• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PERILAKU MENYIMPANG (DEVIANT BEHAVIOR)KAUM URBAN (STUDI KASUS KOMUNITAS PUNK DI KOTA SURAKARTA) TAHUN 2009 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STUDI PERILAKU MENYIMPANG (DEVIANT BEHAVIOR)KAUM URBAN (STUDI KASUS KOMUNITAS PUNK DI KOTA SURAKARTA) TAHUN 2009 2010"

Copied!
195
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

STUDI PERILAKU MENYIMPANG (DEVIANT BEHAVIOR) KAUM URBAN (STUDI KASUS KOMUNITAS PUNK DI KOTA

SURAKARTA) TAHUN 2009-2010

Skripsi Oleh :

LISTYA INTAN ARTIANI NIM K5405026

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv ABSTRAK

Listya Intan Artiani. K5405026. STUDI PERILAKU MENYIMPANG (DEVIANT BEHAVIOR) KAUM URBAN (STUDI KASUS KOMUNITAS

PUNK DI KOTA SURAKARTA) TAHUN 2009 - 2010. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Maret. 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Persebaran komunitas punk (scene punk) di Kota Surakarta. 2) Karakteristik punk di Kota Surakarta. 3) Persepsi masyarakat terhadap perilaku kaum punk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari informan, peristiwa / aktivitas, tempat / lokasi dan dokumen. Informan yang dipilih yaitu kaum punk Kota Surakarta, sebagian kaum punk selain Kota Surakarta yang dapat membantu memberikan informasi, sebagian masyarakat yang bisa dimintai keterangan, baik itu masyarakat di lingkungan kaum punk tinggal maupun masyarakat di sekitar tempat berkumpulnya kaum punk. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur, pengamatan atau observasi, analisis dokumen, dan kuesioner atau angket. Validitas data diperoleh melalui triangulasi data dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis spasial dengan menggunakan peta dan model analisis interaktif (interactive of analysis model).

(5)

commit to user

v

(6)

commit to user

vi ABSTRACT

Listya Intan Artiani. K5405026. THE BEHAVIORAL STUDY DIGRESS (DEVIANT BEHAVIOR) OF THE URBAN CLAN (THE CASE STUDY OF COMMUNITY PUNK IN SURAKARTA) OF THE YEAR 2009-2010. Thesis. Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret State University of Surakarta. March. 2011.

The objective of this research are: 1) To know the disseminating of the punk community (punk scene) in Surakarta. 2) The characteristic of punk in Surakarta. 3) The society perception to the behavior of punk. This research uses the descriptive research method qualitative. The data source obtained from the informant, event / activity, place / location and document. The informant who selected is the punk clan in Surakarta, besided that the partly of punk outside Surakarta also can be asked some information, the partly of society which can be asked information, even that society in the environment of the punk omit and also the society around their place gather. Sampling technique that used is purposive sampling. The technique of data collecting that used is the structure interview, the perception or observation, analyse the document, and enquette. The validity of data was obtained through the triangulation of data and method. The technique analyse of data that used is analysis spatial by using map and interactive of analysis model.

(7)

commit to user

vii

(8)

commit to user

viii

MOTTO

“Jangan pernah membeda-bedakan karena kita semua adalah sama yaitu umat Tuhan Allah Pencipta Alam Semesta. Jadi tetaplah optimis, semangat, berjuang,

terus berkarya, dan tidak usah takut dalam menghadapi rintangan apapun. Hantam

prasangka buruk dan yakinlah kalau kita bisa. Jangan lupa selalu berdoa karena

segala sesuatu atau urusan semuanya akan kembali dan terjadi atas izin dari-Nya”.

(Penulis) “Ikhlas dan bersabarlah”

(Penulis) “Lakukan atau mati”.

(9)

commit to user

ix

PERSEMBAHAN

Karya ini dipersembahkan

kepada:

 Ayahku tersayang alm. Sukiman bin Wongso

Taruno

 Ibuku yang paling sabar

 Kakakku alm. Heru Subekti yang telah

banyak memberikan inspirasi hidup

 Kaum Punk n Skin Kota Surakarta (semangat

Djoeang)

 Kaum Punk n Skin seluruh Indonesia

 Sahabat dan orang-orang yang senantiasa

menemani dan menyayangiku, kalian membuat hari-hariku tak pernah sepi

 Teman-teman Geografi 2005

 Brahmahardhika Mapala FKIP UNS

(10)

commit to user

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayahNya

skripsi ini dapat di selesaikan. Skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi

persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan dari Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian

penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan

yang timbul dapat teratasi. Untuk itu atas bantuanya, disampaikan terima kasih

kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin

dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Saiful Bachri, M.Pd selaku Ketua Jurusan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin

dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Drs. Partoso Hadi, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin

dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Dr. Moh. Gamal Rindardjono, M.Si selaku Pembimbing I yang telah

memberi pengarahan, bimbingan serta dorongan sampai selesainya

penyusunan skripsi ini.

5. Ibu Dra. Inna Prihartini, MS selaku Pembimbing II yang telah memberi

pengarahan, bimbingan serta dorongan sampai selesainya penyusunan skripsi

ini.

6. Ibu Pipit Wijayanti, S.Si, M.Sc selaku Pembimbing Akademik.

7. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Geografi yang telah

(11)

commit to user

xi

8. Kaum punk dan skinhead di Kota Surakarta pada khususnya dan di Indonesia

pada umumnya yang telah banyak memberikan bantuan, dukungan, dan

motivasi.

9. Keluarga besar Sriwedari Boot Bois, Kleco, Purwosari, Gladhag, Ngapeman,

Ngarsopuro, Proliman, Timuran, Brondongan (scene komunitas punk) atas

bantuan dan dukungannya.

10.Paguyuban Wirobrajan, Jogjakarta yang telah memberikan newsletter.

11.Alm. Bp. Sukiman bin Wongso Taruna ku tersayang. Maafkan anakmu ini

yang belum bisa memberikan kebahagiaan kepada Bapak. Saya berjanji akan

melaksanakan semua pesan dan nasehat yang Bapak amanatkan kepada saya.

Terimakasih atas semua perhatian cinta, kasih sayang, kepercayaannya, doa

dan dukunganya.

12.Ibuku tersayang atas semua perhatian, doa, cinta, kasih sayang dan

ketulusannya.

13.Semua saudara dan keluarga atas doa, motivasi dan kasih sayangnya.

14.Keluarga besar drg. Sunardi atas bantuan, motivasi, dan dukungannya.

15.Keluarga besar Violet dan seluruh crew, Mas Aris, Mas Aan, Hasit, Woko,

Wawan, Prabowo alias Kholis, Widi, Atun, Alfind atas bantuan, hiburan,

motivasi, kebersamaan, dan persahabatannya. Semoga jalinan kekeluargaan

tetap terjaga sepanjang waktu. Maju dan terus berkaryalah Bengal RI.

16.Dik Gundul, Mas Kecil tato, Pedro, Mas Lius, Waras, Mas Bayu Kleco,

Pendik, Pedo, Singgih, Awank, Tegar Melati di Tapal Batas atas bantuan,

waktu, dan dukungannya.

17.Sahabatku Upik, Tanwirul Huda, Eko PP, Inez, Siti Nur Muslimah, Darsini,

Darsono, Agung Aha, Ardhian Achmad Said, Permata Gita Putri, Bu Aris,

Dania, Wahyu Artha Bayu Murti atas hiburan, motivasi, kebersamaan,

persahabatan, bantuan dan dukungannya.

18.Teman-teman Seni Rupa FKIP UNS, Udin, Tugas, Yudhi atas waktu dan

motivasinya.

19.Keluarga besar pedagang kaki lima di Boeluvard UNS atas dukungan dan

(12)

commit to user

xii

20.Teman-temanku Mapala Brahmahardhika FKIP UNS.

21.Teman-temanku Geo brotherhood 2005.

22.Semua pihak yang telah membantu hingga terselesainya skripsi ini.

Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari

Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu

pengetahuan di masa yang akan datang.

Surakarta, Maret 2011

Penulis,

Listya Intan Artiani

(13)

commit to user

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……….……… i

HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI ………. ii

HALAMAN PERSETUJUAN ………. iii

HALAMAN PENGESAHAN ……….. iv

ABSTRAK ……… v

ABSTRACT ………. vii

MOTTO ……… ix

PERSEMBAHAN ……… x

KATA PENGANTAR ………. xi

DAFTAR ISI ……… xiv

DAFTAR GAMBAR ……… xvii

DAFTAR TABEL ……… xix

DAFTAR PETA ……….. xxi

DAFTAR LAMPIRAN ……… xxii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………. 1

B. Perumusan Masalah ……… 9

C. Tujuan Penelitian ……… 9

D. Manfaat Penelitian ……….. 9

BAB II. LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Punk a. Sejarah Punk ……….. 11

b. Pengertian Punk ………. 12

1) Punk sebagai Tren Remaja dalam Fashion dan Musik ……….. 13

2) Punk sebagai Keberanian Memberontak dan Melakukan Perubahan ……….. 19

(14)

commit to user

xiv

Menciptakan Musik, Gaya Hidup, Komunitas, dan

Kebudayaan Sendiri ……….. 20

c. Filosofi Punk ……… 26

2. Karakteristik Punk a. Karakteristik Demografi ……….. 31

b. Karakteristik Sosial Ekonomi ……….. 32

3. Perilaku Menyimpang ………... 34

B. Hasil Penelitian yang Relevan ……….. 36

C. Batasan-batasan Istilah ……….. 42

D. Kerangka Pemikiran ……….. 46

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 49

B. Bentuk dan Strategi Penelitian ……….. 49

C. Sumber Data ……….. 52

D. Populasi dan Sampel ………... 53

E. Teknik Pengumpulan Data ……… 53

F. Validitas Data ……… 56

G. Teknik Analisis Data ……… 56

H. Prosedur Penelitian ……… 58

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Letak, Batas dan Luas ………. 60

2. Penduduk Kota Surakarta ………..……….. 62

3. Sarana dan Prasarana ……… 64

4. Keadaan Sosial ………. 65

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Persebaran Kaum Punk di Kota Surakarta (Scene Komunitas Punk) ………. 67

2. Karakteristik Punk di Kota Surakarta ………. 102

(15)

commit to user

xv

BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Kesimpulan ………. 141

B. Implikasi ……… 145

C. Saran ……….. 147

(16)

commit to user

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Alur Pemikiran ……….. 48

Gambar 2. Model Analisis Interaktif ………... 58

Gambar 3. Traffic Light di Kleco (Scene Komunitas Punk) ……… 70

Gambar 4. Kali Kleco ……….. 70

Gambar 5. Kaum Punk di Kleco (Scene Komunitas Punk) ………….……… 71

Gambar 6. Peneliti dan Kaum Punk di Kleco (Scene Komunitas Punk) ……. 71

Gambar 7. Punk di Kleco (Scene Komunitas Punk) ………...……… 72

Gambar 8. Photo View Scene Komunitas Punk Kleco ……… 73

Gambar 9. Photo View Scene Komunitas Punk Sriwedari ……….. 77

Gambar 10. Photo View Scene Komunitas Punk Proliman ……….. 80

Gambar 11. Photo View Scene Komunitas Punk Gladhag ……… 83

Gambar 12. Photo View Scene Komunitas Punk Ngarsopuro ……….. 86

Gambar 13. Band Punk Middle Finger ………. 89

Gambar 14. Photo View Scene Komunitas Punk Purwosari ………. 90

Gambar 15. Punk di Ngapeman (Scene Komunitas Punk) …….………. 92

Gambar 16. Photo View Scene Komunitas Punk Ngapeman ……….. 93

Gambar 17. Traffic Light di Brondongan (Scene Komunitas Punk) ………... 95

Gambar 18. Photo View Scene Komunitas Punk Brondongan ……… 96

Gambar 19. Photo View Scene Komunitas Punk Timuran ………. 99

Gambar 20. Mohawk Spiky ……….. 108

Gambar 21. Mohawk Kipas dan Mohawk Mohican ……… 108

Gambar 22. Mohawk Runcing ………. 109

Gambar 23. Emblem ……… 112

Gambar 24. Celana Gunung ……… 113

Gambar 25. Celana Kotak-kotak ¾ dari Bahan Flannel ………. 114

Gambar 26. Doc.Mart dalam Fashion Punk ……… 115

Gambar 27. Peneliti dan Kaum Punk ………. 118

Gambar 28. Peneliti dan Kaum Punk ………. 119

(17)

commit to user

xvii

Gambar 30. Kaum Punk dari Luar Kota ……… 121

Gambar 31. Salah Satu Gigs Punk di Rams Studio ……… 123

Gambar 32. Slame Dance dalam Gigs Punk ……….. 124

Gambar 33. Beberapa Masyarakat yang Memberikan Pendapat Mengenai

(18)

commit to user

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Penelitian yang Relevan ……… 36 Tabel 2. Luas Kota Surakarta Tahun 2008 ……….. 60 Tabel 3. Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat Kepadatan

Tiap Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 62

Tabel 4. Penduduk Kota Surakarta Menurut Kelompok Umur

dan Jenis Kelamin Tahun 2008 ………. 63

Tabel 5. Banyaknya Penduduk yang Datang dan Pindah di Kota Surakarta

Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008 ……….. 64

Tabel 6. Banyaknya Kendaraan Angkutan Umum yang Berdomisili di

Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 64

Tabel 7. Panjang Jalan Menurut Status Jalan dan Keadaan di

Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 65

Tabel 8. Banyaknya Fasilitas Perlindungan Sosial Menurut Kecamatan di

Kota Surakarta Tahun 2008 ………... 66

Tabel 9. Banyaknya Penyandang Tuna Sosial Menurut Jenis dan

Kecamatan di Kota Surakarta Tahun 2008 ……… 67

Tabel 10. Jumlah Kaum Punk Kota Surakarta Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2009-2010 ………. 102

Tabel 11. Status Perkawinan Kaum Punk Kota Surakarta

Tahun 2009-2010 ………. 103

Tabel 12. Daerah Asal Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ……... 104

Tabel 13. Tingkat Pendidikan Kaum Punk Kota Surakarta

Tahun 2009-2010 ……… 105

Tabel 14. Model Rambut Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 …... 107

Tabel 15. Warna Rambut Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 …... 109

Tabel 16. Warna dan Design Kaos yang Sering Digunakan oleh

Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ………... 110

Tabel 17. Celana Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ………….... 111

(19)

commit to user

xix

Tabel 18. Keberadaan Emblem pada Fashion Kaum Punk

Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ……….. 111

Tabel 19. Jenis Sepatu Boot Kaum Punk Kota Surakarta

Tahun 2009-2010 ……….. 115

Tabel 20. Piercing (Tindik) Kaum Punk Kota Surakarta

Tahun 2009-2010 ……….. 116

Tabel 21. Tato Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 ……… 116

Tabel 22. Aliran Kaum Punk Kota Surakarta Tahun 2009-2010 …………. 117

Tabel 23. Intensitas Kaum Punk Kota Surakarta di Lokasi Scene

Tahun 2009-2010 ………. 119

Tabel 24. Radius Rumah Kaum Punk Kota Surakarta dengan

Lokasi Scene ……….. 120

Tabel 25. Kunjungan Kaum Punk Kota Surakarta ke Scene

Luar Kota Tahun 2009-2010 ………. 122

Tabel 26. Frekuensi Kaum Punk Kota Surakarta Mengunjungi

Gigs Punk Tahun 2009-2010 ……… 122

Tabel 27. Pemahaman Kaum Punk Kota Surakarta tentang

Norma Sosial dalam Masyarakat ………. 125

Tabel 28. Sikap Antipati Kaum Punk Kota Surakarta terhadap

Masyarakat ……….. 126

Tabel 29. Pengejaran Kaum Punk Kota Surakarta oleh Aparat Negara …. 128

(20)

commit to user

xx

DAFTAR PETA

Peta 1. Administrasi Kota Surakarta Tahun 2010 ……….. 61 Peta 2. Persebaran Komunitas Punk Kota Surakarta

Tahun 2009-2010 ……….. 100

Peta 3. Kuantitas Komunitas Punk Kota Surakarta

(21)

commit to user

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Penelitian untuk Kaum Punk.

Lampiran 2. Daftar Pertanyaan Penelitian untuk Masyarakat terhadap Perilaku

Punk.

Lampiran 3. Jumlah Responden (Kaum Punk) di Tiap-tiap Scene Komunitas

Punk di Kota Surakarta Tahun 2009-2010.

Lampiran 4. Foto-Foto Penelitian.

Lampiran 5. Surat-surat Perijinan Penelitian.

(22)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat modern yang serba

kompleks. Segala rutinitas masyarakat mengikuti detak dalam sendi kehidupan

kota. Aktivitas masyarakat perkotaan berjalan dengan kecepatan penuh,

meninggalkan siapa saja yang tak sanggup mengejar. Saling pukul bukan hal yang

aneh, apalagi tabu bagi masyarakat kota. Nilai-nilai atau norma sosial yang dulu

menjadi falsafah dalam kehidupan bermasyarakat sekarang dianggap tidak relevan

lagi untuk kehidupan bersama dan kehidupan yang saling berbagi. Hal tersebut

merupakan indikator bahwa kota telah mengalami perkembangan dalam segala

bidang, sehingga memunculkan suatu sistem di masyarakat yang secara struktur

dan kulturnya berbeda dengan struktur dan kultur masyarakat pedesaan.

Masyarakat kota sebagai sistem dinamis berarti bahwa disitu

dimungkinkan terjadinya perubahan. Perubahan tersebut dapat dipandang sebagai

suatu proses yang selain berlangsung terus, juga bermakna bagi masyarakat itu

sendiri. Material yang hingga sekarang tersedia untuk menunjukkan arah

kemungkinan membuat perumusan mengenai perubahan sosial, banyak digali dari

proses yang terjadi dalam kota seperti: urbanisasi, industrialisasi, dan modernisasi

(Daldjoeni, 1997: 32).

Kenyataan sosial yang dijumpai dalam kehidupan kota yang banyak disitu

adalah anomi, konflik, perubahan sosial, bahkan disintegrasi. Sehubungan itu

masyarakat sebagai suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun

perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang

terpecah-pecah secara ekonomis (Karl Max dalam Daldjoeni, 1997: 32).

Dengan mengetahui karakteristik masyarakat kota, maka terdapat definisi

kota itu sendiri menurut beberapa geograf. Dalam literatur geografis dapat

ditemukan berbagai definisi kota. Bintarto dalam Daldjoeni (1997: 23)

(23)

commit to user

ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai oleh strata sosial-ekonomi yang heterogen dengan coraknya yang materialistis”.

Berdasarkan pendapat Bintarto di atas dapat disimpulkan bahwa kota itu

merupakan tempat bermukim warga kota, tempat bekerja, tempat hidup, dan

tempat berkreasi. Sesuai itu maka selayaknyalah jika kelestarian kota harus

didukung oleh berbagai prasarana dan sarana yang cukup untuk jangka waktu

lama.

Geograf Berry dalam Daldjoeni (1997: 24) berpendapat bahwa “Struktur

kota itu terdiri atas tiga unsur yaitu kerangka (jaringan jalan), daging (kompleks

perumahan penduduknya) dan darah (gerak-gerik manusia)”. Geograf lain ada

yang menafsir daging dalam arti yang lebih luas, yakni lembaga-lembaga

kemasyarakatan yang wadah fisiknya berupa pasar (ekonomi), kampus

(pendidikan), rumah sakit (kesehatan), rumah ibadat (keagamaan), stadion

(olahraga), dan seterusnya.

Geograf Hofmeister dalam Daldjoeni (1997: 25) mendefinisikan bahwa “Kota itu adalah suatu pemusatan spasial dari tempat tinggal dan tempat kerja manusia yang kegiatan umumnya di sektor ekonomi sekunder dan tersier, dengan

pembagian kerja ke dalam dan arus lalu lintas yang beraneka, antara

bagian-bagiannya dan pusatnya, yang pertumbuhannya sebagian besar disebabkan oleh

bertambahnya kaum pendatang yang mampu melayani kebutuhan-kebutuhan barang serta jasa bagi wilayah yang jauh letaknya”.

Kota adalah tempat dimana peradapan manusia baru muncul sebagai

akibat interaksi sosial antarwarga yang berasal dari bermacam wilayah dengan

beragam latar belakang. Dengan begini, kota pun bisa menjadi muara bagi seni

urban sebagai dampak kreasi dan ekspresi dari budaya urban (Mulyono dalam

Kennedy, 2009: 27).

Gejala sosiologis yang lahir dari kebudayaan industrial di kota menjadi

pemicu munculnya kelas menengah dengan atribut dan identitas khusus, semisal

yuppies (young urban professionals) dan yiffies (young individualistic freedom

minded view). Gaya hidup kedua kelompok ini sangat khas dengan pola hidup

(24)

commit to user

masyarakat kota yang bisa jadi merupakan konsekuensi logis ketika sebuah kota

dikembangkan dengan konsep ekonomi yang paling dominan. Akibatnya,

kesenjangan dan diferensiasi sosial masyarakat kota kian jelas (Mulyono dalam

Kennedy, 2009: 28).

Pembengkakan jumlah penduduk ditambah dengan keragaman populasi

warga kota telah memicu berbagai masalah. Disamping persoalan klasik seperti

kemacetan, kekumuhan, dan polusi. Masalah lainnya juga mengemuka misalnya

saja ketimpangan sosial, kejahatan, marginalisasi, juga etos kaum urban.

Kompleksitas masyarakat kota dengan segala dinamikanya telah

membentuk pola tersendiri. Banyak kalangan menyebutnya sebagai urban culture

atau budaya perkotaan. Sebuah budaya yang menjamur dan mengisi ruang publik,

termasuk lewat seni maupun aktivitas lainnya. Sebuah budaya yang timbul karena

kejenuhan terhadap apa yang sudah ada. Sebuah budaya yang lahir akibat

pertemuan beragam budaya. Urban culture dicirikan dengan adanya

kegiatan-kegiatan khas urban yang dilakukan oleh penghuni kota didalam sebuah konteks

urban seperti pedestrian, jalan, atau plaza. Secara definitif, kegiatan khas urban

culture disebut sebagai kegiatan subkultur komposit urban. Sementara muncul

pendapat lain yang menyebut urban culture sebagai street culture (budaya

jalanan), namun pendapat ini segera mendapat sangkalan bahwa urban culture

tidak selalu identik dengan budaya jalanan karena siapapun yang tinggal di kota

berhak menganut apapun, kendati dengan definisi yang berbeda-beda. Hal

terpenting adalah kaum pendatang tetap memiliki satu semangat urban spirit

(Mulyono dalam Kennedy, 2009: 35).

Kota adalah tempat dimana keberagaman bertemu. Keberagaman tentang

apapun : suku, status atau kelas sosial, hingga ideologi. Keberagaman inilah yang

memicu hadirnya perebutan ruang-ruang eksistensi, perebutan ruang keinginan

untuk diakui. Keberagaman ini jugalah yang memicu hadirnya kreasi inovatif dan

karya alternatif terhadap kondisi kota.

Ditengah masyarakat modern sekarang terdapat keberagaman, salah

(25)

commit to user

umumnya terbagi menjadi kelas rendah (pendapatan rendah), kelas menengah, dan

kelas sosial tinggi (pendapatan tinggi).

Di kota besar negara yang sudah maju, kejahatan remaja berkaitan erat

sekali dengan kemiskinan. Hal ini dicerminkan oleh distribusi ekonomis dan

distribusi ekologis dari orang-orang yang berasal dari kelas-kelas sosial yang

berbeda-beda. Dengan sendirinya dalam masyarakat sedemikian ini terdapat

banyak kesenjangan antara si kaya dengan si miskin. Semua keadaan tadi dapat

menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah kejahatan yang dilakukan oleh

anak-anak remaja yang berasal dari stratifikasi ekonomis rendah dengan pola subkultur

kemiskinan, namun anak-anak remajanya memiliki ambisi materiil yang terlalu

tinggi dan tidak realistis (Kartono, 2006: 33).

Pada masyarakat dengan status sosial rendah juga terdapat keberagaman

dalam pola tingkah laku. Ada yang hidup dengan pola tingkah laku biasa (sesuai

dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat) dan ada pula

sebagian masyarakat yang hidup dengan pola tingkah laku yang luar biasa (anomi)

atau tidak sesuai dengan kaidah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Kondisi tersebut tentu akan memacu timbulnya masalah-masalah sosial di dalam

masyarakat. Salah satunya adalah muncul perilaku menyimpang (deviant

behavior) .

Perilaku menyimpang disebut sebagai penyakit masyarakat karena gejala

sosialnya yang terjadi ditengah masyarakat itu meletus menjadi “penyakit”. Dapat

disebut pula sebagai struktur sosial yang terganggu fungsinya, disebabkan oleh

faktor-faktor sosial.

Albert K. Cohen dalam Hadisuprapto (2008: 19) mengemukakan bahwa „Deviant behavior as behavior which violates institutionalized expectations-that is, expectations which are share and recoqnized as legitimate within a social

system”.

Semua tingkah laku yang sakit secara sosial merupakan penyimpangan

sosial yang sukar diorganisir, sulit diatur dan ditertibkan sebab para pelakunya

memakai cara pemecahan sendiri yang non komersiil, tidak umum, luar biasa atau

(26)

commit to user

kepentingan pribadi. Deviasi tingkah-laku tersebut dapat mengganggu dan

merugikan subyek pelaku sendiri dan atau masyarakat luas. Deviasi tingkah-laku

ini juga merupakan gejala yang menyimpang dari tendensi sentral, atau

menyimpang dari ciri umum rakyat kebanyakan. Tingkah laku menyimpang

secara sosial juga disebut sebagai diferensiasi sosial, karena terdapat diferensiasi

atau perbedaaan yang jelas dalam tingkah lakunya, yang berbeda dengan ciri-ciri

karakteristik umum, dan bertentangan dengan hukum atau melanggar peraturan

formal (Kartono, 2006: 5).

Dalam situasi anomie, tinggi kecenderungan terjadinya marginalities

sistem nilai dan norma di masyarakat berlaku pun tidak, dianggap tidak berlaku

pun belum. Anggota masyarakatnya seolah-olah kehilangan pegangan nilai-nilai

dan norma-norma manakah yang seharusnya dipilih dan dijadikan pedoman untuk

berperilaku di masyarakat. Situasi perubahan sosial tersebut telah memberikan

dampak terhadap anak dan remaja. Pada satu pihak, dalam dirinya sendiri masih mengalami “konflik” kejiwaan dan perlu “berbenah jiwa”, pada lain pihak selalu saja dalam proses berbenah jiwa ini “diganggu” oleh situasi yang selalu saja

berubah, tidak jelas dan tidak pasti itu. Situasi ini paling terasakan oleh remaja

yang hidup di perkotaan. Komposisi penduduk perkotaan yang relatif tinggi

tingkat kemajemukannya dan tajamnya ketimpangan kondisi kehidupan di

perkotaan tentunya akan melahirkan problema-problema sosial khas perkotaan.

Kemajemukan dan ketimpangan itu misalnya bisa dilihat dari aspek pendidikan,

ada kelompok orang yang sangat terdidik dan amat luas serta canggih

pengetahuannya sehingga terkenal secara nasional, bahkan internasional, tetapi

ada juga orang yang sekolah dasar pun tidak tamat. Aspek pekerjaan, ada

orang-orang yang bekerja dibidang teknologi yang sangat canggih, sementara ada pula

orang-orang yang kemampuannya terbatas. Gaya hidup, ada orang-orang yang

mempunyai gaya hidup mewah. Sementara itu masih banyak orang yang hidupnya

pas-pasan. Kondisi-kondisi yang serba kontras ini tentu akan melahirkan berbagai

masalah sosial dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali

(27)

commit to user

Remaja-remaja yang berasal dari kelas atas dan menengah tentunya

mempunyai tata nilai dan norma-norma yang khas sehingga berbeda dari tata nilai

dan norma remaja kelas bawah. Kemudahan-kemudahan yang dinikmati remaja

kelas atas dan menengah pun hanya menjadi lamunan kelas bawah.

Ketidakmerataan kesempatan tersebut lalu cenderung timbulnya

kelompok-kelompok di masyarakat, tidak terkecuali para remajanya menjadi beberapa

kategori (a) kelompok conformities; (b) kelompok pembaharu (positif maupun

negatif); (c) kelompok ritualis; (d) kelompok retreatis; dan (e) kelompok rebellis

(Merton dalam Hadisuprapto, 2008: 50). Disamping itu, terjadinya komunikasi

dan interaksi antar remaja berbagai kelas itu akan melahirkan pula

perasaan-perasaan tersendiri. Pada kalangan remaja kelas bawah sering timbul subculture

delinquent. Suatu sub-budaya tandingan yang diciptakan oleh sementara remaja

kelas bawah sebagai reaksi dan akibat kecemburuan sosial mereka terhadap

remaja kelas diatasnya. Indikator-indikator sub-budaya tersebut dapat dikenali

dari berbagai sistem tata nilai, gaya hidup, kebiasaan yang salah satunya

ditampakkan dari penggunaan-penggunaan bahasa yang “tidak lazim” (prokem)

yang dikembangkan dikalangan mereka. Tidak jarang sikap reaktif dari kelompok

kelas bawah ini tampil dalam wujud perilaku-perilaku penyimpangan dan bersifat

sangat meresahkan masyarakat (Cohen dalam Hadisuprapto, 2008: 50).

Salah satu contoh bentuk perilaku yang dianggap oleh masyrakat sebagai

perilaku menyimpang (deviant behavior) yang terdapat dalam realitas kehidupan

masyarakat perkotaan adalah munculnya subkultur punk. Punk sampai saat ini

masih menjadi fenomena dalam lingkup budaya kawula muda. Komunitas punk

sebagai suatu kelompok sosial ternyata bukan hanya sekumpulan individu, tetapi

juga membentuk tindakan bersama. Komunitas punk merupakan sebuah

masyarakat yang mempunyai nilai-nilai dimana sering terjadi persimpangan

dengan nilai-nilai masyarakat yang sudah ada.

Punk sendiri berasal dari komunitas underground yang merasa bosan

dengan nama besar band-band rock. Di tahun 1970-an lahir musik punk yang

memiliki kode pakaian jauh lebih radikal, anakis, dan memberontak. Seperti

(28)

commit to user

juga mengungkapkan pemberontakannya kepada orang tua dan pemerintah Inggris

serta kemapanan masyarakat di tahun 1970-an. Jumlah penggangguran semakin

membengkak dan perasaan keterasingan semakin meningkat dengan menguatnya

kekuatan ultranasionalis pada saat itu. Musik punk ini lahir di perkampungan

kumuh di London dan berbeda dengan para rocker di tahun 1960-an yang berasal

dari perkampungan kumuh di Liverpool dan Manchester. Musik punk juga

melawan kemapanan musik rock di tahun 1970-an yang terlalu komersil,

petunjukkannya selalu diadakan di arena, bergelimangan kejayaan, dikelilingi

para groupies, dan telah menjadi anggota VIP club. Perlawanan itu dilakukan

dengan cara menciptakan gaya musik yang kasar, lengkap dengan kode fashion

yang anarkis dengan menolak segala hal yang dilakukan pemusik rock di tahun

1960-an (Rusbiantoro, 2008: 110). Definisi underground sendiri adalah salah satu

pergerakan musik yang dijalankan oleh golongan atau komunitas tertentu secara

bergerilya / terselubung / bawah tanah yang jauh dari kehidupan masyarakat

umum.

Tubuh-tubuh kaum punk seakan mengalami proses aktualisasi. Hal

tersebut mungkin disebabkan oleh heterogenitas dan selalu ingin tampil berbeda,

walaupun disitu muncul abnormalitas dalam modus eksistensinya. Saat mereka

berproses dan berlomba-lomba membentuk citra, penyimpangan-penyimpangan

itu sering tampak secara vulgar. Seperti itulah gambaran perilaku mereka.

Mungkin karena anggapan bahwa sesuatu yang biasa hanya akan dipandang biasa

juga, namun sesuatu yang berbeda atau tidak biasa (aneh) akan dilihat berbeda.

Hampir disetiap kota besar di Indonesia , dapat dipastikan ada sekelompok

anak muda punk. Bahkan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain.

Penampilan kaum punk yang nyentrik penuh aksesoris dan seni tubuh; mereka

menyerupai galeri urban yang membiak, mengisi jalanan dan sudut-sudut ruang

kota. Masuknya punk ke Indonesia tidak lepas dari pemberitaan media

mainstream. Di Indonesia, kultur punk dikenal pertama kali sebagai bentuk

musikal dan fashion statement. Ada banyak hal yang mendorong terjadinya kultur

(29)

commit to user

Subkultur punk telah merambah Kota Surakarta. Komunitas punk dapat

ditemukan di beberapa sudut ruang Kota Surakarta. Komunitas punk di Kota

Surakarta cukup berkembang dan ada beberapa komunitas punk yang bertahan

untuk tetap eksis. Kebanyakan kelompok punk di dimulai dari pembentukan group

musik yang memainkan musik aliran punk dan berkembang menjadi kelompok

atau komunitas. Dari group band yang dibentuk akan memiliki penggemar yang

sering mendatangi tempat mangkal group band tersebut dan lama-lama menjadi

tidak hanya sebuah band tetapi kelompok yang bisa menaungi semuanya.

Punk di Kota Surakarta banyak mengalami pengembangan dimana busana

punk sudah tidak lagi terlalu frontal melainkan disesuaikan dengan situasi dan

kondisi masyarakat Kota Surakarta. Pengembangan tersebut biasanya dilakukan

oleh anak muda penggemar punk yang berada di lingkungan akademis seperti

sekolah atau kampus. Pengembangan ini juga diterapkan dalam hal musik dan

tingkah laku, karena punk pada awalnya „anti kemapanan‟ banyak dari pengikut

punk di Kota Surakarta hanya mengambil punk dari sisi busananya saja atau dari

sisi musiknya tanpa harus mengikuti ideologi yang sebenarnya.

Dalam perkembangannya jumlah punk setiap harinya tidak berkurang

tetapi justru bertambah banyak. Bukan hanya secara kuantitas mereka bertambah

tetapi secara kualitas mereka pun semakin eksis dan semakin terlihat keberanian

mereka dalam berekspresi. Keberadaan scene-scene punk (tempat berkumpul

komunitas punk) di Kota Surakarta mulai bertambah. Seiring hal tersebut

komunitas-komunitas punk yang menggeliat semakin memantapkan eksistensinya.

Keberadaan scene-scene komunitas punk tersebut sangat menarik untuk diteliti

distribusi spasialnya.

Dalam hal ini peneliti ingin meneliti bidang yang tidak jauh beda dengan

bidang yang digeluti penulis. Dalam penelitian ini penulis ingin memetakan

distribusi kaum punk di Kota Surakarta. Oleh sebab itu dalam penelitian ini

penulis ingin meneliti dengan judul “Studi Perilaku Menyimpang (Deviant

(30)

commit to user

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran latar belakang masalah yang telah diuraikan di

atas. Maka penelitian yang akan dikaji dapat dirumuskan ke dalam pertanyaan

penelitian sebagai berikut :

a. Bagaimana persebaran scene komunitas punk di Kota Surakarta?

b. Bagaimana karakteristik punk di Kota Surakarta?

c. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap perilaku kaum punk?

C. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai penulis adalah :

a. Untuk mengetahui persebaran scene komunitas punk di Kota Surakarta.

b. Untuk mengetahui karakteristik punk di Kota Surakarta.

c. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap perilaku kaum punk.

D. Manfaat Penelitian

Suatu penelitian apa dan bagaimanapun bentuknya diharapkan

mempunyai manfaat tertentu. Demikian pula dengan penelitian ini diharapkan

mampu memberikan manfaat bagi pribadi maupun masyarakat luas. Adapun

manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan ilmu

geografi sosial yaitu tinjauan geografi tentang komunitas punk di Kota

Surakarta, dan juga untuk mendukung teori-teori yang ada sehubungan

dengan bidang sosial khususnya yang menyangkut perilaku menyimpang

dan kelompok minoritas yang termarjinalisasi dalam suatu masyarakat.

b. Bagi penulis, untuk menerapkan pengetahuan antara teori yang didapat

dengan kenyataan di lapangan.

c. Bagi UNS, untuk memberikan sumbangan tulisan bagi perpustakaan yang

ada di UNS, baik perpustakaan pusat, fakultas maupun perpustakaan

(31)

commit to user

2. Manfaat Praktis

a. Peneliti diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran kepada

Pemerintah Kota Surakarta dan instansi yang terkait dengan masukan

mengenai fenomena punk yang ada di Kota Surakarta, sehingga dapat

memberikan penanganan secara arif dan bijaksana.

b. Masyarakat pada umumnya agar dapat menyikapi dengan cara yang lebih

bijaksana terhadap fenomena punk di Kota Surakarta.

(32)

commit to user

11 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Punk a. Sejarah Punk

Munculnya subkultur punk pada awalnya terjadi sekitar tahun 1970-an di

London-Inggris yang diakibatkan oleh para pemuda London yang menderita dari

tinnginya angka pengangguran dan status dari kubu kelas sosial. Dalam kelanjutannya, situasi yang diibaratkan seperti “tidak ada masa depan” memunculkan pergerakan punk dengan kekuatan tersendiri. Mereka melawan

dengan keadaan musik yang liar dan busana anti kemapanan dengan tata rambut

yang aneh dan aksesoris dari barang-barang bekas murahan. Pergerakan ini

dengan cepat dan terang-terangan mempengaruhi hati pemuda kelas bawah di

London.

Fitriansyah dalam Kennedy (2009: 134) mengemukakan bahwa ”Punk

merupakan sub-budaya yang lahir di London. Gerakan anak muda yang diawali

oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang

mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral

oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang

tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui

lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana, namun terkadang kasar, beat

yang cepat dan menghentak”.

Fitriansyah dalam Kennedy (2009: 135) berpendapat bahwa ”Pada awal kelahirannya, punk memang teridentifikasi sebagai pemberontakan.

Pemberontakan punk dinyatakan dengan pemberontakan semiotik yang

diaplikasikan pada fashion dan musik. Namun, pemberontakan tersebut pula yang

dijual oleh industri dan dijadikan sebagai sumber profit yang dapat dieksploitasi.

Hal ini ditandai dengan bergabungnya Sex Pistols dengan industri musik

mainstream EMI. Kemudian pasar industri musik dipenuhi dengan band-band

(33)

commit to user

Pemberontakan dapat dibeli. Akhir dari era Sex Pistols ini merupakan titik balik

sejarah perkembangan punk”.

Ketika punk menjadi komoditas pasar yang dapat dieksploitasi, individu

yang terlibat dalam subkultur ini mengasingkan diri kembali. Punk berpindah ke

bawah tanah, tetap eksis tetapi tidak terliput oleh media. Justru setelah era Sex

Pistols tersebut, punk berkembang dengan pesat melalui jaringan pertemanan yang

independent (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 135).

Punk generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas

independent yang lebih politis daripada generasi Sex Pistols seperti isu

feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, independensi, rasisme, fasisme, isu

anti perang dan lain-lain. Semua ini merupakan isu komunal yang beredar diantara

komunitas punk sendiri dalam rangka melawan informasi dari arus budaya utama

atau dominan (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 136).

Masuknya punk ke Indonesia tidak lepas dari pemberitaan media massa.

Di Indonesia, kultur punk dikenal pertama kali sebagai bentuk musikal dan

fashion. Punk tidak hadir sebagai respon keterasingan dalam masyarakat modern,

melainkan dari sebuah kerinduan akan sebuah bentuk representasi baru saat tak

ada hal lama yang dapat mempresentasikan diri remaja lagi. Tidak heran apabila

hal-hal yang substansial baru muncul bertahun-tahun setelah punk dikenal secara

musikal dan fashion statement (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 136).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kultur punk memang

hadir di Indonesia tanpa hal-hal yang substansial. Punk lahir sebagaimana produk

post-modern lainnya, lahir tanpa esensi. Ada banyak hal yang mendorong

terjadinya hal ini antara lain karena gap bahasa, gap ekonomi, dan gap krisis masa

muda (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 137).

b. Pengertian Punk

Punk sampai saat ini masih menjadi fenomena dalam lingkup budaya

kawula muda, tentang pengertian punk sendiri ada beberapa pendapat yang

(34)

commit to user

Pengertian tersebut menggambarkan punk sebagai suatu subkultur yang memiliki

sistem perilaku, seperangkat nilai dan cara hidup yang digunakan untuk

menunjukkan perlawanannya terhadap budaya dominan atau budaya popular. Ahsoul dalam Kennedy (2009: 238) mengemukakan bahwa “Punk adalah pilihan. Punk adalah sandaran hidup. Punk adalah media ekspresi. Punk adalah

eksistensi diri dan punk adalah dunia sekelompok anak muda yang sedang

meneriakkan suara-suara terbungkam dan terpinggirkan karena timpangnya kehidupan sosial masyarakat kota; kaum urban”.

Ada tiga definisi punk seperti yang disebutkan Craig O‟Hara yang dikutip oleh Fitriansyah dalam Kennedy (2009: 134) adalah “Pertama, punk sebagai tren remaja dalam fashion dan musik. Kedua, punk sebagai keberanian memberontak

dan melakukan perubahan. Ketiga, punk sebagai bentuk perlawanan yang „hebat‟ karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri”. 1) Punk sebagai tren remaja dalam fashion dan musik

a) Punk sebagai tren remaja dalam fashion

Pada umumnya masyarakat mendefinisikan punk pertama kali dengan

melihatnya dari segi fashion. Menurut Barnard (2009: 66), “Fashion dan pakaian

adalah kultural dalam artian keduanya merupakan cara untuk mengomunikasikan

identitasnya. Keduanya merupakan cara untuk mengomunikasikan nilai-nilai dan

identitas kelompok baik itu ke kelompok lain maupun ke para anggota kelompok

itu sendiri. Fashion dan pakaian itu komunikatif karena keduanya merupakan cara

nonverbal untuk memproduksi serta mempertukarkan makna dan nilai-nilai”. Menurut Solomon dalam Rusbiantoro (2008: 104), “Ada sesuatu yang totemik didalam cara kita mengenakan pakaian untuk mengomunikasikan

identitas kelompok kita. Dengan cara memakai totem tertentu, kita dapat mengumumkan siapa diri kita, dan dengan siapa kita mengidentifikasikan diri”.

Punk mungkin bisa dipahami sebagai suatu fenomena ideologis yang lebih

(35)

commit to user

sendiri. Rantai, tas gombrang, dan jepit keselamatan tidak dipakai kelas dominan

sebagai dekorasi, pakaian, dan perhiasan, namun mereka mengenakannya

ditubuhnya padahal kelas dominan mengenakan dekorasi dan perhiasan. Pakaian,

warna, dan desainnya hanya murahan, vulgar dan menjijikkan untuk suatu

kelompok orang tertentu, dan guna mengontruksi serangkaian tampang punk, punk

bisa dilihat sebagai kebalikan dari nilai-nilai yang dianut kelompok orang tertentu

(Hebdige dalam Barnard, 2009: 61).

Punk menggunakan fashion dan pakaian untuk menantang ideologi

dominan dan melawan distribusi kekuasaan dalam tatanan sosial. Cara yang

digunakan punk adalah untuk menarik perhatian pada ketidakalamiahan konsepsi

kelas dominan tentang kecantikan, untuk menunjukkan bahwa mereka adalah

sesuatu yang dipikirkan oleh orang dengan memikirkan konsepsi-konsepsi

alternatif (Barnard, 2009: 63).

Fashion didalam punk jauh lebih mengagetkan dan membuat takut orang

yang melihat penampilannya karena benda-benda yang tidak pantas seperti peniti

(safety pins), jepitan pakaian dari plastik, komponen televisi, silet, tampon dapat

menjadi aksesoris dari pakaian punk. Bahkan mereka memakai T-shirt yang

berlumuran darah. Rambutnya dicat hijau dengan gaya spike, mohawk, bihawk,

atau trihawk. Tujuan dari penampilan ini memang membuat shock sekaligus

menimbulkan kesan aneh bagi orang yang melihatnya. Selain itu, gaya seperti ini

memang disengaja untuk menimbulkan kesan seperti anak yang teraniaya dan

mengalami kekerasan didalam keluarganya, atau menunjukkan diri sebagai orang

terbuang yang dibenci oleh masyarakat (Rusbiantoro, 2008: 111).

Seperti yang dikemukakan oleh Hebdige (1999: 231), “Objek-objek yang dipinjam dari konteks yang paling kotor mendapat tempat dalam ansambel punk:

rantai kakus dihias menjadi lengkung indah didada yang dibingkai dengan keliman plastik. Peniti dikeluarkan dari konteks „utilitas‟ domestiknya dan dikenakan sebagai ornamenyang mengerikan disekitar pipi, kuping atau bibir. Tenun buangan „murahan‟ (PVC, plastik, lureks, dan lain-lain) dengan desain vulgar (misalnya corak kulit macan) dan warna-warna „buruk‟, yang telah lama

(36)

commit to user

usang, diselamatkan kaum punk dan diubah menjadi garmen (celana pipa talang

flyboy, rok mini „umum‟) yang menawarkan komentar yang awas tentang apa yang disebut kemodernan dan selera”.

Dibawah ini merupakan perwujudan fashion dan pakaian serta aksesoris (bentuk

dan jenis) didalam punk antara lain :

a) Tata rambut : tata rambut dalam fashion punk adalah mode rambut

mohawk. Mode potongan rambut ini diinspirasi dari gaya rambut suku

„Mohican‟ Indian. Mode potongan rambut mohawk ialah menipiskan atau

memotong rambut di bagian kiri-kanan dan menyisakan bagian tengah

rambut yang panjang lalu diberdirikan menyerupai tengkuk kuda. Mode

rambut mohawk terbagi menjadi 3 (tiga) antara lain: „mohawk mohican’, „mohawk runcing‟, mohawk spiky’.

b) T-shirt atau kaos oblong : kaos biasanya berwarna hitam dan bergambar

band-band punk atau kadang bertuliskan slogan kritik sosial. Biasanya

kaos sengaja dibikin lusuh atau dirobek untuk mendapatkan kesan kusam

dari jalanan.

c) Jaket kulit : jaket yang dikenakan biasanya dilengkapi dengan hiasan

paku-paku atau spike, peluru bekas, pin, emblem band-band punk atau

bordiran slogan-slogan punk. Biasanya jaket juga sengaja dibikin lusuh

atau dirobek untuk mendapatkan kesan kusam dari jalanan.

d) Celana : celana yang dipakai dalam busana punk adalah celana jeans ¾,

berwarna hitam. Bentuk lain selain celana jeans adalah celana kotak-kotak,

model ¾ dari bahan flannel. Pada celana yang dikenakan ditempeli

emblem atau bordiran slogan-slogan punk.

e) Sepatu boot : sepatu yang dikenakan dalam fashion punk adalah jenis

sepatu boot. Sepatu boot didalam fashion punk adalah komponen penting

yang bisa dikatakan menjadi ciri khas dari fashion punk. Sepatu boot

panjangnya hampir menyentuh lutut, berlubang tali 8 hingga 20 dari

bawah sampai atas. Tali sepatu boots biasanya berwarna hitam, merah, dan

(37)

commit to user

yang dipakai bermacam-macam. Dalam pemakaian boots ini yang

membedakan dengan pemakai boots lainnya.

f) Eye shadow : digunakan untuk menghitamkan mata yang akan memberi

kesan lebih seram. Eye shadow biasanya jarang digunakan karena fashion

punk adalah busana jalanan. Eye shadow biasanya digunakan pada saat ada

gig (pertunjukkan musik).

g) Cat rambut : digunakan untuk mewarnai rambut dengan warna-warna

cerah seperti merah, pink, kuning, hijau, atau biru sesuai dengan selera

pemakainya.

h) Lem kayu / lem kertas dan hairspray : digunakan untuk mengeraskan

rambut agar bisa berbentuk mohawk.

i) Cat kuku : cat digunakan di kuku-kuku tangan, biasanya berwarna hitam.

j) Rantai : biasanya dikenakan di saku belakang dan dikaitkan ke ikat

pinggang, atau biasanya juga dilingkarkan di leher.

k) Ring : ring terbuat dari bahan logam berbentuk lingkaran dengan diameter

yang berbeda-beda serta memiliki ukuran yang bervariasi. Biasanya ring

digunakan sebagai liontin di kalung rantai atau kalung tali, atau bisa

diikatkan di ikat pinggang.

l) Gembok : biasanya digunakan sebagai pengait kalung rantai, dan biasanya

dikaitkan dilubang tali sepatu.

m) Spike atau kulit imitasi : terbuat dari bahan kulit yang ditempeli

logam-logam runcing kecil berbentuk kerucut atau bundar. Biasanya spike

digunakan sebagai gelang atau ikat pinggang.

n) Piercing (tindik) : dipakai ditelinga, cuping hidung, bibir, lidah, bahkan

pipi. Kebanyakan piercing dipakai ditelinga, berwarna hitam , terbuat dari

logam yang berukuran lebih besar daripada anting biasa sehingga akan

menyebabkan lubang yang besar di telinga pemakainya.

o) Gelang : biasanya terbuat dari logam, karet hitam atau tali.

p) Tato : tato berasal dari bahasa Tahiti, yaitu „tatu‟ yang berarti menandakan

sesuatu. Bentuk ini memiliki dua jenis pilihan, yakni permanen dan

(38)

commit to user

adalah tato permanen. Tato biasanya menghiasi bagian tubuh sesuai selera

pemakainya.

Pada perwujudan fashion dan pakaian yang dikenakan punk tersebut

berfungsi sebagai penanda bagi mereka yang membedakannya dengan komunitas

lain. Objek tersebut merupakan aksesoris khas yang dimiliki punk dan dipakai

dalam keseharian, khususnya apabila ada event-event tertentu misalnya didalam

gig punk.

b) Punk sebagai tren remaja dalam musik

Rusbiantoro (2008: 29) mengemukakan bahwa “Musik merupakan alat

penyatu dari semua gerakan politik dan budaya tanding. Musik juga merupakan

alat politis yang paling efektif untuk mengadakan protes sosial dan menggugah

kesadaran masyarakat akan situasi sosial pada saat yang sangat genting dan meresahkan”.

Musik bagi kaum punk adalah ekspresi jiwa, oleh karena itu lirik lagu

yang ditulis, biasanya berisikan sedikit kekerasan dan kemarahan pada segala

bentuk penindasan seperti kapitalisme, rasisme, fasisme, kritikan-kritikan

terhadap penguasa, dan beberapa tema cinta dengan kata-kata yang tidak

menyayat hati tentunya, serta juga menceritakan tentang kehidupan sehari-hari

sebagai punk.

Musik Oi! memiliki ciri irama yang lurus dan monoton mirip mars dengan

akar musik rock. Musiknya agak kocar-kacir dan adakalanya rentaknya harmonic

tetapi simple / sederhana, minimal kord guitarnya 2 atau 3 kord. Ketukan drumnya

statis dan terkadang agak ngebut. Teknik vokalnya asal-asalan seperti orang

ngoceh. Sound guitarnya kurang garang tetapi agak noise (pecah). Ciri-ciri musik

punk ini adalah anarchy, rebel, anti kemapanan, drugs dan sex.

(39)

commit to user

Di tahun 1999-an, musik Oi! semakin berkembang di scene musik tanah

air. Band-band Oi! bermunculan di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung,

Yogyakarta, Malang dsb. Berbekal etika DIY (Do it Yourself), mereka merintis

usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri

untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran.

Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut

distro. Musik Oi! merupakan salah satu dari jenis musik underground. Tidak

semua orang bisa menikmati musik Oi! karena kaset dan lagu-lagu Oi! beredar di

komunitas terbatas. Distro merupakan sebuah toko dimana orang bisa

mendapatkan kaset dan CD dari band-band underground termasuk band Oi! lokal

maupun luar negeri. Informasi-informasi mengenai band-band, info dan review

kaset atau CD serta publikasi gigs Oi! diterbitkan melalui fanzine, sebuah majalah

minimalis buatan komunitas musik underground lokal yang juga bisa didapatkan

di distro.

CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan di distro.

Distro juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesoris, buku dan

majalah, poster serta jasa tindik (piercing) dan tato. Seluruh produk dijual terbatas

dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro

adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja

barang bermerek luar negeri.

Di Kota Surakarta, ada banyak band-band punk seperti Tendangan Badut,

The Orak-Arik, Anti Regime, Underdog, The Mobster, Freedom Choice,

Barbershop, dan band-band punk lainnya yang berusaha konsisten dijalur indie

label. Band-band punk di Kota Surakarta kebanyakan bernaung di bawah Bon

Rodjo Records dan Semangat Djoeang Records. Lagu-lagu yang dibawakan

bertemakan anarkhisme, ideologi, pemberontakan terhadap pemerintah dan

menceritakan tentang kehidupan mereka sehari-hari sebagai punk dengan irama

musik yang keras dan menghentak. Mereka biasa latihan musik di studio musik

untuk menambah ketrampilan dalam hal bermusik.

Musik punk memang keras jika dilihat dari unsur kekuatan bunyinya, akan

(40)

commit to user

sebentuk ekspresi jiwa punk terhadap lingkungan sekitar, dan sesuatu yang ingin

mereka perjuangkan, mereka tulis dalam bentuk kata-kata sederhana melalui

musik.

2) Punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan Di tahun 1970-an lahir musik punk yang mempunyai kode pakaian jauh

lebih radikal, anarkis, dan memberontak. Seperti musik rock yang

mengungkapkan frustasi dan harapan kaum remaja, musik punk juga

mengungkapkan pemberontakannya kepada orang tua dan pemerintahan Inggris

serta kemapanan masyarakat di tahun 1970-an. Jumlah pengangguran semakin

membengkak dan perasaan keterasingan semakin meningkat dengan menguatnya

kekuatan ultra nasionalis pada saat itu. Musik punk juga melawan kemapanan

musik rock di tahun 1970-an yang terlalu komersil. Perlawanan itu dilakukan

dengan cara menciptakan gaya musik yang kasar, lengkap dengan kode fashion

yang anarkhis dengan menolak segala hal yang dilakukan pemusik rock di tahun

1960-an (Rusbiantoro, 2008: 110).

Punk generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas

independent yang lebih politis seperti isu feminisme, gender, pemberdayaan

komunitas, independensi, rasisme, isu anti perang dan lain-lain. Semua ini

merupakan isu komunal yang beredar diantara komunitas punk itu sendiri dalam

rangka melawan informasi dari budaya mainstream. Punk berusaha menentang

semua budaya dominan atau budaya konsumerisme yang dikuasai oleh borjuis dan

melawan segala bentuk kapitalisme (Fitriansyah dalam Kennedy, 2009: 136).

Subkultur punk mempresentasikan “derau” (sebagai lawan dari suara). Seperti yang dikemukakan oleh Hebdige (1999: 168), “Kaum punk mesti menghadirkan diri sebagai „orang bejat‟; sebagai lambang dari pembusukan yang dipublikasikan besar-besaran, yang dengan sempurna memepresentasikan kondisi

jumud di Inggris Raya. Berbagai ansambel stilistik yang diadopsi kaum punk

sudah pasti merupakan ekspresi dan agresi, frustasi dan kecemasan yang serius.

Inilah yang membuat, pertama, kecocokan metafora punk baik bagi anggota

subkultur tersebut maupun lawan mereka dan, kedua, keberhasilan subkultur punk

(41)

commit to user

seluruh himpunan masalah kekinian. Inilah yang membuat subkultur ini mampu

menarik anggota baru dan menyebabkannya ditanggapi dengan berang oleh orang

tua, guru, dan pegawai, yang menciptakan kepanikan moral terhadap mereka, termasuk dari para „wirausahawan moral‟, penasihat setempat, „budayawan‟ (pundit) dan perdana menteri yang berkewajiban untuk melancarkan „perang

salib‟ terhadap mereka. Dalam rangka mengomunikasikan kekacauan, mula-mula

bahasa yang pantas tadi harus diseleksi, meskipun kelak disubversi. Agar punk

dapat dienyahkan sebagai chaos, ia pertama-tama harus „dipahami‟ sebagai derau”.

3) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan

musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri.

a) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik.

Musik punk tidak terlalu mementingkan musikalisasi, tetapi yang lebih

dipentingkan adalah ekspresi dan jiwa punk. Musik bagi mereka adalah sebuah

ekspresi dan pendistribusian pesan perlawanan seperti anarkhisme, kapitalisme,

borjuis, sistem, rasisme, fasisme maupun militerisme. Musisi punk mempunyai

esensi penolakan terhadap nilai-nilai yang sudah mapan, nilai-nilai yang sudah

ada didalam masyarakat. “Maksud dari pernyataan tersebut bahwa punk

menjunjung tinggi nilai anti kemapanan yaitu bebas mengatur hidup mereka sendiri” (kutipan dalam film Punk in Love).

Pogo merupakan suatu gerakan yang muncul di acara musik punk dan

biasanya dipicu oleh speed. Seperti yang diungkapkan oleh Malcom Butt (2009:

30) “Ketika 1976 berlanjut, dan reputasi negatif Sex Pistols meningkat, demikian

juga reputasi negatif Sid. Dia begitu tertarik untuk melihat band tersebut sehingga

dia melompat-lompat di tempat dengan „kegilaan‟ yang dipicu oleh speed,

sehingga secara tidak sengaja melahirkan tarian khas punk rock, pogo”. b) Punksebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan gaya

hidup.

Istilah gaya hidup, baik dari sudut pandang individual maupun kolektif,

(42)

commit to user

sekumpulan kebiasaan, pandangan, dan pola-pola respons terhadap hidup, serta terutama perlengkapan untuk hidup” (Takwin dalam Adlin, 2006: 37).

Ada hubungan timbal balik dan tidak dapat dipisahkan antara keberadaan

citra (image) dan gaya hidup (lifestyle). Gaya hidup sebagai cara manusia

memberikan makna pada dunia kehidupannya, membutuhkan medium dan ruang

untuk mengekspresikan makna tersebut, yaitu ruang bahasa dan benda-benda,

yang didalamnya citra mempunyai peran yang sangat sentral. Di pihak lain, citra

sebagai sebuah kategori didalam relasi simbolik antara manusia dan dunia objek,

membutuhkan aktualisasi dirinya kedalam pelbagai dunia realitas, termasuk dunia

gaya hidup (Piliang dalam Adlin, 2006: 71).

Gaya hidup dalam arus kultur kontemporer ini kemudian memunculkan

dua hal yang sama sekaligus berbeda yaitu alternatif dan diferensiasi. Kedua hal

itu bisa jadi esensinya sama tetapi berbeda manifestasi eksistensinya. Alternatif

lebih bermakna resistensi atau perlawanan terhadap arus budaya mainstream,

sedangkan diferensiasi justru sebaliknya mengikuti arus budaya mainstream

dengan membangun identitas diri yang berbeda dari yang lain. Diferensiasi adalah

suatu pilihan untuk membuat diri berbeda dengan mengonsumsi barang-barang

yang ditawarkan pemegang modal, sedangkan alternatif adalah sebuah bentuk

resistensi untuk tidak mengikuti arus kapitalisme (Adlin, 2006: 92).

Punk mereproduksi seluruh sejarah jahit-menjahit bagi kultur pemuda kelas pekerja pasca perang dengan forma „cut-up‟ (sobekan) –nya yang memadukan berbagai unsur yang berasal dari epos-epos yang jauh berbeda.

Diciptakanlah chaos dengan jambul dan jaket kulit, pengait bordil dan pemetik

siput, sepatu kets dan paka macs, rambut cepak mod dan langkah besar skinhead,

celana pipa dan kaus kaki mencolok, kulkas gelandangan dan sepatu boot bovver – seluruhnya dibiarkan „ditempatnya‟ dan „diluar waktu‟ dengan perekat dasyat : peniti dan plastik gantungan baju, rantai perbudakan (bondage) dan

potongan-potongan tali yang mendapat banyak perhatian, dengan rasa ngeri dan

terperangah. Oleh sebab itulah punk menjadi tempat yang sangat tepat untuk

mengawali kajian semacam ini karena gaya punk mengandung bermacam-macam

(43)

commit to user

Banyak sekali perilaku kaum punk yang dianggap menyimpang oleh

masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Hebdige (1999: 182) “Dalam kebanyakan kasus, inovasi stilistik subkulturlah yang mula -mula menarik perhatian media. Selanjutnya aksi menyimpang atau „anti sosial‟ – vandalisme, menyumpah, berkelahi, „perilaku binatang‟ – ditemukan polisi, pengadilan, media massa; dan aksi-aksi ini dipakai untuk „menjelaskan‟

penyelewengan orisinil subkultur terhadap kode busana. Memang, baik perilaku

menyimpang atau pun identifikasi seragamnya yang khas ini (atau lebih lazim,

gabungan keduanya) dapat menjadi pemicu bagi timbulnya kepanikan moral.

Dalam hal punk, dikerlingnya gaya punk oleh media nyaris bersamaan waktunya

dengan ditemukannya atau diciptakannya penyimpangan punk”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa punk menjadi salah satu

bentuk resistensi terhadap gaya hidup. Penggunaan gaya dalam subkultur punk

sangat berbeda dan simbolik. Hal ini merupakan suatu bentuk deviasi sebagai

tindakan penyimpangan perilaku yang bertentangan dengan masyarakat, dan

digunakan sebagai perjuangan melawan budaya dominan atau kelompok dominan

(orang tua, kalangan elite masyarakat, norma sosial yang ketat, atau negara).

c) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan komunitas.

Kehidupan sosial orang dipengaruhi oleh bentuk komunitas (community) dimana ia hidup. “Sebuah komunitas dapat didefenisikan baik sebagai suatu kelompok kesatuan manusia (kota kecil, kota, desa), maupun sebagai seperangkat perasaan (rasa keikatan, kesetiaan)” (Gottschalk dalam Horton dan Hunt, 1984: 129). Namun demikian, tidak terdapat keseragaman dalam penggunaan istilah

terebut. Salah satu definisi yang banyak digunakan seperti yang dikemukakan oleh

Horton dan Hunt (1984: 129) “Komunitas adalah suatu kelompok setempat (lokal) dimana orang melaksanakan segenap kegiatan (aktivitas) kehidupannya”.

Menurut Hillery dalam Horton dan Hunt (1984: 129) “Definisi komunitas yang lebih terinci mencakup: (1) sekelompok orang yang hidup dalam, (2) suatu

wilayah tertentu, yang memiliki, (3) pembagian kerja yang berfungsi khusus dan

(44)

commit to user

mengatur kegiatan para anggota, (5) yang mempunyai kesadaran akan kesatuan

dan perasaan – memiliki, serta (6) mampu bertindak secara kolektif dengan cara yang teratur”.

Namun demikian, definisi diatas tidak digunakan secara seragam. Istilah

komunitas juga dipakai untuk menyebutkan dusun dan desa kecil yang hanya

memiliki sejumlah kecil rumah. Disamping itu, dapat juga dipakai untuk

menyatakan hampir setiap subkultur atau kelompok kategori orang, baik secara

geografis maupun secara sosial (misalnya komunitas orang kulit hitam, komunitas

guru, atau komunitas punk).

Menurut Daldjoeni (1997: 9) “Suatu community memiliki ciri-ciri sebagai

berikut: (1) berisi kelompok manusia, (2) menempati suatu wilayah geografis, (3)

mengenal pembagian kerja kedalam spesialisasi dengan fungsi-fungsi yang saling

tergantung, (4) memiliki kebudayaan dan sistem sosial bersama yang mengatur

kegiatan mereka, (5) para anggotanya sadar akan kesatuan serta kewargaan

mereka dari community, dan (6) mampu berbuat secara kolektif menurut cara tertentu”.

Musik oi! street punk di Indonesia, memiliki jumlah komunitas yang

cukup besar dan tersebar di berbagai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung,

Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bali, Malang dan Surakarta. Komunitas musik

oi! street punk di Indonesia baik itu dari kaum skinhead, punk maupun hardcore

kerap diasosiasikan sebagai kelompok yang sama, yaitu komunitas punk.

Sriwedari Boot Bois adalah nama komunitas punk pertama di Kota

Surakarta terdeteksi keberadaannya sejak tahun 1997-an. Berawal dari kebiasaan

anak-anak nongkrong dijalanan sekitar Singosaren, kemudian berusaha membuat

komunitas yang lebih idealis dengan mengadopsi kultur punk yang sebelumnya

telah lebih dulu di kalangan kaum jalanan di beberapa kota besar seperti Jakarta,

Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Kesukaan pada minuman keras

dan musik street punk adalah hal utama yang menjadi pemersatu bagi komunitas

ini. Pertambahan jumlah anak-anak yang berkumpul, membuat komunitas awal ini

bermigrasi ke belakang gedung pertunjukkan Sriwedari dimana terdapat kebun

(45)

commit to user

Sriwedari yang berada di pusat kota serta kepopuleran tempat ini sebagai salah

satu tempat hiburan membuat komunitas ini cepat dikenal oleh masyarakat Kota

Surakarta.

Sriwedari Boot Bois, sebuah nama yang mengacu pada kelompok Boot

Boys atau hooligan di Inggris yang kehidupannya tidak bisa dijauhkan dari

sepakbola dan perilaku geng jalanan. Sriwedari adalah tempat dimana komunitas

ini berkumpul. Meskipun demikian, anak-anak Sriwedari Boot Bois bukanlah

geng hooligan sepak bola, mereka hanya mengadopsi nama yang identik dengan

kultur skinhead agar lebih gampang dikenali sebagai komunitas street punk.

Komunitas Sriwedari Boot Bois sering mengadakan pertunjukkan gigs

punk. Gigs adalah hal wajib yang harus dilakukan sebuah komunitas musik

underground untuk menunjukkan eksistensi dan pergerakan mereka. Terdapat

keistimewaan didalam gigs punk, karena band-band yang ditampilkan tentunya

hanya dari aliran punk saja dengan penonton yang mayoritas adalah para

skinhead, punk dan hardcore. Gigs merupakan hal yang sangat penting bagi

komunitas punk setempat, mereka dapat berkumpul dan bersenang-senang

bersama didalam gigs dengan memanfaatkan dansa ala punk seperti saling

bertubrukan, pogo, membentuk moshing pit, slamce dance atau ber-head banging.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan komunitas

sangat berpengaruh pada perkembangan kultur punk. Komunitas merupakan suatu

tempat dimana berbagai macam aktivitas dilakukan misalnya berkumpul,

bersenang-senang, serta bertukar informasi tentang band-band punk dan gigs

punk. Masing-masing komunitas memiliki band, mereka membuat gigs dengan

mengundang band-band punk dari komunitas lain baik itu dalam kota maupun luar

Kota Surakarta.

d) Punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan kebudayaan sendiri.

Menurut Sugiharto dalam Adlin (2006: 4) “Kebudayaan atau kultur adalah konsep yang telah sangat tua. Kata latinnya c

Gambar

Tabel 1. Penelitian yang Relevan
Gambar 1. Kerangka Alur Pemikiran
Gambar 2. Model Analisis Interaktif
Tabel 3. Jumlah Penduduk, Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat Kepadatan Tiap
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

The living Al Qur ‘ an dan Hadis ini merupakan suatu metode pendekatan dalam masyarakat terhadap pola interaksi masyarakat dengan al-quran dan hadis tersebut, yang mana

Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik ini, serta berbagai pihak yang tidak

Kondisi masyarakat Batak pada saat itu tidak memiliki seni pertunjukan, kecuali yang menyatu dalam upacara dan yang mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakatnya..

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 96% daun bunga matahari terhadap induksi apoptosis, siklus sel, dan ekspresi p53 pada sel kanker serviks

Pada siang hari penumpukan aktivitas pemanfaatan ruang dapat terlihat di Jalan Wachid Hasyim dengan adanya aktivitas pejalan kaki, aktivitas pedagang kaki lima

Penggunaan framework juga mempermudah pengembangan aplikasi web karena pengembang tidak perlu mengulang kode program untuk fungsi-fungsi yang sering digunakan, tetapi cukup

(1) Nama Retribusi Terminal dipungut retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan penyediaan tempat parkir untuk kendaraan penumpang, bis umum, tempat kegiatan usaha