• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi S1 Deskriminasi Terhadap Perempu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Skripsi S1 Deskriminasi Terhadap Perempu"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

(ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA)

Skripsi ini disusun guna memperoleh gelar Sarjana Fakultas Universitas Ahmad

Dahlan Yogyakarta

Disusun oleh: Fatonah Winiarum

NIM : 05025002

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberagaman dalam sebuah masyarakat dapat menyebabkan

terjadinya berbagai fenomena diskriminasi. Diskriminasi merupakan suatu

pola pembedaan yang kerap terjadi dalam masyarakat dan dapat memicu

terjadinya bermacam-macam konflik. Contoh-contoh bentuk diskriminasi

dalam masyarakat yang sering ditemukan adalah dalam hal perbedaan warna

kulit, kelas sosial, hingga jenis kelamin serta peran-peran yang

mempengaruhinya di dalam masyarakat.

Secara formal, pengertian diskriminasi diatur di dalam UU No. 39

Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 1 ayat (3) undang-undang

tersebut menyatakan,

„Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan

politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau

penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya.‟

Diskriminasi merupakan salah satu ciri kolonialisme. Hal tersebut

selain terjadi dalam bidang pendidikan, juga terjadi dalam lapangan kerja

(3)

pribumi hanya dapat menempati posisi-posisi atau jabatan terendah dalam

pemerintahan dan dampaknya berpengaruh pada perbedaan upah yang

diterima pegawai pribumi tersebut. Dalam pergaulan sehari-hari terjadi

fenomena perbedaan besar antara kelompok berkulit sawo matang dengan

kulit putih. Perkawinan merupakan contoh ciri masyarakat kolonial yang

sangat menonjol. Laki-laki kulit putih dengan bebas memperistri atau

menggunakannya sebagai istri tidak sah perempuan pribumi sebagai gundik,

tetapi jelas tidak dapat terjadi sebaliknya (Ratna, 2008: 15). Perempuan

pribumi tidak dapat melakukan hal tersebut terhadap laki-laki kulit putih.

Ketika masyarakat kolonial masuk, tujuan mereka semata-mata tidak

untuk menjajah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di

negara-negara barat mendorong kaum kolonial mengunjungi daerah dan berlayar

dengan tujuan 3 G (Gold, Gospel, Glory) yang berarti emas atau kekayaan,

agama dan kejayaan. Sejalan dengan pernyataan Kartodirjo, bahwa pada

umumnya Kolonialisme dipicu oleh faktor lain, seperti: politik, agama dan

petualangan (Ratna, 2008: 11). Berbeda dengan Inggris yang menggunakan

tanah jajahannya untuk berdagang, Belanda melakukan politik kolonialisme

dengan cara memunguti upeti. Atas usulan Van den Bosch, Belanda

melakukan Politik Tanam Paksa yang berlangsung sejak tahun 1830 sampai

dengan 1870 untuk menopang perekonomian yang memburuk. Baik upeti

maupun tanam paksa keduanya menyebabkan kesengsaraan terhadap rakyat

Indonesia. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa:

(4)

rendah diri dalam masyarakat pribumi. Sebagai salah satu seorang sadar elit yang sadar retorika Kolonial, Soekarno mengungkapkan

adanya manipulasi dan kesenjangan Kolonial dalam

mengkonstruksikan mentalitas inlander di masyarakat pribumi (Ita, 2007: 9).

Diskriminasi sengaja diciptakan oleh kolonialis untuk kepentingan

politik. Kebijakan politik yang diterapkan kepada masyarakat menimbulkan

fenomena perbedaan dalam masyarakat. Kaum pribumi dibedakan dalam

banyak instrumen seperti penerapan bea cukai, sekolah, gaya berpakaian,

perdagangan, dan sebagainya. Instrumen yang tercipta merupakan alat untuk

mengontrol dan mengendalikan secara ketat berdasarkan ras. Pribumi yang

mempunyai pengaruh, memiliki harta dan senjata dijadikan agen demi

kepentingan Pemerintahan Kolonial. Pada waktu itu, masyarakat kulit

berwarna diharuskan bertingkah laku sesuai dengan warna kulit tersebut

sehingga terjadilah budaya diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat

tersebut (Segregasi Ras pada Kota-Kota Kolonial .www.yahoogroups.com).

Politik diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda

berhasil mengeksploitasi pribumi yang saat itu masih terbelakang.

Kolonialisme berpengaruh juga terhadap sistem klasifikasi dalam

masyarakat, contohnya di Jawa. Masyarakat yang semula dibedakan

berdasarkan pada keturunan, terbagi menjadi berdasarkan kepemilikan tanah

sehingga tercipta berbagai bentuk diskriminasi hingga menimbulkan

pembagian hak asasi yang tidak merata. Kedatangan Pemerintah Kolonial di

Nusantara selama kurang lebih 350 tahun mengakibatkan berbagai dampak

(5)

aspek, salah satunya terhadap kaum perempuan. Budaya Jawa sebelum

sistem kolonial masuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat,

yaitu sebagai makhluk kedua setelah laki-laki. Setelah kolonial masuk

perempuan semakin menempati posisi yang tidak menguntungkan.

Kolonialisme menempatkan perempuan sebagai obyek sistem patriarkhi.

Dampak yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh kaum perempuan

pribumi tetapi perempuan pendatang dari Eropa.

Bukti adanya diskriminasi tercermin dalam sistem pergundikan.

Sistem tersebut memaksa perempuan pribumi dieksploitasi untuk

kepentingan Belanda. Salah satunya adalah dengan sistem perdagangan atau

jual beli secara paksa. Perempuan pada masa kolonial mayoritas bekerja

sebagai budak di rumah-rumah orang Belanda. Jika salah satu dari mereka

menjadi nyai, statusnya naik dari seorang pembantu menjadi tuan rumah

tidak resmi. Nyai adalah sebutan bagi perempuan pribumi yang menjadi istri

tidak resmi laki-laki Eropa. Meskipun demikian, perlakuan terhadap

perempuan yang menjadi gundik tersebut terasa tidak adil. Seorang

perempuan yang menjadi gundik tidak mempunyai hak apa-apa dalam hal

kepemilikan, bahkan jika anak lahir, ia tidak memilki hak anaknya. Seorang

nyai dapat diusir sewaktu-waktu dari rumah majikannya (Helwig, 2007: 38).

Seorang nyai memiliki akses yang terbatas dalam hubungan sosial

dengan masyarakat pribumi. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti

rasa segan dari masyarakat pribumi terhadap kedudukan nyai dan adanya

(6)

pergaulan dengan masyarakat pribumi. Selain itu ia juga terkucil dari

pergaulan Eropa (Sugihastuti dan Istna, 2007: 86). Seorang nyai dalam

dunia patriarkhi dipandang sebagai kelas yang lebih rendah.

Mengkaji perempuan, hal yang tidak dapat lepas adalah masalah

gender. Gender bukan diartikan menurut biologi, tetapi juga berdasarkan

konstruksi masyarakat. Dalam kajian perempuan, gender dipertimbangkan

untuk mengkaji fenomena perempuan dalam masyarakat dalam kurun waktu

tertentu. Khususnya dalam penelitian yang mengambil latar kolonialisme

tersebut. Perempuan sebagai lawan laki-laki digambarkan dalam citra-citra

tertentu yang mengesankan inferioritas perempuan, baik dalam struktur

sosial maupun budaya (Sugihastuti dan Istna, 2007: 83). Sementara itu

perempuan memerlukan aktualitas diri dalam lingkungannya. Oleh karena

itu perempuan memerlukan sarana dalam pergaulan sosial dengan

masyarakat tempat ia tinggal dengan tidak memperhitungkan berbagai

perbedaan seperti, agama, ras, etnis dan sebagainya (Sugihastuti dan Istna,

2007: 84).

Stereotip yang dibentuk oleh gender dalam aplikasinya memiliki

kecenderungan menguntungkan jenis kelamin tertentu, yakni laki-laki.

Keuntungan tersebut dilihat dari berbagai tatanan sosial dan budaya yang

berlaku pada masyarakat yang menganut budaya patriarkhi. Dampak lain

yang timbul akibat stereotipe terhadap perempuan dapat berupa pembagian

ruang untuk perempuan. Dalam perspektif feminisme dikenal dua

(7)

domestik dan publik. Ruang domestik melingkupi aktivitas yang berkaitan

dengan rumah tangga, sedangkan ruang publik menyangkut aktivitas

perempuan yang dilakukan di luar rumah baik interaksi dengan masyarakat

sekitar maupun dalam lingkungan pekerjaan (Sugihastuti dan Istna, 2007:

84)

Permasalahan perempuan tidak hanya muncul dalam masyarakat

tetapi juga terefleksikan dalam karya sastra. Karya sastra sebagai cermin

masyarakat pada zamannya mampu mengungkap fenomena-fenomena

tersebut dalam bentuk cerita. Karya sastra merupakan refleksi pengarang

pada zamannya meskipun ia tidak hidup dalam zaman yang sedang

ditulisnya. Seorang pengarang 1980-an dapat menulis novel tahun 1800

dengan menggunakan referensi data yang menunjang. Oleh sebab itu

penulisan karya sastra tidak akan lepas dari kenyataan sosial budaya yang

melatarbelakanginya.

Penulis memprediksi adanya perilaku diskriminasi terhadap

perempuan dalam novel Bumi Manusia (selanjutnya disingkat BM) karya

Pramoedya Ananta Toer. Novel tersebut berlatar belakang kehidupan sejarah

Indonesia pada tahun 1898-an, yaitu ketika Kolonialisme dan Feodalisme

masih ada di tanah air. Feodalisme yang terjadi di wilayah Jawa masih kuat

membelenggu ruang gerak kaum perempuan. Pada masyarakat feodal,

perempuan ditempatkan sebagai kanca wingking. Istilah kanca wingking

(8)

teman hidup yang pekerjaanya berada di sektor domestik dan tidak setara

dengan posisi suaminya.

Berbeda halnya dengan perempuan yang hidup di pedesaan.

Perempuan di kalangan masyarakat biasa di pedesaan cenderung memiliki

posisi setara dengan kaum laki-laki. Perempuan dalam keluarga feodal tidak

memiliki peran dan kedudukan yang setara. Dalam lingkungan yang

demikian perempuan kerap mendapat perlakuan yang tidak adil serta

berbagai bentuk penindasan dan kekerasan.

Penciptaan karya sastra selalu bersumber dari fenomena yang terjadi

dalam masyarakat (Rampan dalam Sugihastuti dan Istna, 2007: 81). Karya

sastra mengungkap struktur sosial, fungsi dan peran masing-masing anggota

masyarakat dan interaksi di dalamnya. Secara lebih sederhana, karya sastra

mengungkap unsur-unsur dalam masyarakat yang terdiri dari laki-laki dan

perempuan. Interaksi yang terjalin di dalamnya merupakan tema yang

menarik, sebab dalam perkembangannya, interaksi tersebut menuntut adanya

jenis kelamin yang lebih unggul dibanding dengan yang lainnya sehingga

memicu tanda-tanda diskriminasi yang berasal dari tindak inferioritas

tersebut. Pola diskriminasi terhadap perempuan juga terlihat dalam

karya-karya Belanda yang dilatarbelakangi oleh kehidupan Indonesia di masa

Kolonialisme. Penelitian mengenai hal tersebut telah dilakukan oleh Tineke

Hellwig.

Beberapa karya Indonesia masih menampilkan segi keterpurukan

(9)

Siti Nurbaya, Pengakuan Pariyem, Ronggeng Dukuh Paruk dan sebagainya.

Dalam novel-novel tersebut perempuan masih dijadikan obyek seksualitas

dan subordinasi budaya tradisional dan pada akhirnya menyerah kepada

keadaan setelah memperjuangkan haknya.

BM dipilih sebagai bahan penelitian karena di dalamnya sarat dengan

nilai-nilai perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan yang

diciptakan masyarakat kolonial dan feodal Jawa. BM menggambarkan

perempuan sebagai korban sekaligus di sisi lain menjadi sosok pertama

penggerak semangat perjuangan. Selain itu, dipilihnya BM karena

merupakan karya masterpiece dari tetralogi novel Pulau Buru sebagai cerita

awal perjuangan bangsa melakukan berbagai bentuk perlawanan. BM

mendapat berbagai penghargaan seperti The PEN Freedom the write Award

pada 1988, Ramon Magsaysay Award tahun 1995, Fukuoka Cultur Grand

Price, Jepang tahun 2000 dan pada tahun 2004 mendapatkan penghargaan

The Norwegian Authoers Union dan Pablo Nuruda dari presiden Republik

Chile Senor Richard Lagos Escobar karena faka-fakta kemanusiaan yang

diungkap tersebut (Toer, 2006:1). Pramoedya sebagai pengarang merupakan

novelis terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di beberapa negara di

seluruh dunia dan banyak mendapatkan penghargaan yang bersifat

internasional dari karya-karyanya. Selain itu berbagai permasalahan yang

ditemukan dalam BM masih relevan dibahas di masa sekarang.

Penulis mencoba mengkaji tokoh perempuan dalam penelitian ini

(10)

1. Tokoh perempuan dihadirkan sebagai kaum yang banyak mendapatkan

perlakukan diskriminatif terhadap sistem namun di sisi lain perempuan

sebagai salah satu pencipta nilai-nilai perjuangan. Contohnya dapat

dilihat dari bagaimana tokoh Nyai Ontosoroh mengutarakan

pemikirannya sebagai perempuan dan sebagai masyarakat pribumi.

2. Pentingnya kajian gender untuk menentukan peran-peran perempuan

dalam masa Kolonial tersebut sebagai dasar analisis, sebab dalam

mengkaji perempuan, hal yang tidak boleh lepas adalah permasalahan

gender. Penelitian ini difokuskan pada tokoh-tokoh perempuan, namun

tokoh laki-laki juga sedikit dibahas untuk memperkuat analisis dan

kajian terhadap bentuk-bentuk diskriminasi.

3. Perempuan dalam novel Pramoedya rata-rata digambarkan dalam

berbagai keistimewaan sehingga terkesan memfokuskan pada kelebihan

perempuan. Hal ini terkait dengan sosok Pramoedya yang menjadikan

seorang ibu atau perempuan sebagai figur yang memiliki karakter

istimewa. Pembuatan novel Gadis Pantai pun inspirasinya diambil dari

nenek Pramoedya yang sangat disayanginya dan pernah menjadi korban

sistem Feodalisme salah satu bangsawan di Jawa.

Adapun penggunaan istilah obyek kajian dalam penelitian ini adalah

perempuan. Istilah perempuan digunakan dalam penelitian ini dengan alasan

sebagai berikut:

1. Istilah perempuan juga berasal dari kosakata empu yang berarti orang

(11)

2. Istilah wanita bersumber dari bahasa Sanskerta, dengan kata dasar wan

yang berarti nafsu sehingga kata wanita mempunyai arti obyek

seksualitas (Handayani, 2008: vi)

3. Dalam bahasa Jawa, istilah wanita adalah akronim wani ditata, artinya

keberaniannya hanya ada karena orang lain memintanya. Hal ini

menunjukkan bahwa wanita adalah obyek yang hampir tidak memiliki

kehendak (Handayani, 2008: vi). Istilah wanita menurut tembung

Jamboran berasal dari istilah wani ing tata (Basis, 1988: 235).

4. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah perempuan berarti

manusia yang memiliki puki (vagina), dapat mestruasi, hamil,

melahirkan dan menyusui (KBBI tahun 2005).

Berdasarkan pertimbangan di atas penggunaan istilah perempuan lebih

bermakna positif dibanding dengan istilah wanita.

Judul penelitian ini ditentukan untuk mengungkap bentuk-bentuk

diskriminasi terhadap perempuan terkait dengan latar belakang sosial budaya

pada masa kurun waktu 1800 di Jawa. Penelitian ini dimaksudkan untuk

mengungkap potret kehidupan masyarakat feodal dan kolonial,

bentuk-bentuk diskriminasi serta dampak yang diakibatkannya. Kondisi sosial

budaya dalam BM yang demikian membuat peneliti mengambil teori

Sosiologi Sastra sebagai pisau bedah analisis novel BM. Tujuannya agar

mampu mengungkap fakta-fakta sosial budaya masyarakat yang terbentuk

dalam lingkungan novel BM. Pembahasan dengan fokus tokoh perempuan

(12)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang muncul dapat

diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Terdapat gambaran sosial budaya tertentu yang menyebabkan terjadinya

diskriminasi dalam novel BM.

2. Terdapat dikotomi antara masyarakat Hindia (Pribumi) dan Kolonial

Belanda dalam berbagai bidang kehidupan.

3. Banyak ditemukan bentuk ketidakadilan Sistem Kolonial terhadap

masyarakat pribumi.

4. Ditemukan permasalahan yang menyangkut Sistem Kolonialisme pada

zaman Hindia Belanda.

5. Terdapat berbagai perbedaan antara masyarakat pribumi dan kolonial

yang menyebabkan fenomena prasangka dan perilaku diskriminasi.

6. Banyak ditemukan bentuk-bentuk diskriminasi dalam novel BM.

7. Terdapat berbagai dampak yang terjadi akibat diskriminasi terhadap

perempuan dalam berbagai bidang.

8. Terdapat berbagai dampak prasangka dan perilaku diskriminasi terhadap

masyarakat Pribumi dan masyarakat Indo di dalam novel BM.

9. Terdapat berbagai permasalahan mengenai perempuan dan eksistensinya

di dalam masyarakat BM.

10.Banyak ditemukan semangat demokrasi kaum perempuan dan bentuk

perjuangannya dalam melawan penindasan dan ketidakadilan dalam

(13)

11.Terdapat perbenturan antar kelas sosial dalam masyarakat baik antara

masyarakat Belanda dan Pribumi maupun dalam sistem sosial

masyarakat Pribumi itu sendiri dalam novel BM.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi di atas masalah dapat dibatasi sebagai berikut:

1. Kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi terjadinya diskriminasi

perempuan dalam novel BM.

2. Bentuk diskriminasi perempuan dalam novel BM.

3. Dampak diskriminasi perempuan dalam novel BM.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, permasalahan

dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi terjadinya

diskriminasi dalam novel BM?

2. Bagaimana bentuk diskriminasi perempuan yang terdapat dalam novel

BM?

3. Dampak apa saja yang diakibatkan oleh adanya diskriminasi perempuan

(14)

E. Tujuan penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi terjadinya

diskriminasi perempuan dalam novel BM.

2. Mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam

novel BM.

3. Mengetahui dampak-dampak yang diakibatkan oleh diskriminasi

perempuan dalam novel BM.

F. Manfaat penelitian

Terdapat dua hal manfaat yang terdapat dalam sebuah penelitian.

Diharapkan dalam penelitian ini manfaat yang diperoleh adalah:

1. Manfaat Teoretis

a. Menambah wawasan penelitian sastra pada masa yang akan datang.

b. Menghadirkan sudut pandang dan cara yang berbeda dalam

melakukan kajian mengenai perempuan, terutama dalam

menganalisis fenomena diskriminasi yang sering dialami oleh

kaum perempuan pada masa kolonialisme.

c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

terhadap pengembangan teori sastra khususnya novel dan dapat

digunakan untuk peningkatan apresiasi sastra, khususnya dalam

(15)

2. Manfaat Praktis

Pertama, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan

kepada pembaca khususnya mengenai eksistensi perempuan dalam

karya sastra. Kedua, dapat dijadikan bahan perbandingan terhadap

hal-hal yang mengungkap fakta-fakta diskriminasi perempuan pada masa

sekarang. Ketiga, penelitian ini diharapkan dapat memotivasi penelitian

yang akan datang agar dapat menggali lebih terperinci khususnya

mengenai kajian perempuan dalam karya sastra.

G. Landasan Teori

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas,

landasan teori untuk menganalisis novel BM adalah analisis sosiologi sastra.

Metode Sosiologi Sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra

(kesusastraan) merupakan refleksi masyarakat pada zaman karya sastra itu

ditulis, yaitu masyarakat yang melatarbelakangi penulis, sebab dalam proses

berkarya penulis tidak dapat lepas dari masyarakatnya. Hal tersebut beranjak

dari pemahaman bahwa karya sastra merupakan refleksi kenyataan pada

zamannya.

Pemahaman terhadap karya sastra berangkat dari sebuah penjelasan

bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan. Karya sastra jelas

dibangun secara imajinatif, namun kerangka imajinatifnya tidak dapat

dipahami di luar kerangka empirisnya. Di sisi lain karya sastra bukan

(16)

2003: 26-27). Karya sastra sebagai dunia miniatur berfungsi untuk

menginventarisasikan sejumlah besar kejadian-kejadian yang telah dibangun

dalam pola-pola kreatifitas dan imajinasi pengarang.

Menurut Satoto (1986: 150) pendekatan sosiologi sastra yang paling

banyak dianut orang sampai sekarang berorientasi pada aspek dokumentasi

sosial. Hal tersebut sejalan dengan kritik aliran Hegel dan Taine bahwa

kebesaran sejarah dan sosial disamakan dengan kehebatan artistik. Seniman

menyampaikan kebenaran sekaligus merupakan kebenaran sejarah dan sosial

(Wellek&Werren, 1993: 111). Landasan tersebut yang menjadikan sastra

sebagai rujukan dalam menganalisis gejala sosial pada masa tertentu.

Teori Ian Watt yang diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono juga

mengungkapkan tiga macam pendekatan dalam sosiologi sastra, yaitu

pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan posisi sosial

sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca.

Hal yang terutama diteliti dalam pendekatan ini adalah: pertama, bagaimana

pengarang mendapatkan mata pencahariannya. Hal itu termasuk apakah ia

menerima bantuan dari masyarakat secara langsung atau bekerja rangkap.

Kedua, sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai suatu

profesi. Ketiga, masyarakat apa yang dituju oleh pengarang. Hal ketiga dari

prinsip pendekatan sosiologi sastra Ian Watt adalah sastra sebagai cermin

masyarakat, yaitu meliputi: pertama, sejauh mana sastra mencerminkan

masyarakat pada waktu karya sastra ditulis. Kedua, sejauh mana sifat pribadi

(17)

disampaikannya. Ketiga, sejauh mana genre sastra yang digunakan

pengarang dapat dianggap mewakili masyarakat. Unsur ketiga dalam

pendekatan Sosiologi Sastra adalah fungi sosial sastra. Dalam hubungan ini

terdapat tiga hal yang menjadi pokok persoalan, yaitu: sejauh mana sastra

dapat berfungsi sebagai perombak masyarakatnya, sejauh mana sastra hanya

berfungsi sebagai penghibur saja, dan sejauh mana terjadi sintesis antara

kemungkinan kedua hal tersebut (Damono,1984: 3-4).

Sosiologi Sastra juga mengungkap mengenai feminisme. Inti

tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan

agar sama atau sejajar dengan kaum laki-laki (Djajanegara, 2000: 4). Pada

umunya karya sastra yang menampilkan tokoh wanita dapat dikaji dari segi

feministik. Djajanegara mengungkapkan beberapa metode dalam

menerapkan kajian feminis dalam karya sastra, yaitu: pertama,

mengidentifikasikan tokoh satu atau beberapa tokoh perempuan dalam karya

sastra untuk mencari kedudukan tokoh-tokoh tersebut dalam masyarakat,

mengetahui perilaku atau watak tokoh melalui gambaran langsung yang

dipaparkan oleh penulis dan menganalisis pendirian serta ucapan tokoh

perempuan yang bersangkutan. Kedua, meneliti tokoh lain terutama tokoh

laki-laki yang mempunyai keterkaitan dengan tokoh-tokoh perempuan.

Ketiga, mengamati sikap penulis karya yang tengah dikaji. Untuk

mengetahui pandangan serta sikap penulis sebaiknya juga mengamati latar

(18)

Diskriminasi perempuan adalah fenomena yang sering terjadi

dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat disebabkan dalam berbagai

faktor yang melatarbelakanginya. Istilah “diskriminasi terhadap perempuan”

itu sendiri dalam konvensi penghapusan diskriminasi terhadap perempuan

diartikan menjadi:

“perbedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang berakibat atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan ”

(Konvensi Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. www.bappenas.go.id).

Diskriminasi terhadap perempuan merupakan salah satu faktor

yang menyebabkan semangat perjuangan bagi kaum perempuan yang

disebut dengan gerakan feminisme. Gerakan feminisme adalah gerakan

pembebasan perempuan dari rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan

perempuan dan phalogosentrisme (www.yahoo-feminisme.com).

Menurut Najmanuddin dalam penelitiannya mengatakan,

timbulnya berbagai isu atau permasalahan yang menyangkut perempuan

disebabkan oleh hal-hal yang bersumber dari beberapa poin berikut ini,

yaitu:

1. Paham patriarkhi yang dianut oleh laki-laki yang menekankan

pembagian kerja secara seksual dan harus dipatuhi oleh kaum

(19)

2. Perbedaan sosiokultural termasuk norma sosial terjadi dalam suatu

perkawinan campur.

Sastra adalah eskpresi kehidupan manusia yang tidak lepas dari

akar masyarakatnya. Dengan demikian meskipun sosiologi dan sastra adalah

dua hal yang berbeda namun dapat saling melengkapi. Dalam hal ini sastra

merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan

bentuk komunikasi pengarang dengan lingkungan yang membentuknya

(Endraswara, 2003: 77), sehingga dengan mengkaji permasalahan sosial

budaya dalam karya sastra, masyarakat dapat mengkaji fenomena dalam

masyarakat khususnya menyangkut permasalahan diskriminasi terhadap

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Sejauh pengetahuan penulis, penelitian dan kajian mengenai BM

sebelumnya pernah dilakukan. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya

adalah:

1. Penelitian berjudul Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya

Pramoedya Ananta Toer: Analisis Pascakolonial yang disusun oleh

Novieta Theodora. Penelitian tersebut merupakan skripsi tahun 2008 dari

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Penelitian tersebut

memfokuskan kajiannya pada tokoh Nyai Ontosoroh (selanjutnya

disingkat NO) dalam rangka mengetahui wacana Kolonial dan

Feodalisme pada masa BM ditulis. Menurut Teodora, Sistem Kolonial

muncul dalam bentuk peliyanan terhadap NO sebagai subjek pribumi.

Bentuk peliyanan diwujudkan dalam inferioritasan NO dalam masyarakat

Pribumi yang mengenal sistem Feodalisme. Selain itu dibahas pula

bentuk-bentuk perlawanan NO dalam berbagai cara, seperti dengan cara

hukum, kolektif dan individu. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa

BM dianggap sebagai karya sastra pascakolonial karena berlatarbelakang

masyarakat Kolonial sehingga dianalisis dengan teori Pascakolonial.

Liyan berasal dari bahasa Jawa liya ditambah akhiran n yang berarti lain.

(21)

dalam pembahasan gender, yaitu sebagai posisi yang di-lain-kan setelah

laki-laki atau posisi yang dinomorduakan. Posisi lain dalam hal ini berarti

perempuan tidak menempati posisi yang setara dengan kaum laki-laki,

sehingga kepentingannya seringkali diabaikan.

2. Penelitian lain yang telah dilakukan adalah skripsi Karina Maheswara

tahun 2004 berjudul Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta

Toer: Kritik Sastra Feminis, dari FIB UGM. Penilitian tersebut mengkaji

perempuan dalam tokoh novel BM dalam perspektif Feminisme. Analisis

Kritik Feminis diterapkan dengan menggunakan pendekatan feministik,

yaitu dengan mengidentifikasi tokoh-tokoh perempuan, mengidentifikasi

tokoh laki-laki, dan menjelaskan mengenai sikap pengarang melalui

kosakata yang digunakan. Menurut Maheswara, ide feminisme lahir dari

respon tokoh-tokoh atas konstruksi sosial yang mendiskriminasikan

perempuan (2004: 72) sehingga kegagalan dalam memperjuangkan tokoh

Annelies dalam BM merupakan pencerminan dari kekalahan feminisme

dalam melawan konstruksi sosial.

3. Selain itu kajian mengenai BM telah banyak dilakukan, seperti terdapat

dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh I.B. Putera Manuaba berjudul

Novel-Novel Pramoedya Ananta Toer: Refleksi Pendegradasian dan

Interpretsi Makna Perjuangan Martabat Manusia. Dalam tulisanya,

pendegradasian martabat manusia banyak direfleksikan dalam karya

(22)

atas dan bawah, pembedaan manusia, pewarisan nasib rendah manusia

dan kekerasan pada manusia.

4. Tineke Hellwig dalam In The Shadow of Change juga melakukan

penelitian mengenai karya Pramoedya yaitu mengenai BM dan Gadis

Pantai pada tahun 2003. Hellwig mengungkapkan citra perempuan dalam

ketidakadilan situasi pada masa Kolonialisme dan Feodalisme dalam

penelitiannya. Minke sebagai tokoh utama dalam novel BM merupakan

narator yang menceritakan kisah NO dan Annelies yang menjadi korban

kekerasan sistem Kolonial dan Feodal yang bersifat patriarkhat.

Kekerasan tersebut disebabkan pula oleh pandangan negatif masyarakat

mengenai citra seorang nyai. Menurut Hellwig pola kekuasaan yang

ditampilkan dalam BM merupakan faktor pendorong terjadinya citra

negatif dan diskriminasi yang menimbulkan dampak kekerasan terhadap

kaum perempuan. Kekuasaan tersebut adalah: kekuasaan Kolonial orang

kulit putih atas orang Jawa, kekuasaan Patriarkhal atas perempuan dan

kekuasaan orang tua atas anak-anaknya.

B. Sekilas Tentang Pengarang

Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan asal Blora dan juga

lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925. Ia merupakan anak sulung dari

sebuah keluarga bertradisi Islam dan Nasionalis. BM merupakan salah satu

karyanya yang terinspirasi dari sosok wartawan Indonesia pertama bernama

(23)

dari Blora, ia mengidentikkan dirinya dengan Samin Surosentika (Peletak

dasar ajaran ‟Samin‟) dalam setiap karyanya.

Pramoedya Ananta Toer berasal dari keluarga yang cukup dihormati

di mata masyarakat. Meskipun status sosial kedua orang tuanya cukup tinggi

dan terpandang, keluarga Toer bukanlah keluarga yang kaya sehingga ibunya

mesti mengerjakan banyak pekerjaan rumah bahkan juga memelihara

bermacam-macam ternak dan menerima jahitan untuk mencari tambahan

penghasilan. Sejak kecil, ibunya selalu mendidik Toer dan adik-adiknya

dengan berulang-ulang mengingatkan mereka menjadi orang yang bebas

merdeka dan bermartabat. Nasihat Saidah membuat Toer tumbuh menjadi

mandiri dan tidak pernah meminta-minta. Ibunya juga yang membuatnya

mau mengejar ketertinggalannya di sekolah. Ia juga mengingat baik nasihat

ayahnya yang menyatakan bahwa hidup adalah perjuangan dan segala hal

adalah pergulatan (www.antaranews.com). Teeuw mengungkapkan bahwa

humanisme dan humanitas, universal, proletaris, individual atau modern,

marxisme, dan realisme sosialis merupakan label-label yang melekat pada

diri Pramoedya di masa yang berbeda-beda dan dalam konteks sosial yang

berlainan yang dikenakan padanya atau dipergunakan oleh dirinya sendiri.

Semua itu penerapan dari konsep benar, adil, baik dan indah (Kurniawan,

2003: 13).

Karya-karya Pramoedya dekat sekali dengan analisis historis, ia

menjadikan paparan peristiwa-peristiwa sejarah maupun pengalaman hidup

(24)

sastranya. Blora, masa penjajahan Jepang, revolusi kemerdekaan, agresi

militer Belanda I dan II, atau Perang Dunia II menjadi pilihan setting yang

menawan dalam novel maupun cerpen Pramoedya. Tetralogi ‟Pulau Buru‟

-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)

ditulis dengan latar belakang sejarah pergerakan nasional Indonesia dari

rentang sejarah 1898-1918. Disebut tetralogi karena keempat novelnya

merupakan rangkaian kisah sejarah pergerakan yang diperankan oleh tokoh

yang sama, yaitu Minke. Sedangkan Arus Balik ditulisnya dengan latar

belakang masuknya Islam ke tanah Jawa pada tahun 1990-an.

BM adalah novel pertama dari tertralogi cerita dari pulau Buru yang

banyak dikenal sebagai karya masterpiece Pramoedya. Tiga novel lainnya

adalah AnakSemua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. BM diterbitkan

oleh Lentera Dipanatara pada tahun 1980. Karya ini menghadirkan

perempuan dalam nuansa perjuangan. Kehadiran tersebut diindikasikan

dengan penggambaran karakter atau watak tokoh-tokohnya yang berkembang

sesuai proses yang panjang dan penuh problematika. Tema besar BM adalah

pertentangan kelas antara pribumi dengan dua kubu, yaitu Kolonialisme

Belanda dan Feodalisme di dalam budaya pribumi, yaitu budaya Jawa.

Pertentangan kelas tersebut menyebabkan berbagai konflik yang terjadi.

Salah satu konflik tersebut berupa ketidakadilan dalam berbagai segi

kehidupan. Kolonialisme tidak hanya menindas pribumi tetapi juga kaum

perempuan. BM berlatar belakang kota Surabaya dan Blora, namun dalam

(25)

Kehidupan masyarakat yang melatarbelakangi adalah masyarakat yang

terbagi menjadi dua jenis, yaitu pribumi dan kolonial. Budaya yang

melatarbelakangi masyarakatnya adalah budaya Jawa.

Secara keseluruhan novel atau karya-karya Pramoedya Ananta Toer

yang diketahui penulis menurut urutan tahun terbit adalah sebagai berikut:

a. Karya nonfiksi:

1. Mari Mengarang (1954, tidak jelas keberadaannya di tangan penerbit),

2. Sejarah Bahasa Indonesia, Satu Percobaan (1964), 3. Realisme Sosialis Dan Sastra Indonesia (1963), 4. Sikap Dan Peran Intelektual Di Dunia Ketiga (1981),

b. Karya fiksi:

1. Sepuluh Kepala Nica (1946, namun hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta 1947)

2. Kranji-Bekasi Jatuh (1947, fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi), 3. Perburuan (1950, pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta,

1949),

4. Keluarga Gerilya (1950),

5. Subuh (1951, kumpulan 3 cerpen),

6. Percikan Revolusi (1951, kumpulan cerpen), 7. Mereka Yang Dilumpuhkan I & II (1951), 8. Bukan Pasar malam (1951),

9. Di Tepi Kali Bekasi (1951, dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947),

10.Dia Yang Menyerah (1951, kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen),

11.Cerita Dari Blora (1952, pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953),

12.Gulat Di Jakarta (1953),

13.Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), 14.Korupsi (1954),

15.Cerita Dari Jakarta (1957), 16.Cerita Calon Arang (1957),

17.Sekali Peristiwa Di Banten Selatan (1958),

18.Panggil Aku Kartini Saja (1963, dibakar oleh AD 13 Oktober 1965),

19.Kumpulan Karya Kartini (1963, dibakar oleh AD 13 Oktober 1965),

(26)

21.Gadis Pantai (1962-1965),

22.Lentera (1965, tidak jelas nasibnya di tangan penerbit), 23.Bumi Manusia (1980), dilarang Jaksa Agung),

24.Anak Semua Bangsa (1981, dilarang Jaksa Agung), 25.Tempo Doeloe (1982, antologi sastra pra-Indonesia), 26.Jejak Langkah (1985, dilarang Jaksa Agung), 27.Sang Pemula (1985, dilarang Jaksa Agung), 28.Rumah Kaca (1988, dilarang Jaksa Agung), 29.Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995),

30.Arus Balik (1995),

31.Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997), 32.Arok Dedes (1999),

33.Mangir (2000), 34.Larasati (2000),

35.Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005).

Karya-karya Pramoedya, seperti halnya karya-karya sastra yang lain, relatif

tidak pernah lepas dari pembahasan mengenai perempuan, namun peneliti

mengambil beberapa contoh karya Pramoedya yang membahas perempuan

sebagai bahan perbandingan terhadap BM, yaitu : Gadis Pantai, Larasati, dan

Midah si Manis Bergigi Emas.

Dalam novel Gadis Pantai, perempuan digambarkan sebagai kaum

pribumi dalam posisi tertindas oleh sistem feodalisme sesuai dengan

temanya, yaitu pertentangan status sosial. Perempuan dalam Gadis Pantai

berkarakter lugu dan penuh kebebasan karena hidup dari latar belakang

lingkungan masyarakat pantai (Gadis Pantai, 1987: 19). Sejak dipaksa

menjadi istri percobaan Bendoro dan menjalani kehidupan baru di dalam

istana, Gadis Pantai merasa tertekan oleh banyak aturan yang diterapkan

padanya. Ia merasa kemerdekaan hidupnya direnggut oleh sebuah sistem

kekuasaan. Hal tersebut menimbulkan suatu proses perenungan dan pada

(27)

mengalami kekalahan. Kekalahan yang dialami oleh Gadis Pantai adalah

tidak mendapatkan hak menjadi ibu bagi anak kandungnya sendiri dan diusir

dari rumah Bendoro (Gadis Pantai, 1987: 253). Novel tersebut memiliki

persamaan dengan BM yaitu mengungkap kehidupan perempuan tertindas

yang bernasib menjadi istri tidak resmi seorang penguasa.

Nasib yang sama dialami oleh Larasati, yaitu sempat menjadi gundik

orang Arab pada masa Revolusi sebagai simbol kekalahan nasional dan harga

diri. Larasati merupakan novel berlatar revolusi dengan seorang aktris

bernama Larasati sebagai tokoh utamanya. Larasati dalam perjuangannya

juga mengalami diskriminasi ketika ia tidak diperkenankan ikut berjuang di

medan perang karena ia seorang perempuan. Diskriminasi dan perasaan

rendah diri membuat ia jatuh ke tangan orang Arab yang membuatnya

menjadi gundik. Sedangkan dalam novel Midah si Manis Bergigi Emas

perempuan digambarkan menjadi korban diskriminasi dan kekerasan di

lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Tokoh Midah dalam novel tersebut

menunjukkan berbagai diskriminasi terhadap perempuan di dalam lingkungan

keluarga hingga di lingkungan masyarakat di luar rumah. Kisah Midah

diakhiri dengan kekalahan moral setelah pulang kembali ke rumahnya.

Kekalahan moral tersebut ditunjukkan dengan diserahkannya anaknya yang

masih bayi kepada orang tuanya sementara ia memutuskan untuk pergi dari

rumah dan mengembara karena merasa tidak pantas menjadi ibu yang baik.

Karya tidak lepas dari konteks sosial pengarang, seperti yang

(28)

landasan untuk mengkaji konteks sosial pengarang, yaitu: bagaimana

pengarang mendapatkan mata pencahariannya, sejauh mana pengarang

menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, dan masyarakat seperti apa

yang dituju pengarang (Faruk, 2005: 4). Konteks sosial tersebut juga

ditemukan pada latar belakang Pramoedya Ananta Toer.

Pramoedya menjadi pengarang sejak masa kecilnya dan belajar

secara otodidak. Dalam profesi kepengarangannya, ia terinspirasi beberapa

pengarang besar seperti: John Steinbeck, William Soroyan, Lode Zielen dan

terutama Maxim Gorki (Kurniawan, 2002: 8). Sebagian besar karyanya

memperlihatkan sikap keadilannya yang kritis dan cenderung fanatik dengan

ketidakadilan dan penindasan (Kurniawan, 2002: 9). Sebagai tokoh Lekra

(Lembaga Kebudayaan Rakyat) karyanya terkait dengan aliran realisme

sosialis yang dekat dengan paham kerakyatan (Kurniawan, 2002: 11). Ia

merupakan pengarang yang menghabiskan seluruh hidupnya dengan menulis.

Sebagai tokoh Lekra ia memokuskan tema-tema ceritanya pada rakyat dari

golongan kelas menengah ke bawah.

Pramoedya menempatkan sosok perempuan sebagai inspirator utama

dalam karya-karyanya. Ibu Pramoedya sendiri adalah seorang perempuan

yang lembut hati dan pada waktunya dapat menjadi keras dan tegas. Ia

merupakan sosok yang paling dicintainya dengan tulus (Kurniawan, 2002:

17). Karena kecintaannya tersebut, karakter demikian tercermin dalam

(29)

perempuan juga terinspirasi dari sejarah hidup nenek Pramoedya yang

direfleksikan dalam novel Gadis Pantai.

Seorang pengarang ketika menuangkan pikiran, harapan, gagasan

dan perasaannya sekaligus menyusun ke dalam bentuk tulisan, melakukan

juga kontempelasi terhadap kejadian-kejadian atau gejala yang berkaitan

dengan kehidupan manusia (Kramadibrata, 2003: 65). Sedangkan dalam

merancang karyanya, pengarang tidak lepas dari pengamatannya mengenai

sejarah yang berlangsung. Hal ini sejalan dengan pernyataan Warren dan

Wellek bahwa sebagai dokumen sosial, sastra dipakai untuk menguraikan

ikhtisar sejarah sosial (Wellek dan Werren, 1989: 122). Pengarang sebagai

pencipta karya sastra mengemukakan ide, renungan dan pemikiran mengenai

peristiwa yang dialaminya, oleh sebab itu karya tidak dapat lepas dari

kenyataan sosial pada waktu berlangsungnya sebuah cerita, sehingga karya

sastra dipercaya mampu merefleksikan zamannya.

Bagi Pramoedya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional.

Menurut Eka Kurniawan, Pramoedya menganut paham Realisme Sosialis,

namun menurut pernyataan Pramoedya, ia tidak semata-mata mendukung

paham tersebut. Hal tersebut dikatakan dalam wawancaranya di majalah

TEMPO. Pramoedya tampil menjadi diri sendiri yang terpisah dari kriteria

kepengarangan, namun sebagai pengarang ia tidak lepas dari pengalaman

yang terjadi dari lingkungannya. Karya-karya yang diterbitkan bukan tidak

memiliki tujuan. Bagi Pramoedya keindahan karya sastra terletak pada

(30)

perjuangan melawan kolonial yang ditampilkan Pramoedya terinspirasi dari

pengalamannya selama ditindas oleh sistem yang membuatnya menjadi

tahanan politik selama berturut-turut.

Karena seringnya Pramoedya menyampaikan pesan perjuangan

melalui tokoh perempuan, Aveling mengatakan bahwa Pramoedya seorang

feminis, namun sebagai pengarang laki-laki, beberapa hal dari karyanya

nampak terdapat segi superioritas laki-laki yang mampu mengalahkan

keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam karyanya. Terbukti dalam

penggambaran tokoh Minke yang selalu dicintai beberapa tokoh perempuan

dalam BM.

…Nyai telah menceritakan asal muasal sakitnya, dan minta dengan amat sangat, bukan sekedar menganjurkan seperti dulu, agar aku segera datang sesuai dengan nasihat dokter. Kata dokter Martinet, tanpa kehadiranku Annelies tak punya harapan sembuh, boleh jadi akan semakin melarut (BM: 291).

Cuplikan tersebut menunjukkan bahwa sebagai laki-laki ia adalah

orang yang bertanggungjawab, para perempuan dalam BM tersebut

membutuhkan sosok laki-laki sebagai pelindung dan penyelamat keluarga

dan perusahaan. Kehadiran Minke (sebagai tokoh utama laki-laki) terkesan

menjadi sumber kebahagiaan dan keselamatan perusahaan NO dan Annelies.

Selain itu, sebagai tokoh utama, Minke merupakan sosok inspiratif dan

gambaran pribumi yang memilki harga diri dan semangat perjuangan.

Gaya penulisan Pramoedya juga tidak lepas dari faktor budaya

Samin. Pramoedya Ananta Toer berasal dari daerah Blora Jawa Tengah.

(31)

berani menentang pemerintah. Kelompok masyarakat tersebut dinamakan

masyarakat samin. Disamping bertradisi Jawa, masyarakat samin terbentuk

oleh penyatuan visi dan misi ajaran Saminisme.

Ajaran Samin (Saminisme) yang disebarkan oleh Samin Surosentiko

(1859-1914), adalah sebuah konsep penolakan terhadap budaya Kolonial

Belanda dan penolakan terhadap kapitalisme yang muncul pada masa

penjajahan Belanda abad ke-19 di Indonesia. Sebagai gerakan yang cukup

besar Saminisme tumbuh sebagai perjuangan melawan kesewenangan

Belanda yang merampas tanah-tanah dan digunakan untuk perluasan hutan

jati di Blora pada saat itu (www.wikipedia.com).

Kondisi masyarakat seperti inilah yang sendikit mempengaruhi

pengarang dalam menulis karyanya. Karya-karya Pramoedya sarat dengan

unsur perjuangan melawan sistem yang menindas dan tidak adil. Hal tersebut

sejalan dengan kondisi masyarakat samin yang anti kolonialisme sebab

kolonialisme adalah sistem yang menjajah dan merugikan rakyat. Kondisi

sosial budaya pada masyarakat samin berpengaruh pada karakter tulisan

Pramoedya yang bernada tegas menentang ketidakadilan.

C. BM dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Karya sastra tidak sekedar fakta imajinatif dan pribadi melainkan

juga merupakan pencerminan atau rekaman budaya dan suatu perwujudan

pikiran tertentu pada saat karya tersebut dilahirkan (Taine dalam Endraswara,

(32)

dikaji dengan menggunakan sosiologi sastra. Salah satu bentuk karya sastra

adalah novel. Taine menyebut novel bertujuan menggambarkan kehidupan

nyata, mendeskripsikan karakter-karakter, serta menyugestikan rancangan

tindakan dan memberikan penilaian terhadap motif-motif tindakan (Faruk,

2005: 46).

Hal tersebut sejalan dengan representasi kenyataan historis yang

terdapat dalam novel BM. Masyarakat yang digambarkan dalam novel BM

berlatar Surabaya dan Blora pada sekitar tahun 1898. BM merupakan novel

yang menceritakan berbagai kehidupan masyarakat yang tinggal dalam

lingkungan Kolonial dan Feodal dengan berbagai konflik yang mewarnainya.

Karakter-karakter tokoh di dalamnya merupakan representasi dunia

pemikiran dan perasaan pengarang dalam menampilkan ideologinya.

Pramoedya memilih tokoh nyai sebagai tokoh utama. Sistem

Kolonial telah menempatkannya dalam posisi tertindas secara ganda sebagai

seorang perempuan di hadapan laki-laki dan seorang pribumi di hadapan

penjajah Belanda. Tetapi di sisi lain, sebagai perempuan yang keluar dari

hierarki masyarakat tradisional Jawa dan menjadi “kekasih” penjajah,

seorang nyai mempunyai akses pada pengetahuan dan harta benda yang tidak

dimiliki perempuan pribumi lainnya. Kehidupan nyai yang sekaligus

merupakan kutukan dan berkah tersebut menurut Bandel sangat cocok

melukiskan keadaan bangsa yang terjajah (2006: 43). Tema tersebut

diungkapkan Pramoedya dalam novel BM sebagai representasi ideologinya

(33)

mengungkapkan bahwa penjajahan dapat terjadi di Indonesia khususnya di

Jawa karena masyarakat Jawa sendiri yang memberikan kesempatan kepada

bangsa Eropa (BM, 2006: 217). Ide-ide semacam itu seringkali digunakan

oleh pengarang dalam menyampaikan kebenaran dan perenungan kepada

pembaca dalam menyikapi fenomena yang terjadi dalam masyarakat.

Adapun yang disebut nyai menurut Leonard Blusse adalah

perempuan yang dipelihara pejabat kolonial maupun swasta-swasta Belanda

yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Bahkan sebelum Belanda

datang, pedagang Asia dan Portugis sudah terbiasa memelihara nyai. Pada

masa VOC, orang Belanda yang beristrikan perempuan bumi putera tidak

boleh membawa istri beserta anak-anak dari perkawinan itu ke negara

asalnya. Perkawinan dianggap tidak sah oleh pihak gereja. Peristiwa

demikian membuat kompeni memelihara nyai saja yang dapat ditinggalkan

setiap saat (Christanty dalam Basis, 1994: 21)

Pengarang sangat berpengaruh dalam model penciptaan karya sastra.

Semesta tokoh dan peristiwa yang diceritakan merupakan dunia yang

dipahami bersama-sama dengan orang lain. Melalui karya sebenarnya

seorang penulis atau seniman mencoba memahami dirinya sendiri. Studi

biografis baik dalam proses produksi karya seni maupun karya keilmuan

sosial dianggap memiliki sejumlah manfaat, terutama dalam kaitannya

dengan latar belakang proses rekonstruksi fakta-fakta (Ratna, 2003: 198).

Termasuk dalam hal ini peristiwa atau fakta-fakta sosial yang terjadi di

(34)

Di pihak lain pengarang juga memiliki keterbatasan pengalaman baik

secara sosiopsikologis maupun sosiobiologis sehingga data biografi yang

terkandung dalam karya sastra sebenarnya sudah dimanipulasikan ke dalam

bentuk-bentuk rekaan dan hanya sebagian kecil yang berkaitan dengan karya

sastra (Ratna, 2003: 200). Seperti yang digambarkan dalam novel BM, latar

belakang masyarakat Feodal dan Kolonial merupakan salah satu bentuk

fenomena yang ditunjukkan pengarang dalam menampilkan fenomena

kekuasaan serta ide-ide perjuangan melawan kedua sistem tersebut.

Termasuk bagaimana peran-peran perempuan dalam melakukan perlawanan

terhadap perlakuan diskriminatif dari kedua sistem tersebut.

Dalam hubungannya dengan masalah gender, perempuan pada

masyarakat kolonial menduduki kelas yang rendah setelah laki-laki sehingga

berpengaruh pada perannya dalam masyarakat. Hal tersebut dikemukakan

oleh feminis dari Amerika yang mendasarkan ideologinya pada konsep

marxis, bahwa perempuan merupakan suatu kelas dalam masyarakat yang

ditindas oleh kelas lain yaitu kelas laki-laki (Djajanegara, 2000: 2).

D. Perempuan dan Gender

Umar dalam Budiawati mengatakan bahwa jenis kelamin merupakan

penyifatan atau pembagian dua jenis manusia yang ditentukan secara

biologis. Sedangkan konsep gender adalah suatu sifat yang melekat pada

(35)

maupun kultural, misalnya perempuan dikenal lembut dan cantik (Bias

Gender dalam Verba Bahasa Indonesia, 2004: 12).

Ketika membahas permasalahan perempuan, satu konsep penting

yang tidak dapat diabaikan ialah konsep gender. Hal ini menjadi masalah

yang krusial kerana streotip yang dibentuk oleh gender dalam aplikasinya

memiliki kecenderungan menguntungkan jenis kelamin tertentu yakni

laki-laki. Keuntungan tersebut dilihat dari berbagai tatanan sosial dan budaya

yang berlaku pada masyarakat yang menganut budaya patriarkhi. Perempuan

sebagai lawan jenis laki-laki digambarkan dengan citra-citra tertentu yang

mengesankan inferioritas perempuan baik dalam struktur sosial maupun

budaya (Sugihastuti dan Istna, 2007: 83). Interaksi yang terjalin antara

perempuan dan laki-laki menuntut adanya satu jenis kelamin yang lebih

unggul daripada jenis kelamin yang lain yaitu perempuan.

Proses pengambilan keputusan dalam sebuah keluarga juga tidak

terlepas dari kontrol kekuasaan laki-laki yang dianggap lebih berwenang

(Sugihastuti dan Istna, 2007: 82). Hal tersebut terjadi dan seolah dilegalkan

oleh konstruksi kebudayaan setempat. Proses yang berulang-ulang akhirnya

banyak membentuk pandangan negatif tentang kaum perempuan yang

diantaranya meliputi fungsi, peran, dan kedudukan mereka dalam kehidupan

masyarakat. Salah satu adalah stereotip bahwa perempuan merupakan kaum

yang lemah, sedangkan laki-laki adalah kaum yang kuat. Berdasarkan hal ini

perempuan memiliki kecenderungan yang kuat untuk tergantung kepada

(36)

dalam berbagai hal seperti reproduksi, seksualitas, sistem pembagian kerja

dan sebagainya (Sugihastuti dan Istna, 2007: 83).

Diskriminasi merupakan aksi negatif yang bersumber dari prasangka

dan stereotip. Prasangka adalah sebuah sikap yang cenderung negatif

terhadap anggota kelompok sosial tertentu hanya karena keanggotaan mereka

dalam kelompok tertentu. Sedangkan stereotip adalah kerangka berpikir

kognitif yang menyatakan bahwa semua orang adalah bagian dari sebuah

kelompok sosial yang menunjukkan karakteristik yang serupa. Parasangka

berkaitan erat dengan stereotip dan wujud reaksinya berupa tindakan

diskriminasi, salah satunya adalah rasisme atau pembedaan bedasarkan ras

(Robert A. Baron dan Donn Byrne, 2002: 255-256).

Fakih dalam Budiawati menyatakan bahwa stereotip adalah pelabelan

atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Menurutnya, stereotip

selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotip

tersebut bersumber dari pandangan gender. Terjadinya ketidakadilan terhadap

jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, bersumber dari stereotip yang

dilekatkan padanya. Misalnya masyarakat beranggapan bahwa perempuan

memiliki tugas sekunder, seperti sebagai ibu rumah tangga. Anggapan bahwa

laki-laki lebih kuat lebih cerdas dan emosinya lebih stabil, sementara

perempuan lemah, kurang cerdas dan emosinya labil, juga hanyalah persepsi

(37)

E. BM dan Kondisi Sosial Budayanya

Sejak jaman penjajahan Belanda, Jawa telah dijadikan pusat

pemerintahan Hindia Belanda. Hindia Belanda adalah nama Indonesia setelh

dikuasai pemerintah Kolonial Belanda. Pada saat itulah terjadi berbagai

perubahan sosial yang lebih canggih, masyarakat Jawa telah terbagi menjadi

lebih banyak kelompok dibandingkan ketika sebelum perang kemerdekaan

(Murniati, 2004: 87).

Di bawah Kolonialisme Belanda, politik diskriminasi dan pemaksaan

budaya mengakibatkan berakarnya mentalitas inlander atau konsep rendah

diri dalam masyarakat pribumi, terlebih pada kaum perempuan. Sebagai salah

satu tokoh yang sadar elit dan retorika Kolonial, Soekarno berhasil

mengungkapkan adanya manipulasi dan kesenjangan Kolonial dalam

mengkonstruksikan mentalitas inlander pada masyarakat pribumi (Ita, 2007:

9). Hal tersebut adalah merupakan bagian dari misi kolonial untuk menjajah

wilayah Hindia.

Culturstelsel yang terjadi pada abad ke-19 adalah landasan kuat

proses legalitas klasifikasi rasial di Hindia Belanda. Jc Baud adalah salah satu

pembentuk dan pelaksana culturestelsel, menegaskan bahwa bahasa, warna

kulit, agama, moral, keturunan, ingatan historis dan semuanya adalah

sepenuhnya berbeda antara orang-orang Belanda dan orang-orang Jawa.

Orang Belanda adalah penguasa dan Jawa adalah yang dikuasai. Salah satu

penegasan atas politik rasial ini dilakukan oleh Gubernur Jendral JJ Rochusen

(38)

antara penjajah dan yang dijajah dengan mengagung-agungkan keindahan

kulit putih dan superioritas moral serta intelektual bangsa kulit putih terhadap

bangsa kulit cokelat. Sampai pada abad 19, asumsi dan klasifikasi rasial ini

menjadi legal (Ita, 2007: 59-60).

Warna putih di Indonesia mempunyai makna yang positif daripada

kulit berwarna. Goon dan Craven mengatakan bahwa secara garis besar, di

Asia, putih adalah simbol dari kesucian, kebaikan, keindahan dan kemurnian.

Selain itu secara garis besar, putih adalah simbol dari kebersihan, kecantikan,

kesucian, kebaikan, dan derajat yang tinggi. Sebaliknya warna hitam identik

dengan kotor, jelek, dosa, malam (gelap) dan sedih (Ita, 2007: 15-16). Hal

tersebut yang menyebabkan diskriminasi perempuan yang berawal dari

pandangan mengenai warna kulit.

Perempuan dalam pandangan tradisi Jawa tersubordinasi di bawah

laki-laki. Perempuan dipandang hanya sebagai subyek yang terikat sistem

patriakhat. Hal tersebut diungkapkan oleh Suhandjati (2001: 94) bahwa

perempuan hanya bertugas mengurusi soal-soal domestik, yaitu urusan

kerumahtanggaan. Oleh karena itu perempuan tidak perlu berpendidikan

tinggi. Di depan umum seorang istri tidak boleh lebih menonjol dari suami.

Sampai sekarang pun masih tetap terdengar bahwa perempuan harus bisa

macak (berhias diri), masak (memasak), dan manak (beranak), yang

merupakan tugas-tugas domestik bagi perempuan yang sudah berkeluarga,

yaitu tugas-tugas internal kebutuhan keluarga. Oleh karena itu, bagi orang

(39)

kuat membelenggu perempuan dari kalangan masyarakat Feodal Jawa,

sehingga mempunyai pengaruh yang sangat luas (Murniati, 2004: 105).

Pengaruh tersebut terealisasikan dalam berbagai macam bentuk diskriminasi

terhadap perempuan.

Pendidikan berjalan apa adanya dalam kelas-kelas tertentu dan dari

tahun ke tahun. Kebanyakan para murid dari golongan pria saja, sedangkan

gadis pribumi tidak seperti para gadis asing lainnya yang ikut mengenyam

pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi (www.suaramerdeka.com).

Saat itu situasi politik yang tak menentu dan ditambah pengaruh adat yang

kuat menjadikan perempuan pribumi terbelakang dalam bidang pendidikan.

Wanita semata-mata hanya bertugas mengurus rumah tangga dan mengasuh

anak-anaknya. Setelah melanjutkan sekolah rendah, mereka menjadi

gadis-gadis pingitan dan dipersiapkan untuk berumah tangga. Namun di sisi lain

perempuan yang berasal dari keluarga petani dan buruh sebenarnya tidak

banyak terikat oleh ajaran-ajaran raja-raja atau agama yang datang bersama

kekuatan Kolonial. Mereka memiliki peran yang berbeda dengan perempuan

Feodal atau kalangan atas. Mereka berperan dalam bidang sosial dan

ekonomi. Otoritasnya dalam keluarga jauh lebih besar (Murniati, 2004: 105).

Dalam era VOC pada tahun 1600-an, masyarakat Eropa selalu

memerlukan ijin untuk menikah. Garis pemisah utama dalam masa ini bukan

ras melainkan agama. Karena keadaan tersebut, banyak laki-laki Eropa yang

tidak pernah mengawini perempuan Asia, tetapi hidup dengannya sebagai

(40)

bukan Kristen tetap berlaku bahkan setelah VOC tidak ada lagi. Pada tahun

1805 masih saja menjadi bahan perbincangan (Hellwig, 2007: 35). Nyai

merupakan budak perempuan bagi laki-laki Belanda. Budak perempuan

biasanya berasal dari lapisan masyarakat yang paling miskin. Mereka tidak

berada pada posisi negosiasi atau dapat mengajukan tuntutan apa pun

(Hellwig, 2007: 36). Anak yang dihasilkan dari perkawinan tersebut juga

digolongkan menjadi bagian masyarakat yang berbeda, yaitu masyarakat

indo. Pada masa Kolonial, kesetaraan antara golongan kulit putih dan indo

mustahil terjadi (Hellwig, 2007: 26-27).

James Peacock dalam Murniati mengatakan bahwa kedudukan dan

peran perempuan di Indonesia diwarnai oleh sistem masyarakatnya. Secara

garis besar, sistem masyarakat di Indonesia dikelompokkan menjadi sistem

matrilineal, patrilineal, dan bilineal (Getar Gender, 2004: 80). Perubahan ke

tahap Feodalisme, menggeser kedudukan dan peranan perempuan lewat

ajaran raja-raja dalam suatu wilayah. Kolonialisme dan Imperialisme

mendorong semakin kuatnya budaya patriarkhi, atau membuat kedudukan

perempuan semakin rendah. Rendahnya pendidikan pada akhirnya juga

menjebak perempuan pada golongan bawah ke dalam sistem patriarkhi yang

kuat (Murniati, 2004: 84). Akar patriakhi di Indonesia bersumber dari

beberapa aspek, yaitu: sosiologi atau pembagian kerja dan fungsi masyarakat,

kebudayaan (feodalisme) dan ajaran agama, tradisi atau adat istiadat, politik

(kolonialisme), imperialism, dan militerisme, ekonomi atau kapitalisme

(41)

F. Diskriminasi terhadap Perempuan

Menurut Firestone, kelas sosial yang didasarkan pada jenis kelamin

merupakan konsep dasar yang dapat dipergunakan untuk menganalisis

berbagai ketidakadilan sosial antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan

kelas sebenarnya adalah perbedaan secara biologis antara laki-laki dan

perempuan. Menurutnya struktur biologi perempuan merupakan kelemahan

yang menyebabkan perempuan dikuasai laki-laki dengan sistem patriarkhi

(Diskriminasi Gender, 87).

Diskriminasi yang terdefinisikan dalam konvensi persamaan hak

menjelaskan kriteria dan bentuk diskriminasi yang dapat dikategorikan

terhadap perempuan.

BAGIAN I Pasal 1

Untuk tujuan Konvensi yang sekarang ini, istilah “diskriminasi terhadap perempuan” berarti setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak azasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan (Konvensi Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. www.bappenas.go.id).

Diskriminasi terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat

tidak terjadi begitu saja melainkan terbentuk melalui proses yang panjang.

Pada waktu manusia masih berpikir sangat sederhana mereka belajar dari

(42)

pembagian kerja untuk kelangsungan hidup. Mulailah pembagian kerja

untuk kelangsungan hidup atas dasar biologis. Menurut sejarah sejak zaman

itu, terjadi pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Kemudian muncul

perbedaan jenis pekerjaan luar (publik) dan pekerjaan dalam (domestik).

Terisolasi oleh lingkungan hidupnya, maka perempuan cenderung

berkelompok, mengelola makanan dan obat-obatan. Ini berbeda dengan

laki-laki yang bekerja di luar secara bebas. Aturan mengenai hidup termasuk

pembagian kerja dibuat perempuan yang hidupnya menetap. Budaya ini

dinamakan budaya matriakhat, dengan anak dikenal dari garis keturunan ibu.

Perubahan budaya matriakhat menjadi patriakhat terjadi pada waktu laki-laki

mengenal peternakan. Sifat peternakan yang menciptakan harta,

membutuhkan pelimpahan harta sebagai warisan. Karena kebutuhan

pelimpahan ini, laki-laki mulai mencari keturunnnya untuk diberi hak waris.

Sejak itu, anak dikenal dari garis keturunan ayah (Murniati, 2004: 79).

Perjalanan budaya patriarkhi semakin kuat dan mantap ketika terjadi

perubahan sosial ke masyarakat Feodal. Kemudian masyarakat ini

berkembang menjadi masyarakat kapitalis dan akhirnya dikunci dengan

sistem militerisme. Akibat perubahan sosial tersebut, masyarakat

berpandangan bahwa norma manusia dianggap benar apabila dipandang dari

sudut laki-laki. Semua ini berlaku di berbagai aspek kehidupan, yaitu seperti

aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, bahkan agama. Keadaan inilah

yang melahirkan segala macam diskriminasi terhadap perempuan, walaupun

(43)

Perempuan Indonesia mempunyai peran dalam merebut

kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah. Bahkan lebih dari itu, posisi

perempuan berada dalam kesetaraan dengan kaum laki-laki, jauh sebelum

masuknya Feodalisme dan Kolonialisme dengan berbagai pandangan

ideologi gendernya yang bias (Murniati, 2004:94). Budaya patriarkhi yang

dibentuk oleh sistem Kolonial dan Feodal merupakan salah satu faktor

penyebab terjadinya diskriminasi terhadap perempuan. Kekerasan adalah

tindakan atau perilaku atau aksi sosial yang berakar pada diskriminasi dan

berdampak atau berakibat secara tidak seimbang kepada perempuan. Bentuk

kekerasan bisa sangat beragam tergantung pada lingkungan budaya

(MAKARA, 2003 Vol 7: 66).

Dalam konteks peraturan perundang-undangan dan kaitannya dengan

nilai sosial yang hidup di masyarakat, misalnya dalam permasalahan

diskriminasi jenis kelamin, permasalahan utama yang dihadapi adalah

kuatnya pandangan sebagian masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih

tinggi daripada perempuan. Pandangan demikian tidak hanya terdapat pada

kaum laki-laki, tetapi banyak juga perempuan yang mempunyai pandangan

bahwa secara kodrati tidak setara atau lebih rendah dari laki-laki.

Apabila seseorang yang berpandangan demikian berada di posisi

pembentuk peraturan perundang-undangan atau pembuat kebijakan publik,

potensi terjadinya kebijakan yang diskriminatif menjadi lebih besar. Di

samping itu, kurangnya perhatian para pembentuk peraturan

(44)

pemerintahan juga berperan besar melahirkan peraturan

perundang-undangan yang bersifat diskriminatif (www.bappenas.com).

Kebijakan yang bersifat diskriminatif masih sering terjadi di

beberapa daerah, antara lain dengan dibentuknya peraturan daerah (perda)

yang mengatur tentang tata cara berpakaian dan batas ruang gerak

perempuan di ruang publik serta melarang perempuan keluar malam tanpa

muhrim. Disamping itu, sejak diberlakukannya UU Penghapusan Kekerasan

Dalam Rumah Tangga, laporan terhadap terjadinya tindakan kekerasan

terhadap perempuan semakin meningkat, sedangkan catatan terjadinya

kekerasan terhadap laki-laki tidak tersedia. Sistem sosial belum

memungkinkan hal tersebut dilakukan.

Diskriminasi merupakan aksi yang cenderung menimbulkan dampak

negatif terhadap perempuan. Dampak tersebut antara lain adalah harapan

yang lebih rendah terhadap perempuan, kepercayaan diri dan persepsi diri

yang rendah terhadap perempuan, reaksi negatif dan glass ceiling atau

disebut juga dengan pembedaan gender dalam mendaki tangga karir (Robert

A. Baron dan Donn Byrne, 2005:249-253). Diskriminasi terhadap perempuan

juga menyebabkan berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan baik

secara fisik maupun nonfisik atau psikologis. Meskipun berbagai upaya telah

dilakukan namun diskriminasi tersebut masih ada hingga di masa sekarang.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas

Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2005 terjadi 20.392 kasus

(45)

kasus pada tahun 2006. Selain itu, Indonesia sebagai negara yang juga

meratifikasi berbagai konvensi, salah satunya adalah meratifikasi Konvensi

Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention

on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/

CEDAW) melalui UU Nomor 7 Tahun 1984, tetapi dalam tataran

pelaksanaan ketentuan yang ada dalam konvensi tersebut belum sepenuhnya

dijadikan acuan bagi aparat penegak hukum dalam penyelesaian kasus-kasus

yang berhubungan dengan tindakan diskriminasi khususnya diskriminasi

Referensi

Dokumen terkait

Selain pengelolaan waktu, langkah-langkah pembentukan mental yang sehat dalam prilaku Islami di lingkungan keluarga dapat dibiasakan, seperti: 1) Aktivitas hubungan suami istri

Artinya dalam hal ini delapan istri menganggap bahwa memang tugas perempuan sebagai seorang istri dan ibu dalam keluarga adalah mengurus pekerjaan rumah

diskriminasi verbal, fisik, dan pemaksaan kehendak, seberat apapun konflik dalam keluarga. d) Fungsi sosial budaya yaitu Keluarga juga berperan penting dalam mengenalkan

Bekerjanya perempuan pada berbagai sektor kehidupan menyebabkan perempuan memiliki peran ganda. Selain berperan sebagai ibu rumah tangga, kini perempuan juga

Perempuan yang pertama kali kita temui adalah IBU di dalam keluarga kita, lalu kakak/ adik perempuan kita, selanjutnya kakak atau adik perempuan ibu/ bapak kita, lalu istri

Suami perempuan pemecah batu tidak merasa keberatan jika istri bekerja, karena dengan istri bekerja akan menambah penghasilan keluarga dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga

Selain berdampak negative terhadap kehidupan keluarga (suami istri), dampak yang paling mengerikan adalah terhadap anak keturunan. Jelasnya anak dari orang tua yang

Hasil wawancara peneliti terhadap istri yang ditinggalkan untuk merantau ibu Nurhaya selaku responden peneliti yang menyatakan bahwa : “Dampak positif bagi keluarga kami perekonomian