• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sistem Rangka Pembagi Utama Pada Divisi Acces PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Tangerang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Sistem Rangka Pembagi Utama Pada Divisi Acces PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk Tangerang"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Telekomunikasi sangatlah penting digunakan oleh setiap manusia karena dengan adanya telekomunikasi manusia dapat berkomunikasi meskipun jaraknya jauh, oleh karena itu PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk merupakan salah satu Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang telekomunikasi. Perusahaan ini melayani pelanggan, instansi dan organisasi untuk pemasangan telepon di setiap daerah masing-masing.

Maka dari itu Sistem Rangka Pembagi Utama (RPU) memegang peranan penting dalam menjalankan suatu proses kerja jaringan telepon. Sistem ini dibuat untuk pemasangan baru, mendeteksi gangguan, dan pemutusan layanan pada jaringan telepon. Apabila ada jaringan telepon yang sedang mengalami gangguan, maka dapat dilakukan penyelesaian pada sistem rangka pembagi utama dan apabila pelanggan meminta pemasangan baru atau pemutusan layanan jaringan telepon, maka dapat dilakukan dan diselesaikan melalui sistem rangka pembagi utama.

(2)

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimana cara kerja sistem rangka pembagi utama pada jaringan telepon.

1.3 Maksud dan Tujuan 1.3.1 Maksud

Maksud dari penelitian adalah :

1. Mempelajari bagaimana cara menganalisis dan pemasangan baru, mendeteksi gangguan telepon, pemutusan layanan telepon, milik pelanggan pada daerah tertentu.

2. Mengetahui cara kerja sistem rangka pembagi utama yang dibutuhkan dalam proses kerja pada jaringan telepon.

1.3.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian adalah :

1. Memahami cara proses kerja mendeteksi gangguan telepon. 2. Memahami cara proses kerja pemasangan layanan baru telepon. 3. Memahami cara proses kerja pemutusan layanan telepon.

1.4 Batasan Kerja Praktek Batasan Kerja praktek adalah :

(3)

2. Melakukan pemasangan baru jaringan telepon. 3. Melakukan pemutusan layanan telepon.

1.5 Metodologi Penelitian

Adapun metodologi penelitian yang digunakan untuk memperoleh data-data dan bahan penulisan laporan ini adalah:

1. Studi literatur, yaitu mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dari buku-buku, website, ataupun manual handbook yang berkaitan.

2. Penelitian lapangan (observasi), yaitu melakukan peninjauan ke tempat atau lokasi penelitian untuk melihat secara langsung keadaan fisik dan peristiwa yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan yang dibahas (Mendeteksi Gangguan pada perangkat telepon, memasang jaringan telepon baru dan mencabut sistem jaringan telepon dengan ketentuan yang berlaku.)

3. Wawancara, yaitu dengan melakukan kontak personal, komunikasi, atau tanya jawab dengan nara sumber para staf/karyawan.

1.6 Sistematika Penulisan

Laporan kerja praktek ini dibagi menjadi empat bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

(4)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi mengenai sejarah singkat, visi dan misi, struktur perusahaan, deskripsi layanan yang dimiliki PT TELKOM dan landasan teori yang digunakan.

BAB III PEMBAHASAN

Pada bab ini menguraikan tentang pembahasan penelitian. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

(5)

2.1 Profil Singkat Peru

suatu penelitian pada Sistem Rangka Pembagi Uta unikasi Indonesia jalan Pahlawan Seribu BSD Tan

an

Gambar 2.1 Logo Perusahaan nisasi Perusahaan

bar 2.2 Struktur Organisasi Divisi Acces

(6)

2.1.3 Sejarah Singkat Perusahaan

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda tahun 1882 penyelenggaraan layanan pos dan telegrap diselenggarakan oleh pihak swasta. Bahkan sampai tahun 1905 tercatat 38 perusahaan telekomunikasi, yang pada tahun 1906 diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan berdasarkan Staatsblad No. 395 tahun 1906. Pada saat itulah pemerintahan kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegram, dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT). Jawatan usaha inilah yang menjadi asal mula TELKOM. PTT Dients ditetapkan sebagai Perusahaan Negara berdasarkan Staatsblad No. 419 tahun 1927 tentang Indonesia Bedrijvenwet (I.B.W., Undang-undang Perusahaan Negara).

Status jawatan PTT Dients berakhir pada tahun 1961 setelah diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi oleh Pemerintahan Republik Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - undang (Perpu) No. 19 tahun 1960.

Tahun 1965 pemerintah memandang perlu memecah Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel), tersebut menjadi Perusahaan Negara Pos & Giro (PN Pos dan Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Pendirian PN Pos dan Giro dilakukan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1965 sedangkan PN Postel didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1965.

(7)

menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional pada tahun 1974. Jasa telekomunikasi internasional saat itu juga diselenggarakan oleh PT

Indonesian Satellite Corporation (Indosat) yang masih berstatus perusahaan asing, yaitu dari American Cableand Radio Corporation, suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan peraturan perundangan negara bagian Delaware, Amerika Serikat. Barulah pada tahun 1980 pemerintah membeli seluruh saham PT Indosat dari American Cable & Radio Corporation. PT Indosat tetap menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional namun terpisah dari Perumtel.

Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa telekomunikasi untuk umum, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 53 tahun 1980 tentang telekomunikasi untuk umum yang isinya tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1974. berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 53 tahun 1980, PERUMTEL ditetapkan sebagai badan usaha yang berwenang menyelenggarakan telekomunikasi untuk umum dalam negri dan Indosat ditetapkan sebagai badan usaha penyelenggara telekomunikasi untuk umum Internasional.

(8)

Untuk mengantisipasi era globalisasi dan perdagangan bebas, TELKOM pada tahun 1995 melakukan tiga perubahan besar secara bersamaan, yaitu Restrukturisasi Internal, Penerapan Kerja Sama Operasi (KSO), dan Persiapan Go Public International (Initial Public Offering). Restrukturisasi internal meliputi bidang usaha sekaligus pengorganisasiannya bidang usaha TELKOM dibagi tiga, yaitu bidang usaha utama, bidang usaha terkait dan bidang usaha pendukung. Bidang usaha utama TELKOM saat ini adalah menyelenggarakan jasa telepon lokal dan jarak jauh dalam negeri. Sedangkan bidang terkait menyangkut Sistem Telepon Bergerak Selular (STBS), sirkit langganan teleks, penyewaan transponder Fiber Optik, dan jasa lain nilai tambah tertentu.

(9)

dengan sarana/jaringan baru dan semua pekerjaan yang sedang berjalan dialihkan kepada TELKOM. Dari 5 juta SST yang harus dibangun selama repelita VI, 2 juta SST akan dilaksanakan oleh Mitra KSO.

Initial Public Offering adalah keputusan untuk menghimpun dana dari masyarakat melalui pasar modal baik di dalam maupun di luar negeri dengan cara menjual saham TELKOM yang keputusannya dituangkan dalam Akta Berita Acara No. 52; tanggal 17 Juli 1995, yang dibuat oleh Notaris Imas Fatimah, SH. TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di

Tokyo Stock Exchange.

Semua usaha TELKOM ini untuk mengantisipasi dilaksanakannya perdagangan bebas baik regional maupun internasional. Peningkatan kemampuan kompetitif ini diharapkan dapat menjadikan TELKOM salah satu Operator Telekomunikasi Kelas Dunia (World Class Operator).

2.1.4 Visi dan Misi

Visi dari PT Telkom adalah menjadi pelaku Infokom terkemuka di kawasan Regional. Sedangkan misinya adalah memberikan layanan "One Stop Infocom"

(10)

2.1.5 Struktur Perusahaan (Divisi Regional)

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, TELKOM memiliki tiga bidang usaha yaitu bidang usaha utama, bidang usaha terkait dan bidang usaha pendukung. Untuk menampung bidang-bidang usaha tersebut, maka sejak 1 Juli 1995 TELKOM telah menghapus struktur Wilayah Usaha Telekomunikasi (WITEL) dan secara defacto meresmikan dimulainya era Divisi. Sebagai pengganti WITEL, bisnis bidang utama dikelola oleh tujuh Divisi Regional dan satu Divisi Network. Divisi Regional menyelenggarakan jasa telekomunikasi di wilayahnya masing-masing, sedangkan Divisi Network meyelenggarakan jasa telekomunikasi jarak jauh dalam negeri melaui pengoperasian jaringan transmisi jalur utama nasional.

Divisi Regional TELKOM mencakup wilayah-wilayah yang dibagi sebagai berikut :

1. Divisi Regional I, Sumatera.

2. Divisi Regional II, Jakarta dan sekitarnya. 3. Divisi Regional III, Jawa Barat.

4. Divisi Regional IV, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. 5. Divisi Regional V, Jawa Timur.

6. Divisi Regional VI, Kalimantan.

7. Divisi Regional VII, kawasan timur Indonesia yang meliputi Sulawesi, Bali, Nusa tenggara, Maluku, dan Papua.

(11)

Regional) dan pusat keuntungan (Divisi Network dan Divisi lainnya) serta mempunyai laporan keuangan internal yang terpisah. Sedangkan divisi-divisi pendukung terdiri dari divisi pelatihan, divisi properti, dan divisi sistem informasi. Beralihnya kebijakan sentralisasi ke kebijakan dekonsentrasi dan desentralisasi kewenangan menyebabkan struktur dan fungsi Kantor Pusat juga mengalami perubahan. Berdasarkan organisasi Divisional ini, maka Kantor Pusat diubah menjadi Kantor Perusahaan, dan semula sebagai pusat investasi disederhanakan menjadi pusat biaya cost center). Berlakunya kebijakan dekonsentrasi menjadikan jumlah sumber daya manusia Kantor Perusahaan juga menjadi lebih sedikit.

2.1.6 Deskripsi Layanan

Kegiatan utama PT TELKOM adalah menyediakan jasa telekomunikasi dalam pelaksanaan operasinya yang meliputi kegiatan penjualan dan purna jual (operasi dan pemeliharaan). Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, TELKOM menyediakan beberapa produk atau jasa yang diantaranya adalah sebagai berikut:

(12)

g. TELKOMteleconference

(13)
(14)

g. TELKOMSatelite

Terdapat dua kelompok pendekatan dalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya. Pendekatan sistem yang menekankan pada prosedur didefinisikan sebagai berikut :

Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

Pendekatan sistem menurut Jerry Fitzgerald, Ardra F. Fitzgerald dan Warren D. Stallings, Jr., mendefinisikan sistem sebagai berikut :

“Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. [1]

2.2.2 Ruang Rangka Pembagi Utama

Ruangan Rangka Pembagi Utama adalah suatu ruangan dimana ditempatkan perangkat-perangkat, seperti Rangka Pembagi Utama (RPU), Cable Chamber

(15)

2.2.3 Rangka Pembagi Utama

Rangka Pembagi Utama ialah susunan rangka dari pelat logam yang digunakan untuk tempat menginstalasi BTRPU, sebagai titik sambung ujung kabel ke arah Jaringan dan ke arah Sentral.[2]

2.2.4 Cable Chamber

Cable Chamber ialah ruangan yang dibangun di bawah ruangan RPU, yang merupakan tempat untuk mengatur jalannya kabel dari luar menuju ke Blok Terminal di RPU.[2]

2.2.5 Blok Terminal Rangka Pembagi Utama (BTRPU)

Blok Terminal Rangka Pembagi Utama (BTRPU) ialah suatu terminal yang berfungsi sebagai titik peralihan yang terdiri dari susunan titik-titik kontak dimana ujung-ujung urat kabel, baik yang berasala dari jaringan luar maupun dari arah sentral, diterminasikan. Titik-titik kontak Blok Terminal tersebut adalah sistem Tekan Sisip.[2]

2.2.6 Jumper Wire

(16)

2.2.7 Kabel Penghubung

Kabel Penghubung ialah kabel PVC multi pair yang digunakan sebagai penghubung antara Rangka Pembagi Utama (RPU) dengan Rangka Pembagi Antara (RPA) dan antar RPU di suatu lokasi Sentral. [2]

2.2.8 Pentanahan

Pentanahan ialah suatu sistem pengamanan perangkat dan manusia dari tegangan /arus lebih yang membahayakan. [2]

2.2.9 Arrestor

Arrestor ialah suatu komponen kelengkapan Blok Terminal yang berfungsi sebagai penyalur arus lebih yang melewati urat kabel langsung ke sistem. [2]

2.2.10 Kabel Tembaga

Kabel tembaga adalah kabel dengan penghantar tembaga dan biasanya dipakai dalam instalasi tenaga listrik dan alat-alat kontrol, sehingga biasanya disebut kabel instalasi[3]

2.2.11 Meja Ukur

(17)

17 3.1 Data Hasil Penelitian

3.1.1 Analisis Masalah

Setelah melakukan penelitian terhadap permasalahan yang ada di PT. Telekomunikasi, Tbk. Bagian network Divisi Acces Tangerang khususnya dalam sistem pengolahan jaringan telepon terdapat beberapa kendala yang sering dihadapi, yaitu sebagai berikut :

1. Pemasangan baru, yaitu jika ada pelanggan yang akan melakukan pemasangan baru telepon, maka akan dilakukan pemasangan kabel sekunder di bawah tanah, pemasangan kabel pada rumah kabel, lalu di rangka pembagi utama. Sehingga telepon yang akan dipasang baru dapat aktif untuk digunakan.

2. Gangguan layanan, yaitu jika ada pelanggan yang mengalami gangguan jaringan telepon, maka akan dilakukan pendeteksian jaringan kabel pada rangka pembagi utama agar jaringan telepon tersebut dapat kembali aktif untuk digunakan.

(18)

Alat yang digunakan pada saat memasang baru, mendeteksi gangguan dan pemutusan layanan yaitu :

a.Dop

Dop adalah alat untuk membantu pemasangan kabel pada terminal kabel tembaga untuk membuat jaringan telepon pada rangka pembagi utama.

Gambar 3.1 Dop

b.Kabel Tembaga

Kabel Tembaga adalah kabel dengan penghantar tembaga dan biasanya dipakai dalam instalasi tenaga listrik dan alat-alat kontrol, sehingga biasanya disebut kabel instalasi. Kabel tembaga sangat berperan penting pada rangka pembagi utama.

(19)

c. CabelTi line

Cabel Ti Line adalah kabel yang berfungsi untuk mendeteksi gangguan jaringan telepon.

Gambar 3.3 Cabel Ti Line

d.Terminal Kabel Tembaga

Alat ini berfungsi sebagai tempat kabel tembaga yang berguna untuk menyambungkan antar kabel.

Gambar 3.4 Terminal Kabel Tembaga

e. Mikrotest

(20)

Gambar 3.5 Microtest

f. Tone Checker / Cabel Tracer

Alat deteksi kabel telepon sangat cocok digunakan : - Pada jaringan PABX

- Pada Terminal RPU/IDF

- Dapat menentukan kabel putus atau tidak

Gambar 3.6 Tone Checker/Cabel Tracer

Langkah – langkah pekerjaan untuk pemasangan baru, mendeteksi gangguan, dan pemutasan layanan yaitu :

(21)

pemasangan baru, pegawai RPU melakukan kinerja awal yaitu : a. Mencari data dan informasi yang lengkap dari CPE

b. Mengukur tegangan kabel dibawah tanah dengan menggunakan sulim. c. Melakukan Champer Cabel dari EQN ke RPU

d. Menyerahkan Tugas Kepada Oplang dari RPU, agar dapat di aktif kan telepon yang baru dipasang.

Alat yang digunakan untuk pemasangan baru telepon yaitu : a. Dop

b. Kabel Tembaga

c. Terminal Kabel Tembaga

d. Microtest.

(22)

tembaga untuk membuat jaringan telepon pada rangka pembagi utama. Lalu dilakukan pengetesan dengan menggunakan alat microtest. Setelah dilakukan kinerja di sistem RPU selesai, tahap selanjutnya diserahkan ke Oplang, Oplang berfungsi untuk mengaktifkan layanan telepon kepada pelanggan. Dan pelanggan berhak menggunakan layanan jaringan telepon untuk digunakan.

2. Gangguan layanan, pada tahap ini pengawai RPU mendapat laporan tidak hanya dari PCAN tetapi dari rekan kerja dilapangan yang disebut Mitra Kerja. Setelah mendapat laporan adanya gangguan layanan, maka pegawai RPU melakukan kinerja awal yaitu :

a. Mencari data dan informasi yang lengkap dari CPE.

b. Melakukan deteksi dengan mengunakan microtest, apabila ada gangguan pada RPU, maka akan di cari solusinya untuk dilakukan perbaikan dengan cara mencari RPU yang lain untuk di Chamber Cabel

dan disambungkan ke EQN.

c. Menyerahkan tugas kepada PCAN dari RPU, untuk memberitahu kalau di RPU sudah dilakukan perbaikan.

Alat yang digunakan untuk mendeteksi gangguan telepon yaitu : a. Tone Checker / Cabel Tracer

b. Microtest

c. Cabel Tiline

(23)

Pada saat pelanggan melaporkan keluhan gangguan layanan ke CPE, CPE berfungsi untuk menerima laporan keluahan dari pelanggan. maka pihak CPE langsung menyerahkan tugasnya ke pihak RPU untuk melakukan pengetesan, apakah ada kabel tembaga yang terputus atau terminal kabel tembaga yang bermasalah. Cara pengetesan ini dilakukan dengan menggunakan alat Tone Checker. Tone Checker berfungsi untuk melakukan deteksi gangguan apabila ada kabel tembaga yang terputus. Jika ada kabel tembaga yang ditemukan dalam keadaan terputus, maka kabel tersebut akan di Champer ke terminal kabel dengan menggunakan alat dop. Sebelumnya dilakukan dulu pengetesan terminal kabel dengan menggunakan kabel ti line. Pengetesan yang dilakukan tersebut untuk mengetahui keadaan terminal kabel, apakah terminal kabel tersebut masih dapat digunakan atau tidak. Setelah itu dilanjutkan pengetesan menggunakan microtest untuk dicek kembali kalau pada sistem RPU telah selesai dilakukan perbaikan layanan. Selanjutnya kinerja berikutnya diserahkan kepada PCAN, PCAN berfungsi untuk memberitahukan kepada mitra kerja bahwa perbaikan pada sistem RPU telah selesai. Dan mitra kerja dapat mengetes kembali kinerja di lapangan, untuk melakukan pengetesan kembali pada rumah kabel, jika pada rumah kabel dan tiang terminal kabel telah selesai diperbaiki, maka layanan gangguan jaringan telepon telah selesai diperbaiki dan pelanggan dapat kembali menggunakan layanan telepon.

(24)

a.Mencabut semua kabel yang ada di RPU agar tidak dapat digunakan kembali.

b.Menyerahkan tugas kepada CPE dari RPU, untuk memberitahu kalau di RPU sudah dilakukan pemutusan layanan.

Alat yang digunakan untuk pemutusan layanan telepon yaitu Dop.

Pada pemutusan layanan telepon, PCAN melaporkan kepada pihak RPU untuk melakukan pemutuskan layanan telepon pelanggan. Dengan berbagai alasan yang diterima. Maka kinerja yang dilakukan pada sistem RPU yaitu melakukan pencabutan kabel pada terminal kabel agar layanan telepon tidak diaktifkan. Cara pencabutan kabel tembaga tersebut menggunakan alat dop. Tetapi pelanggan dapat kembali menggunakan layanan telepon jika pelanggan melakukan perjanjian kerja sama pada pihak telepon. Dan kinerja selanjutnya diserahkan kepada CPE.

3.1.2 Analisis Sistem

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa prosedur yang dilakukan dibagian Network Divisi Acces di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Tangerang ini, diantaranya :

1. Menerima keluhan dari pelanggan melalui pegawai CPE dan disampaikan pada pegawai bagian MDF atau Rangka Pembagi Utama.

2. Melakukan perbaikan dan pemasangan baru didalam ruang MDF atau Rangka Pembagi Utama.

(25)

3.2 Cara Kerja Sistem Rangka Pembagi Utama

Pada dasarnya Rangka Pembagi Utama (RPU) dirancang dan disupply

oleh pabrik yang memproduksi perangkat instalasi sentral.

RPU dirancang dengan kapasitas tertentu sesuai kebutuhan, dan dapat diperluas sampai dengan kapasitas maksimumnya, dengan bentuk dan ukuran diusahakan sama dengan RPU yang sudah ada.

Bahan rangka yang diperlukan adalah :

a. Besi lempeng dan besi siku dibuat dari bahan tahan karat atau

b. Alumunium berbentuk lempeng dan siku

Adapun cara merakit rangka pembagi utama adalah : a. Menggunakan las

b. Dengan cara keling atau c. Menggunakan mur-baut

Kontruksi rangka pembagi utama adalah :

a. Bagian bawah Rangka Vertikal dipasang mati pada lantai dengan menggunakan angker.

b. Rangka Horizontal melintang dihubungkan pada Rangka Vertikal dengan cara las, keling maupun mur-baut.

c. Rangka Horizontal memanjang untuk mengikat Rangka Vertikal dan Rangka Horizontal melintang, dengan cara las, keling atau mur-baut. d. Pada bagian bawah Rangka Vertikal dilengkapi dengan beberapa stop

(26)

Penomoran Rangka Vertikal :

1. Rangka Vertikal diberi nomor urut dari kiri ke kanan (V01, V02, V03 dan seterusnya).

2. Pemasangan dimulai dari kiri ke kanan dan diatur sedemikian rupa sehingga :

a. Terdapat ruang gerak yang leluasa bagi para petugas untuk melakukan pekerjaan, seperti terminasi kabel pada Blok Terminal atau pemasangan kawat sambung (Jumper Wire).

b. Masih ada tempat/ruang untuk memperluas RPU di kemudian hari.

3.2.1 Gambar RPU

Gambar RPU seperti terlihat pada gambar 3.7 berikut ini :

(27)

3.2.2 RUANG KABEL (CABLE CHAMBER)

Cable Chamber dibangun pada gedung Sentral yang lokasinya berada di daerah yang bebas banjir, atau pada lokasi yang permukaan air tanahnya rendah.

Maksud pembuatan Cable Chamber adalah : a. Menempatkan dan memasang Rak Kabel.

b. Memudahkan penarikan dan penyusunan kabel yang akan ditambatkan pada Rak Kabel.

Gedung-gedung Sentral yang berada di daerah banjir atau pada lokasi yang permukaan air tanahnya tinggi tidak dibuat Cable Chamber. Sebagai gantinya dibangun ruangan Rak Kabel yang bersebelahan dengan ruangan RPU.

Cable Chamber sedapat mungkin dibuat tepat di bawah ruangan RPU dengan ketinggian minimum 2 meter, kedap air dan dilengkapi dengan, tangga, pompa air dan penerangan yang cukup, serta diberi penutup yang cukup rapat dan rapi.

3.2.2.1 Rak Kabel :

Rak Kabel dibuat dari konstruksi besi yang kuat untuk menghambat kabel-kabel yang masuk ke RPU.

Pemasangan Rak Kabel adalah :

(28)

diterminasikan. Sedangkan kabel dengan cara terminasi tidak langsung, pothead-nya ditambatkan (termination cable) yang tersambung pada pothead tersebut ditarik lurus vertikal; ke RPU untuk diterminasikan.

b. Pemasangan dan penempatan Rak Kabel di ruangan Cable Chamber

sedapat mungkin lurus sejajar dengan RPU, dengan pertimbangan bahwa kabel dengan sistem terminasi langsung dapat ditarik langsung secara Horizontal ke RPU dimana urat-uratnya diterminasikan, sedangkan untuk kabel dengan sistem terminasi tidak langsung, kabel terminasinya dapat ditarik tegak lurus dari pothead langsung ke RPU untuk diterminasikan.

c. Lubang masukan kabel harus berada pada sisi lebar dari Cable Chamber.

Setiap kabel diberi label terbuat dari bahan yang kuat dan mudah terbaca seperti terlihat dalam Gambar 3.8 berikut :

(29)

Pemasangan/penambatan kabel pada Rak Kabel dimulai dari sisi kiri berturut-turut ke arah kanan, dan diberi label, dimulai dengan huruf P1 untuk kabel pertama kemudian diikuti dengan P2 untuk kabel no. 2 dan seterusnya.

3.2.2.2 Denah Kable

Denah Cable Chamber seperti pada Gambar 3.9 berikut ini :

Gambar 3.9 Denah Cable Chamber

3.2.3 TERMINASI 1. Montase kabel di RPU

(30)

kabel yang telah disediakan pada sisi lebar, dan kemudian ditata secara rapih pada rangka kabel, untuk kemudian masuk secara vertikal ke arah RPU.

b. Mulai dari atas permukaan lantai RPU kabel dikupas, diurai dan dibundel sesuai dengan kapasitas masing-masing BTRPU. Urat - uratnya diterminasikan pada BTRPU dari atas ke bawah dimulai dari nomor urat kecil ke nomor urat yang lebih besar secara berurutan.

c. Alluminium foil/Screen Cable disambungkan dengan kawat multi konduktor menggunakan penjepit Screen Cable dihubungkan ke bar pentanahan secara individual.

2. Cara Memasang BTRPU pada Rangka Vertikal :

a. BTRPU dipasang pada Rangka Vertikal secara bersusun, dimulai dari atas ke bawah sedemikian rupa sehingga ujung paling atas dari BTRPU masih dalam jangkauan tangga dorong disepanjang rak RPU, sedangkan ujung paling bawah berada di atas bar pentanahan.

(31)

b. Dudukan BTRPU dipasang pada Rangka Vertikal dengan menggunakan mur-baut yang kuat.

c. Antara dudukan BTRPU yang berada di atas dan yang berada di bawahnya dihubungkan dengan kawat pentanahan / multi konduktor secara paralel. Ujung kawat pentanahan pada BTRPU paling bawah disambungkan ke bar pentanahan dengan memakai mur-baut tembaga. d. Penempatan BTRPU di Rangka Vertikal 01 dan Rangka Vertikal 02 dan

seterusnya diatur sedemikian rupa, sehingga ada jarak yang cukup untuk penarikan Jumper Wire.

e. BTRPU Vertikal dilengkapi label yang mencantumkan data urat primer.

(32)

3. Terminasi pada BTRPU Sistem Tekan Sisip

a. Urat Kabel Primer diterminasikan pada BTRPU melalui sisi/jalur masukan dan Jumper Wire melalui sisi/jalur keluaran.

b. Posisi titik terminasi kawat a. dan kawat b. harus diseragamkan.

c. Alat penekan (Insertion Tool) yang digunakan harus sesuai dengan Blok Terminal yang dipasang.

Cara terminasi dapat dilihat pada Gambar 3.12 berikut ini.

Gambar 3.12 Cara terminasi dengan Blok Terminal Tekan Sisip

4. BTRPU harus dilengkapi dengan Arrestor.

3.2.4 KAWAT SAMBUNG / JUMPER WIRE

Jumper Wire yang digunakan di RPU ialah Jumper Wire yang memenuhi STEL.K.006, warna putih biru diameter 0,6 mm.

(33)

disusun rapih dengan sistem kipas atau segitiga siku-siku, seperti pada Gambar 3.7 berikut ini :

1. Jumper Wire yang digunakan RPU ialah Jumper Wire yang memenuhi STELK.006 warna putih biru diameter 0.6 milimeter

2. Jalur Jumper Wire dari Terminal Vertikal ke Terminal Horisontal harus melalui

“Jumper Wire Guide” dan Rak Horisontal yang disediakan dan disusun rapi dengan sistem kipas atau segitiga siku – siku, seperti pada Gambar 3.13 berikut ini :

3. Pemasangan Jumper Wire harus kencang dan rapi. 4. Jumper Wire tidak boleh ada sambungan.

Gambar 3.13 Penarikan/pemasangan Jumper Wire

3.2.5 KABEL PENGHUBUNG / TIE CABLE

(34)

pentanahan di RPU.

2. Masing-masing ujung dari Tie Cable harus diterminasikan pada Blok Terminal tersendiri / secara terpisah dari Kabel Primer.

3. Jalur dari Tie Cable harus rapi dan tidak boleh ada tikungan yang terlalu tajam.

4. Pada Blok Terminal ujung dari Tie Cable harus dilengkapi dengan label yang jelas.

Gambar 3.14 Cara penarikan/instalasi Tie Cable

3.2.6 MEJA UKUR 1. Jenis Meja Ukur

(35)

2. Akurasi data ukur agar hasil ukur dari meja ukur dapat mencapai akurasi yang tinggi maka meja ukur harus dikalibrasi secara berkala dua tahun sekali.

3.2.7 PENTANAHAN

1. Pentanahan pada RPU sangat penting sekali karena semua kabel berpangkal pada RPU, sehingga besar kemungkinan tegangan lebih maupun tegangan liar yang terjadi di lapangan akan sampai juga ke RPU dengan segala akibatnya. Untuk pengamanannya maka perlu dibuat sistem pentanahan yang andal di RPU.

2. Harga tahanan pentanahan sesuai STEL.L.011 ditentukan maksimum 3 Ohm, namun apabila kondisi tanah/lingkungan tidak memungkinkan untuk mencapai harga tersebut, maka harga tahanan pentanahan dapat ditentukan lain oleh pihak yang berwenang.

3. Dalam sistem pentanahan jaringan kabel, semua pentanahan yang ada harus tersambung secara kontinyu, mulai dari KP, RK sampai ke RPU melalui Screen Cable. Pentanahan di RPU terdiri dari :

a. Kutub Tanah b. Hantaran Tanah c. Terminal Tanah d. Distribusi Tanah

4. Sistem Pentanahan di RPU harus dilaksanakan secara cermat dan benar sbb :

(36)

bar pentanahan secara individual.

b. Semua BTRPU harus dihubungkan ke bar pentanahan dengan menggunakan kawat hantaran tanah multi konduktor (BCC).

c. Bilamana ada lebih dari satu Bar Pentanahan, maka masing-masing Bar Pentanahan tersebut harus diterminasikan ke Terminal Kutub Tanah secara baik.

d. Sistem Pentanahan RPU harus diintegrasikan dengan sistem pentanahan / grounding lokasi dimana RPU itu berada seperti terlihat pada Gambar 3.15 berikut ini.

(37)

Gambar 3.16 Blok Terminal Rangka Pembagi Utama (RPU) Sisi Horizontal

(38)

38

4.1 Kesimpulan

Rangka Pembagi Utama ialah susunan rangka dari pelat logam yang digunakan

untuk tempat menginstalasi BTRPU, sebagai titik sambung ujung kabel ke arah Jaringan

dan ke arah Sentral. Blok Terminal Rangka Pembagi Utama (BTRPU) ialah suatu terminal

yang berfungsi sebagai titik peralihan yang terdiri dari susunan titik-titik kontak dimana

ujung-ujung urat kabel, baik yang berasal dari jaringan luar maupun dari arah sentral,

diterminasikan. Titik-titik kontak Blok Terminal tersebut adalah sistem Tekan Sisip. pada

jaringan kabel telepon sistem rangka pembagi utama sangat berperan penting untuk

melakukan pemasangan baru, mendeteksi gangguan dan pemutusan layanan telepon.

4.2

Saran

Saran yang dapat diberikan sehubungan dengan analisis yang dibuat adalah :

Sistem Rangka Pembagi Utama yang ada di Perusahaan PT. Telekomunikasi,Tbk.

Bagian Network Divisi Acces Tangerang, Sebaiknya sistem rangka pembagi utama ini

(39)

KERJA PRAKTEK

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kerja Praktek

Program Strata Satu Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer

Universitas Komputer Indonesia

JOSEP LEONARDO HARAHAP

10107361

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

(40)

2. Tempat & tanggal lahir : Tangerang, 25 Maret 1989 3. Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Kewarganegaraan : Indonesia

5. Agama : Protestan

6. Status : Mahasiswa

7. Alamat : Komp. Margahayu Raya. Jl. Taman Merkuri Timur II no. 2 Soekarno Hatta Bandung

8. Telepon : 02261480895

9. E-mail : jojo_leo_tngg@yahoo.com

II. PENDIDIKAN FORMAL

Tahun Nama Sekolah Jurusan

1995 – 2001 SDN Karawaci 10 Tangerang -

2001 – 2004 SLTP N 51 Bandung -

2004 – 2007 SMA N 12 Bandung -

2007 - sekarang S1 Universitas Komputer Indonesia Bandung Teknik Informatika

III. PENGALAMAN KERJA LAPANGAN

Tahun Nama Instansi/Perusahaan Bagian

2008 Mc Donal’s Istana Plaza Bandung Staff

2009 PT. Alabare Sentosa Bandung Admin Gudang

2010 PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Tangerang IT

(41)

nalisis%20sist/Microsoft_Word_-_Modul_1_APSI_-_Pengertian_Sistem_dan_Analis.pdf

(42)

karena atas rahmat-Nya, pelaksanaan serta penyusunan laporan Kerja Praktek di PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA,Tbk.Tangerang. ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.

Laporan kerja praktek ini disusun untuk melengkapi pelaksanaan kerja praktek yang telah dilakukan di PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA,Tbk.Tangerang.

Dalam pelaksanaan kerja praktek ini penulis banyak menerima bimbingan, bantuan, dan pengarahan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka bersamaan dengan kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia-Nya.

2. Kedua Orang Tua dan beserta Keluarga yang selalu merawat dan menyayangi penulis setiap harinya.

3. Ibu Mira Sabariah, S.T, M.T, selaku Ketua Jurusan Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

4. Ibu Kania Evita Dewi, S.Pd., M.Si. selaku Dosen Wali

(43)

Bapak pimpin, dan selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk senantiasa membimbing penulis selama melaksanakan kerja praktek.

7. Seluruh Staff Pegawai PT. Telekomunikasi Indonesia,Tbk. Bagian Divisi Acces Tangerang

8. Semua orang yang tidak tersebutkan namanya namun telah memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung.

Maka dari itu penyusunan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan, mengingat terbatasnya pengetahuan dan kemampuan penulis. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat memberikan sumbangan yang positif bagi semua pihak yang berkepentingan.

Bandung, ....Januari 2011

Penulis,

Gambar

Gambar 3.1 Dop
Gambar 3.3 Cabel Ti Line
Gambar 3.5 Microtest
Gambar RPU seperti terlihat pada gambar 3.7 berikut ini :
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian di lihat dari kebudayaan juga berpengaruh aktif dalam menjalankan peraturan tersebut dalam hal ini Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor 881 Tahun 2017 tentang

Berdasarkan dari hasil penelitian banyak dari tamu sudah merasa cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh fairway lounge , hal ini dapat dilihat dari beberapa

Puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi yang senantiasa memberikan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya kepada kita, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai

Jadi jangan pikir ente bisa kayak mendadak cuma dengan cara:  Bikin akun Instagram baru tentang hot babes..  Posting 100 foto lendir per hari  Beli 1M

Gaya memproduksi gerakan adalah gerakan dari bagian-bagian tubuh yang menghasilkan gaya ke atas dan ke depan untuk proyek bola ke keranjang, yang mencakup kaki dan

Penangkaran rusa yang ada di kawasan bunder, merupakan salah satu objek wisata yang dapat kita kunjungi di gunung kidul.. Penangkaran rusa, dibawah penawasan balai konsevasi

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka dalam konteks pasar efisien bentuk kuat tidak ada seorangpun baik individu maupun institusi dapat memperoleh abnormal

Mengacu pada masalah tersebut, melalui PKM Penelitian ini akan membuat rencana dalam meneliti pengaruh tontonan ditelevisi yang mengandung unsur kekerasan terhadap