• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mandul Sebagai Alasan Izin Poligami (Analisa putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mandul Sebagai Alasan Izin Poligami (Analisa putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS)"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk memenuhi salah satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh :

ROBIA’TUL ADAWIYAH NIM : 1111044100071

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA

( A H W A L S Y A K H S I Y Y A H )

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H / 2015 M.

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui yang dimaksud mandul sebagai alasan suami boleh berpoligami adalah mandul sejak awal perkawinan ataukah juga dipertengahan perkawinan istri tidak bisa memiliki keturunan lagi dan dinyatakan mandul, alasan Hakim memberikan izin poligami dalam perkara nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS, dan mengetahui putusan ini sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan Yuridis Normatif, dengan jenis penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan. Dengan sumber data yang diambil dari data primer berupa putusan, dan wawancara hakim dan data sekunder diperoleh dengan mengadakan studi kepustakaan atas dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diajukan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara menganalisa isi putusan dan hasil wawancara yang ditranskip ke dalam tulisan.

Hasil penelitian, mandul yang menjadi alasan suami boleh berpoligami yaitu sejak awal perkawinan, namun pada kenyataan hakim memberikan izin poligami kepada suami setelah istri melahirkan keturunan. Hal ini sesuai dengan alasan hakim memberikan izin poligami pada perkara nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS dengan alasan istri trauma untuk melahirkan setelah dinyatakan mengidap penyakit kista dan miom. Putusan ini sudah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Kata Kunci : Poligami, Mandul, Analisis Kualitatif Pembimbing : Dr . Ali Wafa, S.Ag., M.Ag.

(6)

vi

salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, bagi keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang taat akan ajarannya hingga akhir zaman.

Skripsi ini penulis persembahkan kepada orang tua yaitu Ayahanda (Alm) Mohammad Ali Saida dan Ibunda Noinih yang selalu memberikan dorongan, bimbingan kasih sayang, dan doa tanpa lelah dan bosan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Allahummagfirlii Waliwaalidayya Warhamhuma Kama Rabbayani shagiira.

Dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis temukan, namun syukur alhamdulillah berkat rahmat dan ridha-Nya, kesungguhan serta dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung segala kesulitan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga pada akhir skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada :

1. Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

(7)

vii

4. Dr. Hj. Mesraini, M.Ag., Dosen Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis.

5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen serta staf pengajar pada lingkungan Prodi Ahwal al-Syakhsiyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan.

6. Pimpinan Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta staf yang telah memberikan penulis fasilitas untuk menggandakan studi perpustakaan

7. Ketua pengadilan Agama Jakarta Selatan beserta staf yang telah meluangkan waktunya sehingga memudahkan penulis menyelesaikan skripsi ini.

8. Drs. Nasrul, M.A., dan Bapak Drs. Sohel, S.H., Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan dan Pengadilan Agama Bandung yang telah meluangkan waktunya untuk penulis wawancarai guna mempermudah penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Kepada kakak-kakak dan adik-adikku yang senantiasa ada dan berupaya membantu

(8)

viii

11. Terimakasih kepada Keluarga Besar Ahwal al-Syakhshiyah (KBPA) dan Keluarga Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Terimakasih kepada teman-teman seperjuangan Peradilan Agama A dan B 2011 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah menjadi teman seperjuangan penulis dari awal masuk kuliah hingga penulis menulis skripsi dan dapat menyelesaikan skripsi. Terimakasih untuk canda tawa, semangat dan doa kalian semua.

13. Terimakasih untuk kakak senior Ulfah Fauziah Hidayati S.Sy dan Istiya Rahayu DP S.PdI, dan adik junior Alawiyah Rahmah yang selalu memberikan semangat kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

Terima kasih atas dukunga dan motivasinya, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Aamiin

Jakarta, 05 Oktober 2015

(9)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii

LEMBARPERNYATAAN. ... iii

ABSTRAK. ... iv

KATA PENGANTAR. ... v

DAFTAR ISI. ... x

BAB I PENDAHULUAN... 1

A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D.Study Review Terdahulu ... 8

E. Metode Penelitian ... 9

F. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II POLIGAMI DAN MANDUL DALAM HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG DI INDONESIA ... 14

A.Poligami dalam Hukum Islam ... 14

1. Pengertian Poligami ... 14

2. Dasar Hukum Poligami ... 16

3. Syarat-Syarat Poligami ... 20

(10)

xi

1. Pengertian Poligami ... 25

2. Dasar Hukum Poligami ... 26

3. Syarat-Syarat Poligami ... 28

4. Tata Cara Poligami ... 30

C.Mandul... 36

1. Pengertian Mandul ... 36

2. Faktor-Faktor Terjadinya Kemandulan ... 38

BAB III PROFIL PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN ... 41

A.Sejarah Pengadilan Agama Jakarta Selatan ... 41

B.Jumlah Perkara yang Ditangani Pengadilan Agama Jakarta Selatan ... 46

C.Bentuk Putusan yang Sudah di Keluarkan ... 51

BAB IV MANDUL SEBAGAI ALASAN IZIN POLIGAMI NOMOR PERKARA 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ... 65

A.Deskripsi Tentang Perkara Izin Poligami Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ... 65

B.Pertimbangan Hakim dalam Memutuskan Izin Poligami dalam Perkara Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ... 67

C.Putusan Perkara Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ditinjau dari Hukum Islam dan Hukum Positif ... 70

D.Analisis Penulis... 73

BAB V PENUTUP ... 78

A.Kesimpulan ... 78

(11)

xii

DAFTAR PUSTAKA ... 80

(12)

1

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan

seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha

Esa.1 Perkawinan adalah salah satu kebutuhan dasar yang menyentuh di

bidang kehidupan manusia. Perkawinan merupakan suatu tahap awal akan

lahirnya kehidupan baru dalam membangun kehidupan cita-cita bersama

yang disebut rumah tangga. Perkawinan menurut Hukum Islam adalah

pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon gholiidzahan untuk

menaati perintah Allah SWT dan melaksanakannya sebagai ibadah.2 Pada

dasarnya seorang suami hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang

suami yang ingin beristri lebih dari seorang dapat diperbolehkan apabila

dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.3

Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang

paling banyak dibicarakan sekaligus kontroversial. Satu sisi poligami

ditolak dengan berbagai macam argumentasi baik yang bersifat normatif,

psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan ketidakadilan jender. Pada sisi

lain poligami dikampanyekan karena dianggap memiliki sandaran normatif

1

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

2

Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam.

3

(13)

yang tegas dan dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan

fenomena selingkuh dan prostitusi.4 Ahli-ahli sejarah dan para ilmuwan

antropologi mengemukakan bahwa poligami dalam bentuknya yang

beragam telah ada dalam tahap-tahap awal dari sejarah manusia, dan

bahwasanya poligami muncul pertama kali sebagai akibat dari perbudakan

perempuan dan sikap kaum yang kuat dan kaya yang menjadikan

perempuan untuk bersenang-senang, sebagai pelayan dan sebagai simbol

kebesaran dan kemegahan.5

Tidak ada catatan bahwa agama-agama terdahulu melarang poligami,

sejak Nabi Ibrahim AS bahkan hal itu dibolehkan secara hukum dan

dipraktekkan dalam kehidupan keagamaan. Demikian pula dalam bangsa

Arab, poligami adalah sesuatu yang dibolehkan tanpa syarat dan tanpa

ikatan, bahkan mereka mempraktekkannya dalam batasan yang tak

terhingga.6 Hakikatnya agama Islam menghalalkan pologami, seperti yang

terjadi pada masa Nabi dimana Nabi Muhammad SAW memiliki lebih dari

seorang istri. Akan tetapi kebanyakan dari wanita-wanita tersebut adalah

janda-janda yang ditinggal mati oleh suaminya pada saat perang.

Seperti halnya di Indonesia, sudah diatur mengenai kebolehan

poligami yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

4

Amiur Nurrudin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No 1/1974 sampai KHI, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 156.

5

Karam Hilmi Farhat, Poligami dalam Pandangan Islam, Nasrani & Yahudi, (Jakarta: Darul Haq, 2007), h. 5.

6

(14)

tentang Perkawinan. Kebolehan poligami di dalam Undang-Undang

Perkawinan sebenarnya hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya

mencantumkan alasan-alasan yang membolehkan tersebut. Dengan adanya

pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami kendatipun dengan

alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh

Undang-Undang Perkawinan sebenarnya bukan asas monogami mutlak melainkan

disebut dengan asas monogami terbuka.7 Dapat dipahami sebagai bentuk

ketidaktegasan asas itu sendiri, sehingga tidak dapat secara mutlak dapat

dikatakan sebagai asas, melainkan hanya visi dalam perkawinan yang dapat

berubah karena berubahnya situasi dan kondisi.8

Dalam pasal 4 Undang-Undang Perkawinan dinyatakan bahwa,

seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila ;

a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri

b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan

c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Disamping dengan alasan diatas yang harus dipenuhi agar dapat

memperoleh izin untuk beristri dari seorang, maka dijelaskan dalam Pasal 5

Undang-Undang Perkawinan mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi

oleh suami yang akan memiliki istri lebih dari seorang. Syarat-syarat

tersebut diberlakukan dengan ketat karena adanya kekhawatiran poligami

dilakukan hanya untuk mengahalalkan perselingkuhan atau hanya

7

Yahya harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan: Zahir Trading Co Medan, 1975), h. 25-26.

8

(15)

melegalkan hubungan cinta kepada perempuan lain yang kemudian

dijadikan istri kedua, ketiga, keempat. Ketatnya persyaratan poligami jelas

menunjukkan bahwa hak-hak wanita masih ditegakkan.9 Seorang suami

yang hendak poligami harus mendapatkan persetujuan dari istri kemudian

mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin dari Pengadilan Agama.

Dapat diketahui bahwa di Indonesia menerapkan sistem yang moderat,

diantara melarang poligami dan membolehkan sepenuhnya poligami,

dengan menetapkan pembatasan secara ketat.10

Meskipun sangat kecil kemungkinannya mendapatkan keikhlasan dari

seorang istri untuk menikah lagi tapi bukan berarti hal tersebut tidak

mungkin terjadi. Seorang istri bisa saja mengijinkan suaminya poligami

dengan menerima segala resiko dalam perkawinan poligami itu sendiri,

karena adanya hal-hal yang melatarbelakangi.

Salah satu contoh kasus, suami akan melakukan poligami karena istri

tidak bisa memberikan keturunan lagi. Disebabkan istri mengidap penyakit

kista dan miom yang mengakibatkan istri trauma untuk memiliki keturunan

lagi. Sebelum mengidap penyakit tersebut istri sudah memberikan keturunan

kepada suami dengan melahirkan dua (2) orang anak. Akan tetapi suami

masih menginginkan untuk memiliki keturunan lagi. Maka dalam keadaan

seperti ini, mau tidak mau istri harus memberikan izin kepada suami untuk

9

Asghar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan Dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Farhan Cicik, (Yogyakarta: LSPPA, 2000), h. 154-155.

10

(16)

menikah kembali karena adanya kekhawatiran suami akan melakukan

perzinaan.

Dari kasus diatas, timbul pertanyaan, apakah pantas disaat istri sedang

terkena penyakit kista dan miom, karena penyakit ini istri trauma untuk

melahirkan lagi, dengan keadaan seperti ini dimana istri sangat

membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekatnya

terlebih dari suami, akan tetapi pada kenyataannya istri harus merelakan

suami menikah lagi dengan perempuan lain dan kasih sayangnya pun akan

terbagi dengan perempuan lain.

Jika tidak terjadi poligami, bagaimana dampaknya terhadap keluarga.

Apakah penyakit yang diderita oleh istri sama halnya dengan mandul,

sedangkan penyakit kista dan miom bukan penyakit yang mematikan dan

bisa disembuhkan dengan adanya dorongan semangat dari orang-orang

terdekat terutama suami, dan trauma yang dialami oleh istri dapat dijadikan

alasan dalam permohonan Ijin Poligami di Pengadilan Agama.

Uraian diatas adalah sedikit gambaran dari kasus permohonan izin

poligami di Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 0023/Pdt.G/2014

terhadap permohonan yang diajukan oleh Ahmad kepada Istrinya dengan

alasan istrinya mengidap penyakit kista dan miom, istri trauma untuk

memiliki keturunan sedangkan suami masih menginginkan untuk memiliki

keturunan. Untuk itu penulis merasa perlu melakukan analisa putusan

terhadap putusan tersebut. Apakah dalam hal ini mandul yang dimaksud

(17)

mandul atau di pertengahan perkawinan istri tidak bisa memiliki keturunan

lagi dan dinyatakaan mandul. Dengan demikian penulis melakukan

penelitian dengan judul : “ MANDUL SEBAGAI ALASAN IZIN POLIGAMI (Analisa putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS)”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan skripsi ini tidak keluar dari pokok pembahasan

disamping keterbatasan penulis miliki maka penulis akan melakukan

pembatasan masalah hanya pada izin poligami dengan alasan istri memiliki

penyakit kista dan miom, trauma untuk memiliki keturunan lagi dan study

kasus terhadap putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor

0023/Pdt.G/2014 tentang permohonan izin poligami.

2. Perumusan Masalah

Menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia,

Pengadilan Agama memberikan izin kepada suami yang akan beristri lebih

dari seorang apabila salah satunya istri tidak memiliki keturunan, akan tetapi

pada kenyataan Pengadilan Agama memberikan izin kepada suami untuk

berpoligami setelah istri memiliki keturunan kemudian dinyatakan memiliki

penyakit kista, dan trauma untuk memiliki keturunan lagi. Agar penulisan

(18)

perumusan masalah yang akan menjadi topik pembicaraan dalam penelitian

ini, yaitu sebagai berikut:

1. Apakah mandul yang dimaksud sebagai alasan suami boleh berpoligami

adalah mandul sejak awal perkawinan ataukah juga dipertengahan

perkawinan istri tidak bisa memiliki keturunan lagi dan dinyatakan

mandul ?

2. Apa alasan Hakim memberikan Ijin Poligami dalam perkara Nomor

0023/Pdt.G/2014/PA.JS ?

3. Apakah dalam putusan nomor 0023/Pdt.g/2014/PA.JS ini sudah sesuai

dengan Undang-Undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui istri dapat dinyatakan mandul ketika awal perkawinan

atau di pertengahan perkawinan setelah istri melahirkan keturunan.

2. Untuk mengetahui alasan Hakim memberikan Izin Pologami dalam

perkara Nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.

3. Untuk mengetahui putusan Nomor 0023/Pdt.G/2013 sudah sesuai dengan

Undang-Undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia.

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Secara akademik, menambah ilmu pengetahuan dibidang hukum perdata

(19)

perkawinan dan mengetahui dasar hukum dan pertimbangan hakim

dalam memutus perkara pemberian ijin poligami.

2. Secara praktis, agar masyarakat mengetahui gambaran pengaturan

poligami dalam hukum Islam dan perundang-undangan di Indonesia.

D. Study Review Terdahulu

1. Paramita Sekar Putri, Trauma Istri sebagai Alasan Poligami (Analisa

Putusan Perkara Nomor 476/Pdt.G/2008/PA.Cikarang). Dalam skripsi

ini memaparkan tentang alasan suami melakukan poligami karena istri

trauma setelah melahirkan putra ketiga. Dalam skripsi ini juga

menjelaskan faktor yang menyebabkan istri trauma pasca kelahiran,

dampak trauma istri dalam perkawinan. Sedangkan dalam skripsi yang

penulis tulis ini menjelaskan tentang alasan suami melakukan

poligami disebabkan istri memiliki penyakit kista dan miom yang

mengakibatkan istri trauma untuk memiliki keturunan lagi.

2. Idi sugandi, Dampak Positif Poligami Dalam Persfektif Hukum Islam

(Studi Kasus Desa Saninten Kecamatan Kadu Hejo Kabupaten

Pandeglang). Dalam skripsi ini memparkan tentang dampak positif

poligami yang terjadi di desa Saninten, dalam skripsi ini hanya

melihat poligami itu dari hukum Islam saja tidak mengkaitkan dengan

Hukum yang berlaku di Indonesia. Sedangkan dalam skripsi yang

penulis tulis ini mengambil dua (2) hukum yang ada yaitu Hukum

(20)

3. Ahmad Nafi’i, Konsep Adil dalam Izin Poligami (Analisis

Yurisprudensi Putusan Pengadilan Agama Bekasi Perkara Nomor

205/Pdt.G/2008/PA.Bks). Dalam skripsi ini memaparkan tentang

konsep adil mnurut Hukum Islam, Undang-Undang Nomor 1 tahun

1974 dan KHI, serta pendapat Ulama tentang “Ta’ddud al-Zaujah”.

Sedangkan dalam skripsi yang penulis tulis tidak memaparkan konsep

adil, karena penulis hanya menjelaskan tentang istri yang mempunyai

penyakit kista, miom (mandul) yang membuat istri trauma untuk

memiliki keturunan lagi.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah:

a. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang dilakukan

dengan melakukan analisa dengan cara menguraikan dan

mendeskripsikan isi dari putusan yang penulis dapatkan tersebut.

b. Penelitian Kepustakaan (Library Pustaka), yaitu penelitian yang

dilakukan dengan cara mengkaji, menganalisa serta merumuskan

buku-buku, literature dan lainnya yang ada relevansinnya dengan

judul skripsi ini.11

11

(21)

2. Metode Pendekatan

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan pendekatan Yuridis Normatif yaitu pendekatan

yang di dasarkan pada perundang-undangan dan Yuridis Empiris yaitu

pendekatan terhadap pengalaman yang terjadi di dalam masyarakat.

Dalam hal ini, apa yang di praktikkan di Pengadilan Agama Jakarta

Selatan.

3. Sumber Data

a. Data Primer

1. Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang sudah berkekuatan

hukum tetap dengan nomor perkara 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.

2. Wawancara terhadap Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang

menyelesaikan perkara nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan mengadakan

studi kepustakaan atas dokumen-dokumen yang berhubungan dengan

masalah yang diajukan.12 Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah

Al-Qur’an, Hadits, buku-buku ilmiah, Undang-Undang Perkawinan,

Undang-Undang Pengadilan, Kompilasi Hukum Islam serta peraturan

yang lainnya yang dapat mendukung skripsi ini.

12

(22)

4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara :

a. Menganalisa putusan ijin poligami dengan alasan istri mempunyai

penyakit kista atau miom, dan trauma untuk memiliki keturunan

Nomor Perkara 0023/Pdt.G/2013/PA.JS

b. Interview atau wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu

yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara

mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban

atas pertanyaan itu. 13 interview yang sering juga disebut dengan

wawancara atau kuesioner lisan adalah sebauah dialog yang dilakukan

oleh pewawancara atau interviewer untuk memperoleh informasi dari

terwawancara. Dalam hal ini penulis mengadakan wawancara dengan

informan yakni hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang

menyelesaikan perkara nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.

5. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses pelacakan dan pengaturan

secara sistematik transkip wawancara, catatan lapangan, bahan-bahan

lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap

bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan temuannya kepada orang lain.

Adapun analisis data yang digunakan adalah analisa kualitatif

yaitu menganalisa dengan cara menguraikan dan mendeskripsikan

13

(23)

putusan izin poligami dengan alasan istri mengidap penyakit kista dan

miom, taruam untuk memiliki keturunan lagi dan menghubungkan hasil

wawancara, catatan lapangan, bahan-bahan lain sehingga didapatkan satu

kesimpulan yang objektif, logis, konsisten, dan sistematis sesuai dengan

data penulis dalam penelitian ini.

F. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai apa yang akan

dibahas pada skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab Pertama, adalah pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review

study terdahulu, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua, adalah memaparkan tentang poligami, mandul, hukum Islam dan Undang-undang di Indonesia yang mencakup poligami dalam hukum

Islam, poligami dalam PerUndang-Undang di Indonesia, mandul.

Bab ketiga, adalah memaparkan tentang profil Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang mencakup tentang sejarah singkat Pengadilan, dasar hukum

pembentukan Pengadilan, tugas pokok dan fungsi.

Bab keempat, adalah menguraikan tentang mandul, izin poligami, dan Undang-Undang pada bab ini penulis akan menyampaikan deskripsi tentang

perkara permohonan izin poligami, pertimbangan Hakim memberikan izin

(24)

Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ditinjau dari Hukum Islam dan Hukum

Positif, analisis penulis.

Bab kelima, adalah penutup. Dalam bab ini berisi kesimpulan dari bab-bab terdahulu dan uraian singkat mengenai poko-pokok analisis dan

(25)

14

BAB II

POLIGAMI DAN MANDUL DALAM HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG DI INDONESIA

A. Poligami dalam Hukum Islam a. Pengertian Poligami

Poligami memiliki akar sejarah yang cukup panjang, sepanjang

sejarah peradaban manusia itu sendiri. Poligami ialah mengawini beberapa

lawan jenisnya di waktu yang bersamaan. Berpoligami berarti menjalankan

(melakukan) poligami. Poligami sama dengan poligini, yaitu mengawini

bebrapa wanita dalam waktu yang sama.1 Dalam bahasa Arab, poligami

disebut dengan ta’did al-zawjah yang artinya berbilangnya pasangan.

Islam datang menghapus segala bentuk perkawinan yang ada. Islam

hanya membenarkan perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang

perempuan yang keduanya tidak terhalang menikah secara syar’i, bukan

mahram yang didahului dengan proses meminang kepada orang tua (wali)

perempuan, membayar mahar, ada ijab-kabul. Pada prinsipnya Islam tidak

membenarkan semua perkawinan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur

kezaliman, kekerasan, ketidakadilan, pelecehan, pemaksaan, ketidakpastian,

dan penindasan.2

1

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1998), cet. ke-1, h. 693.

2

(26)

Islam datang sebagai agama yang “rahmatan lil alamin” di mana

Islam mendudukkan perempuan sederajat dengan laki-laki, hanya tinggi

rendahnya takwa yang membedakannya.

Poligami yang sudah menjadi tradisi masyarakat Arab pada waktu itu

mulai dibatasi, yakni dari yang tadinya tidak terbatas menjadi terbatas

maksimal empat (4) orang. Hal ini dibuktikan dari sejarah ketika para

sahabat yang saat masuk Islam memiliki istri lebih dari empat, kemudian

Nabi meminta mereka untuk mempertahankan 4 orang saja dan sisanya

diceraikan, di antara mereka adalah Naufal ibn Mu’awiyyah, Qais ibn

Tsabit, dan Ghailan ibn Salamah.

Dalam syariat Islam, poligami dibenarkan atau dibolehkan dengan

syarat suami berlaku adil terhadap istri-istrinya.3 Untuk menjaga tindakan

yang semena-mena, Islam memberikan syarat berlaku adil dalam melakukan

poligami. Syarat ini merupakan syarat yang cukup berat dimana tidak

sembarang laki-laki bisa melakukannya.

Dalam Hukum Islam poligami sebagai suatu proses kepemimpinan

seorang laki-laki atau suami dalam rumah tangganya. Apabila seorang

suami yang poligami tidak mampu melaksanakan prinsip keadilan dalam

rumah tangga, ia tidak mungkin dapat melaksanakan keadilan jika menjadi

pemimpin di masyarakat.

3

(27)

b. Dasar Hukum Poligami

Sebagaimana hukum perkawinan yang bisa memiliki banyak bentuk,

maka begitu juga dengan poligami. Hukumnya ditentukan oleh kondisi

seseorang, bahkan bukan kondisi dirinya tetapi juga menyangkut kondisi

dan perasaan orang lain. Dalam hal ini bisa saja istrinya atau keluarga

istrinya.4

Allah SWT membolehkan berpoligami sampai empat orang istri

dengan syarat berlaku adil kepada mereka. Yaitu adil dalam melayani istri.

Jika tidak bisa berlaku adil maka cukup satu istri saja (monogami),5

berdasarkan Firman Allah SWT Q.S. An-Nisa:3 :

ِﺀﺎﺴّﹺﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﺏﺎﹶﻃ ﺎﻣ ﺍﻮﺤﻜﻧﺎﹶﻓ ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍ ﻲﻓ ﺍﻮﹸﻄِﺴﹾﻘﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺇﻭ

ﻚﻟﹶﺫ ﻢﹸﻜﻧﺎﻤﻳﹶﺃ ﺖﹶﻜﹶﻠﻣ ﺎﻣ ﻭﹶﺃ ﹰﺓﺪﺣﺍﻮﹶﻓ ﺍﻮﹸﻟﺪﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺈﹶﻓ ﻉﺎﺑﺭﻭ ﹶﺙﻼﹸﺛﻭ ﻰﻨﹾﺜﻣ

ﺍﻮﹸﻟﻮﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻰﻧﺩﹶﺃ

)

ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

۳

(

Artinya :Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (Q.S. An-Nisa; 3)

Ayat tersebut diturunkan segera setelah perang Uhud usai (3 H/628

M), ketika itu laki-laki muslim banyak berguguran di medan perang.

Tujuannya adalah untuk melindungi kaum perempuan dan anak-anak yatim

yang ditinggal wafat oleh suami dan ayah yang merawat mereka serta

memelihara mereka dari perbuatan yang tidak diinginkan. Pada saat itu para

4

Yayan Sopyan, Islam Negara, h. 149.

5

(28)

pengasuh anak yatim mengawini anak-anak yang mereka asuh bukan karena

menyayangi atau mencintai anak yatim tersebut, melainkan hanya tertarik

pada kecantikan atau harta mereka, inilah yng memicu para pengasuh anak

yatim tidak dapat berlaku adil kepada mereka (anak yatim). Maka itulah

Allah SWT membolehkan untuk mengawini mereka, tetapi jika merasa

takut akan menelantarkan mereka dan tidak sanggup memelihara harta anak

yatim tersebut, maka dibolehkan mencari perempuan lain untuk dikawini

sampai empat orang.6

Sementara itu, Quraish Shihab menafsirkan ayat 3 Surah An-Nisa

tersebut sebagai berikut :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap

perempuan yatim dan kamu percaya diri akan berlaku adil terhadap

perempuan-perempuan selain yang yatim itu, maka kawinilah apa yang

kamu senangi sesuai selera kamu dan halal dari perempuan-perempuan yang

lain itu. Kalau perlu, kamu menggabung dalam saat yang sama dua, tiga,

empat, tetapi jangan lebih, lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil

dalam hal harta dan perlakuan lahiriyah, maka kawini seorang saja, atau

kawinilah budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu, yakni

menikahi selain anak yatim yang mengakibatkan ketidakadilan, dan

mencukupkan satu orang istri adalah lebih dekat kepada tidak berbuat

6

(29)

aniaya, yakni lebih mengantarkan kamu kepada keadilan atau kepada tidak

memiliki banyak anak yang harus kamu tanggung biaya hidup mereka.7

Pembatasan kepada empat orang adalah suatu keadilan dan moderat

serta melindungi para istri dari kezaliman yang dapat terjadi kepada akibat

melebihinya jumlah istri dari empat orang. Ini berbeda dengan adat orang

Arab pada masa jahiliyah serta bangsa-bangsa di masa yang lampau yang

tidak membatasi jumlah istri, serta pengacuhan terhadap sebagian mereka.

Pembolehan ini menjelaskan perkara pengecualian yang jarang. Oleh sebab

itu, pembolehan ini tidak berarti bahwa setiap orang muslim harus kawin

lebih dari satu orang perempuan.8

Selanjutnya pada Surat An-Nisa ayat 129 Allah berfirman :

ﻭ ِﺀﺎﺴّﹺﻨﻟﺍ ﻦﻴﺑ ﺍﻮﹸﻟﺪﻌﺗ ﹾﻥﹶﺃ ﺍﻮﻌﻴﻄﺘﺴﺗ ﻦﹶﻟﻭ

ّﹶﻞﹸﻛ ﺍﻮﹸﻠﻴﻤﺗ ﻼﹶﻓ ﻢﺘﺻﺮﺣ ﻮﹶﻟ

ﺍﺭﻮﹸﻔﹶﻏ ﹶﻥﺎﹶﻛ ﻪّﹶﻠﻟﺍ ّﹶﻥﹺﺈﹶﻓ ﺍﻮﹸﻘّﺘﺗﻭ ﺍﻮﺤﻠﺼﺗ ﹾﻥﹺﺇﻭ ﺔﹶﻘّﹶﻠﻌﻤﹾﻟﺎﹶﻛ ﺎﻫﻭﺭﹶﺬﺘﹶﻓ ﹺﻞﻴﻤﹾﻟﺍ

ﺎﻤﻴﺣﺭ

)

ﺎﺴﻨﻟﺍ

۱۲۹

(

Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. An-Nisa: 129)

7

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol 2, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 338.

8

(30)

Ayat ini menegaskan bahwa para suami sekali-kali tidak akan dapat

berlaku adil, yakni tidak dapat mewujudkan dalam hati kamu secara terus

menerus keadilan dalam hal cinta di antara istri-istri kamu walaupun kamu

sangat ingin berbuat demikian, karena cinta di antara istri-istri kamu

walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena cinta di luar

kemampuan manusia untuk mengaturnya.9

Dalam penafsiran Asghar Ali Engineer, yang dikutip oleh Amiur

betapa al-Qur’an begitu berat untuk menerima poligami, tetapi hal itu tidak

bias diterima dalam situasi yang ada maka al-Qur’an membolehkan laki-laki

kawin hingga empat orang istri, dengan syarat harus adil.10

Landasan hukum tentang kebolehan poligami selain terdapat di dalam

Al-Qur’an, juga terdapat dalam hadis Nabi yang salah satunya mengenai

batasan jumlah isteri yaitu hanya boleh empat orang saja.

ﻲﻔﻘﺜﻟﺍ ﺔﻤﻠﺳ ﻦﺑ ﻥ ﻼﻴﻏ ﻥﺍ ﺎﻤﻬﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﻪﻴﺑﺍ ﻦﻋ ﱂ ﺎﺳ ﻦﻋ

ﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﻪﻟ ﻝ ﺎﻘﻓ ﺓ ﻮﺴﻧ ﺮﺸﻋ ﻩﺪﻨﻋ ﻭ ﻢﻠﺳﺍ

ﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴ

ﻦﻫ ﺮﺋ ﺎﺳ ﻭ ﻕﺭ ﺎﻓ ﻭ ﺎﻌﺑ ﺭﺍ ﻚﺴﻣ

Artinya : “Dari Salim ayahnya r.a. bahwasanya Ghailan binti Salamah masuk Islam sedang ia mempunyai sepuluh orang isteri dan mereka pun masuk Islam bersamanya maka Nabi SAW. menyuruh agar ia memilih empat orang dari isteri-isterinya.” (H.R. Ahmad dan Turmudzi)

9

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, h. 606.

10

(31)

Hadits diatas pada dasarnya hanya menjelaskan tentang batas

kebolehan beristeri lebih dari seorang dan larangan berpoligami antara

seorang wanita dengan bibinya dari jalur ayah dan seorang bibinya dari jalur

ibu. Akan tetapi jika kita telaah lebih jauh bahwa hadits diatas merupakan

penjelasan lebih lanjut dari ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang

poligami.11

c. Syarat-Syarat Poligami

Syariat Islam memperbolehkan poligami dengan batasan sampai

empat orang dan mewajibkan berlaku adil kepada mereka, baik urusan

pangan, pakaian, tempat tinggal, serta lainnya yang bersifat kebendaan

tanpa membedakan istri yang kaya dengan yang miskin, istri yang berasal

dari keturunan tinggi dengan yang rendah dari golongan bawah.12

Sebagaimana dalam Firman Allah Swt Q.S. An-Nisa: 3

ِﺀﺎﺴّﹺﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﺏﺎﹶﻃ ﺎﻣ ﺍﻮﺤﻜﻧﺎﹶﻓ ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍ ﻲﻓ ﺍﻮﹸﻄِﺴﹾﻘﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺇﻭ

ﻢﹸﻜﻧﺎﻤﻳﹶﺃ ﺖﹶﻜﹶﻠﻣ ﺎﻣ ﻭﹶﺃ ﹰﺓﺪﺣﺍﻮﹶﻓ ﺍﻮﹸﻟﺪﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺈﹶﻓ ﻉﺎﺑﺭﻭ ﹶﺙﻼﹸﺛﻭ ﻰﻨﹾﺜﻣ

ﺍﻮﹸﻟﻮﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻰﻧﺩﹶﺃ ﻚﻟﹶﺫ

)

ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

۳

(

Artinya :Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.

11

Arud Badrudin, “Pembatalan Perkawinan Karena Poligami Liar (Analisis Yurisprudensi Perkara Nomor 461/Pdt.G/1995/PA.Smd)”, (Skripsi S1Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h. 29.

12

(32)

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S. An-Nisa : 3)

Ayat diatas menggunakan kata (اﻮﻄﺴﻘﺗ) tuqshitu dan (اﻮﻟ ﺪﻌﺗ) ta’dilu

yang keduanya diterjemahkan adil. Ada ulama yang mempersamakan

maknanya dan ada juga yang membedakannya dengan berkata bahwa

tuqshitu adalah berlaku adil antara dua oang atau lebih, keadilan yang

menjadikan keduanya senang. Sedang adil adalah berlaku baik terhadap

orang lain maupun diri sendiri, tapi keadilan itu bisa saja tidak

menyenangkan salah satu pihak.13

Ayat tersebut merupakan ayat yang memberikan pilihan kepada kaum

laki-laki untuk menikahi yatim dengan rasa takut tidak berlaku adil karena

keyatimannya atau menikahi perempuan yang disenangi hingga jumlahnya

empat istri. Akan tetapi, jika dihantui oleh rasa takut tidak berlaku adil,

lebih baik menikah dengan seorang perempuan atau hamba sahaya, karena

hal itu menjauhkan diri dari berbuat aniaya.14

Berbeda dengan pandangan fikih, poligami yang dalam kitab;kitab

fikih disebut dengan ta’addud al-jauzat, sebenarnya tidak lagi menjadi

persoalan. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, bahwa ulama sepakat

tentang kebolehan poligami, kendatipun dengan persyaratan yang

bermacam-macam. As-Sarakhsi menyatakan, kebolehan poligami dan

mensyaratkan pelakunya harus berlaku adil. Al-Kasani menyatakan lelaki

13

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, h. 338

14

(33)

yang berpoligami wajib berlaku adil terhadap isteri-isterinya. As-Syafii juga

mensyaratkan keadilan di antara para isteri, dan menurutnya keadilan ini

hanya menyangkut urusan fisik, misalnya mengunjungi isteri di malam atau

siang hari.15

Para Ulama dan Fuqaha telah menetapkan syarat poligami, yaitu :

a) Suami harus memiliki kemampuan dan kekayaan yang cukup untuk

membiayai berbagai kebutuhan, dengan bertambahnya isteri yang dinikahi.

b) Suami harus memperlakukan semua isteri dengan adil. Setiap isteri

diperlakukan sama dalam memenuhi hak perkawinan mereka serta hak-hak

lainnya.16

Menurut syariat Islam syarat-syarat yang harus diperhatikan dan

dilaksanakan untuk melakukan poligami adalah sebagai berikut :

a) Bila seorang laki-laki yang sudah beristeri seorang, masih mampu baik

jasmani dan rohani dan dikhawatirkan akan terjadi penyelewengan terhadap

perempuan lain, disebabkan nafsunya yang kuat (hipersex), sedangkan

isterinya seorang yang tidak mampu untuk melayani suami, maka suami

boleh menambah isterinya.

b) Bila isteri mandul sedang ia tidak mau diceraikan karena kemandulannya

itu.

c) Bila seorang isteri itu sakit yang tidak dapat disembuhkan, sehingga isteri

tidak memungkinkan untuk melakukan jima’ dengan suaminya.

15

Amiur Nuruddin & Azhar Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 98.

16

(34)

d) Jikalau jumlah kaum wanita lebih banyak daripada kaum pria, seperti di

daerah yang sering terjadi konflik atau peperangan, dimana kaum pria

banyak yang meninggal.

e) Bila isteri melahirkan anak perempuan semuanya dan tidak ada anak

laki-laki.17

Berkaitan dengan masalah ini, Rasyid Ridha mengatakan, Islam

memandang poligami lebih banyak membawa madharat daripada

manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature)

mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak

tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup dalam

kehidupan keluarga yang poligamis.18

Jika suami khawatir berbuat zalim dan tidak mampu memenuhi semua

hak mereka, maka ia haram melakukan poligami. Bila ia hanya sanggup

memenuhi hak-hak istrinya tiga orang, maka ia haram menikahi istri untuk

yang keempatnya. Bila ia sanggup memenuhi hak hak istrinya dua orang,

maka ia haram menikahi istri untuk yang ketiganya, dan begitu seterusnya.

19

Seorang pemikir Islam kontemporer, Muhammad Shahrur sepakat

dengan adanya poligami dengan persyaratan yang senada dengan ini.

Syahrur mempersyaratkan dua hal, pertama, bahwa isteri kedua, ketiga,

17

Amir Taat Nasution, Rahasia Perkawinan dalam Islam, (Jakarta: PT Pedoman Ilmu Jaya, 1994), cet. ke-3, h. 68-69.

18

Abdul Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, h.130.

19

(35)

keempat adalah para janda yang memiliki anak yatim. Kedua, harus terdapat

rasa khawatir tidak dapat berlaku adil kepada anak yatim. Lebih lanjut

menegaskan bahwa konteks ayat poligami ini harus difahami dalam

kaitannya dengan pemahaman sosial kemasyarakatan, bukan konsep

biologis (senggama), dan berkisar pada masalah anak-anak yatim dan

berbuat baik kepadanya serta berlaku adil terhadapnya.20

Salah satu persyaratan diperbolehkannya melakukan poligami adalah

dapat berlaku adil terhadap para isteri. Secara etimologis adil berarti tidak

berat sebelah, tidak memihak, atau menyamakan antara satu dengan yang

lainnya.21 Keadilan yang menjadi patokan dibolehkannya poligami, tanpa

keadilan tersebut maka lebih baik monogami dan bertahanlah dengan

budak-budak.

Untuk mengangkat harkat martabat perempuan, Allah SWT

mewajibkan kepada semua laki-laki yang berpoligami untuk berlaku adil.

Tidak dibenarkan menzalimi istri dengan hanya cenderung pada salah satu

istri saja, hal demikian karena pada dasarnya hak perempuan sesungguhnya

adalah tidak dimadu, akan tetapi poligami adalah untuk menghindarkan

kaum laki-laki melakukan perzinaan dan melatih menjadi pemimpin yang

adil dalam kehidupan dan pengelolaan keluarga dan rumah tangganya.22

20

Yayan Sopyan, Islam Negara, h. 146.

21

Yayan Sopyan, Islam Negara, h.153.

22

(36)

B. Poligami dalam Undang-Undang di Indonesia a. Pengertian Poligami

Poligami berasal bahasa Yunani. Kata ini merupakan penggalan dari

dua kata yakni “poli” atau “polus” yang artinya banyak, dan “gamein”

atau “gamos” yang artinya kawin atau perkawinan. Jika digabungkan akan

berarti suatu perkawinan yang banyak. Ada istilah lain yang maknanya

mendekati makna poligami yaitu “poligini”. Kata ini berasal dari “poli”

atau “polus” artinya banyak, dan “gini” atau “gene” artinya istri, jadi

poligini beristri banyak.

Secara terminologi, poligami artinya banyak istri. Kata Poligami

berlaku bagi suami yang menikah dengan lebih dari seorang perempuan.

Istilah poligami digunakan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

atau KUHP, sebagaimana terdapat pada Pasal 3-5.23

Secara konsepsional, istilah poligami diartikan sebagai perkawinan

yang dilakukan oleh suami atau istri untuk mendapatkan pasangan hidup

lebih dari seorang. Oleh karena itu, poliandri merupakan salah satu jenis

dari poligami. apabila pernikahan dilakukan oleh seorang suami terhadap

perempuan lebih dari seorang, atau suami yang istrinya lebih dari seorang,

disebut dengan poligini. Karena dalam Undang-Undang Nomor1 Tahun

1974 dan KHI bahkan dalam PP Nomor 9 Tahun 1975 tidak dikenal dengan

istilah poligini.24

23

Beni Ahmad Saebani & Syamsul Falah, Hukum Perdata Isam, h.117.

24

(37)

b. Dasar Hukum Poligami

Semangat Undang-Undang Perkawinan adalah meminimalisasi

marjinalisasi perempuan dalam ruang lingkup perkawinan. Upaya untuk

melindungi perempuan dan anak-anak mereka secara hukum sudah nyata,

namun walaupun demikian, ada beberapa kelemahan-kelemahan yang perlu

diperbaiki.

Layaknya sebuah Undang-Undang, Undang-Undang Perkawinan di

Indonesia berdasarkan atas asas monogami, namun tetap dibuka

kemungkinan untuk poligami dengan alasan dan syarat tertentu. Klausul

kebolehan poligami di dalam Undang-Undang Perkawinan sebenarnya

hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya mencantumkan

alasan-alasan yang membolehkan poligami.25

Sebelumnya, poligami juga diatur dalam Burgelijk Wetboek (BW).

Dalam Pasal 27 BW disebutkan bahwa, “ Dalam waktu yang sama seorang

laki-laki hanya dibolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai

istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki-laki sebagai suaminya”.

Prinsip monogami ini dikuatkan dengan sanksi KUHAP yang menyatakan

bahwa perkawinan (setelah satu kali) menghalangi sahnya perkawinan

berikutnya.26

25

Amiur Nuruddin & Azhar Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 161.

26

(38)

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan

dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil, tujuan dibuatnya Peraturan

Pemerintah ini adalah dinyatakan dalam konsideran pertimbangan poin b

yakni Pegawai Negeri Sipil adalah unsur aparatur negara, abdinegara dan

abdi masyarakat yang harus menjadi teladan yang baikbagi masyarakat

dalam tingkah laku, tindakan dan ketaatan kepadaperaturan

perundang-undangan yang berlaku, termasuk menyelenggarakan kehidupan

berkeluarga.27

Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 berbunyi :

1. Pegawai Negeri Sipil pria yang akan beristri lebih dari seorang, wajib

memperoleh izin lebih dahulu dari Pejabat;

2. Pegawai Negeri Sipil wanita tidak diizinkan untuk menjadi istri

kedua/ketiga/keempat.

3. Permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan secara

tertulis;

4. Dalam surat permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), harus

dicantumkan alasan yang lengkap yang mendasari permintaan izin untuk

beristri lebih dari seorang.28

27

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 jo Peraturan Pemeritah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.

28

(39)

Dalam surat permintaan ijin sebagaimana dimaksud dalam ayat 3

harus diantumkan alasan yang lengkap yang mendasari permintaan ijin

untuk beristeri lebih dari seorang atau untuk menjadi isteri

kedua/ketiga/keempat. Permintaan ijin harus diajukan menurut saluran

hirarki.

Dalam menjabarkan masalah poligami, KHI lebih cenderung sebagai

“tafsir” dan “bayan” bagi Undang-Undang Perkawinana, yakni poligami

sebagai dispensasi dari monogam dengan beberapa persyaratan.

Permasalahan poligami tercantum dalam Bab IX dari pasal 55 sampai

dengan pasal 59.

c. Syarat-Syarat Poligami

Dalam PerUndang-Undangan di Indonesia, syarat poligami sangat

ketat. Izin poligami hanya dapat diberikan bila memenuhi

sekurang-kurangnya salah satu syarat alternatif dan tiga syarat kumulatif. Syarat

alternatif meliputi, yaitu (a) istri tidak dapat menjalankan kewajibannya

sebagai istri, (b) istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat

disembuhkan, atau (c) istri tidak dapat melahirkan keturunan. Syarat

kumulatif, yaitu syarat kumulatif, (a) ada persetujuan tertulis dari istri-istri,

(b) adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri

dan anak-anak mereka, dan (c) ada jaminan bahwa suami akan berlaku adil

terhadap istri dan anak-anaknya.29

29

(40)

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 memberikan

persyaratan terhadap seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang

sebagai berikut :

1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama

sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini harus

memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : (a) adanya persetujuan dari

isteri/isteri-isteri (b) adanya kepastian bahawa suami mampu menjamin

keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka (c) adanya

jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak

mereka.

2) Persetujuan yang dimaksud dalam padaayat (1) huruf a pasal ini tidak

diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak

mungkin dimintai persetujuan dan tidak dapat menjadi pihak dalam

perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama

sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu

mendapat penilaian dari hakim Pengadilan Agama.30

Keadilan yang dimaksud oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan, terutama pada Pasal 5 adalah keadilan dari segi materi.

Keadilan materi dalam bentuk pembagian nafkah yang dapat diukur secara

matematis, sedangkan keadilan dalam bentuk batiniah sulit untuk diukur

karena menyangkut masalah perasaan atau hati, yang mengetahuinya hanya

suami yang berpoligami dan istri yang merasakannya karena dipoligami.

30

(41)

d. Tata Cara Poligami

Mengenai prosedur atau tata cara poligami yang resmi diatur oleh

Islam memang tidak ada ketentuan secara pasti, namun di Indonesia, dengan

Kompilasi Hukum Islamnya, telah mengatur hal tersebut.31 Ada dua hal

yang harus diberikan penegasan yakni pertama, poligami hanya bisa

dilakukan apabila memperoleh izin dari pengadilan. Kedua, pengadilan

hanya akan mengeluarkan izin apabila poligami itu dikehendaki oleh

pihak-pihak yang bersangkutan. Dan yang disebut pihak-pihak-pihak-pihak yang bersangkutan

adalah isteri pertama, isteri kedua, dan atau seterusnya, dan suami.32

Pelaksanaan tidak boleh dilakukan secara liar, pengadilanlah satu-satunya

lembaga yang memberikan dispensasi poligami. Oleh sebab itu Pasal 3 ayat

2 Undang-Undang Perkawinan menyatakan:

“Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan”

Dengan ayat ini jelas sekali Undang-Undang Perkawinan telah

melibatkan Pengadilan Agama sebagai institusi yang cukup penting untuk

mengabsahkan kebolehan poligami bagi seorang. Di dalam penjelasan pasal

3 ayat 2 dinyatakan : Pengadilan dalam memberikan putusan selain

memeriksa apakah syarat tersebut pasal 4 dan 5 telah dipenuhi harus

31

H.M.A. Tihami & Sohari Sahrani, Fiqih Munakahat, h.369.

32

(42)

mengingat pula apakah ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dari calon

suami mengizinkan adanya poligami.33

Berkenaan dengan pasal 4 di atas setidaknya menunjukkan ada 3

alasan yang dijadikan dasar mengajukan permohonan poligami

a. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri;

b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

c. Tidak dapat melahirkan keturunan.

Tampaknya alasan-alasan ini bernuansa fisik kecuali alasan yang

ketiga. Terkesan seorang suami tidak memperoleh kepuasaan yang

maksimal dari istrinya, maka alternatifnya poligami. seperti yang termuat

dalam pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan, syarat-syarat yang di

penuhi bagi seorang suami yang ingin melakukan poligami ialah :

1. Adanya persetujuan istri;

2. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup

istri-istri dan anak-anak mereka;

3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan

anak-anak mereka.

Menyangkut prosedur melaksanakan poligami aturannya dapat dilihat

di dalam PP No 9 Tahun 1975. Pada pasal 40 dinyatakan apabila seorang

suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang maka ia wajib

mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pengadilan.34

33

(43)

Sedangkan tugas Pengadilan diatur dalam Pasal 41 PP No 9 Tahun

1975 sebagai berikut :

Pengadilan kemudian memeriksa mengenai :

a. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkn seorang suami kawin lagi;

b. Ada atau tidaknya persetujuan dari istri, baik persetujuan lisan maupun

tertulis, apabila persetujuan merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu

harus diucapkan di depan sidang Pengadilan.

c. Ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan

hidup istri-istri dan anak-anak, dengan memperlihatkan :

1. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang di tanda tangani

oleh bendahara tempat bekerja;

2. Surat keterangan pajak penghasilan;

3. Surat keterangan lain yang dapat di terima oleh Pengadilan.

d. Ada atau tidak adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap

istri-istri dan anak-anak mereka dengan persyaratan atau janji dari suami

yang di buat dalam bentuk yang di tetapkan untuk itu.35

Berikutnya dijelaskan pada Pasal 42 keharusan Pengadilan memanggil

para istri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Di dalam pasal ini

juga dijelaskan bahwa Pengadilan diberi waktu 30 hari untuk memeriksa

permohonan poligami setalah diajukan oleh suami lengkap dengan

persyaratan.

34

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 40.

35

(44)

Kemudian, dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan kepada

suaminya untuk beristri lebih dari seorang, berdasarkan salah satu alasan

tersebut diatas, maka pengadilan Agama dapat menetapkan pemberian izin

setelah memeriksa dan mendengar istri yang bersangkutan di persidangan

Pengadilan Agama dan terhadap penetapan ini, istri atau suami dapat

mengajukan banding atau kasasi.36 Apabila keputusan hakim yang

mempunyai kekuatan hukum tetap, izin Pengadilan tidak diperoleh maka

menurut Pasal 44 PP Nomor 9 Tahun 1975, Pegawai Pencatat dilarang

untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristri

lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan.37

Ketentuan hukum yang mengatur tentang pelaksanaan poligami

mengikat semua pihak, pihak yang akan melangsungkan poligami dan

pegawai pencatat perkawinan. Apabila mereka melakukan pelanggaran

terhadap ketentuan pasal-pasal di atas dikenakan sanksi pidana.

KHI memuat masalah poligami ini pada bagian IX dengan judul,

Beristri Lebih dari Satu Orang, yang di ungkap dari pasal 55 sampai 59.

Pada pasal 55 dinyatakan :

1. Beristri lebih dari seorang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai

empat orang istri;

2. Syarat utama beristri lebih dari satu orang, suami harus mampu berlaku

adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya;

36

H.M.A. Tihami & Sohari Sahrani, Fiqih Munakahat, h.370.

37

(45)

3. Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin di

penuhi, suami dilarang beristri lebih dari satu orang.

Lebih lanjut dari KHI pasal 56 dijelaskan

1. Suami yang hendak beristri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari

Pengadilan Agama;

2. Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat 1 dilakukan menurut

tata cara sebagaimana diatur dalam bab VIII PP No. 9 Tahun 1975;

3. Perkawinan yang dilakukan istri kedua, ketiga, keempat tanpa izin dari

Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum tetap.38

Dari pasal-pasal di atas, KHI sepertinya tidak berbeda dengan

Undang-Undang Perkawinan bahkan dengan semangat Fiqih. Kendatipun

pada dasarnya UUP dan KHI menganut asas monogami, namun sebenarnya

peluang yang diberikan untuk poligami juga terbuka lebar. Dikatakan

demikian, kontribusi UUP dan KHI hanya sebatas tata cara prosedur

poligami.39

Pada pasal 57 dijelaskan :

Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada suami yang akan

beristri lebih dari seorang apabila :

1. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri;

2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;

3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

38

Kompilasi Hukum Islam, Pasal 55-56.

39

(46)

Tampak pada pasal 57 KHI diatas, Pengadilan Agama hanya

memberikan izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila

terdapat alasan-alasan sebagaimana disebutkan dalam pasal 4

Undang-Undang Perkawinan. Jadi pada dasarnya Pengadilan hanya memberi izin

kepada seorang suami untuk beristri lebih dari satu apabila dikehendaki oleh

pihak-pihak yang bersangkutan.

Dalam perspektif metedologis, pengaturan ketentuan hukum mengenai

poligami yang boleh dilakukan atas kehendak yang bersangkutan melalui

izin Pengadilan Agama, setelah dibuktikan izin istri atau istri-istri,

dimaksudkan untuk merealisasikan kemaslahatan. Yaitu terwujudnya

cita-cita dan tujuan perkawinan rumah tangga, yang kekal dan abadi diridhai

Allah SWT berdasarkan cinta dan kasih sayang. Karena itu segala persoalan

yang mungkin akan menjadi penghalang bagi terwujudnya tujuan

perkawinan tersebut harus dihilangkan atau setidaknya dikurangi. Ini sejalan

dengan kaidah :

ﺢﻠﺼﳌﺍ ﺐﻠﺟ ﻰﻠﻋ ﻡﺪﻘﻣ ﺪﺳﺎﻔﳌﺍﺀﺭﺩ

“Menghindari madharat (kerusakan) harus didahulukan daripada

mengambil manfaat (kemaslahatan).”40

C. Mandul

40

(47)

a. Pengertian Mandul

Menurut Ensiklopedia Indonesia, pengertian Sterilitet (kemandulan)

adalah terdapat baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Biasanya

disebabkan pada kelainan alat kelamin. Ada kelainan bawaan dan ada

kelainan yang timbul di kemudian hari.41

Infertilitas (mandul) adalah kegagalan pasangan untuk hamil setelah

satu tahun memiliki hubungan seksual yang teratur tanpa kontrasepsi.

Infertilitas bisa primer atau sekunder. Infertilitas primer adalah istilah yang

menggambarkan pasangan yang belum pernah hamil, sedangkan infertilitas

sekunder mengacu pada pasangan yang telah mencapai kehamilan di masa

lalu tapi tidak mampu mendapatkannya lagi. Ada beberapa perbedaan dalam

evaluasi dan pengobatan, karena secara teoritis, pasangan yang sebelumnya

mencapai kehamilan memiliki semua komponen dasar dari sistem

reproduksi mereka yang utuh. Hal ini menyiratkan kemungkinan jauh lebih

besar bahwa salah satu atau kedua pasangan baru mengembangkan masalah

yang menyebabkan infertilitas mereka saat ini.42

Mandul terbagi dua yaitu mandul primer dan mandul sekunder.

Mandul primer yaitu istri belum hamil walaupun bersenggama tanpa usaha

kontrasepsi dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama dua belas

41

Tim Penyusun, Ensiklopedia Indonesia, h. 1279.

42

(48)

(12) bulan. Mandul sekunder yaitu istri pernah hamil, namun kemudian

tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama tanpa usaha kontrasepsi

dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama dua belas (12)

bulan.43

Menurut ilmu kedokteran, presentase kemungkinan terjadinya

kehamilan adalah 3,27% hamil dalam satu bulan pertama, 57,0% dalam tiga

bulan, 72,1% dalam 6 bulan, 85,4% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam

waktu 24 bulan. Dan waktu median yang diperlukan untuk menghasilkan

kehamilan ialah 2.3 bulan sampai 2,8 bulan. Ini berarti, semakin lama

pasangan itu kawin tanpa kehamilan, makin turun kejadian kehamilannya.

Oleh karena itu, kebanyakan dokter baru menganggap ada masalah

kemandulan jika pasangan yang ingin punya anak itu dihadapkan kepada

kemungkinan kehamilan lebih dari 12 bulan.44

b. Faktor-Faktor Terjadinya Kemandulan

Faktor terjadinya kemandulan pada wanita adalah :

a. Penyakit kista

Kista adalah penyakit tumor jinak yang terbungkus oleh selaput

semacam jaringan di organ reproduksi perempuan yang paling sering

ditemui. Bentuknya kistik, berupa cairan kental, dan ada pula yang yang

43

http://raramidy.blogspot.com/2011/11/mandul-dalam-pandangan-islam.html. diakses pada tanggal 7 April 2015 pukul 10.59.

44

(49)

berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun

bahan-bahan lainnya.45

Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi menjadi dua, yaitu

non-neoplastik dan neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan

biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista

neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada

ukuran dan sifatnya.46

Pada penderita kista yang sudah parah akan menimbulkan

kemandulan. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan menalurkan sel

telur dengan baik. Selain itu, ada beberapa masalah lain yang menyebabkan

wanita sulit mendapatkan keturunan seperti adanya kegagalan yang

disebabkan karena pengangkatan kista yang dilakukan berulang-ulang.

Operasi berulang-ulang akan menyebabkan ovarium rusak dan adanya

infeksi pada folikel yang tidak matang.47

b. Penyakit Miom (mioma uteri)

Miom adalah pertumbuhan di dalam atau di sekitar uterus (rahim)

yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom dikenal juga dengan nama

nama mioma, uteri fibroid, atau leiomioma. Miom berasal dari sel otot

45

http://penyakitkista.org diakses pada tanggal 11 September 2015 pukul 09.52.

46

http://penyakitkista.org. 47

(50)

rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yag akhinya

membentuk tumor jinak.48

Pengaruh miom pada kehamilan dan persalinan, mengakibatkan

hal-hal sebagai berikut :

1. Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada mioma

uteri submukosum;

2. Kemungkinan abortus bertambah;

3. Kelainanan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar

dan letak subserus;

4. Menghalang-halangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang letaknya

di serviks;

5. Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di

dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma;

6. Mempersulit lepasnya placenta, terutama pada mioma submukus dan

intramural.49

Sekitar 75% wanita pernah memiliki miom, terkadng kondisi ini tidak

diketahui oleh sebagian yang mengalami karena tidak muncul gejala. Gejala

yang muncul akibat miom adalah :

1. Masa menstruasi menyakitkan atau berlebih;

2. Rasa sakit atau nyeri pada bagian perut atau punggung bawah;

48

http://www.alodokter.com/miom. di akses pada tanggal 13 September 2015 pukul 18.17.

49

(51)

3. Keguguran, mengalami kemandulan, atau bermasalah pada masa

kehamilan.50

Faktor terjadinya kemandulan pada pria adalah :

a. Adanya efek pada spermatogenesis yang menyebabkan kelainan. Kelainan

bentuk sperma atau jumlah sperma terlalu sedikit sehingga tidak dapat

menembus ovum

b. Motilitas sperma yang mungkin terganggu akibat infeksi dan pembentukan

jaringan parut di testis, epididimis, vas deferen, atau uretra

c. Infeksi sistematik misalnya parotitis, dapat menyebabkan pembengkakan

testis, dan kerusakan tubulus seminiferus

d. Sumbatan pembuluh darah yang memperdarahi testis dapat menyebabkan

hipoksia dan kegagalan sperma untuk tumbuh dan bertahan hidup

e. Adanya otoantibodi yang dibentuk terhadap sperma, ini akan mengurangi

jumlah dan kualitas sperma.51

50

http://www.alodokter.com/miom.

51

(52)

41

A. Sejarah Pengadilan Agama Jakarta Selatan

Pengadilan Agama Jakarta Selatan sebagai salah satu instansi yang

melaksanakan tugasnya, memiliki dasar hukum dan landasan kerja sebagai

berikut:

1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 24;

2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, tentang Kekuasaan

Kehakiman;

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974;

4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana diubah dengan

Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, tentang perubahan kedua atas

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989, tentang Peradilan Agama;

5. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975; Peraturan Pemerintah

Nomor 9 Tahun 1975;

6. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 69 Tahun 1963, tentang

Pembentukan Pengadilan Agama Jakarta Selatan;

7. Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan Tata Kerja dan

Wewenang Pengadilan Agama.1

Pengadilan Agama Jakarta Selatan dibentuk berdasarkan surat

keputusan Menteri Agama RI Nomor 69 Tahun 1963. Pada mulanya

1

(53)

Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta hanya terdapat tiga kantor yang

dinamakan Kantor Cabang, yaitu:

1. Kantor Cabang Pengadilan Agama Jakarta Utara;

2. Kantor Pengadilan Agama Jakarta Tengah;

3. Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya sebagai induk.2

Semua Pengadilan Agama tersebut di atas termasuk Wilayah Hukum

Cabang Mahkamah Islam Tinggi Surakarta. Kemudian setelah berdirinya

Cabang Mahkamah Islam TInggi Bandung berdasarkan surat keputusan

Menteri Agama Nomor 71 Tahun 1976 tanggal 16 Desember 1976, semua

Pengadilan Agama di Propinsi Jawa Barat termasuk Pengadilan Agama

yang berada di Daerah Ibu Kota Jakarta Raya berada dalam Wilayah Hukum

Mahkamah Islam Tinggi Cabang Bandung. Dalam perkembangan

selanjutnya istilah Mahkamah Islam Tinggi menjadi Pengadilan Tinggi

Agama (PTA).3

Berdasarkan surat keputusan Menteri Agama RI Nomor 61 Tahun

1985, Pengadilan Tinggi Agama Surakata dipindah ke Jakarta, akan tetapi

realisasinya baru terlaksana pada tanggal 30 Oktober 1987 dan secara

otomatis Wilayah Hukum Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta adalah

menjadi Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Agama Jakarta. Terbentuknya

kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan merupakan jawaban dari

2

www.pa-jakartaselatan.go.id.

3

(54)

perkembangan masyarakat Jakarta, yang ketika itu pada tahun 1967

merupakan cabang di Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya yang

berkantor di jalan Otista Raya Jakarta Timur.4

Sebutan pada waktu itu adalah cabang Pengadilan Agama Jakarta

Selatan. Kantor cabang Pengadilan Agama Jakarta Selatan dibentuk sesuai

dengan banyaknya jumlah penduduk dan bertambahnya pemahaman

penduduk serta tuntutan masyarakat Jakarta Selatan yang wilayahnya cukup

luas. Keadaan kantor ketika itu masih dalam keadaan darurat yaitu

menempati gedung bekas kantor Kecamatan Pasar Minggu di suatu gang

kecil yang sampai saat ini dikenal dengan gang Pengadilan Agama Pasar

Minggu Jakarta Selatan, pimpinan kantor dipegang oleh H. Polana.5

Penanganan kasus-kasus hanya berkisar perceraian, kalaupun ada

tentang warisan, masuk kepada komparisi. Itu pun dimulai pada tahun 1969,

kerjasama dengan Pengadilan Negeri yang ketika itu dipimpin oleh Bismar

Siregar, S.H. Sebelum tahun 1969, pernah pu

Referensi

Dokumen terkait