• Tidak ada hasil yang ditemukan

Banjir Di Kota Medan: Suatu Tinjauan Historis 1971-1990-An

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Banjir Di Kota Medan: Suatu Tinjauan Historis 1971-1990-An"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an

SKRIPSI SARJANA

Dikerjakan O

l e h

NAMA : Piolina NIM : 040706025

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an

SKRIPSI SARJANA OLEH

NAMA : Piolina NIM : 040706025

Pembimbing,

Dra. Nina Karina, M.SP NIP. 131 460 525

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an Yang diajukan oleh :

NAMA : Piolina NIM : 040706025

Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh : Pembimbing,

Dra. Nina Karina, M.SP tanggal………. NIP. 131 460 525

Ketua Departemen Sejarah,

Dra. Fitriaty Harahap, SU tanggal………. NIP. 131 284 309

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(4)

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

BANJIR DI KOTA MEDAN : SUATU TINJAUAN HISTORIS 1971-1990-an SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN O

l e h

NAMA : Piolina NIM : 040706025 Pembimbing,

Dra. Nina Karina, M.SP NIP. 131 460 525

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan,

Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra

Dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(5)

Lembar Persetujuan Ketua Jurusan

DISETUJUI OLEH :

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH

Ketua Departemen,

Dra. Fitriaty Harahap, SU NIP. 131 284 309

(6)

Lembar pengesahan skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian

Diterima oleh.

Panitia Ujian Fakultas Sastra Uneversitas Sumatera Utara

Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra

Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra USU Medan.

Pada :

Hari :

Tanggal :

Fakultas Sastra USU Dekan

Drs. Syaifuddin, M.A,. Ph.D Nip 132 098 531

Panitia Ujian.

No. Nama Tanda Tangan

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala kasih saying dan

karunia-Nya yang tiada tara sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Ibu Dra. Nina Karina, M. SP sebagai pembimbing dalam penulisan skripsi ini

yang telah begitu banyak memberikan dorongan, semangat, dan telah

meluangkan waktu untuk membimbing penulis.

2. Bapak Pimpinan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, penulis tak lupa

mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan selama

mengikuti perkuliahan.

3. Ibu Dra. Fitriaty Harahap S.U, selaku Pimpinan Departeman Sejarah yang

telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama dalam perkuliahan.

4. Ibu Dra. Nurhabsyah M.Si, selaku Sekretaris Departemen Sejarah yang telah

banyak memberikan bantuan kepada penulis baik selama dalam perkuliahan

maupun dalam penyusunan skripsi ini.

5. Seluruh Dosen, Staf Pengajar, Staf Administrasi pendidikan Departemen

Sejarah yang telah banyak membantu penulis dari mulai masa perkuliahan

hingga dalam penyelesaian skripsi ini. Terkhusus penulis ucapkan kepada

Bapak Edi Sumarno yang telah memberikan masukan-masukan kepada

penulis. Semoga Allah SWT yang akan membalas semua kebaikan yang telah

diberikan kepada penulis amin.

6. Ibu Dra. Penina Simanjuntak, MS., selaku Dosen Wali yang telah banyak

(8)

hingga penyusunan skripsi ini. Semua nasehat yang ibu berikan akan selalu

penulis ingat.

7. Ayahanda Herman Tony Lopumeten dan Ibunda Diana Ketaren yang tercinta dan

tersayang yang telah membasarkan, mendidik dan menyekolahkan Ananda

serta tidak henti-hentinya memberikan do’a dan dukungannya kepada Ananda

selama dalam mengikuti perkuliahan. Segala bentuk nasehat dan petuah yang

Ayahanda dan Ibunda berikan senantiasa akan selalu Ananda ingat. Tak

mungkin Ananda dapat membalas semua pengorbanan yang Ayahanda dan

Ibunda berikan, hanya Allah SWT yang dapat membalasnya. Terakhir Ananda

hanya dapat memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar Ayahanda dan

Ibunda selalu mendapat lidunganNYA amin.

8. Kakakku Melony Juwita S.Pt., dan Abang Iparku Heru Sumantri S.Pt., yang telah

memberikan anjuran-anjuran dan saran-saran sehingga adikmu ini bisa

menamatkan sarjana mengikuti jejak kalian. Serta adik kecilku Giza Aura dengan

senyum manismu yang selalu bisa membuat kakak semakin semangat dalam

menyelesaikan skripsi ini.

9. Abang, Kakak senior dan alumni serta Adik-adik sejurusan terima kasih atas

dukungan yang kalian berikan. Sahabat-sahabat ku Stambuk 04 terkhusus

kepada Ains, Debby, Dence, Wardicha, Oriza, Debbi dan Iche serta bang

Cipleks 03 yang telah banyak memberikan dukungan kepada penulis. Semoga

Tuhan YME memberikan ganjaran yang setimpal atas semua kebaikan yang

telah diberikan.

10. Ija’s Familiy, Ibu’ Ijah dan Icha, terima kasih atas dukungan moril dan materi

yang telah diberikan, tak mungkin penulis dapat membelas semua kebaikan

yang telah diberikan, semoga Allah SWT memberikan ganjaran yang berlipat

(9)

Akhirnya untuk semua pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam

penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan beribu ucapan terima kasih. Semoga

Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan dengan ganjaran yang

berlipat ganda.

Medan, Maret 2009.

Penulis,

(10)

DAFTAR ISI

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN……….. 15

2.1. Sejarah Berdirinya Kampung Medan……… 16

2.2 Perkembangan Kota Medan Melalui Pertumbuhannya….... 19

2.3 Kota Medan Menjadi Gemeentee 1918……… 23

2.4 Fluktuasi Banjir di Kota Medan ………..…… 28

BAB III SEJARAH TERJADINYA BANJIR DI KOTA MEDAN 1970-1990………..………... 32

3.1 Peran Serta Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemeliharaan Drainase………..…….... 32

3.1.1 Defenisi Banjir………..……….. 32

3.1.2 Debit Banjir………..……….. 34

3.1.3 Defenisi Sungai………..………. 34

3.1.4 Kondisi drainase………..………... 36

3.1.5 Penanganan drainase………..…………... 40

3.2 Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Debit Aliran……… 44

3.3 Manajemen Tata Air Kota Medan………..…... 53

(11)

3.5 Urbanisasi dan Aspek Sifat-sifat Wilayah Perkotaan………... 57

BAB IV DAMPAK DAN PENANGGULANGAN BANJIR DI KOTA MEDAN………..……….... 60

4.1 Kerugian yang Diderita………..……….. 60

4.2 Kerusakan Lingkungan………..………. 61

4.3 Perencanaan Wilayah Sungai Deli Terpadu dan Menyeluruh………..………... 63

4.3.1 Konsep Pengelolaan DAS Terpadu……… 63

4.4 Pembiayaan Dana Operasi dan Pemeliharaan……….. 68

4.5 Peran Serta Masyarakat dan Pemerintah Kota Medan ………... 69

4.6 Pembentukan Lembaga dan Dewan Kota………... 70

BAB V PENUTUP………..………..…………... 73

5.1. Kesimpulan………..………..……... 73

5.2. Saran………..………..………. 74

(12)

Abstrak

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Perkembangan Jumlah Penduduk di Kampung Medan

Hingga Menjadi Kota Medan dari Tahun 1823-1965………. 18

2. Data Penggunaan Lahan pada DAS Deli………. 47

3. Isu Dan Permasalahan Di Metropolitan Mebidang... 53

4. Profil DAS Deli……….... 63

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Daftar Informan……… 80

Daftar Gambar 1. Suasana ketika terjadi banjir di jalan Gatot Subroto km. 8,5……… 81

2. Medan Flood Control Project 1990……… 81

3. Suasana banjir Jln. Asia Medan 1980……… 82

4. Banjir membuat masyarakat kesulitan keluar rumah………. 82

5. Tepian Sungai Deli. Jembatan Helevetia. Medan………. 83

6. Medan Flood Control 1990………. 83

7. Banjir di Kelurahan Aur………. 84

8. Sungai Deli 84 9. Menara Ayer Bersih……….. 85

10. Enterpreuner Kota Medan Tjong A Fie bersama Staf Deli Bank….. 85

11. Perkembangan Kota Medan awal abad ke-20……….. 86

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara yang besar adalah Negara yang menghargai jati diri bangsanya dan jati diri

sebuah bangsa hanya dapat dibuktikan melalui observasi perjalanan empunya yaitu

sejarahnya. Oleh karena itu, dimanapun kita berpijak pada salah satu sudut dunia ini, tidak

membutuhkan banyak waktu untuk menemukan jejak-jejak peninggalan berharga berupa

perbuatan manusia di masa lalu. Dan sebuah peristiwa temporal yang menghebohkan umat

manusia tidak akan mudah terlupakan begitu saja karena manusia memiliki hasrat untuk

membuktikan kemampuannya, melalui peristiwa tersebut agar terus menerus diingat dan

dikenang dari masa ke masa. Karena kebesaran masa lalu adalah sumber inspirasi bagi

sebuah bangsa, dimanifestasi secara fenomental dalam pembangunan sebuah kota. Begitu

pula sejarah perkotaan, sejarah perkotaan belum banyak mendapat perhatian dari kalangan

sejarawan akademis.1

Seperti yang terjadi pada Negara-negara berkembang maka penduduk di daerah

perkotaan di Indonesia sejak decade 1950 cenderung meningkat. Antara tahun 1950-1960

laju pertumbuhan penduduk di Indonesia 3 % per tahun kemudian pada tahun 1961-1970

meningkat menjadi 3,6 % per tahun dan pada dasawarsa 1971-1981 mencapai angka sekitar

1

(16)

5 %.2 Namun, yang kemudian selalu menjadi persoalan adalah pengendalian pertumbuhan

dan perkembangan kota itu yang harus diseimbangkan dengan daya dukung

lingkungannya.3

Perkembangan dan kemajuan kota diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dan

sebagai konsekuensinya perkembangan kegiatan usaha ekonomi maupun social dari

peningkatan penduduk. Beberapa hal yang menjadi daya pikat kota antara lain pertumbuhan

ekonomi, perluasan tenaga kerja serta fasilitas infrastruktur kota itu sendiri atau wilayah

sekitarnya. Ketika daya dukung kota terlampuai maka timbul berbagai macam

permasalahan seperti meningkatnya kebutuhan akan fasilitas infrastruktur. Akibatnya

perubahan tata guna lahan berdampak negative kepada kota itu sendiri terutama

menurunnya tingkat kenyamanan akibat terbatasnya areal tanah yang ada. Secara lebih

khusus perubahan tersebut berdampak pada banjir dan genangan yang cenderung

meningkat dari waktu ke waktu.4

Kota-kota besar di Indonesia mengalami peningkatan populasi mausia karena daya

pikat yang merangsang manusia berpindah dari desa ke kota. Lahan-lahan yang sebelumnya

untuk daerah suaka alam sehingga menjaga keseimbangan, diambil alih untuk pemukiman,

industri dan lainnya. Namun, dampaknya dapat kita rasakan sangat besar, seperti banyak

2

Kodoatie, Robert J dan Sugiayanto, Banjijr, Beberapa Penyebab dan Metode Pengendaliannya

Dalam Perspektif Lingkungan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002., hlm. 1

3

ibid, hlm. 3 4

(17)

kekacauan medis dan sebab-sebab kematian lainnya dan ketidakmampuan, berkaitan

dengan urbanisasi.5

5

McNaughton., Wolf, Larry C, Ekologi Umum (terj) Sunaryo Pringsoseputro da Srigandono, Yogyakarta : UGM Press, 1990, hlm. 1000

Meskipun begitu, letak geografis juga sangat mempengaruhi keadaan lingkungan

suatu daerah. Factor ini menyebabkan keuntungan dan kerugian bagi penduduk yang

bertempat tinggal pada daerah tersebut. Salah satunya yang banyak merugikan manusia saat

ini adalah bencana banjir yang secara matematis tidak dapat terelakkan.

Masalah banjir di kota Medan agaknya tidak terlepas dari kondisi geografis kota ini

yang memang dilalui sejumlah sungai besar dan sungai kecil beserta beberapa anak sungai

lainnya. Sungai besar yang membelah kota Medan, adalah sungai Belawan, sungai Deli,

sungai Percut dan sungai Kera serta sungai Babura.

Sebagaimana kita ketahui, kota Medan adalah sebuah kota yang kecepatan laju

perekonomian dan aspek sosailnya lainnya tergolong sangat pesat. Dimulai dari

didirikannya sebuah kampung kecil oleh seorang petinggi bangsawan Karo, hingga kota ini

berubah menjadi sebuah kota praja, pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan dan

lain sebagainya. Dengan adanya perkembangan tersebut, menyebabkan minat sangat besar

dari penduduk sekitar kota Medan untuk hijrah dan melakukan urbanisasi yang sangat besar

jumlahnya sehingga menjadi perhatian utama pemerintah kota Medan. Oleh karena itu,

pemerintah kota Medan berupaya untuk mengentaskan masalah ini melalui pemekaran

(18)

Sejarahnya, sejak tahun 1918 Medan telah berupa kotapraja kecuali kota Maksum

dan daerah sungai Kera yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Deli. Ketika itu

penduduknya berjumlah 43.826 orang yang terbagi ke dalam bangsa Eropa sebanyak 409

orang, bangsa Pribumi sebanyak 25.000 orang bangsa Cina sebanyak 8.269 orang dan

bangsa lainnya sebanyak 130 orang. Kemudian melalui Keputusan Gubernur Propinsi

Sumatera Utara no. 66/III/PSU menyatakan bahwa mulai tangga 21 September 1951 kota

Medan diperluas hingga tiga kali lipat. Disusul Maklumat Walikota no.21 tanggal 29

Sepetember 1951, luas teritorialnya menjadi 5.130 ha dengan 4 kecamatan yaitu Kecamatan

Medan, Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Barat, dan Kecamatan Baru. Melalui

UU Darurat no.7 dan 8 tahun 1956 Propinsi Daerah Tingkat II dibagi menjadi Kabupaten

Deli Serdang dan Kotamadya Medan. Melalui Peraturan Pemerintah no. 22 tahun 1973,

pemerintah memasukkan sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang ke kotamadya Medan

sehingga daerah ini memiliki luas 26.540 ha yang terdiri dari 11 kecamatan dan 116

kelurahan. Kemudian, melalui Surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri

no.140/2271/PUOD pada tanggal 5 Mei 1986, jumlah kelurahan ditambah menjadi 144 dari

11 kecamatan. Selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah RI no. 59 tahun 1991 tentang

pembentukan kecamatan termasuk dan kecamatan pemekaran di kotamadya Daerah

Tingkat II Medan sehingga dari 11 kecamatan diubah menjadi 19 kecamatan dan melalui

(19)

kecamatan di Sumatera Utara termasuk dua kecamatan pemekaran di kotamadya Daerah

Tingkat II Medan, sehingga dari 19 kecamatan menjadi 21 kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Medan Kota : 26 kelurahan

2. Kecamatan Medan Timur : 18 kelurahan

3. Kecamatan Medan Barat : 13 kelurahan

4. Kecamatan Medan Baru : 18 kelurahan

5. Kecamatan Medan Deli : 6 kelurahan

6. Kecamatan Medan Labuhan : 7 kelurahan

7. Kecamatan Medan Johor : 11 kelurahan

8. Kecamatan Medan Sunggal : 14 kelurahan

9. Kecamatan Medan Tuntungan : 11 kelurahan

10.Kecamatan Medan Denai : 14 kelurahan

11.Kecamatan Medan Belawan : 6 kelurahan

12.Kecamatan Medan Amplas : 8 kelurahan

13.Kecamatan Medan Tembung : 7 kelurahan

14.Kecamatan Medan Area : 12 kelurahan

15.Kecamatan Medan Polonia : 5 kelurahan

16.Kecamatan Medan Maimun : 6 kelurahan

17.Kecamatan Medan Selayang : 6 kelurahan

(20)

19.Kecamatan Medan Petisah : 7 kelurahan

20.Kecamatan Medan Marelan : 4 kelurahan

21.Kecamatan Medan Perjuangan : 9 kelurahan6

Akibat adanya pemekaran wilayah yang dilakukan beberapa kali oleh pemerintah

kotamadya Medan, hasil statistic jumlah penduduk kota Medan menunjukkan pertumbuhan

yang sangat pesat yaitu : interval jumlah penduduk pada tahun 1971-1980 sebesar 635.562

– 1.378.9557, serta persentase pertumbuhan penduduk pada tahun 1961-1971 yang berada

pada level 2,90 % pada tahun 1971-1980 naik hingga 3,58 % dan angka ini semakin

bertambah.8

Masalah pengrusakan lingkungan dengan salah satu dampaknya adalah banjir di

kota Medan, yang telah berlangsung dari tahun ke tahun dan hasilnya kesengsaraan bagi Maka dari itu, apabila kita berbicara mengenai masalah urbanisasi yang dikaitkan

dengan dampak lingkungan hidup fisik, dan social kota, maka kita tidak dapat mrlepaskan

diri dari pengaruh perkembangan kota, kemajuna industri, teknologi dan pembangunan.

Akibat dari perkembangan dan pembangunan dapat menimbulkan berbagai jenis dampak

lingkungan hidup baik yang positif maupun yang negative. Dampak ini bagi lingkungan

kota yang bersifat negative dapat timbul di berbagai kota di dunia dan terutama di Negara

berkembnag, termasuk kota-kota di Indoneia.

6

Badan Pusat Statistik Medan Dalam Angka Thaun 1999., hlm xiii-xvi 7

Kantor Statistik Propinsi Sumatera Utara dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat II *ropinsi Sumatera Utara, Sumut Dalam Angka 1988, hlm. 42

8

(21)

masyarakat dan pemandangan yang tidak lagi indah dari suatu kota dan tentu saja hal ini

menyebabkan kota cenderung terkesan kumuh. Menurut Badan Pusat Statistik kotamadya

Medan, banjir pada tahun 1987 terjadi sebanyak 11 kali begitu pula pada tahun 1988,

sedangkan pada tahun 1989-1990 masing-masing pernah mengalami banjir sebanyak 1-2

kali. Kerugian akibat bencana alam ini terhitung hingga ratusan juta rupiah yaitu sekitar Rp.

428.000.000 pada tahun 1986-1990. Jumlah yang tidak sedikit pada kurun waktu tersebut.9

9

Kantor Badan Pusat Statistik kotamadya Medan, Kotamadya Medan Dalam Angka Tahun 1991, hlm. 112-113

Persoalan banjir di kota Medan ternyata kini sudah menjadi penyakit kronis dan jadi

tradisi tahunan. Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan, dan tidak terhitung berapa

dana yang telah tercurahkan di berbagai proyek penanganan banjir kota ini. Selama sepuluh

tahun terakhir saja upaya penanangan banjir sudah menghabiskan sedikitnya Rp. 300

miliar. Namun, kenyataaannya dana tersebut seperti air di padang pasir, seluruh uang rakyat

itu habis entah ke mana, sementara banjir terus menjadi kegelisahan bagi masyarakat kota

Medan.

Namun, sampai sekarang banjir masih saja menghantui 2,1 juta jiwa masyarakat

kota Medan. Ini karena banjir kini tidak bergantung jika hujan turun di hulu sungai Deli

saja, hujan di kota Medan pun bisa menyebabkan orang Medan bermasalah dengan

genangan-genangan air di mana-mana. Begitu pula sejumlah kawasan permukiman padat

penduduk yang menjadi langganan rendaman banjir, terutama kalau hujan deras mengguyur

(22)

Untuk menuntaskan banjir, pihak pemerintah kota Medan pernah memakai jasa tim

konsultas dari Belanda untuk menemukan jalan keluar untuk air yang selama ini

membanjiri kota Medan. Dari penelitian tersebut, antara lain diidentifikasi masalah

sedimentasi atas drainase serta kecenderungan warga masyarakat yang selalu terbiasa

membuang sampah ke sungai dan parit, hingga menyebabkan banjir selalu terjadi di

Medan.

Saat ini langkah darurat pemerintah kota Medan dalam menangani banjir, yaitu

dengan menggiatkan program pembersihan drainase di lokasi rawan banjir. Selanjutnya,

Dinas Pekerjaan Umum Medan juga terus melancarkan pemetaan lokasi genagan air setiap

musim hujan untuk persiapan darurat jika hujan lebat melanda kota Medan. Tidak

menampik bahwa beralihfungsinya daerah resapan menjadi permukiman juga turut

menambah kuantitas banjir di kota Medan. Selain itu, pertumbuhan penduduk di sepanjang

bantaran sungai yang juga berpotensi menimbulkan penyempitan sungai. Sebagai

perbandingan, masyarakat kota Mdna harus mengambil pelajaran dari bencana banjir yang

terjadi di ibukota Jakarta dan juga di daerahnya sendiri yang disebabkan hilangnya daerah

resapan air karena terlalu banyak digunakan untukmembangun perumahan atau pertokoan.

Belajar dari peristiwa di Jakarta, maka warga kota Medan harus dapat mewaspadai

wilayah selatannya antara lain kawasan Sembahe, Pancur Batu, Namu Rambe, dan Deli

Tua sebagai wilayah perbukitan yang merupakan kawasan resapan air. Jangan sampai

(23)

dialihkan menjadi komplek perumahan serta pembangunan villa dan bungalow. Hal ini

sangat berbahaya karena dapat mengancam daerah di bawahnya dari serangan banjir

sewaktu-waktu. Dari uraian-uraian ini jelaslah bahwa perubahan unsure-unsur lingkungan

dapat menjadi salah satu factor penyhebab terjadinyha bencana banjir.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana peristiwa banjir di kota Medan dan letak permasalahannya yang

menyebabkan dammpak langsung dan tidak langsung pada masyarakat kota.

2. Bagaimana penganggulangan bencana banjir yng diupayakan oleh pemerintah dan

peran serta masyarakat kota Medan beserta swasta yang terkait.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yang penting tentunya, bukan

hanya bagi peneliti tetapi juga bagi masyarakat umum.

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui bagaimana peristiwa banjir di kota Medan dan letak

permasalahannya yang menyebabkan dampak langsung dan tidak langsung pada

(24)

2. Untuk mengetahui bagaimana penganggulangan bencana banjir yng diupayakan

oleh pemerintah dan peran serta masyarakat kota Medan beserta swasta yang terkait.

Manfaat dari penelitian ini, yaitu:

1. Sebagai tambahan referensi bagi masyarakat umum dalam mengetahui sejarah

bencana banjir di kota Medan agar selurh jajaran masyarakat dan pemerintah kota

sadar akan lingkungannya yang dapat menyebabkan banjir.

2. Menambah inventarisasi sumber sejarah lokal umumnya di daerah Propinsi

Sumatera Utara dan khususnya bagi masyarakat kota Medan dan sekitarnya.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian di dalam penelitian ini berkisar pada tahun 1971-1990.

awal penelitian dimulai pada tahun 1970-an karena penulis menganggap pada kisaran tahun

1970-an kotamadya Medan mengalami pemekaran wilayah untuk pertama kalinya sehingga

hal ini diyakini sebagai tindakan awal untuk memperhitungkan masalah urbanisasi di kota

Medan. kemudian, penelitian akan diakhiri pada tahun 1990 yang menampakkan

perbandingan yang cukup besar mengenai bencana banjir yang terjadi di kota Medan. jika

kurangnya intensitas bencna banjir pada akhir tahun 1990-an, maka penelitian yang

menyangkut campur tangan pemerintah dan masyarakat kota Medan patut diadakan.

Kerangka pemikiran yang digunakan adalah pemikiran mengenai amnesia sejarah

(25)

disaster) berulang terjadi setiap tahun, serta ttidak adanya upaya penangan bencana ini

secara permanen, maka kondisi ini adalah sebuah pertanda terjadinya amnesia sejarah

bencana di dalam memori kolektif masyarakat. Banjir sebagai sebuah amnesia sejarah bisa

diartikan sebagai sebuah kondisi dimana masyarakat kita secara personal maupun kolektif

menjadi kehilangan ingatannya tentang bencana banjir ketika bencana itu berlalu. Dalam

kondisi ini, semua pihak akan ribut dan saling menyalahkan ketika bencana banjir terjadi.

Namun, kita segera melupakannya ketika bencana banjir itu bencana banjir itu berlalu.

Demikian seterusnya kondisi ini terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun.

Kondisi amnesia sejarah yang terulang ini sebenarnya sangat bebahay kalau tidak

ditanggulangi. Ketika kesadaran kolektif masyarakat tentang bencana hilang, maka

masyarakat secara sadar maupun tidak sadar akan membenarkan klaim pemerintah bahawa

banjir adalah bencana alam, yang lama kelamaan masyarakat kita menjadi terbiasa akan

keadaan ini. Di sis lain, kesadaran palsu (false conciousness) masyarakat yang disebabkan

oleh adanya amnesia ini sangat menggemberikan pihak yang selama ini menikmati

keuntungan dari eksploitasi hutan yang menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang,

seperti pengusaha dan pemerintah yang gagal dalam menangani banjir secara permanen.

Permasalahan banjir sebenarnya adalah permasalahan dampak banjir terhadap

manusia. Fenomena banjir sebenarnya fenomena alamiah di dataran banjir. Namun banjir

menjadi masalah ketika aktivitas manusia berada di daerah rawan banjir, sehingga banjir

(26)

seperti pembuangan sampah hanalah secuil dari permasalahan yang menyebabkan banjir.

Penyebab banjir yang utama tentunya curah hujan yang berlebih sehingga menyebabkan

tingginya debit air sungai. Permsalahan banjir terbesar adalah penggunaan lahan di daerah

rentan banjir (flood plain) oleh manusia, sehingga manusia menerima dampak banjir.

1.5 Tinjauan Pustaka

Di dalam penelitian ini penulis menggunakan buku yang berkaitan tentang masalah

perkotaan di Indonesia umumnya dan khususnya mengenai masalah banjir di kota Medan

pada kisaran tahun 1970-1990 diantaranya :

Buku yang ditulis oleh Kodoatie, Robert J dan Sugiyanto, Banjir, Beberapa

Penyebab dan Metode Pengendaliannya Dalam Perspektif Lingkungan, Yogyakarta :

Pustaka Pelajar, 2002. secara umum berisi tentang masalah banjir, penyebab dan

penanggulangannya dikaitkan pada perspektif lingkungan. Di dalmnya juga terdapat

pembahasan mengenai dampak banjir terhadap suatu lapisan masyarakat meskipun hanya

membahas pada dimensi waktu kekinian sehingga buku ini dapat dikatakan hanya

berorientasi pada unitemporal dan bukannya multitemporal walaupun menggunakan

multidimensional.

Efendi, Said, Strategi Pembangunan Menuju Kota Medan Bestari, Medan : Yayasan

Pola Pembangunan Daerah, 1997. di dalam buku ini kta dapat mengetahui berbagai strategi

(27)

strategi Bestari (Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah) seta strategi pemanfaatan potensi kota

peripheral (kota satelit yang mengelilingi kota induk) yang memuatkan kota Medan

sebagai kota inti dengan nama Mebidang (Medan, Binjai, Deli Serdang).

Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta : Tiara Wacana, 1994. Buku ini

merupakan langkah awal penulus dalam pencarian ide-ide dan pemikiran mengenai sejarah

perkotaan.

Colombijn, Freek., Darwegen, Martine., Baskoro, Purmawan., Khusyaini, Jhony

Alfian (ed)., Kota Lama Kota Baru, Sejarah Kota-kota di Indonesia, Yogyakarta : Ombak,

2005. Di dalam buku ini terdapat banyak informasi mengenai berbagai sejarah perkotaan di

Indonesia yang ditulis oleh penulis dari dalam negeri dan penulis asing.

Selain itu, penulis juga menggunakan literatur-literaur mengenai proyek

Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP) yang berkaitan dalam

menjawab permasalahan tentang kebijakan pemerintah untuk menanggulangi bencana

banjir. Pada tahun 1998, Asian Development Bank (ADB) memberikan bantuan kepada

pemerintah Republik Indonesia dengan nilai sekitar 116 juta dollar AS melalui

Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP). Pemerintah pusat sendiri dan

pemerintah propinsi (pemprop) Sumatera Utara diwajibkan menyediakan 82,2 juta dollar

AS untuk proyek tersebut sehingga total nilai proyek 198,2 juta dollar AS atau sekitar 1,68

(28)

Pembangunan ini menitikberatkan pada pengembangan infrastruktur permukiman

yang terbagi ke dalam dua sektor, yaitu drainase dan banjir kota. Seluruh pengerjaan

diprioritaskan pada pengoptimalan kembali Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sering

menyempit oleh maraknya bangunan liar. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan normalisasi

saluran air yang berada di kawasan kota. Namun, dari data yang diperoleh meski proyek

penanggulangan banjir dengan dana miliaran rupiah sudah ada namun banjir akibat hujan

tetap terlihat hampir di setiap sudut kota. Ironisnya, ruas jalan protokol yang berada di

pusat kota pun tak luput dari genangan air.

1.6 Metode Penelitan

Penulisan sejarah merupakan suatu karya ilmiah yang memerlukan adanya suatu

metode untuk menghasilkan suatu tulisan sejarah. Metode sejarah adalah proses

menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dari peninggalan masa lalu10.

Metode berupa aturan-aturan yang dirancang untuk membantu dengan efektif dalam

mendapatkan kebenaran dari suatu peristiwa sejarah. Metode sejarah bersifat ilmiah

jika dengan ilmiah dimaksudkan mampu untuk menentukan fakta yang dapat

dibuktikan dengan fakta, maka diperoleh hasil pemeriksaan yang kritis terhadap

dokumen sejarah dan bukan suatu unsur daripada aktualitas yang lampau11

10

Louis Gottscalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto dari judul

Understanding History, Jakarta: UI Press, 1985, hal. 32.

11

Ibid, hal. 143.

(29)

Tahap pertama dari penelitian ini adalah tahap heuristik yaitu: mengumpulkan

literatur termasuk bahan-bahan keterangan berkenaan dengan penelitian, data atau

laporan juga sebagai referensi digunakan situs internet dan wawancara dengan

informan-informan yang telah dipilih untuk mendapatkan keterangan lebih lengkap

dan mendalam. Dengan demikian penulisan skripsi ini dilakukan melalui studi

kepustakaan dan penelitian lapangan.

Dari data atau sumber yang terkumpul dilakukan kritik terhadap sumber agar

menjadi sumber yang dipilih. Langkah ini disebut kritik sumber, baik kritik intern

maupun kritik ekstern. Kemudian langkah berikutnya adalah interpretasi, yaitu

menafsirkan sumber-sumber yang terkumpul agar menjadi fakta yang valid. Langkah

yang terakhir adalah historiografi, yaitu penulisan secara sistematis dan kronologis.

Metode sejarah digunakan oleh penulis dengan tahapan-tahapan seperti

disebutkan di atas untuk menghasilkan tulisan bersifat ilmiah.

(30)

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN

Medan merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara dengan letak wilayah pada

posisi 30.30’ LU-30.48’ LU dan 980.39’BT-980.47’36”BT dengan ketinggian 0-40 meter

di atas permukaan laut. Suhu kota Medan pada pagi hari berkisar 23,70 ºC-25,10 ºC, siang

berkisar 29,20 ºC-32,90 ºC, dan pada malam hari berkisar 26 ºC-30,8 ºC. sedangkan

(31)

Posisi dan letak kota Medan berada di dataran pantai Timur Sumatera, persis di

antara Selat Malaka dan jajaran pegunungan yang membujur dari Barat Daya sampai

wilayah tenggara Pulau Sumatera menjadikan kota Medan daerah yang strategis baik untuk

menjalankan roda perekonomian hingga pusat kebudayaan, Medan adalah tempat yang

selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki kompeten dan kemampuan bertahan hidup

sebagai orang kota. Topografinya miring ke utara dan berada pada ketinggian 0-40 meter di

atas permukaan laut dengan kelembaban dan curah hujan yang relatif tinggi. Mengenai

curah hujan di Tanah Deli, Medan dapat digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama

yang berarti bagi waktu yang lebih banyak mendapat curah hujan dan Maksima Tambahan

yang berarti bagi waktu yang mendapat lebih sedikit curah hujan. Maksima Utama terjadi

pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan

Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan

intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.

Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir,

tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian

dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa di

samping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat

inilah pada waktu penjajahan Belanda berada di tempat yang bernama Bakaran Batu

(sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas

(32)

2.1. Sejarah Berdirinya Kampung Medan

Sebelum menjadi sebuah kota yang megah, kota Medan adalah sebuah

perkampungan yang disebut dengan kampung Medan yang pertama kali dibuka oleh Guru

Patimpus pada sekitar tahun 1590 di kawasan yang disebut Medan pada masa itu. Menurut

tradisi masyarakat setempat, perkampungan yang dibuka oleh Guru Patimpus itu disebut

kuta istilah dalam bahasa Karo karena Guru Patimpus adalah bangsawan berketurunan suku

Batak Karo. Kampung Medan sebagai sebuah kuta menjadi satu bagian di dalam kesatuan

kekuasaan tradisional suku Batak Karo yang dinamakan Urung Sepuluh Dua Kuta yang

juga disebut Hamparan Perak.

Sedangkan lokasi pertama kalinya diketahui letak kampung Medan adalah terletak

di sekitar pertemuan delta sungai Babura dan sungai Deli yaitu tepatnya di sekitar kantor

walikota Medan saat ini.

Sebenarnya mengenai sejarah awal kampung Medan banyak sekali yang belum

tergali sejak berdirinya pada sekitar tahun 1590 hingga kedatangan bangsa Belanda pada

tahun 1861 semisal keadaan budaya dan sosial yang berpengaruh di kampung Medan dan

aspek-aspek sejarah lainnya namun, dengan menelusuri keadaan alamiah masyarakatnya

kita dapat meniympulkan seperti keadaan masyarakatnya yang sebenarnya hingga saat ini

masalah kependudukan menjadi masalah utama bagi pemerintah kota Medan.

Sejarah berdirinya Kampung Medan diawali dari dimulainya penelitian

(33)

1823 saat seorang John Anderson telah berkunjung ke Kampung Medan yang mana

penduduknya hanya berjumlah sekitar 200 orang, dimana terdapat wilayah-wilayah yang

termasuk ke dalam kota Medan saat itu bernama Desa Pulo Brayan, Desa Babura dan

Kampung Jawa. Desa-desa ini adalah desa primer yang tumbuh dari keberagaman dan

heterogenitas masyarakatnya.

Pada waktu Belanda mulai melakukan penjajahannya di Deli, dalam kawasan yang

sekarang dikenal sebagai kota Medan sudah lebih dahulu terdapat sejumlah perkampungan

yang ditempati oleh penduduk suku bangsa Melayu dan Karo. Menurut perkiraan Residen

Riau, Netscher penduduk yang terdapat dalam wilayah kekuasaan Sultan Deli berjumlah

kira-kira 2000 orang pada masa itu, Labuhan Deli sebagai ibukota kerajaan Deli

berpenduduk kurang lebih 1000 orang, termasuk 20 orang Cina dan 100 orang India.

Sedang di Kampung Medan Puteri terdapat 50 rumah tangga pada waktu itu.12

Hingga kedatangan Jacobus Nienhuys, seorang pengusaha yang tertarik pada

perusahaan perkebunan, yang mula-mula mendirikan kantor pusat perkebunan Deli

Maatschappij di Kampung Medan Putri dipindahkan ke Labuhan Deli dan berhasilnya

panen tembakau pada tahun 1881 hingga mencapai 82.356 pak dan terjual dengan harga

tinggi di negeri Belanda menyebabkan bertambah banyaknya perusahaan-perusahaan

tembakau swasta dari berbagai negeri di luar Nusantara yang membuka usaha disini dan

diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya dari Eropa. Bidang pemerintahanpun secara

12

(34)

administratif turut menyusul kemajuan akibat merambahnya kemajuan di bidang

perkebunan ini. Pada sekitar tahun 1874 sudah dibuka 22 perusahaan perkebunan asing.

Akibat berkembang pesatnya perkebunan-perkebunan swasta, secara otomatis lahan

permukiman pun semakin bertambah luas yang diperuntukkan bagi pengusaha sendiri

maupun tenaga-tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjadi buruh perkebunan. Interaktif

antar bangsa ini menyebabkan semakin bertambah banyak pulalah imigran yang datang dan

pergi ke Kampung Medan. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel di bawah ini:

Tahun Jumlah Penduduk

Tabel 1. Perkembangan Jumlah Penduduk di Kampung Medan Hingga Menjadi Kota Medan dari Tahun 1823-1965 13

13

(35)

Dari tabel di atas jelaslah bahwa perkembangan jumlah penduduk kota Medan yang

cukup drastis menyebabkan tingkat urbanisasi yang tinggi sehingga dari analisa yang

didapat bahwa jumlah penduduk yang semakin meningkat dapat menimbulkan gejala-gejala

masalah kependudukan dimana pada akhirnya akan membawa masyarakat itu sendiri pada

persoalan banjir yang didasari pada konsep lingkungan yang tidak seimbang antara manusia

dan alamnya.

2.2 Perkembangan Kota Medan Melalui Pertumbuhannya

Perkembangan kampung Medan menjadi sebuah kota berhubungan erat dengan

dibukanya perkebunan-perkebunan asing yang mengambil keuntungan dari komoditi

ekspor ketika itu. Kesuksesan perkebunan-perkebunan ini diawali setelah berita kehebhan

yang ada di negeri Belanda ketika Jacobus Nienhuys membawa hasil panen tembakau ke

negeri Belanda dengan kualitas terbaik dan mencapai keuntungan yang besar. Maka dari

banyak pengusaha-pengusaha perkebunan mengadu peruntungan di tanah Deli yang juga

dijuluki sebagai Paris van Sumatera ini.

Setelah dibukanya perkebunan-perkebunan tembakau swasta, maka keadaan

kampung Medan telah beubah menjadi sebuah kampung yang sudah dapat dikatakan

sebagai sebuah kota karena jumlah penduduknya telah mengalami peningkatan yang cukup

tinggi. Maka dari itu, dari pihak pemerintah Belanda memiliki ide untuk memindahkan

(36)

dipindahkan ke kota Medan karena lokasinya yang strategis, mudah dijangkau dari daratan

dan lautan. Maka, ide itu disetujui oleh Gubernur Sumatera Timur sehingga kota Medan

menjadi Ibukota Keresidenan Sumatera Timur. Sejak Medan menjadi ibukota Keresidenan

Sumatera Timur pada tanggal 1 bulan Maret tahun 1887 maka tumbuhlah

kampung-kampung seperti Petisah Hulu, Petisah Hilir, kampung-kampung Sungai Rengas, Kampung Aur dan

Kampung Keling. Kemudian muncul kampung lain yang masuk ke wilayah Sultan Deli

yaitu Kampung Maksum, Kampung Baru, Kampung Sungai Mati dan lain-lain.

Dalam rangka kota Medan bersiap menjadi ibukota Sumatera Timur, sejak tahun

1886 dicari cara untuk membenahi kota agar pantas dalam kedudukan itu. Saluran-saluran

yang lama diganti dengan sistem drainase yang baik, jalan-jalan diaspal, penerangan listrik

dipasang kecuali air minum yang kondisinya belum baik. Komiaris-komisaris dari Deli Mij,

tuan-tuan perkebunan seperti Tuan P. Kolf dan J. van Vollenhoven berhasil membujuk

direksi mereka untuk mengatasi hal ini. Kemudian dibangunlah perusahaan air minum

(PDAM Tirtanadi saat ini) pada akhir 1907 dengan kemampuan tandon air 1200 m³ dengan

21 km menyuplai 283 rumah. 14

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang semakin meningkat di kota Medan,

pada tahun 1929 mulai dipasang pipa-pipa besar untuk menyalurka air dari Sibolagit ke

medan.

15

14

Hasibuan, Gindo Maraganti., Peran Serta Masyarakat dan Kelembagaan Terpadu dalam

Pengelolaan banjir di Kota Medan (Studi Kasus Banjir Kota Medan), Medan, 2005, hlm. 2

15

(37)

Pembangunan perusahaan listrik Medan dimulai tahun 1898 dan mulai berperasi

pada Maret tahun 1900 untuk menerangi jalan-jalan di Medan dan kebutuhan pasokan

listrik untuk Medan Hotel, rumah Tjong A fie, Hotel De Boer, Istana Maimoon dan

lain-lain. Salah satu perbedaan yang mencolok dimana hanya sebuah rumah yaitu rumah Tjong

A Fie yang mendapatkan pasokan listrik sementara yang lainnya adalah berupa instansi,

hotel-hotel, dan bangunan-bangunan megah. Jelaslah bahwa di dalam sejarah pembangunan

kota Medan, peran warga asing dari Eropa dan keluarga Tjong A Fie memiliki peranan

yang sangat besar.

Bukan hanya perusahaan-perusahaan perkebunan yang berkembang pesat, selain

sejumlah kampung-kampung baru mulai dibuka, bangunan-bangunan bergaya Eropa pun

mulai dibangun arsitektur yang indah seperti Istana Maimun dan Mesjid Raya Medan yang

dibangun tenaga ahli dari Belanda yang bernama Van Erp. Bahkan Medan disebut-sebut

sebagai kota ratu (queen city) dari Pulau Sumatera dan terlebih lagi pionir lokasi

pertumbuhan peusahaan perkebunan di Sumatera Timur yang sangat penting dan progresif.

Saat ini kota Medan memiliki keanggunannya tersendiri, bersinar dalam hal bisnis yang

dikelilingi kota-kota kecil yang indah yang ketika itu memiliki sanitari yang hanya dimiliki

kota Medan dan banyak kota di Inggris Raya. Memiliki hotel-hotel yang bagus, jalus kereta

api dengan arsitektur yang indah, lapangan pacuan, klub-klub lapangan tennis dan sepak

(38)

Namun tidak hanya itu, jika melihat situasi perkembangan sungai-sungai yang

membelah kota Medan untuk mencari tahu penyebab awal ketidakacuhan berbagai pihak

untuk lebih mengerti aspek-aspek yang mempengaruhi indikasi penyebab banjir di kota

Medan. Maka kita perlu mengetahui berbagai aspek itu termasuk sungai yang dulunya

sangat berperan dan sangat penting bagi kehidupan masyarakat di kota Medan.

Sekitar tahun 1874 sebuah Benteng Belanda yang cukup besar dan kokoh

bangunannya sudah siap dibangun berdekatan dengan kawasan Medan Puteri, yaitu di

lokasi wisma Benteng dan Lippoland yang sekarang. Bangunan yang tampaknya

menunjukkan identaitas kota medan pada saat sudah mulai tumbuh dan berkembang.

Tempat benteng Belanda itu dibangun sangat strategis menurut ukuran masa itu. Karena

letaknya berdekatan dengan kawasan pemukiman penduduk pribumu dan sekaligus dekat

pula dengan Sungai Deli. Sungai itu dahulu dapat dimanfaatkan oleh serdadu belanda untuk

mempermudah hubungan dengan Labuhan yang merupakan kota pelabuhan untuk

memasuki Deli dari arah laut atau meninggalkannya dari menuju laut. Dapatlah dilihat

betapa penting dan strategisnya kedudukan benteng Belanda itu, yang berdekatan dengan

letak kampong Medan selaku pelabuhan tongkang dari laut yang membongkar muatan di

situ untuk diteruskan dengan perahu-perahu lebih kecil mudik ke Deli Tua dan mudik

Sungai Babura.16

16

(39)

Dari sini, maka jelaslah perkembangan kampong Medan menjadi sebuah kota

bergantung pada jalur transportasi yang ketika itu berupa transportasi air dikarenakan jalur

darat yang berupa jalan setapak dan masih dikelilingi hutan belantara dianggap lebih aman

dan lebih cepat untuk sampai ke tujuan. Berbeda dari sekarang sungai-sungai ini hanya

berupa tempat membuang sampah dan diabaikan kebersihannya menyebabkan sungai

tampak kumuh dan kotor. Memang sangat ironis apabila dibadingkan dengan perannya

ketika sungai sangat diperhatikan dan dijadikan asset untuk mendapatkan nafkah

sehari-sehari.

2.3 Kota Medan Menjadi Gemeentee 1918

Dalam perkembangannya, pada tahun 1909 Medan dijadikan Kota Praja oleh

pemerintah Hindia Belanda. Akibat perkembangan yang semakin pesat, pada tahun 1915

Kersidenan Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen dan

gubernur yang pertama adalah H.J. Crijzen. Kelak sultan Deli Makmum Arrasyid

memindahkan sebagian tanahnya yang luas menjadi tanah kota pada tahun 1918 untuk

menampung perluasan kota. Sampai tahun 1937 kota Medan telah menjadi pusat kegiatan

administrasi pemerintah dan ekonomi.17

17

Koestoro, Lucas Partanda, dkk., Medan, Kota di Pesisir Timur Sumtaera Utara dan Peninggalan

(40)

Ketika Gemeentee Medan dibentuk tahun 1918, yang menjadi kepala pemerintahan

adalah seorang burgermeester dibantu oleh sebuah raad (majelis) yang pada permulaannya

beranggotakan 15 orang yang diangkat pemerintah. Daniel Baron MacKay adalah orang

yang pertama kali menjabat sebagai burgermeester kota Medan.

Gemeentee Medan untuk pertama kalinya memiliki dana bagi peremajaan kotanya

sebesar 32.000 gulden. Dana ini dipergunakan bagi banyak masalah pengairan dan sumber

daya air seperti untuk keperluan penyediaan air minum di kota Medan, membiayai

pembersihan saluran-saluran air (drainase) dan pembiayaan pompa pemadam kebakaran

yang ketika itu telah dibentuk volksraadnya. Dana yang cukup besar ini diperoleh antara

lain terdiri dari :

1. Tunjangan yang diberikan oleh Kerajaan Deli

2. Kontribusi suka rela yang diberikan oleh penduduk di kota Medan, ini adalah

tindakan yang secara halus meminimalkan keraguan masyarakat akan pajak tanah

yang terlalu tinggi sehingga dikatakan hanya sebagai hibah.

3. Hasil dari sewa pasar, tanah dan sawah serta bangunan-bangunan di kota Medan.

Sebelum mendapat hak untuk menjalankan pemerintahan otonom sepenuhnya,

Gemeentee Medan lebih dahulu menjalani masa peralihan dalam pemerintahannya selama

lebih kurang 9 tahun. Selama masa peralihan itu, Gemeentee Medan belum mempunyai

Burgermeester (walikota) dan masih berada di bawah kekuasaan Asisten Residen Deli dan

(41)

Serdang. Karena pada masa itu secara struktural wilayah kota Gemeentee Medan

merupakan salah satu wilayah pemerintahan yang langsung tunduk pada pemerintahan Deli

dan Serdang yang dipimpin Asisten Residen.

Dalam keadaan yang demikian itu, pemerintah kolonial membentuk Gemeenteeraad

(Dewan Kota) untuk menjalankan pemerintahan Gemeentee Medan. Dewan Kota tersebut

diketuai oleh Asisten Residen Deli dan Serdang

Pemilihan anggota Dewan Kota berdasarkan sistem golongan yaitu : 10 orang

Eropa, 5 orang Bumiputera Indonesia dan 2 orang Timur Asing. Nama-nama pejabat

tersebut adalah :

I. Anggota dari bangsa Eropa :

1. Tj. Dijkstra

2. J.M. Groenewegen

3. J.N. Helissen

4. T.W. Rossum

5. Ir. K.K.J.L. Steinments

6. Mr. H.W.B. Thien

7. Ir. M. Velkenburg

8. Mr. G. Van der Veen

9. J. de Waard

(42)

II. Anggota dari bangsa Pribumi :

1. Abdullah Lubis

2. Arsjad glr. Datuk Sinaro Rajo

3. Mohammad Arif (Tujung)

4. Raden Nurngali

5. Raden Pirngadi

III. Anggota dari bangsa Timur Asing

1. Gan Host Soei

2. Jap Soen Tjhay 18

Dilihat dari segi kebangsaan, hal tersebut sangat kontras bahwa bangsa Eropa

memegang sebagaian besar peran menentukan pemerintah dan pelaksanaannya membentuk

kota Medan, dari segi nasionalisasi hal ini menyebabkan ketidakadilan dan dengan begitu

menciptakan cikal bakal ketidakharmonisan antara masyarakat pribumi dan bangsa Eropa

yang selanjutnya akan menyebabkan berbagai pemberontakan dan rencana awal yang

seharusnya dapat memperindah wajah kota Medan menjadi terhambat dan terhenti begitu

saja tanpa ada perbaikan-perbaikan.

Walikota juga merangkap ketua dari gemeenteraad, yang bersama-sama

menjalankan pekerjaan sehari-hari dengan Raad van Burgermeester en Wathouders

18

(43)

(Dewan Pemerintahan Kota). Dari uraian ini didapatlah bahwa dibentuknya gemeenteeraad

sebagai suatu dewan kota agar kiranya gemeentee kota Medan dalam melaksanakan

perencanaan dan pembangunan selalu melibatkan masyarakat atau stakeholder melalui

dewan tersebut yang artinya cikal bakal dewan kota yang sudah terbentuk pada 1 April

1909 dan pada saat pertama kalinya kota Medan dibentuk adalah suatu hal yang perlu

dicontoh, dipedomani utnuk perencanaan dan pelaksanaan kota Medan.

Perkembangan kota Medan yang pesat menjadikan Medan sebuah kota yang

modern yang ditandai dengan gaya bangunan yang bersifat mendunia. Banyak orang yang

mengatakan bahwa kota Medan menjadi sangat unik di Hindia Belanda, karena telah

menjadi kota bergaya Eropa dalam nuansa Inggris. Hal ini disebabkan antara lain karena

kuatnya pengaruh Singapura pada kolonial Inggris yang berimbas pada gaya bangunan di

kota Medan.

Pada tahun 1911, Gemeentee Medan mulai membentuk Gementee Werken yang

berarti Dinas Pekerjaan Umum untuk kotapraja Medan. Di samping itu, pada tahun yang

sama kotapraja Medan mulai memberlakukan Pajak Tontonan. Dan pada tahun itu pulalah

layanan pos mengalami perkembangan baru, karena gedung kantor pos Medan telah

dibangun pada lokasi yang berseberangan dengan bangunan Hotel De Boer dengan begitu

bangunan kantor pos juga memperindah kotapraja Medan yang baru mulai tumbuh dan

(44)

Selain itu, pada 5 Maret 1909 dikeluarkannya Surat Keputusan pemerintah Hindia

Belanda di Bogor dan ditandatangani oleh Gubernur Jenderal J.B. Van Heutsz. Pada pasal 3

menyebutkan sebagai berikut :

“Di dalam kotapraja Medan, di luar tanah-tanah di bawah penguasaan militer, tidak

disediakan uang dari Keuangan Umum Hindia Belanda untuk keperluan :

a. Pemeliharaan,. Perbaikan dan pembaruan dan pembangunan jalan-jalan dengan

pekerjaan-pekerjaan yang temasuk di dalamnya, seperti penanaman pohon-pohon,

pembikinan tebing-tebing jalan dan sungai, benteng-benteng, pinggir-pinggir jalan,

selokan-selokan, perigi-perigi, batu kilometer, papan nama, jembatan-jembatan,

bubusanbubusan, turap-turap, dinding-dinding beton di pinggir sungai; juga darii

pekerjaan-pekerjaan lain untuk kepentingan umum sepertilapangan-lapangan,

kebun-kebun, parit-parit pembuangan air, saluran-saluran parit untuk menyiram roil,

pekerjaan-pekerjaan untuk memperoleh atau membagi air minum, air pencuci,

rumah potong, pasar-pasar, pajak-pajak (los-los pasar) dan lain-lain.;

b. Penyiraman jalan-jalan umum, pengangkutan sampah-sampah sepanjang jalan-jalan

umum, lapangan-lapangan dan kebun-kebun.;

c. Penerangan jalan-jalan.;

(45)

e. Tanah-tanah pekuburan.; dengan oengertian bahwa untuk pembangunan

pekerjaan-pekerjaan yang luar biasanya mahalnya, dapat diberikan subsidi oleh pemerintah.19

Dari sumbber tersebut, maka sudah sejak masa penjajahan Belanda pengurusan

maslaah banjir yaitu dengan pembuatan sdaluran-saluran dan drainase sudah dikerjakan

namun hingga kini maslaah ini memang membutuhkan tenaga, pikiran dan biaya yang tidak

sedikit. Oleh karena itu, permasalahan yang sudah mengakar ini untuk selanjutnya dapat

dipecahkan melalui metode-metode baru yang dulu tidak diambil oleh pemerintah kota

Medan.

Demikianlah, selain pembangunan-pembangunan drainase untuk menambah kesan

kota yang akan dimiliki gemeentee medan, pemerintah HIndia Belanda melakukan berbagai

pembangunan dan begitu pula infrastruktur untuk menyokong kebutuhan masyarakatnya

seperti pemenuhan kebutuhan kehidupan kota. Pemenuhan kebutuhan kehidupan sebuah

perkotaan juga berhubungan dengan pusat perbelanjaan. Di Kota Medan, pada bulan Maret

1933 diresmikanlah pusat pasar yang menempati areal di sekitar Jalan Soetomo, yang saat

itu adalah Wilhelminestraat, dan Jalan Sambu (Hospitalweg). Pusat pasar itu meliputi

empat bangunan besar dan panjang yang megah. Diceritakan bahwa intelektual Belanda

yaitu burgermeester G. Pitlo pada saat itu sangat kagum pada kebudayaan Perancis. Dan

Karena itu ia membangun Centrale Passer seperti bangunan Les Halles (Pasar Sentral) di

Paris. Demikian pula halnya dengan bentuk dan pola taman-taman di Medan.

19

(46)

2.4 Fluktuasi Banjir di Kota Medan

Akibat pertumbuhan kota dari tahun ke tahun semakin tinggi, maka kehidupan

perkotaan yang dialami kota Medan pun tidak terlepas dari keterlibatan penduduknya

mengenai masalah banjir, pada masa penjajahan Belanda, banjir ataupun

genangan-genangan air telah banyak ditemukan kota Medan. Dan untuk mengatasi masalah ini,

pemerintah Belanda membuat parit-parit berukuran besar untuk meanmpung

genangan-genangan air ini, namun karena pada masa tersebut adalah masa yang sangat kacau

dikarenakan banyaknya pemberontakan-pemberontakan dan masalah politis, sehingga

masalah lingkungan ini tidak terperhatikan oleh pemerintah sehingga pelaksanaan drainse

primer yang dibuat oleh pemerinntah Belanda berkesan tergesa-gesa dan tampak belum jadi

seutuhnya. Sehingga keoptimalan drainase-drainase ini kurang mencapai sasaran dan pada

puncaknya adalah peristiwa banjir yang tejadi berulang dan terulang kembali hingga saat

ini. Selain itu, masalah banjir di kota Medan adalah disebabkan adanya penggundulan hutan

secara besar-besaran dengan tingkat frekuensi penebangan hutan yang terlalu cepat untuk

selanjutnya dijadikan lahan perkebunan adalah penyebab utama, berbeda dengan yang

dialami kota Medan pada saat ini.

Peristiwa banjir di kota Medan yang hampir rata-rata 10-12 kali/tahun sangat

dipengaruhi oleh kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli dan DAS Belawan di daerah

(47)

Bencana banjir di kota Medan sendiri sebagian besar terjadi di sepanjang Sungai

Deli berawal dari pegunungan Bukit Barisan pada ketinggian 1725 m di atas permukaan

laut hingga Selat Malaka dengan panjang 75,8 km mengalir ke kota Medan yang berada di

bagian hilir DAS Deli dengan ketinggian berkisar 0-40 m di atas permukaan laut

mempunyai luas DAS Deli seluas 481,62 km². Sungai ini merupakan saluran utama yang

mendukung drainase kota Medan dengan cakupan wilayah pelayanan sekitar 51 % dari luas

kota Medan.

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan unit ekosistem wilayah yang

komponen-komponennya terdiri dari subsistem lingkungan (lingkungan alam) dan subsistem sosial

ekonomi, dimana proses ekologi di dalam subsistem lingkungan berinteraksi dengan proses

yang terjadi dalam masing-masing subsistem. Diantara subsistem tersebut, subsistem sosial

dan ekonomi merupakan subsistem yang paling dinamis dan mempunyai potensi untuk

berpengaruh positif dan negatif terhadap subsistem alam. Dari uraian tersebut, dapat

dipahami bahwa pengelolaan DAS merupakan pengelolaan sumber daya alam yang dapat

pulih (renewable) seperti air, tanah dan vegetasi (ekosistem) dalam sebuah DAS dengan

tujuan untuk memperbaiki, memelihara dan melindungi keadaan DAS agar dapat

menghasilkan hasil air (water yield) untuk kepentingan pertanian, kehutanan, perkebunan,

peternakan, perikanan dan air minum masyarakat, industri, irigasi, tenaga listrik, rekreasi

(48)

Daerah Aliran Sungai (DAS) memikul beban yang semakin berat sehubungan

dengan tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya

alamnya yang intensif. Di sisi lain, tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang

sistem kehidupan, betapapun berbagai upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah telah

dilakukan selama ini, kondisiny masih jauh dari memadai, bahkan terdapat indikasi

belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun. Meningkatnya frekuensi banjir

Sungai Deli di kota Medan serta di beberapa wilayah lainnya merupakan indicator betapa

tidak optimalnya kondisi DAS di atas antara lain disebabkan adanya ketidakterpaduan antar

sector dan wilayah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan DAS tersebut.

Dengan kata lain, masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang kadangkala

bertolak belakang.

Ruas-ruas jalan Kota Medan selalu tergenang jika menerima curah hujan, meski

curah hujan yang terjadi relatif tidak terlalu lama. Ruas jalan itu adalah Jalan Willem

Iskandar, Jalan Letda Sujono, Jalan Raden Saleh, Jalan Stasiun, Jalan Sisinga Mangaraja,

Jalan Sutomo, Jalan Gatot Subroto, Jalan AH Nasution, Jalan Denai, Jalan Brigjen Katamso

dan Jalan Yos Sudarso.

Jumlah itu di luar ruas jalan kecil seperti Jalan Pelita II, Jalan Kapten Jamil Lubis, Jalan

(49)

lebih deras dan lebih lama, maka genangan airnya akan lebih tinggi dan tidak jarang

merendam rumah warga.

Jumlah ruas jalan yang tergenang itu semakin banyak jika dilihat ke pinggiran Kota

Medan yang yang merupakan daerah perbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kota

Binjai. Contohnya, daerah Lau Dendang, Percut, Desa Medan Estate dan Perumnas

Mandala Medan yang merupakan bagian Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang.

Demikian juga dengan daerah Sunggal dan Diski, Deli Serdang yang berbatasan langsung

(50)

BAB III

SEJARAH TERJADINYA BANJIR DI KOTA MEDAN 1970-1990

3.1 Peran Serta Pemerintah dan Masyarakat Terhadap Pemeliharaan Drainase 3.1.1 Defenisi Banjir

Banjir adalah debit air yang melebihi besar kapasiitas pengaliran air tertentu.

Terdapat dua peristiwa banjir yaitu :

1. Peristiwa banjir atau genangan air yang terjadi pada daerah yang biasanya tidak

terjadi banjir.,

2. Peristiwa banjir karena limpahan air banjir dari sungai karena debit banjir tidak

mampu dialirkan oleh alur sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas

pengaliran sungai yang ada. Peristiwa banjir sendiri tidak menjadi permasalahan,

apabila tidak mengganggu manusia melakukan kegiatan pada daerah dataran banjir.

Maka perlu adanya pengaturan-pengaturan daerah daratan banjir untuk mengurangi

kerugian akibat banjir (Flood Plain Management)

Sumber genangan- genangan air atau banjir di kota Medan dapat dibedakan menjadi

(51)

1. Banjir kiriman, aliran banjir yang datangnya dari daerah hulu di luar kawasan yang

tergenang. Hal ini terjadi jika hujan yang terjadi di daerah hulu menimbulkan aliran

banjir yang melebihi kapasitas sungainya atau banjir kanal yang ada, sehingga

terjadi limpasan.

2. Banjir lokal, genangan air yang timbul akibat hujan yang jatuh di daerah itu sendiri.

Hal ini dapat terjadi jika hujan yang terjadi melebihi kapasitas system drainase

yang ada. Pada banjir lokal, ketinggian genangan air antara 0,2-0,7 m dan lama

genangan antara 1-8 jam. Terdapat pada kawasan dataran rendah.

3. Banjir rob, banjir yang terjadi baik akibat aliran langsung air pasang, atau air balik

dari saluran drainase akibat terhambat oleh air pasang. Banjir pasang merupakan

banjir rutin akibat air laut pasang yang terjadi pada kawasan Medan Belawan.20

Banjir merupakan permasalahan yang menghampiri setiap kota-kota besar di

Indonesia tanpa terkecuali kota Medan. Dalam rangka pembangunan kota Medan, pihak

Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dan Pemerintah kota Medan telah banyak melakukan

kebijakan pembangunan untuk mendukung kota Medan menjadi kota Metropolitan seperti

penataan pembangunan pemukiman, gedung-gedung pertokoan, perbaikan dan

pembangunan sarana tramsportasi di seluruh kota Medan. Masalah banjir adalah masalah

utama yang dihadapi pemerintah kota Medan, terutama daerah pinggiran kota Medan yang

20

(52)

sering berdampak langsung kepada seluruh anggota masyarakat yang terkena banjir yang

melanda daerah permukiman dan perumahan mereka.21

Pada tanggal 23 Desember 1992 dimana seluas 1.513 Ha areal tergenang air dengan

kedalaman 1.5 meter meliputi daerah pemukiman, jalan, perkebunan dan transportasi

umum di sepanjang aliran sungai Sei Badera. Kecamatan Medan Marelan merupakan

daerah yang paling banyak terkena dampak dari sering meluapnya air sungai Sei Badera

yang mengakibatkan banjir setiap tahunnya. Akibat dari banjir tersebut ialah lumpuhnya

kegiatan perekonomian masyarakat dan menghancurkan lahan areal pertanian dan

perkebunan penduduk serta sarana transportasi berupa jalan dan jembatan.

22

3.1.2 Debit Banjir

Banjir itu

sendiri dapat dilihat dari debit banjir dan volume air sungai yang meluap meskipun dalam

setiap kasus banjir debit dan volume banjir berbeda-beda.

Penelitian banjir di kota Medan dapat diperoleh melalui kegiatan analisis hidrologi

yang secara umum hasilnya dapat berupa debit banjir maksimum, volume banjir, atau

hidrograf banjir. Metode rasional bertujuan untuk memperkirakan debit puncak. Rumus

yang digunakan adalah Qp = k C I A

Dimana Qp : Debit puncak (m3 /detik)

21

Haldun, Muhammad, Implikasi Normalisasi Sungai Sei Badera Terhadap Permukiman

Masyarakat di Kecamatan Medan Marelan (Thesis), Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera

Utara, 2008, hlm. 75-76 22

(53)

k : 0,278

C : Koefisien limpasan tergantung pada karakteristik DAS

I : Intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)

A : luas DAS (km2) 23

Yang dimaksud dengan sungai adalah sungai secara umum, baik sungai besar

maupun sungai kecil. Sungai merupakan refleksi dari daerah yang dilaluinya. Faktor-faktor

seperti kualitas air (unsur kimia dan temperatur), habitat yang ada (flora dan fauna), kondisi

hidrolik sungai (debit muka air, frekuensi aliran dan lain-lain), dan morfologi sungai dapat

dipakai sebagai indikator untuk menganalisa kondisi daerah aliran sungai tersebut. Jika di

daerah sekitar sungai banyak aktifitas dengan kualitas penjernihan air limbah yang tidak

memadai, maka kualitas air sungai (terutama sungai kecil dan menengah) tersebut juga

akan terlihat jelas menurun. Jika suatu daerah relatif tandus, maka akan direkam oleh sungi

kecil yang direfleksikan ke dalam bentuk kurva hidrografiknya dengan waktu mencapai

puncak yang pendek dan debit puncak yang tinggi serta waktu kering yang lama.

3.1.3 Defenisi Sungai

24

23

Hasibuan, Gindo Maraganti., Peran Serta Masyarakat dan Kelembagaan Terpadu dalam

Pengelolaan banjir di Kota Medan (Studi Kasus Banjir Kota Medan), Medan, 2005, hlm. 31

24

Maryono, Agus., Ekohidrolik Pembangunan Sungai, Menanggulangi Banjir dan Kerusakan

Lingkkungan Wilayah Sungai, Yogyakarta : Magister system Teknik Program Pasca Sarjana UGM, 2005,

(54)

Sungai merupakan komponen ekodrainase utama pada system sungai yang

bersangkutan. Konsep alamiah ekodrainase adalah bagaimana membuang air kelebihan

selambat-lambatnya ke sungai. Sehingga sungai-sungai alamiah mempunyai bentuk yang

tidak teratur, belokan-belokan dan lain-lain. Bentuk-bentuk ini pada hakikatnya berfungsi

untuk menahan air supaya tidak dengan cepat mengalir ke hilir serta menahan sediment. Di

samping itu drainase juga berperan dalam rangka menurunkan enerji air tersebut.

Sungai alamiah umumnya memiliki angka kekasaran dinding yang tinggi. Jika

dibandinngkan dengan sungai yang telah diluruskan, sungai alamiah memiliki kemampuan

mengalirkan debit aliran lebih kecil pada tinggi muka air yang sama. Pada proyek renovasi

sungai (renaturalisasi perlu dipertimbangkan kenaaikan muka air akibat kenaikan kekasaran

dinding sungai).

3.1.4 Kondisi drainase

Sebagian besar saluran drainase utama kota Medan, baik yang alamiah maupun

buatan, di bagian hilir mempunyai elevasi dasar saluran lebih rendah dari pada elevasi dasar

sungai. Hal ini menyebabkan sedimentasi serius dan menimbulkan pendangkalan. Sistem

(55)

ini menimbulkan kerancuan dalam upaya pengelolaan dan pengawasan bangunan liar di

sepanjang tepi sungai.

Kondisi saluran drainase yang lebih kecil juga tidak kalah memprihatinkan.

Kapasitas saluran makin hari makin menurun akibat sedimentasi, sampah, dan

pemeliharaan yang kurang. Tidak mengherankan jika sampai saat ini masalah banjir

kiriman dan banjir pasang merupakan masalah yang beluim terpecahkan. Genangan air dan

banjir masih selalu terjadi, terutama pada saat musim hujan. Hal ini akan semakin sulit

diatasi jika pengembangan kota tidak dapat dikendalikan dengan baik.

Konsep drainase konvensional yang selama ini dianut yaitu drainase didefinisikan

sebagai suatu usaha untuk membuang atau mengalirkan air kelebihan di suatu tempat

secepatnya menuju sungai dan secepatnya dibuang ke laut, menurut tinjauan hidrolik tidak

bisa lagi dibenarkan. Dengan konsep pembangunan secepat-cepatnya ini, akan terjadi

akumulasi debit di bagian hilir dan rendahnya konservasi ekologi di hulu. Sungai di hilir

akan menerima beban yang lebih tinggi sewaktu debit puncak lebit cepat dari pada keadaan

sebelumnya dan akan terjadi penurunan kualitas ekologi daerah hulu. Jika sungai kecil,

menengah dan besar dijadikan sarana drainase dengan konsep konvensional seperti diatas,

maka akan didapat suatu rezim saluran drainase sebagai ganti rezim sungai. Ekodrainase

diartikan suatu usaha mengalirkan air yang berlebih ke sungai dengan waktu seoptimal

munngkin sehinngga tidak menyebabkan terjadinya masalah kesehatan dan banjir di sungai

(56)

Buruknya sistem drainase di kota Medan menyebabkan kota metropolitan ini kerap

digenangi air bila hujan datang. Ternyata kondisi ini menyebabkan aktivitas ekonomi

didalam dan luar kota Medan terganggu. Kondisi jalan-jalan rusak, seperi yang terlihat

dijalan Bahagia by Pass, Mandala by Pass, jalan Platina Raya, Marelan, Kawasan Padang

Bulan, dan jalan Letda Sujono adalah sebagian besar kawasan yang umumnya menjadi

kawasan sering tergenanng air, selain itu, jalan-jalan yang rusak itu tidak hanya berbahaya

apabila dilintasi pengendara jika tergenang air namun juga menyebabkan jalanan macet,

sehingga aktivitas perdagangan terhambat.

Curah hujan selama satu jam meluapkan sejumlah parit di wilayah kota Medan,

termasuk parit busuk, persis ketika seluruh ummat Islam melaksanakan sholat Jumat. Di

Kelurahan Sei Kera Hilir I dan II, Kecamatan Medan Perjuangan, hujan yang turun itu

mengakibatkan air parit yang meluap, jalan-jalan tergenang air, bahkan di setiap gang di

daerah itu, sehingga rumah warga sebagian dimasuki air.

Terdapat juga bangunan rumah penduduk di pinggir jalan yang menutupi saluran air

ke parit untuk kepentingan pribadi. Banjir setinggi lutut orang dewasa itu terjadi pada

sejumlah kelurahan pada tiga kecamatan yakni Kecamatan Medan Labuhan, Medan Deli

dan Medan Marelan.

Pemandangan jalan yang berlubang bagaikan kubangan tampaknya telah menjadi

penyakit kronis yang tak terobati. Pemerintah seolah-olah angkat tangan dan yang parahnya

(57)

semua, namun tingkat ketahanan aspal sangat rentan jika terjadi hujan lebat dan lalu

lalangnya angkutan bermuatan besar. Kondisi ini pun sangat rentan mengambil korban

jiwa, setidaknya selain kecelakaan lalu lintas sering terjadi kendaraan jadi cepat rusak. Oleh

sebab itu perbaikan jalan akan sia-sia jika sistem drainase di kota Medan tidak segera

ditangggulangi. Perbaikan drainase terlebih dahulu dibangun kemudian jalan yang rusak di

perbaiki kalau tidak perbaikan jalan akan sia-sia.

Untuk diketahui, perbaikan drainase sudah pernah dilakukan dan nilai proyeknya

yang ratusan milyaran rupiah dengan nama Metropolitan Medan Urban Development

projek (MMUDP). Terangkum dan proyek tersebut sebagai proyek perbaikan sistem

drainase untuk kawasan Medan, Deli Serdang dan Binjai (Mebidang). Namun sayangnya,

pemanfaatan dan pertanggungjawabannya tidak jelas.

Pada masa periode walikotamadya A.S. Rangkuty (1980-1990) sebuah proyek

raksasa dalam upaya mengatasi perkembangan dan penataan kotamadya Medan dengan

nama Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP). Proyek ini

membutuhkan dana yang luar biasa besar jumlahnya dan pemerintah terpaksa melakujkan

pinjaman-pinjaman ke berbagai instansi.25

25

Tim Penguumpulan, Penelitian dan Penulisan Sejarah Perkembangan pemerintahan Kotamadya Daerah Tingkat II medan , Op Cit, hlm. 232

Menurut catatan, MMUDP yang dilaksanakan

pada tahun 1990-an memiliki dana sebesar 138 juta dollar Amerika yang berasal dari

Gambar

GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN
Tabel 1. Perkembangan Jumlah Penduduk di Kampung Medan Hingga Menjadi Kota  Medan dari Tahun 1823-1965 13
Tabel 2. Data Penggunaan Lahan pada DAS Deli 33
Tabel 3. Isu Dan Permasalahan Di Metropolitan Mebidang36
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kongres ini tidak hanya dihadiri oleh pengurus organisasi saja, tetapi juga telah melibatkan masyarakat Aceh lainnya yang ada di Kota Medan. Dengan kata lain Kongres I organisasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Factor-faktor yang mempengaruhi banjir di Kecamatan Sunggal dilihat dari intensitas curah hujan, penggunaan lahan,

Khusus berkaitan dengan kertas pabrik, dengan berpijak pada kenyataan sejarah tentang awal mula perkembangan kertas di dunia serta perkembangannya saat mulai

Ditinjau dari aspek teknis saja dapat direkomendasikan bahwa Simulasi II adalah alternatif penangganan yang tepat dalam menanggulangi banjir yang terjadi pada

Penelitian ini akan dilakukan di sekitar lokasi Medan Floodway Control yang akan mengalirkan banjir dari Sungai Deli ke Sungai Percut dengan panjang saluran 3,8 km.. Gambar

Dari tabel yang terdapat di Lampiran 3, terlihat bahwa total luas genangan banjir untuk DAS Deli di Kota Medan dengan kala ulang 50 tahun adalah 37 km 2 dengan total

sejarah adalah: bangunan atau lokasi yang berhubungan dengan masa lalu kota. dan bangsa, merupakan suatu peristiwa sejarah, baik sejarah kota

Achmad Faisol Hadi, Bencana banjir rutin… 329 Berdasarkan sumber yang ditemukan, pada masa kolonial intensitas banjir di kota Sampang semakin meningkat karena pada tahun 1930-an,