KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
(ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA)
Skripsi ini disusun guna memperoleh gelar Sarjana Fakultas Universitas Ahmad
Dahlan Yogyakarta
Disusun oleh: Fatonah Winiarum
NIM : 05025002
PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keberagaman dalam sebuah masyarakat dapat menyebabkan
terjadinya berbagai fenomena diskriminasi. Diskriminasi merupakan suatu
pola pembedaan yang kerap terjadi dalam masyarakat dan dapat memicu
terjadinya bermacam-macam konflik. Contoh-contoh bentuk diskriminasi
dalam masyarakat yang sering ditemukan adalah dalam hal perbedaan warna
kulit, kelas sosial, hingga jenis kelamin serta peran-peran yang
mempengaruhinya di dalam masyarakat.
Secara formal, pengertian diskriminasi diatur di dalam UU No. 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 1 ayat (3) undang-undang
tersebut menyatakan,
„Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan
politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau
penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya.‟
Diskriminasi merupakan salah satu ciri kolonialisme. Hal tersebut
selain terjadi dalam bidang pendidikan, juga terjadi dalam lapangan kerja
pribumi hanya dapat menempati posisi-posisi atau jabatan terendah dalam
pemerintahan dan dampaknya berpengaruh pada perbedaan upah yang
diterima pegawai pribumi tersebut. Dalam pergaulan sehari-hari terjadi
fenomena perbedaan besar antara kelompok berkulit sawo matang dengan
kulit putih. Perkawinan merupakan contoh ciri masyarakat kolonial yang
sangat menonjol. Laki-laki kulit putih dengan bebas memperistri atau
menggunakannya sebagai istri tidak sah perempuan pribumi sebagai gundik,
tetapi jelas tidak dapat terjadi sebaliknya (Ratna, 2008: 15). Perempuan
pribumi tidak dapat melakukan hal tersebut terhadap laki-laki kulit putih.
Ketika masyarakat kolonial masuk, tujuan mereka semata-mata tidak
untuk menjajah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
negara-negara barat mendorong kaum kolonial mengunjungi daerah dan berlayar
dengan tujuan 3 G (Gold, Gospel, Glory) yang berarti emas atau kekayaan,
agama dan kejayaan. Sejalan dengan pernyataan Kartodirjo, bahwa pada
umumnya Kolonialisme dipicu oleh faktor lain, seperti: politik, agama dan
petualangan (Ratna, 2008: 11). Berbeda dengan Inggris yang menggunakan
tanah jajahannya untuk berdagang, Belanda melakukan politik kolonialisme
dengan cara memunguti upeti. Atas usulan Van den Bosch, Belanda
melakukan Politik Tanam Paksa yang berlangsung sejak tahun 1830 sampai
dengan 1870 untuk menopang perekonomian yang memburuk. Baik upeti
maupun tanam paksa keduanya menyebabkan kesengsaraan terhadap rakyat
Indonesia. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa:
rendah diri dalam masyarakat pribumi. Sebagai salah satu seorang sadar elit yang sadar retorika Kolonial, Soekarno mengungkapkan
adanya manipulasi dan kesenjangan Kolonial dalam
mengkonstruksikan mentalitas inlander di masyarakat pribumi (Ita, 2007: 9).
Diskriminasi sengaja diciptakan oleh kolonialis untuk kepentingan
politik. Kebijakan politik yang diterapkan kepada masyarakat menimbulkan
fenomena perbedaan dalam masyarakat. Kaum pribumi dibedakan dalam
banyak instrumen seperti penerapan bea cukai, sekolah, gaya berpakaian,
perdagangan, dan sebagainya. Instrumen yang tercipta merupakan alat untuk
mengontrol dan mengendalikan secara ketat berdasarkan ras. Pribumi yang
mempunyai pengaruh, memiliki harta dan senjata dijadikan agen demi
kepentingan Pemerintahan Kolonial. Pada waktu itu, masyarakat kulit
berwarna diharuskan bertingkah laku sesuai dengan warna kulit tersebut
sehingga terjadilah budaya diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat
tersebut (Segregasi Ras pada Kota-Kota Kolonial .www.yahoogroups.com).
Politik diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda
berhasil mengeksploitasi pribumi yang saat itu masih terbelakang.
Kolonialisme berpengaruh juga terhadap sistem klasifikasi dalam
masyarakat, contohnya di Jawa. Masyarakat yang semula dibedakan
berdasarkan pada keturunan, terbagi menjadi berdasarkan kepemilikan tanah
sehingga tercipta berbagai bentuk diskriminasi hingga menimbulkan
pembagian hak asasi yang tidak merata. Kedatangan Pemerintah Kolonial di
Nusantara selama kurang lebih 350 tahun mengakibatkan berbagai dampak
aspek, salah satunya terhadap kaum perempuan. Budaya Jawa sebelum
sistem kolonial masuk menempatkan perempuan dalam posisi subordinat,
yaitu sebagai makhluk kedua setelah laki-laki. Setelah kolonial masuk
perempuan semakin menempati posisi yang tidak menguntungkan.
Kolonialisme menempatkan perempuan sebagai obyek sistem patriarkhi.
Dampak yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh kaum perempuan
pribumi tetapi perempuan pendatang dari Eropa.
Bukti adanya diskriminasi tercermin dalam sistem pergundikan.
Sistem tersebut memaksa perempuan pribumi dieksploitasi untuk
kepentingan Belanda. Salah satunya adalah dengan sistem perdagangan atau
jual beli secara paksa. Perempuan pada masa kolonial mayoritas bekerja
sebagai budak di rumah-rumah orang Belanda. Jika salah satu dari mereka
menjadi nyai, statusnya naik dari seorang pembantu menjadi tuan rumah
tidak resmi. Nyai adalah sebutan bagi perempuan pribumi yang menjadi istri
tidak resmi laki-laki Eropa. Meskipun demikian, perlakuan terhadap
perempuan yang menjadi gundik tersebut terasa tidak adil. Seorang
perempuan yang menjadi gundik tidak mempunyai hak apa-apa dalam hal
kepemilikan, bahkan jika anak lahir, ia tidak memilki hak anaknya. Seorang
nyai dapat diusir sewaktu-waktu dari rumah majikannya (Helwig, 2007: 38).
Seorang nyai memiliki akses yang terbatas dalam hubungan sosial
dengan masyarakat pribumi. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti
rasa segan dari masyarakat pribumi terhadap kedudukan nyai dan adanya
pergaulan dengan masyarakat pribumi. Selain itu ia juga terkucil dari
pergaulan Eropa (Sugihastuti dan Istna, 2007: 86). Seorang nyai dalam
dunia patriarkhi dipandang sebagai kelas yang lebih rendah.
Mengkaji perempuan, hal yang tidak dapat lepas adalah masalah
gender. Gender bukan diartikan menurut biologi, tetapi juga berdasarkan
konstruksi masyarakat. Dalam kajian perempuan, gender dipertimbangkan
untuk mengkaji fenomena perempuan dalam masyarakat dalam kurun waktu
tertentu. Khususnya dalam penelitian yang mengambil latar kolonialisme
tersebut. Perempuan sebagai lawan laki-laki digambarkan dalam citra-citra
tertentu yang mengesankan inferioritas perempuan, baik dalam struktur
sosial maupun budaya (Sugihastuti dan Istna, 2007: 83). Sementara itu
perempuan memerlukan aktualitas diri dalam lingkungannya. Oleh karena
itu perempuan memerlukan sarana dalam pergaulan sosial dengan
masyarakat tempat ia tinggal dengan tidak memperhitungkan berbagai
perbedaan seperti, agama, ras, etnis dan sebagainya (Sugihastuti dan Istna,
2007: 84).
Stereotip yang dibentuk oleh gender dalam aplikasinya memiliki
kecenderungan menguntungkan jenis kelamin tertentu, yakni laki-laki.
Keuntungan tersebut dilihat dari berbagai tatanan sosial dan budaya yang
berlaku pada masyarakat yang menganut budaya patriarkhi. Dampak lain
yang timbul akibat stereotipe terhadap perempuan dapat berupa pembagian
ruang untuk perempuan. Dalam perspektif feminisme dikenal dua
domestik dan publik. Ruang domestik melingkupi aktivitas yang berkaitan
dengan rumah tangga, sedangkan ruang publik menyangkut aktivitas
perempuan yang dilakukan di luar rumah baik interaksi dengan masyarakat
sekitar maupun dalam lingkungan pekerjaan (Sugihastuti dan Istna, 2007:
84)
Permasalahan perempuan tidak hanya muncul dalam masyarakat
tetapi juga terefleksikan dalam karya sastra. Karya sastra sebagai cermin
masyarakat pada zamannya mampu mengungkap fenomena-fenomena
tersebut dalam bentuk cerita. Karya sastra merupakan refleksi pengarang
pada zamannya meskipun ia tidak hidup dalam zaman yang sedang
ditulisnya. Seorang pengarang 1980-an dapat menulis novel tahun 1800
dengan menggunakan referensi data yang menunjang. Oleh sebab itu
penulisan karya sastra tidak akan lepas dari kenyataan sosial budaya yang
melatarbelakanginya.
Penulis memprediksi adanya perilaku diskriminasi terhadap
perempuan dalam novel Bumi Manusia (selanjutnya disingkat BM) karya
Pramoedya Ananta Toer. Novel tersebut berlatar belakang kehidupan sejarah
Indonesia pada tahun 1898-an, yaitu ketika Kolonialisme dan Feodalisme
masih ada di tanah air. Feodalisme yang terjadi di wilayah Jawa masih kuat
membelenggu ruang gerak kaum perempuan. Pada masyarakat feodal,
perempuan ditempatkan sebagai kanca wingking. Istilah kanca wingking
teman hidup yang pekerjaanya berada di sektor domestik dan tidak setara
dengan posisi suaminya.
Berbeda halnya dengan perempuan yang hidup di pedesaan.
Perempuan di kalangan masyarakat biasa di pedesaan cenderung memiliki
posisi setara dengan kaum laki-laki. Perempuan dalam keluarga feodal tidak
memiliki peran dan kedudukan yang setara. Dalam lingkungan yang
demikian perempuan kerap mendapat perlakuan yang tidak adil serta
berbagai bentuk penindasan dan kekerasan.
Penciptaan karya sastra selalu bersumber dari fenomena yang terjadi
dalam masyarakat (Rampan dalam Sugihastuti dan Istna, 2007: 81). Karya
sastra mengungkap struktur sosial, fungsi dan peran masing-masing anggota
masyarakat dan interaksi di dalamnya. Secara lebih sederhana, karya sastra
mengungkap unsur-unsur dalam masyarakat yang terdiri dari laki-laki dan
perempuan. Interaksi yang terjalin di dalamnya merupakan tema yang
menarik, sebab dalam perkembangannya, interaksi tersebut menuntut adanya
jenis kelamin yang lebih unggul dibanding dengan yang lainnya sehingga
memicu tanda-tanda diskriminasi yang berasal dari tindak inferioritas
tersebut. Pola diskriminasi terhadap perempuan juga terlihat dalam
karya-karya Belanda yang dilatarbelakangi oleh kehidupan Indonesia di masa
Kolonialisme. Penelitian mengenai hal tersebut telah dilakukan oleh Tineke
Hellwig.
Beberapa karya Indonesia masih menampilkan segi keterpurukan
Siti Nurbaya, Pengakuan Pariyem, Ronggeng Dukuh Paruk dan sebagainya.
Dalam novel-novel tersebut perempuan masih dijadikan obyek seksualitas
dan subordinasi budaya tradisional dan pada akhirnya menyerah kepada
keadaan setelah memperjuangkan haknya.
BM dipilih sebagai bahan penelitian karena di dalamnya sarat dengan
nilai-nilai perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan yang
diciptakan masyarakat kolonial dan feodal Jawa. BM menggambarkan
perempuan sebagai korban sekaligus di sisi lain menjadi sosok pertama
penggerak semangat perjuangan. Selain itu, dipilihnya BM karena
merupakan karya masterpiece dari tetralogi novel Pulau Buru sebagai cerita
awal perjuangan bangsa melakukan berbagai bentuk perlawanan. BM
mendapat berbagai penghargaan seperti The PEN Freedom the write Award
pada 1988, Ramon Magsaysay Award tahun 1995, Fukuoka Cultur Grand
Price, Jepang tahun 2000 dan pada tahun 2004 mendapatkan penghargaan
The Norwegian Authoers Union dan Pablo Nuruda dari presiden Republik
Chile Senor Richard Lagos Escobar karena faka-fakta kemanusiaan yang
diungkap tersebut (Toer, 2006:1). Pramoedya sebagai pengarang merupakan
novelis terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga di beberapa negara di
seluruh dunia dan banyak mendapatkan penghargaan yang bersifat
internasional dari karya-karyanya. Selain itu berbagai permasalahan yang
ditemukan dalam BM masih relevan dibahas di masa sekarang.
Penulis mencoba mengkaji tokoh perempuan dalam penelitian ini
1. Tokoh perempuan dihadirkan sebagai kaum yang banyak mendapatkan
perlakukan diskriminatif terhadap sistem namun di sisi lain perempuan
sebagai salah satu pencipta nilai-nilai perjuangan. Contohnya dapat
dilihat dari bagaimana tokoh Nyai Ontosoroh mengutarakan
pemikirannya sebagai perempuan dan sebagai masyarakat pribumi.
2. Pentingnya kajian gender untuk menentukan peran-peran perempuan
dalam masa Kolonial tersebut sebagai dasar analisis, sebab dalam
mengkaji perempuan, hal yang tidak boleh lepas adalah permasalahan
gender. Penelitian ini difokuskan pada tokoh-tokoh perempuan, namun
tokoh laki-laki juga sedikit dibahas untuk memperkuat analisis dan
kajian terhadap bentuk-bentuk diskriminasi.
3. Perempuan dalam novel Pramoedya rata-rata digambarkan dalam
berbagai keistimewaan sehingga terkesan memfokuskan pada kelebihan
perempuan. Hal ini terkait dengan sosok Pramoedya yang menjadikan
seorang ibu atau perempuan sebagai figur yang memiliki karakter
istimewa. Pembuatan novel Gadis Pantai pun inspirasinya diambil dari
nenek Pramoedya yang sangat disayanginya dan pernah menjadi korban
sistem Feodalisme salah satu bangsawan di Jawa.
Adapun penggunaan istilah obyek kajian dalam penelitian ini adalah
perempuan. Istilah perempuan digunakan dalam penelitian ini dengan alasan
sebagai berikut:
1. Istilah perempuan juga berasal dari kosakata empu yang berarti orang
2. Istilah wanita bersumber dari bahasa Sanskerta, dengan kata dasar wan
yang berarti nafsu sehingga kata wanita mempunyai arti obyek
seksualitas (Handayani, 2008: vi)
3. Dalam bahasa Jawa, istilah wanita adalah akronim wani ditata, artinya
keberaniannya hanya ada karena orang lain memintanya. Hal ini
menunjukkan bahwa wanita adalah obyek yang hampir tidak memiliki
kehendak (Handayani, 2008: vi). Istilah wanita menurut tembung
Jamboran berasal dari istilah wani ing tata (Basis, 1988: 235).
4. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah perempuan berarti
manusia yang memiliki puki (vagina), dapat mestruasi, hamil,
melahirkan dan menyusui (KBBI tahun 2005).
Berdasarkan pertimbangan di atas penggunaan istilah perempuan lebih
bermakna positif dibanding dengan istilah wanita.
Judul penelitian ini ditentukan untuk mengungkap bentuk-bentuk
diskriminasi terhadap perempuan terkait dengan latar belakang sosial budaya
pada masa kurun waktu 1800 di Jawa. Penelitian ini dimaksudkan untuk
mengungkap potret kehidupan masyarakat feodal dan kolonial,
bentuk-bentuk diskriminasi serta dampak yang diakibatkannya. Kondisi sosial
budaya dalam BM yang demikian membuat peneliti mengambil teori
Sosiologi Sastra sebagai pisau bedah analisis novel BM. Tujuannya agar
mampu mengungkap fakta-fakta sosial budaya masyarakat yang terbentuk
dalam lingkungan novel BM. Pembahasan dengan fokus tokoh perempuan
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang muncul dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Terdapat gambaran sosial budaya tertentu yang menyebabkan terjadinya
diskriminasi dalam novel BM.
2. Terdapat dikotomi antara masyarakat Hindia (Pribumi) dan Kolonial
Belanda dalam berbagai bidang kehidupan.
3. Banyak ditemukan bentuk ketidakadilan Sistem Kolonial terhadap
masyarakat pribumi.
4. Ditemukan permasalahan yang menyangkut Sistem Kolonialisme pada
zaman Hindia Belanda.
5. Terdapat berbagai perbedaan antara masyarakat pribumi dan kolonial
yang menyebabkan fenomena prasangka dan perilaku diskriminasi.
6. Banyak ditemukan bentuk-bentuk diskriminasi dalam novel BM.
7. Terdapat berbagai dampak yang terjadi akibat diskriminasi terhadap
perempuan dalam berbagai bidang.
8. Terdapat berbagai dampak prasangka dan perilaku diskriminasi terhadap
masyarakat Pribumi dan masyarakat Indo di dalam novel BM.
9. Terdapat berbagai permasalahan mengenai perempuan dan eksistensinya
di dalam masyarakat BM.
10.Banyak ditemukan semangat demokrasi kaum perempuan dan bentuk
perjuangannya dalam melawan penindasan dan ketidakadilan dalam
11.Terdapat perbenturan antar kelas sosial dalam masyarakat baik antara
masyarakat Belanda dan Pribumi maupun dalam sistem sosial
masyarakat Pribumi itu sendiri dalam novel BM.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi di atas masalah dapat dibatasi sebagai berikut:
1. Kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi terjadinya diskriminasi
perempuan dalam novel BM.
2. Bentuk diskriminasi perempuan dalam novel BM.
3. Dampak diskriminasi perempuan dalam novel BM.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, permasalahan
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi terjadinya
diskriminasi dalam novel BM?
2. Bagaimana bentuk diskriminasi perempuan yang terdapat dalam novel
BM?
3. Dampak apa saja yang diakibatkan oleh adanya diskriminasi perempuan
E. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi terjadinya
diskriminasi perempuan dalam novel BM.
2. Mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi terhadap perempuan dalam
novel BM.
3. Mengetahui dampak-dampak yang diakibatkan oleh diskriminasi
perempuan dalam novel BM.
F. Manfaat penelitian
Terdapat dua hal manfaat yang terdapat dalam sebuah penelitian.
Diharapkan dalam penelitian ini manfaat yang diperoleh adalah:
1. Manfaat Teoretis
a. Menambah wawasan penelitian sastra pada masa yang akan datang.
b. Menghadirkan sudut pandang dan cara yang berbeda dalam
melakukan kajian mengenai perempuan, terutama dalam
menganalisis fenomena diskriminasi yang sering dialami oleh
kaum perempuan pada masa kolonialisme.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
terhadap pengembangan teori sastra khususnya novel dan dapat
digunakan untuk peningkatan apresiasi sastra, khususnya dalam
2. Manfaat Praktis
Pertama, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan
kepada pembaca khususnya mengenai eksistensi perempuan dalam
karya sastra. Kedua, dapat dijadikan bahan perbandingan terhadap
hal-hal yang mengungkap fakta-fakta diskriminasi perempuan pada masa
sekarang. Ketiga, penelitian ini diharapkan dapat memotivasi penelitian
yang akan datang agar dapat menggali lebih terperinci khususnya
mengenai kajian perempuan dalam karya sastra.
G. Landasan Teori
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas,
landasan teori untuk menganalisis novel BM adalah analisis sosiologi sastra.
Metode Sosiologi Sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra
(kesusastraan) merupakan refleksi masyarakat pada zaman karya sastra itu
ditulis, yaitu masyarakat yang melatarbelakangi penulis, sebab dalam proses
berkarya penulis tidak dapat lepas dari masyarakatnya. Hal tersebut beranjak
dari pemahaman bahwa karya sastra merupakan refleksi kenyataan pada
zamannya.
Pemahaman terhadap karya sastra berangkat dari sebuah penjelasan
bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan. Karya sastra jelas
dibangun secara imajinatif, namun kerangka imajinatifnya tidak dapat
dipahami di luar kerangka empirisnya. Di sisi lain karya sastra bukan
2003: 26-27). Karya sastra sebagai dunia miniatur berfungsi untuk
menginventarisasikan sejumlah besar kejadian-kejadian yang telah dibangun
dalam pola-pola kreatifitas dan imajinasi pengarang.
Menurut Satoto (1986: 150) pendekatan sosiologi sastra yang paling
banyak dianut orang sampai sekarang berorientasi pada aspek dokumentasi
sosial. Hal tersebut sejalan dengan kritik aliran Hegel dan Taine bahwa
kebesaran sejarah dan sosial disamakan dengan kehebatan artistik. Seniman
menyampaikan kebenaran sekaligus merupakan kebenaran sejarah dan sosial
(Wellek&Werren, 1993: 111). Landasan tersebut yang menjadikan sastra
sebagai rujukan dalam menganalisis gejala sosial pada masa tertentu.
Teori Ian Watt yang diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono juga
mengungkapkan tiga macam pendekatan dalam sosiologi sastra, yaitu
pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan posisi sosial
sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca.
Hal yang terutama diteliti dalam pendekatan ini adalah: pertama, bagaimana
pengarang mendapatkan mata pencahariannya. Hal itu termasuk apakah ia
menerima bantuan dari masyarakat secara langsung atau bekerja rangkap.
Kedua, sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai suatu
profesi. Ketiga, masyarakat apa yang dituju oleh pengarang. Hal ketiga dari
prinsip pendekatan sosiologi sastra Ian Watt adalah sastra sebagai cermin
masyarakat, yaitu meliputi: pertama, sejauh mana sastra mencerminkan
masyarakat pada waktu karya sastra ditulis. Kedua, sejauh mana sifat pribadi
disampaikannya. Ketiga, sejauh mana genre sastra yang digunakan
pengarang dapat dianggap mewakili masyarakat. Unsur ketiga dalam
pendekatan Sosiologi Sastra adalah fungi sosial sastra. Dalam hubungan ini
terdapat tiga hal yang menjadi pokok persoalan, yaitu: sejauh mana sastra
dapat berfungsi sebagai perombak masyarakatnya, sejauh mana sastra hanya
berfungsi sebagai penghibur saja, dan sejauh mana terjadi sintesis antara
kemungkinan kedua hal tersebut (Damono,1984: 3-4).
Sosiologi Sastra juga mengungkap mengenai feminisme. Inti
tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan
agar sama atau sejajar dengan kaum laki-laki (Djajanegara, 2000: 4). Pada
umunya karya sastra yang menampilkan tokoh wanita dapat dikaji dari segi
feministik. Djajanegara mengungkapkan beberapa metode dalam
menerapkan kajian feminis dalam karya sastra, yaitu: pertama,
mengidentifikasikan tokoh satu atau beberapa tokoh perempuan dalam karya
sastra untuk mencari kedudukan tokoh-tokoh tersebut dalam masyarakat,
mengetahui perilaku atau watak tokoh melalui gambaran langsung yang
dipaparkan oleh penulis dan menganalisis pendirian serta ucapan tokoh
perempuan yang bersangkutan. Kedua, meneliti tokoh lain terutama tokoh
laki-laki yang mempunyai keterkaitan dengan tokoh-tokoh perempuan.
Ketiga, mengamati sikap penulis karya yang tengah dikaji. Untuk
mengetahui pandangan serta sikap penulis sebaiknya juga mengamati latar
Diskriminasi perempuan adalah fenomena yang sering terjadi
dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat disebabkan dalam berbagai
faktor yang melatarbelakanginya. Istilah “diskriminasi terhadap perempuan”
itu sendiri dalam konvensi penghapusan diskriminasi terhadap perempuan
diartikan menjadi:
“perbedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang berakibat atau bertujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan ”
(Konvensi Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. www.bappenas.go.id).
Diskriminasi terhadap perempuan merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan semangat perjuangan bagi kaum perempuan yang
disebut dengan gerakan feminisme. Gerakan feminisme adalah gerakan
pembebasan perempuan dari rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan
perempuan dan phalogosentrisme (www.yahoo-feminisme.com).
Menurut Najmanuddin dalam penelitiannya mengatakan,
timbulnya berbagai isu atau permasalahan yang menyangkut perempuan
disebabkan oleh hal-hal yang bersumber dari beberapa poin berikut ini,
yaitu:
1. Paham patriarkhi yang dianut oleh laki-laki yang menekankan
pembagian kerja secara seksual dan harus dipatuhi oleh kaum
2. Perbedaan sosiokultural termasuk norma sosial terjadi dalam suatu
perkawinan campur.
Sastra adalah eskpresi kehidupan manusia yang tidak lepas dari
akar masyarakatnya. Dengan demikian meskipun sosiologi dan sastra adalah
dua hal yang berbeda namun dapat saling melengkapi. Dalam hal ini sastra
merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan
bentuk komunikasi pengarang dengan lingkungan yang membentuknya
(Endraswara, 2003: 77), sehingga dengan mengkaji permasalahan sosial
budaya dalam karya sastra, masyarakat dapat mengkaji fenomena dalam
masyarakat khususnya menyangkut permasalahan diskriminasi terhadap
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Sejauh pengetahuan penulis, penelitian dan kajian mengenai BM
sebelumnya pernah dilakukan. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya
adalah:
1. Penelitian berjudul Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya
Pramoedya Ananta Toer: Analisis Pascakolonial yang disusun oleh
Novieta Theodora. Penelitian tersebut merupakan skripsi tahun 2008 dari
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Penelitian tersebut
memfokuskan kajiannya pada tokoh Nyai Ontosoroh (selanjutnya
disingkat NO) dalam rangka mengetahui wacana Kolonial dan
Feodalisme pada masa BM ditulis. Menurut Teodora, Sistem Kolonial
muncul dalam bentuk peliyanan terhadap NO sebagai subjek pribumi.
Bentuk peliyanan diwujudkan dalam inferioritasan NO dalam masyarakat
Pribumi yang mengenal sistem Feodalisme. Selain itu dibahas pula
bentuk-bentuk perlawanan NO dalam berbagai cara, seperti dengan cara
hukum, kolektif dan individu. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa
BM dianggap sebagai karya sastra pascakolonial karena berlatarbelakang
masyarakat Kolonial sehingga dianalisis dengan teori Pascakolonial.
Liyan berasal dari bahasa Jawa liya ditambah akhiran n yang berarti lain.
dalam pembahasan gender, yaitu sebagai posisi yang di-lain-kan setelah
laki-laki atau posisi yang dinomorduakan. Posisi lain dalam hal ini berarti
perempuan tidak menempati posisi yang setara dengan kaum laki-laki,
sehingga kepentingannya seringkali diabaikan.
2. Penelitian lain yang telah dilakukan adalah skripsi Karina Maheswara
tahun 2004 berjudul Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta
Toer: Kritik Sastra Feminis, dari FIB UGM. Penilitian tersebut mengkaji
perempuan dalam tokoh novel BM dalam perspektif Feminisme. Analisis
Kritik Feminis diterapkan dengan menggunakan pendekatan feministik,
yaitu dengan mengidentifikasi tokoh-tokoh perempuan, mengidentifikasi
tokoh laki-laki, dan menjelaskan mengenai sikap pengarang melalui
kosakata yang digunakan. Menurut Maheswara, ide feminisme lahir dari
respon tokoh-tokoh atas konstruksi sosial yang mendiskriminasikan
perempuan (2004: 72) sehingga kegagalan dalam memperjuangkan tokoh
Annelies dalam BM merupakan pencerminan dari kekalahan feminisme
dalam melawan konstruksi sosial.
3. Selain itu kajian mengenai BM telah banyak dilakukan, seperti terdapat
dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh I.B. Putera Manuaba berjudul
Novel-Novel Pramoedya Ananta Toer: Refleksi Pendegradasian dan
Interpretsi Makna Perjuangan Martabat Manusia. Dalam tulisanya,
pendegradasian martabat manusia banyak direfleksikan dalam karya
atas dan bawah, pembedaan manusia, pewarisan nasib rendah manusia
dan kekerasan pada manusia.
4. Tineke Hellwig dalam In The Shadow of Change juga melakukan
penelitian mengenai karya Pramoedya yaitu mengenai BM dan Gadis
Pantai pada tahun 2003. Hellwig mengungkapkan citra perempuan dalam
ketidakadilan situasi pada masa Kolonialisme dan Feodalisme dalam
penelitiannya. Minke sebagai tokoh utama dalam novel BM merupakan
narator yang menceritakan kisah NO dan Annelies yang menjadi korban
kekerasan sistem Kolonial dan Feodal yang bersifat patriarkhat.
Kekerasan tersebut disebabkan pula oleh pandangan negatif masyarakat
mengenai citra seorang nyai. Menurut Hellwig pola kekuasaan yang
ditampilkan dalam BM merupakan faktor pendorong terjadinya citra
negatif dan diskriminasi yang menimbulkan dampak kekerasan terhadap
kaum perempuan. Kekuasaan tersebut adalah: kekuasaan Kolonial orang
kulit putih atas orang Jawa, kekuasaan Patriarkhal atas perempuan dan
kekuasaan orang tua atas anak-anaknya.
B. Sekilas Tentang Pengarang
Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan asal Blora dan juga
lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925. Ia merupakan anak sulung dari
sebuah keluarga bertradisi Islam dan Nasionalis. BM merupakan salah satu
karyanya yang terinspirasi dari sosok wartawan Indonesia pertama bernama
dari Blora, ia mengidentikkan dirinya dengan Samin Surosentika (Peletak
dasar ajaran ‟Samin‟) dalam setiap karyanya.
Pramoedya Ananta Toer berasal dari keluarga yang cukup dihormati
di mata masyarakat. Meskipun status sosial kedua orang tuanya cukup tinggi
dan terpandang, keluarga Toer bukanlah keluarga yang kaya sehingga ibunya
mesti mengerjakan banyak pekerjaan rumah bahkan juga memelihara
bermacam-macam ternak dan menerima jahitan untuk mencari tambahan
penghasilan. Sejak kecil, ibunya selalu mendidik Toer dan adik-adiknya
dengan berulang-ulang mengingatkan mereka menjadi orang yang bebas
merdeka dan bermartabat. Nasihat Saidah membuat Toer tumbuh menjadi
mandiri dan tidak pernah meminta-minta. Ibunya juga yang membuatnya
mau mengejar ketertinggalannya di sekolah. Ia juga mengingat baik nasihat
ayahnya yang menyatakan bahwa hidup adalah perjuangan dan segala hal
adalah pergulatan (www.antaranews.com). Teeuw mengungkapkan bahwa
humanisme dan humanitas, universal, proletaris, individual atau modern,
marxisme, dan realisme sosialis merupakan label-label yang melekat pada
diri Pramoedya di masa yang berbeda-beda dan dalam konteks sosial yang
berlainan yang dikenakan padanya atau dipergunakan oleh dirinya sendiri.
Semua itu penerapan dari konsep benar, adil, baik dan indah (Kurniawan,
2003: 13).
Karya-karya Pramoedya dekat sekali dengan analisis historis, ia
menjadikan paparan peristiwa-peristiwa sejarah maupun pengalaman hidup
sastranya. Blora, masa penjajahan Jepang, revolusi kemerdekaan, agresi
militer Belanda I dan II, atau Perang Dunia II menjadi pilihan setting yang
menawan dalam novel maupun cerpen Pramoedya. Tetralogi ‟Pulau Buru‟
-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)
ditulis dengan latar belakang sejarah pergerakan nasional Indonesia dari
rentang sejarah 1898-1918. Disebut tetralogi karena keempat novelnya
merupakan rangkaian kisah sejarah pergerakan yang diperankan oleh tokoh
yang sama, yaitu Minke. Sedangkan Arus Balik ditulisnya dengan latar
belakang masuknya Islam ke tanah Jawa pada tahun 1990-an.
BM adalah novel pertama dari tertralogi cerita dari pulau Buru yang
banyak dikenal sebagai karya masterpiece Pramoedya. Tiga novel lainnya
adalah AnakSemua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. BM diterbitkan
oleh Lentera Dipanatara pada tahun 1980. Karya ini menghadirkan
perempuan dalam nuansa perjuangan. Kehadiran tersebut diindikasikan
dengan penggambaran karakter atau watak tokoh-tokohnya yang berkembang
sesuai proses yang panjang dan penuh problematika. Tema besar BM adalah
pertentangan kelas antara pribumi dengan dua kubu, yaitu Kolonialisme
Belanda dan Feodalisme di dalam budaya pribumi, yaitu budaya Jawa.
Pertentangan kelas tersebut menyebabkan berbagai konflik yang terjadi.
Salah satu konflik tersebut berupa ketidakadilan dalam berbagai segi
kehidupan. Kolonialisme tidak hanya menindas pribumi tetapi juga kaum
perempuan. BM berlatar belakang kota Surabaya dan Blora, namun dalam
Kehidupan masyarakat yang melatarbelakangi adalah masyarakat yang
terbagi menjadi dua jenis, yaitu pribumi dan kolonial. Budaya yang
melatarbelakangi masyarakatnya adalah budaya Jawa.
Secara keseluruhan novel atau karya-karya Pramoedya Ananta Toer
yang diketahui penulis menurut urutan tahun terbit adalah sebagai berikut:
a. Karya nonfiksi:
1. Mari Mengarang (1954, tidak jelas keberadaannya di tangan penerbit),
2. Sejarah Bahasa Indonesia, Satu Percobaan (1964), 3. Realisme Sosialis Dan Sastra Indonesia (1963), 4. Sikap Dan Peran Intelektual Di Dunia Ketiga (1981),
b. Karya fiksi:
1. Sepuluh Kepala Nica (1946, namun hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta 1947)
2. Kranji-Bekasi Jatuh (1947, fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi), 3. Perburuan (1950, pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta,
1949),
4. Keluarga Gerilya (1950),
5. Subuh (1951, kumpulan 3 cerpen),
6. Percikan Revolusi (1951, kumpulan cerpen), 7. Mereka Yang Dilumpuhkan I & II (1951), 8. Bukan Pasar malam (1951),
9. Di Tepi Kali Bekasi (1951, dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947),
10.Dia Yang Menyerah (1951, kemudian dicetak ulang dalam kumpulan cerpen),
11.Cerita Dari Blora (1952, pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953),
12.Gulat Di Jakarta (1953),
13.Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), 14.Korupsi (1954),
15.Cerita Dari Jakarta (1957), 16.Cerita Calon Arang (1957),
17.Sekali Peristiwa Di Banten Selatan (1958),
18.Panggil Aku Kartini Saja (1963, dibakar oleh AD 13 Oktober 1965),
19.Kumpulan Karya Kartini (1963, dibakar oleh AD 13 Oktober 1965),
21.Gadis Pantai (1962-1965),
22.Lentera (1965, tidak jelas nasibnya di tangan penerbit), 23.Bumi Manusia (1980), dilarang Jaksa Agung),
24.Anak Semua Bangsa (1981, dilarang Jaksa Agung), 25.Tempo Doeloe (1982, antologi sastra pra-Indonesia), 26.Jejak Langkah (1985, dilarang Jaksa Agung), 27.Sang Pemula (1985, dilarang Jaksa Agung), 28.Rumah Kaca (1988, dilarang Jaksa Agung), 29.Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995),
30.Arus Balik (1995),
31.Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997), 32.Arok Dedes (1999),
33.Mangir (2000), 34.Larasati (2000),
35.Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005).
Karya-karya Pramoedya, seperti halnya karya-karya sastra yang lain, relatif
tidak pernah lepas dari pembahasan mengenai perempuan, namun peneliti
mengambil beberapa contoh karya Pramoedya yang membahas perempuan
sebagai bahan perbandingan terhadap BM, yaitu : Gadis Pantai, Larasati, dan
Midah si Manis Bergigi Emas.
Dalam novel Gadis Pantai, perempuan digambarkan sebagai kaum
pribumi dalam posisi tertindas oleh sistem feodalisme sesuai dengan
temanya, yaitu pertentangan status sosial. Perempuan dalam Gadis Pantai
berkarakter lugu dan penuh kebebasan karena hidup dari latar belakang
lingkungan masyarakat pantai (Gadis Pantai, 1987: 19). Sejak dipaksa
menjadi istri percobaan Bendoro dan menjalani kehidupan baru di dalam
istana, Gadis Pantai merasa tertekan oleh banyak aturan yang diterapkan
padanya. Ia merasa kemerdekaan hidupnya direnggut oleh sebuah sistem
kekuasaan. Hal tersebut menimbulkan suatu proses perenungan dan pada
mengalami kekalahan. Kekalahan yang dialami oleh Gadis Pantai adalah
tidak mendapatkan hak menjadi ibu bagi anak kandungnya sendiri dan diusir
dari rumah Bendoro (Gadis Pantai, 1987: 253). Novel tersebut memiliki
persamaan dengan BM yaitu mengungkap kehidupan perempuan tertindas
yang bernasib menjadi istri tidak resmi seorang penguasa.
Nasib yang sama dialami oleh Larasati, yaitu sempat menjadi gundik
orang Arab pada masa Revolusi sebagai simbol kekalahan nasional dan harga
diri. Larasati merupakan novel berlatar revolusi dengan seorang aktris
bernama Larasati sebagai tokoh utamanya. Larasati dalam perjuangannya
juga mengalami diskriminasi ketika ia tidak diperkenankan ikut berjuang di
medan perang karena ia seorang perempuan. Diskriminasi dan perasaan
rendah diri membuat ia jatuh ke tangan orang Arab yang membuatnya
menjadi gundik. Sedangkan dalam novel Midah si Manis Bergigi Emas
perempuan digambarkan menjadi korban diskriminasi dan kekerasan di
lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Tokoh Midah dalam novel tersebut
menunjukkan berbagai diskriminasi terhadap perempuan di dalam lingkungan
keluarga hingga di lingkungan masyarakat di luar rumah. Kisah Midah
diakhiri dengan kekalahan moral setelah pulang kembali ke rumahnya.
Kekalahan moral tersebut ditunjukkan dengan diserahkannya anaknya yang
masih bayi kepada orang tuanya sementara ia memutuskan untuk pergi dari
rumah dan mengembara karena merasa tidak pantas menjadi ibu yang baik.
Karya tidak lepas dari konteks sosial pengarang, seperti yang
landasan untuk mengkaji konteks sosial pengarang, yaitu: bagaimana
pengarang mendapatkan mata pencahariannya, sejauh mana pengarang
menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, dan masyarakat seperti apa
yang dituju pengarang (Faruk, 2005: 4). Konteks sosial tersebut juga
ditemukan pada latar belakang Pramoedya Ananta Toer.
Pramoedya menjadi pengarang sejak masa kecilnya dan belajar
secara otodidak. Dalam profesi kepengarangannya, ia terinspirasi beberapa
pengarang besar seperti: John Steinbeck, William Soroyan, Lode Zielen dan
terutama Maxim Gorki (Kurniawan, 2002: 8). Sebagian besar karyanya
memperlihatkan sikap keadilannya yang kritis dan cenderung fanatik dengan
ketidakadilan dan penindasan (Kurniawan, 2002: 9). Sebagai tokoh Lekra
(Lembaga Kebudayaan Rakyat) karyanya terkait dengan aliran realisme
sosialis yang dekat dengan paham kerakyatan (Kurniawan, 2002: 11). Ia
merupakan pengarang yang menghabiskan seluruh hidupnya dengan menulis.
Sebagai tokoh Lekra ia memokuskan tema-tema ceritanya pada rakyat dari
golongan kelas menengah ke bawah.
Pramoedya menempatkan sosok perempuan sebagai inspirator utama
dalam karya-karyanya. Ibu Pramoedya sendiri adalah seorang perempuan
yang lembut hati dan pada waktunya dapat menjadi keras dan tegas. Ia
merupakan sosok yang paling dicintainya dengan tulus (Kurniawan, 2002:
17). Karena kecintaannya tersebut, karakter demikian tercermin dalam
perempuan juga terinspirasi dari sejarah hidup nenek Pramoedya yang
direfleksikan dalam novel Gadis Pantai.
Seorang pengarang ketika menuangkan pikiran, harapan, gagasan
dan perasaannya sekaligus menyusun ke dalam bentuk tulisan, melakukan
juga kontempelasi terhadap kejadian-kejadian atau gejala yang berkaitan
dengan kehidupan manusia (Kramadibrata, 2003: 65). Sedangkan dalam
merancang karyanya, pengarang tidak lepas dari pengamatannya mengenai
sejarah yang berlangsung. Hal ini sejalan dengan pernyataan Warren dan
Wellek bahwa sebagai dokumen sosial, sastra dipakai untuk menguraikan
ikhtisar sejarah sosial (Wellek dan Werren, 1989: 122). Pengarang sebagai
pencipta karya sastra mengemukakan ide, renungan dan pemikiran mengenai
peristiwa yang dialaminya, oleh sebab itu karya tidak dapat lepas dari
kenyataan sosial pada waktu berlangsungnya sebuah cerita, sehingga karya
sastra dipercaya mampu merefleksikan zamannya.
Bagi Pramoedya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional.
Menurut Eka Kurniawan, Pramoedya menganut paham Realisme Sosialis,
namun menurut pernyataan Pramoedya, ia tidak semata-mata mendukung
paham tersebut. Hal tersebut dikatakan dalam wawancaranya di majalah
TEMPO. Pramoedya tampil menjadi diri sendiri yang terpisah dari kriteria
kepengarangan, namun sebagai pengarang ia tidak lepas dari pengalaman
yang terjadi dari lingkungannya. Karya-karya yang diterbitkan bukan tidak
memiliki tujuan. Bagi Pramoedya keindahan karya sastra terletak pada
perjuangan melawan kolonial yang ditampilkan Pramoedya terinspirasi dari
pengalamannya selama ditindas oleh sistem yang membuatnya menjadi
tahanan politik selama berturut-turut.
Karena seringnya Pramoedya menyampaikan pesan perjuangan
melalui tokoh perempuan, Aveling mengatakan bahwa Pramoedya seorang
feminis, namun sebagai pengarang laki-laki, beberapa hal dari karyanya
nampak terdapat segi superioritas laki-laki yang mampu mengalahkan
keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam karyanya. Terbukti dalam
penggambaran tokoh Minke yang selalu dicintai beberapa tokoh perempuan
dalam BM.
…Nyai telah menceritakan asal muasal sakitnya, dan minta dengan amat sangat, bukan sekedar menganjurkan seperti dulu, agar aku segera datang sesuai dengan nasihat dokter. Kata dokter Martinet, tanpa kehadiranku Annelies tak punya harapan sembuh, boleh jadi akan semakin melarut (BM: 291).
Cuplikan tersebut menunjukkan bahwa sebagai laki-laki ia adalah
orang yang bertanggungjawab, para perempuan dalam BM tersebut
membutuhkan sosok laki-laki sebagai pelindung dan penyelamat keluarga
dan perusahaan. Kehadiran Minke (sebagai tokoh utama laki-laki) terkesan
menjadi sumber kebahagiaan dan keselamatan perusahaan NO dan Annelies.
Selain itu, sebagai tokoh utama, Minke merupakan sosok inspiratif dan
gambaran pribumi yang memilki harga diri dan semangat perjuangan.
Gaya penulisan Pramoedya juga tidak lepas dari faktor budaya
Samin. Pramoedya Ananta Toer berasal dari daerah Blora Jawa Tengah.
berani menentang pemerintah. Kelompok masyarakat tersebut dinamakan
masyarakat samin. Disamping bertradisi Jawa, masyarakat samin terbentuk
oleh penyatuan visi dan misi ajaran Saminisme.
Ajaran Samin (Saminisme) yang disebarkan oleh Samin Surosentiko
(1859-1914), adalah sebuah konsep penolakan terhadap budaya Kolonial
Belanda dan penolakan terhadap kapitalisme yang muncul pada masa
penjajahan Belanda abad ke-19 di Indonesia. Sebagai gerakan yang cukup
besar Saminisme tumbuh sebagai perjuangan melawan kesewenangan
Belanda yang merampas tanah-tanah dan digunakan untuk perluasan hutan
jati di Blora pada saat itu (www.wikipedia.com).
Kondisi masyarakat seperti inilah yang sendikit mempengaruhi
pengarang dalam menulis karyanya. Karya-karya Pramoedya sarat dengan
unsur perjuangan melawan sistem yang menindas dan tidak adil. Hal tersebut
sejalan dengan kondisi masyarakat samin yang anti kolonialisme sebab
kolonialisme adalah sistem yang menjajah dan merugikan rakyat. Kondisi
sosial budaya pada masyarakat samin berpengaruh pada karakter tulisan
Pramoedya yang bernada tegas menentang ketidakadilan.
C. BM dalam Perspektif Sosiologi Sastra
Karya sastra tidak sekedar fakta imajinatif dan pribadi melainkan
juga merupakan pencerminan atau rekaman budaya dan suatu perwujudan
pikiran tertentu pada saat karya tersebut dilahirkan (Taine dalam Endraswara,
dikaji dengan menggunakan sosiologi sastra. Salah satu bentuk karya sastra
adalah novel. Taine menyebut novel bertujuan menggambarkan kehidupan
nyata, mendeskripsikan karakter-karakter, serta menyugestikan rancangan
tindakan dan memberikan penilaian terhadap motif-motif tindakan (Faruk,
2005: 46).
Hal tersebut sejalan dengan representasi kenyataan historis yang
terdapat dalam novel BM. Masyarakat yang digambarkan dalam novel BM
berlatar Surabaya dan Blora pada sekitar tahun 1898. BM merupakan novel
yang menceritakan berbagai kehidupan masyarakat yang tinggal dalam
lingkungan Kolonial dan Feodal dengan berbagai konflik yang mewarnainya.
Karakter-karakter tokoh di dalamnya merupakan representasi dunia
pemikiran dan perasaan pengarang dalam menampilkan ideologinya.
Pramoedya memilih tokoh nyai sebagai tokoh utama. Sistem
Kolonial telah menempatkannya dalam posisi tertindas secara ganda sebagai
seorang perempuan di hadapan laki-laki dan seorang pribumi di hadapan
penjajah Belanda. Tetapi di sisi lain, sebagai perempuan yang keluar dari
hierarki masyarakat tradisional Jawa dan menjadi “kekasih” penjajah,
seorang nyai mempunyai akses pada pengetahuan dan harta benda yang tidak
dimiliki perempuan pribumi lainnya. Kehidupan nyai yang sekaligus
merupakan kutukan dan berkah tersebut menurut Bandel sangat cocok
melukiskan keadaan bangsa yang terjajah (2006: 43). Tema tersebut
diungkapkan Pramoedya dalam novel BM sebagai representasi ideologinya
mengungkapkan bahwa penjajahan dapat terjadi di Indonesia khususnya di
Jawa karena masyarakat Jawa sendiri yang memberikan kesempatan kepada
bangsa Eropa (BM, 2006: 217). Ide-ide semacam itu seringkali digunakan
oleh pengarang dalam menyampaikan kebenaran dan perenungan kepada
pembaca dalam menyikapi fenomena yang terjadi dalam masyarakat.
Adapun yang disebut nyai menurut Leonard Blusse adalah
perempuan yang dipelihara pejabat kolonial maupun swasta-swasta Belanda
yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Bahkan sebelum Belanda
datang, pedagang Asia dan Portugis sudah terbiasa memelihara nyai. Pada
masa VOC, orang Belanda yang beristrikan perempuan bumi putera tidak
boleh membawa istri beserta anak-anak dari perkawinan itu ke negara
asalnya. Perkawinan dianggap tidak sah oleh pihak gereja. Peristiwa
demikian membuat kompeni memelihara nyai saja yang dapat ditinggalkan
setiap saat (Christanty dalam Basis, 1994: 21)
Pengarang sangat berpengaruh dalam model penciptaan karya sastra.
Semesta tokoh dan peristiwa yang diceritakan merupakan dunia yang
dipahami bersama-sama dengan orang lain. Melalui karya sebenarnya
seorang penulis atau seniman mencoba memahami dirinya sendiri. Studi
biografis baik dalam proses produksi karya seni maupun karya keilmuan
sosial dianggap memiliki sejumlah manfaat, terutama dalam kaitannya
dengan latar belakang proses rekonstruksi fakta-fakta (Ratna, 2003: 198).
Termasuk dalam hal ini peristiwa atau fakta-fakta sosial yang terjadi di
Di pihak lain pengarang juga memiliki keterbatasan pengalaman baik
secara sosiopsikologis maupun sosiobiologis sehingga data biografi yang
terkandung dalam karya sastra sebenarnya sudah dimanipulasikan ke dalam
bentuk-bentuk rekaan dan hanya sebagian kecil yang berkaitan dengan karya
sastra (Ratna, 2003: 200). Seperti yang digambarkan dalam novel BM, latar
belakang masyarakat Feodal dan Kolonial merupakan salah satu bentuk
fenomena yang ditunjukkan pengarang dalam menampilkan fenomena
kekuasaan serta ide-ide perjuangan melawan kedua sistem tersebut.
Termasuk bagaimana peran-peran perempuan dalam melakukan perlawanan
terhadap perlakuan diskriminatif dari kedua sistem tersebut.
Dalam hubungannya dengan masalah gender, perempuan pada
masyarakat kolonial menduduki kelas yang rendah setelah laki-laki sehingga
berpengaruh pada perannya dalam masyarakat. Hal tersebut dikemukakan
oleh feminis dari Amerika yang mendasarkan ideologinya pada konsep
marxis, bahwa perempuan merupakan suatu kelas dalam masyarakat yang
ditindas oleh kelas lain yaitu kelas laki-laki (Djajanegara, 2000: 2).
D. Perempuan dan Gender
Umar dalam Budiawati mengatakan bahwa jenis kelamin merupakan
penyifatan atau pembagian dua jenis manusia yang ditentukan secara
biologis. Sedangkan konsep gender adalah suatu sifat yang melekat pada
maupun kultural, misalnya perempuan dikenal lembut dan cantik (Bias
Gender dalam Verba Bahasa Indonesia, 2004: 12).
Ketika membahas permasalahan perempuan, satu konsep penting
yang tidak dapat diabaikan ialah konsep gender. Hal ini menjadi masalah
yang krusial kerana streotip yang dibentuk oleh gender dalam aplikasinya
memiliki kecenderungan menguntungkan jenis kelamin tertentu yakni
laki-laki. Keuntungan tersebut dilihat dari berbagai tatanan sosial dan budaya
yang berlaku pada masyarakat yang menganut budaya patriarkhi. Perempuan
sebagai lawan jenis laki-laki digambarkan dengan citra-citra tertentu yang
mengesankan inferioritas perempuan baik dalam struktur sosial maupun
budaya (Sugihastuti dan Istna, 2007: 83). Interaksi yang terjalin antara
perempuan dan laki-laki menuntut adanya satu jenis kelamin yang lebih
unggul daripada jenis kelamin yang lain yaitu perempuan.
Proses pengambilan keputusan dalam sebuah keluarga juga tidak
terlepas dari kontrol kekuasaan laki-laki yang dianggap lebih berwenang
(Sugihastuti dan Istna, 2007: 82). Hal tersebut terjadi dan seolah dilegalkan
oleh konstruksi kebudayaan setempat. Proses yang berulang-ulang akhirnya
banyak membentuk pandangan negatif tentang kaum perempuan yang
diantaranya meliputi fungsi, peran, dan kedudukan mereka dalam kehidupan
masyarakat. Salah satu adalah stereotip bahwa perempuan merupakan kaum
yang lemah, sedangkan laki-laki adalah kaum yang kuat. Berdasarkan hal ini
perempuan memiliki kecenderungan yang kuat untuk tergantung kepada
dalam berbagai hal seperti reproduksi, seksualitas, sistem pembagian kerja
dan sebagainya (Sugihastuti dan Istna, 2007: 83).
Diskriminasi merupakan aksi negatif yang bersumber dari prasangka
dan stereotip. Prasangka adalah sebuah sikap yang cenderung negatif
terhadap anggota kelompok sosial tertentu hanya karena keanggotaan mereka
dalam kelompok tertentu. Sedangkan stereotip adalah kerangka berpikir
kognitif yang menyatakan bahwa semua orang adalah bagian dari sebuah
kelompok sosial yang menunjukkan karakteristik yang serupa. Parasangka
berkaitan erat dengan stereotip dan wujud reaksinya berupa tindakan
diskriminasi, salah satunya adalah rasisme atau pembedaan bedasarkan ras
(Robert A. Baron dan Donn Byrne, 2002: 255-256).
Fakih dalam Budiawati menyatakan bahwa stereotip adalah pelabelan
atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Menurutnya, stereotip
selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotip
tersebut bersumber dari pandangan gender. Terjadinya ketidakadilan terhadap
jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, bersumber dari stereotip yang
dilekatkan padanya. Misalnya masyarakat beranggapan bahwa perempuan
memiliki tugas sekunder, seperti sebagai ibu rumah tangga. Anggapan bahwa
laki-laki lebih kuat lebih cerdas dan emosinya lebih stabil, sementara
perempuan lemah, kurang cerdas dan emosinya labil, juga hanyalah persepsi
E. BM dan Kondisi Sosial Budayanya
Sejak jaman penjajahan Belanda, Jawa telah dijadikan pusat
pemerintahan Hindia Belanda. Hindia Belanda adalah nama Indonesia setelh
dikuasai pemerintah Kolonial Belanda. Pada saat itulah terjadi berbagai
perubahan sosial yang lebih canggih, masyarakat Jawa telah terbagi menjadi
lebih banyak kelompok dibandingkan ketika sebelum perang kemerdekaan
(Murniati, 2004: 87).
Di bawah Kolonialisme Belanda, politik diskriminasi dan pemaksaan
budaya mengakibatkan berakarnya mentalitas inlander atau konsep rendah
diri dalam masyarakat pribumi, terlebih pada kaum perempuan. Sebagai salah
satu tokoh yang sadar elit dan retorika Kolonial, Soekarno berhasil
mengungkapkan adanya manipulasi dan kesenjangan Kolonial dalam
mengkonstruksikan mentalitas inlander pada masyarakat pribumi (Ita, 2007:
9). Hal tersebut adalah merupakan bagian dari misi kolonial untuk menjajah
wilayah Hindia.
Culturstelsel yang terjadi pada abad ke-19 adalah landasan kuat
proses legalitas klasifikasi rasial di Hindia Belanda. Jc Baud adalah salah satu
pembentuk dan pelaksana culturestelsel, menegaskan bahwa bahasa, warna
kulit, agama, moral, keturunan, ingatan historis dan semuanya adalah
sepenuhnya berbeda antara orang-orang Belanda dan orang-orang Jawa.
Orang Belanda adalah penguasa dan Jawa adalah yang dikuasai. Salah satu
penegasan atas politik rasial ini dilakukan oleh Gubernur Jendral JJ Rochusen
antara penjajah dan yang dijajah dengan mengagung-agungkan keindahan
kulit putih dan superioritas moral serta intelektual bangsa kulit putih terhadap
bangsa kulit cokelat. Sampai pada abad 19, asumsi dan klasifikasi rasial ini
menjadi legal (Ita, 2007: 59-60).
Warna putih di Indonesia mempunyai makna yang positif daripada
kulit berwarna. Goon dan Craven mengatakan bahwa secara garis besar, di
Asia, putih adalah simbol dari kesucian, kebaikan, keindahan dan kemurnian.
Selain itu secara garis besar, putih adalah simbol dari kebersihan, kecantikan,
kesucian, kebaikan, dan derajat yang tinggi. Sebaliknya warna hitam identik
dengan kotor, jelek, dosa, malam (gelap) dan sedih (Ita, 2007: 15-16). Hal
tersebut yang menyebabkan diskriminasi perempuan yang berawal dari
pandangan mengenai warna kulit.
Perempuan dalam pandangan tradisi Jawa tersubordinasi di bawah
laki-laki. Perempuan dipandang hanya sebagai subyek yang terikat sistem
patriakhat. Hal tersebut diungkapkan oleh Suhandjati (2001: 94) bahwa
perempuan hanya bertugas mengurusi soal-soal domestik, yaitu urusan
kerumahtanggaan. Oleh karena itu perempuan tidak perlu berpendidikan
tinggi. Di depan umum seorang istri tidak boleh lebih menonjol dari suami.
Sampai sekarang pun masih tetap terdengar bahwa perempuan harus bisa
macak (berhias diri), masak (memasak), dan manak (beranak), yang
merupakan tugas-tugas domestik bagi perempuan yang sudah berkeluarga,
yaitu tugas-tugas internal kebutuhan keluarga. Oleh karena itu, bagi orang
kuat membelenggu perempuan dari kalangan masyarakat Feodal Jawa,
sehingga mempunyai pengaruh yang sangat luas (Murniati, 2004: 105).
Pengaruh tersebut terealisasikan dalam berbagai macam bentuk diskriminasi
terhadap perempuan.
Pendidikan berjalan apa adanya dalam kelas-kelas tertentu dan dari
tahun ke tahun. Kebanyakan para murid dari golongan pria saja, sedangkan
gadis pribumi tidak seperti para gadis asing lainnya yang ikut mengenyam
pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi (www.suaramerdeka.com).
Saat itu situasi politik yang tak menentu dan ditambah pengaruh adat yang
kuat menjadikan perempuan pribumi terbelakang dalam bidang pendidikan.
Wanita semata-mata hanya bertugas mengurus rumah tangga dan mengasuh
anak-anaknya. Setelah melanjutkan sekolah rendah, mereka menjadi
gadis-gadis pingitan dan dipersiapkan untuk berumah tangga. Namun di sisi lain
perempuan yang berasal dari keluarga petani dan buruh sebenarnya tidak
banyak terikat oleh ajaran-ajaran raja-raja atau agama yang datang bersama
kekuatan Kolonial. Mereka memiliki peran yang berbeda dengan perempuan
Feodal atau kalangan atas. Mereka berperan dalam bidang sosial dan
ekonomi. Otoritasnya dalam keluarga jauh lebih besar (Murniati, 2004: 105).
Dalam era VOC pada tahun 1600-an, masyarakat Eropa selalu
memerlukan ijin untuk menikah. Garis pemisah utama dalam masa ini bukan
ras melainkan agama. Karena keadaan tersebut, banyak laki-laki Eropa yang
tidak pernah mengawini perempuan Asia, tetapi hidup dengannya sebagai
bukan Kristen tetap berlaku bahkan setelah VOC tidak ada lagi. Pada tahun
1805 masih saja menjadi bahan perbincangan (Hellwig, 2007: 35). Nyai
merupakan budak perempuan bagi laki-laki Belanda. Budak perempuan
biasanya berasal dari lapisan masyarakat yang paling miskin. Mereka tidak
berada pada posisi negosiasi atau dapat mengajukan tuntutan apa pun
(Hellwig, 2007: 36). Anak yang dihasilkan dari perkawinan tersebut juga
digolongkan menjadi bagian masyarakat yang berbeda, yaitu masyarakat
indo. Pada masa Kolonial, kesetaraan antara golongan kulit putih dan indo
mustahil terjadi (Hellwig, 2007: 26-27).
James Peacock dalam Murniati mengatakan bahwa kedudukan dan
peran perempuan di Indonesia diwarnai oleh sistem masyarakatnya. Secara
garis besar, sistem masyarakat di Indonesia dikelompokkan menjadi sistem
matrilineal, patrilineal, dan bilineal (Getar Gender, 2004: 80). Perubahan ke
tahap Feodalisme, menggeser kedudukan dan peranan perempuan lewat
ajaran raja-raja dalam suatu wilayah. Kolonialisme dan Imperialisme
mendorong semakin kuatnya budaya patriarkhi, atau membuat kedudukan
perempuan semakin rendah. Rendahnya pendidikan pada akhirnya juga
menjebak perempuan pada golongan bawah ke dalam sistem patriarkhi yang
kuat (Murniati, 2004: 84). Akar patriakhi di Indonesia bersumber dari
beberapa aspek, yaitu: sosiologi atau pembagian kerja dan fungsi masyarakat,
kebudayaan (feodalisme) dan ajaran agama, tradisi atau adat istiadat, politik
(kolonialisme), imperialism, dan militerisme, ekonomi atau kapitalisme
F. Diskriminasi terhadap Perempuan
Menurut Firestone, kelas sosial yang didasarkan pada jenis kelamin
merupakan konsep dasar yang dapat dipergunakan untuk menganalisis
berbagai ketidakadilan sosial antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan
kelas sebenarnya adalah perbedaan secara biologis antara laki-laki dan
perempuan. Menurutnya struktur biologi perempuan merupakan kelemahan
yang menyebabkan perempuan dikuasai laki-laki dengan sistem patriarkhi
(Diskriminasi Gender, 87).
Diskriminasi yang terdefinisikan dalam konvensi persamaan hak
menjelaskan kriteria dan bentuk diskriminasi yang dapat dikategorikan
terhadap perempuan.
BAGIAN I Pasal 1
Untuk tujuan Konvensi yang sekarang ini, istilah “diskriminasi terhadap perempuan” berarti setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak azasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan (Konvensi Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. www.bappenas.go.id).
Diskriminasi terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat
tidak terjadi begitu saja melainkan terbentuk melalui proses yang panjang.
Pada waktu manusia masih berpikir sangat sederhana mereka belajar dari
pembagian kerja untuk kelangsungan hidup. Mulailah pembagian kerja
untuk kelangsungan hidup atas dasar biologis. Menurut sejarah sejak zaman
itu, terjadi pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Kemudian muncul
perbedaan jenis pekerjaan luar (publik) dan pekerjaan dalam (domestik).
Terisolasi oleh lingkungan hidupnya, maka perempuan cenderung
berkelompok, mengelola makanan dan obat-obatan. Ini berbeda dengan
laki-laki yang bekerja di luar secara bebas. Aturan mengenai hidup termasuk
pembagian kerja dibuat perempuan yang hidupnya menetap. Budaya ini
dinamakan budaya matriakhat, dengan anak dikenal dari garis keturunan ibu.
Perubahan budaya matriakhat menjadi patriakhat terjadi pada waktu laki-laki
mengenal peternakan. Sifat peternakan yang menciptakan harta,
membutuhkan pelimpahan harta sebagai warisan. Karena kebutuhan
pelimpahan ini, laki-laki mulai mencari keturunnnya untuk diberi hak waris.
Sejak itu, anak dikenal dari garis keturunan ayah (Murniati, 2004: 79).
Perjalanan budaya patriarkhi semakin kuat dan mantap ketika terjadi
perubahan sosial ke masyarakat Feodal. Kemudian masyarakat ini
berkembang menjadi masyarakat kapitalis dan akhirnya dikunci dengan
sistem militerisme. Akibat perubahan sosial tersebut, masyarakat
berpandangan bahwa norma manusia dianggap benar apabila dipandang dari
sudut laki-laki. Semua ini berlaku di berbagai aspek kehidupan, yaitu seperti
aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, bahkan agama. Keadaan inilah
yang melahirkan segala macam diskriminasi terhadap perempuan, walaupun
Perempuan Indonesia mempunyai peran dalam merebut
kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah. Bahkan lebih dari itu, posisi
perempuan berada dalam kesetaraan dengan kaum laki-laki, jauh sebelum
masuknya Feodalisme dan Kolonialisme dengan berbagai pandangan
ideologi gendernya yang bias (Murniati, 2004:94). Budaya patriarkhi yang
dibentuk oleh sistem Kolonial dan Feodal merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya diskriminasi terhadap perempuan. Kekerasan adalah
tindakan atau perilaku atau aksi sosial yang berakar pada diskriminasi dan
berdampak atau berakibat secara tidak seimbang kepada perempuan. Bentuk
kekerasan bisa sangat beragam tergantung pada lingkungan budaya
(MAKARA, 2003 Vol 7: 66).
Dalam konteks peraturan perundang-undangan dan kaitannya dengan
nilai sosial yang hidup di masyarakat, misalnya dalam permasalahan
diskriminasi jenis kelamin, permasalahan utama yang dihadapi adalah
kuatnya pandangan sebagian masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih
tinggi daripada perempuan. Pandangan demikian tidak hanya terdapat pada
kaum laki-laki, tetapi banyak juga perempuan yang mempunyai pandangan
bahwa secara kodrati tidak setara atau lebih rendah dari laki-laki.
Apabila seseorang yang berpandangan demikian berada di posisi
pembentuk peraturan perundang-undangan atau pembuat kebijakan publik,
potensi terjadinya kebijakan yang diskriminatif menjadi lebih besar. Di
samping itu, kurangnya perhatian para pembentuk peraturan
pemerintahan juga berperan besar melahirkan peraturan
perundang-undangan yang bersifat diskriminatif (www.bappenas.com).
Kebijakan yang bersifat diskriminatif masih sering terjadi di
beberapa daerah, antara lain dengan dibentuknya peraturan daerah (perda)
yang mengatur tentang tata cara berpakaian dan batas ruang gerak
perempuan di ruang publik serta melarang perempuan keluar malam tanpa
muhrim. Disamping itu, sejak diberlakukannya UU Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga, laporan terhadap terjadinya tindakan kekerasan
terhadap perempuan semakin meningkat, sedangkan catatan terjadinya
kekerasan terhadap laki-laki tidak tersedia. Sistem sosial belum
memungkinkan hal tersebut dilakukan.
Diskriminasi merupakan aksi yang cenderung menimbulkan dampak
negatif terhadap perempuan. Dampak tersebut antara lain adalah harapan
yang lebih rendah terhadap perempuan, kepercayaan diri dan persepsi diri
yang rendah terhadap perempuan, reaksi negatif dan glass ceiling atau
disebut juga dengan pembedaan gender dalam mendaki tangga karir (Robert
A. Baron dan Donn Byrne, 2005:249-253). Diskriminasi terhadap perempuan
juga menyebabkan berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan baik
secara fisik maupun nonfisik atau psikologis. Meskipun berbagai upaya telah
dilakukan namun diskriminasi tersebut masih ada hingga di masa sekarang.
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas
Perempuan) mencatat bahwa pada tahun 2005 terjadi 20.392 kasus
kasus pada tahun 2006. Selain itu, Indonesia sebagai negara yang juga
meratifikasi berbagai konvensi, salah satunya adalah meratifikasi Konvensi
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention
on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Women/
CEDAW) melalui UU Nomor 7 Tahun 1984, tetapi dalam tataran
pelaksanaan ketentuan yang ada dalam konvensi tersebut belum sepenuhnya
dijadikan acuan bagi aparat penegak hukum dalam penyelesaian kasus-kasus
yang berhubungan dengan tindakan diskriminasi khususnya diskriminasi