• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH KOTA SUBULUSSALAM.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SEJARAH KOTA SUBULUSSALAM."

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH KOTA SUBULUSSALAM

SKRIPSI

Diajukan untukmemenuhi syarat memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan

OLEH :

Eva Susanti Bako

NIM: 3122121004

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

EVA SUSANTI BAKO. NIM.3122121004. SEJARAH KOTA SUBULUSSALAM. SKRIPSI S-1 JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH. FAKULTAS ILMU SOSIAL. UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah Kota Subulussalam, untuk mengetahui kondisi dan perkembangan Kota Subulussalam sebelum dan setelah menjadi ibukota. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Subulussalam. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan dari skripsi ini digunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dimana data diperoleh dari lapangan yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Data juga diperoleh dari hasil wawancara dengan para tokoh yang mengetahui tentang sejarah dan perkembangan dari Kota Subulussalam, selain itu data juga diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil penelitian, peneliti dapat mengetahui tentang sejarah Kota Subulussalam. Pertama, pada masa masih menjadi kecamatan, ibukota Kecamatan Simpang Kiri adalah Runding. Letak daerah Runding yang berada ditepi sungai soraya sering terjadi banjir tahunan sehingga ibukota kecamatan runding dipindahkan ke Bustamiyah yang berjarak 6 Km dari Runding, tetapi bangunan yang sempat dibangun tidak sempat ditempati karena masyarakat yang tinggal disekitar daerah itu sangat sedikit. Selanjutnya daerah yang dipilih menjadi ibukota Kecamatan Simpang Kiri adalah Simpang Empat karena kebetulan berada di antara Runding, Penanggalan, Mekem, dan Belegen hingga pada tahun 1963 gubernur Aceh Ali hasyim mengganti nama Simpang Empat menjadi Subulussalam. Dalam perkembangannya, selain dari perubahan nama juga terjadi perubahan jumlah penduduk, luas wilayah, transportasi dan lainnya. Kedua, hasil temuan peneliti dalam perkembangan Subulussalam yaitu terjadinya perubahan bangunan, mata pencaharian, transportasi dan jumlah penduduk.

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa

atas segala anugerah yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis. Dan hanya

melalui penyertaan-Nya penulis dimampukan menyelesaikan skripsi ini dengan

judul “Sejarah Kota Subulussalam”.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih

jauh dari kesempurnaan, baik dari cara penulisannya, penggunaan tata bahasa

bahkan dalam penyajiannya. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati

penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Begitu banyak

pihak yang terlibat mendukung dalam penulisan sehingga penulis mampu

menyelesaikan skripsi ini. Oleh sebab itu penulis sepatutnya mengucapkan

terimakasih yang sebesar-besarnya, antara lain kepada:

 Ibunda tercinta Maimunah Anakampun. Beliau adalah pahlawan terhebat

dalam hidup penulis. Terima kasih untuk kasih sayang, pengorbanan, serta

dukungan yang selalu diberikan. Semoga Allah SWT memberikan

kesehatan, umur yang panjang dan ketenangan jasmani maupun rohani.

Dan tak lupa juga kepada saudara penulis Sarinah Bako, Muhadi

Sembiring, Rohidah Bako, Sabar Menanti Tarigan, Rahmat Bako, Rahma,

Aisyah Bako, Kasino Bako, Nasrudin Bako, Pakuraji Bako, Dan terkhusus

adikku M.Riski Padli Bako yang bersedia menemani penulis dalam

(7)

iii

 Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri

Medan.

 Ibu Dra. Nurmala Berutu, M.Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial.

 Bapak Drs. Yushar Tanjung, M.Si selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Sejarah sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Akademik penulis.

Terimakasih untuk bimbingan dan semua masukan yang telah Bapak

berikan yang sangat membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Semoga Bapak selalu sehat dan diberkati oleh Allah.

 Ibu Dra.Lukitaningsih, M.Hum selaku Dosen Pembimbing Skripsi penulis.

Terimakasih untuk arahan serta bimbingan yang selalu diberikan kepada

penulis selama masa perkuliahan.

 Bapak Drs. Ponirin, M.Si selaku Dosen penguji yang banyak memberi

inspirasi bagi peneliti

 Bapak Syahrul Nizar Saragih, M.Hum,MA selaku Dosen penguji atau

pembanding bebas yang banyak memberi inspirasi bagi peneliti.

 Seluruh staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial Unimed khususnya Jurusan

Pendidikan Sejarah yang selama ini telah mentransferkan ilmunya dengan

senang hati kepada penulis.

 Terimakasih kepada semua informan yang telah membantu, bersedia

meluangkan waktu, dan menyumbangkan pemikirannya kepada penulis.

 Terima kasih kepada Ibu Latifah dan Bapak Joka karena telah membantu

dan meluangkan waktu kepada penulis dan juga yang telah mengajak

(8)

iv

 Sahabat-Sahabat penulis yang tersayang di Five Girls (Lastrika Debora

Marbun, Jelita Simbolon, Sister Togatorop Dan Dewi Sihaloho).

Terimakasih untuk persahabatan kita.

 Teman satu kelas penulis Reguler A 2012. Terima kasih untuk

persahabatan selama perkuliahan kita. Serta untuk bang Arby Tanjung

 Terimakasih kepada M.Reza Pahlepi Bancin yang telah memberikan

semangat dan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

 Teman-Teman PPL SMKN 2 Balige, Maya Tamba, Rugun Purba,Erlika,

Banila, Okto, Addo, Clara, dan lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu .

sebutkan satu persatu. Terimakasih buat kekeluargaan yang terjalin selama

ini.

 Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan. Terimakasih untuk setiap

motivasi serta canda tawa yang selalu menghibur penulis dalam

pengerjaan Skripsi ini.

Medan, Juli 2016

(9)
(10)

vi

3.3.2 Data Sekunder ... 25

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 25

3.5 Teknik Analisis Data ... 26

BAB IV. PEMBAHASAN ... 28

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 28

4.1.1 Kondisi Geografis ... 28

4.1.2 Jumlah Penduduk ... 33

4.1.3 Mata Pencaharian ... 36

4.1.4 Sistem Kepercayaan ... 39

4.1.5 Kesehatan ... 40

4.2 Sejarah Kota Subulussalam ... 44

4.2.1 Awal Terbentuknya Kota Subulussalam ... 44

4.3 Perkembangan Kota Subulussalam ... 51

4.3.1.Subulussalam Sebelum Menjadi Ibukota ... 51

4.3.1.1 Masa Transmigrasi ... 51

4.3.1.2 Mata Pencaharian ... 55

4.4 Subulussalam Setelah Menjadi Ibu Kota ... 57

(11)

vii

DAFTAR TABEL

Table 4.1 Luas Kecamatan, Jumlah Kemukiman dan Jumlah desa Per Kecamatan

Dalam Kota Subulussalam ... 30

Tabel 4.2 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin diperinci menurut kecamatan dalam kota Subulussalam ... 33

(12)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Pemberian makan ikan nila oleh Bapak Joka ... 56

(13)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Peta Subulussalam

Lampiran 2 : Pedoman Wawancara

(14)

1 1.1 Latar Belakang

Kota merupakan pusat pemukiman dan kegiatan masyarakat, memiliki

batasan wilayah administrasi yang sifatnya non agraris, orang-orang didalamnya

bersifat individualis. Kota erat kaitannya dengan desa dimana kota merupakan

hasil dari perkembangan desa. Seperti yang kita tahu bahwa pada awalnya

kota-kota merupakan desa dan tempat bermukim para petani, peternak, nelayan dan

lain-lainnya. Mereka saling berhubungan, berkomunikasi dan berinteraksi.Tahap

terbentuknya kota mengalami proses yang sangat panjang, tidak terlepas dari

berbagai proses kultural dari masyarakat sehingga melahirkan sebuah kota.

Hal ini dapat di baca dalam Mirsa (2012:13) mengatakan bahwa kota

merupakan suatu daerah yang memiliki wilayah batas administrasi dan bentang

lahan luas, penduduk relatif banyak, adanya heterogenitas penduduk, sektor

agraris sedikit atau bahkan tidak ada dan adanya suatu sistem pemerintahan.

Desa memberikan kemungkinan kepada masyarakat untuk

melangsungkan kehidupan karena luasnya lahan yang dapat diolah, masyarakat

desa kebanyakan hidup sebagai petani. Selain bercocok tanam, beternak, menjala

ikan dan lainnya, desa juga digunakan sebagai tempat menjalin pergaulan maupun

(15)

2

Tidak seperti di kota, desa masyarakat masih bebas untuk menanam

berbagai jenis tanaman seperti sayur-sayuran, padi, jagung, ubi dan lain

sebagainya. Segala hasil yang di olah oleh masyarakat desa biasanya di salurkan

ke tempat yang mampu menampung hasil desa yaitu kota. Kota juga berjasa

karena memproduksi barang-barang yang dibutuhkan oleh penduduk desa di

sekitarnya, sebaliknya kota juga mengkonsumsi bahan yang dihasilkan pedesaan.

Biasanya perdagangan antar desa kota banyak yang merupakan hasil dari

desa-desa terdekat dengan kota, yang paling utama yaitu hasil pertanian yang

disalurkan ke kota dengan lancar sehingga warga kota dapat mengkonsumsi

sayur-mayur dan buah-buahan yang masih segar yang biasanya di dapat

masyarakat kota melalui pasar.

Faktor yang menyebabkan lahirnya permukiman berupa kota diakibatkan

karena telah cukupnya bahan pangan yang dihasilkan oleh pedesaan. Dengan

sendirinya ada orang-orang yang terbebaskan dari pekerjaan mengolah tanah.

Masyarakat mulai hidup dari kegiatan non-agraris, misalnya dagang, transportasi.

Salah satu faktor pemicu lainnya adalah perkembangan teknologi yang serba

cepat. Tidak hanya dari teknologi, dikota jugalah berkembang kebudayaan umat

manusia. Hal ini bisa kita lihat pada tingginya keterampilan teknis,

berkembangnya gagasan manusia, majunya berbagai bidang kesenian dan

(16)

3

(administratif). Kita dapat menjumpai kota-kota kecil yang pada umumnya adalah

ibukota kabupaten atau kecamatan. Setingkat lebih tinggi adalah kotamadya

(kotapraja), yang sejajar dengan daerah otonom tingkat II.

Kota Subulussalam adalah salah satu daerah pemerintahan kota yang

berada di wilayah barat Provinsi Aceh. Kota Subulussalam berkembang cukup

pesat dalam segala bidang dan merupakan pusat dari kegiatan masyarakat yang

saat ini terletak di Kecamatan Simpang Kiri. Karena pada hakikatnya ibukota

merupakan suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan pusat

permukiman dan kegiatan penduduk, serta sebagai pusat aktivitas manusia yang

meliputi pusat pemerintahan, pusat perekonomian dan lainnya.

Sawit merupakan hasil perkebunan yang paling menonjol dari Kota

Subulussalam dan merupakan salah satu ikon atau ciri khas dari kota tersebut.

Sehingga para pedatang yang baru berkunjung dapat mengetahui bahwa potensi

utama kota ini adalah sawit. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi,yaitu adanya

kenyataan bahwa masing-masing kota mempunyai potensi dan fungsi-fungsi yang

berbeda-beda. Hal ini lebih banyak bersangkut paut dengan latar belakang

historikal, cultural, fisikal, kemasyarakatan, ekonomi dan lainnya yang saling

berkaitan dan bersama-sama memberi warna terhadap suatu kota tertentu. (Yunus

(17)

4

yang paling popular adalah melalui jalur air. Sungai Soraya ramai di kunjungi

karena selain melintasi Rundeng, juga melintasi gelombang, kota Cane atau

bahkan melewati Aceh Tenggara. Seiring dengan perkembangan jaman ibukota

mengalami beberapa kali pergantian wilayah, dimulai dari Rundeng kemudian

pindah ke Bustaniyah dan Simpang Empat yang kemudian diganti nama menjadi

Bandar Baru. Hingga pada tanggal 14 September oleh Gubernur aceh yang pada

saat itu di jabat oleh Prof.Ali Hasyimi mengganti nama Simpang Empat menjadi

Subulussalam atau “jalan menuju kedamaian”.

Seiring dengan perkembangan zaman, jalur transportasi Kota

Subulussalam berubah melalui jalur darat. Majunya transportasi merupakan suatu

faktor utama yang mengakibatkan berkembangnya suatu kota sehingga

memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan kota. Secara

geografis Kota Subulussalam pada zaman dulu banyak kita jumpai sungai-sungai

besar seperti sungai Lae Soraya yang merupakan sungai besar yang melintasi Kota

Subulussalam di batas barat kota, sungai Lae Kombih yang membentang dari

timur ke barat kota,sungai Lae Batu-Batu mengalir melintasi Kecamatan Sultan

Daulat dan Kecamatan Rundeng, sungai Lae Belegen yang mengalir dari

Kecamatan Simpang Kiri menuju Kecamatan Rundeng dan bermuara di sungai

(18)

5

pembangunan jalan dilakukan mulai dari awal pemekaran sampai sekarang ini.

Pada awal pemekaran kota Subulussalam tahun 2007 panjang jalan kota

subulussalam sekitar 269,26 jalan yang didata peningkatan pembangunan sudah

mulai di tingkatkan. Sudah banyak kendaraan yang diguanakan masyarakat dalam

berlalu-lalang melintasi Kota Subulussalam, sarana transportasi mulai di

tingkatkan baik transportasi antar kota, transportasi antar kota ke desa maupun

angkutan antar provinsi .

Menno dan Alwi (2012:18) menjelaskan bahwa jika dilihat dari segi fisik

kota-kota merupakan suatu pemukiman yang menpunyai bangunan-bangunan

yang jaraknya antara satu dengan yang lainnya relatif rapat serta memiliki

sarana-sarana dan prasarana-sarana - prasarana-sarana serta fasilitas-fasilitas yang memadai untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari warganya. Sarana, prasarana dan fasilitas di

perkotaan antara lain jalan, air minum, penerangan, sarana ibadah, pertokoan,

pasar, lembaga dan bangunan pemerintahan, rekreasi, olahraga, peribadatan,

listrik, lembaga-lembaga yang mengatur kehidupan bersama warganya,

pendidikan dan lain-lain.

Kota Subulussalam memiliki luas daerah yang sangat besar mencapai

139.100 hektar, pada pertengahan tahun 2008 jumlah penduduknya berkisar

(19)

6

berbagai latar belakang etnis diantaranya Etnis Singkil (boang), etnis Batak

(Pak-pak), etnis Aceh, Etnis Alas,Minang dan Jawa menjadikan kota ini sebagai kota

yang multi etnis.

Dalam komunikasi sehari-hari penduduk Kota Subulussalam

menggunakan bahasa daerah yaitu Bahasa Boang dan Bahasa Pak-pak.

Mempunyai lingkungan sosial tersendiri, segala tingkah laku dan pola hidup yang

dilalui memiliki ciri sendiri karena letak geografis juga mempengaruhi segala

tingkah laku pada masyarakat. Seperti yang kita tahu bahwa banyak kota yang ada

sekarang mempunyai fungsi sebagai pusat perdagangan tetapi dulunya kota

tersebut berfungsi sebagai pusat keagamaan atau pusat pemerintahan. Perubahan

fungsi tersebut sejalan dengan makin majunya fasilitas-fasilitas perkotaan yang

ada dan kemajuan teknologi. Hal ini dapat kita lihat dari makin majunya teknik di

bidang komunikasi dan transportasi.

Pada masa sekarang inikebanyakan kota-kota yang ada mempunyai fungsi

jamak (multi function city). Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai

kegiatan-kegiatan yang beraneka seperti kegiatan politik, kegiatan sosial, kegiatan

ekonomi, kegiatan budaya yang pada umumnya berpusat pada umumnya berpusat

(20)

7 identifikasi masalah adalah sebagai berikut :

a. Sejarah berdirinya Kota Subulussalam.

b. Perkembangan Kota Subulussalam sebelum dan sesudah menjadi ibukota .

1.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah berdirinya Kota Subulussalam?

2. Bagaimana Perkembangan Kota Subulussalam sebelum dan sesudah

menjadi ibukota?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan maslah diatas maka yang menjadi tujuan peneliti ini

adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Kota Subulussalam.

2. Untuk mengetahui Perkembangan Kota Subulussalam sebelum dan

sesudah menjadi ibukota.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

(21)

8

3. Memperkaya impormasi bagi masyarakat khususnya Kota Subulussalam

untuk mengetahui perkembangan Kota Subulussalam sebelum dan sesudah

menjadi ibukota.

4. Memperkaya informasi bagi akademisi UNIMED, khususnya jurusan

pendidikan sejarah untuk dapat kiranya mengetahui dan memahami

(22)

68

Sejarah Kota Subulussaam, dari awal hingga sampai saat ini adalah sejarah

yang begitu panjang, dimulai pada saat Subulussalam merupakan hutan belantara

yang memiliki penduduk yang jarang. Awalnya penduduk yang pertama sekali

mendiami Subulussalam yaitu Suku pak-pak yang di bentuk saat adanya

pemukiman, bertambahnya penduduk melalui program transmigrasi hingga

berkembang seperti saat ini menjadi Kota Subulussalam.

Nama kota subulussalam diberikan oleh gubernur Aceh yang bernama

Prof.Ali Hasymi yang berasal dari salah satu kata dari sebuah ayat Al-qur’an yaitu

surah Al-maidah ayat 16 yang berarti “jalan menuju keselamatan”.

Kota Subulussalam merupakan suatu daerah yang sangat strategis, ibukota

terletak di empat simpang menuju ke empat kecamatan lain yaitu berada di

kecamatan Simpang Kiri dan menuju kecamatan longkip, kecamatan Sultan

Daulat, kecamatan runding . Kota ini merupakan daerah hasil pemekaran dari

kabupaten Aceh Singkil yang baru 9 tahun, tepatnya tanggal 2 januari 2007. Kota

Subulussalam terbentuk dengan keluarnya undang-undang RI Nomor 8 tahun

2007.

Pada saat pembentukan pada tahun 2007, Kota Subulussalam terdiri dari 5

(23)

69

Transportasi membuat Kota Subulussalam mengalami perkembangan yang

begitu pesat. Fasilitas-fasilitas yang ada di Kota Subulussalam berdatangan untuk

mencari pekerjaan, memanfaatkan sarana transportasi. Hal ini membuat kota

Subulussalam terus tumbuh dan berkembang seiring berkembangnya zaman.

Pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi membuat kota Subulussalam semakin

padat, berbagai etnis berkumpul menjadi satu mulai dari suku Pak-pak, jawa,

Aceh, minang dan lainnya.

5.2 Saran

Selama melakukan penelitian dan dalam penulisan skripsi ini, peneliti

mendapatkan berbagai kendala dalam beberapa hal, seperti terbatasnya data-data

pendukung yang menuliskandan mencantumkan tentang Kota Subulussalam.

Dengan bagitu peneliti menyarankan kepada lembaga-lembaga yang mengurusi

masalah tersebut untuk menambah, mengusahakan dan mencari sumber-sumber

yang berhubungan dengan Kota Subulussalam. Agar kedepannya, jika ada

penelitian lanjutan atau para peneliti yang ingin meneliti Kota Subulussalam.dapat

memperoleh hasil yang benar-benar objektif.

Hal yang paling penting adalah perhatian pemerintah Kota

Subulussalam.yang sangat kurang terhadap sejarah daerahnya sendiri dan

(24)

70

masyarakat dan pemerintah agar saling bekerja sama untuk memajukan

(25)

71

Angka.2014.

BPS (Badan Pusat Statistic) Kota Subulussalam.Pembangunan Kota Subulussalam 2015.

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan 2012.Buku Pedoman Penulisan Skripsi dan Proposal Penelitian Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah.

Basundoro, Purnawan,(2012),Pengantar Sejarah Kota.Ombak:Yogyakarta

Bintarto, R, (1983), Interaksi desa-kota dan Permasalahannya.Ghalia Indonesia:Jakarta

Daldjoeni, N, (1998), Geografi Kota dan Desa. Penerbit Alumni:Bandung

Menno S, Alwi Mustamin, (1992), Antropologi Perkotaan.CV Rajawali: Jakarta

Yunus, S. Hadi, (2009), Klasifikasi Kota.Pustaka Pelajar:Yogyakarta

Mirsa, Rinaldi, (2012),Elemen Tata Ruang Kota.Graha Ilmu:Yogyakarta

Sugiharto, (2008 ),Pembangunan Dan Pengembangan Wilayah.USU Press:Medan

Kartodidjo,sartono, (1977),Masyarakat Kuno dan Kelompok-Kelompok Sosial.bhratara karya aksara: Jakarta

Rahmad, (2013), Sejarah Kota Kisaran,Unimed Press: Medan

Sugiyono (2013),Metode Penelitian Pendidikan.Alfabeta:Bandung

Sjamsudddin,helius (2012),Metodologi Sejarah,Ombak:Yogyakarta

Tanjung,flores,dkk (2010) Dairi Dalam Kilatan Sejarah.Perdana Publishing: Medan

Sahmudin,2010,Kelompok Etnik Boang Di Subulussalam Provinsi Nangroe Aceh

(26)

72

Tahun 2014.Jakarta: Kantor Pusat Kementrian Pertanian.

Tjiptoherijanto (1997). Migrasi Urbanisasi Dan Pasar Kerja Di

Gambar

Table 4.1 Luas Kecamatan, Jumlah Kemukiman dan Jumlah desa Per Kecamatan
Gambar 1 : Pemberian makan ikan nila oleh Bapak Joka ...................................

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian uji hipotesis menggunakan nilai posttest pada kelas kontrol dan eksperimen menunjukkan signifikasi sebesar 0,008<0,05, yang artinya terdapat pengaruh

[r]

Economic value added (EVA) merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dengan cara mempertimbangkan biaya atau modal yang telah

The ability of k­Means and FCM to classify the tissue classes present in the real MR images is

Untuk menghitung perbedaan yang timbul dalam perhitungan penghasilan kena pajak maka akan dilakukan koreksi fiskal terhadap laporan laba rugi komersial sehingga akan

REKAPITULASI DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN BELANJA LANGSUNG MENURUT PROGRAM DAN KEGIATAN SATUAN KERJA PERANGKAT

baginda Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai suri teladan terbaik dan tiada tandingannya, melalui beberapa kisah atau cerita yang dapat diberikan dalam

Pelaksanaan penelitian dilakukan setelah alat ukur tersusun dengan baik, kemudian peneliti menyebarkan dua skala secara bersamaan yaitu skala Quality of Work Life