Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN
OLEH:
Hilmiana Putri
NIM: 1112103000013
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
iv
Alhamdulillah, puji serta syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat, hidayah serta limpahan karunianya saya dapat menyelesaikan laporan penelitian ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam saya sampaikan kepada nabi Muhammad SAW, nabi junjungan alam. Laporan penelitian ini saya susun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) pada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan laporan penelitian ini telah banyak pihak yang membantu dan membimbing saya. Oleh karena itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Prof. DR. H. Arif Sumantri, M.Kes Selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. dr. Achmad Zaki, M.Epid, SpOT selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta seluruh dosen PSPD yang selalu membimbing serta memberikan ilmu kepada saya selama saya menjalani masa pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. dr. Riva Auda, SpA, M.Kes dan dr. Erike Anggraini Suwarsono, M.Pd selaku dosen pembimbing penelitian saya, yang senantiasa membimbing dan mengarahkan saya selama berjalannya penelitian ini.
4. dr. Yanti Susianti, SpA (K) dan dr. Ayat Rahayu, SpRad, M.Kes selaku dosen penguji yang telah memberikan banyak masukan dan saran untuk penelitian ini.
5. dr. Nouval Shahab, Sp.U,Ph.D,FICS,FACS selaku penanggung jawab modul riset PSPD 2012.
6. dr. Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed yang telah membantu saya dalam proses penyelesaian penelitian ini.
7. Kedua orang tua tercinta Samsul Bahri, S.Pd dan Sukmawati, S.Pd yang
v
pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Kepala Sekolah, Guru dan Murid SD Negeri Cirendeu III Ciputat yang telah mengizinkan dan membantu saya untuk melakukan uji validasi kuesioner di sekolah tersebut.
9. Kepala Sekolah, Guru dan Murid SD Negeri Pisangan I Ciputat yang telah mengizinkan dan membantu saya dalam pengambilan data penelitian ini. 10.Teman-teman seperjuangan riset saya, Didi, Amel, Arif yang telah
membantu dan menyemangati saya dalam penyelesaian penelitian ini. Sukses selalu untuk kalian.
11.Sahabat tercinta Ifa Zuhra, Lia Makyu, dan Dwi Maya atas dukungan do’a dan semangatnya dari jauh.
12.Teman-teman kontrakan BH, Ubat Gendut, Nurul Syahli, Hanifia Zombi, Kak Dewi, dan ukhti Nabila atas canda tawa serta dukungan selama menjalani pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
13.Seluruh teman seperjuangan PSPD 2012 Together Better Stronger, semoga kita semua bisa lulus bersama.
14.Dan seluruh pihak yang telah banyak membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung yang mungkin tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT dapat membalas segala kebaikan semua pihak yang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan laporan penelitian ini. Dan semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis secara khusus dan bagi pembaca serta masyarakat dan dalam pengembangan keilmuan secara umum.
Ciputat, 02 Oktober 2015
vi
Gangguan tidur Pada Anak Usia 9-12 Tahun di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat.2015.
Tidur merupakan kebutuhan fisiologis dasar setiap individu dengan karakteristik penurunan tingkat kesadaran sementara terhadap lingkungan sekitar, metabolisme, dan aktifitas fisik minimal. Gangguan tidur dapat berupa gangguan kualitas, kuantitas maupun kejadian abnormal ketika tidur. Gangguan tidur memberikan berbagai dampak negatif terhadap perkembangan kognitif, perilaku, emosi, dan hubungan sosialnya. Penelitian tentang gangguan tidur di Indonesia masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens gangguan tidur pada anak usia 9-12 tahun di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat. Pengambilan data penelitian menggunakan kuesioner SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children). Hasil penelitian ini menunjukkan 42,2 % responden mengalami gangguan tidur dan jenis gangguan tidur paling banyak adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur. Terdapat perbedaan durasi tidur menjadi lebih singkat saat ujian dan lebih lama saat liburan dibandingkan ketika keadaan normal. Dapat disimpulkan bahwa insidens gangguan tidur pada responden adalah sebesar 42,2%.
Kata Kunci: gangguan tidur, anak, SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children), durasi tidur.
ABSTRACT
Hilmiana Putri. Medical Education Study Program. Descriptive study of Sleep Disorders in Children Age 9-12 Years Old at Elementary School 1 Pisangan Ciputat. 2015.
Sleep is a basic physiological need of each individual with the characteristics of decreasing temporary conciousness level toward environment around, metabolism and minimal physical activity. Sleep disturbance appearances in quality, quantity, and abnormal occurrences during sleep. Sleep disturbance causes various negatif impacts development of cognitive, behavior, emotion, and social relationship. Sleep disturbance research is rarely carried out in Indonesia. This research purposes to determine the incidence of sleep disturbance on children aged 9-12 years old at elementary school 1Pisangan Ciputat. Retrieval of research data utilized the questionnaire of SDSC (Sleep Disturbances Scale for Children). This result research has shown 42.20% of respondents who experienced sleep disturbances and mostly type of one are initiating and maintaining sleep disturbance. There were differences in sleep duration became shorter at examination time and longer during the holiday if compared to normal circumstances time. The conclusion of the study was the incidence of sleep disturbance in respondents were 42.20%.
vii
LEMBAR JUDUL ... i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ...viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR GRAFIK ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... ....xiii
DAFTAR SINGKATAN ...xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.3.1. Tujuan Umum ... 3
1.3.2. Tujuan Khusus ... 3
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
1.4.1. Bagi Peneliti ... 3
1.4.2. Bagi Masyarakat ... 3
1.4.3. Bagi institusi ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka Tidur ... 4
2.1.1.Definisi Tidur ... 4
2.1.2.Fisiologi tidur ... 4
2.1.2.1. Neuroanatomi Pusat Pengatur Tidur ... 4
2.1.2.2. Fungsi Endokrin Selama Tidur ... 6
2.1.2.3. Ritme Sirkadian ... 7
2.1.2.4. Tahapan Tidur ... 7
2.1.2.5. Siklus tidur-Bangun ... 10
2.1.3. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas dan Kuantitas Tidur ... 11
2.1.4. Pola Tidur dan Durasi Tidur Normal pada Anak ... 13
2.2. Tinjauan Pustaka Gangguan Tidur ... 15
2.2.1. Definisi Gangguan tidur ... 15
2.2.2. Etiologi Gangguan Tidur ... 16
2.2.3. Klasifikasi Gangguan Tidur ... 16
2.2.3.1. Insomnia ... 17
2.2.3.2. Parainsomnia ... 19
2.2.3.3. Narkolepsi ... 20
viii
2.3. Tinjauan Pustaka Anak ... 25
2.3.1. Definisi Anak ... 25
2.3.2. Tumbuh Kembang Anak ... 25
2.3.3. Perkembangan Anak Usia Sekolah ... 26
2.4. Kerangka Teori... 28
2.5. Kerangka Konsep ... 29
2.6. Definisi Operasional... 30
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian ... 34
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 34
3.2.1.Lokasi Penelitian ... 34
3.2.2. Waktu Penelitian ... 34
3.3. Populasi dan Sampel ... 35
3.3.1. Populasi Target ... 35
3.3.2. Populasi Terjangkau ... 35
3.3.3. Sampel Target ... 35
3.3.3.1. Jumlah Sampel dan Cara Pengambilan Sampel ... 35
3.3.3.2. Kriteria sampel ... 37
3.4. Cara Kerja Penelitian ... 37
3.5. Manajemen Data ... 38
3.5.1.Teknik Pengambilan Data ... 38
3.5.2.Uji Validitas dan Reliabilitas ... 38
3.5.3.Teknik Pengolahan Data ... 38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 39
4.2. Hasil ... 39
4.2.1. Karakteristik Diri dan Orang tua Responden ... 39
4.2.1.1. Karakteristik Reponden ... 39
4.2.1.2. Karakteristik Orang Tua Responden ... 40
4.2.2. Gambaran Jenis Gangguan Tidur ... 41
4.2.3. Gambaran Gangguan Tidur dan Karakteristik Responden... 42
4.2.4.Perubahan Pola Tidur pada Keadaan Tertentu ... 42
4.2.4.1. Durasi Tidur Pada Saat Kondisi Normal ... 42
4.2.4.2. Perubahan Durasi Tidur Pada Saat Ujian ... 43
4.2.4.3. Perubahan Durasi Tidur Pada Saat Liburan ... 42
4.3. Pembahasan ... 44
4.4. Keterbatasan Penelitian ... 46
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan ... 48
5.2. Saran ... 48
DAFTAR PUSTAKA ... 49
ix
Tabel 2.1 Perbedaan Tidur REM dan NREM ... 8
Tabel 2.2 Kebutuhan Tidur Normal Berdasarkan Usia ... 15
Tabel 2.3 Gejala klinis dan Dampak Gangguan Pernapasan Saat Tidur... 22
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden ... 39
Tabel 4.2 Karakteristik Usia Orang Tua Responden Siswa ... 40
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan dan Pekerjaan Orang Tua ... 40
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Gangguan Tidur Pada Responden ... 41
Tabel 4.5 Gambaran Gangguan Tidur Berdasarkan Karakteristik Responden 42 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Durasi Tidur Pada Kondisi Normal ... 42
Tabel 4.7 Durasi Tidur Pada Kondisi Normal ... 43
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Perubahan Durasi Tidur Saat Ujian ... 43
Tabel 4.9 Perubahan Durasi Tidur Lebih Singkat Saat Ujian ... 43
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Perubahan Durasi Tidur Saat Liburan ... 44
x
Gambar 2.1 Peran Neurotransmiter Terhadap Siklus Tidur-Bangun ... 5
Gambar 2.2 Siklus Tidur ... 11
Gambar 2.3 Persentasi fase REM dan NREM dari total waktu tidur... 14
Gambar 2.4 Kerangka Teori ... 28
Gambar 2.5 Kerangka Konsep ... 29
xi
xii
Lampiran kuesioner SDSC asli ... 52
Lampiran kuesioner SDSC sebelum validasi ... 54
Lampiran kuesioner SDSC setelah validasi ... 58
Lampiran Uji Validitas dan Reliabilitas ... 62
xiii
ACTH : Adrenocorticotropik Hormone
ARAS : Ascending Reticular Activating System EEG : Electroencephalogram
GABA : Gamma-Aminobutyric Acid GBS : Gullain Barre Syndrome
GH : Growth Hormone
IDAI : Ikatan Dokter Indonesia
IRT : Ibu Rumah Tangga
NREM : Non-Rapid Eye Movement PPOK : Penyakit Paru Obstruktif Kronik REM : Rapid Eye Movement
SCN : Suprachiasmatic Nuclei
SD : Sekolah Dasar
SDSC : Sleep Disturbances Scale for Children SMA : Sekolah Menengah Atas
SMP : Sekolah Menengah Pertama
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tidur adalah suatu kebutuhan fisiologis setiap individu dengan tujuan mengistirahatkan tubuh setelah lelah beraktivitas sepanjang hari. Definisi tidur itu sendiri adalah keadaan seseorang yang mengalami penurunan tingkat kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya, metabolisme minimal, aktifitas fisik minimal dan mengoptimalkan kembali fungsi organ-organ yang rusak. Sehingga ketika bangun keesokan harinya seseorang tersebut memiliki semangat dan stamina yang cukup untuk beraktivitas kembali.1
Tidur memiliki peranan yang sangat penting dalam masa pertumbuhan seorang anak terutama pada masa bayi, karena pada saat tidur inilah terjadi proses regenerasi sel-sel otak dan produksi hormon-hormon tubuh sampai sekitar 75%. Seorang anak yang mengalami gangguan tidur, tentu tidak akan mencapai kematangan otak yang sempurna dan akan mengalami gangguan untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal.1,2
Kebutuhan waktu tidur pada setiap tingkatan usia memiliki perbedaan. Hal ini berhubungan dengan kebutuhan pada masing-masing tingkat usia. Anak yang baru lahir cenderung akan tidur sepanjang hari, sedangkan anak usia di atas 6 bulan akan tidur sekitar 13 jam dalam sehari dan ketika usia 2 tahun akan tidur sekitar 12 jam sehari termasuk tidur siang. Anak usia 4 tahun akan tidur selama 10-13 jam setiap harinya. Saat mencapai usia remaja seorang anak rerata hanya memiliki waktu tidur kurang dari 10 jam sehari. Hal ini menunjukkan bahwa waktu tidur seorang anak akan semakin berkurang seiring dengan pertambahan usia dan pertambahan jumlah aktifitas.3
didapatkan 62,9% responden mengalami gangguan tidur dan 63,6% dari total responden yang mengalami gangguan tidur tersebut merupakan gangguan transisi bangun tidur. Cristine N dkk tahun 2011 juga melakukan penelitian gangguan tidur pada remaja usia 12-15 tahun di Bekasi dan didapatkan gangguan tidur sebanyak 62,5%.4-7
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dengan gangguan tidur akan mengalami berbagai masalah terkait perilaku dan emosi yang dapat menyebabkan timbulnya rasa lelah, malas serta mengantuk pada siang hari yang berdampak buruk terhadap konsentrasi belajar anak dan daya ingatannya. Penelitian yang dilakukan oleh Chung dkk, didapatkan bahwa anak remaja yang memiliki prestasi akademik yang bagus di sekolah cenderung memiliki waktu tidur lebih awal dan jarang mengalami rasa ngantuk pada siang hari dibandingkan dengan remaja yang prestasi akademiknya kurang bagus. Gangguan tidur itu sendiri dapat berupa gangguan kuantitas, kualitas, maupun kejadian abnormal yang terjadi selama tidur.1,2,8
1.2RUMUSAN MASALAH
Berdasakan latar belakang yang sudah dijabarkan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Berapakah besar insidens gangguan tidur pada anak usia 9-12 tahun di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat pada tahun 2015?
2. Gangguan tidur apa yang paling sering terjadi pada anak usia 9-12 tahun di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat?
1.3TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan peneliti adalah: 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran secara deskriptif gangguan tidur pada anak usia 9-12 tahun di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat pada tahun 2015.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui persentasi anak usia 9-12 tahun yang mengalami gangguan tidur di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat pada tahun 2015.
2. Mengetahui jenis gangguan tidur yang paling sering terjadi pada anak usia 9-12 tahun di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Bagi Peneliti
1. Memenuhi tugas akhir sebagai persyaratan memperoleh gelar sarjana kedokteran.
2. Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang melakukan penelitian. 1.4.2 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada pada orang tua dan tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) mengenai insidens gangguan tidur pada anak sehingga dapat meningkatkan rasa kepedulian terhadap dampak adanya gangguan tidur tersebut.
1.4.3 Bagi Institusi
1. Menambah referensi penelitian di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tidur
2.1.1. Definisi Tidur
Tidur adalah suatu keadaan seseorang mengalami penurunan tingkat kesadaran sementara terhadap lingkungan sekitar, tingkat metabolisme minimal, dan aktifitas fisik minimal. Namun sesungguhnya pada keadaan tidur inilah otak sedang giat-giatnya bekerja, mengalami regenerasi sel dan peningkatan produksi hormon. Tidur merupakan salah satu kebutuhan fisiologis dasar setiap individu. Dengan tidur seseorang dapat menghilangkan rasa lelah setelah beraktivitas seharian, merasakan ketenangan tanpa memikirkan apapun.1,2,9
Manusia mengabiskan hampir sepertiga dari total waktunya dalam sehari untuk tidur. Karena tidur dapat memulihkan kondisi tubuh yang lelah, mengurangi stress dan cemas serta harapan ketika bangun tubuh kembali pulih dan siap melakukan aktifitas baru keesokan harinya. Seseorang yang kurang tidur akan cenderung lemas, mudah marah, mudah tersinggung, merasa tertekan, dan emosi yang tidak stabil. Dengan tercukupinya kebutuhan tidur seseorang baik dari segi kuantitas maupun kualitas akan membuat orang tersebut lebih terlihat sehat, segar dan semangat dalam beraktifitas.1,2,9
2.1.2. Fisiologi Tidur
2.1.2.1. Neuroanatomi Pusat Pengaturan Tidur
traktus ascenden dan descenden yang seluruhnya saling berhubungan satu sama lain.10,11
Sebagian besar formatio retikularis terletak di sentral atau tegmentum dari pons dan mesencephalon dan memanjang sampai medula, thalamus dan hipothalamus. Formatio retikularis berfungsi sebagai penghubung semua jenis informasi neural, kemudian akan disebarluaskan melalui bagian tepinya serta dilakukan organisasi respon dari input-input informasi tersebut.10,11
Neurotransmitter yang berperan dalam siklus tidur-bangun seperti norepinefrin, serotonin, gamma-aminobutyric acid (GABA), dan histamin dikeluarkan oleh kelompok-kelompok neuron formatio retikularis di batang otak, midbrain, dan hipotalamus posterior. Setiap neurotransmitter tersebut memiliki peran masing-masing terhadap siklus tidur-bangun, seperti yang digambarkan dibawah ini.10
2.1.2.2. Fungsi Endokrin Selama Tidur
Saat seseorang dalam keadaan tidur terjadi sekresi beberapa hormon dalam tubuhnya, diantaranya adalah hormon pertumbuhan, prolaktin, dan kortisol.9,12
a. Hormon Pertumbuhan (Growth Hormone)
Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh tidur yang optimal. Pada saat tidur, berbagai fungsi organ tubuh anak sedang meningkat, seperti fungsi otak, metabolisme hormon, dan fungsi tubuh lainnya.9
Growth Hormone (GH) adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior, beredar di dalam darah dengan konsentrasi 5-45 ng/ml. Sekitar 75% GH disekresi ketika anak tidur yaitu pada fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) tahap III dan IV. Tingginya kadar GH yang disekresi ini berhubungan fungsi hormon tersebut, yaitu untuk merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan, serta mengatur metabolisme tubuh, termasuk otak. Selain itu, GH juga merangsang perbaikan dan pembaharuan terhadap sel-sel yang ada di tubuh, mulai dari sel kulit, sel darah, serta sel saraf otak. Sehingga ketika anak terbangun dari tidur keesokan harinya, anak akan merasa lebih segar dan sehat.9,12
Beberapa fungsi GH dalam proses pertumbuhan anak: 1. Stimulasi pertumbuhan dan pembelahan sel 2. Stimulasi pembelahan sel pada tulang rawan 3. Meningkatkan proses mineralisasi tulang 4. Meningkatkan sintesis protein tubuh
5. Memicu insulin-like growth factor. Hormon ini berfungsi pada pertumbuhan dan perkembangan sel tubuh.12
b. Hormon kortisol
Sekresi hormon kortisol dan adrenokortikotropik (ACTH) mengikuti irama sirkadian dengan puncak sekresi pada pagi hari atau 1 jam setelah bangun tidur dan titik paling rendah pada larut malam. Namun hal ini dapat berubah sesuai dengan siklus tidur-bangun seseorang. Bila pola tidur berubah, maka sekresi hormon kortisol pada awalnya akan seperti semula, namun secara perlahan akan berubah dan melakukan penyesuaian terhadap siklus baru.12
Secara umum, fluktuasi hormon selama tidur dipengaruhi oleh 3 faktor utama,yaitu: irama sirkadian, siklus bangun tidur, dan tahapan tidur REM dan NREM.12
2.1.2.3. Ritme Sirkadian
Ritme sirkadian adalah salah satu bentuk ritme biologis. Setiap mahkluk hidup memiliki ritme biologis yang berbeda-beda. Ritme biologis yang paling umum adalah ritme sirkadian atau irama sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam. Ritme biologis ini diatur oleh tubuh dan disesuaikan dengan lingkungannya, misalnya cahaya, kegelapan, gravitasi, dan stimulus elektromagnetik. Ritme ini diatur oleh suatu area di otak ynag disebut suprachiasmatic nuclei (SCN) dan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.10,13,14
Faktor eksternal yang berperan adalah siklus gelap-terang. Ketika keadaan sekitar gelap, SNC akan memerintahkan tubuh untuk mensekresi hormon melatonin, yang mana melatonin akan merangsang seseorang untuk merasa ngantuk. Hormon melatonin itu sendiri diproduksi oleh kelenjar pineal dan sekresinya ditentukan oleh keberadaan cahaya. Hormon melatonin terbukti memiliki fungsi dalam mengontrol ritme sirkadian. 10,13,14
2.1.2.4. Tahapan Tidur
walaupun orang tersebut dalam keadaan tidur. Tipe tidur NREM disebut sebagai tidur gelombang lambat “slow-wave sleep”. Tabel di bawah ini akan membedakan antara tidur REM dan NREM.15-17
Tabel 2.1. Perbedaan tidur REM dan NREM
Kriteria Non-rapid eye
movement (NREM)
sleep
Rapid eye movement
(REM) sleep
Electroencephalography Selaras Gelombang Theta atau gigi gergaji
Tidak selaras Electromiography Menurun sedikit Menurun secara drastis
atau tidak ada tonus otot Electro-oculography Gerakan mata lambat Gerakan mata cepat *Catatan: tabel telah diolah kembali
Sumber: Samuele Cortese dkk, 201417
a. Fase NREM
Fase NREM disebut juga sebagai tidur gelombang pendek, hal ini dikarenakan gelombang otak yang ditunjukkan oleh orang yang tidur pada fase ini lebih pendek dari pada gelombang alfa dan beta pada orang sadar. Ketika fase NREM terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologis tubuh, semua proses metabolisme termasuk tanda-tanda vital, metabolisme, dan kerja otot.15-17
Fase NREM terbagi menjadi 4 tahap. Tahap I-II disebut tidur ringan (light sleep) sedangkan tahap III-IV disebut tidur dalam (deep sleep) atau (delta sleep). 15-17
1. Tahap 1 NREM
- Tahap dengan tingkat paling dangkal dari tidur - Tahap berakhir dalam beberapa menit
- Seseorang dengan mudah terbangun oleh stimulus sensori, seperti suara
- Seseorang ketika terbangun merasa seperti telah melamun 2. Tahap 2 NREM
- Tahap yang merupakan periode tidur bersuara - Terjadi kemajuan relaksasi
- Terbangun masih relatif mudah - Tahap berakhir 10-20 menit
- Kelanjutan fungsi tubuh menjadi lamban 3. Tahap 3 NREM
- Tahap ini merupakan tahap awal dari tidur yang dalam - Seseorang sudah sulit dibangunkan dan jarang bergerak - Otot dalam keadaan relaksasi maksimal
- Tanda-tanda vital menurun namun tetap teratur - Tahap ini berakhir 15-30 menit
4. Tahap 4 NREM
- Tahap ini merupakan tahap tidur terdalam - Sangat sulit untuk dibangunkan
- Orang yang kurang tidur akan menghabiskan porsi malam yang seimbang pada tahap ini
- Tanda-tanda vital menurun secara bermakna dibandingkan saat terjaga
- Tidur sambil berjalan dan anuresis dapat terjadi.15-17
b. Fase REM
Karakteristik tidur fase REM:
1. Mimpi yang penuh warna dan tampak hidup, serta biasanya mimpi pada fase ini dapat diingat, karena pada fase REM terjadi konsolidasi memori. Jika mimpi kurang hidup atau mimpi tidak dapat diingat mungkin terjadi pada tahap yang lain
2. Biasanya dimulai 90 menit setelah mulai tidur
3. Respon otonom dari pergerakan mata cepat, fluktuasi jantung dan kecepatan respirasi dan peningkatan atau fluktuasi tekanan darah 4. Terjadi penurunan tonus otot skelet
5. Peningatan sekresi asam lambung 6. Sangat sulit dibangunkan
7. Durasi tidur REM meningkat pada tiap siklus, rata-rata 20 menit.15-17 2.1.2.5. Siklus Tidur-Bangun
Siklus tidur-bangun dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:
Gambar 2.2. Siklus Tidur Sumber: Kryger MH dkk, 201119
2.1.3. Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur antara lain: penyakit, lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress, emosional, stimulan dan alkohol, diet, merokok, dan motivasi.18,20,21
a. Penyakit
Seseorang yang sedang menderita suatu penyakit menyebabkan timbulnya rasa nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Sehingga dibutuhkan waktu tidur yang lebih banyak dari pada biasanya, serta siklus bangun-tidur ketika sakit juga akan mengalami gangguan.18,20,21
b. Lingkungan
seseorang tersebut akan bisa beradaptasi dan tidak lagi terpengaruh dengan kondisi tersebut.18,20,21
c. Kelelahan
Kondisi lelah dapat mempengaruhi tidur seseorang. Semakin lelah seseorang maka semakin pendek pula siklus tidur REM yang dilaluinya, dan setelah beristirahat yang cukup, siklus REM tersebut akan kembali seperti semula.18,20,21
d. Gaya hidup
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada waktu yang tepat.18,20,21
e. Stress Emosional
Seseorang yang sedang dalam keadaan ansietas atau depresi sering kali mengalami gangguan tidur. Kondisi ansietas meningkatkan kadar noreponefrin darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis. kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta seringnya menjadi terbangun ketika sedang tidur.18,20,21
f. Stimulan dan alkohol
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP dan menyebabkan gangguan tidur. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menggaggu aktivitas siklus REM. Apabila seseorang yang mengkonsumsi alkohol, dan pengaruh alkohol telah hilang sering kali menyebabkan individu tersebut mengalami mimpi buruk.18,20,21
g. Diet
Penurunan berat badan memiliki kaitan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya berjaga di malam hari, sedangkan penambahan berat badan juga memiliki kaitan dengan peningkatan waktu tidur dan sedikitnya waktu terjaga di malam hari.18,20,21 h. Merokok
Sehingga seorang perokok sering kali mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari dan mudah terbangun dari tidur ketika sedang tidur.18,20,21
i. Medikasi
Beberapa obat-obatan diketahui dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang, seperti obat-obatan hipnotik dapat mengganggu tidur tahap III-IV NREM, golongan beta bloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, dan golongan narkotik seperti meperidin hidroklorida dan morfin dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya seseorang terjaga pada malam hari.18,20,21
j. Motivasi
Terkadang seseorang memiliki keinginan untuk tetap terjaga pada malam hari, keinginan ini dapat menutupi rasa lelah orang tersebut. Perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga pada malam hari seringnya dapat mendatangkan perasaan ngantuk.18,20,21
2.1.4. Pola Tidur dan Durasi Tidur Normal Pada Anak
Kebutuhan tidur setiap individu tentu saja berbeda. Hal utama yang menjadi pembeda adalah usia, karena dengan peningkatan usia seseorang, maka kebutuhan tidur akan berkurang. Seorang individu mengalami proses yang bertahap untuk bisa mendapatkan ritme diurnal 24 jam. Ritme sirkadian akan terbentuk sempurna ketika usia anak mencapai 4 bulan.9
Gambar 2.3. Persentasi fase REM dan NREM dari total waktu tidur berdasarkan kelompok usia
Sumber: Okawa M, 200022
Kebutuhan total tidur setiap golongan usia berbeda. Semakin dewasa durasi tidur akan semakin sedikit. Hal ini dikarenakan kesibukan yang dimiliki individu tersebut untuk bersekolah atau bekerja pada siang hari. Berikut ini adalah kebutuhan tidur yang normal untuk masing-masing golongan usia.9,22
Tabel 2.2. Kebutuhan Tidur Normal Berdasarkan Usia3
USIA DURASI YANG
Kurang dari 11 jam Lebih dari 19 jam 4-11 bulan 12 - 15 jam 10 - 11 jam, atau
16 - 18 jam
Kurang dari 10 jam Lebih dari 18 jam *Catatan: tabel telah diolah kembali
2.1. Gangguan Tidur
2.2.1. Definisi
Gangguan tidur adalah suatu kondisi gangguan medis pola tidur yang terjadi pada seseorang, baik dari segi kualitas, kuantitas, atau gangguan perilaku dan kondisi fisiologis pada saat tidur.16,23
Gangguan kuantitas tidur adalah tidak terpenuhinya durasi tidur yang normal, dapat akibat kesulitan memulai tidur atau ketidakmampuan mempertahankan tidur. Gangguan kualitas tidur adalah terputusnya tidur akibat terbangun ketika tidur yang durasinya singkat namun dengan frekuensi sering dan berulang.16,23
2.2.2. Etiologi
Terjadinya gangguan tidur pada anak dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal misalnya adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan gangguan pada ARAS. Faktor eksternal misalnya adalah faktor lingkungan, seperti adanya bunyi yang menggangu, cahaya, bau, ataupun lokasi tidur. Keadaan sosial ekonomi juga terbukti memiliki hubungan terhadap terjadinya gangguan tidur pada anak, seperti kelembaban, suhu dingin, kumuh, kepadatan, dan bunyi bising.24-26
Faktor lain adalah kebiasaan dan perilaku sebelum tidur, seperti menonton televisi atau melakukan kegiatan berat seperti olahraga sebelum tidur. Gangguan tidur juga dapat terjadi akibat efek sekunder dari penyakit lain yang sedang diderita. 24
2.2.3. Klasifikasi
Menurut DSM-V gangguan tidur dibagi menjadi gangguan insomnia, gangguan hiperinsomnia, narkolepsi, Obstructive sleep apnea hypopnea, gangguan irama sirkadian, parainsomnia, gangguan NREM, gangguan mimpi buruk, gangguan perilaku REM, dan restless legs syndrome.28
Ganguan tidur yang terjadi pada anak dapat berupa gangguan tidur primer atau sebagai konsekuensi sekunder dari adanya gangguan medis atau kejiwaan yang mendasarinya. Gangguan tidur primer adalah suatu keadaan seseorang sulit untuk memulai atau mempertahankan tidur dan berlangsung minimal 1 bulan.16,17
Klasifikasi gangguan tidur ini didasari pada keadaan yang kronik, sedangkan gangguan tidur yang terjadi beberapa malam pasca stress psikososial tidak didiagnosis sebagai gangguan tidur. Untuk menegakkan diagnosis gangguan tidur setidaknya diperlukan minimal 3 kali kejadian dalam seminggu selama periode 1 bulan disertai keluhan fisik seperti kelelahan, mudah marah, dan lain lain. 16,17
2.2.3.1. Insomnia
a. Definisi
Insomnia dapat diartikan sebagai keadaan seseorang sulit untuk memulai tidur atau sulit mempertahankan tidur. Seseorang yang terbangun dari tidur di pagi hari namun merasa bahwa tidurnya belum cukup juga dapat disebut sebagai insomnia. Terkadang orang yang menderita insomnia memiliki waktu tidur yang lebih lama tetapi kualitasnya kurang. Gangguan insomnia ini biasanya terjadi pada individu dewasa, beberapa penyebabnya adalah karena gangguan fisik ataupun faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah.16,17
b. Jenis-jenis insomnia
Secara umum insomnia terbagi menjadi 3 jenis, yaitu: 1. Insomnia Inisial
Merupakan gangguan tidur berupa kesulitan untuk memulai tidur. 2. Insomnia Intermiten
3. Insomnia Terminal
Adalah keadaan seseorang bangun lebih awal dari tidurnya namun sulit untuk tidur kembali.16
c. Faktor-faktor penyebab insomnia a. Stress atau kecemasan
Seseorang yang sedang mengalami kegelisahan cenderung memikirkan permasalahan yang sedang dihadapinya, sehingga membuatnya lebih banyak terjaga di malam hari.
b. Depresi
Selain menyebabkan insomnia, depresi juga cenderung menimbulkan perasaan untuk tidur terus sepanjang waktu karena ingin melepaskan diri dari masalah yang sedang dihadapinya. Depresi dapat menyebabkan insomnia, dan insomnia sendiri juga dapat menyebabkan depresi.
c. Kelainan-kelainan kronis
Kelainan tidur seperti sleep apnea, diabetes, sakit ginjal, artritis atau penyakit yang mendadak sering kali menyebabkan seseorang kesulitan untuk tidur di malam hari.
d. Efek samping pengobatan
Beberapa pengobatan memiliki efek samping insomnia. Seperti obat-obatan hipnotik dapat mengganggu tidur tahap III-IV NREM, golongan beta bloker, dan golongan narkotik seperti meperidin hidroklorida dan morfin dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seseorang terjaga lebih lama pada malam hari.
e. Pola makan yang buruk
Kebiasaan untuk mengkonsumsi makanan berat saat sebelum tidur bisa menyebabkan seseorang sulit untuk tidur.
f. Kafein, nikotin dan alkohol
terjaga. Alkohol dapat mengacaukan pola tidur, karena alkohol dapat mengganggu tidur fase REM.
g. Kurang olahraga
Seseorang yang kurang olahraga juga dapat menyebabkan kesulitan tidur yang signifikan.16,17
Terdapat juga penyebab lain yang berkaitan dengan insomnia, seperti: a. Usia lanjut
b. Wanita hamil c. Riwayat depresi29 2.2.3.2. Parainsomnia
a. Definisi
Parasomnia adalah perilaku yang dapat menggangu tidur atau perilaku mengganggu yang terjadi selama tidur. Kelainan ini sering terjadi pada anak-anak.16,17
b. Klasifikasi
Klasifikasi parasomnia didasarkan pada munculnya perilaku tersebut di tiap-tiap fase tidur. Parasomnia saat tidur fase NREM terdiri dari sleep walking, night terror, sleep talking, dan rhythmic movement disorders (enuresis). Parainsomnia fase NREM biasanya terjadi beberapa jam setelah anak jatuh tidur. Parasomnia saat tidur fase REM, contohnya adalah nightmares.16,17
1. Sleep Walking
Sleep walking atau berjalan saat tidur sering ditemui pada anak-anak dengan prevalensi 17%. Usia rata-rata anak yang mengalami kelaianan ini adalah sekitar 5-7 tahun dan biasanya ditemukan riwayat keluarga dengan keluhan serupa. Anak tidak dapat mengingat kejadian yang ia alami selama tidur, sering disertai dengan night terror, serta mengompol.17
2. Night terrors
hubungan antara kejadian ansietas dengan peningkatan kejadian night terrors ini.17
3. Sleep talking
Sleep talking atau mengigau adalah jenis gangguan parasomnia yang paling sering ditemukan. Anak usia antara 3-13 tahun merupakan yang paling sering mengalami gangguan ini. Sleep talking ini sering menjadi komorbid dengan sleep walking dan night terrors, dan belum diketahui secara pasti mengenai patofisiologi hal tersebut.17
4. Nightmares
Nightmares atau mimpi buruk adalah jenis kelainan parainsomnia yang terjadi saat tidur fase REM. Anak yang mengalami mimpi buruk biasanya langsung terbangun dari tidurnya dan tampak ketakutan. Anak dapat mengingat mimpi yang ia alami tersebut. Karena mimpi terjadi pada fase REM, pada fase ini terjadi konsolidasi memori. Hal inilah yang membedakan mimpi pada fase REM dan fase NREM.17
2.2.3.3. Narkolepsi
Narkolepsi atau sleep attack adalah gangguan tidur dengan gejala serangan mengantuk tiba-tiba pada siang hari. Penyebab gangguan tidur ini belum diketahui pasti, namun diduga akibat adanya kerusakan genetik sistem saraf di otak yang menyebabkan gangguan tak terkendali pada tahap tidur fase REM.17,29
2.2.3.4. Sleep Apnea
Sleep apnea adalah suatu periode henti napas ketika tidur. Sleep apnea dibagi menjadi 3 jenis, yaitu central sleep apnea, upper airway obstructive apnea, dan campuran.17,30
Central sleep apnea sering terjadi pada usia lanjut, ditandai dengan terhentinya aliran udara dan usaha napas secara periodik selama tidur, sehingga pergerakan dada dan dinding perut menghilang. Hal ini mungkin disebabkan kerusakan batang otak atau hiperkapnia. 30
kali kemudian menghilang dan berulang setiap 20-50 detik. Serangan apnea terjadi ketika pasien tidak mendengkur. Gangguan ini sering disertai dengan nyeri kepala atau perasaan tidak enak pada pagi harinya.
Pada anak-anak keadaan ini sering berhubungan dengan gangguan kongenital saluran napas, dystonomi syndrome, adenotonsilar hypertrophy,dan lain-lain. Pada orang dewasa dapat diakibatkan oleh obstruksi saluran napas akibat septal defek, hipotiroid, gangguan jantung, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), hipertensi, stroke, gullain barre syndrome (GBS), dan lain-lain. Sleep apnea baik sentral ataupun obstruksi menyebabkan pasien sering terbangun pada malam hari dan kadang sulit untuk tidur kembali.17,30
Table 2.3. Gejala klinis dan dampak dari gangguan pernapasan saat tidur Gejala gangguan pernapasan saat
tidur
Konsekuensi/dampak gangguan pernapasan saat tidur
1. Mengorok Neurobehavioral
2. Bernapas dengan mulut 1. Somnolen
3. Gelisah saat tidur 2. Hiperaktif
4. Megap-megap saat tidur 3. Penurunan konsentrasi
5. Berkeringat 4. Gangguan perilaku
6. Night terrors 5. Menarik diri dari sosial
7. Mengompol 6. Depresi, cemas, tidak percaya
diri 8. Posisi tidur yang tidak biasa Cardiovascular
9. Hidung tersumbat 1. Hipertensi sistemik
10.Pembesaran tonsil dan adenoid 2. Cor pulmonale
11.Rhinitis alergi/sinusitis 3. Hipertrofi ventrikel kiri 4. Dislipidemia
5. Resistensi insulin *Catatan: tabel telah diolah kembali
2.2.4. Dampak Gangguan Tidur Pada Anak
Seseorang yang mengalami gangguan tidur dapat mengalami beberapa efek baik dengan onset akut maupun kronis. Efek akut yang mungkin dialami akibat gangguan tidur adalah rasa ngantuk, penurunan atensi dan konsentrasi. Efek kronisnya memungkinkan seseorang tersebut menderita beberapa penyakit seperti penyakit kardiovaskular, obesitas, diabetes mellitus tipe 2, dan stroke, serta timbulnya gangguan memori dan gangguan psikologi.9,29,30
Apabila seorang anak mengalami gangguan tidur, akan sangat berpengaruh terutama terhadap perkembangan kognitifnya. Berikut ini adalah beberapa dampak gangguan tidur pada anak:
a. Aspek mood
Iritabilitas, mood yang berubah-ubah, kendali emosi yang buruk. b. Fungsi kognitif
Atensi dan konsentrasi yang berkurang, waktu reaksi terlambat, kewaspadaan berkurang, penurunan fungsi eksekutif (pengambilan keputusan, penyelesaian masalah), gangguan pembelajaran, dan prestasi belajar yang buruk.
c. Aspek perilaku
Hiperaktivitas, ketidakpatuhan, perilaku membangkang, kendali impuls yang buruk, peningkatan keinginan untuk mengambil resiko. 9,29,30
2.2.6. Diagnosis Gangguan Tidur
Orang tua yang merasa anaknya mengalami gangguan tidur, biasanya akan membawa anak mereka ke dokter. Namun sangat disayangkan bahwa tidak semua dokter mengetahui variasi dari gangguan tidur tersebut. Selain ke dokter, orang tua sering berkonsultasi dengan psikologi terkait gangguan tidur yang terjadi pada anak mereka.7.31
baik dalam mengkategorisasikan gangguan tidur berdasarkan perilaku tidur anak.7,31
Kuesioner SDSC terdiri dari 26 pertanyaan yang dinilai dalam 5 angka. Angka 1 untuk tidak pernah, 2 untuk jarang (1-2 kali perbulan), 3 untuk kadang-kadang (1-2 kali seminggu), 4 untuk sering (3-5 kali seminggu), dam 5 untuk selalu atau setiap hari. Kuesioner SDSC ini memberikan kemudahan dengan menggunakan sistem skoring. Skor gangguan tidur memiliki rentang dari 26 hingga 130. Hasil skor tersebut akan dimasukkan kedalam program SPSS (Statistical Package for Sosial Sciences) dan kategorikan menjadi 2 kategori, yaitu mengalami gangguan tidur dan tidak gangguan tidur. Dikatakan mengalami gangguan tidur apabila skor > persentil 55, dan tidak gangguan tidur apabila skor ≤ persentil 55. Untuk masing-masing jenis gangguan tidur, dikatakan mengalami gangguan tidur apabila skor > persentil 60.7,31
Selain kuesioner SDSC, terdapat pula beberapa kuesioner lain yang dapat digunakan untuk skrining gangguan tidur, diantaranya adalah a brief screening infant sleep questionnare (BSIQ), the Sleep Questionnare, dan the Children’s Sleep Habit Questionnare.31
2.2.7. Tata Laksana Gangguan Tidur
Terapi gangguan tidur pada anak bersifal individual. Karena gangguan tidur setiap anak berbeda sehingga terapi diberikan berdasarkan kebutuhan anak dan tipe gangguan tidur yang dialami.19
Beberapa terapi yang dapat dilakukan antara lain: hygiene tidur, konseling, penghindaran berbagai faktor yang dapat mengganggu tidur, terapi perilaku, adenotonsilektomi, dan terapi oksigen tekanan positif.32
Hygiene tidur adalah perilaku sehari-hari yang dapat membentuk kualitas dan kuantitas tidur yang baik. Beberapa perilaku tersebut antara lain:
- Menghindari konsumsi alkohol, rokok, dan kafein sebelum tidur
- Menghindari aktivitas yang bersifat stimulasi baik secara fisiologis, kognitif, atau emosional
- Tidur sendiri
- Tidur dengan lingkungan dan kondisi yang nyaman, tenang, dan bebas toksin
- Mempertahankan jadwal tidur yang stabil seperti memulai tidur dan bangun tidur pada saat yang sama setiap harinya.32
Selain terapi nonfarmakologi, gangguan tidur pada anak juga sering dikombinasikan dengan terapi farmakologi. Beberapa obat yang menjadi pilihan terutama pada gangguan insomnia adalah benzodiazepine, agonis reseptor α2, derivat pirimidin, sedatif anti -depresan, melatonin, dan sedatif antihistamin seperti difenhidramin dan hidroxizin.17
Diantara terapi di atas melatonin adalah yang paling efektf, aman dan bisa ditoleransi dengan baik, terutama pada gangguan tidur yang disebabkan oleh faktor yang mempengaruhi irama sirkardian. Beberapa studi yang menggunakan terapi melatonin dengan plasebo menunjukkan bahwa penggunakan melatonin sebagai terapi gangguan tidur pada anak usia di bawah 3 tahun dapat mempercepat anak tertidur dan meningkatkan total durasi tidur.17,19
2.2. Anak
2.3.1. Definisi
adalah di bawah 18 tahun. Hal ini sesuai dengan undang-undang kesejahteraan anak yang menyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun.33,34
Masa anak meliputi usia pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi usia 0-1 tahun, kemudian usia bermain/toddler 1-2,5 tahun, usia pra sekolah 2,5-5 tahun, selanjutnya usia sekolah 5-12 tahun, dan usia remaja 12-18 tahun.34
2.3.2. Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh kembang merupakan sesuatu yang sangat vital bagi seorang anak. Karena pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sangat mempengaruhi masa depan anak tersebut dikemudian hari. Namun, masih banyak orang tua yang belum memahami akan hal ini, terutama orang tua yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan sosio-ekonomi rendah.34
a. Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh akibat pertambahan jumlah dan ukuran sel. Sehingga tumbuh adalah bertambah ukuran fisik seseorang menjadi lebih besar dan menjadi bentuk yang lebih dewasa. Contoh pertumbuhan adalah pertambahan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lain-lain.34 b. Perkembangan
Perkembangan adalah pertambahan kemampuan dan fungsi tubuh menjadi lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diperkirakan sebagai hasil dari diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang terorgan-organisasi. Sehingga perkembangan adalah pertambahan kematangan fungsi dari berbagai bagian tubuh. Contoh perkembangan antara lain peningkatan kemampuan bayi dari tengkurap, merangkak, duduk, berjalan, berlari, dan lain-lain.34
2.3.3. Perkembangan anak usia sekolah (6-12 tahun)
dan akhir ini meliputi perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan psikososial.34
a. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik di masa ini bisa dibilang lambat jika dibandingkan pada masa sebelumnya dan relatif menetap sampai anak mengalami pubertas. Peningkatan berat badan lebih dominan dibandingkan tinggi badan, hal ini dikarenakan meningkatnya massa tulang dan otot serta organ-organ tubuh yang lain.34
b. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik halus pada masa usia sekolah ini menjadi lebih terlatih dan lebih terkoordinasi dibandingkan awal masa anak-anak. Perkembangan motorik anak sangat pesat terlihat di masa ini, karena anak banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan seperti bermain, berlari, melompat, senam, berenang, serta keterampilan keterampilan lainnya.34
c. Perkembangan Kognitif
Seiring dengan masuknya anak ke sekolah, maka kemampuan kognitifnya tentu akan mengalami perkembangan pesat. Pengetahuan akan bertambah, minat menjadi bertambah serta pengetahuan lain juga semakin mengasah kemampuan kognitif anak.34
Pola perkembangan anak memiliki 4 tahapan, yaitu tahap sensorimotorik usia 0-18 atau 24 bulan, tahap praoperasional usia 1-7 tahun, tahap operasional konkrit 7-11 tahun tahap operasional formal 11-15 tahun. Anak usia sekolah dasar sudah mencapai tahap operasional konkrit yang artinya memiliki aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau konkret.34
d. Perkembangan Psikososial
psikososial anak menjadi kompleks. Anak lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada karakteristik eksternal dan dapat memilih apa yang baik baginya maupun masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya.34
2.3. Kerangka Teori
Gambar 2.4. Kerangka Teori
Durasi tidur normal pada anak usia 9-12
tahun
Insomnia Parainsomnia
2.4. Kerangka Konsep
Keterangan:
: Variabel yang diteliti secara deskriptif
Gambar 2.5. Kerangka Konsep Anak SD usia
9-12 tahun
Gangguan tidur
Gangguan memulai dan memepertahankan
tidur
Gangguan kesadaran saat
tidur
Gangguan pernafasan saat
tidur
Gangguan transisi bangun
tidur
Gangguan somnolen berlebihan
Gangguan hiperhidrosis
Tabel 2.5. Definisi operasional
Kuesioner Wawancara Ordinal
2 Jenis
Kuesioner Wawancara Nominal
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penilitian ini bersifat deskriptif dengan metode cross sectional (potong lintang).35
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penilitian ini dilakukan di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat. 3.2.1 Waktu penelitian
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi Target
Anak usia 9-12 tahun. 3.3.2 Populasi Terjangkau
Anak usia 9-12 tahun SD Negeri Pisangan 1 Ciputat tahun 2015 setelah dilakukan random sampling.
3.3.4 Sampel Target
Populasi terjangkau yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan ekslusi di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat.
3.3.4.1 Jumlah Sampel dan Cara Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan dalam penilitian ini didapat dengan menggunakan metode Stratified Random Sampling.35 Metode ini dipilih karena sampel target dalam penelitian memiliki perbedaan dari segi usia, sehingga untuk menghindari banyak bias, peniliti membagi sampel berdasarkan strata, dan dari masing-masing strata kemudian dipilih secara acak dan kemudian seluruh sampel dari masing-masing strata akan digabung menjadi satu sampel.
Besar sampel yang dibutuhkan berdasarkan perhitungan besar sampel untuk proporsi suatu populasi adalah:35
n = Zα2
PQ d2 keterangan:
n : jumlah subyek penelitian
Zα : deviat baku normal untuk α (5%) P : proporsi dari pustaka sebelumnya Q : 1-p
n = Zα2
PQ d2
n = 1,962 x 62,9% x (1-62,9%) 0,12
n = 3,8416 x 0,629 x 0,371 0,12
n = 0,8964 0,01
n = 89,64
n 90 siswa
perkiraan antisipasi drop out, 10% dari total sampel, maka: n = 90 + 9
n = 99 n 100 siswa
untuk menentukan besar sampel dalam setiap strata adalah:
n = jumlah populasi dalam strata X jumlah sampel yang dibutuhkan jumlah seluruh populasi
kelas VI = 82 X 100 324
kelas VI = 25,3 = 25 siswa kelas V = 86 X 100 324
kelas V = 26,5 = 26 siswa kelas IV = 73 X 100 324
kelas III = 87 X 100 324
Kelas III =26,85 = 27 siswa
Total: 25+26+22+27 = 100 siswa
‘3.3.4.2 Kriteria Sampel
1. Kriteria Inklusi
Anak berusia 9-12 tahun yang bersekolah di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat.
Bersedia menjadi responden dengan persetujuan orang tua.
2. Kriteria Ekslusi
Responden yang tidak mengisi seluruh kuesioner atau tidak mengumpulkan kuesioner.
3.4 Cara Kerja Penelitian
Gambar 3.1. Cara Kerja Penelitian Distribusi dan wawancara
kuisioner Penulisan proposal Pengumpulan data
Observasi lokasi
Pengolahan dan analisa data
3.5 Management Data
3.5.1. Teknik Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam penilitian ini sifatnya adalah data primer yang didapat langsung dari penyebaran kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria inklusi di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat. Pengambilan data menggunakan kuesioner Sleep Disturbances Scale for Children (SDSC) yang diisi oleh orang tua dan anak di rumah dan diambil kembali oleh peneliti satu hari setelahnya. 3.5.2. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas bertujuan untuk mengetahui kesahihan alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu data dalam sebuah penelitian. Dalam penelitian kali ini alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Uji reliabilitas adalah untuk mengetahui ketepatan hasil pengukuran apabila dilakukan dua kali atau lebih dengan alat ukur yang sama. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan program SPSS.35
Pada penelitian ini telah dilakukan Uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dilakukan di SD Negeri Cirendeu III Ciputat dan dilakukan kepada 30 siswa yang berusia 9-12 tahun. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada bulan April 2015.
Hasil uji validitas dan reliabilitas tersebut didapatkan beberapa pertanyaan penelitian yang tidak valid dan tidak reliabel, yaitu pertanyaan nomor 3, 4, 5, 6, 10, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 20, 21, 24, dan 26. Sehingga peneliti melakukan beberapa perubahan redaksi terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kuesioner penelitian baik sebelum maupun setelah dilakukan uji validitas dan reliabitas dapat dilihat pada lampiran.
3.5.3. Teknik Pengolahan Data
Dalam pengolahan data peneliti menggunakan software statistic SPSS dengan tahapan sebagai berikut:
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens gangguan tidur pada anak usia 9-12 tahun. Penelitian dilakukan di SD Negeri Pisangan 1 Ciputat yang berada di Jl. H.M Salim 3 Kel. Pisangan Kec. Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan selama bulan April 2015.
Populasi penelitian adalah seluruh siswa SD Pisangan 1 yang berusia 9-12 tahun dari kelas 3 SD-6 SD. Dari populasi tersebut, peneliti mengambil 100 siswa sebagai sampel dalam penelitian ini. Dari 100 sampel tersebut, kuesioner yang masuk kriteria inklusi dan kembali lagi ke tangan peneliti untuk dianalisis pada penelitian ini hanya 90 kuesiner. Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data menggunakan kuesioner Sleep Disturbances Scale for Children (SDSC) yang diisi oleh orang tua responden. Oleh karena itu, berdasarkan masalah dan tujuan penelitian ini, berikut peneliti sampaikan hasil penelitian dan pembahasannya. 4.2. Hasil
4.2.1. Karakteristik Diri dan Orang Tua Responden Penelitian
4.2.1.1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri dari usia, jenis kelamin, dan kelas responden, yang akan digambarkan dalam tabel 4.1. berikut.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden
Variabel N Persentase (%)
Usia
9 Tahun 31 34,4
10 Tahun 17 18,9
11 Tahun 25 27,8
12 Tahun 17 18,9
Jenis Kelamin
Laki-Laki 38 42,2
Perempuan 52 57,8
Kelas
3 SD 24 26,7
4 SD 20 22,2
5 SD 26 28,9
Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa responden dalam penelitian ini paling banyak berusia 9 tahun dan paling sedikit berusia 10 dan 12 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, responden paling banyak adalah perempuan. Selanjutnya, berdasarkan kelas diketahui bahwa responden paling banyak berasal dari kelas 5 SD dan paling sedikit berasal dari kelas 4 dan 6 SD.
4.2.1.2. Karakteristik Orang Tua Responden
Karakteristik orang tua responden yang terdiri dari ibu dan bapak responden dalam penelitian ini adalah usia, pendidikan, dan pekerjaan. Berikut gambaran karakteristik orang tua responden.
Tabel 4.2. Karakteristik Usia Orang Tua
Variabel Mean Standar Deviasi Max Min
Usia Ibu 38,09 5,508 54 26
Usia Bapak 42,65 6,764 65 28
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa rata-rata usia ibu responden adalah 38 tahun dengan standar deviasi sebesar (38 ± 5,508) dengan usia ibu paling tinggi adalah 54 tahun dan yang paling rendah 26 tahun. Selanjutnya rata-rata usia bapak responden adalah 43 tahun dengan standar deviasi sebesar (43 ± 6,764) dengan usia paling tinggi adalah 65 tahun dan paling rendah 28 tahun. Selain usia bapak dan ibu responden, pada penelitian ini juga menggambarkan karakteristik pendidikan dan pekerjaan bapak dan ibu responden.
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Pendidikan dan Pekerjaan Orang Tua
Pada tabel di atas, diketahui bahwa orang tua responden didominasi dengan pendidikan SMA. Sehingga sebagian besar orang tua responden memiliki pendidikan baik. Mayoritas bapak responden bekerja sebagai pegawai swasta dengan persentase sebesar 48,9% dan mayoritas ibu responden adalah sebagai ibu rumah tangga atau tidak bekerja dengan persentase sebesar 83,3%.
4.2.2. Gambaran Jenis Gangguan Tidur
Gangguan tidur pada responden diukur dengan menggunakan kuesioner Sleep Disturbances Scale for Children (SDSC). Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Gangguan Tidur Pada Responden
Gangguan Tidur N Persentase (%)
Ada Gangguan Tidur 38 42,2
Tidak Ada Gangguan Tidur 52 57,8
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebanyak 38 responden (42,20%) memiliki gangguan tidur sedangkan sebanyak 52 siswa (57,80%) tidak memiliki gangguan tidur.
Grafik 4.1. Distribusi Frekuensi Jenis Gangguan Tidur
Berdasarkan grafik di atas, diketahui bahwa jenis gangguan tidur terbanyak yang dialami responden pada penelitian ini adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur dengan persentase sebanyak 55,0%. Gangguan tidur paling sedikit yang dialami responden adalah gangguan transisi bangun-tidur saat tidur dengan persentase 40,0%.
4.2.3. Gambaran Gangguan Tidur dan Karakteristik Responden
Gangguan tidur berdasarkan kelas, jenis kelamin, dan usia responden penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.5. Gambaran Gangguan Tidur Berdasarkan Karakteristik
Responden gangguan tidur paling banyak dibandingkan kelas yang lain dengan persentase 14,4 %. Berdasarkan usia, siswa yang berusia 9 tahun mengalami gangguan tidur paling banyak dengan persentase sebesar 14,4% dan perempuan adalah jenis kelamin yang paling banyak mengalami gangguan tidur dibanding laki-laki dengan persentase sebesar 25,6%.
4.2.4. Perubahan Pola Tidur pada Keadaan Tertentu
4.2.4.1. Durasi Tidur Pada Saat Kondisi Normal
Durasi tidur pada saat kondisi normal seperti tidak dalam kondisi ujian dan liburan digambarkan sebagai pembanding durasi tidur pada kondisi tertentu. Berikut gambaran durasi tidur pada saat kondisi normal.
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Durasi Tidur Pada Kondisi Normal
Lama Jam Tidur N Persentase (%)
Tidak Normal 69 76,7
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebanyak 76,7% responden mengalami durasi tidur yang tidak normal. Durasi tidur normal pada anak usia 9-12 tahun adalah 9-11 jam.19
Tabel 4.7. Durasi Tidur Pada Kondisi Normal
Durasi Tidur N Persentase (%)
9-11 jam 21 23,3
8-9 jam 48 53,3
7-8 jam 18 20,0
5-7 jam 1 1,1
≤ 5 jam 2 2,2
4.2.4.2. Perubahan Durasi Tidur Pada Saat Ujian
Perubahan durasi tidur pada saat ujian diukur dari lama waktu tidur siswa. Perubahan durasi tidur ini dapat dilihat dari durasi tidur siswa pada saat kondisi ujian kemudian dibandingkan dengan pada saat normal dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Perubahan Durasi Tidur Saat Ujian
Ada Perubahan Pola Tidur N Persentase (%)
Ada 31 34,4
Tidak Ada 58 64,4
Tidak Tahu 1 1,1
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebanyak 31 siswa atau 34,4% responden mengalami perubahan durasi tidur pada saat ujian. Perubahan durasi tidur dapat dilihat dari lama jam tidur berdasarkan tabel 4.9.
Tabel 4.9. Perubahan Durasi Tidur Lebih Singkat Saat Ujian
Durasi Tidur N Persentase (%)
9-11 jam 1 3,2
8-9 jam 13 41,9
7-8 jam 9 29,0
5-7 jam 6 19,4
≤ 5 jam 2 6,5
4.2.4.3. Perubahan Durasi Tidur Pada Saat Liburan
Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Perubahan Durasi Tidur Saat Liburan
Ada Perubahan Pola Tidur N Persentase (%)
Ada 65 72,2
Tidak Ada 25 27,8
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebanyak 72.2% responden memiliki adanya perubahan durasi tidur pada saat liburan. Perubahan durasi tidur tersebut dapat dilihat lama jam tidur responden pada tabel 4.11.
Tabel 4.11. Perubahan Durasi Tidur Lebih Lama Saat Liburan
Durasi Tidur N Persentase (%)
≥ 11 jam 6 9,2
9-11 jam 26 40,0
8-9 jam 26 40,0
7-8 jam 6 9,2
5-7 jam 1 1,5
4.3. Pembahasan
Tabel 4.3. menggambarkan karakteristik orang tua responden, yang terdiri dari pendidikan terakhir dan pekerjaan orang tua. Dari tabel tersebut didapatkan bahwa 52,2 % ayah responden memiliki pendidikan terakhir SMA, 14,4% sekolah tinggi dan hanya 11,1% yang pendidikan terakhirnya SD. 43,3% ibu responden memiliki pendidikan terakhir SMA, 14,4% sekolah tinggi dan sebesar 17,8% SD. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua responden memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik. Sebagian besar ayah responden bekerja sebagai pegawai swasta yaitu sebesar 48,9% sedangkan 83,3% pekerjaan ibu adalah sebagai ibu rumah tangga.
menggunakan kuesioner SDSC. Hasil yang didapatkan adalah 79,8% sampel mengalami gangguan tidur.5,6
Perbedaan hasil pada penelitian ini mungkin disebabkan oleh perbedaan karakteristik sampel yang diteliti. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa insidens gangguan tidur pada anak usia 9-12 tahun cukup tinggi.
Grafik 4.1. menunjukkan bahwa jenis gangguan tidur terbanyak pada penelitian ini adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur sebesar 55,0%. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dini S (2013) bahwa 58,2% dari total responden yang mengalami gangguan tidur adalah berupa gangguan memulai dan mempertahankan tidur.5 Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Leoline.F dkk (2007) juga mendapatkan hasil bahwa jenis gangguan tidur terbanyak adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur.36 Namun hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Adelina dkk (2009). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa gangguan tidur terbanyak adalah gangguan transisi bangun tidur yaitu sebesar 63,6%.6
Gangguan memulai dan mempertahankan tidur adalah salah satu gangguan tidur tipe insomnia. Biasanya insomnia ini terjadi pada individu dewasa atau seseorang yang sedang mengalami kecemasan atau stress emosional dan bisa juga disebabkan oleh gangguan medis yang menyebabkan perasaan nyeri. Menurut Owens dan Mindell (2011) bahwa prevalensi gangguan insomnia pada anak anak sebesar 1-6 % dari total seluruh populasi anak. Anak yang mengalami gangguan insomnia berhubungan dengan kebiasaan menonton televisi pada malam hari atau terbangun dari tidur karena ingin tidur bersama orang tuanya bagi anak yang tidur terpisah dari orang tua.15,17
adalah kelas 6, sehingga jika dilihat persentasi gangguan tidur berdasarkan usia dan kelas terjadi ketidakseimbangan. Hal ini terjadi karena siswa yang mengalami gangguan tidur yang berusia 9 tahun jauh lebih besar dibandingkan dengan usia siswa lainnya, dan terdapat siswa yang bukan berada di kelas 3 tetapi masih berusia 9 tahun seperti persentase siswa yang berusia 9 tahun yang berada di kelas 4 adalah 25,8% dari total siswa yang berusia 9 tahun sehingga jika perbandingan siswa yang mengalami gangguan tidur berdasarkan kelas dapat mempengaruhi besar persentase gangguan tidur. Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan oleh Dini S (2013) didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara usia dengan kejadian gangguan tidur pada anak (p=0,012). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rini S (2006) yang mengatakan bahwa pertambahan usia pada anak menyebabkan semakin banyak pula faktor yang mempengaruhi pola tidur, sehingga semakin besar pula kemungkinan anak mengalami gangguan tidur.4.5
Gangguan tidur berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa responden perempuan lebih banyak yang mengalami ganguan tidur dari pada laki-laki, yaitu sebesar 26,7%. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Adelina dkk (2009) bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan gangguan tidur. Hal serupa juga didapatkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Dini S (2013) bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian gangguan tidur pada anak (p=0,603).5,6
Tabel 4.6. menggambarkan durasi tidur normal dan tidak normal pada responden. Durasi tidur normal anak usia 9-12 tahun adalah 9-11 jam. Dari 90 responden didapatkan hanya 21 responden yang memiliki durasi tidur normal, sedangakan 69 responden lainnya memiliki durasi tidur yang tidak normal.17
4.4. Keterbatasan Penelitian
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1. SIMPULAN
Dari penelitian ini dapat diambil simpulan sebagai berikut:
1. Insidens gangguan tidur pada anak usia 9-12 tahun adalah sebesar 42,20 %.
2. Jenis gangguan tidur paling banyak adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur sebanyak 55,0 %.
3. Berdasarkan karakteristik responden, diketahui bahwa responden yang berusia 9 tahun sebagai usia paling banyak mengalami gangguan tidur yaitu sebesar 14,4 %, sedangkan berdasarkan kelas, siswa kelas IV adalah yang paling banyak mengalami gangguan tidur yaitu sebesar 14,4 %, dan perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih sering mengalami gangguan tidur daripada laki-laki, sebesar 25,6 %.
4. Terdapat perubahan durasi tidur menjadi lebih singkat ketika musim ujian terjadi pada 72,2 % responden, dan menjadi lebih panjang ketika musim liburan pada 34,4 % responden.
5.2. SARAN
1. Karena gangguan tidur pada anak memiliki insidens yang cukup tinggi, sedangkan pengetahuan dan perhatian orang tua terhadap gangguan tidur anak minimal, maka sebaiknya dilakukan pemberian edukasi kepada orang tua tentang pentingnya tidur untuk tumbuh dan kembang anak, tanda-tanda gangguan tidur, berbagai faktor resiko yang menyebabkan gangguan tidur, serta dampak dari gangguan tidur tersebut.
3. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kepedulian orang tua terhadap gangguan tidur anak. 4. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mencari berbagai faktor resiko
DAFTAR PUSTAKA
1. Stickgold. The neuroscience of sleep. London: Elsevier. 2009: 12-6.
2. Carney P. Clinical sleep disorder. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2005: 21-58.
3. Anonymous. Sleep needs across the lifespan sleep health foundation. Sleep Health Facts. 2015: 2.
4. Sekartini R, Adi NP,Dept Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI-RSCM. Gangguan tidur pada anak usia bawah 3 tahun di lima kota di Indonesia. Sari Pediatri. 2006;7: 188-93.
5. Safitri DZ. Hubungan antara gangguan tidur dengan pertumbuhan pada anak usia 3-6 tahun di kota Semarang. Jurnal Media Medika Muda. 2013. 6. Haryono A, Rindiarti A, Arianti A, Pawitri A, Ushuluddin A, Setiawati A,
et al, Dept Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Prevalensi gangguan tidur pada remaja usia 12-15 tahun di kekolah lanjutan tingkat pertama. Sari Pediatri. 2009;11: 149-54.
7. Natalia C, Sekartini, Poesponegoro H, Dept Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Skala gangguan tidur untuk anak (SDSC) sebagai instrument skrining gangguan tidur pada anak sekolah lanjutan tingkat pertama. Sari Pediatri. 2011;12: 365-72.
8. Chung K, Cheung M. Sleep-wake patterns and sleep distrubance among HongKong-Chinese adolecents. 2008: 31-94.
9. Widodo DP, Soetomenggolo TS, Dept Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Perkembangan normal tidur pada anak dan kelainannya. Sari Pediatri. 2000;2: 139-45.
10.Barrett K, Brooks H, Boitano S, Barman S. Ganong’s review of medical physiology. USA: McGraw-Hill Companies Inc. 2010;23: 233-9.
11.Mardjono, M. Kesadaran dan fungsi luhur. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat Jakarta: 183.
12.Sekartini R. Perkembangan tidur normal pada anak. Sari Pediatri. 2011;2: 139-145.