• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kaum Samurai di Jepang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kaum Samurai di Jepang."

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

KAUM SAMURAI DI JEPANG

KERTAS KARYA Dikerjakan

O

L

E

H

LUKTRI ARSHEILA NIM : 082203043

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA PROGRAM STUDI BAHASA JEPANG

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas anugerah dan

rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan kertas karya ini guna melengkapi syarat

untuk mencapai gelar Ahli Madya pada Universitas Sumatra Utara. Adapun judul kertas karya

ini adalah “Kaum Samurai di Jepang”.

Sebagai sifat manusia dengan segala kekurangan, penulis menyadari bahwa tulisan ini

masih jauh dari sempurna, dan masih banyak kekurangan baik dalam tata bahasa maupun isi

pembahasan. Oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran dari pembaca demi

kesempurnaan kertas karya ini.

Dalam penyusunan kertas karya ini penulis banyak dibantu oleh berbagai pihak baik

berupa bimbingan maupun pengarahan, oleh karenanya penulis pada kesempatan ini

menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan

kertas karya ini, terutama kepada :

1. Bapak Dr. Syahron Lubis. MA, selaku Dekan di Fakultas Ilmu Budaya.

2. Bapak Zulnaidi, S.S., M.Hum, selaku ketua Jurusan Program Studi Bahasa Jepang

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Zulnaidi, S.S., M.Hum, selaku Dosen Pembimbing dan Dosen Wali yang dengan

ikhlas meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan yang

bermanfaat kepada penulis hingga dapat menyelesaikan kertas karya ini.

4. Ibu Hj. Siti Muharami M, S.S., M.Hum, selaku Dosen Pembaca yang dengan ikhlas

meluangkan waktunya untuk membaca dan memberi pembenaran pada kertas karya ini.

5. Bapak dan Ibu dosen Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

yang telah mendidik dan membimbing penulis selama ini.

6. Tomo Sensei dan Mayumi Sensei, selaku dosen magang dari Jepang yang telah

(3)

7. Para Staf pengajar maupun pembantu yang ada di Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Sumatera Utara.

8. Teristimewa kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda H. Lukman Muliawan dan

Ibunda Hj. Nurlaitati Arbaiyah serta abang saya Lucki Armanda dan kakak saya Lufti

Arlini yang selalu memberikan doa dan dorongan baik material maupun spiritual.

9. Muhammad Reza Sitompul, yang telah memberikan bantuan dan perhatiannya kepada

saya.

10.Keluargaku di kampus, Cendana Kazoku, Nana, Ola, Tia, Tiwi, Evi, Alvi, Reby, semoga

kekeluargaan kita berlanjut terus sampai kita tua nanti.

11.Untuk semua mahasiswa dan mahasiswi D3 Bahasa Jepang yang telah meramaikan dan

mewarnai kelas saat belajar, semua kenangan yang takkan terlupakan.

Terima kasih banyak untuk semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan, semoga

kertas karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan,

Penulis,

LUKTRI ARSHEILA

(4)

DAFTAR ISI

(5)

ABSTRAK

Kita mengenal bahwa Jepang adalah Negara yang dipimpin oleh kaisar. Kaisar adalah

orang yang paling dihormati di Jepang. Pada masa dahulu, di Jepang pernah terjadi periode

perang atau yang lebih dikenal dengan Sengoku Jidai. Pada periode inilah muncul kaum Samurai

atau yang lebih dikenal dengan kaum Bushi. Samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas

elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang.

Kaum samurai biasanya memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat. Samurai

memiliki peranan dalam pertempuran. Untuk itu mereka harus sudah dilatih pada masa kanak –

kanak. Mereka yang sudah memilih jalan untuk menjadi samurai memegang amanat besar dalam

mempertahankan Negara atau golongannya. Meskipun begitu, samurai tidak selalu harus

mengangkat senjata untuk berperang. Beberapa samurai menjadi cendekiawan termasyur. Ada

yang berkiprah sebagai administrator sipil dan militer, seniman, dan pakar estetika. Ada pula

yang hanya menjadi anggota keluarga. Namun semuanya dituntut akrab dengan peran mereka

dalam keadaan perang.

Samurai memiliki pakaian dan perlengkapan sendiri pada saat perang. Mereka memiliki

pelindung untuk masing – masing anggota tubuh. Hal itu untuk mengurangi luka akibat serangan

dari lawan. Senjata samuraipun tak hanya pedang samurai, masing banyak lagi senjata samurai,

seperti busur, tombak, atau senjata api.

Samurai (dikenal juga sebagai bushi) adalah golongan bangsawan militer Jepang, dan

mereka mengalami masa kejayaan pada zaman Pertempuran, atau periode Perang Antarnegeri

(dalam bahasa Jepang disebut Sengoku Jidai). Periode ini, yang sering dikatakan berlangsung

(6)

Sampai pertengahan zaman Sengoku, seseorang yang tak terlahir dalam golongan

samurai masih berpeluang menjadi samurai. Itu dapat terjadi bila ia bergabung dalam bala tentara

sebagai prajurit infanteri, lalu memperoleh perhatian kepala marga atau para pembantunya,

sehingga diberi tugas tetap. Marga yang dimaksud di sini adalah keluarga. Pada zaman sengoku

tidak semua keluarga menggunakan marga, hanya kaum samurai, bangsawan, pedagang, dan

pekerja seni saja yang memiliki marga.

Tempat tinggal samurai berupa bangunan serupa barak, namun ada pula yang memiliki

rumah pribadi. Penetapan tempat tinggal mereka ditentukan oleh beragam faktor, antara lain

pangkat, tugas, dan status perkawinan. Sebagian besar samurai muda berpangkat rendah di suatu

garnisun, misalnya, tinggal bersama di bangunan besar seperti barak di dalam pekarangan

benteng. Para samurai yang sudah menikah mungkin memiliki rumah petak sendiri dikawasan

khusus pasangan suami – istri, sedangkan mereka yang lebih senior dapat menempati rumah

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul

Jepang adalah Negara maju. Jepang berkembang dengan sangat pesat seiring berjalannya

waktu. Hal itu dapat dibuktikan dengan cepatnya Jepang bangkit setelah perang dunia II dimana

2 kota di Jepang terkena bom yang dahsyat oleh tentara Amerika. Dua kota itu adalah Hiroshima

dan Nagasaki. Jepang yang pada saat itu hanya berpenduduk 127 juta jiwa mampu membangun

kembali negaranya.

Kini kita sudah dapat melihat bangunan – bangunan mewah dan gedung – gedung

bertingkat yang ada di sepanjang jalan raya Jepang. Namun demikian, Jepang tidak pernah

melupakan sejarahnya. Semua yang dicapai Jepang pada saat ini tidak terlepas dari sejarah.

Kita mengenal bahwa Jepang adalah Negara yang dipimpin oleh kaisar. Kaisar adalah

orang yang paling dihormati di Jepang. Pada masa dahulu, di Jepang pernah terjadi periode

perang atau yang lebih dikenal dengan Sengoku Jidai. Pada periode inilah muncul kaum samurai

atau yang lebih dikenal dengan kaum Bushi. Samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas

elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang.

Jadi dalam makalah ini yang akan penulis bahas bukan mengenai pedang samurai yang

terkenal dari Jepang, melainkan zaman perang dimana samurai adalah sebutan untuk kaum elit

yang tugasnya bekerja sebagai pelayan untuk majikannya. Pasti banyak yang mengira kalau

(8)

Samurai harus sopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa

berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara

umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan

istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas

berbeda dan digantikan dengan tentara nasional menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga,

sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang

masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.

Kaum samurai biasanya memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat. Samurai

memiliki peranan dalam pertempuran. Untuk itu mereka harus sudah dilatih pada masa kanak –

kanak. Mereka yang sudah memilih jalan untuk menjadi samurai memegang amanat besar dalam

mempertahankan Negara atau golongannya. Meskipun begitu, samurai tidak selalu harus

mengangkat senjata untuk berperang. Beberapa samurai menjadi cendekiawan termasyur. Ada

yang berkiprah sebagai administrator sipil dan militer, seniman, dan pakar estetika. Ada pula

yang hanya menjadi anggota keluarga. Namun semuanya dituntut akrab dengan peran mereka

dalam keadaan perang.

Samurai memiliki pakaian dan perlengkapan sendiri pada saat perang. Mereka memiliki

pelindung untuk masing – masing anggota tubuh. Hal itu untuk mengurangi luka akibat serangan

dari lawan. Senjata samuraipun tak hanya pedang samurai, masih banyak lagi senjata samurai,

seperti busur, tombak, atau senjata api.

Jadi, untuk mengetahui tentang samurai lebih lanjut dan lebih mendalam, ada baiknya

untuk anda membaca makalah yang telah dibuat oleh penulis ini. Supaya kita lebih mengetahui

tentang samurai dan menambah ilmu bahwa samurai bukan hanya jenis pedang di Jepang,

(9)

1.2 Tujuan Pemilihan Judul

Tujuan penulisan kertas karya ini adalah :

1. Untuk mengetahui tentang samurai di Jepang.

2. Memperkenalkan kepada pembaca terutama generasi muda bahwa samurai bukan hanya

jenis pedang di Jepang melainkan juga merupakan sebutan untuk kaum elit di Jepang

pada masa perang.

3. Untuk memberikan penjelasan tentang samurai dengan lebih mendalam agar mudah

untuk dipahami.

4. Untuk menambah pengetahuan penulis tentang budaya Jepang khususnya tentang

samurai.

1.3 Pembatasan Masalah

Dalam kertas karya ini penulis hanya menceritakan tentang samurai pada zaman sengoku

atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sengoku Jidai. Di sini penulis tidak membahas tentang

samurai yang merupakan pedang khas Jepang. Karena keterbatasan bahan, penulis hanya

memfokuskan pembahasan pada masa perang. Walaupun data mengenai tulisan tentang samurai

(10)

1.4 Metode Penulisan

Metode yang dipakai dalam penulisan kertas karya ini adalah studi kepustakaan yaitu

mengumpulkan data-data atau informasi dengan cara membaca buku yang berkaitan dengan

(11)

BAB II

SEJARAH SAMURAI

2.1 Sengoku Jidai

Sengoku jidai atau yang disebut juga zaman sengoku dalam sejarah Jepang adalah masa

pergolakan sosial, intrik politik, dan konflik militer hampir konstan yang berlangsung sekitar dari

pertengahan abad ke-15 ke awal abad ke-17. Zaman ini disebut juga zaman Azuchi-Momoyama

atau zaman Shokuho.

Istilah zaman Azuchi-Momoyama berasal dari nama istana (kastil) yang menjadi markas

kedua pemimpin besar, Nobunaga di Istana Azuchi dan Hideyoshi di Istana Momoyama. Zaman

ini dimulai sejak Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi menjadi penguasa Jepang dan berakhir

ketika Tokugawa Ieyasu berhasil mengalahkan pasukan pendukung Toyotomi Hideyori dalam

Pertempuran Sekigahara tahun 1600.

Dahulu istana – istana di Jepang terbagi – bagi. Ada 2 istana di Jepang yang menjadi

pokok terjadinya Zaman Azuchi-Momoyama, yaitu istana Azuchi dan istana Momoyama. Istana

Azuchi dipimpin oleh Nobunaga dan istana Momoyama dipimpin oleh Hideyoshi. Oda

Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi dibantu Tokugawa Ieyasu berhasil mempersatukan Jepang.

Tahun 1568 M Nobunaga berhasil merampas Kyoto dan mengangkat Ashikaga Yoshiaki sebagai

Shogun boneka (Shogun adalah orang yang kekuasaannya ada di tangan majikannya). Jadi

kekuasaannya ada di tangan Nobunaga.

Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk menundukkan kerajaan di sebelah barat, dan

(12)

dirinya sendiri membereskan bagian pusat. Nobunaga mendapat perlawanan dari kaum padri

yang menjadikan biara-biara Buddha sebagai benteng pertahanan. Serangan Nobunaga yang

sangat keras terhadap Buddhisme akhirnya dapat menghancurkan biara-biara tersebut. Dia

dibantu orang-orang Kristen dari Portugis dengan senjata apinya. Nobunaga mengijinkan

pelaksanaan perdagangan bebas, terutama dengan bangsa Portugis dan Spanyol, serta melindungi

agama Kristen. Hal itu dilakukan untuk menekan agama Buddha dan mendapatkan senjata api.

Tahun 1573 Masehi Nobunaga mendirikan istana Azuchi. Saat Nobunaga melanjutkan

masalah penyatuan negeri, dia meninggal karena dibunuh pengikutnya yang bernama Akechi

Mitsuhide pada tahun 1582 Masehi.

Kekuasaan Nobunaga berpindah ke Toyotomi Hideyoshi. Hideyoshi kemudian

membangun istana Momoyama (Fushimi) sebagai tempat tinggalnya, tetapi tempat

pemerintahannya ada di istana Osaka (Himeji). Hideyoshi berhasil menyatukan Jepang pada

tahun 1590 M setelah menaklukkan keluarga Hojo di Odawara dan keluarga Shimaru di Kyushu.

Saat berkuasa Hideyoshi mengontrol kekuasaan para daimyo (orang yang memiliki

pengaruh besar di suatu wilayah) dan menetapkan cara menarik pajak yang disebut Taikokenchi

serta mengatur para petani untuk mencegah timbulnya pemberontakan petani. Dengan demikian

pembagian antara daimyo dan petani semakin maju. Hideyoshi pun berniat meluaskan

kekuasaannya sampai ke Korea pada tahun 1592 M dan 1597 M tetapi gagal. Zaman

Azuchi-Momoyama berakhir setelah Toyotomi meninggal dalam pertempuran Sekigahara melawan

Tokugawa Ieyasu.

Pertempuran Sekigahara adalah pertempuran yang terjadi tanggal 15 September 1600

(13)

Fuwa, Provinsi Mino, Jepang. Pertempuran melibatkan pihak yang dipimpin Tokugawa Ieyasu

melawan pihak Ishida Mitsunari sehubungan perebutan kekuasaan sesudah wafatnya Toyotomi

Hideyoshi. Pertempuran dimenangkan oleh pihak Tokugawa Ieyasu yang memuluskan jalan

menuju terbentuknya Keshogunan Tokugawa.

Pihak yang bertikai dalam pertempuran ini terbagi menjadi kubu Tokugawa (Pasukan

utara) dan kubu pendukung klan Toyotomi (Pasukan Barat). Klan Toyotomi sendiri tidak

memihak salah satu pihak yang bertikai dan tidak ambil bagian dalam pertempuran.

Setelah pertempuran selesai, kekuasaan militer berhasil dikuasai pihak Tokugawa

sehingga Pertempuran Sekigahara juga terkenal dengan sebutan Tenka wakeme no tatakai

(pertempuran yang menentukan pemimpin Jepang).

Pada saat terjadinya pertempuran belum digunakan istilah Pasukan Barat dan Pasukan

Timur. Kedua istilah tersebut baru digunakan para sejarawan di kemudian hari untuk menyebut

kedua belah pihak yang bertikai.

Pada tanggal 15 September 1600, kedua belah pihak Pasukan Barat dan Pasukan Timur

saling berhadapan di Sekigahara. Menurut buku "Sejarah Jepang" yang disusun oleh markas

besar Angkatan Darat Jepang, kubu Pasukan Timur tediri dari 74.000 prajurit dan kubu Pasukan

Barat terdiri dari 82.000 prajurit. Di lembah sempit Sekigahara berkumpul pasukan dengan total

lebih dari 150.000 prajurit.

Pertempuran ini dimenangkan oleh pihak Tokugawa Ieyasu dan berhasil memulai

kekuasaan baru di Jepang yaitu Keshogunan Tokugawa yang akan bertahan hingga 250 tahun.

(14)

2.2 Sejarah Samurai

Samurai (dikenal juga sebagai bushi) adalah golongan bangsawan militer Jepang, dan

mereka mengalami masa kejayaan pada zaman Pertempuran, atau periode Perang Antarnegeri

(dalam bahasa Jepang disebut Sengoku Jidai). Periode ini, yang sering dikatakan berlangsung

pada kurun waktu 1550 – 1600, berkisar antara runtuhnya keshogunan Tokugawa.

Sampai pertengahan zaman Sengoku, seseorang yang tak terlahir dalam golongan samurai

masih berpeluang menjadi samurai. Itu dapat terjadi bila ia bergabung dalam bala tentara sebagai

prajurit infanteri, lalu memperoleh perhatian kepala marga atau para pembantunya, sehingga

diberi tugas tetap. Marga yang dimaksud di sini adalah keluarga. Pada zaman sengoku tidak

semua keluarga menggunakan marga, hanya kaum samurai, bangsawan, pedagang, dan pekerja

seni saja yang memiliki marga.

Namun bagi kebanyakan orang, golongan samurai hanya dapat dimasuki melalui

kelahiran atau pengangkatan sebagai anak berdasarkan hukum. Meskipun samurai berstatus

sosial tinggi, secara internal golongan samurai terbagi lagi dalam berbagai jenjang. Jenjang

teratas ditempati oleh para daimyo beserta keluarga mereka, yang menikmati semua hak

istimewa yang menyertai kedudukan itu. Pijakan paling bawah pada tangga yang panjang itu

menjadi tempat orang – orang yang berhasrat menjadi samurai yaitu kaum ashigaru berikut

keluarga.

Kaum ashigaru adalah para serdadu pejalan kaki, laskar garda depan, barisan orang –

orang tanpa nama yang menjadi bagian terbesar suatu pasukan. Walaupun tidak terlahir sebagai

(15)

tinggi kedudukannya. Banyak jenderal dan tokoh tersohor lain pada zaman Pertempuran berasal

dari golongan ashigaru. Garis pembatasnya amat kabur sehingga para pakar berselisih paham

apakah golongan ashigaru dapat dianggap samurai.

Namun, bagi sebagian besar ashigaru, kenyataan hidup sebagai prajurit rendahan

memastikan bahwa impian kejayaan tetap tinggal impian. Ironisnya, setelah Toyotomi

Hideyoshi, anak petani yang menanjak dari pembawa sandal sampai menjadi penguasa Jepang

mengeluarkan titah yang membatasi status samurai hanya kepada mereka yang terlahir sebagai

samurai, membuat impian golongan ashigaru menjadi sulit terwujud.

Ironi lain adalah bahwa pasukan yang terdiri atas anggota marga dan pengikut yang telah

turun – temurun mengabdi pada junjungan mereka, semuanya, lebih menjunjung tinggi kesetiaan

dibandingkan para pembesar itu sendiri. Mengkhianati calon sekutu dan daimyo adalah hal yang

lumrah bagi seorang pembesar, dan itu membuktikan bahwa sementara kaum anak buah dituntut

untuk setia, para komandan memberlakukan aturan yang berbeda untuk diri sendiri. Contoh

klasik adalah Akechi Mitsuhide, seorang jenderal dalam pasukan Oda Nobunaga, yang

membunuh sang calon penakluk

Status samurai lebih banyak ditentukan oleh kasta daripada oleh jenis pekerjaan. Semua

bushi, baik laki – laki maupun perempuan dengan sendirinya termasuk golongan militer, tanpa

memandang apakah mereka pernah mengangkat pedang atau tidak.

Namun peran samurai tidak terbatas pada bidang militer samata –mata. Beberapa samurai

(16)

seniman dan pakar estetika. Ada pula yang hanya menjadi anggota keluarga. Namun semuanya

dituntut akrab dengan peran mereka dalam keadaan perang.

Orang – orang sangat takut kehilangan junjungan, sementara struktur masyarakat

mendukung sifat saling tergantung antara hamba dan tuan. Ketika menjadi tak bertuan atau

ronin, seorang petarung kehilangan dukungan atau perlindungan marga. Jika seorang pembesar

meninggal tanpa ahli waris, semua pengikutnya menjadi ronin. Seorang pengikut juga dapat

dibuang dari marganya karena melakukan kejahatan, misalnya berkelahi atau melanggar

peraturan.

Para ronin adalah jago pedang bayaran yang berkelana, dan sering kali berpaling dalam

dunia hitam. Ada pula yang tetap menjunjung tinggi kehormatan dan menjadi biksu, atau

mendapatkan pekerjaan baru pada junjungan lain dan bersumpah setia kepada marga yang baru.

Pada zaman pertempuran, para mantan samurai tak bertuan punya peluang meraih kembali

kehormatan mereka.

Semua samurai punya tugas dan menerima upah, dan dari pendapat ini mereka harus

membiayai rumah tangga (bagi yang memiliki) dan membeli segala perlengkapan yang tidak

disediakan. Dasar perekonomian adalah beras, dan ukuran kekayaan yang lazim adalah koku,

yaitu satuan jumlah beras yang cukup bagi seseorang untuk makan selama satu tahun. Semua

tanah kekuasaan dijabarkan berdasarkan berapa koku beras yang dapat dihasilkan. Satu koku

setara 120 liter. Samurai paling rendah menerima sedikit kurang daripada satu koku (dengan

(17)

Pembesar menengah dan komandan benteng dapat menerima upah sebesar beberapa ratus

koku, yang harus cukup untuk membayar semua samurai bawahannya, menyediakan perbekalan,

membeli pakan kuda, mengupah para pelayan, dan lain – lain. Demi kemudahan, pembayaran

dilakukan dengan uang, tapi pada dasarnya perekonomian ketika itu berlandaskan beras.

Beras demikian penting sehingga banyak petani tidak dapat menikmati hasil padi yang

mereka tanam untuk para samurai, mereka terpaksa beralih ke biji – bijian lain yang lebih murah,

sementara padi dikirim ke benteng tuan mereka untuk dihitung, lalu disimpan atau dibagikan.

Urusan keuangan diserahkan kepada kaum istri karena dipandang rendah oleh para laki –

laki samurai. Kaum laki – laki yang mengurus uang hanyalah mereka yang memang dituntut oleh

tugas, pengawas dapur benteng misalnya. Pada masa itupun, cuma kertas nota saja yang

berpindah tangan untuk dibayarkan kemudian.

Tempat tinggal samurai berupa bangunan serupa barak, namun ada pula yang memiliki

rumah pribadi. Penetapan tempat tinggal mereka ditentukan oleh beragam faktor, antara lain

pangkat, tugas, dan status perkawinan. Sebagian besar samurai muda berpangkat rendah di suatu

garnisun, misalnya, tinggal bersama di bangunan besar seperti barak di dalam pekarangan

benteng. Para samurai yang sudah menikah mungkin memiliki rumah petak sendiri dikawasan

khusus pasangan suami – istri, sedangkan mereka yang lebih senior dapat menempati rumah

yang berdiri – sendiri.

Bagi anak – anak samurai, pelatihan untuk hidup keprajuritan yang akan mereka jalani

dimulai sejak dini, bahkan sejak lahir. Apabila ada tanda – tanda bahwa bayi itu nantinya kidal,

(18)

sesuatu akan dilakukan untuk menghilangkan sifat kidal tersebut. Di Jepang, tidak boleh ada

orang yang kidal. Kekidalan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Terutama antara usia tujuh dan delapan tahun, anak – anak samurai didorong agar

bersikap baik dan kooperatif terhadap rekan – rekan bermain mereka, dan diajarkan agar

menjauhi sikap suka berkelahi maupun terlalu memntingkan diri sendiri. Pada usia Sembilan dan

sepuluh tahun, mereka lebih memusatkan perhatian kepada subjek – subjek akademis seperti

membaca dan menulis, meskipun sejak usia tujuh tahun mereka mungkin sudah belajar secara

berkala di sekolah kuil. Ketika seorang anak laki – laki serusia tiga belas tahun, ia siap

bertempur.

Pada kisaran usia belasan awal, seorang calon samurai menjalani upacara yang disebut

genpuku atau genbuku. Bagi para putra keluarga bangsawan, upacara ini sering kali mendahului

pertempurannya yang pertama.

Genpuku adalah upacara akil-balig. Perayaan tersebut diadakan pada ulang tahun

ketigabelas atau kelimabelas. Dalam genpuku, untuk anak laki – laki rambutnya untuk pertama

kalinya dipotong dengan gaya orang dewasa, yaitu rambut batok kepalanya dicukur habis dan

sisa rambutnya dikuncir di atas kepala seperti orang dewasa. Ia juga diberi topi orang dewasa.

Dalam beberapa kasus, khususnya jika marganya sedang berperang, topi itu diganti dengan baju

tempur.

Bagi kaum perempuan keluarga samurai, setidaknya yang berkedudukan senior, genpuku

menandai kali pertama alis mereka dicukur dan gigi merek dihitamkan. Yang terakhir itu,

(19)

perempuan kelas atas. Itu juga berarti mereka siap menikah, sering kali demi merekatkan

persekutuan antar keluarga.

“Jalan samurai dapat ditentukan dalam kematian”, demikian ditulis oleh Yamamoto

Tsunemoto, mantan pengikut marga Nabeshima. Pepatah sederhana ini yang sering dikutip atau

diungkapkan dalam karya – karya mengenai Jepang, menekankan konsep kewajiban para

samurai. Kematian di medan laga adalah ambisi yang terhormat. Pada pertarung kadang –

kadang terjun ke suatu pertempuran dengan menyadari bahwa kematian tidak terelakkan.

Ada sejumlah hal yang lebih buruk dibandingkan kematian, misalnya gagal melayani

tuannya dengan baik, atau membawa aib kepada diri sendiri. Jika terluka, seorang petarung pada

umumnya akan memilih bunuh diri daripada membiarkan dirinya ditawan atau dikalahkan oleh

rasa sakit sehingga harus mendapat malu. Samurai yang melakukan bunuh diri setelah kalah

perang tidak perlu mengalami rasa malu karena ditawan. Mereka beranggapan bahwa mereka

pastinya akan mati, jadi bunuh diri dipandang sebagai kematian dengan cara mereka sendiri,

dengan kehormatan yang tetap utuh.

Cara bunuh diri yang paling banyak dipilih ialah seppuku (切腹). Ini adalah pelafalah 2

aksara yang, jika dibalik, dibaca hara-kiri (腹切). Kanji seppuku terdiri dari kanji kiru (切) dan

hara (腹), dan kanji hara-kiri sebaliknya. Bagi sementara orang Jepang, istilah seppuku lebih

halus jika dibandingkan dengan hara-kiri.

Ada bentuk bunuh diri lain, yang dikecam banyak kalangan sebagai kematian sia – sia,

adalah jushi. Apabila seorang junjungan meninggal atau tewas di medan tempur, beberapa

(20)

Latarbelakang pemikiran mereka adalah bahwa mereka tidak mungkin melayani orang lain

sebaik mereka melayani almarhum junjungan mereka, dan bunuh diri dipandang sebagai wujud

pengabdian tertinggi.

Tetapi dengan bunuh diri, para pewaris menjadi kehilangan sejumlah pengikut berharga

yang terpercaya. Sehingga sejak Tokugawa Ieyasu mengeluarkan undang – undang yang

melarang para pengikut untuk bunuh diri, jumlah pelaku bunuh diri mulai berkurang. Karena

apabila dia sudah berkeluarga dan dia mengikuti junjungannya untuk bunuh diri, maka ancaman

aib dan kematian bagi seluruh keluarga.

Kaum perempuan melakukan bunuh diri dengan cara sendiri, yang dinamakan ojigi.

Mereka harus mengambil belati dan menusukkan ke dalam tergorokan, meskipun ada pula

catatan mengenai perempuan yang menghujamkan belati ke dada sendiri.

Perlu ditekankan bahwa kesetiaan yang fanatik seperti ini lazim bagi samurai yang lahir

dalam satu marga, atau yang keluarganya secara turun – temurun menjadi pengikut marga

(21)

BAB III

KAUM SAMURAI DI JEPANG

3.1 Jenis – Jenis Senjata

Para samurai Jepang pada zaman feudal dapat memilih beragam senjata. Meskipun

demikian terdapat empat senjata yang nampaknya paling disukai oleh para samurai, yaitu

pedang, busur, tombak, dan senapan.

 Pedang

Sejak zaman dahulu, ketika memakai baju tempur, seorang petarung membawa

pedang panjang (tachi) yang tergantung dari pinggang dengan posisi mata menghadap

ke bawah. Ia juga membawa pedang pendek (uchigatana) yang diselipkan ke kain

ikat pinggang dengan posisi mata menghadap ke atas.

Pedang Jepang terkenal di seluruh dunia karena kualitasnya. Bilahnya, satu

lapisan baja kuat dan keras diantara lapisan – lapisan yang lebih fleksibel, mungkin

merupakan alat potong non-bedah terbaik yang ada. Bilah pedang dibuat oleh

pembuat pedang kawakan yang dibantu oleh sejumlah pemagang. Pembuatan bilah

pedang merupakan proses panjang, dimana satu batang logam panas dilipat berukang

– ulang. Bilah pedang yang setengah jadi lalu diserahkan kepada tukang asah dan

tukang poles, sebelum dikembalikan kepada pembuat pedang untuk diberi rincian –

(22)

 Busur

Meskipun pedang menjadi simbol samurai, pada zaman kuno busurlah senjata

utama samurai. Itu merupakan pembalikan menarik konsep zaman pertengahan

bahwa busur merupakan senjata yang tidak pantas bagi golongan atas. Salah satu ciri

busur Jepang (yumi) yang panjangnya 2 meter lebih itu adalah pegangannya yang

bukan terletak ditengah – tengah. Busur Jepang terbuat dari inti kayu yang dilapisi

potongan bambu, dan selanjutnya diberi lapisan pernis dan lilitan rotan.

Tempat panah (utsubo) disandang dipinggang sebelah kanan dalam posisi miring,

sehingga batang panah menunjuk ke atas dibelakang si pemakai. Rancangan tempat

panah membuat pemanah harus memegang batang panah tepat di belakang mata

panah, panah ditarik ke atas sampai keluar dari tempat panah, lalu ke bawah dan

keluar.

 Tombak

Tombak (yari) digunakan sebagai senjata utama pasukan infanteri, dan bahkan

dipakai oleh petarung berkuda. Panjang yari bervariasi, meskipun ada banyak yang

melebihi dua setengah meter. Beberapa marga lebih menyukai tombak dengan ukuran

dan jenis tertentu.

Bentuk ujung tombak berbeda – beda, namun yang paling umum adalah ujung

baja yang berat dan panjang berpenampang segitiga. Selain itu terdapat ujung tombak

(23)

Yari tidak pernah dilontarkan, tombak digunakan murni sebagai senjata tangan.

Seorang anggota pasukan tombak hanya akan melepaskan senjatanya dan mencabut

pedang jika gagang tombaknya patah, tombaknya hilang, atau tidak tersedia ruang

gerak yang cukup.

 Senapan

Senapan lantak yang diperkenalkan orang Portugis pada tahun 1542 menjadi

terkenal dengan nama tanegashima (mengambil nama pulau tempat orang Portugis

mendarat dan pertama kali memamerkan senjata itu) atau teppo.

Senjata ini dengan cepat dipelajari oleh para pandai besi pembuat pedang, yang

melakukan beberapa modifikasi dan selanjutnya dengan amat cepat mampu

memproduksi senapan.

Meskipun senapan jelas – jelas punya potensi, banyak keluarga lama menganggap

senjata ini tidak patut bagi samurai.

3.2 Pelindung

 Helm

Kabuto (helm) adalah salah satu bagian baju tempur samurai yang paling mudah

dikenali. Para petarung ingin menonjol di tengah keramaian, dan penambahan hiasan

pada helm yang pada dasarnya berbentuk seragam atau standard merupakan cara

(24)

 Pelindung Tubuh

Baju tempur model lama bergantung di pundak, dan seluruh bobotnya ditanggung

oleh lempeng pelindung bahu. Sekitar tahun 1450, pelindung batang tubuh mulai

dibuat menyempit dibagian pinggang, tempat tali pengikatnya dapat dikencangkan.

Meskipun kehilangan sebagian keleluwesan, baju tempur model baru ini lebih

nyaman dikenakan. Model yang lebih merapat ke tubuh itu bertumpu pada pinggul,

dan dengan demikian menjadi dikenal dengan sebutan tachi do, atau pelindung batang

tubuh yang berdiri.

 Pelindung Lain

Ada berbagai jenis kote atau pelindung lengan. Tipe yang paling umum adalah

kote dengan belat. Jumlah belat berkisar antara tiga (lebar dan kadang – kadang tapi

tidak selalu tumpang-tindih) dan duapuluh lebih (sempit dan tumpang-tindih). Bentuk

belat mungkin rata (hirashino) atau agak cekung (kamisorishino).

3.3 Bertempur

Mengingat beratnya kondisi medan di Jepang yang bergunung – gunung serta tiadanya

alat bantu seperti kereta barang, bertempur dan memasok perbekalan ke kancah pertempuran

disana agaknya lebih sulit dibandingkan di tempat – tempat lain.

Makanan pokok bagi prajurit yang sedang berada di medan perang adalah beras, sama

seperti di rumah. Meskipun ransumnya sederhana, ia berusaha melengkapinya dengan apapun

(25)

mungkin ia akan membuat sup dari kaldu ikan ditambah dengan lalapan dan sayur apapun yang

dapat dikumpulkan. Selain itu juga selalu ada persediaan acar sayur – sayuran yang dibawa oleh

para pengangkut barang. Para prajurit menganggap daging babi, daging babi hutan, dan daging

kelinci sebagai makanan stamina yang membantu mereka menambah tenaga.

Para samurai harus puas dengan naungan apapun yang dapat mereka temukan. Para

jenderal dan bangsawan menggunakan kuil –kuil sebagai tempat menginap bagi diri mereka

beserta staf, sementara para pengawal, pelayan, dan prajurit biasa tidur di banguna sekitar, di

kandang, di bawah pohon, di rumah penduduk, atau di udara terbuka.

Demi mengurangi barang bawaan, baju tempur hampir selalu dikenakan. Operasi yang

panjang pada musim panas dengan cepat menjadi tidak nyaman, dan baju tempurpun menjadi

tempat bersarangnya kutu dan binatang pengganggu lainnya. Untuk mengatasi masalah itu, baju

tempur kadang – kadang digantung di atas api pembakaran kayu basah dan diasapi.

Mengingat kondisi medan kepulauan Jepang yang bergunung – gunung, kereta barang,

gerobak, bahkan kendaraan beroda jenis apapun nyaris tidak ditemui di luar daerah perkotaan.

Akibatnya, pengangkutan perbekalan dan perlengkapan menjadi tugas sejumlah besar kuda

beban, dan para samurai sendiri.

Pertarungan yang maju ke medan laga tidak hanya membawa senjata. Pada umumnya dia

membawa persediaan makanan, pakaian, perlengkapan, dan obat – obatan untuk dirinya sendiri,

di samping menjadi tenaga pengangkut perbekalan pasukan.

Orang – orang yang mengalami cedera terpaksa dirawat di medan laga, tidak ada cara

(26)

sedikit perawatan medis, harapan terbaik seseorang yang mengalami luka serius adalah ditarik

mundur dari pertempuran dan dibiarjan beristirahat di kuil atau rumah sampai membaik. Mereka

yang hanya terluka ringan harus menjalani pemulihan di medan laga bersama rekan – rekan

mereka.

Nyaris tidak ada perawatan medis professional, kecuali bagi kalangan atas. Akibatnya

muncul banyak cara pengobatan sederhana untuk mengatasi keluhan – keluhan yang umum

terjadi. Contohnya dengan menggunakan air seni sendiri. Air seni dipanaskan dan dioleskan

secara langsung kepada luka untuk mengurangi nyeri. Air seni juga berkhasiat sebagai penawar

racun tertentu jika diminum.

Selain itu, pasukan yang sedang bergerak sedapat mungkin di sumber – sumber air panas,

terutama sehabis bertempur, untuk memanfaatkan air panas yang diyakini dapat menyembuhkan

berbagai keluhan.

3.4 Pelatihan

Sebagian besar orang yang ikut dalam pertempuran berusia sekitar duapuluhan tahun. Di

samping para jenderal dan para pembesar, pasukan samurai rata – rata berusia muda. Jarang ada

prajurit bawahan yang mencapai usia cukup lanjut.

Latihan keprajuritan konvensional tidak mengikuti struktur baku yang dapat ditemui di

seluruh Jepang. Setiap marga memiliki metodologi dan falsafah tersendiri. Banyak marga

menugaskan prajurit tertentu sebagai guru kelompok, untuk mengajari pasukan baru yang lebih

(27)

Beberapa marga bahkan mengambil langkah lebih lanjut dengan secara resmi mendirikan

dojo, atau sekolah seni bela diri untuk melatih orang – orang mereka. Para veteran yang telah

mempunyai banyak pengalaman dalam pertempuran dan memiliki ketrampilan menonjol

bertindak sebagai pelatih. Mereka lebih menyerupai instruktur keprajuritan daripada guru seni

bela diri modern. Para sensei mengajarkan cara membunuh dan bertahan hidup kepada murid

mereka, bukan bagaimana mencetak angka dengan penuh gaya. Karena tujuan pelatihan adalah

trik dan strategi untuk digunakan dalam rangka mengalahkan musuh, bukan untuk ketentraman

hati dan pengendalian diri.

Seni pelatihan samurai pada masa sekarang ini, banyak yang dijadikan sebagai seni

olahraga. Salah satu contohnya adalah gulat. Gulat dengan menggunakan baju tempur lengkap

sangat berbeda dengan gulat biasa, dan perlu dilatih. Teknik – teknik terkait meliputi menyergap

dan menarik penunggang kuda sampai terjatuh ketika berpapasan dengannya.

Suatu ciri menarik pada pelatihan di Jepang adalah bahwa meskipun terdapat penekanan

yang kuat pada aspek latihan formal, perhatian besar juga diberikan pada hal – hal abstrak.

Beberapa marga menganggap penting pelatihan akal-budi, sehingga merekomendasikan

permainan menyerupai catur semacam go dan shogi untuk melatih akal-budi dalam hal taktik dan

strategi.

Bagi samurai kelas bawah dan para ashiguri, pelatihan taktik dan strategi dipandang sia –

sia, jadi mereka tidak mempelajari permainan – permainan itu secara formal. Orang – orang dari

kalangan berpangkat yang mendalami kedua permainan ini sering kali melakukannya karena

(28)

yang mengasyikkan, dan kadang – kadang sebagai sumber penghasilan tambahan jika mereka

(29)

BAB IV

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

1. Samurai adalah prajurit dari Jepang yang memiliki kebanggaan tinggi di mata

masyarakat, namun ada juga samurai yang menjadi bawahan atau disebut dengan

ashigaru.

2. Samurai memiliki pakaian dan perlengkapan sendiri pada saat perang. Mereka

memiliki pelindung untuk masing – masing anggota tubuh. Hal ini untuk

mengurangi luka akibat serangan dari lawan.

3. Samurai memiliki tugas penting untuk turun dalam perang dan mempertahankan

harga diri marganya, untuk mempertahankan harga diri marganya mereka rela

untuk bunuh diri daripada harus ditaklukkan oleh marga lain.

4.2 Saran

1. Sebaiknya mahasiswa Bahasa Jepang juga mengetahui mengenai kaum samurai

di Jepang.

2. Dengan kita mempelajari sejarah pemerintahan Jepang, kita bisa mengetahui

sistem pemerintahan yang pernah digunakan kekaisaran untuk memerintah Jepang

(30)

DAFTAR PUSTAKA

Bryant, Anthony J. 1994. SAMURAI 1550-1600. Jakarta ; PT Gramedia.

Situmorang, Hamzon. 2009. Ilmu Kejepangan 1 Edisi Revisi. Medan ; USU Press.

Situmorang, Hamzon. 1995. Perubahan Kesetiaan Bushi Zaman Edo. Medan ; USU Press.

Elmatera, Tim. 2010. Warisan Budaya Dunia. Yogyakarta ; Elmatera Publishing.

Referensi

Dokumen terkait

rahmat dan ridhoNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Kesetiaan Samurai Dalam Novel Kaze Karya Dale Furutani, ini diajukan untuk memenuhi persyaratan

Dari cuplikan di atas terdapat indeksikal dari moralitas bushido, yaitu hal yang dilakukan oleh samurai kepada tuan mereka untuk mengawal dan menjaga Genji ketika

Sedangkan pengetahuan rasional tentang Kebudayaan Jepang mayoritas di peroleh Mahasiswa FISIP USU setelah membaca Komik Doraemon dan Kyo Samurai Deeper X diperoleh dari pesan yang

Novel “Samurai Kazegatana” karya Ichirou Yukiyama merupakan novel yang menyampaikan bagaimana seharusnya hubungan antara atasan yang merupakan saudagar kaya dengan bawahan

Kesungguhan para pekerja Jepang pada pekerjaan mereka menjadikan organisasi mereka dapat bersaing dengan bangsa lain dan mampu menyamai perusahaan Barat yang

Dari cuplikan di atas terdapat indeksikal dari moralitas bushido, yaitu hal yang dilakukan oleh samurai kepada tuan mereka untuk mengawal dan menjaga Genji ketika

Sepuluh orang samurai sangat senang karena pada akhirnya diperintahkan oleh guru mereka untuk menjalankan misi yang bertujuan untuk menghapuskan perang, namun ternyata tidak

Kendala yang mereka temukan diantaranya adalah tidak dapat tersampaikannya materi praktik dengan baik dikarenakan para mahasiswa tidak bisa secara langsung untuk memegang alat peraga