ABSTRACT
VILLAGE FUND ALLOCATION MANAGEMENT IN VILLAGE BUILDING 2013
( A Study in Gayau Sakti Village Subdistrict Seputih Agung District Lampung Tengah)
By Rini Wulandari
Problem research focuses on organization of outhonomy village, there are management orientation ADD is Permendagri 2007, Number 37. Conflict from management Village Fund Allocation and the capacity of management Village Fund Allocation. This research destination are to desribe the management of ADD in village building and the supporting and inhibiting factors.
The research method used was descriptive method with qualitative approach. The informan from this research is axecutor of manager Village Fund Allocation. The research conducted in-depth interviews and direct observation also by the implementation of the Village Fund Allocation.
Allocation.
ABSTRAK
PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) DALAM PEMBANGUNAN PERDESAAN TAHUN 2013
(Studi pada Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah)
Oleh Rini Wulandari
Masalah dalam penelitian ini adalah pemenuhan hak desa yang memiliki otonomi daerah, pedoman pengelolaan ADD menurut Permendagri No 37 Tahun 2007. Penyalahgunaan ADD di beberapa daerah dan kemampuan pengelolaan ADD. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan pengelolaan ADD dalam pembangunan perdesaan serta faktor-faktor pendorong dan penghambat.
masyarakat Faktor pendukung dalam pengelolaan ADD adalah partisipasi masyarakat. Faktor penghambat swadaya masyarakat rendah, dan kualitas SDM Tim Pelaksana ADD.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Gayau Sakti, Lampung Tengah, pada tanggal 02 Agustus 1992. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan Priyono dan Misini. Penulis menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar SDN 3 Gayau Sakti pada tahun 1998-2004. Penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama SMP Negeri 1 Way Pengubuan yang diselesaikan pada tahun 2007 dan dilanjutkan di SMA Negeri 1 Terbanggi Besar yang selesai pada tahun 2010.
MOTO
Jadilah seperti awan yang diberi asinnya lautan tapi selalu mengembalikan dengan air tawar
(Abdur Arsyad)
PERSEMBAHAN
Karya ini dipersembahkan untuk malaikat-malaikat tanpa sayap yang sangat berarti dalam hidupku.
Bapak dan Ibu tercinta, yang telah memberikan segalanya.
Adikku tersayang, Agung Dwi A.
yang mendukung melalui senyum dan candamu.
SANWACANA
Bismillahirohmanirohim.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi dengan judul “ Analisis Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam pembangunan Perdesaan Tahu 2013 (Studi pada Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah)” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak berikut:
1. Drs. Agus Hadiawan, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
2. Drs. Denden Kurnia Drajat, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung serta selaku Pembahas Dosen yang telah bersedia memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Drs. Yana Ekana P.S, M.Si., selaku pembimbing utama dan Pembimbing Akademik yang telah memberikan banyak bimbingan arahan, saran dan waktu dalam rangka penyelesaian skripsi ini.
6. Bapak, Ibu dan Adik tersayang, yang telah mendidik, mendukung, melantunkan doa dan tetasan keringat untuk mendewasanku.
7. Seluruh kelurga besar yang menanti keberhasilanku.
8. Sahabat-sahabatku: Eka Mala Sari, Eti Nur Rahmawati, Rike Prisina, Resti Agustina, Retno Mahdita, Dewi Astriya, Ayu Mira Asih, Ahlan Fahriadi dan Edo Putra, terima kasih untuk semua palajaran hidup dalam tawa, duka dan perjuangan yang kita lakukan bersama.
9. Teman-teman SMA: Eka Rahmatul Fitriyani, Guruh Permadi Iskandar, Meva Zulva Kirana, Solihin, terima kasih do’a dan dukungannya.
10. Rekan-rekan: Aulia Murti Novita Sari dan Wellyana Putra terima kasih untuk kebersamaan kita selama KKN.
11. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini
Semoga Allah SWT selalu memberikan balasan yang lebih besar untuk Bapak, Ibu dan teman-teman semua. Hanya ucapan terima kasih dan doa yang bisa penulis berikan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Bandar Lampung Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
ABSTRAK ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... vi
RIWAYAT HIDUP ... vii
PERSEMBAHAN ... viii
MOTTO ... ix
SANWACANA ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 10
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengelolaan ... 11
B. Alokasi Dana Desa ... 12
1. Tujuan Alokasi Dana Desa ... 15
2. Manfaat Alokasi Dana Desa ... 15
3. Peruntukan Alokasi Dana Desa ... 16
4. Tim Pelaksana Alokasi Dana Desa... 17
C. Pengelolaan Alokasi Dana Desa ... 18
1. Tahap Perencanaan ... 21
2. Tahap Pelaksanaan ... 24
3. Tahap Pengawasan ... 26
4. Tahap Pertanggungjawaban ... 28
D. Pembangunan Perdesaan ... 30
III. METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian ... 36
B. Fokus Penelitian ... 37
C. Jenis Data ... 38
1. Data Primer ... 39
2. Data Sekunder ... 40
D. Penentuan Informan ... 40
E. Teknik Pengumpulan Data ... 41
1. Wawancara ... 42
2. Observasi ... 43
3. Dokumentasi ... 44
F. Teknik Pengolahan Data ... 44
G. Teknik Analisis Data ... 45
IV. GAMBARAN UMUM A. Sejarah Desa Gayau Sakti ... 48
B. Gambaran Lokasi Penelitian ... 50
C. Kondisi Penduduk Desa Gayau Sakti ... 50
D. Kondisi Sarana dan Prasarana ... 53
E. Gambaran mengenai Pemerintah Desa ... 55
F. Gambaran Pembangunan Gayau Sakti ... 57
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Informan ... 58
B. Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam pembangunan Perdesaan Desa Gayau Sakti Tahun 2013 ... 60
1. Perencanaan ADD ... 61
2. Pelaksanaan ADD ... 66
3. Pengawasan ADD ... 80
4. Pertanggungjawaban ADD... 83
C. Tabel Analisis Pengelolaan ADD Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah... 85
D. Faktor pendukung dan Faktor Penghambat dalam Pengelolaan dalam Pembangunan Perdesaan ADD Desa Gayau Sakti ... 91
1. Faktor Pendukung ... 91
2. Faktor Penghambat... 92
E. Pembahasan pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Pembangunan Perdesaan Desa Gayau Sakti Tahun 2013 ... 93
1. Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam pembangunan perdesaan Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah ... 93
perdesaan Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah ... 95 4. Pengawasan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam pembangunan
perdesaan Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah ... 98 5. Pertanggungjawaban Alokasi Dana Desa (ADD) dalam pembangunan
perdesaan Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah ... 100 6. Faktor pendukung dan penghambat Pengelolaan Alokasi Dana Desa
(ADD) dalam pembangunan perdesaan Desa Gayau Sakti
Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah ... 101 a. Faktor Pendukung ... 101 b. Faktor Penghambat... 102 VI. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ... 105 B. Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Komposisi Penduduk menurut jenis kelamin ... 51
2. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian ... 51
3. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan ... 52
4. Jumlah penduduk menurut agama yang dianut ... 52
5. Sarana dan prasarana Desa ... 54
6. Jumlah perangkat Desa ... 55
7. Rencana detail dan sasaran ADD ... 63
8. Tim pelaksana ADD Gayau Sakti ... 64
9. Bantuan operasional Tim penggerak PKK ... 71
10.Pembangunan infrastruktur perkampungan ... 74
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Surat Izin Penelitian
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan merupakan proses perubahan yang berlangsung secara sadar, terencana dan berkelanjutan dengan sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat suatu bangsa. Indonesia saat ini sedang mengupayakan pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi keseluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Berdasarkan hal tersebut di atas memberikan gambaran faktual kondisi yang terjadi dalam masyarakat perdesaan secara keseluruhan. Sangat ironis memang dengan wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan luas kurang lebih 4,8 juta km2 dengan luas daratan 1,9 juta km2 yang tersebar di 62.806 buah desa (Wasistiono dan Tahir 2007: 1). Penduduk miskin di Indonesia bermukin di desa dengan kondisi yang masih tertinggal dalam bidang pendidikan dan sulitnya lapangan pekerjaan.
Menanggapi permasalahan di atas pemerintah melakukan inisiatif dengan membuat kebijakan pembangunan nasional, yang memberi perhatian penting pada pembangunan desa. Pembangunan desa adalah upaya yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan untuk mencapai masyarakat desa yang dicita-citakan guna mencapai masyarakat yang sejahtera. Sebagaimana diungkapkan Soemantri (2010: 70) bahwa :
Pembangunan desa disusun secara partisipasif oleh Pemerintah Desa sesuai dengan kewenangannya dengan melibatkan lembaga kemasyarakatn desa, karena lembaga kemasyarakatan desa merupakan mitra kerja Pemerintah Desa dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan yang bertumpu pada masyarakat.
ekonomi, seperti informasi, teknologi dan jaringan kerjasama. Oleh karena itu diperlukan sasaran yang dapat dilakukan dalam pembangunan perdesaan meliputi:
1. Mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan
2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur di kawasan pemukiman di perdesaan
3. Meningkatkan akses, kontrol dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Kehadiran Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah memberikan makna dasar bahwa desa menuju self governing community yaitu suatu komunitas yang mengatur dirinya sendiri dengan menganut prinsip money follow function yang berarti bahwa pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintah (Tesis Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa, Agus Subroto: 2009). Menurut Widjaja (2012: 24) menyatakan fungsi pemerintah desa hanya sebagai unsur pelaksana daerah yang kegiatannya dirancang dari atas ke bawah (top down planning) sehingga besifat sentralistik.
prasarana desa masih kurang memadai dalam pencapaian pembangunan yang berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut maka dana merupakan faktor dasar dalam meningkatkan pembangunan desa.
Sesuai dengan pernyataan Simanjuntak (dalam Agus Subroto, Tesis Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa, 2009) bahwa transfer dana menjadi penting untuk menjaga/menjamin tercapainya standar pelayanan publik minimum. Konsekuensi dari pernyataan tersebut adalah desentralisasi kewenangan harus disertai dengan desentralisasi fiskal. Realisasi pelaksanaan desentralisasi fiskal di daerah mengakibatkan adanya dana perimbangan keuangan antara kabupaten dan desa yang lebih dikenal dengan sebutan Alokasi Dana Desa (ADD).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 37 Tahun 2007 bahwa Alokasi Dana Desa (ADD) yaitu dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang dialokasikan kepada desa tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan prioritas desa yang memperolehnya. Tujuan pemberian ADD menurut Sahdan, dkk. (2006: 6) sebagai berikut.
1. Untuk memperkuat kemampuan keuangan desa (APBdes) dengan demikian sumber APBDes terdiri dari PADes ditambah ADD
2. Untuk memberi keleluasaan bagi desa dalam mengelola persoalan pemerintahan, pembangunan serta social masyarakat desa
3. Untuk mendorong terciptanya demokrasi desa
Pada proses pengelolaan Alokasi Dana Desa di Indonesia pada beberapa desa ditemukan indikasi pelanggaran penyalahgunaan bantuan anggaran ADD senilai Rp 90.000.000 (sembilan puluh juta rupiah) di desa Sambiroto kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah ( Antara Jateng.com, Jumat 17 Januari 2014). Hal serupa juga terjadi di desa Paseban, Jember Jawa Timur terjadi penyelewengan Alokasi Dana Desa yang dilakukan oleh kepala desa setempat (rri.co.id tanggal 30 Januari 2014). Untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan dalam menerapkan atau dalam menjalankan kebijakan ADD, diperlukan adanya kelembagaan yang kuat di desa, sehingga dana tersebut dapat terkelola dengan baik. Kelembagaan desa yang kuat dapat menjamin keberlanjutan ADD dan program yang dibiayai ADD dapat melibatkan perangkat desa dan masyarakat desa secara keseluruhan.
sesuai tujuan, sasaran dan harapan masyarakat yang akan menerima pembiayaan ADD.
Menurut Sahdan, dkk. (2006: 8) Pengelola Alokasi Dana Desa (ADD) di desa adalah Kepala Desa, Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD) dan Bendahara Desa. Pengelola ADD tersebut secara profesional dituntut untuk mengelola ADD secara efektif dan efisian sesuai dengan pedoman dalam Peraturan Daerah yang berlaku. Kapasitas aparatur desa sebagai pelaksana kebijakan menjadi faktor penunjang keberhasilan pelaksanaan program-program yang dibiayai ADD. Kemampuan dan keterampilan Aparatur Desa sebagai pelaksana kebijakan merupakan dasar dari pelaksanaan pemerintahan khususnya dibidang keuangan dalam mengelola ADD.
Pada kenyataannya kondisi fisik desa cukup memprihatinkan. Hasil pra-riset peneliti bahwa kondisi fisik balai desa yang tidak terurus bahkan peneliti tidak menemukan struktur desa. Peneliti menemukan struktur pemerintah desa dua periode sebelum Kepala Desa saat ini. Saat peneliti mewawancarai seorang warga yang tinggal di sekitar Balai Desa tersebut bernama Habib menurutnya kinerja Pemerintah Desa sangat rendah, karena sebenarnya pemerintah desa tersebut bekerja hanya pada hari Sabtu saja ( wawancara pada tanggal 8 Februari 2014).
“ Iyo rin, wong balai deso bukane gor dino setu tok”, ungkap Habib.
Dari pernyataan tersebut berarti iya Rin, balai desa hanya buka pada hari Sabtu saja.
Kapasitas Aparatur Desa sebagai pelaksana kebijakan ADD menjadi faktor penunjang keberhasilan pelaksanaan program-program yang dibiayai ADD. Kemampuan dan keterampilan Aparatur Desa sebagai pelaksana kebijakan merupakan dasar dari pelaksanaan Pemerintahan khususnya dalam mengelola Alokasi Dana Desa. Pada kenyataannya di Desa Gayau Sakti kompetensi sumber daya manusia dalam diri pelaksana kebijakan ADD khususnya di bidang teknis dirasa kurang memadai berdasarkan pra-riset tersebut di Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah. Kondisi ini berdampak pada kurangnya efektivas pelaksanaan program akibat perlunya pembinaan terus menerus yang akan menyita waktu yang dialokasikan. Pada kenyataannya pemerintah desa tersebut masih banyak mengabaikan pedoman pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD).
desa Gayau Sakti masih minim. Untuk kondisi jalan utama menuju lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat di sana sangat memprihatinkan. Ditambah dengan kondisi cuaca musim penghujan saat ini menambah rusaknya jalan. Tidak heran bila sering terjadi jalan amblas dan terjadi putusnya jembatan. Kondisi ini terjadi pada pertengahan Bulan Desember tahun 2013. Berdasarkan wawancara awal dengan salah seorang petani bernama Basuki pada 7 Februari 2014 mengatakan:
“Ini langganan mbak, setiap musim penghujan memang jalannya makin parah, tapi pak lurahnya diem aja. Yang paling parah ya sekarang, ditambah jalan putus, jadi muter kalo mau ke sawah saya”
Selain masalah pembangunan sarana dan prasarana di atas, pembangunan yang masih tertinggal yakni bidang pendidikan. Di Desa Gayau Sakti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru ada pada tahun 2014 ini. Bila dibandingkan dengan dua desa tentangga seperti Dono Arum dan Simpang Agung, PAUD di dua desa tersebut sudah dibangun pada tahun 2010.
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) sangat dibutuhkan oleh masyarakat demi tercapainya kesejahteraan dan pembangunan di desa Gayau Sakti agar berjalan efektif dan efisien, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian “Analisis Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Pembangunan Perdesaan di Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung
Tengah”, agar ke depannya dapat menjadi bahan referensi bagi pemerintah daerah
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimana pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam meningkatkan pembangunan perdesaan Desa Gayau Sakti kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah?
2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pengeloaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam meningkatkan pembangunan perdesaan Desa Gayau Sakti kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mengetahui pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam meningkatkan pembangunan perdesaan desa Gayau Sakti kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu dan pengembangan pengetahuan pada jurusan Ilmu Pemerintahan. Selain itu diharapkan juga bisa dijadikan bahan rujukan bagi penelitian sejenis yang akan dilakukan dikemudian hari.
2. Manfaat Praktis
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengelolaan
Kata pengelolaan dapat disamakan dengan manajemen, berarti pula pengaturan atau pengurusan (Arikunto, 1993: 31). Menurut Stoner (dalam Kaho 1997: 228) manajemen dapat dilihat sebagai proses, yakni: proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Maka, pengelolaan dapat diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu. Sesuai dengan pernyataan Giffin dalam jurnal yang beralamat di
http://www.google.co.id/url?sa=t&sourcece=web&cd=1&ved=0CCMQFJAA&url-
http%3A%2Feprints.uny.ac.id%2F7900%2F3%2Fbab2%2520-%252006101244019.pdf&ei=O3wfU9ukM4PZigf0s4GQCQ&usg=AFQjCNGqoT81
TdoW-k4dsoNFLMJoigRehQ&sig2=dwkgEvziHJpli90z7JqGmA.
Menurut Fattah (2004: 1) dalam proses manajemen terlihat terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer atau pimpinan, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemimpin (leading) dan pengawasan (controlling). Oleh karena itu, manajemen diartikan sebagai proses merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Sedangkan, menurut Sahdan, dkk. (2006: 23) pengelolaan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
Berdasarkan definisi manajemen di atas secara garis besar tahap-tahap dalam melakukan manajemen meliputi proses perencanaan, pengorganisasian atau pelaksanaan dan pengawasan. Dalam penelitian ini pengelolaan diartikan sebagai proses yang dijalankan oleh suatu organisasi (Pemerintah Desa maupun masyarakat) dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam penelitian ini pengelolaan meliputi proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban.
B. Alokasi Dana Desa
pelayanan masyarakat. ADD bagian keuangan Desa yang diperoleh dari Bagi Hasil Pajak Daerah dan Bagian dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pada Pasal 18 bahwa Alokasi Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten/Kota yang bersumber dari bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10 % (sepuluh persen). Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pasal 1 Ayat 11 yang dimaksud Alokasi Dana Desa (ADD) adalah dana yang diberikan kepala desa yang berasal dari dana perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota.
Menurut Soemantri (2011: 166) bahwa presentase penggunaan Alokasi Dana Desa ditetapkan 70% untuk pembiayaan pelayanan publik dan perberdayaan masyarakat, diantaranya:
a. Penanggulangan kemiskinan diantaranya pendirian lumbung desa b. Peningkatan kesehatan masyarakat diantaranya penataan posyandu c. Peningkatan pendidikan dasar
d. Pengadaan infrastruktur pedesaan seperti prasarana pemerintahan, prasarana perhubungan, prasarana produksi, prasarana pemasaran dan prasarana sosial.
e. Penyusunan dan pengisian profil desa, penyediaan dara-data, buku administrasi desa dan lembaga kemasyarakatan lainnya
f. Perberdayaan sumber daya aparatur desa
g. Menunjang kegiatan pelaksanaan 10 program PKK h. Kegiatan perlombaan desa
i. Penyelenggaraan musyawarah pemerintahan desa j. Kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong
k. Peningkatan kapasitas lembaga kemasyarakatan
l. Peningkatan potensi masyarakat bidang keagamaan, pemuda olahraga m. Kegiatan lainnya untuk yang diperlukan oleh desa
Sedangkan 30% lagi untuk biaya operasional pemerintahan desa yaitu untuk membiayai kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa dengan prioritas sebagai berikut:
a. Peningkatan Sumber Daya Manusia Kepala Desa dan Perangkat Desa meliputi pendidikan, pelatihan, pembekalan dan studi banding
b. Biaya operasional tim pelaksana bidang pemerintahan.
c. Biaya tunjangan Kepala Desa, perangkat desa, tunjangan dan operasional BPD , honor ketua RT/RW serta penguatan kelembagaan RT dan RW.
d. Biaya perawatan kantor dan lingkungan Kantor Kepala Desa.
e. Biaya penyediaan data dan pembuatan pelaporan dan pertanggungjawaban.
1. Tujuan Alokasi Dana Desa
Menurut Soemantri (2011: 157) tujuan Alokasi Dana Desa sebagai berikut. a. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan
b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan ditingkat desa dan pemberdayaan masyarakat
c. Meningkatkan pembangunan infrastruktur perdesaan
d. Meningkatkanpengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam mewujudkan peningkatan sosial
e. Meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat
f. Meningkatkan pelayanan pada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat
g. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat h. Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan
Usaha Milik Desa (BUMDes)
2. Manfaat Alokasi Dana Desa
Menurut Sahdan, dkk. (2006: 6) terdapat beberapa manfaat ADD bagi kabupaten/kota yakni sebagai berikut.
a. Kabupaten/Kota dapat menghemat tenaga untuk membiarkan desa mengelola otonominya, tanpa terus bergantung kepada Kabupaten/Kota
b. Kabupaten/Kota bisa lebih berkonsentrasi meneruskan pembangunan pelayanan publik untuk skala luas yang jauh lebih strategis dan lebih bermanfaat untuk jangka panjang (Tim FPPD, 2005).
Manfaat ADD bagi desa menurut Sahdan, dkk. (2006: 7) sebagai berikut.
a. Desa dapat menghemat biaya pembangunan, karena desa dapat mengelola sendiri proyek pembangunannya dan hasil-hasilnya dapat dipelihara secara baik demi keberlanjutannya
c. Desa memperoleh kepastian anggaran untuk belanja operasional pemerintahan desa. Sebelum adanya ADD, belanja operasional pemerintahan pemerintaha desa besarnya tidak pasti
d. Desa dapat menangani permasalahan desa secara cepat tanpa harus lama menunggu datangnya program dari pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
e. Desa tidak lagi hanya tergantung pada swadaya masyarakat dalam mengelola persoalan pemerintaha, pembangunan serta sosial kemasyarakatan desa
f. Dapat mendorong terciptanya demokrasi di desa
g. Dapat mendorong terciptanya pengawasan langsung dari masyarakat untuk menekan terjadinya penyimpangan
h. Dengan partisipasi semua pihak, maka kesejahteraan kelompok perempuan, anak-anak, petani, nelayan, orang miskin, dan lain-lain dapt tercipta.
3. Peruntukan Alokasi Dana Desa
Menurut Sahdan, dkk. (2006: 8) peruntukan ADD adalah sebagai berikut.
a. Untuk biaya pembangunan desa b. Untuk pemberdayaan masyarakat
c. Untuk memperkuat pelayanan publik di desa d. Untuk memperkuat partisipasi dan demokrasi desa e. Untuk tunjangan aparat desa
f. Untuk operasional pemerintahan desa
g. Tidak boleh digunakan untuk kegiatan politik atau kegiatan melawan hukum.
Sejalan dengan hal tersebut Soemantri (2011: 169) bahwa pelaksaan kegiatan-kegiatan yang pembiayaannya bersumber dari ADD dalam APBDes, sepenuhnya dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Desa dengan mengacu pada Peraturan Bupati/Walikota, maka peruntukan ADD sebagai berikut.
d. Perbaikan lingkungan dan pemukiman e. Teknologi Tepat Guna
f. Perbaikan kesehatan dan pendidikan g. Pengembangan sosial budaya
h. Dan sebagainya yang dianggap penting
4. Tim Pelaksana Alokasi Dana Desa (ADD)
Dalam rangka pelaksanaan kelancaran pengelolaan Alokasi Dana Desa dibentuk Tim Pembina Tingkat Kabupaten, Tingkat Pembina Tingkat Kecamatan dan Tim Pelaksana Tingkat Desa.
a. Tim Pembina Tingkat Kabupaten
Menurut Soemantri (2011: 164) Tim Pembina Tingkat Kabupaten ditetapkan dengan Keputusan Bupati dan mempunyai tugas sebagai berikut.
1. Merumuskan kebijakan pengelolaan Alokasi Dana Desa
2. Membina dan mensosialisasikan pengelolaan Alokasi Dana Desa 3. Menyusun rekapitulasi laporan kegiatan penggunaan Alokasi Dana
Desa
b. Tim Pembina Tingkat Kecamatan
Menurut Soemantri (2011: 164) Tim Pembina Tingkat Kecamatan ditentukan oleh Camat dengan susunan sebagai berikut.
Penanggungjawab : Camat
Ketua : Sekretaris Camat
Sekretaris : Kepala Seksi yng membidangi Pemberdayaan Masyarakat : 1. Kepala Seksi yang membidangi
Menurut Soemantri (2011: 164) Tim Pembina Tingkat Kecamatan mempunyai tugas sebagai berikut.
1. Melaksanakan kegiatan pembinaan, pengawasan, dan pemantauan kegiatan Alokasi Dana Desa
2. Memverifikasi proposal dan persyaratan lainnya
3. Mengadakan monitoring dan pengendalian kegiatan Alokasi Dana Desa
4. Menyusun rekapitulasi laporan kemajuan kegiatan dan pelaporan keuangan
5. Menyelesaikan permasalahan ditingkat desa dan melaporkan kepada Tim Pembina Tingkat Kabupaten
c. Tim Pelaksana Tingkat Desa
Menurut Soemantri (2011: 165) Tim Pelaksana Tingkat Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa dengan susunan sebagai berikut.
Ketua : Kepala Desa
Sekretaris : Sekretaris Desa
Bendahara : Kepala urusan yang membidangi Keuangan Anggota : Kepala Urusan Terkait
Pelaksana Teknis : 1. LPM, 2. Tim Penggerak PKK Tingkat Desa, 3. Organisasi kepemudaan di Desa, 4.
Pemuka Agama/Adat, 5. Lembaga
Kemasyarakatan Lainnya yang ada di desa
C. Pengelolaan Alokasi Dana Desa
1. Seluruh kegiatan yang didanai oleh Alokasi Dana Desa (ADD) direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat.
2. Seluruh kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan secara administratif, teknis dan hukum.
3. Alokasi Dana Desa (ADD) dilaksanakan dengan menggunakan prinsip hemat, terarah dan terkendali.
4. Jenis kegiatan yang akan dibiayai melalui Alokasi Dana Desa (ADD) sengat terbuka untuk meningkatkan sarana Pelayanan Masyarakat berupa Pemenuhan Kebutuhan Dasar, Penguatan Kelembagaan Desa dan kegiatan lainnya yang dibutuhkan Masyarakat Desa yang diputuskan melalui Musyawarah Desa.
5. Alokasi Dana Desa (ADD) harus dicatat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) dan proses penganggarannya mengikuti mekanisme yang berlaku.
Menurut Soemantri (2011: 158) rumus yang digunakan dalam Alokasi Dana Desa sebagai berikut.
1. Azaz merata adalah besarnya bagian bagian Alokasi Dana Desa yang sama untuk setiap desa, yang selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa Minimal (ADDM)
2. Azaz Adil adalah besarnya bagian Alokasi Dana Desa berdasarkan Nilai Bobot Desa (BDx) yang dihitung dengan rumus dan variabel tertentu (misalnya kemiskinan, keterjangkauan, pendidikan dasar, kesehatan dan lain-lain), selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa Proporsional (ADDP)
termasuk didalamnya), pelaksanaan, pengawasan, serta evaluasi. Mekanisme yang transparan dan melibatkan masyarakat ini membangun proses demokratisasi, sehingga dapat mencapai tujuan untuk kesejahteran masyarakat desa. Menurut Sahdan,dkk. (2006: 23) pengelolaan ADD harus menyatu di dalam pengelolaan APBDes, sehingga prinsip pengelolaan ADD sama persis dengan pengelolaan APBdes, yang harus mengikuti prinsip-prinsip good governance, yakni:
1. Partisipasif
Proses ADD, sejak perencanaan, pengambilan keputusan sampai sampai dengan pengawasan serta evaluasi harus melibatkan banyak pihak, artinya dalam mengelola ADD tidak hanya melibatkan para elit desa saja (pemerintah desa, BPD, Pengurus LKMD/RT/RW ataupun tokoh-tokoh masyarakat), tetapi juga harus melibatkan masyarakat lain seperti petani, kaum buruh, perempuan, pemuda dan sebagainya.
2. Transparan
Semua pihak dapat mengetahui keseluruhan proses secara terbuka. Selain itu, diupayakan agar masyarakat desa dapat menerima informasi mengenai tujuan, sasaran, hasil, manfaat, yang diperolehnya dari setiap kegiatan yang menggunakan dana ini.
3. Akuntabel
Keseluruhan proses penggunaan ADD, mulai dari usulan peruntukannya, pelaksanaan sampai dengan pencapaian hasilnya dapat dipertanggungjawabkan di depan seluruh pihak terutama masyarakat desa. 4. Kesetaraan
Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan ADD mempunyai hak dan kedudukan yang sama.
1. Tahap Perencanaan
Menurut Sutarno (2004: 109), perencanaan diartikan sebagai perhitungan dan penentuan tentang apa yang dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu dimana menyangkut tempat, oleh siapa pelaku itu atau pelaksanaan tata cara mencapai tujuan tersebut. Dari pernyataan tersebut perencanaan dapat diartikan sebagai pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemusatan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa. Hal tersebut sesuai dengan Arikunto (1993:38) aspek perencanaan,meliputi:
a. Apa yang dilakukan? b. Siapa yang melakukan? c. Dimana akan dilakukan?
d. Apa saja yang diperlukan agar tercapainya tujuan dapat dilakukan? e. Bagaimana melakukannya?
f. Apa saja yang dilakukan agar tercapainya tujuan dapat maksimum ?
Pada prinsipnya perencanaan merupakan suatu proses yang tidak mengenal akhirnya dan untuk mencapai hasil yang memuaskan maka harus mempertimbangkan kondisi diwaktu yang akan datang. Pada hakekatnya perencanaan adalah sebuah proses yang penting dan menentukan keberhasilan suatu tindakan (Suharto, 2010: 71). Dengan demikian, kunci keberhasilan dalam pengelolaan atau manajemen tergantung dalam proses perencanaannya. Apabila jika gagal merencanakan maka kita merencanakan gagal.
dikatakan bahwa perencanaan menunjuk pada kegiatan-kegiatan pelayanan yang dilakukan suatu instansi untuk mensejahterakan anggotanya. Setiap perencanaan dibuat mengikuti tahapan tertentu. Tahapan tersebut biasanya berbeda-beda tergantung pada jenis perencanaan, tujuan perencanaan dan konteks perencanaan (Suharto, 2010: 75).
Dalam tahap perencanaan meliputi identifikasi masalah, penentuan tujuan dan penyusunan dan pengembangan rencana kegiatan (Suharto, 2010: 75). Identifikasi masalah erat kaitannya dengan kebutuhan. Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai kekurangan yang mendorong masyarakat untuk mengatasinya (Suharto, 2010: 76). Penentuan tujuan dapat menjadi target yang menjadi dasar bagi pencapaian keberhasilan program. Selanjutnya penyusunan dan pengembangan rencana program, para perencana (stakeholders) bersama-sama menyusun pola rencana intervensi dan komprehensif. Pola ini menyangkut tujuan-tujuan khusus, strategi-srategi, tugas-tugas dan prosedur yang ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan pemecahan masalah (Suharto, 2010: 78).
Penyusunan rencana kerja dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) meliputi kegiatan sebagai berikut.
a. Pembentukan kelembagaan Pengelola Alokasi Dana Desa
Untuk mengelola ADD, desa harus mempersiapkan kelembagaan yang terdiri dari Tim Pelaksana, Tim Pengawas dan Tim Evaluasi secara khusus. Tim-tim tersebut dibutuhkan agar ADD dapat dikelola dengan baik dan sesuai dengan kepentingan masyarakat.
b. Kepala desa mengadakan sosialisasi pelaksanaan ADD dan membentuk Tim Pelaksana ADD yang ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa sesuai kebutuhan peraturan yang berlaku.
c. Kepala Desa dan Perangkat Desa membuat rencana detail tentang penggunaan Alokasi Dana Desa untuk penyelenggaraan pemerintahan. d. Kepala Desa bersama LPMD dan tokoh masyarakat membuat rencana detail
tentang Alokasi Dana Desa untuk pemberdayaan masyarakat termasuk rencana biaya, kelompok sasaran, kebutuhan material dan tenaga dari masyarakat dan lain-lain sesuai kebutuhan yang berlaku. Dalam hal ini Tim Pelaksana ADD Desa Gayau Sakti bersama-sama dengan masyarakat mengidentifikasi masalah yang paling dibutuhkan yang selanjutnya diimplemntasikan dalam program yang akan didanai oleh ADD.
2. Tahap Pelaksanaan
Menurut Rue dan Byars (2006: 6) Organizing is grouping activities, assigning activities an providing the authority necessary to carry out the activities
(pengorganisasian merupakan pengelompokan kegiatan penugasan kegiatan-kegiatan penyediaan keperluan, wewenang untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Pelaksanaan atau Organizing dapat diartikan sebagai implementasi dari perencanaan dan pengorganisasian, dimana seluruh komponen yang berada dalam satu sistem dan satu organisasi tersebut bekerja secara bersama-sama sesuai dengan bidang masing-masing untuk dapat mewujudkan tujuan
Pelaksanaan atau pengorganisasian juga dapat diartikan sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya dan mengalokasikan sumber daya serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan (Fattah, 2008: 71). Jadi setelah melaksanakan perencanaan maka langkah selanjutnya adalah pengorganisasian, dalam hal ini harus jelas siapa yang menjalankan dan yang dijalankan, agar semuanya berjalan dengan lancar.
Berdasarkan konsep pelaksanaan di atas, tahap pelaksanaan dalam penelitian ini adalah proses melaksanakan program-program maupun keputusan-keputusan, baik berupa keputusan dari atas maupun keputusan yang diambil bersama guna dilaksanakan dalam rangka mencapai sasaran atau tujuan. Maka dapat ditegaskan bahwa tahap pelaksanaan ADD pada penelitian ini adalah kegiatan pencairan dan penyaluran ADD secara bertahap dan selanjutnya pelaksanaan program-pgoram kegiatan yang didanai oleh ADD tersebut. Sejalan dengan hal tersebut dalam Peraturan Menteri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa Pasal 21 dan 22 dijelaskan tentang tahap pelaksanan ini, mulai dari pencairan dan penyaluran serta pelaksanaan kegiatan secara rinci.
Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang pembiayaannya bersumber dari ADD dalam APBDes sepenuhnya dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Desa dengan mengacu pada Peraturan Bupati/Walikota. Penggunaan Anggaran Alokasi Dana Desa adalah sebesar 30 % untuk belanja aparatur dan operasional pemerintah desa, sebesaar 70 % untuk biaya pemberdayaan masyarakat. Pada tahap pelaksanan ini terdapat dua proses yaitu mekanisme penyaluran dan pencairan. Alokasi Dana Desa dalam APBD Kabupaten/Kota dianggarkan pada bagian Pemerintahan Desa.
berkas pemohonan berikut lampirannya kepada Kepala Bagian Keuangan Setda Kabupaten atau Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) atau Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah (BPKKAD). Kepala Bagian Keuangan Setda atau Kepala BPKD atau Kepala BPKK-AD akan menyalurkan Alokasi Dana Desa langsung dari kas daerah ke rekening desa. Mekanisme pencairan Alokasi Dana Desa dalam APBDes dilakukan secara bertahap atau disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi daerah kabupaten/kota.
Tahap pelaksanaan ADD meliputi kegiatan sebagai berikut.
a. Setelah Peraturan Desa tentang APBDes ditetapkan, maka tim Pelaksana Alokasi Dana Desa (ADD) Tingkat Desa dapat mulai melakukan kegiatan yang diawali dari penyusunan program kegiatan yang didanai dari Alokasi Dana Desa (ADD).
b. Alokasi Dana Desa untuk penyelenggaraan pemerintahan dikelola oleh Tim Pelaksana bidang Pemerintahan
c. Alokasi Dana Desa untuk pemberdayaan masyarakat dikelola oleh Tim Pelaksana Bidang Pemberdayaan Pemerintahan
3. Tahap Pengawasan
pemantauan dan evaluasi, dapat dilakukan perbaikan selama kegiatan berlangsung atau untuk memperbaiki program kegiatan berikutnya sehingga tujuan yang telah direncanakan tercapai dengan baik. Sejalan dengan Suharto (2010: 118) monitoring atau pengawasan adalah pemantauan secara terus menerus proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.
Menurut Suharto (2010: 118) tujuan pengawasan meliputi:
1. Mengetahui bagaimana masukan (inputs) sumber-sumber dalam rencana digunakan
2. Bagaimana kegiatan-kegiatan dalam implementasi digunakan
3. Apakah rentang waktu implementasi terpenuhi secara tepat atau tidak 4. Apakah setiap saat aspek dalam perencanaan dan implementasi berjalan
dengan yang diharapkan
Dengan demikian monitoring atau pengawasan adalah mekanisme yang digunakan untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan yang mungkin timbul dalam suatu kegiatan dengan membandingkan antara apa yang diharapkan dan apa yang dilakukan.
Pengawasan pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dilakukan oleh Kepala Desa, Tim Pengendali Tingkat Kecamatan dan Tim Fasilitas Tingkat Kabupaten. Pengawasan dan evaluasi dapat dilakukan melalui berbagai macam cara, diantaranya seperti pertemuan kampung, pertemuan kelompok (kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok usaha dan lain-lain), kunjungan lapangan, studi banding ke desa lain maupun hanya dengan mempelajari dokumen tertentu.
Pada tahap pengawasan bentuk kegiatan sebagai berikut.
b. Pengendalian, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan Alokasi Dana Desa dilakukan oleh Kepala Desa, Tim Pengendali Tingkat Kecamatan dan Tim Fasilitas Tingkat Kabupaten.
c. Pengawasan kegiatan dilaksanakan oleh Tim Pendamping/Assistensi.
4. Tahap Pertanggungjawaban
Menurut Arnos Kwaty dalam Hansen (2005: 116) mengatakan:
“pertanggungjawaban adalah sistem yang mengukur berbagai hasil yang
dicapai oleh setiap pusat pertanggungjawaban menurut informasi yang dibutuhkan oleh para pimpinan untuk mengoperasikan pusat-pusat pertanggungjawaban mereka”
Berdasarkan pernyataan di atas pertanggungjawaban dalam penelitian ini adalah laporan-laporan berkala yang dilakukan oleh Kepala Desa sebagai Ketua Pelaksana ADD Gayau Sakti. Penyampaian laporan dilaksanakan melalui jalur struktural yaitu dari Tim Pelaksana Tingkat Desa dan diketahui Kepala Desa ke Tim Pendamping Tingkat Kecamatan secara bertahap.
Pertanggungjawaban ADD terintegrasi dengan pertanggungjawaban APBDes, sehingga bentuk pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban APBdes. Pada tahap ini bentuk pelaporan atas kegiatan-kegiatan dalam APBDes dibiayai dari ADD dibedakan dalam dua indikator, meliputi:
a. Pelaporan dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan proses pengelolaan dan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) yang mencakup: 1. Perkembangan kegiatan dan penyerapan dana
2. Masalah yang dihadapi dan pemecahannya
3. Pencapaian hasil penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) b. Pelaporan ADD meliputi:
1. Pelaporan kegiatan
- Tim Pelaksana ADD Tingkat Desa menyampaikan laporan kepada Tim Pengendali Tingkat Kabupaten setiap 3 bulan.
- Tim Fasilitas Tingkat Kabupaten merekap seluruh laporan dari Tim Pengendali dan melaporkan kepada Bupati.
2. Pelaporan Keuangan
- Pelaporan keuangan dilaksanakan oleh Kepala Desa dan secara teknis dilaksanakan oleh Bendahara Desa.
- pelaporan dilaksanakan setiap tahapan penerimaan ADD dan dilaporkan kepada Bupati melalui Camat
- pelaporan keuangan dalam bentuk Surat Pertanggungjawaban (SPJ).
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Tengah Nomor 04 Tahun 2008 tentang Sumber Pendapatan Kampung bahwa penyampaian pertanggungjawaban meliputi.
a. Kepala Kampung bertanggungjawab atas pengelolaan Dana Pendapatan Kampung kepada Bupati.
b. Kepala Kampung melaporkan penggunaan Dana Pendapatan Kampung kepada Bupati paling lambat pada akhir tahun anggaran.
c. Kepala Kampung memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada Badan Permusyawaratan Kampung.
D. Pembangunan Perdesaan
secara terencana. Sedangkan menurut Saul M. Katz dalam Yuwono (2001: 47) pembangunan sebagai perubahan sosial yang berasal dari suatu keadaan tertentu keadaan yang dipandang lebih bernilai.
Pembangunan menurut pasal 1 ayat 7 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 tentang pedoman penataan lembaga kemasyarakatan adalah upaya untuk melakukan proses perubahan sosial ke arah yang lebih baik bagi kepentingan masyarakat disegala bidang baik desa maupun kelurahan. Pembangunan menurut Soejatmiko dalam Nasution (2004: 90) yaitu:
Kemampuan untuk berkembang secara sosial, ekonomi, politik ditingkat dan didalam semua komponen masyarakatsecara memungkinkan bangsa yang bersangkutan untuk mengurangi kemiskinan pengangguran dan ketimpangan lalu survive dan berkembang di dunia yang tidak stabil, rumit dan makin tunjuk pada persaingan.
Dari konsep di atas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan merupakan suatu usaha perubahan untuk menjadi keadaan kearah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.
menyebutkan bahwa pembangunan meliputi tiga aspek yakni politik, ekonomi dan sosial.
Pembangunan ekonomi perdesaan menekankan pada sektor pertanian karena sebagian besar penduduk di Indonesia bermata pencaharaian bertani dan tinggal di desa. Pembangunan infrastruktur perdesaan merupakan pendekatan terbaru. Pembangunan infrastruktur perdesaan penting untuk menunjang kebutuhan masyarakat sehingga mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan masyarakat desa. Pembangunan desa merupakan seluruh kegiatan pembangunan yang berlangsung di pedesaan, meliputi seluruh aspek kehidupan mandiri seluruh masyarakat yang dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong.
Sementara itu menurut Muhi (2011: 4) dalam Jurnal Fenomena pembangunan desa terdapat dua aspek yang menjadi objek pembangunan desa, meliputi:
1. Pembangunan perdesaaan dalam aspek fisik, yaitu pembangunan yang objek utamanya dalam aspek fisik (sarana, prasarana dan manusia) seperti jalan desa, bangunan rumah, pemukiman, jembatan, pendidikan, sarana ibadah dan sebagainya
2. Pembangunan perdesaan dalam aspek pemberdayaan insani, yaitu pembangunan yang aspek utamanya aspek utamanya aspek pengembangan dan peningkatan kemampuan, skill dan memberdayakan masyarakat di daerah perdesaaan sebagai warga Negara, seperti pendidikan dan pelatihan, pembinaan usaha ekonomi, kesehatan, spiritual dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah untuk membantu masyarakat yang masih tergolong marjinal agar dapat melepaskan diri dari belenggu keterbelakangan sosial, ekonomi dan politik
keadaan menuju ke keadaan yang lebih baik. Pembangunan perdesaan pada Desa Gayau Sakti berorientasi pada pembangunan fisik. Kegiatan pengelolaan keuangan desa baik ADD maupun sumber pendapatan keuangan lain bahwa pembangunan di Desa Gayau Sakti berorientasi pada infrastruktur yang menunjang pada aspek ekonomi, politik dan sosial budaya.
E. Kerangka Pikir
Saat ini Indonesia sedang mengupayakan pembangunan ke arah yang lebih maju. Berbagai program disiapkan untuk mendukung tujuan pembangunan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Namun pada kenyataannya masih terjadi ketimpangan pembangunan baik karena perbandingan perkotaan dan perdesaan maupun karena kondisi sosial.
Salah satu cara yang dilakukan pemerintah dalam menghadap kenyataan diatas adalah dengan memberikan bantuan kepada pemerintah desa untuk menyelenggarakan otonomi desa masing-masing, sehingga pemerintah desa harus mampu menyelenggarakan kewenangan, kewajiban dan tugas untuk mengatur dan mengurus kepentingannya sendiri. Penyelenggaraan kewenangan, kewajiban dan tugas pemerintah desa dibutuhkan sumber pendapatan desa.
Kesejahteraan masyarakat desa yang rendah sehingga sulit bagi desa mempunyai Pendapatan Asli Desa (PADes) yang tinggi, 3. Masalah itu diikuti dengan rendahnya dana operasional desa untuk menjalankan pelayanan publik. Menanggapi permasalahan tersebut pemerintah memberi dukungan keuangan kepada desa salah satunya adalah berasal dari dana Perimbangan Keuangan anatara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah miniml 10% diperuntukkan bagi desa yang disebut Alokasi Dana Desa (ADD).
Alokasi Dana Desa (ADD) diberikan oleh Pemerintah Kabupaten berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Tengah Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pendapatan Asli desa. Rincian penggunaan ADD adalah 30% untuk operasional desa dan 70% untuk penggunaan ADD untuk pemberdayaan masyarakat. Proses pengelolaan ADD di desa Gayau Sakti dihadapkan pada kinerja pemerintah desa yang kurang serta keadaan fisik desa yang memprihatinkan meskipun sudah tiga kali berturut-turut memperoleh ADD.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengelolaan ADD pada Desa Gayau SAkti Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah (berfokus pada pencanaan, pelaksanaan meliputi pencairan dan penyaluran, pengawasan, pertanggungjawaban ADD) dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat pengelolaan ADD tersebut.
pembangunan perdesaan. Pembangunan dapat terlihat dari segi operasional pemerintah dan pemberdayaan masyarakatnya
Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Perencanaan: 1.Pembentukan tim
pelaksana 2.Musyawarah 3.Perincian ADD
Pelaksanaan: 1. Pelaksanaan
kegiatan
2. Pencairan ADD
3. PenyaluranADD
Pengawasan: 1. Kepala Desa
2. Tim pengawas
kecamatan
Pertanggungjawaban:
1. SPJ kades kepada
camat
2. Laporan masalah
kendala
Pembangunan perdesaan
III. METODE PENELITIAN
A. Tipe Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif pada hakikatnya adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2013: 1). Penelitian ini menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Data-data yang dikumpulkan di lapangan adalah Data-data-Data-data yang berbentuk kata dan perilaku, kalimat, skema dan gambar dengar latar belakang alamiah, manusia sebagai instrumen. Kemudian data-data tersebut digunakan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan fenomena sosial yang diteliti.
Penelitian ini menggunaan tipe penelitian deskriptif kualitatif karena dalam penelitian ini menjelaskan secara rinci dan menyeluruh dalam menjawab masalah yang akan diteliti.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan pedoman untuk mengambil data apa saja yang relevan dengan permasalahan penelitian. Fokus penelitian harus konsisten dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang diterapkan terlebih dahulu. Fokus penelitian juga berfungsi sebagai pedoman dalam melakukan pembahasan terhadap hasil penelitian yang telah diterapkan (Moleong, 2006: 92).
Berdasarkan hal tersebut, peneliti memfokuskan penelitian ini pada pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam pembangunan perdesaan yang dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut.
1. Kejelasan Pengelolaan Alokasi Dana Desa di desa Gayau Sakti terdiri dari: a. Perencanaan ADD, meliputi:
Pembentukan Pengelola ADD
Mengadakan musyawarah pembangunan desa
Penyusunan Rencana Kegiatan Desa dengan perincian penggunaan ADD
b. Pelaksanaan ADD
Pencairan ADD
Penyaluran ADD
Kepala Desa mencairkan rekening kas desa c. Pengawasan ADD
Pengawasan oleh Tim Penanggungjawab Kebijakan ADD d. Pertanggungjawaban ADD.
Ketua pengelola ADD menyampaikan SPJ penggunaan ADD kepada camat
2. Faktor penghambat dan pendukung pengelolaan ADD dalam pembangunan perdesaan di Desa Gayau Sakti.
C. Jenis Data
Menurut Sugiyono (2013: 2) kriteria data dalam penelitian kualitatif adalah data yang pasti. Data yang pasti adalah data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar yang terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna dibalik yang terlihat dan terucap tersebut. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Data primer
informan. Informan dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa informan dalam penelitian ini mengetahui secara baik tentang pengelolaan ADD dalam pembangunan perdesaaan Desa Gayau Sakti. Informan dalam penelitian ini meliputi:
a. Kepala Desa Imron Kurniadi, S.E b. Sekretaris Desa, Purwanto
c. Bendahara Desa, Made
d. Penanggung Jawab Bantuan Operasional BPK, Nurudin e. Penanggung Jawab Bantuan Operasional LPMK, Syukri f. Penanggung Jawab Bantuan Operasinoal Linmas, Sumarno
g. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Pembinaan Karang Taruna dan BKR, Suwadi
h. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Tim Penggerak PKK, Yati Nurhayati
i. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Pembangunan Infrastruktur Kampung, Iskandar
j. Masyarakat, Wagiran k. Tokoh Mayarakat, Maksum
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperlukan dalam penelitian untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari data primer (Lofland dalam Moleong, 2006: 157). Data sekunder dalam penelitian ini berupa penggunaan ADD, dokumen pertanggungjawaban ADD. Data sekunder yang didapat pada penelitian berupa Daftar Usulan Rencana Kegiatan (DURK) ADD Desa Gayau Sakti, monografi desa, dokumentasi kegiatan musrembang, Permendagri No. 37 Tahun 2007 , dan Perda Kabupaten Lampung Tengah No. 04 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
D. Penentuan Informan
Penentuan informan dalam penelitian kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. Sejalan dengan hal tersebut menurut Sugiyono (2006: 54):
Penentuan informan caranya dengan peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari informan sebelumnya itu, peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberikan data lebih lengkap.
l. Kepala Desa Imron Kurniadi, S.E 2. Sekretaris Desa, Purwanto
3. Bendahara Desa, Made
4. Penanggung Jawab Bantuan Operasional BPK, Nurudin 5. Penanggung Jawab Bantuan Operasional LPMK, Syukri 6. Penanggung Jawab Bantuan Operasinoal Linmas, Sumarno
7. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Pembinaan Karang Taruna dan BKR, Suwadi
8. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Tim Penggerak PKK, Yati Nurhayati
9. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Pembangunan Infrastruktur Kampung, Iskandar
10.Masyarakat, Wagiran 11.Tokoh Mayarakat, Maksum
E. Teknik Pengumpulan Data
(kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta, wawancara dan dokumentasi.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Wawancara
Esterberg dalam Sugiyono (2006: 72) wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila ingin melakukan studi pendahuluan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. Pada penelitian ini peneliti melakukan wawancara di Kantor Kelurahan Gayau Sakti pada Tanggal 10 Maret 2014.
Wawancara mendalam dilakukan kepada seluruh informan yang saat itu informan berada di Kantor Kelurahan. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan masing-masing informan. Peneliti mengajukan pertanyaan yang telah dibuat dalam daftar penduan wawancara yang diajukan langsung kepada informan.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan cara tanya jawab dengan informan yakni: Kepala Desa Imron Kurniadi, S.E. Sekretaris Desa, Purwanto, Bendahara Desa, Made.Penanggung Jawab Bantuan Operasional BPK, Nurudin. Penanggung Jawab Bantuan Operasional LPMK, Syukri. Penanggung Jawab Bantuan Operasinoal Linmas, Sumarno. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Pembinaan Karang Taruna dan BKR, Suwadi. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Tim Penggerak PKK, Yati Nurhayati. Penanggung Jawab Bantuan Operasional Pembangunan Infrastruktur Kampung, Iskandar. Masyarakat, Wagiran, Tokoh Mayarakat, Maksum. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh dan melengkapi data.
2. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data melalui proses pengamatan. Pengamatan difokuskan pada jenis kegiatan dan peristiwa tertentu yang memberikan informasi dan pandangan benar-benar berguna (Moleong 2006:173) Menurut Marshall dalam Sugiyono (2013: 64) melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut.
terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi.
3. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan sumber-sumber data sekunder yang berhubungan dengan masalah penelitian yang ada di lokasi penelitian. Dokumen ini dapat berupa data-data penting yang berkaitan dengan pengelolaan alokasi dana desa dalam pembangunan di Desa Gayau Sakti. Teknik dokumentasi pada penelitian ini dengan cara pengumpulan data pada desa Gayau Sakti dan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah penelitian.dokumen-dokumen yang diperoleh dalam penelitian ini Daftar Usulan Rencana Kegiatan (DURK) ADD Desa Gayau Sakti, monografi desa, dokumentasi kegiatan musrembang, Permendagri No 37 Tahun 2007 , dan Perda Kabupaten Lampung Tengah No 04 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
F. Teknik Pengolahan Data
1. Editing, yaitu suatu kegiatan memeriksa data yang terkumpul dan memeriksa kelengkapan hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan guna menghindari kekeliruan dan kesalahan penulisan, sehingga akan mendukung proses penelitian selanjutnya. Data yang diedit dalam penelitian ini berupa data hasil wawancara dengan Tim Pelaksana ADD Desa Gayau Sakti dan masyarakat.
2. Interpretasi, yaitu mendiskripsikan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti dari lokasi penelitian berupa data primer dan kemudian diinterpretasikan untuk kemudian dilakukan penarikan kesimpulan sebagai hasil penelitian. Interpretasi data dalam penelitian ini dilakukan dengan menjabarkan kesimpulan yang didapat dari hasil wawancara
G. Teknik Analisis Data
Analisis data bersifat induktif, yakni sebuah analisis berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Teknik analisis data dilakukan dengan tahap yang dikemukakan Miles and Huberman (1984) dalam Sugiyono (2013: 91) yakni langkah data reduction, data display, dan verification.
a. Reduksi Data (Data Reduction)
pembelajaran yakni dengan menganalisis hal yang tertera pada instrumen penilaian perencanaan pembelajaran dan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran.
Proses ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yakni wawancara, observasi dan dokumentasi. Setelah dikaji langkah berikutnya adalah membuat rangkuman data yang disebut dengan abstraksi yaitu usaha membuat ringkasan yang inti, proses dan persyaratan yang berasal dari responden dapat terjaga.
b. Penyajian Data (Data Display)
Selanjutnya dalam analisis data penyajian data berupa mendeskripsikan atau bentuk uraian singkat juga akan didukung dengan chart. Pada langkah ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan, sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan cara menampilan hubungan antar variabel fenomena.
c. Verification
Langkah ketiga yakni penarikan kesimpulan dari temuan data di lapangan. Untuk dapat menggambarkan dan menjelaskan kesimpulan yang memiliki makna teknik verifikasi yakni menamai analisis secara spesifik dan menarik serta menjelaskan kesimpulan. Penarikan kesimpulan berlangsung dengan tiga langkah: (1) memikirkan ulang selama penulisan, (2) meninjau ulang catatan-catatan dilapangan, (3) melakukan upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain.
IV. GAMBARAN UMUM
A. Sejarah Desa Gayau Sakti
Seperti desa-desa transmigrasi lainnya di daerah Lampung khususnya Lampung Tengah, maka Desa Gayau Sakti pada awal mulanya juga merupakan hutan belukar, namun berkat ketekunan dan kemauan keras dari penduduk yang datang dari Jawa ke daerah Lampung dengan tujuan meningkatkan taraf hidup keluarga serta dorongan dari pemerintah yang diprakarsai oleh jawatan transmigrasi, maka terbentuklah desa
Gayau Sakti, dimana huruf “G” pada permulaan nama desa merupakan urutan ke
tujuh desa transmigrasi wilayah Kecamatan Seputih Agung.
Pada tahun 1959 terjadi transmigrasi lagi penduduk dari penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta, Madiun, Ponorogo sejumlah 80 KK yang selanjutnya ditempatkan di Bagian Utara Desa yang jaraknya kurang lebih 1.200 m dan pedukuhan tersebut dinamakan Spontan Gayau Sakti sampai sekarang. Sebagai pimpinan pemerintahan desa Kepala Desa dipilih beserta perangkatnya untuk mengatur dan melayani kebutuhan masyarakat desa menurut peraturan yang berlaku.
Berikut nama Kepala Desa Gayau Sakti yang pernah menjabat sampai saat ini. 1. Tahun 1957-1959 dijabat oleh S. Harjito
2. Tahun 1960-1965 dijabat oleh Sunandar
3. Tahun 1965-Agustus 1965 dijabat oleh Kartorejo 4. Tahun 1965-1972 djabat oleh M. Dimyati
5. Tahun 1965-1972 djabat oleh M. Dimyati 6. Tahun 1965-1972 djabat oleh M. Dimyati 7. Tahun 1965-1972 djabat oleh M. Dimyati 8. Tahun 1999-2005 dijabat oleh Khoiruddin
9. Tahun 2006- Februari 2007 dijabat oleh Purwanto
10. Tahun 2007 Februari-27 Juli 2007 dijabat oleh Sangidun Syam 11. Tahun 2007 Juli- Juli 2013 dijabat Joko Susilo
B. Gambaran Lokasi Penelitian
Desa Gayau Sakti adalah salah satu desa di Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah. Luas wilayah desa Gayau Sakti adalah 1.032 Ha, dibagi kedalam 4 dusun. Batas-batas wilayah Desa Gayau Sakti, meliputi:
Sebelah utara : Purnama Tunggal Sebelah Selatan : Fajar Asri
Sebelah Barat : Mujirahayu Sebelah Timur : Dono Arum
Ketinggian desa Gayau Sakti dari permukaan laut 48 m dengan curah hujan 2.452 mm/th dan memiliki suhu udara rata-rata 30o-32o C. Jarak Desa Gayau Sakti dari Pusat Pemerintahan yakni 2,5 Km. Sementara itu jarak dari Ibu Kota Kabupaten yakni 21 Km dan jarak dari Ibukota Propinsi adalah 75 Km.
C. Kondisi Penduduk Desa Gayau Sakti
Berdasarkan data dari Monografi Desa, Desa Gayau Sakti memiliki jumlah penduduk 5.048 jiwa yang terdiri dari 1.265 KK, dengan rincian sebagai berikut:
1. Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 1. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin
No. Jenis Kelamin Jumlah
1. Laki-laki 2.635
2. Perempuan 2.413
Jumlah 5.048
Sumber: Monografi Desa Gayau Sakti 2013
Berdasarkan tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah penduduk Desa Gayau Sakti menurut jenis kelamin laki-laki adalah 2.635 orang dan untuk perempuan berjumlah 2.413 orang dari total jumlah penduduk Desa Gayau Sakti 5.048 jiwa.
2. Keadaan Penduduk berdasarkan Mata Pencaharian
Gambaran penduduk Desa Gayau Sakti menurut mata pencaharian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 2. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian
No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah
1. Karyawan 112
2. Wiraswasta 79
3. Tani 2.752
4. Pertukangan 47
5. Buruh Tani 365
6. Pensiunan 17
7. Nelayan -
8. Pemulung -
9. Jasa 12
Jumlah 5.048
Sumber: Monografi Desa Gayau Sakti 2013
[image:69.612.113.528.433.602.2]3. Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan
[image:70.612.116.525.221.346.2]Gambaran penduduk Desa Gayau Sakti menurut tingkat pendidikan dapat dilihat dari tabel sebagai berikut.
Tabel 3. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
No. Usia Jumlah
1. Taman Kanak-kanak 131
2. Sekolah Dasar 1.011
3. SMP 1.639
4. SMA 566
5. Akademi/D1-D3 141
6. Sarjana (S1-S3) 139
Jumlah 5.048
Sumber: Monografi Desa Gayau Sakti 2013
Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Gayau Sakti sudah mengenal bangku sekolah. Berdasarkan tabel di atas juga dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa Gayau Sakti didominasi oleh tamatan SMP.
4. Komposisi penduduk menurut Agama yang dianut
[image:70.612.115.528.572.678.2]Gambaran penduduk Desa Gayau Sakti menurut agama yang dianut dapat dilihat dari tabel sebagai berikut.
Tabel 4. Jumlah penduduk menurut agama yang dianut
No. Usia Jumlah
1. Islam 4.819
2. Kristen 131
3. Katolik 98
4. Hindu -
5. Budha -
Jumlah 5.048
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebagaian besar penduduk Desa Gayau Sakti menganut agama Islam.
D. Kondisi Sarana dan Prasarana
Desa Gayau Sakti memiliki sarana dan prasarana untuk masyarakat yang terdapat di setiap dusun, yang meliputi sarana dibidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keagamaan dan sarana umum.
1. Sarana dan Prasarana Pemerintahan
Sarana dan prasarana pemerintahan Desa Gayau Sakti mempunyai kantor dan balai desa di dusun 5 disertai dengan perangkat desa lengkap. Pemerintah Desa membawahi pemerintah dusun, sedangkan di Desa Gayau Sakti mempunyai 5 dusun dan dikepalai oleh 5 Kepala Dusun. Tiap-tiap dusun membawahi beberapa RW (Rukun Warga) dan tiap-tiap RW membawahi beberapa RT (Rukun Tetangga). Di Desa Gayau Sakti mampunyai 5 RW dan 27 RT. Sarana prasarana tersebut berjalan lancar sesuai peraturan dan memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat.
2. Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Tabel 5 Sarana Prasarana Desa No. Jenis Sarana
dan Prasarana
Nama Sarana dan Prasarana Lokasi
1. PAUD Hidayatut Thullab Dusun III
2. TK/RA RA Darussalam Dusun II
3. SD/MI SDN 1 Gayau Sakti Dusun II
SDN 2 Gayau Sakti Dusun V
SDN 3 Gayau Sakti Dusun II
SD Manbaul Ulum Dusun V
MI Darussalam Dusun I
4. SMP/Mts SMP Manbaul Ulum Dusun V
Mts Darussalam Dusun I
Mts Jauharotul Mualimin Dusun V
5. SMA/MA SMA Manbaul Ulum Dusun V
MA Jauharotul Mualimin Dusun V Sumber: Monografi Desa Gayau Sakti tahun 2013
3. Sarana dan Prasarana Kesehatan
Sarana dan prasarana kesehatan di Desa Gayau Sakti mempunyai PKD di tingkat desa dengan 1 orang bidan desa dan posyandu di tiap dusun masing-masing mempunyai 1 (satu) pos.
4. Sarana dan Prasarana Keagamaan
E. Gambaran Mengenai Pemerintahan Desa
[image:73.612.110.521.195.312.2]Jumlah perangkat Desa Gayau Sakti yaitu: Tabel 6. Jumlah perangkat desa
No. Jenis Jabatan Jumlah
1. Kepala Desa 1
2. Sekretaris Desa 1
3. Kepala Urusan 5
4. Kepala Dusun 5
5. Kepala RT 27
6. Kepala RW 5
Jumlah 44
Sumber: Monografi Desa Gayau Sakti tahun 2013
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah perangkat desa pada Desa Gayau Sakti Kecamatan Seputih Agung Lampung Tengah berjumlah 44 orang. Untuk mempermudah kelancaran aktivitas pembangunan dilaksanakan oleh kepala desa dibantu oleh seorang sekretaris desa dan 5 kepala urusan dan 5 kepala dusun.
F. GAMBARAN PEMBANGUNAN GAYAU SAKTI
maupun non fisik. Pada dasarnya program pembangunan di desa tercantum RPJMDes yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan RPJM Kabupaten.
Visi dan Misi pembangunan Desa.Gayau Sakti Tahun 2013-2018 disusun berdasarkan pada sumber utama dari visi Kepala Des