GAMBARAN TINGKAT STRES ORANG TUA DENGAN ANAK TUNAGRAHITA DAN TUNADAKSA DI YAYASAN PEMBINAAN ANAK
CACAT (YPAC) MEDAN TAHUN 2013
Oleh : PURWANDARI
100100085
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambaran Tingkat Stres Orang Tua dengan Anak Tunagrahita dan Tunadaksa di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan Tahun 2013
Oleh : PURWANDARI
100100085
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambaran Tingkat Stres Orang Tua dengan Anak Tunagrahita dan Tunadaksa di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan Tahun 2013
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh : PURWANDARI
100100085
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian : GAMBARAN TINGKAT STRES ORANG TUA DENGAN
ANAK TUNAGRAHITA DAN TUNADAKSA DI
YAYASAN PEMBINAAN ANAK CACAT (YPAC)
MEDAN TAHUN 2013
Nama : PURWANDARI
NIM : 100100085
Pembimbing, Penguji I,
dr. Johannes H. Saing, Sp.A(K) dr. Muhammad Rusda, Sp.OG(K) NIP : 19720129 200003 1 001 NIP : 19680520 200212 1 002
Penguji II,
NIP : 19740913 200312 2 001 dr. Sri Amelia, M.Kes
Medan, 8 Januari 2014 Dekan
Fakultas KedokteranUniversitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan, memiliki beban yang dapat memicu stres dan mempunyai dampak negatif terhadap orang tua, hubungan orang tua-anak, dan anak itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan tingkat stres orang tua dengan anak retardasi mental (tunagrahita) dan anak dengan cacat fisik (tunadaksa) di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan secara sekat lintang meliputi semua orang tua siswa didik YPAC Medan antara bulan Agustus – September 2013. Penelitian ini menggunakan adaptasi Parenting Stress Scale (PSS) untuk menggambarkan stres pada orang tua. Responden yang diikutsertakan dalam penelitian ini berjumlah 123 orang dengan 67 orang ibu dan 56 orang ayah. Pengumpulan data dilakukan melalui metode kuesioner.
Berdasarkan hasil pengolahan data, penelitian ini menemukan ayah dan ibu yang mengalami stres sedang masing-masing 55,4% dan 52,2%, dan tidak ada orang tua yang mengalami stres berat. Namun tidak ada perbedaan berarti antara nilai mean stres ayah dan ibu, antara tingkat stres orang tua dengan usia, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orang tua. Dari hasil analisis data tersebut disimpulkan bahwa mayoritas orang tua mengalami stres tingkat sedang.
ABSTRACT
Parents of children with limitation of growth and development, bear more problems which can induce stress leading to negative impact to the parents, relationship of parent-children, and the children. The aim of this paper is to investigate the description and level of mental health of parents (parenting stress) of children with mental retardation and physical disabilities at YPAC (Yayasan Pembianaan anak Cacat / Institute for Crippled Children) Medan.
This study is a descriptive study with cross-sectionally conducted involving all parent of YPAC Medan’s students from August to September 2013. This study adapted Parenting Stress Scale (PSS) to measure mental health of parent. Of 123 parents participated in the study consisted of 56 father and 67 mothers. Data collecting was done with questionnaire.
This study found father and mother having medium level of stress respectively 55,4% and 52,2%, and no parent having high level of stress. The study also found no significant differences between parenting stress level and age, education, proffesion, and income. Majority of parents with mental retardation and physical disabilities at YPAC Medan having medium level of stress.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini yang berjudul
“Gambaran Tingkat Stres Orang Tua dengan Anak Tunagrahita dan Tunadaksa di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan Tahun 2013”.
Karya tulis ilmiah ini bisa diselesaikan atas dukungan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, dengan rendah hati peneliti ingin mengucapkan terima kasih
sebesarnya kepada:
1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH sebagai Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Johannes H. Saing, Sp.A(K) selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, arahan, dan saran dalam penyelesaian karya
tulis ilmiah ini.
3. dr. M. Rusda, SpOG (K) dan dr. Sri Amelia, M.Kes selaku Dosen
Penguji yang telah memberikan masukan dan saran yang sangat berarti
dalam penyempurnaan karya tulis ilmiah ini.
4. Bapak Suratno selaku Kepala Sekolah Luar Biasa YPAC Medan,
semua guru dan pegawai YPAC Medan yang telah sangat membantu
dari awal hingga akhir penelitian ini.
5. Ibu Daryati dan Bapak Purwahedi, rasa hormat serta terima kasih yang
tak terhingga untuk kedua orang tua tercinta, atas kasih sayang yang
begitu besar dalam mendidik, membesarkan, dan mendoakan peneliti
tanpa henti. Om Daryono, Bu Tuti, adik tersayang Purwandita dan
Prayogi yang telah memberi semangat dan dukungan besar selama ini.
6. Sahabat seperjuangan Anggi Arum Sari, Indah Sari Atika, Gheavita
Candra Dewi, Dyah Wijiana Heryani, Kevin Dilian S., dan
teman-teman seangkatan lainnya yang telah membantu dan memberikan
7. Teman-teman FK USU angkatan 2010 dan seluruh pihak yang telah
memberikan bantuan kepada peneliti sehingga karya tulis ilmiah ini
dapat diselesaikan.
Meskipun berbagai upaya dan kerja keras telah dilakukan dalam penulisan
karya tulis ilmiah ini, peneliti yakin bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat peneliti
harapkan guna proses penyempurnaan. Besar harapan peneliti, karya tulis ilmiah
ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedokteran, menjadi masukan yang
berarti, khususnya dalam upaya memaksimalkan hasil rehabilitasi bagi anak
berkebutuhan khusus.
Medan, 8 Januari 2014
Peneliti
Purwandari
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan ... i
Abstrak ... ii
Abstract ... iii
Kata Pengantar ... iv
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... viii
Daftar Lampiran ... ix
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 2
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Stres ... 4
2.1.1. Pengertian Stres ... 4
2.1.2. Tahapan Stres ... 5
2.1.3. Efek Stres terhadap Psikologis dan Fisiologis ... 6
2.2. Parenting Stress ... 8
2.2.1. Definisi Parenting Stress ... 8
2.2.2. Faktor-faktor Parenting Stress ... 10
2.2.3. Efek Parenting Stress terhadap Orang Tua ... 10
2.3. Tunagrahita ... 11
2.3.1. Definisi Tunagrahita ... 11
2.4. Tunadaksa ... 14
2.4.1. Definisi Tunadaksa ... 14
2.4.2. Klasifikasi Tunadaksa ... 15
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 19
3.2. Defenisi Operasional ... 19
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian ... 21
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 21
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian... 21
4.4. Teknik Pengumpulan Data ... 22
4.5. Pengolahan dan Analisa Data ... 23
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 24
5.2. Karakteristik Responden ... 24
5.3. Gambaran Tingkat Stres Orang Tua (Parenting Stress) Responden ... 26
5.4. Perbedaan Parenting Stress Berdasarkan Data Kontrol ... 30
5.5. Pembahasan ... 31
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 35
6.2. Saran ... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 37
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 5.1. Data Karakteristik Responden ... 25
Tabel 5.2. Data Karakteristik Anak Responden ... 26
Tabel 5.3. Distribusi Tingkat Stres Responden ... 26
Tabel 5.4. Nilai Mean Skor Tiap Dimensi ... 27
Tabel 5.5. Gambaran stres Berdasarkan Usia Responden ... 28
Tabel 5.6. Gambaran Stres Berdasarkan Karakteristik Responden... 29
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN II
INSTRUMEN PENELITIAN
LAMPIRAN III
MASTER DATA
LAMPIRAN IV
ETHICAL CLEARANCE
LAMPIRAN V
SURAT IZIN PENELITIAN
LAMPIRAN VI
ABSTRAK
Orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan, memiliki beban yang dapat memicu stres dan mempunyai dampak negatif terhadap orang tua, hubungan orang tua-anak, dan anak itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan tingkat stres orang tua dengan anak retardasi mental (tunagrahita) dan anak dengan cacat fisik (tunadaksa) di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan secara sekat lintang meliputi semua orang tua siswa didik YPAC Medan antara bulan Agustus – September 2013. Penelitian ini menggunakan adaptasi Parenting Stress Scale (PSS) untuk menggambarkan stres pada orang tua. Responden yang diikutsertakan dalam penelitian ini berjumlah 123 orang dengan 67 orang ibu dan 56 orang ayah. Pengumpulan data dilakukan melalui metode kuesioner.
Berdasarkan hasil pengolahan data, penelitian ini menemukan ayah dan ibu yang mengalami stres sedang masing-masing 55,4% dan 52,2%, dan tidak ada orang tua yang mengalami stres berat. Namun tidak ada perbedaan berarti antara nilai mean stres ayah dan ibu, antara tingkat stres orang tua dengan usia, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orang tua. Dari hasil analisis data tersebut disimpulkan bahwa mayoritas orang tua mengalami stres tingkat sedang.
ABSTRACT
Parents of children with limitation of growth and development, bear more problems which can induce stress leading to negative impact to the parents, relationship of parent-children, and the children. The aim of this paper is to investigate the description and level of mental health of parents (parenting stress) of children with mental retardation and physical disabilities at YPAC (Yayasan Pembianaan anak Cacat / Institute for Crippled Children) Medan.
This study is a descriptive study with cross-sectionally conducted involving all parent of YPAC Medan’s students from August to September 2013. This study adapted Parenting Stress Scale (PSS) to measure mental health of parent. Of 123 parents participated in the study consisted of 56 father and 67 mothers. Data collecting was done with questionnaire.
This study found father and mother having medium level of stress respectively 55,4% and 52,2%, and no parent having high level of stress. The study also found no significant differences between parenting stress level and age, education, proffesion, and income. Majority of parents with mental retardation and physical disabilities at YPAC Medan having medium level of stress.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Orang tua yang memiliki anak dengan keterbatasan dalam pertumbuhan
dan perkembangan, memiliki tugas dan tekanan psikologis yang lebih besar dalam
membesarkan dan mengasuh anaknya. Beban-beban tersebut dapat memicu
timbulnya stres pada orang tua (parenting stress) yang mempunyai dampak
negatif terhadap orang tua, hubungan orang tua–anak, dan anak itu sendiri.
Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang memilki anak
dengan kebutuhan khusus mengalami peningkatan stres dibandingkan dengan
orang tua yang memiliki anak normal. Sekitar 29% ibu yang memiliki anak
dengan gangguan pertumbuhan mengalami peningkatan tanda-tanda depresi
(Singer, 2006 dan Bailey et al, 2007). Menurut Feldmar (2006), sekitar 20% orang
tua dengan anak yang memiliki atau beresiko memiliki gangguan pertumbuhan,
mengalami peningkatan tanda-tanda depresi.
Menurut Schieve (2007) dalam penelitiannya pada 78.305 orang tua di
Amerika, didapatkan orang tua yang memiliki anak dengan gangguan
perkembangan mental memiliki tingkat kemarahan dan stres lebih tinggi (44%)
daripada orang tua dengan anak berkebutuhan khusus tanpa gangguan
perkembangan (12%) dan orang tua dengan anak normal (11%).
Perhatian besar yang dibutuhkan oleh anak dengan keterbatasan dalam
jangka waktu yang lama akan berdampak pada kesehatan psikologis dari orang
tua (Seltzer et al, 2009), padahal orang tua memainkan peranan penting dalam
kesuksesan rehabilitasi anak mereka (Hung et al, 2010). Masalah psikologis yang
dialami orang tua antara lain depresi dan distres emosional (Hung et al, 2010).
Menurut Swartz (2005), tanda-tanda stres pada orang tua akan menurunkan
ketanggapan dan sensitivitas terhadap isyarat anak, sehingga akan memperburuk
kondisi anak dan mengganggu hasil dari terapi pada anak. Deteksi awal orang tua
pertolongan lebih dini pada orang tua tersebut, sehingga diharapkan hasil terapi
pada anak dan juga kulaitas hidup keluarga dapat lebih baik.
Penelitian ini dilakukan pada orang tua dengan anak berkebutuhan khusus
yang dididik di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan. Peserta didik di
YPAC Medan terdiri atas anak tunadaksa (cacat tubuh) dan tunagrahita (retardasi
mental) yang membutuhkan perhatian dan pembinaan lebih kompleks dan waktu
yang lama. Menurut Sensus Nasional Biro Pusat Statistik tahun 2006, sebanyak
0,7% atau 2.810.212 jiwa adalah penyandang cacat (Depkes, 2012). Prevalensi
anak tunagrahita di negara berkembang berkisar 4,6% dengan angka kejadian
berkisar 19 per 1000 kelahiran hidup (Sularyo & Kadim, 2000). Menurut data
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial (2011), jumlah anak tunadaksa di
Indonesia 1.652.741 jiwa.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran tingkat stres pada orang tua dengan anak
tunagrahita dan tunadaksa di Yayasan Pembinaan Anak Cacat Medan?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dan distribusi
stres pada orang tua dengan anak tunagrahita dan tunadaksa.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi mengenai parenting stress yang dialami orang
tua dengan anak berkebutuhan khusus, khususnya tunagrahita dan
tunadaksa, sehingga dapat diberikan intervensi dini melalui bantuan
para tenaga profesional.
2. Memberikan masukan dan pengetahuan kepada tenaga profesional
yang bekerja untuk keluarga dengan anak berkebutuhan khusus bahwa
tingkat parenting stress sangat berpengaruh terhadap optimalisasi
3. Memberikan informasi dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus
bagi orang tua guna mengoptimalkan perkembangan anak di berbagai
aspek kehidupan mendatang.
4. Menjadi bahan kepustakaan bagi institusi Universitas Sumatera Utara
agar dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya.
5. Menjadi persyaratan kelulusan bagi mahasiswa kedokteran USU untuk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. STRES
2.1.1. Pengertian Stres
Stres menurut Hans Selye (1950) adalah respon tubuh yang sifatnya non
spesifik tehadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya bagaimana respon tubuh
seseorang jika mengalami beban pekerjaan yang berlebihan. Bila ia sanggup
mengatasinya artinya tidak ada gangguan pada fungsi organ tubuh, maka ia
dikatakan tidak mengalami stres. Tetapi sebaliknya bila ternyata ia mengalami
gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi
dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami
distres (Hawari, 2011).
Menurut Mason secara jelas menggambarkan stres dengan mengutip
beberapa cara berbeda istilah stres digunakan (Greenberg, 2004):
1. Stimulus. Didefinisikan segabai stresor.
2. Respon. Didefinisikan sebagai reaksi terhadap stres.
3. Seluruh spektrum faktor yang saling berinteraksi, definisi menurut
Lazarus.
4. The stimulus-response interaction (interaksi stimulus-respon).
Dalam perkembangan selanjutnya ternyata dampak stres ini tidak hanya
mengenai gangguan fungsional hingga kelainan organ tubuh, tetapi juga
berdampak pada bidang kejiwaan (psikologik/psikiatrik) misalnya kecemasan atau
depresi. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari stres, namun
permasalahannya adalah bagaimana harus hidup beradaptasi dengan stres tanpa
harus mengalami distres.
Tidak semua bentuk stres itu mempunyai konotasi negatif, cukup banyak
yang bersifat positif, misalnya promosi jabatan. Jabatan yang lebih tinggi
membutuhkan tanggung jawab yang lebih berat merupakan tantangan bagi yang
dengan baik tanpa ada keluhan baik fisik maupun mental serta merasa senang,
maka ia dikatakan tidak mengalami stres, melainkan disebut eustres.
Berbagai macam permasalahan kehidupan pada sebagian orang dapat
merupakan beban atau tekanan mental yang disebut sebagai stresor psikososial.
Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan
perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang tersebut terpaksa
mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.
Dari sekian banyak jenis stresor psikososial yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari, para pakar memberikan beberapa contoh antara lain perkawinan;
problem orang tua, termasuk karena kondisi tatanan sosial, ekonomi, dan kualitas
dari anak yang diasuhnya; hubungan interpersonal (antar pribadi); pekerjaan;
lingkungan hidup; keuangan; hukum; perkembangan; penyakit fisik atau cedera;
faktor keluarga; dan trauma. Stresor psikososial sepeti yang dicontohkan di atas
ternyata erat hubungannya dengan 6 penyebab kematian utama di Amerika
Serikat, yaitu penyakit jantung koroner, kanker, paru-paru, kecelakaan, dan bunuh
diri (Hawari, 2011).
2.1.2. Tahapan Stres
Stres dimulai dengan adanya situasi kehidupan yang mengetuk seseorang
(baik secara lembut atau tiba-tiba) keluar dari keseimbangan. Kemudian orang
tersebut terdorong ke ketidakseimbangan dan butuh membetulkan dirinya sendiri.
Bagaimanapun, situasi yang sama dipresentasikan pada orang yang berbeda dapat
menunjukkan reaksi yang berbeda. Hal ini dikarenakan orang lain akan
menginterpretasikan situasi tersebut secara berbeda. Hal ini diistilahkan dengan
cognitive appraisal (penilaian kognitif), yang selanjutnya dapat dikontrol oleh
penerima stresor (Wade & Travis, 2007).
Hans Selye (1907 – 1928) dalam bukunya The Stress of Life (1956)
menggambarkan respons tubuh terhadap segala jenis stresor eksternal sebagai
sindrom adaptasi umum (general adaptation syndrome), yaitu serangkaian reaksi
1. Fase alaram (the alarm phase): fase saat tubuh menggerakkan sistem saraf
simpatetik untuk menghadapi ancaman langsung. Pelepasan hormon adrenal
yaitu epinephrine dan norepinephrin terjadi saat munculnya emosi kuat.
Hormon-hormon ini menghasilkan lonjakan energi, ketegangan otot-otot,
berkurangnya sensitivitas terhadap rasa sakit, berhentinya kerja sistem
pencernaan, dan meningkatnya tekanan darah. Oleh Walter Cannon (1929)
menggambarkan perubahan-perubahan ini sebagai respons “fight-or-flight”
(melawan atau melarikan diri).
2. Fase penolakan (the resistance phase): saat tubuh berusaha menolak atau
mengatasi stresor yang tidak dapat dihindari. Selama fase ini, respon
fisiologis yang terjadi pada fase alaram terus berlangsung, namun
respon-respon tersebut membuat tubuh lebih rentan terhadap stresor-stresor lain.
3. Fase kelelahan (the exhaustion phase): saat stres yang berkelanjutan
menguras energi tubuh, meningkatkan kerentanan terhadap masalah fisik
pada akhirnya akan memunculkan penyakit. Reaksi yang sama, yang
memampukan tubuh merespons tantangan secara efektif pada fase alaram,
akan merugikan apabila berlangsung secara terus menerus.
2.1.3. Efek Stres terhadap Psikologis dan Fisiologis
Menurut The American Institute of Stress (2012), efek stres dapat
mempengaruhi psikologis dan fisiologis tubuh seseorang.
a. Pengaruh pada psikologis:
1) Meningkatnya kecemasan, kekhawatiran, rasa bersalah, dan gugup
2) Meningkatnya kemarahan, frustasi, permusuhan
3) Depresi, suasana hati sering berubah
4) Meningkat atau menurunnya rasa lapar
5) Insomnia, mimpi buruk, mimpi yang mengganggu
6) Sulit berkonsentrasi, pikiran yang bercampur aduk
7) Kesulitan mengolah informasi baru
8) Pelupa, disorganisasi, kebingungan
10) Sering menangis atau pikiran bunuh diri
11) Merasa kesepian dan tidak berharga
12) Meningkatnya frustasi, mudah tersinggung, dan kegelisahan
13) Perilaku obsesif atau kompulsif
14) Menurunnya efikasi kerja atau produktivitas
15) Gangguan dalam berkomunikasi dan berbagi
16) Penarikan diri dari sosial dan isolasi
17) Kelelahan, lemas, capek yang menetap
18) Lebih sering menggunakan obat-obatan, dan lain-lain.
b. Pengaruh pada fisiologis tubuh:
1) Sistem saraf
Ketika stres, fisik dan psikologis akan mengubah sumber energi ke posisi
persiapan menghadapi ancaman, dikenal dengan respon “fight or flight”
(melawan atau lari). Saraf simpatis akan merangsang kelenjar adrenal
untuk melepaskan adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini akan
menyebabkan jantung berdetak lebih kencang, meningkatkan tekanan
darah, mengubah proses pencernaan dan kadar glukosa dalam darah.
2) Sistem muskuloskeletal
Pada keadaan stres, tonus otot meningkat. Kontraksi otot dapat memicu
sakit kepala, migrain, dan berbagai kondisi muskuloskeletal lainnya.
3) Sistem pernafasan
Stres dapat menyebabkan bernafas lebih berat dan lebih cepat atau
hiperventilasi. Hal ini dapat memicu serangan panik lebih cepat pada
beberapa orang.
4) Sistem kardiovaskular
Stres akut menyebabkan peningkatan denyut jantung dan kontraksi lebih
kuat dari otot jantung. Pembuluh darah yang menuju otot besar dan
jantung dilatasi untuk meningkatkan suplai darah. Episode berulang dari
stres akut dapat menyebabkan inflamasi pada arteri koroner sehingga
5) Sistem endokrin
Kelenjar adrenal menghasilkan kortisol dan epinefrin yang sering disebut
“hormon stres”. Ketika kortisol dan epinefrin dilepaskan, hepar
menghasilkan lebih banyak glukosa untuk energi pada respon stres.
6) Sistem pencernaan
Lambung menjadi tidak nyaman yang dapat memicu mual dan muntah,
bahkan nyeri. Pada usus dapat terjadi gangguan penyerapan dan
peristaltik sehingga menimbulkan konstipasi atau diare.
7) Sistem reproduksi
Pada pria, stres dapat mengganggu produksi testosteron, produksi
sperma, dan impoten. Pada wanita, stres dapat menyebabkan siklus
menstruasi tidak teratur atau nyeri. Stres juga dapat menurunkan
keinginan seksual.
2.2. Parenting Stress
2.2.1. Definisi Parenting Stress
Menurut L. G. Anthony et al (2005), parenting stress atau stres pada orang
tua adalah stres yang timbul ketika orang tua mengalami kesulitan dalam
memenuhi tuntutan menjadi orang tua yang mempengaruhi perilaku,
kesejahteraan, dan penyesuaian diri terhadap anak. Menurut Deater Deckard
(2004), parenting stress adalah bentuk proses yang mengakibatkan reaksi
psikologis dan fisiologis yang tidak baik yang berasal dari keharusan untuk
memenuhi kewajiban sebagai orang tua. Menurut Abidin (1992), stressor pada
parenting stress adalah multidimensi berdasarkan sumber dan jenisnya. Terdapat
3 sumber utama, yaitu karakteristik orang tua, karakteristik anak, dan faktor
kontekstual.
Terdapat empat teori utama telah diajukan oleh McCleary (2002)
mengenai parenting stress dalam keluarga dengan anak berkebutuhan khusus
a. Parent-Child Interactive Stress Model (Model Stres Interaktif Orang
tua-Anak) oleh Mash dan Johnston (1990) menyatakan bahwa karakteristik
anak adalah kontributor utama dalam stres orang tua-anak, tapi faktor
lingkungan juga mempunyai pengaruh langsung terhadap stres. Pada
model ini, pengaruh stresor anak dan lingkungan dimediasi oleh
karakteristik orang tua yaitu pengetahuan, persepsi dan ikatan dengan
anak, kepribadian, perilaku, dan kesehatan.
b. Webster-Stratton (1990) menyatakan bahwa stresor di luar keluarga
(extrafamilial), stresor dalam pribadi orang tua (interpersonal), dan stresor
anak mempengaruhi pengasuhan (parenting). Stresor di luar keluarga
antara lain pengangguran dan status ekonomi rendah. Stresor interpersonal
antara lain tekanan dalam pernikahan dan perceraian. Stresor anak yang
paling berpengaruh adalah gangguan perilaku.
c. Lazarus dan Folkman (1984) mengajukan teori mengenai stres, penilaian,
dan cara mengatasi sebagai poin awal, sebagaimana faktor pengetahuan
sebagai pusat teori ini. Pengetahuan dan penilaian orang tua terhadap
kebutuhan atau perilaku anak didasari atas nilai-nilai, kepercayaan,
komitmen yang dianut oleh orang tua, juga oleh keuangan dan dukungan
sosial.
d. Abidin (1976, 1995) adalah pembuat alat pengukuran stres pada orang tua
yaitu Parenting Stress Index (PSI; 1983/1995). Teori ini adalah yang
terlama namun paling sering dianut dalam berbagai literatur. Abidin
mengajukan bahwa parenting stress berasal dari faktor orang tua, faktor
anak, dan faktor situasi. Faktor orang tua adalah rasa keterikatan,
kemampuan, dan depresi. Faktor anak adalah kemampuan adaptasi,
penerimaan, tuntunan, suasana hati atau mood, hiperaktivitas, dan menjadi
penguat orang tua. Dan faktor situasi sebagai pembatas (dampak terhadap
peran kehidupan lain orang tua), kesehatan, dukungan sosial/isolasi, dan
hubungan dengan pasangan. Dalam teori ini, stres pada orang tua
diusulkan pada pengaruh negatif dalam pengasuhan orang tua (perilaku)
2.2.2. Faktor-faktor Parenting Stress
Stres yang dialami orang tua atau parenting stress diartikan oleh Richard
Abidin (1995) sebagai kecemasan atau ketegangan berlebihan yang secara khusus
berkaitan dengan peran orang tua dan interaksi orang tua dengan anak. Dalam
modelnya, stresor yang dialami oleh orang tua berpengauh dengan perilaku orang
tua yang selanjutnya akan berdampak pada adaptasi psikososial dari anak. Stresor
yang dihadapi antara lain stigma masyarakat, biaya perawatan, dan harus
bernegosiasi dengan sistematis kerja yang bermacam-macam (Hung et al, 2010).
Faktor-faktor yang meningkatkan resiko stres pada orang tua banyak
dikemukakan. Gerstein et al (2009) mengemukakan terdapat tiga faktor yang
khususnya menonjol dan dapat disesuaikan yaitu: kesehatan psikolohgis orang
tua, pasangan yang suportif atau mesra, dan hubungan positif orang tua-anak.
Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa semakin parah gangguan
psikomotorik anak, maka semakin rendah kesehatan mental orang tua, antara lain
dalam Arnaud et al (2008), Hung et al (2010), Seltzer (2009), dan Mobarak
(2000). Faktor lain yang sangat berperan adalah status sosioekonomi rendah
dalam penelitian Hung et al (2010), Arnaud et al (2008), dan Eisenhower et al
(2009); tingkat edukasi orang tua (Eisenhower et al, 2009), agama (Hung et al,
2010), kehilangan kontrol diri, dukungan pasangan dan sosial, dan latar belakang
budaya (Eisenhower et al, 2009; Gupta & Singhal, 2005). Dari
penemuan-penemuan tersebut menunjukkan bahwa stres psikososial lebih berdampak
signifikan terhadap tingkat stres daripada gangguan fungsional pada anak itu
sendiri (Hung et al, 2010).
2.2.3. Efek Parenting Stress terhadap Orang Tua
Parenting stress dialami hampir oleh semua orang tua dengan anak cacat,
dan sebagian dengan anak normal. Tingkat stres yang tinggi dijumpai pada 70%
ibu dan 40% ayah dengan anak cacat parah (Gupta & Singhal, 2005). Padahal,
orang tua dari anak dengan keterbatasan memainkan peranan penting dalam
dibutuhkan oleh anak dengan keterbatasan dalam jangka waktu yang lama, akan
berdampak pada kesehatan psikologis dari orang tua (Seltzer et al, 2009). Masalah
psikologis yang dialami orang tua antara lain depresi, distres emosional (Hung et
al, 2010).
Efek psikologis yang sering muncul adalah perasaan sedih dan putus asa
yang berkepanjangan, berkurangnya nafsu makan dan kesenangan, lesu, dan juga
pikiran untuk bunuh diri. Tanda-tanda tersebut sering bersamaan dengan
kecemasan, bentuk psikopatologis lain, dan perilaku antisosial seperti penggunaan
obat-obatan dan alkohol. Distres emosional pada orang tua dapat berkontribusi
pada distres emosi dan psikiatri anak dan bisa berdampak pada kemampuan
keluarga mengatasi penyakit tersebut (Deckard, 2004).
Menurut Swartz (2005), terbentuknya tanda-tanda stres pada orang tua
akan menurunkan ketanggapan dan sensitivitas terhadap isyarat anak sehingga
akan memperburuk kondisi anak dan mengganggu hasil dari terapi pada anak.
Parenting stress tidak hanya berdampak pada hubungan orang tua-anak saja,
namun juga pada kesehatan orang tua itu sendiri. Stres berdampak pada fungsi
fisiologis tubuh orang tua, dari penuaan dan gangguan pada produksi hormon
kortisol (Seltzer et al, 2009) dan meningkatkan angka perselisihan antara orang
tua yang berujung perpisahan atau perceraian yang dilaporkan lebih sering terjadi
pada keluarga dengan keterbatasan yang parah (Risdal & Singer (2004) dalam
Gerstein, et al (2009)).
2.3. Tunagrahita
2.3.1. Definisi Tunagrahita
Tuna grahita merupakan kata lain dari retardasi mental (mental
retardation) atau Intellectual Disability. “Tuna” berarti merugi dan “grahita”
berarti pikiran. American Association on Intellectual and Developmental
Disabilities (2013) mendefinisikan retardasi mental sebagai kecacatan yang
ditandai dengan keterbatasan signifikan baik dalam fungsi intelektual dan perilaku
adaptif (kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar) yang dimulai
Fungsi intelektual didapatkan dengan test fungsi kecerdasan dan hasilnya
dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ (Intelegence Quotient)
(Soetjiningsih, 1995).
��= ���������
�ℎ��������������× 100%
Mental Age : umur mental yang didapat dari test
Chronological Age : umur berdasarkan perhitungan tanggal lahir
Fungsi intelektual di bawah normal yaitu apabila IQ di bawah 70. Anak
tersebut tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa karena cara berpikir yang
terlalu sederhana, daya tangkap dan daya ingat lemah, dan pengertian bahasa dan
perhitungan sangat lemah (Martin & Volkmar, 2007).
Perilaku adaptif sosial adalah kemampuan seseorang untuk mandiri,
menyesuaikan diri, dan mempunyai tanggung jawab sosial yang sesuai dengan
kelompok umur dan budayanya. Penderita retardasi mental memiliki gangguan
perilaku adaptif paling sedikit 2 dari area berikut: komunikasi, self-care, home
living, kemampuan sosial/interpesonal, menggunakan sumber komunikasi,
self-direction, kemampuan fungsi akademik, pekerjaan, kesehatan, dan keselamatan
(Martin & Volkmar, 2007).
2.3.2. Klasifikasi Tunagrahita
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi
keempat (DSM-IV) klasifikasikan dalam empat derajat dari retardasi mental, yaitu
(Shapiro & Batshaw, 2007):
a. Mild mental retardation
Dimiliki sekitar 85% dari populasi retardasi mental di Amerika. Nilai
IQ berkisar antara 50-55 sampai ≈ 70.
b. Moderate mental retardation
Dimiliki sekitar 10% dari populasi retardasi mental di Amerika. Nilai
c. Severe mental retardation
Dimiliki sekitar 3-4% dari populasi retardasi mental di Amerika.
Nilai IQ berkisar 20-25 sampai 35-40.
d. Profound mental retardation
Dimiliki hanya 1-2% dari populasi retardasi mental di Amerika. Nilai
IQ berkisar < 20-25.
e. Mental retardation, severity unspecified
Ditegakkan saat ada dugaan kuat retardasi mental namun kecerdasan
seseorang tersebut tidak dapat diukur menggunakan tes standar.
Menurut Budhiman (1991) dalam Soetjiningsih (1995), retardasi ditinjau
dari gejalanya dibagi menjadi:
1. Tipe klinik
Retardasi tipe klinik mudah dideteksi sejak dini karena kelainan fisik dan
mental cukup berat. Penyebab tersering kelainan organik. Anak tersebut
membutuhkan perawatan terus-menerus dan dapat terjadi pada kelas sosial
tinggi ataupun rendah. Orang tua dari anak retardasi mental tipe ini cepat
mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri kelainan pada
anaknya.
2. Tipe sosiobudaya
Tipe ini diketahui biasanya setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak
dapat mengikuti pelajaran. Penampilan seperti anak normal, sehingga disebut
juga retardasi mental 6 jam. Hal ini dikarenakan begitu mereka keluar
sekolah, mereka dapat bermain seperti anak-anak normal lainnya. Tipe ini
umumnya berasal dari golongan sosio ekonomi rendah. Para orang tua dari
anak tipe ini tidak melihat adanya kelainan pada anaknya dan mengetahuinya
setelah diberi tahu oleh guru atau psikolog karena beberapa kali tidak naik
kelas. Pada umumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline
Gejala dari retardasi mental dalam Soetjiningsih (1995) dibagi menjadi:
1. Retardasi tipe ringan
Bagian terbesar dari retardasi mental, berkisar 80%, termasuk dalam tipe
sosial budaya. Golongan ini termasuk mampu didik dan mampu latih, artinya
dapat diajar baca tulis sampai kelas 4 – 6 SD dan bisa dilatih keterampilan
tertentu. Tetapi umumnya kurang mampu menghadapi stres sehingga tetap
membutuhkan bimbingan dari keluarganya.
2. Retardasi mental sedang
Kelompok ini berkisar 12% dari seluruh penderita retardai mental. Mereka
mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan intelektualnya
hanya dapat sampai kelas 2 SD, tetapi dapat dilatih menguasai suatu
keterampilan tertentu. Mereka juga perlu dilatih bagaimana cara mengurus
diri dan pengawasan jika mengalami stres.
3. Retardasi mental berat
Kelompok ini berkisar 7% dan tipe klinik. Diagnosis mudah ditegakkan
secara dini, karena adanya kelainan fisik juga keterlambatan motorik dan
bahasa yang sejak awal dapat diamati oleh orang tua. Mereka dapat dilatih
higiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana, tidak dapat
dilatih keterampilan kerja, dan memerlukan pengawasan dan bimbingan
seumur hidup.
4. Retardasi mental sangat berat
Kelompok ini berkisar 1% dan termasuk dalam tipe klinik. Diagnosis mudah
dibuat karena gejala mental dan fisik sangat jelas. Kemampuan berbahasanya
sangat minimal. Mereka sangat tergantung pada orang di sekitarnya.
2.4. Tunadaksa
2.4.1. Definisi Tunadaksa
Istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna” yang berarti rugi atau kurang,
dan “daksa” yang berarti tubuh. Menurut Depdikbud (1996), istilah tunadaksa
maksudnya sama dengan istilah yang berkembang seperti cacat tubuh, tuna tubuh,
handicapped. Menurut The Individuals with Disabilities Education Act atau IDEA
(2008), orthopedic impairments adalah kelainan ortopedik, dapat disebabkan oleh
kelainan kongenital, penyakit, dan penyebab lain, yang mengganggu proses
pembelajaran anak. Orthopedic dalam Dorland’s Medical Dictionary (2007)
berhubungan dengan sistem muskuloskeletal yang terdiri atas tulang, otot, sendi,
ligamentum, dan jaringan ikat. Kesimpulannya adalah anak tunadaksa dapat
didefinisikan sebagai penyandang bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem
otot, tulang, dan persendian yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi,
komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi.
2.4.2. Klasifikasi Tunadaksa
Klasifikasi anak tunadaksa didasari untuk kemudahan dalam pemberian
layanan. Salah satu sistem klasifikasi dilihat dari sistem kelainannya, antara lain
(Hallahan & Kauffman, 2006):
1. Kelainan pada sistem neurologis (neurological impairments)
a. Palsi serebral (Cerebral palsy)
Palsi serebral menurut Mutch L. (1992) adalah sekelompok
gangguan yang tidak progresif, tapi sering berubah, sindrom gangguan
motorik yang bersumber dari lesi atau anomali pada otak yang timbul
pada fase awal perkembangannya. Walaupun lesi inisial dan anomali
pada otak tetap, namun tampilan klinis dapat berubah seiring waktu
dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan dan kematangan dari
sistem saraf pusat (Sankar & Mundkur, 2005). Palsi serebral adalah
masalah umum dengan insiden 2 sampai 2.5 setiap 1000 kelahiran hidup
(Rosen MG. & Dickinson JC., 1992).
Keterbatasan yang dimiliki oleh anak palsi serebral antara lain
retardasi mental (60%) yang sering terjadi pada palsi serebral dengan
spastic hemiplegia, gangguan visual dan pergerakan okular (28%),
gangguan pendengaran (12%), dan epilepsi (35% - 62%). Kemampuan
oromotor. Gangguan artikulasi dan berbicara didapati pada 38% anak
palsi serebral.
Klasifikasi palsi serebral terbagi atas topografi dan kelainan
neuromuskular. Klasifikasi topografi dari palsi serebral adalah
monoplegi, mengenai 1 tungkai gerak badan; hemiplegi, mengenai 1
tungkai atas dan 1 tungkai bawah pada sisi yang sama; diplegi, mengenai
2 tungkai atas atau 2 tungkai bawah; dan quadriplegi, mengenai keempat
tungkai gerak tubuh. Namun monoplegi dan triplegi jarang ditemukan.
Menurut kelainan neuromuskular, cerebral palsy dibedakan atas:
(1) spastik, dengan ciri-ciri terdapat kekakuan pada sebagian atau seluruh
ototnya; (2) diskenesia, yang meliputi athetosis (penderita
memperlihatkan gerak yang tidak terkontrok), rigid (kekakuan pada
seluruh tubuh sehingga sulit untuk dibengkokkan, tremor (getaran kecil
yang terus menerus pada mata, tangan, atau kepala); (3) ataksia yaitu
adanya gangguan keseimbangan, jalannya gontai, koordinasi mata dan
tangan tidak berfungsi; serta (4) jenis campuran yaitu apabila seorang
anak memiliki kelainan dua atau lebih dari tipe-tipe di atas (Sankar &
Mundkur, 2005).
b. Penyakit Kejang (Epilepsi)
Seseorang terserang kejang saat terdapat letupan energi listrik
abnormal pada sel-sel otak tertentu. Letupan tersebut menyebar ke sel-sel
terdekat dan dapat menyebabkan kehilangan kesadaran, gerakan
involunter (di luar sadar), atau fenomena sensori abnormal. Efek akibat
kejang tergantung pada lokasi letupan berawal dan seberapa jauh letupan
menyebar (Hallahan & Kauffman, 2006).
c. Spina bifida
Spina bifida adalah kelainan kongenital pada tulang vertebra yang
membentuk kolumna spinalis akibat kegagalan menutup sempurna
ujung bawah tulang belakang. Karena kolumna spinalis tidak menutup,
spinal cord (serabut saraf di dalam kolumna spinalis) dapat keluar yang
mengakibatkan kerusakan saraf dan kelumpuhan dan/atau kehilangan
sensasi di bawah tempat kerusakan. Spina bifida sering bersamaan
dengan hidrosefalus, yaitu pembesaran kepala karena tekanan berlebihan
cairan serebrosinalis (dapat berakibat retardasi mental); meningitis,
infeksi pada selaput otak dan spinal cord; dan kelainan kongenital
lainnya (Hallahan & Kauffman, 2006).
d. Poliomielitis
Poliomielitis adalah suatu infeksi pada sumsum tulang belakang
yang disebabkan oleh virus polio yang mengakibatkan kelumpuhan dan
sifatnya menetap. Pada poliomielitis yang paralitik, berdasarkan sel-sel
mototrik yang rusak kelumpuhan anak polio dapat dibedakan menjadi
(Simoes, 2007):
i. Tipe spinal, yaitu kelumpuhan pada otot-otot leher, sekat dada,
tangan, dan kaki;
ii. Tipe bulbair, yaitu kelumpuhan fungsi motorik pada satu atau
lebih saraf tepi ditandai dengan adanya gangguan pernafasan;
iii. Polioennsefalitis (peradangan pada jaringan otak) yang biasanya
disertai dengan demam, kesadaran menurun, tremor, dan
terkadang kejang;
iv. Poliomielitis dengan ganguan ventilasi, akibat dari
ketidakmampuan beberapa komponen yang bekerja untuk
ventilasi (mekanisme bernafas) sehingga menyebabkan hipoksia
(kurangnya oksigen ke jaringan) dan hiperkapnia (jumlah karbon
dioksida yang terlalu banyak di darah).
Kelumpuhan pada polio sifatnya layu dan biasanya tidak
menyebabkan gangguan kecerdasan atau alat-alat indra. Akibat penyakit
saraf, kekakuan sendi (kontraktur), pemendekkan anggota gerak,
pelengkungan susunan tulang belakang ke satu sisi seperti huruf S
(scholiosis), kelainan telapak kaki yang membengkok ke luar atau ke
dalam, dislokasi sendi (sendi yang keluar dari dudukannya), dan lutut
yang melenting ke belakang (genu recorvatum) (Simoes, 2007).
e. Multipel Sklerosis
Multipel sklerosis adalah penyakit kronis, progresif lambat di
sistem saraf pusat dengan pengerasan pada selaput myelin (selaput yang
melapisi saraf). Penyakit ini umumnya muncul pada usia remaja dan
dewasa. Gejala klinis antara lain gangguan sensoris (terutama
penglihatan), tremor, kelemahan otot, kaku, gangguan berbicara, pusing,
gangguan berjalan, dan gangguan emosi (Hallahan & Kauffman, 2006).
2. Kelainan pada muskuloskeletal (Musculoskeletal Conditions)
a. Distrofi otot (Muscular dystrophy)
Penyakit herediter dengan kelemahan otot yang progresif akibat
degenerasi serat-serat otot. Kelemahan otot bersifat simetris dan
berhubungan dengan genetik.
b. Artritis
Artritis adalah rasa nyeri pada sendi yang dapat disebabkan oleh
berbagai faktor penyakit atau kondisi tertentu. Penyakit yang umum
menyebabkan artritis adalah reumatoid artritis (penyakit autoimun yang
sistemik) dan osteortritis (kerusakan pada tulang rawan sendi dan
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam
penelitian ini adalah:
Variabel Independen Variabel Dependen
3.2. Definisi Operasional
3.2.1. Tingkat stres adalah tingkat tekanan dan beban yang dialami oleh
orang tua yang memiliki anak tunadaksa dan tunagrahita yang
diukur menggunakan kuesioner Parental Stress Scale (PSS).
Cara Ukur
Pengukuran dilakukan dengan mengisi kuesioner. Kuesioner yang
digunakan adalah Parental Stress Scale (PSS).
Alat Ukur
Penelitian ini menggunakan PSS yang diadopsi dari
Muninggar (2008) dalam penelitian Hubungan parenting stress
dengan persepsi terhadap pelayanan family-centered care pada
orangtua anak tunaganda-netra. Jumlah pertanyaan setelah
validasi adalah 17 pernyataan dengan skala ordinal 5 poin skala
tipe Likert.
Skala ini menunjukkan validitas konvergen yang baik pada
pengukuran stres, emosi, dan kepuasan. Termasuk stres yang
didapat, strek keluarga/pekerjaan, kesendirian, kecemasan, rasa
bersalah, pernikahan, kepuasan kerja, dan dukungan sosial. Anak tunagrahita
dan tunadaksa Stres pada orang tua
Analisis diskriminasi menunjukkan kemampuan skala ini untuk
membedakan antara orang tua dengan anak normal dan orang tua
dengan anak bermasalah (Berry dan Jones, 1995).
Kategori
• Stres ringan, dengan nilai Total Stress < 29 • Stres sedang, dengan nilai Total Stres 29-58 • Stres berat, dengan nilai Total Stres ≥ 59-85
Skala Pengukuran
Skala pengukuran adalah ordinal dengan tipe 5-point
Likert-type scale. Sistem penilaian pada pernyataan dibagi menjadi 2
yaitu:
1. Pernyataan positif (pernyataan 1, 2, 4, 5, 6, 7, 16, 17) :
a. “Sangat setuju” = 1;
b. “Setuju” = 2;
c. “Ragu-ragu”= 3;
d. “Tidak setuju” = 4;
e. “Sangat tidak setuju”= 5.
2. Pernyataan negatif (pernyataan 3, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15) :
a. “Sangat setuju” = 5;
b. “Setuju” = 4;
c. “Ragu-ragu”= 3;
d. “Tidak setuju” = 2;
e. “Sangat tidak setuju”= 1.
3.2.2. Anak tunadaksa adalah anak yang memiliki bentuk kelainan atau
kecacatan pada sistem otot, tulang dan persendian yang dapat
mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi,
mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi.
3.2.3. Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki hambatan atau
keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di
bawah teman-teman seusianya) disertai dengan ketidakmampuan /
BAB IV
Metodologi Penelitian
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan
pendekatan cross-sectional (sekat lintang) dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat stres orang tua dengan anak tunagrahita dan tunadaksa.
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
4.2.1. Waktu
Penelitian dilakukan mulai bulan Agustus sampai September 2013
4.2.2. Lokasi
Lokasi dilakukannya penelitian di Yayasan Pembinaan Anak Cacat
(YPAC) Medan yang berada di Jln. Adinegoro No. 2, Kec. Medan
Timur, Medan.
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua (ayah dan
ibu) dengan anak tunagrahita dan tunadaksa di YPAC Medan
4.3.2. Sampel
Sampel adalah orang tua (ayah dan ibu) dengan anak tunagrahita
dan tunadaksa di YPAC Medan yang berkisar 240 orang. Metode
dalam penarikan sampel yang digunakan adalah total sampling.
Kriteria inklusi:
• Orang tua yang memiliki anak tunagrahita dan/atau tunadaksa. • Orang tua yang bersedia menjadi responden penelitian ini.
Krteria eksklusi:
4.4. Teknik Pengumpulan Data
4.4.1. Data primer
Variabel dependen adalah tingkat stres pada orang tua dengan anak
tunagrahita dan tunadaksa yang diukur menggunakan kuesioner
Parental Stress Scale (PSS) yang telah diterjemahkan dan
divalidasi dalam bahasa Indonesia.
Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada
institusi pendidikan (Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara).
2) Mengirimkan permohonan izin pengambilan data yang
diperoleh dari fakultas ke tempat penelitian (YPAC Medan).
3) Setelah mendapat persetujuan YPAC Medan, peneliti
melaksanakan pengumpulan data penelitian.
4) Melakukan sosialisasi pada para orang tua yang hadir di YPAC
Medan tentang tujuan, manfaat, dan proses pengisian
kuesioner.
5) Calon responden yang bersedia diminta untuk menandatangani
Informed consent (surat persetujuan).
6) Peneliti membagikan kuesioner ke orang tua yang hadir dan
menyesuaikan dengan data siswa dari YPAC Medan untuk
menentukan nomor kuesioner. Selama pengisian, responden
boleh bertanya pada peneliti bila ada pertanyaan yang tidak
dipahami.
7) Bagi orang tua yang tidak dapat hadir, akan dilakukan home
visite oleh peneliti berdasarkan alamat yang dimiliki yayasan.
Calon responden akan dihubungi terlebih dahulu sebelum
dikunjungi menanyakan kesediaannya untuk dikunjungi oleh
8) Calon responden yang bersedia dikunjungi akan dijelaskan
tentang tujuan, manfaat, dan proses pengisian kuesioner.
Proses selanjutnya sama dengan responden yang hadir di
YPAC Medan.
9) Selanjutnya data yang diperoleh dikumpulkan untuk dianalisa.
4.4.2. Data sekunder
Data mengenai kategori keterbatasan pada anak (tunagrahita,
tunadaksa, atau gabungan) berasal dari data siswa di YPAC Medan.
4.5. Pengolahan dan Analisa Data
Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu:
1. Editing
Meneliti kembali kelengkapan data yang telah terkumpul dari setiap
jawaban kuesioner dan apakah data telah terisi dengan lengkap dan
jelas.
2. Coding
Mengklasifikasikan data dan memberikan kode untuk untuk
masing-masing kelas sesuai dengan tujuan dikumpulkannya data.
3. Entry
Memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer.
4. Cleaning
Meneliti kembali data yang telah di-entry untuk mengetahui ada
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC)
Medan yang berlokasi di Jalan Adinegoro No. 2, Kec. Medan Timur, Medan.
YPAC Medan merupakan sekolah yang dikhususkan untuk anak berkebutuhan
khusus dengan spesialisasi tunagrahita (retardasi mental) dan tunadaksa (cacat
fisik). Pelayanan mulai dari kelas terapi, TKLB, SDLB, SMPLB, dan SMALB,
kelas keterampilan, dan Seltered Workshop. YPAC Medan juga menyediakan
kegiatan ekstrakulikuler untuk para siswa antara lain kelas seni dan musik,
olahraga, dan kegiatan lainnya.
Pelayanan rehabilitasi anak yang tersedia di YPAC Medan antara lain
fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, pelayanan pemeriksaan dan konsultasi
psikologi, pembuatan alat bantu. Pelayanan sekolah aktif pada hari Senin sampai
Sabtu. Senin sampai Kamis dilakukan kegiatan sekolah dengan proses belajar di
kelas sesuai dengan tingkatan masing-masing. Jumat merupakan hari olahraga di
mana semua siswa, guru, bahkan orang tua dapat berpartisipasi dalam kegiatan
olahraga di lapangan sekolah. Sabtu diadakan kegiatan ekstrakulikuler sesuai
dengan minat dan bakat siswa didik .
5.2. Karakteristik Responden
Penelitian dilakukan pada orang tua (ayah dan ibu) siswa didik YPAC
Medan. Pada awalnya penelitian dilakukan secara total sampling pada seluruh
orang tua siswa didik YPAC Medan dan direncanakan untuk melakukan home
visit ke rumah orang tua setiap siswa didik. Namun dikarenakan keterbatasan
waktu, tenaga, dan masalah etik terhadap orang tua yag memiliki anak
berkebutuhan khusus, maka home visit tidak dapat dilakukan. Pada awalnya
kuesioner telah diberikan pada 144 orang tua yang bersedia (dari 72 siswa),
Karakteristik responden dibagi berdasarkan jenis kelamin orang tua, usia
orang tua, pendidikan terakhir orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang
tua, jenis kelamin anak, tipe kelainan anak, dan pendidikan anak.
[image:39.595.108.516.246.563.2]5.2.1. Data Karakteristik Responden
Tabel 5.1. Data Karakteristik Responden 1. Responden
Ayah (N) 56 (46%)
Ibu (N) 67 (54%)
2. Usia Responden
Ayah (mean) 46
Ibu (mean) 44
3. Pendidikan Responden
SMA/SMK (N) 73 (59,3%)
Diploma (N) 15 (12,1%)
S1 (N) 33 (27%)
S2 (N) 2 (1,6%)
S3 (N) 0 (0%)
4. Pekerjaan Responden
Profesional (N) 4 (3,2%)
Pegawai negeri/swasta (N) 28 (22,8%)
Wiraswasta (N) 39 (31,7%)
Ibu Rumah Tangga (N) 52 (42,3%)
5. Penghasilan Responden
< Rp 1.000.000 (N) 44 (35,8%)
Rp 1.000.000 – Rp 5.000.000 (N) 64 (52%)
Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000 (N) 9 (7,3%)
> Rp 10.000.000 (N) 6 (4,9%)
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa responden ibu lebih banyak berpartisipasi
dalam penelitian ini sejumlah 67 orang (54%) dibandingkan responden ayah
sejumlah 56 orang (46%). Usia responden ayah berada pada rerata usia 46 tahun,
dan responden ibu berada pada rerata usia 44 tahun. Responden mayoritas
berpendidikan terakhir SMA/SMK sejumlah 73 orang (59,3%). Pekerjaan
responden mayoritas adalah ibu rumah tangga bagi responden ibu sejumlah 52
[image:39.595.115.513.253.568.2](3,2%). Penghasilan responden mayoritas adalah berkisar Rp 1.000.000 – Rp
5.000.000 sejumlah 64 orang (52%).
[image:40.595.107.516.228.394.2]5.2.2. Data Karakteristik Anak Responden
Tabel 5.2. Data Karakteristik Anak Responden 1. Jenis kelamin Anak
Laki-laki (N) 59 (48%)
Perempuan (N) 64 (52%)
2. Tipe Kelainan Anak
Tunagrahita (N) 98 (80%)
Tunadaksa (N) 25 (20%)
3. Pendidikan Anak
TK – SD (N) 85 (69%)
SMP (N) 23 (19%)
SMA (N) 11 (9%)
Terapi (N) 4 (3%)
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa mayoritas jenis kelamin anak responden
adalah perempuan sejumlah 64 orang (52%) sedagkan laki-laki sejumlah 59 orang
(48%). Tipe kelainan anak responden mayoritas adalah tunagrahita sejumlah 98
orang (80%) sedangkan tunadaksa sejumlah 25 orang (20%). Mayoritas
pendidikan anak responden adalah TK-SD sejumlah 85 orang (69%).
5.3. Gambaran Tingkat Stres Orang Tua (Parenting Stress) Responden
5.3.1. Distribusi Tingkat Stres
Tabel 5.3. Distribusi Tingkat Stres Responden
Tingkat Stres Orang Tua Ayah Ibu
N % N %
Stres Ringan 25 44.6 32 47.8
Stres Sedang 31 55.4 35 52.2
Stres Berat 0 0 0 0
Tabel di atas menunjukkan tingkat stres terbanyak yang dialami oleh
responden Ibu dan responden Ayah adalah stres sedang dengan jumlah responden
Ibu 35 orang (52.2%) dan responden Ayah 31 orang (55.4%). Tabel tersebut juga
menunjukkan bahwa para orang tua tidak ada yang mengalami stres berat.
Penelitian ini juga dapat memperlihatkan perbandingan mean dimensi
mana yang paling tinggi pada responden penelitian yang diambil dari nilai rerata
skor berdasarkan dimensi pertanyaan. Berikut ini adalah hasil perhitungan mean
[image:41.595.107.496.319.392.2]terhadap kedua dimensi tersebut.
Tabel 5.4. Nilai Mean Skor Tiap Dimensi
Dimensi Mean Skor Tiap Dimensi
Ayah Ibu
1. Pleasure 11.86 11.46
2. Strain 17.93 17.93
3. Total Mean Skor 29,79 29,37
Tabel di atas menunjukkan bahwa mean skor pada dimensi strain lebih
besar dibandingkan mean skor pada dimensi pleasure. Berdasarkan hasil tersebut,
disimpulkan bahwa responden penelitian cenderung menunjukkan komponen
negatif parenting stress yang melibatkan tuntutan akan berbagai sumber seperti
waktu, tenaga, dan uang, serta adanya larangan, perasaan malu, dan kontrol.
5.3.2. Gambaran Stres Responden
Tabel-tabel di bawah ini menunjukkan distribusi tingkat stres orang tua
berdasarkan karakteristik responden yaitu usia, pendidikan, pekerjaan, dan
penghasilan responden. Selanjutnya berdasarkan karakteristik anak responden
Tabel 5.5. Gambaran Stres Berdasarkan Usia Responden
Rentang Usia
Ayah
Rentang Usia
Ibu Stres
Ringan
Stres Sedang
Stres Ringan
Stres Sedang 34 – 38 4 (40%) 6 (60%) 32 – 36 5 (36%) 9 (64%)
Mean 30,40 30,93
39 – 43 7 (50%) 7(50%) 37 – 41 9 (47%) 10 (53%)
Mean 30,43 29,68
44 – 48 5 (39%) 8 (61%) 42 – 46 4 (36%) 7 (64%)
Mean 31,15 31,18
49 – 53 2 (33%) 4 (68%) 47 – 51 7 (58%) 5 (42%)
Mean 27,50 28,08
54 – 58 3 (60%) 2 (40%) 52 – 56 3 (43%) 4 (57%)
Mean 27,80 28,29
59 – 63 3 (60%) 2 (40%) 57 – 61 2 (100%) 0 (0%)
Mean 28,60 22,50
64 – 68 1 (33%) 2 (67%) 62 – 66 1 (100%) 0 (0%)
Mean 28,67 23,00
67 – 71 1 (100%) 0 (0%)
Mean 25,00
Total 25 (45%) 31(55%) Total 32 (48%) 35 (52%)
Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah terbanyak responden ayah yang
mengalami stres sedang adalah dengan rentang umur 49 - 53 tahun (68%).
Jumlah terbanyak responden ibu yang mengalami stres sedang adalah dengan
rentang umur 32 - 36 tahun dan 42 – 46 (64%). Nilai rerata total skor yang
ditampilkan dalam bentuk nilai mean menunjukkan bahwa tingkat stres yang
paling tinggi pada responden ayah dengan rentang umur 44- 48 tahun (31,15) dan
Tabel 5.6. Gambaran Stres Berdasarkan Karakteristik Responden
Ayah Ibu Mean
Stres Ringan
Stres Sedang
Stres Ringan
Stres
Sedang Ayah Ibu 1. Pendidikan
SMA/SMK 16 (53%) 14 (47%) 21 (49%) 22 (51%) 29,27 29,84
Diploma 2 (33%) 4 (67%) 5 (56%) 4 (44%) 30,00 26,11
S1 7 (35%) 13 (65%) 5 (39%) 8 (61%) 30,50 30,15
S2 0 (0%) 0 (0%) 1 (50%) 1 (50%) - 29,00
2. Pekerjaan
Profesional 2 (67%) 1 (33%) 1 (100%) 0 (0%) 29,33 28,00 Pegawai
negeri/swasta 8 (40%) 12 (60%) 3 (38%) 5 (62%) 29,70 29,38 Wiraswasta 15 (46%) 18 (54%) 2 (33%) 4 (67%) 29,88 30,67 Ibu Rumah
Tangga - - 26 (50%) 26 (50%) - 29,25
3. Penghasilan
< Rp 1 juta 8 (57%) 6 (43%) 16 (53%) 14 (47%) 26,79 27,77 Rp 1 juta –
Rp 5 juta 13 (38%) 21 (62%) 11 (37%) 19 (63%) 31,21 31,60 Rp 5 juta –
Rp 10 juta 2 (40%) 3 (60%) 2 (50%) 2 (50%) 29,80 28,00 > Rp 10 juta 2 (67%) 1 (33%) 3 (100%) 0 (0%) 27,67 25,00
Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah responden Ayah terbanyak yang
mengalami stres sedang adalah dengan pendidikan terakhir S1 (65%), pekerjaan
wiraswasta (60%), dan penghasilan Rp 1 juta – Rp 5 juta (62%). Jumlah
responden Ibu terbanyak yang mengalami stres sedang dengan pendidikan
terakhir SMA/SMK (51%), ibu rumah tangga (50%), dan penghasilan Rp 1 juta –
Rp 5 juta (63%).
Nilai rerata total skor yang ditampilkan dalam bentuk nilai mean
menunjukkan bahwa tingkat stres yang paling tinggi pada responden ayah dengan
pendidikan S1 (30,50), pekerjaan wiraswasta (29,88), dan penghasilan Rp 1 juta –
Rp 5 juta (31,21). Responden ibu dengan pendidikan S1 (30,15), pekerjaan
Tabel 5.7. Gambaran Stres Berdasarkan Karakteristik Anak Responden
Ayah Ibu Mean
Stres Ringan
Stres Sedang
Stres Ringan
Stres
Sedang Ayah Ibu 1. Kelamin
Laki-laki 11 (38%) 18 (62%) 12 (40%) 18 (60%) 30,45 30,80
Perempuan 14 (52%) 13 (48%) 20 (54%) 17 (46%) 29,07 28,22 2. Tipe Kelainan
Tunagrahita 17 (38%) 28 (62%) 26 (49%) 27 (51%) 30,13 29,60
Tunadaksa 8 (72%) 3 (27%) 6 (43%) 8 (57%) 28,36 28,50
3. Pendidikan
TK – SD 18 (45%) 22 (55%) 18 (40%) 27 (60%) 30,13 30,47
SMP 5 (50%) 5 (50%) 9 (69%) 4 (31%) 27,90 26,92
SMA 1 (25%) 3 (75%) 4 (57%) 3 (43%) 30,25 27,29
Terapi 1 (50%) 1 (50%) 1 (50%) 1 (50%) 31,50 28,00
Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah responden Ayah terbanyak yang
mengalami stres sedang adalah dengan anak berjenis kelamin laki-laki (62,1%),
tipe kelainan tunagrahita (62%), dan pendidikan anak TK-SD (71%). Jumlah
responden Ibu terbanyak yang mengalami stres sedang adalah dengan anak
berjenis kelamin laki-laki (60%), tipe tunagrahita (51%), dan pendidikan anak
TK-SD (55%).
Nilai rerata total skor yang ditampilkan dalam bentuk nilai mean
menunjukkan bahwa tingkat stres yang paling tinggi pada responden ayah dengan
jenis kelamin anak laki-laki (30,45), tipe tunagrahita (30,13), dan anak terapi
(31,50). Responden ibu dengan jenis kelamin anak laki-laki (30,80), tipe
tunagrahita (29,60), dan pendidikan anak TK-SD (30,47).
5.4. Perbedaan Parenting Stress Berdasarkan Data Kontrol
Analisis data penelitian ini berupa ada tidaknya perbedaan parenting stress
yang ditinjau berdasarkan nilai rerata total skor yang ditampilkan dalam nilai
mean pada setiap data kontrol. Perhitungan statistik yang digunakan antara lain
one way ANOVA dan independent t-test. Berdasarkan hasil dari perhitungan
menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan di antara setiap kategori data
kontrol.
5.5. Pembahasan
Responden penelitian ini adalah orang tua dengan anak tunagrahita dan
tunadaksa yang ada di Yayasa Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Medan tahun 2013
dengan responden ibu sebanyak 67 orang dan responden ayah 56 orang.
Dari seluruh responden diperoleh jumlah responden Ibu dengan tingkat
stres sedang sebanyak 35 orang (52,2%). Selain itu, jumlah responden Ayah
dengan tingkat stres sedang sebanyak 31 orang (55,4%). Orang tua dengan anak
berkebutuhan khusus akan mengalami tingkat stres yang lebih tinggi daripada
orang tua dengan anak normal sesuai dengan pendapat Arnaud et al (2008),
Seltzer (2009), dan Mobarak (2000) menyatakan bahwa semakin parah gangguan
psikomotorik anak, akan semakin rendah kesehatan mental orang tua.
Tabel 5.4 pada nilai total mean skor dari parenting stress menunjukkan
bahwa Ayah lebih tinggi menderita stres daripada Ibu. Hal ini tidak sesuai dengan
pendapat Gupta dan Singhal (2005) bahwa tingkat stres lebih tinggi dijumpai pada
Ibu daripada Ayah. Hal ini mungkin karena pengaruh orang tua dengan dukungan
sosial sesuai dengan pendapat Eisenhower (2009) dan Gupta & Singhal (2005)
bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka semakin rendah tingkat stres yang
dialami orang tua. Penelitian ini mengambil responden yang mayoritas menemani
anak selama bersekolah di YPAC Medan, dan sebagian besar adalah Ibu. Menurut
pengamatan, mereka selalu berkumpul untuk berbagi pengalaman dan
memberikan dukungan satu sama lain, membentuk arisan, dan kegiatan bersama
secara rutin. Hal ini yang mungkin tidak dialami oleh Ayah di lingkungan
kerjanya sehingga responden Ayah memiliki tingkat stres yang lebih tinggi
dibandingkan responden ibu.
Gerstein et al (2009) berhipotesis bahwa adanya efek silang (crossover)
yang dapat berpengaruh pada ayah dan ibu, di mana faktor ayah dapat
mempengaruhi kesehatan mental ibu dan faktor ibu dapat mempengaruhi
keluarga yang memiliki anak berusia muda dengan gangguan intelektual, bahkan
lebih penting dalam meningkatkan ketabahan dibandingkan proses dalam
masing-masing orang tua. Menurut Larson & Almeida (1999) dalam Gerstein et al (2009),
koneksi crossover ini sejalan dengan proses transmisi emosional antara suami dan
istri, begitu juga bahwa emosi atau pemikiran pada salah satu anggota keluarga
dapat mempengaruhi emosi atau pemikiran anggota keluarga yang lain.
Penelitian ini tidak menemukan adanya perbedaan proporsi yang berarti
antara distribusi stres berdasarkan usia yang dapat dilihat dari tabel 5.5.
Sebagaimana dalam penelitian Mobarak (2000) dan Hung et al (2010) yang
menyatakan bahwa tidak ada pengaruh usia tua terhadap kesehatan mental
mereka. Tabel 5.5 menunjukkan bahwa nilai mean relatif lebih tinggi pada
rentang usia yang rendah. Hal ini dapat dikaitkan dengan mayoritas orang tua
tersebut memiliki anak yang masih muda dengan rentang pendidikan TK-SD. Hal
ini sejalan dengan pendapat Mesh & Johnston (1983) bahwa stres dialami oleh ibu
lebih tinggi dengan anak yang lebih muda (preschool) dan menyebabkan
gangguan dalam hubungan orang tua-anak. Tabel 5.7 menunjukkan bahwa
proporsi stres sedang dan nilai mean tinggi pada ibu dengan anak TK-SD, yang
sejalan dengan pendapat di atas.
Distribusi gambaran stres berdasarkan pendidikan terakhir orang tua pada
tabel 5.6 menunjukkan dari responden ayah dengan pendidikan akhir S1 dan
responden ibu dengan dengan pendidikan akhir SMA/SMK mengalami stres
sedang terbanyak (65% dan 51,2%). Namun didapatkan nilai mean stres pada
responden ayah dan ibu paling tinggi pada orang tua berpendidikan terakhir S1.
Hal ini sejalan dengan pendapat Arnaund (2008) bahwa orang tua yang
berkualifikasi pendidikan tinggi dengan anak berkebutuhan khusus memiliki
kualitas hidup yang lebih rendah pada pihak orang tua. Pendidikan yang tinggi
menunjukkan tingkat sosial yang lebih tinggi sehingga pengharapan pada anak
lebih besar, namun dengan kondisi anak yang terbatas dapat membuat tingkat
stres orang tua yang lebih tinggi sesuai dengan pendapat Gupta & Singhal (2005).
Distribusi gambaran stres dengan pekerjaan orang tua menunjukkan bahwa
(54,5%). Responden ibu yang paling banyak mengalami stres sedang paling
banyak adalah ibu rumah tangga (50%), namun tidak ada perbedaan signifikan
pada nilai mean stres di antara tiap kelompok. Penelitian-penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa status sosioekonomi yang rendah adalah salah satu faktor
peningkatan tingkat stres orang tua (Arnaud, 2008; Mobarak, 2000; Hung et al,
2010; dan lain-lain). Namun berdasarkan penghasilan, stres sedang dan nilai mean
tertinggi paling banyak dialami orang tua dengan penghasilan Rp 1.000.000 – Rp
5.000.000 (38% dan 62%, mean 31,21 dan 31,60). Hal ini kemungkinan selain
adanya bantuan dari pihak keluarga sendiri, mungkin karena adanya program
bantuan dana bagi siswa didik YPAC Medan yang tidak mampu, sehingga biaya
sekolah dan terapi dibantu dari donatur-donatur yang rutin menyumbang ke pihak
YPAC Medan.
Distribusi gambaran stres berdasarkan jenis kelamin anak didapatkan pada
responden ayah dan responden ibu yang mengalami stres sedang paling banyak
adalah yang memiliki anak berjenis kelamin laki-laki (62% dan 60%, mean 30,45
dan 30,80). Walaupun tidak ada literatur yang menyebutkan adanya pengaruh
jenis kelamin anak terhadap stres orang tua, namun hal ini mungkin diakibatkan
lebih aktifnya anak laki-laki daripada perempuan dan juga masalah budaya
masyarakat di mana laki-laki sebagai penerus nama keluarga. Hal ini sesuai
dengan pendapat Hung dkk. (2010) dan Gupta & Singhal (2005) bahwa stigma
masyarakat dan latar belakang budaya adalah faktor yang mempengaruhi tingkat
stres orang tua.
Distribusi gambaran stres responden berdasarkan tipe kelainan anak pada
tabel 5.10 menunjukkan bahwa stres sedang paling banyak dialami responden
ayah dan ibu yang memiliki anak tipe tunagrahita (62,2% dan 50,9%, mean 30,13
dan 30,13). Namun tidak ada perbedaan signifikan di antara kedua tipe kelainan.
Mayoritas responden memiliki anak tunagrahita sehingga relatif lebih besar nilai
proporsi pada anak tunagrahita. Namun hal ini dapat didukung dengan pendapat
Kersh, et al (2006) bahwa tingkah laku anak lebih berpengaruh pada stres orang
tua daripada bentuk kelainannya, dan hal tersebut tergantung pada tingkat