PERAN KOMISI YUDISIAL DALAM REFORMASI PERADILAN DI INDONESIA MENURUT HUKUM ISLAM
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)
Disusun Oleh:
Tsuaibatul Aliah (107045202136)
JURUSAN SIASAH S
AR’IYAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
MENURUT HUKUM ISLAM
Skripsi
Di ajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syari‟ah (S.Sy)
Oleh :
Tsuaibatul Aliah NIM : 107045202136
Di bawah Bimbingan
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Asmawi, M.Ag. Dedy Nursamsi, SH, M.Hum.
NIP. 197210101997031008 NIP. 196111011993031002
KONSENTRASI SIYASAH SIYASYAH PROGRAM STUDI JINAYAH SIYASYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi berjudul PERAN KOMISI YUDISIAL DALAM REFORMASI PERADILAN DI INDONESIA MENURUT HUKUM ISLAM telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah
Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta pada 20 September 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Syari‟ah (S.Sy) pada Program Studi Siyasah Syar‟iyyah.
Jakarta, 20 September 2011
Mengesahkan
Dekan Fakultas Syari‟ah dan Hukum
Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM NIP. 195505051982031012
PANITIA UJIAN
1. Ketua : Dr. Asmawi, M. Ag
NIP. 197210101997031008
2. Sekretaris : Afwan Faizin, M. Ag
NIP. 197210262003121001
3. Pembimbing I : Dr. Asmawi, M. Ag NIP. 197210101997031008
4. Pembimbing II : Dedy Nursamsi, SH, M.Hum NIP. 196111011993031002
5. Penguji I : Prof. Dr. H. Masykuri Abdillah NIP. 195812221989031001
6. Penguji II : Afwan Faizin, M. Ag
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan untuk memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan
hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 20 September 2011
i
Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kepada ALLAH SWT. Yang
telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini,
shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Serta keluarganya
dan sahabatnya serta kepada kita semua seluruh umatnya, mudah-mudahan kita semua
mendapatkan syafa‟at beliau dihari akhir nanti. Amin.
Salah satu syarat untuk menyelesaikan studi untuk mencapai Gelar Sarjana Starata Satu
(S1) di perguruan tinggi termaksud di Universitas Islam Negeri “Syarif Hidayatullah” Jakarta
adalah membuat karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Dalam rangka itu penulis membuat
skripsi dengan judul: PERAN KOMISI YUDISIAL DALAM REFORMASI PERADILAN DI INDONESIA MENURUT HUKUM ISLAM.
Dalam penulisan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis hadapi.
Namun syukur Alhamdulillah berkat Rahmat dan hidayah Nya, kesungguhan dan kerja keras
disertai dukungan dan bantuan dari pihak baik langsung maupun tidak langsung, segala
kesulitan serta hambatan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya yang pada akhirnya skripsi ini
dapat diselesaikan.
Oleh sebab itu pada kesempatan kali ini penulis akan mengucapkan terima kasih yang
ii
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH. MA. MM. Dekan Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Asmawi, M. Ag, dan Bapak Afwan Faizin, MA. Selaku Ketua Program Studi
dan Sekertaris Program Studi Jinayah Siyasah Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Asmawi, M. Ag, dan Bapak Dedy Nursyamsi, SH, M. Hum. Selaku Dosen
Pembimbing yang telah banyak memberikan inspirasi, saran dan arahannya dalam
membimbing peulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Teristimewa ucapan terima kasih ini dihanturkan untuk kedua orang tuaku; Ayahanda H.
Akhmad Kabir dan Mamahanda Hj. Mukhlisatul. Ulum. Yang tak henti-hentinya selalu
memberikan dukungan moril, dan do‟anya.
5. Adik-adik, Om, Tante, dan Tunanganku. Yang selalu memberikan dukungan dan
do‟anya.
6. Bapak Nur Habibi Ilya‟ SHI, Mh. Yang selalu memberikan masukkan, saran, dan bimbingannya dalam penulisan skripsi ini.
7. Bapak/Ibu pimpinan Perpustakaan Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitasnya
kepada penulis untuk menunjang penelitian dalam mengadakan studi perpustakaan.
8. Bapak/Ibu pimpinan Perpustakaan Nasional, dan Perpustakaan Komisi Yudisial. Yang
telah memberikan kesempatan dan fasilitasnya kepada penulis untuk menunjang
iii
9. Bapak Agus sektor 4 (empat) dan Ibu Wati Seksi Humas di Komisi Yudisial. Yang telah
memberikan kesempatan waktu untuk bisa wawancara dalam penambahan data skripsi
penulis.
10.Untuk sahabat-sahabatku di kostan maupun di Luar, Ratna, Ulfa, Ta‟a, Ade, Dewi, Bela, Uli, Martha, Fiqih, Syifa, Lela, Windy. Yang selalu memberi saran dan dorongannya
yang baik moril maupun intelektualitas dalam menunjang skripsi.
11.Untuk Teman-teman seperjuangan di Siyasah Syar‟iyyah (SS) Angkatan 2007 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Yang banyak sekali saran dan dorongan yang
diberikan baik moril maupun intelektualitas dalam menunjang skripsi.
Semoga amal dan kebaikan mereka senantiasa mendapatkan balasan rahmat dari Allah
S.W.T. Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh
dari sempurna, baik dari segi pembahasan persoalan yang ada maupun dipenyajian
materi. Oleh karena itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun
untuk perbaikan skripsi ini. Akhirnya harapan penulis tidak lain adalah agar skripsi ini
dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.
Jakarta, 20 September 2011
Penulis,
iv DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan dan Pembatasan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penalitian ... 8
D. Tinjauan Pustaka ... 8
E. Metode Penelitian ... 10
F. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II PERADILAN DALAM ISLAM A. Sejarah Peradilan Islam ... 13
B. Fungsi Peradilan Islam ... 28
C. Tugas dan Kewenangan Lembaga Peradilan dalam Islam ... 31
D. Konsep Pengawasan Hakim dalam Peradilan Islam ... 32
BAB III KOMISI YUDISIAL DALAM REFORMASI PERADILAN DI INDONESIA A. Reformasi Peradilan di Indonesia... 35
B. Pembentukan Komisi Yudisial ... 41
C. Pelembagaan Komisi Yudisial di Indonesia ... 50
v
BAB IV ANALISA HUKUM ISLAM TENTANG PERAN KOMISI YUDISIAL DALAM REFORMASI PERADILAN
A. Analisa Hukum Islam Terhadap Reformasi Peradilan ... 64
B. Analisa Hukum Islam Terhadap Komisi Yudisial ... 77
C. Menerangkan hubungan antara rumusan Undang-undang Nomor 22
Tahun 2004 dan Ketatanegaraan Islam... 83
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 95
B. Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 98
Universitas Islam Negeri
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan, bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara hukum. Kaidah ini mengandung makna, bahwa
hukum di Negara Indonesia ditempatkan pada posisi strategis di dalam konstelasi
ketatanegaraan. Suatu konsekuensi logis bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai
Negara hukum adalah terjaminnya kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menjalankan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia Tahun 1945.
Upaya kearah independensi kekuasaan kehakiman tersebut dilakukan dengan cara : (1)
penataan ulang perundang-undangan yang berlaku; (2) mengadakan penataan ulang lembaga
yudisial; dan (3) meningkatkan kualifikasi hakim. Reformasi di bidang hukum yang terjadi
sejak tahun 1998 tersebut pada akhirnya telah dilembagakan melalui pranata perubahan UUD
1945. Disamping perubahan yang menyangkut kelembagaan penyelenggaraan
kekuasaan-kekuasaan kehakiman, amandemen UUD 1945 telah mengintroduksi pula suatu lembaga
Negara baru yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang disebut
Komisi Yudisial (selanjutnya disebut KY).1
1
Salah satu amanat reformasi adalah amandemen terhadap UUD 1945 yang sudah
demikian rapuh dan tidak lagi mampu menjawab semua persoalan masyarakat. Dan tuntutan
itu termanifestasi dengan amandemen UUD 1945 sebanyak empat kali yang ternyata telah
mengubah secara serius dan substansial ketatanegaraan Indonesia. Mafia berjalan beriringan
dengan rusaknya moral sebagia besar hakim yang ternyata telah meretakkan sendi
perekonomian bangsa Indonesia. Kita hidup di abad para maling yang bersekongkol dengan
para hakim yang tidak memiliki komitmen moral sedikitpun untuk memberantas seluruh
kejahatan di negeri ini. Pascareformasi, kerusakan moral para pejabat Negara berbarengan
dengan kerusakan moral para hakim yang menjual hukum dengan transaksi ynag semakin
“gila” di pengadilan.mafia peradian adalah bentuk dari resistensi moral yang semakin retak,
hati yang semakin beku dan kepedulian yang semakin meragukan dari sebagian aparatur
hukum kita.
Akibat dari pintalan-pintalan persoalan yang seperti inilah yang menyebabkan Komisi
Yudisial harus ada dan “wajib” diberi kewenangan yang besar untuk mengontrol prilaku
hakim yang nakal dan suka memanipulasi kebenaran. Kewenangan-kewenangan yang
dimiliki oleh Komisi ini harus merepresentasikan sebagai lembaga yang merevitalisasi dan
mengembalikan keborokan moral para hakim yang terlalu jauh melanggar etik hukum dan
mencederai makna kebebasan dan otonomi moral yang dimilikinya. Komisi Yudisial adalah
penjaga sekaligus pemegang urat nadi moral hakim supaya tidak nakal, dan hakim itu bukan
hanya hakim dalam lingkungan pengadilan tinggi dan pengadilan negeri, sebagaimana
bukanlah hakim sebagaimana yang disebutkan dalam UUD, tetapi juga adalah Hakim
Konstitusi dan Hakim Agung.
Komisi Yudisial muncul adalah untuk menjaga otonomi moral hakim, mendorong
progresivitas keputusan dari aparat hukum. Aparat hukum diharapkan untuk menjaga moral
para hakim ini, karena hakim dianggap telah terlalu jauh melanggar etika dan moral
individunya. Karena kode etik hakim tidak mampu mengontrol dan mereduksi rusaknya
moral hakim, maka Komisi Yudisial harus menjadi tembok untuk menjaga moral hakim
tersebut.2
Pembaharuan peraturan perundang-undangan di bidang peradilan merupakan salah satu
langkah yang perlu ditempuh untuk membangun kembali lembaga peradilan Indonesia.
langkah dan upaya penting yang lain dalam rangka menyinergikan reformasi peradilan di
Indonesia adalah dengan pembentukan sebuah lembaga yang bernama Komisi Yudisial
melalui Perubahan Ketiga Undang Dasar 1945 (Pasal 24B) dan Pengesahan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.3
Dalam konteks inilah, UUD1945 Pasal 24B pada satu sisi memberikan amanat pada
Komisi Yudisial, sebagai komisi yang diberi mandat melakukan seleksi calon hakim agung
dan mengawasi jalannya proses penegakan hukum yang selalu menimbulkan persoalan dalam
pelaksanaannya.
Transformasi dan reformasi peradilan dengan segala dampak positif dan konstruktifnya
bagi penciptaan peradilan yang jujur, bersih, transparan dan akuntabel, merupakan prasyarat
2
Fajlurrahman, Jurdi, Komisi Yudisial dari Delegitimasi hingga Revitalisasi Moral Hakim, (Jakarta: PUKAP, 2007), Cet. Pertama, hlm. 29,105-108.
3
tegaknya hukum diatas kepatuhan atas nilai-nilai agama, etika, dan moral. Hanya dengan
peradilan yang seperti ini – yang ini menjadi agenda besar Komisi Yudisial sekarang dan kedepan- maka korupsi dan illegal logging serta pelanggaran hukum HAM berat akan dapat diproses melalui peradilan dengan dimulai dari proses penyelidikan, penyidikan, dakwaan,
tuntutan hingga putusan yang bernafas pada hokum progresif, yang memiliki muatan-muatan
moralitas keberpihakan pada rakyat dan penyejahteraan masyarakat, memerangi korupsi dan
menuju pada good governance serta clean government.4
Ketentuan-ketentuan internasional yang berkaitan dengan gagasan kekuasaan yang
merdeka (independent judiciary) tidak melarang adanya peran pihak eksekutif (pemerintah)
dalam perekrutan hakim (agung) dengan syarat-syarat tertentu.
Sementara itu, Deklarasi Universal tentang kemerdekaan (kekuasaan) kehakiman ini pada
prinsipnya tidak melarang adanya keterlibatan pihak kekuasaan pemerintah dalam proses
perekrutan hakim.
Salah satu ketentuan internasional yang memberikan apresiasi terhadap kehadiran Komisi
Yudisail dalam proses perekrutan hakim adalah : Beijing Statement of Principles of the Independent of the Judiciary in the Law Asia Region.
Beijing Statement of Principles of the Independent of the Judiciary in the Law Asia
Region menggarisbawahi bahwa didalam masyarakat yang mengenal Judicial Service Commission, pengangkatan hakim-hakim oleh, dengan persetujuan, atau setelah berkonsultasi terlebih dahulu dengan Judicial Service Commission dianggap sebagai
4
mekanisme untuk menjamin bahwa hakim-hakim yang terpilih adalah hakim-hakim yang
pantas atau sesuai untuk tujuan-tujuan yang akan dicapai.
Obyek pertama penelitian ini adalah lembaga yang di Indonesia dikenal dengan nama
Komisi Yudisial. Dewasa ini diskursus tentang Komisi Yudisial diberbagai belahan dunia
masih sangat aktual, karena Komisi Yudisial merupakan kecenderungan (trend) yang terjadi di abad ke-20 sebagai bagian dari paket reformasi peradilan.5
Dalam Islam, sebagaimana kita ketahui bahwa dalam salah satu prinsip dasar dari sistem
Negara Islam adalah Negara Hukum. Sebagai Negara Hukum, maka tegaknya keadilan
merupakan suatu kewajiban yang harus diwujudkan didalam kehidupan bernegara, ketentuan
masalah ini telah diatur dalam al-Qur‟an dan Hadits.
Kemudian untuk mewujudkan hukum yang adil, tidak mungkin dicapai tanpa adanya
lembaga peradilan (Yudikatif) yang berfungsi untuk melaksanakan semua ketentuan hukum
yang konsekuen. Karenanya kehadiran lembaga yudikatif dalam sistem Negara Islam
merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, sejak awal kehadiran Negara
Islam, lembaga yudikatif ini telah ada dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Peradilan telah lama dikenal sejak dari zaman purba dan dia merupakan satu kebutuhan
hidup bermasyarakat. Tidak dapat suatu pemerintahan tanpa adanya peradilan. Karena
peradilan itu adalah untuk menyelesaikan segala sengketa diantara para penduduk.
Peradilan ini adalah suatu tugas suci yang diakui oleh seluruh bangsa, baik mereka
tergolong bangsa-bangsa yang telah maju ataupun belum.didalam peradilan itu terkandung
menyeluruh ma‟ruf dan mencegah munkar, menyampaikan hak kepada yang harus
5
menerimanya dan menghalangi orang yang zalim daripada berbuat aniaya, serta mewujudkan
perbaikan umum. Dengan peradilanlah dilindungi jiwa, harta dan kehormatan. apabila
peradilan tidak terdapat dalam suatu masyarakat, maka masyarakat itu menjadi masyarakat
yang kacau balau.6
Pada masa pemerintahan Rasulullah dan Khulafah rassyidun, kegiatan peradilan itu
dilakukan oleh individu yang secara khusus diserahi kewenangan hukum atau sebagai hakim
untuk penunjukkan Muadz bin Jabal dan Ali bin Abi Thalib untuk bertindak sebagai hakim
di wilayah Yaman pada masa Rasulullah, atau penunjukkan Abu Darda sebagai Hakim
Madinah, Syuaraih untuk wilayah Basrah, dan Abu Musa Al-Asy‟ari untuk daerah Kufa pada masa Umar bin Khatab. Seiring dengan perkembangan dan semakin kompleksnya kehidupan
manusia, penyerahan kekuasaan kepada individu tertentu untuk melaksanakan tugas
peradilan dianggap tidak lagi memadai.
Dimungkinkan bahwa proses peradilan atau upaya mewujudkan keadilan dan
memberikan perlindungan hukum itu terlaksana dengan baik melalui individu yang diberi
kewenangan hukum, namun aspek efektifitas, spesialisasi, tertib administrasi, dan kepastian
hukum akan lebih memungkinkan jika dilakukan melalui lembaga peradilan. Suatu lembaga
yang secara khusus dibentuk untuk melaksanakan fungsi yudisial. Oleh karena itu, pasca
pemerintahan Rasulullah dan Khulafah rasyidun, pelaksanaan fungsi yudisial itu tidak lagi
dijalankan oleh individu yang secara khusus ditunjuk oleh Khalifah tetapi melalui lembaga
peradilan yang kemudian dikenal dengan nama al-nidham al-madhalim, yakni suatu lembaga
6
yang bertugas memberikan penerangan dan pembinaan hukum, menegakkan hukum, dan
memutus perkara.7
Dengan adanya Deklarasi Universal, ketentuan internasional (Beijing Statement of Principles of the Independent of the Judiciary in the Law Asia Region), dan ketetapan dalam
Undang-Undang serta dalam al-Qur‟an tentang lembaga yudikatif ataupun yudisial, maka
penulis memilih judul: “Peran Komisi Yudisial dalam Reformasi Peradilan di Indonesia Menurut Hukum Islam”.
B. Perumusan dan Pembatasan Masalah
Sejauh mengenai isu Komisi Yudisial dalam reformasi Peradilan dapat diidentifikasi
sejumlah masalah yang harus dijawab/diteliti, antara lain, yaitu:
1. Bagaimana konsep Peradilan dalam hukum Islam?
2. Bagaimana konsep Reformasi Peradilan di Indonesia?
3. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap peran Komisi Yudisial dalam reformasi
Peradilan?
Dengan mengacu kepada identifikasi masalah diatas, penelitian ini menjadikan masalah
yang terakhir sebagai fokus masalahnya, yakni bagaimana pandangan hukum Islam terhadap
peran Komisi Yudisial dalam reformasi Peradilan?.
Dalam studi ini, isu Komisi Yudisial dibatasi pada aspek reformasi Peradilan, yakni
dalam hal ini, yang menjadi fokus kajian ialah UU Komisi Yudisial, UU Peradilan di
Indonesia, dan hukum Islam.
7
C. Tujuan dan Manfaat Penalitian
1. Tujuan Penelitian
Secara umum, studi ini bertujuan, pertama, merumuskan dan menjelaskan tentang Komisi Yudisial, dan kedua, merumuskan dan menjelaskan tentang bagaimana pandangan hukum Islam tentang Komisi Yudisial. Secara spesifik, studi ini bertujuan:
a) Menjelaskan konsep Peradilan dalam hukum Islam;
b) Menjelaskan konsep reformasi Peradilan di Indonesia;
c) Menjelaskan pandangan hukum Islam terhadap peran Komisi Yudisial;
2. Manfaat penelitian
Adapun signifikasi penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a) Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi penulis,
pembaca, serta masyarakat tentang peran Komisi Yudisial dalam reformasi
Peradilan di Indonesia menurut hukum Islam.
b) Hasil penelitian ini diharapkan punya nilai signifikan bagi upaya transformasi
hukum Peradilan Islam kedalam tata hukum Peradilan di Indonesia.
c) Hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi Fakultas Syari‟ah dan Hukum pada
umumnya, serta konsentrasi Siyasah Syar‟iyyah pada khususnya, adalah untuk
menambah referensi tentang peran Komisi Yudisial dalam reformasi Peradilan di
Indonesia menurut hukum Islam.
D. Tinjauan Pustaka
Sejumlah penelitian tentang topik Komisi Yudisial telah dilakukan, baik yang mengkaji
Komisi Yudisial. Berikut ini paparan tinjauan umum atas sebagian karya-karya penelitian
tersebut.
Karya Fajlurrahman Jurdi yang berjudul “Komisi Yudisial dari Delegitimasi hingga
Revitalisasi Moral Hakim”. Penelitian ini menjelaskan tentang Negara Hukum Indonesia,
Reformasi parlement Indonesia dan pengaruhnya, otonomi moral hakim Mahkamah Agung
dan kehadiran Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial, delegitimasi
atas Komisi Yudisial, menuju revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004, dan Komisi
Yudisial atau Mahkamah Yudisial.8
Karya Bunga Rampai Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan yang berjudul “Komisi Yudisial Republik Indonesia”. Penelitian ini menjelaskan Komisi Yudisial dalam mosaic
ketatanegataan kita, Komisi Yudisial pengawal reformasi pengadilan, peran hakim Agung
dalam penemuan hukum (Rechtsvinding) dan penciptaan hukum (Rechtsschepping), hakim Agung dan penemuan hukum, Komisi Yudisial yang dicita-citakan masyarakat, sinkronisasi
sistem perundang-undangan lembaga peradilan dalam menciptakan peradilan yang lebih
baik.9
Karya Titik Triwulan Tutik yang berjudul “Eksistensi, Kedudukan dan Wewenang
Komisi Yudisial Sebagai Lembaga Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945”. Penelitian ini menjelaskan Upaya kearah independensi
kekuasaan kehakiman tersebut dilakukan dengan cara : (1) penataan ulang
perundang-undangan yang berlaku; (2) mengadakan penataan ulang lembaga yudisial; dan (3)
8
Fajlurrahman Jurdi, Komisi Yudisial dari Delegitimasi hingga Revitalisasi Moral Hakim, (Jakarta: PUKAP, 2007), Cet. Pertama, hlm. i.
9
meningkatkan kualifikasi hakim. Reformasi di bidang hukum yang terjadi sejak tahun 1998
tersebut pada akhirnya telah dilembagakan melalui pranata perubahan UUD 1945.
Disamping perubahan yang menyangkut kelembagaan penyelenggaraan
kekuasaan-kekuasaan kehakiman, amandemen UUD 1945 telah mengintroduksi pula suatu lembaga
Negara baru yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang disebut
Komisi Yudisial (selanjutnya disebut KY).10
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian skripsi ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan normatif. Adapun
dengan pendekatan normatif diharapkan dapat menemukan data akurat yang dibutuhkan
tentang Komisi Yudisial RI terutama yang berkaitan dengan Undang-Undang Komisi
Yudisial.
2. Tehnik Pengumpulan Data
Penulis dalam penelitian ini menggunakan tehnik studi dokumenter, yakni tehnik
penelitian dengan penelusuran dokumen, dengan mengadakan kajian, menelaah, dan
menelusuri literature yang berkenaan dengan masalah yaitu berupa buku, majalah, koran, artikel, dan lain-lain. Dengan metode ini penulis berusaha mengungkap peran Komisi
Yudisial dalam reformasi Peradilan di Indonesia menurut hukum Islam.
Sedangkan untuk memperoleh data yang berkenaan dengan judul penelitian, penulis
menggunakan metode pengumpulan data yang bersumber sebagai berikut: (a) data primer:
data ini dikumpulkan secara langsung dari buku-buku, Undang-undang yang berkaitan,
10
al-Qur‟an dan Hadits, dan juga dengan sumber primer masalah yang ingin dibahas oleh penulis; (b) data sekunder: data ini dikumpulkan dari artikel-artikel,jurnal ilmiah, serta
ditambah dengan komentar orang mengenai peran Komisi Yudisial dalam reformasi
Peradilan di Indonesia menurut hukum Islam.
3. Tehnik Analisis Data
Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif. Peneliti
mencoba melakukan perbandingan diantara data-data yang terkumpul dalam penelitian ini.
4. Tehnik Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis mengacu pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi
Fakultas Syari‟ah dan Hukum yang diterbitkan oleh Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2007”.
F. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis membagi masalah kedalam beberapa bab yang pada
dasarnya menjadi suatu kesatuan yang saling berkesinambungan agar lebih memperjelas dan
mempertajam arah pembahasan materi yang sedang diteliti. Adapun sistematika penulisan
dari isi ringkasan bab demi bab dalam skripsi ini dibagi menjadi 6 (enam) bab. Bab petama
berisi “pendahuluan”. Di dalam bab ini diuraikan pokok-pokok pikiran yang melatar
belakangi penelitian ini, yang diorganisir menjadi 6 (enam) sub-bab, yaitu (1) latar belakang
masalah, (2) perumusan dan pembatasan masalah, (3) tujuan dan manfaat penelitian, (4)
tinjauan pustaka, (5) metode penelitian, dan (6) sistematika pembahasan.
Bab kedua berjudul “Peradilan dalam Hukum Islam”. Bab ini menyajikan uraian
diposisikan sebagai optik atau pisau analisis dalam rangka menyoroti konstruksi hukum
Peradilan Islam. Bab ini terdiri atas 3 (tiga) sub-bab utama, yaitu (1) Sejarah Peradilan Islam,
(2) Fungsi Peradilan Islam, (3) Konsep Pengawasan Hakim dalam Peradilan Islam.
Bab ketiga berjudul “Komisi Yudisial dalam Reformasi Peradilan di Indonesia”. Dalam
bab ini diuraikan analisis dengan pemikiran konsep Komisi Yudisial yang dipandu dengan
konsep Reformasi Peradilan di Indonesia. Sehingga dapat diperjelas dengan Undang-undang
Komisi Yudisial dan Undang-undang Peradilan. Bab ini menyajikan 4 (empat) sub-bab
utama, yaitu (1) Reformasi Peradilan di Indonesia, (2) Pembentukan Komisi Yudisial, (3)
Pelembagaan Komisi Yudisial di Indonesia, (4) Tugas dan Kewenangan Komisi Yudisial.
Bab keempat berjudul “Analisa Hukum Islam tentang Peran Komisi Yudisial dalam Reformasi Peradilan”. Dalam bab ini juga diuraikan analisis dengan menerapkan pemikiran
konsep hukum Islam yang dipandu dengan konsep peran Komisi Yudisial, serta konsep
Peradilan. Sehingga akan menghasilkan analisa hukum Islam tentang peran Komisi Yudisial
dalam reformasi Peradilan. Bab ini menyajikan 2 (dua) sub-utama, yaitu (1) Pandangan
Hukum terhadap Reformasi Peradilan, dan (2) Pandangan Hukum terhadap Komisi Yudisial.
Bab kelima merupakan “Penutup”, yang memuat kesimpulan dan saran. Dalam bab ini
disajikan pokok-pokok penelitian yang dihasilkan dan konstelasinya dengan komunitas
Universitas Islam Negeri
13
PERADILAN DALAM ISLAM
A. Sejarah Peradilan Islam
Kata “peradilan” berasal dari kata “adil”, dengan awalan “per” dan imbuhan “an”. Kata “peradilan” terjemahan dari “qadha”, yang berarti “memutuskan”, “menyelesaikan”. Dan
umumnya kamus tidak membedakan antara peradilan dengan pengadilan.11
Dalam Islam peradilan disebut qadha artinya menyelesaikan, seperti firman Allah:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni'mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni'mat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (Q.S. al-Ahjab: 37)
Ada juga yang berarti menunaikan seperti firman Allah SWT :
11
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. al
-Jumu‟ah: 10)
Kata “Peradilan” menurut istilah ahli figh adalah sebagai berikut: (a) Lembaga hukum
(tempat dimana seseorang mengajukan mohon keadilan), (b) Perkataan yang harus dituruti
yang diucapkan oleh seseorang yang mempunyai wilayah hukumn atau menerangkan hukum
agama atas dasar harus mengikutinya.
Dari pengertian tersebut membawa kita pada kesimpulan bahwa tugas peradilan berarti
menampakkan hukum agama, tidak tepat bila dikatakan menetapkan suatu hukum. Karena hukum itu sebenarnya telah ada dan dalam hal yang dihadapi hakim. Bahkan dalam hal ini
kalau hendak dibedakan dengan hukum umum, dimana hukum Islam itu (syariat) telah ada
sebelum manusia ada. Sedang hukum umum baru ada setelah manusia ada. Sedangkan hakim
dalam hal ini hanya menerapkan hukum yang sudah ada itu dalam kehidupan, bukan
menetapkan sesuatu yang belum ada.12
Peradilan memiliki dasar hukum yang bersumber dari firman Allah SWT. Surat Shad
(38) ayat 26, yaitu:
12
“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
Firman Allah SWT dalam Surat al-Maidah (5) ayat 49:
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”13
Dari kedua dalil di atas jelaslah bahwa sebenarnya peradilan merupakan kebutuhan yang
telah ditetapkan dasar hukumnya melalui al-Qur‟an. Dalam peradilan terdapat rukun-rukun yang harus ditetapkan, yaitu: (1) Hakim, yaitu orang yang diangkat oleh penguasa untuk menyelesaikan dakwaan-dakwaan, karena penguasa tidak mampu melaksanakan sendiri
semua tugas itu, (2) Hukum, yaitu suatu keputusan produk qadhi, untuk menyelesaikan
perselisihan dan memutuskan persengketaan, (3) Al-Mahkum bih, yaitu hak, kalau pada qadha al-ilzam, yaitu penetapan qadhi atas tergugat, dengan memenuhi tuntutan penggugat
apa yang menjadi haknya, sedangkan qadha al-tarki (penolakan) yang berupa penolakan atas
13
gugatannya, (4) Al-Mahkum „alaih, yaitu orang yang dijatuhi putusan atasnya, (5) Al-Mahkum lah, yaitu penggugat suatu hak yang merupakan hak manusia semata-mata.14
Kemudian selain dalil yang diatas, ada hadits pula yang menjadi dasar bagi keharusan
adanya qadha, bahkan menunjukkan kepada kepentingan banyak, diantaranya:
“Apabila seseorang hakim berijtihad dan tepat ijtihadnya, maka dia memperoleh dua pahala. Dan apabila dia berijtihad tetapi ijtihadnya itu salah, maka dia memperoleh satu pahala.”
Dalam fiqih Islam ada tiga bentuk wilayah peradilan, yaitu: (1) Wilayah al-Qadha, yaitu
lembaga peradilan dengan kekuasaan menyelesaikan berbagai kasus, disebut juga peradilan
biasa, (2) Wilayah al-Mazalim, yaitu lembaga peradilan yang menangani berbagai kasus
penganiayaan pengusa terhadap rakyat dan penyalahgunaan wewenang oleh penguasa dan
perangkatnya, (3) Wilayah al-Hisbah, yaitu lembaga peradilan yang menangani berbagai kasus pelanggaran moral dalam rangka amar ma‟ruf nahi munkar.15
Kemudian kata sulthanah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti pemerintahan. Dalam kamus al-Munawir sama dengan al-Qudrah yang berarti kekuasaan, kerajaan, pemerintahan.16
Menurut Lois Ma‟luf dalam kamusnya Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A‟lam berarti al-malik al-qudrah, yakni kekuasaan pemerintah.17 Sedangkan Al-qadhaiyyah berarti putusan,
14
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 13-14.
15
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 15.
16
penyesaian perselisihan, atau peradilan. Kekuasaan yang berkaitan dengan peradilan dan
kehakiman. Secara terminology, berarti kekuasaan untuk mengawasi atau menjamin jalannya
proses perundang-undangan sejak penyusunannya sampai pelaksanaannya serta mengadili
perkara perselisihan, baik yang menyangkut perkara perdata maupun pidana. Dalam bahasa
Indonesia, istilah ini dikenal dengan nama kekuasaan yudikatif.18
Dalam sejarah ketatanegaraan Islam, ketiga badan kekuasaan Negara yaitu Sultah Tanfiziyyah (kekuasaan penyelenggara undang-undang), Sultah Qadhaaiyyah (kekuasaan
kehakiman) itu belum dipisahkan dari wilayah kekuasaan yang ada tetapi masih berada
dalam satu tangan yaitu penguasa atau kepala Negara. Pada masa berikutnya, ketiga badan
kekuasaan Negara tersebut masing-masing melembaga dan mandiri.19
Peradilan telah lama dikenal sejak dari zaman purba dan dia merupakan satu kebutuhan
hidup bermasyarakat. Tidak dapat suatu pemerintahan berdiri tanpa adanya suatu peradilan.
Karena peradilan itu adalah untuk menyelesaikan segala sengketa diantara para penduduk.
Peradilan itu adalah suatu tugas suci yang diakui oleh seuruh bangsa, baik mereka tergolong
bangsa-bangsa yang telah maju ataupun yang belum. Didalam peradilan itu terkandung
menyuruh ma‟ruf dan mencegah munkar. Menyampaikan hak kepada yang harus menerimanya dan menghalangi orang yang zalim daripada berbuat aniaya, serta mewujudkan
peradilan umum. Dengan peradilanlah dilindungi jiwa, harta dan kehormatan. Apabila
17
Ahmad Warsono Munawir, kamus Al-Munawir: Kamus Arab Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997),Cet. Pertama, hlm. 650.
18
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), Cet. Pertama, hlm. 16567.
19
peradilan tidak terdapat dalam suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi
masyarakat yang kacau balau.20
Kekuasaan peradilan adalah suatu kekuasaan yang mempunyai undang-undang dan
aturan-aturan yang wajib dipatuhin oleh para hakim didalam pemerintahan Romawi, Persia
dan lain-lain. Hal-hal yang sangat dipentingkan oleh bangsa-bangsa yang telah lalu dalam
menyusun peradilan, ialah kecakapan hakin dan kebaikan budi pekertinya. Karena itu mereka tidak mengangkat seseorang untuk menjadi hakim kecuali orang yang mempunyai
kemampuan yang sempurna untuk menjadi hakim serta mempunyai kepribadian yang tinggi.
Dan hakim itu dilindungi dengan berbagai aturan yang memungkinkan hakim bergerak
secara bebas.21
Bangsa Arab di zaman Jahiliyah, tidak mempunyai Sulhtahtasyri‟iyah (badan legislatif)
yang menyusun dan membuat Undang-undang atau aturan-aturan. Mereka pada umumnya
berpegang pada tradisi yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Kepala-kepala kabilah
memutuskan hukum antara anggota kabilah dengan adat kebiasaan mereka. Adat-adat
kebiasaan itu diambil dari pengalaman atau dari kepercayaan atau dari bangsa-bangsa yang
berdiam disekitar mereka, seperti bangsa Romawi, Persia dan sebagainya, atau yang berdiam
bersama-sama didaerah tersebut, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani.22
Perkembangan kekuasaan peradilan pada dasarnya tidak lepas dari sejarah perkembangan
masyarakat dan politik Islam. Oleh karena itu sebagaimana dijelaskan Muhammad Salam
20
Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Semarang: PT.Pustaka Rizki Putra, 2001), Cet. Kedua, hlm. 3.
21
Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Semarang: PT.Pustaka Rizki Putra, 2001), Cet. Kedua, hlm. 4.
22
Madkur (Guru Besar Hukum Islam, Universitas Cairo) para ahli, membagi sejarah peradilan
Islam kedalam beberapa masa dengan cirri-ciri atau tandanya masing-masing.23
Setelah Nabi Muhammad S.A.W diangkat menjadi Rasul, mulailah beliau menyampaikan
risalah dakwah kepada penduduk Makkah, terutama masalah aqidah selama 13 tahun.
Kondisi umat Islam masih lemah, baik dari segi kuantitas maupun kekuatan. Berbeda dengan
Makkah, kondisi Madinah relatif stabil dan jumlah umat Islam semakin banyak, sementara
Rasulullah S.A.W dijadikan sebagai pemimpin oleh masyarakat Madinah baik umat Islam
maupun non-Islam, sehingga sangat memungkinkan untuk melaksanakan berbagai ketentuan
agama dan tuntutan syari‟ah.24
Masa Rasulullah S.A.W. Kedudukan Rasulullah S.A.W, disamping sebagai pemegang
kekuasaan eksekutif, juga menangani langsung urusan yang berkaitan dengan kekuasaan
yudikatif; artinya, kekuasaan peradilan belum dipisahkan dari kekuasaan Nabi S.A.W
sebagai pelaksana perundang-undangan. Segala urusan yang menjadi kewenangan as-Sulthah al-Qadhaiyyah semuanya tertumpu ditangan penguasa. Setelah wilayah kekuasaan Islam
semakin luas, penanganan kekuasaan ini dibantu oleh beberapa orang sahabat yang dikirim
ke beberapa daerah untuk bertindak sebagai penguasa sekaligus sebagai pemegang kekuasaan
dalam bidang peradilan. Disamping itu, ada diantara sahabat yang diperbantukan oleh
Rasulullah S.A.W untuk menangani tugas-tugas peradilan ini yang ditempatkan dipusat
pemerintahan, seperti Umur bin Khatab (w.23H/644M), atau yang diutus kedaerah atas nama
Rasulullah S.A.W, seperti Ali bin Abi Thalib (w.40H/661M) dan Mu‟as bin Jabal
23
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), Cet. Pertama, hlm. 16568.
24
(w.18H/639M) ke Yaman. Sumber hukum bagi peradilan pada masa ini hanya Al-Qur‟an dan Hadits Nabi S.A.W.25
Setelah Nabi Muhammad S.A.W. Sahabat, sebagai generasi Islam pertama, meneruskan
ajaran dan misi kerasulan. Berita meninggalnya Nabi Muhammad S.A.W. merupakan
peristiwa yang mengejutkan sahabat. Sebalum jenazah Nabi dikubur, sahabat telah berusa
memilih pengggantinya sebagai pemimpin Negara. Abu Bakar adalah sahabat pertama yang
terpilih menjadi pemimpin umat Islam. Abu Bakar digantikan oleh Umar bin Khatab, Umar
bin Khatab digantikan oleh Utsman bin Affan, dan Utsman bin Affan digantikan dengan Ali
bin Abi Thalib. Empat pemimpin umat tersebut dikenal sebagai Khulafah al-Rasyidun (para
pemimpin yang diridhai).26
Abu Bakar adalah ahli hukum yang tinggi mutunya. Ia memerintah dari tahun 632 sampai
634M. Sebelum masuk Islam, ia terkenal sebagai orang yang jujur dan disegani, ikut aktif
mengembangkan dan menyiarkan Islam. Atas usaha dan seruannya banyak orang terkemuka
banyak orang memeluk agama Islam yang kemudian terkenal sebagai pahlawan-pahlawan
Islam ternama. Dan karenahubungnnya yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad Saw.,
beliau mempunyai pengertian yang dalam tentang jiwa Islam lebih dari yang lainnya. Karena
itu pula pemilihannya sebagai khalifah pertama adalah tepat sekali.27
Di masa Abu Bakar tidak tampak ada suatu perubahan dalam lapangan peradilan ini,
karena kesibukannya memerangi sebagian kaum muslimin yang murtad, sepeninggal
25
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), Cet. Pertama, hlm. 16568.
26
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 57.
27
Rasulullah S.A.W., dan kaum pembangkang menunaikan zakat dan urusan-urusan politik dan
pemerintahan lainnya disamping belum melusnya wilayah kekuasaan Islam pada masa itu.
Dalam masalah peradilan, Abu Bakar mengikuti jejak Nabi Muhammad S.A.W., yakni ia
sendirilah yang memutuskan hukum diantara umat Islam di Madinah. Sedangkan para
Gubernurnya memutuskan hukum diantara manusia didaerah masing-masing diluar Madinah.
Adapun sumber hukum pada Abu Bakar adalah Al-Qur‟an, Sunnah, dan Ijtihad seteh pengkajian dan musyawarah dengan para sahabat. Dapat dikatakan bahwa pada masa
pemerintahan Abu Bakar ada tiga kekuatan, (1) Quwwat al-Syari‟ah (legislatif), (2) Quwwat al-Qadhaiyyah (yudikatif didalamnya masuk peradilan) dan (3), Quwwat al-Tanfiziyyah
(eksekutif).28
Di masa pemerintahan Umar bin Khatab, daerah Islam telah luas, tugas-tugas yang
dihadapi oleh pemerintahan dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi, telah berbagai corak
ragamnya dan pergaulan orang-orang Arab dengan orang lain pun sudah sangat erat. Karena
itu Khalifah Umar tidak dapat menyelesaikan sendiri perkara-perkara yang diajukan
kepadanya. Maka Umar mengangkat beberapa orang hakim untuk menyelesaikan perkara,
dan mereka pun digelari hakim (qadhi). Khalifah Umar mengangkat Abu Darda‟ untuk menjadi hakim di Madinah, Syuraih di Basrah, Abu Musa Al-Asy‟ari di Kufah, Utsman Ibn
Qais Ibn Abil „Ash di Mesir, sedang untuk daerah Syam diberi pula hakim sendiri. Umar lah
yang mula-mula memisahkan kekuasaan yudikatif dan eksekutif.29
Pemerintahan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, pada masa masing-masing
dalam bidang kekuasaan yudikatif ini, meneruskan kebijakan yang telah ditetapkan oleh
28
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 59-60.
29
Umar sebagai khalifah pendahulunya. Sumber hukum lembaga peradilan pada masa ini
adalah Al-Qur‟an, Hadits, dan Ijtihad.30
Masa Daulah Umayyah, kekuasaan yudiklatif mengalami kemajuan lagi, khususnya
dalam bidang administrasi peradilan dan proses berperkara (yang menyangkut hukum acara
atau hokum formil), yang sebelumnya belum diterbitkan. Pada masa ini diadakan pencatatan
terhadap putusan pengadilan sebagai dokumen resmi pemerintah. Meskipun situasi politik
pada masa ini baru saja mengalami perubahan dari system demokrasi kesistem monarki,
pemegang kekuasaan yudikatif dalam menyelesaikan urusannya tidak terpengaruh oleh
kecenderungan-kecenderungan pribadi politik khalifah. Bahkan khalifah dalam ini
menegaskan (melalui ancaman pemecatan bagi yang menyelenggarakan tugasnya) agar
kekuasaan yudikatif melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Sumber hukum untuk masa
ini pun adalah Al-Qur‟an, Hadits, dan Ijtihad.31
Masa Daulah Bani Abbasiyah, disamping terus meningkatkan pembinaan yang berkaitan
dengan administrasi kelembagaannya, khalifah juga membentuk lembaga-lembaga yang
mendukung dan memiliki kewenangan khusus yang juga berkaitan dengan kekuasaan
yudikatif ini. Tidak hanya pembenahan terhadap sarana peradilan, akan tetapi sudah mulai
hukum materil yang akan disusun oleh hakim sebagai dasar pengambilan keputusan.
Awalnya, yang digunakan adalah kitab al-Muwatha‟ karya Imam Malik. Namun Imam Malik sendiri menolak dengan alasan masih banyak Hadits Rasulullah S.A.W., yang tersebar
diberbagai kota. Kemudian atas ulum Ibnu al-Muqaffa‟ kepada Khalifah al-Mansur agar menyusun pedoman trentang penerapan hukum materil, sehingga perbedaan pendapat dapat
30
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), Cet. Pertama, hlm. 16568.
31
dihindari, akhirnya disusunlah Kompilasi Hukum Islam yang dijadikan oleh hakim dalam
memutus perkara.32
Selain itu, di zaman dinasti Abbasiyah, kekuasaan yudikatif (sulthah qadhaaiyyah)
semakin lengkap.perkembangan mencapai puncak kesempurnaan pada masa pemerintahan
Harun al-Rasyid (170-193), saat dia mengangkat Ya‟qub bin Ibrahim al-Anshari yang lebih terkenal dengan Abu Yusuf, sebagai kepala dari seluruh kepala hakim, yang dinamakan
qaadhii qudhaah (Hakim Agung). Diantara tugas pentingnya adalah menangani
perkara-perkara diperadilan umum dan diiwaan al-madzaalim. Kewenangan lainnya adalah,
mengangkat hakim-hakim yang akan ditetapkan diseluruh provinsi.33
Perkembangan lainnya menyangkut kekuasaan kehakiman periode keempat ini, terjadi
terutama pada masa pemerintahan Sultan az-Zahir Biibars (665H/1267M), dimana ia
membentuk sistem peradilan yang menggabungkan empat mazhab besar dan dikepalai oleh
masing-masing Hakim Agung. Untuk Hakim Agung mazhab Syafi‟I mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain. Karena selain menangani urusan yudiksinya, juga diserahi
tanggung jawab mengawasi penyantunan terhadap yatim piatu, perwakafan, dan menangani
masalah Baitul Mall. Sedangkan Hakim Agung yang lainnya, mengurusi peradilan dan fatwa
bagi rakyat dari masing-masing mazhabnya.34
Dengan demikian pada masa tersebut, HakimAgung tidak hanya memilikitugas memutus
perkara pada tingkat kasasi, akan tetapi juga memiliki tugas-tugas lain diluar yuridiksinya.
32
Jaenal Arifin, Peradilan Agama Dalam Bingkai Reformasi Hukum Di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), Cet. Pertama, hlm. 152.
33
Jaenal Arifin, Peradilan Agama Dalam Bingkai Reformasi Hukum Di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), Cet. Pertama, hlm. 152.
34
Bahkan menurut Carl F. Petry, semua Hakim Agung pada masa tersebut memegang tiga
jabatan sekaligus. Termasuk untuk jabatan hakim ditingkat yang lebih rendah, dapat
memegang seluruh jabatan administrasi, tak terkecuali dilingkungan militer. Meskipun
demikian, kedudukan dan kewenangannya kuat, ia berpegang teguh pada syari‟at tanpa dapat dipengaruhi oleh siapapun.35
Masa khalifah Turki Usmani dan masa sesudahnya. Kekuasaan yudikatif mengalami
banyak perubahan, khususnya setelah masa Tanzimat. Pada masa ini, disamping lembaga
peradilan yang khusus mengadili orang-orang Islam, juga didirikan lembaga peradilan yang
khusus menangani orang non-Muslim (kafir zimi: kafir yang dilindungi) dan
orang-orang asing yang tinggal di wilayah kekuasaannya, yang sumber hukumnya adalah agama
masing-masing dan undang-undang asing. Pemerintah menetapkan mazhab Hanafi sebagai
mazhab resminya. Oleh karena itu, hakim utama diangkat dari mazhab ini. Sumber hukum
setelah masa Tanzimat ini kebanyakan diambil dari hukum Eropa, kecuali dalam masa
keperdataan. Keadaan ini mempengaruhi negara Islam lainnya, khususnya
negara-negara yang cukup terbuka terhadap pembaruan dalam bidang hukum dan peradilan seperti
Mesir, Suriah, dan Tunisia.sumber hukumlembaga peradilan pada masa ini sudah berubah
dan beragam sesuai dengan beragamnya jenis lembaga peradilan dimasa itu.36
Peradilan pada Arab Saudi, al-Qur‟an merupakan Undang-undang Dasar Negara dan
Syari‟ah sebagai hukum dasar yang dilaksanakan oleh Mahkamah-mahkamah Syari‟ah
sebagai hukum dan Ulama sebagai hakim dan penesehat-penasehat hukumnya. Kepala
negara adalah Raja yang dipilih oleh dan dari keluarga besar Saudi. Terbentuknya peradilan
35
Jaenal Arifin, Peradilan Agama Dalam Bingkai Reformasi Hukum Di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), Cet. Pertama, hlm. 152.
36
Arab Saudi dengan berlakunya Syari‟at Islam adalah tidak lepas dari jasa Raja Abdul Aziz
bin Abdul Rahman Al-Saud yang membai‟at wilayah-wilayah.37
Kemudian pada abad ke-7 M, Islam telah masauk Indonesia dan telah dianut oleh
sebagian orang Indonesia. Penerapan hukum Islam bukan hanya pada pelaksanaan
ibadah-ibadah tertentu melainkan juga diterapkan pula dalam masalah-masalah muamalat,
munakahat, dan uqubat (jinayah/hudud).38
Dalam pengkajian Peradilan Islam di Indonesia, dan peradilan pada umumnya, dikenal
berbagai istilah khusus yang menjadi lambang dari suatu konsep, diantaranya Peradilan Agama, Peradilan Agama Islam, Peradilan Islam, Islamic Judiciary, Badan Kehakiman, Badan Peradilan Agama, Badan Peradilan Agama Islam, Pengadilan Agama, Mahkamah Syari‟ah, Kerapatan Qadhi, Pengadilan Agama Islam, dan Islamic Court. Pada masa
penjajahan Belanda dan Jepang juga dikenal beberapa istilah, diantaranya Priesterraad,
Penghoeloe gerech, Godsdientige rechtspraak, Rechtspraak, Raad agama, dan Sooryoo hooin. Selain itu, terdapat juga istilah lain yang berhubungan dengan istilah-istilah itu, baik
yang bermakna sejenis maupun yang berhubungan dengannya dan menjadi penjelas posisi
dari setiap istilah itu.39
Peradilan Islam mengalami perkembangan pasang surut, sejalan dengan perkembangan
masyarakat Islam di berbagai kawasan dan negara. Sedangkan masyarakat Islam basis utama
dalam melakukan artikulasi dan perumusan hukum diberbagai kawasan dan negara tersebut.
37
Basiq Djalil, Peradilan Islam, (Jakarta: UIN Syarifhidayatullah, 2007), Cet. Pertama, hlm. 83-84.
38
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 190.
39
Peradilan Islam pada masa Rosulullah S.A.W. bersifat sederhana, baik dalam
pengorganisasiannya maupun prosedurnya.40
Pertumbuhan dan perkembangan Peradilan Islam di Indonesia dapat dideskripsikan
sebagaimana dikemukakan oleh Lev (1972: ix) dalam kata pengantar bukunya, Islamic Court in Indonesia. “Peradilan di Indonesia yang kelihatannya ganjil, tidak hanya mampu bertahan
hidup, tetapi dalam berbagai hal mengalami perkembangan yang semakin kuat. Sedangkan di
negeri-negeri Islam lainnya, pranata-pranata hukum keagamaan banyak yang dihapus dan
dibatasi”.
Perkembangan itu lebih nyata selama dua puluh tahun terakhir, terutama sejak disahkan
dan diundangkannya undang Nomor 14 Tahun 1970. Kemudian menyusul
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Peraturan
Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977, Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989, dan Instruksi
Presiden Nomor 1 Tahun 1991.41
Ada empat aspek yang berkenaan dengan perkembangan Peradilan Islam di Indonesia.
Pertama, berkenaan dengan kedudukan peradilan dalam tatanan hukum dan peradilan nasional. Kedua, berkenaan dengan susunan badan peradilan, yang mencangkup hirarki dan struktur organisasi pengdilan, termasuk komponen manusia didalamnya. Ketiga, berkenaan
dengan kekuasaan pengadilan, baik kekuasaan mutlak maupun kekuasaan relatif. Keempat,
40
Cik Hasan Bisri, Peradilan Islam dalam Tatanan Masyarakat Indonesia, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1977), Cet. Pertama, hlm. 42.
41
berkenaan dengan hukum acara yang dijadilkan landasan dalam penerimaan, pemeriksaan,
pemutusan, dan penyelesaian perkara.42
Islam adalah kehakiman, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Imam Syahid
Hasan Al-Banna, maksudnya adalah bahwa salah satu dari manhaj Islam ialah mengatur
antara sesama manusia, karena manusia sangat memerlukan seorang hakim yang dapat
mengatur dan menyelesaikan perselisihan mereka serta dapat mengembalikan hak kepada
pemiliknya.
Kesimpulan dalam masalah kehakiman ini dapatlah kita katakana bahwa Islam telah
menganggap masalah kehakiman sebagai fardhu, karena itulah kita lihat bahwa Rasulullah
saw mengangkat para hakim untuk bertugas di tempat-tempat yang jauh dari Madinah. Dan
hakim muslim ini disyaratkan mempunyai pengetahuan yang luas terutama tentang
hukum-hukum Islam. Atas dasar ini pula kita lihat bahwa salah satu dari syarat kelayakan seseorang
hakim ialah kemampuannya untuk melakukan ijtihad, karena tugas mengatur adalah
termasuk dalam pengertian wilayah dan sultan. Orang kafir tidak layak dan tidak berhak
menjadi wali atau hakim atas orang Islam. Karena Allah SWT berfirman:
42
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu'min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata : "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata : "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mu'min ?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.
Seorang hakim yang Muslim mesti mengatur hukum dan permasalahannya menurut
hukum-hukum Islam dan haram hukumnya menggunakan hukum-hukum yang lain. Terutama
pada saat mengatur undang-undang Islam, sebagaimana juga harus memiliki kehati-hatian dan
teliti, dan berusaha semampunya untuk melaksanakan dan menerapkan keadilan. Karena
seandainya yang dilakukan adalah betul dan tepat maka baginya dua ganjaran, namun jika
seandainya beliau keliru atau tersalah maka tetap akan balasan beliau diberikan satu
ganjaran.43
B. Fungsi Peradilan dalam Islam
Pembentukkan Lembaga Peradilan adalah dimaksudkan untuk merealisir keadilan di
tengah kehidupan masyarakat. Telah disebutkan bahwa dalam suatu negara, lembaga
peradilan ini difungsikan untuk menegakkan hukum di wilayah kekuasaan negara, atau
sebagai media untuk mengimplementasikan ajaran Islam dibidang penegakkan dan
perlindungan hukum. Didalam al-Qur‟an disebutkan beberapa ayat yang mengatur tentang keadilan dan penegakkan hukum, diantaranya:
43
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An-Nisa’: 58)44
Kemudian Surah An-Nisa‟ Ayat 135:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa’: 135)
Kemudian juga disebutkan dalam Surah Al-Maidah Ayat 49 bahwa:
44
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Maidah: 49)45
Lembaga peradilan bertugas menyelesaikan persengkatan dan memutuskan
hukum.dengan peradilan Allah memelihara keseimbangan dan kedamaian dalam masyarakat
luas. Landasan dari fungsi peradilan adalah terpeliharanya kepastian hukum. Lembaga
peradilan mempunyai fungsi utama untuk menciptakan ketertiban, keamanan, dan
ketentraman masyarakat melalui tegaknya hukum dan keadilan. Di samping itu untuk
menciptakan kemaslahatan umat dengan tetaptegaknya hukum Allah. Oleh sebab itu
peradilan Islam mempunyai fungsi yang sangat mulia, di antaranya: Mendamaikan dua belah
pihak yang bersengketa dengan berpedoman kepada hukum Allah, Menetapkan sanksi dan
melaksanakannya atas setiap perbuatan yang melanggar hukum.46
45
Ridwan, Fiqih Politik: Gagasan, Harapan, dan Kenyataan, (Yogyakarta, FH UII PRESS, 2007), Cet. Pertama, hlm. 286.
46
http://shoimnj.blogspot.com/2011/07/peradilan-dalam-islam.html, tanggal 11 september 2011,
C. Tugas dan Kewenangan Lembaga Peradilan dalam Islam
Tugas lembaga yudikatif adalah memutuskan perselisihan yang dilaporkan kepadanya
dari orang-orang yang berseteru dan menerapkan hukum perundang-undangan kepadanya
dalam rangka menerapkan keadilan di muka bumi dan menerapkan kebenaran diantara
orang-orang yang meminta peradilan.47
Secara garis besar tugas dan kewenangan lembaga peradilan ialah untuk menjamin
pelaksanaan Undang-undang oleh pihak eksekutif, untuk mengontrol atau mengawasi fungsi
dan pelaksanaan kekuasaan legislatif, dan untuk mengadili dan menyelesaikan berbagai
persoalan hukum dan perselisihan yang diajukan dan yang menjadi kewenangannya. Tujuan
adanya kekuasaan yudikatif dalam Islam bukannya untuk membongkar kesalahan agar dapat
dihukum, tetapi yang menjadi tujuan pokok yaitu untuk menegakkan kebenaran, supaya
yang benar dinyatakan benar dan yang salah dinyatakan salah tanpa menghiraukan
maslahat.48
Tujuan adanya kekuasaan yudikatif dalam Islam bukannya untuk membongkar kesalahan
agar dapat di hukum, tetapi yang menjadi tujuan pokok yaitu untuk menegakkan kebenaran;
supaya yang benar dinyatakan benar dan yang salah dinyatakan salah tanpa menghiraukan
maslahat. Selain menegakkan kebenaran dan menjamin terlaksananya keadilan, kekuasaan
yudikatif dalam Islam yudikatif dalam Islam juga bertujuan untuk menguatkan Negara dan
menstabilkan kedudukan hukum kepala Negara.49
47
Samir Aliyah, Sistem Pemerintahan, Peradilan, dan Adat dalam Islam,(Jakarta, KHALIFA Pustaka Al-Kautsar Grup, 2004), Cet. Pertama, hlm. 73.
48
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), Cet. Pertama, hlm. 1658.
49
Imam Al-Mawardi dalam bukunya Al-Ahkam Al-Sulthaniyah menyebutkan sembilan tugas kekuasaan yudikatif yaitu: (1) memutuskan atau menyelesaikan perselisihan,
pertengkaran, dan konflik. Dengan mendamaikan kedua belah pihak yang berperkara secara
sukarela atau memaksakeduanya berdamai; (2) membebaskan orang-orang yang tidak
bersalah dari sanksi dan hukuman, serta memberikan sanksi kepada yang salah, baik dengan
(dari) pengakuan maupun dengan dilakukannya sumpah; (3) menetapkan penguasa harta
benda orang-orang yang tidak menguasai sendi karena gila, masih kanak-kanak atau idiot; (4)
mengelola harta wakaf dengan menjaga harta pokoknya, mengembangkan cabang-cabang,
menahannya dan mengalokasikan ke posnya; (5) melaksanakan wasiat-wasiat berdasarkan
syarat-syarat pemberian wasiat dalam hal-hal yang diperbolehkan syari‟at dan tidak melanggarnya; (6) menikahkan gadis-gadis dengan orang-orang sekufu‟ (selevel), jika
merdeka tidak mempunyai wali dan sudah memasuki usia menikah; (7) melaksanakan hudud
(hukuman syar‟i) kepada orang-orang yang berhak menerimanya; (8) memikirkan
kemaslahatan umum diwilayah kerjanya dengan melarang semua gangguan dijalan-jalan dan
halaman-halaman rumah dan meruntuhkan bangunan-bangunan illegal; (9) mengawasi para saksi dengan pegawainya, serta memilih orang-orang yang mewakilinya.50
D. Konsep Pengawasan Hakim dalam Peradilan Islam
Pada masa awal, kekuasaan peradilan berada sepenuhnya pada tangan Rasul. Beliau
disamping sebagai kepala Negara juga berfungsi sebagai hakim tunggal. Namun, setelah
wilayah negeri Islam berkembang dan meluas ke luar Madinah, beliau memberikan mandat
kepada beberapa orang sahabat untuk bertindak sebagai hakim. Rujukan yang digunakan
50
ketika itu adalah Al-qur‟an, Sunnah Nabi, dan Ijtihad mereka sendiri, ketika mereka tidak menemukannya didua rujukan pertama.51
Kemudian, setelah masa Khulafah al-Rasyidin, terutama pada masaUmar bin Khattab, tata laksana peradilan mulai diatur antara lain dengan mengadakan penjara, dan
pengangkatan sejumlah hakim serta menyusun risalah al-qadha (semacam hukum acara
peradilan) sebagai acuan bagi hakim. Namun demikian, para hakim bekerja sendiri tanpa ada
“katib” (panitera) dan tanpa registrasi dan administrasi peradilan, bahkan pada awalnya
mereka bersidang dirumah mereka sendiri dan kemudian pindah ke masjid, serta mereka
sendiri yang melaksanakan eksekusi keputusan pengadilannya.52
Pada masa Umayyah peradilan terus berkembang, diantaranya adalah jabatan Qadhi yang mulai berkembang menjadi profesi tersendiri dan dilakoni oleh orang yang ahli dibidangnya.
Pada masa Bani Umayyah ini juga dilakukan pembukuan serta penulisan perkara-perkara
yang diputuskan dengan merancang sistem pengawasan dan pengadilan serta prinsipnya.
Sebab pada masa Rasulullah S.A.W. Dan dan Khulafa al-Rasyidin belum ada perselisihan
pendapat tentang hukum-hukum yang telah menjadi putusan. Dalam permulaan Islam
peradilan merupakan sebuah sistem yang selain mencangkup proses peradilan, juga
mencangkup hal-hal atau lembaga lainnya yang saling mendukung satu sama lain.53
Adapun bentuk “lembaga pengawasan” terhadap peradilan juga bisa ditemukan dalam
sejarah peradilan di zaman Nabi Muhammad Saw. Fungsi pengawasan itu dilakukan oleh
Wahyu Allah S.W.T. terhadap Nabi Muhammad S.A.W. Rasulullah S.A.W. juga melakukan
51
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 2-3.
52
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 3.
53
pengawasan secara evaluasi terhadap sahabat yang ditunjukkannya untuk menjalankan
peradilan. Jika putusan sahabat itu salah, tentu Nabi Muhammad S.A.W. pun akan segera
mengoreksinya.54
Karena setiap keputusan hakim tentang suatu perkara kadangkala diperdebatkan dasar
hukum dan keshahihannya oleh para mujtahid yang mengetahui kasus tersebut beserta
hukum yang mungkin benar menurut pendapatnya, pada akhirnya khalifah melepaskan diri
dari campur tangan terhadap lembaga peradilan itu, karena sesungguhnya pendapat hakim itu
kebanyakan bukan murni keputusan hukum, melainkan berupa pesan-pesan yang diinginkan
oleh khalifah untuk maksud-maksud tertentu. Demikianlah dapat dikatakan bahwa pada
awalnya Dinasti Abbasiyah berusaha mengendalikan setiap putusan yang dijatuhkan oleh
peradilan, akan tetapi pada masa-masa berikutnya karena berbagai faktor campur tangan itu
akhirnya ditinggalkan. Khalifah hanya membuat regulasi yang sifatnya umum dan formalitas
belaka, seperti pengangkatan hakim-hakim daerah yang setiap hakim itu pada akhirnya
memiliki otoritas dan independenitas yang tinggi. 55
54
Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, ( Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. Pertama, hlm. 6-7.
55
Universitas Islam Negeri
35
KOMISI YUDISIAL DALAM REFORMASI PERADILAN DI INDONESIA
A. Reformasi Peradilan di Indonesia
Reformasi, barasal dari kata “re” dan “formasi”. “Re” berarti “kembali” dan “formasi” berarti “susunan”. Reformasi berarti pembentukkan atau penyusunan kembali. Kata “reform”
diartikan sebagai; membentuk, menyusun, mempersakutukan kembali. Reformasi juga
berarti; perubahan secara drastis untuk perbikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam
suatu masyarakat atau negara.56
Dengan demikian, istilah era reformasi diartikan sebagai suatu era perubahan atau
penyusunan kembali terhadap suatu konsep, strategi, dan kebijakan yang berkaitan dengan
berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dan apabila
dihubungkan dengan reformasi dibidang hukum dan peradilan, maka dapat ditarik pengertian
“melakukan suatu perubahan dengan penyusunan kembali terhadap suatu konsep, strategi,
atau kebijakan yang berkaitan dengan hukum dan peradilan dengan berbagai aspeknya dalam
kehidupan berbangsa, dan bernegara”.57
Berdasarkan pengertian tersebut, reformasi sesungguhnya bisa bermakna perubahan atau
pembaharuan menuju pada tatanan kehidupan yang lebih baik. Dalam arti pembaharuan,
reformasi bisa dipadankan dengan beberapa kata dalam wacana Islam, yang secara substansi
memilki kesamaan dengan reformasi, yakni; tajdid dan islah. Tajdid mengandung arti
“membangun kembali, menghidupkan kembali, menyusun kembali, atau memperbaikinya
56
Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2008), Cet. Pertama, hlm. 39.
57