BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an
SKRIPSI SARJANA
Dikerjakan O
l e h
NAMA : Piolina NIM : 040706025
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an
SKRIPSI SARJANA OLEH
NAMA : Piolina NIM : 040706025
Pembimbing,
Dra. Nina Karina, M.SP NIP. 131 460 525
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an Yang diajukan oleh :
NAMA : Piolina NIM : 040706025
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh : Pembimbing,
Dra. Nina Karina, M.SP tanggal………. NIP. 131 460 525
Ketua Departemen Sejarah,
Dra. Fitriaty Harahap, SU tanggal………. NIP. 131 284 309
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN O
l e h
NAMA : Piolina NIM : 040706025 Pembimbing,
Dra. Nina Karina, M.SP NIP. 131 460 525
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan,
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra
Dalam bidang Ilmu Sejarah
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Lembar Persetujuan Ketua Jurusan
DISETUJUI OLEH :
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen,
Dra. Fitriaty Harahap, SU NIP. 131 284 309
Lembar pengesahan skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian
Diterima oleh.
Panitia Ujian Fakultas Sastra Uneversitas Sumatera Utara
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra
Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra USU Medan.
Pada :
Hari :
Tanggal :
Fakultas Sastra USU Dekan
Drs. Syaifuddin, M.A,. Ph.D Nip 132 098 531
Panitia Ujian.
No. Nama Tanda Tangan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala kasih saying dan
karunia-Nya yang tiada tara sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Dra. Nina Karina, M. SP sebagai pembimbing dalam penulisan skripsi ini
yang telah begitu banyak memberikan dorongan, semangat, dan telah
meluangkan waktu untuk membimbing penulis.
2. Bapak Pimpinan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, penulis tak lupa
mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan selama
mengikuti perkuliahan.
3. Ibu Dra. Fitriaty Harahap S.U, selaku Pimpinan Departeman Sejarah yang
telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama dalam perkuliahan.
4. Ibu Dra. Nurhabsyah M.Si, selaku Sekretaris Departemen Sejarah yang telah
banyak memberikan bantuan kepada penulis baik selama dalam perkuliahan
maupun dalam penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen, Staf Pengajar, Staf Administrasi pendidikan Departemen
Sejarah yang telah banyak membantu penulis dari mulai masa perkuliahan
hingga dalam penyelesaian skripsi ini. Terkhusus penulis ucapkan kepada
Bapak Edi Sumarno yang telah memberikan masukan-masukan kepada
penulis. Semoga Allah SWT yang akan membalas semua kebaikan yang telah
diberikan kepada penulis amin.
6. Ibu Dra. Penina Simanjuntak, MS., selaku Dosen Wali yang telah banyak
hingga penyusunan skripsi ini. Semua nasehat yang ibu berikan akan selalu
penulis ingat.
7. Ayahanda Herman Tony Lopumeten dan Ibunda Diana Ketaren yang tercinta dan
tersayang yang telah membasarkan, mendidik dan menyekolahkan Ananda
serta tidak henti-hentinya memberikan do’a dan dukungannya kepada Ananda
selama dalam mengikuti perkuliahan. Segala bentuk nasehat dan petuah yang
Ayahanda dan Ibunda berikan senantiasa akan selalu Ananda ingat. Tak
mungkin Ananda dapat membalas semua pengorbanan yang Ayahanda dan
Ibunda berikan, hanya Allah SWT yang dapat membalasnya. Terakhir Ananda
hanya dapat memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar Ayahanda dan
Ibunda selalu mendapat lidunganNYA amin.
8. Kakakku Melony Juwita S.Pt., dan Abang Iparku Heru Sumantri S.Pt., yang telah
memberikan anjuran-anjuran dan saran-saran sehingga adikmu ini bisa
menamatkan sarjana mengikuti jejak kalian. Serta adik kecilku Giza Aura dengan
senyum manismu yang selalu bisa membuat kakak semakin semangat dalam
menyelesaikan skripsi ini.
9. Abang, Kakak senior dan alumni serta Adik-adik sejurusan terima kasih atas
dukungan yang kalian berikan. Sahabat-sahabat ku Stambuk 04 terkhusus
kepada Ains, Debby, Dence, Wardicha, Oriza, Debbi dan Iche serta bang
Cipleks 03 yang telah banyak memberikan dukungan kepada penulis. Semoga
Tuhan YME memberikan ganjaran yang setimpal atas semua kebaikan yang
telah diberikan.
10. Ija’s Familiy, Ibu’ Ijah dan Icha, terima kasih atas dukungan moril dan materi
yang telah diberikan, tak mungkin penulis dapat membelas semua kebaikan
yang telah diberikan, semoga Allah SWT memberikan ganjaran yang berlipat
Akhirnya untuk semua pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam
penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan beribu ucapan terima kasih. Semoga
Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan dengan ganjaran yang
berlipat ganda.
Medan, Maret 2009.
Penulis,
DAFTAR ISI
BAB II GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN……….. 15
2.1. Sejarah Berdirinya Kampung Medan……… 16
2.2 Perkembangan Kota Medan Melalui Pertumbuhannya….... 19
2.3 Kota Medan Menjadi Gemeentee 1918……… 23
2.4 Fluktuasi Banjir di Kota Medan ………..…… 28
BAB III SEJARAH TERJADINYA BANJIR DI KOTA MEDAN 1970-1990………..………... 32
3.1 Peran Serta Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemeliharaan Drainase………..…….... 32
3.1.1 Defenisi Banjir………..……….. 32
3.1.2 Debit Banjir………..……….. 34
3.1.3 Defenisi Sungai………..………. 34
3.1.4 Kondisi drainase………..………... 36
3.1.5 Penanganan drainase………..…………... 40
3.2 Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Debit Aliran……… 44
3.3 Manajemen Tata Air Kota Medan………..…... 53
3.5 Urbanisasi dan Aspek Sifat-sifat Wilayah Perkotaan………... 57
BAB IV DAMPAK DAN PENANGGULANGAN BANJIR DI KOTA MEDAN………..……….... 60
4.1 Kerugian yang Diderita………..……….. 60
4.2 Kerusakan Lingkungan………..………. 61
4.3 Perencanaan Wilayah Sungai Deli Terpadu dan Menyeluruh………..………... 63
4.3.1 Konsep Pengelolaan DAS Terpadu……… 63
4.4 Pembiayaan Dana Operasi dan Pemeliharaan……….. 68
4.5 Peran Serta Masyarakat dan Pemerintah Kota Medan ………... 69
4.6 Pembentukan Lembaga dan Dewan Kota………... 70
BAB V PENUTUP………..………..…………... 73
5.1. Kesimpulan………..………..……... 73
5.2. Saran………..………..………. 74
Abstrak
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1. Perkembangan Jumlah Penduduk di Kampung Medan
Hingga Menjadi Kota Medan dari Tahun 1823-1965………. 18
2. Data Penggunaan Lahan pada DAS Deli………. 47
3. Isu Dan Permasalahan Di Metropolitan Mebidang... 53
4. Profil DAS Deli……….... 63
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
Daftar Informan……… 80
Daftar Gambar 1. Suasana ketika terjadi banjir di jalan Gatot Subroto km. 8,5……… 81
2. Medan Flood Control Project 1990……… 81
3. Suasana banjir Jln. Asia Medan 1980……… 82
4. Banjir membuat masyarakat kesulitan keluar rumah………. 82
5. Tepian Sungai Deli. Jembatan Helevetia. Medan………. 83
6. Medan Flood Control 1990………. 83
7. Banjir di Kelurahan Aur………. 84
8. Sungai Deli 84 9. Menara Ayer Bersih……….. 85
10. Enterpreuner Kota Medan Tjong A Fie bersama Staf Deli Bank….. 85
11. Perkembangan Kota Medan awal abad ke-20……….. 86
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara yang besar adalah Negara yang menghargai jati diri bangsanya dan jati diri
sebuah bangsa hanya dapat dibuktikan melalui observasi perjalanan empunya yaitu
sejarahnya. Oleh karena itu, dimanapun kita berpijak pada salah satu sudut dunia ini, tidak
membutuhkan banyak waktu untuk menemukan jejak-jejak peninggalan berharga berupa
perbuatan manusia di masa lalu. Dan sebuah peristiwa temporal yang menghebohkan umat
manusia tidak akan mudah terlupakan begitu saja karena manusia memiliki hasrat untuk
membuktikan kemampuannya, melalui peristiwa tersebut agar terus menerus diingat dan
dikenang dari masa ke masa. Karena kebesaran masa lalu adalah sumber inspirasi bagi
sebuah bangsa, dimanifestasi secara fenomental dalam pembangunan sebuah kota. Begitu
pula sejarah perkotaan, sejarah perkotaan belum banyak mendapat perhatian dari kalangan
sejarawan akademis.1
Seperti yang terjadi pada Negara-negara berkembang maka penduduk di daerah
perkotaan di Indonesia sejak decade 1950 cenderung meningkat. Antara tahun 1950-1960
laju pertumbuhan penduduk di Indonesia 3 % per tahun kemudian pada tahun 1961-1970
meningkat menjadi 3,6 % per tahun dan pada dasawarsa 1971-1981 mencapai angka sekitar
1
5 %.2 Namun, yang kemudian selalu menjadi persoalan adalah pengendalian pertumbuhan
dan perkembangan kota itu yang harus diseimbangkan dengan daya dukung
lingkungannya.3
Perkembangan dan kemajuan kota diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dan
sebagai konsekuensinya perkembangan kegiatan usaha ekonomi maupun social dari
peningkatan penduduk. Beberapa hal yang menjadi daya pikat kota antara lain pertumbuhan
ekonomi, perluasan tenaga kerja serta fasilitas infrastruktur kota itu sendiri atau wilayah
sekitarnya. Ketika daya dukung kota terlampuai maka timbul berbagai macam
permasalahan seperti meningkatnya kebutuhan akan fasilitas infrastruktur. Akibatnya
perubahan tata guna lahan berdampak negative kepada kota itu sendiri terutama
menurunnya tingkat kenyamanan akibat terbatasnya areal tanah yang ada. Secara lebih
khusus perubahan tersebut berdampak pada banjir dan genangan yang cenderung
meningkat dari waktu ke waktu.4
Kota-kota besar di Indonesia mengalami peningkatan populasi mausia karena daya
pikat yang merangsang manusia berpindah dari desa ke kota. Lahan-lahan yang sebelumnya
untuk daerah suaka alam sehingga menjaga keseimbangan, diambil alih untuk pemukiman,
industri dan lainnya. Namun, dampaknya dapat kita rasakan sangat besar, seperti banyak
2
Kodoatie, Robert J dan Sugiayanto, Banjijr, Beberapa Penyebab dan Metode Pengendaliannya
Dalam Perspektif Lingkungan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002., hlm. 1
3
ibid, hlm. 3 4
kekacauan medis dan sebab-sebab kematian lainnya dan ketidakmampuan, berkaitan
dengan urbanisasi.5
5
McNaughton., Wolf, Larry C, Ekologi Umum (terj) Sunaryo Pringsoseputro da Srigandono, Yogyakarta : UGM Press, 1990, hlm. 1000
Meskipun begitu, letak geografis juga sangat mempengaruhi keadaan lingkungan
suatu daerah. Factor ini menyebabkan keuntungan dan kerugian bagi penduduk yang
bertempat tinggal pada daerah tersebut. Salah satunya yang banyak merugikan manusia saat
ini adalah bencana banjir yang secara matematis tidak dapat terelakkan.
Masalah banjir di kota Medan agaknya tidak terlepas dari kondisi geografis kota ini
yang memang dilalui sejumlah sungai besar dan sungai kecil beserta beberapa anak sungai
lainnya. Sungai besar yang membelah kota Medan, adalah sungai Belawan, sungai Deli,
sungai Percut dan sungai Kera serta sungai Babura.
Sebagaimana kita ketahui, kota Medan adalah sebuah kota yang kecepatan laju
perekonomian dan aspek sosailnya lainnya tergolong sangat pesat. Dimulai dari
didirikannya sebuah kampung kecil oleh seorang petinggi bangsawan Karo, hingga kota ini
berubah menjadi sebuah kota praja, pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan dan
lain sebagainya. Dengan adanya perkembangan tersebut, menyebabkan minat sangat besar
dari penduduk sekitar kota Medan untuk hijrah dan melakukan urbanisasi yang sangat besar
jumlahnya sehingga menjadi perhatian utama pemerintah kota Medan. Oleh karena itu,
pemerintah kota Medan berupaya untuk mengentaskan masalah ini melalui pemekaran
Sejarahnya, sejak tahun 1918 Medan telah berupa kotapraja kecuali kota Maksum
dan daerah sungai Kera yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Deli. Ketika itu
penduduknya berjumlah 43.826 orang yang terbagi ke dalam bangsa Eropa sebanyak 409
orang, bangsa Pribumi sebanyak 25.000 orang bangsa Cina sebanyak 8.269 orang dan
bangsa lainnya sebanyak 130 orang. Kemudian melalui Keputusan Gubernur Propinsi
Sumatera Utara no. 66/III/PSU menyatakan bahwa mulai tangga 21 September 1951 kota
Medan diperluas hingga tiga kali lipat. Disusul Maklumat Walikota no.21 tanggal 29
Sepetember 1951, luas teritorialnya menjadi 5.130 ha dengan 4 kecamatan yaitu Kecamatan
Medan, Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Barat, dan Kecamatan Baru. Melalui
UU Darurat no.7 dan 8 tahun 1956 Propinsi Daerah Tingkat II dibagi menjadi Kabupaten
Deli Serdang dan Kotamadya Medan. Melalui Peraturan Pemerintah no. 22 tahun 1973,
pemerintah memasukkan sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang ke kotamadya Medan
sehingga daerah ini memiliki luas 26.540 ha yang terdiri dari 11 kecamatan dan 116
kelurahan. Kemudian, melalui Surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri
no.140/2271/PUOD pada tanggal 5 Mei 1986, jumlah kelurahan ditambah menjadi 144 dari
11 kecamatan. Selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah RI no. 59 tahun 1991 tentang
pembentukan kecamatan termasuk dan kecamatan pemekaran di kotamadya Daerah
Tingkat II Medan sehingga dari 11 kecamatan diubah menjadi 19 kecamatan dan melalui
kecamatan di Sumatera Utara termasuk dua kecamatan pemekaran di kotamadya Daerah
Tingkat II Medan, sehingga dari 19 kecamatan menjadi 21 kecamatan yaitu :
1. Kecamatan Medan Kota : 26 kelurahan
2. Kecamatan Medan Timur : 18 kelurahan
3. Kecamatan Medan Barat : 13 kelurahan
4. Kecamatan Medan Baru : 18 kelurahan
5. Kecamatan Medan Deli : 6 kelurahan
6. Kecamatan Medan Labuhan : 7 kelurahan
7. Kecamatan Medan Johor : 11 kelurahan
8. Kecamatan Medan Sunggal : 14 kelurahan
9. Kecamatan Medan Tuntungan : 11 kelurahan
10.Kecamatan Medan Denai : 14 kelurahan
11.Kecamatan Medan Belawan : 6 kelurahan
12.Kecamatan Medan Amplas : 8 kelurahan
13.Kecamatan Medan Tembung : 7 kelurahan
14.Kecamatan Medan Area : 12 kelurahan
15.Kecamatan Medan Polonia : 5 kelurahan
16.Kecamatan Medan Maimun : 6 kelurahan
17.Kecamatan Medan Selayang : 6 kelurahan
19.Kecamatan Medan Petisah : 7 kelurahan
20.Kecamatan Medan Marelan : 4 kelurahan
21.Kecamatan Medan Perjuangan : 9 kelurahan6
Akibat adanya pemekaran wilayah yang dilakukan beberapa kali oleh pemerintah
kotamadya Medan, hasil statistic jumlah penduduk kota Medan menunjukkan pertumbuhan
yang sangat pesat yaitu : interval jumlah penduduk pada tahun 1971-1980 sebesar 635.562
– 1.378.9557, serta persentase pertumbuhan penduduk pada tahun 1961-1971 yang berada
pada level 2,90 % pada tahun 1971-1980 naik hingga 3,58 % dan angka ini semakin
bertambah.8
Masalah pengrusakan lingkungan dengan salah satu dampaknya adalah banjir di
kota Medan, yang telah berlangsung dari tahun ke tahun dan hasilnya kesengsaraan bagi Maka dari itu, apabila kita berbicara mengenai masalah urbanisasi yang dikaitkan
dengan dampak lingkungan hidup fisik, dan social kota, maka kita tidak dapat mrlepaskan
diri dari pengaruh perkembangan kota, kemajuna industri, teknologi dan pembangunan.
Akibat dari perkembangan dan pembangunan dapat menimbulkan berbagai jenis dampak
lingkungan hidup baik yang positif maupun yang negative. Dampak ini bagi lingkungan
kota yang bersifat negative dapat timbul di berbagai kota di dunia dan terutama di Negara
berkembnag, termasuk kota-kota di Indoneia.
6
Badan Pusat Statistik Medan Dalam Angka Thaun 1999., hlm xiii-xvi 7
Kantor Statistik Propinsi Sumatera Utara dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat II *ropinsi Sumatera Utara, Sumut Dalam Angka 1988, hlm. 42
8
masyarakat dan pemandangan yang tidak lagi indah dari suatu kota dan tentu saja hal ini
menyebabkan kota cenderung terkesan kumuh. Menurut Badan Pusat Statistik kotamadya
Medan, banjir pada tahun 1987 terjadi sebanyak 11 kali begitu pula pada tahun 1988,
sedangkan pada tahun 1989-1990 masing-masing pernah mengalami banjir sebanyak 1-2
kali. Kerugian akibat bencana alam ini terhitung hingga ratusan juta rupiah yaitu sekitar Rp.
428.000.000 pada tahun 1986-1990. Jumlah yang tidak sedikit pada kurun waktu tersebut.9
9
Kantor Badan Pusat Statistik kotamadya Medan, Kotamadya Medan Dalam Angka Tahun 1991, hlm. 112-113
Persoalan banjir di kota Medan ternyata kini sudah menjadi penyakit kronis dan jadi
tradisi tahunan. Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan, dan tidak terhitung berapa
dana yang telah tercurahkan di berbagai proyek penanganan banjir kota ini. Selama sepuluh
tahun terakhir saja upaya penanangan banjir sudah menghabiskan sedikitnya Rp. 300
miliar. Namun, kenyataaannya dana tersebut seperti air di padang pasir, seluruh uang rakyat
itu habis entah ke mana, sementara banjir terus menjadi kegelisahan bagi masyarakat kota
Medan.
Namun, sampai sekarang banjir masih saja menghantui 2,1 juta jiwa masyarakat
kota Medan. Ini karena banjir kini tidak bergantung jika hujan turun di hulu sungai Deli
saja, hujan di kota Medan pun bisa menyebabkan orang Medan bermasalah dengan
genangan-genangan air di mana-mana. Begitu pula sejumlah kawasan permukiman padat
penduduk yang menjadi langganan rendaman banjir, terutama kalau hujan deras mengguyur
Untuk menuntaskan banjir, pihak pemerintah kota Medan pernah memakai jasa tim
konsultas dari Belanda untuk menemukan jalan keluar untuk air yang selama ini
membanjiri kota Medan. Dari penelitian tersebut, antara lain diidentifikasi masalah
sedimentasi atas drainase serta kecenderungan warga masyarakat yang selalu terbiasa
membuang sampah ke sungai dan parit, hingga menyebabkan banjir selalu terjadi di
Medan.
Saat ini langkah darurat pemerintah kota Medan dalam menangani banjir, yaitu
dengan menggiatkan program pembersihan drainase di lokasi rawan banjir. Selanjutnya,
Dinas Pekerjaan Umum Medan juga terus melancarkan pemetaan lokasi genagan air setiap
musim hujan untuk persiapan darurat jika hujan lebat melanda kota Medan. Tidak
menampik bahwa beralihfungsinya daerah resapan menjadi permukiman juga turut
menambah kuantitas banjir di kota Medan. Selain itu, pertumbuhan penduduk di sepanjang
bantaran sungai yang juga berpotensi menimbulkan penyempitan sungai. Sebagai
perbandingan, masyarakat kota Mdna harus mengambil pelajaran dari bencana banjir yang
terjadi di ibukota Jakarta dan juga di daerahnya sendiri yang disebabkan hilangnya daerah
resapan air karena terlalu banyak digunakan untukmembangun perumahan atau pertokoan.
Belajar dari peristiwa di Jakarta, maka warga kota Medan harus dapat mewaspadai
wilayah selatannya antara lain kawasan Sembahe, Pancur Batu, Namu Rambe, dan Deli
Tua sebagai wilayah perbukitan yang merupakan kawasan resapan air. Jangan sampai
dialihkan menjadi komplek perumahan serta pembangunan villa dan bungalow. Hal ini
sangat berbahaya karena dapat mengancam daerah di bawahnya dari serangan banjir
sewaktu-waktu. Dari uraian-uraian ini jelaslah bahwa perubahan unsure-unsur lingkungan
dapat menjadi salah satu factor penyhebab terjadinyha bencana banjir.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana peristiwa banjir di kota Medan dan letak permasalahannya yang
menyebabkan dammpak langsung dan tidak langsung pada masyarakat kota.
2. Bagaimana penganggulangan bencana banjir yng diupayakan oleh pemerintah dan
peran serta masyarakat kota Medan beserta swasta yang terkait.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yang penting tentunya, bukan
hanya bagi peneliti tetapi juga bagi masyarakat umum.
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui bagaimana peristiwa banjir di kota Medan dan letak
permasalahannya yang menyebabkan dampak langsung dan tidak langsung pada
2. Untuk mengetahui bagaimana penganggulangan bencana banjir yng diupayakan
oleh pemerintah dan peran serta masyarakat kota Medan beserta swasta yang terkait.
Manfaat dari penelitian ini, yaitu:
1. Sebagai tambahan referensi bagi masyarakat umum dalam mengetahui sejarah
bencana banjir di kota Medan agar selurh jajaran masyarakat dan pemerintah kota
sadar akan lingkungannya yang dapat menyebabkan banjir.
2. Menambah inventarisasi sumber sejarah lokal umumnya di daerah Propinsi
Sumatera Utara dan khususnya bagi masyarakat kota Medan dan sekitarnya.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian di dalam penelitian ini berkisar pada tahun 1971-1990.
awal penelitian dimulai pada tahun 1970-an karena penulis menganggap pada kisaran tahun
1970-an kotamadya Medan mengalami pemekaran wilayah untuk pertama kalinya sehingga
hal ini diyakini sebagai tindakan awal untuk memperhitungkan masalah urbanisasi di kota
Medan. kemudian, penelitian akan diakhiri pada tahun 1990 yang menampakkan
perbandingan yang cukup besar mengenai bencana banjir yang terjadi di kota Medan. jika
kurangnya intensitas bencna banjir pada akhir tahun 1990-an, maka penelitian yang
menyangkut campur tangan pemerintah dan masyarakat kota Medan patut diadakan.
Kerangka pemikiran yang digunakan adalah pemikiran mengenai amnesia sejarah
disaster) berulang terjadi setiap tahun, serta ttidak adanya upaya penangan bencana ini
secara permanen, maka kondisi ini adalah sebuah pertanda terjadinya amnesia sejarah
bencana di dalam memori kolektif masyarakat. Banjir sebagai sebuah amnesia sejarah bisa
diartikan sebagai sebuah kondisi dimana masyarakat kita secara personal maupun kolektif
menjadi kehilangan ingatannya tentang bencana banjir ketika bencana itu berlalu. Dalam
kondisi ini, semua pihak akan ribut dan saling menyalahkan ketika bencana banjir terjadi.
Namun, kita segera melupakannya ketika bencana banjir itu bencana banjir itu berlalu.
Demikian seterusnya kondisi ini terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun.
Kondisi amnesia sejarah yang terulang ini sebenarnya sangat bebahay kalau tidak
ditanggulangi. Ketika kesadaran kolektif masyarakat tentang bencana hilang, maka
masyarakat secara sadar maupun tidak sadar akan membenarkan klaim pemerintah bahawa
banjir adalah bencana alam, yang lama kelamaan masyarakat kita menjadi terbiasa akan
keadaan ini. Di sis lain, kesadaran palsu (false conciousness) masyarakat yang disebabkan
oleh adanya amnesia ini sangat menggemberikan pihak yang selama ini menikmati
keuntungan dari eksploitasi hutan yang menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang,
seperti pengusaha dan pemerintah yang gagal dalam menangani banjir secara permanen.
Permasalahan banjir sebenarnya adalah permasalahan dampak banjir terhadap
manusia. Fenomena banjir sebenarnya fenomena alamiah di dataran banjir. Namun banjir
menjadi masalah ketika aktivitas manusia berada di daerah rawan banjir, sehingga banjir
seperti pembuangan sampah hanalah secuil dari permasalahan yang menyebabkan banjir.
Penyebab banjir yang utama tentunya curah hujan yang berlebih sehingga menyebabkan
tingginya debit air sungai. Permsalahan banjir terbesar adalah penggunaan lahan di daerah
rentan banjir (flood plain) oleh manusia, sehingga manusia menerima dampak banjir.
1.5 Tinjauan Pustaka
Di dalam penelitian ini penulis menggunakan buku yang berkaitan tentang masalah
perkotaan di Indonesia umumnya dan khususnya mengenai masalah banjir di kota Medan
pada kisaran tahun 1970-1990 diantaranya :
Buku yang ditulis oleh Kodoatie, Robert J dan Sugiyanto, Banjir, Beberapa
Penyebab dan Metode Pengendaliannya Dalam Perspektif Lingkungan, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2002. secara umum berisi tentang masalah banjir, penyebab dan
penanggulangannya dikaitkan pada perspektif lingkungan. Di dalmnya juga terdapat
pembahasan mengenai dampak banjir terhadap suatu lapisan masyarakat meskipun hanya
membahas pada dimensi waktu kekinian sehingga buku ini dapat dikatakan hanya
berorientasi pada unitemporal dan bukannya multitemporal walaupun menggunakan
multidimensional.
Efendi, Said, Strategi Pembangunan Menuju Kota Medan Bestari, Medan : Yayasan
Pola Pembangunan Daerah, 1997. di dalam buku ini kta dapat mengetahui berbagai strategi
strategi Bestari (Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah) seta strategi pemanfaatan potensi kota
peripheral (kota satelit yang mengelilingi kota induk) yang memuatkan kota Medan
sebagai kota inti dengan nama Mebidang (Medan, Binjai, Deli Serdang).
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta : Tiara Wacana, 1994. Buku ini
merupakan langkah awal penulus dalam pencarian ide-ide dan pemikiran mengenai sejarah
perkotaan.
Colombijn, Freek., Darwegen, Martine., Baskoro, Purmawan., Khusyaini, Jhony
Alfian (ed)., Kota Lama Kota Baru, Sejarah Kota-kota di Indonesia, Yogyakarta : Ombak,
2005. Di dalam buku ini terdapat banyak informasi mengenai berbagai sejarah perkotaan di
Indonesia yang ditulis oleh penulis dari dalam negeri dan penulis asing.
Selain itu, penulis juga menggunakan literatur-literaur mengenai proyek
Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP) yang berkaitan dalam
menjawab permasalahan tentang kebijakan pemerintah untuk menanggulangi bencana
banjir. Pada tahun 1998, Asian Development Bank (ADB) memberikan bantuan kepada
pemerintah Republik Indonesia dengan nilai sekitar 116 juta dollar AS melalui
Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP). Pemerintah pusat sendiri dan
pemerintah propinsi (pemprop) Sumatera Utara diwajibkan menyediakan 82,2 juta dollar
AS untuk proyek tersebut sehingga total nilai proyek 198,2 juta dollar AS atau sekitar 1,68
Pembangunan ini menitikberatkan pada pengembangan infrastruktur permukiman
yang terbagi ke dalam dua sektor, yaitu drainase dan banjir kota. Seluruh pengerjaan
diprioritaskan pada pengoptimalan kembali Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sering
menyempit oleh maraknya bangunan liar. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan normalisasi
saluran air yang berada di kawasan kota. Namun, dari data yang diperoleh meski proyek
penanggulangan banjir dengan dana miliaran rupiah sudah ada namun banjir akibat hujan
tetap terlihat hampir di setiap sudut kota. Ironisnya, ruas jalan protokol yang berada di
pusat kota pun tak luput dari genangan air.
1.6 Metode Penelitan
Penulisan sejarah merupakan suatu karya ilmiah yang memerlukan adanya suatu
metode untuk menghasilkan suatu tulisan sejarah. Metode sejarah adalah proses
menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dari peninggalan masa lalu10.
Metode berupa aturan-aturan yang dirancang untuk membantu dengan efektif dalam
mendapatkan kebenaran dari suatu peristiwa sejarah. Metode sejarah bersifat ilmiah
jika dengan ilmiah dimaksudkan mampu untuk menentukan fakta yang dapat
dibuktikan dengan fakta, maka diperoleh hasil pemeriksaan yang kritis terhadap
dokumen sejarah dan bukan suatu unsur daripada aktualitas yang lampau11
10
Louis Gottscalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto dari judul
Understanding History, Jakarta: UI Press, 1985, hal. 32.
11
Ibid, hal. 143.
Tahap pertama dari penelitian ini adalah tahap heuristik yaitu: mengumpulkan
literatur termasuk bahan-bahan keterangan berkenaan dengan penelitian, data atau
laporan juga sebagai referensi digunakan situs internet dan wawancara dengan
informan-informan yang telah dipilih untuk mendapatkan keterangan lebih lengkap
dan mendalam. Dengan demikian penulisan skripsi ini dilakukan melalui studi
kepustakaan dan penelitian lapangan.
Dari data atau sumber yang terkumpul dilakukan kritik terhadap sumber agar
menjadi sumber yang dipilih. Langkah ini disebut kritik sumber, baik kritik intern
maupun kritik ekstern. Kemudian langkah berikutnya adalah interpretasi, yaitu
menafsirkan sumber-sumber yang terkumpul agar menjadi fakta yang valid. Langkah
yang terakhir adalah historiografi, yaitu penulisan secara sistematis dan kronologis.
Metode sejarah digunakan oleh penulis dengan tahapan-tahapan seperti
disebutkan di atas untuk menghasilkan tulisan bersifat ilmiah.
BAB II
GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN
Medan merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara dengan letak wilayah pada
posisi 30.30’ LU-30.48’ LU dan 980.39’BT-980.47’36”BT dengan ketinggian 0-40 meter
di atas permukaan laut. Suhu kota Medan pada pagi hari berkisar 23,70 ºC-25,10 ºC, siang
berkisar 29,20 ºC-32,90 ºC, dan pada malam hari berkisar 26 ºC-30,8 ºC. sedangkan
Posisi dan letak kota Medan berada di dataran pantai Timur Sumatera, persis di
antara Selat Malaka dan jajaran pegunungan yang membujur dari Barat Daya sampai
wilayah tenggara Pulau Sumatera menjadikan kota Medan daerah yang strategis baik untuk
menjalankan roda perekonomian hingga pusat kebudayaan, Medan adalah tempat yang
selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki kompeten dan kemampuan bertahan hidup
sebagai orang kota. Topografinya miring ke utara dan berada pada ketinggian 0-40 meter di
atas permukaan laut dengan kelembaban dan curah hujan yang relatif tinggi. Mengenai
curah hujan di Tanah Deli, Medan dapat digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama
yang berarti bagi waktu yang lebih banyak mendapat curah hujan dan Maksima Tambahan
yang berarti bagi waktu yang mendapat lebih sedikit curah hujan. Maksima Utama terjadi
pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan
Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan
intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.
Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir,
tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian
dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa di
samping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat
inilah pada waktu penjajahan Belanda berada di tempat yang bernama Bakaran Batu
(sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas
2.1. Sejarah Berdirinya Kampung Medan
Sebelum menjadi sebuah kota yang megah, kota Medan adalah sebuah
perkampungan yang disebut dengan kampung Medan yang pertama kali dibuka oleh Guru
Patimpus pada sekitar tahun 1590 di kawasan yang disebut Medan pada masa itu. Menurut
tradisi masyarakat setempat, perkampungan yang dibuka oleh Guru Patimpus itu disebut
kuta istilah dalam bahasa Karo karena Guru Patimpus adalah bangsawan berketurunan suku
Batak Karo. Kampung Medan sebagai sebuah kuta menjadi satu bagian di dalam kesatuan
kekuasaan tradisional suku Batak Karo yang dinamakan Urung Sepuluh Dua Kuta yang
juga disebut Hamparan Perak.
Sedangkan lokasi pertama kalinya diketahui letak kampung Medan adalah terletak
di sekitar pertemuan delta sungai Babura dan sungai Deli yaitu tepatnya di sekitar kantor
walikota Medan saat ini.
Sebenarnya mengenai sejarah awal kampung Medan banyak sekali yang belum
tergali sejak berdirinya pada sekitar tahun 1590 hingga kedatangan bangsa Belanda pada
tahun 1861 semisal keadaan budaya dan sosial yang berpengaruh di kampung Medan dan
aspek-aspek sejarah lainnya namun, dengan menelusuri keadaan alamiah masyarakatnya
kita dapat meniympulkan seperti keadaan masyarakatnya yang sebenarnya hingga saat ini
masalah kependudukan menjadi masalah utama bagi pemerintah kota Medan.
Sejarah berdirinya Kampung Medan diawali dari dimulainya penelitian
1823 saat seorang John Anderson telah berkunjung ke Kampung Medan yang mana
penduduknya hanya berjumlah sekitar 200 orang, dimana terdapat wilayah-wilayah yang
termasuk ke dalam kota Medan saat itu bernama Desa Pulo Brayan, Desa Babura dan
Kampung Jawa. Desa-desa ini adalah desa primer yang tumbuh dari keberagaman dan
heterogenitas masyarakatnya.
Pada waktu Belanda mulai melakukan penjajahannya di Deli, dalam kawasan yang
sekarang dikenal sebagai kota Medan sudah lebih dahulu terdapat sejumlah perkampungan
yang ditempati oleh penduduk suku bangsa Melayu dan Karo. Menurut perkiraan Residen
Riau, Netscher penduduk yang terdapat dalam wilayah kekuasaan Sultan Deli berjumlah
kira-kira 2000 orang pada masa itu, Labuhan Deli sebagai ibukota kerajaan Deli
berpenduduk kurang lebih 1000 orang, termasuk 20 orang Cina dan 100 orang India.
Sedang di Kampung Medan Puteri terdapat 50 rumah tangga pada waktu itu.12
Hingga kedatangan Jacobus Nienhuys, seorang pengusaha yang tertarik pada
perusahaan perkebunan, yang mula-mula mendirikan kantor pusat perkebunan Deli
Maatschappij di Kampung Medan Putri dipindahkan ke Labuhan Deli dan berhasilnya
panen tembakau pada tahun 1881 hingga mencapai 82.356 pak dan terjual dengan harga
tinggi di negeri Belanda menyebabkan bertambah banyaknya perusahaan-perusahaan
tembakau swasta dari berbagai negeri di luar Nusantara yang membuka usaha disini dan
diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya dari Eropa. Bidang pemerintahanpun secara
12
administratif turut menyusul kemajuan akibat merambahnya kemajuan di bidang
perkebunan ini. Pada sekitar tahun 1874 sudah dibuka 22 perusahaan perkebunan asing.
Akibat berkembang pesatnya perkebunan-perkebunan swasta, secara otomatis lahan
permukiman pun semakin bertambah luas yang diperuntukkan bagi pengusaha sendiri
maupun tenaga-tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjadi buruh perkebunan. Interaktif
antar bangsa ini menyebabkan semakin bertambah banyak pulalah imigran yang datang dan
pergi ke Kampung Medan. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel di bawah ini:
Tahun Jumlah Penduduk
Tabel 1. Perkembangan Jumlah Penduduk di Kampung Medan Hingga Menjadi Kota Medan dari Tahun 1823-1965 13
13
Dari tabel di atas jelaslah bahwa perkembangan jumlah penduduk kota Medan yang
cukup drastis menyebabkan tingkat urbanisasi yang tinggi sehingga dari analisa yang
didapat bahwa jumlah penduduk yang semakin meningkat dapat menimbulkan gejala-gejala
masalah kependudukan dimana pada akhirnya akan membawa masyarakat itu sendiri pada
persoalan banjir yang didasari pada konsep lingkungan yang tidak seimbang antara manusia
dan alamnya.
2.2 Perkembangan Kota Medan Melalui Pertumbuhannya
Perkembangan kampung Medan menjadi sebuah kota berhubungan erat dengan
dibukanya perkebunan-perkebunan asing yang mengambil keuntungan dari komoditi
ekspor ketika itu. Kesuksesan perkebunan-perkebunan ini diawali setelah berita kehebhan
yang ada di negeri Belanda ketika Jacobus Nienhuys membawa hasil panen tembakau ke
negeri Belanda dengan kualitas terbaik dan mencapai keuntungan yang besar. Maka dari
banyak pengusaha-pengusaha perkebunan mengadu peruntungan di tanah Deli yang juga
dijuluki sebagai Paris van Sumatera ini.
Setelah dibukanya perkebunan-perkebunan tembakau swasta, maka keadaan
kampung Medan telah beubah menjadi sebuah kampung yang sudah dapat dikatakan
sebagai sebuah kota karena jumlah penduduknya telah mengalami peningkatan yang cukup
tinggi. Maka dari itu, dari pihak pemerintah Belanda memiliki ide untuk memindahkan
dipindahkan ke kota Medan karena lokasinya yang strategis, mudah dijangkau dari daratan
dan lautan. Maka, ide itu disetujui oleh Gubernur Sumatera Timur sehingga kota Medan
menjadi Ibukota Keresidenan Sumatera Timur. Sejak Medan menjadi ibukota Keresidenan
Sumatera Timur pada tanggal 1 bulan Maret tahun 1887 maka tumbuhlah
kampung-kampung seperti Petisah Hulu, Petisah Hilir, kampung-kampung Sungai Rengas, Kampung Aur dan
Kampung Keling. Kemudian muncul kampung lain yang masuk ke wilayah Sultan Deli
yaitu Kampung Maksum, Kampung Baru, Kampung Sungai Mati dan lain-lain.
Dalam rangka kota Medan bersiap menjadi ibukota Sumatera Timur, sejak tahun
1886 dicari cara untuk membenahi kota agar pantas dalam kedudukan itu. Saluran-saluran
yang lama diganti dengan sistem drainase yang baik, jalan-jalan diaspal, penerangan listrik
dipasang kecuali air minum yang kondisinya belum baik. Komiaris-komisaris dari Deli Mij,
tuan-tuan perkebunan seperti Tuan P. Kolf dan J. van Vollenhoven berhasil membujuk
direksi mereka untuk mengatasi hal ini. Kemudian dibangunlah perusahaan air minum
(PDAM Tirtanadi saat ini) pada akhir 1907 dengan kemampuan tandon air 1200 m³ dengan
21 km menyuplai 283 rumah. 14
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang semakin meningkat di kota Medan,
pada tahun 1929 mulai dipasang pipa-pipa besar untuk menyalurka air dari Sibolagit ke
medan.
15
14
Hasibuan, Gindo Maraganti., Peran Serta Masyarakat dan Kelembagaan Terpadu dalam
Pengelolaan banjir di Kota Medan (Studi Kasus Banjir Kota Medan), Medan, 2005, hlm. 2
15
Pembangunan perusahaan listrik Medan dimulai tahun 1898 dan mulai berperasi
pada Maret tahun 1900 untuk menerangi jalan-jalan di Medan dan kebutuhan pasokan
listrik untuk Medan Hotel, rumah Tjong A fie, Hotel De Boer, Istana Maimoon dan
lain-lain. Salah satu perbedaan yang mencolok dimana hanya sebuah rumah yaitu rumah Tjong
A Fie yang mendapatkan pasokan listrik sementara yang lainnya adalah berupa instansi,
hotel-hotel, dan bangunan-bangunan megah. Jelaslah bahwa di dalam sejarah pembangunan
kota Medan, peran warga asing dari Eropa dan keluarga Tjong A Fie memiliki peranan
yang sangat besar.
Bukan hanya perusahaan-perusahaan perkebunan yang berkembang pesat, selain
sejumlah kampung-kampung baru mulai dibuka, bangunan-bangunan bergaya Eropa pun
mulai dibangun arsitektur yang indah seperti Istana Maimun dan Mesjid Raya Medan yang
dibangun tenaga ahli dari Belanda yang bernama Van Erp. Bahkan Medan disebut-sebut
sebagai kota ratu (queen city) dari Pulau Sumatera dan terlebih lagi pionir lokasi
pertumbuhan peusahaan perkebunan di Sumatera Timur yang sangat penting dan progresif.
Saat ini kota Medan memiliki keanggunannya tersendiri, bersinar dalam hal bisnis yang
dikelilingi kota-kota kecil yang indah yang ketika itu memiliki sanitari yang hanya dimiliki
kota Medan dan banyak kota di Inggris Raya. Memiliki hotel-hotel yang bagus, jalus kereta
api dengan arsitektur yang indah, lapangan pacuan, klub-klub lapangan tennis dan sepak
Namun tidak hanya itu, jika melihat situasi perkembangan sungai-sungai yang
membelah kota Medan untuk mencari tahu penyebab awal ketidakacuhan berbagai pihak
untuk lebih mengerti aspek-aspek yang mempengaruhi indikasi penyebab banjir di kota
Medan. Maka kita perlu mengetahui berbagai aspek itu termasuk sungai yang dulunya
sangat berperan dan sangat penting bagi kehidupan masyarakat di kota Medan.
Sekitar tahun 1874 sebuah Benteng Belanda yang cukup besar dan kokoh
bangunannya sudah siap dibangun berdekatan dengan kawasan Medan Puteri, yaitu di
lokasi wisma Benteng dan Lippoland yang sekarang. Bangunan yang tampaknya
menunjukkan identaitas kota medan pada saat sudah mulai tumbuh dan berkembang.
Tempat benteng Belanda itu dibangun sangat strategis menurut ukuran masa itu. Karena
letaknya berdekatan dengan kawasan pemukiman penduduk pribumu dan sekaligus dekat
pula dengan Sungai Deli. Sungai itu dahulu dapat dimanfaatkan oleh serdadu belanda untuk
mempermudah hubungan dengan Labuhan yang merupakan kota pelabuhan untuk
memasuki Deli dari arah laut atau meninggalkannya dari menuju laut. Dapatlah dilihat
betapa penting dan strategisnya kedudukan benteng Belanda itu, yang berdekatan dengan
letak kampong Medan selaku pelabuhan tongkang dari laut yang membongkar muatan di
situ untuk diteruskan dengan perahu-perahu lebih kecil mudik ke Deli Tua dan mudik
Sungai Babura.16
16
Dari sini, maka jelaslah perkembangan kampong Medan menjadi sebuah kota
bergantung pada jalur transportasi yang ketika itu berupa transportasi air dikarenakan jalur
darat yang berupa jalan setapak dan masih dikelilingi hutan belantara dianggap lebih aman
dan lebih cepat untuk sampai ke tujuan. Berbeda dari sekarang sungai-sungai ini hanya
berupa tempat membuang sampah dan diabaikan kebersihannya menyebabkan sungai
tampak kumuh dan kotor. Memang sangat ironis apabila dibadingkan dengan perannya
ketika sungai sangat diperhatikan dan dijadikan asset untuk mendapatkan nafkah
sehari-sehari.
2.3 Kota Medan Menjadi Gemeentee 1918
Dalam perkembangannya, pada tahun 1909 Medan dijadikan Kota Praja oleh
pemerintah Hindia Belanda. Akibat perkembangan yang semakin pesat, pada tahun 1915
Kersidenan Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen dan
gubernur yang pertama adalah H.J. Crijzen. Kelak sultan Deli Makmum Arrasyid
memindahkan sebagian tanahnya yang luas menjadi tanah kota pada tahun 1918 untuk
menampung perluasan kota. Sampai tahun 1937 kota Medan telah menjadi pusat kegiatan
administrasi pemerintah dan ekonomi.17
17
Koestoro, Lucas Partanda, dkk., Medan, Kota di Pesisir Timur Sumtaera Utara dan Peninggalan
Ketika Gemeentee Medan dibentuk tahun 1918, yang menjadi kepala pemerintahan
adalah seorang burgermeester dibantu oleh sebuah raad (majelis) yang pada permulaannya
beranggotakan 15 orang yang diangkat pemerintah. Daniel Baron MacKay adalah orang
yang pertama kali menjabat sebagai burgermeester kota Medan.
Gemeentee Medan untuk pertama kalinya memiliki dana bagi peremajaan kotanya
sebesar 32.000 gulden. Dana ini dipergunakan bagi banyak masalah pengairan dan sumber
daya air seperti untuk keperluan penyediaan air minum di kota Medan, membiayai
pembersihan saluran-saluran air (drainase) dan pembiayaan pompa pemadam kebakaran
yang ketika itu telah dibentuk volksraadnya. Dana yang cukup besar ini diperoleh antara
lain terdiri dari :
1. Tunjangan yang diberikan oleh Kerajaan Deli
2. Kontribusi suka rela yang diberikan oleh penduduk di kota Medan, ini adalah
tindakan yang secara halus meminimalkan keraguan masyarakat akan pajak tanah
yang terlalu tinggi sehingga dikatakan hanya sebagai hibah.
3. Hasil dari sewa pasar, tanah dan sawah serta bangunan-bangunan di kota Medan.
Sebelum mendapat hak untuk menjalankan pemerintahan otonom sepenuhnya,
Gemeentee Medan lebih dahulu menjalani masa peralihan dalam pemerintahannya selama
lebih kurang 9 tahun. Selama masa peralihan itu, Gemeentee Medan belum mempunyai
Burgermeester (walikota) dan masih berada di bawah kekuasaan Asisten Residen Deli dan
Serdang. Karena pada masa itu secara struktural wilayah kota Gemeentee Medan
merupakan salah satu wilayah pemerintahan yang langsung tunduk pada pemerintahan Deli
dan Serdang yang dipimpin Asisten Residen.
Dalam keadaan yang demikian itu, pemerintah kolonial membentuk Gemeenteeraad
(Dewan Kota) untuk menjalankan pemerintahan Gemeentee Medan. Dewan Kota tersebut
diketuai oleh Asisten Residen Deli dan Serdang
Pemilihan anggota Dewan Kota berdasarkan sistem golongan yaitu : 10 orang
Eropa, 5 orang Bumiputera Indonesia dan 2 orang Timur Asing. Nama-nama pejabat
tersebut adalah :
I. Anggota dari bangsa Eropa :
1. Tj. Dijkstra
2. J.M. Groenewegen
3. J.N. Helissen
4. T.W. Rossum
5. Ir. K.K.J.L. Steinments
6. Mr. H.W.B. Thien
7. Ir. M. Velkenburg
8. Mr. G. Van der Veen
9. J. de Waard
II. Anggota dari bangsa Pribumi :
1. Abdullah Lubis
2. Arsjad glr. Datuk Sinaro Rajo
3. Mohammad Arif (Tujung)
4. Raden Nurngali
5. Raden Pirngadi
III. Anggota dari bangsa Timur Asing
1. Gan Host Soei
2. Jap Soen Tjhay 18
Dilihat dari segi kebangsaan, hal tersebut sangat kontras bahwa bangsa Eropa
memegang sebagaian besar peran menentukan pemerintah dan pelaksanaannya membentuk
kota Medan, dari segi nasionalisasi hal ini menyebabkan ketidakadilan dan dengan begitu
menciptakan cikal bakal ketidakharmonisan antara masyarakat pribumi dan bangsa Eropa
yang selanjutnya akan menyebabkan berbagai pemberontakan dan rencana awal yang
seharusnya dapat memperindah wajah kota Medan menjadi terhambat dan terhenti begitu
saja tanpa ada perbaikan-perbaikan.
Walikota juga merangkap ketua dari gemeenteraad, yang bersama-sama
menjalankan pekerjaan sehari-hari dengan Raad van Burgermeester en Wathouders
18
(Dewan Pemerintahan Kota). Dari uraian ini didapatlah bahwa dibentuknya gemeenteeraad
sebagai suatu dewan kota agar kiranya gemeentee kota Medan dalam melaksanakan
perencanaan dan pembangunan selalu melibatkan masyarakat atau stakeholder melalui
dewan tersebut yang artinya cikal bakal dewan kota yang sudah terbentuk pada 1 April
1909 dan pada saat pertama kalinya kota Medan dibentuk adalah suatu hal yang perlu
dicontoh, dipedomani utnuk perencanaan dan pelaksanaan kota Medan.
Perkembangan kota Medan yang pesat menjadikan Medan sebuah kota yang
modern yang ditandai dengan gaya bangunan yang bersifat mendunia. Banyak orang yang
mengatakan bahwa kota Medan menjadi sangat unik di Hindia Belanda, karena telah
menjadi kota bergaya Eropa dalam nuansa Inggris. Hal ini disebabkan antara lain karena
kuatnya pengaruh Singapura pada kolonial Inggris yang berimbas pada gaya bangunan di
kota Medan.
Pada tahun 1911, Gemeentee Medan mulai membentuk Gementee Werken yang
berarti Dinas Pekerjaan Umum untuk kotapraja Medan. Di samping itu, pada tahun yang
sama kotapraja Medan mulai memberlakukan Pajak Tontonan. Dan pada tahun itu pulalah
layanan pos mengalami perkembangan baru, karena gedung kantor pos Medan telah
dibangun pada lokasi yang berseberangan dengan bangunan Hotel De Boer dengan begitu
bangunan kantor pos juga memperindah kotapraja Medan yang baru mulai tumbuh dan
Selain itu, pada 5 Maret 1909 dikeluarkannya Surat Keputusan pemerintah Hindia
Belanda di Bogor dan ditandatangani oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutsz. Pada pasal 3
menyebutkan sebagai berikut :
“Di dalam kotapraja Medan, di luar tanah-tanah di bawah penguasaan militer, tidak
disediakan uang dari Keuangan Umum Hindia Belanda untuk keperluan :
a. Pemeliharaan,. Perbaikan dan pembaruan dan pembangunan jalan-jalan dengan
pekerjaan-pekerjaan yang temasuk di dalamnya, seperti penanaman pohon-pohon,
pembikinan tebing-tebing jalan dan sungai, benteng-benteng, pinggir-pinggir jalan,
selokan-selokan, perigi-perigi, batu kilometer, papan nama, jembatan-jembatan,
bubusanbubusan, turap-turap, dinding-dinding beton di pinggir sungai; juga darii
pekerjaan-pekerjaan lain untuk kepentingan umum sepertilapangan-lapangan,
kebun-kebun, parit-parit pembuangan air, saluran-saluran parit untuk menyiram roil,
pekerjaan-pekerjaan untuk memperoleh atau membagi air minum, air pencuci,
rumah potong, pasar-pasar, pajak-pajak (los-los pasar) dan lain-lain.;
b. Penyiraman jalan-jalan umum, pengangkutan sampah-sampah sepanjang jalan-jalan
umum, lapangan-lapangan dan kebun-kebun.;
c. Penerangan jalan-jalan.;
e. Tanah-tanah pekuburan.; dengan oengertian bahwa untuk pembangunan
pekerjaan-pekerjaan yang luar biasanya mahalnya, dapat diberikan subsidi oleh pemerintah.19
Dari sumbber tersebut, maka sudah sejak masa penjajahan Belanda pengurusan
maslaah banjir yaitu dengan pembuatan sdaluran-saluran dan drainase sudah dikerjakan
namun hingga kini maslaah ini memang membutuhkan tenaga, pikiran dan biaya yang tidak
sedikit. Oleh karena itu, permasalahan yang sudah mengakar ini untuk selanjutnya dapat
dipecahkan melalui metode-metode baru yang dulu tidak diambil oleh pemerintah kota
Medan.
Demikianlah, selain pembangunan-pembangunan drainase untuk menambah kesan
kota yang akan dimiliki gemeentee medan, pemerintah HIndia Belanda melakukan berbagai
pembangunan dan begitu pula infrastruktur untuk menyokong kebutuhan masyarakatnya
seperti pemenuhan kebutuhan kehidupan kota. Pemenuhan kebutuhan kehidupan sebuah
perkotaan juga berhubungan dengan pusat perbelanjaan. Di Kota Medan, pada bulan Maret
1933 diresmikanlah pusat pasar yang menempati areal di sekitar Jalan Soetomo, yang saat
itu adalah Wilhelminestraat, dan Jalan Sambu (Hospitalweg). Pusat pasar itu meliputi
empat bangunan besar dan panjang yang megah. Diceritakan bahwa intelektual Belanda
yaitu burgermeester G. Pitlo pada saat itu sangat kagum pada kebudayaan Perancis. Dan
Karena itu ia membangun Centrale Passer seperti bangunan Les Halles (Pasar Sentral) di
Paris. Demikian pula halnya dengan bentuk dan pola taman-taman di Medan.
19
2.4 Fluktuasi Banjir di Kota Medan
Akibat pertumbuhan kota dari tahun ke tahun semakin tinggi, maka kehidupan
perkotaan yang dialami kota Medan pun tidak terlepas dari keterlibatan penduduknya
mengenai masalah banjir, pada masa penjajahan Belanda, banjir ataupun
genangan-genangan air telah banyak ditemukan kota Medan. Dan untuk mengatasi masalah ini,
pemerintah Belanda membuat parit-parit berukuran besar untuk meanmpung
genangan-genangan air ini, namun karena pada masa tersebut adalah masa yang sangat kacau
dikarenakan banyaknya pemberontakan-pemberontakan dan masalah politis, sehingga
masalah lingkungan ini tidak terperhatikan oleh pemerintah sehingga pelaksanaan drainse
primer yang dibuat oleh pemerinntah Belanda berkesan tergesa-gesa dan tampak belum jadi
seutuhnya. Sehingga keoptimalan drainase-drainase ini kurang mencapai sasaran dan pada
puncaknya adalah peristiwa banjir yang tejadi berulang dan terulang kembali hingga saat
ini. Selain itu, masalah banjir di kota Medan adalah disebabkan adanya penggundulan hutan
secara besar-besaran dengan tingkat frekuensi penebangan hutan yang terlalu cepat untuk
selanjutnya dijadikan lahan perkebunan adalah penyebab utama, berbeda dengan yang
dialami kota Medan pada saat ini.
Peristiwa banjir di kota Medan yang hampir rata-rata 10-12 kali/tahun sangat
dipengaruhi oleh kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli dan DAS Belawan di daerah
Bencana banjir di kota Medan sendiri sebagian besar terjadi di sepanjang Sungai
Deli berawal dari pegunungan Bukit Barisan pada ketinggian 1725 m di atas permukaan
laut hingga Selat Malaka dengan panjang 75,8 km mengalir ke kota Medan yang berada di
bagian hilir DAS Deli dengan ketinggian berkisar 0-40 m di atas permukaan laut
mempunyai luas DAS Deli seluas 481,62 km². Sungai ini merupakan saluran utama yang
mendukung drainase kota Medan dengan cakupan wilayah pelayanan sekitar 51 % dari luas
kota Medan.
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan unit ekosistem wilayah yang
komponen-komponennya terdiri dari subsistem lingkungan (lingkungan alam) dan subsistem sosial
ekonomi, dimana proses ekologi di dalam subsistem lingkungan berinteraksi dengan proses
yang terjadi dalam masing-masing subsistem. Diantara subsistem tersebut, subsistem sosial
dan ekonomi merupakan subsistem yang paling dinamis dan mempunyai potensi untuk
berpengaruh positif dan negatif terhadap subsistem alam. Dari uraian tersebut, dapat
dipahami bahwa pengelolaan DAS merupakan pengelolaan sumber daya alam yang dapat
pulih (renewable) seperti air, tanah dan vegetasi (ekosistem) dalam sebuah DAS dengan
tujuan untuk memperbaiki, memelihara dan melindungi keadaan DAS agar dapat
menghasilkan hasil air (water yield) untuk kepentingan pertanian, kehutanan, perkebunan,
peternakan, perikanan dan air minum masyarakat, industri, irigasi, tenaga listrik, rekreasi
Daerah Aliran Sungai (DAS) memikul beban yang semakin berat sehubungan
dengan tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya
alamnya yang intensif. Di sisi lain, tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang
sistem kehidupan, betapapun berbagai upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah telah
dilakukan selama ini, kondisiny masih jauh dari memadai, bahkan terdapat indikasi
belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun. Meningkatnya frekuensi banjir
Sungai Deli di kota Medan serta di beberapa wilayah lainnya merupakan indicator betapa
tidak optimalnya kondisi DAS di atas antara lain disebabkan adanya ketidakterpaduan antar
sector dan wilayah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan DAS tersebut.
Dengan kata lain, masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang kadangkala
bertolak belakang.
Ruas-ruas jalan Kota Medan selalu tergenang jika menerima curah hujan, meski
curah hujan yang terjadi relatif tidak terlalu lama. Ruas jalan itu adalah Jalan Willem
Iskandar, Jalan Letda Sujono, Jalan Raden Saleh, Jalan Stasiun, Jalan Sisinga Mangaraja,
Jalan Sutomo, Jalan Gatot Subroto, Jalan AH Nasution, Jalan Denai, Jalan Brigjen Katamso
dan Jalan Yos Sudarso.
Jumlah itu di luar ruas jalan kecil seperti Jalan Pelita II, Jalan Kapten Jamil Lubis, Jalan
lebih deras dan lebih lama, maka genangan airnya akan lebih tinggi dan tidak jarang
merendam rumah warga.
Jumlah ruas jalan yang tergenang itu semakin banyak jika dilihat ke pinggiran Kota
Medan yang yang merupakan daerah perbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kota
Binjai. Contohnya, daerah Lau Dendang, Percut, Desa Medan Estate dan Perumnas
Mandala Medan yang merupakan bagian Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang.
Demikian juga dengan daerah Sunggal dan Diski, Deli Serdang yang berbatasan langsung
BAB III
SEJARAH TERJADINYA BANJIR DI KOTA MEDAN 1970-1990
3.1 Peran Serta Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemeliharaan Drainase 3.1.1 Defenisi Banjir
Banjir adalah debit air yang melebihi besar kapasiitas pengaliran air tertentu.
Terdapat dua peristiwa banjir yaitu :
1. Peristiwa banjir atau genangan air yang terjadi pada daerah yang biasanya tidak
terjadi banjir.,
2. Peristiwa banjir karena limpahan air banjir dari sungai karena debit banjir tidak
mampu dialirkan oleh alur sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas
pengaliran sungai yang ada. Peristiwa banjir sendiri tidak menjadi permasalahan,
apabila tidak mengganggu manusia melakukan kegiatan pada daerah dataran banjir.
Maka perlu adanya pengaturan-pengaturan daerah daratan banjir untuk mengurangi
kerugian akibat banjir (Flood Plain Management)
Sumber genangan- genangan air atau banjir di kota Medan dapat dibedakan menjadi
1. Banjir kiriman, aliran banjir yang datangnya dari daerah hulu di luar kawasan yang
tergenang. Hal ini terjadi jika hujan yang terjadi di daerah hulu menimbulkan aliran
banjir yang melebihi kapasitas sungainya atau banjir kanal yang ada, sehingga
terjadi limpasan.
2. Banjir lokal, genangan air yang timbul akibat hujan yang jatuh di daerah itu sendiri.
Hal ini dapat terjadi jika hujan yang terjadi melebihi kapasitas system drainase
yang ada. Pada banjir lokal, ketinggian genangan air antara 0,2-0,7 m dan lama
genangan antara 1-8 jam. Terdapat pada kawasan dataran rendah.
3. Banjir rob, banjir yang terjadi baik akibat aliran langsung air pasang, atau air balik
dari saluran drainase akibat terhambat oleh air pasang. Banjir pasang merupakan
banjir rutin akibat air laut pasang yang terjadi pada kawasan Medan Belawan.20
Banjir merupakan permasalahan yang menghampiri setiap kota-kota besar di
Indonesia tanpa terkecuali kota Medan. Dalam rangka pembangunan kota Medan, pihak
Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dan Pemerintah kota Medan telah banyak melakukan
kebijakan pembangunan untuk mendukung kota Medan menjadi kota Metropolitan seperti
penataan pembangunan pemukiman, gedung-gedung pertokoan, perbaikan dan
pembangunan sarana tramsportasi di seluruh kota Medan. Masalah banjir adalah masalah
utama yang dihadapi pemerintah kota Medan, terutama daerah pinggiran kota Medan yang
20
sering berdampak langsung kepada seluruh anggota masyarakat yang terkena banjir yang
melanda daerah permukiman dan perumahan mereka.21
Pada tanggal 23 Desember 1992 dimana seluas 1.513 Ha areal tergenang air dengan
kedalaman 1.5 meter meliputi daerah pemukiman, jalan, perkebunan dan transportasi
umum di sepanjang aliran sungai Sei Badera. Kecamatan Medan Marelan merupakan
daerah yang paling banyak terkena dampak dari sering meluapnya air sungai Sei Badera
yang mengakibatkan banjir setiap tahunnya. Akibat dari banjir tersebut ialah lumpuhnya
kegiatan perekonomian masyarakat dan menghancurkan lahan areal pertanian dan
perkebunan penduduk serta sarana transportasi berupa jalan dan jembatan.
22
3.1.2 Debit Banjir
Banjir itu
sendiri dapat dilihat dari debit banjir dan volume air sungai yang meluap meskipun dalam
setiap kasus banjir debit dan volume banjir berbeda-beda.
Penelitian banjir di kota Medan dapat diperoleh melalui kegiatan analisis hidrologi
yang secara umum hasilnya dapat berupa debit banjir maksimum, volume banjir, atau
hidrograf banjir. Metode rasional bertujuan untuk memperkirakan debit puncak. Rumus
yang digunakan adalah Qp = k C I A
Dimana Qp : Debit puncak (m3 /detik)
21
Haldun, Muhammad, Implikasi Normalisasi Sungai Sei Badera Terhadap Permukiman
Masyarakat di Kecamatan Medan Marelan (Thesis), Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara, 2008, hlm. 75-76 22
k : 0,278
C : Koefisien limpasan tergantung pada karakteristik DAS
I : Intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
A : luas DAS (km2) 23
Yang dimaksud dengan sungai adalah sungai secara umum, baik sungai besar
maupun sungai kecil. Sungai merupakan refleksi dari daerah yang dilaluinya. Faktor-faktor
seperti kualitas air (unsur kimia dan temperatur), habitat yang ada (flora dan fauna), kondisi
hidrolik sungai (debit muka air, frekuensi aliran dan lain-lain), dan morfologi sungai dapat
dipakai sebagai indikator untuk menganalisa kondisi daerah aliran sungai tersebut. Jika di
daerah sekitar sungai banyak aktifitas dengan kualitas penjernihan air limbah yang tidak
memadai, maka kualitas air sungai (terutama sungai kecil dan menengah) tersebut juga
akan terlihat jelas menurun. Jika suatu daerah relatif tandus, maka akan direkam oleh sungi
kecil yang direfleksikan ke dalam bentuk kurva hidrografiknya dengan waktu mencapai
puncak yang pendek dan debit puncak yang tinggi serta waktu kering yang lama.
3.1.3 Defenisi Sungai
24
23
Hasibuan, Gindo Maraganti., Peran Serta Masyarakat dan Kelembagaan Terpadu dalam
Pengelolaan banjir di Kota Medan (Studi Kasus Banjir Kota Medan), Medan, 2005, hlm. 31
24
Maryono, Agus., Ekohidrolik Pembangunan Sungai, Menanggulangi Banjir dan Kerusakan
Lingkkungan Wilayah Sungai, Yogyakarta : Magister system Teknik Program Pasca Sarjana UGM, 2005,
Sungai merupakan komponen ekodrainase utama pada system sungai yang
bersangkutan. Konsep alamiah ekodrainase adalah bagaimana membuang air kelebihan
selambat-lambatnya ke sungai. Sehingga sungai-sungai alamiah mempunyai bentuk yang
tidak teratur, belokan-belokan dan lain-lain. Bentuk-bentuk ini pada hakikatnya berfungsi
untuk menahan air supaya tidak dengan cepat mengalir ke hilir serta menahan sediment. Di
samping itu drainase juga berperan dalam rangka menurunkan enerji air tersebut.
Sungai alamiah umumnya memiliki angka kekasaran dinding yang tinggi. Jika
dibandinngkan dengan sungai yang telah diluruskan, sungai alamiah memiliki kemampuan
mengalirkan debit aliran lebih kecil pada tinggi muka air yang sama. Pada proyek renovasi
sungai (renaturalisasi perlu dipertimbangkan kenaaikan muka air akibat kenaikan kekasaran
dinding sungai).
3.1.4 Kondisi drainase
Sebagian besar saluran drainase utama kota Medan, baik yang alamiah maupun
buatan, di bagian hilir mempunyai elevasi dasar saluran lebih rendah dari pada elevasi dasar
sungai. Hal ini menyebabkan sedimentasi serius dan menimbulkan pendangkalan. Sistem
ini menimbulkan kerancuan dalam upaya pengelolaan dan pengawasan bangunan liar di
sepanjang tepi sungai.
Kondisi saluran drainase yang lebih kecil juga tidak kalah memprihatinkan.
Kapasitas saluran makin hari makin menurun akibat sedimentasi, sampah, dan
pemeliharaan yang kurang. Tidak mengherankan jika sampai saat ini masalah banjir
kiriman dan banjir pasang merupakan masalah yang beluim terpecahkan. Genangan air dan
banjir masih selalu terjadi, terutama pada saat musim hujan. Hal ini akan semakin sulit
diatasi jika pengembangan kota tidak dapat dikendalikan dengan baik.
Konsep drainase konvensional yang selama ini dianut yaitu drainase didefinisikan
sebagai suatu usaha untuk membuang atau mengalirkan air kelebihan di suatu tempat
secepatnya menuju sungai dan secepatnya dibuang ke laut, menurut tinjauan hidrolik tidak
bisa lagi dibenarkan. Dengan konsep pembangunan secepat-cepatnya ini, akan terjadi
akumulasi debit di bagian hilir dan rendahnya konservasi ekologi di hulu. Sungai di hilir
akan menerima beban yang lebih tinggi sewaktu debit puncak lebit cepat dari pada keadaan
sebelumnya dan akan terjadi penurunan kualitas ekologi daerah hulu. Jika sungai kecil,
menengah dan besar dijadikan sarana drainase dengan konsep konvensional seperti diatas,
maka akan didapat suatu rezim saluran drainase sebagai ganti rezim sungai. Ekodrainase
diartikan suatu usaha mengalirkan air yang berlebih ke sungai dengan waktu seoptimal
munngkin sehinngga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai
Buruknya sistem drainase di kota Medan menyebabkan kota metropolitan ini kerap
digenangi air bila hujan datang. Ternyata kondisi ini menyebabkan aktivitas ekonomi
didalam dan luar kota Medan terganggu. Kondisi jalan-jalan rusak, seperi yang terlihat
dijalan Bahagia by Pass, Mandala by Pass, jalan Platina Raya, Marelan, Kawasan Padang
Bulan, dan jalan Letda Sujono adalah sebagian besar kawasan yang umumnya menjadi
kawasan sering tergenanng air, selain itu, jalan-jalan yang rusak itu tidak hanya berbahaya
apabila dilintasi pengendara jika tergenang air namun juga menyebabkan jalanan macet,
sehingga aktivitas perdagangan terhambat.
Curah hujan selama satu jam meluapkan sejumlah parit di wilayah kota Medan,
termasuk parit busuk, persis ketika seluruh ummat Islam melaksanakan sholat Jumat. Di
Kelurahan Sei Kera Hilir I dan II, Kecamatan Medan Perjuangan, hujan yang turun itu
mengakibatkan air parit yang meluap, jalan-jalan tergenang air, bahkan di setiap gang di
daerah itu, sehingga rumah warga sebagian dimasuki air.
Terdapat juga bangunan rumah penduduk di pinggir jalan yang menutupi saluran air
ke parit untuk kepentingan pribadi. Banjir setinggi lutut orang dewasa itu terjadi pada
sejumlah kelurahan pada tiga kecamatan yakni Kecamatan Medan Labuhan, Medan Deli
dan Medan Marelan.
Pemandangan jalan yang berlubang bagaikan kubangan tampaknya telah menjadi
penyakit kronis yang tak terobati. Pemerintah seolah-olah angkat tangan dan yang parahnya
semua, namun tingkat ketahanan aspal sangat rentan jika terjadi hujan lebat dan lalu
lalangnya angkutan bermuatan besar. Kondisi ini pun sangat rentan mengambil korban
jiwa, setidaknya selain kecelakaan lalu lintas sering terjadi kendaraan jadi cepat rusak. Oleh
sebab itu perbaikan jalan akan sia-sia jika sistem drainase di kota Medan tidak segera
ditangggulangi. Perbaikan drainase terlebih dahulu dibangun kemudian jalan yang rusak di
perbaiki kalau tidak perbaikan jalan akan sia-sia.
Untuk diketahui, perbaikan drainase sudah pernah dilakukan dan nilai proyeknya
yang ratusan milyaran rupiah dengan nama Metropolitan Medan Urban Development
projek (MMUDP). Terangkum dan proyek tersebut sebagai proyek perbaikan sistem
drainase untuk kawasan Medan, Deli Serdang dan Binjai (Mebidang). Namun sayangnya,
pemanfaatan dan pertanggungjawabannya tidak jelas.
Pada masa periode walikotamadya A.S. Rangkuty (1980-1990) sebuah proyek
raksasa dalam upaya mengatasi perkembangan dan penataan kotamadya Medan dengan
nama Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP). Proyek ini
membutuhkan dana yang luar biasa besar jumlahnya dan pemerintah terpaksa melakujkan
pinjaman-pinjaman ke berbagai instansi.25
25
Tim Penguumpulan, Penelitian dan Penulisan Sejarah Perkembangan pemerintahan Kotamadya Daerah Tingkat II medan , Op Cit, hlm. 232
Menurut catatan, MMUDP yang dilaksanakan
pada tahun 1990-an memiliki dana sebesar 138 juta dollar Amerika yang berasal dari