• Tidak ada hasil yang ditemukan

Knowledge and attitude in conducting Personal Hygiene the Elderly in UPT social services Elderly and Toddlers in Medan and Binjai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Knowledge and attitude in conducting Personal Hygiene the Elderly in UPT social services Elderly and Toddlers in Medan and Binjai"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH :

MULA NOFRIANDA 121121046

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)

iii  Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Mula Nofrianda NIM : 121121046

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan” adalah benar hasil karya saya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya

dan belum pernah diajukan kepada institusi manapun serta bukan karya jiplakan.

Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan kaidah

ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya tekanan

dan paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika

ternyata dikemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Medan, Februari 2014 Yang membuat pernyataan,

(4)

Puji beserta syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT

atas rahmat dan hidayahNya, sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Pengetahuan

dan Sikap Lansia Dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial

Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan” dapat diselesaikan. Skripsi

ini ditulis terkait dengan persyaratan melakukan penelitian untuk memperoleh gelar

Sarjana Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih saya sampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan

bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini kepada :

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes. Sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara yang telah memfasilitasi terlaksananya pendidikan sehingga

skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Erniyati, SKp, MNS. Selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatana

Universitas Sumatera Utara

3. Evi karota, SKp, MNS. Selaku Pembantu Dekan II Fakultas Keperawatana

Universitas Sumatera Utara

4. Ikhsanuddin A. Hrp, Skp, MNS. Selaku Pembantu Dekan III Fakultas

Keperawatana Universitas Sumatera Utara

5. Ismayadi, S.Kep Ns, M.Kes, CWCCA, CHtN selaku pembimbing yang telah

memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat, sehingga

(5)

arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat untuk perbaikan

skripsi ini.

7. Fatwa Imelda, S.Kep Ns, M.Biomed selaku penguji II yang telah memberikan

masukan, arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat untuk

perbaikan skripsi ini.

8. Seluruh dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara beserta staf

yang telah membantu peneliti selama proses pendidikan.

9. Kepala UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan

Medan yang telah memberikan izin penelitian.

10.Kedua orang tua dan adik-adik ku serta seluruh keluarga yang mencintai dan

menyayangiku yang telah memberikan doa restu dan dukungan disepanjang

kehidupanku dan selama menjalani pendidikan di Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara ini

11.Rekan-rekan mahasiswa Ekstensi Keperawatan 2012 Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bantuan dan

dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

12.Almuddatsir, M. Aidul Ilham, M. Nasir, Ifan Pratama, Zulfan Haris, Asnil Adli

Simamora, Agus Surya Bakti, M. Fahrurozi, Rahmat Maruli, Chairul Munir,

Walid Ansari Daulai, Asmadi, Andreas W Saragih, Heni Agustina, Citra Hutri

Anggriani, M.Affan, Efendi yang telah banyak memberikan batuan baik berupa

(6)

dukungan berupa motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini

Semoga segala bantuan, kebaikan dan dukungan yang telah diberikan kepada

penulis mendapat berkah, rahmat dan hidayah dari ALLAH SWT, Amin.

Medan, Januari2014

(7)

vii 

2.1.2 Domain Kognitif Pengetahuan ... 7

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 9

2.2 Sikap (Attitude) ... 11

2.4.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene ... 25

2.4.6 Dampak Pesonal Hygiene ... 27

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN ... 28

3.1 Kerangka Konseptual ... 28

(8)

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 30

4.1 Desain Penelitian ... 30

4.2 Populasi dan Sampel ... 30

4.2.1 Populasi ... 30

4.2.2 Sampel ... 30

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 32

4.4 Pertimbangan Etik ... 32

4.5 Instrumen Penelitian ... 33

4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 35

4.6.1 Uji Validitas ... 35

4.6.2 Uji Realibilitas ... 35

4.7 Pengumpulan Data ... 36

4.8 Analisa Data ... 37

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38

5.1 Hasil ... 38

5.1.1 Data Demografi ... 39

5.1.2 Pengetahuan ... 40

5.1.3 Sikap ... 40

5.2 Pembahasan ... 41

5.2.1 Domografi ... 41

5.2.2 Pengetahuan ... 42

5.2.3 Sikap ... 44

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 48

6.1 Kesimpulan ... 48

6.2 Saran ... 48

(9)

ix 

1. Surat izin survei awal dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

2. Surat persetujuan izin survei awal dari UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan

Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.

3. Surat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

4. Surat persetujuan izin penelitian dari UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan

Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

5. Permohonan uji validitas

6. Surat uji validitis

7. Lembar persetujuan menjadi responden

8. Quesioner penelitian

9. Jadwal tentatif penelitian.

10. Rincian biaya skripsi.

11. Lembar bukti bimbingan.

(10)

Halaman Skema 3.1 Kerangka konseptual penelitian Pengetahuan dan Sikap

Lansia Dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT

Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai

(11)

xi 

Halaman

Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional... 29

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden………... 39

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan………... 40

(12)

Binjai dan Medan. Peneliti : Mula Nofrianda NIM : 121121046

Program : Ilmu Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2014

ABSTRAK

Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Pengetahuan adalah hasil “tahu“, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan. Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan, selama bulan November sampai bulan Desember 2013. Cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 64 responden. Hasil penelitian mengambarkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), berpengetahuan cukup sebanyak 20 orang sebesar (31%), dan berpengetahuan kurang sebanyak (0%). Sedangkan untuk sikap, yang memiliki sikap positif sebanyak 58 orang sebesar (91%), dan yang memiliki sikap negative sebanyak 6 orang sebesar (9%). Kesimpulan pengetahuan lansia dalam melakukan personal hygiene baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), dan sikap lansia dalam melakukan personal hygiene positif sebanyak 58 orang sebesar (91%). Sehingga disarankan untuk peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian tentang Perilaku Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.

(13)

xiii  and Binjai

Student Name : Mula Nofrianda Student Number : 121121046

Major : Bachelor of Nursing (S.Kep) Year : 2014

ABSTRACT

The process of aging is a lifelong process, not only starting from a certain time, but starting from the beginning of life. Growing old is a natural process which means someone has gone through the three stages of his life: children, adults and the elderly. Knowledge is the result of “knowing” and this happens after people doing particular against an object sensing. This research is descriptive research using methods that aim to find out the level of knowledge and attitude of the Elderly in conducting Personal Hygiene in UPT social services seniors and Older Toddlers Area and the city of Medan. This research was conducted during November and December of 2013. Sample-taking methods used in this research is the technique of simple random sampling with the number of sample 64 respondent. Results of the study illustrates that the majority of respondents knowledgeable well as many as 44 people registration (69%), knowledgeable enough for as many as 20 people (31%), and knowledgeable as much less (0%). As for the attitude, which has a positive attitude as much as 58 people as much as (91%), and who have negative attitudes as much as 6 persons (9%). Conclusions knowledge elderly in conducting personal hygiene good as much as 44 people registration (69%), and the attitude of the elderly in conducting personal hygiene as much as 58 positive person registration (91%). So it is advisable for the next researcher to conduct research on the Elderly Behavior in conducting Personal Hygiene.

Keywords: Knowledge, Behavior, Elderly, Personal Hygiene

(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari

suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua

merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap

kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara

bilogis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran

misalnya kulit yang mengendor, rambut memutih, gigi mulai ompong,

pendengeran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan

figur tubuh yang tidak proposional.

Saat ini diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta

jiwa (satu dari 10 orang berusia lebih dari 60 tahun). WHO dan Undang-Undang

Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2

menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah

suatu penyakit, tetapi merupakn proses yang berangsur-angsur mengakibatkan

perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh

dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berahir dengan

kematian (Nugroho, 2012).

Pada tahun 2000 jumlah lansia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada

tahun 2020 sebesar 11,34% (BPS, 1992). Dari data USA Bureau of the Census,

(15)

terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990-2025 yaitu sebesar 414%

(Kinsella & Taeber, 1993 dalam Maryam, Ekasari, Rosidawati, Jubaedi, dan

Batubara).

Menurut dinas kependudukan Amerika Serikat (1999), jumlah populasi

lansia berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hampir mencapai 600 juta orang

dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050, saat ini lansia akan

melebihi populasi anak (0-14 tahun). Pertambahan yang cepat dari penduduk

lansia sebenarnya turut mengundang permasalahan, meningkatnya jumlah lansia

akan menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia

(Notoadmodjo, 2007).

Untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan usia lanjut personal

hygiene (kebersihan perorangan) merupakan salah satu faktor dasar karena

individu yang mempunyai kebersihan diri yang baik dan mempunyai resiko yang

lebih rendah untuk mendapatkan penyakit. Peningkatan personal hygiene dan

perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan

perlindungan khusus yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Perawatan

fisik diri sendiri mencakup perawatan kulit, kuku, alat kelamin, rambut, gigi,

mulut, telinga, dan hidung (Kusumaninggrum, 2012).

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2006). Dalam kehidupan sehari-hari

kebersihan merupakan hal yang sangat penting harus diperhatikan karena

kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu

sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga, dan

(16)

seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi

karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, pada hal jika

hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.

Menurut Saryono dan Widianti (2011). Personal hygiene merupakan

kebutuhan dasar manusia yang senantiasa terpenuhi. personal hygiene termasuk

kedalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. personal hygiene menjadi

penting kearah personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port

de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada ahirnya mencegah

seseorang terkena penyakit. Personal hygiene merupakan perawatan diri, dimana

seseorang merawat fungsi-fungsi tertentu seperti perawatan kulit, mandi,

perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut, perawatan

kaki dan kuku serta perawatan genitalia. Personal hygiene atau kebersihan diri ini

diperlukan untuk kenyamanan, keamanan, dan kesehatan seseorang. Kebersihan

diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan diri, dengan tubuh yang

bersih meminimalkan resiko seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya

sesuatu penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri

yang buruk. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh

terserang berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit

menular, dan penyakit saluran cerna atau bahkan menghilangkan fungsi bagian

tubuh tertentu.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lansia di Sambiroto RT 25

RW 04 Desa Sambibulu Taman Siduarjo oleh Nuraini (2011). Mengatakan bahwa

(17)

kurang, sebagian kecil (13,33%) sebanyak 4 responden pengetahuan personal

hygiene cukup, dan hampir sebagian (33,33%) sebanyak 10 pengetahuan personal

hygiene baik.

Menurut Potter & Perry (2006). Pemeliharan hygiene perorangan

diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti pada

orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit

atau tantangan fisik memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan personal

hygiene secara rutin, selain itu beragam faktor pribadi dan sosial budaya

mempengaruhi personal hygiene.

Hasil survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 30 Mei 2013 di

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

jumlah lanjut usia yang tinggal di panti jompo sebanyak 180 orang yang terdiri 78

orang laki-laki dan 102 orang perempuan. Bahwa sebagian lansia masih kurang

perawatan diri seperti kuku panjang, tempat tidur tidak rapi, sikat gigi kurang dari

2x/hari, rambut acak-acakan dan lubang telinga yang kurang bersih. Dari uraian

data diatas, maka peneliti perlu untuk meneliti tentang Pengetahuan dan Sikap

Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.

Adapun masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah

Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT

(18)

1.2 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengetahuan lansia di panti jompo tentang personal

hygiene.

2. Untuk mengetahui sikap lansia tentang personal hygiene.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Bagai mana pengetahuan dan sikap lansia tentang tenatang personal

hygiene?

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang personal hygiene pada lansia

dan dapat melakukan cara berkomunikasi dengan lansia tentang masalah

personal hygiene.

2. Bagi institusi keperawatan

Menjadi sumber pengetahuan bagi pendidikan keperawatan sehingga dapat

meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan.

3. Bagi institusi UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah

Binjai dan Medan.

Memberikan informasi serta masukan untuk meningkatkan pelayanan

(19)

4. Bagi perawat

Sebagai informasi serta masukan dalam meningkatkan asuhan pelayanan

(20)

Binjai dan Medan. Peneliti : Mula Nofrianda NIM : 121121046

Program : Ilmu Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2014

ABSTRAK

Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Pengetahuan adalah hasil “tahu“, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan. Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan, selama bulan November sampai bulan Desember 2013. Cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 64 responden. Hasil penelitian mengambarkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), berpengetahuan cukup sebanyak 20 orang sebesar (31%), dan berpengetahuan kurang sebanyak (0%). Sedangkan untuk sikap, yang memiliki sikap positif sebanyak 58 orang sebesar (91%), dan yang memiliki sikap negative sebanyak 6 orang sebesar (9%). Kesimpulan pengetahuan lansia dalam melakukan personal hygiene baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), dan sikap lansia dalam melakukan personal hygiene positif sebanyak 58 orang sebesar (91%). Sehingga disarankan untuk peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian tentang Perilaku Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.

(21)

xiii  and Binjai

Student Name : Mula Nofrianda Student Number : 121121046

Major : Bachelor of Nursing (S.Kep) Year : 2014

ABSTRACT

The process of aging is a lifelong process, not only starting from a certain time, but starting from the beginning of life. Growing old is a natural process which means someone has gone through the three stages of his life: children, adults and the elderly. Knowledge is the result of “knowing” and this happens after people doing particular against an object sensing. This research is descriptive research using methods that aim to find out the level of knowledge and attitude of the Elderly in conducting Personal Hygiene in UPT social services seniors and Older Toddlers Area and the city of Medan. This research was conducted during November and December of 2013. Sample-taking methods used in this research is the technique of simple random sampling with the number of sample 64 respondent. Results of the study illustrates that the majority of respondents knowledgeable well as many as 44 people registration (69%), knowledgeable enough for as many as 20 people (31%), and knowledgeable as much less (0%). As for the attitude, which has a positive attitude as much as 58 people as much as (91%), and who have negative attitudes as much as 6 persons (9%). Conclusions knowledge elderly in conducting personal hygiene good as much as 44 people registration (69%), and the attitude of the elderly in conducting personal hygiene as much as 58 positive person registration (91%). So it is advisable for the next researcher to conduct research on the Elderly Behavior in conducting Personal Hygiene.

Keywords: Knowledge, Behavior, Elderly, Personal Hygiene

(22)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari

suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua

merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap

kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara

bilogis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran

misalnya kulit yang mengendor, rambut memutih, gigi mulai ompong,

pendengeran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan

figur tubuh yang tidak proposional.

Saat ini diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta

jiwa (satu dari 10 orang berusia lebih dari 60 tahun). WHO dan Undang-Undang

Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2

menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah

suatu penyakit, tetapi merupakn proses yang berangsur-angsur mengakibatkan

perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh

dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berahir dengan

kematian (Nugroho, 2012).

Pada tahun 2000 jumlah lansia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada

tahun 2020 sebesar 11,34% (BPS, 1992). Dari data USA Bureau of the Census,

(23)

terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990-2025 yaitu sebesar 414%

(Kinsella & Taeber, 1993 dalam Maryam, Ekasari, Rosidawati, Jubaedi, dan

Batubara).

Menurut dinas kependudukan Amerika Serikat (1999), jumlah populasi

lansia berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hampir mencapai 600 juta orang

dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050, saat ini lansia akan

melebihi populasi anak (0-14 tahun). Pertambahan yang cepat dari penduduk

lansia sebenarnya turut mengundang permasalahan, meningkatnya jumlah lansia

akan menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia

(Notoadmodjo, 2007).

Untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan usia lanjut personal

hygiene (kebersihan perorangan) merupakan salah satu faktor dasar karena

individu yang mempunyai kebersihan diri yang baik dan mempunyai resiko yang

lebih rendah untuk mendapatkan penyakit. Peningkatan personal hygiene dan

perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan

perlindungan khusus yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Perawatan

fisik diri sendiri mencakup perawatan kulit, kuku, alat kelamin, rambut, gigi,

mulut, telinga, dan hidung (Kusumaninggrum, 2012).

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2006). Dalam kehidupan sehari-hari

kebersihan merupakan hal yang sangat penting harus diperhatikan karena

kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu

sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga, dan

(24)

seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi

karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, pada hal jika

hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.

Menurut Saryono dan Widianti (2011). Personal hygiene merupakan

kebutuhan dasar manusia yang senantiasa terpenuhi. personal hygiene termasuk

kedalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. personal hygiene menjadi

penting kearah personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port

de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada ahirnya mencegah

seseorang terkena penyakit. Personal hygiene merupakan perawatan diri, dimana

seseorang merawat fungsi-fungsi tertentu seperti perawatan kulit, mandi,

perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut, perawatan

kaki dan kuku serta perawatan genitalia. Personal hygiene atau kebersihan diri ini

diperlukan untuk kenyamanan, keamanan, dan kesehatan seseorang. Kebersihan

diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan diri, dengan tubuh yang

bersih meminimalkan resiko seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya

sesuatu penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri

yang buruk. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh

terserang berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit

menular, dan penyakit saluran cerna atau bahkan menghilangkan fungsi bagian

tubuh tertentu.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lansia di Sambiroto RT 25

RW 04 Desa Sambibulu Taman Siduarjo oleh Nuraini (2011). Mengatakan bahwa

(25)

kurang, sebagian kecil (13,33%) sebanyak 4 responden pengetahuan personal

hygiene cukup, dan hampir sebagian (33,33%) sebanyak 10 pengetahuan personal

hygiene baik.

Menurut Potter & Perry (2006). Pemeliharan hygiene perorangan

diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti pada

orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit

atau tantangan fisik memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan personal

hygiene secara rutin, selain itu beragam faktor pribadi dan sosial budaya

mempengaruhi personal hygiene.

Hasil survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 30 Mei 2013 di

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

jumlah lanjut usia yang tinggal di panti jompo sebanyak 180 orang yang terdiri 78

orang laki-laki dan 102 orang perempuan. Bahwa sebagian lansia masih kurang

perawatan diri seperti kuku panjang, tempat tidur tidak rapi, sikat gigi kurang dari

2x/hari, rambut acak-acakan dan lubang telinga yang kurang bersih. Dari uraian

data diatas, maka peneliti perlu untuk meneliti tentang Pengetahuan dan Sikap

Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.

Adapun masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah

Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT

(26)

1.2 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengetahuan lansia di panti jompo tentang personal

hygiene.

2. Untuk mengetahui sikap lansia tentang personal hygiene.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Bagai mana pengetahuan dan sikap lansia tentang tenatang personal

hygiene?

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti

Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang personal hygiene pada lansia

dan dapat melakukan cara berkomunikasi dengan lansia tentang masalah

personal hygiene.

2. Bagi institusi keperawatan

Menjadi sumber pengetahuan bagi pendidikan keperawatan sehingga dapat

meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan.

3. Bagi institusi UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah

Binjai dan Medan.

Memberikan informasi serta masukan untuk meningkatkan pelayanan

(27)

4. Bagi perawat

Sebagai informasi serta masukan dalam meningkatkan asuhan pelayanan

(28)

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Defenisi

Pengetahuan adalah hasil “tahu“, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, penciuman, rasa, dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

2.1.2 Domain Kognitif Pengetahuan Mempunyai 6 Tingkat

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya, tingkat tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling

rendah, kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu apa yang dipelajari

antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan.

2. Memahami (Comprenhension)

Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi

tersebut secara benar.

3. Aplikasis (Application)

(29)

sini dapat diartikan aplikasi atau pengunaan hukum-hukum, rumus, metode,

prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur

orgnisasi tersebut, dan masih ada kaitannya suatu sama lain. Kemampuan ini

dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat mengambarkan,

membedakan, memisahkan, mengelompokkan.

5. Sintesis (Sintesa)

Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoatmodjo,

(30)

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Seseorang

Menurut Erfandi (2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi

pengetahuan yaitu:

1. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang

makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Menurut Dwi (2010).

Mengatakan bahwa rata-rata kognitif lansia ditatanan pelayanan kesehatan

memiliki pengetahuan baik dimana pada dasarnya penyelenggara pelayanan

kesehatan lansia mempunyai program-progran pengembangan kesehatan yang

berbasis pada preventif berupa pendidikan kesehatan. Menurut Ekasari (2007).

Mengatakan bahwa pendidikan kesehatan yang diberikan kepada individu akan

meningkatkan pengetahuan karena pada dasarnya pengetahuan yang baik

didapat dari proses berpikir. Pengetahuan baik penelitian ini dikarenakan oleh

beberapa faktor antara lain lingkungan, usia dan pengalaman.

2. Media massa / informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non

formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)

sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.

3. Sosial budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa

(31)

seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status

ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang

diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik

lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap

proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam

lingkungan tersebut.

5. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa

lalu.

6. Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan

(32)

2.2 Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulasi atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung

dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup.

Dalam sehari-hari pengertian sikap adalah reaksi yang bersifat emosional

terhadapat stimulus sosial. Dari pengertian ini dapat digaris bawahi bahwa selama

perilaku itu masih tertutup, maka dinamakan sikap, sedangkan apabila sudah

terbuka itulah perilaku yang sebenarnya yang ditunjukkan seseorang (Adnani,

2011).

Sikap adalah kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif

terhadap suatu objek atau situasi secara konsisten, attitude diartikan dengan sikap

terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap

perasaan, tetapi sikap tersebut disertai oleh kecendrungan untuk bertindak sesuai

dengan objek tadi. Sikap masih merupakan kesiapan atau kesedian untuk

bertindak, bukan pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain bahwa sikap itu

belum merupakan tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan suatu kecendrungan

(predisposisi) untuk bertindak terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu

penghayatan terhadapt objek (Sunaryo, 2004).

Sikap adalah suatu tingkat efeksi baik yang bersifat positif maupun negatif

dalam hubungan dengan aspek-aspek psikologis. Sikap juga sebagai tingkatan

(33)

2.2.1 Pembentukan Sikap

Sikap sosial terbentuk dari interaksi sosial yang dialami oleh individu.

Dalam interkasi sosial terjadi hubungan saling mempengaruhi antara individu

sebagai anggota kelompok sosial yang satu dengan yang lain, terjadi

hubungan timbal-balik yang turut mempengaruhi pola prilaku masing-masing

individu sebagai anggota masyarakat. Ada beberapa faktor yang

mempengaruhi pembentukan sikap diantaranya: pengalaman pribadi,

pengaruh orang lain, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga

pendidikan, dan lembaga agama, serta pengaruh faktor emosional

(Notoadmodjo, 2003).

2.2.2 Tiga Komponen Pokok Sikap

Menurut Allport, 1954 dalam Notoadmodjo (2007). Komponen sikap

adalah :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadapat suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

3. Kecendrungan untuk bertindak (trend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang

utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan,

(34)

2.2.3 Tingkatan Sikap

1. Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3. Menghargai (Valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang

lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala

resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak

langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau

peryataan responden terhadapat suatu objek. Secara tidak langsung dapat

dilakukan dengan pernyataan-peryataan hipotesis, kemudian dinyatakan

pendapat respon sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju

(35)

2.3 Lansia

Menua (menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilang nya secara

perlahan-perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri

dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat

bertahan terhadapat jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang di

derita (Martono dan Pranaka, 2009).

Penuaan adalah merupakan proses normal perubahan yang berhungan

dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia

adalah fase akhir dari rentang kehidupan. Secara umum seseorang dikatakan

lansia jika sudah berusia diatas 60 tahun, tetapi definisi ini sangat bervariasi

tergantung dari aspek sosial budaya, fisiologis dan kronologis. Manusia lanjut usia

adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik,

kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini akan memberikan pengaruh kepada seluruh

aspek kehidupan, termasuk kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan manusia usia

lanjut perlu mendapatkan perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan

ditingkatkan agar selama mungkin hidup dapat produktif sesuai dengan

kemampuannya sehingga dapat ikut serta berperan aktif dalam pembangunan (UU

Kesehatan No. 23 tahun 1992, pasal 19 ayat 1).

Macam-macam pengertian penuaan berdasarkan perubahan biologis, fisik,

kejiwaan, dan sosial :

1. Penuaan biologik

(36)

2. Penuaan fungsional

Merujuk pada kapasitas individual mengenai fungsinya dalam masyarakat,

dibandingkan dengan orang lain yang sebaya.

3. Penuaan psikologik

Perubahan prilaku, perubahan dalam persepsi diri, dan reaksinya terhadap

perubahan biologis.

4. Penuaan sosiologik

Merujuk pada peran dan kebiasaan sosial individu di masyarakat.

5. Penuaan spiritual

Merujuk pada perubahan diri dan persepsi diri, cara berhubungan dengan orang

lain atau menempatkan diri di dunia dan pandangan dunia terhadap dirinya

(Fatimah, 2010).

2.3.1Ciri-Ciri Yang Dijumpai di Usia Lanjut

Menurut Dwi dan Fitrah (2010). Ciri-cirinya antara lain:

1. Fisik

a. Penglihatan dan pendengaran menurun.

b. Kulit nampak mengendor.

c. Aktivitas tubuh menurun.

d. Penumpukan lemak di bagian perut dan panggul.

2. Psikologis

a. Merasa kurang percaya diri.

(37)

2.4 Personal Hygiene

Menurut Laily & Andarmoyo (2012). Dalam kehidupan sehari-hari

kebersihan merupakan hal yang sangat penting yang harus diperhatikan karena

kebersihan akan mempengaruhi kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan

kesejahteraan klien. Praktek hygiene seseorang dipengaruhi oleh faktor pribadi,

sosial dan budaya. Jika seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang

diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah

masalah sepele, pada hal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi

kesehatan secara umum. Sebagai seorang perawat hal yang penting yang perlu

diperhatikan selama perawatan hygiene klien adalah memberikan kemandirian

bagi klien sebanyak mungkin, memperhatikan kemampuan klien dalam

melakukan praktik hygiene, memberi prifasi dan penghormatan, serta memberikan

kenyamanan fisik kepada klien.

2.4.1 Pengertian Personal Hygiene

Laily & Andarmoyo (2012). Personal hygiene berasal dari bahasa

Yunani yang berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti

sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara

kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan baik fisik dan

psikisnya.

DepKes (2000), Personal hygiene adalah salah satu kemampuan dasar

manusia dalam memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupannya,

(38)

yang dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan

perawatan diri.

Menurut Potter & Perry (2005), personal hygiene adalah suatu

tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk

kesejahteraan fisik dan psikis. Kurang perawatan diri adalah kondisi dimana

seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.

2.4.2 Tujuan Personal Hygiene

Tujuan personal hygiene menurut Laily & Andarmoyo (2012).

Diantaranya meningkatkan derajat kesehat seseorang, memelihara kebersihan

diri seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang, pencegahan

(39)

2.4.3 Macam-Macam Personal Hygiene

Menurut Laily & Andarmoyo (2012). Pemeliharan personal hygiene

berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri seseorang untuk

kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan memiliki personal

hygienen baik apabila orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang

meliputi: kebersihan kulit, gigi, mulut, rambut, mata, hidung, telinga, kaki,

kuku dan ginetelia, serta kebersihan dan kerapian pakaiannya.

Macam-macam personal hygiene adalah :

1. Perawatan kulit

Menurut Laily (2012). Kulit merupakan lapisan terluar dari tubuh dan

bertugas melindungi jaringan dibawahnya dan organ-organ lain dibawahnya

terhadap luka, dan masuknya berbagai macam mikroorganisme ke dalam

tubuh. Untuk itu diperlukan perawatan terhadap kesehatan dan kebersihan

kulit. Menjaga kebersihan dan perawatan kulit ini bertujuan untuk menjaga

kulit agar tetap terawat dan terjaga sehingga bisa meminimalkan setiap

ancaman dan gangguan yang akan masuk melewati kulit. Perawat sebagai

tenaga kesehatan penting untuk menginformasikan kepada klien di pelayanan

kesehatan untuk pentingnya menjaga kebersihan dan perawatan kulit. Setiap

kondisi yang mengenai pada kulit (misalnya kelembaban, kerusakan lapisan

episermis, penekanan yang terlalu lama pada kulit).

Perawatan kulit diantaranya: imobilisasi, diperlukan pergantian posisi

(40)

selama mandi dengan cara memeriksa sensasi nyeri, suhu dan taktil.

Mengkonsumsi gizi yang cukup seperti kalori dan protein dan hidrasi yang

adekuat. Melembutkan sel epidermis sehingga permukaan kulit menjadi

lembab dan mencegah kerusakna dan infeksi. Insufisiensi vaskuler mencegah

kekurangan suplai arterial kejaringan dan mencegah gangguan aliran vena

yang dapat menurunkan sirkulasi ke ekstremitas. Alat eksternal pada kulit

dengan cara memeriksa permukaan yang terpajam gips, penahan pakaian,

perban, selang atau alat ortopedi

2. Mandi

Menurut Potter dan Perry (2005). Mandi adalah bagian perawatan

hygiene total. Mandi dapat dikategorikan sebagai pembersihan untuk

terapeutik. Mandi di tempat tidur yang lengkap diperlukan bagi individu

dengan ketergantungan total dan memerlukan personal hygiene total.

Keluasan mandi individu dan metode yang digunakan untuk mandi

berdasarkan pada kemampuan fisik individu dan kebutuhan tingkat hygiene

yang diperlukan. Individu yang bergantung dalam kebutuhan hygiene nya

sebagian atau individu yang terbaring ditempat tidur dengan kecukupan diri

yang tidak mampu mencapai semua bagian badan memperoleh mandi

sebagian di tempat tidur.

Pada lansia, mandi biasanya dilakukan dua kali sehari atau lebih sesuai

selera dengan air dingin atau air hangat. Diusahakan agar satu kali mandi tidak

dibawah pancuran atau konsensional, tetapi merendam diri di bak mandi yang

(41)

tubuh. Penting juga membersihkan alat kelamin dan kulit antara dubur dan alat

kelamin (perineum). Gosokan dimulai dari sisi alat kelamin ke arah dubur.

Bagi wanita puting payudara jangan lupa dibersihkan dan kemudian

dikeringkan. Setelah selesai mandi keringkan badan, termasuk rongga telinga,

lipatan-lipatan kulit dan celah-celah jari kaki untuk menghindarkan timbulnya

infeksi jamur, juga pada semua lipatan-lipatan kulit lainnya

(Kusumaninggrum, 2012).

3. Perawatan mulut

Menurut Potter dan Perry (2005). Hygiene mulut membantu

mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi, dan bibir. Mengosok

membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan, plak, dan bakteri,

memasase gusi, dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau

dan rasa yang tidak nyaman. Beberapa penyakit yang muncul akibat

perawatan gigi dan mulut yang buruk adalah karies, radang gusi, dan

sariawan. Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya

menstimulasi nafsu makan.

Golongan lansia sering mengalami tanggalnya gigi geligi. Salah satu

sebab adalah karna proses penuaan dan penyebab lain yang sering adalah

karna kurang baiknya perawatan gigi dan mulut. Osteoporosis dan

periodentitis pada lansia menyebabkan akar gigi agak longgar dan

dicelah-celah ini sering tersangkut sisa makanan, inilah penyebab terjadinya

peradangan. Karies timbul antara lain akibat fermentasi sisa makanan yang

(42)

pada enamel gigi dan bila tidak ditambal akan menyebabkan radang dan

kematian syaraf gigi karna infeksi. Setelah konsumsi makanan dan minuman

yang bersifat asam, gigi perlu dibersihkan yaitu kumur-kumur dengan air.

Maka penting untuk mengosok gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari dan

sangatlah dianjurkan untuk berkumur-kumur atau setiap kali selepas makan

(Kusumaninggrum, 2012).

4. Perawatan mata, hidung, dan telinga

Menurut Potter dan Perry (2005). Secara normal tidak ada perawatan

khusus yang diperlukan untuk membersihkan mata, hidung, dan telinga

selama individu mandi. Secara normal tidak ada perawatan khusus yang

diperlukan untuk mata karna secara terus-menerus dibersihkan oleh air mata,

kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya partikel asing kedalam

mata, namun pembersihan mata biasanya dilukukan selama mandi dan

melibatkan pembersihan dengan kain bersih yang dilembabkan kedalam air.

Normalnya, telinga tidak terlalu memerlukan pembersihan. Namun telinga

yang serumen terlalu banyak telinganya perlu dibersihkan baik mandiri

maupun di bantu oleh keluarga. Hygiene telinga mempunyai implikasi untuk

ketajaman pendengaran. Bila benda asing berkumpul pada kanal telinga luar,

maka akan menganggu konduksi suara. Hidung berfungsi sebagai indera

penciuman, memantau temperatur dan kelembapan udara yang dihirup, serta

mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem pernapasan. Perawatan

hidung biasanya dilakukan dengan mengangkat sekresi hidung secara lembut

(43)

5. Perawatan rambut

Menurut Potter dan Perry (2005). Penampilan dan kesejahteraan

seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai

rambutnya. Penyakit dan ketidakmampuan mencegah seseorang untuk

memelihara perawatan rambut sehari-hari. Menyikat, menyisir dan

bershampo adalah cara-cara dasar hygienis perawatan rambut, distribusi pola

rambut dan menjadi indikator status kesehatan umum, perubahan hormonal,

stres emosional maupun fisik penuaan, infeksi dan penyakit tertentu oleh

obat-obat dapat mempengaruhi karakteristik rambut. Rambut merupkan bagian

dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta proteksi pengaturan

suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat di indentifikasi.

Kerontokan rambut sering terjadi pada lansia. Jumlah rambut rata-rata

adalah lebih dari 100.000 helai, 80% bersifat aktif tumbuh dan sisa nya 20%

berada dalam stadium tidak aktif. Rambut membutuhkan perawatan yang baik

dan teratur, terutama pada wanita agar tidak mengalami banyak kerontokan,

antara lain karna kurangnya senitasi atau adanya infeksi jamur yang lazim

disebut ketombe. Rata-rata 50-100 helai rambut dapat rontok dalam masa

sehari. Oleh itu rambut sebaik-baiknya perlu dicuci dengan shampo yang

mengandung anti ketombe yang cocok. Cuci rambut sebaiknya dilakukan tiap

2 atau 3 hari dan minimal sekali seminggu (Kusumaninggrum, 2012)

6. Perawatan kaki dan kuku

Menurut Potter dan Perry (2005). Kaki dan kuku sering kali

(44)

jaringan. Tetapi sering kali orang tidak sadar akan masalah kaki dan kuku

sampai terjadi nyeri atau ketidakanyamanan. Menjaga kebersihan kuku

penting dalam mempertahankan personal hygiene karena berbagai kuman

dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu kuku seharusnya

tetap dalam keadaan sehat dan bersih. Perawatan dapat digabungkan selama

mandi atau pada waktu yang terpisah.

Pada lansia, proses penuaan memberi perubahan pada kuku yaitu

pertumbuhan kuku menjadi labih lambat, permukaan tidak mengkilat tetapi

menjadi bergaris dan mudah pecah karna agak keropos. Warnanya bisa

berubah menjadi kuning atau opazue. Kuku bisa menjadi lembek terutama

kuku kaki akan menjadi lebih tebal dan kuku sering ujung kuku kiri dan

menjadi lebih tebal dan kuku serta sering ujung kuku kiri dan kanan menusuk

masuk ke jaringan disekitarnya (ungus incarnates). Penguntingan dilakukan

setelah kuku direndam dalam air hangat selama 1-10 menit karna pemanasan

membuat kuku menjadi lembek dan mudah digunting (Kusumaninggrum,

2012).

7. Perawatan genitalia

Menurut Potter dan Perry (2005). Perawatan genitalia merupakan

bagian dari mandi lengkap. Seseorang yang paling butuh perawatan genitalia

yang teliti adalah yang beresiko terbesar memperoleh infeksi. Seseorang yang

tidak mampu melakukan perawatan dari dapat dibantu keluarga untuk

(45)

2.4.5 Manfaat Perawatan Personal Hygiene

1. Perawatan kulit

Memiliki kulit yang utuh, bebas bau badan dan dapat mempertahankan

rentang gerak, merasa nyaman dan sejahtera, serta dapat berpartisipasi dan

memahami metode perawatan kulit.

2. Mandi

Mandi dapat menghilangkan mikroorganisme dari kulit serta sekresi tubuh,

menghilangkan bau tidak enak dan gatal-gatal, memperbaiki sirkulasi darah

ke kulit, membuat individu merasa lebih rileks dan segar serta

meningkatkan citra diri individu.

3. Perawatan mulut

Mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran

penyakit yang ditularkan melalui mulut misalnya tifus dan hepatitis,

mencegah penyakit mulut dan gigi, meningkatkan praktik hygiene mulut

dan mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar.

4. Perawatan mata, hidung, dan telinga

Organ sensorik yang berfungsi normal, mata, hidung, dan telinga akan

bebas dari infeksi, serta dapat berpartisipasi dan mampu melakukan

perawatan mata, hidung, dan telinga sehari-hari.

5. Perawatan rambut

Memiliki rambut dan kulit kepala yang lebih bersih dan sehat, untuk

mencapai rasa nyaman dan harga diri, dan dapat berpartisipasi dalam

(46)

6. Perawatan kaki dan kuku

Memiliki kuku utuh dan permukaan kulit yang lembut, merasa nyaman

dan bersih, serta dapat memahami dan melakukan metode perawatan kaki

dan kuku dengan benar.

7. Perawatan genitalia

Untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan kebersihan

genitalian, menigkatkan kenyamanan serta mempertahankan personal

hygiene (Potter & Perry, 2005).

2.4.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene

Menurut Laily dan Andarmoyo (2012). Sikap seseorang melakukan

personal hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain :

1. Citra tubuh

Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang

penampilan fisiknya. Personal Hygiene yang baik akan mempengaruhi

terhadap peningkatan citra tubuh individu. Gambaran individu terhadap

dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karna adanya

perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.

2. Praktik sosial

Kebiasaan keluarga, jumlah orang di rumah, dan ketersedian air

panas dan air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang

(47)

mereka tinggal dipanti jompo mereka tidak dapat mempunyai privasi

dalam lingkungannya yang baru. Privasi tesebut akan mereka dapatkan

dalam rumah mereka sendiri, karna mereka tidak mempunyai

kemampuan fisik untuk melakukan personal hygiene sendiri.

3. Status sosial ekonomi

Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta

gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang

untuk menyediakannya.

4. Pengetahuan

Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan

yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Kedati demikian, pengetahuan

itu sendiri tidaklah cukup. Seseorang harus termotifasi untuk memelihara

perawatan diri. Sering kali pembelajaran tentang penyakit atau kondisi

yang mendorong individu untuk meningkatkan personal hygiene.

Misalnya pada pasien penderita Diabetes Melitus selalu menjaga

kebersihan kakinya.

5. Budaya

Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi

persoanal hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti

praktek perawatan diri yang berbeda. Disebagian masyarakat jika

(48)

6. Kebiasaan seseorang

Setiap individu mempunyai pilihan kapan melakukan perawatan

rambut. Ada kebiasaan orang yang mengunakan produk tertentu dalam

perawatan diri seperti penggunaan shampo, dan lain-lain.

7. Kondidi fisik

Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri

berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

2.4.6 Dampak Personal Hygiene

Dampak yang akan timbul jika kurang personal hygiene menurut

Laily dan Andarmoyo (2012). Diantaranya:

1. Dampak fisik

Banyak gangguan kesehatan yang di derita seseorang karena tidak

terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang

sering terjadi adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membran, mukosa

mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.

2. Gangguan psikologis

Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah

gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai,

(49)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

3.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konsep dalam penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi

pengetahuan dan sikap lansia dalam upaya menjaga kebersihan diri. Langkah

pertama yang dilakukan peneliti adalah mengkaji pengetahuan dan sikap lansia

dalam melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan

Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan dengan melakukan wawancara terstruktur

dengan menggunakan kuesioner.

Skema 3.1 kerangka konseptual penelitian pengetahuan dan sikap lansia

dalam dalam melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia

dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.

Personal Hygiene

Lansia :

1. Perawatan kulit 2. Mandi

3. Perawatan mulut

4. Perawatan mata, hidung, dan telinga

5. Perawatan rambut 6. Perawatan kaki dan

kuku

7. Perawatan ginetalia Pengetahuan dan

(50)

3.2Defenisi Operasional

Tabel 3.1 Defenisi operasional variabel penelitian pengetahuan dan sikap lansia

dalam melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut

Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.

No Variabel Defenisi Operasional

(51)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

yang bertujuan untuk memperoleh gambaran pengetahuan dan sikap lansia dalam

melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak

Balita Wilayah Binjai dan Medan.

4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010).

Berdasarkan data yang diperoleh dari UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan

Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan dari bulan April 2013 berjumlah 180.

4.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau mewakili populasi, jika sabjeknya kurang

dari 100, lebih baik diambil keseluruhan (Arikunto, 2010). Sampel dalam

penelitian ini adalah sebagian dari warga UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia

dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan. Teknik pengambilan sampel yang

digunakan adalah probabilyti sampling dengan jenis simple random sampling.

Simple random sampling merupakan pengambilan sampel dengan cara acak

tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi. Cara ini

(52)

dilakukan dengan cara lotree, akan tetapi pengambilannya diberikan

nomor urut tertentu maka disebut sebagai sistematik random sampling

(Hidayat, 2011).

Dalam menentukan besarnya sampel, dilakukan perhitungan sampel

dengan menggunakan rumus (Setiadi, 2007).

Keterangan:

N= besar populasi

n= jumlah sampe

d= tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan.

Berdasarkan rumus di atas maka besar sampel dalam penelitian ini adalah

n = 64,28 dibulatkan menjadi 64 orang

Dengan tingkat ketepatan relatif 10%, maka jumlah populasi yang diperoleh dari

(53)

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak

Balita Wilayah Binjai dan Medan dan penelitian ini dilaksanakan pada bulan

Agustus sampai dengan September 2013.

4.4 Pertimbagan Etik

Selama penelitian peneliti tetap mempertahankan dan menjunjung tinggi

etika, meliputi : self determinan, privacy, anonymity, confidentially, dan

protection from discomfort (Setiadi, 2007).

1. Self Determinan

Sebelum penelitian dilaksanakan, pasien yang menjadi subjek penelitian

diberikan informasi. Informasi yang diberikan meliputi manfaat intervensi,

rencana dan tujuan penelitian. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis

dengan pasien. Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan

dalam menentukan hak dan kesediaannya untuk terlibat dalam penelitian ini

secara sukarela dengan menandatangani “Informed concent” yang disediakan

(lihat lampiran). Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka

diperbolehkan untuk mengundurkan diri.

2. Privacy

Peneliti tetap menjaga kerahasiaan semua informasi yang telah diberikan

(54)

3. Anonymity

Peneliti tidak mencantumkan nama responden, dan diganti dengan nama

inisial.

4. Confidentially

Peneliti menjaga kerahasiaan identitas pasien dan informasi yang

diberikannya. Semua catatan atau data responden akan dimusnahkan setelah

proses penelitian berakhir.

5. Protection form discomfort

Pasien bebas dari rasa tidak nyaman. Peneliti menjelaskan dan

menekankan bahwa keterlibatan pasien dalam penelitian ini tidak akan

menimbulkan kerugian, baik secara psikologis maupun sosial. Jika ternyata

menimbulkan respon psikologis yang berat akan dirujuk ke ahli terkait.

Berusaha memenuhi kebutuhan pasien, menerima masukan dan

memepertahankan sikap empati, membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas,

tepat waktu, menciptakan suasana santai sehingga pasien merasa nyaman

selama penelitian. Namun selama penelitian tidak ada respon / efek negatif

yang terjadi.

4.5 Instrumen Penelitian

Menurut Hidayat (2009), peneliti memodifikasi dari sumber ke pustakaan

sesuai dengan kerangka konseptual. Maka, kuesioner dalam penelitian adalah

(55)

1. Bagian pertama tentang pengumpulan data demografi responden yang

meliputi: kode responden, umur, pendidikan, status kesehatan dan suku, agama

dan status perkawinan.

2. Bagian kedua kuesioner pengetahuan lansia dalam upaya melakukan personal

hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai

dan Medan. Terdiri dari 12 pertanyaan positif dan 3 pertayaan negatif. Untuk

pertayaan positif terdapat pada no 1,2,3,4,5,6,7,8,9,11,12,13, dan untuk

pertayaan negatif terdapat pada no 10,14,15, dengan mengunakan skala

Guttmen yaitu dengan memberi jawaban Ya atau Tidak. Untuk pertayaan

positif apabila skor Ya diberi nilai 1 dan skor Tidak diberi nilai 0, untuk

pertayaan negatif apabila skor Ya diberi nilai 0, dan skor Tidak diberi nilai 1.

Dengan hasil ukur baik 11-15, cukup 6-10, kurang 0-5

3. Kuesioner sikap lansia dalam upaya melakukan personal hygiene di UPT

Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan yang

terdiri dari 7 pertanyaan positif dan 3 pertayaan negatif. Untuk pertayaan

positif terdapat pada no 1,2,5,6,7,9,10, dan untuk pertayaan negatif terdapat

pada no 3,4,8, dengan mengunakan skala likert. Untuk pertayaan positif diberi

skor nilai: sangat setuju 4, setuju 3, tidak setuju 2, sangat tidak setuju 1,dan

Untuk pertayaan negatif diberi skor nilai: sangat setuju 1, setuju 2, tidak setuju

(56)

4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas

4.6.1Uji Validitas

Uji validatas kuesioner merupakan uji yang digunakan untuk

menunjukan alat ukur itu benar –benar mengukur apa yang diukur. Uji validitas

ini telah dilakukan oleh staf pengajar keperawatan dasar Universitasn Sumatera

Utara. Uji validitas yang dilakukan ada beberapa butir peryataan yang

pengetahuan dan sikap yang diganti dan ditambah dan dikurangi. Pertayaan

yang diganti kebersihan diri adalah kebersihan secara menyeluruh, masalah

yang sering terjadi pada kulit apabila kulit dalam keadaan lembab dan

peryataan yang ditambah adalah kebersihan diri adalah melakukan mandi,

gosok gigi, gunting kuku, masalah yang sering menyebabkan penyakit kulit

dikarenakan kulit kering, mata yang kemasukan debu dapat menyebabkan

iritasi, kuku yang panjang dapat memudahkan masuknya kuman penyakit. Dan

ada peryataan yang dibuang adalah salah satu kebersihan diri tidak

mengunakan pakaian yang lembab dan handuk bergantian, perawatan kaki

dapat dilakukan dengan menggunakn sandal apabila keluar rumah, ketika mau

makan tangan saya harus bersih, saya merasa senang dengan tubuh bersih dan

rapi, dan saya selalu cuci tangan setelah BAB

4.6.2 Uji Realibilitas

Uji realibilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar derajat atau

kemampuan alat instrumen untuk mengukur secara konsisten sasaran yang

(57)

dimana hasil yang ditunjukan adalah sama. Uji realibilitas dalam penelitian ini

dilakukan dengan uji KR-20 (Kuder-Richardison 20) untuk variabel

pengetahuan dan sikap dengan rumus alpha crombatch yang dilakukan kepada

15 orang responden yang berada di desa Cengkeh Turi Kelurahan Cengkeh

Turi didapat hasil pada variabel pengetahuan 0,723, dan untuk variabel sikap

didapat hasil 0,720. Sehingga isnstrumen penelitian untuk pengetahuan dan

sikap lansia tentang personal hygiene ini layak digunakan.

4.7 Pengumpulan Data

Tahap persiapan pengumpulan data ini dilakukan melalui prosedur

administrasi dengan cara mengajukan surat permohonan izin pelaksanaan

penelitian kepada Institusi Pendidikan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara kemudian mengajukan surat izin penelitian dari Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara ke UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia

dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan, setelah mendapat izin penelitian dari

direktur UPT pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan

Medan peneliti meminta kesedian responden untuk mengikuti penelitian dan

peneliti menjelaskan tentang tujuan personal hygiene, macam-macam personal

hygiene, manfaat personal hygiene dan dampak personal hygiene. Saat melakukan

pengumpulan data sebelumnya peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu dan

menjelaskan tujuan penelitian serta meminta kesedian calon responden untuk

berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan

menjadi responden dan peneliti memberikan instrument penelitian berupa

(58)

ada sebagian lansia yang kurang mampu dalam membaca kuesioner penelitian

maka peneliti yang membacakan kuesioner penelitian, setelah selesai pengisian

kuesioner penelitian setelah itu peneliti mengucapkan terima kasih atas

kesediannya berpartisipasi dalam penelitian ini. Dalam pengumpulan data ini

rata-rata dalam sehari peneliti dapat mengumpulkan data sebanyak 15-20 responden

dan penelitian ini dilakukan selama 4 hari.

4.8 Analisa Data

Setelah semua data terkumpul maka peneliti mengadakan analisa data

melalui beberapa tahap yang dimulai dengan editing untuk memeriksa

kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan semua lembar

kuesioner telah terisi, dilanjutkan dengan memberi kode pada setia kuesioner

untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi data, kemudian peneliti

memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base

computer, kemudian membuat distribusi frekuensi data sederhana, setelah itu

peneliti melakukan teknik analisis yang dilakukan secara deskriptif dengan

melihat persentase data yang telah terkumpul dalam tabel frekuensi distribusi.

Analisa data dilakukan dengan membahas hasil penelitian dengan mengunakan

teori kepustakaan yang ada.

(59)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini, peneliti menguraikan hasil penelitian dan pembahasan

mengenai Pengetahuan dan Sikap Lansia Dalam Melakukan Personal Hygiene di

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

5.1 Hasil

Penelitian ini telah dilakukan mulai dari bulan Oktober hingga bulan

Desember 2013 di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah

Binjai dan Medan. Responden pada penelitian ini adalah lansia yang berada di

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.

5.1.1 Data Demografi

Berdasarkan hasil penelitian, data demografi meliputi jenis kelamin,

pendidikan, suku, agama, dan status perkawinan

Deskripsi karakteristik demografi lansia yang berada di Panti Jompo

Binjai didapat dari 64 responden. Terlihat bahwa mayoritas jenis kelamin

responden adalah perempuan sebanyak 36 orang sebesar (56%) dan minoritas

laki-laki sebanyak 28 orang sebesar (44%). Pendidikan mayoritas SD sebanyak 41

orang sebesar (64%) dan minoritas SMA sebanyak 3 orang sebesar (5%).

Terdapat sebanyak 32 orang sebesar (50%) mayoritas berasal dari suku jawa dan

minoritas suku aceh sebanyak 1 orang sebesar (2%). Mayoritas agama responden

menganut agama islam sebanyak 59 orang sebesar (92%) dan minoritas Kristen

(60)

janda sebanyak 33 orang sebesar (51%) dan minoritas belum menikah

sebanyak 1 orang sebesar (2%)

Tabel 5.1 Distribusi Frekwensi Data Demografi Responden di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan (n=64)

Data Demografi Frekuensi (n=64) Persentase (%)

(61)

5.1.2 Pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan responden dapat dilihat pada

tabel berikut :

Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa mayoritas responden

berpengetahuan baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), dan berpengetahuan

cukup sebanyak 20 orang sebesar (31%)

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Lansia tentang Personal Hygien UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

Pengetahuan Frekuensi Persentase %

Baik

Berdasarkan hasil penelitian, sikap responden dapat dilihat pada table

berikut :

Tabel dibawah menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki sikap

positif sebanyak 58 orang sebesar (91%), dan yang memiliki sikap negatif

sebanyak 6 orang sebesar (9%)

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Lansia tentang Personal Hygien UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

Sikap Frekuensi Persentase %

Gambar

Tabel 3.1 Defenisi operasional variabel penelitian pengetahuan dan sikap lansia
Tabel 5.2  Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Lansia tentang Personal Hygien UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul: Gambaran Tingkat Depresi pada Lansia di Unit Pelayanan Terpadu Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan

Perbedaan Self-Esteem Proses Penuaan Pada Lansia Pria Dan Wanita Terhadap Citra Tubuh Di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dan Anak4.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat spiritual terhadap aktivitas ritual keagamaan lansia di UPT Pelayanan Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat spiritual terhadap aktivitas ritual keagamaan lansia di UPT Pelayanan Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah

Judul Penelitian : Hubungan Tingkat Spiritual terhadap Aktivitas Ritual Keagamaan lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Spiritual lanjut usia yang menderita penyakit kronis di UPT Pelayanan Sosial Lansia Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.

Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lansia dan Anak Balita Wilayah Binjai

Judul : Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Tidur Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan Nama