• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Dalam Pelaksanaan Upah Minimum Kota (Pada Dinas Tenaga Kerja Kota Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Dalam Pelaksanaan Upah Minimum Kota (Pada Dinas Tenaga Kerja Kota Medan)"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN PENGAWASAN DINAS TENAGA KERJA

DALAM PELAKSANAAN UPAH MINIMUM KOTA

(Pada Dinas Tenaga Kerja Kota Medan)

SKRIPSI

DIAJUKAN OLEH:

SAMUEL PARDOSI 030903053

GUNA MEMENUHI SALAH SATU SYARAT UNTUK MEMPEROLEH GELAR SARJANA ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

v

Halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

B. Perumusan Masalah……….. 6

C. Tujuan Penelitian……….. 6

D. Manfaat Penelitian……… 7

E. Kerangka Teori ………. 7

E. 1. Pengawasan……….. 7

E. 1. 1. Pengertian Pengawasan……….. 7

E. 1. 2. Maksud dan Tujuan Pengawasan……….... 9

E. 1. 3. Jenis-jenis Pengawasan……….. 9

E. 1. 4. Fungsi Pengawasan dan kewajiban Pegawai Pengawas dalam Bidang Ketenagakerjaan……. 10

E. 2. Upah Minimum Kota (UMK)……… 13

(3)

vi

E. 2. 3. Jenis-Jenis Upah Minimum……….. 16

E. 2. 4. Kebijakan Pemerintah terhadap Upah Minimum Kota (UMK)………. 17

E. 2. 5. Fungsi dan Peranan Upah Minimum Kota (UMK)………. 23

E. 3. Peranan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja dalam Pelaksanaan UMK……… 26

F. Defenisi Konsep………. 27

G. Definisi Operasional………. 28

H. Sistematika Penulisan……… 29

BAB II METODE PENELITIAN A. Bentuk Penelitian……….. 31

B. Lokasi Penelitian………... 31

C. Populasi dan Sampel………. 31

D. Teknik Pengumpulan Data……… 32

E. Teknik Analisa Data……….. 33

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Medan……… 34

A. 1. Sejarah Ringkas……… 34

A. 2. Letak Dan Geografis………. 37

A. 3. Jumlah Dan Klasifikasi Penduduk……… 38

B. Gambaran Umum Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan… 41 B. 1. Sejarah Perkembangan Dinas Tenaga Kerja……… 41

(4)

vii

Kota Medan ………. 45

B. 4. Tugas Dan Wewenang Pegawai Pengawas

Ketenagakerjaan………. 53

BAB IV PENYAJIAN DATA

A. Pendapat Responden Tentang Peranan Pengawasan Dinas

Tenaga Kerja Dalam Pelaksanaan UMK ………..………….. 58

A. 1. Distribusi Identitas responden……….. 58

A. 2. Distribusi Pendapat Responden Tentang Variabel

Penelitian……….. 61

B. Pelaksanaan Upah Minimum Kota di Kota Medan………….. 72

C. Mekanisme Pengawasan dan Kendala-Kendala yang Dihadapi

Pengawas……….. 78

BAB V ANALISIS DATA

A. Analisis Tentang Peranan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja

Dalam Pelaksanaan Upah Minimum Kota (UMK) di Kota

Medan……….. 84

B. Analisis Tentang Pelaksanaan Upah Minimum kota (UMK)

di Kota Medan………... 87

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan………. 89

B. Saran……… 90

(5)

PERANAN PENGAWASAN DINAS TENAGA KERJA DALAM PELAKSANAAN UPAH MINIMUM KOTA (UMK)

(PADA DINAS TENAGA KERJA KOTA MEDAN)

Oleh : SAMUEL PARDOSI NIM : 030903053

Dalam peningkatan produktifitas kerja dan kesejahteraan pekerja sebagai salah satu pendukung keberhasilan pembangunan nasional, maka pemerintah telah menempuh kebijaksanaan peningkatan Upah Minimum Kota (UMK) yang setiap tahunnya mengalami peningkatan dengan memperhatikan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM), Indeks Harga Konsumen (IHK), Kemampuan dan kesanggupan perusahaan, Kondisi pasar kerja, dan tingkat perkembangan ekonomi dan pendapatan per kapita. Pelaksanaan Upah Minimum Kota pada setiap daerah tidak akan pernah tercapai tanpa adanya pengawasan terhadap pelaksanaan Upah Minimum Kota (UMK) tersebut, yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja masing-masing daerah. Untuk itulah peranan pengawasan yang dilakukan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja dalam pelaksanaan Upah Minimum Kota (UMK) termasuk di Kota Medan, sangat diperlukan sekali.

Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk mencoba mendeskripsikan mengenai peranan pengawasan Kantor Dinas Tenaga Kerja dalam pelaksanakan Upah Minimum Kota (UMK) di Kota Medan, oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan teknik analisa data kualitatif.

Setelah melalui proses penyajian dan analisis data, dapat disebutkan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan sangat menentukan atau sangat berperan dalam pelaksanaan Upah Minimum Kota (UMK) di Kota Medan.

(6)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ketenagakerjaan merupakan masalah ketatanegaraan yang tak henti-hentinya

diperdebatkan bahkan dari hari ke hari atau bulan kebulan terus mengisi

lembaran-lembaran perjalanan kehidupan bangsa Indonesia ini. Jika diperhatikan masalahnya

sudah mendekati kebobrokan, yang berujung pada krisis kepercayaan sehingga pihak

manapun tidak berdaya mengatasinya baru sebatas retorika belaka.

Kasus-kasus ketenagakerjaan itu merebak memenuhi tanah air ini seperti

pemogokan tenaga kerja karena rendahnya upah yang diberikan oleh perusahaan,

PHK yang dilakukan oleh perusahaan dengan alasan efisiensi pekerjaan tanpa adanya

pesangon, penyekapan tenaga kerja sampai berhari-hari yang akan dikirim keluar

negeri tanpa diberi makan atau kebutuhan sehari-hari, penipuan calon-calon tenaga

kerja dengan membayar sejumlah uang administrasi jutaan rupiah oleh perusahaan

fiktif. Disamping itu, ada kasus tenaga kerja yang sampai meninggal dan diperkosa

bahkan dibunuh oleh majikannya dalam menuntut haknya. Tenaga kerja/buruh

diperlakukan secara senonoh karena dianggap sebagai budak yang dapat diperlakukan

semaunya.

Berbagai macam permasalahan ketenagakerjaan yang muncul kepermukaan

dewasa ini, sebagian besar masih didominasi oleh permasalahan pelanggaran terhadap

peraturan perundang–undangan ketenagakerjaan secara umum disamping

permasalahan sumber daya manusia Indonesia yang minim kualitasnya.

Dalam hal ini, di berbagai media baik elektronik maupun cetak tak jarang kita

(7)

seperti: terjadiya pemogokan dan unjuk rasa buruh/pekerja yang bermuara dari sistem

pengupahan dan imbalan kerja yang tidak layak seperti penetapan upah yang tidak

memenuhi standard kebutuhan hidup minimum, penggunaan tenaga kerja secara

kontrak, tidak berlakunya Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi para tenaga

kerja, pelanggaran terhadap ketetapan upah minimum, pemutusan kerja sepihak oleh

pihak pengusaha, pendistribusian tenaga kerja yang tidak seimbang antara tenaga

kerja lokal dengan tenaga kerja pendatang sering menimbulkan gejolak–gejolak,

sering terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit karena pengetahuan dan kesadaran

yang kurang dari pengusaha dan pekerja tentang syarat Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) dan lain sebagainya.

Kita mengetahui bahwa antara tenaga kerja dan pengusaha merupakan dua

faktor yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan terjadinya sinergi kedua

faktor itu baru suatu perusahaan akan berjalan dengan baik. Begitu pula sebaliknya,

seahli apapun tenaga kerja tanpa adanya perusahaan hanya akan melahirkan produk

pengangguran.

Disisi lain, pengusaha sebagai empunya perusahaan berada pada posisi yang

sangat kuat sebab didukung modal yang besar. Sedangkan tenaga kerja hanya

bermodalkan keahlian, intelektual, dan tenaga kerja pada posisi yang sangat lemah.

Hal ini sering digunakan oleh pengusaha-pengusaha berbuat semena-mena terhadap

karyawannya dalam mendapatkan hak-haknya seperti hak upah yang layak, hak

mendapatkan pesangon, hak istirahat, hak cuti seperti cuti tahunan, cuti hamil, dan

lain-lain.

Salah satu masalah aktual dalam bidang ketenagakerjaan saat ini adalah

masalah pelaksanaan upah minimum. Hal ini terlihat dari seringnya terjadi unjuk rasa

(8)

atau peningkatan kesejahteraan mereka. Hal tersebut terjadi karena setiap perusahaan

umumnya berusaha mendapat keuntungan yang sebesar–besarnya dari pekerjanya,

dan sebaliknya pekerja ingin memperoleh upah yang sebesar–besarnya dari pengusaha

sebagai balas jasa yang ia berikan. Sehingga antara pengusaha dan pekerja sering

terjadi pertentangan, dimana masing–masing pihak berusaha memperjuangkan

kepentingan masing–masing.

Dapatlah dikatakan bahwa upah adalah sejumlah uang atau barang yang

diterima pekerja sebagai balas jasa atas tenaga atau pikiran yang diberikannya kepada

perusahaan dimana dia bekerja. Sudah merupakan keinginan yang mendalam

hendaknya upah yang diterima cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Upah

yang diterima pekerja merupakan faktor yang sangat penting bagi kelangsungan hidup

pekerja dan keluarganya.

Begitu besarnya fungsi dan peranan upah bagi pekerja, sehingga gairah,

semangat dan produktifitas kerja sangat dipengaruhi oleh besarnya tingkat upah yang

diterima. Upah harus dilihat sebagai sarana pemerataan pembangunan dan jembatan

untuk mengurangi kesenjangan yang ditandai dengan hubungam yang harmonis antara

pekerja dan pengusaha. Pengupahan yang berdasarkan pada kebutuhan hidup layak,

pengembangan diri dan keluarga tenaga kerja dalam sistem upah yang tidak

menimbulkan kesenjangan sosial dengan mempertimbangkan prestasi kerja dan nilai

kemanusiaan yang menumbuhkan harga diri.

Melihat kenyataan bahwa masih terdapat tingkat upah yang belum dapat

memenuhi kebutuhan hidup minimal bagi pekerja, maka pemerintah telah menempuh

kebijaksanaan berupa penetapan upah minimum yang jumlahnya terus mengalami

kenaikan. Upah minimum adalah upah yang paling rendah yang harus diterima oleh

(9)

Penetapan upah minimum tersebut merupakan suatu langkah kebijakan pemerintah

untuk menangani lebih serius lagi permasalahan ketenagakerjaan secara umum di

Indonesia dan secara khusus di Kota Medan.

Dalam kenyataannya masih banyak dijumpai permasalahan yang menyangkut

pengupahan. Permasalahan itu disebabkan , antara lain:

1. Adanya tingkat upah yang masih berada dibawah standart kebutuhan hidup

layak atau kebutuhan fisik minimum.

2. Adanya diskriminasi pembayaran upah antara pekerja pria dan wanita untuk

pekerjaan yang sama nilainya.

3. Adanya pembayaran upah yang tidak sesuai dengan peraturan yang

menetapkan besarnya upah minimum.

4. Adanya perbedaan upah yang terlalu mencolok baik antar daerah, antar sektor

maupun sub sektor dan kesenjangan yang terlalu mencolok antara besarnya

upah yang tertinggi dengan upah yang terendah yang diterima oleh pekerja

baik secara daerah, sektor, maupun sub sektor. Sehingga kesenjangan rasio

upah muncul.

Penetapan upah minimum merupakan standar atau ukuran yang harus

dijadikan pegangan pokok bagi setiap pengusaha/perusahaan terhadap upah pekerja.

Namun demikian pelaksanaan ketentuan upah minimum termasuk di Kota Medan

cenderung dilanggar apabila tidak diawasi oleh pemerintah, sehingga banyak

perusahaan yang diajukan ke pengadilan karena masalah tersebut. Untuk itulah perlu

fingsi pengawasan terhadap pelaksanaan Upah Minimum Kota (UMK) yang

dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Medan sangat

diperlukan sekali, karena pada hakekatnya pengawasan adalah suatu usaha untuk

(10)

telah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Pengawasan ketenagakerjaan

dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan yang mempunyai kompetensi dan

independen guna menjamin pelaksanaan peraturan perundang-undangan

ketenagakerjaan (UU No.13 Th. 2003).

Fungsi pengawasan memegang peranan dan pengaruh yang sangat besar dalam

suatu kegiatan. Hal ini disebabkan pengawas mempunyai hubungan yang terdekat

dengan kegiatan yang diawasinya. Baik buruknya hasil yang diawasi secara langsung

diketahui oleh pengawas. Oleh karena itu salah satu faktor pendorong keberhasilan

pengawasan ter gantung kepada keahlian dan keterampilan pengawas.

Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan yang merupakan perpanjangan

tangan pemerintah, dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja di daerah, adalah penyelenggara

tugas dan fungsi Departemen Tenaga Kerja dibidang pembinaan ketenagakerjaan dan

pengawasan norma kerja di daerah. Salah satu diantaranya adalah pengawasan atas

pelaksanaan Upah Minimum Kota Medan. Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan

amat berperan dan bertanggung jawab dalam pengawasan pelaksanaan Upah

Minimum Kota di Kota Medan.

Sehubungan dengan kewenangan bidang ketenagakerjaan dalam otonomi

daerah sedemikian luas, maka daerah dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas

pengawasan ketenagakerjaan yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja untuk wilayah

Kota Medan. Terutama pelaksanaan Upah Minimum Kota sangat besar dan

diharapkan peranan Dinas Tenaga Kerja sesuai dengan tujuan otonomi daerah, yaitu

pemberdayaan daerah untuk peningkatan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh dan

(11)

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang peranan pengawasan dalam pelaksanaan Upah Minimum Kota. Dan

berdasarkan atas berbagai pertimbangan, penulis memilih judul penelitian yaitu:

“Peranan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Dalam Pelaksanaan Upah Minimum Kota”

(Pada Dinas Tenaga Kerja Kota Medan).

B. Perumusan Masalah

Untuk mempermudah proses penelitian dan agar memiliki arah yang jelas

dalam menginterpretasikan fakta dan data kedalam penulisan skripsi, maka diperlukan

perumusan masalah.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis

merumuskan permasalahan kedalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Peranan pengawasan Dinas Tenaga Kerja dalam Pelaksanaan

Upah Minimum Kota yang sudah ditetapkan?

2. Apakah kendala–kendala yang dihadapi oleh Dinas Tenaga Kerja dalam

pengawasan pelaksanaan Upah Minimum Kota?

C. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian mempunyai satu atau beberapa tujuan yang hendak dicapai

dan harus sejalan atau konsisten dengan judul dan permasalahan penelitian. Adapun

tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana Peranan pengawasan Dinas Tenaga Kerja

dalam Pelaksanaan Upah Minimum Kota yang sudah ditetapkan.

2. Untuk mengetahui kendala–kendala yang dihadapi oleh Dinas Tenaga Kerja

(12)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermamfaat dan berguna dalam hal:

1. Secara Praktis, sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi kantor

Dinas Tenaga Kerja Kota Medan maupun pihak–pihak terkait.

2. Secara Akademis, sebagai referensi bagi kepustakaan departemen Ilmu

Administrasi Negara dan kalangan yang tertarik untuk melakukan kajian

penelitian dimasa yang akan dating dalam bidang ini.

3. Secara Subjektif, sebagai suatu tahap untuk melatih dan mengembangkan

kemampuan berfikir ilmiah penulis serta memenuhi salah satu syarat guna

menyelesaikan studi dan memperoleh gelar kesarjanaan dari FISIP USU.

E. Kerangka Teori E. 1. Pengawasan

Dalam setiap organisasi yang terkecil hingga yang terbesar, pelaksanaan

pengawasan mutlak diperlukan. Oleh karena itu para ahli administrasi dan

managemen sependapat bahwa pengawasan merupakan salah satu fungsi organik

administrasi dan managemen.

E. 1. 1. Pengertian Pengawasan

Menurut Siagian (2002:169), pengawasan adalah proses pengamatan dari

seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang

dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

Sedangkan Malayu Hasibuan (2001:254), mengungkapkan bahwa pengawasan

adalah pemeriksaan apakah semua itu terjadi sesuai dengan rencana yang ditentukan,

instruksi yang dikeluarkan sesuai dengan prinsip yang telah ditetapkan.

Sofyan Syafri Harahap (2001:10), menyatakan bahwa secara sederhana

(13)

penyimpangan-penyimpangan yang berarti. Dalam pengertian ini pengawasan merupakan tujuan

setiap organisasi.

T. Hani Handoko (2003:359), mengatakan bahwa pengawasan adalah proses

untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai.

Pengawasan merupakan elemen tugas-tugas manajerial, dan ia mencakup tindakan

pengukuran dan perbaikan (koreksi) performa pihak yang diawasi guna memastikan

bahwa sasaran-sasaran, instruksi yang dikeluarkan dilaksanakan secara efisien dan

berjalan lancar.

Sebagai pendukung terhadap defenisi diatas, maka Ramli (1986:1)

menegaskan pengawasan diartikan sebagai usaha menentukan apa yang sedang

dilaksanakan dengan cara menilai hasil/prestasi yang dicapai, dan kalau dapat

penyimpangan dari standard yang ditentukan maka segera diadakan usaha perbaikan

sehingga semua hasil/prestasi yang dicapai sesuai dengan rencana.

Dari kutipan diatas, ada kemungkinan timbul suatu anggapan bahwa kegiatan

pengawasan tersebut bersifat negatif dan penyebab faktor penghambat terhadap

penyelesaian pekerjaan dan pelaksanaan tersebut, karena sering dilihat pengawasan

sebagai kegiatan mencari dan memperbaiki kesalahan yang sedang terjadi.

Mengingat pada dasarnya dalam kegiatan apapun sering terjadi kekeliruan,

melemahnya usaha, ketidakefektifan petunjuk–petunjuk sehingga terjadi

penyimpangan yang tidak diinginkan, maka disinilah diperlukan fungsi pengawasan

yang terkendali dan terpadu.

Selanjutnya Ramli (1986:2), mengatakan pengawasan merupakan kegiatan

positif, karena mengarahkan kegiatan sedemikian rupa sehingga dapat mencapai

(14)

Jadi dengan demikian pengawasan dapat disimpulkan suatu kegiatan positif

berupa tindakan preventif dan represif untuk meniadakan atau memperkecil adanya

pelanggaran terhadap rencana yang sudah ditetapkan, ketentuan-ketentuan,

peraturan-peraturan, dan perundang–undangan. Dalam hal ini fungsi pengawasan bersifat

mendasar dan harus dilaksanakan dalam setiap aktifitas organisasi.

E. I. 2. Maksud dan Tujuan Pengawasan

Menurut Sukarna (1992:112), maksud dan tujuan pengawasan adalah:

1. Untuk mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak.

2. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengusahakan pencegahan agar supaya tidak terulang kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan-kesalahan yang baru.

3. Untuk mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam perencanaan terarah pada sasarannya dan sesuai dengan yang telah ditentukan.

4. Untuk mengetahui apakah biaya sesuai dengan program (tingkat pelaksanaan) seperti yang telah ditetapkan dalam rencana.

5. Untuk mengetahui hasil pekerjaan dengan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam rencana.

6. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan prosedur dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian maksud dan tujuan pengawasan adalah untuk memperbaiki

atau mencegah adanya kesalahan, penyimpangan-penyimpangan atau penyelewengan

dalam pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dan

untuk menghindari kerugian-kerugian yang dilakukan sejak suatu pekerjaan dimulai,

sedang dikerjakan maupun setelah selesai pekerjaan dilakukan.

E. 1. 3. Jenis – Jenis Pengawasan

Menurut Soewarno Handayaningrat (1983:144), pada dasarnya pengawasan

terdiri dari 4 (empat) macam yaitu:

1. Pengawasan dari dalam (internal control)

(15)

pengawasan yang dibentuk didalam organisasi itu sendiri. Aparat/unit pengawasan

ini bertindak atas nama pimpinan organisasi.

2. Pengawasan dari luar (external control)

Pengawasan dari luar berarti pengawasan yang dilakukan oleh apart/unit

pengawasan dari luar itu adalah aparat pengawasan yang bertindak atas nama

pimpinan organisasi.

3. Pengawasan Preventif

Pengawasan preventif berarti pengawasan yang dilakukan sebelum sesuatu

tindakan atau rencana dilakukan. Maksud dari pengawasan preventif ini adalah

untuk mencegah terjadinya kekeliruan atau kesalahan dalam pelaksanaan.

Pengawasan preventif biasanya tercermin dalam tata cara ( prosedur ) yang harus

ditempuh dalam pelaksanaan kegiatan.

4. Pengawasan represif

Pengawasan represif merupakan pengawasan yang dilakukan setelah adanya

pelaksanaan kegiatan. Maksud diadakannya pengawasan represif adalah untuk

menjamin kelangsungan pelaksanaan kegiatan agar hasilnya sesuai dengan rencana

yang telah ditetapkan.

E. 1. 4. Fungsi Pengawasan dan Kewajiban Pegawai Pengawas Dalam Bidang Ketenagakerjaan

Pengawasan ketenagakerjaan merupakan unsur penting dalam perlindungan

tenaga kerja, sekaligus sebagai upaya penegakan hokum ketenagakerjaan secara

menyeluruh. Pengawasan ditempuh dalam 2 (dua) cara, yaitu: preventif dan represif.

Pada dasarnya kedua cara itu ditempuh sangat bergantung dari tingkat

kepatuhan pengusaha, pekerja/buruh, dan serikat pekerja/serikat buruh terhadap

(16)

memungkinkan dan masih adanya kesadaran pengusaha dan pekerja/buruh untuk

mematuhi perundang-undanganatau peraturan ketenagakerjaan. Namun jika tindakan

preventif tidak diindahkan dan tidak efektif lagi, maka ditempuh tindakan represif

dengan maksud agar pengusaha dan pekerja/buruh mau melaksanakan peraturan

ketenagakerjan dengan keterpaksaan.

Pengawasan ketenagakerjaan dilaksanakan untuk menjamin pelaksanakan

peraturan ketenagakerjaan (Pasal 176 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003).

Dengan demikian, sasaran pengawasan ketenagakerjaan ialah meniadakan atau

memperkecil adanya pelanggaran Undang-Undang Ketenagakerjaan, sehingga proses

hubungan industrial dapat berjalan dengan harmonis.

Disamping sebagai upaya perlindungan tenaga kerja, pengawasan

ketenagakerjaan memiliki tujuan social, seperi peningkatan kesejahteraan dan jaminan

sosial pekerja/buruh, mendorong kinerja dunia usaha, serta memperbaiki

kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Pengembangan pengawasan ketenagakerjaan ditempuh dengan

memberdayakan kelembagaan yang ada, seperti LKS Bipartit di setiap perusahaan.

Dalam hal ini peranan serikat pekerja/serikat buruh sangatlah strategis dalam

membantu pengawasan pelaksanaan ketentuan ketenagakerjaan di semua sektor.

Dengan serikat pekerja/serikat buruh maka kiranya dapat mendorong pelaksanaan

pengawasan secara tidak langsung.

Dengan pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja maka

pelaksanaan ketentuan Perundang-undangan ketenagakerjaan akan selalu meningkat

dengan sasaran terciptanya pemahaman dan kesadaran hukum bagi semua pelaku

(17)

kemudian mau dan mampu melaksanakan ketentuan ketenagakerjaan secara benar dan

konsekuen.

Sehubungan kewenangan bidang ketenagakerjaan dalam otonomi daerah

sedemikian luas, maka daerah dapat lagi meningkatkan lagi kuantitas dan kualitas

pengawasan ketenagakerjaan. Hal ini sangat diharafkan sesuai dengan tujuan otonomi

daerah, yaitu pemberdayaan daerah untuk peningkatan kesejahteraan rakyat secara

menyeluruh.

Sebagai penegak hukum dibidang ketenagakerjaan unsur pengawasan ini harus

bertindak sebagai pendeteksi dini dilapangan, sehingga diharafkan segala gejolak

yang akan timbul dapat dideteksi secara awal yang pada gilirannya dapat memberikan

atau dapat diciptakan suasana yang aman, stabil dan mantap dibidang ketenagakerjaan

dan dengan demikian dapat memberikan andil dalam pembangunan.

Menurut Imam Soepomo (1986:141), Pada hakekatnya pengawasan dalam

bidang ketenagakerjaan adalah bentuk tanggung jawab atas dilaksanakannya

peraturan yang ada oleh majikan. Pengawasan itu sendri adalah bukan alat

perlindungan atau syarat kesehatan kerja, melainkan merupakan suatu cara untuk

menjamin pelaksanaan peraturan ketenagakerjaan. Suatu sistem sangat bermanfaat

dalam usaha menaikkan volume produksi, sehingga ia berdampak ganda baik kepada

pekerja/buruh dan majikan/pengusaha serta masyarakat dan Negara. Oleh karena itu,

pelaksanaan pengawasan dengan semua kebijaksanaannya menjadi mutlak dan perlu.

Menurut Abdul Khakim (2003:125), pengawasan ketenagakerjaan meliputi:

1. Sosialisasi Norma Ketenagakerjaan

Sasaran kegiatan ini agar tercapai peningkatan pemahaman norma kerja bagi masyarakat industri, sehingga tumbuh persepsi positif dan mendorong kesadaran untuk melaksanakan ketentuan ketenagakerjaan secara proporsional dan bertanggungjawab.

2. Tahapan Pelaksanaan Pengawasan

(18)

informasi ketentuan ketenagakerjaan, pelayanan konsultasi dan lain-lain.

b. Tindakan represif nonyustisial yang ditempuh dengan memberikan peringatan tertulis melalui nota pemeriksaan kepada pimpinan perusahaan apabila ditemui pelanggaran. Disamping itu juga memberikan petunjuk secara lisan pada saat pemeriksaan.

c. Tindakan represif yustisial, sebagai alternatif terakhir dan dilakukan melalui lembaga peradilan. Upaya ini ditempuh bila pegawai pengawas sudah melakukan pembinaan dan memberikan peringatan, tetapi pengusaha tetap tidak mengindahkan maksud pembinaan tersebut. Dengan demikian Pegawai Pengawas sebagai Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) berkewajiban melakukan penyidikan dan menindaklanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku (KUHP).

Sedangkan menurut Manullang dalam Abdul Khakim (2003:125), fungsi

pengawasan ketenagakerjaan adalah:

1. Mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Ketenagakerjaan.

2. Memberi penerangan teknis serta nasehat kepada pengusaha dan tenaga kerja agar tercapainya pelaksanaan Undang-Undang Ketenagakerjaan secara efektif. 3. Melaporkan kepada pihak berwenang atas kecurangan dan penyelewengan

Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Dalam melaksanakan tugasnya pegawai pengawas berhak dan wajib melakukan:

1. Memasuki semua tempat dimana dijalankan atau biasa dijalankan pekerjaan atau dapat disangka bahwa disitu dijalankan pekerjaan dan juga segala rumah yang disewakan atau dipergunakan oleh pengusahaatau wakulnya untuk perumahan atau perawatan pekerja/buruh.

2. Jika terjadi penolakan untuk memasuki tempat-tempat tersebut, Pegawai Pengawas berhak meminta bantuan Polri.

3. Mendapatkan keterangan sejelas-jelasnya dari pengusaha atau wakilnya dan pekerja/buruh mengenai kondisi hubungan kerja pada perusahaan yang bersangkutan.

4. Menanyai pekerja/buruh tanpa dihadiri pihak ketiga.

5. Harus melakukan koordinasi dengan serikat pekerja/serikat buruh.

6. Wajib merahasiakan segala keterangan yang didapat dari pemeriksaan tersebut.

7. Wajib mengusut pelanggaran (Abdul Khakim, 2003:124).

E. 2. Upah Minimum Kota

E. 2. 1. Pengertian Upah Pada umumnya dan Upah Minimum Kota Menurut pasal 1 ayat (30) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

ketenagakerjaan, upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam

(19)

pekerja/buruh, yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja,

kesepakatan atau peraturan perundangan yang berlaku, termasuk tunjangan bagi

pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/ atau jasa yang telah atau

akan dilakukan.

Menurut Abdul Khakim (2003:75), yang dimaksud dengan upah adalah:

a. Hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

b. Suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada buruh untuk sesuatu pekerjaan atau jasa yang teleh dilakukan atau akan dilakukan, dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut suatu persetujuan atau perturan perundang-undangan, dan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan buruh, termasuk tunjangan, baik untuk buruh sendiri maupun keluarganya.

Dari defenisi dan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

keseluruhannya secara jelas mengandung maksud yang sama yaitu bahwa upah

merupakan pengganti dari pada jasa/tenaga yang telah diserahkan atau dikerahkan

seseorang (pekerja/buruh) kepada pihak lain yakni pengusaha berupa uang atau

barang (Kartasapoetra, 1992:93).

Sesuai pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Nomor: KEP-226/MEN/2000, tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota adalah

upah minimum yang berlaku didaerah Kabupaten/Kota. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa:

a. Upah adalah hak pekerja/buruh sebagai imbalan dari pengusaha atau

pemberi kerja atas suatu pekerjaan dan atau jasa yang telah atau akan

diberikan.

(20)

c. Upah dibayarkan sesuai dengan perjanjian kerja, kesepakatan atau

peraturan perundang-undangan.

d. Tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya merupakan komponen dari

upah.

E. 2. 2. Prinsip Pengupahan

Pengupahan termasuk sebagai salah satu aspek penting dalam perlindungan

pekerja/buruh. Hal ini secara tegas diamanatkan pada Pasal 88 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, bahwa setiap pekerja/buruh berhak memperoleh

penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Maksud dari

penghidupan yang layak, dimana jumlah pendapatan pekerja/buruh dari hasil

pekerjaannya mampu untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan hidup pekerja/buruh dan

keluarganya secara wajar, yang meliputi makanan dan minuman, sandang,

perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan jaminan hari tua.

Motivasi utama seorang pekerja/buruh bekerja di perusahaan adalah

mendapatkan nafkah (= upah), dan upah merupakan hak bagi pekerja/buruh yang

bersifat sensitive. Karenanya, tidak jarang pengupahan menimbulkan perselisihan.

Jadi, prinsip pengupahan menurut Abdul Khakim (2003:74), terdiri dari:

a. Hak menerima upah timbul pada saat adanya hubungan kerja dan berakhir

pada saat hubungan kerja putus.

b. Pegusaha tidak boleh mengadakan diskriminasi upah bagi pekerja/buruh

laki-laki dan wanita untukjenis pekerjaan yang sama.

c. Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan (“ No

(21)

d. Komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap, dengan formulasi

upah pokok minimal 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah upah pokok

dan tunjangan tetap.

e. Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul

dari hubungan kerja menjadi kedaluarsa setelah melampaui jangka waktu 2

(dua) tahun sejak timbulnya hak.

Dari uraian diatas jelas upah diberikan dalam bentuk uang, namun secara

normatif masih ada kelonggaran bahwa upah dapat diberikan dalam bentuk lain

berdasarkan perjanjian atau peraturan perundangan, dengan batasan nilainya tidak

boleh melebihi 25% (dua puluh lima persen) dari nilai upah yang seharusnya diterima

(Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981).

E. 2. 3. Jenis-Jenis Upah Minimum

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-01/MEN/1999 jo.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-226/MEN/2000

jangkauan wilayah berlakunya Upah Minimum meliputi:

a. Upah Minimum Propinsi (UMP) berlaku diseluruh kabupaten/kota dalam 1

(satu) wilayah propinsi.

b. Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) berlaku dalam 1 (satu) wilayah

kabupaten/kota.

c. Upah Minimum Sektoral Propinsi (UMSP) berlaku secara sektoral diseluruh

kabupaten/kota dalam 1 (satu) wilayah propinsi, .

d. Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) berlaku secara sektoral

dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota.

Berdasarkan Kelompok Lapangan Usaha Indonesia (KLUI) disebut Upah

(22)

ditetapkan harus lebih besar sekurang-kurangnya 5% (lima persen) dari Upah

Minimum Propinsi (UMP) dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK)

ditetapkan harus lebih besar sekurang-kurangnya 5% (lima persen) dari Upah

Minimum Kota (UMK).

E. 2. 4. Kebijakan Pemerintah Terhadap Upah Minimum

Kebijakan penetapan upah minimum dalam kerangka perlindungan upah

masih tetap menemui banyak kendala sebagai akibat belum terwujudnya satu

keseragaman upah, baik secara regional/wilayah propinsi atau kabupaten/kota, dan

sektor wilayah propinsi atau kabupaten/kota.

Dalam hal hubungan industrial, antara pengusaha dengan buruh sering terjadi

perdebatan yang panjang hingga sampai menimbulkan kerugian di kedua belah pihak

yang kebanyakan berpangkal dari penerimaan upah yang tidak sesuai dengan standart

kebutuhan hidup layak seorang pekerja atau buruh. Karena bagi pekerja atau buruh,

upah merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan

keluarganya secara langsung. Sementara bagi pengusaha upah mempengaruhi biaya

produksi dan tingkat harga, yang pada gilirannya berakibat pada pertumbuhan

produksi serta perluasan dan pemerataan kesempatan kerja. Semakin tinggi biaya

dikeluarkan semakin tinggi pula biaya produksi.

Bagi pemerintah, upah merupakan sarana pemeratan pendapatan dan

peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu keseimbangan upah yang baik

dengan kebutuhan hidup layak/minimum pekerja/buruh maupun dengan kemajuan

perusahaan perlu terus diupayakan. Dengan demikian pemerataan pendapatan dan

kesejahteraan pekerja/buruh dapat berjalan seiring dengan laju produktifitas

perusahaan. Khususnya dalam upaya penangagulangan kemiskinan dan peningkatan

(23)

Dalam Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1981 telah diatur secara lengkap;

mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengupahan dalam rangka kebijakan

pengupahan yang melindungi pekerja serta mengatur hak-hak dan kewajiban

masing-masing pihak baik pekerja/buruh maupun pengusaha yang berlaku secara nasional.

Materi pokok mengenai pengupahan yang diatur pada PP. No. 8 Tahun 1981 tidak

jauh berbeda dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

Pengusaha berkewajiban membayar upah kepada tenaga kerja pada saat

terjadinya perjanjian kerja sampai perjanjian kerja berakhir. Pengusaha dalam

menetapkan upah tidak boleh mengadakan diskriminasi antara tenaga kerja laki-laki

dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya. Maksudnya bahwa upah dan

tunjangan lainnya yang diterima oleh tenaga kerja perempuan untuk pekerjaan yang

sama nilainya harus sama dengan tenaga kerja laki-laki. Jadi dapat disimpulkan

bahwa nilai pengupahan tersebut tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin.

Ketentuan tersebut merupakan pelaksanaan dari Konvensi ILO atau Organisasi

Perburuhan Internasional No.100 Tahun 1951 mengenai pengpahan bagi tenaga kerja

laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya dan konvensi ini telah

diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dengan Undang-Undang No. 80 Tahun 1957

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957). Pengusaha juga dilarang

membayar upah pekerja lebih rendah dari upah minimum, jika dalam hal pengusaha

tidak mampu membayar upah minimum, maka pengusaha dapat mengajukan

penangguhan pelaksanaan upah minimum (Peraturan Menteri No. 01 Tahun 2006).

Dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan (Pasal 88)

ditegaskan bahwa setiap pekerja/buruh berhak memperoleh pengahasilan yang

memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Dalam pengertian bahwa

(24)

memenuhi kebutuhan hidup pekerja/buruh beserta keluarganya secara wajar, antara

lain meliputi: sandang, pangan , papan,pendidikan, ksehatan, rekreasi, jaminan hari

tua dan lain-lain. Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang

layak bagi kemanusiaan, telah ditempuh kebijakan pengupahan yang melindungi

pekerja/buruh.

Sejalan dengan kewenangan Otonomi Daerah mekanisme penetapan upah

minimum juga mengalami perubahan secara signifikan, sebagai daerah otonom,

Propinsi berwenang menetapkan Upah Minimum dalam hal ini ditetapkan oleh

Gubernur, yaitu:

a. Upah Minimum Propinsi (UMP)/Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK)

berdasarkan usulan Komisi Penelitian Pengupahan dan Jaminan Sosial

Dewan Ketenagakerjaan Daerah, melalui kanwil Depnaker setempat.

b. Upah Minimum Sektoral Propinsi (UMSP)/Upah Minimum Sektoral

Kabupaten/Kota (UMSK) atas kesepakatan Organisasi Pengusaha dan

Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Penetapan upah minimum dilakukan dengan mempertimbangkan (Pasal 6 Per

Menaker Nomor PER-01/MEN/1999):

1. Kebutuhan Hidup Minimum (KHM);

2. Indeks Harga Konsumen (IHK);

3. Kemampuan,perkembangan dan kelangsungan perusahaan;

4. Upah pada umumnya berlaku di daerah tertentu dan antar daerah;

5. Kondsi pasar kerja; dan

6. Tingkat perkembangan perekonomian dan pendapatan per kapita.

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh maka kebijakan

(25)

pekerja/buruh diatur dalam Ketetapan Gubernur Sumatera Utara. Artinya, Gubernur

harus memperhatikan berita acara Dewan Pengupahan Kota Medan tentang

perumusan Upah Minimum Kota dan surat rekomendasi walikota Medan perihal

penetapan Upah Minimum Kota Medan. Upah minimum tersebut ditetapkan oleh

gubernur untuk wilayah propinsi dan kabupaten/kota, dengan memperhatikan

rekomendasi dari Dewan Pengupahan dan Bupati/Walikota.

Sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No.561/2048/K/Tahun

2007 tentang Penetapan Upah Minimum Propinsi Sumatera Utara Tahun 2008 maka

Upah Minimum Propinsi Sumatera Utara Tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp.822.205;

(Delapan ratus dua duluh dua ribu dua ratus lima rupiah). Dalam penetapan besarnya

Upah Minimum Kota, maka Dewan Pengupahan Kota Medan perlu memperhatikan

besarnya jumlah Upah Minimum Propinsi sebagai acuan, artinya Upah Minimum

Kota tidak boleh lebih rendah dari Upah Minimum Propinsi.

Jadi sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/034.K/Tahun 2008 tentang penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2008 sebesar Rp. 918.000; (Sembilan ratus delapan belas ribu rupiah).

Upah Minimum Kota Medan sebagaimana dimaksud dalam keputusan ini

merupakan upah terendah dan hanya berlaku bagi pekerja yang mempunyai masa

kerja kurang dari 1 (satu) tahun, Sedang untuk pekerja yang mempunyai masa kerja 1

(satu) tahun atau lebih dirundingkan secara bipartit antara pekerja/buruh atau serikat

pekerja/buruh dengan pengusaha diperusahaan yang bersangkutan secara musyawarah

dan dimuat dalam materi kesepakatan kerja.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-01/MEN/1999 jo.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-226/MEN/2000,

(26)

1. Besarnya Upah Minimum Sektoral Propinsi (UMSP) dan Upah Minimum

Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) minimal 5% (lima persen) lebih dari

Upah Minimum Propinsi dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (Pasal 5);

2. Perusahaan dilarang membayar upah lebih rendah dari Upah Minimum

Propinsi (UMP)/Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) atau Upah

Minimum Sektoral Propinsi (UMSP)/Upah Minimum Sektoral

Kabupaten/Kota (UMSK) (Pasal 13);

3. Upah minimu berlaku untuk semua status pekerja/buruh, baik tetap, tidak

tetap maupun percobaan (Pasal 14 ayat (2));

4. Upah minimum hanya berlaku bagi pekerja/buruh yang memiliki masa

kerja kurang dari 1 (satu) tahun (Pasal 14 ayat (2));

5. Peninjauan besarnya upah bagi pekerja di atas masa kerja 1 (satu) tahun

dilakukan atas kesepakatan tertulis antara pekerja dan pengusaha (Pasal

14 ayat (3));

6. Bagi pekerja borongan atau berdasarkan satuan hasil yang dilaksanakan 1

(satu) bulan atau lebih, upah rata-rata sebulan minimal upah minimum di

perusahaan yang bersangkutan (Pasal 15 ayat (1));

7. Pengusaha dilarang mengurangi atau menurunkan upah yang telah

diberikan lebih tinggi dari upah minimum yang berlaku (Pasal17).

8. Bagi pengusaha yang melanggar Pasal 7, Pasal 13, dan Pasal 14 ayat (1)

dan ayat (2) Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-01/MEN/1999

dikenakan sanksi sebagai berikut:

• Pidana Kurungan maksimal 3 (tiga) bulan atau denda maksimal

Rp.100.000,00 (seratus ribu rupiah).

(27)

Bagi pengusaha/perusahaan yang karena sesuatu hal tidak atau belum mampu

membayar upah minimum yang telah ditetapkan dapat dilakukan penangguhan selama

batas jangka waktu tertentu.

Walaupun terdapat prinsip “No Work No Pay” dalam sistem pengupahan,

namun karena alasan tertentu pekerja/buruh tetap berhak menerima upah dari

pengusaha/perusahaan. Pengecualian prinsip No Work No Pay diatur dalam

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUK) dan Peraturan

Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah (PPPU), sebagai

berikut:

a. Jika pekerja/buruh sakit, termasuk pekerja/buruh perempuan yang sakit pada

hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak bias melakukan

pekerjaan (Pasal 93 ayat (2) huruf a Undang-Undang Ketenagakerjaan.

b. Jika pekerja/buruh sakit (maksudnya sakit biasa, bukan akibat kecelakaan

kerja) terus-menerus sampai 12 (dua belas) bulan, maka upah yang dibayarkan

oleh pengusaha (Pasal 93 ayat (3) Undang-Undang Ketenagakerjaan) diatur:

• 100% (seratus persen) dari upah untuk 3 (tiga) bulan pertama;

• 75% (tujuh puluh lima persen) dari upah untuk 3 (tiga) bulan kedua;

• 50% (lima puluh persen) dari upah untuk 3 (tiga) bulan ketiga;

• 25% (dua puluh lima persen) dari upah untuk 3 (tiga) bulan keempat.

c. Jika pekerja/buruh tidak masuk kerja karena kepentingan khusus (Pasal 93

ayat (4) Undang-Undang Ketenagakerjaan):

• Pernikahan pekerja/buruh sendiri 3 hari

• Pernikahan anak 2 hari

• Khitanan atau baptis anak 2 hari

(28)

• Meninggalnya anggota keluarga (suami/istri,

orangtua/mertua,anak atau menantu) 2 hari

• Anggota keluarga dalam 1 (satu) rumah 1 hari.

d. Jika pekerja/buruh menjalankan kewajiban terhadap Negara (Pasal93 ayat (2)

huruf c Undang-Undang Ketenagakerjaan), maksimal 1 (satu) tahun (Pasal 6

ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Upah).

e. Jika pekerja/buruh memenuhi kewajiban agama (Pasal 93 ayat (2) huruf d

Undang-Undang Ketenagakerjaan), maksimal 3 (tiga ) bulan (Pasal 6 ayat (4)

Peraturan Pemerintah Pengganti Upah).

f. Jika pekerja/buruh tidak bekerja karena kesalahan pengusaha atau halangan

lain (Pasal 93 ayat (2) huruf e Undang-Undang Ketenagakerjaan).

g. Jika pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat (Pasal 93 ayat (2) huruf f

Undang-Undang Ketenagakerjaan).

h. Jika pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas

persetujuan pengusaha (Pasal 93 ayat (2) huruf g Undang-Undang

Ketenagakerjaan).

i. Jika pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan (Pasal 93

ayat (2) huruf h Undang-Undang Ketenagakerjaan).

E. 2. 5. Fungsi dan Peranan Upah Minimum Kota

Upah dalam arti yuridis adalah merupakan balas jasa yang diberikan oleh

perusahaan kepada para tenaga kerjanya atas penyerahan tenaga dan jasa-jasanya

dalam waktu tertentu kepada pihak pengusaha. Dalam hal pengupahan pada suatu

perusahaan terdapat beberapa pihak yang secara langsung dan tidak langsung terlibat.

(29)

sedangkan pihak yang tidak langsung terlibat dalah organisasi tenaga kerja dan

pemerintah.

a. Pengusaha/Perusahaan

Bagi pihak pengusaha/perusahaan, upah merupakan unsur pokok dalam

perhitungan ongkos produksi dan merupakan faktor penting yang mempengaruhi

semangat dan kegairahan kerja tenaga kerja dalam perusahaan. Tingkat upah yang

rendah dapat menurunkan semangat dan kegairahan kerja. Hal ini akan berakibat

buruk bagi perusahaan, dan akan menderita kerugian karena produktifitas kerja juga

akan menurun. Jadi upah juga dapat dikatakan sebagai indikator bagi maju

mundurnya perusahaan. Semangat kerja adalah melakukan pekerjaaan secara lebih

giat sehingga diharapkan pekerjaan dapat selesai dengan lebih cepat dan lebih baik.

Sedangkan kegairahan kerja adalah kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan.

Jadi antara semangat dan kegairahan kerja merupakan hubungan erat dan sulit

dipisahkan. Dan apabila perusahaan mau meningkatkan semangat kerja dan

kegairahan kerja adalah dengan memberikan upah yang cukup, yang mampu

memberikan semangat dan kegairahan kerja.

b. Tenaga Kerja/buruh

Bagi tenaga kerja, upah merupakan penghasilan yang dapat memenuhi

kebutuhan hidupnya beserta dengan keluarganya. Upah juga pendorong bagi

kegairahan dan semangat kerja. Besar kecilnya peranan dan sumbangan tenaga kerja

pada perusahaan dapat dilihat dari tingkat jumlah upah yang diterimanya, ini berarti

bahwa pekerjaan yang dilakukannya semakin berat, membutuhkan ketrampilan dan

mengandung resiko atau tanggung jawab yang besar maka tingkat upah yang akan

(30)

c. Organisasi Tenaga Kerja/Serikat Tenaga Kerja

Bagi organisasi, upah mencerminkan berhasil tidaknya organisasi dalam

mencapai salah satu tujuannya. Lemahnya organisasi akan mempengaruhi

terbentuknya tingkat upah, karena posisi”Bargaining” atau penawaran tenaga kerja

juga kuat. Sebaliknya jika serikat tenaga kerja lemah maka tingkat upah yang

diharapkan oleh tenaga kerja sulit untuk diperjuangkan dihadapan pengusaha karena

posisi atau kekuatan menawar (Bergaining Power) organisasi tenaga kerja lemah.

d. Pemerintah

Pihak pemerintah dalam hal upah juga terlibat didalamnya. Pemerintah

berkewajiban mengatur tata kehidupan dalam segala bidang dengan mengeluarkan

ketentuan-ketentuan hukum, perundang-undangan, dan segala peraturan pelaksananya

sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Jadi, pemerintah dengan

peraturan-peraturannya juga mempengaruhi tinggi-rendahnya upah. Peraturan tentang upah

merupakan batas bawah dari tingkat upah yang akan dibayarkan oleh perusahaan

kepada pihak tenaga kerja.

Seperti yang diuraikan diatas bahwa upah adalah balas jasa dari pengusaha

yang diberikan kepada buruh/tenaga kerja atas dasar penyerahan jasa-jasanya dalam

waktu tertentu kepada pengusaha/perusahaan. Upah yang diberikan selain harus

sebanding dengan kegiatan-kegiatan yang telah dikerahkannya, juga seharusnya

cukup memadai atau bermanfaat bagi pemenuhan dan pemuasan kebutuhan hidupnya

dan keluaraganya dengan layak. Dalam hal ini, tingkat upah yang diberikan oleh

pihak pengusaha/perusahaan berbeda-beda baik di dalam perusahaan itu sendiri

maupun antara perusahaan yang satu dengan yang lain. Hal ini dikarenakan perbedaan

tingkat kemampuan seseorang yang bekerja dalam perusahaan serta keadaan

(31)

E. 3. Peranan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja Dalam Pelaksanaan Upah Minimum Kota

Pengawasan ketenagakerjaan yang dilakukan pegawai pengawas

ketenagakerjaan dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja Kota Medan adalah berperan

sebagai upaya perlindungan tenaga kerja, peningkatan kesejahteraan dan jaminan

sosial pekerja/buruh serta akan mendorong kinerja dunia usaha yang mampu

membangun hubungan indusrial dengan baik dan harmonis.

Sedangkan peranan pengawasan Dinas Tenaga Kerja dalam pelaksanaan Upah

Minimum Kota adalah untuk menjamin pelaksanaan ketentuan tentang Upah

Minimum Kota dan meniadakan serta memperkecil adanya pelanggaran

Undang-Undang Ketenagakerjaan, sehingga proses hubungan industrial dapat berjalan dengan

baik.

Sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 561/034.K/Tahun

2008 tentang penetapan Upah Minimum Kota Medan Tahun 2008 sebesar Rp.

918.000; (Sembilan ratus delapan belas ribu rupiah) maka Dinas Tenaga Kerja sangat

berperan dalam upaya pengawasan pelaksanaan Upah Minimum Kota tersebut.

Jadi dalam pelaksanaan Upah Minimum Kota di Kota Medan semenjak

disahkannya Upah Minimum Kota Medan maka Dinas Tenaga Kerja berperan sebagai

pengawas ketenagakerjaan atas perusahaan/pengusaha yang melakukan

penyimpangan atas ketentuan besar upah minimum yang sudah ditetapkan untuk

periode tahun 2008. Untuk itulah peranan pengawasan Dinas Tenaga Kerja dalam

pelaksanaan Upah Minimum Kota membawa arti yang besar untuk mengarahkan

perusahaan/pengusaha dan tenaga kerja patuh pada ketentuan perundang-undangan

(32)

Keputusan Walikota Medan Nomor: 59 Tahun 2001 Tentang Tugas Pokok

Dan Fungsi Dinas Tenaga Kerja Kota Medan bahwa pengawasan Dinas Tenaga Kerja

meliputi fungsi :

a. Mempersiapkan data dan menyusun rencana kegiatan Sub Dinas.

b. Melaksanakan pengawasan ketenagakerjaan di perusahaan.

c. Melaksanakan pengawasan dan penyidikan terhadap pelanggaran

norma kerja, keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan kerja serta

jaminan social tenaga kerja dan penggunaan tenaga kerja asing.

d. Memproses penerbitan izin pemakaian ketel uap, bejana tekan dan

peralatan yang digunakan perusahaan.

e. Memproses penerbitan penyimpangan waktu kerja dan izin kerja

malam wanita serta wajib lapor ketenagakerjaan.

f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas

sesuai dengan bidang tugasnya.

F. Defenisi Konsep

Konsep adalah istilah atau defenisi yang digunakan untuk menggambarkan

secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi pusat

perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1995:33).

Tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman dan menghindari terjadinya

interpretasi ganda dari variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, untuk batasan yang

lebih jelas dari masing-masing konsep yang akan diteliti maka penulis

mengemukakan defenisi dari beberapa konsep yang digunakan, antara lain:

1. Pengawasan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh suatu

organisasi atau lembaga untuk mengamati pelaksanaan suatu kegiatan

(33)

perundang-undangan yang telah ditetapkan. Dimana serangkaian kegiatan itu adalah

kegiatan memeriksa, pelaporan, tindak lanjut, memberikan penyuluhan,

pemberitahuan tentang peraturan, pengarahan/pembinaan, peringatan,

penyidikan, dan sanksi hukum.

2. Upah Minimum Kota (UMK) adalah imbalan yang paling rendah berupa

upah pokok ditambah tunjangan tetap yang harus dibayarkan

perusahaan/pengusaha kepada pekerja/buruh yang besarnya ditetapkan oleh

pemerintah, dan berlaku sama untuk semua sektor usaha dalam suatu daerah

atau kota tertentu.

G. Defenisi Opersional

Definisi operasional adalah penjabaran lebih lanjut tentang konsep dan

keterkaitan konsep yang telah diterangkan. Menurut Masri Singarimbun (1995:46),

definisi operasional adalah merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel

diukur. Dengan membaca definisi operasional dalam suatu penelitian, seorang peneliti

akan mengetahui pengukuran suatu variabel sehingga ia akan dapat mengetahui baik

buruknya pengukuran tersebut.

Berikut ini akan diuraikan variabel yang diteliti beserta indikator-indikatornya

yang dipakai sebagai alat pengukurnya, yang terdiri dari:

1. Pengawasan, indikatornya:

a. Pemeriksaan, yaitu kegiatan untuk mengawasi sesuatu pelaksanaan

agar sesuai dengan ketentuan dengan cara inspeksi di lapangan maupun

berdasarkan laporan-laporan.

• Sarana dan prasarana dalam melakukan pemeriksaan.

• Kuantitas dan kualitas dalam melakukan pemerisaan.

(34)

b. Pengarahan dan peringatan.

c. Melakukan penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan UMK.

d. Memberikan sanksi hukuman atas pelanggaran pelaksanaan upah yang

sudah ditetapkan.

2. Upah Minimum Kota, indikatornya:

a. Melakukan pemberitahuan tentang ketentuan Upah Minimum Kota.

b. Kesesuaian Upah Minimum Kota dengan kondisi sekarang.

c. Pelaksanaan Upah Minimum Kota secara umum.

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan penjelasan awal dari penelitian ini, dimana bab ini terdiri

dari; Latar Belakang masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian,

Kerangka Teori, Defenisi Konsep, Defenisi Operasional, Sistematika

Penulisan.

BAB II METODE PENELITIAN

Bab ini memuat; Bentuk Penelitian, Lokasi Penelitian, Popuasi dan Sampel

Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang gambaran umum atau karakteristik lokasi

penelitian yang relevan dengan topik penelitian.

BAB IV PENYAJIAN DATA

Bab ini berisikan tentang penyajian data dan analisa data yang berkaitan

(35)

BAB V ANALISIS DATA

Bab ini memuat pembahasan data-data yang disajikan pada bab sebelumnya.

BAB VI PENUTUP

(36)

31

METODE PENELITIAN

A. Bentuk Penelitian

Bentuk penelitian yang dipergunakan peneliti dalam penelitian ini adalah

metode penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam

metode deskriptif, prosedur pemecahan masalah yang diteliti hanya dengan

menggambarkan/melukiskan keadaan objek/subjek penelitian (seseorang,

lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan data-data atau

sebagaimana adanya (Nawawi, 1990:64)

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan pada Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan, Jl. K.

H. Wahid Hasyim No.14 Medan.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut Sugiyono (2005:90) menyatakan, populasi adalah generalis yang

terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan ditarik kesimpulannya.

Maka dalam penelitian ini populasi yang dimaksud adalah seluruh pegawai

di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan yang berjumlah 75 (tujuh puluh lima)

orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dijadikan sebagai objek dan

(37)

penelitian. Sampel menjadi sumber data yang sebenarnya, dengan kata lain,

sampel adalah bagian dari populasi untuk mewakili populasi tersebut. Jadi, untuk

menentukan sampel dari penelitian ini dipergunakan teknik penarikan sampel

bertujuan (purposive sampling), (Sugiyono, 2005:95). Yaitu, penentuan sampel

tidak didasarkan atas strata, pedoman atau wilayah, tetapi berdasarkan atas adanya

tujuan tertentu dan tetap berhubungan dengan permasalahan penelitian. Dalam

penelitian ini, peneliti menarik jumlah sampel sebanyak 19 (sembilan belas) orang

yang terlibat langsung pada pengawasan ketenagakerjaan.

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data atau informasi yang dapat dijadikan bahan dalam

penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Teknik Pengumpulan Data Primer, adalah data yang diperoleh secara langsung

dari objek ataupun subjek penelitian yang relevan dengan masalah-masalah

yang sudah dirumuskan dalam penelitian, data primer ini dapat diperoleh

dengan cara:

• Observasi, yaitu dengan cara mengadakan pengamatan atau observasi

biasa yang bersifat non partisipasi, dimana penulis hanya mengamati

dan mencatat hal-hal yang brkaitan dengan objek penelitian.

• Kuesioner, yaitu dengan cara menyebarkan angket/kuesioner yang berisi

pertanyaan berstruktur yang telah distandarisasi sebelumnya, kepada

pegawai kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan.

• Wawancara, yaitu dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan

secara lisan yang berkenaan dengan masalah yang diteliti kepada

(38)

2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder, adalah data yang tidak langsung

diperoleh dari hasil penelitian, melainkan dari bentuk-bentuk tertulis.

Perolehan data sekunder dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library

research). Studi kepustakaan dikutip dari buku-buku referensi, jurnal ilmiah,

peraturan perundang-undangan, peraturan menteri tenaga kerja yang relevan

dengan penelitian.

E. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

data kualitatif, tanpa menggunakan alat Bantu rumus-rumus statistika. “ Data

kualitatif merupakan data yang berbentuk kata, skema, dan gambar (Sugiyono,

2005:7)”.

Data-data yang diperoleh selama masa penelitian dilapangan akan

ditransformasikan dalam bentuk tabulasi tunggal (tabulasi frekuensi). Tabel

tunggal ini pada hakekatnya hanya dimaksudkan untuk mengelompokkan data

(39)

34

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kota Medan A. 1. Sejarah Ringkas

Kota Medan dahulunya adalah sebuah kampong kecil yang dalam masa kurang

lebih 80 tahun dengan pesat berkembang menjadi kota, yang terdiri dari 21 kecamatan.

Kota Medan berada di satu tanah datar atau medan, di tempat Sungai Babura bertemu

dengan Sungai Deli, yang pada waktu dikenal sebagai “Medan Putri”, tidak jauh dari

jalan Putri Hijau sekarang.

Dalam buku Tengku Lukman Sinar, SH berjudul “Riwayat Hamparan Perak”

(1971), yang mendirikan kampung Medan adalah Raja Guru Patimpus, nenek moyang

Datuk Hamparan Perak dan Datuk Sukapiring, yaitu Dua dari empat Kepala Suku

Kesultanan Deli.

Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang setelah

mengutus John Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera Timur dan dari catatannya

disebutkan bahwa Medan masih merupakan satu kampong kecil yang berpenduduk

sekitar 200 orang. Di pinggir sungai sampai ke tembok mesjid kampung Medan, ada

dilihatnya susunan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar yang menurut dugaannya

berasal dari Candi Hindu di Jawa.

Menurut legenda, di zaman dahulu kala pernah hidup di Kesultanan Deli Lama

kira-kira 10 km dari kampung Medan, di Deli Tua sekarang, seorang Putri yang sangat

(40)

tersohor kemana-mana, mulai dari Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sultan Aceh

jatuh cinta pada Putri itu dan melamarnya untuk dijadikan permaisurinya. Lamaran

Sultan Aceh ditolak oleh kedua saudara lelaki Putri Hijau yang mengakibatkan perang

antara Kesultanan Aceh dan Kesultanan Deli karena Sultan Aceh sanagt marah besar atas

penolakan saudara lelaki Putri Hijau. Akhirnya Kesultanan Deli lama mengalami

kekalahan yang membuat Putri Hijau ditawan dan dimasukkan ke dalam sebuah peti kaca

yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Namun saudara Putri

Hijau mempergunakan kekuatan gaib, seorang dari saudara Putri Hijau menjelma jadi

seekor ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang tidak henti-hentinya

menembaki tentara Aceh hingga akhir hayatnya. Putra mahkota yang menjelma jadi

meriam meledak jadi dua bagian yaitu ke Labuhan Deli telontar sebagian dan sebagian

lagi terlontar di dataran tinggi Karo Kabanjahe.

Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, dekat Lhok Seumawe Aceh, Putri

Hijau moho diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas

permintaannya, diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur. Permohonan

Tuan Putri dikabulkan. Tetapi baru saja acara upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah

angin ribut yang maha dasyat disusul oleh gelombang yang sangat tinggi. Dari dalam laut

muncul abangnya yang menjelma jadi ular naga itu dan menggunakan rahangnya yang

besar untuk mengambil peti adiknya yang dikurung, lalu membawa masuk ke dalam laut.

Legenda ini sampai sekarang masih terkenal di kalangan orang-orang Deli dan

malahan juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia. Di Deli Tua masih terdapat

reruntuhan benteng dan puri yang berasal dari zaman Putri Hijau, sedang sisa meriam

(41)

Deli terkenal namanya keseluruh penjuru dunia setelah dipelopori Nienhuys yang

membuka perkebunan tembakau di sekitar Medan. Hal inilah yang menarik para investor

asing dan menyebabkan banyak orang-orang dari daerah lain yang pindah ke daerah Deli

untuk mencari nafkah.

Pada tahun 1918, Medan dijadikan kotapraja, tetapi tidak masuk di dalamnya

kota Matsum dan daerah Sungai Kera yang tetap berada di bawah kekuasaan Kesultanan

Deli. Pada masa itu penduduk Medan telah berjumlah 43.826 jiwa. Namun dengan

Keputusan Gubernur Propinsi Sumatera Utara Nomor 66/III/PSU, terhitung mulai tanggal

21 September 1951 ditetapkan luas Kota Medan 5.130 Ha dan meliputi 4 kecamatan.

Kemudian, melalui Undang-Undang Darurat No. 7 dan 8 Tahun 1956, dibentuk di

Propinsi Sumatera Utara Daerah-daerah Tingkat II, antara lain Kabupaten Deli Serdang

dan Kotamadya Medan.

Dan melalui Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1973, Kota Medan jadi 26.510

Ha yang terdiri dari 11 kecamatan dan 116 kelurahan. Kemudian dengan Surat

Persetujuan Mendagri No. 140.2271/PUOD tanggal 5 Mei 1986 jumlah Kelurahan

tambah 8 kelurahan di Kota Medan jadi 19 kecamatan setelah dimekarkan. Kemudian

setelah melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 35 tahu 1992 tentang

pembentukan beberapa kecamatan Sumatera Utara termasuk dua kecamatan pemekaran

di Kotamadya daerah Tingkat II Medan, sehingga yang sebelumnya terdiri dari 19

kecamatan dimekarkan menjadi 21 kecamatan serta luas area 265,10 Ha hingga sampai

saat ini.

(42)

Selengkapnya Wilayah Kota Medan saat ini terdiri dari beberapa kecamatan, yaitu

TABEL 3. 1

Kecamatan Di Kota Medan

Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 35 Tahun 1992 No. Kecamatan Kecamatan Medan Sunggal

Kecamatan Medan Helvetia Kecamatan Medan Petisah Kecamatan Medan Barat Kecamatan Medan Timur Kecamatan Medan Perjuangan Kecamatan Medan Tembung Kecamatan Medan Deli Kecamatan Medan Labuhan Kecamatan Medan Marelan Kecamatan Medan Belawan

Sumber: Biro Pusat Statistik Propinsi Sumatera Utara

A. 2. Letak dan Geografis

Kota Medan berada pada letak 3 30' – 3 43' Lintang Utara dan 98 35' – 98 44'

Bujur Timur. Untuk itu topogrsfi Kota Medan cenderung miring ke Utara dan berada

pada ketinggian 2,5 – 37,5 meter diatas permukaan laut. Kota Meadan mempunyai iklim

tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun Polonia pada tahun 2001 berkisar antara

23,3 C – 24,3 C dan maksimum berkisar antara 30,8 C – 33,2 C serta menurut Stasiun

Sampali suhu minimumnya berkisar antara 23,3 C – 24,1 C – dan suhu maksimumnya

(43)

Denganluas wilayah 26.510 hektar (265,10 km) atau 3,6% dari luas keseluruhan

Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk 2.392.922 jiwa (data BPS 2003).

Adapun yang menjadi batas-batas wilayah dari Kota Medan adalah sebagai berikut:

• Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang;

• Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang;

• Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang;

• Sebelah Utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang merupakan salah

satu lintas laut paling sibuk (padat) di dunia.

A. 3. Jumlah dan Klasifikasi Penduduk

Menurut data akhir tahun 2007, jumlah penduduk Kota Medan adalah 2.067.288

jiwa, dengan kepadatan penduduk 7.798 jiwa/km2 dan laju pertumbuhan penduduk

rata-rata 0,92 %. Untuk lebih lengkapnya mengenai perincian jumlah penduduk tersebut dapat

dilihat pada table berikut:

TABEL 3. 2

Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Kota Medan Tahun 2007

(44)

15

Sumber : Biro Pusat Statistik Propinsi Sumatera Utara

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk Kota Medan

paling banyak berdomisili di Kecamatan Medan Deli, sedangkan kepadatan penduduk

yang tertinggi di Kecamatan Medan Area.

Untuk gambaran klasifikasi penduduk Kota Medan menurut kelompok Umur dan

Jenis Kelamin, dapat dilihat pada tabel berikut:

TABEL 3. 3

Distribusi Penduduk Kota Medan

Menurut Golongan Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2007

Golongan Umur (Tahun) Laki - Laki Perempuan Jumlah 0 – 4

Jumlah Total 1.027.607 1.039.681 2.067.288

Sumber : Biro Pusat Statistik Propinsi Sumatera Utara

Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa penduduk Kota Medan yang

(45)

yang paling banyak adalah pada umur 15 – 19 tahun dan umur perempuan yang paling

banyak adalah pada umur 20 – 24 tahun. Sedangkan golongan umur penduduk yang

paling banyak adalah golongan umur 20 – 24 tahun.

Ditinjau dari sudut agama yang dianut, penduduk Kota Medan adalah cukup

majemuk sebab menganut agama yang berbeda-beda. Secara lebih terperinci dapat dilihat

pada tabel berikut:

TABEL 3. 4

Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama Di Kota Medan Tahun 2007

Kecamatan Islam Katolik Protestan Budha Hindu Jumlah Total

(46)

Berdasarkan data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penduduk Kota Medan

sebagian besar memeluk agama Islam 1.416.815 jiwa, protestan 373.451 jiwa, Budha

204.113 jiwa, Katolik 59.308 jiwa dan terakhir agama Hindu berjumlah 13.602 jiwa.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Kota Medan dari

keadaan penduduknya adalah masalah pengangguran. Dari tahun ke tahun para pencari

kerja yang terdaftar terus mengalami peningkatan. Untuk lebih lengkapnya mengenai

perincian tersebut, dapat dilihat pada tabel berikut:

TABEL 3. 5

Pencari Kerja Yang Terdaftar Di Kota Medan (April 2008)

Jenjang Pendidikan Jumlah

Tamat SD SLTP SLTA D.I/D.II D.III/SM. Sarjana (S.I)

- 640 632 - 65 85

Jumlah Total 1.422

Sumber : Dinas Tenaga Kerja Kota Medan

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pencari kerja yang terdaftar paling banyak

adalah mereka yang berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) adalah 640

orang, disusul tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) adalah 632 orang, Sarjana

(S-I) 85 orang, Sarjana Muda/Diploma 65 orang.

B. Gambaran Umum Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota Medan B. 1. Sejarah Perkembangan Dinas Tenaga Kerja Kota Medan

Sejarah perkembangan berdirinya Dinas Tenaga Kerja secara ringkas terdiri dari 6

(47)

a. Masa Hindia Belanda

Kantor yang khusus mengurusi soal perburuhan masa Hindia Belanda baru

dibentuik pada tahun 1921 dengan nama “Kantor Van Arbeid” (Kantor Perburuhan) yang

bernaung di bawah Depaertemen Kehakiman. Kantor ini terdiri dari 2 bagian yaitu:

• Untuk urusan perundang-undangan dan statistik.

• Untuk urusan pengawasan perburuhan seluruh Jawa dan Madura.

b. Masa Penjajahan Jepang (1942-1945)

Pada masa penjajahan Jepang, semua tenaga kerja dikerahkan untuk membantu

Jepang dalam memenangkan perang, untuk keperluan itu pemerintah pendudukan Jepang

membantu bagian pemerintah dari pusat ke kabupaten yang dikenal dengan nama

Romokyoku atau Romusha. Hal ini berlangsung sampai Jepang Menyerah kepada Sekutu

dan Indonesia memploklamirkan kemerdekaannya.

c. Masa Revolusi Fisik (1945-1950)

Pada tahun 1946 oleh pemerintah Republik Indonesia dibentuk bagian pemusatan

terhadap tenaga kerja yang bernaung di bawah Kementerian Sosial. Pada tanggal 25 Juli

1947 dengan Ketetapan Presiden RI No. 3 Tahun 1947, Dibentuk Kementerian

Perburuhan yang berlaku terhitung mulai tanggal 3 juli 1947, Jawatan Perburuhan bekas

Kementerian Sosial dijadikan Jawatan Sosial. Jawatan Perburuhan terdiri atas:

• Kantor Pusat Jawatan Perburuhan

• Kantor Penempatan Tenaga Kerja.

(48)

Berdasarkan Peraturan Menteri Perburuhan Tanggal 16 Agustus 1959 Nomor 47

Jo. Peraturan Menteri Perburuhan Tahun 1955 Nomor 303, Jawatan Penempatan Tenaga

Kerja diorganisir menjadi sebagai berkut:

• Kantor Pusat Jawatan Penempatan Tenaga (JPT)

• Kantor Pusat Instansi Jawatan

• Kantor Penempatan Tenaga Daerah di 37 tempat.

e. Masa Orde Baru (1966-1998)

Pada tahun 1966 istilah Departemen Perburuhan diganti menjadi Departemen

Tenaga Kerja. Berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet Ampera tanggal 3 November

1966 Nomor 75/U/KED/II/1966 tentang struktur organisasi dan pembagian tugas

departemen, Departemen Tenaga Kerja mempunyai seorang Sekretaris Jenderal dan dua

orang Direktur Jenderal. Pada tahun 1983 Direktorat Transmigrasi dipisahkan dari

Departemen Tenaga Kerja dan dijadikan sebuah departemen. Dengan kata lain,

Departemen Tenaga Kerja telah berdiri sendiri sebagai sebuah departemen dalam

lingkungan pemerintahan, yaitu dalam Kabinet Pembangunan III dengan Menteri Tenaga

Kerja pertamanya adalah Sudomo. Sedangkan menteri yang membawahi Departemen

Tenaga Kerja dalam Kabinet Pembangunan VI adalah Drs. Abdul Latief.

f. Masa Reformasi (1998 - sampai sekarang)

Dinas Tenaga Kerja Kota Medan adalah perpanjangan tangan pemerintah yang

menjalankan tugasnya di bidang ketenagakerjaan dengan prinsip koordinasi dan

sinkronisasi secara vertikal maupun horizontal. Dinas Tenaga Kerja Kota Medan berada

dibawah pimpinan seorang Kepala Dinas Tenaga Kerja dan membawahi Sub Dinas

Gambar

TABEL 3. 1 Kecamatan Di Kota Medan
TABEL 3. 2 Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Kota Medan Tahun 2007
TABEL 3. 3 Distribusi Penduduk Kota Medan
TABEL 3. 4 Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama
+7

Referensi

Dokumen terkait

masuk dan surat keluar pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan adalah. sebagai ketentuan instansi, sebagai pelaksanaan tugas dari Kepala

Pengawas Ketenagakerjaan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.. Kabupaten Bantul memang belum sepenuhnya

Kendala dan Upaya yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja dalam melaksanakaan pengawasan terhadap kewajiban perusahaan untuk mengikutsertakan pekerja dalam program

1) Apabila pada waktu melakukan pemeriksaan, pimpinan perusahaan sedang keluar atau tidak ada di tempat, maka pegawai pengawas akan memberikan surat pemberitahuan

kegiatan surat menyurat Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan yang telah. dijelaskan pada Gambar 3.1

PERANAN STRUKTUR ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI KERJA PADA KANTOR DINAS SOSIAL DAN.. TENAGA KERJA

kerja, dan peran struktur organisasi pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan. BAB IV : KESIMPULAN

meningkatkan motivasi kerja pegawai pada kantor Dinas Sosial dan Tenaga Kerja.