• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENAKSIRAN NILAI EKONOMI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU DENGAN PENDEKATAN : CONTINGENT VALUATION METHOD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENAKSIRAN NILAI EKONOMI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU DENGAN PENDEKATAN : CONTINGENT VALUATION METHOD"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

THE ESTIMATION OF ECONOMIC VALUE OF LEMBAH HIJAU TOUR GARDEN USED APPROACH: CONTINGENT VALUATION METHOD

By Selvi Rahayu

The aim of this research is to analyze the variable of age, education, income, and visitors satisfaction influence towards willingness to pay/WTP by respondent's visitors of Lembah Hijau Park.

It also aims to analyze the economic value and the benefit loss. The data sources which I used are primary data and secondary data. This research used Contingent Valuation Method (CVM) is a natural resources valuation method by asking the customers directly about the benefits about natural resources that they feel. This research also used the analysis of multiple linear regression with the method of Ordinary Least Square (OLS).

The estimation result shows that the factor of income and visitors satisfaction is positively influence and significant towards WTP. Whereas age and education have a positive relation, however they are not significant towards WTP. The Visitors' willingness in paying for additional entrance ticket is RP.534. The economic value of Lembah Hijau Park is Rp. 5.947.213.210,5 and theBenefit Lossis Rp. 240.240.000.

(2)

ABSTRAK

PENAKSIRAN NILAI EKONOMI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU DENGAN PENDEKATAN :CONTINGENT VALUATION METHOD

Oleh Selvi Rahayu

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah variabel Umur, Pendidikan, Pendapatan dan Kepuasan Pengunjung terhadap kesediaan membayar (willingness to pay/WTP) oleh responden pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau.

Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis nilai ekonomi danbenefit loss. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakan pendekatanContingent Valuation Method(CVM) yaitu metode valuasi sumber daya alam dan lingkungan dengan cara menanyakan secara langsung kepada konsumen tentang nilai manfaat sumber daya alam dan

lingkungan yang mereka rasakan. Penelitian ini juga menggunakan analisis regresi linier berganda dengan metodeOrdinary Least Square(OLS).

Hasil estimasi menunjukkan bahwa faktor pendapatan dan kepuasan pengunjung berpengaruh positif dan signifikan terhadap WTP. Sedangkan umur dan

pendidikan memiliki hubungan positif namun tidak signifikan terhadap WTP. Rata-rata kesediaan membayar (WTP) pengunjung pada penambahan tiket masuk sebesar Rp. 534. Nilai ekonomi Taman Wisata Lembah Hijau sebesar Rp.

5.947.213.210,5 danBenefit Losssebesar Rp. 240.240.000.

(3)

PENAKSIRAN NILAI EKONOMI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU DENGAN PENDEKATAN :CONTINGENT VALUATION METHOD

Oleh

SELVI RAHAYU

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI

Pada

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

PENAKSIRAN NILAI EKONOMI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU DENGAN PENDEKATAN :CONTINGENT VALUATION METHOD

(Skripsi )

Oleh Selvi Rahayu

EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(6)

DAFTAR ISI

Gambar Halaman

COVER ...i

DAFTAR ISI...ii

DAFTAR GAMBAR ...v

DAFTAR TABEL...vii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...9

C. Tujuan Penelitian...10

D. Manfaat Penelitian...10

E. Kerangka Pemikiran ...10

F. Hipotesis ...12

G. Sistematika Penulisan...13

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis ...14

1. Pariwisata...14

2. Objek Wisata ...16

3. Ekonomi Lingkungan ...17

4. Manfaat Wisata Alam ...18

5. Valuasi Ekonomi ...19

6. Surplus Konsumen...26

(7)

B. Tinjauan Empiris ...29

1. Penelitian Terdahulu...29

III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data ...32

B. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ...33

C. Teknik Pengambilan Data ...37

D. Definisi Operasional...37

E. Uji Validitas Kuisioner ...41

F. Skala Pengukuran ...42

1. Pengukuran Skala Ordinal ...42

2. Pengukuran Skala Ordinal Menjadi Skala Interval ...43

G. Metode Analisis ...44

1. Analisis Regresi Linier Berganda...44

2. Pengujian Asumsi Klasik ...45

a. Uji Heteroskedastisitas...45

b. Uji Normalitas ...45

c. Uji Multikolinieritas...46

H. Pengujian Hipotesis...46

1. Uji t statistik...46

2. Uji F-statistik ...47

I. Penaksiran Nilai Ekonomi ...48

J. Benefit Loss...51

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Taman Wisata Lembah Hijau ...53

B. Deskriptif Objek Penelitian ...54

C. Deskriptif Pelaksanaan Survei...55

D. Deskriptif Karakteristik Responden ...55

1. Karakteristik Responden Pengunjung ...55

2. Karakteristik Responden Kepala Keluarga ...59

(8)

F. Hasil Perhitungan...62

1. Perhitungan Regresi...62

2. Uji Asumsi Klasik ...65

1. Uji Heteroskedastisitas...65

2. Uji Normalitas...66

3. Uji Multikolinieritas...67

3. Pengujian Hipotesis...67

1. Uji t statistik ...67

2. Uji F-Statistik...69

G. Pembahasan Hasil Penelitian ...70

1. Pengaruh Umur Pengunjung TerhadapWillingness to Pay...70

2. Pengaruh Pendidikan Pengunjung TerhadapWillingness to Pay...70

3. Pengaruh Pendapatan Pengunjung TerhadapWillingness to Pay...71

4. Pengaruh Kepuasan Pengunjung TerhadapWillingness to Pay...71

H. Penaksiran Nilai Ekonomi Taman Wisata Lembah Hijau ...72

I. Benefit Loss...80

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ...83

B. Saran ...84

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Jumlah Kunjungan Wisatawan PerKabupaten/Kota se-Provinsi Lampung ... 5

2. Jumlah Pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau ... 7

3. Jenis-jenis Dampak Negatif Pada Objek Wisata ... 8

4. Tinjauan Empiris ... 29

5. Jumlah Populasi Pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau... 33

6. Jumlah Populasi KK Kelurahan Sukadanaham ... 34

7. Operasional Variabel Penelitian Untuk TEV ... 49

8. Hasil Frekuensi Umur Responden Pengunjung... 56

9. Hasil Frekuensi Pendidikan Responden Pengunjung ... 56

10. Hasil Frekuensi Pendapatan Responden Pengunjung... 57

11. Hasil Frekuensi Kepuasan Responden Pengunjung ... 58

12. Hasil Frekuensi WTP Responden Pengunjung ... 58

13. Karakteristik Responden Terhadap Taman Wisata Lembah Hijau Sebagai Tempat Rekreasi atau Sebagai Peningkatan Kualitas Hidup ... 59

14. Karakteristik Responden Terhadap Taman Wisata Lembah Hijau Sebagai Penyedia Lapangan Pekerjaan ... 60

15. Karakteristik Responden Terhadap Taman Wisata Lembah Hijau Sebagai Daerah Resapan Air ... 61

16. Hasil Uji Validitas Kuisioner Pada Pengunjung ... 61

17. Hasil Uji Validitas Kuisioner Pada Kepala Keluarga ... 62

(11)

19. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 66

20. Hasil Uji Normalitas ... 66

21. Hasil Uji Multikolinieritas ... 67

22. Hasil Uji t Statistik Dengan Tingkat Kepercayaan 90% ... 68

23. Hasil Uji F Statistik Dengan Tingkat Kepercayaan 95%... 69

(12)
(13)

MOTO

Allah meninggikan orang yang beriman di antara kamu dan

orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan

(Al mujaadalah : 11)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum

sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri

(14)

PERSEMBAHAN

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat yang diberikan, shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ku persembahkan skripsi ini sebagai tanda cinta dan terima kasihku kepada :

Bapak dan Ibu tercinta, Bapak Imam Sunyoto dan Ibu Sulistrin, terima kasih atas kasih sayang, doa, semangat, dukungan, kesabaran, ketulusan, perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa, tidak ada sesuatu apapun yang dapat membalas dan menggantikannya.

Adik-adikku Mamas dan Bimbim dan keluarga besarku yang telah memberikan dukungan selama ini.

Para Dosen yang telah berjasa memberikan bimbingan dan ilmu yang sangat berharga melalui ketulusan dan kesabaranmu.

Sahabat-sahabat tercinta yang turut memberikan saran, motivasi, bantuan dan juga doa yang dapat menambah semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

(15)
(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bandar Lampung pada Tanggal 8 Februari 1994. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Imam Sunyoto dan Ibu Sulistrin.

Penulis memulai pendidikan formal di TK Ismaria Raja Basa, Bandar Lampung dan diselesaikan pada Tahun 1999. Kemudian, penulis melanjutkan ke Sekolah Dasar di SDN 1 Raja Basa Raya, Bandar Lampung dan diselesaikan pada Tahun 2006. Kemudian, penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Al-Kautsar Bandar Lampung yang diselesaikan pada Tahun 2009 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Kautsar Bandar Lampung yang diselesaikan pada Tahun 2012.

Pada Tahun 2012, penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi

(17)

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji dan syukur penulis

ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “PENAKSIRAN NILAI

EKONOMI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU DENGAN PENDEKATAN : CONTINGENT VALUATION METHOD”, sebagai salah satu syarat untuk

mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan, motivasi, dan bantuan dalam proses penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hari sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan serta terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. Hi. Satria Bangsawan, S.E, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

2. Bapak Dr. Nairobi, S.E.,M.si. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

(18)

4. Ibu Zulfa Emalia, S.E., M.Sc selaku Pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, dan saran dalam proses pengusunan skripsi ini hingga akhir kepada penulis.

5. Ibu Emi Maimunah, S.E.,M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan saran yang sangat bermanfaat bagi penulis.

6. Ibu Nurbetty Herlina Sitorus, S.E.,M.Si. selaku dosen Pembimbing Akademik.

7. Bapak Imam Awaludin,S.E.,M.E serta seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu dan pelajaran yang sangat bermanfaat selama masa perkuliahan.

8. Kedua orang tuaku tercinta Bapak dan Ibu. Terima kasih atas segalanya yang telah diberikan kepadaku, serta adik kembarku mamas dan bimbim yang selalu menemani dan membantuku di rumah.

9. Sahabat-sahabat seperjuangan Deffa Trisetia, Firdha Dienyah, Meri Heryati dan Rhenica Selvia, susah, sedih dan senang kita lewati sama-sama, terima kasih atas motivasi, saran, bantuan, semangat, dan kebaikan lainnya yang telah diberikan selama ini. Bersyukur punya kalian.

10. Sahabat-sahabat SMA terbaikku Echa, Echi, Lala, Syifa, Giras, Alfath dan Indah yang selalu memberikan semangat, dukungan, doa dan semua kebaikan yang kalian berikan.

11. Teman-temanku Ayu Nadia, Siska Meilanda dan Lia Febria yang senantiasa membantuku dalam penelitian.

(19)

Puspa, Deriserta seluruh teman EP’12 yang tidak dapat disebutkan satu persatu karena keterbatasan yang ada.

13. Sahabat-sahabat lamaku dari SD hingga sekarang Nadia, Arum, Martha, Icha, Dwi, Maya, Andri, Eko, Adi, Edo, Fai, Gilang, dan Agung yang selalu

memberikan keceriaan.

14. Kakak tingkat EP 2010 dan EP 2011 Bang Pani, Mba Ajeng, Mba Eci, Mba Dewi, Mba Cela, Mba Putri, Kak Ruhan, Kak Panji, Kak Yoga, Kak ikram, Mba Oci serta lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

15. Om wayan dan Tante Ani yang telah membantu dan mengarahkanku dalam perkuliahan.

16. Kepada team surveyor Bank Indonesia, Pak Eko,Mba Ima, Mba Melan, Mba Viona, Mba Ayuni, Mba Gita, Dian dan Meri.

17. Terimakasih kepada Theo Prayoga, S.E yang telah memberikan semangat, dukungan, bantuan, motivasi serta doa untukku.

18. Seluruh staf administrasi Ibu Hudayah, Mas Feri, Pak Kasim dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila yang selama ini sangat membantu kelancaran skripsi ini.

19. Almamater tercinta Universitas Lampung.

(20)

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan akan tetapi penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.Amin Yaa Robbal Alamin.

Bandar Lampung, Februari 2016

Penulis,

(21)
(22)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Contingent Valuation Method(CVM) merupakan metode valuasi sumber daya alam dan lingkungan dengan cara menanyakan secara langsung kepada konsumen tentang nilai manfaat sumber daya alam dan lingkungan yang mereka rasakan. Nilai sumber daya alam dapat diperoleh dengan menanyakan kesanggupan untuk membayar (Willingness To Pay) yang dapat dinyatakan dalam bentuk uang (Nasir, 2009).

Pendekatan CVM pertama kali digunakan oleh Robert Davis dalam disertasinya pada Tahun 1963 untuk menghitung nilai taman perburuan di Miami. Pendekatan ini sendiri baru populer sekitar pertengahan 1970-an ketika Pemerintah Amerika Serikat mengadopsi pendekatan ini untuk studi-studi sumber daya alam. Metode kontingensi hingga saat ini sering digunakan di negara-negara maju dan

berkembang dalam menghitung nilai sumber daya alamnya.

Penilaian jasa lingkungan dengan model ini pernah dilakukan oleh Ragens (1991), dimana dikemukakan kesediaan membayar (WTP) dari masyarakat untuk

mengendalikan polusi untuk penanggulangan pencemaran air di wilayah pantai di Kristiansand FjordNorwegia dengan menggunakan variabel dummy dari

(23)

2

persepsi masyarakat terhadap pentingnya konservasi lingkungan (effort).Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan, jenis kelamin, penentuan nilai awal (starting point), dan persepsi mengenai pengendalian polusi (konservasi) berpengaruh secara nyata pada taraf kepercayaan 5%.

Metode kontingensi juga dilakukan oleh Fried (1995), dalam meneliti tentang kesediaan membayar (WTP) dari jasa pariwisata untuk perburuanCervus elaphus di Taman Nasional Oregon–Amerika Latin, dimana nilai rata-ratanya adalah sebesar $1,063 untuk setiap pemburu. Kesediaan membayar ini dipengaruhi oleh kesempatan melakukan tembakan yang pasti terhadap binatang buruan, tingkat pendapatan pemburu, lama waktu berburu, kesempatan berburu untuk generasi mendatang (konservasi managemen sumber daya), dan tingkat keuntungan finansial yang diperoleh oleh pemburu.

Penelitian-penelitian di atas belum mengungkapkan adanyabenefit lossdari alternatif penggunaan lain. Sebagai contoh, penetapan menjadi lokawisata menimbulkan biaya ekstra atau lebih untuk menjaga kelestarian lingkungan dan biaya sosial akibat adanya pengunjung di lokasi tersebut. Untuk mendukung upaya pelestarian atau perbaikan kualitas lingkungan, analisis CVM perlu

dilengkapi denganbenefit lossyang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata dengan melalui penentuan kesediaan membayar (WTP) pengunjung (Nasir, 2009).

Pemberian nilai ekonomi terhadap sumber daya alam dan lingkungan pun dilakukan untuk melihat sejauh mana kerusakan terjadi. Nilai ekonomi di definisikan sebagai pengukuran jumlah maksimum seseorang ingin

(24)

3

Konsep ini disebut kesediaan untuk membayar atauwillingness to pay(WTP) seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan (Irawan, 2002).

Menurut Nasir (2009), beberapa hal yang mendasari seseorang untuk menentukan willingness to payadalah umur, semakin penambahan umur seseorang maka semakin tahu akan pengetahuan tentang kelestarian alam. Pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin mengerti bagaimana pentingnya dalam menjaga sumber daya alam dan lingkungan agar tetap lestari dan seimbang, Pendapatan seseorang dapat memperkirakan seberapa besar dia mampu untuk membayar agar dapat memperoleh barang dan jasa yang di inginkan, dan kepuasan seseorang pada fasilitas sarana dan prasarana serta kebersihan dan kenyamanan pada objek wisata tersebut.

(25)

4

Salah Wahab (2003) menyatakan bahwa pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam

menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta

menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya. Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara. Dengan adanya pariwisata, suatu negara atau lebih khusus lagi pemerintah daerah tempat obyek wisata itu mendapat

pemasukan dari setiap obyek wisata yang dimiliki.

Pengembangan kegiatan pariwisata memiliki dampak positif, khususnya dalam bidang ekonomi, seperti peningkatan pendapatan masyarakat, menambah

pendapatan daerah dan pendapatan negara, serta membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Selain itu, kegiatan kepariwisataan juga memiliki dampak positif dalam bidang konservasi, yakni dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi daya alam (Kunarso, 2010).

(26)

5

wisata tersebut potensi pariwisata Lampung sebagian besar terdapat di wilayah Kota Bandar Lampung sebagai wisatacity tour (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung).

Pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang pendapatan di Provinsi Lampung. Macam-macam objek wisata menjadi salah satu faktor banyaknya kunjungan wisatawan ke Provinsi Lampung. Berikut adalah jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Lampung.

Tabel 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Per Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung Tahun 20132014 (Jiwa).

Kabupaten/Kota Kota Bandar Lampung 678.431 9.826 865.437 12.448 Kota Metro 169.606 2.678 216.359 3.776 Kab. Lampung Selatan 379.212 7.051 442.918 7.645 Kab. Lampung Timur 203.527 3.880 259.631 5.776 Kab. Lampung Tengah 57.630 655 96.344 765 Kab. Lampung Utara 78.054 863 76.743 535 Kab. Lampung Barat 271.370 6.047 346.175 8.738 Kab. Pesawaran 299.209 4.779 432.726 4.776 Kab. Pringsewu 135.685 455 173.087 646

Kab. Mesuji 31.820 0 23.271 0

Kab. Waykanan 101.763 0 129.815 0

Kab. Pesisir Barat 339.215 31.847 422.518 41.021 Kab. Tanggamus 508.818 5.043 649.078 6.542 Kab. Tulang Bawang 101.763 1.511 129.815 1.910 Kab. Tulang Bawang

Barat

36.022 955 63.271 950

Total 3.392.125 75.590 4.327.188 95.528

Sumber Data : Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam Angka, 2014

(27)

6

ditujukan pada kota Bandar Lampung. Dalam perkembangannya, Kota Bandar Lampung maupun beberapa daerah di kabupaten se-Provinsi Lampung

menawarkan daya tarik wisata unggulan baik berupa keindahan alam dan keragaman budaya yang masih terjaga keasliannya.

Daya tarik wisatawan yang dimiliki Provinsi Lampung sangat beragam jenisnya. Wisata alam, budaya, maupun buatan tersebar di wilayah Lampung, dengan keunikan lokal yang khas yang memperkuat daya saing produk wisata Lampung (RIPP Provinsi Lampung 2012-2013). Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Provinsi Lampung 2012-2013 ditetapkan tujuh Kawasan Wisata Unggulan (KWU) yang dimana di urutan pertama adalah kawasan wisata unggulan kota Bandar Lampung, salah satu kawasan wisata unggulan Kota Bandar Lampung adalah Taman Wisata Lembah Hijau (Pariwisata Lampung, 2013).

Salah satu sarana wisata yang menjadi andalan di Kota Bandar Lampung adalah Taman Wisata Lembah Hijau. Dengan komposisi dari taman rekreasi dan kebun binatang mini yang terletak di daerah perbukitan, dengan lembah dan sungai kecil. Taman Wisata Lembah Hijau adalah tempat wisata paling lengkap di Provinsi Lampung. Oleh karena itu lokasi wisata ini merupakan salah satu referensi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk bisa memanjakan para

pengunjungnya disaat berwisata.

(28)

7

Menariknya Taman Wisata Lembah Hijau ini merupakan perpaduan sebuah Taman rekreasi pegunungan dan area satwa yang menempati suatu area berbukit, lembah serta sebuah sungai kecil berarus deras yang membelah kawasan wisata ini. Berbagai fasilitas Taman Wisata Lembah Hijau mulai koleksi satwa-satwa sekaligus penangkarannya, bahkan hutan lindung dancatchmentarea sehingga kawasan ini berkonsep cagar alam, adat, budaya, dan objek wisata, yang

komposisinya 80% areal alami terbuka dan 20% bangunan. Berikut data jumlah pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau.

Tabel 2. Data Jumlah Pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau tahun 2012-2014 (orang)

2012 2013 2014

Semester 1 Semester 2 Semester 1 Semester 2 Semester 1 Semester 2 11.763 23.774 15.997 16.473 14.856 19.305 Sumber : Taman Wisata Lembah Hijau, 2015

Berdasarkan Tabel 2, pada Semester 2 Tahun 2012 angka pengunjung Lembah Hijau mencapai 23.774 orang sedangkan pada semester berikutnya jumlah

kunjungan mengalami fluktuasi, sehingga apabila kondisi Taman Wisata Lembah Hijau saat ini dibiarkan tanpa adanya suatu usaha perbaikan dikhawatirkan masyarakat tidak tertarik lagi untuk mengunjungi taman Wisata Lembah Hijau. Akan lebih mudah melakukan penataan sumber daya alam yang digunakan untuk menarik wisatawan telah ada.

(29)

8

memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar yang kurang mampu dengan memberikan bakti sosial berupa sembako yang diberikan setiap per-Triwulan. Selain adanya manfaat keberadaan Taman Wisata lembah Hijau, namun juga dapat berakibat pada rusaknya kelestarian alam. Menurut Fandeli (1995), jenis-jenis dampak negatif pada obyek wisata alam yaitu:

Tabel 3. Jenis-Jenis Dampak Negatif Pada Objek Wisata

No. Faktor Dampak Lingkungan Dampak

1 Suara/bising Menghilangkan suara-suara alam

Kualitas suara alam.

2 Sampah Dampak visual keindahan alam dan kesehatan

Kesehatan dan keindahan 3 Api (tidak terkendali) Kebakaran dan asap Kualitas ekologi 4 Memberi makan

satwa

Perubaha prilaku Ketergantungan

5 Kotoran/sanitasi Kadar asam air, polusi air tanah

Kualitas air dan udara

Sumber : Fandeli (1995)

Berdasarkan Tabel 3, menunjukkan berbagai macam jenis-jenis dampak negatif pada objek wisata, untuk itu perlu adanya dukungan dari penduduk sekitar dan pengunjung terhadap program-program konservasi. Selain memperhatikan adanya biaya lingkungan, termasuk pula yang diperhatikan adalah nilai atau harga

(30)

9

B. Rumusan Masalah

Kecenderungan pasar terhadap meningkatnya permintaan wisata alam antara lain disebabkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan kualitas lingkungan yang baik. Sebagai wilayah yang sebagian merupakan lembah, maka Taman Wisata Lembah Hijau memiliki berbagai nilai manfaat, diantaranya adalah sebagai daerah penangkap dan pengendali tata air di sekitarnya, pencegah erosi, dapat memberikan manfaat langsung berupa membentuk iklim mikro di wilayah tersebut sehingga memiliki suasana nyaman dengan kondisi udara yang bersih. Keberadaan Taman Wisata Lembah Hijau cukup memberikan andil dalam peningkatan ekonomi masyarakat dan meningkatkan penerimaan daerah dari sektor pariwisata.

Selain memberikan dampak positif, kegiatan wisata Taman Wisata Lembah Hijau juga berakibat pada rusaknya kelestarian alam. Melihat hal tersebut di atas, maka diperlukan penilaian yang tepat bagi Taman Wisata Lembah Hijau, sehingga kesediaan membayar (WTP) pengunjung dapat mengkompensasi semua kerugian. Kesediaan membayar ini dimasukkan dalam penambahan tarif tiket masuk dalam kegiatan pengelolaan kelestarian di Taman Wisata Lembah Hijau.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini, diantaranya :

1. Apakah umur, pendidikan, pendapatan dan kepuasan pengunjung berpengaruh terhadap tingkat kesediaan membayar (WTP) dari pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau ?

(31)

10

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan :

1. Untuk menganalisis pengaruh umur, pendidikan, pendapatan dan kepuasan pengunjung terhadap tingkat kesediaan membayar (WTP) dari pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau.

2. Untuk menganalisis nilai ekonomi danbenefit lossdari Taman Wisata Lembah Hijau.

D. Manfaat Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

2. Memberikan informasi mengenai nilai ekonomi Taman Wisata Lembah Hijau danbenefit lossdari lokawisata guna menentukan harga tiket masuk. 3. Memberikan informasi tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap

tingkat kesediaan membayar (WTP) dari pengunjung, sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan dan pelestarian Taman Wisata Lembah Hijau

4. Sebagai salah satu sumber informasi, wawasan, dan pengetahuan serta informasi sebagai referensi untuk penelitian sejenis.

E. Kerangka Pemikiran

(32)

11

(Susilowati, 2002). Dengan pendekatancontingent valuation method, bahwa CVM dapat digunakan untuk pendekatan pengukuran nilai ekonomi dari barang-barang non market, seperti jasa pariwisata, kehidupan alam bebas (wildlife), dan kualitas lingkungan. Analisis CVM perlu dilengkapi denganbenefit lossyang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata dengan melalui penentuan kesediaan membayar (WTP) pengunjung (Nasir, 2009).

Dalam penelitian ini metode kontingensi dilakukan tentang kesediaan membayar (WTP) dari pengunjung dengan penambahan tiket masuk guna perbaikan

(33)

12

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

F. Hipotesis

1. Diguga faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar (WTP) pada pengunjung seperti, umur, pendidikan, pendapatan, dan kepuasan pengunjung berpengaruh positif terhadapWillingnes To Pay.

2. Diduga nilai ekonomi lebih besar dari padabenefit loss. Contingent

Valuation Method Valuasi Ekonomi

Sektor Pariwisata

Taman Wisata Lembah Hijau

Benefit Loss

(34)

13

G. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, hipotesis, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka berisikan tinjauan teori yang mendiskripsikan pengertian, jenis-jenis dan manfaat.

BAB III : METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang terdiri dari tahapan penelitian, sumber data, jenis data dan metode analisis.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan yang terdiri dari uji validitas, perhitungan karakteristik responden, model regresi linier berganda, uji asumsi klasik,hipotesis statistik, penaksiran nilai ekonomi,benefit lossdan interpretasi hasil penelitian.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

(35)

14

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Pariwisata

Spillane (1994) mendefinisikan pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain. Sedangkan menurut Oka A. Yoeti (2008), pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang di selenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha(business)atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

(36)

15

Menurut pendapat RG. Soekadijo (2000) Pariwisata ialah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Suyitno (2001) tentang Pariwisata sebagai berikut :

a. Bersifat sementara, bahwa dalam jangka waktu pendek pelaku wisata akan kembali ke tempat asalnya.

b. Melibatkan beberapa komponen wisata, misalnya sarana transportasi, akomodasi, restoran, obyek wisata, souvenir dan lain-lain.

c. Memiliki tujuan tertentu yang intinya untuk mendapatkan kesenangan.

d. Tidak untuk mencari nafkah di tempat tujuan, bahkan keberadaannya dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi masyarakat atau daerah yang dikunjungi, karena uang yang di belanjakannya dibawa dari tempat asal.

Pariwisata dapat menciptakan permintaan yang dilakukan oleh wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata. Menurut Sadono Sukirno (2010), permintaan adalah jumlah barang yang diminta oleh pembeli dalam pasar pada berbagai tingkat harga. Sedangkan menurut McEarchen (2001) permintaan pasar suatu sumber daya adalah penjumlahan seluruh permintaan atas berbagai penggunaan sumber daya tersebut.

(37)

16

masyarakat, jumlah penduduk dan ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang (Sudono Sukirno, 2010).

2. Objek Wisata

Pengertian obyek dan daya tarik wisata adalah suatu bentukan dari aktifitas dan fasilitas yang berhubungan, yang dapat menarik minat wisatawan atau pengunjung untuk datang ke suatu daerah atau tempat tertentu. Obyek dan daya tarik wisata sangat erat hubungannya dengantravel motivationdantravel fashion, karena wisatawan ingin mengunjungi serta mendapatkan suatu pengalaman tertentu dalam kunjungannya (Marpaung, 2002).

Menurut UU RI No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, dinyatakan bahwa obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata baik itu pembangunan obyek dan daya tarik wisata, yang dilakukan dengan cara mengusahakan, mengelola dan membuat obyek-obyek baru sebagai obyek dan daya tarik wisata. Dalam undang-undang di atas, yang termasuk obyek dan daya tarik wisata terdiri dari :

1. Objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam serta flora dan fauna, seperti : pemandangan alam, panorama indah, hutan rimba dengan tumbuhan hutan tropis serta binatang-binatang langka.

(38)

17

pertanian (wisata agro), wisata tirta (air), wisata petualangan, taman rekreasi, dan tempat hiburan lainnya.

3. Sasaran wisata minat khusus, seperti : berburu, mendaki gunung, gua, industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat-tempat-tempat-tempat ziarah, dan lain-lain.

4. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Dengan demikian pariwisata meliputi : Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata.

3. Ekonomi Lingkungan

Ekonomi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari tentang kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan lingkungannya yang terbatas sehingga fungsi atau peranan SDA dan lingkungan tersebut dapat dipertahankan dan bahkan penggunaannya dapat ditingkatkan dalam jangka panjang atau berkelanjutan. Dari sudut pandang ekonomi, masalah lingkungan timbul, karena biaya lingkungan tidak dimasukkan ke dalam biaya produski, sehingga

menyebabkan kerugian bagi orang lain atau pasar. Dalam hal ini, masalah lingkungan menyebabkan inefisiensi alokasi sumber daya alam dan lingkungan dalam proses produksi. Dalam konteks tersebut, SDA dan lingkungan menjadi : (1) Penyedia bahan baku (2) Penyedia fasilitas (3) Wadah untuk limbah

(39)

18

Seiring berkembangnya waktu dan semakin meningkatnya pembangunan demi meningkatkan kesejahteraan manusia, ternyata fungsi atau peranan lingkungan telah menurun dari waktu ke waktu. Jumlah bahan mentah yang dapat disediakan lingkungan alami telah semakin berkurang dan menjadi langka. Kemampuan alam untuk mengelola limbah juga semakin berkurang karena terlalu banyaknya limbah yang harus ditampung melebihi daya tampung lingkungan, dan kemampuan alam menyediakan kesenangan juga semakin berkurang karena banyak sumber daya alam dan lingkungan yang telah diubah fungsinya atau karena meningkatnya pencemaran (Suparmoko, 2000).

4. Manfaat Wisata Alam sebagai Komuniti Ekonomi

Potensi wisata pada suatu kawasan objek wisata, akan memiliki dampak pada perekonomian. Pengelolaan sumber daya alam yang baik akan meningkatkan kesejahteraan manusia, sebaliknya pengelolaan sumberdaya alam yang tidak baik akan berdampak buruk bagi manusia. Menurut Vanhove (2005) bahwa dampak ekonomi dari wisata adalah peningkatan atau pembangkit pendapatan,

peningkatan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dari pajak, efek keseimbangan pembayaran, dan perbaikan struktur ekonomi daerah wisata. Dua hal penting yang membedakan rekreasi alam dengan hasil hutan lainnya adalah :

1. Kesempatan rekreasi tidak tahan lama, artinya kesempatan rekreasi yang keuntungannya tidak dapat diambil sekarang, tidak dapat diambil lagi pada waktu mendatang.

(40)

19

5. Valuasi Ekonomi

Valuasi ekonomi merupakan salah satu bentuk upaya yang digunakan untuk memberikan nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan baik atas nilai pasar (market value) maupun nilai non pasar(non market value) (Fauzi, 2006). Penilaian ekonomi dalam konteks lingkungan hidup adalah tentang pengukuran preferensi dari masyarakat untuk lingkungan hidup yang baik dibandingkan terhadap lingkungan yang jelek (Puswanhari, 2003).

Menurut Barbier (1997) dalam Irmadi (2004), ada tiga jenis pendekatan penilaian sebuah ekosistem alam yaituimpact analysis,partial analysisdantotal valuation. Pendekatanimpact analysisdilakukan apabila nilai ekonomi ekosistem dilihat dari dampak yang mungkin timbul sebagai akibat dari aktivitas tertentu, misalnya akibat reklamasi pantai terhadap ekosistem pesisir. Pendekatanpartial analysis dilakukan dengan menetapkan dua atau lebih alternatif pilihan pemanfaatan ekosistem. Sementara itu, pendekatantotal valuationdilakukan untuk menduga total kontribusi ekonomi dari sebuah ekosistem tertentu kepada masyarakat.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pembuat kebijakan adalah

(41)

20

Lebih lagi jika konsumen tidak pernah mengunjungi tempat dimana sumber daya alam tersebut berada (Irmadi, 2004).

Salah satu cara untuk melakukan valuasi ekonomi adalah dengan menghitung Nilai Ekonomi Total (NET). Nilai Ekonomi Total adalah nilai-nilai ekonomi yang terkandung dalam suatu sumber daya alam, baik nilai guna maupun nilai

fungsional yang harus diperhitungkan dalam menyusun kebijakan pengelolaannya sehingga alokasi dan alternatif penggunaannya dapat ditentukan secara benar dan mengenai sasaran. Nilai Ekonomi Total (NET) dapat dipecah-pecah ke dalam beberapa komponen. Sebagai ilustrasi misalnya dalam konteks penentuan

alternatif penggunaan lahan dari ekosistem terumbu karang. Berdasarkan hukum biaya dan manfaat (a benefit-cost rule), keputusan untuk mengembangkan suatu ekosistem terumbu karang dapat dibenarkan apabila manfaat bersih dari

pengembangan ekosistem tersebut lebih besar dari manfaat bersih konservasi. NET ini juga dapat di interpretasikan sebagai NET dari perubahan kualitas lingkungan hidup (Irmadi, 2004).

Nilai ekonomi total adalah nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sumber daya alam baik nilai guna maupun nilai fungsionalnya (Djijono, 2002). Nilai ekonomi total dapat ditulis dalam persamaan matematik sebagai berikut:

(42)

21

Keterangan :

TEV : Total Economic Value(Nilai Ekonomi Total) DUV : Direct Use Value(Nilai Manfaat Langsung)

IUV : Indirect Use Value(Nilai Manfaat Tidak Langsung) OV : Option Value(Nilai Pilihan)

XV : Exsistence Value(Nilai Keberadaan) VB : Beques Value(Nilai Warisan)

Total economic value(TEV) pada dasarnya sama dengan net benefit yang diperoleh dari sumber daya alam, namun didalam konsep ini nilai yang

dikonsumsi oleh seorang individu dapat dikategorikan ke dalam dua komponen yaituuse valuedannon-use value(Susilowati, 2002).

Nilai ekonomi (economic value) dari suatu barang atau jasa diukur dengan

menjumlahkan kehendak untuk membayar (willingness to pay/ WTP) dari banyak individu terhadap barang atau jasa yang dimaksud. WTP merefleksikan preferensi individu untuk membayar suatu barang yang dipertanyakan. Dengan demikian, valuasi ekonomi dalam konteks lingkungan hidup adalah pengukuran preferensi masyarakat akan lingkungan hidup yang baik dibandingkan terhadap lingkungan hidup yang buruk (Fauzi, 2010).

(43)

22

dasarnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu pendekatan yang berorientasi pasar dan pendekatam yang berorientasi survey.

1. Pendekatan Orientasi Pasar :

a. Penilaian manfaat menggunakan harga pasar aktual barang jasa : - Perubahan dalam nilai hasil produksi (change in productivity) - Metode kehilangan penghasilan (loss or earning method)

b. Penilaian biaya dengan menggunakan harga pasar aktual terhadap masukan berupa perlindungan lingkungan :

- Pengeluaran pencegahan (averted defensive expenditure methods) - Biaya penggantian (replacement cost methods)

- Proyek bayangan (shadow project methods) - Analisa keefektifan biaya

c. Penggunaan metode pasar pengganti (surrogate market based methods) - Barang yang dapat dipasarkan sebagai pengganti lingkungan

- Pendekatan nilai kepemilikan - Pendekatan lain terhadap nilai tanah - Biaya perjalanan (travel cost)

- Pendekatan perbedaan upah (wage differential methods) - Penerimaan kompensasi

2.Pendekatan Orientasi Survei

(44)

23

Valuasi ekonomi sumber daya alam dan lingkungan dapat digunakan untuk menunjukkan keterkaitan antara konservasi lingkungan dan pembangunan ekonomi, oleh karena itu valuasi ekonomi dapat menajdi salah satu metode penting dalam peningkatan apresiasi dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Terdapat dua metode pendekatan yaitu valuasi yang menggunakan fungsi permintaan (demand approach) dan valuasi yang tidak menggunakan fungsi permintaan (non-demand approach).

Dalam membuat kebijakan yang akan diterapkan, pemerintah menggunakan pendekatan yang tidak menggunakan fungsi permintaan (non-demand approach) atau yang dikenal dengan pendekatan non-pasar. Pendekatan non-pasar digunakan untuk menilai biaya dampak lingkungan sehingga dapat ditentukan respon

kebijakan yang akan diterapkan. Terdapat metode pendekatan non pasar, diantaranya : Metode Nilai Kekayaan (Hedonic Price Method), Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method), dan Metode Valuasi Kontingensi (Contingensi Valuation Method).

1. Metode Nilai Kekayaan (Hedonic Price Method)

Salah satu metode penilaian terhadap lingkungan yang digunakan untuk

(45)

24

Pendekatan ini merupakan suatu teknik penilaian lingkungan berdasarkan atas perbedaan harga sewa lahan atau harga sewa rumah. Dengan asumsi bahwa perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan kualitas lingkungan. Untuk mendapatkan harga didasarkan atas kesanggupan orang untuk membayar

(willingness to pay) lahan atau komoditas lingkungan sebagai cara untuk menduga secara tidak langsung bentuk kurva permintaannya sehingga nilai perubahan kualitas lingkungan tersebut dapat ditentukan.

2. Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method)

Salah satu pendekatan awal yang dipakai para ekonom lingkungan untuk menaksir demandatas manfaat lingkungan, sebuah metode yang menggunakan biaya

perjalanan sebagai pengganti harga (Turner, 1994).

Pendekatan teknik ini dilakukan melalui pertanyaan yang difokuskan pada peningkatan biaya perjalanan sebagai pasar pengganti. Pendekatan ini menggunakan harga pasar dari barang-barang untuk menghitung nilai jasa

lingkungan yang tidak diperdagangkan melalui mekanisme pasar. Nilai atau harga transaksi merupakan kesediaan seseorang untuk membayar terhadap suatu

komoditi yang diperdagangkan dengan harapan dapat mengkonsumsinya dan mendapatkan kepuasan darinya.

3. Metode Valuasi Kontingensi (Contingensi Valuation Method)

(46)

25

pendekatan kesediaan untuk membayar atau menerima ganti rugi agar sumber daya alam dan lingkungan tersebut tidak rusak.

Metode ini merupakan teknik dalam menyatakan preferensi, karena menanyakan orang untuk menyatakan penilaian, penghargaan mereka. Pendekatan ini juga memperlihatkan seberapa besar kepedulian terhadap suatu barang dan jasa lingkungan yang dilihat dari manfaatnya yang besar bagi semua pihak sehinga upaya pelestarian diperlukan agar tidak kehilangan manfaat itu. Pendekatan CVM dilakukan dengan cara menentukan kesediaan membayar (willingness to pay) dari konsumen (Turner, 1994).

Keuntungan utama dengan menggunakan CVM : (1) mengetahuinon use values dan (2) dapat diterapkan untuk berbagai isu lingkungan seperti kerusakan dan upaya pemulihan (Coller dan Harrison, 1995 dalam Yulianti, 2002). Selain keuntungan tersebut, Sorg (dalam Lee, 1998) menambahkan bahwa metode kontingensi juga mampu mengestimasi WTP individu untuk perubahan-perubahan hipotesis dari aktivitas-aktivitas rekreasi sekarang dan mampu menilai perjalanan dengan berbagai tujuan.

Pendekatan ini disebutcontingent(tergantung) karena pada prakteknya informasi yang diperoleh sangat tergantung pada hipotesis yang dibangun. Metode valuasi contingensi pada hakikatnya bertujuan untuk mengetahui :

1. Kesediaan untuk membayar (WTP) dari masyarakat, misalnya terhadap perbaikan kualitas lingkungan (air, udara, dsb).

(47)

26

Karena teknik pada metode valuasi kontingensi ini didasarkan pada asumsi dasar mengenai hak kepemilikan (Garrod and Willis, 1999), jika seseorang ditanya bukan mengenai hak atas barang dan jasa yang dihasilkan dari sumber daya alam, pengukuran yang relevan adalah keinginan membayar yang maksimum (maximum willingness to pay) untuk memperoleh barang tersebut. Sebaliknya jika individu yang kita tanya memiliki hak atas sumber daya tersebut, pengukuran yang relevan adalah keinginan untuk menerima (willingness to accept) kompensasi yang paling minimum atas hilang atau rusaknya sumber daya alam yang ia miliki. Dalam tahap operasional penerapan pendekatan metode valuasi kontingensi dilakukan dalam lima tahapan atau proses.

6. Surplus Konsumen

Surplus konsumen pada hakikatnya berarti perbedaan diantara kepuasan yang diperoleh seseorang dalam mengkonsumsikan sejumlah barang dengan

pembayaran yang harus dibuat untuk memperoleh barang tersebut. Kepuasan yang diperoleh selalu lebih besar dari pada pembayaran yang dibuat konsumen (Aditya, 2012).

(48)

27

karena dapat membeli semua unit barang pada tingkat harga rendah yang sama (Samuelson, 1990).

Pada pasar yang berfungsi dengan baik, harga pasar mencerminkan nilai marginal, seperti unit terakhir produk yang diperdagangkan yang merefleksikan nilai dari unit produk yang diperdagangkan (Djijiono, 2002). Secara sederhana surplus konsumen dapat diukur sebagai bidang yang terletak diantara kurva permintaan dan garis harga (Samuelson dan Nordaus, 1990).

Sumber : Sukirno Tahun 2002

Gambar 2. Surplus Konsumen dalam Grafik Keterangan:

OREM : Total utilitas/kemampuan membayar konsumen ONEM : Biaya barang bagi konsumen

NRE : Total nilai surplus konsumen

P

R

N

0

M E

D

Total pengeluaran konsumen

Surplus

(49)

28

Konsumen mengkonsumsi sejumlah barang M, dengan kemauan membayar sebesar harga yang dicerminkan oleh manfaat marjinal pada tingkat konsumsi tersebut. Dengan melihat perbedaan dalam jumlah yang dikonsumsikan, kemauan seseorang membayar berdasarkan fungsi manfaat marginal dapat ditentukan. Hasilnya adalah kurva permintaan individu untuk Q (Gambar 2.1). Kurva permintaan tersebut dikenal dengan nama kurva permintaan Marshal (Djijono, 2002).

Digunakannya kurva permintaan Marshal, karena kurva permintan tersebut dapat diestimasi langsung dan dapat mengukur kesejahteraan konsumen melalui surplus konsumen, sedangkan kurva permintaan Hicks mengukur kesejahteraan konsumen melalui kompensasi pendapatan (Djijono, 2002).

7. Kesediaan Untuk Membayar (Willingnes To Pay)

Jasa-jasa lingkungan pada dasarnya dinilai berdasarkanwillingness to pay (WTP) danwillingnes to accept(WTA). Willingness to paydapat diartikan sebagai berapa besar orang mau membayar untuk memperbaiki lingkungan yang rusak (kesediaan konsumen untuk membayar), sedangkanwillingness to acceptadalah berapa besar orang mau dibayar untuk mencegah kerusakan lingkungan

(50)

29

Willingness to Pay(WTP) adalah ketersediaan pengguna untuk mengeluarkan imbalan atas barang atau jasa yang diterimanya. Pendekatan yang digunakan dalam metodewillingness to payini didasarkan pada preferensi dan persepsi pengguna terhadap tarif dari barang atau jasa tersebut (Setiarini, 2008).

B. Tinjauan Empiris Tabel 4. Penelitian Terdahulu

(51)

30

Lanjutan Tabel 4

No. Nama Peneliti Judul Alat Analisis Hasil Penelitian 2. Muryani,2013 Penerapan

(52)

31

Lanjutan Tabel 4

No. Nama Peneliti Judul Alat Analisis Hasil Penelitian 5. Dwijayanti,

(53)

32

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Data dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara).Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain).

Data primer digunakan untuk memperoleh informasi tentang kesediaan membayar (WTP) oleh pengunjung dan nilai ekonomi pada Taman Wisata Lembah Hijau. Data primer diperoleh dengan cara melakukan sebar kuisioner ke dua kriteria calon responden yaitu pengunjung dan Kepala Keluarga yang tinggal di Kelurahan Sukadanaham Tahun 2015, merupakan penduduk yang berada di sekitar Taman Wisata Lembah Hijau.

Data sekunder mencakup data mengenai jumlah pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau Tahun 2013-2014 dan jumlah penduduk di kelurahan

(54)

33

B. Populasi dan Tekhnik Pengambilan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009).

Dalam penelitian ini, populasi penelitian dibagi menjadi dua yaitu : 1. Jumlah pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau pada Tahun 2014.

Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel berikut :

Tabel 5. Jumlah Populasi Pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau Tahun 2014 (Jiwa)

2014

Semester Satu Semester Dua Total

14.856 19.305 34.161

Sumber : Taman Wisata Lembah Hijau, 2015

(55)

34

Tabel 6. Jumlah Populasi Kepala Keluaraga Kelurahan Sukadanaham Tahun 2015 (Jiwa)

No. Lingkungan/RT Jumlah KK

1 RT 04 106

2 RT 05 96

3 RT 06 84

Total 286

Sumber : Kelurahan Sukadaham, 2014

2. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik yang digunakan untuk menentukan sampel penelitian adalah

Proportionate Stratified Random Sampling yaitu teknik sampling yang digunakan bila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiyono, 2009).

1. Penarikan Sampel Untuk Responden Pengunjung

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Proportionate Stratified Random Sampling.Populasi jumlah pengunjung Tahun 2014 Taman Wisata Lembah Hijau sebanyak 34.161 orang, sehingga rata-rata jumlah pengunjung dalam 1 minggu :

Keterangan :

1 Tahun = 52 minggu

(56)

35

Dari jumlah populasi pada pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau sebesar 657 orang, maka untuk menentukan sampel menggunakan Rumus Slovin. Rumus Slovin yang digunakan sebagai berikut :

Keterangan :

n = Jumlah Sampel N = Populasi

d = Tingkat Kesalahan/ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel sebesar 10% = 0,1

Dalam penelitian ini diketahui N sebesar 657, dengan menggunakan tingkat keyakinan 10%. Sehingga jumlah minimal sampel yang diambil oleh peneliti adalah sebesar :

= 87

Dengan menggunakan rumus slovin pada perhitungan diatas diperoleh jumlah sampel pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau sebanyak 87 sampel.

2. Penarikan Sampel Untuk Responden Kepala Keluarga (KK)

(57)

36

digunakan yaitu jumlah KK pada RT 04, RT 05 dan RT 06. Pada ketiga RT tersebut diperoleh populasi sebanyak 286 KK. Rumus Slovin yang digunakan sebagai berikut :

Keterangan :

n = Jumlah Sampel N = Populasi

d = Tingkat Kesalahan/ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel sebesar 10% = 0,1

Dalam penelitian ini diketahui N sebesar 286. Sehingga jumlah minimal sampel yang diambil oleh peneliti adalah sebesar :

Setelah mendapatkan hasil, kemudian menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling sehingga didapatkan masing-masing sampel sebagai berikut :

(58)

37

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :

1. Kuisioner

Angket atau kuisioner adalah teknik pengumpulan data melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti (Mardalis, 2008). Penelitian ini menggunakan angket atau kuisioner, daftar pertanyaannya dibuat secara berstruktur dengan bentuk pertanyaan angket terbuka. Metode ini digunakan untuk memperoleh data kesediaan membayar (WTP), umur, pendidikan, pendapatan dan kepuasan pengunjung dari pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau.

2. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengambilan data dimana peneliti langsung berdialog dengan responden untuk menggali informasi dari responden. Metode ini digunakan untuk memperoleh data nilai ekonomi Taman Wisata Lembah Hijau.

D. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti, atau menjelaskan suatu kegiatan, ataupun

(59)

38

digunakan peneliti dalam mengukur variabel-variabel yang digunakan. Variabel-variabel yang digunakan dalam analisis ini dibagi menjadi 2 (dua) ketagori yaitu :

1. Definisi Operasional Variabel Untuk Perhitungan WTP a. Nilai Willingness to Pay (WTP)

Nilai Kesediaan untuk membayar oleh pengunjung merupakan variabel terikat (dependent variable) didalam penelitian ini. Kesediaan membayar (WTP) responden untuk penambahan tiket masukguna perbaikan kualitas dan

pengelolaan dari Taman Wisata Lembah Hijau yang dinyatakan dalam rupiah.

b. Umur

Variabel umur responden sebagai variabel bebas (Independent Variable). Variabel umur dinyatakan dalam tahun. Variabel ini diukur menggunakan skala likert yang diklasifikasikan sebagai berikut :

- Nilai 1 untuk umur ≤ 20 Tahun - Nilai 2 untuk umur 21-30 Tahun - Nilai 3 untuk umur 31-40 Tahun - Nilai 4 untuk umur 41-50 Tahun - Nilai 5 untuk umur ≥ 50 Tahun

c. Pendidikan

(60)

39

- Nilai 1 untuk pendidikan terakhir SD - Nilai 2 untuk pendidikan terakhir SMP - Nilai 3 untuk pendidikan terakhir SMA - Nilai 4 untuk pendidikan terakhir D1/D2/D3 - Nilai 5 untuk pendidikan terakhir S1/S2/S3

d. Pendapatan

Variabel pendapatan responden sebagai variabel bebas (Independent Variable). Pendapatan yang diterima oleh rumah tangga baik berasal dari kepala keluarga maupun pendapatan anggota rumah tangga dengan pertanyaan terbuka dalam satuan rupiah (Rp).

e. Kepuasan Pengunjung

Variabel persepsi atas kepuasan pengunjung yang dirasakan responden sebagai variabel bebas (Independent Variable). Variabel kepuasan pengunjung dinyatakan dalam satu satuan. Kepuasan adalah persepsi atau penilaian responden terhadap fasilitas atau sarana prasarana serta kebersihan, kenyamanan dan keamanan di Taman Wisata Lembah Hijau. Dalam penelitian ini untuk mengukur variabel kepuasan pengunjung dengan menggunakan skala likert sebagai berikut :

- Nilai 1 untuk responden yang sangat tidak setuju - Nilai 2 untuk responden yang tidak setuju - Nilai 3 untuk responden yang netral - Nilai 4 untuk responden yang setuju

(61)

40

2. Definisi Operasional Variabel Untuk Perhitungan Nilai Ekonomi

Variabel persepsi masyarakat adalah salah satu untuk perhitungan nilai ekonomi, dengan menggunakan persepsi masyarakat dalam penelitian ini dapat mengetahui manfaat keberadaan Taman Wisata Lembah Hijau bagi masyarakat sekitar. Berikut pengukuran variabel persepsi masyarakat sebagai berikut :

a. Wisata

Wisata yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persepsi masyarakat tentang Taman Wisata Lembah Hijau sebagai tempat wisata atau sebagai meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Variabel persepsi wisata dinyatakan dalam satu satuan. Dalam penelitian ini untuk mengukur variabel wisata dengan menggunakan skala likert sebagai berikut :

- Nilai 1 untuk responden yang sangat tidak setuju - Nilai 2 untuk responden yang tidak setuju - Nilai 3 untuk responden yang netral - Nilai 4 untuk responden yang setuju

- Nilai 5 untuk responden yang sangat setuju

b. Lapangan Pekerjaan

Lapangan pekerjaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persepsi masyarakat tentang Taman Wisata Lembah Hijau sebagai sumber mata

(62)

41

- Nilai 1 untuk responden yang sangat tidak setuju - Nilai 2 untuk responden yang tidak setuju - Nilai 3 untuk responden yang netral - Nilai 4 untuk responden yang setuju

- Nilai 5 untuk responden yang sangat setuju

c. Resapan Air

Resapan air yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persepsi masyarakat tentang Taman Wisata Lembah Hijau sebagai daerah resapan air. Variabel persepsi resapan air dinyatakan dalam satu satuan. Dalam penelitian ini untuk mengukur variabel resapan air menggunakan skala likert sebagai berikut :

- Nilai 1 untuk responden yang sangat tidak setuju

- Nilai 2 untuk responden yang tidak setuju - Nilai 3 untuk responden yang netral - Nilai 4 untuk responden yang setuju

- Nilai 5 untuk responden yang sangat setuju

E. Uji Validitas Kuisioner

(63)

42

r

xy

=

∑ ∑ ∑

√[ ∑ ∑ ][[ ∑ ∑ ]]

(Sugiyono, 2004)

Keterangan :

rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y n = Jumlah Responden

X = Skor masing-masing pernyataan dari tiap responden Y = Skor total semua pernyataan dari tiap responden

Dalam rangka uji validitas kuesioner kriteria pengujian, apabila r hitung > r tabel, dengan taraf signifikasi 0,05 dan df = n-2, maka alat ukur dinyatakan valid dan sebaliknya jika r hitung < r tabel maka item pertanyaan tersebut tidak valid. Petanyaan yang tidak valid tidak akan disertakan pada pengolahan data selanjutnya.

(Sugiyono, 2004).

F. Skala Pengukuran

1. Pengukuran Skala Ordinal

Pengukuran variabel yang mempengaruhi kesediaan membayar (WTP) dan pengukuran variabel untuk penakasiran nilai ekonomi dengan menggunakan skala ordinal yaitu skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur kepuasan pengunjung, persepsi masyarakat pada wisata, persepsi masyarakat pada

(64)

43

Skor :

Sangat setuju (kondisi yang sangat diharapkan/terbaik) 5

Setuju (kondisi yang diharapkan baik) 4

Netral (kondisi yang kurang diharapkan) 3

Tidak setuju (kondisi yang tidak diharapkan) 2

Sangat tidak setuju (kondisi yang sangat tidak diharapkan) 1

2. Pengubahan Skala Ordinal Menjadi Skala Interval

Menurut tingkatannya, data secara beruntut dari skala terendah ke tertinggi adalah data nominal, ordinal, interval dan rasio. Dalam penggunaan analisis, minimal skala yang digunakan adalah skala interval. Sedangkan bila dari data penelitian diperoleh data yang memberikan skala pengukuran ordinal (kebanyakan dalam kasus-kasus sosial), sehingga agar analisis tersebut dapat dilanjutkan maka skala ordinal harus dinaikkan (ditransformasikan) ke dalam skala interval yang

(65)

44

G. Metode Analisis Data

1. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Untuk mengetahui besarnya pengaruh variable bebas terhadap variable terikat digunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Analisis data akan digunakan untuk menyederhanakan data yang telah diperoleh ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Pada penelitian ini, menggunakan Software yang digunakan dalam menganalisis data yaitu Microsoft Ecxel 2007 dan kemudian diolah menggunakan E-Views 6, dengan WTP dipengaruhi oleh Umur, Pendidikan, Pendapatan dan Kepuasan Pengunjung melalui metode OLS, maka diperoleh persamaan model regresi liniernya adalah sebagai berikut:

Model Fungsi Y = f (AGE,EDU,INC,U)

Model Struktural Y = β0+ β1AGE + β2EDU + β3INC + β4 U + εi

Keterangan :

Y = WTP (Rp)

β0 = Konstanta dari persamaan regresi

AGE = Umur (skala ordinal) EDU = Pendidikan (skala ordinal) INC = Pendapatan (Rp)

U = Kepuasan Pengunjung (skala ordinal)

(66)

45

2. Pengujian Asumsi Klasik

Untuk mengetahui apakah model estimasi yang telah dibuat tidak menyimpang dari asumsi-asumsi klasik, maka dilakukan beberapa uji antara lain, Uji

Heteroskedastisitas, Uji Normalitas, dan Uji Multikolinearitas.

a. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas adalah situasi tidak konstannya varians diseluruh faktor gangguan. Suatu model regresi dikatakan terkena heteroskedastisitas apabila terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Jika varians berbeda disebut

heteroskedastisitas.

Hipotesis masalah heteroskedastisitas adalah sebagai berikut :

Ho : Obs*R square ( χ2 -hitung ) > Chi-square (χ2–tabel), Model mengalami masalah heteroskedastisitas.

Ha : Obs*R square ( χ2 -hitung ) < Chi-square (χ2–tabel), Model terbebas dari masalah heteroskedastisitas.

b. Uji Normalitas

(67)

46

Hipotesis masalah normalitas adalah sebagai berikut :

Ho : JarqueBera stat > Chi square, p-value >5%, residual berdistribusi dengan normal

Ha : Jarque Bera stat < Chi square, p-value <5%, residual tidak berditribusi dengan normal.

c. Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas adalah hubungan linier yang terjadi diantara variabel-variabel independen, meskipun terjadinya multikolinieritas tetap menghasilkan estimator yang BLUE.Pengujian terhadap gejala multikolinieritas dapat dilakukan dengan menghitung Variance Inflation Factor (VIF) dari hasil estimasi.

Hipotesis masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut : Ho : VIF > 10, terdapat multikolinearitas antar variabel Ha : VIF < 10, tidak terdapat multikolinearitas antar variabel

H. Pengujian Hipotesis 1. Uji T-Statistik (parsial)

Uji ini digunakan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara individual. Digunakan uji 1 arah dengan tingkat kepercayaan 90% dengan hipotesis:

Hipotesis 1

(68)

47

Hipotesis 2

H0: β2 = 0 Pendidikan tidak berpengaruh terhadap WTP dari pengunjung Ha: β2> 0 Pendidikan berpengaruh signifikan terhadap WTP dari pengunjung

Hipotesis 3

H0: β3 = 0 Pendapatan tidak berpengaruh terhadap WTP dari pengunjung Ha: β3> 0 Pendapatan berpengaruh signifikan terhadap WTP dari pengunjung

Hipotesis 4

H0: β4 = 0 Kepuasan tidak berpengaruh terhadap WTP dari pengunjung Ha: β4> 0 Kepuasan berpengaruh signifikan terhadap WTP dari pengunjung

Kriteria pengambil keputusan :

 Jika nilai t-hitung > nilai t-tabel maka ditolak atau menerima ,

artinya variabel bebas berpengaruh positif terhadap variabel terikat.

 Jika nilai t-hitung < nilai t-tabel maka diterima atau menolak ,

artinya variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat.

2. Uji F-Statistik

(69)

48

Ho : β1,β2,β3,β4, = 0 Diduga secara bersama-sama umur, pendidikan, pendapatan

dan kepuasan pengunjung tidak berpengaruh secara signifikan terhadap WTP dari pengunjung.

Ha : β1,β2,β3,β4,≠ 0 Diduga secara bersama-sama umur, pendidikan, pendapatan dan kepuasan pengunjungberpengaruh secara signifikan terhadap WTP dari pengunjung.

Kriteria pengambilan keputusan :

 Jika F-hitung > F-tabel maka ditolak, artinya secara bersama-sama

variabel bebas berpengaruh positif terhadap variabel terikat.

 Jika F-hitung < F-tabel maka diterima, artinya secara bersama-sama

variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat.

I.Penaksiran Nilai Ekonomi Taman Wisata Lembah Hijau

Nilai ekonomi total adalah nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sumber daya alam baik nilai guna maupun nilai fungsionalnya (Djijiono, 2002). Nilai ekonomi total dapat ditulis dalam persamaan matematik sebagai berikut:

TEV = (DUV + IUV + OV) + (XV + VB)

Keterangan :

TEV : Total Economic Value (Nilai Ekonomi Total) DUV : Direct Use Value (Nilai Manfaat Langsung)

(70)

49

XV : Exsistence Value (Nilai Keberadaan) VB : Beques Value (Nilai Warisan)

Untuk menentukan perhitungan nilai ekonomi total Taman Wisata Lembah Hijau dapat diketahui pada Tabel 7 sebagai berikut :

No. Variabel Indikator Parameter Sumber Data

1 Nilai Manfaat Langsung

Kesediaan membayar pengunjung (WTP) Taman Wisata Lembah Hijau

(Tarif tiket masuk+WTP) x Jumlah pengunjung 1Tahun

Data primer

Penyerapan tenaga kerja untuk masyarakat sekitar di Taman Wisata Lembah Hijau

Jumlah pekerja x upah

Wawancara

Bantuan sosial berupa sembako dari Taman Wisata Lembah Hijau kepada masyarakat di RT 06

Total sembako dalam Rupiah x jumlah KK di RT 06

Keuntungan pedagang di Taman Wisata Lembah Hijau

Jumlah penghasilan Kantin di Taman Wisata Lembah

Penyerap polusi Estimasibesarnya biaya penanaman pohon atau tumbuh-tumbuhan lainnya (reboisasi)

Wawancara

Pencegah erosi tanah Estimasi biaya pembuatan bangunan

Wawancara

Penyedia air Estimasi biaya pembuatan sumur untuk warga sekitar

(71)

50

Lanjutan Tabel 7.

No. Variabel Indikator Parameter Sumber Data 3. Nilai

Pilihan

Asumsi luas lahan untuk fauna

Luas lahan untuk fauna x harga tanah perhektare

Wawancara

4. Nilai Keberdaan

Persepsi masyarakat tentang keberadaan Taman Wisata Lembah Hijau

Estimasi persepsi masyarakat

Data Primer

5. Nilai Warisan

Total Nilai manfaat langsung

10% x total nilai manfaat langsung

Data primer

Sumber : Susanti, 2014 dan asumsi penulis

Keterangan :

1. Manfaat Langsung

- Pemilihan indikator kesediaan membayar dan keuntungan pedagang di Taman Wisata Lembah Hijau bersumber dari penelitian sebelumnya.

- Pemilihan indikator penyerapan tenaga kerja dan bantuan sosial besumber dari hasil observasi peneliti dan wawancara pada pengelola di Taman Wisata Lembah Hijau.

2. Manfaat Tidak Langsung

- Pemilihan indikator penyerap polusi, pencegah erosi tanah dan persepsi masyarakat tentang keberadaan Taman Wisata Lembah Hijau bersumber dari penelitian sebelumnya.

(72)

51

3.Nilai Pilihan

- Pemilihan indikator luas lahan untuk fauna di Taman Wisata Lembah Hijau bersumber dari penelitian sebelumnya.

4. Nilai Keberadaan

- Pemilihan persepsi masyarakat tentang keberadaan Taman Wisata Lembah Hijau bersumber dari penelitian sebelumnya.

5.Nilai Warisan

- Pemilihan indikator nilai mafaat langsung di Taman Wisata Lembah Hijau bersumber dari penelitian sebelumnya.

J. Benefit Loss

Pada penelitian ini dihitung juga Benefit Loss apabila terjadi kerusakan

lingkungan pada Taman Wisata Lembah Hijau. Benefit Loss yang dihitung hanya menghitung nilai air (dalam hal ini nilai air untuk rumah tangga karena dampak langsung bila terjadi kesulitan air akan dirasakan oleh rumah tangga). Nilai air dalam hal ini harga air dihitung berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan air (memperoleh air). Benefit Loss dalam penelitian ini dihitung dengan menghitung harga air untuk rumah tangga (Nasir, 2009).

Perhitungan Harga Air Rumah Tangga

(73)

52

Sumber : Nasir, 2009

Harga Air = Harga atau biaya pengadaan air (Rupiah)

Biaya Pengadaan Air Rata – rata = Biaya pengadaan air (untuk minum, mandi dan cuci) per orang dalam satu hari (Rupiah)

Kebutuhan Air Rata – rata = Kebutuhan air (minum, mandi dan cuci) per orang dalam satu hari (m3)

(74)

83

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis menggunakan Regresi Linier Berganda untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi WTP dari pengunjung serta nilai WTP, penaksiran nilai ekonomi Taman Wisata Lembah Hijau danbenefit lossdari Taman Wisata Lembah Hijau dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

1. Variabel pendapatan dan variabel kepuasan pengunjung memiliki

hubungan positif dan signifikan terhadap kesediaan membayar (WTP) dari pengunjung. Sedangkan variabel umur dan variabel pendidikan memiliki hubungan positif dan tidak signifikan terhadap kesediaan membayar (WTP) dari pengunjung.

2. Nilai rata-rata WTP dari 87 responden untuk penambahan tarif tiket masuk sebesar Rp. 534 dari tarif yang ada. Sehingga diperoleh nilai ekonomi dari Taman Wisata Lembah Hijau adalah sebesar Rp. 5.947.213.210,5.

(75)

84

B. Saran

1. Pemanfaatan Taman Wisata Lembah Hijau memiliki manfaat tempat wisata dan konservasi yang masih memerlukan perencanaan dan pengelolaan yang lebih baik, sehingga kedua fungsi tersebut dapat berjalan beriringan dan memberi manfaat yang maksimal. Untuk mendukung pengelolaannya

diperlukan kebijakan dan peraturan yang mampu memberikan nilai lebih bagi Taman Wisata Lembah Hijau itu sendiri, pengunjung dan bagi masyarakat yang memperoleh manfaat baik langsung maupun tidak langsung.

2. Harga tiket masuk harus sesuai dengan kepuasan yang diperoleh pengunjung. Tersedianya sarana ataupun fasilitas yang baik dan inovatif dengan sendirinya akan meningkatkan harga tiket masuk tanpa pengunjung merasa terbebani.

3. Ketersediaan lapangan perkerjaan juga menjadi suatu hal positif dari

keberadaan Taman Wisata Lembah Hijau sehingga perlunya pendampingan bagi masyarakat agar ikut berperan aktif menjaga dan melestarikan Taman Wisata lembah Hijau.

(76)

DAFTAR PUSTAKA

Al Rasyid, Harun. 1993. Teknik Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala. Bandung : Program Pascasarjana Iniversitas Padjajajran.

Dermawan. 2015. Valuasi Ekonomi Layanan Ekosistem Kawasan Objek Wisata Gunung Menumbing di Kabupaten Bangka Barat. Bandung : Universitas Padjajaran. Tesis

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 2013-2014. Jumlah Kunjungan Wisatawan. Provinsi Lampung.

Djijiono. 2002. Valuasi Ekonomi MenggunakanMetode Travel CostTaman Wisata Hutan di Taman Wan Abdul Rachman Provinsi Lampung. Makalah Pengantar Falsafah Sains, 1-20. Institut Pertanian Bogor.

Dwijayanti, Mega dkk. 2015. Analisis nilai WTP untuk menentukan Nilai Ekonomi Kawasan Wisata Alam di Kabupaten Semarang Berbasis Sistem Informasi Geografis. Semarang : Universitas Diponegoro. Jurnal.

Ermayanti, Ferra. 2012. Valuasi Ekonomi Objek Wisata Ndayu Park Dengan Metode Biaya Perjalanan dan Metode Valuasi Kontingensi. Surakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

Fandeli, Chafid.1995. Dasar-dasar Manajemen Kepariwisataan Alam, Cetakan Kedu, Liberty Offset. Yogyakarta.

Fauzi, Akhmad. 2006. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Jakarta: Gramedia.

Fried, et.all. 1995.Willingness to Pay for a Change in Elk Hunting Quality. Wildlife Society Bulletin, Vol. 23. No. 4.

Gambar

Tabel 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Per Kabupaten/Kota se-Provinsi LampungTahun 2013 – 2014 (Jiwa).
Tabel 2. Data Jumlah Pengunjung Taman Wisata Lembah Hijau tahun 2012-2014(orang)
Tabel 3. Jenis-Jenis Dampak Negatif Pada Objek Wisata
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
+4

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan dan positif terhadap besarnya WTP pengunjung Telaga Ngebel dalam upaya pelestarian obyek wisata alam di Kota Ponorogo yaitu

Nilai manfaat atau nilai ekonomi wisata Pulau Situ Gintung-3 yang besar mengimplikasikan bahwa sumber daya alam dan lingkungan yang dimanfaatkan sebagai objek wisata memiliki

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung nilai ekonomi kawasan Cagar Budaya Keraton di Kota Cirebon dengan pendekatan Travel Cost Method (TCM) dan

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukanlah penelitian ini. Adapun permasalahan yang dikaji adalah 1) Apakah dampak sosial ekonomi yang dirasakan

Penilaian manfaat ekonomi intangible sumber daya alam dan lingkungan TWPAP Guci sebagai tempat wisata dengan pemandangan alam ayang indan dan udara yang sejuk, uji

Dengan ini saya, Alvita Inggrid Lamtio, menyatakan bahwa karya ilmiah/skripsi yang berjudul “Valuasi Ekonomi Objek Wisata Pantai Indrayanti, Gunungkidul dengan

Nilai manfaat atau nilai ekonomi wisata Pulau Situ Gintung-3 yang besar mengimplikasikan bahwa sumber daya alam dan lingkungan yang dimanfaatkan sebagai objek wisata memiliki

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukanlah penelitian ini. Adapun permasalahan yang dikaji adalah 1) Apakah dampak sosial ekonomi yang dirasakan