The effect of tillage system and fertilizer to the growth and production of soybean genotypes on acid dry land

Teks penuh

(1)

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN PEMUPUKAN

TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA

GENOTIPE KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM

NOFRIANIL

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS

DAN SUMBER INFORMASI

Saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Genotipe Kedelai di Lahan Kering Masam” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka pada bagian akhir tesis ini.

Bogor, September 2012

(4)
(5)

ABSTRACT

NOFRIANIL. The Effect of Tillage System and Fertilizer to the Growth and Production of Soybean Genotypes on Acid Dry Land. Under direction of MUNIF GHULAMAHDI, and EKO SULISTYONO.

Indonesia has quite extensive dry land for the development of the soybean plants. Low of pH and water availability in the dry season are the main factors that become obstacles on planting soybean in dry land. It can be overcome with tolerant genotypes of dry land and cultivation techniques of tillage. The objective of the research was to determine the response of soybean genotypes under cultivation techniques of tillage on acid dry land. The research was conducted at Krawangsari, Natar, South Lampung District, and Lampung Province, Indonesia from June to November 2011. The experiment was performed using a split plot design with three replications. The main-plot of the experiment was soybean genotype consisted of SP-30-4, PG-57-1, Tanggamus and Anjasmoro. The subplot was combination of tillage systems (furrow and convensional) and input types (fertilizers, lime, compost and organic mulch). The results showed that the dry weight, number of fill pods and seed weight per plot were not significantly different among genotypes. Furrow tillage system combined with fertilizers, lime, compost and organic mulch can increase plant nutrient uptake, dry weight, number of fill pods and seed weight per plot.

(6)
(7)

RINGKASAN

NOFRIANIL. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Genotipe Kedelai di Lahan Kering Masam. Dibimbing oleh MUNIF GHULAMAHDI dan EKO SULISTYONO.

Pemanfaatan lahan marjinal seperti kering masam merupakan salah satu cara meningkatkan produksi kedelai. Kendala lahan kering masam berupa tingkat kesuburan tanah yang rendah dan terbatasnya ketersediaan air terutama pada musim kemarau sehingga tidak dilakukan penanaman (bera). Oleh karena itu dibutuhkan teknologi budidaya yang dapat menekan laju kehilangan air melalui evaporasi. Teknologi budidaya berupa pengolahan tanah yang minimal yaitu hanya pada alur tanam dengan pemberian input (pupuk) pada alur tanam disertai pemberian mulsa organik merupakan upaya efisiensi pemanfaatan ketersediaan air. Teknologi budidaya tersebut dipadukan dengan penggunaan genotipe kedelai yang toleran lahan kering masam dapat meningkatkan produksi kedelai.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji tanggap beberapa genotipe kedelai yang toleran pada lahan kering masam dan mendapatkan teknik budidaya yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai di lahan kering masam. Penelitian dilaksanakan pada musim kemarau II yaitu bulan Juni sampai November 2011, di Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah petak terpisah (Split plot Design) dua faktor dan rancangan lingkungan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok lingkungan (RAKL) dengan 3 ulangan. Petak utama adalah genotipe kedelai yang terdiri dari 4 jenis yaitu hasil persilangan Sibayak dan Pangrango (SP-30-4); hasil persilangan Pangrango dan Godek (PG-57-1); Tanggamus; Anjasmoro. Anak petak adalah sistem olah tanah yang dikombinasikan dengan pemupukan terdiri dari 10 taraf, yaitu sistem alur (olah tanah pada alur tanam) tanpa penambahan pupuk; sistem konvensional (olah tanah rata pada seluruh petakan tanam) tanpa penambahan pupuk; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar dan kapur; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos; sistem alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan dihamparkan mulsa organik; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar dan kapur; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos; sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan dihamparkan mulsa organik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe yang ditanam baik varietas nasional maupun genotipe hasil silangan F7 menunjukkan pertumbuhan yang hampir sama pada setiap variabel pengamatan sehingga produktivitas yang dihasilkan tidak berbeda nyata. Teknik budidaya berupa olah tanah alur yang dikombinasikan dengan pupuk 200 kg SP-36/ha dan 100 kg KCl/ha; kapur kalsium magnesium karbonat [CaMg (CO3)2] dengan dosis 1.5 ton/ha; kompos dengan dosis 2.5 ton/ha; dan pemberian mulsa jerami padi dengan ketebalan 5 cm konsisten meningkatkan pertumbuhan tanaman, sehingga produktivitas yang dihasilkan nyata lebih tinggi dibandingkan teknik budidaya lainnya.

(8)

ii

yang mencapai 1.37 ton/ha. Oleh karena itu paket teknologi yang dapat diterapkan pada lahan kering kedepannya yaitu budidaya tanam sisip dengan pengolahan tanah pada alur tanam, input berupa 200 kg SP-36/ha, 100 kg KCl/ha, dan kapur kalsium magnesium karbonat [CaMg (CO3)2] dengan dosis 1.5 ton/ha kemudian aplikasi mulsa organik. Paket teknologi ini dipadu dengan penggunaan genotipe toleran lahan kering baik yang telah dilepas oleh pemerintah yaitu Varietas Tanggamus dan Anjasmoro maupun genotipe hasil silangan F7 dari tim pemulia IPB yaitu Sp-30-4 dan PG-57-1.

(9)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

(10)
(11)

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN PEMUPUKAN

TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA

GENOTIPE KEDELAI DI LAHAN KERING MASAM

NOFRIANIL

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Sains

pada Departemen Agronomi dan Hortikultura

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)
(13)
(14)
(15)

Judul : Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Genotipe Kedelai di Lahan Kering Masam

Nama : Nofrianil NRP : A.252100021

Disetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, M.S. Dr. Ir. Eko Sulistyono, M.Si.

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Agronomi Dekan Sekolah Pascasarjana

dan Hortikultura

Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, M.S. Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

(16)
(17)

PRAKATA

Segala puji hanyalah milik Allah Ta’ala, atas berkat rahmat dan karunia-Nya karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam, keluarga dan seluruh sahabatnya. Tema yang dipilih dalam penelitian yaitu: teknologi budidaya kedelai pada lahan kering, dengan judul “Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Genotipe Kedelai di Lahan Kering Masam”. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS dan Dr. Ir. Eko Sulistyono, MSi selaku pembimbing yang telah memberikan arahan dan nasehat kepada penulis dalam penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr. Ir. Trikoesoemaningtyas, MSc dan Dr. Desta Wirnas, SP, Msi yang telah berkenan memberi izin dalam penggunaan benih kedelai hasil persilangan F7 untuk digunakan dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Prof. Ir. Ardi, MSc dan Prof. Dr. Ir. Aswaldi Anwar, MS serta Prof. Dr. sc. agr. Ir. Trimurti Habazar yang telah memberikan rekomendasi kepada penulis untuk melanjutkan studi ke program magister, Pascasarjana IPB. Rasa hormat dan penghargaan, penulis persembahkan kepada orang tua, saudara dan karib kerabat atas keikhlasan dan do’anya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Pak Sugiman, Pak Kepala Desa Krawangsari, Pak Suwanto, Pak Inon dan Pak Tasma beserta keluarga atas bantuannya. Kepada sahabat penulis: Toyip, teman-teman di Wisma Dolphin, rekan-rekan FORSCA AGH-IPB dan seluruh mahasiswa Pascasarjana IPB, terima kasih atas motivasi dan dukungannya. Harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat dalam upaya peningkatan produksi kedelai pada lahan kering masam. Terima kasih.

Bogor, September 2012

(18)
(19)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 17 November 1986 sebagai anak pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Yasnil dan Masnina Anem. Penulis lulus dari SMU Uswatun Hasanah, Pondok Pesantren Serambi Mekah Padang Panjang pada tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis diterima di Universitas Andalas pada Program Studi Agronomi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian.

(20)
(21)

DAFTAR ISI

Genotipe Kedelai Adaptif Lahan Kering Masam ... 8

Teknologi Budidaya Lahan Kering Masam ... 9

(22)
(23)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Hasil analisis tekstur tanah, bahan organik dan kadar air tanah ... 17 2 Hasil analisis kimia tanah ... 19 3 Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumbuhan

dan produksi ... 21 4 Pengaruh interaksi genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

pertumbuhan tinggi tanaman (cm) pada 2 mst ... 22 5 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

pertumbuhan tinggi tanaman (cm) dari 4 mst sampai 8 mst ... 24 6 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

jumlah daun trifoliat (helai) dari 2 mst sampai 8 mst ... 25 7 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

jumlah cabang dari 4 mst sampai 8 mst ... 27 8 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

jumlah bintil akar pada 6 mst dan 8 mst ... 28 9 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

kandungan hara N, P dan K ... 30 10 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

serapan hara N, P dan K ... 31 11 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

bobot kering tajuk (g) pada 6 mst dan 8 mst ... 32 12 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

bobot kering akar (g) pada 6 mst dan 8 mst ... 34 13 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

nisbah bobot kering akar dan tajuk pada 6 mst dan 8 mst ... 36 14 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

jumlah polong isi dan jumlah polong hampa ... 37 15 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap

(24)
(25)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Perbedaan bentuk petakan berdasarkan sistem oleh tanah;

(26)
(27)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Deskripsi varietas unggul kedelai ... 53 2 Denah petak percobaan ... 55 3 Hasil analisis kandungan unsur hara pupuk kompos ... 56 4 Bentuk sistem olah tanah alur ... 57 5 Data iklim lokasi penelitian pada tahun 2011 ... 58 6 Korelasi antar variabel pertumbuhan tanaman ... 59 7 Korelasi antar variabel pertumbuhan tanaman dan bobot kering ... 60 8 Korelasi antar variabel pertumbuhan tanaman

(28)
(29)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Luas lahan pertanian potensial semakin berkurang karena digunakan untuk keperluan non pertanian seperti: industri, pemukiman dan infrastruktur. Irawan (2005) menyatakan bahwa konversi lahan sawah mencapai 188 ribu hektar per tahun, sebesar 58.68% untuk keperluan non pertanian. Oleh karena itu, pemanfaatan lahan marginal seperti lahan kering menjadi alternatif pilihan.

Lahan kering yang cukup luas di Indonesia berpotensi bagi pengembangan komoditas pangan seperti tanaman kedelai. Mulyani et al. (2009) menyatakan bahwa luas lahan kering masam sekitar 102 juta ha dan sekitar 56.3 juta ha diantaranya adalah lahan yang sesuai untuk usaha pertanian (pada wilayah datar-berbukit dengan lereng <30%). Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) terdapat 7 provinsi memiliki potensi pengembangan tanaman lahan kering seperti kedelai dan padi gogo. Salah satunya adalah provinsi Lampung memiliki luasan lahan kering mencapai 802 341 ha (Direktorat Perluasan Areal 2009).

Pengembangan kedelai di lahan kering yang tersebar luas di Sumatera berhadapan dengan masalah tingkat kesuburan tanah yang rendah, yaitu pH rendah (<5), kejenuhan Al tinggi (12.0-40.1%), Fe tersedia tinggi (41.30-73.43ppm), status P dan K tersedia rendah, sehingga memerlukan tambahan pupuk P dan K (Taufiq et al. 2004), kadar bahan organik rendah, kadar unsur hara secara umum rendah, derajat kejenuhan basa rendah, kapasitas tukar kation rendah dan daya menahan air rendah (Sudaryono et al. 2006). Kendala lingkungan lainnya adalah ketersediaan air yang rendah terutama di musim kemarau, sehingga indeks pertanaman (IP) di lahan kering lebih rendah daripada di lahan sawah (Mulyani 2006). Indeks pertanaman di lahan sawah mencapai IP 300 (Adisarwanto 2010) karena tersedianya air, sedangkan pada lahan kering tidak dilakukan penanaman (bera) ketika musim kemarau.

(30)

2

yang toleran dan berdaya hasil tinggi serta modifikasi lingkungan tumbuh. Sudaryanto dan Swastika (2007) menyatakan bahwa kontribusi varietas unggul dalam meningkatkan produktivitas paling mudah dilihat dan dipahami oleh petani. Oleh karena itu, perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai.

Pemerintah telah melepas beberapa varietas unggul dan toleran lahan kering masam diantaranya: Tanggamus, Sibayak dan Nanti. Akan tetapi, jumlah varietas toleran lahan kering masam masih terbatas dan perlu ditingkatkan jumlahnya (Kuntyastuti & Taufiq 2008). Peningkatan keragaman plasma nutfah dapat dilakukan dengan menggunakan kedelai F7 hasil silangan tim pemulia tanaman kedelai IPB. Beberapa hasil persilangan tersebut adalah galur harapan kedelai yang memiliki produksi tinggi dan adaptif lahan kering masam seperti: hasil persilangan Sibayak dengan Pangrango dan Pangrango dengan Godek.

Adanya keragaman karakter lahan dan kendala di lahan kering maka diperlukan varietas yang beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan yang supoptimal dan spesifik lokasi. Suhartina (2007) mendapatkan beberapa galur kedelai (Aochi-wil-60 dan 967/kawi-d9-185) telah diuji toleransinya terhadap kekurangan air dan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas unggul. Purwantoro et al. (2009) memperoleh tiga galur dengan rerata hasil lebih tinggi daripada Varietas Tanggamus sebagai pembanding dalam identifikasi galur-galur harapan yang toleran lahan kering masam di daerah Lampung.

Adaptasi tanaman terhadap cekaman lingkungan dapat lebih ditingkatkan dengan upaya modifikasi pada lingkungan tumbuh. Inovasi teknologi yang diterapkan harus mampu mengatasi permasalahan ketersediaan air dan meningkatkan kesuburan tanah. Umumnya budidaya tanaman di lahan kering masih dilakukan pengolahan tanah yang berat sehingga meningkatkan laju penguapan air melalui evaporasi. Atman (2006) menyatakan bahwa pengolahan tanah menyebabkan air tanah akan menguap sehingga pori-pori tanah menjadi kering dan kondisi ini menghambat perkembangan perakaran kedelai.

(31)

3 pemupukan yang efisien. Pemupukan lebih efisien karena pupuk diberikan pada alur tanam yang berada dekat dengan perakaran tanaman sehingga lebih mudah diserap tanaman. Hardjowigeno (2010) menyatakan bahwa cara penempatan pupuk sangat menentukan dalam efisiensi pemupukan. Hal ini dikarenakan pengambilan unsur hara dari tanah oleh tanaman adalah melalui pertukaran kation atau anion antara akar dengan larutan tanah atau kompleks jerapan koloid tanah.

Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah di lahan kering masam dapat dilakukan dengan pemupukan, pengapuran dan pengelolaan bahan organik (Mulyani 2006). Rachman et al. (2007) menyatakan bahwa lahan kering masam merupakan lahan yang tidak pernah tergenang dalam sebagian besar waktu dalam setahun, memiliki reaksi tanah yang masam (pH < 5,0), kejenuhan basanya < 50% dan jenis tanah didominasi oleh Ultisol dan Inceptisol. Oleh karena itu, kondisi lahan kering masam umumnya kahat unsur hara seperti P dan K, maka mutlak diberikan pupuk dasar berupa 150 kg SP-36/ha dan 100 kg KCl/ha.

Pembenaman bahan organik seperti kompos atau pupuk kandang dapat memperbaiki sifat fisik tanah termasuk agregasi tanah dan memperbesar daya adsorbsi tanah terhadap air (Harsono et al. 2007). Purwantoro et al. (2009) menambahkan bahwa produksi kedelai dapat ditingkatkan dengan penggunaan varietas adaptif yang dikombinasikan dengan teknologi perbaikan kesuburan lahan. Salah satu teknologi perbaikan kesuburan lahan yaitu penggunaan kapur dolomit dengan dosis 1.5 ton/ha.

(32)

4

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1 Menguji tanggap beberapa genotipe kedelai toleran pada lahan kering masam. 2 Mendapatkan teknik budidaya yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan

produksi kedelai di lahan kering masam.

3 Membuktikan tanggap dari interaksi genotipe kedelai dengan teknik budidaya dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai.

Hipotesis Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah:

1 Genotipe toleran lahan kering masam mampu tumbuh lebih baik dan produksi lebih tinggi dibandingkan varietas unggul.

2 Teknik budidaya berupa olah tanah pada alur tanam yang dikombinasikan dengan input berupa pupuk dasar, kapur, bahan organik dan pemulsaan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai lebih baik dibandingkan konvensional.

(33)

TINJAUAN PUSTAKA

Kondisi Lahan Kering Masam

Secara teoritis lahan kering di Indonesia dibedakan menjadi dua kategori, yaitu lahan kering beriklim kering, yang banyak dijumpai di kawasan timur Indonesia dan lahan kering beriklim basah, yang banyak terdapat di kawasan barat Indonesia. Cukup banyak tipologi wilayah pengembangan lahan kering yang terdapat di dua kategori tersebut. Namun wilayah pengembangan lahan kering di Indonesia diklasifikasikan berdasarkan potensi dan dominasi vegetasinya (Mayrowani et al. 2010).

Lahan kering dipilah lebih lanjut menjadi lahan kering masam dan non-masam. Lahan kering bertanah masam dicirikan dengan pH < 5.0 dan kejenuhan basa < 50%, yang tergolong pada tanah-tanah yang mempunyai sifat distrik. Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangkan) terdapat 7 provinsi memiliki potensi pengembangan tanaman lahan kering seperti kedelai dan padi gogo. Salah satunya adalah Provinsi Lampung yang memiliki luasan lahan kering mencapai 802 341 ha (Direktorat Perluasan Areal 2009).

(34)

6

Keadaan ini akan mempengaruhi perkembangan morfologi dan proses fisiologi tanaman kedelai yang menyebabkan rendahnya hasil (Hapsoh et al. 2005).

Curah hujan yang tinggi di sebagian wilayah Indonesia menyebabkan tingkat pencucian hara tinggi terutama basa-basa, sehingga basa-basa dalam tanah akan segera tercuci keluar lingkungan tanah dan yang tinggal dalam kompleks adsorpsi liat dan humus adalah ion H dan Al. Akibatnya tanah menjadi bereaksi masam dengan kejenuhan basa rendah, dan menunjukkan kejenuhan aluminium yang tinggi. Selain itu, tanah-tanah yang terbentuk umumnya merupakan tanah berpenampang dalam, berwarna merah-kuning, dan mempunyai kesuburan alami yang rendah (Subagyo et al. 2000).

Pengembangan komoditas pertanian di lahan kering masam akan menghadapi berbagai permasalahan teknis yaitu berupa rendahnya tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air pada musim kemarau. Tanah masam umumnya dicirikan oleh sifat reaksi tanah masam (pH rendah) yang berkaitan dengan kadar Al tinggi, fiksasi P tinggi, kandungan basa-basa dapat tukar rendah, kandungan besi dan mangan yang mendekati batas meracuni, peka erosi, miskin elemen biotik. Kendala tersebut dapat diatasi dengan teknologi pemupukan, pengapuran, serta pengelolaan bahan organik (Mulyani et al. 2009).

Tanggap Kedelai Pada Lahan Kering Masam

Kedelai termasuk tanaman golongan strata A, yang memerlukan penyinaran matahari secara penuh. Intensitas penyinaran matahari di wilayah tropika Indonesia terutama pada lahan kering cukup melimpah. Oleh karena itu kedelai optimal ditanam pada akhir musim hujan (Maret-April) atau musim kemarau (Juli-Agustus), dengan syarat suplementasi air irigasi tersedia (Sumarno & Manshuri 2006).

(35)

7 ketahanan mekanisme stomata sangat diperlukan untuk mengatur kehilangan air dan mengatur pengambilan karbondioksida (CO2) yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis (Taiz & Zeiger 2002).

Cekaman kekeringan merupakan pengaruh faktor lingkungan yang menyebabkan air tidak tersedia bagi tanaman. Hal ini disebabkan antara lain tidak tersedianya air di daerah perakaran tanaman dan permintaan air yang besar dari daun. Adapun secara fisiologi, cekaman kekeringan pada tanaman terjadi dimana laju evaporasi melebihi laju absorbsi air oleh perakaran tanaman (Hamim 2004).

Kendala lahan kering masam ketika musim kemarau selain dihadapkan pada keracunan ion logam, bahan organik yang rendah, juga permasalahan kekeringan. Dampak kekeringan yang terjadi pada setiap periode tumbuh kedelai yaitu: pada periode tumbuh aktif dapat menghambat perkembangan dan meluruhkan daun-daun pada cabang bagian bawah, pada periode pembungaan dapat mempertinggi kerontokan bunga, pada periode pembentukan polong dapat menghambat perkembangan polong dan merontokkan polong-polong yang terbentuk dan periode pengisian polong dapat mengurangi jumlah biji dan kepadatan jumlah biji (Lestari 2004). Tanaman kedelai yang mengalami kekurangan air pada fase pembungaan menyebabkan gugurnya bunga, sedangkan pada fase pengisian polong mengakibatkan biji yang dihasilkan kecil dan hampa (Rismaneswati 2006). Adisarwanto et al. (2007) menambahkan bahwa, terdapat empat tahap pertumbuhan kedelai yang kritis apabila tidak ada air, yaitu pertumbuhan awal (V0-V1-2), saat berbunga (R1-R2), pembentukan polong (R3), dan pengisian biji (R4-R5).

Pada lahan kering bereaksi masam (pH kurang dari 5.5), mineral Mn, Al, dan Fe tersedia secara berlebihan, sehingga dapat meracun bagi tanaman. Kadar Al yang tinggi (lebih dari 20%) menyebabkan keracunan pada akar kedelai dan daun berwarna kecoklatan. Selain itu, perkembangan bakteri Rhizobium juga terhambat pada tanah masam, kemungkinan disebabkan oleh kurangnya fotosintat dari daun (Sumarno & Manshuri 2006).

(36)

8

Keracunan Al menyebabkan kerusakan langsung pada sistem akar. Perkembangan akar terhambat dan menjadi tebal, pendek, kaku dan memperlihatkan bagian-bagian yang mati (Wijanarko 2004).

Genotipe Kedelai Adaptif Lahan Kering Masam

Cekaman lingkungan merupakan tantangan utama dalam memproduksi tanaman secara berkelanjutan. Tanaman memberikan tanggap secara fisiologi dan biokimia, sebagai upaya untuk menerima, menghindari dan menetralisir pengaruh dari cekaman. Sifat peka dan toleran tanaman bergantung kepada genetik dan tanggap biokimia yang dimiliki suatu spesies. Oleh karena itu penelitian lebih difokuskan untuk membangun adaptabilitas tanaman secara genetik dan biokimia dalam menghadapi berbagai kondisi cekaman lingkungan (Dubey 1999). Patakas et al. (2002) menambahkan bahwa tanaman tidak dapat mengekspresikan potensial genetiknya secara penuh pada kondisi cekaman. Cekaman lingkungan menyebabkan perubahan pada ekspresi gen, terjadi peningkatan akumulasi ion anorganik, perubahan sintesis protein yang mengakumulasi protein spesifik dan perubahan prilaku banyak enzim.

Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan budidaya kedelai di lahan kering masam adalah relatif rendahnya tingkat kesuburan tanah (pH, kandungan hara makro, dan bahan organik rendah), cekaman kekeringan pada pertanaman akhir musim hujan (MH II), gangguan hama, gulma dan penyakit tanaman. Perakitan varietas adaptif lahan kering masam lebih banyak diarahkan untuk mendapatkan varietas yang relatif toleran kemasaman tanah dan toleran kekeringan serta memiliki sifat-sifat agronomis yang baik seperti tanaman kokoh, tinggi, tidak mudah rebah, polong lebat dan tidak mudah pecah (Arsyad et al. 2006). Purwantoro et al. (2009) menambahkan bahwa upaya mengoptimalkan produktivitas kedelai di lahan masam melalui pendekatan genetik dengan penyediaan varietas kedelai adaptif lahan masam memiliki keuntungan yakni biaya murah dan mudah diadopsi oleh petani.

(37)

9 hingga 1.5 ton/ha. Varietas Slamet dan Sandoro juga dinilai toleran terhadap kemasaman tetapi produktivitas lebih rendah (1 ton/ha). Penggunaan varietas toleran pada lahan masam merupakan salah satu alternatif teknologi untuk meningkatkan produktivitas kedelai, selain pengapuran dan penggunaan pupuk organik (Kuntyastuti dan Taufiq 2008).

Teknologi Budidaya Lahan Kering Masam

Pengolahan tanah merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, karena dapat memperbaiki kegemburan dan drainase tanah. Namun demikian, pengolahan tanah secara konvensional juga berdampak terhadap kerusakan tanah, misalnya meningkatnya evaporasi dan menurunnya kadar bahan organik. Untuk memperkecil kerusakan tanah, maka disarankan untuk diolah seperlunya, agar lapisan atas tanah (top soil) tetap dalam keadaan menguntungkan bagi tanaman dan tidak terangkut ke tempat lain (Fahrurrozi et al. 2005).

Peningkatan dan pengawetan lengas tanah merupakan upaya konservasi air tanah. Hubungan pengawetan lengas tanah dalam upaya konservasi air tanah melalui dua cara yaitu: meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan mengurangi besarnya energi matahari yang jatuh ke bidang evaporasi. Usaha yang dilakukan agar air tersedia dalam tanah dan dimanfaatkan secara efisien bagi tanaman yaitu: pengolahan tanah, pemberian bahan organik, penggunaan mulsa dan pengendalian gulma (Harsono et al. 2007).

(38)

10

C-organik, N-total yang tinggi dibandingkan dengan jerami padi, hijauan jagung, dan flemingia (Erfandi & Widati 2008).

Pupuk kandang merupakan jenis pupuk organik yang umum digunakan dalam budidaya tanaman. Adapun kandungan hara yang terdapat pada pupuk kandang bervariasi tergantung pada jenis ternak, makanan ternak, umur, dan kesehatan ternak (Rachman et al. 2006). Rismaneswati (2006) menambahkan bahwa tindakan pengelolaan pada lahan kering dalam upaya memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah antara lain dengan pemberian bahan organik dan mulsa. Pemberian mulsa dilakukan untuk meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah dan meningkatkan daya menyimpan air dari tanah. Pemanfaatan sisa tanaman sebagai mulsa juga efektif melindungi tanah dari pukulan hujan untuk menghindari penghancuran agregat.

Pemberian mulsa jerami dengan ketebalan 5 cm, 80% menutupi permukaan tanah memberikan hasil lebih baik pada bobot 100 biji kering dibandingkan mulsa batu dan tanpa mulsa. Mulsa jerami lebih menjamin ketersediaan air sampai fase pengisian polong dan dengan tersedianya air membuat perkembangan akar semakin baik. Kondisi ini mendukung proses penyerapan hara lebih baik oleh akar tanaman (Jamila & Kaharuddin 2007).

(39)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan November 2011. Penelitian bertempat di Dusun Jepang, Desa Karawang Sari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, 110 m dpl. Analisis unsur hara tanah dan tanaman dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu: empat genotipe kedelai terdiri atas: dua hasil silangan (F7) yaitu: Sibayak dengan Pangrango (SP-30-4) dan Pangrango dengan Godek (PG-57-1), (diperoleh dari koleksi Dr. Trikoesoemaningtyas), dan dua varietas nasional yaitu: Anjasmoro dan Tanggamus (deskripsi tanaman dapat dilihat pada Lampiran 1), inokulan rhizobium, insektisida, pupuk SP-36, pupuk KCl, kapur kalsium magnesium karbonat [CaMg (CO3)2], kompos dan mulsa jerami. Alat yang digunakan ombrometer manual, timbangan analitik dengan ketelitian 0.1 g dan 0.01 g, penggaris, oven, dan termometer tanah.

Metode

Rancangan yang digunakan adalah petak terpisah (Split plot Design) dua faktor dengan rancangan lingkungan yaitu rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan.

Faktor pertama adalah genotipe kedelai, terdiri atas 4 taraf perlakuan yaitu: (G1) Hasil persilangan Sibayak dan Pangrango/SP-30-4

(G2) Hasil persilangan Pangrango dan Godek/PG-57-1

(G3) Tanggamus

(G4) Anjasmoro.

Faktor kedua adalah sistem olah tanah yang dikombinasikan dengan pemupukan terdisi atas 10 taraf perlakuan yaitu:

(40)

12

(S2) Sistem konvensional (olah tanah rata pada seluruh petakan tanam) tanpa penambahan pupuk

(S3) Sistem alur dengan penambahan pupuk dasar

(S4) Sistem alur dengan penambahan pupuk dasar dan kapur

(S5) Sistem alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos

(S6) Sistem alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan dihamparkan mulsa organik

(S7) Sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar

(S8) Sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar dan kapur

(S9) Sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos (S10) Sistem konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan dihamparkan mulsa organik.

Petak utama adalah genotipe kedelai dan anak petak adalah sistem olah tanah yang dikombinasikan dengan pemupukan (denah petak percobaan dapat dilihat pada Lampiran 2). Model linear aditif dari rancangan perlakuan ini adalah sebagai berikut :

Yijk = Nilai pengamatan perlakuan genotipe kedelai ke-i, sistem olah tanah ke-j, dan blok ke-k

µ = Rataan umum

αi = Pengaruh perlakuan genotipe kedelai ke-i

βj = Pengaruh perlakuan sistem olah tanah ke-j

δik = Pengaruh acak dari petak utama yang menyebar normal

ρk = Pengaruh aditif dari blok ke-k

(αβ)ij = Interaksi perakuan genotipe kedelai ke-i dengan sistem olah tanah ke-j

(41)

13 Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan pengujian sidik ragam pada selang kepercayaan 95%. Apabila hasil sidik ragam berpengaruh nyata, maka dilakukan pengujian beda nilai tengah antar perlakuan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5% menggunakan SAS 9.1.3 Portable.

Pelaksanaan Penelitian

Pupuk dasar yang diberikan berupa 200 kg SP-36/ha dan 100 kg KCl/ha, kapur yang diberikan berupa kalsium magnesium karbonat [CaMg (CO3)2] dengan dosis 1.5 ton/ha, kompos dengan bahan utama pupuk kandang sapi dosis 2.5 ton/ha, dan mulsa organik yang digunakan berupa jerami padi. Pupuk ditimbang menggunakan timbangan analitik dengan ketelitian 0.1 g. Pemberian pupuk dasar, kapur dan kompos dilakukan satu minggu sebelum tanam. Kandungan hara kompos yang digunakan, hasil analisisnya disajikan pada Lampiran 3. Mulsa jerami padi diberikan dua minggu setelah tanam, dihamparkan di atas petak tanam dengan ketebalan 5 cm.

Pengolahan lahan dilakukan berdasarkan perlakuan sistem olah tanah. Terdapat dua jenis sistem olah tanah yang diaplikasikan yaitu olah tanah alur dan olah tanah konvensional (perbedaan bentuk petakan dapat dilihat pada Gambar 1). Sistem olah tanah alur yaitu pengolahan tanah pada baris tanam dalam bentuk alur dengan kedalaman 10 cm pada petak tanam, kemudian input berupa pupuk dasar, kapur dan kompos diberikan pada alur (Lampiran 4). Sistem olah tanah konvensional dilakukan pengolahan pada seluruh permukaan petak tanam, kemudian input disebar secara merata pada permukaan petak tanam.

(42)

14

Gambar 1 Perbedaan bentuk petakan berdasarkan sistem olah tanah; (A) sistem olah tanah alur, (B) sistem olah tanah konvensional.

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pengendalian gulma dan pengendalian hama. Penyiraman dilakukan pada saat awal tanam yaitu 1 sampai 2 minggu setelah tanam (mst) karena tidak turun hujan. Penyiangan gulma dilakukan dua kali yaitu pada saat pengolahan lahan dan 4 mst. Pengendalian hama dilakukan pada saat awal gejala muncul dengan penyemprotan insektisida dengan bahan aktif klorantraniliprol 50 g/l. Hama yang mengganggu tanaman di lapangan yaitu: ulat grayak, ulat jengkal dan ulat penggerek polong.

Pengamatan

Pengamatan terdiri dari dua kategori yaitu variabel pengamatan tanaman contoh dan variabel pengamatan destruksi tanaman. Pengamatan tanaman contoh meliputi:

1 Tinggi tanaman (cm), dilakukan pengamatan setiap 2 minggu sampai 8 minggu setelah tanam (mst). Tinggi tanaman diukur dari permukaan sampai titik tumbuh pada batang utama menggunakan alat bantu penggaris.

2 Jumlah daun trifoliat yang sudah terbuka penuh dan hijau, dilakukan pengamatan setiap 2 minggu sampai 8 mst.

(43)

15 4 Jumlah polong isi dan polong hampa per tanaman dihitung saat panen.

5 Bobot 100 biji (g), biji ditimbang setelah dikeringkan hingga kadar air ± 12%. Penimbangan dilakukan terhadap biji yang dihasilkan pada setiap petak panen. 6 Bobot ubinan/petak panen (g/2 m2), petak panen berukuran 1 m x 2 m, biji

ditimbang setelah dikeringkan hingga kadar air ± 12%.

7 Produktivitas (ton/ha), bobot kering biji petak panen dikonversi ke dalam satuan ton/ha.

Pengamatan destruksi dilakukan pada tiap petak tanaman dengan 1 tanaman sampel selain tanaman yang digunakan dalam variabel pengamatan tanaman contoh. Pengamatan dilakukan pada 8 mst dan 10 mst. Variabel pengamatan meliputi:

1 Bobot kering (g) akar, batang dan daun ditimbang setelah dikeringkan dalam oven suhu 105oC selama 24 jam hingga kadar air ± 12%. Bobot tanaman ditimbang dengan timbangan analitik ketelitian 0.01 g.

2 Jumlah bintil akar tanaman dengan kriteria bintil masih segar.

3 Kandungan hara (N, P dan K) jaringan tanaman. Contoh daun diambil dari seluruh bagian daun yang telah dikeringkan dengan oven suhu 105oC selama 24 jam. Daun kering dihaluskan dengan alat penggiling. Kandungan N daun ditentukan dengan metode Kjeldhal, kandungan P dengan metode pengabuan kering, sedangkan untuk K dengan metode HClO4 +HNO3 dengan Atomic Absorption Spectrometer. Pelaksanaan analisis hara jaringan tanaman saat fase vegetatif maksimum yaitu 6 mst.

Pengamatan terhadap kondisi lingkungan tanam meliputi:

1 Analisis hara tanah dilakukan sebelum dilakukan pengolahan lahan, sebagai asumsi kandungan hara yang terdapat dalam tanah.

2 Suhu tanah (oC) diukur pada kedalaman 10 cm dengan termometer tanah pada 2 titik di setiap unit percobaan. Pengukuran suhu tanah dilakukan setiap 2 minggu.

(44)

16

dari bagian ujung alat tidak ditemui penghalang. Pengukuran kuantitas hujan harian dengan menghitung volume air yang ditampung pada alat menggunakan rumus:

Kuantitas hujan harian = � (��

3)

��2(cm2)

×

10 . . . (mm)

4 Kadar air tanah tersedia (available water capacity) ditetapkan berdasarkan perhitungan persentase air tanah secara langsung, yaitu contoh tanah dimasukkan ke dalam polibag dan diuji sampai pada kondisi kapasitas lapang dan kondisi tanaman layu permanen. Massa contoh tanah ditimbang sebelum (BB) dan setelah dioven (BK) pada suhu 105oC selama 24 jam.

Kadar air pada kondisi kapasitas lapang = BB−BK

BK × 100%

Kadar air pada kondisi layu permanen = BB−BK

BK × 100%

(45)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Lingkungan Tanam

Kondisi lingkungan tanam meliputi tanah dan iklim. Faktor tanah meliputi sifat fisik tanah dan kimia tanah. Tanah pada lokasi penelitian termasuk kriteria lempung dengan kandungan bahan organik yang rendah (Tabel 1). Tanah dengan tekstur pasir yang dominan, umumnya memiliki kandungan organik yang rendah. Anda (2003) menyatakan bahawa tanah bertekstur kasar yaitu banyak mengandung pasir, memiliki ruang pori tanah lebih besar dan jumlahnya lebih banyak mengakibatkan banyak permukaan tanah yang terekspos. Kondisi ini mempengaruhi aksebilitas mikroorganisme dekomposer pada substrat bahan organik menjadi lebih cepat dan lebih luas sehingga bahan organik akan cepat terurai dan hilang dari dalam tanah.

Tabel 1 Hasil analisis tekstur tanah, bahan organik dan kadar air tanah

Variabel Satuan Hasil

Air tersedia % 26.95 Rendah Sesuai bersyarat

Keterangan: * Analisis dilakukan pada bulan Juli 2011 di Laboratorium Balai Penelitian Tanah; **Analisis dilakukan di Laboratorium Pascapanen IPB; ***Penilaian kriteria berdasarkan Diagram Kriteria Tekstur Tanah dalam Hardjowigeno (2010)****Sumber dari: Sumarno dan Manshuri (2006).

(46)

18

menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah berperan memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Peranan bahan organik terhadap sifat fisik tanah yaitu dalam pembentukan agregat tanah sehingga dapat meningkatkan kemampuan menahan air. Pengaruh bahan organik terhadap sifat kimia tanah yaitu meningkatkan kapasitas tukar kation dan menyuplai hara N, P, K dan S. Pengaruh bahan organik terhadap biologi tanah yaitu meningkatnya jumlah dan aktivitas metabolik mikroorganisme tanah dalam dekomposisi bahan organik.

Kadar air tanah tersedia rendah yaitu sebesar 26.95%, hal ini dikarenakan tekstur tanah didominasi oleh pasir dengan persentase liat yang rendah. Hardjowigeno (2010) menyatakan bahwa kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tektur tanah. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air. Tanah yang bertekstur liat mempunyai luas permukaan lebih besar sehingga kemampuan menahan air lebih tinggi.

Sifat kimia tanah (Tabel 2) menunjukkan reaksi tanah (pH) agak masam pada pH aktual (pH H2O) dan masam pada pH potensial (pH KCl). Reaksi tanah aktual yang tidak terlalu masam mengindikasikan unsur hara dapat tersedia bagi tanaman. Hal ini dapat terlihat pada tingkat ketersediaan hara Fosfor (87.78 mg/kg) dan Kalium (105.07 mg/kg) yang tergolong tinggi. Adapun kandungan hara potensial Fosfor tergolong tinggi (475.00 mg/kg), sedangkan hara potensial Kalium tergolong rendah (163.00 mg/kg).

(47)

19 Tabel 2 Hasil analisis kimia tanah*

Variabel Satuan Metode Hasil

Analisis Kriteria**

475.00 Tinggi Sangat sesuai

K2O mg/kg 163.00 Rendah bersyarat Sesuai

P2O5 mg/kg Bray I 87.78 Sangat

Tinggi Sangat sesuai

K mg/kg Ekstrak

Morgan 105.07 Tinggi Sangat sesuai Susunan Kation

Keterangan: * Analisis dilakukan pada bulan Juli 2011 di Laboratorium Balai Penelitian Tanah; **Penilaian kriteria berdasarkan Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah 1983 dalam Hardjowigeno 2010)*** Sumber dari: Sumarno dan Manshuri (2006).

(48)

20

tertinggi didapatkan 89.5% dan tingkat keawanan yang rendah. Suhu udara tergolong tinggi yaitu rata-rata 26.6 oC dengan suhu maksimal mencapai 33.5 oC. Kelembaban udara mengalami penurunan dari awal tanam sampai masuk fase generatif dengan rata-rata 71%. Curah hujan tergolong rendah, hujan hanya turun pada awal tanam yaitu satu bulan sebelum tanam dan setelah tanam (67.2 mm), kemudian tidak ada hujan yang turun ketika fase pertumbuhan maksimum dan masuk fase generatif yaitu bulan Agustus (Lampiran 5).

Kedelai termasuk tanaman golongan strata A, yang memerlukan penyinaran matahari secara penuh. Sumarno dan Manshuri (2006) menyatakan bahwa berdasarkan kelimpahan cahaya matahari, kedelai optimal ditanam pada musim kemarau (Juli-Agustus). Suhu yang sesuai bagi pertumbuhan kedelai berkisar 22-27 0C. Kelembaban udara yang optimal berkisar RH 75-90% selama periode pertumbuhan hingga stadia pengisian polong dan kelembaban udara rendah (RH 60-75%) pada waktu pematangan polong hingga panen. Curah hujan yang merata 100-150 mm per bulan pada dua bulan sejak tanam merupakan kondisi yang cukup baik bagi pertumbuhan kedelai.

Kondisi lahan yang kering pada awal tanam karena tidak turun hujan maka dilakukan penyiraman sampai dua minggu setelah tanam. Hal ini dilakukan untuk mendukung ketersediaan air sehingga benih dapat berkecambah dengan baik sampai menjadi bibit. Pengendalian hama dilakukan pada saat awal gejala muncul dengan penyemprotan insektisida dengan bahan aktif klorantraniliprol 50 g/l. Hama yang mengganggu tanaman di lapangan yaitu: ulat grayak, ulat jengkal dan ulat penggerek polong. Subandi et al. (2006) menyatakan bahwa kendala pertanaman kedelai pada MK 2 selain kekeringan juga ancaman hama.

Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam

(49)

21

Tabel 3 Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumbuhan dan produksi

Variabel

(50)

22

Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman (cm)

Variabel tinggi tanaman (cm) pada awal pertumbuhan dipengaruhi secara nyata oleh interaksi antara genotipe dengan sistem olah tanah. Interaksi antara Genotipe Anjasmoro dan perlakuan sistem olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan menghasilkan tinggi tanaman nyata lebih tinggi daripada interaksi genotipe PG-57-1, SP-30-4 dan Tanggamus dengan berbagai perlakuan sistem olah tanah. Genotipe Anjasmoro, Tanggamus dan SP-30-4 lebih tanggap dengan perlakuan sistem olah tanah yang berbeda. Kondisi ini terlihat dari interaksi antara genotipe dengan sistem olah tanah, dimana pertumbuhan tinggi tanaman pada setiap genotipe nyata berbeda antar perlakuan sistem olah tanah, sedangkan interaksi antara Genotipe PG-57-1 dengan sistem olah tanah yang berbeda tidak menghasilkan tinggi tanaman yang nyata berbeda (Tabel 4).

Tabel 4 Pengaruh interaksi genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap tinggi tanaman (cm) pada 2 mst

Sistem olah tanah Genotipe

(51)

23 Pertumbuhan tinggi tanaman pada Genotipe Anjasmoro yang berinteraksi dengan sistem olah tanah alur, penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan menghasilkan tinggi tanaman nyata lebih tinggi daripada interaksi antara Genotipe Anjasmoro dengan sistem olah tanah konvensional tanpa pemupukan. Kondisi yang sama juga tampak pada pertumbuhan tinggi tanaman Genotipe SP-30-4 yang berinteraksi dengan sistem olah tanah alur, penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan menghasilkan tinggi tanaman nyata lebih tinggi daripada interaksi antara Genotipe SP-30-4 dengan sistem olah tanah konvensional tanpa pemupukan. Pertumbuhan tinggi tanaman pada Genotipe Tanggamus yang berinteraksi dengan sistem olah tanah alur, penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan dibandingkan interaksi antara Genotipe Tanggamus dengan sistem olah tanah konvensional tanpa pemupukan menunjukkan hasil yang sama. Pertumbuhan tinggi tanaman pada Genotipe Tanggamus yang berinteraksi dengan sistem olah tanah alur, penambahan pupuk dasar dan kapur menghasilkan tinggi tanaman nyata lebih tinggi daripada interaksi antara Genotipe Tanggamus dengan sistem olah tanah konvensional, penambahan pupuk dasar dan kapur.

Pertumbuhan tinggi tanaman pada 4 mst dan 6 mst dipengaruhi secara nyata oleh faktor tunggal genotipe. Akan tetapi pada 8 mst pengaruh perlakuan genotipe terhadap tinggi tanaman tidak berbeda nyata. Genotipe Anjasmoro menghasilkan tinggi tanaman nyata lebih tinggi dibandingkan genotipe lainnya pada 4 mst dan 6 mst. Pertumbuhan tinggi tanaman pada 4 mst sampai 8 mst dipengaruhi secara nyata oleh faktor tunggal sistem olah tanah. Perlakuan olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan menghasilkan tinggi tanaman nyata lebih tinggi pada 4 mst dan 6 mst dibandingkan pada perlakuan olah tanah konvensional tanpa pupuk, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan sistem olah tanah konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan (Tabel 5).

(52)

24

penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan. Hasil yang tidak berbeda nyata juga terdapat pada perlakuan olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos. Pengaruh kapur yang diberikan tidak dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman pada sistem olah tanah alur. Kondisi ini dapat terlihat pada perlakuan olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar menghasilkan tinggi tanaman pada 4 mst sampai 8 mst tidak berbeda nyata dengan perlakuan olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar dan kapur. Adapun pengaruh pemberian pupuk dasar pada olah tanah alur mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dibandingkan tanpa pemberian pupuk.

Tabel 5 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap tinggi tanaman (cm) dari 4 mst sampai 8 mst

Konvensional+PD+KP 16.75 cd 29.28 cde 39.92 bcd

Konvensional+PD+KP+KM 17.23 c 30.46 bc 41.15 b Konvensional+PD+KP+KM+MS 18.40 ab 33.74 a 44.93 a

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

Jumlah Daun Trifoliat (helai)

(53)

25 jumlah daun trifoliat maksimal pada 6 mst kemudian terjadi penurunan. Pertumbuhan daun trifoliat Genotipe PG-57-1 pada 2 mst nyata lebih tinggi dibandingkan genotipe lainnya dengan rata-rata jumlah daun trifoliat 1.73 buah daun. Pertumbuhan daun trifoliat Genotipe Tanggamus tidak berbeda nyata dibandingkan dengan Genotipe Anjasmoro, sedangkan Genotipe SP-30-4 menghasilkan daun trifoliat nyata lebih rendah dibandingkan genotipe lainnya (Tabel 6).

Tabel 6 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah daun trifoliat (helai) dari 2 mst sampai 8 mst

Perlakuan Jumlah Daun Trifoliat (helai)

Genotipe 2 MST 4 MST 6 MST 8 MST

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

(54)

26

lebih tinggi dibandingkan perlakuan olah tanah konvensional tanpa pupuk pada 4 mst sampai 8 mst. Jumlah daun trifoliat yang dihasilkan pada 8 mst dengan perlakuan olah tanah alur penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan tidak berbeda nyata dengan perlakuan sistem olah tanah konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan. Hasil yang tidak berbeda nyata juga terdapat pada perlakuan olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos, dan pada perlakuan konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos, serta pada perlakuan konvensional dengan penambahan pupuk dasar dan kapur.

Jumlah daun trifoliat meningkat rata-rata jumlahnya pada 6 mst kemudian terjadi penurunan pada 8 mst. Penurunan jumlah daun dikarenakan tanaman memasuki fase generatif dimana tampak di lapangan terjadi pengguguran daun. Marschner (1995) menyatakan bahwa proses senescence pada daun mengindikasikan terjadinya ekspor mineral nutrisi (remobilisasi) dari daun tua ke bagian sink tanaman. Biji merupakan sink yang kuat, sehingga remobilisasi mineral nutrisi lebih diarahkan pada pengisian biji.

Jumlah Cabang

Perlakuan genotipe tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan cabang tanaman mulai dari 4 mst sampai 8 mst. Perlakuan sistem olah tanah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan cabang pada 6 mst sampai 8 mst. Pertumbuhan cabang maksimal terjadi pada 6 mst kemudian jumlah cabang yang muncul mengalami penurunan. Jumlah cabang yang dihasilkan pada 6 mst dengan perlakuan olah tanah alur penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan nyata lebih tinggi dibandingkan tiga perlakuan yaitu olah tanah konvensional tanpa pupuk, olah tanah alur tanpa pupuk dan konvensional dengan penambahan pupuk dasar. Akan tetapi jumlah cabang yang dihasilkan perlakuan olah tanah alur penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan tidak berbeda nyata dengan enam perlakuan lainnya (Tabel 7).

(55)

27 tidak berbeda nyata dengan perlakuan sistem olah tanah konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan. Hasil yang tidak berbeda nyata juga terdapat pada perlakuan olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos. Pengaruh perlakuan olah tanah alur penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan konstan nyata lebih tinggi terhadap variabel pertumbuhan yang dihasilkan dibandingkan olah tanah konvensional tanpa pupuk, hal ini dikarenakan terdapat korelasi nyata antar variabel. Terdapat korelasi nyata antara tinggi tanaman 6 mst, jumlah daun 6 mst dan jumlah cabang 6 mst dengan jumlah cabang yang terbentuk pada 8 mst (Lampiran 6).

Tabel 7 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah cabang dari 4 mst sampai 8 mst

Konvensional+PD+KP+KM 0.71 1.18 ab 1.53 bc

Konvensional+PD+KP+KM+MS 0.71 1.22 ab 1.65 ab

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

(56)

28

pada 6 mst, jumlah daun 6 mst dan jumlah cabang 6 mst dengan jumlah cabang 8 mst. Semakin meningkat pertumbuhan tinggi tanaman pada 6 mst, jumlah daun 6 mst dan jumlah cabang 6 mst diikuti oleh peningkatan jumlah cabang pada 8 mst.

Jumlah Bintil Akar

Faktor genotipe dan sistem olah tanah tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah bintil akar yang tumbuh pada 6 mst dan 8 mst. Jumlah bintil akar yang rendah disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak optimal. Ketersediaan air yang rendah, kondisi ini tampak dari jumlah curah hujan yang rendah dan pada saat fase pertumbuhan maksimum tidak ada turun hujan yaitu pada bulan Agustus (Lampiran 5). Kondisi lingkungan tersebut tidak mendukung perkembangbiakan bakteri di sekitar perakaran yang menginfeksi munculnya bintil akar. Lingkungan tumbuh yang tidak optimal juga dapat menyebabkan bintil akar yang telah terbentuk cepat mengalami pelapukan, sehingga jumlah bintil akar rendah pada 6 mst dan 8 mst (Tabel 8).

Tabel 8 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah bintil akar pada 6 mst dan 8 mst

Konvensional tanpa pupuk 1.06 1.00

Alur+PD 1.14 1.22

(57)

29 Modifikasi lingkungan tanam dengan perlakuan sistem olah tanah belum mampu meningkatkan jumlah bintil akar yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan sistem olah tanah tidak mampu menjadikan lingkungan tumbuh yang optimal untuk perkembangbiakan bakteri. Sistem olah tanah hanya mampu mengatasi permasalahan lingkungan tumbuh agar optimal untuk perkembangan perakaran tanaman. Pengaruh sistem olah tanah terhadap perkembangan perakaran tanaman, tampak dari bobot kering akar yang dihasilkan (Tabel 10).

Kandungan Hara dan Serapan Hara

Secara umum tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungan tumbuh yang kurang optimum. Cekaman dari lingkungan tumbuh terutama kekeringan yang meningkat, diasumsikan dari data curah hujan yang rendah sebelum memasuki fase generatif memicu tanaman untuk menyerap unsur hara lebih banyak (Lampiran 5). Berdasarkan hasil analisis jaringan tanaman diketahui bahwa kandungan hara N dan K tergolong tinggi, sedangkan hara P tergolong rendah (Tabel 9). Hardjowigeno (2010) menyatakan bahwa batas antara kecukupan dan defisiensi unsur hara tanaman kedelai berdasarkan analisis tanaman yaitu hara N sebesar 4.2%, hara P sebesar 0.26% dan hara K sebesar 1.71%.

(58)

30

Tabel 9 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap kandungan hara N, P dan K

Konvensional tanpa pupuk 4.56 0.18 2.00

Alur+PD 4.22 0.20 1.96

Alur+PD+KP 4.38 0.20 2.12

Alur+PD+KP+KM 4.39 0.20 1.92

Alur+PD+KP+KM+MS 4.60 0.23 2.15

Konvensional+PD 4.66 0.19 1.91

Konvensional+PD+KP 4.56 0.21 1.89

Konvensional+PD+KP+KM 4.54 0.22 1.99

Konvensional+PD+KP+KM+MS 4.68 0.22 1.85

Batas antara kecukupan dan

defisiensi unsur hara* 4.20 0.26 1.71

Keterangan: PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam; *Sumber dari: Hardjowigeno (2010).

Serapan hara pada fase pertumbuhan maksimal (6 mst) dipengaruhi oleh faktor genotipe, kecuali serapan hara fosfor. Serapan hara nitrogen Genotipe Tanggamus nyata lebih tinggi dibandingkan genotipe lain, akan tetapi dibandingkan Genotipe Anjasmoro menunjukkan hasil yang sama. Serapan hara kalium Genotipe SP-30-4 nyata lebih tinggi dibandingkan genotipe lain, akan tetapi dibandingkan Genotipe Tanggamus menunjukkan hasil yang sama (Tabel 10).

(59)

31 (1995) menyatakan bahwa pergerakan hara menuju permukaan akar tanaman bersama-sama dengan gerakan massa air (aliran masa). Pergerakan air dikendalikan oleh laju transpirasi tanaman. Suplai hara N lebih dominan dengan mekanisme aliran masa, sedangkan hara P dan K secara difusi. Hardjowigeno (2010) menambahkan bahwa serapan hara N melalui mekanisme aliran massa sebesar 98.8%, sedangkan melalui mekanisme difusi serapan hara P sebesar 90.9% dan K sebesar 77.7%.

Tabel 10 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap serapan hara N, P dan K

Konvensional+PD+KP+KM 88.62 bc 4.33 ab 38.77 bc

Konvensional+PD+KP+KM+MS 103.51 a 4.80 a 40.91 ab

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

Bobot Kering Tajuk dan Akar Bobot Kering Tajuk

(60)

32

mst. Kondisi ini menyebabkan perlakuan genotipe tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kering daun dan batang (tajuk tanaman) yang dihasilkan pada 6 mst dan 8 mst (Tabel 11).

Tabel 11 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap bobot kering tajuk (g) pada 6 mst dan 8 mst

Perlakuan Bobot Kering Daun (g) Bobot Kering Batang (g)

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

(61)

33 Bobot kering batang (g) pada 6 mst dan 8 mst dengan perlakuan olah tanah alur penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan olah tanah konvensional tanpa pemupukan, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan olah tanah konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan pada 6 mst. Hal ini mengindikasikan perlakuan olah tanah alur maupun konvensional mampu meningkatkan biomassa tanaman dengan aplikasi mulsa organik mampu mengurangi cekaman kekeringan sehingga input yang diberikan mampu diserap oleh tanaman.

Pengaruh sistem olah tanah dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman sejalan dengan pembentukan biomassa. Hal ini dikarenakan terdapat korelasi nyata antara tinggi tanaman 6 mst, jumlah daun 6 mst dan jumlah cabang 6 mst dengan bobot kering daun dan bobot kering batang pada 8 mst yang terbentuk (Lampiran 7). Nilai korelasi meningkat seiring meningkatnya laju pertumbuhan yaitu 6 mst. Korelasi positif tinggi tanaman 6 mst dan bobot kering daun 8 mst sebesar 0.84. Korelasi positif jumlah daun 6 mst dan bobot kering daun 8 mst sebesar 0.84. Korelasi positif jumlah cabang 6 mst dan bobot kering daun 8 mst sebesar 0.76. Terdapat hubungan linier yang nyata antara tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst dengan bobot kering daun pada 8 mst, dimana semakin meningkat pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst diikuti oleh peningkatan bobot kering daun pada 8 mst.

Korelasi positif tinggi tanaman 6 mst dan bobot kering batang 8 mst sebesar 0.87. Korelasi positif jumlah daun 6 mst dan bobot kering batang 8 mst sebesar 0.76. Korelasi positif jumlah cabang 6 mst dan bobot kering batang 8 mst sebesar 0.71. Terdapat hubungan linier yang nyata antara tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst dengan bobot kering batang pada 8 mst, dimana semakin meningkat pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst diikuti oleh peningkatan bobot kering batang pada 8 mst.

Bobot Kering Akar

(62)

34

tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tajuk tanaman yang ditunjukkan dengan bobot kering tajuk yang dihasilkan. Oleh karena itu perlakuan genotipe juga tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan perakaran tanaman yang ditunjukkan dengan bobot kering akar pada 6 mst dan 8 mst (Tabel 12).

Tabel 12 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap bobot kering akar (g) pada 6 mst dan 8 mst

Perlakuan Bobot Kering Akar (g)

Genotipe 6 MST 8 MST

Konvensional tanpa pupuk 0.79 d 0.84 f

Alur+PD 0.86 bc 0.95 de

Alur+PD+KP 0.89 b 1.00 cd

Alur+PD+KP+KM 0.88 b 1.04 bc

Alur+PD+KP+KM +MS 0.94 a 1.16 a

Konvensional+PD 0.85 bc 0.99 cd

Konvensional+PD+KP 0.86 bc 1.01 cd

Konvensional+PD+KP+KM 0.89 b 1.03 bcd

Konvensional+PD+KP+KM+MS 0.95 a 1.09 ab

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

(63)

35 dengan perlakuan olah tanah konvensional dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan pada 6 mst dan 8 mst.

Terdapat korelasi nyata antara pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst dengan bobot kering akar yang terbentuk. Korelasi positif tinggi tanaman 6 mst dan bobot kering akar 8 mst sebesar 0.90. Korelasi positif jumlah daun 6 mst dan bobot kering akar 8 mst sebesar 0.83. Korelasi positif jumlah cabang 6 mst dan bobot kering akar 8 mst sebesar 0.81. Terbentuk hubungan linier yang nyata antara tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst dengan bobot kering akar pada 8 mst, dimana semakin meningkat pertumbuhan tinggi tanaman pada, jumlah daun dan jumlah cabang pada 6 mst diikuti oleh peningkatan bobot kering akar pada 8 mst (Lampiran 7).

Nisbah Bobot Kering Akar dan Tajuk

Perbandingan antara biomassa akar dengan tajuk (nisbah akar/tajuk) tidak berbeda nyata pada empat genotipe yang diuji (Tabel 13). Nisbah akar/tajuk genotipe kedelai menurun pada 8 mst dibandingkan pada 6 mst. Hal ini mengindikasikan pertumbuhan tajuk tanaman lebih dominan dibandingkan perkembangan akar tanaman.

(64)

36

perkembangan akar kedelai. Hal ini diduga berhubungan dengan upaya tanaman dalam mempertahankan status air di dalam tubuhnya yaitu dengan mengurangi kehilangan air melalui daun, sehingga tanaman mengurangi ukuran kanopinya, dan tetap mempertahankan perkembangan akarnya sehingga mampu mensuplai air dengan cukup.

Tabel 13 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap nisbah akar/tajuk pada 6 mst dan 8 mst

Perlakuan Nisbah Akar/Tajuk

Konvensional tanpa pupuk 0.33 a 0.28 a

Alur+PD 0.30 bc 0.25 b

Alur+PD+KP 0.29 cd 0.25 b

Alur+PD+KP+KM 0.27 de 0.24 bc

Alur+PD+KP+KM +MS 0.25 f 0.24 bc

Konvensional+PD 0.28 cd 0.25 b

Konvensional+PD+KP 0.28 cd 0.25 b

Konvensional+PD+KP+KM 0.26 ef 0.25 b

Konvensional+PD+KP+KM+MS 0.25 f 0.23 c

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

Produksi Tanaman Jumlah Polong

(65)

37 Jumlah polong isi yang terbentuk merupakan hasil dari pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman. Terdapat korelasi yang nyata antara pertumbuhan jumlah cabang dengan jumlah polong isi yang terbentuk. Korelasi positif jumlah cabang pada 8 mst dengan jumlah polong isi sebesar 0.92. Hal ini mengindikasikan terdapat hubungan linier yang nyata antara jumlah cabang pada 8 mst dengan jumlah polong isi, dimana semakin meningkat pertumbuhan jumlah cabang pada 8 mst diikuti oleh peningkatan jumlah polong isi (Lampiran 8).

Tabel 14 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah polong isi dan jumlah polong hampa

Perlakuan Jumlah Polong Isi Jumlah Polong Hampa

Genotipe

Konvensional tanpa pupuk 15.33 j 0.80

Alur+PD 26.50 g 0.90

Alur+PD+KP 32.63 e 0.80

Alur+PD+KP+KM 38.92 c 0.95

Alur+PD+KP+KM +MS 49.17 a 0.88

Konvensional+PD 24.17 h 0.88

Konvensional+PD+KP 28.29 f 0.94

Konvensional+PD+KP+KM 35.96 d 1.05

Konvensional+PD+KP+KM+MS 43.25 b 0.98

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

Produktivitas

(66)

38

genotipe terhadap variabel bobot 100 butir tidak menghasilkan bobot panen yang berbeda nyata, hal ini dikarenakan bobot panen atau produksi lebih dipengaruhi oleh jumlah polong isi (Lampiran 8). Perlakuan genotipe yang tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah polong isi mengakibatkan perlakuan genotipe tidak berpengaruh nyata terhadap bobot panen (Tabel 15).

Tabel 15 Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap produktivitas Perlakuan Bobot 100 Butir

Keterangan: Angka-angka sekolom diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; PD: pupuk dasar; KP: kapur; KM; kompos; MS: mulsa; MST: minggu setelah tanam.

(67)

39 dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan dibandingkan perlakuan sistem olah tanah lainnya mencapai 686.28 kg/ha.

Perlakuan sistem olah tanah dengan penambahan pupuk dasar, kapur dan kompos tidak berbeda nyata dengan perlakuan sistem olah tanah alur penambahan pupuk dasar dan kapur dalam meningkatkan produksi. Hasil serupa juga terdapat pada perlakuan sistem olah tanah konvensional dengan perbandingan input yang sama. Hal ini mengindikasikan penambahan kompos tidak nyata meningkatkan produksi tanaman, melainkan produksi dapat ditingkatkan dengan penambahan kapur. Perlakuan sistem olah tanah alur maupun konvensional dengan penambahan pupuk dasar nyata lebih tinggi meningkatkan produksi tanaman dibandingkan sistem olah tanah alur maupun konvensional tanpa pemupukan. Hal ini mengindikasikan penambahan pupuk dasar berupa 200 kg SP-36/ha dan 100 kg KCl/ha nyata meningkatkan produksi dibandingkan tanpa pemupukan.

Produksi yang terbentuk merupakan hasil dari pengaruh perlakuan terhadap pembentukan biomassa dan jumlah polong isi yang dihasilkan. Terdapat korelasi yang nyata antara biomassa dan jumlah polong isi yang terbentuk dengan produktivitas yang dihasilkan. Korelasi positif bobot kering daun pada 8 mst dan produktivitas sebesar 0.94. Korelasi positif bobot kering batang pada 8 mst dan produktivitas sebesar 0.90. Korelasi positif bobot kering akar pada 8 mst dan produktivitas sebesar 0.95. Terdapat hubungan linier yang nyata antara biomassa pada 8 mst dengan produktivitas, dimana semakin tinggi biomassa yang terbentuk diikuti oleh peningkatan produktivitas. Terdapat korelasi positif jumlah polong isi dan produktivitas sebesar 0.93. Hal ini mengindikasikan terdapat hubungan linier yang nyata antara jumlah polong isi dengan produktivitas, dimana semakin tinggi jumlah polong isi yang dihasilkan diikuti oleh peningkatan produktivitas (Lampiran 8).

Pembahasan Umum

Pengaruh Genotipe Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kedelai

(68)

40

kuantitatif, nilai yang dihasilkan berada dibawah potensi tanaman baik genotipe hasil silangan maupun varietas nasional. Kondisi ini terlihat dari variabel pertumbuhan yaitu tinggi tanaman dan jumlah cabang, serta variabel produksi yaitu bobot 100 butir dan produktivitas yang nilainya berada di bawah potensi tanaman (Lampiran 1).

Pertumbuhan tanaman mulai dari awal tanam (bulan Juli) sampai pertumbuhan maksimum yaitu 6 mst hanya memanfaatkan air yang tersedia pada awal tanam dan dari hujan yang turun. Air yang tersedia pada awal pertumbuhan tanaman dapat dimanfaatkan tanaman dengan teknik budidaya yang diterapkan, tampak dari adanya interaksi antara genotipe dengan teknik budidaya yang diterapkan pada variabel tinggi tanaman (2 mst). Pertumbuhan tinggi genotipe Anjasmoro meningkat 66.14%, Tanggamus meningkat 26.06% dan SP-30-4 meningkat 22.75%, pada sistem olah tanah alur dengan penambahan pupuk dasar, kapur, kompos dan pemulsaan, dibandingkan pertumbuhan setiap genotipe pada sistem olah tanah konvensional tanpa pemupukan.

Pengaruh genotipe nyata pada awal pertumbuhan tanaman yaitu pada variabel tinggi tanaman sampai 6 mst dan jumlah daun pada 2 mst. Hal ini mengindikasikan bahwa pada awal pertumbuhan kondisi lingkungan tumbuh optimal dan tanaman dapat beradaptasi dengan baik. Cekaman lingkungan berupa kekeringan meningkat pada 6 mst dan memasuki fase generatif yaitu tidak ada hujan pada bulan Agustus dan September (Lampiran 5). Tanggap setiap genotipe yang ditanam memperlihatkan pertumbuhan yang hampir sama, begitu juga dengan produksi yang dihasilkan, akan tetapi pertumbuhan dan produktivitas aktual rendah dibandingkan potensi dari genotipe tersebut. Frederick et al. (2001) menyatakan bahwa cekaman kekeringan yang terjadi ketika inisiasi pembungaan sampai pengisian biji akan menurunkan jumlah biji yang terbentuk. Zhang et al. (2011) menambahkan bahwa cekaman kekeringan dengan 45% kapasitas lapang dapat menghambat laju pertumbuhan tinggi tanaman dan diameter batang serta jumlah cabang produktif yang dihasilkan menurun.

Figur

Gambar 1  Perbedaan bentuk petakan berdasarkan sistem olah tanah; (A) sistem

Gambar 1

Perbedaan bentuk petakan berdasarkan sistem olah tanah; (A) sistem p.42
Tabel 2  Hasil analisis kimia tanah*

Tabel 2

Hasil analisis kimia tanah* p.47
Tabel 3  Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumbuhan dan produksi

Tabel 3

Rekapitulasi hasil sidik ragam komponen pertumbuhan dan produksi p.49
Tabel 4  Pengaruh interaksi genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap tinggi

Tabel 4

Pengaruh interaksi genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap tinggi p.50
Tabel 5  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap tinggi tanaman

Tabel 5

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap tinggi tanaman p.52
Tabel 6  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah daun

Tabel 6

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah daun p.53
Tabel 8  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah bintil

Tabel 8

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah bintil p.56
Tabel 9  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap kandungan

Tabel 9

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap kandungan p.58
Tabel 11  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap bobot kering

Tabel 11

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap bobot kering p.60
Tabel 14  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah

Tabel 14

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap jumlah p.65
Tabel 15  Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap produktivitas

Tabel 15

Pengaruh genotipe kedelai dan sistem olah tanah terhadap produktivitas p.66
Gambar 2  Ilustrasi pola tanam budidaya kedelai pada lahan kering masam

Gambar 2

Ilustrasi pola tanam budidaya kedelai pada lahan kering masam p.72

Referensi

Memperbarui...