Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk memenuhi salah satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)
Oleh :
ROBIA’TUL ADAWIYAH NIM : 1111044100071
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA
( A H W A L S Y A K H S I Y Y A H )
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
v
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H / 2015 M.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui yang dimaksud mandul sebagai alasan suami boleh berpoligami adalah mandul sejak awal perkawinan ataukah juga dipertengahan perkawinan istri tidak bisa memiliki keturunan lagi dan dinyatakan mandul, alasan Hakim memberikan izin poligami dalam perkara nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS, dan mengetahui putusan ini sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan Yuridis Normatif, dengan jenis penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan. Dengan sumber data yang diambil dari data primer berupa putusan, dan wawancara hakim dan data sekunder diperoleh dengan mengadakan studi kepustakaan atas dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diajukan. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara menganalisa isi putusan dan hasil wawancara yang ditranskip ke dalam tulisan.
Hasil penelitian, mandul yang menjadi alasan suami boleh berpoligami yaitu sejak awal perkawinan, namun pada kenyataan hakim memberikan izin poligami kepada suami setelah istri melahirkan keturunan. Hal ini sesuai dengan alasan hakim memberikan izin poligami pada perkara nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS dengan alasan istri trauma untuk melahirkan setelah dinyatakan mengidap penyakit kista dan miom. Putusan ini sudah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Kata Kunci : Poligami, Mandul, Analisis Kualitatif Pembimbing : Dr . Ali Wafa, S.Ag., M.Ag.
vi
salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, bagi keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang taat akan ajarannya hingga akhir zaman.
Skripsi ini penulis persembahkan kepada orang tua yaitu Ayahanda (Alm) Mohammad Ali Saida dan Ibunda Noinih yang selalu memberikan dorongan, bimbingan kasih sayang, dan doa tanpa lelah dan bosan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Allahummagfirlii Waliwaalidayya Warhamhuma Kama Rabbayani shagiira.
Dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis temukan, namun syukur alhamdulillah berkat rahmat dan ridha-Nya, kesungguhan serta dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung segala kesulitan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga pada akhir skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada :
1. Dr. Asep Saepudin Jahar, M.A. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
vii
4. Dr. Hj. Mesraini, M.Ag., Dosen Pembimbing Akademik yang senantiasa memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis.
5. Segenap Bapak dan Ibu Dosen serta staf pengajar pada lingkungan Prodi Ahwal al-Syakhsiyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis selama duduk di bangku perkuliahan.
6. Pimpinan Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beserta staf yang telah memberikan penulis fasilitas untuk menggandakan studi perpustakaan
7. Ketua pengadilan Agama Jakarta Selatan beserta staf yang telah meluangkan waktunya sehingga memudahkan penulis menyelesaikan skripsi ini.
8. Drs. Nasrul, M.A., dan Bapak Drs. Sohel, S.H., Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan dan Pengadilan Agama Bandung yang telah meluangkan waktunya untuk penulis wawancarai guna mempermudah penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Kepada kakak-kakak dan adik-adikku yang senantiasa ada dan berupaya membantu
viii
11. Terimakasih kepada Keluarga Besar Ahwal al-Syakhshiyah (KBPA) dan Keluarga Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang telah memberikan dukungan dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Terimakasih kepada teman-teman seperjuangan Peradilan Agama A dan B 2011 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah menjadi teman seperjuangan penulis dari awal masuk kuliah hingga penulis menulis skripsi dan dapat menyelesaikan skripsi. Terimakasih untuk canda tawa, semangat dan doa kalian semua.
13. Terimakasih untuk kakak senior Ulfah Fauziah Hidayati S.Sy dan Istiya Rahayu DP S.PdI, dan adik junior Alawiyah Rahmah yang selalu memberikan semangat kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.
Terima kasih atas dukunga dan motivasinya, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Aamiin
Jakarta, 05 Oktober 2015
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iii
LEMBARPERNYATAAN. ... iii
ABSTRAK. ... iv
KATA PENGANTAR. ... v
DAFTAR ISI. ... x
BAB I PENDAHULUAN... 1
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D.Study Review Terdahulu ... 8
E. Metode Penelitian ... 9
F. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II POLIGAMI DAN MANDUL DALAM HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG DI INDONESIA ... 14
A.Poligami dalam Hukum Islam ... 14
1. Pengertian Poligami ... 14
2. Dasar Hukum Poligami ... 16
3. Syarat-Syarat Poligami ... 20
xi
1. Pengertian Poligami ... 25
2. Dasar Hukum Poligami ... 26
3. Syarat-Syarat Poligami ... 28
4. Tata Cara Poligami ... 30
C.Mandul... 36
1. Pengertian Mandul ... 36
2. Faktor-Faktor Terjadinya Kemandulan ... 38
BAB III PROFIL PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN ... 41
A.Sejarah Pengadilan Agama Jakarta Selatan ... 41
B.Jumlah Perkara yang Ditangani Pengadilan Agama Jakarta Selatan ... 46
C.Bentuk Putusan yang Sudah di Keluarkan ... 51
BAB IV MANDUL SEBAGAI ALASAN IZIN POLIGAMI NOMOR PERKARA 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ... 65
A.Deskripsi Tentang Perkara Izin Poligami Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ... 65
B.Pertimbangan Hakim dalam Memutuskan Izin Poligami dalam Perkara Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ... 67
C.Putusan Perkara Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ditinjau dari Hukum Islam dan Hukum Positif ... 70
D.Analisis Penulis... 73
BAB V PENUTUP ... 78
A.Kesimpulan ... 78
xii
DAFTAR PUSTAKA ... 80
1
A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.1 Perkawinan adalah salah satu kebutuhan dasar yang menyentuh di
bidang kehidupan manusia. Perkawinan merupakan suatu tahap awal akan
lahirnya kehidupan baru dalam membangun kehidupan cita-cita bersama
yang disebut rumah tangga. Perkawinan menurut Hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon gholiidzahan untuk
menaati perintah Allah SWT dan melaksanakannya sebagai ibadah.2 Pada
dasarnya seorang suami hanya boleh mempunyai seorang istri. Seorang
suami yang ingin beristri lebih dari seorang dapat diperbolehkan apabila
dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.3
Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang
paling banyak dibicarakan sekaligus kontroversial. Satu sisi poligami
ditolak dengan berbagai macam argumentasi baik yang bersifat normatif,
psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan ketidakadilan jender. Pada sisi
lain poligami dikampanyekan karena dianggap memiliki sandaran normatif
1
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
2
Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam.
3
yang tegas dan dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan
fenomena selingkuh dan prostitusi.4 Ahli-ahli sejarah dan para ilmuwan
antropologi mengemukakan bahwa poligami dalam bentuknya yang
beragam telah ada dalam tahap-tahap awal dari sejarah manusia, dan
bahwasanya poligami muncul pertama kali sebagai akibat dari perbudakan
perempuan dan sikap kaum yang kuat dan kaya yang menjadikan
perempuan untuk bersenang-senang, sebagai pelayan dan sebagai simbol
kebesaran dan kemegahan.5
Tidak ada catatan bahwa agama-agama terdahulu melarang poligami,
sejak Nabi Ibrahim AS bahkan hal itu dibolehkan secara hukum dan
dipraktekkan dalam kehidupan keagamaan. Demikian pula dalam bangsa
Arab, poligami adalah sesuatu yang dibolehkan tanpa syarat dan tanpa
ikatan, bahkan mereka mempraktekkannya dalam batasan yang tak
terhingga.6 Hakikatnya agama Islam menghalalkan pologami, seperti yang
terjadi pada masa Nabi dimana Nabi Muhammad SAW memiliki lebih dari
seorang istri. Akan tetapi kebanyakan dari wanita-wanita tersebut adalah
janda-janda yang ditinggal mati oleh suaminya pada saat perang.
Seperti halnya di Indonesia, sudah diatur mengenai kebolehan
poligami yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
4
Amiur Nurrudin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No 1/1974 sampai KHI, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 156.
5
Karam Hilmi Farhat, Poligami dalam Pandangan Islam, Nasrani & Yahudi, (Jakarta: Darul Haq, 2007), h. 5.
6
tentang Perkawinan. Kebolehan poligami di dalam Undang-Undang
Perkawinan sebenarnya hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya
mencantumkan alasan-alasan yang membolehkan tersebut. Dengan adanya
pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami kendatipun dengan
alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh
Undang-Undang Perkawinan sebenarnya bukan asas monogami mutlak melainkan
disebut dengan asas monogami terbuka.7 Dapat dipahami sebagai bentuk
ketidaktegasan asas itu sendiri, sehingga tidak dapat secara mutlak dapat
dikatakan sebagai asas, melainkan hanya visi dalam perkawinan yang dapat
berubah karena berubahnya situasi dan kondisi.8
Dalam pasal 4 Undang-Undang Perkawinan dinyatakan bahwa,
seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila ;
a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri
b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Disamping dengan alasan diatas yang harus dipenuhi agar dapat
memperoleh izin untuk beristri dari seorang, maka dijelaskan dalam Pasal 5
Undang-Undang Perkawinan mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi
oleh suami yang akan memiliki istri lebih dari seorang. Syarat-syarat
tersebut diberlakukan dengan ketat karena adanya kekhawatiran poligami
dilakukan hanya untuk mengahalalkan perselingkuhan atau hanya
7
Yahya harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan: Zahir Trading Co Medan, 1975), h. 25-26.
8
melegalkan hubungan cinta kepada perempuan lain yang kemudian
dijadikan istri kedua, ketiga, keempat. Ketatnya persyaratan poligami jelas
menunjukkan bahwa hak-hak wanita masih ditegakkan.9 Seorang suami
yang hendak poligami harus mendapatkan persetujuan dari istri kemudian
mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin dari Pengadilan Agama.
Dapat diketahui bahwa di Indonesia menerapkan sistem yang moderat,
diantara melarang poligami dan membolehkan sepenuhnya poligami,
dengan menetapkan pembatasan secara ketat.10
Meskipun sangat kecil kemungkinannya mendapatkan keikhlasan dari
seorang istri untuk menikah lagi tapi bukan berarti hal tersebut tidak
mungkin terjadi. Seorang istri bisa saja mengijinkan suaminya poligami
dengan menerima segala resiko dalam perkawinan poligami itu sendiri,
karena adanya hal-hal yang melatarbelakangi.
Salah satu contoh kasus, suami akan melakukan poligami karena istri
tidak bisa memberikan keturunan lagi. Disebabkan istri mengidap penyakit
kista dan miom yang mengakibatkan istri trauma untuk memiliki keturunan
lagi. Sebelum mengidap penyakit tersebut istri sudah memberikan keturunan
kepada suami dengan melahirkan dua (2) orang anak. Akan tetapi suami
masih menginginkan untuk memiliki keturunan lagi. Maka dalam keadaan
seperti ini, mau tidak mau istri harus memberikan izin kepada suami untuk
9
Asghar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan Dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Farhan Cicik, (Yogyakarta: LSPPA, 2000), h. 154-155.
10
menikah kembali karena adanya kekhawatiran suami akan melakukan
perzinaan.
Dari kasus diatas, timbul pertanyaan, apakah pantas disaat istri sedang
terkena penyakit kista dan miom, karena penyakit ini istri trauma untuk
melahirkan lagi, dengan keadaan seperti ini dimana istri sangat
membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang-orang terdekatnya
terlebih dari suami, akan tetapi pada kenyataannya istri harus merelakan
suami menikah lagi dengan perempuan lain dan kasih sayangnya pun akan
terbagi dengan perempuan lain.
Jika tidak terjadi poligami, bagaimana dampaknya terhadap keluarga.
Apakah penyakit yang diderita oleh istri sama halnya dengan mandul,
sedangkan penyakit kista dan miom bukan penyakit yang mematikan dan
bisa disembuhkan dengan adanya dorongan semangat dari orang-orang
terdekat terutama suami, dan trauma yang dialami oleh istri dapat dijadikan
alasan dalam permohonan Ijin Poligami di Pengadilan Agama.
Uraian diatas adalah sedikit gambaran dari kasus permohonan izin
poligami di Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 0023/Pdt.G/2014
terhadap permohonan yang diajukan oleh Ahmad kepada Istrinya dengan
alasan istrinya mengidap penyakit kista dan miom, istri trauma untuk
memiliki keturunan sedangkan suami masih menginginkan untuk memiliki
keturunan. Untuk itu penulis merasa perlu melakukan analisa putusan
terhadap putusan tersebut. Apakah dalam hal ini mandul yang dimaksud
mandul atau di pertengahan perkawinan istri tidak bisa memiliki keturunan
lagi dan dinyatakaan mandul. Dengan demikian penulis melakukan
penelitian dengan judul : “ MANDUL SEBAGAI ALASAN IZIN POLIGAMI (Analisa putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS)”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan skripsi ini tidak keluar dari pokok pembahasan
disamping keterbatasan penulis miliki maka penulis akan melakukan
pembatasan masalah hanya pada izin poligami dengan alasan istri memiliki
penyakit kista dan miom, trauma untuk memiliki keturunan lagi dan study
kasus terhadap putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor
0023/Pdt.G/2014 tentang permohonan izin poligami.
2. Perumusan Masalah
Menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia,
Pengadilan Agama memberikan izin kepada suami yang akan beristri lebih
dari seorang apabila salah satunya istri tidak memiliki keturunan, akan tetapi
pada kenyataan Pengadilan Agama memberikan izin kepada suami untuk
berpoligami setelah istri memiliki keturunan kemudian dinyatakan memiliki
penyakit kista, dan trauma untuk memiliki keturunan lagi. Agar penulisan
perumusan masalah yang akan menjadi topik pembicaraan dalam penelitian
ini, yaitu sebagai berikut:
1. Apakah mandul yang dimaksud sebagai alasan suami boleh berpoligami
adalah mandul sejak awal perkawinan ataukah juga dipertengahan
perkawinan istri tidak bisa memiliki keturunan lagi dan dinyatakan
mandul ?
2. Apa alasan Hakim memberikan Ijin Poligami dalam perkara Nomor
0023/Pdt.G/2014/PA.JS ?
3. Apakah dalam putusan nomor 0023/Pdt.g/2014/PA.JS ini sudah sesuai
dengan Undang-Undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui istri dapat dinyatakan mandul ketika awal perkawinan
atau di pertengahan perkawinan setelah istri melahirkan keturunan.
2. Untuk mengetahui alasan Hakim memberikan Izin Pologami dalam
perkara Nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.
3. Untuk mengetahui putusan Nomor 0023/Pdt.G/2013 sudah sesuai dengan
Undang-Undang Perkawinan yang berlaku di Indonesia.
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Secara akademik, menambah ilmu pengetahuan dibidang hukum perdata
perkawinan dan mengetahui dasar hukum dan pertimbangan hakim
dalam memutus perkara pemberian ijin poligami.
2. Secara praktis, agar masyarakat mengetahui gambaran pengaturan
poligami dalam hukum Islam dan perundang-undangan di Indonesia.
D. Study Review Terdahulu
1. Paramita Sekar Putri, Trauma Istri sebagai Alasan Poligami (Analisa
Putusan Perkara Nomor 476/Pdt.G/2008/PA.Cikarang). Dalam skripsi
ini memaparkan tentang alasan suami melakukan poligami karena istri
trauma setelah melahirkan putra ketiga. Dalam skripsi ini juga
menjelaskan faktor yang menyebabkan istri trauma pasca kelahiran,
dampak trauma istri dalam perkawinan. Sedangkan dalam skripsi yang
penulis tulis ini menjelaskan tentang alasan suami melakukan
poligami disebabkan istri memiliki penyakit kista dan miom yang
mengakibatkan istri trauma untuk memiliki keturunan lagi.
2. Idi sugandi, Dampak Positif Poligami Dalam Persfektif Hukum Islam
(Studi Kasus Desa Saninten Kecamatan Kadu Hejo Kabupaten
Pandeglang). Dalam skripsi ini memparkan tentang dampak positif
poligami yang terjadi di desa Saninten, dalam skripsi ini hanya
melihat poligami itu dari hukum Islam saja tidak mengkaitkan dengan
Hukum yang berlaku di Indonesia. Sedangkan dalam skripsi yang
penulis tulis ini mengambil dua (2) hukum yang ada yaitu Hukum
3. Ahmad Nafi’i, Konsep Adil dalam Izin Poligami (Analisis
Yurisprudensi Putusan Pengadilan Agama Bekasi Perkara Nomor
205/Pdt.G/2008/PA.Bks). Dalam skripsi ini memaparkan tentang
konsep adil mnurut Hukum Islam, Undang-Undang Nomor 1 tahun
1974 dan KHI, serta pendapat Ulama tentang “Ta’ddud al-Zaujah”.
Sedangkan dalam skripsi yang penulis tulis tidak memaparkan konsep
adil, karena penulis hanya menjelaskan tentang istri yang mempunyai
penyakit kista, miom (mandul) yang membuat istri trauma untuk
memiliki keturunan lagi.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah:
a. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang dilakukan
dengan melakukan analisa dengan cara menguraikan dan
mendeskripsikan isi dari putusan yang penulis dapatkan tersebut.
b. Penelitian Kepustakaan (Library Pustaka), yaitu penelitian yang
dilakukan dengan cara mengkaji, menganalisa serta merumuskan
buku-buku, literature dan lainnya yang ada relevansinnya dengan
judul skripsi ini.11
11
2. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan pendekatan Yuridis Normatif yaitu pendekatan
yang di dasarkan pada perundang-undangan dan Yuridis Empiris yaitu
pendekatan terhadap pengalaman yang terjadi di dalam masyarakat.
Dalam hal ini, apa yang di praktikkan di Pengadilan Agama Jakarta
Selatan.
3. Sumber Data
a. Data Primer
1. Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang sudah berkekuatan
hukum tetap dengan nomor perkara 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.
2. Wawancara terhadap Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang
menyelesaikan perkara nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan mengadakan
studi kepustakaan atas dokumen-dokumen yang berhubungan dengan
masalah yang diajukan.12 Dokumen-dokumen yang dimaksud adalah
Al-Qur’an, Hadits, buku-buku ilmiah, Undang-Undang Perkawinan,
Undang-Undang Pengadilan, Kompilasi Hukum Islam serta peraturan
yang lainnya yang dapat mendukung skripsi ini.
12
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara :
a. Menganalisa putusan ijin poligami dengan alasan istri mempunyai
penyakit kista atau miom, dan trauma untuk memiliki keturunan
Nomor Perkara 0023/Pdt.G/2013/PA.JS
b. Interview atau wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu
yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara
mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban
atas pertanyaan itu. 13 interview yang sering juga disebut dengan
wawancara atau kuesioner lisan adalah sebauah dialog yang dilakukan
oleh pewawancara atau interviewer untuk memperoleh informasi dari
terwawancara. Dalam hal ini penulis mengadakan wawancara dengan
informan yakni hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang
menyelesaikan perkara nomor 0023/Pdt.G/2013/PA.JS.
5. Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses pelacakan dan pengaturan
secara sistematik transkip wawancara, catatan lapangan, bahan-bahan
lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap
bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan temuannya kepada orang lain.
Adapun analisis data yang digunakan adalah analisa kualitatif
yaitu menganalisa dengan cara menguraikan dan mendeskripsikan
13
putusan izin poligami dengan alasan istri mengidap penyakit kista dan
miom, taruam untuk memiliki keturunan lagi dan menghubungkan hasil
wawancara, catatan lapangan, bahan-bahan lain sehingga didapatkan satu
kesimpulan yang objektif, logis, konsisten, dan sistematis sesuai dengan
data penulis dalam penelitian ini.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai apa yang akan
dibahas pada skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
Bab Pertama, adalah pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, review
study terdahulu, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab kedua, adalah memaparkan tentang poligami, mandul, hukum Islam dan Undang-undang di Indonesia yang mencakup poligami dalam hukum
Islam, poligami dalam PerUndang-Undang di Indonesia, mandul.
Bab ketiga, adalah memaparkan tentang profil Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang mencakup tentang sejarah singkat Pengadilan, dasar hukum
pembentukan Pengadilan, tugas pokok dan fungsi.
Bab keempat, adalah menguraikan tentang mandul, izin poligami, dan Undang-Undang pada bab ini penulis akan menyampaikan deskripsi tentang
perkara permohonan izin poligami, pertimbangan Hakim memberikan izin
Nomor 0023/Pdt.G/2014/PA.JS ditinjau dari Hukum Islam dan Hukum
Positif, analisis penulis.
Bab kelima, adalah penutup. Dalam bab ini berisi kesimpulan dari bab-bab terdahulu dan uraian singkat mengenai poko-pokok analisis dan
14
BAB II
POLIGAMI DAN MANDUL DALAM HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG DI INDONESIA
A. Poligami dalam Hukum Islam a. Pengertian Poligami
Poligami memiliki akar sejarah yang cukup panjang, sepanjang
sejarah peradaban manusia itu sendiri. Poligami ialah mengawini beberapa
lawan jenisnya di waktu yang bersamaan. Berpoligami berarti menjalankan
(melakukan) poligami. Poligami sama dengan poligini, yaitu mengawini
bebrapa wanita dalam waktu yang sama.1 Dalam bahasa Arab, poligami
disebut dengan ta’did al-zawjah yang artinya berbilangnya pasangan.
Islam datang menghapus segala bentuk perkawinan yang ada. Islam
hanya membenarkan perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang
perempuan yang keduanya tidak terhalang menikah secara syar’i, bukan
mahram yang didahului dengan proses meminang kepada orang tua (wali)
perempuan, membayar mahar, ada ijab-kabul. Pada prinsipnya Islam tidak
membenarkan semua perkawinan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur
kezaliman, kekerasan, ketidakadilan, pelecehan, pemaksaan, ketidakpastian,
dan penindasan.2
1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1998), cet. ke-1, h. 693.
2
Islam datang sebagai agama yang “rahmatan lil alamin” di mana
Islam mendudukkan perempuan sederajat dengan laki-laki, hanya tinggi
rendahnya takwa yang membedakannya.
Poligami yang sudah menjadi tradisi masyarakat Arab pada waktu itu
mulai dibatasi, yakni dari yang tadinya tidak terbatas menjadi terbatas
maksimal empat (4) orang. Hal ini dibuktikan dari sejarah ketika para
sahabat yang saat masuk Islam memiliki istri lebih dari empat, kemudian
Nabi meminta mereka untuk mempertahankan 4 orang saja dan sisanya
diceraikan, di antara mereka adalah Naufal ibn Mu’awiyyah, Qais ibn
Tsabit, dan Ghailan ibn Salamah.
Dalam syariat Islam, poligami dibenarkan atau dibolehkan dengan
syarat suami berlaku adil terhadap istri-istrinya.3 Untuk menjaga tindakan
yang semena-mena, Islam memberikan syarat berlaku adil dalam melakukan
poligami. Syarat ini merupakan syarat yang cukup berat dimana tidak
sembarang laki-laki bisa melakukannya.
Dalam Hukum Islam poligami sebagai suatu proses kepemimpinan
seorang laki-laki atau suami dalam rumah tangganya. Apabila seorang
suami yang poligami tidak mampu melaksanakan prinsip keadilan dalam
rumah tangga, ia tidak mungkin dapat melaksanakan keadilan jika menjadi
pemimpin di masyarakat.
3
b. Dasar Hukum Poligami
Sebagaimana hukum perkawinan yang bisa memiliki banyak bentuk,
maka begitu juga dengan poligami. Hukumnya ditentukan oleh kondisi
seseorang, bahkan bukan kondisi dirinya tetapi juga menyangkut kondisi
dan perasaan orang lain. Dalam hal ini bisa saja istrinya atau keluarga
istrinya.4
Allah SWT membolehkan berpoligami sampai empat orang istri
dengan syarat berlaku adil kepada mereka. Yaitu adil dalam melayani istri.
Jika tidak bisa berlaku adil maka cukup satu istri saja (monogami),5
berdasarkan Firman Allah SWT Q.S. An-Nisa:3 :
ِﺀﺎﺴّﹺﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﺏﺎﹶﻃ ﺎﻣ ﺍﻮﺤﻜﻧﺎﹶﻓ ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍ ﻲﻓ ﺍﻮﹸﻄِﺴﹾﻘﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺇﻭ
ﻚﻟﹶﺫ ﻢﹸﻜﻧﺎﻤﻳﹶﺃ ﺖﹶﻜﹶﻠﻣ ﺎﻣ ﻭﹶﺃ ﹰﺓﺪﺣﺍﻮﹶﻓ ﺍﻮﹸﻟﺪﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺈﹶﻓ ﻉﺎﺑﺭﻭ ﹶﺙﻼﹸﺛﻭ ﻰﻨﹾﺜﻣ
ﺍﻮﹸﻟﻮﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻰﻧﺩﹶﺃ
)
ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ
۳
(
Artinya :Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (Q.S. An-Nisa; 3)
Ayat tersebut diturunkan segera setelah perang Uhud usai (3 H/628
M), ketika itu laki-laki muslim banyak berguguran di medan perang.
Tujuannya adalah untuk melindungi kaum perempuan dan anak-anak yatim
yang ditinggal wafat oleh suami dan ayah yang merawat mereka serta
memelihara mereka dari perbuatan yang tidak diinginkan. Pada saat itu para
4
Yayan Sopyan, Islam Negara, h. 149.
5
pengasuh anak yatim mengawini anak-anak yang mereka asuh bukan karena
menyayangi atau mencintai anak yatim tersebut, melainkan hanya tertarik
pada kecantikan atau harta mereka, inilah yng memicu para pengasuh anak
yatim tidak dapat berlaku adil kepada mereka (anak yatim). Maka itulah
Allah SWT membolehkan untuk mengawini mereka, tetapi jika merasa
takut akan menelantarkan mereka dan tidak sanggup memelihara harta anak
yatim tersebut, maka dibolehkan mencari perempuan lain untuk dikawini
sampai empat orang.6
Sementara itu, Quraish Shihab menafsirkan ayat 3 Surah An-Nisa
tersebut sebagai berikut :
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
perempuan yatim dan kamu percaya diri akan berlaku adil terhadap
perempuan-perempuan selain yang yatim itu, maka kawinilah apa yang
kamu senangi sesuai selera kamu dan halal dari perempuan-perempuan yang
lain itu. Kalau perlu, kamu menggabung dalam saat yang sama dua, tiga,
empat, tetapi jangan lebih, lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil
dalam hal harta dan perlakuan lahiriyah, maka kawini seorang saja, atau
kawinilah budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu, yakni
menikahi selain anak yatim yang mengakibatkan ketidakadilan, dan
mencukupkan satu orang istri adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
6
aniaya, yakni lebih mengantarkan kamu kepada keadilan atau kepada tidak
memiliki banyak anak yang harus kamu tanggung biaya hidup mereka.7
Pembatasan kepada empat orang adalah suatu keadilan dan moderat
serta melindungi para istri dari kezaliman yang dapat terjadi kepada akibat
melebihinya jumlah istri dari empat orang. Ini berbeda dengan adat orang
Arab pada masa jahiliyah serta bangsa-bangsa di masa yang lampau yang
tidak membatasi jumlah istri, serta pengacuhan terhadap sebagian mereka.
Pembolehan ini menjelaskan perkara pengecualian yang jarang. Oleh sebab
itu, pembolehan ini tidak berarti bahwa setiap orang muslim harus kawin
lebih dari satu orang perempuan.8
Selanjutnya pada Surat An-Nisa ayat 129 Allah berfirman :
ﻭ ِﺀﺎﺴّﹺﻨﻟﺍ ﻦﻴﺑ ﺍﻮﹸﻟﺪﻌﺗ ﹾﻥﹶﺃ ﺍﻮﻌﻴﻄﺘﺴﺗ ﻦﹶﻟﻭ
ّﹶﻞﹸﻛ ﺍﻮﹸﻠﻴﻤﺗ ﻼﹶﻓ ﻢﺘﺻﺮﺣ ﻮﹶﻟ
ﺍﺭﻮﹸﻔﹶﻏ ﹶﻥﺎﹶﻛ ﻪّﹶﻠﻟﺍ ّﹶﻥﹺﺈﹶﻓ ﺍﻮﹸﻘّﺘﺗﻭ ﺍﻮﺤﻠﺼﺗ ﹾﻥﹺﺇﻭ ﺔﹶﻘّﹶﻠﻌﻤﹾﻟﺎﹶﻛ ﺎﻫﻭﺭﹶﺬﺘﹶﻓ ﹺﻞﻴﻤﹾﻟﺍ
ﺎﻤﻴﺣﺭ
)
ﺎﺴﻨﻟﺍ
ﺀ
۱۲۹
(
Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. An-Nisa: 129)
7
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol 2, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 338.
8
Ayat ini menegaskan bahwa para suami sekali-kali tidak akan dapat
berlaku adil, yakni tidak dapat mewujudkan dalam hati kamu secara terus
menerus keadilan dalam hal cinta di antara istri-istri kamu walaupun kamu
sangat ingin berbuat demikian, karena cinta di antara istri-istri kamu
walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena cinta di luar
kemampuan manusia untuk mengaturnya.9
Dalam penafsiran Asghar Ali Engineer, yang dikutip oleh Amiur
betapa al-Qur’an begitu berat untuk menerima poligami, tetapi hal itu tidak
bias diterima dalam situasi yang ada maka al-Qur’an membolehkan laki-laki
kawin hingga empat orang istri, dengan syarat harus adil.10
Landasan hukum tentang kebolehan poligami selain terdapat di dalam
Al-Qur’an, juga terdapat dalam hadis Nabi yang salah satunya mengenai
batasan jumlah isteri yaitu hanya boleh empat orang saja.
ﻲﻔﻘﺜﻟﺍ ﺔﻤﻠﺳ ﻦﺑ ﻥ ﻼﻴﻏ ﻥﺍ ﺎﻤﻬﻨﻋ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﻪﻴﺑﺍ ﻦﻋ ﱂ ﺎﺳ ﻦﻋ
ﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﱯﻨﻟﺍ ﻪﻟ ﻝ ﺎﻘﻓ ﺓ ﻮﺴﻧ ﺮﺸﻋ ﻩﺪﻨﻋ ﻭ ﻢﻠﺳﺍ
ﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴ
ﻦﻫ ﺮﺋ ﺎﺳ ﻭ ﻕﺭ ﺎﻓ ﻭ ﺎﻌﺑ ﺭﺍ ﻚﺴﻣ
Artinya : “Dari Salim ayahnya r.a. bahwasanya Ghailan binti Salamah masuk Islam sedang ia mempunyai sepuluh orang isteri dan mereka pun masuk Islam bersamanya maka Nabi SAW. menyuruh agar ia memilih empat orang dari isteri-isterinya.” (H.R. Ahmad dan Turmudzi)
9
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, h. 606.
10
Hadits diatas pada dasarnya hanya menjelaskan tentang batas
kebolehan beristeri lebih dari seorang dan larangan berpoligami antara
seorang wanita dengan bibinya dari jalur ayah dan seorang bibinya dari jalur
ibu. Akan tetapi jika kita telaah lebih jauh bahwa hadits diatas merupakan
penjelasan lebih lanjut dari ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang
poligami.11
c. Syarat-Syarat Poligami
Syariat Islam memperbolehkan poligami dengan batasan sampai
empat orang dan mewajibkan berlaku adil kepada mereka, baik urusan
pangan, pakaian, tempat tinggal, serta lainnya yang bersifat kebendaan
tanpa membedakan istri yang kaya dengan yang miskin, istri yang berasal
dari keturunan tinggi dengan yang rendah dari golongan bawah.12
Sebagaimana dalam Firman Allah Swt Q.S. An-Nisa: 3
ِﺀﺎﺴّﹺﻨﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﹸﻜﹶﻟ ﺏﺎﹶﻃ ﺎﻣ ﺍﻮﺤﻜﻧﺎﹶﻓ ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍ ﻲﻓ ﺍﻮﹸﻄِﺴﹾﻘﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺇﻭ
ﻢﹸﻜﻧﺎﻤﻳﹶﺃ ﺖﹶﻜﹶﻠﻣ ﺎﻣ ﻭﹶﺃ ﹰﺓﺪﺣﺍﻮﹶﻓ ﺍﻮﹸﻟﺪﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔﺧ ﹾﻥﹺﺈﹶﻓ ﻉﺎﺑﺭﻭ ﹶﺙﻼﹸﺛﻭ ﻰﻨﹾﺜﻣ
ﺍﻮﹸﻟﻮﻌﺗ ﻻﹶﺃ ﻰﻧﺩﹶﺃ ﻚﻟﹶﺫ
)
ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ
۳
(
Artinya :Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.
11
Arud Badrudin, “Pembatalan Perkawinan Karena Poligami Liar (Analisis Yurisprudensi Perkara Nomor 461/Pdt.G/1995/PA.Smd)”, (Skripsi S1Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h. 29.
12
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S. An-Nisa : 3)
Ayat diatas menggunakan kata (اﻮﻄﺴﻘﺗ) tuqshitu dan (اﻮﻟ ﺪﻌﺗ) ta’dilu
yang keduanya diterjemahkan adil. Ada ulama yang mempersamakan
maknanya dan ada juga yang membedakannya dengan berkata bahwa
tuqshitu adalah berlaku adil antara dua oang atau lebih, keadilan yang
menjadikan keduanya senang. Sedang adil adalah berlaku baik terhadap
orang lain maupun diri sendiri, tapi keadilan itu bisa saja tidak
menyenangkan salah satu pihak.13
Ayat tersebut merupakan ayat yang memberikan pilihan kepada kaum
laki-laki untuk menikahi yatim dengan rasa takut tidak berlaku adil karena
keyatimannya atau menikahi perempuan yang disenangi hingga jumlahnya
empat istri. Akan tetapi, jika dihantui oleh rasa takut tidak berlaku adil,
lebih baik menikah dengan seorang perempuan atau hamba sahaya, karena
hal itu menjauhkan diri dari berbuat aniaya.14
Berbeda dengan pandangan fikih, poligami yang dalam kitab;kitab
fikih disebut dengan ta’addud al-jauzat, sebenarnya tidak lagi menjadi
persoalan. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, bahwa ulama sepakat
tentang kebolehan poligami, kendatipun dengan persyaratan yang
bermacam-macam. As-Sarakhsi menyatakan, kebolehan poligami dan
mensyaratkan pelakunya harus berlaku adil. Al-Kasani menyatakan lelaki
13
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, h. 338
14
yang berpoligami wajib berlaku adil terhadap isteri-isterinya. As-Syafii juga
mensyaratkan keadilan di antara para isteri, dan menurutnya keadilan ini
hanya menyangkut urusan fisik, misalnya mengunjungi isteri di malam atau
siang hari.15
Para Ulama dan Fuqaha telah menetapkan syarat poligami, yaitu :
a) Suami harus memiliki kemampuan dan kekayaan yang cukup untuk
membiayai berbagai kebutuhan, dengan bertambahnya isteri yang dinikahi.
b) Suami harus memperlakukan semua isteri dengan adil. Setiap isteri
diperlakukan sama dalam memenuhi hak perkawinan mereka serta hak-hak
lainnya.16
Menurut syariat Islam syarat-syarat yang harus diperhatikan dan
dilaksanakan untuk melakukan poligami adalah sebagai berikut :
a) Bila seorang laki-laki yang sudah beristeri seorang, masih mampu baik
jasmani dan rohani dan dikhawatirkan akan terjadi penyelewengan terhadap
perempuan lain, disebabkan nafsunya yang kuat (hipersex), sedangkan
isterinya seorang yang tidak mampu untuk melayani suami, maka suami
boleh menambah isterinya.
b) Bila isteri mandul sedang ia tidak mau diceraikan karena kemandulannya
itu.
c) Bila seorang isteri itu sakit yang tidak dapat disembuhkan, sehingga isteri
tidak memungkinkan untuk melakukan jima’ dengan suaminya.
15
Amiur Nuruddin & Azhar Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 98.
16
d) Jikalau jumlah kaum wanita lebih banyak daripada kaum pria, seperti di
daerah yang sering terjadi konflik atau peperangan, dimana kaum pria
banyak yang meninggal.
e) Bila isteri melahirkan anak perempuan semuanya dan tidak ada anak
laki-laki.17
Berkaitan dengan masalah ini, Rasyid Ridha mengatakan, Islam
memandang poligami lebih banyak membawa madharat daripada
manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya (human nature)
mempunyai watak cemburu, iri hati, dan suka mengeluh. Watak-watak
tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup dalam
kehidupan keluarga yang poligamis.18
Jika suami khawatir berbuat zalim dan tidak mampu memenuhi semua
hak mereka, maka ia haram melakukan poligami. Bila ia hanya sanggup
memenuhi hak-hak istrinya tiga orang, maka ia haram menikahi istri untuk
yang keempatnya. Bila ia sanggup memenuhi hak hak istrinya dua orang,
maka ia haram menikahi istri untuk yang ketiganya, dan begitu seterusnya.
19
Seorang pemikir Islam kontemporer, Muhammad Shahrur sepakat
dengan adanya poligami dengan persyaratan yang senada dengan ini.
Syahrur mempersyaratkan dua hal, pertama, bahwa isteri kedua, ketiga,
17
Amir Taat Nasution, Rahasia Perkawinan dalam Islam, (Jakarta: PT Pedoman Ilmu Jaya, 1994), cet. ke-3, h. 68-69.
18
Abdul Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, h.130.
19
keempat adalah para janda yang memiliki anak yatim. Kedua, harus terdapat
rasa khawatir tidak dapat berlaku adil kepada anak yatim. Lebih lanjut
menegaskan bahwa konteks ayat poligami ini harus difahami dalam
kaitannya dengan pemahaman sosial kemasyarakatan, bukan konsep
biologis (senggama), dan berkisar pada masalah anak-anak yatim dan
berbuat baik kepadanya serta berlaku adil terhadapnya.20
Salah satu persyaratan diperbolehkannya melakukan poligami adalah
dapat berlaku adil terhadap para isteri. Secara etimologis adil berarti tidak
berat sebelah, tidak memihak, atau menyamakan antara satu dengan yang
lainnya.21 Keadilan yang menjadi patokan dibolehkannya poligami, tanpa
keadilan tersebut maka lebih baik monogami dan bertahanlah dengan
budak-budak.
Untuk mengangkat harkat martabat perempuan, Allah SWT
mewajibkan kepada semua laki-laki yang berpoligami untuk berlaku adil.
Tidak dibenarkan menzalimi istri dengan hanya cenderung pada salah satu
istri saja, hal demikian karena pada dasarnya hak perempuan sesungguhnya
adalah tidak dimadu, akan tetapi poligami adalah untuk menghindarkan
kaum laki-laki melakukan perzinaan dan melatih menjadi pemimpin yang
adil dalam kehidupan dan pengelolaan keluarga dan rumah tangganya.22
20
Yayan Sopyan, Islam Negara, h. 146.
21
Yayan Sopyan, Islam Negara, h.153.
22
B. Poligami dalam Undang-Undang di Indonesia a. Pengertian Poligami
Poligami berasal bahasa Yunani. Kata ini merupakan penggalan dari
dua kata yakni “poli” atau “polus” yang artinya banyak, dan “gamein”
atau “gamos” yang artinya kawin atau perkawinan. Jika digabungkan akan
berarti suatu perkawinan yang banyak. Ada istilah lain yang maknanya
mendekati makna poligami yaitu “poligini”. Kata ini berasal dari “poli”
atau “polus” artinya banyak, dan “gini” atau “gene” artinya istri, jadi
poligini beristri banyak.
Secara terminologi, poligami artinya banyak istri. Kata Poligami
berlaku bagi suami yang menikah dengan lebih dari seorang perempuan.
Istilah poligami digunakan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
atau KUHP, sebagaimana terdapat pada Pasal 3-5.23
Secara konsepsional, istilah poligami diartikan sebagai perkawinan
yang dilakukan oleh suami atau istri untuk mendapatkan pasangan hidup
lebih dari seorang. Oleh karena itu, poliandri merupakan salah satu jenis
dari poligami. apabila pernikahan dilakukan oleh seorang suami terhadap
perempuan lebih dari seorang, atau suami yang istrinya lebih dari seorang,
disebut dengan poligini. Karena dalam Undang-Undang Nomor1 Tahun
1974 dan KHI bahkan dalam PP Nomor 9 Tahun 1975 tidak dikenal dengan
istilah poligini.24
23
Beni Ahmad Saebani & Syamsul Falah, Hukum Perdata Isam, h.117.
24
b. Dasar Hukum Poligami
Semangat Undang-Undang Perkawinan adalah meminimalisasi
marjinalisasi perempuan dalam ruang lingkup perkawinan. Upaya untuk
melindungi perempuan dan anak-anak mereka secara hukum sudah nyata,
namun walaupun demikian, ada beberapa kelemahan-kelemahan yang perlu
diperbaiki.
Layaknya sebuah Undang-Undang, Undang-Undang Perkawinan di
Indonesia berdasarkan atas asas monogami, namun tetap dibuka
kemungkinan untuk poligami dengan alasan dan syarat tertentu. Klausul
kebolehan poligami di dalam Undang-Undang Perkawinan sebenarnya
hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya mencantumkan
alasan-alasan yang membolehkan poligami.25
Sebelumnya, poligami juga diatur dalam Burgelijk Wetboek (BW).
Dalam Pasal 27 BW disebutkan bahwa, “ Dalam waktu yang sama seorang
laki-laki hanya dibolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai
istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki-laki sebagai suaminya”.
Prinsip monogami ini dikuatkan dengan sanksi KUHAP yang menyatakan
bahwa perkawinan (setelah satu kali) menghalangi sahnya perkawinan
berikutnya.26
25
Amiur Nuruddin & Azhar Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 161.
26
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan
dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil, tujuan dibuatnya Peraturan
Pemerintah ini adalah dinyatakan dalam konsideran pertimbangan poin b
yakni Pegawai Negeri Sipil adalah unsur aparatur negara, abdinegara dan
abdi masyarakat yang harus menjadi teladan yang baikbagi masyarakat
dalam tingkah laku, tindakan dan ketaatan kepadaperaturan
perundang-undangan yang berlaku, termasuk menyelenggarakan kehidupan
berkeluarga.27
Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 berbunyi :
1. Pegawai Negeri Sipil pria yang akan beristri lebih dari seorang, wajib
memperoleh izin lebih dahulu dari Pejabat;
2. Pegawai Negeri Sipil wanita tidak diizinkan untuk menjadi istri
kedua/ketiga/keempat.
3. Permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan secara
tertulis;
4. Dalam surat permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), harus
dicantumkan alasan yang lengkap yang mendasari permintaan izin untuk
beristri lebih dari seorang.28
27
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 jo Peraturan Pemeritah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.
28
Dalam surat permintaan ijin sebagaimana dimaksud dalam ayat 3
harus diantumkan alasan yang lengkap yang mendasari permintaan ijin
untuk beristeri lebih dari seorang atau untuk menjadi isteri
kedua/ketiga/keempat. Permintaan ijin harus diajukan menurut saluran
hirarki.
Dalam menjabarkan masalah poligami, KHI lebih cenderung sebagai
“tafsir” dan “bayan” bagi Undang-Undang Perkawinana, yakni poligami
sebagai dispensasi dari monogam dengan beberapa persyaratan.
Permasalahan poligami tercantum dalam Bab IX dari pasal 55 sampai
dengan pasal 59.
c. Syarat-Syarat Poligami
Dalam PerUndang-Undangan di Indonesia, syarat poligami sangat
ketat. Izin poligami hanya dapat diberikan bila memenuhi
sekurang-kurangnya salah satu syarat alternatif dan tiga syarat kumulatif. Syarat
alternatif meliputi, yaitu (a) istri tidak dapat menjalankan kewajibannya
sebagai istri, (b) istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat
disembuhkan, atau (c) istri tidak dapat melahirkan keturunan. Syarat
kumulatif, yaitu syarat kumulatif, (a) ada persetujuan tertulis dari istri-istri,
(b) adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri
dan anak-anak mereka, dan (c) ada jaminan bahwa suami akan berlaku adil
terhadap istri dan anak-anaknya.29
29
Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 memberikan
persyaratan terhadap seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang
sebagai berikut :
1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan Agama
sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : (a) adanya persetujuan dari
isteri/isteri-isteri (b) adanya kepastian bahawa suami mampu menjamin
keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka (c) adanya
jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak
mereka.
2) Persetujuan yang dimaksud dalam padaayat (1) huruf a pasal ini tidak
diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak
mungkin dimintai persetujuan dan tidak dapat menjadi pihak dalam
perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari isterinya selama
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu
mendapat penilaian dari hakim Pengadilan Agama.30
Keadilan yang dimaksud oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan, terutama pada Pasal 5 adalah keadilan dari segi materi.
Keadilan materi dalam bentuk pembagian nafkah yang dapat diukur secara
matematis, sedangkan keadilan dalam bentuk batiniah sulit untuk diukur
karena menyangkut masalah perasaan atau hati, yang mengetahuinya hanya
suami yang berpoligami dan istri yang merasakannya karena dipoligami.
30
d. Tata Cara Poligami
Mengenai prosedur atau tata cara poligami yang resmi diatur oleh
Islam memang tidak ada ketentuan secara pasti, namun di Indonesia, dengan
Kompilasi Hukum Islamnya, telah mengatur hal tersebut.31 Ada dua hal
yang harus diberikan penegasan yakni pertama, poligami hanya bisa
dilakukan apabila memperoleh izin dari pengadilan. Kedua, pengadilan
hanya akan mengeluarkan izin apabila poligami itu dikehendaki oleh
pihak-pihak yang bersangkutan. Dan yang disebut pihak-pihak-pihak-pihak yang bersangkutan
adalah isteri pertama, isteri kedua, dan atau seterusnya, dan suami.32
Pelaksanaan tidak boleh dilakukan secara liar, pengadilanlah satu-satunya
lembaga yang memberikan dispensasi poligami. Oleh sebab itu Pasal 3 ayat
2 Undang-Undang Perkawinan menyatakan:
“Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan”
Dengan ayat ini jelas sekali Undang-Undang Perkawinan telah
melibatkan Pengadilan Agama sebagai institusi yang cukup penting untuk
mengabsahkan kebolehan poligami bagi seorang. Di dalam penjelasan pasal
3 ayat 2 dinyatakan : Pengadilan dalam memberikan putusan selain
memeriksa apakah syarat tersebut pasal 4 dan 5 telah dipenuhi harus
31
H.M.A. Tihami & Sohari Sahrani, Fiqih Munakahat, h.369.
32
mengingat pula apakah ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dari calon
suami mengizinkan adanya poligami.33
Berkenaan dengan pasal 4 di atas setidaknya menunjukkan ada 3
alasan yang dijadikan dasar mengajukan permohonan poligami
a. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri;
b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c. Tidak dapat melahirkan keturunan.
Tampaknya alasan-alasan ini bernuansa fisik kecuali alasan yang
ketiga. Terkesan seorang suami tidak memperoleh kepuasaan yang
maksimal dari istrinya, maka alternatifnya poligami. seperti yang termuat
dalam pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan, syarat-syarat yang di
penuhi bagi seorang suami yang ingin melakukan poligami ialah :
1. Adanya persetujuan istri;
2. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup
istri-istri dan anak-anak mereka;
3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan
anak-anak mereka.
Menyangkut prosedur melaksanakan poligami aturannya dapat dilihat
di dalam PP No 9 Tahun 1975. Pada pasal 40 dinyatakan apabila seorang
suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang maka ia wajib
mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pengadilan.34
33
Sedangkan tugas Pengadilan diatur dalam Pasal 41 PP No 9 Tahun
1975 sebagai berikut :
Pengadilan kemudian memeriksa mengenai :
a. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkn seorang suami kawin lagi;
b. Ada atau tidaknya persetujuan dari istri, baik persetujuan lisan maupun
tertulis, apabila persetujuan merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu
harus diucapkan di depan sidang Pengadilan.
c. Ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan
hidup istri-istri dan anak-anak, dengan memperlihatkan :
1. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang di tanda tangani
oleh bendahara tempat bekerja;
2. Surat keterangan pajak penghasilan;
3. Surat keterangan lain yang dapat di terima oleh Pengadilan.
d. Ada atau tidak adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap
istri-istri dan anak-anak mereka dengan persyaratan atau janji dari suami
yang di buat dalam bentuk yang di tetapkan untuk itu.35
Berikutnya dijelaskan pada Pasal 42 keharusan Pengadilan memanggil
para istri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Di dalam pasal ini
juga dijelaskan bahwa Pengadilan diberi waktu 30 hari untuk memeriksa
permohonan poligami setalah diajukan oleh suami lengkap dengan
persyaratan.
34
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 40.
35
Kemudian, dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan kepada
suaminya untuk beristri lebih dari seorang, berdasarkan salah satu alasan
tersebut diatas, maka pengadilan Agama dapat menetapkan pemberian izin
setelah memeriksa dan mendengar istri yang bersangkutan di persidangan
Pengadilan Agama dan terhadap penetapan ini, istri atau suami dapat
mengajukan banding atau kasasi.36 Apabila keputusan hakim yang
mempunyai kekuatan hukum tetap, izin Pengadilan tidak diperoleh maka
menurut Pasal 44 PP Nomor 9 Tahun 1975, Pegawai Pencatat dilarang
untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristri
lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan.37
Ketentuan hukum yang mengatur tentang pelaksanaan poligami
mengikat semua pihak, pihak yang akan melangsungkan poligami dan
pegawai pencatat perkawinan. Apabila mereka melakukan pelanggaran
terhadap ketentuan pasal-pasal di atas dikenakan sanksi pidana.
KHI memuat masalah poligami ini pada bagian IX dengan judul,
Beristri Lebih dari Satu Orang, yang di ungkap dari pasal 55 sampai 59.
Pada pasal 55 dinyatakan :
1. Beristri lebih dari seorang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai
empat orang istri;
2. Syarat utama beristri lebih dari satu orang, suami harus mampu berlaku
adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya;
36
H.M.A. Tihami & Sohari Sahrani, Fiqih Munakahat, h.370.
37
3. Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin di
penuhi, suami dilarang beristri lebih dari satu orang.
Lebih lanjut dari KHI pasal 56 dijelaskan
1. Suami yang hendak beristri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari
Pengadilan Agama;
2. Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat 1 dilakukan menurut
tata cara sebagaimana diatur dalam bab VIII PP No. 9 Tahun 1975;
3. Perkawinan yang dilakukan istri kedua, ketiga, keempat tanpa izin dari
Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum tetap.38
Dari pasal-pasal di atas, KHI sepertinya tidak berbeda dengan
Undang-Undang Perkawinan bahkan dengan semangat Fiqih. Kendatipun
pada dasarnya UUP dan KHI menganut asas monogami, namun sebenarnya
peluang yang diberikan untuk poligami juga terbuka lebar. Dikatakan
demikian, kontribusi UUP dan KHI hanya sebatas tata cara prosedur
poligami.39
Pada pasal 57 dijelaskan :
Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada suami yang akan
beristri lebih dari seorang apabila :
1. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri;
2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
38
Kompilasi Hukum Islam, Pasal 55-56.
39
Tampak pada pasal 57 KHI diatas, Pengadilan Agama hanya
memberikan izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila
terdapat alasan-alasan sebagaimana disebutkan dalam pasal 4
Undang-Undang Perkawinan. Jadi pada dasarnya Pengadilan hanya memberi izin
kepada seorang suami untuk beristri lebih dari satu apabila dikehendaki oleh
pihak-pihak yang bersangkutan.
Dalam perspektif metedologis, pengaturan ketentuan hukum mengenai
poligami yang boleh dilakukan atas kehendak yang bersangkutan melalui
izin Pengadilan Agama, setelah dibuktikan izin istri atau istri-istri,
dimaksudkan untuk merealisasikan kemaslahatan. Yaitu terwujudnya
cita-cita dan tujuan perkawinan rumah tangga, yang kekal dan abadi diridhai
Allah SWT berdasarkan cinta dan kasih sayang. Karena itu segala persoalan
yang mungkin akan menjadi penghalang bagi terwujudnya tujuan
perkawinan tersebut harus dihilangkan atau setidaknya dikurangi. Ini sejalan
dengan kaidah :
ﺢﻠﺼﳌﺍ ﺐﻠﺟ ﻰﻠﻋ ﻡﺪﻘﻣ ﺪﺳﺎﻔﳌﺍﺀﺭﺩ
“Menghindari madharat (kerusakan) harus didahulukan daripada
mengambil manfaat (kemaslahatan).”40
C. Mandul
40
a. Pengertian Mandul
Menurut Ensiklopedia Indonesia, pengertian Sterilitet (kemandulan)
adalah terdapat baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Biasanya
disebabkan pada kelainan alat kelamin. Ada kelainan bawaan dan ada
kelainan yang timbul di kemudian hari.41
Infertilitas (mandul) adalah kegagalan pasangan untuk hamil setelah
satu tahun memiliki hubungan seksual yang teratur tanpa kontrasepsi.
Infertilitas bisa primer atau sekunder. Infertilitas primer adalah istilah yang
menggambarkan pasangan yang belum pernah hamil, sedangkan infertilitas
sekunder mengacu pada pasangan yang telah mencapai kehamilan di masa
lalu tapi tidak mampu mendapatkannya lagi. Ada beberapa perbedaan dalam
evaluasi dan pengobatan, karena secara teoritis, pasangan yang sebelumnya
mencapai kehamilan memiliki semua komponen dasar dari sistem
reproduksi mereka yang utuh. Hal ini menyiratkan kemungkinan jauh lebih
besar bahwa salah satu atau kedua pasangan baru mengembangkan masalah
yang menyebabkan infertilitas mereka saat ini.42
Mandul terbagi dua yaitu mandul primer dan mandul sekunder.
Mandul primer yaitu istri belum hamil walaupun bersenggama tanpa usaha
kontrasepsi dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama dua belas
41
Tim Penyusun, Ensiklopedia Indonesia, h. 1279.
42
(12) bulan. Mandul sekunder yaitu istri pernah hamil, namun kemudian
tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama tanpa usaha kontrasepsi
dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama dua belas (12)
bulan.43
Menurut ilmu kedokteran, presentase kemungkinan terjadinya
kehamilan adalah 3,27% hamil dalam satu bulan pertama, 57,0% dalam tiga
bulan, 72,1% dalam 6 bulan, 85,4% dalam 12 bulan, dan 93,4% dalam
waktu 24 bulan. Dan waktu median yang diperlukan untuk menghasilkan
kehamilan ialah 2.3 bulan sampai 2,8 bulan. Ini berarti, semakin lama
pasangan itu kawin tanpa kehamilan, makin turun kejadian kehamilannya.
Oleh karena itu, kebanyakan dokter baru menganggap ada masalah
kemandulan jika pasangan yang ingin punya anak itu dihadapkan kepada
kemungkinan kehamilan lebih dari 12 bulan.44
b. Faktor-Faktor Terjadinya Kemandulan
Faktor terjadinya kemandulan pada wanita adalah :
a. Penyakit kista
Kista adalah penyakit tumor jinak yang terbungkus oleh selaput
semacam jaringan di organ reproduksi perempuan yang paling sering
ditemui. Bentuknya kistik, berupa cairan kental, dan ada pula yang yang
43
http://raramidy.blogspot.com/2011/11/mandul-dalam-pandangan-islam.html. diakses pada tanggal 7 April 2015 pukul 10.59.
44
berbentuk anggur. Kista juga ada yang berisi udara, cairan, nanah, ataupun
bahan-bahan lainnya.45
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi menjadi dua, yaitu
non-neoplastik dan neoplastik. Kista non-neoplastik sifatnya jinak dan
biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista
neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada
ukuran dan sifatnya.46
Pada penderita kista yang sudah parah akan menimbulkan
kemandulan. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan menalurkan sel
telur dengan baik. Selain itu, ada beberapa masalah lain yang menyebabkan
wanita sulit mendapatkan keturunan seperti adanya kegagalan yang
disebabkan karena pengangkatan kista yang dilakukan berulang-ulang.
Operasi berulang-ulang akan menyebabkan ovarium rusak dan adanya
infeksi pada folikel yang tidak matang.47
b. Penyakit Miom (mioma uteri)
Miom adalah pertumbuhan di dalam atau di sekitar uterus (rahim)
yang tidak bersifat kanker atau ganas. Miom dikenal juga dengan nama
nama mioma, uteri fibroid, atau leiomioma. Miom berasal dari sel otot
45
http://penyakitkista.org diakses pada tanggal 11 September 2015 pukul 09.52.
46
http://penyakitkista.org. 47
rahim yang mulai tumbuh secara abnormal. Pertumbuhan inilah yag akhinya
membentuk tumor jinak.48
Pengaruh miom pada kehamilan dan persalinan, mengakibatkan
hal-hal sebagai berikut :
1. Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada mioma
uteri submukosum;
2. Kemungkinan abortus bertambah;
3. Kelainanan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar
dan letak subserus;
4. Menghalang-halangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang letaknya
di serviks;
5. Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di
dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma;
6. Mempersulit lepasnya placenta, terutama pada mioma submukus dan
intramural.49
Sekitar 75% wanita pernah memiliki miom, terkadng kondisi ini tidak
diketahui oleh sebagian yang mengalami karena tidak muncul gejala. Gejala
yang muncul akibat miom adalah :
1. Masa menstruasi menyakitkan atau berlebih;
2. Rasa sakit atau nyeri pada bagian perut atau punggung bawah;
48
http://www.alodokter.com/miom. di akses pada tanggal 13 September 2015 pukul 18.17.
49
3. Keguguran, mengalami kemandulan, atau bermasalah pada masa
kehamilan.50
Faktor terjadinya kemandulan pada pria adalah :
a. Adanya efek pada spermatogenesis yang menyebabkan kelainan. Kelainan
bentuk sperma atau jumlah sperma terlalu sedikit sehingga tidak dapat
menembus ovum
b. Motilitas sperma yang mungkin terganggu akibat infeksi dan pembentukan
jaringan parut di testis, epididimis, vas deferen, atau uretra
c. Infeksi sistematik misalnya parotitis, dapat menyebabkan pembengkakan
testis, dan kerusakan tubulus seminiferus
d. Sumbatan pembuluh darah yang memperdarahi testis dapat menyebabkan
hipoksia dan kegagalan sperma untuk tumbuh dan bertahan hidup
e. Adanya otoantibodi yang dibentuk terhadap sperma, ini akan mengurangi
jumlah dan kualitas sperma.51
50
http://www.alodokter.com/miom.
51
41
A. Sejarah Pengadilan Agama Jakarta Selatan
Pengadilan Agama Jakarta Selatan sebagai salah satu instansi yang
melaksanakan tugasnya, memiliki dasar hukum dan landasan kerja sebagai
berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 24;
2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, tentang Kekuasaan
Kehakiman;
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974;
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana diubah dengan
Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, tentang perubahan kedua atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989, tentang Peradilan Agama;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975; Peraturan Pemerintah
Nomor 9 Tahun 1975;
6. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 69 Tahun 1963, tentang
Pembentukan Pengadilan Agama Jakarta Selatan;
7. Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan Tata Kerja dan
Wewenang Pengadilan Agama.1
Pengadilan Agama Jakarta Selatan dibentuk berdasarkan surat
keputusan Menteri Agama RI Nomor 69 Tahun 1963. Pada mulanya
1
Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta hanya terdapat tiga kantor yang
dinamakan Kantor Cabang, yaitu:
1. Kantor Cabang Pengadilan Agama Jakarta Utara;
2. Kantor Pengadilan Agama Jakarta Tengah;
3. Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya sebagai induk.2
Semua Pengadilan Agama tersebut di atas termasuk Wilayah Hukum
Cabang Mahkamah Islam Tinggi Surakarta. Kemudian setelah berdirinya
Cabang Mahkamah Islam TInggi Bandung berdasarkan surat keputusan
Menteri Agama Nomor 71 Tahun 1976 tanggal 16 Desember 1976, semua
Pengadilan Agama di Propinsi Jawa Barat termasuk Pengadilan Agama
yang berada di Daerah Ibu Kota Jakarta Raya berada dalam Wilayah Hukum
Mahkamah Islam Tinggi Cabang Bandung. Dalam perkembangan
selanjutnya istilah Mahkamah Islam Tinggi menjadi Pengadilan Tinggi
Agama (PTA).3
Berdasarkan surat keputusan Menteri Agama RI Nomor 61 Tahun
1985, Pengadilan Tinggi Agama Surakata dipindah ke Jakarta, akan tetapi
realisasinya baru terlaksana pada tanggal 30 Oktober 1987 dan secara
otomatis Wilayah Hukum Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta adalah
menjadi Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Agama Jakarta. Terbentuknya
kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan merupakan jawaban dari
2
www.pa-jakartaselatan.go.id.
3
perkembangan masyarakat Jakarta, yang ketika itu pada tahun 1967
merupakan cabang di Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya yang
berkantor di jalan Otista Raya Jakarta Timur.4
Sebutan pada waktu itu adalah cabang Pengadilan Agama Jakarta
Selatan. Kantor cabang Pengadilan Agama Jakarta Selatan dibentuk sesuai
dengan banyaknya jumlah penduduk dan bertambahnya pemahaman
penduduk serta tuntutan masyarakat Jakarta Selatan yang wilayahnya cukup
luas. Keadaan kantor ketika itu masih dalam keadaan darurat yaitu
menempati gedung bekas kantor Kecamatan Pasar Minggu di suatu gang
kecil yang sampai saat ini dikenal dengan gang Pengadilan Agama Pasar
Minggu Jakarta Selatan, pimpinan kantor dipegang oleh H. Polana.5
Penanganan kasus-kasus hanya berkisar perceraian, kalaupun ada
tentang warisan, masuk kepada komparisi. Itu pun dimulai pada tahun 1969,
kerjasama dengan Pengadilan Negeri yang ketika itu dipimpin oleh Bismar
Siregar, S.H. Sebelum tahun 1969, pernah pu