• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Wilayah Perairan Teluk Pelabuhan Ratu untuk Kawasan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Wilayah Perairan Teluk Pelabuhan Ratu untuk Kawasan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS WILAYAH PERAIRAN TELUK PELABUHAN

RATU UNTUK KAWASAN BUDIDAYA PERIKANAN SISTEM

KERAMBA JARING APUNG

PRAMA HARTAMI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 % dan selebihnya sekitar 299 juta ton/tahun (60 %) dibutuhkan untuk bahan baku bagi industri farmasi, pakan dan sebagainya. Salah satu pemicu peningkatan kebutuhan tersebut adalah tingginya minat masyarakat dalam hal mengkonsumsi ikan. Di Indonesia, jumlah ikan yang dikonsumsi setiap orang pada tahun 2008 rata-rata 28 kg/tahun dan pada tahun 2010 dan 2030 diperkirakan akan naik menjadi 30 kg/tahun dan 45 kg/tahun. Di Filipina, Singapura dan Malaysia saat ini setiap orang mengkonsumsi ikan minimal 30 kg/tahun, Korea Selatan mengkonsumsi ikan sebanyak 60 kg/orang/tahun dan di Jepang mencapai 140 kg/orang/tahun. Secara umum, volume ikan yang dikonsumsi setiap penduduk dunia rata-rata 18,4 kg/tahun dengan jumlah penduduk sebanyak 6,5 miliar jiwa. Sebaliknya, jumlah ikan yang diproduksi ± 155,87 juta ton/tahun, bahkan di sejumlah negara seperti Jepang, China, Amerika Serikat serta kawasan Eropa, volume produksi cenderung turun menyusul diterapkannya kebijakan penghentian sementara (moratorium) penangkapan ikan (Dahuri, Media Indonesia 5 Agustus 2008; Wawa, Harian Kompas 13 Agustus 2007; DKP, 2005).

(3)

2

mendapatkan manfaat dari kekayaan sumberdaya wilayahnya sendiri (Gordon, 1954; Hartwick dan Nancy, 1998; Fauzi, 2005).

Untuk memenuhi kebutuhan produksi perikanan yang terus meningkat dan menjaga agar kegiatan penangkapan ikan laut di Indonesia tetap berkelanjutan, sudah saatnya peningkatan produksi perikanan beralih dari usaha penangkapan ke usaha budidaya baik di perairan tawar, payau maupun di laut. Berdasarkan potensi lahan budidaya dengan sistem yang berbeda (tambak, kolam, perairan umum, mina padi dan budidaya laut) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, ternyata kita memiliki areal seluas 11.806.392 ha yang baru dimanfaatkan baru sekitar 39 %. Khusus untuk budidaya laut pada tahun 2005 mencapai area seluas 8.363.501 ha yang tersebar di berbagai pulau besar dan kecil. Di wilayah Jawa Barat, luas lahan potensial untuk budidaya laut adalah 23.995 ha (DKP, 2006; Idris et al., 2007).

Sistem budidaya laut yang tepat untuk dikembangkan untuk wilayah pesisir Teluk Pelabuhan Ratu apabila dilihat dari kondisi topografinya adalah budidaya perikanan sistem keramba jaring apung. Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keramba yaitu: 1) Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya; 2) Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan; 3) Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan (Galapitage, 1986).

(4)

3

tahun 2004 – 2007 terbatas pada cakalang, lisong, tuna abu-abu, banyar, albakor, yellow fin, eteman, tembang, layur, layang, peperek dan teri (Statistik Perikanan PPN Pelabuhan Ratu, 2007).

Teluk Pelabuhan Ratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi, adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat, di Samudra Hindia. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km. Potensi wilayah pesisir Pelabuhan Ratu mencakup potensi sumberdaya hayati,

non-hayati dan jasa-jasa lingkungan. Potensi sumberdaya hayati meliputi

ekosistem pesisir, perikanan dan biota laut lainnya. Wilayah pesisir selatan ini

secara umum aktivitas pembangunannya belum optimal, padahal tidak sedikit

potensi pesisir selatan yang dapat dikembangkan, seperti pariwisata dan budidaya

laut dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungannya (Kinerja Penataan

Ruang Jawa Barat, 2006).

Pelabuhan Ratu merupakan lokasi yang sangat cocok untuk dikembangkannya kegiatan budidaya perikanan dengan sistem keramba jaring apung. Selain kemudahan penyediaan sarana dan prasarana pendukung kegiatan budidaya seperti transportasi dan komunikasi, bahan baku instalasi budidaya, ketersediaan benih serta kemudahan menjangkau lokasi, Teluk Pelabuhan Ratu merupakan kawasan wisata pantai yang menghendaki adanya bahan baku seafood

yang segar. Selain itu, Pelabuhan Ratu memiliki pelabuhan perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat. Dengan demikian, pemasaran produk budidaya yang bersifat lokal dan nasional dipastikan tidak mengalami kesulitan. Letak Pelabuhan Ratu ± 180 km dari Ibu Kota Jakarta merupakan keunggulan lainnya dalam hal melakukan kegiatan ekspor ikan hidup

ke mancanegara.

Dengan melihat fenomena berupa peluang dan tantangan tersebut, maka kajian kesesuaian lahan untuk budidaya dengan sistem keramba jaring apung sebagai alternatif usaha bagi para nelayan setempat dalam upaya memanfaatkan lahan pesisir mutlak harus dilakukan.

1.2. Tujuan dan Manfaat

(5)

4

keramba jaring apung yang berkelanjutan. Penentuan lokasi tersebut didasarkan pada parameter-parameter kualitas perairan, analisa spasial mengenai kesesuaian lahan, estimasi beban limbah yang dihasilkan serta analisa daya dukung lingkungan perairan berdasarkan flushing di Teluk Pelabuhan Ratu.

Secara spesifik manfaat penelitian ini diharapkan:

a. Dapat memberikan kontribusi kepada kelompok nelayan atau pengusaha pembudidaya perikanan laut tentang persyaratan dan kelayakan teknis kesesuaian lahan di Teluk Pelabuhan Ratu untuk pengembangan budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung dengan mutu akhir yang baik.

b. Melalui pengelolaan/pemanfaatan wilayah pesisir di Teluk Pelabuhan Ratu untuk budidaya ikan laut secara baik dan berkelanjutan diharapkan dapat menjaga konservasi perikanan laut, tanpa menimbulkan degradasi sumberdaya lingkungan perairan teluk tersebut.

c. Dapat memberikan kontribusi dan rekomendasi pada instansi terkait sebagai pertimbangan dalam mengambil langkah kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya perairan pesisir khususnya budidaya perikanan laut di daerah penelitian, guna peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir serta sebagai upaya pemanfaatan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

1.3. Kerangka Berpikir Penelitian

Alokasi sumberdaya perikanan budidaya yang tidak terkendali akan memicu penurunan kualitas lingkungan perairan dan berdampak pada proses biologi dalam sistem produksi perikanan budidaya, serta dampak ekologi yang lebih luas. Limbah atau polutan yang masuk kedalam perairan apabila masih berada dalam batas yang ditolerir tidak akan menimbulkan dampak yang negatif bagi perairan. Namun sebaliknya apabila konsentrasinya di perairan melebihi daya dukung akan menyebabkan terganggunya ekosistem perairan tersebut.

(6)

5

budidaya dengan sistem keramba jaring apung. Kemampuan badan air dalam menerima limbah yang masuk sangat ditentukan oleh kemampuan pencucian (flushing) dari perairan tersebut.

Kegiatan budidaya laut dapat berlangsung secara berkelanjutan apabila kondisi lingkungan perairan sesuai dengan kriteria-kriteria/prasarat untuk pertumbuhan organisme yang akan dipelihara. Penelitian mengenai penentuan kesesuaian lahan, penghitungan daya dukung lingkungan serta estimasi penyebaran limbah organik yang dihasilkan dari kegiatan budidaya keramba jaring apung yang dilakukan merupakan suatu kajian yang sangat penting agar tujuan dari upaya mencapai keberlanjutan budidaya dapat terwujud.

Untuk lebih jelasnya kerangka berpikir dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Faktor Biofisik

Lingkungan (fisika, kimia dan biologi)

Analisa Spasial dengan SIG

Peta Kesesuaian Lahan

Peta Tematik Dasar: - Hidrooseanografi - Batimetri

- Peta Rupa Bumi

Pembobotan

(Pembandingan dgn Kriteria)

Pemanfaatan Wilayah Pesisir Teluk Pelabuhan Ratu untuk Kegiatan Budidaya Ikan dengan Sistem Keramba Jaring Apung Berkelanjutan

Estimasi Beban Limbah Organik Penentuan Daya

Dukung (10%)

Jumlah Unit Keramba

Masukan Bahan Organik Kegiatan KJA

dan Antropogenik

Waktu Flushing

Badan Perairan

(7)

6

1.4. Perumusan Masalah

(8)

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan, yang saling berinteraksi dan membentuk suatu kondisi lingkungan (ekologis) yang unik (Dahuri et al., 1996; Brown, 1996). Definisi wilayah pesisir yang digunakan di Indonesia adalah daerah pertemuan antara daratan dan laut; ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di daratan seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri

et al., 2001) (Gambar 2).

Gambar 2. Skema Batas Wilayah Pesisir

(9)

8

Brown (1996), bahwa penentuan batas-batas wilayah pesisir di dunia pada umumnya berdasarkan pada tiga kriteria berikut:

1. Garis linier secara arbiter tegak lurus terhadap garis pantai (coastline atau

shoreline). Republik Rakyat Cina mendefinisikan wilayah pesisirnya sebagai suatu wilayah peralihan antara ekosistem darat dan lautan, ke arah darat mencakup lahan darat sejauh 15 km dari garis pantai, dan ke arah laut meliputi perairan laut sejauh 15 km dari garis pantai (Zhijie dan Cote, 1990).

2. Batas-batas adiministrasi dan hukum. Negara bagian Washington, Amerika Serikat; Australia Selatan; dan Queensland, batas ke arah laut dari wilayah pesisirnya adalah sejauh 3 mil laut dari garis dasar (coastal baseline) (Sorensen dan Mc.Creary, 1990).

3. Karakteristik dan dinamika ekologis (biofisik), yakni atas dasar sebaran spasial dari karakteristik alamiah (natural features) atau kesatuan proses-proses ekologis (seperti aliran air sungai, migrasi biota, dan pasang surut). Contoh batas satuan pengelolaan wilayah pesisir menurut kriteria ketiga ini adalah: batasan menurut Daerah Aliran Sungai (catchment area atau

watershed) (Rais et al., 2004; Chua, 2006). Ciri-ciri Wilayah Pesisir meliputi antara lain:

1. Wilayah yang sangat dinamis dengan perubahan-perubahan biologis, kimiawi dan geologis yang sangat cepat (Tulungen, 2001).

2. Tempat dimana terdapat ekosistem yang produktif dan beragam dan merupakan tempat bertelur, tempat asuhan dan berlindung berbagai jenis spesies organisme perairan (Tulungen, 2001; Dahuri et al., 2001)

3. Ekosistemnya yang terdiri dari terumbu karang, hutan bakau, pantai dan pasir, muara sungai, lamun dan sebagainya yang merupakan pelindung alam yang penting dari erosi, banjir dan badai serta dapat berperan dalam mengurangi dampak polusi dari daratan ke laut (Tulungen, 2001; Dahuri et al., 2001; Idris

et al., 2007).

4. Sebagai tempat tinggal manusia, untuk sarana transportasi, dan tempat berlibur atau rekreasi (UN, 2002a; UNEP, 2002a; da Silva, 2002).

(10)

9

pembangunan ekonomi dan kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri (Ortolano, 1984; de Groot, 1992). Pertama adalah sebagai penyedia sumberdaya alam dapat pulih (seperti hutan, ikan, dan energi matahari) dan sumberdaya alam tak dapat pulih (termasuk bahan tambang dan mineral) yang diperlukan untuk bahan baku pangan, papan, transportasi, industri dan kegiatan manusia lainnya.

Kedua sebagai penyedia ruang (space) untuk tempat tinggal (permukiman); melakukan kegiatan budidaya pertanian dalam arti luas (termasuk perikanan dan peternakan) dan industri; rekreasi dan pariwisata; perlindungan alam; dan lain-lain.

Ketiga sebagai penampung atau penyerap limbah (residu) sebagai hasil samping dari kegiatan konsumsi, produksi (pabrikasi), dan transportasi yang dilakukan oleh manusia. Keempat sebagai penyedia jasa-jasa kenyamanan (amenities) dan jasa-jasa pendukung kehidupan (life-suport services), seperti udara bersih, siklus hidrologi, siklus hara, keanekaragaman hayati (biodiversity), alur ruaya (migratory routes) berbagai jenis fauna dan lain sebagainya.

(11)

10

sektoral dan terpilah-pilah, perlu diperbaiki melalui pendekatan pengelolaan secara terpadu. (Dahuri, 1998; IOC, 1999; UNEP, 2002a).

Beberapa contoh kegiatan pembangunan yang banyak dikembangkan di wilayah pesisir adalah:

(1) Pengembangan kawasan pemukiman di pesisir. Sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk, maka semakin meningkat pula kebutuhan fasilitas tempat tinggal yang menuntut adanya pengembangan kawasan pemukiman. Kecenderungan yang ada saat ini bahwa pengembangan kawasan pemukiman banyak dilakukan di kawasan pesisir. Sayangnya pengembangan kawasan pemukiman yang dilakukan hanya mempertimbangkan kepentingan jangka pendek tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan untuk masa mendatang. Dengan pengembangan kawasan pemukiman ini, maka dampak lain yang mungkin timbul adalah pencemaran perairan oleh limbah rumah tangga, jika tidak diantisipasi dengan pengembangan penanganan limbah secara terpadu (Dahuri et al., 2001; UN, 2002a; UNEP 2002a).

(2) Pengembangan lahan pertambakan. Pembukaan lahan mangrove menjadi kawasan pertambakan terjadi secara besar-besaran sejak tahun 1980 yang dipicu oleh membaiknya harga udang di pasar internasional dan dilarangnya penggunaan trawl di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan baik dalam skala besar (industri) maupun skala kecil (masyarakat setempat). Kegiatan ini tidak hanya berdampak terhadap hilangnya fungsi fisik dan biologis ekosistem mangrove, tetapi juga kegiatan budidaya memberikan dampak terhadap kualitas perairan baik berupa peningkatan kekeruhan maupun peningkatan bahan-bahan organik dalam lingkungan perairan pesisir ((FAO, 2001; Dahuri et al., 2001; WRI, 2002).

(12)

11

(4) Kegiatan reklamasi di wilayah pesisir. Reklamasi seteliti apapun perencanannya, tetap akan mengubah kondisi dan ekosistem pesisir dan ekosistem buatan yang baru tentunya tidak akan sebaik yang alamiah. Secara garis besar reklamasi pantai memberikan dampak antara lain: Pertama, reklamasi pesisir demi memperoleh lahan lebih luas merupakan kegiatan paling buruk yang mengubah bentang alam asli pantai dan wilayah pesisir. Perubahan bentang alam ini akan berakibat pula terhadap perubahan hidro-oseanografi terutama arus dan gelombang laut yang tentunya akan menjadi ancaman besar bagi beberapa wilayah pesisir kota. Kedua, hilangnya potensi sumberdaya hayati pesisir terutama beberapa biota laut yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan, dan dampak selanjutnya adalah kemungkinan berkurangnya hasil tangkapan nelayan. Secara umum ekosistem seperti padang lamun, terumbu karang, dan lainnya diketahui memiliki fungsi ekologi yang sangat penting. Ekosistem-ekosistem ini menjadi urat nadi kehidupan sebagian besar biota laut seperti ikan, udang, moluska, dan lainnya, baik sebagai tempat bertelur (pemijahan) maupun tempat mencari makan (feeding ground) dan tempat pembesaran (nursery ground). Untuk itu, bila ekosistem pesisir ini rusak maka fungsi–fungsi tersebut di atas akan hilang, apalagi aktivitas seperti alih fungsi suatu wilayah pesisir, di mana secara fisik akan mengalami tekanan yang sangat besar dan dampaknya akan semakin luas dan kompleks. Ketiga, kemungkinan besar akan terjadi perubahan dan perpindahan sedimen yang sebelumnya tertampung pada wilayah reklamasi. Pengerukan dan penimbunan dalam proses reklamasi pantai dapat menyebabkan perubahan arus laut sekitarnya yang selanjutnya akan mengubah pola sedimentasi. Keempat, reklamasi berdampak terhadap rusaknya ekosistem mangrove dan terumbu karang, yang selanjutnya akan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan sumberdaya ikan serta erosi pantai (Bryant et al., 1998; Dahuri et al., 2001; WRI, 2001; Fortes, 2001). (5) Kegiatan industri yang dikembangkan di wilayah pesisir. Kegiatan ini

(13)

12

tertiary based industry; dan (b) menyediakan kawasan industri yang memiliki akses yang baik terhadap bahan baku, air untuk proses produksi dan pembuangan limbah dan transportasi produk maupun bahan baku (Dahuri et al., 2001; UN, 2002a; Idris et al., 2007).

(6) Kegiatan rekreasi dan pariwisata bahari yang banyak dikembangkan di wilayah pesisir (misalnya pengembangan wisata bahari di Taman Nasional Laut Bunaken yang juga berfungsi untuk kawasan lindung bagi biota yang hidup pada ekosistem terumbu karang) akan dapat merusak ekosistem pesisir yang ada (UN, 2002a; da Silva, 2002).

(7) Kegiatan pertanian dan perkebunan di lahan atas. Secara langsung atau pun tidak langsung akan memberikan dampak negatif terhadap wilayah pesisir. Pembukaan lahan untuk kegiatan ini akan meningkatkan laju sedimentasi di wilayah pesisir, khususnya di muara-muara sungai. Kegiatan pertanian juga meningkatkan kandungan nutrien ke dalam perairan. Apabila peningkatan ini cukup tinggi, maka akan berpotensi menimbulkan eutrofikasi di perairan pesisir (Seitzinger dan Kroeze 1998; Kroeze dan Seitzinger 1998; Dahuri et al.,

2001).

Konsentrasi kehidupan umat manusia dan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah pesisir bukanlah suatu kebetulan, melainkan disebabkan oleh tiga alasan ekonomis (economic rationality) yang kuat, antara lain:

1. Pertama, wilayah pesisir merupakan salah satu kawasan yang secara biologis paling produktif. Berbagai ekosistem dengan produktivitas hayati tertinggi, seperti hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang dan estuaria berada di wilayah pesisir. Lebih dari 90% total produksi perikanan dunia (sekitar 82 juta ton), baik melalui kegiatan penangkapan maupun budidaya, berasal dari wilayah pesisir (FAO, 1998).

(14)

13

(cooling water) dari air laut untuk berbagai jenis pabrik dan pembangkit tenaga listrik, dan bahan baku industri lainnya (Anutha dan Johnson 1996). 3. Ketiga, wilayah pesisir pada umumnya memiliki panorama keindahan yang

dapat dijadikan objek rekreasi dan pariwisata yang sangat menarik dan menguntungkan (lucrative), seperti pasir putih untuk berjemur, perairan pesisir untuk renang, selancar, berperahu, terumbu karang serta keindahan bawah laut lainnya untuk pariwisata selam dan snorkling (da Silva, 2002).

2.2. Pengembangan Wilayah Pesisir dan Lautan

Prasetyawati (2001) memberikan pengertian tentang pengembangan sebagai suatu proses yang membawa peningkatan kemampuan penduduk mengenai lingkungan sosial yang disertai dengan meningkatnya taraf hidup mereka sebagai akibat dari pengusahaan mereka, dengan demikian pengembangan adalah suatu proses yang menuju pada suatu kemajuan.

Dengan disahkannya UU No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah yang telah diganti dengan UU No. 32 tahun 2004 pasal 18 ayat 4 tentang pengelolaan kawasan pesisir, maka kewenangan dan kewajiban pengembangan kawasan sekarang ini berada pada Pemerintah Kabupaten/Kota. Peran Pemerintah Pusat adalah menyusun Norma, Standar, Pedoman dan Manual disamping memfasilitasi dan meningkatkan kapasitas aparat pemerintah daerah. Sedangkan kewenangan pemerintah daerah dalam kaitannya dengan pengembangan kawasan adalah sangat luas, antara lain: 1) Menetapkan target pertumbuhan; 2) Menetapkan tahap dan langkah pembangunan kawasan dan kedaerahan, sesuai dengan potensi yang dimilikinya; 3) Menetapkan persetujuan kerjasama regional di bidang perdagangan yang berlandaskan pada produksi lokal yang dihasilkan oleh sentra-sentra komoditas tertentu; 4) Melakukan berbagai macam negosiasi yang bertujuan mewujudkan konsepsi pertumbuhan ekonomi regional; 5) Menetapkan institusi-institusi pendukung kebijakan untuk pertumbuhan ekonomi regional; 6) Mengembangkan sistem informasi untuk promosi kegiatan-kegiatan ekonomi regional.

(15)

14

UU No. 22/1999. Pada pasal 18 ayat 1 dinyatakan bahwa daerah yang memiliki wilayah laut, diberikan kewenangan untuk mengelola sumberdaya laut di wilayah laut. Sedangkan kewenangan daerah dalam pengelolaan sumberdaya laut dijelaskan pada ayat 3 (tiga) meliputi: 1) Eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut; 2) Pengaturan administratif; 3) Pengaturan tata ruang; 4) Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat; 5) Ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; 6) Ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.

Selanjutnya menurut Sondita (2001) pengembangan dalam hal pembangunan ekonomi dampaknya dapat dilihat pada: 1) Industri perikanan tangkap; 2) Perikanan rakyat; 3) Wisata massal dan ekowisata serta wisata bahari; 4) Perikanan budidaya; 5) Perhubungan laut dan pembangunan pelabuhan; 6) Pertambangan lepas pantai; 7) Penelitian kelautan; 8) Akses terhadap sumberdaya genétika.

(16)

15

aktif masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sumberdaya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil.

Menurut Kusumastanto (2000) agar pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir (nelayan), maka langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Pembangunan desa pantai dan pemberian insentif kepada masyarakat pesisir untuk meningkatkan produktivitasnya. Insentif yang diberikan meliputi kemudahan terhadap pengembangan usaha seperti perizinan, subsidi, pinjaman dan menjaga kestabilan harga.

2. Pendekatan aktivitas sekunder seperti budidaya tambak, budidaya rumput laut dan industri pengolahan. Upaya untuk menggalakkan aktivitas sekunder tersebut juga harus disertai dengan kemudahan dalam pemberian perizinan, subsidi dan bantuan dana kemitraan dengan pengusaha besar dan pemasaran. 3. Pembentukan lembaga yang sesuai dengan karakteristik usaha dan

peningkatan kegiatan usaha nelayan, khususnya untuk pengembangan perikanan dan aktivitas-aktivitas sekunder yang mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraaan masyarakat pesisir atau nelayan.

4. Penataan perairan pesisir dan lautan secara lokal untuk menentukan daerah penangkapan antara perikanan skala kecil dan perikanan skala besar. Strategi penataan ruang perairan pesisir untuk daerah penangkapan adalah menetapkan zonasi atau peta operasional untuk setiap usaha perikanan berdasarkan kemampuan operasi (perikanan rakyat dan industri) yang dilengkapi aspek hukum, termasuk pengaturan dan sanksi.

(17)

16

kurang baik terhadap lingkungan. Tujuannya adalah memadukan pembangunan dengan lingkungan sejak awal proses penyusunan kebijaksanaan dan pengambilan keputusan yang strategik sampai kepada penerapannya di lapangan (Aryanto, 2003).

Pembangunan yang komprehensif menurut Asian Development Bank (ADB)

dalam Nikijuluw (1995) adalah pembangunan dengan memiliki ciri-ciri (1) berbasis lokal; (2) berorientasi pada peningkatan kesejahteraan; (3) berbasis kemitraan; (4) secara holistik; dan (5) berkelanjutan. Pengelolaan berbasis masyarakat setempat atau biasa disebut Community-Based Management (CBM). Pemanfaatan secara lestari hanya akan dicapai jika sumberdaya dikelola secara baik, proporsional dan transparan. Sumberdaya yang dimaksud adalah sumberdaya manusia, alam, buatan dan sosial (Keraf, 2000).

Menurut Nikijuluw (1995) pendekatan pengelolaan sumberdaya alam sangat didukung oleh tujuan jangka panjang pembangunan wilayah pesisir dan bahari di Indonesia antara lain: (a) Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui perluasan lapangan kerja dan kesempatan usaha, (b) Pengembangan program dan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan pemanfaatan sumberdaya di wilayah pesisir dan lautan secara optimal dan lestari, (c) Peningkatan kemampuan peran serta masyarakat pantai dalam pelestarian lingkungan, (d) Peningkatan pendidikan, latihan, riset dan pengembangan di wilayah pesisir dan lautan.

Tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (sustainable), maka Albertson (1999) dalam risetnya menyebutkan dimensi-dimensi:

1. Environmental Sustainability: perlindungan untuk generasi mendatang. 2. Economic Sustainability: setiap pengembangan variabel secara ekonomi.

3. Socio-Cultural Sustainability: setiap inovasi harus harmoni antara pengetahuan lokal sosial-budaya, praktek, pengetahuan dan teknologi tepat guna (Hardin, 1985).

(18)

17

politik dan birokrasi. Hilangnya keterkaitan birokrasi terjadi karena tidak adanya perantara (interface).

Sama halnya dengan pendapat Fauzi dan Anna (2002) yang menyatakan bahwa konsep pembangunan perikanan yang berkelanjutan sendiri mengandung aspek:

1. Ecological sustainability (keberlanjutan ekologi). Dalam pandangan ini memelihara keberlanjutan stok/biomass sehingga tidak melewati daya dukungya, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas dari ekosistim menjadi fokus utama.

2. Socioeconomic sustainabilty (keberlanjutan sosioekonomi). Konsep ini mengandung makna bahwa pembangunan perikanan harus memperhatikan keberlanjutan dari kesejahteraan pelaku perikanan baik pada tingkat individu. Dengan kata lain mempertahankan atau mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi merupakan fokus dalam kerangka keberlanjutan. 3. Community sustainability, mengandung makna bahwa keberlanjutan

kesejahteraan dari sisi komunitas atau masyarakat haruslah menjadi perhatian membangunan perikanan yang berkelanjutan.

4. Institutional sustainability (keberlanjutan kelembagaan). Dalam kerangka ini keberlanjutan kelembagaan yang menyangkut memelihara aspek finansial dan administrasi yang sehat merupakan prasyarat dari ketiga pembangunan berkelanjutan di atas.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Arrow et al., (1995); Dahuri (1998) dan Lim (1998) tentang garis besar konsep pembangunan berkelanjutan yang memiliki empat dimensi, yaitu ekologis, sosial ekonomi budaya, sosial politik, serta hukum dan kelembagaan untuk pemecahan masalah-masalah di wilayah pesisir.

2.3. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan

(19)

18

yang berbeda seperti nilai sumberdayanya yang digunakan untuk generasi saat ini dan akan datang. Pengelolaan pesisir yang berkelanjutan berorientasi pada banyak tujuan, pengelolaan tersebut mencakup implikasi pengembangan, konflik antar pengguna, keterkaitan antara proses fisik dan aktivitas manusia serta mengedepankan hubungan dan harmonisasi antara sektor pesisir dan kegiatan yang ada di laut (Knecht et al., 1994; Anutha dan Johnson, 1996).

Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu berfungsi untuk perencanaan kawasan, pengembangan dan pembangunan ekonomi, perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya, resolusi konflik, perlindungan keselamatan umum dan penataan pemilikan sumberdaya (Cicin-Sain dan Knecht, 1998). Tetapi dalam implementasinya mengidentifikasi masalah-masalah seperti: (1) kurangnya pengetahuan mengenai pesisir dan lautan, (2) rendahnya penilaian (valuation) pada sumberdaya pesisir dan lautan, (3) kurangnya pemberdayaan masyarakat dan pengguna sumberdaya pesisir dan lautan, (4) ketidakjelasan wewenang pengelolaan, (5) rendahnya kapasitas kelembagaan, dan (6) kurangnya keterpaduan antar prakarsa (Dahuri dan Dutton, 2000).

(20)

19

merupakan bagian dari penelitian, seperti indikator yang bersifat site-specific yang mungkin secara signifikan untuk dievaluasi (OECD, 1993).

2.4. Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung

Pengembangan akuakultur di Indonesia diharapkan mampu menjawab empat isu penting antara lain: 1) keamanan pangan; 2) perikanan yang bertanggung jawab (pengembangan perikanan budidaya tidak boleh menimbulkan degradasi kualitas lingkungan yang pada akhirnya akan mengganggu kesetimbangan ekologis lokal); 3) perdagangan global; 4) memiliki daya saing komperatif yang esensinya berupa peluang pasar bagi produk akuakultur kita (FAO, 1995; FAO Fisheries dan Aquaculture Department, 2006; Abdullah, 1997). Pengembangan budidaya laut di Indonesia untuk waktu yang akan datang adalah sangat penting artinya bagi pembangunan sub sektor perikanan, serta merupakan salah satu prioritas yang diharapkan menjadi pertumbuhan dari sub sektor perikanan. Hal ini dikarenakan beberapa alasan:

a. Sumberdaya ikan di laut meskipun merupakan sumberdaya yang dapat pulih kembali, tetapi tetap ada batasan, apabila batas tersebut dilampaui akan sangat membahayakan kelestarian sumberdaya ikan (Dahuri, 1998; 2001).

b. Pemanfaatan sumberdaya ikan di laut di beberapa perairan sudah intensif dan menunjukkan gejala-gejala padat tangkap, sehingga pengembangan selanjutnya di wilayah perairan tersebut diarahkan ke kegiatan budidaya laut (Dahuri, 2001; Effendi, 2004; Idris et al., 2007).

c. Potensi pengembangan budidaya laut yang dimiliki Indonesia sangat besar dengan garis pantai yang panjang, gugusan pulau-pulau, selat dan teluk yang sangat sesuai untuk lahan pengembangan budidaya laut (Idris et al., 2007). d. Budidaya laut merupakan jenis usaha baru yang bila dikembangkan dapat

menyerap tenaga kerja yang besar dari desa pantai atau desa yang umumnya masuk kategori desa tertinggal (FAO, 1995; Dahuri, 2007).

(21)

20

f. Kegiatan budidaya laut berguna untuk mendidik nelayan ikan ikut memelihara lingkungan pantai dari kerusakan sumberdaya hayati seperti penggunaan alat dan bahan terlarang perusak ekosistem karang (Abdullah, 1997).

Budidaya memainkan peranan ekonomi penting melalui penciptaan kesempatan ekonomi baru (menciptakan lapangan kerja di suatu kawasan dimana ada beberapa alternatif pilihan usaha) dan penyediaan sumber kualitas makanan yang tinggi secara lokal dan kesempatan untuk menarik usahawan lokal untuk berinvestasi dalam perekonomian lokal, sehingga meningkatkan pengendalian pengembangan ekonomi secara keseluruhan. Budidaya tergantung pada input dari keanekaragaman makanan, pemrosesan, transportasi dan industri lainnya serta menghasilkan produk yang bernilai, buangan limbah perairan yang tidak terkontaminasi dan pengelolaan limbah perikanan yang kesemuanya dapat menjadi bagian yang penting dari sistem ekologi yang dapat direncanakan dan dikelola untuk produksi makanan akuatik yang berbasis masyarakat, rehabilitasi ekosistem alami, reklamasi dan peningkatan pemberdayaan dan bukan kerusakan (DFO, 2002; Costa-Pierce, 2008; Soto, 2008).

Peluang pengembangan usaha perikanan di Indonesia masih sangat besar, mengingat pemanfaatan perairan yang dimilikinya sampai saat ini masih relatif rendah. Pemanfaatan potensi sumberdaya ikan di laut baru mencapai 65 %, atau baru 4,8 juta ton per tahun dari potensi sumberdaya ikan yang mencapai 6,4 juta ton per tahun (Ditjen. Perikanan, 2008). Sementara itu, kondisi global juga menyediakan peluang besar bagi pengembangan perikanan yang ditunjukkan antara lain oleh terus meningkatnya permintaan terhadap ikan dan produk perikanan, berubahnya pola makan dari daging merah (red meat) ke daging putih (white meat), gaya hidup yang lebih berorentasi pada makanan yang non-kolesterol dan lain sebagainya (Effendi, 2004 dan Cholik et al., 2005).

(22)

21

rakit kerang-kerangan atau rumput laut atau membudidayakan organisme laut dalam wadah atau area terbatas dan terkurung (Ismail et al., 2001).

Dirjen perikanan (2001) mendefinisikan keramba jaring apung sebagai tempat pemeliharaan ikan yang terbuat dari bahan jaring yang memungkinkan keluar masuknya air dengan leluasa, sehingga terjadi pertukaran ke perairan sekitarnya. Komponen-komponen keramba jaring apung terdiri dari kerangka atau bingkai, pelampung, jangkar, pemberat jaring, penutup kantung jaring, bangunan fisik dan peralatan pendukung lainnya.

Teknologi budidaya ikan dengan sistem KJA telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Menurut Ismail et al., (1996), teknologi ini sudah diterapkan para petani di Indonesia sejak tahun 1940 di beberapa sungai besar dan perairan waduk. Kemudian dalam perkembangannya di tahun 1976, mulai dilakukan adopsi terhadap teknik dasar budidaya dengan menggunakan jaring apung yang dilakukan oleh petani di sekitar waduk Jatiluhur. Di tahun 1998, budidaya khususnya perikanan dengan sistem keramba jaring apung tersebut mulai dikembangkan di perairan pesisir.

Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keramba yaitu: 1) Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya; 2) Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan; 3) Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan (Galapitage, 1986). Menurut Rachmansyah et al., 1997 budidaya perikanan dengan sistem keramba jaring apung memiliki keunggulan komperatif diantaranya:

1. Efisien dalam penggunaan lahan dengan tingkat produktivitas tinggi dibandingkan tambak, tidak memerlukan pematang, saluran air dan pengolahan lahan sehingga dapat mengurangi biaya produksi.

2. Unit usaha dapat ditentukan sesuai kemampuan modal dengan menggunakan bahan rakit sederhana sesuai bahan yang tersedia disekitar lokasi budidaya. 3. Mudah dipantau karena wadah budidaya yang relatif terbatas, terhindar dari

(23)

22

4. Tidak memerlukan pengelolaan kualitas iar, karena adanya gerakan pasut sehingga efisien dalam biaya produksi.

5. Produksi mudah dicapai oleh armada penangkapan tuna dan cakalang sebagai sarana pemasaran.

Suatu organisme yang akan dibudidayakan dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan atau kriteria yaitu 1) Besarnya manfaat organisme bagi manusia, seperti untuk bahan makanan, bahan baku industri, obat-obatan dan sektor jasa; 2) Peluang untuk dapat diproduksi dengan teknologi dan biaya yang layak; 3) Pengaplikasian usaha budidaya tidak banyak menimbulkan gangguan terhadap kegiatan lain atau lingkungan (Dirjen Perikanan Budidaya DKP, 2001). Untuk keberhasilan dan kesinambungan usaha budidaya ikan dalam keramba jaring apung, maka beberapa aspek penting yang harus dipertimbangkan adalah pemilihan lokasi, konstruksi keramba jaring apung, ketersediaan benih, pembesaran ikan budidaya (padat tebar, pakan dan cara pemberian pakan), perawatan keramba, pengendalian hama penyakit dan pemasaran (Rochdianto, 1996 dan Sunyoto, 1996).

Beberapa faktor non teknis yang ikut andil dalam menentukan usaha budidaya sistem keramba jaring apung ini meliputi: 1) Dekat dengan daerah sumber benih ikan yang akan dibudidayakan; 2) Infrastruktur jalan cukup tersedia sehingga akses menuju lokasi dalam mobilisasi benih dan hasil panen dapat terjamin; 3) Terdapatnya sumber listrik untuk penerangan lokasi budidaya dalam kaitannya dengan keamanan, kemudahan operasional pemeliharaan ikan dan kenyamanan pekerja; 4) Tenaga kerja tersedia dengan cukup; 5) Kebijakan pemerintah daerah setempat dengan perangkat peraturan dan intensif bagi pengembangan usaha budidaya sistem keramba jaring apung yang ramah lingkungan (Sunyoto, 1993; Wardana, 1999).

(24)

23

budidaya perikanan dapat diklasifikasikan menjadi kegiatan mariculture dan budidaya air payau (tambak).

Alasan yang mendorong perlu ditingkatkannya usaha budidaya perikanan laut didasarkan pada perhitungan konversi konsumsi ikan penduduk Indonesia pada tahun 2003 dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa dan tingkat konsumsi ikan sebesar 26,5 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan persediaan 5,5 juta ton ikan/tahun dan bila ditambah dengan volume ekspor 1,4 juta ton/tahun dan kebutuhan ikan untuk industri tepung ikan 0,3 juta ton/tahun, maka pada tahun 2003 terjadi kekurangan produksi ikan sebesar 2,3 juta ton/tahun dengan asumsi 4,9 juta ton kebutuhan ikan terpenuhi dari produksi penangkapan. Tingkat produksi budidaya saat ini 1,1 juta ton, dengan ini berarti untuk mencukupi kebutuhan ikan melalui budidaya yaitu sebesar 1,2 juta ton/tahun (Akbar, 2001).

Ismail et al., (2001) menyebutkan bahwa pemilihan lokasi yang tepat merupakan hal yang sangat menentukan, mengingat kegagalan dalam pemilihan lokasi akan berakibat resiko yang permanen dalam kegiatan produksi. Untuk memperoleh hasil yang memuaskan, hendaknya dipilih lokasi yang sesuai dengan karakteristik biofisik (persyaratan hidup) bagi jenis ikan yang dibudidayakan. Lebih lanjut Ismail et al., (2001) menyebutkan beberapa syarat pemilihan lokasi budidaya antara lain: 1) Harus terlindung dari pengaruh arus kuat dan angin musim; 2) Tidak mengalami fluktuasi salinitas yang besar; 3) Perairan harus benar-benar bebas dari pencemaran baik industri maupun rumah tangga.

Aspek sosial dan ekonomi yang penting diperhatikan dalam memilih lokasi usaha budidaya dengan sistem keramba jaring apung yaitu tersedianya prasarana jalan yang memadai, keamanan terjamin, mudah mendapatkan tenaga kerja dengan upah yang wajar, merupakan daerah pengembangan budidaya ikan, sesuai dengan tata ruang dan kebijaksanaan pemerintah (Rochdianto, 1996 dan Sunyoto, 1996).

2.5. Kualitas Air untuk Budidaya Ikan di Laut

(25)

24

perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan daur hidupnya (Boyd, 1982).

Menurut Ismoyo (1994) kualitas air adalah suatu keadaan dan sifat-sifat fisik, kimia dan biologi suatu perairan yang dibandingkan dengan persyaratan untuk keperluan tertentu, seperti kualitas air untuk air minum, pertanian dan perikanan, rumah sakit, industri dan lain sebagainya. Sehingga menjadikan persyaratan kualitas air berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya.

Menurut Mc Gauhey (1968) beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kualitas air: 1) Tingkat pemanfaatan dari penggunaan air; 2) Faktor kualitas alami sebelum dimanfaatkan; 3) Faktor yang menyebabkan kualitas air bervariasi; 4) Perubahan kualitas air secara alami; 5) Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kualitas air; 6) Persyaratan kualitas air dalam penggunaan air; 7) Pengaruh perubahan dan keefektifan kriteria kualitas air; 8) Perkembangan teknologi untuk memperbaiki kualitas air; 9) Kualitas air yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

(26)

25

kriteria kualitas air untuk lokasi budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria Kualitas Air untuk Lokasi Budidaya dengan sistem KJA

Parameter yang Diukur Kisaran Nilai

Arus 20 – 30 cm/det

Suhu 25 – 32 0C (untuk wilayah tropis)

Kecerahan ≥ 3 m

Salinitas 28 – 32 ppt

DO 5 – 10 mg/l

pH 7,0 – 8,5

Nitrogen < 0,5 mg/l

Posfat 10 – 110 mg/l

Sumber: Bambang dan Tjahjo (1997); Suwandana (1996) dalam Prasetyawati (2001).

Tabel 1 menampilkan parameter kunci yang dianggap paling berpengaruh dalam keberlanjutan usaha budidaya sistem keramba jarring apung. Di dalam penelitian ini, penulis menampilkan parameter kualitas air yang dianggap paling mendukung bagi kehidupan organisme yang dibudidayakan serta ditambah dengan parameter penunjang untuk keefisiensian penempatan instalasi budidaya ikan dalam keramba jaring apung, baik itu berupa parameter fisika, kimia maupun biologi.

2.5.a DO (Oksigen Terlarut)

Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan. Sedangkan pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang biak (Rahayu, 1991).

Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan makhluk hidup didalam air maupun hewan teristrial. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan organik yang banyak mengkonsumsi oksigen sewaktu penguraian berlangsung (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Asmawi (1983) menyatakan O

2 terlarut yang baik adalah 5–10 mg/l, CO

(27)

26

baik adalah kurang dari 1 mg/l. Pada kadar NH

3 0,053-0,280 mg/l kondisi larva udang masih cukup baik. Gangguan NH

3 terhadap larva mulai terlihat pada kadar 0,6 mg/l, kandungan NH

3 yang baik untuk pertumbuhan ikan kurang dari 1 mg/l dan CO

2 berkisar 0,0-15,0 mg/l (Hadic dan Jatna, 1998).

Konsentrasi oksigen terlarut yang aman bagi kehidupan diperairan sebaiknya harus diatas titik kritis dan tidak terdapat bahan lain yang bersifat racun, konsentrasi oksigen minimum sebesar 2 mg/l cukup memadai untuk menunjang secara normal komunitas akuatik di periaran (Pescod, 1973). Kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya adalah 5 – 8 mg/l (Mayunar et al., 1995; Akbar, 2001).

2.5.b. Salinitas

Hardjojo dan Djokosetiyanto (2005) menyatakan bahwa salinitas adalah berat garam dalam gram per kilogram air laut serta merupakan ukuran keasinan air laut dengan satuan pro mil (0/00), salinitas merupakan parameter penunjuk jumlah bahan terlarut dalam air. Zat-zat yang terlarut dalam air laut yang membentuk garam adalah:

1. Unsur utama : Khlorida (Cl), Natrium/ Sodium (Na), Oksida Sulfat (SO4) dan Magnesium (Mg).

2. Gas terlarut : gas Karbondioksida (CO2), gas Nitrogen (N2), gas Oksigen (O2).

3. Unsur hara : Silika (Si), Nitrogen (N), Phosphor (P).

4. Unsur runut : Besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal (Pb) dan Air Raksa/ Merkuri (Hg).

(28)

27

menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah (Nontji, 2007).

Salinitas permukaan air laut sangat erat kaitannya dengan proses penguapan dimana garam-garam akan mengendap atau terkonsentrasi. Daerah-daerah yang mengalami penguapan yang cukup tinggi akan mengakibatkan salinitas tinggi. Berbeda dengan keadaan suhu yang relatif kecil variasinya, salinitas air laut dapat berbeda secara geografis akibat pengaruh hujan lokal, banyaknya air sungai yang masuk ke laut, penguapan dan edaran massa air (King, 1963 dalam Presetiahadi, 1994).

Salinitas disebabkan oleh tujuh ion utama yaitu natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorit (Cl), sulfat (SO4) dan bikarbonat (HCO3), sementara itu salinitas dinyatakan dalam satuan gr/l atau permil (0/00) (Effendi, 2003). Biota estuaria biasanya mempunyai toleransi terhadap variasi salinitas yang besar (eury-haline). Contohnya Chanos chanos (bandeng), Mugil (belanak) dan Tilapia (mujair). Salinitas yang tidak sesuai dapat menghambat perkembangbiakan dan pertumbuhan. Kerang hijau, kerang darah dan tiram adalah jenis-jenis kerang yang hidup di daerah estuaria. Variasi salinitas alami estuaria di Indonesia berkisar antara 15–32 psu. Hasil penelitian yang dilakukan pada kerang hijau memberikan petunjuk bahwa salinitas yang lebih rendah dari 15 psu dapat menyebabkan kematian kerang tersebut. Keberhasilan benih kerang darah untuk menempel pada kolektor tergantung pada salinitas. Pada salinitas 18 psu, keberhasilan menempel lebih tinggi. Tiram dapat hidup dalam perairan dengan salinitas yang lebih rendah daripada salinitas untuk kerang hijau dan kerang darah. Kerapu dan beronang dapat hidup di daerah estuaria maupun daerah terumbu karang. Ikan kakap hidup di perairan pantai dan muara sungai. Rumput laut hidup di daerah terumbu karang. Pada umumnya salinitas alami perairan terumbu karang di Indonesia 31 psu (Romimohtarto, 1985).

2.5.c. Suhu Perairan

(29)

28

didalamnya akan menentukan massa jenis air, dan bersama-sama dengan tekanan dapat digunakan untuk menentukan densitas air. Selanjutnya, densitas air dapat digunakan untuk menentukan kejenuhan air. Suhu air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut berada. Kenaikan suhu air di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya akan menimbulkan akibat sebagai berikut: 1) Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun; 2) Kecepatan reaksi kimia meningkat; 3) Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, maka akan menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati.

Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa, sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton (Tomascik et al., 1997).

Pengaruh suhu secara tidak langsung dapat menentukan stratifikasi massa air, stratifikasi suhu di suatu perairan ditentukan oleh keadaan cuaca dan sifat setiap perairan seperti pergantian pemanasan dan pengadukan, pemasukan atau pengeluaran air, bentuk dan ukuran suatu perairan. Suhu air yang layak untuk budidaya ikan laut adalah 27 – 32 0C (Mayunar et al., 1995; Sumaryanto et al.,

2001). Kenaikan suhu perairan juga menurunkan kelarutan oksigen dalam air, memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas ikan disamping akan menaikkan daya racun suatu polutan terhadap organisme perairan (Brown dan Gratzek, 1980). Selanjutnya Kinne (1972) menyatakan bahwa suhu air berkisar antara 35 – 40 0C merupakan suhu kritis bagi kehidupan organisme yang dapat menyebabkan kematian.

(30)

29

sangat mendukung bagi pengembangan budidaya perikanan (BPS, 2003; Cholik et al., 2005).

2.5.d. pH

pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air, besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Besaran pH berkisar antara 0 – 14, nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH = 7 disebut sebagai netral (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005).

Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan yang sangat asam dan dapat menyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5 merupakan perairan yang sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken, 1992).

Pescod (1973) menyatakan bahwa toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak faktor meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermcam-macam anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7 – 9) merupakan perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diassimilasi oleh fotoplankton (Suseno, 1974).

pH air yang tidak optimal berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan, menyebabkan tidak efektifnya pemupukan air di kolam dan meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S. pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik, semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3 (Cholik et al., 2005).

2.5.e. Kecepatan Arus

(31)

30

luas. Arus laut jauh lebih rumit karena adanya gaya Coriolis, yakni gaya yang diakibatkan oleh perputaran bumi dan adanya pasang surut yang dipengaruhi oleh gaya tarik bulan (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005).

Romimohtarto (1985) menyatakan bahwa arus mempunyai pengaruh positif maupun negatif terhadap kehidupan biota perairan. Arus dapat mengakibatkan rusaknya jaringan-jaringan jasad hidup yang tumbuh di daerah itu dan partikel-partikel dalam suspensi dapat menghasilkan pengikisan. Di perairan dengan dasar berlumpur, arus dapat mengaduk endapan lumpur sehingga mengakibatkan kekeruhan air dan mematikan organisme air. Kekeruhan bisa mengurangi penetrasi sinar matahari, dan karenanya mengurangi aktivitas fotosintesa. Manfaat dari arus bagi banyak biota adalah menyangkut penambahan makanan bagi biota-biota tersebut dan pembuangan kotoran-kotorannya. Untuk algae kekurangan zat-zat kimia dan CO2 dapat dipenuhi. Sedangkan bagi binatang CO2 dan produk-produk sisa dapat disingkirkan dan O2 tetap tersedia. Arus juga memainkan peranan penting bagi penyebaran plankton, baik holoplankton maupun meroplankton. Terutama bagi golongan meroplankton yang terdiri dari telur-telur dan burayak-burayak avertebrata dasar dan ikan-ikan. Mereka mempunyai kesempatan menghindari persaingan makanan dengan induk-induknya terutama yang hidup menempel seperti teritip (Belanus spp) dan kerang hijau (Mytilus viridis).

Kecepatan arus yang baik dilokasi yang ingin dijadikan sebagai tempat atau kawasan keramba jaring apung berkisar antara 23 – 50 cm/det (Mayunar et al.,

1995); sedangkan KLH (2004) memberikan batasan kisaran nilai 15 – 25 cm/det. 2.5.f. Nitrogen

(32)

31

dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam air, pada saat kandungan oksigen rendah nitrogen berubah menjadi amoniak (NH3) dan saat kandungan oksigen tinggi nitrogen berubah menjadi nitrat (NO3-) (Welch, 1980).

Senyawa ammonia, nitrit, nitrat dan bentuk senyawa lainnya berasal dari limbah pertanian, pemukiman dan industri. Secara alami senyawa ammonia di perairan berasal dari hasil metabolisme hewan dan hasil proses dekomposisi bahan organik oleh bakteri. Jika kadar ammonia di perairan terdapat dalam jumlah yang terlalu tinggi (lebih besar dari 1,1 mg/l pada suhu 25 0C dan pH 7,5) dapat diduga adanya pencemaran (Alaerst dan Sartika, 1987).

Sumber ammonia di perairan adalah hasil pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air, juga berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati) yang dilakukan oleh mikroba dan jamur yang dikenal dengan istilah ammonifikasi (Effendi, 2003).

Nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit di perairan alami, kadarnya lebih kecil daripada nitrat karena nitrit bersifat tidak stabil jika terdapat oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat serta antara nitrat dan gas nitrogen yang biasa dikenal dengan proses nitrifikasi dan denitrifikasi (Effendi, 2003).

Nitrat (NO3) adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami. Nitrat merupakan salah satu nutrien senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Konsentrasi nitrat yang tinggi di perairan dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme perairan apabila didukung oleh ketersediaan nutrient (Alaerst dan Sartika, 1987). Konsentrasi ammonia untuk keperluan budidaya laut adalah ≤ 0,3 mg/l (KLH, 2004). Sedangkan untuk nitrat adalah berkisar antara 0,9 – 3,2 mg/l (KLH, 2004; DKP, 2002).

2.5.g. Intensitas Cahaya dan Kecerahan

(33)

32

Umumnya fotosintesis bertambah sejalan dengan bertambahnya intensitas cahaya sampai pada suatu nilai optimum tertentu (cahaya saturasi), diatas nilai tersebut cahaya merupakan penghambat bagi fotosintesis (cahaya inhibisi). Sedangkan semakin ke dalam perairan intensitas cahaya akan semakin berkurang dan merupakan faktor pembatas sampai pada suatu kedalaman dimana fotosintesis sama dengan respirasi (Cushing, 1975; Mann, 1982; Valiela, 1984; Parson et al.,

1984; Neale , 1987).

Kedalaman perairan dimana proses fotosintesis sama dengan proses respirasi disebut kedalaman kompensasi. Kedalaman kompensasi biasanya terjadi pada saat cahaya di dalam kolom air hanya tinggal 1 % dari seluruh intensitas cahaya yang mengalami penetrasi dipermukaan air. Kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi oleh kekeruhan dan keberadaan awan sehingga berfluktuasi secara harian dan musiman (Effendi, 2003).

Cahaya merupakan sumber energi utama dalam ekosistem perairan. Di perairan, cahaya memiliki dua fungsi utama (Jeffries dan Mills, 1996 dalam

Effendi, 2003) antara lain adalah:

1. Memanasi air sehingga terjadi perubahan suhu dan berat jenis (densitas) dan selanjutnya menyebabkan terjadinya percampuran massa dan kimia air. Perubahan suhu juga mempengaruhi tingkat kesesuaian perairan sebagai habitat suatu organisme akuatik, karena setiap organisme akuatik memiliki kisaran suhu minimum dan maksimum bagi kehidupannya.

2. Merupakan sumber energi bagi proses fotosintesis algae dan tumbuhan air. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditemukan secara

visual dengan menggunakan secchi disk. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter, nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi serta ketelitian seseorang yang melakukan pengukuran. Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah (Effendi, 2003). Untuk budidaya perikanan laut, kecerahan air yang dipersyaratkan adalah > 3 m (KLH, 2004; Akbar 2001).

2.5.h. Kekeruhan

(34)

33

matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk tampilan menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat pencahayaan matahari sangat besar pada metabolisme makhluk hidup dalam air, jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula sebaliknya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005; Alaerts dan Santika, 1987).

Menurut Alaerts dan Santika (1987) menyatakan bahwa ada 3 metode pengukuran kekeruhan yaitu: 1) Metoda Nefelometrik (unit kekeruhan nefelometrik FTU atau NTU); 2) Metoda Hellige Turbidimetri (unit kekeruhan silica); 3) Metoda visual (unit kekeruhan Jackson). Metoda visual adalah cara kuno dan lebih sesuai untuk nilai kekeruhan yang tinggi, yaitu lebih dari 25 unit, sedangkan metode nefelometrik lebih sensitif dan dapat digunakan untuk segala tingkat kekeruhan.

Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung yang terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada sediment, seperti tanah liat, bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme dan lain sebagainya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Padatan tersuspensi dan kekeruhan memiliki korelasi positif yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi, tetapi tidak berarti kekeruhannya tinggi pula (Effendi, 2003). Padatan tersuspensi perairan yang baik untuk usaha budidaya perikanan laut adalah 5 – 25 mg/l (KLH, 2004).

(35)

34

(diukur sebagai total suspended solids – TSS) memiliki dampak langsung yang berbahaya terhadap kehidupan dan bisa mengakibatkan kerusakan ekologis yang signifikan melalui beberapa mekanisme berikut ini: 1) Abrasi langsung terhadap insang binatang air atau jaringan tipis dari tumbuhan air; 2) Penyumbatan insang ikan atau selaput pernapasan lainnya; 3) Menghambat tumbuhnya/smothering

telur atau kurangnya asupan oksigen karena terlapisi oleh padatan; 4) Gangguan terhadap proses makan, termasuk proses mencari mangsa dan menyeleksi makanan (terutama bagi predation dan filter feeding; 5) Gangguan terhadap proses fotosintesis oleh ganggang atau rumput air karena padatan menghalangi sinar yang masuk; 6) Perubahan integritas habitat akibat perubahan ukuran partikel.

2.5.i. COD (Chemical Oxygen Demand)

Hardjojo dan Djokosetiyanto (2005) menyatakan bahwa COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan. Uji COD biasanya menghasilkan nilai kebutuhan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan uji BOD karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dengan uji COD.

Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alami dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis yang mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Sedangkan nilai COD dapat memberikan indikasi kemungkinan adanya pencemaran limbah industri di dalam perairan (ALaerst dan Sartika, 1987).

2.5.j. BOD (Biochemical Oxygen Demand)

(36)

35

dapat diketahui dengan menghitung selisih konsentrasi oksigen terlarut sebelum dan sesudah inkubasi (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005).

Menurut Hardjojo dan Djokosetiyanto (2005) menyatakan bahwa dalam uji BOD mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya adalah: 1) Dalam uji BOD ikut terhitung oksigen yang dikonsumsi oleh bahan anorganik atau bahan-bahan tereduksi lainnya yang disebut juga intermediate oxygen demand; 2) Uji BOD memerlukan waktu yang cukup lama yaitu minimal lima hari; 3) Uji BOD yang dilakukan selama 5 hari masih belum dapat menunjukkan nilai total BOD melainkan hanya kira-kira 68 % dari total BOD; 4) Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat didalam air tersebut, misalkan adanya germisida seperti chlorine yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik, sehingga hasil uji BOD menjadi kurang teliti.

BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat pada botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20 0C selama 5 hari dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd, 1982). Berikut akan disajikan derajat pencemaran suatu badan perairan yang dilihat berdasarkan nilai BOD5 (Tabel 2).

Tabel 2. Derajat Pencemaran Berdasarkan Nilai BOD5

Kisaran BOD5 (mg/l) Kriteria Kualitas Perairan

≤ 2,9 Tidak tercemar

3,0 – 5,0 Tercemar ringan

5,1 – 14,9 Tercemar sedang

≥ 15,0 Tercemar berat

Sumber: Lee (1987) dalam Sukardiono (1987).

Tabel 2 menyajikan tingkat pencemaran di badan perairan berdasarkan nilai BOD. Kriteria ini merupakan kriteria untuk organisme budidaya dengan berbagai sistem budidaya.

2.6. Daya Dukung Lingkungan

(37)

36

dukung (carrying capacity) merupakan areal dimana populasi organisme akuatik akan ditunjang oleh kawasan atau volume perairan tanpa mengalami penurunan mutu atau deteriorasi (Turner, 1998). Kenchington dan Hudson (1984) mendefinisikan daya dukung sebagai suatu kuantitas maksimum ikan yang didukung oleh suatu badan air selama jangka waktu yang panjang.

Poernomo (1992) menyatakan bahwa daya dukung dinyatakan sebagai pemanfaatan maksimum suatu kawasan atau suatu ekosistem baik berupa jumlah maupun kegiatan yang ada di dalamnya. Daya dukung ekonomi merupakan tingkat skala usaha dalam pemanfaatan sumberdaya yang memberikan keuntungan ekonomi maksimum secara berkelanjutan.

Prasetyawati (2001) menyatakan daya dukung lahan pesisir ditentukan oleh mutu dan sumber air (asin dan tawar), arus dan pasang surut (hidro-oceanografi), topografi, klimatologi daerah pesisir dan hulu. Scone dalam Prasetyawati (2001) membagi daya dukung lingkungan menjadi dua yaitu daya dukung ekologis (ecological carrying capacity) dan daya dukung ekonomi (economic carrying capacity). Daya dukung ekologis adalah jumlah maksimum organisme dalam suatu lahan yang dapat didukung tanpa mengakibatkan kematian karena faktor kepadatan maupun terjadinya kerusakan lingkungan secara permanen (irreversible). Hal ini ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, CO2 dan parameter kualitas air lainnya. Sementara itu daya dukung ekonomi adalah tingkat produksi yang memberikan keuntungan maksimum dan ditentukan oleh tujuan usaha secara ekonomi. Dalam hal ini digunakan parameter-paremeter kelayakan usaha secara ekonomi seperti NPE (net present value), B/C (benefit cost ratio) dan IRR (internal rate of return).

(38)

37

Kesesuaian lahan (land suitability) merupakan kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan serta pola tata guna lahan yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya, sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha pemeliharaan kelestariannya. Penilaian kesesuaian lahan merupakan suatu penilaian sistematik dari lahan dan menggolong-golongkannya kedalam kategori berdasarkan persamaan sifat atau kualitas lahan yang mempengaruhi kesesuaian lahan bagi suatu usaha atau penggunaan tertentu (Hardjowigeno, 2001).

Daya dukung lingkungan sangat erat kaitannya dengan kapasitas assimilasi dari lingkungan yang menggambarkan jumlah limbah yang dapat dibuang kedalam lingkungan tanpa menyebabkan polusi. Kemampuan assimilasi merupakan ukuran kemampuan air atau sumber air dalam menerima pencemaran limbah tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukkannya (UNEP, 1993). Penjelasan tersebut apabila diterapkan sebagai daya dukung lingkungan pesisir menjadi kemampuan badan air atau peraian di kawasan pesisir dalam menerima limbah organik, termasuk didalamnya adalah kemampuan mendaur ulang atau mengassimilasi limbah tersebut sehingga tidak mencemari lingkungan perairan yang berakibat pada terganggunya keseimbangan ekologis suatu perairan (Widigdo, 2000).

2.7. Estimasi Beban Limbah

(39)

38

durasi pengoperasian keramba pada suatu tempat; 4) kondisi fisik dan oseanografi yang berkaitan dengan tempat kegiatan keramba berlangsung; 5) biota yang menghuni kawasan tersebut; dan 6) kapasitas assimilasi dari lingkungan dimana kegiatan keramba ditempatkan (Milewski, 2001).

Limbah pakan dapat dikurangi melalui peningkatan stabilitas pakan, mengurangi tingkat tenggelamnya pakan dan menyediakan ukuran pakan yang sesuai dengan ukuran ikan pada setiap tahapan yang berbeda dari kegiatan budidaya. Buangan amonia dari ikan merupakan fungsi dari penyerapan protein dan dapat dijaga agar tetap rendah. Pakan yang memiliki tingkat kecernaan yang tinggi, pengoptimalan rasio protein/ energi dapat diterapkan untuk masing-masing spesies budidaya dan setiap tahap pengembangan. Kebutuhan energi ikan dapat dicukupi melalui pemberian karbohidrat dan lemak, sehingga protein dapat bertahan untuk pembentukan jaringan tubuh. Hal ini telah ditunjukkan melalui retensi protein dari ikan Sparatus aurata yang dapat ditingkatkan dari 24,30 % menjadi 31,30 % dengan cara meningkatkan kandungan lemak pakan menjadi 37 % (Kissil dan Lupatsch, 1992). Sebenarnya, pengurangan N dalam pakan hanya dapat dicapai jika menggunakan pakan buatan. Kesulitan menggunakan formulasi pakan buatan adalah masih banyaknya penggunaan ikan rucah. Alasan mengapa penggunaan ikan rucah masih banyak dilakukan karena masih rendahnya pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi untuk berbagai jenis ikan budidaya. Kualitas pakan jelas merupakan faktor utama karena pakan mempengaruhi pertumbuhan ikan secara keseluruhan (pertumbuhan harian dan konversi makanan), kesehatan ikan, buangan limbah fekal dan limbah pakan, dan jumlah total phosphor yang pada akhirnya dilepaskan keperairan (Goddard, 1996; Steffens, 1996; Gatlin dan Hardy, 2002).

Penelitian yang dilakukan oleh Guo dan Li (2003) memperlihatkan total nitrogen di sekitar keramba yang terukur kandungannya hampir sama dalam jarak yang relatif jauh yaitu sekitar 50 – 130 m. Sementara itu, kandungan Chlorofil-a di sekitar keramba berbeda dengan yang ada dilokasi lain yang tidak diperuntukkan sebagai kawasan budidaya. Demikian pula dengan biomassa rotifer

(40)

39

pada akhir penelitian hanya ditemukan dua spesies (Branchiura sowerbyi dan

Sphaerium lacustre) yang ditemukan tepat di bawah keramba yang sebelumnya berjumlah 13 spesies dan tujuh spesies ditemukan di luar kawasan keramba.

Pengaruh banyaknya masukan nutrien pada badan air, mencirikan adanya suatu peningkatan terhadap rendahnya tingkat oksigen terlarut pada area yang luas, lebih tingginya kandungan BOD dan konsentrasi ammonia di dalam kolom perairan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Warren dan Hansen (1982) yang menggunakan pakan buatan. Ternyata pakan buatan secara signifikan mengurangi masukan polutan ke sekitar perairan. Berbedanya spesies ikan yang dipelihara memungkinkan berbedanya tingkat ekskresi ammonia, hal ini juga bergantung pada tingkat pertumbuhan dan konsumsi makanan. Sebagai contoh, tingkat ekskresi amonia dari ikan kakap (Lutjanius argentimaculatus) sebesar 558 mg/kg berat tubuh/tahun, lebih besar 50% dibandingkan dengan ikan kerapu (Epinephelus areolatus) 375 mg/kg berat tubuh/tahun pada saat kedua spesies ikan tersebut diberi sejumlah pakan yang sama (Leung, 1996).

Penurunan oksigen terlarut dan peningkatan BOD, nutrien (P, N organik maupun anorganik dan total C) secara umum ditemukan di kolom perairan disekitar keramba (Muller dan Varadi, 1980; Bergheim et al., 1982; Beveridge dan Muir, 1982; Enell, 1982, 1987; Penczak et al., 1982; Enell dan Lof, 1983; Beveridge, 1985, 1986; Molver et al., 1988). Oksigen terlarut kembali normal pada jarak sejauh 30 m dari kegiatan budidaya ikan dalam keramba (Gowen dan Bradbury, 1987) tetapi kandungan oksigen berkurang hingga jarak 1 km jika kegiatan keramba tersebut menggunakan pakan ikan rucah dan kondisi kawasan budidaya yang buruk (Wu et al., 1994). Perubahan padatan terlarut, penurunan koefisien cahaya yang masuk, klorofil-a dan phaeopigmen dianggap merupakan dampak yang kurang signifikan atau bersifat lokal (Beveridge et al., 1994; Wu et al., 1994).

(41)

40

adanya peningkatan produksi primer maka kemungkinan blooming alga berbahaya juga terjadi. Pada saat ini tidak ada bukti yang nyata bahwa kegiatan budidaya telah memicu munculnya alga beracun secara besar-besaran (seperti red tide), tetapi tetap saja resiko kemungkinan munculnya harus dipertimbangkan. Akan tetapi, alga non toksik juga dapat berbahaya jika tidak ada yang mengkonsumsinya, ketika alga non toksik ini mati dan mengendap didasar akan diuraikan oleh bakteri dan dapat memicu masalah terjadinya anoksia seperti yang disebabkan oleh pelet dan limbah pakan. Perhitungan kapasitas dari badan perairan untuk mengasimilasi penambahan nutrien tanpa menimbulkan dampak masih merupakan suatu hal yang langka (Silvert, 2001).

Untuk mengurangi dampak terjadinya loading nutrien yang berlebih keperairan, maka perlu dikaji mengenai kapasitas assimilasi dari suatu badan perairan dimana kegiatan budidaya akan ditempatkan. Kapasitas assimilasi digambarkan sebagai kemampuan suatu kawasan untuk mempertahankan kesehatan lingkungan dan mengakomodasi sejumlah limbah (GESAMP (IMO/FAO/UNESCO-IOC/WMO/WHO/IAEA/UN/UNEP Joint Group of Experts on the Scientific Aspects of Marine Environmental Protection), 1986). Model pendekatan secara matematik telah digunakan dalam upaya untuk menentukan kapasitas assimilasi dan beberapa model saat ini digunakan di Scotlandia oleh SEPA untuk menetapkan dan mengatur konsentrasi buangan terutama yang berupa bahan kimia, obat-obatan dan nutrien untuk memprediksi kondisi suatu lingkungan (Henderson et al., 2001). Ada juga desakan perlunya peningkatan pengawasan konsentrasi nutrien, bahan kimia dan obat-obatan untuk keperluan validasi dari model pendugaan. Masalah penentuan kapasitas assimilasi untuk kegiatan budidaya dalam hal nutrien merupakan masalah yang kompleks dengan adanya fakta bahwa sulitnya untuk mencirikan masukan nutrien dari keramba ikan budidaya dengan masukan nutrien yang berasal dari hutan dan kegiatan pertanian. Sehingga perlu adanya pendekatan yang holistik untuk mengelola polutan di wilayah pesisir, khususnya yang mengacu pada pemodelan masukan nutrien dan penentuan kapasitas assimilasi (SEPA, 2002).

(42)

41

ikan yang dipelihara berkisar antara 83 hingga lebih besar dari 400 g O2/t/h (Wu, 1990b; McLean et al., 1993). Dengan asumsi oksigen terlarut diperairan laut adalah 7 mg/l, lebih kurang 17 – 53 m3 air laut yang bersih dibutuhkan untuk mengganti konsumsi oksigen untuk 1 ton ikan budidaya dan tidak menyertakan kebutuhan oksigen yang digunakan untuk menguraikan limbah dari kegiatan budidaya (Beveridge et al., 1994). Pada sistem budidaya ikan dalam keramba di perairan laut terbuka, produksi ikan sebesar 200 ton/tahun memerlukan kecepatan arus sebesar 1 m3/detik (Tervet, 1981). Pada area dimana pertukaran air lambat, maka produksi ikan seharusnya dikurangi (Heinig, 2001).

Kerusakan lingkungan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi bahan organik yang tinggi dalam sedimen yang mungkin akan mempengaruhi kesehatan ikan-ikan yang dipelihara dan akan mengurangi keuntungan. Oleh karena itu, keramba apung harus diletakkan pada tempat dimana kedalaman perairan mampu mempertukarkan air secara maksimal dan menjaga bagian dasar tetap memiliki kondisi substrat yang baik pada suhu terendah dan juga tak kalah penting adalah mengetahui batimetri perairan (Beveridge, 1996).

Selain limbah yang dikeluarkan oleh organisme budidaya, limbah yang berasal dari suatu pulau juga meski diketahui. Sayangnya tidak ada pengukuran yang secara langsung mengetahui kuantitas dan kualitas buangan limbah dari suatu pulau. Walaupun demikian, untuk menghitung kesesuian dari kegiatan budidaya ikan dalam keramba di perairan yang tertutup, dan sulit untuk mengeluarkan limbah, ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan untuk karakteristik buangan limbah (buangan limbah domestik tanpa pembuangan limbah yang berasal dari aktivitas industri) antara lain adalah: jumlah orang yang berada di wilayah pesisir, keberadaan atau ketiadaan perlakuan-perlakuan sebelum limbah tersebut dibuang keperairan. Sejumlah orang yang terkait pada masing-masing sektor menentukan kuantitas limbah yang dibuang kelaut. Keberadaan dan ketiadaan perlakauan-perlakuan sebelum pembuangan limbah akan menentukan bahaya potensial yang akan dialami (Pe´rez et al., 2003).

2.8. Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jarak Jauh

(43)

42

sumberdaya manusia. Perangkat keras meliputi komputer, digitizer, scanner, plotter, printer, sedangkan perangkat lunak bisa dipilih baik yang komersial maupun yang tersedia dengan bebas. Contoh perangkat lunak yang banyak dipakai adalah ARC/INFO, ArcView, IDRISI, ER Mapper, GRASS, MapInfo. Beberapa cara memasukkan data ke dalam SIG adalah melalui keyboard, digitizer, scanner, sistem penginderaan jauh, survei lapangan dan GPS. Sumberdaya manusia sebagai komponen SIG bukan hanya meliputi staf teknikal yang bertugas dalam hal pemasukan data maupun pemrosesan dan penganalisaan data, tetapi juga koordinator yang bertugas untuk mengontrol kualitas dari SIG. Adapun elemen fungsional SIG meliputi pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir (ESRI, 1990; Puntodewo

et al., 2003; Aronof, 2005).

SIG dapat dipertimbangkan sebagai suatu sistem manajemen basis data yang memperbolehkan pengguna untuk menyimpan, mendapatkan kembali dan memanipulasi data, serta mengintegrasikan dengan suatu series yang diikuti dengan analisis spasial yang tangguh (Borrough, 1986), sehingga dapat digunakan sebagai referensi informasi geografis yang sangat berguna bagi pengambil keputusan yang didalamnya mengintegrasikan data keruangan untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan (Cowen, 1988; Kam et al., 1992).

(44)

43

memilih SIG yang akan digunakan sangat tergantung pada sifat aplikasinya (Mennecke, 2000; Aronoff, 2005).

Penggunaan teknologi SIG dapat mempertajam kemampuan operasional agen pemerintah yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dalam pengelolaan wilayah pesisir. Kemampuan teknologi SIG dalam pengelolaan wilayah pesisir meliputi pananganan data spasial temporal, membangun basis data untuk wilayah pesisir dan menyediakan alat untuk analisis sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan (Rongxing, 2001). Secara kaidah, SIG harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) Terdiri atas konsep dan data geografis yang berhubungan dengan distribusi spasial; 2) Merupakan suatu informasi dari data yang didapat, ide atau analisis, biasanya berhubungan dengan tujuan pengambilan keputusan; 3) Suatu sistem yang terdiri dari komponen, masukan, proses dan keluaran; 4) Ketiga hal sebelumnya difungsikan kedalam skenario berdasarkan pada teknologi tinggi (Hamid, 2003).

Dalam

Gambar

Tabel Capture Penyimpanan  Manipulasi Tampilan Surey Lapangan
Tabel 3. Data satelit ocean color dan spesifikasinya.
Gambar 5. Lokasi Sampling di perairan Teluk Pelabuhan Ratu.
Tabel 4. Parameter lingkungan perairan, satuan dan alat pengukurannya.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Judul Penelitian : Analisis Kesesuaian Wilayah Untuk Budidaya Ikan Keramba Jaring Apung di Perairan Girsang Sipangan Bolon Danau Toba.. Nama

Terakhir pada bulan Agustus s/d September 2014, penulis di bantu oleh tenaga ahli dan teknisi kualitas air Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung

JUDUL TESIS KAJIAN BIOfISIK PERAIRAN PESISIR TELUK AWARANGE UNTUK BUDIDAYA LAUT SISTEM KARAMBA JARING APUNG DI KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN.. Ketua Program Studi IImu

JUDUL TESIS KAJIAN BIOfISIK PERAIRAN PESISIR TELUK AWARANGE UNTUK BUDIDAYA LAUT SISTEM KARAMBA JARING APUNG DI KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN.. Ketua Program Studi IImu

Pada tugas akhir ini dilakukan pengamatan kesuburan perairan dengan analisis citra satelit Aqua MODIS Level 1b untuk konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan

Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kesesuaian lahan wilayah pesisir Kabupaten Kutai Timur untuk budidaya tambak, budidaya karamba jaring tancap, dan budidaya rumput

Untuk pengembangan kegiatan budidaya ikan dalam KJA yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, hanya sekitar 10% dari potensi perairan pesisir yang secara efektif dimanfaatkan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui daya dukung perairan menampung limbah yang masuk dari kegiatan antropogenik dan budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung