Sunarso, Widiyono, Sumarso, E. Pangestu, F. Wahyono dan J. Achmadi, 1989. Pemanfaata Rumput Setaria spacelata sebagai Konversi Tanah dan manfaatnya bagi PeningkatanUsaha Produksi Ternak ruminansia. L Penelitian DP3M. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta.
Widjaja, K., 1999. Analisis Pengambilan Keputusan Usaha Produksi
Peternakan.Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
a. Predictors: (Constant), panggng, tana, Sistem ESK, Sistem SEMI, Sistem I
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 4,132E15 5 8,264E14 7,094 ,001a
Residual 1,980E15 17 1,165E14
Total 6,112E15 22
a. Predictors: (Constant), panggng, tana, Sistem ESK, Sistem SEMI, Sistem I b. Dependent Variable: Pendapatan Bersih Usaha
Coefficientsa
1 (Constant) 5172695,888 2480281,432 2,086 ,052
X1 9680577,090 1,103E7 ,966 ,878 ,392
X3 1832739,421 4468142,272 ,356 ,410 ,687
X4 -6929763,929 1,106E7 -,692 -,627 ,539
X5 -652227,671 5391095,002 -,221 -,121 ,905
membuat kelompok peternak dan memberikan kucuran dana untuk
meningkatkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, A. Dan Simanjuntak, D., 1997. Ternak Domba Potong. Direktorat Jendral peternakan Jakarta.
BATUBARA, L.P., S. KAROKARO and S. ELIESER 1996. Integration of sheep in oil palm plantation in North Sumatra, Indonesia. Proceedings of the firstinternational symposium on the livestock to oil palm production (MSAP), September 1996.
Badan Pusat Statistik., 2013 Kecamtan Sei Tuan Dalam Angka 2013. (Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Medan).
Cahyono, B. 1998. Beternak Domba dan Kambing. Kanisius, Yogyakarta.
CHEN, C. P. 1990. Management of forages for animal production under tree crops. Proc. Of Workshop on Research Methodologies. Medan, North Sumatra, Indonesia. September 19-14.
Cyrilla, L. dan A. Ismail. 1988. Usaha Peternakan. Diktat kuliah. Jurusan Sosial Ekonomi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Daniel, M., 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Devendra, C. and Thomas, D., 2002. Crop–animal interactions in mixed farming systems in Asia. Agricultural Systems. 71(1-2):27-40
Dir. Bina Usaha Patani Ternak. 1985. Usaha Peternakan, Perencanaan Usaha, Analisa dan Pengelolaan. DirjenPeternakan-Jakarta.
Ditjennak, 2009. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan 2010-2014. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.
Fathoni, A. H., 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit PT. Rhineka Cipta. Jakarta.
Gatenby, R.M., 1995. The Tropical Agriculturalist Series : Goat and Sheep. ICTA, Macmillan Education Ltd., London
Penelitian Ternak Sungai Putih Balitnak, Puslitbangnak. SR-CRSP, Nort Sumatra.
Gunawan, Pamungkas, D., Affandhy. L. S., 1993. Domba Bali Potensi. Produktivitas dan Nilai Ekonomi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta
Harianto, Bagus. 2010. Buku Pintar Beternak dan Berbisnis Domba. Penerbit PT AgroMedia Pustaka.
Hadisapoetra, S., 1997. Biaya dan Pendapatan dalam Usahatani. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Hernanto, F. 1996. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kay, R.D, dan Edward, W. M, 1994. Farm Management. Third Edition. Mc.Graw-Hill. Inc. Singapore.
Mansyur, Nyi Mas, P. Indriani dan I. Susilawati, 2005. Peran Leguminosa Tanaman Penutup pada Sistem Pertanian Jagung untuk Penyediaan Hijauan pakan Ternak. Bogor 12- 13 September 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Mulyono, S. dan B. Surwono, 2007. Penggemukan Kambing Potong. Penebar swadaya, Jakarta.
Murtidjo, B. A. 1993. Keuntungan Usaha Peternakan Dari kualitas Pakan. Kanisius, Yogyakarta.
Siregar, S. 1990. Sapi Perah : Jenis, TeknikPemeliharaan dan Analisa Usaha Penebar
Swadaya, Jakartaertanian Universitas Sumatera Utara.
Siregar, S.A., 2009. Analisis PendapatanPeternakan Sapi Potong Di KecamatanStabat Kabupaten Langkat. Skripsi.Departemen Peternakan Fakultas Pertanian.
SITOMPUL, D.M., B.P. MANURUNG, I.W. MATHIUS dan AZMI, 2004. Integrasi sapi sawit; Dayadukung produk sampingan dalam pengembangan ternak sapi Makalah dipresentasikan pada Seminar dan Ekspose Nasional Sistem Integrasi Tanaman- ternak. Denpasar, 20-22 Juli 2004.
Sodiq, A. and Tawfik, E.S., 2004. Productivity and breeding strategies of sheep in Indonesia. J. of Agric. and Rural Dev. in the Tropics and Subtropics, 105(1):71-82
Soekartawi. 1995. Analisis Usaha Tani. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Suharjo dan patong. 1993. Sendi-sendi Pokok Usahatani. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang Provinsi Sumatera Utara mulai dari bulan juni 2015-juli 2015.
Metode Penelitian
1. Penentuan Responden dan Analisis Pendapatan
Responden terdiri dari para peternak domba di Kecamatan Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei
dengan unit responden yang memelihara ternak domba. Metode penarikan responden yang digunakan adalah sebagai berikut :
- Pada tahap pertama 3 buah desa dari beberapa desa yang ada Kecamatan Sei Tuan dengan penarikan responden secara Proportional Stratified Random Sampling. Soekartawi (1995), yaitu desa yang populasi ternak
dombanya tinggi, sedang dan jarang tersebut di tentukan dengan melihat dari data Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang dalam angka 2013
dipilih tiga desa yaitu
a. Desa yang kepadatan populasi ternak dombanya padat Bandar Setia b. Desa yang kepadatan populasi ternak dombanya sedang Kolam
c. Desa yang kepadatan populasi ternak dombanya rendah Bandar Khalippah
penelitian yang akan menggunakan data statistik ukuran sample paling
kecil 30% sudah dapat mewakili populasi (Wirartha, 2006). Dari masing- masing desa diperoleh jumlah peternak yang menjadi sampel sesuai data
(Badan Pusat Statistik 2013)
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.
1. Data primer diperoleh dari monitoring terhadap kegiatan usaha ternak
domba melalui wawancara dan pengisian daftar kuisioner
2. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait seperti Badan
Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang dan Kantor Kepala Desa
Analisis Data
Data diuji dengananalisis pendapatan dari kegiatan beternak domba dapat
dengan
Rumus : Pd=TR–TC
Keterangan
Pd adalah total pendapatan atau keuntungan yang diperoleh peternak domba TR adalah total reveniue atau peneriamaan yang di peroleh peternak domba
Sedangkan untuk mendapatkan total penerimaan (TR) digunakan rumus :
TR Py. Y
Dimana :
TR adalah total reveniue atau peneriamaan yang di peroleh peternak domba
Py adalah Harga jual
Y adalah Jumlah produksi yang dijual
Biaya dihitung berdasarkan konsep biaya imbangan (oppurtunity costs), sehingga biaya-biaya yang tidak benar-benar dibayar (seperti sewah lahan milik
sendiri atau upah tenaga kerja dalam keluarga) tetap diperhitungkan dan dimasukkan dalam komponen biaya.
Untuk menghitung nilai R/C digunakan rumus sebagai berikut :
R/C Ration
Dimana:
R/C Ration Cost Ration
TC Total Cost (total biaya) dan
TR Total revenue (total penerimaan)
Denga kriteria: jika R/C < 1 maka usaha peternak tersebut tida layak di usahakan;
jika R/C > 1 maka usaha peternak tesebut layak di usahakan dan jika R/C 1
Benefit Cost Ratio (B/C)
Benefit/Cost ratio adalah merupakan perbandingan antara total penerimaan
dengan total biaya. Semakin besar B/C ratio maka akan semakin besar pula
keuntungan yang diperoleh peternak mengalokasikan faktor produksi dengan lebih efiisien.
B/C =Penerimaan – Biaya Produksi
Biaya Produksi
Dimana :
B = Penerimaan – Biaya Produksi
C = Biaya Produksi
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pendapantan dapat dilihat dengan menggunakan model
pendekantan teknik Ekonomimetri dengan menggunakan analisis regrisi linear berganda alat bantu software Statistical Package for Sosial Sciences (SPSS 18).
Menurut Djalal dan usman (2002) model pendugaan yang digunakan :
Keterangan:
Y : adalah pendapatan peternak (Y : topi) yang di pengaruhi beberapa faktor dalam memelihara ternak sapi potong
a : adalah koefisien intercept (konstanta)
b1b2b3 : adalah koefisien regresi
X1 : adalah sistem pemeliharaan intensif (ekor)
X2 : adalah sistem pemeliharaan semi-intensif
X3 : adalah siistem pemeliharaan ekstensif
X4 : adalah perkandangan berlantai tanah
X5 : adalah perkandangan berlantai panggung
: adalah variabel lain yang tidak teliti
Varibel-variabel pada hipotesis diuji secara serempak dan parsial untuk mengetahui apakah variabel tersebut mempunyai pengeruh dominan atau tidak.
Jika variabel tersebut berpengaruh secara serempak maka digunakan uji F yakni :
F= r2/ k
Keterangan
r2 = Koefisien determinasi
n = Jumlah responden
n-k-1 = Derajat bebas penyebut
Kriteria uji:
F-hit < F-tabel……… H0 diterima ( H1 ditolak)
F-hit > F -tabel……… H0 ditolak (H1 diterima)
Menurut Sudjana (2002) jika variabeol berpengaruh secara parsial dapat diuji
dengan uji t yakni :
Keterangan :
b = Parameter(I=1,2,3)
n-k-l = derajat bebas
S2 = Standart error parameter b
= Standart error estimatis
X1 = Variabel bebas (i=1,2,3) Thit = b1
Sb1
S2y123 = Ʃ( -y)2 n-k-1
Kriteria Uji:
t-hit < F-tabel………...…..… H0 diterima ( H1 ditolak)
t-hit > F -tabel………...… H0 ditolak (H1 diterima)
Kriteria Pengambilan Keputusan :
t-tabel = α ; db)
(α=5%; db=n-k-1)
Keterangan :
n = jumlah sampel
k = jumlah variabel bebas (X)
a. t-hitung > t.tabel (taraf signifikan α < 0,10) : H0 ditolak, berarti koefisien
regresi dari faktor tertentu berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. b. t-hitung < t.tabel (taraf signifikan α > 0,10) : H0 diterima, berarti koefisien
regresi dari faktor tertentu berpengaruh tidak nyata terhadap variabel
HASIL DAN PEMBAHASAN
Usaha Peternakan Domba di Kecamatan Percut Sei Tuan
Jenis domba yang dipelihara peternak responden 90 % domba ekor tipis
dan 10 % jenis domba lainya. Sistem pemeliharaan ternak dan manajemen yang baik adalah kunci dari keberasilan suatu usaha ternak domba. Umumnya sistem
pemeliharaan domba di Kecamatan Sei Tuan sebagian besar sudah bersifat intensif dimana ternak tidak lagi digembalakan.
Manajemen Pemeliharaan yang dilakukan
Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan pengandangan terus menerus atautanpa penggembalaan, sistem ini dapat mengontrol dari faktor
lingkungan yang tidak baik. Pada sistem pemeliharaan intensif ternak hanya didalam kandang diberi makan dan tidak dikeluarkan peternak hanya mengambil atau mengarit rumput untuk diberikan kepada ternaknya,
Tabel 2. Daftar peternak yang memelihara ternaknya dengan sistem pemeliharaan Intensif di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
8
Sumber : Pengolahan data kuisioner peternak dikecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Setelah itu pun peternak di tempat penelitian ada yang menggunakan
transportasi sepeda motor untuk mengambil rumput dengan biaya sepeda motor perbulannya tergantung jarak yang di tempuh untuk mengambil rumput tersebut.
Tabel 3.Biaya Trasportasi Pakan/Bensin Peternak di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Sumber :Pengolahan data kuisioner peternak di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
jika jarak yang di tempuh 6 km sampai 8 km = Rp 50,000/minggu bensin
maka 1 bulannya mengabiskan Rp. 200,000 dan Rp. 2,400,000/tahun
bensin.
Dan ada juga peternak yang berjalan kaki untuk mengambil rumput. Seluruh peternak di desa penelitian tidak ada yang menggunakan tenaga kerja dari
luar mereka bekerja sendiri untuk mengambil rumput dan memanajemen ternaknya tersebut
Sistem pemeliharaan semi–intensif adalah kegiatan pemeliharaan ternak
dengan sistem pengembalaan yang dilakukan secara teratur ternak dikandangkan dan siang hari dilepas atau diangon. Kelebihan dari sistem pemeliharaan ini
kesempatan untuk ternak kawin lebih besar di bandingkan intensif.
Rataan 763,809,523
Pada daerah penelitian sistem pemeliharaan semi-intensif ini ada juga
ternak yang sebagian hanya didalam kandang misalnya domba yang mempunyai anakan yang baru lahir, domba yang sakit dan lain-lain. Dalam hal ini pemilik
sudah mulai menjaga kebersihan kandang konsentrat sebagai tambahan makanan. (Mulyono dan Sarwono,2007).
Sistem pemeliharaan ekstensif merupakan beternak secara tradisional yaitu
campur tangan peternak terhadap ternak peliharaanya hampir tidak ada. Ternak dilepas begitu saja dan pergi mencari pakan sendiri di lapangan pengembalaan,
pinggiran hutan atau tempat lain yang banyak ditumbuhi rumput dan sumber
Tabel 5. Daftar Peternak yang memelihara ternaknya dengan sistem pemeliharaan Ekstensif di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
BentukPerkandangan
Kandang adalah tempat tinggal ternak sehingga kandang menjadi salah satu faktor penting dalam beternak. Dimana kebersihan kandang dapat
menghindarkan ternak dari serangan penyakit. Kandang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ternaknya, terutama faktor kelembapan, kebecekan dan sarang lalat yang dapat mengganggu kenyamanan serta keluluasaan ternak.Letak kandang
harus terpisah dari rumah namun di daerah penelitian masih ada beberapa
responden yang membuat kandangnya menyatu dengan rumahnya dan ada yang
menggunakan lantai tanah dan lantai panggung.
Tabel 6. Kandang berlantai tanah di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
12 Waris 13 3,000,000
13 Rusmina 27 3,000,000
Jumlah 239 29,100,000 Rataan 18,384 2,238,461
Sumber :Pengolahan data kuisioner peternak di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Biasanya ternak yang baru lahir dipisahkan dengan ternak lain dan hanya
dengan induknya untuk menyusui dan menghindari anakan yang baru lahir di injak oleh indukan/pejantan yang lain didalam kandang. Mahalnya biaya pembuatan kandang berpengaruh terhadap umur pakai, lantai kandang terbuat dari
panggung atau dari tanah, dan daya tahan kandang tersebut.
Didaerah penelitian ukuran kandang disesuaikan dengan keadaan dan
kebutuhan peternak tersebut. Penentuan ukuran diatur sebagai berikut
Untuk ukuran jantan dan betina dewasa umur lebih dari 12
bulan,minimum 0,75 – 1 m/ekor
Untuk muda umur 7 – 12 bulan 0,75 m²/ekor
Untuk kurang dari 7 bulan 0,5 m²/ekor
Induk menyusui 1 m² ditambah 0,5/ekor anak yang disusui
Setelah itu kebersihan kandang dilakukan setiap hari dengan menggunakan
sapu lidi, sekop dan cangkul. Kotoran dibersihkan dengan menggunakan sekop yang kemudian diangkat dengan menggunakan angkong. Kotoran tersebut dikumpulkan dilumbung sementara yang biasanya berada di belakang kandang.
Setelah dikumpulkan beberapa hari, feses akan dijual nantinya kepada pembeli. Penjualan feses bukan berdasarkan berat melainkan volume feses di dalam kereta
melakukan penyemprotan desinfektan pada kandangnya yang bertujuan untuk
membunuh kuman-kuman pembawa penyakit.
Pemberian Pakan
Domba akan tumbuh sehat dan berkembang biak dengan baik bila volume pakan yang diperoleh cukup baik dan bergizi serta dilakukan manajemen
pemeliharaan yang baik. Pakan merupakan unsur yang sangat vital dalam usaha peternakan. Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat menyebabkan defesiensi zat nutrisi makanan sehingga ternak mudah
terserang penyakit. Ketersediaan pakan yang cukup akan menghasilkan ternak yang sehat dan produkstif. Jenis pakan domba ada dua macam yaitu pakan pokok
yang terdiri dari hijaun (rumput, legume dan limbah pertanian) dan pakan penguat ( suplemen, konsentrat dan pakan tambahan)
Tabel 5. Salah satu biaya produksi ternak domba/biaya pakan di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
No Peternak Hijauan Kosentrat Garam Suplemen Total
1 Darsi 0 0 48,000 0 48,000
2 Poniem 0 0 48,000 0 48,000
3 Ati 0 0 48,000 0 48,000
4 Candra 0 0 96,000 0 96,000
5 Siti 0 0 24,000 0 24,000
6 Sapian 0 0 96,000 0 96,000
7 Sunarso 0 0 48,000 0 48,000
Sumber : Pengolahan data kuisioner peternak di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
Didaerah penelitian sistem pakan yang diberikan peternak hanya berupa
hijaun pada pagi hari selesai peternak mengarit rumput dan ada juga peternak yang mengembalakan ternaknya ternaknya di sore hari dan membawanya kembali pulang di sore hari, peternak tidak ada yang menggunakan kosentrat untuk pakan
tambahan untuk ternaknya seluruh peternak hanya menggunkan rumput untuk ternaknnya dan garam dicampurkan kedalam air minum ternak dengan harga
perbungkusnya Rp.2,000 semakin besar jumlah ternaknya maka jumlah kebutuhan makanan dan garam untuk kebutuhan ternak tersebut semakin besar.
Pengendalian Penyakit
Serangan penyakit dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan, seperti menghambat pertumbuhan ternak sehingga dapat mengurangi keuntungan
adalah penyakit cacingan, biasanya peternak hanya memberikan monil sebagai
obat cacingan tersebut.
Untuk 1 tablet monil dapat di gunakan untuk 4 ekor domba pemberiannya
4 kali dalam 1 tahun dengan 1 kali 3 bulan.
Untuk 8 ekor domba maka 2 tablet x 4kali pemberian/tahun x Rp
15,000/tablet = Rp. 120,000/tahun
Untuk 16 ekor domba maka 4 tablet x 4kali pemberian/tahun x Rp
15,000/tablet = Rp. 24,0000/tahun dan seterusnya.
Selain itu ada penyait lain seperti masuk angin, dan kaki lemah. Biasanya
apabila ternak sakit peternak pertama kali melakukan pengobatan secara tradisional dengan ramuan alami. Apabila ternak tidak sembuh juga, maka
peternak memanggil petugas dari dinas peternakan dimana petugas kesehatan ini diwakili oleh inseminator untuk memberikan obat-obatan.
Pemasaran Ternak Domba
Pemasaran ternak domba di daerah penelitian ini dilakukan dengan
Penjualan ternak biasanya dilakuakan pada saat umur ternak 6-12 bulan
(muda/dara) dan umur >12 bulan (dewasa). Penjualan ternak biasanya dilakukan pada saat musim haji, akikah, musim hajatan (pernikahan dan lain – lain), untuk
kebutuhan anak sekolah dan lainnya. Selain itu penjualan ternak dara juga dilakukan untuk dijadikan bibit indukan bagi calon pembeli dan untuk calon pejantan biasanya penjualan bertujuan untuk dijadikan bibit pejantan.
Biaya Penyusutan
Bahan yang digunakan untuk pembuatan kandang domba pada usaha ternak
Nilai kandang domba per unit yang dimiliki peresponden menyebar antara
Rp.1500,000 sampai Rp.5.000,000 dengan rataan Rp.2,338,095 Dalam satu tahun terakhir ada juga peternak yang memperbaiki kandangnya, dimana biaya perbaiki
kandang tersebut menyebar antara Rp.100,000 sampai Rp.350000 dengan rataan Rp.150,000. Biaya penyusutan kandang yang dikeluarkan ditentukan oleh luas kandang yang memiliki peternak domba dan juga umur ekonomis atau masa pakai
kandang tersebut. Biaya kandang diperoleh dari penjumlahan biaya penyusutan kandang pada ternak usaha ternak domba dan biaya perbaikan kandang
Rp.1,20000 sampai Rp.750,000 dengan rataan Rp.415,238.
Usaha ternak pada daerah penelitian menggunakan tempat minum yang
nilainya menyebar antara Rp.3,500 sampai Rp.6,000.Peralatan yang digunakan pada usaha ternak domba responden meliputi sabit/arit, cangkul, sekop, tali, sapu lidi. Harga sabit/arit per unit menyebar antara Rp.20,000 sampai Rp.60,000.
Harga cangkul Rp.11,300 sampai Rp.40,000. Harga angklong (kereta sorong) menyebar Rp.200,000 sampai Rp. 300,000. Harga sekop per unit Rp.35,000
sampai Rp.40,000. Harga sapu lidi Rp.3,000 samapi Rp.7,000.
Biaya penyusutan peralatan yang dikeluarkan ditentukan oleh banyaknya peralatan yang dimiliki peternak domba dan juga umur ekonomis atau masa tahan
pakai peralatan tersebut. Total penyusutan peralatan tersebut per responden pertahun menyebar antara Rp.37,666 sampai Rp.197,000. dengan rataan sebesar
Rp 5,392.
Tabel 6. Penerimaan dan penegeluaran peternak di daerah penelitian tahun ( juli
Pada usaha ternak domba didaerah penelitian diperoleh total penerimaan dari usaha ternak domba selama 1 (satu) tahun adalah berkisar antara Rp.5,28640 sampai Rp.52,864,000 adalah sebanyak Rp.228,82,.000 dengan rataan sebesar
Rp.10,896,571tahun/peternak.
Total biaya produksi pada usaha ternak domba meliputi biaya obat-obatan
dan biaya lainya. Menurut data yang diperoleh selama 1 tahun dari usaha ternak domba per resonden adalah berkisar Rp.4,83153 sampai Rp. 5,663,170, adalah
sebanyak Rp.35,919,049.32dengan rataan Rp.1,710,430
R/C rasio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis
kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Dengan kriteria hasil:
R/C > 1 berarti usaha sudah dijalankan secara efisien.
R/C ratio < 1 usaha tidak menguntungkan dan tidak layak
R/C = Rp. 228,828,000 Rp.36,515,747,32
= 6,27 (R/C > 1 berarti usaha sudah dijalankan secara efisien)
Benefit Cost Ratio (B/C)
Benefit/Cost ratio adalah merupakan perbandingan antara total penerimaan
dengan total biaya. Semakin besar B/C ratio maka akan semakin besar pula keuntungan yang diperoleh peternak mengalokasikan faktor produksi dengan
lebih efiisien.
B/C = Rp. 228,828,000 – 36,515,747,32 Rp. 36,515,747,32
= 5,27 (B/C> 1 berarti usaha sudah dijalankan secara efisien)
Untuk menguji faktor-faktor yang memepengaruhi pendapatan peternak
domba di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang digunakan analisis regresi linier berganda dimana yang menjadi variabel bebas (independent) adalah
sistem pemeliharaan intensif (Xı), sistem pemeliharaan semi-intensif (X2), sistem
pemeliharaan ekstensif (X3), bentuk perkandangan berlantai tanah (X4) dan bentuk
perkandangan berlantai panggung (X5), sedangkan yang menjadi variabel
terikat/tidak bebas (dependent) adalah pendapatan (Y).
Adapun hasil pengujian faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
peternak domba di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel.7 Anova (Regresi Linier Berganda)
Sumber Derajat Bebas F-tabel F-hitung Tingkat Signifikan
Regresi 5 2,81 7,094 0,001 Residual 17
Total 22
Sumber : hasil pengolahan data primer Keterangan :
a. Predictor : (constant), Sistem Pemeliharaan, Bentuk Perkandangan
b. Dependent Variabel : Pendapatan Bersih
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka untuk melihat faktor-faktor
yang mempengaruhi pendapatan dengan menggunakan Model Pendekatan Ekonometri dengan menggunakan analisis regresi linier berganda alat bantu
Software Statistical Package for Sosial Sciences (SPSS 18) dapat dilihat pada
Tabel 8.Analisis regresi linier berganda pengaruh jumlah ternak, sistem pemeliharaan, dan bentuk perkandangan terhadap peternak domba di kecamatan percut sei tuan kabupaten deli serdang.
Variabel Koefisien Std Error t-hitung Signifikan
Berdasarkan Tabel diatas diperoleh persamaan sebagai berikut :
Y =5172695,888+9680577,090(Xı) + 2159616,769(X2) + 1832739,421(X3)-
6939763,929 (X4) - 652227,671 (X5)+
Keterangan :
Ý : Pendapatan peternak domba
Xı :Sistem Pemeliharaan intensif
X2 : Sistem Pemeliharaan Semi Intensif
X3 : Sistem Pemeliharaan Esktensif
X4 : Perkandangan berlantai tanah
µ : Variabel yang tidak diteliti
Berdasarkan hasil regresi di atas dapat diketehui
1.Secara parsial nilai t-hitung variabel yang mempengaruhi adalah variabel
sistem pemeliharaan intensif (0,878), sistem pemeliharaan semi-intensif (0,392), sistem pemelharaan esktensif(0,410),dan perkandangan berlantai
tanah(-0,627), dan perkandangan berlantai panggung (-0,121 ).
a. Variabel sistem pemeliharaan Intensif ternak pada peternak domba, jika diukur tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh t-hitung (X1)
sebesar(0,878), lebih kecil dari t-tabel (α =0,05) yakni sebesar 2,110. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan ternak berpengaruh tidak
nyata terhadap pendapatan peternak. Sistem pemeliharaan ternak yang baik akan memudahkan peternak dalam pengawasan ternak.
b. Variabel sistem pemeliharaan Semi-Intensif ternak pada peternak domba,
jika diukur tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh t-hitung (X2)
sebesar (0,392), lebih kecil dari t-tabel (α =0,05) yakni sebesar 2,110. Hal
ini menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan Semi-Intensif berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan peternak.
c. Variabel sistem pemeliharaan Ekstensifternak pada peternak domba, jika
diukur tingkat kepercayaan 95% yang ditunjukkan oleh t-hitung (X3)
sebesar (0,410), lebih kecil dari t-tabel (α =0,05) yakni sebesar 2,110. Hal
d. Variabel perkandangan berlantai tanah ternak pada ternak domba jika
diukur di tunjukkan t-hitung (X4), sebesar (-0,692) lebih kecil dari t-tabel
(α =0,05) yakni sebesar 2,110. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk
perkandangan berlantai tanah berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan peternak.
e. Variabel perkandangan berlantai panggung ternak pada ternak domba jika
diukur di tunjukkan t-hitung (X5), sebesar (-0,221) lebih kecil dari t-tabel
(α =0,05) yakni sebesar 2110. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian analisis usaha pendapatan ternak domba
rakyat di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dapat disimpulkan sebagai berikut
Sistem pemeliharaan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan
peternak di Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Perkandangan juga tidak mempengaruhi peningkatan pendapatan peternak, namun dibutuhkan apabila
jumlah populasi ternak domba yang dimiliki peternak bertambah. Pakan yang diberikan rumput lapangan dengan sistem pemeliharaan yang digunakan intensif. Pemberian obat-obatan peternak hanya menggunakan monil (Obat Cacing) kepada
ternak selebihnya obat tradisional.
Saran
Cara terbaik untuk meningkatkan pendapatan peternak dengan cara memperbanyak skala usaha ternak domba yang di pelihara. Kendala dalam meningkatkan pendapatan ternak domba di daerah Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang adalah kurangnya modal yang dimiliki peternak dan minimnya pengetauan peternak terhadap pakan ternak sehingga peternak hanya
TINJAUAN PUSTAKA
Keadaan umum Kecamatan Percut Sei Tuan
Kecamatan Percut Sei Tuan dapat digambarkan melalui beberapa
pendekatan yang berkaitan dengan penelitian ini, antara lain :
a. Geografis
Wilayah Kecamatan Percut Sei Tuan mempunyai luas 190,79 km² yang terdiri dari 18 Desa dan 2 Kelurahan. Pusat Pemerintahannya berkedudukan di Jalan Medan-Batang Kuis Desa Bandar Klippah. Sebelah utara berbatasan dengan
Selat Malaka, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Batang Kuis danPantai Labu, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Labuhan Deli dan Kota sebelah
selatan berbatasan dengan kota (Badan Pusat Statistik, 2013).
b. Iklim
Kabupaten Deli Serdang beriklim tropis dan mempunyai dua musim yaitu
musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan yang paling berpengaruh biasanya berlangsung pada bulan Januari, April, Mei, September, Oktober,
November, dan Desember setiap tahunnya (Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang).Lima Desa dari wilayah Kecamatan merupakan Desa Pantai dengan ketinggian dari permukaan air laut berkisar dari 10-20 m dengan curah hujan
c. Usaha Domba
Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu daerah penyebaran populasi ternak di Kabupaten Deli Serdang yang berpotensi baik untuk
dikembangkan populasi ternak domba menjadi lebih baik lagi karena kawasan tersebut termasuk salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Utara yang perkembangan populasi ternak dombanya pada tahun 2013 di Kecamatan Sei
Tuan mencapai 5.248 ekor (Badan Pusat Statistik, 2013).
Tabel 1. Populasi ternak domba di Kecamatan Sei Tuan berdasarkan ekor selama 4 tahun (2010-2013).
Ternak domba merupakan jenis ternak potong yang tergolong ternak
ruminansia kecil, dan merupakan hewan mamalia menyusui anaknya. Disamping penghasil daging yang baik, domba dan kambing juga menghasilkan kulit yang
dapat di manfaatkan untuk berbagai macam keperluan industri kulit (Cahyono, 1998).
Menurut Murtidjo (1993), potensi ekonomi ternak domba sebagai
lapangan usaha memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan ternak besar lain yakni :
Ternak domba relatif kecil dan cepat dewasa, sehingga usaha ternak
domba memiliki keuntungan ekonomi yang cukup tinggi.
Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang dalam pemeliharaanya
tidak memerlukan lahan yang luas
Investasi usaha ternak domba membutuhkan modal relatif kecil
Modal usaha untuk ternak domba lebih cepat berputar dibanding dengan
jenis ternak ruminansia besar yang lain
Domba memiliki sifat suka bergerombol sehingga memudahkan dalam
pemeliharaanya.
Keberhasilan usaha peternakan domba tidak terbatas pada usaha pengembalaan populasi ternak yang dipelihara. Perawatan dan pengawasan
terhadap kemungkinan serangan penyakit perlu mendapat perhatian yang serius. Penyakit yang sulit ditanggulangi atau disembuhkan serta berbahaya bagi ternak
tinggi daripada nilai ternaknya, maka dianjurkan dijual sebagai ternak potong
(Sodiq dan Abidin, 2002).
Usaha Peternakan Rakyat
a. Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan intensif yaitu domba yang dipelihara dilakukan
secara intensif dengan membutuhkan perhatian penuh dari pemiliknya, berupa kegiatan rutin sehari-hari dan kegiatan insidental. Seumur hidup ternak berada di kandang dan tidak bisa berkeliaran kemana-mana (Mulyono dan Sarwono, 2007).
Sistem pemeliharaan semi-intensif adalah kegiatan pemeliharaan ternak domba dengan sistem pengembalaan yang dilakukan secara teratur dan baik,
dalam kondisi tertentu, pemilik sudah mulai menaruh dan baik dalam kondisi tertentu, pemilik sudah mulai menaruh perhatian terhadap ternak domba yang dipeliharanya, terutama ketika ternak akan melahirkan dan digemukan untuk
dipotong dengan mengurus ternak domba selama sehari penuh. Dalam hal ini pemilik sudah mulai menjaga kebersihan kandang memberikan obat-obatan dan
kosentrat sebagai tambahan makanan (Mulyono dan Sarwono, 2007).
Sistem pemeliharaan ekstensif merupakan beternak domba secara tradisional yaitu campur tangan peternak terhadap ternak peliharaanya hampir
tidak ada. Domba dilepas begitu saja dan pergi mencari pakan sendiri di lapangan pengembalaan, pinggiran hutan atau tempat lain yang banyak ditumbuhi rumput
b. Sistem Perkandangan
Kontruksi kandang menurut Sugeng (2000), harus dibangun dengan perencanaan yang benar akan menjamin kenyamanan hidup ternak sebab
bangunan kandang erat hubunganya dengan kehidupan ternak.Sehubungan dengan kebutuhan hidup ternak untuk beradaptasi, maka perencanaan bangunan kandang yang perlu diperhatikan adalah: iklim setempat, kontruksi dan bahan pembuatan
bangunan tersebut. c. Pakan
Kualitas pakan alamidan kosentrat yang diberikan kepada domba harus diperhatikan. Pastikan bahwa kualitas pakan sesuaidengan kebutuhan domba dan
tidak mengandung bahan yang dapat membahayakan. Pakan alami berupa rerumputan dapat diberian dalam kondisi segar setelah dicacah terlebih dahulu. Rumput sebaiknya diambil setiap hari dari lahan agar domba bisa mendapatkan
pakan yang masih segar (Harianto, 2010).
Pemberian makanan pada ternak belum begitu diperhatikan, pada
umumnya ternak hanya diberikan makanan hijauan dengancara mengembalakannya dilapangan atau diarit untuk diberikan pada ternaknya. Pada umumnya kualitas rumput tersebut sangat rendah, karena jarang terdapat
d. Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Penyakit yang sering timbul pada ternak ruminansia biasanya dibagi atas empat macam yaitu :
1. Eksternal parasit 2. Internal parasit 3. Penyakit Menular
4. Penyakit tidak Menular
Pencegahan terhadap timbulnya penyakit lebih penting dari pada
mengobati, oleh karena itu maka parapeternak selalu menjaga kesehatan daripada mengobatinya melalui sanitasi yang baik, penyemprotan dengan desifektan dan
vaksinasi secara teratur. Ternak-ternak akan mudah tertular penyakit bila manajemennya kurang baik (Abidin dan Simanjuntak, 1997).
e. Pemasaran
Menjual domba bisa berupa domba hidup, seperti menjual bakalan untuk penggemukan, bakalan untuk pembibitan, atau domba hasil penggemukan. Bisa
juga menjual dalam bentuk karkas atau daging domba. Dalam praktisnya, penjualan domba dari peternakan tidak langsung ke konsumen akhir tetapi melewati beberapa saluran pemasaran (Bagus, 2010).
Penambahan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan pengetahuan masyarakat tentang giji berpengaruh terhadap pola komsumsi masyarakat kearah
gizi berimbang sehingga memberikanpeluang pemasaran hasil-hasil peternakan. Disamping itu, terbukanya perdagangan internasional mengakibatkan kemungkinan ekspor ternak akan semakin meningkat bila diikuti peningkatan
Pembiayaan Pendapatan dari Usaha Ternak Domba
Biaya Produksi
Biaya Produksi adalah nilai dari semua pengorbanan ekonoomi yang
diperlukan, yang tidak dapat dihindari, dapat diperkirakan dan dapat diukur untuk mengasilkan suatu produk (Cyrilla dan Ismail, 1988).
Biaya produk adalah semua pengeluaran yang diperlukan untuk mengasilkan
produk yang dinilai dengan uang atau dengan pengertian lain biaya produksi adalah besarnya nilai pengeluaran (Siregar, 2009).
Biaya produksi adalah sebagai kompensasi yang diterima oleh para pemilik fakto-faktor produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani/peternak
dalam proses produksi baik secara tunai maupun tidak tunai (Daniel, 2002). Rasyaf (1995) biaya produksi dalam usaha peternakan di bagi atas dua bagian utama yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang
harus dikeluarkan misalnya gaji pegawai bulanan, penyusutan, bunga atas modal, pajak bumi dan bangunan dan lain-lain.
Biaya tetap (fix cost) adalah banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlah totalnya tetap pada volume kegiatan tertentu, sedangkan biaya variabel (variabel cost) adalah biaya yang jumlah totalnya
Penerimaan dan Pendapatan
Penerimaan dalam usaha tani meliputi seluruh penerimaan yang dihasilkan selama priode pembukuan yang sama, sedangkan pendapatan adalah penerimaan
dikurangi dengan biaya produksi (Kay dan Edward, 1994).
Untuk mempertimbangkan biaya dan pendapatan dalam usahatani
diperlukan beberapa pengertian. Pendapatan kotor atau penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diperolehusahatani selama priode diperhitungkan dari hasil penjualan dan penaksiran kembali (Hadisapoetra, 1973)
Menurut nuegroho, et al (1991), menyatakan bahwa pendapatan usaha ternak menggambarkan imbalanyang diperoleh keluarga petani dari penggunaan
faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal yang diinvestasikan kedalam usaha tersebut. Pendapatan bersih usaha tani merupakan selisih antara pendapatan kantor dan pengeluaran total tanpa memperhitungkan tenaga kerja keluarga
petani, bunga modal sendiri dan pinjaman. Analisis pendapatan dapat memberikan bantuan untuk menukur keberhasilan usaha dan dapat digunakanuntuk
mengevaluasi kegiatan usahatani dalam satu tahun.
Analisis Usaha
Analisis usaha ternak merupakan suatu kegiatan yang penting bagi suatu
usaha ternak komersial. Melalui hasil analisis ini dapat dicari langka pemecahan berbagai kendala yang dihadapi. Analisis usaha peternakan bertujuan mencari titik
atau memperbesar skala usaha. Hermanto (1996),menyatakan bahwa analisis
usaha yang dimaksudkan untuk mengetahui kinerja usaha secara menyeluruh.
Ada tiga laporan utama yang berkaitan dengan analisis usaha yaitu :
1. arus biaya dan penerimaan (cash flow), yaitu berupa biaya operasional 2. neraca (balance sheet), yaitu berupa harta, utang dan modal
3. pertelaan pendapatan (income statement), yaitu menyangkut laporan laba-rugi berupa pendapatan dikurangi dengan beban (biaya).
Soeharjo dan patong (1973) menyebutkan bahwa dalam analisis pendapatan
diperlukan keterangan pokok, yaitu keadaan penerimaan dan penegeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Selanjutnya disebutkan bahwa tujuan analisis
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu daerah penyebaran
populasi ternak di Kabupaten Deli Serdang yang berpotensi untuk dikembangkan populasi ternak domba menjadi lebih baik lagi karena kawasan tersebut termasuk
salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Utara yang perkembangan populasi ternak dombanya pada tahun 2013 di Kecamatan Percut Sei Tuan mencapai 5.248 ekor (Badan Pusat Statistik, 2013).
Usaha ternak domba biasanya merupakan usaha sampingan yaitu bagian dari usaha pertanian. Ternak dipeliharah secara tradisional, yakni pemberian
pakan masih terbatas (hijauan pakan ternak yang tersedia berupa rumput dan semak dengan sedikit atau tidak ada pakan tambahan) dan belum ada manajemen yang baik (Sugeng, 2000).
Ternak domba diklasifikasikan sebagai hewan herbivora (pemakan tanaman dan tumbuhan) karena makanan utamanya adalah tanaman atau
tumbuhan, meskipun, domba lebih menyukai rumput dibanding dengan jenis pakan lainya. Domba juga merupakan hewan mamalia, karena menyusui anak-anaknya. Sistem pencernaan yang khas didalam rumen menyebabkan juga
tergolong sebagai hewan ruminansia.
Daging baik kegunaannya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani,
meningkat. Salah satu penyebabnya adalah laju pertumbuhan populasi manusia
yang tinggi tidak diikuti dengan laju pertumbuhan populasi ternak potong.
Hasil daging yang diperoleh berhubungan dengan penyebaran populasi
ternak pada suatu daerah. Lebih mendukung lagi apabila pengolahan ataupun pemeliharaan yang dilakukan secara modern. Namun pemeliharaan yang dilakukan jauh dari modernisasi. Ternak domba dari Indonesia sebagaian besar
dipelihara dengan semi-intensif yaitu dengan cara pemeliharaan sebagian waktu dikandangkan dan sebagian waktu digembalakan. Domba dipelihara sebagian
usaha sampingan dengan usaha pokok adalah bertani. Demikian halnya fenomena yang terjadi di Sumatera Utara sehingga menimbulkan pertanyaan dengan
populasi domba yang tidak merata dan sistem pemeliharaan seperti diatas apakah mempengaruhi pendapatan pada masyarakat peternak tersebut.
Sehubungan hal diatas maka penulis mencoba meneliti hal mempengaruhi
pendapatan peternak domba pada suatu daerah berdasarkan hakikat teknis penyelenggaraan usaha peternakan domba yang dilakukan oleh peternak,
mengetahui aspek ekonomi dari usaha ternak domba di wilayah tersebut.
Identifikasi Masalah
Usaha ternak domba dalam bentuk usaha tani yang merupakan salah satu
usaha yang dikelola oleh petani/peternak dengan peran ekonomi yang relatif terbatas. Usaha ternak domba merupakan salah satu jenis usaha yang dilakukan
Permasalahan umum yang perlu diketahui antara lain berkaitan dengan
hal-hal penting yang menyangkut segi ekonomi ternak domba di Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini akan
dilakukan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana hakikat teknis penyelenggaraan usaha peternakan domba yang dilakukan oleh peternak
2. Bagaimana gambaran aspek ekonomi dari usaha ternak domba di wilayah tersebut.
Rumusan Masalah
Apakah dengan mengetahui pendapatan usaha peternakan rakyat dan cara
sistem teknis penyelenggaraan sudah dapat meningkatkan hasil pendapatan dan keuntungan yang lebih baik bagi peternak.
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan diatas maka tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
Mengetahui hakikat teknis penyelenggaraan usaha peternakan domba
Kegunaan Penelitian :
1. Menjadi masukan bagi peternak domba perihal bentuk pemeliharaan ternak domba guna meningkatkan pendapatannya.
2. Menjadi sumber informasi bagi kalangan akademis dan peneliti lainnya. 3. Bagi Instansi yang terkait khususnya dapat menjadi bahan informasi dalam
ABSTRACT
Jonni Pakpahan, 2015 “The Analysis of Sheep Keeper’s Income in Subdistrict of Percut Sei Tuan District of Deli Serdang “. Supervised by Edhy Mirwandhono as Chief of Supervisor Commission and Iskandar Sembiring, as member of supervisor commission. This research was done in Village of Bandar Khalifa, Kolam, and Bandar Setia in Subdistrict Percut Sei Tuan started from July 2015 to August 2015.
The method of taking s ample used is Proportional Stratified Random Sampling which is chose from 3 villages such as Bandar Khalifa village (low population), Kolam village (medium population), Bandar Setia (High population). The amount of respondents in this research is 21 persons from sheep breeder family gotten by 30% sheep breeders such as (4 keepers), kolam village (7 keepers), and Bandara Setia village (10 keepers). The form of Sheep data research uses questionnaire.
The variables of this research are intensive, semi intensive, and extensive breeding system and the form of stable floor on land had no significant effect (P>0,05) on the keeper income.
In conclusion, business intensive, semi intensive, and extensive breeding system and the form of stable floor on land have no effect (P >0,05) on income keeper.
ABSTRAK
Jonni Pakpahan, 2015 “ Analisis Usaha Ternak Domba Rakyat Di
Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang” di bawah bimbingan bapak Ir.
R. Edhy Mirwandhono, M.Si sebagai ketua komisi pembimbing dan bapak Ir. Iskandar Sembiring. MM sebagai anggota komisi pembimbing.
Penelitian ini di laksanakan di Desa Bandar Khalifa, Desa Kolam, dan Desa Bandar Setia di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang yang di mulai dari bulan juli 2015 sampai agustus 2015.
Metode Penarikan sample yang digunakan adalah Proprtional Stratified Random Sampling yaitu dengan cara memilih 3 desa yaitu, Desa Bandar Khalifa (populasi rendah), Desa Kolam (populasi sedang), dan Desa Bandar Setia (populasi tertinggi). Responden dalam penelitian ini berjumlah 21 keluarga peternak domba yang di dapat dari 30% peternak masing-masing desa yaitu desa Bandar Khalifa (4 peternak), Desa Kolam (7 peternak), dan Desa Bandar Setia (10 peternak)
Variabel yang diteliti adalah sistem pemeliharaan intensif, sistem pemeliharaan semi-intensif, sistem pemeliharaan ekstensif, bentuk perkandangan berlantai tanah, dan bentuk perkandangan berlantai panggung memberikan pengaruh yang tidak signifikan ( P>0,05) terhadap pendapatan peternak domba.
Disimpulkan sistem pemeliharaan intensif, sistem pemeliharaan semi-intensif, sistem pemeliharaan ekstensif, bentuk perkandangan berlantai tanah, dan bentuk perkandangan berlantai panggung tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap pendapatan peternak.
ANALISIS USAHA TERNAK DOMBA RAKYAT DI KECAMATAN SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG
SKRIPSI
OLEH :
JONNI PAKPAHAN 110306019
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015
ANALISIS USAHA TERNAK DOMBA RAKYAT DI KECAMATAN SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG
SKRIPSI
OLEH :
JONNI PAKPAHAN 110306019/PETERNAKAN
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Meraih Gelar Sarjana Di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN
Judul Penelitian : Analisis Usaha Ternak Domba Rakyat di Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Nama : Jonni Pakpahan NIM
: 110306019 Program Studi : Peternakan
Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing
Ir. R. Edhy Mirwandhono, M.si Ir. Iskandar Sembiring. MM
Ketua Anggota
Mengetahui
Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.si Ketua Program Studi Peternakan
ABSTRACT
Jonni Pakpahan, 2015 “The Analysis of Sheep Keeper’s Income in Subdistrict of Percut Sei Tuan District of Deli Serdang “. Supervised by Edhy Mirwandhono as Chief of Supervisor Commission and Iskandar Sembiring, as member of supervisor commission. This research was done in Village of Bandar Khalifa, Kolam, and Bandar Setia in Subdistrict Percut Sei Tuan started from July 2015 to August 2015.
The method of taking s ample used is Proportional Stratified Random Sampling which is chose from 3 villages such as Bandar Khalifa village (low population), Kolam village (medium population), Bandar Setia (High population). The amount of respondents in this research is 21 persons from sheep breeder family gotten by 30% sheep breeders such as (4 keepers), kolam village (7 keepers), and Bandara Setia village (10 keepers). The form of Sheep data research uses questionnaire.
The variables of this research are intensive, semi intensive, and extensive breeding system and the form of stable floor on land had no significant effect (P>0,05) on the keeper income.
In conclusion, business intensive, semi intensive, and extensive breeding system and the form of stable floor on land have no effect (P >0,05) on income keeper.
ABSTRAK
Jonni Pakpahan, 2015 “ Analisis Usaha Ternak Domba Rakyat Di
Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang” di bawah bimbingan bapak Ir.
R. Edhy Mirwandhono, M.Si sebagai ketua komisi pembimbing dan bapak Ir. Iskandar Sembiring. MM sebagai anggota komisi pembimbing.
Penelitian ini di laksanakan di Desa Bandar Khalifa, Desa Kolam, dan Desa Bandar Setia di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang yang di mulai dari bulan juli 2015 sampai agustus 2015.
Metode Penarikan sample yang digunakan adalah Proprtional Stratified Random Sampling yaitu dengan cara memilih 3 desa yaitu, Desa Bandar Khalifa (populasi rendah), Desa Kolam (populasi sedang), dan Desa Bandar Setia (populasi tertinggi). Responden dalam penelitian ini berjumlah 21 keluarga peternak domba yang di dapat dari 30% peternak masing-masing desa yaitu desa Bandar Khalifa (4 peternak), Desa Kolam (7 peternak), dan Desa Bandar Setia (10 peternak)
Variabel yang diteliti adalah sistem pemeliharaan intensif, sistem pemeliharaan semi-intensif, sistem pemeliharaan ekstensif, bentuk perkandangan berlantai tanah, dan bentuk perkandangan berlantai panggung memberikan pengaruh yang tidak signifikan ( P>0,05) terhadap pendapatan peternak domba.
Disimpulkan sistem pemeliharaan intensif, sistem pemeliharaan semi-intensif, sistem pemeliharaan ekstensif, bentuk perkandangan berlantai tanah, dan bentuk perkandangan berlantai panggung tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap pendapatan peternak.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Bangun Sari 04 Januari 1993 dari Ayahanda
Goklas Pakpahan dan Ibunda Masniari Sibatuara. Penulis merupakan putra ke tiga dari 3 bersaudara.
Pada tahun 2011, penulis lulus dari SMA Methodisth Tanjung Morawa
dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SNMPTN).
Selama mengikuti Perkuliahan, penulis aktif sebagai pengurus di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), aktif di Ikatan Mahasiswa Peternakan
(IMAPET) dan Ikatan Mahasiswa Kristen Peternakan (IMAKRIP)
Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Loka Penelitian
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunianNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Analisis
Usaha Ternak Domba Rakyat di Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua
penulis dan juga keluarga yang telah mendidik, memberi semangat dan dukungan moril kepada penulis.
Penulis juga menyampaikan terimah kasih kepada Bapak
Edhy Mirwandhono dan Bapak Iskandar Sembiring selaku ketua dan anggota komisi pembimbing saya yang telah membimbing dan memberikan masukan
kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua civitas akademik di Program Studi Peternakan, serta semua rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
DAFTAR ISI
Pembiayaan Pendapatan Usaha Ternak dari Usaha Ternak Domba... 11
Biaya Produksi ... 11
Penerimaan dan Pendapatan ... 12
Analisis Usaha ... 12
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 14
Metode Penelitian ... 14
Pengumpulan Data ... 15
HASIL DAN PEMBAHASAN
Usaha Peternakan Domba di Kecamatan Percut Sei Tuan ... 21
Manajemen Pemeliharaan Yang dilakukan ... 21
Bentuk Perkandangan ... 25
Pemberian Pakan ... 27
Pengendalian Penyakit ... 29
Pemasaran Ternak Domba ... 30
Biaya Penyusutan ... 31
Pendapatan Peternak ... 32
Benefit Cost Ratio (B/C) ... 31
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 38
Saran ... 38
DAFTAR TABEL
Hal
1. Populasi Ternak di Kecamatan Sei Tuan ……….. 6 2. Sistem Pemeliharaan Intensif ………...21
3. Biaya Transpoprtasi Pakan/Bensin………...……..22 4. Sistem Pemeliharaan SemiIntensif ………..……..23
5. Sistem Pemeliharaan Ekstensif ...24 6. Bentuk Kandang Berlantai Tanah ...25 7. Bentuk Kandang Berlantai Panggung ...26 8. Salah Satu Biaya Produksi Ternak Domba/Biaya Pakan ……. .…28
DAFTAR LAMPIRAN
hal
1. Pengolahan data dengan Spss... 42 2. Kuisioner peternak di Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang...43 3. Perkembangan ternak domba
Selama kurun waktu ( juli 2014 – juli 2015)………...44 4. Perkembangan ternak domba Selama
kurun waktu ( juli 2014 – juli 2015)………...45 5. Total biaya produksi pada usaha ternak domba di Kecamatan Percut Sei
Tuan Kabupaten Deli Serdang (juli 2014 – juli 2015 )...46 6. Biaya Kandang pada usaha ternak domba di Kecamatan Percut Sei Tuan
Kabupaten Deli Serdang (juli 2014 – juli 2015 )... .47 7. Biaya Pendapatan dan Peralatan pada usaha ternak domba di Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang (juli 2014 – juli 2015 )...48 8. Penerimaan Usaha ternak pada usaha ternak domba di Kecamatan
Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang (juli 2014 – juli 2015 )...49 9. Pendapatan Bersih Usaha ternak pada usaha ternak domba di
Kecamatan Percut Sei Tuan
DAFTAR GAMBAR
hal
1. Gambar kondisi peternakan di Percut Sei Tuan