PENERAPAN E-PROCUREMENT PADA SISTEM PELAYANAN PUBLIK MENUJU GOOD CORPORATE GOVERNANCE
PADA PT. PLN WILAYAH SUMATERA UTARA
SKRIPSI DISUSUN OLEH:
AHMAD ZURIH 040903010
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan segenap puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengisi hidup dan menjalani nya dengan amal dan usaha sehingga menjadikan hidup dan kehidupan kita pada masa kini dan masa mendatang penuh nilai dan arti.
Tak lupa syalawat beserta salam tercurah buat junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah mengorbankan jiwa dan raga nya demi tegak nya akhlakul kharimah di alam jagat raya ini dan sebagai suri tauladan bagi seluruh umat manusia di dunia.
Tak lupa terima kasih sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Bang M. Hatta Ridho S.sos, M.SP selaku dosen pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran nya untuk membantu, membimbing dan mengarahkan penulis dengan sabar sampai dengan selesai nya skripsi penulis yang berjudul: “Penerapan E-Procurement Pada Sistem Pelayanan Publik Menuju Good Corporate Governance Pada PT. PLN Wilayah Sumatera Utara” yang dapat diselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung, dan memberikan motivasi baik bersifat material maupun spiritual terutama yakni kepada:
1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Medan
2. Bapak Drs. Marlon Sihombing, MA selaku Ketua Departemn Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
3. Ibu Dra. Betti Nasution M.si selaku Sekertaris Departemen Ilmu Administrasi Negara 4. Kak Mega dan Kak Emi, selaku staff administrasi di Departemen Ilmu Administrasi
Negara yang telah memberikan informasi dan membantu kelancaran administrasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Buat Ayahanda M.Hasyim dan Ibunda Sumiati tercinta. Kasih sayang mu tiada bertepi dan hingga sepanjang masa. Terima kasih atas pengorbanan dan kerja keras mu, yang engkau lakukan demi kebahagian anak mu ini. Anak mu ini hanya mampu berdo’a agar ayahanda dan ibunda mendapatkan rahmat dan karunia serta lindungan dari Allah SWT.
6. Buat abanganda tercinta Muhammad Muhsin serta adinda Ahmad Adnan Wira dan Wina Naharia, jangan biarkan harimu berlalu tanpa arti, persiapkan diri untuk menyambut hari yang lebih ceria. Motivasi yang engkau berikan akan menjadi kenangan manis dalam hidupku.
waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu memberikan data-data terhadap penyelesaian skripsi ini.
8. Kepada Ibu Agustina di bidang Perencanaan Kepegawaian dan juga Ibu Rini di bidang Sekertariat PT. PLN Wilayah Sumatera Utara yang selama ini telah membantu saya dalam memperlancar jalan menuju kesuksesan yang sangat bernilai ini.
9. Kepada kawan-kawan seperjuangan, Debi Chandra, terima kasih banyak atas dukungan formil dan materil yang engkau berikan yang sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Dodo, Akbar, Arfan, Fauji, Asfar, Royan, Wan Hasri, Indra, Ipul, Rajab, terima kasih atas motivasi dan dukungan nya. Meita, terima kasih mau membantu pas seminar kemarin. Silvi, Monique, Leni, Rizka, terima kasih bantuan dan dukungan nya, kapan kalian nyusul. Dan buat seluruh anak Administrasi Negara stambuk 04, semoga kita tetap ketemu walaupun semuanya sudah jadi alumni.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulis sendiri Tak Ada Gading Yang Tak Retak, sebagai manusia biasa penulis tak luput dari kekhilafan dan kekurangan. Kepada pembaca semua, penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan skripsi ini dan kepada Allah SWT, penulis mohon ampun. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
Medan, Desember 2007 Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR………...i
DAFTAR ISI………..iv
DAFTAR TABEL………..viii
DAFTAR LAMPIRAN………..x
ABSTRAK……….xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah……….1
1.2Perumusan Masalah………6
1.3Tujuan Penelitian………7
1.4Manfaat Penelitian………..7
1.5Kerangka Teori………...8
1.5.1 E-Procurement………....8
1.5.1.1 Pengertian E-Procurement……….8
1.5.1.2 Keanggotaan dan Persyaratan E-Procurement………...9
1.5.1.3 Tanggung Jawab Penggunaan ID Login….………...10
1.5.1.4 Manfaat E-Pocurement………..11
1.5.1.5 Tujuan E-Procurement………...12
1.5.1.7Tata Cara Pengadaan Barang / Jasa.………...14
1.5.1.8 Pembatalan / Pemutusan………16
1.5.1.9 Penilaian………17
1.5.2 Badan Usaha Milik Negara………18
1.5.2.1 Pengertian Dan Peranan BUMN….………..18
1.5.2.2 Latar Belakang Berdirinya BUMN………...20
1.5.2.3 BUMN Sebagai Strategic Bussiness Unit……….…....21
1.5.3 Sistem Pelayanan Publik………23
1.5.4 Good Corporate Governance………..26
1.6Defenisi Konsep……….32
1.7Defenisi Operasional………..33
1.8Sistematika Penulisan……….36
BAB II METODE PENELITIAN 2.1 Bentuk Penelitian………..38
2.2 Lokasi Penelitian………...38
2.3 Populasi dan Sampel……….38
2.4 Teknik Pengumpulan Data………39
2.4.1 Pengumpulan Data Primer………40
2.4.2 Pengumpulan Data Sekunder………40
BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
3.1 Sejarah Singkat PT PLN Wilayah Sumatera Utara……….42
3.1.1 Sebelum Kemerdekaan Sampai Tahun 1965……….42
3.1.2 Dari Eksploitasi I Sampai Wilayah II………....43
3.1.3 Dari Perum Menjadi Persero………..44
3.14 Pemisahan Wilayah Dan Pembangkitan & Penyaluran………..45
3.2 Visi dan Misi Perusahaan………45
3.2.1 Visi……….45
3.2.2 Misi………46
3.3 Lingkup Perusahaan………46
3.4 Ruang Lingkup Usaha Diluar Pokok Perusahaan………...47
3.5 Philosofi Perusahaan………...47
3.6 Struktur Perusahaan………48
BAB IV PENYAJIAN DATA 4.1 Ketentuan Tentang Responden Penelitian………..58
4.2 Identitas Responden Pegawai PT.PLN ( Persero ) Wilayah SUMUT……....60
4.3 Identitas Responden Karyawan Perusahaan Pengadaan Barang/ Jasa ...…..72
BAB V ANALISIS DATA 5.1 Ketentuan Tentang Responden Penelitian………...79
5.3 Peranan Para Pegawai Dalam Menjalankan Program E-Pocurement PT.PLN Wilayah Sumatera Utara………...83
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan……….88 6.2 Saran………89
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
4.1 Klasifikasi Resonden Penelitian………...58
4.2 Identitas Responden Pegawai PLN Menurut Jenis Kelamin………60
4.3 Identitas Responden Pegawai PLN Menurut Tingkat Umur………....60
4.4 Identitas Responden Pegawai PLN Menurut Tingkat Pendidikan………...61
4.5 Jawaban Responden Tentang Pemahaman Fungsi Dari Program E-Procurement...62
4.6 Jawaban Responden Tentang Pelaksanaan Program E-Procurement………...63
4.7 Jawaban Responden Tentang Kondisi Sarana&Prasarana Dalam E-Procurement...63
4.8 Jawaban Responden Tentang Kemudahan Dalam Memberikan Pelayanan……….64
4.9 Jawaban Responden Tentang Sesuai Atau Tidaknya Program E-Procurement Tersebut Terhadap Aspirasi Masyarakat………..65
4.10 Jawaban Responden Tentang Ada Tidaknya Anggaran……….66
4.11 Jawaban Responden Tentang Cukup Tidaknya Anggaran………. 66
4.12 Jawaban Responden Tentang Cukup Tidaknya Anggaran Mendukung Tugas…...67
4.13 Jawaban Responden Tentang Pemahaman Akan Fungsi, Tugas Dan Kewajiban Seorang Pegawai……….68
4.14 Jawaban Responden Tentang Sosialisasi Program E-Pocurement………68
4.15 Jawaban Responden Tentang Penyuluhan Terhadap Pelayanan Yang Diberikan..69
4.16 Jawaban Responden Tentang Informasi Pemadaman Listrik………70
4.18 Identitas Responden Karyawan Perusahaan Bidang Pengadaan Barang /Jasa Berdasarkan Jenis Kelamin………..72 4.19 Identitas Responden Karyawan Perusahaan Bidang Pengadaan Barang /Jasa
Menurut Tingkat Umur...73 4.20 Identitas Responden Karyawan Perusahaan Bidang Pengadaan Barang /Jasa
Berdasarkan Tingkat Pendidikan...73 4.21 Jawaban Responden Mengenai Tahu Tidaknya Penerapan Program E-Pocurement
PT.PLN ( Persero ) Wilayah Sumatera Utara...74 4.22 Jawaban Responden Tentang Merasakan Tidaknya Manfaat Penerapan Program
E-Pocurement ...75 4.23 Jawaban Responden Tentang Lama Tidaknya Proses Tender Melalui Program
E-Pocurement...76 4.24 Jawaban Responden Tentang Baik Tidaknya Program E-Pocurement...76 4.25 Jawaban Responden Tentang Ada Tidaknya Data-Data Terbaru Program
E-Pocurement ...77 4.26 Jawaban Responden Tentang Tahu Tidaknya Cara Mengakses Website Program
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat permohonan judul
2. Surat penunjukan dosen pembimbing
3. Undangan seminar proposal usulan penelitian skripsi 4. Jadwal seminar proposal usulan penelitian skripsi 5. Berita acara seminar rencana usulan penelitian 6. Daftar hadir peserta seminar proposal
7. Surat izin permohonan penelitian dari PT. PLN Wilayah Sumatera Utara 8. Daftar kuesioner
9. Daftar wawancara
10.Struktur organisasi PT.PLN ( Persero ) Wilayah Sumatera Utara
ABSTRAKSI
PENERAPAN E-PROCUREMENT PADA SISTEM PELAYANAN PUBLIK MENUJU GOOD CORPORATE GOVERNANCE
PADA PT. PLN WILAYAH SUMATERA UTARA
Nama : Ahmad Zurih NIM : 040903010
Departemen : Ilmu Administrasi Negara Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara Pembimbing : M. Hatta Ridho S.sos, M.SP
Setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997 yang lalu, banyak masyarakat yang menuntut agar dilakukannya reformasi ditubuh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) kepada pemerintah, menuntut agar BUMN kembali kepada tujuan utama nya yang tercantum pada UUD 1945 Pasal 33 yaitu sebagai perwakilan pemerintah dalam melayani kebutuhan utama publik yang menguasai hajat hidup orang banyak baik secara tingkat nasional maupun daerah dan juga menuntut agar dilakukannya transparansi didalam pengelolaan keuangan perusahaan serta dalam hal tender proyek pengadaan barang dan jasa perusahaan.
Oleh sebab itu, berdasarkan tuntutan masyarakat tersebut, Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) Wilayah Sumatera Utara sebagai salah satu BUMN di Indonesia menerapkan program e-procurement dalam sistem pelayanan publik. Adapun yang menjadi dasar hukum dari penerapan program e-procurement tersebut adalah Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah. Akan tetapi setelah program e-procurement tersebut diterapkan oleh PT.PLN Wilayah Sumatera Utara, banyak nya masyarakat yang tidak mengetahui kalau program tersebut diterapkan. Padahal, program tersebut sangat berguna sekali bagi masyarakat dan juga stakeholders lainnya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai perusahaan baik mengenai informasi sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, profil perusahaan maupun informasi lainnya
Hal ini sangat membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif agar dapat diketahui apa penyebab banyak nya masyarakat dan juga stakeholders lainnya tidak mengetahui program tersebut.
PERSEMBAHAN
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat ( Q.S.Al-Mudjadallah : 11 )
Melangkah maju mendobrak rintangan Segudang persoalan menanti pemecahan
Bimbang dan ragu menunda keputusan Ilmu dan pengalaman penentu ketegasan
Hamba mengucapkan syukur yang dalam atas kehadiratMu ya Allah
Atas karuniaMu lah hamba bisa seperti ini
Kupersembahkan skripsi ini kepada
Ayahanda M.Hasyim dan Ibunda Sumiati tercinta Engkau bersimbah keringat dan air mata
Demi anakmu bisa sekolah
Serta abanganda dan adinda tersayang Jangan biarkan hidup mu berlalu tanpa arti
ABSTRAKSI
PENERAPAN E-PROCUREMENT PADA SISTEM PELAYANAN PUBLIK MENUJU GOOD CORPORATE GOVERNANCE
PADA PT. PLN WILAYAH SUMATERA UTARA
Nama : Ahmad Zurih
NIM : 040903010
Departemen : Ilmu Administrasi Negara
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara
Pembimbing : M. Hatta Ridho S.sos, M.SP
Setelah terjadi nya krisis ekonomi pada tahun 1997 yang lalu, banyak masyarakat yang menuntut agar dilakukan nya reformasi ditubuh BUMN ( Badan Usaha Milik Negara ) kepada pemerintah, menuntut agar BUMN kembali kepada tujuan utama nya yang tercantum pada UUD 1945 Pasal 33 yaitu sebagai perwakilan pemerintah dalam melayani kebutuhan utama publik yang menguasai hajat hidup orang banyak baik secara tingkat nasional maupun daerah dan juga menuntut agar dilakukan nya transparansi didalam pengelolaan keuangan perusahaan serta dalam hal tender proyek pengadaan barang dan jasa perusahaan.
Oleh sebab itu, berdasarkan tuntutan masyarakat tersebut, Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) Wilayah Sumatera Utara sebagai salah satu BUMN di Indonesia menerapkan program e-procurement dalam sistem pelayanan publik. Adapun yang menjadi dasar hukum dari penerapan program e-procurement tersebut adalah Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah. Akan tetapi setelah program e-procurement tersebut diterapkan oleh PT.PLN Wilayah Sumatera Utara, banyak nya masyarakat yang tidak mengetahui kalau program tersebut diterapkan. Padahal, program tersebut sangat berguna sekali bagi masyarakat dan juga stakeholders lainnya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai perusahaan baik mengenai informasi sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, profil perusahaan maupun informasi lainnya
Hal ini sangat membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif agar dapat diketahui apa penyebab banyak nya masyarakat dan juga stakeholders lainnya tidak mengetahui program tersebut.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan didepan penguji skripsi Departemen Ilmu
Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara;
Nama : Ahmad Zurih
NIM : 040903010
Departemen : Ilmu Administrasi Negara
Judul : Penerapan E-Procurement Pada Sistem Pelayanan Publik Menuju Good
Corporate Governance Pada PT. PLN Wilayah Sumatera Utara
Hari :
Tanggal :
Pukul : 10.00 WIB
Tempat : Ruang Sidang FISIP USU
Tim Penguji:
Ketua : (……….)
NIP:
Anggota I : (……….)
NIP:
Anggota II : (………..)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Ahmad Zurih
NIM : 040903010
Departemen : Ilmu Administrasi Negara
Judul : Penerapan E-Procurement Pada Sistem Pelayanan Publik Menuju Good
Corporate Governance Pada PT. PLN Wilayah Sumatera Utara
Medan, Februari 2008
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Ilmu Administrasi Negara
M. Hatta Ridho S.sos, M.SP Drs. Marlon Sihombing, MA
NIP: 132 316 817 NIP: 131 568 391
DEKAN FISIP USU MEDAN
Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA
ABSTRAKSI
PENERAPAN E-PROCUREMENT PADA SISTEM PELAYANAN PUBLIK MENUJU GOOD CORPORATE GOVERNANCE
PADA PT. PLN WILAYAH SUMATERA UTARA
Nama : Ahmad Zurih NIM : 040903010
Departemen : Ilmu Administrasi Negara Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara Pembimbing : M. Hatta Ridho S.sos, M.SP
Setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997 yang lalu, banyak masyarakat yang menuntut agar dilakukannya reformasi ditubuh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) kepada pemerintah, menuntut agar BUMN kembali kepada tujuan utama nya yang tercantum pada UUD 1945 Pasal 33 yaitu sebagai perwakilan pemerintah dalam melayani kebutuhan utama publik yang menguasai hajat hidup orang banyak baik secara tingkat nasional maupun daerah dan juga menuntut agar dilakukannya transparansi didalam pengelolaan keuangan perusahaan serta dalam hal tender proyek pengadaan barang dan jasa perusahaan.
Oleh sebab itu, berdasarkan tuntutan masyarakat tersebut, Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) Wilayah Sumatera Utara sebagai salah satu BUMN di Indonesia menerapkan program e-procurement dalam sistem pelayanan publik. Adapun yang menjadi dasar hukum dari penerapan program e-procurement tersebut adalah Keputusan Presiden No.80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah. Akan tetapi setelah program e-procurement tersebut diterapkan oleh PT.PLN Wilayah Sumatera Utara, banyak nya masyarakat yang tidak mengetahui kalau program tersebut diterapkan. Padahal, program tersebut sangat berguna sekali bagi masyarakat dan juga stakeholders lainnya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai perusahaan baik mengenai informasi sejarah perusahaan, visi dan misi perusahaan, profil perusahaan maupun informasi lainnya
Hal ini sangat membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif agar dapat diketahui apa penyebab banyak nya masyarakat dan juga stakeholders lainnya tidak mengetahui program tersebut.
BAB I
PENDAHULUAN .1 Latar belakang
BUMN sebagai unit ekonomi milik negara merupakan sektor yang penting
peranan nya dalam membantu pemerintah mengimplementasikan kebijakan
pembangunan yang telah digariskan dalam tujuan nasional bangsa Indonesia yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu untuk menciptakan masyarakat yang adil
dan makmur. Pembangunan disegala bidang yang dilakukan oleh pemerintah dalam
upaya menuju kemajuan dan kemakmuran bangsa yang berorientasi pada peningkatan
kualitas dan sumber daya manusia ( SDM ) Indonesia yang tercermin dalam
produktivitas nasional.
BUMN didalam konteks perekonomian Indonesia mempunyai tempat penting,
bukan saja eksistensinya hanya sebatas pengelolaan sumber daya dan produksi barang
yang meliputi hajat hidup orang banyak, tetapi juga berbagai kegiatan investasi untuk
produksi barang dan jasa yang tidak menarik atau terlalu besar untuk dapat dilakukan
oleh pihak swasta.
Didalam pasal 33 ayat 2 UUD 1945 ditetapkan bahwa cabang-cabang produksi
yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh
negara. Pasal 33 UUD 1945 tersebutlah yang menjadi dasar bagi Indonesia untuk
membangun BUMN dimana BUMN tersebut merupakan perwakilan pemerintah dalam
melayani kebutuhan utama publik baik secara tingkat nasional maupun daerah.
Indonesia yang masih berada dalam situasi paska krisis ekonomi ( 1997-2000 )
globalisasi yang akan hadir pada tahun 2015 mulai berupaya untuk menghidupkan
kegiatan perekonomian nasional dengan salah satu upayanya adalah dengan
mengefektifkan kembali kinerja BUMN. Pasal 33 UUD 1945 tersebut kemudian
menggiring Indonesia untuk melakukan alternatif pembangunan perekonomian yang
salah satu upaya yang ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menghidupkan kembali
sector ekonomi yang berasal dari perusahaan negara ( BUMN ) yang menguasai alam
Indonesia yang kaya.
Berdasarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, BUMN
merupakan Badan Usaha Milik Negara yang sebagian besar modal perusahaan nya
berasal dari kekayaan negara, mempunyai peranan sebagai sumber pendapatan devisa
negara dan juga untuk memproduksi berbagai barang dan jasa kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan undang-undang tersebut dapat dilihat bahwa BUMN sebagai institusi milik
pemerintah menjadi alat vital yang efektif bagi pembangunan nasional.
Kenyataan, bahwa BUMN tidak hanya berperan sebagai usaha bisnis semata-mata
yang tujuannya bukan hanya untuk mencari keuntungan, akan tetapi juga merupakan
bagian dari aparatur negara yang bertujuan memberikan pelayanan kepada publik, sering
kali menyebabkan bahwa BUMN menjadi birokratis dan kehilangan keluwesan serta
kegesitan usaha yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan bisnis. Dan juga banyak nya
patologi didalam tubuh BUMN menyebabkan prestasi BUMN sebagai usaha bisnis yang
kurang memuaskan, malahan harus menderita rugi sehingga harus diberikan subsidi oleh
pemerintah.
Kondisi tersebut menyebabkan tidak adanya transparansi dalam setiap kegiatan
Hal ini tentu tidak wajar, mengingat BUMN sesuai dengan jiwa UUD 1945 Pasal 33
menjadi perusahaan negara yang menguasai hajat hidup orang banyak dengan tanpa
pesaing, tentunya akan sangat jauh dari kata “rugi”.
Namun seiring dengan adanya reformasi, banyaknya tuntunan dari masyarakat
agar adanya transparansi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap
perusahaan-perusahaan milik negara yang ada di Indonesia baik Badan Usaha Milik Negara maupun
Badan Usaha Milik Daerah dalam hal pengelolaan keuangan perusahaan dan juga dalam
hal melakukan tender proyek pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan.
Tuntutan yang timbul dari masyarakat ini, menginginkan terwujudnya perusahaan negara
yang mampu mendukung kelancaran dan keterpaduan terlaksanaan tugas dan fungsi
penyelenggaraan pemerintahan negara dan juga pembangunan yang sesuai dengan
prinsip-prinsip good corporate gonernance.
E-Procurement merupakan salah satu contoh e-government yang diterapkan oleh
salah satu BUMN di Indonesia yaitu Perusahaan Listrik Negara ( PLN ) Wilayah
SUMUT. E-Procurement diterapkan karena berawal dari ketidakadaan transaparansi di
dalam tubuh BUMN dalam hal pengelolaan keuangan perusahaan dan dalam hal
melakukan tender proyek pengadaan barang dan jasa, tingkat kemajuan teknologi
informasi yang semakin canggih, serta berawal dari tuntutan kesiapan BUMN terhadap
perkembangan era perdagangan bebas yang akan dilakukan pada tahun 2015.nanti
Jenis e-procurement ini merupakan implementasi e-government pada BUMN
dimana melalui aplikasi e-procurement rangkaian proses tender proyek-proyek
pemerintah dapat dilakukan secara online melalui internet dan juga dalam penerapan
melibatkan sejumlah sumber daya yang besar, dalam hal ini menyangkut ketersediaan
modal dan juga kemampuan / keahlian yang dimiliki oleh para pegawai dalam menguasai
komputer dan juga internet.
Di dalam e-procurement ini yang terjadi adalah sebuah komunikasi dua arah,
dimana pemerintah mempublikasikan berbagai data dan informasi yang dimilikinya
seperti dalam hal pelelangan atau tender barang untuk dapat secara langsung dan bebas
diakses oleh masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan melalui internet.
Biasanya kanal akses yang dipergunakan adalah komputer atau handphone
melalui medium internet, dimana alat-alat tersebut dapat dipergunakan untuk mengakses
situs ( website ) departemen atau divisi terkait yang ada didalam perusahaan, kemudian
user dapat melakukan browsing ( melalui link yang ada ) terhadap data atau informasi
yang dibutuhkan.
Secara umum istilah governance lebih ditujukan untuk sistem pengendalian dan
pengaturan perusahaan, dalam arti lebih ditujukan pada tindakan yang dilakukan oleh
eksekutif perusahaan agar tidak merugikan para stakeholder. Good corporate governance
menyangkut tentang konsep moralitas, etika kerja, dan prinsip-prinsip kerja yang baik
yang harus dilakukan oleh para eksekutif perusahaan dalam mengambil kebijakan dan
keputusan.
Corporate governance yang buruk disinyalir sebagai salah satu sebab terjadinya
krisis ekonomi dan krisis politik di Indonesia pada tahun 1997 yang lalu
(www.kompas.com, 22 Oktober 2007, Dengan judul artikel: Good Corporate
Governance Sebuah Keharusan). Mulai saat itulah tata kelola perusahaan yang baik
perusahaan-perusahaan di Indonesia yang disebabkan oleh tidak patuhnya manajemen perusahaan-perusahaan
terhadap prinsip-prinsip good corporate governance tersebut dimana hal ini ditandai
dengan kurang transparan nya pengelolaan perusahaan sehingga kontrol publik menjadi
sangat lemah, konglomerat yang tidak baik dalam menjalankan usaha dimana hal tersebut
dapat dilihat dengan terkonsentrasi nya pemegang saham besar pada beberapa keluarga
konglomerat yang menyebabkan campur tangan pemegang saham mayoritas pada
manajemen perusahaan yang sangat terasa serta menimbulkan konflik kepentingan yang
sangat menyimpang dari norma-norma tata kelola perusahaan yang baik, dan juga
pemerintah yang penuh dengan patologi KKN ( Kolusi, Korupsi dan Nepotisme ) yang
sangat kronis.
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan rendahnya tingkat stabilitas
keamanan dalam negeri dan tidak berfungsinya aparat penegak hukum menjadikan
investasi jangka panjang yang ikut menggerakkan sektor riil mulai meninggalkan
Indonesia dan memindahkan perusahaannya ke beberapa negara tetangga. Indonesia
sudah tidak dianggap lagi sebagai negara yang kompetitif untuk investasi jangka panjang.
Ini tentu saja semakin menambah jumlah pengangguran dan mengganggu kinerja ekspor
negara kita.
Oleh sebab itu, untuk menyehatkan perekonomian Indonesia kembali maka
seluruh elemen masyarakat dan juga para stakeholder lainnya menutut agar segera
menerapkan prinsip good corporate governance ini dalam perusahaan-perusahaan di
Indonesia secara efektif agar kejadian krisis ekonomi dan krisis politik tidak kembali lagi
Penerapan tata kelola perusahaan yang baik memberikan banyak sekali
keuntungan bagi perusahaan itu sendiri dan masyarakat, tumbuhnya kepercayaan investor
memberi peluang akses sumber pendanaan yang murah dan berkembangnya pasar modal
kita, menguatnya kepercayaan lembaga keuangan domestik maupun internasional
memberi peluang akses kredit dengan bunga yang kompetitif, kontrol yang efektif
mengurangi kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Bersihnya perusahaan dari praktik-praktik korupsi memungkinkan perusahaan untuk
beroperasi secara efisien dan menghasilkan produk-produk yang mampu bersaing di
pasar global, yang pada gilirannya mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dan
berkesinambungan.
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan diatas, maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian dan menuangkannya dalam bentuk skripsi dengan judul
“Penerapan E-Procurement Pada Sistem Pelayanan Publik Menuju Good Corporate Governance Pada PT.PLN Wilayah Sumatera Utara”.
.2 Perumusan Masalah
Untuk mempermudah penelitian ini nantinya dan agar penelitian ini memiliki arah
yang jelas dalam menginterpretasikan fakta dan data kedalam penulisan skripsi, maka
terlebih dahulu dirumuskan permasalahan yang akan diteliti.
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah diatas, maka dapat dikemukakan
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana Penerapan E-Procurement
Pada Sistem Pelayanan Publik Menuju BUMN Yang Good Corporate Governance (Studi
.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui sudah sejauh mana penerapan e-procurement dalam sistem
pelayanan publik pada PT. PLN Wilayah Sumatera Utara
2. Untuk mengetahui tingkat kesiapan sumber daya manusia para pegawai PT.PLN
Wilayah Sumatera Utara setelah diterapkan nya e-procurement
3. Untuk mengetahui pola kerjasama yang dibina oleh PT.PLN Wilayah Sumatera
Utara dalam rangka menuju BUMN yang good corporate governance.
.4 Manfaat Penelitian
Adapun yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan bagi
penulis dan pembaca tentang teori e-government ( melalui e-procurement ),
sistem pelayanan publik, dan good corporate governance.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan untuk sebagai bahan masukan atau
referensi bagi PT.PLN dalam menerapkan e-procurement pada sistem pelayanan
publik menuju BUMN yang good corporate governance
3. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmiah
dan keputusan baru dalam penelitian-penelitian ilmu sosial khususnya bagi
.5 Kerangka Teori
Seperti yang dikemukakan oleh Nawawi Hadari ( 1992:149 ) dalam suatu studi
penelitian perlu ada kejelasan titik tolak atau landasan berfikir untuk memecahkan dan
membahas masalah. Untuk itu perlu disusun suatu kerangka teori sebagai pedoman yang
menggambarkan dari mana sudut masalah tersebut disorot.
Menurut Singarimbun ( 1989:149 ), teori diartikan sebagai serangkaian konsep,
defenisi, preposisi yang saling berkaitan dan bertujuan memberikan gambaran yang
sistematis tentang suatu fenomena.
Adapun yang menjadi kerangka dasar dalam penelitian ini adalah:
.5.1 E-Procurement
.5.1.1 Pengertian E-Procurement
E-Procurement adalah sarana aplikasi berbasis web untuk melakukan
proses pengadaan barang atau jasa pemborongan atau jasa lain nya
dilingkungan PT PLN ( Persero ) secara online.
Setiap anggota / peserta yang ingin ikut dalam pengadaan harus
mempunyai ID Login yaitu berupa User ID dan Password yang dibuat sendiri
dan ter-registrasi di e-procurement PT PLN. ID Login yang masih aktif dapat
digunakan oleh anggota / peserta untuk mengikuti pelelangan umum atau
e-Auction melalui e-procurement PT PLN ( Persero ) di seluruh Indonesia.
Adapun yang menjadi penyedia barang / jasa pemborongan / jasa
lainnya adalah badan usaha, badan hukum, maupun perorangan yang kegiatan
Anggota / peserta wajib menandatangani diatas materai dan diberi cap
perusahaan yaitu Surat Pernyataan untuk mengikuti proses pengadaan barang /
jasa dengan cara e-Bidding atau e-Auction melalui e-procurement PLN (
terlampir ) dan diserahkan ke PLN sebelum pelaksanaan pengadaan.
.5.1.2 Keanggotaan dan Persyaratan
A. Keanggotaan
1. Penyedia barang / jasa pemborongan / jasa lainnya untuk menjadi anggota
/ peserta situs e-procurement PLN harus melakukan pendaftaran dan
mengisi data perusahaan dengan benar dan akurat melalui situs
e-procurement.
2. Setiap peneyedia barang / jasa lainnya hanya diperbolehkan memiliki 1
(satu) ID Login ( account ID )
3. Anggota / peserta wajib memelihara, memperbaharui data nya sesuai
kondisi terakhir dan harus mengikuti ketentuan.
4. Keanggotaan akan berakhir apabila:
a. Anggota / peserta mengundurkan diri dengan cara mengirim e-mail
kepada Unit PLN setempat ( dimana anggota / peserta terdaftar ) atau
secara tertulis dan mendapatkan e-mail konfirmasi atau balasan tertulis
atas pencabutan keanggotaan nya.
b. Anggota / peserta dicabut keanggotaan nya secara sepihak oleh PT
PLN karena dianggap telah melanggar ketentuan yang telah ditetapkan
c. Apabila anggota / peserta memiliki catatan performance ( track record
) yang buruk berdasar penilaian PLN.
B. Persyaratan
1. Anggota / peserta wajib menyetujui bahwa transaksi melalui situs
e-procurement PLN tidak boleh melanggar ketentuan yang berlaku di PT
PLN (Persero) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia.
2. Anggota / peserta wajib tunduk dan taat pada semua peraturan yang
berlaku di Indonesia yang berhubungan dengan penggunaan jaringan dan
komunikasi data baik diwilayah Indonesia maupun dari dan keluar
wilayah Indonesia melalui situs ini
3. Anggota / peserta bertanggung jawab penuh atas isi transaksi (content of
data) melalui situs e-procurement PLN
4. Anggota / peserta dilarang saling menggangu proses transaksi atau
pelayanan melalui situs e-procurement PLN
5. Anggota / peserta setuju bahwa usaha untuk memanipulasi data,
mengacaukan sistem computer dan jaringan adalah tindakan melanggar
hukum.
.5.1.3 Tanggung Jawab Penggunaan ID Login
1. Anggota / peserta bertanggung jawab penuh atas kerahasiaan, keamanan dan
penyalahgunaan dari ID Login ( user-id dan password ) milik nya dan semua
2. Anggota / peserta diwajibkan untuk mengganti password-nya secara periodic
untuk tetap menjaga kerahasiaan dari kemungkinan penyalahgunaan oleh
pihak lain yang tidak berhak.
3. Bila anggota / peserta lupa dengan password-nya, harus segera menghubungi
administrator e-procurement PLN di PLN setempat ( dimana anggota / peserta
terdaftar ), kemudian administrator akan mereset password-nya dan
selanjutnya anggota / peserta harus segera merubah default password tersebut.
4. Anggota / peserta wajib untuk segera memberitahukan kepada PLN setempat (
dimana anggota / peserta terdaftar ) apabila mengetahui adanya
penyalahgunaan ID-Login miliknya oleh pihak lain yang tidak berhak atau
jika ada masalah lainnya terhadap ID Login milik nya.
.5.1.4 Manfaat E-Procurement
Adapun manfaat dari e-procurement adalah:
1. Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholder-nya
(masyarakat, kalangan bisnis, dan industri) terutama dalam hal kinerja
efektivitas dan efisiensi di berbagai bidang kehidupan bernegara.
2. Meningkatkan transparansi, control, dan akuntabilitas penyelenggaraan
pemerintahan dalam rangka penerapan konsep Good Corporate Governance;
3. Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi, dan interaksi
yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholder nya untuk keperluan
4. Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber-sumber
pendapatan baru melalui interaksi nya dengan pihak-pihak yang
berkepentingan.
5. Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara cepat dan
tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan berbagai
perubahan global dan trend yang ada; serta
6. Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah
dalam proses pengambilan berbagai kebijakan public secara merata dan
demokratis
.5.1.5 Tujuan E-Procurement
Adapun tujuan dari e-procurement antara lain:
1. Mengembangkan administrasi yang tertib untuk mendukung tersedianya
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan ( accountable ) dalam basis data
administrasi pemerintahan kota.
2. Mempercepat dan memperpendek langkah proses administrasi yang dilakukan
tanpa mengurangi aspek legalitas administrative dan prosedur yang dilakukan.
3. Membangun informasi produk dari data / informasi yang diperoleh, baik dari
publik itu sendiri melalui mekanisme system informasi atau dari kegiatan
yang dilakukan pemerintah kota atau stakeholder lainnya yang menjadi hak
publik.
4. Mengembangkan interaksi C2G ( Citizen to Government ), B2G ( Bussiness to
Governance ) dan G2G ( Governance to Governance ) lebih fleksibel dan
.5.1.6 Prinsip-Prinsip E-Procurement
Pengadaan barang / jasa melalui e-procurement menerapkan
prinsip-prinsip antara lain:
1. Efisien, berarti pengadaan barang / jasa harus diusahakan dengan
menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang
ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkat nya dan dapat
dipertanggungjawabkan;
2. Efektif, berarti pengadaan barang / jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang
telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai
dengan sasaran yang ditetapkan;
3. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang / jasa harus terbuka bagi
penyedia barang / jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui
persaingan yang sehat di antara penyedia barang / jasa yang setara dan
memenuhi syarat / kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang
jelas dan transparan;
4. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan
barang / jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara
evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya
terbuka bagi peserta penyedia barang / jasa yang berminat serta bagi
5. Adil / tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi
semua calon penyedia barang / jasa dan tidak mengarah untuk memberi
keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun;
6. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun
manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang
berlaku dalam pengadaan barang / jasa.
.5.1.7 Tata Cara Pengadaan Barang / Jasa A. Persyaratan Umum
1. Anggota / peserta yang akan mengikuti pengadaan barang / jasa
pemborongan / jasa lainnya wajib mentaati semua persyaratan dalam
ketentuan ini dan peraturan pengadaan barang / jasa serta kebijakan lain
yang berlaku di PT PLN ( Persero ).
2. Metode pengadaan barang / jasa pemborongan / jasa lainnya adalah
mengikuti pedoman pengadaan barang / jasa PT PLN ( Persero ) yang
antara lain meliputi pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan
langsung, penunjukan langsung dan pembelian langsung, denga terlebih
dahulu mengikuti proses pra / paska kualifikasi.
3. Anggota / peserta yang akan mengikuti pengadaan barang / jasa
pemborongan / jasa lainnya sanggup memenuhi administrasi pengadaan
telah ditetapkan oleh Panitia atau Pejabat pengadaan barang / jasa yang
ditunjuk oleh PLN
4. Anggota / peserta harus memasukkan harga penawaran barang / jasa
pemborongan / jasa lainnya di e-procurement PLN secara online
5. Keterlambatan pemasukan harga penawaran barang / jasa pemborongan /
jasa lainnya pada 60 ( enam puluh ) detik menjelang penutupan menjadi
resiko peserta.
6. Anggota / peserta dilarang memberikan penawaran barang / jasa
pemborongan / jasa lainnya yang dilarang diperjualbelikan atau
dikerjakan berdasarkan peraturan hukum yang berlaku di Indonesia.
B. Harga Penawaran
1. Anggota / peserta harus memberikan harga penawaran barang / jasa
pemborongan / jasa lainnya yang terbaik dan harus dapat dipertanggung
jawabkan.
2. Harga penawaran barang / jasa pemborongan / jasa lainnya sudah
memasukan unsure-unsur biaya antara lain: harga barang / jasa
pemborongan / jasa lainnya, asuransi pengangkutan, biaya pengangkutan
dan keuntungan.
3. Harga penawaran secara manual / hardcopy adalah berasal dari hasil
cetakan harga penawaran di e-procurement PLN secara online.
4. Anggota / peserta dapat memasukkuan harga penawaran barang / jasa
melalui situs e-procurement PLN secara langsung atau online, selama
masih dalam rentang waktu pemasukkan harga penawaran.
5. Apabila didapat harga penawaran yang sama, maka penentuan
pemenangnya adalah anggota / peserta yang memasukkan penawaran di
e-procurement PLN terlebih dahulu secara online, berdasarkan waktu server
e-procurement PLN dalam satuan waktu WIB ( hari, tanggal, jam menit
dan detik ).
6. PLN berhak melakukan klarifikasi harga untuk mendspatkan harga terbaik
PLN.
7. Apabila sampai batas akhir pengadaan tidak terdapat kesesuaian harga
dengan PLN, maka PLN berhak / dapat untuk mengulang / membatalkan
proses pengadaan.
.5.1.8 Pembatalan / Pemutusan
PLN berhak untuk dapat membatalkan atau memutuskan proses
pengadaan apabila:
1. Sampai batas waktu pengadaan barang / jasa pemborongan / jasa lainnya
yang telah ditetapkan berakhir, belum atau tidak ada yang menawar.
2. Sampai batas waktu pengadaan yang telah ditetapkan berakhir, criteria
atau spesifikasi yang disyaratkan PLN tidak sesuai dengan yang
disampaikan oleh seluruh peserta.
3. Sampai batas waktu pengadaan yang telah ditetapkan berakhir, tidak
4. Anggota / peserta tidak menaati semua persyaratan dalam ketentuan ini,
peraturan pengadaan barang / jasa dan kebijakan lain yang berlaku di
lingkungan PT PLN ( Persero )
5. Tidak ada yang ditetapkan sebagai pemenang oleh panitia pengadaan
barang / jasa atau Pejabat pengadaan yang ditunjuk oleh PLN.
6. Apabila proses pengadaan dinilai palsu atau tidak wajar.
7. Dalam hal sedang berlangsung nya proses pengadaan barang / jasa melalui
situs e-procurement PLN, karena sesuatu dan lain hal yang mengakibatkan
proses pengadaan barang / jasa tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna
( terjadi gangguan teknis dan non teknis )
.5.1.9 Penilaian
PLN berhak menilai kinerja anggota / peserta yang menunjukkan
kredibilitas anggota / peserta tersebut ( track record ) dengan criteria antara lain:
b. Harga barang / jasa pemborongan / jasa lainnya ( Price )
c. Kualitas barang / jasa pemborongan / jasa lainnya ( Quality )
d. Kuantitas barang / jasa pemborongan / jasa lainnya ( Quantity )
e. Waktu pengiriman ( Delivery Lead Time )
f. Pelayanan ( Services )
Apabila suatu anggota / peserta memiliki catatan yang performansi / track
record yang buruk, maka PLN berhak atau dapat melarang anggota / peserta
mengikuti proses pengadaan barang / jasa dan atau mencabut keanggotaan yang
.5.2 Badan Usaha Milik Negara
.5.2.1 Pengertian Dan Peranan BUMN
Berdasarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, BUMN merupakan Badan Usaha Milik Negara yang modal perusahaan nya
sebagian besar berasal dari kekayaan negara, mempunyai peranan sebagai
sumber pendapatan devisa negara dan juga untuk memproduksi berbagai
barang dan jasa kebutuhan masyarakat. Berdasarkan undang-undang tersebut
dapat dilihat bahwa BUMN sebagai institusi milik pemerintah menjadi alat
vital yang efektif bagi pembangunan nasional.
Peranan BUMN erat berkaitan dengan berbagai tujuan yang perlu
dicapai BUMN, seperti yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No.
3 Tahun 1983 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan PERJAN,
PERUM dan PERSERO, menetapkan bahwa tujuan BUMN adalah:
1. Memberikan sumbangan bagi perkembangan ekonomi negara pada umum
nya dan penerimaan negara pada khususnya.
2. Mengadakan pemupukan keuntungan dan pendapatan
3. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa barang dan jasa bermutu
dan memadai bagi bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak.
4. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan
oleh sector swasta dan koperasi.
5. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan usaha yang bersifat melengkapi
kegiatan swasta dan koperasi dengan antara lain menyediakan kebutuhan
6. Turut aktif memberikan bimbingan kepada sector swasta, khususnya
pengusaha golongan ekonomi lemah dan sector koperasi.
7. Turut aktif melaksanakan dan menunjang pelaksanaan program dan
kebijaksanaan pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan pada
umumnya.
Di Indonesia peranan BUMN tidak lagi sebatas pada pengelolaan
sumber daya dan produksi barang-barang yang meliputi hajat hidup orang
banyak tetapi juga dalam berbagai kegiatan produksi dan pelayanan yang
dilakukan oleh sektor swasta. Beberapa hal pokok yang menjadi peran BUMN
di Indonesia, seperti perlunya public goods untuk dikelola pemerintah,
pertimbangan efisiensi untuk kegiatan ekonomi berskala besar, dan
pengendalian dampak negatif seperti masalah eksternalitas.
Masalah public goods merupakan pengecualian didalam sistem dan
mekanisme pasar. Agar kemanfaatannya tidak jatuh ketangan perorangan, maka
negara mengambil peranan aktif karena komoditi tersebut sangat diperlukan
masyarakat umum. Negara, khususnya ketika usaha swasta belum tumbuh
seperti pada masa awal kemerdekaan, telah mengambil inisiatif untuk
menyediakan barang-barang kebutuhan masyarakat.
.5.2.2 Latar Belakang Berdirinya BUMN
Latar belakang pendirian BUMN di Indonesia tampaknya
bermacam-macam tergantung dari periode pendirian nya dan kebijaksanaan pemerintah
perusahaan-perusahaan yang didirikan pada zaman sebelum kemerdekaan. Beberapa
didirikan di zaman perjuangan kemerdekaan, misalnya saja kita lihat
perusahaan-perusahaan yang didirikan dengan pembiayaan dan pembinaan
Bank Industri Negara seperti PT. Natour, Perusahaan Tinta Cetak Tjemani,
Perusahaan Kertas Blabak. Disamping itu ada perusahaan-perusahaan yang
tumbuh akibat pengambil-alihan perusahaan Belanda akibat pertentangan kita
dengan Belanda dalam rangka pengembalian Irian Barat, misalnya kita
menasionalisasikan beberapa perusahaan yang kemudian menjadi PT. Indestin,
PT Satya Negara, dan PT Indevitra.
Berbagai landasan pendirian perusahaan negara ini menyulitkan
pengendalian nya. Tolak ukur keberhasilan yang didasarkan motivasi pendirian
suatu badan usaha menjadi tidak jelas. Dalam kurun waktu ini kecenderungan
masyarakat untuk menuntut reformasi disegala bidang perekonomian termasuk
juga pada BUMN. Maka untuk mengatasi berbagai masalah tersebut maka
kemudian pemerintah melakukan revisi pada Undang-Undang No.19 Tahun
1960 tentang Perusahaan Negara menjadi Undang-Undang No.19 Tahun 2003
tentang BUMN. Undang-undang yang direvisi ini menjadi tonggak penting
dalam pengelolaan dan pengendalian BUMN di Indonesia. Melalui
undang-undang ini ditetapkan peranan dan fungsi BUMN dan berbagai badan
.5.2.3 BUMN Sebagai Strategic Bussiness Unit
Pembagian bentuk ekonomi yang tercantum dalam Pasal 33 UUD
1945 memberikan pegangan bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam
kelompok hajat hidup orang banyak, harus dikuasai oleh negara. Wujud
penguasaan nya antara lain ditafsirkan dalam bentuk BUMN.
BUMN secara keseluruhan disorot masyarakat karena tata kerjanya
yang tidak efisien dan tidak produktif. Inefisiensi dan rendahnya produktivitas
BUMN yang konon karena intervensi yang terlalu besar dari departemen teknis
yang membawahi BUMN tersebut. Untuk sebagian BUMN mungkin sekali
pendapat ini benar, tetapi untuk sebagian BUMN yang lain barangkali tidak
tepat. Hal ini perlu penelitian yang lebih mendalam dan tidak dapat
digeneralisasi.
Setiap organisasi berhubungan erat dengan lingkungan nya. Organisasi
tidak akan dapat berdiri sendiri dan selalu akan dipengaruhi oleh perubahan
lingkungan nya. Demikian juga yang terjadi pada BUMN, lingkungan yang
dewasa ini mengalami perubahan-perubahan mendasar yang dramatis dan
seringkali diluar dugaan.
Secara nasional, struktur ekonomi telah berubah dimana peranan
sector industri makin dominan dibandingkan sector pertanian. Minyak bumi
sebagai sumber pendapatan negara utama diambil alih pendapatan sector non
migas. Deregulasi disektor moneter maupun sector riil makin dipacu agar
kegiatan ekonomi beralih dari ekonomi biaya tinggi kearah ekonomi biaya
kemajuan-kemajuan teknologi informasi, telekomunikasi, rekayasa genetika
dan lainnya. Akibatnya keunggulan komparatif dipasar global berubah dengan
cepat karena kemajuan teknologi itu, disamping pasar uang internasional yang
berfluktuasi, proteksionisme, blok-blok perdagangan dan perubahan-perubahan
pada sistem makro ekonomi dan sosio-politik.
Perubahan-perubahan lingkungan itu dicerminkan pada
perubahan-perubahan structural dalam hubungan produk nasional dan internasional, yang
juga mempengaruhi usaha-usaha peningkatan ekspor nonmigas. Agar badan
usaha dapat hidup terus, badan usaha itu harus sanggup bersaing. Dalam kaitan
dengan penciptaan daya saing, maka setiap badan usaha harus dapat beroperasi
secara efisien sebagai ukuran penampilan utama nya.
BUMN sebagai unit ekonomi milik negara merupakan sector yang
penting peranan nya dalam membantu pemerintah mengimplementasikan
kebijakan pembangunan yang telah digariskan. Dalam konteks pencarian
alternatif sumber dana, pemerintah memberikan perhatian atau mungkin
semacam tuntutan yang semakin besar kepada BUMN khususnya yang
berstatus persero. Hal ini mengingatkan untuk memupuk keuntungan, besarnya
jumlah BUMN yang berstatus persero, besarnya investasi yang ditanamkan
oleh negara, mempunyai potensi dalam pengembangan sumber daya manajerial
dan keterampilan serta mempunyai potensi alih teknologi. Tuntutan yang
semakin besar dimasa mendatang ini akan menuntut peningkatan pengelolaan
fungsi BUMN khususnya persero sebagai bisnis strategis unit akan lebih
menonjol dibandingkan dengan fungsi-fungsi lain nya yang majemuk itu.
.5.3 Sistem Pelayanan Publik
Salah satu fungsi penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh aparatur
pemerintah adalah sistem pelayanan publik. Sistem pelayanan publik dilaksanakan oleh
pemerintah dalam arti barang publik dan jasa publik adalah tanggung jawab pemerintah
melalui instansinya baik dari pusat hingga daerah. Sistem pelayanan publik berupa
barang dan jasa publik tidak berorientasi pada profit. Artinya sistem pelayanan publik
tidak hanya dilaksanakan untuk meningkatkan margin keuntungan tetapi untuk
memberikan kepuasan terhadap para pelanggan yaitu masyarakat.
Menurut Tatang M. Amirin ( 1996:1 ) menyatakan bahwa istilah sistem berasal
dari bahasa yunani yaitu “systema” yang mempunyai pengertian sebagai berikut:
a. Suatu hubungan yang tersusun dari sekian banyak bagian.
b. Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau
komponen-komponen secara teratur.
Sedangkan menurut Pamudji (1998:12) menyatakan bahwa sistem merupakan
suatu totalitas himpunan dari bagian-bagian yang satu sama lain berinteraksi dan
bersama-sama beroperasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam suatu lingkungan
Menurut H.A.S Moenir (1992:27) menyatakan bahwa pelayanan adalah kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok dengan landasan factor material melalui
sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan orang lain
Selain itu, menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.81
Tahun 1993 tentang Pedoman Tata Laksana Pelayanan Umum, pengertian tentang
pelayanan public adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh
instansi pemerintah pusat, didaerah dan dilingkungan BUMN / BUMD dalam bentuk
barang atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun
dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan.
Didalam KEPMENPAN No.81 Tahun 1993 tentang Pedoman Tata Laksana
Pelayanan Umum tersebut dinyatakan bahwa pelayanan umum ini mengandung
sendi-sendi yaitu:
1. Kesederhanaan, maksudnya prosedur atau tata cara pelayanan umum
diselenggarakan secara mudah, lancar, cepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami
dan dilaksanakan.
2. Kejelasan dan kepastian, maksudnya ada kejelasan dan kepastian mengenai
prosedur baik secara teknis maupun secara administrasi, rincian biaya, jadwal
umum, hak dan kewajiban bagi pemberi maupun penerima pelayanan.
3. Keamanan, dalam arti proses serta hasil pelayanan umum dapat memberikan
keamanan dan kenyamanan serta memberikan kepastian hukum.
4. Keterbukaan, maksudnya prosedur dan persyaratan pelayanan diinformasikan
secara terbuka.
5. Efisiensi.
6. Keadilan yang merata
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan publik
Menurut Budi Winarno ( 2001:38 ) ada beberapa factor yang mendukung atau
mempengaruhi pelayanan publik, yaitu :
1. Faktor kesadaran adalah kesadaran para pejabat serta petugas yang
berkecimpung dalam kegiatan pelayanan. Kesadaran para pegawai pada
segala tingkatan terhadap petugas yang menjadi tanggung jawab dapat
membawa dampak yang sangat positif terhadap organisasi. Ini akan menjadi
kesungguhan dan disiplin dalam melaksanakan tugas sehingga hasilnya dapat
diharapkan dapat memenuhi standart.
2. Faktor aturan adalah aturan dalam organisasi yang menjadi landasan kerja.
Aturan ini mutlak kebenarannya dalam organisasi dan pekerjaan dikerjakan
dengan terarah, oleh karena itu harus dipahami oleh organisasi yang
berkepentingan.
3. Faktor organisasi merupakan suatu alat serta system yang memungkinkan
berjalannya mekanisme kegiatan pelayanan dalam usaha pencapaian tujuan.
4. Faktor pendapatan adalah pendapatan pegawai yang berfungsi sebagai
pendukung pelaksana pelayanan. Dengan pendapatan yang cukup yang
dimiliki pegawai akan membuat motivasi dalam hal bekerja.
5. Faktor keterampilan adalah kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
pelayan publik sangat mendukung jalannya pelayanan publik. Ada 3
kemampuan yang dimiliki oleh pelayanan publik yaitu kemampuan
6. Faktor sarana adalah sarana yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas atau
pekerjaan pelayanan. Sarana ini meliputi peralatan, perlengkapan, alat Bantu,
dan fasilitas lain yang dilengkapi seperti fasilitas komunikasi, dan lain-lain.
Dari beberapa uraian diatas dapat dilihat bahwa pelayanan publik dilaksanakan
oleh pemerintah dalam arti barang dan jasa publik adalah tanggungjawab pemerintah
melalui instansinya baik dari pusat hingga daerah. Pelayanan publik berupa barang dan
jasa publik tidak berorientasi pada profit, artinya pelayanan publik tidak hanya
dilaksanakan untuk meningkatkan keuntungan tetapi untuk kepuasan masayarakat
sebagai pelanggan.
Pelayanan public disini yang dijadikan sebagai landasan teori dari pelaksanaan
e-procurement yang diterapkan pada Badan Usaha Milik Negara terutama pada PT PLN
(persero).
.5.4 Good Corporate Governance
Konsep good corporate governance ini bergulir sejalan marak nya tuntutan
masyarakat terhadap pemerintah untuk menjalankan good governance. Secara formal,
good corporate hanya ditujukan bagi perusahaan yang statusnya merupakan perusahaan
publik, khususnya emiten yang telah menyerap dana dari masyarakat dan memiliki saham
publik yang sifatnya minoritas dan independen. Secara sederhana dapat digambarkan
sebagai bentuk dari pelaksanaan tanggung jawab antara perusahaan sebagai badan
dengan menjalankan ketentuan Anggaran Dasar (AD) dalam rangkaian kewajiban untuk
transparansi, efektif dan efisien, jaringan kerja dan integritas.
Menurut World Bank ( Hessel Nogi S.Tangkilisan:2003 ), Good corporate
governance adalah kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi
yang mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan
nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham
maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil workshop GCG di kantor Menteri Negara BUMN, Desember
1999 ( Iman Syahputra Tunggal:2002 ), Good corporate governance berkaitan dengan
pengambilan keputusan yang efektif, yang bersumber dari budaya perusahaan, etika,
nilai, sistem, proses bisnis, kebijakan, dan struktur organisasi yang bertujuan untuk
mendorong dan mendukung:
1. Pengembangan perusahaan
2. Pengelolaan sumber daya dan resiko secara lebih efisien dan efektif
3. Pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan
stakeholders lain nya
Untuk membangun BUMN menjadi Perusahaan kelas dunia, Pemerintah melalui
Menteri Negara BUMN / Badan Pembina BUMN dalam Master Plan Reformasi BUMN,
yang disusun oleh Kantor Meneg BUMN pada Mei 2000 telah meletakkan Pondasi
Korporasi BUMN menuju kelas dunia, yang salah satu diantaranya adalah Corporate
Governance.
1. Dikeluarkannya Keputusan Menteri BUMN Nomor :
tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance Pada BUMN, dimana
BUMN diwajibkan menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten
dan atau menjadikan Good Corporate Governance sebagai landasan
operasionalnya.
2. Dimasukkannya Good Corporate Governance sebagai bagian dari Misi
Kementerian BUMN dan Strategi Utama Pengembangan BUMN dalam Master
Plan BUMN tahun 2002 – 2006.
3. Transparansi dalam Pembinaan dan Pengelolaan BUMN melalui
4. Pemberian Annual Report Award.
5. Pemberian BUMN & CEO award serta Expo GCG.
Mengacu pada Master Plan BUMN 2002-2006 yang dikeluarkan Kementrian
BUMN, corporate governance dirumuskan sebagai proses dan struktur yang digunakan
untuk mengarahkan dan mengelola bisnis serta urusan-urusan perusahaan, dalam rangka
meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan dengan tujuan utama
mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholder lainnya ( Robinson T., 2003:17 )
Surat Keputusan Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus
2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik
Negara, menekankan kewajiban bagi BUMN untuk menerapkan GCG secara konsisten
dan atau menjadikan prinsip-prinsip GCG sebagai landasan operasionalnya, yang pada
guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, dan berlandaskan peraturan
perundang-undangan dan nilai-nilai etika.
Surat keputusan tersebut mengatur mengenai kewajiban bagi BUMN dan
menjadikan GCG sebagai landasan operasional perusahaan. BUMN yang asetnya di atas
Rp 1 triliun, yang memanfaatkan dana masyarakat atau go public, diwajibkan membentuk
Komite Audit dan Sekretaris Perusahaan. Komite Audit akan membantu komisaris dalam
meningkatkan fungsi pengawasan. Mengingat fungsi tersebut, maka Komite Audit
diketuai oleh komisaris independen, didukung oleh anggota yang mempunyai tingkat
profesionalisme yang tinggi.
Sedangkan sebagian tugas sekretaris perusahaan adalah menjadi penghubung
antara fungsi mediasi perusahaan dan publik. Oleh karena itu, sekretaris perusahaan harus
mampu memahami dan menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perusahaannya
kepada publik. Peran sekretaris perusahaan bertambah penting artinya dalam perusahaan
publik, di mana dari waktu ke waktu informasi mengenai perkembangan perusahaan
sangat diharapkan oleh publik dalam memutuskan investasinya.
Masih berdasarkan Master Plan BUMN 2002-2006 yang mengutip pendapat dari
Forum for Good Corporate Governance in Indonesia, good corporate governance
diartikan sebagai perangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang
saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan
internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau
Adapun kunci dari terciptanya good corporate governance dalam perusahaan
adalah berfungsinya secara efektif organ-organ perusahaan yang terjamin kualitas dan
integritasnya sehingga mencapai tujuan perusahaan sekaligus memenuhi kepentingan
seluruh stakeholders.
Menurut Musanef ( 1998:42 ), manfaat corporate governance dapat dipetakan
kedalam 5 hal pokok yaitu:
1. Memudahkan akses terhadap investasi domestic maupun asing.
2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi
perusahaan
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan shareholders dan stakeholders
terhadap perusahaan
5. Melindungi Direksi / Komisaris / Dewan pengurus dari tuntutan hukum.
Pada dasarnya prinsip utama yang perlu agar terselenggara good corporate
governance ada 5 hal yaitu:
1. Terbuka dan Transparan
Membuka akses informasi dan interaksi pada semua stakeholder yang
berperan pada pemerintahan dan pengambilan kebijakan. Infrastruktur jaringan
komunikasi, internet dan media webside jika e-procurement menggunakan pilihan ini
maka mendukung terciptanya interaksi terbuka dan transparan pada stakeholder
2. Efisien dan Efektif
Mengembangkan sistem informasi administrasi yang lebih mudah, murah,
cepat, dan akurat tanpa menghilangkan aspek legalitas administratifnya. Pada saat
tertentu akan tercapai kepercayaan publik pada pelayanan administrasi pemerintah
yang bersih dan akurat.
3. Jaringan kerja
Memudahkan pertukaran data dan pengolahan informasi yang terdistribusi
pada bagian-bagian dalam pemerintahan. Dengan cara ini dimungkinkan secara
mudah dan cepat mendapatkan data dan informasi sesuai kebutuhan sehingga waktu
dan hasil yang diperoleh menjadi lebih cepat dilakukan dengan jaringan kerja.
4. Akuntabilitas
Ada pengawasan yang efektif berdasarkan keseimbangan kekuasaan antara
pemegang saham, komisaris, dan direksi. Ada pertanggung-jawaban dari komisaris
dan direksi, serta ada perlindungan untuk karir karyawan. Perlu ditetapkan berapa kali
rapat dalam kurun waktu tertentu, serta berbagai sistem pengawasan yang lain.
5. Integritas
Memelihara integritas system dan data yang ada dalam administrasi
pemerintahan. Keterpaduan system menjadi tuntutan untuk memperoleh informasi
yang akurat dan mengambil kebijakan dan menyikapi situasi dan kondisi wilayahnya
Jadi, kelima hal tersebut adalah indicator bagi perusahaan untuk dapat dikatakan
sebagai perusahaan yang telah menjalankan good corporate governance.
1.6 Defenisi Konsep
Menurut Singarimbun ( 1989:37 ). Konsep merupakan istilah dan defenisi yang
digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan kelompok atau
individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Tujuan nya adalah untuk mendapatkan
pembatasan yang jelas dari setiap konsep yang diteliti, maka berdasarkan judul yang
dipilih oleh peneliti, maka yang menjadi konsep dari penelitian ini adalah:
1. E-Procurement
E-Procurement adalah sarana aplikasi berbasis web untuk melakukan proses
pengadaan barang atau jasa pemborongan atau jasa lainnya di lingkungan PT
PLN ( Persero ) secara online.
2. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang
dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, didaerah dan dilingkungan BUMN
/ BUMD dalam bentuk barang atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan
kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan
perundang-undangan.
3. Good Corporate Governance
Good corporate governance diartikan sebagai perangkat peraturan yang
menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur,
lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata
lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.
1.7 Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah unsur-unsur penelitian yang memberitahukan
bagaimana cara mengukur suatu variabel sehingga dalam pengukuran ini dapat diketahui
indikator-indikator apa saja yang melekat dalam variabel sebagai pendukung untuk
dianalisis kedalam variabel tersebut ( Singarimbun,1989: 46 )
Berikut ini akan diuraikan variabel yang diteliti beserta indikator-indikator yang
dipakai sebagai alat ukur nya:
A. E-Procurement, dapat dilihat dengan indikator-indikator nya yang terdapat pada
Keputusan Presiden ( KEPPRES ) No. 80 Tahun 2003 ( Pasal 3 ) yaitu:
1. Efisien, berarti pengadaan barang / jasa harus diusahakan dengan
menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang
ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkat nya dan dapat
dipertanggungjawabkan;
2. Efektif, berarti pengadaan barang / jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang
telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai
dengan sasaran yang ditetapkan;
3. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang / jasa harus terbuka bagi
penyedia barang / jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui
memenuhi syarat / kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang
jelas dan transparan;
4. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan
barang / jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara
evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang / jasa, sifatnya
terbuka bagi peserta penyedia barang jasa yang berminat serta bagi
masyarakat luas pada umumnya;
5. Adil / tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi
semua calon penyedia barang / jasa dan tidak mengarah untuk memberi
keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun;
6. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun
manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang
berlaku dalam pengadaan barang / jasa.
B. Sistem Pelayanan Publik, dengan indikator-indikator nya yang dapat dilihat dari
KEPMENPAN No.81 Tahun 1993 antara lain:
1. Kesederhanaan, maksudnya prosedur atau tata cara pelayanan umum
diselenggarakan secara mudah, lancar, cepat, tidak berbelit-belit, mudah
dipahami dan dilaksanakan.
2. Kejelasan dan kepastian, maksunya ada kejelasan dan kepastian mengenai
prosedur baik secara teknis maupun secara administrasi, rincian biaya, jadwal
3. Keamanan, dalam arti proses serta hasil pelayanan umum dapat memberikan
keamanan dan kenyamanan serta memberikan kepastian hukum.
4. Keterbukaan, maksudnya prosedur dan persyaratan pelayanan diiformasikan
secara terbuka.
5. Efisiensi.
6. Keadilan yang merata
7. Ekonomis dan ketepatan waktu.
C. Good Corporate Governance dengan indikator-indikator sebagai berikut:
1. Transparansi
- Kemudahan mendapat informasi yang diperlukan yang dapat langsung
diakses oleh orang yang membutuhkan
- Kecepatan dalam memberikan informasi yang up to date kepada
masyarakat.
2. Efisien dan efektif
- Kinerja perusahaan yang berdasarkan prinsip efektifitas dan efisiensi.
- Tingkat kemampuan pegawai dalam menyelesaikan tugas yang diberikan
kepada nya tepat waktu.
3. Jaringan kerja
- Adanya kerjasama yang dilakukan dengan berbagai pihak baik antar
sesama BUMN maupun dengan perusahaan swasta dan juga masyarakat.
- Tingkat kerjasama antara atasan dengan bawahan didalam melaksanakan
4. Akuntabilitas
- Tingkat pengawasan yang efektif yang dilakukan oleh atasan kepada
bawahan
- Adanya laporan pertanggung jawaban pada setiap masing-masing jabatan.
5. Integritas
- Adanya integritas yang tercipta karena keterpaduan pola hubungan
kerjasama yang dilakukan.
- Tingkat keakuratan sistem informasi dan data yang diberikan oleh
perusahaan.
1.8 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari uraian tentang latar belakang, perumusan masalah,
pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori,
defenisi konsep, defenisi operasional, dan sistematika penulisan.
BAB II METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang bentuk penelitian, lokasi penelitian, populasi dan
sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data yang diterapkan
dalam penelitian ini
BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini menguraikan gambaran atau kharakteristik lokasi penelitian berupa
sejarah singkat, visi dan misi, dan struktur organisasi