PENAMBAHAN PROBIOTIK STARBIO PADA
SUPLEMENTASI DODOL MULTINUTRISI TERHADAP
PERTUMBUHAN SAPI BALI JANTAN
SKRIPSI
Oleh:
EDY SUTANTO
060306011
DEPARTEMEN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENAMBAHAN PROBIOTIK STARBIO PADA
SUPLEMENTASI DODOL MULTINUTRISI TERHADAP
PERTUMBUHAN SAPI BALI JANTAN
SKRIPSI
Oleh:
EDY SUTANTO
060306011/ILMU PRODUKSI TERNAK
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Judul Proposal : Penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi terhadap pertumbuhan sapi bali jantan
Nama : Edy Sutanto NIM : 060306011 Departemen : Peternakan
Program Studi : Ilmu Produksi Ternak
Disetujui Oleh Komisi Pembimbing
Ir. Tri Hesti Wahyuni, M.Sc Ir. Soehady Aris Ketua Anggota
Mengetahui,
Prof. Dr. Ir. Zulfikar Siregar, MP Ketua Departemen
ABSTRAK
EDY SUTANTO: Penambahan Probiotik Starbio pada Suplementasi Dodol Multinutrisi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan, dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan SOEHADY ARIS.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, yang berlangsung pada bulan Maret sampai dengan Juli 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi (DM) terhadap pertumbuhan sapi bali jantan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan bujur sangkar latin (RBSL) dengan 4 perlakuan, yaitu P0 (DM tanpa penambahan probiotik starbio), P1 (DM dengan penambahan 2% probiotik starbio), P2 (DM dengan penambahan 4% probiotik starbio), P3 (DM dengan penambahan 6% probiotik starbio), dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg.
Dari hasil peneltian menunjukkan bahwa rataan konsumsi pakan dalam bahan kering (kg/ekor/hari) secara berturut-turut sebesar (3,50; 3,69; 3,83; dan 3,88), rataan pertambahan bobot badan (kg/ekor/hari) sebesar (0,52; 0,56; 0,60; dan 0,63), rataan konversi pakan sebesar (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198). Penambahan probiotik starbio pada suplementasi DM berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan sapi bali jantan, akan tetapi berbeda nyata (P<0,05) terhadap konversi pakan sapi bali jantan. Kesimpulannya adalah bahwa probiotik starbio dapat digunakan untuk meningkatkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan efisiensi pada pakan ternak.
ABSTRACT
EDY SUTANTO: The Addition of Probiotic Starbio in Supplementation Lunkhead Multinutrition on the Growth of Male Bali Cattle, Guided by TRI HESTI WAHYUNI as Supervisor and SOEHADY ARIS as Co-Supervisor.
The research has been conducted in Biological Laboratory of Animal Science, on Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Department of Animal Science, the Faculty of Agriculture, University of North Sumatera, Medan, beginning from March to July 2010. The objectives of the research would be to know the effect of probiotic starbio in supplementation lunkhead multinutrition(LM) on the growth of male bali cattle. The design used in this research is the latin squared design (LSD) with four treatments, the treatment were P0 (LM without the addition of probiotic starbio), P1 (LM with the addition of 2% probiotic starbio), P2 (LM with the addition of 4% probiotic starbio), P3 (LM with the addition of 6% probiotic starbo), with average initial body weight 157,25 + 10,7kg.
The result of research indicated that the average consumption of feed in the dry ingredients (kg/h/d) was (3,50; 3,69; 3,83; and 3,88 respectively), the average daily gain (kg/h/d) was (0,52; 0,56; 0,60; and 0,63 respectively), the average feed conversion ratio was (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198 respectively). The addition of probiotic starbio in supplementation the LM has a very significantly different (P<0,05) on feed intake and body weight gain of male bali cattle, however significant different (P<0,05) with male bali cattle feed conversion. It could be concluded that probiotic starbio could be used to increase feed consumption, body weight gain and feed efficiency in feed.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 15 Februari 1988 di Tanjung Priuk,
Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putera dari
Ayahanda Sugiman dan Ibunda Etin Zulaeha.
Pendidikan yang pernah ditempuh penulis sampai saat ini yaitu, tahun
1994 memasuki SD Islam An-Nur Bekasi dan lulus tahun 2000, pada tahun 2000
melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 16 Bekasi dan lulus tahun 2003,
kemudian tahun 2003 memasuki SMA Negeri 3 Bekasi dan lulus tahun 2006,
selanjutnya pada tahun 2006 masuk Universitas Sumatera Utara, Fakultas
Pertanian, Departemen Peternakan dengan Program Studi Ilmu Produksi Ternak
melalui jalur SPMB.
Kegiatan yang pernah diikuti penulis selama aktif di perkuliahan yaitu,
menjadi wakil ketua organisasi Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan
(HIMMIP) pada tahun 2008-2009, menjadi anggota pengurus organisasi
Himpunan Mahasiswa Departemen Peternakan, selanjutnya pada bulan Juni 2009
sampai dengan Agustus 2009 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
PT. Charoen Pokphand Indonesia yang bekerja-sama dengan University Farm IPB
di Desa Cikabayan, Kecamatan Dramaga, IPB-Bogor, dan yang terakhir
melaksanakan penelitian skripsi di Laboratorium Biologi Ternak dari bulan Maret
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas
rahmat, hidayah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Penambahan Probiotik Starbio pada Suplementasi Dodol Multinutrisi
terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan”.
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih
sebesar-besarnya kepada orang tua penulis yang telah membesarkan, memelihara
dan mendidik penulis selama ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Ibu Tri Hesti Wahyuni selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak
Soehady Aris selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikan
arahan dan bimbingan dari mulai penetapan judul, melakukan penelitian, sampai
pada ujian akhir.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
civitas akademik di Program Studi Ilmu Produksi Ternak Departemen Peternakan,
serta semua rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang
telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini
bermanfaat.
DAFTAR ISI
Pertumbuhan dan Penggemukan Ternak Sapi ... 6
Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia ... 7
Pakan Ternak Sapi ... 8
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 18
Bahan Penelitian ... 18
Alat Penelitian ... 18
Metode Penelitian ... 19
Hal.
Pelaksanaan Penelitian ... 20
HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan ... 23
Pertambahan Bobot Badan ... 26
Konversi Pakan ... 29
Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 32
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 33
Saran ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 34
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Kebutuhan nutrisi sapi untuk tujuan produksi ...9
2. Kandungan nilai gizi molasses ...11
3. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl...14
4. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix ...16
5. Susunan dodol multinutrisi ...21
6. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan dalam bahan kering selama Penelitian (kg/ekor/hari) ...23
7. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan ...24
8. Uji BNJ perlakuan untuk konsumsi pakan sapi bali jantan ...25
9. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan (kg/ekor/hari) ...26
10. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi bali jantan ...27
11. Uji BNJ perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi bali jantan ...28
12. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian...29
13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian ...30
14. Uji BNJ perlakuan untuk konversi pakan sapi ...31
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Formulasi dodol multinutrisi ... 38
2. Konsumsi pakan sapi bali jantan selama penelitian dalam bahan kering (kg/ekor/hari) ... 40
3. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan dalam bahan kering selama penelitian (kg/ekor/hari) ... 43
4. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan ... 43
5. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konsumsi pakan sapi ... 43
6. Grafik rataan konsumsi pakan sapi selama penelitian ... 44
7. Data bobot badan sapi selama penelitian ... 44
8. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/hari) ... 44
9. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi ... 45
10. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi ... 45
11. Grafik rataan pertambahan bobot badan sapi selama penelitian ... 45
12. Rataan konsumsi pakan sapi selama penelitian ... 46
13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian ... 46
14. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konversi pakan sapi ... 46
15. Grafik rataan konversi pakan sapi selama penelitian ... 47
ABSTRAK
EDY SUTANTO: Penambahan Probiotik Starbio pada Suplementasi Dodol Multinutrisi Terhadap Pertumbuhan Sapi Bali Jantan, dibimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan SOEHADY ARIS.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, yang berlangsung pada bulan Maret sampai dengan Juli 2010. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi (DM) terhadap pertumbuhan sapi bali jantan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan bujur sangkar latin (RBSL) dengan 4 perlakuan, yaitu P0 (DM tanpa penambahan probiotik starbio), P1 (DM dengan penambahan 2% probiotik starbio), P2 (DM dengan penambahan 4% probiotik starbio), P3 (DM dengan penambahan 6% probiotik starbio), dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg.
Dari hasil peneltian menunjukkan bahwa rataan konsumsi pakan dalam bahan kering (kg/ekor/hari) secara berturut-turut sebesar (3,50; 3,69; 3,83; dan 3,88), rataan pertambahan bobot badan (kg/ekor/hari) sebesar (0,52; 0,56; 0,60; dan 0,63), rataan konversi pakan sebesar (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198). Penambahan probiotik starbio pada suplementasi DM berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan sapi bali jantan, akan tetapi berbeda nyata (P<0,05) terhadap konversi pakan sapi bali jantan. Kesimpulannya adalah bahwa probiotik starbio dapat digunakan untuk meningkatkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan efisiensi pada pakan ternak.
ABSTRACT
EDY SUTANTO: The Addition of Probiotic Starbio in Supplementation Lunkhead Multinutrition on the Growth of Male Bali Cattle, Guided by TRI HESTI WAHYUNI as Supervisor and SOEHADY ARIS as Co-Supervisor.
The research has been conducted in Biological Laboratory of Animal Science, on Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3, Department of Animal Science, the Faculty of Agriculture, University of North Sumatera, Medan, beginning from March to July 2010. The objectives of the research would be to know the effect of probiotic starbio in supplementation lunkhead multinutrition(LM) on the growth of male bali cattle. The design used in this research is the latin squared design (LSD) with four treatments, the treatment were P0 (LM without the addition of probiotic starbio), P1 (LM with the addition of 2% probiotic starbio), P2 (LM with the addition of 4% probiotic starbio), P3 (LM with the addition of 6% probiotic starbo), with average initial body weight 157,25 + 10,7kg.
The result of research indicated that the average consumption of feed in the dry ingredients (kg/h/d) was (3,50; 3,69; 3,83; and 3,88 respectively), the average daily gain (kg/h/d) was (0,52; 0,56; 0,60; and 0,63 respectively), the average feed conversion ratio was (6,711; 6,640; 6,369; dan 6,198 respectively). The addition of probiotic starbio in supplementation the LM has a very significantly different (P<0,05) on feed intake and body weight gain of male bali cattle, however significant different (P<0,05) with male bali cattle feed conversion. It could be concluded that probiotic starbio could be used to increase feed consumption, body weight gain and feed efficiency in feed.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Populasi penduduk yang terus berkembang dan meningkatnya
pengetahuan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi protein
hewani mengakibatkan permintaan terhadap kebutuhan pangan yang berasal dari
ternak terus meningkat. Dalam usaha memenuhi kebutuhan pangan tersebut juga
diperlukan ternak dalam jumlah besar. Untuk memproduksi ternak dalam jumlah
besar terdapat berbagai kendala, antara lain kebutuhan pakan yang semakin besar
tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan pakan yang cukup serta harga pakan
yang mahal.
Peternakan sapi bali di Sumatera Utara banyak mengandalkan pemberian
pakan yang bersumber hijauan yang berasal dari lahan (hijauan) lapangan saja.
Kualitas nutrisi hijauan alam sangat bervariasi dan berfluktuasi tergantung kepada
musim dan umumnya mempunyai kualitas nutrisi yang lebih rendah dibandingkan
hijauan yang berasal dari sub tropis. Poppi et al. (1997) menunjukkan bahwa nilai
nutrisi hijauan tropis untuk pembentukan protein mikroba rumen (PMR) berada di
bawah nilai minimum (100 g PMR/kg sapi). Kondisi tersebut diduga diakibatkan
oleh rendahnya kandungan protein dan energi, ketidakseimbangan nutrient,
rendahnya konsumsi, lambannya laju alir digesta, dan gangguan sinkronisasi
pelepasan energi dan protein dalam rumen.
Strategi perbaikan nutrisi hijauan yang dapat dilakukan diantaranya
dengan melakukan suplementasi nutrien yang mencukupi kebutuhan protein,
pemanfaatan protein mikroba rumen ternak sapi yang diberi hijauan tropis dan
disuplementasikan oleh urea dan garam.
Kondisi tersebut menjadikan teknik suplementasi yang efektif dan efisien
akan berbeda sejalan dengan perbedaan lokasi dan kualitas hijauan pokok yang
digunakan. Salah satu cara teknik suplementasi yang dapat diterapkan
dipeternakan rakyat adalah penggunaan dodol multinutrisi (DM). Komponen
bahan yang digunakan untuk DM antara lain urea, molases, dedak padi, bungkil
kelapa, dan mineral. Beberapa mineral yang esensial seperti Zn dan Se terutama
dalam bentuk organik akan meningkatkan produktivitas ternak.
Selain itu hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut
adalah dengan memberikan makanan tambahan seperti probiotik starbio, yang
dapat menurunkan tingkat konversi pakan sehingga biaya pakan menjadi lebih
murah.
Probiotik starbio merupakan serbuk berwarna coklat, hasil pengembangan
bioteknologi modern temuan LHM (Lembah Hijau Multifarm) Research Station,
yang berisi koloni yang diisolasi dari alam, yang bersifat bersahabat dengan
kehidupan (probiotik).
Penggunaan probiotik starbio juga dapat mengurangi bau pada kotoran
ternak. Hal ini disebabkan oleh menigkatnya kecernaan dan penyerapan pakan
yang dicampur dengan starbio sehingga kotoran ternak lebih sedikit dan kering
(Lembah Hijau Multifarm, 2004).
Penelitian mengenai penambahan probiotik starbio pada suplementasi DM
terhadap ternak sapi bali dengan menggunakan hijauan yang berasal dari alam
komposisi DM yang paling efektif dan efisien serta mengetahui dampaknya pada
ternak sapi bali yang masih tumbuh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
diterapkan langsung kepada masyarakat peternak sehingga produktivitas ternak
dapat meningkat.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan probiotik
starbio pada dodol multinutrisi terhadap penampilan produksi ternak sapi bali
jantan yang meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, serta konversi
pakan.
Hipotesis Penelitian
Penambahan probiotik starbio pada dodol multinutrisi berpengaruh positif
terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, serta konversi pakan sapi
bali jantan.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti,
peternak khususnya peternak sapi bali dan instansi terkait tentang pengaruh
pemberian probiotik starbio pada dodol multinutrisi. Hasil penelitian diharapkan
dapat digunakan sebagai rujukan dalam penggunaan dodol multinutrisi untuk
ternak ruminansia lainnya, serta dapat digunakan sebagai bahan penulisan ilmiah
TINJAUAN PUSTAKA
Ternak Sapi
Faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor
ternak sedang faktor lingkungan member kesempatan kepada ternak untuk
menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan
menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang
baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak
menjamin penampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik
(Hardjosubroto, 1994).
Menurut Williamson dan Payne (1993) bangsa sapi mempunyai klasifikasi
taksonomi yang terdiri atas Phylum : Chordata, Sub phylum : Vertebrata,
Class: Mamalia, Ordo: Artiodactyla, Sub ordo: Ruminantia, Family: Bovidae,
Genus: Bos dan Spesies: Bos Sondaicus.
Sapi bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil
domestikasi dari Banteng (Bibos banteng) (Hardjosubroto, 1994) dan merupakan
sapi asli sapi Pulau Bali (Sutan, 1988).
Sapi bali mempunyai ciri-ciri khusus antara lain: warna bulu merah bata,
tetapi yang jantan dewasa berubah menjadi hitam (Hardjosubroto, 1994). Satu
karakter lain yakni perubahan warna sapi jantan kebirian dari warna hitam
kembali pada warna semula yakni coklat muda keemasan yang diduga karena
makin tersedianya hormon testosteron sebagai hasil produk dari sel intersisial
testes.
Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus yang
paha, pinggiran bibir atas dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus
sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian
dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas
punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk
silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit
keluar lalu membengkok keatas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit
keluar. Pada sapi betina bentuk tanduk yang ideal disebut manggul gangsa yaitu
jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah kebelakang sedikit
melengkung kebawah dan pada ujungnya sedikit mengarah kebawah dan
kedalam, tanduk ini berwarna hitam.
Saat ini penyebaran sapi bali telah meluas hampir keseluruh wilayah
Indonesia, konsentrasi sapi bali terbesar adalah di Sulawesi Selatan, Pulau
Timor, Bali dan Lombok. Pane (1989) menyatakan bahwa jumlah sapi bali di
Sulawesi Selatan dan pulau Timor telah jauh melampaui populasi sapi bali
ditempat asalnya (Pulau Bali). Pada tahun 1991 ditaksir jumlah sapi bali di
Indonesia sekitar 3,2 juta, dengan jumlah terbanyak di Sulawesi Selatan (1,8 juta
ekor), Nusa Tenggara Timur (625 ekor) dan Pulau Bali (456 ekor)
(Hardjosubroto, 1994 ).
Ternak sapi memiliki beberapa kelebihan bila ditinjau dari nilai ekonomi dan
pemanfaatannya :
- Pada umumnya masyarakat lebih menyukai daging sapi dibanding daging
- Sapi merupakan salah satu sumber budaya masyarakat, misalnya sebagai
ternak qurban, sebagai ternak karapan (di Madura), sebagai ukuran
penentu tingkat kesejahteraan sosial manusia dalam masyarakat.
- Sapi sebagai bentuk tabungan masyarakat yang mudah dijual apabila
terdesak membutuhkan uang yang cepat.
- Kotoran sapi apabila diolah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan bahan
bakar alternatif (biogas).
- Usaha ternak sapi juga membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat
membuka lapangan kerja yang dapat menghidupi banyak keluarga
(Sugeng, 1996).
Pertumbuhan dan Penggemukan Ternak Sapi
Pertumbuhan adalah pertambahan dalam bentuk dan berat
jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, otak, jantung, dan semua jaringan-jaringan
tubuh, serta alat-alat tubuh lainnya. Pada umumnya pertumbuhan ternak mamalia
dapat dibagi dalam dua periode utama, yaitu pre-natal dan post-natal. Pre-natal
yaitu pertumbuhan yang berlangsung antara waktu ovum dibuahi sampai anak
lahir, sedangkan post-natal yaitu pertumbuhan setelah lahir (Anggorodi, 1990).
Menurut Tillman et al. (1993) pertumbuhan adalah kenaikan bobot badan dengan
melakukan pengukuran berulang-ulang dan dinyatakan dengan pertambahan bobot
badan tiap hari, tiap minggu atau tiap satuan waktu lainnya.
Dalam pertumbuhan seekor ternak ada dua hal yang terjadi yaitu:
- Pertumbuhan yaitu bobot badan meningkat sampai mencapai bobot badan
- Perkembangan yaitu terjadi perubahan konformasi dan bentuk tubuh serta
berbagai fungsi dan kemampuannya untuk melakukan sesuatu menjadi
wujud penuh.
Kurva hubungan antara bobot badan dengan umur adalah suatu bentuk
S (sigmoid). Ada fase awal yang pendek dimana bobot badan sedikit meningkat
dengan meningkatnya umur. Hal ini diikuti oleh pertumbuhan eksplosif,
kemudian ada satu fase dengan tingkat pertumbuhan yang sangat rendah
(Lawrie, 1995).
Penggemukan bertujuan untuk memperbaiki kualitas karkas dengan cara
mendeposit lemak seperlunya. Apabila ternak belum dewasa yang digunakan
dalam usaha penggemukan maka sifatnya membesarkan sekaligus memperbaiki
kualitas karkas (Parakkasi, 1995). Pengurangan pakan akan memperlambat
kecepatan pertumbuhan dan bila pengurangan pakan yang signifikan akan
menyebabkan ternak kehilangan bobot badannya (Tillman et al., 1993).
Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia
Proses utama dari pencernaan adalah secara mekanik, hidrolisis, dan
fermentatif. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan dalam mulut
dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dilakukan oleh kontraksi otot
sepanjang usus. Pencernaan secara fermentatif dilakukan oleh mikroorganisme
rumen (Tillman et al., 1993).
Pencernaan adalah rangkaian proses yang terjadi dalam saluran
pencernaan sampai memungkinkan terjadinya penyerapan
(Meynard and Loosly, 1979). Frandson (1992) menyatakan bahwa bagian-bagian
merupakan perut depan atau forestomach), perut glandular, usus halus, usus besar
serta glandula aksesoris yang terdiri dari glandula saliva, hati dan pankreas.
Pakan Ternak Sapi
Pakan adalah semua bahan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak
serta tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap tubuh ternak. Pakan yang
diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang diperlukan oleh
tubuh ternak (Parakkasi, 1995). Widayati dan Widalestari (1996), menyatakan
dimaksudkan bahwa pakan yang diberikan jangan sekedar dimaksudkan untuk
mengatasi lapar atau sebagai pengisi perut saja, melainkan harus benar-benar
bermanfaat untuk hidup pokok, membentuk sel-sel baru, menggantikan sel yang
rusak, dan untuk produksi.
Pakan ternak ruminansia pada umumnya terdiri dari hijauan (rumput dan
leguminosa) dan konsentrat. Hijauan pakan merupakan pakan kasar yang terdiri
dari hijauan pakan yang padat, dapat berupa rumput lapangan, limbah hasil
pertanian, rumput jenis unggul yang telah diintroduksikan beberapa jenis
leguminosa. Sedangkan konsentrat merupakan bahan pakan penguat yang terdiri
dari bahan pakan yang kaya karbohidrat dan protein. Pemberian pakan berupa
kombinasi kedua bahan tersebut akan memberi peluang terpenuhinya zat-zat gizi
Tabel 1. Kebutuhan nutrisi sapi untuk tujuan produksi
Uraian bahan Periode
Pembibitan Penggemukan
Hijauan Pakan Ternak Sapi
Hijauan yang masih muda akan lebih dapat dicerna daripada yang tua.
Perbedaan dalam daya cerna tersebut terjadi bila tumbuh-tumbuhan menjadi tua,
disebabkan terutama karena bertambahnya kadar lignin yang hampir tidak dapat
dicerna meskipun oleh hewan ruminansia (Anggorodi, 1990).
Tillman et al. (1993) menyatakan bahwa kadar serat tanaman adalah
terendah bila tanaman masih sangat muda dan cenderung naik kadar serat
kasarnya bila tanaman semakin tua. Pada umumya, kadar serat kasar tanaman
yang semakin tinggi, pencernaannya semakin lama dan nilai energy produktifnya
makin rendah.
Dodol Multinutrisi
Pakan yang berkualitas cukup tidak menyebabkan sapi kekurangan asam
amino karena semua asam amino yang dibutuhkan oleh sapi dapat tersedia di
dalam rumen asalkan bahan untuk menyusun asam amino di adalam rumen adalah
urea, selain itu juga karbohidrat dan mineral yang ada dalam konsentrat.
baik itu dalam bentuk blok ataupun dodol (Wahiduddin, 2009). Adapun perbedaan
antara urea mineral molasses blok (UMMB) dengan bentuk dodol adalah:
1. Konsistensi dodol agak lunak sedangkan UMMB keras
2. Dodol dapat digigit oleh sapi sedangkan UMMB dijilat
3. Cara pembuatan dodol dengan pemanasan di atas kompor sedangkan
UMMB tanpa pemanasan diatas kompor
4. Dodol tidak ada kandungan bahan perekat sedangkan UMMB ada bahan
perekatnya
Dedak Padi
Dedak padi adalah bahan pakan yang diperoleh dari pemisahan beras
dengan kulit gabahnya melalui proses penggilingan padi dari pengayakan hasil
ikutan penumbukan padi (Parakkasi, 1995). Sedangkan menurut Rasyaf (1990),
sebagai bahan makanan asal nabati, dedak memang limbah proses pengolahan
padi menjadi beras. Oleh sebab itu kandungan nutrisinya juga cukup baik, dimana
kandungan protein dedak halus sebesar 12%-13%, kandungan lemak 13%, dan
dan serat kasarnya 12%.
Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa digunakan sebagai pakan pendamping tepung ikan dan
jagung, tujuannya tetap untuk menekan harga ransum. Kandungan nutrisinya juga
memadai, yaitu protein kasar 20,9%, serat kasar 10,5%, lemak kasar 5-6%, EM
Molases
Molases dapat digunakan sebagai pakan ternak. Keuntungan penggunaan
molases untuk pakan ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (48-60% sebagai
gula), kadar mineral cukup dan disukai ternak. Tetes juga mengandung vitamin B
kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi ternak seperti kobalt, boron,
jodium, tembaga, mangan, dan seng. Kelemahan dari molases ialah kadar
kaliumnya yang tinggi dapat menyebabkan diare jika dikonsumsi terlalu banyak
(Rangkuti et al., 1985).
Tabel 2. Kandungan nilai gizi molasses
Zat nutrisi Kandungan (%)
Sumber : Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Departemen Peternakan, FP-USU (2000).
Urea
Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi di
dalam sistem pencernaan ruminansia. Urea dalam proporsi tertentu mempunyai
dampak positif terhadap peningkatan konsumsi protein kasar dan daya cerna. Urea
yang diberikan pada ruminansia akan melengkapi sebagian dari kebutuhan protein
dan lemak, karena lemak tersebut disintesis menjadi protein oleh mikroorganisme
di dalam rumen (Kartadisastra, 1997).
Parakkasi (1995) menyatakan bahwa disamping dapat menguntungkan,
bermanfaat) bila penggunaannya tidak sebagaimana mestinya. Oleh karena itu
beberapa prinsip dasar tentang penggunaannya perlu diketahui.
Probiotik Starbio
Probiotik berasal dari bahasa latin yng berarti “untuk kehidupan”; disebut
juga “bakteri bersahabat”, “bakteri menguntungkan”, “bakteri baik”, atau “bakteri
sehat”. Apabila didefinisikan secara lengkap, probiotik adalah kultur tunggal atau
campuran dari mikroorganisme hidup yang apabila diberikan ke manusia atau
hewan akan berpengaruh baik, karena akan menekan pertumbuhan bakteri
patogen/bakteri jahat yang ada di usus manusia/hewan (Central Unggas, 2009).
Berbeda dengan antibiotik, probiotik merupakan mikroorganisme yang
dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ternak tanpa mengakibatkan
terjadinya proses penyerapan komponen probiotik dalam tubuh ternak, sehingga
tidak terdapat residu dan tidak terjadinya mutasi pada ternak. Sementara antibiotik
merupakan senyawa kimia murni yang mengalami proses penyerapan dalam
saluran pencernaan (Samadi, 2002).
Probiotik adalah organisme beserta substansinya yang dapat mendukung
keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan (Parker, 1979). Kemudian
Fuller (1992) menyatakan probiotik adalah mikroorganisme hidup (bentuk kering)
yang mengandung media tempat tumbuh dan produk metabolismenya. Lalu
Fuller (1992) mendefinisikan probiotik suatu mikroba hidup yang dicampurkan
sebagal suplemen dalam pakan yang menguntungkan induk semang dengan
memperbaiki populasi mikroba dalam usus. Sedangkan prebiotik dapat diartikan
sebagai bahan makanan yang tidak dapat dicerna yang secara selektif merangsang
didefinisikan juga sebagai organisme yang memberikan kontribusi terhadap
keseimbangan mikroba dalam usus (Crawford, 1979).
Penggunaan starbio pada pakan mengakibatkan bakteri yang ada pada
starbio akan membantu memecahkan struktur jaringan yang sulit terurai sehingga
lebih banyak zat nutrisi yang dapat diserap dan ditransformasikan ke produk
ternak. Selain itu, produktivitas ternak akan meningkat, bahkan lebih banyak zat
nutrisi yang dapat diuraikan dan diserap (Ritonga, 1992).
Pemberian probiotik starbio pada pakan ternak akan meningkatkan
kecernaan protein dan mineral fosfor (Piao et al., 1999). Hal ini terjadi karena
probiotik starbio merupakan kumpulan mikroorganisme (mikroba probiolitik,
selulotik, lignolitik, lipolitik dan aminolitik serta nitrogen fiksasi non simbiosis)
yang mampu menguraikan bahan organic kompleks pada pakan menjadi bahan
organic yang lebih sederhana (Lembah Hijau Multifarm, 1995).
Garam
Garam diperlukan oleh sapi sebagai perangsang menambah nafsu makan.
Garam juga sebagai unsur yang dibutuhkan dalam kelancaran pekerjaan faali
tubuh. Menurut Lassiter and Edward (1982) garam yang dimaksud adalah garam
dapur (NaCl), dimana selain berfungsi sebagai mineral juga berfungsi
meningkatkan palatabilitas.
Garam tersebut merangsang sekresi saliva. Terlalu banyak garam akan
menyebabkan retensi air sehingga menimbulkan odema. Defisiensi garam lebih
sering terdapat dalam hewan herbivora daripada hewan lainnya. Ini disebabkan
nafsu makan hilang, bulu kotor, makan tanah, keadaan badan tidak sehat, produksi
menurun sehingga menurunkan bobot badan (Angorodi, 1990).
Penggunaan toleransi maksimum terhadap pemberian NaCl untuk berbagai
spesies dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Toleransi maksimum berbagai spesies terhadap NaCl
Spesies Level NaCl dalam makanan (%)
Sapi
Zat-zat mineral lebih kurang merupakan 3-5% dari tubuh hewan. Hewan
tidak dapat membuat mineral karenanya harus disediakan dalam makanannya.
Dari hasil penelitian dapat diterangkan bahwa mineral tersebut harus disediakan
dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup. Terlalu banyak
mineral dapat membahayakan individu. Suatu keuntungan ialah bahwa sebagian
besar mineral dapat diberikan dalam jumlah yang besar dalam ransum tanpa
mengakibatkan kematian, tetapi kesehatan hewan menjadi mundur sehingga
menyebabkan kerugian ekonomis yang besar (Anggorodi, 1990).
Parakkasi (1995) menyatakan bahwa guna memenuhi kebutuhan mineral,
mungkin dapat diusahakan bila ruminan bersangkutan dapat mengkonsumsi
mineral (terutama dimusim kemarau) maka umumnya ruminan di daerah tropis
cenderung defisiensi akan mineral.
Secara umum mineral-mineral berfungsi sebagai berikut: Bahan
pembentukan tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan keras dan kuat,
mempertahankan keadaan koloidal dari beberapa senyawa dalam tubuh,
memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, aktivator system enzim
tertentu, komponen dari suatu enzim, mineral mempunyai sifat yang karakteristik
terhadap kepekaan otot dan saraf (Tillman et al., 1993).
Pigmix mengandung segala kebutuhan vitamin, Asam amino dan mineral
pada babi, Mempercepat pertumbuhan babi, meningkatkan kesuburan dan
meningkatkan produksi daging. Memperbaiki konversi ransum sehingga biaya
untuk ransum menjadi lebih murah. Dosis dan cara pemakaian: Campurkan secara
merata ke tiap 100 Kg ransum, kemasan kantong plastik isi 500 g, 1 Kg, wadah
plastik isi 5 Kg dan kantong kertas isi 25 Kg. Deptan RI No. D 07021063 FTS.2
Tabel 4. Kandungan beberapa vitamin, mineral dan asam amino dalam pigmix
Sumber : Kemasan Pigmix
Konsumsi Pakan Ternak Sapi
Tingkat konsumsi adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak.
Menurut Parakkasi (1995) bahwa yang menjadi faktor penentu tingkat konsumsi
adalah keseimbangan zat makanan dan tingkat palatabilitas. Konsumsi pakan juga
dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ternak, selain menurunnya nafsu makan,
ternak yang sakit juga tidak mau berjalan untuk mendekati air minum.
Suhu yang tinggi juga dapat menyebabkan nafsu makan menurun dan
meningkatnya air minum. Hal ini mengakibatkan otot-otot daging lambat
Pertambahan Bobot Badan
Laju pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh umur ternak, lingkungan,
dan genetika dimana bobot tubuh awal fase penggemukan berhubungan dengan
bobot dewasa. Pertambahan bobot badan merupakan salah satu kriteria yang
digunakan untuk mengukur pertumbuhan (Sugeng, 1996).
Parakkasi (1995) menyatakan bahwa ternak yang mempunyai sifat dan
tingkat konsumsi yang lebih tinggi, maka produksinya juga lebih tinggi dibanding
ternak sejenis yang konsumsinya rendah.
Konversi Pakan
Konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah pakan yang
dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dicapai dalam kurun waktu
yang sama. Konversi pakan merupakan suatu indikator yang dapat menerangkan
tingkat efisiensi penggunaan pakan, dimana semakin rendah angkanya berarti
semakin baik konversi pakan tersebut (Anggorodi, 1990).
Konversi pakan diukur dari jumlah bahan kering yang dikonsumsi dibagi
dengan unit pertambahan bobot badan persatuan waktu. Konversi pakan
khususnya pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan, pertambahan
bobot badan dan nilai kecernaan. Dengan memberikan kualitas pakan yang baik
ternak akan tumbuh lebih cepat dan lebih baik konversi pakannya
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak,
Departemen Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penelitian ini akan dilaksanakan selama empat bulan yang dimulai pada bulan
Maret 2010 sampai Juli 2010.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan antara lain : 4 ekor sapi bali jantan umur 12 bulan
dengan rata-rata bobot awal 157,25 + 10,7 kg. Bahan pakan terdiri atas : Hijauan
lapangan, Dodol multinutrisi yang terdiri atas : molasses, urea, bungkil kelapa
dedak padi, starbio, kapur, garam dan pigmix. Obat-obatan seperti obat cacing,
Cypperkiller sebagai pengusir lalat, karbol sebagai desinfektan, vitamin
B-kompleks, air minum.
Alat yang digunakan antara lain : Kandang individual sebanyak 4 unit
beserta perlengkapannya, Tempat pakan dan minum, Timbangan kapasitas 500 kg
dengan kepekaan 10 g untuk menimbang bobot badan sapi, Timbangan digital
kapasitas 2 kg untuk menimbang bahan dodol multinutrisi, Salter kapasitas 10 kg
dengan kepekaan 10 g untuk menimbang hijauan, Bambu untuk mencetak dodol
multinut risi, Kompor untuk memanaskan molasses, Wajan sebagai wadah dalam
mencampur bahan dodol multinutrisi pada saat dipanaskan, Sapu dan sekop
sebagai alat pembersih kandang, Lampu sebagai alat penerangan, Alat tulis
Metode Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan bujur sangkar
latin (RBSL). Perlakuan yang diteliti adalah : P0 = Hijauan lapangan + DM0, P1 =
Hijauan lapangan + DM 1, P2 = Hijauan lapangan + DM 2, P3 = Hijauan lapangan
+ DM 3.
Kombinasi perlakuan yang dilakukan :
Periode Pelaksanaan (Bulan) Kandang
A B C D
I S1P3 S2P0 S3P1 S4P2
II S1P1 S2P2 S3P3 S4P0
III S1P2 S2P3 S3P0 S4P1
IV S1P0 S2P1 S3P2 S4P3
Model matematika yang digunakan adalah
Y ijk = µ + τI + βj + K k + € ijk
Dimana:
Y ijk = Hasil pengamatan dari perlakuan ke-i, baris ke-j, dan kolom ke-k
τ i = Pengaruh perlakuan ke-i
β j = Pengaruh baris ke-j
K k = pengaruh kolom ke-k
µ = Nilai tengah umum
€ ijk = Pengaruh galat karena perlakuan ke-i, baris ke-j, dan kolom ke-k
(Sastrosupadi, 2000).
Parameter Penelitian
1. Konsumsi pakan
pakan yang diberikan pada pagi hari kemudian dikurangkan dengan
penimbangan pakan sisa yang dilakukan pada pagi hari besoknya.
Konsumsi pakan = Pakan yang diberikan – Pakan sisa
2. Pertambahan bobot badan
Pertambahan bobot badan dihitung berdasarkan selisih antara hasil
penimbangan bobot badan akhir dengan bobot badan sebelumnya.
PBB = Bobot badan akhir – Bobot badan awal
3. Konversi pakan
Konversi pakan dihitung berdasarkan perbandingan antara konsumsi
pakan dengan pertambahan bobot badan. Konversi pakan dapat
dihitung dari rumus berikut :
Konversi pakan = Konsumsi pakan
PBB
Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan kandang
Kandang dan semua peralatan yang digunakan seperti tempat pakan dan
tempat minum dibersihkan dan didesinfektan dengan Rodalon.
2. Pemberian pakan dan air minum
Pakan yang diberikan adalah 100% hijauan yang berupa rumput dan legum
lapangan. Pakan diberikan sebanyak 10% dari bobot badan dan air minum
diberikan secara ad-libitum. Sisa pakan yang diberikan ditimbang
3. Pembuatan dodol multinutrisi (DM)
Pembuatan DM menggunakan beberapa bahan antara lain urea, molasses,
dedak padi, garam, ultra mineral, kapur, bungkil kelapa dan starbio.
Komposisi tiap bahan yang digunakan sebagai percobaan disesuaikan
dengan perlakuan yang akan diberikan.
Tabel 5. Susunan dodol multinut risi
Bahan Komposisi (%)
DM0 DM1 DM2 DM3
Bungkil kelapa 21,3 27,5 34,3 40
Dedak 40,6 29,8 19 8,8
Molases 30,8 33,4 35,4 37,9
Urea 3,0 3,0 3,0 3,0
Pigmix® 0,3 0,3 0,3 0,3
Kapur 2,0 2,0 2,0 2,0
Garam 2,0 2,0 2,0 2,0
Starbio® 0,0 2,0 4,0 6,0
Total 100 100 100 100
4. Pemberian dodol multinutrisi (DM)
Dodol multinutrisi diberikan sebanyak 250 g/ekor/hari dalam waktu dua
kali sehari yaitu pagi dan sore.
5. Pemberian obat-obatan
Ternak sapi pertama masuk kandang diberikan obat cacing dengan dosis
sesuai anjuran dari obat yang digunakan. Obat-obat yang lain diberikan
Berikut ini adalah skema pembuatan dodol multinutrisi yang dilakukan
melalui beberapa tahapan yaitu:
Gambar 1. Skema pembuatan dodol multinutrisi
(Sutanto dan Putra, 2010)
.
Dipanaskan molases hingga mendidih
Dimasukkan garam dan kapur yang telah dilarutkan dengan 100 ml air, aduk hingga rata
Dicampur dedak, bungkil kelapa, pigmix dan starbio*
Didinginkan
Dimasukkan urea, aduk hingga rata
Adonan 1
Cetak adonan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan dapat dihitung dengan pengurangan jumlah pakan yang
diberikan dengan sisa pakan yang ada. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan
yang diberikan suplementasi dodol multinutrisi dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan dalam bahan kering selama penelitian (kg/ekor/hr)
Perlakuan Ulangan Rataan
S1 S2 S3 S4
P0 3,160 3,670 3,220 3,930 3,495
P1 3,220 3,880 3,513 4,160 3,693
P2 3,180 4,000 3,900 4,243 3,831
P3 3,460 4,055 3,625 4,382 3,881
Rataan 3,255 3,901 3,565 4,179 3,725
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat rataan konsumsi sapi bali jantan sebesar
3,725 kg/ekor/hari. Rataan konsumsi pakan tertinggi terdapat pada perlakuan P3
(penambahan probiotik starbio sebesar 6% pada suplementasi dodol multinutrisi)
sebesar 3.881 kg/ekor/hari, sedangkan rataan konsumsi pakan terendah terdapat
pada perlakuan P0 (tanpa penambahan probiotik pada suplementasi dodol
multinutrisi) sebesar 3.495.
Efek penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi
sebagai perlakuan terhadap konsumsi pakan dalam bahan kering dapat diketahui
dengan melakukan analisis keragaman.
Tabel 7. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
Secara statistik pada kolom dan perlakuan dapat diketahui bahwa
penambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi memberikan
pengaruh yang sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan sapi bali jantan.
Kolom (sapi) berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan
sapi bali jantan. Hal ini disebabkan karena berat awal sapi mempengaruhi jumlah
(banyaknya) pakan yang dikonsumsi. Hal ini masih bias ditoleransi karena masih
sesuai dengan uji keragaman bobot badan yaitu dengan rumus X + 2SD, berkisar
antara 146,55 sampai 167,95 kg. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo
(1993) yang menyatakan bahwa semakin berat tubuh ternak maka semakin banyak
pula pakan yang dikonsumsi oleh ternak itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Baris (waktu) tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi
pakan sapi bali jantan. Disini berarti bahwa perlakuan dan sapi (berat badan awal)
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut
Beda Nyata Jujur (BNJ) seperti pada Tabel 8.
Tabel 8. Uji BNJ perlakuan untuk konsumsi pakan sapi bali jantan
Perlakuan Rataan F0.05
P0 3,495 A
Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.
Dari uji BNJ perlakuan dapat dilihat bahwa pada taraf 0.05, P0 berbeda
nyata dengan P2 dan P3. Berarti semakin banyak penambahan level starbio pada
suplementasi dodol multinutrisi maka semakin tinggi pula jumlah konsumsi pakan
yang dihasilkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Wallace dan Newbold (1992)
yang menyatakan bahwa pemberian probiotik akan menigkatkan populasi bakteri
dalam tubuh ternak sehingga kecernaan serat kasar akan meningkat. Pernyataan
ini berarti bahwa dengan penambahan starbio ada peningkatan populasi bakteri
selulotik (fibrolitik). Sejalan dengan hal ini, Apriyadi (1999) menyatakan bahwa
tinggi rendahnya kecernaan zat-zat makanan pada ternak tidak bergantung pada
kualitas protein pakan melainkan pada kandungan serat kasar dan aktifitas
mikroorganisme yang berada dalam tubuh ternak terutama bakteri selulotik. Di
antara species selulotik ada yang berfungsi ganda didalam mencerna serat kasar
yaitu sebagai pencerna selulosa juga hemiselulosa dan pati.
Selain itu juga tingkat palatabilitas keempat pakan perlakuan inilah yang
mempengaruhi ternak dalam mengkonsumsi pakan yang diberikan. Sesuai dengan
pendapat Lubis (1992) yang menyatakan bahwa konsumsi bahan kering (BK)
dan palatabilitas dan 2) Faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur
dan kondisi kesehatan ternak. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Parakkasi
(1995) yang juga menyatakan bahwa palatabilitas pakan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pakan.
Pertambahan bobot badan
Pertambahan bobot badan sapi bali jantan dalam penelitian ini diperoleh
dari hasil penimbangan bobot badan akhir dikurangi dengan bobot badan awal
penimbangan. Pengukuran bobot badan dilakukan dengan selang waktu 30 hari
sekali.
Berikut rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian.
Tabel 9. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan (kg/ekor/hr)
Perlakuan Ulangan Rataan
S1 S2 S3 S4
P0 0,51 0,52 0,51 0,54 0,52
P1 0,52 0,56 0,55 0,59 0,56
P2 0,53 0,62 0,61 0,64 0,60
P3 0,57 0,64 0,62 0,67 0,63
Rataan 0,53 0,59 0,57 0,61 0,58
Seperti yang tertera pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan
bobot badan sapi bali jantan selama penelitian adalah 0,58 kg/ekor/hari. Dimana
rataan pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (starbio 6%)
dengan PBBH sebesar 0,63 kg/ekor/hari. Sedangkan rataan pertambahan bobot
Sekalipun terdapat perbedaan dari rataan pertambahan bobot badan sapi
bali jantan, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari pakan perlakuan yang
diberikan terhadap pertambahan bobot badan sapi bali jantan maka perlu
dilakukan analisis keragaman. Berikut analisis keragaman pertambahan bobot
badan sapi.
Tabel 10. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi bali jantan
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
Hasil analisis keragaman untuk kolom dan perlakuan pada Tabel 10
menunjukkan bahwa penambahan probiotik starbio dalam suplementasi dodol
multinutrisi memberikan pengaruh sangat nyata (P<0.05) terhadap pertambahan
bobot badan sapi bali jantan. Asumsi peneliti pada kolom (sapi) memberikan
pengaruh yang sangat nyata (P<0,05) dikarenakan faktor genetik yang baik dalam
tiap sapi tersebut, hal ini didukung oleh pernyataan Davendra (1997) yang
menyatakan bahwa ternak yang mempunyai potensi yang tinggi akan memiliki
respon yang baik terhadap pakan yang diberikan dan memiliki efisiensi pakan
yang tinggi. Artinya ternak akan mengalami pertumbuhan yang baik apabila
genetik dari ternak tersebut dominan memiliki darah dari induk yang memiliki
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan uji lanjut Beda
Nyata Jujur (BNJ) seperti pada Tabel 11.
Tabel 11. Uji BNJ perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi bali jantan
Perlakuan Rataan F0.05
P0 0,52 A
Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan
Dari hasil uji BNJ perlakuan juga dapat dilihat bahwa pada taraf 0,05, P0
berbeda nyata dengan P2 dan P3, begitupun pada P1 berbeda nyata dengan P3. Pada
perlakuan P0. Rataan pertambahan bobot badan sapi yang dihasilkan paling rendah
dibandingkan dengan perlakuan lainnya, hal ini sesuai dengan rataan konsumsi
pakan pada Tabel 6 jumlah rataan konsumsi pakan sapi yang terendah terdapat
pada P0.
Ternak yang disuplementasi dodol multinutrisi dengan diberi penambahan
probiotik starbio mempunyai daya cerna lebih tinggi sehingga zat-zat pakan yang
diserap juga lebih banyak dan juga bobot badan akhir dan pertambahan bobot
badannya lebih tinggi daripada suplementasi dodol multinutrisi tanpa penambahan
probiotik starbio (kontrol).
Meningkatnya bobot badan akhir dan pertambahan bobot badan ternak
yang diberi starbio pada ransum disebabkan karena starbio sebagai probiotik
mengandung bakteri proteolitik, selulolitik, lipolitik, lgnolitik dan amilolitik serta
nitrogen fiksasi non simbiosis yang berfungsi untuk memecah karbohidrat, yaitu
selulosa, hemiselulosa dan lignin memecah protein dan lemak
Pakan perlakuan yang diberikan pada sapi bali jantan memiliki kuantitas
dan kualitas yang hampir sama. Pemberian pakan ini menyebabkan tingkat
konsumsi pakan yang semakin tinggi yang pada akhirnya menghasilkan
pertambahan bobot badan yang semakin tinggi pula. Hal ini didukung oleh
pernyataan Tillman dkk. (1991) yang menyatakan bahwa kuantitas dan kualitas
ransum yang diberikan menyangkut dengan tinggi rendahnya produksi dan
kecepatan pertumbuhan sapi yang sedang tumbuh.
Hasil penelitian Musofie dkk. (1981) menunjukkan bahwa penambahan
konsentrat sebanyak 1% - 1,5% dari bobot badan mampu menaikkan pertambahan
bobot badan sapi bali jantan sekitar 0,5 kg – 0,6 kg/ekor/hari. Dengan kata lain
suplementasi dodol multinutrisi dalam penelitian ini lebih jauh efisien
dibandingkan dengan pemberian konsentrat karena cukup dengan pemberian
dodol multinutrisi sebanyak 250 gram/ekor/hari pada sapi bali dapat
menghasilkan rataan pertambahan bobot badan sekitar 0,52 – 0,63 kg/ekor/hari.
Konversi Pakan
Konversi pakan dihitung dengan perbandingan jumlah pakan yang
dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan oleh ternak
tersebut. Adapun konversi pakan yang diperoleh dari penelitian ini dapat dilihat
pada Tabel 12.
Tabel 12. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian
Perlakuan Ulangan Rataan
Konversi pakan selama penelitian seperti pada Tabel 12 menunjukan
rataan konversi pakan sebesar 6,48. Dimana rataan konversi pakan tertinggi
terdapat pada perlakuan P0 (tanpa starbio) sebesar 6,711, sedangkan rataan
konversi pakan terendah atau paling efisien dari seluruh perlakuan terdapat pada
perlakuan P3 (starbio 6%) sebesar 6,198.
Konversi pakan yang baik selama penelitian terdapat pada perlakuan P3
(starbio 6%) sebesar 6,198 yang berarti untuk menaikkan 1 kg bobot badan maka
ternak sapi membutuhkan 6,198 kg pakan dalam bentuk bahan kering.
Untuk mengetahui pengaruh probiotik starbio dalam supelementasi dodol
multinutrisi sapi bali jantan terhadap konversi pakan sapi bali jantan, maka
dilakukan analisis keragaman seperti yang tertera pada Tabel 13.
Tabel 13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
Hasil analisis keragaman untuk kolom dan perlakuan pada Tabel 13
menunjukkan bahwa penambahan probiotik starbio dalam suplementasi dodol
multinutrisi memberikan pengaruh sangat berbeda nyata dan berbeda nyata
Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut
Beda Nyata Jujur (BNJ) seperti pada Tabel 14.
Tabel 14. Uji BNJ perlakuan untuk konversi pakan sapi
Perlakuan Rataan F0.05
P0 6.711 b
Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan
Dari hasil uji BNJ dapat dilihat bahwa pada taraf 0.05, perlakuan P0
berbeda nyata dengan P3. Pada perlakuan P3 angka konversi pakan lebih rendah
dibandingkan dengan semua perlakuan yang diuji.
Konsumsi bahan kering sapi bali jantan yang berbeda sangat nyata yang
juga menghasilkan pertambahan bobot badan sapi yang berbeda sangat nyata
merupakan penyebab terjadinya konversi pakan sapi yang sangat nyata untuk
kolom dan nyata untuk perlakuan yang dihasilkan.
Tingkat konsumsi bahan kering yang tinggi menghasilkan pertambahan
bobot badan yang tinggi pula. Kualitas dan kuantitas pakan yang baik
menghasilkan nilai konversi pakan yang semakin kecil. Dengan kata lain efisiensi
pakan yang semakin baik dengan pertambahan bobot badan yang semakin tinggi.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Campbell (1984) bahwa angka konversi pakan
menunjukkan tingkat penggunaan pakan dimana jika angka konversi pakan
semakin kecil maka penggunaan pakan semakin efisien dan sebaliknya jika angka
konversi besar maka penggunaan pakan tidak efisien.
probiotik merupakan mikroorganisme yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan
efisiensi pakan ternak tanpa mengakibatkan terjadinya proses penyerapan
komponen probiotik dalam tubuh ternak, sehingga tidak terdapat residu dan tidak
terjadinya mutasi pada ternak.
Rekapitulasi Hasil Penelitian
Rekapitulasi hasil penelitian dari penambahan probiotik starbio pada
suplementasi dodol multinutrisi terhadap pertumbuhan sapi bali jantan dapat
dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Rekapitulasi hasil penelitian
Perlakuan
Parameter Konsumsi Pakan
(kg/ekor/hari)
PBB
(kg/ekor/hari) Konversi Pakan
P0 3,495 A 0.52 A 6.711 b
P1 3,693 AB 0.56 AB 6.640 ab
P2 3,831 B 0.60 BC 6.369 ab
P3 3,881 B 0.63 C 6.198 a
Keterangan : Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan.
Berdasarkan hasil rekapitulasi di atas diperoleh bahwa penambahan
proiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi sebagai pakan perlakuan
memberikan pengaruh yang sangat berbeda nyata terhadap konsumsi pakan
pertambahan bobot badan dan berbeda nyata untuk konversi pakan.
Penggunaan probiotik starbio dengan level 6% (P3) pada suplementasi
dodol multinutrisi memberikan nilai konversi yang paling efisien dibandingkan
KESIMPULAN DAN SARAN
KesimpulanPenambahan probiotik starbio pada suplementasi dodol multinutrisi
memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap konsumsi pakan dan pertambahan
bobot badan, dan berbeda nyata untuk konversi pakan sapi bali jantan. Semakin
tinggi level penambahan probiotik starbio semakin memberikan pengaruh yang
baik dalam meningkatkan efisiensi pakan.
Saran
Untuk meningkatkan efisiensi pakan dari 4 level penambahan probiotik
starbio yang diuji, level yang disarankan adalah 6% probiotik starbio dalam
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1979, 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.
Apriyadi, R. 1999. Pengaruh Penambahan Probiotik Bioplus Serat (BS) pada Konsumsi dan Kecernaan Ransum Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) yang Diberikan pada Domba Ekor Tipis (DET). Skripsi. Fakultas Pertanian, Jurusan Peternakan. Universitas Djuanda Bogor.
ASOHI, 2007. Indeks Obat Hewan Indonesia. Edisi VI. Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian. PT Gallus Indonesia Utama (GITA Pustaka), Jakarta.
Belli, H.L.L. 2006. Pre-and Postcalving Supplementation of Multinutrient Blocks on Lactation and Reproductive Performances of Grazing Bali cows. J. Ilmu Ternak dan Veteriner.
Campbell, W. 1984. Principles of Fermentation Technology. Pergaman Press, New York.
Central Unggas. 2009. http://centralunggas.blogspot.com/2009/03/ Potensi-Isolat-Lactobacillus-dari.html.
Crawford, J.S. 1979. Probiotics in Animal Nutrition. Arkansas Nutr. Conf: 45-55.
Davendra, C. 1997. Utilization of feeding stuff for Livestock in South East Asia. Malaysia Agricultural Research and Development Institute, Serdang Malaysia.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University-Press, Yogyakarta.
Fuller, M.F. 1992. Probiotics, In Man and Abinal. J. Appl. Bacterial 66: 365-378.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius, Jakarta.
Lassiter, J.W. and H.P.M. Edward. 1982. Animal Nutrition. Reston Publishing Comp. Inc, Virginia.
Lawrie, R.A. 1995. Ilmu Daging. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.
Lembah Hijau Multifarm. 1995. Pakan Lebih Hemat dengan Starbio. CV. Lembah Hijau Indonesia, Bogor.
Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan, Jakarta.
Martawidjaya, M., B. Setiadi. dan S.S. Sitorus. 1999. Pengaruh Tingkat Protein Energi Ransum Terhadap Kinerja Produksi Kambing Kacang Muda. Balai Penelitian Ternak. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.
Meynard, L.A. and J.K. Loosly. 1979. Animal Nutrition Sixth Edition. McGraw Hill Publishing in The Agricultural, New York.
Mullik, M.L. 2006. Strategi Suplementasi untuk Meningkatkan Efisiensi Sintesis Protein Mikroba Rumen pada Ternak Sapi yang Mengkonsumsi Rumput Kering Tropis. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.
Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Sapi. Kanisius, Yogyakarta.
Musofie, A.N.K. Wardhani, dan S. Tedjowahyono.1981. Penggunaan Penggunaan Pucuk Tebu pada Sapi Bali Jantan Muda. dalam: Pros. Pert. Ilmiah Ruminansia Besar. Puslitbangnak Bogor.
Pane, I. 1989. Procedding Seminar Nasional Sapi Bali: Pelaksanaan Perbaikan Mutu Genetik Sapi Bali. A: 42-46.
Parakkasi, A. 1995. Ilmu Makanan Ternak dan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.
Parker, R.D. 1979. Probiotics, The Other Hall of the Antibiotica Story. Jurnal Animal Nutrition Health. 29: 4-8.
Piao, X.S., I.K. Han, J.H. Kim, W.T. cho, Y.H. Kim and C. Liang. 1999. Effects of Kemzyme, Phytase and Yeast.
Poppi, D.P., S.R. McLennan., S. Bediye., A. de Vega., and J. Zorrila-Rios. 1997. Forage Quality and Ultilization. Int. Grassland Congress, Canada.
Rangkuti, M., A. Musofie, P. Sitorus, I.P. Kompiang, N. Kusumawardhani, dan A. Roesjat, 1985. Pemanfaatan Daun Tebu Untuk Pakan Ternak di Jawa Timur. Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu Untuk Pakan Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Grati.
Rasyaf, M. 1990. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf, M. 1992. Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius, Yogyakarta.
Samadi. 2002. Penggunaan Probiotik Sebagai Pengganti Antibiotika dalam Pakan Ternak. http://www.google.co.id
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian Edisi Revisi. Kanisius, Malang.
Smith and Mangkoewidjojo, 1998. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia-Press, Jakarta.
Sugeng, M. 1996. Beternak Sapi Potong. Penebar Swadaya, Surabaya.
Sutan, S.M. 1988. Perbandingan Performans Reproduksi dan Produksi antara Sapi Brahman, Peranakan Ongole dan Bali di Daerah Transmigrasi Batumarta, Sumatera Selatan. Disertasi Doktor Fakultas Pasca Sarjana IPB, Bogor.
Tillman, A.D., Hartadi, S. Reksohadimojo dan S. Prawirokusumo, 1981, 1991, 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University-Press, Yogyakarta.
Wahiduddin, M. 2009. Penggunaan Urea Mineral Molases Blok (UMMB) dan Dodol Sebagai Pengganti Konsentrat Pada Sapi. http://www.google.co.id
Wahyono, D.E. 2000. Pengkajian Teknologi Complete Feed pada Usaha Penggemukan Domba. Laporan Hasil Pengkajian BPTP Jawa Timur, Malang.
Wallace, R.J. dan C.J. Newbold. 1992. Probiotic for Ruminants. Dalam: Fuller, R. 1992. Probiotics. Chapman & Hall. London.
Widayati, E. dan Widalestari, Y. 1996. Limbah Untuk Pakan Ternak. Trubus Agrisorana, Surabaya.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Formulasi dodol multinut risi
Perlakuan 2
Bahan % Bahan % PK % LK % TDN % Ca % P
1 B. Kelapa 34,3 6.174 0.6174 27,783 0,0686 0,2054
2 Dedak 19 2,47 2,47 12,54 0,0228 0,285
3 Molales 35,4 1.062 0.02832 28,674 0,354 0,0354
4 Urea 3 7,875 0 0 0 0
5 Pigmix® 0,3 0 0 0 0,00075 0
6 Kapur 2 0 0 0 0,676 0
7 Garam 2 0 0 0 0 0
8 Starbio® 4 0,4168 0.00448 0 0 0
Total 100 17,9978 3,1202 68,997 1,12215 0,5262
Perlakuan 3
Bahan % Bahan % PK % LK % TDN % Ca % P
1 B. Kelapa 40 7,2 072 32,4 0,08 0,24
2 Dedak 8,8 1,144 1,144 5,808 0,01056 0,132
3 Molales 37,9 1,137 0,03032 30,699 0,379 0,0379
4 Urea 3 7,875 0 0 0 0
5 Pigmix® 0,3 0 0 0 0,00075 0
6 Kapur 2 0 0 0 0.676 0
7 Garam 2 0 0 0 0 0
8 Starbio® 6 0.6252 0,00672 0 0 0
Lampiran 3. Rataan konsumsi pakan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/hr)
Perlakuan Ulangan Rataan
S1 S2 S3 S4
Lampiran 4. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi bali jantan
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
Lampiran 5. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konsumsi pakan sapi
Perlakuan Rataan F0.05
P0 3,495 A
Lampiran 6. Grafik rataan konsumsi pakan sapi selama penelitian
Lamiran 7. Data bobot badan sapi bali jantan selama penelitian
Tanggal Sapi 1 Sapi 2 Sapi 3 Sapi 4
Awal 18-Mar-10 150 158 156 165
Akhir Periode 1 18-Apr-10 167.1 173.6 172.8 184.2
Akhir Periode 2 19-Mei-10 182.7 192.2 192 200.4
Akhir Periode 3 19-Juni-10 198.6 211.4 207.6 218.1
Akhir Periode 4 20-Juli-10 213.9 228.2 226.2 238.2
Lampiran 8. Rataan pertambahan bobot badan sapi bali jantan selama penelitian (kg/ekor/30 hari)
Perlakuan Ulangan Rataan
S1 S2 S3 S4
P0 0,51 0,52 0,51 0,54 0,52
P1 0,52 0,56 0,55 0,59 0,56
P2 0,53 0,62 0,61 0,64 0,60
P3 0,57 0,64 0,62 0,67 0,63
Lampiran 9. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi bali jantan
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
5% 1%
Baris 3 0,00095 0,00032 1,000tn 4,76 9,78 Kolom 3 0,01255 0,00418 13,211** 4,76 9,78 Perlakuan 3 0,02620 0,00873 27,579** 4,76 9,78
Galat 6 0,00190 0,00032
Total 15 0,04160
Keterangan :
tn = tidak nyata
** = sangat nyata
KK = 3,09%
Lampiran 10. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk pertambahan bobot badan sapi
Perlakuan Rataan F0.05
P0 0,52 A
P1 0,56 AB
P2 0,60 BC
P3 0,63 C
Keterangan :
BNJ0.05 = 0,044
Superscript yang sama menunjukan tidak adanya perbedaan dari setiap perlakuan
Lampiran 12. Rataan konversi pakan sapi selama penelitian
Perlakuan Ulangan Rataan
S1 S2 S3 S4
Lampiran 13. Analisis keragaman konversi pakan sapi selama penelitian
SK DB JK KT Fhitung Ftabel
Lampiran 14. Uji beda nyata jujur perlakuan untuk konversi pakan sapi
Perlakuan Rataan F0.05
P0 6.711 B
Lampiran 15. Grafik rataan konversi pakan sapi selama penelitian
Lampiran 16. Rekapitulasi hasil penelitian
Perlakuan
Parameter Konsumsi Pakan
(kg/ekor/hari)
PBB
(kg/ekor/hari) Konversi Pakan
P0 3,495 A 0.52 A 6.711 b
P1 3,693 AB 0.56 AB 6.640 ab
P2 3,831 B 0.60 BC 6.369 ab
P3 3,881 B 0.63 C 6.198 a