PENAMBAHAN PROBIOTIK STARBIO PADA SUPLEMEN
MULTINUTRISI TERHADAP ANALISIS USAHA
SAPI BALI (Bos sondaicus)
SKRIPSI
Oleh :
SALWA PUTRA 060306019
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENAMBAHAN PROBIOTIK STARBIO PADA SUPLEMEN
MULTINUTRISI TERHADAP ANALISIS USAHA
SAPI BALI (Bos sondaicus)
SKRIPSI
Oleh :
SALWA PUTRA 060306019/PETERNAKAN
Skipsi sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Skripsi : Penambahan Probiotik Starbio pada Suplemen
Multinutrisi Terhadap Analisis Usaha Sapi Bali (Bos sondaicus)
Nama : Salwa Putra
NIM : 060306019
Program Studi : Peternakan
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Ir. Edhy Mirwandhono, M.Si. Prof. Dr. Ir. Zulfikar Siregar, MP. Ketua Anggota
Mengetahui,
Dr. Ir. Ristika Handarini, MP. Ketua Program Studi Peternakan
ABSTRAK
SALWA PUTRA: Penambahan Probiotik Starbio pada Suplemen Multinutrisi
Terhadap Analisis Usaha Sapi Bali (Bos sondaicus). Dibimbing oleh EDHY MIRWANDHONO dan ZULFIKAR SIREGAR.
Suplemen multinutrisi merupakan pakan tambahan yang dapat meningkatkan kualitas pakan sapi. Apabila ditambah dengan probiotik starbio dengan kandungan mikroorganisme yang dapat membantu sistem pencernaan ternak dalam mencerna pakan maka efisiensi biaya pakan akan meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Fakultas Pertanian yang dilaksanakan pada bulan Maret 2010 sampai Juli 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai usaha dari penggunaan suplemen multinutrisi terhadap sapi Bali. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriftif dengan 4 perlakuan. Perlakuannya adalah P0 (0% probiotik),
P1 (2% starbio), P2 (4% starbio), P3 (6% starbio).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan laba/rugi tertinggi adalah pada P3 sebesar Rp.154.864,- dan terkecil pada P0 sebesar Rp. 81.734,-. Rataan Benefit
cost ratio (B/C) tertinggi adalah pada P3 sebesar 1,035 dan terkecil pada
P1 sebesar 1,019. Rataan Break even point (BEP) yang terdiri dari BEP harga
produksi tertinggi pada P1 sebesar Rp. 22.267,- dan terkecil pada P3 sebesar Rp.
21.929,-. Rataan BEP volume produksi tertinggi pada P1 sebesar 197,48 kg dan
terkecil pada P2 sebesar 195,96 kg. Rataan income over feed cost (IOFC) tertinggi
adalah pada P3 sebesar Rp. 251.004,- dan terkecil pada P1 sebesar Rp. 182.132,-.
Rataan return on investment (ROI) tertinggi pada P3 sebesar 3,54 % dan terkecil
pada P1 sebesar 1,89 %. Kesimpulannya adalah penambahan probiotik starbio
pada suplemen multinutrisi yang diberikan pada sapi Bali jantan selama penelitian memberikan keuntungan dan dapat digunakan dalam usaha peternakan sapi Bali.
ABSTRACT
SALWA PUTRA: The Addition of Probiotic Starbio in The Nutrition Supplement
on The Financial Analysis of Bali cattle (Bos sondaicus). Under supervised by EDHY MIRWANDHONO and ZULFIKAR SIREGAR.
The Nutrition Supplement is a feed additive that can increase the quality of feed cattle. When added with probiotic starbio containing microorganisms that can assist the digestive system of cattle in digesting feed, the efficiency of feed costs will increase along with increased revenue.
This research was conducted in the Laboratory of Animal Biology, Faculty of Agriculture in Universitas Sumatera Utara beginning from March 2010 to July 2010. The objective of this research was to observe financial value of utilizing Multi-nutrient supplementation of Bali cattle. This research was conducted by using Descriptive method with four treatments. The treatment were P0 (0%
starbio), P1 (2% starbio), P2 (4% starbio), P3 (6% starbio).
The result of this research indicated that the highest average profit was found in treatment P3 (Rp.154.864) and the lowest in treatment P0 (Rp. 81.734).
The highest average benefit cost ratio was found in treatment P3 (1.035) and the
lowest in treatment P1 (1.019). The higest average break even point of production
price was found in treatment P1 (Rp. 22.267) and the lowest in treatment
P3 (Rp. 21 929). The higest average break even point of production volume was
found in treatment P1(197,48 kg) and lowest in treatment P2 (195,96 kg). The
higest average income over feed cost was found in treatment P3 (Rp. 251.004) and
the lowest in treatment P1 (Rp. 182.132). The higest average return on investment
was found in treatment P3 (3.54%) and the lowest in treatment P1 (1.89%). The
conclusion indicate that utilization probiotic starbio in the nutrition supplement provide benefits and was valuable to be a business of Bali cattle.
RIWAYAT HIDUP
Salwa Putra dilahirkan di Takengon, kabupaten Aceh Tengah, Aceh pada
tanggal 19 Mei 1988 anak dari bapak Surya Bakti dan Ibu Sariah Sitepu sebagai
anak kedua dari 4 (empat) bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah SDN No.2 Takengon
lulus tahun 2000, SLTP 3 Takengon lulus tahun 2003 dan SMA 1 Takengon lulus
tahun 2006. Tahun 2006 diterima sebagai mahasiswa Universitas Sumatera utara,
Fakultas Pertanian pada Program Studi Peternakan.
Selama perkuliahan penulis mengikuti berbagai organisasi mahasiswa baik
internal maupun eksternal seperti: HIMMIP dan IMTABEM (Ikatan Mahasiswa
Takengon dan Bener Meriah). Penulis juga pernah menjadi ketua HIMMIP tahun
2007-2008 dan ketua IMTABEM pada tahun yang sama. Penulis melaksanakan
PKL di Kabupaten Deli Serdang Kecamatan Pancur Batu pada tahun 2009.
Penulis melaksanakan penelitian di Kandang Biologi Ternak Fakultas Pertanian
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan kesehatan dan keselamatan kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Skripsi ini berjudul ”Penambahan Probiotik Starbio pada Suplemen
Multinutrisi Terhadap Analisis Usaha Sapi Bali (Bos sondaicus)”, yang
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi
Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Edhy Mirwandhono selaku Ketua Komisi Pembimbing dan
Bapak Zulfikar Siregar selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktu, pikiran, tenaga dan dorongan maupun memberikan informasi
yang berharga bagi penulis. Juga kepada Ibu Ristika Handarini selaku ketua
Program Studi Peternakan dan seluruh staff pengajar dan administrasi Program
Studi Peternakan dan Fakultas Pertanian.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga
yang telah mendukung sepenuhnya, teman-teman stambuk 2006 dan seluruh pihak
yang telah membantu dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan
DAFTAR ISI
Arti Penting Sapi bagi Kehidupan... 5Prospek Bisnis Sapi Potong ... 6
Suplemen Multinutrisi ... 16
Parameter Penelitian ... 24
Analisis Usaha ... 24
Total Biaya Produksi ... 24
Total Hasil Produksi ... 24
Analisis Laba-Rugi ... 24
Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) ... 24
Break Even Point (BEP) ... 25
Income Over Feed Cost (IOFC) ... 25
Return on Investment (ROI) ... 25
Pelaksanaan Penelitian ... 25
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 37
Saran ... 37
DAFTAR PUSTAKA ... 38
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Populasi ternak sapi potong (000 ekor) tahun 2000 – 2005 ... 7
2. Kandungan nilai gizi molases ... 10
3. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix .... 13
4. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl ... 14
5. Susunan suplemen multinutrisi (SM) ... 23
6. Harga bibit sapi/perlakuan (Rp) ... 27
7. Biaya pakan selama penelitian/perlakuan (Rp) ... 28
8. Biaya tenaga kerja perbulan/perlakuan (Rp) ... 28
9. Biaya sewa kandang selama penelitian (Rp) ... 28
10. Harga Obat-obatan yang digunakan selama penelitian (Rp) ... 29
11. Harga jual sapi/perlakuan (Rp) ... 29
12. Harga penjualan kotoran sapi/perlakuan (Rp)... 30
13. Keuntungan (laba-rugi) tiap level perlakuan (Rp) ... 30
14. B/C ratio tiap perlakuan pakan ... 30
15. BEP harga produksi tiap level perlakuan (Rp) ... 31
16. BEP volume produksi tiap level perlakuan (Kg) ... 31
17. IOFC tiap level perlakuan (Rp) ... 32
18. ROI tiap level perlakuan (%) ... 32
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Formulasi P0 ... 41
2. Formulasi P1 ... 41
3. Formulasi P2 ... 41
4. Formulasi P3 ... 42
5. Pemberian pakan sapi dalam bentuk segar (kg/ekor/hari) ... 42
6. Konsumsi pakan sapi bali jantan periode pertama dalam bahan kering (g/ekor/hari) ... 43
7. Konsumsi pakan sapi bali jantan periode kedua dalam bahan kering (g/ekor/hari) ... 44
8. Konsumsi pakan sapi bali jantan periode ketiga dalam bahan kering (g/ekor/hari) ... 45
9. Konsumsi pakan sapi bali jantan periode keempat dalam bahan kering (g/ekor/hari) ... 46
10. Data bobot badan sapi bali jantan selama penelitian ... 47
11. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/30 hari) ... 47
12. Grafik rataan pertambahan bobot badan sapi selama penelitian ... 47
13. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian ... 48
14. Grafik rataan konversi pakan sapi selama penelitian ... 48
15. Harga P0 dalam 1 kg ... 49
16. Harga P1 dalam 1 kg ... 49
17. Harga P2 dalam 1 kg ... 49
18. Harga P3 dalam 1 kg ... 50
20. Biaya peralatan kandang selama penelitian ... 51
21. Biaya peralatan obat-obatan selama penelitian ... 51
22. Biaya sewa kandang dan tenaga kerja ... 52
23. Analisis usaha P0 ... 52
24. Analisis usaha P1 ... 53
25. Analisis usaha P2 ... 54
26. Analisis usaha P3 ... 55
ABSTRAK
SALWA PUTRA: Penambahan Probiotik Starbio pada Suplemen Multinutrisi
Terhadap Analisis Usaha Sapi Bali (Bos sondaicus). Dibimbing oleh EDHY MIRWANDHONO dan ZULFIKAR SIREGAR.
Suplemen multinutrisi merupakan pakan tambahan yang dapat meningkatkan kualitas pakan sapi. Apabila ditambah dengan probiotik starbio dengan kandungan mikroorganisme yang dapat membantu sistem pencernaan ternak dalam mencerna pakan maka efisiensi biaya pakan akan meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Fakultas Pertanian yang dilaksanakan pada bulan Maret 2010 sampai Juli 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai usaha dari penggunaan suplemen multinutrisi terhadap sapi Bali. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriftif dengan 4 perlakuan. Perlakuannya adalah P0 (0% probiotik),
P1 (2% starbio), P2 (4% starbio), P3 (6% starbio).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan laba/rugi tertinggi adalah pada P3 sebesar Rp.154.864,- dan terkecil pada P0 sebesar Rp. 81.734,-. Rataan Benefit
cost ratio (B/C) tertinggi adalah pada P3 sebesar 1,035 dan terkecil pada
P1 sebesar 1,019. Rataan Break even point (BEP) yang terdiri dari BEP harga
produksi tertinggi pada P1 sebesar Rp. 22.267,- dan terkecil pada P3 sebesar Rp.
21.929,-. Rataan BEP volume produksi tertinggi pada P1 sebesar 197,48 kg dan
terkecil pada P2 sebesar 195,96 kg. Rataan income over feed cost (IOFC) tertinggi
adalah pada P3 sebesar Rp. 251.004,- dan terkecil pada P1 sebesar Rp. 182.132,-.
Rataan return on investment (ROI) tertinggi pada P3 sebesar 3,54 % dan terkecil
pada P1 sebesar 1,89 %. Kesimpulannya adalah penambahan probiotik starbio
pada suplemen multinutrisi yang diberikan pada sapi Bali jantan selama penelitian memberikan keuntungan dan dapat digunakan dalam usaha peternakan sapi Bali.
ABSTRACT
SALWA PUTRA: The Addition of Probiotic Starbio in The Nutrition Supplement
on The Financial Analysis of Bali cattle (Bos sondaicus). Under supervised by EDHY MIRWANDHONO and ZULFIKAR SIREGAR.
The Nutrition Supplement is a feed additive that can increase the quality of feed cattle. When added with probiotic starbio containing microorganisms that can assist the digestive system of cattle in digesting feed, the efficiency of feed costs will increase along with increased revenue.
This research was conducted in the Laboratory of Animal Biology, Faculty of Agriculture in Universitas Sumatera Utara beginning from March 2010 to July 2010. The objective of this research was to observe financial value of utilizing Multi-nutrient supplementation of Bali cattle. This research was conducted by using Descriptive method with four treatments. The treatment were P0 (0%
starbio), P1 (2% starbio), P2 (4% starbio), P3 (6% starbio).
The result of this research indicated that the highest average profit was found in treatment P3 (Rp.154.864) and the lowest in treatment P0 (Rp. 81.734).
The highest average benefit cost ratio was found in treatment P3 (1.035) and the
lowest in treatment P1 (1.019). The higest average break even point of production
price was found in treatment P1 (Rp. 22.267) and the lowest in treatment
P3 (Rp. 21 929). The higest average break even point of production volume was
found in treatment P1(197,48 kg) and lowest in treatment P2 (195,96 kg). The
higest average income over feed cost was found in treatment P3 (Rp. 251.004) and
the lowest in treatment P1 (Rp. 182.132). The higest average return on investment
was found in treatment P3 (3.54%) and the lowest in treatment P1 (1.89%). The
conclusion indicate that utilization probiotic starbio in the nutrition supplement provide benefits and was valuable to be a business of Bali cattle.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Usaha penggemukan sapi di Indonesia saat ini sangat berkembang dilihat
dengan semakin banyaknya masyarakat maupun daerah yang mengusahakan
penggemukan sapi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk yang
diikuti peningkatan penghasilan per kapita menjadikan masyarakat semakin
menyadari arti gizi yang menyebabkan pergeseran pola makan masyarakat dari
mengkonsumsi kabrohidrat ke protein (hewani), berupa daging, telur dan susu.
Sapi memberikan peran yang sangat besar (khususnya ternak ruminansia) dalam
memproduksi bahan makanan protein hewani yang dibutuhkan bagi peningkatan
mutu sumber daya manusia, namun besarnya biaya dalam pakan sangat dirasakan
oleh peternak serta lahan penanaman hijauan terus mengalami penurunan. Untuk
mendukung produksi sapi harus diupayakan mencari pakan alternatif yang
potensial, murah dan mudah didapat serta selalu tersedia.
Sistem pemeliharaan ternak sapi di Indonesia pada umumnya adalah
tradisional, dimana pemberian pakan tergantung pada hijauan tanaman pakan
ternak yang tersedia di alam dengan sedikit atau tidak ada pakan tambahan.
(Ahmadi dan Simanjuntak, 2003). Hal ini akan menyebabkan produksi sapi
rendah. Salah satu untuk mengatasinya adalah dengan memperbaiki kualitas
pakan, namun pakan komersil yang berkualitas harganya relatif mahal, disamping
itu penggunaan pakan komersil tidak selalu menjamin penambahan pendapatan
dari usaha penggemukan tersebut. Maka untuk itu perlu dicari bahan pakan yang
Kerangka pemikiran
Berbagai cara terus dilakukan untuk mempermudah terlaksananya sebuah
usaha dengan memperbesar faktor pendukung dan memperkecil atau bahkan
menghilangkan faktor penghambat dengan tujuan ke arah yang lebih baik.
Namun, perlu disadari pula bahwa disamping banyak faktor penunjang terkadang
disisi lain para peternak dihadapkan dengan adanya berbagai faktor pembatas
yang menghambat produktivitas dan pengembangan ternak sapi potong.
Sebagai salah satu ternak ruminansia membutuhkan pakan berupa rumput
atau hijauan yang cukup, baik langsung maupun tidak langsung berupa lahan
pengembalaan atau rumput potongan. Selain itu juga perlu ada pakan penguat dari
hasil ikutan pertanian dan dari pabrik-pabrik seperti molases, bekatul, bungkil
kelapa, bungkil kedelai dan sebagainya.
Peternak berusaha untuk mengalokasikan faktor produksi (lahan, modal
dan tenaga kerja) seefisien mungkin untuk memperoleh hasil dan keuntungan
maksimal. Proses pemeliharaan ternak juga perlu diperhatikan seperti
perkandangan, seleksi bibit, pemberian pakan dan minum, kebersihan ternak, dan
kesehatan ternak.
Pendapatan peternak dipengaruhi oleh faktor permintaan dan harga jual.
Harga akan naik ketika permintaan terhadap suatu komoditi meningkat.
Penerimaan yang akan diperoleh peternak tergantung pada jenis usaha ternaknya
baik sebagai ternak potong atau perah. Pendapatan bersih usaha ternak sapi
diperoleh dari hasil pengurangan dengan biaya yang dikeluarkan selama proses
Secara singkat dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:
Keterangan:
Pengaruh Hubungan
Gambar 1. Kerangka pemikiran usaha penggemukan sapi
Identifikasi masalah
Usaha ternak sapi dalam bentuk usaha tani merupakan salah satu usaha
yang dikelola oleh petani/peternak dengan peran ekonomi yang relatif terbatas.
Merupakan suatu keuntungan bagi peternak sapi bahwa pakan dengan
kualitas yang cukup sudah dapat meningkatkan produksi daging. Untuk
mendapatkan pakan berkualitas cukup, berarti pakan sapi tidak harus mengandung
keseluruhan asam amino seperti pakan pada ternak unggas. Pakan yang
berkualitas cukup tidak menyebabkan sapi kekurangan asam amino karena semua
asam amino yang dibutuhkan oleh sapi dapat dibentuk di dalam rumen jika bahan
untuk menyusun asam amino di dalam rumen tersedia seperti urea, selain itu juga
karbohidrat dan mineral yang ada dalam konsentrat. Kebutuhan urea, karbohidrat
Faktor-faktor yang mempengaruhi : - Bibit tidak tetap - Pakan
- Lahan - Tenaga kerja
- Obat-obatan tetap
- Peralatan (operasional) - Perlengkapan
Usaha Ternak Sapi
dan mineral untuk membentuk asam amino dalam rumen dapat diupayakan dalam
bentuk Suplemen Multinutrisi.
Oleh karena itu untuk mengetahui kelayakan suatu usaha peternakan,
penulis mencoba untuk melakukan analisis terhadap usaha penggemukan sapi
Bali dengan penambahan probiotik starbio pada suplemen multinutrisi.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui nilai usaha dari penambahan probiotik starbio pada
suplemen multinutrisi dalam pakan sapi Bali jantan lepas sapih.
Kegunaan Penelitian
1. Bahan penulisan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk dapat
melaksanakan ujian sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.
2. Bahan informasi bagi peneliti dan peternak sapi mengenai penambahan
probiotik starbio pada suplemen multinutrisi dalam pengembangan usaha
TINJAUAN PUSTAKA
Arti Penting Ternak Sapi bagi Kehidupan
Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya
penghasil daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penting artinya bagi
kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilkan
berbagai macam kebutuhan, terutama bahan makanan berupa daging, disamping
hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit dan tulang
(Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Sudarmono dan Sugeng (2008) menyatakan bahwa daging sangat besar
gunanya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani. Sapi sebagai salah satu
ternak pemakan rumput sangat berperan sebagai pengumpul bahan bergizi rendah
yang diubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia
dalam bentuk daging. Konsumsi protein hewani yang sangat rendah pada anak
anak prasekolah dapat menyebabkan anak-anak yang berbakat normal menjadi
subnormal. Oleh karena itu, protein hewani sangat menunjang kecerdasan,
disamping diperlukan untuk daya tahan tubuh.
Sehubungan dengan kebutuhan protein ini, LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia) pada tahun 1983 merekomendasikan bahwa masyarakat
Indonesia rata-rata memerlukan 50 gram protein/hari, 20 % diantaranya berasal
dari ternak dan ikan, yakni protein dari ternak 4 gram/hari dan ikan 6 gram/hari.
Sedangkan 80 % atau 40 gram lainnya berupa protein nabati. Namun, perlu
pemenuhan kebutuhan protein hewani dari daging ini, kita khususnya peternak
perlu meningkatkan produksi daging (Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Prospek Bisnis Sapi Potong
Prospek beternak sapi potong di Indonesia masih terbuka lebar. Hal ini
disebabkan oleh permintaan daging sapi dari tahun ke tahun terus meningkat.
Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan taraf ekonomi dan kesadaran akan
kebutuhan gizi masyarakat. Selain itu, pertambahan penduduk menyebabkan
kebutuhan akan daging semakin meningkat. Sebaliknya dari pihak produsen atau
peternak semakin kewalahan dalam menyuplai untuk memenuhi permintaan
daging sapi dipasaran. Arus permintaan daging sapi ini sebenarnya sudah cukup
lama dihadapi para peternak. Oleh karena peternak sendiri mengalami banyak
kendala sehingga mereka belum mampu mengembangkan dan meningkatkan
populasi ternak sapi potong untuk mengimbangi permintaan pasar. Berbagai
kendala tersebut umumnya mereka kesulitan untuk mendapatkan areal untuk
penyediaan hijauan yang memadai, dan beberapa unsur pakan penguat masih
bersaing dengan manusia. Di samping itu tidak sedikit lokasi peternakan yang
letaknya dekat pemukiman padat penduduk, sehingga pada saat muncul rencana
pengembangan, peternak sulit melaksanakan (Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Bila kita lihat data-data populasi ternak sapi potong dan yang dipotong di
tahun 1989, pada waktu itu jumlah populasi sebanyak 10 juta ekor dan yang
dipotong 1,2 juta ekor. Sedangkan jumlah populasi di tahun 2005 sebanyak 10,68
juta ekor dan yang dipotong 1,3 juta ekor. Kesemuanya ini menunjukkan pada kita
bahwa baik jumlah populasi dan yang dipotong di tahun 1989 dan 2005
ternak sapi potong sejak tahun delapan puluhan hingga saat ini tahun 2005 yang
sudah berjalan selama 20 tahun ini masih belum mampu menyediakan konsumsi
daging di pasaran, sebagai mana yang diharapkan para konsumen yang melaju
lebih cepat, yang terjadi justru penurunan persediaan konsumsi daging, berhubung
dengan semakin bertambahnya penduduk berarti bertambah pula konsumsi daging
(Sudarmono dan Sugeng, 2008).
Populasi ternak sapi potong dari tahun 2000 – 2005 dapat dilihat pada
Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Populasi ternak sapi potong (000 ekor) tahun 2000 – 2005
Tahun Populasi (000 ekor) Peningkatan (%)
Faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor
ternak sedang faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk
menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan
menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang
baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak
menjamin penampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik
(Hardjosubroto, 1994).
Menurut Blakely dan Bade (1998) bangsa sapi mempunyai klasifikasi
taksonomi sebagai berikut: Phylum: Chordata, Subphylum: Vertebrata, Class:
Ruminantia, Infra ordo: Pecora, Famili: Bovidae, Genus: Bos (cattle), Group:
Taurinae, Spesies: Bos taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi India/sapi zebu),
Bos sondaicus (banteng/sapi Bali).
Karakteristik sapi Bali yaitu: sapi Bali usia pedet, memiliki bulu sawo
matang, sedang yang betina dewasa berbulu merah bata dan tanduknya agak ke
dalam dari kepala. Adapun yang berkelamin jantan dewasa, mempunyai warna
bulu hitam dan tanduknya agak di bagian luar kepala (Murtidjo, 1990).
Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus yang
harus dipenuhi sebagai sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang
paha, pinggiran bibir atas dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus
sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian
dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas
punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk
silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit
keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit
keluar. Pada sapi betina bentuk tanduk yang ideal disebut manggul gangsa yaitu
jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit
melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke
dalam, tanduk ini berwarna hitam.
Tiga sapi lokal yang berpotensi dikembangkan di Indonesia adalah sapi
Ongole (Sumba Ongole dan peranakan Ongole), sapi Bali dan sapi Madura.
Bangsa sapi tersebut telah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan
cekaman di wilayah Indonesia. Dari ketiga bangsa sapi lokal tersebut, sapi Bali
yang baik, kemampuan libido pejantan lebih tinggi, persentase karkas tinggi
(56%) dan kualitas daging baik (Bamualim dan Wirdahayati, 2003).
Sapi memiliki beberapa kelebihan bila ditinjau dari nilai ekonomi dan
pemanfaatannya: Pada umumnya masyarakat lebih menyukai daging sapi
dibanding daging ternak lainnya (kambing, domba, kerbau), sapi merupakan salah
satu sumber budaya masyarakat, misalnya sebagai ternak qurban, sebagai ternak
karapan (di Madura), sebagai ukuran penentu tingkat kesejahteraan sosial manusia
dalam masyarakat, sapi sebagai bentuk tabungan masyarakat yang mudah dijual
apabila terdesak membutuhkan uang yang cepat, kotoran sapi apabila diolah dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk dan bahan bakar alternatif (biogas), usaha ternak sapi
juga membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat membuka lapangan kerja yang
dapat menghidupi banyak keluarga (Sugeng, 1996).
Bahan Pakan Sapi
Dedak Padi
Dedak padi adalah bahan pakan yang diperoleh dari pemisahan beras
dengan kulit gabahnya melalui proses penggilingan padi dari pengayakan hasil
ikutan penumbukan padi (Parakkasi, 1995). Sedangkan menurut Rasyaf (1990),
sebagai bahan makanan asal nabati, dedak memang limbah proses pengolahan
padi menjadi beras. Oleh sebab itu kandungan nutrisinya juga cukup baik, dimana
kandungan protein dedak halus sebesar 12%-13%, kandungan lemak 13%, dan
Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa digunakan sebagai pakan pendamping tepung ikan dan
jagung, tujuannya tetap untuk menekan harga ransum. Kandungan nutrisinya juga
memadai, yaitu protein kasar 20,9%, serat kasar 10,5%, lemak kasar 5-6%, EM
1258 kkal/kg, Ca 3,6%, dan P 0,55% (Rasyaf, 1990).
Molases
Molases atau tetes tebu adalah hasil sampingan pengolahan tebu menjadi
gula. Bentuk fisiknya berupa cairan yang kental dan berwarna hitam. Kandungan
karbohidrat, protein dan mineralnya cukup tinggi sehingga bisa juga dijadikan
pakan ternak walaupun sifatnya hanya sebagai pakan pendukung. Di samping
harganya murah, kelebihan lain tetes tebu terletak pada aroma dan rasanya
(Widayati dan Widalestari, 1996).
Molases dapat dipergunakan sebagai pakan ternak. Keuntungan
penggunaan molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidratnya tinggi
(48-60% sebagai gula), kadar mineral cukup dan rasanya disukai ternak. Tetes
juga mengandung vit B-kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi
ternak seperti cobalt, boron, iodium, tembaga, mangan dan seng., sedangkan
kelemahannya ialah kadar kaliumnya yang tinggi dapat menyebabkan diare, jika
Kandungan nilai gizi molases dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Kandungan nilai gizi molases
Uraian Kandungan (%)
Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Program Studi Peternakan FP USU (2000)
Bahan Pakan Pelengkap
Urea
Anggorodi (1979) menyatakan bahwa urea yang ditambahkan dalam
ransum ruminansia dengan kadar yang berbeda-beda. Urea CO (NH2)2 ternyata
dirombak menjadi protein oleh mikroorganisme rumen. Sejumlah protein dan urea
dalam ransum mempertinggi daya cerna selulosa dalam hijauan. Menurut yang
dilaporkan Basir (1990) selain meningkatkan kualitas hijauan, urea juga dapat
dimanfaatkan sebagai pengganti protein butir-butiran. Urea juga dapat memenuhi
kebutuhan protein untuk pertumbuhan pada produksi pada ternak ruminansia.
Menurut Utomo (1991) menyatakan bahwa penggunaan urea dalam
ransum ternak domba sebanyak 4,5% dari pemberian konsentrat belum
menunjukkan gejala keracunan. Namun apabila urea yang diberikan terlalu
banyak akan menyebabkan kenaikan pH rumen dan serum darah yang
menyebabkan pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme terhambat.
Pigmix
Zat-zat mineral lebih kurang merupakan 3-5% dari tubuh hewan. Hewan
tidak dapat membuat mineral karenanya harus disediakan dalam makanannya.
dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup. Terlalu banyak
mineral dapat membahayakan individu. Suatu keuntungan ialah bahwa sebagian
besar mineral dapat diberikan dalam jumlah yang besar dalam ransum tanpa
mengakibatkan kematian, tetapi kesehatan hewan menjadi mundur sehingga
menyebabkan kerugian ekonomis yang besar (Anggorodi, 1979).
Parakkasi (1995) menyatakan bahwa guna memenuhi kebutuhan mineral,
mungkin dapat diusahakan bila ruminan bersangkutan dapat mengkonsumsi
hijauan yang cukup. Hijauan tropis umumnya mengandung (relatif) kurang
mineral (terutama dimusim kemarau) maka umumnya ruminan di daerah tropis
cenderung defisiensi akan mineral.
Secara umum mineral-mineral berfungsi sebagai berikut: Bahan
pembentukan tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan keras dan kuat,
mempertahankan keadaan koloidal dari beberapa senyawa dalam tubuh,
memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, aktivator sistem enzim
tertentu, komponen dari suatu enzim, mineral mempunyai sifat yang karakteristik
terhadap kepekaan otot dan saraf (Tillman et al., 1981).
Pigmix mengandung segala kebutuhan vitamin, Asam amino dan mineral
pada babi, Mempercepat pertumbuhan babi, meningkatkan kesuburan dan
meningkatkan produksi daging. Memperbaiki konversi ransum sehingga biaya
untuk ransum menjadi lebih murah. Dosis dan cara pemakaian: campurkan secara
merata ke tiap 100 Kg ransum, kemasan kantong plastik isi 500 g, 1 Kg, wadah
plastik isi 5 Kg dan kantong kertas isi 25 Kg. Deptan RI No. D 07021063 FTS.2
Kandungan berberapa vitamin, mineral dan asam amino yang terdapat di
dalam pigmix dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix
Uraian Kandungan
Garam diperlukan oleh sapi sebagai perangsang menambah nafsu makan.
Garam juga sebagai unsur yang dibutuhkan dalam kelancaran pekerjaan faali
tubuh. Menurut Lassiter and Edward (1982) garam yang dimaksud adalah garam
dapur (NaCl), dimana selain berfungsi sebagai mineral juga berfungsi
meningkatkan palatabilitas.
Garam mempunyai rumus umum NaCl. Garam merangsang sekresi saliva.
odema. Defisiensi garam lebih sering terdapat pada hewan herbivora dari pada
hewan lainnya, hal ini disebabkan hijauan dan butiran mengandung sedikit garam
(Anggorodi, 1979).
Garam dapur ditambahkan sebanyak 5% untuk menurunkan tingkat
konsumsi konsentrat berenergi tinggi sampai menjadi 1,25-1,75 Kg/ekor/hari.
Semula pengaruhnya terlihat meningkatkan konsumsi kemudian menurunkan
sampai jumlah yang dikehendaki (Parakkasi, 1995).
Penggunaan toleransi maksimum terhadap pemberian NaCl untuk berbagai
spesies dapat dilihat pada tabel 4 berikut:
Tabel 4. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl
Spesies Level NaCl dalam makanan (%)
Sapi
Probiotik berasal dari bahasa latin yang berarti “untuk kehidupan”; disebut
juga “bakteri bersahabat”, “bakteri menguntungkan”, “bakteri baik”, atau “bakteri
sehat”. Apabila didefinisikan secara lengkap, probiotik adalah kultur tunggal atau
campuran dari mikroorganisme hidup yang apabila diberikan ke manusia atau
hewan akan berpengaruh baik, karena akan menekan pertumbuhan bakteri
Probiotik adalah organisme beserta substansinya yang dapat mendukung
keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan (Parker, 1979). Kemudian
Fuller (1992) menyatakan probiotik adalah mikroorganisme hidup (bentuk kering)
yang mengandung media tempat tumbuh dan produk metabolismenya. Lalu
Fuller (1992) mendefinisikan probiotik suatu mikroba hidup yang dicampurkan
sebagai suplemen dalam pakan yang menguntungkan induk semang dengan
memperbaiki populasi mikroba dalam usus. Sedangkan prebiotik dapat diartikan
sebagai bahan makanan yang tidak dapat dicerna yang secara selektif merangsang
pertumbuhan atau aktivitas bakteri yang bermanfaat pada bagian usus. Probiotik
didefinisikan juga sebagai organisme yang memberikan kontribusi terhadap
keseimbangan mikroba dalam usus (Crawford, 1979).
Penggunaan starbio pada pakan mengakibatkan bakteri yang ada pada
starbio akan membantu memecahkan struktur jaringan yang sulit terurai sehingga
lebih banyak zat nutrisi yang dapat diserap dan ditransformasikan ke produk
ternak. Selain itu, produktivitas ternak akan meningkat, bahkan lebih banyak zat
nutrisi yang dapat diuraikan dan diserap (Ritonga, 1992).
Pemberian probiotik starbio pada pakan ternak akan meningkatkan
kecernaan protein dan mineral fosfor (Piao et al., 1999). Hal ini terjadi karena
probiotik starbio merupakan kumpulan mikroorganisme (mikroba probiolitik,
selulotik, lignolitik, lipolitik dan aminolitik serta nitrogen fiksasi non simbiosis)
yang mampu menguraikan bahan organik kompleks pada pakan menjadi bahan
Pakan Ruminansia
Kebutuhan ternak akan pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap
nutrisi. Jumlah nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada jenis ternak,
umur, fase pertumbuhan (dewasa, bunting dan menyusui), kondisi tubuh
(normal atau sakit) dan lingkungan tempat hidupnya serta bobot badannya
(Tomaszewska dkk., 1993).
Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat
menyebabkan defisiensi zat makanan sehingga ternak mudah terserang penyakit.
Penyediaan pakan harus diupayakan secara terus-menerus dan sesuai dengan
standar gizi menurut status ternak yang dipelihara (Cahyono, 1998).
Cara pemberian pakan yang baik adalah dengan menggunakan
tempat/wadah pakan dengan maksud untuk menghindarkan terbuangnya ransum
sehingga tidak terjadi pemborosan dan semua pakan betul-betul habis dimakan
sapi. Minuman berupa air bersih diberikan secara adlibitum (tersedia terus
menerus) dan kualitas airnya harus dijaga agar tidak terkontaminasi oleh
bibit-bibit penyakit (Suparman dan Azis, 2003).
Suplemen Multinutrisi
Pakan yang berkualitas cukup tidak menyebabkan sapi kekurangan asam
amino karena semua asam amino yang dibutuhkan oleh sapi dapat dibentuk di
dalam rumen jika bahan untuk menyusun asam amino di dalam rumen tersedia
seperti urea, selain itu juga karbohidrat dan mineral yang ada dalam konsentrat.
Kebutuhan urea, karbohidrat dan mineral untuk membentuk asam amino dalam
rumen dapat diupayakan dalam satu bentuk yang disebut urea mineral molases
antara urea mineral molases blok (UMMB) dengan bentuk dodol adalah:
Konsistensi dodol agak lunak sedangkan UMMB keras, dodol dapat digigit oleh
sapi sedangkan UMMB dijilat, cara pembuatan dodol dengan pemanasan di atas
kompor sedangkan UMMB tanpa pemanasan di atas kompor, dodol tidak ada
kandungan bahan perekat sedangkan UMMB ada bahan perekatnya.
Analisis Usaha
Menurut Hadisapoetra (1973) dalam Suparman dan Azis (2003), bahwa
suatu kegiatan usaha tani dikatakan berhasil apabila memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut: Usaha tani harus dapat menghasilkan pendapatan yang dapat
digunakan untuk membayar seluruh biaya usaha termasuk biaya alat-alat yang
diperlukan, usaha tani harus dapat menghasilkan pendapatan yang dapat
digunakan untuk membayar bunga modal yang digunakan dalam kegiatan usaha
tani tersebut, baik modal sendiri maupun modal yang berasal dari pinjaman,
usaha tani harus dapat menghasilkan pendapatan yang dapat dipakai untuk
membayar upah tenaga kerja yang layak, usaha tani harus memberikan
pendapatan yang dapat menunjang kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf
hidup kepada pelaku usaha.
Setiap usaha apapun dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya. Keuntungan dan kerugian ternak hanya mungkin bisa diketahui
apabila seluruh ongkos dan biaya produksi bisa diperhitungkan (Sugeng, 1996).
Menurut Soekartawi dkk., (1986) tipologi usaha ternak dibagi berdasarkan
skala usaha dan tingkat pendapatan peternak dan diklasifikasikan ke dalam empat
Peternakan sebagai cabang usaha (30-70%); 3) Peternakan sebagai usaha pokok
(70-100%); Peternakan sebagai industri (100%).
Biaya dan Penerimaan
Biaya adalah nilai dari semua korbanan ekonomis yang diperlukan yang
tidak dapat dihindarkan, dapat diperkirakan dan dapat diukur untuk menghasilkan
sesuatu produk. Biaya bagi perusahaan adalah nilai dari faktor-faktor produksi
yang digunakan untuk menghasilkan output (Budiono, 1990). Lipsey et al., (1995)
mendefinisikan pengeluaran atau biaya bagi perusahaan adalah sebagai nilai input
yang digunakan untuk memproduksi suatu output tertentu. Pengeluaran
perusahaan adalah semua uang yang dikeluarkan sebagai biaya produksi, baik itu
biaya tetap maupun biaya variabel atau biaya-biaya lainnya (Kadarsan, 1995).
Biaya tetap adalah jumlah biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan
jumlah output tertentu sedangkan biaya yang berkaitan langsung dengan output
yang bertambah besar dengan meningkatnya produksi dan berkurang dengan
menurunnya produksi disebut biaya variabel (Lipsey et al., 1995).
Analisis Rugi-Laba
Keuntungan (laba) suatu usaha ditentukan oleh selisih antara total
penerimaan (total reserve) dan total pengeluiaran (total cost) atau secara
matematis dapat dituliskan K = TR-TC (Soekartawi, 1993) dan Hicks (1946)
mendefinisikan laba sebagai nilai maksimum yang dapat didistribusikan oleh
suatu satuan usaha dalam suatu periode bagaimana pada awal periode.
Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan yang menggambarkan
pendapatan serta jumlah biaya dan jenis-jenis biaya yang dikeluarkan. Laporan
laba-rugi (balance sheet) adalah laporan yang menunjukkan jumlah pendapatan
yang diperoleh dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam suatu periode tertentu.
Setiap jangka waktu tertentu, umumnya satu tahun, perusahaan perlu
memperhitungkan hasil usaha perusahaan yang dituangkan dalam bentuk laporan
laba-rugi. Hasil usaha tersebut didapat dengan cara membandingkan penghasilan
dan biaya selama jangka waktu tertentu. Besarnya laba atau rugi akan diketahui
dari hasil perbandingan tersebut. (Kasmir dan Jakfar, 2003).
Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)
Benefit cost ratio (B/C ratio) adalah untuk menentukan sejauh mana
efisiensi suatu usaha itu dijalankan yang diperoleh dengan cara membagikan total
hasil produksi dengan total biaya produksi. Kadariah (1987) menyatakan bahwa
untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu usaha dapat digunakan parameter tingkat
keuntungan dan kerugian suatu usaha yaitu dengan mengukur besarnya
pemasukan dibagi besarnya pengeluaran. Secara matematis dituliskan:
B/C = Total hasil produksi Total biaya produksi Dimana bila:
B/C ratio > 1 : efisien B/C ratio = 1 : impas B/C ratio < 1 : tidak efisien
Soekartawi et al., (1986) menyatakan bahwa suatu usaha dikatakan
memberikan manfaat bila nilai B/C Ratio > 1. Semakin besar nilai B/C ratio maka
semakin efisien usaha tersebut dan sebaliknya, semakin kecil nilai B/C ratio-nya
maka semakin tidak efisien usaha tersebut. Rumus untuk mencari nilai B/C ratio
B/C Ratio = Outout Input Dimana:
Output adalah keluaran yang diperoleh dari usaha tersebut yang berupa hasil
penjualan, sedangkan
Input adalah korbanan yang diberikan berupa biaya-biaya untuk proses produksi
Analisis Break Even Point (BEP)
Menurut Ibrahim (2003), BEP adalah titik pulang pokok, dimana
total revenue = total cost. Dilihat dari jangka waktu pelaksanaan sebuah proyek,
terjadinya BEP tergantung pada lamanya arus penerimaan sebuah proyek dapat
menutupi segala biaya operasi dan pemeliharaan beserta biaya modal lainnya. Ada
dua jenis BEP, BEP harga produksi yang diperoleh dengan cara membagikan total
biaya produksi dengan bobot badan setelah pemeliharaan. Kemudian BEP volume
produksi diperoleh dengan cara membagikan total biaya produksi dengan harga
jual perkilogramnya.
Income Over Feed Cost (IOFC)
IOFC adalah selisih antara pendapatan usaha peternakan terhadap biaya
pakan. Pendapatan ini merupakan perkalian antara produksi peternakan dengan
harga jual, sedangkan biaya pakan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk
menghasilkan ternak tersebut (Prawirokusumo, 1990).
Selain pegangan berproduksi secara teknis juga diperlukan pegangan
berproduksi dari segi ekonomi, beberapa tolak ukur yang dapat digunakan untuk
pegangan berproduksi adalah IOFC atau selisih pendapatan usaha peternakan
peternakan (kilogram hidup) dengan harga jual. Sedangkan biaya pakan adalah
jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan kilogram bobot hidup
(Hermanto, 1996).
Return On Investment (ROI)
ROI merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang
digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen.
Ratio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikannya dengan
mengabaikan sumber pendanaan dan biasanya ratio ini diukur dengan presentase.
Ratio ini merupakan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal
pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil (rendah) ratio ini semakin tidak
baik, demikian pula sebaliknya. Artinya ratio ini digunakan untuk mengukur
efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan (Kasmir dan Jakfar, 2003).
Return on Investment (ROI) merupakan analisa untuk mengetahui tingkat
keuntungan usaha sehubungan dengan modal yang digunakan. Besar kecilnya
ROI ditentukan oleh tingkat perputaran modal dan keuntungan bersih yang
dicapai.
ROI = Pendapatan Bersih (Net Income) x 100% Total Aset (Modal)
Semakin besar keuntungan yang diterima maka semakin besar tingkat
pengembalian modal, dan sebaliknya. Kelayakan usaha diketahui dengan
membandingkan ROI dengan tingkat suku bunga pinjaman. Suatu usaha dikatakan
layak apabila ROI lebih besar dari tingkat suku bunga pinjaman dan tidak layak
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak, Program
Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini
dilaksanakan selama empat bulan yang dimulai pada bulan Maret 2010 sampai
Juli 2010.
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 ekor sapi Bali jantan
lepas sapih dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg, hijauan lapangan,
suplemen multinutrisi yang terdiri atas: molases, urea, bungkil kelapa, dedak padi,
starbio, kapur, garam dan pigmix, obat-obatan dan air minum.
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang individual
sebanyak 4 unit beserta perlengkapannya, tempat pakan dan minum, timbangan
500 kg dengan kepekaan 10 g untuk menimbang berat badan sapi selama
penelitian, timbangan dengan kapasitas 2 kg dengan kepekaan 10 gr untuk
menimbang bahan suplemen multinutrisi, timbangan salter dengan kapasitas 10 kg
dengan kepekaan 10 gr untuk menimbang hijauan, cetakan kue untuk mencetak
suplemen multinutrisi, kompor untuk memanaskan molases, wajan sebagai wadah
dalam mencampur bahan suplemen multinutrisi pada saat dipanaskan, kandang
kebersihan (ember, sapu, pisau, sabit, tempat sampah), lampu sebagai alat
penerangan, kalkulator sebagai alat untuk mempermudah perhitungan, dan alat
tulis sebagai alat pencatat data selama penelitian
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriftif. Perlakuan
yang diteliti adalah :
P0 = Hijauan lapangan + suplemen multinutrisi 0
P1 = Hijauan lapangan + suplemen multinutrisi 1
P2 = Hijauan lapangan + suplemen multinutrisi 2
P3 = Hijauan lapangan + suplemen multinutrisi 3
Susunan pakan suplemen multinutrisi dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:
Table 5. Susunan suplemen multinutrisi (SM)
Bahan Komposisi (%)
SM 0 SM 1 SM 2 SM 3
Bungkil Kelapa 21,3 27,5 34,3 40
Dedak 40,6 29,8 19 8,8
Kombinasi perlakuan yang dilakukan :
Periode Pelaksanaan (Bulan) Kandang
Parameter Penelitian
Analisis Usaha
Total Biaya Produksi
Total biaya produksi atau total pengeluaran yaitu biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk, diperoleh dengan cara menghitung
biaya pembelian bibit, sewa kandang dan peralatan, biaya pakan, biaya
obat-obatan, biaya tenaga kerja.
Total Hasil Produksi
Total hasil produksi atau total penerimaan yaitu seluruh produk yang
dihasilkan dalam kegiatan ekonomi diperoleh dengan cara menghitung harga jual
sapi dan harga jual kotoran sapi
Analisa Laba-Rugi
Analisa ekonomi atau Laba-Rugi dilakukan untuk mengetahui apakah
usaha tersebut rugi atau menguntungkan dengan cara menghitung selisih antara
total hasil produksi dengan total biaya produksi.
Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)
B/C ratio diperoleh dengan cara membagikan total hasil produksi dengan
total biaya produksi atau dituliskan dengan rumus:
B/C = Total hasil produksi Total biaya produksi
Dimana bila:
Break Even Point (BEP)
BEP yaitu kondisi dimana suatu usaha dinyatakan tidak untung dan tidak
rugi dan disebut titik impas. BEP dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu:
a. BEP Harga Produksi yaitu diperoleh dengan cara membagikan total
biaya produksi dengan bobot badan setelah pemeliharaan.
b. BEP Volume Produksi yaitu diperoleh dengan cara membagikan total
biaya produksi dengan harga jual perkilogramnya.
Income Over Feed Cost (IOFC)
IOFC didapat dengan cara pendapatan usaha peternakan yang didapat dari
berat badan ternak (bobot potong-bobot awal) di kali harga ternak/kg dikurangi
dengan biaya pakan (total konsumsi dikali harga pakan)
IOFC = (PBB x Rp.22.500) – (Jumlah konsumsi x Harga pakan)
Return on Investment (ROI)
Didapat dengan cara membagikan nilai pendapatan bersih dengan modal
yang dikeluarkan dikali 100%. Secara Sistematis:
ROI = Pendapatan Bersih (Net Income) x 100% Total Aset (Modal)
Pelaksanaan penelitian
1. Persiapan kandang
Kandang dan semua peralatan yang digunakan seperti tempat pakan dan
minum dibersihkan dan disuci hamakan melalui fumigasi dengan
menggunakan KMnO4 dan formalin.
2. Pemberian pakan dan air minum
Pakan yang digunakan adalah 100% hijauan yang berupa rumput dan
diberikan ditimbang keesokan harinya untuk mengetahui konsumsi untuk
ternak tersebut.
3. Pemberian suplemen multinutrisi
Suplemen multinutrisi diberikan sebanyak 250 g/ekor/hari dalam waktu
dua kali sehari yaitu pagi dan sore.
3. Pemberian obat-obatan
Ternak sapi sebelum masuk kandang penelitian terlebih dahulu diberikan
obat cacing WormZol-B selama adaptasi. Sedangkan obat-obatan yang lain
seperti superkiller dan oxytetracyclin salep diberikan pada saat penelitian.
4. Pengambilan data
Langkah-langkah mengambil data dan analisa data:
1. Dilakukan pengukuran (pretest) yaitu data rata-rata bobot badan awal sapi
pada setiap level perlakuan pakan.
2. Dilakukan survei harga pakan yaitu diarea pasar, poultry shop dan tempat
lain yang menyangkut harga pakan dan harga peralatan-peralatan yang
digunakan.
3. Dilakukan pengukuran (posttest) yaitu bobot badan awal sapi dan bobot
badan akhir sapi, konsumsi pakan sapi dan feses setiap level perlakuan
pakan.
4. Dilakukan analisis usaha pada data-data pretest dan posttest untuk
mengetahui nilai ekonomi dari keseluruhan usaha ternak sapi. Analisis
usaha yang dilihat adalah analisis laba-rugi, analisis B/C ratio, analisis
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Usaha
Total Biaya Produksi
Total biaya produksi atau total pengeluaran yaitu biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk, diperoleh dengan cara
menghitung: biaya pembelian sapi, biaya pakan, biaya sewa kandang, biaya
peralatan, biaya obat-obatan dan biaya tenaga kerja.
Biaya Bibit
Biaya bibit adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bibit sapi
sebanyak 4 ekor, harga diperoleh dari hasil perkalian antara bobot badan awal
dengan harga bobot badan hidup perkilogramnya. Harga bobot hidup perkilogram
yang digunakan Rp. 22.500,- sehingga diperoleh biaya bibit seperti tertera pada
Tabel 6 berikut:
Tabel 6. Harga bibit sapi/perlakuan (Rp).
Bulan P0 P1 P2 P3
1 3.555.000 (S2) 3.510.000 (S3) 3.712.500 (S4) 3.375.000 (S1)
2 4.144.500 (S4) 3.759.750 (S1) 3.906.000 (S2) 3.888.000 (S3)
3 4.320.000 (S3) 4.509.000 (S4) 4.110.750 (S1) 4.324.500 (S2)
4 4.468.500 (S1) 4.756.500 (S2) 4.671.000 (S3) 4.907.250 (S4)
Sumber : Data primer yang diolah
Biaya Pakan
Biaya yang dikeluarkan untuk membeli pakan yang diperoleh dari
perkalian antara jumlah pakan yang diberikan dengan harga pakan
perkilogramnya sehingga diperoleh biaya pakan selama penelitian seperti tertera
Tabel 7. Biaya pakan selama penelitian/perlakuan (Rp).
Bulan P0 P1 P2 P3
1 148.055 (S2) 147.491 (S3) 156.816 (S4) 144.546 (S1)
2 171.455 (S4) 157.391 (S1) 164.016 (S2) 164.346 (S3)
3 178.655 (S3) 187.091 (S4) 172.116 (S1) 182.346 (S2)
4 184.055 (S1) 196.991 (S2) 194.616 (S3) 205.746 (S4)
Sumber: Data primer yang diolah
.
Biaya/Upah tenaga kerja
Biaya atau upah tenaga kerja adalah biaya yang dikeluarkan untuk
memelihara sapi selama penelitian. Berdasarkan UMRP SUMUT tahun 2010
(Upah Minimum Regional Propinsi Sumatera) sebesar Rp. 1.020.000/bulan.
Dengan asumsi 1 orang tenaga kerja dapat menangani 5 ST yaitu 5 ekor sapi
(Peraturan Menteri Pertanian Nomor 54/Permentan/OT.140/10/2006). Sehingga
upah yang dikeluarkan untuk 4 ekor sapi dengan masa pemeliharaan selama 120
hari tertera pada Tabel 8 berikut:
Tabel 8. Biaya tenaga kerja perbulan/perlakuan (Rp).
Bulan P0 P1 P2 P3
1 102.000 102.000 102.000 102.000
2 102.000 102.000 102.000 102.000
3 102.000 102.000 102.000 102.000
4 102.000 102.000 102.000 102.000
Sumber: Data primer yang diolah
Biaya Sewa Kandang dan Peralatan
Biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan kandang diperhitungkan
berdasarkan nilai sewa kandang dan peralatan sehingga diperoleh sewa kandang
Tabel 9. Biaya sewa kandang selama penelitian (Rp)
Bulan P0 P1 P2 P3
1 22.750 22.750 22.750 22.750
2 22.750 22.750 22.750 22.750
3 22.750 22.750 22.750 22.750
4 22.750 22.750 22.750 22.750
Sumber: Data primer yang diolah
Biaya Obat-obatan
Biaya obatan yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membeli
obat-obatan dan vitamin sehingga diperoleh biaya yang tertera pada Tabel 10 berikut:
Tabel 10. Harga Obat-obatan yang digunakan selama penelitian (Rp).
Bulan P0 P1 P2 P3
1 12.500 12.500 12.500 12.500
2 12.500 12.500 12.500 12.500
3 12.500 12.500 12.500 12.500
4 12.500 12.500 12.500 12.500
Sumber: Data primer yang diolah
Total Hasil Produksi
Total hasil produksi atau total penerimaan yaitu seluruh produk yang
dihasilkan dalam kegiatan pemeliharaan sapi ini yang diperoleh dengan cara
menghitung harga jual sapi beserta feses.
a. Penjualan Sapi
Penjualan sapi yaitu hasil perkalian antara bobot badan akhir dengan harga
bobot hidup perkilogramnya. Harga bobot hidup perkilogram yang digunakan
sebesar Rp.22.500,- sehingga diperoleh hasil penjualan sapi selama penelitian
Tabel 11. Harga jual sapi/perlakuan (Rp).
Sumber: Data primer yang diolah
b. Penjualan Kotoran Sapi
Yaitu hasil perkalian antara jumlah feses dengan harga perkilogramnya,
Harga kotoran basah perkilogram yang digunakan sebesar Rp. 100,- sehingga
diperoleh hasil penjualan kotoran sapi tertera pada Tabel 12 berikut:
Tabel 12. Harga penjualan kotoran sapi/perlakuan (Rp)
Bulan P0 P1 P2 P3
1 38.778 (S2) 37.084 (S3) 45.021 (S4) 36.524 (S1)
2 41.623 (S4) 33.940 (S1) 42.288 (S2) 38.333 (S3)
3 33.828 (S3) 44.199 (S4) 33.407 (S1) 42.983 (S2)
4 33.179 (S1) 41.149 (S2) 41.281 (S3) 46.603 (S4)
Sumber: Data primer yang diolah
Analisis Keuntungan (Laba/Rugi)
Keuntungan (laba) dan rugi suatu usaha diketahui setelah total biaya
produksi dikurangi dengan total hasil produksi. Sehingga diperoleh keuntungan
(laba) seperti yang tertera pada Tabel 13 berikut:
Tabel 13. Keuntungan (laba-rugi) tiap level perlakuan (Rp)
Bulan P0 P1 P2 P3
1 104.473 (S2) 130.342 (S3) 182.955 (S4) 139.478 (S1)
2 97.417 (S4) 90.298 (S1) 159.522 (S2) 168.737 (S3)
3 68.922 (S3) 118.107 (S4) 81.790 (S1) 155.387 (S2)
4 56.123 (S1) 84.907 (S2) 127.915 (S3) 155.857 (S4)
Sumber: Data primer yang diolah
Analisis Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)
Analisis B/C Ratio digunakan dalam suatu usaha untuk mengetahui layak
tersebut dihentikan saja karena kurang layak. Nilai B/C ratio dapat dilihat pada
Tabel 14 berikut:
Tabel 14. B/C ratio tiap perlakuan pakan
Bulan P0 P1 P2 P3
1 1,027 (S2) 1,034 (S3) 1,046 (S4) 1,038 (S1)
2 1,022 (S4) 1,022 (S1) 1,038 (S2) 1,040 (S3)
3 1,015 (S3) 1,024 (S4) 1,019 (S1) 1,033 (S2)
4 1,012 (S1) 1,017 (S2) 1,026 (S3) 1,030 (S4)
Sumber: Data primer yang diolah
Break Event Point (BEP)
Break Event Point (BEP) yaitu kondisi dimana suatu usaha dinyatakan
tidak untung dan tidak rugi dan disebut titik impas. BEP (Break Event Point)
dapat dibagi menjadi dua yaitu:
BEP Harga Produksi
Dimana diperoleh dari hasil pembagian total biaya produksi dengan berat
hidup sapi (kg). BEP harga produksi dapat dilihat pada Tabel 15 berikut:
Tabel 15. BEP harga produksi tiap level perlakuan (Rp)
Bulan P0 P1 P2 P3
1 22.122 (S2) 21.960 (S3) 21.751 (S4) 21.884 (S1)
2 22.222 (S4) 22.192 (S1) 21.890 (S2) 21.821 (S3)
3 22.331 (S3) 22.161 (S4) 22.256 (S1) 21.968 (S2)
4 22.393 (S1) 22.308 (S2) 22.117 (S3) 22.041 (S4)
Sumber: Data primer yang diolah
BEP Volume Produksi
Dimana diperoleh dari hasil pembagian total biaya produksi dengan harga
penjualan perkilogram. BEP volume produksi setiap perlakuan dapat dilihat pada
Tabel 16. BEP volume produksi tiap level perlakuan (Kg).
Sumber: Data primer yang diolah
IOFC (Income Over Feed Cost)
Dimana diperoleh dari hasil selisih penjualan sapi dengan biaya pakan
yang digunakan selama penelitian. IOFC tiap level perlakuan dapat dilihat pada
Tabel 17 berikut:
Tabel 17. IOFC tiap level perlakuan (Rp).
Bulan P0 P1 P2 P3
1 202.944 (S2) 230.508 (S3) 275.183 (S4) 240.204 (S1)
2 193.044 (S4) 193.608 (S1) 254.483 (S2) 267.654 (S3)
3 172.344 (S3) 211.158 (S4) 185.633 (S1) 249.654 (S2)
4 160.194 (S1) 181.008 (S2) 223.883 (S3) 246.504 (S4)
Sumber: Data primer yang diolah
ROI (Return on Investment)
ROI bertujuan untuk mengetahui tingkat pengembalian modal yang
ditanamkan dengan membandingkan nilai keuntungan usaha dengan modal usaha
yang dikeluarkan. Dari hasil penelitian diperoleh nilai ROI pada Tabel 19 berikut:
Tabel 19. ROI tiap level perlakuan (%).
Bulan P0 P1 P2 P3
1 2,72 (S2) 3,43 (S3) 4,57 (S4) 3,81 (S1)
2 2,19 (S4) 2,23 (S1) 3,79 (S2) 4,03 (S3)
3 1,49 (S3) 2,44 (S4) 1,85 (S1) 3,35 (S2)
4 1,17 (S1) 1,67 (S2) 2,56 (S3) 2,97 (S4)
Tabel 19. Rekapitulasi rataan hasil penelitian
Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa pada perlakuan P0 memberi keuntungan
rata-rata sebesar Rp. 81.734,-, perlakuan P1 memberi keuntungan rata-rata sebesar
Rp. 105.914,-, perlakuan P2 memberi keuntungan rata-rata sebesar Rp. 138.045,-
dan perlakuan P3 memberi keuntungan rata-rata sebesar Rp. 154.864,-. Didapat
bahwa rataan keuntungan terbesar adalah pada P3 sebesar Rp.154.864,- dan
terkecil pada P0 sebesar Rp. 81.734,-. Hal ini disebabkan oleh kenaikan
pertambahan bobot badan pada perlakuan P3 lebih tinggi daripada pertambahan
bobot badan perlakuan P0, P1 dan perlakuan P2. Seperti halnya pernyataan
Lipsey et al., (1995), keuntungan adalah selisih antara hasil yang diterima dari
penjualan dengan biaya sumber daya yang telah digunakan untuk
memproduksinya. Walaupun harga pakan P3 lebih tinggi dari harga pakan P0, P1
dan P2 namun penerimaan dari penjualan P3 lebih tinggi dari penjualan P0,P1 dan
P2.
Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa nilai benefit cost ratio pada perlakuan
P0 sebesar 1,019, perlakuan P1 sebesar 1,024, perlakuan P2 sebesar 1,032 dan
perlakuan P3 sebesar 1,035. Diketahui bahwa benefit cost ratio (B/C) terbesar
adalah pada P3 sebesar 1,035 dan terkecil pada P1 sebesar 1,019. Dari hasil
penelitian terlihat bahwa seluruh perlakuan memiliki nilai B/C > 1 yang artinya
adalah efisien (layak) dijadikan suatu usaha. Hal ini sesuai dengan pernyataan
usaha dapat digunakan parameter tingkat keuntungan dan kerugian suatu usaha
yaitu dengan mengukur besarnya pemasukan dibagi besarnya pengeluaran dimana
bila B/C ratio > 1 berarti efisien, B/C = 1 berarti impas dan B/C ratio < 1 berarti
tidak efisien.
Dari Tabel 19 juga diperoleh hasil rataan Break even point (BEP) yang
terdiri dari BEP harga produksi pada perlakuan P0 sebesar 22.267,-, perlakuan P1
sebesar Rp. 22.155,-, perlakuan P2 sebesar Rp. 22.004 dan perlakuan P3 sebesar
Rp. 21.929. Didapat bahwa rataan BEP terbesar terdapat pada P1 sebesar
Rp. 22.267,- dan terkecil pada P3 sebesar Rp. 21.929,- dimana pada BEP harga
produksi pada semua perlakuan masih dalam level aman karena dibawah harga
pasar sebesar Rp. 22.500,-. Hal ini perlu diketahui untuk melihat batasan-batasan
produksi minimal agar tidak mengalami kerugian sebagaimana menurut
Ibrahim (2003), Break Even Point adalah titik pulang pokok, dimana
total revenue = total cost. Dilihat dari jangka waktu pelaksanaan proyek,
terjadinya BEP tergantung pada lamanya arus penerimaan sebuah proyek dapat
menutupi segala biaya operasi dan pemeliharaan beserta biaya modal lainnya.
Selanjutnya rataan BEP volume produksi pada perlakuan P0 sebesar 196,88 kg,
perlakuan P1 sebesar 197,48 kg, perlakuan P2 sebesar 195,96 kg dan perlakuan P3
sebesar 197,12 kg. Didapat bahwa rataan BEP volume produksi terbesar terdapat
pada P1 sebesar 197,48 kg dan terkecil pada P2 sebesar 195,96 kg. Dari rataan
BEP volume produksi menunjukkan bahwa seluruh perlakuan masih berada
dibawah rataan bobot hidup sapi yang diperoleh pada P0 sebesar 198,88 kg, P1
Dari Tabel 19 juga diperoleh hasil rataan IOFC pada perlakuan P0 sebesar
Rp. 182,132,-, perlakuan P1 sebesar Rp. 204.071,-, perlakuan P2 sebesar
Rp. 234.796,- dan pada perlakuan P3 sebesar Rp. 251.004,-. Didapat bahwa rataan
IOFC terbesar terdapat pada P3 sebesar Rp. 251.004,- dan terkecil pada P1 sebesar
Rp. 182.132,-. Walaupun harga pakan P3 lebih besar daripada harga pakan P0, P1
dan P2 namun penerimaan dari penjualan P3 mempunyai selisih lebih besar
terhadap biaya pakan daripada P0, P1 dan P2, sebagaimana pernyataan dari
Prawirokusumo (1990) yang menyatakan bahwa IOFC adalah selisih antara
pendapatan usaha peternakan terhadap biaya pakan. Pendapatan ini merupakan
perkalian antara produksi peternakan dengan harga jual, sedangkan biaya pakan
adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan ternak tersebut.
Dari Tabel 19 juga diperoleh hasil rataan ROI pada perlakuan P0 sebesar
1,89 %, perlakuan P1 sebesar 2,44 %, perlakuan P2 sebesar 3,19 % dan perlakuan
P3 sebesar 3,54 %. Didapat bahwa rataan ROI terbesar terdapat pada P3 sebesar
3,54% dan terkecil pada P1 sebesar 1,89 %. Hasil terbaik terdapat pada P3 karena
memiliki rataan lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Kasmir dan Jakfar (2003)
menyatakan bahwa ratio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang
dikendalikannya dengan mengabaikan sumber pendanaan dan biasanya ratio ini
diukur dengan presentase. Ratio ini merupakan produktivitas dari seluruh dana
perusahaan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil (rendah)
ratio ini semakin tidak baik, demikian pula sebaliknya. ROI pada semua perlakuan
dalam keadaan aman jika dilihat dari suku bunga pinjaman sebesar 1,33 %
perbulan sehingga layak dijadikan suatu usaha. Soekarwati (1993) menyatakan
suku bunga pinjaman. Suatu usaha dikatakan layak apabila ROI lebih besar dari
tingkat suku bunga pinjaman dan tidak layak apabila ROI lebih kecil dari tingkat
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penambahan probiotik starbio pada suplemen multinutrisi yang diberikan
pada sapi Bali jantan selama penelitian memberikan keuntungan dan dapat
digunakan dalam usaha peternakan sapi Bali.
Saran
Pendapatan setiap perlakuan pakan dengan penambahan level starbio dari
0 %, 2%, 4% dan 6% secara interval mengalami kenaikan. Penambahan level
starbio pada level yang lebih dari 6% sangat disarankan untuk dilakukan
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan Simanjuntak, D., 2003. Ternak Sapi potong. Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta.
Anggorodi, R., 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.
Bamualim, A. dan Wirdahayati, R.B., 2003. Nutrition and Management Strategies to Improve Bali Cattle Productivity in Nusa Tenggara. In. Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia. K. Entwistle and D.R. Lindsay (Eds). ACIAR Proceeding No. 110.
Basir, H. J., 1990. Penggunaan Limbah Pertanian sebagai Pakan Ternak, Laporan Penelitian Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh.
Blakely, J. dan D.H. Bade, 1998. Ilmu Peternakan. Edisi 4. UGM Press, Yogyakarta.
Budiono, 1990. Ekonomi Mikro. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 1. Edisi kedua, Cetakan ke II. BPFE, Yogyakarta.
Cahyono, B., 1998. Beternak Domba dan Kambing. Kanisius, Yogyakarta.
Central Unggas, 2009. http://central unggas.blogspot.com/2009/03/ Potensi-Isolat-Lactobacillus-dari.html.
Crawford, J.S., 1979. Probiotics in Animal Nutrition. Arkansas Nutr. Conf: 45-55.
Fuller, M.F., 1992. Probiotics, In Man and Abinal. J. Appl. Bacterial 66: 365-378.
Hadisapoetro, S., 1973. Pembangunan Pertanian. Departemen Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, UGM, Yogyakarta.
Hardjosubroto, W., 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Hermanto, F., 1996. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya, Jakarta.
Hicks, J. R., 1946. Value and Capital 2th Edition. Oxford University Press, USA.
Indeks Obat Hewan Indonesia, 2007. Edisi VI. Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian dengan Asosiasi Obat Hewan Indonesia 2007. PT Gallus Indonesia Utama (GITA Pustaka), Jakarta.
Kadariah, 1987. Pengantar Evaluasi Proyek. Lembaga Penelitian Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Kadarsan, H., 1995. Keuangan Pertanian dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis. Cetakan kedua. PT. Gramedia, Jakarta.
Kasmir dan Jakfar, 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Kencana, Bogor.
Lassiter, J.W. and Edward, H.P.M., 1982. Animal Nutrition. Reston Publishing Comp. Inc, Virginia.
Lembah Hijau Multifarm. 1995. Pakan Lebih Hemat dengan Starbio. CV. Lembah Hijau Indonesia, Bogor.
Lipsey, R., P. Courant, D. Purvis dan P. Steiner, 1995. Pengantar Mikroekonomi. Jilid I. Binarupa Aksara, Jakarta.
Murtidjo, B.A., 1990. Sapi Potong. Penerbit Kanisius,Yogyakarta.
Parakkasi, A., 1995. Ilmu Makanan Ternak dan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.
Parker, R.D., 1979. Probiotics, The Other Hall of the Antibiotica Story. Jurnal Animal Nutrition Health. 29: 4-8.
Piao, X.S., I.K. Han, J.H. Kim, W.T. cho, Y.H. Kim and C. Liang, 1999. Effects of Kemzyme, Phytase and Yeast.
Prawirokusumo, S., 1990. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE, Yogyakarta.
Rangkuti, M., A. Musofie, P. Sitorus, I.P. Kompiang, N. Kusumawardhani, dan A. Roesjat, 1985. Pemanfaatan Daun Tebu Untuk Pakan Ternak di Jawa Timur. Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu Untuk Pakan Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Grati.
Rasyaf, M., 1990. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Kanisius, Yogyakarta.
Ritonga, H., 1992. Beberapa Cara Menghilangkan Mikroorganisme Patogen. Majalah Ayam dan Telur No. 73 Maret 1992. Hal : 2-26.
Sudarmono, A.S. dan Sugeng, Y.B., 2008. Sapi Potong. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soekartawi, J., L. Dillon, J. B. Hardaker dan A. Soeharjo, 1986. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas indonesia-Press, Jakarta.
Sugeng, M. 1996. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suparman, M dan Azis, M. S., 2003. Formulasi Pakan Murah yang Berkualitas untuk Usaha Penggemukkan Sapi Bali. BPTP, Sulawesi Selatan.
Tillman, A. D., Hartadi, S. Reksohadimojo dan S. Prawirokusumo, 1981. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University-Press, Yogyakarta.
Tomaszewska, M. W., I. M. Mastika., A. Djajanegara, S. Gardiner dan T. R. Wiradarya, 1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University-Press, Surabaya.
Utomo, R., 1991. Pengaruh Tingkat Penggunaan Urea Dalam Pakan Terhadap Kenaikan Bobot Badan, Kadar Amonia dan Urea Darah Domba, Buletin Peternakan UGM, Tahun XV No. 2, Yogyakarta.
Wahiduddin, M., 2009. Penggunaan Urea Mineral Molases Blok (UMMB) dan Dodol Sebagai Pengganti Konsentrat Pada Sapi.