• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Risiko Pada Bisnis Bunga Krisan Potong Di Perusahaan Sekar Arum Kabupaten Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Manajemen Risiko Pada Bisnis Bunga Krisan Potong Di Perusahaan Sekar Arum Kabupaten Bogor"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN RISIKO PADA BISNIS BUNGA KRISAN

POTONG DI PERUSAHAAN SEKAR ARUM

KABUPATEN BOGOR

GABRIELLA BONITA

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Manajemen Risiko pada Bisnis Bunga Krisan Potong di Perusahaan Sekar Arum Kabupaten Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya ilmiah saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2015 Gabriella Bonita NIM H34134034

*

(4)

ii

ABSTRAK

GABRIELLA BONITA. Manajemen Risiko pada Bisnis Bunga Krisan Potong di Perusahaan Sekar Arum Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh NUNUNG KUSNADI.

Bisnis bunga krisan potong semakin berkembang di Indonesia, walaupun bisnis ini merupakan bisnis yang berisiko tinggi. Pada umumnya diversifikasi dilakukan untuk mengatasi tingginya risiko pada bisnis bunga krisan potong, namun hal ini tidak terjadi di Sekar Arum. Penelitian ini bertujuan menilai kinerja manajemen risiko di Sekar Arum, 2 aspek yang dipertimbangkan yaitu proses manajemen risiko dan proses bisnis. Metode yang digunakan ialah Skala Likert, hasilnya menunjukan bahwa kinerja terbaik dalam proses manajemen risiko adalah tahap penanganan risiko dan kinerja manajemen risiko terbaik berdasarkan proses bisnis adalah tahap budidaya bunga krisan potong. Implikasi dari hasil penelitian ini, manajemen risiko di Sekar Arum masih perlu diperbaiki pada beberapa tahap proses bisnis dan proses manajemen risiko.

Kata kunci: bunga krisan potong, manajemen risiko

ABSTRACT

GABRIELLA BONITA. Risk Management in Krisan Cut Flower Business at Sekar Arum Kabupaten Bogor. Supervised by NUNUNG KUSNADI.

Despite of high risk business, the number of cut flower business grows rapidly in Indonesia. Diversification is a means to cope with the high risk of cut flower business, but it is not the case at Sekar Arum. The purpose of this research was to assess the performance of risk management at Sekar Arum, 2 aspects of risk management assessment were considered namely the risk management and the business process aspects. By using Likert Scale method, the result indicate that the best performance in risk management process was handling management stage and the best performance of risk management according to business process was the cultivation of krisan cut flower stage. The implication of this finding were the risk management at Sekar Arum to some stages both in business and risk management process still need to be improved.

(5)

iii

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

MANAJEMEN RISIKO PADA BISNIS BUNGA KRISAN

POTONG DI PERUSAHAAN SEKAR ARUM

KABUPATEN BOGOR

GABRIELLA BONITA

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)

v Judul Skripsi : Manajemen Risiko pada Bisnis Bunga Krisan Potong di

Perusahaan Sekar Arum Kabupaten Bogor Nama : Gabriella Bonita

NIM : H34134034

Disetujui oleh

Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Dosen Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Dwi Rachmina, MSi Ketua Departemen

(8)
(9)

vii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Maret 2015 sampai April 2015 ini ialah manajemen risiko, dengan judul Manajemen Risiko pada Bisnis Bunga Krisan Potong di Perusahaan Sekar Arum Kabupaten Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Nunung Kusnadi, MS selaku dosen pembimbing. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dian selaku pengelola Sekar Arum dan Bapak Ujang selaku kepala kebun yang telah memberi kesempatan dan informasi data yang dibutuhkan penulis. Di samping itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dan memberi saran dalam pembuatan karya ilmiah ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, bunda, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(10)

viii

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 5

Ruang Lingkup Penelitian 5

TINJAUAN PUSTAKA 5

Identifikasi Risiko pada Agribisnis 5

Pengukuran Risiko pada Agribisnis 6

Penanganan Risiko pada Agribisnis 7

KERANGKA PEMIKIRAN 9

Kerangka Pemikiran Teoritis 9

Kerangka Pemikiran Operasional 15

METODE PENELITIAN 16

Lokasi dan Waktu Penelitian 16

Jenis dan Sumber Data 17

Metode Pengumpulan Data 17

Metode Pengolahan dan Analisis Data 18

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 21

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan 21

Struktur Organisasi Perusahaan 21

Sumberdaya Perusahaan 22

Operasional Kegiatan 25

HASIL DAN PEMBAHASAN 28

Manajemen Risiko pada Tahap Budidaya Mother Plant Krisan 28

Manajemen Risiko pada Tahap Pembibitan Krisan 33

Manajemen Risiko pada Tahap Budidaya Bunga Krisan Potong 36 Manajemen Risiko pada Tahap Pemasaran Bunga Krisan Potong 41

Manajemen Risiko di Sekar Arum 44

SIMPULAN DAN SARAN 45

Simpulan 45

Saran 46

DAFTAR PUSTAKA 46

LAMPIRAN 48

(11)

ix

DAFTAR TABEL

1 Pertumbuhan volume ekspor dan nilai ekspor komoditi hortikultura di

Indonesia tahun 2010 sampai 2012 1

2 Pertumbuhan jumlah produksi bunga potong di Indonesia tahun 2009

sampai 2013 2

3 Kontribusi dan pertumbuhan jumlah produksi bunga krisan potong di

Jawa Barat tahun 2009 sampai 2013 3

4 Jenis, sumber dan rincian data yang digunakan dalam penelitian 17 5 Form cara menghitung kinerja manajemen risiko pada masing-masing

proses bisnis di Sekar Arum 20

6 Klasifikasi persentase (%) hasil penilaian kinerja manajemen risiko di

Sekar Arum 20

7 Jenis, jumlah dan kegunaan peralatan yang dimiliki Sekar Arum

tahun 2015 24

8 Hasil penilaian manajemen risiko tahap budidaya mother plant krisan

di Sekar Arum 28

9 Pestisida yang digunakan Sekar Arum dan kegunaannya 32 10 Hasil penilaian manajemen risiko pada tahap pembibitan bunga

krisan di Sekar Arum 34

11 Hasil penilaian manajemen risiko pada tahap budidaya bunga krisan

potong di Sekar Arum 36

12 Hasil penilaian manajemen risiko pada tahap pemasaran bunga krisan

potong di Sekar Arum 41

13 Penilaian kinerja manajemen risiko di Sekar Arum 44

DAFTAR GAMBAR

1 Proses manajemen risiko 10

2 Tahapan kerangka pemikiran operasional 16

3 Struktur organisasi di Sekar Arum tahun 2015 22 4 Bibit krisan yang digunakan untuk membuat mother plant (a) bibit

terserang hama Leaf miner (b) bibit tersebut ditanam kembali 29 5 Daun tanaman krisan yang terkena hama Leaf miner 29 6 Tanaman krisan yang terserang penyakit (a)Fusarium dan (b)White

rust 30

7 Bakalan bunga pada mother plant krisan 31

8 Contoh catatan jumlah mother plant krisan di Sekar Arum (a) jenis standar (b) jenis aster atau spray (c) rencana tanam mother plant 31 9 Pembersihan gulma pada sekitar lokasi budidaya Sekar Arum 32

10 Busuk pada batang dan akar bibit krisan 35

11 Kegiatan penyiraman pada Sekar Arum 35

12 Kondisi naungan yang telah rusak di Sekar Arum 35 13 Contoh catatan jumlah bibit bunga krisan yang ditanam di Sekar

(12)

x

14 Perbedaan warna bunga krisan yang terserang hama Thrips dan bunga

krisan yang tidak terserang 38

15 Pertumbuhan tanaman krisan yang terhambat akibat kurangnya

penyinaran 38

16 Tanaman krisan di Sekar Arum yang mengalami kekeringan 39 17 Contoh catatan penjualan bunga krisan potong di Sekar Arum (a)

penjualan kepada rader (b) penjualan kepada konsumen sekitar

perusahaan 42

18 Contoh kuitansi Sekar Arum (a) penjualan kepada trader Bromelia (b)

penjualan kepada konsumen sekitar perusahaan 43

DAFTAR LAMPIRAN

1 Checklist wawancara dengan responden 48

2 Checklist data pendukung atau bukti manajemen risiko 49 3 Penilaian manajemen risiko pada tahap budidaya mother plant krisan 50 4 Penilaian manajemen risiko pada tahap pembibitan bunga krisan 52 5 Penilaian manajemen risiko pada tahap budidaya bunga krisan potong 54 6 Penilaian manajemen risiko pada tahap pemasaran bunga krisan

potong 56

7 Ringkasan hasil penilaian manajemen risiko pada tahap budidaya

mother plant krisan 58

8 Ringkasan hasil penilaian manajemen risiko pada tahap pembibitan

bunga krisan 60

9 Ringkasan hasil penilaian manajemen risiko pada tahap budidaya

bunga krisan potong 62

10 Ringkasan hasil penilaian manajemen risiko pada tahap pemasaran

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang terdiri atas sayuran, buah-buahan, florikultura, biofarmaka dan hortikultura lainnya. Hortikultura berpotensi dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari adanya pertumbuhan volume dan nilai ekspor komoditi hortikultura. Pertumbuhan volume dan nilai ekspor komoditi hortikultura di Indonesia tahun 2010 sampai 2012 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Pertumbuhan volume ekspor dan nilai ekspor komoditi hortikultura di Indonesia tahun 2010 sampai 2012

Komoditas

Volume Ekspor (Ton) Rata-rata Pertumbuhan

(%)

Nilai Ekspor (USD 000) Rata-rata Pertumbuhan

Tabel 1 menunjukan bahwa pertumbuhan volume dan nilai ekspor komoditi hortikultura masing-masing sebesar 7.56% dan 11.55% setiap tahunnya dari tahun 2010 sampai 2012. Peningkatan terbesar volume dan nilai ekspor terjadi pada komoditas florikultura. Hal ini menunjukkan bahwa subsektor florikultura lebih berpotensi meningkatkan perekonomian nasional. Peningkatan juga terjadi pada komoditi sayuran dan buah-buahan namun tidak sebesar komoditi florikultura, sedangkan penurunan volume dan nilai ekspor terjadi pada komoditi biofarmaka. Penurunan volume dan nilai ekspor dapat disebabkan oleh permintaan atau jumlah produksi yang tidak stabil.

(14)

2

peluang pasar yang cukup besar. 2) Pertumbuhan kawasan pemukiman, perkantoran, dan pusat belanja lainnya yang cukup besar akan meningkatkan permintaan terhadap florikultura. 3) Meningkatnya daya beli masyarakat serta meningkatnya pengetahuan masyarakat akan kesegaran dan keindahan juga akan meningkatkan permintaan bunga potong (Jaya 2009).

Bisnis florikultura khususnya bunga potong di Indonesia semakin berkembang, banyak pengusaha yang tertarik pada bisnis bunga potong. Hal itu terjadi karena meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap bunga potong sehingga permintaan bunga potong pun meningkat. Bunga potong saat ini sudah menjadi gaya hidup di masyarakat. Bunga potong tidak hanya berperan untuk memperindah lingkungan sekitar atau dekorasi ruangan saja. Bunga potong juga dapat berperan sebagai sarana penyalur emosi dan ungkapan perasaan, baik perasaan suka maupun duka. Hal ini terlihat dari banyaknya bunga potong yang digunakan untuk bahan rangkaian bunga di berbagai acara seperti ulang tahun, pernikahan, wisuda, peresmian toko, acara kematian serta ucapan selamat lainnya. Selain itu, terdapat beberapa industri yang telah memanfaatkan komoditas bunga potong untuk bahan dalam industri makanan, minuman, obat, kosmetik dan minyak wangi. Ketertarikan masyarakat terhadap bunga potong serta berkembangnya hotel dan restoran (BPS 2014) juga merupakan peluang pasar bagi bisnis bunga potong.

Perkembangan bisnis bunga potong di Indonesia dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah produksi bunga potong. Pertumbuhan jumlah produksi bunga potong di Indonesia tahun 2009 sampai tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Pertumbuhan jumlah produksi bunga potong di Indonesia tahun 2009 sampai 2013

Sumber: Direktorat Jendral Hortikultura (2013) dan Badan Pusat Statistik (2014) (diolah)

(15)

3 ini dapat dipicu oleh meningkatnya ketertarikan masyarakat dan berkembangnya bisnis seperti hotel dan restoran yang membutuhkan bunga potong untuk menambah estetika ruangan. Perkembangan beberapa komoditas bunga potong yang kurang baik seperti anturium, anyelir, gladiol dan heliconia kemungkinan dapat disebabkan oleh perubahan selera masyarakat.

Berdasarkan Tabel 2, terlihat juga bahwa pertumbuhan produksi tertinggi terjadi pada komoditas bunga krisan potong yaitu dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 25.40% setiap tahunnya. Pertumbuhan produksi bunga krisan potong yang tinggi disebabkan oleh tingginya permintaan bunga krisan potong. Bunga krisan potong banyak disukai masyarakat karena memiliki keindahan berupa keragaman bentuk dan warna, bunga krisan juga memiliki kesegaran yang relatif lama dan mudah dirangkai.

Sentra utama produksi bunga krisan potong di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat. Kontribusi dan pertumbuhan jumlah produksi bunga krisan potong di Jawa Barat tahun 2009 sampai 2013 dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Kontribusi dan pertumbuhan jumlah produksi bunga krisan potong di Jawa Barat tahun 2009 sampai 2013

Tahun Produksi (Tangkai) Kontribusi (%)

Sumber: Badan Pusat Statistik (2014) (diolah)

Tabel 3 menunjukan bahwa dari tahun 2009 sampai tahun 2013 rata-rata 46.85% bunga krisan potong di Indonesia dihasilkan dari daerah Jawa Barat. Salah satu penghasil bunga krisan potong di Jawa Barat adalah Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor menjadi daerah produksi bunga krisan di Indonesia karena tidak lepas dari adanya dukungan dari kondisi tanah dan iklim yang cocok dengan pertumbuhan bunga krisan. Pada Tabel 3 terlihat pula adanya pertumbuhan jumlah produksi bunga krisan potong di Jawa Barat dengan rata-rata sebesar 17.13% setiap tahunnya dari tahun 2009 sampai tahun 2013.

(16)

4

Selain risiko produksi, pengusaha bunga krisan potong juga menghadapi risiko pasar atau harga. Harga bunga krisan potong berubah-ubah sesuai dengan kondisi permintaan. Jumlah permintaan bunga krisan potong akan sangat tinggi ketika terjadi hari-hari raya besar seperti lebaran, natal, tahun baru imlek ataupun tahun baru masehi. Jumlah permintaan juga akan meningkat ketika terdapat kegiatan-kegiatan tertentu yang akan berlangsung, seperti pernikahan, seminar dan lain-lain. Ketika itu pula harga bunga krisan potong cenderung tinggi, namun jumlah permintaan serta waktu untuk kegiatan pernikahan, seminar dan lain-lain tidak dapat diperkirakan sehingga menyebabkan ketidakpastian harga. Sebaliknya, ketika bunga krisan potong sedang mengalami panen raya dan sedikitnya permintaan maka harga mengalami penurunan (Nursakinah 2012).

Risiko produksi dan risiko pasar dapat memberikan dampak atau pengaruh negatif terhadap perusahaan, dengan demikian perkembangan bisnis bunga krisan potong perlu diimbangi dengan kemampuan perusahaan dalam melakukan manajemen risiko. Manajemen risiko dapat meminimalisir kerugian akibat risiko sehingga sangat penting bagi pengusaha bunga krisan potong untuk mengantisipasi risiko dengan melakukan manajemen risiko. Oleh sebab itu, penting untuk mempelajari manajemen risiko pada bisnis bunga krisan potong di Kabupaten Bogor.

Perumusan Masalah

Seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang, karakteristik bisnis bunga krisan potong berisiko dan risiko yang sering dihadapi ialah risiko produksi dan risiko pasar (Nursakinah 2012; Nasti 2013; Permatasari 2014). Tingginya rsiko menyebabkan perusahaan melakukan diversifikasi. Diversifikasi sering digunakan dalam strategi manajemen risiko untuk mengurangi dampak risiko produksi (Harwood et al. 1999), begitu pula pada bisnis bunga potong diversifikasi sering digunakan. Diversifikasi dengan memproduksi lebih dari satu jenis tanaman dapat mengurangi risiko kerugian total karena perusahaan tidak bergantung pada satu komoditi. Contoh pada beberapa penelitian seperti penelitian Akcaoz (2000), Wisdya (2009), Nasti (2013) dan Permatasari (2014) diversifikasi digunakan untuk menangani risiko. Walaupun demikian, tidak semua perusahaan melakukan diversifikasi, contohnya adalah perusahaan Sekar Arum.

(17)

5

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah menilai kinerja manajemen risiko di Sekar Arum berdasarkan 2 aspek, yaitu:

1. Aspek proses bisnis yang terdiri atas: budidaya mother plant krisan, pembibitan krisan, budidaya bunga krisan potong dan pemasaran bunga krisan potong.

2. Aspek proses manajemen risiko yang terdiri atas: identifikasi risiko, pengukuran risiko, penanganan risiko dan evaluasi.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah:

1. Menilai kinerja manajemen risiko di Sekar Arum, bukan melakukan identifikasi risiko dan pengukuran risiko untuk merumuskan alternatif penanganan risiko.

2. Kajian masalah dalam penelitian difokuskan pada manajemen risiko produksi dan manajemen risiko pasar atau harga di Sekar Arum.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengusaha dalam bidang agribisnis menghadapi risiko atau ketidakpastian yang besar setiap harinya. Risiko yang dihadapi dapat berupa risiko produksi, risiko pasar atau harga, risiko kelembagaan, risiko sumberdaya manusia dan risiko finansial (Harwood et al. 1999). Risiko menunjukkan peluang atau kemungkinan suatu kejadian merugikan yang bisa diketahui oleh pembuat keputusan, pada umumnya risiko dapat menimbulkan dampak negatif terhadap keberlangsungan bisnis. Dampak negatif yang ditimbulkan seperti produktivitas yang berfluktuasi dan ketidakpastian terhadap keuntungan yang diperoleh sehingga berdampak pada pendapatan perusahaan.

Identifikasi Risiko pada Agribisnis

(18)

6

Para peneliti biasanya melakukan identifikasi risiko dengan membuat daftar risiko, namun diagram Fishbone juga dapat digunakan sebagai hasil dari identifikasi risiko seperti yang digunakan pada penelitian Djauhari (2014). Diagram Fishbone menggambarkan permasalahan dan penyebabnya dalam suatu kerangka tulang ikan. Diagram ini menunjukkan hubungan antara penyebab utama suatu masalah yang terjadi. Pada intinya, daftar risiko dan diagram Fishbone memiliki fungsi yang sama hanya berbeda metode penulisannya saja.

Beberapa sumber risiko pada kegiatan produksi agribisnis yang teridentifikasi ialah kondisi iklim dan cuaca, curah hujan, bencana alam, hama dan penyakit, hewan predator, kualitas input, kekurangan peralatan atau tenaga kerja, kontaminasi, kerusakan mekanis serta kesalahan pekerja (Akcaoz 2000; Drollette 2009; Wisdya 2009). Cuaca dan iklim, hama dan penyakit, kinerja sumberdaya manusia yang tidak optimal, merupakan sumber yang paling sering menyebabkan risiko produksi yang dihadapi oleh pelaku bisnis budidaya bunga potong (Permana 2011; Nasti 2013; Permatasari 2014). Permana (2011) membagi sumber risiko menjadi 2, yaitu dari dalam lingkungan perusahaan seperti tenaga kerja dan dari luar perusahaan seperti kondisi iklim atau cuaca dan serangan hama dan penyakit. Sumber risiko pada budidaya bunga potong berbeda dengan sumber risiko pada pembibitan bunga. Sumber risiko produksi pada pembibitan bunga ialah kualitas air, kualitas sekam, kualitas mother plant serta cuaca yang tidak menentu (Rachmi 2014).

Risiko yang dihadapi tidak hanya risiko produksi, pengusaha bunga potong juga mengalami adanya risiko pasar. Risiko pasar yang paling umum disebabkan oleh permintaan yang bersifat musiman (Nursakinah 2012). Permintaan yang bersifat musiman menyebabkan fluktuasi dan tidak pastinya permintaan. Fluktuasi dan ketidakpastian permintaan menyebabkan ketidakpastian harga produk dan pada akhirnya berpengaruh pada ketidakpastian pendapatan yang diperoleh.

Variabel utama yang diduga menjadi sumber risiko pada usaha di bidang florikultura khususnya bunga krisan potong adalah perubahan cuaca dan iklim, hama dan penyakit, kualitas air, kualitas sekam, kualitas mother plant, kinerja sumberdaya manusia yang tidak optimal serta permintaan yang bersifat musiman. Variabel utama ini juga diduga menjadi sumber risiko pada bisnis bunga krisan potong di Sekar Arum.

Pengukuran Risiko pada Agribisnis

Pengukuran risiko dilakukan untuk mengetahui besaran risiko yang dialami dan mengetahui pengaruh atau dampak risiko terhadap suatu kegiatan bisnis melalui penggunaan suatu alat pengukuran tertentu. Pengukuran risiko belum banyak dilakukan oleh perusahaan, hal ini terlihat dari masih banyaknya penelitian yang melakukan pengukuran risiko seperti penelitian Wisdya (2009), Permana (2011), Nasti (2013), Rachmi (2014) dan Permatasari (2014).

(19)

7 spesialisasi. Variance, standard deviation, dan coefficient variation menjadi indikator besar atau kecilnya risiko yang dihadapi. Jika semakin kecil nilai dari ke-3 indikator tersebut maka semakin rendah risiko yang dihadapi, begitu juga sebaliknya semakin besar nilai dari ke-3 indikator tersebut maka semakin tinggi risiko yang dihadapi. Risiko produksi spesialisasi krisan adalah sebesar 0.11 pada krisan tipe spray dan 0.30 pada krisan tipe standar (Nasti 2013). Nilai ini menunjukkan bahwa produksi krisan tipe standar mengalami risiko produksi yang lebih besar dibandingkan dengan krisan tipe spray.

Sumber risiko yang telah diidentifikasi dengan analisis kualitatif, dapat dinilai tingkatan dampak dan probabilitasnya. Z-score dan VaR (Value at Risk) atau Expert Opinion dan Delphy digunakan untuk mengukur probabilitas dan dampak risiko. Analisis dampak dan probabilitas risiko dilakukan oleh Nasti (2013) dengan menggunakan metode Expert Opinion dan Delphy melalui wawancara. Metode Expert Opinion dan Delphy dipilih karena tidak tersedia data historis mengenai jumlah produksi terkait risiko produksi bunga krisan potong pada perusahaan. Expert Opinion merupakan suatu metode dimana seorang ahli dalam suatu bidang diminta pendapatnya mengenai dampak dan probabilitas suatu risiko. Sementara itu metode Delphy merupakan suatu metode dimana beberapa orang ahli diminta pendapat mengenai dampak dan probabilitas dari suatu risiko yang kemudian pendapat dari ahli diberikan kepada ahli lainnya tanpa memberitahukan identitas dari ahli sebelumnya.

Berbeda dengan penelitian Permatasari (2014) dan Rachmi (2014) yang menganalisis probabilitas menggunakan metode nilai standar atau Z–score dan menganalisis dampak menggunakan metode VaR. Setelah dilakukan perhitungan Z-score dan VaR, dilakukan pemetaan terhadap sumber-sumber risiko yang akhirnya muncul strategi penanganan terhadap risiko yang dihadapi. Sumber yang memiliki probabilitas terbesar pada bisnis bunga krisan potong adalah sumber risiko hama. Sumber risiko hama juga merupakan sumber risiko yang memberikan dampak paling besar pada usaha budidaya bunga krisan potong (Permatasari 2014). Sumber risiko kualitas air memiliki probabilitas tertinggi dalam bisnis pembibitan bunga krisan dan dampak kerugian paling besar ditimbukan oleh sumber risiko kualitas sekam (Rachmi 2014).

Penanganan Risiko pada Agribisnis

(20)

8

Strategi penanganan risiko produksi yang disarankan dalam agribisnis adalah strategi preventif dan strategi mitigasi. Strategi preventif dan strategi mitigasi dijadikan alternatif strategi dalam penelitian yang dilakukan oleh Akcaoz (2000), Nguyen et al. (2005), Nasti (2013), Permatasari (2014), dan Rachmi (2014), sedangkan penelitian Permana (2011) hanya menjadikan strategi preventif sebagai strategi penanganan risikonya. Lain halnya dengan Sekumade dan Ogunro (2013) dan Wisdya (2009) yang menjadikan alternatif strategi mitigasi saja sebagai strategi penanganan risiko.

Penanganan risiko yang dilakukan menurut Akcaoz (2000) dan Nguyen et al. (2005) adalah melakukan investasi pada kegiatan bisnis off farm, kontrak dengan perusahaan lain, melebarkan daerah penjualan, diversifikasi, melakukan pengendalian hama dan penyakit, meminimalkan area tanaman berisiko dan memaksimalkan area tanaman kurang berisiko, kegiatan pemasaran diserahkan kepada ahli, penanaman di waktu yang optimal dan hanya menjual sebagian dari produksi. Strategi penanganan risiko produksi yang dilakukan perusahaan bunga krisan potong (Nasti 2013) diantaranya adalah strategi preventif, yaitu dengan pelaksanaan SOP pengolahan lahan yang baik, perbaikan mother plant, perbaikan sistem naungan, pengendalian OPT dan pengembangan sumber daya manusia; sedangkan strategi mitigasi yang dilakukan adalah diversifikasi produksi dan unit usaha, serta membangun kemitraan.

Contoh strategi preventif lain yang dapat diterapkan adalah melakukan teknik penyiraman dengan menyesuaikan kondisi kelembapan lingkungan, menjaga kualitas green house, perbaikan green house secara rutin, sterilisasi media tanam, menjaga kebersihan untuk menghindari penyebaran hama dan penyakit, dan melakukan pola tanam yang baik sehingga tidak terjadi kondisi terpaksa menggunakan mother plant yang sudah berumur tua. Strategi mitigasi yang dapat diterapkan adalah membuang bibit krisan yang terserang penyakit agar tidak menular ke tanaman lain dan pemberian pestisida hayati agar tidak mencamari tanaman (Rachmi 2014).

Pada penelitian Permatasari (2014), alternatif strategi yang dapat dilakukan adalah strategi preventif dan mitigasi. Strategi preventif dapat dilakukan dengan cara sterilisasi media tanam, pengaturan kelembapan green house, mengatur jarak tanam, sterilisasi alat panen, sanitasi lingkungan dan pencarian informasi ramalan cuaca sedangkan strategi mitigasi dapat dilakukan adalah memberikan musuh alami, pemasangan perangkap sesuai hama, perbaikan green house, mengontrol tenaga kerja saat proses produksi serta pemberian sarana, pendidikan dan pelatihan kepada tenaga kerja perusahaan.

(21)

9 Strategi penanganan risiko produksi berbeda dengan penanganan risiko pasar. Nursakinah (2012) fokus kepada alternatif strategi penanganan risiko pasar. Alternatif strategi penanganan risiko pasar diantaranya menjalin kerjasama dengan banyak pemasok, memproduksi bunga krisan sendiri, menjalin kerjasama antar pedagang, menjalin kerjasama dengan konsumen besar dengan menerapkan sistem abodement, mengolah sendiri bunga krisan menjadi bunga rangkai. Selain itu, bekerjasama dengan pihak lain untuk mengadakan pasar lelang bunga secara kontinu dan festival bunga nusantara setiap tahunnya.

Strategi yang dilakukan oleh setiap perusahaan berbeda-beda. Perbedaan disebabkan oleh karakteristik usaha, sumber risiko, tingkat risiko, serta kondisi tempat dan komoditas yang berbeda sehingga penanganan yang diberikan juga berbeda. Penanganan risiko yang umumnya diterapkan ialah diversifikasi (Akcaoz 2000; Wisdya 2009; Nasti 2013; Permatasari 2014). Nilai coeffecient variation spesialisasi krisan sebesar 0.11 pada krisan tipe spray dan 0.30 pada krisan tipe standar, namun apabila melakukan diversifikasi nilai coeffecient variation menjadi 0.12. Hal ini menunjukkan bahwa dengan melakukan diversifikasi, perusahaan dapat mengurangi risiko produksi yang terjadi dibandingkan memproduksi krisan secara spesialisasi (Nasti 2013). Sekar Arum tidak melakukan diversifikasi produk dalam menjalankan usahanya. Karena itu, pada penelitian ini akan dipelajari strategi manajemen risiko apa saja yang dilakukan Sekar Arum dalam menangani risiko produksi dan risiko pasar yang dihadapinya.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Manajemen Risiko

Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja manajemen risiko sehingga perlu mengetahui konsep manajemen risiko terlebih dahulu. Menurut Terry and Franklin (1982) manajemen merupakan suatu proses yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan. Tujuan dari manajemen risiko ialah meminimalisir kerugian yang diterima perusahaan akibat dari adanya risiko, sehingga manajemen risiko merupakan suatu usaha yang dilakukan perusahaan untuk mengenali, menilai dan menangani risiko yang dihadapi. Penanganan risiko yang baik diperlukan agar peluang kerugian yang menimpa perusahaan dapat diminimalkan sehingga biaya menjadi lebih kecil dan perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

(22)

10

langkah-langkah proses pengelolaan risiko yang terdiri atas identifikasi risiko, pengukuran risiko, penanganan risiko serta evaluasi (Darmawi 1990; Kountur 2008). Proses manajemen risiko dapat dilihat pada Gambar 1.

Identifikasi risiko dilakukan untuk mengetahui risiko apa saja yang dihadapi oleh perusahaan serta apa penyebab dari risiko. Kemudian dilakukan pengukuran risiko agar mengetahui besaran risiko dan dampak atau nilai kerugian yang disebabkan oleh adanya risiko sehingga perusahaan dapat mengetahui tingkat keparahan dari risiko yang ada. Setelah dilakukan identifikasi dan pengukuran, langkah selanjutnya adalah penanganan risiko. Penanganan risiko dimaksudkan untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam menangani masing-masing risiko yang telah diidentifikasi. Aktivitas selanjutnya dari proses manajemen risiko adalah evaluasi.

Pada intinya manajemen risiko bertujuan memilih alternatif agar dapat mengurangi dampak dari adanya risiko sehingga dapat meningkatkan keuntungan perusahaan (Kountur 2008). Manfaat yang diperoleh perusahaan dengan menerapkan manajemen risiko menurut Darmawi (1990) adalah sebagai berikut:

1. Mencegah perusahaan mengalami kegagalan 2. Meningkatkan laba yang diterima

3. Mengurangi fluktuasi laba tahunan dan aliran kas, serta membuat perusahaan melanjutkan kegiatannya walaupun telah mengalami kerugian untuk mencegah pelanggan pindah ke produk pesaing

4. Ketenangan pikiran bagi manajer karena adanya perlindungan terhadap risiko murni, hal ini merupakan harta non material bagi perusahaan

5. Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko sedangkan kreditur, pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung meningkatkan public image.

Gambar 1 Proses manajemen risiko Identifikasi Risiko  Risiko yang mungkin terjadi  Sumber-sumber risiko

Evaluasi

Penanganan Risiko  Menghindari risiko

 Mencegah timbulnya risiko (preventif)  Memperkecil kerugian akibat risiko (mitigasi)  Mengalihkan risiko ke pihak lain

(23)

11

Identifikasi Risiko

Tahap pertama dalam manajemen risiko adalah identifikasi risiko. Identifikasi risiko pada dasarnya merupakan kegiatan untuk menemukan risiko perusahaan dan sumber dari risiko yang dihadapi. Tahap ini merupakan tahap yang relatif paling sulit tetapi paling penting, sebab proses manajemen risiko selanjutnya sangat bergantung pada hasil identifikasi. Jika risiko yang mungkin menimpa perusahaan tidak diketahui, tidak mungkin dapat mengelola risiko dengan baik. Oleh sebab itu, perusahaan harus mampu mengidentifikasi risiko yang dihadapi sebelum melakukan penanganan risiko karena cara penanganan risiko berbeda-beda sesuai dengan risiko yang dihadapi. Kejadian yang termasuk risiko adalah kejadian yang memberikan dampak negatif, namun peluang kejadian negatif dapat diketahui dan diukur oleh pengambil keputusan (Robison dan Barry 1987; Kountur 2008).

Proses identifikasi risiko dimulai dari menentukan unit dalam perusahaan dimana risiko akan diidentifikasi, contohnya proses produksi merupakan tujuan utama dalam identifikasi risiko produksi. Memahami kegiatan yang dilakukan unit perusahaan dan menentukan aktivitas krusial merupakan tahapan selanjutnya dalam proses identifikasi risiko. Dikatakan aktivitas krusial apabila unit risiko tidak dapat menghasilkan produk atau jasa jika aktivitas yang bersangkutan terganggu. Identifikasi risiko perlu dilakukan terhadap barang atau apa saja yang ada pada kegiatan krusial dan orang yang terlibat di dalamnya serta menentukan bentuk kerugiaan yang dapat dialami. Setelah risiko teridentifikasi, selanjutnya menentukan penyebab atau sumber risiko dan tahap akhir yang dilakukan dalam identifikasi risiko adalah membuat daftar risiko yang berisikan risiko yang terjadi dan sumber penyebabnya (Kountur 2008). Sumber risiko pada kegiatan produksi pertanian dapat dibedakan menjadi 5 kelompok (Moschini dan Hennessy 1999), yaitu:

1. Risiko Produksi

Risiko produksi merupakan kegagalan yang terjadi dalam proses budidaya atau dalam proses memproduksi suatu komoditas. Risiko produksi merupakan risiko yang lebih sering dihadapi oleh pelaku bisnis pertanian di sektor onfarm daripada subsektor lainnya. Sumber risiko yang berasal dari kegiatan produksi diantaranya adalah teknik dan alat produksi yang tidak tepat, perubahan iklim dan cuaca, adanya hama dan penyakit, kesalahan tenaga kerja bagian produksi, rendahnya kualitas input, kurangnya pengawasan, dll.

2. Risiko Pasar atau Harga

Risiko pasar merupakan risiko yang terjadi akibat tidak stabilnya harga output dan harga input. Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat dijual diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dll.

3. Risiko Kelembagaan

(24)

12

dapat memunculkan masalah bagi produsen dalam negeri karena meningkatkan jumlah pesaing bagi produsen dalam negeri. Risiko kelembagaan dapat memberi dampak pada risiko produksi, risiko pasar atau harga dan risiko keuangan.

4. Risiko Sumberdaya Manusia

Risiko sumberdaya manusia adalah kejadian yang menyebabkan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan tidak bekerja dengan optimal. Risiko sumberdaya manusia sangat erat kaitannya dengan produksi sehingga dapat mempengaruhi risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan. Risiko suberdaya manusia dipengaruhi oleh kualitas sumberdaya yang bekerja dalam suatu kegiatan usaha khususnya pertanian.

5. Risiko Finansial

Risiko finansial terjadi karena adanya kejadian yang berhubungan dengan finansial, dimana kejadiannya tidak sesuai dengan yang direncanakan. Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun akibat dari krisis ekonomi dan sebagainya.

Pengukuran Risiko

Pengukuran risiko adalah proses lebih lanjut setelah risiko teridentifikasi dan dibuatkan daftar risikonya. Hal yang diukur dalam pengukuran risiko adalah besarnya kemungkinan kejadian merugikan yang dapat terjadi dan besarnya kerugian bila risiko benar-benar terjadi. Pengukuran risiko perlu dilakukan untuk menentukan tingkat kepentingannya dan untuk memperoleh informasi yang memudahkan dalam menentukan upaya penanganan risiko yang tepat (Darmawi 1990).

Alat pengukuran yang digunakan untuk mengukur besarnya risiko adalah nilai variance, standard deviation dan coefficient variance (Elton dan Gruber 1995). Ke-3 ukuran tersebut berkaitan satu sama lain dan nilai variance sebagai penentu ukuran yang lainnya. Standard deviation merupakan akar kuadrat dari variance sedangkan coefficient variation merupakan rasio dari standard deviation dengan nilai expected return dari suatu kegiatan usaha. Return yang diperoleh dapat berupa pendapatan, produksi ataupun harga (Elton dan Gruber 1995). Penilaian risiko dengan menggunakan nilai variance dan standard deviation tidak mempertimbangkan risiko dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan (expected return), sehingga jika nilai variance dan standard deviation digunakan untuk mengambil keputusan dalam penilaian risiko dikhawatirkan akan terjadi keputusan yang kurang tepat. Karena itu, lebih baik menggunakan coefficient variance untuk menilai risiko karena ukuran ini telah mempertimbangkan risiko yang dihadapi untuk setiap pendapatan (return) yang diperoleh dari kegiatan usaha.

(25)

13 diketahui probabilitas berhasil dan gagalnya. Sedangkan untuk data yang bersifat kontinus (berbentuk desimal) dapat digunakan metode Z-Score.

Jika peluang terjadinya risiko sudah diketahui, dampak kerugian yang ditimbulkannya pun dapat dihitung menggunakan metode VaR (Value at Risk). Metode VaR (Value at Risk) merupakan metode yang popular dan efektif untuk mengukur dampak risiko. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis dari bisnis (Kountur 2008). Peluang terjadinya risiko tidak mungkin bernilai nol, seingga perusahaan seharusnya menentukan batas risiko dan batas dampak risiko yang akan dicapai sehingga itu merupakan target dalam manajemen risiko dan dapat memotivasi penanganan risiko yang akan dilakukan (Kasidi 2010).

Penanganan Risiko

Setelah mengidentifikasi dan mengukur risiko yang dihadapi, tahap selanjutnya adalah penanganan risiko. Penanganan risiko terdiri atas 4 cara, yaitu menghindari risiko, mencegah timbulnya risiko (preventif), memperkecil kerugian akibat risiko (mitigasi) dan mengalihkan risiko ke pihak lain (Darmawi 1990; Kountur 2008).

1. Menghindari risiko

Salah satu cara menangani risiko adalah menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan risiko. Menghindari risiko dapat dilakukan dengan cara menolak memiliki atau melaksanakan kegiatan yang menimbulkan risiko atau dengan cara menyerahkan kembali risiko yang terlanjur diterima atau menghentikan kegiatan yang mengandung risiko.

2. Preventif

Preventif merupakan kegiatan penanganan risiko yang dilakukan untuk mencegah timbulnya risiko agar dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya risiko. Strategi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur, mengembangkan sumberdaya manusia, memasang atau memperbaiki fasilitas fisik, dan lain sebagainya.

3. Mitigasi

(26)

14

4. Pengalihan risiko

Pengalihan risiko merupakan cara penanganan risiko dengan mengalihkan dampak risiko ke pihak lain. Cara ini bertujuan mengurangi kerugian yang dihadapi oleh perusahaan. Cara ini dapat dilakukan melalui asuransi, leasing dan hedging. Lindung nilai (hedging) merupakan cara untuk mengurangi risiko kerugian akibat perubahan harga. Hedging berarti mengalihkan risiko dari suatu usaha yang menginginkan pengurangan risiko kepada pihak yang mau menerima risiko dalam pertukaran profil yang diharapkan.

Penanganan risiko dapat menggunakan salah satu cara atau kombinasi dari beberapa cara di atas yang paling efektif dan efisien sesuai dengan karakteristik masing-masing risiko seperti frekuensi, kegawatan, jenis, sumber risiko dan biayanya. Perusahaan dapat menyusun anggaran untuk menunjang kegiatan penanganan risiko yang dilakukan. Besarnya biaya yang diluarkan oleh perusahaan bergantung pada seberapa besar perusahaan, kompleksitas proses dan risiko yang ditanggung (Hanggraeni 2010).

Evaluasi

Manajemen risiko tidak berhenti hanya sampai pada penanganan risiko saja, masih ada 1 tahap lagi yaitu evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa prosedur operasional diikuti dengan baik, penanganan risiko yang dilakukan telah sesuai dengan risiko yang dihadapi dan mampu meminimalisir risiko. Evaluasi juga diperlukan untuk membantu dalam melakukan perbaikan terhadap kinerja manajemen risiko dan untuk mengidentifikasi adanya risiko dan sumber risiko yang baru ataupun berubah. Perbaikan yang berkelanjutan akan membuat perusahaan semakin baik, risiko dan biaya berkurang serta ketika suatu risiko terjadi maka penanganan yang dipilih akan tepat sesuai dengan risiko yang dihadapi. Hasil penemuan pada saat evaluasi dilaporkan kepada pimpinan, manajer risiko atau pihak lain yang berwenang membahas penemuan dan menindaklanjuti penemuan (Hanggraeni 2010).

Aspek penunjang

Manajemen risiko yang formal dan terintegrasi diperlukan agar mendukung pengelolaan risiko suatu bisnis berjalan efektif. Perusahaan harus membuat manajemen risiko yang formal yang didukung oleh manajemen puncak. Manajemen risiko formal tidak hanya mencakup proses manajemen risiko, tetapi didukung pula oleh beberapa hal, yaitu (Kasidi 2010):

1. Infrastruktur keras, seperti ruang kerja, bagian khusus manajemen risiko, komputer, model statistik dan sebagainya.

2. Infrastruktur lunak, seperti budaya hati-hati, sikap responsif terhadap risiko dan sebagainya.

(27)

15

Kerangka Pemikiran Operasional

Karakteristik bisnis bunga krisan potong berisiko, walaupun demikian Sekar Arum telah menjalankan bisnis bunga potong selama 7 tahun dengan spesialisasi pada bunga krisan potong. Keberhasilan Sekar Arum menjalankan bisnis dengan spesialisasi ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko. Karena itu, menarik untuk mempelajari manajemen risiko di Sekar Arum dan menilai bagaimana kinerja manajemen risiko yang telah dilakukan oleh Sekar Arum.

Pada penelitian ini, kinerja manajemen risiko dinilai berdasarkan kinerja proses manajemen risiko dan untuk memperdalam penelitian maka penilaian kinerja proses manajemen risiko dilakukan pada setiap tahapan proses bisnis yang ada di Sekar Arum. Proses bisnis di Sekar Arum terdiri atas: (a) budidaya mother plant krisan, (b) pembibitan krisan, (c) budidaya bunga krisan potong dan (d) pemasaran bunga krisan potong, sedangkan proses manajemen risiko terdiri atas (a) identifikasi risiko, (b) pengukuran risiko, (c) penanaganan risiko, (d) evaluasi dan (e) aspek penunjang.

Terdapat 2 variabel yang dinilai dalam tahap identifikasi risiko yaitu (a) pengetahuan perusahaan terhadap risiko dan sumber risiko, (b) pencatatan yang dilakukan untuk mendukung proses identifikasi risiko. Berbeda dengan tahap pengukuran risiko, variabel yang dinilai pada tahap ini ialah kegiatan yang dilakukan Sekar Arum untuk mengetahui risiko prioritas untuk ditangani seperti apakah melakukan pengukuran besaran, peluang ataupun dampak risiko. Kinerja penaganan risiko dinilai berdasarkan keakuratan alternatif penangan risiko yang yang telah dilakukan. Penilaian tidak hanya berhenti sampai penanganan risiko, tetapi masih ada tahap evaluasi dan aspek penunjang yang juga dianalisis. Variabel dalam evaluasi ialah pelaksanaan rapat dan pembuatan laporan, sedangkan aspek penunjang terdiri atas ketersediaan sumberdaya manusia dan sarana prasarana.

(28)

16

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada perusahaan Sekar Arum. Sekar Arum merupakan perusahaan yang menghasilkan bunga krisan potong yang berlokasi di Jl. Gunung Salak Endah, Desa Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah penghasil bunga krisan potong di Jawa Barat dan Sekar Arum telah menjalankan bisnisnya selama 7 tahun secara spesialisasi pada bunga krisan potong. Selain itu, pertimbangan lain dalam pemilihan lokasi

Gambar 2 Tahapan kerangka pemikiran operasional Manajemen risiko telah dijalankan dengan baik oleh

Sekar Arum

Masih harus ada perbaikan dalam manajemen risiko

Saran Perusahaan Sekar Arum melakukan spesialisasi

pada bunga krisan potong selama 7 tahun, walaupun karakteristik bisnisnya berisiko

Menilai kinerja manajemen risiko di Sekar Arum

Aspek penunjang

 Ketersediaan sumberdaya manusia

 Ketersediaan sarana prasarana Evaluasi

 Rapat evaluasi

 Laporan evaluasi Identifikasi risiko

 Pengetahuan tentang risiko dan sumber risiko

 Pencatatan data

Penanganan risiko

 Rencana penanganan risiko

 Tidakan penanganan risiko Pengukuran risiko

 Peluang dan dampak risiko

 Standar peluang dan dampak risiko

Kesimpulan

Verifikasi hasil penilaian

(29)

17 penelitian ini adalah kesediaan pihak perusahaan sehingga penelitian dapat dilaksanakan. Pengumpulan data di Sekar Arum berlangsung pada bulan Maret 2015 sampai bulan April 2015.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian mengenai manajemen risiko ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber atau objek penelitian untuk menjawab tujuan penelitian sedangkan data sekunder adalah jenis data yang sudah diterbitkan dan dimaksudkan untuk mendukung penelitian agar lebih jelas dan spesifik. Jenis, sumber dan rincian data yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Jenis, sumber dan rincian data yang digunakan dalam penelitian

Jenis Data Sumber Data Rincian Data

Primer Pengelola, kepala

kebun, kepala

bagian pembibitan di Sekar Arum

Gambaran umum perusahaan, pengetahuan tentang risiko dan sumber risiko, cara identifikasi sumber risiko, pencatatan data, pengolahan data, besaran risiko dan dampak risiko, standar risiko perusahaan, alat bantu pengukuran, rencana penanganan risiko, strategi penanganan risiko, evaluasi, laporan evaluasi, ketersediaan budget, ketersediaan peralatan, ketersediaan SOP dan staff khusus manajemen risiko.

Sekunder Buku, artikel,

Konsep manajemen risiko, literatur tentang bunga krisan potong dan kinerja manajemen risiko, volume dan nilai ekspor komoditi hortikultura di Indonesia, produk domestik bruto hotel dan restoran atas dasar harga konstan, jumlah produksi bunga potong di Indonesia, jumlah produksi bunga krisan potong di Indonesia.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

(30)

18

2. Studi literatur dan kepustakaan untuk dapat menganalisa secara teoritis terhadap masalah yang berhubungan dengan penulisan. Data yang didapatkan secara studi literatur pada penelitian ini adalah konsep manajemen risiko, literatur tentang bunga krisan potong dan kinerja manajemen risiko, volume dan nilai ekspor komoditi hortikultura di Indonesia, produk domestik bruto hotel dan restoran atas dasar harga konstan, jumlah produksi bunga potong di Indonesia, dan jumlah produksi bunga krisan potong di Indonesia.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh pada penelitian dianalisis dengan metode analisis kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui gambaran umum perusahaan Sekar Arum dan manajemen risiko yang dilakukan Sekar Arum. Analisis kualitatif dilakukan dengan cara mendeskripsikan gambaran umum perusahaan dan manajemen risiko di Sekar Arum mulai dari identifikasi risiko, pengukuran risiko, upaya penanganan risiko dan sampai pada evaluasi yang dilakukan.

Pengolahan data selanjutnya adalah melakukan penilaian terhadap kinerja manajemen risiko di Sekar Arum. Kinerja manajemen risiko di Sekar Arum dinilai berdasarkan proses manajemen risiko yang dilakukan, yang terdiri atas:

1. Identifikasi Risiko

Variabel yang diukur untuk menilai kinerja identifikasi risiko didapatkan dari literatur. Identifikasi risiko merupakan kegiatan untuk mengetahui risiko dan sumber risiko. Identifikasi risiko yang dilakukan perusahaan akan lebih baik jika seluruh karyawan mengetahui hasil identifikasi sehingga memiliki kesadaran untuk mengurangi risiko yang ada (Kountur 2008). Oleh karena itu, pengetahuan seluruh karyawan di Sekar Arum terkait risiko dan sumber risiko menjadi komponen untuk menilai kinerja manajemen risiko. Berdasarkan literatur, variabel penilaian dapat dikembangkan menjadi ketersediaan catatan yang terkait dengan risiko. Pencatatannya terdiri atas ketersediaan SOP, pencatatan jumlah penggunaan input, HPT, suhu dan kelembapan. Pencatatan digunakan sebagai bukti fisik apabila terdapat penyimpangan yang memicu timbulnya risiko, sehingga membuat hasil identifikasi sumber-sumber risiko yang dilakukan perusahaan lebih akurat. Selain itu, dibutuhkan pula pencatatan jumlah produksi dan jumlah kegagalan setiap masing-masing sumber risiko agar pengukuran risiko dapat dilakukan.

2. Pengukuran Risiko

(31)

19 sehingga standar yang telah ditetapkan dijadikan sebagai sebagai target (Kasidi 2010).

3. Penanganan Risiko

Penanganan risiko yang sebaiknya dilakukan oleh perusahaan bunga krisan potong lebih banyak didapatkan dari penelitian terdahulu yang telah dirangkum seperti pada bab tinjauan pustaka. Contohnya pada tahap budidaya mother plant krisan variabel yang menjadi penilaiannya adalah melaksanakan SOP dengan baik, menerapkan pola tanam dengan baik, perbaikan naungan secara kontinu, pengontrolan kualitas naungan, mengatur jarak tanaman, strerilisasi alat pemotong, sanitasi lingkungan secara rutin, dan lain sebagainya. Berbeda dengan pada tahap pemasaran bunga krisan potong, variabel yang menjadi penilaiiannya ialah menjalin kerjasama dengan beberapa pihak seperti (a) pemasok, (b) sesama bisnis bunga krisan potong, (c) menjalin kerjasama dengan pedagang atau konsumen besar. 4. Evaluasi

Variabel untuk menilai kinerja tahap evaluasi disusun berdasarkan konsep evaluasi yang ada pada buku Hanggraeni (2010). Berdasarkan konsep tersebut, maka didapatkan komponen penilaiannya ialah penanganan risiko telah dilakukan secara tepat, pelaksanaan rapat evaluasi secara berkala, membuat laporan terkait risiko untuk pimpinan atau bagian lainnya yang berwewenang terhadap hasil evaluasi. Selain itu, rencana tindakan perbaikan dalam manajemen risiko yang dilakukan oleh perusahaan juga menjadi komponen penilaian.

5. Aspek penunjang

Aspek penunjang dibagi menjadi 2 komponen yaitu sumberdaya manusida dan sarana prasarana. Sumberdaya manusia penting untuk menunjang terlaksananya manajemen risiko dan manajemen risiko dapat berjalan secara efektif apabila terdapat unit khusus yang bertanggung jawab atas pelaksanaan manajemen risiko. Oleh sebab itu, variabel ketersediaan divisi khusus manajemen risiko menjadi komponen penilaian dalam aspek penunjang. Namun, perlu juga untuk menilai apakah jumlah sumberdaya yang tersedia di perusahaan mencukupi dan apakah masing-masing karyawan memiliki kompetensi sesuai pekerjaannya.

Ketersediaan sarana dan prasarana juga tidak kalah penting dari sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia tidak dapat melakukan manajemen risiko apabila tidak didukung oleh tersedianya sarana prasarana seperti ruang kerja yang nyaman, peralatan untuk melakukan pengukuran risiko dan penanganan risiko. Selain peralatan yang bersifat fisik, diperlukan pula anggaran untuk menunjang kegiatan penanganan risiko yang dilakukan (Hanggraeni 2010).

(32)

20

Seletah dilakukan penilaian, dibuat tabel ringkasan hasil penilaian kinerja manajemen risiko. Tabel hasil penilaian pada masing-masing proses bisnis di Sekar Arum dapat dilihat pada Lampiran 7 sampai Lampiran 10. Ringkasan hasil menunjukan total skor kinerja manajemen risiko setiap proses bisnis. Tingginya nilai total skor tidak dapat digunakan untuk membandingkan atau menyimpulkan tahapan yang telah dilakukan dengan baik. Hal ini terjadi karena jumlah komponen penilaian berbeda-beda sehingga menyebabkan nilai maksimum yang dapat diperoleh juga berbeda. Karena itu, data yang ada diolah dan diringkas kembali menjadi bentuk tabel penilaian kinerja manajemen risiko pada masing-masing tahap proses bisnis yang memuat informasi skor penilaian yang dicapai perusahaan, skor maksimum atau skor ideal, persentase skor penilaian terhadap skor maksimum dan persentase relatif terhadap total. Tabel untuk menghitung besaran kinerja manajemen risiko pada masing-masing proses bisnis dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Form cara menghitung kinerja manajemen risiko pada masing-masing proses bisnis di Sekar Arum

Persentase total skor terhadap skor maksimum dihitung agar menunjukan ukuran sebenarnya yang dapat dibandingkan. Semakin tinggi nilai persentase, menunjukan kinerja manajemen risiko semakin dilaksanakan dengan baik. Berbeda dengan nilai persentase relatif terhadap total yang dihitung agar mengetahui kontribusi kinerja proses manajemen risiko terhadap kinerja manajemen risiko secara keseluruhan. Untuk memudahkan dalam mengartikan skor dan membuat kesimpulan, dibuat klasifikasi dari nilai persentase skor penilaian terhadap skor maksimum. Klasifikasi persentase hasil penilaian kinerja manajemen risiko di Sekar Arum dapat dilihat pada Tabel 6.

(33)

21

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

Sekar Arum merupakan perusahaan yang memproduksi bunga krisan potong yang terletak di Jl. Gunung Salak Endak, Desa Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Sekar Arum didirikan pada tahun 2008 dengan tujuan memanfaatkan lahan yang dimiliki dan memberdayakan masyarakat sekitar. Pemilik Sekar Arum bekerja sama dengan salah satu pegawai di perusahaan tanaman hias untuk mengembangkan usahanya sendiri dengan memproduksi bibit krisan dan bunga krisan potong. Alasan pendiri memilih bisnis bunga krisan potong ialah tingginya permintaan bunga krisan potong dan produktivitas bunga krisan potong lebih tinggi jika dibandingkan dengan bunga potong jenis lainnya.

Masa jaya bisnis Sekar Arum terjadi pada tahun 2009 sampai tahun 2011. Pada masa jaya, Sekar Arum mampu menghasilkan 50 000 bibit krisan dan 25 000 tangkai bunga krisan potong dalam seminggu. Bisnis bunga krisan potong yang dijalankan tidak selamanya mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2011 terjadi hujan dan angin kencang di lokasi budidaya sehingga menyebabkan naungan dan mother plant bunga krisan rusak. Hal ini menyebabkan perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar. Belum bangkit dari masalah tersebut, pada tahun 2013 kembali terjadi hujan dan angin kencang di lokasi budidaya. Oleh sebab itu, saat ini Sekar Arum tidak lagi menjual bibit bunga krisan. Bibit bunga krisan yang dihasilkannya hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Jumlah bunga krisan potong yang diproduksi pun mengalami penurunan, saat ini Sekar Arum hanya mampu memproduksi 12 000 tangkai bunga krisan potong per minggu.

Struktur Organisasi Perusahaan

(34)

22

Gambar 3 Struktur organisasi di Sekar Arum tahun 2015

Seperti yang terlihat pada Gambar 3, struktur organisasi di Sekar Arum hanya terdiri dari pemilik, pengelola, kepala kebun, kepala bagian pembibitan dan karyawan, tidak ada bagian khusus yang melakukan manajemen risiko. Padahal agar pelaksanaan manajemen risiko dilakukan secara efektif, dianjurkan untuk membentuk suatu unit yang bertanggung jawab atas pelaksanaan manajemen risiko. Hal ini menjadi kelemahan Sekar Arum dalam melaksanakan manajemen risiko. Di samping itu, deskripsi pekerjaan dari masing-masing bagian dalam struktur organisasi di Sekar Arum sebagai berikut:

1. Pemilik

Tugas dan wewenang dari pemilik adalah pengambil keputusan tertinggi dalam perusahaan dan bertugas mengawasi perkembangan perusahaan. 2. Pengelola

Pengelola bertanggung jawab atas semua kegiatan dalam perusahaan, baik itu kegiatan produksi, pemasaran, keuangan serta bertanggung jawab atas karyawan yang ada.

3. Kepala Kebun

Kepala kebun bertugas mengontrol keseluruhan kegiatan produksi. Selain itu, kepala kebun juga mengontrol hama dan penyakit yang menyerang tanaman, kualitas input, jumlah bibit yang ditanam dan jumlah produksi bunga krisan potong serta pelaporan kegiatan produksi. Wewenang dari kepala kebun ialah mengkoordinasikan karyawan agar kegiatan bisnis bunga krisan potong dapat berjalan dengan baik. Untuk membantu tugas kepala kebun, terdapat kepala bagian pembibitan yang khusus menangani kegiatan pembibitan krisan.

Sumberdaya Perusahaan

Sumberdaya perusahaan adalah segala hal yang dimiliki perusahaan yang berperan penting dalam kinerja perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Sumberdaya juga dibutuhkan untuk menunjang terlaksananya manajemen risiko. Sumberdaya perusahaan yang dimiliki terdiri atas sumberdaya fisik dan sumberdaya manusia.

Pemilik

Kepala Kebun Pengelola

Karyawan Karyawan

Kepala Bagian Pembibitan

(35)

23

Sumberdaya Fisik

Sumberdaya fisik merupakan barang atau sarana dan prasarana yang dimiliki oleh perusahaan untuk menjalankan seluruh proses bisnis mulai dari kegiatan produksi hingga kegiatan pemasaran. Sumberdaya fisik yang dimiliki Sekar Arum terdiri atas lahan, bangunan dan naungan, alat transportasi, instalasi listrik dan air serta peralatan.

1. Lahan

Lahan yang digunakan merupakan lahan milik sendiri dengan total luas lahan sekitar 2 ha. Namun, lahan yang digunakan untuk bisnis bunga krisan potong Sekar Arum hanya sekitar 5 000 m2 , sisanya digunakan untuk bangunan villa dan budidaya tanaman pangan seperti cabai dan jagung. Kegiatan budidaya cabai dan jagung dikelola oleh orang yang berbeda. Pada lahan Sekar Arum terdapat bangunan kantor, naungan, ruang packing, toilet dan tempat parkir.

2. Bangunan dan naungan

Pada lahan Sekar Arum terdapat bangunan kantor berukuran 50 m2 yang berfungsi sebagai tempat dilakukannya transaksi, menerima tamu dan kegiatan lainnya. Perusahaan juga memiliki naungan dengan konstruksi bambu untuk mendukung kegiatan produksi bunga krisan potong. Total naungan yang dimiliki Sekar Arum adalah 31 naungan, terdiri atas 23 naungan untuk budidaya bunga krisan potong dan 8 naungan untuk bibit krisan dan mother plant krisan. Ukuran naungan berbeda-beda karena faktor ketersediaan lahan, lebar naungan 6 m dengan panjang bervariasi antara 15 m sampai 25 m dan dalam 1 naungan terdapat 4 bedengan.

Pada dasarnya pembuatan naungan bertujuan untuk menghindari tanaman dari panas, angin dan hujan secara langsung yang dapat menyebabkan kerusakan fisik tanaman dan memicu serangan hama penyakit. Namun, kondisi naungan yang ada di perusahaan tidak seluruhnya mampu menjalankan fungsinya. Hal ini terjadi karena Sekar Arum tidak melakukan pengontrolan kondisi naungan secara rutin dan tidak adanya perbaikan secara kontinu sehingga kondisi naungan yang tidak baik menjadi salah satu sumber risiko di Sekar Arum.

Selain kantor dan naungan, Sekar Arum memiliki ruang packing dan menyediakan beberapa fasilitas seperti toilet, mushola dan tempat parkir. Ruang packing digunakan untuk kegiatan packing dan tempat menyimpan bunga krisan potong sebelum dikirim ke konsumen.

3. Alat transportasi

Sekar Arum memiliki alat transportasi yaitu mobil box. Mobil box digunakan untuk mengirim bunga krisan potong ke Jakarta. Pengiriman dilakukan 2 kali dalam seminggu dengan jumlah yang bervariasi antara 300 sampai 500 tangkai bunga krisan potong setiap pengiriman.

4. Instalasi listrik dan air

Sekar Arum memiliki 3 unit MCB, masing-masing berukuran 2 600 W. Instalasi listrik ini digunakan untuk tambahan penyinaran tanaman

(36)

24

5. Peralatan

Peralatan yang dimiliki Sekar Arum dapat dikelompokan menjadi 2 berdasarkan penggunaannya, yaitu penunjang kegiatan produksi dan penunjang kegiatan packing. Penunjang kegiatan prosuksi terdiri atas garpu tani, cangkul, gunting stek, sanyo, selang, steam, torn air, lampu dan keranjang. Peralatan yang digunakan untuk melakukan packing terdiri atas meja packing dan gunting. Jenis, jumlah dan kegunaan peralatan yang dimiliki Sekar Arum dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Jenis, jumlah dan kegunaan peralatan yang dimiliki Sekar Arum tahun 2015

Peralatan Jumlah (unit) Kegunaan

Garpu tani 5 Persiapan lahan

Cangkul 8 Persiapan lahan

Gunting Stek 10 Cutting pucuk, cutting bunga krisan potong

Sanyo 7 Penyiraman

Selang 7 Penyiraman

Steam 2 Penyemprotan pestisida

Torn 1 Penampungan air

Lampu 70 Peyinaran areal kebun dan penyinaran

tanaman krisan

Keranjang 10 Hasil cutting pucuk dan bibit krisan

Meja packing 1 Packing

Gunting 2 Packing

Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang kegiatan bisnis Sekar Arum. Hal ini disebabkan sumberdaya manusia masih memegang peran penting dalam kegiatan perusahaan mulai dari persiapan produksi, pembibitan, panen, sampai pada kegiatan pemasaran. Namun, jika tidak dikelola dengan baik sumberdaya manusia dapat menjadi sumber risiko pada perusahaan. Risiko yang disebabkan oleh sumberdaya manusia secara rinci dijelaskan pada bab hasil dan pembahasan.

Sekar Arum memiliki 16 orang tenaga kerja yang terdiri atas pengelola, kepala kebun, kepala bagian pembibitan dan 13 orang tenaga kerja produksi. Tenaga kerja produksi terdiri atas tenaga kerja pembibitan dan tenaga kerja budidaya krisan potong. Tenaga kerja untuk pembibitan berjumlah 3 orang terdiri atas 2 perempuan dan 1 laki-laki sedangkan untuk budidaya bunga krisan potong berjumlah 10 orang yang terdiri atas 5 laki-laki dan 5 perempuan. Seluruh sumberdaya manusia yang dimiliki Sekar Arum merupakan penduduk di sekitar lokasi perusahaan, kecuali pengelola.

(37)

25 dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 dengan istirahat 1 jam dan diberi gaji Rp40 000 per hari. Sistem pemberian gaji dilakukan seminggu sekali dan apabila terdapat karyawan yang tidak masuk kerja maka akan mengurangi jumlah gaji yang diterima. Selain gaji, karyawan juga mendapatkan tunjangan hari raya yang diberikan 1 tahun sekali.

Operasional Kegiatan

Budidaya Mother Plant Krisan

Mother plant krisan merupakan tanaman yang dipersiapkan untuk memperbanyak tanaman bunga krisan. Mother plant berasal dari stek pucuk yang memiliki pertumbuhan dan perakaran yang sehat dan kuat. Ketepatan dalam memilih tanaman induk sangat penting karena mempengaruhi hasil produksi. Pada tahap awal, bibit terlebih dahulu ditanam di tempat pembibitan untuk diakarkan selama 2 minggu. Setelah itu bibit akan ditanam di lahan yang digunakan khusus untuk mother plant.

Mother plant yang sudah berumur 2 minggu dan sudah mulai tumbuh cabang baru dapat dilakukan penopingan atau pemotesan pucuk muda. Hal ini bertujuan merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru yang dapat tumbuh dengan baik dan banyak. Pemotesan juga dilakukan pada pucuk yang akan menghasilkan bunga untuk mencegah mother plant menghasilkan bunga. Pemotongan pucuk atau bakalan bunga pada mother plant dilakukan secara rutin. Selain itu, selama masa periode tanam mother plant perlu diberikan tambahan penyinaran cahaya pada malam hari agar tidak terjadi pembentukan bunga atau kelainan pada bentuk daun stek yang dihasilkan. Karena itu, dilakukan penyinaran dengan cahaya lampu dari pukul 19.00 sampai 03.00 dengan lampu 80 W.

Kegiatan panen pada mother plant krisan merupakan pemangkasan (cutting) pucuk tanaman yang akan digunakan sebagai stek. Panen mother plant krisan dapat dilakukan pada saat usia produktif yakni pada saat tanaman berusia 6 minggu hingga 18 minggu. Stek yang diambil dari pucuk mother plant sebanyak 2 sampai 3 tunas sepanjang 5 atau 6 cm dan dipilih yang sehat, bebas dari penyakit serta tidak mengambil pucuk yang terdapat kuncup bunga agar mudah untuk menghasilkan akar baru. Setiap tanaman induk dapat menghasilkan 8 stek hasil cutting perbulan. Setelah habis masa produktif (4 bulan) dilakukan pembongkaran tanaman mother plant dan tanah disiapkan kembali untuk penanaman mother plant selanjutnya.

Pembibitan atau Perakaran Bunga Krisan

(38)

26

Hasil stek krisan yang telah berakar (2 minggu) dicabut lalu di masukan kedalam plastik, 1 plastik berisi 50 bibit krisan. Plastik yang berisi bibit dimasukan kedalam keranjang lalu dibawa ke tempat penanaman (naungan budidaya bunga krisan potong). Penanaman bisa tidak langsung dilakukan, bibit kuat sampai 3 hari tetapi dengan penyimpanan yang tepat.

Budidaya Bunga Krisan Potong

Produksi bunga krisan potong di Sekar Arum menggunakan bibit yang berasal dari tahap pembibitan. Pada proses produksi bunga krisan potong terdapat kegiatan yang harus dilakukan diantaranya ialah persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan packing serta pengiriman.

1. Persiapan Lahan

Lahan yang akan ditanam, 2 hari sebelumnya dibersihkan dari rumput dan tanaman sisa, lalu tanah dibalik dan dibuatkan bedengan. Selama seminggu, lahan disiram agar hawa panas dalam tanah keluar dan suhu tanah menjadi stabil. Lalu dipasang jaring net disetiap bedengan.

2. Penanaman

Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam sedalam 2 sampai 3 cm dan sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar keadaan bibit masih segar. Bibit yang digunakan adalah bibit yang sudah berakar yang telah diseleksi dan bebas dari hama penyakit tanaman. Penanaman bibit dilakukan tidak terlalu dalam untuk menghindari terkena busuk pangkal batang, kemudian setelah itu tanaman ditutup dengan tanah sebatas leher akar untuk selanjutnya disiram kembali agar bibit bisa terikat oleh tanah serta tidak rebah.

3. Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman krisan terdiri atas penyiraman, pemupukan, pembersihan gulma, penyemprotan pestisida dan penyinaran.

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan agar kondisi tanah terjaga kelembabannya. Penyiraman dilakukan 1 atau 2 hari sekali bergantung pada kondisi cuaca. Jika intensitas hujan tinggi penyiraman dilakukan 2 hari sekali sedangkan ketika sedang musim panas penyiraman dilakukan 1 hari sekali.

b. Pemupukan

Pemupukan dilakukan sebanyak 1 kali dalam seminggu dengan menggunakan pupuk ABmix. Pupuk ABmix dicampurkan kedalam torn air sehingga penggunaannya berbarengan dengan kegiatan penyiraman. c. Pembersihan gulma (penyiangan)

Di sela-sela tanaman bunga krisan biasanya ditumbuhi gulma atau rumput yang harus segera dibersihkan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyiangan dilakukan secara rutin dan dilakukan secara langsung dengan mencabut rumput menggunakan tangan.

d. Penyemprotan pestisida

(39)

27 135, Metazeb, Guntur dan Cronus. Penyemprotan pestisida dilakukan 1 atau 2 kali dalam seminggu pada hari Selasa dan atau hari Sabtu pukul 15.00 WIB yaitu saat hama sedang aktif. Pestisida yang digunakan disesuaikan dengan kondisi hama dan penyakit yang menyerang tanaman.

e. Penyinaran

Penyinaran tambahan pada malam hari dengan lampu 80 W dilakukan selama 1.5 bulan atau sampai tanaman bunga krisan setinggi 30 cm. Penyinaran dilakukan untuk menghambat pembentukan bunga hingga tinggi tanaman mencapai 30 cm.

4. Pemanenan

Kegiatan panen dilakukan ketika tanaman telah berumur 4 bulan atau minimal telah berukuran 75 cm. Pemanenan biasanya dilakukan di pagi hari, namum tidak menutup kemungkinan panen bunga krisan potong dilakukan di siang atau sore hari karena ada permintaan mendadak dari konsumen. Panen dilakukan dengan mencabut keseluruhan tanaman bunga krisan. Tanaman yang sudah dicabut kemudian dipotong menggunakan gunting bunga untuk menyamakan panjangnya. Selanjutnya bunga krisan potong diangkut dan dibawa ke ruangan packing.

5. Grading

Bunga krisan potong yang dihasilkan Sekar Arum tidak semuanya bagus. Oleh sebab itu, sebelum melakukan packing Sekar Arum melakukan grading terlebih dahulu sehingga bunga krisan potong yang dihasilkan dikelompokan menjadi 2 berdasarkan kualitasnya yaitu Grade A dan Grade B dengan harga jual yang berbeda. Ciri-ciri bunga krisan potong yang termasuk dalam Grade A ialah tanaman yang memiliki tinggi minimal 75 cm, warna bunga tidak pudar, daun tidak terkena penyakit.

6. Packing dan pengiriman

Packing dilakukan dengan mengikat bagian ujung bawah bunga krisan potong, 1 ikat berisi 10 tangkai bunga krisan potong. Selanjutnya untuk menjaga kualitas bunga krisan potong, packing untuk pedagang di Jakarta berbeda dengan packing bunga krisan potong untuk konsumen perorangan sekitar perusahaan. Packing untuk ke pedagang di Jakarta dilakukan dengan kertas putih dan setiap bunga diberikan cup agar tidak rusak. Berbeda dengan packing untuk konsumen sekitar perusahaan yang menggunakan kertas koran dan setiap bunga tidak diberikan cup.

Gambar

Tabel 1  Pertumbuhan volume ekspor dan nilai ekspor komoditi hortikultura di
Tabel 2. Tabel 2  Pertumbuhan jumlah produksi bunga potong di Indonesia tahun 2009
Tabel 3  Kontribusi dan pertumbuhan jumlah produksi bunga krisan
Gambar 1  Proses manajemen risiko
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bunga Potong Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang mempunyai prospek yang baik untuk dibudidayakan dan dijadikan sumber penghasilan, karena dilihat dari permintaan

Secara garis besar tujuan penu:.isan skripsi ini adalah mengetahui saluran pemasaran yang berlaku pada sistem agribisnis bunga potong pada salah satu produsen bunga

Pada penelitian ini pengaruh pemberian sitokini dari air kelapa dan GA3 terhadap penundaan senescence daun bunga potong krisan putih akan dievaluasi berdasarkan berat segar pada

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang mengkaji hubungan faktor internal dan eksternal dengan tingkat penerapan teknologi budidaya bunga krisan potong oleh

Sedangkan sensor infrared akan mendeteksi ketinggian bunga krisan potong di dalam prototype greenhouse dan pengaturan cahaya ini diatur menggunakan dimmer, dimana dimmer

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang mengkaji hubungan faktor internal dan eksternal dengan tingkat penerapan teknologi budidaya bunga krisan potong oleh

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Survei Trips dan Cendawan Entomopatogen pada Tanaman Krisan di Perusahaan Bunga Potong Natalia Nursery adalah

tidak memiliki lisensi untuk pengembangan bunga krisan dari negeri asal bunga krisan Gambar: 4 Berdasarkan hasil survey dan analisis lingkungan yang telah diuraikan tersebut, maka