• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan ta penurunan coy

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahan ta penurunan coy"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BEBAN YANG ADA DIATAS TANAH Seperti timbunan (pondasi menerus), bangunan gedung, jembatan (pondasi telapak) dan lain lain menyebabkan terjadi penurunan tanah. Penurunan disebabkan oleh :

1. Deformasi partikel tanah 2. Relokasi partikel tanah

3. Keluarnya air dari rongga pori, dan karena hal lain. Umumnya penurunan tanah dikatagorikan menjadi 2 yaitu :

1. Penurunan elastik (Elastic Settlement ).

2. Penurunan Consolidasi Consolidation settlement)

PENURUNAN ELASTIK

(2)

Dimana :

(3)

Es = Modulus elastisitas H = tebal lapisan

ms = Voisson’s ratio

Δsx, Δsy, Δsz = Penambahan tegaangan akibat beban yang bekerja.

Jika tanah fleksibel (Bowles, 1978) besar penurunan dapat ditentukan dengan persamaan :

qo = Beban yang bekerja pada pondasi = P/A ms = Poisson’s ratio tanah

Es = Modulus elastisitas rata-rata diukur dari z = 0 sampai z = 4 B B’ = B/2 dipusat pondasi

B’ = B untuk ditepi pondasi Is = faltor bentuk

If = faktor kedalaman.

Is menurut Stainbrenner, 1934 adalah :

F1 dan F2 diperoleh dari tabel dibawah ini dimana

Untuk menghitung penurunan di pusat pondasi digunakan a = 4

(4)

Untuk menghitung penurunan di pojok pondasi digunakan a = 1

(5)
(6)
(7)

Penurunan elastik untuk pondasi rigid diestimasi dengan persamaan adalah : Se(rigid) =

(8)
(9)

Esi = modulus elastisitas untuk tebal lapisan ΔZ Z = H atau 5 H ambil yang terkecil

(10)

Pondasi rigid dengan ukuran 1 x 2 m seperti gambar diatas tentukan besar penurunan dipusat pondasi.

=(10000 x 2 + 8000 x 1 + 12000 x 2 ) / 5 = 10400 kN/m2

Untuk penurunan dipusat pondasi :

Untuk menghitung penurunan di pusat pondasi digunakan a = 4

m’ = L/B = 2 / 1 = 2 dan n’=H/(B/2) = 5 / (1/2) = 10 Dari grafik diperoleh :

(11)
(12)

Is menurut Stainbrenner, 1934 adalah :

Penentuan If :

(13)

= 150 x 4 x ½ x

(14)

Se(rigid) = 0,93Se(flexibel,centre)

Se(rigid) = 0,93 x 13,3 = 12,40 mm

PENURUNAN ELASTIK UNTUK PONDASI PADA LEMPUNG JENUH

Janbu dan kawan kawan merokomendasikan untuk menghitung penurunan elastik dilempung jenuh (ms= 0,5) untuk pondasi fleksibel adalah :

(15)

Christian dan Carrier (1978) memodifikasi nilai A1 dan A2 seperti pada gambar dibawah ini.

PENURUNAN ELASTIK UNTUK TANAH BERPASIR

(16)

C1 = Faktor koreksi kedalaman pondasi = 1 – 0,5 {q / (q’ – q)} C2 = Koreksi faktor creep = 1 + 0,2 Log ( T / 0,1)

T = waktu dalam tahun = tekanan pada pondasi q = g x Df

Iz = Faktor regangan

Untuk pondasi bulat dan bujur sangkar, Iz = 0,1 untuk z = 0

Iz = 0,5 untuk z = z1 = 0,5 B. Untuk pondasi dengan L/B ³ 10 Iz = 0,2 untuk z = 0

Iz = 0,5 untuk z = z1 = B Iz = 0 untuk z = z2 = 4B

(17)

PARAMETER TANAH UNTUK PERHITUNGAN PENURUNAN ELASTIK

(18)

Berdasarkan uji SPT , Schmertmann (1970) modulus elastisitas adalah :

Dimana : N60 = nilai NSPT

Pa = 100 kN/m2 Es (kN/m2) = 766 N

Es (ton/ft2) = 8 N

Berdasarkan uji sondir : Es = 2 x qc

Schmertmann (1978) menyarankan nilai modulus elastisitas adalah : Es = 2,5 x qc è Untuk pondasi bulat dan bujur sangkar

Es = 3,5 x qc è Untuk pondasi menerus

(19)

Es = 750 Cu sampai 1000 Cu è Tanah Overkonsolidasi Cu = Kuat geser lempung jenuh.

CONTOH SOAL

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisa ragam menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) antara kontrol dan perlakuan Alkali kapur Ca(OH)2 dan Fermentasi Aspergillus niger terhadap

Glukagon adalah suatu hormon protein yang dikeluarkan oleh sel-sel alfa dari pulau langerhans sebagai respon terhadap kadar glukosa darah yang rendah dan peningkatan asam

Alat indra adalah organ yang berfungsi untuk menerima jenis rangsangan atau informasi tertentu, sehingga alat indra disebut sebagai reseptor.. Reseptor dapat dibedakan menjadi

Kelarutan : tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzene , dalam karbon disulfide, dalam kloroform, larut dalam heksana dan dalam sebagian besar minyak lemak dan

Method of drawing "Relationship Diagram'' on layout plannlng.. Ixth

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang merupakan penjabaran amanat Pasal 26 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Pada neonatus, orang tua dan imunocompromised gejala tidak khas Pada neonatus, orang tua dan imunocompromised gejala tidak khas Tanda / gejala meningitis akteri kelompok umur !.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar Timah Putih (Sn) yang ada pada conto tailing hasil pencucian konsentrat dari Kapal Keruk (KK) dan Kapal Isap