SKRIPSI
OLEH :
MULA NOFRIANDA 121121046
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iii Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Mula Nofrianda NIM : 121121046
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan” adalah benar hasil karya saya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya
dan belum pernah diajukan kepada institusi manapun serta bukan karya jiplakan.
Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan kaidah
ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya tekanan
dan paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika
ternyata dikemudian hari pernyataan ini tidak benar.
Medan, Februari 2014 Yang membuat pernyataan,
Puji beserta syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT
atas rahmat dan hidayahNya, sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Pengetahuan
dan Sikap Lansia Dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial
Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan” dapat diselesaikan. Skripsi
ini ditulis terkait dengan persyaratan melakukan penelitian untuk memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih saya sampaikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan
bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini kepada :
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes. Sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara yang telah memfasilitasi terlaksananya pendidikan sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Erniyati, SKp, MNS. Selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatana
Universitas Sumatera Utara
3. Evi karota, SKp, MNS. Selaku Pembantu Dekan II Fakultas Keperawatana
Universitas Sumatera Utara
4. Ikhsanuddin A. Hrp, Skp, MNS. Selaku Pembantu Dekan III Fakultas
Keperawatana Universitas Sumatera Utara
5. Ismayadi, S.Kep Ns, M.Kes, CWCCA, CHtN selaku pembimbing yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat, sehingga
v
arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat untuk perbaikan
skripsi ini.
7. Fatwa Imelda, S.Kep Ns, M.Biomed selaku penguji II yang telah memberikan
masukan, arahan dan bimbingan dengan penuh perhatian dan cermat untuk
perbaikan skripsi ini.
8. Seluruh dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara beserta staf
yang telah membantu peneliti selama proses pendidikan.
9. Kepala UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan
Medan yang telah memberikan izin penelitian.
10.Kedua orang tua dan adik-adik ku serta seluruh keluarga yang mencintai dan
menyayangiku yang telah memberikan doa restu dan dukungan disepanjang
kehidupanku dan selama menjalani pendidikan di Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara ini
11.Rekan-rekan mahasiswa Ekstensi Keperawatan 2012 Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan bantuan dan
dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.
12.Almuddatsir, M. Aidul Ilham, M. Nasir, Ifan Pratama, Zulfan Haris, Asnil Adli
Simamora, Agus Surya Bakti, M. Fahrurozi, Rahmat Maruli, Chairul Munir,
Walid Ansari Daulai, Asmadi, Andreas W Saragih, Heni Agustina, Citra Hutri
Anggriani, M.Affan, Efendi yang telah banyak memberikan batuan baik berupa
dukungan berupa motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini
Semoga segala bantuan, kebaikan dan dukungan yang telah diberikan kepada
penulis mendapat berkah, rahmat dan hidayah dari ALLAH SWT, Amin.
Medan, Januari2014
vii
2.1.2 Domain Kognitif Pengetahuan ... 7
2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan ... 9
2.2 Sikap (Attitude) ... 11
2.4.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene ... 25
2.4.6 Dampak Pesonal Hygiene ... 27
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN ... 28
3.1 Kerangka Konseptual ... 28
BAB 4 METODE PENELITIAN ... 30
4.1 Desain Penelitian ... 30
4.2 Populasi dan Sampel ... 30
4.2.1 Populasi ... 30
4.2.2 Sampel ... 30
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 32
4.4 Pertimbangan Etik ... 32
4.5 Instrumen Penelitian ... 33
4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 35
4.6.1 Uji Validitas ... 35
4.6.2 Uji Realibilitas ... 35
4.7 Pengumpulan Data ... 36
4.8 Analisa Data ... 37
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
5.1 Hasil ... 38
5.1.1 Data Demografi ... 39
5.1.2 Pengetahuan ... 40
5.1.3 Sikap ... 40
5.2 Pembahasan ... 41
5.2.1 Domografi ... 41
5.2.2 Pengetahuan ... 42
5.2.3 Sikap ... 44
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 48
6.1 Kesimpulan ... 48
6.2 Saran ... 48
ix
1. Surat izin survei awal dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
2. Surat persetujuan izin survei awal dari UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan
Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.
3. Surat izin penelitian dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
4. Surat persetujuan izin penelitian dari UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan
Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
5. Permohonan uji validitas
6. Surat uji validitis
7. Lembar persetujuan menjadi responden
8. Quesioner penelitian
9. Jadwal tentatif penelitian.
10. Rincian biaya skripsi.
11. Lembar bukti bimbingan.
Halaman Skema 3.1 Kerangka konseptual penelitian Pengetahuan dan Sikap
Lansia Dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT
Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai
xi
Halaman
Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasional... 29
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Data Demografi Responden………... 39
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan………... 40
Binjai dan Medan. Peneliti : Mula Nofrianda NIM : 121121046
Program : Ilmu Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2014
ABSTRAK
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Pengetahuan adalah hasil “tahu“, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan. Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan, selama bulan November sampai bulan Desember 2013. Cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 64 responden. Hasil penelitian mengambarkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), berpengetahuan cukup sebanyak 20 orang sebesar (31%), dan berpengetahuan kurang sebanyak (0%). Sedangkan untuk sikap, yang memiliki sikap positif sebanyak 58 orang sebesar (91%), dan yang memiliki sikap negative sebanyak 6 orang sebesar (9%). Kesimpulan pengetahuan lansia dalam melakukan personal hygiene baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), dan sikap lansia dalam melakukan personal hygiene positif sebanyak 58 orang sebesar (91%). Sehingga disarankan untuk peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian tentang Perilaku Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.
xiii and Binjai
Student Name : Mula Nofrianda Student Number : 121121046
Major : Bachelor of Nursing (S.Kep) Year : 2014
ABSTRACT
The process of aging is a lifelong process, not only starting from a certain time, but starting from the beginning of life. Growing old is a natural process which means someone has gone through the three stages of his life: children, adults and the elderly. Knowledge is the result of “knowing” and this happens after people doing particular against an object sensing. This research is descriptive research using methods that aim to find out the level of knowledge and attitude of the Elderly in conducting Personal Hygiene in UPT social services seniors and Older Toddlers Area and the city of Medan. This research was conducted during November and December of 2013. Sample-taking methods used in this research is the technique of simple random sampling with the number of sample 64 respondent. Results of the study illustrates that the majority of respondents knowledgeable well as many as 44 people registration (69%), knowledgeable enough for as many as 20 people (31%), and knowledgeable as much less (0%). As for the attitude, which has a positive attitude as much as 58 people as much as (91%), and who have negative attitudes as much as 6 persons (9%). Conclusions knowledge elderly in conducting personal hygiene good as much as 44 people registration (69%), and the attitude of the elderly in conducting personal hygiene as much as 58 positive person registration (91%). So it is advisable for the next researcher to conduct research on the Elderly Behavior in conducting Personal Hygiene.
Keywords: Knowledge, Behavior, Elderly, Personal Hygiene
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari
suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua
merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara
bilogis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran
misalnya kulit yang mengendor, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengeran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan
figur tubuh yang tidak proposional.
Saat ini diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta
jiwa (satu dari 10 orang berusia lebih dari 60 tahun). WHO dan Undang-Undang
Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2
menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah
suatu penyakit, tetapi merupakn proses yang berangsur-angsur mengakibatkan
perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh
dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berahir dengan
kematian (Nugroho, 2012).
Pada tahun 2000 jumlah lansia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada
tahun 2020 sebesar 11,34% (BPS, 1992). Dari data USA Bureau of the Census,
terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990-2025 yaitu sebesar 414%
(Kinsella & Taeber, 1993 dalam Maryam, Ekasari, Rosidawati, Jubaedi, dan
Batubara).
Menurut dinas kependudukan Amerika Serikat (1999), jumlah populasi
lansia berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hampir mencapai 600 juta orang
dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050, saat ini lansia akan
melebihi populasi anak (0-14 tahun). Pertambahan yang cepat dari penduduk
lansia sebenarnya turut mengundang permasalahan, meningkatnya jumlah lansia
akan menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia
(Notoadmodjo, 2007).
Untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan usia lanjut personal
hygiene (kebersihan perorangan) merupakan salah satu faktor dasar karena
individu yang mempunyai kebersihan diri yang baik dan mempunyai resiko yang
lebih rendah untuk mendapatkan penyakit. Peningkatan personal hygiene dan
perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan
perlindungan khusus yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Perawatan
fisik diri sendiri mencakup perawatan kulit, kuku, alat kelamin, rambut, gigi,
mulut, telinga, dan hidung (Kusumaninggrum, 2012).
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2006). Dalam kehidupan sehari-hari
kebersihan merupakan hal yang sangat penting harus diperhatikan karena
kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu
sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga, dan
seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi
karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, pada hal jika
hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.
Menurut Saryono dan Widianti (2011). Personal hygiene merupakan
kebutuhan dasar manusia yang senantiasa terpenuhi. personal hygiene termasuk
kedalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. personal hygiene menjadi
penting kearah personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port
de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada ahirnya mencegah
seseorang terkena penyakit. Personal hygiene merupakan perawatan diri, dimana
seseorang merawat fungsi-fungsi tertentu seperti perawatan kulit, mandi,
perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut, perawatan
kaki dan kuku serta perawatan genitalia. Personal hygiene atau kebersihan diri ini
diperlukan untuk kenyamanan, keamanan, dan kesehatan seseorang. Kebersihan
diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan diri, dengan tubuh yang
bersih meminimalkan resiko seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya
sesuatu penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri
yang buruk. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh
terserang berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit
menular, dan penyakit saluran cerna atau bahkan menghilangkan fungsi bagian
tubuh tertentu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lansia di Sambiroto RT 25
RW 04 Desa Sambibulu Taman Siduarjo oleh Nuraini (2011). Mengatakan bahwa
kurang, sebagian kecil (13,33%) sebanyak 4 responden pengetahuan personal
hygiene cukup, dan hampir sebagian (33,33%) sebanyak 10 pengetahuan personal
hygiene baik.
Menurut Potter & Perry (2006). Pemeliharan hygiene perorangan
diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti pada
orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit
atau tantangan fisik memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan personal
hygiene secara rutin, selain itu beragam faktor pribadi dan sosial budaya
mempengaruhi personal hygiene.
Hasil survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 30 Mei 2013 di
UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
jumlah lanjut usia yang tinggal di panti jompo sebanyak 180 orang yang terdiri 78
orang laki-laki dan 102 orang perempuan. Bahwa sebagian lansia masih kurang
perawatan diri seperti kuku panjang, tempat tidur tidak rapi, sikat gigi kurang dari
2x/hari, rambut acak-acakan dan lubang telinga yang kurang bersih. Dari uraian
data diatas, maka peneliti perlu untuk meneliti tentang Pengetahuan dan Sikap
Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.
Adapun masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah
Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT
1.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengetahuan lansia di panti jompo tentang personal
hygiene.
2. Untuk mengetahui sikap lansia tentang personal hygiene.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Bagai mana pengetahuan dan sikap lansia tentang tenatang personal
hygiene?
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang personal hygiene pada lansia
dan dapat melakukan cara berkomunikasi dengan lansia tentang masalah
personal hygiene.
2. Bagi institusi keperawatan
Menjadi sumber pengetahuan bagi pendidikan keperawatan sehingga dapat
meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan.
3. Bagi institusi UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah
Binjai dan Medan.
Memberikan informasi serta masukan untuk meningkatkan pelayanan
4. Bagi perawat
Sebagai informasi serta masukan dalam meningkatkan asuhan pelayanan
Binjai dan Medan. Peneliti : Mula Nofrianda NIM : 121121046
Program : Ilmu Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2014
ABSTRAK
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Pengetahuan adalah hasil “tahu“, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan. Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan, selama bulan November sampai bulan Desember 2013. Cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 64 responden. Hasil penelitian mengambarkan bahwa sebagian besar responden berpengetahuan baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), berpengetahuan cukup sebanyak 20 orang sebesar (31%), dan berpengetahuan kurang sebanyak (0%). Sedangkan untuk sikap, yang memiliki sikap positif sebanyak 58 orang sebesar (91%), dan yang memiliki sikap negative sebanyak 6 orang sebesar (9%). Kesimpulan pengetahuan lansia dalam melakukan personal hygiene baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), dan sikap lansia dalam melakukan personal hygiene positif sebanyak 58 orang sebesar (91%). Sehingga disarankan untuk peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian tentang Perilaku Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.
xiii and Binjai
Student Name : Mula Nofrianda Student Number : 121121046
Major : Bachelor of Nursing (S.Kep) Year : 2014
ABSTRACT
The process of aging is a lifelong process, not only starting from a certain time, but starting from the beginning of life. Growing old is a natural process which means someone has gone through the three stages of his life: children, adults and the elderly. Knowledge is the result of “knowing” and this happens after people doing particular against an object sensing. This research is descriptive research using methods that aim to find out the level of knowledge and attitude of the Elderly in conducting Personal Hygiene in UPT social services seniors and Older Toddlers Area and the city of Medan. This research was conducted during November and December of 2013. Sample-taking methods used in this research is the technique of simple random sampling with the number of sample 64 respondent. Results of the study illustrates that the majority of respondents knowledgeable well as many as 44 people registration (69%), knowledgeable enough for as many as 20 people (31%), and knowledgeable as much less (0%). As for the attitude, which has a positive attitude as much as 58 people as much as (91%), and who have negative attitudes as much as 6 persons (9%). Conclusions knowledge elderly in conducting personal hygiene good as much as 44 people registration (69%), and the attitude of the elderly in conducting personal hygiene as much as 58 positive person registration (91%). So it is advisable for the next researcher to conduct research on the Elderly Behavior in conducting Personal Hygiene.
Keywords: Knowledge, Behavior, Elderly, Personal Hygiene
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari
suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan hidup. Menjadi tua
merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara
bilogis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran
misalnya kulit yang mengendor, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengeran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan
figur tubuh yang tidak proposional.
Saat ini diseluruh dunia jumlah lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta
jiwa (satu dari 10 orang berusia lebih dari 60 tahun). WHO dan Undang-Undang
Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2
menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah
suatu penyakit, tetapi merupakn proses yang berangsur-angsur mengakibatkan
perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh
dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berahir dengan
kematian (Nugroho, 2012).
Pada tahun 2000 jumlah lansia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada
tahun 2020 sebesar 11,34% (BPS, 1992). Dari data USA Bureau of the Census,
terbesar di seluruh dunia, antara tahun 1990-2025 yaitu sebesar 414%
(Kinsella & Taeber, 1993 dalam Maryam, Ekasari, Rosidawati, Jubaedi, dan
Batubara).
Menurut dinas kependudukan Amerika Serikat (1999), jumlah populasi
lansia berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hampir mencapai 600 juta orang
dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050, saat ini lansia akan
melebihi populasi anak (0-14 tahun). Pertambahan yang cepat dari penduduk
lansia sebenarnya turut mengundang permasalahan, meningkatnya jumlah lansia
akan menimbulkan masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia
(Notoadmodjo, 2007).
Untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan usia lanjut personal
hygiene (kebersihan perorangan) merupakan salah satu faktor dasar karena
individu yang mempunyai kebersihan diri yang baik dan mempunyai resiko yang
lebih rendah untuk mendapatkan penyakit. Peningkatan personal hygiene dan
perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan
perlindungan khusus yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan. Perawatan
fisik diri sendiri mencakup perawatan kulit, kuku, alat kelamin, rambut, gigi,
mulut, telinga, dan hidung (Kusumaninggrum, 2012).
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2006). Dalam kehidupan sehari-hari
kebersihan merupakan hal yang sangat penting harus diperhatikan karena
kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu
sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga, dan
seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi
karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, pada hal jika
hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.
Menurut Saryono dan Widianti (2011). Personal hygiene merupakan
kebutuhan dasar manusia yang senantiasa terpenuhi. personal hygiene termasuk
kedalam tindakan pencegahan primer yang spesifik. personal hygiene menjadi
penting kearah personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port
de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada ahirnya mencegah
seseorang terkena penyakit. Personal hygiene merupakan perawatan diri, dimana
seseorang merawat fungsi-fungsi tertentu seperti perawatan kulit, mandi,
perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut, perawatan
kaki dan kuku serta perawatan genitalia. Personal hygiene atau kebersihan diri ini
diperlukan untuk kenyamanan, keamanan, dan kesehatan seseorang. Kebersihan
diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan diri, dengan tubuh yang
bersih meminimalkan resiko seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya
sesuatu penyakit, terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri
yang buruk. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh
terserang berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit
menular, dan penyakit saluran cerna atau bahkan menghilangkan fungsi bagian
tubuh tertentu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada lansia di Sambiroto RT 25
RW 04 Desa Sambibulu Taman Siduarjo oleh Nuraini (2011). Mengatakan bahwa
kurang, sebagian kecil (13,33%) sebanyak 4 responden pengetahuan personal
hygiene cukup, dan hampir sebagian (33,33%) sebanyak 10 pengetahuan personal
hygiene baik.
Menurut Potter & Perry (2006). Pemeliharan hygiene perorangan
diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti pada
orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri, pada orang sakit
atau tantangan fisik memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan personal
hygiene secara rutin, selain itu beragam faktor pribadi dan sosial budaya
mempengaruhi personal hygiene.
Hasil survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 30 Mei 2013 di
UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
jumlah lanjut usia yang tinggal di panti jompo sebanyak 180 orang yang terdiri 78
orang laki-laki dan 102 orang perempuan. Bahwa sebagian lansia masih kurang
perawatan diri seperti kuku panjang, tempat tidur tidak rapi, sikat gigi kurang dari
2x/hari, rambut acak-acakan dan lubang telinga yang kurang bersih. Dari uraian
data diatas, maka peneliti perlu untuk meneliti tentang Pengetahuan dan Sikap
Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene.
Adapun masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah
Pengetahuan dan Sikap Lansia dalam Melakukan Personal Hygiene di UPT
1.2 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengetahuan lansia di panti jompo tentang personal
hygiene.
2. Untuk mengetahui sikap lansia tentang personal hygiene.
1.3 Pertanyaan Penelitian
Bagai mana pengetahuan dan sikap lansia tentang tenatang personal
hygiene?
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang personal hygiene pada lansia
dan dapat melakukan cara berkomunikasi dengan lansia tentang masalah
personal hygiene.
2. Bagi institusi keperawatan
Menjadi sumber pengetahuan bagi pendidikan keperawatan sehingga dapat
meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan.
3. Bagi institusi UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah
Binjai dan Medan.
Memberikan informasi serta masukan untuk meningkatkan pelayanan
4. Bagi perawat
Sebagai informasi serta masukan dalam meningkatkan asuhan pelayanan
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengetahuan
2.1.1 Defenisi
Pengetahuan adalah hasil “tahu“, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, penciuman, rasa, dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
2.1.2 Domain Kognitif Pengetahuan Mempunyai 6 Tingkat
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, tingkat tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah, kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu apa yang dipelajari
antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan.
2. Memahami (Comprenhension)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar.
3. Aplikasis (Application)
sini dapat diartikan aplikasi atau pengunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
orgnisasi tersebut, dan masih ada kaitannya suatu sama lain. Kemampuan ini
dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat mengambarkan,
membedakan, memisahkan, mengelompokkan.
5. Sintesis (Sintesa)
Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoatmodjo,
2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Seseorang
Menurut Erfandi (2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan yaitu:
1. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang
makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Menurut Dwi (2010).
Mengatakan bahwa rata-rata kognitif lansia ditatanan pelayanan kesehatan
memiliki pengetahuan baik dimana pada dasarnya penyelenggara pelayanan
kesehatan lansia mempunyai program-progran pengembangan kesehatan yang
berbasis pada preventif berupa pendidikan kesehatan. Menurut Ekasari (2007).
Mengatakan bahwa pendidikan kesehatan yang diberikan kepada individu akan
meningkatkan pengetahuan karena pada dasarnya pengetahuan yang baik
didapat dari proses berpikir. Pengetahuan baik penelitian ini dikarenakan oleh
beberapa faktor antara lain lingkungan, usia dan pengalaman.
2. Media massa / informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)
sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
3. Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status
ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang
diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu, baik
lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap
proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam
lingkungan tersebut.
5. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa
lalu.
6. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan
2.2 Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulasi atau objek. Manifestasi dari sikap tidak dapat langsung
dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup.
Dalam sehari-hari pengertian sikap adalah reaksi yang bersifat emosional
terhadapat stimulus sosial. Dari pengertian ini dapat digaris bawahi bahwa selama
perilaku itu masih tertutup, maka dinamakan sikap, sedangkan apabila sudah
terbuka itulah perilaku yang sebenarnya yang ditunjukkan seseorang (Adnani,
2011).
Sikap adalah kesiapan merespon yang sifatnya positif atau negatif
terhadap suatu objek atau situasi secara konsisten, attitude diartikan dengan sikap
terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap
perasaan, tetapi sikap tersebut disertai oleh kecendrungan untuk bertindak sesuai
dengan objek tadi. Sikap masih merupakan kesiapan atau kesedian untuk
bertindak, bukan pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain bahwa sikap itu
belum merupakan tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan suatu kecendrungan
(predisposisi) untuk bertindak terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadapt objek (Sunaryo, 2004).
Sikap adalah suatu tingkat efeksi baik yang bersifat positif maupun negatif
dalam hubungan dengan aspek-aspek psikologis. Sikap juga sebagai tingkatan
2.2.1 Pembentukan Sikap
Sikap sosial terbentuk dari interaksi sosial yang dialami oleh individu.
Dalam interkasi sosial terjadi hubungan saling mempengaruhi antara individu
sebagai anggota kelompok sosial yang satu dengan yang lain, terjadi
hubungan timbal-balik yang turut mempengaruhi pola prilaku masing-masing
individu sebagai anggota masyarakat. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pembentukan sikap diantaranya: pengalaman pribadi,
pengaruh orang lain, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga
pendidikan, dan lembaga agama, serta pengaruh faktor emosional
(Notoadmodjo, 2003).
2.2.2 Tiga Komponen Pokok Sikap
Menurut Allport, 1954 dalam Notoadmodjo (2007). Komponen sikap
adalah :
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadapat suatu objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
3. Kecendrungan untuk bertindak (trend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang
utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
2.2.3 Tingkatan Sikap
1. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang
lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau
peryataan responden terhadapat suatu objek. Secara tidak langsung dapat
dilakukan dengan pernyataan-peryataan hipotesis, kemudian dinyatakan
pendapat respon sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju
2.3 Lansia
Menua (menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilang nya secara
perlahan-perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri
dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadapat jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang di
derita (Martono dan Pranaka, 2009).
Penuaan adalah merupakan proses normal perubahan yang berhungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia
adalah fase akhir dari rentang kehidupan. Secara umum seseorang dikatakan
lansia jika sudah berusia diatas 60 tahun, tetapi definisi ini sangat bervariasi
tergantung dari aspek sosial budaya, fisiologis dan kronologis. Manusia lanjut usia
adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik,
kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini akan memberikan pengaruh kepada seluruh
aspek kehidupan, termasuk kesehatannya. Oleh karena itu, kesehatan manusia usia
lanjut perlu mendapatkan perhatian khusus dengan tetap dipelihara dan
ditingkatkan agar selama mungkin hidup dapat produktif sesuai dengan
kemampuannya sehingga dapat ikut serta berperan aktif dalam pembangunan (UU
Kesehatan No. 23 tahun 1992, pasal 19 ayat 1).
Macam-macam pengertian penuaan berdasarkan perubahan biologis, fisik,
kejiwaan, dan sosial :
1. Penuaan biologik
2. Penuaan fungsional
Merujuk pada kapasitas individual mengenai fungsinya dalam masyarakat,
dibandingkan dengan orang lain yang sebaya.
3. Penuaan psikologik
Perubahan prilaku, perubahan dalam persepsi diri, dan reaksinya terhadap
perubahan biologis.
4. Penuaan sosiologik
Merujuk pada peran dan kebiasaan sosial individu di masyarakat.
5. Penuaan spiritual
Merujuk pada perubahan diri dan persepsi diri, cara berhubungan dengan orang
lain atau menempatkan diri di dunia dan pandangan dunia terhadap dirinya
(Fatimah, 2010).
2.3.1Ciri-Ciri Yang Dijumpai di Usia Lanjut
Menurut Dwi dan Fitrah (2010). Ciri-cirinya antara lain:
1. Fisik
a. Penglihatan dan pendengaran menurun.
b. Kulit nampak mengendor.
c. Aktivitas tubuh menurun.
d. Penumpukan lemak di bagian perut dan panggul.
2. Psikologis
a. Merasa kurang percaya diri.
2.4 Personal Hygiene
Menurut Laily & Andarmoyo (2012). Dalam kehidupan sehari-hari
kebersihan merupakan hal yang sangat penting yang harus diperhatikan karena
kebersihan akan mempengaruhi kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan
kesejahteraan klien. Praktek hygiene seseorang dipengaruhi oleh faktor pribadi,
sosial dan budaya. Jika seseorang sakit biasanya masalah kebersihan kurang
diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah
masalah sepele, pada hal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi
kesehatan secara umum. Sebagai seorang perawat hal yang penting yang perlu
diperhatikan selama perawatan hygiene klien adalah memberikan kemandirian
bagi klien sebanyak mungkin, memperhatikan kemampuan klien dalam
melakukan praktik hygiene, memberi prifasi dan penghormatan, serta memberikan
kenyamanan fisik kepada klien.
2.4.1 Pengertian Personal Hygiene
Laily & Andarmoyo (2012). Personal hygiene berasal dari bahasa
Yunani yang berarti personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti
sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan baik fisik dan
psikisnya.
DepKes (2000), Personal hygiene adalah salah satu kemampuan dasar
manusia dalam memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupannya,
yang dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan
perawatan diri.
Menurut Potter & Perry (2005), personal hygiene adalah suatu
tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis. Kurang perawatan diri adalah kondisi dimana
seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.
2.4.2 Tujuan Personal Hygiene
Tujuan personal hygiene menurut Laily & Andarmoyo (2012).
Diantaranya meningkatkan derajat kesehat seseorang, memelihara kebersihan
diri seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang, pencegahan
2.4.3 Macam-Macam Personal Hygiene
Menurut Laily & Andarmoyo (2012). Pemeliharan personal hygiene
berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan memiliki personal
hygienen baik apabila orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang
meliputi: kebersihan kulit, gigi, mulut, rambut, mata, hidung, telinga, kaki,
kuku dan ginetelia, serta kebersihan dan kerapian pakaiannya.
Macam-macam personal hygiene adalah :
1. Perawatan kulit
Menurut Laily (2012). Kulit merupakan lapisan terluar dari tubuh dan
bertugas melindungi jaringan dibawahnya dan organ-organ lain dibawahnya
terhadap luka, dan masuknya berbagai macam mikroorganisme ke dalam
tubuh. Untuk itu diperlukan perawatan terhadap kesehatan dan kebersihan
kulit. Menjaga kebersihan dan perawatan kulit ini bertujuan untuk menjaga
kulit agar tetap terawat dan terjaga sehingga bisa meminimalkan setiap
ancaman dan gangguan yang akan masuk melewati kulit. Perawat sebagai
tenaga kesehatan penting untuk menginformasikan kepada klien di pelayanan
kesehatan untuk pentingnya menjaga kebersihan dan perawatan kulit. Setiap
kondisi yang mengenai pada kulit (misalnya kelembaban, kerusakan lapisan
episermis, penekanan yang terlalu lama pada kulit).
Perawatan kulit diantaranya: imobilisasi, diperlukan pergantian posisi
selama mandi dengan cara memeriksa sensasi nyeri, suhu dan taktil.
Mengkonsumsi gizi yang cukup seperti kalori dan protein dan hidrasi yang
adekuat. Melembutkan sel epidermis sehingga permukaan kulit menjadi
lembab dan mencegah kerusakna dan infeksi. Insufisiensi vaskuler mencegah
kekurangan suplai arterial kejaringan dan mencegah gangguan aliran vena
yang dapat menurunkan sirkulasi ke ekstremitas. Alat eksternal pada kulit
dengan cara memeriksa permukaan yang terpajam gips, penahan pakaian,
perban, selang atau alat ortopedi
2. Mandi
Menurut Potter dan Perry (2005). Mandi adalah bagian perawatan
hygiene total. Mandi dapat dikategorikan sebagai pembersihan untuk
terapeutik. Mandi di tempat tidur yang lengkap diperlukan bagi individu
dengan ketergantungan total dan memerlukan personal hygiene total.
Keluasan mandi individu dan metode yang digunakan untuk mandi
berdasarkan pada kemampuan fisik individu dan kebutuhan tingkat hygiene
yang diperlukan. Individu yang bergantung dalam kebutuhan hygiene nya
sebagian atau individu yang terbaring ditempat tidur dengan kecukupan diri
yang tidak mampu mencapai semua bagian badan memperoleh mandi
sebagian di tempat tidur.
Pada lansia, mandi biasanya dilakukan dua kali sehari atau lebih sesuai
selera dengan air dingin atau air hangat. Diusahakan agar satu kali mandi tidak
dibawah pancuran atau konsensional, tetapi merendam diri di bak mandi yang
tubuh. Penting juga membersihkan alat kelamin dan kulit antara dubur dan alat
kelamin (perineum). Gosokan dimulai dari sisi alat kelamin ke arah dubur.
Bagi wanita puting payudara jangan lupa dibersihkan dan kemudian
dikeringkan. Setelah selesai mandi keringkan badan, termasuk rongga telinga,
lipatan-lipatan kulit dan celah-celah jari kaki untuk menghindarkan timbulnya
infeksi jamur, juga pada semua lipatan-lipatan kulit lainnya
(Kusumaninggrum, 2012).
3. Perawatan mulut
Menurut Potter dan Perry (2005). Hygiene mulut membantu
mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi, dan bibir. Mengosok
membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan, plak, dan bakteri,
memasase gusi, dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau
dan rasa yang tidak nyaman. Beberapa penyakit yang muncul akibat
perawatan gigi dan mulut yang buruk adalah karies, radang gusi, dan
sariawan. Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya
menstimulasi nafsu makan.
Golongan lansia sering mengalami tanggalnya gigi geligi. Salah satu
sebab adalah karna proses penuaan dan penyebab lain yang sering adalah
karna kurang baiknya perawatan gigi dan mulut. Osteoporosis dan
periodentitis pada lansia menyebabkan akar gigi agak longgar dan
dicelah-celah ini sering tersangkut sisa makanan, inilah penyebab terjadinya
peradangan. Karies timbul antara lain akibat fermentasi sisa makanan yang
pada enamel gigi dan bila tidak ditambal akan menyebabkan radang dan
kematian syaraf gigi karna infeksi. Setelah konsumsi makanan dan minuman
yang bersifat asam, gigi perlu dibersihkan yaitu kumur-kumur dengan air.
Maka penting untuk mengosok gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari dan
sangatlah dianjurkan untuk berkumur-kumur atau setiap kali selepas makan
(Kusumaninggrum, 2012).
4. Perawatan mata, hidung, dan telinga
Menurut Potter dan Perry (2005). Secara normal tidak ada perawatan
khusus yang diperlukan untuk membersihkan mata, hidung, dan telinga
selama individu mandi. Secara normal tidak ada perawatan khusus yang
diperlukan untuk mata karna secara terus-menerus dibersihkan oleh air mata,
kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya partikel asing kedalam
mata, namun pembersihan mata biasanya dilukukan selama mandi dan
melibatkan pembersihan dengan kain bersih yang dilembabkan kedalam air.
Normalnya, telinga tidak terlalu memerlukan pembersihan. Namun telinga
yang serumen terlalu banyak telinganya perlu dibersihkan baik mandiri
maupun di bantu oleh keluarga. Hygiene telinga mempunyai implikasi untuk
ketajaman pendengaran. Bila benda asing berkumpul pada kanal telinga luar,
maka akan menganggu konduksi suara. Hidung berfungsi sebagai indera
penciuman, memantau temperatur dan kelembapan udara yang dihirup, serta
mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem pernapasan. Perawatan
hidung biasanya dilakukan dengan mengangkat sekresi hidung secara lembut
5. Perawatan rambut
Menurut Potter dan Perry (2005). Penampilan dan kesejahteraan
seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai
rambutnya. Penyakit dan ketidakmampuan mencegah seseorang untuk
memelihara perawatan rambut sehari-hari. Menyikat, menyisir dan
bershampo adalah cara-cara dasar hygienis perawatan rambut, distribusi pola
rambut dan menjadi indikator status kesehatan umum, perubahan hormonal,
stres emosional maupun fisik penuaan, infeksi dan penyakit tertentu oleh
obat-obat dapat mempengaruhi karakteristik rambut. Rambut merupkan bagian
dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta proteksi pengaturan
suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat di indentifikasi.
Kerontokan rambut sering terjadi pada lansia. Jumlah rambut rata-rata
adalah lebih dari 100.000 helai, 80% bersifat aktif tumbuh dan sisa nya 20%
berada dalam stadium tidak aktif. Rambut membutuhkan perawatan yang baik
dan teratur, terutama pada wanita agar tidak mengalami banyak kerontokan,
antara lain karna kurangnya senitasi atau adanya infeksi jamur yang lazim
disebut ketombe. Rata-rata 50-100 helai rambut dapat rontok dalam masa
sehari. Oleh itu rambut sebaik-baiknya perlu dicuci dengan shampo yang
mengandung anti ketombe yang cocok. Cuci rambut sebaiknya dilakukan tiap
2 atau 3 hari dan minimal sekali seminggu (Kusumaninggrum, 2012)
6. Perawatan kaki dan kuku
Menurut Potter dan Perry (2005). Kaki dan kuku sering kali
jaringan. Tetapi sering kali orang tidak sadar akan masalah kaki dan kuku
sampai terjadi nyeri atau ketidakanyamanan. Menjaga kebersihan kuku
penting dalam mempertahankan personal hygiene karena berbagai kuman
dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu kuku seharusnya
tetap dalam keadaan sehat dan bersih. Perawatan dapat digabungkan selama
mandi atau pada waktu yang terpisah.
Pada lansia, proses penuaan memberi perubahan pada kuku yaitu
pertumbuhan kuku menjadi labih lambat, permukaan tidak mengkilat tetapi
menjadi bergaris dan mudah pecah karna agak keropos. Warnanya bisa
berubah menjadi kuning atau opazue. Kuku bisa menjadi lembek terutama
kuku kaki akan menjadi lebih tebal dan kuku sering ujung kuku kiri dan
menjadi lebih tebal dan kuku serta sering ujung kuku kiri dan kanan menusuk
masuk ke jaringan disekitarnya (ungus incarnates). Penguntingan dilakukan
setelah kuku direndam dalam air hangat selama 1-10 menit karna pemanasan
membuat kuku menjadi lembek dan mudah digunting (Kusumaninggrum,
2012).
7. Perawatan genitalia
Menurut Potter dan Perry (2005). Perawatan genitalia merupakan
bagian dari mandi lengkap. Seseorang yang paling butuh perawatan genitalia
yang teliti adalah yang beresiko terbesar memperoleh infeksi. Seseorang yang
tidak mampu melakukan perawatan dari dapat dibantu keluarga untuk
2.4.5 Manfaat Perawatan Personal Hygiene
1. Perawatan kulit
Memiliki kulit yang utuh, bebas bau badan dan dapat mempertahankan
rentang gerak, merasa nyaman dan sejahtera, serta dapat berpartisipasi dan
memahami metode perawatan kulit.
2. Mandi
Mandi dapat menghilangkan mikroorganisme dari kulit serta sekresi tubuh,
menghilangkan bau tidak enak dan gatal-gatal, memperbaiki sirkulasi darah
ke kulit, membuat individu merasa lebih rileks dan segar serta
meningkatkan citra diri individu.
3. Perawatan mulut
Mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran
penyakit yang ditularkan melalui mulut misalnya tifus dan hepatitis,
mencegah penyakit mulut dan gigi, meningkatkan praktik hygiene mulut
dan mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar.
4. Perawatan mata, hidung, dan telinga
Organ sensorik yang berfungsi normal, mata, hidung, dan telinga akan
bebas dari infeksi, serta dapat berpartisipasi dan mampu melakukan
perawatan mata, hidung, dan telinga sehari-hari.
5. Perawatan rambut
Memiliki rambut dan kulit kepala yang lebih bersih dan sehat, untuk
mencapai rasa nyaman dan harga diri, dan dapat berpartisipasi dalam
6. Perawatan kaki dan kuku
Memiliki kuku utuh dan permukaan kulit yang lembut, merasa nyaman
dan bersih, serta dapat memahami dan melakukan metode perawatan kaki
dan kuku dengan benar.
7. Perawatan genitalia
Untuk mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan kebersihan
genitalian, menigkatkan kenyamanan serta mempertahankan personal
hygiene (Potter & Perry, 2005).
2.4.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene
Menurut Laily dan Andarmoyo (2012). Sikap seseorang melakukan
personal hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain :
1. Citra tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang
penampilan fisiknya. Personal Hygiene yang baik akan mempengaruhi
terhadap peningkatan citra tubuh individu. Gambaran individu terhadap
dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karna adanya
perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
2. Praktik sosial
Kebiasaan keluarga, jumlah orang di rumah, dan ketersedian air
panas dan air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang
mereka tinggal dipanti jompo mereka tidak dapat mempunyai privasi
dalam lingkungannya yang baru. Privasi tesebut akan mereka dapatkan
dalam rumah mereka sendiri, karna mereka tidak mempunyai
kemampuan fisik untuk melakukan personal hygiene sendiri.
3. Status sosial ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta
gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang
untuk menyediakannya.
4. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Kedati demikian, pengetahuan
itu sendiri tidaklah cukup. Seseorang harus termotifasi untuk memelihara
perawatan diri. Sering kali pembelajaran tentang penyakit atau kondisi
yang mendorong individu untuk meningkatkan personal hygiene.
Misalnya pada pasien penderita Diabetes Melitus selalu menjaga
kebersihan kakinya.
5. Budaya
Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi
persoanal hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti
praktek perawatan diri yang berbeda. Disebagian masyarakat jika
6. Kebiasaan seseorang
Setiap individu mempunyai pilihan kapan melakukan perawatan
rambut. Ada kebiasaan orang yang mengunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan shampo, dan lain-lain.
7. Kondidi fisik
Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
2.4.6 Dampak Personal Hygiene
Dampak yang akan timbul jika kurang personal hygiene menurut
Laily dan Andarmoyo (2012). Diantaranya:
1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang di derita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang
sering terjadi adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membran, mukosa
mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
2. Gangguan psikologis
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah
gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai,
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konsep dalam penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi
pengetahuan dan sikap lansia dalam upaya menjaga kebersihan diri. Langkah
pertama yang dilakukan peneliti adalah mengkaji pengetahuan dan sikap lansia
dalam melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan
Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan dengan melakukan wawancara terstruktur
dengan menggunakan kuesioner.
Skema 3.1 kerangka konseptual penelitian pengetahuan dan sikap lansia
dalam dalam melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia
dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.
Personal Hygiene
Lansia :
1. Perawatan kulit 2. Mandi
3. Perawatan mulut
4. Perawatan mata, hidung, dan telinga
5. Perawatan rambut 6. Perawatan kaki dan
kuku
7. Perawatan ginetalia Pengetahuan dan
3.2Defenisi Operasional
Tabel 3.1 Defenisi operasional variabel penelitian pengetahuan dan sikap lansia
dalam melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut
Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.
No Variabel Defenisi Operasional
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
yang bertujuan untuk memperoleh gambaran pengetahuan dan sikap lansia dalam
melakukan personal hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak
Balita Wilayah Binjai dan Medan.
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010).
Berdasarkan data yang diperoleh dari UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan
Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan dari bulan April 2013 berjumlah 180.
4.2.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau mewakili populasi, jika sabjeknya kurang
dari 100, lebih baik diambil keseluruhan (Arikunto, 2010). Sampel dalam
penelitian ini adalah sebagian dari warga UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia
dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah probabilyti sampling dengan jenis simple random sampling.
Simple random sampling merupakan pengambilan sampel dengan cara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi. Cara ini
dilakukan dengan cara lotree, akan tetapi pengambilannya diberikan
nomor urut tertentu maka disebut sebagai sistematik random sampling
(Hidayat, 2011).
Dalam menentukan besarnya sampel, dilakukan perhitungan sampel
dengan menggunakan rumus (Setiadi, 2007).
Keterangan:
N= besar populasi
n= jumlah sampe
d= tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan.
Berdasarkan rumus di atas maka besar sampel dalam penelitian ini adalah
n = 64,28 dibulatkan menjadi 64 orang
Dengan tingkat ketepatan relatif 10%, maka jumlah populasi yang diperoleh dari
4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak
Balita Wilayah Binjai dan Medan dan penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Agustus sampai dengan September 2013.
4.4 Pertimbagan Etik
Selama penelitian peneliti tetap mempertahankan dan menjunjung tinggi
etika, meliputi : self determinan, privacy, anonymity, confidentially, dan
protection from discomfort (Setiadi, 2007).
1. Self Determinan
Sebelum penelitian dilaksanakan, pasien yang menjadi subjek penelitian
diberikan informasi. Informasi yang diberikan meliputi manfaat intervensi,
rencana dan tujuan penelitian. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis
dengan pasien. Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan
dalam menentukan hak dan kesediaannya untuk terlibat dalam penelitian ini
secara sukarela dengan menandatangani “Informed concent” yang disediakan
(lihat lampiran). Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka
diperbolehkan untuk mengundurkan diri.
2. Privacy
Peneliti tetap menjaga kerahasiaan semua informasi yang telah diberikan
3. Anonymity
Peneliti tidak mencantumkan nama responden, dan diganti dengan nama
inisial.
4. Confidentially
Peneliti menjaga kerahasiaan identitas pasien dan informasi yang
diberikannya. Semua catatan atau data responden akan dimusnahkan setelah
proses penelitian berakhir.
5. Protection form discomfort
Pasien bebas dari rasa tidak nyaman. Peneliti menjelaskan dan
menekankan bahwa keterlibatan pasien dalam penelitian ini tidak akan
menimbulkan kerugian, baik secara psikologis maupun sosial. Jika ternyata
menimbulkan respon psikologis yang berat akan dirujuk ke ahli terkait.
Berusaha memenuhi kebutuhan pasien, menerima masukan dan
memepertahankan sikap empati, membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas,
tepat waktu, menciptakan suasana santai sehingga pasien merasa nyaman
selama penelitian. Namun selama penelitian tidak ada respon / efek negatif
yang terjadi.
4.5 Instrumen Penelitian
Menurut Hidayat (2009), peneliti memodifikasi dari sumber ke pustakaan
sesuai dengan kerangka konseptual. Maka, kuesioner dalam penelitian adalah
1. Bagian pertama tentang pengumpulan data demografi responden yang
meliputi: kode responden, umur, pendidikan, status kesehatan dan suku, agama
dan status perkawinan.
2. Bagian kedua kuesioner pengetahuan lansia dalam upaya melakukan personal
hygiene di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai
dan Medan. Terdiri dari 12 pertanyaan positif dan 3 pertayaan negatif. Untuk
pertayaan positif terdapat pada no 1,2,3,4,5,6,7,8,9,11,12,13, dan untuk
pertayaan negatif terdapat pada no 10,14,15, dengan mengunakan skala
Guttmen yaitu dengan memberi jawaban Ya atau Tidak. Untuk pertayaan
positif apabila skor Ya diberi nilai 1 dan skor Tidak diberi nilai 0, untuk
pertayaan negatif apabila skor Ya diberi nilai 0, dan skor Tidak diberi nilai 1.
Dengan hasil ukur baik 11-15, cukup 6-10, kurang 0-5
3. Kuesioner sikap lansia dalam upaya melakukan personal hygiene di UPT
Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan yang
terdiri dari 7 pertanyaan positif dan 3 pertayaan negatif. Untuk pertayaan
positif terdapat pada no 1,2,5,6,7,9,10, dan untuk pertayaan negatif terdapat
pada no 3,4,8, dengan mengunakan skala likert. Untuk pertayaan positif diberi
skor nilai: sangat setuju 4, setuju 3, tidak setuju 2, sangat tidak setuju 1,dan
Untuk pertayaan negatif diberi skor nilai: sangat setuju 1, setuju 2, tidak setuju
4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas
4.6.1Uji Validitas
Uji validatas kuesioner merupakan uji yang digunakan untuk
menunjukan alat ukur itu benar –benar mengukur apa yang diukur. Uji validitas
ini telah dilakukan oleh staf pengajar keperawatan dasar Universitasn Sumatera
Utara. Uji validitas yang dilakukan ada beberapa butir peryataan yang
pengetahuan dan sikap yang diganti dan ditambah dan dikurangi. Pertayaan
yang diganti kebersihan diri adalah kebersihan secara menyeluruh, masalah
yang sering terjadi pada kulit apabila kulit dalam keadaan lembab dan
peryataan yang ditambah adalah kebersihan diri adalah melakukan mandi,
gosok gigi, gunting kuku, masalah yang sering menyebabkan penyakit kulit
dikarenakan kulit kering, mata yang kemasukan debu dapat menyebabkan
iritasi, kuku yang panjang dapat memudahkan masuknya kuman penyakit. Dan
ada peryataan yang dibuang adalah salah satu kebersihan diri tidak
mengunakan pakaian yang lembab dan handuk bergantian, perawatan kaki
dapat dilakukan dengan menggunakn sandal apabila keluar rumah, ketika mau
makan tangan saya harus bersih, saya merasa senang dengan tubuh bersih dan
rapi, dan saya selalu cuci tangan setelah BAB
4.6.2 Uji Realibilitas
Uji realibilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar derajat atau
kemampuan alat instrumen untuk mengukur secara konsisten sasaran yang
dimana hasil yang ditunjukan adalah sama. Uji realibilitas dalam penelitian ini
dilakukan dengan uji KR-20 (Kuder-Richardison 20) untuk variabel
pengetahuan dan sikap dengan rumus alpha crombatch yang dilakukan kepada
15 orang responden yang berada di desa Cengkeh Turi Kelurahan Cengkeh
Turi didapat hasil pada variabel pengetahuan 0,723, dan untuk variabel sikap
didapat hasil 0,720. Sehingga isnstrumen penelitian untuk pengetahuan dan
sikap lansia tentang personal hygiene ini layak digunakan.
4.7 Pengumpulan Data
Tahap persiapan pengumpulan data ini dilakukan melalui prosedur
administrasi dengan cara mengajukan surat permohonan izin pelaksanaan
penelitian kepada Institusi Pendidikan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara kemudian mengajukan surat izin penelitian dari Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara ke UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia
dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan, setelah mendapat izin penelitian dari
direktur UPT pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan
Medan peneliti meminta kesedian responden untuk mengikuti penelitian dan
peneliti menjelaskan tentang tujuan personal hygiene, macam-macam personal
hygiene, manfaat personal hygiene dan dampak personal hygiene. Saat melakukan
pengumpulan data sebelumnya peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu dan
menjelaskan tujuan penelitian serta meminta kesedian calon responden untuk
berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan
menjadi responden dan peneliti memberikan instrument penelitian berupa
ada sebagian lansia yang kurang mampu dalam membaca kuesioner penelitian
maka peneliti yang membacakan kuesioner penelitian, setelah selesai pengisian
kuesioner penelitian setelah itu peneliti mengucapkan terima kasih atas
kesediannya berpartisipasi dalam penelitian ini. Dalam pengumpulan data ini
rata-rata dalam sehari peneliti dapat mengumpulkan data sebanyak 15-20 responden
dan penelitian ini dilakukan selama 4 hari.
4.8 Analisa Data
Setelah semua data terkumpul maka peneliti mengadakan analisa data
melalui beberapa tahap yang dimulai dengan editing untuk memeriksa
kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan semua lembar
kuesioner telah terisi, dilanjutkan dengan memberi kode pada setia kuesioner
untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi data, kemudian peneliti
memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base
computer, kemudian membuat distribusi frekuensi data sederhana, setelah itu
peneliti melakukan teknik analisis yang dilakukan secara deskriptif dengan
melihat persentase data yang telah terkumpul dalam tabel frekuensi distribusi.
Analisa data dilakukan dengan membahas hasil penelitian dengan mengunakan
teori kepustakaan yang ada.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini, peneliti menguraikan hasil penelitian dan pembahasan
mengenai Pengetahuan dan Sikap Lansia Dalam Melakukan Personal Hygiene di
UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
5.1 Hasil
Penelitian ini telah dilakukan mulai dari bulan Oktober hingga bulan
Desember 2013 di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah
Binjai dan Medan. Responden pada penelitian ini adalah lansia yang berada di
UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.
5.1.1 Data Demografi
Berdasarkan hasil penelitian, data demografi meliputi jenis kelamin,
pendidikan, suku, agama, dan status perkawinan
Deskripsi karakteristik demografi lansia yang berada di Panti Jompo
Binjai didapat dari 64 responden. Terlihat bahwa mayoritas jenis kelamin
responden adalah perempuan sebanyak 36 orang sebesar (56%) dan minoritas
laki-laki sebanyak 28 orang sebesar (44%). Pendidikan mayoritas SD sebanyak 41
orang sebesar (64%) dan minoritas SMA sebanyak 3 orang sebesar (5%).
Terdapat sebanyak 32 orang sebesar (50%) mayoritas berasal dari suku jawa dan
minoritas suku aceh sebanyak 1 orang sebesar (2%). Mayoritas agama responden
menganut agama islam sebanyak 59 orang sebesar (92%) dan minoritas Kristen
janda sebanyak 33 orang sebesar (51%) dan minoritas belum menikah
sebanyak 1 orang sebesar (2%)
Tabel 5.1 Distribusi Frekwensi Data Demografi Responden di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan (n=64)
Data Demografi Frekuensi (n=64) Persentase (%)
5.1.2 Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan responden dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa mayoritas responden
berpengetahuan baik sebanyak 44 orang sebesar (69%), dan berpengetahuan
cukup sebanyak 20 orang sebesar (31%)
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Pengetahuan Lansia tentang Personal Hygien UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
Pengetahuan Frekuensi Persentase %
Baik
Berdasarkan hasil penelitian, sikap responden dapat dilihat pada table
berikut :
Tabel dibawah menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki sikap
positif sebanyak 58 orang sebesar (91%), dan yang memiliki sikap negatif
sebanyak 6 orang sebesar (9%)
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Sikap Lansia tentang Personal Hygien UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan
Sikap Frekuensi Persentase %