipid yang terjadi di dalam hati

dapat mengakibatkan gangguan pada

membran sel mikrosom hati, sehingga fungsi

membran sel mikrosom dapat dirusak.

Aktivitas enzimatik yang ada di dalam

retikulum endoplasmik hati diantaranya enzim untuk biosintesis trigliserida, katabolisme

asam lemak, katabolisme kolesterol,

biosintesis kolesterol, serta aktivitas glukosa 61fosfatase (Gibson & Skeet 1991). Jadi, apabila membran sel mikrosom hati dirusak oleh peroksidasi lipid maka aktivitas enzim1 enzim tersebut dapat terganggu.

% '/

Ramuan ekstrak daun jati belanda tanpa daun jambu biji bersifat sebagai antioksidan

dengan menurunkan konsentrasi lipid

peroksida hati tikus hiperlipidemia sebesar 26.31%. Ramuan ekstrak daun jati belanda bersifat sebagai prooksidan, dan tidak adanya korelasi antara lipid peroksida hati dengan kolesterol hati dan TPC.

!

(24)

belanda terhadap lipid peroksida dalam darah, dan menambahkan kelompok hewan coba yang diberi vitamin E sebagai kelompok pembanding. Selain itu, perlu penambahan waktu percobaan sehingga diharapkan dengan semakin lamanya waktu pemberian ekstrak pengaruhnya bisa semakin terlihat.

Amic D, Davidovic1Amic D, Beslo D. 2003. Structure1radical scavenging activity relationships of flavonoids.

76(1):55161.

Budhidjaja P. 1988. Pengaruh kurkuminoid dari temulawak (

Roxb) terhadap kolesterol total, trigliserida, dan HDL1kolesterol darah kelinci dalam keadaan hiperlipidemia. [laporan penelitian]. Bandung: Jurusan Farmasi FMIPA UNPAD.

Dalimartha S. 2002. # & " '"

( ! $ ! ! . Jakarta:

Penebar Swadaya.

Darwis SN, Hiyah S, Madjo I.1991.

& " '" ) * " .

Bogor: Pusat Pengembangan Tanaman Industri.

Ganong WF. 2001. % ! )

+ ! . Ed1ke20. Djauhari

Widjajakusumah, penerjemah. Jakarta:

EGC. Terjemahan dari: #

$ .

Gibson G, Skett. 1991.

$ " '" . Aisyah,

penerjemah. Jakarta: UI Press.

Grundy SM. 1991. Multifantorial etiology of hypercholesterolemia: Implication for prevention of coronary heart disease.

" 11:

161911635.

Halliwel B, Gutteridge JMC. 1999. )

# % $ .

1999. Ed ke13. New York: Oxford University.

Heyne K. 1987. & " %

, . Jakarta: Yayasan Sarana

Wana Jaya.

Hishino H. 2000. Cancer prevention by carotenoids and curcumin. Di dalam:

Bidlack WR . Editor,

Phytochemicals as Bioactive Agent. Lancaster Technomic Publishing . 1611 165.

Indariani S. 2006. Jambu biji berkhasiat

sebagai antioksidan.

http://www.ipb.ac.id/pariwara/pilihan.p hp3?klp=1&.html [7 Maret 2006]. Iritani N, Nagashima K, Fukuda H, Katsurada

A, Tanaka T. 1986. Effects of dietary on lipogenic enzymes in rat liver. -. . 116: 1901197

Kaplan LA, Pesce AJ. 1989.

/ . New York:

Mosby Tear Book .

[KKI] Kelompok Kerja Ilmiah Phyto Medica. 1993.

" ) ! . Jakarta:

Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica.

Ketaren S. 1986.$ ! 0 ! .

Jakarta: Universitas Indonesia. Kleiner IS, Dotti LB. 1958. 0 "

, % . Ed. ke15.

St.Louis: Mosby.

Koolman J, Rohm KH. 2001. Atlas berwarna

&Teks Biokimia. Wanandi S,

penerjemah. Jakarta: Hipokrates. Terjemahan dari:

% .

Kristiani EBE. 2003. Ekstrak daun jati

belanda ( Lamk.)

sebagai obat alternatif untuk

hiperlipidemia: kajian dan

. [tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Lautan J. 1997. Radikal bebas pada eritrosit

dan leukosit.

+ ! . 116: 49152.

Lehninger AL. 1994. Dasar1dasar Biokimia. Jilid II. Thenawidjaya, penerjemah. Jakarta: Erlangga.

Lestari K, Muhtadi A. 1997. Uji aktivitas antihiperlipidemia daun jati belanda

( Lamk.) pada tikus.

[laporan penelitian]. Bandung:

Universitas Padjajaran.

Lestariana W, Mulyono H, Ratnaningsih T,

Nugroho LN, dan Suyito. 2005.

Pengaruh pemberian ekstrak air daun

jambu biji ( Linn)

secara kronis terhadap kadar glukosa darah, kadar trigliserida, dan kolesterol

serum tikus (# ). % !

(25)

+ 1 %$,. Pekan Baru 30 Nov11 Des 2005.

Martono S. 2006. Jangan minum parasetamol

dengan kunyit dan temulawak.

http://www.republika.co.id/koran1 detail.asp?id=230394&kat.html.[8 Maret 2006].

Matjik AA, Sumertajaya M. 2000.

"

! $ " - ,.

Bogor: IPB Press.

Mete N, Isik B, Erdinc L, Gurkan F. 1999. The effect of fish oil on liver and plasma MDA and antioxidant status of

rats.& - $ 29: 11

6

Momuat LI, Sulistiyani, Khomsan A, Sajuhti D. 2001. Minyak sawit mempercepat regresi aterosklerosis aorta pada kelinci hiperkolesterolemia ringan, tetapi tidak pada yang hiperkolesterolemia berat.

$ 3 + 1122: 26134.

Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell

VW. 2001.% ! 4 . Ed ke125.

Hartanto A, penerjemah. Jakarta: EGC.

Terjemahan dari: 4 5

% .

Popova, Popov CS. 2001. Damage to

suvcellular structures evoked by lipid

peroxidation.* . 57c: 3611

365

Rachmadani. 2001. Ekstrak air daun jati

belanda ( Lamk)

berpotensi menurunkan kadar lipid

darah tikus Wistar. [skripsi].

Bogor: Jurusan Kimia FMIPA IPB.

Sastroamidjojo AS.1988.'" , .

Jakarta: Dian Rakyat.

Soesilo S. 1989. 2 ! % '"

. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Sugati S, Syamsuhidayat, Hutapea JR. 1991.

, & '" ,

678. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI.

Sulistyo BI.1998. Radikal bebas, peroksidasi

lipida dan antioksidan. !

! . 1: 55161.

Syukur C, Hernani. 2002.% &

'" + . Jakarta: Penebar

Swadaya.

Taher A. 2003. Peran fitoestrogen kedelai

sebagai antioksidan dalam

penanggulangan aterosklerosis. [tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Tappel AL, Zalkin H. 1960. Inhibition of lipid peroxidation in microsomes by vitamin E.. . 185: 35.

Tombilangi AK. 2004. Khasiat ekstrak daun

jati belanda ( Lamk)

terhadap kadar lipid peroksida darah kelinci yang hiperlipidemia. [skripsi]. Bogor: Jurusan Kimia FMIPA IPB Triarsari D. 2006. Betulkah jambu biji

mengatasi demam berdarah ?.

http://wwwdepkes.go.id/index.php?opti on=viewarticle&artid=73.html [7Maret 2006].

Upadhya S . 2002. Lipid peroxidation in different tissues: effect of high cholesterol and fish oil in the diet.

, - . 46(4):

4751481.

Voet D, Voet JG. 1995. % . New

York: J Wiley.

Widyarti S. 1995. Pengaruh pemberian

ekstrak teh hijau terhadap kadar peroksida lipid tikus yang diberi diet protein rendah dan lemak tinggi [tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Wijayakusuma H. 1993.& % !

'" , - + 9:. Jakarta:

Pustaka Kartini.

Wresdiyati T, Astawan M. 2005. Deteksi secara imunohistokimia antioksidan superoksida dismutase (SOD) pada jaringan tikus hiperkolesterolemia yang diberi pakan rumput laut. [laporan

penelitian]. Bogor: Fakultas

Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Yagi K. 1994. Lipid peroxides in hepatic, gastrointestional, and pancreatic diseases, hlm. 1651169. Di dalam:)

# , $ .

(26)
(27)

Normal n=10

Hiperlipidemia n=10

Perlakuan I n=5

Perlakuan II n=5

Perlakuan IV n=5 Perlakuan III

n=5

Adaptasi 2 minggu

Induksi kolesterol 9 minggu Pembedahan awal

@ 5ekor

Analisis Lipid peroksida hati

Pembuatan pakan kolesterol

Analisis kolesterol Pencekokan ekstrak

selama 5 minggu

Pembedahan akhir @ 5ekor

Analisis statistik

1

(28)

Lampiran 2 Perhitungan dosis jumlah kolesterol kuning telur, lemak kambing dan

PTU.

1. kolesterol kuning telur

Jika diketahui kolesterol kuning telur 60 mg, jumlah pakan kolesterol yang

diinginkan sebesar 30 Kg dengan persentase kolesterol kuning telur sebesar

1.5%, maka kuning telur yang dibutuhkan adalah:

1.5 g x 30.000 g pakan = 450 g kolesterol

100 g

450 g x 1 g kuning telur = 750 g kuning telur

0.060 g

2. Lemak kambing (5% b/b)

5 g

x 30.000 g pakan

= 1500 g lemak kambing

100 g

3. PTU 0.01% b/V (0.5 mg/Kg BB)

Diketahui konsentrasi PTU 0,01%, PTU 100 mg dengan bobot tablet PTU 236

mg, maka jumlah PTU yang ditimbang:

0.01% = 0.01 g/100 mL air

= 10 mg/100 mL

= 0.1 mg/1mL

PTU 100 mg ∞ 236 mg

1 mg

∞ 2.36 mg

10 mg/100 mL PTU, maka 0.0236 g/100 mL air

Jika dosis yang ingin dicekokan 0.5 mg/Kg BB pada tikus dengan bobot 200 g,

maka volume yang dicekokan:

0.5 mg x 0.2 Kg = 0.1 mg

1 Kg

Dosis PTU yang diinginkan: 0.1 mg = 0.1 mg

1 mL

x mL

(29)

Lampiran 3 Hasil kurva standar TMP.

! "#

$

" % & # # ' (

) )

)*

* *

) *

) +

+ *

* +

* )

) +

$ !%"

, * ( ) ' , ** +

(

&

Contoh perhitungan:

Dari persamaan garis pada kurva standar: y= 0.0915x – 0.0063, r = 99.47%

Misal absorbansi sampel 0.070, maka: 0.070= 0.0915x – 0.0063

x= 0.8338 NM

Volume total homogenat hati = 10.281 mL

Volume total homogenat hati yang digunakan= 0.1 mL

Bobot hati pada 10% b/v = 1.0281g yang berasal dari 1.0281g/10.281 mL

Konsentrasi lipid peroksida dalam nmol/g:

=

C (NM) x volume total homogenat hati (mL)/ volume homogenat hati yang direaksikan (mL) bobot hati pada 10% b/v homogenat (g)

= 0.8338 NM x 10.281 mL/0.1 mL

1.0281 g

(30)

Lampiran 4 Perubahan rata1rata bobot badan tikus selama percobaan.

' ( - - - ".

../ (

* )

* +) + +

) ) + ) ) +

) + ) ) * )

+ * ) + ) ) )

) * )+) ) ) ))+

+ ) ) ) )+ ) * ) ) *

) * * )

* ) + + )*

) * + * +

)* +) + +

) + + +

) + + + +

+

) )

+ * * +* + +

Lampiran 5 Data konsentrasi lipid peroksida hati saat peningkatan kolesterol pada

minggu ke19.

#

$

" %.

# $

" %.

+ ) ) * ))

) ) + ) ++ *

) +) ) )+

+ +) + + )

+ ( +) )

( +) + !0 +) +

!0 )

Lampiran 6 Data konsentrasi lipid peroksida hati diakhir perlakuan pada minggu

ke114.

#

$

" %.

#

$

" %.

* ) + ) )))

* ) +*

) + * + ) + +

+ +) )

' ( +* *) *+ +* + )

!0 ) ' ( *) +*

(31)

Lampiran 6 (Lanjutan)

$ / $ /

#

$

" %.

#

$

" %.

) ** * )

++ * +

) + ) *

* * )

) + *

' ( * * * ' ( + ) ++ *

!0 ) + ) + !0 ) ))+ +

$ / $ /

#

$

" %.

#

$

" %.

+ * * + + +

++ )++ ++ + +

) + + ++* ) ) + * +

+ * * *) ))

+ ) + *+

' ( * ' ( + *

! 0 + ** ! 0 )

Lampiran 7 Data konsentrasi kolesterol hati.

$

" .%.

-$

" .%.

-+ +

*+

) ) +

* )

+ *)

)*

+ ) +

)

* * * +

( + ( *

!0 !0 )

$ / $ /

$

" .%.

-$

" .%.

-+ +

) ** )

)

+

( ( +

(32)

Lampiran 7 (Lanjutan)

$ / $ /

$

" .%.

-$

" .%. * +

*

) * )

+ *+

+ *

( * + )

!0

( !0

Keterangan : data kolesterol hati adalah data sekunder.

Lampiran 8 Analisis statistik rancangan acak lengkap.

Analisis ragam konsentrasi lipid peroksida hati minggu ke116

1/ /

0 2

-$/

. 3

4 / + *

5 *+ ) ) )* )

6 ) )

Analisis ragam konsentrasi kolesterol selama lima minggu perlakuan

1/

/

0 2

-$/

. 3

4 / + * * ) +)

5 ** * ) * )

6

Uji Duncan konsentrasi lipid peroksida hati minggu ke116

!/- 7 ,

4 /

)

*) *

+

++ * ++ *

* ) * )

*) +* *) +*

) )

! . )

Uji Duncan konsentrasi kolesterol selama lima minggu perlakuan

!/- 7 ,

8#'

)

* * * *

*+ + *+ +

) * ) *

(33)

Lampiran 8 (Lanjutan)

Uji Duncan bobot badan hewan coba pada minggu kelima perlakuan

!/- 7 ,

8#'

+

+ *

) *

+ +* ! .

Uji Duncan bobot badan hewan coba setelah satu minggu induksi pada kelompok

normal

!/- 7 ,

8#' )

*

) *

! .

Uji Duncan bobot badan hewan coba setelah satu minggu induksi pada kelompok

perlakuan

!/- 7 ,

8#'

)

)

) )

* * ! .

Lampiran 9 Hasil analisis korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol

hati serta TPC.

Korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati serta TPC kelompok

hiperlipidemia.

& $ 649

& 94 ))

! . " ( )* )++

* * *

$ 4

9 )

! . " ( )* +

* * *

649 4

9 )) )

! . " ( )++ +

(34)

Lampiran 9 (Lanjutan)

Korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati serta TPC kelompok

perlakuan ekstrak 1x:1y:1z.

& $

649

& 4

9 +) +

! . " ( *

$ 4

9 +) ) +

! . " ( *

649 4

9 + ) +

! . " (

Korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati serta TPC kelompok

perlakuan ekstrak 2x:1y:1z.

& $

649

& 4

9 ( ) ( ++

! . " ( +

$ 4

9 ( ) (

! . " (

649 4

9 ( ++ (

! . " ( +

Korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati serta TPC kelompok

perlakuan ekstrak 1x:0y:1z.

& $

649

& 4

9 + *

! . " ( + *

$ 4

9 + (

! . " ( + *

649 4

9 * (

(35)

Lampiran 9 (Lanjutan)

Korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati serta TPC kelompok

perlakuan ekstrak 1x:0y:0z.

& $

649

& 4

9 ( ) *

! . " (

$ 4

9 ( (

! . " (

* +

649 4

9 ) * (

! . " (

* +

Korelasi antara lipid peroksida hati dan kolesterol hati pada seluruh kelompok

perlakuan ekstrak.

#

+ )

+ )

4 9

! . " (

4 9

! . " ( &

$

& $

Korelasi antara lipid peroksida hati dan TPC pada seluruh kelompok peerlakuan

ekstrak.

#

) *)

) *)

4 9

! . " (

4 9

! . " ( &

649

&

Figur

Gambar�1��Reaksi�pembentukan�MDA�dari�peroksidasi�rantai�hidrokarbon�berikatan�ganda.��Sumber:�Murray�����������(2001)�
Gambar�1��Reaksi�pembentukan�MDA�dari�peroksidasi�rantai�hidrokarbon�berikatan�ganda.��Sumber:�Murray�����������(2001)� p.12
Gambar�2��Reaksi�antara�TBA�dan�MDA.�Sumber:�Halliwel�&�Gutteridge�(1999)�
Gambar�2��Reaksi�antara�TBA�dan�MDA.�Sumber:�Halliwel�&�Gutteridge�(1999)� p.13
Gambar�4��Tumbuhan�jambu�biji��
Gambar�4��Tumbuhan�jambu�biji�� p.16
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(���������
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(��������� p.17
Gambar�6��Perubahan�bobot�badan�tikus��
Gambar�6��Perubahan�bobot�badan�tikus�� p.19
Gambar�7��Kenaikan�konsentrasi�kolesterol�
Gambar�7��Kenaikan�konsentrasi�kolesterol� p.20
Gambar�9��Konsentrasi�Lipid�peroksidasi��
Gambar�9��Konsentrasi�Lipid�peroksidasi�� p.22
Gambar�10��Korelasi�antara�konsentrasi��
Gambar�10��Korelasi�antara�konsentrasi�� p.23
Gambar�1��Reaksi�pembentukan�MDA�dari�peroksidasi�rantai�hidrokarbon�berikatan�ganda.��Sumber:�Murray�����������(2001)�
Gambar�1��Reaksi�pembentukan�MDA�dari�peroksidasi�rantai�hidrokarbon�berikatan�ganda.��Sumber:�Murray�����������(2001)� p.39
Gambar�1��Reaksi�pembentukan�MDA�dari�peroksidasi�rantai�hidrokarbon�berikatan�ganda.��Sumber:�Murray�����������(2001)�
Gambar�1��Reaksi�pembentukan�MDA�dari�peroksidasi�rantai�hidrokarbon�berikatan�ganda.��Sumber:�Murray�����������(2001)� p.40
Gambar�2��Reaksi�antara�TBA�dan�MDA.�Sumber:�Halliwel�&�Gutteridge�(1999)�
Gambar�2��Reaksi�antara�TBA�dan�MDA.�Sumber:�Halliwel�&�Gutteridge�(1999)� p.41
Gambar�4��Tumbuhan�jambu�biji��
Gambar�4��Tumbuhan�jambu�biji�� p.44
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(���������
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(��������� p.45
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(���������
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(��������� p.46
Gambar�6��Perubahan�bobot�badan�tikus��
Gambar�6��Perubahan�bobot�badan�tikus�� p.48
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(���������
Gambar�5��Tanaman�temulawak�(��������� p.49
Gambar�6��Perubahan�bobot�badan�tikus��
Gambar�6��Perubahan�bobot�badan�tikus�� p.51
Gambar�7��Kenaikan�konsentrasi�kolesterol�
Gambar�7��Kenaikan�konsentrasi�kolesterol� p.52
Gambar�9��Konsentrasi�Lipid�peroksidasi��
Gambar�9��Konsentrasi�Lipid�peroksidasi�� p.54
Gambar�10��Korelasi�antara�konsentrasi��
Gambar�10��Korelasi�antara�konsentrasi�� p.55
Gambar�10��Korelasi�antara�konsentrasi��
Gambar�10��Korelasi�antara�konsentrasi�� p.59

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di