Tanggung Jawab Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan

120 

Teks penuh

(1)

107 LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengalaman Pada Saat Penelitian di Lapangan

Pada saat awal saya datang ke lokasi Pabrik Gula Kwala Madu, saya memperkenalkan diri dan mengutarakan apa maksud dan tujuan saya kepada petugas security yang sedang berjaga di meja piket, kemudian beliau mengarahkan saya ke ruang SDM / Humas Pabrik Gula Kwala Madu, maka saya langsung bergegas menemui pegawai yang berwenang dalam menerima surat permohonan penelitian.

Setelah semua administrasi saya penuhi, untuk lebih memantapkan tujuan penelitian saya, maka saya menemui kepala tata usaha ( KTU ) yang bernama pak wagirin, beliau ini kebetulan kenal dengan orang tua saya dan ternyata sebelumnya ayah saya telah berpesan kepada beliau bahwa saya sebagai anaknya akan melakukan penelitian skripsi di lokasi Pabrik Gula Kwala Madu ini, sehingga beliau sudah mengetahui maksud dan kedatangan saya ke ruangan kerjanya. Setelah beliau membaca proposal penelitian saya, pak wagirin sebagai KTU mengarahkan saya untuk menemui beberapa karyawan pimpinan yang berwenang serta yang fungsinya di Pabrik Gula Kwala Madu relevan dengan kepentingan penelitian saya, karyawan pimpinan yang dimaksud antara lain sebagai berikut :

- Pak Yandri lubis : Kepala dinas laboratorium

- Pak Khairul hidayat : Kepala dinas pengolengolahanahan

(2)

108

Beliau-beliau ini dianggap mampu untuk menjawab data yang saya butuhkan walaupun sebenarnya pasti masih ada kemungkinan informan bertambah sesuai kebutuhan data yang akan saya ambil. Pak yandri adalah kepala laboratorium yang membawahi langsung IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) di PGKM sehingga dianggap pihak yang langsung bersentuhan dengan lingkungan hidup.Lalu setelah itu saya pulang karena memang niat saya untuk mengambil data sudah dikalahkan oleh rasa letih saya mengendarai sepeda motor dari Kota Medan selama 1,5 jam menuju ke kawasan PTPN 2 unit kebun kwala madu.

Keesokan harinya, pada tanggal 1 Mei 2015, pukul 10.00 WIB saya sampai di parkiran kantor PGKM, saya pun bergegas menemui security di lobby kantor PGKM tersebut dan sepertinya beliau sudah bisa menebak maksud dan kedatangan saya hingga sebelum saya mengutarakan maksud dan tujuan saya, akhirnya beliau mengarahkan saya ke pos security utama yang terletak tepat di depan timbangan tebu, saya lihat banyak sekali plang-plang di areal pintu masuk PGKM ini dengan isi tulisan yang tampaknya menarik dan sesuai untuk bahan dokumentasi skripsi saya, sehingga saya pun meminta kepada salah seorang security yang sedang berjaga di pos tersebut untuk mengambil foto dengan menggunakan kamera yang saya bawa dari rumah untuk dokumentasi lapangan.

(3)

109

komputer laboratorium PGKM, sementara itu di salah satu sudut ruangan tampak pria yang menyuruh saya duduk di kursi yang berada tepat di depan meja kerjanya. “ duduk dek, kamu mahasiswa USU yang mau penelitian disini ya ? “ Tanya pak yandri, “ iya pak, bapak sibuk nggak sekarang ini pak ? aku pun balik bertanya kepada beliau, kemudian pak yandri dengan lugas menjawab “ silahkan dek, saya kebetulan nggak sibuk kok hari ini “.

Berdasarkan pedoman pertanyaan yang saya tulis pada lembar kuesioner berjenis pertanyaan terbuka, sehingga jawaban yang diperoleh diharapkan dapat menjadi lebih luas.Selanjutnya saya pun mulai bertanya kepada pak yandri dengan pertanyaan yang saya pedomani dari kuesioner yang sudah saya persiapkan sebelum ke lokasi penelitian ini. Dialog yang sempat saya catat tersebut antara lain sebagai berikut :

( S adalah saya / penulis dan pak Yadalah informan saya yang bernama pak yandri lubis )

S :“ Apa saja fungsi dan peran unit laboratorium PGKM ini pak? “

Pak Y : “Unit laboratorium ini bertanggung jawab terhadap proses produksi, kualitas produksi, pengelolaan limbah dan kualitas bahan baku “.

S :“Dalam unit laboratorium ini, berapakah jumlah karyawan yang pekerjaannya di bawah pengawasan anda? “

Pak Y : ”di unit yang saya pimpin ini jumlah karyawan seluruhnya lebih kurang 64 orang, jumlah itu sudah mencakup para mandor dan operator “.

S : ” Bagaimana dengan sub unit yang ada di unit laboratorium ini pak? “

(4)

110

S : “ Diantara beberapa unit atau dinas yang ada di PGKM ini, menurut bapak unit manakah yang bersentuhan langsung dengan penduduk dan lingkungan setempat? “

Pak Y : “ Sebenarnya semua unit disini bersentuhan langsung dengan lingkungan tetapi yang paling langsung berhubungan dengan kelestarian lingkungan setempat ya unit laboratorium ini dek, karena kolam limbah PGKM yang pembuangannya ke kolam irigasi Desa sambirejo adalah dibawah tanggung jawab saya sebagai kepala dinas laboratorium PGKM.

S : “Pak, saya ingin tahu fungsi dari tiap sub unit dibawah naungan unit laboratorium ini ? “

Pak Y : “ Oke akan saya jelaskan secara garis besarnya saja, sub unit timbangan berfungsi menimbang tebu yang masuk ke PGKM lalu diangkut ke cane yard, setelah itu tebu masuk ke bagian penggilingan dan diproses di bagian pengolahan, lalu setelah proses tebu diolah menjadi gula barulah memasuki proses pengepakan di gudang gula “.

S :“Sewaktu saya membaca surat kabar dan browsing berita dari internet, saya pernah membaca tentang penghargaan yang diterima PGKM tentang pengelolaan lingkungan hidup dari kementrian lingkungan hidup. Apakah kabar tersebut memang benar pak ? “

(5)

111

S : “Apa yang mendorong perusahaan melakukan tindakan yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup setempat pak? dan apakah ada acuan dan pedoman dalam melaksanakannya ? “

Pak Y :“Selain karena menghargai hak penduduk setempat dalam mempertahankan lingkungan yang baik, ada juga peraturan dari pemerintah yang disebut ‘ Wajib ISO ‘

( terlihat pak yandri mencari sebuah dokumen di lemari kerjanya, dan ketika aku baca cover depan dukumen tersebut bertuliskan ( DOKUMEN SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI ISO 14001 : 2004 dan SMK 3 )

“ Coba kamu baca-baca dokumen ini, kemungkinan besar data yang kamu perlukan bisa terjawab kalo kamu pahami isi dokumen ini, lihat daftar isinya dulu “

Setelah saya melihat isi dokumen tersebut, saya pun berniat untuk melanjutkan wawancara kepada informan yang direkomendasi oleh pak yandri, informan tersebut bernama pak surya aditama yang merupakan salah satu asisten di PGKM.Mengapa pak yandri merekomendasi saya sebagai peneliti untuk mewawancarai pak surya aditama?jawabannya yakni karena pak surya aditama ini adalah asisten PGKM yang juga ditunjuk sebagai sekretaris program ISO untuk unit PGKM. Selanjutnya saya pun bergegas menemui pak surya aditama di ruang dinas pengolahan yang berada di lantai 2 tepat di atas ruang laboratorium PGKM.

(6)

112

masih muda sudah jadi asisten, gumamku dalam hati. Berikut dialog antara saya dengan pak surya :

( S adalah saya / penulis dan pak S adalah informan saya yang bernama pak Surya aditama )

S :“Siang pak, apakah benar bapak adalah pak surya aditama yang menjadi sekretaris ISO di unit PGKM ini ? “.

Pak S :“Iya benar, kebetulan saya lagi nggak sibuk kok, kalo mau nanya-nanya silahkan dek, oh iya kamu dari universitas mana ? “.

S : “Saya dari jurusan antropologi sosial USU pak, kebetulan tema saya tentang CSR di bidang lingkungan hidup pak. oh iya pak saya mau nanya nih pak, indikator apa saja yang digunakan perusahaan dalam menilai kualitas lingkungan ? “.

Pak S : “Sebenarnya ada cukup banyak indikator yang dinilai oleh pemerintah, khususnya pihak yang berwenang dalam menilai kondisi lingkungan hidup seperti kementrian lingkungan hidup, tapi sertifikat seperti proper biru itu sudah bisa jadi acuan dalam menilai apakah proses produksi suatu perusahaan membahayakan lingkungan atau tidak membahayakan lingkungan.”

S : ” Kalau saya boleh tahu proper biru itu apa pak ? “.

Pak S : “ Proper biru adalah sertifikat yang diberikan oleh kementrian lingkungan hidup terhadap perusahaan yang dapat meminimalisir dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh proses produksi dan paska produksi, seperti misalnya limbah B3 ( Bahan Beracun dan Berbahaya ), berarti dengan adanya proper biru, menandakan perusahaan dapat mengendalikan pencemaran lingkungan tersebut. “

(7)

113

Pak S : ”Limbah cair, limbah padat seperti blotong dan abu boiler. Namun seluruh limbah tersebut sudah diproses sehingga dampak buruknya dapat diminimalisir dan tidak mengganggu masyarakat yang tinggal di kawasan PGKM ini “.

S :“ saya penasaran dengan istilah blotong, kalo saya boleh tahu blotong itu apa ya pak? “.

Pak S : “ Blotong adalah sisa endapan proses pemurnian nira tebu. Jika diolah, blotong ini bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk begitu juga dengan abu boiler ”.

S :“Apakah hanya bapak sendiri yang menjadi sekretaris ISO disini ? “

Pak S :Di unit PGKM ini sendiri yang menjadi sekretaris ISO ada 3 orang yaitu, Pak Yandri Lubis, Pak Yudho Guntoro dan saya sendiri.

S :“ bagaimana kondisi aktual penerapan ISO di PGKM ini ? “

Pak S : “ISO 9001 mengenai mutu produksi sudah diraih oleh unit PGKM ini, karena dahulu pernah diadakan survailance oleh tim audit eksternal yaitu dari tuv nord “.

S : ”Apakah ada resiko yang ditanggung PGKM jika hasil survey tersebut tidak memuaskan atau terdapat penyelewengan dalam penerapannya ? “.

Pak S : “ Sudah pasti ada, jika sertifikat ISO ditarik maka sertifikat SNI juga beresiko untuk ditarik maka dampaknya PGKM tidak dapat memasarkan produk gula nya, sementara itu ISO 14.001 masih dalam tahap penerapan “.

(8)

114

Keesokan harinya, saya pun kembali mengunjungi Pabrik Gula Kwala Madu dikarenakan data yang saya kumpulkan masih terasa kurang. Sesampainya di Pabrik Gula Kwala Madu saya langsung menuju ruang kerja pak yandri di laboratorium PGKM dan syukur saja ternyata pak yandri ada di ruang kerjanya dan kebetulan beliau juga tidak sibuk.

( S adalah saya / penulis dan pak Yadalah informan saya yang bernama pak yandri lubis )

S : “ Pagi pak, saya mau lanjutkan wawancara yang kemarin pak, soalnya masih ada pertanyaan di daftar pertanyaan yang saya buat yang kemarin belum sempat saya tanyakan ke bapak “.

Pak Y : ”Silahkan, apa itu pertanyaannya biar saya jawab semampu saya “.

S :“Menurut bapak bagaimana respon masyarakat di sekitar PGKM ini mengenai kegiatan bina lingkungan yang dijalankan oleh ihak PGKM ini?

Pak Y :“Mereka ( masyarakat ) menyambut baik setiap kegiatan yang kami upayakan di lingkungan PGKM ini, hal itu Nampak pada saat momentum tertentu, misalnya pada saat acara kenduri giling, para anak yatim beserta para kepala desa di lingkungan Pabrik Gula Kwala Madu ini tampak hadir dalam acara-acara yang diadakan oleh Pabrik Gula Kwala Madu ini, bahkan kepala dusun / lingkungan pun juga Nampak hadir “.

S :“Bagaimana pandangan bapak mengenai isu kerusakan lingkungan yang sedang mengemuka saat ini ?

(9)

115

lingkungan hidup sehingga semua perusahaan perlu berpartisipasi tanpa terkecuali untuk mengikuti peraturan tentang lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh kementrian lingkungan hidup “.

S :“ Adakah upaya yang dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar ?

Pak Y : “kegiatan PKBL itu saya rasa sudah cukup mewakili upaya itu, air untuk irigasi, fasilitas umum, dan bantuan terhadap masyarakat miskin itu semua saya kira pantas mereka dapatkan, karena dengan adanya pabrik gula di lokasi ini bukan untuk merugikan mereka, melainkan untuk mensejahterakan mereka, apalagi ada prinsip PKBL BUMN yang harus dijalankan.”

S : “Apakah unit PGKM ini menyediakan sumber daya manusia untuk kepentingan desa sekitar PGKM ini pak ?”

Pak Y : “Tentu saja ada, PGKM menyediakan guru ngaji, bilal mayit, imam masjid dan guru Taman Kanak-kanak untuk kepentingan masyarakat di desa sekitar PGKM ini.”

S : “Apakah ada kendala dalam menjalankan Program Kemitraan bina lingkungan ini pak ?”

Pak Y : “Tentu saja ada, tetapi hal itu lebih bersifat materil daripada yang bersifat teknis.”

S : “Maksud anda seperti apa itu pak ?”

(10)

116

S : “Apakah ada tindakan khusus dari PGKM untuk merespon permasalahan itu pak ?”

PakY : “Kami ( PGKM ) telah membuat permohonan anggaran, tetapi pernah suatu waktu tidak direalisasikan oleh pusat.”

S :”Selain itu pak, kendala apa lagi yang ada di dinas laboratorium ini ?khususnya secara teknis ?”

Pak Y : “Para operator di laboratorium ini menurut saya sering kurang paham mengenai pekerjaannya sehingga menurut saya mereka perlu mengikuti training khusus, saya kira hal tersebut disebabkan minimnya pelatihan untuk mereka”

S : “Apakah masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar PGKM ini pernah komplain mengenai permasalahan limbah yang mengganggu lingkungan mereka”

(11)

117

S :“Selain hal tersebut pak, apakah ada hal lain lagi yang membuat masyarakat terganggu ?

Pak Y : “Dulu masyarakat juga pernah komplain terhadap emisi udara yang dihasilkan PGKM, katanya mengganggu kebersihan udara di lingkungan tempat tinggal mereka, untung saja masalah tersebut segera ditindak lanjuti oleh pihak PGKM yakni dengan cara memperbaiki mesin di stasiun boiler, hal ini desebabkan mesin-mesin di ruang boiler yang sangat berpengaruh terhadap kualitas udara sehingga pihak yang berkaitan dengan stasiun boiler wajib rutin mengecek kondisi mesin-mesin tersebut, apakah masih layak dipakai atau tidak.”

S : “Bagaimana dengan kondisi limbah cair disini pak ?”

(12)

118 Lampiran 2. Dokumentasi

Gambar 1 : Plang kantor Kebun / Gambar 2 : Plang penanda batas wilayah Pabrik Gula Kwala Madu Kebun Kwala Madu

(13)

119

Gambar 5 : Peneliti berpose di depan Gambar 6 : Seorang bocah yang sedang pos penjagaan PGKM mencari jamur blotong

(14)

106 Daftar Pustaka

Adi, Rukminto, Isbandi. 2003. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta

Buku Profil Desa Sambirejo 2015

Chambers, Robert. 1988. Pembangunan desa : dimulai dari belakang. LP3ES : Jakarta

Dinamika Sosio-Ekologi Pedesaan: Perspektif dan Pertautan Keilmuan Ekologi Manusia,Sosiologi Lingkungan dan Ekologi Politik ,Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia Vol. 01, No. 01

Foster, George M dan Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Terjemahan. Jakarta: UI Press.

http:// www. ptpn 2.com

Harahap, M.Yahya, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009)

Koentjaraningrat. 1981. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Dian Rakyat: Jakarta

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta: Jakarta

Marzali, Amri. 2012. Antropologi dan Kebijakan Publik. Kencana Prenada Media : Jakarta

Mubyarto dan Daryanti. 1991. Gula: Kajian Sosial-Ekonomi. Aditya Media : Yogyakarta Poerwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif Antropologi

Putra, Ahimsa. 1994. Antropologi Ekologi: Beberapa Teori dan Perkembangannya dalam Masyarakat Indonesia, Tahun XX No. 4.

(15)

56 BAB III

PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN BINA LINGKUNGAN

3.1. Deskripsi Program Kemitraan Bina Lingkungan

Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) merupakan sebuah bentuk implementasi kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) khususnya pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini sebagai bukti bahwa CSR tidak hanya menjadi isu perusahaan swasta tetapi juga menjadi bagian dari komitmen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sejalan dengan Good Coorporate Governance sebagai aplikasi dari Undang-Undang (UU) Perseroan Terbatas no 40 tahun 2007, UU Penanaman Modal No 25 tahun 2007, UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup No 32 Tahun 2009, dan UU BUMN No 19 tahun 2003. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui Program Kemitraan (PK) berupaya untuk turut mengembangkan perekonomian masyarakat, khususnya usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Praktik CSR pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut ditetapkan melalui keputusanMenteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 dan Surat Edaran Menteri BUMN Nomor: SE-433/MBU/2003. Program Kemitraan merupakan Program Pembinaan Usaha Kecil dan pemberdayaan kondisi lingkungan yang dibiayai oleh BUMN agar UMKM menjadi lebih tangguh dan mandiri.

(16)

57

No.Per05/MBU/2007 yang menyatakan maksud dan tujuan pendirian BUMN tidak hanya mengejar keuntungan melainkan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat (Kementrian BUMN, 2010). PKBL memiliki 2 (dua) program, pertama adalah Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Kedua adalah Program Bina Lingkungan yaitu program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Jumlah penyisihan laba untuk pendanaan program maksimal sebesar 2% (dua persen) dari laba bersih untuk Program Kemitraan dan maksimal 2% (dua persen) dari laba bersih untuk Program Bina Lingkungan.

3.2. Latar Belakang Program Kemitraan Bina Lingkungan

(17)

58

dari sumber daya alam, maupun sumber daya lainnya, maka sudah selayaknya untuk memberikan imbal balik kepada lingkungan dan masyarakat.

3.3. Dasar Hukum Pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan

Kegiatan PKBL di awali dari penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1983 yang mengatur bahwa salah satu tujuan pendirian BUMN yaitu Turut aktif memberikan bimbingan kegiatan kepada sektor swasta, khususnya pengusaha golongan ekonomi lemah dan sektor koperasi;.Turut aktif melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan pada umumnya . Namun untuk pelaksanaannya tidak diatur lebih lanjut dan diserahkan sepenuhnya kepada Direksi BUMN untuk melaksanakannya. Selanjutnya melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 1232/KMK.013/1989 tanggal 11 November 1989 tentang Pedoman Pembinaan Pengusaha Ekonomi Lemah dan Koperasi melalui BUMN, diatur mengenai sumber pendanaan kegiatan yaitu dari prersentasi 1-5% dari laba setelah pajak. Pada saat itu, nama program lebih dikenal dengan nama Program Pegelkop. Dalam perkembangannya sebutan terhadap kegiatan tersebut beberapa kali mengalami perubahan, antara lain:

1. Tahun 1994, nama program diubah menjadi Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (Program PUKK) berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor:316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994 tentang Pedoman Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi melalui Pemanfaatan Dana dari Bagian Laba Badan Usaha Milik Negara.

(18)

Kep-59

216/M-PBUMN/1999 tanggal 28 September 1999 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN, melalui keputusan ini ditetapkan pula ketentuan mengenai pemberian bantuan melalui Program Bina Lingkungan.

3. Tahun 2003, nama program menjadi Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan namun tetap disingkat PKBL, melalui Keputusan Menteri BUMN Nomor:Kep-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan.

4. Dalam perkembangan selanjutnya untuk mengakomodir kegiatan-kegiatan yang bersifat nasional dan serentak oleh seluruh BUMN, melalui Peraturan Menteri BUMN Nomor:PER-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, diatur kegiatan Program Bina Lingkungan BUMN Peduli yang dananya dialokasikan sebesar 30% dari dana tersedia Program Bina Lingkungan. Adapun ketentuan-ketentuan mengenai sumber pendanaan kegiatan PKBL adalah sebagai berikut:

Bahwa sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) huruf e UU BUMN salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat, ketentuan inilah yang menjadi dasar adanya Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

(19)

60

selanjutnya dalam ayat (2) diatur bahwa “ketentuan lebih lanjut mengenai penyisihan dan penggunaan laba sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri”. Menindaklanjuti amanah dari 88 ayat (2) UU BUMN, Menteri BUMN telah menerbitkan Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan sebagaimana beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-08/MBU/2013.

- Bahwa dalam Peraturan Menteri BUMN sebagaimana dimaksud pada angka 3 di atas, diatur bahwa alokasi dana PKBL diambil dari penyisihan sebagian laba bersih BUMN, hal ini masih sesuai dan tidak melanggar dengan ketentuan dalam Pasal 88 ayat (1) UU BUMN. 5.

(20)

61

dividen, tantiem, jasa produksi dan tunjangan-tunjangan. Namun khusus untuk BUMN, selain pembagian alokasi laba tersebut di atas, juga untuk alokasi PKBL. Dari pembagian tersebut, yang menjadi hak Negara sebagai Pemegang Saham adalah Dividen, sehingga kekayaan Negara hanyalah dividen.

- Bahwa Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor PER-05/MBU/2007 merupakan keputusan RUPS sebagai organ perusahaan, dan sesuai dengan amanah dari Pasal 88 UU BUMN serta tidak melanggar dari Pasal 70 UU PT, karena yang berwenang untuk menentukan alokasi penggunaan laba adalah RUPS, dan Menteri BUMN dalam menetapkan alokasi laba bertindak selaku RUPS BUMN.

- Bahwa alokasi penetapan besaran dividen dari BUMN untuk Negara setiap awal tahun sudah ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR RI, dimana alokasi dana PKBL yang ditetapkan RUPS tidak dapat mempegaruhi atau mengurangi alokasi dividen yang sudah ditetapkan tersebut. Alokasi dana PKBL ini akan mengurangi laba yang ditetapkan untuk cadangan yang dikelola oleh perusahaan dan masih menjadi dana perusahaan. Dengan demikian hak Negara atas kekayaan Negara tidak berkurang karena dividen tidak dikurangi dengan alokasi dana PKBL. 8. Dapat kami sampaikan pula bahwa dalam Undang-undang Nomor: 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, pada pasal 21, ayat (2) mengatur bahwa: “Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisihan bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya.”

(21)

62

Dalam perkembangannya untuk memperbaiki pencatatan pendanaan kegiatan PKBL, pada tahun 2013 diberlakukan Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-08/MBU/2013 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-05/MBU/2007 tentang Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan, maka segala peraturan dan ketentuan yang bertentangan dengan Peraturan Menteri dimaksud dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

3.4. Manfaat Program Kemitraan Bina Lingkungan Secara Umum

Sebenarnya peran PKBL BUMN mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding praktek CSR yang dilakukan oleh perusahaan swasta karena PKBL-BUMN juga diharapkan untuk mampu mewujudkan 3 pilar utama pembangunan (triple tracks), yaitu:

(1) Pengurangan jumlah pengangguran (projob)

(2) Pengurangan jumlah penduduk miskin (pro-poor)

(3) Peningkatan pertumbuhan ekonomi (pro-growth).

(22)

63

ekonomi, sosial dan lingkungan.World Business Council and Sustainable Development (1998), mendefinisikan secara jelas bahwa CSR adalah bentuk komitmen oleh entitas bisnis tentang bagaimana dapat berkontribusi untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Kemudian secara detail WBCSD memberi rincian bentuk kontribusi yaitu korporasi dapat melakukan aksi CSR nya dengan membantu karyawan, keluarga karyawan, komunitas lokaldan masyarakat secara luas untuk mengembangkan kualitas kehidupan mereka sejalan dengan keuntungan bisnis dan pembangunan komunitas. Peneliti tentang CSR, Carroll (1979) mendeskripsikan CSR sebagai kombinasi dari beberapa aspek tanggung jawab perusahaan yang berbeda yaitu tanggung jawab ekonomi, hukum, aspek etik dan kontribusi pada beberapa isu sosial. Dengan demikian program tanggung jawab sosial perusahaan harus mampu menjawab beberapa pertanyaan, pertama sudahkah tanggung jawab perusahaan berjalan dengan tidak hanya sekedar memenuhi tanggung jawab ekonomi dan hukum saja?Kedua, area manakah diluar ekonomi dan hukum yang juga menjadi perhatian dalam program CSR perusahaan seperti aspek sosial? Ketiga, apakah perusahaan hanya bersikap reaktif atau pro-aktif dalam isu-isu CSR. Beberapa pertimbangan perusahaan melakukan program CSR adalah menyangkut beberapa hal yaitu diantaranya:

1.Legal aspect

yaitu untuk memenuhi regulasi, hukum dan aturan yangmengaturnya. 2.Social investment

yaitu untuk alasan pencitraan dengan tujuan image yang positif. 3.Corporate strategy

yaitu CSR sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan misalnya dalam Public Relation strategy

(23)

64

yaitu bertujuan untuk meredam dan menghindari Corporate Social Responsibility (CSR) Issue.

Perusahaan pastinya memiliki ketertarikan, kepentingan dan orentasi sehubungan dengan pelaksanaan program CSR nya.Akan tetapi kepentingan stakeholder juga harus dipertimbangkan dalam membuat program CSR dan laporan CSR. Hess (2001), menyebutkan bahwa laporan CSR harus mempertimbangkan keinginan dari pemangku kepentingan. Ada tiga elemen menurut Hess yang patut menjadi rujukan perusahaan yaitu: memperhatikan keinginan pemangku kepentingan, adanya dialog antara pemangku kepentingan, dan membangun strategi untuk menentukan mana keputusan yang diambil karena berbagai macam kepentingan stakeholder.

(24)

65 3.5. Profil Pabrik Gula Kwala Madu

3.5.1 visi dan misi

Pabrik Gula Kwala Madu memiliki visi dan misi antara lain sebagai berikut :

Visi

Menjadikan PG Kwala Madu sebagai Pabrik Gula yang paling efisien dan berdaya saing tinggi dengan sistim manajemen berstandar internasional

Misi

1. Mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk menghasilkan produk GKP 1 sesuai dengan sistim jaminan mutu SNI

2. Menempatkan karyawan sebagai asset yang paling berharga, sebagai anggota tim berkarya dan membimbing segenap karyawan untuk mengembangkan kompetensi menuju budaya kerja yang efisien dan agen perubahan produktifitas.

3. Bermanfaat bagi petani tebu AP-TRI di lingkungan wilayah pabrik maupun di lingkungan kebun tanaman semusim

4. Memberikan laba bagi perusahaan, sehingga dapat mensejahterakan karyawan dan memberikan kontribusi dalam pembangunan daerah dan nasional.

(25)

66

3.5.2. Struktur Organisasi di Pabrik Gula Kwala Madu

Struktur pada dasarnya merupakan ciri organisasi yang berfungsi untuk mengendalikan atau membedakan semua bagiannya. Adanya struktur akan memudahkan organisasi dalam mengendalikan perilaku pegawai, dalam arti pegawai tidak mampu membuat pilihan yang mutlak bebas dalam melakukan sesuatu pekerjaan dan cara mengerjakannya. Disamping itu, struktur juga mempengaruhi perilaku dan fungsi sesuatu kegiatan di dalam organisasi, Dengan adanya hal tersebut dapat menciptakan efektifitas dan efisiensi organisasi, diperlukan keputusan yang sarat dengan mendesain struktur organisasi. Adapun struktur yang berlaku di Pabrik Gula Kwala Madu adalah berbentuk garis, dimana wewenang berjalan menurutgaris lurus dari pimpinan tertinggi terus sampai kepada karyawan pelaksana. Jadi setiap atasan mempunyai bawahan, kemudian bawahan menerima perintah secara lisan maupun tulisan. Dalam melaksanakan aktivitas produksi Pabrik Gula Kwala Madu memiliki karyawan sebanyak 733 orang. Status karyawan di Pabrik Gula Kwala Madu berbeda-beda menurut hierarki manajemen. Perincian tenaga kerja di PG.Kwala Madu terdiri dari :

a. Staf Pimpinan = 15 orang

b. Karyawan Pelaksana = 605 orang c. Karyawan Tidak Tetap = 55 orang Jumlah = 675 orang

Secara lebih terperinci tugas dan wewenang beberapa satuan kerja di Pabrik Gula Kwala Madu dapat dijabarkan sebagai berikut :

(26)

67

a. Membantu Direksi mengerjakan tugas dan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh perusahaan.

b. Melaksanakan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan pengawasan di pabrik, guna menunjang usaha pokok secara efektif dan efisien.

c. Manajer pabrik bertanggung jawab terhadap direksi PTPN II.

2. Kepala Dinas Teknik Tugas dan Kewajiban

a. Membantu manajer pabrik melaksanakan tugas dan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh perusahaan

b. Melaksanakan perencanaan, pengorganisasian pengendalian, dan pengawasan pabrik untuk menunjang pencapaian sasaran yang telah ditetapkan oleh manajemen pabrik.

c. Menyediakan data dan informasi yang akurat untuk kepentingan manajemen pabrik. d. Membuat laporan pertanggung jawaban kepada manajer mengenai situasi kerja di

lapangan.

Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dinas teknik dibantu oleh beberapa asisten yang bertugas membantu kepala dinas teknik dalam menjalankan tugasnya. Beberapa asisten yang membantu kepala dinas teknik dalam melaksanakan tugasnya dapat diuraikan sebagai berikut :

-Asisten Boiler

Tugas dan Kewajiban

a. Membantu Ka.Dinas Teknik dalam melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan perencanaan dan pengoperasian stasiun boiler

(27)

68 -Asisten Milling

Tugas dan Kewajiban

a. Membantu Ka.Dinas Teknik dalam melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan perencanaan, perawatan, pengoperasian stasiun giling.

b. Stasiun milling dipimpin oleh seorang staf yang bertugas mengolah peralatan dan tenaga kerja pada stasiun milling.

-Asisten Listrik/Instrumen Tugas dan Kewajiban

a. Membantu Ka.Dinas Tenik dalam melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan layout, pengoperasian seluruh peralatan pabrik, kantor, perumahan, pembangkit yang berkaitan dengan listrik/instrumen.

b. Bidang Listrik/Instrument dipimpin oleh staf dan dibantu oleh mandor, bertugas mengolah peralatan listrik dan sumber daya lainnya yang berkaitan.

Work Shop dipimpin oleh seorang staf dibantu mandor serta tenaga administrasi. Asisten Work Shop bertugas untuk melayani perbaikan dan pembuatan suku cadang.

-Asisten Work Shop Tugas dan Kewajiban

a. Membantu Ka. Dinas teknik dalam pekerjaan mengolah Work Shop b. Mewakili Ka. Dinas Teknik bila KDT tidak berada di tempat.

-Asisten Cane Yard. Tugas dan Kewajiban

(28)

69 - Kepala Dinas Pengolahan

Tugas dan Kewajiban

a. Membantu manajer pabrik melaksanakan tugas dan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh perusahaan.

b. Melaksanakan perencanaan, pengoperasian, pengendalian dan pengawasan di pabrik untuk menunjang pencapaian sasaran yang ditetapkan oleh manager pabrik.

c. Menyediakan data dan informasi yang akurat untuk kepentingan manager pabrik

d. Dalam melaksanakan tugas Ka. Dinas pengolahan harus berkoordinasi dengan kepala dinas teknik, dibantu oleh asisten.

e. Mengkoordinasi seluruh asisten yang dibawahi untuk mencapai target/sasaran yang sudah ditetapkan.

f. Mengoptimalkan kerja mesin/peralatan.

Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dinas pengolahan dibantu oleh beberapa asisten. Beberapa asisten tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

- Asisten Pemurnian Tugas dan Kewajiban

a. Membantu Ka. Dinas pengolahan melaksanakan pekerjaan dalam proses pada stasiun pemurnian.

b. Stasiun pemurnian dipimpin oleh seorang staf dibantu mandor dan tenaga admnistrasi. Bertugas memaksimalkan rendemen, menekan kehilangan dengan kualitas sebaik mungkin secara efisien.

(29)

70

a. Membantu Ka. Dinas Pengolahan melaksanakan pekerjaan proses pengolahan pada stasiun putaran.

b. Stasiun putaran dipimpin oleh seorang staf dan dibantu mandor serta tenaga administrasi. Bertugas memisahkan kristal dan melakukan pengeringan dengan prinsip efisien.

-Asisten Penguapan Tugas dan Kewajiban

Membantu Kepala Dinas pengolahan melaksanakan pekerjaan dalam proses pengolahan pada stasiun penguapan.

-Asisten Masakan Tugas dan Kewajiban

Membantu Ka. Dinas pengolahan melaksanakan tugasnya di pengolahan pada stasiun masakan.

4. Kepala Tata Usaha Tugas dan Kewajiban

a. Membantu manager pabrik dalam melaksanakan tugasnya dibidang administrasi.

b. Mengolah administrasi perusahaan secara menyeluruh yang diklola oleh tiga orang asisten dengan dibantu tenaga administrasi

- Asisten Umum Tugas dan Kewajiban

(30)

71 Asisten Kantor

Tugas dan Kewajiban

Membantu Ka. Tata Usaha dalam pengawasan dibagian akuntansi, finansial, perencanaan perusahaan.

Asisten Gudang Tugas dan Kewajiban

Membantu Ka. Tata Usaha dalam mengawasi bagian gudang di pabrik.

3.6. Latar Belakang dan Tujuan Pendirian PGKM

Kebutuhan nasional akan gula semakin meningkat di akhir tahun 70-an, hal tersebut mendorong pemerintah mengadakan program swasembada gula yang berimbas pada pendirian pabrik gula di luar pulau jawa, pabrik-pabrik gula tersebut antara lain didirikan di sumatera yakni di Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Lampung, selain itu Pemerintah juga membangun pabrik gula di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan antara lain PG Bone dan PG Takalar serta di Sulawesi Utara.

Di wilayah Sumatera Utara sendiri Pabrik Gula yang diresmikan pemerintah adalah Pabrik Gula Kwala Madu dan Pabrik Gula Sei Semayang, selain tersebut upaya pemerintah dalam membangun pabrik gula diluar pulau jawa juga dilatar belakangi oleh rencana pemerintah terhadap peningkatan program Tebu Rakyat Intensifikasi ( TRI ) demi meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui program tebu rakyat intensifikasi.

(31)

72 3.6.1. Latar Belakang Pendirian PGKM

1. Rehabilitasi dan perluasan kapasitas pabrik gula di Jawa. 2. Membangun pabrik-pabrik gula baru di luar Jawa. 3. Peningkatan Program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). 4. Stabilisasi harga gula di dalam negeri.

3.6.2. Tujuan Pendirian PGKM

Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX didirikan selain sebagai implementasi proyek pemerintah juga memiliki tujuan dasar yaitu:

1. Dapat menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya.

2. Pengadaan gula untuk wilayah Sumatera Utara dalam usaha swasembada gula. 3. Memberikan pemasukan kepada kas negara.

(32)

73

3.7. Layout Pabrik Gula Kwala Madu

Layout Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX

Sumber: Manajemen Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) PT. Perkebunan Nusantara II

Keterangan Gambar:

1. Pintu Masuk

2. Boundan Fence Line

(33)

74

4. Tempat Penampungan Tebu

5. Cane Handling Station

6. Space Parts House

7. Work Shop

8. Molasses Tank

9. Mill House

10. Line House

11. Sulphun House

12. Boiling House

13. Boiler

14. Boiler Control House

15. Power dan W.T. House

16. Factory Office dan Laboratorium

17. Sugar Wake House

18. Condensate Tank

19. Bagasse Storage

20. Oil Tank

21. Water Treatment House

22. Water Treatment Station

23. Drainale

24. Water Intake

3.8. Latar Belakang Dibentuknya PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu

(34)

undang-75

undang mengenai pelestarian lingkungan hidup dimana manusia melakukan aktivitasnya, makan, tidur dan menghirup nafas di lingkungan yang dibentuk oleh manusia itu sendiri sehingga manusia hendaknya meminimalisir dampak negatif dari tindakannya dalam mengeksploitasi lingkungan hidupnya. Berdasarkan hal tersebut , PGKM membuat dokumen sistem manajemen integrasi ISO 14001 : 2004 dan SMK 3 tentang kewajiban perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengenai sistem keselamatan kerja yang menjadi pedoman dan wajib dipatuhi oleh seluruh karyawan di unit PGKM, baik karyawan pelaksana maupun karyawan pimpinan tanpa terkecuali.

Berdasarkan dokumen ISO 14001 : 2004 dan SMK 3 tersebut, setiap unit kerja di PGKM, setiap unit kerja disebut dengan istilah dinas. misalnya, dinas laboratorium yang juga membawahi bagian limbah PGKM, dinas pengolahan dan dinas teknik, masing-masing kepala dinas wajib menginstruksikan aturan dan etika kerja yang berpedoman pada dokumen ISO 14001 : 2004 dan SMK 3 tersebutkepada para asisten, mandor serta operator sebagai bawahannya di tiap dinas yang menjadi tanggung jawabnya.

(35)

76

untuk limbah udara ialah asap hitam dari cerobong PGKM yang jika tidak diupayakan untuk mengurangi dampaknya dapat dipastikan akan mengganggu kenyamanan sekitar.

3.9. Latar Belakang SMM ISO 9001 : 2008 di Pabrik Gula Kwala Madu

Sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008 yang merupakan sistem manajemen mutu berstandar internasional menjadi landasan operasional Pabrik Gula Kwala Madu untuk menghasilkan produk gula Kristal putih ( GKP ) bermutu standar SNI. Penerapan sistem manajemen mutu ini mendorong terselenggaranya proses layanan dan proses produksi berjalan secara efektif. Maka untuk itu diperlukan dukumen manual mutu SMM ISO 9001 : 2008 yang disusun relevan dengan Pabrik Gula Kwala Madu.

Selain hal tersebut, Sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008 dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa Pabrik Gula Kwala Madu harus mampu memenuhi semua persyaratan parapemangku kepentingan ( stakeholder ) yaitu pemerintah, pemegang saham, petani, Petani TRI ( Tebu Rakyat Intensifikasi ), masyarakat umum, karyawan dan perusahaan sendiri.

3.10. Pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan di PGKM

Program Bina Lingkungan adalah Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana BUMN. Pendanaan kegiatan Program Bina Lingkungan setiap tahunnya berasal dari saldo awal tahun, penerimaan alokasi laba/biaya, serta pendapatan bunga jasa giro/deposito serta pendapatan lainnya.

(36)

77

Dalam Program Bina Lingkungan BUMN Pembinaan sepenuhnya menjadi kewenangan Direksi baik dari alokasi perkegiatan sampai dengan penyalurannya. Berdasarkan wawancara dengan Manajer Pabrik Gula Kwala Madu, Ir.Modal Pencawan Perangin angin, bantuan yang disalurkan kepada masyarakat memiliki ruang lingkup sebagai berikut :

1. Bantuan korban bencana alam; Yaitu berupa bantuan materil seperti sembako dan obat- obatan seperti bantuan yang diberikan pada saat terjadi bencana angin puting beliung di tahun 1999 yang lalu pada masyarakat Desa Sambirejo termasuk karyawan Pabrik Gula Kwala Madu yang menjadi korban bencana angin puting beliung tersebut.

2. Bantuan pendidikan dan/atau pelatihan; yaitu dengan menyediakan tenaga pengajar di sekolah atau yayasan milik perkebunan seperti 11 orang yang terdiri dari 5 orang pria dan 6 orang wanita yang ditugaskan oleh pihak PTPN 2 untuk mengajar di sekolah PAB ( Persatuan Amal Bakti ) sedangkan di TK ( Taman Kanak-kanak ) milik PTPN 2 Pabrik Gula Kwala Madu, tenaga pengajar yang tersedia hanya 4 orang yang semuanya berjenis kelamin wanita. Fasilitas pendidikan tersebut juga dapat dinikmati oleh penduduk Desa Sambirejo mengingat jarak desa ini sangat dekat dengan lokasi yayasan milik PTPN 2 tersebut.

(37)

78

4. Bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana umum; Bantuan dalam hal ini berupa pengaspalan jalan utama menuju Pabrik Gula Kwala Madu, tetapi pada saat ini upaya pengaspalan jalan yang dilakukan oleh pihak PTPN 2 hanya sejauh 4 KM. Jalan aspal ini akan kita lalui jika kita masuk dari persimpangan Kebun Kwala Madu yang terletak di jalan lintas sumatera yang menghubungkan Kota Medan-Banda Aceh, tepatnya di km 36. Penduduk Desa Sidomulyo turut menikmati jalan aspal tersebut yang lokasi desa tersebut dilintasi oleh jalan aspal yang menuju ke area Pabrik Gula Kwala Madu, yang pengaspalannya dilakukan oleh pihak PTPN 2. Bantuan hal ini Menurut Pak Kaharuddin sebagai salah seorang informan saya yang juga merupakan Kepala Dusun 5 Desa Sambirejo mengatakan bahwa “ dengan adanya aspal yang mulus warga pun mudah untuk melintasi jalan di lingkungan ini, apalagi warga kami disini juga banyak yang jadi pedagang, makannya kalo lalu lalang di jalan yang bagus kan tentunya lebih mempermudah kegiatan usahanya “. Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh informan yang bernama Pak Kaharuddin tersebut maka saya sebagai peneliti dapat menyimpulkan bahwa secara tidak langsung pemeliharaan fasilitas umum seperti pengaspalan juga dapat mendukung kegiatan perekonomian yang tentunya tidak terlepas dari sarana pendukung seperti jalan raya dan transportasi umum.

(38)

79

komplek perumahan karyawan ( Emplasment ) dan juga pembangunan gereja di komplek perumahan karyawan.

6. Bantuan pelestarian alam; Penghijauan dengan penanaman pohon peneduh jalan dengan jenis pohon yang ditanam adalah pohon mahoni sebanyak 80 bibit, pohon rambutan sebanyak 50 bibit dan pohon buah matoa sebanyak 70 bibit dan seluruhnya ditanam di jalan protokol di kawasan Desa Sambirejo dan yang terakhir adalah,

7. Dalam hal peningkatan perekonomian masyarakat ada yang disebut sebagai bantuan sosial kemasyarakatan dalam rangka pengentasan kemiskinan. misalnya pemberian sembako dan uang tunai pada anak yatim yang tiap anak mendapat bantuan bingkisan yang berupa seperangkat busana muslim termasuk sajadah dan uang tunai sejumlah Rp. 80.000, jumlah anak yatim yang menerima bantuan tersebut pada saat syukuran giling juli 2015 yang lalu sebanyak 97 orang yang terdiri dari 42 anak laki-laki dan 55 anak perempuan yang mereka semuanya merupakan anak yatim bantuan tersebut diberikan pada hari-hari besar tertentu misalnya pada saat acara syukuran di Pabrik Gula Kwala Madu. Selain hal tersebut , pihak Pabrik Gula Kwala Madu juga memberikan secara ‘ door to door ‘ bantuan sembako kepada para jompo desa yang jumlahnya sekitar 80 orang, tiap individu mendapat bantuan berupa gula sebanyak 2 kg, 5 kg beras dan 2 kg minyak goreng. Bantuan tersebut merupakan wujud santunan perusahaan kepada anak yatim piatu dan jompo yang tinggal di kawasan Kebun Kwala Madu.

(39)

80

pelaksanaannya kegiatan dimaksud diberikan kepada masyarakat berdasarkan penilaian BUMN Pembina sesuai bentuk bantuan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

3.11. Pandangan Karyawan PGKM Mengenai Program Kemitraan Bina Lingkungan

Sejak Pabrik Gula Kwala Madu didirikan kewajiban mengenai PKBL sudah wajib diterapkan, walaupun seiring berjalannya waktu ada beberapa perubahan sesuai keputusan menteri lingkungan hidup. Sebagai seorang karyawan yang sejak tahun 1989 sudah bekerja di Pabrik Gula Kwala Madu, Pak Kemin ( 48 tahun ) layak dijadikan informan, terlebih lagi pak kemin merupakan mandor kolam limbah Pabrik Gula Kwala Madu yang bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup di sekitar area Pabrik Gula Kwala Madu. Menurut beliau “ Selama Pabrik Gula beroperasi kesadaran mengenai kesinambungan usaha sudah ada di benak para pihak manajemen PTPN 2 sehingga otomatis pelaksanaan CSR ataupun PKBL harus tepat sasaran dan optimal, artinya pelaksanaanya harus menyentuh kebutuhan dan tuntutan masyarakat setempat “. Desa yang menjadi target pemberdayaan adalah desa yang letaknya secara geografis berbatasan langsung dengan area Pabrik Gula Kwala Madu yakni Desa Sendang rejo dan Desa Sambirejo. Hal tersebut tentunya beralasan mengingat di lokasi desa ini banyak terdapat areal persawahan jika dibandingkan desa tetangganya yang bernama Desa Kwala Begumit, di Desa Kwala Begumit ini arealnya masih berstatus HGU ( Hak Guna Usaha ) PTPN 2 Unit Kebun Kwala Madu, sehingga penggunaan lahannya banyak digunakan untuk tanaman komoditi Kebun Kwala Madu yakni tanaman tebu.

(40)

81

Pabrik Gula Kwala Madu. Pak Yandri menuturkan, “ pembiayaan dilakukan oleh PTPN 2 dibantu oleh pemda setempat. Pembiayaan tersebut adalah untuk pipa irigasi yang dialirkan dari Instalasi Pengolahan Air Limbah ( IPAL ) Pabrik Gula Kwala Madu, air yang dapat mengaliri persawahan penduduk tersebut berasal dari air buangan kondensor “ yang menurut staf ahli di bagian laboratorium yang bernama Pak Suratman ( 50 tahun ) penggunaan air tersebut sebenarnya sangat efektif dan berguna bagi penduduk sekitar jika dimanfaatkan secara optimal. Pak Suratman menuturkan, “ air tersebut sudah diproses sedemikian rupa sehingga kandungan dalam air tersebut mengandung pupuk yang dapat menyuburkan tanaman penduduk di Desa Sambirejo dan Desa Sendang rejo, Oleh karena itu para petani di Desa Sambirejo yang paham akan program bina lingkungan ini pasti akan menyambut baik niat PTPN 2 dalam bermitra dengan penduduk setempat “.

3.12. Kegiatan Yang Mendukung Program Kemitraan Bina Lingkungan

Selain hal tersebut, pihak manajemen Pabrik Gula Kwala Madu memiliki program dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan, kegiatan yang dilakukan dalam program tersebut antara lain takjilan, yakni memberi bantuan berupa gula, teh, kopi kepada mesjid-mesjid yang berada di lingkungan Pabrik Gula Kwala Madu misalnya saja mesjid-mesjid-mesjid-mesjid yang berada di Desa Sambirejo dan Desa Sendang rejo. Selain hal tersebut, pihak Manajemen PGKM juga mengupayakan air buangan kondensor yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk desa di lingkungan Unit Pabrik / Kebun Kwala Madu.

(41)

82

tahun terakhir ini, air yang di pompa dari IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) Pabrik Gula Kwala Madu hanya dipompa pagi sampai sore saja, hal ini mengingat kebijakan manajemen Pabrik Gula Kwala Madu yaitu sebagai respon atas kerusakan generator di stasiun pompa air tersebut, sehingga pihak manajemen Pabrik Gula Kwala Madu sedang berusaha memperbaiki kerusakan tersebut, yakni memperbaiki mesin generator turbin yang ada di stasiun pompa air PGKM, dengan diupayakannya hal tersebut diharapkan dapat menambah daya dan energi untuk menyalurkan air ke saluran irigasi yang menuju ke persawahan milik penduduk di Desa Sambirejo dan Desa Sendang rejo.

(42)

83

Pada saat acara kenduri giling, anak yatim yang disantuni yang juga merupakan warga desa di lingkungan unit Pabrik / Kebun Kwala Madu, para anak yatim tersebut diantar dan dijemput menggunakan kenderaan perkebunan yang dimiliki oleh unit Pabrik Gula Kwala Madu, titik penjemputan para anak yatim tersebut ada di 2 desa atau kelurahan yaitu di Desa Kwala Begumit dan Desa Sambirejo sendiri yang merupakan desa yang terdekat jaraknya dari unit Pabrik / Kebun Kwala Madu. Wujud santunan tersebut berupa pembinaan mental dan pemberian hal yang bersifat materil. Pembinaan mental yang dilakukan pihak PGKM yaitu dengan membentuk kepribadian anak shaleh yang dijembatani oleh pihak MADASI ( Majelis Dakwah Syiar Islam ) melalui ceramah agama oleh ustadz atau guru agama yang diundang oleh pihak manajemen PGKM. Sedangkan pemberian santunan yang bersifat materil yakni kegiatan pemberian bantuan uang, kain sarung atau peralatan ibadah serta membagi-bagi makanan seperti nasi kotak, kue dan roti.

Selain mengundang para anak yatim / piatu, pihak manajemen Pabrik Gula Kwala Madu juga kerap mengundang para jompo atau manula yang tinggal di kawasan desa yang berada di lingkungan Pabrik Gula Kwala Madu, prosedurnya pun hampir sama dengan santunan anak yatim, mereka dindang oleh pihak PGKM dan diberi bantuan langsung dalam bentuk uang ataupun makanan.

(43)

84

Gula Kwala Madu, oleh karena itu tenaga kerja kontrak selama masa giling pun diutamakan selain warga sekitar, anak karyawan juga anak atau pemuda yang telah menjadi yatim / piatu.

3.13. Prinsip dan Aturan Dalam Pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan di Pabrik Gula Kwala Madu

Kebijakan mutu PG Kwala Madu

1. Berupaya memenuhi persyaratan pelanggan dan mematuhi peraturan dan perundangan serta persyaratan lain yang terkait dengan aspek mutu produk gula Kristal putih sesuai dengan RKAP ( Rencana Kerja Anggaran Perusahaan )

2. Melakukan peningkatan kinerja proses dan kualitas produk secara berkelanjutan untuk mencapai kepuasan pelanggan.

3. Berupaya menghasilkan produk yang ramah lingkungan melalui upaya efisiensi penggunaan bahan bakar dan energi berbasis sumber daya alam.

4. Berupaya meningkatkan kompetensi karyawan yang terkait dengan proses dan pengendalian mutu produk.

(44)

85

6. Berupaya menjaga lingkungan hidup yang lestari dan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar melalui program CSR ( Corporate Social Responsibility ) dan bina lingkungan.

(45)

86 BAB IV

IMPLIKASI PROGRAM KEMITRAAN BINA LINGKUNGAN

4.1. Dampak Yang Dirasakan Oleh Masyarakat Terhadap Pelaksanaan PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu

Setiap kebijakan atau tindakan manusia pasti memiliki implikasi terhadap lingkungan hidupnya baik secara langsung maupun tidak langsung, tergantung seberapa jauh upaya manusia tersebut untuk lebih memahami dan peka terhadap lingkungan sekitar, begitu juga dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan BUMN seperti PTPN 2 unit Pabrik Gula Kwala Madu, dari semua kebijakan tersebut pastilah ada yang berkenaan dengan lingkungan hidup, terlebih lagi letak Pabrik Gula Kwala Madu juga tidak begitu jauh dengan pemukiman penduduk. Masyarakat sekitar Pabrik Gula Kwala Madu sedikit atau banyak pasti mempunyai kesadaran akan hak dan kewajibannya terhadap perusahaan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya yang dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di sekitar Pabrik Gula Kwala Madu yaitu masyarakat Desa Sambirejo.

(46)

87

Madu yang dapat dinikmati langsung oleh penduduk setempat misalnya pengaspalan jalan protokol di Desa setempat, pembangunan rumah ibadah, sekolah ataupun penyediaan tenaga pengajar bagi anak-anak di wilayah Desa Sambirejo sebagai desa yang jaraknya terdekat dari area Pabrik Gula Kwala Madu.

4.2. Manfaat Diberlakukannya Program Kemitraan Bina Lingkungan di Pabrik Gula Kwala Madu

Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti kepada beberapa penduduk Desa Sambirejo yaitu salah satunya adalah Kepala Desa Sambirejo sendiri yakni Pak Kusnadi Manfaat dari Program Kemitraan Bina Lingkungan yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat yakni antara lain:

1. Lingkungan hidup yang lebih berkualitas karena adanya tindakan atau upaya meminimalisir dampak yang dapat ditimbulkan oleh limbah yang dihasilkan oleh Pabrik Gula Kwala Madu.

2. Adanya acuan dalam pengelolaan limbah tersebut, artinya ada semacam ketentuan yang disepakati bersama tentang ambang batas kadar limbah yang dapat ditoleransi ketika bersentuhan dengan lingkungan setempat.

Parameter Dasar yang Penting Untuk Kualitas Air Limbah :

- Nilai pH dari air limbah harus berkisar antara 6,0 sampai 10,5 - Temperatur tidak melebihi 35oC

(47)

88

- Konsentrasi zat warna dalam air limbah harus kurang dari nilai yang dapat menyebabkan perubahan warna pada IPAL umum.

- Nilai ambang batas untuk fenol dibuat rendah (0,025 mg/L air limbah) karena senyawa ini dapat menyebabkan rasa-sakit yang sangat susah dihilangkan selama pemurnian air. selain itu juga ada acuan ambang batas untuk zat lain seperti BOD = 60 mg/L. COD = 100 mg/L. H2S = 0,5 mg/L. TSS = 50 mg/L. ML = 5 mg/l

- Nilai ambang batas untuk senyawa yang menggunakan oksigen seperti natrium sulfit, garam besi (II) dan tiosulfat ditetapkan 50 mg/L air limbah.

Sumber : Dokumen sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008

3. Masyarakat merasa hak – hak nya diakui oleh perusahaan, sehingga masyarakat juga merasa memiliki Pabrik Gula Kwala Madu.

4. Dengan rasa memiliki tersebut diharapkan masyarakat dapat ikut merawat dan menjaga Pabrik Gula Kwala Madu.

5. Masyarakat turut menikmati fasilitas yang dibangun di lokasi unit usaha, hal ini dibuktikan dengan pengaspalan jalan utama menuju Pabrik Gula Kwala Madu sepanjang 4 KM yang melalui Desa Sidomulyo, sehingga penduduk Desa Sidomulyo dapat menikmati fasilitas pengaspalan tersebut.

(48)

89

Sedangkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh karyawan Pabrik Gula Kwala Madu yang diwakili oleh Pak Yandri Lubis sebagai Kepala Laboratorium sekaligus anggota panitia ISO di Pabrik Gula Kwala Madu yang tentunya paham tentang pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan yakni antara lain sebagai berikut :

1. Adanya kepuasan di dalam hati karena bisa meringankan beban orang lain mengingat penduduk Desa Sambirejo adalah penduduk yang bermukim di sekitar Pabrik Gula Kwala Madu.

2. Adanya rasa damai dan tenteram, karena dengan adanya kegiatan bina lingkungan maka karyawan Pabrik Gula Kwala Madu tidak merasa dimusuhi oleh masyarakat 3. Dengan berjalannya program bina lingkungan diharapkan reputasi perusahaan akan

semakin membaik sehingga secara otomatis akan mendongkrak produktifitas karyawan sehingga kehidupan karyawan semakin sejahtera.

4. Adanya rasa tenang yang dirasakan karyawan Pabrik Gula Kwala Madu terhadap kesinambungan usaha Pabrik Gula Kwala Madu, mengingat sebagian besar karyawan sadar akan pentingnya Program Kemitraan Bina Lingkungan sebagai salah satu upaya menciptakan situasi yang kondusif dalam menjalankan usaha yang berkesinambungan.

(49)

90

PTPN 2 yang dalam tugasnya salah satunya adalah bertanggung jawab terhadap monitoring dan evaluasi Program kemitraan bina lingkungan di Pabrik Gula Kwala Madu.

4.3. Pandangan Kelompok Tani Mengenai Program Kemitraan Bina Lingkungan

Menurut bapak kepala desa Sambirejo, di desanya ada sekitar enam belas kelompok tani yang keseluruhannya merupakan kelompok tani jenis tanaman pangan, hal ini dipertegas

karena mengingat ada beberapa lahan yang telah beralih fungsi dari tanaman pangan ( Padi-padian ) ke tanaman perkebunan seperti misalnya tanaman kelapa sawit, kakao, tebu

dan sebagainya. Areal persawahan yang dialiri oleh pipa saluran irigasi air buangan limbah Pabrik Gula Kwala Madu hanya berjumlah sekitar 12 kelompok tani saja yang areal sawahnya terkena dampak aliran buangan limbah PGKM, bagi kelompok tani yang areal persawahannya tidak dialiri air buangan limbah Pabrik Gula Kwala Madu disebabkkan karena sawah mereka letaknya terlalu jauh dari jalur saluran pipa utama air limbah sehingga karena debit air yang tidak begitu besar ditambah lagi tidak terawatnya bak penampungan air irigasi yang menyebabkan sirkulasi air irigasi tersebut kurang optimal untuk mengaliri saluran irigasi yang letaknya jauh dari saluran pipa utama.

Beberapa kelompok tani tersebut ada yang sudah ada sejak tahun 90-an antara lain kelompok tani yang diketuai oleh pak misno dan pak misman. “ Pipa saluran irigasi tersebut merupakan bantuan dari Negara Jepang saat awal pembangunan Pabrik Gula Kwala Madu di Kabupaten Langkat, oleh karena itu tidak mengherankan jika konstruksi saluran pipa irigasi tersebut terbilang sempurna, hanya saja setelah negara kita merdeka, kita lupa untuk merawatnya “ ujar pak misman.

(50)

91

persawahan milik penduduk saja, selain hal tersebut pihak Pabrik Gula Kwala Madu mempertimbangkan bahwa usulan warga tersebut ada benarnya, yakni karena pihak Pabrik Gula Kwala Madu merasa pipa saluran utama limbah buatan jepang tersebut sayang jika tidak dimanfaatkan secara optimal.

(51)

92

Pabrik Gula Kwala Madu sebagai pihak yang rutin menyuplai air irigasi ke persawahan milik penduduk Desa Sambirejo.

Kesadaran penduduk akan pentingnya keberadaan air irigasi yang dipompa oleh Pabrik Gula Kwala Madu tampak dalam pernyataan seorang petani yang bernama Tugimin, yakni seorang pria berusia 45 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai petani tanaman padi yang juga merupakan salah satu anggota kelompok tani. Pak tugimin sempat menyatakan dalam percakapannya dengan peneliti, “ Kami disini sudah terlanjur tergantung pada air irigasi dari PGKM, jadi seandainya stok air irigasi yang biasanya melimpah menjadi sedikit atau bahkan berhenti, maka kami sebagai petani merasa panik, karena kami sudah lama terbiasa dengan adanya bantuan air irigasi dari PGKM “, ujar Pak Tugimin.

(52)

93

4.4. Kesadaran Petani Terhadap Hak dan Kewajibannya Bagi Pabrik Gula Kwala Madu

Tiap manusia pasti memiliki kesadaran dalam menghadapi situasi tertentu termasuk di kala ia berhadapan dengan suatu resiko atau bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia itu sendiri yang dalam hal ini peneliti akan melihat respon masyarakat terhadap hak dan kewajibannya bagi Pabrik Gula Kwala Madu.

Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh peneliti, maka fenomena yang tampak adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai Program Kemitraan Bina Lingkungan ( PKBL ), hal tersebut tampak dalam hasil wawancara peneliti dengan Pak Kusnadi sebagai Kepala Desa Sambirejo, menurut beliau masyarakat di Desa Sambirejo ini tidak paham mengenai PKBL, apa itu PKBL dan apa pula manfaatnya. Pak Kusnadi mengatakan, “ Masyarakat disini masih terbilang minim pengetahuannya tentang PKBL, masalahnya semenjak saya menjabat sebagai kepala desa tidak pernah ada sosialisasi mengenai PKBL dari pihak pemerintah ke desa kami “ . Begitulah kira-kira tanggapan Pak Kusnadi terhadap kesadaran masyarakat Desa Sambirejo mengenai PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu.

(53)

94

mengatakan, “ kan jalan ini pun yang buka awalnya PTPN 2, kami pun harus tau diri lah kalau mau menetap disini dan tidak mau ribut dengan pihak dari PTPN 2 “.

4.5. Hambatan Dalam Pelaksanaan PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu

Di setiap program pembangunan termasuk program pemberdayaan yang dibuat oleh pemerintah pasti tidaklah selalu mulus, ada kendala dan hambatan yang kerap terjadi dalam proses jalannya suatu program pemerintah, seperti dalam implementasi Program Kemitraan Bina Lingkungan yang dilaksanakan di Pabrik Gula Kwala Madu. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa anggota kelompok tani, adapun kesimpulan yang didapat oleh peneliti mengenai hambatan dan kendala yang dihadapi baik dari pihak PTPN 2 maupun dari pihak masyarakat sekitar mengenai pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan adalah sebagai berikut :

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa karyawan yang dianggap layak untuk menjadi informan maka dibawah ini adalah beberapa kutipan tanggapan karyawan Pabrik Gula Kwala Madu tentang hambatan yang dirasakan dalam menjalankan atau menerapkan Program Kemitraan Bina Lingkungan. Dari pihak Pabrik Gula Kwala Madu, beberapa tanggapan karyawan mengenai hambatan yang dirasakan adalah :

Menurut Pak Yandri Lubis hambatan yang dirasakan pihak Pabrik Gula Kwala Madu dalam pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan adalah sebagai berikut :

(54)

95

ada juga beberapa karyawan yang menambahkan keluhan tentang hambatan yang dihadapi.

seperti halnya Pak Kliwon (37 tahun ) salah satu operator kolam limbah di PGKM, menurut Pak Kliwon :

2. “Anggaran dari pusat terbilang kurang untuk pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan di unit Pabrik Gula Kwala Madu ini “

Berbeda halnya dengan Pak kemin ( 48 tahun ), dalam hal ini Pak kemin yang juga merupakan mandor laboratorium yang ditugaskan di IPAL ( Instalasi Pengolahan air limbah)

3. “ Pengetahuan karyawan tentang pentingnya pelaksanaan CSR ataupun PKBL di Badan Usaha Milik Negara seperti di Pabrik Gula Kwala Madu ini sangat minim, sepertinya PKBL ini masih kurang populer ya? apalagi Jarak Desa Sambirejo jadi terasa jauh serta infrastruktur jalan yang kurang terawat menyebabkan sulitnya mobilitas antara karyawan Pabrik Gula Kwala Madu menuju ke pemukiman masyarakat Desa Sambirejo, dan yang terakhir adalah tidak adanya sumber daya manusia yang dikhususkan untuk memberikan pelatihan atau mengadakan promosi/pameran usaha kecil mitra binaannya. Jadi wajar saja kalo banyak yang bilang kurang optimal pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan di PGKM ini “

(55)

96

Sambirejo ) mana mau disuruh datang, kayak waktu pas ada pengajian di halaman pabrik, yang datang ya Cuma warga yang memang jadi karyawan di Pabrik sini “

Adapun dari pihak warga Desa Sambirejo hambatan yang dirasakan adalah. Dalam hal ini Pak Kusnadi ( 45 tahun ) selaku Kepala Desa Sambirejo mewakili warga sekitar mencoba mengidentifikasi hambatan yang dirasakan penduduk dalam merespon Program Kemitraan Bina Lingkungan di Pabrik Gula Kwala Madu, berikut tanggapan Pak Kusnadi :

5. “ Kurangnya sosialisasi dari pemerintah terhadap penduduk Desa Sambirejo mengenai pentingnya pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan, sehingga penduduk pun menjadi kurang kritis dalam mengidentifikasi kebutuhan mereka, Jarak yang jauh serta infrastruktur jalan yang kurang terawat menyebabkan sulitnya mobilitas antara warga Desa Sambirejo menuju ke kawasan Pabrik Gula Kwala Madu, sehingga kami malas untuk bekeluh kesah kesana dan sering tidak ditanggapi oleh pihak PGKM saran dari petani disini, apalagi masyarakat di Desa Sambirejo masih terlalu sedikit yang paham mengenai Program Kemitraan BUMN, hanya terbatas pada kepala desa dan kepala dusun saja yang lumayan paham tentang PKBL ini “

(56)

97

7. Pak Misman sebagai salah seorang ketua kelompok tani mengatakan, “Pihak pabrik

kurang inisiatif, harus diminta warga dulu baru dilakukan, padahal kan mereka ( PGKM ) tahu kami disini sangat butuh air irigasi itu “.

Dari beberapa tanggapan diatas, baik dari pihak karyawan Pabrik Gula Kwala Madu maupun dari masyarakat Desa Sambirejo tampak ada beberapa kemiripan jawaban mengenai pandangan mereka dalam melihat hambatan yang ada, hal ini menunjukkan adanya kesamaan permasalahan yang dihadapi bersama yakni misalnya saja baik dari pihak karyawan Pabrik Gula Kwala Madu maupun dari pihak masyarakat Desa Sambirejo mengeluhkan tentang infrastruktur yang buruk dan minimnya sosialisasi sehingga masyarakat dan karyawan Pabrik Gula Kwala Madu belum terlalu menyadari pentingnya pelaksanaan CSR yang optimal akibat kurangnya wawasan di bidang CSR ataupun PKBL tersebut.

Berdasarkan adanya hambatan tersebut sudah selayaknya pihak masyarakat Desa Sambirejo maupun pihak karyawan PTPN 2 mengevaluasi dan introspeksi terhadap kelalaian maupun ketidakpedulian terhadap permasalahan yang dihadapi terutama yang menyangkut CSR atau PKBL di lingkungan Pabrik Gula Kwala Madu.

4.6. Analisis Antropologis Terhadap Pelaksanaan PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu

(57)

98

(58)

99

(59)

100

(60)

101

4.7. Harapan Pihak Kelompok Tani Kepada PTPN 2

Setiap masyarakat mempunyai harapan, termasuk masyarakat Desa Sambirejo. Hanya saja harapan itu tidak semuanya dapat direalisasikan begitu saja, mengingat adanya kebijakan dan kesepakatan yang mengikat tiap anggota masyarakat. Dari hasil wawancara peneliti terhadap beberapa anggota kelompok tani di Desa Sambirejo maka dapat diketahui bahwa masyarakat Desa Sambirejo berharap agar pemerintah atau dalam hal ini adalah pihak Pabrik Gula Kwala Madu agar lebih tanggap dan memiliki kesadaran tentang kegiatan bina lingkungan seperti pembangunan saluran irigasi yang telah dilakukan oleh Pemda Langkat bekerja sama dengan pihak PT. Perkebunan Nusantara 2 ( Persero ), lebih tanggap dalam hal ini maksudnya adalah PTPN 2 hendaknya memiliki kesadaran lebih dalam memperhatikan kesejahteraan petani terutama yang menyangkut air irigasi yang dipompakan dari IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) Pabrik Gula Kwala Madu artinya tanpa harus diminta terlebih dahulu oleh masyarakat hendaknya PTPN 2 memiliki inisiatif atau ide cemerlang yang dapat menciptakan situasi yang kondusif sehingga konflik yang bersifat vertikal dapat terhindarkan.

(61)

102

BAB V

Kesimpulan dan Saran

1.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di lokasi penelitian yang telah dijelaskan dalam bagian pembahasan sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. CSR dalam bentuk pengelolaan lingkungan seperti halnya PKBL di BUMN seperti

PTPN 2 adalah penting, sejalan dengan isu lingkungan hidup seperti ISPO ( International Sustainable Palm Oil ) dan permasalahan yang berhubungan dengan

limbah industri yang sudah semakin mengkhawatirkan.

(62)

103

menyediakan koordinator agama yang membawahi beberapa guru madrasah maupun pengurus kegiatan keagamaan seperti bilal mayit dan pengurus mesjid yang manfaatnya juga dapat dirasakan langsung oleh penduduk di sekitar Pabrik Gula Kwala Madu.

(63)

104 1.2 Saran

Berdasarkan penjelasan hasil penelitian lapangan pada pembahasan di atas maka saran yang diberikan oleh peneliti adalah :

1. Pemerintah harus lebih memperhatikan sarana dan fasilitas di area Pabrik Gula Kwala Madu karena minimnya upaya perbaikan jalan menyebabkan masyarakat dari kedua belah pihak ( Karyawan PTPN 2 dan warga Desa Sambirejo ) sulit untuk berinteraksi dan bertukar pendapat.

2. Dalam setiap perencanaan yang berkaitan dengan lahan dan sumber daya setempat maka peran serta masyarakat harus diperhitungkan, artinya masyarakat harus diajak duduk bersama dalam membicarakan permasalahan yang dihadapi bersama antara pihak PTPN 2 dan masyarakat Desa Sambirejo.

3. Pemerintah harus menyediakan tenaga sosialisasi lapangan dalam mensosialisasikan mengenai pentingnya pelaksanaan PKBL yang ideal agar pihak karyawan dan pihak masyarakat wawasannya terbuka mengenai pentingnya pelaksanaan PKBL.

4. Masyarakat desa harus lebih proaktif dalam mengevaluasi setiap kebutuhan dan permasalahan yang ada terutama yang menyangkut lahan pertaniannya. Mengingat kegiatan bertani merupakan tumpuan hidup sebagian besar penduduk Desa Sambirejo.

(64)

105

6. Akhirnya baik dari pihak PTPN 2 maupun dari pihak masyarakat Desa Sambirejo harus lebih tanggap dan bijak dalam menghadapi segala bentuk perubahan yang ada terutama yang menyangkut pemanfaatan lingkungan dan energi.

7. Jika PTPN 2 dalam pelaksanaan PKBL paham dan memiliki komitmen dalam melakukan pendekatan yang lebih bersifat partisipatoris, maka kemungkinan munculnya hambatan yang bersifat sosial-kultural dapat diminimalisir artinya masyarakat dituntut untuk lebih proaktif dalam mencari potensi-potensi yang dengan diketahui potensi masyarakat tersebut, diharapkan keinginan dari pihak masyarakat secara umum dapat terwakili dengan baik.

(65)

34

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Lokasi Pabrik Gula Kwala Madu jauh dari keramaian penduduk dan lokasi bahan baku yaitu perkebunan tebu yang berada cukup dekat disekitar pabrik, dengan luas areal penanaman tebu seluas 6706,47 Ha dimana areal perkebunan tanaman tebu yang hasilnya akan diangkut ke Pabrik Gula Kwala Madu meliputi:

1. Kwala Madu : 1.966,10 Ha 2. Distrik Tb/P3GI : 6,0 Ha 3. Tandem Hilir : 1100,00 Ha 4. Tandem : 96,60 Ha

5. Kwala Bingai : 1684,90 Ha 6. T. Jati : 424,16 Ha

7. Batang Serangan : 85,00 Ha

(66)

35

Nusantara II memiliki 31 Unit Usaha Kebun. Kebun-kebun ini berfungsi sebagai penggerak jalannya perusahaan. Unit kebun yang termasuk ke dalam unit usaha PTPN II antara lain seperti :

Tabel 2.1. Wilayah Kerja PTPN 2

Distrik rayon utara Distrik rayon tengah Distrik Tembakau

1. Kebun Sei Serdang 1. Kebun Padang Brahrang 1. Kebun Helvetia 2. Kebun Sei Musam 2. Kebun Besilam/ Bukit

Lembasa

2. Kebun Kwala Bingei

3. Kebun Air Tenang 3. Kebun Bukit Lawang 3. Kebun Tandem Hilir 4. Kebun Batang Serangan 4. Kebun Maryke 4. Kebun Tandem Hulu 5. Kebun Sawit Hulu Selatan 5. Kebun Tanjung Keliling 5. Kebun Bulu Cina 6. Kebun Sawit Hulu Utara 6. Kebun Bekiun 6. Kebun Klumpang 7. Kebun Babalan 7. Kebun Gohor Lama

8. Kebun Sawit Seberang 8. Kebun Tanjung Beringin

Distrik Tebu Distrik Rayon Selatan

1. Kebun Kwala madu 1. Kebun Patumbak 2. Kebun Sei Semayang 2. Kebun limau mungkur

(67)

36 5. Kebun Bandar Klippa

Sumber : www.PTPN2.com

Fokus perhatian peneliti adalah pada Kebun Kwala Madu, disebabkan di lokasi kebun inilah terletak Pabrik Gula Kwala Madu ( PGKM ). Unit kebun yang termasuk ke dalam distrik rayon utara merupakan unit kebun yang membudidayakan komoditi tanaman keras seperti kelapa sawit dan karet. Seluruh unit kebun yang tergabung ke dalam distrik rayon tengah bekerja sama dengan PT. Kepong Berhard Plantantion yang merupakan perusahaan milik Malaysia. Seluruh unit kebun yang tergabung ke dalam distrik tebu dan distrik tembakau membudidayakan komoditi tanaman musiman seperti tanaman tebu dan tembakau. Demikian uraian singkat mengenai unit kebun di PTPN 2.

2.1.Sejarah Singkat Perusahaan

Figur

Gambar 1 : Plang kantor Kebun /
Gambar 1 Plang kantor Kebun . View in document p.12
Gambar 3 : Salah satu rumah dinas asisten
Gambar 3 Salah satu rumah dinas asisten . View in document p.12
Gambar 7 : Plang yang berada di halaman
Gambar 7 Plang yang berada di halaman . View in document p.13
Gambar 6 : Seorang bocah yang sedang
Gambar 6 Seorang bocah yang sedang . View in document p.13
Tabel 2.1. Wilayah Kerja PTPN 2
Tabel 2 1 Wilayah Kerja PTPN 2 . View in document p.66
Tabel 2.2. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan
Tabel 2 2 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan . View in document p.70
Tabel 2.3. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan
Tabel 2 3 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan . View in document p.71
Tabel 2.4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jumlah
Tabel 2 4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jumlah . View in document p.77
Tabel 2.5.  Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Tabel 2 5 Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan . View in document p.79
Tabel 2.6. Komposisi Penduduk Menurut  Mata Pencaharian
Tabel 2 6 Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian . View in document p.84

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Tanggung Jawab Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Deskripsi Program Kemitraan Bina Lingkungan Latar Belakang Program Kemitraan Bina Lingkungan Dasar Hukum Pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan Manfaat Program Kemitraan Bina Lingkungan Secara Umum Manager Pabrik Tugas dan Kewajiban Kepala Dinas Teknik Tugas dan Kewajiban Layout Pabrik Gula Kwala Madu Latar Belakang Dibentuknya PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu Latar Belakang SMM ISO 9001 : 2008 di Pabrik Gula Kwala Madu Pelaksanaan Program Kemitraan Bina Lingkungan di PGKM Pandangan Karyawan PGKM Mengenai Program Kemitraan Bina Lingkungan Kegiatan Yang Mendukung Program Kemitraan Bina Lingkungan Dampak Yang Dirasakan Oleh Masyarakat Terhadap Pelaksanaan PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu Manfaat Diberlakukannya Program Kemitraan Bina Lingkungan di Pabrik Pandangan Kelompok Tani Mengenai Program Kemitraan Bina Lingkungan Kesadaran Petani Terhadap Hak dan Kewajibannya Bagi Pabrik Gula Kwala Hambatan Dalam Pelaksanaan PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu Analisis Antropologis Terhadap Pelaksanaan PKBL di Pabrik Gula Kwala Madu Harapan Pihak Kelompok Tani Kepada PTPN 2 Kesimpulan Saran IMPLIKASI PROGRAM KEMITRAAN BINA LINGKUNGAN Deskripsi Topografi Letak dan Keadaan Geografis POTENSI SUMBER DAYA ALAM DESA SAMBIREJO Bahasa Deskripsi interaksi Penduduk Taraf Pendidikan Penduduk IMPLIKASI PROGRAM KEMITRAAN BINA LINGKUNGAN Sarana Jalan Sarana Kesehatan Latar Belakang Masalah IMPLIKASI PROGRAM KEMITRAAN BINA LINGKUNGAN Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Rumusan Masalah Batasan Masalah Lokasi Penelitian Tinjauan Pustaka IMPLIKASI PROGRAM KEMITRAAN BINA LINGKUNGAN Limbah Bagasse Ampas Limbah Blotong Padat Limbah Cair Metode Penelitian .Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data .Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data