PENGARUH KECAKAPAN MANAJERIAL TERHADAP MANAJEMEN LABA DENGAN KOMPOSISI DEWAN KOMISARIS SEBAGAI VARIABEL
PEMODERASI
Oleh
David Saputra
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
Pada
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
INFLUENCE OF MANAGERIAL SKILLS ON EARNINGS MANAGEMENT WITH THE COMPOSITION OF THE BOARD OF
COMMISSIONERS AS A MODERATING VARIABLE By
David Saputra
This study aims to empirically examine the effect of managerial skills on earnings management by the composition of the board of commissioners as a moderating variable. Managerial skills were measured using Data Envelopment Analysis (DEA) to measure the level of efficiency manager, Earnings management as the dependent variable is measured by discretionary accrual from the Modified Jones models, the composition of the board of commissioners was measured by dividing the total of independent commissioners to total
This study used a sample of manufacturing firms during the years 2009-2011 by using purposive sampling method. The data used were obtained from annual reports listed manufacturing companies BEI. There are 141 companies during the years 2009-2011 that meet the criteria. The method of analysis used in this study is multiple regression analysis.
board of commissioners.
This study found that managerial skills have a significant effect on earnings management, while the composition of the board of commissioners did not have any effect on the relationship between managerial ability and earnings
management.
ABSTRAK
PENGARUH KECAKAPAN MANAJERIAL TERHADAP MANAJEMEN LABA DENGAN KOMPOSISI DEWAN KOMISARIS SEBAGAI
VARIABEL PEMODERASI Oleh
David Saputra
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba dengan komposisi dewan komisaris sebagai variabel pemoderasi. Kecakapan manajerial diukur menggunakan Data
Envelopment Analysis (DEA) yang mengukur tingkat efisiensi manajer. Manajemen labasebagai variabel dependen diukur dengan menggunakan discretionary accrual dengan menggunakan model Modified Jones. Komposisi dewan komisaris diukur dengan cara membagi jumlah dewan komisaris
independen dengan total dewan komisaris.
Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur selama tahun 2009-2011 dengan menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar BEI . Terdapat 141 perusahaan selama tahun 2009-2011 yang memenuhi kriteria. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.
Penelitian ini menemukan bahwa variabel kecakapan manajerial memiliki
pengaruh signifikan terhadap manajemen laba (earnings management), sedangkan variabel komposisi dewan komisaristidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hubungan pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba (earnings management).
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ABSTRAK HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN RIWAYAT HIDUP PERSEMBAHAN MOTO SANWACANA DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Batasan Penelitian ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
II. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori ... 9
2.1.1 Teori Agensi ... 9
2.1.2Asimetri Informasi ... 11
2.1.3 Kecakapan Manajerial ... 12
2.1.4 Komposisi Dewan Komisaris ... 14
2.1.5 Manajemen Laba ... 15
2.1.5.1 Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba ... 16
2.1.6 Data Envelopment Analysis (DEA) ... 17
2.2 Penelitian Terdahulu ... 17
2.3 Model Penelitian ... 20
ii
III. METODE PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel ... 25
3.2 Data Penelitian ... 26
3.2.1 Jenis dan Sumber Data ... 26
3.2.2 Metode Pengumpulan Data ... 27
3.3 Definisi Operasional Variable ... 27
3.3.1 Variabel Dependen ... 27
3.3.2 Variabel Independen ... 29
3.3.3 Variabel Pemoderasi ... 32
3.4. Metode Analisis Data ... 33
3.4.1Statistik Deskriptif ... 33
3.4.2 Uji Asumsi Klasik ... 35
3.5 Pengujian Hipotesis ... 35
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif Variable Penelitian ... 38
4.2 Hasil Pengujian Asumsi Klasik ... 39
4.2.1 Uji Normalitas ... 39
4.2.2 Uji Multikolonieritas ... 40
4.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 40
4.2.4 Uji Autokorelasi ... 41
4.2.5 Hasil Pengujian Hipotesis ... 42
4.2.6 Persamaan Regresi ... 43
4.3 Pengujian Hipotesis... 43
4.3.1 Hipotesis 1... 43
4.3.2 Hipotesis 2 ... 44
4.4 Pembahasan ... 44
4.4.1 Pengaruh Kecakapan Manajerial Terhadap Manajemn Laba . 44 4.4.2 Pengaruh Komposisi Dewan Komisaris terhadap Hubungan Kecakapan Manajerial dengan Manajemen Laba ... 46
V. SIMPULAN 5.1 Simpulan dan Implikasi ... 47
5.1.1 Simpulan ... 48
5.1.2 Implikasi ... 48
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 49
5.3 Saran ... 49
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Teknik Pemilihan Sampel ... 26
2. Statistik Deskriptif Sampel Penelitian ... 37
3. Uji Multikolonieritas….. ... 40
4. Uji Glejser... 41
5. Uji Durbin-Watson (DW Test) ... 41
6. Uji Determinasi ... 42
7. Persamaan Regresi ... 42
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Nama Sampel Perusahaan Manufaktur
Lampiran 2 Data Perhitungan Data Envelopment Analysis (DEA) Lampiran 3 Data Discretionary Accruals Perusahaan Manufaktur Lampiran 4 Data Perhitungan Komposisi Dewan Komisaris Lampiran 5 Hasil Uji Statistik Deskriptif
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Informasi laba sebagai bagian dari laporan keuangan, sering menjadi target
rekayasa melalui tindakan oportunis manajemen untuk memaksimumkan
kepuasaannya, tetapi dapat merugikan para pemegang saham atau investor.
Tindakan oportunis ini dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi
tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan atau diturunkan sesuai
dengan keinginannya. Tindakan oportunis ini dimaksudkan untuk mengatur laba
sesuai dengan keinginannya dan dikenal dengan istilah manajemen laba (earnings
management).
Manajemen laba merupakan salah satu bahasan yang menarik untuk dijadikan
penelitian. Beberapa hasil penelitian terdahulu membuktikan manajer
menggunakan kebijakan pengelolaan akrual untuk berbagai alasan. Healy (1985)
dalam Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menemukan bahwa manajer menggunakan
akrual diskresioner ini untuk meningkatkan kompensasi yang ingin mereka
terima. Manajer juga menggunakan manajemen laba untuk meningkatkan
kesejahteraan pemegang saham dengan cara menurunkan pajak ataupun
Isnugrahadi dan Kusuma (2009) mengemukakan bahwa seorang manajer
merupakan pelaku utama manajemen laba, akan tetapi penelitian untuk menguji
pengaruh kecakapan manajer terhadap manajemen laba sepanjang pengetahuan
peneliti sangat jarang dilakukan. Penelitian ini menarik untuk dilakukan guna
menjawab pertanyaan seperti, apakah semakin cakap seorang manajer akan berarti
manajer tersebut tidak melakukan manajemen laba atau semakin cakap seorang
manajer maka akan semakin banyak melakukan tindakan manajemen laba.
Sebagai perilaku opportunistic, manajer memaksimalkan utilitasnya dalam
menghadapikontrak kompensasi. Penelitian terkait dengan motivasi bonus
menyatakan bahwa manajer berusaha memanipulasi laba untuk memaksimalkan
nilai sekarang dari pembayaran bonus (Houlthausen, 1995). Healy (1985) dalam
Purwanti (2010) menemukan bahwa manajer juga menggunakan akrual
diskresioner ini untuk meningkatkan kompensasi yang ingin mereka terima.
Sampai saat ini, masih sedikit yang menguji tentang faktor kecakapan manajer,
mungkin karena terkait dengan susahnya alat pengukur kecakapan manajerial ini.
Demerjian dkk. (2006) memperkenalkan pengukuran kecakapan manajerial di
bidang keuangan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Mereka
mencoba menguji pengaruh kecakapan manajerial dalam bidang keuangan dengan
kualitas laba. Dalam penelitiannya tersebut, Demerjian dkk.(2006) menyarankan
agar variabel kecakapan manajerial ini diuji pengaruhnya terhadap
variabel-variabel lainnya, salah satunya adalah manajemen laba. Kemudian Isnugrahadi
dan Kusuma (2009) juga menyarankan agar menggunakan variabel pemoderasi
3
signifikannya kualitas auditor sebagai variabel pemoderasi untuk menguji
pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba dalam penelitiannya.
Saran Isnugrahadi dan Kusuma (2009) mendorong penulis untuk menguji kembali
hubungan antara kecakapan manajerial dengan manajemen laba, tetapi bukan
dengan kualitas auditor melainkan dengan komposisi dewan komisaris sebagai
variabel pemoderasinya. komposisi dewan komisaris adalah posisi terbaik untuk
mengawasi sistem perusahaan dan merupakan salah satu indikator Good
Corporate Governance (GCG) diharapkan mampu untuk menekan motivasi
manajer dalam melakukan manajemen laba, dikarenakan adanya peluang-peluang
untuk memaksimalkan bonus yang diperoleh manajer apabila berhasil membawa
perusahaan mendapatkan target laba yang diinginkan. Gunarsih dan Hartadi
(2002) dalam Tutut (2010) mengemukakan bahwa dewan komisaris secara luas
dipercaya memainkan peranan penting khususnya dalam memonitor manajemen
tingkat atas. Dewan komisaris bertugas untuk menjamin terlaksananya strategi
perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta
mewajibkan terlaksananya akuntabilitas (FCGI, 2003). Sejalan dengan yang
dilakukan oleh Demerjian, dkk.(2006), variabel kecakapan manajerial ini akan
diukur dengan menggunakan DEA.
Manajer dituntut untuk memiliki keahlian yang cukup agar semua judgment dapat
dilakukan dengan baik. Keahlian dapat dimiliki apabila manajer mempunyai
tingkat intelegensia yang tinggi, tingkat pengalaman manajer yang cukup di
bidangnya, dalam hal ini bidang keuangan, dan tingkat pendidikan yang cukup
Manajer yang cakap dan mampu membuat keputusan-keputusan yang memberi
nilai tambah bagi perusahaan adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah
perusahaan. Tetapi mengharapkan seorang manajer yang akan selalu melaporkan
laba yang berkualitas adalah hal yang naif. Sugiri (2005) dalam Isnugrahadi dan
Kusuma (2009) mengatakan bahwa ada dua prasyarat yang harus ada agar
manajemen selalu jujur dalam melaksanakan tugasnya. Pertama, kultur
organisasional harus mendukung pengambilan keputusan yang etis. Kedua,
manajemen harus memiliki pemotivator untuk selalu bertindak jujur.
Prasyarat lain agar manajemen selalu jujur dalam melaksanakan tugasnya adalah
apabila manajer dan pemegang saham memiliki informasi dengan jumlah dan
kualitas yang sama. Pada kenyataannya, manajer mempunyai informasi yang lebih
beragam dan lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan para pemegang saham.
Tindakan manajer juga tidak dapat diamati langsung secara terus-menerus oleh
para pemegang saham. Pada kondisi ini, seorang manajer mempunyai informasi
tersembunyi yang bisa dieksploitasi demi kepentingan pribadi manajer. Perilaku
oportunis ini biasanya dimanfaatkan manajer untuk mendapatkan bonus yang
besar.
Pada perilaku oportunis ini, manajer yang cakap, otomatis paham dengan kondisi
bisnis di perusahaannya akan dapat melihat komponen akrual yang ada untuk
memaksimalkan bonusnya. Hal ini ditambah dengan adanya fleksibilitas dari
standar akuntansi yang memperbolehkan manajemen untuk memilih
metoda-metoda dan judgment akuntansi yang sesuai dengan kondisi bisnis di
perusahaannya. Pada saat yang sama, terjadi asimetri informasi yang mendorong
5
termotivasi melakukan tindakan oportunis ini akan lebih mampu memanfaatkan
peluang-peluang yang ada untuk melakukan manajemen laba.
Isnugrahadi dan Kusuma (2009) mengemukakan bahwa pada umumya seorang
manajer berbagai perusahaan dalam penelitian tentang manajemen laba
diasumsikan mempunyai kesempatan dan kemampuan yang sama dalam
melakukan praktik manajemen laba. Asumsi ini sebenarnya tidak tepat karena
banyak faktor yang membedakan kemampuan dan kesempatan manager tersebut.
Sweeney (1994) mengungkapkan bahwa keputusan akuntansi tahun sebelumnya
yang dibuat perusahaan akan membatasi pilihan-pilihan akuntansi yang dihadapi
oleh manager pada saat ini, sedangkan Dechow dkk. (1995) mengatakan bahwa
struktur internal governance perusahaan sebagai faktor yang membatasi
kemampuan dan kesempatan manager dalam melakukan rekayasa laba. Salah satu
faktor tersebut adalah peran pengawasan dewan komisaris dalam mewujudkan
good corporate governance untuk memberikan perlindungan efektif bagi
pemegang saham dan kreditor sehingga mereka yakin akan memperoleh return
atas investasinya.
Dewan komisaris memiliki kewajiban dan bertugas untuk menjamin terlaksananya
strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta
mewajibkan terlaksananya akuntabilitas (FCGI, 2003). Lebih jauh lagi, komisaris
independen yang merupakan bagian dari dewan komisaris sangat berperan dalam
meminimumkan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen.
Komisaris independen ini diharapkan mampu untuk mendorong dan menciptakan
iklim yang lebih objektif, serta dapat menempatkan kesetaraan (fairness) sebagai
stakeholders lainnya. Komisaris independen memikul tanggung jawab untuk
mendorong secara proaktif agar dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya
sebagai pengawas dan penasehat direksi dapat memastikan perusahaan memiliki
strategi bisnis yang efektif, memastikan perusahaan memiliki eksekutif dan
manajer yang profesional, memastikan perusahaan memiliki informasi, sistem
pengendalian, dan sistem audit yang bekerja dengan baik, memastikan perusahaan
mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku maupun nilai-nilai yang
ditetapkan perusahaan dalam menjalankan operasinya, memastikan resiko dan
potensi krisis sehingga selalu diidentifikasi dan dikelola dengan baik serta
memastikan prinsip-prinsip dan praktek good corporate governance dipatuhi dan
diterapkan dengan baik (FCGI, 2003). Oleh karena itu, keberadaan komisaris
independen dalam perusahaan diharapkan dapat menjamin laporan keuangan yang
menggambarkan informasi sesungguhnya mengenai operasi perusahaan sehingga
dapat mencegah praktik manajemen laba.
Berbeda dengan berbagai penelitian sebelumnya, variabel komposisi dewan
komisaris yang ditempatkan sebagai variabel independen, tetapi pada penelitian
ini variabel komposisi dewan komisaris ditempatkan sebagai variabel pemoderasi
dalam hubungan antara kecakapan manajerial dan manajemen laba. Penggunaan
variabel komposisi dewan komisaris sebagai variabel pemoderasi didasarkan pada
penekanan terhadap masalah konflik kepentingan antara manajer (agent) dengan
investor (principal). Komposisi dewan komisaris sebagai wujud dari pelaksanaan
Good Corporate Governance (GCG) diharapkan mampu menekan motivasi
seorang manajer dalam melakukan manajemen laba karena adanya fungsi
7
Penelitian ini dimotivasi dengan adanya hasil yang tidak signifikan dari kualitas
auditor pada hubungan antara kemampuan manajerial terhadap manajemen laba di
penelitian sebelumnya
1.2 Rumusan Masalah
. Penulis mengikuti saran dari Isnugrahadi dan Kusuma
(2009) untuk menggunakan variabel pemoderasi lainnya guna melihat variabel
pemoderasi manakah yang signifikan mempengaruhi hubungan kecakapan
manajerial terhadap manajemen laba, salah satunya adalahkomposisi dewan
komisaris. Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini akan mengambil judul:
“Pengaruh Kecakapan Manajerial terhadap Manajemen Laba dengan Komposisi Dewan Komisaris sebagai Variabel Pemoderasi.”
1. Apakah kecakapan manajerial memiliki pengaruh terhadap manajemen
laba?
2. Apakah komposisi dewan komisaris memiliki pengaruh terhadap
hubungan kecakapan manajerial dengan manajemen laba?
1.3 Batasan Masalah
1. Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan termasuk kategori
perusahaan manufaktur selama periode 2009-2011 dalam mata uang
rupiah.
2. Variabel kecakapan manajerial akan diukur dengan Data Envelopment
Analysis (DEA) yaitu dengan cara membagi output perusahaan dengan
input perusahaan. Output perusahaan berupa penjualan. Sedangkan input
perusahaan berupa total asset, jumlah tenaga kerja, Days COGS in
1.4 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah kecakapan manajerial memiliki pengaruh
terhadap manajemen laba.
2. Untuk mengetahui apakah komposisi dewan komisaris memiliki pengaruh
terhadap hubungan kecakapan manajerial dengan manajemen laba.
1.5 Manfaat Penelitian
Dari tujuan-tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang dapat diperoleh dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1 Manfaat Teoretis
Penelitian ini dapat memberikan bukt i empiris dan memberikan
kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama penelitian
yang berkaitan dengan peran manajer pada praktik manajemen laba,
selain itu penelitian ini memberikan informasi mengenai karakteristik
perusahaan yang melakukan manajemen laba dari sisi keuangan.
1.5.2 Manfaat Praktis
penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian
mendatang mengenai peran kecakapan manajerialterhadap manajemen
laba. Terutama faktor kecakapan manajerial yang belum banyak diteliti
di Indonesia dan menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Agensi
Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian oleh agent
dalam sebuah organisasi cenderung menimbulkan konflik keagenan diantara
principal dan agent. Jensen dan Meckling (1976) dalam Diah (2010) menyatakan
bahwa laporan keuangan yang dibuat dengan angka-angka akuntansi diharapkan
dapat meminimalkan konflik di antara pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan
laporan keuangan yang dilaporkan oleh agent sebagai pertanggungjawaban
kinerjanya, principal dapat menilai, mengukur dan mengawasi sampai sejauh
mana agent tersebut bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya dan serta
sebagai dasar pemberian kompensasi kepada agent.
Jensen dan Meckling (1976) dalam Bimo (2012) menggambarkan hubungan
agensi sebagai suatu kontrak di bawah satu atau lebih pemegang saham yang
melibatkan agent untuk melaksanakan beberapa layanan bagi mereka dengan
melakukan pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada agent, baik
pemegang saham maupun agent diasumsikan sebagai orang ekonomi rasional dan
mendelegasikan pembuatan keputusan mengenai perusahaan kepada manajer atau
agent. Bagaimanapun juga, manajer tidak selalu bertindak sesuai keinginan
pemegang saham, sebagian dikarenakan oleh adanya moral hazard.
Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan
mereka sendiri. Pemegang saham sebagai principal hanya tertarik kepada hasil
investasi mereka bertambah di dalam perusahaan. Sedangkan para agent
menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang
menyertai dalam hubungan tersebut.
Ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu munculnya suatu kondisi
yang disebut sebagai asimetri informasi. Asimetri informasi yang terjadi antara
manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan
kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings manajement) dalam
rangka menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi
perusahaan.
Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori
keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberi keyakinan
kepada investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang mereka
investasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana investor yakin
bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi investor, yakin bahwa manajer
tidak akan mencuri/menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam
proyek-proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana / kapital yang telah
ditanamkan oleh investor dan berkaitan dengan bagaimana para investor
11
Mekanisme corporate governance diharapkan mampu mengurangi biaya
keagenan (agency cost) yang terjadi dalam perusahaan.
2.1.2 Asimetri Informasi
Laporan keuangan digunakan oleh berbagai pihak. Pihak-pihak yang sebenarnya
paling berkepentingan dengan laporan keuangan adalah para pengguna eksternal
(pemegang saham, kreditor, pemerintah, masyarakat). Para pengguna internal
(para manajemen) mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada perusahaan,
sedangkan pihak eksternal yang tidak berada di perusahaan secara langsung, tidak
mengetahui informasi tersebut sehingga tingkat ketergantungan manajemen
terhadap informasi akuntansi tidak sebesar para pengguna eksternal. Salah satu
kendala yang akan muncul antara agent dan principal adalah adanya asimetri
informasi (information asymmetry). Asimetri informasi muncul ketika manajer
lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder lainnya.
Asimetri informasi adalah suatu keadaan dimana agent mempunyai informasi
yang lebih banyak tentang perusahaan dan prospek di masa yang akan datang
dibandingkan dengan principal. Kondisi ini memberikan kesempatan kepada
agent menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan
keuangan sebagai usaha untuk memaksimalkan kemakmurannya. Menurut Scott
(2008), terdapat dua macam asimetri informasi yaitu:
1. Adverse selection, yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam
perusahaan dibandingkan pihak luar. Dan mungkin terdapat fakta-fakta
yang tidak disampaikan kepada principal.
2. Moral hazard, yaitu bahwa kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer
tidak seluruhnya diketahui oleh investor (pemegang saham, kreditor),
sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan
pemegang saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika
atau norma mungkin tidak layak dilakukan.
Dalam tindakan ini seorang agent memiliki wewenang untuk mempengaruhi
angka dalam laporan keuangan demi mencapai tujuan pribadinya. IAI (2009)
menyatakan tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan
dalam pengambilan keputusan ekonomi. Dengan adanya kondisi yang asimetri,
maka agent dapat mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam
laporan keuangan dengan cara melakukan manajemen laba.
2.1.3 Kecakapan Manajerial
Adanya manajer yang berhasil mendesain proses bisnis yang efisien dan mampu
membuat keputusan-keputusan yang memberi nilai tambah bagi perusahaan
merupakan salah satu kunci kesuksesan sebuah perusahaan. Selain itu, manajer
juga berkewajiban untuk mengkomunikasikan kinerja perusahaan kepada pihak
luar perusahaan (stakeholders) yang berkepentingan dengan perusahaan. Laporan
13
mengkomunikasikan kinerja perusahaan yang disusun pada setiap perioda
pelaporan.
Badan standar akuntansi memperbolehkan manajer menggunakan judgment dalam
membuat laporan keuangan dengan tujuan agar laporan tersebut sesuai dengan
kondisi bisnis masing-masing perusahaan sehingga akan meningkatkan nilai dari
akuntansi sebagai suatu bentuk komunikasi. Healy dan Wahlen (1999) dalam
Isnugrahadi dan Kusuma (2009) mencontohkan beberapa bentuk dari judgment
manajer dalam laporan keuangan tersebut, misalnya adalah pengestimasian
kejadian-kejadian yang mengandung nilai ekonomis di masa datang seperti
perkiraan umur ekonomis dan nilai sisa dari aktiva jangka panjang. Manajer juga
harus memilih dari seperangkat metoda akuntansi yang diperbolehkan untuk
melaporkan transaksi-transaksi ekonomis yang sama seperti penggunaan metoda
garis lurus atau metoda percepatan dalam pencatatan depresiasi, ataupun memilih
LIFO atau FIFO dalam penilaian sediaan. Manajer juga harus memilih untuk
membebankan atau menangguhkan pengeluaran-pengeluaran seperti penelitian
dan pengembangan (R&D).
Agar semua judgment seperti di atas dapat dilakukan dengan baik, manajer
dituntut untuk memiliki keahlian yang cukup. Manajer bisa memiliki keahlian
tersebut karena mereka biasanya mempunyai tingkat intelegensia dan tingkat
pendidikan yang cukup tinggi. Disamping itu, tingkat pengalaman manajer juga
turut menentukan keahlian manajerial yang dimilikinya.
Penelitian yang membahas mengenai kecakapan manajerial dalam bidang
kesulitan untuk mengukur variabel kecakapan manajerial tersebut. Demerjian dkk
(2006) mengenalkan DEA sebagai alat pengukur kecakapan manajerial. Dalam
penelitiannya tersebut, Demerjian dkk. (2006) mencoba menguji pengaruh
kecakapan manajerial terhadap kualitas laba. Kecakapan manajerial dalam
penelitian ini didefinisikan sebagai tingkat keefisienan relatif sebuah perusahaan
dalam mengelola input-input (faktor-faktor sumber daya dan operasional) untuk
meningkatkan output (penjualan). Tingkat keefisienan relatif ini kemudian
disimpulkan sebagai hasil dari kecakapan manajer. Semakin efisien sebuah
perusahaan dibanding dengan perusahaan lainnya dalam subsektor industri
pemanufakturan yang sama, maka semakin cakap manajer yang berada di
perusahaan tersebut (Isnugrahadi dan Kusuma, 2009).
2.1.4 Komposisi Dewan Komisaris
Komposisi Dewan Komisaris (BOD) adalah susunan keanggotaan yang terdiri
dari komisaris dari luar perusahaan (komisaris independen) dan komisaris dari
dalam perusahaan. Dewan komisaris memiliki peran untuk memonitor kebijakan
direksi. Peran komisaris ini diharapkan dapat meminimalisir permasalahan agensi
yang muncul antara dewan direksi dan pemengang saham, sehingga kinerja yang
dihasilkan oleh perusahaan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Dewan komisaris memegang peran penting dalam mengarahkan strategi dan
mengawasi jalannya perusahaan serta memastikan bahwa para manajer benar-
benar meningkatkan kinerja perusahaan sebagai bagian dari pencapaian
perusahaan. Egon (2000) dalam Bimo (2012) menyatakan bahwa dewan komisaris
15
pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola
perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas.
Fama dan Jensen (1983) menyatakan bahwa komisaris independen dapat
bertindak sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi diantara para manajer
internal dan mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada
manajemen. Komisaris independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan
fungsi monitoring agar terciptanya perusahaan yang Good Corporate Governance
(GCG).
2.1.5 Manajemen Laba
Setiap individu mempunyai sifat yang cenderung untuk memaksimalkan
kepentingannya sendiri. Demikian juga seorang manajer yang bekerja dalam
sebuah perusahaan akan berusaha mencapai utilitasnya, apalagi pihak pemilik
yang tidak dapat memonitor kinerja manajer setiap saat untuk meyakinkan bahwa
mereka bekerja sesuai keinginan pemegang saham. Manajemen laba merupakan
konsekuensi langsung dari para manajer dan pembuat laporan keuangan lainnya
untuk melakukan manajemen atas informasi akuntansi, khususnya laba.
Menurut Sugiri (1998) dalam Widyaningdyah (2001) membagi definisi
manajemen laba menjadi dua, yaitu:
a) Definisi sempit
Manajemen labadalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode
manajer untuk ”bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam
menentukan besarnya earnings.
b) Definisi luas
Manajemen labamerupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi)
laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab,
tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka
panjang unit tersebut.
2.1.5.1 Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba
Salah satu penelitian yang mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi
manajemen laba adalah penelitian milik Sugiri (1998) yaitu:
1. Hipotesis Bonus Plan.
Bahwa pada perusahaan dengan bonus plan cenderung untuk
menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan income .
Manajer perusahaan dengan rencana bonus tertentu cenderung lebih
menykai metode yang meningkatkan periode berjalan. Pilihan tersebut
diharapkan dapat meningkatkan nilai bonus yang kan diterima.
2. The debt covenant hypothesis
Perusahaan yang semakin mendekati pelanggaran debt covenant
(perjanjian kontrak hutang) cenderung untuk memilih prosedur akuntansi
yang menggeser reported earnings dari future periods ke current period
(menaikkan laba yang dilaporkan sekarang), ceteris paribus.
3. Political Cost Hypothesis
Perusahaan besar cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat
17
bertujuan untuk menghindari kewajiban pajak dan berbagai aturan yang
kurang menguntungkan bagi perusahaan.
2.1.6 Data Envelopment Analysis (DEA)
Data Envelopment Analysis (DEA) biasanya digunakan untuk mengukur efisiensi
relatif organisasi atau perusahaan. Satuan ukuran ini biasanya dinyatakan dalam
Decision Making Unit atau Unit Kegiatan Ekonomi (UKE). Efisiensi relatif suatu
UKE adalah efisiensi suatu UKE yang dibandingkan dengan efisiensi UKE
lainnya dalam satu kesatuan populasi sampel. Di sini berlaku syarat bahwa
UKE-UKE tersebut memiliki set data yang terdiri dari jenis input dan output yang sama.
Menurut DEA, UKE dikatakan efisien jika rasio perbandingan output/input sama
dengan 1 atau 100%, artinya UKE tersebut sudah tidak lagi melakukan
pemborosan dalam penggunaan input-inputnya dan atau mampu memanfaatkan
secara optimal kemampuan potensial produksi yang dimiliki sehingga mampu
mencapai tingkat yang efisien. Suatu UKE dikatakan kurang efisien jika rasio
perbandingan output/input bernilai antara 0 ≤ output/input< 1 atau nilainya
kurang dari 100% artinya UKE tersebut masih melakukan tindakan-tindakan
pemborosan dalam penggunaan input-input dan atau belum mampu
memanfaatkan input-inputyang dimiliki untuk digunakan supaya mampu
menghasilkan outputyang optimal (Karsinah, 2007)
2.2 Penelitian Terdahulu
1. Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menguji pengaruh kecakapan manajerial
pemoderasi. Pada penelitiannya, kecakapan manajerial diuji dengan Data
Envelopment Analysis (DEA). Manajemen laba diukur dengan menggunakan
model Jones. Sedangkan kualitas auditor diukur dengan menggunakan
variabel dummy, nilai 1 diberikan untuk auditor berkualitas tinggi (Big Four)
dan nilai 0 diberikan untuk auditor berkualitas rendah (Big Four). Hasil
penelitian ini, kecakapan manajerial berpengaruh positif secara signifikan
terhadap manajemen laba, sedangkan variabel pemoderasi sendiri yang
berupa interaksi antara kecakapan manajerial dan kualitas audior tidak
berpengaruh negatif secara signifikan terhadap manajemen laba.
2. Purwanti (2012) menguji pengaruh kecakapan manajerial, kualitas auditor,
komite audit, firm size dan leverage terhadap earnings management. Pada
penelitiannya, , kecakapan manajerial diuji dengan Data Envelopment
Analysis (DEA). Kualitas auditor diukur dengan menggunakan variabel
dummy, nilai 1 diberikan untuk auditor berkualitas tinggi (Big Four) dan nilai
0 diberikan untuk auditor berkualitas rendah (Big Four). Komite audit diukur
dengan menggunakan jumlah komite audit perusahaan. Firm size diukur
dengan menggunakan logaritma natural dari besarnya total aset yang dimiliki
perusahaan pada akhir tahun. Leverage dukur dengan menggunakan rasio
Debt to Asset. Hasil dari penelitian ini adalah kecakapan manajerial dan
levereage tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan
kualitas auditor, komite audit, dan firm size berpengaruh secara signifikan
19
3. Demerjian, Lewis, Lev, dan Mc Vay (2006) menguji pengaruh kecakapan
manajerial terhadap kualitas laba. Demerjian dkk (2006) menggunakan Data
EnvelopmentAnalysis (DEA) untuk mengukur kecakapan manajerial. Hasil
dari penelitan Demerjian dkk (2006) menemukan kecakapan manajerial
berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laba. Dengan kata lain
semakin cakap seorang manager maka laba yang dihasilkan semakin
berkualitas.
4. Werner R. Murhadi (2009) menguji pengaruh good corporate governance
terhadap praktik earnings manajement pada perusahaan terdaftar di PT Bursa
Efek Indonesia. Good corporate governance diproksikan menjadi komisaris
independen, komite audit, CEO Duality, top share, dan koalisi pemegang
saham di luar controlling shareholder. Komisaris independen diukur dengan
menggunakan persentase komisaris independen dibanding dengan total
komisaris. Komite audit diukur dengan menggunakan variabel dummy dimana
nilai 1 bila terdapat komite audit dan nilai 0 bila tidak terdapat komite audit.
CEO Duality diukur dengan variabel dummy, dimana nilai 1 bila terdapat CEO
Duality dan nilai 0 bila tidak terdapat CEO Duality. Top share diukur dengan
menggunakan variabel dummy dimana nilai 1 apabila terdapat pemegang saham
pengendali dan nilai 0 apabila tidak terdapat pemegang saham pengendali.
Share2_5 (S2_5) didefinisikan sebagai lima pemegang saham besar selain
pemegang saham pengendali. Dimana kelima pemegang saham besar dapat
melakukan koalisi untuk menghadapi pemegang saham pengendali. Harapan
(-) Share2_5 diukur sebagai berikut: �ℎ���25 =� ���
��.
2 5
�=2
Hasil dari penelitian ini adalah komisaris independen, komite audit, koalisi
pemegang saham di luar controlling shareholder tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan CEO Duality dan top share
berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.
2.3 Model Penelitian
(-)
2.4 Pengembangan Hipotesis 1. KecakapanManajerial
Berdasarkan teori agensi yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kepentingan
antara pemilik (principal) dengan manajemen (agent) perusahaan yang
mengasumsikan bahwa setiap individu bertindak atas kepentingan serta
keuntungan pribadi mereka sendiri dan teori tentang asimetri informasi yang biasa
terjadi di perusahaan yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan keadaan,
dimana manajemen (agent) mempunyai informasi yang lebih banyak tentang
perusahaan dibandingkan pemilik perusahaan (principal). Hal-hal seperti inilah
yang dimanfaatkan seorang manajer untuk melakukan manajemen laba. Hal ini
didasari bahwa berharap seorang manajer yang cakap akan selalu melaporkan laba
yang berkualitas adalah hal yang tidak mungkin, karena seorang manajer yang
cakap dipandang lebih mampu dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada
untuk melakukan manajemen laba, demi mendapatkan bonus yang lebih besar (+)
Kecakapan Manajerial Manajemen Laba
21
lagi. Sugiri (2005) dalam Isnugrahadi dan Kusuma (2009) mengatakan ada dua
hal prasyarat yang harus ada agar manajemen selalu jujur dalam melaksanakan
tugasnya. Pertama, kultur organisasional harus mendukung pengambilan
keputusan yang etis. Kedua, manajemen harus memiliki pemotivator untuk selalu
bertindak jujur. Tindakan manajer juga tidak dapat langsung diamati oleh para
pemegang saham. Pada kondisi ini manajer memiliki informasi tersembunyi yang
bisa dieksploitasi demi kepentingan pribadi manajer. Pada saat yang sama terjadi
asimetri informasi yang mendorong manajemen untuk melakukan rekayasa laba.
Seorang manajer handal yang termotivasi untuk melakukan tindakan oportunis
akan lebih mampu untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk
melakukan manajemen laba.
H1
2. Komposisi Dewan Komisaris
= kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap manajemen laba
Komposisi Dewan Komisaris adalah susunan keanggotaan yang terdiri dari
komisaris dari luar perusahaan (komisaris independen) dan komisaris dari dalam
perusahaan. Menurut aturan yang dikeluarkan oleh PT Bursa Efek Jakarta (BEJ)
didalam pencatatan efek nomor 1-A tentang ketentutan umum pencatatan efek
yang bersifat ekuitas di bursa dalam angka 1-a menyebutkan tentang rasio
komisaris independen yaitu komisaris independen yang jumlahnya secara
proporsional jumlah saham anggota komisaris independen sekurang-kurangnya
30% dari jumlah seluruh anggota dewan komisaris wajib diisi oleh anggota
komisaris yang berasal dari luar perusahaan. Jadi, seperti itulah komposisi dewan
(pricipal) dengan manajemen (agent) serta asimetri informasi akibat dari segala
tindakan manajer yang tidak dapat diawasi langsung oleh pemilik perusahaan
setiap harinya. Untuk mencegah kemungkinan seorang manajer untuk melakukan
manajemen laba, maka diperlukan komposisi dewan komisaris yang ideal sebagai
pihak penengah dan pengawas agar pelaporan keuangan dapat sesuai dengan
kegiatan perusahaan yang sesungguhnya terjadi. Fama dan Jensen (1983)
menyatakan bahwa komisaris independen dapat bertindak sebagai penengah
dalam perselisihan yang terjadi diantara para manajer internal dan mengawasi
kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. Kao dan
Chen (2004) mengemukakan bahwa komposisi dewan komisaris luar perusahaan
lebih independen terhadap manajemen dibandingkan dengan dewan komisaris
yang berada di dalam perusahaan, sehingga lebih efektif dalam melaksanakan
fungsi pengawasan terhadap manejemen. Egon (2000) dalam Bimo (2012)
menyatakan bahwa dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance
yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi
manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya
akuntabilitas. Jadi, dengan adanya komposisi dewan komisaris yang ideal,
diharapkan mampu untuk melakukan pengawasan yang baik ke perusahaan secara
keseluruhan guna menekan keinginan manajer dalam melakukan manajemen laba.
Sehingga, semakin besar proporsi dewan komisaris independen dalam komposisi
dewan komisaris maka manajemen laba akan semakin berkurang. Komisaris
independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi monitoring agar
23
Variabel komposisi dewan komisaris ini dihitung dengan membagi jumlah
komisaris independen terhadap jumlah total anggota komisaris.
H2 = Komposisi dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap hubungan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel
Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari Indonesian
Capital Market Directory (ICMD), OSIRIS, dan website Bursa Efek Indonesia.
Data tersebut berupa laporan keuangan yang nantinya akan diambil
elemen-elemen tertentu yang akan digunakan dalam pengukuran variabel kecakapan
manajerial dengan metoda DEA maupun variabel manajemen laba.
Pemilihan sampel dalam penelitian ini akan menggunakan metoda purposive
sampling dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan termasuk kategori
perusahaan manufaktur selama periode 2009-2011.
2. Selama periode 2009-2011 perusahaan menerbitkan laporan keuangan secara
lengkap dan dalam mata uang rupiah.
3. Perusahaan memiliki data lengkap mengenaiinformasi yang meliputi total
aset, pendapatan, piutang dagang, sediaan, aset tetap, harga pokok penjualan
(cost of goods sold), aliran kas bersih dari operasi, jumlah tenaga kerja,
26
Dari kriteria di atas, didapat 47 sampel perusahaan manukfaktur manufaktur yang
terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. Tabel 3.1 menjelaskan jumlah dan kriteria
[image:37.595.114.523.169.315.2]perusahaan yang sesuai.
Tabel 3.1 Pemilihan Sampel
No Kriteria Sampel Jumlah
Perusahaan 1 Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI untuk tahun
2009-2011
115
2 Tidak tersedia laporan tahunan lengkap selama tahun 2009-2011
(61)
3 Tersedia laporan tahunan lengkap selama tahun 2009-2011 54
4 Laporan kuangan dalam mata uang asing (7)
Total Sampel 47
Sumber : Data olahan (2013)
Jumlah perusahaan manufaktur yang sesuai kriteria adalah 47 perusahaan dari
berbagai subsektor perusahaan, pengamatan selama 3 tahun sehingga 47
perusahaan dikali 3 sehingga didapat 141 pengamatan.
3.2 Data Penelitian
3.2.1 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang
diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Jenis data dalam
penelitian ini adalah data sekunder, yaitu berupa laporan laporan tahunan (annual
report) periode 2009-2011. Sumber data diperoleh dari Indonesian Capital
3.2.2 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat dan relevan
sesuai dengan rumusan masalah yang dibahas. Metode pengumpulan data adalah
sebagai berikut:
1. Tinjauan Kepustakaan
Metode ini digunakan untuk mempelajari lebih dalam konsep dan teori yang
berhubungan dengan penelitian ini sehingga mendapatkan landasan teori
yang memadai untuk melakukan penelitian.
2. Mengakses web dan situs terkait
Metode ini digunakan untuk mencari dan melengkapi data-data yng
dibutuhkan dalam penelitian ini sebagai sumber informasi, antara lain:
Indonesian Capital Market Directory (ICMD) , IDX, Bursa Efek Indonesia.
Data yang terkumpul kemudian akan dilanjutkan dengan pencatatan ,
perekapan dan penghitungan sehingga mendapatkan hasil penelitian.
3.3 Operasional Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Dependen
Variabel dependen (terikat) adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi
oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
manajemen laba. Penyajian laba merupakan hal yang sering dimanipulasi oleh
pihak manajemen perusahaan untuk menghasilkan suatu pelaporan keuangan yang
terlihat menguntungkan. Usaha ini disebut dengan manajemen laba. Pengukuran
manajemen laba dilakukan dengan dengan cara menghitung discretionary accrual.
28
menggunakan model Jones (1991) yang dimodifikasi oleh Dechow, dkk. (1995).
Model ini digunakan karena dinilai merupakan model yang paling baik dalam
mendeteksi manajemen laba. Untuk mendapatkan nilai discretionary accrual
dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:
a. Menghitung total accrual:
Total Accrual (TAC) = laba bersih setelah pajak (net income) – arus kas operasi
(cash flow from operating).
b. Menghitung nilai accruals dengan persamaan regresi linear sederhana atau Ordinary Least Square (OLS):
��� −���1�= �1 � 1
�� −1 �+�2�
�����
�� −1 �+�3 (
����
�� −1 ) +�
Keterangan:
TACt : total accruals perusahaan i pada periode t.
At-1 : total aset untuk sampel perusahaan i pada tahun t-1.
ΔREVt : perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t.
PPEt : aktiva tetap (gross property plant and equipment) perusahaan tahun t.
c. Menghitung nilai nondiscretionary accrual (NDA):
perhitungan nilai nondiscretionary accrual (NDA) dengan persamaan dengan
terlebih dahulu melakukan regresi linear sederhana dengan persamaaan :
��� = �1 �
1
��−1�
+ �2 �∆���� − ∆����
��−1 �
+ �23 (����
��−1
Keterangan:
��� : non discretionary accruals pada tahun t.
� : fitted coeffcient yang diperoleh dari hasil regresi pada perhitungan total
accruals.
∆���� : perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t.
d. Menghitung nilai discretionary accruals:
DACt = ( TACt
At−1 )−NDAt
Keterangan:
DACt : discretionary accruals perusahaan i pada periode t.
3.3.2 Variabel independen
Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Kecakapan Manajerial
Kecakapan manajerial dalam penelitian ini didefinisikan sebagai tingkat
keefisienan relatif sebuah perusahaan dalam mengelola input-input (faktor-faktor
sumber daya dan operasional) untuk meningkatkan output (penjualan). Tingkat
keefisienan relatif ini kemudian disimpulkan sebagai hasil dari kecakapan
manajer. Semakin efisien sebuah perusahaan dibanding dengan perusahaan
lainnya dalam subsektor industri pemanufakturan yang sama, maka semakin
cakap manajer yang berada di perusahaan tersebut (Isnugrahadi dan Kusuma,
30
Kecakapan manajerial diukur dengan menggunakan Data Envelopment Analysis
(DEA). DEA adalah sebuah program optimisasi yang digunakan untuk
mengevaluasi efisiensi relatif suatu Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) berupa
perbandingan antara output atau multi output dengan input atau multi input. Hasil
perbandingan antara UKE yang satu dapat diperbandingkan efisensi relatifnya
dengan UKE yang lain dengan syarat output dan input yang digunakan sama.
Output dan input yang digunakan adalah sebagai berikut:
Output:
Output yang digunakan hanya satu yaitu penjualan. Alasan memakai penjualan
sebagai output karena penjualan merepresentasikan nilai nominal dari produk
perusahaan yang merupakan output mendasar dari perusahaan.
Input:
Beberapa item yang dijadikan input dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu
faktor sumber daya (total aset dan jumlah tenaga kerja) dan faktor operasional
(Days COGS in Inventory dan Days Sales Outstanding).
a. Total Aset
Total aset dimasukkan sebagai input karena aset merupakan faktor sumber daya
yang sangat penting dalam menghasilkan penjualan (output). Seorang manajer
yang cakap akan mampu mengelola besaran aset yang diperlukan untuk
menghasilkan penjualan yang maksimal.
b. Jumlah tenaga kerja
Selain aset, faktor sumber daya lain yang berperan menghasilkan penjualan adalah
jumlah tenaga kerja untuk menghasilkan penjualan tersebut maka semakin efisien
perusahaan tersebut.
c. Days COGS in Inventory (DCI)
Variabel ini mengukur besaran kecepatan perputaran sediaan perusahaan dalam
satuan hari. Semakin kecil waktu (hari) yang diperlukan untuk perputaran sediaan
maka semakin efisien perusahaan tersebut. Manajer yang handal diharapkan
mampu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan
besaran DCI ini. Rumus untuk menghitung besaran DCI adalah sebagai berikut:
DCI = 365 / (COGS / Inventory)
Keterangan:
COGS : Cost of Goods Sold
d. Days Sales Outstanding (DSO)
DSO mengukur waktu yang diperlukan oleh perusahaan untuk mendapatkan kas
setelah melakukan penjualan. Semakin cepat perusahaan mendapatkan kas
semakin baik. Rumus untuk menghitung DSO adalah sebagai berikut:
DSO = Receivables / (Sales / 365)
Model yang dipergunakan untuk menghitung efisiensi dengan pendekatan DEA
adalah sebagai berikut:
��� = ∑−1 ��
∑ −1� ��
Keterangan:
� : nilai efisiensi perusahaan k
32
Yik : jumlah output i dari perusahaan k dan dihitung dari i=1 hingga s
Vj : bobot input j yang digunakan perusahaan k
Xjk : jumlah input j dari perusahaan k dan dihitung dari j=1 hingga m
Rasio efisiensi � kemudian didapatkan dengan persamaan:
∑−1 ��
∑ −1� ��
≤(� = 1, … . , )
�1 ,�2,… ,� ≥0
1, 2,…, � ≥0
Dari persamaan diatas dapat diketahui bahwa nilai efisiensi tidak akan melebihi 1
(100%) dan input output yang dianalisis harus positif.
3.3.3 Variabel Pemoderasi
Komposisi Dewan Komisaris
Dewan komisaris adalah sebuah dewan yang bertugas untuk melakukan
pengawasan dan memberikan nasihat kepada direktur Perseroan Terbatas (PT). Di
Indonesia Dewan Komisaris ditunjuk oleh RUPS (Rapat Umum Pemegang
Saham) dan di dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
dijabarkan fungsi, wewenang, dan tanggung jawab dari dewan komisaris.
Dewan komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak
terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang
saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang
dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak
Jika dalam laporan keuangan tidak dicantumkan berapa jumlah anggota dewan
komisaris independen, maka diasumsikan perusahaan tersebut memiliki komisaris
independen sebanyak 1 orang, karena di dalam undang-undang perseroan terbatas
No. 40 tahun 2007 mewajibkan semua perusahaan untuk memiliki dewan
komisaris independen. Lai (2005) dalam Tutut (2010) menyatakan bahwa
pengukuran komposisi dewan komisaris diukur dengan cara menjumlah semua
anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan (dewan komisaris
independen) dibagi dengan total dewan komisaris pada perusahaan sampel.
3.4 Metode Analisis Data
3.4.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif merupakan teknik deskriptif yang memberikan
informasi mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud menguji hipotesis.
Analisis ini hanya digunakan untuk menyajikan dan menganalisis data disertai
dengan perhitungan agar dapat memperjelas keadaan atau karakteristik data yang
bersangkutan. Pengukuran yang digunakan statistik deskriptif ini meliputi jumlah
sample, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), dan standar
deviasi (Ghozali, 2006). Minimum digunakan untuk mengetahui jumlah terkecil
data yang bersangkutan bervariasi dari rata-rata. Maksimum digunakan untuk
mengetahui jumlah terbesar data yang bersangkutan. Mean digunakan untuk
mengetahui rata–rata data yang bersangkutan. Standar deviasi digunakan untuk
34
3.4.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan dalam penelitian ini untuk menguji apakah data
memenuhi asumsi klasik. Hal ini untuk menghindari terjadinya estimasi yang bias
mengingat tidak pada semua data dapat diterapkan regresi. Pengujian yang
dilakukan adalah uji normalitas, uji mutikolenieritas, uji heteroskedastisitas, dan
uji auto korelasi.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali,
2007 dalam Rahayu, 2010). Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi
dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau
dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan :
1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah
garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi
normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi.
2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2005 dalam
VIF (Variance Inflation Factor) masing-masing variabel independen, jika
nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari gejala
multikolinearitas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lainnya ( Ghozali, 2007 dalam Rahayu, 2010). Model regresi
yang baik adalah yang homoskedastisitas, yaitu jika variance dari residual
satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah didalam suatu model
regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (Ghozali, 2005 dalam
Rahayu, 2010). Pendeteksian ada atau tidaknya autokorelasi menggunakan
uji Durbin-Watson.
3.5 Pengujian Hipotesis
Metode analisis yang digunakan untuk menilai variabilitas luas pengungkapan
risiko dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda (multiple regression
analysis). Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen. Analisis regresi berganda menggunakan
36
untuk menguji hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan dalam penelitian ini
adalah:
1. H1
ABSDACCt = ß0 + ß1 KMt + ε
diuji dengan analisis regresi linear sederhana (simple regression analysis).
2. H2
ABSDACCt = ß0 + ß1 KMt + ß2 KDKt + ß3 KM
diuji dengan analisis regresi linear berganda (multiple regression
analysis).
t
Keterangan:
* KDKt + ε
ABSDACCt = Nilai absolut akrual diskresioner pada tahun t
KMt = Kecakapan manajerial perusahaan pada tahun t
KDKt
ε = Error
BAB V SIMPULAN
5.1 Simpulan dan Implikasi
5.1.1 Simpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah kecakapan manajerial berpengaruh
positif terhadap manajemen laba dan interaksi antara kecakapan manajerial dan
komposisi dewan komisaris dapat mengurangi keinginan manajer untuk
melakukan manajemen laba. Variabel yang diteliti adalah kecakapan manajerial,
komposisi dewan komisaris, dan manajemen laba. Kecakapan manajerial diuji
dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Komposisi dewan
komisaris diukur dengan menggunakan persentase dari dewan komisaris
independen dibagi dengan total komisaris perusahaan. Manajemen laba diuji
dengan menggunakan modelJones. Data yang digunakan adalah data sekunder
Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan website Bursa Efek Indonesia.
Hipotesis diuji dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian
ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Secara statistis, kecakapan manajerial berpengaruh positif secara
signifikan terhadap manajemen laba. Berdasarkan hasil pengujian
48
signifikansi sebesar 0,026 (p < 0,05), maka H1
2. Secara statistis, komposisi dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap
hubungan kecakapan manajerial dengan manajemen laba. Dari hasil
pengujian diperoleh angka koefisien regresi (B) sebesar -0.106 dengan
tingkat signifikansi sebesar 0.519 (p > 0,05), maka H
diterima. Hal ini
disebabkan oleh adanya asimetri informasi dan perbedaan kepentingan
antara pemilik saham dengan manajer (agency theory). Manajer yang
cakap dapat leluasa untuk memanfaatkan peluang pada komponen akrual
demi kepentingan pribadinya.
2
5.1.2 Implikasi
tidak terdukung
atau ditolak. Hal ini disebabkan pengangkatan dewan komisaris oleh perusahaan hanya dilakukan untuk pemenuhan ketaatan terhadap regulasi
saja, tetapi tidak dimaksudkan untuk menegakkan Good Corporate
Governance (GCG) dan rata-rata komposisi dewan komisaris saat ini
relatif rendah, sehingga secara kolektif komisaris independen tidak
memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan dewan komisaris.
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada para pemegang
saham tentang bagaimana kecenderungan perilaku manajer yang melakukan
manajemen laba. Hasil ini diharapkan mampu memotivasi penelitian berikutnya
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan penelitian yaitu:
1. Penelitian ini hanya menggunakan perusahaan manufaktur dalam
pengambilan sampel sehingga hasil penelitian ini tidak dapat
digeneralisasikan pada jenis perusahaan lain seperti perbankan, BUMN,
telekomunikasi atau transportasi .
2. Penelitian ini hanya meneliti perusahaan manufaktur selama 3 tahun.
Diharapkan penelitian berikutnya mampu melakukan pengamatan yang
lebih panjang dengan jumlah perusahaan yang lebih banyak.
5.3 Saran
Saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu:
1. Di Indonesia, variabel kecakapan manajerial yang diukur dengan
menggunakan DEA ini relatif masih baru. Untuk penelitian yang akan
datang, variabel kecakapan manajerial ini dapat diuji pengaruhnya
terhadap variabel-variabel lain seperti kualitas laba, kinerja perusahaan,
harga saham dan lain-lain.
2. Terkait dengan tidak signifikannya interaksi antara komposisi dewan
komisaris dan kecakapan manajerial terhadap manajemen laba, penelitian
yang akan datang bisa mencari variabel-variabel pemoderasi lainnya untuk
melihat variabel pemoderasi manakah yang signifikan mempengaruhi
hubungan kecakapan manajerial terhadap manajemen laba. Sesuai dengan
saran Isnugrahadi dan Kusuma (2009) bahwa variabel-variabel yang dapat
50
manager atas saham perusahaan, good corporategovernance, komposisi
dewan komisaris, kepemilikan institusional, perspektif etis manajemen dan
DAFTAR PUSTAKA
Bimo Bayu Aji. 2012. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Semarang. Universitas Diponegoro.
Dechow, P., Sloan, R., Sweeny, A. 1995. Detecting Earnings Manajement. The Accounting Review, 7(2), April.
Demerjian, P., B. Lev, dan S. McVay. 2006. Manajerial ability and accruals quality. Working paper. Stem School of Business.
Diah Ayu Pertiwi. 2010. Analisis Pengaruh Earnings Management terhadap Nilai Perusahaan dengan Peranan Praktik Corporate Governance sebagai
Moderating Variabel pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2008.. Semarang. Universitas Diponegoro.
Egon Zehnder International. 2000. Corporate Governance and the Role of the Board of Directors.
Fama, E.F. and Jensen,MC. 1983, Sepration of Ownership and Control, Journal of law and Economics, 26, 301-325.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang. Universitas Diponegoro.
Gunarsih, T dan Hartadi, B. 2002. Pengaruh Pengunguman Pengangkatan Komisaris Independen Terhadap Return Saham di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi, Vol 2, No. 2, hal. 104-120.
Healy, P. 1985. The Effect of Bonus Schemes on Accounting Decisions. Journal of Accounting and Economics7
Healy, P., dan Wahlen J. 1999. A Review of The Earnings Manajement Literature and Its Implications for Standard Setting. Accounting Horizon 12(4).
Holthausen, R., D. Lacker, dan R.G. Sloan. 1995. Annual Bonus Schemes and Manipulation of Earning, Additional Evidence on Bonus Plan and Income Manajement. Journal of Accounting and Economics.
Isnugrahadi, I., dan Indra, W.K. 2009. Pengaruh Kecakapan Manajerial Terhadap Manajemen Laba dengan Kualitas Auditor Sebagai Variabel Pemoderasi. Simposium Nasional Akuntansi 12 Palembang, 4-6 November 2009.
Jensen, M.C. & Meckling, W.H. 1976. Theory Of The Firm: Manager Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics 3(5), 305-360
Karsinah. 2007. Efisiensi Bank-Bank Pembangunan Daerah di Indonesia dengan Data Envelopment Analysis. Tesis. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.
Lai, L.H. 2005. Are Independent Directors Effective in Lowering Earnings Manajement in China.” A Dissertation. Texas A & M University. pp. 1-85.
Marihot dan Doddy Setiawan. 2007. Pengaruh Corporate Governance
terhadap Manajemen Laba di Industri Perbankan Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar 26-28 Juli 2007.
Monks R., Minow, N., 1996. Watching the Watchers: Corporate Governance for the 21
st
Century. Cambridge, Blackwell.
Murhadi, W., R., 2009. Studi pengaruh good corporate governance terhadap praktik earning manajement pada perusahaan terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia. Jurnal manajemen dankewirausahaan, 11 (1)1-10. Dari http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/man/article/viewFile/17739/ 17660
Nasution, M., & Setiawan, D. 2007. Pengaruh corporate governance
terhadap manajemen laba di industri perbankan indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X,Makassar,tanggal 26 – 28 Juli 2007.
Sam’ani. 2007. Pengaruh Good Corporate Governance Dan Leverage Terhadap Kinerja Keuangan pada Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2004 – 2007. Semarang. Universitas Diponegoro.
Sandra, Dessy. 2004. Reaksi pasar Terhadap Tindakan Perataan Laba
Dengan Kualitas Auditor dan Kepemilikan Manajerial Sebagai Variabel Pemoderasi. Proceeding Simposium Nasional Akuntansi VII, Desember 2004, Denpasar.
Scoot, William, R. 1997. Financial Accounting Theory, International Edition, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Shleifer, A dan R.W. Vishny. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of Finance. 52 (2), 737-783.
Sugiri, Slamet. 2005. Kejujuran Manajemen Sebagai Dasar Pelaporan Laba Berkualitas. PidatoPengukuhan Guru Besar UGM.
Sweeney, A.P. 1994. Debt Covenant Violations and Managers Accounting Responses. Journal of Accounting and Economics 1
Tutut Dwi Andayani. 2010. Pengaruh Karakteristik Dewan Komisaris Independen Terhadap Manajemen Laba.Semarang. Universitas Diponegoro.
Widyaningdyah, Agnes. 2001. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh