commit to user
i
STUDI PERILAKU MENYIMPANG (DEVIANT BEHAVIOR) KAUM URBAN (STUDI KASUS KOMUNITAS PUNK DI KOTA
SURAKARTA) TAHUN 2009-2010
Skripsi Oleh :
LISTYA INTAN ARTIANI NIM K5405026
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
commit to user
commit to user
commit to user
iv ABSTRAK
Listya Intan Artiani. K5405026. STUDI PERILAKU MENYIMPANG (DEVIANT BEHAVIOR) KAUM URBAN (STUDI KASUS KOMUNITAS
PUNK DI KOTA SURAKARTA) TAHUN 2009 - 2010. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Maret. 2011.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Persebaran komunitas punk (scene punk) di Kota Surakarta. 2) Karakteristik punk di Kota Surakarta. 3) Persepsi masyarakat terhadap perilaku kaum punk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari informan, peristiwa / aktivitas, tempat / lokasi dan dokumen. Informan yang dipilih yaitu kaum punk Kota Surakarta, sebagian kaum punk selain Kota Surakarta yang dapat membantu memberikan informasi, sebagian masyarakat yang bisa dimintai keterangan, baik itu masyarakat di lingkungan kaum punk tinggal maupun masyarakat di sekitar tempat berkumpulnya kaum punk. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur, pengamatan atau observasi, analisis dokumen, dan kuesioner atau angket. Validitas data diperoleh melalui triangulasi data dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis spasial dengan menggunakan peta dan model analisis interaktif (interactive of analysis model).
commit to user
v
commit to user
vi ABSTRACT
Listya Intan Artiani. K5405026. THE BEHAVIORAL STUDY DIGRESS (DEVIANT BEHAVIOR) OF THE URBAN CLAN (THE CASE STUDY OF COMMUNITY PUNK IN SURAKARTA) OF THE YEAR 2009-2010. Thesis. Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret State University of Surakarta. March. 2011.
The objective of this research are: 1) To know the disseminating of the punk community (punk scene) in Surakarta. 2) The characteristic of punk in Surakarta. 3) The society perception to the behavior of punk. This research uses the descriptive research method qualitative. The data source obtained from the informant, event / activity, place / location and document. The informant who selected is the punk clan in Surakarta, besided that the partly of punk outside Surakarta also can be asked some information, the partly of society which can be asked information, even that society in the environment of the punk omit and also the society around their place gather. Sampling technique that used is purposive sampling. The technique of data collecting that used is the structure interview, the perception or observation, analyse the document, and enquette. The validity of data was obtained through the triangulation of data and method. The technique analyse of data that used is analysis spatial by using map and interactive of analysis model.
commit to user
vii
commit to user
viii
MOTTO
“Jangan pernah membeda-bedakan karena kita semua adalah sama yaitu umat Tuhan Allah Pencipta Alam Semesta. Jadi tetaplah optimis, semangat, berjuang,
terus berkarya, dan tidak usah takut dalam menghadapi rintangan apapun. Hantam
prasangka buruk dan yakinlah kalau kita bisa. Jangan lupa selalu berdoa karena
segala sesuatu atau urusan semuanya akan kembali dan terjadi atas izin dari-Nya”.
(Penulis) “Ikhlas dan bersabarlah”
(Penulis) “Lakukan atau mati”.
commit to user
ix
PERSEMBAHAN
Karya ini dipersembahkan
kepada:
Ayahku tersayang alm. Sukiman bin Wongso
Taruno
Ibuku yang paling sabar
Kakakku alm. Heru Subekti yang telah
banyak memberikan inspirasi hidup
Kaum Punk n Skin Kota Surakarta (semangat
Djoeang)
Kaum Punk n Skin seluruh Indonesia
Sahabat dan orang-orang yang senantiasa
menemani dan menyayangiku, kalian membuat hari-hariku tak pernah sepi
Teman-teman Geografi 2005
Brahmahardhika Mapala FKIP UNS
commit to user
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayahNya
skripsi ini dapat di selesaikan. Skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi
persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan dari Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian
penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan
yang timbul dapat teratasi. Untuk itu atas bantuanya, disampaikan terima kasih
kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin
dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Drs. Saiful Bachri, M.Pd selaku Ketua Jurusan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin
dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Partoso Hadi, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin
dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Dr. Moh. Gamal Rindardjono, M.Si selaku Pembimbing I yang telah
memberi pengarahan, bimbingan serta dorongan sampai selesainya
penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Dra. Inna Prihartini, MS selaku Pembimbing II yang telah memberi
pengarahan, bimbingan serta dorongan sampai selesainya penyusunan skripsi
ini.
6. Ibu Pipit Wijayanti, S.Si, M.Sc selaku Pembimbing Akademik.
7. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Geografi yang telah
commit to user
xi
8. Kaum punk dan skinhead di Kota Surakarta pada khususnya dan di Indonesia
pada umumnya yang telah banyak memberikan bantuan, dukungan, dan
motivasi.
9. Keluarga besar Sriwedari Boot Bois, Kleco, Purwosari, Gladhag, Ngapeman,
Ngarsopuro, Proliman, Timuran, Brondongan (scene komunitas punk) atas
bantuan dan dukungannya.
10.Paguyuban Wirobrajan, Jogjakarta yang telah memberikan newsletter.
11.Alm. Bp. Sukiman bin Wongso Taruna ku tersayang. Maafkan anakmu ini
yang belum bisa memberikan kebahagiaan kepada Bapak. Saya berjanji akan
melaksanakan semua pesan dan nasehat yang Bapak amanatkan kepada saya.
Terimakasih atas semua perhatian cinta, kasih sayang, kepercayaannya, doa
dan dukunganya.
12.Ibuku tersayang atas semua perhatian, doa, cinta, kasih sayang dan
ketulusannya.
13.Semua saudara dan keluarga atas doa, motivasi dan kasih sayangnya.
14.Keluarga besar drg. Sunardi atas bantuan, motivasi, dan dukungannya.
15.Keluarga besar Violet dan seluruh crew, Mas Aris, Mas Aan, Hasit, Woko,
Wawan, Prabowo alias Kholis, Widi, Atun, Alfind atas bantuan, hiburan,
motivasi, kebersamaan, dan persahabatannya. Semoga jalinan kekeluargaan
tetap terjaga sepanjang waktu. Maju dan terus berkaryalah Bengal RI.
16.Dik Gundul, Mas Kecil tato, Pedro, Mas Lius, Waras, Mas Bayu Kleco,
Pendik, Pedo, Singgih, Awank, Tegar Melati di Tapal Batas atas bantuan,
waktu, dan dukungannya.
17.Sahabatku Upik, Tanwirul Huda, Eko PP, Inez, Siti Nur Muslimah, Darsini,
Darsono, Agung Aha, Ardhian Achmad Said, Permata Gita Putri, Bu Aris,
Dania, Wahyu Artha Bayu Murti atas hiburan, motivasi, kebersamaan,
persahabatan, bantuan dan dukungannya.
18.Teman-teman Seni Rupa FKIP UNS, Udin, Tugas, Yudhi atas waktu dan
motivasinya.
19.Keluarga besar pedagang kaki lima di Boeluvard UNS atas dukungan dan
commit to user
xii
20.Teman-temanku Mapala Brahmahardhika FKIP UNS.
21.Teman-temanku Geo brotherhood 2005.
22.Semua pihak yang telah membantu hingga terselesainya skripsi ini.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari
Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan di masa yang akan datang.
Surakarta, Maret 2011
Penulis,
Listya Intan Artiani
commit to user
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……….……… i
HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI ………. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ………. iii
HALAMAN PENGESAHAN ……….. iv
ABSTRAK ……… v
ABSTRACT ………. vii
MOTTO ……… ix
PERSEMBAHAN ……… x
KATA PENGANTAR ………. xi
DAFTAR ISI ……… xiv
DAFTAR GAMBAR ……… xvii
DAFTAR TABEL ……… xix
DAFTAR PETA ……….. xxi
DAFTAR LAMPIRAN ……… xxii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………. 1
B. Perumusan Masalah ……… 9
C. Tujuan Penelitian ……… 9
D. Manfaat Penelitian ……….. 9
BAB II. LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Punk a. Sejarah Punk ……….. 11
b. Pengertian Punk ………. 12
1) Punk sebagai Tren Remaja dalam Fashion dan Musik ……….. 13
2) Punk sebagai Keberanian Memberontak dan Melakukan Perubahan ……….. 19
commit to user
xiv
Menciptakan Musik, Gaya Hidup, Komunitas, dan
Kebudayaan Sendiri ……….. 20
c. Filosofi Punk ……… 26
2. Karakteristik Punk a. Karakteristik Demografi ……….. 31
b. Karakteristik Sosial Ekonomi ……….. 32
3. Perilaku Menyimpang ………... 34
B. Hasil Penelitian yang Relevan ……….. 36
C. Batasan-batasan Istilah ……….. 42
D. Kerangka Pemikiran ……….. 46
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 49
B. Bentuk dan Strategi Penelitian ……….. 49
C. Sumber Data ……….. 52
D. Populasi dan Sampel ………... 53
E. Teknik Pengumpulan Data ……… 53
F. Validitas Data ……… 56
G. Teknik Analisis Data ……… 56
H. Prosedur Penelitian ……… 58
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Letak, Batas dan Luas ………. 60
2. Penduduk Kota Surakarta ………..……….. 62
3. Sarana dan Prasarana ……… 64
4. Keadaan Sosial ………. 65
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Persebaran Kaum Punk di Kota Surakarta (Scene Komunitas Punk) ………. 67
2. Karakteristik Punk di Kota Surakarta ………. 102
commit to user
xv
BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
A. Kesimpulan ………. 141
B. Implikasi ……… 145
C. Saran ……….. 147
commit to user
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Alur Pemikiran ……….. 48
Gambar 2. Model Analisis Interaktif ………... 58
Gambar 3. Traffic Light di Kleco (Scene Komunitas Punk) ……… 70
Gambar 4. Kali Kleco ……….. 70
Gambar 5. Kaum Punk di Kleco (Scene Komunitas Punk) ………….……… 71
Gambar 6. Peneliti dan Kaum Punk di Kleco (Scene Komunitas Punk) ……. 71
Gambar 7. Punk di Kleco (Scene Komunitas Punk) ………...……… 72
Gambar 8. Photo View Scene Komunitas Punk Kleco ……… 73
Gambar 9. Photo View Scene Komunitas Punk Sriwedari ……….. 77
Gambar 10. Photo View Scene Komunitas Punk Proliman ……….. 80
Gambar 11. Photo View Scene Komunitas Punk Gladhag ……… 83
Gambar 12. Photo View Scene Komunitas Punk Ngarsopuro ……….. 86
Gambar 13. Band Punk Middle Finger ………. 89
Gambar 14. Photo View Scene Komunitas Punk Purwosari ………. 90
Gambar 15. Punk di Ngapeman (Scene Komunitas Punk) …….………. 92
Gambar 16. Photo View Scene Komunitas Punk Ngapeman ……….. 93
Gambar 17. Traffic Light di Brondongan (Scene Komunitas Punk) ………... 95
Gambar 18. Photo View Scene Komunitas Punk Brondongan ……… 96
Gambar 19. Photo View Scene Komunitas Punk Timuran ………. 99
Gambar 20. Mohawk Spiky ……….. 108
Gambar 21. Mohawk Kipas dan Mohawk Mohican ……… 108
Gambar 22. Mohawk Runcing ………. 109
Gambar 23. Emblem ……… 112
Gambar 24. Celana Gunung ……… 113
Gambar 25. Celana Kotak-kotak ¾ dari Bahan Flannel ………. 114
Gambar 26. Doc.Mart dalam Fashion Punk ……… 115
Gambar 27. Peneliti dan Kaum Punk ………. 118
Gambar 28. Peneliti dan Kaum Punk ………. 119
commit to user
xvii
Gambar 30. Kaum Punk dari Luar Kota ……… 121
Gambar 31. Salah Satu Gigs Punk di Rams Studio ……… 123
Gambar 32. Slame Dance dalam Gigs Punk ……….. 124
Gambar 33. Beberapa Masyarakat yang Memberikan Pendapat Mengenai
commit to user
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Penelitian yang Relevan ……… 36 Tabel 2. Luas Kota Surakarta Tahun 2008 ……….. 60 Tabel 3. Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat Kepadatan
Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 62
Tabel 4. Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur
dan Jenis Kelamin Tahun 2008 ………. 63
Tabel 5. Banyaknya Penduduk yang Datang dan Pindah di Kota Surakarta
Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008 ……….. 64
Tabel 6. Banyaknya Kendaraan Angkutan Umum yang Berdomisili di
Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 64
Tabel 7. Panjang Jalan Menurut Status Jalan dan Keadaan di
Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 65
Tabel 8. Banyaknya Fasilitas Perlindungan Sosial Menurut Kecamatan di
Kota Surakarta Tahun 2008 ………... 66
Tabel 9. Banyaknya Penyandang Tuna Sosial Menurut Jenis dan
Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 67
Tabel 10. Jumlah Kaum Punk Kota Surakarta Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009-2010 ………. 102
Tabel 11. Status Perkawinan Kaum Punk Kota Surakarta
Tahun 2009-2010 ………. 103
Tabel 12. Daerah Asal Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ……... 104
Tabel 13. Tingkat Pendidikan Kaum Punk Kota Surakarta
Tahun 2009-2010 ……… 105
Tabel 14. Model Rambut Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 …... 107
Tabel 15. Warna Rambut Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 …... 109
Tabel 16. Warna dan Design Kaos yang Sering Digunakan oleh
Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ………... 110
Tabel 17. Celana Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ………….... 111
commit to user
xix
Tabel 18. Keberadaan Emblem pada Fashion Kaum Punk
Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ……….. 111
Tabel 19. Jenis Sepatu Boot Kaum Punk Kota Surakarta
Tahun 2009-2010 ……….. 115
Tabel 20. Piercing (Tindik) Kaum Punk Kota Surakarta
Tahun 2009-2010 ……….. 116
Tabel 21. Tato Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ……… 116
Tabel 22. Aliran Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 …………. 117
Tabel 23. Intensitas Kaum Punk Kota Surakarta di Lokasi Scene
Tahun 2009-2010 ………. 119
Tabel 24. Radius Rumah Kaum Punk Kota Surakarta dengan
Lokasi Scene ……….. 120
Tabel 25. Kunjungan Kaum Punk Kota Surakarta ke Scene
Luar Kota Tahun 2009-2010 ………. 122
Tabel 26. Frekuensi Kaum Punk Kota Surakarta Mengunjungi
Gigs Punk Tahun 2009-2010 ……… 122
Tabel 27. Pemahaman Kaum Punk Kota Surakarta tentang
Norma Sosial dalam Masyarakat ………. 125
Tabel 28. Sikap Antipati Kaum Punk Kota Surakarta terhadap
Masyarakat ……….. 126
Tabel 29. Pengejaran Kaum Punk Kota Surakarta oleh Aparat Negara …. 128
commit to user
xx
DAFTAR PETA
Peta 1. Administrasi Kota Surakarta Tahun 2010 ……….. 61 Peta 2. Persebaran Komunitas Punk Kota Surakarta
Tahun 2009-2010 ……….. 100
Peta 3. Kuantitas Komunitas Punk Kota Surakarta
commit to user
xxi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Penelitian untuk Kaum Punk.
Lampiran 2. Daftar Pertanyaan Penelitian untuk Masyarakat terhadap Perilaku
Punk.
Lampiran 3. Jumlah Responden (Kaum Punk) di Tiap-tiap Scene Komunitas
Punk di Kota Surakarta Tahun 2009-2010.
Lampiran 4. Foto-Foto Penelitian.
Lampiran 5. Surat-surat Perijinan Penelitian.
commit to user
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat modern yang serba
kompleks. Segala rutinitas masyarakat mengikuti detak dalam sendi kehidupan
kota. Aktivitas masyarakat perkotaan berjalan dengan kecepatan penuh,
meninggalkan siapa saja yang tak sanggup mengejar. Saling pukul bukan hal yang
aneh, apalagi tabu bagi masyarakat kota. Nilai-nilai atau norma sosial yang dulu
menjadi falsafah dalam kehidupan bermasyarakat sekarang dianggap tidak relevan
lagi untuk kehidupan bersama dan kehidupan yang saling berbagi. Hal tersebut
merupakan indikator bahwa kota telah mengalami perkembangan dalam segala
bidang, sehingga memunculkan suatu sistem di masyarakat yang secara struktur
dan kulturnya berbeda dengan struktur dan kultur masyarakat pedesaan.
Masyarakat kota sebagai sistem dinamis berarti bahwa disitu
dimungkinkan terjadinya perubahan. Perubahan tersebut dapat dipandang sebagai
suatu proses yang selain berlangsung terus, juga bermakna bagi masyarakat itu
sendiri. Material yang hingga sekarang tersedia untuk menunjukkan arah
kemungkinan membuat perumusan mengenai perubahan sosial, banyak digali dari
proses yang terjadi dalam kota seperti: urbanisasi, industrialisasi, dan modernisasi
(Daldjoeni, 1997: 32).
Kenyataan sosial yang dijumpai dalam kehidupan kota yang banyak disitu
adalah anomi, konflik, perubahan sosial, bahkan disintegrasi. Sehubungan itu
masyarakat sebagai suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun
perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang
terpecah-pecah secara ekonomis (Karl Max dalam Daldjoeni, 1997: 32).
Dengan mengetahui karakteristik masyarakat kota, maka terdapat definisi
kota itu sendiri menurut beberapa geograf. Dalam literatur geografis dapat
ditemukan berbagai definisi kota. Bintarto dalam Daldjoeni (1997: 23)
commit to user
ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai oleh strata sosial-ekonomi yang heterogen dengan coraknya yang materialistis”.
Berdasarkan pendapat Bintarto di atas dapat disimpulkan bahwa kota itu
merupakan tempat bermukim warga kota, tempat bekerja, tempat hidup, dan
tempat berkreasi. Sesuai itu maka selayaknyalah jika kelestarian kota harus
didukung oleh berbagai prasarana dan sarana yang cukup untuk jangka waktu
lama.
Geograf Berry dalam Daldjoeni (1997: 24) berpendapat bahwa “Struktur
kota itu terdiri atas tiga unsur yaitu kerangka (jaringan jalan), daging (kompleks
perumahan penduduknya) dan darah (gerak-gerik manusia)”. Geograf lain ada
yang menafsir daging dalam arti yang lebih luas, yakni lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang wadah fisiknya berupa pasar (ekonomi), kampus
(pendidikan), rumah sakit (kesehatan), rumah ibadat (keagamaan), stadion
(olahraga), dan seterusnya.
Geograf Hofmeister dalam Daldjoeni (1997: 25) mendefinisikan bahwa “Kota itu adalah suatu pemusatan spasial dari tempat tinggal dan tempat kerja manusia yang kegiatan umumnya di sektor ekonomi sekunder dan tersier, dengan
pembagian kerja ke dalam dan arus lalu lintas yang beraneka, antara
bagian-bagiannya dan pusatnya, yang pertumbuhannya sebagian besar disebabkan oleh
bertambahnya kaum pendatang yang mampu melayani kebutuhan-kebutuhan barang serta jasa bagi wilayah yang jauh letaknya”.
Kota adalah tempat dimana peradapan manusia baru muncul sebagai
akibat interaksi sosial antarwarga yang berasal dari bermacam wilayah dengan
beragam latar belakang. Dengan begini, kota pun bisa menjadi muara bagi seni
urban sebagai dampak kreasi dan ekspresi dari budaya urban (Mulyono dalam
Kennedy, 2009: 27).
Gejala sosiologis yang lahir dari kebudayaan industrial di kota menjadi
pemicu munculnya kelas menengah dengan atribut dan identitas khusus, semisal
yuppies (young urban professionals) dan yiffies (young individualistic freedom
minded view). Gaya hidup kedua kelompok ini sangat khas dengan pola hidup
commit to user
masyarakat kota yang bisa jadi merupakan konsekuensi logis ketika sebuah kota
dikembangkan dengan konsep ekonomi yang paling dominan. Akibatnya,
kesenjangan dan diferensiasi sosial masyarakat kota kian jelas (Mulyono dalam
Kennedy, 2009: 28).
Pembengkakan jumlah penduduk ditambah dengan keragaman populasi
warga kota telah memicu berbagai masalah. Disamping persoalan klasik seperti
kemacetan, kekumuhan, dan polusi. Masalah lainnya juga mengemuka misalnya
saja ketimpangan sosial, kejahatan, marginalisasi, juga etos kaum urban.
Kompleksitas masyarakat kota dengan segala dinamikanya telah
membentuk pola tersendiri. Banyak kalangan menyebutnya sebagai urban culture
atau budaya perkotaan. Sebuah budaya yang menjamur dan mengisi ruang publik,
termasuk lewat seni maupun aktivitas lainnya. Sebuah budaya yang timbul karena
kejenuhan terhadap apa yang sudah ada. Sebuah budaya yang lahir akibat
pertemuan beragam budaya. Urban culture dicirikan dengan adanya
kegiatan-kegiatan khas urban yang dilakukan oleh penghuni kota didalam sebuah konteks
urban seperti pedestrian, jalan, atau plaza. Secara definitif, kegiatan khas urban
culture disebut sebagai kegiatan subkultur komposit urban. Sementara muncul
pendapat lain yang menyebut urban culture sebagai street culture (budaya
jalanan), namun pendapat ini segera mendapat sangkalan bahwa urban culture
tidak selalu identik dengan budaya jalanan karena siapapun yang tinggal di kota
berhak menganut apapun, kendati dengan definisi yang berbeda-beda. Hal
terpenting adalah kaum pendatang tetap memiliki satu semangat urban spirit
(Mulyono dalam Kennedy, 2009: 35).
Kota adalah tempat dimana keberagaman bertemu. Keberagaman tentang
apapun : suku, status atau kelas sosial, hingga ideologi. Keberagaman inilah yang
memicu hadirnya perebutan ruang-ruang eksistensi, perebutan ruang keinginan
untuk diakui. Keberagaman ini jugalah yang memicu hadirnya kreasi inovatif dan
karya alternatif terhadap kondisi kota.
Ditengah masyarakat modern sekarang terdapat keberagaman, salah
commit to user
umumnya terbagi menjadi kelas rendah (pendapatan rendah), kelas menengah, dan
kelas sosial tinggi (pendapatan tinggi).
Di kota besar negara yang sudah maju, kejahatan remaja berkaitan erat
sekali dengan kemiskinan. Hal ini dicerminkan oleh distribusi ekonomis dan
distribusi ekologis dari orang-orang yang berasal dari kelas-kelas sosial yang
berbeda-beda. Dengan sendirinya dalam masyarakat sedemikian ini terdapat
banyak kesenjangan antara si kaya dengan si miskin. Semua keadaan tadi dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah kejahatan yang dilakukan oleh
anak-anak remaja yang berasal dari stratifikasi ekonomis rendah dengan pola subkultur
kemiskinan, namun anak-anak remajanya memiliki ambisi materiil yang terlalu
tinggi dan tidak realistis (Kartono, 2006: 33).
Pada masyarakat dengan status sosial rendah juga terdapat keberagaman
dalam pola tingkah laku. Ada yang hidup dengan pola tingkah laku biasa (sesuai
dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat) dan ada pula
sebagian masyarakat yang hidup dengan pola tingkah laku yang luar biasa (anomi)
atau tidak sesuai dengan kaidah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kondisi tersebut tentu akan memacu timbulnya masalah-masalah sosial di dalam
masyarakat. Salah satunya adalah muncul perilaku menyimpang (deviant
behavior) .
Perilaku menyimpang disebut sebagai penyakit masyarakat karena gejala
sosialnya yang terjadi ditengah masyarakat itu meletus menjadi “penyakit”. Dapat
disebut pula sebagai struktur sosial yang terganggu fungsinya, disebabkan oleh
faktor-faktor sosial.
Albert K. Cohen dalam Hadisuprapto (2008: 19) mengemukakan bahwa „Deviant behavior as behavior which violates institutionalized expectations-that is, expectations which are share and recoqnized as legitimate within a social
system”.
Semua tingkah laku yang sakit secara sosial merupakan penyimpangan
sosial yang sukar diorganisir, sulit diatur dan ditertibkan sebab para pelakunya
memakai cara pemecahan sendiri yang non komersiil, tidak umum, luar biasa atau
commit to user
kepentingan pribadi. Deviasi tingkah-laku tersebut dapat mengganggu dan
merugikan subyek pelaku sendiri dan atau masyarakat luas. Deviasi tingkah-laku
ini juga merupakan gejala yang menyimpang dari tendensi sentral, atau
menyimpang dari ciri umum rakyat kebanyakan. Tingkah laku menyimpang
secara sosial juga disebut sebagai diferensiasi sosial, karena terdapat diferensiasi
atau perbedaaan yang jelas dalam tingkah lakunya, yang berbeda dengan ciri-ciri
karakteristik umum, dan bertentangan dengan hukum atau melanggar peraturan
formal (Kartono, 2006: 5).
Dalam situasi anomie, tinggi kecenderungan terjadinya marginalities
sistem nilai dan norma di masyarakat berlaku pun tidak, dianggap tidak berlaku
pun belum. Anggota masyarakatnya seolah-olah kehilangan pegangan nilai-nilai
dan norma-norma manakah yang seharusnya dipilih dan dijadikan pedoman untuk
berperilaku di masyarakat. Situasi perubahan sosial tersebut telah memberikan
dampak terhadap anak dan remaja. Pada satu pihak, dalam dirinya sendiri masih mengalami “konflik” kejiwaan dan perlu “berbenah jiwa”, pada lain pihak selalu saja dalam proses berbenah jiwa ini “diganggu” oleh situasi yang selalu saja
berubah, tidak jelas dan tidak pasti itu. Situasi ini paling terasakan oleh remaja
yang hidup di perkotaan. Komposisi penduduk perkotaan yang relatif tinggi
tingkat kemajemukannya dan tajamnya ketimpangan kondisi kehidupan di
perkotaan tentunya akan melahirkan problema-problema sosial khas perkotaan.
Kemajemukan dan ketimpangan itu misalnya bisa dilihat dari aspek pendidikan,
ada kelompok orang yang sangat terdidik dan amat luas serta canggih
pengetahuannya sehingga terkenal secara nasional, bahkan internasional, tetapi
ada juga orang yang sekolah dasar pun tidak tamat. Aspek pekerjaan, ada
orang-orang yang bekerja dibidang teknologi yang sangat canggih, sementara ada pula
orang-orang yang kemampuannya terbatas. Gaya hidup, ada orang-orang yang
mempunyai gaya hidup mewah. Sementara itu masih banyak orang yang hidupnya
pas-pasan. Kondisi-kondisi yang serba kontras ini tentu akan melahirkan berbagai
masalah sosial dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali
commit to user
Remaja-remaja yang berasal dari kelas atas dan menengah tentunya
mempunyai tata nilai dan norma-norma yang khas sehingga berbeda dari tata nilai
dan norma remaja kelas bawah. Kemudahan-kemudahan yang dinikmati remaja
kelas atas dan menengah pun hanya menjadi lamunan kelas bawah.
Ketidakmerataan kesempatan tersebut lalu cenderung timbulnya
kelompok-kelompok di masyarakat, tidak terkecuali para remajanya menjadi beberapa
kategori (a) kelompok conformities; (b) kelompok pembaharu (positif maupun
negatif); (c) kelompok ritualis; (d) kelompok retreatis; dan (e) kelompok rebellis
(Merton dalam Hadisuprapto, 2008: 50). Disamping itu, terjadinya komunikasi
dan interaksi antar remaja berbagai kelas itu akan melahirkan pula
perasaan-perasaan tersendiri. Pada kalangan remaja kelas bawah sering timbul subculture
delinquent. Suatu sub-budaya tandingan yang diciptakan oleh sementara remaja
kelas bawah sebagai reaksi dan akibat kecemburuan sosial mereka terhadap
remaja kelas diatasnya. Indikator-indikator sub-budaya tersebut dapat dikenali
dari berbagai sistem tata nilai, gaya hidup, kebiasaan yang salah satunya
ditampakkan dari penggunaan-penggunaan bahasa yang “tidak lazim” (prokem)
yang dikembangkan dikalangan mereka. Tidak jarang sikap reaktif dari kelompok
kelas bawah ini tampil dalam wujud perilaku-perilaku penyimpangan dan bersifat
sangat meresahkan masyarakat (Cohen dalam Hadisuprapto, 2008: 50).
Salah satu contoh bentuk perilaku yang dianggap oleh masyrakat sebagai
perilaku menyimpang (deviant behavior) yang terdapat dalam realitas kehidupan
masyarakat perkotaan adalah munculnya subkultur punk. Punk sampai saat ini
masih menjadi fenomena dalam lingkup budaya kawula muda. Komunitas punk
sebagai suatu kelompok sosial ternyata bukan hanya sekumpulan individu, tetapi
juga membentuk tindakan bersama. Komunitas punk merupakan sebuah
masyarakat yang mempunyai nilai-nilai dimana sering terjadi persimpangan
dengan nilai-nilai masyarakat yang sudah ada.
Punk sendiri berasal dari komunitas underground yang merasa bosan
dengan nama besar band-band rock. Di tahun 1970-an lahir musik punk yang
memiliki kode pakaian jauh lebih radikal, anakis, dan memberontak. Seperti
commit to user
juga mengungkapkan pemberontakannya kepada orang tua dan pemerintah Inggris
serta kemapanan masyarakat di tahun 1970-an. Jumlah penggangguran semakin
membengkak dan perasaan keterasingan semakin meningkat dengan menguatnya
kekuatan ultranasionalis pada saat itu. Musik punk ini lahir di perkampungan
kumuh di London dan berbeda dengan para rocker di tahun 1960-an yang berasal
dari perkampungan kumuh di Liverpool dan Manchester. Musik punk juga
melawan kemapanan musik rock di tahun 1970-an yang terlalu komersil,
petunjukkannya selalu diadakan di arena, bergelimangan kejayaan, dikelilingi
para groupies, dan telah menjadi anggota VIP club. Perlawanan itu dilakukan
dengan cara menciptakan gaya musik yang kasar, lengkap dengan kode fashion
yang anarkis dengan menolak segala hal yang dilakukan pemusik rock di tahun
1960-an (Rusbiantoro, 2008: 110). Definisi underground sendiri adalah salah satu
pergerakan musik yang dijalankan oleh golongan atau komunitas tertentu secara
bergerilya / terselubung / bawah tanah yang jauh dari kehidupan masyarakat
umum.
Tubuh-tubuh kaum punk seakan mengalami proses aktualisasi. Hal
tersebut mungkin disebabkan oleh heterogenitas dan selalu ingin tampil berbeda,
walaupun disitu muncul abnormalitas dalam modus eksistensinya. Saat mereka
berproses dan berlomba-lomba membentuk citra, penyimpangan-penyimpangan
itu sering tampak secara vulgar. Seperti itulah gambaran perilaku mereka.
Mungkin karena anggapan bahwa sesuatu yang biasa hanya akan dipandang biasa
juga, namun sesuatu yang berbeda atau tidak biasa (aneh) akan dilihat berbeda.
Hampir disetiap kota besar di Indonesia , dapat dipastikan ada sekelompok
anak muda punk. Bahkan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain.
Penampilan kaum punk yang nyentrik penuh aksesoris dan seni tubuh; mereka
menyerupai galeri urban yang membiak, mengisi jalanan dan sudut-sudut ruang
kota. Masuknya punk ke Indonesia tidak lepas dari pemberitaan media
mainstream. Di Indonesia, kultur punk dikenal pertama kali sebagai bentuk
musikal dan fashion statement. Ada banyak hal yang mendorong terjadinya kultur
commit to user
Subkultur punk telah merambah Kota Surakarta. Komunitas punk dapat
ditemukan di beberapa sudut ruang Kota Surakarta. Komunitas punk di Kota
Surakarta cukup berkembang dan ada beberapa komunitas punk yang bertahan
untuk tetap eksis. Kebanyakan kelompok punk di dimulai dari pembentukan group
musik yang memainkan musik aliran punk dan berkembang menjadi kelompok
atau komunitas. Dari group band yang dibentuk akan memiliki penggemar yang
sering mendatangi tempat mangkal group band tersebut dan lama-lama menjadi
tidak hanya sebuah band tetapi kelompok yang bisa menaungi semuanya.
Punk di Kota Surakarta banyak mengalami pengembangan dimana busana
punk sudah tidak lagi terlalu frontal melainkan disesuaikan dengan situasi dan
kondisi masyarakat Kota Surakarta. Pengembangan tersebut biasanya dilakukan
oleh anak muda penggemar punk yang berada di lingkungan akademis seperti
sekolah atau kampus. Pengembangan ini juga diterapkan dalam hal musik dan
tingkah laku, karena punk pada awalnya „anti kemapanan‟ banyak dari pengikut
punk di Kota Surakarta hanya mengambil punk dari sisi busananya saja atau dari
sisi musiknya tanpa harus mengikuti ideologi yang sebenarnya.
Dalam perkembangannya jumlah punk setiap harinya tidak berkurang
tetapi justru bertambah banyak. Bukan hanya secara kuantitas mereka bertambah
tetapi secara kualitas mereka pun semakin eksis dan semakin terlihat keberanian
mereka dalam berekspresi. Keberadaan scene-scene punk (tempat berkumpul
komunitas punk) di Kota Surakarta mulai bertambah. Seiring hal tersebut
komunitas-komunitas punk yang menggeliat semakin memantapkan eksistensinya.
Keberadaan scene-scene komunitas punk tersebut sangat menarik untuk diteliti
distribusi spasialnya.
Dalam hal ini peneliti ingin meneliti bidang yang tidak jauh beda dengan
bidang yang digeluti penulis. Dalam penelitian ini penulis ingin memetakan
distribusi kaum punk di Kota Surakarta. Oleh sebab itu dalam penelitian ini
penulis ingin meneliti dengan judul “Studi Perilaku Menyimpang (Deviant
commit to user
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan penjabaran latar belakang masalah yang telah diuraikan di
atas. Maka penelitian yang akan dikaji dapat dirumuskan ke dalam pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
a. Bagaimana persebaran scene komunitas punk di Kota Surakarta?
b. Bagaimana karakteristik punk di Kota Surakarta?
c. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap perilaku kaum punk?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai penulis adalah :
a. Untuk mengetahui persebaran scene komunitas punk di Kota Surakarta.
b. Untuk mengetahui karakteristik punk di Kota Surakarta.
c. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap perilaku kaum punk.
D. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian apa dan bagaimanapun bentuknya diharapkan
mempunyai manfaat tertentu. Demikian pula dengan penelitian ini diharapkan
mampu memberikan manfaat bagi pribadi maupun masyarakat luas. Adapun
manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan ilmu
geografi sosial yaitu tinjauan geografi tentang komunitas punk di Kota
Surakarta, dan juga untuk mendukung teori-teori yang ada sehubungan
dengan bidang sosial khususnya yang menyangkut perilaku menyimpang
dan kelompok minoritas yang termarjinalisasi dalam suatu masyarakat.
b. Bagi penulis, untuk menerapkan pengetahuan antara teori yang didapat
dengan kenyataan di lapangan.
c. Bagi UNS, untuk memberikan sumbangan tulisan bagi perpustakaan yang
ada di UNS, baik perpustakaan pusat, fakultas maupun perpustakaan
commit to user
2. Manfaat Praktis
a. Peneliti diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran kepada
Pemerintah Kota Surakarta dan instansi yang terkait dengan masukan
mengenai fenomena punk yang ada di Kota Surakarta, sehingga dapat
memberikan penanganan secara arif dan bijaksana.
b. Masyarakat pada umumnya agar dapat menyikapi dengan cara yang lebih
bijaksana terhadap fenomena punk di Kota Surakarta.
commit to user
11 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Punk a. Sejarah Punk
Munculnya subkultur punk pada awalnya terjadi sekitar tahun 1970-an di
London-Inggris yang diakibatkan oleh para pemuda London yang menderita dari
tinnginya angka pengangguran dan status dari kubu kelas sosial. Dalam kelanjutannya, situasi yang diibaratkan seperti “tidak ada masa depan” memunculkan pergerakan punk dengan kekuatan tersendiri. Mereka melawan
dengan keadaan musik yang liar dan busana anti kemapanan dengan tata rambut
yang aneh dan aksesoris dari barang-barang bekas murahan. Pergerakan ini
dengan cepat dan terang-terangan mempengaruhi hati pemuda kelas bawah di
London.
Fitriansyah dalam Kennedy (2009: 134) mengemukakan bahwa ”Punk
merupakan sub-budaya yang lahir di London. Gerakan anak muda yang diawali
oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang
mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral
oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang
tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui
lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana, namun terkadang kasar, beat
yang cepat dan menghentak”.
Fitriansyah dalam Kennedy (2009: 135) berpendapat bahwa ”Pada awal kelahirannya, punk memang teridentifikasi sebagai pemberontakan.
Pemberontakan punk dinyatakan dengan pemberontakan semiotik yang
diaplikasikan pada fashion dan musik. Namun, pemberontakan tersebut pula yang
dijual oleh industri dan dijadikan sebagai sumber profit yang dapat dieksploitasi.
Hal ini ditandai dengan bergabungnya Sex Pistols dengan industri musik
mainstream EMI. Kemudian pasar industri musik dipenuhi dengan band-band
commit to user
Pemberontakan dapat dibeli. Akhir dari era Sex Pistols ini merupakan titik balik
sejarah perkembangan punk”.
Ketika punk menjadi komoditas pasar yang dapat dieksploitasi, individu
yang terlibat dalam subkultur ini mengasingkan diri kembali. Punk berpindah ke
bawah tanah, tetap eksis tetapi tidak terliput oleh media. Justru setelah era Sex
Pistols tersebut, punk berkembang dengan pesat melalui jaringan pertemanan yang
independent (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 135).
Punk generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas
independent yang lebih politis daripada generasi Sex Pistols seperti isu
feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, independensi, rasisme, fasisme, isu
anti perang dan lain-lain. Semua ini merupakan isu komunal yang beredar diantara
komunitas punk sendiri dalam rangka melawan informasi dari arus budaya utama
atau dominan (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 136).
Masuknya punk ke Indonesia tidak lepas dari pemberitaan media massa.
Di Indonesia, kultur punk dikenal pertama kali sebagai bentuk musikal dan
fashion. Punk tidak hadir sebagai respon keterasingan dalam masyarakat modern,
melainkan dari sebuah kerinduan akan sebuah bentuk representasi baru saat tak
ada hal lama yang dapat mempresentasikan diri remaja lagi. Tidak heran apabila
hal-hal yang substansial baru muncul bertahun-tahun setelah punk dikenal secara
musikal dan fashion statement (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 136).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kultur punk memang
hadir di Indonesia tanpa hal-hal yang substansial. Punk lahir sebagaimana produk
post-modern lainnya, lahir tanpa esensi. Ada banyak hal yang mendorong
terjadinya hal ini antara lain karena gap bahasa, gap ekonomi, dan gap krisis masa
muda (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 137).
b. Pengertian Punk
Punk sampai saat ini masih menjadi fenomena dalam lingkup budaya
kawula muda, tentang pengertian punk sendiri ada beberapa pendapat yang
commit to user
Pengertian tersebut menggambarkan punk sebagai suatu subkultur yang memiliki
sistem perilaku, seperangkat nilai dan cara hidup yang digunakan untuk
menunjukkan perlawanannya terhadap budaya dominan atau budaya popular. Ahsoul dalam Kennedy (2009: 238) mengemukakan bahwa “Punk adalah pilihan. Punk adalah sandaran hidup. Punk adalah media ekspresi. Punk adalah
eksistensi diri dan punk adalah dunia sekelompok anak muda yang sedang
meneriakkan suara-suara terbungkam dan terpinggirkan karena timpangnya kehidupan sosial masyarakat kota; kaum urban”.
Ada tiga definisi punk seperti yang disebutkan Craig O‟Hara yang dikutip oleh Fitriansyah dalam Kennedy (2009: 134) adalah “Pertama, punk sebagai tren remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak
dan melakukan perubahan. Ketiga, punk sebagai bentuk perlawanan yang „hebat‟ karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri”. 1) Punk sebagai tren remaja dalam fashion dan musik
a) Punk sebagai tren remaja dalam fashion
Pada umumnya masyarakat mendefinisikan punk pertama kali dengan
melihatnya dari segi fashion. Menurut Barnard (2009: 66), “Fashion dan pakaian
adalah kultural dalam artian keduanya merupakan cara untuk mengomunikasikan
identitasnya. Keduanya merupakan cara untuk mengomunikasikan nilai-nilai dan
identitas kelompok baik itu ke kelompok lain maupun ke para anggota kelompok
itu sendiri. Fashion dan pakaian itu komunikatif karena keduanya merupakan cara
nonverbal untuk memproduksi serta mempertukarkan makna dan nilai-nilai”. Menurut Solomon dalam Rusbiantoro (2008: 104), “Ada sesuatu yang totemik didalam cara kita mengenakan pakaian untuk mengomunikasikan
identitas kelompok kita. Dengan cara memakai totem tertentu, kita dapat mengumumkan siapa diri kita, dan dengan siapa kita mengidentifikasikan diri”.
Punk mungkin bisa dipahami sebagai suatu fenomena ideologis yang lebih
commit to user
sendiri. Rantai, tas gombrang, dan jepit keselamatan tidak dipakai kelas dominan
sebagai dekorasi, pakaian, dan perhiasan, namun mereka mengenakannya
ditubuhnya padahal kelas dominan mengenakan dekorasi dan perhiasan. Pakaian,
warna, dan desainnya hanya murahan, vulgar dan menjijikkan untuk suatu
kelompok orang tertentu, dan guna mengontruksi serangkaian tampang punk, punk
bisa dilihat sebagai kebalikan dari nilai-nilai yang dianut kelompok orang tertentu
(Hebdige dalam Barnard, 2009: 61).
Punk menggunakan fashion dan pakaian untuk menantang ideologi
dominan dan melawan distribusi kekuasaan dalam tatanan sosial. Cara yang
digunakan punk adalah untuk menarik perhatian pada ketidakalamiahan konsepsi
kelas dominan tentang kecantikan, untuk menunjukkan bahwa mereka adalah
sesuatu yang dipikirkan oleh orang dengan memikirkan konsepsi-konsepsi
alternatif (Barnard, 2009: 63).
Fashion didalam punk jauh lebih mengagetkan dan membuat takut orang
yang melihat penampilannya karena benda-benda yang tidak pantas seperti peniti
(safety pins), jepitan pakaian dari plastik, komponen televisi, silet, tampon dapat
menjadi aksesoris dari pakaian punk. Bahkan mereka memakai T-shirt yang
berlumuran darah. Rambutnya dicat hijau dengan gaya spike, mohawk, bihawk,
atau trihawk. Tujuan dari penampilan ini memang membuat shock sekaligus
menimbulkan kesan aneh bagi orang yang melihatnya. Selain itu, gaya seperti ini
memang disengaja untuk menimbulkan kesan seperti anak yang teraniaya dan
mengalami kekerasan didalam keluarganya, atau menunjukkan diri sebagai orang
terbuang yang dibenci oleh masyarakat (Rusbiantoro, 2008: 111).
Seperti yang dikemukakan oleh Hebdige (1999: 231), “Objek-objek yang dipinjam dari konteks yang paling kotor mendapat tempat dalam ansambel punk:
rantai kakus dihias menjadi lengkung indah didada yang dibingkai dengan keliman plastik. Peniti dikeluarkan dari konteks „utilitas‟ domestiknya dan dikenakan sebagai ornamenyang mengerikan disekitar pipi, kuping atau bibir. Tenun buangan „murahan‟ (PVC, plastik, lureks, dan lain-lain) dengan desain vulgar (misalnya corak kulit macan) dan warna-warna „buruk‟, yang telah lama
commit to user
usang, diselamatkan kaum punk dan diubah menjadi garmen (celana pipa talang
flyboy, rok mini „umum‟) yang menawarkan komentar yang awas tentang apa yang disebut kemodernan dan selera”.
Dibawah ini merupakan perwujudan fashion dan pakaian serta aksesoris (bentuk
dan jenis) didalam punk antara lain :
a) Tata rambut : tata rambut dalam fashion punk adalah mode rambut
mohawk. Mode potongan rambut ini diinspirasi dari gaya rambut suku
„Mohican‟ Indian. Mode potongan rambut mohawk ialah menipiskan atau
memotong rambut di bagian kiri-kanan dan menyisakan bagian tengah
rambut yang panjang lalu diberdirikan menyerupai tengkuk kuda. Mode
rambut mohawk terbagi menjadi 3 (tiga) antara lain: „mohawk mohican’, „mohawk runcing‟, mohawk spiky’.
b) T-shirt atau kaos oblong : kaos biasanya berwarna hitam dan bergambar
band-band punk atau kadang bertuliskan slogan kritik sosial. Biasanya
kaos sengaja dibikin lusuh atau dirobek untuk mendapatkan kesan kusam
dari jalanan.
c) Jaket kulit : jaket yang dikenakan biasanya dilengkapi dengan hiasan
paku-paku atau spike, peluru bekas, pin, emblem band-band punk atau
bordiran slogan-slogan punk. Biasanya jaket juga sengaja dibikin lusuh
atau dirobek untuk mendapatkan kesan kusam dari jalanan.
d) Celana : celana yang dipakai dalam busana punk adalah celana jeans ¾,
berwarna hitam. Bentuk lain selain celana jeans adalah celana kotak-kotak,
model ¾ dari bahan flannel. Pada celana yang dikenakan ditempeli
emblem atau bordiran slogan-slogan punk.
e) Sepatu boot : sepatu yang dikenakan dalam fashion punk adalah jenis
sepatu boot. Sepatu boot didalam fashion punk adalah komponen penting
yang bisa dikatakan menjadi ciri khas dari fashion punk. Sepatu boot
panjangnya hampir menyentuh lutut, berlubang tali 8 hingga 20 dari
bawah sampai atas. Tali sepatu boots biasanya berwarna hitam, merah, dan
commit to user
yang dipakai bermacam-macam. Dalam pemakaian boots ini yang
membedakan dengan pemakai boots lainnya.
f) Eye shadow : digunakan untuk menghitamkan mata yang akan memberi
kesan lebih seram. Eye shadow biasanya jarang digunakan karena fashion
punk adalah busana jalanan. Eye shadow biasanya digunakan pada saat ada
gig (pertunjukkan musik).
g) Cat rambut : digunakan untuk mewarnai rambut dengan warna-warna
cerah seperti merah, pink, kuning, hijau, atau biru sesuai dengan selera
pemakainya.
h) Lem kayu / lem kertas dan hairspray : digunakan untuk mengeraskan
rambut agar bisa berbentuk mohawk.
i) Cat kuku : cat digunakan di kuku-kuku tangan, biasanya berwarna hitam.
j) Rantai : biasanya dikenakan di saku belakang dan dikaitkan ke ikat
pinggang, atau biasanya juga dilingkarkan di leher.
k) Ring : ring terbuat dari bahan logam berbentuk lingkaran dengan diameter
yang berbeda-beda serta memiliki ukuran yang bervariasi. Biasanya ring
digunakan sebagai liontin di kalung rantai atau kalung tali, atau bisa
diikatkan di ikat pinggang.
l) Gembok : biasanya digunakan sebagai pengait kalung rantai, dan biasanya
dikaitkan dilubang tali sepatu.
m) Spike atau kulit imitasi : terbuat dari bahan kulit yang ditempeli
logam-logam runcing kecil berbentuk kerucut atau bundar. Biasanya spike
digunakan sebagai gelang atau ikat pinggang.
n) Piercing (tindik) : dipakai ditelinga, cuping hidung, bibir, lidah, bahkan
pipi. Kebanyakan piercing dipakai ditelinga, berwarna hitam , terbuat dari
logam yang berukuran lebih besar daripada anting biasa sehingga akan
menyebabkan lubang yang besar di telinga pemakainya.
o) Gelang : biasanya terbuat dari logam, karet hitam atau tali.
p) Tato : tato berasal dari bahasa Tahiti, yaitu „tatu‟ yang berarti menandakan
sesuatu. Bentuk ini memiliki dua jenis pilihan, yakni permanen dan
commit to user
adalah tato permanen. Tato biasanya menghiasi bagian tubuh sesuai selera
pemakainya.
Pada perwujudan fashion dan pakaian yang dikenakan punk tersebut
berfungsi sebagai penanda bagi mereka yang membedakannya dengan komunitas
lain. Objek tersebut merupakan aksesoris khas yang dimiliki punk dan dipakai
dalam keseharian, khususnya apabila ada event-event tertentu misalnya didalam
gig punk.
b) Punk sebagai tren remaja dalam musik
Rusbiantoro (2008: 29) mengemukakan bahwa “Musik merupakan alat
penyatu dari semua gerakan politik dan budaya tanding. Musik juga merupakan
alat politis yang paling efektif untuk mengadakan protes sosial dan menggugah
kesadaran masyarakat akan situasi sosial pada saat yang sangat genting dan meresahkan”.
Musik bagi kaum punk adalah ekspresi jiwa, oleh karena itu lirik lagu
yang ditulis, biasanya berisikan sedikit kekerasan dan kemarahan pada segala
bentuk penindasan seperti kapitalisme, rasisme, fasisme, kritikan-kritikan
terhadap penguasa, dan beberapa tema cinta dengan kata-kata yang tidak
menyayat hati tentunya, serta juga menceritakan tentang kehidupan sehari-hari
sebagai punk.
Musik Oi! memiliki ciri irama yang lurus dan monoton mirip mars dengan
akar musik rock. Musiknya agak kocar-kacir dan adakalanya rentaknya harmonic
tetapi simple / sederhana, minimal kord guitarnya 2 atau 3 kord. Ketukan drumnya
statis dan terkadang agak ngebut. Teknik vokalnya asal-asalan seperti orang
ngoceh. Sound guitarnya kurang garang tetapi agak noise (pecah). Ciri-ciri musik
punk ini adalah anarchy, rebel, anti kemapanan, drugs dan sex.
commit to user
Di tahun 1999-an, musik Oi! semakin berkembang di scene musik tanah
air. Band-band Oi! bermunculan di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, Malang dsb. Berbekal etika DIY (Do it Yourself), mereka merintis
usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri
untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran.
Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut
distro. Musik Oi! merupakan salah satu dari jenis musik underground. Tidak
semua orang bisa menikmati musik Oi! karena kaset dan lagu-lagu Oi! beredar di
komunitas terbatas. Distro merupakan sebuah toko dimana orang bisa
mendapatkan kaset dan CD dari band-band underground termasuk band Oi! lokal
maupun luar negeri. Informasi-informasi mengenai band-band, info dan review
kaset atau CD serta publikasi gigs Oi! diterbitkan melalui fanzine, sebuah majalah
minimalis buatan komunitas musik underground lokal yang juga bisa didapatkan
di distro.
CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan di distro.
Distro juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesoris, buku dan
majalah, poster serta jasa tindik (piercing) dan tato. Seluruh produk dijual terbatas
dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro
adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja
barang bermerek luar negeri.
Di Kota Surakarta, ada banyak band-band punk seperti Tendangan Badut,
The Orak-Arik, Anti Regime, Underdog, The Mobster, Freedom Choice,
Barbershop, dan band-band punk lainnya yang berusaha konsisten dijalur indie
label. Band-band punk di Kota Surakarta kebanyakan bernaung di bawah Bon
Rodjo Records dan Semangat Djoeang Records. Lagu-lagu yang dibawakan
bertemakan anarkhisme, ideologi, pemberontakan terhadap pemerintah dan
menceritakan tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai punk dengan irama
musik yang keras dan menghentak. Mereka biasa latihan musik di studio musik
untuk menambah ketrampilan dalam hal bermusik.
Musik punk memang keras jika dilihat dari unsur kekuatan bunyinya, akan
commit to user
sebentuk ekspresi jiwa punk terhadap lingkungan sekitar, dan sesuatu yang ingin
mereka perjuangkan, mereka tulis dalam bentuk kata-kata sederhana melalui
musik.
2) Punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan Di tahun 1970-an lahir musik punk yang mempunyai kode pakaian jauh
lebih radikal, anarkis, dan memberontak. Seperti musik rock yang
mengungkapkan frustasi dan harapan kaum remaja, musik punk juga
mengungkapkan pemberontakannya kepada orang tua dan pemerintahan Inggris
serta kemapanan masyarakat di tahun 1970-an. Jumlah pengangguran semakin
membengkak dan perasaan keterasingan semakin meningkat dengan menguatnya
kekuatan ultra nasionalis pada saat itu. Musik punk juga melawan kemapanan
musik rock di tahun 1970-an yang terlalu komersil. Perlawanan itu dilakukan
dengan cara menciptakan gaya musik yang kasar, lengkap dengan kode fashion
yang anarkhis dengan menolak segala hal yang dilakukan pemusik rock di tahun
1960-an (Rusbiantoro, 2008: 110).
Punk generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas
independent yang lebih politis seperti isu feminisme, gender, pemberdayaan
komunitas, independensi, rasisme, isu anti perang dan lain-lain. Semua ini
merupakan isu komunal yang beredar diantara komunitas punk itu sendiri dalam
rangka melawan informasi dari budaya mainstream. Punk berusaha menentang
semua budaya dominan atau budaya konsumerisme yang dikuasai oleh borjuis dan
melawan segala bentuk kapitalisme (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 136).
Subkultur punk mempresentasikan “derau” (sebagai lawan dari suara). Seperti yang dikemukakan oleh Hebdige (1999: 168), “Kaum punk mesti menghadirkan diri sebagai „orang bejat‟; sebagai lambang dari pembusukan yang dipublikasikan besar-besaran, yang dengan sempurna memepresentasikan kondisi
jumud di Inggris Raya. Berbagai ansambel stilistik yang diadopsi kaum punk
sudah pasti merupakan ekspresi dan agresi, frustasi dan kecemasan yang serius.
Inilah yang membuat, pertama, kecocokan metafora punk baik bagi anggota
subkultur tersebut maupun lawan mereka dan, kedua, keberhasilan subkultur punk
commit to user
seluruh himpunan masalah kekinian. Inilah yang membuat subkultur ini mampu
menarik anggota baru dan menyebabkannya ditanggapi dengan berang oleh orang
tua, guru, dan pegawai, yang menciptakan kepanikan moral terhadap mereka, termasuk dari para „wirausahawan moral‟, penasihat setempat, „budayawan‟ (pundit) dan perdana menteri yang berkewajiban untuk melancarkan „perang
salib‟ terhadap mereka. Dalam rangka mengomunikasikan kekacauan, mula-mula
bahasa yang pantas tadi harus diseleksi, meskipun kelak disubversi. Agar punk
dapat dienyahkan sebagai chaos, ia pertama-tama harus „dipahami‟ sebagai derau”.
3) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan
musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.
a) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik.
Musik punk tidak terlalu mementingkan musikalisasi, tetapi yang lebih
dipentingkan adalah ekspresi dan jiwa punk. Musik bagi mereka adalah sebuah
ekspresi dan pendistribusian pesan perlawanan seperti anarkhisme, kapitalisme,
borjuis, sistem, rasisme, fasisme maupun militerisme. Musisi punk mempunyai
esensi penolakan terhadap nilai-nilai yang sudah mapan, nilai-nilai yang sudah
ada didalam masyarakat. “Maksud dari pernyataan tersebut bahwa punk
menjunjung tinggi nilai anti kemapanan yaitu bebas mengatur hidup mereka sendiri” (kutipan dalam film Punk in Love).
Pogo merupakan suatu gerakan yang muncul di acara musik punk dan
biasanya dipicu oleh speed. Seperti yang diungkapkan oleh Malcom Butt (2009:
30) “Ketika 1976 berlanjut, dan reputasi negatif Sex Pistols meningkat, demikian
juga reputasi negatif Sid. Dia begitu tertarik untuk melihat band tersebut sehingga
dia melompat-lompat di tempat dengan „kegilaan‟ yang dipicu oleh speed,
sehingga secara tidak sengaja melahirkan tarian khas punk rock, pogo”. b) Punksebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan gaya
hidup.
Istilah gaya hidup, baik dari sudut pandang individual maupun kolektif,
commit to user
sekumpulan kebiasaan, pandangan, dan pola-pola respons terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup” (Takwin dalam Adlin, 2006: 37).
Ada hubungan timbal balik dan tidak dapat dipisahkan antara keberadaan
citra (image) dan gaya hidup (lifestyle). Gaya hidup sebagai cara manusia
memberikan makna pada dunia kehidupannya, membutuhkan medium dan ruang
untuk mengekspresikan makna tersebut, yaitu ruang bahasa dan benda-benda,
yang didalamnya citra mempunyai peran yang sangat sentral. Di pihak lain, citra
sebagai sebuah kategori didalam relasi simbolik antara manusia dan dunia objek,
membutuhkan aktualisasi dirinya kedalam pelbagai dunia realitas, termasuk dunia
gaya hidup (Piliang dalam Adlin, 2006: 71).
Gaya hidup dalam arus kultur kontemporer ini kemudian memunculkan
dua hal yang sama sekaligus berbeda yaitu alternatif dan diferensiasi. Kedua hal
itu bisa jadi esensinya sama tetapi berbeda manifestasi eksistensinya. Alternatif
lebih bermakna resistensi atau perlawanan terhadap arus budaya mainstream,
sedangkan diferensiasi justru sebaliknya mengikuti arus budaya mainstream
dengan membangun identitas diri yang berbeda dari yang lain. Diferensiasi adalah
suatu pilihan untuk membuat diri berbeda dengan mengonsumsi barang-barang
yang ditawarkan pemegang modal, sedangkan alternatif adalah sebuah bentuk
resistensi untuk tidak mengikuti arus kapitalisme (Adlin, 2006: 92).
Punk mereproduksi seluruh sejarah jahit-menjahit bagi kultur pemuda kelas pekerja pasca perang dengan forma „cut-up‟ (sobekan) –nya yang memadukan berbagai unsur yang berasal dari epos-epos yang jauh berbeda.
Diciptakanlah chaos dengan jambul dan jaket kulit, pengait bordil dan pemetik
siput, sepatu kets dan paka macs, rambut cepak mod dan langkah besar skinhead,
celana pipa dan kaus kaki mencolok, kulkas gelandangan dan sepatu boot bovver – seluruhnya dibiarkan „ditempatnya‟ dan „diluar waktu‟ dengan perekat dasyat : peniti dan plastik gantungan baju, rantai perbudakan (bondage) dan
potongan-potongan tali yang mendapat banyak perhatian, dengan rasa ngeri dan
terperangah. Oleh sebab itulah punk menjadi tempat yang sangat tepat untuk
mengawali kajian semacam ini karena gaya punk mengandung bermacam-macam
commit to user
Banyak sekali perilaku kaum punk yang dianggap menyimpang oleh
masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Hebdige (1999: 182) “Dalam kebanyakan kasus, inovasi stilistik subkulturlah yang mula -mula menarik perhatian media. Selanjutnya aksi menyimpang atau „anti sosial‟ – vandalisme, menyumpah, berkelahi, „perilaku binatang‟ – ditemukan polisi, pengadilan, media massa; dan aksi-aksi ini dipakai untuk „menjelaskan‟
penyelewengan orisinil subkultur terhadap kode busana. Memang, baik perilaku
menyimpang atau pun identifikasi seragamnya yang khas ini (atau lebih lazim,
gabungan keduanya) dapat menjadi pemicu bagi timbulnya kepanikan moral.
Dalam hal punk, dikerlingnya gaya punk oleh media nyaris bersamaan waktunya
dengan ditemukannya atau diciptakannya penyimpangan punk”.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa punk menjadi salah satu
bentuk resistensi terhadap gaya hidup. Penggunaan gaya dalam subkultur punk
sangat berbeda dan simbolik. Hal ini merupakan suatu bentuk deviasi sebagai
tindakan penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan masyarakat, dan
digunakan sebagai perjuangan melawan budaya dominan atau kelompok dominan
(orang tua, kalangan elite masyarakat, norma sosial yang ketat, atau negara).
c) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan komunitas.
Kehidupan sosial orang dipengaruhi oleh bentuk komunitas (community) dimana ia hidup. “Sebuah komunitas dapat didefenisikan baik sebagai suatu kelompok kesatuan manusia (kota kecil, kota, desa), maupun sebagai seperangkat perasaan (rasa keikatan, kesetiaan)” (Gottschalk dalam Horton dan Hunt, 1984: 129). Namun demikian, tidak terdapat keseragaman dalam penggunaan istilah
terebut. Salah satu definisi yang banyak digunakan seperti yang dikemukakan oleh
Horton dan Hunt (1984: 129) “Komunitas adalah suatu kelompok setempat (lokal) dimana orang melaksanakan segenap kegiatan (aktivitas) kehidupannya”.
Menurut Hillery dalam Horton dan Hunt (1984: 129) “Definisi komunitas yang lebih terinci mencakup: (1) sekelompok orang yang hidup dalam, (2) suatu
wilayah tertentu, yang memiliki, (3) pembagian kerja yang berfungsi khusus dan
commit to user
mengatur kegiatan para anggota, (5) yang mempunyai kesadaran akan kesatuan
dan perasaan – memiliki, serta (6) mampu bertindak secara kolektif dengan cara yang teratur”.
Namun demikian, definisi diatas tidak digunakan secara seragam. Istilah
komunitas juga dipakai untuk menyebutkan dusun dan desa kecil yang hanya
memiliki sejumlah kecil rumah. Disamping itu, dapat juga dipakai untuk
menyatakan hampir setiap subkultur atau kelompok kategori orang, baik secara
geografis maupun secara sosial (misalnya komunitas orang kulit hitam, komunitas
guru, atau komunitas punk).
Menurut Daldjoeni (1997: 9) “Suatu community memiliki ciri-ciri sebagai
berikut: (1) berisi kelompok manusia, (2) menempati suatu wilayah geografis, (3)
mengenal pembagian kerja kedalam spesialisasi dengan fungsi-fungsi yang saling
tergantung, (4) memiliki kebudayaan dan sistem sosial bersama yang mengatur
kegiatan mereka, (5) para anggotanya sadar akan kesatuan serta kewargaan
mereka dari community, dan (6) mampu berbuat secara kolektif menurut cara tertentu”.
Musik oi! street punk di Indonesia, memiliki jumlah komunitas yang
cukup besar dan tersebar di berbagai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung,
Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bali, Malang dan Surakarta. Komunitas musik
oi! street punk di Indonesia baik itu dari kaum skinhead, punk maupun hardcore
kerap diasosiasikan sebagai kelompok yang sama, yaitu komunitas punk.
Sriwedari Boot Bois adalah nama komunitas punk pertama di Kota
Surakarta terdeteksi keberadaannya sejak tahun 1997-an. Berawal dari kebiasaan
anak-anak nongkrong dijalanan sekitar Singosaren, kemudian berusaha membuat
komunitas yang lebih idealis dengan mengadopsi kultur punk yang sebelumnya
telah lebih dulu di kalangan kaum jalanan di beberapa kota besar seperti Jakarta,
Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Kesukaan pada minuman keras
dan musik street punk adalah hal utama yang menjadi pemersatu bagi komunitas
ini. Pertambahan jumlah anak-anak yang berkumpul, membuat komunitas awal ini
bermigrasi ke belakang gedung pertunjukkan Sriwedari dimana terdapat kebun
commit to user
Sriwedari yang berada di pusat kota serta kepopuleran tempat ini sebagai salah
satu tempat hiburan membuat komunitas ini cepat dikenal oleh masyarakat Kota
Surakarta.
Sriwedari Boot Bois, sebuah nama yang mengacu pada kelompok Boot
Boys atau hooligan di Inggris yang kehidupannya tidak bisa dijauhkan dari
sepakbola dan perilaku geng jalanan. Sriwedari adalah tempat dimana komunitas
ini berkumpul. Meskipun demikian, anak-anak Sriwedari Boot Bois bukanlah
geng hooligan sepak bola, mereka hanya mengadopsi nama yang identik dengan
kultur skinhead agar lebih gampang dikenali sebagai komunitas street punk.
Komunitas Sriwedari Boot Bois sering mengadakan pertunjukkan gigs
punk. Gigs adalah hal wajib yang harus dilakukan sebuah komunitas musik
underground untuk menunjukkan eksistensi dan pergerakan mereka. Terdapat
keistimewaan didalam gigs punk, karena band-band yang ditampilkan tentunya
hanya dari aliran punk saja dengan penonton yang mayoritas adalah para
skinhead, punk dan hardcore. Gigs merupakan hal yang sangat penting bagi
komunitas punk setempat, mereka dapat berkumpul dan bersenang-senang
bersama didalam gigs dengan memanfaatkan dansa ala punk seperti saling
bertubrukan, pogo, membentuk moshing pit, slamce dance atau ber-head banging.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan komunitas
sangat berpengaruh pada perkembangan kultur punk. Komunitas merupakan suatu
tempat dimana berbagai macam aktivitas dilakukan misalnya berkumpul,
bersenang-senang, serta bertukar informasi tentang band-band punk dan gigs
punk. Masing-masing komunitas memiliki band, mereka membuat gigs dengan
mengundang band-band punk dari komunitas lain baik itu dalam kota maupun luar
Kota Surakarta.
d) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan kebudayaan sendiri.
Menurut Sugiharto dalam Adlin (2006: 4) “Kebudayaan atau kultur adalah konsep yang telah sangat tua. Kata latinnya c