• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkah Laku Harian dan Pola Makan Kelinci Lokal Pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tingkah Laku Harian dan Pola Makan Kelinci Lokal Pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kelinci merupakan ternak pedaging yang dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat. Kelinci dikenal sebagai ternak yang dapat memanfaatkan hijauan secara efisien. Daging kelinci yang dikenal memiliki kadar protein tinggi dengan kandungan lemak dan kolesterol yang rendah dibandingkan ternak lain mulai banyak diminati oleh konsumen. Selain daging, kelinci juga dapat menghasilkan kulit dan bulu yang dapat diolah menjadi berbagai jenis kerajinan. Beternak kelinci memiliki beberapa keunggulan seperti pertumbuhan kelinci yang pesat dan tingkat reproduksi yang tinggi, modal cepat berputar, selain itu pemeliharaanya lebih mudah jika dibandingkan ternak lainnya.

Pada umumnya kelinci dipelihara secara intensif didalam kandang, sehingga kenyamanan didalam kandang perlu diperhatikan. Salah satu faktor penentu kenyamanan tersebut adalah jenis lantai kandang yang digunakan yaitu dapat berupa bambu, kawat besi, kayu atau kombinasinya. Kenyamanan ternak akibat penerapan teknologi produksi ternak perlu terjamin sejalan dengan usaha peningkatan produksi ternak. Kenyamanan tersebut mencerminkan kesejahteraan ternak yang juga harus diperhatikan.

(2)

2 Tujuan

(3)

3 TINJAUAN PUSTAKA

Kelinci

Kelinci domestik (Orytologus cuniculus) yang ada saat ini berasal dari kelinci liar di Eropa dan Afrika Utara. Mulanya kelinci diklasifikasikan dalam ordo rodensia (binatang mengerat) yang bergigi seri empat, tetapi akhirnya dimasukkan dalam ordo logomorpha karena bergigi seri enam (Cheeke et al., 1987). Kelinci termasuk hewan herbivora non-ruminan yang memiliki sistem pencernaan monogastrik dengan perkembangan sekum seperti rumen ruminansia, sehingga kelinci disebut pseudo-ruminansia (Cheeke et al., 1982). Menurut Cheeke (1981), kelinci adalah ternak yang dapat memanfaatkan hijauan secara efisien, sedikit menggunakan makanan konsentrat dan tidak bersaing dengan makanan manusia. Kelinci (Oryctolagus cuniculus) memiliki beberapa ciri khas seperti ukuran tubuh kecil, jarak beranak pendek, potensi reproduksi tinggi, laju pertumbuhan cepat dan sifat genetik relatif beragam (Cheeke et al., 1987).

Kelinci dikelompokkan berdasarkan tujuan pemeliharaannya, yaitu untuk menghasilkan daging, kulit-rambut (fur) atau sebagai kelinci hias, ada juga yang bertujuan ganda. Kelinci dengan berbagai ragamnya menghasilkan lima jenis produk yang dapat dimanfaatkan, yaitu daging (food), kulit-rambut (fur), kelinci hias (fancy), pupuk (fertilyzer) dan hewan percobaan (laboratoty animal) (Raharjo, 2005). Kelinci dapat menggunakan protein hijauan secara efisien, reproduksi tinggi, efisiensi pakan tinggi, hanya membutuhkan makanan dalam jumlah sedikit dan kualitas dagingnya cukup tinggi (Farrel dan Raharjo, 1984).

Kelinci sangat peka terhadap suhu lingkungan tinggi, terutama kalau kelembaban udara juga tinggi. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) suhu ideal bagi kelinci adalah 15 sampai 20° C. Jika suhu lebih dari 27 sampai 32° C dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas.

(4)

4 Anatomi

Sistem pencernaan kelinci menurut Cheeke et al. (2000) bahwa alat pencernaan kelinci dibagi dua bagian yaitu perut depan (foregut) terdiri dari lambung, pankreas dan usus kecil (duodenum, jejunum, ileum) dan perut belakang (hindgut) yang terdiri dari sekum, appendix dan kolon (Gambar 1).

Gambar 1. Saluran Pencernaan Kelinci Sumber : Nheyla (2010)

Pertumbuhan bakteri pada pencernaan kelinci terdapat pada kolon yang memiliki fungsi yang sama dengan rumen pada sapi yaitu sebagai tempat terjadinya proses pencernaan makanan (Cheeke et al., 2000). Kelinci merupakan hewan herbivora non ruminansia yang mempunyai sistem lambung sederhana (tunggal) dengan pembesaran dibagian sekum dan kolon (hindgut) seperti alat pencernaan pada kuda dan babi (Cheeke et al., 2000). Proporsi sekum pada saluran pencernaan kelinci yaitu 40% dari total saluran pencernaannya (Irlbeck, 2001).

Kelinci mempunyai kebiasaan yang tidak dilakukan pada ternak ruminansia yaitu kebiasaannya memakan feses yang sudah dikeluarkan yang disebut dengan coprophagy (Blakely dan Bade, 1991). Sifat coprophagy biasanya terjadi pada malam atau pagi hari berikutnya. Sifat tersebut memungkinkan kelinci memanfaatkan secara penuh pencernaan bakteri disaluran bagian bawah, yaitu mengkonversi protein asal hijauan menjadi protein bakteri yang berkualitas tinggi,

Perut

Usus halus

Sekum

Anus Kolon

Rektum Pankreas

(5)

5 mensintesis vitamin B dan memecahkan selulose atau serat menjadi energi yang berguna (Blakely dan Bade, 1991).

Kelinci dapat memfermentasikan pakan yang berupa serta kasar di usus belakangnya. Fermentasi umumnya terjadi di caecum yang kurang lebih merupakan 50% dari seluruh kapasitas saluran pencernaan (Postsmouth, 1977). Umur tiga minggu biasanya kelinci mulai makan kembali kotoran lunaknya langsung dari anus (caecotrophy) tanpa pengunyahan. Kotoran ini terdiri atas konsentrat bakteri yang dibungkus oleh mukus (Hornicke, 1977).

Reproduksi

Masa birahi induk akan mulai kelihatan jelas bila sudah mencapai umur 7 bulan. Untuk jenis kelinci tipe berat dengan ciri-ciri bila diusap-usap bagian punggung dia akan mengangkat bagian pantat lebih tinggi atau menungging (Widodo, 2005). Proses ovulasi kelinci terjadi sesudah dilakukan induksi dengan rangsangan dari luar. Rangsangan ini dapat berupa penggunaan pejantan dengan atau tanpa vasektomi, rangsangan listrik dan mekanis dan penggunaan hormon perangsang ovulasi (Cheeke et al., 1987).

Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), siklus estrus (birahi) kelinci berkisar selama 15-20 hari. Herman (1989) menyatakan kelinci mencapai dewasa kelamin pada umur 4-8 bulan, tergantung pada bangsa, makanan dan kesehatan. Kelinci tipe ringan mencapai dewasa kelamin pada umur empat bulan, tipe medium 5-6 bulan dan tipe berat umur 7-8 bulan.

Raharjo (2005) menambahkan umur kawin yang baik pada kelinci adalah 6 bulan bagi betina dan 7 bulan bagi jantan. Kelinci induk dapat dikawinkan kembali 3-4 minggu setelah melahirkan. Pemeliharaan yang baik pada induk menyebabkan induk dapat dikawinkan 2 minggu setelah melahirkan. Lama bunting dihitung sejak betina kawin sampai beranak. Lamanya berkisar antara 31-32 hari, tetapi kemungkinan paling singkat 29 hari atau paling lama 35 hari (Cheeke et al., 1987).

Tingkah Laku

(6)

6 bagaimana responnya terhadap lingkungan. Selama interaksi tersebut ternak akan menimbulkan respon berupa tingkah laku terhadap lingkungan yang dihadapinya (Gonyou, 1991).

Tingkah laku khusus hewan merupakan bawaan sejak lahir atau sebagai refleksi karakteristik spesies tersebut, yang tidak berubah oleh proses belajar. Tingkah laku ini tidak akan pernah banyak berubah oleh domestikasi, sedangkan tingka laku lainnya dapat berubah oleh proses belajar (Tomaszewska, 1991).

Fungsi utama tingkah laku adalah untuk menyesuaikan diri terhadap beberapa perubahan keadaan, baik dari luar maupun dari dalam. Tingkah laku makan disebabkan oleh adanya rangsangan dari luar (makanan) dan rangsangan dari dalam (adanya kebutuhan atau lapar). Tingkah laku ini berkembang sesuai dengan perkembangan dari proses belajar (Alikodra, 1990).

Menurut Mukhtar (1986), aktivitas tingkah laku dapat dikelompokkan ke dalam sembilan sistem tingkah laku, yaitu (1) tingkah laku makan dan minum (ingestif); (2) tingkah laku mencari perlindungan (shelter seeking) yaitu kecenderungan mencari kondisi lingkungan yang optimum dan menghindari bahaya; (3) tingkah laku agonistik yaitu persaingan antara dua hewan yang sejenis, biasanya terjadi selama musim kawin; (4) tingkah laku seksual (courtship), kopulasi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan hewan jantan dan betina satu jenis; (5) tingkah laku epimelitic atau care giving yaitu pemeliharaan terhadap anak (maternal behavior); (6) tingkah laku et-epimelitic merupakan tingkah laku individu muda untuk dipelihara oleh yang dewasa (care soliciting); (7) tingkah laku eliminative yaitu tingkah laku membuang kotoran; (8) tingkah laku allelomimetik yaitu tingkah laku meniru salah satu anggota kelompok atau melakukan pekerjaan yang sama dengan beberapa tahap rangsangan dan koordinasi yang berbalas-balasan; (9) tingkah laku investigative yaitu tingkah laku memeriksa lingkungannya.

Tingkah Laku Harian

Tingkah Laku Makan

(7)

7 semua hewan ternak. Karena itu, mengerti pola tingkah laku yang digunakan oleh hewan untuk mencari, mendapatkan, menyeleksi dan memakan pakan penting sekali untuk berhasilnya pengembangan usaha peternakan (Tomaszewska, 1991).

Kelinci sangat selektif dalam memilih pakannya. Kelinci akan lebih memilih bagian yang disukainya seperti daun yang lebih hijau dibandingkan yang kering, memilih daun dibandingkan batang, tanaman yang muda dibandingkan yang tua, sehingga pakan yang tinggi protein dan energi dicerna dan rendah serat yang diperoleh dari bahan tanaman. Tingkah laku makan pada kelinci juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial. Kelinci akan makan lebih banyak jika dikandangkan secara kelompok karena adanya peningkatan stimulasi dan adanya kompetisi.

Selain itu tingkah laku makan kelinci yaitu menggaruk atau scrabbling yaitu mengais makanan keluar dari tempat pakan sehingga menyebabkan pakan terbuang. Scrabbling sering dijadikan acuan jika pelet yang diberikan kurang baik maka pellet tersebut diganti dengan kualitas yang lebih baik. Mengunyah bulu juga merupakan tingkah laku makan pada kelinci. Hal ini biasanya diartikan bahwa pakan yang diberikan rendah serat kasar atau protein. Pemberian hay dapat menghentikan tingkah laku ini. Blok kayu dalam kandang biasanya akan digigiti karena memberikan serat dan menjaga gigi bawah kelinci dari cacing (Cheeke et al., 2000). Tingkah Laku Minum

Minum diperlukan untuk mengganti air yang hilang seperti urin dan kadar air yang menguap. Minum juga dibutuhkan untuk pendingin bagi kelinci jika berada di suhu tinggi. Anak kelinci belajar minum saat pertama kali saat menyusui pada induknya. Kelinci harus belajar untuk minum di tempat minum otomatis nipple. Kelinci yang tidak belajar minum menggunakan nipple, biasanya air akan tumpah mengenai bulu dan kandang kelinci (Cheeke et al., 2000).

Tingkah Laku Eliminasi

(8)

8 kelinci yang mempunyai kebiasaan memakan feses yang sudah dikeluarkan yang disebut dengan coprophagy.

Urinasi berfungsi untuk membersihkan diri dan juga sebagai bagian dari tingkah laku territorial. Urinasi juga merupakan fungsi dari tingkah laku agresif, seekor kelinci jantan biasanya melakukan urinasi untuk menandakan kekuasaannya pada saingannya. Urinasi juga merupakan salah satu bagian dari tingkah laku seksual (Cheeke et al., 2000).

Tingkah Laku Merawat Diri

Perawatan tubuh meliputi kebersihan kulit, menjaga suhu tubuh dan variabel fisik dan kimia lain yang penting dari bagian perilaku perawatan diri yang komplek pada hewan ternak. Aktivitas dari perawatan tubuh, meliputi menggaruk, mengusap, menggesekkan badannya ke dinding kandang, dan menjilati, yang biasanya berbeda dari setiap jenis hewan dengan waktu yang singkat. Saat kesehatan hewan sedang buruk umumnya kegiatan perawatan tubuh menjadi berkurang.

Kelinci biasanya merawat tubuhnya dengan menjilati sendiri tubuh mereka dengan lidahnya. Biasanya dapat dilihat saat kelinci duduk pada pinggulnya kemudian kelinci menjilati bagian perut, dan bagian dalam kedua kaki belakangnya. Kelinci akan mengalami rontok bulu saat akan melahirkan, sehingga banyak bulu yang tertelan dan menyebabkan segumpal hairball mengganggu pencernaannya.

Aktivitas grooming dibedakan menjadi dua macam, yaitu autogrooming dan allogrooming. Autogrooming yaitu merawat diri yang dilakukan untuk diri sendiri, sedangkan allogrooming adalah merawat diri yang dilakukan bersama dan untuk individu lain. Memijat dan menggosok hidung individu lain biasanya dilakukan oleh babi (Fraser & Broom, 2005).

Tingkah Laku Istirahat

(9)

9 Fungsi istirahat dan tidur awalnya mungkin untuk meminimalkan bahaya predator. Individu yang dalam posisi tidak bergerak mungkin kurang mencolok untuk terdeteksi. Fungsi kedua untuk memulihkan energi, pada beberapa jenis hewan dan dalam beberapa keadaan yang memungkinkan untuk proses metabolisme (Fraser & Broom, 2005).

Tingkah Laku Bergerak

Tingkah laku bergerak memiliki berbagai pola berbeda yang masing-masing disebut gaya berjalan. Gaya berjalan asimetris yaitu tungkai dari satu sisi tidak mengulangi yang lain. Gaya berjalan simetris meliputi berjalan cepat dan berlari. Gaya berjalan asimetris termasuk berbagai bentuk berderap, termasuk melompat-lompat dan lari kencang berputar (Fraser dan Broom, 2005).

Tingkah Laku Stereotypes

Tingkah laku stereotypes, yaitu tindakan yang berulang dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Tingkah laku ini biasanya muncul pada hewan yang berada dalam kandang dan melakukan rutinitas yang sama terus menerus. Tingkah laku ini seperti mengigiti pagar kandang, menggigiti kawat, mengunyah semu, menggigiti tempat pakan, menekan tempat minum, kepala gemetar, mengais-ngais dan menggosokkan badan pada dinding kandang (Fraser dan Broom, 2005).

Perkandangan

Sistem perkandangan merupakan faktor yang sangat penting karena berpengaruh terhadap sirkulasi udara di dalam kandang tersebut sehingga akan mempengaruhi stress panas pada kelinci (Finzi et al., 1992). Jenis bangunan kandang dan peralatan yang digunakan untuk memelihara kelinci tergantung dari lokasi, iklim, keperluan pemeliharaan dan biaya yang dimiliki oleh peternak (Templeton, 1959).

(10)

10 kandang model ranch yang dilengkapi halaman umbaran biasanya berisi satu jantan satu betina dan anak-anaknya (Gunawan, 2008).

Kepadatan kandang yang tinggi dapat memunculkan sifat agresif dan hal itu merupakan permasalahan yang dihadapi terutama pada saat mendekati dewasa kelamin. Kandang tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan namun berpengaruh terhadap tingkah laku kelinci (Verga et al., 2004). Ternak yang dikandangan pada kepadatan yang rendah memperlihatkan keragaman tingkah laku alami yang tinggi. Lingkungan tersebut mempengaruhi tingkah laku dan bukan pada performa produksi.

Kepadatan kandang 15 ekor/m2(38 kg/m2) dapat digunakan sebagai batasan untuk menjaga kenyamanan kelinci yang ditempatkan dalam kandang koloni. Pada kepadatan kandang tersebut menunjukkan tingkah laku yang normal (Morrise dan Maurice, 1996).

Lantai Kandang

Lantai kandang yang digunakan juga penting untuk merawat kelinci, menjaga sanitasi, dan mudah dibersihkan. Lantai kandang ada yang berupa papan, bambu dan kawat. Pada peternak kelinci komersial biasanya tidak menggunakan kandang bambu, tetapi menggunakan kandang dari kawat. Kandang yang tebuat dari kawat ini memiliki kelebihan yaitu vantilasi udara yang baik dan sistem pembersihan kotoran yang mudah (Cheek et al., 2000).

Menurut Krisdianto (2007) bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan.

(11)

11 Kebutuhan Pakan untuk Pertumbuhan Kelinci

Menurut Parakkasi (1999) konsumsi pakan merupakan faktor esensial untuk menentukan kebutuhan hidup pokok dan produksi karena dengan mengetahui tingkat konsumsi pakan dapat ditentukan kadar zat makanan dalam ransum untuk memenuhi hidup pokok dan produksi.

Menurut Gunawan (2008) pemberian pakan ditentukan berdasarkan bahan kering. Jumlah pemberian bervariasi pada periode pemeliharaan dan bobot badan kelinci. Kebutuhan zat gizi kelinci dapat dilihat pada (Tabel 1) dan kebutuhan bahan kering dapat dilihat pada (Tabel 2).

Tabel 1. Kebutuhan Zat Gizi Kelinci Pada Kondisi Fisiologi yang Berbeda

Status Kebutuhan gizi (%)

Protein Lemak SeratKasar

Bunting 15-17 3-6 12-16

Menyusui 20-22 3-6 12-16

Dewasa 12-15 2-4 12-16

Muda 16-18 3-6 12-16

Sumber : Cheeke (1987)

Tabel 2. Kebutuhan Bahan Kering Pakan untuk Kelinci Pada Berbagai Periode Pemeliharaan Kelinci

Status Bobot (kg) Bahan Kering (%)

Keb. BK (g/ekor/hr)

Bunting 2,3 – 6,8 3-5 115-250

Menyusui 2,3 – 3 5-7 350-520

Dewasa 2 – 4,5 3-5 100-150

Muda 0,6 – 2,7 3-5 40-100

(12)

12 MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai dari Agustus sampai September 2011.

Materi Ternak

Penelitian ini menggunakan 15 ekor kelinci jantan lokal dengan bobot hidup rata-rata adalah 824±74,43 g. Kelinci yang digunakan merupakan jenis kelinci lokal dengan umur 4 bulan. Kelinci diperoleh dari peternakan rakyat di Jl. Raya Cibanteng Agatis Ciampea-Bogor.

Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan adalah kandang individu dan terbuat dari kayu dengan alas yang berbeda-beda, yang terbuat dari kawat, bambu, dan kotak papan yang ditaburi dengan sekam. Kotak papan yang telah dilapisi dengan terpal kemudian ditaburi sekam dengan ketebalan ± 1,5 - 2 cm. Kandang berbentuk panggung dengan jarak dari lantai ± 100 cm. Kandang berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum berbentuk mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Bentuk kandang perlakuan dapat dilihat pada Gambar 2. Peralatan yang digunakan adalah alat tulis, buku tulis, sapu lidi, serokan, ember, pipa selang untuk membersihkan tempat pakan dan minum, timbangan, thermohygrometer, dan kamera digital.

Gambar 2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu; b) Alas Kandang Sekam; c) Alas Kandang Kawat

(13)

13 Pakan

Pakan yang digunakan adalah ransum komersial berbentuk pellet khusus kelinci yang didapat dari PT. Indofeed. Pemberian pakan diberikan berupa pellet tanpa penambahan hijauan karena ransum komplit yang diberikan sudah terdapat hijauan. Pakan tersebut dikemas dalam karung dengan bobot 25 kg. Persentase zat makanan ransum penelitian terdapat pada Tabel 4. Air minum bersih selalu tersedia dalam kandang.

Tabel 3. Komposisi Zat Makanan Ransum Pellet Komersial

Zat Nutrisi Kandungan (%)

Bahan Kering 87,08

Abu 9,36

Protein Kasar 14,44

Serat Kasar 22,91

Lemak Kasar 4,02

Beta-N 36,35 Sumber : Hasil Analisis Kimia Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu

Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2011).

Prosedur Persiapan

(14)

14 Pemeliharaan

Ternak diberikan pakan dua kali sehari yaitu pada pagi hari (06.30-07.00) dan sore hari (15.30-16.00). Sebelum diberikan pakan ditimbang terlebih dahulu. Pakan diberikan berdasarkan kebutuhan total bahan kering yaitu 5% dari bobot badan. Sisa pakan ditimbang keesokan harinya. Pemberian air minum dilakukan secara ad libitum. Pemeliharaan kelinci dalam penelitian ini dilakukan selama dua bulan. Penimbangan ternak kelinci dilakukan dengan cara meletakkan kotak plastik diatas timbangan duduk kemudian kelinci dimasukkan ke dalam kotak plastik tersebut. Hal ini agar ternak kelinci merasa lebih nyaman dan tidak banyak bergerak selama proses penimbangan. Penimbangan kelinci dilakukan setiap dua minggu sekali.

Pembersihan kandang dari kotoran dilakukan setiap hari yaitu pada pagi dan sore hari. Hal itu bertujuan agar kebersihan kandang dapat terjaga dan kesehatan ternak tidak terganggu. Pencatatan suhu dan kelembaban dilakukan pada pagi pukul 06.00 WIB, siang pukul 12.00 WIB, dan sore hari pada pukul 16.00 WIB.

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini menggunakan RAL dengan tiga perlakuan berupa penggunaan alas kandang yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan. Kelinci sebanyak 15 ekor dibagi secara acak ke dalam tiga perlakuan yaitu alas kandang kawat, alas kandang bambu dan alas kandang sekam. Pemeliharaan dilakukan selama dua bulan, mulai bulan Agustus hingga September 2011. Air minum diberikan secara ad libitum. Setiap hari dilakukan pemberian pakan, pembersihan kandang dan alat, serta pemeriksaan kesehatan.

Pengumpulan Data

(15)

one-15 zero yaitu jika kelinci melakukan suatu aktivitas diberi nilai satu, tapi jika tidak melakukan aktivitas diberi nilai nol.

Rancangan dan Analisis Data

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan penggunaan alas kandang yang berbeda yaitu kawat, bambu dan papan yang ditambah sekam dan dengan lima ulangan. Perlakuan penggunaan alas kandang yang diberikan adalah :

P1 : Alas Kandang yang terbuat dari kawat P2 : Alas Kandang yang terbuat dari bambu P3 : Alas Kandang yang terbuat dari sekam

Disamping itu data juga diolah berdasarkan perbedaan 3 periode waktu pengamatan yaitu pagi, siang dam sore pada jenis lantai kandang yang sama, untuk mengetahui perbedaan tingkah laku kelinci pada ketiga waktu tersebut.

Data dikoleksi dengan menggunakan metode one zero sampling. Nilai satu diberikan bila ada aktivitas yang dilakukan dan nol bila tidak ada aktivitas (Martin dan Batesson, 1999). Data yang diperoleh diuji dengan analisis non-parametrik dengan menggunakan uji Kruskal –Wallis.

Rumus dari Kruskal-Wallis menurut Gasperz (1995) yaitu :

H : Statistik Uji Kruskal-Wallis S2 : Ragam

(16)

16 Peubah

Tingkah Laku Harian. Pengamatan tingkah laku harian dilakukan dengan menghitung jumlah tingkah laku setiap dilakukan. Peubah tingkah laku harian kelinci yang diamati mencakup :

1) Tingkah laku makan, yaitu tingkah laku kelinci mencari makan, mengambil, mengunyah dan menelannya.

2) Tingkah laku minum, yaitu tingkah laku kelinci mengambil air dari tempat minum kemudian menelannya.

3) Tingkah laku eliminasi (defekasi dan urinasi), yaitu tingkah laku kelinci dalam membuang kotoran cair maupun padat.

4) Tingkah laku merawat tubuh (Grooming), yaitu tingkah laku kelinci untuk merawat tubuh sendiri seperti : berdiri pada dua kakinya sambil tangan mengusap dan menjilati, menggaruk kepala dan muka dan telinganya, menjilati alat kelaminnya, dan menggigiti tubuhnya.

5) Tingkah laku istirahat, yaitu tingkah laku kelinci berdiam diri tanpa melakukan apapun ; berbaring sepenuhnya, meringkuk.

6) Tingkah laku bergerak (lokomosi), yaitu tingkah laku kelinci berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

7) Tingkah laku stereotypes, yaitu tindakan yang berulang dan tidak memiliki tujuan yang jelas.

Pengamatan dilakukan setiap hari dengan merode ad libitum sampling untuk mengetahui jenis tingkah laku harian (Martin dan Bateson, 1999).

(17)

17 ulangan lima. Pengamatan tingkah laku harian ini dilakukan setelah pemberian pakan selesai, agar tingkah laku kelinci kembali pada kondisi stabil.

(18)

18 HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Penelitian Kondisi Lingkungan

Kelinci dipelihara dalam kandang individu ini ditempatkan dalam kandang besar dengan model atap kandang monitor yang atapnya terbuat dari asbes. Kandang digunakan agar proses pemeliharaan lebih efisien dan memudahkan dalam pemantauan ternak.

Suhu dalam kandang saat penelitian berlangsung berkisar antara 22-32,8°C pagi 22-26°C, siang 30-32,5°C dan sore 24-32,8°C. Kelembaban kandang juga cukup tinggi pada pagi hari namun siang dan sore hari rendah. Rataan suhu kandang pada pagi, siang dan sore hari terdapat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan Suhu dan Kelembaban Udara Dalam Kandang Saat Penelitian

Waktu Suhu (C) Kelembaban (%)

Pagi (06.00) 23,15±0,87 98,31± 2,31

Siang (12.00) 31,34±0,59 81,67±12,35

Sore (16.00) 31,54±1,57 64,19±11,67

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu lingkungan dilokasi penelitian memiliki suhu yang tinggi diatas suhu ideal untuk kelinci. Smith dan Mangkoewidjojo (1988) mengatakan suhu ideal kelinci yaitu 15 - 20C. jika suhu lebih dari 27 - 32C dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas. Suhu kandang yang tinggi ini disebabkan oleh konstruksi kandang yaitu bagian atap kandang besar yang terbuat dari asbes, sehingga sangat mudah menyerap panas pada waktu siang hari dan menyebarkan panas tersebut keseluruh ruangan kandang. Kelinci yang kepanasan biasanya melakukan aktivitas minum untuk mengurangi panas dalam tubuh.

(19)

19 nyaman dan dengan penggunaan lantai kandang yang dimodifikasi. Penggunaan lantai kandang yang berbeda ini juga akan menampilkan tingkah laku yang berbeda pula.

Aktivitas Tingkah Laku Kelinci Lokal Pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda

Kelinci merupakan hewan nocturnal yaitu hewan yang aktif pada malam hari. Pengamatan aktivitas kelinci lokal jantan dilakukan mulai dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00 WIB. Pada saat penelitian kelinci memulai aktivitasnya dengan tingkah laku bergerak yaitu berdiri dari posisi rebahannya kemudian melakukan aktivitas bergerak mengelilingi kandang. Tingkah laku bergerak ini bertujuan memeriksa keadaan sekitar. Setelah itu biasanya kelinci langsung mendekati tempat pakan dan memeriksanya.

Aktivitas lain yang dilakukan saat pagi hari yaitu merawat diri dan eliminasi yaitu proses defekasi dan urinasi. Aktivitas kelinci jantan lokal yang diamati adalah aktivitas makan, minum, eliminasi, merawat diri, lokomosi, stereotypes dan istirahat. Frekuensi tingkah laku harian kelinci selama pengamatan ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Frekuensi Tingkah Laku Harian

Tingkah Laku

Frekuensi Tingkah Laku Pada Lantai Kandang yang Berbeda

Bambu (P1) Sekam (P2) Kawat (P3)

……...Kali/10 menit………

Makan 2,00±0,41 2,18±0,65 1,95±0,59

Minum 1,43±0,60 1,28±0,81 1,16±0,52

Eliminasi 0,75±0,53 0,33±0,62 0,22±0,46

Merawat Diri 1,91±0,95 2,11±0,49 2,07±0,44

Bergerak 2,60±0,68 2,53±0,54 2,51±0,64

Stereotype 0,22±0,54 0,00±0,00 0,13±0,52

Istirahat 1,15±0,26 1,04±0,14 1,16±0,24

Tingkah Laku Makan

(20)

20 pengamatan menunjukkan kelinci menjadi aktif ketika akan diberi pakan saat peneliti membuka pintu kandang dan pakan mulai diletakkan pada tempat pakan. Hal ini dikarenakan kelinci mendapatkan rangsangan dari luar. Tingkah laku makan kelinci diawali dengan mengamati dan mengendus (mencium) pakan lalu mengambil pakan yang dipilih dengan mulutnya. Aktivitas makan ini biasanya diselingi dengan sedikit minum dan diakhiri dengan melakukan aktivitas lain seperti merawat diri dan istirahat. Tingkah laku makan kelinci diperlihatkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Aktivitas Kelinci Makan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi tingkah laku makan kelinci P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 2,00±0,41, 2,18±0,65, dan 1,95±0,59 kali/10 menit dengan rataan 2,04±0,36 kali/10 menit. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa tingkah laku makan kelinci P1, P2, dan P3 tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kelinci melakukan aktivitas makan relatif sama tanpa terganggu dengan jenis lantai kandang bambu, sekam, dan kawat. Hal ini sesuai dengan penelitian Vania (2012) yang mengatakan bahwa konsumsi bahan kering pada kelinci jantan lokal (59,37±4,92) tidak berpengaruh pada penggunaan lantai kandang P1, P2 dan P3 (Tabel 5).

Tingkah Laku Minum

(21)

21 Gambar 4. Tingkah Laku Kelinci Minum

Tabel 5 menunjukkan bahwa frekuensi tingkah laku minum kelinci P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 1,43±0,60, 1,28±0,81, dan 1,16±0,

52

kali/10 menit dengan rataan 1,28±0,36 kali/10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkah laku minum kelinci P1, P2, dan P3 tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Tingkah laku minum merupakan tingkah laku yang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk iklim dan jenis pakan yang diberikan. Pakan kering yang diberikan selama penelitian kepada kelinci mendorong kelinci minum setelah selesai aktivitas makan. Penggunaan ketiga lantai kandang masih dapat digunakan dalam pemeliharaan ternak kelinci.

Tingkah Laku Eliminasi

Menurut Fraser & Broom (2005) perilaku eliminasi atau perilaku membuang kotoran (defekasi) dan urinasi termasuk ke dalam perilaku perawatan tubuh yang berguna untuk membersihkan diri. Kelinci biasanya melakukan aktivitas eliminasi pada satu sudut dalam kandangnya. Tingkah laku eliminasi ini biasanya dilakukan secara terpisah baik defekasi atau urinasi. Ekor kelinci akan sedikit naik ketika melakukan urinasi. Kelinci akan terdiam di sudut yang sama saat melakukan defekasi (Gambar 5).

Gambar 5. Posisi Kelinci Defekasi

(22)

22 saingannya (Cheeke et al., 2000). Kelinci yang digunakan dalam penelitian adalah kelinci jantan sehingga pada saat pengamatan tingkah laku tersebut sering terlihat.

Pada kelinci terdapat dua tipe feses yaitu feses lembek (soft feces) dan feses keras (hard feces). Feses lembek berbentuk pellet yang dibungkus dengan mukosa (Herman, 2000). Feses yang dikeluarkan kelinci pada siang hari biasanya berbentuk pellet yang keras, sehingga kelinci tidak memakannya kembali. Sesuai dengan pernyataan Protsmouth (1977) feses berbentuk pellet yang diproduksi pada siang hari mempunyai kandungan zat makanan yang rendah dan tidak digunakan oleh ternak.

Tabel 5 menunjukkan hasil pengamatan pada kelinci jantan lokal bahwa tingkah laku eliminasi pada P1 (0,75±0,53kali/10 menit), P2 (0,33±0,62kali/10 menit) dan P3 (0,22±0,46 kali/10 menit), namun secara statistik penggunaan jenis lantai kandang tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05). Hasil yang tidak berbeda nyata pada setiap perlakuan kemungkinan karena kebutuhan ternak kelinci untuk melakukan eliminasi tidak terganggu dengan penggunaan lantai kandang yang berbeda-beda.

Tingkah Laku Merawat Diri

Kelinci dikenal sebagai hewan yang bersih karena terlihat dari kebiasaannya yang selalu merawat diri. Tingkah laku merawat diri seperti menjilat, menggesekkan badannya ke dinding kandang, menggaruk atau mengusap sering dikenal dengan istilah grooming. Aktivitas ini biasanya dilakukan saat kelinci setelah selesai makan atau minum (Gambar 6).

Gambar 6. Tingkah Laku Kelinci Grooming

(23)

23 nyata secara statistik (P>0,05). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Siloto (2008) bahwa pada kandang tanpa sekam kelinci melakukan grooming lebih sering dibandingkan pada kandang yang ditambah sekam. Berdasarkan penelitian Siloto (2008) tingkah laku merawat diri pada kandang tanpa sekam merupakan ekspresi stereotypes karena tidak adanya stimuli lingkungan. Hal ini berarti penggunaan ketiga lantai kandang masih dapat digunakan dalam pemeliharaan ternak kelinci karena tidak mengganggu tingkah laku alaminya.

Tingkah Laku Bergerak

Tingkah laku bergerak merupakan tingkah laku yang paling banyak dilakukan oleh kelinci. Aktivitas kelinci dimulai dengan berdiri dari posisi rebahan kemudian melakukan aktivitas lokomosi mengelilingi kandang. Kelinci biasanya bergerak jika adanya gerakan tiba-tiba dari lingkungan. Tingkah laku ini biasanya banyak dilakukan kelinci pada saat kelinci akan diberi pakan ataupun saat kandang akan dibersihkan.

Pada penelitian menunjukkan bahwa tingkah laku bergerak kelinci pada jenis lantai kandang yang berbeda yaitu bambu, sekam, dan kawat tidak berpengaruh nyata terhadap perbedaan lantai kandang (P>0,05). Hal ini dapat disebabkan karena jenis lantai kandang yang digunakan dalam pemeliharaan kelinci masih nyaman untuk melakukan aktivitas harian sehingga kelinci dapat tetap melakukan aktivitas bergerak meskipun dengan jenis lantai kandang berbeda.

Tingkah Laku Stereotypes

Tingkah laku stereotypes adalah tingkah laku yang dilakukan tanpa tujuan yang jelas dan biasanya terjadi pada hewan yang berada dalam kandang dan melakukan rutinitas yang sama terus menerus (Fraser and Broom, 2005). Tingkah laku stereotypes yang muncul saat penelitian berlangsung adalah kelinci menggigit dinding kawat dan kayu kandang. Tingkah laku stereotypes ini biasanya muncul dengan melakukan menggigiti dinding-dinding kawat kandang beberapa kali dan menjilati bagian kayu kandang.

(24)

24 P1, P2, dan P3 tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Hal ini berarti penggunaan ketiga lantai kandang masih dapat digunakan dalam pemeliharaan ternak kelinci karena tidak menimbulkan tingkah laku stereotypes yang berlebihan. Tingkah Laku Istirahat

Tingkah laku istirahat merupakan suatu fase dimana ternak mulai memperhatikan tempat atau mempersiapkan tempat yang nyaman untuk istirahat. Kelinci beristirahat dalam keadaan berbaring dengan kedua kaki depan terjulur kedepan, berbaring dengan menopang kepala diatas kedua tangan depan yang sedikit ditekuk (Gambar 7) atau diam ditempat beberapa saat.

Istirahat terbagi menjadi dua tipe yaitu istirahat total dan istirahat sementara. Istirahat total artinya kelinci merebahkan tubuh pada posisi miring, diam tak bergerak dan tidur (kondisi mata tertutup), sedangkan istirahat sementara adalah keadaan atau posisi badan yang tidak bergerak yang dilakukan di antara aktivitas hariannya. Aktivitas istirahat sementara dilakukan kelinci dalam waktu yang singkat dibandingkan dengan aktivitas istirahat total. Istirahat yang dilakukan kelinci adalah dengan cara merebahkan badan di atas lantai kandang.

Gambar 7. Tingkah Laku Istirahat

(25)

25 Aktivitas Tingkah Laku Kelinci Lokal Pada Waktu yang Berbeda

dan Jenis Kandang yang Sama

Tingkah Laku Harian Pada Lantai Kandang Bambu

Tingkah laku harian kelinci merupakan tingkah laku yang biasa dilakukan kelinci sehari-harinya mulai dari pagi sampai malam hari. Rataan frekuensi dari tingkah laku harian pada lantai kandang bambu dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan Tingkah Laku Harian Kelinci Jantan Lokal Pada Lantai Kandang Bambu

Makan 2,32±0,43 1,83±0,30 1,83±0,33 2,00±0,41 Minum 1,22±0,91b 1,83±0,30a 1,25±0,24b 1,43±0,60 Eliminasi 0,75±0,71 0,83±0,47 0,68±0,51 0,75±0,53 Merawat Diri 2,44±1,15 1,35±0,86 1,94±0,61 1,91±0,95 Bergerak 3,03±1,01a 2,19±0,23b 2,58±0,31ab 2,60±0,68 Stereotype 0,00±0 0,4±0,89 0,27±0,37 0,22±0,54 Istirahat 1,23±0,42 1,11±0,19 1,11±0,14 1,15±0,26 Keterangan : Superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

Pada Tabel 6, terlihat kelinci memiliki nilai rataan tingkah laku makan sebesar 2,00±0,41 kali/10 menit dalam satu hari. Aktivitas makan kelinci diberikan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari dengan puncak (2,32±0,43 kali/ 10 menit) pada pagi hari. Hal ini disebabkan pemberian pakan diberikan pada waktu ini dan kelinci dalam keadaan lapar selama semalam sehinga pada pagi hari kelinci langsung makan pakan yang diberikan. Aktivitas makan meningkat kembali pada sore hari. Sedangkan frekuensi tingkah laku makan yang terendah pada waktu siang hari yaitu 1,83±0,30 kali/ 10 menit. Rendahnya frekuensi tingkah laku makan pada siang hari diduga karena pada waktu siang hari kelinci lebih biasanya melakukan aktivitas istirahat. Meskipun begitu hasil penelitian tingkah laku makan pada waktu yang berbeda menunjukkan tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05).

(26)

26 siang hari lebih tinggi yaitu 1,83±0,30 kali/ 10 menit (Tabel 6) karena suhu pada waktu siang hari sangat tinggi, sehingga untuk menurunkan panas tubuhnya kelinci melakukan aktivitas minum. Kelinci akan mulai melakukan aktivitas minum saat suhu lingkungan disekitarnya mulai naik. Sesuai dengan pernyataan Blakely dan Bade (1991) bahwa konsumsi air minum juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena air berfungsi sebagai thermoregulator. Pakan yang diberikan berupa pellet juga dapat menjadikan kelinci lebih banyak melakukan aktivitas minum.

Tingkah laku eliminasi banyak dilakukan kelinci pada siang hari yaitu 0,83±0,47 kali/ 10 menit. Hal ini diduga karena hasil metabolisme konsumsi pakan pada hari sebelumnya yang tidak dicerna dan tidak digunakan lagi oleh tubuh dikeluarkan pada esok harinya. Aktivitas ini sering dilakukan pada pagi hari menjelang matahari terbit, walaupun terkadang dilakukan pada siang hari. Hasil penelitian tingkah laku eliminasi pada waktu yang berbeda menunjukkan tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Kelinci melakukan tingkah laku defekasi biasanya dilakukan bersamaan dengan urinasi, namun tidak selalu demikian.

Hasil penelitian tingkah laku merawat diri pada waktu yang berbeda menunjukkan tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Kelinci pada lantai kandang bambu ini banyak melakukan aktivitas merawat diri pada pagi dan sore hari (Tabel 6) dengan rata-rata perhari 1,91±0,95 kali/ 10 menit. Aktivitas ini biasanya dilakukan ketika kelinci sedangistirahat (diam dan merebahkan tubuh). Aktivitas merawat diri dilakukan pada pagi hari disela-sela aktivitas makan. Siang hari aktivitas grooming menurun karena biasanya kelinci istirahat pada waktu ini. Selain itu suhu kandang yang cukup tinggi yaitu 31,34C sehingga kelinci mengurangi aktivitas merawat diri.

(27)

27 mempunyairangsangan rasa lapar dan keinginan untuk mendapatkan makanan tersebut.

Rataan tingkah laku stereotypes harian kelinci yaitu 0,26±0,36 kali/ 10 menit (Tabel 6). Hasil penelitian tingkah laku stereotypes pada waktu yang berbeda menunjukkan tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Tingkah laku stereotypes yang muncul pada lantai kandang bambu ini biasanya kelinci menggigiti kawat dinding kandang. Hal ini terjadi karena kelinci merupakan hewan pengerat sehingga senang menggigiti kawat tersebut.

Rataan tingkah laku istirahat harian kelinci yaitu 1,15±0,26 kali/ 10 menit (Tabel 6). Hasil penelitian tingkah laku istirahat pada waktu yang berbeda menunjukkan tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kelinci melakukan semua tingkah laku secara normal berada pada lantai kandang bambu.

Tingkah Laku Harian Pada Lantai Kandang Sekam

Rataan tingkah laku harian kelinci pada lantai kandang sekam dapat dilihat pada Tabel 7.

Berdasarkan Tabel 7, hasil penelitian menunjukkan rataan tingkah laku makan kelinci pada waktu yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Hal ini berarti kelinci dapat tetap melakukan aktivitas makan secara normal. Kelinci pada lantai sekam melakukan aktivits minum lebih tinggi pada waktu sore hari yaitu 1,27±0,19 kali/ 10 menit. Hal ini disebabkan karena kelinci memerlukan air untuk menstabilkan suhu rektal agar tetap berada pada daerah termonetral. Aktivitas eliminasi yang dilakukan kelinci pada lantai sekam rataan per harinya 0,22±0,46 kali/ 10 menit. Perbedaan waktu pengamatan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkah laku minum dan eliminasi kelinci.

(28)

28 Tabel 7. Rataan Tingkah Laku Harian Kelinci Jantan Lokal Pada Lantai Kandang

Sekam

Makan 2,58±0,72 1,75±0,47 2,21±0,57 2,18±0,65

Minum 0,75±0,70 1,77±0,46 1,32±0,97 1,28±0,81

Eliminasi 0,20±0,45 0,40±0,55 0,40±0,89 0,33±0,62

Merawat Diri 2,28±0,49 1,80±0,63 2,24±0,21 2,11±0,49

Bergerak 2,78±0,71 2,08±0,29 2,73±0,25 2,53±0,54

Stereotype 0,00±0 0,00±0,00 0,00±0,00 0,00±0,00

Istirahat 1,00±0,00 1,11±0,24 1,00±0,00 1,04±0,14

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan waktu tidak mempengaruhi aktivitas grooming pada jenis lantai sekam (P>0,05). Aktivitas grooming paling tinggi dilakukan kelinci pada waktu pagi hari yaitu 2,28±0,49 kali/ 10 menit dengan rataan grooming per hari 2,07±0,44 kali/ 10 menit.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan waktu tidak mempengaruhi aktivitas bergerak (P>0,05) pada jenis lantai kandang sekam. Rataan tingkah laku bergerak yaitu 2,51±0,64 kali/ 10 menit. Aktivitas bergerak paling rendah dilakukan kelinci pada waktu siang hari yaitu 2,03±0,33 kali/ 10 menit.

Berdasarkan Tabel 7 rataan tingkah laku stereotypes pada kelinci yaitu 0,13±0,52 kali/ 10 menit. Kelinci biasanya melakukan menggigiti kawat dinding dan tempat pakan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa waktu pengamatan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkah laku stereotypes.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa waktu tidak mempengaruhi aktivitas istirahat (P>0,05) pada jenis lantai kandang sekam. Rataan tingkah laku istirahat yaitu 1,16±0,24 kali/ 10 menit.

Tingkah Laku Harian Pada Lantai Kandang Kawat

(29)

29 Tabel 8. Tingkah Laku Harian Kelinci Jantan Lokal Pada Lantai Kandang Kawat

Tingkah Laku

Waktu

Rataan Pagi Siang Sore …..……...Kali/10 menit………

Makan 2,27±0,57 1,59±0,61 2,01±0,47 1,95±0,59

Minum 1,12±0,70 1,08±0,62 1,27±0,19 1,16±0,52

Eliminasi 0,20±0,45 0,20±0,45 0,26±0,57 0,22±0,46 Merawat Diri 2,28±0,49 1,84±0,36 2,10±0,46 2,07±0,44

Bergerak 2,78±0,71 2,03±0,33 2,71±0,62 2,51±0,64 Stereotypes 0,00±0,00 0,00±0,00 0,40±0,89 0,13±0,52 Istirahat 1,00±0,00b 1,41±0,24a 1,06±0,14ab 1,16±0,24

Keterangan : superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

Berdasarkan Tabel 8 tingkah laku makan pada waktu pagi, siang dan sore hari ternyata tidak berbeda nyata (P>0,05). Kelinci melakukan tingkah laku makan pada pagi hari cukup tinggi (2,27±0,57 kali/ 10 menit) untuk memperoleh sumber energi agar dapat melakukan aktivitas di sepanjang hari tersebut. Tingkah laku makan pada sore hari dilakukan untuk menjaga energi yang akan digunakan beraktivitas pada malam hari. Kelinci yang merupakan hewan nokturnal juga membutuhkan energi untuk aktivitasnya dimalam hari. Cheeke et al. (2000) menyatakan kelinci akan makan lebih banyak saat suhu rendah dibandingkan saat suhu tinggi, hal ini untuk membiarkan kelinci menghasilkan panas yang mereka butuhkan dari konsumsi pakan yang lebih tinggi.

Selama penelitian tingkah laku minum kelinci biasanya dilakukan sesaat setelah makan selesai atau ketika sedang makan. Suhu lingkungan juga mempengaruhi dalam aktivitas minum kelinci. Berdasarkan Tabel 8, rataan aktivitas minum harian kelinci dengan nilai 1,16±0,52 kali/ 10 menit. Meskipun begitu hasil analisis statistik menunjukkan bahwa waktu pengamatan tidak berbeda (P>0,05) terhadap perilaku minum.

(30)

30 umumnya cukup padat dan berbentuk bulat. Adakalanya bentuk feses kelinci terlihat tidak normal yaitu berbentuk cair dan lembek. Hal ini diduga pencernaan kelinci sedang terganggu. Rataan tingkah laku eliminasi pada P3 adalah 0,22±0,46 kali/ 10 menit. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan waktu tidak mempengaruhi aktivitas eliminasi (P>0,05) pada jenis lantai kandang kawat.

Tingkah laku grooming adalah perilaku merawat diri atau bersolek dan membersihkan diri. Perawatan tubuh ataubersolek digolongkan menjadi beberapa aktivitas, yaitudefekasidanurinasi, berlindung dariangin,bernaungdari sinar matahari, mandi danmembasahitubuh. Berdasarkan Tabel 8, rataan tingkah laku merawat diri kelinci paling tinggi pada waktu pagi hari yaitu 2,28±0,49 kali/ 10 menit. Hal ini karena pagi hari suhu lingkungan masih rendah dan saat ini biasanya kelinci diberi pakan. Meskipun begitu waktu pengamatan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkah laku grooming pada jenis lantai kandang kawat.

Sebelum kelinci melakukan aktivitas yang lainnya pada pagi hari terutama yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup pokok seperti aktivitas makan, biasanya kelinci memulai dengan melakukan aktivitas bergerak. Tingkah laku bergerak pada waktu pagi, siang dan sore hari ternyata tidak berbeda nyata (P>0,05). Jenis lantai kandang yang terbuat dari kawat ini dengan lantai yang sedikit berlubang-lubang dan tidak datar menjadikan kelinci lebih banyak bergerak untuk mengurangi rasa sakit karena lantai kandang kawat tersebut dengan rataan tingkah laku bergerak harian adalah 2,51±0,64 kali/ 10 menit. Aktivitas bergerak ini selain dilakukan untuk mendapat kenyamanan dan juga agar dapat memperoleh sesuatu yang diinginkan seperti bergerak untuk minum, makan, bereliminasi dan merawat diri.

(31)

31 sensitif yang terletak dibawah dagunya. Fungsi kelenjar ini adalah untuk menandai area yang menjadi kekuasaan wilayahnya.

Pada jenis lantai kandang kawat setelah diuji lanjut tingkah laku istirahat siang hari (1,41±0,24 kali/ 10 menit) sangat nyata (P<0,05) lebih tinggi dari pagi hari, dan sore hari tidak berbeda dengan waktu siang dan pagi hari. Hal ini karena kelinci merupakan hewan nokturnal sehingga seluruh aktivitas pada siang hari dilakukan untuk istirahat. Istirahat juga digunakan kelinci untuk mencerna makanan yang telah dikonsumsi.

Pola Makan Kelinci Lokal Pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda Pola makan kelinci yang diamati meliputi mengamati, mencium, menggigit, mengunyah dan menelan. Frekuensi rataan pola makan kelinci dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Frekuensi Pola Makan Kelinci Pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda

Pola Makan

Frekuensi Pola Makan Pada Lantai Kandang yang Berbeda Bambu (P1) Sekam (P2) Kawat (P3)

………Kali/5 menit………. Mengamati 1,56 ± 0,20 10,97 ± 21,27 1,29 ± 0,34 Mencium 1,41 ± 0,09 1,46 ± 0,20 1,36 ± 0,09 Menggigit 7,55± 1,69 6,83± 0,77 7,06± 1,32 Mengunyah 178,01 ±53,47 154,19 ±38,69 168,79 ±25,88 Menelan 7,44 ± 1,72 6,71 ± 0,96 7,06 ± 1,32

Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap pola makan (P>0,05). Hal ini menunjukkan semua jenis lantai kandang yang digunakan dalam penelitian layak digunakan dalam pemeliharaan kelinci karena tidak mengganggu atau tidak merusak pola makan pada kelinci.

(32)

32 Biasanya kelinci paling banyak menggigit dua atau tiga butir pellet yang kemudian akan dikunyah (dimakan) dan ditelan.

Pola makan kelinci yang paling tinggi adalah memakan, karena saat memakan kelinci akan lebih banyak menggerakkan mulut untuk mengunyah makanan tersebut. Menggigit dan menelan pada kelinci relativ sama karena jumlah pakan yang digigit oleh kelinci akan sama dengan pakan saat ditelan. Scrabbling atau mengais pakan pada saat pengamatan tidak muncul. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa pellet yang diberikan telah cukup baik untuk memenuhi nutrisi kelinci.

Pola Makan Kelinci Lokal Pada Waktu yang Berbeda dan Jenis Kandang yang Sama

Pola makan kelinci pada kelinci lokal dimulai dari mengamati, mencium, menggigit, mengunyah, dan menelan pakan. Rataan frekuensi pola makan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Rataan Frekuensi Pola Makan Pada Waktu yang Berbeda Pada Lantai Bambu

Mengunyah 180,48 ±60,01 175,54± 53,05

Menelan 7,50 ± 1,73 7,39 ± 1,82

Tabel 10. Menunjukkan rataan frekuensi pada lantai kandang bambu dengan waktu yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pola makan kelinci artinya pola makan kelinci tidak terganggu oleh waktu yang berbeda. kelinci masih dapat melakukan pola makan dengan secara normal tanpa mengurangi kemampuannya mengkonsumsi pakan.

(33)

33 malam hari sehingga pada pagi hari kelinci yang mempersiapkan asupan energi untuk dapat melakukan kembali aktivitas disepanjang hari.

Tabel 11. Rataan Frekuensi Pola Makan Pada Waktu yang Berbeda Pada Lantai Sekam

Mengunyah 151,14 ±34,69 157,24± 43,32

Menelan 6,39 ± 0,93 7,03 ± 1,09

Keterangan : superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

Tabel 12. Rataan Frekuensi Pola Makan Pada Waktu yang Berbeda Pada Lantai Kawat

Mengunyah 162,78 ±30,35 174,79± 21,67

Menelan 6,72 ± 1,23 7,40 ± 1,94

Keterangan : superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

(34)

34 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penggunaan lantai kandang yang berbeda baik bambu, sekam maupun kawat tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap tingkah laku makan, minum, eliminasi, merawat diri, bergerak, dan stereotypes kelinci. Kelinci yang dipelihara pada lantai kandang bambu memperlihatkan aktifitas tingkah laku minum pada siang yang nyata lebih tinggi (P<0,05) dan tingkah laku bergerak pada pagi hari yang lebih tinggi dibanding siang dan sore hari. Pada lantai kawat, tingkah laku istirahat pada siang hari nyata lebih tinggi dibandingkan pagi atau sore hari (P<0,05). Jenis lantai kandang yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap pola makan kelinci yaitu proses mengamati, mencium, mengigit, mengunyah kemudian menelannya. Pola makan kelinci pada waktu yang berbeda di lantai kandang bambu menunjukkan pengaruh tidak nyata. Pada lantai kandang sekam pola makan mencium dan menggigit pada pagi hari berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan sore hari. Pola makan menelan pada lantai kandang kawat juga menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) lebih tinggi pada sore hari dibandingkan pagi hari.

Berdasarkan hasil tersebut ketiga jenis lantai kandang lantai bambu sekam dan kawat dapat digunakan dalam pemeliharaan kelinci. Lantai kandang yang dapat direkomendasikan untuk digunakan dalam pemeliharaan kelinci dapat berupa bambu, sekam maupun kawat. Hal tersebut dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan yang ada pada lokasi peternakan.

Saran

(35)

TINGKAH LAKU HARIAN DAN POLA MAKAN KELINCI

LOKAL PADA JENIS LANTAI KANDANG

YANG BERBEDA

SKRIPSI

MERLYN PRIWAHYUNINGSIH

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

(36)

TINGKAH LAKU HARIAN DAN POLA MAKAN KELINCI

LOKAL PADA JENIS LANTAI KANDANG

YANG BERBEDA

SKRIPSI

MERLYN PRIWAHYUNINGSIH

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

(37)

i

TINGKAH LAKU HARIAN DAN POLA MAKAN KELINCI

LOKAL PADA JENIS LANTAI KANDANG

YANG BERBEDA

MERLYN PRIWAHYUNINGSIH D14096007

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Insitut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

(38)

ii RINGKASAN

Merlyn Priwahyuningsih. D14096007. 2012. Tingkah Laku Harian dan Pola Makan Kelinci Lokal pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda. Skripsi. Mayor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Dr. Ir. Moh Yamin, M. Agr. Sc Pembimbing Anggota : M. Baihaqi, S.Pt. M. Sc.

Kelinci merupakan ternak pedaging yang dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Pada umumnya kelinci dipelihara secara intensif didalam kandang, sehingga kenyamanan di dalam kandang perlu diperhatikan. Salah satu faktor penentu kenyamanan tersebut adalah jenis lantai kandang yang digunakan yaitu dapat berupa bambu, kawat besi, kayu dan kombinasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkah laku harian (makan, minum, eliminasi, merawat diri, bergerak, stereotypes, dan istirahat) dan pola makan kelinci (mengamati, mencium, menggigit, mengunyah, dan menelan) yang dipelihara pada lantai kandang bambu, sekam dan kawat.

Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Agustus sampai dengan September 2011. Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah kelinci jantan lokal sebanyak 15 ekor berumur 4 bulan. Bobot hidup rata-rata adalah 824±74,43 g (KK= 9,03%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga jenis kandang sebagai perlakuan dan lima ulangan. Kandang yang digunakan adalah kandang individu dan terbuat dari kayu dengan jenis lantai yang berbeda (bambu, sekam, dan kawat). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis statistik non-parametrik Kruskal-Wallis.

Suhu dalam kandang saat penelitian berlangsung berkisar antara 22-32,8°C, pagi 22-26°C, siang 30-32,5°C dan sore 24-32,8°C. Pada seluruh perlakuan jenis lantai kandang yang diberikan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadah tingkah laku harian kelinci. Kelinci yang dipelihara pada lantai kandang bambu memperlihatkan aktivitas tingkah laku minum pada siang yang nyata lebih tinggi daripada pagi atau sore hari (P<0,05) dan tingkah laku bergerak pada pagi hari yang lebih tinggi dibanding siang dan sore hari. Pada lantai kawat, tingkah laku istirahat pada siang hari nyata lebih tinggi dibandingkan pagi atau sore hari (P<0,05). Jenis lantai kandang yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap pola makan kelinci yaitu proses mengamati, mencium, mengigit, mengunyah kemudian menelannya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan jenis lantai kandang bambu, sekam dan kawat ini dapat digunakan untuk pemeliharaan kelinci lokal dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan bahan lantai kandang tersebut.

(39)

iii ABSTRACT

Daily and Ingestive Behaviour of Local Rabbit in Different Cage Floor

Merlyn. P, M. Yamin and M. Baihaqi

The aim of this study was to analyze daily and ingestive behaviour of male local rabbit in different cage floor. Total rabbits used in this study were 15 heads (average body weight was 824±74,43 g) that were allocated into 3 treatments (bamboo, husk mats and wire cagefloor). The data of daily behaviours including ingestive (eating and drinking), locomotion, elimination, grooming, stereotype and resting behaviors were collected during 57 days. The data were analyzed with non parametric Kruskal-Wallis analysis. The results showed that effect of different cage floors was not significantly different on the rabbit daily behaviours. The observations also showed that rabbit that were kept in bamboo cage floor showed that drinking behaviours was significantly higher around noon than in the morning or late afternoon and the behaviours of locomotions in the morning was higher than around noon and late afternoon. In wire cage floor, resting behaviour during the day was significantly higher than in the morning or late afternoon. However, between the three cage types were similar the eating patterns behaviours observed, smelling, biting, chewing and swallowing. It can be concluded that the use of bamboo cage floor types, husks and wire can be used for raising local rabbits by considering the availability of the cage floor materials.

(40)

iv Judul : Tingkah Laku Harian dan Pola Makan Kelinci Lokal Pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda

Nama : Merlyn Priwahyuningsih NRP : D14096007

Menyetujui,

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

(Dr. Ir. Moh Yamin, M. Agr. Sc.) (Muhamad Baihaqi, S.Pt. M. Sc.) NIP: 19630928 198803 1 002 NIP: 19800129 200501 1 005

Mengetahui :

Ketua Departemen,

Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr. Sc) NIP : 19591212 198603 1 004

(41)

v RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bojong Gede, Bogor pada tanggal 9 April 1988. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Sukirman Alamsyah dan Ibu Srimaya.

(42)

vi KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dan bertempat di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil (Kompleks kandang B), Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai pada Agustus sampai September 2011.

Penelitian yang berjudul Tingkah Laku Harian dan Pola Makan Kelinci Lokal pada Jenis Lantai Kandang yang Berbeda ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari tingkah laku harian dan pola makan kelinci lokal yang dipelihara dengan jenis lantai kandang yang berbeda yaitu lantai kandang bambu, sekam dan kawat.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian ini serta kepada semua pihak yang membantu dalam proses penulisan skripsi ini. Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan belum bisa dikatakan sempurna. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya dunia peternakan.

Bogor, Oktober 2012

(43)
(44)

viii Aktivitas Tingkah Laku Kelinci Jantan Pada Jenis

Lantai Kandang yang Berbeda ... 19  Aktivitas Tingkah Laku Kelinci Lokal Pada Waktu

yang Berbeda dan Jenis Lantai Kandang yang Sama ... 25  Tingkah Laku Harian Pada Lantai Kandang

Bambu ... 225   Tingkah Laku Harian Pada Lantai Kandang

Sekam ... 27  Tingkah Laku Harian Pada Lantai Kandang

Kawat ... 28 Pola Makan Kelinci Pada Jenis Lantai

Kandang yang Berbeda ... 31 Pola Makan Kelinci Pada Waktu yang Berbeda

(45)

ix DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Kebutuhan Zat Gizi Pakan Kelinci ... 11  2. Kebutuhan Bahan Kering Pakan Periode Pemeliharaan ... 11  3. Komposisi Zat Makanan Ransum Pellet Komersial ... 13  4. Rataan Suhu dan Kelembaban Udara Dalam Kandang

Saat Penelitian ... 18  5. Frekuensi Tingkah Laku Harian ... 19  6. Rataan Tingkah Laku Harian Kelinci Jantan Lokal Pada

Lantai Kandang Bambu ... 25  7. Rataan Tingkah Laku Harian Kelinci Jantan Lokal Pada

Lantai Kandang Sekam ... 28  8. Tingkah Laku Harian Kelinci Jantan Lokal Pada Lantai

Kandang Kawat ... 29  9. Rataan Frekuensi Pola Makan Kelinci Pada Jenis Lantai

Kandang yang Berbeda ... 31  10. Rataan Frekuensi Pola Makan Pada Waktu yang

Berbeda Pada Lantai Bambu ... 31  11. Rataan Frekuensi Pola Makan Pada Waktu yang

Berbeda Pada Lantai Sekam ... 31  12. Rataan Frekuensi Pola Makan Pada Waktu yang

(46)

x DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Saluran Pencernaan Kelinci ... 4  2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu;

(47)

xi DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman 1. Hasil Analisis Tingkah Laku Makan Harian ... 39  2. Hasil Analisis Tingkah Laku Makan Pada Lantai Kandang

Bambu ... 39  3. Hasil Analisis Tingkah Laku Makan Pada Lantai Kandang

Sekam ... 39  4. Hasil Analisis Tingkah Laku Makan Pada Lantai Kandang

Kawat ... 40  5. Hasil Analisis Tingkah Laku Minum Harian ... 40  6. Hasil Analisis Tingkah Laku Minum Pada Lantai Kandang

Bambu ... 40  7. Hasil Analisis Tingkah Laku Minum Pada Lantai Kandang

Sekam ... 41  8. Hasil Analisis Tingkah Laku Minum Pada Lantai Kandang

Kawat ... 41  9. Hasil Analisis Tingkah Laku Eliminasi Harian ... 41  10. Hasil Analisis Tingkah Laku Eliminasi Pada Lantai

Kandang Bambu ... 42  11. Hasil Analisis Tingkah Laku Eliminasi Pada Lantai

Kandang Sekam ... 42  12. Hasil Analisis Tingkah Laku Eliminasi Pada Lantai

Kandang Kawat ... 42  13. Hasil Analisis Tingkah Laku Merawat Diri Harian ... 43  14. Hasil Analisis Tingkah Laku Merawat Diri Pada Lantai

Kandang Bambu ... 43  15. Hasil Analisis Tingkah Laku Merawat Diri Pada Lantai

Kandang Sekam ... 43  16. Hasil Analisis Tingkah Laku Merawat Diri Pada Lantai

Kandang Kawat ... 44  17. Hasil Analisis Tingkah Laku Bergerak Harian ... 44  18. Hasil Analisis Tingkah Laku Bergerak Pada Lantai

Kandang Bambu ... 44  19. Hasil Analisis Tingkah Laku Bergerak Pada Lantai

Kandang Sekam ... 45  20. Hasil Analisis Tingkah Laku Bergerak Pada Lantai

(48)

xii Nomor Halaman

21. Tingkah Laku Stereotypes Harian Pada Lantai Kandang

yang Berbeda ... 45  22. Tingkah Laku Stereotypes Pada Lantai Kandang Bambu ... 46  23. Tingkah Laku Stereotypes Pada Lantai Kandang Kawat ... 46  24. Tingkah Laku Istirahat Harian Pada Lantai Kandang yang

Berbeda ... 46  25. Tingkah Laku Istirahat Pada Lantai Kandang Bambu ... 47  26. Tingkah Laku Istirahat Pada Lantai Kandang Sekam ... 47  27. Tingkah Laku Istirahat Pada Lantai Kandang Kawat ... 47  28. Gambar Dokumentasi Selama Penelitian a) Lantai

Kandang Bambu, b) Lantai Kandang Sekam, c) Lantai Kanang Kawat, d) Kelinci Grooming¸e) Letak Kandang

(49)

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kelinci merupakan ternak pedaging yang dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat. Kelinci dikenal sebagai ternak yang dapat memanfaatkan hijauan secara efisien. Daging kelinci yang dikenal memiliki kadar protein tinggi dengan kandungan lemak dan kolesterol yang rendah dibandingkan ternak lain mulai banyak diminati oleh konsumen. Selain daging, kelinci juga dapat menghasilkan kulit dan bulu yang dapat diolah menjadi berbagai jenis kerajinan. Beternak kelinci memiliki beberapa keunggulan seperti pertumbuhan kelinci yang pesat dan tingkat reproduksi yang tinggi, modal cepat berputar, selain itu pemeliharaanya lebih mudah jika dibandingkan ternak lainnya.

Pada umumnya kelinci dipelihara secara intensif didalam kandang, sehingga kenyamanan didalam kandang perlu diperhatikan. Salah satu faktor penentu kenyamanan tersebut adalah jenis lantai kandang yang digunakan yaitu dapat berupa bambu, kawat besi, kayu atau kombinasinya. Kenyamanan ternak akibat penerapan teknologi produksi ternak perlu terjamin sejalan dengan usaha peningkatan produksi ternak. Kenyamanan tersebut mencerminkan kesejahteraan ternak yang juga harus diperhatikan.

(50)

2 Tujuan

(51)

3 TINJAUAN PUSTAKA

Kelinci

Kelinci domestik (Orytologus cuniculus) yang ada saat ini berasal dari kelinci liar di Eropa dan Afrika Utara. Mulanya kelinci diklasifikasikan dalam ordo rodensia (binatang mengerat) yang bergigi seri empat, tetapi akhirnya dimasukkan dalam ordo logomorpha karena bergigi seri enam (Cheeke et al., 1987). Kelinci termasuk hewan herbivora non-ruminan yang memiliki sistem pencernaan monogastrik dengan perkembangan sekum seperti rumen ruminansia, sehingga kelinci disebut pseudo-ruminansia (Cheeke et al., 1982). Menurut Cheeke (1981), kelinci adalah ternak yang dapat memanfaatkan hijauan secara efisien, sedikit menggunakan makanan konsentrat dan tidak bersaing dengan makanan manusia. Kelinci (Oryctolagus cuniculus) memiliki beberapa ciri khas seperti ukuran tubuh kecil, jarak beranak pendek, potensi reproduksi tinggi, laju pertumbuhan cepat dan sifat genetik relatif beragam (Cheeke et al., 1987).

Kelinci dikelompokkan berdasarkan tujuan pemeliharaannya, yaitu untuk menghasilkan daging, kulit-rambut (fur) atau sebagai kelinci hias, ada juga yang bertujuan ganda. Kelinci dengan berbagai ragamnya menghasilkan lima jenis produk yang dapat dimanfaatkan, yaitu daging (food), kulit-rambut (fur), kelinci hias (fancy), pupuk (fertilyzer) dan hewan percobaan (laboratoty animal) (Raharjo, 2005). Kelinci dapat menggunakan protein hijauan secara efisien, reproduksi tinggi, efisiensi pakan tinggi, hanya membutuhkan makanan dalam jumlah sedikit dan kualitas dagingnya cukup tinggi (Farrel dan Raharjo, 1984).

Kelinci sangat peka terhadap suhu lingkungan tinggi, terutama kalau kelembaban udara juga tinggi. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) suhu ideal bagi kelinci adalah 15 sampai 20° C. Jika suhu lebih dari 27 sampai 32° C dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas.

(52)

4 Anatomi

Sistem pencernaan kelinci menurut Cheeke et al. (2000) bahwa alat pencernaan kelinci dibagi dua bagian yaitu perut depan (foregut) terdiri dari lambung, pankreas dan usus kecil (duodenum, jejunum, ileum) dan perut belakang (hindgut) yang terdiri dari sekum, appendix dan kolon (Gambar 1).

Gambar 1. Saluran Pencernaan Kelinci Sumber : Nheyla (2010)

Pertumbuhan bakteri pada pencernaan kelinci terdapat pada kolon yang memiliki fungsi yang sama dengan rumen pada sapi yaitu sebagai tempat terjadinya proses pencernaan makanan (Cheeke et al., 2000). Kelinci merupakan hewan herbivora non ruminansia yang mempunyai sistem lambung sederhana (tunggal) dengan pembesaran dibagian sekum dan kolon (hindgut) seperti alat pencernaan pada kuda dan babi (Cheeke et al., 2000). Proporsi sekum pada saluran pencernaan kelinci yaitu 40% dari total saluran pencernaannya (Irlbeck, 2001).

Kelinci mempunyai kebiasaan yang tidak dilakukan pada ternak ruminansia yaitu kebiasaannya memakan feses yang sudah dikeluarkan yang disebut dengan coprophagy (Blakely dan Bade, 1991). Sifat coprophagy biasanya terjadi pada malam atau pagi hari berikutnya. Sifat tersebut memungkinkan kelinci memanfaatkan secara penuh pencernaan bakteri disaluran bagian bawah, yaitu mengkonversi protein asal hijauan menjadi protein bakteri yang berkualitas tinggi,

Perut

Usus halus

Sekum

Anus Kolon

Rektum Pankreas

(53)

5 mensintesis vitamin B dan memecahkan selulose atau serat menjadi energi yang berguna (Blakely dan Bade, 1991).

Kelinci dapat memfermentasikan pakan yang berupa serta kasar di usus belakangnya. Fermentasi umumnya terjadi di caecum yang kurang lebih merupakan 50% dari seluruh kapasitas saluran pencernaan (Postsmouth, 1977). Umur tiga minggu biasanya kelinci mulai makan kembali kotoran lunaknya langsung dari anus (caecotrophy) tanpa pengunyahan. Kotoran ini terdiri atas konsentrat bakteri yang dibungkus oleh mukus (Hornicke, 1977).

Reproduksi

Masa birahi induk akan mulai kelihatan jelas bila sudah mencapai umur 7 bulan. Untuk jenis kelinci tipe berat dengan ciri-ciri bila diusap-usap bagian punggung dia akan mengangkat bagian pantat lebih tinggi atau menungging (Widodo, 2005). Proses ovulasi kelinci terjadi sesudah dilakukan induksi dengan rangsangan dari luar. Rangsangan ini dapat berupa penggunaan pejantan dengan atau tanpa vasektomi, rangsangan listrik dan mekanis dan penggunaan hormon perangsang ovulasi (Cheeke et al., 1987).

Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), siklus estrus (birahi) kelinci berkisar selama 15-20 hari. Herman (1989) menyatakan kelinci mencapai dewasa kelamin pada umur 4-8 bulan, tergantung pada bangsa, makanan dan kesehatan. Kelinci tipe ringan mencapai dewasa kelamin pada umur empat bulan, tipe medium 5-6 bulan dan tipe berat umur 7-8 bulan.

Raharjo (2005) menambahkan umur kawin yang baik pada kelinci adalah 6 bulan bagi betina dan 7 bulan bagi jantan. Kelinci induk dapat dikawinkan kembali 3-4 minggu setelah melahirkan. Pemeliharaan yang baik pada induk menyebabkan induk dapat dikawinkan 2 minggu setelah melahirkan. Lama bunting dihitung sejak betina kawin sampai beranak. Lamanya berkisar antara 31-32 hari, tetapi kemungkinan paling singkat 29 hari atau paling lama 35 hari (Cheeke et al., 1987).

Tingkah Laku

(54)

6 bagaimana responnya terhadap lingkungan. Selama interaksi tersebut ternak akan menimbulkan respon berupa tingkah laku terhadap lingkungan yang dihadapinya (Gonyou, 1991).

Tingkah laku khusus hewan merupakan bawaan sejak lahir atau sebagai refleksi karakteristik spesies tersebut, yang tidak berubah oleh proses belajar. Tingkah laku ini tidak akan pernah banyak berubah oleh domestikasi, sedangkan tingka laku lainnya dapat berubah oleh proses belajar (Tomaszewska, 1991).

Fungsi utama tingkah laku adalah untuk menyesuaikan diri terhadap beberapa perubahan keadaan, baik dari luar maupun dari dalam. Tingkah laku makan disebabkan oleh adanya rangsangan dari luar (makanan) dan rangsangan dari dalam (adanya kebutuhan atau lapar). Tingkah laku ini berkembang sesuai dengan perkembangan dari proses belajar (Alikodra, 1990).

Menurut Mukhtar (1986), aktivitas tingkah laku dapat dikelompokkan ke dalam sembilan sistem tingkah laku, yaitu (1) tingkah laku makan dan minum (ingestif); (2) tingkah laku mencari perlindungan (shelter seeking) yaitu kecenderungan mencari kondisi lingkungan yang optimum dan menghindari bahaya; (3) tingkah laku agonistik yaitu persaingan antara dua hewan yang sejenis, biasanya terjadi selama musim kawin; (4) tingkah laku seksual (courtship), kopulasi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan hewan jantan dan betina satu jenis; (5) tingkah laku epimelitic atau care giving yaitu pemeliharaan terhadap anak (maternal behavior); (6) tingkah laku et-epimelitic merupakan tingkah laku individu muda untuk dipelihara oleh yang dewasa (care soliciting); (7) tingkah laku eliminative yaitu tingkah laku membuang kotoran; (8) tingkah laku allelomimetik yaitu tingkah laku meniru salah satu anggota kelompok atau melakukan pekerjaan yang sama dengan beberapa tahap rangsangan dan koordinasi yang berbalas-balasan; (9) tingkah laku investigative yaitu tingkah laku memeriksa lingkungannya.

Tingkah Laku Harian

Tingkah Laku Makan

(55)

7 semua hewan ternak. Karena itu, mengerti pola tingkah laku yang digunakan oleh hewan untuk mencari, mendapatkan, menyeleksi dan memakan pakan penting sekali untuk berhasilnya pengembangan usaha peternakan (Tomaszewska, 1991).

Kelinci sangat selektif dalam memilih pakannya. Kelinci akan lebih memilih bagian yang disukainya seperti daun yang lebih hijau dibandingkan yang kering, memilih daun dibandingkan batang, tanaman yang muda dibandingkan yang tua, sehingga pakan yang tinggi protein dan energi dicerna dan rendah serat yang diperoleh dari bahan tanaman. Tingkah laku makan pada kelinci juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial. Kelinci akan makan lebih banyak jika dikandangkan secara kelompok karena adanya peningkatan stimulasi dan adanya kompetisi.

Selain itu tingkah laku makan kelinci yaitu menggaruk atau scrabbling yaitu mengais makanan keluar dari tempat pakan sehingga menyebabkan pakan terbuang. Scrabbling sering dijadikan acuan jika pelet yang diberikan kurang baik maka pellet tersebut diganti dengan kualitas yang lebih baik. Mengunyah bulu juga merupakan tingkah laku makan pada kelinci. Hal ini biasanya diartikan bahwa pakan yang diberikan rendah serat kasar atau protein. Pemberian hay dapat menghentikan tingkah laku ini. Blok kayu dalam kandang biasanya akan digigiti karena memberikan serat dan menjaga gigi bawah kelinci dari cacing (Cheeke et al., 2000). Tingkah Laku Minum

Minum diperlukan untuk mengganti air yang hilang seperti urin dan kadar air yang menguap. Minum juga dibutuhkan untuk pendingin bagi kelinci jika berada di suhu tinggi. Anak kelinci belajar minum saat pertama kali saat menyusui pada induknya. Kelinci harus belajar untuk minum di tempat minum otomatis nipple. Kelinci yang tidak belajar minum menggunakan nipple, biasanya air akan tumpah mengenai bulu dan kandang kelinci (Cheeke et al., 2000).

Tingkah Laku Eliminasi

Gambar

Tabel 1. Kebutuhan Zat Gizi Kelinci Pada Kondisi Fisiologi yang Berbeda
Gambar 2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu; b) Alas Kandang
Tabel 3. Komposisi Zat Makanan Ransum Pellet Komersial
Tabel 4. Rataan Suhu dan Kelembaban Udara Dalam Kandang Saat Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pencatatan tingkah laku makan dilakukan dengan metode One Zero interval 15 menit. Tahapan tingkah laku diberi nilai satu bila dilakukan dan nol bila tidak dilakukan, dalam selang

Ruang lingkup penelitian ini meliputi pengamatan tingkah laku harian terdiri atas ingestive, grazing, browsing, lokomosi, istirahat, dan panting, rekam jejak,

Pencatatan tingkah laku makan dilakukan dengan metode One Zero interval 15 menit. Tahapan tingkah laku diberi nilai satu bila dilakukan dan nol bila tidak dilakukan, dalam selang

Kelinci yang dipelihara pada kandang K0 dan K1 menghasilkan kan- dungan haemoglobin dan eritrosit lebih tinggi (P&lt;0,05) daripada K2, sedangkan kandungan leukosit darah kelinci

Hasil statistik setelah dilakukan uji Mann Whiteney menunjukkan bahwa frekuensi tingkah laku agonistic pada kandang alas tanah berbeda nyata (P&lt;0,05) yaitu

Tingkah laku minum dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan oleh ayam,. suhu, rasa haus dan tingkah

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah jenis tingkah laku harian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumateranus ) di kawasan konservasi eksitu Secret Zoo berjumlah 6

Kelinci yang dipelihara pada kandang K0 dan K1 menghasilkan kan- dungan haemoglobin dan eritrosit lebih tinggi (P&lt;0,05) daripada K2, sedangkan kandungan leukosit darah kelinci