• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penambahan Probiotik Starbio Pada Suplementasi Dodol Multinutrisi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Penambahan Probiotik Starbio Pada Suplementasi Dodol Multinutrisi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PENAMBAHAN PROBIOTIK STARBIO PADA

SUPLEMENTASI DODOL MULTINUTRISI TERHADAP

PERTUMBUHAN SAPI BALI JANTAN

SKRIPSI

Oleh:

EDY SUTANTO

060306011

DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENAMBAHAN PROBIOTIK STARBIO PADA

SUPLEMENTASI DODOL MULTINUTRISI TERHADAP

PERTUMBUHAN SAPI BALI JANTAN

SKRIPSI

Oleh:

EDY SUTANTO

060306011/ILMU PRODUKSI TERNAK

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Peternakan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

(3)

Judul Proposal : Penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi terhadap pertumbuhan sapi bali jantan

Nama : Edy Sutanto NIM : 060306011 Departemen : Peternakan

Program Studi : Ilmu Produksi Ternak

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

Ir. Tri Hesti Wahyuni, M.Sc Ir. Soehady Aris Ketua Anggota

Mengetahui,

Prof. Dr. Ir. Zulfikar Siregar, MP Ketua Departemen

(4)

ABSTRAK

EDY SUTANTO: Penambahan Probiotik Starbio pada Suplementasi Dodol Multinutrisi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan, dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan SOEHADY ARIS.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, yang berlangsung pada bulan Maret sampai dengan Juli 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi (DM) terhadap pertumbuhan sapi bali jantan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan bujur sangkar latin (RBSL) dengan 4 perlakuan, yaitu P0 (DM tanpa penambahan probiotik starbio), P1 (DM dengan penambahan 2% probiotik starbio), P2 (DM dengan penambahan 4% probiotik starbio), P3 (DM dengan penambahan 6% probiotik starbio), dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg.

Dari hasil peneltian menunjukkan bahwa rataan konsumsi pakan dalam bahan kering (kg/ekor/hari) secara berturut-turut sebesar (3,50; 3,69; 3,83; dan 3,88), rataan pertambahan bobot badan (kg/ekor/hari) sebesar (0,52; 0,56; 0,60; dan 0,63), rataan konversi pakan sebesar (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198). Penambahan probiotik starbio pada suplementasi DM berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan sapi bali jantan, akan tetapi berbeda nyata (P<0,05) terhadap konversi pakan sapi bali jantan. Kesimpulannya adalah bahwa probiotik starbio dapat digunakan untuk meningkatkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan efisiensi pada pakan ternak.

(5)

ABSTRACT

EDY SUTANTO: The Addition of Probiotic Starbio in Supplementation Lunkhead Multinutrition on the Growth of Male Bali Cattle, Guided by TRI HESTI WAHYUNI as Supervisor and SOEHADY ARIS as Co-Supervisor.

The research has been conducted in Biological Laboratory of Animal Science, on Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Department of Animal Science, the Faculty of Agriculture, University of North Sumatera, Medan, beginning from March to July 2010. The objectives of the research would be to know the effect of probiotic starbio in supplementation lunkhead multinutrition(LM) on the growth of male bali cattle. The design used in this research is the latin squared design (LSD) with four treatments, the treatment were P0 (LM without the addition of probiotic starbio), P1 (LM with the addition of 2% probiotic starbio), P2 (LM with the addition of 4% probiotic starbio), P3 (LM with the addition of 6% probiotic starbo), with average initial body weight 157,25 + 10,7kg.

The result of research indicated that the average consumption of feed in the dry ingredients (kg/h/d) was (3,50; 3,69; 3,83; and 3,88 respectively), the average daily gain (kg/h/d) was (0,52; 0,56; 0,60; and 0,63 respectively), the average feed conversion ratio was (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198 respectively). The addition of probiotic starbio in supplementation the LM has a very significantly different (P<0,05) on feed intake and body weight gain of male bali cattle, however significant different (P<0,05) with male bali cattle feed conversion. It could be concluded that probiotic starbio could be used to increase feed consumption, body weight gain and feed efficiency in feed.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1988 di Tanjung Priuk,

Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putera dari

Ayahanda Sugiman dan Ibunda Etin Zulaeha.

Pendidikan yang pernah ditempuh penulis sampai saat ini yaitu, tahun

1994 memasuki SD Islam An-Nur Bekasi dan lulus tahun 2000, pada tahun 2000

melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 16 Bekasi dan lulus tahun 2003,

kemudian tahun 2003 memasuki SMA Negeri 3 Bekasi dan lulus tahun 2006,

selanjutnya pada tahun 2006 masuk Universitas Sumatera Utara, Fakultas

Pertanian, Departemen Peternakan dengan Program Studi Ilmu Produksi Ternak

melalui jalur SPMB.

Kegiatan yang pernah diikuti penulis selama aktif di perkuliahan yaitu,

menjadi wakil ketua organisasi Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan

(HIMMIP) pada tahun 2008-2009, menjadi anggota pengurus organisasi

Himpunan Mahasiswa Departemen Peternakan, selanjutnya pada bulan Juni 2009

sampai dengan Agustus 2009 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL)

PT. Charoen Pokphand Indonesia yang bekerja-sama dengan University Farm IPB

di Desa Cikabayan, Kecamatan Dramaga, IPB-Bogor, dan yang terakhir

melaksanakan penelitian skripsi di Laboratorium Biologi Ternak dari bulan Maret

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas

rahmat, hidayah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Penambahan Probiotik Starbio pada Suplementasi Dodol Multinutrisi

terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan”.

Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih

sebesar-besarnya kepada orang tua penulis yang telah membesarkan, memelihara

dan mendidik penulis selama ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih

kepada Ibu Tri Hesti Wahyuni selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak

Soehady Aris selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan

arahan dan bimbingan dari mulai penetapan judul, melakukan penelitian, sampai

pada ujian akhir.

Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua

civitas akademik di Program Studi Ilmu Produksi Ternak Departemen Peternakan,

serta semua rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang

telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini

bermanfaat.

(8)

DAFTAR ISI

Pertumbuhan dan Penggemukan Ternak Sapi ... 6

Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia ... 7

Pakan Ternak Sapi ... 8

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 18

Bahan Penelitian ... 18

Alat Penelitian ... 18

Metode Penelitian ... 19

(9)

Hal.

Pelaksanaan Penelitian ... 20

HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan ... 23

Pertambahan Bobot Badan ... 26

Konversi Pakan ... 29

Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 32

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 33

Saran ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

(10)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Kebutuhan nutrisi sapi untuk tujuan produksi ...9

2. Kandungan nilai gizi molasses ...11

3. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl...14

4. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix ...16

5. Susunan dodol multinutrisi ...21

6. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan dalam bahan kering selama Penelitian (kg/ekor/hari) ...23

7. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan ...24

8. Uji BNJ perlakuan untuk konsumsi pakan sapi bali jantan ...25

9. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan (kg/ekor/hari) ...26

10. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi bali jantan ...27

11. Uji BNJ perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi bali jantan ...28

12. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian...29

13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian ...30

14. Uji BNJ perlakuan untuk konversi pakan sapi ...31

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Formulasi dodol multinutrisi ... 38

2. Konsumsi pakan sapi bali jantan selama penelitian dalam bahan kering (kg/ekor/hari) ... 40

3. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan dalam bahan kering selama penelitian (kg/ekor/hari) ... 43

4. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan ... 43

5. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konsumsi pakan sapi ... 43

6. Grafik rataan konsumsi pakan sapi selama penelitian ... 44

7. Data bobot badan sapi selama penelitian ... 44

8. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/hari) ... 44

9. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi ... 45

10. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi ... 45

11. Grafik rataan pertambahan bobot badan sapi selama penelitian ... 45

12. Rataan konsumsi pakan sapi selama penelitian ... 46

13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian ... 46

14. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konversi pakan sapi ... 46

15. Grafik rataan konversi pakan sapi selama penelitian ... 47

(12)

ABSTRAK

EDY SUTANTO: Penambahan Probiotik Starbio pada Suplementasi Dodol Multinutrisi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan, dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan SOEHADY ARIS.

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, yang berlangsung pada bulan Maret sampai dengan Juli 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi (DM) terhadap pertumbuhan sapi bali jantan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan bujur sangkar latin (RBSL) dengan 4 perlakuan, yaitu P0 (DM tanpa penambahan probiotik starbio), P1 (DM dengan penambahan 2% probiotik starbio), P2 (DM dengan penambahan 4% probiotik starbio), P3 (DM dengan penambahan 6% probiotik starbio), dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg.

Dari hasil peneltian menunjukkan bahwa rataan konsumsi pakan dalam bahan kering (kg/ekor/hari) secara berturut-turut sebesar (3,50; 3,69; 3,83; dan 3,88), rataan pertambahan bobot badan (kg/ekor/hari) sebesar (0,52; 0,56; 0,60; dan 0,63), rataan konversi pakan sebesar (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198). Penambahan probiotik starbio pada suplementasi DM berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan sapi bali jantan, akan tetapi berbeda nyata (P<0,05) terhadap konversi pakan sapi bali jantan. Kesimpulannya adalah bahwa probiotik starbio dapat digunakan untuk meningkatkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan efisiensi pada pakan ternak.

(13)

ABSTRACT

EDY SUTANTO: The Addition of Probiotic Starbio in Supplementation Lunkhead Multinutrition on the Growth of Male Bali Cattle, Guided by TRI HESTI WAHYUNI as Supervisor and SOEHADY ARIS as Co-Supervisor.

The research has been conducted in Biological Laboratory of Animal Science, on Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Department of Animal Science, the Faculty of Agriculture, University of North Sumatera, Medan, beginning from March to July 2010. The objectives of the research would be to know the effect of probiotic starbio in supplementation lunkhead multinutrition(LM) on the growth of male bali cattle. The design used in this research is the latin squared design (LSD) with four treatments, the treatment were P0 (LM without the addition of probiotic starbio), P1 (LM with the addition of 2% probiotic starbio), P2 (LM with the addition of 4% probiotic starbio), P3 (LM with the addition of 6% probiotic starbo), with average initial body weight 157,25 + 10,7kg.

The result of research indicated that the average consumption of feed in the dry ingredients (kg/h/d) was (3,50; 3,69; 3,83; and 3,88 respectively), the average daily gain (kg/h/d) was (0,52; 0,56; 0,60; and 0,63 respectively), the average feed conversion ratio was (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198 respectively). The addition of probiotic starbio in supplementation the LM has a very significantly different (P<0,05) on feed intake and body weight gain of male bali cattle, however significant different (P<0,05) with male bali cattle feed conversion. It could be concluded that probiotic starbio could be used to increase feed consumption, body weight gain and feed efficiency in feed.

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Populasi penduduk yang terus berkembang dan meningkatnya

pengetahuan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi protein

hewani mengakibatkan permintaan terhadap kebutuhan pangan yang berasal dari

ternak terus meningkat. Dalam usaha memenuhi kebutuhan pangan tersebut juga

diperlukan ternak dalam jumlah besar. Untuk memproduksi ternak dalam jumlah

besar terdapat berbagai kendala, antara lain kebutuhan pakan yang semakin besar

tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pakan yang cukup serta harga pakan

yang mahal.

Peternakan sapi bali di Sumatera Utara banyak mengandalkan pemberian

pakan yang bersumber hijauan yang berasal dari lahan (hijauan) lapangan saja.

Kualitas nutrisi hijauan alam sangat bervariasi dan berfluktuasi tergantung kepada

musim dan umumnya mempunyai kualitas nutrisi yang lebih rendah dibandingkan

hijauan yang berasal dari sub tropis. Poppi et al. (1997) menunjukkan bahwa nilai

nutrisi hijauan tropis untuk pembentukan protein mikroba rumen (PMR) berada di

bawah nilai minimum (100 g PMR/kg sapi). Kondisi tersebut diduga diakibatkan

oleh rendahnya kandungan protein dan energi, ketidakseimbangan nutrient,

rendahnya konsumsi, lambannya laju alir digesta, dan gangguan sinkronisasi

pelepasan energi dan protein dalam rumen.

Strategi perbaikan nutrisi hijauan yang dapat dilakukan diantaranya

dengan melakukan suplementasi nutrien yang mencukupi kebutuhan protein,

(15)

pemanfaatan protein mikroba rumen ternak sapi yang diberi hijauan tropis dan

disuplementasikan oleh urea dan garam.

Kondisi tersebut menjadikan teknik suplementasi yang efektif dan efisien

akan berbeda sejalan dengan perbedaan lokasi dan kualitas hijauan pokok yang

digunakan. Salah satu cara teknik suplementasi yang dapat diterapkan

dipeternakan rakyat adalah penggunaan dodol multinutrisi (DM). Komponen

bahan yang digunakan untuk DM antara lain urea, molases, dedak padi, bungkil

kelapa, dan mineral. Beberapa mineral yang esensial seperti Zn dan Se terutama

dalam bentuk organik akan meningkatkan produktivitas ternak.

Selain itu hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut

adalah dengan memberikan makanan tambahan seperti probiotik starbio, yang

dapat menurunkan tingkat konversi pakan sehingga biaya pakan menjadi lebih

murah.

Probiotik starbio merupakan serbuk berwarna coklat, hasil pengembangan

bioteknologi modern temuan LHM (Lembah Hijau Multifarm) Research Station,

yang berisi koloni yang diisolasi dari alam, yang bersifat bersahabat dengan

kehidupan (probiotik).

Penggunaan probiotik starbio juga dapat mengurangi bau pada kotoran

ternak. Hal ini disebabkan oleh menigkatnya kecernaan dan penyerapan pakan

yang dicampur dengan starbio sehingga kotoran ternak lebih sedikit dan kering

(Lembah Hijau Multifarm, 2004).

Penelitian mengenai penambahan probiotik starbio pada suplementasi DM

terhadap ternak sapi bali dengan menggunakan hijauan yang berasal dari alam

(16)

komposisi DM yang paling efektif dan efisien serta mengetahui dampaknya pada

ternak sapi bali yang masih tumbuh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat

diterapkan langsung kepada masyarakat peternak sehingga produktivitas ternak

dapat meningkat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan probiotik

starbio pada dodol multinutrisi terhadap penampilan produksi ternak sapi bali

jantan yang meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, serta konversi

pakan.

Hipotesis Penelitian

Penambahan probiotik starbio pada dodol multinutrisi berpengaruh positif

terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, serta konversi pakan sapi

bali jantan.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti,

peternak khususnya peternak sapi bali dan instansi terkait tentang pengaruh

pemberian probiotik starbio pada dodol multinutrisi. Hasil penelitian diharapkan

dapat digunakan sebagai rujukan dalam penggunaan dodol multinutrisi untuk

ternak ruminansia lainnya, serta dapat digunakan sebagai bahan penulisan ilmiah

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Ternak Sapi

Faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor

ternak sedang faktor lingkungan member kesempatan kepada ternak untuk

menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan

menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang

baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak

menjamin penampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik

(Hardjosubroto, 1994).

Menurut Williamson dan Payne (1993) bangsa sapi mempunyai klasifikasi

taksonomi yang terdiri atas Phylum : Chordata, Sub phylum : Vertebrata,

Class: Mamalia, Ordo: Artiodactyla, Sub ordo: Ruminantia, Family: Bovidae,

Genus: Bos dan Spesies: Bos Sondaicus.

Sapi bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil

domestikasi dari Banteng (Bibos banteng) (Hardjosubroto, 1994) dan merupakan

sapi asli sapi Pulau Bali (Sutan, 1988).

Sapi bali mempunyai ciri-ciri khusus antara lain: warna bulu merah bata,

tetapi yang jantan dewasa berubah menjadi hitam (Hardjosubroto, 1994). Satu

karakter lain yakni perubahan warna sapi jantan kebirian dari warna hitam

kembali pada warna semula yakni coklat muda keemasan yang diduga karena

makin tersedianya hormon testosteron sebagai hasil produk dari sel intersisial

testes.

Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus yang

(18)

paha, pinggiran bibir atas dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus

sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian

dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas

punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk

silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit

keluar lalu membengkok keatas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit

keluar. Pada sapi betina bentuk tanduk yang ideal disebut manggul gangsa yaitu

jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah kebelakang sedikit

melengkung kebawah dan pada ujungnya sedikit mengarah kebawah dan

kedalam, tanduk ini berwarna hitam.

Saat ini penyebaran sapi bali telah meluas hampir keseluruh wilayah

Indonesia, konsentrasi sapi bali terbesar adalah di Sulawesi Selatan, Pulau

Timor, Bali dan Lombok. Pane (1989) menyatakan bahwa jumlah sapi bali di

Sulawesi Selatan dan pulau Timor telah jauh melampaui populasi sapi bali

ditempat asalnya (Pulau Bali). Pada tahun 1991 ditaksir jumlah sapi bali di

Indonesia sekitar 3,2 juta, dengan jumlah terbanyak di Sulawesi Selatan (1,8 juta

ekor), Nusa Tenggara Timur (625 ekor) dan Pulau Bali (456 ekor)

(Hardjosubroto, 1994 ).

Ternak sapi memiliki beberapa kelebihan bila ditinjau dari nilai ekonomi dan

pemanfaatannya :

- Pada umumnya masyarakat lebih menyukai daging sapi dibanding daging

(19)

- Sapi merupakan salah satu sumber budaya masyarakat, misalnya sebagai

ternak qurban, sebagai ternak karapan (di Madura), sebagai ukuran

penentu tingkat kesejahteraan sosial manusia dalam masyarakat.

- Sapi sebagai bentuk tabungan masyarakat yang mudah dijual apabila

terdesak membutuhkan uang yang cepat.

- Kotoran sapi apabila diolah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan bahan

bakar alternatif (biogas).

- Usaha ternak sapi juga membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat

membuka lapangan kerja yang dapat menghidupi banyak keluarga

(Sugeng, 1996).

Pertumbuhan dan Penggemukan Ternak Sapi

Pertumbuhan adalah pertambahan dalam bentuk dan berat

jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, otak, jantung, dan semua jaringan-jaringan

tubuh, serta alat-alat tubuh lainnya. Pada umumnya pertumbuhan ternak mamalia

dapat dibagi dalam dua periode utama, yaitu pre-natal dan post-natal. Pre-natal

yaitu pertumbuhan yang berlangsung antara waktu ovum dibuahi sampai anak

lahir, sedangkan post-natal yaitu pertumbuhan setelah lahir (Anggorodi, 1990).

Menurut Tillman et al. (1993) pertumbuhan adalah kenaikan bobot badan dengan

melakukan pengukuran berulang-ulang dan dinyatakan dengan pertambahan bobot

badan tiap hari, tiap minggu atau tiap satuan waktu lainnya.

Dalam pertumbuhan seekor ternak ada dua hal yang terjadi yaitu:

- Pertumbuhan yaitu bobot badan meningkat sampai mencapai bobot badan

(20)

- Perkembangan yaitu terjadi perubahan konformasi dan bentuk tubuh serta

berbagai fungsi dan kemampuannya untuk melakukan sesuatu menjadi

wujud penuh.

Kurva hubungan antara bobot badan dengan umur adalah suatu bentuk

S (sigmoid). Ada fase awal yang pendek dimana bobot badan sedikit meningkat

dengan meningkatnya umur. Hal ini diikuti oleh pertumbuhan eksplosif,

kemudian ada satu fase dengan tingkat pertumbuhan yang sangat rendah

(Lawrie, 1995).

Penggemukan bertujuan untuk memperbaiki kualitas karkas dengan cara

mendeposit lemak seperlunya. Apabila ternak belum dewasa yang digunakan

dalam usaha penggemukan maka sifatnya membesarkan sekaligus memperbaiki

kualitas karkas (Parakkasi, 1995). Pengurangan pakan akan memperlambat

kecepatan pertumbuhan dan bila pengurangan pakan yang signifikan akan

menyebabkan ternak kehilangan bobot badannya (Tillman et al., 1993).

Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia

Proses utama dari pencernaan adalah secara mekanik, hidrolisis, dan

fermentatif. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan dalam mulut

dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dilakukan oleh kontraksi otot

sepanjang usus. Pencernaan secara fermentatif dilakukan oleh mikroorganisme

rumen (Tillman et al., 1993).

Pencernaan adalah rangkaian proses yang terjadi dalam saluran

pencernaan sampai memungkinkan terjadinya penyerapan

(Meynard and Loosly, 1979). Frandson (1992) menyatakan bahwa bagian-bagian

(21)

merupakan perut depan atau forestomach), perut glandular, usus halus, usus besar

serta glandula aksesoris yang terdiri dari glandula saliva, hati dan pankreas.

Pakan Ternak Sapi

Pakan adalah semua bahan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak

serta tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap tubuh ternak. Pakan yang

diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang diperlukan oleh

tubuh ternak (Parakkasi, 1995). Widayati dan Widalestari (1996), menyatakan

dimaksudkan bahwa pakan yang diberikan jangan sekedar dimaksudkan untuk

mengatasi lapar atau sebagai pengisi perut saja, melainkan harus benar-benar

bermanfaat untuk hidup pokok, membentuk sel-sel baru, menggantikan sel yang

rusak, dan untuk produksi.

Pakan ternak ruminansia pada umumnya terdiri dari hijauan (rumput dan

leguminosa) dan konsentrat. Hijauan pakan merupakan pakan kasar yang terdiri

dari hijauan pakan yang padat, dapat berupa rumput lapangan, limbah hasil

pertanian, rumput jenis unggul yang telah diintroduksikan beberapa jenis

leguminosa. Sedangkan konsentrat merupakan bahan pakan penguat yang terdiri

dari bahan pakan yang kaya karbohidrat dan protein. Pemberian pakan berupa

kombinasi kedua bahan tersebut akan memberi peluang terpenuhinya zat-zat gizi

(22)

Tabel 1. Kebutuhan nutrisi sapi untuk tujuan produksi

Uraian bahan Periode

Pembibitan Penggemukan

Hijauan Pakan Ternak Sapi

Hijauan yang masih muda akan lebih dapat dicerna daripada yang tua.

Perbedaan dalam daya cerna tersebut terjadi bila tumbuh-tumbuhan menjadi tua,

disebabkan terutama karena bertambahnya kadar lignin yang hampir tidak dapat

dicerna meskipun oleh hewan ruminansia (Anggorodi, 1990).

Tillman et al. (1993) menyatakan bahwa kadar serat tanaman adalah

terendah bila tanaman masih sangat muda dan cenderung naik kadar serat

kasarnya bila tanaman semakin tua. Pada umumya, kadar serat kasar tanaman

yang semakin tinggi, pencernaannya semakin lama dan nilai energy produktifnya

makin rendah.

Dodol Multinutrisi

Pakan yang berkualitas cukup tidak menyebabkan sapi kekurangan asam

amino karena semua asam amino yang dibutuhkan oleh sapi dapat tersedia di

dalam rumen asalkan bahan untuk menyusun asam amino di adalam rumen adalah

urea, selain itu juga karbohidrat dan mineral yang ada dalam konsentrat.

(23)

baik itu dalam bentuk blok ataupun dodol (Wahiduddin, 2009). Adapun perbedaan

antara urea mineral molasses blok (UMMB) dengan bentuk dodol adalah:

1. Konsistensi dodol agak lunak sedangkan UMMB keras

2. Dodol dapat digigit oleh sapi sedangkan UMMB dijilat

3. Cara pembuatan dodol dengan pemanasan di atas kompor sedangkan

UMMB tanpa pemanasan diatas kompor

4. Dodol tidak ada kandungan bahan perekat sedangkan UMMB ada bahan

perekatnya

Dedak Padi

Dedak padi adalah bahan pakan yang diperoleh dari pemisahan beras

dengan kulit gabahnya melalui proses penggilingan padi dari pengayakan hasil

ikutan penumbukan padi (Parakkasi, 1995). Sedangkan menurut Rasyaf (1990),

sebagai bahan makanan asal nabati, dedak memang limbah proses pengolahan

padi menjadi beras. Oleh sebab itu kandungan nutrisinya juga cukup baik, dimana

kandungan protein dedak halus sebesar 12%-13%, kandungan lemak 13%, dan

dan serat kasarnya 12%.

Bungkil Kelapa

Bungkil kelapa digunakan sebagai pakan pendamping tepung ikan dan

jagung, tujuannya tetap untuk menekan harga ransum. Kandungan nutrisinya juga

memadai, yaitu protein kasar 20,9%, serat kasar 10,5%, lemak kasar 5-6%, EM

(24)

Molases

Molases dapat digunakan sebagai pakan ternak. Keuntungan penggunaan

molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (48-60% sebagai

gula), kadar mineral cukup dan disukai ternak. Tetes juga mengandung vitamin B

kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi ternak seperti kobalt, boron,

jodium, tembaga, mangan, dan seng. Kelemahan dari molases ialah kadar

kaliumnya yang tinggi dapat menyebabkan diare jika dikonsumsi terlalu banyak

(Rangkuti et al., 1985).

Tabel 2. Kandungan nilai gizi molasses

Zat nutrisi Kandungan (%)

Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan, FP-USU (2000).

Urea

Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi di

dalam sistem pencernaan ruminansia. Urea dalam proporsi tertentu mempunyai

dampak positif terhadap peningkatan konsumsi protein kasar dan daya cerna. Urea

yang diberikan pada ruminansia akan melengkapi sebagian dari kebutuhan protein

dan lemak, karena lemak tersebut disintesis menjadi protein oleh mikroorganisme

di dalam rumen (Kartadisastra, 1997).

Parakkasi (1995) menyatakan bahwa disamping dapat menguntungkan,

(25)

bermanfaat) bila penggunaannya tidak sebagaimana mestinya. Oleh karena itu

beberapa prinsip dasar tentang penggunaannya perlu diketahui.

Probiotik Starbio

Probiotik berasal dari bahasa latin yng berarti “untuk kehidupan”; disebut

juga “bakteri bersahabat”, “bakteri menguntungkan”, “bakteri baik”, atau “bakteri

sehat”. Apabila didefinisikan secara lengkap, probiotik adalah kultur tunggal atau

campuran dari mikroorganisme hidup yang apabila diberikan ke manusia atau

hewan akan berpengaruh baik, karena akan menekan pertumbuhan bakteri

patogen/bakteri jahat yang ada di usus manusia/hewan (Central Unggas, 2009).

Berbeda dengan antibiotik, probiotik merupakan mikroorganisme yang

dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ternak tanpa mengakibatkan

terjadinya proses penyerapan komponen probiotik dalam tubuh ternak, sehingga

tidak terdapat residu dan tidak terjadinya mutasi pada ternak. Sementara antibiotik

merupakan senyawa kimia murni yang mengalami proses penyerapan dalam

saluran pencernaan (Samadi, 2002).

Probiotik adalah organisme beserta substansinya yang dapat mendukung

keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan (Parker, 1979). Kemudian

Fuller (1992) menyatakan probiotik adalah mikroorganisme hidup (bentuk kering)

yang mengandung media tempat tumbuh dan produk metabolismenya. Lalu

Fuller (1992) mendefinisikan probiotik suatu mikroba hidup yang dicampurkan

sebagal suplemen dalam pakan yang menguntungkan induk semang dengan

memperbaiki populasi mikroba dalam usus. Sedangkan prebiotik dapat diartikan

sebagai bahan makanan yang tidak dapat dicerna yang secara selektif merangsang

(26)

didefinisikan juga sebagai organisme yang memberikan kontribusi terhadap

keseimbangan mikroba dalam usus (Crawford, 1979).

Penggunaan starbio pada pakan mengakibatkan bakteri yang ada pada

starbio akan membantu memecahkan struktur jaringan yang sulit terurai sehingga

lebih banyak zat nutrisi yang dapat diserap dan ditransformasikan ke produk

ternak. Selain itu, produktivitas ternak akan meningkat, bahkan lebih banyak zat

nutrisi yang dapat diuraikan dan diserap (Ritonga, 1992).

Pemberian probiotik starbio pada pakan ternak akan meningkatkan

kecernaan protein dan mineral fosfor (Piao et al., 1999). Hal ini terjadi karena

probiotik starbio merupakan kumpulan mikroorganisme (mikroba probiolitik,

selulotik, lignolitik, lipolitik dan aminolitik serta nitrogen fiksasi non simbiosis)

yang mampu menguraikan bahan organic kompleks pada pakan menjadi bahan

organic yang lebih sederhana (Lembah Hijau Multifarm, 1995).

Garam

Garam diperlukan oleh sapi sebagai perangsang menambah nafsu makan.

Garam juga sebagai unsur yang dibutuhkan dalam kelancaran pekerjaan faali

tubuh. Menurut Lassiter and Edward (1982) garam yang dimaksud adalah garam

dapur (NaCl), dimana selain berfungsi sebagai mineral juga berfungsi

meningkatkan palatabilitas.

Garam tersebut merangsang sekresi saliva. Terlalu banyak garam akan

menyebabkan retensi air sehingga menimbulkan odema. Defisiensi garam lebih

sering terdapat dalam hewan herbivora daripada hewan lainnya. Ini disebabkan

(27)

nafsu makan hilang, bulu kotor, makan tanah, keadaan badan tidak sehat, produksi

menurun sehingga menurunkan bobot badan (Angorodi, 1990).

Penggunaan toleransi maksimum terhadap pemberian NaCl untuk berbagai

spesies dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl

Spesies Level NaCl dalam makanan (%)

Sapi

Zat-zat mineral lebih kurang merupakan 3-5% dari tubuh hewan. Hewan

tidak dapat membuat mineral karenanya harus disediakan dalam makanannya.

Dari hasil penelitian dapat diterangkan bahwa mineral tersebut harus disediakan

dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup. Terlalu banyak

mineral dapat membahayakan individu. Suatu keuntungan ialah bahwa sebagian

besar mineral dapat diberikan dalam jumlah yang besar dalam ransum tanpa

mengakibatkan kematian, tetapi kesehatan hewan menjadi mundur sehingga

menyebabkan kerugian ekonomis yang besar (Anggorodi, 1990).

Parakkasi (1995) menyatakan bahwa guna memenuhi kebutuhan mineral,

mungkin dapat diusahakan bila ruminan bersangkutan dapat mengkonsumsi

(28)

mineral (terutama dimusim kemarau) maka umumnya ruminan di daerah tropis

cenderung defisiensi akan mineral.

Secara umum mineral-mineral berfungsi sebagai berikut: Bahan

pembentukan tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan keras dan kuat,

mempertahankan keadaan koloidal dari beberapa senyawa dalam tubuh,

memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, aktivator system enzim

tertentu, komponen dari suatu enzim, mineral mempunyai sifat yang karakteristik

terhadap kepekaan otot dan saraf (Tillman et al., 1993).

Pigmix mengandung segala kebutuhan vitamin, Asam amino dan mineral

pada babi, Mempercepat pertumbuhan babi, meningkatkan kesuburan dan

meningkatkan produksi daging. Memperbaiki konversi ransum sehingga biaya

untuk ransum menjadi lebih murah. Dosis dan cara pemakaian: Campurkan secara

merata ke tiap 100 Kg ransum, kemasan kantong plastik isi 500 g, 1 Kg, wadah

plastik isi 5 Kg dan kantong kertas isi 25 Kg. Deptan RI No. D 07021063 FTS.2

(29)

Tabel 4. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix

Sumber : Kemasan Pigmix

Konsumsi Pakan Ternak Sapi

Tingkat konsumsi adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak.

Menurut Parakkasi (1995) bahwa yang menjadi faktor penentu tingkat konsumsi

adalah keseimbangan zat makanan dan tingkat palatabilitas. Konsumsi pakan juga

dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ternak, selain menurunnya nafsu makan,

ternak yang sakit juga tidak mau berjalan untuk mendekati air minum.

Suhu yang tinggi juga dapat menyebabkan nafsu makan menurun dan

meningkatnya air minum. Hal ini mengakibatkan otot-otot daging lambat

(30)

Pertambahan Bobot Badan

Laju pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh umur ternak, lingkungan,

dan genetika dimana bobot tubuh awal fase penggemukan berhubungan dengan

bobot dewasa. Pertambahan bobot badan merupakan salah satu kriteria yang

digunakan untuk mengukur pertumbuhan (Sugeng, 1996).

Parakkasi (1995) menyatakan bahwa ternak yang mempunyai sifat dan

tingkat konsumsi yang lebih tinggi, maka produksinya juga lebih tinggi dibanding

ternak sejenis yang konsumsinya rendah.

Konversi Pakan

Konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah pakan yang

dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dicapai dalam kurun waktu

yang sama. Konversi pakan merupakan suatu indikator yang dapat menerangkan

tingkat efisiensi penggunaan pakan, dimana semakin rendah angkanya berarti

semakin baik konversi pakan tersebut (Anggorodi, 1990).

Konversi pakan diukur dari jumlah bahan kering yang dikonsumsi dibagi

dengan unit pertambahan bobot badan persatuan waktu. Konversi pakan

khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan, pertambahan

bobot badan dan nilai kecernaan. Dengan memberikan kualitas pakan yang baik

ternak akan tumbuh lebih cepat dan lebih baik konversi pakannya

(31)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak,

Departemen Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penelitian ini akan dilaksanakan selama empat bulan yang dimulai pada bulan

Maret 2010 sampai Juli 2010.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan antara lain : 4 ekor sapi bali jantan umur 12 bulan

dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg. Bahan pakan terdiri atas : Hijauan

lapangan, Dodol multinutrisi yang terdiri atas : molasses, urea, bungkil kelapa

dedak padi, starbio, kapur, garam dan pigmix. Obat-obatan seperti obat cacing,

Cypperkiller sebagai pengusir lalat, karbol sebagai desinfektan, vitamin

B-kompleks, air minum.

Alat yang digunakan antara lain : Kandang individual sebanyak 4 unit

beserta perlengkapannya, Tempat pakan dan minum, Timbangan kapasitas 500 kg

dengan kepekaan 10 g untuk menimbang bobot badan sapi, Timbangan digital

kapasitas 2 kg untuk menimbang bahan dodol multinutrisi, Salter kapasitas 10 kg

dengan kepekaan 10 g untuk menimbang hijauan, Bambu untuk mencetak dodol

multinut risi, Kompor untuk memanaskan molasses, Wajan sebagai wadah dalam

mencampur bahan dodol multinutrisi pada saat dipanaskan, Sapu dan sekop

sebagai alat pembersih kandang, Lampu sebagai alat penerangan, Alat tulis

(32)

Metode Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan bujur sangkar

latin (RBSL). Perlakuan yang diteliti adalah : P0 = Hijauan lapangan + DM0, P1 =

Hijauan lapangan + DM 1, P2 = Hijauan lapangan + DM 2, P3 = Hijauan lapangan

+ DM 3.

Kombinasi perlakuan yang dilakukan :

Periode Pelaksanaan (Bulan) Kandang

A B C D

I S1P3 S2P0 S3P1 S4P2

II S1P1 S2P2 S3P3 S4P0

III S1P2 S2P3 S3P0 S4P1

IV S1P0 S2P1 S3P2 S4P3

Model matematika yang digunakan adalah

Y ijk = µ + τI + βj + K k + € ijk

Dimana:

Y ijk = Hasil pengamatan dari perlakuan ke-i, baris ke-j, dan kolom ke-k

τ i = Pengaruh perlakuan ke-i

β j = Pengaruh baris ke-j

K k = pengaruh kolom ke-k

µ = Nilai tengah umum

ijk = Pengaruh galat karena perlakuan ke-i, baris ke-j, dan kolom ke-k

(Sastrosupadi, 2000).

Parameter Penelitian

1. Konsumsi pakan

(33)

pakan yang diberikan pada pagi hari kemudian dikurangkan dengan

penimbangan pakan sisa yang dilakukan pada pagi hari besoknya.

Konsumsi pakan = Pakan yang diberikan – Pakan sisa

2. Pertambahan bobot badan

Pertambahan bobot badan dihitung berdasarkan selisih antara hasil

penimbangan bobot badan akhir dengan bobot badan sebelumnya.

PBB = Bobot badan akhir – Bobot badan awal

3. Konversi pakan

Konversi pakan dihitung berdasarkan perbandingan antara konsumsi

pakan dengan pertambahan bobot badan. Konversi pakan dapat

dihitung dari rumus berikut :

Konversi pakan = Konsumsi pakan

PBB

Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan kandang

Kandang dan semua peralatan yang digunakan seperti tempat pakan dan

tempat minum dibersihkan dan didesinfektan dengan Rodalon.

2. Pemberian pakan dan air minum

Pakan yang diberikan adalah 100% hijauan yang berupa rumput dan legum

lapangan. Pakan diberikan sebanyak 10% dari bobot badan dan air minum

diberikan secara ad-libitum. Sisa pakan yang diberikan ditimbang

(34)

3. Pembuatan dodol multinutrisi (DM)

Pembuatan DM menggunakan beberapa bahan antara lain urea, molasses,

dedak padi, garam, ultra mineral, kapur, bungkil kelapa dan starbio.

Komposisi tiap bahan yang digunakan sebagai percobaan disesuaikan

dengan perlakuan yang akan diberikan.

Tabel 5. Susunan dodol multinut risi

Bahan Komposisi (%)

DM0 DM1 DM2 DM3

Bungkil kelapa 21,3 27,5 34,3 40

Dedak 40,6 29,8 19 8,8

Molases 30,8 33,4 35,4 37,9

Urea 3,0 3,0 3,0 3,0

Pigmix® 0,3 0,3 0,3 0,3

Kapur 2,0 2,0 2,0 2,0

Garam 2,0 2,0 2,0 2,0

Starbio® 0,0 2,0 4,0 6,0

Total 100 100 100 100

4. Pemberian dodol multinutrisi (DM)

Dodol multinutrisi diberikan sebanyak 250 g/ekor/hari dalam waktu dua

kali sehari yaitu pagi dan sore.

5. Pemberian obat-obatan

Ternak sapi pertama masuk kandang diberikan obat cacing dengan dosis

sesuai anjuran dari obat yang digunakan. Obat-obat yang lain diberikan

(35)

Berikut ini adalah skema pembuatan dodol multinutrisi yang dilakukan

melalui beberapa tahapan yaitu:

Gambar 1. Skema pembuatan dodol multinutrisi

(Sutanto dan Putra, 2010)

.

Dipanaskan molases hingga mendidih

Dimasukkan garam dan kapur yang telah dilarutkan dengan 100 ml air, aduk hingga rata

Dicampur dedak, bungkil kelapa, pigmix dan starbio*

Didinginkan

Dimasukkan urea, aduk hingga rata

Adonan 1

Cetak adonan

(36)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan dapat dihitung dengan pengurangan jumlah pakan yang

diberikan dengan sisa pakan yang ada. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan

yang diberikan suplementasi dodol multinutrisi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan dalam bahan kering selama penelitian (kg/ekor/hr)

Perlakuan Ulangan Rataan

S1 S2 S3 S4

P0 3,160 3,670 3,220 3,930 3,495

P1 3,220 3,880 3,513 4,160 3,693

P2 3,180 4,000 3,900 4,243 3,831

P3 3,460 4,055 3,625 4,382 3,881

Rataan 3,255 3,901 3,565 4,179 3,725

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat rataan konsumsi sapi bali jantan sebesar

3,725 kg/ekor/hari. Rataan konsumsi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan P3

(penambahan probiotik starbio sebesar 6% pada suplementasi dodol multinutrisi)

sebesar 3.881 kg/ekor/hari, sedangkan rataan konsumsi pakan terendah terdapat

pada perlakuan P0 (tanpa penambahan probiotik pada suplementasi dodol

multinutrisi) sebesar 3.495.

(37)

Efek penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi

sebagai perlakuan terhadap konsumsi pakan dalam bahan kering dapat diketahui

dengan melakukan analisis keragaman.

Tabel 7. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Secara statistik pada kolom dan perlakuan dapat diketahui bahwa

penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi memberikan

pengaruh yang sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan sapi bali jantan.

Kolom (sapi) berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan

sapi bali jantan. Hal ini disebabkan karena berat awal sapi mempengaruhi jumlah

(banyaknya) pakan yang dikonsumsi. Hal ini masih bias ditoleransi karena masih

sesuai dengan uji keragaman bobot badan yaitu dengan rumus X + 2SD, berkisar

antara 146,55 sampai 167,95 kg. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo

(1993) yang menyatakan bahwa semakin berat tubuh ternak maka semakin banyak

pula pakan yang dikonsumsi oleh ternak itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya. Baris (waktu) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi

pakan sapi bali jantan. Disini berarti bahwa perlakuan dan sapi (berat badan awal)

(38)

Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut

Beda Nyata Jujur (BNJ) seperti pada Tabel 8.

Tabel 8. Uji BNJ perlakuan untuk konsumsi pakan sapi bali jantan

Perlakuan Rataan F0.05

P0 3,495 A

Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.

Dari uji BNJ perlakuan dapat dilihat bahwa pada taraf 0.05, P0 berbeda

nyata dengan P2 dan P3. Berarti semakin banyak penambahan level starbio pada

suplementasi dodol multinutrisi maka semakin tinggi pula jumlah konsumsi pakan

yang dihasilkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Wallace dan Newbold (1992)

yang menyatakan bahwa pemberian probiotik akan menigkatkan populasi bakteri

dalam tubuh ternak sehingga kecernaan serat kasar akan meningkat. Pernyataan

ini berarti bahwa dengan penambahan starbio ada peningkatan populasi bakteri

selulotik (fibrolitik). Sejalan dengan hal ini, Apriyadi (1999) menyatakan bahwa

tinggi rendahnya kecernaan zat-zat makanan pada ternak tidak bergantung pada

kualitas protein pakan melainkan pada kandungan serat kasar dan aktifitas

mikroorganisme yang berada dalam tubuh ternak terutama bakteri selulotik. Di

antara species selulotik ada yang berfungsi ganda didalam mencerna serat kasar

yaitu sebagai pencerna selulosa juga hemiselulosa dan pati.

Selain itu juga tingkat palatabilitas keempat pakan perlakuan inilah yang

mempengaruhi ternak dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan. Sesuai dengan

pendapat Lubis (1992) yang menyatakan bahwa konsumsi bahan kering (BK)

(39)

dan palatabilitas dan 2) Faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur

dan kondisi kesehatan ternak. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Parakkasi

(1995) yang juga menyatakan bahwa palatabilitas pakan merupakan salah satu

faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pakan.

Pertambahan bobot badan

Pertambahan bobot badan sapi bali jantan dalam penelitian ini diperoleh

dari hasil penimbangan bobot badan akhir dikurangi dengan bobot badan awal

penimbangan. Pengukuran bobot badan dilakukan dengan selang waktu 30 hari

sekali.

Berikut rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian.

Tabel 9. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan (kg/ekor/hr)

Perlakuan Ulangan Rataan

S1 S2 S3 S4

P0 0,51 0,52 0,51 0,54 0,52

P1 0,52 0,56 0,55 0,59 0,56

P2 0,53 0,62 0,61 0,64 0,60

P3 0,57 0,64 0,62 0,67 0,63

Rataan 0,53 0,59 0,57 0,61 0,58

Seperti yang tertera pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan

bobot badan sapi bali jantan selama penelitian adalah 0,58 kg/ekor/hari. Dimana

rataan pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (starbio 6%)

dengan PBBH sebesar 0,63 kg/ekor/hari. Sedangkan rataan pertambahan bobot

(40)

Sekalipun terdapat perbedaan dari rataan pertambahan bobot badan sapi

bali jantan, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari pakan perlakuan yang

diberikan terhadap pertambahan bobot badan sapi bali jantan maka perlu

dilakukan analisis keragaman. Berikut analisis keragaman pertambahan bobot

badan sapi.

Tabel 10. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi bali jantan

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Hasil analisis keragaman untuk kolom dan perlakuan pada Tabel 10

menunjukkan bahwa penambahan probiotik starbio dalam suplementasi dodol

multinutrisi memberikan pengaruh sangat nyata (P<0.05) terhadap pertambahan

bobot badan sapi bali jantan. Asumsi peneliti pada kolom (sapi) memberikan

pengaruh yang sangat nyata (P<0,05) dikarenakan faktor genetik yang baik dalam

tiap sapi tersebut, hal ini didukung oleh pernyataan Davendra (1997) yang

menyatakan bahwa ternak yang mempunyai potensi yang tinggi akan memiliki

respon yang baik terhadap pakan yang diberikan dan memiliki efisiensi pakan

yang tinggi. Artinya ternak akan mengalami pertumbuhan yang baik apabila

genetik dari ternak tersebut dominan memiliki darah dari induk yang memiliki

(41)

Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan uji lanjut Beda

Nyata Jujur (BNJ) seperti pada Tabel 11.

Tabel 11. Uji BNJ perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi bali jantan

Perlakuan Rataan F0.05

P0 0,52 A

Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan

Dari hasil uji BNJ perlakuan juga dapat dilihat bahwa pada taraf 0,05, P0

berbeda nyata dengan P2 dan P3, begitupun pada P1 berbeda nyata dengan P3. Pada

perlakuan P0. Rataan pertambahan bobot badan sapi yang dihasilkan paling rendah

dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal ini sesuai dengan rataan konsumsi

pakan pada Tabel 6 jumlah rataan konsumsi pakan sapi yang terendah terdapat

pada P0.

Ternak yang disuplementasi dodol multinutrisi dengan diberi penambahan

probiotik starbio mempunyai daya cerna lebih tinggi sehingga zat-zat pakan yang

diserap juga lebih banyak dan juga bobot badan akhir dan pertambahan bobot

badannya lebih tinggi daripada suplementasi dodol multinutrisi tanpa penambahan

probiotik starbio (kontrol).

Meningkatnya bobot badan akhir dan pertambahan bobot badan ternak

yang diberi starbio pada ransum disebabkan karena starbio sebagai probiotik

mengandung bakteri proteolitik, selulolitik, lipolitik, lgnolitik dan amilolitik serta

nitrogen fiksasi non simbiosis yang berfungsi untuk memecah karbohidrat, yaitu

selulosa, hemiselulosa dan lignin memecah protein dan lemak

(42)

Pakan perlakuan yang diberikan pada sapi bali jantan memiliki kuantitas

dan kualitas yang hampir sama. Pemberian pakan ini menyebabkan tingkat

konsumsi pakan yang semakin tinggi yang pada akhirnya menghasilkan

pertambahan bobot badan yang semakin tinggi pula. Hal ini didukung oleh

pernyataan Tillman dkk. (1991) yang menyatakan bahwa kuantitas dan kualitas

ransum yang diberikan menyangkut dengan tinggi rendahnya produksi dan

kecepatan pertumbuhan sapi yang sedang tumbuh.

Hasil penelitian Musofie dkk. (1981) menunjukkan bahwa penambahan

konsentrat sebanyak 1% - 1,5% dari bobot badan mampu menaikkan pertambahan

bobot badan sapi bali jantan sekitar 0,5 kg – 0,6 kg/ekor/hari. Dengan kata lain

suplementasi dodol multinutrisi dalam penelitian ini lebih jauh efisien

dibandingkan dengan pemberian konsentrat karena cukup dengan pemberian

dodol multinutrisi sebanyak 250 gram/ekor/hari pada sapi bali dapat

menghasilkan rataan pertambahan bobot badan sekitar 0,52 – 0,63 kg/ekor/hari.

Konversi Pakan

Konversi pakan dihitung dengan perbandingan jumlah pakan yang

dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan oleh ternak

tersebut. Adapun konversi pakan yang diperoleh dari penelitian ini dapat dilihat

pada Tabel 12.

Tabel 12. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian

Perlakuan Ulangan Rataan

(43)

Konversi pakan selama penelitian seperti pada Tabel 12 menunjukan

rataan konversi pakan sebesar 6,48. Dimana rataan konversi pakan tertinggi

terdapat pada perlakuan P0 (tanpa starbio) sebesar 6,711, sedangkan rataan

konversi pakan terendah atau paling efisien dari seluruh perlakuan terdapat pada

perlakuan P3 (starbio 6%) sebesar 6,198.

Konversi pakan yang baik selama penelitian terdapat pada perlakuan P3

(starbio 6%) sebesar 6,198 yang berarti untuk menaikkan 1 kg bobot badan maka

ternak sapi membutuhkan 6,198 kg pakan dalam bentuk bahan kering.

Untuk mengetahui pengaruh probiotik starbio dalam supelementasi dodol

multinutrisi sapi bali jantan terhadap konversi pakan sapi bali jantan, maka

dilakukan analisis keragaman seperti yang tertera pada Tabel 13.

Tabel 13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Hasil analisis keragaman untuk kolom dan perlakuan pada Tabel 13

menunjukkan bahwa penambahan probiotik starbio dalam suplementasi dodol

multinutrisi memberikan pengaruh sangat berbeda nyata dan berbeda nyata

(44)

Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut

Beda Nyata Jujur (BNJ) seperti pada Tabel 14.

Tabel 14. Uji BNJ perlakuan untuk konversi pakan sapi

Perlakuan Rataan F0.05

P0 6.711 b

Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan

Dari hasil uji BNJ dapat dilihat bahwa pada taraf 0.05, perlakuan P0

berbeda nyata dengan P3. Pada perlakuan P3 angka konversi pakan lebih rendah

dibandingkan dengan semua perlakuan yang diuji.

Konsumsi bahan kering sapi bali jantan yang berbeda sangat nyata yang

juga menghasilkan pertambahan bobot badan sapi yang berbeda sangat nyata

merupakan penyebab terjadinya konversi pakan sapi yang sangat nyata untuk

kolom dan nyata untuk perlakuan yang dihasilkan.

Tingkat konsumsi bahan kering yang tinggi menghasilkan pertambahan

bobot badan yang tinggi pula. Kualitas dan kuantitas pakan yang baik

menghasilkan nilai konversi pakan yang semakin kecil. Dengan kata lain efisiensi

pakan yang semakin baik dengan pertambahan bobot badan yang semakin tinggi.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Campbell (1984) bahwa angka konversi pakan

menunjukkan tingkat penggunaan pakan dimana jika angka konversi pakan

semakin kecil maka penggunaan pakan semakin efisien dan sebaliknya jika angka

konversi besar maka penggunaan pakan tidak efisien.

(45)

probiotik merupakan mikroorganisme yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan

efisiensi pakan ternak tanpa mengakibatkan terjadinya proses penyerapan

komponen probiotik dalam tubuh ternak, sehingga tidak terdapat residu dan tidak

terjadinya mutasi pada ternak.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Rekapitulasi hasil penelitian dari penambahan probiotik starbio pada

suplementasi dodol multinutrisi terhadap pertumbuhan sapi bali jantan dapat

dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Rekapitulasi hasil penelitian

Perlakuan

Parameter Konsumsi Pakan

(kg/ekor/hari)

PBB

(kg/ekor/hari) Konversi Pakan

P0 3,495 A 0.52 A 6.711 b

P1 3,693 AB 0.56 AB 6.640 ab

P2 3,831 B 0.60 BC 6.369 ab

P3 3,881 B 0.63 C 6.198 a

Keterangan : Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi di atas diperoleh bahwa penambahan

proiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi sebagai pakan perlakuan

memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap konsumsi pakan

pertambahan bobot badan dan berbeda nyata untuk konversi pakan.

Penggunaan probiotik starbio dengan level 6% (P3) pada suplementasi

dodol multinutrisi memberikan nilai konversi yang paling efisien dibandingkan

(46)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi

memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap konsumsi pakan dan pertambahan

bobot badan, dan berbeda nyata untuk konversi pakan sapi bali jantan. Semakin

tinggi level penambahan probiotik starbio semakin memberikan pengaruh yang

baik dalam meningkatkan efisiensi pakan.

Saran

Untuk meningkatkan efisiensi pakan dari 4 level penambahan probiotik

starbio yang diuji, level yang disarankan adalah 6% probiotik starbio dalam

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1979, 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.

Apriyadi, R. 1999. Pengaruh Penambahan Probiotik Bioplus Serat (BS) pada Konsumsi dan Kecernaan Ransum Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) yang Diberikan pada Domba Ekor Tipis (DET). Skripsi. Fakultas Pertanian, Jurusan Peternakan. Universitas Djuanda Bogor.

ASOHI, 2007. Indeks Obat Hewan Indonesia. Edisi VI. Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian. PT Gallus Indonesia Utama (GITA Pustaka), Jakarta.

Belli, H.L.L. 2006. Pre-and Postcalving Supplementation of Multinutrient Blocks on Lactation and Reproductive Performances of Grazing Bali cows. J. Ilmu Ternak dan Veteriner.

Campbell, W. 1984. Principles of Fermentation Technology. Pergaman Press, New York.

Central Unggas. 2009. http://centralunggas.blogspot.com/2009/03/ Potensi-Isolat-Lactobacillus-dari.html.

Crawford, J.S. 1979. Probiotics in Animal Nutrition. Arkansas Nutr. Conf: 45-55.

Davendra, C. 1997. Utilization of feeding stuff for Livestock in South East Asia. Malaysia Agricultural Research and Development Institute, Serdang Malaysia.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University-Press, Yogyakarta.

Fuller, M.F. 1992. Probiotics, In Man and Abinal. J. Appl. Bacterial 66: 365-378.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius, Jakarta.

Lassiter, J.W. and H.P.M. Edward. 1982. Animal Nutrition. Reston Publishing Comp. Inc, Virginia.

Lawrie, R.A. 1995. Ilmu Daging. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.

Lembah Hijau Multifarm. 1995. Pakan Lebih Hemat dengan Starbio. CV. Lembah Hijau Indonesia, Bogor.

(48)

Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan, Jakarta.

Martawidjaya, M., B. Setiadi. dan S.S. Sitorus. 1999. Pengaruh Tingkat Protein Energi Ransum Terhadap Kinerja Produksi Kambing Kacang Muda. Balai Penelitian Ternak. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.

Meynard, L.A. and J.K. Loosly. 1979. Animal Nutrition Sixth Edition. McGraw Hill Publishing in The Agricultural, New York.

Mullik, M.L. 2006. Strategi Suplementasi untuk Meningkatkan Efisiensi Sintesis Protein Mikroba Rumen pada Ternak Sapi yang Mengkonsumsi Rumput Kering Tropis. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.

Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Sapi. Kanisius, Yogyakarta.

Musofie, A.N.K. Wardhani, dan S. Tedjowahyono.1981. Penggunaan Penggunaan Pucuk Tebu pada Sapi Bali Jantan Muda. dalam: Pros. Pert. Ilmiah Ruminansia Besar. Puslitbangnak Bogor.

Pane, I. 1989. Procedding Seminar Nasional Sapi Bali: Pelaksanaan Perbaikan Mutu Genetik Sapi Bali. A: 42-46.

Parakkasi, A. 1995. Ilmu Makanan Ternak dan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.

Parker, R.D. 1979. Probiotics, The Other Hall of the Antibiotica Story. Jurnal Animal Nutrition Health. 29: 4-8.

Piao, X.S., I.K. Han, J.H. Kim, W.T. cho, Y.H. Kim and C. Liang. 1999. Effects of Kemzyme, Phytase and Yeast.

Poppi, D.P., S.R. McLennan., S. Bediye., A. de Vega., and J. Zorrila-Rios. 1997. Forage Quality and Ultilization. Int. Grassland Congress, Canada.

Rangkuti, M., A. Musofie, P. Sitorus, I.P. Kompiang, N. Kusumawardhani, dan A. Roesjat, 1985. Pemanfaatan Daun Tebu Untuk Pakan Ternak di Jawa Timur. Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu Untuk Pakan Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Grati.

Rasyaf, M. 1990. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 1992. Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius, Yogyakarta.

(49)

Samadi. 2002. Penggunaan Probiotik Sebagai Pengganti Antibiotika dalam Pakan Ternak. http://www.google.co.id

Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian Edisi Revisi. Kanisius, Malang.

Smith and Mangkoewidjojo, 1998. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.

Sugeng, M. 1996. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Surabaya.

Sutan, S.M. 1988. Perbandingan Performans Reproduksi dan Produksi antara Sapi Brahman, Peranakan Ongole dan Bali di Daerah Transmigrasi Batumarta, Sumatera Selatan. Disertasi Doktor Fakultas Pasca Sarjana IPB, Bogor.

Tillman, A.D., Hartadi, S. Reksohadimojo dan S. Prawirokusumo, 1981, 1991, 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University-Press, Yogyakarta.

Wahiduddin, M. 2009. Penggunaan Urea Mineral Molases Blok (UMMB) dan Dodol Sebagai Pengganti Konsentrat Pada Sapi. http://www.google.co.id

Wahyono, D.E. 2000. Pengkajian Teknologi Complete Feed pada Usaha Penggemukan Domba. Laporan Hasil Pengkajian BPTP Jawa Timur, Malang.

Wallace, R.J. dan C.J. Newbold. 1992. Probiotic for Ruminants. Dalam: Fuller, R. 1992. Probiotics. Chapman & Hall. London.

Widayati, E. dan Widalestari, Y. 1996. Limbah Untuk Pakan Ternak. Trubus Agrisorana, Surabaya.

(50)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Formulasi dodol multinut risi

(51)

Perlakuan 2

Bahan % Bahan % PK % LK % TDN % Ca % P

1 B. Kelapa 34,3 6.174 0.6174 27,783 0,0686 0,2054

2 Dedak 19 2,47 2,47 12,54 0,0228 0,285

3 Molales 35,4 1.062 0.02832 28,674 0,354 0,0354

4 Urea 3 7,875 0 0 0 0

5 Pigmix® 0,3 0 0 0 0,00075 0

6 Kapur 2 0 0 0 0,676 0

7 Garam 2 0 0 0 0 0

8 Starbio® 4 0,4168 0.00448 0 0 0

Total 100 17,9978 3,1202 68,997 1,12215 0,5262

Perlakuan 3

Bahan % Bahan % PK % LK % TDN % Ca % P

1 B. Kelapa 40 7,2 072 32,4 0,08 0,24

2 Dedak 8,8 1,144 1,144 5,808 0,01056 0,132

3 Molales 37,9 1,137 0,03032 30,699 0,379 0,0379

4 Urea 3 7,875 0 0 0 0

5 Pigmix® 0,3 0 0 0 0,00075 0

6 Kapur 2 0 0 0 0.676 0

7 Garam 2 0 0 0 0 0

8 Starbio® 6 0.6252 0,00672 0 0 0

(52)
(53)
(54)
(55)
(56)

Lampiran 3. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/hr)

Perlakuan Ulangan Rataan

S1 S2 S3 S4

Lampiran 4. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Lampiran 5. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konsumsi pakan sapi

Perlakuan Rataan F0.05

P0 3,495 A

(57)

Lampiran 6. Grafik rataan konsumsi pakan sapi selama penelitian

Lamiran 7. Data bobot badan sapi bali jantan selama penelitian

Tanggal Sapi 1 Sapi 2 Sapi 3 Sapi 4

Awal 18-Mar-10 150 158 156 165

Akhir Periode 1 18-Apr-10 167.1 173.6 172.8 184.2

Akhir Periode 2 19-Mei-10 182.7 192.2 192 200.4

Akhir Periode 3 19-Juni-10 198.6 211.4 207.6 218.1

Akhir Periode 4 20-Juli-10 213.9 228.2 226.2 238.2

Lampiran 8. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/30 hari)

Perlakuan Ulangan Rataan

S1 S2 S3 S4

P0 0,51 0,52 0,51 0,54 0,52

P1 0,52 0,56 0,55 0,59 0,56

P2 0,53 0,62 0,61 0,64 0,60

P3 0,57 0,64 0,62 0,67 0,63

(58)

Lampiran 9. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi bali jantan

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

5% 1%

Baris 3 0,00095 0,00032 1,000tn 4,76 9,78 Kolom 3 0,01255 0,00418 13,211** 4,76 9,78 Perlakuan 3 0,02620 0,00873 27,579** 4,76 9,78

Galat 6 0,00190 0,00032

Total 15 0,04160

Keterangan :

tn = tidak nyata

** = sangat nyata

KK = 3,09%

Lampiran 10. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi

Perlakuan Rataan F0.05

P0 0,52 A

P1 0,56 AB

P2 0,60 BC

P3 0,63 C

Keterangan :

BNJ0.05 = 0,044

Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan

(59)

Lampiran 12. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian

Perlakuan Ulangan Rataan

S1 S2 S3 S4

Lampiran 13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian

SK DB JK KT Fhitung Ftabel

Lampiran 14. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konversi pakan sapi

Perlakuan Rataan F0.05

P0 6.711 B

(60)

Lampiran 15. Grafik rataan konversi pakan sapi selama penelitian

Lampiran 16. Rekapitulasi hasil penelitian

Perlakuan

Parameter Konsumsi Pakan

(kg/ekor/hari)

PBB

(kg/ekor/hari) Konversi Pakan

P0 3,495 A 0.52 A 6.711 b

P1 3,693 AB 0.56 AB 6.640 ab

P2 3,831 B 0.60 BC 6.369 ab

P3 3,881 B 0.63 C 6.198 a

Gambar

Tabel 1. Kebutuhan nutrisi  sapi untuk tujuan produksi
Tabel 2. Kandungan nilai gizi molasses
Tabel 3. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl
Tabel 4. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang lebih tepat untuk memperkirakan luas permukaan tubuh yang terbakar adalah metode lund dan browder yang mengakui bahwa presentase luas luka bakar pada berbagai

Then, the researcher uses the first and second type of anxiety which is reality and neurotic anxiety since the character, Juliette Ferrars, experiences them in Ignite Me... High

In this regards,the main objectives of this this thesis are to study, modeling, design and develop a prototype of a three-phase cascaded H-Bridge Multilevel inverter

Penelitian ini dilakukan dengan 5 langkah yaitu (1) penentuan tujuan dan batasan dari sistem, (2) analisis dan perancangan yang menjelaskan tentang kebutuhan sistem dan hal-hal

شقن نیا روهظ رگید فرط زا رازه یط ناریا قرش بونج مدرم رنه رد هیام ۀ دیاب ار دلایم زا شیپ موس ن ارف یناگرزاب زا یشا هقطنم ،شوش تشد اب یا شقن .تسناد دکا و ملایع یام ۀ نامدرم یدام راثآ

kelayakan LP3A yang telah dilaksanakan (seperti terlampir dalam berita acara), dilakukan revisi. dalam rangka penyempurnaan LP3A sebagaisyarat melanjutkan ke tahap

Dengan demikian, muatan lokal dapat mendukung pengembangan potensi peserta didik, pembangunan daerah dan pembangunan nasional, serta memperhatikan keseimbangan

Berdasarkan argumen di atas dapat dikatakan bahwa sangatlah berisiko bagi masyarakat (terutama yang sangat miskin) apabila perbaikan teknologi pertanian atau