Aplikasi minyak atsiri pada produk gel pengharum ruangan anti serangga

147  20 

Teks penuh

(1)

APLIKASI MINYAK ATSIRI PADA PRODUK GEL

PENGHARUM RUANGAN ANTI SERANGGA

SKRIPSI

ALISIA RAHMAISNI

F34070034

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

APPLICATION OF ESSENTIAL OILS IN

INSECT REPELLENT AIR FRESHNER GEL

Alisia Rahmaisni, Meika Syahbana Rusli, and Dwi Setyaningsih Department of Agroindustrial Technology, Faculty of Agricultural Technology,

Bogor Agricultural University, IPB Darmaga Campus, PO BOX 220 Bogor, West Java, Indonesia

Email: ceea_nice89@yahoo.com

ABSTRACT

Citronella and lavender oils are known as insect repellent. Composition of insect repellent, combined with aromatic fragrance, such as lemon, kaffir lime, and ylang-ylang oils were packed in an air freshner gel with the addition of patchouli oil as fixative agent. The purposes of this study are (1) to get the best concentration of patchouli oil as fixative agent; (2) to get the best composition of insect repellent active ingredients and fragrance materials, and (3) to know the resistance and the loss on fragrance odor in air freshner gel during use (fourteen days). The methods used are sensory test with skoring test, effectiveness test of the air freshner gel for repelling mosquito, and hedonic test. Then, the last methods used are sensory test and weighing.

The research result show that the best concentration of patchouli oil as fixative agent is 1% patchouli oil. The next results, there are three best compositions of essential oils in air freshner gel formula that effectively repell insects. The first formula composition consist fragrance ingredient (lemon oil 2%) and the active ingredient of insect repellent (citronella oil 2% and lavender oil 2%). The second formula composition comprises fragrance material (kaffir lime oil 2%) and the active ingredient of insect repellent (citronella oil 3%). The third formula composition consisting of fragrance material (ylang-ylang oil 2%) and the active ingredient of insect repellent (citronella oil 2% and lavender oil 2%). Based on the result of hedonic test, the most preffered fragrance from the three formulas is formula with lemon fragrance. The last results, the resistance on fragrance odor can be estimated that is still acceptable until eight days of use and the loss on fragrance odor during use (fourteen days) can be estimated 54.89% (0.988 gram).

(3)

ALISIA RAHMAISNI. F34070034. Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga. Dibawah bimbingan Meika Syahbana Rusli dan Dwi Setyaningsih. 2011.

RINGKASAN

Indonesia merupakan negara agraris dengan berbagai kekayaan alam pertanian dan komoditas pertanian yang potensial. Salah satu komoditas pertanian yang cukup besar potensinya adalah minyak atsiri. Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri yang dapat menjadi kebanggaan dan andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa. Menurut Dewan Atsiri Indonesia (2009), data statistik ekspor-impor dunia menunjukkan bahwa konsumsi minyak atsiri dan turunannya naik sekitar 10% dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh perkembangan kebutuhan untuk industri makanan (food flavoring), industri kosmetik dan wewangian (fragrance).

Minyak atsiri banyak diaplikasikan pada produk rumah tangga seperti kosmetik, penyedap makanan, pewangi pakaian, aromaterapi dan desinfektan. Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis yang kaya dengan berbagai macam serangga. Salah satu jenis serangga adalah nyamuk. Nyamuk merupakan salah satu masalah karena dapat menimbulkan berbagai penyakit dan mengganggu kenyamanan. Tujuan utama penelitian ini adalah mendapatkan komposisi terbaik minyak atsiri (sebagai bahan fiksatif, bahan aktif penolak serangga, dan bahan pewangi) pada gel pengharum ruangan anti serangga.

Penelitian ini terdiri atas dua tahap, tahap pertama yaitu menentukan konsentrasi terbaik minyak atsiri nilam dalam hal mengikat wangi minyak atsiri lain. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan uji sensori dengan menggunakan 30 orang panelis. Tahap kedua adalah mencari komposisi dan ketahanan wangi produk gel pengharum ruangan anti serangga. Komposisi secara umum yang digunakan adalah minyak nilam dengan konsentrasi yang didapatkan dari penelitian tahap pertama ditambah dengan bahan aktif dan bahan pewangi. Adapun bahan aktif penolak serangga yang digunakan antara lain minyak sereh wangi dan minyak lavender dengan komposisi masing-masing sebesar 1%, 1.5%, dan 2%. Bahan pewangi yang digunakan terdiri atas minyak lemon, minyak jeruk purut, dan minyak kenanga dengan masing-masing komposisi konsentrasinya sebesar 2%. Selain itu, juga dilakukan penyimpanan sampel dari hasil uji hedonik selama 14 hari dan dilakukan pengujian sensori pada hari ke-5, ke-10, dan ke-14 penyimpanan, serta dilakukan penimbangan berat sampel pada hari ke-0, ke-5, ke-10, dan ke-14 penyimpanan.

(4)
(5)

APLIKASI MINYAK ATSIRI PADA PRODUK GEL

PENGHARUM RUANGAN ANTI SERANGGA

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh:

ALISIA RAHMAISNI

F34070034

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)

Judul Skripsi

: Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Gel Pengharum Ruangan

Anti Serangga

Nama

: Alisia Rahmaisni

NIM

: F34070034

Menyetujui,

Tanggal lulus: 28 Juli 2011

Dosen Pembimbing I,

(Dr. Ir. Meika Syahbana Rusli, M.Sc, Agr.)

NIP. 19620505 198903 1 027

Dosen Pembimbing II,

(Dr. Dwi Setyaningsih, S.TP, M.Si.)

NIP. 19700103 199412 2 001

Mengetahui,

Ketua Departemen,

(7)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga adalah hasil karya saya sendiri dengan arahan Dosen Pembimbing Akademik, dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juli 2011

Yang membuat pernyataan

(8)

BIODATA PENULIS

Alisia Rahmaisni dilahirkan di Balikpapan pada 7 November 1989 sebagai anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Zuhairi Rivai dan Ida Afrida. Penulis menamatkan sekolah dasar di SD Negeri 003 Balikpapan (1995-2001) dan melanjutkan ke SLTP Negeri 1 Balikpapan (2001-2004). Pada tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Depok dan melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dengan mengambil pilihan mayor Teknologi Industri Pertanian. Penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Penerepan Komputer. Selain menjalani aktivitas akademik penulis juga mengikuti organisasi, kepanitiaan, dan kompetisi. Pada tahun 2009, penulis mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gentra Kaheman dan melaksanakan pagelaran Seni Angklung. Pada tahun yang sama penulis menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum Himpunan Profesi Teknologi Pertanian (HIMALOGIN) IPB dan menjabat sebagai Sekertaris Umum HIMALOGIN pada tahun kepengurusan 2010. Pada tahun 2009 dan 2010 penulis mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) yang didanai oleh DIKTI. Penulis pernah menjadi finalis pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Minyak Atsiri. Pada tahun 2010, penulis melaksanakan program Praktek Lapang di PT. Mane Indonesia dengan judul “Mempelajari Teknologi Proses Produksi Flavor dan Fragrance”. Pada masa akhir studinya penulis memperoleh beasiswa dari Yayasan Goodwill International.

(9)

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena hanya berkat rahmat, hidayat dan karunia-Nya penulis berhasil menyelesaikan skripsi dengan judul “Aplikasi Minyak Atsiri pada Produk Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga”.Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, doa, dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Orangtua yang selama ini telah membesarkan, mencurahkan kasih sayang, motivasi, semangat, doa dan dukungan penuh kepada penulis.

2. Dr. Ir. Meika Syahbana Rusli, M.Sc, Agr. selaku dosen pembimbing I atas ketulusan hati dan kesabarannya dalam membimbing, mendukung, dan mengarahkan penulis.

3. Dr. Dwi Setyaningsih, S.TP, M.Si. selaku dosen pembimbing II atas ketulusan hati dan kesabarannya dalam membimbing, mendukung, dan mengarahkan penulis.

4. Drs. Purwoko, M.Si. selaku dosen penguji yang telah memberikan nasehat, kritik, dan saran dalam penulisan skripsi.

5. Keluarga besar yang telah memberikan motivasi dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Sahabatku tersayang Rima, Andini, Irma yang sudah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Teman-teman satu bimbingan, Nunung dan Ratih yang telah menyemangati penulis dan memberikan saran dan kritik bagi penulis

8. Teman-teman satu angkatan (TIN 44) yang telah saling menyemangati, mendoakan, dan membantu dalam menyelesaikan skripsi.

9. Laboran dan pegawai di Departemen Teknologi Industri Pertanian atas bantuannya kepada penulis selama melakukan penelitan dan menyelesaikan skripsi ini.

10. Serta semua pihak yang tak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

Semoga Allah SWT membrikan dan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini penulis tidak luput dari kesalahan yang manusiawi. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan penulisan selanjutnya.

Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak serta menambah wacana pemikiran bagi kita semua.

Bogor, Juli 2011

(10)

ii

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATAR BELAKANG ... 1

1.2 TUJUAN ... 2

2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 MINYAK ATSIRI ... 3

2.1.1 Minyak Nilam ... 4

2.1.2 Minyak Sereh Wangi ... 5

2.1.3 Minyak Lavender ... 6

2.1.4 Minyak Lemon ... 8

2.1.5 Minyak Jeruk Purut ... 8

2.1.6 Minyak Kenanga ... 9

2.2 GEL PENGHARUM RUANGAN... 10

2.2.1 Karagenan sebagai Bahan Pembentuk Gel... 11

2.2.2 Bahan Tambahan Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 12

2.2.3 Bahan Pewangi... 13

2.2.4 Bahan Pengikat Wangi ... 13

2.2.5 Bahan Aktif Penolak Nyamuk ... 14

2.3 NYAMUK CULEX QUINQUEFASCIATUS ... 14

2.4 PENELITIAN TERDAHULU ... 15

3. METODOLOGI ... 17

3.1 WAKTU DAN TEMPAT ... 17

(11)

iii

3.3 METODE PENELITIAN ... 17

3.3.1 Penentuan Konsentrasi Bahan Fiksatif ... 19

3.3.2 Penentuan Komposisi dan Ketahanan Wangi Produk Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 20

3.4 RANCANGAN PERCOBAAN ... 21

3.5 PROSEDUR PENGUJIAN ... 22

3.5.1 Uji Sensori Minyak Nilam ... 22

3.5.2 Uji Efektifitas Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 22

3.5.3 Uji Kesukaan Wangi Gel Pengahrum Ruangan Anti Setangga ... 24

3.5.4 Uji Ketahanan Wangi Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 24

3.5.5 Penimbangan Berat Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 24

3.6 ANALISIS DATA ... 25

3.6.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 25

3.6.2 Analisis Ragam ... 25

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

4.1 PENENTUAN KONSENTRASI BAHAN FIKSATIF ... 26

4.1.1 Pengujian Sensori... 26

4.1.2 Kehilangan Berat Sampel Produk ... 27

4.2 PENENTUAN KOMPOSISI DAN KETAHANAN WANGI PRODUK GEL PENGHARUM RUANGAN ANTI SERANGGA ... 29

4.2.1 Uji Efektifitas Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 29

4.2.2 Uji Kesukaan Wangi Gel Pengharum Ruangan Anti Seranggga ... 35

4.2.3 Uji Ketahanan Wangi Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 37

4.2.4 Kehilangan Berat Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga ... 38

4.2.5 Evaluasi Produk Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga... 40

5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

5.1 KESIMPULAN ... 42

5.2 SARAN ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(12)

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Komponen kimia penyusun minyak nilam ... 5

Tabel 2. Susunan kimia minyak sereh wangi ... 6

Tabel 3. Komposisi penyusun minyak lavender ... 7

Tabel 4. Komposisi kimia fraksi ekstra minyak kenanga ... 9

Tabel 5. Karakteristik propilen glikol ... 12

Tabel 6. Komposisi sampel kontrol dan sampel uji untuk pengujian sensori minyak nilam ... 19

Tabel 7. Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga untuk sampel uji ... 20

Tabel 8. Rata-rata total kehilangan berat sampel produk selama 6 hari penyimpanan ... 27

Tabel 9. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel kontrol ... 29

Tabel 10. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi lemon ... 30

Tabel 11. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi jeruk purut ... 32

(13)

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Pelepasan minyak atsiri di ruangan ... 4

Gambar 2. Diagram alir penelitian ... 18

Gambar 3. Skematik wadah pengujian efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga ... 22

Gambar 4. Detail ruang pertama wadah pengujian gel pengharum ruangan anti serangga (tampak atas dan tampak bawah) ... 23

Gambar 5. Detail ruang kedua wadah pengujian ... 23

Gambar 6. Detail lubang-lubang pada sekat antara ruang kedua dengan ruang ketiga... 23

Gambar 7. Histogram rata-rata penilaian panelis terhadap kekuatan wangi ... 27

Gambar 8. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi lemon ... 31

Gambar 9. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi jeruk purut ... 32

Gambar 10. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi kenanga ... 34

Gambar 11. Histogram persentase penilaian panelis terhadap kesukaan wangi ... 36

Gambar 12. Grafik rata-rata ketahanan wangi sampel uji produk dengan wangi lemon berdasarkan penilaian sensori panelis ... 37

Gambar 13. Grafik rata-rata total kehilangan berat sampel produk selama 14 hari penyimpanan ... 38

(14)

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Diagram alir penelitian pendahuluan ... 48

Lampiran 2. Diagram alir pembuatan gel pengharum ruangan ... 48

Lampiran 3. Diagram alir pembuatan gel pengharum ruangan anti serangga ... 49

Lampiran 4. Form uji sensori minyak nilam ... 50

Lampiran 5. Form uji hedonik gel pengharum ruangan anti serangga ... 51

Lampiran 6. Form uji sensori ketahanan wangi gel pengharum ruangan anti serangga ... 51

Lampiran 7. Tabel hasil penilaian sensori minyak nilam pada gel pengharum ruangan anti serangga setelah 3 hari penyimpanan ... 52

Lampiran 8. Hasil uji statistik dengan analisis ragam dari penilaian sensori terhadap gel pengharum ruangan anti serangga setelah 3 penyimpanan ... 52

Lampiran 9. Tabel hasil penilaian sensori minyak nilam pada gel pengharum ruangan anti serangga setelah 6 hari penyimpanan ... 53

Lampiran 10. Hasil uji statistik dengan analisis ragam dari penilaian sensori terhadap gel pengharum ruangan anti serangga setelah 6 hari penyimpanan ... 53

Lampiran 11. Tabel hasil uji efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel kontrol ... 54

Lampiran 12. Tabel hasil uji efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi lemon ... 54

Lampiran 13. Hasil uji statistik dengan analisis ragam gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi lemon ... 55

Lampiran 14. Tabel rata-rata persentase efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi lemon ... 55

Lampiran 15. Tabel hasil uji efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi jeruk purut ... 56

Lampiran 16. Hasil uji statistik dengan analisis ragam gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi jeruk purut ... 56

Lampiran 17. Tabel rata-rata persentase efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi jeruk purut ... 57

Lampiran 18. Tabel hasil uji efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi kenanga ... 57

(15)

vii

Lampiran 20. Tabel rata-rata persentase efektifitas gel pengharum ruangan

anti serangga terhadap sampel uji dengan wangi kenanga ... 58

Lampiran 21. Hasil pengujian hedonik gel pengharum ruangan anti serangga ... 59

Lampiran 22. Hasil uji statistik (ANOVA dan Duncan) ... 60

Lampiran 23. Perhitungan asumsi kehilangan berat komponen minyak atsiri

setelah 14 penyimpanan ... 61

Lampiran 24. Gambar selama penelitian ... 63

(16)

1

1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Indonesia sebagai negara agraris memiliki sumberdaya alam yang melimpah dan tersebar di seluruh wilayah tanah air. Ada berbagai macam flora yang tumbuh di Indonesia, di antaranya adalah tanaman penghasil minyak atsiri. Menurut Sudaryani dan Sugiharti (2001), minyak atsiri dapat bersumber dari setiap bagian tumbuhan yaitu, daun, bunga, buah, biji, kulit batang, dan akar. Minyak atsiri adalah minyak eteris atau minyak terbang yang memiliki sifat mudah menguap, berbau khas sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, getir, memabukkan, larut dalam larutan organik namun tidak larut dalam air. Minyak atsiri merupakan bahan baku untuk produk farmasi dan kosmetik alamiah di samping digunakan sebagai kandungan dalam perisa maupun pewangi (flavor and fragrance).

Indonesia sejak tahun 1960-an dikenal sebagai salah satu negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia terutama untuk komoditi nilam. Berdasarkan laporan Marlet Study Essential Oils and Oleoresin (ITC) (2009), produksi nilam dunia mencapai 1200-1400 ton per tahun. Produksi Indonesia sekitar 1080-1260 ton per tahun. Statistik perdagangan minyak atsiri Indonesia menunjukkan nilai ekspor minyak atsiri tahun 2009 mencapai sekitar USD 125 juta dengan 20 jenis minyak atsiri. Dari berbagai jenis minyak atsiri yang ada di Indonesia, minyak nilamlah yang menjadi primadona, setiap tahunnya lebih dari 45% devisa negara yang dihasilkan dari minyak atsiri berasal dari minyak nilam dan sekitar 90% kebutuhan minyak nilam dunia berasal dari Indonesia (Santoso 1990).

Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri potensial yang dapat menjadi andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa. Menurut Dewan Atsiri Indonesia (2009), data statistik ekspor-impor dunia menunjukkan bahwa konsumsi minyak atisiri dan turunannya naik sekitar 10% dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh perkembangan kebutuhan untuk industri food flavouring, industri komestik dan wewangian.

Statistik perdagangan minyak atsiri Indonesia menunjukan nilai ekspor minyak atsiri tahun 2007 mencapai US$ 101,14 juta dengan 20 jenis minyak atsiri. Pada tahun yang sama, Indonesia mengimpor minyak atsiri, turunan, produk parfum dan flavour senilai 381,9 juta US$ (Ditjen IKM dalam Gunawan 2009). Berdasarkan hal tersebut, perlu dikembangkan dan ditingkatkan minyak atsiri, isolat, turunan dan pengembangan produk berbahan baku minyak atsiri sehingga Indonesia tidak hanyak mengekspor bahan baku berupa minyak atsiri dan dapat meningkatkan nilai jual serta nilai tambah minyak atsiri.

(17)

2

1.2

TUJUAN

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk aplikasi minyak atsiri untuk pengharum ruangan sekaligus penolak nyamuk. Kemudian, tujuan khusus dari penelitian ini, antara lain:

1. Mencari konsentrasi minyak nilam terbaik dalam hal mengikat wangi.

2. Mencari komposisi bahan aktif penolak serangga yang paling efektif menolak serangga dan yang secara hedonik disukai wanginya oleh manusia.

(18)

3

2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

MINYAK ATSIRI

Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak mudah menguap atau minyak terbang. Pengertian atau definisi minyak atsiri yang ditulis dalam Encyclopedia of Chemical Technology

menyebutkan bahwa minyak atsiri merupakan senyawa yang pada umumnya berwujud cairan, yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, dan biji maupun dari bunga dengan cara ekstraksi (Sastrohamidjojo 2002).

Tanaman penghasil minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu, dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rizhome. Minyak atsiri selain dihasilkan oleh tanaman, dapat juga terbentuk dari hasil degradasi trigliserida oleh enzim atau dapat dibuat secara sintetis (Ketaren 1985).

Minyak atsiri dapat diekstrak dengan 4 cara yaitu, penyulingan (distillation), pengepresan (pressing), ekstraksi dengan pelarut menguap (solvent extraction), dan ekstraksi dengan lemak padat (enfleurasi). Umumnya, metode yang paling sering digunakan adalah penyulingan. Minyak atsiri dalam industri digunakan untuk pembuatan kosmetik, parfum, antiseptik, obat-obatan, flavoring agent

dalam bahan pangan atau minuman dan sebagai pencampur rokok kretek (Ketaren 1985).

Minyak atsiri merupakan komoditas ekspor non migas yang dibutuhkan oleh berbagai negara. Aplikasi banyak digunakan pada berbagai industri antara lain, 1) industri makanan sebagai bahan penyedap dan penambah cita rasa, 2) industri farmasi sebagai obat anti nyeri, anti infeksi, dan anti bakteri, 3) industri bahan pengawet sebagai insektisida, 4) industri kosmetik dan personal care product seperti sabun, pasta gigi, lotion, skin care, produk-produk kecantikan, dan sebagainya, 5) industri parfum.

Penggunaan minyak atsiri dapat melalui konsumsi langsung melalui mulut atau dengan pemakain luar. Minyak atsiri yang dikonsumsi secara langsung dapat berupa makanan atau minuman seperti jamu yang mengandung minyak atsiri, penyedap, flavor ice cream, permen, dan pasta gigi. Pemakaian luar minyak atsiri antara lain pemijatan, lulur, obat luka, pewangi (parfum), pewangi ruangan, lotion, dan sebagainya.

Minyak atsiri mempunyai sifat-sifat mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Minyak atsiri akan mengabsorpsi oksigen dari udara sehingga akan berubah warna, aroma, dan kekentalan sehingga sifat kimia minyak atsiri tersebut akan berubah (Ketaren 1985).

(19)

4

Dalam buku The Encyclopedia of Complementary Medicine, The Complete Family Guide to Alternative Health Care disebutkan bahwa minyak atsiri merupakan zat serbaguna. Molekul yang dilepaskan ke udara adalah sebagai uap yang dibawa oleh uap air. Ketika uap air yang mengandung komponen kimia tersebut dihirup, akan diserap tubuh melalui hidung dan paru-paru yang kemudian masuk ke aliran darah. Bersamaan saat dihirup itu, uap air akan berjalan dengan segera ke sistem limbik otak yang bertanggung jawab dalam sistem integrasi dan ekspresi perasaan, belajar, ingatan, emosi, serta rangsangan fisik. Jika digunakan sebagai aplikasi di luar tubuh, minyak atsiri bermanfaat dalam menyeimbangkan kondisi kulit, seperti juga otot dan organ bagian dalam (Ichad 2011).

Minyak atsiri berfungsi sebagai peyaring udara yang baik. Jika disimpan dalam ruangan, dapat menghilangkan partikel logam racun dari udara, menaikkan oksigen atmosfer, serta menaikkan ozon dan ion negatif dalam rumah. Dengan begitu minyak atsiri menghalangi perkembangan bakteri sekaligus menghilangkan bau pengap. Karena itu, meletakkan atau menyemprotkan miyak atsiri di ruangan bisa membuat udara dalam ruangan lebih segar. Pelepasan minyak atsiri di ruangan dapat dilihat pada Gambar 1.

(1) Sebelum pelepasan minyak atsiri (2) Sesudah pelepasan minyak atsiri

Gambar 1. Pelepasan minyak atsiri di ruangan (Sumber: Trubus Info Kit)

2.1.1

Minyak Nilam

Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang, dan cabang tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchouli alkohol yang berkisar antara 30-50%. Aromanya segar dan khas serta mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis (Rusli 1991).

Minyak nilam memiliki wangi yang khas sehingga banyak digunakan sebagai pewangi parfum dan zat fiksatif (pengikat). Selain itu, minyak nilam digunakan pula sebagai pelembab kulit, pewangi masakan dengan proses oksidasi dan dihidrolisis dengan isogeunolasetat, dan untuk obat anti infeksi (Santoso 1990). Fungsi minyak nilam yang lain adalah sebagai bahan utama pengusir serangga perusak pakaian. Aroma minyak nilam dianggap mewah menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat menenangkan.

Minyak nilam terdiri atas persenyawaan terpen dengan alkohol. Aldehid dan ester-ester memberikan bau khas misalnya patchouli alkohol. Patchouli alkohol merupakan senyawa yang menentukan bau minyak nilam dan merupakan komponen yang terbesar. Komponen penyusun dari minyak nilam adalah benzaldehid, karyofilen, patchoulena, bulnesen, dan patchouli alkohol (Ketaren 1985).

(20)

5

Wiratno 2001). Minyak nilam merupakan minyak eksotik yang dapat meningkatkan gairah dan semangat serta mepunyai sifat meningkatkan sensualitas. Biasanya digunakan untuk mengharumkan kamar tidur untuk memberi efek menenangkan dan membuat tidur lebih nyenyak (anti insomia).

Menurut Grainge dan Ahmed (1987) bagian akar, batang, dan daun tanaman nilam dapat membunuh ulat “Crocidolomia binotalis” dan “Spodotera litura” yang merupakan hama penting pada tanaman, sedangkan daun dan pucuk nilam dapat membasmi semut (Formicida) dan kecoa (Blattidae) di dalam rumah. Menurut Grainge dan Ahmed (1987) minyak nilam juga bersifat menolak kutu daun dan nyamuk.

Minyak nilam mengandung komponen kimiawi, seperti patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehyde, dan cadinene (Santoso 1990). Komponen kimia penyusun minyak nilam ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komponen kimia penyusun minyak nilam

Komponen Jumlah tanaman sereh wangi. Dalam perdagangan dikenal dua tipe minyak sereh wangi, yaitu tipe Ceylon dan tipe Jawa. Minyak sereh wangi tipe Ceylon diperoleh dari distilasi daun Cymbopogon nardus Rendle atau Lenabatu, sedangkan minyak sereh tipe Jawa diperoleh dari Cymbopogon winterianus Jowitt atau Mahapengiri. Minyak sereh wangi dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakan untuk menolak serangga, seperti nyamuk dan semut.

Senyawa utama minyak sereh wangi adalah sitronellal, geraniol, dan sitronellol. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan volatil. Sitronellal adalah Senyawa-senyawa berbentuk cairan yang tak berwarna dan berbau wangi seperti Mellisa officinalis. Sitronellal memiliki gugus aldehida dan ikatan etilenik yang reaktif. Oleh sebab itu, sitronellal mudah sekali teroksidasi karena pengaruh sinar matahari dan udara menjadi ikatan kompleks, keton, asam metiladipik, isopulegol, dan menthon (Guenther 1949 dalam Ketaren et al. 1986).

(21)

6

Sitronelol dan geraniol, serta ester geraniol dan ester sitronelol banyak digunakan sebagai bahan pengharum ruangan, tisu, sabun, dan kosmetik. Komponen kimia dalam minyak sereh wangi cukup komplek, namun komponen yang terpenting adalah sitronellal dan geraniol. Kedua komponen tersebut menentukan intensitas bau, harum, serta nilai harga minyak sereh wangi. Kadar komponen kimia penyusun utama minyak sereh wangi tidak tetap, dan tergantung pada beberapa faktor. Biasanya jika kadar geraniol tinggi maka kadar sitronellal juga tinggi (Harris 1994).

Sitronelol dan geraniol merupakan bahan aktif yang tidak disukai dan sangat dihindari serangga, termasuk nyamuk sehingga penggunaan bahan-bahan ini sangat bermanfaat sebagai bahan pengusir serangga. Susunan kimia dari minyak sereh wangi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Susunan kimia minyak sereh wangi

Senyawa penyusun Kadar (%) kehidupan sehari-hari. Minyak sereh wangi banyak digunakan dalam industri, terutama sebagai pewangi sabun, sprays, desinfektan, bahan pengilap, aneka ragam preparasi teknis, dan kosmetik (Lutony dan Rahmayati 1999).

Selain itu, minyak sereh juga digunakan pada bidang pertanian sebagai pestisida alami (insektisida dan fungisida) yang bersifat sebagai racun kontak. Racun kontak merupakan racun yang masuk dalam tubuh organisme melalui kulit dan menyebabkan serangga kehilangan cairan dalam tubuh secara terus-menerus kemudian mati (Djojosumarto 2008).

2.1.3

Minyak Lavender

Minyak lavender adalah minyak atsiri yang diperoleh dari bunga lavender (Lavandula latiofola). Minyak lavender banyak digunakan dalam produksi dari parfum dan dapat digunakan dalam aromaterapi. Wangi lavender memiliki efek menenangkan yang dapat membantu relaksasi. Hal ini juga dapat membantu untuk mengurangi rasa sakit dari sakit kepala ketegangan saat menghirup sebagai uap atau diencerkan dan digosok pada kulit.

(22)

7

Komponen utama minyak lavender adalah linalool (51%) dan asetat linalyl (35%). Tabel 3 menunjukkan komposisi dari minyak lavender yang diperoleh dari analisis gas

chromotography.

Tabel 3. Komposisi penyusun minyak lavender

(23)

8

2.1.4

Minyak Lemon

Minyak lemon diambil dari bagian kulit buahnya dengan cara pengepresan dingin maupun penyulingan uap. Tetapi jika digunakan penyulingan uap akan menghasilkan minyak dengan kualitas rendah. Rendemen minyak berkisar antara 0.35% - 0.65% (berdasarkan berat buah lemon). Minyak lemon termasuk ke dalam genus Citrus. Komposisi senyawa yang terdapat di dalam minyak atsiri yang dihasilkan dari kulit buah tanaman genus Citrus berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di antaranya adalah limonen, sitronelal, geraniol, linalol, α-pinen, mirsen, -pinen, sabinen, geranil asetat, nonanal, geranial, -kariofilen, dan α-terpineol (Chutia dkk. 2009).

Komponen penyusun minyak lemon berdasarkan hasil GCMS adalah limonene dengan jumlah 76.28%, mirsen 1.33%, osimen 1.37%, linalool 0.56%, nonanal 0.54%, geraniol 0.98%, α-sitral 5.58%, dan z-sitral 7.70% (Sukmawaty 2002). Menurut Oktovina (2006), minyak jeruk lemon (Citrus limon) dihasilkan dengan teknik ekstraksi dari bagian kulit buah. Komponen kimia bahan aktifnya meliputi senyawa limonene, sitral, dan sitronellal. Warna cairannya hijau kekuningan hingga kecoklatan. Wewangiannya beraroma jeruk asam yang segar dan khas.

Minyak atsiri lemon dapat digunakan sebagai pengharum ruangan, bahan parfum, dan penambah cita rasa pada makanan. Minyak atsiri jeruk lemon juga bermanfaat bagi kesehatan, yaitu untuk aromaterapi. Aroma jeruk lemon dapat menstabilkan sistem syaraf, menimbulkan perasaan senang dan tenang, meningkatkan nafsu makan, dan menyembuhkan penyakit. Manfaat bagi kesehatan tersebut karena minyak atsiri jeruk lemon mengandung senyawa limonen. Minyak atsiri jeruk lemon juga mengandung linalool, linalil, dan terpineol yang memiliki fungsi sebagai penenang (sedatif), serta sitronela sebagai penenang dan pengusir nyamuk (Anonim 2008).

2.1.5

Minyak Jeruk Purut

Minyak atsiri ini dihasilkan dari penyulingan daun jeruk lime (Citrus hystrix) dan dalam perdagangan disebut kaffir lime oil. Daun jeruk purut sehari-hari diperdagangkan dan digunakan sebagai bumbu atau penyedap dalam berbagai masakan. Bila dilihat dari aspek kimia, komponen utama dari minyak ini adalah senyawa sitral, menyerupai minyak sereh dapur atau lemon grass oil.

Flavor minyak daun jeruk purut agak berbeda dari flavor minyak sereh dapur, minyak daun jeruk purut lebih segar dan lebih lembut, sehingga banyak digunakan dalam pengolahan makanan, sementara minyak sereh dapur banyak digunakan dalam formula parfum. Manfaat minyak jeruk purut adalah sebagai sedatif, pengusir nyamuk, pereda flu, dan tonik (Ma’mun 2009).

Penyulingan minyak daun jeruk purut belum banyak dilakukan, namun dengan berkembang-nya industri makanan, minuman dan flavor, minyak daun jeruk purut merupakan salah satu alternatif yang potensial. Hasil penyulingan yang dilakukan di Balittro, rendemen minyak daun jeruk purut berkisar antara 1.0-1.5% (Ma’mun 2009).

(24)

9

2.1.6

Minyak Kenanga

Minyak kenanga adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan bunga tanaman

Cananga odorata (Ketaren 1985). Minyak kenanga diperoleh dengan penyulingan sederhana yaitu, penyulingan dengan uap dan air (water andsteam destilation). Kandungan kimia minyak atsiri bunga kenanga ini adalah golongan aldehid, keton aseton, furfural, benzaldehid, komponen bersifat basa (metilantranilat), golongan terpen (d-terpen), golongan fenol dan fenol eter (fenol, eugenol, isoeugenol, metil salisilat, benzilsalisilat), alkohol dan ester (metilbenzoat, l-linalool, terpineol, benzil alkohol, feni-etil alkohol, geraniol, fernesol), dan sesquisterpen (d-caryophyllen, sesquisterpen-alifatis, l sesquisterpen, dsesquisterpen) (Guenther 1972). Komposisi kimia fraksi ekstra minyak kenanga dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi kimia fraksi ekstra minyak kenanga

No. Komponen Jumlah

(%) 1. Golongan aldehid dan keton aseton, furfural, benzaldehid 0.1 - 0.2

2. Komponen bersifat basa (Metilantranilat) 0.1

3. Golongan terpen (d-pinene) 0.3 - 0.6

4. Golongan fenol dan fenol eter (- Cresol, p-Cresol - metil - eter,

A, fenol, eugenol, isoeugenol, metil-salisilat, benzilsalisilat, dan

fenol tingkat tinggi)

3

5. Alkohol dan ester

Metil - benzoate, l-linalool, terpineol, benzil alkohol, fenil-etil

alkohol, geraniol, nerol, fersenol, nerolidol, l-cadinol,

sesquiterpen alkohol 2000). Kandungan terbesar minyak atsiri bunga kenanga terdiri atas linalool, geraniol, dan eugenol, dengan aroma yang khas menyengat yang tidak disukai serangga (Ketaren 1985).

Di bawah ini adalah penjelasan masing-masing senyawa kandungan dari minyak kenanga yang memiliki kemampuan untuk menolak serangga.

a. Linalool

(25)

10

b. Eugenol

Eugenol merupakan cairan tak berwarna atau kuning pucat, bila kena cahaya matahari berubah menjadi coklat kehitaman, dan berbau spesifik. Sumber alaminya dari minyak cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik (Nurdjannah 2004). Komponen eugenol dalam jumlah besar (70-80%) yang mempunyai sifat sebagai stimulan, anestetik lokal, karminatif, antiemetik, antiseptik, dan antispasmodik. Selain rasanya hangat, juga bersifat antiseptik dan yang paling penting dapat terhindar dari gangguan nyamuk, meskipun mekanisme yang pasti dari proses ini belum diketahui (Kardinan 2009).

c. Geraniol

Geraniol berupa cairan berwarna kuning pucat, terdapat di minyak mawar, minyak palmarosa, minyak serai. Kandungan minyak tanaman sereh wangi meliputi geraniol dalam minyak sebesar 44.01-51% dan sitronella sebesar 0.5-1.3%. Bahan-bahan ini kemungkinan merupakan sisa metabolisme tumbuh-tumbuhan dan digunakan untuk menjalankan peran ganda, seperti menarik serangga atau mengusir serangga. Senyawa-senyawa tersebut diduga mempunyai daya tarik terhadap lalat buah tetapi aplikasi cairan ini ternyata tidak mematikan lalat buah sehingga dalam perangkap masih perlu ditambahkan larutan deterjen (Sudarmo 1991).

Geraniol dapat mengakibatkan kematian 65% pada larva ulat kubis diduga geraniol bersifat racun lambung, karena pada hari pertama terjadi kontak belum memperlihatkan gejala keracunan, tetapi setelah larva-larva tersebut makan sehingga mengakibatkan gejala keracunan bagi larva tersebut (Anonim 2007).

2.2

GEL PENGHARUM RUANGAN

Gel pengharum ruangan merupakan produk rumah tangga dalam bentuk sediaan gel yang melepaskan wangi ke ruangan melalui udara. Gel adalah sistem padat atau setengah padat dari paling sedikit dua konstituen yang terdiri atas massa seperti pagar yang rapat dan diselusupi oleh cairan (Ansel 1989). Pengharum ruangan dalam bentuk sedian gel dalam penggunaannya lebih praktis dan mudah dibandingkan dengan pengharum ruangan dalam bentuk cair karena harus disemprot ke ruangan terlebih dahulu. Selain itu, pengharum ruangan dalam bentuk sediaan gel ini lebih mudah dalam hal penyimpanan dan pengemasannya.

Tiga tipe pengharum berasal dari pertimbangan bahwa aroma penutup atau pelindung mempunyai bau yang lebih lembut, kadang-kadang membuat inaktif atau bersifat membius syaraf olfaktori, menurunkan sensitifitas terhadap bau tidak enak, dan bereaksi jika berpasangan dengan bau tidak enak yang spesifik untuk melemahkan gabungan pengharum dan intensitas bau. Sebagian besar parfum yang digunakan dalam praktek adalah parfum kategori pertama. Sebagian kecil seperti formaldehid, asetaldehid dan sebagainya ditemukan dalam kategori kedua. Grup ketiga dibatasi oleh spesifikasi keaktifan parfum itu sendiri dan terbatas juga dalam jumlahnya.

Empat elemen (notes) parfum yaitu, base, middle, top dan bridge. Elemen base akan melekat lebih lama di kulit dan harumnya lebih kuat, seperti vanili, cengkih, dan minyak nilam. Wangi middle notes biasanya baru terasa setelah setengah jam parfum disemprotkan, contohnya geranium dan kenanga. Top notes yang terdapat dalam citrus dan floral akan tercium saat pertama kali di semprotkan. Sementara bridge notes dipakai untuk menyatukan ketiga elemen lainya.

Parfum dideskripsikan dengan perumpamaan musik yang memiliki tiga “not/notes” yang

(26)

11

sedikit muncul di akhir. Note-note ini dibuat dengan seteliti mungkin berdasarkan pengetahuan proses evaporasi dari wangian. Di bawah ini adalah penjelasan dari masing-masing notes.

1. Top notes

Wangi yang langsung tercium ketika parfum disemprotkan. Top notes mengandung molekul yang ringan dan kecil yang dapat berevaporasi cepat. Top note membentuk impresi pertama dari parfum. Minyak lemon adalah salah satu minyak atsiri yang termasuk top notes.

2. Middle notes

Wangi yang muncul setelah top notes mulai memudar. Middle note mengandung “inti” dari

parfum dan juga bertindak sebagai topeng bagi base note yang sering kali tidak tercium enak pada pertama kalinya, namun menjadi enak seiring waktu. Notes ini juga sering disebut heart note. Minyak atsiri yang termasuk dalam kategori middle notes adalah minyak lavender, minyak sereh wangi, dan minyak kenanga.

3. Base notes

Wangi dari sebuah parfum yang muncul seiring memudarnya middle notes. Base dan middle notes adalah tema wangian utama dari sebuah parfum. Base notes memberikan kedalaman yang solid dari parfum. Kandungan dari notes ini biasanya kaya dan dalam, dan tidak tercium setidaknya sampai 30 menit pemakaian. Wangi top dan middle notes terpengaruhi oleh wangi dari base notes. Minyak nilam termasuk dalam kategori base note (Sabini 2006).

Gel pengharum ruangan anti serangga disusun oleh beberapa macam bahan di antaranya adalah bahan pembentuk gel, bahan tambahan, bahan pewangi, bahan pengikat wangi, dan bahan aktif penolak serangga. Bahan pembentuk gel yang digunakan dalam penelitian ini adalah karagenan, kemudian bahan tambahan yang digunakan adalah propilen glikol dan sodium benzoat. Bahan pewangi yang digunakan adalah minyak lemon, minyak jeruk purut, dan minyak kenanga. Bahan pengikat wangi yang digunakan adalah minyak nilam. Bahan aktif penolak serangga yang digunakan adalah minyak sereh wangi dan minyak lavender.

2.2.1

Karagenan sebagai Bahan Pembentuk Gel

Bahan pembentuk gel yang digunakan adalah karagenan. Karagenan merupakan campuran dari polisakarida yang mengandung sulfat yang diekstrak dari alga merah atau Rhodopyceae (Aidsinfo 2003). Karagenan adalah nama umum dari golongan polisakarida pembentuk gel dan pengental yang diperoleh secara komersial melalui proses ekstraksi dari spesies alga merah (Rhodopyceae) tertentu. Beberapa spesies utama yang saat ini digunakan untuk memproduksi karagenan berasal dari genera-genera seperti Gigartina, Chondrus crispus, Iridaea, dan Euchema (Velde dan Ruiter 2005). Agroindustri karagenan Indonesia memperkirakan bahwa untuk produk olahan rumput laut yaitu, karagenan, Indonesia mampu menguasai pasar dunia sekitar 13% (tahun 2007); 13.7% pada tahun 2008; 14% pada tahun 2009; dan sekitar 15% pada tahun 2010 (Sulaeman 2006).

(27)

12

Saat ini, pemanfaatan karagenan tidak hanya terbatas pada industri makanan saja, tetapi juga pada industri-industri lain seperti farmasi, kosmetika, bioteknologi, tekstil, dan lain sebagainya. Pada industri farmasi, karagenan digunakan sebagai bahan pengental (suspensi), emulsi, dan stabilizer pada proses pembuatan pasta gigi, obat-obatan, minyak mineral, dan lain-lain. Selain itu, karagenan juga digunakan dalam industri tekstil, cat, dan keramik. Industri pasta gigi merupakan industri terbesar di Indonesia yang menggunakan karagenan (FMC 1977 dalam Juwita 2007). Hal ini dikarenakan kemampuan karagenan sebagai pengental dalam pasta gigi untuk mengikat air secara efektif dan membentuk gel yang lunak yang sangat stabil terhadap degradasi enzimatis (Skensved 2005).

Dalam industri kosmetik karagenan dapat digunakan pada gel, cream, lotion, hair care, skin and body product. Gel karagenan meningkatkan kestabilan emulsi dengan menjaga droplet minyak dan mencegah pemisahan bahan yang tidak larut (non soluble), seperti pigmen (Velde dan Ruiter 2005). Diperkirakan sekitar 200 ton per tahun karagenan digunakan pada produk nonpangan seperti pada air freshner gel (McHugh 2003).

Gel dari karagenan berfungsi sebagai pengemulsi minyak pengharum pada bahan hidrofobik. Karagenan yang dijadikan bahan pembuat gel pengharum ruangan berfungsi melepaskan minyak aroma secara perlahan (slow release) (Hargreaves 2003). Pada produk pengharum ruangan berbentuk gel dibuat dengan menggunakan karagenan yang dikombinasikan dengan gum jenis lain serta garam pembentuk gel (hingga 2.5 % b/b dari gum). Kombinasi tersebut mengikat minyak pengharum sehingga pelepasan terjadi secara bersamaan dari permukaan gel hingga gel mengering (Van de Velde dan De Ruiter 2005).

2.2.2

Bahan Tambahan Gel Pengharum Ruangan Anti Serangga

Pembuatan gel pengharum ruangan diperlukan bahan tambahan di antaranya adalah propilen glikol yang berperan sebagai pelarut dan sodium benzoat yang berperan sebagai bahan pengawet. Propilen glikol adalah propana-1,2-diol dengan rumus molekul C3H8O2 dan berat molekul 76,10

(Depkes RI 1995). Propilen glikol berupa cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis, dan higroskopik. Propilen glikol dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) dan dengan kloroform, larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah dan dengan minyak lemak (Depkes RI 1979).

Propilen glikol dapat berfungsi sebagai pengawet, antimikroba,disinfektan, humektan, solven, stabilizer untuk vitamin, dan kosolven yang dapat bercampur dengan air. Sebagai pelarut atau kosolven, propilen glikol digunakan dalam konsentrasi 10-30% larutan aerosol, 10-25% larutan oral, 10-60% larutan parenteral dan 0-80% larutan topikal. Propilen glikol digunakan secara luas dalam formulasi sediaan farmasi, industri makanan maupun kosmetik, dan dapat dikatakan relatif non toksik. Dalam formulasi atau teknologi farmasi, propilen glikol secara luas digunakan sebagai pelarut, pengekstrak dan pengawet makanan dalam berbagai sediaan farmasi parenteral dan non parenteral (Rowe et al. 2003). Karakteristik propilen glikol dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Karakteristik propilen glikol

Karakteristik Propilen Glikol Keterangan

Kandungan C3H8O8

Pemerian

Tidak kurang dari 99,5%.

Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak

(28)

13

Karakteristik Propilen Glikol Keterangan

Kelarutan

Kegunaan

Dapat bercampur dengan air, dengan aseton,

dan dengan kloroform, larut dalam eter dan

beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat

bercampur dengan minyak lemak.

Pelarut, pembasah (konsentrasi untuk sediaan

topical = 15%), pengawet untuk sediaan

parenteral dan non parenteral, humektan,

plastisizer, zat penstabil untuk vitamin dan

kosolven yang dapat campur dengan air.

Sumber: (Rowe et al. 2003)

Sifat propilen glikol hampir sama dengan gliserin hanya saja propilen glikol lebih mudah melarutkan berbagai jenis zat. Sama seperti gliserin fungsi propilen glikol adalah sebagai humektan, namun fungsi dalam formula krim adalah sebagai pembawa emulsifier sehingga emulsi menjadi lebih stabil. Propilen glikol dapat berfungsi sebagai humektan pada sediaan salep, propilen glikol digunakan pada konsentrasi 15%, sedangkan sebagai preservatif digunakan pada konsentrasi 15-30% (Rowe et al. 2003).

Sodium benzoat (E211) adalah garam sodium dari asam benzoat dan ada dalam bentuk ini ketika dilarutkan dalam air dengan rumus kimia NaC6H5CO2. Sodium benzoat dikenal juga dengan

nama natrium benzoat. Fungsi sodium benzoat adalah sebagai bahan pengawet untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme (jamur) yang merugikan (Faisal 2010). Batas atas penggunaan sodium benzoat yang diijinkan adalah sebesar 0,1% di Amerika Serikat, sedangkan untuk negara-negara lain berkisar antara 0,15-0,25%. Untuk negara-negara Eropa batas benzoat berkisar antara 0,015-0,5%. Sodium benzoat lebih disukai dalam penggunaannya karena 200 kali lebih mudah larut dibandingkan asam benzoat. Sekitar 0,1% umumnya cukup untuk pengawetan pada produk yang telah dipersiapkan untuk diawetkan.

2.2.3

Bahan Pewangi

Bahan pewangi terdiri atas persenyawaan kimia yang menghasilkan bau wangi yang diperoleh dari minyak atsiri atau dihasilkan secara sintetis. Persenyawaan tersebut terdiri atas alkohol, ester, aldehida, keton, asam organik, lakton, amin, dan oksida yang berbau wangi atau menyenangkan. Pada umumnya parfum mengandung komponen zat pewangi berjumlah 2% (weak parfum) sampai dengan 10% (strong parfum) dan selebihnya adalah bahan pengencer (diluent) dan zat pengikat (Ketaren 1985).

2.2.4

Bahan Pengikat Wangi

(29)

14

menguap yang lebih rendah dari zat pewangi atau minyak atsiri dan dapat menghambat atau mengurangi kecepatan penguapan dari zat pewangi (Ketaren 1975).

Zat pengikat yang baik digunakan dalam parfum adalah zat pengikat yang mempunyai titik uap lebih tinggi dari titik uap zat pewangi, tidak berbau atau berbau wangi. Penambahan zat pengikat bertujuan untuk memfiksasi bau dan mencegah agar komponen yang dapat menguap terutama zat pewangi jangan terlalu cepat menguap dan dapat dipertahankan dalam jangka waktu yang lebih lama (Ketaren 1975).

Pada umumnya zat pengikat yang digunakan dapat berasal dari bahan nabati, bahan hewani, dan sintetis. Zat pengikat nabati yang digunakan umumnya berasal dari golongan gum, resin, lilin atau beberapa jenis minyak atsiri yang bertitik didih tinggi, misalnya minyak akar wangi, minyak kayu cendana, minyak “boise de rose”, dan minyak nilam (Ketaren 1985).

2.2.5

Bahan Aktif Penolak Nyamuk

Berbagai cara diupayakan orang untuk menghindari gigitan nyamuk baik secara fisik dengan menggunakan kelambu hingga secara kimiawi di antaranya dengan insektisida. Secara harfiah insektisida diartikan sebagai bahan kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan serangga hama. Seiring dengan perkembangan teknologi, insektisida diartikan sebagai semua bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk mencegah, menolak, atau mengurangi serangga hama baik berupa sintetis maupun alami (Sigit et al. 2006).

Cara kerja insektisida di antaranya adalah sebagai repelen (penolak). Repelen dibagi menjadi dua jenis yakni, natural repellent dan synthetic repellent (Djojosumarto 2008). Bahan aktif penolak nyamuk yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak sereh wangi dan minyak lavender. Komponen minyak sereh wangi yang berperan sebagai bahan aktif penolak nyamuk adalah sitronellal (Utomo et al. 2008). Komponen utama minyak lavender adalah linalool yang berperan sebagai bahan aktif penolak serangga (Anonim 2010).

2.3

NYAMUK CULEX QUINQUEFASCIATUS

Nyamuk adalah golongan serangga yang merugikan manusia, baik karena berperan sebagai penular beberapa penyakit maupun sebagai pengganggu kenyamanan. Nyamuk terdiri atas beragam jenis, antara lain nyamuk vector malaria Anopheles sp, nyamuk demam berdarah seperti Aedes aegypti, nyamuk rawa-rawa Mansonia uniformes, nyamuk kebun Armigeres subalbatus, nyamuk rumah Culex quinquefasciatus, dan nyamuk gajah Toxorhynchites (Sigit et al. 2006).

Cara nyamuk mencari inang adalah melalui saraf sensoris, yakni merasakan rangsangan visual, rangsangan suhu dan rangsangan bau. Rangsangan visual terutama pada manusia yang menggunakan pakaian gelap, rangsangan suhu misalnya nyamuk dapat menemukan keberadaan manusia melalui suhunya karena suhu tubuh manusia lebih tinggi bila dibandingkan suhu lingkungan. Melalui rangsangan bau, yaitu nyamuk mampu membedakan bau keringat, bau tubuh, dan bahkan bau parfum yang dipakai manusia, dan cara paling efektif bagi nyamuk untuk menemukan mangsanya adalah dengan rangsangan bau (Rossel 2003 dalam Wahyuningtyas 2004).

(30)

15

Nyamuk Culex ini diketahui berperan sebagai vektor filariasis limfatik (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori) atau penular penyakit kaki gajah (Gandahusada et al. 2000).

Spesies nyamuk Cx. quinquefasciatus adalah spesies nyamuk yang paling cepat resisten terhadap insektisida daripada spesies nyamuk lain. Hal ini disebabkan oleh keberadaan nyamuk jenis ini yang paling sering ada di sekitar pemukiman sehingga seringkali terpapar dengan insektisida pemukiman yang telah banyak digunakan untuk mengurangi gangguan nyamuk (Bulletin WHO 1967 dalam Daniel 2008).

2.4

PENELITIAN TERDAHULU

Berdasarkan hasil penelitian Mardiningsih dkk (1994), diketahui bahwa minyak nilam bersifat menolak beberapa jenis serangga seperti ngegat kain, kumbang jagung, dan kumbang buah kering. Hasil penelitian Dummond (1960), menunjukkan bahwa minyak nilam dapat digunakan sebagai pengendali populasi serangga karena sifatnya sebagai bahan penolak dan penghambat pertumbuhan serangga. Hal ini dikarenakan minyak nilam mengandung komponen zat yang tidak disukai oleh serangga, seperti α-pinen dan -pinen.

Minyak sereh juga sering digunakan sebagai penolak serangga alami. Kemampuan menolak nyamuk telah dibuktikan melalui penelitian terhadap nyamuk Aedes aegypti maupun Culex quinquefasciatus dengan cara mengoleskan formula penolak nyamuk yang mengandung minyak sereh di kulit selama 60 menit uji. Hasil pengujian mengindikasikan bahwa minyak sereh efektif digunakan sebagai penolak nyamuk (Kim et al. 2005). Konsentrasi minyak sereh yang umum digunakan dalam produk penolak serangga berkisar antara 0,05 % hingga 15 % baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan minyak lavender, cengkeh, bawang putih, ataupun minyak cedar (Barnard 2000).

Kandungan minyak atsiri bunga kenanga yang komponen terbesarnya terdiri atas linalool, geraniol dan eugenol yang menyebabkan bunga kenanga mempunyai aroma yang khas menyengat yang tidak disukai serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri bunga kenanga mempunyai kemampuan untuk menolak nyamuk Aedes aegypti ketika diujikan pada tangan manusia. Hal ini dapat dilihat dari adanya penurunan rata-rata jumlah nyamuk yang hinggap pada tangan manusia seiring dengan naiknya konsentrasi minyak atsiri yang digunakan (Nugraheni 2009). Minyak atsiri, yang dikenal dengan nama minyak kenanga, yang mempunyai khasiat dan bau yang khas. Hasil penelitian mereka menunjukkan, ekstrak bunga kenanga memiliki kemampuan menolak nyamuk karena adanya kandungan linalool, geraniol, dan eugenol (Anonim 2008).

Berdasarkan hasil penelitian Kiswanti (2009), produk gel pengharum ruangan tanpa minyak sereh tidak memiliki kemampuan menolak ataupun membunuh nyamuk. Produk dengan konsentrasi minyak sereh 10% mampu menjatuhkan dan membunuh nyamuk sebesar 26,67% dan 53,33%. Produk dengan konsentrasi minyak sereh 15% mampu menjatuhkan dan membunuh nyamuk sebesar 52% dan 69,33%. Produk dengan konsentrasi minyak sereh 20% mampu menjatuhkan dan membunuh nyamuk sebesar 60% dan 85,33%.

(31)

16

Zodia (Evodia suaveolens) yang termasuk ke dalam keluarga Rutaceae, dikatakan mengandung evodiamine dan rutaecarpine. Menurut hasil analisa yang dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dengan gas kromatografi, minyak yang disuling dari daun tanaman ini mengandung linalool (46%) dan a-pinene (13,26%) di mana linalool sudah sangat dikenal sebagai pengusir (repellent) nyamuk.

Dari pengujian yang dilakukan terhadap nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) yang sering membuat heboh masyarakat, yaitu dengan cara menggosokkan daun zodia ke lengan, lalu lengannya dimasukkan ke kotak yang berisi nyamuk demam berdarah dan dibandingkan dengan lengan yang tanpa digosok dengan daun zodia, menunjukkan bahwa daun zodia mampu menghalau nyamuk selama enam jam dengan daya halau (daya proteksi) sebesar lebih dari 70% (Kardinan 2007).

Selain dapat digunakan sebagai pengusir serangga, ekstrak tanaman anti nyamuk juga dapat dimanfaatkan sebagai pembunuh larva (larvasida) Aedes aegypti. Penelitian yang dilakukan oleh Dias Kusuma Utari dari IPB pada tahun 2007 membuktikan bahwa pemberian ekstrak zodia pada larva

(32)

17

3

METODOLOGI

3.1

WAKTU DAN TEMPAT

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2011 – Mei 2011. Penelitian dilakukan di Laboratorium Departement of Industrial Technology (LDIT) dan Laboratorium Teknologi Kimia, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Entomologi Loka Penelitian Pengembangan (Litbang) Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis.

3.2

ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain gelas piala, gelas ukur, spatula kaca, sudip, timbangan digital, inkubator, penangas air, termometer, botol-botol jar gelap, gelas arloji, wadah pengujian nyamuk, aspirator, dan kain kasa.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi bahan pewangi, bahan aktif penolak serangga, bahan fiksatif, bahan pembentuk gel, dan bahan pengujian. Bahan pewangi merupakan minyak atsiri antara lain minyak lemon, minyak jeruk purut, dan minyak kenanga yang didapatkan dari Kreasi Aroma Dewan Atsiri Indonesia. Bahan aktif penolak serangga yaitu, minyak sereh wangi yang didapatkan dari Kreasi Aroma Dewan Atsiri Indonesia dan minyak lavender yang didapatkan dari CV. Nusa Aroma. Bahan fiksatif yang digunakan adalah minyak nilam yang didapatkan dari Kreasi Aroma Dewan Atsiri Indonesia. Bahan pembentuk gel terdiri atas karagenan, air aquades, propilen glikol, dan sodium benzoat. Bahan uji yang digunakan adalah nyamuk Culex quinquefasciatus yang didapatkan dari Loka Litbang P2B2 Ciamis.

3.3

METODE PENELITIAN

(33)

18

Gambar 2. Diagram alir penelitian Penentuan konsentrasi minyak nilam terbaik

untuk mengikat wangi

Minyak nilam X%

Penentuan komposisi bahan aktif penolak serangga yang paling efektif menolak

serangga

1. Produk wangi lemon dengan komposisi bahan aktif penolak serangga X

2. Produk wangi jeruk purut dengan komposisi bahan aktif penolak serangga Y 3. Produk wangi kenanga dengan komposisi

bahan aktif penolak serangga Z Uji sensori

Uji efektifitas

Penentuan gel pengharum ruangan anti serangga yang paling disukai wanginya

Produk wangi lemon/ jeruk purut/ kenanga dengan komposisi bahan

aktif penolak serangga X/ Y/ Z

Penentuan ketahanan wangi dan kehilangan berat produk selama 14

hari penggunaan Uji hedonik

Daya tahan wangi produk dan prediksi bahan pewangi

yang hilang pada produk selama 14 hari penggunaan Uji sensori dan

(34)

19

3.3.1

Penentuan Konsentrasi Bahan Fiksatif

Tahap awal dari penelitian ini adalah menentukan konsentrasi bahan fiksatif yang paling baik untuk mengikat wangi. Selanjutnya, konsentrasi yang paling baik digunakan pada tahap kedua penelitian. Diagram alir dari penentuan konsentrasi bahan fiksatif dapat dilihat pada Lampiran 1.

Penentuan konsentrasi bahan fiksatif diawali dengan pembuatan sampel produk gel pengharum ruangan. Proses pembuatan sampel produk gel pengharum ruangan dimulai dengan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan. Kemudian, bahan pembentuk gel (karagenan) sebanyak 2.5% dan sodium benzoat 0.1% sedikit demi sedikit (sambil diaduk) dimasukkan ke dalam aquades. Setelah semua bahan menyatu, kemudian dipanaskan (sambil diaduk) di atas penangas air sampai suhu mencapai 75ºC. Setelah mencapai 75ºC, suhu diturunkan hingga 65ºC untuk ditambahkan bahan fiksatif, bahan pewangi dan pelarut propilen glikol. Bahan fisksatif yang digunakan adalah minyak nilam dengan konsentrasi 0.5%, 1%, 1.5%, dan 2%. Bahan pewangi yang digunakan adalah minyak lemon dengan konsentrasi 1%. Selanjutnya, produk gel dituangkan ke dalam botol jar. Diagram alir pembuatan gel pengharum ruangan dapat dilihat pada Lampiran 2 (Modifikasi dari Hargreavas 2003).

Sampel produk gel dibuat 2 macam yaitu, sampel kontrol dan sampel uji. Sampel kontrol terdiri atas 2 jenis fomula yaitu dengan pencampuran bahan pewangi lemon dan tanpa pencampuran bahan pewangi lemon. Sampel kontrol digunakan untuk menunjukkan skala kekuatan wangi 100 (dengan penambahan bahan pewangi) dan 0 (tanpa penambahan bahan pewangi) pada pengujian skoring. Wangi yang tercium pada sampel kontrol tanpa pencampuran bahan pewangi adalah hanya wangi nilam saja sedangkan wangi yang tercium pada sampel kontrol dengan pencampuran bahan pewangi adalah wangi lemon. Sampel kontrol dibuat 2 macam agar panelis dapat membedakan wangi nilam dengan wangi lemon. Sehingga, akan membantu panelis saat mengevaluasi sensori sampel uji pada hari ke-3 dan hari ke-6 penyimpanan.

Sampel kontrol dan sampel uji diberikan perlakuan yang berbeda yaitu, sampel kontrol disimpan di dalam lemari pendingin pada suhu 14ºC dengan kondisi botol jar tertutup sedangkan sampel uji disimpan di dalam inkubator pada suhu 30ºC dengan kondisi botol jar terbuka. Perbedaan perlakuan antara sampel kontrol dengan sampel uji dimaksudkan agar sampel kontrol dapat dijadikan sebagai pembanding sampel uji dari faktor kekuatan wangi. Tujuan dari sampel kontrol disimpan pada suhu 14ºC dengan kondisi botol jar tertutup adalah agar kondisi sampel produk saat pengujian sensori hari ke-3 dan hari ke-6 penyimpanan masih dalam keadaan wangi yang masih fresh. Rincian komposisi dari sampel kontrol dan sampel uji dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Komposisi sampel kontrol dan sampel uji untuk pengujian sensori minyak nilam

(35)

20

3.3.2

Penentuan Komposisi dan Ketahanan Wangi Produk Gel Pengharum

Ruangan Anti Serangga

Penentuan komposisi dan ketahanan wangi produk gel pengharum ruangan anti seranga bertujuan untuk mencari komposisi bahan pewangi dan bahan aktif penolak seranga pada gel pengharum ruangan yang paling efektif menolak serangga dan yang secara hedonik disukai wanginya oleh manusia, serta mengetahui ketahanan wangi dan kehilangan berat produk dari formula terbaik gel pengharum ruangan anti serangga setelah 14 hari penyimpanan. Tahap ini dimulai dengan membuat sampel produk gel pengharum ruangan anti serangga.

Bahan pewangi yang digunakan antara lain, minyak lemon dengan konsentrasi 2%, minyak jeruk purut dengan konsentrasi 2% dan minyak kenanga dengan konsentrasi 2%. Bahan fiksatif yang digunakan adalah minyak nilam dengan konsentrasi 1%. Minyak atsiri yang digunakan sebagai bahan aktif penolak serangga adalah minyak sereh wangi dan minyak lavender. Bahan aktif penolak serangga yang digunakan terdiri atas 2 macam kombinasi, yaitu kombinasi pertama, dengan penggabungan kedua bahan aktif penolak serangga dan kombinasi kedua, tanpa penggabungan bahan aktif penolak serangga (hanya salah satu bahan aktif penolak serangga saja). Pada kombinasi pertama digunakan minyak sereh wangi dan lavender dengan konsentrasi masing-masing 1%, 1.5% dan 2%. Kemudian pada kombinasi kedua digunakan minyak sereh wangi saja dengan konsentrasi 3% dan minyak lavender saja dengan konsentrasi 3%. Diagram alir pembuatan gel pengharum ruangan anti serangga dapat dilihat pada Lampiran 3 (Modifikasi dari Hargreavas 2003).

Sampel produk dibuat 2 macam yaitu, sampel uji dan sampel kontrol. Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga tercantum pada Tabel 7.

Tabel 7. Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga untuk sampel uji

(36)

21

Keterangan:

A : Bahan pewangi lemon

B : Bahan pewangi jeruk purut

C : Bahan pewangi kenanga

A1, B1, C1 : Bahan aktif penolak nyamuk yang terdiri atas minyak sereh wangi 1% dan lavender 1%

A2, B2, C2 : Bahan aktif penolak nyamuk yang terdiri atas minyak sereh wangi 1.5% dan lavender 1.5%

A3, B3, C3 : Bahan aktif penolak nyamuk yang terdiri atas minyak sereh wangi 2% dan lavender 2%

A4, B4, C4 : Bahan aktif penolak nyamuk yang hanya terdiri atas minyak sereh wangi 3% A5, B5, C5 : Bahan aktif penolak nyamuk yang hanya terdiri atas minyak lavender 3%

3.4

RANCANGAN PERCOBAAN

Rancangan percobaan yang digunakan untuk pembuatan gel pengharum ruangan ini pada penentuan komposisi dan ketahanan wangi produk gel pengharum ruangan anti serangga adalah rancangan acak kelompok satu faktor dengan ulangan 3 kali. Faktor yang dijadikan perlakuan adalah komposisi bahan aktif penolak serangga dengan 5 taraf yaitu,

A1 = minyak sereh wangi : minyak lavender = 1% : 1%

A2 = minyak sereh wangi : minyak lavender = 1.5% : 1.5%

A3 = minyak sereh wangi : minyak lavender = 2% : 2%

A4 = minyak sereh wangi : minyak lavender = 3% : 0%

A5 = minyak sereh wangi : minyak lavender = 0% : 3%.

Model rancangan acak kelompok sebagai berikut:

Yij= µ + i +βj + εij

Yij = pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

µ = mean populasi

i = pengaruh aditif dari perlakuan ke – i j = pengaruh aditif dari kelompok ke – j

ij = pengaruh acak dari perlakuan ke-i dan kelompok ke- j (galat)

Hipotesis

H0 : 1 = 2 = ... = t = 0 atau tidak ada pengaruh perlakuan terhadap respons yang diamati.

(37)

22

3.5

PROSEDUR PENGUJIAN

Dalam penelitian ini terdapat 5 macam pengujian yaitu, uji sensori pada tahap pertama penelitian, uji efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga pada tahap kedua penelitian, uji hedonik gel pengharum ruangan anti serangga pada pada tahap kedua penelitian, uji ketahanan wangi dan penimbangan gel pengharum ruangan anti serangga pada tahap kedua penelitian.

3.5.1

Uji Sensori Minyak Nilam

Uji sensori minyak nilam dilakukan untuk mengetahui konsentrasi minyak nilam yang terbaik dalam hal mengikat wangi minyak atsiri lain. Jenis uji sensori yang dilakukan pada penelitian tahap pertama ini adalah uji skoring. Sebelum melakukan uji sensori, sampel produk disimpan selama 6 hari. Pengujian sensori ini dilakukan sebanyak 2 kali yaitu, hari ke-3 dan hari ke-6 penyimpanan. Panelis yang digunakan untuk uji sensori berjumlah 30 orang panelis. Form untuk pengujian sensori minyak nilam dapat dilihat pada Lampiran 4.

Pengujian sensori oleh panelis diawali dengan mencium sampel kontrol yang memiliki skor 0 dan 100 terlebih dahulu. Setelah itu, dilanjutkan dengan mencium sampel uji. Panelis diminta untuk mengevaluasi wangi dari sampel uji dengan cara membandingkan kekuatan wangi antara sampel kontrol dengan sampel uji dan memberikan penilaian dengan menggunakan kepekaan alat inderanya (hidung). Skala skoring yang digunakan adalah 100, 75, 50, 25, dan 0. Semakin tinggi angka skala skoring menunjukkan bahwa kekuatan wanginya semakin tinggi.

3.5.2

Uji Efektifitas Gel Pengharum Ruangan Anti Seranggga

Uji efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga dilakukan untuk mengetahui komposisi bahan aktif penolak serangga yang paling efektif untuk menolak serangga. Wadah pengujian efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga dengan ukuran p × l × t = 40 cm × 17 cm × 22 cm yang terbagi menjadi 3 ruang. Skematik wadah pengujian efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Skematik wadah pengujian efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga

Keterangan:

R1 : Ruang pertama

R2 : Ruang kedua

R3 : Ruang ketiga

(38)

23

Wadah pengujian terbagi menjadi 3 ruangan, yaitu R1 (ruang pertama) sebagai ruang untuk

meletakkan sampel produk gel pengharum ruangan anti serangga, R2 (ruang kedua) sebagai tempat

dimasukkannya dan tempat awal berkumpulnya nyamuk, dan R3 (ruangan ketiga) sebagai tempat

berkumpulnya nyamuk yang tidak menyukai wangi sampel produk. Pada ruang pertama diberi lubang-lubang di bagian bawah dan di perbatasan (sekat) ruangan pertama dan kedua agar udara dapat masuk ke dalam ruang dan udara yang masuk dapat mengalirkan wangi gel pengharum ruangan ke dalam ruang kedua. Gambar 4 memperlihatkan lubang-lubang yang terdapat di ruang pertama.

Bagian depan ruang kedua diberi lubang untuk tempat memasukkan nyamuk. Lubang tersebut disumbat dengan kapas setiap selesai memasukkan nyamuk agar nyamuk yang sudah dimasukkan tidak keluar ruangan wadah pengujian. Ruang kedua dibatasi dengan sebuah sekat yang diberi lubang-lubang agar nyamuk-nyamuk yang tidak menyukai wangi sampel produk dapat berpindah ke ruang ketiga. Detail ruang kedua dan ketiga dapat dilihat pada Gambar 5 dan Gambar 6.

Gambar 5. Detail ruang kedua wadah pengujian (tampak depan)

Pengujian efektifitas gel pengharum ruangan anti serangga diawali dengan memasukkan nyamuk Culex quinquefasciatus sebanyak 10 ekor ke dalam wadah pengujian (ruang kedua). Kemudian sampel produk dimasukkan ke dalam wadah pengujian (ruang pertama) dan diamati jumlah nyamuk yang pindah ke ruang ketiga setiap 2 menit sekali. Pengamatan dilakukan selama 20 menit

Lubang untuk memasukkan nyamuk

Lubang untuk nyamuk pergi ke ruangan ketiga

Gambar 6. Detail lubang-lubang pada sekat antara ruang kedua dengan ruang ketiga (tampak depan)

Figur

Gambar 2. Diagram alir penelitian
Gambar 2 Diagram alir penelitian . View in document p.33
Tabel 6. Komposisi sampel kontrol dan sampel uji untuk pengujian sensori minyak nilam
Tabel 6 Komposisi sampel kontrol dan sampel uji untuk pengujian sensori minyak nilam . View in document p.34
Tabel 7. Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga untuk sampel uji
Tabel 7 Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga untuk sampel uji . View in document p.35
Gambar 4.  Detail ruang pertama wadah pengujian gel pengharum ruangan anti
Gambar 4 Detail ruang pertama wadah pengujian gel pengharum ruangan anti . View in document p.38
Gambar 7. Histogram rata-rata penilaian panelis terhadap kekuatan wangi
Gambar 7 Histogram rata rata penilaian panelis terhadap kekuatan wangi . View in document p.42
Tabel 8. Rata-rata total kehilangan berat sampel produk uji setelah 6 hari penyimpanan
Tabel 8 Rata rata total kehilangan berat sampel produk uji setelah 6 hari penyimpanan . View in document p.42
Tabel 11. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi jeruk purut
Tabel 11 Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi jeruk purut . View in document p.47
Gambar 9. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap
Gambar 9 Histogram rata rata persentase efektifitas sampel produk terhadap . View in document p.47
Tabel 12. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi kenanga
Tabel 12 Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi kenanga . View in document p.48
Gambar 10. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi kenanga
Gambar 10 Histogram rata rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi kenanga . View in document p.49
Gambar 12. Grafik rata-rata ketahanan wangi sampel uji produk dengan wangi lemon
Gambar 12 Grafik rata rata ketahanan wangi sampel uji produk dengan wangi lemon . View in document p.52
Gambar 13. Grafik rata-rata total kehilangan berat sampel produk selama 14 hari penyimpanan
Gambar 13 Grafik rata rata total kehilangan berat sampel produk selama 14 hari penyimpanan . View in document p.53
Tabel hasil pengujian hedonik gel pengharum ruangan anti serangga
Tabel hasil pengujian hedonik gel pengharum ruangan anti serangga . View in document p.74
Tabel 2. Susunan kimia minyak sereh wangi
Tabel 2 Susunan kimia minyak sereh wangi . View in document p.89
Tabel 3. Komposisi penyusun minyak lavender
Tabel 3 Komposisi penyusun minyak lavender . View in document p.90
Tabel 4. Komposisi kimia fraksi ekstra minyak kenanga
Tabel 4 Komposisi kimia fraksi ekstra minyak kenanga . View in document p.92
Gambar 2. Diagram alir penelitian
Gambar 2 Diagram alir penelitian . View in document p.101
Tabel 6. Komposisi sampel kontrol dan sampel uji untuk pengujian sensori minyak nilam
Tabel 6 Komposisi sampel kontrol dan sampel uji untuk pengujian sensori minyak nilam . View in document p.102
Tabel 7. Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga untuk sampel uji
Tabel 7 Komposisi minyak atsiri pada gel pengharum ruangan anti serangga untuk sampel uji . View in document p.103
Gambar 4.  Detail ruang pertama wadah pengujian gel pengharum ruangan anti
Gambar 4 Detail ruang pertama wadah pengujian gel pengharum ruangan anti . View in document p.106
Gambar 7. Histogram rata-rata penilaian panelis terhadap kekuatan wangi
Gambar 7 Histogram rata rata penilaian panelis terhadap kekuatan wangi . View in document p.110
Tabel 8. Rata-rata total kehilangan berat sampel produk uji setelah 6 hari penyimpanan
Tabel 8 Rata rata total kehilangan berat sampel produk uji setelah 6 hari penyimpanan . View in document p.110
Tabel 9. Tabel 9. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel kontrol
Tabel 9 Tabel 9 Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel kontrol . View in document p.112
Gambar 9. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap
Gambar 9 Histogram rata rata persentase efektifitas sampel produk terhadap . View in document p.115
Tabel 11. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi jeruk purut
Tabel 11 Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi jeruk purut . View in document p.115
Tabel 12. Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi kenanga
Tabel 12 Hasil pengujian efektifitas produk pada sampel uji dengan wangi kenanga . View in document p.116
Gambar 10. Histogram rata-rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi kenanga
Gambar 10 Histogram rata rata persentase efektifitas sampel produk terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan wangi kenanga . View in document p.117
Gambar 12. Grafik rata-rata ketahanan wangi sampel uji produk dengan wangi lemon
Gambar 12 Grafik rata rata ketahanan wangi sampel uji produk dengan wangi lemon . View in document p.120
Gambar 13. Grafik rata-rata total kehilangan berat sampel produk selama 14 hari penyimpanan
Gambar 13 Grafik rata rata total kehilangan berat sampel produk selama 14 hari penyimpanan . View in document p.121
Tabel hasil pengujian hedonik gel pengharum ruangan anti serangga
Tabel hasil pengujian hedonik gel pengharum ruangan anti serangga . View in document p.142

Referensi

Memperbarui...