PENGARUH AUDIT TENURE, OPINI AUDIT TAHUN SEBELUMNYA, DAN DISCLOSURE TERHADAP OPINI AUDIT GOING CONCERN PERUSAHAAN TAMBANG DAN AGRICULTURE YANG TERDAFTAR
DI BEI TAHUN 2011-2014
Oleh:
MUHAMMAD NUR FAHMI
NIM: 1111082000073
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Muhammad Nur Fahmi
NIM : 1111082000073
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Jurusan : Akuntansi
Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini saya:
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan
mempertanggungjawabkan.
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau
tanpa izin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggungjawab atas karya ini
Jika dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan melalui
pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan ternyata memang ditemukan bukti
bahwa saya melanggar pernyataan di atas, maka saya siap untuk dikenai sanksi
berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Jakarta, 1 September 2015
ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Nama : Muhammad Nur Fahmi
Tanggal Lahir : 7 Desember 1993
Jenis Kelamin : Pria
Agama : Islam
Status Pernikahan : Belum Menikah
Alamat : Jl. H. Zainudin, Radio Dalam, RT: 003
RW: 014 No. 36 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Kode Post : 14120
Nomor Telepon : 083899785320
E-mail : [email protected]
Kewarganegaraan : Indonesia
Riwayat Pendidikan
Pendidikan Formal :
1999 – 2005 : SD Negeri 07 Gandaria Utara
2005 – 2008 : MTs Darul Ma’arif
iii
2011 – 2015 : Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pengalaman Berorganisasi
OSIS MTs Darul Ma’arif Karang Taruna Bid.Olahraga
Kordinator Biro Sarana dan Prasarana Rohis SMA 46 Bid. Syiar Forum Alumni Rohis 46
Ketua Lembaga Dakwah Kampus Komisariat FEB UIN Jakarta Periode 2013 – 2014
Sekretaris umum UKM Lembaga Dakwah Kampus Syahid UIN Jakarta 2014-2015
Kordinator Departemen Agama BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN
Jakarta Periode 2014
Komisi B Pusat Komunikasi Dakwah Banten 2015
Pengalaman Kerja
Auditor di Kantor Akuntan Publik Rama Wendra Akuntan di PT Permodalan BMT Ventura
Latar Belakang Keluarga
Ayah : Moh Iqbal
Ibu : Laswiyah
Saudara : Muhammad Sattar Baihaqi
Ahmad Alwi Kindi
iv ABSTRACT
THE EFFECT OF AUDIT TENURE, PRIOR YEAR AUDIT OPINION, AND DISCLOSURE TO GOING CONCERN OPINION AUDIT OF MINING AND AGRICULTURE COMPANIES THAT LISTED AT INDONESIAN STOCK
EXCHANGE IN 2011-2014 By
Muhammad Nur Fahmi
The purpose of this research is proving the effect of audit tenure, prior year audit opinion, and disclosure to going concern audit opinion. This research uses samples of mining and agriculture companies that listed at Indonesian Stock Exchange in 2011-2014. Based on purposive sampling method, total of samples of this research are 56 companies. The hypothesis in this research uses logistic regression.
This research shows that prior year audit opinion has significant effect on the going concern audit opinion. Audit tenure and disclosure do not have significant effect on the going concern audit opinion.
v ABSTRAK
PENGARUH AUDIT TENURE, OPINI AUDIT TAHUN SEBELUMNYA,
DAN DISCLOSURE TERHADAP OPINI AUDIT GOING CONCERN
PERUSAHAAN TAMBANG DAN AGRICULTURE YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2011-2014
Oleh
Muhammad Nur Fahmi
Penelitian ini bertujuan membuktikan pengaruh audit tenure, opini audit tahun sebelumnya, dan disclosure terhadap opini audit going concern. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan tambang dan agriculture yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2011-2014. Berdasarkan metode purposive sampling, total sampel penelitian adalah sebanyak 56 perusahaan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern. Audit tenure dan disclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern.
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya
kepada kita semua yang mana semua yang diberikan olehNya tidak bisa dihitung
maupun dibalas, dan karena nikmat-Nya pula skripsi ini dapat diselesaikan dengan
baik. Shalawat serta salam senantiasa selalu tertuju kepada Nabi Muhammad SAW,
nabi akhir zaman, yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju
zaman islamiyah. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat-syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan
terimakasih atas bantuan, bimbingan, dukungan, semangat dan doa, baik langsung
maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini, kepada:
1. Abahku Moh Iqbal dan Ibunda Laswiyah tercinta, terima kasih atas segala
dukungannya. Terima kasih atas pengorbanan kalian dalam membina
anakmu ini dengan segala cinta dan tuntunan ilahi. Serta adikku Abi dan
Alwi semoga menjadi anak yang berguna dan membanggakan.
2. Bapak Dr. M. Arief Mufraini, Lc., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi
dan Bisnis beserta jajaran dekanat. Juga kepada seluruh dosen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis.
3. Ibu Yessi Fitri, SE., M.Si., Ak., CA selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Bapak Hepi Prayudiawan, SE, Ak., MM
selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang
telah mengingatkan dan memberikan semangat dalam pembuatan skripsi
ini.
4. Ibu Dr. Rini, Ak., CA. selaku dosen pembimbing I yang telah
membimbing dengan penuh perhatian dan dukungan. Terimakasih karena
telah banyak meluangkan waktu dalam membimbing dan memberikan
vii
5. Ibu Fitri Yani Jalil, SE., M.Sc. selaku dosen pembimbing II yang telah
memberikan pengetahuan yang luas. Terimakasih karena telah
memudahkan proses skripsi dan memberikan jalan terhadap banyak
permasalahan dalam pembuatan skripsi ini.
6. Bapak Yusar Sagara, SE., M.Si., Ak., selaku dosen Pembimbing
Akademik, telah membimbing selama masa perkuliahan.
7. Teman-teman Akuntansi 2011 khususnya AKUKECE, akuntansi kelas C
yang telah membersamai dalam seluruh proses perkuliahan. Khususnya
kepada teman-teman Core I 7, Rizki Fauzi, Irvan Sopian, Arif Setiawan,
Wahyu Heldera, Septiandi Dwi Nugraha, dan Noviansyah Z. yang telah
saling mendukung dalam seluruh kebersamaan.
8. Terima kasih yang tidak terhingga kepada seluruh pengurus Komda FEB
2013-2014, kalian merupakan saudara dakwah yang sangat baik.
9. Terima kasih kepada pengurus UKM LDK Syahid 18, 2014-2015 atas
segala kebersamaan dalam perjuangan dakwah kampus.
10.Terima kasih pula yang tidak terlupakan kepada teman-teman KESTARI
18, Ali, Annisa, Ganis, Umi, yang tidak pernah lelah saling mengingatkan
dan menebarkan semangat dalam proses pembuatan skripsi.
11.Terima kasih kepada Rohis 46 2011 yang telah mendukung dan
memanasmanasi agar terselesaikannya skripsi ini.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kata sempurna
dikarenakan keterbatasan pengalaman dan pengetahuan serta keterbatasan yang
lainnya. Oleh sebab itu, saya mengharapkan masukan dan kritik konstruktif dari
berbagai pihak. Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Jakarta, September 2015
viii DAFTAR ISI
Hal
COVER
COVER DALAM
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI……….. i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP………….………... ii
ABSTRACT……….. iv
ABSTRAK……… v
KATA PENGANTAR……….. vi
DAFTAR ISI………. viii
DAFTAR TABEL……… x
DAFTAR GAMBAR……… xi
BAB I Pendahuluan……… 1
A. Latar Belakang Masalah……… 1
B. Perumusan Masalah………... 14
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………. 14
BAB II Tinjauan Pustaka………... 16
A. Tinjauan Literatur……….. 16
1. Teori Keagenan……… 16
2. Auditing……… 18
a. Pengertian Audit………... 18
b. Jenis-jenis Audit……… 18
1) Audit Operasional………. 18
2) Audit Kepatuhan……….. 19
ix
3. Opini Audit Going Concern………... 20
4. AuditTenure……… 26
5. Opini Audit Tahun Sebelumnya………... 27
6. Disclosure………... 28
B. Penelitian Sebelumnya……… 31
C. Kerangka Berpikir……… 45
D. Keterkaitan Antara Variabel dan Perumusan Hipotesis……… 46
1. Pengaruh audit tenure terhadap opini audit going concern. 46 2. Pengaruh Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Opini Audit Going Concern………. 47
3. Pengaruh Disclosure Terhadap Opini Audit Going Concern………. 48
BAB III Metodologi Penelitian………. 50
A. Ruang Lingkup Penelitian……….. 50
B. Metode Penentuan Sampel………. 50
C. Metode Pengumpulan Data……… 51
D. Metode Analisis Data……….. 52
E. Operasional Variabel Penelitian……… 57
BAB IV Analisis dan Pembahasan………... 60
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian………. 60
B. Analisis dan Pembahasan………... 64
BAB V Kesimpulan dan Saran………... 79
A. Kesimpulan……….. 79
B. Saran……… 80
DAFTAR PUSTAKA………... 81
x Daftar Tabel
No Keterangan Hal
1.1 Skandal Akuntansi……… 4
1.2 Data Peringkat Tambang Indonesia……….. 8
2.1 Disclosure Item……… 30
2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya……… 32
3.1 Variabel Pengukuran dan Operasional………. 59
4.1 Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria………. 61
4.2 Sampel Penelitian………. 62
4.3 Distribusi Perusahaan Berdasarkan Opini Audit………..………… 63
4.4 Descriptive Statistics……….. 65
4.5 Iteration History………... 68
4.6 Iteration History 1……… 69
4.7 Koefisien Determinasi……….. 70
4.8 Hosmer and Lemeshow Test……….. 70
4.9 Correlation Matrix……….. 71
4.10 Classification Table……… 72
4.11 Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik……….... 73
xi
Daftar Gambar
No Keterangan Hal
1.1 Peta Lokasi penyebaran Sumber daya dan Cadangan Batubara………... 9
2.1 Panduan Auditor dalam Memberikan Opini Audit Going Concern…….. 26
1 Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Akuntan publik merupakan salah satu profesi yang memiliki lisensi yang
diberikan oleh Departemen Keuangan setelah melalui ujian Certified Public Accountant (CPA). Salah satu jasa akuntan publik adalah assurance services yang mana bertujuan untuk meningkatkan mutu dari laporan keuangan. Dalam hal ini
auditing merupakan salah satu daripada assurance services tersebut. Jasa auditing
berusaha untuk memeriksa dan memberikan opini terhadap laporan keuangan
suatu perusahaan, terkait dengan apakah laporan yang disajikan oleh manajemen
sudah disajikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau tidak, serta apakah
laporan disajikan dengan sewajar-wajarnya. Maka dari itu akuntan publik
memiliki peran penting dalam hal pengeluaran hasil audit laporan keuangan.
Akuntan publik memiliki tanggung jawab penuh atas seluruh hasil audit yang
dikeluarkannya. Akuntan publik atau auditor independen bertugas memberikan
jasanya terutama jasa audit laporan keuangan kepada para kliennya. Boynton dan
Johnson (2006:10) menyatakan bahwa klien para auditor independen tersebut
dapat berasal dari perusahaan bisnis yang berorientasi laba, organisasi nirlaba, dan
kantor pemerintah.
Auditor independen dalam melaksanakan tugasnya harus mengacu pada
standar yang dibuat oleh masing-masing negara tempat auditor tersebut
2 Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Dengan adanya standar ini, maka
seluruh kegiatan auditor telah terstandarisasi.
Auditor harus mengupayakan menciptakan kondisi audit yang paling
efektif. Salah satu kondisi yang diperlukan untuk menciptakan kondisi audit yang
efektif adalah independensi auditor (Foroghi, 2012). Auditor independen dalam
melaksanakan tugasnya harus bersikap jujur dan objektif. Hal-hal tersebut harus
ada pada diri seorang auditor, sehingga keputusan laporan audit tidak terpengaruh
pihak manapun. Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan audit agar dapat memperoleh keyakinan memadai tentang apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material baik yang disebabkan oleh
kekeliruan atau kecurangan (Maulina et al. 2010).
Boynton dan Johnson (2006:5) menyatakan bahwa auditing memainkan
peran penting dalam dunia bisnis, pemerintahan, dan ekonomi kita. Hal ini
dikarenakan hasil audit atas laporan keuangan yang telah diaudit diibaratkan
sebagai jembatan yang menghubungkan antara perusahaan dengan pemegang
kepentingan. Laporan keuangan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan
dari suatu perusahaan, karena laporan keuangan merupakan salah satu media
utama yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan
informasi keuangannya kepada pihak yang berkepentingan (Rossa dan Rahardjo,
2013). Laporan keuangan menyediakan berbagai informasi yang diperlukan
sebagai sarana pengambilan keputusan baik oleh pihak internal maupun pihak
eksternal perusahaan (Singgih dan Bawono, 2010). Investor merupakan salah satu
3 modal adalah dana dari investor. Sumber modal inilah yang bisa menjadi salah
satu faktor atas keberlangsungan hidup suatu perusahaan. Salah satu referensi
yang digunakan investor untuk mengambil keputusan berkaitan dengan
investasinya adalah opini audit atas laporan keuangan perusahaan yang diberikan
oleh auditor independen (Rossa dan Rahardjo, 2013).
Opini audit sangat berperan dalam pengambilan keputusan pemegang
kepentingan, oleh sebab itu opini audit harus mencerminkan keadaan yang
sebenarnya dari perusahaan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaifuddin dan
Fitriyani (2014), opini yang dikeluarkan auditor atas laporan keuangan suatu
perusahaan merupakan salah satu komponen penting yang akan dipertimbangkan
para investor dalam pengambilan keputusan bisnis mereka.
Namun, di balik itu semua ada beberapa kasus skandal audit yang mana
hasil laporan audit tidak mencerminkan keadaan suatu perusahaan yang
sebenarnya dan tentu saja melibatkan auditor di dalamnya, sehingga auditor
menjadi pihak yang harus bertanggung jawab atas kasus tersebut, seperti kasus
Enron, Worldcom, Xerox, dan lain-lain (Dewayanto, 2011). Tucker et al., (2003)
dalam Ardiani et al. (2012) menemukan bahwa dari 228 perusahaan publik yang
mengalami kebangkrutan, Enron dan 95 perusahaan lainnya menerima opini wajar
tanpa pengecualian pada tahun sebelum terjadinya kebangkrutan. Alhasil
kesalahan pemberian opini yang dikeluarkan auditor tersebut membuat salah satu
Kantor Akuntan Publik (big-5) yaitu Arthur Andersen terlibat dan berhenti beroperasi. Selanjutnya akan disajikan beberapa kasus skandal akuntansi
4 Tabel 1.1
Skandal Akuntansi
No Perusahaan Tahun Perusahaan yang Mengaudit
Negara
1 Cendant 1998 Ernst & Young Amerika Serikat 2 MicroStrategy 2000 PricewaterhouseCoopers Amerika Serikat 3 Computer Associates 2000 KPMG Amerika Serikat
4 Xerox 2000 KPMG Amerika Serikat
5 One.Tel 2001 Ernst & Young Australia
6 Enron 2001 Arthur Andersen Amerika Serikat
7 Adelphia 2001 Deloitte & Touche Amerika Serikat
8 AOL 2001 Ernst & Young Amerika Serikat
9 Bristol-Myers Squibb 2001 PricewaterhouseCoopers Amerika Serikat 10 CMS Energy 2002 Arthur Andersen Amerika Serikat 11 Duke Energy 2002 Deloitte & Touche Amerika Serikat 12 Dynegy 2001 Arthur Andersen Amerika Serikat 13 El Paso Corporation 2002 Deloitte & Touche Amerika Serikat 14 Global Crossing 2001 Arthur Andersen Amerika Serikat 15 Halliburton 2001 Arthur Andersen Amerika Serikat
16 ImClone System 2002 KPMG Amerika Serikat
17 Kmart 2002 PricewaterhouseCoopers Amerika Serikat 18 Merrill Lynch 2002 Deloitte & Touche Amerika Serikat
19 Peregrine System 2002 KPMG Amerika Serikat
20 Reliant Energy 2002 Deloitte & Touche Amerika Serikat 21 Tyco International 2002 PricewaterhouseCoopers Bermuda
22 WorldCom 2002 Arthur Andersen Amerika Serikat 23 Royal Ahold 2003 Deloitte & Touche Belanda
24 Parmalat 2003 Grant Thornton SpA Italia
25 HealthSouth Corporation 2003 Ernst & Young Amerika Serikat 26 AIG 2004 PricewaterhouseCoopers Amerika Serikat 27 Bernard L. Madoff
Investment Securities LLC
2008 Friehling & Horowitz Amerika Serikat
28 Anglo Irish Bank 2008 Ernst & Young Irlandia 29 Satyam Computer
Services
2009 PricewaterhouseCoopers India
5 Kasus Enron ini menjadi salah satu kasus skandal terbesar yang dapat
menjadi simbol kerusakan citra auditor. Dikutip dari Sagara dan Fitri (2013:119),
Enron merupakan perusahaan energi di Houston, Texas, Amerika Serikat yang
didirikan pada tahun 1930. Pada bulan September 2001, pemerintah Amerika
Serikat mulai mencium adanya ketidakberesan dalam laporan pembukuan Enron.
Satu bulan kemudian, Enron mengumumkan kerugian sebesar US$600 juta dan
nilai aset Enron menyusut US$1,2 triliun. Pada laporan keuangan yang sama
diakui bahwa selama tujuh tahun terakhir, Enron selalu melebih-lebihkan laba
bersih mereka. Akibat laporan mengejutkan ini, nilai saham Enron mulai anjlok
dan saat Enron mengumumkan bahwa perusahaannya harus gulung tikar, 2
Desember 2001, harga saham Enron hanya 26 sen. Yang lebih mengejutkan dunia
akuntan adalah peristiwa penghancuran dokumen yang dilakukan oleh Duncan
(Auditor Arthur Andersen). Panik karena diminta kesaksiannya di Dewan
Perwakilan Rakyat Amerika (Congress), Duncan memerintahkan anak buahnya
untuk menghancurkan ratusan kertas kerja dan e-mail yang berhubungan dengan
Enron. Kertas kerja merupakan dokumen penting dalam dunia profesi akuntan
yang berhubungan dengan laporan keuangan klien. Secara umum, setiap kertas
kerja, komunikasi dan laporan keuangan harus didokumentasikan dengan baik
selama 6 tahun. Peristiwa penghancuran dokumen ini memberi keyakinan pada
publik dan Congress bahwa Andersen sebenarnya mengetahui bisnis buruk Enron,
tetapi tidak mau mengungkapkannya dalam laporan audit mereka, karena mereka
takut kehilangan Enron sebagai klien. Arthur Andersen adalah auditor Enron
6 Enron membayar Andersen sebesar US$46,8 juta untuk audit, konsultasi bisnis,
dan kerja pajak untuk tahun fiskal yang berakhir pada tanggal 31 Agustus 1999;
US$58 juta pada tahun 2000; dan lebih dari US$50 juta pada tahun 2001. Lebih
dari setengah jumlah itu adalah untuk biaya-biaya yang dibebankan untuk
layanan-layanan non-audit. Pada tahun 2000, misalnya, Enron membayar
Andersen sebesar US$25 juta untuk layanan audit dan US$27 juta untuk
konsultasi dan layanan-layanan lainnya, seperti layanan audit internal. Andersen
telah melaksanakan tugas audit internal Enron sejak tahun 1993. Selain kasus
enron masih ada banyak lagi kasus kebangkrutan yang melibatkan auditor di
dalamnya, seperti kasus runtuhnya Lehman Brothers di Amerika Serikat (AS)
tanggal 15 September 2008.
Banyak hal yang melatarbelakangi atas bangkrutnya
perusahaan-perusahaan besar tersebut. Faktor-faktor yang melatarbelakanginya dapat berasal
dari faktor keuangan, faktor non keuangan, faktor pasar, bahkan dapat juga dari
faktor pribadi dari orang-orang yang mengelola perusahaan itu sendiri. Maka
dibutuhkannya suatu opini auditor atas keberlangsungan suatu perusahaan.
Januarti (2009) dalam Dewayanto (2011) mengemukakan bahwa atas dasar
banyaknya kasus tersebut, maka AICPA (1988) mensyaratkan bahwa auditor
harus mengemukakan secara eksplisit apakah perusahaan klien akan dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) sampai setahun
kemudian setelah pelaporan. Opini tersebut sangat dibutuhkan oleh para
pemegang kepentingan terkait sikapnya terhadap suatu perusahaan. Opini audit
7 ke dalam perusahaan auditee yang terkena opini audit going concern (Ulya, 2012). Zulfikar dan Syafruddin (2013) menyatakan bahwa going concern adalah
suatu keadaan di mana perusahaan dapat tetap beroperasi dalam jangka waktu ke
depan, dimana hal ini dipengaruhi oleh keadaan financial dan non financial.
Sebagai contoh, Hidayat (2012) menyatakan bahwa perusahaan tambang
PT Bumi Resources diproyeksikan akan mengalami kebangkrutan finansial
setelah mencatat kerugian dan kemampuan bayar utang rendah meski manajemen
opitimis terhadap operasional. Riset yang dikeluarkan Panin Sekuritas Rabu
(29/8) mengindikasikan perusahaan batu bara ini akan bangkrut karena performa
keuangan yang buruk dan tidak mampu membayar utangnya. Selain faktor
keuangan yang menjadi kendala, faktor non keuangan juga menjadi masalah di
perusahaan ini. PT Bumi Resources memiliki masalah dalam hal perizinan. Dalam
laporan auditor PT Bumi Resources tahun 2013, dinyatakan bahwa entitas anak
dari PT Bumi Resources yaitu PT Dairi Prima Mineral (Dairi), PT Citra Palu
Minerals (CPM) dan PT Gorontalo Minerals (GM), menandatangani Kontrak
Karya (KK) dengan Pemerintah Republik Indonesia untuk mengeksplorasi emas
dan mineral lainnya di seluruh wilayah konsensi yang berada dalam wilayah hutan
lindung. Undang-undang kehutanan No. 41, yang mulai berlaku sejak tahun 1999,
melarang eksploitasi sumber daya alam di wilayah hutan lindung, termasuk
wilayah KK yang diberikan sebelum deklarasi. Pada tanggal 31 Desember 2013,
Dairi, CPM, dan GM masing-masing telah memperoleh izin pinjam pakai
kawasan hutan lindung untuk kegiatan penambangan dan eksplorasinya. Izin
8 diperpanjang. Selain itu, CPM dan GM berada dalam tahap studi kelayakan. Pada
tanggal 31 Desember 2013, CPM dalam proses untuk memperoleh perpanjangan
tahap studi kelayakan dan izin pinjam pakai untuk jangka waktu berikutnya,
sedangkan GM telah mengajukan surat permohonan memasuki tahap konstruksi.
Seperti halnya PT Bumi Resources yang masih terkendala perizinan dari
pemerintah, banyak kasus perusahaan tambang yang tidak memiliki izin dari
pemerintah seperti PT Vale Indonesia yang melakukan penambangan illegal di
kawasan hutan lindung (HL) Zeba-zeba, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah,
dengan membuka jalan (main road) sepanjang 28 kilometer (IS, 2013).
Indonesia yang memiliki letak geografis di daerah tropis dan dilewati garis
katulistiwa mempunyai keuntungan tersendiri. Indonesia merupakan negara yang
kaya akan sumber daya alamnya. Sumber daya alam di Indonesia sangat
melimpah seperti hasil pertanian, perikanan, perkebunan maupun pertambangan.
Dalam hal cadangan barang tambang, Indonesia merupakan negara yang cukup
disegani karenanya. Indonesia memiliki cadangan barang tambang seperti emas,
perak, timah, tembaga, nikel, batubara, dan lain-lain. Selanjutnya akan disajikan
peringkat tambang di Indonesia atas dunia dan berbagai jenis tambang dan juga
jumlah produksi tambang Indonesia:
Tabel 1.2
Data Peringkat Tambang Indonesia No Jenis Tambang Keterangan
1 Batu bara Peringkat ke-6 dunia dalam produksi Memiliki 0,5 dari cadangan dunia.
2 Minyak Peringkat ke-25 berpotensi. Sebesar 4,3 miliar barel yang terbukti dan 3,7 miliar barel potensial
9 Tabel 1.2 (Lanjutan)
No Jenis Tambang Keterangan
3 Gas alam Peringkat ke-13 cadangan dunia. Produksinya peringkat ke-8 terbesar. Peringkat ke-2 pengekspor LNG
4 Emas Peringkat ke-7 potensi emas terbesar dunia. Peringkat ke-6 produksi sebesar 6,7% dan memiliki cadangan sebesar 2,3%.
5 Timah Peringkat ke-6 cadangan dunia sebesar 8,1%. Peringkat ke-2 produksi sebesar 26%.
6 Tembaga Peringkat ke-7 cadangan sekitar 4,1%. Peringkat ke-2 produksinya sebesar 10,4%.
7 Nikel Peringkat ke-8 cadangan dunia sekitar 2,9%. Peringkat ke-4 produksi dunia sebesar 8,6%.
Sumber: http://www.hpli.org/tambang.php
Selanjutnya akan disajikan peta lokasi penyebaran salah satu barang
tambang yaitu batubara di Indonesia beserta jumlah cadangannya per juta ton:
Gambar 1.1
Peta Lokasi Penyebaran Sumber Daya dan Cadangan Batubara
10 Dengan melimpahnya sumber daya alam Indonesia maka terbukalah
kesempatan untuk mengelola sumber daya tersebut. Oleh sebab itu banyak
perusahaan yang berkecimpung di bidang itu. Bukan hanya perusahaan dalam
negeri, perusahaan luar negeri seperti Chevron, Freeport, Petro China, dan
lain-lain turut ambil bagian dalam mengelola sumber daya Indonesia.
Seperti halnya dalam bidang pertambangan, investasi pada bidang
pertanian pun mulai berdatangan dari berbagai sumber, seperti yang dicatat oleh
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). BKPM mencatat minat investasi
di sektor pertanian terus mengalami peningkatan. Kenaikannya sampai 134,8%,
berdasarkan pengajuan izin prinsip yang diterima (Junida, 2015).
Dengan semakin besarnya kebutuhan terhadap hasil sumber daya alam,
merupakan tantangan bagi semua perusahaan untuk tetap mempertahankan
kondisinya. Hal ini juga merupakan tugas bagi para auditor independen untuk
memberikan informasi bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Yang mana
peran hasil audit keuangan adalah sebagai referensi bagi para pemegang
kepentingan, maka auditor harus sangat teliti dalam menyatakan atau tidak
menyatakan opini going concern kepada suatu perusahaan.
Auditor bukan hanya menilai dari faktor keuangannya saja, namun faktor
lain juga harus diperhatikan. Faktor-faktor non keuangan juga berpengaruh
terhadap opini audit going concern yang didapat oleh perusahaan seperti audit tenure, opini audit sebelumnya maupun tingkat disclosure.
Banyak penelitian yang meneliti terkait dengan hal-hal yang
11 keuangan. Penelitian-penelitian tersebut diantaranya adalah Dewayanto (2011),
Ardiani et al. (2012), Foroghi (2012), Zulfikar dan Syafruddin (2013), Rossa dan
Rahradjo (2013), Verdiana dan Utama (2013), dan Bedard et al. (2015).
Ada perbedaan hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya terkait
faktor-faktor yang mempengaruhi opini audit going concern. Oleh sebab itu penelitian ini bermaksud meneliti kembali terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi
opini audit going concern. Alasan, proses, dan faktor bagaimana auditor menyatakan opini audit going concern masih menarik mengingat perusahaan yang
akan diteliti adalah perusahaan tambang dan agriculture yang memiliki ciri khas tersendiri. Kenyataannya Indonesia dikenal oleh dunia salah satunya karena
sumber daya alamnya. Oleh sebab itu opini audit going concern pada perusahaan
yang ada harus diprediksi.
Penelitian ini meneliti terkait bagaimana pengaruh audit tenure akan mempengaruhi opini audit going concern. Audit tenure merupakan lama waktu hubungan antara auditor dengan auditee. Perikatan audit yang lama akan menjadikan auditor kehilangan independensinya, sehingga kemungkinan untuk
memberikan opini audit going concern akan sulit (Ulya, 2012). Semakin lama hubungan auditor dengan klien, maka semakin kecil kemungkinan perusahaan
untuk mendapatkan opini going concern (Junaidi dan Hartono, 2010). Penelitian
yang dilakukan oleh Rossa dan Rahardjo (2013) menyatakan bahwa audit tenure
memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap penerimaan opini audit going
12 concern didukung. Namun berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ulya (2012) yang menyatakan bahwa variabel audit tenure tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.
Selanjutnya penelitian ini juga meneliti pengaruh opini audit tahun
sebelumnya terhadap penerimaan opini audit going concern. Opini audit tahun sebelumnya merupakan opini audit yang diterima perusahaan pada satu tahun
sebelumnya. Menurut Zulfikar dan Syafruddin (2013), opini audit going concern
yang telah diterima auditee pada tahun sebelumnya akan menjadi faktor pertimbangan yang penting bagi auditor dalam mengeluarkan opini audit going concern pada tahun berjalan jika kondisi keuangan auditee tidak menunjukan tanda – tanda perbaikan atau tidak adanya rencana manajemen yang dapat
direalisasikan untuk memperbaiki kondisi perusahaan. Penelitian yang dilakukan
oleh Zulfikar dan Syafruddin (2013) menyatakan bahwa opini audit tahun
sebelumnya berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ulya (2012) yang
menyatakan bahwa opini audit tahun sebelumnya akan berpengaruh positif
terhadap kemungkinan penerimaan opini audit going concern.
Penelitian ini meneliti terkait pengaruh disclosure suatu laporan perusahaan akan mempengaruhi opini audit going concern. Disclosure dapat didefinisikan sebagai pemberian informasi oleh perusahaan yang mungkin
mempengaruhi keputusan investasi. Disclosure merupakan suatu hal yang cukup
13 pengecualian, informasi buruk mengenai perusahaan seringkali tidak diungkapkan
oleh pemimpin perusahaan (Lennox, 2000 dalam Verdiana dan Utama (2013).
Semakin tinggi disclosure level yang dilakukan perusahaan, maka semakin banyak pula informasi yang ada (Zulfikar dan Syafruddin, 2013). Hal ini
sebagaimana yang diungkapkan oleh Junaidi dan Hartono (2010), disclosure laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting bagi auditor,
misalnya, pengungkapan informasi keuangan mengenai konsistensi penggunaan
metode akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan, kebijakan-kebijakan
perusahaan, kerajasama perusahaan dengan pihak yang mempunyai hubungan
istimewa perusahaan, serta kejadian setelah tanggal neraca dalam hal pemberian
opini going concern. Penelitian yang dilakukan oleh Junaidi dan Hartono (2010)
menyatakan bahwa disclosure berpengaruh secara signifikan terhadap dikeluarkannya opini going concern oleh auditor. Namun berbeda dengan hasil penelitian Astuti dan Darsono (2012) yang menyatakan bahwa disclosure tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini going concern.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah,
penelitian ini mengambil data terbaru yaitu data perusahaan dari tahun 2011
sampai 2014. Sektor perusahaan yang diambilpun berbeda dengan
penelitian-penelitian sebelumnya yaitu hanya pada sektor tambang dan agriculture.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dimotivasi untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi opini audit going concern.
Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui seberapa besar variabel
14 tersebut, maka penelitian ini berjudul “Pengaruh audit tenure, opini audit tahun
sebelumnya, dan disclosure terhadap opini audit going concern perusahaan
tambang dan agriculture yang terdaftar di BEI tahun 2011-2014”.
B. Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang hendak diteliti dapat dirumuskan dan dipaparkan
dalam beberapa pertanyaan di bawah ini sebagai berikut:
1. Apakah audit tenure perusahaan mempengaruhi opini audit going concern?
2. Apakah opini audit tahun sebelumnya mempengaruhi opini audit going concern?
3. Apakah disclosure mempengaruhi opini audit going concern?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
memberikan bukti empirisi mengenai:
a) Pengaruh audit tenure terhadap opini audit going concern
b) Pengaruh opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit going concern
15 2. Manfaat Penelitian
a) Kontribusi Teoritis
1) Mahasiswa jurusan akuntansi, penelitian ini berguna sebagai referensi
dan rujukan bagi penelitian selanjutnya. Penelitian ini juga berguna
sebagai pembanding bagi penelitian-penelitian lainnya.
2) Masyarakat, penelitian ini bisa menjadi informasi yang berguna bagi
masyarakat agar lebih mengetahui terkait dengan opini audit going concern dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
3) Peneliti selanjutnya, sebagai rujukan dalam membuat penelitian
dengan topik opini audit going concern.
4) Penulis, sebagai sarana untuk menambah ilmu dan menambah rujukan
terkait dengan opini audit going concern dan perusahaan tambang.
b) Kontribusi Praktis
1) Auditor dan KAP, sebagai rujukan informasi mengenai
langkah-langkah dan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika memberikan opini
audit going concern.
2) Pemegang kepentingan, sebagai rujukan dalam mengambil setiap
keputusan. Agar dapat mengantisipasi keadaan-keadaan yang tidak
diinginkan.
3) Pemerintah, mengantisipasi keadaan perusahaan-perusahaan yang
16 Bab II
Tinjauan Pustaka
A. Tinjauan Literatur
1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan merupakan teori yang mengungkapkan adanya dua
kepentingan berbeda yang berasal dari dua pihak. Dua pihak yang memiliki
kepentingan berbeda tersebut adalah prinsipal dan agen. Di dalam teori ini
prinsipal adalah para pemegang saham atau orang-orang yang menjadi pemilik
suatu perusahaan dan agen adalah orang-orang yang menjalankan pengelolaan
perusahaan tersebut. Jensen dan Meckling (1976) dalam Zulfikar dan Syafruddin
(2013) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai suatu kontrak yang mana satu
atau lebih prinsipal (pemilik) menggunakan orang lain atau agen (manajer) untuk
menjalankan aktivitas perusahaan. Dalam hal ini, merupakan suatu keharusan
dimana agen harus bekerja sesuai dengan wewenang prinsipal. Pada dasarnya para
prinsipal sebagai pemilik perusahaan ingin agar perusahaan yang mereka miliki
menguntungkan bagi mereka dan bertambah nilainya. Oleh sebab itu mereka
mempekerjakan agen sebagai orang-orang yang mengelola perusahaan agar
tercapainya tujuan mereka. Agar terdapat timbal balik antara prinsipal dan agen,
maka agen mendapatkan imbalan dari prinsipal berupa gaji, upah, bonus, dan
lain-lain. Agen sebagai orang-orang yang mengelola perusahaan memiliki kepentingan
tersendiri yaitu memaksimalkan imbalan dari prinsipal baik berupa gaji, bonus,
17 Adanya dua kepentingan antara prinsipal dan agen inilah yang kadang
menyebabkan masalah bagi perusahaan, masalah ini biasa disebut dengan masalah
keagenan. Masalah keagenan timbul karena adanya konflik kepentingan antara
prinsipal dan agen (Zulfikar dan Syafruddin, 2013).
Dalam kaitannya dengan penerimaan opini audit going concern, agen (manajemen) bertanggung jawab secara moral terhadap kelangsungan perusahaan
yang dipimpinnya. Pemilik memberi wewenang kepada agen untuk melakukan
operasional perusahaan, sehingga informasi lebih banyak diketahui oleh agen
dibandingkan pemilik. Baik prinsipal maupun agen diasumsikan sebagai orang
ekonomi rasional dan semata-mata termotivasi oleh kepentingan pribadi. Hal ini
dapat memicu terjadinya konflik keagenan (Zulfikar dan Syafruddin, 2013).
Untuk mengetahui keadaan perusahaan yang dimiliki oleh prinsipal, maka
agen diwajibkan untuk memberikan laporan kepada prinsipal. Salah satu laporan
yang agen berikan kepada prinsipal adalah laporan keuangan. Laporan yang
diterima oleh prinsipal digunakan untuk mengambil keputusan dan menentukan
sikap bagi perusahaan di masa mendatang. Oleh sebab itu laporan keuangan harus
menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari kondisi perusahaan. Jika laporan
tidak menggambarkan keadaan perusahaan yang sebenarnya dalam artian agen
memanipulasi atau salah dalam memberikan laporan, maka hal ini akan
mempengaruhi prinsipal dalam mengambil keputusan. Jika laporannya salah
kemungkinan besar keputusan yang diambil kurang tepat. Oleh sebab itu
diperlukannya pihak ketiga yang independen atau terbebas dari pengaruh pihak
18 Pihak ketiga tersebut ialah auditor independen. Pihak ketiga ini berfungsi
untuk memonitor perilaku manajer (agen) apakah bertindak sesuai dengan
keinginan prinsipal (Dewayanto, 2011). Tugas dari auditor adalah memberikan
jasa untuk menilai laporan keuangan yang dibuat oleh agen, mengenai kewajaran
laporan keuangan tersebut (Zulfikar dan Syafruddin, 2013). Selain itu, auditor
juga harus mempertimbangkan akan kelangsungan hidup perusahaan (Praptitorini
dan Januarti, 2007) dalam Zulfikar dan Syafruddin (2013)).
2. Auditing
a. Pengertian Audit
Auditing menurut Arens (2014:24) adalah:
“ Auditing is the accumulation and evaluating of evidence about
information to determine and report on the degree of correspondence between the information and estabilished criteria.”
Artinya auditing ialah pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti
terkait dengan informasi-informasi untuk menjelaskan dan melaporkan
derajat kesesuaian antara informasi dengan kriteria yang telah
ditetapkan.
b. Jenis-jenis Audit
Arens (2014:33) menjelaskan tiga jenis audit sebagai berikut:
1) Audit Operasional (Operational Audit)
Audit operasional mengevaluasi efisiensi dan efektivitas berbagai
19 tahap penyelesaian audit operasional, biasanya manajemen
mengaharapkan rekomendasi untuk perbaikan operasi.
2) Audit Kepatuhan (Compliance Audit)
Audit kepatuhan dilaksanakan untuk menjelaskan apakah auditee
telah mengikuti prosedur, aturan, atau regulasi yang diatur oleh
pembuat kebijakan di atasnya.
3) Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Audit laporan keuangan dilaksanakan untuk menjelaskan apakah
laporan keuangan telah di laporkan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku umum.
c. Opini Audit
SA seksi 508 paragraf 10 (SPAP, 2011:508.6) menjelaskan
berbagai tipe pendapat auditor yaitu:
1) Pendapat wajar tanpa pengecualian. Pendapat wajar tanpa
pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan,
hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan di Indonesia. Ini adalah pendapat yang
dinyatakan dalam laporan auditor bentuk baku seperti yang
diuraikan dalam paragraf 08.
2) Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk
20 menambahkan suatu paragraf penejelasan (atau bahasa
penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya.
3) Pendapat wajar dengan pengecualian. Pendapat wajar dengan
pengecualian, menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia,
kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang
dikecualikan.
4) Pendapat tidak wajar. Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa
laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi
keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
5) Pernyataan tidak memberikan pendapat. Pernyataan tidak
memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak
menyatakan pendapat atas laporan keuangan.
3. Opini Audit Going Concern
Opini audit going concern merupakan opini audit yang dikeluarkan oleh auditor untuk mengevaluasi apakah terdapat keraguan besar tentang kemampuan
entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk jangka waktu yang
layak dan, jika berlaku, untuk mempertimbangkan kecukupan pengungkapan
dalam laporan keuangan serta untuk mencantumkan paragraf penjelasan dalam
21 digunakan guna mengetahui keadaan-keadaan yang akan terjadi pada perusahaan
agar dapat segera diantisipasi.
Riahi dan Belkoui (2006:271) menyatakan going concern adalah:
“Dalil kelangsungan usaha (going-concern postulate), atau dalil
kontinuitas, menganggap bahwa entitas bisnis akan melanjutkan
operasinya cukup lama untuk merealisasikan proyek, komitmen, dan
aktivitasnya yang berkelanjutan”
Opini going concern menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka panjang dan tidak akan
dilikuidasi dalam jangka pendek (Syaifuddin dan Fitrianasari, 2014). Praptitorini
dan Januarti (2007) dalam Zulfikar dan Syafruddin (2013) menyatakan bahwa
tanggung jawab utama manajemen untuk menentukan kelayakan dari persiapan
laporan keuangan menggunakan dasar going concern dan tanggung jawab auditor
untuk meyakinkan dirinya bahwa penggunaan dasar going concern oleh perusahaan adalah layak dan diungkapkan secara memadai dalam laporan
keuangan.
Zulfikar dan Syafruddin (2013) menyatakan bahwa laporan audit dengan
modifikasi mengenai going concern merupakan suatu indikasi bahwa dalam penilaian auditor terdapat risiko auditee tidak dapat bertahan dalam bisnis. Dari sudut pandang auditor, keputusan tersebut melibatkan beberapa tahap analisis.
Menurut Arens (2014:76) hal-hal yang dapat menyebabkan ketidakmampuan
22 a. Kerugian operasi yang berulang-ulang dan signifikan atau kekurangan
modal kerja.
b. Ketidakmampuan perusahaan membayar kewajibannya yang telah
jatuh tempo.
c. Kehilangan pelanggan utama, bencana alam yang tidak diasuransikan
seperti gempa bumi atau banjir, atau kekurangan karyawan yang luar
biasa.
d. Permasalahan kelegalan, perundang-undangan, atau mengenai hal-hal
yang telah terjadi yang mungkin membahayakan kemampuan entitas
untuk beroperasi.
Hampir tidak ada panduan yang jelas atau hasil penelitian yang dapat
dijadikan pemilihan tipe Going Concern Report yang harus dipilih (Dewayanto, 2011). Menurut SA seksi 341, evaluasi terhadap kelangsungan usaha perusahaan
ini meliputi (SPAP, 2011:341.2):
a. Auditor mempertimbangkan apakah hasil prosedur yang dilaksanakan
dalam perencanaan, pengumpulan bukti audit untuk berbagai tujuan
audit, dan penyelesaian auditnya, dapat mengidentifikasi keadaan atau
peristiwa yang, secara keseluruhan, menunjukkan adanya kesangsian
besar mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas. Mungkin
diperlukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai kondisi
dan peristiwa beserta bukti-bukti yang mendukung informasi yang
23 b. Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian besar mengenai
kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya
dalam jangka waktu pantas, ia harus:
1) Memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang
ditujukan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa
tersebut, dan
2) Menentukan apakah kemungkinan bahwa rencana tersebut dapat
secara efektif dilaksanakan.
c. Setelah auditor mengevaluasi rencana manajemen, ia mengambil
kesimpulan apakah ia masih memiliki kesangsian besar mengenai
kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya
dalam jangka waktu pantas.
Selanjutnya adalah keadaan yang mengarah pada kesangsian atas
kelangsungan hidup perusahaan (SPAP, 2011:341.3) :
a. Tren negatif-sebagai contoh, kerugian operasi yang berulang kali
terjadi, kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegiatan usaha,
rasio keuangan penting yang jelek.
b. Petunjuk lain tentang kemungkinan kesulitan keuangan-sebagai
contoh, kegagalan dalam memenuhi kewajiban utangnya atau
perjanjian serupa, penunggakan pembayaran dividen, penolakan oleh
pemasok terhadap pengajuan permintaan pembelian kredit biasa,
restrukturisasi utang, kebutuhan untuk mencari sumber atau metode
24 c. Masalah intern-sebagai contoh, pemogokan kerja atau kesulitan
hubungan perburuhan yang lain, ketergantungan besar atas sukses
proyek tertentu, komitmen jangka panjang yang tidak bersifat
ekonomis, kebutuhan untuk secara signifikan memperbaiki operasi.
d. Masalah luar yang telah terjadi-sebagai contoh: pengaduan gugatan
pengadilan, keluarnya undang-undang, atau masalah-masalah lain
yang kemungkinan membahayakan kemampuan entitas untuk
beroperasi; kehilangan franchise, lisensi atau paten penting;
kehilangan pelanggan atau pemasok utama; kerugian akibat bencana
besar seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, yang tidak
diasuransikan atau diasuransikan namun dengan pertanggungan yang
tidak memadai.
Boynton dan Johnson, (2006:64) menyatakan bahwa laporan standar
memuat pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) yang
menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum. Laporan wajar tanpa pengecualian ini
diterbitkan pula apabila tidak ada kesangsian atas keberlangsungan hidup suatu
perusahaan. Louwers, (2005:416) menyatakan pula bahwa salah satu daftar situasi
yang mengakibatkan penerbitan laporan penjelas adalah adanya “going concern“
yaitu paragraf yang menggambarkan peringatan terkait dengan permasalahan atas
25 Berikut adalah contoh laporan auditor yang memberikan pendapat wajar
tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan (SPAP, 2011:341.15):
Laporan Auditor Independen
[Pihak yang dituju oleh auditor]
[Paragraf pengantar: Sama seperti laporan auditor bentuk baku]
[Paragraf ligkup: Sama seperti laporan auditor bentuk baku]
[Paragraf pendapat: Sama seperti laporan auditor bentuk baku]
Laporan keuangan terlampir telah disusun dengan asumsi bahwa Perusahaan akan melanjutkan usahanya secara berkesinambungan. Seperti yang diuraikan dalam Catatan X atas laporan keuangan, perusahaan telah mengalami kerugian yang berulangkali dari kegiatan usahanya, sehingga pada tanggal 31 Desember 20X8 telah mengakibatkan saldo ekuitas negatif dan jumlah liabilitas lancar Perusahaan telah melebihi jumlah asetnya sebesar RpXX. Kondisi ini menimbulkan keraguan substansial atas kemampuan Perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Rencana manajemen untuk mengatasi kondisi tersebut juga telah diungkapkan dalam Catatan X atas laporan keuangan. Laporan keuangan terlampir tidak mencakup penyesuaian yang berasal dari kondisi tersebut.
[Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, dan nomor izin
kantor akuntan publik]
[Tanggal]
Berikutnya akan digambarkan langkah-langkah pertimbangan auditor
26 Gambar 2.1
Panduan Auditor dalam Memberikan Opini Audit Going Concern
Sumber: Seksi 341 Paragraf 19 (SPAP, 2011:341.10)
4. Audit Tenure
Audit tenure merupakan lama waktu hubungan antara auditor dengan auditee. Lama waktu ini dihitung dengan bilangan tahun. Zulfikar dan Syafruddin
SA Seksi 508
27 (2013) mengatakan Auditor Client Tenure merupakan jumlah tahun dimana KAP
melakukan perikatan audit pada perusahaan yang sama. Semakin lama auditor
mengaudit perusahaan yang sama, maka pemahaman auditor akan perusahaan
tersebut akan terus bertambah menjadi lebih baik. Sehingga bila terdapat masalah
keberlangsungan usaha pada perusahaan auditee dan auditor dapat tetap menjaga
independensinya, maka auditor akan cepat mendeteksi masalah keberlangsungan
usaha tersebut (Ulya, 2012). Namun dilain hal, hubungan yang lama antara
auditor dengan auditee dikhawatirkan dapat mempengaruhi indepedensi auditor. Menurut Januarti (2009) dalam Rossa dan Rahardjo (2013) semakin lama
hubungan klien dengan auditor dikhawatirkan akan mempengaruhi tingkat
indepedensi auditor dalam memberikan pendapatnya, sehingga kemungkinan
untuk memberikan opini audit going concern juga semakin kecil. Pada peraturan
menteri keuangan nomor 17/PMK.01/2008 menyebutkan “Pemberian jasa audit
umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun
buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga)
tahun buku berturut-turut”.
5. Opini Audit Tahun Sebelumnya
Opini audit tahun sebelumnya merupakan opini audit yang diterima
perusahaan pada satu tahun sebelumnya. Opini audit tahun sebelumnya dapat
mempengaruhi pemberian opini going concern oleh auditor (Rossa dan Rahardjo,
2013). Menurut Zulfikar dan Syafruddin (2013), opini audit going concern yang
28 yang penting bagi auditor dalam mengeluarkan opini audit going concern pada tahun berjalan jika kondisi keuangan auditee tidak menunjukan tanda – tanda perbaikan atau tidak adanya rencana manajemen yang dapat direalisasikan untuk
memperbaiki kondisi perusahaan.
Mutchler (1984) dalam Zulfikar dan Syafruddin (2013), melakukan
wawancara dengan praktisi auditor yang menyatakan bahwa perusahaan yang
menerima opini audit going concern pada tahun sebelumnya lebih cenderung
untuk menerima opini yang sama pada tahun berjalan. Mutchler (1985) dalam
Zulfikar dan Syafruddin (2013), menguji pengaruh ketersediaan informasi publik
terhadap prediksi opini audit going concern, yaitu tipe opini audit yang telah diterima perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa model discriminant analysis yang memasukkan tipe opini audit tahun sebelumnya mempunyai akurasi
prediksi keseluruhan yang paling tinggi sebesar 89,9 persen dibanding model
yang lain.
6. Disclosure
Disclosure dapat didefinisikan sebagai pemberian informasi oleh perusahaan yang mungkin mempengaruhi keputusan investasi (Verdiana dan
Utama, 2013). Pengungkapan informasi oleh perusahaan diperlukan oleh investor
dalam mengambil keputusan. Untuk meyakinkan bahwa investor memperoleh
kembalian yang dikehendaki dengan risiko tertentu, investor memerlukan
informasi sebagai landasan keputusannya (Nuswandari, 2009). Dalam
29 menyediakan informasi yang mencukupi untuk mempengaruhi penilaian dan
keputusan pemakai (Nuswandari, 2009).
Pengungkapan yang ditunjukkan oleh laporan tahunan harus
mencerminkan elemen-elemen informasi yang luas dan dapat digunakan oleh
pengguna dalam membuat proyeksi, memberikan pinjaman, maupun menilai
perusahaan. Elemen-elemen tersebut adalah (model pelaporan oleh komite
Jenkins dalam Nuswandari (2009)):
a. Data keuangan dan non keuangan:
1) Laporan keuangan dan ungkapan-ungkapan yang terkait
2) Data operasi tingkat tinggi dan pengukuran kinerja yang digunakan
oleh manajemen untuk mengelola bisnis.
b. Analisis manajemen mengenai data keuangan dan non keuangan
1) Alasan terjadinya pengubahan dalam data yang terkait dengan
keuangan, operasi, dan kinerja, serta identifikasi dan dampak tren
yang penting pada masa lalu.
c. Informasi mengenai keadaan masa mendatang
1) Kesempatan dan risiko, termasuk hasilnya dari tren yang penting.
2) Rencana manjemen, termasuk faktor-faktor kesuksesan yang
penting.
3) Perbandingan antara kinerja bisnis sesungguhnya dan kesempatan,
30 d. Informasi mengenai manajemen dan pemegang saham
1) Direktur, manajemen, kompensasi, pihak-pihak penting yang
terkait dengan perusahaan, transaksi dan hubungan dengan
pihak-pihak terkait.
e. Latar belakang perusahaan
1) Tujuan dan strategi secara luas
2) Cakupan dan gambaran bisnis dan kepemilikan
3) Dampak struktur industry pada perusahaan.
Item-item yang digunakan untuk menghitung skor disclosure dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Fitriani dan Sudarsono (2007) yang
menyebutkan bahwa terdapat 33 item disclosure (Verdiana dan Utama, 2013):
Tabel 2.1
Disclosure Item
No Keterangan 1 Ikhtisar data keuangan penting
2 Informasi harga saham tertinggi, terendah, dan penutupan
3 Laporan dewan komisaris mengenai penilaian terhadap kinerja direksi mengenai pengelolaan perusahaan.
4 Laporan dewan komisaris mengenai pandangan atas prospek usaha perusahaan yang disusun oleh direksi
5 Laporan direksi mengenai kinerja perusahaan.
6 Laporan direksi mengenai penerapan tata kelola perusahaan yang telah dilaksanakan perusahaan
7 Nama & alamat perusahaan 8 Riwayat Singkat Perusahaan
9 Bidang dan kegiatan usaha perusahaan meliputi jenis produk dan atau jasa yang dihasilkan
10 Bidang dan kegiatan usaha perusahaan meliputi jenis produk dan atau jasa yang dihasilkan
11 Struktur organisasi dalam bentuk bagan 12 Visi & misi perusahaan
13 Nama, jabatan, dan riwayat hidup singkat anggota dewan komisaris 14 Nama, jabatan, dan riwayat hidup singkat anggota direksi
31 Tabel 2.1 (Lanjutan)
No Keterangan
15 Jumlah karyawan, dan deskripsi pengembangan kompetensinya (misal: aspek pendidikan dan pelatihan karyawan yang telah dan akan dilakukan. 16 Uraian tentang pemegang saham dan presentase kepemilikannya
17 Nama anak perusahaan dan perusahaan asosiasi, presentase kepemilikan saham, bidang usaha, dan status operasi perusahaan tersebut
18 Kronologis pencatatan saham dan perubahan jumlah saham dari awal pencatatan hingga akhir tahun buku serta nama bursa efek dimana saham perusahaan tersebut dicatatkan
19 Nama & alamat lembaga dan atau profesi penunjang pasar modal. 20 Penghargaan & sertifikasi yang diterima perusahaan baik yang berskala
nasional maupun internasional
21 Nama & alamat anak perusahaan dan atau kantor cabang/ kantor perwakilan
22 Tinjauan operasi per segmen usaha
23 Analisis kinerja keuagan yang mencakup perbandingan antara kinerja keuangan tahun yang bersangkutan dengan yang sebelumnya.
24 Prospek usaha dari perusahaan
25 Aspek pemasaran atas produk dan jasa perusahaan antara lain strategi pemasaran dan pangsa pasar
26 Kebijakan dividen dan tanggal serta jumlah dividen 27 Tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) 28 Tanggung jawab direksi atas laporan keuangan
29 Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit 30 Tandatangan anggota direksi dan dewan komisaris 31 Informasi tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan 32 Ringkasan statistik keuangan untuk 3 sampai 5 tahun 33 Informasi tentang penelitian dan pengembangan Fitriani dan Sudarsono (2007)
B. Penelitian Sebelumnya
Adapun hasil-hasil penelitian terdahulu terkait dengan topik opini audit
32 Tabel 2.2
Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya Mengenai
AuditTenure (X1); Opini Audit Tahun Sebelumnya (X2); Disclosure (X3); Opini Audit Going Concern (Y)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian terhadap opini audit going concern pada perusahaan yang tidak bangkrut (nonbankrupt).
33 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian
Penerimaan opini audit going concern terjadi paling banyak tahun 2000 dan 2001 karena masih terpengaruh krisis ekonomi tahun 1997. Rasio likuiditas, opini audit sebelumnya, dan audit lag yang berpengarh signifikan terhadap pemeberian opini audit going
concern.
34 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian respon yang diberikan auditor kepada semua kelompok itu berbeda
Significant. Adapun pada tahun 2009 dengan menggunakan uji Kruskal Wallis maka disimpulkan bahwa respon yang diberikan auditor kepada semua kelompok itu berbeda
Significant. Pada tahun 2008 dan 2009 menunjukan bahwa respon yang diberikan auditor kepada semua kelompok itu berbeda Significant
35 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian
4 Faktor non Keuangan pada
Opini Going Concern
(Junaidi dan Jogiyanto Hartono, 2010)
- Jenis Penelitian: Kuantitatif - Sumber Data:
Data Sekunder - Sampel:
89 Perusahaan listing BEI 2003-2008
- Analisis:
Regresi Logistik - Variabel lainnya:
Ukuran Peruahaan Reputation
√
√
Ada 3 variabel non keuangan yang diuji adalah signifikan (tenure, reputation, dan disclosure) dan1 variabel non keuangan tidak signifikan (size).
36 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian
Kondisi keuangan, opini audit, berpengaruh signifikan dengan penerimaan opini audit going concern. sedangkan ukuran, auditor client tenure, . opinion shopping, reputasi auditor perusahaan tidak berpengarug terhadap penerimaan opini audit going concern.
37 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian memiliki arah positif dan berpengaruh signifikan
terhadap pemberian opini audit going concern, sedangkan kondisi keuangan perusahaan berupa rasio profitabilitas dan rasio likuiditas tidak berpengaruh. 2. Pertumbuhan perusahaan memiliki arah negatif namun tidak berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini audit
going concern.
3. Kualitas audit memiliki arah positif namun tidak berpengaruh signifikan terhadap pemberian opini audit going concern karena semua Kantor
Akuntan Publik baik yang berskala besar ataupun kecil akan selalu bersikap obyektif dalam memberikan pendapat.
38 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian going. Sedangkan debt default, reputasi auditor, dan audit lag berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.
39 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian
40 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian tenur, mandatory disclosure , dan opini audit tahun sebelumnya
berpengaru secara signifikan terhadap opini audit going concern. Variabel ukuran perusahaan yang dilihat dari total aset terbukti tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.
41 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian
10
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan
(Maydica Rossa Arsianto dan Shiddiq Nur Rahardjo, 2013)
- Jenis Penelitian: Kuantitatif - Sumber Data:
Data Sekunder - Sampel:
Perusahaan manufaktur di BEI 2008-2011
- Analisis:
Regresi Logistik - Variabel lainnya:
Reputasi Auditor Ukuran Perusahaan
√
√
√
Audit tenure, ukuran perusahaan dan opini audit tahun sebelumnya
berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.
42 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
43 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian to equity ratio, dan penundaan rapat umum pemegang saham berpengaruh terhadap kemungkinan penerimaan pendapat audit
44 Tabel 2.2 (Lanjutan)
No Judul dan Peneliti
(tahun) Metlit X1 X2 X3 Y Hasil Penelitian
-Tingkat ketergantungan auditor pada klien klien tidak berpengaruh
terhadap opini audit going concern. -Opinion Shopping tidak
berpengaruh terhadap pergantian auditor
-Kondisi keuangan, return saham, audit lag, dan opini going concern tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap opini going concern
45 C. Kerangka Berpikir
Selanjutnya akan ditampilkan kerangka pemikiran penelitian ini akan
ditunjukkan pada gambar 2.2:
2.2 Pengaruh Audit Tenure, Opini Audit Tahun Sebelumnya, dan
Disclosure terhadap Opini Audit Going Concern
Standar Profesional Akuntan Publik 2011
Perushaan Tambang dan Agriculture yang listing di BEI Tahun 2011- 2014
Audit Tenure (X1) Knechel and Vanstraelen (2007)
Rossa dan Rahardjo (2013)
Opini Audit Sebelumnya (X2) Kartika (2012)
Zulfikar dan Syafruddin (2013)
Disclosure (X3) Ardiani et al. (2012) Verdiana dan Utama (2013)
Opini Audit Going Concern
Metode Analisis: Regresi Logistik
Hasil Pengujian dan Pembahasan