• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organisasi Aceh Sepakat Di Kota Medan (1968-1990)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Organisasi Aceh Sepakat Di Kota Medan (1968-1990)"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

ORGANISASI ACEH SEPAKAT DI KOTA MEDAN

(1968-1990)

SKRIPSI SARJANA

DISUSUN

O L E H

NAMA : LUCKI ARMANDA

NIM : 030706015

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI

ORGANISASI ACEH SEPAKAT DI KOTA MEDAN (1968-1990)

Yang Diajukan Oleh :

Nama : Lucki Armanda

NIM : 030706015

Telah Disetujui Untuk Diujikan Dalam Ujian Skripsi Oleh :

Pembimbing,

Dra. Ratna, MS. Tanggal,………

NIP : 131415907

Ketua Departemen Ilmu Sejarah,

Dra. Fitriaty Harahap, SU. Tanggal,………

NIP : 131284309

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

ORGANISASI ACEH SEPAKAT DI KOTA MEDAN (1968-1990)

Skripsi Sarjana

Dikerjakan O

L E H

Lucki Armanda

NIM : 030706015

Pembimbing,

Dra. Ratna, MS.

NIP : 131415907

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan,

Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam bidang

Ilmu Sejarah.

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(4)

Lembar Persetujuan Ketua

DISETUJUI OLEH :

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH

Ketua,

Dra. Fitriaty Harahap, SU.

NIP : 131284309

(5)

Lembar Pengesahan Skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian

PENGESAHAN :

Diterima Oleh :

Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra

Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra USU Medan

Pada :

Tanggal :

Hari :

Fakultas Sastra USU

Dekan,

Drs. Syaifuddin, MA, Ph.D.

NIP : 132098531

Panitia Ujian :

No. Nama Tanda Tangan

1………. (………..)

2………. (………..)

3………. (………..)

4………. (………..)

(6)

Ucapan Terima Kasih

Rasa syukur yang teramat besar penulis haturkan kepada Allah SWT

yang telah memudahkan usaha penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan

skripsi ini. Shalawat beriring salam penulis persembahkan kepada junjungan

besar umat Islam, Nabi Muhammad SAW. Tidak lupa pula penulis juga

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ayahanda, H.Lukman Muliawan yang telah memberikan

dukungan kepada penulis selama masa pendidikan dan dalam

masa penulisan skripsi, baik itu dukungan secara moril maupun

materil.

2. Ibunda, Hj.Nurlailati Arbaiyah yang tidak pernah lelah

memberikan semangat dan nasehat untuk terus menjalani dan

menekuni dunia pendidikan. Ucapan terima kasih ini tidaklah

cukup untuk membalas segalanya yang pernah ayah dan ibu

perbuat.

3. Adinda, Lufti Arlini dan Luktri Arsheila yang telah menemani

penulis selama menjalani hidup ini. Banyak hal yang telah kita

lalui bersama selama ini dengan segala perbedaan dan persamaan.

4. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. dr. Chairuddin P.

Lubis DTM & H.SP (AK).

5. Dekan Fakultas Sastra, Bapak Drs. Syaifuddin, MA, Ph.D yang

telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat

menjalani ujian meja hijau agar mendapatkan gelar kesarjanaan.

6. Ketua Departemen Ilmu Sejarah, Ibu Dra. Fitriaty Harahap,SU,

yang telah memberikan banyak bantuan, kemudahan serta

pengalaman selama penulis menjalani masa perkuliahan. Terima

kasih juga kepada Sekretaris Departemen Ilmu Sejarah, Ibu Dra.

Nurhabsyah,M.Si yang terus memacu semangat penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

7. Ibu Dra. Ratna,MS, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak

(7)

selama penulis memulai hingga menyelesaikan penulisan skripsi

ini. Tanpa kontribusi ibu, rasanya skripsi ini akan lebih jauh dari

kesempurnaan.

8. Ibu Dra. Lila Pelita Hati, selaku Dosen Wali yang telah banyak

memberikan nasehat terhadap penulis selama menjalani masa

perkuliahan.

9. Bapak Drs. Indera Akfar,M.Hum, yang telah memberikan ide dan

informasi mengenai skripsi ini. Terima kasih juga kepada Bapak

Drs. Edi Sumarno,M.Hum, yang terus memotivasi penulis dalam

mengembangkan kemampuan yang dimiliki penulis.

10.Seluruh Staf Pengajar di Departemen Ilmu Sejarah, terima kasih

penulis ucapkan atas ilmu pengetahuan yang telah diberikan

selama ini, semoga nantinya menjadi manfaat bagi penulis.

11.Ibu Dra. Irini Dewi Wanti yang telah memberikan dukungan, ide,

maupun buku-buku mengenai penulisan skripsi ini.

12.Terima kasih banyak penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr.

H.M. Jusuf Hanafiah, Spog (k), Bapak H.M. Noernikmat, Bapak

Drs. H. Muhammad TWH, Bapak H. Ishak Morhaban, Bapak

Muchtar M. Samalanga, dan Bapak Dinar Nyak Idhien Wali, yang

telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan informasi

dan data-data yang dibutuhkan oleh penulis.

13.Seluruh pengurus dan anggota organisasi Aceh Sepakat, yang

telah memberikan banyak informasi dan dukungan kepada

penulis.

14.Bang Ampera Wira, orang yang banyak membantu penulis selama

menjalani masa perkuliahan, nasehat dan bantuan yang penulis

terima akan selalu diingat. Thanks a lot Bams, n I will keep our

memories in my mind.

15.Abdul Rahman Lubis,SS, sahabat yang bersedia meluangkan

waktunya untuk membantu penulis dari awal hingga akhir dalam

(8)

akan lebih kebingungan dalam menuangkan pokok pikiran.

Terima kasih juga kepada Bapak, Ibu dan bang Dian.

16.Terima kasih banyak kepada teman-temanku, seperti Alex, Opit,

Jonathan, Ratih, Affan, Dede, Fanny, Tarmizi, Dedi Supriadi,

Basita,S.Sos, Tata, Alfit, Basket Eye Communities, bang Nasrul,

Dedy 2006 dan seluruh mahasiswa Sejarah stambuk 2003 (tanpa

kalian semua pasti stambuk 2003 nggak pernah ada). Terima kasih

juga kepada semua kakanda senior di Sejarah stambuk 2002,

karena kalian semua perkuliahan di Departemen Ilmu Sejarah

menjadi lebih bernuansa dan menjadi sebuah kisah klasik untuk

masa depan buat penulis.

17.Terakhir, buat adinda Amelia Silvanny yang masih sahabatku

kekasihku, orang yang paling sabar menghadapi keadaan penulis

selama ini. Terima kasih banyak atas dukungan yang telah adinda

(9)

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan hidayahnya kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan penulisan skripsi untuh meraih gelar kesarjanaan. Tidak lupa

shalawat beriring salam penulis limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW

sebagai junjungan umat Islam yang telah membawa kita dari alam kegelapan

menuju alam yang terang benderang.

Adapun skripsi ini berjudul ORGANISASI ACEH SEPAKAT DI

KOTA MEDAN (1968-1990). Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk

menyelesaikan pendidikan sekaligus untuk meraih gelar kesarjanaan di Fakultas

Sastra Universitas Sumatera Utara. Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini

memiliki banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun bagi kita

semua.

Medan, Desember 2007

(10)

Daftar Isi

Kata Pengantar... i

Daftar Isi... ii

Abstraksi... iii

Bab I Pendahuluan 1.1.Latar Belakang……….. 1

1.2. Rumusan Masalah ………. 4

1.3.Tujuan dan Manfaat………... 5

1.4.Tinjauan Pustaka……… 6

1.5.Metode Penelitian……….. 9

Bab II Gambaran Umum Penelitian 2.1. Keadaan Penduduk……… 11

2.2. Kondisi Sosial Ekonomi……… 14

2.3. Kondisi Sosial Budaya……….. 17

Bab III Latar Belakang Terbentuknya Organisasi Aceh Sepakat Di Kota Medan 3.1. Kedatangan Orang Aceh Ke Kota Medan... 20

3.2. Kehidupan Ekonomi Masyarakat Aceh Di Kota Medan... 29

3.3. Lahirnya Organisasi Aceh Sepakat……… 31

(11)

3.5. Pembentukan Cabang-cabang dan Anak Cabang……….. 42

3.6. Rekruitmen Anggota………. 46

Bab IV Aktivitas Organisasi Aceh Sepakat Di Kota Medan

4.1. Agama Dan Adat Istiadat……….. 49

4.2. Sosial………. 56

4.3. Politik……… 59

Bab V Kesimpulan Dan Saran

5.1. Kesimpulan……… 62

5.2. Saran……….. 64

Daftar Pustaka

Daftar Informan

(12)

Abstraksi

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG

Migrasi berbagai etnis ke Kota Medan erat kaitannya dengan dibuka dan

berkembangnya perkebunan-perkebunan di wilayah Sumatera Timur.

Berkembangnya Kota Medan sebagai ibukota keresidenan Sumatera Timur

(1870) dan daerah Geemente (1909) semakin menambah besarnya minat para

migran untuk datang ke Kota Medan.1 Hal ini dapat diketahui dengan melihat

semakin meningkatnya jumlah penduduk yang mendiami Kota Medan.2 Para

migran ini berasal dari daerah luar Kota Medan, seperti Minangkabau, Batak

Toba, Mandailing, Karo dan Aceh, disamping orang-orang Cina dan etnis Jawa

yang memang didatangkan bagi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan.

Di Kota Medan para migran ini biasanya tinggal dan hidup di kelompok

etnisnya masing-masing, karena hampir sebagian besar mereka datang dengan

menggunakan jalur keluarga atau kenalan sekampung. Hal ini terlihat dari pola

pemukiman penduduk yang ada di Kota Medan yang cenderung berkelompok

menurut etnisnya masing-masing. Etnis Minangkabau misalnya banyak

bermukim di daerah Sukaramai, etnis Karo mayoritas bermukim di daerah

Padang Bulan, etnis Batak banyak memilih bermukim di daerah Pasar Merah,

1

Kencana Sembiring Pelawi, Corak dan Pola Hubungan Sosial Antara Golongan dan

Kelompok Etnik di Daerah Perkotaan, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997,

hlm.9.

2

Awalnya Kota Medan hanya sebuah kampung kecil yang penduduknya hanya berjumlah sekitar 200 orang, dan setelah masa Geemente Medan, penduduknya bertambah menjadi lebih kurang 17000 orang. Lihat Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi

(14)

etnis Mandailing banyak bermukim di daerah jalan Serdang.3 Adapun etnis Aceh

lebih suka tinggal bersama-sama kelompok etnik muslim lainnya, misalnya

dengan orang Minangkabau, Mandailing dan Jawa.4 Hal ini dapat dilihat dari

pemukiman-pemukimkan penduduk yang ada di Kota Medan, tidak ada daerah

tertentu yang didominasi oleh etnis Aceh.

Beragamnya kelompok etnis yang menetap di Kota Medan menunjukkan

beragam dan berbeda juga kebudayaan yang berkembang di Kota Medan.

Biasanya kelompok-kelompok etnis pendatang ini membentuk ikatan organisasi

kesukuan di Kota Medan sebagai identitas suku dan asal mereka. Bentuk-bentuk

organisasi kesukuan merupakan gejala umum yang hampir terdapat di seluruh

kota-kota besar di Indonesia. Tujuan pembentukan organisasi kesukuan ini

dimaksudkan untuk menghilangkan keresahan masyarakat pendatang yang

jumlahnya lebih sedikit dan hidup dalam kelompok kesukuan yang majemuk.

Dalam hal ini organisasi sosial etnis Aceh juga bertujuan mengekspresikan

identitas kesukuannya di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Ekspresi

identitas ini dibutuhkan untuk dikenal oleh kelompok etnis lain, dengan demikian

kelompok etnis lain dapat menempatkan posisi kelompok etnis tersebut di

tengah-tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, minimal sebagai tanda

bahwa mereka masih “survive”.5 Terkait dengan hal itu misi budaya juga tidak

terlepas dari tujuan pendirian organisasi etnis Aceh, dalam hal ini mereka harus

dapat mempertahankan kebudayaan dan adat istiadat dari kampung halamannya,

3

Kencana Sembiring Pelawi, op. cit., hlm. 14.

4

Usman Pelly, op. cit., hlm. 107.

5

(15)

seperti budaya dari etnis Aceh yang selalu berbahasa Aceh dengan

kerabat-kerabatnya meskipun bertemu bukan di daerah Aceh saja. 6

Dari berbagai bentuk organisasi kesukuan yang ada di kota Medan, maka

salah satunya adalah organisasi kesukuan dari etnis Aceh yang bernama Aceh

Sepakat. Organisasi ini hanya ada di Sumatera Utara dan berpusat di Kota

Medan, yang didirikan pada tahun 1968 dan sebagai ketua pertama adalah Jusuf

Hanafiah.7 Sebenarnya jauh sebelum organisasi ini berdiri di Kota Medan, telah

ada ikatan-ikatan perkumpulan etnis Aceh yang bergerak sendiri-sendiri sesuai

dengan daerah asal mereka masing-masing. Seperti misalnya kumpulan Aceh

Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Gayo dan lain-lain.8 Barulah sekitar tahun

1950 muncul gagasan dari masyarakat Aceh perantau di Kota Medan untuk

mempersatukan semua kumpulan-kumpulan etnis Aceh yang ada di kota Medan

dalam satu wadah organisasi etnis yang lebih besar. Walaupun gagasan

menyatukan ikatan-ikatan orang Aceh ini telah muncul pada tahun 1950-an,

tetapi ide itu baru terwujud pada tahun 1968.

Dengan demikian organisasi Aceh Sepakat dimaksudkan untuk

mengumpulkan masyarakat Aceh dalam satu wadah organisasi sebagai satu

ikatan kekeluargaan yang erat terpadu. Hal ini mencerminkan masih tebalnya

rasa ketergantungan, gotong royong, dan solidaritas di kalangan etnis Aceh.9

Dalam perkembangannya organisasi ini tidak hanya berorientasi pada

kepentingan sosial masyarakat Aceh, tetapi juga masyarakat lainnya yang

6

Usman Pelly, op. cit., hlm. 293.

7

Jusuf Hanafiah adalah seorang Dokter Spesialis Kandungan yang cukup populer di Kota Medan. Ia pernah menjabat sebagai Rektor USU periode 1986-1994. Lihat Hasil Rumusan Komisi C. MUBES VIII Aceh Sepakat, tentang: Kelembagaan Yayasan/Badan Usaha dan

Rekomendasi MUBES VIII, Medan: Tahun 1997, hlm. 65. 8

Wawancara dengan Muchtar M. Samalanga, Medan, 16 Maret 2007.

9

(16)

bermukim di kota Medan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan dan kegiatan

yayasan-yayasan sosial serta tempat ibadah yang dibangun oleh organisasi Aceh

Sepakat di Kota Medan.

Penelitian dimulai dari scope temporal tahun 1968 sesuai dengan awal

berdirinya organisasi Aceh Sepakat di Kota Medan dan diakhiri pada tahun 1990.

Batasan waktu hingga tahun 1990 karena pada tahun itu adanya kevakuman

anggota organisasi Aceh Sepakat, akibat ketidakstabilan politik yaitu terjadi

konflik di daerah Aceh. Hal ini tentu berpengaruh terhadap perkembangan

organisasi Aceh Sepakat yang ada di Kota Medan.10

Pembatasan tempat atau scope spatial penelitian ini hanya mengenai

organisasi Aceh Sepakat yang ada di Kota Medan. Pemilihan tempat ini

berdasarkan karena organisasi ini pertama kalinya berdiri di Kota Medan dan

hanya ada di Sumatera Utara. Di Kota Medan pula organisasi Aceh Sepakat

banyak melakukan kegiatan sosial ekonomi dan membangun atau membentuk

sarana-sarana bagi masyarakat lainnya yang bermukim di Kota Medan.

1.2. RUMUSAN MASALAH

Pokok permasalahan yang akan diangkat penulis dalam penelitian ini

adalah mengenai organisasi etnis Aceh yang ada di kota Medan yang bernama

Aceh Sepakat. Penulis akan membagi pokok permasalahan ini agar lebih terarah

dan memiliki isi yang tidak bertentangan, yaitu sebagai berikut:

10

(17)

1. Bagaimana latar belakang terbentuknya organisasi Aceh

Sepakat di kota Medan?

2. Bagaimana perkembangan organisasi ini sejak awal berdirinya

yaitu tahun 1968 hingga tahun 1990?

3. Bagaimana aktivitas organisasi sosial ini baik di lingkungan

etnisnya sendiri maupun diluar etnisnya?

1.3. TUJUAN DAN MANFAAT

Penulisan sejarah organisasi Aceh Sepakat di kota Medan ini tentunya

mempunyai tujuan dengan harapan dapat memberikan manfaat kepada pembaca,

pemerhati sejarah dan masyarakat yang berminat terhadap penulisan ilmiah

tujuan tersebut antara lain:

1. Untuk mengetahui latar belakang terbentuknya organisasi

Aceh Sepakat di Kota Medan.

2. Mengetahui perkembangan organisasi ini sejak awal berdirinya

yaitu tahun 1968 hingga tahun 1990.

3. Mengetahui aktivitas organisasi ini, baik yang bersifat intern

maupun ekstern.

Penulisan skripsi ini diharapkan juga dapat memberikan manfaat, yaitu

antara lain:

1. Memberikan sumbangan pemikiran yang baru dan berguna

bagi penelitian tentang masyarakat Aceh di masa yang akan

(18)

2. Menambah wawasan bagi pembaca untuk dapat merenungkan

kembali makna pentingnya persatuan sehingga dapat menjadi

bangsa yang bersatu.

1.4. TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian tentang organisasi Aceh Sepakat ini sebenarnya belum pernah

ditulis orang, tetapi walaupun begitu ada beberapa buku yang penulis anggap

dapat dijadikan sebagai bahan tinjauan pustaka untuk mendukung tulisan yang

berjudul organisasi Aceh Sepakat di kota Medan.

Karya Fredrik Barth terjemahan oleh Nining I. Soesilo dalam buku yang

berjudul Kelompok Etnik Dan Batasannya (1988), menjelaskan mengenai

proses-proses yang mengakibatkan berpindahnya populasi melewati batas etnik yang

akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan demografi antara berbagai

kelompok etnik ini.11 untuk mempertahankan stabilitas demografi maka

kelompok-kelompok ini harus peka terhadap perubahan yang terjadi sebagai

reaksi atas tekanan ekologi. Hal ini dimaksudkan karena lingkungan yang

berbeda sudah tentu menuntut penampilan yang berbeda pula. Walaupun ada

proses-proses yang demikian, ciri etnik tetap menunjukkan sifat-sifat yang

terkelompok tetapi tidak saling ketergantungan, sehingga ada keragaman di

antara anggota masyarakat. Walaupun contoh kasus yang digambarkan dalam

buku ini bukan contoh kasus etnis yang ada di Indonesia, tetapi terdapat pola

yang sama tentang terkelompoknya etnis-etnis di kota.

11

(19)

Usman Pelly dalam bukunya yang berjudul Urbanisasi dan Adaptasi:

Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing (1994), menjelaskan

tentang bagaimana suatu kelompok etnis dapat berkembang diluar daerah asalnya

tanpa harus menghilangkan budaya dan adat istiadatnya. Etnis Mandailing dan

Minangkabau yang diteliti Pelly mempunyai perbedaan budaya yang

masing-masing ingin menjadi kelompok etnis yang dominan di dalam masyarakat yang

majemuk, hal ini tampak pada daerah-daerah Kota Medan yang didominasi oleh

mereka. Perbedaan ini semakin jelas setelah orientasi keagamaan yang mereka

miliki disalurkan kedalam organisasi-organisasi sukarela, misalnya

Muhammadiyah oleh etnis Minangkabau dan Al Washliyah oleh etnis

Mandailing. Organisasi keagamaan ini sekaligus merupakan ikatan primordial

yang sifatnya etnis. Pelly berpendapat bahwa adaptasi para perantau ini sangat

dipengaruhi oleh suatu “misi budaya” yang harus mempertahankan identitas

etnik dan mengadaptasikan masing-masing budaya tersebut kepada

tuntutan-tuntutan lingkungan perkotaan. Organisasi etnis (kelompok paguyuban) dipakai

sebagai mekanisme adaptasi dan sebagai alat perjuangan dalam bersaing dengan

kelompok-kelompok etnis lain di perkotaan. Masalah etnis Minangkabau dan

Mandailing dianggap sebagai kesamaan historis dengan berdirinya organisasi

etnis Aceh di Kota Medan. Etnis Aceh yang jumlahnya lebih sedikit dan hidup

dalam kelompok etnik lain juga merasa mempunyai misi budaya yang sama

dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Tulisan Ahmad Sahur yang berjudul Merantau Bagi Orang Pidie dalam

Migrasi, Kolonisasi dan Perubahan Sosial (1988). Dalam tulisannya Ahmad

(20)

kesadaran keamanan di berbagai daerah yang menyebabkan penduduk desa

terpaksa mengungsi ke kota atau daerah lain.12 Akan tetapi dalam

perpindahannya orang-orang Pidie tidak melupakan kehidupan sosial budaya

yang ada di kampungnya, dan mereka dapat membentuk organisasi-organisasi

yang beranggotakan orang-orang Pidie itu sendiri. Dari sini dapat diambil

kesimpulan bahwa orang Pidie dapat menyesuaikan diri dengan

orang-orang kota dengan aneka perubahan sosial yang ada.

Irini Dewi Wanti dalam tulisannya yang berjudul Kehidupan Masyarakat

Etnis Aceh Perantauan di Kota Medan 1950-1999 (2000), tentang masyarakat

Aceh yang pergi merantau keluar daerahnya terutama ke Kota Medan. Dalam

tulisannya Irini menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan perpindahan etnis

Aceh keluar daerahnya. Faktor-faktornya antara lain, pertama karena kesulitan

hidup di desa yang disebabkan semakin besarnya pertumbuhan penduduk dan

kurangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan diluar lapangan pertanian.13

Kedua, adanya gangguan keamanan yang terjadi disebabkan dua peristiwa yaitu

situasi awal kemerdekaan (1945) dan saat terjadinya peristiwa Darul

Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pada tahun 1955.14 Irini juga

menjelaskan tentang bagaimana etnis Aceh yang merantau ke Kota Medan, akan

tetapi dengan kepergiannya dari kampung halaman dapat terus mempertahankan

kebudayaan dan adat istiadatnya. Hal ini dapat dilihat dari kelompok-kelompok

paguyuban yang dibentuk masyarakat Aceh ketika berada diluar kampung

12

Ahmad Sahur, Merantau Bagi Orang Pidie, dalam Migrasi, Kolonisasi dan

Perubahan Sosial, Jakarta: Yayasan Ilmu-ilmu Sosial, Pustaka Grafika Kita, 1988, hlm.24. 13

Irini Dewi Wanti, Kehidupan Masyarakat Etnis Aceh Perantauan di Kota Medan

1950-1999, Banda Aceh: Departemen Pendidikan Nasional, Kantor Wilayah Propinsi D.I. Aceh,

Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2000, hlm. 27.

14

(21)

halamannya. Tidak mungkin kelompok-kelompok itu dapat berkembang dan

menjadi satu dalam sebuah organisasi apabila tidak didasari oleh rasa

kekeluargaan yang erat dari individunya masing-masing.

Keempat tulisan diatas menjadi dasar bagi penulis yang digunakan

sebagai pendukung untuk penulisan ilmiah ini karena dalam isinya nanti akan

dibahas masalah bagaimana masyarakat etnis aceh menyesuaikan diri dengan

masyarakat lain yang ada di kota Medan sehingga dapat terus melangsungkan

kegiatan sosial ekonomi di lingkungan perkotaan.

1.5. METODE PENELITIAN

Penulisan ilmiah yang memenuhi syarat adalah penulisan yang didukung

oleh sumber maupun informasi yang dapat dipertanggungjawabkan serta harus

relevan dengan pokok permasalahan yang akan ditulis. Untuk memperoleh

sumber bagi penulisan ini, maka langkah awal yang penulis lakukan adalah

mengumpulkan sumber atau Heuristik. Seperti yang telah disebutkan dalam

bagian terdahulu bahwa penelitian secara khusus tentang organisasi ini belum

pernah ada, sehingga sumber-sumber tertulis yang berkenaan dengan hal ini sulit

untuk diperoleh. Akan tetapi dalam penulisan ilmiah ini studi kepustakaan tetap

digunakan untuk mendapatkan sumber-sumber tertulis yang mendukung

penelitian ini, disamping sumber-sumber primer tertulis dari dokumen yang ada

tersimpan di organisasi Aceh Sepakat.

Studi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan sumber melalui

(22)

keterangan-keterangan yang diperlukan, serta untuk dapat melihat sendiri masalah yang ada

pada objek yang akan diteliti. Dalam studi lapangan ini penulis menggunakan

metode wawancara terbuka dengan interview guide. Dengan interview guide

maka penulis berharap mendapatkan keterangan yang lebih personal terhadap

objek yang dipelajari. Untuk itu dalam pengumpulan sumber lisan melalui

wawancara penulis menjumpai beberapa informan yang dianggap mengetahui

masalah yang dikaji, seperti misalnya Noernikmat dan Jusuf Hanafiah. Mereka

ini dapat dianggap sebagai informan kunci yang banyak mengetahui awal

berdirinya Aceh Sepakat di Kota Medan. Dari kedua tokoh ini akan

dikembangkan informasi tentang informan-informan lain.

Setelah sumber-sumber lisan maupun tulisan didapatkan, kemudian

dilakukan kritik terhadap sumber-sumber tersebut. Kritik ekstern untuk menguji

keaslian (otentisitas) sumber-sumber yang digunakan terhadap permasalahan

yang akan diteliti, dan kritik intern untuk mengetahui apakah sumber-sumber

tersebut dapat dipercaya (kredibilitas).

Selanjutnya sumber-sumber yang telah dikritik tersebut akan ditafsirkan

(interpretasi) dengan menguraikan (analisis) kembali sumber-sumber yang dapat

digunakan dalam penelitian ini dan yang tidak dapat digunakan. Sumber-sumber

yang dapat digunakan akan dikelompokkan (sintesis) sesuai dengan kronologis

tahunnya sehingga ditemukan fakta yang terjadi dalam masalah yang akan

diteliti. Setelah disimpulkan fakta dari penafsiran terhadap sumber-sumber,

kemudian akan dilakukan penulisan (historiografi) yang berdasarkan latar

belakang terbentuknya organisasi Aceh Sepakat di Kota Medan dan

(23)

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA MEDAN

2.1 Keadaan Penduduk

Kota Medan merupakan kota di Sumatera Utara yang memiliki penduduk

terbanyak, hal ini disebabkan pesatnya pertumbuhan industri sehingga

menyebabkan perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan tujuan mencari

pekerjaan, disamping faktor lain seperti fasilitas pendidikan yang lebih baik. Dari

sensus penduduk tahun 1961, 1971, 1980, dan 1990 dapat dilihat perkembangan

jumlah penduduk setiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Lihat pada tabel

berikut:

Tabel-1

Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Medan

No Tahun Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan

I 1961 479.090 Jiwa –

II 1971 635.562 Jiwa 2,90%

III 1980 1.378.953 Jiwa 12,99%

IV 1990 1.730.752 Jiwa 2,30%

Sumber: Kencana Sembiring Pelawi, Corak dan Pola Hubungan Sosial

Antara Golongan dan Kelompok Etnik di Daerah Perkotaan,

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Pada tahun 1971-1980 Kota Medan merupakan daerah yang tertinggi laju

pertumbuhannya yakni sebesar 12,99%. Hal ini disebabkan adanya perluasan

wilayah pada tahun 1974. Akan tetapi secara riil rata-rata laju pertumbuhan

penduduk sebelum perluasan wilayah adalah 3,58%. Kepadatan penduduk

(24)

penduduk di suatu daerah dibandingkan dengan luas tanah yang ditempati

dinyatakan dengan banyaknya penduduk perkilometer persegi. Lihat pada tabel

berikut:

Tabel-2

Kepadatan Penduduk per km2 di Kota Medan

No Tahun Penduduk Km

I 1961 9.394 Jiwa/Km2 70

II 1971 12.462 Jiwa/Km2 93

III 1980 5.204 Jiwa/Km2 118

IV 1990 6.231 Jiwa/Km2 143

Sumber: Kencana Sembiring Pelawi, Corak dan Pola Hubungan Sosial

Antara Golongan dan Kelompok Etnik di Daerah Perkotaan,

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Dengan gambaran keadaan penduduk seperti tersebut di atas, pada

umumnya penduduk lebih tertarik bertempat tinggal di kota, tepatlah kiranya

langkah pemerintah melaksanakan program keluarga berencana untuk

mengendalikan penduduk dan pemerataan pembangunan di desa-desa.

Sebenarnya meningkatnya jumlah penduduk Kota Medan secara tajam

dimulai setelah kemerdekaan, sehingga kondisi penduduk memperlihatkan suatu

gambaran masyarakat yang majemuk. Keadaan ini disebabkan karena tajamnya

pergeseran beberapa kelompok etnis dari masa sebelum dan sesudah

kemerdekaan. Sesudah kemerdekaan arus migrasi dari kelompok etnik lainnya

bertambah terus terutama dari daerah Tapanuli Utara (Batak Toba), Karo dan

(25)

Tabel-3

Rata-rata Pertumbuhan Penduduk Kota Medan Tahun 1930 dan Tahun

1981 Menurut Suku Bangsa

No Etnik Tahun 1930 Tahun 1981 Tahun

Sumber: Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi

Budaya Minangkabau dan Mandailing, Jakarta: Pustaka

LP3ES Indonesia, 1994.

Seperti terlihat dari angka-angka di atas, setelah kemerdekaan terdapat

arus masuk berbagai kelompok etnik, terutama Batak Toba dari Tapanuli Utara.

Dalam 1930 hanya ada 882 etnis Batak Toba di Kota Medan, akan tetapi pada

1981 terdapat 182.686 etnis Batak Toba. Secara kuantitatif populasi etnis Batak

Toba meningkat 222 kali lipat, sementara etnis Mandailing meningkat 25 kali,

etnis Minangkabau 26 kali, etnis Jawa 20 kali dan etnis Cina 6 kali lebih. Di

samping kelompok etnik tersebut, terdapat etnis lainnya seperti Simalungun,

Dairi, Aceh dan Nias yang bermigrasi ke Kota Medan setelah kemerdekaan.

Dari pernyataan di atas terlihat bahwa Kota Medan merupakan kota yang

heterogen penduduknya. Bila dilihat dari tipe penggolongan kota di Indonesia,

(26)

bukan dari dalam kota itu sendiri melainkan suku-suku lain yang berasal dari luar

kota itu sendiri. Kota medan sebagai salah satu kota warisan kolonial di

Indonesia menurut Usman Pelly memperlihatkan wajah ganda, yaitu bagian pusat

kota terdiri dari dua pola pemukiman. Pola pertama yaitu pemukiman elit, bekas

tempat kediaman dan perkantoran pemerintah kolonial Belanda (European Wijk)

yang ditandai dengan pengaturan ruang dan bentuk rumah gaya barat. Pola

pemukiman seperti ini terdapat di sekitar jalan Kesawan, jalan Diponegoro dan

jalan Palang Merah. Pola kedua yaitu pemukiman pedagang timur asing yang

didominasi oleh kelompok etnis Cina dengan pola pemukiman yang khas yang

menjadikan tempat tinggal dan aktivitas dagang dalam satu atap dengan model

bertingkat yang berjajar di sepanjang jalan. Setelah tahun 1960 pola pemukiman

seperti ini misalnya Pajak Hongkong, Mercu Buana, dan Pajak Sambas.15

Pertumbuhan penduduk Kota Medan sebagian besar disebabkan oleh arus

migrasi kelompok etnik dari berbagai wilayah di sekitar Indonesia. Di zaman

kolonial orang Cina dan Jawa didatangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga

buruh di perkebunan, sedangkan orang Minangkabau, Mandailing dan Aceh

sebagian besar sebagian besar perantau yang bebas bergerak di sektor

perdagangan dan sebagian lagi yang berpendidikan barat bekerja di perkantoran.

2.2. Kondisi Sosial Ekonomi

Kota Medan dari aspek pertumbuhan ekonomi bagi wilayah Sumatera

Utara mempunyai fungsi sebagai pusat perdagangan, pusat administrasi

15

(27)

pemerintahan, pusat pendidikan, pusat kebudayaan dan sebagai kota industri

memiliki potensi yang cukup besar. Hal ini terlihat antara lain dari jumlah dan

kualitas penduduk serta luas arealnya yang ditinjau dari hubungan daerah antar

negara, disamping lengkapnya prasarana dan sarana ekonomi, seperti angkutan

darat maupun laut yang sudah mulai berkembang sekitar tahun 50-an.0

Jika dilihat dari sektor pertanian di Kota Medan setiap tahunnya

cenderung berkurang karena lahan-lahan tersebut depergunakan untuk

perindustrian, pusat perkantoran dan lain-lain. Dalam bidang ekonomi ada

banyak tipe-tipe lapangan pekerjaan non formal di Kota Medan yang cenderung

didominasi oleh etnis tertentu. Hal tersebut tampak misalnya pada tipe tenaga

kerja tidak menetap. Kecenderungan adanya tenaga kerja tidak menetap dapat

dilihat dengan jelas terutama pada buruh pabrik, bangunan, pekerja kasar di

bengkel, penyapu jalan dan lain-lain. Tenaga kerja seperti ini berasal dari daerah,

seperti Tembung, Saentis, Sampali, Batang Kuis, Kelambir Lima, Labuhan,

Tandem serta Tanjung Morawa. Mereka ini melakukan pekerjaan dari pagi hari

dan kembali pada sore hari. Sebagian besar dari mereka ini adalah etnis Jawa,

sulit untuk menemukan diantara mereka itu tenaga kerja dari suku bangsa lain

termasuk suku Aceh.

Etnis Mandailing umumnya mendominasi instansi-instansi pemerintahan,

etnis Batak Toba banyak yang memilih profesi di kepolisian dan bisnis angkutan

kota, bisnis rumah makan banyak dikelola oleh etnis Minangkabau. Selain

didominasi oleh etnis Cina kaum pedagang yang ada di Kota Medan umumnya

(28)

Di Medan hubungan kekerabatan sering dimanfaatkan dalam kesempatan

mencari kerja, meskipun kenyataannya ini telah membudaya dalam seluruh

masyarakat Indonesia pada akhir-akhir ini. Akan tetapi praktek seperti ini jarang

dilakukan oleh etnis Melayu. Ada kecenderungan bahwa mereka enggan untuk

memakai kerabat dalam rangka memperoleh kesempatan kerja di sektor formal,

bahkan dapat dikatakan dalam suku bangsa Melayu hubungan pertemanan ini

lebih diutamakan daripada hubungan kekerabatan. Hal ini terjadi karena

hubungan kekerabatan dalam memberikan pekerjaan dianggap etnis Melayu

sering mengakibatkan resiko yang besar, karena hubungan itu memiliki

ikatan-ikatan lain dalam pranata keluarga atau adat, sehingga jika terjadi hubungan yang

tidak baik suatu ketika dalam pranata adat akan mempengaruhi jalannya

pekerjaan, sedangkan hubungan pertemanan tidak memiliki resiko yang terlalu

besar.

Seperti halnya masyarakat melayu, hal ini juga berlaku bagi masyarakat

Aceh yang ada di Kota Medan. Hubungan sesama etnis dan sekampung tidak

membuat seseorang mendapat posisi pekerjaan dalam suatu instansi

pemerintahan. Hal ini tampak pada instansi pemerintahan yang ada di Kota

Medan, ketika ada masyarakat Aceh yang memimpin tidak banyak dari

golongannya yang diangkat dan diberi jabatan tertentu.

Kondisi sosial ekonomi penduduk Kota Medan juga dapat dilihat pada

kampung elit dan kampung miskin.16 Batas kedua kategori itu sulit ditentukan,

dalam arti keduanya saling membaur. Dalam kampung elit terdapat pula warga

yang menurut ukuran Kota Medan termasuk tidak mampu, walaupun demikian

16

(29)

dengan memberi sedikit ciri-ciri dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat

setempat secara kualitatif dapat ditentukan kampung-kampung seperti yang

dimaksud.

Kampung Elit dalam pengertian masyarakat Kota Medan adalah tempat

pemukiman penduduk umum, pejabat serta kompleks perumahan dinas.

Kampung elit mempunyai ciri-ciri antara lain bangunan rumah umumnya

permanen, anggota warga terdiri dari pejabat dan karyawan instansi tertentu,

tingkat kepadatan penduduk relatif rendah, lingkungan pemukiman teratur, tertib

dan bersih serta memiliki berbagai fasilitas yang memadai. Fasilitas-fasilitas

tersebut antara lain sumber air bersih, tempat pembuangan sampah, listrik,

gang-gang lurus yang langsung dihubungkan dengan jalur aspal, serta mempunyai

saluran air hujan dan limbah.

Kedua adalah kampung miskin ini tercermin pada kondisi perumahan dan

lingkungan yang relatif buruksebagai pemukiman yang sehat biasanya keadaan

ini disebabkan oleh tingkat pendapatan penduduk yang rendah. Ciri-ciri kampung

ini antara lain adalah rumah yang relatif buruk dan sempit, tingkat kepadatan

penduduk cukup tinggi dan fasilitas pemukiman yang kurang memadai. Sumur

merupakan sumber air bersih, tetapi tidak semua rumah memilikinya. Jamban

atau WC keluarga darurat dan sering berpindah-pindah. Selokan atau parit

pembuangan air limbah sangat jarang kalaupun ada tetapi kurang berfungsi. Pada

musim kemarau kampung-kampung ini sering kesulitan air bersih, tetapi apabila

(30)

2.3. Kondisi Sosial Budaya

Kondisi Kota Medan setelah kemerdekaan memperlihatkan suatu

gambaran yang majemuk. Keadaan ini disebabkan karena tajamnya pergeseran

beberapa kelompok etnis dari masa sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Kedatangan suku bangsa dari berbagai daerah di luar Kota Medan setelah

kemerdekaan mengakibatkan hubungan antar etnis di daerah ini semakin

kompleks. Namun kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan kota-kota

lain seperti Bandung, Yogyakarta atau Ujung Pandang, karena apa yang disebut

oleh Usman Pelly bahwa di Kota Medan tidak mengenal apa yang disebut

dengan dominant culture (budaya yang paling dominan).17 Meskipun etnis

Melayu sebagai tuan rumah di Kota Medan, akan tetapi beberapa kelompok etnis

tetap ingin menonjolkan budaya khas mereka dalam kehidupan yang majemuk.

Sebagai contoh dalam hal ini adalah, persaingan antar suku di kantor pemerintah

dan swasta, terminal bis, pusat perbelanjaan sampai universitas.

Setiap kelompok etnis di Kota Medan membutuhkan usaha untuk

mengekspresikan identitas etnisnya lewat berbagai media dan simbol-simbol

kehidupan budaya. Pengungkapan identitas ini sering dilakukan secara aktif dan

sadar, seperti memakai pakaian adat, perhiasan, dan bahasa daerah agar orang

dari kelompok etnis lainnya mengetahui identitas dan batas-batas antara mereka

dan orang lain.18 Ekspresi identitas etnis ini dibutuhkan untuk mengukuhkan

kesetiaan anggota kelompok etnis tersebut. Ekspresi identitas etnis tersebut juga

17

Usman Pelly, Hubungan Antar Kelompok Etnis, Beberapa Kerangka Teoritis Dalam

Kasus Kota Medan dalam Interaksi Antar Suku Bangsa Yang Majemuk, Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, 1989, hlm.2.

18

(31)

dapat berfungsi ganda, pertama memberikan pengukuhan dari dalam dan

pengukuhan dari luar. Dalam acara perkawinan misalnya, masing-masing

kelompok etnik mencoba memperlihatkan identitas etnisnya masing-masing.

Upacara adat yang megah adalah salah satu contoh ekspresi ini. Dengan

demikian mereka ingin mendapatkan tempat di tengah masyarakat yang

majemuk, agar mereka berada dan sekaligus dapat mempersatukan kesetiaan

(32)

BAB III

LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA ORGANISASI ACEH

SEPAKAT DI KOTA MEDAN

3.1. KEDATANGAN ORANG ACEH KE KOTA MEDAN

Menurut Mochtar Naim, merantau mengandung enam elemen utama, yaitu:

1) Meninggalkan kampung halaman

2) Biasanya dengan sukarela atau kemauan sendiri

3) Pergi untuk jangka waktu yang cukup lama

4) Dengan tujuan mencari nafkah, menuntut ilmu dan mencari pengalaman

5) Biasanya dengan niat untuk kembali ke kampung halaman

6) Secara kultural merantau ialah pola dari setiap masyarakat yang

berkelompok19

Ketika merantau, maka perantau sangat dipengaruhi oleh adanya satu

“misi budaya”, walaupun faktor-faktor “push-pull” mungkin saja merangsang

orang untuk merantau.20 Hubungan budaya antar para migran dan adaptasi

terhadap budaya tuan rumah yang dominan itu dipengaruhi oleh misi budaya

para perantau selain oleh budaya yang dominan. Misi budaya juga dapat

mempengaruhi pemilihan pekerjaan dan tempat-tempat pemukiman.

Pemilihan-pemilihan pekerjaan dan pemukiman ini menggambarkan strategi adaptasi para

perantau itu sendiri. Strategi-strategi adaptasi adalah cara-cara yang dipakai

perantau untuk mengatasi rintangan-rintangan yang mereka hadapi dan untuk

19

Mochtar Naim, Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1979, hlm.3.

20

Usman Pelly, Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan

(33)

memperoleh suatu keseimbangan positif dengan kondisi-kondisi latar belakang

perantauan.21

Seperti kita ketahui, di Kota Medan terdapat pemukiman-pemukiman

kelompok etnis yang bermukim di satu daerah tertentu. Dalam kelompok

pemukiman ini, hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan sosial tradisional

kelompok etnik dari kampung halaman mereka akan tetap dipertahankan,

misalnya melakukan upacara-upacara adat seperti di kampungnya, dan tetap

menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari dengan sesama

etnisnya.22 Pemukiman-pemukiman ini melestarikan kesinambungan budaya

melalui interaksi sehari-hari, tukar menukar pemikiran mengenai pekerjaan, dan

bagaimana menjalankan tradisi adat untuk setiap masalah yang timbul dalam

perantauan.

Usman pelly dalam penelitiannya membagi beberapa pemukiman etnis

yang ada di Kota Medan, akan tetapi ia tidak menegaskan pemukiman mana

yang banyak dihuni oleh etnis Aceh. Ia berpendapat bahwa etnis Aceh lebih suka

tinggal bersama-sama dengan etnis lainnya, misalnya dengan etnis Mandailing

dan Minangkabau. Hal ini tampak dalam sensus populasi penduduk Kota Medan

berdasarkan kelompok etniknya, misalnya di daerah Kota Maksum etnis Aceh

berjumlah 1.112 jiwa, sementara etnis Minangkabau mendominasi daerah

pemukiman dengan jumlah 13.888 jiwa. Di daerah Tegal Sari I etnis Aceh

berjumlah 116 jiwa dan etnis Minangkabau 6.603 jiwa. Di daerah Sei Mati etnis

Aceh berjumlah 603 jiwa dengan etnis Mandailing 2.503 jiwa, dan di daerah

Bandar Selamat etnis Aceh berjumlah 76 jiwa dengan etnis Mandailing yang

21

Ibid., hlm.83.

22

(34)

berjumlah 8.673 jiwa.23 Dari perhitungan di beberapa daerah tersebut dapat

diambil kesimpulan bahwa etnis Aceh bukanlah menjadi etnis yang dominan di

Kota Medan, dan dikategorikan dalam kelompok masyarakat yang tidak suka

merantau. Naim mengemukakan bahwa etnis Aceh tidak pernah bermigrasi

dalam jumlah yang besar ke suatu daerah tertentu, dan pola merantau bagi etnis

Aceh lebih didominasi oleh faktor keempat yaitu dengan tujuan mencari nafkah,

menuntut ilmu dan mencari pengalaman.24

Orang-orang Aceh telah datang ke Kota Medan sejak masa revolusi

kemerdekaan, yaitu untuk membantu lasykar-layskar rakyat yang ada di Kota

Medan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan

penjajah Belanda. Ketika peristiwa Medan Area bergejolak, dua orang ulama

yang cukup terkenal di Sumatera Timur, yaitu Kiyai Abdul Halim Hasan dan

Kiyai Zainal Arifin Abbas membuat surat dan mengirim utusan khusus untuk

menemui Ketua Umum PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) Tgk.

Mohammad Daud Beuereuh di Banda Aceh.25 Isi surat tersebut mencakup tiga

hal, yaitu:

1) Kehadiran Belanda di Medan Area jelas mengancam

kelangsungan hidup bangsa, negara RI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 dan membahayakan agama Islam.

2) Sudah waktunya kaum muslimin dari Aceh ikut serta membantu saudara-saudaranya di Sumatera Timur untuk melancarkan “Perang Jihad” dan “Perang Sabil” guna mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

23

Ibid., hlm. 111-119. Sensus populasi berdasarkan kelompok etnik ini berangka tahun 1981. Daerah Kota Maksum dan Tegal Sari I adalah daerah yang didominasi oleh etnis Minangkabau, sementara daerah Sei Mati dan daerah Bandar Selamat didominasi oleh etnis Mandailing. Penulis tidak mendapatkan data mengenai jumlah etnis Aceh yang bermukim di sekitar jalan Binjai dan Darussalam, karena ketiadaan data mengenai perhitungan penduduk di Kota Medan berdasarkan kelompok etniknya.

24

Mochtar Naim, op. cit., hlm. 46.

25

(35)

3) Sumatera Timur Membutuhkan senjata berat, meriam-meriam besar kesatuan artileri yang mampu memblokir dan menghancurkan pasukan artileri Belanda yang memiliki senjata modern dan pesawat terbang.26

Surat tersebut mendapat tanggapan positif dari Tgk. Mohammad Daud Beureuh,

yang kemudian memulai rencana pengiriman senjata berat ke Front Medan Area

(Desember 1946), dan dilakukan oleh Komando Resimen II di Bireuen atas

perintah Panglima Divisi Gajah-I, Kolonel Husin Yusuf. Pada saat itu Divisi

Gajah-I telah selesai membentuk Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) di

bawah pimpinan Letnan Kolonel Cut Rachman, yang terdiri atas tiga batalyon.

Daerah Medan Barat, batalyon-I RIMA di bawah pimpinan Kapten Ali Hanafiah

ditempatkan di sekitar Kampung Lalang, daerah Medan Barat Laut, yaitu

batalyon-II RIMA di bawah pimpinan Kapten Alamsyah ditempatkan sekitar

Klumpang, dan terakhir daerah Medan Utara, batalyon-III RIMA di bawah

pimpinan Kapten Ali Hasan As ditempatkan di sekitar Titi Payung/Hamparan

Perak.27

Kedatangan orang Aceh ke Kota Medan juga tidak dapat dilepaskan dari

kondisi di Aceh ketika peristiwa Darul Islam/Tentara Islam meletus, dan akibat

dari peristiwa ini banyak orang Aceh yang berpindah ke Sumatera Utara

terutama Kota Medan.28 Arus perpindahan orang-orang Aceh ke Kota Medan

dipengaruhi oleh keadaan di Aceh yang pada saat itu tidak kondusif. Pada tahun

26

Ibid., hlm.118.

27

Biro Sejarah Prima, Medan Area Mengisi Proklamasi: Perjuangan Kemerdekaan

Dalam Wilayah Sumatera Utara, jilid-1, Medan: Badan Musyawarah Pejuang Republik

Indonesia Medan Area, 1976, hlm.401.

28

(36)

1953 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII di bawah pimpinan

Daud Beureuh. Daud Beureuh menyatakan Aceh dan daerah-daerah yang

berbatasan dengannya menjadi bagian Negara Islam Indonesia.29 Peristiwa

pemberontakan DI/TII ditandai dengan adanya tindak kekerasan melalui

penyerangan-penyerangan terhadap kota-kota tertentu, kota-kota ini kemudian

diduduki hanya untuk sementara dan mereka memperluas serangan ke daerah

lainnya. Hampir ke seluruhan daerah Aceh dapat dikuasai oleh kelompok

pemberontak DI/TII. Hanya beberapa kota saja terutama kota besar yang tidak

dapat dikuasai oleh kelompok pemberontak ini seperti Banda Aceh, Sigli dan

Langsa. Kondisi seperti ini mengakibatkan terjadinya kekhawatiran yang cukup

tinggi bagi masyarakat Aceh sehingga menyebabkan mereka melakukan

pergerakan/perpindahan ke kota lainnya yang mereka anggap lebih aman.

Jadi faktor keamanan diri dan keluarga menjadi alasan mereka berpindah,

karena tidak ada satu orangpun yang dapat menjamin dirinya untuk tetap aman

dalam keadaan kacau tersebut. Keadaan di Aceh mulai berangsur pulih setelah

pemerintah melakukan pendekatan keamanan terhadap kedudukan pemberontak

di kota-kota tertentu, seperti Banda Aceh, Beureun, Sigli dan Langsa. Hanya

dalam beberapa minggu saja pasukan pemerintah telah berhasil memukul

mundur pasukan DI/TII dari kota yang telah dikuasainya. Hal ini juga

memberikan pengaruh bagi masyarakat Aceh sehingga ada yang memutuskan

kembali ke daerahnya, karena daerah tempat tinggalnya telah diamankan oleh

pemerintah. Sebagian lagi memutuskan untuk tetap tinggal di pengungsian

hingga keadaanya benar-benar aman, dan ada juga yang memutuskan untuk

29

(37)

keluar dari Aceh dan menuju kota lain, seperti Medan dan sekitarnya yang

mereka anggap lebih aman untuk dapat melakukan usaha-usaha di bidang

ekonomi.30

Migrasi orang-orang Aceh ke Kota Medan yang dilakukan setelah tahun

50-an lebih didukung oleh faktor pendidikan. Mereka menganggap bahwa

pendidikan di Kota Medan jauh lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan

sekolah-sekolah maupun universitas yang ada di Aceh, terutama karena

kurangnya tenaga pengajar pada waktu itu.31 Beberapa tokoh masyarakat Aceh

yang menjalani pendidikan di Kota Medan adalah H.M. Jusuf Hanafiah (USU),

Teuku Marzuki Jacob (USU), Teuku Syamsul Bahri (USU), dan H. Muhammad

TWH (UISU).

Berbeda halnya dengan alasan masyarakat Aceh yang pindah ke Kota

Medan menjelang tahun 60-an, tidak lagi karena masalah keselamatan, tetapi

lebih difokuskan pada alasan ekonomi, terutama untuk mendapatkan pekerjaan

yang lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukannya di Aceh.

Tujuannya adalah untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya dan

sekaligus mengembangkan usahanya.32 Beberapa tokoh masyarakat Aceh yang

bergerak di bidang wiraswasta adalah H.M. Noernikmat, Ramli Mahmoed, H.

Mustafa Sulaiman, H.M. Ganie dan H.M. Joesoef Bahroen.

Seperti yang kita ketahui bahwa daerah yang menjadi tempat pemukiman

untuk tempat tinggal orang-orang Aceh sekitar tahun 50-60 adalah jalan Binjai,

Darussalam dan Kota Maksum. Selama berada di daerah ini orang-orang Aceh

30

Wawancara dengan H.M. Noernikmat, Medan, 20 Juli 2007. 31

Beberapa informan mengungkapkan hal yang sama bahwa tujuan mereka datang ke Kota Medan adalah untuk belajar di universitas yang bermutu dan lebih baik. Wawancara dengan H. M. Jusuf Hanafiah, Medan, 11 Juni 2007.

32

(38)

dapat beradaptasi dengan masyarakat setempat melalui perkumpulan pengajian,

arisan, dan serikat tolong-menolong atau STM yang dibentuk di daerah mereka

tinggal.33 Hal ini terlihat dalam pergaulan orang-orang Aceh, mereka tidak

pernah bertindak diskriminatif terhadap suku-suku lain walaupun berbeda

budaya, misalnya dengan etnis Mandailing dan etnis Minangkabau. Bahkan

mereka masih menganggap bahwa masyarakat etnis lain tersebut masih menjadi

bagian dari diri mereka sendiri. Mereka juga tidak pernah membedakan sikap dan

pola pergaulan mereka terhadap masyarakat di luar etnis Aceh. Hal ini

menyebabkan orang-orang Aceh yang ada di Kota Medan dapat diterima dengan

baik oleh masyarakat setempat

Menurut Van Den Berghe, biasanya akan terjadi segmentasi ke dalam

bentuk kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan kebudayaan antara yang

satu dengan yang lainnya.34 Maksud dari pernyataan ini lebih difokuskan pada

dasar-dasar kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, misalnya etnis

Batak Toba memiliki konsep budaya yang berseberangan dengan budaya etnis

Aceh, mulai dari tata cara berbicara, model pakaian adat dan upacara

perkawinan. Hal inilah yang dilihat Van Den Berghe yang dapat menyebabkan

segmentasi budaya dalam suatu masyarakat. Hal yang diungkapkan oleh Van

Den Berghe tidak terjadi pada pola kehidupan masyarakat Aceh ketika harus

berhadapan atau beradaptasi dengan masyarakat lainnya yang ada di Kota

Medan. Dengan demikian perbedaan kebudayaan antara etnis Aceh dengan etnis

lainnya yang ada di Kota Medan tidaklah menjadi sebuah jurang pemisah,

melainkan terjadinya adaptasi kebudayaan etnis Aceh dengan etnis lainnya di

33

Wawancara dengan H.M. Jusuf Hanafiah, Medan, 11 Juni 2007.

34

(39)

Kota Medan. Hal ini tampak dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan etnis

Aceh yang bermukim di Kota Medan dengan etnis lainnya, seperti mengadakan

pengajian, dan membentuk serikat tolong-menolong.

Sejak kedatangan masyarakat Aceh di Kota Medan mereka telah berusaha

untuk beradaptasi dengan pola kehidupan masyarakat Kota Medan yang

majemuk. Perbedaan kebudayaan antara orang Aceh yang dikenal cukup dekat

dengan nilai-nilai agama Islam agak sedikit berbeda dengan pola kehidupan

masyarakat Kota Medan yang lebih bersifat terbuka dalam mempraktekkan

kehidupan sosial dengan kehidupan agamanya. Perbedaan ini terlihat dari sikap

etnis Aceh yang lebih suka berinteraksi dengan masyarakat yang beragama

Islam, namun bukan berarti etnis Aceh tidak memiliki simpati terhadap

masyarakat lain. Sementara etnis lainnya yang ada di Kota Medan tidak lagi

menganggap masalah keagamaan sebagai masalah yang harus memisahkan tali

kekerabatan. Hal ini dapat dilihat dari daerah pemukiman, bahwa etnis Aceh

lebih senang tinggal di daerah pemukiman yang mayoritas masyarakatnya

beragama Islam, misalnya di daerah pemukiman Minangkabau, Mandailing dan

Jawa. Akan tetapi keadaan ini tidak menjadi hambatan bagi orang-orang Aceh

untuk berkembang di daerah perantauannya.

Nilai-nilai agama yang dikenal dekat pada masyarakat Aceh tidak

ditinggalkan mereka walaupun mereka berada di daerah perantauan. Hal ini

ditandai dengan kegiatan-kegiatan masyarakat Aceh di Kota Medan yang tidak

terlepas dari budaya asli mereka. Usaha tersebut ialah dengan mendirikan pusat

pendidikan agama seperti pondok pesantren yang ditujukan untuk

(40)

yang dikelola orang-orang Aceh ini adalah ustadz Syiahbuddin yang terletak di

jalan Pasar II Medan Baru.35 Orang-orang Aceh tidak hanya bergerak di bidang

pendidikan, tetapi juga membangun mesjid-mesjid yang dijadikan sebagai sarana

pengajian serta pengembangan dan pendalaman agama Islam.36

Fasilitas-fasilitas pendidikan yang didirikan di Kota Medan ini ternyata

tidak hanya diperuntukkan bagi orang Aceh saja, tetapi masyarakat lainnya juga

diberikan kesempatan untuk memanfaatkan fasilitas yang mereka dirikan. Akan

tetapi ada juga fasilitas yang hanya diperuntukkan bagi orang Aceh saja, seperti

asrama yang hanya digunakan oleh mahasiswa dan pelajar-pelajar Aceh yang

sedang menjalani pendidikan di Kota Medan.

Adaptasi kebudayaan yang dilakukan masyarakat Aceh dengan

masyarakat Kota Medan dilakukan dengan cara perkawinan. Hal ini ditujukan

untuk memperluas tali silaturahmi dan hubungan kekeluargaan antara masyarakat

Aceh dengan masyarakat lainnya di Kota Medan.37 Hal ini menunjukkan bahwa

orang-orang Aceh berusaha untuk memperkenalkan budaya mereka terhadap

masyarakat luar, tetapi mereka juga tidak menutup diri untuk mempelajari

budaya masyarakat lain yang dianggap masih sesuai dengan nilai-nilai agama.

Secara aktivitas orang-orang Aceh di Kota Medan mampu berinteraksi dengan

baik dengan keadaan sosial di Kota Medan. Hal ini ditandai dengan tidak adanya

konflik antara masyarakat Aceh dengan masyarakat lainnya di Kota Medan.

35

Irini Dewi Wanti, op. cit., hlm. 45.

36

Wawancara dengan H.M. Noernikmat, Medan, 20 Juli 2007.

37

(41)

3.2.KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT ACEH DI KOTA MEDAN

Mayoritas masyarakat Aceh yang datang dan berdomisili di Kota Medan

adalah orang-orang yang berasal dari daerah Pidie. Orang-orang Aceh yang

berasal dari daerah Pidie ini kebanyakan bekerja di sektor wiraswasta.

Wiraswasta atau berdagang bagi orang Pidie merupakan bagian dari tradisi yang

dijalani secara turun-temurun oleh keluarganya, hal ini karena didukung oleh

semangat merantau ke daerah lain untuk menguji keberuntungannya dalam

bidang perdagangan.38 Masyarakat Aceh yang berprofesi sebagai pedagang

memusatkan kegiatan perdagangannya di daerah pusat pasar atau sentral dan di

daerah Pasar Ikan Lama.39

Pemusatan pedagang-pedagang Aceh di pasar Ikan Lama sudah ada

sekitar tahun 50-an, dan mayoritas pedagang-pedagang Aceh di pasar Ikan Lama

tersebut menggeluti usaha ekspor impor dan perdagangan tekstil. Usaha

perdagangan tekstil orang Aceh dikelola misalnya oleh Firma Tawison, Firma

Puspa, Firma Pulau Perca, Firma Lubuk, Firma Permai, sedangkan yang bergerak

di bidang ekspor impor ialah Firma Aceh Kongsi.40

Di samping bergerak di bidang perdagangan tekstil dan ekspor impor,

usaha lain yang digeluti misalnya membuka usaha dagang makanan berupa

restauran, yang bernama Atjeh Restauran yang terletak di jalan Letnan,

menggeluti usaha transportasi lintasan Medan-Aceh yang berlokasi di jalan

38

Ahmad Sahur, op. cit., hlm. 14.

39

Wawancara dengan H.M. Jusuf Hanafiah, Medan, 11 Juni 2007.

40

(42)

Gajahmada. Usaha ini telah ada sejak tahun 1959, dan nama angkutan tranportasi

tersebut antara lain AFRA, S.T.C dan P.P.R.I.41

Aktivitas perekonomian masyarakat mayoritas etnis Aceh adalah

wiraswasta, baik itu sebagai pedagang maupun sebagai pengusaha.42Tidaklah

mengherankan bila keberadaan orang-orang Aceh di kota medan telah

memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi Aceh Sepakat di

kemudian hari. Selain menjadi pedagang maupun pengusaha, profesi masyarakat

Aceh lainnya adalah sebagai PNS, wartawan, dan ABRI, hanya saja orang-orang

Aceh yang menjadi Pegawai Negri Sipil tidak sebanyak orang-orang Aceh yang

bekerja disektor wiraswasta.43 Kondisi ini didukung oleh karena sedikitnya

masyarakat Aceh yang berpendidikan tinggi, sehingga sulit bagi mereka

memegang jabatan-jabatan tinggi di kota Medan, ditambah lagi karena arus

kepulangan orang-orang Aceh yang cukup bayak pasca peristiwa DI/TII pada

tahun 1958.44 Keadaan pasca DI/TII ternyata cukup banyak berpengaruh bagi

orang-orang Aceh yang ada di kota Medan. Hal ini ditandai dengan ikut

pulangnya orang-orang Aceh yang berpendidikan di kota Medan dengan alasan

untuk memperbaiki dan memulihkan keadan Aceh setelah peristiwa DI/TII.

Posisi mereka sebagai putra daerah sangat menjanjikan bagi mereka untuk bisa

mendapatkan posisi-posisi penting di Aceh terutama bagi mereka yang telah

mengecap pendidikan di Perguruan Tinggi, sehingga hanya sebagian kecil saja

masyarakat Aceh yang masih menetap di Kota Medan. Hal ini tampak dari

41

Roestam Thaib, 50 Tahun Kotapraja Medan, Medan: Djawatan Penerangan Kotapraja-I Medan, 1959, hlm.810.

42

Pengusaha ialah orang yang berusaha dalam suatu bidang apapun dalam hal ekonomi, sedangkan pedagang ialah orang yang pekerjaannya berjualan suatu barang dagangan.

43

Wawancara dengan Hasballah Thaib, Medan, 11 Juni 2007.

44

(43)

keberadaan masyarakat Aceh hingga tahun 1980-an berjumlah hanya 28.390 jiwa

saja, sehingga menempatkan masyarakat Aceh menjadi golongan minoritas,

selain beberapa suku minoritas lainnya, seperti Nias, Batak Dairi, dan Batak

Simalungun.

Mengenai sistem mata pencaharian masyarakat Aceh, sedikit banyak

telah mengalami adaptasi pada keadaan masyarakat Kota Medan, artinya

masyarakat Aceh mulai mengenal jenis-jenis barang kebutuhan yang dibutuhkan

oleh masyarakat lainnya yang ada di Kota Medan. Maksunya bahwa

pedagang-pedagang asal Aceh juga menjadi pemasok kebutuhan masyarakat Kota Medan,

selain masyarakat Minangkabau.

3.3. LAHIRNYA ORGANISASI ACEH SEPAKAT

Seperti telah disebutkan bahwa ide untuk mengumpulkan orang-orang

Aceh dalam suatu organisasi sebenarnya telah ada sejak sekitar tahun 50-an.

Akan tetapi peristiwa DI/TII di Aceh telah membuat masyarakat Aceh yang ada

di Kota Medan tidak berani mendirikan organisasi/perkumpulan yang bersifat

etnis.45 Akan tetapi peristiwa G30S memunculkan kembali keinginan itu,

sehingga tokoh-tokoh penting masyarakat Aceh yang ada di Kota Medan

khawatir peristiwa itu dapat menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat

Aceh yang ada di Kota Medan, dengan demikian mereka perlu mengambil sikap

untuk menghadapi hal ini. Mereka berkeinginan menghimpun seluruh komunitas

45

(44)

masyarakat Aceh dalam suatu wadah organisasi yang bertujuan untuk

mengakomodasikan seluruh potensi dan pemikiran dari masyarakat Aceh.

Apalagi pada saat itu masyarakat Aceh masih terpecah atas perkumpulan

etnis Aceh berdasarkan asal daerahnya seperti perkumpulan masyarakat Aceh

Gayo, perkumpulan masyarakat Aceh Selatan, organisasi PERKASA, STM Aceh

Sepakat dan perkumpulan masyarakat Aceh Barat.46 Satu hal yang perlu diingat

adalah bahwa kedudukan Aceh Sepakat disini bukanlah sebagai sebuah

organisasi seperti Aceh Sepakat sekarang ini, melainkan hanya berupa

perkumpulan serikat tolong-menolong saja.47

Keinginan untuk menyatukan perkumpulan-perkumpulan masyarakat

Aceh di Kota Medan untuk menjadi suatu organisasi besar, dipelopori oleh

tokoh-tokoh Almarhum Teuku Manyak, Hasballah Haji, Ramli Mahmoed,

Abdullah Hasan, Teuku Banta Ali dan Yusuf Bahrum.48 Terhadap keinginan ini

muncul sikap pro dan kontra. Sikap kontra misalnya datang dari organisasi

PERKASA, perkumpulan Aceh Gayo, perkumpulan Aceh Barat dan

perkumpulan Aceh Selatan, dengan alasan bahwa kehadiran organisasi baru

nantinya akan mematikan kredibilitas mereka sebagai perkumpulan yang telah

ada sebelumnya.49

Sikap dukungan terhadap penyatuan perkumpulan yang ada dalam suatu

organisasi baru lebih didasari pada masalah integritas masyarakat Aceh. Ide

untuk membangun organisasi Aceh Sepakat juga banyak dipengaruhi oleh

keresahan yang berasal dari dalam masyarakat Aceh sendiri, karena mereka

46

Wawancara dengan H.M. Jusuf Hanafiah, Medan, 11 Juni 2007. 47

Wawancara dengan Muhammad TWH, Medan, 18 Juni 2007.

48

Wawancara dengan H.M. Jusuf Hanafiah, Medan, 11 Juni 2007.

49

(45)

belum merasa bersatu secara utuh sebagai suatu etnis Aceh. Keadaan pro dan

kontra tidaklah mematikan masyarakat Aceh untuk menghadirkan Aceh Sepakat

sebagai sebuah organisasi yang menaungi masyarakat Aceh yang bermukim di

Kota Medan. Hal seperti inilah yang lebih mendasari lahirnya organisasi yang

bernuansa etnis, bernama Aceh Sepakat, yang berdiri pada 31 desember 1968.50

Munculnya organisasi Aceh Sepakat dinilai sebagai jawaban yang

realistis dalam menampung dan meredakan keresahan masyarakat Aceh terutama

terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di Aceh. Keberadaan perkumpulan

STM Aceh Sepakat yang telah ada sejak zaman pra kemerdekaan mencerminkan

persatuan dan kesatuan dari masyarakat Aceh yang ada di Kota Medan.

Organisasi ini diberi nama Aceh Sepakat juga karena didasarkan faktor

historisnya, maka tidak heran bila akhirnya nama “Aceh Sepakat” yang menjadi

nama sebuah organisasi bagi masyarakat Aceh yang bermukim di Kota Medan.51

Pada awal berdirinya, susunan organisasi Aceh Sepakat (1968) masih

sangat sederhana, dengan pengertian belum memiliki struktur organisasi yang

kompleks (terdiri dari Biro dan Seksi). Permasalahan yang dihadapi organisasi

ini pada awal berdirinya lebih didasarkan pada keadaan badan-badan organisasi

yang belum lengkap. Organisasi ini hanya memiliki struktur yang masih

sederhana dan keberadaannya juga masih terpusat di Kota Medan saja.52 Kondisi

ini menyebabkan terbatasnya sosialisasi mengenai keberadaan organisasi Aceh

50

Lihat Lampiran III.

51

Organisasi ini tidak hanya ada di Kota Medan, tetapi ada beberapa Cabang dan Anak Cabang di sekitar Provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi organisasi ini tidak ada diluar daerah Sumatera Utara. Wawancara dengan Dinar Nyak Idhien Wali, Medan, 13 Juli 2007.

52

(46)

Sepakat ini, sehingga mengakibatkan banyak orang-orang Aceh yang berada di

luar Kota Medan sama sekali tidak mengetahui organisasi Aceh Sepakat ini.

Walaupun cabang-cabang organisasi Aceh Sepakat di daerah lain belum

terbentuk, tetapi organisasi ini telah mampu menyedot lebih kurang 200 orang

anggota.53 Jumlah ini menunjukkan bahwa perhatian orang-orang Aceh yang

bermukim di Kota Medan saat itu cukup tinggi terhadap organisasi ini,

mengingat jumlah tersebut hanya diperoleh di sekitar Kota Medan saja.

Akan tetapi keadaan ini tidak menjadikan organisasi Aceh Sepakat

vakum pada awal berdirinya, karena pada tahun 1969 organisasi ini berhasil

mengadakan musyawarah serta ikrar bersama dengan mengikut sertakan semua

anggota organisasi yang telah ada sebelumnya.54 Hal ini merupakan kinerja

organisasi Aceh Sepakat pada awal berdirinya yang dipimpin oleh H.

Mohammad Jusuf Hanafiah sebagai ketua umum pertama (1968-1969).

Sejak awal berdirinya organisasi Aceh Sepakat ini telah banyak

didominasi oleh orang-orang berpendidikan, karena kebanyakan orang-orang

yang masuk dalam organisasi ini berasal dari organisasi IPTR (Ikatan Pelajar

Tanah Rencong) yang memang disiapkan sebagai kalangan intelektualitas dalam

masyarakat Aceh.55 Di samping para intelektual, orang-orang yang tergabung

dalam organisasi ini kebanyakan berasal dari Aceh Pidie dan Aceh Besar dan

53

Wawancara dengan H.M. Noernikmat, Medan, 20 Juli 2007.

54

Kongres ini tidak hanya dihadiri oleh pengurus organisasi saja, tetapi juga telah melibatkan masyarakat Aceh lainnya yang ada di Kota Medan. Dengan kata lain Kongres I organisasi Aceh Sepakat tidak bersifat tertutup. Wawancara dengan H.M. Jusuf Hanafiah, Medan 11 Juni 2007.

55

(47)

dukungan bagi organisasi ini juga didominasi oleh para pengusaha-pengusaha

Aceh yang ada di Kota Medan.56

Mengenai sumber dana yang diperoleh oleh organisasi aceh sepakat,

selain dengan diririkannya beberapa usaha seperti RSI Malahayati, dana

Organisasi Aceh Sepakat ini didapatkan dari hasil infak, sumbangan-sumbangan

dari masyarakat Aceh yang ada di Kota Medan serta sumbangan-sumbangan

pusat atau daerah Aceh. Dana yang dialokasikan untuk membangun

fasilitas-fasilitas Organisasi Aceh Sepakat yang juga ditujukan untuk kemaslahatan orang

banyak, sebab Organisasi Aceh Sepakat ini memang lebih difokuskan pada

organisasi sosial, sehingga kegiatan ekonominya pun lebih bersifat luas

melingkupi anggota-anggotanya dalam organisasi.

3.4. STRUKTUR ORGANISASI ACEH SEPAKAT

Dalam suatu organisasi biasanya terdapat susunan atau struktur yang

mengatur pelaksanaan kegiatan organisasi tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk

menghindari terjadinya tumpang tindih dalam jabatan atau tugas dari setiap

pelaksanaan kegiatan organisasi. Dengan demikian, struktur organisasi yang jelas

akan menyebabkan personil yang ada di dalamnya mengetahui dengan jelas tugas

dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang diinginkan organisasi.

Pada awal terbentuknya Organisasi Aceh Sepakat, struktur organisasinya

masih sangat sederhana, karena organisasi Aceh Sepakat hanya terdiri dari Ketua

Umum, Sekretaris dan Bendahara.57 Sebagai ketua pertama organisasi Aceh

Sepakat adalah H.M Jusuf Hanafiah, dan proses pengangkatan awal ketua umum

56

Wawancara dengan H.M. Jusuf Hanafiah, Medan, 11 Juni 2007.

57

(48)

lebih didasarkan kepada pengalaman berorganisasi yang dimiliki oleh orang yang

dicalonkan sebagai ketua umum. Selama proses pengangkatan awal ketua umum

organisasi ini, terjadi persaingan yang menyangkut dengan masalah daerah,

karena masing-masing daerah yang mencalonkan kandidat ketua umum lebih

menekankan pada faktor etnisnya. Contohnya adalah masyarakat Aceh Gayo

lebih menginginkan ketua umum yang akan naik nantinya merupakan bagian dari

mereka. Persaingan seperti inilah yang muncul pada saat pemilihan ketua

pertama kalinya.

Persoalan ini mendapat perhatian serius dari dari para tokoh pelopor

Aceh Sepakat, seperti Teuku Manyak, Hasballah Haji, Ramli Mahmoed,

Abdullah Hasan, dan Teuku Banta Ali. Masalah asal usul etnis ini disadari dapat

merenggangkan bahkan mampu merusak kerja sama yang telah ada. Berdasarkan

hal itulah muncul kesepakatan untuk memilih Ketua Umum yang lebih netral

(tidak memihak).58 Untuk periode pertama ini terpilihlah H.M. Jusuf Hanafiah

sebagai Ketua Umum organisasi Aceh Sepakat.

Pada 26 Oktober 1969 dilaksanakan kongres I di Kota Medan. Dalam

kongres ini telah diusahakan perbaikan terhadap kondisi organisasi ini. Di

samping itu Kongres I ini juga dilakukan pemilihan ketua umum untuk periode

II, dan terpilihlah Hasballah Haji sebagai Ketua Umum Aceh Sepakat. Usaha

perbaikan terhadap organisasi ini dapat dilihat dari struktur organisasinya yang

telah menambah jumlah ketua-ketua untuk menangani bidang-bidang tertentu.

Untuk lebih jelas dapat dilihat dari bagan berikut ini:

58

(49)

Struktur DPP Organisasi Aceh Sepakat Tahun 1969-Sekarang

Ketua Umum

Ketua Ketua Ketua Ketua Ketua

Sekretaris Umum

Sekretaris Sekretaris Sekretaris Sekretaris

Sekretaris

Bendahara Bendahara

Ketua Umum sebagai pimpinan puncak organisasi, sementara ketua-ketua

lainnya membawahi beberapa biro-biro seperti, Biro agama dan adat, Biro

kesejahteraan sosial dan pendidikan, Biro ekonomi, Biro kesehatan dan Biro

bantuan hukum. Demikian juga halnya dengan keberadaan sekretaris umum dan

sekretaris. Ketua-ketua ini membidangi beberapa biro yang terbentuk di

organisasi Aceh Sepakat. Ketua I membidangi Biro Agama dan Adat. Ketua II

membidangi Biro Kesejahteraan Sosial dan Pendidikan. Ketua III membidangi

Biro Ekonomi, Usaha dan Pembinaan Dana. Ketua IV membidangi Biro

Kesehatan, Kebudayaan dan Olah Raga. Ketua V membidangi Biro Bantuan

Hukum, Pengerahan Massa dan Humas.

Dewan Pimpinan Pusat organisasi Aceh Sepakat mempunyai fungsi sebagai

pimpinan dan penanggung jawab organisasi pada tingkat pusat. Tugas yang

Gambar

Tabel-1 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Medan
Tabel-2
Tabel-3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi Mi Aceh dan kontribusinya terhadap kecukupan energi dan protein pada pengunjung warung Mi Aceh di Kota Medan..

Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepa/a Sekolah , Budaya Organisasi, Iklim Organisasi, dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Guru di SD Negeri Kola Medan. Medan:

Selain itu pelayanan yang diberikan rumah sakit kusta di Lau Simomo tersebut tidak hanya bagi masyarakat Tanah Karo saja tetapi juga bagi masyarakat luar daerah Karo seperti

Jalan-jalan sempit ditengah rumah penduduk yang padat dan tidak tersedianya hidran kebakaran yang memadai, tentu saja menghambat Dinas Pencegah dan Pemadam Kebakaran Kota Medan

Hasil penelitian menunjukkan (l) Komitmen organisasi kepala SMK di Kota Medan pada umumnya cenderung dalam kategori tinggi, Budaya organisasi kepala SMK di Kota

Pengaruh Sumber Daya Organisasi Terhadap Kesiapsiagaan Petugas Penanggulangan Bencana Menghadapi Bencana Banjir di Kabupaten Aceh Timur, Medan: FKM USU..

kebiasaan nongkrong di warung kopi tidak lagi didominasi oleh satu kalangan saja, tetapi sudah milik semua golongan dalam masyarakat Aceh, khususnya yang berdomisili di kota

Medan merupakan kota yang tidak luput dengan perkembangan