i
KONFLIK INTERPERSONAL PADA NARAPIDANA WANITA
SKRIPSI
Oleh:
Likita Gustin Andriani NIM: 07.810.137
FAKULTAS PSIKOLOGI
KONFLIK INTERPERSONAL PADA NARAPIDANA WANITA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi
Oleh:
Likita Gustin Andriani NIM: 07.810.137
FAKULTAS PSIKOLOGI
iii
LEMBAR PERSETUJUAN
1. Judul skripsi : Konflik Interpersonal Pada Narapidana Wanita
2. Nama peneliti : Likita Gustin Andriani
3. NIM : 07810137
4. Fakultas : Psikologi
5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
6. Waktu Penelitian : 11 - 29 Juli 2011
7. Tanggal Ujian : 5 November 2011
Malang, 5 November 2011
Pembimbing I
Dr. Latipun, M. Kes
Pembimbing II
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini telah diuji oleh dewan penguji
Pada tanggal, 5 November 2011
Dewan Penguji
Ketua Penguji : Dr. Latipun, M. Kes ( )
Anggota Penguji :1.. Zakarija Achmat, S. Psi, M. Si ( )
2. Istiqomah, S. Psi, M. Si ( )
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Malang
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawaah ini:
Nama : Likita Gustin Andriani
NIM : 07810137
Fakultas/Jurusan : Psikologi
Menyatakan bahwa skripsi/karya ilmiah yang berjudul:
Konflik Interpersonal Pada Narapidana Wanita
1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali
dalam bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan disebutkan
sumbernya.
2. Hasil tulisan karya ilmiah atau skripsi dari penelitian yang saya lakukan
merupakan Hak bebas Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai
sumber pustaka.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan
apabila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai
undang-undang yang berlaku.
Mengetahui: Malang, 5 November 2011
Ketua Program Studi Yang menyatakan
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul “Konflik Interpersonal Pada Narapidana Wanita”, sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan
bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Drs. Tulus Winarsunu, M.Si, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang.
2. Dr. Latipun, M. Kes. dan Yuni Nurhamida , S.Psi., M.Psi selaku Pembimbing I
dan Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan
bimbingan dan arahan yang sangat berguna , hingga terselesaikannya skripsi ini.
3. Dra. Iswinarti, M.Si dan Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si selaku dosen
wali yang telah banyak memberi masukan-masukan bijak serta mendukung
sejak awal perkuliahan.
4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, secara
spesial saya mengucapkan terimakasih banyak kepada bu Zahroh atas
semangat, kesempatan dan kemurahan hatinya.
5. Seluruh petugas Lembaga Permasyarakatan Wanita Kelas IIA Malang yang
begitu ramah dan terbuka selama penulis melakukan penelitian.
6. Seluruh warga binaan yang mampu bekerjasama dengan baik selama proses
penelitian, setiap kepercayaan yang terjalin serta pengalaman saya bersama
kalian memberikan saya banyak pelaja ran hidup tidak ternilai yang belum
pernah saya temukan dari siapapun dan dimanapun.
7. Papa dan mamaku yang selalu memberi dukungan, do’a, kasih sayang,
kepercayaan dan cinta yang luar biasa , sehingga selalu mampu memberikan
energi positif kepada penulis untuk dapat kembali termotivasi dalam
vii
8. Malaikat kecilku Miracle yang tidak henti-hentinya memberi keajaiban untuk
penulis agar melakukan yang terbaik, adikku Farid yang selalu dapat
diandalkan, serta nenek tersayang yang tidak pernah berhenti peduli dan
bangga terhadap penulis. Saya menyayangi kalian!
9. Keluarga besarku dimanapun berada Banjar, Malang, dan Bali (Setiap waktu
dan hal yang kalian berikan, memberikan saya banyak pelajaran dan harapa n
untuk dapat menjadi lebih baik).
10. Kelas F-2007 (grandma Santi, mamah Titin, Udhe t, Fitria, mak Iem, Balqis,
Zaki, Muvi, Lia, bunda Reni, Ani, Rahma, Awan, Ali, om Hendra) yang sudah
kita lalui begitu bermakna sebagai bekal perjalanan saya selanjutnya. Setiap
tawa, airmata, persahabatan hingga persaudaraan yang kalian tawarkan
membuat saya begitu spesial karena memiliki kalian sebagai kenangan terindah
(semua tentang kita menjadi hal yang paling merindukan).
11. Sahabat-sahabatku yang berada jauh disana namun selalu ada dihati (Ria, Isna,
Fiz, Wym, Tika dan Dinik) terima kasih atas do’a dan semangat kalian untuk
penulis. Sekarang saya bisa bertemu kalian dengan sebuah kebanggaan, ini
harga yang perlu saya bayar untuk perpisahan kita dan waktu yang terbatas.
12. Seluruh kader IMM Komisariat Psikologi dan tehnik, terima kasih banyak atas
semua ilmu dan pengalaman yang begitu berharga.
13. Linkga, teman-teman bimbingan dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, yang telah banyak memberikan semangat serta bantuan pada
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga
kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski
demikian, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan
pembaca pada umumnya.
Malang, 23 Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………... i
INTISARI……… iii
DAFTAR ISI………... iv
DAFTAR TABEL……….. v i DAFTAR GAMBAR.………...……….. v ii DAFTAR LAMPIRAN……….. v iii BAB I. PENDAHULUAN……….. 1
A. Latar Belakang Masalah………. 1
B. Rumusan Masalah……….. 6
C. Tujuan Penelitian……… 6
D. Manfaat Penelitian………. 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………... 7
A. Konflik Interpersonal………. 7
1. Konflik... 7
a. Definisi Konflik... 7
b. Teori-teori Penyebab Konflik... 8
c. Alat Bantu Analisis Konflik…... 10
d. Macam-macam Konflik... 12
e. Tipe -tipe Konflik... 13
f. Sumber atau Sebab Konflik... 17
2. Definisi Konflik Interpersonal....……… 19
a. Sumber Penyebab Konflik Interpersonal... 20
b. Kekuasaan Dalam Konflik Interpersonal... 21
B. Narapidana Wanita……….……….. 23
1. Definisi Narapidana ……..……….. 23
ix
BAB III. METODE PENELITIAN………... 25
A. Rancangan Penelitian………. 25
B. Batasan Istilah……… 25
C. Subjek Penelitian dan Informan………. 26
D. Konteks Penelitian………. 26
E. Jenis Data, Instrumen Penelitian, dan Metode Pengumpulan Data………. 27
F. Prosedur Penelitian……… 29
G. Teknik Analisis Data………. 30
H. Keabsahan Data………. 31
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………. 32
A. Hasil Penelitian………... 32
1. Deskripsi subjek dan informan penelitian……….. 32
2. Deskripsi data……… 33
B. Hasil Analisis Data………. 50
C. Pembahasan……… 58
BAB V. PENUTUP………... 68
A. Kesimpulan………. 68
B. Saran-saran……….. 69
DAFTAR PUSTAKA……….. 71
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Data Narapidana di LPW Kelas IIA Malang.………..……….. 2
xi
DAFTAR GAMBAR Gambar 1.4 Konflik interpersonal pada narapidana wanita
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN……….. 73
Surat izin turun lapangan fakultas psikologi……...……….. 74
Surat izin Kantor Wilayah Surabaya..……….……….. 75
Surat kesepakatan (Inform consent)……….. 76
Pedoman Wawancara...……….. 82
Verbatim subjek 1...……….. 84
Verbatim subjek 2...……….. 88
Verbatim subjek 3...……….. 92
Verbatim subjek 4...……….. 104
Verbatim subjek 5...……….. 119
Verbatim subjek 6...……….. 129
Verbatim informan 1...……….. 136
xiii
DAFTAR PUSTAKA
Atmasasmita, R. (1983). Kepenjaraan dalam suatu bunga rampai. Bandung: Armico.
Chandra, R. I. (1992). Konflik dalam hidup sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.
Dayakisni, T., Hudaniyah. (2009). Psikologi sosial. (Edisi Revisi, Cetakan Keempat). Malang: UMM Press.
Gerungan, W. A. (2004). Psikologi sosial. Edisi Ketiga. Bandung: PT. Refika Aditama.
Fakih, M. (2001). Analisis gender dan transformasi sosial. (Cetakan Keenam). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Fisher, S., Ludin, J., Williams, S., et al., (2000). Mengelola konflik keterampilan dan strategi untuk bertindak. Inggris: The British Council.
Harsono, C. I. (1995). Sistem Baru pembinaan narapidana. Jakarta: Djambatan.
Hocker, J. L., Wilmot, W. W. (1991). Interpersonal conflict. (Third Edition). USA: Wm. C. Brown Publishers.
Kerlinger, F. N. (2004). Asas-asas penelitian behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Koentjaraningrat. (1997). Metode-metode penelitian masyarakat. (Edisi Ketiga, Cetakan Keempatbelas). Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.
Liliweri, Alo M. S. (2005). Prasangka dan konflik (Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur). Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara Yogyakarta.
Moleong, L. J. (2007). Metode penelitian kualitatif. (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sarwono, S.W. (2004). Teori-Teori psikologi sosial. (Cetakan Kesembilan). Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Sugiyono. (2008). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.
Walgito. (2007). Psikologi kelompok. Yogyakarta: C.V Andi Offset.
Zuriah, N. (2009). Metode penelitian sosial dan pendidikan teori-aplikasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
A. Latar Belakang
Wanita adalah perempuan dewasa atau kaum, kaum putri (dewasa)
(http://kamusbahasaindonesia.org). Kepada para wanita ini terbentuk konstruksi
sosial maupun kultural, misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik,
emosional dan keibuan (Fakih, 2001). Hal ini tentu saja menjadi pembentukan citra
positif tersendiri bagi setiap wanita, terutama wanita Indonesia. Indonesia Negara
yang masih kental dengan budaya ketimuran, masih memegang teguh kepercayaan
bahwa seorang wanita yang baik merupakan wanita yang memiliki sopan santun dan
memiliki kelembutan, baik dalam tutur kata maupun tindakan, hal ini masih sangat
tercermin dalam budaya di beberapa daerah Indonesia terutama kebudayaan jawa.
Gambaran citra positif pada wanita ini setidaknya juga memiliki pengar uh
terhadap peran-peran yang dimiliki oleh wanita. Peran wanita ini disosialisasikan dan
direkonstruksi oleh masyarakat, misalnya saja sering sekali diungkapkan bahwa
mendidik anak, mengelola dan merawat keluarga dalam rumah tangga merupakan
kodrat mutlak bagi seorang wanita yang baik dan ideal, sebagai ibu rumah tangga
maupun seorang istri.
Banyaknya isu-isu sosial mengenai wanita di media massa yang sedang
marak belakangan ini, justru menjadi sebuah pemberitaaan yang dapat berdampak
negatif terhadap citra wanita yang selama ini sudah terbentuk positif , sebut saja
maraknya pemberitaan mengenai tingginya tingkat aborsi, penipuan yang dilakukan
karyawan wanita dalam sebuah Bank, hingga pemberitaan mengenai kasus -kasus
pembunuhan seorang TKW terhadap majikannya.
Fenomena sosial mengenai para wanita ini bisa saja menjadi faktor yang
berpengaruh dalam menentuka n persepsi dan kehidupan wanita , terlebih lagi melalui
data statistik yang diperoleh dalam salah satu Lembaga Permasyarakatan Wanita
Kelas IIA Malang per iode 2011, terdapat peningkatan kuota penghuni Lembaga
Malang.
Bulan Jumlah Total
Januari 257 orang
Febuari 255 orang
Maret 280 orang
April 280 orang
Mei 330 orang
Dari data diatas terangkum data tindakan kriminal yang telah dilakukan oleh
wanita dalam beberapa jenis pelanggaran, dimulai dari kasus ringan hingga kasus
yang berat, sehingga hal ini menjadi hal yang perlu dikaji lebih lanjut mengenai
kehidupan wanita itu sendiri.
Sebagai seseorang yang telah melakukan tindakan kriminal maupun amoral,
tentu saja sesuai hukum Negara yang ada , maka para wanita ini diwajibkan untuk
menjadi narapidana atau orang hukuman (orang yang sedang menjalani hukuman
karena tindak pidana). Setelah menjadi seorang narapidana, bukan berarti proses
sos ial dari wanita tersebut berakhir, karena para wanita ini justru memasuki sebuah
dimensi kehidupan yang baru, dimana mereka diharuskan menjalani hukuman dan
hidup berdampingan bersama narapidana yang lain di Lembaga Permasyarakatan.
Pada awalnya Lembaga Permasyarakatan memang dikenal sebagai penjara,
yang selama ini sangat identik sebagai tempat pesakitan (hukuman), tetapi sejak
istilah penjara tidak lagi digunakan dan dirubah menjadi Lembaga Permasyarakatan,
maka diharapkan Lembaga Permasyarakatan ini tidak lagi memiliki stigma negatif
dikalangan masyarakat, pembentukan kesan di masyarakat dan narapidana sendiri
tidak hanya mengalami perubahan hanya dalam perubahan nama pada penjara saja ,
tetapi juga disesuaikan dengan program-program yang ada di dalam Lembaga
Permasyarakatan itu sendiri. Selama narapidana tin ggal di Lembaga
Permasyarakatan, mereka nantinya akan diberikan program binaan sedemikian rupa
untuk menjadi seseorang yang lebih baik dan dapat diterima saat mereka kembali di
[image:15.612.114.506.131.270.2]pembinaan secara rohaniah diberikan dan diterapkan di Lembaga Permasyarakatan
wanita terhadap para narapidana wanita agar setelah mereka kembali ke lingkungan
sosial, mereka dapat hidup normal kembali ditengah masyarakat.
Sistem pembinaan narapidana yang dikenal dengan Permasyarakatan ini,
mulai dikenal pada tahun 1964 ketika dalam Konferensi Dinas Kepenjaraan di
Lembang, tanggal 27 april 1964. Dr. Sahardjo S.H. melontarkan gagasan tujuan
pembinaan narapidana dari sistem kepenjaraan ke sistem Permasyarakatan (Harsono,
1995).
Permasyarakatan berarti: memasyarakatkan kembali terpidana sehingga
menjadi warga yang baik dan berguna (Atmasasmita, 1983). Menurut Departement
Kehakiman RI, Lembaga Permasyarakatan adalah unit pelaksanaan teknis
permasyarakatan yang menampung, merawat, dan membina narapidana , sedangkan
Lembaga Permasyarakatan Wanita adalah suatu badan hukum yang menjadi
wadah/menampung kegiatan pembinaan bagi narapidana wanita yang dikhususkan
pada para wanita dewasa, berusia dia tas 18 tahun keatas.
Semua kegiatan warga binaan (baca: narapidana wanita), diatur oleh petugas
Lembaga Permasyarakatan secara disiplin dari pagi hingga malam. Para warga
binaan dalam seharinya wajib mengikuti kegiatan selama 12 jam dengan
pemograman jadw al yang telah ditentukan sejak pukul 06.30 pagi hingga 18.30
petang, tanpa boleh absen dari kegiatan kecuali jika narapidana tersebut sedang sakit
(dengan keterangan dokter dari Lembaga Permasyarakatan). Setiap narapidana hanya
bisa menerima kunjungan keluarga sebanyak tiga kali dalam seminggu terhitung
hanya 15 menit setiap kunjungan.
Terbatasnya ruang sosial yang dimiliki warga binaan membuat mereka hanya
dapat menjalin hubungan interpersonal kepada sesama warga binaan dan petugas
LPW. Melalui hasil proses wawancara awal yang dilakukan kepada beberapa petugas
LPW dari beberapa bagian maupun beberapa warga binaan, diantara warga binaan
biasanya terjalin hubungan timbalbalik antara sesama warga binaan seperti menjadi
sahabat, pasangan kekasih, juga menjalin hubungan ibu dan anak angkat, tetapi
merasa ditipu dan difitnah oleh sesama warga binaa n.
Konflik-konflik yang muncul diantara warga binaan memang merupakan hal
yang bisa terjadi dimana saja, tetapi hal ini tentu saja menjadi berbeda karena setiap
warga binaan ini tetap akan tinggal bersama dalam kurun waktu tertentu, dimana
setiap dari war ga binaan ini merupakan kumpulan orang dengan berbagai macam
pengalaman hidup yang berbeda, serta tidak menutup kemungkinan berasal dari
ragam budaya yang berbeda, karena dari sekian warga binaan yang kini sedang
menjalanani masa hukuman di Lembaga Permas yarakatan Kelas IIA Malang,
beberapa diantaranya juga berasal dari berbagai daerah yang berbeda seperti Malang,
Bojonegoro, Situbondo, Madura, Surabaya, Solo bahkan hingga luar negeri. Sampai
saat ini Lapas Wanita Kelas IIA Malang telah memiliki empat orang warga binaan
yang merupakan warga Negara asing yaitu: dari Singapura, Filiphina, China dan
Iran.
Selain budaya, ada pula latarbelakang pendidikan serta status sosial yang
beragam. Secara umum diketahui, banyak dari warga binaan di Lembaga
Permasyarakata n Wanita Kelas IIA Malang berasal dari jenjang pendidikan yang
bervariasi, seperti dari lulusan pondok pesantren, SD, mahasiswi, sarjana, hingga
wanita karir dengan posisi yang cukup tinggi pada tempatnya bekerja sebelumnya.
Sykes dan Messinger (dalam Atmasamita, 1983), telah mengemukakan bahwa
kehidupan sistem sosial narapidana dalam penjara sangat unik sebab situasi yang
mengelilingi narapidana yang diadaptasi oleh mereka sangat unik pula.
Konflik sendiri adalah suatu proses sosial dimana individu-individu atau
kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan
dengan ancaman atau kekerasan (Huraerah dan Purwanto, 2006).
Konflik juga pasti ada di dalam setiap aspek kehidupan manusia, banyak hal
yang bisa menjadi sebab-sebab terjadinya konflik, seperti perbedaan pendirian atau
perasaan antara tiap individu, adanya perbedaan kepribadian diantara mereka
disebabkan faktor latarbelakang kebudayaan, ada pula kepentingan indiv idu maupun
kelompok yang ada di Lembaga Permasyarakatan, serta adanya
perubahan-perubahan sosial yang cepat di dalam masyarakat karena adanya perubahan-perubahan
menjadikan mustahil suatu hubungan interpersonal akan terbebas dari konflik yang
sebenarnya mempengaruhi sehat tidaknya suatu hubungan. Konflik yang terjadi
antarwarga binaan ini dikenali sebagai konflik interpersonal, yaitu menurut Johnson
dan Johnson (dalam Dayakisni dan Hudaniyah, 2009) , konflik interpersonal adalah
konflik antarpribadi adalah suatu situasi dimana tindakan seseorang berakibat
menghalangi, menghambat, mengganggu tindakan orang lain .
P otensi konflik sendiri dapat terjadi manakala terjadi kontak antarmanusia,
sebagai individu yang terorganisasi dalam kelompok, individu ingin mencari jalan
dalam tujuannya, hal ini diungkapkan Liliweri (2005) bahwa di dalam setiap
masyarakat selalu ada peluang sangat besar bagi terjadinya kompetisi atau konflik.
Sehingga situasi sosial juga merupakan salah satu aspek atas terciptanya
sebuah konflik, karena situasi sosial merupakan tempat terjadinya interaksi sosial,
dimana terdapat hubungan antara manusia ya ng satu dengan manusia yang lainnya
(Gerungan, 2004).
Sigmund Freud mengungkapkan (dalam Sarwono, 2004) manusia dan
lingkungan sosialnya selalu berada dalam konflik yang tiada henti, masyarakat
berada dalam posisi dalam konflik ini karena individu takut pada ancaman destruktif
masyarakat, tetapi setiap konflik itu berbeda, setiap konflik tidaklah sama, karena
adanya aspek-aspek perbedaan dalam konteks terjadinya konflik dan faktor
situasional dan personal sumber-sumber konflik itu sendiri.
Dampak dari konflik bisa beragam, baik itu secara positif maupun negatif, hal
ini lebih kita kenal dengan istilah konflik destruktif dan konflik konstruktif. Konflik
destruktif timbul apabila seseorang atau anggota kelompok merasa tidak puas dengan
hasil yang didapat dan arahnya dapat merusak. Konflik destruktif dapat
menimbulkan dampak seperti gangguan psikis, gangguan fisik yang meliputi: rasa
pusing dan sulit tidur, serta gangguan perilaku, seperti mengasingkan diri dari
lingkungan, sulit mengadakan hubungan dengan orang lain dan dapat pula
berperilaku agresif. Konflik yang bersifat konstruktif dapat berdampak positif, antara
lain: meningkatkan harga diri apabila konflik dapat dipecahkan dengan baik:
kepercayaan yang lebih besar, meningkatkan harga diri kelompok, serta
lebih fokus pada konflik interpersonal serta ingin mengetahui lebih jauh mengenai
bagaimana gambaran konflik interpersonal pada narapidana wanita?
B . Rumusan Masalah
Bagaimana jenis -jenis konflik interpersonal yang terjadi dikalangan
narapidana Lembaga Permasyarakatan Wanita Kelas IIA Malang, sumber-sumber
yang menjadi penyebab konflik interpersonal, dan tipe penyelesaian narapidana
terhadap konflik interpersonal?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis, sumber-sumber penyebab dan
tipe penyelesaian konflik interpersonal pada narapidana wanita.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah sumbangan pengetahuan dalam
bidang psikologi, terutama psikologi klinis dan psikologi sosial.
Manfaat praktis dari hasil penelitian ini, yaitu:
1. Sebagai data dari gambaran umum mengenai jenis-jenis konflik-konflik
interpersonal pada narapidana wanita di Lembaga Permasyarakatan.
2. Sebagai bahan rujukan bagi pihak-pihak pembina di Lembaga Permasyarakatan
untuk memahami sumber-sumber konflik interpersonal yang ada, apakah konflik
tersebut merupakan konflik yang destruktif maupun konstruktif. Sehingga dapat
ditentukan penanganan yang efektif terhadap narapidana-narapidana yang
sedang mengalami konflik interpersonal.
3. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi umum mengenai pola konflik yang
biasa terjadi di Lembaga Permasyarakatan Wanita, sehingga pihak pembina
Lembaga Permasyarakatan dapat meminimalisir kemunculan konflik baru yang