PEMANFAATAN KARA BENGUK (
Mucuna pruriens
) SEBAGAI
KANDIDAT
GROWTH PROMOTER
ALAMI TERHADAP
PERFORMA SAPI SUMBA ONGOLE
SICHI MIKI YANTIKA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pemanfaatan Kara Benguk (Mucuna Pruriens) sebagai Kandidat Growth Promoter Alami terhadap Performa Sapi Sumba Ongole adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
RINGKASAN
SICHI MIKI YANTIKA. Pemanfaatan Kara Benguk (Mucuna Pruriens) sebagai Kandidat Growth Promoter Alami terhadap Performa Sapi Sumba Ongole. Dibimbing oleh DWIERRA EVVYERNIE A dan DIDID DIAPARI.
Saat ini di dunia feedlot Indonesia sedang marak penggunaan senyawa β-agonis untuk memacu ternaknya agar menghasilkan performa lebih baik. Performa ternak yang didapatkan memang lebih baik namun keamanan pangan produk peternakan menjadi masalah ketika penggunaannya dilakukan. Penggunaan Mucuna pruriens diharapkan dapat menggantikan penggunaan senyawa terlarang tersebut. Mucuna pruriens yang dikenal sebagai kara benguk di Indonesia merupakan salah satu jenis leguminosa yang mengandung senyawa aktif antara lain L-dopa yang diduga dapat memacu pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai pemanfaatan kara benguk (Mucuna pruriens) sebagai kandidat growth promoter alami pada sapi Sumba Ongole.
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan ransum dan 4 kelompok ternak dari 16 ekor sapi Sumba Ongole jantan periode finisher dengan rataan bobot badan 488±37.08 kg pada periode finisher. Ransum basal penelitian sebagai ransum control (P0) terdiri dari 15% jerami padi dan 85% konsentrat. Ransum perlakuan (P1) adalah P0 ditambah dengan 12% tepung biji kara benguk; P2 adalah P0 ditambah 16% tempe benguk; dan P3 adalah P0 dengan 200 mg raktofamin HCl (growth promoter sintetis). Parameter yang diukur adalah: konsumsi, rataan pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, kondisi fisiologis ternak, metabolit darah, dan hematologis darah. Analisis data menggunakan ANOVA dan uji kontras ortogonal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung biji kara benguk 12% dan tempe benguk pada level 16% dari BK pakan nyata (P<0.05) meningkatkan konsumsi bahan kering. Pada penggunaan tepung biji kara benguk nyata (P<0.05) meningkatkan pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, dan IOFC. Rata-rata konsumsi bahan kering pakan berkisar 1.90-2.25 % / bobot badan, PBBH 1.11-1.57 kg/ekor/hari, efisiensi pakan 0.100-0.141, dan IOFC Rp. 18,798.06-37,035.38 ekor/hari. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi metabolit dan hematologis perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, tidak memberikan pengaruh negatif pada ternak.
SUMMARY
SICHI MIKI YANTIKA. Utilization of Velvet Bean (Mucuna pruriens) as Potential Natural Growth Promoter on Sumba Ongole Cattle Performance.Supervised by DWIERRA EVVYERNIE A and DIDID DIAPARI.
Currently in the Indonesian feedlots are rampant use of β-agonist compounds to stimulate their animals in order to produce better performance. Livestock performance obtained is more better than don’t used β-agonist compoundsbut the food safety of livestock products becomes a problem when used are made. The use of Mucuna pruriens is expected to replace the use of illicit substances. Mucuna pruriens known as kara benguk in Indonesian is one type of legume that contains active compounds, among others, L-DOPA which allegedly can spur growth. The purpose of this study was to obtain information on the use of velvet bean (Mucuna pruriens) as a candidate natural growth promoter in cattle Sumba Ongole.
The design used was a randomized complete block design with 4 rations treatments and 4 groups of livestock of 16 Sumba Ongole bulls on finisher period with average body weight of 488 ± 37.08 kg. The basal diet studies as a control ration (P0) are composed of 15% rice straw and 85% concentrate. Ration treatment (P1) are P0 with 12% flour velvet bean; P2 are P0 with 16% velvet bean flour; (P3) are coupled with 200 mg raktofamin HCl (synthetic growth promoters). Parameters measured were: consumption, average body weight gain, feed efficiency, animal physiological conditions, blood metabolites, and haematological blood. Analysis of the test data using ANOVA and orthogonal contrasts.
The results showed that the use of 12% velvet bean flour and velvet bean tempeh at the level of 16% BK feed significant (P<0.05) increased dry matter intake. averagedaily weight gain, feed efficiency, and IOFC. The average dry matter intake ranged 1.90-2.25% / body weigth, ADG 1.11-1.57 kg/head/day, feed efficiency 0.100-0.141 and IOFC 19,798.06-37,035.38 head/day. Based on the analysis of metabolites and haematological conditions treated by velvet bean flour, velvet bean tempeh, has notnegative impact on livestock.
Conclusion from the research of velvet bean flour with the appropriate capable dose of maintaining physiological status, improve the performance of livestock and has not negative effects on the animals were consume.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
PEMANFAATAN KARA BENGUK (
Mucuna pruriens
) SEBAGAI
KANDIDAT
GROWTH PROMOTER
ALAMI TERHADAP
DAN PERFORMA SAPI SUMBA ONGOLE
SICHI MIKI YANTIKA
Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Pemanfaatan Kara Benguk (Mucuna Pruriens) sebagai Kandidat Growth Promoter Alami terhadap Performa Sapi Sumba Ongole
Nama : Sichi Miki Yantika
NIM : D152114031
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Dwierra Evvyernie A, MS MSc Ketua
Dr Ir Didid Diapari, MSi Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan
Dr Ir Dwierra Evvyernie A, MS MSc
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli hingga Desember 2013 ialah Pemanfaatan Kara Benguk (Mucuna Pruriens) sebagai Kandidat Growth Promoter Alami terhadap Performa Sapi Sumba Ongole. Karya ilmiah ini mencoba mengangkat potensi lokal berupa kacang-kacangan yang disebut kara benguk (Mucuna pruriens) yang mengandung senyawa aktif antara lain L-dopa yang mampu berperan dalam memacu pertumbuhan (growth promoter), sehingga diharapkan dapat menggantikan peran growth promoter sintetis yang biasa digunakan didalam penggemukan ternak pedaging. Bagian dari karya tulis ini berjudul: Utilization of Velvet Bean (Mucuna pruriens) as Potential Natural Growth Promoter for Drylot Feeding of Sumba Ongole Bulls sedang dalam proses penelaahan di jurnal Media Peternakan IPB.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Dr Ir Dwierra Evvyernie Amirronas, MS MSc dan Dr Ir Didid Diapari, MSi selaku komisi pembimbing dan Prof Dr Ir Komang G. Wiryawan sebagai dosen penguji luar komisi serta sahabatku Alamsyari, SPt yang telah banyak membantu selama penelitian. Penulis mengucapkan terima kasih yang terdalam kepada sosok terkasih dan tersayang yakni Ayahanda Yanadi dan Ibunda Atikah yang telah memberikan kasih sayang, restu, doa, kesabaran, nasehat, bimbingan moral maupun material yang tiada pernah terhenti kepada penulis. Terima kasih kepada adik-adikku tercinta Gilang Swasana Lukiswara, Amd Kep, Abu Shofi, Lintang Krisma Yudha dan saudara-saudaraku yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas doa dan semangatnya. Terima kasih pula terhadap istri tercinta Ummul Hajar, SPt atas bantuan doa, dukungan dan semangatnya dan buah hatiku tersayang Althamis Khalid Al-haritsi Lutfan atas ekspresi dan tawa riangmu yang membawa kebahagiaan serta semangat kepada penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Mas Supri dan Ibu Ade serta jajaran staf Pascasarjana program studi Ilmu Nutrisi dan Pakan serta Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan atas segala bantuan dan bimbingannya. Penulis juga mengucapkan rasa terimakasih kepada teman-teman seperjuangan keluarga besar Ilmu Nutrisi dan Pakan tahun 2010–2014 serta keluarga besar PT. Karya Anugerah Rumpin atas doa, bantuan, kebersamaan dan pengertiannya selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Karnadi Winaga ST atas beasiswa pendidikan yang diberikan dan kepada LPPM IPB atas bantuan dana penelitian yang diberikan melalui program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) tahun 2013 ke Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan
Saya berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua.
Bogor, April 2015
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR LAMPIRAN xii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang
Tujuan 2
Lingkup penelitian 2
METODOLOGI 2
Waktu dan lokasi 2
Materi 2
Metode 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 7
Kondisi Fisiologis Ternak 7
Gambaran Performa Ternak 10
Income Over Feed Cost 12
Respon Metabolit Darah 14
Respon Hematologis Darah 15
SIMPULAN 19
SARAN 19
DAFTAR PUSTAKA 20
LAMPIRAN 23
DAFTAR TABEL
1 Kandungan Nutrien (%) konsentrat perlakuan, tepung biji kara benguk
dan tempe benguk 3
2 Komposisi dan kandungan nutrien konsentrat penelitian 5 3 Gambaran fisiologis sumba ongole yang diberikan tepung biji kara
benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl 8
4 Gambaran denyut nadi sumba ongole yang diberikan tepung biji kara
benguk, tempe benguk dan raktofamin HCL berdasarkan kelompok 9 5 Gambaran performa ternak sapi ongole tanpa perlakuan dan yang
diberikan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl 10 6 Pengaruh perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin
HCl terhadap income over feed cost 13
7 Pengaruh penambahan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan
raktofamin HCl terhadap kondisi Metabolit Darah (mg/dl) 15 8 Pengaruh perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin
HCl terhadap respon hematologis darah 16
DAFTAR LAMPIRAN
1 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal suhu rektal 23 2 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal frekuensi nafas 23 3 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal denyut nadi 23 4 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal konsumsi pakan 24
5 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal PBBH 24
6 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal efisiensi pakan 24 7 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal glukosa darah 25 8 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal trigliserida darah 25 9 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal kolesterol darah 25 10 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal HDL darah 26 11 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal LDL darah 26 12 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal butir darah merah 26 13 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal hemoglobin 27 14 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal packed cell volume 27 15 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal butir darah putih 27 16 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal limfosit 28 17 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal heterofil 28 18 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal monosit 28 19 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal eosinofil 29 20 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal basofil 29
21 Alur proses pembuatan tepung biji kara benguk 29
22 Alur proses pembuatan tempe benguk 30
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai Negara berkembang tingkat konsumsi daging sapi di Indonesia kian meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan gizi. Secara nasional kebutuhan daging sapi dan kerbau tahun 2012 untuk konsumsi dan industri sebanyak 484 ribu ton sedangkan ketersediaannya sebanyak 399 ribu ton (82.52%) dicukupi dari sapi lokal, sehingga terdapat kekurangan penyediaan sebesar 85 ribu ton (17.5%). Kekurangan ini dipenuhi dari impor berupa sapi bakalan dan daging yaitu sapi bakalan sebanyak 283 ribu ekor (setara dengan daging 51 ribu ton) dan impor daging beku sebanyak 34 ribu ton (Ditjennak dan Kesehatan Hewan, 2012). Salah satu kebijakan penting Kementerian Pertanian adalah swasembada daging sapi berbasis sumber daya domestik (Ditjennak 2010).
Upaya dalam peningkatan performa ternak sapi sudah banyak dilakukan untuk memaksimalkan produksi perekor sapi. Upaya pemberian growth promoter seperti β -agonis pernah dilakukan untuk meningkatkan performa produksi sapi. Pemberian β -agonis sintetis tipe 2 mampu meningkatkan laju pertumbuhan, namun pemberiannya menghasilkan residu di dalam daging. Beberapa uji klinis pada manusia yang dilakukan di Eropa mengungkapkan bahwa terjadi penurunan yang signifikan dari resistensi saluran napas bronchial pada pasien asma (Salorinne et al. 1975 dan Baronti et al. 1978). Penurunan resistensi tersebut dapat terjadi hanya dengan 2 tetes larutan 0.006%
dari inhalasi clenbuterol (β-agonist) (Salorinne et al. 1975 dan Baronti et al. 1978). Wabah keracunan daging dan hati sapi yang mengandung clenbuterol pernah dilaporkan oleh Menard (1994) di Spanyol 125 kasus dan di Prancis sebanyak 22 kasus. Ciri-ciri klinis akibat dari keracunan clenbuterol adalah palpitasi, takikardia, pusing, gugup, sakit kepala, tremor dan nyeri otot. Hal tersebut menyebabkan penggunaannya dilarang, oleh karena itu dibutuhkan penggantinya yang alami.
Mucuna pruriens telah lama dikenal sebagai obat herbal dalam pengobatan penyakit parkinson. Di wilayah Jawa Tengah dan Timur, biji benguk digunakan sebagai pengganti kedelai dalam pembuatan tempe. Biji ini mengandung racun sianida yang dapat dihilangkan dengan cara merendam di dalam air bersih selama 24-48 jam sebelum digunakan dalam pembuatan tempe. Dari hasil analisis awal yang dilakukan, benguk mengandung protein yang tinggi sekitar 26.49%, sementara protein kedelai 36%, dan mengandung TDN sebesar 72.55%, suatu potensi energi yang tinggi. Sebagai jenis kacang-kacangan, kara benguk agak berbeda yaitu mengandung ADF dan lignin cukup tinggi (57.64% dan 19.38%). Jika dilihat dari kandungan fitokimianya, kara benguk mengandung flavonoid dan tannin yang sangat kuat disamping mengandung alkaloid dan saponin yang kuat. Senyawa lain yang disinyalir juga terdapat di dalam benguk seperti mucunain, serotonin, dan L-dopa (L-3,4-dihidroksi-fenilalanin) diharapkan dapat bermanfaat untuk induk semang (sapi pedaging). Khususnya L-dopa yang secara alami terkandung dalam kara benguk sekitar 5.38-6.98% (Chinnamadasamy et al. 2011).
2
kara benguk dapat menggantikan peranan β-agonis sintetis dalam meningkatkan performa sapi dalam program penggemukan sapi potong.
Tujuan Penenilitan
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai pemanfaatan kara benguk (mucuna pruriens) sebagai kandidat growth promoter alami guna menjaga status fisiologis dan meningkatkan performa sapi sumba ongole
Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian meliputi pembuatan tepung biji kara benguk, tempe benguk, dan persiapan pembuatan konsentrat penelitian serta pengujian kara benguk sebagai agen growth promoter alami pada sapi sumba ongole dalam program penggemukan. Pengujian dilakukan melalui pengamatan dan pengukuran secara fisik dan fisiologis ternak.
METODOLOGI
Waktu dan lokasi
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dimulai dari bulan Juli hingga Desember 2013. Pembuatan tepung biji dan tempe kara benguk dilakukan di laboratorium Nutrisi Ternak Perah dan analisis hematologis dan metabolit darah dilakukan di laboratorium Ternak Daging dan Kerja Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Intitut Pertanian Bogor. Percobaan in vivo terhadap ternak dilakukan di PT. Karya Anugerah Rumpin Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Materi
3
Tabel 1 Kandungan nutrien (%) konsentrat perlakuan, tepung biji kara benguk dan tempe benguk
Nutrien Konsentrat Tepung biji kara benguk Tempe Benguk 100% BK 100% BK 100% BK Keterangan: Hasil Analisis Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi (2013)
* Pugalenthi et al. (2005).
Metode
Penelitian ini dilakukan selama enam bulan dari bulan Juli hingga Desember 2013. Pembuatan tepung biji kara benguk dan tempe benguk dilakukan di laboratorium Nutrisi Ternak Perah dan penyusunan ransum serta analisis hematologis dan metabolit darah dilakukan di laboratorium Ternak Daging dan Kerja Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Intitut Pertanian Bogor. Percobaan invivo terhadap ternak dilakukan di PT. Karya Anugerah Rumpin.
Ternak yang digunakan adalah sapi sumba ongole jantan periode finisher sebanyak 16 ekor dengan rataan bobot badan 488±37 kg pada periode finisher. Ternak dikandangkan pada kandang individu dan di brongsong. Ransum penelitian yang digunakan terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan rasio 15%:85% dengan bahan baku konsentrat berupa: molasses, bungkil inti sawit, dedak, gaplek, kopra, onggok, corn glutein feed, fishmeal, soy bean meal, dan jagung. Ada empat jenis perlakuan yang diberikan berupa kontrol, growth promoter alami kara benguk bentuk tepung dan bentuk tempe dengan kontrol positif raktofamin HCl. Air minum dan pakan diberikan secara ad libitum, pakan diberikan dua kali pada pagi hari pukul 09.00 WIB dan siang hari pukul 14.00 WIB. Kandungan nutrien konsentrat, tempe benguk dan tepung biji kara benguk tersaji dalam Tabel 1.
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok, terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok sebagai ulangan. Setiap ulangan digunakan satu unit ternak. Pengelompokkan berdasarkan bobot badan dan bentuk kerangka. Kelompok small (424-445kg), medium (460-473kg), large (484-491kg), extra large (523-551kg) Perlakuan ransum tersebut adalah:
P0 = 15% Jerami padi + 85% Konsentrat,
P1 = P0 +12%* suplemen tepung biji kara benguk, P2 = P0 +16% suplemen tempe kara benguk,
P3 = P0 + 200 mg/ekor/hari Ractophamine Hydrocloride.
4
�
� � =
�
� %
= ⁄
⁄ | = 5 | = . %
= ⁄
⁄ | = | = . %
= ⁄
⁄ | = | = . %
Pemberian perlakuan dilakukan selama 35 hari sebelum dilakukan pemotongan ternak. Peubah yang diamati adalah konsumsi bahan kering, rataan pertambahan bobot badan harian, efisiensi pakan, income over feed cost (IOFC), fisiologis ternak (denyut nadi, suhu rektal, dan frekuensi nafas), dan metabolit darah (glukosa darah, trigliserida, kolesterol darah, HDL dan LDL). Konsumsi bahan kering diketahui dengan cara menimbang dan mencatat pakan yang diberikan dan pakan yang tersisa. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) diketahui dari selisih bobot badan akhir dan bobot badan awal dibagi dengan lama hari pemeliharaan. Efisiensi pakan dihasilkan dari perhitungan PBBH (kg) dibagi dengan banyaknya pakan yang dikonsumsi dalam 100% bahan kering (BK) dan Income Over Feed Cost diukur dengan rumus Bailey et al. (2009) :
= � � � −
Dimana :
IOFC = income over feed cost (Rp/ekor/hari) PLW = farm-gate price of liveweight bull (Rp/kg) ADG = average daily gain (kg)
FC = feed cost (Rp/ekor)
Fisiologi tubuh diketahui melalui pengukuran : Suhu tubuh yang diukur dengan menggunakan termometer klinis yang dimasukkan kedalam rektum melalui anus yang dilakukan selama lima menit. Denyut nadi, diukur dengan cara melakukan perekaman denyutan nadi. Frekuensi nafas, diukur dengan menghitung hembusan nafas.
Analisis metabolit darah meliputi gula darah, total kolesterol, trigliserida dan kolesterol HDL yang dapat diketahui dengan metode High Performance Liquid Cromatography (HPLC). Kadar kolsterol LDL dihitung dengan persamaan Friedewald et al. (1972).
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (Analysis of Variance) atau dilakukan uji Contras Ortogonal berdasarkan Steel dan Torrie (1993).
Rataan :
5
Tabel 2 Komposisi dan kandungan nutrien konsentrat penelitian
Item P0 P1 P2 P3 Keterangan: 1 dalam 1 kg Premix terdiri dari vitamin A, 2000000 IU; Vitamin D
3, 400000 IU; Vitamin E,
1200 mg; Ca, 180000 mg; Mg, 5000 mg; P, 10000 mg; Co, 10 mg; Cu, 1000 mg; I, 15 mg; Fe, 5000 mg; Mn, 6000 mg; Se, 20 mg; Zn, 5000 mg; Antioxidan, q.s mg; Carier, q.s mg. 2
Hasil Analisis Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi, 2013. P0 : kontrol, P1 : tepung biji kara benguk, P2 : tempe benguk, P3 : Ractophamine hidrocloride.
Peubah yang diamati
Peubah yang diamati adalah :
1. Fisiologis ternak. Untuk mengetahui fisiologis ternak dapat dilakukan pengamatan suhu tubuh, denyut jantung, dan frekuensi nafas.
a. Suhu rektal, diukur menggunakan termometer digital klinis yang dimasukkan kedalam rektum melalui anus yang dilakukan hingga suhu yang terbaca oleh termometer telah stabil.
6
c. Frekuensi nafas, diukur dengan menghitung hembusan nafas selama 1 menit 2. Konsumsi pakan (kg/ekor/hari). Konsumsi pakan diukur setiap hari dengan cara
mengurangi jumlah ransum yang diberikan hari ini dengan sisa ransum pada pagi hari berikutnya.
3. Rataan pertambahan bobot badan harian (kg/ekor/hari). Rataan pertambahan bobot badan harian diukur dengan menggunakan rumus :
∆ ℎ = [Bobot Badan Akhir − Bobot Badan Awal]
Bobot Badan Akhir � %
4. Efisiensi Pakan (EP), nilai EP didapatkan dengan membagi pertambahan bobot badan (kg) dengan banyaknya pakan yang dikonsumsi dalam 100% bahan kering (BK).
5. Kadar Metabolit darah
Analisis metabolit darah meliputi gula darah, total kolesterol, trigliserida dan kolesterol HDL yang dapat diketahui dengan metode High Performance Liquid Cromatography (HPLC). Sedangkan kadar kolsterol LDL dihitung dengan persamaan Friedewald et al. (1972) :
� � � = � − � � − � �� � �
�
6. Profile Darah
Analisis profil darah meliputi jumlah sel darah merah dan putih, PCV (Packed Cell Volume), Hemaglobin, dan Deferensiasi Darah.
a. Jumlah sel darah merah
Jumlah sel darah merah dihitung secara manual dengan menggunakan hemositometer. Darah dihisap melalui aspirator pada pipet sampai skala 0.5 kemudian ujung pipet dibersihkan dengan tisu. Larutan hayem dihisap dengan cepat dan hati-hati sampai tanda 101. Diusahakan pada waktu menghisap tidak ada gelembung udara. Aspirator dari pipet dilepas dengan hati-hati dan harus dijaga supaya tidak ada cairan yang keluar. Kedua ujung pipet ditutup dengan ibu jari dan telunjuk tangan kemudian dihomogenkan dengan gerakan angka delapan. Larutan pada ujung pipet yang tidak ikut terkocok dibuang beberapa tetes lalu dengan hati-hati setetes cairan dimasukkan ke dalam counting chamber. Kemudian butir-butir darah dihitung di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 x 10. Kotak yang dihitung adalah satu kotak pojok kanan atas, satu kotak pojok kiri atas, satu kotak tengah, satu kotak pojok kanan atas dan satu kotak kiri bawah. Jumlah sel darah merah yang didapat dari hasil perhitungan dikalikan 104.
b. Jumlah sel darah putih
7
c. Kadar hemoglobin
Kadar hemoglobin menggunakan metode sahli. Tabung sahli diisi dengan larutan HCl 0.1N sampai batas terbawah dari tabung. Darah dihisap ke dalam pipet sahli sampai batas garis 20 mm3. Ujung pipet dibersihkan, darah dimasukkan ke dalam tabung sahli dan dikocok supaya terbentuk asam hematin berwarna coklat dan ditambahkan aquades setetes demi setetes dengan menggunakan pipet sampai terbentuk warna yang sama dengan warna standar kemudian dibaca hasilnya.
d. Nilai Hematokrit (PCV : Packed cell volume)
Nilai hematokrit ditentukan dengan metode mikrohematokrit. Darah dimasukkan ke dalam pipa kapiler dengan cara memasukkan ujung pipa kapiler ke dalam sampel darah. Darah dibiarkan mengalir masuk ke dalam pipa kapiler sampai 2/3 bagian pipa kapiler terisi. Setelah itu, pipa kapiler disumbat dengan lilin penyumbat dengan hati-hati kemudian dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 10.000 rpm selama 5 menit atau 1500 rpm selama 15 menit. Bagian yang tersumbat diletakkan menjauhi pusat sentifugasi dan pembacaan dilakukan dengan menggunakan alat microhematocrit reader.
e. Diferensiasi leukosit
Diferensiasi Leukosit ditentukan dengan menghitung persentase jumlah eusinofil, basofil, neutrofil, monosit, dan limfosit dalam 100 butir keping leukosit dalam preparat ulas darah. Sampel Darah diteteskan ke tepi glass objek, kemudian dengan bantuan gelas objek lainnya maka ditempelkan secara miring pada sampel darah tersebut hingga membentuk sudut 30o. Selanjutnya gelas objek tersebut diulas sehingga sampel darah menjadi tesebar secara merata dan difiksasi selama 5 menit. Setelah difiksasi dalam ruangan selama 5 menit, selanjutnya direndam kedalam larutan metil alkohol selama 5 menit, kemudian preparat ulas direndam kedalam larutan giemsa selama 30 menit. Setelah selesai direndam kedalam larutan giemsa, angkat preparat ulas dan bilas dengan air untuk menghilangkan sisa pewarnaan giemsa dan keringkan. Setelah preparat ulas jadi, maka dapat dihitung persentase dalam 100 butir keping darah dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 10x100 dan minyak emersi sebagai pengaturan fokus objek dengan lensa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Fisiologis Ternak
Suhu Rektal
8
perlakuan lain dan kontrol. Hal tersebut diduga karena akibat kinerja raktofamin yang
merupakan salah satu jenis senyawa β-agonis dengan tipe reseptor satu. β-agonis tipe 1 bekerja pada otot jantung (98.5 kali/menit) sebagai sel targetnya. Peningkatan kinerja jantung menyebabkan metabolisme tubuh menjadi cepat dan hal tersebut meningkatkan suhu tubuh ternak. Pada tepung biji kara benguk dan tempe benguk peningkatan suhu tubuh tidak terjadi hal tersebut dikarenakan senyawa yang terkandung yakni L-dopa memiliki sel target yang berbeda dengan raktofamin HCl. Tepung biji kara benguk yang dapat menstimulasi adrenalin akan menggertak otot polos untuk dapat lebih berkembang (hypertrophy). huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.05).
Data suhu rektal yang didapatkan menjelaskan bahwa penambahan tepung biji kara benguk dan tempe benguk tidak meningkatkan suhu rektal ternak. Hal ini berarti bahwa metabolisme yang terjadi akibat dari perlakuan tersebut tidak mengganggu kondisi fisiologis ternak berbeda dengan perlakuan raktofamin yang meningkatkan suhu rektal sebesar 1.88oC dibandingkan kontrol.
Frekuensi nafas
Berdasarkan hasil analisis statistik pemberian tepung biji kara benguk dan tempe benguk dengan kontrol dan pemberian raktofamin terhadap frekuensi nafas terdapat perbedaan (P<0.05%) namun tidak berpengaruh nyata pada kelompok (P>0.05). Kebutuhan oksigen dapat meningkat akibat dari kinerja adrenalin. Rendahnya frekuensi nafas pada perlakuan tepung biji kara benguk dan raktofamin dikarenakan adanya efek bronchodilatation oleh adrenalin yang meningkat. Peningkatan produksi adrenalin tersebut diduga karena L-dopa diketahui sebagai prekursor pembentukan adrenalin yang merupakan salah satu hormon katekolamin. L-dopa sama halnya dengan L-fenilalanin dan tirosin, dimana pada sistem syaraf pusat akan dikonversi menjadi dopamin. L-tyrosin adalah titik awal untuk sintesis semua katekolamin. L-L-tyrosin dihidroksilasi untuk membentuk L-3-4-dihidroksi fenilalanin (dikenal sebagai levodopa atau L-dopa) melalui hidroksilase enzim tirosin (tirosinase). Dalam neurodopaminergik, L-dopa dimetabolisme menjadi dopamine oleh enzim dopa dekarboksilase. Dalam sel-sel saraf nor-adrenergik dan medulla adrenal, dopamine ditransformasikan ke nor-adrenalin
9
β1, β2, dan β3, didalam setiap spesies ada 40-50% persamaan tipe reseptor (Mersmann 1998). Peningkatan frekuensi nafas juga terjadi bila ternak mengalami cekaman panas, denyut nadi meningkat, maka ternak akan berupaya mengeluarkan panas dengan meningkatkan penguapan melalui saluran pernafasan dan kulit untuk menstabilkan suhu tubuh, sesuai dengan pendapat Hafez (1968) bahwa ketika waktu ternak mengalami cekaman panas maka ternak akan meningkatkan penguapan air melalui kulit atau melalui saluran pernafasan.
Perlakuan tempe benguk terhadap frekuensi nafas tidak berbeda nyata (P>0.05). Hal tersebut diduga karena tidak adanya efek bronchodilatation yang terjadi seperti pada perlakuan tepung biji kara benguk dan raktofamin. Efek bronchodilatation pada tepung biji kara benguk dimediasi oleh L-dopa yang terkandung, sedangkan pada tempe benguk di sinyalir L-dopa yang terkandung mengalami perubahan jalur metabolisme sehingga efeknya tidak berbeda nyata dengan kontrol.
Tabel 4 Gambaran denyut nadi (kali/menit) sumba ongole yang diberikan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCL berdasarkan kelompok
Parameter S M L XL
Denyut Nadi 92.50 ± 3.00a
106.50 ± 5.26b 92.00 ± 6.33a 96.25 ± 8.10a
Keterangan : S = Small, M = Medium, L = Large, XL= Extra Large. Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menyatakan perbedaan yang nyata (P<0.05).
Denyut nadi
Hasil dari analisis statistik denyut nadi tidak berpengaruh nyata pada perlakuan (P>0.05), namun berbeda nyata pada kelompok (P<0.05%). Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh karena kelompok sapi dengan medium frame memiliki pertumbuhan paling tinggi. Hal ini terbukti dengan data PBBH kelompok medium (1.42) lebih besar dibandingkan PBBH kelompok lainnya (S, L, dan XL yaitu 1.11 kg/hari; 1.41 kg/hari; dan 1.38 kg/hari). Tingginya pertambahan bobot badan pada kelompok medium membuat denyut nadi sapi kelompok tersebut meningkat. Peningkatan tersebut adalah bentuk dari proses homeostatis tubuh, dimana kebutuhan suplai nutrien meningkat untuk menunjang hal tersebut. Peningkatan denyut nadi dapat ditunjang oleh adrenalin. Adrenalin dapat memperkuat daya kontraksi otot nadi (miokard) (inotropik positif :
10
Gambaran Performa Ternak
Konsumsi pakan
Perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk menghasilkan respon yang berbeda nyata pada konsumsi pakan (P<0.05), sedangkan tidak berbeda nyata pada kelompok. Suplementasi tepung biji kara benguk dan tempe benguk pada sapi sumba ongole dapat meningkatkan konsumsi bahan kering. Konsumsi bahan kering pada perlakuan tepung biji kara benguk dan tempe benguk berturut adalah 2.04% dan 2.25%, persentase peningkatan konsumsi bahan kering pada perlakuan tepung biji kara benguk dan tempe benguk berturut meningkat 9.57% dan 14.65% dari kontrol. Konsumsi bahan kering pada kontrol dan semua perlakuan masih terbilang rendah dibandingkan dengan penelitian Kearl (1982), konsumsi harian untuk sapi penggemukan adalah 2.8%. Konsumsi bahan kering dalam penelitian ini adalah kontrol 1.92%, tepung biji kara benguk 2.04%, tempe benguk 2.25%, dan raktofamin 1.90%.
Konsumsi bahan kering tertinggi dicapai oleh perlakuan tempe benguk. Hal ini disebabkan karena nilai palatabilitas dari ransum yang ditambahkan tempe benguk memiliki kandungan protein lebih tinggi (Tabel 2) dan aroma lebih wangi. Menurut Dawson dan Hopkins (1991), aroma spesifik dapat meningkatkan nilai palatabilitas ransum.Walker et al. (2010) menyatakan bahwa heifer yang diberikan raktofamin signifikan menurunkan nilai konsumsi bahan keringnya. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini dimana penambahan raktofamin tidak dapat meningkatkan konsumsi bahan kering.
Tabel 5 Gambaran performa ternak sapi ongole tanpa perlakuan dan yang diberikan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl
P Konsumsi Bahan Kering
Pertambahan Bobot
Badan Harian Efisiensi Pakan % BB kg/ekor/hari
P0 1.92±0.12a 1.45±0.26a 0.141±0.02a
P1 2.04±0.21b 1.57±0.43a 0.139±0.04a
P2 2.25±0.19b 1.18±0.09b 0.100±0.01b
P3 1.90±0.12a 1.11±0.07b 0.111±0.01b
Keterangan : P0=jerami padi + Konsentrat, P1=P0 + tepung biji kara benguk, P2=P0 + tempe benguk, P3=P0 + Ractophamine Hydrocloride. Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan perbedaan yang nyata (P<0.05)
Pertambahan bobot badan
11
menjelaskan bahwa ekstrak kara benguk mampu meningkatkan total produksi VFA adalah 164.76 mM. Peningkatan total produksi VFA menandakan bahwa ketersediaan energi untuk pertambahan bobot badan ternak semakin tinggi. Jika dilihat dari proses metabolisme senyawa aktifnya dimana kandungan L-dopa pada tepung biji kara benguk mampu menstimulasi peningkatan produksi hormon pertumbuhan. L-dopa akan dikonversi menjadi dopamin dan norepinefrin (nor adrenalin) yang diproduksi di kelenjar hipotalamus juga di otak untuk mendukung produksi dari kelenjar pituitary dan melepaskan hormon pertumbuhan (growth hormone). Penelitian Romero et al. (1973) dengan menggunakan tikus menunjukkan bahwa setelah satu jam diinjeksikan L-dopa, terdeteksi konsentrasi asam amino tertinggi terdapat di dalam otot daripada di jaringan lainnya. Konsentrasi tersebut tetap tinggi setelah 4 jam injeksi daripada didalam otak dan serum. Pengulangan injeksi L-dopa tidak pula menurunkan konsentrasi S-adenosylmethionine di dalam otot dan juga tidak menyebabkan akumulasi konsentrasi dopamin di dalam jaringan tersebut, artinya asam amino yang tidak dimetabolisme tetap terdapat di dalam otot (Ordonez et al. 1974). Penelitian ini menunjukkan bahwa L-dopa yang diberikan kepada ternak telah memacu terjadinya peningkatan pertambahan bobot badan.
Sapi yang diberikan tempe benguk dan raktofamin memiliki nilai rataan PBBH lebih sebesar 1.18 kg/ekor/hari dan 1.11 kg/ekor/hari dengan selisih 18.62% dan 23.45% lebih rendah dibandingkan kontrol. Rendahnya PBBH pada perlakuan tempe benguk mungkin disebabkan oleh karena Rhizopus oryzae, didalam saluran pencernaan akan menghasilkan tirosinase yang mengakibatkan L-tirosin dan L-dopa diubah menjadi dopaquinon kemudian diubah kembali menjadi melanin (Maria et al. 2012). Hal itu membuktikan bahwa terdapat penyimpangan jalur metabolisme yaitu perubahan zat makanan menjadi zat warna. Metabolisme tersebut mengakibatkan penambahan tempe benguk tidak berpengaruh terhadap rataan PBBH, namun warna daging pada perlakuan tersebut cenderung lebih gelap (unpublish). Rendahnya rataan PBBH pada penambahan raktofamin diduga karena konsumsi bahan kering yang rendah. Sebagaimana dijelaskan oleh Gruber et al. (2007) bahwa steer yang diberikan raktofamin tidak menghasilkan konsumsi bahan kering yang tinggi namun meningkatkan rataan PBBH dan EP (Efisiensi Pakan). Hal ini sesuai dengan penelitian Gruber et al. (2007), bahwa sapi yang diberikan implan TBA/E2 (trenbolone acetate/estradiol benzoat) terjadi penigkatan PBBH dan EP. Pada penelitian ini sapi tidak diberikan implan, berbeda dengan penelitian yang dilakukan Gruber et al. (2007). Penggunaan TBA/E2 pada sapi 10 – 50 kali lebih kuat dalam memberikan respon pertumbuhan dibandingkan testosteron, oleh karena itu digunakan sebagai pengganti testosteron (Bouffault dan Willemart 1983). Walker et al. (2011) menjelaskan bahwa ada perbedaan performa pada sapi yang diimplan dan tidak, dimana sapi yang diimplan memberikan performa pertumbuhan yang lebih baik.
Efisiensi pakan
12
raktofamin HCl tidak berpengaruh nyata terhadap kelompok. Secara kontras ortogonal ada perbedaan (P<0.05) yang terjadi diantara perlakuan. Pada penelitian ini EP berada pada kisaran yang sangat baik untuk kategori sapi sumba ongole yakni 0.10–0.14. Berdasarkan uji kontras ortogonal pemberian tepung biji kara benguk memiliki nilai EP yang tidak berbeda nyata dengan kontrol, Sedangkan pemberian tempe benguk (0.10) dan raktofamin (0.11) lebih rendah sebesar 28.57% dan 21.43% dibandingkan kontrol. Rendahnya konsumsi bahan kering pada penambahan raktofamin menyebabkan responnya tidak terlihat. Jika dibandingkan dengan kontrol positif (raktofamin HCl), pemberian tepung biji kara benguk dapat meningkatkan efisiensi pakan sebesar 20.14% lebih tinggi. Penurunan EP pada tempe benguk diduga terjadi karena terjadinya polimerisasi protein. Polimerisasi protein dapat terjadi dikarenakan adanya konjugasi. Konjugasi protein pada perlakuan tempe benguk diduga terjadi pada saat proses fermentasi kara benguk menjadi tempe benguk menggunakan ragi Rhizopus oryzae. Menurut Vadivel et al. (2011) kecernaan protein menjadi rendah dikarenakan adanya oksidasi L-dopa yang terkonjugasi dengan sistein dan membentuk ikatan protein yaitu 5-S-cysteinyldopa yang menyebabkan polimerisasi protein.
Income Over Feed Cost
Income over feed cost (IOFC) yang merupakan pendapatan atas besarnya biaya pakan untuk menghasilkan bobot badan selama masa pemeliharaan sapi pedaging dalam kurun waktu tertentu. Weller (1994) melaporkan bahwa pertambahan bobot badan sangatlah berkorelasi dengan efisiensi pakan dalam produktifitas ternak. Rataan pertambahan bobot badan harian berdampak langsung pada nilai IOFC. Hasil analisis sidik ragam perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl terhadap nilai IOFC nyata tidak berpengaruh, begitu pula tidak berpengaruh terhadap kelompok (P>0.05). Hasil analisis kontras ortogonal menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara perlakuan tepung biji biji kara benguk dan kontrol dengan perlakuan tempe benguk dan raktofamin HCl.
Pada penambahan tepung biji kara benguk IOFC yang dihasilkan lebih tinggi Rp. 1.325,58 ekor/hari dibandingkan kontrol. Pada tempe benguk dan raktofamin HCl masing-masing adalah Rp. 16.911,75/ekor/hari dan Rp. 15.525,11/ekor/hari lebih rendah dibandingkan kontrol. Tingginya nilai IOFC pada penambahan tepung biji kara benguk tentunya dikarenakan oleh tingginya nilai pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Tingginya peningkatan bobot badan tersebut sangat berpengaruh terhadap pendapatan yang didapatkan. Hal tersebut juga ditunjang dari bentuk tubuh (estetika) ternak yang lebih baik dibandingkan kontrol, sehingga meningkatkan harga jualnya. Pada perlakuan tepung biji kara benguk dan raktofamin HCl nilai estetika ternak mencapai nilai 10, berbeda dengan kontrol dan tempe benguk yang hanya mencapai nilai 8 dengan posisi perut lebih besar.
13
Tabel 6 Pengaruh perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl terhadap income over feed cost
P R Body Weight Weight
Kg/ekor/hari Kg Rp Kg/ekor/hari Rp Rp/ekor/hari
P0 R0 532 574 42 1629982,89 10,418 760253,55 24849,41 R1 497 553 56 2167200,00 10,279 750110,03 40488,29 R2 461 504 43 1662244,52 9,655 704573,63 27362,03 R3 441 506 65 2528198,44 10,597 773316,08 50139,50
35,709.80a
P1 R0 556 630 74 2958684,21 11,071 913987,41 58419,91 R1 493 556 63 2528767,12 11,319 934502,68 45550,41 R2 476 511 35 1403157,89 11,334 935698,63 13355,98 R3 465 515 50 2000000,00 11,161 921466,74 30815,24
37,035.38a
P2 R0 530 573 43 1681064,38 11,750 970051,45 20314,66 R1 488 525 37 1445948,63 11,622 959516,78 13898,05 R2 479 522 43 1660280,92 11,766 971392,23 19682,53 R3 429 473 45 1722150,00 11,831 976755,33 21296,99
18,798.06b
P3 R0 533 570 37 1468493,15 10,268 884074,80 16697,67 R1 516 559 43 1720000,00 10,007 861602,70 24525,64 R2 474 513 39 1551506,85 10,288 885796,80 19020,29 R3 443 482 39 1552328,77 9,698 834997,80 20495,17
20,184.69b Keterangan : P0=jerami padi + Konsentrat, P1=P0 + tepung biji kara benguk, P2=P0 + tempe benguk,
P3=P0 + Ractophamine Hydrocloride, superskrip berbeda pada kolom yang sama menyatakan perbedaan yang nyata (P<0.05) DM = Dry Matter, IOFC = Income Over Feed Cost, R0 : ulangan pertama, R1 : Ulangan kedua, R2 : Ulangan ketiga, R3 : Ulangan keempat. Harga per-Kg bobot hidup P0 dan P2 Rp. 38.700,-; Harga per-Kg bobot hidup P1 dan P3 Rp. 40.000,- (Besaran harga dipengaruhi oleh estetika ternak, Lampiran 23)
14
Respon Metabolit Darah
Glukosa Darah
Kondisi metabolit darah pada beberapa perlakuan berada pada kisaran yang tidak jauh berbeda. Berdasarkan analisis sidik ragam terhadap glukosa darah menghasilkan nilai yang cenderung berbeda nyata (P<0.13), hal tersebut dapat dilihat dari Tabel 7. Berdasarkan analisis kontras ortogonal perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl berbeda nyata (P<0.05%) dengan kontrol. Peningkatan konsentrasi glukosa darah tertinggi dicapai oleh perlakuan tepung biji kara benguk (77.54 mg/dl) kemudian tempe benguk (67.86 mg/dl) dan raktofamin HCl (67.08 mg/dl). Kadar glukosa darah sapi percobaan masih berada pada kisaran normal. Mitruka et al.(1977) melaporkan kadar glukosa darah sapi yang normal berada pada kisaran 43– 100 mg/dl. Pemberian pakan yang baik akan meningkatkan konsentrasi glukosa. Peningkatan konsentrasi glukosa pada perlakuan tepung biji benguk meningkat dikarenakan kandungan nutrien lebih baik (Tabel 2) dibandingkan kontrol. Pada perlakuan tepung biji kara benguk peningkatan kadar glukosa dibantu juga dengan adanya kinerja L-dopa yang dapat memacu sintesa katekolamin. Pada perlakuan tempe benguk pemberian pakan yang lebih baik juga dapat meningkatkan glukosa darah dibandingkan kontrol, namun kinerja L-dopa tidak muncul sehingga produksi glukosa tidak semaksimal perlakuan tepung biji kara benguk. Pada perlakuan raktofamin HCl peningkatan kadar glukosa darah dikarenakan adanya raktofamin yang dapat memacu metabolisme ternak untuk melakuakn glikoneogenesis. Menurut Sherwood (2001) katekolamin meningkatkan kadar glukosa dalam darah dengan cara glukoneogenesis dan glikogenolisis di hati dan otot rangka. Greenstein dan Wood (2010) menyatakan bahwa katekolamin berfungsi melalui dua jenis reseptor utama pada membran plasma
sel target yaitu reseptor adrenergik α dan β. Setelah berikatan dengan reseptor, katekolamin membutuhkan second messanger protein G untuk mengaktivasi adenilat siklase yang akan menimbulkan efek pada sel target.
Trigliserida Darah
Hasil analisis statistik sidik ragam menunjukkan kecenderungan yang berbeda nyata (P<0.09) pada kadar trigliserida. Kadar trigliserida pada sapi penelitian berada pada kisaran 19.30 – 25.81 mg/dl. Berdasarkan uji kontras ortogonal, perlakuan tepung biji kara benguk dan tempe benguk berbeda (P<0.05) dengan kontrol positif (raktofamin HCl). Perbedaan antara perlakuan tepung biji kara benguk dan tempe benguk terletak
pada aktifitas β1, aktifitas eprinefrin lebih kuat dibandingkan dengan raktofamin HCl. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya aktifitas epinefrin yang meningkatkan aktifitas lipase terhadap trigliserida. Seperti yang diungkapkan oleh Jolanta et al. (2007) bahwa adrenalin dosis tinggi (melebihi 1 µmol) dapat meningkatkan aktifitas lipase. Hal ini menyebabkan menurunnya kadar trigliserida dalam serum darah. Kadar trigliserida normal pada sapi menurut Mohamad et al. (2011) adalah 38.47 mg/dl.
15
peningkatan dan penurunan kadar kolesterol yang terjadi. Kolesterol darah berkisar 80– 170 mg/dl (Mitruka et al. 1977). Pemaparan penurunan kolesterol darah disampaikan oleh Carew et al. (1998) terjadi pada pemberian kara benguk yang dipanaskan. Hal ini selaras seperti yang terjadi pada perlakuan tempe benguk, kadar kolesterol pada perlakuan tersebut menurun 1.89% dari kontrol.
Tabel 7 Pengaruh penambahan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl terhadap kondisi Metabolit Darah (mg/dl)
Ransum Glukosa TG Kolesterol HDL LDL P0 53.69±3.93a 23.08±3.60a 154.73±4.77 127.59±4.04 22.53±3.43 P1 77.54±5.84b 19.80±1.88b 155.82±8.27 121.84±6.27 30.02±5.93 P2 67.86±12.14b 22.06±1.13b 151.81±8.20 121.40±2.86 25.99±5.92 P3 67.09±13.11b 25.81±1.29a 152.38±4.37 120.89±10.26 26.33±8.24
Keterangan : P0=jerami padi + Konsentrat, P1=P0 + tepung biji kara benguk, P2=P0 + tempe benguk, P3=P0 + Ractophamine Hydrocloride. Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan perbedaan yang nyata (P<0.05).
Penurunan kolesterol diduga dikarenakan penurunan kandungan kolesterol pada tempe benguk. Menurut Lauer (1991) salah satu fungsi kolesterol adalah sebagai prekursor dari beberapa hormon steroid seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D. Penelitian Jolanta et al. (2007) menunjukkan bahwa tingkat kolesterol dalam darah tergantung pada jumlah dan sumber protein pakan. Penurunan kolesterol pada tempe benguk terjadi karena proses dalam pembuatan tempe benguk membutuhkan beberapa proses yakni, perebusan, perendaman, pemanasan (aoutoclave) dan fermentasi. Keberadaan kolesterol juga dapat dijadikan sebagai rujukan bahwa terdapat hormon steroid. Peningkatan kadar kolesterol tertinggi terjadi pada perlakuan tepung biji kara benguk yaitu 155.82 mg/dl. Peningkatan kadar kolesterol darah pada perlakuan tepung biji kara benguk diduga sebagai hasil metabolisme untuk mendukung pembentukan hormon steroid dalam menunjang pertumbuhan ternak.
Berdasarkan hasil analisis statistik terhadap kadar HDL dan LDL tidak berbeda nyata (P>0.05). Kadar HDL pada penelitian adalah 120.84 – 127.59 mg/dl sedangkan LDL berada pada kisaran 22.53 – 30.02 mg/dl. Menurut Mohamad et al. (2011), kadar HDL dan LDL pada Sarabi Beef steer berturut-turut yaitu 69.8 mg/dl dan 24.48 mg/dl. Tingginya HDL berarti tinggi pula kolesterol yang dibawa dari sel jaringan menuju hati (Lehninger et al. 1993). Begitu pula dengan kadar LDL yang rendah dapat diartikan bahwa kolesterol yang dibawa ke sel jaringan tubuh tidak menumpuk di dalam saluran darah. Hal ini berarti bahwa semua perlakuan yang diberikan tidak memberikan efek negatif terhadap keseimbangan kadar HDL dan LDL.
Respon Hematologis Darah
Butir darah merah
16
protein dari pakan yang dikonsumsi ternak. Asam amino glisin merupakan prekursor utama pembentukan butir darah merah. Kandungan nutrien pada pakan tidak berbeda nyata, hal ini berarti kecukupan nutrien pada masing masing perlakuan sama. Menurut Radostits et al. (1994) kandungan butir darah merah normal pada sapi berkisar antara 5
– 10 1012/l. Pada penelitian ini kisaran butir darah merah antara 8.05-8.33 (1012/l) ini berarti bahwa butir darah pada penelitian ini berada pada kisaran normal.
Tabel 8 Pengaruh perlakuan terhadap respon hematologis darah
Parameter P0 P1 P2 P3
Butir Darah Merah (1012/l) 8.22±0.92 8.33±0.46 8.05±0.45 8.21±0.95
Hemoglobin (g/dl) 8.50±1.25 8.90±1.24 8.25±0.59 8.35±0.99
Packed Cell Volume (l/l) 36.75±4.75 37.25±4.99 38.75±4.27 37.75±3.78
Butir Darah Putih (109/l) 10.36±1.95 8.73±1.81 8.90±1.69 9.91±1.28
Lymposit (%) 69.13±8.80 63.11±4.18 61.73±11.86 58.77±6.89 Heterofil (%) 27.62±8.05 31.51±3.56 35.76±12.07 36.56±7.35 Monosit (109/l)
0.62±0.37a 0.97±0.08
*
b 0.68±0.39a 1.88±0.07*
c Eosinofil (%) 1.15±1.18 2.56±1.04 0.70±0.41 1.86±1.08 Basofil (%) 1.41±0.49 1.17±0.42 0.92±0.04 0.95±0.67Keterangan : P0=jerami padi + Konsentrat, P1=P0 + tepung biji kara benguk, P2=P0 + tempe benguk, P3=P0 + Ractophamine Hydrocloride. Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada baris yang sama menyatakan perbedaan yang nyata (P < 0.05), *sangat nyata (P<0.01)
Hemoglobin
Berdasarkan analisis ragam perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, dan raktofamin HCl terhadap hemoglobin nyata tidak berbeda (P>0.05). Kadar hemoglobin darah berada pada kisaran normal (8.25 g/dl – 8.90 g/dl) jika dibandingkan dengan penelitian Radostits et al. (1994) (8 g/dl – 15 g/dl). Hal tersebut dikarenakan kecukupan asupan protein pakan. Menurut Astuti et al. (2008) hemoglobin yang dominan akan disintesis dari senyawa protein (globin), protein tersebut berasal dari protein pakan dan akan disintesis dalam tubuh. Jika tubuh kekurangan asupan protein maka hemoglobin akan disintesis dari protein tubuh dengan kalsium (Astuti et al. 2008).
Packed cell volume
17
Butir darah putih
Berdasarkan analisis ragam perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, dan raktofamin HCl terhadap butir darah putih tidak berbeda nyata (P>0.05). Sel darah putih pada penelitian ini berkisar antara 8.73x109 – 10.36x109/l, nilai tersebut masih berada dalam kisaran normal menurut Radostits et al. (1994) (4 – 12x109/l). Butir darah putih berguna dalam perlindungan terhadap penyakit dan benda asing. Hal ini menjelaskan bahwa perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, dan raktofamin HCl tidak mengganggu metabolisme ternak. Perlakuan tepung biji kara benguk dan tempe benguk yang bertujuan menginduksi L-dopa kedalam tubuh layaknya pemberian raktofamin HCl terhadap ternak aman diberikan karena pemberiannya tidak dideteksi sebagai benda asing oleh sistem imunitas tubuh ternak.
Limfosit
Pengaruh perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk dan raktofamin HCl tidak berpengaruh nyata terhadap kadar limfosit (P>0.05). Kadar limfosit normal pada sapi normal adalah 40% – 70% (Etim et al. 2012), sedangkan pada penelitian ini berkisar antara 58.77% – 69.13%. Hal tersebut berarti bahwa nilai kandungan limfosit berada pada kisaran normal. Limfosit berguna untuk memblokir invasi patogen, mengaktifkan sistem kesetimbangan dan meningkatkan penghancuran patogen. Nilai limfosit yang berada dalam kisaran normal menggambarkan bahwa tidak adanya cemaran patogen yang terjadi akibat perlakuan dan menggambarkan bahwa kesemua ternak berada dalam kondisi sehat.
Heterofil
Berdasarkan analisis sidik ragam perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, dan raktofamin HCl terhadap heterofil tidak berbeda nyata (P>0.05). Hal ini berarti ternak dalam kondisi sehat dan perlakuan tidak mempengaruhi kondisi kesehatan ternak. Heterofil berfungsi sebagai perlindungan terhadap infeksi bakteria dan jamur. Heterofil normal pada sapi perlakuan berkisar dari 27.62% hingga 35.76%, sedangkan menurut Etim et al. (2014) berkisar antara 15% – 46%. Heterofil merupakan bagian dari sel darah putih yang paling banyak 60-70% dari leukosit.
Monosit
18
dapat meningkatkan kinerja otot polos dan meningkatkan lipolisis (Lands et al. 1967). Peningkatan kinerja otot polos memungkinkan terjadinya kerusakan sehingga pembuangan sel-sel mati atau rusak perlu dilakukan. Monosit berfungsi sebagai sistem kekebalan pada tubuh manusia. Monosit juga dapat menghancurkan benda-benda asing dalam tubuh, menghancurkan sel-sel yang kelainan seperti sel kanker, dan juga membuang jaringan tubuh yang sudah rusak atau mati. Peningkatan monosit sangat nyata (P<0.01) pada perlakuan raktofamin yaitu 67.02% (1.86x109) dibandingkan kontrol (0.62x109). Hal ini dikarenakan raktofamin HCl bekerja pada sel targetnya yaitu jantung. Peningkatan kinerja otot jantung melebihi kapasitasnya akan menyebabkan kerusakan sel-sel otot jantung. Pada perlakuan tepung biji kara benguk peningkatan kerusakan sel-sel yang terjadi lebih rendah dibandingkan kerusakan yang terjadi pada perlakuan raktofamin HCl. Hal tersebut berarti peningkatan performa yang terjadi (Tabel 5) pada tepung biji kara benguk masih menimbulkan efek negatif terhadap ternak, namun efek negatif tersebut masih jauh lebih kecil 47.84% (0,97x109) dibandingkan kerusakan sel yang terjadi pada perlakuan raktofamin HCl (1.86x109) jika dilihat dari segi peningkatan jumlah monositnya.
Eosinofil
Berdasarkan analisis sidik ragam perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, dan raktofamin HCl terhadap eosinofil tidak berbeda nyata (P>0.05) namun cenderung berbeda pada perlakuan tepung biji kara benguk dan raktofamin HCl (P<0.06). Eosinofil pada perlakuan ini berada pada kisaran 0.70% – 2.56%. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Etim et al. (2014) dimana kandungna eosinofil untuk ternak sapi adalah 0 – 4%. Peningkatan eosinofil terjadi karena adanya respon terhadap alergi, infeksi parasit, penyakit kolagen, penyakit pada limfa, dan pada sistem syaraf pusat. Kecenderungan peningkatan pada nilai eosinofil pada perlakuan tepung biji kara benguk dan raktofamin HCl diduga terjadi karena adanya peningkatan aktifitas hormonal. Peningkatan aktifitas hormonal yang dipacu oleh meningkatnya sel βAR (β -adrenergik reseptor) pada sistem syaraf pusat. Peningkatan aktifitas tersebut terjadi karena adanya suplai L-dopa pada perlakuan tepung biji kara benguk untuk sintesis β2
(adrenalin) dan suplai β1 (raktofamin) pada perlakuan raktofamin HCl, sedangkan pada tempe benguk suplai L-dopa tidak terjadi karena adanya penyimpangan jalur metabolisme. Penyimpangan jalur metabolisme pada perlakuan tempe benguk adalah perubahan zat makanan menjadi zat warna hitam (melanin) akibat aktifitas Rhizopus oryzae (Maria et al. 2012).
Basofil
19
darah lebih permeabel sehingga neutrofil dan protein pembekuan dapat masuk ke jaringan ikat lebih mudah (Saladin dan Kenneth 2012). Heparin adalah antikoagulan yang menghambat pembekuan darah dan meningkatkan pergerakan sel darah putih ke suatu daerah. Basofil juga dapat melepaskan sinyal kimia yang menarik eosinofil dan heterofil ke jaringan yang terinfeksi. Kesemua hal tersebut tidak terjadi karena nilai basofil yang masih dalam kisaran normal.
SIMPULAN
Penggunaan 12% tepung biji kara benguk dan tempe benguk pada level 16% BK -1 pakan menghasilkan konsumsi bahan kering terbaik. Pada pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, dan IOFC penambahan tepung biji kara benguk adalah yang terbaik. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi metabolit dan hematologis perlakuan tepung biji kara benguk, tempe benguk, raktofamin HCl tidak memberikan pengaruh negatif pada ternak. Berdasarkan hasil penelitian ini maka tepung biji kara benguk mampu menjadi kandidat growth promoter alami terhadap performa sapi sumba ongole.
SARAN
Penelitian ini merupakan penelitian dasar, masih banyak informasi yang perlu digali lagi mengenai pemanfaatan tepung biji kara benguk sebagai kandidat growth promoter. Untuk itu ada beberapa saran yang perlu dikaji lebih lanjut :
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dalam penambahan tepung biji kara benguk sebagai kandidat growth promoter jika lama perlakuan pemberian tepung biji kara benguk dipadukan dengan level pemberian secara in vivo.
2. Pemberian tepung biji biji kara benguk dalam bentuk ekstrak sangat perlu untuk dilakukan jika pemberiannya digolongkan sebagai aditif.
20
DAFTAR PUSTAKA
Astuti DA, DR Ekastuti, Y Sugiarti, Marwah. 2008. Profil Darah dan Nilai Hematologi Domba Lokal yang Dipelihara di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi. Agripet. Vol 8. No. 2
Bailey K, T Beck, E Cowan, V Ishler. 2009. Dairy Risk – Management Education: Managing Income Over Feed Costs. Agricultural Communications and Marketing, The Pennsylvania State University, PA, USA
Barnes PJ, 1992. Pulmonary Disorders. In : Melmon KL, Morrelli HF, Hoffman BB, Nierenberg DW (editors). Clinical Pharmacology, Basic Principles in Therapeutics, third edition. McGRAW-HILL,INC.p 186-218
Baronti A, Grieco A, Vibelli C. Study of a new oral beta-adrenergic drug, clenbuterol, in patients with chronic bronchitis. Eur J Clin Pharmacol 1978; 13: 171-177. Bouffault JC, JP Willemart. 1983. Anabolic activity of trenbolone acetate alone or in
association with estrogens Pages 155 – 192 in: Meissonier E, editor. Anabolics in Animal Production. Paris. Office International des Epizootics.
Carew LB, FA Alster, AG Gernat. 1998. Blood chemistry including cholesterol, glucose and thyroid hormones of broilers fed raw velvet beans (Mucuna pruriens). J.Anim. Sci. 76 (2): 82-90.
Castillo-Caamal AM, JB Castillo-Caamal, AJ Ayala-Burgos. 2003. Mucuna bean (Mucuna spp.) Supplementation of growing sheep fed with a basal diet of napier grass (Pennisetum purpureum).Tropical and Subtropical Agroecosystems, Vol. 1, Núm. 2-3 : 107-111
Chinnamadasamy, Kalidass, V Ramasamy, Mohan. 2011. Nutritional and Antinutritional Composition of Itching Bean (mucuna pruriens (l.) Dc var. Pruriens): an Underutilized Tribal Pulse in Western Ghats, Tamil Nadu. Tropical and Subtropical Agroecosystems, 14 : 279 - 293
Dawson KA, DM Hopkins. 1991. Differential effects of live yeast on the cellulolityc activities of an aerobic ruminal bacteri. J. Anim. Sci. 69.
Ditjennak dan Kesehatan Hewan. 2012. Konfrensi pers Direktur jenderal peternakan dan kesehatan hewan Tentang supply demand daging sapi/kerbau Sampai dengan desember 2012. Jakarta, 27 November 2012
Ditjennak. 2010. Blue Print Program Swasembada Daging Sapi 2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan, Kementan RI
Etim NN, ME Williams, U Akpabio, EEA Offiong. 2014. Haematological parameters and factors affecting their values. Agricultural Science Volume 2, Issue 1, 37-47
Evvyernie D, D Diapari, S Fatonah. 2014. Rumen Microbes Viability and In Vitro Digestibility of Beef Cattle Ration Containing Velvet Bean (Mucuna pruriens).Proceedings of the 16th AAAP Animal Science Congress Vol. II
Friedewald WT, RI Levy, DS Fredrickson. 1972. Estimation of the concentration of low- density lipoprotein cholesterol in plasma, without the use of preparative centrifuge. Clin. Chem. 18, 499-502
Friedhoff AJ, Silva R, 2002.Catecholamines. In: Encyclopedia of the human brain. Ed Ramachandran VS. Elsevier Science Academic Press, San Diego, CA, 595-602. Greenstein B, Wood D, 2010. The Endocrin SystemAt a Glance(3rd ed). Singapore: John
21
Gruber SL, JD Tatum, TE Engle, MA Mitchell, SB Laudert, AL Schroeder, and WJ Platter. 2007. Effects of ractopamine supplementation on growth performance and carcass characteristics of feedlot steers differing in biological type. J. Anim. Sci. 85:1809-1815.
Hafez ESE. 1968. Principles of Animal Adaptation, in Adaptation of Domestic Animal, Edited by ESE Hafez, Washington State University, Pullman Washington.
Jolanta K, Seta E, Świderska-Kołacz G, Jóźwik A, Klusek J, Kołątaj A. 2007. The effect of adrenaline on the concentration of triacylglycerols and cholesterol in the liver and kidneys of mice selected for high body weight and kept on two levels of dietary protein. Animal Science Papers and Reports vol. 25 no. 3, 183-189
Kearl LC. 1982. Nutrient requirements of ruminants in developing countries. International Feedstuffs Institute. Utah Agricultural Experiment Station. Utah State University, Logan Utah.
Lands AM, Arnold A, McAuliff JPL, Luduena FP, Brown TG. 1967. Differentiation of receptor systems activated by sympathomimetic amines. Nature, 214: 597-598. Lauer RM. 1991.Report of the Expert Panel on Blood Cholesterol Levels in Children
and Adolescent.In : National cholesterol education program, US Departement of Health and Human Services : 1-74
Lehninger AL. 1993. Lipida dan Membran. Dalam Dasar - dasar Biokimia . Alih Bahasa: Maggy Thenawidjaja. Jakarta: Erlangga.
María ICB, L José. B Viveros, Martínez A, Bolívar F, Gosset G. 2012. Biotechnological production of l-tyrosine and derived compounds. Elsevier. Process Biochemistry 47:1017–1026
Mayulu H, Suryanto B, Sunarso, Christiyanto M, Ballo FI, Refa’i. 2009. Feasibility of complete feed based on ammoniated fermented rice straw utilization on the beef cattle farming. J. Indonesian Trop. Anim. Agric. 34(1): 74-80.
Menard L.1994. The use of clenbuterol in large animal obstetrics: Manual correction of bovine dystocias. Can Vet J. 35: 289-292
Mersmann HJ. 1998. Overview of the effects of β-adrenergic receptor agonists on animal growth including mechanisms of action. J. Anim. Sci. 76:160-172.
Mitruka BM, Rawnsley HM. 1977.Clinical, biochemical and haematological reference values in normal experimental animals. Mason, New York, pp 42-45.
Mohamad GZ, HA Shahryar, V Chekaniazar, S Chekaniazar. 2011. Effect of Different Oil Sources on Muscle Fatty Acid Composition and Serum Lipoproteins Levels in Sarabi Beef Steer. International Journal of Animal and Veterinary Advances 3(5): 379-385.
Moody DE, DL Hancock, DB Anderson. 2000. Phenethanolamine repartitioning agents. In: D’Mello JPF, editor. Farm Animal Metabolism and Nutrition. Wallingford (UK): CABI Publishing. pp. 65
Mycek MJ, Harvey RA, Champe CC. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar.
Lippincottt’s Illustrated Reviews: Farmacology . Penerjemah Azwar Agoes. Edisi II . Jakarta. Widya Medika. Halaman 2
Ordonez LA, M Arbrus, S Boyson, MN Goodman, NB Ruderman, RJ Wurtman. 1974. Skeletal muscle: reservoir for exogenous L-dopa. J. Pharmacol. Exp. Ther. 190: 187-191.
22
Pugalenthi M, Vadivel V, Siddhuraju P. 2005. Alternative food/feed perspectives of an underutilized legume Mucuna pruriens var. utilis - A review. Plant Foods for Human Nutrition 60, 201-218
Radostits O M, Blood D C, Gay C C. 1994. Veterinary Medicine: A textbook of the diseases of cattle, sheep, pigs, goats and horses. London, Bailliere Tindall
Romero, JA, Lytle, LD, Ordonez, LA, Wurtman, RJ. 1973. Effects of L-dopa administration on the concentrations of dopa, dopamine and norepinephrine in various rat tissues. J. Pharmacol. Exp. Ther. 184: 67-72.
Saladin, Kenneth. 2012. Anatomy and Physiology: the Unit of Form and Function (6 ed.). New York: McGraw Hill.
Salorinne Y, Stenius B, Tukiainen P, Poppius H. 1975. Double-blind cross-over comparison of clenbuterol and salbutamol tablets in asthmatic out-patients. Euro J Clin Pharmacol; 8: 189-195.
Sherwood, L., 2001. Human Physiology: From the cell to system (2thed). Pendit, B.U. 2001 (Alih Bahasa), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Steel, R G D. ,J H Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistik. Terjemahan: B. Sumantri. Gramedia, Jakarta.
VadivelV, M Pugalenthi, Doss A, Parimelazhagan T. 2011. Evaluation of velvet bean meal as an alternative protein ingredient for poultry feed Animal 5:1, pp 67–73 Walker DK, Titgemeyer EC, Baxa TJ, Chung KY, Johnson DE, Laudert SB, Johnson
BJ. 2010. Effects of ractopamine and sex on serum metabolites and skeletal muscle gene expression in finishing steers and heifers. J. Anim. Sci. 88:1349-1357
Walker DK, Titgemeyer EC, Johnson DE, Laudert SB, Johnson BJ. 2011. Effects of ractopamine and gender on protein turnover in skeletal muscle of implanted steers and heifers. South African Society for Animal Science vol 41 (no 1)
23
LAMPIRAN
Lampiran 1 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal suhu rektal
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 27.29938
perlakuan 3 11.77688 3.925625 2.53983 3.863 1,2,4 vs 3 1 10.92521 10.92521 7.068473 5.117 1,2 vs 4 1 0.700417 0,700417 0.453161 5.117 1 vs 2 1 0.15125 0.15125 0.097857 5.117 kelompok 3 1.611875 0.537292 0.347621 3.863
galat 9 13.91062 1.545625
Keterangan : 1. Kontrol, 2. Tepung biji kara benguk, 3. Tempe benguk, 4. Raktofamin HCl
Lampiran 2 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal frekuensi nafas
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 217.609
perlakuan 3 121.671 40.557 4.318 3.863 1,4 vs 2,3 1 97.515 97.515 10.384 5.117
1 vs 4 1 9.031 9.031 0.962 5.117
2 vs 3 1 15.125 15.125 1.611 5.117
kelompok 3 11.421 3.807 0.405 3.863
galat 9 84.515 9.390
Keterangan : 1. Kontrol, 2. Tepung biji kara benguk, 3. Tempe benguk, 4. Raktofamin HCl
Lampiran 3 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal denyut nadi
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 970.438
perlakuan 3 24.687 8.229 0.184 3.863
3,4 vs 2,1 1 22.562 22.562 0.505 5.117
3 vs 4 1 2 2 0.0447 5.117
2 vs 1 1 0.125 0.125 0.002 5.117
kelompok 3 543.687 181.229 4.057 3.863
galat 9 402.063 44.673
24
Lampiran 4 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal konsumsi pakan
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 8.485
perlakuan 3 7.681 2.560 29.702 3.863
1.4 vs 3.2 1 7.079 7.079 82.122 5.117
1 vs 4 1 0.543 0.542 6.298 5.117
3 vs 2 1 0.059 0.059 0.686 5.117
kelompok 3 0.027 0.009 0.106 3.863
galat 9 0.776 0.0862
Keterangan : 1. Kontrol, 2. Tepung biji kara benguk, 3. Tempe benguk, 4. Raktofamin HCl
Lampiran 5 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal pertambahan bobot badan harian
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 1.644
perlakuan 3 0.572 0.191 2.125 3.863
1.2 vs 4.3 1 0.533 0.533 5.935 5.117
1 vs 2 1 0.028 0.028 0.308 5.117
4 vs 3 1 0.012 0.012 0.132 5.117
kelompok 3 0.263 0.088 0.977 3.863
galat 9 0.808 0.089
Keterangan : 1. Kontrol, 2. Tepung biji kara benguk, 3. Tempe benguk, 4. Raktofamin HCl
Lampiran 6 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal efisiensi pakan
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 0.013
perlakuan 3 0.005 0.002 2.694 3.863
1,2 vs 4,3 1 0.005 0.005 7.795 5.117
1 vs 2 1 7.801x106 7.801x106 0.012 5.117
4 vs 3 1 0.0002 0.0002 0.275 5.117
kelompok 3 0.0024 0.0007 1.269 3.863
galat 9 0.0057 0.0006
25
Lampiran 7 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal glukosa darah
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 2626.6
perlakuan 3 1152.161 384.054 2.483 3.863 2,3,4 vs 1 1 881.034 881.034 5.696 5.117 2 vs 3,4 1 269.954 269.954 1.745 5.117
3 vs 4 1 1.172 1.1723 0.0078 5.117
kelompok 3 82.335 27.445 0.177 3.863
galat 9 1392.105 154.678
Keterangan : 1. Kontrol, 2. Tepung biji kara benguk, 3. Tempe benguk, 4. Raktofamin HCl
Lampiran 8 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal trigliserida darah
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 152.077
perlakuan 3 74.510 24.837 3.026 3.863
4.1 vs 3.2 1 49.429 49.429 6.022 5.117
4 vs 1 1 14.834 14.834 1.807 5.117
3 vs 2 1 10.245 10.246 1.248 5.117
kelompok 3 3.695 1.232 0.150 3.863
galat 9 73.872 8.207
Keterangan : 1. Kontrol, 2. Tepung biji kara benguk, 3. Tempe benguk, 4. Raktofamin HCl
Lampiran 9 Analisis sidik ragam dan kontras ortogonal kolesterol darah
Sumber keragaman db Jumlah kuadrat Kuadrat tengah Sig (0.05) F
Total 15 753.689
perlakuan 3 43.523 14.508 0.205 3.863
2.1 vs 4.3 1 40.505 40.505 0.573 5.117
2 vs 1 1 2.369 2.369 0.034 5.117
4 vs 3 1 0.648 0.648 0.009 5.117
kelompok 3 73.620 24.540 0.347 3.863
galat 9 636.546 70.727