PRODUKSI KARKAS DAN NON KARKAS DOMBA PRIANGAN
PADA FASE PENGGEMUKAN DENGAN PENAMBAHAN
EKSTRAK PASAK BUMI (
Eurycoma longifolia,
Jack)
DALAM RANSUM
SKRIPSI IHSAN ADI PUTRA
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGKASAN
IHSAN ADI PUTRA. D14070238. 2012. Produksi Karkas dan Non Karkas Domba Priangan pada Fase Penggemukan dengan Penambahan Ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack) dalam Ransum. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Dr. Ir. Rudy Priyanto
Pembimbing Kedua : Muhamad Baihaqi, S.Pt., M.Sc.
Upaya untuk mempertahankan pertumbuhan otot dalam fase pemeliharaan dapat dilakukan melalui mekanisme hormonal terutama androgen/testosteron. Peningkatan hormon testosteron dapat dilakukan dengan pemberian ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack)/ ELJ dalam meningkatkan karakteristik dan komposisi karkas serta pengaruhnya terhadap non karkas domba Priangan pada fase penggemukan. Penelitian dilakukan pada bulan November 2010 sampai bulan Februari 2011, di Kandang Percobaan Ruminansia Kecil Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 16 ekor domba Priangan jantan yang berumur satu tahun dengan bobot awal 30,43 ± 1,41 kg. Domba dipelihara dalam kandang individu selama 108 hari. Pakan yang diberikan berupa rumput gajah dan konsentrat dengan rasio 25% : 75%. Air minum diberikan ad libittum. Perlakuan diberikan pada pagi hari sebelum pemberian pakan konsentrat dan rumput gajah diberikan pada sore hari.
Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (tanpa penambahan peptida ELJ), P1 (Peptida ELJ terenkapsulasi 1,5 mg/kg BB), P2 (Peptida ELJ terenkapsulasi 3 mg/kg BB) dan P3 (LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg BB). P3 merupakan produk komersial yang mengandung eurypeptide®. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Domba dibagi ke dalam empat taraf perlakuan dengan empat ulangan. Peubah yang diamati adalah performa pertumbuhan domba, produksi karkas, komponen karkas dan bobot non karkas. Data produksi karkas dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan komponen karkas dianalisis menggunakan analysis of covariance (ANCOVA) dengan bobot setengah karkas kanan sebagai peragam.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak pasak bumi tidak berpengaruh terhadap performa domba, karakteristik karkas dan bobot non karkas domba Priangan. Namun pemberian ekstrak pasak bumi terenkapsulasi 3 mg/kg BB dan LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg BB mampu meningkatkan bobot otot dan menurunkan bobot lemak pada komposisi karkas.
ABSTRACT
Carcass and Non Carcass Production of Priangan Sheep at Finisher given Suplemen Ecstrak Pasak Bumi ( Eurycoma longifolia, Jack) in Feed
Putra, I. A., R. Priyanto and M. Baihaqi
As a stimulant for increasing testosterone hormone, Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack)/ ELJ is espected to produce more muscle rather than fat accresions. This study aimed to examine the effect of extract Pasak Bumi of Priangan sheep on carcass and non carcass characteristics. Sixteen yearling sheep with 30,43 ± 1,41 kg of body weight were used in this experiment. The treatments were P0 (control); P1 (peptide ELJ encapsulation 1,5 mg/kg BW); P2 (peptide ELJ encapsulation 3 mg/kg BW) and P3 (LJ 100 encapsulation 1 mg/kg BW) given oraly for three months. The results showed that the addition Pasak Bumi extract did not influence the performans of carcass and non carcass (P>0,05), but addition of peptide ELJ encapsulation 3mg/kg BW and LJ 100 encapsulation 1mg/kg BW treatment increased lean production and decreased fat content of carcass (P<0,05).
PRODUKSI KARKAS DAN NON KARKAS DOMBA PRIANGAN
PADA FASE PENGGEMUKAN DENGAN PENAMBAHAN
EKSTRAK PASAK BUMI (
Eurycoma longifolia,
Jack)
DALAM RANSUM
IHSAN ADI PUTRA D14070238
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
Judul : Produksi Karkas dan Non Karkas Domba Priangan pada Fase Penggemukan dengan Penambahan Ekstrak Pasak Bumi
(Eurycoma longifolia, Jack) Dalam Ransum.
Nama :Ihsan Adi Putra NIM : D14070238
Menyetujui,
Pembimbing Utama,
(Dr. Ir. Rudy Priyanto) NIP: 19601216 198603 1 003
Pembimbing Anggota,
(Muhamad Baihaqi, S.Pt, M.Sc.) NIP: 19800129 200501 1 005
Mengetahui :
Ketua Departemen,
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M. Agr. Sc.)
NIP 19591212198603 1 004
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 3 Desember 1988 di Metro, Lampung. Penulis adalah anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Drs. Rabiman dan Ibu Dra. Elis Setiawati.
Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1995 di Sekolah Dasar Negeri Teladan Metro, Lampung dan diselesaikan pada tahun 2001. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama Penulis dimulai pada tahun 2001 dan diselesaikan pada tahun 2004 di SLTPN 1 Metro dan dilanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA N 1 Metro pada tahun 2004 dan diselesaikan pada tahun 2007. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan terdaftar sebagai mahasiswa Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim,
Alhamdulillah, puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa berjuang di jalan-Nya hingga akhir zaman nanti. Sehingga Penulis diberi kemudahan dalam penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul Produksi Karkas dan Non Karkas Domba Priangan pada Fase Penggemukan dengan Penambahan Ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack) dalam Pakan.
Domba merupakan salah satu ternak ruminansia yang berpotensi untuk dikembangkan. Usaha pengembangan domba sebagai ternak pedaging dapat dilakukan dengan mempertahankan pertumbuhan otot dalam fase pemeliharaan melalui mekanisme hormonal terutama androgen/testosteron. Peningkatan hormon testosteron dapat dilakukan dengan pemberian ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai Februari 2011 bertempat di kandang percobaan ruminansia kecil balai penelitian ternak, Ciawi, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mempelajari kemampuan ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack) dalam meningkatkan performa dan komposisi karkas serta pengaruhnya terhadap non karkas domba Priangan pada fase penggemukan.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini. Semoga Allah SWT membalasnya dengan baik. Semoga skripsi ini memberikan manfaat kepada semua pihak.
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ... ii
ABSTRACT ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
LEMBAR PENGESAHAN ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
PENDAHULUAN ... 1
Hormon Testosteron ... 6
Bobot Potong ... 8
Bobot Karkas ... 8
Komposisi Karkas Domba ... 8
Daging ... 9
Tulang ... 9
Lemak ... 10
Bobot Non Karkas ... 10
MATERI DAN METODE ... 11
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
Keadaan Umum Penelitian ... 19
Performa Pertumbuhan Domba ... 19
Pertambahan Bobot Badan Harian ... 19
Konsumsi Pakan ... 21
Konversi Pakan ... 21
Karakteristik Karkas ... 21
Bobot Potong ... 22
Bobot Tubuh Kosong ... 22
Bobot Karkas ... 23
Persentase Karkas ... 23
Tebal Lemak Punggung ... 24
Luas Otot Mata Rusuk ... 24
Komposisi Karkas Domba ... 25
Otot ... 25
Lemak ... 26
Tulang ... 27
Bobot Non Karkas ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
Kesimpulan ... 30
Saran ... 30
UCAPAN TERIMAKASIH ……….. 31
DAFTAR PUSTAKA ... 32
LAMPIRAN ... 36
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Komposisi Nutrisi Bahan Kering Pakan Rumput dan Konsentrat Selama Pemeliharaan ………...
12 2. Komposisi Bahan Kapsulasi Hidrofobik Peptida ELJ…………... 13 3. Performa Domba Priangan dengan Penambahan Ekstrak Pasak
Bumi ………
20 4. Rataan Bobot Potong, Bobot Tubuh Kosong, Bobot dan
Persentase Karkas Domba Priangan ………....
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Tumbuhan Pasak Bumi (a) Tumbuhan Pasak Bumi dan (b) Potongan Kayu Pasak Bumi ………...
5 2. Pakan Perlakuan (a) enkapsulat tanpa ELJ, (b) peptida ELJ
terenkapsulasi 3 mg/kg BB, (c) peptida ELJ terenkapsulasi 1,5 mg/kg BB dan (d) LJ 100TM terenkapsulasi 1 mg/kg BB………...
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Analisis Ragam Bobot Akhir ………. 37
2. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Harian ………... 37
3. Analisis Ragam Konsumsi Pakan ………... 37
4. Analisis Ragam Efisiensi Pakan ……….... 37
5. Analisis Ragam Bobot Potong ………... 37
6. Analisis Ragam Bobot Tubuh Kosong ………... 38
7. Analisis Ragam Bobot Karkas ………... 38
8. Analisis Ragam Persentase Karkas/Bobot Potong ……….... 38
9. Analisis Ragam Persentase Karkas/Bobot Tubuh Kosong ……….... 38
10. Analisis Peragam Tebal Lemak Punggung ……….... 38
11. Analisis Peragam Luas Otot Mata Rusuk ……….. 39
12. Analisis Peragam Bobot Otot Setengah Karkas Kanan ………. 39
13. Analisis Peragam Bobot Lemak Setengah Karkas Kanan …………. 39
14. Analisis Peragam Bobot Tulang Setengah Karkas Kanan …………. 39
15. Analisis Ragam Darah ………... 40
16. Analisis Ragam Kulit ………. 40
17. Analisis Ragam Kaki ………. 40
18. Analisis Ragam Perut Kosong ………... 40
19. Analisis Ragam Usus Kosong ………... 40
20. Analisis Ragam Paru ………. 41
21. Analisis Ragam Jantung ……….... 41
22. Analisis Ragam Hati ……….. 41
23. Analisis Ragam Limpa ……….. 41
24. Analisis Ragam Ginjal ………... 41
25. Analisis Ragam Alat Kelamin ………... 42
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan sektor peternakan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan populasi ternak, produktivitas dan kualitas produk-produk peternakan termasuk daging, dimaksudkan juga untuk mengurangi impor dan menuju swasembada protein hewani. Domba merupakan salah satu komoditi ternak yang ikut berperan dalam pemenuhan kebutuhan daging yang dapat dikembangkan sebagai produk unggulan di sektor peternakan. Terdapat beberapa aspek yang menjadi keunggulan ternak domba, yaitu dapat berkembang biak dengan cepat dan mudah dipelihara.
Perkembangan usaha peternakan domba didorong oleh tingginya permintaan daging yang disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, tingkat kesejahteraan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya sumber protein hewani. Populasi domba di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 10.199.000 ekor atau sekitar 24,76% dari total populasi ternak di Indonesia. (Direktorat Jenderal Peternakan, 2010). Penggemukan domba merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak domba dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging yang terus meningkat.
Usaha pengembangan domba sebagai ternak pedaging untuk menghasilkan produk karkas berkualitas adalah melakukan seleksi, pemberian pakan tambahan dan tatalaksana pemeliharaan ternak. Seleksi diarahkan pada sifat pertumbuhannya yang cepat. Domba dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi diharapkan dapat menghasilkan bobot potong yang tinggi sehingga karkas yang dihasilkannya pun semakin tinggi, namun dikhawatirkan memiliki perlemakan yang tinggi pula.
penggunaannya masih kontroversial karena efek karsinogenik dan residunya. Menurut Taufiqqurachman (1999) peningkatan hormon testosteron dapat dilakukan dengan pemberian ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack).
Keberhasilan usaha penggemukan domba dapat dinilai terutama dari produksi karkas, karena karkas merupakan bagian terbesar yang dapat dimakan (edible portion). Selain karkas, masih ada bagian non karkas yang juga dapat dimakan. Produksi edible portion, baik dari karkas maupun non karkas, dapat menggambarkan keberhasilan penggemukan domba karena menunjukkan produktivitas seekor ternak domba secara keseluruhan yang bernilai ekonomi tinggi (Lestari et al., 2005).
Tujuan
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Domba
Domba diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia (hewan), phylum Chordata (hewan bertulang belakang), kelas Mamalia (hewan menyusui), ordo Artiodactyla (hewan berkuku genap), famili Bovidae (memamah biak), genus Ovis dan spesies Ovis aries ( Blakely dan Blade, 1992).
Ternak domba merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan. Domba asli Indonesia mempunyai adaptasi yang baik pada iklim tropis dan beranak sepanjang tahun. Gatenby (1986) melaporkan bahwa ada tiga bangsa domba di Indonesia yaitu domba Ekor Tipis (Thin-tailed Sheep), Priangan dan Ekor Gemuk (Fat Tailed Sheep).
Domba Priangan
Menurut sejarahnya, domba Priangan adalah domba yang terbentuk dari hasil persilangan domba Merino, domba Cape dan domba Lokal yang berlangsung sejak tahun 1864 (Hardjosubroto, 1994). Tujuan pemeliharaan domba Priangan yaitu untuk mendapatkan domba tangkas (pejantan) dan sebagai sumber pedaging. Domba priangan jantan bertanduk besar, melengkung ke belakang berbentuk spiral, pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu dengan berat badan 60-80 kg. Domba betina tidak bertanduk, panjang telinga sedang dan berat badan 30-40 kg (Sosroamidjojo dan Soeradji 1990). Domba Priangan dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran panjang telinga yaitu telinga kecil atau rumpung dengan panjang kurang dari 4 cm, telinga sedang atau ngadaun hiris dengan panjang 5-8 cm dan telinga besar atau rubak yang panjangnya lebih dari 9 cm (Mulliadi, 1996).
Herman (1993) melaporkan bahwa karkas domba Priangan mempunyai perkembangan otot yang lebih baik sedangkan perlemakannya kurang baik bila dibandingkan domba Ekor Gemuk. Hal ini menunjukkan bahwa domba Priangan lebih potensial sebagai penghasil karkas yang banyak mengandung daging untuk memenuhi permintaan pasar.
Pertumbuhan
komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, protein dan abu pada karkas (Soeparno, 2005). Menurut Anggorodi (1990) menyatakan bahwa pertumbuhan mencakup pertumbuhan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan tubuh lainnya (kecuali jaringan lemak) dan alat-alat tubuh. Proses perubahan bentuk dan komposisi sebagai akibat adanya kecepatan pertumbuhan relatif berbeda-beda antar komponen otot, tulang dan lemak sering juga disebut dengan istilah pertumbuhan-perkembangan (Natasasmita, 1978).
Pertambahan bobot karkas segera setelah lahir mengandung proporsi daging yang tinggi, relatif banyak mengandung tulang, dan kadar lemak rendah. Menjelang bobot badan dewasa, proporsi urat daging dalam pertumbuhan bobot badan menurun sedikit, komponen tulang dari pertambahan bobot badan hampir tidak bertambah dan proporsi lemak dalam pertambahan bobot badan tinggi dan terus meningkat. Pertumbuhan lemak pada awalnya lamban, segera setelah diikuti oleh pertumbuhannya yang cepat, bahkan lebih cepat daripada keadaan kedua jaringan tadi. Fase ini disebut fase finish (Parakkasi, 1999)
Menurut Cole (1974), kurva pertumbuhan ternak dibagi menjadi tiga bagian yaitu fase dipercepat, titik infleksi dan fase diperlambat. Selama fase dipercepat (akselarasi) ukuran tubuh bertambah, setelah terjadi penurunan kecepatan pertumbuhan ( seperti yang ditunjukkan kurva sigmoidal) kenaikan berat tubuh akan didominasi oleh peningkatan deposisi lemak yang terjadi pada kira-kira sepertiga dari berat akhir.
Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.)
Salah satu jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan Kalimantan Indonesia dan berpotensi dimanfaatkan adalah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack /ELJ). Pasak bumi pada umumnya berbentuk semak atau pohon, tingginya dapat mencapai 10 m, berdaun majemuk menyirip ganjil, batangnya berwarna kuning, kulit batang keras, dan rasanya sangat pahit. Keseluruhan bagian dari tumbuhan pasak bumi dapat digunakan sebagai obat. Batang dan akar pasak bumi yang telah diperdagangkan berkhasiat untuk meningkatkan stamina selain sebagai obat sakit kepala, sakit perut, dan sipilis. Daun pasak bumi dipakai sebagai obat disentri, sariawan, dan meningkatkan nafsu makan (Rifai, 1975). Tumbuhan pasak bumi dapat dilihat pada Gambar 1.
(a) (b)
serta meningkatkan kekuatan dan ukuran otot. Suplementasi 100 mg/hari Eurycoma longifolia Jack (ELJ) pada pria dapat meningkatkan massa lean tubuh 2,13 kg dan menurunkan lemak 2,86% (Hamzah dan Yusof, 2003).
Penggemukan
Penggemukan merupakan cara pemberian pakan yang umum dilakukan pada domba dengan tujuan untuk meningkatkan flavour, keempukan, dan kualitas daging sesuai permintaan konsumen. Penggemukan umumnya dilakukan melalui pemberian pakan kaya enegi, yaitu karbohidrat dan lemak. Tujuan penggemukan adalah untuk memperbaiki kualitas karkas atau daging (Ensminger, 2002).
Usaha penggemukan domba sangat digemari oleh petani sebagai usaha ternak komersial karena dinilai lebih ekonomis, relatif cepat, rendah modal, serta lebih praktis. Tujuan penggemukan adalah untuk memperoleh pertambahan bobot badan yang relatif lebih tinggi dengan memperhitungkan nilai konversi pakan dalam pembentukan jaringan tubuh termasuk otot daging dan lemak, serta menghasilkan karkas dan daging yang berkualitas tinggi (Anggorodi, 1990). Sistem pemeliharaan secara intensif dalam penggemukan dapat memperbaiki pertambahan bobot badan harian karena pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan domba. Selain itu pemeliharaan secara intensif ini dapat menghemat energi dan dapat dimanfaatkan penuh untuk produksi daging (Mathius, 1998)
Ternak domba yang digemukkan biasanya adalah domba yang berumur 8-12 bulan (masa tumbuh), memiliki bentuk tubuh kurus, namun sehat. Hal tersebut cukup ideal untuk penggemukan domba yang berlangsung sekitar 2-3 bulan. Jika hewan yang digunakan dalam penggemukan belum dewasa, maka kegiatan tersebut bersifat membesarkan sambil menggemukan atau memperbaiki kualitas karkas yang dihasilkan (Parakkasi, 1999). Peningkatan bobot karkas segar pada domba yang memperoleh ransum berenergi tinggi meningkatkan persentase lemak termasuk lemak ginjal, pelvis dan subkutan (Crouse et al., 1978)
Hormon Testosteron
kelamin juga mempunyai peran penting dalam pengaturan pertumbuhan, terutama pengaruhnya terhadap perbedaan-perbedaan komposisi tubuh di antara jenis kelamin ternak. Hormon dapat mengubah reaksi biokimia yang berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan komponen tubuh (Soeparno, 2005).
Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: (1) kelompok anabolik (menstimulasi pertumbuhan) dan (2) kelompok katabolik (menghambat pertumbuhan). STH (Somatotropic hormon) atau somatotropin atau GH (Growth Hormon), testosteron dan tiroksin termasuk hormon yang mempunyai pengaruh anabolik, sedangkan estrogen termasuk hormon katabolik. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan langsung terhadap pertumbuhan antara lain adalah somatotropin, tiroksin, androgen, estrogen dan glukokortikoid (GC). Hormon-hormon tersebut mempengaruhi pertumbuhan massa tubuh, termasuk pertumbuhan tulang dan metabolisme nitrogen. Androgen adalah suatu hormon kelamin yang termasuk sebagai hormon pengatur atau stimulan pertumbuhan. Androgen dihasilkan oleh sel-sel interstisial dan kelenjar adrenal. Sekresi testosteron yang tinggi menyebabkan sekresi androgen tinggi sehingga mengakibatkan pertumbuhan yang lebih cepat terutama setelah munculnya sifat-sifat kelamin sekunder pada ternak jantan (Hafez dan Dyer, 1969).
penyuntikan testosteron pada ternak domba Priangan jantan dapat menurunkan berat lemak karkas.
Bobot Potong
Bobot potong adalah bobot tubuh ternak sebelum dipotong. Bobot potong domba jantan lebih tinggi dibandingkan bobot potong domba betina, hal ini disebabkan domba jantan lebih efisien dalam mengubah makanan bahan kering menjadi bobot tubuh dibandingkan ternak domba betina (Sugana dan Duldjaman, 1983). Bobot potong dipengaruhi oleh umur, semakin bertambahnya umur ternak, maka semakin besar bobot badannya (Yurmiati, 1991). Pemberian ransum berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup dapat meningkatkan pertambahan otot tubuh sehingga menghasilkan bobot potong dan bobot karkas yang tinggi (Lestari et al., 2005). Peningkatan bobot potong dapat menghasilkan karkas yang semakin meningkat pula, sehingga diharapkan bagian dari karkas yang berupa daging menjadi lebih besar (Soeparno, 2005).
Bobot Karkas
Karkas adalah bagian penting dari tubuh ternak setelah dibersihkan dari darah, kepala, keempat kaki bagian bawah dari sendi carpal untuk kaki depan dan sendi tarsal untuk kaki belakang, kulit, organ-organ internal seperti paru-paru, tenggorokan, saluran pencernaan, saluran urin, jantung, limpa, hati, dan jaringan-jaringan lemak yang melekat pada bagian-bagian tersebut (Lawrie, 2003).
Persentase karkas merupakan perbandingan bobot karkas dan bobot hidup saat dipotong dikalikan dengan 100% (Aberle et al., 2001). Persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas, bobot dan kondisi ternak, bangsa, proporsi bagian-bagian non karkas, ransum, umur jenis kelamin dan pengebirian (Davendra, 1983).
Herman (1993) menyatakan bahwa persentase karkas domba Priangan adalah sebesar 55,1% dan domba Ekor Gemuk adalah sebesar 55,3% pada bobot potong 40 kg. Hasil penelitian Sugiyono (1997) mendapatkan bahwa bobot karkas domba lokal sebesar 7,5 kg dari bobot hidup 19,3 kg dan persentase karkasnya 39,1%.
Komposisi Karkas Domba
proporsi dan komposisi tubuh ternak dan karkas. Sebagai satuan produksi dinyatakan dalam bobot dan persentase karkas (Davendra, 1983).
Komposisi karkas domba dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, jenis kelamin, hormon, fisiologi, umur, berat tubuh dan nutrisi. Proporsi tulang, otot dan lemak sebagai komposisi karkas terjadi pada fase pertumbuhan ternak sampai mencapai kedewasaan, karena pada fase pertumbuhan selanjutnya, perubahan komposisi karkas terutama disebabkan oleh kadar lemak (Soeparno, 2005).
Daging
Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya (Soeparno, 2005). Komposisi daging diperkirakan terdiri atas 75% air, 19% protein, 3,5% substansi non protein yang larut dan 2,5% lemak (Lawrie, 2003).
Proporsi komposisi karkas dan potongan karkas yang dikehendaki konsumen adalah karkas atau potongan karkas yang terdiri atas proporsi daging tanpa lemak yang tinggi, tulang yang rendah dan lemak yang optimal (Natasasmita, 1978). Menurut Parakkasi (1999), bahwa dalam pertumbuhan purna lahir (postnatal), pertumbuhan otot lebih cepat dibandingkan dengan lemak, tetapi setelah titik infleksi pertumbuhan lemak tampak menonjol dan pertumbuhan otot relatif konstan. Otot hewan berubah menjadi daging setelah proses pemotongan, karena fungsi fisiologisnya telah berhenti (Soeparno, 2005).
Tulang
Lemak
Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Lemak mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda, awalnya pertumbuhan lemak sangat lambat, tetapi pada saat fase penggemukan, pertumbuhannya meningkat dan cepat (Berg dan Butterfield, 1976). Perlemakan mula-mula terjadi disekitar organ-organ internal, ginjal dan alat pencernaan kemudian lemak disimpan pada jaringan ikat sekitar urat daging dibawah kulit sebelum urat daging dan antara urat daging. Jaringan lemak yang terdapat diantara serat-serat urat daging tidak hanya memperlunak daging, tetapi juga memperlezat rasa (Forrest et al., 1975) Ransum tidak terlalu memberikan perubahan pada kandungan lemak daging ternak ruminansia dan hanya mempengaruhi persentase lemak dalam karkas (Soeparno, 2005).
Bobot Non Karkas
Bobot non karkas dapat ditentukan dengan mengurangkan bobot hidup dengan bobot karkas. Bobot non karkas terdiri dari bobot darah, kulit, kepala, empat kaki bagian bawah mulai carpus dan tarsus, isi rongga dada dan isi rongga perut (Lawrie, 2003). Komponen non karkas terdiri dari organ internal dan eksternal (Hammond, 1960). Menurut Soeparno (2005), konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, retikulum, omasum, usus besar, usus kecil, dan total alat pencernaan, tetapi menurunkan berat kepala, kaki dan limpa. Perlakuan nutrisional termasuk spesies pastura mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap berat nonkarkas internal seperti hati, paru-paru, jantung dan ginjal, sedangkan berat komponen nonkarkas eksternal, terutama kepala dan kaki, tidak terpengaruh.
Perbedaan dengan ternak unggas bagian non karkas meliputi organ pelengkap yang terdiri dari hati, pancreas dan limpa sedangkan saluran pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, tembolok, perut kelenjar (proventikulus), gizzard, usus kecil, sekum, usus besar, kloaka dan anus (Winter dan Funk, 1956)
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Percobaan Ruminansia Kecil Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor sebagai tempat pemeliharaan dan pemotongan ternak domba. Pengukuran komposisi karkas dan penguraian karkas dilaksanakan di Laboratorium Ternak Ruminansia Besar, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai pada November 2010 sampai Februari 2011.
Materi Ternak
Ternak domba yang digunakan adalah domba Priangan jantan sebanyak 16 ekor yang berumur kurang dari satu tahun (I0), dengan bobot rata-rata 30,43 ± 1,41 kg dengan koefisien variasi 4,63%. Domba diperoleh dari peternakan Tawakal Cimande, Bogor.
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kandang individu yang dilengkapi tempat minum otomatis dan tempat pakan. Ukuran kandang individu adalah panjang 85 cm dan lebar 96 cm. Kandang tersebut adalah tipe panggung dengan dinding tertutup kayu dan alas lantai berupa kayu dengan jarak antara celah lantai 2 sampai 3 cm. Naungan yang digunakan berupa kandang tipe atap gravitasi (gable type) berbahan asbes. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan ternak, timbangan digital, perlengkapan penyembelihan dan penguraian karkas, ember, dan kamera digital.
Pakan
Tabel 1. Komposisi Nutrisi Bahan Kering Pakan Rumput dan Konsentrat Selama Pemeliharaan
Jenis Pakan Bahan
Kering Abu Lemak Protein
Serat kasar
TDN
Konsentrat 88,48 8.26 7.35 17.89 6.15 89,69
Rumput Gajah 13,97 8.45 2.00 8.45 31.21 51,75 Total Pakan * 69,85 8.31 6,01 15,53 12,41 80,20 Sumber : Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor, 2010
Keterangan : * 75% konsentrat dan 25% rumput gajah Prosedur
Ekstraksi dan Enkapsulasi Peptida Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack/ELJ)
a. Persiapan bahan baku
Potongan akar kayu pasak bumi yang berukuran 40 cm diserut dan diserpih lalu dikeringkan. Serutan kering digiling menggunakan disk mill hingga membentuk serbuk. Serbuk Pasak Bumi selanjutnya diayak menggunakan ayakan berdiameter lubang 1 mm. Serbuk yang telah diayak siap untuk diekstrak.
b. Ekstraksi peptida
c. Enkapulasi
Metode enkapsulasi yang digunakan merupakan gabungan antara pereaksian bahan aktif dan penyalutan. Peptida ELJ ditambahkan asam tanat sebanyak 25% dari berat peptida tersebut untuk melindungi protein dari perombakan mikroba rumen. Campuran diaduk rata pada temperatur 50 ºC, dan kemudian disalut. Bahan penyalut yang digunakan adalah asam stearat dan malam, selanjutnya ditambahkan kaolin sebagai bahan pengatur densitas. Komposisi bahan penyalutan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi bahan kapsulasi hidrofobik peptida ELJ
Bahan enkapsulasi %Komposisi
Peptida ELJ 47,2
Penyalut hidrofobik 37,8
90% asam stearat 10% malam
Pengubah berat jenis 15,0
Kaolin
Total 100
Komponen penyalut dipanaskan dan dicampur bersamaan. Subtrat peptida kemudian ditambahkan pada penyalut yang mencair dan diaduk secara merata hingga setiap partikel substrat dilapisi oleh penyalut. Pengadukan dan pelapisan ini dilakukan sesegera mungkin sehingga kontak substrat dengan sumber panas tidak terlalu lama. Selama proses pelapisan kaolin sebagai pengatur densitas ditambahkan setelah kira-kira separuh pelapisan terlaksana. Kemudian produk enkapsulasi dilewatkan pada suatu kasa mesh 6 untuk memecahkan gumpalan. Produk yang dihasilkan memiliki suatu gravitas spesifik sekitar 1,4.
d. Penambahan Filler
3 mg/kg BB) dan P3 (LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg BB) sebanyak 5 kali. Sebagai pengikat bahan, tapioka ditambahkan sebanyak 2% dari total bahan yang sudah ditambahkan filler. Pakan aditif ELJ dibedakan atas 4 macam perlakuan masing-masing pada 4 ekor domba dapat dilihat pada Gambar 2.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 2. (a) enkapsulat tanpa ELJ, (b) peptida ELJ terenkapsulasi 3 mg/kg BB, (c) peptida ELJ terenkapsulasi 1,5 mg/kg BB dan (d) LJ 100TM terenkapsulasi 1 mg/kg BB.
Persiapan Pemeliharaan
Research Council (1985). Jumlah kandungan zat-zat makanan dalam tiap bahan dihitung berdasarkan Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia yang disusun oleh Hartadi et al., (1990).
Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan selama 108 hari. Pakan berupa rumput gajah dan konsentrat komersial GT-03 produksi Indofeed. Setiap pagi hari tempat pakan dibersihkan dan sisa ditimbang. Ternak domba diberikan pakan dua kali sehari pada pagi hari (07.00-08.00 WIB) dan siang hari (14.00-15.00). Air minum diberikan ad libitum. Pemberian pertama adalah pakan aditif ELJ, setelah habis dilanjutkan dengan pemberian konsentrat. Pakan rumput diberikan setelah konsentrat habis dimakan.
Pemotongan Ternak
Penguraian Karkas
Belahan karkas yang telah dikeluarkan dari ruang pendingin ditimbang bobotnya (bobot karkas kanan dingin). Karkas selanjutnya dipotong menjadi delapan potongan komersial mengikuti petunjuk Romans dan Ziegler (1977) yaitu paha belakang (leg), pinggang (loin), punggung (rack), bahu (shoulder), paha depan (shank), dada (breast), perut (flank) dan leher (neck). Potongan komersial karkas selanjutnya diurai menjadi lemak subkutan, lemak intermuskuler, otot dan tulang, yang kemudian ditimbang.
Rancangan dan Analisis Data
Perlakuan
Perlakuan penelitian ini adalah pemberian ekstrak pasak bumi dengan komposisi yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Perlakuan yang digunakan sebagai berikut :
P0 = Tanpa penambahan peptide ELJ (kontrol) P1 = Peptida ELJ terenkapsulasi 1,5 mg/kg BB P2 = Peptida ELJ terenkapsulasi 3 mg/kg BB P3 = LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg BB
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan pemberian ekstrak pasak bumi yang berbeda. Masing-masing perlakuan terdiri dari empat kali ulangan.
Model Rancangan sebagai berikut :
Yij = µ+αi+ℇij Keterangan:
Yij = Pemberian ekstrak pasak bumi pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai rata-rata umum
αi = Pengaruh faktor perlakuan
Peubah
Peubah yang diamati adalah:
1. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) : Penghitungan selisih bobot badan akhir dengan bobot awal/ekor/lama periode penelitian (hari). 2. Konsumsi Pakan : Dihitung dengan cara jumlah konsumsi bahan kering
(BK) yang diberikan (jumlah ransum yang diberikan x % BK ransum) ransum/ekor/hari dikurangi dengan sisa BK (jumlah ransum sisa x % BK ransum sisa)/ekor/hari.
3. Konversi pakan : Dihitung dengan cara jumlah konsumsi bahan kering/ekor/hari dibagi dengan pertambahan bobot badan/ekor/hari.
4. Bobot potong : Bobot tubuh ternak yang ditimbang sebelum pemotongan dan dipuasakan 16 jam.
5. Bobot tubuh kosong : Bobot potong setelah dipisahkan dengan bobot isi saluran pencernaan dan empedu.
6. Bobot karkas : Bagian dari tubuh ternak setelah dipisahkan dari darah, kepala, keempat kaki bagian bawah, kulit, paru-paru, tenggorokan, saluran pencernaan, saluran urine, jantung, limpa, hati, dan jaringan-jaringan lemak yang melekat pada bagian-bagian tersebut.
7. Persentase karkas :
x 100%, dan x 100%
8. Bobot non karkas : Bagian dari tubuh ternak setelah dikurangi bobot karkas.
9. Bobot komponen karkas : Bobot daging karkas, bobot tulang karkas dan bobot lemak karkas.
10.Luas otot mata rusuk : Pengukuran dilakukan dengan membuat irisan melintang pada otot Longisimus dorsi antara tulang-tulang rusuk ke 12 dan 13. Kemudian penampang melintang tersebut digambar. Selanjutnya luas otot mata rusuk dapat diukur dengan menggunakan planimeter. 11.Tebal lemak punggung : Pengukuran tebal lemak punggung dilakukan
pada separuh karkas kanan dari tengah-tengah (midline) karkas di atas rusuk ke 12/13, dengan memakai jangka sorong.
Bobot karkas Bobot potong
12. Bobot non karkas : Bagian tubuh ternak setelah dikurangi bobot karkas terdiri dari darah, kepala, keempat kaki, kulit, paru-paru, tenggorokan,,saluran pencernaan, saluran urine, jantung, limpa, hati dan jaringan lemak yang melekat pada bagian-bagian tersebut.
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis ragam (Analysis of Varian), sedangkan komposisi karkas dianalisis peragam (Analysis of Covarian) dengan bobot karkas kanan sebagai faktor koreksi untuk menghilangkan pengaruh keragaman. Apabila ada pengaruh nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Penelitian
Penelitian peranan ekstrak pasak bumi terhadap produksi karkas domba dilakukan di daerah sejuk sehingga mampu meningkatkan performa domba yang optimal. Tempat yang digunakan untuk penelitian berada di Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor yang terletak pada ketinggian ±500 m dari permukaan laut. Suhu berkisar antara 25ºC -27ºC dan memiliki kelembaban 74%-80%. Domba memiliki suhu optimum untuk hidup di daerah tropis yaitu berkisar antara 4ºC -24ºC dengan kelembaban dibawah 75% (Yousef, 1982).
Umur ternak yang digunakan pada awal penelitian berkisar 12 bulan yang ditandai dengan sedang atau tanggalnya gigi susu (I0) dimaksudkan agar domba telah dewasa kelamin dan memproduksi hormon testosteron. Pubertas domba jantan dimulai pada umur 4-6 bulan (Ensminger, 2002). Pada akhir penelitian ternak mengalami pergantian gigi seri (I1). Pergantian gigi seri ini mengindikasikan bahwa ternak tersebut telah berumur 1-1,5 tahun. Penyakit yang dialami ternak selama penelitian adalah penyakit mata dan orf.
Performa Pertumbuhan Domba
Penggemukan domba dapat dikatakan berhasil apabila mencapai performa pertumbuhan yang optimal dapat dilihat dari hasil pertambahan bobot badan dan konversi pakan selama pemeliharaan. Penggunaan ekstrak pasak bumi tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap performa pertumbuhan domba. Pemberian ekstrak pasak bumi adalah mempengaruhi pertumbuhan otot dan menurunkan lemak. Perbedaan pertambahan otot yang kecil tidak akan terlihat pada perubahan keseluruhan bobot tubuh. Proporsi bobot otot pada karkas domba Priangan sebesar 57,65% dan 31,06% dari bobot potong 36,71 kg (Herman 2004). Rataan pertambahan bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan pada berbagai level pemberian ekstrak pasak bumi dapat dilihat pada Tabel 3.
Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)
pengaruh yang nyata terhadap PBB domba. Hal ini disebabkan pemberian ELJ dalam jumlah sedikit tidak mempengaruhi rataan konsumsi pakan pada setiap perlakuan. Menurut Nurhayati (2004) pada umur yang sama (I1) penampilan domba Priangan di Kabupaten Garut untuk tipe tangkas jantan 46,59 kg. Domba Priangan jantan dapat mencapai berat 60 kg. Rataan performa domba Priangan dengan penambahan ekstrak pasak bumi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Performa Domba Priangan Dengan Penambahan Ekstrak Pasak Bumi
Peubah
Perlakuan ELJ
PO P1 P2 P3 Rataan
Bobot Awal (kg) 30,50±0,99 30,25±0,72 30,55±1,68 30,43±2,36 30,43±1,41
Bobot Akhir (kg) 38,65±0,41 39,15±0,82 38,60±0,71 38,90±1,55 38,83±0,89
PBBH (g/ekor/hari) 75,50±10,9 82,4±10,7 74,5±11,8 78,5±13,0 77,72±10,92
Konsumsi (g/ekor/hari)
844±11 847±7 850±14 847±14 846± 11
Konversi 11,29±1,93 10,32±1,25 11,51±1,79 10,94±2,11 11,01±1,68
Keterangan : P0 = Tanpa penambahan peptida ELJ; P1 = Peptida ELJ terenkapsulasi 1.5 mg/kg BB; P2 = Peptida ELJ terenkapsulasi 3 mg/kg BB dan P3 = LJ 100 terenkapsulasi1 mg/kg BB
Konsumsi Pakan
Konsumsi rata-rata pakan domba selama pemeliharaan dapat dilihat pada Tabel 3. Rataan konsumsi pakan pada penelitian ini adalah 846,9 g/ekor/hari. Hasil analisis menunjukkan pemberian ELJ tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi pakan. Hal ini disebabkan pemberian ekstrak pasak bumi dalam jumlah yang sedikit tidak mempengaruhi palatabilitas pakan karena memberikan rasa pahit. Menurut Penelitian Rusdimansyah (2011) pemberian dosis ELJ 0 , 50 dan 100 mg/kg BB dapat menurunkan konsumsi pakan berturut-turut adalah 1242,41; 1241,32 dan 1195,66 g/ekor/hari.
Konversi Pakan
Semakin kecil nilai konversi pakan maka semakin baik kemampuan ternak untuk memanfaatkan makanan menjadi produksi daging. Rataan total konversi pakan domba dengan penambahan ekstrak pasak bumi adalah 11,01. Hasil analisis menunjukkan pemberian ekstrak pasak bumi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konversi pakan. Hal ini disebabkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan setiap perlakuan tidak berbeda nyata.
Konversi pakan ini lebih tinggi dibandingkan penelitian Saputra (2003), penggunaan Aspergillus oryzae dalam ransum sebesar 10,13. Hal ini disebabkan efisiennya penyerapan asam lemak terbang dan protein oleh usus yang masuk kedalam tubuh. Bila dibandingkan hasil penelitian Rusdimansyah (2011) yang mempunyai konversi pakan domba Ekor Tipis sebesar 20,57 maka konversi pakan pada penelitian ini adalah lebih rendah. Hal ini disebabkan konsumsi pakan pada domba ekor tipis cukup tinggi diikuti pertambahan bobot badan yang rendah.
Karakteristik Karkas
Tabel 4. Rataan Karakteristik Karkas Domba Priangan Peubah Pengamatan Perlakuan ELJ
PO P1 P2 P3 Rataan
Bobot Potong (kg) 37,65 ±0,96 37,90 ±1,06 37,58 ±0,87 38,35 ±1,18 37,87 ±1,02
Bobot Tubuh Kosong (kg)
29,14 ±1,26 30,22 ±0,71 29,46 ±0,94 29,81 ±1,78 29,66 ±1,24
Bobot Karkas
10,90 ±1,17 13,40±0,94 12,21 ±0,92 13,41 ±0,95 12,58 ±1,85
Keterangan : *) Dikoreksi terhadap bobot tubuh kosong pada rataan : 29.657±1.185 g **) Dikoreksi terhadap bobot karkas kanan pada rataan : 8.014±586 g
P0 = tanpa penambahan peptida ELJ; P1 = Peptida ELJ terenkapsulasi 1.5 mg/kg BB; P2 = Peptida ELJ terenkapsulasi 3 mg/kg BB dan P3 = LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg
BB.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ekstrak pasak bumi dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah bobot potong, bobot tubuh kosong, bobot karkas, persentase karkas. tebal lemak punggung, dan luas otot mata rusuk
Bobot Potong
Bobot potong adalah bobot tubuh ternak sebelum dipotong (Sugana dan Duldjaman, 1983). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pasak bumi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot potong. Penggunaan ekstrak pasak bumi dalam jumlah kecil belum dapat meningkatkan bobot potong domba. Pemberian ransum berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup dapat meningkatkan pertambahan otot tubuh sehingga menghasilkan bobot potong dan bobot karkas yang tinggi (Lestari et al., 2005).
Bobot Tubuh Kosong
bobot tubuh kosong. Mulyono (2003) mendapatkan bobot tubuh kosong domba Priangan sebesar 20,47 kg pada bobot potong 24,133 kg. Ada kecenderungan bobot tubuh kosong meningkat dengan peningkatan bobot potong. Hal ini sesuai dengan Alwi (2009) yang menyatakan bahwa bobot potong pada domba memiliki korelasi positif dengan bobot tubuh kosong
Bobot Karkas
Hasil analisis ragam menunjukkan penambahan ekstrak pasak bumi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot karkas domba. Kemungkinan yang terjadi disebabkan oleh mekanisme kerja hormon testosteron yang dapat meningkatkan masa otot diikuti penurunan bobot lemak sehingga, bobot karkas yang dihasilkan tidak nyata di antara perlakuan. Rataan bobot karkas domba Priangan pada penelitian ini adalah 16,97±1,01. Bobot karkas yang didapatkan tidak terlalu berbeda pada penelitian Herman (1993) yang mengemukakan bahwa bobot karkas domba Priangan sebesar 17,38 kg pada bobot potong 32,5 kg. Hasil penelitian ini lebih tinggi daripada penelitian Mulyono (2003) bahwa bobot karkas domba Priangan sebesar 10,45 kg pada bobot potong yang lebih rendah sebesar 24,133 kg. Peningkatan bobot potong dapat menghasilkan karkas yang semakin meningkat pula, sehingga diharapkan bagian dari karkas yang berupa daging menjadi lebih besar (Soeparno, 2005).
Persentase Karkas
dengan bobot karkas 20,22 kg. Hal ini disebabkan berat karkas pada penelitian Herman(2004) lebih besar daripada penelitian ini.
Untuk menghindari variasi isi saluran pencernaan yang akan mempengaruhi hasil penelitian maka digunakan persentase karkas pada bobot tubuh kosong. Rataan persentase karkas terhadap bobot tubuh kosong adalah 57,19% dengan bobot karkas 16,97 kg pada bobot tubuh kosong 37,87 kg. Pada jenis domba yang sama hasil rataan persentase karkas terhadap bobot tubuh kosong lebih tinggi dari penelitian Mulyono (2003), bahwa persentase karkas domba Priangan menggunakan Aspergillus oryzae menghasilkan persentase karkas 51,18% pada bobot karkas 10,45 kg dengan bobot tubuh kosong 20,47 kg. Hal ini disebabkan pada penelitian Mulyono (2003), penyembelihan terhadap domba penggemukan pertambahan bobot badannya belum mencapai kestabilan sehingga menghasilkan karkas yang lebih rendah.
Tebal Lemak Punggung
Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa penambahan ekstrak pasak bumi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tebal lemak punggung. Nilai rataan tebal lemak punggung pada penelitian ini adalah 2,50±1,01 mm, Menurut Mulyono (2003), bahwa domba Priangan yang diberi perlakuan Aspergillus oryzae menghasilkan tebal lemak punggung 2,25 mm pada bobot tubuh kosong 19,506 kg lebih rendah dari hasil penelitian. Hal ini disebabkan domba yang digunakan pada penelitian Mulyono (2003) masih muda dimana pertumbuhan karkas mengandung proporsi daging yang tinggi dan kadar lemak rendah.
Luas Otot Mata Rusuk
sebesar 8,14 cm2 pada bobot potong 20,37 kg. Hal ini dapat disebabkan bobot karkas yang digunakan berbeda. Dengan meningkatnya luas otot mata rusuk maka bobot karkas yang dihasilkan semakin tinggi. Suwarno (1980) menyatakan luas otot mata rusuk dan bobot karkas memiliki hubungan positif, semakin luas otot mata rusuk pada sapi dan kerbau maka semakin tinggi pula bobot karkas yang dihasilkan.
Komposisi Karkas Domba
Komponen karkas terdiri atas tulang, otot, lemak dan jaringan ikat. Perkembangan otot, lemak dan tulang yang berbeda-beda menyebabkan berubahnya proporsi dan komposisi tubuh ternak dan karkas. Komposisi karkas domba dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, jenis kelamin, hormon, fisiologi, umur, berat tubuh dan nutrisi.
Proporsi tulang, otot dan lemak sebagai komposisi karkas terjadi pada fase pertumbuhan ternak sampai mencapai kedewasaan, karena pada fase pertumbuhan selanjutnya, perubahan komposisi karkas terutama disebabkan oleh kadar lemak (Soeparno, 2005).
Otot
Hasil analisis ekstrak pasak bumi menunjukkan pengaruh nyata terhadap otot karkas (P<0,05). Pada Tabel 5 secara statistik perlakuan P2 dan P3 mempunyai pengaruh berbeda nyata terhadap P0 dan P1. Perlakuan P2 dan P3 memberikan peningkatan bobot otot yang tinggi dengan pemberian ekstrak pasak bumi namun, penambahan ekstrak pasak bumi P1 tidak mengalami peningkatan bobot otot.
Tabel 5. Rataan Bobot Komponen Karkas Domba Priangan Peubah
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) Ditentukan pada rataan bobot setngah karkas kanan 8.014±586 g
Pada penelitian ini diperoleh bobot otot meningkat seiring dengan bertambahnya level ekstrak pasak bumi yang digunakan. Hal ini diduga terjadi peningkatan testosteron yang dihasilkan ekstrak pasak bumi sehingga dapat membelokan deposit protein ke otot. Menurut Arny et al. (1998) testosteron dapat meningkatkan jumlah protein otot melalui stimulasi sintesis protein otot, menurunkan degradasi protein otot, dan dapat meningkatkan kembali asam amino. Larutan ekstrak pasak bumi dapat meningkatkan kadar hormon testosteron (Nainggolan dan Simanjuntak, 2005). Herman (1993) mengemukakan bahwa pada bobot potong 32,5 kg domba Priangan menghasilkan bobot otot 4.849 g dan domba Ekor Gemuk menghasilkan bobot otot sebesar 4.493 g. Sumira (2010) menyatakan bahwa domba lokal yang digembalakan menghasilkan bobot otot sebesar 2.360 g pada bobot potong 20,37 kg.
Lemak
Tulang
Tulang merupakan komponen karkas yang berkembang lebih awal atau mencapai masak dini dan pertumbuhannya mulai menurun pada saat ternak mencapai dewasa (Forrest et al., 1975) sedangkan daging dan lemak masih tumbuh bersamaan dengan bertambahnya bobot hidup ternak. Hasil analisis ekstrak pasak bumi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tulang domba. Tampak perlakuan yang diberikan tidak memberikan perbedaan pada bobot tulang. Hal ini dapat disebabkan oleh kemampuan ekstrak pasak bumi dalam meningkatkan hormon testosteron tidak berpengaruh terhadap tulang, namun meningkatkan massa otot dan menurunkan lemak. Perbedaan bobot tulang dipengaruhi oleh bangsa, umur, jenis kelamin dan pakan (Soeparno, 2005) Pemberian nutrisi yang sama dalam pakan memberikan bobot tulang yang sama. Menurut Herman (1993) pada bobot potong 32,5 kg domba Priangan menghasilkan bobot tulang 1.261 g dan domba Ekor Gemuk menghasilkan bobot tulang sebesar 1.162 g. Sumira (2010) mengemukakan bahwa domba Lokal yang digembalakan menghasilkan bobot tulang sebesar 1.045 g pada bobot potong 20,37 kg.
Bobot Non Karkas
Non karkas adalah merupakan bagian dari ternak yang kurang bernilai ekonomis. Bobot non karkas dibagi menjadi dua bagian yaitu organ internal dan eksternal. Organ tersebut mempunyai fungsi fisiologis penting sudah terbentuk dan berkembang baik pada waktu kelahiran (Hammond, 1960).
Organ Internal
mengkonsumsi pakan berenergi rendah. Bobot non karkas organ internal domba Priangan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Bobot Komponen Non Karkas Domba Priangan
Uraian Perlakuan
P0 P1 P2 P3
---gram--- Organ Internal
Hati 589 ± 231 439 ± 39 449 ± 34 412 ± 27 Paru 340 ± 24 325 ± 18 371 ± 33 356 ± 32 Limfa 54 ± 10 52 ± 4 57 ± 7 51 ± 4 Ginjal 77 ± 6 82 ± 3 83 ± 5 85 ± 3 Jantung 116 ± 16 122 ± 22 117 ± 17 116 ± 10 Perut Kosong 1003 ± 50 1013 ± 25 993 ± 43 1020 ± 95 Usus Kosong 823 ± 76 780 ± 48 865 ± 79 798 ± 104 Organ Eksternal
(gram)
Darah 1409 ± 113ab 1169 ± 129c 1464 ± 110a 1275 ± 130cb Alat kelamin 48 ± 5 47 ± 4 53 ± 6 51 ± 5 Testis 402 ± 18 383 ± 37 371 ± 77 439 ± 82 Kepala 2738 ± 152 2703 ± 117 2660 ± 305 2898 ± 168 Kulit 3133 ± 266 3080 ± 188 3180 ± 322 3238 ± 287 Kaki 835 ± 26 761 ± 51 830 ± 37 850 ± 92 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
P0 = tanpa penambahan peptida ELJ; P1 = Peptida ELJ terenkapsulasi 1.5 mg/kg BB; P2 = Peptida ELJ terenkapsulasi 3 mg/kg BB dan P3 = LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg BB.
Organ Eksternal
yang menunjukkan perilaku agresif saat dilakukan penyembelihan menyebabkan sebagian darah yang tertampung tidak optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pemberian ekstrak pasak bumi terenkapsulasi 3 mg/kg BB dan LJ 100 terenkapsulasi 1 mg/kg BB mampu meningkatkan bobot otot dan menurunkan bobot lemak pada komposisi karkas, meskipun secara keseluruhan belum mampu meningkatkan bobot karkas dan non karkas domba Priangan pada fase penggemukan.
Saran
Perlu penelitian lebih lanjut mengenai berbagai dosis dan frekuensi pemberian ekstrak pasak bumi untuk mendapatkan hasil yang optimal sehingga penggunaannya lebih efisien.
UCAPAN TERIMAKASIH Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillah. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Produksi Karkas dan Non Karkas Domba Priangan pada Fase Penggemukan dengan Penambahan Ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack) dalam Ransum” dapat diselesaikan dengan baik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Rudy Priyanto selaku dosen
pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik serta kepada M. Baihaqi, S.Pt., M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi yang telah dengan sabar
dalam membimbing, mengarahkan dan memotivasi penulis dalam mengerjakan tugas akhir ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Didit Diapari MS dan Ir. Sri Rahayu, M.Si selaku dosen penguji serta kepada Dr. Ir. Sri Darwati, M.Si selaku panitia sidang yang telah memberikan saran dalam memperbaiki penulisan skripsi ini. Terimakasih penulis sampaikan khusus kepada kedua orang tercinta Bapak Rabiman dan Ibu Elis Setiawati atas bantuan moril dan materil, saudara tercinta Kartika Dewi, Fata Buditama, M. Hanif Farid dan Rana Aqila Zahra atas doa, kasih sayang dan dukungannya sehingga terselesaikannya skripsi ini.
Terimakasih penulis sampaikan kepada tim penelitian domba Bapak Zubir dan Prama Adi Yunitra, anak kandang (Agung, Ari, Riki, Kuswanto, Bedi dan Ucha) atas motivasinya, keluarga Himpunan Mahasisa Produksi Ternak (HIMAPROTER) dan IPTP 44 yang selalu heboh dan ceria. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis, amin. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan khususnya bidang peternakan.
Bogor, Agustus 2012
DAFTAR PUSTAKA
Aberle, E. D., J. C. Forrest, D. E. Gerrard & E. W. Mills. 2001. Principles of Meat Science. 4rd Ed. Kendall/Hunt publishing Company, Lowa.
Alwi, M. 2009. Bobot potong, bobot karkas dan non karkas domba ekor tipis jantan pada berbagai level penambahan kulit singkong dalam ransum. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.
Arny A. F., K.D. Tipton, D. Doyle, S.M. Phillips, J. Cortiella, & R.R. Wolfe. 1998. Testosterone injection stimulates net protein synthesis but not tissue amino acid transport. Am. J. Physiol. 275 (Endocrinol. Metab. 38): E864-E871. Cole, D. J. A. & R. A. Lawrie 1974. Meat. Butterworth University of Notthingham,
Notthingham
Crouse, J. D., R. A. Field, J. L. Chant, C. L. Ferrel, G. M. Smith & V. L. Harrisan.1978. Effect of dietary intake on carcasss composition and palatability of different weigh carcass from ewe and lambs. J of Anim Sci. 6: 1207-1218.
Berg, R. T. & R. Butterfield. 1976. New Concept of Cattle Growth. Sydney University Press, Sydney.
Blakely, J. & D. H. Blade. 1992. Ilmu Petrnakan. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Davendra, C. 1983. Goats ; Husbandry and Potential in Malaysia. Manistery of Agriculture Malaysia, Kuala Lumpur.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2010. Basis data peternakan. http:www.ditjennak.go.id/basisdata.asp [Desember 2011]
Ensminger, M. E. 2002. Sheep and Goat Science. Interstate Publisher, Inc., Illinois. Farajallah A., C. Sumantri, B. Tiesnamurti & A. Batubara. 2008. Laporan Hasil
Penelitian: Gen Miostatin pada Domba Lokal Indonesia. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Bogor
Forrest, J. C., E. D. Aberle, H. B. Hendrick, M. D. Judge & R. A. Merkel. 1975. Principles of Meat Science. W. H Freeman and Company, San Fransisco. Gatenby, R. M. 1986. Sheep Production in the Tropic and Subtropic. Longman
Group. London.
Hafez, E. S. E. & I. A. Dyer. 1969. Animal Growth and Nutrition. Lea and Febiger, Philadelphia.
Hammond, J. 1960. Farm Animal, Their Breeding, Growth and Inheritance. 3rd Ed. Edward Arnold Publisher Ltd., London.
Hardjosubroto, R. 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta. Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo & A. D. Tillman. 1990. Tabel Komposisi Pakan
untuk Indonesia. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Herman R. 1993. Perbandingan pertumbuhan, komposisi tubuh dan karkas antara domba Priangan dan Ekor Gemuk. Disertasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Herman R. 2004. Komposisi dan distribusi otot karkas domba Priangan jantan
dewasa. J Indon Trop Anim Agric 29 (2) : 57-64.
Isroli. 2000. Respon testes domba priangan jantan terhadap pemberian testosteron dan ransum yang berbeda. Majalah Penelitian Bidang Biologi Struktur dan Fisiologi. Diponegoro Vol. VIII, No. 2: 51-59.
Isroli. 2001. Pengaruh anabolik steroid testosteron propionat dan ransum yang berbeda terhadap performans karkas domba Priangan jantan. J of Trop Anim Dev. 102-109.
Lawrie. R. A. 2003. Ilmu Daging. Terjemahan oleh Parakkasi, A. Edisi Kelima. Indonesia University Press, Jakarta.
Lestari, C.M., S. Dartosukarno & I. Puspita. 2005. Edible portion domba lokal jantan yang diberi pakan dedak padi dan rumput gajah. Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang.
Mathius, I. W. 1998. Jenis dan nilai gizi hijauan makanan ternak domba dan kambing di pedesaan Jawa Barat. Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Bogor.
Mulliadi, D. 1996. Sifat fenotipik domba Priangan di Kabupaten Pandeglang dan Garut. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Mulyono, D. 2003. Karakteristik karkas domba priangan jantan yang diberi
Aspergillus oryzae dalam ransum selama periode penggemukan. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nainggolan, O. & J. W. Simanjuntak. 2005. Pengaruh ekstrak etanol akar pasak bumi (Eurycoma Longifolia Jack) terhadap perilaku seksual mencit putih. Cermin Dunia Kedokteran No. 146 : 57.
Natasasmita. 1978. Body composition of swamp buffalo (Bubalus bubalis). A Study of Development Growth and Sex Differences. Phd. Thesis. University of Melbourn. Australia.
Nurhayati, L. 2004. Penampilan pertumbuhan domba Priangan di kabupaten Garut. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nurmalasari. 2008. Komposisi fisik potongan komersial karkas domba lokal jantan dengan rasio pemberian pakan yang berbeda selama dua bulan penggemukan. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Pulungan, H. & M. Rangkuti. 1981. Pertumbuhan komponen karkas ditinjau dari bobot karkas pada domba jantan local. Prosiding Seminar Penelitian Peternakan. Puslitbang Peternakan, Bogor. Hal 229-234.
Rifai, M.A. 1975. Data-data Botani Pasak Bumi. Herbarium Bogoriense. LIPI, Bogor.
Romans, P. J. & P. T. Ziegler. 1977. The Meat We Eat. 7 Ed. The Interstate Printers and Publisher. Inc., Danville.
Rudiono, D. 2007. Pengaruh hormon testosteron dan umur terhadap perkembangan otot pada kambing Kacang betina. Anim Prod. Vol.9 No.2 Hal.59-66
Rusdimansyah 2011. Profil perlemakan karkas domba Ekor Gemuk dan domba Ekor Tipis dengan penggunaan ekstrak Eurycoma longifolia Jack (ELJ). Tesis. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Saputra, H. 2003. Penampilan domba priangan jantan yang diberi Aspergillus oryzae dalam ransum selama periode penggemukan. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soeparno.2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University, Yogyakarta. Sosroamidjojo, S. & Soeradji. 1990. Peternakan Umum. CV Yasaguna, Jakarta Sugana, N. & M. Duljaman. 1983. Konformasi dan komposisi tubuh ternak domba
yang digemukkan dengan bahan sisa hasil ikutan. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sugiyono. 1997. Komposisi fisik karkas, sifat fisik dan komposisi kimia daging potongan komersial karkas kambing Kacang dan domba Lokal jantan . Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sumira, B. W. 2010. Distribusi bobot potongan komersial daging pada karkas domba lokal jantan dengan rasio pembarian rumput, legume pohon dan konsentrat yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Suwarno. 1980. Hubungan antara luas urat daging mata rusuk dengan bobot karkas
pada sapi Peranakan Ongole, sapi Bali dan kerbau. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
testosteron, LH, dan FSH serta perbedaan peningkatannya pada tikus jantan Spragul Dawley. Tesis. Pascasarjana Ilmu Biomedik, Universitas Diponegoro, Semarang.
Yurmiarti, H. 1991. Pengaruh pakan, umur potong dan jenis kelamin terhadap bobot hidup, karkas dan sifat dasar kulit kelinci “Rex”. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Yousef, M. K. 1982. Animal Production in the Tropics. Prager Publisher, New York.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Analisis Ragam Bobot Akhir
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 3450000.00 1150000.00 1.62 0.2376
Galat 12 8540000.00 711666.67
Total 15 11990000.00
Lampiran 2. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Harian
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 108.922500 36.307500 0.26 0.8526
Galat 12 1673.615000 139.467917
Total 15 1782.537500
Lampiran 3. Analisis Ragam Konsumsi
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 101.092500 33.697500 0.25 0.8621
Galat 12 1639.205000 136.600417
Total 15 1740.297500
Lampiran 4. Analisis Ragam Konversi Pakan
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 2.39187500 0.79729167 0.24 0.8653
Galat 12 39.51750000 3.29312500
Total 15 41.90937500
Lampiran 5. Analisis Ragam Bobot Potong
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 1466875 488958 0.47 0.7113
Galat 12 12587500 1048958
Total 15 14054375
Lampiran 6. Analisis Ragam Bobot Tubuh Kosong
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 2546218 848739 0.55 0.6576
Galat 12 18512325 1542693
Total 15 21058543
Lampiran 7. Analisis Ragam Bobot Karkas
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 3384600 1128200 1.11 0.3822
Galat 12 12164900 1013742
Total 15 15549500
Lampiran 8. Analisis Ragam Persentase Karkas/Bobot Potong
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 16.61206875 5.53735625 1.37 0.2996
Galat 12 48.57877500 4.04823125
Total 15 65.19084375
Lampiran 9. Analisis Ragam Persentase Karkas/Bobot Tubuh Kosong
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 11.65967500 3.88655833 1.91 0.1811
Galat 12 24.35910000 2.02992500
Total 15 36.01877500
Lampiran 10. Analisis Peragam Tebal Lemak Punggung
SK db JK KT F-Hitung P
Elj 3 5.99626344 1.99875448 2.35 0.1288
Karkas kanan 1 0.12841242 0.12841242 0.15 0.7052
Galat 11 9.36908758 0.85173523
Total 15 15.36937500
Lampiran 11. Analisis PeragamLuas Otot Mata Rusuk
SK db JK KT F-Hitung P
Elj 3 10.09737968 3.36579323 1.02 0.4261
Karkas kanan 1 0.00120935 0.00120935 0.00 0.985
Galat 10 33.14516565 3.31451656
Total 14 47.74796000
Lampiran 12. Analisis Peragam Bobot Otot Setengah Karkas Kanan
SK db JK KT F-Hitung P
Elj 3 322907.616 107635.872 4.98 0.0201
Karkas kanan 1 1515247.265 1515247.265 70.13 <.0001
Galat 11 237678.235 21607.112
Total 15 2841505.000
Lampiran 13. Analisis Peragam Bobot Lemak Setengah Karkas Kanan
SK db JK KT F-Hitung P
Elj 3 510020.3950 170006.7983 9.16 0.0025
Karkas kanan 1 95924.0522 95924.0522 5.17 0.0440
Galat 11 204130.1978 18557.2907
Total 15 852994.4375
Lampiran 14. Analisis Peragam Tulang Setengah Karkas Kanan
SK db JK KT F-Hitung P
Elj 3 44892.6712 14964.2237 0.47 0.7124
Karkas kanan 1 260496.2181 260496.2181 8.10 0.0159
Galat 11 353812.5319 32164.7756
Total 15 630469.9375
Lampiran 15. Analisis Ragam Darah
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 212195 70732 4.84 0.0197
Galat 12 175392 14616
Total 15 387587
Lampiran 16. Analisis Ragam Kulit
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 54150 18050 0.25 0.8619
Galat 12 877150 73096
Total 15 931300
Lampiran 17. Analisis Ragam Kaki
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 19041 6347 1.94 0.1764
Galat 12 39183 3265
Total 15 58224
Lampiran 18. Analisis Ragam Perut Kosong
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 1719 573 0.16 0.9183
Galat 12 41825 3485
Total 15 43544
Lampiran 19. Analisis Ragam Usus Kosong
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 16325 5442 0.87 0.4856
Galat 12 75450 6287
Total 15 91775
Lampiran 20. Analisis Ragam Paru
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 4759 1586 2.09 0.1552
Galat 12 9114 759
Total 15 13873
Lampiran 21. Analisis Ragam Jantung
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 96.63 32.20 0.11 0.9498
Galat 12 3368.83 280.73
Total 15 3465.46
Lampiran 22. Analisis Ragam Hati
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 75641 25214 1.78 0.2047
Galat 12 170092 14174
Total 15 245733
Lampiran 23. Analisis Ragam Limpa
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 64.69 21.56 0.48 0.7020
Galat 12 538.75 44.90
Total 15 603.44
Lampiran 24. Analisis Ragam Ginjal
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 115.34 38.44 1.92 0.1802
Galat 12 240.29 20.02
Total 15 355.63
Lampiran 25. Analisis Ragam Alat Kelamin
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 100.25 33.42 1.27 0.3285
Galat 12 315.50 26.29
Total 15 415.75
Lampiran 26. Analisis Ragam Testis
SK db JK KT F-Hitung P
Perlakuan 3 10597 3532 0.98 0.4334
Galat 12 43134 3594
Total 15 53731
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan sektor peternakan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan populasi ternak, produktivitas dan kualitas produk-produk peternakan termasuk daging, dimaksudkan juga untuk mengurangi impor dan menuju swasembada protein hewani. Domba merupakan salah satu komoditi ternak yang ikut berperan dalam pemenuhan kebutuhan daging yang dapat dikembangkan sebagai produk unggulan di sektor peternakan. Terdapat beberapa aspek yang menjadi keunggulan ternak domba, yaitu dapat berkembang biak dengan cepat dan mudah dipelihara.
Perkembangan usaha peternakan domba didorong oleh tingginya permintaan daging yang disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, tingkat kesejahteraan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya sumber protein hewani. Populasi domba di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 10.199.000 ekor atau sekitar 24,76% dari total populasi ternak di Indonesia. (Direktorat Jenderal Peternakan, 2010). Penggemukan domba merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas ternak domba dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging yang terus meningkat.
Usaha pengembangan domba sebagai ternak pedaging untuk menghasilkan produk karkas berkualitas adalah melakukan seleksi, pemberian pakan tambahan dan tatalaksana pemeliharaan ternak. Seleksi diarahkan pada sifat pertumbuhannya yang cepat. Domba dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi diharapkan dapat menghasilkan bobot potong yang tinggi sehingga karkas yang dihasilkannya pun semakin tinggi, namun dikhawatirkan memiliki perlemakan yang tinggi pula.
penggunaannya masih kontroversial karena efek karsinogenik dan residunya. Menurut Taufiqqurachman (1999) peningkatan hormon testosteron dapat dilakukan dengan pemberian ekstrak Pasak Bumi (Eurycoma longifolia, Jack).
Keberhasilan usaha penggemukan domba dapat dinilai terutama dari produksi karkas, karena karkas merupakan bagian terbesar yang dapat dimakan (edible portion). Selain karkas, masih ada bagian non karkas yang juga dapat dimakan. Produksi edible portion, baik dari karkas maupun non karkas, dapat menggambarkan keberhasilan penggemukan domba karena menunjukkan produktivitas seekor ternak domba secara keseluruhan yang bernilai ekonomi tinggi (Lestari et al., 2005).
Tujuan
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Domba
Domba diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia (hewan), phylum Chordata (hewan bertulang belakang), kelas Mamalia (hewan menyusui), ordo Artiodactyla (hewan berkuku genap), famili Bovidae (memamah biak), genus Ovis dan spesies Ovis aries ( Blakely dan Blade, 1992).
Ternak domba merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan. Domba asli Indonesia mempunyai adaptasi yang baik pada iklim tropis dan beranak sepanjang tahun. Gatenby (1986) melaporkan bahwa ada tiga bangsa domba di Indonesia yaitu domba Ekor Tipis (Thin-tailed Sheep), Priangan dan Ekor Gemuk (Fat Tailed Sheep).
Domba Priangan
Menurut sejarahnya, domba Priangan adalah domba yang terbentuk dari hasil persilangan domba Merino, domba Cape dan domba Lokal yang berlangsung sejak tahun 1864 (Hardjosubroto, 1994). Tujuan pemeliharaan domba Priangan yaitu untuk mendapatkan domba tangkas (pejantan) dan sebagai sumber pedaging. Domba priangan jantan bertanduk besar, melengkung ke belakang berbentuk spiral, pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu dengan berat badan 60-80 kg. Domba betina tidak bertanduk, panjang telinga sedang dan berat badan 30-40 kg (Sosroamidjojo dan Soeradji 1990). Domba Priangan dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran panjang telinga yaitu telinga kecil atau rumpung dengan panjang kurang dari 4 cm, telinga sedang atau ngadaun hiris dengan panjang 5-8 cm dan telinga besar atau rubak yang panjangnya lebih dari 9 cm (Mulliadi, 1996).
Herman (1993) melaporkan bahwa karkas domba Priangan mempunyai perkembangan otot yang lebih baik sedangkan perlemakannya kurang baik bila dibandingkan domba Ekor Gemuk. Hal ini menunjukkan bahwa domba Priangan lebih potensial sebagai penghasil karkas yang banyak mengandung daging untuk memenuhi permintaan pasar.
Pertumbuhan
komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, protein dan abu pada karkas (Soeparno, 2005). Menurut Anggorodi (1990) menyatakan bahwa pertumbuhan mencakup pertumbuhan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan tubuh lainnya (kecuali jaringan lemak) dan alat-alat tubuh. Proses perubahan bentuk dan komposisi sebagai akibat adanya kecepatan pertumbuhan relatif berbeda-beda antar komponen otot, tulang dan lemak sering juga disebut dengan istilah pertumbuhan-perkembangan (Natasasmita, 1978).
Pertambahan bobot karkas segera setelah lahir mengandung proporsi daging yang tinggi, relatif banyak mengandung tulang, dan kadar lemak rendah. Menjelang bobot badan dewasa, proporsi urat daging dalam pertumbuhan bobot badan menurun sedikit, komponen tulang dari pertambahan bobot badan hampir tidak bertambah dan proporsi lemak dalam pertambahan bobot badan tinggi dan terus meningkat. Pertumbuhan lemak pada awalnya lamban, segera setelah diikuti oleh pertumbuhannya yang cepat, bahkan lebih cepat daripada keadaan kedua jaringan tadi. Fase ini disebut fase finish (Parakkasi, 1999)
Menurut Cole (1974), kurva pertumbuhan ternak dibagi menjadi tiga bagian yaitu fase dipercepat, titik infleksi dan fase diperlambat. Selama fase dipercepat (akselarasi) ukuran tubuh bertambah, setelah terjadi penurunan kecepatan pertumbuhan ( seperti yang ditunjukkan kurva sigmoidal) kenaikan berat tubuh akan didominasi oleh peningkatan deposisi lemak yang terjadi pada kira-kira sepertiga dari berat akhir.